Bukti Aqidah Imam Abu Hanifah “ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH” (Mewaspadai Ajaran Sesat Wahabi)

The Beliefs of Sunnis for 14 Centruies

A. Aqidah Imam Hanafi dalam kitab fiqh al absath

Terjemah:

Lima: Apa yang beliau (Imam Abu Hanifah) tunjukan –dalam catatannya–: “Dalam Kitab al-Fiqh al-Absath bahwa ia (Imam Abu Hanifah) berkata: Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum menciptakan segala makhluk, Dia ada sebelum ada tempat, sebelum segala ciptaan, sebelum segala sesuatu sesuatu”. Dialah yang mengadakan/menciptakan segala sesuatu dari tidak ada, oleh karenanya maka tempat dan arah itu bukan sesuatu yang qadim (artinya keduanya adalah makhluk/ciptaan Allah). Dalam catatan Imam Abu Hanifah ini terdapat pemahaman2 penting:

  1. Terdapat argumen bahwa seandainya Allah berada pada tempat dan arah maka berarti tempat dan arah tersebut adalah sesuatu yang qadim (tidak memiliki permulaan), juga berarti bahwa Allah adalah benda (memiliki bentuk dan ukuran). Karena pengertian “tempat” adalah sesuatu/ruang kosong yang diwadahi oleh benda, dan pengertian “arah” adalah puncak/akhir penghabisan dari tujuan suatu isyarat dan tujuan dari sesuatu yang bergerak. Dengan demikian maka arah dan tempat ini hanya berlaku bagi sesuatu yang merupakan benda dan yang memiliki bentuk dan ukuran saja; dan ini adalah perkara mustahil atas Allah (artinya Allah bukan benda) sebagaimana telah dijelaskan dalam penjelasan yang lalu. Oleh karena itulah beliau (Imam Abu Hanifah berkata: “Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum menciptakan segala makhluk, Dia ada sebelum ada tempat, sebelum segala ciptaan, sebelum segala sesuatu sesuatu”. Sementara apa yang disangkakan oleh Ibn Taimiyah bahwa arsy adalah sesuatu yang qadim (tidak bermula) adalah pendapat SESAT, sebagaimana kesesatan ini telah dijelaskan dalam Kitab Syarh al-Aqa’id al-‘Adludliyyah.
  2. Sebagai jawaban bahwa Allah tidak dikatakan di dalam alam adalah oleh karena mutahil Allah berada di dalam susuatu yang notabene makhluk-Nya. Dan bahwa Allah tidak dikatakan di luar alam adalah oleh karena Allah ada (tanpa permulaan) sebelum adanya segala makhluk, dan Dia ada sebelum adanya segala tempat dan arah. Karena itulah beliau (Imam Abu Hanifah berkata: “Dia (Allah) adalah Pencipta segala sesuatu”.

Keterangan:
Kitab ini berjudul Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imam adalah karya Imam al-Bayyadli. Isinya adalah penjelasan aqidah yang diyakini oleh Imam Abu Hanifah sesuai risalah2 yang ditulis oleh Imam Abu Hanifah sendiri.

(Sumber : Ustadz abou fateh   (notes of  facebook))

Ibnu katsir membungkam wahhaby (2) : Tafsir ayat “istiwa”

Ibnu katsir membungkam wahhaby (2) : Tafsir ayat “istiwa”

Bagaimana cara ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami masalah asma wa sifat atau yang sering di sebut dngan ayat-aya dan hadit-haditst sifat?ayat-ayat sifat disini adalah ayat Alquran atau Hadits Nabi yang menyebutkan tentang aggota tubuh seperti mata ,tangan,naik turun yang di sandarkan kepada Allah dll yang jika salah dalam memahamimya seseorang bisa masuk dalam kesesatan aqidah mujassimah(yang megatakan bahwa Allah SWT mempunyai aggota badan yang menyerupai dengan hambanya).Atau akan terjerumus dalam ta’thil (yang menolak sifat-sifat Allah SWT ).Begitu penting dan bahaya permasalahan ini maka ulama benar-benar telah membahasnya dengan detail dan rinci agar ummat ini tidak salah dalam memahami ayat –ayat dan hadits-hadits sifat .
Ada dua catara yang di ambil oleh ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami ayat-ayat sifat ini :
Pertama adala tafwidh, maksudnuya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di fahami sesuai dhohir lafatnya akan merusak aqidah. Misanya disaat Allah menyebut tangan yang di nisbatkan kepada Allah, maka maknanya tidak di bahas akan tetapi dilalui dan diserahkan kepada Allah SWT.   Ibnu katsir adalah salah satu ulama yang menggunkan methode ini.
Kedua adalah dengan cara mentakwili ayat tersebut dengan makna yang ada melalaui dalil lain. Seperti tangan Allah di artikan dengan kekuasaan Allah yang memang makna kekuasaa itu sendiri di tetapkan dengan dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.
Perhatian
1-Dua cara ini yakni attafwid dan attakwil adalah cara yang di ambil oleh ulama salaf dan kholaf,sungguh tidak benar jika tafwid adalah metode tyang di ambil oleh ulama salaf dan ta’wil adalah yang di ambil oleh ulama kholaf saja.
2-Ada sekelompok orang di akhir zaman ini menfitnah para ulama terdahulu(salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini.maka kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu karena takwil ,sungguh mereka adalah orang –orang yang tidak mengerti bagaimana mentakwil dan mereka uga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu karena banyak riwayat ta’wil yang dating dari para salaf..
3-ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dam kesesatan takwil yang tidak mereka sadari.misalnya disaat mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘ars ,mereka mengatakan tidak boleh ayat tentang keberadaan Allah di ars ini di ta’wili.akan tetapi dengan tidak di sadari mereka menjelaskan keberadan Allah di ars dengan penjelasan bahwa ars adlah makhluq terbesar(seperti bola dan semua mkhluk yang lain di dalamnya.kemudian mereka mengatakkan dan Allah swt berada di atas Arsy nag besar itu di tempat yang namany makan ‘adami(tempat yang tidak ada).Lihat dari mana mereka mengatakan ini semua. Itu adalah takwil fasid dan ba’id(takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran.
Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang Allah dan ars,para ahli tafwid menyerahkan pemahaman maknanya kepada Allah swt,adapu ahli ta’wil mengatakan Alah menguasai Ars dan tidaklah salah karena memang Allah dzat yang maha kuasa terhadap makhluk terbesar Ars, sebab memang Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu.wallhu a’lam bishshowab

A.  Tafsir Ayat Mutasyabihat ISTIWA

I. Tafsir Makna istiwa Menurut Kitab Tafsir Mu’tabar
lihat dalam tafsir berikut :

1. Tafsir Ibnu katsir menolak makna dhahir (lihat surat al -a’raf ayat 54, jilid 2 halaman 295)

Tarjamahannya (lihat bagian yang di line merah)  :

{kemudian beristawa kepada arsy} maka manusia pada bagian ini banyak sekali perbedaan pendapat , tidak ada yang memerincikan makna (membuka/menjelaskannya)  (lafadz istiwa) dan sesungguhnya kami menempuh dalam bagian ini seperti apa yang dilakukan salafushalih, imam malik, imam auza’I dan imam atsuri, allaits bin sa’ad dan syafi’I dan ahmad dan ishaq bin rawahaih dan selainnya dan ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang. Dan lafadz (istawa) tidak ada yang memerincikan maknanya seperti yang datang tanpa takyif (memerincikan bagaimananya) dan tanpa tasybih (penyerupaan dgn makhluq) dan tanpa ta’thil(menafikan)  dan (memaknai lafadz istiwa dengan)  makna dhahir yang difahami (menjerumuskan) kepada pemahaman golongan musyabih yang menafikan dari (sifat Allah)  yaitu Allah tidak serupa dengan makhluqnya…”

Wahai mujasimmah wahhaby!!

lihatlah ibnu katsir melarang memaknai ayat mutasyabihat  dengan makana dhohir karena itu adalah pemahaman mujasimmah musyabihah!

bertaubatlah dari memaknai semua ayat mutasyabihat dengan makna dhahir!!

Kemudian Ibnu katsir melanjutkan lagi :

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [al-Syura: 11]. Bahkan perkaranya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata: “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir, dan siapa yang mengingkari apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir, dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat muhkamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.”

Inilah selengkapnya dari penjelasan Ibnu Katsir.Berdasarkan penjelasan ibnu katsir :

Ayat mutasyabihat harus di tafsir dengan ayat syarif (ayat muhkamat) atau ayat yang jelas maknanya/Bukan ayat mutasyabihat!! Tidak seperti wahhaby yang menggunakan ayat mutasyabihat utk mentafsir ayat mutasyabihat yang lain!!!! ini adalah kesesatan yang nyata!

– ibnu katsir mengakui ayat ‘istiwa’ adalah ayat mutasyabihat yang tidak boleh memegang makna dhahir dari ayat mutasyabihat tapi mengartikannya dengan ayat dan hadis yang – jadi ibnu katsir tidak memperincikan maknanya tapi juga tidak mengambil makna dhahir ayat tersebut.

– disitu imam ibnu katsir, imam Bukhari dan imam ahlsunnah lainnya  tidak melarang ta’wil.

“…dan  selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya)tanpa takyif  (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan)….”

sedangkan wahaby melarang melakukan tanwil!

2.    Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra’d:

1- Tafsir al Qurtubi

(ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan

2- Tafsir al-Jalalain

(ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya

3- Tafsir an-Nasafi Maknanya:

makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain…

4- Tafsir Ibnu Kathir , darussalam -riyadh, Jilid 2 , halaman 657, surat ara’ad ayat 2):

(ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf,  sesungguhnya ia ditafsirkan sebagaimana lafadznya yang datang (tanpa memrincikan maknanya) tanpa kaifiat(bentuk) dan penyamaan, tanpa permisalan, maha tinggi

Disini Ibnu Katsir mengunakan ta’wil ijtimalliy iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya.

II. Makna istiwa yang dikenal dalam bahasa arab dan dalam kitab-kitab Ulama salaf

Di dalam kamus-kamus arab yang ditulis oleh ulama’ Ahlu Sunnah telah menjelaskan istiwa datang dengan banyak makna, diantaranya:

1-masak (boleh di makan) contoh:

قد استوى الطعام—–قد استوى التفاح maknanya: makanan telah masak—buah epal telah masak

2- التمام: sempurna, lengkap

3- الاعتدال : lurus

4- جلس: duduk / bersemayam,

contoh: – استوى الطالب على الكرسي : pelajar duduk atas kerusi -استوى الملك على السرير : raja bersemayam di atas katil

5- استولى : menguasai,

contoh: قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق

Maknanya: Bisyr telah menguasai Iraq, tanpa menggunakan pedang dan penumpahan darah.

Al Hafiz Abu Bakar bin Arabi telah menjelaskan istiwa mempunyai hampir 15 makna, diantaranya: tetap,sempurna lurus menguasai, tinggi dan lain-lain lagi, dan banyak lagi maknannya. Sila rujuk qamus misbahul munir, mukhtar al-Sihah, lisanul arab, mukjam al-Buldan, dan banyak lagi. Yang menjadi masalahnya, kenapa si penulis memilih makna bersemayam. Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah?, apakah dia tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Adakah si penulis ini tidak mengatahui bahawa siapa yang menyamakan Allah dengan salah satu sifat daripada sifat makhluk maka dia telah kafir?

sepertimana kata salah seorang ulama’ Salaf Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):

ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر

Maknanya: barang siapa yang menyifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai arasy kerana arasy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala sepertimana kata-kata Saidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:

ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته ولم يتخذه مكان لذاته

Maknanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-arasy untuk menzohirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.

