Kisah Nabi sakit mata parah ketika di asuh kakeknya (abdul muthalib), berdahak dan bersin

Tanda2 sebelum nabi muhammad diangkat jadi nabi (irhasat)…

Note: …klo sesudah diangkat jadi nabi (mukjizat)

  1. Nabi sakit mata parah ketika diasuh kakeknya

Imam Al-Hafidz Abu Al-Faraj Ibnu Al-Jauzi menegaskan dalam Kitab Al Wafa bi Ahwaali Al-Mushtofa hal 97-98

قال الحافظ أبو الفرج ابن الجوزي في « الوفا باحوال المصطفى ﷺ ص ٩٧-٩٨»
في سنة سبع من مولده صلى الله عليه وسلم أصابه رمد شديد فعولج بمكة، فلم يُغْن فقيل لعبد المطلب : إن في ناحية عكاظ راهباً يعالج الأعين، فركب إليه فناداه وديره مغلق فلم يجبه، فتزلزل ديره حتى كاد أن يسقط عليه.
فخرج مبادرًا فقال: يا عبد المطلب، إن هذا الغلام نبي هذه الأمة ولو لم أخرج إليك لخر علي ديرى، فارجع به واحفظه، لا يقتله بعض أهل الكتاب. ثم عالجه وأعطاه ما يعالج به. وألقي الله له المحبة في قلوب قومه وكل من يراه.

Pada tahun ketujuh kelahiran Nabi Muhammad, beliau tertimpa penyaklt mata yang parah dan diobati di Makkah, namun tidak sembuh. Ada yang mengatakan kepada Abdul Muthalib bahwa di ujung pasar Ukazh ada seorang pendeta yang dapat mengobati penyakit. la berangkat menemui pendeta itu. Namun biaranya tertutup dan pendeta itu tidak menerimanya, sehingga biara itu tergoncang. Pendeta itu khawatir kalau biaranya ambruk menimpanya. Maka ia segera keluar, dan berkata, “Wahai Abdul Muthalib, sesungguhnya anak ini adalah Nabi umat ini. Jika aku tidak keluar menemuimu, maka biaraku ini akan ambruk menimpaku. Bawalah ia dan jagalah dirinya dari sebagian Ahli kitab yang ingin membunuhnya secara diam-diam”. Pendeta itu mengobati dan memberi obat kepada beliau. Allah menaruh rasa cinta untuk beliau ke hati-hati kaum beliau serta orang yang melihat beliau.

Riwayat ini juga bisa kita temukan dalam kitab
١.المنهل العذب المورود شرح سنن أبي داود ج ٩/ ص ١٩٨
٢.سبل الهدى و الرشاد ج ٢/ ص ٢

Juga terdapat pada kitab sirah ” Nurilabshar”

Riwayat kisah seperti ini atau yang semisal dengannya sama sekali tidak mengurangi kemuliaan Rasulullah Muhammad ﷺ. Sebaliknya, justru menegaskan sifat Jaiz seorang Rasul bahwa beliau memiliki sifat manusiawi (اعراض البشرية). Hal ini tak lain adalah sifat kemanusiaan yang melekat pada pribadi Rasul. Sebagai manusia biasa, Rasulullah ﷺ makan, minum, tidur, sakit dan lain sebagainya. Bahkan Rasulullah ﷺ pernah lupa, bercanda, menangis sebagaimana umumnya manusia.

Hikmah terbesar Allah menjadikan hal seperti ini, kita sebagai umatnya akan sungguh-sungguh memuliakan Rasulullah ﷺ tapi tidak akan pernah menganggap beliau sebagai Tuhan. Sebab, dalam diri beliau terdapat sifat-sifat kemanusiaan. Di sisi lain Rasulullah ﷺ sebagai uswatun hasanah, maka dengan ada sifat-sifat kemanusiaan seperti itu akan memudahkan umat untuk mengikuti jejak langkahnya.

Wallahu a’lam bish Showab.

2. hadis nabi ketika dahak

konsep-dan-dalil-tabarruk-10-638

Kebanyakan para ulama mengatakan bahwa air ludah hukumnya adalah suci, begitu juga dengan air dahak. Salah satu dalil yang dijadikan dasar oleh mereka adalah riwayat yang disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari berikut;

وما تنخم النبي صلى الله عليه وسلم نخامة إلا وقعت في كف رجل منهم فدلك بها وجهه وجلده

“Dan Nabi Saw tidak berdahak kecuali dahak tersebut jatuh pada tangan seseorang dari sahabat. Kemudian dia menggosok-gosokkan dahak tersebut ke mukanya dan kulitnya.”

Riwayat ini berisi penjelasan bahwa ketika Nabi Saw berdahak, maka dahak tersebut tidak jatuh ke tanah, melainkan ditengadah oleh sebagian sahabat dan digosokkan pada wajah dan mukanya. Ini menunjukkan bahwa dahak tidak najis. Karena andaikan najis, pasti Nabi Saw melarang perbuatan sahabat tersebut.

2. Hadis nabi bersin

Bersin Rasulullah dan Bersin Manusia Awam
Bersin Rasulullah dan Bersin Manusia Awam
عن أبي هريرة رضي الله عنه: كَانَ إِذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ أَوْ ثَوْبَهُ عَلَى فِيْهِ وَخَفَضَ بِهَا صَوْتَهُ -الترمذي
Artinya: Dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya-,”Bahwasannya Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam jika bersin beliau meletakkan tangannya atau pakaiannya di atas mulutnya, dan dengannya beliau memelankan suara (bersin)” (Riwayat At Tirmidzi, beliau menyatakan,”hadits hasan shahih”)

Dari hadits di atas, Al Munawi menyimpulkan bahwa Rasulullah menahan suara bersin dengan menutup mulut dengan tangan atau baju, dalam riwayat lain menutup wajah. Rasulullah juga tidak berteriak ketika bersin sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan manusia awam.

2-2-1 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (1/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

2-2-1 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (1/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

MENUJU KEBENINGAN TAUHID BERSAMA AS-SANUSI
Terjemah Syarḥ Umm-ul-Barāhin
Penulis: Al-Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi

Penerjemah: Ahmad Muntaha AM.
Penerbit: Santri Salaf Press-Kediri

Rangkaian Pos: 2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 2-2-1 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (1/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  2. 2.2-2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (2/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

(فَضْلٌ) وَ مَعَ أَنَا نَقُوْلُ أَنَّ الْمَعْرِفَةَ وَاجِبَةٌ وَ أَنَّ النَّظَرَ الْمُوْصِلُ إِلَيْهَا وَاجِبٌ، فَإِنَّ بَعْضَ أَصْحَابِنَا يَقُوْلُ أَنَّ مَنِ اعْتَقَدَ فِيْ رَبِّهِ تَعَالَى الْحَقَّ وَ تَعَلَّقَ بِهِ اعْتِقَادُهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيْحِ فِيْ صِفَاتِهِ فَإِنَّهُ مُؤْمِنٌ مُوَحِّدٌ. وَ لكِنْ هذَا لَا حَصَلَ لِغَيْرِ نَاظِرٍ لَمْ نَأْمَنْ أَنْ يَتَخَلْخَلَ اعْتِقَادُهُ.

(Pasal): Cukupnya Taqlīd untuk Meyakini Allah.

Di saat aku berpendapat bahwa ma‘rifat dan pemikiran yang mengantarkan padanya wajib, sebagian Ashḥāb kita (ulama Asy‘ariyah) berpendapat, bahwa orang yang meyakini kebenaran tentang Allah ta‘ālā dan keyakinannya terhadap sifat-sifat Allah bergantung padanya dengan cara yang benar, maka ia adalah seorang mu’min muwaḥḥid.Namun hal ini pada umumnya hanya diperoleh oleh orang yang melakukan pemikiran. Andaikan hal itu diperoleh selain orang yang melakukan pemikiran, keyakinannya tidak aman dari kegoncangan.

فَلَا بُدَّ عِنْدَنَا أَنْ يَعْلَمَ كُلَّ مَسْأَلَةٍ مِنْ مَسَائِلِ الْاِعْتِقَادِ بِدَلِيْلٍ وَاحِدٍ، وَ لَا يَنْفَعُهُ اعْتِقَادُهُ إِلَّا أَنْ يَصْدُرَ عَنْ دَلِيْلٍ عِلْمُهُ إِلَّا أَنْ يَصْدُرَ عَنْ دَلِيْلٍ عِلْمُهُ. فَلَوِ اخْتُرِمَ وَ قَدْ تَعَلَّقَ اعْتِقَادُهُ بِالْبَارِيْ تَعَالَى كَمَا يَنْبَغِيْ وَ عَجَزَ عَنِ النَّظَرِ فَقَالَ جَمَاعَةٌ مِنْهُمْ إِنَّهُ يَكُوْنُ مُؤْمِنًا، وَ إِنْ تَمَكَّنَ مِنَ النَّظَرِ وَ لَمْ يَنْظُرْ. قَالَ الْأُسْتَاذُ أَبُوْ إِسْحَاقٍ يَكُوْنُ مُؤْمِنًا عَاصِيًا بِتَرْكِ النَّظَرِ، وَ بَنَاهُ عَلَى أَصْلِ الشَّيْخِ أَبِيْ الْحَسَنِ.

Maka menurutku, orang harus mengetahui setiap permasalahan akidah dengan dalilnya. Keyakinan tidak akan bermanfaat baginya kecuali bila keyakinannya muncul dari suatu dalil. Bila orang mati dalam kondisi keyakinannya terhadap Allah ta‘ālā Yang Maha Selamat sebagaimana mestinya dan tidak mampu melakukan pemikiran, maka sebagian ulama Asy‘ariyah berpendapat, bahwa orang tersebut adalah mu’min; bila ia mampu melakukan pemikiran namun tidak melakukannya, maka menurut al-Ustādz Abū Isḥāq (261) ia mu’min yang maksiat sebab tidak melakukan penalaran – yang mana pendapat ini dibangunnya pada ajaran Syaikh Abū Ḥasan al-Asy‘arī – , (272).

وَ أَمَّا كَوْنُهُ مُؤْمِنًا مَعَ الْعَجْزِ وَ الْاِخْتِرَامِ فَظَاهِرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى، وَ أَمَّا كَوْنُهُ مُؤْمِنًا مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى النَّظَرِ وَ تَرْكِهِ فَقَوْلُهُ فِيْهِ نَظَرٌ عِنْدِيْ، وَ لَا أَعْلَمُ صِحَّتَهُ الْآنَ.

Adapun pernyataan Abū Isḥāq, bahwa orang tersebut mu’min bila tidak mampu melakukan penalaran dan mati, maka jelas benarnya, in syā’ Allāh; sedangkan pernyataan bahwa ia mu’min besertaan mampu melakukan pemikiran namun tidak melakukannya, maka menurutku dalam hal ini perlu pemikiran lebih lanjut, dan sekarang aku tidak meyakini kebenarannya.

فَإِنْ قِيْلَ: قَدْ أَوْجَبْتُمُ النَّظَرَ قَبْلَ الْإِيْمَانِ عَلَى مَا اسْتَقَرَّ مِنْ كَلَامِكُمْ فَإِذَا دُعِيَ الْمُكَلَّفُ إِلَى الْمَعْرِفَةِ فَقَالَ: حَتَّى أَنْظُرَ فَأَنَّا الْآنَ فِيْ مَهْلَةِ النَّظَرِ وَ تَحْتَ تِرْدَادِهِ، مَاذَا تَقُوْلُوْنَ؟ أَتَلْزَمُوْنَهُ الْإِقْرَارَ بِالْإِيْمَانِ فَتَنْقُضُوْنَ أَصْلَكُمْ فِيْ أَنَّ النَّظَرَ يَجِبُ قَبْلَهَا، أَمْ تُمْهِلُوْنَهُ فِيْ نَظَرِهِ إِلَى حَدٍّ يَتَطَاوَلُ بِهِ الْمُدَّى فِيْهِ، أَمْ تَقْدُرُوْنَهُ بِمِقْدَارٍ فَتَحْكُمُوْنَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ نَصٍّ؟

Bila disangkal: “Anda telah mewajibkan pemikiran sebelum keimanan sesuai makna ucapan anda, lalu bila seorang mukallaf disuruh untuk ma‘rifat (beriman) dan menjawab: “(Nanti dulu), sampai saya melakukan pemikiran, sebab sungguh sekarang saya masih dalam masa pemikiran yang lama dan sedang mengulang-ulangnya”, maka apa pendapat anda? Apakah anda akan mewajibkannya untuk mengikrarkan keimanan, sehingga anda merusak prinsip anda sendiri yang mewajibkan pemikiran sebelumnya, atau membiarkannya melakukan penalaran sampai waktu yang tidak diketahui batasnya, atau anda tentukan batas waktunya sehingga anda menghukumnya tanpa nash?

فَالْجَوَابُ أَنَّا نَقُوْلُ أَمَّا الْقَوْلُ بِوُجُوْبِ الْإِيْمَانِ قَبْلَ الْمَعْرِفَةِ فَضَعِيْفٌ، لِأَنَّ إِلْزَامَ التَّصْدِيْقِ بِمَا لَا تُعْلَمُ صِحَّتَهُ يُؤَدِّيْ إِلَى التَّسْوِيَةِ بَيْنَ النَّبِيِّ وَ الْمُتَنَبِّيْ، وَ أَنَّهُ يُؤْمِنُ أَوَّلًا فَيَنْظرُ فَيَتَبَيَّنُ لَهُ الْحَقُّ فَيَتَمَادَى، أَوْ يَتَبَيَّنُ لَهُ الْبَاطِلُ فَيَرْجِعُ وَ قَدِ اعْتَقَدَ الْكُفْرَ.

Maka jawabannya adalah, aku katakan: “Ada pun pendapat yang mewajibkan iman sebelum ma‘rifat (mengenal Allah) maka lemah, sebab mewajibkan pembenaran dengan suatu nisbat yang belum diyakini keabsahannya akan mengantarkan pada penyamaan antara Nabi dan orang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi, pada penetapan awal mulanya ia beriman, lalu melakukan pemikiran, menemukan kebenaran, dan meneruskan keimanannya, atau ia menemukan kebatilan, lalu ia kembali pada kondisi sebelumnya, yaitu meyakini kekufuran.

وً أَمَّا إِذَا دَعَا الْمَطْلُوْبُ بِالْإِيْمَانِ إِلَى النَّظَرِ فَيُقَالُ لَهُ: إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ النَّظَرَ فَاسْرُدْهُ، وَ إِنْ كُنْتَ لَا تَعْلَمُهُ فَاسْمَعْهُ” وَ يُسْرُدُ فِيْ سَاعَةٍ عَلَيْهِ، فَإِنْ آمَنَ تَحَقَّقَ اسْتِرْشَادُهُ، وَ إِنْ أَبَى تَبَيَّنَ عِنَادُهُ، فَوَجَبَ اسْتِخْرَاجُهُ مِنْهُ بِالسَّيْفِ أَوْ يَمُوْتُ.

Adapun ketika orang yang diperintah beriman tadi meminta melakukan pemikiran (dahulu), maka dikatakan kepadanya (bila tidak hidup bersama-sama umat Islam): “Bila anda mampu melakukan pemikiran (yang benar), maka lakukanlah sekarang juga; bila tidak, maka dengarkanlah, dan alur pemikiran yang benar disampaikan kepadanya dalam waktu secukupnya. (283) Bila beriman, maka ia nyata-nyata telah mendapatkan petunjuk; bila menolaknya, maka ia jelas-jelas telah mengingkarinya, maka pengingkaran itu wajib dikeluarkan darinya dengan ancaman pembunuhan, kecuali ia mati tanpa dibunuh.”

وَ إِنْ كَانَ مِمَّنْ ثَاقَنَ أَهْلُ الْإِسْلَامِ وَ عَلِمَ طَرِيْقَ الْإِيْمَانِ لَمْ يُمْهَلْ سَاعَةً، أَلَا تَرَى أَنَّ الْمُرْتَدَ اسْتَحَبَّ فِيْهِ الْعُلَمَاءُ الْإِمْهَالَ لَعَلَّهُ إِنَّمَا ارْتَدَّ لِرَيْبٍ فَيُتَرَبَّصُ بِهِ مُدَّةً لَعَلَّهُ أَنْ يُرَاجِعَ الشَّكَّ بِالْيَقِيْنِ وَ الْجَهْلُ بِالْعِلْمِ، وَ لَا يَجِبُ ذلِكَ لِحُصُوْلِ الْعِلْمِ بِالنَّظَرِ الصَّحِيْحِ أَوَّلًا.

Bila ia termasuk orang yang hidup bersama umat Islam dan mengetahui cara beriman, maka ia tidak diberi waktu sedikitpun untuk menunda keimanannya. Tidakkah anda tahu, bahwa ulama mensunnahkan memberi kesempatan kepadanya, mungkin ia murtad karena keraguan, lalu ditunggu sebentar mungkin ia dapat mengganti keraguannya dengan keyakinan, dan mengganti kebodohannya dengan ilmu; dan pemberian kesempatan pada orang murtad tersebut tidak wajib karena keyakinan dapat dihasilkan dengan pemikiran yang benar di permulaannya.

وَ كَيْفَ يَصِحُّ لِنَاظِرٍ أَنْ يَقُوْلَ إِنَّ الْإِيْمَانَ يَجِبُ أَوَّلًا قَبْلَ النَّظَرِ وَ لَا يَصِحُّ فِي الْمَعْقُوْلِ إِيْمَانٌ بِغَيْرِ مَعْلُوْمٍ، وَ ذلِكَ الَّذِيْ يَجِدُهُ الْمَرْءُ حُسْنَ ظَنٍّ فِيْ نَفْسِهِ بِمُخْبِرِهِ، إِلَّا فَإِنْ تَطَرَّقَ إِلَيْهِ التَّجْوِيْزُ أَوِ التَّكْذِيْبُ تَطَرَّقَ.

Bagaimana benar menurut seorang pemikir, pendapat yang menyatakan bahwa wajib iman dahulu sebelum pemikiran? Sebab, menurut akal tidak sah iman tanpa kebenaran yang diketahui. Keimanan yang ditemukannya terjadi karena husn-uzh-zhann dirinya kepada orang yang memberitakan keimanan kepadanya, bila tidak demikian, maka bila keraguan atau anggapan bohong mendatanginya, hal itu akan menggantikan kemantapan imannya.

وَ أَيْضًا فَإِنَّ النَّبِيَّ (ص) دَعَا الْخَلْقَ إِلَى النَّظَرِ أَوَّلًا، فَلَمَّا قَامَتِ الْحُجَّةُ بِهِ وَ بَلَغَ غَايَةَ الْإِعْذَارِ فِيْهِ حَمَلَهُمْ عَلَى الْإِيْمَانِ بِالسَّيْفِ، أَلَا تَرَى أَنَّ كُلَّ مَنْ دَعَاهُ إِلَى الْإِيْمَانِ قَالَ لَهُ: “اِعْرِضْ عَلَيَّ آيَتَكَ”، فَيَعْرِضُهَا عَلَيْهِ فَيَظْهَرُ لَهُ الْحَقُّ فَيُؤْمِنُ فَيَأْمَنُ، أَوْ يُعَانِدُ فَيَهْلِكُ. انتهى.

Selain itu, sungguh Nabi s.a.w. pada masa awal risalahnya mengajak manusia untuk melakukan pemikiran, kemudian setelah hujjah menjadi kuat berdasarkan pemikiran dan beliau mencapai uzur tertinggi untuk melakukannya, maka beliau mengajak mereka beriman dengan ancaman perang. Tidakkah anda lihat, bahwa setiap orang yang diajaknya beriman berkata kepadanya: “Tunjukkan tanda-tanda kenabianmu kepadaku!” Lalu beliau menunjukkannya, maka jelaslah kebenaran bagi orang tersebut, kemudian dia beriman dan mendapatkan keamanan, atau mengingkarinya dan mendapatkan kerusakan.”

هذَا كَلَامُ ابْنُ الْعَرَبِيِّ، وَ هُوَ حَسَنٌ؛ وَ اسْنُشْكِلَ الْقَوْلُ بِأَنَّ الْمُقَلِّدِ لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ، لِأَنَّهُ يَلْزَمُ عَلَيْهِ تَكْفِيْرُ أَكْثَرِ عَوَامِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَ هُمْ مُعْظِمُ هذِهِ الْأُمَّةِ، وَ ذلِكَ مِمَّا يَقْدَحُ فِيْمَا عُلِمَ أَنَّ سَيِّدَنَا وَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدٍ (ص) أَكْثَرُ الْأَنْبِيَاءِ أَتْبَاعًا، وَ وَرَدَ أَنَّ أُمَّتَهُ الْمُشْرِفَةُ ثُلُثَا أَهْلِ الْجَنَّةِ.

Demikian pernyataan Ibn-ul-‘Arabī yang merupakan pendapat bagus, namun dimuskilkan dengan konsekuensi, bahwa seorang muqallid tidak berstatus mu’min, sebab pendapat tersebut berkonsekuensi mengafirkan mayoritas muslim awam, padahal mereka adalah mayoritas umat-ul-ijābah (294) ini. Hal ini mencemari fakta yang telah diketahui, yaitu sungguh Sayyidunā wa Nabiyyunā Muḥammad s.a.w. adalah Nabi yang paling banyak pengikutnya, dan telah ada hadits yang menyatakan bahwa umatnya yang mulia merupakan 2/3 penghuni surga. (305).

وَ أُجِيْبُ بِأَنَّ الْمُرَادَ بِالدّلِيْلِ الَّذِيْ تَجِبُ مَعْرِفَتُهُ عَلَى جَمِيْعِ الْمُكَلَّفِيْنَ هُوَ الدَّلِيْلُ الْجُمْلِيُّ، وَ هُوَ الَّذِيْ يُحَصِّلُ فِي الْجُمْلَةِ لِلْمُكَلَّفِ الْعِلْمَ وَ الطُّمَأْنِيْنَهُ بِعَائِدِ الْإِيْمَانِ، بِحَيْثُ لَا يَقُوْلُ قَلُبُهُ فِيْهَا: “لَا أَدْرِيْ، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُوْلُوْنَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ.

Kemusykilan itu dapat dijawab dengan jawaban, sungguh yang dimaksud dengan dalil yang wajib diketahui oleh seluruh mukallaf adalah dalil ijmālī (yang bersifat umum), yang pada umumnya menghasilkan keyakinan dan penerimaan hati atas akidah-akidah keimanan bagi mukallaf, sekira hatinya tidak mengatakan: “Aku tidak mengetahui, aku dengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku pun mengatakannya.”

وَ لَا يُشْتَرَطُ مَعْرِفَةُ النَّظَرِ عَلَى طَرِيْقِ الْمُتَكَلِّمِيْنَ مِنْ تَحْرِيْرِ الْأَدِلَّةِ وَ تَرْتِيْبِهَا وَ دَفْعِ الشُّبْهَةِ الْوَارِدَةِ عَلَيْهَا، وَ لَا الْقُدْرَةُ عَلَى التَّعْبِيْرِ عَمَّا حَصَلَ فِي الْقَلْبِ مِنَ الدَّلِيْلِ الْجُمْلِيِّ الَّذِيْ حَصَلَتْ بِهِ الطُّمَأْنِيْنَةُ.

Tidak disyaratkan mengetahui pemikiran sesuai metode mutakallimin, yaitu meneliti dan membenarkan dalil-dalil, menolak syubhat yang datang padanya, dan mengungkapkan dalil ijmālī yang ada di hati yang menghasilkan penerimaan.

وَ لَا شَكَّ أَنَّ النَّظَرَ عَلَى هذَا الْوَجْهِ غَيْرُ بَعِيْدٍ حُصُوْلُهُ لِمَعْظَمِ هذِهِ الْأُمَّةِ أَوْ لِجَمِيْعِهَا فِيْمَا قَبْلَ آخِرِ الزَّمَانِ الَّذِيْ يَرْفَعُ فِيْهِ الْعِلْمُ النَّافِعُ، وَ يَكْثُرُ فِيْهِ الْجَهْلُ الْمُضِرُّ، وَ لَا يَبْقَى فِيْهِ التَّقْلِيْدُ الْمُطَابِقُ، فَضْلًا عَنِ الْمَعْرِفَةِ عِنْدَ كَثِيْرٍ مِمَّنْ يُظَنُّ بِهِ الْعِلْمُ، فَضْلًا عَنْ كَثِيْرٍ مِنَ الْعَامَّةِ، وَ لَعَلَّنَا أَدْرَكْنَا هذَا الزَّمَانَ بِلَا رَيْبٍ، وَ اللهُ الْمُسْتَعَانُ وَ لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

Tidak diragukan, bahwa pemikiran sederhana semacam ini tidak sulit diperoleh bagi mayoritas atau semua umat-ul-ijābah ini sebelum akhir zaman yang pada waktu itu ilmu nāfi‘ akan diangkat; banyaknya kebodohan yang membahayakan; tidak ada taqlīd yang benar, apalagi ma‘rifat, pada orang-orang yang disangka mempunyai ilmu, apalagi pada orang-orang awam. Mungkin tanpa diragukan, kita menjumpai zaman ini. Allah Dzat Yang Maha diminta Pertolongan. Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh-il-‘aliyy-il-‘azhīm.

وَ فِي الْحَدِيْثِ عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): تَكُوْنُ فِتْنَةٌ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُؤْمِنًا وَ يُمْسٍيْ كَافِرًا إِلَّا مَنْ أَجَارَهُ اللهُ تَعَالَى بِالْعِلْمِ.

Diriwayatkan dalam suatu hadits dari Abū Umāmah r.h., ia berkata: “Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Akan ada fitnah di akhir zaman, di pagi hari orang berstatus mu’min dan sorenya sudah menjadi kafir, kecuali orang yang dijaga oleh Allah dengan ilmu.” (316).

Catatan:

  1. 26). Abū Isḥāq Ibrāhīm bin Muḥammad bin Ibrāhīm bin Mahrān al-Asfarayinī (w. 418 H/1027 M). Baca, az-Zirikla, al-A‘lam, 1/61.
  2. 27). Penalaran bukan syarat sah iman, namun hanya merupakan syarat keluar dari dosa karena tidak melakukannya. Baca, Muḥammad ad-Dasūqī, Ḥāsyiyat-ud-Dasūqī ‘alā Umm-il-Barāhīn (Singapura-Jeddah-Indonesia: al-Haramain, tth.) 62.
  3. 28). Seperti dikatakan kepadanya: “Alam itu bersifat hadits, dan setiap hal yang hadits pasti ada penciptanya”, dan ditunjukkan dilālah-nya kepadanya sampai ia menemukan natījah-nya. Ibid., 64.
  4. 29). Umat-ul-Ijābah adalah umat yang memenuhi seruan Allah dan Rasūl-Nya, dan beriman secara nyata; sedangkan umat-ud-da‘wah adalah semua umat yang Allah perintahkan Rasūl-Nya untuk mengajak mereka masuk Islam. Asy-Sya‘rawī, Tafsīr-usy-Sya‘rawī(ttp.: al-Azhar, 1961), IV/2466.
  5. 30). Yaitu hadits:قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): أَهْلُ الْجَنَّةِ عِشْرُوْنَ وَ مِائَةُ صَفٍّ. ثَمَانُوْنَ مِنْهَا مِنْ هذِهِ الْأُمَّةِ، وَ أَرْبَعُوْنَ مِنْ سَائِرِ الْأُمَمِ. (رواه الترمذي، حسن).

    “Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Penghuni surga ada 120 baris. 80 barisnya dari umatku ini, dan 40 barisnya dari umat selainnya.” (H.R. at-Tirmidzi, hasan).

  6. 31). H.R. at-Thabrānī. Baca Sulaimān bin Aḥmad ath-Thabrānī, Musnad asy-Syāmiyyīn (Bairut: Mu’assasah ar-Risalah, 1405 H/1984 M), II/227.

2-2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (2/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

MENUJU KEBENINGAN TAUHID BERSAMA AS-SANUSI
Terjemah Syarḥ Umm-ul-Barāhin
Penulis: Al-Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi

Penerjemah: Ahmad Muntaha AM.
Penerbit: Santri Salaf Press-Kediri

Rangkaian Pos: 2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  1. 1.2-2-1 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (1/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  2. 2.Anda Sedang Membaca: 2-2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (2/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

وَ بِالْجُمْلَةِ فَالْاِحْتِيَاطُ فِي الْأُمُوْرِ هُوَ أَحْسَنُ مَا يَسْلُكُهُ الْعَاقِلُ، لَا سِيَّمَا فِيْ هذَا الْأَمْرِ الَّذِيْ هُوَ رَأْسُ الْمَالِ، وَ عَلَيْهِ يَنْبَنِيْ كُلُّ خَيْرٍ، فَكَيْفَ يَرْضَى ذُوْ هِمَّةٍ أَنْ يَرْتَكِبَ مِنْهُ مَا يُكَدِّرُ مَشْرَبَهُ مِنَ التَّقْلِيْدِ الْمُخْتَلَفِ فِيْهِ، وَ يَتْرُكُ الْمَعْرِفَةَ وَ التَّعَلُّمَ لِلنَّظَرِ الصَّحِيْحِ الَّذِيْ يَأْمَنُ مَعَهُ كُلُّ مُخَوِّفٍ، ثُمَّ يَلْتَحِقُ مَعَهُ بِدَرَجَةِ الْعُلَمَاءِ الدَّاخِلِيْنَ فِيْ سَلْكِ قَوْلِهِ تَعَالَى: “شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلهَ إلَّا هُوَ وَ الْمَلَائِكَةُ وَ أُوْلُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ”، الآيَةَ.

Kesimpulannya, hati-hati dalam segala permasalahan merupakan langkah terbaik yang ditempuh orang berakal, apalagi terkait keimanan yang merupakan modal utama manusia, yang di atasnya semua kebaikan dibangun. Bagaimana orang ber-himmah rela menempuh jalan taqlīd yang masih diperselisihkan dan memperkeruh akidahnya, meninggalkan ma‘rifat dan belajar melakukan pemikiran yang benar yang dapat menghindarkannya dari segala kekhawatiran, kemudian dengannya mencapai derajat ulama yang masuk dalam makna firman Allah ta‘ālā: “Allah menjelaskan, sungguh tidak Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Menegakkan Keadilan; Malaikat dan orang-orang yang berpengetahuan pun mengakuinya…..” (321).

فَلَا يَتَقَاصَرُ عَنْ هذِهِ الرُّتْبَةِ الْمَأْمُوْنَةِ الزَّكِيَّةِ إِلَّا ذُوْ نَفْسٍ سَاقِطَةٍ وَ هِمَّةٍ خَسِيْسَةٍ. لكِنْ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَنْظُرَ أَوَّلًا فِيْمَنْ يُحَقِّقُ لَهُ هذَا الْعِلْمَ وَ يَخْتَارُهُ لِلصُّحْبَةِ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْمُؤَيَّدِيْنَ مِنَ اللهِ تَعَالَى بِنُوْرِ الْبَصِيْرَةِ، الزَّاهِدِيْنَ بَقُلُوْبِهِمْ فِيْ هذَا الْعُرْضِ الْحَاضِرِ، الْمُشْفِقِيْنَ عَلَى الْمَسَاكِيْنِ، الرُّؤَفَاءُ عَلَى ضُعَفَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ.

Tidaklah mencukupkan diri jauh dari derajat yang aman dan suci ini kecuali orang yang berjiwa rendah dan ber-himmah hina. Namun demikian, pertama kali wajib bagi orang berakal untuk mempertimbangkan orang yang mengajarinya secara benar ilmu akidah keimanan ini, dan memilihnya untuk dijadikan guru, dari para imam yang oleh Allah dikokohkan dengan cahaya hati, yang zuhud dengan hatinya dari dunia yang ada ini, yang penuh belas kasihan kepada orang-orang mu’min ilmu, dan orang-orang mu’min yang lemah pemahamannya.

فَمَنْ وَجَدَ أَحَدًا عَلَى هذِهِ الصِّفَةِ فِي هذَا الزَّمَانِ الْقَلِيْلِ الْخَيْرَ جِدًّا، فَلْيَشُدَّ يَدَهُ عَلَيْهِ، وَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَجِدُ لَهُ، وَ اللهُ أَعْلَمُ، ثَانِيًا فِيْ عَصْرِهِ، إِذْ مَنْ يَكُوْنُ عَلَى هذِهِ الصِّفَةِ أَوْ قَرِيْبًا مِنْهَا، لَا يَكُوْنُ مِنْهُمْ فِيْ أَوَاخِرِ الزَّمَانِ إِلَّا الْوَاحِدُ وَ مَنْ يَقْرُبُ مِنْهُ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ.

Orang yang menemukan guru semacam itu pada zaman yang sedikit sekali kebaikannya ini, hendaklah selalu mengikutinya. Ketahuilah, sungguh ia tidak akan menemukannya lagi – wallāhu a‘lam – untuk kedua kalinya pada masanya. Sebab, orang yang mempunyai sifat seperti itu atau yang mendekatinya (yang secara terang-terangan mengajarkan ilmu ini), di akhir zaman tidak ada kecuali seorang saja, dan orang yang mendekatinya, sesuai penjelasan ulama.

ثُمَّ الْغَالِبُ عَلَيْهِ فِيْ هذَا الزَّمَانِ الْخَفَاءُ، بِحَيْثُ لَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ إِلَّا قَلِيْلٌ مِنَ النَّاسِ. وَلْيَشْكُرِ اللهَ سُبْحَانَهُ الَّذِيْ أَطْلَعَهُ عَلَى هذِهِ الْغَنِيْمَةِ الْعظْمَى آنَاءَ اللَّيْلِ وَ أَطْرَافَ النَّهَارِ، إِذْ أَظْفَرَهُ مَوْلَاهُ الْكَرِيْمُ جَلَّ وَ عَزَّ بِمَحْضِ فَضْلِهِ بِكَنْزٍ عَظِيْمٍ مِنْ كُنُوْزِ الْجَنَّةِ، يُنْفِقُ مِنْهُ مَا شَاءَ وَ كَيْفَ شَاءَ، وَ قَلِيْلٌ أَنْ يُنْفِقَ الْيَوْمَ وُجُوْدَ مِثْلِ هذَا إِلَّا نَادِرٌ مِنَ السُّعَدَاءِ.

Pada umumnya di zaman ini, orang yang seperti itu samar (sulit ditemukan), sekira tidak ditunjukkan kepadanya kecuali sedikit orang saja. Hendaklah ia bersyukur kepada Allah sepanjang malam dan siang yang telah memperlihatkannya atas kesuksesan besar ini. Sebab Allah Yang Maha Pemurah – jalla wa ‘azza – dengan kemurnian anugerah-Nya telah memberinya kesuksesan mendapat kekayaan surga yang sangat besar (guru dengan sifat-sifat yang telah disebutkan) yang dapat menjadi sumber belajar dan dengan cara bagaimanapun yang dikehendakinya ia belajar kepadanya. Sedikit sekali orang yang dapat belajar kepada guru semacam ini pada masa sekarang ini kecuali orang beruntung yang langka.

وَ أَمَّا مَنْ يَقْرَأُ هذَا الْعِلْمَ عَلَى مَنْ يَتَعَاطَى لَهُ وَ لَيْسَ عَلَى الصِّفَةِ الَّتِيْ ذَكَرْنَاهَا فَمَفَاسِدُ صُخْبَةِ هذَا دُنْيًا وَ أُخْرَى أَكْثَرُ مِنْ مَصَالِحِهَا، وَ مَا أَكْثَرُ وُجُوْدِ مِثْلِ هؤُلَاءِ فِيْ زَمَانِنَا فِيْ كُلِّ مَوْضِعٍ، نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى السَّلَامَةَ مِنْ شَرِّ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ (ص).

Adapun orang yang membacakan ilmu akidah ini kepada orang yang meminta kepadanya sementara ia tidak mempunyai sifat-sifat yang telah aku sebutkan, maka mafsadah menjadi muridnya di dunia dan akhirat lebih banyak daripada kemaslahatannya. Sangat banyak orang-orang seperti itu di zaman kita di setiap tempat. Aku memohon keselamatan kepada Allah ta‘ālā dengan derajat Sayyidinā Muḥammad s.a.w. dari keburukan diriku dan keburukan setiap orang yang mempunyai keburukan.

وَلْيَحْذَرِ الْمُبْتَدِئُ جُهْدَهُ أَنْ يَأْخُذَ أُصُوْلَ دِيْنِهِ مِنَ الْكُتُبِ الَّتِيْ حُشِيَتْ بِكَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ، وَ أُوْلِعَ مُؤَلِّفُوْهَا بِنَقْلِ هَوْسِهِمْ، وَ مَا هُوَ كُفْرٌ صُرَّاحٌ مِنْ عَقَائِدِهِمْ الَّتِيْ سَتَرُوْا نَجَاسَتَهَا بِمَا يَنْبَهِمُ عَلَى كَثِيْرٍ مِنِ اصْطِلَاحَاتِهِمْ وَ عِبَارَاتِهِمُ الَّتِيْ أَكْثَرُهَا أَسْمَاءُ بِلَا مُسَمَّيَاتٍ، وَ ذلِكَ كَكُتُبِ الْإِمَامِ الْفَخْرِ فِيْ عِلْمِ الْكَلَامِ، وَ طَوَالِعِ الْبَيْضَاوِيْ، وَ مَنْ حَذَا حَذْوَهُمَا فِيْ ذلِكَ.

Hendaklah pelajar pemula menghindarkan kemampuannya untuk belajar ushūl-ud-dīn-nya dari kitab-kitab yang dipenuhi pendapat-pendapat kaum filosuf, para penulisnya menggantungkan diri dengan mengutip kegilaan mereka yang merupakan kekufuran nyata, yaitu akidah-akidah yang kenajisannya mereka tutupi dengan berbagai istilah dan ungkapan yang samar yang mayoritas hanya merupakan nama tanpa substansi, seperti kitab-kitab karya al-Imām al-Fakhr ar-Rāzī tentang kalām, kitab Thawāli‘ karya al-Baidhāwī, dan orang-orang yang menempuh metode mereka dalam ilmu kalam. (332)

وَ قَلَّ أَنْ يُفْلِحَ مَنْ أَوْلَعَ بِصُحْبَةِ كَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ أَوْ يَكُوْنَ لَهُ نُوْرُ إِيْمَانٍ فِيْ قَلْبِهِ أَوْ لِسَانِهِ. وَ كَيْفَ يُفْلِحُ مَنْ وَالَى مَنْ حَادَ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ خَرَقَ حِجَابِ الْهَيْبَةِ وَ نَبَذَ الشَّرِيْعَةَ وَرَاءَ ظَهْرِهِ وَ قَالَ فِيْ حَقّ مَوْلَانَا جَلَّ وَ عَزَّ وَ فِيْ حَقِّ رُسُلِهِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ مَا سَوَّلَتْ لَهُ نَفْسُهُ الْحَمْقَاءُ، وَ دَعَاهُ إِلَيْهِ وَهْمُهُ الْمُخْتَلُّ.

