latar belakang sejarah yang menyebabkan lahirnya akidah Ahlusunnah (Asy’ariyah dan Maturidiyah)

Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah

quran5

Apa yang dimaksud dengan golongan Ahlussunnah wal jamaah ?

Syekh Abu al-Fadl Abdus Syakur As-Senori dalam karyanya “Al-Kawakib al-Laama’ah fi Tahqiqi al-Musamma bi Ahli as-Sunnah wa al-Jamaah” menyebutkan definisi Ahlussunnah wal jamaah sebagai kelompok atau golongan yang senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi SAW dan thoriqoh para sahabatnya dalam hal akidah, amaliyah fisik (fiqh) dan akhlaq batin (tasawwuf).

Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani dalam kitabnya, Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haq juz I hal 80 mendefinisikan Ahlussunnah wal jamaah sebagai berikut “Yang dimaksud dengan assunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW (meliputi ucapan, perilaku serta ketetapan Beliau). Sedangkan yang dimaksud dengan pengertian jamaah adalah segala sesuatu yang telah disepakati oleh para sahabat Nabi SAW pada masa empat Khulafa’ur-Rosyidin dan telah diberi hidayah Allah “.

Dalam sebuah hadits dinyatakan :

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة ، وتفرقت النصارى الى إثنين وسبعين فرقة ، وتفرقت أمتي على ثلاث وسبعين فرقة ، كلها في النار الاّ واحدة ، قالوا : ومن هم يا رسول الله ؟ قال : هم الذي على الذي أنا عليه وأصحابي . رواه أبو داود والترميذي وابن ماجه

“Dari Abi Hurairah r.a., Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Umat Yahudi terpecah menjadi 71 golongan. Dan umat Nasrani terpecah menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua masuk neraka kecuali satu. Berkata para sahabat : “Siapakah mereka wahai Rasulullah?’’ Rasulullah SAW menjawab : “Mereka adalah yang mengikuti aku dan para sahabatku.”. HR. Abu Dawud, Turmudzi, dan Ibnu Majah.

Jadi inti paham Ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) seperti tertera dalam teks hadits adalah paham keagamaan yang sesuai dengan sunnah Nabi SAW dan petunjuk para sahabatnya. Dalam hadits lain:

عن عبد الرحمن بن عمرو السلمي أنه سمع العرباض بن سارية قال وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم: فعليكم بما عرفتم من سنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين. رواه احمد

Dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr as-Sulami, sesungguhnya ia mendengar al- Irbadl bin Sariyah berkata: Rasulullah SAW menasehati kami: kalian wajib berpegang teguh pada sunnahku dan perilaku al-khulafa’ar-Rosyidin yang mendapat petunjuk.’’ HR.Ahmad.

Sejak kapan istilah golongan Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) muncul ?

Paling mudah melacak periode awal kelahiran terminologi (istilah) Aswaja dimulai dengan lahirnya madzhab (tauhid) al-Asy’ari dan abu Manshur al-maturidi. Tetapi kelahiran madzhab Aswaja di bidang kalam ini tidak dapat dipisahkan dengan mata rantai sebelumnya, dimulai dari periode ‘Ali bin Abi Thalib KW. Sebab dalam sejarah, tercatat para imam Aswaja di bidang akidah telah ada sejak zaman sahabat Nabi SAW, sebelum munculnya paham Mu’tazilah. Imam Aswaja pada saat itu diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib  KW, karena jasanya menentang penyimpangan khawarij tentang al-Wa’du wa al-Wa’id dan penyimpangan qodariyah tentang kehendak Allah SWT dan kemampuan makhluk. Di masa tabi’in juga tercatat ada beberapa imam Aswaja seperti ‘Umar bin Abdul Aziz dengan karyanya “Risalah Balighah fi Raddi ‘ala al-Qodariyah”. Para mujtahid fiqh juga turut menyumbang beberapa karya teologi (tauhid) untuk menentang paham-paham di luar Aswaja, seperti Abu Hanifah dengan kitabnya “Al-Fiqhu al-Akbar” dan Imam Syafi’i dengan kitabnya “Fi tashihi an-Nubuwwah wa Raddi ‘ala al-Barohimah” .