Allah ada tanpa tempat dan arah adalah aqidah salaf yang lurus.

III. Hukum Orang yang meyakini Tajsim; bahwa Allah adalah Benda


*Bersemayam yang bererti Duduk adalah sifat yang tidak layak bagi Allah dan Allah tidak pernah menyatakan demikian, begitu juga NabiNya. Az-Zahabi adalah Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Uthman bin Qaymaz bin Abdullah ( 673-748H ). Pengarang kitab Siyar An-Nubala’ dan kitab-kitab lain termasuk Al-Kabair.Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah Duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair. Demikian teks Az-Zahabi kafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” :Nama kitab: Al-Kabair.
Pengarang: Al-Hafiz Az-Zahabi.
Cetakan: Muassasah Al-Kitab Athaqofah,cetakan pertama 1410h.Terjemahan.
Berkata Al-Hafiz Az-Zahabi:
“Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas terkeluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah Duduk untuk menetap atau katanya Allah Berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”. Rujuk scan kitab tersebut di atas m/s 142.

Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al
Qawim h. 64, mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.

Al Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah meridlainyamengatakan:
“Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’i dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal).

Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”.

As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata:
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,
kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

III.  ulamak 4 mazhab tentang aqidah

1- Imam Abu hanifah:

لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه

Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah, muka surat 1.


IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.

Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :

“ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat.

Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.

Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.

2-Imam Syafie:

انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير

Maknanya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 muka surat 23

3-Imam Ahmad bin Hanbal :

-استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.

وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه

Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahawa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya(Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami

4- Imam Malik :

الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة

Maknannya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif(bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan soal tentangnya bidaah.

lihat disini : imam malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir  jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)…..

Bersambung ….

https://salafytobat.wordpress.com

Advertisements

Fatwa 100 Ulama: Wahabi Adalah aliran sesat khawarij pemecah belah umat islam dan Terorist

Fatwa 100 Ulama: Wahabi Adalah Militan&Pengganas (BERBUKTI)

SEBAHAGIAN ORANG JAHIL DITIPU OLEH PENJAHAT WAHABI KONONNYA WAHABI ADALAH JEMAAH YANG ADIL, TIDAK CEPAT MENGHUKUM ORANG, IKUT SUNNAH, TAAT PADA PEMIMPIN, BERILMU DAN BAGUS SETARAF DENGAN SAHABAT NABI. Fuh!

BOHONG ! DAN DUSTA ! PENGKHIANAT ALLAH TIADA LAIN KECUALI WAHHABI. KAMI YANG MENGKAJI MENDAPATI WAHABI GEMAR MENGKAFIRKAN ULAMA ISLAM DAN UMAT ISLAM. PEMIMPIN ISLAM SEMUANYA DIHUKUM OLEH WAHHABI SEBAGAI KAFIR HALAL UNTUK DIBUNUH. TIDAK CUKUP DENGAN ITU SEJARAH KEZALIMAN DAN KEKEJAMAN WAHHABI TERHADAP ULAMA ISLAM DAN UMAT ISLAM MASIH MENGALIR BAHANG PANASNYA DARAH MEREKA DISETIAP DETIK KEHIDUPAN KAMI. SIAPA AKAN MEMBAYAR DARAH ITU?!

WALLAHI YA IKHWAN! KITA AHLI SUNNAH TIDAK PERNAH MENJENTIK SEORANG PUN WAHHABI WALAUPUN RATUSAN ULAMA DAN PULUHAN RIBU UMAT ISLAM DIBUNUH OLEH WAHHABI. KITA TIDAK MEMBALAS WALAUPUN DARAH PARA ULAMA ISLAM YANG DIBUNUH WAHABI TIDAK DIBAYAR. YANG KITA AHLI SUNNAH WAL JAMAAH MAHUKAN ADALAH KEHARMONIAN DAN KEMANTAPAN AKIDAH UMAT ISLAM DAN MEMBERI PERINGATAN AGAR TIDAK TERPENGARUH DENGAN WAHABI MILITAN INI.

Fatwa Khas Ulama-ulama Terkenal Bahwa Wahabi Adalah Militan, Pengganas, Radikal dan Perosak Agama Islam Dan Umat islam:-

1- Dr. Syeikh Ahmad Toyyib Syeikh Akbar Al-Azhar Universiti menyatakan bahawa pandangan seluruh ulama Al-Azhar yang mewakili ribuan ulama Al-Azhar mengfatwakan bahawa Wahabi adalah MILITAN & PENGGANAS. Rujuk:

2- Dr. Syeikh Ali Jumah Mufti Mesir menyatakan bahawa Wahabi itu ada kaitan dan jaringan yang besar dengan militan&pengganas. Rujuk:

4- Dr. Yusuf Qardawi menghukum Wahabi Salafi sebagai PENGGANAS & MILITAN memerang&membunuh umat Islam, kafir Yahudi pula dibiarkan. Rujuk: ( http://abu-syafiq.blogspot.com/2010/06/pengkhianatan-wahhabi-tahrir-di.html )

Video kenyataan Yusuf Qardawi dalam tv Al-Jazeerah.

Berkata Dr. Yusuf Qardawi apabila ditanya mengenai peperangan yang berlaku antara HAMAS dan WAHHABI (Masjid Ibnu Taimiah&Golongan Ansarrullah&SalafiyyahWahhabiyyah)

Dr. Yusuf Qardawi menjawab:

” Saya amat yakin bahawa HAMAS dalam melawan tindakan terhadap golongan itu (Wahhabiiyyah Salafiyyah) HAMAS telah melakukan sesuatu yang amat benar, HAMAS telah banyak kali menasihat jemaah tersebut ( SalafiyyahWahhabiyah) agar tidak menyerang saudara Umat Islam, memadai umat Islam menentang dan meyerang Yahudi Israeil sahaja bukan bergaduh sesama sendiri.

HAMAS telah banyak kali membawa para ulama dan pemerintah Islam berbincang dengan jemaah ini (SalfiyyahWahhabiyya) tetapi mereka (Wahhabi) tidak mempedulikan dan tidak pandai/ Mereka (SalafiyyahWahhabiyyah) itu tidak pandai mengenai Fiqh Jihad sama sekali. Kepada merekalah saya tujukan kitab Fiqh Jihad. Kerana mereka (SalafiyyahWahhabiyyah) memahami fiqh jihad itu adalah memerangi umat Islam. Buktinya ketikamana Yahudi merampas Gaza kita langsung tidak mendapati mereka (salafiyyahWahhabiyah) itu membantu umat Islam Palestin samaada secara pergorbanan,peperangan atau apa-apa sumbangan mereka langsung tidak ada terhadap umat Islam di Gaza yang diserang Yahudi.

Malangnya kita dapati mereka (SalafiyyahWahhabiyyah) menyumbangkan pembunuhan dan peperangan keatas umat Islam pula. Mereka mendakwa mahukan Daulah Islamiah atau Khilafah Islamiah. Apa ini?! Merdeka dahulu Palestin baru kita bicara mengenai itu semua!. Kita dapati mereka (SalafiyyahWahhabiyah) di Palestin bila tokoh mereka berkhutbah sehingga sampai mengangkat senjata dengan pakaian serba hitam, ini adalah suasana yang tidak sepatutnya….”- TAMAT KENYATAAN DR.YUSUF QARDAWI.

5- Ulama Malaysia Tuan Guru Abdullah Fahim mewakili seluruh ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah Malaysia yang bilangannya jutaan atau lebih mengatakan bahawa Wahabi itu militan, pengganas dan KHAWARIJ. Rujuk: Jabatan Agama islam Pulau Pinang Tokoh-tokoh Ulama’ Semenanjung Melayu (2); Terbitan Majlis Ugama Islam Dan Adat Istiadat Melayu Kelantan; Cetakan Tahun 1996; Halaman 37 dan 38.

Selebihnya lagi ulama bersama karangan mereka yang mengfatwakan bahawa Wahabi adalah MILITAN dan Pengganas serta Khawarij…:

6- Fasl al-Khitab fi Radd ‘ala Muhammad ibn Abdil Wahhab oleh Syaikh Sulaiman ibn Abdil Wahhab. Inilah merupakan kitab yang pertama yang menolak fahaman Wahhabi yang ditulis oleh saudara kandung pengasas fahaman Wahhabi.

7- As-Sowa’qul Ilahiyyah fi Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Syaikh Sulaiman ibn ‘Abdul Wahhab al-Najdi.

8- Fitnah al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (kitab ini telah diterjemahkan ke bahasa Melayu oleh Ustaz Muhammad Fuad bin Kamaluddin ar-Rembawi)

9- Ad-Durarus Saniyah fi al-Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (kitab ini telah diterjemahkan ke bahasa Melayu, maaflah ambo lupa tajuknya)

10- Khulasatul Kalam fi Bayani ‘Umara` al-Balad al-Haram karangan al-‘Alim al-‘Allamah al-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan

11- Saif al-Jabbar oleh Syaikh Fadhlur Rasul

12- Al-Aqwal al-Mardiyyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh al-Syaikh al-Faqih ‘Atha’ al-Kasam al-Dimashqi al-Hanafi

13- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Sholeh al-Kuwaisy al-Tunisi

14- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Abu Hafs Umar al-Mahjub

15- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Muhammad Sholeh al-Zamzami al-Syafie

16- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Ibrahim ibn Abdul Qadir al-Tarabulasi al-Riyahi al-Tunisi

17- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Mufti Madinah Zubir di Bashrah – Syaikh Abdul Muhsin al-Asyniqiri al-Hanbali

18- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Mufti Fez – Syaikh al-Makhdum al-Mahdi

19- Ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Qadhi Jamaa’ah di Maghribi – Syaikh Ibn Kiran

20- Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh Syaikhul Islam Tunisia- Syaikh Ismail al-Tamimi al-Maliki

21- Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh Syaikh Ahmad al-Misri al-Ahsa’i

22- Ar-Radd ‘ala Ibni Abdil Wahhab oleh al-‘Allamah Barakat al-Syafie al-Ahmadi al-Makki

23- Ar-Radd ‘ala Muhmmaad ibn Abdil Wahhab karangan Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi asy-Syafie, guru dan syaikh bagi Ibn ‘Abdul Wahhab. Disebut oleh Ibnu Marzuq asy-Syafie: Syaikhnya ini telah berfirasat bahwa dia akan menjadi orang yang sesat dan meyesatkan seperti mana firasat syaikhnya Muhammad Hayat as-Sindi dan dan ayahnya [ayahnya Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab].

24- At-Taudhih ‘ala Tauhid al-Khallaq fi Jawab Ahli al-Iraq ‘ala Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab karangan Syaikh ‘Abdullah Affendi al-Rawi

25- Al-Haqiqah al-Islamiyah fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Abdul Ghani ibn Sholeh Hamadah.

