MENURUT WAHABI – SALAFY HUKUM MEMAKAI CELANA PANJANG BAGI LAKI-LAKI ADALAH HARAM -Bid’ah – Kapir

MENURUT WAHABI – SALAFY HUKUM MEMAKAI CELANA PANJANG BAGI LAKI-LAKI ADALAH HARAM -Bid’ah – Kapir


Menurut Wahabi Hukum Memakai Celana Panjang Bagi Laki2 (pantoloon) Adalah HARAM.

Celana (pantoloon) = Celana yg memperpanjang melewati mata kaki menutupi bagian belakang kaki, celana yg membutuhkan sabuk (ikat pinggang) untuk mengencangkannya pada tubuh, berbahan tebal, memiliki ritsleting, memiliki saku depan dan belakang, dipakai untuk pergi ke luar.

Kita tau bahwa jika ada seorang Perempuan memakai celana panjang yg ketat, memperlihatkan bentuk tubuh, adalah sesuatu hal yg tidak baik, dan bisa mengundang nafsu laki2.
Tapi yg kita bahas kali ini khususnya adalah ttg celana panjang yg di pakai Laki2 🙂Syaikh Wahabi – Allaamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhohulloh.
Ketika beliau di tanya oleh seseorang tentang hukum memakai celana panjang (pantolun)

Beliau menjawab:

“Ya, celana (pantolun) yang menyerupai celana panjang dari orang-orang kafir adalah Haram ((Barangsiapa meniru suatu kaum ia adalah dari mereka)) [Abu Dawud (431), Ahmad (50/2), (92/2), Ibnu Abi Shaybah (313/5) Syaikh Yahya, semoga Allah melindunginya disebutkan tentang hadits ini bahwa adalah: ‘Hasan dalam bukunya “Al-Mabaadi’u Al-Mufeedah” titik 89]

saya lihat dalam beberapa negara Arab bahwa Anda melihat seorang wanita yang tidak dapat dibedakan Kristen dari Muslim karena persamaan bentuk gaunnya. Dan Anda melihat, seorang Islam, Kristen, Yahudi dan Komunis. Anda melihat salah satu dari mereka membersihkan jenggotnya dicukur, kepala tidak tertutup, memakai pengikat leher dan ia mengatakan kepada Anda “Saya seorang Muslim! Dan gaun wanita tanpa malu mungkin lebih dari orang Yahudi atau Kristen dan Anda tidak bisa mengenalinya (sebagai Muslimah) sampai mengatakan kepada Anda “ini adalah seorang Muslim” dan “ini adalah seorang Muslimah”! Tapi seperti untuk penampilannya dan bajunya tidak mungkin bagi Anda untuk mengenalinya (sebagai Muslimah), apa yang Anda katakan tentang ini, Haram atau Halal?

“Fatawa Fadhilatusy Syaikh Rabi Al-Madkhalee, Vol.2, Hal. 455″

Penasehat Terpercaya, Allaamah Yahya bin Ali al-Hajury, hafidhohulloh mengatakan:
“Celana panjang (pantolun)untuk pria dan wanita tidak diperbolehkan karena meniru orang kafir, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak memakainya, begitu pula salah satu sahabat dan juga tidak Pendahulu kita yang saleh, semoga Allah meridhai mereka dan siapapun yang mengatakan bahwa diperbolehkan, kemudian ‘pembolehan’ apakah ada sesuai dengan Syari’at (Allah) dan ini (celana panjang) tidak ada dalam peraturan (Syari’at Allah), karena itu, pada pernyataan kebolehannya adalah tidak benar. “

Al-Kanz Ath-Thameen, Vol.4, Hal 173

Ulama Wahabi Asy-Syaikh Albani, rohimahulloh, mengatakan:
Tentang mengenakan pantalon (celana panjang) maka kita telah berbicara tentang itu banyak sekali, itu adalah jenis pakaian asing. Tidak diijinkan bagi seorang muslim untuk memakainya … (terlebih) memakainya dalam shalat adalah lebih layak untuk dilarang karena itu menunjukkan bentuk aurat utama (kemaluan) dan aurat kecil (paha), hal itu menunjukkan bentuk bagian pribadi dan menunjukkan bentuk paha. Pada kenyataannya orang yang memakai dengan pantalon berakibat menarik perhatian kepada diri mereka yang mengganggu seperti perempuan, (dengan sholat di belakang jemaat laki-laki) Yang terbaik dari deretan Perempuan yang terakhir itu.

Referensi: al Haawee min Fatawaa Seperti Syaikh Albani, halaman: 335, cetak: Mussasah sumaa.

Source: Wahabi N Ews

TERJEMAH KITAB QURROTUL UYUN (Adab rumah tangga / nikah /

TERJEMAH KITAB QURROTUL UYUN

TERJEMAH KITAB QURROTUL UYUN

dalam kitab ini memuat 20 pasal (mungkin hanya akan saya tuliskan hanya beberapa pasal saja) di dalam kitab ini memuat tentang beberapa hadist dan nasehat dalam mebina Rumah Tangga.yaitu mulai dari keutamaan menikah,memilih seorang calon istri,masalah tata krama dalam berhubungan intim(sex)

dengan seorang istri dan beberapa masalah yang berkaitan dengan tangung jawab seorang suami untuk membina rumah tangga yang Islami.nasehat-nasehat tentang tata krama mengadakan pesata perkawinan dan beberapa hal negatif yang muncul dalam pesta dan perkawinan itu sendiri,sehingga hal itu perlu di waspadai agar tujuan kita dalam membina berumah tangga tidak menyimpang dari niat ibadah mengikuti sunnah Rosulullah SAW.sehingga perkawinan yang mestinya sarat dengan nilai-nilai ibadah dan termasuk perbuatan muliau itu tidak kehilangan jati dirinya dan tidak menjadi pemicu terkikisnya keteguhan iman dalam mensikapi kehidupan ini

OK deh klo mau tahu serta mempelajari kitab ini secara mendalam tafadhol membeli kitabnya atau membeli buku terjemahannya (banyak di toko-toko buku) semoga kita semua menjadi hamba-hambaNYA yang beriman serta banyak bersyukur ,,, tak lepas pula semoga saya dan kita semua mendapat pasangan dan teman hidup yang kekal ila akhiru zaman ……..aminnn ya ROBB

“Menikahkan kalian dan beranak cuculah.karena sesungguhnya kalian akan ku jadikan kebangaan di antara sekian banyak umat”

PASAL PASAL

  1. pasal 1 Nikah dan Hukumnya
  2. pasal 2 Beberapa hal yang positif dalam nikah
  3. pasal 3 hal-hal yang perlu di upayakan dalam menikah
  4. pasal 4 mencari waktu yang tepat untuk melakukan hubungan intim
  5. pasal 5 sekitar penyelenggaraan pesta perkawinan(walimah)
  6. pasal 6 tentang tata krama melakukan hubungan intim
  7. pasal 7 tentang etika dan cara-cara yang nikmat dalam melakukan hubungan intim
  8. pasal 8 tentang berdandan dan kesetiaan istri
  9. pasal 9 tentang posisi,cara untuk mencapai puncak kenikmatan dan do`a dalam bersetubuh
  10. pasal 10 tentang makanan yang perlu di jauhi saat sedang berbulan madu dan saat istri hamil
  11. pasal 11 beberapa hal yang harus di upayakan ketika hendal melakukan hubungan intim
  12. pasal 12 kewajiban suami terhadap istri dalam memberi nafkah bathin
  13. pasal 13 posisi dalam bersetubuh yang perlu di hindari
  14. pasal 14 batas-batas yang di haramkan dan di halalkan dalam hubungan intim dengan istri
  15. pasal 15 memilih waktu yang tepat dan hal-hal lainnya yang perlu di perhatikan dalam hubungan intim
  16. pasal 16 tata kerama orang yang sedang junub
  17. pasal 17 tentang tata kerama orang yang hendak bersetubuh dua kali dan hal-hal yang perlu di perhatikan dalam bersetubuh
  18. pasal 18 sumai istri harus saling memuliakan dan saling menghormati
  19. pasal 19 kewajiban suami terhadap istri dan seluruh anggota keluarganya dalam membina rumah tangga.
  20. pasal 20 suami dan istri wajib mendidik anaknya agar menjadi anak yang berbudi luhur

Demikian yang tertulis di atas adalah pasal-pasal yang ada di dalam kitab Qurratul ‘uyun

semoga tulisan ini dapat memicu semangat kita dalam menyempurnakan setengah dien yaitu memuwudkan perkawinan yang sakinah,mawadah,warahmah namun secara ISLAMI tentunya

di sini saya tidak akan menuliskan semua pasal-pasal secara terperinci maklum saya kan masih kecil(pemikiran gede)  jadi agak malu-malu untuk menuliskan hal-hal yang di anggap sangat intim sekali heheheh  terlepas dari itu semua semoga karya tulisan saya ini bermanfaat bagi pembaca khususnya  ,,,aminnn

NIKAH DAN HUKUMNYA

hukum menikah itu sangat tergantung pada keadaan orang yang hendak melakukan tadi,jadi hukum nikah itu dapat di klasifikasikan sebagai berikut

  1. wajib.yaitu apabila orang yang hendak menikah telah mampu sedang ia tidak segera menikah amat di khawatirkan akan berbuat zina
  2. sunnah ,yaitu mana kala orang yang hendak menikah menginginkan sekali punya anak,tetapi ia mampu mengendalikan diri.dari perbuatan zina,baik ia sudah berminat menikah atau belum.walaupunika menikah nanti ibadah sunnah yang sudah biasa ia lakukan akan terlantar
  3. makruh,yaitu apabila orang yang hendak menikah belum berminat punya anak,juga belum pernah  menikah sedangkan ia mampu menahan diri dari berbuat zina.padahal ia menikah sunnahnya terlantar.
  4. mubah,yaitu apabila orang yang hendak menikah mampu menahan gejolak nafsunya dari berbuat zina.,sementara ia belum berminat memiliki anak dan seandainya ia menikah ibadah sunnahnya tidak sampai terlantar
  5. haram,yaitu bagi orang yang apabila ia kawin,justru akan merugikan istrinya karena ia tidak mampu memberi nafkah lahir dan nafkah bathin.atau jika menikah ia akan cari mata pencaharian yang di haramkan ALLAH walaupun orang tersebut sudah berminat menikah dan ia mampu menahan gejolak nafsunya dari berbagai zina. padahal bahwa hukum menikah tersebut juga berlaku bagi kaum wanita. Ibnu Arafah menambahkan,bahwa bagi wanita hukum menikah itu wajib,apabila ia tidak mampu mencari nafkah bagi dirinya sendiri sedangkan jalan satu-satunya untuk menanggulangi adalah menikah .


RUKUN RUKUN MENIKAH

rukun menikah ada lima hal yaitu sebagai berikut:

  1. ada seorang suami
  2. ada seorang istri
  3. ada seorang wali
  4. ada mahar
  5. harus ada sighat(ungkapan khas menikahkan dan menerima nikah)

BEBERAPA ANJURAN MENIKAH

ada sebuah riwayat dari imam Ahmad sebagaimana tersebut di dalam kitab musnadnya;

“Ada serorang laki-laki,ia bernama ukaf,datang menghadap Nabi SAW maka nabi SAW bertanya kepadanya:

“Wahai ukaf apakah engkau sudah beristri?”

ukaf menjawab “belum”nabi bertanya lagi:

“apakah kau punya seorang budaj perempuan”?

ukaf menjawab “tidak” lantas nabi bertanya lagi:

“adakah kau orang yang pintar mencari rizky’?

ukaf menjawab “iya” nabi bersabda:

“kau adalah termasuk kawan-kawannya syaitan.Seandainya kau itu orang beragama Nasrani,tentulah menjadi pendeta (rahib) mereka.sesungguhnya orang yang termasuk mengikuti sunahan itu adalah orang yang menikah.seburuk-buruk kalian adalah orang-orang yang sedang membujang.dan orang yang mati di antara kalian yang paling hina.adalah orang yang mati membujang “

nabi SAW bersabda dalam sabda yang sudah termashur

“Wahai kaum muda,barang siapa telah mampu membiayai biaya perkawinan maka hendaklah ia kawin saja.karena sesungguhnya kawin itu lebih bisa memejamkan (menjaga dari maksiat) mata, dan lebih bisa menjaga(maksiat)kemaluan.da barang siapa belum mampu kawin maka sebaiknya berpuasa.sebab puasa itu mampu menjadi perisai(gejolak nafsu) dirinya”

“Siapa saja yang menikah, ia telah menguasai separuh agamanya. Hendaklah ia bertakwa (kepada Allah) atas separuh yang lain”

“Barang siapa yang menikah karena ALLAH ,dan menikahkan (putra putrinya) karena ALLAH maka ia berhak menjadi kekasih ALLAH.”

