2-2-1 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (1/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

2-2-1 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (1/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

MENUJU KEBENINGAN TAUHID BERSAMA AS-SANUSI
Terjemah Syarḥ Umm-ul-Barāhin
Penulis: Al-Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi

Penerjemah: Ahmad Muntaha AM.
Penerbit: Santri Salaf Press-Kediri

Rangkaian Pos: 2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 2-2-1 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (1/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  2. 2.2-2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (2/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

(فَضْلٌ) وَ مَعَ أَنَا نَقُوْلُ أَنَّ الْمَعْرِفَةَ وَاجِبَةٌ وَ أَنَّ النَّظَرَ الْمُوْصِلُ إِلَيْهَا وَاجِبٌ، فَإِنَّ بَعْضَ أَصْحَابِنَا يَقُوْلُ أَنَّ مَنِ اعْتَقَدَ فِيْ رَبِّهِ تَعَالَى الْحَقَّ وَ تَعَلَّقَ بِهِ اعْتِقَادُهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيْحِ فِيْ صِفَاتِهِ فَإِنَّهُ مُؤْمِنٌ مُوَحِّدٌ. وَ لكِنْ هذَا لَا حَصَلَ لِغَيْرِ نَاظِرٍ لَمْ نَأْمَنْ أَنْ يَتَخَلْخَلَ اعْتِقَادُهُ.

(Pasal): Cukupnya Taqlīd untuk Meyakini Allah.

Di saat aku berpendapat bahwa ma‘rifat dan pemikiran yang mengantarkan padanya wajib, sebagian Ashḥāb kita (ulama Asy‘ariyah) berpendapat, bahwa orang yang meyakini kebenaran tentang Allah ta‘ālā dan keyakinannya terhadap sifat-sifat Allah bergantung padanya dengan cara yang benar, maka ia adalah seorang mu’min muwaḥḥid.Namun hal ini pada umumnya hanya diperoleh oleh orang yang melakukan pemikiran. Andaikan hal itu diperoleh selain orang yang melakukan pemikiran, keyakinannya tidak aman dari kegoncangan.

فَلَا بُدَّ عِنْدَنَا أَنْ يَعْلَمَ كُلَّ مَسْأَلَةٍ مِنْ مَسَائِلِ الْاِعْتِقَادِ بِدَلِيْلٍ وَاحِدٍ، وَ لَا يَنْفَعُهُ اعْتِقَادُهُ إِلَّا أَنْ يَصْدُرَ عَنْ دَلِيْلٍ عِلْمُهُ إِلَّا أَنْ يَصْدُرَ عَنْ دَلِيْلٍ عِلْمُهُ. فَلَوِ اخْتُرِمَ وَ قَدْ تَعَلَّقَ اعْتِقَادُهُ بِالْبَارِيْ تَعَالَى كَمَا يَنْبَغِيْ وَ عَجَزَ عَنِ النَّظَرِ فَقَالَ جَمَاعَةٌ مِنْهُمْ إِنَّهُ يَكُوْنُ مُؤْمِنًا، وَ إِنْ تَمَكَّنَ مِنَ النَّظَرِ وَ لَمْ يَنْظُرْ. قَالَ الْأُسْتَاذُ أَبُوْ إِسْحَاقٍ يَكُوْنُ مُؤْمِنًا عَاصِيًا بِتَرْكِ النَّظَرِ، وَ بَنَاهُ عَلَى أَصْلِ الشَّيْخِ أَبِيْ الْحَسَنِ.

Maka menurutku, orang harus mengetahui setiap permasalahan akidah dengan dalilnya. Keyakinan tidak akan bermanfaat baginya kecuali bila keyakinannya muncul dari suatu dalil. Bila orang mati dalam kondisi keyakinannya terhadap Allah ta‘ālā Yang Maha Selamat sebagaimana mestinya dan tidak mampu melakukan pemikiran, maka sebagian ulama Asy‘ariyah berpendapat, bahwa orang tersebut adalah mu’min; bila ia mampu melakukan pemikiran namun tidak melakukannya, maka menurut al-Ustādz Abū Isḥāq (261) ia mu’min yang maksiat sebab tidak melakukan penalaran – yang mana pendapat ini dibangunnya pada ajaran Syaikh Abū Ḥasan al-Asy‘arī – , (272).

وَ أَمَّا كَوْنُهُ مُؤْمِنًا مَعَ الْعَجْزِ وَ الْاِخْتِرَامِ فَظَاهِرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى، وَ أَمَّا كَوْنُهُ مُؤْمِنًا مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى النَّظَرِ وَ تَرْكِهِ فَقَوْلُهُ فِيْهِ نَظَرٌ عِنْدِيْ، وَ لَا أَعْلَمُ صِحَّتَهُ الْآنَ.

Adapun pernyataan Abū Isḥāq, bahwa orang tersebut mu’min bila tidak mampu melakukan penalaran dan mati, maka jelas benarnya, in syā’ Allāh; sedangkan pernyataan bahwa ia mu’min besertaan mampu melakukan pemikiran namun tidak melakukannya, maka menurutku dalam hal ini perlu pemikiran lebih lanjut, dan sekarang aku tidak meyakini kebenarannya.

فَإِنْ قِيْلَ: قَدْ أَوْجَبْتُمُ النَّظَرَ قَبْلَ الْإِيْمَانِ عَلَى مَا اسْتَقَرَّ مِنْ كَلَامِكُمْ فَإِذَا دُعِيَ الْمُكَلَّفُ إِلَى الْمَعْرِفَةِ فَقَالَ: حَتَّى أَنْظُرَ فَأَنَّا الْآنَ فِيْ مَهْلَةِ النَّظَرِ وَ تَحْتَ تِرْدَادِهِ، مَاذَا تَقُوْلُوْنَ؟ أَتَلْزَمُوْنَهُ الْإِقْرَارَ بِالْإِيْمَانِ فَتَنْقُضُوْنَ أَصْلَكُمْ فِيْ أَنَّ النَّظَرَ يَجِبُ قَبْلَهَا، أَمْ تُمْهِلُوْنَهُ فِيْ نَظَرِهِ إِلَى حَدٍّ يَتَطَاوَلُ بِهِ الْمُدَّى فِيْهِ، أَمْ تَقْدُرُوْنَهُ بِمِقْدَارٍ فَتَحْكُمُوْنَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ نَصٍّ؟

Bila disangkal: “Anda telah mewajibkan pemikiran sebelum keimanan sesuai makna ucapan anda, lalu bila seorang mukallaf disuruh untuk ma‘rifat (beriman) dan menjawab: “(Nanti dulu), sampai saya melakukan pemikiran, sebab sungguh sekarang saya masih dalam masa pemikiran yang lama dan sedang mengulang-ulangnya”, maka apa pendapat anda? Apakah anda akan mewajibkannya untuk mengikrarkan keimanan, sehingga anda merusak prinsip anda sendiri yang mewajibkan pemikiran sebelumnya, atau membiarkannya melakukan penalaran sampai waktu yang tidak diketahui batasnya, atau anda tentukan batas waktunya sehingga anda menghukumnya tanpa nash?

فَالْجَوَابُ أَنَّا نَقُوْلُ أَمَّا الْقَوْلُ بِوُجُوْبِ الْإِيْمَانِ قَبْلَ الْمَعْرِفَةِ فَضَعِيْفٌ، لِأَنَّ إِلْزَامَ التَّصْدِيْقِ بِمَا لَا تُعْلَمُ صِحَّتَهُ يُؤَدِّيْ إِلَى التَّسْوِيَةِ بَيْنَ النَّبِيِّ وَ الْمُتَنَبِّيْ، وَ أَنَّهُ يُؤْمِنُ أَوَّلًا فَيَنْظرُ فَيَتَبَيَّنُ لَهُ الْحَقُّ فَيَتَمَادَى، أَوْ يَتَبَيَّنُ لَهُ الْبَاطِلُ فَيَرْجِعُ وَ قَدِ اعْتَقَدَ الْكُفْرَ.

Maka jawabannya adalah, aku katakan: “Ada pun pendapat yang mewajibkan iman sebelum ma‘rifat (mengenal Allah) maka lemah, sebab mewajibkan pembenaran dengan suatu nisbat yang belum diyakini keabsahannya akan mengantarkan pada penyamaan antara Nabi dan orang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi, pada penetapan awal mulanya ia beriman, lalu melakukan pemikiran, menemukan kebenaran, dan meneruskan keimanannya, atau ia menemukan kebatilan, lalu ia kembali pada kondisi sebelumnya, yaitu meyakini kekufuran.

وً أَمَّا إِذَا دَعَا الْمَطْلُوْبُ بِالْإِيْمَانِ إِلَى النَّظَرِ فَيُقَالُ لَهُ: إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ النَّظَرَ فَاسْرُدْهُ، وَ إِنْ كُنْتَ لَا تَعْلَمُهُ فَاسْمَعْهُ” وَ يُسْرُدُ فِيْ سَاعَةٍ عَلَيْهِ، فَإِنْ آمَنَ تَحَقَّقَ اسْتِرْشَادُهُ، وَ إِنْ أَبَى تَبَيَّنَ عِنَادُهُ، فَوَجَبَ اسْتِخْرَاجُهُ مِنْهُ بِالسَّيْفِ أَوْ يَمُوْتُ.

Adapun ketika orang yang diperintah beriman tadi meminta melakukan pemikiran (dahulu), maka dikatakan kepadanya (bila tidak hidup bersama-sama umat Islam): “Bila anda mampu melakukan pemikiran (yang benar), maka lakukanlah sekarang juga; bila tidak, maka dengarkanlah, dan alur pemikiran yang benar disampaikan kepadanya dalam waktu secukupnya. (283) Bila beriman, maka ia nyata-nyata telah mendapatkan petunjuk; bila menolaknya, maka ia jelas-jelas telah mengingkarinya, maka pengingkaran itu wajib dikeluarkan darinya dengan ancaman pembunuhan, kecuali ia mati tanpa dibunuh.”

وَ إِنْ كَانَ مِمَّنْ ثَاقَنَ أَهْلُ الْإِسْلَامِ وَ عَلِمَ طَرِيْقَ الْإِيْمَانِ لَمْ يُمْهَلْ سَاعَةً، أَلَا تَرَى أَنَّ الْمُرْتَدَ اسْتَحَبَّ فِيْهِ الْعُلَمَاءُ الْإِمْهَالَ لَعَلَّهُ إِنَّمَا ارْتَدَّ لِرَيْبٍ فَيُتَرَبَّصُ بِهِ مُدَّةً لَعَلَّهُ أَنْ يُرَاجِعَ الشَّكَّ بِالْيَقِيْنِ وَ الْجَهْلُ بِالْعِلْمِ، وَ لَا يَجِبُ ذلِكَ لِحُصُوْلِ الْعِلْمِ بِالنَّظَرِ الصَّحِيْحِ أَوَّلًا.

Bila ia termasuk orang yang hidup bersama umat Islam dan mengetahui cara beriman, maka ia tidak diberi waktu sedikitpun untuk menunda keimanannya. Tidakkah anda tahu, bahwa ulama mensunnahkan memberi kesempatan kepadanya, mungkin ia murtad karena keraguan, lalu ditunggu sebentar mungkin ia dapat mengganti keraguannya dengan keyakinan, dan mengganti kebodohannya dengan ilmu; dan pemberian kesempatan pada orang murtad tersebut tidak wajib karena keyakinan dapat dihasilkan dengan pemikiran yang benar di permulaannya.

وَ كَيْفَ يَصِحُّ لِنَاظِرٍ أَنْ يَقُوْلَ إِنَّ الْإِيْمَانَ يَجِبُ أَوَّلًا قَبْلَ النَّظَرِ وَ لَا يَصِحُّ فِي الْمَعْقُوْلِ إِيْمَانٌ بِغَيْرِ مَعْلُوْمٍ، وَ ذلِكَ الَّذِيْ يَجِدُهُ الْمَرْءُ حُسْنَ ظَنٍّ فِيْ نَفْسِهِ بِمُخْبِرِهِ، إِلَّا فَإِنْ تَطَرَّقَ إِلَيْهِ التَّجْوِيْزُ أَوِ التَّكْذِيْبُ تَطَرَّقَ.

Bagaimana benar menurut seorang pemikir, pendapat yang menyatakan bahwa wajib iman dahulu sebelum pemikiran? Sebab, menurut akal tidak sah iman tanpa kebenaran yang diketahui. Keimanan yang ditemukannya terjadi karena husn-uzh-zhann dirinya kepada orang yang memberitakan keimanan kepadanya, bila tidak demikian, maka bila keraguan atau anggapan bohong mendatanginya, hal itu akan menggantikan kemantapan imannya.

وَ أَيْضًا فَإِنَّ النَّبِيَّ (ص) دَعَا الْخَلْقَ إِلَى النَّظَرِ أَوَّلًا، فَلَمَّا قَامَتِ الْحُجَّةُ بِهِ وَ بَلَغَ غَايَةَ الْإِعْذَارِ فِيْهِ حَمَلَهُمْ عَلَى الْإِيْمَانِ بِالسَّيْفِ، أَلَا تَرَى أَنَّ كُلَّ مَنْ دَعَاهُ إِلَى الْإِيْمَانِ قَالَ لَهُ: “اِعْرِضْ عَلَيَّ آيَتَكَ”، فَيَعْرِضُهَا عَلَيْهِ فَيَظْهَرُ لَهُ الْحَقُّ فَيُؤْمِنُ فَيَأْمَنُ، أَوْ يُعَانِدُ فَيَهْلِكُ. انتهى.

Selain itu, sungguh Nabi s.a.w. pada masa awal risalahnya mengajak manusia untuk melakukan pemikiran, kemudian setelah hujjah menjadi kuat berdasarkan pemikiran dan beliau mencapai uzur tertinggi untuk melakukannya, maka beliau mengajak mereka beriman dengan ancaman perang. Tidakkah anda lihat, bahwa setiap orang yang diajaknya beriman berkata kepadanya: “Tunjukkan tanda-tanda kenabianmu kepadaku!” Lalu beliau menunjukkannya, maka jelaslah kebenaran bagi orang tersebut, kemudian dia beriman dan mendapatkan keamanan, atau mengingkarinya dan mendapatkan kerusakan.”

هذَا كَلَامُ ابْنُ الْعَرَبِيِّ، وَ هُوَ حَسَنٌ؛ وَ اسْنُشْكِلَ الْقَوْلُ بِأَنَّ الْمُقَلِّدِ لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ، لِأَنَّهُ يَلْزَمُ عَلَيْهِ تَكْفِيْرُ أَكْثَرِ عَوَامِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَ هُمْ مُعْظِمُ هذِهِ الْأُمَّةِ، وَ ذلِكَ مِمَّا يَقْدَحُ فِيْمَا عُلِمَ أَنَّ سَيِّدَنَا وَ نَبِيَّنَا مُحَمَّدٍ (ص) أَكْثَرُ الْأَنْبِيَاءِ أَتْبَاعًا، وَ وَرَدَ أَنَّ أُمَّتَهُ الْمُشْرِفَةُ ثُلُثَا أَهْلِ الْجَنَّةِ.

Demikian pernyataan Ibn-ul-‘Arabī yang merupakan pendapat bagus, namun dimuskilkan dengan konsekuensi, bahwa seorang muqallid tidak berstatus mu’min, sebab pendapat tersebut berkonsekuensi mengafirkan mayoritas muslim awam, padahal mereka adalah mayoritas umat-ul-ijābah (294) ini. Hal ini mencemari fakta yang telah diketahui, yaitu sungguh Sayyidunā wa Nabiyyunā Muḥammad s.a.w. adalah Nabi yang paling banyak pengikutnya, dan telah ada hadits yang menyatakan bahwa umatnya yang mulia merupakan 2/3 penghuni surga. (305).

وَ أُجِيْبُ بِأَنَّ الْمُرَادَ بِالدّلِيْلِ الَّذِيْ تَجِبُ مَعْرِفَتُهُ عَلَى جَمِيْعِ الْمُكَلَّفِيْنَ هُوَ الدَّلِيْلُ الْجُمْلِيُّ، وَ هُوَ الَّذِيْ يُحَصِّلُ فِي الْجُمْلَةِ لِلْمُكَلَّفِ الْعِلْمَ وَ الطُّمَأْنِيْنَهُ بِعَائِدِ الْإِيْمَانِ، بِحَيْثُ لَا يَقُوْلُ قَلُبُهُ فِيْهَا: “لَا أَدْرِيْ، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُوْلُوْنَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ.

Kemusykilan itu dapat dijawab dengan jawaban, sungguh yang dimaksud dengan dalil yang wajib diketahui oleh seluruh mukallaf adalah dalil ijmālī (yang bersifat umum), yang pada umumnya menghasilkan keyakinan dan penerimaan hati atas akidah-akidah keimanan bagi mukallaf, sekira hatinya tidak mengatakan: “Aku tidak mengetahui, aku dengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku pun mengatakannya.”

وَ لَا يُشْتَرَطُ مَعْرِفَةُ النَّظَرِ عَلَى طَرِيْقِ الْمُتَكَلِّمِيْنَ مِنْ تَحْرِيْرِ الْأَدِلَّةِ وَ تَرْتِيْبِهَا وَ دَفْعِ الشُّبْهَةِ الْوَارِدَةِ عَلَيْهَا، وَ لَا الْقُدْرَةُ عَلَى التَّعْبِيْرِ عَمَّا حَصَلَ فِي الْقَلْبِ مِنَ الدَّلِيْلِ الْجُمْلِيِّ الَّذِيْ حَصَلَتْ بِهِ الطُّمَأْنِيْنَةُ.

Tidak disyaratkan mengetahui pemikiran sesuai metode mutakallimin, yaitu meneliti dan membenarkan dalil-dalil, menolak syubhat yang datang padanya, dan mengungkapkan dalil ijmālī yang ada di hati yang menghasilkan penerimaan.

