MENURUT WAHABI – SALAFY HUKUM MEMAKAI CELANA PANJANG BAGI LAKI-LAKI ADALAH HARAM -Bid’ah – Kapir

MENURUT WAHABI – SALAFY HUKUM MEMAKAI CELANA PANJANG BAGI LAKI-LAKI ADALAH HARAM -Bid’ah – Kapir


Menurut Wahabi Hukum Memakai Celana Panjang Bagi Laki2 (pantoloon) Adalah HARAM.

Celana (pantoloon) = Celana yg memperpanjang melewati mata kaki menutupi bagian belakang kaki, celana yg membutuhkan sabuk (ikat pinggang) untuk mengencangkannya pada tubuh, berbahan tebal, memiliki ritsleting, memiliki saku depan dan belakang, dipakai untuk pergi ke luar.

Kita tau bahwa jika ada seorang Perempuan memakai celana panjang yg ketat, memperlihatkan bentuk tubuh, adalah sesuatu hal yg tidak baik, dan bisa mengundang nafsu laki2.
Tapi yg kita bahas kali ini khususnya adalah ttg celana panjang yg di pakai Laki2 🙂Syaikh Wahabi – Allaamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhohulloh.
Ketika beliau di tanya oleh seseorang tentang hukum memakai celana panjang (pantolun)

Beliau menjawab:

“Ya, celana (pantolun) yang menyerupai celana panjang dari orang-orang kafir adalah Haram ((Barangsiapa meniru suatu kaum ia adalah dari mereka)) [Abu Dawud (431), Ahmad (50/2), (92/2), Ibnu Abi Shaybah (313/5) Syaikh Yahya, semoga Allah melindunginya disebutkan tentang hadits ini bahwa adalah: ‘Hasan dalam bukunya “Al-Mabaadi’u Al-Mufeedah” titik 89]

saya lihat dalam beberapa negara Arab bahwa Anda melihat seorang wanita yang tidak dapat dibedakan Kristen dari Muslim karena persamaan bentuk gaunnya. Dan Anda melihat, seorang Islam, Kristen, Yahudi dan Komunis. Anda melihat salah satu dari mereka membersihkan jenggotnya dicukur, kepala tidak tertutup, memakai pengikat leher dan ia mengatakan kepada Anda “Saya seorang Muslim! Dan gaun wanita tanpa malu mungkin lebih dari orang Yahudi atau Kristen dan Anda tidak bisa mengenalinya (sebagai Muslimah) sampai mengatakan kepada Anda “ini adalah seorang Muslim” dan “ini adalah seorang Muslimah”! Tapi seperti untuk penampilannya dan bajunya tidak mungkin bagi Anda untuk mengenalinya (sebagai Muslimah), apa yang Anda katakan tentang ini, Haram atau Halal?

“Fatawa Fadhilatusy Syaikh Rabi Al-Madkhalee, Vol.2, Hal. 455″

Penasehat Terpercaya, Allaamah Yahya bin Ali al-Hajury, hafidhohulloh mengatakan:
“Celana panjang (pantolun)untuk pria dan wanita tidak diperbolehkan karena meniru orang kafir, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak memakainya, begitu pula salah satu sahabat dan juga tidak Pendahulu kita yang saleh, semoga Allah meridhai mereka dan siapapun yang mengatakan bahwa diperbolehkan, kemudian ‘pembolehan’ apakah ada sesuai dengan Syari’at (Allah) dan ini (celana panjang) tidak ada dalam peraturan (Syari’at Allah), karena itu, pada pernyataan kebolehannya adalah tidak benar. “

Al-Kanz Ath-Thameen, Vol.4, Hal 173

Ulama Wahabi Asy-Syaikh Albani, rohimahulloh, mengatakan:
Tentang mengenakan pantalon (celana panjang) maka kita telah berbicara tentang itu banyak sekali, itu adalah jenis pakaian asing. Tidak diijinkan bagi seorang muslim untuk memakainya … (terlebih) memakainya dalam shalat adalah lebih layak untuk dilarang karena itu menunjukkan bentuk aurat utama (kemaluan) dan aurat kecil (paha), hal itu menunjukkan bentuk bagian pribadi dan menunjukkan bentuk paha. Pada kenyataannya orang yang memakai dengan pantalon berakibat menarik perhatian kepada diri mereka yang mengganggu seperti perempuan, (dengan sholat di belakang jemaat laki-laki) Yang terbaik dari deretan Perempuan yang terakhir itu.

Referensi: al Haawee min Fatawaa Seperti Syaikh Albani, halaman: 335, cetak: Mussasah sumaa.

Source: Wahabi N Ews

Imam adzhabi (scanned kitab al kabair): Aqidah ahlusunnah Allah ada tanpa tempat

Kitab = Al Kabair

Penulis = ‘allamah Syamsuddin Az-Zahabi al HAMBALI

penerbit = Muasasah al kitab altsaqafiah

cetakan pertama 1410h.

Page = 140

Berkata Az-Zahabi:
‘ Dan diantara kekufuran ialah menyamakan (tasybih) Allah dengan makhlukNya, (Firman Allah Yang Bermaksud: Tiada Sesuatupun Yang MenyamaiNya) dan diantara kekufuran ialah menisbatkan tempat dan arah bagi Allah kerana Allah wujud sebelum terciptanya tempat dan arah, dan Dialah yang menciptakan tempat dan arah (seperti sabda Nabi SAW: Sesungguhnya Allah Itu Azali Dan Tiada Sesuatupun Sebelum KewujudanNya-Riwayat Bukhari) dan (Saidina Ali Karramallahu Wajhah Berkata: Sesungguhnya Allah Itu Azali Tiada Bertempat dan Dia Tetap Sepertimana AzaliNya Dia)

Dan,

Berkata Lagi Al-Hafiz:

‘ Dan Diantara Kufur yang terkeji ialah mengisbatkan anggota kepada Allah, nisbatkan Aurat, menisbatkan saudara perempuan, isteri, dan anak pada Allah, walaupun dia tidak beri’tiqad sebegitu, dan antara kekufuran ialah menyifatkan Allah dengan sifat2 yang pada logik aqal kepada Allah dan telah sepakat ulama akan perkara tersebut kecuali dengan sifat yang warid daripada nas Al-Quran dan Hadis.

Page 142: AL-HAFIZ AZ-ZAHABI KAFIRKAN AKIDAH: ALLAH DUDUK

 


Terjemahan.:

Berkata Al-Hafiz Az-Zahabi: “Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas terkeluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah Duduk untuk menetap atau katanya Allah Berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”.