Imam dalam teologi Aswaja sesudah itu kemudian diwakili oleh Abu Hasan Al-Asy’ari, lantaran keberhasilannya menjatuhkan paham Mu’tazilah. Dengan demikian dapat dipahami bahwa akidah Aswaja secara subtantif telah ada sejak masa para sahabat Nabi SAW. Artinya paham Aswaja tidak mutlak seperti yang dirumuskan oleh Imam Asy’ari dan Maturidi, tetapi beliau adalah dua diantara imam-imam yang telah berhasil menyusun dan merumuskan ulang doktrin paham akidah Aswaja secara sistematis sehingga menjadi pedoman akidah Aswaja.

Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, istilah Aswaja secara resmi menjadi bagian dari disiplin ilmu keislaman. Dalam hal akidah pengertiannya adalah Asy’ariyah atau Maturidiyah. Imam Ibnu Hajar Al-Haytami berkata “Jika Ahlussunnah wal jamaah disebutkan, maka yang dimaksud adalah pengikut rumusan yang digagas oleh Imam Abu al-Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi “ [1]. Dalam fiqh adalah madzhab empat, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Dalam tasawwuf adalah Imam Al-Ghozali, Abu Yazid al-Busthomi, Imam al-Junaydi dan ulama’-ulama’ lain yang sepaham. Semuanya menjadi diskursus islam paham Ahlussunnah wal jamaah.

Apa latar belakang sejarah yang menyebabkan lahirnya akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah ?

Secara faktual, tidak dapat dipungkiri bahwa awal mula terjadinya perpecahan masyarakat Islam dimulai dari Khalifah ‘Utsman bin Affan RA dan hampir melembaga pada periode Ali bin Abi Thalib KW. Perpecahan tersebut berlanjut pada persoalan akidah. Perbedaan tersebut berlangsung terus menerus secara pasang surut, terkadang volumenya kecil, terkadang juga membesar. Pada masa Abbasiyah berkuasa, sebelum periode al-Mutawakkil, terjadi keresahan yang luar biasa (mihnah) di kalangan umat Islam, akibat pemaksaan paham akidah Mu’tazilah oleh penguasa. Dalam situasi kacau dan resah itulah muncul Imam Abu Hasan al-Asy’ari menawarkan rumusan teologi sesuai dengan nash Qur’an dan hadits yang telah tersusun rapi. Kemudian oleh para ulama’ disepakati sebagai paham teologi Aswaja. Makin lama pengikut paham ini makin besar. Sementara di daerah lain, yakni Samarqand Uzbekistan dan di Mesir, Imam Abu Manshur al-Maturidi dan at-Thahawi, juga berhasil menyusun rumusan teologi yang pararel dengan rumusan Imam al-Asy’ari, semuanya mempunyai orientasi yang sama, yaitu menjawab persoalan-persoalan Islam yang sangat meresahkan pada waktu itu. Muchib Aman Ali


[1] Tathhiru al-Jinan wa al-Lisan hal 7

Advertisements

Salah Kaprah Salafi ( Wahhaby quthbiyun Vs Wahhaby Salafy )

Salah Kaprah Salafi

Perang dalil antara Wahhaby quthbiyun (pendukung TERORIS Taliban al-qaida yang aksinya lebih banyak membunuh muslim sunni madzab hanafy daripada  tentara kafir USA) Versus  Wahhaby Salafy ( Wahhaby saudi arabia Antek zionis  yahudi- USA).
Allah SWT telah pecah belahkan golongan golangan mujasimmah yang menyimpang dari aqidah ahlusunnah wal jamaah
mina alladziina farraquu diinahum wakaanuu syiya’an kullu hizbin bimaa ladayhim farihuuna

[30:32] yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka (tauhidnya menyimpang seperti mujasimmah dan musyabihah/mensifati Allah dengan sifat makhluq) dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Salah Kaprah Salafi

[ SALAFY TOBAT ] AQIDAH AHLI SUNNAH DAN PERTENTANGANNYA DENGAN ALIRAN WAHABIYYAH/ SALAFY PALSU

AQIDAH AHLI SUNNAH DAN PERTENTANGANNYA DENGAN ALIRAN WAHABIYYAH/ SALAFY PALSU

1-Apakah pengertian golongan Wahabi/salafi palsu ?