“Menikah adalah sunnahku. Siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, ia bukan termasuk ummatku. Menikahlah karena aku akan senang atas jumlah besar kalian di hadapan umat-umat lain. Siapa yang telah memiliki kesanggupan, menikahlah. Jika tidak, berpuasalah karena puasa itu bisa menjadi kendali” (Riwayat Ibn Majah, lihat: Kasyf al-Khafa, II/324, no. hadis: 2833).

dan masih banyak lagi hadist2 lain yang berkaitan dengan menikah

DI ANJURKAN MENIKAH DENGAN WANITA SHALIHAH

dalam hal ini Nabi SAW bersabda :

“Dunia ini medan untuk bersenang-senang .dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita yang berakhlaq mulia”

“Siapa yang dianugerahi istri shalihah, sungguh ia telah dibantu dalam separuh urusan agama, maka bertakwalah (kepada Allah) atas separuh yang lain”. (Riwayat Ibn al-Jawzi, lihat: Kasyf al-Khafa, II/239, no. hadis: 2432).

“seorang wanita di nikahi karena empat faktor .yaitu karena hartanya,keterhormatannya(status sosial)

kecantikannya dan agamanya,maka kamu hendaklah menikah dengan wanita yang kuat agamannya agar kau beruntung”

“sebaik-baik istri umatku adalah yang paling berseri-seri wajahnya dan paling  sedikit(sederhana)maskawinnya”

ANJURAN MENIKAHI WANITA YANG PRODUKTIF DAN IDEAL

bahwa tujuan menikah adalah untuk kesinambungan generasi dan agar ummat manusia tetap exis di muka bumi.islam menganjurkan menikahi wanita yang masih produktif dan tidak mandul

dalam sabda Nabi SAW.

“menikahlah kalian dengan wanita yang banyak cinta kasih sayangnya terhadap suami lagi masih produktif(tidak mandul).karena sesungguhnya aku akan berlomba dengan para nabi yang lain dalam memperbanyak umat kelak pada hari kiyamat”

Nabi SAW pernah bertanya kepada Zaid bin Tsabit:”Apakah kamu sudah menikah wahai Zaid”?

Zaid menjawab”belum” maka nabi SAW bersabda menikahlah kamu niscaya kamu akan terpelihara(dr maksiat)di samping pengupayaanmu dalam menjaga diri/dan kamu jangan sampai beristri lima orang wanita berciri-ciri berikut ,Zaid bertanya lagi :siapakah mereka itu wahai Rosul? Rasulallah SAW menjawab :wanita yang kebiri-biruan matanya,wanita yang tinggi kurus,wanita yang membelakangimu dan wanita beranak”

maka Zaid bertanya lagi:saya belum faham sedikitpun dengan apa ang engkau sabdakan ya Rasulallah?”

maka Nabi bersabda:

“maksudnya perempuan yang kebiru-biruan matanya itu adalah perempuan yang jorok ucapannya,dan perempuan yang tinggi badannya tetapi kurus(tidak seimbang).dan perempuan tua yang monyong pantatnya dan perempuan pendek yang menjadi sasaran cercaan (,karena tidak serasi).dan juga wanita yang membawa anak dari suaminya yang selain kamu.

demikianlah sungguh penjelasan Rasulallah dalam mendidik umatnya untu selalu berhati-hati bahkan ketika memilih calon istri yang produktif

KEUTAMAAN MEMBINA RUMAH TANGGA.

Mu’adz bin Jabal r.a pernah berkata “Sholat (sekali) di kerjakan oleh orang yang sudah menikah itu lebih umata dari pada empat puluh kali sholat yang di kerjkan orang yang tidak berumah tangga”

Abdullah bin Abbas r.a pernah pula berkata“kawinlah kalian karena sesungguhnya(ibadah) sehari saja di kerjakan oleh orang yang berumah tangga adalah lebih baik(banyak pahalanya) dari pada (ibadah) seribu tahun(sebelum berumah tangga)”

sungguh begitu utamanya menikah sehingga Rasulallah sangat menganjurkan serta begitu mulianya pula ibadah orang yang menikah di hapadan ALLAH SWT.

BEBERAPA HAL YANG POSITIF DALAM NIKAH

  1. kesinambungan generasi

menikah itu mempunyai beberapa faidah di antaranya mendapatkan keturunan dalam hidup.

  1. terpenuhinya saluran nafsu sex
  2. .di perolehnya keutamaan mencari rizky
  3. .taat dan menjaga kehormatan suami

HAL-HAL YANG PERLU DI UPAYAKAN DALAM MENIKAH

ü  mencari pasangan yang seimbang(KAFA’AH)

ü  niat mengikuti jejak Nabi SAW.

ü  mencari orang yang taat beragama

ü  mencari perempuan yang produktif dan perawan

ü  mencari perempuan yang bukan famili dekat

ü  di usahakan mencari gadis cantik

MENCARI WAKTU YANG TEPAT UNTUK MELAKUKAN HUBUNGAN INTIM

  1. di anjurkan bersetubuh pada malam hari

hal ini berdasarkan sebuah hadits Nabi SAW :

“Adakanlah temu penganten kalian ,pada malam hari .Dan adakanlah jamuan makan (syukuran resepsi pernikahan)pada waktu dhuha”

  1. hari -hari yang tidak tepat untuk bersetubuh

bagi suami yang hendak bersetubuh hendaklah menghindari hari-hari berikut ini :

  1. hari rabu yang jatuh pada minggu terakhir tiap bulan
  2. hari ketiga awal tiap bulan ramadhan
  3. hari kelima awal tiap bulan ramadhan
  4. hari ketigabelas pada setiap bulan.
  5. hari keenam belas pada setiap bulan
  6. hari keduapuluh satu pada setiap bulan
  7. hari kedua puluh empat pada setiap bulan
  8. hari kedua puluh lima pada setiap bulan

Di samping hari tersebut ada pula hari-hari yang sebaiknya di hindari untuk mengerjakan sesuatu yang di anggap penting yaitu hati sabtu dan hari selasa. tentang hari sabtu itu Nabi pernah di tanya oleh salah satu sahabat naka Nabi bersabda:

“Hari sabtu itu adalah hari di mana terjadi penipuan “

mengapa hari tersebut di katakan penipuan sebab pada hari itu orang2 berkumpul di gedung “al-nadwah” untuk merembuk memusnahkan dakwah Nabi SAW .wallahu`alam

adapun tentang hari selasa nabi SAW.bersabda:

“Hari selasa itu adalah hari di mana darah pernah mengalir.sebab pada hari itu ibu Hawa pernah haid,putera nabi Adam as pernah membunuh saudara kandungnya sendiri,terbunuhnya Jirjis,Zakaria dan yahya as.kekalahan tukang sihir Fir’aun.di vonisnya Asiyah binti Muzaim permaisuri fir’aun.dan terbunuhnya sapinya bani israil”

adapun imam Malik berpendapat “jaganlah anda menjauhi sebagian hari-hari di dunia ini ,tatkala anda hendak melakukan sebagian tugas pekerjaanmu.kerjakanlah tugas-tugas itu pada hari sesukamu.sebab sebenarnya hari-hari itu semua adalah milik ALLAH.tidak akan menimbulkan malapetaka dan tidak pula bisa membawa manfaat apa-apa”

  1. saat yang tepat untuk bersetubuh

bahwa melakukan hubungan intim pada awal bulan itu lebih afdhol dari pada akhir bulan.sebab bila nanti di karuniai seorang anak akan mempunyai anak yang cerdas. bagi seorang suami (penganten baru) sunnah hukumnya bersetubuh dengan istrinya di bulan Syawal.

adalah lebih afdhol pula jika melakukan hubungan sex pada hari ahad dan jum`at .nabi SAW.bersabda:

“hari ahad itu adalah hari yang tepat untuk menanam,dah hari untuk memulai membangun.karena ALLAH memulai menciptakan dunia ini juga memulai meramaikannya jatuh paa hari ahad””hari jum’at itu adalah hari perkawinan dan juga hari peminangan di hari jum’at itu nabi Adam as menikah ibu Hawa,nabi Yusuf as menikah siti Zulaika.nabi Musa as menikah dengan puteri nabi syuaib as,nabi sulaiman menikah ratu bilqis”

wallahu`alam bishowab

tersebut di dalam hadits shahih bahwa Nabi SAW. dalam melaksanakan pernikahannya dengan Sayyidah khodijah dan Sayyhidah Aisyah juga jatuh pada hari jum’at.

  1. hari-hari yang seyogayanya di hindari

Tersebutlah dalam Riwayat Alqamah bin Shafwan,dari Ahmad bin Yahya sebuah hadist marfu’ sebagai berikut;

“waspadalah kamu sekalian akan kejadian duabelas hari setahun,karena sesungguhnya ia bisa melenyapkan harta banyak dan bisa mencambik-cambik(merusak)tutup-tutup cela”para sahabat kemudian bertanya “ya Rasulallah apakah 12 hari itu?Rasulallah bersabda :

“yaitu tanggal 12 muharram,10 safar dan 4 rabi’ul awal(mulud) 18 rabu’utsni(bakda mulud) 18 jumadil awal,18 jumadil akhir.12 rajab ,26 sya’ban(ruwah),24 ramadhan,2 syawal,28 dhulqa’dah(apit/sela) dan 8 bulan dhilhijjah”

TATA KERAMA MELAKUKAN HUBUNGAN INTIM

di sini saya hanya akan menulis point-point nya saja  afwan…….

  1. mencari waktu usai sholat
  2. diusahakan hatinya bersih
  3. memulai dari arah kanan dan berdo`a

Bismillaahi, allahumma jannibnasy syaythaana wa jannibisy syaythaana maa razaqtanaa.

Artinya : Dengan nama Allah, ya Allah; jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami. (HR. Bukhari)

  1. istri hendaknya wudhu dahulu
  2. mengucapkan salam dan menyentuh ubun-ubun istri
  3. memeluk istri dan sambil berdo`a
  4. mencuci ujung jari kedua tangan dan kaki istri
  5. ciptakan suasana tenang dan romantis

Ibnul Qayyim berkata, “Sebaiknya sebelum bersetubuh hendaknya diajak bersenda-gurau dan menciumnya, sebagaimana Rasulullah saw. melakukannya.”

  1. memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai dan juga perlu di perhatikan

Bagian 1 (Merayu dan bercumbu):

Nabi Muhammad s.a.w. melarang suami melakukan persetubuhan sebelum membangkitkan syahwat isteri dengan rayuan dan bercumbu terlebih dahulu.

Hadits Riwayat al-Khatib dari Jabir.

 

Bagian 2 (DOA SEBELUM BERSETUBUH):

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami berdua (suami isteri) dari gangguan syaithan serta jauhkan pula syaithan itu dari apa saja yang Engkau rezqikan kepada kami.

Dari Abdulah Ibnu Abbas r.a. berkata:

Maka sesungguhnya apabila ditakdirkan dari suami isteri itu mendapat seorang anak dalam persetubuhan itu, tidak akan dirosak oleh syaithan selama-lamanya.

Hadits Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas r.a.

BAGIAN 3: (DO’A HAMPIR KELUAR MANI)

Dan apabila air manimu hampir keluar, katakan dalam hatimu dan jangan menggerakkan kedua bibirmu kalimat ini:

“Alhamdulillaahil ladzii khalaqa minal maa’i basyara”.

Segala pujian hanya untuk Allah yang menciptakan manusia dari pada air.

BAGIAN 4 (SYAHWAT TERPUTUS DITENGAH JALAN):

Apabila seseorang diantara kamu bersetubuh dengan isterinya maka janganlah ia menghentikan persetubuhannya itu sehingga isterimu juga telah selesai melampiaskan hajatnya (syahwat atau mencapai kepuasan) sebagaimana kamu juga menghendaki lepasnya hajatmu (syahwat atau mencapai kepuasan).