وَ لَا شَكَّ أَنَّ النَّظَرَ عَلَى هذَا الْوَجْهِ غَيْرُ بَعِيْدٍ حُصُوْلُهُ لِمَعْظَمِ هذِهِ الْأُمَّةِ أَوْ لِجَمِيْعِهَا فِيْمَا قَبْلَ آخِرِ الزَّمَانِ الَّذِيْ يَرْفَعُ فِيْهِ الْعِلْمُ النَّافِعُ، وَ يَكْثُرُ فِيْهِ الْجَهْلُ الْمُضِرُّ، وَ لَا يَبْقَى فِيْهِ التَّقْلِيْدُ الْمُطَابِقُ، فَضْلًا عَنِ الْمَعْرِفَةِ عِنْدَ كَثِيْرٍ مِمَّنْ يُظَنُّ بِهِ الْعِلْمُ، فَضْلًا عَنْ كَثِيْرٍ مِنَ الْعَامَّةِ، وَ لَعَلَّنَا أَدْرَكْنَا هذَا الزَّمَانَ بِلَا رَيْبٍ، وَ اللهُ الْمُسْتَعَانُ وَ لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

Tidak diragukan, bahwa pemikiran sederhana semacam ini tidak sulit diperoleh bagi mayoritas atau semua umat-ul-ijābah ini sebelum akhir zaman yang pada waktu itu ilmu nāfi‘ akan diangkat; banyaknya kebodohan yang membahayakan; tidak ada taqlīd yang benar, apalagi ma‘rifat, pada orang-orang yang disangka mempunyai ilmu, apalagi pada orang-orang awam. Mungkin tanpa diragukan, kita menjumpai zaman ini. Allah Dzat Yang Maha diminta Pertolongan. Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh-il-‘aliyy-il-‘azhīm.

وَ فِي الْحَدِيْثِ عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): تَكُوْنُ فِتْنَةٌ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُؤْمِنًا وَ يُمْسٍيْ كَافِرًا إِلَّا مَنْ أَجَارَهُ اللهُ تَعَالَى بِالْعِلْمِ.

Diriwayatkan dalam suatu hadits dari Abū Umāmah r.h., ia berkata: “Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Akan ada fitnah di akhir zaman, di pagi hari orang berstatus mu’min dan sorenya sudah menjadi kafir, kecuali orang yang dijaga oleh Allah dengan ilmu.” (316).

Catatan:

  1. 26). Abū Isḥāq Ibrāhīm bin Muḥammad bin Ibrāhīm bin Mahrān al-Asfarayinī (w. 418 H/1027 M). Baca, az-Zirikla, al-A‘lam, 1/61.
  2. 27). Penalaran bukan syarat sah iman, namun hanya merupakan syarat keluar dari dosa karena tidak melakukannya. Baca, Muḥammad ad-Dasūqī, Ḥāsyiyat-ud-Dasūqī ‘alā Umm-il-Barāhīn (Singapura-Jeddah-Indonesia: al-Haramain, tth.) 62.
  3. 28). Seperti dikatakan kepadanya: “Alam itu bersifat hadits, dan setiap hal yang hadits pasti ada penciptanya”, dan ditunjukkan dilālah-nya kepadanya sampai ia menemukan natījah-nya. Ibid., 64.
  4. 29). Umat-ul-Ijābah adalah umat yang memenuhi seruan Allah dan Rasūl-Nya, dan beriman secara nyata; sedangkan umat-ud-da‘wah adalah semua umat yang Allah perintahkan Rasūl-Nya untuk mengajak mereka masuk Islam. Asy-Sya‘rawī, Tafsīr-usy-Sya‘rawī(ttp.: al-Azhar, 1961), IV/2466.
  5. 30). Yaitu hadits:قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): أَهْلُ الْجَنَّةِ عِشْرُوْنَ وَ مِائَةُ صَفٍّ. ثَمَانُوْنَ مِنْهَا مِنْ هذِهِ الْأُمَّةِ، وَ أَرْبَعُوْنَ مِنْ سَائِرِ الْأُمَمِ. (رواه الترمذي، حسن).

    “Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Penghuni surga ada 120 baris. 80 barisnya dari umatku ini, dan 40 barisnya dari umat selainnya.” (H.R. at-Tirmidzi, hasan).

  6. 31). H.R. at-Thabrānī. Baca Sulaimān bin Aḥmad ath-Thabrānī, Musnad asy-Syāmiyyīn (Bairut: Mu’assasah ar-Risalah, 1405 H/1984 M), II/227.

2-2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (2/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

MENUJU KEBENINGAN TAUHID BERSAMA AS-SANUSI
Terjemah Syarḥ Umm-ul-Barāhin
Penulis: Al-Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi

Penerjemah: Ahmad Muntaha AM.
Penerbit: Santri Salaf Press-Kediri

Rangkaian Pos: 2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  1. 1.2-2-1 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (1/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  2. 2.Anda Sedang Membaca: 2-2-2 Pasal: Cukupnya Taqlid untuk Meyakini Allah (2/2) – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

وَ بِالْجُمْلَةِ فَالْاِحْتِيَاطُ فِي الْأُمُوْرِ هُوَ أَحْسَنُ مَا يَسْلُكُهُ الْعَاقِلُ، لَا سِيَّمَا فِيْ هذَا الْأَمْرِ الَّذِيْ هُوَ رَأْسُ الْمَالِ، وَ عَلَيْهِ يَنْبَنِيْ كُلُّ خَيْرٍ، فَكَيْفَ يَرْضَى ذُوْ هِمَّةٍ أَنْ يَرْتَكِبَ مِنْهُ مَا يُكَدِّرُ مَشْرَبَهُ مِنَ التَّقْلِيْدِ الْمُخْتَلَفِ فِيْهِ، وَ يَتْرُكُ الْمَعْرِفَةَ وَ التَّعَلُّمَ لِلنَّظَرِ الصَّحِيْحِ الَّذِيْ يَأْمَنُ مَعَهُ كُلُّ مُخَوِّفٍ، ثُمَّ يَلْتَحِقُ مَعَهُ بِدَرَجَةِ الْعُلَمَاءِ الدَّاخِلِيْنَ فِيْ سَلْكِ قَوْلِهِ تَعَالَى: “شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلهَ إلَّا هُوَ وَ الْمَلَائِكَةُ وَ أُوْلُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ”، الآيَةَ.

Kesimpulannya, hati-hati dalam segala permasalahan merupakan langkah terbaik yang ditempuh orang berakal, apalagi terkait keimanan yang merupakan modal utama manusia, yang di atasnya semua kebaikan dibangun. Bagaimana orang ber-himmah rela menempuh jalan taqlīd yang masih diperselisihkan dan memperkeruh akidahnya, meninggalkan ma‘rifat dan belajar melakukan pemikiran yang benar yang dapat menghindarkannya dari segala kekhawatiran, kemudian dengannya mencapai derajat ulama yang masuk dalam makna firman Allah ta‘ālā: “Allah menjelaskan, sungguh tidak Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Menegakkan Keadilan; Malaikat dan orang-orang yang berpengetahuan pun mengakuinya…..” (321).

فَلَا يَتَقَاصَرُ عَنْ هذِهِ الرُّتْبَةِ الْمَأْمُوْنَةِ الزَّكِيَّةِ إِلَّا ذُوْ نَفْسٍ سَاقِطَةٍ وَ هِمَّةٍ خَسِيْسَةٍ. لكِنْ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَنْظُرَ أَوَّلًا فِيْمَنْ يُحَقِّقُ لَهُ هذَا الْعِلْمَ وَ يَخْتَارُهُ لِلصُّحْبَةِ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْمُؤَيَّدِيْنَ مِنَ اللهِ تَعَالَى بِنُوْرِ الْبَصِيْرَةِ، الزَّاهِدِيْنَ بَقُلُوْبِهِمْ فِيْ هذَا الْعُرْضِ الْحَاضِرِ، الْمُشْفِقِيْنَ عَلَى الْمَسَاكِيْنِ، الرُّؤَفَاءُ عَلَى ضُعَفَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ.

Tidaklah mencukupkan diri jauh dari derajat yang aman dan suci ini kecuali orang yang berjiwa rendah dan ber-himmah hina. Namun demikian, pertama kali wajib bagi orang berakal untuk mempertimbangkan orang yang mengajarinya secara benar ilmu akidah keimanan ini, dan memilihnya untuk dijadikan guru, dari para imam yang oleh Allah dikokohkan dengan cahaya hati, yang zuhud dengan hatinya dari dunia yang ada ini, yang penuh belas kasihan kepada orang-orang mu’min ilmu, dan orang-orang mu’min yang lemah pemahamannya.

فَمَنْ وَجَدَ أَحَدًا عَلَى هذِهِ الصِّفَةِ فِي هذَا الزَّمَانِ الْقَلِيْلِ الْخَيْرَ جِدًّا، فَلْيَشُدَّ يَدَهُ عَلَيْهِ، وَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَجِدُ لَهُ، وَ اللهُ أَعْلَمُ، ثَانِيًا فِيْ عَصْرِهِ، إِذْ مَنْ يَكُوْنُ عَلَى هذِهِ الصِّفَةِ أَوْ قَرِيْبًا مِنْهَا، لَا يَكُوْنُ مِنْهُمْ فِيْ أَوَاخِرِ الزَّمَانِ إِلَّا الْوَاحِدُ وَ مَنْ يَقْرُبُ مِنْهُ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ.

Orang yang menemukan guru semacam itu pada zaman yang sedikit sekali kebaikannya ini, hendaklah selalu mengikutinya. Ketahuilah, sungguh ia tidak akan menemukannya lagi – wallāhu a‘lam – untuk kedua kalinya pada masanya. Sebab, orang yang mempunyai sifat seperti itu atau yang mendekatinya (yang secara terang-terangan mengajarkan ilmu ini), di akhir zaman tidak ada kecuali seorang saja, dan orang yang mendekatinya, sesuai penjelasan ulama.

ثُمَّ الْغَالِبُ عَلَيْهِ فِيْ هذَا الزَّمَانِ الْخَفَاءُ، بِحَيْثُ لَا يُرْشَدُ إِلَيْهِ إِلَّا قَلِيْلٌ مِنَ النَّاسِ. وَلْيَشْكُرِ اللهَ سُبْحَانَهُ الَّذِيْ أَطْلَعَهُ عَلَى هذِهِ الْغَنِيْمَةِ الْعظْمَى آنَاءَ اللَّيْلِ وَ أَطْرَافَ النَّهَارِ، إِذْ أَظْفَرَهُ مَوْلَاهُ الْكَرِيْمُ جَلَّ وَ عَزَّ بِمَحْضِ فَضْلِهِ بِكَنْزٍ عَظِيْمٍ مِنْ كُنُوْزِ الْجَنَّةِ، يُنْفِقُ مِنْهُ مَا شَاءَ وَ كَيْفَ شَاءَ، وَ قَلِيْلٌ أَنْ يُنْفِقَ الْيَوْمَ وُجُوْدَ مِثْلِ هذَا إِلَّا نَادِرٌ مِنَ السُّعَدَاءِ.

Pada umumnya di zaman ini, orang yang seperti itu samar (sulit ditemukan), sekira tidak ditunjukkan kepadanya kecuali sedikit orang saja. Hendaklah ia bersyukur kepada Allah sepanjang malam dan siang yang telah memperlihatkannya atas kesuksesan besar ini. Sebab Allah Yang Maha Pemurah – jalla wa ‘azza – dengan kemurnian anugerah-Nya telah memberinya kesuksesan mendapat kekayaan surga yang sangat besar (guru dengan sifat-sifat yang telah disebutkan) yang dapat menjadi sumber belajar dan dengan cara bagaimanapun yang dikehendakinya ia belajar kepadanya. Sedikit sekali orang yang dapat belajar kepada guru semacam ini pada masa sekarang ini kecuali orang beruntung yang langka.

وَ أَمَّا مَنْ يَقْرَأُ هذَا الْعِلْمَ عَلَى مَنْ يَتَعَاطَى لَهُ وَ لَيْسَ عَلَى الصِّفَةِ الَّتِيْ ذَكَرْنَاهَا فَمَفَاسِدُ صُخْبَةِ هذَا دُنْيًا وَ أُخْرَى أَكْثَرُ مِنْ مَصَالِحِهَا، وَ مَا أَكْثَرُ وُجُوْدِ مِثْلِ هؤُلَاءِ فِيْ زَمَانِنَا فِيْ كُلِّ مَوْضِعٍ، نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى السَّلَامَةَ مِنْ شَرِّ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ (ص).

Adapun orang yang membacakan ilmu akidah ini kepada orang yang meminta kepadanya sementara ia tidak mempunyai sifat-sifat yang telah aku sebutkan, maka mafsadah menjadi muridnya di dunia dan akhirat lebih banyak daripada kemaslahatannya. Sangat banyak orang-orang seperti itu di zaman kita di setiap tempat. Aku memohon keselamatan kepada Allah ta‘ālā dengan derajat Sayyidinā Muḥammad s.a.w. dari keburukan diriku dan keburukan setiap orang yang mempunyai keburukan.

وَلْيَحْذَرِ الْمُبْتَدِئُ جُهْدَهُ أَنْ يَأْخُذَ أُصُوْلَ دِيْنِهِ مِنَ الْكُتُبِ الَّتِيْ حُشِيَتْ بِكَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ، وَ أُوْلِعَ مُؤَلِّفُوْهَا بِنَقْلِ هَوْسِهِمْ، وَ مَا هُوَ كُفْرٌ صُرَّاحٌ مِنْ عَقَائِدِهِمْ الَّتِيْ سَتَرُوْا نَجَاسَتَهَا بِمَا يَنْبَهِمُ عَلَى كَثِيْرٍ مِنِ اصْطِلَاحَاتِهِمْ وَ عِبَارَاتِهِمُ الَّتِيْ أَكْثَرُهَا أَسْمَاءُ بِلَا مُسَمَّيَاتٍ، وَ ذلِكَ كَكُتُبِ الْإِمَامِ الْفَخْرِ فِيْ عِلْمِ الْكَلَامِ، وَ طَوَالِعِ الْبَيْضَاوِيْ، وَ مَنْ حَذَا حَذْوَهُمَا فِيْ ذلِكَ.

Hendaklah pelajar pemula menghindarkan kemampuannya untuk belajar ushūl-ud-dīn-nya dari kitab-kitab yang dipenuhi pendapat-pendapat kaum filosuf, para penulisnya menggantungkan diri dengan mengutip kegilaan mereka yang merupakan kekufuran nyata, yaitu akidah-akidah yang kenajisannya mereka tutupi dengan berbagai istilah dan ungkapan yang samar yang mayoritas hanya merupakan nama tanpa substansi, seperti kitab-kitab karya al-Imām al-Fakhr ar-Rāzī tentang kalām, kitab Thawāli‘ karya al-Baidhāwī, dan orang-orang yang menempuh metode mereka dalam ilmu kalam. (332)

وَ قَلَّ أَنْ يُفْلِحَ مَنْ أَوْلَعَ بِصُحْبَةِ كَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ أَوْ يَكُوْنَ لَهُ نُوْرُ إِيْمَانٍ فِيْ قَلْبِهِ أَوْ لِسَانِهِ. وَ كَيْفَ يُفْلِحُ مَنْ وَالَى مَنْ حَادَ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ خَرَقَ حِجَابِ الْهَيْبَةِ وَ نَبَذَ الشَّرِيْعَةَ وَرَاءَ ظَهْرِهِ وَ قَالَ فِيْ حَقّ مَوْلَانَا جَلَّ وَ عَزَّ وَ فِيْ حَقِّ رُسُلِهِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ مَا سَوَّلَتْ لَهُ نَفْسُهُ الْحَمْقَاءُ، وَ دَعَاهُ إِلَيْهِ وَهْمُهُ الْمُخْتَلُّ.

Jarang sekali beruntung orang yang menggantungkan diri dengan menekuni kalam para filosuf, atau mendapatkan cahaya keimanan di hati atau lisannya. Bagaimana beruntung orang yang mengasihi orang yang memusuhi Allah dan Rasūl-Nya, membakar haibah Allah yang laksana hijab, membuang syariat di belakang punggungnya, dan berkata bagi Allah – jalla wa ‘azza – dan para Rasūl-Nya ‘alaihim-ush-shālatu was-salām – dengan perkataan yang dihiaskan oleh dirinya yang bodoh dan diajak oleh persangkaannya yang rusak.

وَ لَقَدْ خَذَلَ بَعْضُ النَّاسِ فَتَرَاهُ يُشْرِفُ كَلاَمَ الْفَلَاسِفَةِ الْمَلْعُوْنِيْنَ، وَ يُشْرِفُ الْكُتُيَ الَّتِيْ تُعَرِّضَتْ لِنَقْلِ كَثِيْرٍ مِنْ حَمَاقَاتِهِمْ لِمَا تَمَكَّنَ فِيْ نَفْسِهِ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوْءِ مِنْ حُبِّ الرِّيَاسَةِ و حُبُّ الْإِغْرَابِ عَلَى النَّاسِ بِمَا يَنْبَهِمُ عَلَى كَثِيْرٍ مِنْهُمُ مِنْ عِبَارَاتٍ وَ اصْطِلَاحَاتٍ يُوْهِمُهُمْ أَنَّ تَحْتَهَا عُلُوْمًا دَقِيْقَةً نَفِيْسَةً، وَ لَيْسَ تَحْتَهَا إِلَّا التَّخْلِيْطُ وَ الْهَوْسُ وَ الْكُفْرُ الَّذِيْ لَا يَرْضَى أَنْ يَقُوْلَهُ عَاقِلٌ.

Sungguh sebagian orang telah terlalaikan, sehingga anda lihat ia memuliakan kalām kaum filosuf terlaknat, memuliakan kitab-kitab yang ditulis untuk mengutip berbagai kebodohan mereka karena cinta pangkat dan keunikan menggungguli orang lain dengan berbagai ungkapan dan istilah yang samar bagi kebanyakan orang, yang mengesankan bagi mereka bahwa di bawahnya terdapat ilmu-ilmu yang mendalam dan bagus, padahal kenyataannya hanya pencampuradukkan, kegilaan, dan kekufuran yang orang berakal tidak sudi mengucapkannya.