Rujuk scan kitab tersebut di atas m/s 142. Perhatikan bagaimana Az-Zahabi menghukum kafir sesiapa yang mendakwa Allah bersifat Duduk. Sesiapa yang mengatakan Allah Duduk maka dia kafir. Fokuskan pada kenyataan Az-Zahhabi tidak pula mengatakan “sekiranya seseorang itu kata Allah Duduk seperti makhlukNya maka barulah dia kafir” akan tetapi amat jelas Az-Zahabi terus menghukum kafir kepada sesiapa yang mendakwa Allah Duduk disamping Az-Zahabi menukilkan hukum tersebut dari seluruh ulama Islam.

(by : Abu Widad Ad-Dusuni Al-Asy’ari& Abu syafiq)

Kitab adzahabi yang lain:

*Imam adzahabi (ahlusunnah) membungkam Wahabi

Daurah masyayikh salafy timur tengah, Daurah kitab albany, Daurah daurah salafy/wahaby saudy

   ALBANI & AZ-ZAHABI KATA: AKIDAH ISLAM ADALAH “ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT” & ALLAH TIDAK BERSEMAYAM/DUDUK ATAS ARASY.
Kitab: Mukhtasor ‘Ulu Li ‘Aliyyil ‘Azhim.
Pengarang: Syamsuddin Az-Zahabi.
Pentahkik: Nasiruddin Al-Bani. Cetakan: Maktab Islami.
Mukasurat: 71.
Kenyataan teks Al-Bani bersumber kitab di atas :
“ Apabila kamu telah mendalami perkara tersebut, denganizin Allah kamu akan faham ayat-ayat Al-Quran dan Hadith Nabai serta kenyataan para ulama Salaf yang telah dinyatakan oleh Az-Zahabi dalam kitabnya ini Mukhtasor bahawa erti dan maksud sebalik itu semua adalah makna yang thabit bagi Allah iaitu ketinggian Allah pada makhluk-makhlukNya ( bukan ketinggian tempat), istawanya Allah atas arasyNya layak bagi keagonganNya dan Allah tidak ber arah dan Allah tidak bertempat”. (Sila rujuk kitab tersebut yang telah di scan di atas).
KITAB-KITAB IMAM ADZAHABY SERING DIJADIKAN RUJUKAN-RUJUKAN PALSU OLEH WAHABY TAPI KALAU KITA LIHAT KITAB ASLINYA, AKAN LAIN JADINYA….LIHAT KITAB ASLI IMAM ADZAHABY YANG BELUM DITAKHRIJ OLEH ALBANY :

2. Adz Dzahabi Menohok Ajaran Wahabi [[[ Masalah Tabarruk ]]]

Lihat ini kitab berjudul:

Mu’jam asy Syuyukh

Karya adz Dzahabi; salah seorang murid Ibnu Taimiyah

Ini terjemah yang ditandai:

“Imam Ahmad pernah ditanya tentang mengusap makam nabi dan menciumnya; dan beliau melihat bahwa melakukan perkara itu bukan suatu masalah (artinya boleh)”.

“Jika dikatakan: Bukankah para sahabat tidak pernah melakukan itu? Jawab: Karena mereka melihat langsung Rasulullah dan bergaul dengannya, mereka mencium tangannya, bahkan antar mereka hampir “ribut” karena berebut sisa/tetesan air wudlunya, mereka membagi-bagikan rambut Rasulullah yang suci pada hari haji akbar, bahkan apa bila Rasulullah mengeluarkan ingus maka ingusnya tidak akan pernah jatuh kecuali di atas tangan seseorang (dari sahabatnya) lalu orang tersebut menggosok-gosokan tangannya tersebut ke wajahnya”.

“Tidakkah engkau melihat apa yang dilakukan oleh Tsabit al Bunani?, beliau selalu mencium tangan Anas ibn Malik dan meletakannya pada wajahnya, beliau berkata: Inilah tangan yang telah menyentuh tangan Rasulullah. Perkara-perkara semacam ini tidak akan terjadi pada diri seorang muslim kecuali karena dasar cintanya kepada Rasulullah”.

Semoga kita dikupulkan bersama Rasulullah dan para sahabatnya kelak. Amin.

3. Siyar A’lam an-Nubala’

Karya adz Dzahabi; salah seorang murid Ibnu Taimiyah, yang seringkali menjadi rujukan Wahabi

Ini terjemah yang ditandai:

“Abdullah bin Ahmad (anak Imam Ahmad ibn Hanbal) berkata: Saya telah melihat ayahku (Imam Ahmad ibn Hanbal) mengambil sehelai rambut dari rambut-rambut Rasulullah, lalu ia meletakan rambut tersebut di mulutnya; ia menciuminya. Dan aku juga melihatnya meletakan rambut tersebut di matanya, dan ia juga mencelupkan rambut tersebut pada air lalu meminumnya untuk tujuan mencari kesembuhan dengannya.

Aku juga melihat ayahku mengambil wadah (bejana/piring) milik Rasulullah, beliau memasukannya ke dalam dalam air, lalu beliau minum dari air tersebut. Aku juga melihatnya meminum dari air zamzam untuk mencarikesembuhan dengannya, dan dengan air zamzam tersebut ia mengusap pada kedua tangan dan wajahnya.

Aku (adz Dzahabi) katakan: Mana orang yang keras kepala mengingkari Imam Ahmad?? Padahal telah jelas bahwa Abdullah (putra Imam Ahmad) telah bertanya kepada ayahnya sendiri (Imam Ahmad) tentang orang yang mengusap-usap mimbar Rasulullah dan ruang (makam) Rasulullah; lalu Imam Ahmad menjawab: “Aku tidak melihat itu suatu yang buruk (artinya boleh)”. Semoga kita dihindarkan oleh Allah dari faham-faham sesat Khawarij dan para ahli bid’ah”.

Anda tahu? Sebenarnya yang ahli bid’ah itu adalah kaum Wahhabi, karena mereka memandang sesat terhadap sesuatu yang telah disepakati kebaikannya…. tabarruk ko dibilang bid’ah; tabarruk itu dari zaman Rasulullah masih hidup sudah ada.

4. Nasehat adz-Dzahabi Terhadap Ibn Taimiyah; Bukti Pengakuan Seorang Murid Bagi Kesesatan Sang Guru

an-Nasihah al-Dhahabia li ibn Taymiyya

Bukti Scan; Menohok Wahabi

Al-Hâfizh adz-Dzahabi ini adalah murid dari Ibn Taimiyah. Walaupun dalam banyak hal adz-Dzahabi mengikuti faham-faham Ibn Taimiyah, –terutama dalam masalah akidah–, namun ia sadar bahwa ia sendiri, dan gurunya tersebut, serta orang-orang yang menjadi pengikut gurunya ini telah menjadi bulan-bulanan mayoritas umat Islam dari kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah pengikut madzhab al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari. Kondisi ini disampaikan oleh adz-Dzahabi kepada Ibn Taimiyah untuk mengingatkannya agar ia berhenti dari menyerukan faham-faham ekstrimnya, serta berhenti dari kebiasaan mencaci-maki para ulama saleh terdahulu. Untuk ini kemudian adz-Dzahabi menuliskan beberapa risalah sebagai nasehat kepada Ibn Taimiyah, sekaligus hal ini sebagai “pengakuan” dari seorang murid terhadap kesesatan gurunya sendiri. Risalah pertama berjudul Bayân Zghl al-‘Ilm Wa ath-Thalab, dan risalah kedua berjudul an-Nashîhah adz-Dzhabiyyah Li Ibn Taimiyah.