Hadits Riwayat Ibnu Addi.

BAGIAN 5 (DOGY STYLE):

Dari Jabir b. Abdulah berkata:

Bahawa orang-orang Yahudi (beranggapan) berkata:

Apabila seseorang menyetubuhi isterinya pada kemaluannya Melalui Belakang maka mata anaknya (yang lahir) akan menjadi juling.

Lalu turunlah ayat suci demikian:

“Isteri-isteri kamu adalah ladang bagimu maka datangilah ladangmu itu dari arah mana saja yang kamu sukai”.

Surah Al Baqarah – ayat 223.

Keterangan:

Suami diperbolehkan menyetubuhi isteri dengan apa cara sekalipun (dari belakang, dari kanan, dari kiri dsb asalkan dilubang faraj).

BAGIAN 6 (BERSETUBUH DAPAT PAHALA)

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“…..dan apabila engkau menyetubuhi isterimu, engkau mendapat pahala”.

Para sahabat bertanya:

Wahai Rasulullah, adakah seseorang dari kami mendapat pahala dalam melampiaskan syahwat?

Nabi menjawab:

Bukankah kalau ia meletakkan (syahwatnya) ditempat yang haram tidakkah ia berdosa?

Demikian pula kalau ia meletakkan (syahwatnya) pada jalan yang halal maka ia mendapat pahala.

Hadits Riwayat Muslim.

BAGIAN 7 (HORNY LAGI)

Apabila diantara kamu telah mecampuri isterinya kemudian ia akan mengulangi persetubuhannya itu maka hendaklah ia mencuci zakarnya terlebih dahulu.

Hadits Riwayat Baihaqi.

Syekh penazham menjelaskan waktu-waktu yang terlarang untuk bersenggama, sebagaimana diungkapkan dalam nazhamnya yang berbahar rajaz berikut ini:”Dilarang bersenggama ketika istri sedang haid dan nifas,Dan sempitnya waktu shalat fardlu, jangan merasa bebas.”Allah Swt. berfirman:”Mereka bertanya kepadamu tentang haid, Katakanlah, haid adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haid” (Qs. Al-Baqarah: 222)

Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “menjauhkan diri” adalah menjauhkan diri dari vagina istri, yang artinya tidak melakukan senggama. Ini adalah pendapat Hafshah ra. Dan Imam Mujahid pun sependapat dengan pendapat Hafshah ra. Tersebut.

Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam kitab Ausath dari Abu Hurairah secara marfu’:Rasulullah Saw.bersabda:”Barang siapa bersetubuh dengan istrinya yang sedang haid, kemudian ditakdirkan mempunyai anak dan terjangkiti penyakit kusta, maka jangan sekali-kali mencela, kecuali mencela dirinya sendiri”Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Bersetubuh di waktu haid dan nifas akan mengakibatkan anak terjangkiti penyakit kusta.”Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan sebuah hadits marfu’ dari shahabat Abu Hurairarah ra.:Rasulullah Saw.bersabda:”Barang siapa datang kepada dukun peramal, kemudian dia mempercayai apa yang dikatakannya, dan menyetubuhi istrinya diwaktu haid atau pada duburnya, maka dia benar-benar telah melepaskan diri dari apa yang telah diturunkan kepada Nabi Saw.”

Rasulullah Saw. bersabda:”Barang siapa menyetubuhi istrinya diwaktu haid, maka hendaklah dia bersedekah satu keping dinar. Dan barang siapa menyetubuhi istrinya dikala haidnya telah reda, maka hendaklah dia bersedekah setenga keping dinar.”Ibnu Yamun meneruskan nazhamnya sebagai berikut:”Dilarang senggama (menurut pendapat yang masyhur) dimalam hari raya Idul Adha,Demikian pula dimalam pertama pada setiap bulan.Dimalam pertengahan pada setiap bulan,Bagitu pula dimalam terakhir pada setiap bulan.”Hal itu berdasarkan pada sabda Rasulullah Saw.:”Janganlah kamu bersenggama pada malam permulaan dan pertengahan bulan”

Al-Imam Ghazali mengatakan, bahwa bersenggama makruh dilakukan pada tiga malam dari setiap bulan, yaitu: pada malam awal bulan, malam pertengahan bulan, dan pada malam terakhir bulan. Sebab setan menghadiri setiap persenggamaan yang dilakukan pada malam-malam tersebut.Ada yang berpendapat, bahwa bersetubuh pada malam-malam tersebut dapat mengakibatkan gila atau mudah stres pada anak yang terlahir. Akan tetapi larangan-larangan tersebut hanya sampai pada batas makruh tidak sampai pada hukum haram, sebagaimana bersenggama dikala haid, nifas dan sempitnya waktu shalat fardlu.Selanjutnya Syekh penazham mengungkapkan tentang keadaan orang yang mengakibatkan ia tidak boleh bersenggama dalam nazham berikut ini:”Hindarilah bersenggama dikala sedang kehausan, kelaparan, wahai kawan, ambillah keterangan ini secara berurutan.Dikala marah, sangat gembira, demikian pula,dikala sangat kenyang, begitu pula saat kurang tidur. Dikala muntah-muntah, murus secara berurutan, demikian pula ketika kamu baru keluar dari pemandian.Atau sebelumnya, seperti kelelahan dan cantuk (bekam),jagalah dan nyatakanlah itu semua dan jangan mencela.”

Sebagaimana disampaikan oleh Imam Ar-Rizi, Bersenggama dalam keadaan sangat gembira akan menyebabkan cedera. Bersenggama dalam keadaan kenyang akan menimbulkan rasa sakit pada persendian tubuh. Demikian juga senggama yang dilakukan dalam keadaan kurang tidur atau sedang susah. Semuanya harus dihindari, karena akan menghilangkan kekuatan dalam bersenggama.Begitu juga gendanya dijauhi senggama yang sebelumnya sudah didahului dengan muntah-muntah dan murus-murus, kelelahan, keluar darah (cantuk), keluar keringat, kencing sangat banyak, atau setelah minum obat urus-urus. Sebab menurut Imam As-Razi, semua itu akan dapat menimbulkan bahaya bagi tubuh pelakunya. Demikian juga hendaknya dijauhi senggama setelah keluar dari pemandian air panas atau sebelumnya, karena ibu itu dapat mengakibatkan terjangkiti sakit kepala atau melemahkan syahwat. Juga hendaknya mengurangi senggama pada musim kemarau, musim hujan, atau sama sekali tidak melakukan senggama dikala udara rusak atau wabah penyakit sedang melanda, sebagaimana dituturkan Syekh penazham berikut ini: “Kurangilah bersenggama pada musim panas,dikala wabah sedang melanda dan dimusim hujan.”

Imam Ar-Rizi mengatakan, bahwa orang yang mempunyai kondisi tubuh yang kering sebaiknya menghindari senggama pada musim panas. Sedangkan orang yang mempunyai kondisi tubuh yang dingin hendaknya mengurangi senggama pada musim panas maupun dingin dan meninggalkan sama sekali pada saat udara tidak menentu serta pada waktu wabah penyakit sedang melanda.Kemudian Syekh penazham melanjutkan nazhamnya sebagai berikut: “Dua kali senggama itu hak wanita, setiap Jumat, waktunya sampai subuh tiba.Satu kali saja senggama demi menjaga kesehatan,setiap Jumat bagi suami yang sakit-sakitan.”Syekh Zaruq didalam kita Nashihah Al-Kafiyah berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan hak wanita adalah senggama yang dilakukan suami bersamanya paling sedikit dua kali dalam setiap Jumat. Atau paling sedikit satu kali pada setiap Jumat bagi suami yang cukup tingkat kesehatannya.Shahabat Umar bin Khaththab menentukan satu kali senggama dalam satu kali suci wanita (istri)(satu kali dalam sebulan), karena dengan begitu suami akan mampu membuat istrinya hamil dan menjaganya. Benar demikian, akan tetapi sebaiknya suami dapat menambah dan mengurangi menurut kebutuhan istri demi menjaga kesehatan. Sebab, menjaga kesehatan istri merupakan kewajiban bagi suami.Sebaiknya suami tidak menjarangkan bersenggama bersama istri, sehingga istri merasa tidak enak badan. Suami juga tidak boleh memperbanyak bersenggama dengan istri, sehingga istri merasa bosan,

sebagaimana diingatkan Syekh penazham melalui nazhamnya berikut ini:”Diwaktu luang senggama jangan dikurangi, wahai pemuda,jika istri merasa tidak enak karenanya, maka layanilah dia.Sebaliknya adalah dengan sebaliknya, demikian menurut anggapan yang ada.Perhatikan apa yang dikatakan dan pikirkanlah dengan serius.”Syekh Zaruq dalam kitab An-Nashihah berkata, “Suami jangan memperbanyak senggama hingga istri merasa bosan dan jangan menjarangkannya hingga istrinya merasa tidak enak badan.” Imam Zaruq juga berkata: “Jika istri membutuhkan senggama, suami hendaknya melayani istrinya untuk bersenggama bersamanya sampai empat kali semalam dan empat kali disiang hari.”Sementara itu istri tidak boleh menolak keinginan suami untuk bersenggama tanpa uzur, berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar berikut ini:”Seorang wanita datang menghadap Rasulullah Saw. seraya bertanya: ‘Ya Rasulallah, apakah hak seorang suami atas istrinya?’ Rasulullah Saw. menjawab: ‘Istri tidak boleh menolak ajakan suaminya, meskipun dia sedang berada diatas punggung unta (kendaraan)’.”Rasulullah Saw. juga bersabda:”Ketika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, kemudian dia menolak, maka para malaikat akan melaknatnya hingga waktu subuh tiba”Dijelaskan, kekhawatiran istri akan anaknya yang sedang menyusu tidak termasuk uzur, sebab sebenarnya sperma suami akan dapat memperbanyak air susu istri.

 

KITAB QURROTUL ‘UYUN :KAIFIYYATUL JIMA’