وَ رُبَّمَا يُؤْثِرُ بَعْضُ الْحَمْقَى هَوْسَهُمْ عَلَى الْاِشْتِغَالِ بِمَا يُعِيْنُهُ مِنَ التَّفَقُّهِ فِيْ أُصُوْلِ الدِّيْنَ وَ فُرُوْعِهِ عَلَى طَرِيْقِ السَّلَفِ الصَّالِحِ وَ الْعَمَلُ بِذلِكَ، وَ يَرَى هذَا الْخَبِيْثَ لِانْطِمَاسِ بَصِيْرتِهِ وَ طَرْدِهِ عَنْ بَابِ فَضْلِ اللهِ تَعَالَى إِلَى بَابِ غَضَبهِ أَنَّ الْمُسْتَغِلِيْنَ بِالتَّفَقُّهِ فِيْ دِيْنِ اللهِ تَعَالَى الْعَظِيْمِ الْفَوَائِدِ دُنْيًا وَ أُخْرًا بَلَدَاءَ الطَّبْعِ نَاقِصُو الذُّكَاء.

Terkadang sebagian orang bodoh memprioritaskan mempelajari kegilaan kaum filosuf daripada menyibukkan diri dengan mempelajari ushūl dan furū‘-ud-dīn sesuai metode kaum as-Salaf ash-Shāliḥ dan mengamalkannya, yang bermanfaat baginya. Karena terhapusnya mata hati dan terlemparnya dari pintu anugerah Allah ta‘ālā ke pintu murka-Nya. Orang bodoh yang keji ini menganggap orang-orang yang fokus memelajari agama Allah ta‘ālā yang besar manfaatnya di dunia dan akhirat, sebagai orang-orang berwatak bodoh dan kurang cerdas.

فَمَا أَجْهَلَ هذَا الْخَبِيْثَ وَ أَقْبَحَ سَرِيْرَتُهُ وَ أَعْمَى قَلْبَهُ حَتَّى رَأَى الظُّلْمَةَ نُوْرًا وَ النُّوْرَ ظُلْمَةً. وَ مَنْ يُرِدِ اللهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللهِ شَيْئًا، أولئِكَ الَّذِيْنَ لَمْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوْبَهُمْ، لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ، سَمَّاعُوْنَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُوْنَ لِلسُّحْتِ…..

Sungguhnya bodoh, sungguh keji dan sungguh buta hatinya, sampai ia melihat kegelapan sebagai cahaya dan melihat cahaya sebagai kegelapan. Orang yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu (Muḥammad s.a.w.) tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) dari-Nya. Mereka adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hatinya. Bagi mereka kehinaan di dunia dan akhirat. Bagi mereka siksaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong dan banyak memakan harta haram….. (343).

نَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ أَنْ يُعَامِلَنَا وَ يُعَامِلَ جَمِيْعَ أَحِبَّتِنَا إِلَى الْمَمَاتِ بِمَحْضِ فَضْلِهِ، وَ أَنْ يَلْطَفَ بِجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَ يَقِيْهِمْ فِيْ هذَا الزَّمَانِ الصَّعْبِ مَوَارِدَ الْفِتَنِ بِجُوْدِهِ وَ كَرَمِهِ بِجَاهِ أَشْرَفِ الْخَلْقِ سَيِّدِنَا وَ مَوْلَانَا مُحَمَّدٍ (ص).

Aku memohon kepada Allah s.w.t. agar Ia menjagaku dan orang-orang yang mencintaiku sampai mati dengan kemurnian anugerahnya, dan agar mengasihi semua mu’minin, dan menjaga mereka di zaman yang penuh kesulitan ini dari datangnya berbagai fitnah, dengan kemurahan dan kedermawanan-Nya, dengan lantaran derajat manusia termulia, Sayyidinā wa Maulānā Muḥammad s.a.w.

Catatan:

  1. 32). QS. Āli ‘Imrān: 18.
  2. 33). Merujuk al-Burhān al-Laqqānī dalam Hidāyat-ul-Murīd sebagaimana kutipan al-Bajūrī, pada mulanya dahulu ulama mencukupkan diri dengan pembahasan dzat, shifat, kenabian, dan sam‘iyyat. Lalu muncul berbagai sekte ahli bid‘ah yang sering mendebat dan melempar propaganda yang bercampur kaidah-kaidah filsafat terhadap ulama. Di kemudian hari, hal ini menuntut ulama pada masa berikutnya seperti al-Fakhr-ur-Rāzī, al-Baidhāwī, as-Sa‘d, al-‘Adhad, dan Ibn ‘Irfah untuk memasukkan materi-materi filsafat pada kitab-kitab kalām mereka untuk menghadapi, meruntuhkan, menjelaskan kesalahan, dan menjelaskan bahwa propaganda kaum filosuf, sehingga peringatan agar menghindari kitab-kitab mereka hanya diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu memahaminya. Ad-Dasūqī, Ḥāsyiyat-ud-Dasyūqī, 71.
  3. 34). QS. Al-Mā’idah: 41-42.

3-1 Sifat Wajib Bagi Allah – Wujud – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

3-1 Sifat Wajib Bagi Allah – Wujud – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

MENUJU KEBENINGAN TAUHID BERSAMA AS-SANUSI
Terjemah Syarḥ Umm-ul-Barāhin
Penulis: Al-Imam Muhammad bin Yusuf as-Sanusi

Penerjemah: Ahmad Muntaha AM.
Penerbit: Santri Salaf Press-Kediri

Rangkaian Pos: 003 Sifat Wajib Bagi Allah – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 3-1 Sifat Wajib Bagi Allah – Wujud – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  2. 2.3-2 Sifat Wajib Bagi Allah – Qidam – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  3. 3.3-3 Sifat Wajib Bagi Allah – Baqa’ – Terjemah Syarh Umm al-Barahin
  4. 4.3-4 Sifat Wajib Bagi Allah – Mukhalafah lil-Hawadits – Terjemah Syarh Umm al-Barahin

Sifat Wajib bagi Allah

 

[صــــ] (فِمَّا يَجِبُ لِمَوْلَانَا جَلَّ وَ عَزَّ عِشْرُوْنَ صِفَةً)

Di antara yang wajib dimiliki Allah – jalla wa ‘azza – adalah 20 sifat.

 

Syarḥ:

[شــــ] أَشَارَ بِمَنِ التَّبْعِيْضِيَّةِ إِلَى أَنَّ صِفَاتِ مَوْلَانَا جَلَّ وَ عَزَّ الْوَاجِبَةَ لَهُ لَا تَنْحَصِرُ – فِيْ هذِهِ الْعِشْرُوْنَ، إِذْ كَمَلَاتُهُ تَعَالَى لَا نِهَايَةَ لَهَا، لَكِنِ الْعَجْزُ عَنْ مَعْرِفَةِ مَا لَمْ يَنْصُبْ عَلَيْهِ دَلِيْلٌ عَقْلِيٌّ وَ لَا نَقْلِيٌّ لَا نُؤَاخَذُ بِهِ بِفَضْلِ اللهِ تَعَالَى.

Kitab Asal berisyarat dengan huruf (مِنْtab‘idhiyyah untuk menunjukkan, bahwa sifat-sifat Allah – jalla wa ‘azza – tidak terbatas pada 20 sifat ini, sebab kesempurnaan-Nya tidak terbatas, namun ketidakmampuan mengetahui sifat-sifat yang tidak terjelaskan oleh dalil ‘aqli dan naqli membuat kita tidak disiksa karenanya, berkat angerah Allah ta‘ālā.

1. Wujūd.

[صـــ] (وَ هِيَ الْوُجُوْدُ)

Yaitu (1). Wujūd.

 

Syarḥ.

[شــــ] مَعْنَاهُ ظَاهِرٌ، وَ فِيْ عَدِّ الْوُجُوْدِ صِفَةً عَلَى مَذْهَبِ الشَّيْخِ الْأَشْعَرِيِّ تَسَامُحٌ، لِأَنَّهُ عِنْدَهُ عَيْنُ الذَّاتِ وَ لَيْسَ بِزَائِدٍ عَلَيْهَا، وَ الذَّاتُ لَيْسَتْ بِصِفَةٍ، لَكِنْ لَمَّا كَانَ الْوُجُوْدُ تُوْصَفُ بِهِ الذَّاتُ فِي اللَّفْظِ فَيُقَالُ ذَاتُ مَوْلَانَا جَلَّ وَ عَزَّ مَوْجُوْدَةٌ، صَحَّ أَنْ يُعَدَّ صِفَةً عَلَى الْجُمْلَةِ.

Maknanya jelas, namun dalam menghitung wujūd sebagai suatu sifat berdasarkan madzhab asy-Syaikh Abul-Ḥasan al-Asy‘arī merupakan tasāmuḥ (majaz). Sebab menurutnya, wujūd merupakan Dzāt Allah itu sendiri, bukan selainnya, dan Dzāt Allah bukanlah suatu sifat. Namun ketika dalam pelafalan wujūd dijadikan sifat bagi Dzāt Allah, dan dikatakan: “Dzāt Allah – jalla wa ‘azza – itu maujūd”, maka secara umum wujūd sah dihitung sebagai suatu sifat.

وَ أَمَّا عَلَى مَذْهَبِ مَنْ جَعَلَ الْوُجُوْدَ زَائِدًا عَلَى الذَّاتِ كَالْإِمَامِ الرَّازِيِّ فَعُدُّهُ مِنَ الصِّفَاتِ صَحِيْحٌ لَا تَسَامُحَ فِيْهِ.

Adapun menurut madzhab ulama yang menjadikan wujūd sebagai sesuatu yang bukan Dzāt Allah, sebagaimana Imām ar-Rāzī, maka menghitungnya sebagai bagian dari sifat-sifat Allah adalah benar dan tidak ada tasāmuḥ di dalamnya.

وَ مِنْهُمْ مَنْ جَعَلَهُ زَائِدًا عَلَى الذَّاتِ فِي الْحَادِثِ دُوْنَ الْقَدِيْمِ، وَ هُوَ مَذْهَبُ الْفَلَاسِفَةِ.

Sebagian ulama ada yang menjadikan wujūd sebagai sesuatu yang bukan Dzāt Allah pada masa ḥādits, bukan masa qadīm. Ini madzhab kaum filosuf.

2. Qidam.

[صـــ] (وَ الْقِدَمُ)

(2). Qidam.

 

Syarḥ.

[شــــ] الْأَصَحُّ أَنَّ الْقِدَمَ صِفَةٌ سَلْبِيَّةٌ، أَيْ لَيْسَتْ بِمَعْنَى مَوْجُوْدٍ فِيْ نَفْسِهَا كَالْعِلْمِ مَثَلًا، وَ إِنَّمَا هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ سَلْبِ الْعَدَمِ السَّابِقِ عَلَى الْوُجُوْدِ، وَ إِنْ شِئْتَ قُلْتَ: هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ افْتِتَاحِ الْوُجُوْدِ، وَ الْعِبَارَاتُ الثَّلَاثُ بِمَعْنَى وَاحِدٍ.

Pendapat al-Ashaḥḥ menyatakan, bahwa qidam adalah sifat salbiyyah. Maksudnya tidak ada makna yang maujūdpadanya, seperti sifat ilmu misalnya. Qidam hanya merupakan ungkapan untuk menafikan sifat ‘adam (tiada) yang mendahului wujūd. Bila mau anda dapat mengatakan: “Qidam merupakan ungkapan dari tidak adanya permulaan bagi wujud Allah.” Bila pula anda katakan: “Qidam merupakan ungkapan dari tidak adanya pembukaan wujud.” Ketiga ungkapan tersebut satu makna.

هذَا مَعْنَى الْقِدَمِ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى بِاعْتِبَارِ ذَاتِهِ الْعَلِيَّةِ وَ صِفَاتِهِ الْجَلِيْلَةِ السُّنِّيَّةِ.

Inilah makna qidam bagi Allah ta‘ālā dengan mempertimbangkan Dzāt-Nya Yang Maha Tinggi dan Sifat-sifatNya Yang Maha Agung dan Maha Luhur.

وَ أَمَّا مَعْنَاهُ إِذَا أُطْلِقَ فِيْ حَقِّ الْحَادِثِ كَمَا إِذَا قُلْتَ مَثَلًا: “هذَا بِنَاءٌ قَدِيْمٌ، وَ عُرْجُوْنٌ قَدِيْمٌ”، فَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ طُوْلِ مُدَّةِ وُجُوْدِهِ، وَ إِنْ كَانَ حَادِثًا مَسْبُوْقًا بِالْعَدَمِ كَمَا فِيْ قُوْلِهِ تَعَالَى: إِنَّكَ لَفِيْ ضَلَالِكَ الْقدِيْمِ، وَ قَوْلِهِ تَعَالَى: كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ”.

Adapun maknanya ketika diucapkan untuk sesuatu yang ḥādits, sebagaimana saat anda berkata misalnya: “Ini adalah bangunan yang qadīm, dan tandan yang qadīm”, maka qadīm merupakan ungkapan dari lamanya waktu wujūd-nya dalam kondisi bila sesuatu itu bersifat ḥādits dan didahului oleh ketiadaan, sebagaimana dalam firman Allah ta‘ālā: “Sungguh kamu niscaya dalam kesesatanmu yang lama”, dan firman Allah: “Seperti tandan yang tua.”

وَ الْقِدَمُ بِهذَا الْمَعْنَى عَلَى اللهِ تَعَالَى مُحَالٌ، لِأَنَّ وُجُوْدَهُ جَلَّ وَ عَزَّ لَا يُتَقَيَّدُ بِزَمَانٍ وَ لَا مَكَانٍ لِحُدُوْثِ كُلٍّ مِنْهُمَا، فَلَا يُتَقَيَّدُ بِوَاحِدٍ مِنْهُمَا إِلَّا مَا هُوَ حَادِثٌ مِثْلُهَا.

Qidam dengan makna semacam ini mustahil bagi Allah ta‘ālā, sebab wujūd-Nya – jalla wa ‘azza – tidak terbatasi dengan zaman dan tempat karena sifat ḥudūts keduanya. Sebab itu, tidak terbatasi dengan keduanya kecuali sesuatu yang ḥādits yang sama dengannya.

 

وَ هَلْ يَجُوْزُ أَنْ يَتَلَفَّظَ بِلَفْظِ الْقَدِيْمِ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى، فَيُقَالُ هُوَ جَلَّ وَ عَزَّ قَدِيْمٌ، لِأَنَّ مَعْنَاهُ وَاجِبٌ لَهُ جَلَّ وَ عَزَّ عَقْلًا وَ نَقْلًا، أَوْ لَا يَتَلَفَّظُ بِذلِكَ.

Apakah boleh melafalkan kata qadim bagi Allah ta‘ālā, sehingga dikatakan Allah – jalla wa ‘azza – adalah Dzāt Yang Qadim, karena maknanya adalah wajib bagi-Nya – jalla wa ‘azza – secara akal dan naql, atau tidak boleh melafalkannya?

وَ إِنَّمَا يُقَالُ يَجِبُ لَهُ تَعَالَى الْقِدَمُ أَوْ نَحْوُ هذَا مِنَ الْعِبَارَات، وَ لَا يُطْلَقُ عَلَيْهِ فِي اللَّفْظِ اسْمُ الْقَدِيْمِ، لِأَنَّ أَسْمَاءَهُ جَلَّ وَ عَزَّ تَوْقِيْفِيَّةٌ؟

Yang boleh diucapkan hanya: “Wajib bagi Allah ta‘ālā sifat qidam?”, atau ungkapan semisalnya; dan tidak boleh diucapkan bagi-Nya nama al-Qadīm, sebab Asmā’ Allah – jalla wa ‘azza – bersifat tauqīfī.

هذَا مِمَّا يَتَرَدَّدُ فِيْهِ بَعْضُ الْأَشْيَاخِ، لكِنْ قَالَ الْعِرَاقِيُّ فِيْ شَرْحِ أُصُوْلِ السُّبْكِيِّ: عَدَّهُ الْحَلِيْمِيِّ فِي الْأَسْمَاءِ، وَ قَالَ: لَمْ يَرِدْ فِي الْكِتَابِ نَصًّا، وَ إِنَّمَا وَرَدَ فِي السَّنَّةِ، قَالَ الْعِرَاقِيُّ: وَ أَشَارَ بِذلِكَ إِلَى مَا رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهٍ فِيْ سُنَنِهِ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ (ر) وَ فِيْهِ عَدُّ الْقَدِيْمِ مِنَ التِّسْعَةِ وَ التِّسْعِيْنَ.

Ini termasuk permasalahan yang diperselisihkan oleh sebagian para Masyā’ikh. Namun dalam Syarḥu Ushūl-is-Subkī, al-‘Irāqī mengatakan: “Al-Ḥalīmī menyebut al-Qadīm dalam Asmā’ Allah, dan ia berkata: “Al-Qadīm tidak ada nashnya dalam al-Qur’ān, hanya ada dalam as-Sunnah.” Imām al-‘Irāqī mengatakan: “Dengan ungkapan itu al-Ḥalīmī memberi isyarat pada hadits riwayat Ibn Mājah dalam Sunan-nya dari hadits Abū Hurairah r.a., yang di dalamnya terdapat penyebutan nama al-Qadīm dari 99 Asmā’ Allah.”

4. Mukhālafah lil-Ḥawādits.

[صـــ] (وَ مُخَالَفَتُهُ تَعَالَى لِلْحَوَادِثِ)

(4). Mukhālafah lil-Ḥawādits. (Berbeda dengan semua makhluk).

 

Syarḥ.

[شــــ] أَيْ لَا يُمَاثِلُهُ تَعَالَى شَيْءٌ مِنْهَا مُطْلَقًا، لَا فِي الذَاتِ وَ لَا فِي الصِّفَاتِ وَ لَا فِي الْأَفْعَالِ.

Maksudnya tidak ada satupun makhluk yang menyamai Allah ta‘ālā secara mutlak, tidak sama dalam dzāt, shifat, maupun perbuatannya.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ.

Allah ta‘ālā: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (351)

فَأَوَّلُ هذِهِ الْآيَةِ تَنْزِيْهٌ وَ آخِرُهَا إِثْبَاتٌ، فَصَدْرُهَا يَرُدُّ عَلَى الْمُجَسِّمَةِ وَ أَضْرَابِهِمْ، وَ عَجْزُهَا يَرُدُّ عَلَى الْمُعَطِّلَةِ النَّافِيْنَ لِجَمِيْعِ الصِّفَاتِ.

