Salik Dan MUrid Tharekat

3.1.5 Salik & Murid

Murid dan salik itu adalah sama orangnya yaitu pengikut atau pengamal dari suatu tarikat. Berbeda nama dan pengertiannya kalau melihat dari sudut pandang yang berbeda. Seseorang bernama murid dilihat dari yang bersangkutan menimba ilmu pengetahuan agama dan menimba serta mengamalkan segala petunjuk dalam cara melaksanakan amal ibadatnya. Mirip pengertiannya dengan pengertian pengajaran dan pendidikan. Pengajaran adalah ilmunya, sedangkan pendidikan adalah mempraktekkan langsung ilmu itu. Murid berarti orang yang berkehendak, orang yang menuntut, diambil dari kata-kata bahasa Arab araada, yuriidu, muriidun. Sedangkan salik diambil dari kata-kata bahasa Arab salaka, yasluku, suluukun, saalikun, berarti jalan atau cara menempuh jalan atau kelakuan atau tingkah laku.
Istilah suluk dan salik adalah istilah dalam tasawuf dan tarikat. Salik berarti orang yang berjalan secara rohani, untuk mendekatkan diri kepada Allah guna mendapatkan ridla-Nya. Suluk di mana pelakunya dinamakan salik, adalah suatu istilah yang digunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu agar mencapai suatu ahwal (keadaan mental) kurnia Allah atau mencapai suatu makam (tingkat tertentu) yang merupakan jenjang-jenjang yang diperoleh sebagai hasil suatu usaha riyadah dan mujahadah seseorang salik. Urutan-urutan makam yang harus dilalui oleh seseorang salik, pada umumnya dimulai dari tobat, zuhud, sabar, tawakal, ridla, mahabah atau cinta, makrifat, fana dan baqa.
Seorang salik yang tengah menempuh perjalanan rohani, mempunyai beberapa bentuk dalam perjalanannya itu, antara lain : (1) peningkatan ibadat kepada Allah SWT yang ditetapkan oleh Syekh Mursyid terhadap murid/salik, guna memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang bersangkutan di bidang syariat. Kegiatan ibadat ini dilaksanakan dengan berkekalan wudlu, meningkatkan kuantitas dan kualitas shalat, meningkatkan kegiatan peramalan zikir dan wirid, (2) Melaksanakan kegiatan riyadah (latihan-latihan) dan mujahadah (konsentrasi bersungguh- sungguh) dalam bentuk iktikaf, suluk dalam beberapa hari tertentu, mengurangi makan dan minum, mengurangi tidur, mengurangi berkata-kata dan lebih meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadat, (3) Melaksanakan kegiatan pengabdian atau pengkhidmatan, pemberian pertolongan dan bantuan di kalangan sendiri dan kepada sesama manusia, serta menghilangkan perasaan bangga karena kekayaan, karena keturunan atau karena kedudukan. Bentuk ini dinamakan thariqul khidmah wabazlul jaah, (4) Latihan untuk menjadi orang yang pemberani dan tegas dalam membela agama, dan tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah SWT. Bentuk ini dinamakan thariqul mujaahadah wa ruquubul ahwal, (5) Kegiatan melakukan perjalanan yang melelahkan, seperti masuk ke dalam hutan, bukit dan atau gunung atau perjalanan ke negeri-negeri yang jauh, untuk mendapatkan kesempatan belajar dan beribadat yang lebih baik.
Ditinjau dari segi kualitas yang diperoleh dan ahwal atau makam yang diperoleh seseorang, maka seorang salik itu bisa memperoleh beberapa macam bentuk : pertama, dinamakan salik murni yaitu orang yang sedang melakukan suluk dan ia berada di pertengahan tahapan pemula dan mahir (bidayah dan nihayah). Kedua, dinamakan salik majzub yaitu oang yang sudah mencapai tingkat salik jazab. Jazab berarti perasaan. Salik jazab berarti perasaan sangat dekat kepada Allah melalui zikir di dalam suluknya. Bahkan mungkin bagi orang-orang tertentu merasakan sebagai wahdatul wujud atau al ittihad, sebagai hasil ahwal dan makamnya. Ketiga, dinamakan majzub salik yaitu orang yang mencapai jazab, semata-mata karena karunia Allah SWT tidak diperoleh melalui usaha keras (mujahadah). Keempat, dinamakan majzub murni yaitu orang yang mencapai jazab tanpa suluk.
Aktifitas salik dalam suluknya sangat erat kaitannya dengan tarikat. Orang yang bertarikat, jalan utama yang harus dia tempuh, adalah melaksanakan syariat dengan baik, sebab tarikat itu sendiri adalah mengamalkan dengan penghayatan apa yang ditetapkan dalam syariat. Karena suluk itu merupakan suatu perjalanan rohani yang amat sangat halus, maka diperlukan adanya unsur pembimbing rohani yang dinamakan Syekh Mursyid, agar Si Salik tidak terjerumus kepada sirik atau sesat. Fungsi mursyid adalah sangat menentukan dalam tarikat. Karena itu Syekh Mursyid membina murid dan saliknya sesuai dengan tingkatan masing-masing. Karena fungsi dan kedudukan Syekh Mursyid sedemikian menentukan dalam tarikat, maka adab kepada Syekh Mursyid sangat menentukan dalam keberhasilan seorang salik.
Dalam Tarikat Naqsyabandiyah pimpinan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya ditetapkan ada 5 (lima) adab khalifah (petoto) kepada syekh mursyid : Pertama, mengikuti segala suruh guru. Kedua, meninggalkan segala tegahnya. Ketiga, memelihara akan hormatnya. Keempat, disempurnakan haknya mana-mana sedapatnya. Kelima, berakal dan berilmu serta beramal. Adapun inilah perhimpunan segala adab khalifah serta Syekh Mursyid yang kamil lagi mukammil. wallahu a’lam.
Adab yang menentukan itu, bukan hanya adab terhadap Syekh Mursyid saja, tetapi juga adab terhadap dirinya sendiri, adab terhadap sesama ikhwan dan adab terhadap sesama manusia pada umumnya.
Advertisements