Golongan Wahabi adalah satu aliran yang diasaskan oleh Muhammad Abd Wahhab pada kurun yang ke-12 hijrah di Najd Jazirah Arabiyyah.
Fahaman ini dikenali juga sebagai Aliran Kaum Muda di Malaya dan Indonesia pada tahun 30an, 40an dan 50an.
Aliran ini dinisbahkan kepada bapa beliau yang merupakan seorang dari Ulama’ mazhab Hambali. Telah menjadi adat Kaum Arab menisbahkan sesuatu itu kepada bapa ,datuk dan keatas.
Seperti Mazhab Syafi’e adalah aliran Mazhab yang dinisbahkan kepada moyangnya ,sedangkan nama pengasas yang sebenar adalah Muhammad bin Idris.Begitulah adat kaum Arab dalam menisbahkan sesuatu.
Walaupun begitu mereka yang berpegang dengan aliran ini tidak selesa dengan gelaran Wahhabi sebaliknya mendakwa mereka dari golongan Kaum Salaf atau kaum Ahli Sunnah .
Kenapakah begitu?Ini kerana istilah Wahhabi pada hari ini mula diketahui ramai akan kesesatannya dalam Aqidah dah cabang yang lain.
Oleh kerana itu harus berhati-hati dengan kaum ini kerana mereka terkadang mempergunakan nama Ahli Sunnah, Salaf dan pelbagai istilah yang baik-baik untuk mengaburi orang awam dari mencium kesesatan pegangan golongan ini.

2-Apakah diantara ajaran Wahhabi yang bertentangan dengan Aqidah Ahli Sunnah wa al-Jama’ah?

Ramai orang merasakan golongan ini hanya pembawa bid’ah dalam masaalah-masaalah Furu’(cabang) semata-mata sedangkan sebenarnya golongan ini membawa sebesar-besar bid’ah dalam masaalah Aqidah !!
Oleh kerana itu ramai dari kalangan mereka yang berwajib, para Ulama’ , para pendakwah merasakan perkara ini tidak ada keutamaan untuk ditangani dengan sungguh-sungguh.
Diantara ajaran golongan ini yang bertentangan dengan aqidah Ahli Sunnah wa al-Jamaah ialah menolak dan merendah-rendahkan pengajian sifat 20 .
Sebaliknya mereka membawa kaedah Tauhid yang baru iaitu pembahagian Tauhid yang tiga .
Defenasi tauhid tiga di sisi aliran Wahhabi:

1-Tauhid Rububiyyah.
Tauhid bagi mereka yang menyembah berhala.Kununnya mereka menyembah berhala untuk mendekatkan diri kepada Allah.Sementara berhala merupakan pengantara antara hamba dan Tuhannya.
2-Tauhid Uluhiyyah.
Tauhid bagi mereka yang beribadah hanya kepada Allah semata-mata dengan tiada sebarang perantara makhluk.
3-Tauhid Asma wa Sifat.
Beriman dengan ayat-ayat mutasybihat secara zahirnya.Seperti dikatakan Allah itu bersemayam di atas Arasy dan lain-lain lagi.
Bagaimana mungkin Tauhid itu terbahagi kepada tiga?
Sedangkan Tauhid itu hanya satu iaitu mengesakan Allah dan tidak sama sekali membeda-bedakan Tauhid seperti Tauhid yang tiga ini.
Dengan menerima konsep tauhid rububiyyah dan uluhiyyah mengikut pentafsiran seperti ini maka banyak amalan-amalan yang diperakui baik menjadi sesat dan membawa syirik kepada pelakunya.Seperti amalan Maulid Nabi,marhaban,berdiri sewaktu salawat,tabarruk(ambil berkat),tawassul(berwasilah) ,ziarah makam Nabi-nabi, Rasul-rasul ,Auliya’ dan salihin.
Sementara tauhid asma wa sifat pula membawa implikasi menjisimkan(visual) dan mentasbihkan(menyamakan) zat Allah s.a.w dengan mahkluk. Seperti menyifatkan Allah dengan tempat dan angguta(jarihah).
Ini adalah aqidah kaum Musyabbihah Mujassimah yang wujud pada kurun yang ke-4 hijrah dan dikembangkan semula oleh Ibnu Taimiyyah pada kurun ke-7 hijrah dan seterusnya dikembangkan pula oleh Muhammad Abd Wahhab pada kurun ke-12 hijrah.