Jarang sekali beruntung orang yang menggantungkan diri dengan menekuni kalam para filosuf, atau mendapatkan cahaya keimanan di hati atau lisannya. Bagaimana beruntung orang yang mengasihi orang yang memusuhi Allah dan Rasūl-Nya, membakar haibah Allah yang laksana hijab, membuang syariat di belakang punggungnya, dan berkata bagi Allah – jalla wa ‘azza – dan para Rasūl-Nya ‘alaihim-ush-shālatu was-salām – dengan perkataan yang dihiaskan oleh dirinya yang bodoh dan diajak oleh persangkaannya yang rusak.

وَ لَقَدْ خَذَلَ بَعْضُ النَّاسِ فَتَرَاهُ يُشْرِفُ كَلاَمَ الْفَلَاسِفَةِ الْمَلْعُوْنِيْنَ، وَ يُشْرِفُ الْكُتُيَ الَّتِيْ تُعَرِّضَتْ لِنَقْلِ كَثِيْرٍ مِنْ حَمَاقَاتِهِمْ لِمَا تَمَكَّنَ فِيْ نَفْسِهِ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوْءِ مِنْ حُبِّ الرِّيَاسَةِ و حُبُّ الْإِغْرَابِ عَلَى النَّاسِ بِمَا يَنْبَهِمُ عَلَى كَثِيْرٍ مِنْهُمُ مِنْ عِبَارَاتٍ وَ اصْطِلَاحَاتٍ يُوْهِمُهُمْ أَنَّ تَحْتَهَا عُلُوْمًا دَقِيْقَةً نَفِيْسَةً، وَ لَيْسَ تَحْتَهَا إِلَّا التَّخْلِيْطُ وَ الْهَوْسُ وَ الْكُفْرُ الَّذِيْ لَا يَرْضَى أَنْ يَقُوْلَهُ عَاقِلٌ.

Sungguh sebagian orang telah terlalaikan, sehingga anda lihat ia memuliakan kalām kaum filosuf terlaknat, memuliakan kitab-kitab yang ditulis untuk mengutip berbagai kebodohan mereka karena cinta pangkat dan keunikan menggungguli orang lain dengan berbagai ungkapan dan istilah yang samar bagi kebanyakan orang, yang mengesankan bagi mereka bahwa di bawahnya terdapat ilmu-ilmu yang mendalam dan bagus, padahal kenyataannya hanya pencampuradukkan, kegilaan, dan kekufuran yang orang berakal tidak sudi mengucapkannya.

وَ رُبَّمَا يُؤْثِرُ بَعْضُ الْحَمْقَى هَوْسَهُمْ عَلَى الْاِشْتِغَالِ بِمَا يُعِيْنُهُ مِنَ التَّفَقُّهِ فِيْ أُصُوْلِ الدِّيْنَ وَ فُرُوْعِهِ عَلَى طَرِيْقِ السَّلَفِ الصَّالِحِ وَ الْعَمَلُ بِذلِكَ، وَ يَرَى هذَا الْخَبِيْثَ لِانْطِمَاسِ بَصِيْرتِهِ وَ طَرْدِهِ عَنْ بَابِ فَضْلِ اللهِ تَعَالَى إِلَى بَابِ غَضَبهِ أَنَّ الْمُسْتَغِلِيْنَ بِالتَّفَقُّهِ فِيْ دِيْنِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيْمِ الْفَوَائِدِ دُنْيًا وَ أُخْرًا بَلَدَاءَ الطَّبْعِ نَاقِصُو الذُّكَاء.

Terkadang sebagian orang bodoh memprioritaskan mempelajari kegilaan kaum filosuf daripada menyibukkan diri dengan mempelajari ushūl dan furū‘-ud-dīn sesuai metode kaum as-Salaf ash-Shāliḥ dan mengamalkannya, yang bermanfaat baginya. Karena terhapusnya mata hati dan terlemparnya dari pintu anugerah Allah ta‘ālā ke pintu murka-Nya. Orang bodoh yang keji ini menganggap orang-orang yang fokus memelajari agama Allah ta‘ālā yang besar manfaatnya di dunia dan akhirat, sebagai orang-orang berwatak bodoh dan kurang cerdas.

فَمَا أَجْهَلَ هذَا الْخَبِيْثَ وَ أَقْبَحَ سَرِيْرَتُهُ وَ أَعْمَى قَلْبَهُ حَتَّى رَأَى الظُّلْمَةَ نُوْرًا وَ النُّوْرَ ظُلْمَةً. وَ مَنْ يُرِدِ اللهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللهِ شَيْئًا، أولئِكَ الَّذِيْنَ لَمْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوْبَهُمْ، لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ، سَمَّاعُوْنَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُوْنَ لِلسُّحْتِ…..

Sungguhnya bodoh, sungguh keji dan sungguh buta hatinya, sampai ia melihat kegelapan sebagai cahaya dan melihat cahaya sebagai kegelapan. Orang yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu (Muḥammad s.a.w.) tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) dari-Nya. Mereka adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hatinya. Bagi mereka kehinaan di dunia dan akhirat. Bagi mereka siksaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan harta haram….. (343).

نَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يُعَامِلَنَا وَ يُعَامِلَ جَمِيْعَ أَحِبَّتِنَا إِلَى الْمَمَاتِ بِمَحْضِ فَضْلِهِ، وَ أَنْ يَلْطَفَ بِجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَ يَقِيْهِمْ فِيْ هذَا الزَّمَانِ الصَّعْبِ مَوَارِدَ الْفِتَنِ بِجُوْدِهِ وَ كَرَمِهِ بِجَاهِ أَشْرَفِ الْخَلْقِ سَيِّدِنَا وَ مَوْلَانَا مُحَمَّدٍ (ص).

Aku memohon kepada Allah s.w.t. agar Ia menjagaku dan orang-orang yang mencintaiku sampai mati dengan kemurnian anugerahnya, dan agar mengasihi semua mu’minin, dan menjaga mereka di zaman yang penuh kesulitan ini dari datangnya berbagai fitnah, dengan kemurahan dan kedermawanan-Nya, dengan lantaran derajat manusia termulia, Sayyidinā wa Maulānā Muḥammad s.a.w.

Catatan:

  1. 32). QS. Āli ‘Imrān: 18.
  2. 33). Merujuk al-Burhān al-Laqqānī dalam Hidāyat-ul-Murīd sebagaimana kutipan al-Bajūrī, pada mulanya dahulu ulama mencukupkan diri dengan pembahasan dzat, shifat, kenabian, dan sam‘iyyat. Lalu muncul berbagai sekte ahli bid‘ah yang sering mendebat dan melempar propaganda yang bercampur kaidah-kaidah filsafat terhadap ulama. Di kemudian hari, hal ini menuntut ulama pada masa berikutnya seperti al-Fakhr-ur-Rāzī, al-Baidhāwī, as-Sa‘d, al-‘Adhad, dan Ibn ‘Irfah untuk memasukkan materi-materi filsafat pada kitab-kitab kalām mereka untuk menghadapi, meruntuhkan, menjelaskan kesalahan, dan menjelaskan bahwa propaganda kaum filosuf, sehingga peringatan agar menghindari kitab-kitab mereka hanya diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu memahaminya. Ad-Dasūqī, Ḥāsyiyat-ud-Dasyūqī, 71.
  3. 34). QS. Al-Mā’idah: 41-42.

3-1 Sifat Wajib Bagi Allah – Wujud – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

3-1 Sifat Wajib Bagi Allah – Wujud – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

MENUJU KEBENINGAN TAUHID BERSAMA AS-SANUSI
Terjemah Syarḥ Umm-ul-Barāhin
Penulis: Al-Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi

Penerjemah: Ahmad Muntaha AM.
Penerbit: Santri Salaf Press-Kediri

Rangkaian Pos: 003 Sifat Wajib Bagi Allah – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 3-1 Sifat Wajib Bagi Allah – Wujud – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  2. 2.3-2 Sifat Wajib Bagi Allah – Qidam – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  3. 3.3-3 Sifat Wajib Bagi Allah – Baqa’ – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  4. 4.3-4 Sifat Wajib Bagi Allah – Mukhalafah lil-Hawadits – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

Sifat Wajib bagi Allah

 

[صــــ] (فِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَ عَزَّ عِشْرُوْنَ صِفَةً)

Di antara yang wajib dimiliki Allah – jalla wa ‘azza – adalah 20 sifat.

 

Syarḥ:

[شــــ] أَشَارَ بِمَنِ التَّبْعِيْضِيَّةِ إِلَى أَنَّ صِفَاتِ مَوْلَانَا جَلَّ وَ عَزَّ الْوَاجِبَةَ لَهُ لَا تَنْحَصِرُ – فِيْ هذِهِ الْعِشْرُوْنَ، إِذْ كَمَلَاتُهُ تَعَالَى لَا نِهَايَةَ لَهَا، لَكِنِ الْعَجْزُ عَنْ مَعْرِفَةِ مَا لَمْ يَنْصُبْ عَلَيْهِ دَلِيْلٌ عَقْلِيٌّ وَ لَا نَقْلِيٌّ لَا نُؤَاخَذُ بِهِ بِفَضْلِ اللهِ تَعَالَى.

Kitab Asal berisyarat dengan huruf (مِنْtab‘idhiyyah untuk menunjukkan, bahwa sifat-sifat Allah – jalla wa ‘azza – tidak terbatas pada 20 sifat ini, sebab kesempurnaan-Nya tidak terbatas, namun ketidakmampuan mengetahui sifat-sifat yang tidak terjelaskan oleh dalil ‘aqli dan naqli membuat kita tidak disiksa karenanya, berkat angerah Allah ta‘ālā.

1. Wujūd.

[صـــ] (وَ هِيَ الْوُجُوْدُ)

Yaitu (1). Wujūd.

 

Syarḥ.

[شــــ] مَعْنَاهُ ظَاهِرٌ، وَ فِيْ عَدِّ الْوُجُوْدِ صِفَةً عَلَى مَذْهَبِ الشَّيْخِ الْأَشْعَرِيِّ تَسَامُحٌ، لِأَنَّهُ عِنْدَهُ عَيْنُ الذَّاتِ وَ لَيْسَ بِزَائِدٍ عَلَيْهَا، وَ الذَّاتُ لَيْسَتْ بِصِفَةٍ، لَكِنْ لَمَّا كَانَ الْوُجُوْدُ تُوْصَفُ بِهِ الذَّاتُ فِي اللَّفْظِ فَيُقَالُ ذَاتُ مَوْلَانَا جَلَّ وَ عَزَّ مَوْجُوْدَةٌ، صَحَّ أَنْ يُعَدَّ صِفَةً عَلَى الْجُمْلَةِ.

Maknanya jelas, namun dalam menghitung wujūd sebagai suatu sifat berdasarkan madzhab asy-Syaikh Abul-Ḥasan al-Asy‘arī merupakan tasāmuḥ (majaz). Sebab menurutnya, wujūd merupakan Dzāt Allah itu sendiri, bukan selainnya, dan Dzāt Allah bukanlah suatu sifat. Namun ketika dalam pelafalan wujūd dijadikan sifat bagi Dzāt Allah, dan dikatakan: “Dzāt Allah – jalla wa ‘azza – itu maujūd”, maka secara umum wujūd sah dihitung sebagai suatu sifat.

وَ أَمَّا عَلَى مَذْهَبِ مَنْ جَعَلَ الْوُجُوْدَ زَائِدًا عَلَى الذَّاتِ كَالْإِمَامِ الرَّازِيِّ فَعُدُّهُ مِنَ الصِّفَاتِ صَحِيْحٌ لَا تَسَامُحَ فِيْهِ.

Adapun menurut madzhab ulama yang menjadikan wujūd sebagai sesuatu yang bukan Dzāt Allah, sebagaimana Imām ar-Rāzī, maka menghitungnya sebagai bagian dari sifat-sifat Allah adalah benar dan tidak ada tasāmuḥ di dalamnya.

وَ مِنْهُمْ مَنْ جَعَلَهُ زَائِدًا عَلَى الذَّاتِ فِي الْحَادِثِ دُوْنَ الْقَدِيْمِ، وَ هُوَ مَذْهَبُ الْفَلَاسِفَةِ.

Sebagian ulama ada yang menjadikan wujūd sebagai sesuatu yang bukan Dzāt Allah pada masa ḥādits, bukan masa qadīm. Ini madzhab kaum filosuf.

2. Qidam.

[صـــ] (وَ الْقِدَمُ)

(2). Qidam.

 

Syarḥ.

[شــــ] الْأَصَحُّ أَنَّ الْقِدَمَ صِفَةٌ سَلْبِيَّةٌ، أَيْ لَيْسَتْ بِمَعْنَى مَوْجُوْدٍ فِيْ نَفْسِهَا كَالْعِلْمِ مَثَلًا، وَ إِنَّمَا هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ سَلْبِ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُوْدِ، وَ إِنْ شِئْتَ قُلْتَ: هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ افْتِتَاحِ الْوُجُوْدِ، وَ الْعِبَارَاتُ الثَّلَاثُ بِمَعْنَى وَاحِدٍ.

Pendapat al-Ashaḥḥ menyatakan, bahwa qidam adalah sifat salbiyyah. Maksudnya tidak ada makna yang maujūdpadanya, seperti sifat ilmu misalnya. Qidam hanya merupakan ungkapan untuk menafikan sifat ‘adam (tiada) yang mendahului wujūd. Bila mau anda dapat mengatakan: “Qidam merupakan ungkapan dari tidak adanya permulaan bagi wujud Allah.” Bila pula anda katakan: “Qidam merupakan ungkapan dari tidak adanya pembukaan wujud.” Ketiga ungkapan tersebut satu makna.

هذَا مَعْنَى الْقِدَمِ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى بِاعْتِبَارِ ذَاتِهِ الْعَلِيَّةِ وَ صِفَاتِهِ الْجَلِيْلَةِ السُّنِّيَّةِ.

Inilah makna qidam bagi Allah ta‘ālā dengan mempertimbangkan Dzāt-Nya Yang Maha Tinggi dan Sifat-sifatNya Yang Maha Agung dan Maha Luhur.

وَ أَمَّا مَعْنَاهُ إِذَا أُطْلِقَ فِيْ حَقِّ الْحَادِثِ كَمَا إِذَا قُلْتَ مَثَلًا: “هذَا بِنَاءٌ قَدِيْمٌ، وَ عُرْجُوْنٌ قَدِيْمٌ”، فَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ طُوْلِ مُدَّةِ وُجُوْدِهِ، وَ إِنْ كَانَ حَادِثًا مَسْبُوْقًا بِالْعَدَمِ كَمَا فِيْ قُوْلِهِ تَعَالَى: إِنَّكَ لَفِيْ ضَلَالِكَ الْقدِيْمِ، وَ قَوْلِهِ تَعَالَى: كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ”.

Adapun maknanya ketika diucapkan untuk sesuatu yang ḥādits, sebagaimana saat anda berkata misalnya: “Ini adalah bangunan yang qadīm, dan tandan yang qadīm”, maka qadīm merupakan ungkapan dari lamanya waktu wujūd-nya dalam kondisi bila sesuatu itu bersifat ḥādits dan didahului oleh ketiadaan, sebagaimana dalam firman Allah ta‘ālā: “Sungguh kamu niscaya dalam kesesatanmu yang lama”, dan firman Allah: “Seperti tandan yang tua.”

وَ الْقِدَمُ بِهذَا الْمَعْنَى عَلَى اللهِ تَعَالَى مُحَالٌ، لِأَنَّ وُجُوْدَهُ جَلَّ وَ عَزَّ لَا يُتَقَيَّدُ بِزَمَانٍ وَ لَا مَكَانٍ لِحُدُوْثِ كُلٍّ مِنْهُمَا، فَلَا يُتَقَيَّدُ بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَّا مَا هُوَ حَادِثٌ مِثْلُهَا.

Qidam dengan makna semacam ini mustahil bagi Allah ta‘ālā, sebab wujūd-Nya – jalla wa ‘azza – tidak terbatasi dengan zaman dan tempat karena sifat ḥudūts keduanya. Sebab itu, tidak terbatasi dengan keduanya kecuali sesuatu yang ḥādits yang sama dengannya.

 

وَ هَلْ يَجُوْزُ أَنْ يَتَلَفَّظَ بِلَفْظِ الْقَدِيْمِ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى، فَيُقَالُ هُوَ جَلَّ وَ عَزَّ قَدِيْمٌ، لِأَنَّ مَعْنَاهُ وَاجِبٌ لَهُ جَلَّ وَ عَزَّ عَقْلًا وَ نَقْلًا، أَوْ لَا يَتَلَفَّظُ بِذلِكَ.

Apakah boleh melafalkan kata qadim bagi Allah ta‘ālā, sehingga dikatakan Allah – jalla wa ‘azza – adalah Dzāt Yang Qadim, karena maknanya adalah wajib bagi-Nya – jalla wa ‘azza – secara akal dan naql, atau tidak boleh melafalkannya?

وَ إِنَّمَا يُقَالُ يَجِبُ لَهُ تَعَالَى الْقِدَمُ أَوْ نَحْوُ هذَا مِنَ الْعِبَارَات، وَ لَا يُطْلَقُ عَلَيْهِ فِي اللَّفْظِ اسْمُ الْقَدِيْمِ، لِأَنَّ أَسْمَاءَهُ جَلَّ وَ عَزَّ تَوْقِيْفِيَّةٌ؟

Yang boleh diucapkan hanya: “Wajib bagi Allah ta‘ālā sifat qidam?”, atau ungkapan semisalnya; dan tidak boleh diucapkan bagi-Nya nama al-Qadīm, sebab Asmā’ Allah – jalla wa ‘azza – bersifat tauqīfī.

هذَا مِمَّا يَتَرَدَّدُ فِيْهِ بَعْضُ الْأَشْيَاخِ، لكِنْ قَالَ الْعِرَاقِيُّ فِيْ شَرْحِ أُصُوْلِ السُّبْكِيِّ: عَدَّهُ الْحَلِيْمِيِّ فِي الْأَسْمَاءِ، وَ قَالَ: لَمْ يَرِدْ فِي الْكِتَابِ نَصًّا، وَ إِنَّمَا وَرَدَ فِي السَّنَّةِ، قَالَ الْعِرَاقِيُّ: وَ أَشَارَ بِذلِكَ إِلَى مَا رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهٍ فِيْ سُنَنِهِ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ (ر) وَ فِيْهِ عَدُّ الْقَدِيْمِ مِنَ التِّسْعَةِ وَ التِّسْعِيْنَ.

Ini termasuk permasalahan yang diperselisihkan oleh sebagian para Masyā’ikh. Namun dalam Syarḥu Ushūl-is-Subkī, al-‘Irāqī mengatakan: “Al-Ḥalīmī menyebut al-Qadīm dalam Asmā’ Allah, dan ia berkata: “Al-Qadīm tidak ada nashnya dalam al-Qur’ān, hanya ada dalam as-Sunnah.” Imām al-‘Irāqī mengatakan: “Dengan ungkapan itu al-Ḥalīmī memberi isyarat pada hadits riwayat Ibn Mājah dalam Sunan-nya dari hadits Abū Hurairah r.a., yang di dalamnya terdapat penyebutan nama al-Qadīm dari 99 Asmā’ Allah.”

4. Mukhālafah lil-Ḥawādits.

[صـــ] (وَ مُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ)

(4). Mukhālafah lil-Ḥawādits. (Berbeda dengan semua makhluk).

 

Syarḥ.

[شــــ] أَيْ لَا يُمَاثِلُهُ تَعَالَى شَيْءٌ مِنْهَا مُطْلَقًا، لَا فِي الذَاتِ وَ لَا فِي الصِّفَاتِ وَ لَا فِي الْأَفْعَالِ.

Maksudnya tidak ada satupun makhluk yang menyamai Allah ta‘ālā secara mutlak, tidak sama dalam dzāt, shifat, maupun perbuatannya.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ.

Allah ta‘ālā: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (351)

فَأَوَّلُ هذِهِ الْآيَةِ تَنْزِيْهٌ وَ آخِرُهَا إِثْبَاتٌ، فَصَدْرُهَا يَرُدُّ عَلَى الْمُجَسِّمَةِ وَ أَضْرَابِهِمْ، وَ عَجْزُهَا يَرُدُّ عَلَى الْمُعَطِّلَةِ النَّافِيْنَ لِجَمِيْعِ الصِّفَاتِ.

Bagian awal ayat ini merupakan tanzīh (penyucian Allah dari menyerupai makhluk), dan bagian akhirnya menetapkan (sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat bagi Allah). Maka bagian awalnya menolak kaumMujassimah dan berbagai variannya, dan bagian akhirnya menolak kaum Mu‘ththilah yang menafikan seluruh sifat-sifat Allah.

وَ حِكْمَةُ تَقْدِيْمِ التَّنْزِيْهِ فِي الْآيَةِ وَ إِنْ كَانَ مِنْ بَابِ تَقْدِيْمِ السَّلْبِ عَلَى الْإِثْبَاتِ، وَ إِنْ كَانَ الْأَوْلَى فِيْ كَثِيْرٍ مِنَ الْمَوَاطِنِ الْعَكْسَ، أَنَّهُ لَوْ بَدَأَ بِالسَّمْعِ وَ الْبَصَرِ لَأَوْهَمَ التَّشْبِيْهَ، إِذِ الَّذِيْ يُؤَلَّفُ فِي السَّمْعِ أَنَّهُ بِأُذُنٍ، وَ فِي الْبَصَرِ – أَنَّهُ بِحَدْقَةٍ، وَ أَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا إِنَّمَا يَتَعَلَّقُ فِي الشَّاهِدِ بِبَعْضِ الْمَوْجُوْدَاتِ دُوْنَ بَعْضٍ، وَ عَلَى صِفَةٍ مَخْصُوْصَةٍ مِنْ عَدَمِ الْبُعْدِ جِدًّا وَ نَحْوِ ذلِكَ.

Hikmah mendahulukan tanzīh pada ayat tersebut – meskipun termasuk mendahulukan penafian daripada pentetapan, meskipun yang lebih utama dalam beberapa tempat adalah sebaliknya – adalah andaikan al-Qur’ān memulai dengan menyebutkan sifat mendengar dan melihat, niscaya akan mengesankan keserupaan Allah terhadap makhluk. Sebab yang segera dipahami dalam sifat mendengar adalah mendengar dengan telinga, dan dalam sifat melihat adalah melihat dengan bola mata, sementara masing-masing dari keduanya dalam hal yang dapat disaksikan hanya berhubungan dengan sebagian makhluk dan tidak berhubungan dengan yang lainnya; dan hanya pada sifat tertentu seperti tidak adanya jarak yang jauh sekali dan semisalnya.

فَبَدَأَ فِي الْآيَةِ بِالتَّنْزِيْهِ لِيُسْتَفَادَ مِنْهُ نَفْيُ التَّشْبِيْهِ لَهُ تَعَالَى مُطْلَقًا، حَتَّى فِي السَّمْعِ وَ الْبَصَرِ – اللَّذَيْنِ ذُكِرَا بَعْدُ. فَإِنَّ سَمْعَهُ وَ بَصَرَهُ – لَيْسَا كَسَمْعِ الْخَلَائِقِ وَ بَصَرِهِمْ، لِأَنَّ سَمْعَعُ تَعَالَى وَ بَصَرَهُ صِفَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ الْعَلِيَّةِ الَّتِيْ يَسْتَحِيْلُ عَلَيْهَا الْجِرْمِيَّةُ وَ الْجَارِحَةُ وَ لَوَازِمُهَا، وَاجِبَتَا الْقِدَمِ وَ الْبَقَاءِ مُتَعَلِّقَتَانِ بِكُلِّ مَوْجُوْدٍ قَدِيْمًا كَانَ أَوْ حَادِثًا، ذَاتًا كَانَ أَوْ صِفَةً، ظَاهِرًا كَانَ أَوْ بَاطِنًا.

Maka dalam al-Qur’ān memulai dengan penyebutan tanzīh agar darinya dipahami penafian keserupaan Allah ta‘ālādengan makhluk secara mutlak, sampai pada sifat mendengar dan melihat yang disebutkan setelahnya. Sebab mendengar dan melihatnya Allah tidak seperti mendengar dan melihatnya makhluk, karena mendengar dan melihatnya Allah ta‘ālā merupakan sifat yang ada pada Dzāt-Nya Yang Maha Luhur yang mustahil ada unsur fisik, anggota tubuh, dan berbagai kelazimannya, yang wajib (pasti) qidam dan baqā’, yang berhubungan dengan setiap wujūd yang bersifat qadīm maupun ḥādits, yang berupa dzāt maupun sifat; dan lahir maupun batin.

Catatan:

  1. 35). QS. Asy-Syūrā: 11.

Tarjamah matan Tijan ad daruri (Imam Bajuri) : Aqidah islam ahlusunnah waljamaah (20 sifat wajib Allah)

Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 1)

RISĀLAH AL-BĀJŪRIYYAH
(TĪJĀN AD-DURARĪ)
Oleh: Syaikh Ibrohim al-Bajuriy

Alih Bahasa: M. Munawwir Ridwan
Penerbit: ZAMZAM (Surmber Mata Air Ilmu)

Rangkaian Pos: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori | Syekh Ibrahim al-Bajuriy
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 1)
  2. 2.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 2)
  3. 3.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Penutup)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ (وَ بَعْدُ)

Segala puji hanya milik Allah s.w.t. Tuhan semesta alam, sanjungan Shalawat serta Salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasūlullāh s.a.w., dan setelah itu (membaca basmalah, ḥamdalah, shalawat dan salām).

فَيَقُوْلُ فَقِيْرٌ رَحْمَةَ رَبِّهِ الْخَبِيْرِ الْبَصِيْرِ إِبْرَاهِيْمُ الْبَاجُوْرِيُّ ذُو التَّقْصِيْرِ.

Berkatalah seseorang yang sangat memdambakan Rahmat Tuhannya Yang Maha Waspada serta Maha Melihat, yaitu Syaikh Ibrāhīm al-Bājūrī yang memiliki sifat lalai.

طَلَبَ مِنِّيْ بَعْضُ الْإِخْوَانِ أَصْلَحَ اللهُ لِيْ وَ لَهُمُ الْحَالَ وَ الشَّأْنَ أَنْ أُكْتِبَ لَهُ رِسَالَةً تَشْتَمِلُ عَلَى صِفَاتِ الْمَوْلَى وَ أَضْدَادِهَا، وَ مَا يَجُوْزُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى، وَ عَلَى يَجِبُ فِيْ حَقِّ الرُّسُلِ وَ مَا يَسْتَحِيْلُ فِيْ حَقِّهِمْ وَ مَا يَجُوْزُ.

Beberapa dari saudara-saudaraku – semoga Allah memberi kebaikan kondisi dan urusan padaku dan pada mereka – telah memohon kepadaku agar aku menuliskan untuk mereka sebuah risalah yang memuat sifat-sifat wajib (sesuatu yang tidak dapat diterima akal ketidak adaannya) dan sifat kebalikannya (sesuatu yang tidak dapat diterima akal adanya), serta hal-hal yang boleh dalam ḥaqq Allah s.w.t., juga sifat yang wajib, yang mustaḥīl (sesuatu yang tidak bisa diterima akal adanya) serta yang boleh dalam ḥaqq para Rasūl.

فَأَجَبْتُ إِلَى ذلِكَ فَقُلْتُ وَ بِاللهِ التَّوْفِيْقُ.

Maka, akupun mengabulkan permohonan mereka – hanya kepada Allah aku memohon pertolongan – .

وَ يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ أَنْ يَعْرِفَ مَا يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى وَ مَا يَسْتَحِيْلُ وَ مَا يَجُوْزُ.

Wajib atas setiap orang mukallaf (muslim yang baligh lagi berakal) mengetahui hal yang wājib dalam ḥaqq Allah s.w.t., yang mustaḥīl serta yang jā’iz (boleh).

فَيَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْوُجُوْدُ

وَ ضِوَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ وُجُوْدُ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Maka Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Wujūd (ada).

Kebalikannya adalah sifat ‘Adam (tidak ada).

Dalil bahwa Allah s.w.t., itu ada adalah adanya makhluk (semua hal selain Allah).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقِدَمُ. وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا أَوَّلَ لَهُ تَعَالَى،

وَ ضِدُّهُ الْحُدُوْثُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ حَادِثًا لَاحْتَاجَ إِلَى مُحْدِثٍ، وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qidam (terdahulu). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tiada permulaan bagi-Nya.

Kebalikannya adalah sifat al-Ḥudūts (baru).

Dalil bahwasanya Allah s.w.t. bersifatan terdahulu adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang baru. Maka Allah s.w.t. butuh pada yang menciptakan. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْبَقَاءُ وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا آخِرَ لَهُ، وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فَانِيًا لَكَانَ حَادِثًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Baqā’ (kekal). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tiada akhir baginya.

Dan dalil atas sifat kekalnya Allah s.w.t. adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang rusak (fanā’), maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak dapat diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ، وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ، فَلَيْسَ لَهُ يَدٌ وَ لَا عَيْنٌ وَ لَا أُذُنٌ وَ لَا غَيْرُ ذلِكَ مِنْ صِفَاتِ الْحَوَادِثِ.

وَ ضِدُّهَا الْمُمَاثَلَةُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ لَكَانَ حَادِثًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Mukhālafatu lil-Ḥawādits (berbeda dengan makhluk).

Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tidak menyerupai kepada segala hal yang bersifat baru (makhluk). Maka, Allah tidak memiliki tangan, tidak memiliki mata, tidak memiliki telinga dan tidak pula memiliki yang lainnya dari sifat-sifat makhluk.

Kebalikannya adala sifat al-Mumātsalah (menyerupai).

Dalil bahwasanya Allah s.w.t. tidak menyerupai makhluk adalah: seandainya Allah memiliki keserupaan dengan makhluk, maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقِيَامُ بِالنَّفْسِ، وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مَحَلٍّ وَ لَا إِلَى مُخَصِّصٍ. وَ ضِدُّهُ الْاِحْتِيَاجُ إِلَى الْمَحَلِّ وَ الْمَخَصِّصِ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوِ احْتَاجُ إِلَى مَحَلِّ لَكَانَ صِفَةً وَ كَوْنُهُ صِفَةً مُحَالٌ.

وَ لَوِ احْتَاجَ إِلَى مُخَصِّصٍ لَكَانَ حَادِثًا وَ كَوْنُهُ حَادِثًا مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qiyāmu bin-Nafsi (berdiri sendiri). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tidak membutuhkan tempat dan tidak butuh pada yang mewujudkan.

Kebalikannya adalah sifat al-Iḥtiyāju ilal-Maḥalli wal-Mukhashshish (membutuhkan pada tempat dan pencipta).

Dalil bahwasanya Allah s.w.t. bersifat berdiri sendiri adalah: seandainya Allah s.w.t. membutuhkan pada tempat, maka Allah adalah sebuah sifat sedangkan keadaan Allah sebuah sifat adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

Dan seandainya Allah membutuhkan pada yang menciptakan, maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan keadaan Allah merupakan sesuatu yang baru adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَ فِي الصِّفَاتِ وَ فِي الْأَفْعَالِ،

وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الذَّاتِ أَنَّهَا لَيْسَتْ مُرَكَّبَةً مِنْ أَجْزَاءٍ مُتَعَدِّدَةٍ.

وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الصِّفَاتِ أَنَّهُ لَيْسَ صِفَتَانِ فَأَكْثَرَ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ كَقُدْرَتَيْنِ وَ هكَذَا وَ لَيْسَ لِغَيْرِهِ صِفَةٌ تُشَابِهُ صِفَتَهُ تَعَالَى.

وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الْأَفْعَالِ أَنَّهُ لَيْسَ لِغَيْرِهِ فِعْلٌ مِنَ الْأَفْعَالِ.

وَ ضِدُّهَا التَّعَدُّدِ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُتَعَدِّدًا لَمْ يُوْجَدْ شَيْءٌ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Waḥdāniyyah (tunggal). Baik dalam Dzat-Nya, Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya.

Pengertian tungal dalam Dzat-Nya adalah, sesungguhnya dzatnya Allah tidak tersusun dari berbagai bagian yang banyak.

Sedangkan pengertian tunggal dalam sifat-Nya adalah, sesungguhnya tidak ada bagi Allah dua sifat atau lebih dari satu jenis sifat, seperti adanya dua sifat Qudrah dan seterusnya. Dan tidak ada pada selain Allah satu sifat yang menyerupai terhadap sifatnya Allah s.w.t.

Arti tunggal dalam perbuatan-Nya adalah, sesungguhnya tidak ada bagi selain Allah suatu perbuatan dari perbuatan-perbuatannya (semua pekerjaan makhluk adalah atas kekuatan yang diberikan oleh Allah s.w.t.).

Kebalikannya adalah sifat at-Ta‘addud (berbilang).

Dalil bagi sifat Tunggalnya Allah s.w.t. adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang berbilang, maka tentunya tidak akan dapat dijumpai sesuatu pun dari Makhlūq (sesuatu selain Allah) ini.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقُدْرَةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يُوْجَدُ بِهَا وَ يُعَدِّمُ.

وَ ضِدُّهَا الْعَجْزُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ عَاجِزًا لَمْ يُوْجَدْ شَيْءٌ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qudrah (Maha Berkuasa). Sifat Qudrah adalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah mewujudkan dan meniadakan sesuatu.

Kebalikannya adalah sifat al-‘Ajz (lemah).

Dalil bahwa Allah s.w.t. bersifat Maha Berkuasa adalah: seandainya Allah lemah, maka tentunya tidak akan dapat dijumpai sesuatu pun dari makhluq-Nya.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْإِرَادَةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتهِ تَعَالَى يُخَصِّصُ بِهَا الْمُمْكِنَ بِالْوُجُوْدِ أَوْ بِالْعَدَمِ أَوْ بِالْغِنَى أَوْ بِالْفَقْرِ أَوْ بِالْعِلْمِ أَوْ بِالْجَهْلِ إِلَى غَيْرِ ذلِكَ.

وَ ضِدُّهَا الْكَرَاهَةُ.

 وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَارِهًا لَكَانَ عَاجِزًا وَ كَوْنُهُ عَاجِزًا مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Irādah (Maha Berkehendak). Sifat Irādah adalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah menentukan hal yang mungkin menjadi wujud atau tidak wujud atau kaya atau miskin atau mengerti atau bodoh dan seterusnya.

Kebalikannya adalah sifat al-Karāhah (terpaksa).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Berkehendak adalah: Seandainya Allah terpaksa, maka tentunya Allah bersifat lemah. Dan adanya Allah bersifat lemah adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْعِلْمُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَعْلَمُ بِهَا الْأَشْيَاءَ.

وَ ضِدُّهَا الْجَهْلُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ جَاهِلًا لَمْ يَكُنْ مُرِيْدًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-‘Ilmu (Maha Mengetahui). Sifat al-‘ilmu adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah mengetahui semua hal.

Kebalikannya adalah sifat al-Jahl (bodoh).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mengetahui adalah: seandainya Allah memiliki sifat bodoh, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha Berkehendak. Dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْحَيَاةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى تُصَحِّحُ لَهُ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْعِلْمِ وَ غَيْرِهِ مِنَ الصِّفَاتِ.

وُ ضِدُّهَا الْمَوْتُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مَيِّتًا لَمْ يَكُنْ قَادِرًا وَ لَا مُرِيْدًا وَ لَا عَالِمًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Ḥayāh (Maha Hidup). Sifat al-Ḥayāh adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut dapat membenarkan bahwa Allah memiliki sifat ‘Ilmu dan sifat-sifat lainnya.

Kebalikannya adalah sifat al-Maut (Mati).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Hidup adalah: Seandainya Allah mati, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak, dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 2)

RISĀLAH AL-BĀJŪRIYYAH
(TĪJĀN AD-DURARĪ)
Oleh: Syaikh Ibrohim al-Bajuriy

Alih Bahasa: M. Munawwir Ridwan
Penerbit: ZAMZAM (Surmber Mata Air Ilmu)

Rangkaian Pos: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori | Syekh Ibrahim al-Bajuriy
  1. 1.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 1)
  2. 2.Anda Sedang Membaca: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 2)
  3. 3.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Penutup)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى السَّمْعُ وَ الْبَصَرُ وَ هُمَا صِفَتَانِ قَدِيْمَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَنْكَشِفُ بِهِمَا الْمَوْجُوْدُ.

وَ ضِدُّهُمَا الصَّمَمُ وَ الْعَمَى.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: (وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ) – (الشورى: 11)

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat as-Sama‘ (Maha Mendengar) dan al-Bashar (Maha Melihat). Keduanya adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan keduanya menjadi terbukalah hal yang wujud.

Kebalikannya adalah sifat as-Shamam (Tuli) dan al-‘Amā (Buta).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat adalah firman Allah s.w.t.:

(وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ)

Dialah Allah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat (asy-Syūrā, ayat 11).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْكَلَامُ وَ هُوَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى لَيْسَتْ بِحَرْفٍ وَ لَا صَوْتٍ.

وَ ضِدُّهَا الْبُكْمُ وَ هُوَ الْخَرَسُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: (وَ كَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا) – (النساء: 164).

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Kalām (Maha Berfirman). Sifat Kalām adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. dan tidak berwujud huruf dan tidak berwujud suara.

Kebalikannya adalah sifat al-Bukmu yaitu al-Kharas (Bisu).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mengetahui adalah firman Allah s.w.t.:

(وَ كَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا)

Dan Allah telah berfirman kepada Mūsā dengan Firman yang Nyata (an-Nisā’, ayat 164).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ قَادِرًا.

وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ عَاجِزًا.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْقُدْرَةِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Qādiran (adanya Allah Dzat yang Maha Kuasa).

Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu ‘Ājizan (adanya Allah Dzat yang lemah).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Kuasa adalah sebagaimana dalilnya sifat al-Qudrah (Maha Berkuasa).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ مُرِيْدًا.

وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ كَارِهًا.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْإِرَادَةِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Murīdan (adanya Allah Dzat yang Maha Berkehendak).

Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Kārihan (adanya Allah Dzat yang terpaksa).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Berkehendak adalah dalil sifat al-Irādah (Maha Berkehendak).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ عَالِمًا.

وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ جَاهِلًا.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْعِلْمِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu ‘Āliman (adanya Allah Dzat yang Maha Mengetahui).

Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Jāhilan (adanya Allah Dzat yang Bodoh).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Mengetahui adalah dalil sifat al-‘Ilmu (Maha Mengetahui).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ حَيًّا.

وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ مَيْتًا.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْحَيَاةِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Ḥayyan (adanya Allah Dzat yang Maha Hidup).

Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Mayyitan (adanya Allah Dzat yang Mati).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat yang Maha Hidup adalah dalil sifat al-Ḥayyāh (Maha Hidup).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ سَمِيْعًا بَصِيْرًا.

وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ أَصَمَّ وَ كَوُنُهُ أَعْمَى.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ  السَّمْعِ وَ دَلِيْلُ الْبَصَرِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Samī‘an (adanya Allah Dzat yang Maha Mendengar) dan Kaunuhu Bashīran (adanya Allah Dzat yang Maha Melihat).

Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu ‘Ashamma (adanya Allah Dzat yang Tuli) adan Kaunuhu A‘mā (adanya Allah Dzat yang Maha Buta).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Mendengar dan adanya Allah Dzat yang Maha Melihat adalah dalil sifat as-Sama‘ dan dalil sifat al-Bashar (Maha Mendengar dan Maha Melihat).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ مُتَكَلِّمًا.

وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ أَبْكَمَ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْكَلَامِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Mutakalliman (adanya Allah Dzat yang Maha Berfirman).

Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Abkama (adanya Allah Dzat yang Bisu).

Dalil bahwa Allah memiliki sifat adanya Allah s.w.t. Dzat yang Maha Berfirman adalah dalil sifat al-Kalām (Maha Berfirman).

 

وَ الْجَائِزُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ وَجَبَ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى فِعْلُ شَيْءٍ أَوْ تَرْكُهُ لَصَارَ الْجَائِزُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحِيْلًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Boleh bagi ḥaqqnya Allah s.w.t. bersifat mengerjakan setiap perkara yang mungkin atau meninggalkannya.

Dalil bahwa Allah s.w.t. bersifat mengerjakan setiap perkara yang mungkin atau meninggalkannya adalah seandainya Allah berkewajiban untuk mengerjakan sesuatu atau berkewajiban untuk meninggalkannya niscaya sifat Jā’iz tersebut menjadi Wājib atau Mustaḥīl. Dan hal itu adalah hal yang tidak dapat diterima oleh akal (mustaḥīl).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ الصِّدْقُ.

وَ ضِدُّهُ الْكِذْبُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ كَذَبُوْا لَكَانَ خَبَرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى كَاذِبًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat ash-Shiddīq (Benar atau Jujur).

Kebalikannya adalah sifat al-Kidzbu (Berbohong).

Dalil bahwa para rasul memiliki sifat ash-Shidqu adalah seandainya para rasul berbohong niscaya berita/khabar dari Allah s.w.t. adalah suatu hal yang tidak benar/bohong. Dan hal itu tidak dapat diterima oleh akal (mustaḥīl).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ الْأَمَانَةُ.

وَ ضِدُّهَا الْخِيَانَةُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ خَانُوْا بِفِعْلٍ مُحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوْهٍ لَكُنَّا مَأْمُوْرِيْنَ بِمِثْلِ ذلِكَ وَ لَا يَصِحُّ أَنْ نُؤْمَرَ بِمُحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوْهٍ.

Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-Amānah (dapat dipercaya/terpercaya).

Kebalikannya adalah sifat al-Khiayānat (Berkhianat/tidak dapat dipercaya).

Dalil bahwa para rasul memiliki sifat al-Amānah adalah seandainya pula rasul berkhianat dengan berbuat hal yang diharamkan atau yang dimakruhkan niscaya kita semua diperintahkan dengan hal yang serupa. Dan tidak benar jika kita diperintah untuk melakukan hal yang diharamkan atau yang dimakruhkan.

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ تَبْلِيْغُ مَا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِ لِلْخَلْقِ.

وَ ضِدُّهُ كِتْمَانُ ذلِكَ.

الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ كَتَمُوْا شَيْئًا مِمَّا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِ لَكُنَّا مَأْمُوْرِيْنَ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ وَ لَا يَصِحُّ أَنْ نُؤْمَرَ بِهِ، لِأَنَّ كَاتِمَ الْعِلْمِ مَلْعُوْنٌ.

Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat Tablīghu Mā Umirū bi Tablīghihi(Menyampaikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan).

Kebalikannya adalah sifat Kitmān (Menyembunyikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan)

Dalil bahwa para rasul memiliki sifat Tablīghu Mā Umiru bi Tablīghihi adalah seandainya para rasul menyembunyikan suatu hal yang diperintahkan untuk disampaikan, niscaya kita diperintahkan untuk menyembunyikan ilmu. Dan tidak benar jika kita diperintah untuk itu. Karena sesungguhnya orang yang menyembunyikan ilmu itu dilaknat.

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ الْفَطَانَةُ.

وَ ضِدُّهَا الْبَلَادَةُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوِ انْتَفَتْ عَنْهُمُ الْفَطَانَةُ لَمَّا قَدَرُوْا أَنْ يُقِيْمُوْا حُجَّةً عَلَى الْخَصْمِ وَ هُوَ مُحَالٌ َلِأَنَّ الْقُرْآنَ دَلَّ فِيْ مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ عَلَى إِقَامَتِهِمُ الْحُجَّةَ عَلَى الْخَصْمِ.

Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-Fathanah (Cerdas/Pandai).

Dalil bahwa para rasul memiliki kecerdasan niscaya mereka tidak akan mampu untuk berhujjah mengalahkan para lawan/musuhnya. Dan hal itu tidak dapat diterima akal. Karena al-Qur’ān telah menunjukkan dalam banyak tempat atas kemampuan para rasul berhujjah mengalahkan para lawan/musuhnya.

 

وَ الْجَائِزُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ الْأَعْرَاضُ الْبَشَرِيَّةُ الَّتِيْ لَا تُؤَدِّيْ إِلَى نَقْصٍ فِيْ مَرَاتِبِهِمُ الْعَلِيَّةِ كَالْمَرَضِ وَ نَحْوِهِ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ مُشَاهَدَتُهَا بِهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ.

Boleh bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-A‘rādh-ul-Basyariyyah (sifat Manusiawi) yang tidak sampai mendatangkan pada rendahnya martabat mereka yang luhur, seperti sakit dan semisalnya.

Dalil bahwa para rasul memiliki sifat Manusiawi (al-A‘rādh-ul-Basyariyyah) adalah kenyataan yang dapat disaksikan pada diri para rasul ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām.

Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Penutup)

RISĀLAH AL-BĀJŪRIYYAH
(TĪJĀN AD-DURARĪ)
Oleh: Syaikh Ibrohim al-Bajuriy

Alih Bahasa: M. Munawwir Ridwan
Penerbit: ZAMZAM (Surmber Mata Air Ilmu)

Rangkaian Pos: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori | Syekh Ibrahim al-Bajuriy
  1. 1.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 1)
  2. 2.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 2)
  3. 3.Anda Sedang Membaca: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Penutup)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 

خَاتِمَةٌ

PENUTUP

 

يَجِبُ عَلَى الشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ نَسَبَهُ (ص) مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ وَ مِنْ جِهَةِ أُمِّهِ.

Wajib bagi semua orang untuk mengetahui silsilah Nabi s.a.w., baik dari pihak ayah Beliau maupun dari pihak ibu Beliau.

فَأَمَّا نَسَبُهُ (ص) مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ ابْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضَرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسِ بْنِ مُضَرِ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ ابْنِ عَدْنَانَ وَ لَيْسَ فِيْمَا بَعْدَهُ إِلَى آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ طَرِيْقٌ صَحِيْحٌ فِيْمَا يُنْقَلُ.

Adapun silsilah Nabi s.a.w., dari jalur ayah beliau adalah, baginda kita Muḥammad s.a.w., adalah putra ‘Abdullāh putranya ‘Abd-ul-Muththalib putranya Hāsyim putranya ‘Abdu Manāf putranya Qushay putranya Kilāb putranya Murrah putranya Ka‘b putranya Lu’ay putranya Ghālib putranya Fihr putranya Mālik putranya Nadhar putranya Kinānah purtranya Khuzaimah putranya Mudrikah putranya Ilyās putranya Mudhar putranya Nizār putranya Ma‘add putranya ‘Adnān. Dan – sampai Sayyid ‘Adnān ini – tidak ada silsilah yang Shaḥīḥ hingga Nabi ‘Ādam a.s.

وَ أَمَّا نَسَبُهُ (ص) مِنْ جِهَةِ أُمِّهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ بْنِ زُهْرَةَ بْنِ كِلَابٍ، فَتَجْتَمِعُ مَعَهُ (ص) فِيْ جَدِّهِ كِلَابٌ.

Adapun silsilah Nabi s.a.w., dari jalur ibunya adalah, Baginda kita Muḥammad s.a.w., adalah putra Āminah putrinya Wahb putranya ‘Abdu Manāf putranya Zuhrah putranya Kilāb. Maka bertemulah Sayyidah Āminah beserta Nabi s.a.w., pada kakeknya, yakni Sayyid Kilāb.

وَ مِمَّا يَجِبُ أَيْضًا أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ لَهُ حَوْضًا.

Dan dari sebagian perkara yang wajib untuk diketahui adalah sesungguhnya Nabi Muḥammad s.a.w., memiliki Ḥaudh (danau di surga).

وَ أَنَّهُ (ص) يَشْفَعُ فِيْ فَصْلِ الْقَضَاءِ، وَ هذِهِ الشَّفَاعَةُ مُخْتَصَةٌ بِهِ (ص).

Dan sesungguhnya Nabi Muḥammad s.a.w. akan memberi syafaat ketika dalam Fashl-ul-Qadhā’ (pemutusan hukum untuk seluruh makhluk), dan Syafā‘ah ini dikhususkan kepada Nabi Muḥammad s.a.w.

وَ مِمَّا يَجِبُ أَيْضًا أَنْ تَعْرِفَ الرُّسُلَ الْمَذْكُوْرِيْنَ فِي الْقُرْآنِ تَفْصِيْلًا وَ أَمَّا غَيْرُهُمْ فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفُهُمْ إِجْمَالًا.

Dan yang wajib untuk diketahui juga adalah nama para rasul yang disebutkan dalam al-Qur’ān secara rinci, adapun selain para rasul yang disebutkan dalam al-Qur’ān, maka wajib mengetahuinya secara global saja.

وَ قَدْ نَظَّمَ بَعْضُهُمُ الْأَنْبِيَاءَ الَّتِيْ تَجِبُ مَعْرِفَتُهُمْ تَفْصِيْلًا فَقَالَ:

Dan sebagian ulama telah menazhamkan nama para Nabi yang wajib diketahui secara rinci, mereka berkata:

خَتْمٌ عَلَى كُلِّ ذِي التَّكْلِيْفِ مَعْرِفَةٌ

بِأَنْبِيَاءَ عَلَى التَّفْصِيْلِ قَدْ عُلِمُوْا

فِيْ تِلْكَ حُجَّتُنَا مِنْهُمْ ثَمَانِيَةٌ

مِنْ بَعْدِ عَشْرٍ وَ يَبْقَى سَبْعَةٌ وَ هُمُ

إِدْرِيْسُ هُوْدٌ شُعَيْبٌ صَالِحٌ وَ كَذَا

ذُو الْكِفْلِ آدَمُ بِالْمُخْتَارِ قَدْ خُتِمُوْا

Wajib bagi setiap Mukallaf mengetahui,

                   Nama para Nabi secara terperinci yang telah diketahui.

Di situlah hujjah kita. Sebagian mereka ada delapan,

                   Setelah sepuluh (8+10=18) dan sisanya ada tujuh yakni.

Nabi Idrīs, Hūd, Syu‘aib, Shāliḥ, begitu juga,

                   Nabi Zulkifli, Ādam dengan Nabi yang terpilihlah (Nabi Muḥammad) para Nabi diakhiri.

وَ مِمَّا يَجِبُ اعْتِقَادُهُ أَيْضًا أَنَّ قَرْنَهُ أَفْضَلُ الْقُرُوْنِ ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِيْ بَعْدَهُ ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِيْ بَعْدَهُ.

Dan sebagian yang wajib diyakini lagi adalah, bahwa sesungguhnya masa/era Rasūlullāh s.a.w., adalah masa yang terbaik, lantas masa sesudahnya (Shahabat Nabi) kemudian masa sesudahnya lagi (Tābi‘īn).

وَ يَنْبَغِيْ لِلشَّخْصِ أَنْ يَعْرَفَ أَوْلَادَهُ (ص) وَ هُمْ سَبْعَةٌ عَلَى الصَّحِيْحِ سَيِّدُنَا الْقَاسِمُ وَ سَيِّدَتُنَا زَيْنَبٌ وَ سَيِّدَتُنَا رُقَيَّةٌ وَ سَيِّدَتُنَا فَاطِمَةٌ وَ سَيِّدَتُنَا أُمُّ كُلْثُوْمٍ وَ سَيِّدُنَا عَبْدُ اللهِ وَ هُوَ الْمُلَقَّبُ بِالطَّيِّبِ وَ الطَّاهِرِ وَ سَيِّدُنَا إِبْرَاهِيْمُ وَ كُلُّهُمْ مِنْ سَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرَى إِلَّا إِبْرَاهِيْمَ فَمِنْ مَارِيَّةَ الْقِبْطِيَّةِ.

Dan seyogyanya bagi seseorang untuk mengetahui putra seseorang untuk mengetahui putra-putri Nabi Muḥammad s.a.w. Dan jumlah mereka berdasarkan riwayat yang Shaḥīḥ adalah Sayyid Qāsim, Sayyidah Zainab, Sayyidah Ruqayyah, Sayyidah Fāthimah, Sayyidah Ummi Kultsūm, Sayyid ‘Abdullāh yang dijuluki ath-Thayyib dan ath-Thāhir, Sayyid Ibrāhīm. Dan mereka semuanya dari Ibu Sayyidah Khadījah al-Kubrā kecuali Sayyid Ibrāhīm dari Ibu Māriyyah al-Qibthiyyah.

وَ هذَا آخِرُ مَا يَسَّرَهُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَ كَرَمِهِ.

Ini akhir dari sesuatu yang telah dimudahkan oleh Allah s.w.t., dari sifat Kedermawanan-Nya dan Kemuliaan-Nya.

وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ.

Segala puji hanya milik Allah s.w.t., Tuhan semesta alam. Shalawat kepada Baginda kita Muḥammad s.a.w., dan juga kepada keluarganya dan para Shahabatnya.

 

PENUTUP (SANG PENULIS KITAB INI)

 

Puji syukur tiada terkira kami haturkan kepada Allah s.w.t., karena hanya atas pertolongan-Nya sematalah buku kecil ini dapat hadir di hadapan saudara.

Semoga nikmat yang luar biasa ini bisa membawa manfaat dan berkah untuk seluruh umat Islam.

Rabb-iḥyinā Syākirīn                         Wa Tawaffanā Muslimīn,

Nub‘ats Min-al-Āminīn                      Fī Zumrat-is-Sābiqīn,

Bijāhi Thāh-ar-Rasūl                         Jud Rabbanā Bil-Qabūl,

Wa Hab lanā Kulla Sūl                      Rabb-istajib Lī Āmīn.

https://hatisenang.com/3-4-sifat-wajib-bagi-allah-mukhalafah-lil-hawadits-terjemah-syarh-umm-al-barahin/

Syarah Kitab tijan ad durari: Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi Beserta Artinya

Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 1)

RISĀLAH AL-BĀJŪRIYYAH
(TĪJĀN AD-DURARĪ)
Oleh: Syaikh Ibrohim al-Bajuriy

Alih Bahasa: M. Munawwir Ridwan
Penerbit: ZAMZAM (Surmber Mata Air Ilmu)

Rangkaian Pos: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori | Syekh Ibrahim al-Bajuriy
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 1)
  2. 2.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 2)
  3. 3.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Penutup)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ (وَ بَعْدُ)

Segala puji hanya milik Allah s.w.t. Tuhan semesta alam, sanjungan Shalawat serta Salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasūlullāh s.a.w., dan setelah itu (membaca basmalah, ḥamdalah, shalawat dan salām).

فَيَقُوْلُ فَقِيْرٌ رَحْمَةَ رَبِّهِ الْخَبِيْرِ الْبَصِيْرِ إِبْرَاهِيْمُ الْبَاجُوْرِيُّ ذُو التَّقْصِيْرِ.

Berkatalah seseorang yang sangat memdambakan Rahmat Tuhannya Yang Maha Waspada serta Maha Melihat, yaitu Syaikh Ibrāhīm al-Bājūrī yang memiliki sifat lalai.

طَلَبَ مِنِّيْ بَعْضُ الْإِخْوَانِ أَصْلَحَ اللهُ لِيْ وَ لَهُمُ الْحَالَ وَ الشَّأْنَ أَنْ أُكْتِبَ لَهُ رِسَالَةً تَشْتَمِلُ عَلَى صِفَاتِ الْمَوْلَى وَ أَضْدَادِهَا، وَ مَا يَجُوْزُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى، وَ عَلَى يَجِبُ فِيْ حَقِّ الرُّسُلِ وَ مَا يَسْتَحِيْلُ فِيْ حَقِّهِمْ وَ مَا يَجُوْزُ.

Beberapa dari saudara-saudaraku – semoga Allah memberi kebaikan kondisi dan urusan padaku dan pada mereka – telah memohon kepadaku agar aku menuliskan untuk mereka sebuah risalah yang memuat sifat-sifat wajib (sesuatu yang tidak dapat diterima akal ketidak adaannya) dan sifat kebalikannya (sesuatu yang tidak dapat diterima akal adanya), serta hal-hal yang boleh dalam ḥaqq Allah s.w.t., juga sifat yang wajib, yang mustaḥīl (sesuatu yang tidak bisa diterima akal adanya) serta yang boleh dalam ḥaqq para Rasūl.

فَأَجَبْتُ إِلَى ذلِكَ فَقُلْتُ وَ بِاللهِ التَّوْفِيْقُ.

Maka, akupun mengabulkan permohonan mereka – hanya kepada Allah aku memohon pertolongan – .

وَ يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ أَنْ يَعْرِفَ مَا يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى وَ مَا يَسْتَحِيْلُ وَ مَا يَجُوْزُ.

Wajib atas setiap orang mukallaf (muslim yang baligh lagi berakal) mengetahui hal yang wājib dalam ḥaqq Allah s.w.t., yang mustaḥīl serta yang jā’iz (boleh).

فَيَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْوُجُوْدُ

وَ ضِوَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ وُجُوْدُ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Maka Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Wujūd (ada).

Kebalikannya adalah sifat ‘Adam (tidak ada).

Dalil bahwa Allah s.w.t., itu ada adalah adanya makhluk (semua hal selain Allah).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقِدَمُ. وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا أَوَّلَ لَهُ تَعَالَى،

وَ ضِدُّهُ الْحُدُوْثُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ حَادِثًا لَاحْتَاجَ إِلَى مُحْدِثٍ، وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qidam (terdahulu). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tiada permulaan bagi-Nya.

Kebalikannya adalah sifat al-Ḥudūts (baru).

Dalil bahwasanya Allah s.w.t. bersifatan terdahulu adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang baru. Maka Allah s.w.t. butuh pada yang menciptakan. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْبَقَاءُ وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا آخِرَ لَهُ، وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فَانِيًا لَكَانَ حَادِثًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Baqā’ (kekal). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tiada akhir baginya.

Dan dalil atas sifat kekalnya Allah s.w.t. adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang rusak (fanā’), maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak dapat diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ، وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ، فَلَيْسَ لَهُ يَدٌ وَ لَا عَيْنٌ وَ لَا أُذُنٌ وَ لَا غَيْرُ ذلِكَ مِنْ صِفَاتِ الْحَوَادِثِ.

وَ ضِدُّهَا الْمُمَاثَلَةُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ لَكَانَ حَادِثًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Mukhālafatu lil-Ḥawādits (berbeda dengan makhluk).

Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tidak menyerupai kepada segala hal yang bersifat baru (makhluk). Maka, Allah tidak memiliki tangan, tidak memiliki mata, tidak memiliki telinga dan tidak pula memiliki yang lainnya dari sifat-sifat makhluk.

Kebalikannya adala sifat al-Mumātsalah (menyerupai).

Dalil bahwasanya Allah s.w.t. tidak menyerupai makhluk adalah: seandainya Allah memiliki keserupaan dengan makhluk, maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقِيَامُ بِالنَّفْسِ، وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مَحَلٍّ وَ لَا إِلَى مُخَصِّصٍ. وَ ضِدُّهُ الْاِحْتِيَاجُ إِلَى الْمَحَلِّ وَ الْمَخَصِّصِ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوِ احْتَاجُ إِلَى مَحَلِّ لَكَانَ صِفَةً وَ كَوْنُهُ صِفَةً مُحَالٌ.

وَ لَوِ احْتَاجَ إِلَى مُخَصِّصٍ لَكَانَ حَادِثًا وَ كَوْنُهُ حَادِثًا مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qiyāmu bin-Nafsi (berdiri sendiri). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tidak membutuhkan tempat dan tidak butuh pada yang mewujudkan.

Kebalikannya adalah sifat al-Iḥtiyāju ilal-Maḥalli wal-Mukhashshish (membutuhkan pada tempat dan pencipta).

Dalil bahwasanya Allah s.w.t. bersifat berdiri sendiri adalah: seandainya Allah s.w.t. membutuhkan pada tempat, maka Allah adalah sebuah sifat sedangkan keadaan Allah sebuah sifat adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

Dan seandainya Allah membutuhkan pada yang menciptakan, maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan keadaan Allah merupakan sesuatu yang baru adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَ فِي الصِّفَاتِ وَ فِي الْأَفْعَالِ،

وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الذَّاتِ أَنَّهَا لَيْسَتْ مُرَكَّبَةً مِنْ أَجْزَاءٍ مُتَعَدِّدَةٍ.

وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الصِّفَاتِ أَنَّهُ لَيْسَ صِفَتَانِ فَأَكْثَرَ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ كَقُدْرَتَيْنِ وَ هكَذَا وَ لَيْسَ لِغَيْرِهِ صِفَةٌ تُشَابِهُ صِفَتَهُ تَعَالَى.

وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الْأَفْعَالِ أَنَّهُ لَيْسَ لِغَيْرِهِ فِعْلٌ مِنَ الْأَفْعَالِ.

وَ ضِدُّهَا التَّعَدُّدِ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُتَعَدِّدًا لَمْ يُوْجَدْ شَيْءٌ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Waḥdāniyyah (tunggal). Baik dalam Dzat-Nya, Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya.

Pengertian tungal dalam Dzat-Nya adalah, sesungguhnya dzatnya Allah tidak tersusun dari berbagai bagian yang banyak.

Sedangkan pengertian tunggal dalam sifat-Nya adalah, sesungguhnya tidak ada bagi Allah dua sifat atau lebih dari satu jenis sifat, seperti adanya dua sifat Qudrah dan seterusnya. Dan tidak ada pada selain Allah satu sifat yang menyerupai terhadap sifatnya Allah s.w.t.

Arti tunggal dalam perbuatan-Nya adalah, sesungguhnya tidak ada bagi selain Allah suatu perbuatan dari perbuatan-perbuatannya (semua pekerjaan makhluk adalah atas kekuatan yang diberikan oleh Allah s.w.t.).

Kebalikannya adalah sifat at-Ta‘addud (berbilang).

Dalil bagi sifat Tunggalnya Allah s.w.t. adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang berbilang, maka tentunya tidak akan dapat dijumpai sesuatu pun dari Makhlūq (sesuatu selain Allah) ini.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقُدْرَةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يُوْجَدُ بِهَا وَ يُعَدِّمُ.

وَ ضِدُّهَا الْعَجْزُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ عَاجِزًا لَمْ يُوْجَدْ شَيْءٌ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qudrah (Maha Berkuasa). Sifat Qudrah adalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah mewujudkan dan meniadakan sesuatu.

Kebalikannya adalah sifat al-‘Ajz (lemah).

Dalil bahwa Allah s.w.t. bersifat Maha Berkuasa adalah: seandainya Allah lemah, maka tentunya tidak akan dapat dijumpai sesuatu pun dari makhluq-Nya.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْإِرَادَةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتهِ تَعَالَى يُخَصِّصُ بِهَا الْمُمْكِنَ بِالْوُجُوْدِ أَوْ بِالْعَدَمِ أَوْ بِالْغِنَى أَوْ بِالْفَقْرِ أَوْ بِالْعِلْمِ أَوْ بِالْجَهْلِ إِلَى غَيْرِ ذلِكَ.

وَ ضِدُّهَا الْكَرَاهَةُ.

 وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَارِهًا لَكَانَ عَاجِزًا وَ كَوْنُهُ عَاجِزًا مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Irādah (Maha Berkehendak). Sifat Irādah adalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah menentukan hal yang mungkin menjadi wujud atau tidak wujud atau kaya atau miskin atau mengerti atau bodoh dan seterusnya.

Kebalikannya adalah sifat al-Karāhah (terpaksa).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Berkehendak adalah: Seandainya Allah terpaksa, maka tentunya Allah bersifat lemah. Dan adanya Allah bersifat lemah adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْعِلْمُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَعْلَمُ بِهَا الْأَشْيَاءَ.

وَ ضِدُّهَا الْجَهْلُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ جَاهِلًا لَمْ يَكُنْ مُرِيْدًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-‘Ilmu (Maha Mengetahui). Sifat al-‘ilmu adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah mengetahui semua hal.

Kebalikannya adalah sifat al-Jahl (bodoh).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mengetahui adalah: seandainya Allah memiliki sifat bodoh, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha Berkehendak. Dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْحَيَاةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى تُصَحِّحُ لَهُ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْعِلْمِ وَ غَيْرِهِ مِنَ الصِّفَاتِ.

وُ ضِدُّهَا الْمَوْتُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مَيِّتًا لَمْ يَكُنْ قَادِرًا وَ لَا مُرِيْدًا وَ لَا عَالِمًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Ḥayāh (Maha Hidup). Sifat al-Ḥayāh adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut dapat membenarkan bahwa Allah memiliki sifat ‘Ilmu dan sifat-sifat lainnya.

Kebalikannya adalah sifat al-Maut (Mati).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Hidup adalah: Seandainya Allah mati, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak, dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

syarah Kitab tijan ad durari: Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi Beserta Artinya

Wajib bagi Allah mempunyai sifat ”Mukhalafatu lil bawadisi.” Artinya, tidak menyerupai dengan perkara baru (mahluk-Nya).

Maka, sifat ketidak-samaan Allah dengan makhluk merupakan suatu ibarat mengenai hilangnya sifat jisim, sifat benda, sifat kulli (keseluruhan), sifat ju’i (sebagian) dan beberapa hal yang menetap pada Allah. Adapun hal-hal yang menetap pada sifat jisim, berada pada tempat yang cukup. Yang menetap pada sifat benda, berada pada perkara lain (seperti buku dimeja, arloji di tangan atau kunci di saku) yang menetap pada sifat kulli (keseluruhan) ialah besar, pada sifat juz’i (sebagian) ialah kecil dan lain sebagainya.Oleh karena itu, apabila setan melontarkan (membisikkan) kata-kata di dalam hati andabahwa: “Kalaulah sekiranya Allah itu tidak merupakan jisim, benda, mempunyai bagian atau sebagian, maka bagaimana pula hakikat Allah itu?” Maka jawabnya adalah: ”Tidak ada yang mampu mengerti akan hakikat Allah, kecuali Allah sendiri.”

Ditegaskan di dalam Al-Qu’r an sebagaimana firman-Nya:”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syura : 11)Oleh karena itu,
Allah bukanlah merupakan jisim yang bisa digambarkan atau benda yang sangat terbatas oleh ruang dan waktu.

Allah Ta’ala tidak mempunyai tangan, mata, telinga dan lain-lain seperti yang dipunyai mahluk-Nya.Allah tidak menyerupai benda yang dapat diukur dan dapat dibagi-bagi. Sebaliknya, benda pun tidak dapat menempati kedudukan (posisi) Allah. Begitu juga tidak berupa sifat dan sifat pun tidak dapat menempati posisi Allah.Allah tidak menyerupai perkara yang wujud, begitu pula perkara yang wujud tidak menyerupai Allah. Ukuran tidak akan bisa untuk mencapai Allah dan arah tidak bisa memuat dan meliput-Nya. Demikian pula bumi dan langit yang tidak memadai jika ditempati oleh Allah.Allah Yang mengangkat derajat segala sesuatu dan lebih dekat dari urat nadi manusia.Allah Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Kedekatan Allah tidak menyerupai dengan dekatnya jisim.Allah Maha Luhur dari tempat yang meliputi-Nya, sebagaimana Allah Maha Bersih dari segala masa yang akan membatasi-Nya.Allah telah wujud sebelum masa dan tempat diciptakan. Dia (Allah) akan tetap berada di atas segala yang ada.Mustahil Bagi Allah Memiliki Sifat Mumatsalah (Menyerupai).Adapun lawan dari sifat ini adalah mumatsalah (menyerupai). Artinya, apabila Allah  tidak menyerupai dengan mahluk, niscaya Allah akan menyerupai pada semua mahluk-Nya. Akan tetapi, persamaan tersebut adalah batal. Sebab, apabila Allah menyerupai pada perkara yang baru, sudah barang tentu Allah pun baru sepertinya. Karena, semua apa yang ada pada salah satu dari dua kesamaan, maka yang lain pun ada kesamaannya.Akan tetapi, apabila keberadaan Allah merupakan hal yang baru, maka hal itu adalah muhal (tidak mungkin) disebabkan oleh kuatnya dalil tentang wajibnya Allah mempunyai sifat qidam.

Jika dipandang dari segi, bahwa Allah wajib mempunyai sifat mukhalafah lil hawadisi, maka mustahil bila Allah mempunyai sifat yang berlawanan dengan sifat tersebut, yakni sifat mumatsalah (menyerupai mahluq ciptaanNya). Mengenai gambaran mumatsalah (kesamaan) ada beberapa macam, diantaranya:Allah memiliki jisim, baik tersusun (tubuh) maupun tidak tersusun. Juga dinisbatkan pada benda atau sifat. Yang membutuhkan tempat atau sisi yang ada pada suatu benda yang karenanya tidak akan berada di atas arsy dan tidak pula di bawahnya.Allah mempunyai sisi yang tidak akan berada di atas serta tidak pula di sebelah kanan dan kirinya. Atau Allah berada pada suatu tempat yang terbatas dengan masa.Allah di lingkari oleh dua peristiwa baru, yaitu malam dan siang. Atau Dzat Allah yang luhur itu bersifat seperti mahluk-Nya yang memiliki kekuasaan baru, kehendak baru, bergerak atau diam, berwarna, kecil, besar (dalam arti banyak bagiannya).Allah bersifat dengan beberapa kesengajaan di dalam segala pekerjaan dan hukum-Nya, seperti menciptakan Zaid bukanlah karena adanya maksud (dari maksud-maksud) tertentu. Artinya, ada kemaslahatan yang bisa mendorong Allah untuk melaksanakan pekerjaan itu. Akan tetapi, merupakan permainan saja (tidak mengandung hikmah). Dan hukum Allah seperti mewajibkan salat kepada kita bukanlah karena adanya maksud-maksud tertentu. Artinya, ada maksud kemaslahatan yang mendorong Allah untuk menetapkan hukum wajib itu.Semua hal tersebut  itu bagi Allah adalah mustahil. Oleh karena itu, dari contoh yang telah diuraikan, maka sifat-sifat yang mustahil tidak mungkin ada bagi Allah.

[1] Sumber dari Kitab Tijan Ad Durari (Ilmu Tauhid karya Syaikh Ibrohim al-Bajuriy) diterjemahkan oleh Achmad Sunarto (Mutiara Ilmu).

Teks dan tarjamah HIZIB NASHR  (Amalan Wirid Abu Hasan Asy-Syadzili )

 Teks dan tarjamah HIZIB NASHR  (Amalan Wirid Abu Hasan Asy-Syadzili )

 

MANAQIB (Biografi Singkat) ABUL HASAN AL SYAZILI

JALUR KETURUNAN.

Beliau adalah seorang sufi yang mempunyai nama lengkap Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabar yang banyak dikenal orang dengan nama al Syazili, beliau dilahirkan di Ghammarah Moroko pada tahun 593 H. Sebutan Al Syazili bagi bagi dirinya karena beliau banyak menempuh kehidupannya untuk memperdalam ilmunya di daerah Syazili.

KEHIDUPAN AL SYAZILI.

Abul Hasan Al Syazili masih mempunyai hubungan keturunan dengan Rasulullah melalui Fatimah al Zahra, dan dari keturunan yang bagus itu sudah Nampak pada diri Al Syazili sejak usia muda sampai tua, dengan budi pekerti yang terpuji hidup sederhana dan suci sepanjang hayatnya.

Pada awal masa kecilnya beliau sudah dibekali oleh orang tuanya dasar-dasar agama kemudian juga mendapat bekal pendidikan dari guru kerohaniannya yang bernama Abdul Salam bin Masyisy seorang ulama’ besar dari Maroko. Setelah dibekali ilmu yang cukup oleh gurunya lalu beliau dikirim oleh gurunya pergi ke Tunisia dan tinggal di Syazilia.

Abul Salam Al Masyisy, memandang ada kelebihan dan keistimewaan yang Nampak pada diri Al Syazili, sehingga dikirimlah beliau di Tunisia untuk mengembangkan ilmu yang telah dimiliki. Namun perintah gurunya ini tidak diketahui alasannya, mengapa mengirim Al Syazili ke Tunisia, tapi sebagai murid yang taat pada gurunya beliau melaksanakan perintah gurunya yang sangat dicintainya.

Kepergian beliau ke Syazili ini merupakan awal dari pengembaraannya, karena setelah lama, beliau tinggal di Syazilia kemudian beliau pindah ke Mesir dan tinggal di Iskadariyah sampai meninggal dunia.

Ilmu-ilmu yang dimiliki oleh Syazili banyak diperoleh ketika beliau tinggal di Tunisia, karena ditempat ini beliau banyak bertemu dengan para ulama’ terkenal dan melakukan diskusi dengan ilama’-ulama’ yang ditemui. Kedatangan beliau di Syazili ini mendapat sambutan yang luar biasa dan setiap hari mereka selalu mengerumuni al Syazili. Untuk menghindari kerumunan penggemarnya, maka beliau ditemani oleh Syekh Abu Muhammad Abdullah bin Salamah al Habibi untuk mengasingkan diri di daerah pegunungan yang bernama Zagwan. Dan di daerah ini beliau mengkhususkan diri dengan beribadah, membersihkan jiwa, menyatukan kehendak dan kemampuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Setelah beliau berkhalwat dari Gunung Zagwan tersebut, lalu beliau kembali ke tengah-tengah masyarakat untuk menyampaikan dakwah dan pelajaran. Namun kembalinya al Syazili ketengah-tengah, masyarakat ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para sufi dan para pejabat pemerintah. Namun dari kalangan pejabat ini beliau banyak mendapat tantangan karena adanya fitnah dari ulama’ fiqh, namun beliau selalu terhindar dari kejadian-kejadian yang tidak dikehendaki. Setelah mendapat tantangan dan fitnah dari ahli fiqh, akhirnya beliau memutuskan untuk pindah ke Mesir dan menetap di Iskandariyah.

Selama tinggal di Tunisia, beliau banyak berdiskusi dan berdialog dengan tokoh sufi, seperti Syekh Abul Hasan Ali Ibnu Makhiuf al Suazli Abu Abdullah al Shabuni Abu Muhammad Abdul Aziz al Paituni, Abu Abdillah at Binai at rayyah dan Abu Abdillah al Jarihi.

Disamping beliau banyak berdialog dengan para ulama’ beliau juga mendirikan majlis pengajian yang banyak dihadiri oleh para ulama’ diantara para ulama yang hadir dalam majlis pengajiannya adalah Izzudin bin Abdul Salam, Taqyyudin ibnu Daqiqiid, Abut Adzim al Munziri, Ibnu Shaleh, Ibnu Hajib, Jamaluddin Usfur, Nabihuddin bin Auf, Muhyiddin bin Suradah, Ibnu Yasin dan lain-lain

KEISTIMEWAAN AL SYAZILI.

Sebagai seorang sufi ada beberapa kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki oleh Al Syazili, diantaranya adalah :

  1. Sebagai seorang yang mempunyai jalur keturunan dengan Rasulullah, ada beberapa titisan warisan yang ada pada diri Al Syazili, diantaranya kewalian. Syazili sudah Nampak dan diraskan oleh gurunya, sehingga beliau dikirim ke Tunisia.
  2. Beliau pernah bermimpi bertemu Rasulullah dan diperintah untuk pindah ke Mesir membina 40 orang wali yang sedang menunggu kedatangannya. Akhirnya mimpi tersebut dilaksanakan dan beliau pindah dari Tunisia ke Mesir dan tinggal di Iskandariyah.

POKOK-POKOK PIKIRAN AL SYAZILI.

Ada beberapa pokok pikiran yang dikembangkan Al Syazili, diantaranya adalah :

  1. Seseorang yang ingin mendalami ajaran Tasawuf, maka harus terlebih dahulu mendalami dan memahami ajaran Syari’ah.
  2. Pelajaran tasawuf Al Syazili yang diajarkan kepada murid-muridnya diambil dari 7 kitab yang penting diantaranya adalah :
  3. Kitab Khatam al auliyah karya al Hakim al Tarmizi, kitab ini banyak menguraikan tentang masalah kewalian (wilayat) dan kenabian (nubuwwat).
  4. Kitab al Mawaqiif Wa al Mukhatabah karya Syekh Muhammad bin Abdul Jabbat an Niffari. Menurut pengarangnya kitab ini ditulis berkat pemberian Tuhan tatkala pengarangnya sedang berkhalwat (menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah). Dan kitab ini juga menguraikan tentang kerinduan seorang sufi kepada Tuhannya.
  5. Kitab Qutub Qulub karya abu thalib al Makki. Kitab ini ditulis menurut acuan syara’ dengan uraian-uraian dan pandangan-pandangan sufi hingga syariat dan hakikat sejalan dan bersatu.
  6. Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali. Kitab ini ditulis dengan memadukan antara syariah dan tasawuf.
  7. Kitab At Syifa’ karya Qadhi ‘Iyadh. Kitab ini oleh al Syazili dipergunakan untuk mengambil berkah dan juga mengambil sumber syarah-syarah dengan melihat tasawuf dari sudut pandang ahli fiqh.
  8. Kitab Ar Risalah karya Imam Qusyairi. Kitab ini dipergunakan oleh Al Syazili sebagai permulaan dari dalam pengajaran tasawufnya.
  9. Kitab Ar Muharrar al Wajiz. Karya Ibnu Athiah. Kitab ini diuraikan oleh Syazili untuk melengkapi pengetahuan dalam pengajian.

3.Tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka beribadah dan menempatkan sesuai dengan ketentuan-ketentuan Ilahi.

Wafatnya Al Syazili.

Beliau meninggal dunia di Iskadariyah pada tahun 656 H.