Jan26

“ WAHDHAR MINAL JIMA’I FISH SHIYAABY # FAHUWA MINAL JAHLY BILAR TIYAABY “
Syaikh penadzam menjelaskan : Bahwa sebagian adab senggama yaitu suami hendaknya munyuruh istrinya untuk melepas semua pakaiannya ada baiknya kalau suami yg melepaskan pakaian istrinya.kemudian suami dan istrinya bersenggama dalam 1 selimut , akan tetapi , bukan berarti senggama yg di lakukan itu tanpa penutup sama sekali. Karena ada hadist : Rosulalloh Saw , Bersabda :
“ Apabila kalian melakukan senggama dengan istrinya , maka jangan telanjang seperti telanjangnya himar “
Nabi Saw , sendiri ketika melakukan senggama dengan istrinya , beliau menggunakan tutup kepala dan memelihara suara seraya berkata pada istrinya “ hendaklah engkau tenang “ begitu jg dilakukan oleh shohabat abu bakar yg selalu mamakai tutup kepala ketika bersenggama dengan istrinya karena malu sama Alloh Swt.
Sebagian ahli ilmu berkata : Di sunnahkan melipat pakaian pada waktu malam sambil membaca BASMALLAH karena kalau tidak demikian maka setan akan memakainya pada malam hari dan pemiliknya memakai pada siang hari.Rosulalloh Saw , Bersabda :
“ Lipatlah pakaian kamu , karena sesungguhnya setan tidak mau memakai pakaian yg di lipat “
“ MUA’NIQON MUBASYIRON MUQOBBALAN # FI GHOIRI A’INIHA FAHAKA WAQBALA “
Syaikh penadzam menjelaskan : Apabila mau melakukan senggama , hendaknya didahului dengan senda gurau bersama istri , bermesra-mesra’an dengan berbuat sesuatu yg di perbolehkan , mitsalnya : memegang-megang atau melumat puting payudara istri , merangkul ,memeluk serta menciumi pipi , kening , leher , payudara ,perut dan semua anggota tubuh istri , asalkan jangan sampai mencium KEDUA MATANYA karena mencium kedua mata istri dapat menyebabkan perpisahan , dan jangan sampai melakukan hal itu dalam keada’an lupa. Rosulalloh Saw , Bersabda :
“ Janganlah sekali-kali di antara kalian melakukan senggama dengan istrinya , sebagaimana yg dilakukan oleh hewan-hewan ternak , sebaiknya kalian menggunakan suatu perantara . “ di haturkan kepada nabi “ apa yg dimaksud dengan perantara itu ??? Nabi Saw , Menjawab : Yaitu Mencium dan berkata-kata dengan bahasa yg Indah-indah “
Sebaiknya anda melakukan dengan mengelus-ngelus pipi , payudara sambil merayu sang istri dengan kata-kata yg penuh dengan kemesraan . Sebentar-bentar mencium dan melumat puting payudara sedangkan tangan merayap sambil mengelus-ngelus daerah tubuh istri yg lainnya.begitu jg kecupan jangan sampai dilupakan .faidah hal-hal yg demikian dilakukan , bahwa sesungguhnya wanita cinta terhadap pria dan pria cinta terhadap wanita , maka jangan sampai suami melakukan senggama bersama istrinya dalam keada’an lupa dengan semua perantara itu .dengan kata lain jangan sampai suami sudah melakukan ejakulasi sebelum istrinya ejakulasi.karena dengan itu akan mengakibatkan keresahan pada diri sang istri , mitsalnya : dengan merasa tidak puas ,setelah senggama istri marah-marah sama suaminya . dan tidak jarang di jumpai hal yg tidak senonoh terhadap suami , harus ingat dalam keterangan hadist :
“ SYAHWAT PRIA DAN WANITA ADALAH SATU BANDING SEMBILAN “
Alloh Swt , meng anugrahkan kepada pria 1 nafsu dan 9 akal sedangkan untuk wanita 1akal 9 nafsu .oleh karena itu kebaikan dan kebenaran semua ada dalam hadist Nabi , dalam arti kita harus mengamalkan keterangan-keterangan dari hadist Nabi Saw .
“ WA’AKSU DHA YUADHI LISYIQOQY # BAINAHUMA SHOHI WALILFIROQY “
Syaikh penadzam menjelaskan : bawha senggama yg dilakukan suami dengan istrinya tanpa senda gurau , saling cium ,rangkul , peluk bersama istrinya atau mencium kedua mata istrinya , hal itu dapat mengakibatkan percekcokan dan perselisihan serta mengakibatkan anak yg terlahir berwatak bodoh dan tumpul otaknya ( keterangan dalam kitab AN NASHIHAH ) . Diterangkan dalam hadist , ada pahala besar bagi orang yg menggauli istrinya dengan niat baik ,setelah suami mencium-cium dan bermain-main cinta dengan istrinya.
Hadist dari sayyidah A’isyah , Rosulallloh Saw , Bersabda :
“ Barangsiapa memegang tangan istri sambil merayunya , maka Alloh Swt , akan menulis baginya 1 kebaikan dan melebur 1 kejelekan serta mengangkat 1 derajat , Apabila merangkul , maka Alloh Swt , akan menulis baginya 10 kebaikan melebur 10 kejelekan dan mengangkat 10 derajat , Apabila menciumnya , maka Alloh Swt , akan menulis baginya 20 kebaikan , melebur 20 kejelekan dan mengangkat 20 drajat , Apabila senggama dengannya , maka lebih baik daripada dunia dan isi-isinya “
Dari hadist lain Rosulalloh Saw , Bersabda :
“ Apabila suami berdiri untuk melakukan mandi junub setelah melakukan senggama dengan istrinya , maka tiada air yg mengalir pada anggota tubuhnya , kecuali Alloh Swt , akan mengampuni semua dosa-dosanya ,dalam keterangan lain, Alloh Swt , akan menulis kepadanya 1 kebaikan dari setiap helai rambut yg terkena atau terbasahi air “
“ WATHOYYIBAN FAKA BITHIBIN FA IHIN # A’LADDAWAMI NILTUMUL MANAIHIN “
Syaikh penadzam menjelaskan : Bahwa suami di harapkan agar berusaha mulutnya menjadi sedap dan harum , hal itu dilakukan agar menambah rasa cinta sang istri hal itu dilakukan jangan hanya waktu mau melakukan senggama saja tapi harus selamanya setiap hari .
Dan untuk sang istri di sunnahkan untuk berhias diri dan menggunakan wangi-wangian hanya untuk suaminya saja karena ada hadist : Nabi Saw , Bersabda :
“ sebaik-baiknya wanita ialah wanita yg selalu menggunakan wangi-wangian dan bersih “
Dalam riwayat lain dari Sayyidina Ali K.w , Nabi Saw , Bersabda :
“ Sebaik-baiknya wanita adalah wanita yg harum baunya dan sedap masakannya “
Disunnahkan jg bagi wanita memakai Celak pada kedua matanya ,dan memacar kedua tangan dan kakinya , karena ada hadist , Nabi Saw , Bersabda :
“ Saya paling benci , bila melihat wanita tanpa pakai celak atau pacar “
Adapun untuk laki-laki menggunakan pacar baik pada tangan atau kedua kakinya dihukumi haram.
Imam malik R.a Di Tanya tentang wanita yg memakai gengge !!! Beliau Menjawab : saya lebih senang bila hal itu di tinggalkan ( tidak dipakai ) tapi beliau tidak mengharamkannya.dan wanita jg bisa jatuh hukum haram memakai gengge apabila di pakainya untuk dipamerkan dan di perdengarkan suaranya.
“ TUMMATA YA’LU FAUQOHA BILIINY # ROFI’ATARRIJLAINI U’TABYINY “
Syaikh penadzam menjelaskan : jika suami telah mengamalkan dzikir-dzikir pada bab yg lalu, kemudian suami menyuruh istrinya untuk membaringkan tubuhnya yg telah di olesi wangi-wangian dan telah di lepas pakaian yg menempel pada dirinya , dengan sedikit basah naiklah sang suami ke atas tubuh istri dengan cara pelan-pelan , hal ini dilakukan setelah istri mengangkat pantatnya dan di beri alas bantal sehingga pantat lebih tinggi dari pada kepala.Cara ini menurut para ulama merupakan cara yg paling ideal , paling nikmat dan sempurna , cara ini jg yang dapat mendatangkan kenikmatan secara utuh dalam dunia persenggamaan .karena keada’an dzakar ( penis ) akan dapat masuk lebih dalam dan lebih mengena .Apalagi kalau sang suami dapat memikul kedua kaki istrinya.
Sebagaimana telah diutarakan oleh Syaikh Ar rozy : bahwa cara-cara senggama tersebut adalah cara yg di pilih oleh Ulama-ulama fiqih dan ilmu kedokteran penyusun kitab “ Syarah Al-waghlisiyyah “ mengatakan : Jangan melakukan cara senggama di mana istri di atas suaminya , karena dengan demikian sang istrilah yg aktif sedangkan suami dalam keadaan pasif.Cara senggama dengan istri di atas suami menurut Syaikh Ar Rozy dapat menyebabkan terhentinya aliran darah dan dapat menimbulkan efek samping.maka yang baik adalah sang istri berbaring terlentang dan mengangkat kedua kakinya sedangkan suami berada di atas istrinya ( seperti keterangan yg sudah lewat ).
DO’A SEBELUM MELAKUKAN SENGGAMA :
“ BISMILLAHI ALLOHUMMA JANNIBNAS SYAITHONA WAJANNIBISYAITHONA MAA ROZAQTANA “
Artinya : “ dengan menyebut asma alloh , jauhkanlah diri kami dari setan ,dan jauhkan setan dari sesuatu yg telah engkau rizqikan kepada kami . maka apabila dalam senggama itu alloh mentaqdirkan menjadi anak ,maka setan tidak akan mampu membuat bahaya . Menurut Imam ghozaly : di sunnahkan bagi orang yg mau melakukan senggama membaca :
“ BISMILLAHIL A’LIYYIL A’DHIM , ALLOHUMMAJ A’LHA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN IN KUNTA QODDARTA AN TAKHRUJA DZALIKA MIN SHULBY “
Artinya : “ dengan menyebut nama alloh yang maha besar lagi maha agung , yaa Alloh … jadikanlah istriku yg menjadi adanya keturunanku yang baik , bila engkau memastikan keturunan itu keluar dari tulang rusuku “
Di dalam kitab “ Qasthalany “ dari imam mujahid di sebutkan : bahwa orang yg melakukan senggama dengan tidak menyebut asma Alloh , maka setan akan ikut masuk melalui lubang dzakar ( penis ) dan setan akan ikut bersenggama.dalam keterangan lain setan akan duduk di dzakar ( penis ) suami maka setan akan mengeluarkan spermanya pada farji ( vagina ) istri , sebagaimana suami mengeluarkan spermanya.
“ WAHARRIKISSUTH HA WALA TUBAALY # WADUM WALA TANZA’ ILALN INZALY “
Di dalam bait tersebut Syaikh penadzam menjelaskan : bahwa seorang suami kalau mau melakukan senggama harus dengan cara-cara yg baik , mitsalnya : hendaklah memegang dzakarnya ( penisnya ) dengan tangan kiri , dan mengusap-ngusapkan kepala dzakar ( penis ) di atas bibir-bibir farji ( vagina )hingga beberapa waktu ,setelah merasa cukup dengan segala macam bentuk permainan barulah pelan-pelan dzakar (penis ) dilepas menerobos masuk melalui mulut farji ( vagina ) hingga merayap ke dinding farji , pada sa’at inilah pantat istri lebih ditinggikan ,sebab dengan semakin tinggi pantat di anggat , semakin jauh juga jelajah dzakar ( penis ) hingga pada mulut Rahim .
Suami dan istri akan merasakan suatu rasa yg aneh atau lain dari rasa-rasa sebelumnya sampai seseorang tidak akan bisa menshifati rasa itu . apalagi kalau suami bisa menahan ejakulasi sepaya bisa bersama’an dengan ejakulasi istrinya.
Pengarang kitab Al-idhah mengatakan : Apabila suami telah mengusap-ngusapkan dzakarnya ( penisnya ) ke bibir farji ( vagina ) istri , hal itu terus dilakukan sampai puas atau sampai merasa akan keluar sperma , maka pada sa’at itulah suami memasukan tangannya ke bawah pantat istrinya dan mengangkatnya agak keras — sementara pantat suami juga di tekan masuk agar jelajah dzakar ( penis ) semakain jauh dan dalam . pada sa’at itulah suami dan istri akan menemukan rasa dari seluruh puncak rasa senggama yg paling nikmat yg tidak dapat di gambarkan oleh seseorang.
Syaikh penadzam menjelaskan : hendaknya seorang istri berusaha agar farjinya ( vaginanya ) bisa menjepit dzakar ( penis ) suami di sa’at ejakulasi berlangsung.
# ALHAMDULILLAHI BIDZALIKA BIDZALIKA L FURQON # ILA QODIRON DUNAKUM TIBYANA “
Syaikh penadzam menjelaskan : disunnahkan ketika suami telah merasakan akan keluar sperma membaca :
“ ALHAMDULILLAHILLADHI KHOLAQO MINAL MA I BASYARON FAJA’ALAHU NASABAN WASHIHRO WAKANA ROBBUKA QODIRO “
Artinya : “ Segala puji bagi alloh yg menjadikan manusia dari air sperma lalu alloh jadikan manusia itu punya keturunan dan keluarga sesungguhnya alloh adalah tuhan yg maha kuasa “
“ FAIN TAKUN ANJALTA QOBLAHA FALA # TANZA’ WA A’KSU DHA BIZAN I’N YUJJALA “
Syaikh penadzam menjelaskan : Apabila suami melakukan ejakulasi sebelum istrinya , maka sebaiknya suami dapat menahan sampai sang istri melakukan ejakulasi , karena ada hadist , Rosulalloh Saw , Bersabda :
“ Bahwa syahwat itu ada sepuluh bagian , 9 bagian adalah bagi wanita dan 1 bagian lagi bagi laki-laki , hanya saja alloh menutup wanita dengan perasa’an malu yg sangat kuat “
Di jelaskan lagi : apabila istri telah melakukan ejakulasi sebelum suaminya maka hendaklah suami mencabut dzakarnya ( penisnya ) dari farji ( vagina ) karena kalau tetap dibiarkan akan dapat menimbulkan rasa sakit terhadap istri, karena ada hadist , Rosulalloh Saw bersabda :
“ Berilah kerela’an istri-istri kalian , karena sesungguhnya kerela’an mereka adalah pada farji-farji ( vagina-vagina ) mereka dalam arti dalam keberhasilan di waktu bersenggama,yaitu kebersama’an dalam melakukan ejakulasi “
“ A’LAMATUL INZALI MINHA YAA FATA # A’RQU JABINIHA WALASHQUHA ATA “
Syaikh penadzam menjelaskan : Bahwa tanda-tanda ejakulasi seorang istri , adalah keningnya berkeringat , lengket dengan suami dengan pelukan yg sangat kuat , lemasnya urat-urat yg tadinya tegang dan merasa jadi malu kalau di lihat suaminya.
Didalam Bait lain di sebutkan : Apabila suami melakukan ejakulasi sebelum istrinya , maka akan menimbulkan kekecewa’an terhadap istri .dan bahwa kumpulnya sperma antara suami dan istri yg di maksud suami dan istri dapat melakukan ejakulasi bersama’an , maka dapat menyebabkan bertambahnya Cinta , kemesraan yg mendalam.dan jga dapat merasakan puncak keberhasilan dalam kenikmatan rasa cinta dan kasih sayang yg sangat kuat.
Rosulalloh Saw , Bersabda : Apabila sperma laki-laki mengungguli Sperma wanita —- laki-laki terlebih dahulu ejakulasi —, maka anaknya akan menyerupai paman laki-laki dari suami.