3-Adakah kita boleh mengikut sebahagian daripada ajaran/amalan wahhabi atau kita diminta meninggalkan keseluruhan ajaran tersebut?

Pada saya penjelasan tentang Aqidah dan amalan agama telah jelas dan nyata seperti matahari disiang hari.Para Ulama’ telah meninggalkan penjelasan agama dengan sejelas-jelasnya dalam seluruh bidangnya didalam kitab-kitab yang sampai kepada kita.
Kalau begitu tiada keperluan lagi merujuk kepada saranan dan amalan aliran Wahhabi , kerana telah dibuktikan dalam banyak hal dimana mereka telah menyelewengkan pengertian ayat-ayat al-Quran , Hadith dan pandangan para Alim Ulama’ silam.
Bahkan telah dibuktikan mereka melakukan pemalsuan terhadap kitab-kitab Ulama’ silam dengan tujuan supaya dapat mengelirukan umat islam dan mengikut telunjuk mereka.
Berkemungkinan terdapat juga amalan-amalan mereka yang betul, akan tetapi kalaulah kebenaran sudah bercampur baur dengan kebatilan, akan menjadi kesusahan pada orang awam untuk menentukan yang mana satu betul dan salah!! Mungkin perkara benar dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar dan diamalkan sehingga ke akhir hayat. Maka ini akan mengundang kita kepada kemurkaan Allah di dunia sehingga Akhirat.
Oleh itu jauhilah ajaran ini dan berpeganglah dengan amalan-amalan yang disepakati Ulama’, insyaallah selamat dunia akhirat.

4-Apakah akibat yang akan kita dan masyarakat dapat jika mengamalkan ajaran-ajaran Wahhabi dari segi aqidah , ibadah dan sosial?

Akibat dari sudut aqidah pastinya sangat bahaya , kerana bila tergelincir sesaorang Muslim dalam aqidah akan membawa kegelinciran dalam soal-soal yang lain.
Selain itu konsep Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah disisi Kaum Wahhabi membawa implikasi kepada syiriknya amalan Maulid Nabi,bacaan barzanji,berdiri ketika selawat Nabi,marhaban,memuji-muji Nabi s.a.w, menziarahi kubur Nabi s.a.w, amalan tabarruk(ambil berkat) dan lain-lain lagi.
Dari sudut ibadah pula banyak amalan-amalan baik yang tergolong didalam bid’ah hasanah di anggap sebagai buruk dan seterusnya masyarakat mula meninggalkannya.
Contohnya amalan membaca Yasin dimalam jumaat adalah merupakan amalan yang baik.Sekurang-sekurangnya kita ada membaca al-Quran dalam seminggu.
Ini adalah implikasi dari penta’rifan bid’ah yang telah disalah ertikan oleh golongan Wahhabi ,dimana mereka mengatakan pengertian bid’ah itu segala amalan yang Nabi s.a.w tidak lakukan sewaktu hayatnya.
Sedangkan kita jumhur Ulama menta’rifkan dengan segala amalan yang baru yang hanya bertentangan dengan al-Quran,al-Sunnah,al-Ijma’ dan Qias sahaja dikatakan sebagai bid’ah yang dhalalah(sesat) dan dilarang untuk diamalkan.
Sementara amalan-amalan yang ada sandaran dari dalil-dalil samaada dari nas-nas yang bersifat khusus atau umum adalah dianjurkan untuk diamalkan selama mana tidak terdapat nas-nas yang melarang amalan tersebut.
Dari sudut sosial pula dengan munculnya golongan ini akan menimbulkan perpecahan, perbalahan didalam masyarakat dan perpecahan itu sangat dilarang didalam agama.Yang lebih membimbangkan fahaman golongan sudah menjadi kenyataan telah mendorong para pengikutnya kepada Islam militant.
Jauhilah golongan ini demi keselamatan aqidah ,ibadah dan keharmonian dalam bermasyarakat.