Dalam risalah Bayân Zghl al-‘Ilm, adz-Dzahabi menuliskan ungkapan yang diperuntukan bagi Ibn Taimiyah sebagai berikut [Secara lengkap dikutip oleh asy-Syaikh Arabi at-Tabban dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, lihat kitab j. 2, h. 9/ bukunya ada sama saya]:

“Hindarkanlah olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu jika engkau selamat dari ilmumu sendiri karena engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari musuhmu atau engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari dirimu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya, dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibn Taimiyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian, dan terhadap perempuan. Kemudian ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun. Sungguh saya telah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifatnya (Ibn Taimiyah) ini hingga saya merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata saya medapatinya mengapa ia dikucilkan oleh para penduduk Mesir dan Syam (sekarang Siria, lebanon, Yordania, dan Palestina) hingga mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya, dan bahkan mengkafirkannya, adalah tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan, dan karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka. Anda lihat sendiri, alangkah besar bencana yang ditimbulkan oleh sikap “ke-aku-an” dan sikap kecintaan terhadap kehormatan semacam ini!”.

Adapun nasehat adz-Dzahabi terhadap Ibn Taimiyah yang ia tuliskan dalam risalah an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah, secara lengkap dalam terjemahannya sebagai berikut [Teks lebih lengkap dengan aslinya lihat an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah dalam dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, j. 2, h. 9-11]:

“Segala puji bagi Allah di atas kehinaanku ini. Ya Allah berikanlah rahmat bagi diriku, ampunilah diriku atas segala kecerobohanku, peliharalah imanku di dalam diriku.

Oh… Alangkah sengsaranya diriku karena aku sedikit sekali memiliki sifat sedih!!

Oh… Alangkah disayangkan ajaran-ajaran Rasulullah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya telah banyak pergi!!

Oh… Alangkah rindunya diriku kepada saudara-saudara sesama mukmin yang dapat membantuku dalam menangis!!

Oh… Alangkah sedih karena telah hilang orang-orang (saleh) yang merupakan pelita-pelita ilmu, orang-orang yang memiliki sifat-sifat takwa, dan orang-orang yang merupakan gudang-gudang bagi segala kebaikan!!

Oh… Alangkah sedih atas semakin langkanya dirham (mata uang) yang halal dan semakin langkanya teman-teman yang lemah lembut yang menentramkan. Alangkah beruntungnya seorang yang disibukan dengan memperbaiki aibnya sendiri dari pada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang disibukan dengan mencari-cari aib orang lain dari pada ia memperbaiki aibnya sendiri.
Sampai kapan engkau (Wahai Ibn Taimiyah) akan terus memperhatikan kotoran kecil di dalam mata saudara-saudaramu, sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri?!

Sampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji-muji pikiran-pikiranmu sendiri, atau hanya memuji-muji ungkapan-ungkapanmu sendiri?! Engkau selalu mencaci-maki para ulama dan mencari-cari aib orang lain, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyebut-menyebut orang-orang yang telah mati di antara kalian kecuali dengan sebutan yang baik, karena sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang telah mereka perbuat”.
Benar, saya sadar bahwa bisa saja engkau dalam membela dirimu sendiri akan berkata kepadaku: “Sesungguhnya aib itu ada pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak pernah merasakan kebenaran ajaran Islam, mereka betul-betul tidak mengetahui kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, memerangi mereka adalah jihad”. Padahal, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan, yang apa bila kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan maka seorang manusia akan menjadi sangat beruntung. Dan sungguh, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal (tidak mengerjakan) kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan) yang sama sekali tidak memberikan manfa’at kepada diri mereka. Dan sesungguhnya (Sabda Rasulullah); “Di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang adalah apa bila ia meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfa’at bagi dirinya”. (HR. at-Tirmidzi)

Hai Bung…! (Ibn Taimiyah), demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen dan tajam lidah, engkau tidak pernah mau diam dan tidak tidur. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu (Nabi Muhammad) sangat membenci dan mencaci perkara-perkara [yang ekstrim]. Nabimu melarang kita untuk banyak bertanya ini dan itu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang paling ditakutkan yang aku khawatirkan atas umatku adalah seorang munafik yang tajam lidahnya”. (HR. Ahmad)

Jika banyak bicara tanpa dalil dalam masalah hukum halal dan haram adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras, maka terlebih lagi jika banyak bicara dalam ungkapan-ungkapan [kelompok yang sesat, seperti] kaum al-Yunusiyyah, dan kaum filsafat, maka sudah sangat jelas bahwa itu akan menjadikan hati itu buta.

Demi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan terus berbicara hanya mengungkap kekufuran-kekufuran kaum filsafat supaya kita bisa membantah mereka dengan logika kita??

Hai Bung…! Padahal engkau sendiri telah menelan berbagai macam racun kaum filsafat berkali-kali. Sungguh, racun-racun itu telah telah membekas dan menggumpal pada tubuhmu, hingga menjadi bertumpuk pada badanmu.

Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya diisi dengan tilâwah dan tadabbur, majelis yang isinya menghadirkan rasa takut kepada Allah karena mengingt-Nya, majelis yang isinya diam dalam berfikir.

Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguhnya, ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya maka akan turun rahmat Allah. Bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu disebut-sebut namanya maka mereka dihinakan, dilecehkan, dan dilaknat.

Pedang al-Hajjaj (Ibn Yusuf ats-Tsaqafi) dan lidah Ibn Hazm adalah laksana dua saudara kandung, yang kedua-duanya engkau satukan menjadi satu kesatuan di dalam dirimu. (Engkau berkata): “Jauhkan kami dari membicarakan tentang “Bid’ah al-Khamîs”, atau tentang “Akl al-Hubûb”, tetapi berbicaralah dengan kami tentang berbagai bid’ah yang kami anggap sebagai sumber kesesatan”. (Engkau berkata); Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid, barangsiapa tidak mengetahuinya maka dia seorang yang kafir atau seperti keledai, dan siapa yang tidak mengkafirkan orang semacam itu maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari pada kekufuran Fir’aun. (Engkau berkata); Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita. Demi Allah, [ajaran engkau ini] telah menjadikan banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat.