26- Ad-Dalil Kafi fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabi oleh Syaikh Misbah ibn Muhamad Syabqalu al-Beiruti

27- Radd Muhtar ‘ala Durr al-Mukhtar oleh Ibn ‘Abidin al-Hanafi al-Dimasyqi

28- Al-Haq al-Mubin fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyin oleh Syaikh Ahmad Sa’id al-Faruqi al-Sirhindi al-Naqsyabandi
29- Al-Haqaiq al-Islamiyah fi Radd ‘ala Maza’im al-Wahhabiyyah bi Adillah al-Kitab wa al-Sunnah al-Nabawiyyah oleh Syaikh Malik ibn Syaikh Mahmud.

30- Ar-Rudud ‘ala Muhammad ibn Abdul Wahhab oleh al-Muhaddits Sholeh al-Fullani al-Maghribi. Telah berkata Sayyid ‘Alawi ibn Ahmad al-Haddad bahwa kitab yang besar ini mengandungi risalah dan jawapan daripada para ulama’ mazhab yang empat, Hanafi, Maliki, Syafie dan Hanbali dalam menolak pendapat/fahaman Muhammad ibn Abdul Wahhab.

31- Ar-Radd ‘ala Muhammad ibn Abdul Wahhab oleh Syaikh Abdullah al-Qudumi al-Hanbali al-Nablusi

32- Risalah fi Musyajarah baina Ahl Makkah wa Ahl Nadj fil ‘Aqidah oleh Syaikh Muhammad ibn Nasir al-Hazimi al-Yamani

33- Sa’adah ad-Darain fi ar-Radd ‘ala Firqatain – al-Wahhabiyyah wa Muqallidah al-Zhahiriyyah oleh Syaikh Ibrahim ibn Utsman ibn Muhammad al-Samhudi al-Manshuri al-Misri

34- Al-Saif al-Batir li ‘Unuq al-Munkir ‘ala al-Akabir oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Quthubul Irsyad al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi al-Haddad.

35- As-Suyuf al-Masyriqiyyah li Qat’ie A’naaq al-Qailin bi Jihah wa al-Jismiyah oleh Syaikh ‘Ali ibn Muhammad al-Maili al-Jamali al-Tunisi al-Maghribi al-Maliki

36- Raudh al-Majal fi al-Radd ‘ala Ahl al-Dholal oleh Syaikh Abdurrahman al-Hindi al-Delhi al-Hanafi

37- Sidq al-Khabar fi Khawarij al-Qarn al-Tsani Asyara fi Itsbathi ‘an al-Wahhabiyyah min al-Khawarij oleh Syaikh al-Syarif ‘Abdullah ibn Hassan Basya ibn Fadhi Basya al-‘Alawi al-Husaini al-Hijazi

38- Al-Minhah al-Wahbiyyah fi Raddi al-Wahhabiyyah oleh Syaikh Daud bin Sulaiman al-Baghdadi an-Naqsyabandi al-Khalidi

39- Al-Haqaaiq al-Islamiyyah fi ar-Raddi ‘ala al-Mazaa’im al-Wahhabiyyah bi Adillah al-Ktab wa as-Sunnah an-Nabawiyyah oleh al-Hajj Malek Bih ibn Asy-Syaikh Mahmud, Mudir Madrasah al-‘Irfan, Kutbali, Mali

40- Misbah al-Anam wa Jala-uz-Zhalam fi Raddi Syubah al-Bid’i an-Najdi Allati Adhalla biha al-‘Awwam oleh al-‘Allamah al-Habib ‘Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Quthubul Irsyad al-Habib ‘Abdullah bin ‘alwi al-Haddad. Di dalam kitab ini, pada halaman 3, beliau berkata bahawa kesesatan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab telah disampaikan oleh ramai ulama secara tawatur dalam tulisan-tulisan mereka daripada orang-orang yang tsiqah dari kalangan ulama-ul-akhyar (terpilih) dan selain mereka, yang telah melihat dengan matanya sendiri dan mendengar dengan telinganya sendiri akan kesesatan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan pengikut-pengikutnya dan juga dari tulisan-tulisan, perkataan, perbuatan dan perintah Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikut-pengikutnya. Pada halaman 15, al-Habib berkata: Aku telah diberitahu oleh seorang tua yang bersinar wajahnya kerana kesholehannya dan sudah melebihi 80 tahun umurnya, salah seorang pemuka kita keluarga Abu ‘Alawi yang lahir dan membesar di Makkah dan kerap berulang alik ke Madinah. Nama beliau Musa bin Hasan bin Ahmad al-‘Alawi berketurunan Sayyidina ‘Uqail bin Salim, saudara Sayyidina Quthubus-Syahir asy-Syaikhul Kabir Abu Bakar bin Salim. Beliau berkata:- “Aku dahulu berada di Madinah belajar kepada asy-Syaikh Muhammad Hayat (as-Sindi al-Madani). Muhammad bin ‘Abdul Wahhab juga berulang-alik ke majlis Syaikh Muhammad Hayat seperti murid-murid lainnya. Aku mendengar daripada orang-orang sholeh dan ulama, sebagai kasyaf daripada mereka, firasat mereka mengenai Muhammad bin ‘Abdul Wahhab di mana mereka menyatakan bahawa dia akan sesat dan menyesatkan Allah dengannya orang yang dijauhkan dari rahmatNya dan yang dibinasakanNya”

41- An-Nuqul as-Syar’iyyah fi Raddi ‘alal Wahhabiyyah oleh Hasan ibn ‘Umar ibn Ma’ruf as-Shatti al-Hanbali

42- Nasiha li Ikhwanina Ulama Najd oleh as-Sayyid Yusuf ibn Sayyid Hasyim ar-Rifaie

43- Tahakkum al-Muqallidin bi Mudda`i Tajdid ad-Din karangan Syaikh Muhammad bin ‘Abdur Rahman bin ‘Afaliq al-Hanbali, seorang ulama yang sezaman dengan Muhammad ibn Abdul Wahhab dan telah mencabar keilmuannya sehingga Ibnu ‘Abdul Wahhab membisu seribu bahasa
44- Saiful Jihad li Mudda`i al-Ijtihad karangan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Lathif asy-Syafi`i

45- Tarikh al-Wahhabiyyah oleh Ayyub Sabri Pasha (meninggal dunia tahun 1308H/1890M). Beliau adalah merupakan Laksamana Armada Laut di zaman pemerintahan Sultan ‘Abdul Hamid Khan II. Kitab karangan beliau ini menceritakan tentang Wahhabi secara terpeinci. Sebahagian kandungan kitab ini telah diterjemahkan ke bahasa Melayu dengan tajuk Faham Wahhabi dan Penyelewengannya. Beliau juga merupakan pengarang kitab Mir’ah al-Haramain

46- Faydul Wahhab fi Bayan Ahl al-Haq wa Man Dhalla ‘an ash-Shawab karangan Syaikh ‘Abdur Rabbih bin Sulaiman asy-Syafi`i

47- As-Sarim al-Hindi fi ‘Unuqin-Najdi karangan Syaikh ‘Atha` al-Makki;

48- As-Sarim al-Hindi fi Ibanat Tariqat asy-Syaikh an-Najdi karangan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Isa bin Muhammad as-San`ani

49- Al-Basha`ir li Munkiri at-Tawassul ka Amtsal Muhammad ibn Abdul Wahhab karangan Syaikh Hamd-Allah ad-Dajwi

50- Risalah Irsyadul Jaawiyyin ila Sabilil ‘Ulama-il-‘Aamiliin karangan Tuan Guru Haji ‘Abdul Qadir bin Haji Wangah bin ‘Abdul Lathif bin ‘Utsman al-Fathoni

51- Sinar Matahari Buat Penyuluh Kesilapan Abu Bakar al-Asy’ari [pelopor fahaman Wahabi di Perlis] karangan Syaikh Abdul Qadir bin ‘Abdul Muthalib al-Mandili

52- Tajrid Saif al-Jihad li Mudda’I al-Ijtihad karangan Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Lathif asy-Syafie. Beliau menolak pendapat Muhammad bin ‘Abdul Wahhab ketika hayatnya.

53- Al-Mazhab atau Tiada Haram Bermazhab karangan Syaikh Abdul Qadir bin ‘Abdul Muthalib al-Mandili

54 Kitab Senjata Syari’at karangan Ustaz Abu Zahidah bin Haji Sulaiman dan Abu Qani’ah Haji Harun bin Muhammad as-Shamadi al-Kalantani. Kitab ini telah ditaqridz oleh Syaikh ‘Abdullah Fahim, Tuan Guru Haji Ahmad bin Tuan Hussin Kedah dan Tuan Guru Haji ‘Abdurrahman Merbuk, Kedah.

55- Al-Fajr ash-Shodiq fi al-Radd ‘ala al-Maariq karangan Syaikh Jamil Affendi Shodiqi az-Zuhawi.

56- Al-Ushul al-Arba’ah fi Tardid al-Wahhabiyyah/ Al-‘Aqaid as-Shohihah fi Tardid al-Wahhabiyyah karangan Muhammad Hasan, Shohib al-Sirhindi al-Mujaddidi.

57- Al-Awraq al-Baghdadiyyah fi al-Jawabat an-Najdiyyah karangan Syaikh Ibrahim ar-Rawi al-Baghdadi.

58- Al-Bara’ah min al-Ikhtilaf fi ar-Radd ‘ala Ahli asy-Syiqaq wa an-Nifaq wa ar-Radd ‘ala Firqah al-Wahhabiyyah al-Dhallah karangan Syaikh Zainul ‘Abidin as-Sudani.

59- Al-Barahin as-Sati’ah karangan Syaikh Salamah al-‘Azzami

60- Risalah fi Ta’yid Madzhab as-Sufiyyah wa ar-Radd ‘ala al-Mu’taridhin ‘Alaihim karangan Syaikh Salamah al-‘Azzami

61- Risalah fi Jawaz at-Tawassul fi ar-Radd ‘ala Muhammad ibn ‘Abdil Wahhab karangan al-‘Allamah Syaikh Mahdi al-Wazaani, Mufti Fez, Maghribi.

62- Risalah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah karangan Syaikh Qasim Abi al-Fadhl al-Mahjub al-Maliki

63- Al-Risalah ar-Raddiyyah ‘ala at-Tho’ifah al-Wahhabiyyah karangan Syaikh Muhammad ‘Atholah yang dikenali sebagai Ato ar-Rumi

64- ‘Iqd Nafis fi Radd Syubhat al-Wahhabi al-Ta’is karangan Syaikh Ismail Abi al-Fida` at-Tamimi at-Tunisi. Beliau adalah seorang yang faqih dan ahli sejarah.

65- Al-Madarij as-Saniyyah fi Radd al-Wahhabiyyah karangan Maulana Aamir al-Qadiri, guru di Darul Ulum al-Qadiriyyah, Karachi, Pakistan

# Dan banyak lagi kitab dan kenyataan ulama yang menolak fahaman Wahhabi yang ditulis ulama sejak dari tercetusnya fahaman ini. Dan sampai sekarang pun masih ada ulama yang menulis kitab untuk menolak fahaman Wahhabi dan menyifatkan Wahabi sebagai MILITAN dan PENGGANAS.

http://abu-syafiq.blogspot.com/

Buku Baru: Terbongkar! Lumbung Dinar Jaringan Islam Radikal dan Pertikaian Faksi-Faksi Wahabi

Terbongkar! Lumbung Dinar Jaringan Islam Radikal dan Pertikaian Faksi-Faksi Wahabi

https://i1.wp.com/4.bp.blogspot.com/_fuGe0doDzz4/S7mgvfoTrMI/AAAAAAAAAd8/bkxgTzOmZ6Q/s1600/dinar+wahabi.jpg
Terbongkar! Lumbung Dinar Jaringan Islam Radikal dan Pertikaian Faksi-Faksi Wahabi

Seri Santri Melawan

Penyusun: JASSiRA

Penerbit: JASSiRA Press

Tebal: xiii + 354 hal.