5-Bagaimanakah kedudukan pengikut Wahhabi dari segi pandangan Islam, samada mereka termasuk dalam golongan musyrik atau sebagainya?

Didalam aqidah Ahli Sunnah wa al-Jamaah kita diajarkan supaya bersikap tidak membudayakan sikap kafir menkafir.Walaupun telah jelas para Alim Ulama menggolongkan mereka sebagai golongan yang sesat , namun tidak mengkafir mereka.
Ramai dari kalangan Ulama’ yang menggolongkan mereka sebagai ahli bid’ah.
Namun Rasullullah s.a.w. menegaskan didalam hadithnya betapa golongan sesat itu dijanjikan Neraka dan menjanjikan Syurga kepada golongan Ahli Sunnah wa-al-Jamaah.
Terkadang golongan ini mendabik dada mengaku sebagai Ahli Sunnah sedangkan hakikat yang sebenar adalah pembohongan yang nyata.Telah terbukti aliran ini bertentangan dengan pengajian Ahli Sunnah wa al-Jamaah.
Kita menyarankan kepada para pengikut golongan ini agar bertaubat dan kembali ke pangkal jalan.

6-Bagaimana hubungan kita dari segi perkahwinan dan hubungan-hubungan yang lain termasuk sama ada mereka boleh mejadi Imam , penerima zakat dan sebagainya?
Selama mana kita tidak mengkafirkan golongan ini ,maka mereka maseh dikategorikan sebagai saudara sesama muslim yang lain.
Walaupun begitu adalah tidak wajar mempertemukan perkahwinan dengan golongan ini kerana berkemungkinan akan membawa perbalahan didalam rumah tangga.
Sementara dari sudut menjadi Imamah didalam solat adalah digalakkan kita berimam dengan Imam yang betul aqidah dan amalan.
Walaupun begitu sekiranya kita terpaksa berimamkan imam dari golongan ini , para Ulama’ mengatakan sah walaupun dianggap makruh.
Sementara sebagai penerima zakat ,saya berpandangan hulurkanlah zakat kepada mereka yang bukan tergolong dari kalangan ahli bid’ah.

7-Adakah golongan Wahhabiyyah dari kalangan SALAF ?

Mereka yang mendakwa sebagai golongan salaf masa kini sebenarnya membawa aqidah yang bertentangan dari aqidah Ahli Sunnah Wa al Jama’ah yang tulin.

Ramai para Ulama tidak menyadari hakikat kesalahan aqidah yang sedang dipromosi oleh golongan ini.

Mereka bergerak dengan menimbulkan isu-isu khilafiyyah seperti qunut, tahlil arwah, yasin malam jumaat, sah batal wudhu, dan lain-lain. Setelah para pendengar dirasakan boleh menerima perkara-perkara yang lebih berat barulah mereka mengorak langkah untuk agenda selanjutnya.

Aqidah yang dipromosi oleh golongan ini adalah aqidah “Tashbih dan Tajsim”(menyerupakan / menjisimkan zat Allah).

Ini terbukti bila kita meniliti seluruh penulisan golongan ini dalam pelbagai bahasa. Bagi kita yang berbahasa Melayu dapat membuktikan kesesatan golongan ini melalui penulisan mereka di maqalah-maqalah, laman-laman web, majalah-majalah, diskusi, kertas kerja dan pelbagai sumber.

Adakah begitu rupa pegangan salaf dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat? Tidak sama sekali.