Oh… Alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (az-Zandaqah) dan kekufuran, terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah seorang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas, dan bersyahwat besar, namun ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakekatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuatan dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibn Taimiyah), bahwa mayoritas pengikutmu tidak lain kecuali orang-orang yang “terikat” (orang-orang bodoh) dan lemah akal?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah orang pendusta yang berakal tolol?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah aneh yang serampangan, dan tukang membuat makar?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah seorang yang [terlihat] ahli ibadah dan saleh, namun sebenarnya dia adalah seorang yang tidak paham apapun?! Kalau engkau tidak percaya kepadaku maka periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!

Wahai Muslim (yang dimaksud Ibn Taimiyah), adakah layak engkau mendahulukan syahwat keledaimu yang selalu memuji-muji dirimu sendiri?! Sampai kapan engkau akan tetap menemani sifat itu, dan berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi?! Sampai kapan engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan?!
Sampai kapan engkau hanya akan mengagungkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan)?!

Sampai kapan engkau akan terus bersahabat dengan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi?!

Sampai kapan engkau hanya akan memuji-muji pernyataan-pernyataan dirimu sendiri dengan berbagai cara, yang demi Allah engkau sendiri tidak pernah memuji hadits-hadits dalam dua kitab shahih (Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim) dengan caramu tersebut?!

Oh… Seandainya hadits-hadits dalam dua kitab shahih tersebut selamat dari keritikmu…! Tetapi sebalikanya, dengan semaumu engkau sering merubah hadits-hadits tersebut, engkau mengatakan ini dla’if, ini tidak benar, atau engkau berkata yang ini harus ditakwil, dan ini harus diingkari.
Tidakkah sekarang ini saatnya bagimu untuk merasa takut?! Bukankah saatnya bagimu sekarang untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah)?! Bukankah engkau sekarang sudah dalam umur 70an tahun, dan kematian telah dekat?! Tentu, demi Allah, aku mungkin mengira bahwa engkau tidak akan pernah ingat kematian, sebaliknya engkau akan mencaci-maki seorang yang ingat akan mati! Aku juga mengira bahwa mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nesehatku ini, sebaliknya engkau akan tetap memiliki keinginan besar untuk membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid, dan engkau akan merinci bagiku berbagai rincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang, sehingga aku sendiri akan berkata kepadaku: “Sekarang, sudah cukup, diamlah…!”.
Jika penilaian terhadap dirimu dari diri saya seperti ini, padahal saya sangat menyangi dan mencintaimu, maka bagaimana penilaian para musuhmu terhadap dirimu?! Padahal para musuhmu, demi Allah, mereka adalah orang-orang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka, sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol, dan para pengangguran yang tidak berilmu.

Aku sangat ridla jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasehatku ini. “Sungguh Allah telah memberikan rahmat kepada seseorang, jika ada orang lain yang menghadiahkan (memperlihatkan) kepadanya akan aib-aibnya”. Karena memang saya adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya saya jika saya tidak bertaubat. Alangkah celaka saya jika aib-aibku dibukakan oleh Allah yang maha mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya, dan hidayah-Nya.

Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para Nabi, atas keluarganya, dan para sahabatnya sekalian.

5. Ibn al Jawzi Dalam Sifat as Shofwah Menganjurkan Ziarah Ke Makam Orang2 Saleh Dan Tawassul, Sementara Wahabi Mengatakan Syirik

Shifat ash Shafwah

Karya al Imam al Hafizh Abu al Faraj Abdurrahman Ibn al Jauzi (w 597 H)  salah seorang ulama Ahlussunnah terkemuka bermadzhab Hanbali; hidup jauh sebelum Ibnu Taimiyah

berikut ini adalah terjemahan dari yang digaris bawahi:

Dia (Imam Ma’ruf al Karkhi) adalah obat yang mujarab, karenanya siapa yang memiliki kebutuhan maka datanglah ke makamnya dan berdoalah (meminta kepada Allah) di sana; maka keinginannya akan terkabulkan InsyaAllah.

Makam beliau (Imam Ma’ruf al Karkhi) sangat terkenal di Baghdad; yaitu tempat untuk mencari berkah. Adalah Imam Ibrahim al Harbi berkata: Makam Imam Ma’ruf al Karkhi adalah obat yang mujarab”.

Orang-orang Wahabi membawa ajaran baru dan aneh. Pengakuan mereka sebagai pengikut madzhab Hanbali adalah BOHONG BESAR. Mereka bukan para pengikut madzhab Hanbali; baik dalam aqidah maupun fiqih. Madzhab mereka adalah madzhab WAHABI.

Lihat kutipan scan di atas, salah seorang ulama terkemuka di kalangan Ahlussunnah bermadzhab Hanbali membolehkan tabarruk (mencari berkah) dengan ziarah ke makam orang-orang saleh, sementara Wahabi berkata perbuatan tersebut adalah: “SYIRIK, KUFUR, BID’AH, TAHAYUL, KHURAFAT, SESAT” dan label penyesatan lainnya.

Setelah mereka melihat scan ini; kita sodorkan pertanyaan kepada mereka: “Yang sesat itu Ibnul Jauzi atau kalian”????????????????????????????????????????????????????????????

Pertanyaan ini harus mereka pertanggungjawabkan……….



6.  Imam 4 madzab kafirkan Aqidah Mujasimmah (Tuhan Bertempat/duduk)

. Hujjah Imam Abu Hanifah yg beliau tulis dalam kitab wasiat nya :



( DIATAS ADALAH KENYATAAN IMAM ABU HANIFAH DALAM KITAB WASIAT BELIAU PERIHAL ISTAWA )

IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.
Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :

“ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat beliau.

Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.

Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.

Bukti Al-bany Wahhaby Tidak percaya Izrail Malaikat Maut

Albany seorang ajam jahil yang diberi gelar kehormatan sebagi muhhadis oleh kaum wahhaby najd lagi lagi buat ulah.

Tidak puas dengan merusak kurang lebih 1200 hadis, dengan mendoifkan hadis bukhary muslim dan sebaliknya meshahihkan haids hadis palsu dean doif.

kini albany dan pengikutnya kembali menentang ijma ulama ahlusunnah dengan mengatakan bahwa :

“Malaikat maut bukan bernama izrail”

Mari kita simak Video berikut ini :

Untuk membantah fatwa sesat golongan badui gunung najd wahhaby ini maka silahkan cek rujukan dibawah ini :

–  Qadhi iyadh mengatakan bahwa : ” Konsensus / Ijma ummat bahwa malaikat maut bernama izrail”

(Kitab asyifa bitahrif huqub al mustafa, Juz 2)

Al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki (544 H) adalah ulama ahli fiqh dan hadist  penulis  kitab syarah muslim dengan judul Ikmal al-Mu’allim bi fawaid Muslim dsb. dan banyak lagi kitab kitab beliau lainnya.