Harga: Rp. 45.000,-

Buku ini disusun oleh Jaringan Santri Salafi Rahmatan Lil ‘Alamin (JASSiRA)

Buku ini membuktikan bahwa warning Mantan Kepala BIN, A.M. Hendropriyono maupun Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Komaruddin Hidayat tentang Jaringan Islam Radikal di tanah air bukanlah isapan jempol.

Jaringan TAKFIRI yang hobi melancarkan teror dengan menghujat Umat Islam ini ternyata sekarang justru saling hujat antar faksi. Salah satu pemicunya adalah gelontoran uang dinar dari para sponsor.

Buku ini menyajikan rekaman pertikaian yang terjadi di tubuh Jaringan Islam Radikal, yang berujung dengan pernyataan lugas, tuntas dan terpercaya seputar gelontoran dinar ‘hizby’.

Buku ini juga menyuguhkan pertikaian sengit wahabi vs wahabi yang saling menghujat, memvonis sesat, kufur, teroris. Yang tak kalah mengagetkan Pendiri sekte wahabi-salafi pun divonis sebagai khawarij, anjing neraka, oleh pengikutnya sendiri.

Hati-hati! para khatib yang gemar meneror umat islam dengan vonis sesat, ghuluw, bid’ah, kafir, musyrik, halal dibunuh, adalah indikasi bahwa yang bersangkutan merupakan bagian dari sekte anjing neraka. Minimal mereka kerasukan virus ideologi ganas JIR (Jaringan Islam Radikal).

Toko Buku Islam Online di Jakarta.

shobat-shobat semua yang tertarik dengan buku ini dapat menghubungi:

r.rusmanto@gmail.com

atau telp./sms di 08122522802 dengan saya Rusmanto

atau mampir ke gubug saya di Jl. Melati Dalam No. 1, Rawamangun, Jakarta Timur

bebas ongkos kirim untuk daerah DKI Jakarta.

begitu juga untuk luar DKI Jakarta, minimal pembelian Rp. 125 ribu bebas ongkos kirim. Sedang untuk luar Jawa, dikenakan ongkos kirim.

Download katalog lengkap ada di samping kanan blog ini. silakan pilih-pilih.

bila buku yang anda cari tidak ada, buat pesan ke saya, insya’Allah diusahakan.

Peta Gubug kami…

[www.shafiifiqh.com] : THE METHOD OF AL-IMAM AL-SHAFI’I IN AL-RISALAH

basmalasftan1

This is an abridged excerpt from the Book: “Islamic Jurisprudence” by Dr. Taha Jabir al-Alwani.

THE METHOD OF AL-IMAM AL-SHAFI’I IN AL-RISALAH

Al-Imam al-Shafi’i rahimahuLlahu ta’ala began his book by describing the state of mankind just before the mission of the Prophet. In doing so, he divided them into two groups:

  1. Ahl al-Kitab “The People of the Book”
  2. The Mushrikun and Kafirun.

Then he stated that Allah (SWT) rescued all mankind by sending the Last of the Prophets sallaLlahu ‘alayhi wa sallam, and revealing to him His Book as a means of guidance:

Then al-Imam al-Shafi’i discussed the status of the Qur’an in Islam in detail.

Followed the introduction is a chapter on al-Bayan, in which the word is defined as a legal-term, and then divided into categories in explanation of the ways that the Qur’anic declaration indicates matters of legal significance. There are five such categories:

  1. That which Allah (SWT) expressed as a specific legal-provision which admits of no interpretation other than its literal-meaning. This category of al-Bayan needs no other explanation than the Qur’an itself.
  2. That which the Qur’an mentions in texts that may be interpreted in several-ways; and for which the Sunnah provided an explanation as to exactly which one was intended.
  3. That which was clearly stated to be obligatory; and which Rasulullah sallaLlahu ‘alayhi wa sallam explained in terms of how, why, upon whom, and when applicable and when not.
  4. That which was explained by Rasulullah sallaLlahu ‘alayhi wa sallam, but not mentioned in the Qur’an. Allah (SWT) commanded in the Qur’an that Rasulullah sallaLlahu ‘alayhi wa sallam be obeyed and his rulings accepted. Therefore, what is said on the authority of Rasulullah r, is said on the authority of Allah (SWT).
  5. That which Allah (SWT) requires His creation to seek through Ijtihad. This is Qiyas. According to al-Imam al-Shafi’i, Qiyas is a method for reaching a legal-decision on the basis of evidence (a precedent) in which a common reason, or an effective cause, is applicable.

Al-Imam al-Shafi’i then went on to explain these five categories in five separate chapters, giving examples and evidence for each. Thereafter, the Risalah included the following chapters:

  • The General Declaration revealed in the Qur’an is meant to be ‘Amm (comprehensive), but includes the Khass (particular).
  • The Explicit General Declaration of the Qur’an in which the General and the Particular are included.
  • The Explicit General Declaration of the Qur’an which appears to be General but is intended to be entirely Particular.
  • The Category of al-Bayan in the Qur’an by means of which meaning is clarified by context.
  • The Category of al-Bayan in the Qur’an the wording of which indicates the al-Batin (implicit) meaning rather than the al-Zahir (explicit).
  • That, of the Qur’an, which was revealed as General but which the Sunnah specifically indicates is meant to be Particular.

In the above-mentioned chapter; al-Imam al-Shafi’i 0 explained the validity of the Sunnah as evidence and its status in the religion. For this reason, he then included the following chapters:

  • The duty imposed by Allah (SWT) in the Qur’an to follow the Sunnah of Rasulullah sallaLlahu ‘alayhi wa sallam.
  • Allah (SWT)’s command ordering obedience to Rasulullah sallaLlahu ‘alayhi wa sallam is both associated with obedience to Him and ordered independently.
  • Matters in which Allah (SWT) commanded obedience to Rasulullah sallaLlahu ‘alayhi wa sallam.
  • How Allah (SWT) made it clear that Rasulullah sallaLlahu ‘alayhi wa sallam was obliged to follow what was revealed to him and to obey whatever commands Allah (SWT) gave him; and that Allah (SWT) will guide any who follow him.

In this chapter, al-Imam al-Shafi’i affirmed that parts of the Sunnah of Rasulullah sallaLlahu ‘alayhi wa sallam dealt with and were related to the Qur’an, whilst other parts explained matters concerning which there was no relevant text in the Book. Al-Imam al-Shafi’i also showed that the Sunnah existed independently of the Qur’an, and quoted evidence in refutation of those who disagreed with him in that matter.

Then he said: “I shall explain what I have already said about the Sunnah, (whether) it particularizes the Qur’an or provides additional-legislation for matters not mentioned therein; and this will illustrate what I have discussed above, Allah (SWT) willing. I shall first speak of the Sunnah based on the Book of Allah (SWT), by dealing, by means of deductive reasoning, with the subject of the Sunnah in regard to al-Nasikh (abrogating) and al-Mansukh (abrogated) passages of the Qur’an. Thereafter, I shall mention the Fard-duties specified (in the Qur’an) and the Sunnah in regard to them; the Fard-duties revealed in General-terms which Rasulullah sallaLlahu ‘alayhi wa sallam made Particular through his specifying details relating to how and when; the General texts that were intended to be understood as General, and the General texts that were intended to be understood as Particular; and, finally, the Sunnah of the Rasulullah sallaLlahu ‘alayhi wa sallam for which there is no textual authority from the Book of Allah (SWT).”

There follows a chapter entitled, “The Origin of the Abrogating and the Abrogated”; which explains that Allah (SWT) used abrogation to make (the Shari’ah) easier and more flexible. This chapter also makes the point that Ayah (a verse) of the Qur’an can only be abrogated by another verse of the Qur’an; and that the Sunnah can only be abrogated by the Sunnah.

Thereafter comes mention of the Fard-duty of Salah and the explanation in the Qur’an and the Sunnah concerning those who may be excused from performing it, and those whose Salah is not accepted because of some act of disobedience they may have committed.

Then al-Imam al-Shafi’i writes of the Abrogating and the Abrogated that are indicated by the Sunnah and al-Ijma’;

In the next chapter he discussed defects in Hadith, and explained that the contradictions between Hadith could be attributed to many reasons. He then went on to explain some of these reasons. For example, a contradiction might appear because one Hadith was abrogated by another, or because mistakes occurred in the narration of the Hadith. He explained the mistakes which might cause contradictions in the Hadith, and many other reasons for such contradictions. Then he dealt with the various types of prohibitions, and explained that some Hadith clarify others.

Al-Imam al-Shafi’i also included a chapter on knowledge, and explained that there are two types of knowledge. The first is that sort of common knowledge which no sane, mature adult could possibly not know about. All of this knowledge can be found mentioned in the text of the Qur’an, and every Muslim knows all about it because it has been transmitted down from Rasulullah sallaLlahu ‘alayhi wa sallam to each succeeding generation in turn. There is no dispute concerning the authenticity of this knowledge, and all are agreed that it is binding. Indeed, the nature of this knowledge is such that there can be no mistakes in its transmission or interpretation.

The second type of knowledge is of the details which stem from the obligations, and the specific laws relating to them. These are not mentioned in the text of the Qur’an, and most of them are not mentioned in the text of the Sunnah, apart from single-individual-narrations, Ahad.

Thus, al-Imam al-Shafi’i introduced a new subject, Khabr al-Wahid. Al-Imam al-Shafi’i then explained what is meant by this term, and the conditions which determine whether or not a narration is of the single-individual-variety. The difference between Shahadah (testimony) and Riwayah (reporting) was explained; as were those matters which may be accepted through a Khabr al-Wahid, and those for which a Khabr al-Wahid alone is not sufficient.

Then al-Imam al-Shafi’i discussed the authority of the Khabr al-Wahid, and whether such reports could be adduced as evidence. His conclusion, supported by very sound arguments, was that indeed they could be used. Thus, al-Imam al-Shafi’i succeeded in refuting all the misgivings brought up by his opponents on this issue.

The following chapters then follow:

  • On al-Ijma’: its definition, and legal-authority.
  • On al-Qiyas: its meaning and nature, the need for it, the varieties of Qiyas, and who is, and is not, competent to employ it.
  • On Ijtihad: how it is based first on the Qur’an, and then on the Sunnah; what constitutes correct and incorrect Ijtihad.
  • On al-Istihsan, Juristic Preference: al-Shafi’i was careful to explain that no Muslim is permitted to use al-Istihsan in order to contravene the Hadith, nor may he pronounce any legal-judgement which is not based on the Qur’an, Sunnah, al-Ijma’ or al-Qiyas. He also explained the difference between al-Qiyas and al-Istihsan.
  • On disagreement among the scholars: al-Imam al-Shafi’i explained that these disagreements are of two types; the type that are prohibited and the type that are not. The types of disagreements which are not allowed are those concerning matters for which Allah (SWT) has provided clear evidence in the texts of the Qur’an or Sunnah. Those disagreements which are permitted pertain to matters which could be interpreted in several-ways and to which each scholar applies his own reasoning.