Bahkan dua mazhab yang masyhur di sisi Ulama’ dalam memahami mutasyabihat, mereka (salaf dan khalaf) melakukan “tafwidh dan “takwil”.

Dikalangan para sahabat yang secara jelas mengamalkan takwil seperti Saidina ‘Abbas , Ibnu Mas’ud, Saidina Ali r.a., Hassan al-Basri ,Imam Malik ,Imam al-Auza’i , Qatadah, al-Thauri , Mujahid ,Ikrimah dan lain-lain yang tersebut banyak nas-nas mereka di dalam Kitab-Kitab Tafsir.

Mereka adalah dari golongan yang mendominasi Aqidah Ibnu Taimiyyah al-Harrani.
Kalau begitu jelas mereka ini adalah bukan dari golongan yang beraqidah seperti orang Salaf.

8-Apakah dia golongan salafiah moden ?

Golongan ini adalah golongan Wahabiyyah yang diberikan penjenamaan semula selepas istilah Wahhabiyyah memberi respon yang ‘salbi’ negatif.

Dahulunya lebih dikenali dengan faham Kaum Muda di Malaysia atau Muhamadiyyah di Indonesia
Tentang Kaum muda ada terdapat ulasan dari kitab Fatwa Mufti Kerajaan Negeri Johor .
Beliau adalah al-Allamah Dato’ Sayyid Alawi bin Tahir al-Haddad , begini kenyataannya:

Yang dikatakan Kaum Muda pada pertuturan orang-orang zaman ini ialah satu kumpulan orang yang tiada cukup mengerti dan faham tentang agama Islam, mereka bersungguh-sungguh hendak menghampir dan menyatukan agama Islam kepada agama yang lain. Apa jua perkara yang terbit daripada agama Kristian dan Majusi mana yang dipandang molek dan elok pada zahirnya berkehendak mereka memalingkan hukum-hukum Islam kepadanya seperti berkata setenganh mereka itu , babi itu satu binatang yang suci…..

Ada juga yang mengunakan Istilah Faham Sunnah, Manhaj Sunnah, Ittiba’ Sunnah, Ansar Sunnah dan berbagai-bagai lagi.

9- Pandangan Para Ulama’ terhadap Gerakkan Salafiyyah al Wahhabiyyah.

Gerakkan ini diasaskan oleh Muhammad Abd Wahhab pada kurun yg ke 12 hijrah di Najd, Jazirah Arabiyyah.

Disebutkan oleh Ibn Humaid, Mufti Hanabilah di Makkah, bahawa fahaman Muhammad Abd Wahhab menyebarkan kesesatan ke serata alam.

Menjadikan Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim sebagai idola dalam memahami aqidah, syari’ah dan akhlak.

Golongan yang menentang amalan Taqlid dan ijma’ Ulama’.

Faham yang membawa trend ‘Takfir’, Tabdi’, Tafsiq , Syirik, sesat, bid’ah dan lain-lain lagi.

Siapa juga yang bercanggah dengan kaum ini pastinya akan mendapat berbagai gelaran yang begitu mudah terpacul dari mulut mereka.

Selain itu mereka yang bercanggah pendapat dengan mereka, bukan sekadar mereka ini dianggap sesat dan syirik bahkan mereka mengharuskan untuk ditumpahkan darahnya.

Bahkan Ibnu ‘Abidin menggolongkan mereka sebagai Khawarij zaman ini.

Dr Saed Ramadhan al Buthy menyatakan dalam satu ruangan bahawa fahaman Wahhabiyyah adalah fahaman yang di rencana oleh Yahudi British untuk memporak perandakan kesatuan Umat Islam.

Sheikh Zaki Ibrahim [dalam kitabnya al Salafiah Mu’asarah ila aina? Man hum Ahlussusah Waljamah?] menyatakan dengan jelas golongan Wahhabiyyah adalah fahaman yang bertopengkan Faham Salaf.
Sedangkan mereka sebenarnya hanya mempropaganda nama salaf untuk menyakinkan ummah agar menyokong gerakkan ini bahkan beliau menyatakan dengan berani golongan ini sebenarnya adalah anak cucu cicit Khawarij.