– Ibnu kastir dalam tafsirnya menyebut nama malaikat maut adalah izrail.

– Hadis Riwayat Imam baihaqi dan athabrani  menyebutkan bahwa MALAIKAT MAUT BERNAMA IZRAIL

– Imam al andalusi (Imam Tafsir alqur’an) menyebutkan bahwa “Malaikat maut bernama Izrail”. (kitab Bahr Al muhit dalam tafsir surat assajadah ayat 11).

– Bahkan Ibnu Taymiyah yang wahaby katakan sebagai imamnya. Dalam kitab Majmu fatwa ibnu Taymiyah katakan : “Maliakat pencabut nyawa bernama Izrail”.

– Bahkan pendiri gerakan sesat wahhaby Muhhamad bin Abdul wahhab Annajdy pun mengtakan : “Malaikat maut bernama Izrail” !. Lihat kitab tulisannya Ushul al iman.

-Lebih dari 22 kitab aqidah utama  rujukan ahlusunnah pengikut 4 madzab sunni mengatakan bahwa malaikat maut bernama Izrail.

Ini bukti kitab kitab rujukan ahlsuunnah yang menyatakan Bahwa Maliakat maut bernam Izrail:

Wahhaby bertobatlah!! aqidah dan fiqh kalian sudah dirusak oleh musuh musuh Allah!

https://salafytobat.wordpress.com

Bukti Albany Palsukan dan mendhaifkan Kitab Hadis Imam Bukhary

Bukti Albany Palsukan dan mendhaifkan Kitab Hadis Imam Bukhary

Saksikan videonya di :

Syaikhul islam DR. Muhammad Tahir Qadri menjelaskan kesesatan wahhaby (salafy palsu) dan kesesatan Syaikh Albany alwahhaby. Beliau menjelaskan dan membuktikan bahwa Albany telah memalsukan kitab adabul mufrad Imam Bukhary dengan:

– membuang hadis-hadis yang tidak sesuai denagn anfsunya

– mendhaifkan hadis-hadis yang telah dishahihkan Imam Bukhary dsb

Albani, Muhaddis Tanpa Sanad Andalan Wahabi/salafy palsu

Albani, Muhaddis Tanpa Sanad Andalan Wahabi/salafi palsu

albaniDi kalangan salafi (wahabi), lelaki satu ini dianggap muhaddis paling ulung di zamannya. Itu klaim mereka. Bahkan sebagian mereka tak canggung menyetarakannya dengan para imam hadis terdahulu. Fantastis. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Dan usaha mereka bisa dikata berhasil. Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadis-hadis edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, “disahihkan oleh Albani, ”. Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Al-Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya.

Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”). Bahkan ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadis beserta sanadnya, ia dengan entengnya menjawab, “Aku bukan ahli hadis sanad, tapi ahli hadis kitab.” Si peminta pun tersenyum kecut, “Kalau begitu siapa saja juga bisa,” tukasnya.

Namun demikian dengan over pede-nya Albani merasa layak untuk mengkritisi dan mendhoifkan hadis-hadis dalam Bukhari Muslim yang kesahihannya telah disepakati dan diakui para ulama’ dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun lalu. Aneh bukan?.

Siapakah Nashirudin al- Albani?

Dia lahir di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M dan meninggal dunia pada tanggal 21 Jumadal Akhirah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Pada masa hidupnya, sehari-hari dia berprofesi sebagai tukang reparasi jam. Dia memiliki hobi membaca kitab-kitab khususnya kitab-kitab hadits tetapi tidak pernah berguru kepada guru hadits yang ahli dan tidak pernah mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits.

Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).

Namun demikian kalangan salafi menganggap semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan Albani mereka pastikan lebih mendekati kebenaran.

Penyelewengan Albani

Berikut diantara penyimpangan-penyimpangan Albani yang dicatat para ulama’

1) Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya berjudul Almukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.

2) Mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para nabi dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya “at-Tawassul” .

3) Menyerukan untuk menghancurkan Kubah hijau di atas makam Nabi SAW (Qubbah al Khadlra’) dan menyuruh memindahkan makam Nabi SAW ke luar masjid sebagaimana ditulis dalam kitabnya “Tahdzir as-Sajid” hal. 68-69,

4) Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Salsalatul Ahadits Al-Dlo’ifah” hadits no: 83.

5) Mengharamkan ucapan salam kepada Rasulullah ketika shalat dg kalimat “Melarang Assalamu ‘alayka ayyuhan-Nabiyy”. Dia berkata: Katakan “Assalamu alan Nabiyy” alasannya karena Nabi telah meninggal, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul “Sifat shalat an-Nabi”.

6) Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.

7) Dalam kitab yang sama dia juga mengharamkan Umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.

8 ) Mengharamkan bagi seorang perempuan untuk memakai kalung emas sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Adaab az-Zafaaf “,

9) Mengharamkan umat Islam melaksanakan solat tarawih dua puluh raka’at di bulan Ramadan sebagaimana ia katakan dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan” hal.22.

10) Mengharamkan umat Islam melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebagaimana disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafiah”.

Ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak kesesatannya, dan Alhamdulillah para Ulama dan para ahli hadits tidak tinggal diam. Mereka telah menjelaskan dan menjawab tuntas penyimpangan-penyimpangan Albani. Diantara mereka adalah:

1.Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;

2.Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);

3.Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;

4.Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;

5.Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi yang menulis “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;

6.Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);

7.Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;

8.Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);

9.Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih” (Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya); “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;

10.Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.

Saran kami. Hendaknya seluruh umat Islam tidak gegabah menyikapi hadis pada buku-buku yang banyak beredar saat ini, terutama jika di buku itu terdapat pendapat yang merujuk kepada Albani dan kroni-kroninya.

http://www.forsansalaf.com/2009/albani-muhaddits-tanpa-sanad-andalan-wahabi/

Al-Bany (Wahaby) : Muhadits sesat tanpa Sanad

METOD HADIS SONGSANG

Kitab : al-Takrif Bi Auhami Man Qassama al-Sunan Ila Sahih Wa Dhaif Karangan Allamah Syeikh Mahmud Said Mamduh, Pegawai Penyelidik, Institut Penyelidikan, UAE

Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albaani yang dipuja oleh golongan Salafiyyah al-Wahhabiyyah
Dalam posting terdahulu, saya telah menulis tentang Siapa Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albaani?. Saya melihat artikel ini banyak dimuatkan beberapa website yang lain. Ia disusuli dengan komentar yang kebanyakkannya tidak ilmiyyah. Bahkan banyak pula yang berlandaskan perasaan berbanding hujjah. Sekarang, mari kita ikuti kenyataan Murid Kanan al-Allamah al-Imam al-Muhaddith Syeikh Abdullah bin al-Siddiq al-Ghumari iaitu Allamah Syeikh Mahmud Said Mamduh tentang kesilapan metodologi hadis yang diperjuangkan al-Albaani dan para muridnya. Beliau telah mengarang banyak kitab untuk mendedahkan beberapa kesilapan metodologi Syeikh Muhammad Nasiruddin dalam ilmu hadith.