===================================================

 

DOA  HIZIB  NASHR

 

Pendahuluan : 

Sebelum membaca Hizib Nashr, hendaknya membaca bacaan berikut ini :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. تَحَصَّنْتُ بِذِى الْمُلْكِ وَالْمَلَكُوتِ, وَاعْتَصَمْتُ بِذِى الْعِزَّةِ وَالْجَبَرُوتِ, وتَوَكَّلْتُ عَلَى الْمُلْكِ الْحَيِّ الْقَيُّومِ الحَلِيْمِ الَّذِى لاَ يَنَامُ وَلاَ يَمُوتُ, دَخَلْتُ فِى حِرْزِ اللهِ, دَخَلْتُ فِى حِفظِ اللهِ, وَ دَخَلْتُ فِى أَمَانِ اللهِ, بِحَقِّ كهيعص كُفِيْتُ, وبحمعسق حُمِيْتُ, وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ.

Tahash-shantu bidzil mulki walmalakuut, wa’ta-shamtu bidzil ‘izzati wal jabaruut, watawakkaltu ‘alal malikil hayyil qayyuumil haliimil ladzii laa yanaamu walaa yamuut, dakhaltu fii hirzillaah, dakhaltu fii hifzhillaah, wa dakhaltu fii amaa-nillaah, bihaqqi kaaf haa yaa ‘aiin shaad kufiitu, wabi haa miim ‘aiin siin qaaf humiitu, walaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim.

Dengan menyebut asma’ Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Aku berbenteng kepada Tuhan Yang memiliki kerajaan dan kekua-saan; aku berpegangn teguh pada Yang memiliki kemuliaan dan kekuasaan; aku bertakawakkal kepada Sang Raja Yang Hidup Abadi lagi Terus Menerus mengurus makhluk-Nya, Yang Maha Penyantun, Yang tak pernah tidur dan tidak mengenal mati. Aku masuk kedalam penjagaan Allah. Aku masuk kedalam Pemeliharaan Allah. Aku masuk kedalam Penga-manan Allah. Berkat kebenaran kaaf haa yaa ‘aiin shaad  aku dijaga dan berkat haa miim ‘aiin siin qaaf  akudilindungi. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

BACAAN  HIZIB  NASHR :

وَقَالَ مُوسَى إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لاَ يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ. اللّهُمَّ بِسَطْوَةِ جَبَرُوتِ قَهْرِكَ, وَبِسُرْعَةِ إغَاثَةِ نَصْرِكَ, وَبِغَيْرَتِكَ  ِلانْتِهَاكِ حُرْمَاتِكَ, وَبِحِمَايَتِكَ لِمَنِ احْتَمَى بِآيَاتِكَ, نَسْئَلُكَ يَا أللهُ يَا أللهُ يَا أللهُ يَا سَمِيْعُ   يَاقَرِيْبُ يَامُجِيْبُ يَاسَرِيْعُ,  يَامُنْتَقِمُ يَاقَهَّارُ, يَاشَدِيْدَ الْبَطْشِ يَاجَبَّارُ, يَاعَظِيْمَ الْقَهْرِ, يَامَنْ لاَيُعْجِزُهُ قَهْرُالجَبَابِرَةِ,  وَلاَ يَعْظُمُ عَلَيْهِ هَلاَكُ الْمُتَمَرِّدَةِ, مِنَ الْمُلُوْكِ وَاْلأَكَاسِرَةِ, وَاْلأَعْدَاءِ الْفَاجِرَةِ, أَسْئَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كَيْدَ مَنْ كاَدَنَا فِى نَحْرِهِ, وَمَكْرَ مَنْ مَكَرَ بِنَا عَائِدًا عَلَيْهِ, وَحُفْرَةَ مَنْ حَفَرَلَنَا  حُفْرَةً وَاقِعًا فِيْهَا, وَمَنْ  نَصَبَ لَنَا شَبَكَةَ الْخِدَاعِ, اِجْعَلْهُ يَاسَيِّدِى مُسَاقًا إِلَيْهَا, وَمُصَادًا فِيْهَا وَأَسِيْرًا لَدَيْهَا.

Waqaala muusaa innii ‘udztu birabbii warab-bikum min kulli mutakabbirin laa yukminu biyaumil hisaab. Alloohumma bisathwati jaba-ruuti qahrik, wabisur’ati ighaa-tsati nashrik, wabighairatika lintihaaki hurumaa-tik, wabihi-maayatika limanih-tamaa bi aayaatik, nas-aluka yaa Allooh, yaa Allooh, yaa Allooh, yaa samii’u yaa qariibu yaa mujiibu yaa sarii’u yaa muntaqimu yaa qahhaar, yaa syadiidal bathsyi yaa jabbaar, yaa ‘azhiimal qahri yaa man laa yu’jizuhuu qahrul jabaabirah, walaa ya’zhumu ‘alaihi halaakul mutamarridah, minal muluuki wal akaasirah, wal a’daa-il faajirah. As-aluka antaj’ala kaida man kaadanaa fii nahrih, wa makra man makara binaa ‘aa-idan ‘alaiih, wahufrata man hafara lanaa hufratan waaqi’an fiihaa, waman nashaba lanaa syabakatal khi-dzaa’, ij’al-hu yaa sayyidii musaaqan ilaihaa, wamushaadan fiihaa wa asiiran ladaihaa.

“Dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab”. (QS al-Mukmin : 27).

Yaa Allah! Ddengan perantaraan kekuatan kekua-saan penaklukan-Mu; dengan perantaraan kece-patan datangnya pertolongan-Mu; dengan peranta-raan kecemburuan-Mu bagi pelanggaran terhadap larangan-larangan-Mu; dengan perantaraan perlin-dungan-Mu terhadap orang yang memohon perlindungan dengan ayat-ayat-Mu, kami memohon kepada-Mu, Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah, Yaa Sami’ (Wahai Yang Maha Mendengar), Ya Qariib (Maha Dekat), Ya Mujib (Pengabul doa), Ya Sari’ (Maha Cepat), Ya Muntaqimu (Penuntut Balas), ya Qahhar (Maha Perkasa), wahai Yang Keras siksaan-Nya, wahai Maha Kuasa, wahai Yang Agung penundukan-Nya, wahai Dzat Yang penaklukan para penguasa tidak mampu melumpuhkan-Nya dan tidak sulit atas-Nya menghancurkan orang yang durhaka dari kalangan para raja, kaisar dan musuh yang kurangajar. Aku memohon kepada-Mu, kiranya Engkau jadikan persekongkolan orang yang bermaksud jahat kepada kami mengakibatkan ia terbantai sendiri, (jadikan) kemakaran orang yang makar kepada kami kembali kepada dirinya,  (Jadikan) galian orang yang menggali lubang untuk kami membuatnya jatuh sendiri kedalamnya. Dan orang yang memasang jaring tipuan kepada kami, jadikan ia, wahai Tuhanku,  terjerumus kedalamnya, binasa didalamnya dan menjadi tawanannya.

اللَّهُمَّ بِحَقِّ كهيعص كهيعص كهيعص إِكْفِنَا هَمَّ الْعِدَا, وَلَقِّهِمُ الرَّدَى, وَاجْعَلْهُمْ لِكُلِّ حَبِيْبٍ فِدَا, وَسَلِّطْ عَلَيْهِمْ عَاجِلَ النِّقْمَةِ فِى الْيَوْمِ وَاْلغَدَا,

Alloohumma bihaqqi kaaf haa yaa ‘aiin shaad, kaaf haa yaa ‘aiin shaad, kaaf haa yaa ‘aiin shaad, ikfinaa hammal ‘idaa, walaqqihimur-radaa, waj’alhum likulli habiibin fidaa, wasallith ‘alaihim ‘aajilan-niqmati fil yaumi wal ghadaa.

Ya Allah! Berkat kebenaran Kaaf haa yaa ‘aiin shad (3x) tolonglah kami dari maksud/rencana musuh. Lemparkan mereka kedalam kebinasaan. Jadikan mereka sebagai korban bagi setiap orang yang dicintainya. Kuasakan atas mereka segera menda-patkan balasan pada hari ini dan esok.

اللّهُمَّ بَدِّدْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ, اللّهُمَّ أَقْلِلْ عَدَدَهُمْ, اللّهُمَّ فُلَّ حَدَّهُمْ, اللّهُمَّ أجْعَلِ الدَّائِرَةِ عَلَيْهِمْ, اللّهُمَّ أَرْسِلِ الْعَذَابَ إِلَيْهِمْ,

Alloohumma baddid syamlahum wafarriq jam’a-hum. Alloohumma aqlil ‘adadahum. Alloohumma fulla haddahum. Alloohummaj’alid-daa-irata ‘alai-him. Alloohumma arsilil ‘adzaaba ilaihim.

Ya Allah! Cerai beraikan persatuan mereka dan pisah-pisahkan jamaah/organisasi mereka. Ya Allah! Sedikitkan jumlah mereka. Ya Allah! Buatlah batas-batas (barisan) mereka menjadi kocar kacir. Ya Allah! Jadikan lingkaran/melapetaka atas mereka. Ya Allah! Turunkan azab siksaan kepada mereka.

اللَّهُمَّ أَخْرِجْهُمْ عَنْ دَائِرَةِ الْحِلْمِ وَاللُّطْفِ, وَاَسْلُبْهُمْ مَدَدَ اْلإِمْهَالِ, وَغُلَّ أَيْدِيَهُمْ إِلَى أَعْنَاقِهِمْ, وَارْبُطْ عَلَى قُلُوبِهِمْ, وَلاَ تُبَلِّغْهُمُ اْلآمَالَ,

Alloohumma akhrijhum ‘an daa-iratil hilmi walluthfi, waslubhum madadal imhaali, waghulla aidiyahum ilaa a’naaqihim, warbuth ‘alaa qu-luubihim, walaa tuballighhumul aamaal.

Ya Allah!Usirlah mereka dari kawasan sifat Penyantun dan Kelamahlembutan-Mu. Rampaslah dari mereka bantuan keramahan. Kuncilah tangan-tangan mereka pada leher-lehernya dan ikatlah pada hati-hati mereka, serta jangan sampaikan/sukseskan angan-angan mereka.

اللَّهُمَّ قَلِّبْ  تَدْبِيْرَهُمْ, وَقَرِّر  تَدْمِيْرَهُمْ, وَاقْطَعْ  دَابِرَهُمْ, وَخُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ  مُقْتَدِرٍ,

Alloohumma qallib tadbiirahum, waqarrir tadmii-rahum, waqtha’ daabirahum, wakhudz-hum akh-dza ‘aziizin muqtadir.

Ya Allah! Ubahlah langkah mereka, tentukan penghancuran terhadap mereka, berantaslah  mereka, dan siksalah mereka dengan siksaan yang sangat pedih.

اللّهُمَّ مَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ مَزَّقْتَهُ لأَعْدَائِكَ, إِنْتِصَارًا ِلأَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَأَوْلِيَائِكَ,

Alloohumma mazziqhum kulla mumazzaqin mazzaqtahuu li-a’daa-ika, intishaaran li-anbiyaa-ika warusulika wa auliyaa-ika.

Ya Allah! Cabik-cabiklah mereka, sebagaimana Engkau mencabik-cabik para muruh-Mu untuk membantu para Nabi, Rasul dan auliya’-Mu.

اَللَّهُمَّ انْتَصِرْلَنَا اِنْتِصَارَكَ  ِلأَحْبَابِكَ عَلَى أَعْدَائِكَ (3×).

Alloohummantashir lanantishaaraka li-ahbaabi ka ‘alaa a’daa-ika (Dibaca 3 x).

Ya Allah! Menangkanlah kami, seperti kemenangan yang Engkau berikan kepada para kekasih-Mu.

اللَّهُمَّ لاَ تُمَكِّنِ اْلأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَمِنَّا, وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوبِنَا (3×),

Alloohumma laa tumakkinil a’daa-a fiinaa walaa minnaa, walaa tusallith-hum ‘alainaa bidzunuu-binaa (Dibaca 3 x).

Ya Allah! Jangan Engkau kokohkan para musuh pada kami dan dari kami dan jangan Engkau berikan kekuasaan pada mereka untuk menguasai kami disebabkan dosa-dosa kami.

حم حم حم حم حم حم حم.  حُمَّ  اْلأَمْرُ وَجَاءَ النَّصْرُ فَعَلَيْنَا لاَ يُنْصَرُونَ (7×).

Haamiim, Haamiim, Haamiim, Haamiim, Haa-miim, Haa miim, Haa miim.   Hummal-amru wa jaa-annashru fa’alainaa laa yunsharuun (7x).

Haa miim (7x). Telah ditakdirkan suatu urusan dan telah datang pertolongan, sehingga mereka tidak mampu mengalahkan kami.

حمعسق حِمَايَتُنَا مِمَّا نَخَافُ, اَللَّهُمَّ بِحَقِّ طَهَ وَقَافِ, وَسُورَةِ اْلأَحْقَافِ, بِلُطْفِكَ يَاخَفِيَّ اْلأَلْطَافِ, نَجِّنَا مِمَّا نَخَافُ,

Haa miim ‘aiin siin qaaf himaayatunaa mimmaa nakhaafu. Alloohumma bihaqqi thaahaa wa qaaf wa suuratil-ahqaaf, biluthfika yaa khafiyyal al-thaaf, najjinaa mimmaa nakhaaf.

Haa miim ‘aiib siin qaaf adalah perlindungan kami dari apa saja yang kami takuti. Ya Allah! Berkat Thaha, Qaf dan surat al-Ahqaf, berkat kelemah-lembutan-Mu, wahai Yang Samar kelemah lembutannya, Selamatkan kami dari apa saja yang kami takuti.

اللّهُمَّ قنِاَ شَرَّ اْلأَسْوَى, وَلاَ تَجْعَلْنَا مَحَلاًّ لِلْبَلْوَى, اللّهُمَّ أَعْطِنَا أَمَلَ الرَّجَاءِ وَ فَوْقَ اْلأَمَلِ,

Alloohumma qinaa syarral aswaa, walaa taj’a-lnaa mahallan lilbalwaa. Alloohumma a’thinaa amalar-rajaa-i wafauqal amal.

Ya Allah Lindungi kami dari kejahatan yang paling buruk dan jangan Engkau jadikan kami sebagai tempat sasaran balak-bencana. Ya Allah! Anugerahilah kami pengharapan dan di atas harapan.

يَاهُوَ يَاهُوَ يَاهُوَ, يَامَنْ بِفَضْلِهِ لِفَضْلِهِ نَسْئَلُكَ, إِلَهِى الْعَجَلَ الْعَجَلَ الْعَجَلَ, إِلَهِى اْلإِجَابَةَ  اْلإِجَابَةَ اْلإِجَابَةَ,

Yaa huu, Yaa huu, Yaa huu, Yaa man bifadhlihii lifadhlihii nas-al, ilaahil’ajalal ‘ajal, ilaahil ijaabatal ijaabatal ijaabah.

Wahai Dia, wahai Dia, wahai Dia! Wahai Dzat yang dengan kelebihan-Nya bagi kelebihan-Nya, kami memohon, wahai Tuhanku, segera (kabulkan), segera (kabulkan), segera (kabulkan). Tuhanku, semoga terkabul, semoga terkabul, semoga terkabul.

يَامَنْ أَجَابَ نُوحًا فِى قَوْمِهِ, يَامَنْ نَصَرَ إِبْرَاهِيْمَ عَلَى أَعْدَائِهِ, يَامَنْ رَدَّ يُوسُفَ عَلَى يَعْقُوبَ, يَامَنْ كَشَفَ الضُّرَّ عَنْ أَيُّوبَ, يَامَنْ أَجَابَ دَعْوَةَ زَكَرِيَّا, يَامَنْ قَبِلَ تَسْبِيْحَ يُونُسَ ابْنِ مَتَّى,

Yaa man ajaaba nuuhan fii qaumih. Yaa man nashara Ibraahiima ‘alaa a’daa-ih. Yaa man radda yuusufa ‘alaa ya’quub. Yaa man kasyafadh-dhurru ‘an ayyuub. Yaa man ajaaba da’wata zakariyyaa. Yaa man qabila tasbiiha yuunusabni matta.

Wahai Dzat Yang mengabulkan doa Nabi Nuh dalam masalah kaummnya. Wahai Tuhan Yang menolong Nabi Ibrahim atas para musuhnya. Wahai Tuhan Yang mengembalikan Nabi Yusuf kedalam pangkuan Nabi Ya’qub. Wahai Tuhan Yang menghilangkan penderitaan (bahaya) dari Nabi Ayyub. Wahai Tuhan Yang mengabulkan doa Nabi Zakariyya. Wahai Tuhan Yang menerima tasbihnya Nabi Yunus bin Matta.

نَسْئَلُكَ اللَّهُمَّ بِأَسْرَارِ أَصْحَابِ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَاتِ, أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنَّا مَابِهِ دَعَوْنَا, وَأَنْ تَعْطِيَنَا مَاسَأَلْنَاكَ, أَنْجِزْ لَنَا وَعْدَكَ الَّذِى وَعَدْتَهُ لِعِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ, بِالنَّصْرِ وَالظَّفَرِ وَالْفَتْحِ الْمُبِيْنَ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتَ مِنَ الظَّالِمِيْنَ,

Nas-alukalloohumma bi-asraari ashhaabi haadzihid-da’awaatil musta-jaabaat, an tataqab-bala minnaa maa bihii da’aunaaka, wa an tu’thiyanaa maa sa-alnaaka, anjiz lanaa wa’dakalladzii wa’adtahuu li’ibaa-dikas-shaali-hiin, binnashri wazh-zhafari walfat-hil mubiin. Laa ilaaha illaa anta sub-haanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.

Kami memohon kepada Engkau, Ya Allah, dengan perantaraan berbagai rahasia para pendoa yang terkabul tersebut, kiranya Engkau menerima dari kami apa saja yang kami mintakan kepada-Mu dan kiranya Engkau memberikan kepada kami apa saja yang kami mohonkan kepada-Mu. Wujudkan untuk kami janji-Mu yang telah Engkau janjikan kepada para hamba-Mu yang shalih, janji berupa bantuan, pertolongan dan kemenangan yang gemilang. Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Aku sungguh termasuk golongan orang-orang yang zhalim.

إِنْقَطَعَتْ آمَالُنَا وَعِزَّتِكَ إلاَّ مِنْكَ, وَخَابَ رَجَاؤُنَا وَحَقِّكَ إلاَّ فِيْكَ (3×)

Inqatha’at aamaalunaa wa’izzatika illaa minka, wakhaaba rajaa-unaa wahaqqika illaa fiika (3 x).

Terputus angan-angan kami, Demi Kemuliaan-Mu, selain yang berasal dari-Mu. Gagal harapan kami, Demi Hak-Mu, selain yang ada pada-Mu.

إِنْ أَبْطَأَتْ غَارَةَ اْلأَرْحَامِ وَابْتَعَدَتْ * 

فَأَقْرَبُ الشَّيْئِ مِنَّاغـَارَةُ الَّلهِ

In abtha-at ghaaratul arhaami wabta’adat * Fa-aqrabus-syai-i minna ghaaratullooh

Jika terlambat dan menjadi jauh pasukan kerabat, maka sesuatu yang paling dekat dari kami adalah pasukan Allah.

يَاغَارَةَ اللهِ  جِدِّى السَيْرَ مُسْرِعـَةً * 

فىِ حَلِّ عُقْدَتِنَا يَاغَـارَةَ اللهِ

عَدَتِ  الْعَـادُونَ وَجـــَارُوا * 

وَرَجــَوْنَا اللهَ مُجِــيْرًا

وَكَــــفَى  بِاللهِ وَلِـــيًّا * 

وَكَـــفَى بِاللهِ نَصِـيْرًا

Yaa ghaaratalloohi jiddis-saira musri’atan * Fii halli ‘uqdatinaa yaa ghaaratallooh.

‘Adatil ‘aaduuna wajaaruu * Warajaunallooha mujiiraa.

Wakafaa billaahi waliyyaa * Wakafaa billaahi nashiiraa.

Wahai Pasukan Allah, bergegas-gegaslah bergerak secara cepat, didalam mengurai tali simpul kami, wahai pasukan Allah

Telah kembali dan berlari orang-orang yang kembali, dan kami berharap kepada Allah sebagai orang yang lari.

Cukuplah Allah sebagai Pelindungku. Dan cukup Allah sebagai Penolongku.

يَاوَاحِدُ يَاعَلِىُّ يَاحَلِيْمُ, وَحَسْبُنَا الَّلهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ, وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالَّلهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ, سَلاَمٌ عَلَى نُوحٍ فِى الْعَالَمِيْنَ, إِسْتَجِبْ لَنَا آمِيْن آمِيْن آمِيْن. 

Yaa waahidu yaa ‘aliyyu yaa haliimu, hasbunalloohu wani’mal wakiil. Walaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim. Salaamun ‘alaa nuhin fil ‘aalamiin. Istajib lanaa aamiin aamiin aamiin.

Wahai Yang Maha Esa, wahai Yang Maha Tinggi, wahai Yang Maha Penyantun!  Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Salam sejahtera atas Nabi Nuh di alam semesta. Kabulkan doa kami. Amin. Amin. Amin

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.  وَصَلىَّ اللَّهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ, وَعَلَىآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Faquthi’a daabiral qaumilladziina zhalamuu fa-ashbahuu laa yuraa illaa masaakinuhum, walham-dulillaahi rabbil ‘aalamiin. Wa shallalloohu ‘alaa sayyidinaa muhammadin sayyidil mursaliin, wa’alaa aalihii washahbihii ajma’iin.

Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Sehingga jadilah mereka tidak diperlihatkan selain tempat-tempat tinggal mereka Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Semoga Allah melimpahkan rahma ta’zhim kepada junjungan kami, Muhammad yang menjadi penghulu para Rasul, beserta keluarga dan sahabatnya seluruhnya.

اللّهُمَّ أَنْتَ تَعْلَمُ أَعْدَائَنَا عَدَدًا, فَبَدِّدْ شَمْلَهُمْ بِدَدًا, وَلاَ تُبْقِ مِنْهُمْ أَحَدًا, إِنَّكَ أَنْتَ الْبَاقِى سَرْمَدًا.

Alloohumma anta ta’lamu a’daa-anaa ‘adadaa, fabaddid syamlahum bidadaa, wala tubqi minhum ahadaa, innaka antal baaqii sarmadaa.

Ya Allah! Engkau mengetahui pusuh-musuh kami berbilang-bilang, cerai beraikan persatuan mereka dengan sungguh-sungguh dan jangan Engkau sisakan dari mereka seorang pun, karena Engkau adalah Dzat Yang Maha Kekal abadi.

وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ. فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ. فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا.

Wamakaruu makran wamakarnaa makran wa hum laa yasy’uruun. Fanzhur kaifa kaana ‘aaqi-batu makrihim annaa dammarnaahum wa qauma-hum ajma’iin. Fatilka buyuutuhum khaawiyatan bimaa zhalamuu.

Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. (QS an-Naml : 50).

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لاَ يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ .

Tudammiru kulla syai-in bi-amrirabbihaa fa-ashbahuu laa yuraa illaa masaakinuhum. 

Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. (QS al-Ahqaf : 25).

فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ. وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا. فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Fahal taraa lahum min baaqiyah. Wahiya khaawiyatun ‘alaa ‘uruu-syihaa. Faquthi’a daabirul qaumilladziina zhalamuu walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka. (QS al-Haaqqah : 8).

Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (QS al-An’am : 45).

PENJELASAN :

Hizib di atas dibaca sekali atau tiga kali setelah sebelumnya didahului membaca hasbanah: Hasbunalloohu wa ni’mal wakiilsebanyak 450 x.

Jika menghadapi problem atau masalah yang serius, penting dan mendesak, Hizib di atas dapat dibaca sampai 41 kali, setelah sebelumnya membaca Hasbanah sepeerti di atas.

Demikian pula sewaktu menghadapi persoalan dan urusan sangat penting, serius dan mendesk, bacalah Hasbanah 100x, lalu membaca hizib Nashr 3x, lalu membaca Hasbanah lagi 100 x, diteruskan bacaan hizib 3 x. Begitu seterusnya sampai Hasbanah dibaca  sebanyak 1000 x dan Hizib menjapai jumlah 30 x.

Sebelum mengamalkan hizib ini, hendaknya didahului dengan bacaan : 1) Istighfar,   2) Shalawat Nabi

________________________________

*) Teks Doa diambil dari kitab asli berbahasa arab : “Khulashoh Syawariq al-Anwar” (KSA), tulisan Prof. DR. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani

Khutbah Mufti mesir : teroris khawarij takfiri (quthbiyun ihwanul muslimin + wahaby) adalah anjing anjing neraka

 

 

Penyebutan kafir dalam aqidah/alqur’an dan NON-MUSLIM dalam dakwah/kehidupan sosial bernegara (Yusuf qardhawi – Saudi – NU – FPI )

biarlah gambar yang berbicara:

 

Yusuf qardhawi ulama panutan ihwanulmuslimin menulis kitab “ghoirul muslimin fii majma’ilmuslimin” (non muslim dalam mayoritas muslimin) sudah diterjamahkan dalam berbagai bahasa

nonmuslim qardhawi

 

syekh yusuf qardawi

Kitab yg ditulis oleh Syeikh YUSUF AL-QARADHAWI, yakni “خطابنا الاسلمي في عصر العولمة”. Kitab ini mengelaborasi toleransi beragama yg moderat tapi tidak kebablasan, dan tetap di jalur syariat yg benar.

Di halaman 44-45 beliau menulis sebagai berikut: (versi bahasa arabnya saya sertakan dalam gambar)
……

Non-Muslim Sebagai Pengganti Kata “Kafir”

Di antara ajaran Islam yang penuh hikmah dan nasihat yg ditujukan pada ummat Islam, khususnya di era gobalisasi seperti saat ini adalah :

Hendaknya tidak memanggil orang-orang yang berbeda keyakinan dengan sebutan ‘Kafir atau Kuffar’, walaupun kita memang meyakini kekufurannya secara aqidah. Apalagi jika mereka adalah Ahli Kitab (Nashrani dan Yahudi).

Mengapa? Ada dua alasannya:

Pertama,
Kata ‘Kafir’ punya banyak makna, salah satunya bermakna ‘orang yang berbeda keyakinan dengan kita’. Termasuk didalamnya, orang-orang yang sama sekali tidak mau mengimani apa-apa yang ghaib dan tidak ditangkap oleh panca indera.

Kedua,
Al-Quran mengajarkan pada kita agar tidak memanggil manusia -walaupun ia memang kafir- dengan panggilan ‘Kafir’.

Maka, Allah memilih untuk memanggil orang-orang yang tidak beriman pada-Nya dengan kalimat:
“Wahai Manusia”,
“Wahai Bani Adam”, dan
“Wahai Ahli Kitab”.

Dan tidaklah dalam Al-Quran Allah memanggil mereka dengan panggilan “Wahai orang-orang Kafir”, kecuali dalam 2 ayat saja, yakni dalam surat At-Tahrim ayat 7 dan dalam Surat Al-Kafirun ayat 1.

Adapun yang melatarbelakangi panggilan Allah dengan panggilan ‘Kafir’ dalam surat ini adalah karena Allah menegur kaum musyrikin penyembah berhala yang menawarkan pada Nabi Muhammad SAW agar beliau SAW menyembah tuhan-tuhan mereka selama satu tahun, lalu kemudian mereka (musyrikin) menyembah Tuhannya Nabi SAW selama satu tahun juga.

Maka, surat al-Kafirun ini menjadi perintah dari Allah langsung untuk menolak tegas tawaran keji mereka. Allah memilih kata-kata dan susunan kalimat dalam surat al-Kafirun yang sangat keras dan sarkastis untuk menolak tawaran mereka yang terlalu keji itu.

Namun, di akhir ayat-Nya pun Allah tetap berbelas kasih pada mereka dengan kalimat penutup yang berbunyi “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”.

Oleh sebab itu, Saya (al-Qardhawi) sejak dulu menyatakan agar memanggil orang-orang yang berbeda agama dengan panggilan ‘Non-Muslim (Ghair al-Muslimin)’. Bukan Kafir.

Dan kitab saya yang berjudul “Ghair al-Muslimin (Non-Muslim) Dalam Masyarakat Islam” telah terbit sejak lama, dan dicetak berkali-kali, serta diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.[]

Referensi:
Yusuf Al-Qardhawi,
Khitabuna Al-Islamy Fi Ashri Al-Aulamah, Halaman 44-45.
Alih Bahasa dengan suntingan yang disesuaikan oleh Ustadazah Aini Aryani.

Disadur dari Ustadazah Aini Aryani

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2019/03/syekh-yusuf-al-qaradhawi-pun-menyebut.html#ixzz5hFt1A8DI

 

 

 

Saudi lebih dulu mempraktekan dalam penulisan jalan2 di makkah untuk ghoiru muslim (non muslim)

 

WhatsApp Image 2019-03-03 at 23.25.56

 

WhatsApp Image 2019-03-05 at 06.12.13

 

FPI dalam konferensi pers sering menyebut NON MUSLIM bukan kafir (search aja di youtube (FPI non muslim hadir 212)

 

 

WhatsApp Image 2019-03-05 at 05.53.18

 

 

Penjelasan lengkapnya munas NU 2019:

 

 

 

kafir berasal dari bahasa arab yaitu:

 كَفَرَ-يَكْفُرُ-كُفْرً  (kafara-yakfuru-kufran) WAZANNYA INI BUKAN ” KAFARA – YUKAFIRU-KUFRAN” SPT YG DIKATAKAN ORANG YANG JAHIL BAHASA ARAB

 

SEDANGKAN PADA QS AL HADIID = KUFFAR ARTINYA PARA PETANI

 

Alhamdulillah.

The word Kafir (كَافِر) is the singular form while kuffar (كُفّار) is the irregular plural form.

Kafiroun (كَافِرون) is the regular plural form, and can be replaced with Kafireen (كَافِرين) according to its syntactical position; i.e. its position in the sentence.

The root verb of this word is ka-fa-ra (كَفَرَ); to cover, veil or hide something.

E.g.: (كَفَرَ المُزارع البذرة), means: The farmer sowed the seed in the soil and covered it.

Hence, the word Kuffar (كُفّار) in this verse of the Qura’n (57:20):

“كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ”

Means the farmers. According to Tafsir Al-Qurtubi, which is a work of Qur’an exegesis.

In the religious context, it is used by the believers of a certain religion to describe all people form different religions other than theirs.

In the Islamic context, it means people who do not believe that there is God but Allah, and Muhammad, peace be upon him, is the messenger of Allah.

Salafy rodja (pengikut ihwanul muslimin takfiri ) vs salafy saudi : Kesesatan ihwanul muslimin / rodja/ halabiyun/ firanda

Kerajaan Arab Saudi Telah Mengumumkan IM (Ikhwanul Muslimin) Termasuk Kelompok Teroris

wahablis vs wahablis….Kerajaan Arab Saudi Telah Mengumumkan IM Ikhwanul Muslimin Termasuk Kelompok Teroris

Kerajaan Arab Saudi Telah Mengumumkan IM (Ikhwanul Muslimin) Termasuk Kelompok Teroris

(Membongkar Pengkhianatan Besar Halabiyun Rodjaiyun Firanda Dkk. Terhadap Pemerintah Saudi Arabia)

Tujuan penulisan:

a.Membuktikan kepada pembaca bahwa sebelum dedengkot Halabiyun Rodjaiyun Firanda dan kawan-kawannya di pasca sarjana Madinah mengumumkan fatwa pemilunya yang menyerukan seluruh kaum muslimin Indonesia mendukung PKS (Partai iKhwanul muSlimin), pemerintah Arab Saudi telah memutuskan tentang haramnya bersikap loyal kepada kelompok Ikhwanul Muslimin yang digolongkan sebagai organisasi teroris. Loyalitas terhadapnya secara tindakan atau ucapan, sebagai kriminal atau kejahatan yang pelakunya akan mendapatkan hukuman atas perbuatannya (lebih jelasnya lihat poin 4 keputusan pemerintah Arab Saudi).

Uraian

Kerajaan Arab Saudi mengumumkan pada hari Jum’at 7 Maret 2014 tentang haramnya bersikap loyal terhadap kelompok Al-Ikhwan Al-Muslimun, Jabhatun Nushrah (Nusra Front, Suriah –pent) dan kelompok Hutsy (Yaman –pent), dan menganggapnya sebagai organisasi-organisasi teroris.

Televisi Saudi juga menyiarkan pernyataan Menteri Dalam Negeri yang menjelaskan perintah Raja untuk melarang untuk berfatwa atau menyokong atau mendukung atau menyumbang untuk kepentingan organisasi Al-Qaidah dan cabang-cabangnya, juga organisasi Negara Islam di Iraq dan Syam yang terkenal di media massa dengan nama ISIS (Islamic State of Iraq and Sham –pent).

Berdasarkan penjelasan tersebut, Riyadh (pemerintah Arab Saudi –pent) menganggap bahwa loyalitas terhadap kelompok dan organisasi mana saja yang dianggap oleh negara sebagai organisasi-organisasi teroris, atau menyerupai organisasi-organisasi tersebut secara tindakan atau ucapan, sebagai kriminal atau kejahatan yang pelakunya akan mendapatkan hukuman atas perbuatannya baik di masa lalu maupun masa mendatang.

Perintah Raja memberikan kesempatan bagi warga Arab Saudi yang terlibat pada tindakan-tindakan pembunuhan di luar Kerajaan selama 15 hari sejak tanggal dikeluarkannya penjelasan ini untuk kembali ke Kerajaan. Dan ketetapan tersebut berlaku bagi warga negara Arab Saudi dan bagi orang-orang yang tinggal di Kerajaan baik dia termasuk orang Arab atau orang Ajam (non Arab).

Adapun redaksi Perintah Raja Arab Saudi sesuai yang keluar dari Kementerian Dalam Negeri adalah sebagai berikut:

ﺑﺴﻢ الله ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

ﺍﻟﺤﻤﺪ لله ﻭﺍﻟﺼﻼ‌ﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼ‌ﻡ ﻋﻠﻰ ﺃﺷﺮﻑ ﺍﻷ‌ﻧﺒﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﻤﺮﺳﻠﻴﻦ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ، ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ:

Berdasarkan perintah Raja yang mulia no. أ/44 tertanggal 3 Jumadal Ula 1435 yang menetapkan pada paragraph ke-4 untuk membentuk sebuah komisi yang terdiri dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Urusan Islam, Waqaf, Dakwah dan Bimbingan Islam, Kementerian Keadilan, Dewan Pengaduan Kezhaliman, serta Badan Investigasi dan Penuntutan Umum, yang tugasnya menyiapkan daftar –secara berkala– aliran-aliran dan kelompok-kelompok yang diisyaratkan pada paragraph ke-2 poin ke-1 dari perintah mulia tersebut, dan melaporkannya untuk menjadi pegangan.

Maka Kementerian Dalam Negeri ingin menjelaskan bahwa komisi yang dimaksud telah berkumpul dan melakukan kajian mendalam terhadap daftar tersebut dan melaporkan kepada Raja Yang Mulia bahwa perintah tersebut mencakup semua warga negara Arab Saudi atau siapa saja yang tinggal di negara ini yang melakukan perkara-perkara berikut:

1.Seruan kepada pemikiran menyimpang dengan segala bentuknya, atau melemparkan keraguan terhadap prinsip-prinsip agama Islam yang merupakan dasar bagi negara ini.

2.Siapa saja yang melepaskan diri dari baiat yang ada di lehernya kepada pemerintah negara ini, atau berbaiat kepada kelompok, atau organisasi, atau aliran, atau perkumpulan, atau pribadi mana saja, baik yang ada di dalam maupun di luar negeri.

3.Terlibat, atau menyerukan, atau memprovokasi untuk berperang di medan-medan tempur di negara-negara lain, atau memfatwakan bolehnya hal-hal tersebut.

4.Siapa saja yang ikut mendukung organisasi, atau kelompok, atau aliran, atau perkumpulan, atau partai, atau menampakkan loyalitas atau simpati kepada kelompok-kelompok tersebut, atau menyebarkan pemikirannya, atau mendirikan perkumpulan yang berada di bawah naungan kelompok-kelompok tersebut, baik yang di dalam Kerajaan Arab Saudi atau di luarnya. Hal itu juga mencakup keterlibatan atau andil pada semua media, baik yang berupa audio, atau tulisan, atau visual, pada jejaring media-media sosial dengan segala bentuknya baik yang berupa audio, atau tulisan, atau visual serta pada situs-situs internet. Atau mensharing kontennya dalam bentuk apapun, atau menggunakan simbol-simbol dari kelompok-kelompok atau aliran-aliran tersebut, atau indikasi apa saja yang menunjukkan dukungan atau simpati terhadapnya.

5.Sumbangan atau bantuan baik yang dalam bentuk uang atau materi bagi organisasi-organisasi atau aliran-aliran atau kelompok-kelompok teroris atau radikal, atau melindungi siapa saja yang menjadi anggotanya, atau menyebarkan pemikirannya di dalam Kerajaan Arab Saudi atau di luarnya.

6.Hubungan atau komunikasi dengan kelompok-kelompok atau aliran-aliran atau personal yang memusuhi Kerajaan Arab Saudi.

7.Bersikap loyal kepada negara-negara asing, atau menjalin hubungan dengan mereka, atau berkomunikasi dengan mereka dengan tujuan melancarkan tindakan buruk yang bisa mengganggu persatuan dan ketenangan Kerajaan Arab Saudi dan rakyatnya.

8.Berusaha menggoncang bingkai persatuan masyarakat dan ikatan kebangsaan, atau menyerukan, atau ikut andil, atau menyebarkan, atau memprovokasi untuk melakukan pemogokan, atau demonstrasi, atau konsentrasi massa, atau petisi bersama dengan segala slogan dan bentuknya, atau semua hal yang bisa mengganggu persatuan dan ketenangan Kerajaan Arab Saudi dengan cara apa saja.

9.Menghadiri konferensi atau forum atau perkumpulan baik di dalam atau di luar negeri yang mengancam keamanan dan ketenangan serta mengobarkan fitnah atau kekacauan di tengah-tengah masyarakat.

10.Sengaja melancarkan tindakan yang buruk kepada negara-negara lain dan para pemimpin mereka.

11.Memprovokasi atau mengundang negara-negara asing atau lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi internasional untuk melawan Kerajaan Arab Saudi.

Kementerian Dalam Negeri mengisyaratkan bahwa Raja Yang Mulia telah menyetujui apa yang tercantum di dalam draf saran-saran ini dan telah keluar perintah Raja Yang Mulia dengan nomor 16820 tertanggal 5 Jumaadal Ula 1435 H untuk menjadikannya sebagai pedoman, dan agar memulai melaksanakan perintah ini terhitung mulai hari Ahad tanggal 8 Jumaadal Ula 1435 H yang bertepatan dengan tanggal 9 Maret 2014.