Di dalam kitab Senjata Syari’at yang telah di tashih oleh tiga orang tokoh besar seperti Sheikh Abdullah Fahim, Hj Ahmad Tuan Husin Pokok Sena dan Hj Abdullah Abd Rahman Merbuk Kedah ada menyatakan tentang kitab Zaad al Maad karangan Ibnu Qayyim al Jauzi sebagai kitab yang terkeluar dari aliran Ahlu Sunnah wa al Jama’ah. kerana ia sebagai penyebar aliran Ibnu Taimiyyah.

9-Gerakan Kaum muda/Wahhabi di Malaysia.

Gerakkan Kaum muda di Malaysia sejak tahun 50an sebelum merdeka.

Diantara tokoh yang nenonjol gerakkan ini seperti sheikh Abu Bakar Asy’ari dan Ibrahim al-‘Aqidi.

Abu Bakar Asy’ari menggerakan gerakkan ini di Perlis Indera Kayangan sementara Sheikh Ibrahim pula di Pulau Pinang.

Ada didengar dari orang-orang tua mereka ini adalah anak murid kepada Hasan Bandung yang menggerakkan Muhammadiyyah di Indonesia.

Gerakkan Muhammadiyyah di Indonesia adalah gerakkan yang membawa fahaman Wahhabi.

Fahaman Kaum Muda yang berteraskan ajaran Wahabbi telah bertapak di Perlis dan beberapa tempat di Pulau Pinang sejak tahun 50an hasil dari gelombang Kaum muda yang didokong oleh dua tokoh ini.

Para Ulama pada masa itu telah bangun dalam menangani golongan ini ,diantaranya pertemuan dua pehak yang telah dihadiri oleh Sheikh Ghazali Mufti Perak , Sheikh Abu Bakar al-Baqir dan Ulama’-Ulama’ lain bersama tokoh-tokoh kaum muda yang diantaranya Sheikh Abu Bakar al-Asy’ari , Ibrahim al-‘Aqibi dan lain-lain.

Pertemuan itu berakhir dengan kegagalan Sheikh Ibrahim al-Aqidi menjawab beberapa soalan yang diajukan sehingga beliau jatuh dari kerusi dan meninggal dunia.

Selain itu penulisan para Ulama dalam menjawab serangan golongan ini , diantaranya penulisan Sheikh ‘Abd Qadir al-Mindili yang berjodol “ Sinar matahari buat penyuluh kesilapan Abu Bakar Asy’ari yang telah di cetak di Mesir pada Muharram tahun 1379 H beberapa tahun selepas merdeka.

Begitu juga penulisan Abu Qaniah dan Abu Zahidah yang berjodol ‘Senjata Syari’ah “dan dicetak pada 23/7 1953 telah ditashih oleh Sheikh Abdullah Fahim, Hj Ahmad Tuan Hussin Pokok Sena dan Hj Abd Rahman bin Hj Abdullah Merbuk Kedah ,menjadi bahan bukti betapa wujudnya gelombang Kaum Muda yang berpaksikan ajaran Wahhabi mula tersebar di Malaya sebelum merdeka lagi.

Bahkan dalam surat wasiat Sheikh Abdullah Fahim juga mengingatkan orang-orang Islam di Malaya agar berhati-hati dengan golongan Khawarij yang telah memasuki Negara .

10- Ibnu Taimiyyah , Ibnu Qayyim dan Gerakan Wahhabi.

Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim adalah Ulama kurun yang ke tujuh H.

Gerakan Wahhabi telah menjadi dua orang tokoh ini sebagai asas pegangan dalam semua persoalan Islam.

Ini terbukti bila mana kitab-kitab yang menjadi rujukan asas dalam penulisan dan pemikiran berdasarkan kitab-kitab karangan dua tokoh ini.

Gerakan ini berkerja keras menghimpun dan menyebarkan segala penulisan dua tokoh ini dalam pelbagai cara seperti melalui bahan cetak atau pun media elektronik.