Antara karangan beliau yang terbaru ialah : al-Ta’rif bi Awham Man Qassama al-Sunnan Ila al-Sahih Wa al-Dhaif (Satu pengenalan bagi mereka yang mendatangkan kesamaran dgn membahagikan al-hadith kepada Sahih dan Dhaif). Kitab ini berjumlah enam jilid bermula bab Taharah (bersuci) sehingga bab kelebihan Makkah. Di dalam kitab ini Allamah Syeikh Mahmud Said Mamduh berjaya menjelaskan metodologi songsang al-Albaani satu persatu. Beliau telah mengesan hampir 1000 hadis yang telah ditashih dan ditad’ifkan mengikut selera hawa nafsu Syeikh al-Albaani. Penjelasan ini membuktikan Syeikh al-Albaani tidak memiliki konsistensi kukuh dalam pentashihan hadis.

Walaupun menceburi bidang hadith, Syeikh al-Albaani sebenarnya tidak mempunyai silsilah perguruan dalam bidang hadis secara bersanad. Jika dikaji secara teliti dalam terjemahan biografi Syeikh al-Albaani, tidak diketahui siapakah gurunya yang meriwayatkan hadis kepadanya. Ajaib sekali jika seseorang yang menceburi bidang hadis tidak memiliki guru hadis yang memiliki silsilah yang sampai kepada Rasulullah SAW.
Disamping itu, Syeikh al-Albaani juga bertanggungjawab merungkai metodologi ilmu hadis yang telah sekian lama disusun rapi oleh para ulamak hadith. Contohnya : Para ulamak hadis telah sepakat membahagikan hadith kepada empat bahagian utama : Iaitu Hadith Sahih, Hadis Hasan/Maqbul (yg tidak menepati spesifikasi sahih dan tidak pula dhaif), Hadith Dhaif dan Hadith Mauduk (Rekaan). Tetapi bila hadirnya Syeikh al-Albaani, beliau merombak metodologi berkenaan. Lalu membahagikan hadis kepada dua bahagian sahaja. Iaitu Hadis Sahih dan Hadith Dhaif/Mauduk (rekaan).
Bukan sekadar itu, Al-Albaani juga turut menjelaskan bahawa tidak boleh beramal dengan hadis dhaif berkenaan. Sedangkan para ulamak menaskan : ”Para Ulamak Hadis, Feqah dan selainnya menjelaskan : Diharuskan dan disunatkan beramal dengan hadis dhaif di dalam kelebihan-kelebihan perkara ibadah, galakan terhadap janji-janji baik Allah dan larangan terhadap janji-janji buruk Allah selagi mana hadis tersebut tidak mencapai tahap hadis rekaan,”-Imam al-Suyuthi di dalam Kitabnya Tufah al-Abrar dan Imam al-Nawawi di dalam al-Azkaar, hlm 14, Cet Dar al-Makrifah, 1996
Oleh itu, tidak pelik jika ada pihak yang membicarakan ilmu hadis, secara sombong menolak keberhujahan hadis-hadis hasan atau hadith dhaif dalam bidang dan kelasnya sebagaimana yang dibenarkan para ulamak hadis, feqah dan selainnya. Dakwa mereka, hadis berkenaan tidak sahih. Atau hadis berkenaan adalah hadis dhaif. Ternyata sikap begini tidak mencerminkan metodologi Ahl Hadis yang sebenar. Sebaliknya, mencerminkan sikap penolakan terhadap hadis secara halus. Inilah salah satu hasil dari pegangan Ijtihad al-alBaani yang perlu ditolak secara jujur.

Selain itu, alAlbaani juga begitu gigih ingin menilai semula hadis-hadis Nabi SAW yang telah dinilai sahih oleh para ulamak muktabar sebelumnya. Dalam kes ini, perlu dipertanyakan Siapa al-Albaani dan siapa gurunya? Dimana sanadnya @ silsilah periwatannya? Dimana Standard beliau dalam disiplin ilmu hadis? Apakah beliau al-Hafidz, al-Hakim, al-Hujjah, Pakar Ilal al-Hadis? Pendek kata, Syeikh al-Albaani juga perlu dinilai secara Jarh dan Ta’dil oleh para ulamak yang layak menilai penghadisannya. jadi, mengapa harus ada pihak yang menuduh kita ekstrem bila kita ingin mengadili beliau berdasarkan metodologi Ahli Hadis yang silam? Sepatutnya, ia bukan isu yang perlu dipertikaikan.

Kini sudah 10 tahun Syeikh al-Albaani bersemadi di Tanah Perkuburan Jabal Nasir, di Amman, Jordan . Namun fikrah dan metodologi hadis modern yang dirintisnya mendapat tempat dalam masyarakat disebabkan beliau pernah menjawat Mahaguru Hadis di Universiti Islam Madinah. Memandangkan metodologi hadisnya bertepatan dengan aliran Salafiah Wahhabiyyah, maka namanya dijulang dan beliau diberi penghargaan serta dimasyhur ke tahap Amir Mukminin Fi al-Hadis. Muncul pula murid-murid yang mengagung-agungkan al-Baani ke serata dunia, dengan sokongan wang ringgit yang banyak menyebabkan fikrah al-Albaani mudah tersebar dengan cepat. Berbanding karya ulamak yang hebat dalam pelbagai bidang tetapi kurang diberi perhatian sesetengah pemerintah. Akhirnya, karya berkenaan terkubur begitu sahaja.

Apapun kesalahan al-baani dalam bidang hadis perlu diperjelaskan. Bukan bermaksud bila kita membicarakan kesalahan seseorang ulamak beerti kita mencela keperibadiannya. Tidak sebegitu, namun tujuannya ialah ingin diperbetulkan kesilapannya. Dan memberi ingatan kepada umat ini agar tidak tersalah faham dengan pendapat yang sememangnya salah. Apatah lagi untuk mengambil manfaat dari metodologi songsang yang diperjuangkannya.
Justeru, diperingatkan kepada para pendakwah, penceramah @ sesiapa sahaja yang melibatkan diri dalam bidang hadis supaya berpegang kepada metodologi yang telah disepakti ulamak hadis. Dan usah mengambil jalan pintas untuk menghukum hadis jika anda tidak mengetahui disiplinnya. Dikhuatiri, jika anda menukil tashih dan tashih al-Albaani, anda akan dikenali se kapal dgn metodologi songsang ini. Dan tidak hairanlah jika anda dituduh Wahhabiy. Atau di gam oleh negeri-negeri tertentu.