Dan siapapun yang melanggar perintah tersebut dalam bentuk apapun sejak tanggal ditetapkannya ini, maka akan dilakukan penyelidikan secara penuh atas pelanggaran-pelanggarannya yang telah lalu dan yang akan datang berdasarkan penjelasan ini. Raja Yang Mulia juga telah memberikan bagi siapa saja yang terlibat pada tindakan-tindakan pembunuhan di luar Kerajaan Arab Saudi dalam bentuk apapun tenggang waktu tambahan selama 15 hari terhitung sejak keluarnya penjelasan ini, kesempatan untuk mempertimbangan diri dengan matang dan segera kembali ke negara mereka, teriring dengan memohon kepada Allah agar membuka hati mereka dan kembali ke jalan yang benar.

Kementrian Dalam Negeri segera mengumunkan hal itu disertai lampiran daftar pertama bagi partai-partai atau kelompok-kelompok atau aliran-aliran yang tercantum dalam penjelasan ini, yaitu siapa saja yang dimutlakkan dengan nama: Organisasi Al-Qaidah, Organisasi Al-Qaidah di Jazirah arab, Organisasi Al-Qaidah di Yaman, Organisasi Al-Qaidah di Iraq, ISIS, Nusra Front, Hizbullah di dalam Kerajaan Arab Saudia, kelompok Al-Ikhwan Al-Muslimun dan kelompok Al-Hutsy.

Perlu diketahui bahwa hal itu mencakup semua organisasi yang menyerupai organisasi-organisasi ini dalam hal pemikiran atau ucapan atau tindakan, serta semua kelompok dan aliran yang ada dalam daftar Dewan Keamanan dan lembaga-lembaga internasional serta diketahui melakukan terorisme dan tindakan kekerasan.

Kementerian Dalam Negeri akan melakukan update daftar ini secara rutin sesuai dengan arahan dari perintah Raja Yang Mulia dan mengingatkan semua pihak agar tunduk secara penuh terhadapnya, dan di saat yang bersamaan menegaskan bahwa tidak akan ada toleransi atau keringanan bagi siapa saja yang melakukan apa saja dari hal-hal yang telah diisyaratkan di atas.

Kita memohon hidayah kepada Allah Azza wa Jalla bagi semua pihak sambil mengingatkan firman Allah Ta’ala:

فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيْمٌ.

“Siapa saja yang bertaubat setelah kezhaliman yang dia lakukan dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah senantiasa akan menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 39)

Demikian, dan hanya Allah saja yang memberikan taufik di awal dan akhir.

Teks arabnya:

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

فاستناداً إلى الأمر الملكي الكريم رقم أ / 44 وتاريخ 3 / 4 / 1435ه، القاضي في الفقرة (رابعاً)، بتشكيل لجنة من وزارة الداخلية، ووزارة الخارجية، ووزارة الشؤون الإسلامية والأوقاف والدعوة والإرشاد، ووزارة العدل، وديوان المظالم، وهيئة التحقيق والادعاء العام، تكون مهمتها إعداد قائمة تحدث دوريا بالتيارات والجماعات المشار إليها في الفقرة (2) من البند (أولاً) من الأمر الكريم، ورفعها لاعتمادها.

 فتود أن توضح وزارة الداخلية بأن اللجنة المشار إليها اجتمعت وتدارست ذلك ورفعت للمقام الكريم بأن يشمل ذلك كل مواطن سعودي أو مقيم عند القيام بأي أمر من الأمور الآتية:

1 الدعوة للفكر الإلحادي بأي صورة كانت، أو التشكيك في ثوابت الدين الإسلامي التي قامت عليها هذه البلاد

2 كل من يخلع البيعة التي في عنقه لولاة الأمر في هذه البلاد، أو يبايع أي حزب، أو تنظيم، أو تيار، أو جماعة، أو فرد في الداخل أو الخارج.

3 المشاركة، أو الدعوة، أو التحريض على القتال في أماكن الصراعات بالدول الأخرى، أو الإفتاء بذلك.

4 كل من يقوم بتأييد التنظيمات، أو الجماعات، أو التيارات، أو التجمعات، أو الأحزاب، أو إظهار الانتماء لها، أو التعاطف معها، أو الترويج لها، أو عقد اجتماعات تحت مظلتها، سواء داخل المملكة أو خارجها، ويشمل ذلك المشاركة في جميع وسائل الإعلام المسموعة، أو المقروءة، أو المرئية، ووسائل التواصل الاجتماعي بشتى أنواعها، المسموعة، أو المقروءة، أو المرئية، ومواقع الإنترنت، أو تداول مضامينها بأي صورة كانت، أو استخدام شعارات هذه الجماعات والتيارات، أو أي رموز تدل على تأييدها أو التعاطف معها.

5 التبرع أو الدعم، سواء كان نقدياً أو عينياً، للمنظمات، أو التيارات، أو الجماعات الإرهابية أو المتطرفة، أو إيواء من ينتمي إليها، أو يروج لها داخل المملكة أو خارجها.

6 الاتصال أو التواصل مع أي من الجماعات، أو التيارات، أو الأفراد المعادين للمملكة.

7 الولاء لدولة أجنبية، أو الارتباط بها، أو التواصل معها بقصد الإساءة لوحدة واستقرار أمن المملكة وشعبها.

8 السعي لزعزعة النسيج الاجتماعي واللحمة الوطنية، أو الدعوة، أو المشاركة، أو الترويج، أو التحريض على الاعتصامات، أو المظاهرات، أو التجمعات، أو البيانات الجماعية بأي دعوى أو صورة كانت، أو كل ما يمس وحدة واستقرار المملكة بأي وسيلة كانت.

9 حضور مؤتمرات، أو ندوات، أو تجمعات في الداخل أو الخارج تستهدف الأمن والاستقرار وإثارة الفتنة في المجتمع.

10 التعرض بالإساءة للدول الأخرى وقادتها.

11 التحريض، أو استعداء دول، أو هيئات، أو منظمات دولية ضد المملكة.

وتشير وزارة الداخلية بأنه تمت موافقة المقام الكريم على ما جاء بهذه المقترحات وصدر الأمر الكريم رقم 16820 وتاريخ 5 / 5 / 1435ه باعتمادها، وأن يبدأ تنفيذ هذا الأمر اعتباراً من يوم الأحد 8 / 5 / 1435ه ، الموافق 6 مارس 2014م، وأن من يخالف ذلك بأي شكل من الأشكال منذ هذا التاريخ ستتم محاسبته على كافة تجاوزاته السابقة، واللاحقة لهذا البيان، كما أمر المقام الكريم بأن يمنح كل من شارك في أعمال قتالية خارج المملكة بأي صورة كانت مهلة إضافية، مدتها خمسة عشر يوماً اعتباراً من صدور هذا البيان لمراجعة النفس والعودة عاجلاً إلى وطنهم، سائلين الله أن يفتح على صدورهم، وأن يعودوا إلى رشدهم.

 وإذ تعلن وزارة الداخلية ذلك لترفق بهذا القائمة الأولى للأحزاب، والجماعات، والتيارات التي يشملها هذا البيان وهي كل من أطلقت على نفسها مسمى:(( تنظيم القاعدة تنظيم القاعدة في جزيرة العرب تنظيم القاعدة في اليمن تنظيم القاعدة في العراق داعش جبهة النصرة حزب الله في داخل المملكة جماعة الإخوان المسلمين جماعة الحوثي )). علماً بأن ذلك يشمل كل تنظيم مشابه لهذه التنظيمات، فكراً، أو قولاً، أو فعلاً، وكافة الجماعات والتيارات الواردة بقوائم مجلس الأمن والهيئات الدولية وعُرفت بالإرهاب وممارسة العنف.

وسوف تقوم الوزارة بتحديث هذه القائمة بشكل دوري وفق ما ورد في الأمر الملكي الكريم، وتهيب بالجميع التقيد التام بذلك، مؤكدة في نفس الوقت بأنه لن يكون هناك أي تساهل، أو تهاون مع أي شخص يرتكب أياً مما أشير إليه.

ونسأل الله عز وجل الهداية للجميع مستذكرين قول الحق تعالى:(فمن تاب من بعد ظلمه وأصلح فإن الله يتوب عليه إن الله غفور رحيم). هذا وبالله التوفيق أولاً وأخيراً.

url sumber: http://www.alriyadh.com:8080/916236

KEBOHONGAN BESAR & PENGKHIANATAN HALABIYUN RODJAIYUN FIRANDA DAN BEBERAPA MAHASISWA PASCA SARJANA DI MADINAH

Sebagaimana makar “guru besar Halabiyun” kepada kerajaan Arab Saudi, Ali Hasan Al Halaby yang telah dicap oleh Al-Allamah Abdullah Ghudayyan حفظه اللهbahwa Ali Hasan adalah pembawa manhaj Murji’ah di Kerajaan Arab Saudi, maka kadernya yang saat ini sedang menempuh program doctoral di Universitas Madinah, salah seorang Gembong besar Rodja, Firanda dan kawan-kawan pasca sarjananya dari Madinah telah memprovokasi kaum muslimin Indonesia untuk bersatu mendukung Partai iKhwanul muSlimin (setelah pemerintah Saudi menggolongkan IM sebagai organisasi teroris dan menyatakan bahwa dukungan terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin menrupakan tindak kriminal dan kejahatan) dengan mencoblosnya pada pemilu beberapa hari yang lalu.

Fatwa Firanda Maka Pilihlah PKS

Gambar 1. Dedengkot Rodja, juru Kampanye PKS, Halabiyun Firanda sedang beraksi di panggung Firanda dot com.

Walaupun secara mengejutkan tulisannya di atas hanyalah seumuran snack yang segera habis dimakan a.k.a raib a.k.a hilang jejaknya dari situs firanda dot com namun demikian kami Alhamdulillah masih sempat mengabadikan jejak kejahatannya sebagaimana bukti screenshot di atas dan bahkan lebih dari itu, FATWA EMAS IKHWANUL MUSLIMINNYA masih tetap terabadikan dengan gagah di situs-situs Partai PKS yang didukungnya…

Firanda Al Kadzdzab Ajak Pilih PKS

Gambar 2. Screenshot Fatwa Emas Ikhwanul Muslimin Firanda, wajahnya bukan wajah orang lain! Benar-benar wajah JURU KAMPANYE PKS, Firanda. semoga membangunkan Halabiyun-Halabiyun yang selama ini tertidur, tertipu oleh kemasan luar Salafynya Rodja.

Syaikh Asy Syatsri nekad fatwakan kaum muslimin Indonesia dukung Ikhwanul Muslimin??

Firanda Al Kadzdzab Ajak Pilih PKS .

Gambar 3. Dedengkot Rodja, Halabiyun bersekongkol memprovokasi kaum muslimin Indonesia untuk bersatu mendukung, mencoblos PKS

Maka lihatlah bukti kejahatan dan pengkhianatan besar gerombolan Halabiyun di atas terhadap negeri tauhid yang telah berupaya keras menegakkan aturan untuk menghancurkan anasir-anasir Ikhwanul Muslimin dan jaringan teroris lainnya, pemerintah Arab Saudi yang selama ini telah menyuapi mereka, mendidik dan memenuhi segala kebutuhan hidup mereka, namun demikian sungguh anak srigala tidak akan mengenal balas budi terhadap tuan merawat dan membesarkannya. Allahul musta’an.

Dan demikianlah Sururiyun, kadang mereka menampakkan sebagai sosok yang membenci dan memusuhi Ikhwanul Muslimin (“saudara kandung” mereka), menyerukan kepada mad’unya bahwa Ikhwanul Muslimin adalah sesat dan menyimpang namun di saat yang lain loyalitas takkan pernah habis tersisa, kembali merangkul, membela dan mendukungnya, wallahul musta’an.

Ampun purun dikempongi firanda dot com lan PKS

Gambar 4. Screenshot Ampun purun dikempongi firanda dot com lan PKS. Kerajaan Arab Saudi telah umumkan IM termasuk kelompok teroris.

Kita sangat berharap agar pemerintah Saudi Arabia mengambil tindakan tegas terhadap Halabiyun-Halabiyun pengkhianat tersebut yang menjadikan kota Nabi, bumi Madinah Al Munawwarah sebagai landasan peluncur untuk memprovokasi kaum muslimin Indonesia agar mendukung firqah Ikhwanul Muslimin.

Dan di sisi akan kami tambahkan beberapa bukti (dari bukti-bukti sebelumnya di makalah Kala Halabykrasi Kembali Pada Habitat Asli (Ikhwani) (01): Modus Mendaruratkan NKRI & Hasungan Tak Bisa Dipertanggungjawabkan yang menunjukkan bahwa PKS benar-benar merupakan personifikasi dari Ikhwanul Muslimin.

Upaya memisahkan hubungan PKS dari Ikhwanul Muslimin bagaikan upaya memisahkan ikan dari habitat kehidupannya, air. Berikut sikap manhaj para tokoh-tokoh besar PKS yang dakwahnya tidak akan mungkin terlepas dari dedengkot-dedengkot besar Ikhwanul Muslimin itu sendiri:

Apresiasi HNW terhadap Sayyid Quthub

Gambar 5. Apresiasi HNW terhadap Sayyid Quthub

url bukti: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2011/10/21/16459/sayyid-quthb-karyakaryanya-membangunkan-umat-yang-tertidur-bag-i/#sthash.TuyjMqhY.dpbs

Biografi HNW dan aktifitas para dedengkot PK ato PKS

Gambar 6. Biografi HNW dan aktifitas para dedengkot PK/PKS dari cikal bakal mereka, gerakan tarbiyah yang secara khusyu’ mengkaji buku-buku Sayyid Quthub, Hasan Al Banna dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya.

url bukti: http://beritapks.com/mengenal-hidayat-nur-wahid/

berita senada juga ditampilkan di situs: http://m.dakwatuna.com/2011/03/23/11469/sketsa-biografi-hidayat-nur-wahid/

mantan Presiden PK merujuk pada pemikiran Sayyid Quthub

Gambar 7. Screenshot mantan Presiden PK, merujuk pada pemikiran Sayyid Quthub

url bukti: https://groups.yahoo.com/neo/groups/Iqrak/conversations/topics/1285?var=1

mantan Presiden PK merujuk pada pemikiran Sayyid Quthub 2.

Gambar 8. Screenshot mantan Presiden PK, sanjungannya terhadap Tafsir Sayyid Quthub

url bukti: http://www.berniaga.com/Tafsir+Fi+Zhilalil+Quran-14945290.htm

Tetua PKS dan dakwah Sayyid Quthub yang didakwahkannya

Gambar 9. Screenshot Tetua PKS dan dakwah Sayyid Quthub yang didakwahkannya

url bukti: http://dakwah-pkstaktakan.blogspot.com/2013/04/5-syarat-meraih-kemenangan.html#.U0kst1V_stk

Sesungguhnya isyu-isyu yang disebarkan Halabiyun yang mendaruratkan NKRI yang dengan alasan tersebut kemudian memprovokasi kaum muslimin agar mendukung Ikhwanul Muslimin tidaklah mampu menghapus sejarah kemesraan PKS dengan PDIP:

Jangan sekali-kali mengelabui sejarah wahai Firanda

Gambar 10. Screenshot Jas Merah, Jangan sekali-kali mengelabui sejarah wahai Firanda. Firanda, dari Pembela Ihya’ut Turats menjadi juru kampanye PKS.

Sungguh sangat mengenaskan jika membaca komentar-komentar mereka…

akibat suami sebagai pembebek Halabiyun Rodjaiyun Istri pun dikorbankan

Gambar 11. Screenshot akibat suami sebagai pembebek Halabiyun Rodjaiyun, istripun dikorbankan digiring berikhtilath untuk berdemo memenuhi fatwa Jurkam PKS dedengkot Rodja Firanda, Muhammad Arifin Badri, Abduh Tuasikal, Ad Darini cs

tanaman Halabiyun Bali makan pagarnya seniri

Gambar 12. Screenshot tanaman Halabiyun Bali makan pagarnya sendiri plus kemesraan si muka dua Buya Sunni Harun

Tetapi memang sururi dan ikhwani adalah saudara kandung, di sana maupun di sini..

sururi pun pro ikhwani.

Gambar 13. Screenshot Sururipun pro-Mursi (Ikhwani) pantas…di sini coblos PKS.

Berikut bukti kejahatan yang sungguh Halabiyun Rodjaiyun Firanda dan para pembebeknya dari kalangan Halabiyun yang telah berbondong-bondong memenuhi seruannya untuk mencoblos partai Ikhwanul Muslimin dengan pakaian kepalsuan Salafiyah yang mereka kenakan untuk merusak dakwah Ahlussunnah haruslah mempertanggungjawabkan kepada umat seruannya untuk mencoblos Partai Ikhwanul Muslimin sebelum mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Maka lihatlah “screenshot sampah” di bawah ini:

bukti hasil riset khusus dan pandangan tajam para pakar Halabiyun Rodjaiyun

Gambar 14. Screenshot bukti hasil riset khusus dan pandangan tajam para pakar Halabiyun Rodjaiyun (dan sholat istikharah!!!!!) sehingga berkeputusan untuk memprovokasi kaum muslimin Indonesia untuk mencoblos PKS dengan kaidah mengambil kemudharatan yang lebih ringan!! Allahu Akbar!! Bertaubatlah kalian wahai Halabiyun, Allahu yahdikum

Belum selesai wahai Halabiyun Demokrathyun Ikhwaniyun Turatsiyun…

… وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا … (٢٦)

“Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya… (QS. Yusuf: 26)

PKS Piyungan melanjutkan kisah heroik Presiden Partai Ikhwanul Muslimin Indonesia:

“Saya telah beberapa kali mendengar lagu ini dibawakan, tapi malam ini saya mendengar versi yang jauh lebih merdu dari yang pernah saya dengar sebelumnya,” Anis mengapresiasi.

Inilah video “Mars PKS” yang dibawakan Paduan Suara Spiritus Santos:

paduan suara gereja pujian Medali Ikhwaniyah dari Presiden Ikhwanul Muslimin

Gambar 15. Screenshot paduan suara gereja, pujian Medali Ikhwaniyah dari Presiden Ikhwanul Muslimin terhadapnya dan hasungan gembong Halabiyun Rodja untuk mencoblosnya.

Url bukti: www.pkspiyungan.org/2014/02/video-mars-pks-by-paduan-suara-gereja.html dan

http://www.youtube.com/watch?v=RZ1GSWzs5EY

laman resmi Presiden PKS Anis Matta

Gambar 16. Screenshot laman resmi Presiden PKS Anis Matta dan paduan suara gereja di hadapan sekitar 180 ribu kader dan relawan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada hari Minggu (16/3), di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Tidak tanggung-tanggung, Presiden PKS sendiri yang mengunggahnya ke saluran youtube untuk dipersembahkan kepada dunia dengan komentar: “Lagu ‘Mars PKS’ dibawakan dengan sangat indah oleh saudara-saudara kita dari kelompok paduan suara Gereja Spiritus Santos dalam Acara Dialog Kebangsaan dan Temu Kader Nusa Tenggara Timur.!!”

saudara-saudaranya PKS yang dihasung Halabiyun Rojaiyun untuk dicoblos

Gambar 17. Screenshot saudara-saudaranya PKS yang dihasung Halabiyun Rojaiyun untuk dicoblos

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…

Dan berikut ini fatwa Al Allamah Al Fauzan terhadap orang yang menyatakan bahwa orang-orang kafir adalah saudara-saudara kita…

fatwa Al Allamah Al Fauzan…Ini termasuk kekafiran dan kesesatan

Gambar 18. Screenshot fatwa Al Allamah Al Fauzan…Ini termasuk kekafiran dan kesesatan, kita berlindung kepada Allah darinya. Orang yang menganggap bahwa Yahudi dan Nashara sebagai muslimin dan orang-orang yang beriman serta sebagai saudara, maka ini merupakan kemurtadan dari agama Islam.

Lebih lengkapnya silakan buka http://forumsalafy.net/?p=2638

Firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (١١٨)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran:118)

Firman-Nya pula:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (١٢٠)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al Baqarah:120)

Maka dari sisi mana riset Halabiyun mahasiswa Pasca Sarjana Madinah bisa dipertanggungjawabkan kepada umat UNTUK MENCOBLOS Partai Ikhwani? Apakah cara melawan caleg kafir yang didengung-dengunkan Halabiyun Firanda, Arifin Badri, Abduh Tuasikal, Ad Darini dengan memilih Ikhwanul Muslimin yang memuliakan orang-orang  kafir dan mendengarkan nyanyian mars Ikhwanul Muslimin dari mulut-mulut mereka di hadapan ratusan ribu kader Ikhwanul Muflisin??? Duhai…benar-benar logika error kuadrat sang Doktor dan calon Doktor Halabiyun Rojaiyun.

Sungguh tidak diragukan lagi bahwa mereka ini (Juru Kampanye PKS) Halabiyun Sururiyun Turatsiyun Firanda dkk. sedang menyeru kaum muslimin Indonesia ke pintu-pintu jahannam!! Wal’iyazubillah.

Semoga Allah Ta’ala melindungi segenap kaum muslimin dari makar dan tipu daya mereka, baik yang nampak maupun yang tersembunyi dan menyadarkan saudara-saudara kita yang selama ini tertipu dengan makar yang sangat jahat lagi licik dari musang-musang hizbi yang berbaju salafy tersebut, amin.

Dan ini semua adalah tambahan bukti kejahatan Halabiyun Rodjaiyun, hikmah besar di balik fatwa para ulama kita yang telah jauh-jauh hari mentahdzir dari organisasi-organisasi mantel pendukung dakwah Ali Hasan Al Halaby semisal Al Irsyad dan As Surkati, Ihya’ut Turats, Al Sofwa, Rodja dengan tokoh gaeknya Yazid Jawas, Abdurrahman Tamimi, Abdul Hakim Abdat dll bahwa tidak ada alasan apapun secara syar’i bagi Ahlussunnah untuk tergiur dengan manuver-manuver jaringan MLM (Mutalawwin La’aab Makir) yang getol mengupayakan peleburan manhaj dengan Halabiyun Turatsiyun baik dengan permainan la’aab ishlah manhaj, demonstrasi santap malam, demo ayam betutu, demo bandara ataupun demo di balik layar seperti kejadian di Rawalumbu.

la aabiyun mendemontrasikan peleburan manhaj bersama Halabiyun

Gambar 19. Screenshot La’abun mendemontrasikan peleburan manhaj bersama Halabiyun

Kesimpulan

PKS adalah personifikasi Partai Ikhwanul Muslimin di Indonesia.

Sebelum Firanda menyerukan kaum muslimin Indonesia untuk mendukung partai Ikhwani, Pemerintah Arab Saudi telah mengumumkan bahwa Organisasi Al-Qaidah, Organisasi Al-Qaidah di Jazirah arab, Organisasi Al-Qaidah di Yaman, Organisasi Al-Qaidah di Iraq, ISIS, Nusra Front, Hizbullah di dalam Kerajaan Arab Saudia, kelompok Al-Ikhwan Al-Muslimun dan kelompok Al-Hutsy sebagai organisasi-organisasi teroris.

Hasungan dedengkot Rodja, Halabiyun Firanda dan beberapa kawannya pasca sarjana di Madinah agar kaum muslimin Indonesia mendukung dan mencoblos Partai Ikhwanul Muslimin adalah pengkhianatan, tindak kriminal dan kejahatan terhadap pemerintah Saudi Arabia.

Fatwa-fatwa para ulama Ahlussunnah terkait pemilu tidak ada hubungannya sama sekali dengan provokasi Juru Kampanye PKS, Halabiyun Firanda yang menfatwakan kepada kaum muslimin Indonesia untuk mencoblos Partai iKhwanul muSlimin.

Adapun yang dilakukan oleh Halabiyun Rodjaiyun Firanda dan kawan-kawannya yang memprovokasi kaum muslimin Indonesia untuk mencoblos Hizbul Ikhwan dengan menyandarkan pada fatwa Syaikh Al Albani rahimahullah dll beberapa ulama kibar itu tidak lebih dari akal bulus Halabiyun saja dalam menipu kaum muslimin.

Semoga pemerintah Arab Saudi segera mengambil tindakan tegas terhadap pengkhianat-pengkhianat yang telah membalas kebaikan-kebaikannya dengan kejahatan makar JURU KAMPANYE IKHWANUL MUSLIMIN Firanda yang jahat dan khabits ini, aaamiin.

kitab syair tasawuf jawa : Serat Wulangreh (karangan sri sunan pakubuwono IV)

TERJEMAHAN  BEBAS & NASKAH ASLI “SERAT WULANG REH”

Karangan : Sri Pakubuwana IV

Penyunting : Drs. Darusuprapta

Penerbit : Redaksi Majalah Minggun JAYA BAYA – Surabaya

Tahun : November 1982

Penerjemah : Pujo Prayitno

 

I.

NYANYIAN : DHANDHANGGULA

1.

Pamedhare wasitining ati // cumanthaka aniru pujangga // dahat mudha ing batine // nanging kedah ginunggung // datan wruh yen akeh ngesemi  // ameksa angrumpaka // basa kang kalantur // tutur kang katula-tula // tinalaten rinuruh kalawan ririh // mrih padhanging sasmita.

Menggelarkan suara hati // memberanikan diri meniru para pujangga // karena masih muda dalam pikirannya // sehingga perlu di besarkan hatinya // walau tidak mengetahui bahwa banyak yang meremehkannya // Karena memaksakan diri merangkai // bahasa yang melantur // nasihat yang sudah terlupakan // dikerjakan dengan ketelatenan dihayati dan dengan pelan-pelan // agar terang makna yang diharapkannya.

2.

Sasmitaning ngaurip puniki // mapan ewuh yen ora wruha // tan jumeneng uripe // akeh kang ngaku-aku // pangrasane sampun udani // tur durung weruh ing rasa // rasa kang satuhu // rasaning rasa punika // upayanen darapon sampurna ugi // ing kauripan.

Rahasia kehidupan sesungguhnya // memang sulit jika tidak mengetahuinya // sehingga tidak tegak dalam hidupnya // banyak yang mengaku-aku // merasa bahwa telah memahami // namun belum memahami tentang rasa // Atas rasa yang sebenarnya // rasa dari rasa itu juga // carilah hingga juga hingga sempurna // di dalam hidupnya.

3

Jroning Kuran nggoning rasa yekti,// nanging ta pilih ingkang uninga,// kajaba lawan tuduhe,// nora kena denawur,// ing satemah nora pinanggih,// mundhak katalanjukan,// temah sasar susur,// yen sira ayun waskitha, // sampurnane ing badanira puniki,// sira anggugurua.

Kandungan Al-Qur’an adalah tempatnya ilmu rasa yang sebenarnya // Namun hanya yang terpilih yang bisa memahaminya // dengan jalan mendapat petunjuk dari-Nya // tidak boleh di kira-kira // sehingga justru tidak akan bisa ditemukan // karena tidak bisa menjangkaunya // sehinnga justru akan tersesat dan salah tafsir // Jika engkau ingin mengerti // kesempurnaan di dalam dirimu ini // maka bergurulah.

4

Nanging yen sira ngguguru kaki,// amiliha manungsa kang nyata,// ingkang becik martabate, /sarta kang wruh ing kukum,// kang ngibadah lan kang wirangi, // sokur oleh wong tapa, // ingkang wus amungkul,//  tan mikir pawewehing liyan,//  iku pantes sira guronana, // sartane kawruhana.

Namun jika berguru wahai anakku // pilihlah manusia yang sudah nyata // yang baik akhlaknya // serta yang memahami hukum // yang ahli ibadah dan ahli mengendalikan diri // sangat beruntung jika mendapatkan ahli Tafakur // yang telah meninggalkan urusan dunia // sehingga sudah tidak memikirkan pemberian orang lain // itu yang pantas tempat engkau berguru // serta syarat dan rukun berguru pun harus kau ketahui.

5

Lamun ana wong micareng ngelmi,// tan mupakat ing patang prakara,// aja sira age-age,// anganggep nyatanipun,// saringana dipun baresih,// limbangen lan kang patang prakara rumuhun,// dalil kadis lan ijemak,// lan kiyase papat iku salah siji,// anaa kang mupakat.

Jika ada seseorang ahli ilmu // jika tidak sesuai dengan empat hal // janganlah engkau segera // mempercayai kebenarannya // telitilah dengan benar // pertimbangkan dahulu kebenarannya dengan empat perkara // yaitu dengan Dalil Khadits, Ijma’ // dan Kiyas, di antara yang empat itu salah satunya // harus ada yang mendasarinya.

6

Ana uga kena den antepi,// yen ucul saka patang prakara,// nora enak legetane,// tan wurung tinggal wektu,// panganggepe wus angengkoki,// aja kudu sembahyang,// wus salat katengsun,// banjure mbuwang sarengat,// batal karam nora nganggo den rawati, // bubrah sakehing tata.

Jika ada yang cocok beru bisa dipercaya kebenarannya // jika tidak sesuai dengan yang empat hal tersebut // tidak enak jika dijalankannya // akhirnya hanya menghabiskan waktu saja // Anggapanya telah menguasai // Sebagai contoh ada yang mengajarkan : Jangan mengerjakan Shalat // karena dahulunya telah menjalankannya // Sehingga hal itu meninggalkan syari’at // batal dan kharam tidak di jaga // sehingga merusak aturan.

7

Angel temen ing jaman samangkin,// ingkang pantes kena ginuronan, // akeh wong jaja ngelmune,// lan arang ingkang manut,// yen wong ngelmu ingkang netepi,// ing panggawening sarak den arani luput,// nanging ta asesenengan,// nora kena den wor kakarepaneki,// papancene priyangga.

Sangat sulit di jaman sekarang // mencari yang pantas untuk dijadikan guru // banyak orang yang tidak tepat ilmunya // karena jarang yang memakai pedoman // jika orang yang ilmunya berpedoman // atas aturan Syari’at disebut orang yang salah // karena hanya mengikuti kesenangannya saja // tidak mau dibenarkan atas yang disenanginya // hanya perpedoman pada kebenarannya sendiri.

8

Ingkang lumrah ing mangsa puniki,// mapan guru ingkang golek sabat,// tuhu kuwalik karepe,// kang wus lumrah karuhun,// jaman kuna mapan si murid,// ingkang padha ngupaya,// kudu angguguru,// ing mengko iki ta nora, //kyai guru naruthuk ngupaya murid,// dadya kanthinira.

Pada umumny di jaman sekarang // adalah gurulah yang mencari murid // sungguh sangat terbalik cita-citanya // Karena pada jaman dahulu pada umumnya // bahwa muridlah // yang mencari dan berusaha // untuk berguru // sedangkan sekarang justru tidak demikian // justru guru yang menghendaki untuk mencari murid // untuk dijadidkan muridnya.

II.

NYANYIAN : KINANTHI

1

Padha gulangen ing kalbu,// ing sasmita amrip lantip,// aja pijer mangan nendra,// ing kaprawiran den kesthi,// pesunen sarinira//  sudanen dhahar lan guling.

Latihlah hatimu // tentang suara hati agar menjadi ahli // jangan terlalu banyak makan dan tidur // tentang sifat keperwiraan agar menjadi cita-cita // ambilah intisarinya // kurangilah makan dan minum.

2

Dadia lakunireku,// cegah dhahar lawan guling,// lan aja sukan-sukan,// anganggoa sawatawis,// ala watake wong suka,// nyuda prayitnaning batin.

Jadikanlah kebiasaan // menahan makan dan tidur // dan jangan bersuka-suka // bersuka-sukalah sekedarnya // karena jelek watak atas orang yang senang bersuka-suka // karena akan mengurangi kewaspadaan batin.

3

Yen wis tinitah wong agung,// aja sira nggunggung dhiri,// aja leket lan wong ala,// kang ala lakunireki,// nora wurung ngajak-ajak,// satemah anunulari.

Jika sudah ditakdirkan menjadi orang terhormat // janganlah engkau menguja diri // jangan bersahabat dengan orang yang bersifat jahat // yang jelek kelakuannya // tidak lain selalu mengajak // sehingga engkau tertular sifat jeleknya.

4

Nadyan asor wijilipun,// yen kalakuane becik,// utawa sugih carita,// carita kang dadi misil,// iku pantes raketana,// darapin mundhak kang budi.

Walau keturunan rakyat jelata // jika kelakuannya baik // atau banyak cerita // cerita yang bisa dijadikan pelajaran // itu yang pantas engkau jadikan sahabat // dengan harapan akan memperbaiki budi pekerti.

5

Yen wong anom pan wis tamtu,// manut marang kang ngadhepi,// yen kang ngadhep akeh bangsat,// datan wurung bisa juti,// yen kang ngadhep keh durjana,// nora wurung bisa maling.

Jika orang muda memang sudah pasti // tergantung yang menjadi pergaulannya // jika bergaul dengan penjahat // akhirnya pun akan mengetahui ilmunya // jika yang menjadi teman bermainnya para durjana // tidak lain akan mengetahui ilmu pencuri.

6

Sanajan ta nora milu,// pasthi wruh solahing maling,// kaya mangkono sabarang,// panggawe ala puniki,// sok weruha nuli bisa,// yeku panuntuning eblis.

Walau tidak ikut mencuri // pasti akan mengetahui kelakuan pencuri // seperti itulah dalam pergaulan // Perbuatan jelek itu // jika mengetahui maka akan bisa melakukannya // itulah arahan dan ajakan iblis.

7

Panggawe becik puniku,// gampang yen wus den lakoni,// angel yen durung kalakyan,// arasa-arasen nglakoni,// tur iku den lakonana,// mupangati badaneki.

Perbuatan baik itu // mudah jika sudah dijalankan // sulit jika belum dilaksanakan // karena malas untuk memulainya // namun jika dijalankan // bermanfaat bagi diri.

8

Lan wong anom-anom iku,// kang kanggo ing mangsa iki,// andhap-asor dipun simpar,// umbag gumunggung ing dhiri,// obral umuk kang den gulang,// kumenthus lawan kumaki.

Dan orang muda itu // di masa sekarang // sifat sopan sampun telah ditinggalkan // karena sangat menyombongkan diri // mengobral cerita bohong yang selalu dijalankan // mengaku pintar dan mengaku bisa.

9

Sapa sira sapa ingsun,// angalunyat sarta edir,// iku lalabete uga,// nonoman adoh wong becik,// emoh angrungu carita,// carita ala lan becik.

Siapa dirimu siapa saya // berlagak dan bergaya // itu semua karena bekas dari // anak muda yang menjauhi orang baik // tidak mau mendengarkan cerita // atas cerita yang jelek dan cerita yang baik.

10

Carita pan wus kalaku,// panggawe ala lan becik,// tindak bener lan kang ora,// kalebu jro cariteki,// mulane aran carita,// kabeh-kabeh den kawruhi.

Cerita memang sudah menceritakan // perbuatan jahat dan perbuatan baik // kelakuan yang benar dan yang salah // sudah termuat di dalam cerita // sehingga disebut cerita // semuanya harus dimuatnya.

11

Mulane wong anom iku,// becik ingkang ataberi,// jajagongan lan wong wong tuwa,// ingkang sugih kojah ugi,// kojah iku warna-warna,// ana ala ana becik.

Sehingga anak muda itu // lebih baik rajin // duduk bersama dengan orang tua // yang mempunyai banyak cerita // cerita itu bermacam-macam // ada yang baik dan ada yang tidak baik.

12

Ingkang becik kojahipun,// sira anggoa kang pasthi,// ingkang ala singgahana,// aja sira anglakoni,// lan den awas wong akojah,// iya ing mangsa puniki.

Cerita yang baik itu // kamu pakai dengan benar // cerita yang jelek hindarirlah // janganlah kau lakukan cerita yang jelek itu // dan hati-hatilah dalam bercerita // karena di jaman sekarang itu.

13

Akeh wong kang sugih wuwus, ,//  nanging den sampar pakolih, ,//  amung badane priyangga, ,//  kang den pakolihken ugi, ,//  panastene kang den umbar, ,//  tan na nganggo sawatawis.

Banyak orang yang pintar bercerita // namun di buang cerita baiknya // hanya badan sendiri /// yang dijadikan contoh dalam ceritanya // panas hatinya yang di uraikan // tidak mempergunakan pertimbangan.

14

Aja na wong bisa tutur, ,//  ngemungna ingsun pribadi, ,//  aja na kang amamadha, ,//  angrasa pinter pribadi, ,//  iku setan nunjang-nunjang, ,// tan pantes dipun pareki.

Jangan sampai ada yang bisa bercerita // hanya dirinya sendiri saja // jangan sampai ada yang menyamainya // karena merasa paling pinter // itu sifat setan yang tersesat // tidak pantas untuk didekati.

15

Sikokna den kaya asu, ,//  yen wong kang mangkono ugi, ,//  dahwen open nora layak,//  yen sira sandhingan linggih, ,//  nora wurung katularan,//  becik singkarana ugi.

Katailah bagaikan anjing // jika orang yang demikian biasanya juga // mempunyai sifat yang tidak baik suka mencampuri urusan orang // jika kamu jadikan teman duduk // akhirnya pun kamu akan tertular // lebih baik kamu hindari saja.

16

Poma-poma wekasingsun, //  mring kang maca layang iki,,//  lahir batin den estokna,//  saunine layang iki, //  lan den bekti mring wong tuwa,//  ing lahir prapta ing batin.

Perhatikanlah pesanku ini // kepada yang membaca Serat ini // lahir batin patuhilah // isi dari Serat ini // dan berbaktilah kepada kedua orang tua // dalam lahir maupun dalam batin.

III.

NYANYIAN : GAMBUH

1

Sekar gambuh ping catur, ,//  kang cinatur polah kang kalantur, ,//  tanpa tutur katula-tula katali, ,//  kadaluwarsa katutuh, ,//  kapatuh pan dadi awon.

Tembang Gambuh yang empat // yang dikisahkan perbuatan yang berlebihan // tanpa cerita akan menemui sengsara // terlambat dan dipersalahkan // dituduh sehingga menjadi jelek.

2

Aja nganti kabanjur, ,//  sabarang polah kang nora jujur, ,//  yen kabanjur sayekti kojur tan becik, ,//  becik ngupayaa iku, ,//  pitutur ingkang sayektos.

Janganlah sampai terlanjur // terhadap perbuatan yang tidak jujur // jika terlanjur pasti hancur dan tidak baik // lebih baik mencari saja // nasihat yang baik-baik.

3

Pitutur bener iku, ,//  sayektine apantes tiniru, ,//  nadyan metu saking wong sudra papeki, ,//  lamun becik nggone muruk, ,//  iku pantes sira anggo.

Nasihat baik itu // sesungguhnya pantas untuk ditiru // walau nasihat itu berasal dari orang baisa // jika baik isi ajarannya // itu sangat baik jika kamu pakai.

4

Ana pocapanipun, //  adiguna adigang adigung,,//  pan adigang kidang adigung pan esthi,,//  adiguna ula iku,,//  telu pisan mati sampyoh.

Ada ucapan yang mengatakan // Adiguna (mengandalkan kesaktiannya), adigang (mengandalkan kelincahannya), adigung (mengandalkan kekuatannya) // Yang mengandalkan kecepatannya itu adalah Kijang, yang mengandalkan kekuatannya itu Gajah // yang mengandalkan kesaktiannya itu Ular // ketiganya mati bersama-sama.