The Risalah concludes with an explanation of al-Shafi’i’s opinion on the “categories of evidence” mentioned above:

“We base our judgements primarily on the Qur’an and the agreed-upon Sunnah concerning which there is no dispute, and say: ‘This is our judgement after studying both the explicit and the implicit meanings of the texts.’ Then, if we have to refer to the Sunnah that is narrated by only a few persons and concerning which there is no agreement, we say: ‘We accept the Hadith as it is, but are aware that there could be some hidden fault in its narrators.’ Then we will refer to at Ijma’ then to al-Qiyas. Al-Qiyas is weaker than at Ijma’ and it is used only when necessary because it is not lawful to use al-Qiyas when there is a narration concerning the matter being dealt with.”

Salah 'ala al-Nabi

http://www.shafiifiqh.com/?p=386

Akar terorisme : Kesalahan fahaman Teroris WAHABY terhadap sURAT al – maidah ayat 44

Salah satu akar terorisme; karena salahpaham terhadap kandungan QS. al-Ma’idah: 44. Waspada, jangan sampai anda terjebak…!!!

Bom teroris  wahaby menyerang acara maulid Nabi  di Srilanka, Muslim Sunni madzab hanafi yang jadi korban!!

Firman Allah yang dimaksud adalah:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون (المائدة: 44)……

[Al amidah ayat 44] “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, yang mengandungi petunjuk dan cahaya yang menerangi; dengan Kitab itu nabi-nabi yang menyerah diri (kepada Allah) menetapkan hukum bagi orang-orang Yahudi, dan (dengannya juga) ulama mereka dan pendita-penditanya (menjalankan hukum Allah), sebab mereka diamanahkan memelihara dan menjalankan hukum-hukum dari Kitab Allah (Taurat) itu, dan mereka pula adalah menjadi penjaga dan pengawasnya (dari sebarang perubahan). Oleh itu janganlah kamu takut kepada manusia tetapi hendaklah kamu takut kepadaKu (dengan menjaga diri dari melakukan maksiat dan patuh akan perintahKu); dan janganlah kamu menjual (membelakangkan) ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit (kerana mendapat rasuah, pangkat dan lain-lain keuntungan dunia); dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah (kerana mengingkarinya), maka mereka itulah orang-orang kafir.”

[Al maidah ayat 45] : Dan kami telah tetapkan atas mereka di dalam kitab Taurat itu, bahawa jiwa dibalas dengan jiwa, dan mata dibalas dengan mata, dan hidung dibalas dengan hidung, dan telinga dibalas dengan telinga, dan gigi dibalas dengan gigi, dan luka-luka hendaklah dibalas (seimbang). Tetapi sesiapa yang melepaskan hak membalasnya, maka menjadilah ia penebus dosa baginya; dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
[Al Maidah ayat 46]: Dan Kami utuskan Nabi Isa Ibni Maryam mengikuti jejak langkah mereka (Nabi-nabi Bani Israil), untuk membenarkan Kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya; dan Kami telah berikan kepadanya Kitab Injil, yang mengandungi petunjuk hidayah dan cahaya yang menerangi, sambil mengesahkan benarnya apa yang telah ada di hadapannya dari Kitab Taurat, serta menjadi petunjuk dan nasihat pengajaran bagi orang-orang yang (hendak) bertaqwa.

——–

Para ulama kita menyatakan bahwa ayat di atas tidak boleh dimaknai secara harfiyah. Sebab mengambil faham harfiyah; dengan memaknai makna zhairnya akan menghasilkan bumerang. Artinya, klaim “kafir” secara mutlak terhadap orang yang tidak memakai hukum Allah akan kembali kepada dirinya sendiri. Artinya sadar atau tidak sadar ia akan mengkafirkan dirinya sendiri, karena seorang muslim siapapun dia, [kecuali para Nabi dalam masalah ajaran agama], akan jatuh dalam dosa dan maksiat. Artinya, ketika orang muslim tersebut melakukan dosa dan maksiat berarti ia sedang tidak melaksanakan hukum Allah. Lalu, apakah hanya karena dosa dan maksiat, bahkan bila dosa tersebut dalam kategori dosa kecil sekalipun, ia dihukumi sebagai orang kafir?! Bila demikian berarti semenjak dimulainya sejarah kehidupan manusia tidak ada seorangpun yang beragama Islam, sebab siapapun manusianya pasti berbuat dosa dan maksiat. karenanya, firman Allah di atas tidak boleh dipahami secara harfiyah “Barangsiapa tidak memakai hukum Allah maka ia adalah orang kafir”, pemahaman harfiyah semacam ini salah dan menyesatkan.
Al-Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya dalam penjelasan ayat ini menyatakan bahwa ayat ini mengandung takwil sebagaimana dinyatakan oleh sahabat Abdullah ibn Abbas dan sahabat al-Bara’ ibn Azib. Al-Qurthubi menuliskan sebagai berikut:

“Seluruh ayat ini turun di kalangan orang-orang kafir (Yahudi). Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam Shahih Muslim dari hadits sahabat al-Bara’ ibn Azib. Adapun seorang muslim, walaupun ia melakukan dosa besar [selama ia tidak menghalalkannya], maka ia tetap dihukumi sebagai orang Islam, tidak menjadi kafir. Kemudian menurut satu pendapat lainnya; bahwa dalam ayat di atas terdapat makna tersembunyi (izhmar), yang dimaksud ialah: ”Barang siapa tidak memakai hukum Allah, karena menolak al-Qur’an dan mengingkarinya, maka ia digolongkan sebagai orang-orang kafir”. Sebagaimana hal ini telah dinyatakan dari Rasullah oleh sahabat Abdullah ibn Abbas dan Mujahid. Inilah yang dimaksud dengan ayat tersebut” [al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 6, h. 190].

Selain penafsiran sahabat Abdullah ibn Abbas dan al-Bara’ ibn Azib di atas, terdapat banyak penafsiran serupa dari para sahabat lainnya. Di antaranya penafsiran Abdullah ibn Mas’ud dan al-Hasan yang menyebutkan bahwa ayat tersebut berlaku umum bagi orang-orang Islam, orang-orang Yahudi maupun orang-orang kafir, dalam pengertian bahwa siapapun yang tidak memakai hukum Allah dengan menyakini bahwa perbuatan tersebut adalah sesuatu yang halal maka ia telah menjadi kafir. Adapun seorang muslim yang berbuat dosa atau tidak memakai hukum Allah dengan tetap menyakini bahwa hal tersebut suatu dosa yang haram dikerjakan maka ia digolongkan sebagai muslim fasik. Dan seorang muslim fasik semacam ini berada di bawah kehendak Allah; antara diampuni atau tidak.

Pendapat lainnya dari al-Imam al-Sya’bi menyebutkan bahwa ayat ini khusus tentang orang-orang Yahudi. Pendapat ini juga dipilih oleh al-Nahhas. Alasan pendapat ini ialah;

1. Bahwa pada permulaan ayat ini yang dibicarakan adalah orang-orang Yahudi, yaitu pada firman Allah; “Lilladzin Hadu…”. Dengan demikian maka dlamir [kata ganti] yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi, bukan orang-orang Islam.
2. Bahwa pada ayat sesudah ayat ini, yaitu pada ayat 45, adalah firman Allah; “Wa Katabna ‘Alaihim…”. Ayat 45 ini telah disepakati oleh para ahli tafsir, bahwa dlamir yang ada di dalamnya yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. Dengan demikian jelas antara ayat 44 dan 45 memiliki korelasi kuat bahwa yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi [sebagaimana hal ini dapat dipahami dengan ’Ilm Munasabat al-Ayat].

Kemudian diriwayatkan bahwa sahabat Hudzifah ibn al-Yaman suatu ketika ditanya tentang ayat 44 ini; “Apakah yang dimaksud oleh ayat ini adalah Bani Isra’il?” sahabat Hudzaifah menjawab menjawab; “Benar, ayat itu tentang Bani Isra’il”.

Sementara menurut al-Imam Thawus [murid Abdullah ibn Abbas] bahwa yang dimaksud “kufur” dalam ayat 44 ini bukan pengertian kufur yang mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi yang dimaksud “kufur” disini adalah dosa besar. Tentu berbeda, masih menurut Imam Thawus, dengan apa bila seseorang membuat hukum dari dirinya sendiri kemudian ia meyakini bahwa hukumnya tersebut adalah hukum Allah [atau lebih baik dari hukum Allah], maka orang semacam ini telah jatuh dalam kufur; yang telah benar-benar mengeluarkannya dari Islam.

Al-Imam Abu Nashr al-Qusyairi, [dan Jumhur Ulama] berkata bahwa pendapat yang menyatakan orang yang tidak memakai hukum Allah maka ia telah menjadi kafir adalah pendapat kaum Khawarij. [Kelompok Khawarij terbagi kepada beberapa sub sekte. Salah satunya sekte bernama al-Baihasiyyah. Kelompok ini mengatakan bahwa siapa saja yang tidak memakai hukum Allah, walaupun dalam masalah kecil, maka ia telah menjadi kafir; keluar dari Islam].

Dalam kitab al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, al-Imam al-Hakim meriwayatkan dari sahabat Abdullah ibn Abbas dalam mengomentari tiga ayat dari surat al-Ma’idah (ayat 44, 45 dan 46) di atas, bahwa Abdullah ibn Abbas berkata: “Yang dimaksud kufur dalam ayat tersebut bukan seperti yang dipahami oleh mereka [kaum Khawarij], bukan kufur dalam pengertian keluar dari Islam. Tetapi firman Allah: “Fa Ula-ika Hum al-Kafirun” adalah dalam pengertian bahwa hal tersebut [tidak memakai hukum Allah] adalah merupakan dosa besar”. Artinya, bahwa dosa besar tersebut seperti dosa kufur dalam keburukan dan kekejiannya, namun demikian bukan berarti benar-benar dalam makna kufur keluar dari Islam.

Pemahaman semacam ini seperti sebuah hadits dari Rasulullah, bahwa ia bersabda:

سباب المسلم فسوق وقتاله كفر (رواه أحمد)

(Mencaci-maki muslim adalah perbuatan fasik dan membunuhnya/memeranginya adalah perbuatan “kufur”). HR. Ahmad.