Bagi mereka yang tidak tahu apa-apa akan hal ini…dia pasti berkata : al-Albaani pun ulamak jugak… zamihan tu siapa? Masalahnya bukan siapa saya, kita dan mereka…Tetapi permasalahannya ialah metodologi songsang, tiada disiplin ilmu dan kesalahan seseorang perlu diperjelaskan supaya tidak berlaku kerancuan dan salah faham sesama Islam. Lebih-lebih lagi dalam sesuatu bidang yang melibatkan sumber perundangan Islam iaitu al-Hadith. Wallahu’alam.

Jika kita membuka lembaran fatwa yang melibatkan al-Albaani, khususnya bab feqah, disana terdapat beberapa fatwa syadz al-Albaani yang bertentangan Ijmak ulamak. Contohnya masalah wajibnya dipindahkan maqam Nabi SAW dari masjid Nabawi al-Syarif kerna maqam tersebut dianggap sebagai berhala. Nauzubillah. Ummuhatul Mukninin didakwa beliau harus utk berzina dengan lelaki lain selepas kewafatan Nabi SAW. Umat Islam Palestin wajib keluar dari Palestin kerana tidak berkuasa melawan Yahudi dan macam lagi fatwa pelik tapi benar2 berlaku. Dan direkodkan dalam kitabnya. Apakah kita harus berdiam diri sahaja dan terus menyanjunginya. Tanpa menjelaskan kekeliruan yang ditimbulkan beliau. Masya Allah.

Al-Albani mendakwa: Nabi shalallhu ‘alaihi wasalam sebagai SESAT na’uzubillah!

Al-Albani mendakwa: Nabi Muhammad SESAT. na’uzubillah!


Oleh: Abu Syafiq 006 012 2850578

WAHHABI BUKAN SAHAJA SUKA MENGHUKUM KE ATAS ULAMA ISLAM DAN UMATNYA SEBAGAI SESAT. BAHKAN NABI YANG TERMULIA NABI KITA MUHAMMAD TURUT TIDAK TERLEPAS DIHINA DAN DIHUKUM SEBAGAI SESAT OLEH WAHHABI. AL-ALBANI AL-WAHHABI SEORANG TOKOH WAHHABI TERKEMUKA MENGHUKUM NABI MUHAMMAD SEBAGAI SESAT na’uzubillah. (Rujuk Fatawa AL-ALBANI m/s 432)

Inilah padahnya apabila sifat ghuluw melanda pada diri seorang insan. Mereka akan melampau-lampau dalam banyak perkara. Sedangkan Nabi kita Muhammad kerap mengawasi dari sifat ghuluw (melampau) ini antara sabda baginda bermaksud: “Jangan sama-sekali kamu semua (ghuluw)melampau sesungguhnya telah binasa golongan pelampau sebelum kamu”.R.Muslim.

Selain sifat ghuluw itu terdapat faktor lain yang mendorong seseorang itu menghina Nabi Muhammad dan menghukum baginda sebagai sesat iaitu faktor “sengaja menyalah tafsir al-Quran”.
Ya, oleh kerana sifat tidak merujuk kepada ahli tafsir al-Quran yang mu’tabar hanya mentafsirkan ayat al-Quran itu mengikut hawa nafsu sendiri maka berlakulah penghinaan kepada Nabi Muhammad dan menghukum baginda sebagai sesat pula. Samalah dengan mereka yang menyamakan Allah dengan makhluk berpunca dari sifat takabbur hanya mentafsir al-Quran mengikut hawa nafsu sendiri dan padahnya mereka berpegang dengan aqidah tashbih menyamakan Allah dengan makhluk seperti Wahhabi, Ayah Pin selainnya.


NABI MUHAMMAD TIDAK SESAT (LAISA DHOL)

Saiduna Nabiyuna Muhammad solllahu ‘alaihiwassalam merupakan seorang insan yang paling mulia disisi seluruh umat Islam dan makhluk yang paling mulia disisi Allah. Muhammad bin Abdullah tidak pernah berpegang dengan aqidah yang sesat samaada sebelum kenabian mahupun selepas diturunkan wahyu dan dilantik sebagai nabi dan rasul.
Baginda beriman dengan Allah dan berada atas kepercayaan yang tidak sesat sebelum kenabian dan selepasnya.

Amat melampau bagi mereka sengaja menyalahkan tafsir firman Allah lantas menghukum Nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran. Ya Allah! segerakanlah balasanMu terhadap mereka yang menghina NabiMu mempergunakan ayatMu secara salah.
Ya saya (abu syafiq) mengatakan: Sesiapa mendakwa Nabi Muhammad sesat dari kebenaran adalah satu penghinaan kepada Nabi Muhammad dan ulama telah bersepakat bahawa sesiapa yang menghina Nabi maka aqidah dalam bahaya.
Manakala tafsir firman Allah dalam surah Ad-Dhuha ayat 7

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى

adalah bererti: ” Dan didapati pada mulanya engkau dalam keadaan tidak mengetahui segala & seluruhan isi kitab al-Quran dan selainnya kemudian engkau diberi petunjuk kepada mengetahui semua itu”.
Dan ia adalah tafsiran yang sama pada firman Allah:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا

Bererti: ” Dan begitu juga diwahyukan kepadamu (muhammad) pengisian dari kami ketika itu kamu (muhammad) tidak mengetahui keseluruhan isi kitab dan keseluruhan ilmu keimanan…”

Maka jelas! bukanlah surah Ad-Dhoha ayat 7 itu memberitahu Nabi Muhammad adalah sesat dari kebenaran. Tidak sama sekali. Nabi Muhammad tidak sesat dari kebenaran samaada sebelum kenabian mahupun selepasnya. Tetapi ia bererti Nabi Muhammad pada permulaannya tidak mengetahui keseluruhan isi kandungan kitab al-Quran kemudian diberi petunjuk dengan diturunkan al-Quran keseluruhannya. Memberi petunjuk tidak bererti Nabi Muhammad sesat dari kebenaran sebelum itu.

Dalam tafsiran yang lain Imam Qurtubi menjelaskan :  “ayat itu bererti : Dan didapati engkau tidak sepertimana engkau ketika ini, dan tafsiran lain adalah : Dan didapati engkau berada dalam perkarangan dan kawasan kaum kamu yang sesat maka Allah memberi petunjuk dan jalan keluar”.
Lihat! ulama tafsir tidak menyandarkan SESAT ke atas Nabi Muhammad sama sekali bahkan sekiranya hendak dikatakan sesat disitu adalah kaum baginda yang sesat ketika itu bukan nabi yang sesat.