5

Si kidang umbagipun,//  angandelken kebat lumumpatipun,//  pan gajah ngandelaken geng a-inggil, ,//  ula ngandelaken iku, ,//  mandine kalamun nyakot.

Kesombongan si Kidang // mengandalkan cepat lompatannya // dan Gajah menyombongkan tinggi besarnya // Ular menyombongkan // ampuh bisanya jika menggigit.

6

Iku upamanipun, ,//  aja ngandelkaken sira iku, ,//  suteng nata iya sapa ingkang wani, ,//  iku ambege wong digung, ,//  ing wusana dadi asor.

Itu sebagai ibaratnya // janganlah kau menyombongkan // karena putra raja siapakah yang akan berani // itu kesombongan orang yang merasa kuat // akhirnya akan menjadi kalah.

7

Adiguna puniku,//  ngandelaken kapinteranipun,// samubarang kabisan dipun dheweki, //  sapa pinter kaya ingsun, ,//  tuging prana nora injoh.

Kelincahan itu // mengandalkan kepandaiannya // segala ke ahlian dimiliki sendiri // sipakah yang pandai seperti saya ini // pada akhirnya tidak bisa apa-apa.

8

Ambeg adigang iku, //  ngandelaken ing kasuranipun, //  para tantang candhala anyanayampahi, //  tinemenan nora pecus, //  satemah dadi guguyon.

Yang mengandalkan kelincahannya itu // Mengandalkan kecepatannya // suka menantang hal yang tidak baik dan suka mendoakan kejelekan // jika dinyatakan maka tidak bisa apa-apa // sehingga menjadi tertawaan.

9

Ing wong urip puniku, ,//  aja nganggo ambeg kang tetelu, ,//  anganggoa rereh ririh ngati-ati, ,//  den kawangwang barang laku, ,//  den waskitha solahing wong.

Di dalam kehidupan ini // jangan bersikap seperti tiga yang tersebut // bersikaplah sabar dan hati-hati // pertimbangkanlah dalam setiap tindakan // dan pahamilah kelakuan setiap manusia.

10

Dene katelu iku, ,//  si kidang suka ing patinipun, ,//  pan si gajah alena patinereki, //  si ula ing patinipun, ,//  ngandelken upase mandos.

Sedangkan sifat tiga tersebut  // Sifat Kidang mengarah kepada kematian // dan si Gajah karena celaka matinya // sedang si Ular matinya // karena mengandalkan rancunnya.

11

Katelu nora patut, ,//  yen tiniru mapan dadi luput, ,//  titikane wong anom kurang wawadi, ,//  bungah akeh wong anggunggung, //  wekasane kajalomprong.

Ketiganya sangat tidak pantas // jika dituri akan menjadi celaka // sifat bagi yang masih muda bisa terlihat dari kurang berhati-hati // senang hatinya bila banyak yang mengagungkannya // pada akhirnya akan celaka.

12

Yen wong anom puniku, ,//  kakehan panggunggung dadi kumprung, ,// pengung bingung wekasane pan angoling, ,//  yen den gunggung muncu-muncu, ,//  kaya wudun meh mecothot.

Jika yang masih muda adalah // jika banyak yang mengagungkannya akan menjadi semaunya  // bodoh dan bingung yang akhirnya tidak bisa apa-apa // jika di puja membanggakan diri // bagaikan penyakit udun hampir pecah.

13

Ing wong kang padha nggunggung, ,// pan sepele iku pamrihipun, ,// mung warege wadhuk kalimising lathi, ,//  lan telesing gondhangipun, ,// ruruba alaning uwong.

Sedangkan bagi yang memujanya // sangat sederhana tujuannya // hanya menginginkan kenyangnya perut dan basah bibirnya // dan basah tenggorokannya // sehingga mengumbar kesalahan orang lain.

14

Amrih pareka iku, ,//  yen wus kanggep nuli gawe umuk, ,//  pan wong akeh sayektine padha wedi, ,//  tan wurung tanpa pisungsung, ,//  adol sanggup sakehing wong.

Agar mudah untuk mendeatinya // jika sudah dianggap kemudian membuat cerita bohong // agar orang banyak menjadi takut // yang pada akhirnrya tidak mendapatkan apa-apa // menjual keasnggupan kepada semua orang.

15

Yen wong mangkono iku, ,//  nora pantes cedhak mring wong agung, ,// nora wurung anuntun panggawe juti,//  nanging ana pantesipun, ,//  wong mangkono didhedheplok.

Jika orang yang demikian itu // tidak pantas dekat dengan pembesar // pada akhirnya menuntun pada perbuatan baik // namun ada juga pantasnya // orang yang demikian di tunjukan kekurangannya. 

16

Aja kakehan sanggup,//  durung weruh tuture angupruk, //  tutur nempil panganggepe wruh pribadi,,//  pangrasane keh wong nggunggung,,// kang wis weruh amalengos.

Jangan kebanyak mengaku bisa // karena belum tau hanya banyak omongnya saja // cerita meminjam dianggapnya bisa dengan sendirinya // dalam perasaanya akan banyak yang akan memujanya // bagi yang telah mengetahuinya akan membuang muka.

17

Aja nganggo sireku, ,//  kalakuan kang mangkono iku, ,//  datan wurung tinitenan den cireni, ,//  mring pawong sanak sadulur, ,//  nora nana kang pitados.

Janganlah engkau pakai // kelakaun yang seperti itu // tidak lain akan diperhatikan dan di perhatikan kekurangannya // oleh para kerabat dan saudaranya // yang akhirnya tidak akan ada yang mempercayainya lagi.

IV.

NYANYIAN : PANGKUR

1

Kang sekar pangkur winarna, //  lalabuhan kang kanggo wong ngaurip, // ala lan becik puniku, ,//  prayoga  kawruhana, ,//  adat waton puniku dipun kadulu, ,//  miwah ta ing tatakrama, ,//  den kaesthi siyang ratri.

Nyanyian Tembang Pangkat menjelaskan // perjuangan bagi kehidupan manusia // baik dan buruk itu // sebaiknya pahamilah // pedoman adat itu perhatikanlah // dan juga aturan sopan santun // jadikankan perhatian pada siang dan malam.

2

Duduga lawan prayoga, ,//  myang watara riringa aywa lali, ,//  iku parabot satuhu, ,//  tan kena tininggale, ,//  tangi lungguh angadeg tuwin lumaku, ,// ,//  angucap meneng anendra, ,//  duga-duga nora keri.

Pertimbangan dan yang sebaiknya dilakukan // dan pedoman serta adat kebiasaan jangan sampai lupa // itu adalah alat kebenaran // jangan sampai ditinggalkan // saat bangun, duduk, bediri dan saat berjalan // ketika berkata, diam dan ketika tidur // jangan sampai meninggalkan pertimbangan yang seharusnya.

3

Miwah ing sabarang karya, // ing prakara  gedhe kalawan cilik, // papat iku datan kantun, // kanggo sadina-dina, // lan ing wengi nagara miwah ing dhusun, // kabeh kang padha ambegan, // papat iku nora kari.

Dan juga dalam setipa bekerja // dalam masalah besar dan kecil // yang empat itu jangan sampai ditinggalkan // pergunakanlah dalam setiap harinya // dan juga pada malam hari, dan ketika dalam urusan kenegaraan serta pergaulan di desa // serta ketika sedang bersama dengan yang masih bernafas // yang empat itu jangan sampai ditinggalkan.

4

Kalamun ana manungsa, // anyinggahi dugi lawan prayogi, // iku wateke tan patut awor lawan wong kathah, // wong digsura ndaludur tan wruh ing edur, // aja sira pedhak-pedhak, // nora wurung niniwasi.

Jika ada manusia // meninggalkan pertimbangan dan bagaimana yang sebaiknya // wataknya tidak pantas bergaul dengan orang banyak // itu mansuia yang suka berbuat jahat, semaunya sendiri dan tidak memiliki aturan // janganlah kau mendekatinya // tidak lain akan membuat celaka.

5

Mapan wateke manungsa, // pan katemu ing laku lawan linggih, // solah muna-muninipun, //  pan dadya panengeran, // kang apinter kang bodho miwah kang luhur, // kang asor lan kang malarat, //  tanapi manungsa sugih.

Bahwa watak manusia // bisa dilihat dari cara berjalannya dan cara duduknya // serta tingkah dan tutur katanya // itu semua sebagai tandanya // yang pintar, yang bodoh dan yang luhur  // yang rakyat jelata dan yang melarat // namun bagi yang kaya.

6

Ngulama miwah maksiyat, // wong kang kendel tanapi wong kang jirih, // durjana bobotoh kaum, // lanang wadon pan padha, // panitiking manungsa wawatekipun, // apadene wong kang nyata, // ing pangawruh kang wis pasthi.

Para Ulama dan ahli maksiat // orang pemberani dan orang penakut // para durjana, dan botoh judi // laki dan perempuan itu semuanya sama // sifat manusia itu bisa dilihat atas itu semua // dan juga bagi manusia yang sudah ahli // atas segala ilmu itu bisa dipastikan.

7

Tinitik ing solah bawa, // muna-muni ing laku lawan linggih, // iku panengeran agung, // winawas ginrahita, // pramilane ing wong kuna-kuna iku, // yen amawas ing sujanma, // datan amindhogaweni.

Dilihat dari tingkah lakunya // ucapannya, cara berjalannya dan cara duduknya // itulah tanda yang sangat jelas // bisa dilihat dan di kira-kira // sehinga orang pada jaman dahulu // jika meninila seseorang // tidak akan dua kali (sekali saja sudah paham).

8

Ginulang sadina-dina, // wiwekane mindeng basa basuki, // ujubriya kibiripun, // sumungah tan kanggonan, // mung sumendhe ing karsanira Hyang Agung, // ujar sirik kang rineksa, //  kautaman ulah-wadi.

Karena sudah menjadi kebiasan setiap harinya // pertimbangannya tepat mengarah kepada keselamatan // Sifat Ujub dan Kibir-nya pun // pergi menjauh tdak ada pada dirinya // hanya berserah diri atas kehendak Tuhan Yang Maha Agung // perkatan yang bersifat Syirik selalu dijaga agar tidak keluar // dan selalu menjaga hal keutamaan dan mawas diri terhadap hal rahasia.

9

Ing mangsa mengko pan arang, //  kang katemu ing basa kang basuki, // ingkang lumrah wong puniku, // drengki drohi lan dora, // iren meren panasten dahwen kumingsun, // opene nora pasaja, // jahil muthakil mbesiwit.

Di jaman sekarang sudah sangat jrang // menemukan kalimat yang mengarah kepada keselamatan // pada umumnya manusia itu // dengki, drohi dan bohong // iri, miren, panas hati, mengurusi urusan orang, mengaku serba bisa // perhatian kepada orang lain karena ada maksud // jahil, kepengin menang sendiri, bersikap cemberut.

10

Alaning liyan denandhar, // ing beciking liyan dipunsimpeni, // becike dhewe ginunggung, // kinarya pasamuwan, // nora ngrasa alane dhewe ngendhukur, // wong kang mangkono wateknya, // nora pantes denpedhaki.

Kejelekan orang lain di sebarkan // kebaikan orang lain dirahasiakan // kebaikan diri sendiri dibesar-besarkan // dibuat cerita dalam suatu jamuan // tidak merasa kejelekan diri sendiri sangat banyak // orang yang perwatakannya seperti itu // tidak pantas untuk didekati.

11

Iku wong durbala murka, // nora nana mareme ing jro ati, // sabarang karepanipun, // nadyan wisa katekan, // karepane nora marem saya mbanjur, // luamah lawan amarah//, iku ingkang den tutwuri.

Itu orang angkara murka // tidak pernah merasa puas di dalam hatinya // segala keinginannya // meski telah tercapai // tidak pernah puas dan sesemakin membesar keinginannya // nafsu luamah dan nafsu amarah itulah yang menjadi panutannya.

12

Ing sabarang tingkah polah, // yen angucap tanapi lamun linggih, // sungkan kasor ambegipun, // pan lumuh kaungkulan, // ing sujanma pangrasane dhewekipun, // pan nora ana kang amadha, // angrasa luhur pribadi.

Dalam setiap tingkah laku // jika berbicara ataupun duduk // tidak mau kalah itu keinginannya // dan tidak mau ada yang mengungguli // terhadap yang lainnya perasaannya hanyalah dirinya yang paling unggul // dan tidak ada yang bisa menyamainya // merasa dirinya paling luhur.

13

Aja nedya katempelan, // ing wawatek kang tan pantes ing budi, // watek rusuh nora urus, // tunggal lawan manungsa, // dipun sami karya labuhan kang patut, // darapon dadi tuladha, // tinuta ing wuri-wuri.

Jangan sampai menginginkan memiliki sifat seperti itu // atas watak yang tidak pantas menurut akal budi // berwatak kotor dan semaunya sendiri // maka ketika dirimu bergaul dengan manusia // agar selalu memantaskan sikap yang baik // agar bisa menjadi tauladan // menjadi panutan di belakang hari.

14

Aja lonyo lemer genjah, // angrong-pasanakan nyumur gumuling, // ambuntut-arit puniku, // watekan tan raharja, // pan wong lonyo nora kena dipun etut, // monyar-manyir tan antepan, // dene lemeran puniki.

Jalangan semaunya sendiri, pamer dan ingin disanjung // menggoda istri orang orang dan tidak bisa menyimpan rahasia // jelak di belakang // perwatakannya tidak baik // dan orang yang semaunya sendiri tidak bisa menjadi panutan // sikapnya gampang goyah // sedangkan yang selalu ragu-ragu itu.

15

Para-penginan tegesnya, // genjah iku cecegan barang kardi, // angrong-pasanak liripun, // remen olah miruda, // mring rabine sedulur miwah ing batur, // mring sanak myang pasanakan, // sok senenga den ramuhi.

Gampang mempunyai keinginan // Gendaj adalah mencegah segala yang bermanfaat // angrong prasakan maknanya // senang menggoda // istri saudaranya serta terhadap pembantunya // menggoda kerabat dan teman-temannya // sering senang usil dan menggodanaya.

16

Nyumur gumuling tegesnya, // ambelawan datan duwe wewadi, // nora kena rubung-rubung, // wewadine kang wutah, // mbuntut-arit punika pracekanipun, // abener ing pangarepan, // nanging nggarethel ing wuri.

Sumur gumuling artinya // apapun diceritakan dan tidak bisa menyimpan rahasia // tidak baik jika sedang dengan orang banyak // maka akan membuka rahasia // mbuntuk arit itu maknanya // hanya benar di depannya // sedangkan di belakangnya membalik fakta.

17

Sabarang kang dipun ucap, // nora wurung amrih oleh pribadi, // iku labuhan tan patut, // aja anedya telad, // mring watekan nenem prakara puniku, // sayogyane ngupayaa, // lir mas tumimbul ing warih.

Segala yang dikatakannya // tidak lain agar menguntungkan dirinya sendiri // itu tindakan yang tidak pantas // jangan sampai memiliki // atas sifat yang enam jenis tersebut // sebaiknya carilah // yang bagaikan emas terapung di atas air. (Masuk tembang Maskumambang).

V.

NYANYIAN : MASKUMAMBANG

1

Nadyan silih bapa biyung kaki nini, // sadulur myang sanak, // kalamun muruk tan becik, // nora pantes yen den nuta.

Walai pun ayah Ibu kakek dan nenek // saudara dan kerabat // jika mengajari hal yang tidak baik // tidak pantas untuk diturut.

2

Apan kaya mangkono watekan iki, // sanadyan wong tuwa, //yen duwe watek tan becik, // miwah tindak tan prayoga.

Jika memang demikian perwatakannya // walaupun itu orang tua // jika mempunyai watak tidak baik // dan kelakuan yang tidak baik.

3

Aja sira niru tindak kang tan becik, //  nadyan ta wong liya, // lamun pamuruke becik, // miwah tindake prayoga.

Janganlah kau meniru tindakan yang tidak baik // walau pun orang lain // jika mengajarkan tentang kebaikan // dan kelakuannya memang benar.

4

Iku pantes sira tirua ta kaki //, miwah bapa biyang, // kang muruk watek kang becik, // iku kaki estokena.

Itu pantas kau ikuti anakku // dan ayah ibu // yang mengajari watak yang baik // itu wahai anakku.. patuhilah.

5

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi, // anemu duraka, // ing dunya tumekeng akir, // tan wurung kasurang-surang.

Orang yang tidak patuh nasihat orang tua juga // berati durhaka // baik di dunia sampai akhirat // akan menemui kesengsaraan hidup.

6

Maratani ing anak putu ing wuri, // den padha prayitna, // aja na kang kumawani, // ing bapa tanapi biyang.

Dan akan menurun sampai anak cucu di belakang hari // berhati-hatilah // jangan sampai ada yang berani // kepada ayah dan ibunya.

7

Ana uga etang-etangane kaki, // lilima sinembah, // dununge sawiji-wiji, // sembah lilima punika.

Ada juga hitungannya wahai anakku // lima yang harus dipatuhi // penjelasannya satu demu satu // mematuhi yang lima itu.

8

Ingkang dhingin rama ibu kaping kalih, // marang maratuwa, // lanang wadon kang kaping tri, // ya marang sadulur tuwa.

Yang pertama patuhilah ayah ibumu // dan juga Mertuamu // baik yang laki-laki maupun yang perempuan, yang ke tiga // adalah patuh kepada saudara tua.

9

Kaping pate ya marang guru sayekti, // sembah kaping lima, // ya marang Gustinireki, // parincine kawruhana.

Yang keempat adalah patuh kepada Guru // yang ke lima // yaitu pada Tuhan-mu // syarat dan rukunnya pahamilah.

10

Pramilane rama ibu denbekteni, // kinarya jalaran, // anane badan puniki, // wineruhken padhang hawa.

Mengapa ayah Ibu harus dihirmati // karena sebagai sebab // adanya raga dirimu // yang menjadi sebab mengetahui terang dunia.

11

Uripira pinter samubarange kardi, // saking ibu rama, // ing batin saking Hyang Widhi, // mulane wajib sinembah.

Hidupnya menjadi pintar tentang segala hal // adalah dari ayah dan ibu // sedang hakikatnya adalah dari Tuhan yang Maha Esa // sehingga wajib di sembah.

12

Pan kinarsakaken ing Hyang kang linuwih, // kinarya lantaran, // ana ing dunya puniki, // weruh ing becik lan ala.

Dan akan mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha segalanya // sebagai perantara // atas dirimu ada di dunia ini // sehingga mengetahui yang baik dan yang buruk.

13

Saking ibu rama margane udani,// mila maratuwa,// lanang wadon den bekteni,// aweh rasa ingkang nyata.

Dari Ibu dan ayah sebagai jalan mengetahui // sedangkan Mertua // yang laki-laki dan perempuan harus dihormati // karena memberi rasa yang nyata.

14

Sajatine rasa kang mencarken wiji, // sembah kaping tiga, // mring sadulur tuwa ugi//, milane sadulur tuwa.

Rasa yang sejati sebagai berkembang biaknya biji // Hormat yang ke tiga // kepada saudara tua // karena saudara tua.

15

Pan sinembah gegentine bapa iki, // pan sirnaning bapa, // sadulur tuwa gumanti, // ingkang pantes sira nuta.

Wajib disembah karena sebagai penggati ayah // jika ayah telah meninggal dunia // saudara tualah sebagai penggantinya // yang harus engkau turut.

16

Ing sawarah wuruke ingkang prayogi, // sembah kang kaping pat, // ya marang guru sayekti, // marmane guru sinembah.

Atas segala ajaran dan nasihat yang baik // hormat yang ke empat // adalah kepada Guru // sebabnya Guru haru dihormati adalah.

17

Kang atuduh marang sampurnaning urip, // tumekeng antaka, // madhangken petenging ati, // ambenerken marga mulya.

Yang mengajarkan tentang kesempurnaan hidup // sampai dengan meninggal dunia // yang memberi penerang kegelapan hati // yang memberi penjalasan tentang terangnya jalan.

18

Wong duraka ing guru abot pribadi, // pramila prayoga, // mintaa sih siyang ratri, // ywa nganti suda sihira.

Orang yang durhaka kepada Guru sangat berat hidupnya // sehingga sebaiknya // mohon kasih sayangnya di siang dan malam hari // jangan sampai berkurang kasih sayangnya terhadap dirimu.

19

Kaping lima dununge sembah puniki, // mring gusti kang murba, // ing pati kalawan urip, // miwah sandhang lawan pangan.

Yang ke lima jenis Sembah itu // kepada Tuhan Pengausa Alam // dan yang mengausai kematian dan kehidupan // serta yang memberi pakaian dan makanan.

20

Wong neng dunya wajib manuta ing gusti, // lawan dipun awas, // sapratingkah dipunesthi, // aja dupeh wus awirya.

Orang hidup di dunia wajib mematuhi Tuhan-nya // dan juga harus waspada // segala tingakh lakunya harus diperhatikan // jangan  karena telah serba bisa.

21

Nora beda putra santana wong cilik, // yen padha ngawula, // pan kabeh namaning abdi, // yen dosa ukume padha.

Tidak ada bedanya anak kerabat rakyat baisa // jika sedang mengabdi // karena semunya adalah abdi // jika salah maka hukumannya akan sama.

22

Yen rumangsa putra santana sireki, // dadine tyasira, // angediraken sireki, // tan wurung anemu papa.

Jika dirimu merasa sebagai putra pejabat // menjadikan pikiranmu // membingungkan dirimu // yang apda akhirnya akan menemukan kesengsaraan hidup.

23

Ngungasaken yen putra santaneng aji, // iku kaki aja, //wong suwita nora keni, //kudu wruh ing karyanira.

Karena menandalkan sebagai putra pejabat // wahai anakku janganlah begitu // orang yang sedang mengabdi tidak boleh semaunya sendiri // harus memahami apa yang menjadi kewajibannya.

24

Yen tinuduh marang sang mahanarpati, // sabarang tuduhnya, // iku estokena ugi, // karyanira sumngkemana.

Jika disuruh apapun oleh sang Rarja // atas segala perintahnya // maka jalankanlah // tugasmu laksanakan dengan kesungguhan.

25

Aja mengeng ing parentah sang siniwi, // den pethel aseba, // aja malincur ing kardi, // aja ngepluk asungkanan.

Jangan membantah perintah dari majikanmu // sering-seringlah menghadap // jangan menghianati perintahnya // janganlah selalu merasa sungkan.

26

Luwih ala alaning jalma ngaurip, // wong ngepluk sungkanan, // tan patut ngawuleng aji, // angengera sapa-sapa.

Sangat tidak baik atas manusia hidup // orang yang bersifat sungkan // tidak patas mengabdi kepada raja // lebih baik mengabdi kepada siapa saja.

27

Amilua ing bapa biyung pribadi, // kalamun sungkanan, //datan wurung densrengeni, // milawanana pinala.

Ikutlah kepada ayah ibunya sendiri // jika pun bersifat sungkanan // pada akhirnya pun dimarahi // dan juga akan dijelek-jelekan.

28

Mapan kaya mangkono ngawuleng gusti, // kalamun leleda, // tan wurung manggih bilai, // ing wuri aja ngresula.

Demikian juga jika mengabdi kepada Tuhan // jika tidak bersungguh-sungguh // pada akhirnya akan menemui celaka // maka di belakang hari janganlah menyesal.

29

Pan kinarya dhewe bilainireki, // lamun tinemenan, // sabarang karsaning gusti, // lair batin tan suminggah.

Karena atas perbuatan sendiri sebagai penyebab celakanya // jika dengan sungguh-sungguh // atas segala kehendak Tuhan // lahir dan batinnya tidak pernah membantahnya.

30

Mapan ratu tan duwe kadang myang siwi, // sanak prasanakan, // tanapi garwa kakasih, // amung bener agemira.

Demikian juga raja tidak memilki saudara dan putra di hadapan Tuhan // kerabat dan handai taulan // dan juga istri kekasih // hanya yang benar Agamanya saja.

31

Kukum adil adat waton kang den esthi, // mulane ta padha, // den rumeksa marang gusti, // endi lire wong rumeksa.

Hukum adil pedoman adat yang di yakini // seharusnya agar // menjaga perintah Tuhan // manakah yang dimaksud mematuhi-Nya ?

32

Dipun gemi nastiti angati-ati, // gemi mring kagungan, // ing gusti ywa sira wani, // anggagampang lawan aja.

Agar irit, teliti dan berhati-hati // irit trhadap miliknya // kepada Tuhan janganlah engkau berani // dan menganggap enteng, janganlah begitu.

33

Wani-wani nuturken wadining Gusti, // den bisa arawat// ing wawadi sang siniwi, //nastiti barang parentah.

Jangan berani-berani menceritakan rahasia Tuhan // bisalah merawatnya // atas rahasia yang atas majikanmu.

34

Ngati-ati ing rina miwah ing wengi,// ing rumeksanira, // lan nyadhang karsaning gusti,// dudukwuluhe atampa.

Hatilah-hatilah baik di siang atau pun malam harinya // atas kepatuhanmu // dan mengharap atas kehendak Tuhan // memasuki Nyanyian Dudukwuluh/Megatruh.

VI.

NYANYIAN : DUDUKWULUH /MEGATRUH

1

Wong ngawula ing ratu luwih pakewuh, // nora kena minggrang-minggring, // kudu mantep sartanipun, // setya tuhu marang gusti, // dipun miturut sapakon.

Mengabdi kepada raja sangatlah susah // tidak boleh malas-malasan // harus disertai dengan kemantapan // selalu setia dan patuh kepada Raja // mematuhi apa yang menjadi perintahnya.

2

Mapan ratu kinarya wakil Hyang Agung, // marentahken hukum adil, // pramila wajib den enut, // kang  sapa tan manut ugi, // mring parentahe sang katong.

Karena Raja adalah wakil Tuhan // yang memerintah dengan hukum adil // sehingga wajib dipatuhi // barang siapa yang tidak mematuhinya // atas perintah sang raja.

3

Aprasasat mbadal ing karsa Hyang Agung, // mulane babo wong urip, // saparsa ngawuleng ratu, // kudu eklas lair batin, // aja nganti nemu ewuh.

Bagaikan membantah perintah Tuhan Yang Maha Agung // sehingga manusia hidup // ketika mengabdi kepada raja // harus ikhlas lahir batin // jangan sampai menemukan kesulitan.

4

Ing wurine yen ati durung tuwajuh, // angur ta aja angabdi, // becik ngindhunga karuhun, // aja age-age ngabdi, // yen durung eklas ing batos.

Di belakang hari jika hati belum mantap // lebih baik janganlah mengabdi // lebih baik bernyanyilah tembang Jawa saja // jangan segera mengabdi // jika belum ikhlas di dalam hatinya.

5

Angur angindhunga bae nora ewuh, // lan nora nana kang ngiri, // mung mungkul pakaryanipun, // nora susah tungguk kemit, // seba mapan nora nganggo.

Lebih baik bernyanyi tembang Jawa itu tidak sulit // dan tidak akan ada yang iri // hanya menjalankan pekerjaannya saja // tikda usah menunggu gardu penjagaan // menghadap pun tidak diperlukan.

6

Mung yen ana tontonan nonton neng lurung, // glindhang-glindhung tanpa keris, // sarwi mbanda tanganipun, // kemul bebede sasisih, // andhodhok pinggiring bango.

Jika saja ada pertunjukan cukup melihat di jalanan // berikap semaunya semaunya tidak usah memakai keris // dengan menggendong tangannya sendiri // memakai sarung sebelah saja // berjongkok di pinggir jalan.

7

Suparandene jroning tyas anglir tumenggung, // mangku bawat Senen Kemis, //mangkono iku liripun, //nora kaya wong angabdi, // wruh ing palataran katong.

Namun demikian di dalam hatinya bergaya bagaikan seorang Tumenggung // menguasai daerah Senin dan Kamis // seperti itulah contohnya // Tidak seperti orang yang mengabdi Raja // akan melihat halaman keraton raja.

8

Lan keringan sarta ana aranipun, // lan ana lungguhe ugi, // ing salungguh-lungguhipun, // nanging ta dipun pakeling, // mulane pinardi kang wong.

Dan mendapat kehormatan dan ada julukannya // juga ada kedudukannya // atas kedudukan yang diberikan kepadanya // namun harus selalu ingat // sehingga selalu menjadi cita-cita banyak orang.

9

Samubarang ing karsanira sang ratu, // sayekti kudu nglakoni, // sapalakartine iku, // wong kang padha-padha ngabdi, // pagaweane pan saos.

Segala kehendak raja // harus dijalankannya // atas segala perintahnya // Mnusia yang sama-sama mengabdi // tanggungjawabnya adalah sama saja.

10

Kang nyantana bupati mantri panewu, // kaliwon paneket miji, // panalawe lan panajung, tanapi para prajurit, // lan kang nambutkaryeng katong.

Yang mengabdi menjadi Bupati, Mantri, dan Panewu // Kaliwon, Paneket Miji // Panalawe dan Panajung dan juga para prajurit // dan yang bekerja kepada raja.

11

Kabeh iku kuwajiban sebanipun, // ing dina kang amarengi, // ing wiyosira sang prabu, // sanadyan tan miyos ugi, //pasebane aja towong.

Kesemuanya berkewajiban untuk menghadap raja // pada hari yang telah ditentukan // ketika sang raja keluar hadir di singgasana // walau pun tidak hadir juga // menghadap kepada raja janganlah sampai kosong tidak menghadap.

12

Ingkang lumrah yen kerep seba wong iku, // nuli ganjaran denincih, //yen tan oleh nuli

mutung, // iku sewu-sewu sisip, // yen wus mangarti ingkang wong.

Pada umumnya jika sering menghadap, maka orang itu // biasa mengharapkan hadiah yang menjadi tujuannya // jika tidak mendapatkannya kemudian patah semangat // itu sungguh teramat sangat salah // Jika seseorang telah mengerti.

13

Tan mangkono etunge kang sampun weruh,// mapan ta datan den pikir,// ganjaran pan wis karuhun,// amung naur sihing gusti,// winales ing lair batos.

Tidak lah demikian bagi yang telah memahami // karena hal itu tidak terpikirkan // hadiah telah diterimanya // hanya membalas kemurahan raja // dan dibalas sampai dengan lahir batin.

14

Setya tuhu saparentahe pan manut, // ywa enggana karseng gusti, // wong ngawula pamanipun, // lir sarah munggeng jaladri, // darma lumaku sapakon.

Selalu setia dan mematuhi atas segala perintahnya // selalu menjalankan kehendak raja // orang mengabdi itu bisa diibaratkan // bagaikan ombak di lautan // hanya sebatas bergerak atas segala perintahnya.

15

Dene begja cilaka utawa luhur, // asor iku pan wis pasthi, // ana ing badanireku, // aja sok anguring-uring, // marang gusti sang akatong.

Sedangkan beruntung, Celaka atau terhormat // dan derajat rendah itu sudah digariskan /// atas diri seseorang // jangan suka marah-marah // kepada Tuan Raja.

16

Mundhak ngakehaken ing luputireku, // mring gusti tuwin Hyang Widhi, // dene ta sabeneripun, // mupusa kalamun pasthi, // ing badan tan kena menggok.

Itu bisa memperbanyak kesalahanmu // kepada raja serta kepada Tuhan // sedangkan yang seharusnya // terimalah yang sudah menjadi ketentuan kepastian-Nya // atas diri tidak boleh membantahnya.

17

Tulisane ing lokil-makful rumuhun, //papancer sawiji-wiji, // tan kena owah sarambut, // tulising badan puniki,// aja na mundur pakewuh.

Sudah tertulis di dalam Lahumul Mahfud sejak dahulu // terperinci satu demi satu // tidak akan berubah walau sebesar rambut // atas garis hidup dalam diri // jangan sampai membantah apa yang telah digariskan.

VII.

NYANYIAN : DURMA

1

Dipunsami ambanting sariranira, //  cegah dhahar lan guling, //  darapon sudaa, //  nepsu kang ngambra-ambra, //  rerema ing tyasireki, //  dadi sabarang, //  karsanira lestari.

Agar menjalankan melatih dengan keras raga dirimu // mencegah makan dan tidur // dan juga mengurangi dan mengendalikan // nafsu yang berkobar-kobar // tenangkan dalam batinmu // agar segala // yang menjadi kehendak dirimu menjadi selamat.

2

Ing pangawruh lair batin aja mamang, //  yen sira wus udani, //  ing sariranira, //  yen ana kang amurba, //  misesa ing alam kabir, //  dadi sabarang, //  pakaryanira ugi.

Atas ilmu lahir batin janganlah ragu // jika dirimu telah mengerti // atas dirimu sendiri // bahwa ada yang menguasai // Sang Penguasai jagad raya // juga menguasai atas // segala perbuatanmu juga.

3

Bener luput ala becik lawan begja, //  cilaka mapan saking, //  ing badan priyangga, //  dudu saking wong liya, //  pramila denngati-ati, //  sakeh durgama, //  singgahana den eling.

Benar salah buruk dan baik dan juga beruntung //celaka adalah berasal // dari diri pribadi // bukan karena perbuatan orang lain // sehingga berhati-hatilah // semua penghalang // hindarilah dan selalu sadar dan ingatlah itu.

4

Mapan ana sesiku telung prakara, //  nanging gedhe pribadi, //  pan iki lirira, //  ingkang telung prakara, //  aja anggunggung sireki, //  kalawan aja, //  nacad kapati-pati.

Ada larangan tiga macam // larang besar atas diri // dan ini atas dirimu // yang tiga perkara // Jangan selalu memuaskan diri // dan juga jangan // mencela yang teramat sangat.

5

Lawan aja mamaoni barang karya, //  thik-ithik mamaoni, //  samubarang polah, //  tan kena wong kumlebat, //  ing mangsa mengko puniki, // mapan wus lumrah, //  padha wasis maoni.

Dan jangan mencela atas segala sesuatu // sedikit-sedikit mencelanya // atas segala macam tingkah // tingkah dari setiap orang // Pada jaman sekarang ini // sudah menjadi kebiasaan // pandai mencela dan menyalahkan.

6

Mung tindake dhewe nora winaonan, //  ngrasa bener pribadi, //  sanadyan benera, //  yen tindake wong liya, //  pesthine ingaran sisip, //  iku kang lumrah, //  nganggo bener pribadi.

Hanya perbuatan diri sendiri yang tidak dicela dan disalahkan // karena merasa paling benar sendiri // walau tindakan yang benar // jika itu dilakukan oleh orang lain // pasti disalahkan juga // pada umumnya demikian // hanya bersandar kepada kebenaran diri sendiri saja

7

Nora nana panggawe kang luwih gampang, //  kaya wong memaoni, // sira ling-elinga,// aja sugih waonan, //  den samya raharjeng budi, // ingkang prayoga, //  singa-singa kang lali.

Tidak ada perbuatan yang lebih mudah // seperti pekerjaan menyalah dan mencela // ingatlah oleh dirimu // jangan senang mencela dan menyalahkan // perbaikilah budi pekerti diri // itu lebih baik // hindarilah yang sedang lupa.

8

Ingkang eling angelingena ya marang, //  sanak kanca kang lali, //  den nedya raharja, //  mangkana tindakira, //  yen datan kaduga uwis, //  teka menenga, // aja sok angrasani.

Yang sadarlah yang mengingatkan kepada // kerabat dan sahabat yang sedang lupa // agar selamat semuanya // seperti itu lah seharusnya tindakanmu // jika tidak berkenan lebih baik // diamlah saja // jangan suka membicarakan kejelekan di belakangnya.

9

Nemu dosa anyela sapadha-padha, //  dene wong ngalem ugi, //  yen durung tetela, //  ing beciking manungsa, //  aja age nggunggung kaki, // menek tan nyata, //  dadi cirinireki.

Akan mendapat dosa jika mencela sesamanya // sedangkan menyanjung itu juga // jika belum jelas kebenarannya // atas kebaikan seseorang // jangan tergesa-gesa menyanjungnya // jika yang kau sanjung itu belum nyata kebenarannya // akan menjadi cela dirimu.

10

Dene ingkang kaprah ing mangsa samangkya, //  yen ana den senengi, // ing pangalemira,// pan kongsi pandirangan, //  matane kongsi mandelik, // nadyan alaa, //  ginunggung becik ugi.

Sedangkan yang umum di jaman sekarang // jika ada sesuatu yang disenangi // atas sanjungan dirimu // hingga sampai berlebihan // sehingga matanya melotot // walaupun jelek disanjung baik juga.

11

Aja ngalem aja mada lamun bisa, //  yen uga jaman mangkin, //  iya samubarang, //  yen ora sinenengan, //  den poyok kapati-kati,// nora prasaja, //  sabarang kang denpikir.

Jangan menyanjung dan jangan mencela jika bisa // dan juga di jaman sekarang // atas segala sesuatu // jika tidak disenanginya // di cela teramat sangat // karena tidak baik // atas segala yang ada dipikirannya.

12

Ngandhut rukun becik ngarepan kewala, //  ing wuri angrasani, //  ingkang ora-ora,// kabeh kang rinasan, //  ala becik denrasani, // tan parah-parah, // wirangronge gumanti.

Bersikap baik hanya di depan saja // di belakangnya menjelek-jelekan // atas hal yang bukan-bukan // dan semua yang di perbincangkannya // baik dan buruk di kata-katai // dengan sangat parahnya // masuk ke Nyanyian Wirangrong.

VIII.

NYANYIAN : WIRANGRONG

1

Densamya marsudeng budi, //  wiweka dipunwaspaos, //  aja dumeh dumeh bisa muwus, //  yen tan pantes ugi, //  sanadyan mung sakecap, // yen tan pantes prenahira.

Berusahalah memperbaiki budi pekerti // pertimbangan harus di dahulukan // jangan hnnya karena bisa berbicara // jika hal itu tidak pantas // walau hanya sepatah kata // jika tidak tepat penempatannya.

2

Kudu golek mangsa ugi, //  panggonan lamun miraos, //  lawan aja age sira muwus, //  dununge den kesthi, //  aja age kawedal, //  yen durung pantes rowangnya.

Harus mencari waktu yang tepat itu seharusnya // tempatnya juga harus diperhitungkan jika ingin bicara // penempatannya harus tepat // jangan segera diucapkan // jika belum pantas siapa teman bicaranya.

3

Rowang sapocapan ugi, //  kang pantes ngajak calathon, //  aja sok metua wong calathu, //  ana pantes ugi, //  rinungu mring wong kathah, //  ana satengah micara.

Teman bertutur kata // yang pantas diajak membicarakan sesuatu // jangan sembarang bicara // ada yang tidak pantas juga // jika didengar oleh orang banyak // ketika sedang berbciara.

4

Tan pantes akeh ngawruhi, //  mulane lamun miraos, //  dipun ngarah-arah ywa kabanjur, //  yen sampun kawijil, //  tan kena tinututan, //  mulane dipun prayitna.

Tidak pantas jika banyak yang mendengarnya // sehingga jika ingin bicara // dipertimbangkan terlebih dahulu jangan sampai sembarang bicara // jika ucapan telah keluar // tidak bisa ditarik kembali // maka dari itu berhati-hatilah dalam berbicara.