HUKUM MENGUCAPKAN “MERRY CHRISTMAS” KEPADA MEREKA YANG BERAGAMA KRISTIAN

Alhamdulillah, pujian yang mutlak kepada-Nya. Selawat dan salam ke atas Junjungan Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya dan yang mengikut jejak langkahnya hingga hari kesudahan. Sehari dua ini, banyak persoalan yang sampai ke meja kami berkaitan isu Hukum Seseorang Muslim Mengucapkan “Merry Christmas” Kepada Mereka Yang Beragama Kristian. Ini menjadikan kami terpanggil untuk menekuni isu ini dan membuat sedikit bahth al-‘ilmi dalam kerangka fiqh mu’asir (kontemporari) yang diistinbatkan daripada nusus syar’iyyah serta maslahat dan fiqh waq’ie (semasa). Justeru, Bayan Linnas pada kali ini kami tajukkan dengan tajuk seperti di atas.

Soalan ini sering berlegar-legar saban tahun dalam kalangan umat Islam. Ia juga seringkali menimbulkan polemik dan salahfaham baik dalam kalangan bukan Muslim, malah umat Islam sendiri. Kami menerima beberapa persoalan berkaitan ini daripada mereka yang mepunyai hubungan secara langsung dengan bukan Muslim baik secara kekeluargaan, kerjaya, mahupun kerana tinggal dalam kawasan kejiranan yang sama.

Melihat kepada kepentingan isu ini dalam kalangan umat Islam, kami cuba menghuraikan permasalahan ini dengan ilmiah dan melampirkan jawapan yang tuntas bagi permasalahan ini.

Islam Agama Rahmat

Sesungguhnya Rasulullah SAW itu sendiri datang untuk membawa rahmat kepada sekalian alam. Firman Allah SWT:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Maksudnya: “Dan tiadalah Kami mengutuskan engkau (wahai Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.”
(Surah al-Anbiya’: 107)

Dr. ‘Aid al-Qarani dalam bukunya, Rahmatan li al-‘Alamin  menyebut beberapa tafsiran, antaranya:

  • Baginda SAW merupakan seorang manusia utusan Allah.
  • Baginda SAW datang untuk membela nasib umat yang lemah, tertindas, terkebelakang dan terpenjara dengan pelbagai kezaliman.
  • Baginda SAW datang untuk mengangkat maruah mereka sehingga setaraf dengan bangsa lain.
  • Baginda SAW membina satu tamadun baru di antara sekalian tamadun yang sedia ada dan ia menjadi tamadun yang paling tinggi nilainya.
  • Rasulullah SAW telah mengeluarkan kita dari Semenanjung Arab yang tandus tanpa wujudnya sungai, kebun, mahupun tumbuh-tumbuhan, menjelajahi seluruh pelusuk bumi.

Islam adalah agama yang membawa rahmat, keamanan dan segala kebaikan. Allah SWT telah memerintahkan kepada kita untuk berlaku baik kepada semua manusia, tanpa sebarang perbezaan dengan dalil yang umum dan jelas:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Maksudnya: “…dan katakanlah kepada sesama manusia perkataan-perkataan yang baik.”
(Surah al-Baqarah: 83)

Al-Maraghi berkata: “Oleh sebab itu, dalam memenuhi hak setiap anggota umat atau seluruh manusia memadailah dengan pergaulan dan perkataan yang baik, menyuruh berbuat baik, mencegah perbuatan mungkar dan perbuatan lain bermanfaat di dunia dan akhirat.”[1]

Firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
Maksudnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, dan berbuat kebaikan…”
(Surah al-Nahl: 90)

Sayyid Qutub dalam Fi Zilal al-Quran berkata: “Ihsan mempunyai pengertian yang amat luas. Setiap perbuatan yang baik adalah ihsan belaka. Perintah berbuat ihsan dalam ayat itu merangkumi segala perbuatan dan muamalah. Ia merangkumi segala ruang kehidupan yang berkaitan dengan hubungan-hubungan seorang hamba dengan Allah, hubungan dengan keluarganya, hubungan dengan masyarakatnya dan hubungan dengan seluruh manusia yang lain.[2]

Definisi Merry Christmas

Merry menurut English Oxford Living Dictionaries adalah “cheerful and lively” (ceria dan meriah). Ia berasal daripada Bahasa Inggeris klasik – myrige – iaitu “pleasing, delightful” (menyenangkan, menggembirakan). [3]

Christmas pula bermaksud “The annual Christian festival celebrating Christ’s birth, held on 25 December in the Western Church” (Festival tahunan penganut Kristian bagi menyambut kelahiran Christ, diadakan pada 25 Disember di Gereja Roman Katolik)[4]. Ia berasal daripada Bahasa Inggeris klasik – Crīstes yang merujuk kepada Jesus Christ[5] dan mæsse iaitu sambutan jamuan suci (eucharist) bagi penganut Kristian khususnya gereja Roman Katolik[6]. Mass juga merujuk kepada upacara mingguan pada hari Ahad di gereja-gerja Katolik, begitu juga upacara pada Holy Days of Obligation. Ia berasal daripada Bahasa Latin; missa. Ia digunapakai pada penghujung liturgy apabila paderi berkata: Ite missa est ataupun boleh difahami dengan maksud “Upacara ini telah tamat. Bersurailah dalam keamanan (The Mass is ended. Go in peace).”[7]

Oleh itu, Crīstesmæsse dapat difahami sebagai Christ’s Mass iaitu sambutan kelahiran Jesus Christ, walaupun terdapat beberapa perbezaan pandangan tentang tarikh kelahiran Jesus Christ. Sambutan ini ditonjolkan dengan menzahirkan kegembiraan dan majlis keraian bagi menggantikan tradisi Roman Saturnalia dan perayaan-perayaan pagan yang lain sebelumnya. Sambutan ini mula berubah bentuk di England pada abad ke-19 melalui kemasukan budaya German (pokok Krismas) oleh Prince Consort dan pengaruh Charles Dickens menerusi novellanya yang terkenal, A Christmas Carol.[8]

Populasi Penganut Kristian di Malaysia

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Jabatan Perangkaan Malaysia pada tahun 2010, jumlah penganut Kristian di Malaysia adalah ketiga terbesar di Malaysia iaitu mencapai 9.2% daripada keseluruhan rakyat Malaysia.[9] Ia meliputi beberapa aliran dalam Kristian iaitu Anglican, Baptist, Brethren, gereja-gereja tanpa aliran khusus, gereja-gereja Karismatik, Lutheran, Methodist, Presbyterian dan Roman Catholic[10]. Melihat kepada hal ini, keberadaan dan hak mereka untuk hidup bersama-sama sebagai sebahagian daripada rakyat Malaysia perlu diraikan dengan sewajarnya.

Fiqh Kewujudan Bersama (al-Ta’ayush/Co-Existence)

Kami mulakan dengan firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
Maksudnya: “Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain).”
(Surah al-Hujurat: 13)

Al-Zamakhsyari ketika mengulas ayat ini menyatakan bahawa manusia diciptakan daripada Adam dan Hawa. Kita semua diciptakan daripada seorang ibu dan seorang ayah dan tanpa wujud kelebihan antara satu mengatasi yang lain. Maka, tidak ada sebab untuk berbangga akan diri sendiri dan melebihkan diri sendiri dalam hal keturunan.[11]

Kita perlu sedar bahawa hubungan dan kesatuan antara kita sesama manusia adalah bertaut pada semangat kemanusiaan (insaniyyah/humanity) dan bukannya pada faham creedal nation (al-ummah al-‘aqidiyyah). Fitrah kemanusiaan yang menginginkan keamanan, kebersamaan dan keadilan inilah yang boleh memandu kita dalam menghargai fiqh kewujudan bersama dalam kepelbagaian ini. Adalah menjadi satu keperluan bagi seluruh manusia untuk sedar bahawa sejauh mana perbezaan warna kulit, bangsa, politik dan agama, mereka adalah tetap bersaudara.

Terlalu banyak contoh-contoh dalam al-Qur’an, bagaimana para Nabi dinamakan kepada kaum masing-masing oleh Allah SWT sebagai “saudara” walaupun bagi kaum yang menentang Nabi mereka.

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا
Maksudnya: “Dan kepada kaum Thamud (Kami utuskan) saudara mereka: Nabi Soleh.”
(Surah al-A’raf: 73)

قَالُوا أَرْجِهْ وَأَخَاهُ وَابْعَثْ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ
Maksudnya: Mereka berkata: “Tangguhkanlah dahulu (sebarang tindakan) terhadapnya dan terhadap saudaranya, serta hantarkanlah ke bandar-bandar (negeri Mesir) orang-orang yang mengumpulkan (ahli-ahli sihir).”
(Surah al-Syu’ara: 36)

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا
Maksudnya: “Dan kepada kaum ‘Aad, Kami utuskan saudara mereka: Nabi Hud…”
(Surah Hud: 50)

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا
Maksudnya: “Dan kepada penduduk Madyan, Kami utuskan saudara mereka: Nabi Syuaib.
(Surah Hud: 84)

Hatta, dalam sejarah jelas menukilkan kata-kata Ibn ‘Abbas:

لَوْ قَالَ لِي فِرْعَوْنُ: بَارَكَ اللَّهُ فِيكَ. قُلْتُ: وَفِيكَ
Maksudnya: “Sekiranya Fir’aun berkata kepadaku: ‘Semoga Allah memberkati kamu.’ Nescaya aku akan menjawab: ‘Kepada kamu jua.”[12]

Ini bermakna, perbezaan fahaman apatah lagi pegangan tidak menjadi masalah bagi Muslim untuk menerima dan menanggapi bukan Muslim sebagai seorang saudara, yang bersusurgalurkan daripada Adam dan Hawa.

Hukum Mengucapkan Tahniah Atas Sambutan Krismas

Para ulama’ berbeza pandangan dalam menyatakan hukum mengucapkan tahniah bagi perayaan bukan Muslim atau dalam konteks soalan, Hari Krismas. Ini kerana, sebahagian ulama’ yang mengharamkannya melihat ucapan “tahniah” ini membawa konotasi seakan mengiktiraf dan mengakui agama lain. Manakala, bagi ulama’ yang membenarkannya pula melihat ia cuma sebagai satu bentuk penghargaan dan tanda penghormatan atas dasar sesama manusia tanpa bertujuan mengiktiraf kebenaran agama lain. Kami bahagikan kepada kumpulan yang mengharamkan dan juga membenarkan.

Pertama: Diharamkan Mengucap Tahniah

Antara mereka yang berpendapat hukumnya haram secara total adalah:

Ulama Silam (mutaqaddimin)

  • Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah.
  • Syeikh al-Islam Ibn Qayyim.