Bagian awal ayat ini merupakan tanzīh (penyucian Allah dari menyerupai makhluk), dan bagian akhirnya menetapkan (sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat bagi Allah). Maka bagian awalnya menolak kaumMujassimah dan berbagai variannya, dan bagian akhirnya menolak kaum Mu‘ththilah yang menafikan seluruh sifat-sifat Allah.

وَ حِكْمَةُ تَقْدِيْمِ التَّنْزِيْهِ فِي الْآيَةِ وَ إِنْ كَانَ مِنْ بَابِ تَقْدِيْمِ السَّلْبِ عَلَى الْإِثْبَاتِ، وَ إِنْ كَانَ الْأَوْلَى فِيْ كَثِيْرٍ مِنَ الْمَوَاطِنِ الْعَكْسَ، أَنَّهُ لَوْ بَدَأَ بِالسَّمْعِ وَ الْبَصَرِ لَأَوْهَمَ التَّشْبِيْهَ، إِذِ الَّذِيْ يُؤَلَّفُ فِي السَّمْعِ أَنَّهُ بِأُذُنٍ، وَ فِي الْبَصَرِ – أَنَّهُ بِحَدْقَةٍ، وَ أَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا إِنَّمَا يَتَعَلَّقُ فِي الشَّاهِدِ بِبَعْضِ الْمَوْجُوْدَاتِ دُوْنَ بَعْضٍ، وَ عَلَى صِفَةٍ مَخْصُوْصَةٍ مِنْ عَدَمِ الْبُعْدِ جِدًّا وَ نَحْوِ ذلِكَ.

Hikmah mendahulukan tanzīh pada ayat tersebut – meskipun termasuk mendahulukan penafian daripada pentetapan, meskipun yang lebih utama dalam beberapa tempat adalah sebaliknya – adalah andaikan al-Qur’ān memulai dengan menyebutkan sifat mendengar dan melihat, niscaya akan mengesankan keserupaan Allah terhadap makhluk. Sebab yang segera dipahami dalam sifat mendengar adalah mendengar dengan telinga, dan dalam sifat melihat adalah melihat dengan bola mata, sementara masing-masing dari keduanya dalam hal yang dapat disaksikan hanya berhubungan dengan sebagian makhluk dan tidak berhubungan dengan yang lainnya; dan hanya pada sifat tertentu seperti tidak adanya jarak yang jauh sekali dan semisalnya.

فَبَدَأَ فِي الْآيَةِ بِالتَّنْزِيْهِ لِيُسْتَفَادَ مِنْهُ نَفْيُ التَّشْبِيْهِ لَهُ تَعَالَى مُطْلَقًا، حَتَّى فِي السَّمْعِ وَ الْبَصَرِ – اللَّذَيْنِ ذُكِرَا بَعْدُ. فَإِنَّ سَمْعَهُ وَ بَصَرَهُ – لَيْسَا كَسَمْعِ الْخَلَائِقِ وَ بَصَرِهِمْ، لِأَنَّ سَمْعَعُ تَعَالَى وَ بَصَرَهُ صِفَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ الْعَلِيَّةِ الَّتِيْ يَسْتَحِيْلُ عَلَيْهَا الْجِرْمِيَّةُ وَ الْجَارِحَةُ وَ لَوَازِمُهَا، وَاجِبَتَا الْقِدَمِ وَ الْبَقَاءِ مُتَعَلِّقَتَانِ بِكُلِّ مَوْجُوْدٍ قَدِيْمًا كَانَ أَوْ حَادِثًا، ذَاتًا كَانَ أَوْ صِفَةً، ظَاهِرًا كَانَ أَوْ بَاطِنًا.

Maka dalam al-Qur’ān memulai dengan penyebutan tanzīh agar darinya dipahami penafian keserupaan Allah ta‘ālādengan makhluk secara mutlak, sampai pada sifat mendengar dan melihat yang disebutkan setelahnya. Sebab mendengar dan melihatnya Allah tidak seperti mendengar dan melihatnya makhluk, karena mendengar dan melihatnya Allah ta‘ālā merupakan sifat yang ada pada Dzāt-Nya Yang Maha Luhur yang mustahil ada unsur fisik, anggota tubuh, dan berbagai kelazimannya, yang wajib (pasti) qidam dan baqā’, yang berhubungan dengan setiap wujūd yang bersifat qadīm maupun ḥādits, yang berupa dzāt maupun sifat; dan lahir maupun batin.

Catatan:

  1. 35). QS. Asy-Syūrā: 11.

Tarjamah matan Tijan ad daruri (Imam Bajuri) : Aqidah islam ahlusunnah waljamaah (20 sifat wajib Allah)

Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 1)

RISĀLAH AL-BĀJŪRIYYAH
(TĪJĀN AD-DURARĪ)
Oleh: Syaikh Ibrohim al-Bajuriy

Alih Bahasa: M. Munawwir Ridwan
Penerbit: ZAMZAM (Surmber Mata Air Ilmu)

Rangkaian Pos: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori | Syekh Ibrahim al-Bajuriy
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 1)
  2. 2.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 2)
  3. 3.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Penutup)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ (وَ بَعْدُ)

Segala puji hanya milik Allah s.w.t. Tuhan semesta alam, sanjungan Shalawat serta Salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasūlullāh s.a.w., dan setelah itu (membaca basmalah, ḥamdalah, shalawat dan salām).

فَيَقُوْلُ فَقِيْرٌ رَحْمَةَ رَبِّهِ الْخَبِيْرِ الْبَصِيْرِ إِبْرَاهِيْمُ الْبَاجُوْرِيُّ ذُو التَّقْصِيْرِ.

Berkatalah seseorang yang sangat memdambakan Rahmat Tuhannya Yang Maha Waspada serta Maha Melihat, yaitu Syaikh Ibrāhīm al-Bājūrī yang memiliki sifat lalai.

طَلَبَ مِنِّيْ بَعْضُ الْإِخْوَانِ أَصْلَحَ اللهُ لِيْ وَ لَهُمُ الْحَالَ وَ الشَّأْنَ أَنْ أُكْتِبَ لَهُ رِسَالَةً تَشْتَمِلُ عَلَى صِفَاتِ الْمَوْلَى وَ أَضْدَادِهَا، وَ مَا يَجُوْزُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى، وَ عَلَى يَجِبُ فِيْ حَقِّ الرُّسُلِ وَ مَا يَسْتَحِيْلُ فِيْ حَقِّهِمْ وَ مَا يَجُوْزُ.

Beberapa dari saudara-saudaraku – semoga Allah memberi kebaikan kondisi dan urusan padaku dan pada mereka – telah memohon kepadaku agar aku menuliskan untuk mereka sebuah risalah yang memuat sifat-sifat wajib (sesuatu yang tidak dapat diterima akal ketidak adaannya) dan sifat kebalikannya (sesuatu yang tidak dapat diterima akal adanya), serta hal-hal yang boleh dalam ḥaqq Allah s.w.t., juga sifat yang wajib, yang mustaḥīl (sesuatu yang tidak bisa diterima akal adanya) serta yang boleh dalam ḥaqq para Rasūl.

فَأَجَبْتُ إِلَى ذلِكَ فَقُلْتُ وَ بِاللهِ التَّوْفِيْقُ.

Maka, akupun mengabulkan permohonan mereka – hanya kepada Allah aku memohon pertolongan – .

وَ يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ أَنْ يَعْرِفَ مَا يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى وَ مَا يَسْتَحِيْلُ وَ مَا يَجُوْزُ.

Wajib atas setiap orang mukallaf (muslim yang baligh lagi berakal) mengetahui hal yang wājib dalam ḥaqq Allah s.w.t., yang mustaḥīl serta yang jā’iz (boleh).

فَيَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْوُجُوْدُ

وَ ضِوَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ وُجُوْدُ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Maka Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Wujūd (ada).

Kebalikannya adalah sifat ‘Adam (tidak ada).

Dalil bahwa Allah s.w.t., itu ada adalah adanya makhluk (semua hal selain Allah).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقِدَمُ. وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا أَوَّلَ لَهُ تَعَالَى،

وَ ضِدُّهُ الْحُدُوْثُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ حَادِثًا لَاحْتَاجَ إِلَى مُحْدِثٍ، وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qidam (terdahulu). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tiada permulaan bagi-Nya.

Kebalikannya adalah sifat al-Ḥudūts (baru).

Dalil bahwasanya Allah s.w.t. bersifatan terdahulu adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang baru. Maka Allah s.w.t. butuh pada yang menciptakan. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْبَقَاءُ وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا آخِرَ لَهُ، وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فَانِيًا لَكَانَ حَادِثًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Baqā’ (kekal). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tiada akhir baginya.

Dan dalil atas sifat kekalnya Allah s.w.t. adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang rusak (fanā’), maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak dapat diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ، وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ، فَلَيْسَ لَهُ يَدٌ وَ لَا عَيْنٌ وَ لَا أُذُنٌ وَ لَا غَيْرُ ذلِكَ مِنْ صِفَاتِ الْحَوَادِثِ.

وَ ضِدُّهَا الْمُمَاثَلَةُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ لَكَانَ حَادِثًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Mukhālafatu lil-Ḥawādits (berbeda dengan makhluk).

Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tidak menyerupai kepada segala hal yang bersifat baru (makhluk). Maka, Allah tidak memiliki tangan, tidak memiliki mata, tidak memiliki telinga dan tidak pula memiliki yang lainnya dari sifat-sifat makhluk.

Kebalikannya adala sifat al-Mumātsalah (menyerupai).

Dalil bahwasanya Allah s.w.t. tidak menyerupai makhluk adalah: seandainya Allah memiliki keserupaan dengan makhluk, maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقِيَامُ بِالنَّفْسِ، وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مَحَلٍّ وَ لَا إِلَى مُخَصِّصٍ. وَ ضِدُّهُ الْاِحْتِيَاجُ إِلَى الْمَحَلِّ وَ الْمَخَصِّصِ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوِ احْتَاجُ إِلَى مَحَلِّ لَكَانَ صِفَةً وَ كَوْنُهُ صِفَةً مُحَالٌ.

وَ لَوِ احْتَاجَ إِلَى مُخَصِّصٍ لَكَانَ حَادِثًا وَ كَوْنُهُ حَادِثًا مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qiyāmu bin-Nafsi (berdiri sendiri). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tidak membutuhkan tempat dan tidak butuh pada yang mewujudkan.

Kebalikannya adalah sifat al-Iḥtiyāju ilal-Maḥalli wal-Mukhashshish (membutuhkan pada tempat dan pencipta).

Dalil bahwasanya Allah s.w.t. bersifat berdiri sendiri adalah: seandainya Allah s.w.t. membutuhkan pada tempat, maka Allah adalah sebuah sifat sedangkan keadaan Allah sebuah sifat adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

Dan seandainya Allah membutuhkan pada yang menciptakan, maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan keadaan Allah merupakan sesuatu yang baru adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَ فِي الصِّفَاتِ وَ فِي الْأَفْعَالِ،

وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الذَّاتِ أَنَّهَا لَيْسَتْ مُرَكَّبَةً مِنْ أَجْزَاءٍ مُتَعَدِّدَةٍ.

وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الصِّفَاتِ أَنَّهُ لَيْسَ صِفَتَانِ فَأَكْثَرَ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ كَقُدْرَتَيْنِ وَ هكَذَا وَ لَيْسَ لِغَيْرِهِ صِفَةٌ تُشَابِهُ صِفَتَهُ تَعَالَى.

وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الْأَفْعَالِ أَنَّهُ لَيْسَ لِغَيْرِهِ فِعْلٌ مِنَ الْأَفْعَالِ.

وَ ضِدُّهَا التَّعَدُّدِ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُتَعَدِّدًا لَمْ يُوْجَدْ شَيْءٌ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Waḥdāniyyah (tunggal). Baik dalam Dzat-Nya, Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya.

Pengertian tungal dalam Dzat-Nya adalah, sesungguhnya dzatnya Allah tidak tersusun dari berbagai bagian yang banyak.

Sedangkan pengertian tunggal dalam sifat-Nya adalah, sesungguhnya tidak ada bagi Allah dua sifat atau lebih dari satu jenis sifat, seperti adanya dua sifat Qudrah dan seterusnya. Dan tidak ada pada selain Allah satu sifat yang menyerupai terhadap sifatnya Allah s.w.t.

Arti tunggal dalam perbuatan-Nya adalah, sesungguhnya tidak ada bagi selain Allah suatu perbuatan dari perbuatan-perbuatannya (semua pekerjaan makhluk adalah atas kekuatan yang diberikan oleh Allah s.w.t.).

Kebalikannya adalah sifat at-Ta‘addud (berbilang).

Dalil bagi sifat Tunggalnya Allah s.w.t. adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang berbilang, maka tentunya tidak akan dapat dijumpai sesuatu pun dari Makhlūq (sesuatu selain Allah) ini.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقُدْرَةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يُوْجَدُ بِهَا وَ يُعَدِّمُ.

وَ ضِدُّهَا الْعَجْزُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ عَاجِزًا لَمْ يُوْجَدْ شَيْءٌ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qudrah (Maha Berkuasa). Sifat Qudrah adalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah mewujudkan dan meniadakan sesuatu.

Kebalikannya adalah sifat al-‘Ajz (lemah).

Dalil bahwa Allah s.w.t. bersifat Maha Berkuasa adalah: seandainya Allah lemah, maka tentunya tidak akan dapat dijumpai sesuatu pun dari makhluq-Nya.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْإِرَادَةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتهِ تَعَالَى يُخَصِّصُ بِهَا الْمُمْكِنَ بِالْوُجُوْدِ أَوْ بِالْعَدَمِ أَوْ بِالْغِنَى أَوْ بِالْفَقْرِ أَوْ بِالْعِلْمِ أَوْ بِالْجَهْلِ إِلَى غَيْرِ ذلِكَ.

وَ ضِدُّهَا الْكَرَاهَةُ.

 وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَارِهًا لَكَانَ عَاجِزًا وَ كَوْنُهُ عَاجِزًا مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Irādah (Maha Berkehendak). Sifat Irādah adalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah menentukan hal yang mungkin menjadi wujud atau tidak wujud atau kaya atau miskin atau mengerti atau bodoh dan seterusnya.

Kebalikannya adalah sifat al-Karāhah (terpaksa).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Berkehendak adalah: Seandainya Allah terpaksa, maka tentunya Allah bersifat lemah. Dan adanya Allah bersifat lemah adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْعِلْمُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَعْلَمُ بِهَا الْأَشْيَاءَ.

وَ ضِدُّهَا الْجَهْلُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ جَاهِلًا لَمْ يَكُنْ مُرِيْدًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-‘Ilmu (Maha Mengetahui). Sifat al-‘ilmu adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah mengetahui semua hal.

Kebalikannya adalah sifat al-Jahl (bodoh).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mengetahui adalah: seandainya Allah memiliki sifat bodoh, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha Berkehendak. Dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْحَيَاةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى تُصَحِّحُ لَهُ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْعِلْمِ وَ غَيْرِهِ مِنَ الصِّفَاتِ.

وُ ضِدُّهَا الْمَوْتُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مَيِّتًا لَمْ يَكُنْ قَادِرًا وَ لَا مُرِيْدًا وَ لَا عَالِمًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Ḥayāh (Maha Hidup). Sifat al-Ḥayāh adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut dapat membenarkan bahwa Allah memiliki sifat ‘Ilmu dan sifat-sifat lainnya.

Kebalikannya adalah sifat al-Maut (Mati).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Hidup adalah: Seandainya Allah mati, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak, dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 2)

RISĀLAH AL-BĀJŪRIYYAH
(TĪJĀN AD-DURARĪ)
Oleh: Syaikh Ibrohim al-Bajuriy

Alih Bahasa: M. Munawwir Ridwan
Penerbit: ZAMZAM (Surmber Mata Air Ilmu)

Rangkaian Pos: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori | Syekh Ibrahim al-Bajuriy
  1. 1.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 1)
  2. 2.Anda Sedang Membaca: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 2)
  3. 3.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Penutup)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى السَّمْعُ وَ الْبَصَرُ وَ هُمَا صِفَتَانِ قَدِيْمَتَانِ قَائِمَتَانِ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَنْكَشِفُ بِهِمَا الْمَوْجُوْدُ.

وَ ضِدُّهُمَا الصَّمَمُ وَ الْعَمَى.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: (وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ) – (الشورى: 11)

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat as-Sama‘ (Maha Mendengar) dan al-Bashar (Maha Melihat). Keduanya adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan keduanya menjadi terbukalah hal yang wujud.

Kebalikannya adalah sifat as-Shamam (Tuli) dan al-‘Amā (Buta).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat adalah firman Allah s.w.t.:

(وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ)

Dialah Allah Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat (asy-Syūrā, ayat 11).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْكَلَامُ وَ هُوَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى لَيْسَتْ بِحَرْفٍ وَ لَا صَوْتٍ.

وَ ضِدُّهَا الْبُكْمُ وَ هُوَ الْخَرَسُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: (وَ كَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا) – (النساء: 164).

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Kalām (Maha Berfirman). Sifat Kalām adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. dan tidak berwujud huruf dan tidak berwujud suara.

Kebalikannya adalah sifat al-Bukmu yaitu al-Kharas (Bisu).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mengetahui adalah firman Allah s.w.t.:

(وَ كَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا)

Dan Allah telah berfirman kepada Mūsā dengan Firman yang Nyata (an-Nisā’, ayat 164).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ قَادِرًا.

وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ عَاجِزًا.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْقُدْرَةِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Qādiran (adanya Allah Dzat yang Maha Kuasa).

Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu ‘Ājizan (adanya Allah Dzat yang lemah).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Kuasa adalah sebagaimana dalilnya sifat al-Qudrah (Maha Berkuasa).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ مُرِيْدًا.

وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ كَارِهًا.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْإِرَادَةِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Murīdan (adanya Allah Dzat yang Maha Berkehendak).

Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Kārihan (adanya Allah Dzat yang terpaksa).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Berkehendak adalah dalil sifat al-Irādah (Maha Berkehendak).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ عَالِمًا.

وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ جَاهِلًا.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْعِلْمِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu ‘Āliman (adanya Allah Dzat yang Maha Mengetahui).

Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Jāhilan (adanya Allah Dzat yang Bodoh).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Mengetahui adalah dalil sifat al-‘Ilmu (Maha Mengetahui).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ حَيًّا.

وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ مَيْتًا.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْحَيَاةِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Ḥayyan (adanya Allah Dzat yang Maha Hidup).

Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Mayyitan (adanya Allah Dzat yang Mati).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat yang Maha Hidup adalah dalil sifat al-Ḥayyāh (Maha Hidup).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ سَمِيْعًا بَصِيْرًا.

وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ أَصَمَّ وَ كَوُنُهُ أَعْمَى.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ  السَّمْعِ وَ دَلِيْلُ الْبَصَرِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Samī‘an (adanya Allah Dzat yang Maha Mendengar) dan Kaunuhu Bashīran (adanya Allah Dzat yang Maha Melihat).

Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu ‘Ashamma (adanya Allah Dzat yang Tuli) adan Kaunuhu A‘mā (adanya Allah Dzat yang Maha Buta).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat adanya Allah Dzat yang Maha Mendengar dan adanya Allah Dzat yang Maha Melihat adalah dalil sifat as-Sama‘ dan dalil sifat al-Bashar (Maha Mendengar dan Maha Melihat).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى كَوْنُهُ مُتَكَلِّمًا.

وَ ضِدُّهُ كَوْنُهُ أَبْكَمَ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ دَلِيْلُ الْكَلَامِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Kaunuhu Mutakalliman (adanya Allah Dzat yang Maha Berfirman).

Kebalikannya adalah sifat Kaunuhu Abkama (adanya Allah Dzat yang Bisu).

Dalil bahwa Allah memiliki sifat adanya Allah s.w.t. Dzat yang Maha Berfirman adalah dalil sifat al-Kalām (Maha Berfirman).

 

وَ الْجَائِزُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ وَجَبَ عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى فِعْلُ شَيْءٍ أَوْ تَرْكُهُ لَصَارَ الْجَائِزُ وَاجِبًا أَوْ مُسْتَحِيْلًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Boleh bagi ḥaqqnya Allah s.w.t. bersifat mengerjakan setiap perkara yang mungkin atau meninggalkannya.

Dalil bahwa Allah s.w.t. bersifat mengerjakan setiap perkara yang mungkin atau meninggalkannya adalah seandainya Allah berkewajiban untuk mengerjakan sesuatu atau berkewajiban untuk meninggalkannya niscaya sifat Jā’iz tersebut menjadi Wājib atau Mustaḥīl. Dan hal itu adalah hal yang tidak dapat diterima oleh akal (mustaḥīl).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّ الرُّسُلِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ الصِّدْقُ.

وَ ضِدُّهُ الْكِذْبُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ كَذَبُوْا لَكَانَ خَبَرُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى كَاذِبًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat ash-Shiddīq (Benar atau Jujur).

Kebalikannya adalah sifat al-Kidzbu (Berbohong).

Dalil bahwa para rasul memiliki sifat ash-Shidqu adalah seandainya para rasul berbohong niscaya berita/khabar dari Allah s.w.t. adalah suatu hal yang tidak benar/bohong. Dan hal itu tidak dapat diterima oleh akal (mustaḥīl).

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ الْأَمَانَةُ.

وَ ضِدُّهَا الْخِيَانَةُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ خَانُوْا بِفِعْلٍ مُحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوْهٍ لَكُنَّا مَأْمُوْرِيْنَ بِمِثْلِ ذلِكَ وَ لَا يَصِحُّ أَنْ نُؤْمَرَ بِمُحَرَّمٍ أَوْ مَكْرُوْهٍ.

Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-Amānah (dapat dipercaya/terpercaya).

Kebalikannya adalah sifat al-Khiayānat (Berkhianat/tidak dapat dipercaya).

Dalil bahwa para rasul memiliki sifat al-Amānah adalah seandainya pula rasul berkhianat dengan berbuat hal yang diharamkan atau yang dimakruhkan niscaya kita semua diperintahkan dengan hal yang serupa. Dan tidak benar jika kita diperintah untuk melakukan hal yang diharamkan atau yang dimakruhkan.

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ تَبْلِيْغُ مَا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِ لِلْخَلْقِ.

وَ ضِدُّهُ كِتْمَانُ ذلِكَ.

الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُمْ لَوْ كَتَمُوْا شَيْئًا مِمَّا أُمِرُوْا بِتَبْلِيْغِهِ لَكُنَّا مَأْمُوْرِيْنَ بِكِتْمَانِ الْعِلْمِ وَ لَا يَصِحُّ أَنْ نُؤْمَرَ بِهِ، لِأَنَّ كَاتِمَ الْعِلْمِ مَلْعُوْنٌ.

Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat Tablīghu Mā Umirū bi Tablīghihi(Menyampaikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan).

Kebalikannya adalah sifat Kitmān (Menyembunyikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan)

Dalil bahwa para rasul memiliki sifat Tablīghu Mā Umiru bi Tablīghihi adalah seandainya para rasul menyembunyikan suatu hal yang diperintahkan untuk disampaikan, niscaya kita diperintahkan untuk menyembunyikan ilmu. Dan tidak benar jika kita diperintah untuk itu. Karena sesungguhnya orang yang menyembunyikan ilmu itu dilaknat.

 

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ الْفَطَانَةُ.

وَ ضِدُّهَا الْبَلَادَةُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوِ انْتَفَتْ عَنْهُمُ الْفَطَانَةُ لَمَّا قَدَرُوْا أَنْ يُقِيْمُوْا حُجَّةً عَلَى الْخَصْمِ وَ هُوَ مُحَالٌ َلِأَنَّ الْقُرْآنَ دَلَّ فِيْ مَوَاضِعَ كَثِيْرَةٍ عَلَى إِقَامَتِهِمُ الْحُجَّةَ عَلَى الْخَصْمِ.

Dan wajib bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-Fathanah (Cerdas/Pandai).

Dalil bahwa para rasul memiliki kecerdasan niscaya mereka tidak akan mampu untuk berhujjah mengalahkan para lawan/musuhnya. Dan hal itu tidak dapat diterima akal. Karena al-Qur’ān telah menunjukkan dalam banyak tempat atas kemampuan para rasul berhujjah mengalahkan para lawan/musuhnya.

 

وَ الْجَائِزُ فِيْ حَقِّهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ الْأَعْرَاضُ الْبَشَرِيَّةُ الَّتِيْ لَا تُؤَدِّيْ إِلَى نَقْصٍ فِيْ مَرَاتِبِهِمُ الْعَلِيَّةِ كَالْمَرَضِ وَ نَحْوِهِ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ مُشَاهَدَتُهَا بِهِمْ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ.

Boleh bagi ḥaqqnya para rasūl ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām sifat al-A‘rādh-ul-Basyariyyah (sifat Manusiawi) yang tidak sampai mendatangkan pada rendahnya martabat mereka yang luhur, seperti sakit dan semisalnya.

Dalil bahwa para rasul memiliki sifat Manusiawi (al-A‘rādh-ul-Basyariyyah) adalah kenyataan yang dapat disaksikan pada diri para rasul ‘Alaihim-ush-Shalātu was-Salām.

Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Penutup)

RISĀLAH AL-BĀJŪRIYYAH
(TĪJĀN AD-DURARĪ)
Oleh: Syaikh Ibrohim al-Bajuriy

Alih Bahasa: M. Munawwir Ridwan
Penerbit: ZAMZAM (Surmber Mata Air Ilmu)

Rangkaian Pos: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori | Syekh Ibrahim al-Bajuriy
  1. 1.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 1)
  2. 2.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 2)
  3. 3.Anda Sedang Membaca: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Penutup)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 

خَاتِمَةٌ

PENUTUP

 

يَجِبُ عَلَى الشَّخْصِ أَنْ يَعْرِفَ نَسَبَهُ (ص) مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ وَ مِنْ جِهَةِ أُمِّهِ.

Wajib bagi semua orang untuk mengetahui silsilah Nabi s.a.w., baik dari pihak ayah Beliau maupun dari pihak ibu Beliau.

فَأَمَّا نَسَبُهُ (ص) مِنْ جِهَةِ أَبِيْهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيِّ ابْنِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضَرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسِ بْنِ مُضَرِ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ ابْنِ عَدْنَانَ وَ لَيْسَ فِيْمَا بَعْدَهُ إِلَى آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ طَرِيْقٌ صَحِيْحٌ فِيْمَا يُنْقَلُ.

Adapun silsilah Nabi s.a.w., dari jalur ayah beliau adalah, baginda kita Muḥammad s.a.w., adalah putra ‘Abdullāh putranya ‘Abd-ul-Muththalib putranya Hāsyim putranya ‘Abdu Manāf putranya Qushay putranya Kilāb putranya Murrah putranya Ka‘b putranya Lu’ay putranya Ghālib putranya Fihr putranya Mālik putranya Nadhar putranya Kinānah purtranya Khuzaimah putranya Mudrikah putranya Ilyās putranya Mudhar putranya Nizār putranya Ma‘add putranya ‘Adnān. Dan – sampai Sayyid ‘Adnān ini – tidak ada silsilah yang Shaḥīḥ hingga Nabi ‘Ādam a.s.

وَ أَمَّا نَسَبُهُ (ص) مِنْ جِهَةِ أُمِّهِ فَهُوَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدُ بْنُ آمِنَةَ بِنْتِ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ بْنِ زُهْرَةَ بْنِ كِلَابٍ، فَتَجْتَمِعُ مَعَهُ (ص) فِيْ جَدِّهِ كِلَابٌ.

Adapun silsilah Nabi s.a.w., dari jalur ibunya adalah, Baginda kita Muḥammad s.a.w., adalah putra Āminah putrinya Wahb putranya ‘Abdu Manāf putranya Zuhrah putranya Kilāb. Maka bertemulah Sayyidah Āminah beserta Nabi s.a.w., pada kakeknya, yakni Sayyid Kilāb.

وَ مِمَّا يَجِبُ أَيْضًا أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ لَهُ حَوْضًا.

Dan dari sebagian perkara yang wajib untuk diketahui adalah sesungguhnya Nabi Muḥammad s.a.w., memiliki Ḥaudh (danau di surga).

وَ أَنَّهُ (ص) يَشْفَعُ فِيْ فَصْلِ الْقَضَاءِ، وَ هذِهِ الشَّفَاعَةُ مُخْتَصَةٌ بِهِ (ص).

Dan sesungguhnya Nabi Muḥammad s.a.w. akan memberi syafaat ketika dalam Fashl-ul-Qadhā’ (pemutusan hukum untuk seluruh makhluk), dan Syafā‘ah ini dikhususkan kepada Nabi Muḥammad s.a.w.

وَ مِمَّا يَجِبُ أَيْضًا أَنْ تَعْرِفَ الرُّسُلَ الْمَذْكُوْرِيْنَ فِي الْقُرْآنِ تَفْصِيْلًا وَ أَمَّا غَيْرُهُمْ فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَعْرِفُهُمْ إِجْمَالًا.

Dan yang wajib untuk diketahui juga adalah nama para rasul yang disebutkan dalam al-Qur’ān secara rinci, adapun selain para rasul yang disebutkan dalam al-Qur’ān, maka wajib mengetahuinya secara global saja.

وَ قَدْ نَظَّمَ بَعْضُهُمُ الْأَنْبِيَاءَ الَّتِيْ تَجِبُ مَعْرِفَتُهُمْ تَفْصِيْلًا فَقَالَ:

Dan sebagian ulama telah menazhamkan nama para Nabi yang wajib diketahui secara rinci, mereka berkata:

خَتْمٌ عَلَى كُلِّ ذِي التَّكْلِيْفِ مَعْرِفَةٌ

بِأَنْبِيَاءَ عَلَى التَّفْصِيْلِ قَدْ عُلِمُوْا

فِيْ تِلْكَ حُجَّتُنَا مِنْهُمْ ثَمَانِيَةٌ

مِنْ بَعْدِ عَشْرٍ وَ يَبْقَى سَبْعَةٌ وَ هُمُ

إِدْرِيْسُ هُوْدٌ شُعَيْبٌ صَالِحٌ وَ كَذَا

ذُو الْكِفْلِ آدَمُ بِالْمُخْتَارِ قَدْ خُتِمُوْا

Wajib bagi setiap Mukallaf mengetahui,

                   Nama para Nabi secara terperinci yang telah diketahui.

Di situlah hujjah kita. Sebagian mereka ada delapan,

                   Setelah sepuluh (8+10=18) dan sisanya ada tujuh yakni.

Nabi Idrīs, Hūd, Syu‘aib, Shāliḥ, begitu juga,

                   Nabi Zulkifli, Ādam dengan Nabi yang terpilihlah (Nabi Muḥammad) para Nabi diakhiri.

وَ مِمَّا يَجِبُ اعْتِقَادُهُ أَيْضًا أَنَّ قَرْنَهُ أَفْضَلُ الْقُرُوْنِ ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِيْ بَعْدَهُ ثُمَّ الْقَرْنُ الَّذِيْ بَعْدَهُ.

Dan sebagian yang wajib diyakini lagi adalah, bahwa sesungguhnya masa/era Rasūlullāh s.a.w., adalah masa yang terbaik, lantas masa sesudahnya (Shahabat Nabi) kemudian masa sesudahnya lagi (Tābi‘īn).

وَ يَنْبَغِيْ لِلشَّخْصِ أَنْ يَعْرَفَ أَوْلَادَهُ (ص) وَ هُمْ سَبْعَةٌ عَلَى الصَّحِيْحِ سَيِّدُنَا الْقَاسِمُ وَ سَيِّدَتُنَا زَيْنَبٌ وَ سَيِّدَتُنَا رُقَيَّةٌ وَ سَيِّدَتُنَا فَاطِمَةٌ وَ سَيِّدَتُنَا أُمُّ كُلْثُوْمٍ وَ سَيِّدُنَا عَبْدُ اللهِ وَ هُوَ الْمُلَقَّبُ بِالطَّيِّبِ وَ الطَّاهِرِ وَ سَيِّدُنَا إِبْرَاهِيْمُ وَ كُلُّهُمْ مِنْ سَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرَى إِلَّا إِبْرَاهِيْمَ فَمِنْ مَارِيَّةَ الْقِبْطِيَّةِ.

Dan seyogyanya bagi seseorang untuk mengetahui putra seseorang untuk mengetahui putra-putri Nabi Muḥammad s.a.w. Dan jumlah mereka berdasarkan riwayat yang Shaḥīḥ adalah Sayyid Qāsim, Sayyidah Zainab, Sayyidah Ruqayyah, Sayyidah Fāthimah, Sayyidah Ummi Kultsūm, Sayyid ‘Abdullāh yang dijuluki ath-Thayyib dan ath-Thāhir, Sayyid Ibrāhīm. Dan mereka semuanya dari Ibu Sayyidah Khadījah al-Kubrā kecuali Sayyid Ibrāhīm dari Ibu Māriyyah al-Qibthiyyah.

وَ هذَا آخِرُ مَا يَسَّرَهُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَ كَرَمِهِ.

Ini akhir dari sesuatu yang telah dimudahkan oleh Allah s.w.t., dari sifat Kedermawanan-Nya dan Kemuliaan-Nya.

وَ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ.

Segala puji hanya milik Allah s.w.t., Tuhan semesta alam. Shalawat kepada Baginda kita Muḥammad s.a.w., dan juga kepada keluarganya dan para Shahabatnya.

 

PENUTUP (SANG PENULIS KITAB INI)

 

Puji syukur tiada terkira kami haturkan kepada Allah s.w.t., karena hanya atas pertolongan-Nya sematalah buku kecil ini dapat hadir di hadapan saudara.

Semoga nikmat yang luar biasa ini bisa membawa manfaat dan berkah untuk seluruh umat Islam.

Rabb-iḥyinā Syākirīn                         Wa Tawaffanā Muslimīn,

Nub‘ats Min-al-Āminīn                      Fī Zumrat-is-Sābiqīn,

Bijāhi Thāh-ar-Rasūl                         Jud Rabbanā Bil-Qabūl,

Wa Hab lanā Kulla Sūl                      Rabb-istajib Lī Āmīn.

https://hatisenang.com/3-4-sifat-wajib-bagi-allah-mukhalafah-lil-hawadits-terjemah-syarh-umm-al-barahin/

Syarah Kitab tijan ad durari: Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi Beserta Artinya

Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 1)

RISĀLAH AL-BĀJŪRIYYAH
(TĪJĀN AD-DURARĪ)
Oleh: Syaikh Ibrohim al-Bajuriy

Alih Bahasa: M. Munawwir Ridwan
Penerbit: ZAMZAM (Surmber Mata Air Ilmu)

Rangkaian Pos: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori | Syekh Ibrahim al-Bajuriy
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 1)
  2. 2.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Bagian 2)
  3. 3.Risalah al-Bajuriyah – Tijan ad-Durori (Penutup)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ (وَ بَعْدُ)

Segala puji hanya milik Allah s.w.t. Tuhan semesta alam, sanjungan Shalawat serta Salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasūlullāh s.a.w., dan setelah itu (membaca basmalah, ḥamdalah, shalawat dan salām).

فَيَقُوْلُ فَقِيْرٌ رَحْمَةَ رَبِّهِ الْخَبِيْرِ الْبَصِيْرِ إِبْرَاهِيْمُ الْبَاجُوْرِيُّ ذُو التَّقْصِيْرِ.

Berkatalah seseorang yang sangat memdambakan Rahmat Tuhannya Yang Maha Waspada serta Maha Melihat, yaitu Syaikh Ibrāhīm al-Bājūrī yang memiliki sifat lalai.

طَلَبَ مِنِّيْ بَعْضُ الْإِخْوَانِ أَصْلَحَ اللهُ لِيْ وَ لَهُمُ الْحَالَ وَ الشَّأْنَ أَنْ أُكْتِبَ لَهُ رِسَالَةً تَشْتَمِلُ عَلَى صِفَاتِ الْمَوْلَى وَ أَضْدَادِهَا، وَ مَا يَجُوْزُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى، وَ عَلَى يَجِبُ فِيْ حَقِّ الرُّسُلِ وَ مَا يَسْتَحِيْلُ فِيْ حَقِّهِمْ وَ مَا يَجُوْزُ.