5

Lan maninge wong ngaurip, //  aja ngakehken supaos, //  iku kagwe reged badanipun, //  nanging mangsa mangkin, //  tan na etung prakara, // supata ginawe dinan.

Dan juga bahwa orang hidup // jangan banyak-banyak mendoakan kejelekan // itu bisa mengotori raganya // namun di jaman sekarang // tidak ada yang memperhitungkannya // mendoakan kejelekan dilakukan tiap harinya.

6

Den padha gemi ing lathi, //  aja ngakehken pipisoh, //  cacah-cucah srengen ngabul-abul, //  lamun andukani, //  den dumeling dosanya, // mring abdi kang manggih duka.

Berhati-hatilah menjaga mulut // jangan memperbanyak berkata-kata kotor // berkata-kata kotor di sembarang tempat // jika memarahi seseorang // tunjukanlah kesalahannya // terhadap pembantu mu yang kau marahi.

7

Lawan padha den pakeling, //  teguhena lair batos, //  aja ngalap randhaning sadulur, //  sanak miwah abdi//, kanca rewang sapangan, // miwah maring pasanakan.

Dan selalulah ingat // kuatkan lahir batin mu // jangan mengharapkan janda dari saudara // kerabat serta pembantu // teman seperjuangan // serta terhadap handai taulan.

8

Gawe salah grahitani, //  ing liyan kang sami anon, //  nadya lilaa lananganipun, //  kang angrungu elik, //  ing batin tan pitaya, //  mangsa kuranga wanodya.

Menjadi salah dalam pikirannya // atas seseorang yang mengeahuinya // walau ikhlas atas suaminya // yang mendengar akan dijadikan bahan pembicaraan // dalam batinnya tidak percaya // bahwa sesungguhnya tidak kurang lah wanita.

9

Tan wurung dipuncireni, //  ing batin ingaran rusoh, //  akeh jaga-jaga jroning kalbu, //  arang ngandel batin, //  ing tyase padha suda, // pangendele mring bandara.

Pada akhirnya pun akan selalu diperhatikan // dalam batin disebut tindakan kotor // banyak peringatan dari batin sendiri // namun jarang yang mempercayainya // dalam batinnya semakin berkuran // kepercayaanya terhadap Tuannya.

10

Ana cacad agung malih//  anglangkungi saking awon, //  apan sakawan iku kenipun, //  dhingin wong madati, //  pindho wong ngabotohan, //  kaping tiga wong durjana.

Ada juga cacat yang besar // melebihi segala kejelekan // ada empat macamnya // yang pertama orang yang suka ganja // kedua orang yang suka judi // yang ke empat Menjadi Penjahat dan Pencuri.

11

Kaping sekawane ugi, //  wong ati sudagar awon, //  mapan suka sugih watekipun, //  ing rina lan wengi, //  mung bathine den etang, //  alumuh lamun kalonga.

Dan yang keempat adalah // manusia yang jahat hatinya // hanya mencari keuntungan pribadi saja itu wataknya karena berwatak rentenir // di siang dan malam hari // hanya keuntungan diri yang dihitungnya // tidak mau jika mengalami kerugian.

12

Iku upamane ugi, //  duwe dhuwit pitung bagor, //  mapan nora marem ing tyasipun, //  ilanga sadhuwut, //  gegetun patang warsa, //  padha lan ilang saleksa.

Sebagai perumpamaan // mempunyai uang tiga karung // itu pun belum puas dalam hatinya // jika hilang sedikit // menyesalnya hingga empat tahun // bagaikan hilang puluhan juta.

13

Wong ati sudagar ugi, //  sabarang prakara tamboh, //  amung yen ana wong teka iku, //  anggagawe ugi, //  gagadhen pan tumranggal, //  ulate teka sumringah.

Orang yang berwatak rentenir // segala masalah menjadi biasa // jika saja ada orang yang mendatanginya // dengan membawa // barang yang bisa digadaikan itu yang diperhatikan // sikapnya bersemangat.

14

Dene wong durjana ugi, //  nora nana kang denbatos, //  rina wengi amung kang denetung,// duweke lyan nenggih, //  dahat datan prayoga, // kalamun watek durjana.

Sedangkan seorang durjana juga // tidak ada yang dibatinnya // pada siang dan malam yang dihitungnya // adalah milik orang lain saja // itu tidak baik // jika mempunyai watak durjana.

15

Dene bobotoh puniki, //  sabarang pakaryon emoh, //  lawan kathah linyok para padu, //  yen pawitan enting, //  tan wurung anggagampang, //  ya marang darbeking sanak.

Sedangkan Penjudi itu // malas bekerja // dan banyak bertengkarnya // jika kehabisan modalnya // yang akhirnya menggampangkan // atas barang milik saudaranya.

16

Nadyan wasiyating kaki, //  nora wurung dipunedol, //  lamun menang endang gawe angkuh, //  pan kaya bupati, //  weweh tan ngarah-arah, // punika awoning bangsat.

Walau itu barang wasiat // akhirnya pun dijualnya juga // jika menang judinya maka bersikap sombong // bersikap bagaikan Bupati // memberikan derma tanpa perhitungan // itulah sejahat-jahatnya penjahat.

17

Kabutuh pisan mamaling, //  tinitenan saya awon, //  apan boten wonten panedipun, pramilane sami, //  sadaya nyinggahana, //  anggugulang ngabotohan.

Jika kehabisan modal maka mencuri // sehingga mendapat ciri yang jelek // dan tidak ada berhentinya // sehingga sebaiknya // hindarilah hal itu // jangan suka berjudi.

18

Dene ta wong kang madati, //  kesede kaamoran lumoh, //  amung ingkang dadi senengipun, //  ngadhep diyan sarwi, //  linggih ngamben jejegang, // sarwi leyangan bedudan.

Sedangkan orang yang suka candu dan mabuk // malasnya bercampur-campur // dan yang menjadi kesenangannya // menghadap api sambil // duduk dan mengangkat kakinya // dan bergoyang-goyang badannya bagaikan badut.

19

Yen leren nyeret adhidhis, //  netrane pan merem karo, //  yen wus ndadi awake akuru, //  cahya biru putih, //  njalebut wedi toya, //  lambe biru untu pethak.

Jika berhenti menghisap candu mencari-carinya // matanya terpejam keduanya // jika telah kecanduan badannya pun kurus kering // ruman mukanya membiru // rupanya tidak karuan dan takut air // bibir membiru giginya putih.

20

Beteke satron lan gambir, //  jambe suruh arang wawoh, //  ambegane sarwi melar-mingkus, //  watuke anggigil, //  jalagra aneng dhadha, //  tan wurung ngestob bolira.

Mulutnya menghindari Gambir (perangkat makan sirih) // Buah Jambe dan sirih tidak mau // pernafasannya kesulitan // batuknya tiada henti // ingusnya mengumpul di dada // akhirnya pun muntah darah.

21

Yen mati nganggo ndalinding, //  suprandene nora kapok, //  iku padha singgahana patut, //  aja na nglakoni, //  wong mangan apyun ala, //  uripe dadi tontonan.

Jika mati badannya tertekuk // namun tidak kapok juga // Hal demikian hindarilah itu lebih baik // jangan sampai ada yang melakukannya // orang yang makan Apyun/candu itu jelek // hidupnya hanya menjadi tontonan saja.

22

Iku kabeh nora becik, //  aja na wani anganggo, //  panggawe patang prakara iku, //  den padha pakeling, //  aja na wani nerak, //  kang nerak tan manggih arja.

Hal itu semua tidak baik // jangan ada yang berani melakukannya // atas perbuatan empat hal tersebut // ingatlah hal itu // jangan ada yang berani melanggarnya // yang berani melanggarnya tidak bakalan menemukan keselamatan hidup.

23

Lawan ana waler malih, //  aja sok anggung kawuron, //  nginum sajeng tanpa mangsa iku,// endi lire ugi, //  angombe saben dina, //  pan iku wateke ala.

Ada lagi larangannya // jangan suka minum yang memabukan // minum Sajeng (tuak jawa) tanpa menghitung waktu itu // yang berarti // minum tiap hari // itu adalah watak yang jelek.

24

Kalamun wung wuru ugi, //  ilang prayitnaning batos, //  nora ajeg barang pikiripun, //  elinge ing ati, //  pan baliyar-baliyar, //  endi ta ing becikira.

Jika hal itu dilakukan juga // hilang kewaspadaan batin // pikirannya tidak pernah tetap // ingatan hatinya // selalu berubah-ubah // manakah kebaikannya?.

25

Lan aja karem sireki, //  ing wanodya ingkang awon, //  lan aja mbuka wadi sireku, //  ngarsaning pawestri, //  tan wurung nuli corah, //  pan wis lumrahing wanita.

Dan jangan kau menyenangi // kepada wanita yang bersifat jelek// dan janganlah engkau membuka rahasia // di hadapan wanita // akhirnya pasti terbuka // karena sudah umum bahwa wanita.

26

Tan bisa simpen wawadi, //  saking rupeke ing batos//, pan wus pinanci dening Hyang Agung, //  nitahken pawestri, //  apan iku kinarya//, ganjaran marang wong priya.

Tidak ada yang bisa menyimpan rahasia // karena sempit nalarnya // karena sudah menjadi ketetapan Tuhan // mencipta wanita // adalah sebagai // penghargaan bagi laki-laki.

27

Kabeh den padha nastiti, //  marang pitutur kang yektos, //  aja dumeh tutur tanpa dhapur, //  yen bakale becik, //  den anggo weh munfangat, // kaya pucung lan kaluwak.

Semuanya patuhilah // atas nasihat yang baik // jangan mengira nasihat tanpa dasar // jika akhirnya baik // pergunakanlah maka akan memberi manfaat // Masuk Nyanyian Pucung.

IX.

NYANYIAN : PUCUNG

1

Kamulane, //  kaluwak nom-nomanipun, //  pan dadi satunggal, //  pucung arane puniki, //  yen wis tuwa kaluwake pisah-pisah.

Awal mulanya // buah keluwak saat masih muda // adalah masih menyatu // yang disebut Pucung // jika sudah tua maka buah keluwak akan terpisah-pisah.

2

Denbudia, //  kapriye ing becikipun, //  aja nganti pisah, //  kumpula kaya enome, // enom kumpul tuwa kumpul kang prayoga.

Ambilah pelajaran atas hal itu // bagaimakah yang baik itu // jangan sampai berpisah // berkumpulnya bagaikan masih mudanya // yang baik itu ketika mudanya menyatu dan pada saat tuanya pun masih bersatu.

3

Aja kaya//  kaluwak enome kumpul, //  basa wis atuwa, //  ting salebar dhewe-dhewe, //  nora wurung bakal dadi bumbu pindhang.

Janganlah seperti // buah keluwak ketika mudanya berkumpul // setalah menjadi tua // menyebar sendiri-sendiri // akhirnya hanya menjadi bumbu masakan Pindang.

4

Wong sadulur, //  nadyan sanak dipunrukun, //  aja nganti pisah, //  ing samubarang karsane, //  padha rukun dinulu teka prayoga.

Dalam persaudaraan // walau dengan kerabat haruslah rukun // jangan sampai berpisah // atas segala hal // jika rukun dilihatpun itu lebih baik.

5

Abot entheng, //  wong duwe sanak sadulur, //  enthenge yen pisah, // pikire tan dadi siji, //  abotipun lamun biyantu ing karsa.

Berat dan ringan // orang memiliki kerabat dan saudara // ringanya jika sampai pisah // pemikirannya pun tidak akan menyatu // beratnya jika dibantu dalam kehendaknya.

6

Luwih abot, //  wong duwe sanak sadulur, //  jitus tandhingira,// yen golong sabarang pikir, //  kacek uga lan wong kang tan sugih sanak.

Lebih berat // orang mempunyai kerabat saudara // lebih baik jika dibandingkan // jika menyatu dalam pikirannya // akan berbeda jauh dengan orang yang tidak banyak saudaranya.

7

Lamun bener, //  lan pinter pamomongipun, //  kang ginawe tuwa, //  aja nganggo abot sisih, //  dipun padha pamengkune mring sentana.

Jika benar // dan pandai menjaganya // hingga sampai tua // jangan sampai berat sebelah // bertindak adillah kepada para kerabatnya.

8

Mapan ewuh, //  wong tinitah dadi sepuh, //  tan kena gumampang, //  iya marang sadulure, //  tuwa enom aja beda traping karya.

Tidak gampang // sikap orang yang dituakan // tidak bisa semaunya sendiri // sikap kepada saudaranya // jangan membedakan dan bertindaklah adil atas segala hal.

9

Kang saregep, //  kalawan ingkang malincur, //  padha denkawruhan, // sira alema kang becik, //  kang malincur age sira bendonana.

Kepada yang rajin // dan kepada yang pemalas // segeralah diketahui // yang baik sanjunglah dia // yang pemalas berilah pengajaran hukuman.

10

Yen tan mari, //  binendon nggone malincur, //  age tinatrapan, // sapantese lan dosane, // pan sentana dimene dadi tuladha.

Jika tidak berubah // hukum lebih berat karena malasnya // segera terapkanlah // ukur dengan kesalahannya // agar menjadi pelajaran bagi saudara yang lainnya.

11

Lan wong liya, //  darapon wedia iku, //  kang padha ngawula,// ing batine wedi asih, // pan mangkono labuhan wong dadi tuwa.

Dan kepada orang lain // harap menjadi takut // atas kepada yang mengabdi // di dalam hatinya takut namun sayang // memang seharusnya demikian perjuangan atas orang yang dituakan.

12

Den ajembar, //  den amot lan den amengku, //  den pindha segara, // tyase ngemot ala becik, //  mapan ana papancene sowang-sowang.

Bersikaplah luas pemikirannya // mampulah memuat dan menguasai // bersikaplah bagaikan lautan // batinnya mampu menampung hal yang jelek dan yang baik // karena memang ada pembagiannya sendiri-sendiri.

13

Pan sadulur, //  tuwa kang wjib pitutur, //  marang kang taruna, //  kang anom wajibe wedi, //  sarta manut wuruke sadulur tuwa.

Dan Saudara // yang tua yang wajib memberi nasihat // kepada yang masih muda // kewajiban bagi yang muda adalah hormat // dan menurut kepada nasihan dari saudara tua.

14

Kang tinitah, //  dadi enom aja mesgul, //  batin rumangsaa, // yen wis titahing Hyang Widhi, //  yen mesgula ngowahi kodrating Suksma.

Yang berkedudukan sebagai yang muda // janganlah mempunyai perasaan tidak enak hati // dalam batin merasalah // bahwa telah menjadi ketetapan Tuhan // jika merasa tidak enak hati akan merubah kodrat Tuhan.

15

Nadyan bener, //  yen wong anom dadi luput, //  yen ta anganggoa ing pikire pribadi, //  pramilane wong anom aja ugungan.

Walau pun benar // jika orang muda maka akan menjadi salah // jika hanya menuruti pikirannya sendiri // makanya jadi orang muda jangan bersikap semaunya.

16

Yen dadi nom, //  den weruh ing enomipun, //  dene ingkang tuwa, //  den kaya banyu ing beji, //  den awening paningale aja samar.

Jika jadi yang muda // sadarilah bahwa dirinya berkedudukan muda //s edangkan bagi yang tua // bersikaplah bagaikan air di seumber air // beningkan hatinya jangan sampai ragu-ragu.

17

Lawan maning, //  ana ing pituturingsun, //  yen sira amaca, //  layang sabarang layange, //  aja pijer katungkul ningali sastra.

Dan juga // ada nasihatku // jika engkau membaca // Serat atas sembarang serat // jangan hanya melihat isi tulisannya saja.

18

Caritane, //  ala becik dipunweruh, //  nuli rasakena,// layang iku saunine, // den karasa kang becik sira anggoa.

Ceritanya // yang baik dan yang buruk pahamilah // kemudian hayatilah // serat itu atas segala isinya // sampai kau rasakan makna sesungguhnya serta yang baik kau gunakanlah.

19

Ingkang ala, //  kawruhana alanipun, //  dadine tyasira//  weruh ala lawan becik, //  ingkang becik wiwitane sira wruha.

Sedangkan yang jelek // pahamilah kejelekannya // itu akan menjadikan batinmu // memehami hal yang jelek dan yang baik // asal dari yang baik pamahilah olehmu.

20

Wong kang laku, //  mangkana wiwitanipun, //  becik wekasanya, //  wong laku mangkana wite, //  ing satemah puniku pan dadi ala.

Orang yang besikap // seperti sejak awalnya // maka akan baik pada akhirnya // orang yang besikap tidak demikian // apda akhirnya akan menjadi tidak baik.

21

Ing sabarang, //  prakara dipun kadulu, //  wiwitan wekasan, //  bener lan lupute kesthi, //  ana becik wekasane dadi ala.

Atas segala // masalah perhatikanlah // awal dan akhirnya // benar dan salahnya pahami terlebih dahulu // karena ada hal yang baik namun akhirnya menjadi tidak baik.

22

Dipunweruh, //  iya ing kamulanipun, //  kalawan wekasan, //  punika dipun kaliling, //  ana ala dadi becik ing wekasan.

Pahamilah terlebih dahulu // atas awalnya // sampai dengan akhirnya // semuanya pertimbangkanlah // karena ada juga yang awalnya jelek akhirnya menjadi baik.

23

Ewuh temen, //  babo wong urip puniku, //  apan nora kena, //  kinira-kira ing budi, // arang mantep wijiling basa raharja.

Memang tidak gampang // manusia hidup itu // yang tidak bisa // dikira-kira akal budi // masuk ke Nyanyian Mijil.

X.

NYANYIAN : MIJIL

1

Poma kaki padha dipuneling, //  ing pitutur ingong, //  sira uga satriya arane, //  kudu anteng jatmika ing budi, //  ruruh sarwa wasis, // samubarangipun.

Wahai anakku ingatlah selalu // atas nasihat dariku // dirimu disebut juga sebagai satria // harus tenang dan baik budi pekertinya // sabar serta ahli // atas segala hal.

2

Lan den nedya prawira ing batin, //  nanging aja katon,//sasabana yen durung mangsane, //  kekendelan aja wani mingkis, //  wiweka ing batin, // den samar den semu.

Dan selalu berusaha bersifat satria di dalam batin // namun jangan sampai terlihat // tutupilah jika belum sampai pada pasanya // atas keberaniannya jangan sampai dihilangkan // tatalah dalam batinmu // agar menjadi samat dan tutupilah.

3

Lan densami mantep maring becik, //  lan ta wekas ingong, //  aja kurang iya panrimane, //  yen wus tinitah maring Hyang Widhi, //  ing badan puniki, //  wus papancenipun.

Dan selalu mantap dalam kebaikan // dan juga pesanku // jangan sampai kurang syukurnya // jika telah atas ketentuan Tuhan // kepada diri ini // memang sudah demikian adanya.

4

Ana wong narima wus titahing, //  Hyang pan dadi awon, //  lan ana wong tan nrima titahe, //  ing wekasan iku dadi becik, //  kawruhana ugi, //  aja salang surup.

Ada juga orang yang sudah menerima ketentuan dari // Tuhan namun menjadi tidak baik // dan ada juga orang yang tidak bisa menerima ketentuan-Nya // pada akhirnrya ada yang menjadi baik // pahami juga hal itu // jangan sampai salah penafsirannya.

5

Yen wong bodho kang tan nedya ugi, //  tatakon titiron, //  anarima ing titah bodhone, //  iku wong narima nora becik, //  dene ingkang becik, //  wong narima iku.

Jika orang bodoh yang tidak mengingkan untuk // bertanya dan meniru // dan menerima saja atas kebodohannya // itu orang yang menerima ketepan tuhan dengan cara tidak baik // sedangkan yang baik adalah // orang menerima ketetapan-Nya.

6

Kaya upamane wong angabdi, //  amagang sang katong, //  lawas-lawas katekan sedyane, //  dadi mantri utawa bupati, //  miwah saliyane, //  ing tyase panuju.

Bagaikan seumpama orang yang mengabdi // menawarkan tenaganya kepada ssang raja // lama-kelamaan akan tercapai tujuannya // akan menjadi Mantri atau Bupati // jika tikdak memikirkan yang lainnya // dalam pikirannya hanya satu saja tujuannya.

7

Nuli narima terusing batin, //  tan mengeng ing katong, //  tan rumasa ing kanikmatane, //  sihing gusti tekeng anak rabi, //  wong narima becik, // kang mangkono iku.

Kemudian memasrahkan diri sampai ke dalam batinnya // tidak berubah tujuannya kepada sang raja // dan tidak merasa tentang kenikmatannya // ketika menerima pemberian raja sampai kepada anak istrinya // orang yang ikhlas // adalah yang seperti itu.

8

Nanging arang ing mangsa samangkin, //  kang kaya mangkono, //  kang wis kaprah iya salawase, //  yen wis ana linggihe sathithik, //  apan nuli lali, //  ing wiwitanipun.

Namun dijaman sekarang sangatlah jarang // yang seperti itu // yang pada umumnya sejak jaman dahulu // Jika sudah mendapatkan kedudukan tingkat rendah // kemudian lupa // kepada asal mulanya.

9

Pangrasane duweke pribadi, //  sabarang kang kanggo, //  nora eling ing mula-mulane, //  witing sugih sangkaning amukti, //  panrimaning ati, // kaya nggone nemu.

Merasa diri bahwa milik pribadinya // atas segala keberhasilannya // tidak ingat sebab asalnya // kekyaan adalah awal kebahagiaan // atas penerimaan dalam hati // bagaikan karena menemukan sesuatu.

10

Tan rumasa murahing Hyang Widhi, //  jalaran sang katong, //  ing jaman mengko iya mulane, //  arang turun wong lumakweng kardi, //  tyase tan saririh, //  kasusu ing angkuh.

Tidak merasa bahwa itu adalah atas kemurahan Tuhan // yang dilewatkan sang raja // sehingga di jaman sekarang // jarang yang menurun jabatan seseorang // karena batinnya belum tenang // tergesa-gesa sombong terlebih dahulu.

11

Arang kang sedya amales ing sih, //  ing gusti sang katong, //  lawan kabeh iku ing batine, // tan anedya narima ing Widhi, //  iku wong kang tan wrin, // ing nikmat ranipun.

Jangan yang berniat membalas budi // kepada Tuhan dan juga Raja // dan juga kesemuanya itu di dalam isi hatinya // tidak berniat menerima kehendak Tuhan // itu adalah manusia yang belum mengetahui // tentang yang disebut nikmat sebagai sebutannya.

12

Wong kang tan narima dadi becik, //  titahing Hyang Manon, //  iki uga iya ta rupane, //  kaya wong kang angupaya ngelmi, //  lan wong sedya ugi, // kapinteran iku.

Orang yang tidak menerima namun menjadi baik // atas kehendak Tuhan // ini juga bagaikan // orang yang mencari ilmu // dan orang yang menginginkan // kepandaian itu.

13

Uwis pinter nanging iku maksih, //  nggonira ngupados, //  ing undhake ya kapinterane, //  utawa unggahing kawruh yekti, //  durung marem batin, // lamun durung tutug.

Sudah pandai namun itu juga masih // kau usahakan // atas bertambahnya kepanadaiannya // atau bertambah ilmunya // tidak akan mendapatkan kepuasan batin jiga belum tamat.

14

Ing pangrawuh ingkang densenengi, //  kang wus sem ing batos, //  miwah ing kapinteran wus dene, //  ing samubarang pakarya uwis, //  nora nganggo lali, //  kabeh wus kawengku.

Atas ilmu yang disenanginya // yang sudah puas dalam hatinya // karena telah mendapatkan kepandaiannya, demikian juga // atas segala pekerjaan sudah memahaminya // dan tidak akan pernah lupa // karena kesemuanya telah dikuasainya.

15

Yen wong kang kurang narima ugi, //  iku luwih awon, //  barang-gawe aja age-age, //  anganggoa sabar lawan ririh, //  dadi barang-kardi, //  resik tur rahayu.

Jika orang yang kurang penerimaannya itu // sangatlah sessat // setiap pekerjaan tidak tergessa-gesa // pergunakanlah kesabaran dan teliti // sehingga dalam setiap pekerjaanya // bersih dan selamat.

16

Lan maninge babo den pakeling, //  ing pitutur ingong, //  sira uga padha ngempek-empek, //  iya marang kang jumeneng aji, //  lair ing myang batin, //  den ngrasa kawengku.

Dan juga harap di perhatikan // atas nasihatku // kalian semua berusahalah mendekat // kepada yang menjadi raja // lahir batinnya // merasalah di bawah kekuasaannya.

17

Kang jumeneng iku kang mbawani,// wus karsaning Manon,// wajib padha wedi lan bektine,// aja mampang parentahing aji,// nadyan anom ugi,// lamun dadi ratu.

Yang menjabat itu yang menguasai // itu sudah kehendak Tuhan // wajib hormat dan mematuhinya // jangan membantah perintah raja // walau masih berumur muda // jika menjadi raja.

18

Nora kena iya denwaoni, //  parentahing katong, //  dhasar ratu bener parentahe, //  kaya priye nggonira sumingkir, // yen tan anglakoni, //  pesthi tan rahayu.

Tidak boleh dibantah // atas perintah raja // karena raja itu benar perintahnya // bagaimanakah cara dirimu menghindar  // jika tidak menjalankan perintahnya // pastilah tidak akan selamat.

19

Nanging kaprah ing mangsa puniki, //  anggepe angrengkoh, //  tan rumasa lamun ngempek-empek, //  ing batine datan nedya eling, //  kamuktene iki, //  ngendi sangkanipun.

Namun sudah umum di jaman sekarang // menganggap atas perjuangannya sendiri // tidak merasa keberhasilannya karena mendekat penguasa // dalam hatinya tidak berniat untuk mengingatnya // bahka kebahagiaan hidupnya adalah // berasal dari mana.

20

Yen elinga jalarane mukti, //  pesthine tan ngrengkoh, //  saking batin durung ngrasakake, //  ing pitutur ingkang dhingin-dhingin, //  dhasar tan praduli, //  wuruking wong sepuh.

Jika mengingat asal mula sampai mulia hidupnya // pastilah tidak akan membantahnya // karena batin belum merasakan // atas isi nasihat yang dulu-dulu // karena tidak memperhatikan // ajaran orang tua.

21

Ing dadine barang tindak iki, //  arang ingkang tanggon, //  saking durung ana landhesane, //  nganggo ing karsanira pribadi, //  ngawag barang kardi, //  dadi tanpa dhapur.

Atas keberhasilan segala tindakannya // jarang yang benar-benar ahli // karena belum ada dasarnya // karena hanya bertindak semaunya // segala kerjanya asal-asalan saja // sehingga tanpa menggunakan patokan.

22

Mulane ta wekas ingsun iki, //  den kerep tatakon, //  aja isin ngatokaken bodhone, //  saking bodho witing pinter ugi, //  mung Nabi kakasih, //  pinter tan winuruk.

Maka dari itu pesan ku ini // sering-seringlah bertanya // janganlah malu memperlihatkan kebodohannya // karena dari bodohlah maka akan menjadi pintar // Hannya Nabi Kekasih Tuhan // yang pandai tanpa berguru.

23

Sabakdane pan tan ana ugi, //  pintere tatakon, //  mapan lumrah ing wong urip kiye, //  mulane wong anom den taberi, //  angupaya ngelmi, //  dadya pikukuh.

Selain dari padanya tidak akan ada yang bisa // kepandainya karena bertanya // karena wajar bagi orang hidup ini // Sehingga anak muda rajin-rajinlah // dalam mencari ilmu // untuk dijadikan pedoman hidupnya.

24

 Ing driyanira dadi tatali, //  ing tyas dimen adoh, //  sakehing ati kang ala kiye, //  nadyan lali ya pan nuli eling, //  yen wong kang wus ngelmi, //  kang banget tuwajuh.

Di dalam pikirannya menjadi pedoman // dalam hatinya agar menjauh // atas segala sifat jeleknya // walau terlupa maka akan segera ingat kembali // Jika orang berilmu // sangat mematuhi ilmunya.

25

Kacek uga lan kang tanpa ngelmi, //  sabarange kaot, //  dene ngelmu iku ingkang kangge, //  sadinane gurokna kariyin, //  pan sarengat ugi, // parabot kang perlu.

Sangat jauh berbeda atas orang yang tidak berilmu // segalanya termuat // sedangkan ilmu jika dipergunakan // dalam setiap harinya gurukanlah terlebih dahulu // dan juga Syari’atnya // dan syarat rukun-nya itu yang perlu.

26

Ngelmu sarengat puniku dadi, //  wawadhah kang yektos, //  kawruh tetelu kawengku kabeh//, pan sarengat kanggo lair batin, //  mulane den sami,// brangtaa ing ngelmu.

Ilmu syari’at itu yang menjadi // sumber kebenaran // ketiga jenis ilmu itu harus dikusai semuanya // dan Syari’at itu untuk lahir dan batin // maka dari itu agar supaya // semangat mencari ilmu.

XI.

NYANYIAN : ASMARA-NDANA

1

Padha netepana ugi, //  kabeh parentahing sarak, //  terusna lair batine, // salat limang wektu uga, //  tan kena tininggala, //  sapa tinggal dadi gabug, //  yen misih dhemen neng praja.

Agar patuhilah juga // atas semua perintah syari’at // baik dalam lahir maupun batin // Shalat lima waktu juga // tidak boleh ditinggalkan // siapa yang meninggalkannya maka ilmunya menjadi kosong // jika masih senang di dalam pergaulan.

2

Wiwit ana badan iki, // iya teka ing sarengat, //  ananing manungsa kiye, // rukun Islam kang lilima, //  nora kena tininggal, //  iku parabot linuhung, // mungguh wong urip neng dunya.

Asal mula raga ini // juga berasal dari syari’at // adanya manusia ini // Adalah Rukun Islam yang berjumlah lima // tidak boleh ditinggalkan // itu syarat yang luhur // bagi orang hidup di alam dunia.

3

Kudu uga den lakoni, //  rukun lilima punika, //  mapan ta sakuwasane, // nanging aja tan linakyan, //  sapa tan nglakonana, //  tan wurung nemu bebendu, //  padha sira esttokena.

Harus juga dijalankan // rukun Islam yang lima itu // dengan jalan semampunya // namun jangan sampai tidak dijalankan // siapa yang tidak menjalankannya // akhirnya mendapat bala // jalankanlah oleh kalian semua.

4

Parentahira Hyang Widhi, // kang dhawuh mring Nabiyullah, //  ing dalil kadis enggone, //  aja na ingkang sembrana, //  rasakna den karasa, //  dalil kadis rasanipun, //  dadi padhang ing tyasira.

Perintah Tuhan // yang memerintah kepada Nabi-Nya // berada di dalam Dalil dan hadits tempatnya // jangan ada ada yang menyepelekannya // rasakanlah hingga paham // rasa dari Dalil dan Hadits // sehingga menjadi terang hatimu.

5

Nora gampang wong ngaurip, //  yen tan weruh uripira, //  uripe padha lan kebo, //  anur kebo dagingira, //  kalala yen pinangana, //  pan manungsa dagingipun, //  yen pinangan pesthi karam.

Tidak mudah manusia hidup // jika tidak memahami hidupnya // hidupnya bagaikan seekor kerbau // lebih baik seekor kerbau karena dagingnya // khalal jika dimakan // namun daging manusia // jika dimakan pastilah kharam.

6

Poma-poma wekas mami, //  anak putu aja lena, //  aja katungkul uripe,// lan aja duwe kareman, //  marang papaes donya, //  siyang dalu dipun emut, //  yen urip manggih antaka.

Perhatikanlah pesanku ini // wahai anak putu jangan sampai terlena // jangan hanya memenuhi kebutuhan hidupnya // dan juga jangan terhanyut // atas keindahan dunia // siang malam agar selalu ingat dan sadar // jika hidup itu pasti akan mati.

7

Lawan aja angkuh bengis, //  lengus lanas langar lancang, //  calak ladah sumalonong, //  aja edak aja ngepak, //  lan aja siya-siya, //  aja jail para padu, //  lan aja para wadulan.

Dan janganlah sombong dan jahat // bermuka masam, mudah marah, menakutkan dan semaunya sendiri // calak ladah menyelonong // jangan edak jangan ngepak // dan jangan berbuat sia-sia // jangan usil dan suka bertengkar // jangan suka mengadukan.

8

Kang kanggo ing mangsa mangkin, //  prayayi nom kang den gulang, // kaya kang wus muni kuwe, //  lumaku temen kajena, //  tan nganggo etung murwat, //  lumaku kukudhung sarung,// anjaluk dendhodhokana.

Yang berlaku di masa sekarang // bagi kalangan muda yang dipelajarinya // seperti yang telah disebutkan itu // berjalan dengan benar akan terhormat // tidak mempergunakan pertimbangan dan penalaran // berjalan menutupi diri dengan sarung // meminta-minta sambil berjongkok.

9

Pan tanpa kusur sayekti, //  satriya tan wruh ing tata, // ngunggulaken satriyane, //  yen na ngarah dhinodhokan, //  anganggoa jajaran, //  yen niyat lunga anyamur, //  aja ndhodhokken manungsa.

Dan sesungguhnya tidak berguna // itu satria yang tidak mengerti aturan // mengunggulkan satria-nya // jika ada cita-citanya berjalan berjongkok // pergunalakanlah kuda // jika berniat pergi menyamar // jangan membuat repat manusia lainnya.

10

Iku poma dipuneling, //  kaki mring pitutur ingwang, //  kang wis muni mburi kuwe, //  yen ana ingkang nganggoa, //  cawangan wong mbelasar, // saking nora ngrungu tutur, //  lebar tan dadi dandanan.

Maka dari itu ingatlah // wahai anakku atas nasihatku // yang telah dijelaskan sebelumnya // jika ada yang menjalankannya // aturan orang yang tersessat // karena tidak mau mendengarkan nasihat // hancur tidak bisa dibetulkan lagi.

11

Barang-gawe dipun eling, //  nganggoa tepa-sarira, //  parentah lan sabenere, //  aja ambeg kumawawa, //  amrih den wedenana, //  dene ta wong kang wis luhung, //  nggone amengku mring bala.

Dalam setiap tindakan ingatlah // pergunakan perasaan pada diri sendiri // atas perintah yang sebenarnya // jangan merasa mampu // agar ditakutinya // sedangkan orang yang berderajat luhur // selalu melindungi saudaranya.

12

Den prih wedi sarta asih, //  pamengkune maring wadya, //  wineruhena ing gawe, //  den bisa aminta-minta, //  karyaning wadyanira, //  ing salungguh-lungguhipun, //  ana karyane priyangga.

Dengan harapan agar takut dan menyayanginya // perlindungannya terhadap sesamanya // tunjukanlah atas kewajibannya // bisalah membagi-bagi // pekerjaan kepada saudaranya // dengan sejelas-jelasnya // atas pekerjaanya sendiri-sendiri.

13

Sarta weruhna ing becik, //  gantungana ing tatrapan, //  darapon pethel karyane, //  dimene aja sembrana//, anglakoni ing karya, //  ywa dumeh asih sireku, // yen leleda tatrapana.

Dan juga tunjukanlah kebenaran // jadikan pedoman aturan // agar tepat dalam tiap pekerjaannya // agar tidak sembarangan // dalam melaksanakan pekerjaannya // jangan karena engkau sayang pada mereka // jika melanggar maka hukumlah.

14

Nadyan sanak-sanak ugi, //  yen leleda tinatrapan, //  murwaten lawan sisipe, //  darapon padha wedia, //  ing wuri ywa leleda, //  ing dana-kramanireku, //  aja pegat den warata.

Walau sanak kerabat juga // jika melanggar hukumlah // jelaskan atas kesalahannya // agar menjadi pelajaran // di belakang hari jangan sampai terulang // sedangkan pemberian hadiah dan penghargaan // jangan sampai putus dan juga harus merata.

15

Lan maninge suta mami, //  mungguh anggep wong ngawula, //  den suka sokur ing batos, //  aja pegat ing panedha, //  mring Hyang kang amisesa, // ing rina wenginipun, //  mulyaning nagara tata.

Dan juga wahai anakku // bahwa sikap orang mengabdi // agar senang dan bersyukur dalam hati // jangan berhenti berdoa // kepada Tuhan Yang Maha Kuasa // baik di siang atau pun di malam hari // dengan harapan agar mulia lah negaranya.

16

Iku uga den pakeling, //  kalamun mulya kang praja, //  mupangati mring wong akeh, //  ing rina wengi ywa pegat, //  nenedha mring Pangeran, // tulusing karaton prabu, //  miwah arjaning nagara.

Hal itu janganlah sampai kau lupakan // karena jika negara dalam keadaan mulia // maka akan sangat bermanfaat bagi orang banyak // Di siang dan malam hari janganlah berhenti // memohon kepada Tuhan // atas keselamatan negaranya // serta keraharjaan negaranya.

17

Iku wawalesing batin, //  mungguh wong suwiteng nata, //  ing lair setya tuhune, //  lawan cecadhang sakarsa, //  badan datan lenggana, //  ing siyang dalu pan katur, //  pati uriping kawula.

Itulah balasan batinmu // bagi orang yang mengabdi kepada raja // dalam tata lahir harus benar-benar setia // serta menjalankan segala perintah raja // dan selalu berserah diri // di siang dan malam hari selalu menyerahkan // hidup dan matinya kepada raja karena sadar sebagai hambanya.

18

Gumantung karsaning gusti, //  iku traping wadya setya, //  nora kaya jaman mangke, //  yen wis oleh kalungguhan, //  trape kaya wong dagang, //  ngetung tuna bathineipun, //  ing tyas datan rumangsa.

Itu semua terserah kehendak raja // itulah sikap hamba yang setia // tidak seperti di jaman sekarang // jika telah mendapat kedudukan // sikapnya bagaikan orang bedagang // menghitung untung dan ruginya // di hatinya tidak merasa.

19

Uwite dadi priyayi, //  sapa kang gawe mring sira, //  nora weruh wiwitane, //  iya weruha witira, //  dadi saking ruruba, //  mulane ing batinipun, // pangetunge lir wong dagang.

Sebabnya menjadi bangsawan // siapakah yang mengangkat dirimu // karena telah lupa pada asal mulanya // karena meyakini bahwa // keberhasilannya karena usaha sendiri // sehingga di dalam hatinya // berhtung bagaikan seorang pedagang.

20

Pikire gelisa pulih,// rurubane duk ing dadya,// ing rina wengi ciptane,// kapriye lamun bisaa,// males sihing bendara,// linggihe lawan tinuku,// tan wurung angrusak desa.

Dalam pikirannya agar segera kembali // pengorbanannya dalam perjuangannya // di siang dan malam hari yang ada dalam pikirannya // bagaimana agar bisa // membalas kebaikan tuannya // kedudukannya karena membeli // sikap yang demikian pada akhirnya akan merusak negara.