Ulama Kontemporari (muta’akhkhirin)

  • Syeikh Muhammad Soleh al-Uthaimin (Ulama Terkenal Di saudi)
  • Syeikh Abdul Aziz Bin Baz (Mantan Mufti Besar Saudi)
  • Syeikh Soleh al-Munajjid (ulama masa kini) dan ramai lagi.

Dalil Pengharaman:

Secara asasnya, mereka berdalilkan dengan:

  1. Firman Allah SWT:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
Maksudnya: dan (hamb-hamba Ar-Rahman itu) mereka tidak menghadiri Az-Zur dan apabila mereka melintas dengan perkara yang sia-sia mereka lalu dengan penuh kemuliaan.
(Surah al-Furqan: 72)

Abu al-‘Aliyah, Tawus Ibn Sirin al-Dahhaq al-Rabi’ bin Anas dan lain-lain berkata: “makna al-Zur ialah ‘Perayaan-perayaan Musyrikin”. Ulama’ lain menyatakan ia adalah majlis yang terdapat padanya nyanyian dan muzik.[13]

  1. Rasulullah SAW bersabda:

‏ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Maksudnya: Sesiapa yang menyerupai sesuatu kaum maka dia dalah daripadanya-
(Riwayat Abu Daud, no. 4031 dan al-Tabarani, no. 8327)

Syeikh Nasiruddin menyebutkan: “Agama Islam telah pun menggariskan suatu ketetapan bahawa seseorang penganut Islam daripada kalangan lelaki dan wanitanya tidak harus meniru atau mencontohi orang-orang bukan Muslim seluruhnya samada dari segi peribadatan, perayaan dan perhiasan yang khusus yang tertentu hanya kepada kalangan mereka sahaja.

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا، لاَ تَشَبَّهُوا بِاليَهُودِ وَلاَ بِالنَّصَارَى، فَإِنَّ تَسْلِيمَ اليَهُودِ الإِشَارَةُ بِالأَصَابِعِ، وَتَسْلِيمَ النَّصَارَى الإِشَارَةُ بِالأَكُفِّ
Maksudnya: Bukanlah daripada kami sesiapa yang meniru dengan selain kami. Janganlah meniru Yahudi dan Nasrani dan sesungguhnya salam Yahudi itu dengan isyarat jari dan salam Nasrani itu dengan tapak tangan.”
(Riwayat al-Tirmizi, no. 2695)

Ibn Taimiyyah menyatakan sekurang-kurang hadis Ibn Umar di atas menyatakan haram menyerupai walaupun zahir hadis menyatakan murtadnya orang yang menyerupai orang bukan Muslim. Oleh itu, tidak hairanlah jika ada ulama’ mazhab Hanafiyyah dan Malikiyyah berfatwa bahawa dikira murtad orang yang memberi hadiah lilin kepada Kristian di hari Krismas.

Memberi ucapan tahniah kepada mereka juga adalah dilarang kerana ini menzahirkan kegembiraan dan keredhaan kepada kekufuran mereka. Ibn al-Qayyim telah meriwayatkan ijma’ ulama’ akan haramnya tahniah kepada orang kafir bersempena perayaan mereka:

Katanya: “…dan adapun memberi tahniah kepada syiar-syiar bukan Islam yang khusus dengannya maka adalah haram dengan disepakati para ulama’ seperti memberi tahniah pada perayaan-perayaan mereka dan puasa mereka seperti dikata: ” ‘Eid Mubarak”(Selamat Hari Raya”) atau “Tahniah dengan perayaan ini” dan seumpamanya. dan hukum ini(haram) jika selamat pengucapnya daripada kufur maka ia adalah haram seumpama memberi tahniah kepada kafir atas sujudnya pada salib bahkan itu lebih besar dosanya di sis Allah daripada memberi tahniah kepada peminum arak dan pembunuh dan penzina dan seumpamanya.”[14]

Bagi para ulama’ yang mengharamkannya, perbuatan mengucapkan tahniah itu adalah bercanggah dengan firman Allah SWT:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلامُ
Maksudnya: “Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.”
(Surah Ali ‘Imran: 19)

Kedua: Diharuskan Mengucap Tahniah

Antara mereka yang mengharuskannya ialah:

Ulama Silam (mutaqaddimin):

  • Syeikh Muhammad Ahmad ‘Alish al-Maliki ketika ditanya: “Sekiranya seorang Muslim pergi ke rumah dhimmi pada hari perayaannya dan mengucapkan ‘Moga Allah memelihara umurmu sepanjang tahun’. Adakah ia dikira sebagai terkeluar daripada Islam atau tidak? Jawab beliau: “Tidak terkeluar daripada Islam seseorang Muslim yang berkata kepada seorang Kristian ‘Moga Allah memelihara umurmu sepanjang tahun’ di mana beliau tidak bermaksud untuk membesarkan kekufuran dan tidak meredhai kekufuran.[15]
  • Disebutkan oleh al-Hattab al-Rauyani bahawa Sultan al-Ulama’ al-Imam al-‘Izz Abd al-Salam al-Syafie telah ditanya telah hukum mengucapkan “Semoga hari sambutan ini diberkati untuk kamu.” kepada dhimmi semasa perayaan mereka. Jawabnya: “Sekiranya Muslim tersebut mengucapkan sedemikian kepada dhimmi dengan niat mengagungkan agama mereka dan perayaan mereka, sesungguhnya dia telah terkeluar daripada Islam. Adapun sekiranya beliau tidak bermaksud sedemikian dan ucapan itu sekadar terlontar di mulutnya, beliau tidak terkeluar daripada Islam kerana ucapannya adalah tanpa niat.”[16]

Ulama Kontemporari (muta’akhkhirin)

  • Syeikh Muhammad Rashid Redha (Pengarang Tafsir al-Manar)
  • Syeikh Dr. Ahmad al-Syarbasi (Pengarang kitab Yas’alunaka fi al-Din wa al-Hayah)
  • Syeikh Dr. Mustafa al-Zarqa (Ulama besar Syam)
  • Syeikh Abdullah bin Bayyah (Ulama besar Mauritania)
  • Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi (Pengerusi Kesatuan Ulama Sedunia)
  • Syeikh Syauqi Ibrahim Abdul Karim ‘Allam (Mufti Mesir)
  • Syeikh Dr. Ali Jumu’ah (Mantan Mufti Mesir)
  • Syeikh Abdul Sattar Fathullah Said (Pensyarah Universiti al-Azhar)

Secara umumnya, dalil-dalil mereka adalah:

  • Firman Allah SWT:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Maksudnya: Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana agama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil.
(Surah al-Mumtahanah: 8)

Al-Maraghi berkata: “Allah SWT tidak melarang kamu daripada melakukan perbuatan baik kepada bukan Muslim yang tidak memerangi kamu atas dasar agama, tidak mengusir kamu dari kampung halaman dan tidak membantu orang lain untuk mengusir kamu.”[17]

  • Firman Allah SWT:

وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
Maksudnya: Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat (seperti memberi salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). Sesungguhnya Allah sentiasa menghitung tiap-tiap sesuatu.
(Surah al-Nisa’: 86)

Imam al-Fakhru al-Razi berkata: “Ketahuilah lafaz (تَحِيَّةٍ) sebagai mana yang kami nyatakan merupakan kiasan kepada perbuatan memuliakan sesuatu. Justeru semua bentuk jenis perbuatan memuliakan boleh dimasukkan di bawah lafaz berkenaan.”[18]

Apabila ada rakan-rakan bukan Muslim mengucapkan Selamat Hari Raya kepada kita, maka kita membalasnya dengan ucapan tahniah yang sama. Tujuannya jelas, iaitu memuliakan beliau sebagai seorang saudara, sebagai penghargaan atas ucapan beliau dan tidak bermaksud menerima dan mengagungkan agamanya. Perihal pengagungan agama itu sudah masuk kepada perbahasan yang lain daripada perkara ini.

Daripada Asma’ binti Abu Bakar RAnhuma, katanya:

قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي فِي مُدَّةِ قُرَيْشٍ مُشْرِكَةً، وَهِيَ رَاغِبَةٌ – يَعْنِي مُحْتَاجَةٌ -، فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي قَدِمَتْ عَلَيَّ وَهِيَ مُشْرِكَةٌ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُهَا؟ قَالَ: صِلِي أُمَّكِ .
Maksudnya: “Telah datang ibuku untuk menziarahiku pada masa perjanjian dalam keadaan musyrik dan dia begitu berhajat untuk bertemuku, lantas aku bertanya Rasulullah SAW seraya berkata; “Sesungguhnya ibuku datang mengziarahiku sedangkan dia musyrik tetapi berkeinginan menemuiku, adakah aku menyambungnya? Sabda Rasulullah SAW: “Sambungkanlah silaturrahim dengan ibumu.”
Riwayat al-Bukhari (2620) dan Muslim (1003)

  • Daripada Anas bin Malik RA berkata:

كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ لَهُ: أَسْلِمْ”. فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ .
Maksudnya: “Ada seorang budak Yahudi yang bekerja membantu Nabi SAW telah menderita sakit. Maka Nabi SAW menziarahinya dan baginda duduk di sisi kepalanya lalu menyeru: “Masuklah Islam”. Budak itu memandang kepada bapanya yang berada berdekatannya, lalu bapanya berkata,: “Taatilah Abu al-Qasim SAW”. Lantas budak itu memeluk Islam. Kemudian Nabi SAW keluar sambil bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan budak itu dari neraka.”
Riwayat al-Bukhari (1356)

Tarjih

Selepas melihat dua pandangan dan juga situasi semasa di Malaysia, kami berpendapat ucapan Merry Christmas kepada penganut Kristian dan seumpamanya adalah diharuskan. Ini kerana,

  • Firman Allah SWT:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Maksudnya: Dan jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua) kerana sikap adil itu lebih hampir kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan.
(Surah al-Maidah: 8)

Al-Maraghi berkata: “Ini kerana ketidakadilan yang dilakukan akan menimbulkan kerosakan yang boleh menghancurkan kehidupan bersosial, memutuskan hubungan antara individu dan datang malapetaka yang besar.”[19]

  • Bersekutu (tahaluf) bersama golongan bukan Islam yang mencintai kedamaian dan meninggalkan permusuhan yang bertujuan untuk menyelamatkan kemanusiaan dari peperangan.
  • Rasulullah Saw memuji perjanjian Fudhul sedangkan ia berlaku pada masa Arab Jahiliah.

لَقَدْ شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِيَ بِهِ حُمُرَ النَّعَمِ، وَلَوْ أُدْعَى بِهِ فِي الْإِسْلَامِ لَأَجَبْتُ. تحالفوا أن ترد الفضول على أهلها، وألا يعز ظالم مظلوما
Maksudnya: “Aku menyaksikan perjanjian di rumah Abdullah Bin Jud’an, kalau aku diminta melakukannya pada zaman Islam nescaya aku menyahutnya. Perjanjian mereka untuk dikembalikan harta kepada tuan punya dan tidak memuliakan orang yang zalim atas kezalimannya.”

  • Hak minoriti bukan Muslim. Ini kerana hak-hak golongan minoriti yang bukan Muslim juga perlu diraikan lebih-lebih lagi apabila mereka mengambil hak kewarganegaraan (muwatanah). Syeikh Dr Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya Fi Fiqh al-Awlawiyyat ada menekankan tentang keperluan meneliti masalah-masalah yang dihadapi oleh minoriti bukan Muslim.
  • Perlu membezakan antara penyerupaan (tasyabbuh) dan persamaan (musyabahah). Syeikh Abdullah bin Mahfudh Ibn Bayyah menyatakan bahawa perlu ada perbezaan antara memahami istilah penyerupaan (tasyabbuh) dan persamaan (musyabahah). Menurut beliau, bukan semua perkara yang kita lakukan dan dalam masa yang sama ia juga dilakukan oleh ahli agama lain maka ia menjadi haram. Ia menjadi haram jika menyamai mereka dengan niat (tashabbuh) bukannya semata-mata dengan wujudnya persamaan (musyabahah).