Beberapa dari saudara-saudaraku – semoga Allah memberi kebaikan kondisi dan urusan padaku dan pada mereka – telah memohon kepadaku agar aku menuliskan untuk mereka sebuah risalah yang memuat sifat-sifat wajib (sesuatu yang tidak dapat diterima akal ketidak adaannya) dan sifat kebalikannya (sesuatu yang tidak dapat diterima akal adanya), serta hal-hal yang boleh dalam ḥaqq Allah s.w.t., juga sifat yang wajib, yang mustaḥīl (sesuatu yang tidak bisa diterima akal adanya) serta yang boleh dalam ḥaqq para Rasūl.

فَأَجَبْتُ إِلَى ذلِكَ فَقُلْتُ وَ بِاللهِ التَّوْفِيْقُ.

Maka, akupun mengabulkan permohonan mereka – hanya kepada Allah aku memohon pertolongan – .

وَ يَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ أَنْ يَعْرِفَ مَا يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى وَ مَا يَسْتَحِيْلُ وَ مَا يَجُوْزُ.

Wajib atas setiap orang mukallaf (muslim yang baligh lagi berakal) mengetahui hal yang wājib dalam ḥaqq Allah s.w.t., yang mustaḥīl serta yang jā’iz (boleh).

فَيَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْوُجُوْدُ

وَ ضِوَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ وُجُوْدُ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Maka Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Wujūd (ada).

Kebalikannya adalah sifat ‘Adam (tidak ada).

Dalil bahwa Allah s.w.t., itu ada adalah adanya makhluk (semua hal selain Allah).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقِدَمُ. وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا أَوَّلَ لَهُ تَعَالَى،

وَ ضِدُّهُ الْحُدُوْثُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ حَادِثًا لَاحْتَاجَ إِلَى مُحْدِثٍ، وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qidam (terdahulu). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tiada permulaan bagi-Nya.

Kebalikannya adalah sifat al-Ḥudūts (baru).

Dalil bahwasanya Allah s.w.t. bersifatan terdahulu adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang baru. Maka Allah s.w.t. butuh pada yang menciptakan. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْبَقَاءُ وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا آخِرَ لَهُ، وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ فَانِيًا لَكَانَ حَادِثًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Baqā’ (kekal). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tiada akhir baginya.

Dan dalil atas sifat kekalnya Allah s.w.t. adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang rusak (fanā’), maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak dapat diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْمُخَالَفَةُ لِلْحَوَادِثِ، وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَيْسَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ، فَلَيْسَ لَهُ يَدٌ وَ لَا عَيْنٌ وَ لَا أُذُنٌ وَ لَا غَيْرُ ذلِكَ مِنْ صِفَاتِ الْحَوَادِثِ.

وَ ضِدُّهَا الْمُمَاثَلَةُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُمَاثِلًا لِلْحَوَادِثِ لَكَانَ حَادِثًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Dan Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat Mukhālafatu lil-Ḥawādits (berbeda dengan makhluk).

Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tidak menyerupai kepada segala hal yang bersifat baru (makhluk). Maka, Allah tidak memiliki tangan, tidak memiliki mata, tidak memiliki telinga dan tidak pula memiliki yang lainnya dari sifat-sifat makhluk.

Kebalikannya adala sifat al-Mumātsalah (menyerupai).

Dalil bahwasanya Allah s.w.t. tidak menyerupai makhluk adalah: seandainya Allah memiliki keserupaan dengan makhluk, maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan hal itu tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقِيَامُ بِالنَّفْسِ، وَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ تَعَالَى لَا يَفْتَقِرُ إِلَى مَحَلٍّ وَ لَا إِلَى مُخَصِّصٍ. وَ ضِدُّهُ الْاِحْتِيَاجُ إِلَى الْمَحَلِّ وَ الْمَخَصِّصِ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوِ احْتَاجُ إِلَى مَحَلِّ لَكَانَ صِفَةً وَ كَوْنُهُ صِفَةً مُحَالٌ.

وَ لَوِ احْتَاجَ إِلَى مُخَصِّصٍ لَكَانَ حَادِثًا وَ كَوْنُهُ حَادِثًا مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qiyāmu bin-Nafsi (berdiri sendiri). Artinya, sesungguhnya Allah s.w.t. tidak membutuhkan tempat dan tidak butuh pada yang mewujudkan.

Kebalikannya adalah sifat al-Iḥtiyāju ilal-Maḥalli wal-Mukhashshish (membutuhkan pada tempat dan pencipta).

Dalil bahwasanya Allah s.w.t. bersifat berdiri sendiri adalah: seandainya Allah s.w.t. membutuhkan pada tempat, maka Allah adalah sebuah sifat sedangkan keadaan Allah sebuah sifat adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

Dan seandainya Allah membutuhkan pada yang menciptakan, maka tentunya Allah adalah sesuatu yang baru. Dan keadaan Allah merupakan sesuatu yang baru adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْوَحْدَانِيَّةُ فِي الذَّاتِ وَ فِي الصِّفَاتِ وَ فِي الْأَفْعَالِ،

وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الذَّاتِ أَنَّهَا لَيْسَتْ مُرَكَّبَةً مِنْ أَجْزَاءٍ مُتَعَدِّدَةٍ.

وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الصِّفَاتِ أَنَّهُ لَيْسَ صِفَتَانِ فَأَكْثَرَ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ كَقُدْرَتَيْنِ وَ هكَذَا وَ لَيْسَ لِغَيْرِهِ صِفَةٌ تُشَابِهُ صِفَتَهُ تَعَالَى.

وَ مَعْنَى الْوَحْدَانِيَّةِ فِي الْأَفْعَالِ أَنَّهُ لَيْسَ لِغَيْرِهِ فِعْلٌ مِنَ الْأَفْعَالِ.

وَ ضِدُّهَا التَّعَدُّدِ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مُتَعَدِّدًا لَمْ يُوْجَدْ شَيْءٌ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Waḥdāniyyah (tunggal). Baik dalam Dzat-Nya, Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya.

Pengertian tungal dalam Dzat-Nya adalah, sesungguhnya dzatnya Allah tidak tersusun dari berbagai bagian yang banyak.

Sedangkan pengertian tunggal dalam sifat-Nya adalah, sesungguhnya tidak ada bagi Allah dua sifat atau lebih dari satu jenis sifat, seperti adanya dua sifat Qudrah dan seterusnya. Dan tidak ada pada selain Allah satu sifat yang menyerupai terhadap sifatnya Allah s.w.t.

Arti tunggal dalam perbuatan-Nya adalah, sesungguhnya tidak ada bagi selain Allah suatu perbuatan dari perbuatan-perbuatannya (semua pekerjaan makhluk adalah atas kekuatan yang diberikan oleh Allah s.w.t.).

Kebalikannya adalah sifat at-Ta‘addud (berbilang).

Dalil bagi sifat Tunggalnya Allah s.w.t. adalah: seandainya Allah adalah sesuatu yang berbilang, maka tentunya tidak akan dapat dijumpai sesuatu pun dari Makhlūq (sesuatu selain Allah) ini.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْقُدْرَةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يُوْجَدُ بِهَا وَ يُعَدِّمُ.

وَ ضِدُّهَا الْعَجْزُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ عَاجِزًا لَمْ يُوْجَدْ شَيْءٌ مِنْ هذِهِ الْمَخْلُوْقَاتِ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Qudrah (Maha Berkuasa). Sifat Qudrah adalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah mewujudkan dan meniadakan sesuatu.

Kebalikannya adalah sifat al-‘Ajz (lemah).

Dalil bahwa Allah s.w.t. bersifat Maha Berkuasa adalah: seandainya Allah lemah, maka tentunya tidak akan dapat dijumpai sesuatu pun dari makhluq-Nya.

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْإِرَادَةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتهِ تَعَالَى يُخَصِّصُ بِهَا الْمُمْكِنَ بِالْوُجُوْدِ أَوْ بِالْعَدَمِ أَوْ بِالْغِنَى أَوْ بِالْفَقْرِ أَوْ بِالْعِلْمِ أَوْ بِالْجَهْلِ إِلَى غَيْرِ ذلِكَ.

وَ ضِدُّهَا الْكَرَاهَةُ.

 وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَارِهًا لَكَانَ عَاجِزًا وَ كَوْنُهُ عَاجِزًا مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Irādah (Maha Berkehendak). Sifat Irādah adalah suatu sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah menentukan hal yang mungkin menjadi wujud atau tidak wujud atau kaya atau miskin atau mengerti atau bodoh dan seterusnya.

Kebalikannya adalah sifat al-Karāhah (terpaksa).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Berkehendak adalah: Seandainya Allah terpaksa, maka tentunya Allah bersifat lemah. Dan adanya Allah bersifat lemah adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْعِلْمُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى يَعْلَمُ بِهَا الْأَشْيَاءَ.

وَ ضِدُّهَا الْجَهْلُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ جَاهِلًا لَمْ يَكُنْ مُرِيْدًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-‘Ilmu (Maha Mengetahui). Sifat al-‘ilmu adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut Allah mengetahui semua hal.

Kebalikannya adalah sifat al-Jahl (bodoh).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Mengetahui adalah: seandainya Allah memiliki sifat bodoh, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha Berkehendak. Dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

وَ يَجِبُ فِيْ حَقِّهِ تَعَالَى الْحَيَاةُ وَ هِيَ صِفَةٌ قَدِيْمَةٌ قَائِمَةٌ بِذَاتِهِ تَعَالَى تُصَحِّحُ لَهُ أَنْ يَتَّصِفَ بِالْعِلْمِ وَ غَيْرِهِ مِنَ الصِّفَاتِ.

وُ ضِدُّهَا الْمَوْتُ.

وَ الدَّلِيْلُ عَلَى ذلِكَ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مَيِّتًا لَمْ يَكُنْ قَادِرًا وَ لَا مُرِيْدًا وَ لَا عَالِمًا وَ هُوَ مُحَالٌ.

Wajib pada ḥaqqnya Allah s.w.t., sifat al-Ḥayāh (Maha Hidup). Sifat al-Ḥayāh adalah sifat terdahulu yang menetap pada Dzatnya Allah s.w.t. yang dengan sifat tersebut dapat membenarkan bahwa Allah memiliki sifat ‘Ilmu dan sifat-sifat lainnya.

Kebalikannya adalah sifat al-Maut (Mati).

Dalil bahwa Allah s.w.t. memiliki sifat Maha Hidup adalah: Seandainya Allah mati, maka tentunya Allah tidak memiliki sifat Maha Berkuasa dan Maha Berkehendak, dan hal itu adalah hal yang tidak bisa diterima akal (mustaḥīl).

syarah Kitab tijan ad durari: Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi Beserta Artinya

Wajib bagi Allah mempunyai sifat ”Mukhalafatu lil bawadisi.” Artinya, tidak menyerupai dengan perkara baru (mahluk-Nya).

Maka, sifat ketidak-samaan Allah dengan makhluk merupakan suatu ibarat mengenai hilangnya sifat jisim, sifat benda, sifat kulli (keseluruhan), sifat ju’i (sebagian) dan beberapa hal yang menetap pada Allah. Adapun hal-hal yang menetap pada sifat jisim, berada pada tempat yang cukup. Yang menetap pada sifat benda, berada pada perkara lain (seperti buku dimeja, arloji di tangan atau kunci di saku) yang menetap pada sifat kulli (keseluruhan) ialah besar, pada sifat juz’i (sebagian) ialah kecil dan lain sebagainya.Oleh karena itu, apabila setan melontarkan (membisikkan) kata-kata di dalam hati andabahwa: “Kalaulah sekiranya Allah itu tidak merupakan jisim, benda, mempunyai bagian atau sebagian, maka bagaimana pula hakikat Allah itu?” Maka jawabnya adalah: ”Tidak ada yang mampu mengerti akan hakikat Allah, kecuali Allah sendiri.”

Ditegaskan di dalam Al-Qu’r an sebagaimana firman-Nya:”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syura : 11)Oleh karena itu,
Allah bukanlah merupakan jisim yang bisa digambarkan atau benda yang sangat terbatas oleh ruang dan waktu.

Allah Ta’ala tidak mempunyai tangan, mata, telinga dan lain-lain seperti yang dipunyai mahluk-Nya.Allah tidak menyerupai benda yang dapat diukur dan dapat dibagi-bagi. Sebaliknya, benda pun tidak dapat menempati kedudukan (posisi) Allah. Begitu juga tidak berupa sifat dan sifat pun tidak dapat menempati posisi Allah.Allah tidak menyerupai perkara yang wujud, begitu pula perkara yang wujud tidak menyerupai Allah. Ukuran tidak akan bisa untuk mencapai Allah dan arah tidak bisa memuat dan meliput-Nya. Demikian pula bumi dan langit yang tidak memadai jika ditempati oleh Allah.Allah Yang mengangkat derajat segala sesuatu dan lebih dekat dari urat nadi manusia.Allah Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Kedekatan Allah tidak menyerupai dengan dekatnya jisim.Allah Maha Luhur dari tempat yang meliputi-Nya, sebagaimana Allah Maha Bersih dari segala masa yang akan membatasi-Nya.Allah telah wujud sebelum masa dan tempat diciptakan. Dia (Allah) akan tetap berada di atas segala yang ada.Mustahil Bagi Allah Memiliki Sifat Mumatsalah (Menyerupai).Adapun lawan dari sifat ini adalah mumatsalah (menyerupai). Artinya, apabila Allah  tidak menyerupai dengan mahluk, niscaya Allah akan menyerupai pada semua mahluk-Nya. Akan tetapi, persamaan tersebut adalah batal. Sebab, apabila Allah menyerupai pada perkara yang baru, sudah barang tentu Allah pun baru sepertinya. Karena, semua apa yang ada pada salah satu dari dua kesamaan, maka yang lain pun ada kesamaannya.Akan tetapi, apabila keberadaan Allah merupakan hal yang baru, maka hal itu adalah muhal (tidak mungkin) disebabkan oleh kuatnya dalil tentang wajibnya Allah mempunyai sifat qidam.

Jika dipandang dari segi, bahwa Allah wajib mempunyai sifat mukhalafah lil hawadisi, maka mustahil bila Allah mempunyai sifat yang berlawanan dengan sifat tersebut, yakni sifat mumatsalah (menyerupai mahluq ciptaanNya). Mengenai gambaran mumatsalah (kesamaan) ada beberapa macam, diantaranya:Allah memiliki jisim, baik tersusun (tubuh) maupun tidak tersusun. Juga dinisbatkan pada benda atau sifat. Yang membutuhkan tempat atau sisi yang ada pada suatu benda yang karenanya tidak akan berada di atas arsy dan tidak pula di bawahnya.Allah mempunyai sisi yang tidak akan berada di atas serta tidak pula di sebelah kanan dan kirinya. Atau Allah berada pada suatu tempat yang terbatas dengan masa.Allah di lingkari oleh dua peristiwa baru, yaitu malam dan siang. Atau Dzat Allah yang luhur itu bersifat seperti mahluk-Nya yang memiliki kekuasaan baru, kehendak baru, bergerak atau diam, berwarna, kecil, besar (dalam arti banyak bagiannya).Allah bersifat dengan beberapa kesengajaan di dalam segala pekerjaan dan hukum-Nya, seperti menciptakan Zaid bukanlah karena adanya maksud (dari maksud-maksud) tertentu. Artinya, ada kemaslahatan yang bisa mendorong Allah untuk melaksanakan pekerjaan itu. Akan tetapi, merupakan permainan saja (tidak mengandung hikmah). Dan hukum Allah seperti mewajibkan salat kepada kita bukanlah karena adanya maksud-maksud tertentu. Artinya, ada maksud kemaslahatan yang mendorong Allah untuk menetapkan hukum wajib itu.Semua hal tersebut  itu bagi Allah adalah mustahil. Oleh karena itu, dari contoh yang telah diuraikan, maka sifat-sifat yang mustahil tidak mungkin ada bagi Allah.

[1] Sumber dari Kitab Tijan Ad Durari (Ilmu Tauhid karya Syaikh Ibrohim al-Bajuriy) diterjemahkan oleh Achmad Sunarto (Mutiara Ilmu).

Teks dan tarjamah HIZIB NASHR  (Amalan Wirid Abu Hasan Asy-Syadzili )

 Teks dan tarjamah HIZIB NASHR  (Amalan Wirid Abu Hasan Asy-Syadzili )

 

MANAQIB (Biografi Singkat) ABUL HASAN AL SYAZILI

JALUR KETURUNAN.

Beliau adalah seorang sufi yang mempunyai nama lengkap Abul Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabar yang banyak dikenal orang dengan nama al Syazili, beliau dilahirkan di Ghammarah Moroko pada tahun 593 H. Sebutan Al Syazili bagi bagi dirinya karena beliau banyak menempuh kehidupannya untuk memperdalam ilmunya di daerah Syazili.

KEHIDUPAN AL SYAZILI.

Abul Hasan Al Syazili masih mempunyai hubungan keturunan dengan Rasulullah melalui Fatimah al Zahra, dan dari keturunan yang bagus itu sudah Nampak pada diri Al Syazili sejak usia muda sampai tua, dengan budi pekerti yang terpuji hidup sederhana dan suci sepanjang hayatnya.

Pada awal masa kecilnya beliau sudah dibekali oleh orang tuanya dasar-dasar agama kemudian juga mendapat bekal pendidikan dari guru kerohaniannya yang bernama Abdul Salam bin Masyisy seorang ulama’ besar dari Maroko. Setelah dibekali ilmu yang cukup oleh gurunya lalu beliau dikirim oleh gurunya pergi ke Tunisia dan tinggal di Syazilia.

Abul Salam Al Masyisy, memandang ada kelebihan dan keistimewaan yang Nampak pada diri Al Syazili, sehingga dikirimlah beliau di Tunisia untuk mengembangkan ilmu yang telah dimiliki. Namun perintah gurunya ini tidak diketahui alasannya, mengapa mengirim Al Syazili ke Tunisia, tapi sebagai murid yang taat pada gurunya beliau melaksanakan perintah gurunya yang sangat dicintainya.