21

Pamrihe gelisa bathi, //  nadyan mbesuk denpocota, //  duweke sok wisa puleh, //  kapriye lamun tataa, //  polahe salang-tunjang, //  padha kaya wong bubruwun, //  tan etung duga prayoga.

Keinginannya segera mendapat keuntungan // walau di belakang hari jika dipecat // hartanya agar bisa kembali // mana mungkin bisa menata // sedang sikapnya semaunya sendiri // bagaikan orang yang sedang memetik sayuran // tidak mempergunakan pertimbangan baik buruknya.

22

Poma padha denpakeling, //  nganggoa sokur lan rila, //  narima ing sapancene, //  lan aja amrih sarana, //  mring wadya nandhang karya, // lan padha amriha iku, //  arjaning kang desa-desa.

Wahai sadar dan ingatlah // selalu bersyukur dan ikhlas // terimalah atas segala bagian hidupnya // dan jangan berpamrih dengan jalan // orang lain yang bekerja // dan selalu berharaplah // atas kesejahteraan negaranya.

23

Wong desa pan aja nganti, //  ewuh nggone nambut-karya, //  sasawah miwah tegale, //  nggaru maluku tetepa,// aja denulah-ulah//, dimene tulus nanandur, //  pari kapas miwah jarak.

Para penduduk desa jangan sampai // kesulitan saat bekerja // di sawah dan di tegalnya // Menggaru dan mluku // janganlah diganggu // agar mudah bercocok tanam // menanam padi kapas dan jarak.

24

Yen desa akeh wongneki, //  ingkang bathi pasthi sira, //  wetuning pajeg undhake, //  dipun rereh pamrihira, //  aja nganti rekasa, //  den wani kalah rumuhun, // beya kurang paringana.

Jika di desa banyak orang yang berhasil // yang untung adalah dirimu // karena semakin naik pajaknya // sehingga usahakanlah // jangan sampai kesulitan // beranilah mengalah terlebih dahulu // jika kekuarangan biaya berilah dahulu.

25

Kapriye gemaha ugi, //  sakehe kang desa-desa, //  salin bekel pendhak epon, //  pametune jung sacacah, //  bektine karobelah, //  satemah desane suwung, //  priyayi jaga pocotan.

Usahakn agar banyak pengahsilan bertaninya // di desa-desa // berganti pemimpinya tiak hari Pon // penghasilannya hanya sedikit // kepatuhannya di rubah // sehingga desa menjadi kosong // sehingga para bangsawan berjaga di pojok desa.

26

Poma aja anglakoni, //  kaya pikir kang mangkana, //  tan wurung lingsem temahe, //  den padha angestokena, //  mring pitutur kang arja, //  nora nana alanipun, //  wong nglakoni kabecikan.

Janganlah bertindak // hal yang demikian // pada akhirnya akan malu sendiri // maka dari itu patuhilah // atas nasihat yang baik // itu tidak ada jeleknya // orang yang berbuat kebaikan.

27

Nom-noman samengko iki, //  yen den pituturi arja, //  arang kang angrungokake, //  den slamur asasembranan, //  emoh yen anirua, // malah males apitutur, //  pangrasane uwis wignya.

Para muda-muda di jaman sekarang // ketika diberi nasihat yang baik // jarang yang mau mendengarkan // disambi dengan sikap semaunya // tiak mau untuk meniru // justra memabalas menasehatinya // karena merasa telah mahir.

28

Aja ta mengkono ugi, //  yen ana wong cacarita, //  rungokena saunine, // ingkang becik sira nggoa, //  buwangen ingkang ala, //  anggiten sajroning kalbu // ywa nganggo budi nom-noman.

Janganlah bersikap seperti itu // jika ada orang yang bercerita // dengarkanlah isi ceritanya // cerita yang baik pakailah // dan buanglah cerita yang jelek // berlatihlah di dalam batin // jangan menggunakan budi anak muda-muda.

XII.

Sinom

1

Ambege kang wus utama,// tan ngendhak gunaning janmi,// amiguna ing aguna,// sasolahe kudu bathi,// pintere den alingi,// bodhone dinokok ngayun,// pamrihe den inaa,// aja na ngarani bangkit,// suka lila denina sapadha-padha.

Sikap manusia tingkat utama // tidak mau menyaingi kepandaian sesamanya // Berguna bagi siapa saja // setiap yang dikerjakan harus menguntungkan orang lain // kepandaiannya di tutupi // kebodohannya diletakkan di muka // dengan harapan agar diremehkan // jangan sampai ada yang mengira bahwa dirinya pandai // ikhlas ketika di hina oleh sessamanya.

2

Ingsun uga tan mangkana,// balilu kang sun alingi,// kabisan sundekek ngarsa,// isin menek denarani,// balilu ing sujanmi,// nanging batiningsun cubluk,// parandene jroning tyas,// lumaku ingaran wasis,// tanpa ngrasa prandene sugih carita.

Saya belum bisa bersikap seperti itu // kebodohanku yang saya tutupi // kepandaianku saya letakkan di depan // malu jika dikira // sebagai orang bodoh oleh sesamamnya // namun dalam hatiku masih sangat bodoh // namun demikian di dalam batin // mengaku serba bisa // tidak merasa bahwa hanya sebatas bisa bercerita.

3

Tur duk ingsun maksih bocah,// akeh kang amituturi,// lakuning wong kuna-kuna,// lalabetan ingkang becik,// miwah carita ugi,// kang kajaba saking ngebuk,// iku kang aran kojah,// suprandene ingsun iki,// teka nora nana undhaking kabisan.

Dan ketika saya masih anak-anak // banyak yang memberi nasihat // Budi pekerti orang gjaman dahulu // yang meninggalkan bekas yang baik // Dan ceritanya juga // yang berasal dari penalaran // itu yagn disebut petuah // namun demikian diriku ini // pun tidak bertambah keahlianku.

4

Carita nggoningsun nular,// wong tuwa kang momong dhingin,// akeh kang sugih carita,// sun rungokken rina wengi,// samengko maksih // eling sawise diwasaningsun,// bapak kang paring wulang,// miwah ibu mituturi,// tata-krama ing pratingkah kang raharja.

Ceritaku saya hanya meniru saja // dari petuah orang di jaman dahulu // yang banyak meninggalkan petuah // saya dengarkan siang dan malam // sehingga sampai sekrang masih ku ingat // sampai hidupku menginjak dewasa // Ayak yang memberi ajaran // dan juga ibu yang memberikan nasihat // aturan sopan santun dan juga dalam bersikap yang baik.

5

Nanging padha ngestokena,// pitutur kang muni tulis// yen sira nedya raharja,// anggonen pitutur iki,// nggoningsun ngeling-eling,// pitutur wong sepuh-sepuh,// muga padha bisaa,// anganggo pitutur becik,// ambrekati wuruke wong tuwa-tuwa.

Namun jalankanlah // nasihat yang tertulis // jika dirimu ingin selamat // pakailah nasihat yang ada di dalam buku ini // Kumpulan dari yang selalu ku ingat-ingat // atas nasihat orang tua-tua di jaman dahulu // semoga dapatlah // menjalankan nasihat yang baik // akan bermanfaat atas nasihat dari orang tua-tua di amsa lalu.

6

Lan aja na lali padha,// mring luluhur ingkang dhingin,// satindake den kawruhan//, angurangi dhahar guling,// nggone ambanting dhiri,// amasuh sariranipun,// temune kang sineja //,mungguh wong nedha ing Widhi,// lamun temen lawas enggale tinekan.

Dan janganlah ada yang lupa // kepada leluhurnya // sikap perilakunya pahamiah // yang selalu mengurangi makan dan tidur // dalam mengendalikan keinginan diri // membersihkan jiwa raganya // agar tercapai apa yang menjadi kehendaknya // bagaikan orang yang selalu berdoa kepada Tuhan // jika dijalankan secara sungguh-sungguh, lama-lama pasti akan terkabul.

7

Pangeran kang sipat murah,// njurungi kajating dasih,// ingkang temen tinemenan,// pan iku ujaring dalil,// nyatane ana ugi// iya Ki Ageng ing Tarub,// wiwitane nenedha,// tan pedhot tumekeng siwi,// wayah buyut canggah warenge kang tampa.

Tuhan Yang Maha Pemurah // Mengabulkan apa yang diminta sang hamba // yang meminta dengan cara sungguh-sungguh // itulah apa yang dikatakan di dalam dalil // dalam kenyataannya ada contohnya // Yaitu Ki Ageng Tarub // yang mengawali dalam berdoa // hingga hasilnya tidak terputusa sampai kepada anak  // cucu buyut canggah Wareng  yang menerima atas terkabulnya doanya.

8

Panembahan Senapatya,// kang jumeneng ing matawis,// iku kapareng lan mangsa,// dhawuh nugrahaning Widhi,/ saturune lestari,// saking brekating luluhur,// mrih tulusing nugraha,// ingkang kari-kari,// wajib uga anirua lakunira.

Panembahan Senopati // Yang menjadi raja di Mantawis // itu yang mendapatkan anugerah // atas terkabulnya doa para sesepuhnya yang doanya telah dikabulkan oleh Tuhan // terus sampai ke anak cucunya // atas barokah dari para leluhur // agar lestarinya anugrah // kepada yang ditinggalkannya // laku yang demikian itu wajib ditiru.

9

Mring luhur ing kuna-kuna,// enggone ambanting dhiri,// iya sakuwasanira,// sakuwate anglakoni,// nyegah turu sathithik,// sarta nyuda dhaharipun,// pirabara bisaa,// kaya ingkang dhingin-dhingin,// atirua sapratelon saprapatan.

Mencontoh para leluhurnya di masa lalu // cara mengendalikan diri // adalah sebatas kemampuan mu // sebatas kekuatan dalam menjalankannya // mengurangi tidur sedikit demi sedikit // dan juga mengurangi makananannya // lebih baik lagi jika bisa menjalankan // seperti yang dijalankan oleh para leluhur di masa lalu // menirulah sepertiga atau seperemepat bagian saja, sduah cukup.

10

Ana ta silih bebasan,// padha sinaua ugi,// lara sajroning kapenak,// suka sajroning prihatin,//lawan ingkang prihatin,// mapan suka ing jronipun,// iku den sinaua,// lan mati sajroning urip,// ing wong kuna pan mangkono kang den gulang.

Ada juga ucapan // agar dapat menjadi pelajaran, yaitu // sakit ketika sehat // gembira ketika mendapat musibah // dan jika sedang mengalami kesengsaraan hidup // maka selalu bahagia di dalam hatinya // belajarlha sikap seperti itu // dan juga mati ketika masih hidup // itu yang dijalankan oleh oarang di jaman dahulu.

11

Pamoring Gusti kawula,// pan iku ingkang sayekti,// dadine sotya ludira,// iku den waspada ugi,// gampangane ta kaki,// tembaga lawan mas iku,// linebur ing dahana,// luluh amor dadi siji,// mari nama kencana miwah tembaga.

Menyatunya antara Tuhan dan Hamba // itulah yang sebenarnya // itu yang membersihkan jiwa raga // namun harus penuh kewaspadaan // sebagai gambaran yang gampang itu // Temba dan emas ketika // dilebur di dalam pembakaran // hancur menyatu menjadi satu // tidak ada yang bernama emas atau pun tembaga.

12

Ingaranana kencana,// pan wus kamoran tembagi,// ingaranana tembaga,// wus kamoran kencana di,// milila dipun wastani,// mapan suwasa puniku,// pamore mas tembaga,// pramila namane salin//, lan rupane sayekti puniku beda.

Namun jika disebut emas itu pun kurang tepat // karena telah tercampuri tembaga // dan jika disebut tembaga // itu pun telah tercampur emas // sehingga disebut // setelah menyatu keudanya // adalah bercampurnya Emas Tembaga // sehingga berganti nama // dan juga rupanya itu akan berubah pula.

13

Cahya abang tuntung jenar,// punika suwasa murni,// kalamun gawe suwasa,// tembagane nora becik,// pambesote tan resik,// utawa nom emasipun,// iku dipun pandhinga,// sorote pesthi tan sami,// pan suwasa bubul arene punika.

Cahaya kemerahan agak kekuningan // itu suawa murni // jika membuat suwasa (Jenis logam percampuran tembaga dan emas), // Jika tembaga dari kualitas jelek // dan pembakarannya tidak bersih // atau ems muda // itu jika dilihat // sinarnya pasti tidak sama // dan dsiebut suasa bubul itu namanya.

14

Yen arsa karya suwasa,// darapon dadine becik,// amilihana tembaga,// oleha tembaga prusi,// binesot ingkang resik,// sarta mase ingkang sepuh,// resik tan kawoworan,// dhasar sari pasthi dadi,// iku kena ingaran suwasa mulya.

Jika ingin membuat suasa // agar jadi yang baik // pilihlah tembaga // dari jenis prusi // digosok hingga bersih // dan emasnya pun yang tua // bersih dan tidak ercampur apapun // dari bahan yang bagus pasti hasilnya pun bagus // itu yang disebut suasa mulya.

15

Puniku mapan upama,// tepane badan puniki,// lamun arsa ngawruhana,// pamore kawula Gusti,// sayekti kudu resik,// aja katempelan nepsu,// luwamah lan amarah,// sarta suci lair batin,// dadi mene sarira bisaa tunggal.

Itu sebagai perlambang // atas diri ini // jika inging mengetahui // menyatunnya hamba dengan Tuhan // itu pun harus bersih // jangan tercampur nafsu // luamah dan amarah // serta suci lahir batinnya // sehingga diri agar bisa menyatu.

16

Lamun ora mangkonoa,// sayektine nora dadi,// mungguh ngelmu ingkang nyata,// nora kena den sasabi,// ewuh gampang sayekti,// puniku wong duwe kawruh,// gampang yen winicara,// angel yen durung marengi,// ing wektune binuka jroning wardaya.

Jika tidak demikian // pasti tidak akan bisa // sedangkan ilmu yang nyata // tidak bisa dipahami // sulit dan mudah itu sesungguhnya // itu bagi orang yang berilmu // mudah jika hanya dibicarakan // sangat sulit jika belum mendapat anugerah-Nya // Ketika hati telah terbuka.

17

Nanging ta sabarang karya,// kang kinira dadi becik,// pantes den talatenana,// lawas-lawas mbok pinanggih,// den mantep jroning ati,// ngimanken tuduhing guru,// aja uga bosenan//, kalamun arsa utami,// mapan ana dalile kang wus kalakyan.

Maka atas segala tindakan // yang diinginkannya akan menjadi baik // panta jika dilakukan dengan telaten // lama-kelamaan akan bisa ketemu // mantapkanlah di dalam hati // yakinlah terhadap petunjuk guru // jangan sampai mempunyai sifat cepat bosan // jika ingin mendapatkan ilmu yang utama // dan hal itu telah tercantum di dalam hadits.

18

Para luluhur sadaya,// nggone nenedha mring Widhi,// bisaa mbaboni praja,// dadi ugering rat Jawi,// saking talaten ugi,// enggone katiban wahyu,// ing mula mulanira,// lakuning luluhur dhingin,// andhap asor enggone anamur lampah.

Para leluhur di masa lalu // dalam melakukan permohonan kepada Tuhan // Agar bisa sebagai penguasa Kerajaan // untuk menjadi panutan di Tanah Jawa // Dan karena dijalankan dengan tekun // Sehingga mendapat anugerah // sebagai awal nya // yang dijalankan oleh para leluhur di masa lalu // dengan cara sabar dan menyamar ketika menjalankan Tirakat bertapa.

19

Tapane nganggo alingan,// pan sami alaku tani,// iku kang kinarya sasab,// pamrihe aja katawis,// ujubriya lan kibir,// sumungah ing siningkur,// lan endi kang kanggonan, wahyuning karaton Jawi,// tinempelan anggenipun kumawula.

Ketika bertapa dengan cara di tutup-tutupi // dengan jalan sambil bertani // itu yang digunakan sebagai penyamarannya // dengan harapan agar tidak nampak // agar tidak pamer dan kibir // dan sifat sombong pun telah ditinggalkannya // Dan siapa pun yang mendapat Wahyu Raja di Tanah Jawa // di tutupi dengan cara menyamar sebagai rakyat jelata.

20

Puniku laku utama,// tumindak sarta kekelir,// nora ngatingalken lampah,// wadine kang denalingi,// panedyane ing batin,// pan jero pangarahipun,// asore ngelmu rasa,// prayoga tiniru ugi,// anak putu aja na tinggal lanjaran.

Itu adalah sikap laku utama // bergerak dan menyamar // tidak menunjukan apa yang sedang dijalankannya // rahasianya yang disembunyikan // Cita-citanya ada di dalam batinnya // dan dalam serta sungguh-sungguh dalam tujuannya // dengan cara menggunakan ilmu rasa // hal demikian baik untuk ditiru // anak cucu jangan sampai meninggalkan panutan sesepuhnya.

1

Lawan ana kang wasiyat,// prasapa kang dhingin-dhingin,// wajib padha kawruhana// mring anak putu kang kari,// lan aja na kang lali,// anerak wewaleripun,// marang luluhur padha,// kang minulyakken ing Widhi,// muga-muga mupangatana kang darah.

Ada juga yang berwasiat // mengambil dari ajaran di masa lalu // Wajib untuk diketahui // oleh anak cucunya di kemudian hari // dan jangan sampai ada yang melupakannya // melanggar atas larangannya // atas larangan para leluhurnya // yang selalu memuliakan Tuhan-nya // semoga bermanfaat atas keturunannya yang sedarah.

22

Wiwitan kang aprasapa,// Ki Ageng ing Tarub weling,// ing satedhak turunira,// tan rinilan nganggo keris,// miwah waos tan keni,// kang awak waja puniku,// lembu tan kena dhahar,// daginge lan ora keni,// angingua marang wong Wandhan tan kena.

Yang pertama berwasiat // adalah wasiat Ki Ageng Tarub // kepada anak keturunannya // tidak diperkenankan memakai keris // dan tombak yang // terbuat dari baja  // dan daging lembu jangan dimakan // dan tidak boleh // memelihara orang Wandhan.

23

Dene Ki Ageng Sesela,// prasapane ora keni,// ing satedhak turunira,// nyamping cindhe denwaleri,// kalawan nora keni,// ing ngarepan nandur waluh,// wohe tan kena mangan,// Panembahan Senapati,// ing ngalaga punika ingkang prasapa.

Sedangkan Ki Ageng Sela // larangannya tidak boleh // atas anak keturunanya // memakai kain jenis Cinde  // dan tidak boleh // menanam labu di halaman rumah // dan tidak boleh memakan buahnya // Panembahan Senapati, larangannya adalah.

24

Ing satedhak turunira,// mapan nora denlilani,// nitih kuda ules napas,// lan malih dipun waleri,// nitih turangga ugi,// kang kokoncen surinipun,// dhahar ngungkurken lawang,// ing wuri tan na nunggoni,// dipunemut aja na nerak prasapa.

Atas anak keturunannya // tidak diperkenankan // naik kuda berbulu Napas // dan dilarang juga // menaiki kuda // yang surinya berjuntai // makan sambil membelakangi pintu // karena di belakangnya tidak ada yang menunggunya // ingatlah jangan sampai ada yang melanggarnya.

25

Jeng Sultan Agung Mataram,// prasapane nora keni,// mring tedhake yen nitiha,// jaran bendana yen jurit,// nganggo waos tan keni,// kang landheyan kayu wergu,// lan tan ingaken darah,// yen tan bisa tembang Kawi,// pan prayoga satedhak sinaua.

Sang Sultan Agung Mataram // wasiatnya tidak boleh // kepada anak turunnya // ketika berperang dilarang naik kuda Bendana // tidak boleh membawa tombak // yang tangkainya terbuat dari kayu wergu // dan tidak diakui sebagai anak keturunannya // jika tidak bisa nembang Jawa/Kawi // tidak baik atas anak keturunanya, maka belajarlah.

26

Jeng Sunan Pakubuwana,// kang jumeneng ing Samawis,// kondur madeg Kartasura,// prasapanipun tan keni,// nenggih kalamun nitih,// dipangga saturunipun,// Sunan Prabu Mangkurat,// waler mring saturuneki,// tan linilan ngujung astana ing Betah.

Sunan Pakubuwana // Raja di Semarang // kemblai ke kartasura // wasiatnya tidak boleh // yaitu menaiki // Gajah atas anak keturunannya // Sunan Mangkurat // Wasiat kepada anak cucunya // dilarang berziarah ke makam Butuh.

27

Lawan tan kena nganggoa,// dhuwung sarungan tan mawi,// kandelan yen nitih kuda,// kabeh ajaa na kang lali,// lan aja na nggagampil,// puniku prasapanipun,// nenggih Jeng Susuhunan,// Pakubuwana ping kalih,// mring satedhak turunira linarangan.

Dan tidak boleh memakai // keris tertutup tanpa pendhok jika naik kuda // jangan sampai ada yang melupakannya // dan jangan ada yang menganggap enteng // wasiatnya dari // Sang Sunan // Pakubuwana ke dua // kepada anak keturunannya melarang.

28

Mangan apyun nora kena,// sineret tan den lilani,// inguntal pan linarangan,// sapa kang wani nglakoni,// narajang waler iki,// yen nganti kalebon apyun,// pan kena ing prasapa,// jinabakken tedhakneki,// Jeng Susuhunan ingkang sumare Nglaweyan.

Dilarang memakan candu // menghisap ganja itu dilarangnya // memakan pun tidak boleh // siapa pun yang berani melakukannya // melanggar larangan ini // jika sampai kemasukan candu // akan terkena hukuman // dikeluarkan dari garis keturunan // dari Sunan yang dimakamkan di Laweyan.

29

Prasapa Jeng Susuhunan,// Pakubuwana kaping tri,// mring satedhak turunira,// mapan datan denlilani,// agawe andel ugi,// wong kang seje jinisipun,// puniku linarangan,// anak putu wuri-wuri,// aja na kang wani nrajang prasapa.

Wasiat sang Sunan // Pakubuwana ke tiga // kepada anak keturunannya // tidak boleh // mengangkat pemimpin pasukan // dari bangsa asing // itu sangat dilarangnya // atas anak cucunya di belakang hari // jangan sampai ada yang berani melanggar wasiat ini.

30

Wonten waler kaliwatan,// saking luluhur kang dhingin,// linarangan angambaha,// wana Krendhawahaneki,// dene kang amaleri,// sang Dananjaya ing dangu,// lan malih winaleran,// kabeh tedhake Matawis,// yen dolana ing wana Rami tan kena.

Ada wasiat yang terlewat // yang berasal dari leluhur masa lalu // dilarang memasuki // Hutan Krendhawahana // sedangkan yang memberi wasiat // adalah Sang Dananjaya di masa lalu // dan ada larangan juga // semua keturunan Mataram // dilarang bermain di hutan Rami.

31

Dene sisirakanira,// yen tedhak ing Demak ugi,// anganggo wulung tan kena,// lawan ta kang nyirik malih,// bebed lonthan tan kena,// kalamun tedhak Madiyun,// lan payung dhanddhan abang,// tedhak Madura tan keni,// nganggo poleng lan bathikan parang-rusak.

Sedangkan larangan // atas keturunan Demak adalah // tidak diperbolehkan memakai baju wulung atau serba hitam // dan tidak diperkenankan pula // bersarung Lontan bercorang-careng, itu tidak boleh // itu jika pergi ke Madiun // dilarang menggunakan payung  bertangkai merah // itu jika pergi ke Madura // tidak boleh bercorak poleng belang-belang dan tidak boleh memakai bathik Parang rusak.

32

Tedhaking Kudus tan kena,// adhahara daging sapi,// tedhaking Sumenep ika,// nora kena ajang piring,// watu pan datan keni,// dhahar kidang dagingipun,// mapan ta linarangan,// godhong palasa kinardi,// ajang mangan pan puniku nora kena.

Anak cucu Kudus tidak boleh // memakan daging sapi // Keturunan Sumenep itu // tidak boleh mempergunakan piring yang terbuat // dari batu itu tidak boleh // dan dilarang memakan daging kijang // dan juga dilarang // menggunakan daun Plasa (Sejenis tumbuhan) // untuk digunakan tempat makanan.

33

Kabeh anak putu padha,// eling-elingen ywa lali,// prasapa kang kuna-kuna walering luluhur dhingin,// estokna ing jro ngati,// aja nganti nemu dudu,// kalamun wani nerak,// pasthi tan manggih basuki,// Sinom Salin Girisa ingkang atampa.

Wahai semua anak cucu // ingatlah wasiat itu jangan sampai lupa // Wasiat dari jaman dahulu larangan leluhur di masa lalu // patuhilah sampai ke dalam hati // jangan sampai mendapat halangan // jika berani melanggarnya // pasti tidak akan menemukan keselamatan // berganti nyanyian Girisa.

XIII

NYANYIAN : GIRISA

1

Anak putu denestokna, // warah wuruke si bapa,// aja na ingkang sembrana,// marang wuruke wong tuwa,// ing lair batin den bisa,// anganggo wuruking bapa,// ing tyas den padha santosa,// teguheno jroning nala.

Anak cucu patuhilah // ajaran dan nasihat sang ayah // jangan ada yang menganggap sembarangan // atas ajaran orang tua // di lahir dan batin gunakanlah // ajaran ayahmu // di dalam hati haruslah teguh // teguhkan di dalam otak pula.

2

Aja na kurang panrima,// ing papasthening sarira,// yen saking Hyang Mahamulya,// nitahken ing badanira,// lawan dipun awas uga,// asor luhur waras lara,// tanapi begja cilaka//, urip tanapi antaka.

Jangan ada yang merasa kurang ikhlas // atas takdir pada diri // jika itu berasal dari Tuhan Yang Maha Mulia // Yang menciptakan raga dirimu // dan harus berhati-hati pula // Derajat rendah dan tinggi sehat dan sakit // dan juga untung dan celaka // hidup dan matinya.

3

Iku saking ing Hyang Suksma,// miwah ta ing umurira,// kang cendhak lawan kang dawa,// wus pinesthi mring Hyang Suksma,// duraka yen maidoa,// miwah kuranga panrima,// ing lohkilmahfule kana,// tulisane pan wis ana.

Itu atas takdir Tuhan // serta juga atas umur dirimu // yang berumur pendek dan panjang // telah digariskan oleh Tuhan // Durhaka jika tidak mempercayainya // dan jika tidak ikhlas menerimanya // karena hal itu telah tertulis di Lahumul Mafud sejak dahulu // tulisan itu telah ada.

4

Yogya padha kawruhana,// sisikune badanira,// ya marang Hyang Mahamurba,// kang misesa marang sira,//yen sira durung uninga,// prayoga atatakona,// mring kang padha wruh ing makna,// iku kang para ngulama.

Juga pahamilah // atas murka Tuhanmu // yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa // yang menguasai atas dirimu // jika engkau belum paham // sebaiknya bertanyalah // kepada yang telah paham atas makna rahasia-Nya // itulah para Ulama.

5

Kang wis wruh rahsaning kitab,// darapon sira weruha,// wajib mokaling Hyang Suksma,// miwah wajibing kawula,// lan mokale kawruhana,// miwah ta ing tata-krama,// sarengat dipunwaspada,// batal karam takokena.

Yang telah memahami rahasia Kitab // dan juga dirimu harus memahami pula // sifat Wajib dan Mokal dari Tuhanmu // serta sifat wajib bagi hamba // serta mokalnya pun harus kau pahami // dan juga tentang adab sopan santun serta Akhlak // yang telah di atur dalam Syariat itu pahamilah // hukum batal kharam tanyakanlah.

6

Sunat lan perlu punika,// prabot kanggo saben dina,// iku kaki dipun padha,// terang ing pitakonira,// lan aja bosen jagongan,// marang kang para ngulama,// miwah uwong kang sampurna,// pangawruhe mring Hyang Suksma.

Yang Sunah pun perlu juga // dijalankan setiap harinya // wahai anakku agar menjadi // terang maka tanyakanlah // dan jangan bosan duduk bersama // dengan para Ulama // serta duduk dengan orang yang sudah sempurna // Pemahamannya tentang Tuhan.

7

Miwah patrap tata-krama,// ing tindak-tanduk myang basa,// kang tumiba marang nistha,// tuwin kang tumibeng madya,// tanapi tibeng utama,// iku sira takokena,//ya marang wong kang sujana,// miwah ing wong tuwa-tuwa.

Serta sikap sopan santun // dalam tingkah laku dan bahasa // yang mengarah kepada kenisthaan // serta yang jatuh di tengah-tengahnya // atau pun tentang yang Paling Utama // hal itu tanyakanlah // kepada orang yang benar-benar telah memahaminya // serta kepada para sesepuh Pinisepuh yang telah mumpuni.

8

Kang padha bisa micara,// tuwin ingkang ulah sastra,// iku pantes takonana,// bisa madhangken tyasira, //karana ujaring sastra utama teka carita,// ingkang kinarya gondhelan,// amurukken mring wong mudha.

Yang sudah ahli dalam berbicara // serta para ahli sastra // itu yang pantas sebgai tempat bertanya // sehingga bisa memberi pencerahan batin dirimu // karena isi sastra yang baik itu dari cerita // yang menjadi pedomannya // untuk mengajari anak muda.

9

Lawan sok karepa maca//, sabarang layang carita,// aja anampik mring layang, //carita kang kuna-kuna,// layang babad kawruhana,// caritane luhurira,// darapon sira weruha,// lalakone wong prawira.

Dan juga sering-seringlah membaca // tentang buku cerita // jangan menolak buku apapun // yang berisi cirita di jaman dahulu // Serat Babad pahamilah // yang menceritakan leluhurmu // agar engkau menjadi mengetahui // kisah hidup para Pahlawan.

10

Miwah lalakon nalika,// kang para Wali sadaya,// kang padha oleh nugraha,// asale saking punapa,// miwah kang para satriya,// kang digdaya ing ayuda,// lakune sira tirua,// lalabetan kang utama.

Dan juga kisah tentang // Semua para Wali // yang telah mendapat anugerah // itu dikarenakan apa ? // serta kisah para satria // yang ahli dalam berperang // kisah hidupnya bisa engkau tiru // Perjuangannya itulah yang utama.

11

Nora susah amirungga,// mungguh lakuning satriya,// carita kabeh pan ana,// kang nistha lan kang utama,// kang asor kang luhur padha,// miwah lakuning nagara,// pan kabeh aneng carita,// ala becik sira wruha.

Tidak usah ragu-ragu // tentang perjalanan para satria // semua ceritanya itu ada // yang nista dan yang utama // yang rendah dan yang luhur itu sama // serta kisah perjalanan Negara // kesemuanya ada dalam cerita // cerita yang baik dan buruk itu pahamilah.

12

Yen durung mangarti sira,// caritane takokena,// ya marang wong tuwa-tuwa,// kang padha wruh ing carita,// iku ingkang dadi uga,// mundhak kapinteranira,// nanging ta dipunelingan,// sabarang kang kapiyarsa.

Jika engkau belum paham // isi ceritanya maka tanyakanlah // kepada orang tua-tua // yang paham isi ceritanya // itu yang bisa menyebabkan // bertambah kepadaian dirimu // namun juga harus ingat // atas semua yang kau dengar.

13

Aja na tiru si bapa,// banget tuna bodho mudha,// kethul tan duwe grahita,// katungkul mangan anendra,// nanging anak putu padha,// mugi Allah ambukaa,// marang ing pitutur yogya,// kabeh padha anyakepa.

Jangan meniru Ayah ini // yang sangat merugi bodoh dan ilmunya masih muda // lambat berfikir dan tidak banyak penalarannya // karena selalu makan dan tidur saja // namun anak cucu ku // semoga Allah membuka // atas nasihat ku ini // semuanya saja patuhilah..

14

Ing sawewekasing bapa,// muga ta kalakonana,// kabeh padha mituruta,// panedhaningsun mring Suksma,// lanang wadon salameta,// manggiha suka raharja,// ing dunya miwan akhirat,// dinohna ing lara roga.

Atas pesan sang Ayah // semoga bisa terlaksana // semoga semua memathuinya // itulah permohonanku kepada Tuhan // Anak cucu baik yang laki-laki dan perempuan semoga selalu selamat // menemukan kebahagiaan dan keselamatan // di dunia dan akhirat // dijauhkan dari sakit dan coba.

15

Umure padha dawaa,// padha atut aruntuta,// marang sadulure padha,// padha sugiha barana,// tanapi sugiha putra,// pepaka jalu wanodya,// kalawan maninge aja,// nganti kapegatan tresna.

Semoga panjang umur // dan hidup rukun // serta semua saudaranya // semoga kaya harta // dan juga banyak anaknya // lengkap anak laki-laki dan wanita // dan juga // jangan sampai terputus rasa cintanya.

16

Padha uga denpracaya,// aja sumelang ing nala,// kabeh pitutur punika,// mapan wahyuning Hyang Suksma,// dhawuh mring sira sadaya,// jalarane saking bapa,// Hyang Suksma paring nugraha,// marang anak ingsun padha.

Dan juga harap percaya // jangan khawatir dalam pikirannya // semua nasihat ini // adalah Wahyu dari Tuhan // yang memerintah kepada dirimu // lantaran dari ayah // Semoga Tuhan memberi anugerah // kepada semua anak cucuku.

17

Den bisa nampani padha,// mungguh sasmitaning Suksma,// ingkang dhawuh maring sira,// wineruhken becik ala,// anyegah karepanira,// marang panggawe kang ala,// kang tumiba siya-siya,// iku paparing Hyang Suksma.

Semoga dapat menerima // sasmita Tuhan // yang memerintahkan kepada dirimu // memberitahukan yang baik dan jahat // dan mencegah kehendak dirimu // kepada pekerjaan jahat // yang berakhir sia-sia // itu adalah atas pemberian Tuhan semata.

18

Paring peling marang sira,// tinuduhaken ing marga,// kang bener kang kanggo uga,// ing donya ingkang sampurna,// mugi anak putu padha,// kenaa dadi tuladha,// kabecikaning manungsa//, tinirua ing sujanma.

Yang memberi peringatan kepada dirimu // memberi petunjuk jalan // kebenaran untuk dipergunakan // hidup didunia hingga sempurna // semoga anak cucu semua // agar bisa mencaji contoh // perbuatan baik manusia // semoga akan ditiru oleh sesamanya.

19

Sakehing wong kapengina,// aniru ing solah bawa,// marang anak putu padha,// anggepe wedi asiha,// kinalulutan ing bala,// kedhepa parantahira,// tulusa mukti wibawa,// ing satedhak-turunira.

Banyak orang yang menginginkan // meniru tingkah lakunya // kepada anak cucu ku // semoga selalu hormat dan mengasihinya // dipatuhi oleh sesamanya // mematuhi perintahmu // tetaplah bahagia dan wibawa // atas semua anak cucu keturunanku.

20

Didohna saking duraka,// winantua ing nugraha,// sakeh anak putu padha,// ingkang ngimanaken uga,// marang pituturing bapa,// Allah kang nyembadanana,// ing padonganingsun iya,// ing tyas ingsun wus rumasa.

Dijauhkan dari perbuatan durhaka // selalaulah mendapat anugerah // atas semua anak cucu // yang beriman dan percaya // atas nasihat ayah // Allah yang mengabulkannya // atas doa ku ini // di dalam batinku telah merasa.

21

Wak ingsun upama surya,// lingsir kulon wayahira,// pedhak mring surupe uga,// atebih maring timbulnya,// pira lawase neng donya,// ing kauripaning janma,// mangsa nganti satus warsa,// iya umuring manungsa.

Badanku ini ibarat matahari // sudah masuk waktu sore // sudah mendekati tenggelam // jauh ata waktu terbitnya // tidak lama berada di dunia // atas kehidupan manusia // masa akan sampai seratus tahun // umur dari manusia.

22

Mulane sun muruk marang,// kabeh ing atmajaningwang, //sun tulis sun wehi tembang,// darapon padha rahaba,// enggone padha amaca,// sarta ngrasakken carita,// aja bosan den apalna,// ing rina wengi elinga.

Sehingga saya memberi ajaran // kepada semua anak cucuku // saya tulis dalam bentuk lagu nyanyian // agar senang  // ketika membacanya // serta dalam memahami isi ceritanya // janganlah bosan dan hapalkanlah // di siang dan malam hari selalu ingatlah.

23

Lan mugi padha tirua,// kaya luluhure padha,// sudira betah atapa,// sarta waskitha ing nala,// ing kasampurnaning gesang,// kang patitis nora mamang,// iku ta panedhaningwang,// muga padha kalakona.

Dan semua bisa menirunya // seperti para leluhurnya // perwita tahan bertapa // serta cerdas pikirannya // atas kesempurnaan hidup // hidup tepat tidak ragu-ragu // itulah harapanku // semogalah terkabul.

24

Titi tamat kang carita,// serat wewaler mring putra,// kang yasa serat punika,// nenggih Kangjeng Susuhanan,// Pakubuwana kaping pat,// ing galih panedyanira,// kang amaca kang miyarsa,// yen lali muga elinga.

Telah tamatlah ceritanya // Serat nasihat kepada putra // yang membuat serat ini // adalah Kanjeng Sunan ? Pakubuwana ke empat // dengan harapan // bagi yang membaca dan mendengarkannya // jika sedang lupa semoga menjadi ingat.

25

Telasing panuratira,// sasi Besar ping sangalas,// Akad Kaliwon tahun Dal,// tata guna swareng nata (1735),// mangsastha windu Sancaya//, wuku Sungsang kang atampa,// ya Allah kang luwih wikan,// obah osiking kawula.

Selesai penulisan // pada Bulan besar tanggal sembilan belas // Hari Minggu Kliwon tahun Dal // Sandi tahun : Tata Guna Swareng Nata – Tahun (1735) // Pranata mangsa : Windu Sancaya // Wuku Sungsang (itu semua perhitungan Tahun Jawa). Wahai Allah yang Maha Tahu // atas tingkah dan cetusan hati hamba-Nya.

ooo000ooo

Kagungan dalem serat pawukon pananggalan yasan dalem ingkang sinuhun kangjeng Susuhunan Pakubuwana ingkang kaping pitu, tetedhakan yasanipun ingkang rama panjenengan dalem ingkang sinuhun Susuhunan Pakubuwana ingkang kaping sekawan.

Kala dhawahing pangandika dalem, awitipun ingandikakaken ndehak ing dinten Sabtu Legi, wanci jam satunggil siyang, wuku: Tolu, tanggal kaping 17 Rejeb, mangsa kalima, ing tahun Jimawal. Angkaning warsa 1765 windu: Sancaya, sinangkalan: Misik Rasa Sabdaning Ratu.

Ingkang nyerat abdi dalem carik Ngabei Sastrawijaya, ing Surakarta-adiningrat, ing kawan taun sampurna panedhakipun kagungan dalem serat wukon pananggalan sapanunggilipun, ing dinten Respati Manis, enjing wanci pukul 10, tanggal kaping 28, wulan Jumadilakir, wuku Gumbreg ing taun Be, sinangkalan: Sarira Rumasa Katitih ing Ratu, Windu: Sancaya.

 

Sepanjang, Sidoarjo, 3 April 2014.