Hal ini adalah sebagaimana komentar Ibn ‘Abidin terhadap Durr al-Mukhtar pada perbahasan hukum membaca mushaf dalam solat yang dikatakan menyerupai ahli kitab, katanya:

قَالَ هِشَامٌ: رَأَيْت عَلَى أَبِي يُوسُفَ نَعْلَيْنِ مَخْصُوفِينَ بِمَسَامِيرَ، فَقُلْت: أَتَرَى بِهَذَا الْحَدِيدِ بَأْسًا؟ قَالَ لَا قُلْت: سُفْيَانُ وَثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ كَرِهَا ذَلِكَ لِأَنَّ فِيهِ تَشَبُّهًا بِالرُّهْبَانِ؛ فَقَالَ «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَلْبَسُ النِّعَالَ الَّتِي لَهَا شَعْرٌ» وَإِنَّهَا مِنْ لِبَاسِ الرُّهْبَانِ. فَقَدْ أَشَارَ إلَى أَنَّ صُورَةَ الْمُشَابَهَةِ فِيمَا تَعَلَّقَ بِهِ صَلَاحُ الْعِبَادِ لَا يَضُرُّ… وَفِيهِ إشَارَةٌ أَيْضًا إلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالتَّشَبُّهِ أَصْلُ الْفِعْلِ: أَيْ صُورَةُ الْمُشَابَهَةِ بِلَا قَصْدٍ.
Maksudnya: “Hisham berkata: Aku melihat Abu Yusuf (memakai) sepasang sandal yang dijahit dengan paku-paku. dan berkata: ‘Adakah kamu merasa susah memakai ini? Dia menjawab, ‘Tidak’. Aku berkata, ‘Sufyan dan Thaur bin Yazid tidak suka kepada sandal ini kerana ia menyerupai rahib. Beliau menyatakan, ‘Nabi SAW memakai sandal yang mempunyai bulu di atasnya.’ (Ibn ‘Abidin menyatakan) Sesungguhnya ia (sandal itu) adalah daripada pakaian rahib. Maka ini menunjukkan bahawa apa-apa persamaan / penyerupaan yang berkaitan dengan kebaikan manusia adalah tidak bermasalah … dan ini juga menunjukkan mengenai asal perbuatan meniru itu – ia adalah bentuk persamaan tanpa niat.”[20]

  • Perlu dibezakan antara hukum fiqhi dan fatwa. Ini kerana, hukum fiqhi ada yang bersifat thabit yang tidak mungkin berubah seperti hukum قطعية الثبوت و الدلالة. Begitu juga ada yang boleh berubah iaitu yang tidak thabit. Hal ini harus berijtihad. Berlainan pula dengan fatwa yang boleh menerima perubahan berdasarkan kemaslahatan zaman. Dr. Yusuf al-Qaradhawi berkata: Ini yang menyebabkan aku menyalahi pandangan Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah berkenaan pengharaman ucapan tahniah kepada orang Kristian.”
  • Menghukumi sesuatu adalah dengan isinya dan kandungannya, bukan dengan kulit atau namanya semata-mata (العبرة بالمسميات لا بالاسماء).
  • Kami melihat, perbezaan pandangan yang timbul adalah pada memahami definisi yang tepat bagi perkataan “tahniah” yang menyebabkan hukumnya terbahagi kepada dua seperti di atas. Bagi menjelaskan hal ini, kita perlu melihat definisi “tahniah” dalam konteks bahasa dan pemahaman yang sebenar. Dalam Bahasa Melayu, “tahniah” bermaksud: “ucapan yang ditujukan kepada seseorang untuk menyatakan rasa gembira kerana kejayaannya dll; ucapan selamat”[21]

Maka, dapat difahami bahawa ucapan Merry Christmas adalah termasuk dalam fatwa keharusan mengucapkan tahniah atas perayaan agama lain tanpa mengagungkan agama mereka. Ia tidak lebih daripada sekadar ucapan bagi menzahirkan rasa gembira dan seronok apabila melihat mereka bergembira meraikannya.

Keputusan Institusi Fatwa

Bagi menyokong keharusan yang kami tarjihkan, kami kemukakan di sini sebahagian pendapat Institusi Fatwa:

  • Dar Ifta al-Misriyyah. Harus mengucapkan tahniah kepada orang bukan Muslim merayakan perayaan mereka itu dengan lafaz yang tidak bertentangan dengan akidah Islamiyyah dan perbuatan ini termasuk di bawah bab Ihsan.[22]
  • Majlis Fatwa Eropah. Mereka juga mengharuskannya sesuai dengan Fiqh al-Aqaliyyat (Minoriti Muslim di negara bukan Muslim).[23]

Garis Panduan (dhawabit) Umum

  • Ucapan tahniah adalah sebagai tanda perpaduan dan hubungan kemasyarakatan yang erat dan harmoni. Adapun melibatkan diri dalam upacara-upacara keagamaan khusus mereka, ia tetap tidak dibenarkan di sisi Islam.
  • Ucapan tersebut tidak disertai dengan niat untuk mengagungkan, memuliakan dan menyetujui agama lain serta tidak juga menumpahkan kasih sayang yang terlalu tinggi melangkaui batas agama.
  • Ucapan tahniah tidak mengandungi sebarang bentuk penghargaan yang menyalahi syarak seperti menghadiahkan arak dan perkara yang tidak diizinkan dalam Islam.
  • Ucapan tersebut adalah kepada orang bukan Muslim yang tidak bermusuh dengan Islam, khususnya kepada seseorang yang mempunyai ikatan tertentu seperti kaum kerabat, jiran tetangga, teman-teman pengajian, kawan-kawan sekerja dan sebagainya.
  • Menghadiri jemputan makan malam bukan Muslim, menziarahi bukan Muslim dan bertukar-tukar hadiah juga adalah dibenarkan. Rasulullah SAW pernah menerima hadiah daripada Raja al-Muqawqis[24] yang tidak beragama Islam. Saidina Umar al-Khattab RA juga pernah menghadiahkan baju kepada saudaranya yang tidak memeluk Islam.[25]

Kenyataan Mufti Wilayah

Setelah kami amati dan tekuni isu ini dengan berhemah, di samping membincangkan dengan pakar serta kembali kepada rujukan yang muktabar sebagaimana yang telah dilampirkan kesemuanya di atas, maka kami berpendapat hukum mengucapkan Merry Christmas adalah HARUS dan perlu meraikan garis panduan yang telah kami nyatakan. Ini juga selari dengan keputusan Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-78 yang bersidang pada 12 Jun 2007, “Memberi ucapan tahniah dan selamat atau mengirimkan ucapan melalui kad atau alat-alat telekomunikasi seperti e-mel atau sistem pesanan ringkas (SMS) dan sebagainya kepada orang bukan Muslim sempena dengan perayaan agama mereka adalah harus, dengan syarat ucapan itu tidak mengiktiraf, memuji atau memuliakan agama bukan Muslim serta tidak menggunakan sebarang simbol atau lambang keagamaan mereka dalam kiriman ucapan tersebut.

Kami menguatkan hujah ini melalui kenyataan Dr Yusuf al-Qaradhawi dalam kitabnya al-Halal wa al-Haram fi Islam antara lain menyebut: “Jika kita hendak menyimpulkan ajaran-ajaran Islam dalam tindakannya terhadap orang-orang yang menyalahinya dalam lingkungan apa yang halal dan apa yang haram, maka memadailah kita berpegang kepada dua ayat daripada al-Quran al-Karim yang boleh dianggap sebagai prinsip yang menyeluruh, sebagaimana firman Allah SWT:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ. إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Maksudnya: Allah SWT tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana agama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu. Sesungguhnya Allah SWT mengasihi orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah SWT hanyalah melarang kamu daripada menjadikan teman rapat orang-orang yang memerangi kamu kerana agama (kamu), dan mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu, serta membantu (orang lain) untuk mengusir kamu. Dan (ingatlah), sesiapa yang menjadikan mereka teman rapat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
(Surah al-Mumtahanah: 8-9)

Ayat yang pertama di atas tidak hanya menggalakkan seseorang berlaku adil dan saksama kepada orang-orang yang bukan Muslim, yang tidak memerangi, iaitu tidak menunjukkan permusuhan kepada kaum Muslimin dalam agamanya.

Tegasnya, mereka itu tidak menaruh niat permusuhan atau peperangan terhadap kaum Muslimin, malah ayat itu juga menggalakkan supaya berbuat baik dan memberikan layanan yang sempurna kepada mereka. Perkataan “al-bir” iaitu “baik” merupakan kalimah yang meliputi segala pengertian dan maksud yang baik umumnya dalam sebarang maksud, dan ianya adalah suatu perkara yang melebihi “keadilan”. Kalimah al-bir tersebut pernah digunakan oleh kaum Muslimin untuk menunjukkan kewajipan yang utama tentang hak-hak kemanusiaan ke atas diri mereka, ketika menggunakan perkataan itu untuk berbuat baik kepada kedua ibu bapa (birr al-walidain)

Kami menyatakan di sini bahawa ayat itu menggalakkan apa yang kami nyatakan kerana firman Allah SWT yang bermaksud: Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang berlaku adil. Seseorang Mukmin itu mestilah berusaha dengan sepenuh daya upaya untuk merealisasikan apa yang disukai oleh Allah SWT, dengan tidak sama sekali menafikan atau menolak pengertian “menggalakkan dan menuntut” yang terdapat di dalam ayat ini, kerana ianya berbunyi dengan ungkapan “Allah SWT tidak melarang kamu…” Ini kerana ungkapan seumpama ini adalah untuk menolak apa yang terlekat di dalam pemikiran Muslim, yang mana masih lagi berlaku sehingga ke hari ini.

Sesiapa sahaja yang menyalahi ajaran Islam tidak berhak baginya mendapat kebaikan, keadilan dan pergaulan yang baik. Lantaran itu, Allah SWT menjelaskan bahawa Dia tidak melarang orang Islam untuk melakukan sedemikian, meskipun orang-orang itu menyalahi agama mereka, bahkan sekalipun mereka memeranginya dan bermusuhan terhadapnya.”

Sudah sampai masanya bagi para ulama’ menginterpretasikan apa yang didapati daripada teks-teks klasik ulama’ silam supaya sesuai dengan kerangka masa kini tanpa meninggalkan batasan syarak. Tidak cukup hanya sekadar menukilkan apa yang dicatatkan pada lembaran kertas daripada kitab-kitab silam, bahkan para ulama’ perlu turun ke lapangan bagi memahami kitab al-waqi’ (‘membaca’ realiti semasa). Kemampuan untuk berinteraksi dengan teks-teks klasik inilah yang akan membawa umat Islam ke satu paradigma yang jauh ke hadapan dan lebih berpijak kepada realiti sebenar pada zaman sekarang serta tidak ketinggalan dalam arus perdana. Dengan itu, akan terzahirlah Islam sebagai agama yang bersifat rahmatan li al-‘alamin (memberi rahmat ke seluruh alam jagat).

Semoga dengan pencerahan ini menjadikan kita sentiasa berada di landasan yang sebenarnya mengikut neraca syariah.

Akhukum Fillah,

Datuk Dr. Zulkifli bin Mohamad al-Bakri
19 Disember 2016 / 19 Rabi’ al-Awwal 1438H

__________________________________________________

[1] Al-Maraghi, Mustafa. Tafsir al-Maraghi, terj., 1/174.

[2] Syed Qutb. Fi Zilal al-Qur’an (terj.), 10/102

[3] https://en.oxforddictionaries.com/definition/merry

[4] https://en.oxforddictionaries.com/definition/christmas

[5] https://en.oxforddictionaries.com/definition/christ

[6] https://en.oxforddictionaries.com/definition/mass

[7] Reverend John Trigilio Jr. & Reverend Kenneth Brighenti. The Catholicism Answer Book: The 300 Most Frequently Asked Questions , m.146.

[8] The Oxford Dictionary of the Christian Church (ed. E.A. Livingstone). m. 335-336.

[9] Rujuk http://www.statistics.gov.my/index.php?r=column/cthemeByCat&cat=117&bul_id=MDMxdHZjWTk1SjFzTzNkRXYzcVZjdz09&menu_id=L0pheU43NWJwRWVSZklWdzQ4TlhUUT09

[10] http://www.operationworld.org/country/malc/owtext.html

[11] Al-Kasysyaf ‘an Haqa’iq Ghawamidh al-Tanzil, jil. 4, m. 374.

[12] Riwayat al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 1113.

[13] Ibn Kathir, Tafsri Ibn Kathir, 3/309.

[14] Ibn al-Qayyim. Ahkam Ahl al-Zimmah, 1/441.