Kepergian beliau ke Syazili ini merupakan awal dari pengembaraannya, karena setelah lama, beliau tinggal di Syazilia kemudian beliau pindah ke Mesir dan tinggal di Iskadariyah sampai meninggal dunia.

Ilmu-ilmu yang dimiliki oleh Syazili banyak diperoleh ketika beliau tinggal di Tunisia, karena ditempat ini beliau banyak bertemu dengan para ulama’ terkenal dan melakukan diskusi dengan ilama’-ulama’ yang ditemui. Kedatangan beliau di Syazili ini mendapat sambutan yang luar biasa dan setiap hari mereka selalu mengerumuni al Syazili. Untuk menghindari kerumunan penggemarnya, maka beliau ditemani oleh Syekh Abu Muhammad Abdullah bin Salamah al Habibi untuk mengasingkan diri di daerah pegunungan yang bernama Zagwan. Dan di daerah ini beliau mengkhususkan diri dengan beribadah, membersihkan jiwa, menyatukan kehendak dan kemampuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Setelah beliau berkhalwat dari Gunung Zagwan tersebut, lalu beliau kembali ke tengah-tengah masyarakat untuk menyampaikan dakwah dan pelajaran. Namun kembalinya al Syazili ketengah-tengah, masyarakat ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para sufi dan para pejabat pemerintah. Namun dari kalangan pejabat ini beliau banyak mendapat tantangan karena adanya fitnah dari ulama’ fiqh, namun beliau selalu terhindar dari kejadian-kejadian yang tidak dikehendaki. Setelah mendapat tantangan dan fitnah dari ahli fiqh, akhirnya beliau memutuskan untuk pindah ke Mesir dan menetap di Iskandariyah.

Selama tinggal di Tunisia, beliau banyak berdiskusi dan berdialog dengan tokoh sufi, seperti Syekh Abul Hasan Ali Ibnu Makhiuf al Suazli Abu Abdullah al Shabuni Abu Muhammad Abdul Aziz al Paituni, Abu Abdillah at Binai at rayyah dan Abu Abdillah al Jarihi.

Disamping beliau banyak berdialog dengan para ulama’ beliau juga mendirikan majlis pengajian yang banyak dihadiri oleh para ulama’ diantara para ulama yang hadir dalam majlis pengajiannya adalah Izzudin bin Abdul Salam, Taqyyudin ibnu Daqiqiid, Abut Adzim al Munziri, Ibnu Shaleh, Ibnu Hajib, Jamaluddin Usfur, Nabihuddin bin Auf, Muhyiddin bin Suradah, Ibnu Yasin dan lain-lain

KEISTIMEWAAN AL SYAZILI.

Sebagai seorang sufi ada beberapa kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki oleh Al Syazili, diantaranya adalah :

  1. Sebagai seorang yang mempunyai jalur keturunan dengan Rasulullah, ada beberapa titisan warisan yang ada pada diri Al Syazili, diantaranya kewalian. Syazili sudah Nampak dan diraskan oleh gurunya, sehingga beliau dikirim ke Tunisia.
  2. Beliau pernah bermimpi bertemu Rasulullah dan diperintah untuk pindah ke Mesir membina 40 orang wali yang sedang menunggu kedatangannya. Akhirnya mimpi tersebut dilaksanakan dan beliau pindah dari Tunisia ke Mesir dan tinggal di Iskandariyah.

POKOK-POKOK PIKIRAN AL SYAZILI.

Ada beberapa pokok pikiran yang dikembangkan Al Syazili, diantaranya adalah :

  1. Seseorang yang ingin mendalami ajaran Tasawuf, maka harus terlebih dahulu mendalami dan memahami ajaran Syari’ah.
  2. Pelajaran tasawuf Al Syazili yang diajarkan kepada murid-muridnya diambil dari 7 kitab yang penting diantaranya adalah :
  3. Kitab Khatam al auliyah karya al Hakim al Tarmizi, kitab ini banyak menguraikan tentang masalah kewalian (wilayat) dan kenabian (nubuwwat).
  4. Kitab al Mawaqiif Wa al Mukhatabah karya Syekh Muhammad bin Abdul Jabbat an Niffari. Menurut pengarangnya kitab ini ditulis berkat pemberian Tuhan tatkala pengarangnya sedang berkhalwat (menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah). Dan kitab ini juga menguraikan tentang kerinduan seorang sufi kepada Tuhannya.
  5. Kitab Qutub Qulub karya abu thalib al Makki. Kitab ini ditulis menurut acuan syara’ dengan uraian-uraian dan pandangan-pandangan sufi hingga syariat dan hakikat sejalan dan bersatu.
  6. Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali. Kitab ini ditulis dengan memadukan antara syariah dan tasawuf.
  7. Kitab At Syifa’ karya Qadhi ‘Iyadh. Kitab ini oleh al Syazili dipergunakan untuk mengambil berkah dan juga mengambil sumber syarah-syarah dengan melihat tasawuf dari sudut pandang ahli fiqh.
  8. Kitab Ar Risalah karya Imam Qusyairi. Kitab ini dipergunakan oleh Al Syazili sebagai permulaan dari dalam pengajaran tasawufnya.
  9. Kitab Ar Muharrar al Wajiz. Karya Ibnu Athiah. Kitab ini diuraikan oleh Syazili untuk melengkapi pengetahuan dalam pengajian.

3.Tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka beribadah dan menempatkan sesuai dengan ketentuan-ketentuan Ilahi.

Wafatnya Al Syazili.

Beliau meninggal dunia di Iskadariyah pada tahun 656 H.

===================================================

 

DOA  HIZIB  NASHR

 

Pendahuluan : 

Sebelum membaca Hizib Nashr, hendaknya membaca bacaan berikut ini :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. تَحَصَّنْتُ بِذِى الْمُلْكِ وَالْمَلَكُوتِ, وَاعْتَصَمْتُ بِذِى الْعِزَّةِ وَالْجَبَرُوتِ, وتَوَكَّلْتُ عَلَى الْمُلْكِ الْحَيِّ الْقَيُّومِ الحَلِيْمِ الَّذِى لاَ يَنَامُ وَلاَ يَمُوتُ, دَخَلْتُ فِى حِرْزِ اللهِ, دَخَلْتُ فِى حِفظِ اللهِ, وَ دَخَلْتُ فِى أَمَانِ اللهِ, بِحَقِّ كهيعص كُفِيْتُ, وبحمعسق حُمِيْتُ, وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ.

Tahash-shantu bidzil mulki walmalakuut, wa’ta-shamtu bidzil ‘izzati wal jabaruut, watawakkaltu ‘alal malikil hayyil qayyuumil haliimil ladzii laa yanaamu walaa yamuut, dakhaltu fii hirzillaah, dakhaltu fii hifzhillaah, wa dakhaltu fii amaa-nillaah, bihaqqi kaaf haa yaa ‘aiin shaad kufiitu, wabi haa miim ‘aiin siin qaaf humiitu, walaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim.

Dengan menyebut asma’ Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Aku berbenteng kepada Tuhan Yang memiliki kerajaan dan kekua-saan; aku berpegangn teguh pada Yang memiliki kemuliaan dan kekuasaan; aku bertakawakkal kepada Sang Raja Yang Hidup Abadi lagi Terus Menerus mengurus makhluk-Nya, Yang Maha Penyantun, Yang tak pernah tidur dan tidak mengenal mati. Aku masuk kedalam penjagaan Allah. Aku masuk kedalam Pemeliharaan Allah. Aku masuk kedalam Penga-manan Allah. Berkat kebenaran kaaf haa yaa ‘aiin shaad  aku dijaga dan berkat haa miim ‘aiin siin qaaf  akudilindungi. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

BACAAN  HIZIB  NASHR :

وَقَالَ مُوسَى إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لاَ يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ. اللّهُمَّ بِسَطْوَةِ جَبَرُوتِ قَهْرِكَ, وَبِسُرْعَةِ إغَاثَةِ نَصْرِكَ, وَبِغَيْرَتِكَ  ِلانْتِهَاكِ حُرْمَاتِكَ, وَبِحِمَايَتِكَ لِمَنِ احْتَمَى بِآيَاتِكَ, نَسْئَلُكَ يَا أللهُ يَا أللهُ يَا أللهُ يَا سَمِيْعُ   يَاقَرِيْبُ يَامُجِيْبُ يَاسَرِيْعُ,  يَامُنْتَقِمُ يَاقَهَّارُ, يَاشَدِيْدَ الْبَطْشِ يَاجَبَّارُ, يَاعَظِيْمَ الْقَهْرِ, يَامَنْ لاَيُعْجِزُهُ قَهْرُالجَبَابِرَةِ,  وَلاَ يَعْظُمُ عَلَيْهِ هَلاَكُ الْمُتَمَرِّدَةِ, مِنَ الْمُلُوْكِ وَاْلأَكَاسِرَةِ, وَاْلأَعْدَاءِ الْفَاجِرَةِ, أَسْئَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كَيْدَ مَنْ كاَدَنَا فِى نَحْرِهِ, وَمَكْرَ مَنْ مَكَرَ بِنَا عَائِدًا عَلَيْهِ, وَحُفْرَةَ مَنْ حَفَرَلَنَا  حُفْرَةً وَاقِعًا فِيْهَا, وَمَنْ  نَصَبَ لَنَا شَبَكَةَ الْخِدَاعِ, اِجْعَلْهُ يَاسَيِّدِى مُسَاقًا إِلَيْهَا, وَمُصَادًا فِيْهَا وَأَسِيْرًا لَدَيْهَا.

Waqaala muusaa innii ‘udztu birabbii warab-bikum min kulli mutakabbirin laa yukminu biyaumil hisaab. Alloohumma bisathwati jaba-ruuti qahrik, wabisur’ati ighaa-tsati nashrik, wabighairatika lintihaaki hurumaa-tik, wabihi-maayatika limanih-tamaa bi aayaatik, nas-aluka yaa Allooh, yaa Allooh, yaa Allooh, yaa samii’u yaa qariibu yaa mujiibu yaa sarii’u yaa muntaqimu yaa qahhaar, yaa syadiidal bathsyi yaa jabbaar, yaa ‘azhiimal qahri yaa man laa yu’jizuhuu qahrul jabaabirah, walaa ya’zhumu ‘alaihi halaakul mutamarridah, minal muluuki wal akaasirah, wal a’daa-il faajirah. As-aluka antaj’ala kaida man kaadanaa fii nahrih, wa makra man makara binaa ‘aa-idan ‘alaiih, wahufrata man hafara lanaa hufratan waaqi’an fiihaa, waman nashaba lanaa syabakatal khi-dzaa’, ij’al-hu yaa sayyidii musaaqan ilaihaa, wamushaadan fiihaa wa asiiran ladaihaa.

“Dan Musa berkata: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab”. (QS al-Mukmin : 27).

Yaa Allah! Ddengan perantaraan kekuatan kekua-saan penaklukan-Mu; dengan perantaraan kece-patan datangnya pertolongan-Mu; dengan peranta-raan kecemburuan-Mu bagi pelanggaran terhadap larangan-larangan-Mu; dengan perantaraan perlin-dungan-Mu terhadap orang yang memohon perlindungan dengan ayat-ayat-Mu, kami memohon kepada-Mu, Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah, Yaa Sami’ (Wahai Yang Maha Mendengar), Ya Qariib (Maha Dekat), Ya Mujib (Pengabul doa), Ya Sari’ (Maha Cepat), Ya Muntaqimu (Penuntut Balas), ya Qahhar (Maha Perkasa), wahai Yang Keras siksaan-Nya, wahai Maha Kuasa, wahai Yang Agung penundukan-Nya, wahai Dzat Yang penaklukan para penguasa tidak mampu melumpuhkan-Nya dan tidak sulit atas-Nya menghancurkan orang yang durhaka dari kalangan para raja, kaisar dan musuh yang kurangajar. Aku memohon kepada-Mu, kiranya Engkau jadikan persekongkolan orang yang bermaksud jahat kepada kami mengakibatkan ia terbantai sendiri, (jadikan) kemakaran orang yang makar kepada kami kembali kepada dirinya,  (Jadikan) galian orang yang menggali lubang untuk kami membuatnya jatuh sendiri kedalamnya. Dan orang yang memasang jaring tipuan kepada kami, jadikan ia, wahai Tuhanku,  terjerumus kedalamnya, binasa didalamnya dan menjadi tawanannya.

اللَّهُمَّ بِحَقِّ كهيعص كهيعص كهيعص إِكْفِنَا هَمَّ الْعِدَا, وَلَقِّهِمُ الرَّدَى, وَاجْعَلْهُمْ لِكُلِّ حَبِيْبٍ فِدَا, وَسَلِّطْ عَلَيْهِمْ عَاجِلَ النِّقْمَةِ فِى الْيَوْمِ وَاْلغَدَا,

Alloohumma bihaqqi kaaf haa yaa ‘aiin shaad, kaaf haa yaa ‘aiin shaad, kaaf haa yaa ‘aiin shaad, ikfinaa hammal ‘idaa, walaqqihimur-radaa, waj’alhum likulli habiibin fidaa, wasallith ‘alaihim ‘aajilan-niqmati fil yaumi wal ghadaa.

Ya Allah! Berkat kebenaran Kaaf haa yaa ‘aiin shad (3x) tolonglah kami dari maksud/rencana musuh. Lemparkan mereka kedalam kebinasaan. Jadikan mereka sebagai korban bagi setiap orang yang dicintainya. Kuasakan atas mereka segera menda-patkan balasan pada hari ini dan esok.

اللّهُمَّ بَدِّدْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ, اللّهُمَّ أَقْلِلْ عَدَدَهُمْ, اللّهُمَّ فُلَّ حَدَّهُمْ, اللّهُمَّ أجْعَلِ الدَّائِرَةِ عَلَيْهِمْ, اللّهُمَّ أَرْسِلِ الْعَذَابَ إِلَيْهِمْ,

Alloohumma baddid syamlahum wafarriq jam’a-hum. Alloohumma aqlil ‘adadahum. Alloohumma fulla haddahum. Alloohummaj’alid-daa-irata ‘alai-him. Alloohumma arsilil ‘adzaaba ilaihim.

Ya Allah! Cerai beraikan persatuan mereka dan pisah-pisahkan jamaah/organisasi mereka. Ya Allah! Sedikitkan jumlah mereka. Ya Allah! Buatlah batas-batas (barisan) mereka menjadi kocar kacir. Ya Allah! Jadikan lingkaran/melapetaka atas mereka. Ya Allah! Turunkan azab siksaan kepada mereka.

اللَّهُمَّ أَخْرِجْهُمْ عَنْ دَائِرَةِ الْحِلْمِ وَاللُّطْفِ, وَاَسْلُبْهُمْ مَدَدَ اْلإِمْهَالِ, وَغُلَّ أَيْدِيَهُمْ إِلَى أَعْنَاقِهِمْ, وَارْبُطْ عَلَى قُلُوبِهِمْ, وَلاَ تُبَلِّغْهُمُ اْلآمَالَ,

Alloohumma akhrijhum ‘an daa-iratil hilmi walluthfi, waslubhum madadal imhaali, waghulla aidiyahum ilaa a’naaqihim, warbuth ‘alaa qu-luubihim, walaa tuballighhumul aamaal.

Ya Allah!Usirlah mereka dari kawasan sifat Penyantun dan Kelamahlembutan-Mu. Rampaslah dari mereka bantuan keramahan. Kuncilah tangan-tangan mereka pada leher-lehernya dan ikatlah pada hati-hati mereka, serta jangan sampaikan/sukseskan angan-angan mereka.

اللَّهُمَّ قَلِّبْ  تَدْبِيْرَهُمْ, وَقَرِّر  تَدْمِيْرَهُمْ, وَاقْطَعْ  دَابِرَهُمْ, وَخُذْهُمْ أَخْذَ عَزِيْزٍ  مُقْتَدِرٍ,

Alloohumma qallib tadbiirahum, waqarrir tadmii-rahum, waqtha’ daabirahum, wakhudz-hum akh-dza ‘aziizin muqtadir.

Ya Allah! Ubahlah langkah mereka, tentukan penghancuran terhadap mereka, berantaslah  mereka, dan siksalah mereka dengan siksaan yang sangat pedih.

اللّهُمَّ مَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ مَزَّقْتَهُ لأَعْدَائِكَ, إِنْتِصَارًا ِلأَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَأَوْلِيَائِكَ,

Alloohumma mazziqhum kulla mumazzaqin mazzaqtahuu li-a’daa-ika, intishaaran li-anbiyaa-ika warusulika wa auliyaa-ika.

Ya Allah! Cabik-cabiklah mereka, sebagaimana Engkau mencabik-cabik para muruh-Mu untuk membantu para Nabi, Rasul dan auliya’-Mu.

اَللَّهُمَّ انْتَصِرْلَنَا اِنْتِصَارَكَ  ِلأَحْبَابِكَ عَلَى أَعْدَائِكَ (3×).

Alloohummantashir lanantishaaraka li-ahbaabi ka ‘alaa a’daa-ika (Dibaca 3 x).

Ya Allah! Menangkanlah kami, seperti kemenangan yang Engkau berikan kepada para kekasih-Mu.

اللَّهُمَّ لاَ تُمَكِّنِ اْلأَعْدَاءَ فِيْنَا وَلاَمِنَّا, وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوبِنَا (3×),

Alloohumma laa tumakkinil a’daa-a fiinaa walaa minnaa, walaa tusallith-hum ‘alainaa bidzunuu-binaa (Dibaca 3 x).

Ya Allah! Jangan Engkau kokohkan para musuh pada kami dan dari kami dan jangan Engkau berikan kekuasaan pada mereka untuk menguasai kami disebabkan dosa-dosa kami.

حم حم حم حم حم حم حم.  حُمَّ  اْلأَمْرُ وَجَاءَ النَّصْرُ فَعَلَيْنَا لاَ يُنْصَرُونَ (7×).

Haamiim, Haamiim, Haamiim, Haamiim, Haa-miim, Haa miim, Haa miim.   Hummal-amru wa jaa-annashru fa’alainaa laa yunsharuun (7x).