“Kufur” yang dimaksud dalam hadits ini bukan pengertian keluar dari Islam. Bukan artinya; bila dua orang muslim saling bunuh, maka yang membunuhnya menjadi kafir. Bukankah ”hukum bunuh” itu sendiri salah satu yang disyari’atkan oleh Allah, misalkan terhadap para pelaku zina muhsan [yang telah memliki pasangan], hukum qishas; bunuh dengan bunuh, memerangi kaum bughat [orang-orang Islam yang memberontak], dan lain-lain. Apakah kemudian mereka yang memberlakukan hukum bunuh tersebut telah menjadi kafir??!! Tentu tidak, karena nyatanya jelas mereka sedang memberlakukan hukum Allah.
Oleh karenanya peperangan sesama orang Islam sudah terjadi dari semenjak masa sahabat dahulu [lihat misalkan antara kelompok sahabat Ali ibn Abi Thalib, sebagai khalifah yang sah saat itu, dengan kelompok Mu’awiyah], dan kejadian semacam ini terus berlanjut hingga sekarang. Apakah kemudian orang-orang mukmin yang berperang atau saling bunuh sesama mereka tersebut menjadi kafir; keluar dari Islam??! Siapa yang berani mengkafirkan sahabat Ali ibn Abi Thalib, Ammar ibn Yasir, az-Zubair ibn al-Awwam, Thalhah ibn Ubadillah, Siti Aisyah [yang notabene Istri Rasulullah], dan para sahabat lainnya yang terlibat dalam perang tersebut??!! Orang yang berani mengkafirkan mereka maka dia sendiri yang kafir. Kemudian dari pada itu, dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وإن طائفتان من المؤمنين اقتتلوا (الحجرات: 9)

Dalam ayat ini dengan sangat jelas disebutkan: “Apa bila ada dua kelompok mukmin saling membunuh….”. Artinya sangat jelas bahwa Allah tetap menyebut dua kelompok mukmin yang saling membunuh tersebut sebagai orang-orang mukmin; bukan orang kafir.
Yang ironis adalah ayat 44 QS. Al-Ma’idah ini oleh beberapa komunitas yang mengaku gerakan keislaman seringkali dipakai untuk mengklaim kafir terhadap orang-orang yang tidak memakai hukum Allah, termasuk klaim kafir terhadap orang yang hidup dalam suatu negara yang tidak memakai hukum Islam. Bahkan mereka juga mengklaim bahwa negara tersebut sebagai Dar Harb atau Dar al Kufr. Klaim ini termasuk di antaranya mereka sematkan kepada negara Indonesia. pertanyaannya; negara manakah yang secara murni memberlakukan hukum Islam??

Sayyid Quthub dalam karyanya “Fi Zhilal al-Qur’an” menyatakan bahwa masa sekarang tidak ada lagi orang Islam yang hidup di dunia ini, karena tidak ada satupun negara yang memakai hukum Allah. Menurutnya suatu negara yang tidak memakai hukum Allah waluapun dalam masalah sepele maka pemerintahan negara tersebut dan rakyat yang ada di dalamnya adalah orang-orang kafir. Kondisi semacam ini menurutnya tak ubah seperti kehidupan masa jahiliyah dahulu sebelum kedatangan Islam. Pernyataan Sayyid Quthub ini banyak terulang dalam karyanya; Fi Zhilal al-Qur’an. Lihat misalkan j. 2, h. 590, dan h. 898/ j. 2, Juz 6, h. 898/ j. 2, h. 1057/ j. 2, h. 1077/ j. 2, h. 841/ j. 2, h. 972/ j. 2, h. 1018/ j. 4, h. 1945 dan dalam beberapa tempat lainnya. Juga ia sebutkan dalam karyanya yang lain, seperti Ma’alim Fi al-Thariq, h. 5-6/ h. 17-18

Terakhir, saya kutip tulisan A. Maftuh Abegebriel yang menyimpulkan bahwa kekeliruan dalam memahami QS. al-Ma’idah: 44 tersebut adalah salah satu akar teologis dan politis dari berkembangnya gerakan radikal di beberapa negara timur tengah, seperti gerakan Ikhwan al-Muslimin pasca kepempinan dan wafatnya Syaikh Hasan al-Banna (Rahimahullah). Padahal di negara Mesir, yang merupakan basis awal gerakan al-Ikhwan al-Muslimun, belakangan menolak keras kelompok yang dianggap ekstrim ini bahkan memejarakan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Faham Sayyid Quthub di atas seringkali dijadikan “ajaran dasar” oleh banyak gerakan, seperti Syabab Muhammad, Jama’ah al-Takfir Wa al-Hijrah, Jama’ah al-Jihad, al-Jama’ah al-Islamiyyah dan banyak lainnya. Muara semua gerakan tersebut adalah menggulingkan kekuasan setempat dan mengklaim mereka sebagai orang-orang kafir dengan alasan tidak memakai hukum Islam. [Lebih luas tentang ini baca di antaranya; A. Maftuh Abegebriel, Fundamentalisme Islam; Akar teologis dan politis (Negara Tuhan; The Thematic Incyclopaedia), h. 459-555]. karenanya oleh beberapa kalangan, Sayyid Quthub dianggap sebagai orang yang menghidupkan kembali faham sekte al-Baihasiyyah di atas.

Sekali lagi, anda jangan memahami ayat di atas secara harfiyah. karena bila anda memahami secara harfiyah maka berarti sama saja anda menanamkan “akar terorisme” pada diri anda…!!! Hati-hati…!!!

Ternyata Bumi itu Bulat dan Benda Bulat tidak punya arah Atas (Dalil naqli dan aqli)

Ternyata, Bumi itu Bulat!

Banyak orang bertanya, apakah bumi itu bulat? Tapi ada pula yang bertanya apakah bumi itu datar? Dua pertanyaan ini sudah berlangsung selama beratus-ratus tahun, bahkan mungkin ribuan tahun lamanya. Ada orang yang percaya bumi ini bulat, namun ada pula yang percaya bahwa bumi ini datar, tidak bulat. Selama kepercayaan itu tidak dikait-kaitkan dengan agama, maka tidaklah akan menjadi masalah besar. Tapi manakala sudah dibawa ke ranah agama, maka persoalan ini menjadi masalah yang sangat serius, karena menyangkut masalah keimanan!

Mengapa demikian…? Tidak lain karena ada beberapa ayat Al-Qur’an yang membicarakan masalah ini. Sementara itu, beriman kepada Al-Qur’an adalah salah satu rukun iman yang ada. Dengan demikian, meragukan kebenaran satu ayat Al-Qur’an saja dapat menyebabkan seseorang menjadi murtad, yakni terkeluar dari Islam. Alangkah berbahayanya keadaan itu…..!

Akhir-akhir ini ada segelintir umat Islam yang berpegang kepada teks Al-Qur’an yang tertulis secara zahirnya saja (tekstual), dan mengklaim bahwa bumi ini datar. Lebih dari itu, tidak tanggung-tanggung, mereka malah berani mengkafirkan orang-orang yang berkeyakinan bahwa bumi ini bulat adanya. Kata mereka orang yang tidak percaya bahwa bumi ini datar melawan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah menjelaskan dengan nyata bahwa bumi ini datar! Persoalan ini menjadi masalah yang sangat serius, karena menyebabkan terjadinya benturan antara percaya kepada science modern atau percaya kepada Al-Qur’an suci yang agung. Sebagian orang awam lalu mengambil jalan pintas dengan mengikuti segelintir umat yang berfaham bumi itu datar, karena takut terjatuh ke dalam kemurtadan, alias menjadi kafir. Mereka takut dengan ancaman kelompok ini. Apalagi selama ini, sudah terkenal bahwa kelompok ini sangat rajin dan lantang menyerang orang yang tidak sefaham dengan mereka dengan ancaman kafir, murtad, bid’ah dan lain sebagainya, seraya memakai ayat-ayat Al-Quran segala.

Timbul pertanyaan kemudian, benarkah Al-Qur’an bertentangan dengan ilmu science modern…? Jawabnya tegas, tidak mungkin ada pertentangan antara ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan ilmu science. Jika pun terjadi pertentangan maka itu terjadi karena dua hal saja. Pertama; ilmu sciencenya yang tidak atau belum mampu mendefinisikan secara tepat, atau kedua; ayat Al-Qur’annya yang difahamkan secara keliru, melenceng, alias tidak tepat!

Selama ini ada beberapa ayat yang oleh para penganut faham bumi datar pakai untuk mendukung argumentasi atas faham mereka, antara lain;

Dalil Pertama, firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr: 19, “Dan Kami (Allah) telah menghamparkan bumi….”. Nah lihatlah, kata mereka, bukankah ayat ini dengan gamblang telah menjelaskan bahwa bumi itu terhampar, dan tidak dikatakan bulat…! Kemudian mereka pun dengan enteng mengkafirkan semua orang yang berseberangan faham dengan mereka.

Dalil kedua, adalah firman Allah pada surat Al-Baqarah: 22, “Dialah (Allah) yang telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan (firasy) bagimu.”

Memang secara tekstual, bunyi ayat-ayat di atas mengatakan bahwa bumi ini terhampar, seumpama firasy, karpet, atau tempat tidur. Namun, apakah sesederhana itu sajakah memahamkan ayat Al-Qur’an….? Apakah memahamkan al-Qur’an yang agung cukup secara tekstual saja, kemudian mengabaikan arti kontekstualnya…? Kalau demikian, yakni Al-Qur’an hanya difahamkan secara tekstual saja, maka pasti akan hilanglah kehebatan dan keagungan Al-Qur’an itu. Padahal ada banyak ayat suci Al-Qur’an dan hadis yang mendudukkan derajat orang-orang berpengetahuan berada beberapa tingkat di atas orang awam. Dalam hal ini, pemahaman kontekstual jelas memerlukan daya nalar yang lebih tinggi dibandingkan sekedar pemahaman tekstual saja. Dengan demikian, pantaslah kiranya jika Allah dalam Al-Qur’an dan Nabi dalam banyak hadis beliau, memuji dan menyatakan bahwa orang yang berilmu pengetahuan, yang memakai akal dan nalar, memiliki derajat yang tinggi jauh berbeda dengan orang awam.

Pembahasan Masalah

Pada surat Al-Hijr ayat 19 dikatakan bahwa Allah telah menghamparkan bumi. Disitu tidak ada dikatakan bagian yang dihamparkan adalah bagian bumi tertentu, tetapi yang terhampar adalah bumi secara mutlak. Sehingga dengan demikian, jika kita berada di suatu tempat di bagian manapun dari pada bumi itu (selatan, barat, utara, dan timur), maka kita akan melihat bahwa bumi itu datar saja, seolah-olah terhampar di hadapan kita. Kemudian jika kita berjalan dan terus berjalan dengan mengikuti satu arah yang tetap, maka bumi itu akan terus menerus kita dapati terhampar di hadapan kita sampai suatu saat kita kembali ke tempat semula saat awal berjalan. Hal ini telah jelas membuktikan bahwa justru bumi itu bulat adanya. Sebaliknya, jika saja bumi itu berbentuk kubus, misalnya, maka pasti hamparan itu suatu saat akan terpotong, dan kita akan menuruni suatu bagian yang menjurang, menurun, tidak lagi terhampar…..!

Selanjutnya, jika bumi itu adalah sebuah hamparan seperti karpet atau tikar, maka jika ada orang yang melakukan perjalanan lurus satu arah secara terus menerus, maka orang itu pada akhir perjalanannya akan sampai pada ujung bumi yang terpotong, dan tidak akan pernah kembali ke tempatnya semula, di mana dia memulai perjalanannya yang pertama dulu. Penelitian dan pengalaman manusia telah membuktikan bahwa perjalanan yang dilakukan secara terus menerus ke satu arah tertentu tidak pernah menemukan ujung dunia yang terpotong, melainkan terus menerus yang  ditemukan hanyalah hamparan demi hamparan di tanah yang dilalui, untuk kemudian  perjalanan itu berakhir pada tempat semula saat perjalanan pertama dimulai. Hal ini tidak mungkin dapat terjadi jika saja bumi itu tidak bulat keberadaannya.