Ini semua membuktikan seluruh ulama tafsir al-Quran yang mu’tabar tidak menghukum nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran samaada sebelum atau sesudah kenabian. Akan tetapi ayat itu mempunyai tafsiran yang menepati bahasa arab yang tinggi kesusasteraan dan kehebatannya dan boleh dirujuk tafsiran ulama Islam mu’tabar yang lain.

PERINGATAN! Tidak boleh dan tidak harus mengunakan ayat tersebut untuk menghukum nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran.Tidak boleh sama sekali!.


AL-ALBANI MENGHUKUM NABI MUHAMMAD SEBAGAI SESAT DARI KEBENARAN

Malangnya semua tokoh Wahhabi antaranya Al-Albani telah menghukum ke atas Nabi Muhammad sebagai sesat dan sesat dari kebenaran. Walaupun ulama tafsir telah menjelaskan makna ayat 7 dalam surah Ad-Dhoha tersebut bukan bererti begitu.
Mari kita lihat pada teks kenyataan Nasiruddin Al-Albani Al-Wahhabi yang menghukum nabi Muhammad sebagai sesat:
” Saya katakan kepada mereka yang bertawassul dengan wali dan orang soleh bahawa saya tidak segan sama sekali menamakan dan menghukum mereka sebagai SESAT dari kebenaran, tidak ada masaalah untuk menghukum mereka sebagai sesat dari kebenaran dan ini selari dengan penghukuman Allah ke atas nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran sebelum nuzulwahyu Ad-Dhuha ayat 7″. Rujuk kenyataan oleh Al-Albani tadi dalam Fatawa Al-Albani mukasurat 432.

Lihat bagaimana Al-Albani mempergunakan firman Allah pada bukan tempatnya. Amat jelas Al-Albani menghukum sesat terhadap umat Islam yang bertawassul dan samakan penghukuman sesat dia itu pula dengan penghukuman Allah terhadap nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran seperti yang didakwa oleh Al-Albani.

Hakikatnya umat Islam yang bertawassul tidaklah sesat bahkan harus amalan tawassul itu.
Sekiranya Al-Albani mahu sangat menghukum mereka sebagai sesat mengapa disamakan penghukumannya dengan firman Allah ta’ala?! dan mengapa Al-Albani mendakwa nabi Mumammad juga sesat dari kebenaran dan jelas lagi terang Al-Albani mengatakan “nabi Muhammad sebagai SESAT (DHOLLUN)! dan ditambah lagi oleh Al-Albani bahawa Nabi Muhammad sesat dari kebenaran! na’uzubillah.

Belagak pandai! ghuluw! pelampau! tidak amanah dalam ilmu! Takfir! Tadhlil! Tabdi’
Itulah pangkat yang selayaknya dengan insan begini. Jika mahu sangat menghukum umat Islam sebagai sesat mengapa nak dikaitkan kesesatan itu pada nabi Muhammad pula?! bukankah engkau sendiri wahai Wahhabi mengucap Wa Asyhadu anna Muhammad Rasulullah?! mengapa menghina Rasulullah pula?! mengapa mendakwa Rasulullah sesat dari kebenaran??! tak kiralah sebelum atau sesudah kenabian. Bukankah ulama tafsir telah menjelaskan?! Apa lagi penghina kamu wahai Wahhabi kepada insan yang mulia ini (Nabi Muhammad)? lalai? sesat? apa lagi?! ………..

Ya Allah! percepatkan balasanMu terhadap penghina nabiMu.

Amin ya Allah

http://www.abu-syafiq .blogspot.com

AL-ALBAANY MENGKAFIRKAN IMAM BUKHARY


Di sediakan oleh ;
Abu Lehyah al-Kelantany
(0133005046)

بيان الحق وكشف أهل الضلال

بسم لله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين,
المنـزه عن الشبيه والمثيل والزوجة والولد والإخوان، الموجود بلا جهة ولا مكان، المنـزه عن كل ما لا يليق به من الصفات والنعوت، والملك القهار ذي الجلال والجبروت، وأفضل الصلاة وأتم السلام على سيدنا محمد خير الأنام، وخاتم أنبياء الإسلام، وعلى ءاله الطاهرين، وصحبه الغر الميامين، ومن اتبع منهاجهم واقتفى أثرهم إلى يوم الدين.ـ”قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “حتى متى ترعون عن ذكر الظالم اذكروه بما فيه حتى يحذره الناس

Antara Fatwanya lagi, mengingkari takwilan Imam Bukhari. Sesungguhnya Imam Bukhari telah mentakwilkan Firmanallah :

كل سيء هالك إلا وجههقال البخاري بعد هذه الأية : أي ملكه
Ayat Mutasyabihat Yang artinya :  Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya
Berkata Imam Bukhary setelah ayat ini : (lafadz Wajah-Nya) bermakna kekuasaan-Nya
Tetapi Al-Albaany mengkritik keras takwilan ini lalu berkata :
(( هذا لا يقوله مسلم مؤمن ))
” Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang Muslim yang beriman “.
Lihatlah kitab (( Fatawa Al-Albaany )) m/s 523.
Tentang takwilan Imam Bukhari ini adalah suatu yang diketahui ramai kerana jika dilihat pada naskhah yang ada pada hari ini tidak ada yang lain melainkan termaktub di sana takwilan Imam Bukhari terhadap ayat Mutasyabihat tadi. Di samping itu juga, ini adalah antara salah satu dalil konsep penakwilan nusush sudah pun wujud pada zaman salaf (pendetailan pada pegertian makna). Bagaimana Beliau berani melontarkan pengkafiran terhadap Imam Bukhary As-Salafi dan mendakwa Imam Bukhary tiada iman dalam masa yang sama beriya-riya mengaku dirinya sebagai Muhaddits??!! memalukan je..
Beliau bukanlah hanya terhenti di situ sahaja, tetapi berani lagi mengeluarkan fatwa-fatwa sesat termasuk pengharaman bertawassul kepada dengan diri Nabi Sollallahu ‘Alaihi WassallaM dan menjadikan Istigahtsah selain daripada nabi sebagai syirik. Perkara ini boleh di rujuk didalam kitabnya (( AL-TAWASSSUL)), m/s 70 dan 73. Maka apa yang akan dikata oleh pengikut yang taasub dengan Al-Albaany jika penulis mengatakan Imam Bukhary meriwayatkan Hadis Tentang hari kiamat yang menunjukkan keharusan beristighatsah..yallah nanzur…

(( فبينما هم كذلك استغاثوا بآدم ثم موسى ثم محمحد ))

” maka ketika mana mereka juga beristighatsah dengan nabi Adam kemudian Nabi Musa, kemudian nabi Muhamad”..
Sebenarnya berlambak lagi dalil-dalil tentang keharusan bertawassul dan beristighatsah yang sohih dan diriwayatkan oleh ulama’-ulama’ muhadditsin yang muktabar…
Baca kesesatan-kesesatan albanay :