Haa miim (7x). Telah ditakdirkan suatu urusan dan telah datang pertolongan, sehingga mereka tidak mampu mengalahkan kami.

حمعسق حِمَايَتُنَا مِمَّا نَخَافُ, اَللَّهُمَّ بِحَقِّ طَهَ وَقَافِ, وَسُورَةِ اْلأَحْقَافِ, بِلُطْفِكَ يَاخَفِيَّ اْلأَلْطَافِ, نَجِّنَا مِمَّا نَخَافُ,

Haa miim ‘aiin siin qaaf himaayatunaa mimmaa nakhaafu. Alloohumma bihaqqi thaahaa wa qaaf wa suuratil-ahqaaf, biluthfika yaa khafiyyal al-thaaf, najjinaa mimmaa nakhaaf.

Haa miim ‘aiib siin qaaf adalah perlindungan kami dari apa saja yang kami takuti. Ya Allah! Berkat Thaha, Qaf dan surat al-Ahqaf, berkat kelemah-lembutan-Mu, wahai Yang Samar kelemah lembutannya, Selamatkan kami dari apa saja yang kami takuti.

اللّهُمَّ قنِاَ شَرَّ اْلأَسْوَى, وَلاَ تَجْعَلْنَا مَحَلاًّ لِلْبَلْوَى, اللّهُمَّ أَعْطِنَا أَمَلَ الرَّجَاءِ وَ فَوْقَ اْلأَمَلِ,

Alloohumma qinaa syarral aswaa, walaa taj’a-lnaa mahallan lilbalwaa. Alloohumma a’thinaa amalar-rajaa-i wafauqal amal.

Ya Allah Lindungi kami dari kejahatan yang paling buruk dan jangan Engkau jadikan kami sebagai tempat sasaran balak-bencana. Ya Allah! Anugerahilah kami pengharapan dan di atas harapan.

يَاهُوَ يَاهُوَ يَاهُوَ, يَامَنْ بِفَضْلِهِ لِفَضْلِهِ نَسْئَلُكَ, إِلَهِى الْعَجَلَ الْعَجَلَ الْعَجَلَ, إِلَهِى اْلإِجَابَةَ  اْلإِجَابَةَ اْلإِجَابَةَ,

Yaa huu, Yaa huu, Yaa huu, Yaa man bifadhlihii lifadhlihii nas-al, ilaahil’ajalal ‘ajal, ilaahil ijaabatal ijaabatal ijaabah.

Wahai Dia, wahai Dia, wahai Dia! Wahai Dzat yang dengan kelebihan-Nya bagi kelebihan-Nya, kami memohon, wahai Tuhanku, segera (kabulkan), segera (kabulkan), segera (kabulkan). Tuhanku, semoga terkabul, semoga terkabul, semoga terkabul.

يَامَنْ أَجَابَ نُوحًا فِى قَوْمِهِ, يَامَنْ نَصَرَ إِبْرَاهِيْمَ عَلَى أَعْدَائِهِ, يَامَنْ رَدَّ يُوسُفَ عَلَى يَعْقُوبَ, يَامَنْ كَشَفَ الضُّرَّ عَنْ أَيُّوبَ, يَامَنْ أَجَابَ دَعْوَةَ زَكَرِيَّا, يَامَنْ قَبِلَ تَسْبِيْحَ يُونُسَ ابْنِ مَتَّى,

Yaa man ajaaba nuuhan fii qaumih. Yaa man nashara Ibraahiima ‘alaa a’daa-ih. Yaa man radda yuusufa ‘alaa ya’quub. Yaa man kasyafadh-dhurru ‘an ayyuub. Yaa man ajaaba da’wata zakariyyaa. Yaa man qabila tasbiiha yuunusabni matta.

Wahai Dzat Yang mengabulkan doa Nabi Nuh dalam masalah kaummnya. Wahai Tuhan Yang menolong Nabi Ibrahim atas para musuhnya. Wahai Tuhan Yang mengembalikan Nabi Yusuf kedalam pangkuan Nabi Ya’qub. Wahai Tuhan Yang menghilangkan penderitaan (bahaya) dari Nabi Ayyub. Wahai Tuhan Yang mengabulkan doa Nabi Zakariyya. Wahai Tuhan Yang menerima tasbihnya Nabi Yunus bin Matta.

نَسْئَلُكَ اللَّهُمَّ بِأَسْرَارِ أَصْحَابِ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ الْمُسْتَجَابَاتِ, أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنَّا مَابِهِ دَعَوْنَا, وَأَنْ تَعْطِيَنَا مَاسَأَلْنَاكَ, أَنْجِزْ لَنَا وَعْدَكَ الَّذِى وَعَدْتَهُ لِعِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ, بِالنَّصْرِ وَالظَّفَرِ وَالْفَتْحِ الْمُبِيْنَ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنْتَ مِنَ الظَّالِمِيْنَ,

Nas-alukalloohumma bi-asraari ashhaabi haadzihid-da’awaatil musta-jaabaat, an tataqab-bala minnaa maa bihii da’aunaaka, wa an tu’thiyanaa maa sa-alnaaka, anjiz lanaa wa’dakalladzii wa’adtahuu li’ibaa-dikas-shaali-hiin, binnashri wazh-zhafari walfat-hil mubiin. Laa ilaaha illaa anta sub-haanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.

Kami memohon kepada Engkau, Ya Allah, dengan perantaraan berbagai rahasia para pendoa yang terkabul tersebut, kiranya Engkau menerima dari kami apa saja yang kami mintakan kepada-Mu dan kiranya Engkau memberikan kepada kami apa saja yang kami mohonkan kepada-Mu. Wujudkan untuk kami janji-Mu yang telah Engkau janjikan kepada para hamba-Mu yang shalih, janji berupa bantuan, pertolongan dan kemenangan yang gemilang. Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Aku sungguh termasuk golongan orang-orang yang zhalim.

إِنْقَطَعَتْ آمَالُنَا وَعِزَّتِكَ إلاَّ مِنْكَ, وَخَابَ رَجَاؤُنَا وَحَقِّكَ إلاَّ فِيْكَ (3×)

Inqatha’at aamaalunaa wa’izzatika illaa minka, wakhaaba rajaa-unaa wahaqqika illaa fiika (3 x).

Terputus angan-angan kami, Demi Kemuliaan-Mu, selain yang berasal dari-Mu. Gagal harapan kami, Demi Hak-Mu, selain yang ada pada-Mu.

إِنْ أَبْطَأَتْ غَارَةَ اْلأَرْحَامِ وَابْتَعَدَتْ * 

فَأَقْرَبُ الشَّيْئِ مِنَّاغـَارَةُ الَّلهِ

In abtha-at ghaaratul arhaami wabta’adat * Fa-aqrabus-syai-i minna ghaaratullooh

Jika terlambat dan menjadi jauh pasukan kerabat, maka sesuatu yang paling dekat dari kami adalah pasukan Allah.

يَاغَارَةَ اللهِ  جِدِّى السَيْرَ مُسْرِعـَةً * 

فىِ حَلِّ عُقْدَتِنَا يَاغَـارَةَ اللهِ

عَدَتِ  الْعَـادُونَ وَجـــَارُوا * 

وَرَجــَوْنَا اللهَ مُجِــيْرًا

وَكَــــفَى  بِاللهِ وَلِـــيًّا * 

وَكَـــفَى بِاللهِ نَصِـيْرًا

Yaa ghaaratalloohi jiddis-saira musri’atan * Fii halli ‘uqdatinaa yaa ghaaratallooh.

‘Adatil ‘aaduuna wajaaruu * Warajaunallooha mujiiraa.

Wakafaa billaahi waliyyaa * Wakafaa billaahi nashiiraa.

Wahai Pasukan Allah, bergegas-gegaslah bergerak secara cepat, didalam mengurai tali simpul kami, wahai pasukan Allah

Telah kembali dan berlari orang-orang yang kembali, dan kami berharap kepada Allah sebagai orang yang lari.

Cukuplah Allah sebagai Pelindungku. Dan cukup Allah sebagai Penolongku.

يَاوَاحِدُ يَاعَلِىُّ يَاحَلِيْمُ, وَحَسْبُنَا الَّلهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ, وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِالَّلهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ, سَلاَمٌ عَلَى نُوحٍ فِى الْعَالَمِيْنَ, إِسْتَجِبْ لَنَا آمِيْن آمِيْن آمِيْن. 

Yaa waahidu yaa ‘aliyyu yaa haliimu, hasbunalloohu wani’mal wakiil. Walaa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim. Salaamun ‘alaa nuhin fil ‘aalamiin. Istajib lanaa aamiin aamiin aamiin.

Wahai Yang Maha Esa, wahai Yang Maha Tinggi, wahai Yang Maha Penyantun!  Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Salam sejahtera atas Nabi Nuh di alam semesta. Kabulkan doa kami. Amin. Amin. Amin

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.  وَصَلىَّ اللَّهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ  سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ, وَعَلَىآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Faquthi’a daabiral qaumilladziina zhalamuu fa-ashbahuu laa yuraa illaa masaakinuhum, walham-dulillaahi rabbil ‘aalamiin. Wa shallalloohu ‘alaa sayyidinaa muhammadin sayyidil mursaliin, wa’alaa aalihii washahbihii ajma’iin.

Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Sehingga jadilah mereka tidak diperlihatkan selain tempat-tempat tinggal mereka Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Semoga Allah melimpahkan rahma ta’zhim kepada junjungan kami, Muhammad yang menjadi penghulu para Rasul, beserta keluarga dan sahabatnya seluruhnya.

اللّهُمَّ أَنْتَ تَعْلَمُ أَعْدَائَنَا عَدَدًا, فَبَدِّدْ شَمْلَهُمْ بِدَدًا, وَلاَ تُبْقِ مِنْهُمْ أَحَدًا, إِنَّكَ أَنْتَ الْبَاقِى سَرْمَدًا.

Alloohumma anta ta’lamu a’daa-anaa ‘adadaa, fabaddid syamlahum bidadaa, wala tubqi minhum ahadaa, innaka antal baaqii sarmadaa.

Ya Allah! Engkau mengetahui pusuh-musuh kami berbilang-bilang, cerai beraikan persatuan mereka dengan sungguh-sungguh dan jangan Engkau sisakan dari mereka seorang pun, karena Engkau adalah Dzat Yang Maha Kekal abadi.

وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ. فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ. فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا.

Wamakaruu makran wamakarnaa makran wa hum laa yasy’uruun. Fanzhur kaifa kaana ‘aaqi-batu makrihim annaa dammarnaahum wa qauma-hum ajma’iin. Fatilka buyuutuhum khaawiyatan bimaa zhalamuu.

Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. (QS an-Naml : 50).

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لاَ يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ .

Tudammiru kulla syai-in bi-amrirabbihaa fa-ashbahuu laa yuraa illaa masaakinuhum. 

Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. (QS al-Ahqaf : 25).

فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ. وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا. فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Fahal taraa lahum min baaqiyah. Wahiya khaawiyatun ‘alaa ‘uruu-syihaa. Faquthi’a daabirul qaumilladziina zhalamuu walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.

Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka. (QS al-Haaqqah : 8).

Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (QS al-An’am : 45).

PENJELASAN :

Hizib di atas dibaca sekali atau tiga kali setelah sebelumnya didahului membaca hasbanah: Hasbunalloohu wa ni’mal wakiilsebanyak 450 x.

Jika menghadapi problem atau masalah yang serius, penting dan mendesak, Hizib di atas dapat dibaca sampai 41 kali, setelah sebelumnya membaca Hasbanah sepeerti di atas.

Demikian pula sewaktu menghadapi persoalan dan urusan sangat penting, serius dan mendesk, bacalah Hasbanah 100x, lalu membaca hizib Nashr 3x, lalu membaca Hasbanah lagi 100 x, diteruskan bacaan hizib 3 x. Begitu seterusnya sampai Hasbanah dibaca  sebanyak 1000 x dan Hizib menjapai jumlah 30 x.

Sebelum mengamalkan hizib ini, hendaknya didahului dengan bacaan : 1) Istighfar,   2) Shalawat Nabi

________________________________

*) Teks Doa diambil dari kitab asli berbahasa arab : “Khulashoh Syawariq al-Anwar” (KSA), tulisan Prof. DR. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani

Khutbah Mufti mesir : teroris khawarij takfiri (quthbiyun ihwanul muslimin + wahaby) adalah anjing anjing neraka

 

 

Penyebutan kafir dalam aqidah/alqur’an dan NON-MUSLIM dalam dakwah/kehidupan sosial bernegara (Yusuf qardhawi – Saudi – NU – FPI )

biarlah gambar yang berbicara:

 

Yusuf qardhawi ulama panutan ihwanulmuslimin menulis kitab “ghoirul muslimin fii majma’ilmuslimin” (non muslim dalam mayoritas muslimin) sudah diterjamahkan dalam berbagai bahasa

nonmuslim qardhawi

 

syekh yusuf qardawi

Kitab yg ditulis oleh Syeikh YUSUF AL-QARADHAWI, yakni “خطابنا الاسلمي في عصر العولمة”. Kitab ini mengelaborasi toleransi beragama yg moderat tapi tidak kebablasan, dan tetap di jalur syariat yg benar.

Di halaman 44-45 beliau menulis sebagai berikut: (versi bahasa arabnya saya sertakan dalam gambar)
……

Non-Muslim Sebagai Pengganti Kata “Kafir”

Di antara ajaran Islam yang penuh hikmah dan nasihat yg ditujukan pada ummat Islam, khususnya di era gobalisasi seperti saat ini adalah :

Hendaknya tidak memanggil orang-orang yang berbeda keyakinan dengan sebutan ‘Kafir atau Kuffar’, walaupun kita memang meyakini kekufurannya secara aqidah. Apalagi jika mereka adalah Ahli Kitab (Nashrani dan Yahudi).

Mengapa? Ada dua alasannya:

Pertama,
Kata ‘Kafir’ punya banyak makna, salah satunya bermakna ‘orang yang berbeda keyakinan dengan kita’. Termasuk didalamnya, orang-orang yang sama sekali tidak mau mengimani apa-apa yang ghaib dan tidak ditangkap oleh panca indera.

Kedua,
Al-Quran mengajarkan pada kita agar tidak memanggil manusia -walaupun ia memang kafir- dengan panggilan ‘Kafir’.

Maka, Allah memilih untuk memanggil orang-orang yang tidak beriman pada-Nya dengan kalimat:
“Wahai Manusia”,
“Wahai Bani Adam”, dan
“Wahai Ahli Kitab”.

Dan tidaklah dalam Al-Quran Allah memanggil mereka dengan panggilan “Wahai orang-orang Kafir”, kecuali dalam 2 ayat saja, yakni dalam surat At-Tahrim ayat 7 dan dalam Surat Al-Kafirun ayat 1.

Adapun yang melatarbelakangi panggilan Allah dengan panggilan ‘Kafir’ dalam surat ini adalah karena Allah menegur kaum musyrikin penyembah berhala yang menawarkan pada Nabi Muhammad SAW agar beliau SAW menyembah tuhan-tuhan mereka selama satu tahun, lalu kemudian mereka (musyrikin) menyembah Tuhannya Nabi SAW selama satu tahun juga.

Maka, surat al-Kafirun ini menjadi perintah dari Allah langsung untuk menolak tegas tawaran keji mereka. Allah memilih kata-kata dan susunan kalimat dalam surat al-Kafirun yang sangat keras dan sarkastis untuk menolak tawaran mereka yang terlalu keji itu.

Namun, di akhir ayat-Nya pun Allah tetap berbelas kasih pada mereka dengan kalimat penutup yang berbunyi “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”.

Oleh sebab itu, Saya (al-Qardhawi) sejak dulu menyatakan agar memanggil orang-orang yang berbeda agama dengan panggilan ‘Non-Muslim (Ghair al-Muslimin)’. Bukan Kafir.

Dan kitab saya yang berjudul “Ghair al-Muslimin (Non-Muslim) Dalam Masyarakat Islam” telah terbit sejak lama, dan dicetak berkali-kali, serta diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.[]

Referensi:
Yusuf Al-Qardhawi,
Khitabuna Al-Islamy Fi Ashri Al-Aulamah, Halaman 44-45.
Alih Bahasa dengan suntingan yang disesuaikan oleh Ustadazah Aini Aryani.

Disadur dari Ustadazah Aini Aryani

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2019/03/syekh-yusuf-al-qaradhawi-pun-menyebut.html#ixzz5hFt1A8DI

 

 

 

Saudi lebih dulu mempraktekan dalam penulisan jalan2 di makkah untuk ghoiru muslim (non muslim)

 

WhatsApp Image 2019-03-03 at 23.25.56

 

WhatsApp Image 2019-03-05 at 06.12.13

 

FPI dalam konferensi pers sering menyebut NON MUSLIM bukan kafir (search aja di youtube (FPI non muslim hadir 212)

 

 

WhatsApp Image 2019-03-05 at 05.53.18

 

 

Penjelasan lengkapnya munas NU 2019:

 

 

 

kafir berasal dari bahasa arab yaitu:

 كَفَرَ-يَكْفُرُ-كُفْرً  (kafara-yakfuru-kufran) WAZANNYA INI BUKAN ” KAFARA – YUKAFIRU-KUFRAN” SPT YG DIKATAKAN ORANG YANG JAHIL BAHASA ARAB

 

SEDANGKAN PADA QS AL HADIID = KUFFAR ARTINYA PARA PETANI

 

Alhamdulillah.

The word Kafir (كَافِر) is the singular form while kuffar (كُفّار) is the irregular plural form.

Kafiroun (كَافِرون) is the regular plural form, and can be replaced with Kafireen (كَافِرين) according to its syntactical position; i.e. its position in the sentence.

The root verb of this word is ka-fa-ra (كَفَرَ); to cover, veil or hide something.

E.g.: (كَفَرَ المُزارع البذرة), means: The farmer sowed the seed in the soil and covered it.

Hence, the word Kuffar (كُفّار) in this verse of the Qura’n (57:20):

“كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ”

Means the farmers. According to Tafsir Al-Qurtubi, which is a work of Qur’an exegesis.

In the religious context, it is used by the believers of a certain religion to describe all people form different religions other than theirs.

In the Islamic context, it means people who do not believe that there is God but Allah, and Muhammad, peace be upon him, is the messenger of Allah.