Penjelasan yang lebih gamblang adalah pada surat Al-Baqarah ayat 22: “ Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi itu firasy (hamparan, kapet) bagimu ……” Perhatikan kata-kata “bagimu”. Al-Qur’an dalam hal ini, tidak sekedar mengatakan bahwa bumi itu hamparan umpama karpet saja, kemudian berhenti pada kalimat itu, tapi ada kata tambahan lain yaitu “bagimu”. Artinya, bagi kita manusia yang tinggal di atas permukaan bumi ini, bumi terasa datar. Walaupun, bumi itu pada kenyataannya adalah tidak datar. Hanya terasa datar bagi kita manusia. Terasa datar bukan berarti benar-benar datar, bukan….?

Penjelasan kata “karpet (firasy)” bagimu bukankah bisa diartikan sebagai sesuatu yang berfungsi  untuk diduduki atau dipakai tidur, dengan aman dan nyaman…?. Kata firasy dalam bahasa Indonesia dapat diartikan karpet, atau ranjang adalah sesuatu yang nyaman dan aman dan dipakai untuk tidur. Nampaknya arti seperti ini dapat dipakai, sebab keberadaan struktur bumi ini memang berlapis-lapis. Bagian intinya sangat panas dengan suhu ribuan derajat celcius yang mematikan. Namun demikian, pada bagian lapisan yang paling atas, ada sebuah lapisan keras setebal 70 kilometer, disebut lapisan kerak bumi yang paling aman dan nyaman, dengan suhu yang aman pula bagi kehidupan. Seolah-olah lapisan bumi bagian atas itu adalah ‘karpet’ atau ‘ranjang’ yang terbentang luas dan melindungi manusia serta seluruh makhluk Allah yang berada di atasnya, aman dari bahaya lapisan bumi bagian dalam yang cair, yang sangat panas lagi mematikan itu. Subhanallah, Maha Suci Allah dengan firman-Nya…..!

Ada satu ayat Al-Qur’an lagi yang patut kita perhatikan sebagai tambahan penjelasan masalah ini, yakni surat Az-Zumar ayat 5: “Dia (Allah) yang telah menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia juga memasukkan malam kepada siang (dengan cara menggulungnya-penulis), dan memasukkan siang atas malam, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah, Dia (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Kata “at-takwir” artinya adalah menggulung. Pada ayat di atas dengan jelas Allah berfirman bahwa malam menggulung siang dan siang menggulung malam. Kalau malam dan siang dapat saling menggulung, pastilah karena keduanya berada pada satu tempat yang bulat secara bersama-sama. Bagaimana keduanya dapat saling menggulung jika berada pada tempat yang datar….? Kalau saja kejadian itu pada tempat yang datar, mestinya akan lebih tepat jika dipakai kata menimpa atau  menindih.

Dari keterangan ayat di atas juga dapat diperoleh gambaran bahwa pada permukaan bumi ini setiap saat, separuh permukaannya senantiasa malam, dan separuh lagi permukaannya adalah  siang hari. Hal ini dapat digambarkan dari keterangan ayat, dimana seolah-olah bagian kepala dari sang malam itu menggulung bagian ekor dari sang siang, namun pada saat yang sama bagian kepala dari sang siang sedang menggulung pula bagian ekor dari sang malam. Sebanyak bagian siang yang digulung malam, maka pada saat yang bersamaan, sebanyak itu pula bagian malam yang sedang digulung oleh sang siang. Sekali lagi, keterangan ini menggambarkan bahwa terjadinya hal menakjubkan tersebut di atas bumi, hanya jika permukaan bumi itu bulat adanya…!

Lebih jauh lagi, andaikan saja bumi ini datar seumpama sebuah karpet, pastilah jika matahari terbit dan menyinari bumi, maka keseluruhan bagian bumi seketika akan berada dalam keadaan siang. Kemudian saat matahari berlalu meninggalkan bumi, datang pula kegelapan, maka seluruh permukaan bumi akan serentak menjadi malam pula semuanya. Namun, kenyataannya tidak demikian..!

Di zaman modern ini, sudah terbukti disaat Indonesia sedang siang hari, lalu kita menelepon atau chatt dengan teman kita di Amerika, mereka akan mengatakan: “Disini, saat ini, adalah malam hari, teman…!”, seraya dia akan menyapa kita dengan salamnya: “Good evening, my friend…!” Tidak percaya….? Silakan mencoba….!

Ajaibnya, keterangan-keterangan ini ditulis dalam ayat-ayat Al-Qur’an pada 14 abad yang lalu, disaat orang-orang Eropa dan Amerika masih primitif, dan masih menganggap bumi ini datar serta menganggapnya sebagai pusat bagi jagad raya ini.

Maha suci Allah dengan Al-Qur’an-Nya yang Agung………!

Wallahu A’lam Bishshowab

http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/index/102/Ternyata-Bumi-itu-Bulat

Hukum Junub dan Orang junub/haidh tak boleh sentuh Mushaf Al-quran

http://majelisrasulullah.org

Perbahasan :

1. Menyentuh mushaf al-Quran

  • · Ijmak mazhab empat, mengatakan haram untuk menyentuh al-Quran. Rujuk kitab

الكلم الطيب فتاوى العصرية لفيضيلة الشيخ الدكتور علي جمعة (ini disalin terus dari web, pastinya ada kesilapan dalam penyusunan tulisan arab, maaf), halaman 8.

  • · Juga boleh dirujuk kalam Syaikhul Islam Imam Nawawi, di dalam Majmuknya, juzuk 2, halaman 82.

Sedikit terjemahan halaman tersebut:

Kitab Tafsir al-Quran jika al-Quran padanya lebih banyak, seperti kitab-kitab gharib al-Quran, maka haram menyentuhnya dan mengangkatnya, padanya hanya satu pendapat sahaja (secara sepakat). Begitulah yang disebut oleh Imam Almawardi dan selainnya dan dinaqalkan oleh Arruyani daripada Ashab.

Dan jika tafsirnya lebih banyak dan itulah kebiasannya, maka terdapat beberapa wajah. Pendapat paling sahih adalah tidak haram, kerana ia bukan mushaf, dan inilah yang telah diqat’ikan oleh Addarimi.

2. Membaca al-Quran

  • · Sesungguhnya Nabi SAW membaca dalam semua hal kecuali ketika dalam keadaan junub seperti hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina ‘Ali : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرئنا القرآن على كل حال إلا أن يكون جنبا.
  • · Berkata Aimmah Arba’ah : Janganlah membaca al-Quran dengan niat ibadah sedangkan kamu dalam keadaan junub.
  • · Namun ada sedikit khilaf pada mazhab maliki beza antara orang yang junub dengan haid. Kerana jika junub kita boleh mandi tetapi jika haid kita kena tunggu habis dulu. Maka mazhab Maliki membenarkan membaca dengan syarat untuk mengulang supaya hafalan tidak hilang. Itu sahaja.
  • · Keluar dari khilaf adalah lebih baik. Jika niat ibadah tidak boleh sama sekali. Hanya niat untuk tidak lupa hafalan. Jika mahu memulakan hafalanpun tidak dibenarkan. Membaca disini adalah bermaksud membaca dengan murad hafalan yang lama bukan hafalan yang baru.

3. Ijmak bermakna, kesepakatan para mujtahidin daripada Ummat Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada sesuatu zaman, dalam satu hukum syar’i. Adapun berlaku percanggahan selepas daripada itu di kalangan mujtahidin lain, ia dikira sebagai satu pendapat yang pelik (syaz) yang tidak membatalkan sama sekali ijmak tersebut. Ini kerana satu lagi qaedah Feqh menyebutkan, Al-ijtihad la yunqadhu bil ijtihad iaitu ijtihad seseorang mujtahid itu tidak akan terbatal dengan ijtihad lain. Apatah lagi pendapat yg berbentuk picisan seperti yg dinaqalkan daripada Dr Qaradhawi (hafizahullah) dan Nasr Al-Albani (moga Allah ampunkannya). Bukan permasalah valid atau tidak, tetapi itu adalah pendapat mereka yang bertaqlid pula kepada pendapat Ibn Hazm (rahimahullah), yang tidak dapat menolak kesepakatan yang telah ada.

Tambahan :

Berdasarkan mazhab syafie dibenarkan membaca al-quran dengan niat zikir semasa berhadas besar waimma haid nifas junub wiladah. Kalau niat baca al-quran maka ianya haram. Maka timbul pula persoalan boleh ke jika kita baca Surah al-Baqarah yg panjang tu tapi kita tidak menganggap membaca al-Quran. Kalau setakat qulhuwallah atau ayat kursi tidak mengapalah sebab kita biasa lakukan sebagai zikir.

Maka permasalahan ni kembali kepada si pembaca. Jika tidak boleh maka haram. Jika boleh dia memalingkan niat kepada zikir maka la ba’sa boleh (orang Mesir kata ma fisy hagah).

Kesimpulan :

Secara ringkas, haram bagi seorang wanita yang haid membaca al-Quran dengan niat tilawah dan haram baginya untuk menyentuh al-Quran berdasarkan kepada dalil-dalil al-Quran, hadith dan kata-kata para Fuqaha’ terdahulu.

Menurut Habib Munzir al Musawa al syafi’i

Tanya : Assalamualaikum ya Habib yg disayangi,

1) Bolehkah seorang isteri yg dalam haid membaca Ratib Al-Haddad kerna dalam ratib itu mengandungi bacaan Al-Quran?

2) Semasa membaca kitab Kifayatul Akhyar, saya menemui banyak pendapat oleh berbeza ulama’ tentang sesuatu masalah Fiqh. Yang manakah harus saya ikut? Bolehkah saya yg jahil ini mengikut sesiapa saja pendapat ulama’ di dalam kitab itu?

3) Mengapakah ada masalah Fiqh yg ada penjelasan Imam Syafi’e tetapi ada juga qaul dari ulama’ Syafi’e yg berbeza dgn pendapat Imam Syafi’e?

4) Saya hendak membeli kitab Tafsir Al- Quran di Jakarta. Kitab Tafsir mana yg Habib sarankan? Saya minta pendapat ini kerna sekarang banyak buku agama yg dijual ada fahaman Wahabi tetapi kami tidak perasan atau sangat jahil utk perasan tu semua kerna kami tak ada ilmu.

5) Bagaimanakah aurat seorang wanita apabila ia berenang di laut atau di tepi pantai? Kerna baju renang Muslimah yg terdapat di pasaran sungguh ketat kelihatan apabila dibasahi dgn air. Wajibkah seseorang wanita itu memakai stokin?

Syukran Habib

Jawaban Habin Munzir :

Re:Bacaan Ratib ketika haid2009/07/06 11:24 Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

kebahagiaan dan Kesejukan Rahmat Nya semoga selalu menaungi hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,

1. hal itu dibolehkan, karena melafadzkan ayat ayat alqur’an yg telah selalu dibaca setiap harinya tidak termasuk larangan membaca alqur’an, yg tidak dibolehkan bahi pria yg junub dan wanita yg haid adalah membaca Alqur’an dg niat ingin membaca Alqur’an, jika membaca wirid (bacaan alqur’an yg selalu dibaca setiap hari dari surat surat tertentu), maka diperbolehkan.

selain mushaf Alqur’an boleh dibawa walau oleh Haid dan Junub.

mudahnya anda memakai tafsir Alqur’an, maka boleh disentuh oleh Haid dan Junub, atau Alqur’an yg terpisah menjadi 30 bagian, biasanya dipakai di saat tahlilan atau lainnya, masing masing kitab adalah 1 juz.

mengenai memindahkannya maka boleh jika bersama kitab lainnya selain Alqur’an

2. boleh diikuti semua pendapat dalam madzhab syafii walau berbeda, selama masih dalam madzhab syafii maka dibolehkan bagi yg bermadzhab syafii, demikian pada yg berpegang pada madzhab lainnya, boleh ia mengambil beragam pendapat di madzhabnya masing masing.