[15] Al-Maliki, Muhammad Ahmad ‘Alish. Fath al-‘Ali al-Malik fi al-Fatawa ‘ala Mazhab al-Imam al-Malik, jil. 2, m. 350.

[16] Al-Hattab al-Ru’yani, Muhammad Abu ‘Abd Allah ibn Muhammad at-Tarabulsi. Mawahib al-Jalil fi Syarh Mukhtasar al-Khalil, jil. 6, m. 289.

[17] Al-Maraghi, Mustafa. Tafsir al-Maraghi (terj.), 14/6969.

[18] Al-Razi, Al-Fakhr al-Razi. Tafsir Mafatih al-Ghaib, 5/221.

[19] Al-Maraghi, Mustafa. Tafsir al-Maraghi (terj.), ?/1506.

[20] Ibn ‘Abidin. Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, 1/624

[21] http://prpm.dbp.gov.my/Search.aspx?k=tahniah

[22] http://www.dar-alifta.org/ar/ViewFatwa.aspx?sec=fatwa&ID=13237

[23] http://www.e-cfr.org/fatwa/3ما-حكم-تهنئة-غير-المسلمين-بأعيادهم؟-/

[24] Ia adalah gelaran kepada pemerintah Mesir berbangsa Qibti kuno.

[25] Ia ada terdapat dalam hadis yang panjang dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim. Imam al-Nawawi ketika mensyarahkan hadis ini menyatakan: “Dibolehkan seorang Muslim menghadiahkan orang Musyrik pakaian dan selainnya.” Rujuk Syarh al-Nawawi ‘ala Muslim, 14/38.

http://muftiwp.gov.my/index.php/ms-my/perkhidmatan/bayan-linnas/1349-bayan-linnas-siri-ke-81-hukum-mengucapkan-merry-christmas-kepada-mereka-yang-beragama-kristian

AQIDAH SIFAT 50 = AQIDAH AHLUSNNAH WALJAMAAH (4 MADZAB SUNNI)

 

aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah terdiri dari 50 aqidah, di mana yang 50 aqidah ini dimasukkan ke dalam 2 kelompok besar, yaitu 1. Aqidah Ilahiyyah dan 2. Aqidah Nubuwwiyah.


Adapun Aqidah Ilahiyyah terdiri dari 41 sifat, yaitu:
===============================
a. 20 sifat yang wajib bagi Allah swt: wujud (وجود), qidam (قدم), baqa (بقاء), mukhalafah lil hawaditsi (مخالفة للحوادث), qiyamuhu bin nafsi (قيامه بالنفس), wahdaniyyat (وحدانية), qudrat (قدرة), iradat (ارادة), ilmu (علم), hayat (حياة), sama’ (سمع), bashar (بصر), kalam (كلام), kaunuhu qadiran (كونه قديرا), kaunuhu muridan (كونه مريدا), kaunuhu ‘aliman (كونه عليما), kaunuhu hayyan (كونه حيا), kaunuhu sami’an (كونه سميعا), kaunuhu bashiran (كونه بصيرا), dan kaunuhu mutakalliman (كونه متكلما).


b. 20 sifat yang mustahil bagi Allah swt: ‘adam (tidak ada), huduts (baru), fana’ (rusak), mumatsalah lil hawaditsi (menyerupai makhluk), ‘adamul qiyam bin nafsi (tidak berdiri sendiri), ta’addud (berbilang), ‘ajzu (lemah atau tidak mampu), karohah (terpaksa), jahlun (bodoh), maut, shamam (tuli), ‘ama (buta), bukmun (gagu), kaunuhu ‘ajizan, kaunuhu karihan, kaunuhu jahilan (كونه جاهلا), kaunuhu mayyitan (كونه ميتا), kaunuhu ashamma (كونه أصم), kaunuhu a’ma (كونه أعمى), dan kaunuhu abkam (كونه أبكم).
c. 1 sifat yang ja’iz bagi Allah swt.


Sedangkan, Aqidah Nubuwwiyah terdiri dari 9 sifat, yaitu:
a. 4 sifat yang wajib bagi para Nabi dan Rasul: siddiq (benar), tabligh (menyampaikan), Amanah, dan fathanah (cerdas).
b. 4 sifat yang mustahil bagi para Nabi dan Rasul: kidzib (bohong), kitman (menyembunyikan), khianat, dan baladah (bodoh).
c. 1 sifat yang ja’iz bagi para Nabi dan Rasul.


1. Dalil sifat Wujud (Maha Ada): QS Thaha ayat 14, QS Ar-Rum ayat 8, dsb.
2. Dalil sifat Qidam (Maha Dahulu): QS Al-Hadid ayat 3.
3. Dalil sifat Baqa (Maha Kekal): QS Ar-Rahman ayat 27, QS Al-Qashash ayat 88.


4. Dalil sifat Mukhalafah lil Hawaditsi (Maha Berbeda dengan Makhluk): QS Asy-Syura ayat 11, QS Al-Ikhlas ayat 4.


5. Dalil sifat Qiyamuhu bin Nafsi (Maha Berdiri Sendiri): QS Thaha ayat 111, QS Fathir ayat 15.


6. Dalil sifat Wahdaniyyat (Maha Tunggal / Esa): QS Az-Zumar ayat 4, QS Al-Baqarah ayat 163, QS Al-Anbiya’ ayat 22, QS Al-Mukminun ayat 91, dan QS Al-Isra’ ayat 42-43.


7. Dalil sifat Qudrat (Maha Kuasa): QS An-Nur ayat 45, QS Fathir ayat 44.
8. Dalil sifat Iradat (Maha Berkehendak): QS An-Nahl ayat 40, QS Al-Qashash ayat 68, QS Ali Imran ayat 26, QS Asy-Syura ayat 49-50.


9. Dalil sifat Ilmu (Maha Mengetahui): QS Al-Mujadalah ayat 7, QS At-Thalaq ayat 12, QS Al-An’am ayat 59, dan QS Qaf ayat 16.


10. Dalil sifat Hayat (Maha Hidup): QS Al-Furqan ayat 58, QS Ghafir ayat 65, dan QS Thaha 111.


11 & 12. Dalil sifat Sama’ (Maha Mendengar) dan Bashar (Maha Melihat): QS Al-Mujadalah ayat 1, QS Thaha ayat 43-46.


13. Dalil sifat Kalam (Maha Berfirman): QS An-Nisa ayat 164, QS Al-A’raf ayat 143, dan QS Asy-Syura ayat 51.


CATATAN PENTING:
============




Pokok-pokok Ilmu Tauhid (مبادئ علم التوحيد):
===========================


1. Definisi Ilmu Tauhid (حده):
Ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat Allah dan para rasul-Nya, baik sifat-sifat yang wajib, mustahil maupun ja’iz, yang jumlah semuanya ada 50 sifat. Sifat yang wajib bagi Allah ada 20 sifat dan sifat yang mustahil ada 20 sifat serta sifat yang ja’iz ada 1 sifat. Begitupula sifat yang wajib bagi para rasul ada 4 sifat (sidiq. tabligh, amanah, dan fathanah) dan sifat yang mustahil ada 4 sifat (kidzb / bohong, kitman / menyembunyikan, khianat, dan bodoh) serta sifat yang ja’iz ada 1 sifat. 50 sifat ini dinamakan “Aqidatul Khomsin / عقيدة الخمسين “. Artinya: Lima puluh Aqidah.


2. Objek atau Sasaran Ilmu Tauhid (موضوعه): Dzat Allah dan sifat-sifat Allah.


3. Pelopor atau Pencipta Ilmu Tauhid (واضعاه): Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (260 H – 330 H / 873 M – 947 M ) dan Imam Abul Manshur Al-Mathuridi ( 238 – 333 H / 852 – 944 M ).


4. Hukum Mempelajari Ilmu Tauhid (حكمه): Wajib ‘ain dengan dalil ijmali (global) dan wajib kifayah dengan dalil tafshili.


5. Nama Ilmu Tauhid (اسمه): Ilmu Tauhid, Ilmu Ushuluddin, Ilmu Kalam dan Ilmu ‘Aqa’id.


6. Hubungan Ilmu Tauhid dengan Ilmu-ilmu lain (نسبته): Asal untuk ilmu-ilmu agama dan cabang untuk ilmu selainnya.


7. Masalah-masalah Ilmu Tauhid (مسائله): Sifat-sifat wajib, mustahil, dan ja’iz bagi Allah swt dan para Rasul-Nya.


8. Pengambilan Ilmu Tauhid (استمداده): Diambil dari Al-Qur’an, Al-Hadits, dan akal yang sehat.


9. Faedah Ilmu Tauhid (فائدته): Supaya sah melakukan amal-amal sholeh di dunia.


10. Puncak Mempelajari Ilmu Tauhid (غايته): Memperoleh kebahagian, baik di dunia maupun akherat dan mendapat ridha dari Allah swt serta mendapat tempat di surga.


[Sejarah] Penaklukan Konstantinopel Oleh Muhammad Al-Fatih (1453 M) –
beliau adalah islam sunni pengikut salah satu 4 madzab beraqidah al asy’ary (aqidah sifat 50)


Kalau ada sosok yang ditunggu-tunggu kedatangannya sepanjang sejarah Islam, dimana setiap orang ingin menjadi sosok itu, maka dia adalah sang penakluk Konstantinopel. Bahkan para shahabat Nabi sendiri pun berebutan ingin menjadi orang yang diceritakan Nabi SAW dalam sabdanya.

Betapa tidak, beliau Nabi SAW memang betul-betul memuji sosok itu. Beliau bersabda “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”
[H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Dari Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah?
Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah/Roma?
Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel.

(HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)

Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim. Adz-Dzahabi sepakat dengan al-Hakim. Sementara Abdul Ghani al-Maqdisi berkata: Hadits ini hasan sanadnya. Al-Albani sependapat dengan al-Hakim dan adz-Dzahabi bahwa hadits ini shahih. (Lihat al-Silsilah al-Shahihah 1/3, MS)

Ada dua kota yang disebut dalam nubuwwat nabi di hadits tersebut;

1. Konstantinopel

Kota yang hari ini dikenal dengan nama Istambul, Turki. Dulunya berada di bawah kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodoks. Tahun 857 H / 1453 M, kota dengan benteng legendaris tak tertembus akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad al-Fatih, sultan ke-7 Turki Utsmani.

2. Rumiyah

Dalam kitab Mu’jam al-Buldan dijelaskan bahwa Rumiyah yang dimaksud adalah ibukota Italia hari ini, yaitu Roma. Para ulama termasuk Syekh al-Albani pun menukil pendapat ini dalam kitabnya al-Silsilah al-Ahadits al-Shahihah.

Kontantinopel telah dibuka 8 abad setelah Rasulullah menjanjikan nubuwwat tersebut. Tetapi Roma, hingga hari ini belum kunjung terlihat bisa dibuka oleh muslimin. Ini menguatkan pernyataan Nabi dalam hadits di atas. Bahwa muslimin akan membuka Konstantinopel lebih dulu, baru Roma.

Itu artinya, sudah 15 abad sejak Rasul menyampaikan nubuwwatnya tentang penaklukan Roma, hingga kini belum juga Roma jatuh ke tangan muslimin.

 

http://salafy-tobat.blogspot.co.id/2011/06/50-aqidah-ahlussunnah-wal-jamaah.html

KHAUL / PERINGATAN KEMATIAN RAJA SAUDI OLEH KAUM WAHABY NAJD (SALAFY PALSU)

Peringatan = mengingati

perayaan = merayakan dgn bersenang-senang

WAHABY melarang peringatan maulid nabi padahal pada 12 rabiul awal adalah hari lahir rasulullah- hari wafat rasulullah dan hari rasulullah tiba di madinah”

WAHABY – SYIAH – LIBERAL BUKAN ISLAM—BASMI SAMPAI KE AKAR2NYA!!!!

 

Ciri Khas Akidah ASWAJA (Allah ada tanpa tempat dan arah) (kajian aswaja bersama KH idrus ramli)

Ciri Khas Akidah ASWAJA (Allah ada tanpa tempat dan arah) (kajian aswaja bersama KH idrus ramli)

 

Isis : Raja saudi halal darahnya karena cium pedang pusaka kyai mukidi pada malam 1 syur0 :P

king-saud-cium-pedangcium-tangan