3. pendapat tersebut muncul karena situasi dan kondisi zaman yg sudah berbeda dari masa Imam Syafii masih ada, maka selama mereka masih dalam madzhab syafii maka boleh diikuti, demikian mereka yg dalam madzhab lainnya.

4. tafsir yg mudah difahami, dan tidak banyak ikhtilaf adalah tafsir aljalalain, namun pilihlah yg belum disyarah oleh mereka yg berakidah sesat, seperti Syeikh Bin Baz, atau Ibn Abdul wahhab, atau mereka yg bertentangan dg imam imam ahlussunnah waljamaah.

5. baiknya wanita berenang di swimming pool yg khusus wanita, atau diwaktu sepi dari kaum pria, atau boleh dilaut atau sungai atau danau misalnya, ketika sepi dari pria, atau di swimming pool yg milik pribadi hingga jauh dari penglihatan pria.

banyak kaum wanita di indonesia atau negara lainnya, jika mereka ingin berenang maka mereka bersama banyak wanita lainnya menyewa swimming pool khusus dalam jam tertentu hanya untuk mereka saja, dan pria tak masuk karena sudah disewa oleh kaum wanita.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a’lam

————————

Hukum Berkaitan Berjunub

Wednesday, 14 April 2010 14:04 | Written by Ustaz Alias | PDF Print E-mail

Janabah (جَنَابَة)

Pengenalan

Dari sudut bahasa janabah (بُعْدٌ) bererti jauh

Dari sudut syara`

أََمْرٌ مَعْنَوِيٌ يَقُومُ بِالبَدَنِ يَمْنَعُ صِحَّةَ نَحْوِ الْصَلاَةِ حَيْثُ لاَ مُرَخِّصَ

suatu pekara sekira-kira pada makna yang terjadi pada sekelian badan yang menegah ia seumpama sembahyang apabila tiada kemudahan syara`.

Janabah boleh terjadi dengan dua cara

  1. Dengan sebab bersetubuh.
  2. Dengan sebab keluar mani.

Berjunub / berhadas besar dengan sebab wati / bersetubuh

Sabda nabi   (النبي صلى الله عليه وسلم)

إِذَا الْتَقَى الخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ رواه مسلم

Apabila bertemu dua yang di khatan maka wajib mandi dan jika tidak keluar mani sekalipun. Hadis ini  diriwayat oleh Muslim.

Yang dikehendaki dengan bertemu dua yang dikhatan iaitu masuk keseluruhan kepala zakar kedalam faraj, tidak yang dikehendaki disini bersentuh. Maka tidak berjunub seorang dengan masuk separuh kepala zakar.

Sebab-sebab berjunub dengan bersetubuh /wati

  1. Lelaki yang bersetubuh dengan perempuan atau binatang samaada pada faraj atau pada dubur
  2. Lelaki yang diwati pada duburnya.
  3. Perempuan yang diwati pada faraj atau dubur
  4. Khunsa yang mensetubuhi dan disetebuh pada farajnya serentak

Syarat berjunub dengan bersetubuh

  1. Orang yang mewati nyata lelaki dan yang diwati nyata perempuan. Tidak jadi berjunub khunsa / orang yang tidak nyata lelaki atau perempuan samaada dia yang mewati atau yang diwati
  2. Orang yang mewati dan diwati ialah orang yang hidup. Tidak berjunub orang yang sudah mati samaada lelaki atau perempuan
  3. Masuk keseluruhan kepala zakar kedalam faraj atau dubur sekalipun memakai kondom atau berbalut dengan seumpama kain yang tebal. Tidak berjunub dengan masuk separuh kepala zakar.
  4. Masuk kadar / angaran kepala zakar bagi mereka yang ketiadan kepala zakar dengan sebab terpotong atau asal kejadian

Tidak disyaratkan orang yang mewati itu

  1. ada keinginan
  2. bangkit zakar
  3. keluar mani
  4. pilihan hati
  5. usahanya sendiri

Setubuh mayat

Mayat perempuan yang diwati tidak berjunub dan tidak diulangkan mandinya samaada diwati pada kemaluan hadapan atau belakang. Begitu juga dengan mayat lelaki tidak berjunub dengan dipermasukkan zakarnya kedalam faraj perempuan.  Kerana tidak bergantung pada mayat suruhan syara`. Adapun wajib atas kita memandikannya disebabkan mati, supaya menyucikannya dan memuliakannya.

Tidak wajib hukuman hudud sebab mewati mayat perempuan, dan tidak wajib membayar mas kahwin. Seperti tidak wajib diat / ganti rugi memotong anggota mayat. Tetapi binasa ibadat seseorang yang mewati mayat, dan seseorang itu wajib kaffarah puasa dan haji apabila mewati akan mayat.

Mensetubuhi khunsa muskil / mereka yang mempunyi dua alat kelamin

Khunsa tidak diwajibkan mandi apabila dia memasukkan kepala zakarnya kedalam faraj atau dubur manusia atau binatang, dan khunsa tidak wajib mandi apabila  dimasukkan kepala zakar ke dalam alat kelaminnya. Adapun khunsa yang di setubuh duburnya mewajibkan dia mandi.

Mengapa khunsa tidak berjunub apabila dia diwati atau mewati?

Kerana tidak diketahui kedua-dua alat kelaminnya yang mana asli. Boleh jadi salah satu daripada zakar dan farajnya itu anggotanya yang lebih pada ketika itu bukanlah ia alat kelamin. Bandingannya tidak berjunub seorang perempuan apabila farajnya dimasukkan jari lelaki. Begitu juga tidak berjunub seorang lelaki apabila ia memasuk zakarnya kedalam mulut seorang perempuan.

Yang dimaksudkan khunsa muskil ialah seorang yang mempunyai dua alat kelamin yang tidak diketahui yang mana asli. Adapun khunsa wadih iaitu mereka yang diketahui lelaki atau perempuan. Khunsa wadih juga mempunyai dua alat tapi salah satu berfungsi dengan baik. Jika yang berfungsi dengan baik itu zakar maka dia ialah lelaki dan jika yang berfungsi itu faraj maka dia ialah perempuan

Khunsa muskil yang  diwati dan yang mewati secara serentak jadi berjunub kerana hilang syak pada ketika itu. Maka diwajibkan keatasnya mandi.

Yang dimaksudkan serentak ialah dalam satu suci dia melakukan keduanya yakni mewati dan diwati.

Berjunub dengan sebab keluar mani

Apabila seseorang lelaki atau perempuan keluar mani dirinya bukan mani orang lain, pada permulan kali tidak mani yang keluar kali kedua, samaada keluar pada ketika jaga sebab memandang atau berfikir pekara yang mendatangkan sahwat atau ketika tidur dengan bermimpi, dan jika keluar mani bukan jalan yang kebiasan sekalipun seperti keluar dari tulang sulbi; jadilah ia seorang yang berjunub yang mewajibkan mandi.

Jika keluar mani orang lain setelah selesai mandi junub sedangkan ia tidak ada sahwat pada ketika wati, seperti keluar mani lelaki yang mewati  daripada alat kelamin kanak-kanak perempuan  atau perempuan yang tidur, maka keduanya tidak perlu mengulangi mandi.

Jika keluar air mani kali kedua setelah selesai mandi junub tidak wajib dia mengulang mandinya seperti memasuk seorang air maninya yang telah keluar ke dalam alat kelaminnya kemudian air mani itu keluar semula selepas mandi.

Mengenal air mani

Mengenal air mani yang keluar daripada lelaki atau perempuan dengan salah satu dari tiga sifat.

1.Keluar berkeadan terpancar-pancar jika tidak merasa lazat sekalipun

2.Merasa lazat semasa keluarnya jika tidak terpancar-pancar sekalipun

3.Dengan bau tepung yang diuli pada ketika basah dan bau seperti putih telur pada ketika kering.

Jika memperolehi seorang salah satu daripada tiga pekara ini, wajib ia mandi kerana nyata yang keluar  itu adalah mani.

Melihat air mani pada kain atau hamparan

Apabila melihat seorang air mani pada kain yang dia pakai sedangkan orang lain tidak memakainya, atau pada hamparan yang dia tidur tidak dan orang lain tidak tidur di atasnya, hendaklah ia mandi dan mengulang sembahyang yang sudah dikerjakannya kemudian daripada keluar mani, kerana hasillah janabah dengan dia lihat mani itu. Samaada air mani yang kelihatan itu di sebelah dalam kain atau sebelah luarnya. Adapun jika ada orang lain sama-sama memakai kainnya atau orang lain tidur diatas hamparannya, maka tidak wajib dia mandi dan mengulang sembahyang bahkan sunat sahaja kerana syak / ragu-ragu mani yang kelihatan itu maninya atau orang lain.

Peringatan

Keluar mani adalah salah satu daripada tanda baligh. Jadi baligh seorang kanak-kanak dengan keluar mani samaada dengan mimpi, memandang dengan sahwat, atau sebagainya.

Haram sebab berjunub

Haram orang yang berjunub sembahyang sujud syukur, sujud tilawah, sembahyang jenazah,berhenti di dalam masjid, membaca Al-Quran, menyentuh Mashaf

Orang berjunub berpuasa

Harus seorang yang berpuasa melewatkan mandi junub sehinga terbit fajar. Sah puasanya apabila dia melewatkan mandi, kerana sah puasa tidak disyaratkan suci daripada janabah. Tidak membatalkan puasa apabila termasuk air kedalam ronga pada ketika mandi wajib atau mandi sunat bersalahan mandi yang diharuskan, maka batal puasa seorang apabila ia mandi kerana bersejuk atau seumpamanya.

Seorang yang berjunub pada siang hari bulan ramadan tidak batal puasanya jika berjunub dengan lain daripada wati dan mengeluar mani dengan tangan.

Lalu dan duduk di dalam masjid

Tidak haram orang yang berjunub lalu di dalam masjid. Haram ia berulang-alik di dalamnya walaupun dengan hajat, seperti mengambil barang.

Haram orang yang berjunub duduk di dalam masjid, melainkan mereka yang berjunub dalam masjid dengan junub yang lain daripada bersetubuh jika tidak boleh keluar oleh sebab pintu terkunci atau takut kehilangan barang yang ditinggalkan di dalamnya dan hendaklah ia mandi didalam masjid jika didapati air di dalamnya.

Haram seseorang mewati isterinya di dalam masjid walaupun sambil lalu di dalamnya.

Orang berjunub berzikir

Diharuskan orang yang berjunub berzikir walaupun dengan ayat-ayat Al-Quran seperti membaca ketika terkena bala

وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

al-Baqarah. ayat 156

dan membaca ketika mengenderai kenderan

سُبْحانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ

az-Zukhruf ayat 13

dengan syarat tidak niat Quran.

انشا الله   saya akan sambung