Bahkan kalau kita meneliti laman-laman dan blog-blog golongan ini kita dapat lihat kitab-kitab dua tokoh ini sangat dominan.

Bahkan di Malaysia terdapat markaz yang diberi nama Markaz Ibnu Qayyim al-Jauzi.
Begitu juga terdapat laman web yang domennya Ibnu Qayyim.net.

Kalau kita melihat penulisan tokoh-tokoh golongan ini di Malaysia makalahnya dipenuhi dengan bahan-bahan yang dirujuk dari kitab-kitab dua tokoh ini.

Di antara kitab yang sangat masyhur seperti Fatawa Kubra karangan Ibnu Taimiyyah dan Zaad al Maad karangan Ibnu Qayyim al-Jauzi.

Lihatlah pada Mingguan Malaysia yang bertarikh 28 okt 2007 terpapar penulisan Mufti muda Perlis yang membela Ibnu Taimiyyah dengan mengatakan ramai “tukang ahli fitnah” yang menaburkan pelbagai tuduhan terhadap tokoh ini hanya kerana tidak senang dengan pendekatan Islam yang lebih terbuka dan ilmiyyah.

Adakah pendekatan tauhid tasybih dan tajsim yang terdapat didalam kitab-kitab Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim al-Khariji /al-Jauzi sebagai pendekatan ilmiyyah dan terbuka??atau ia merupakan penghancuran tauhid yang tulin yang diwarisi turun temurun dari para Ulama salihin ??

11-Ahli Sunnah al-Asya’irah.

Golongan yang bera’qidah mengikut apa yang telah dirumuskan oleh Imam Abu Hassan al-Asy’ari dikenali sebagai Asya’irah yang berasal dari kalimah jama’ Asy’ari.

Mazhab Ahli Sunnah Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah adalah merupakan mazhab yang jelas dalam semua bab-bab ilmu Tauhid, walaupun begitu terdapat setengah golongan yang ingkar berpunca dari kejahilan mereka tentang hakikat mazhab Asyai’rah terutama dalam memahami sifat-sifat khabariah.

Al-Asyairah: mereka adalah merupakan tokoh-tokoh pembawa panji-panji kebenaran daripada Ulama’Muslimin yang ilmu mereka memenuhi bumi dari timur sampai ke barat.

Di antara mereka yang disebutkan oleh Sayyed Muhammad Alawi Al-Maliki sebagai tokoh-tokoh Ulama’-Ulama Asy’irah yang ilmunya memenuhi muka bumi :

1. Sheikh al-Islam Ahmad ibn Hajar al-Asqalani, pengarang kitab Fath al-Bari ala Syarh al-Bukhari.

2. Al-Imam Al-Nawawi, pengarang kitab Syarh Sahih Muslim.

3. Shaikh al-Mufassirin al-Imam al-Qurtuby pengarang kitab al-Jami’ li ahkami al-Quran.

4. Shaikh al-Islam Ibn Hajar al-Haitami pengarang kitab al-Zawajir an iqtiraf al-kabair.

5. Shaikh al-Fiqh wa al-hadith al-Imam al-Hujjah Zakariyya al-Ansyari.

6. Al-Imam Abu Bakar al-Baqillani.

7. Al-Imam al-Asqalani

8. Al-Imam al-Nasafi.

9. Al-Imam al-Syarbini.

10. Abu Hayyan al-Nahwi.

Mereka ini semuanya adalah dari Imam-Imam Asya’irah yang diperakui kebenaran ilmu yang dibawa.

12- Persaksian Para Ulama’.

Terdapat terlalu banyak persaksian para ‘Ulama’ terhadap kebenaran golongan ‘Asya’irah , sebahagiannya:

(1) Kitab Ittihaf Sadat al-Muttaqin oleh Imam al-Zabidi (syarh Ihya ‘Ulumuddin karangan Imam Ghazali).

“Apabila disebutkan golongan Ahli Sunnah wa al-Jamaah, maka maksudnya ialah orang-orang yang mengikut rumusan faham ‘Asy’ari dan faham Abu Mansur al-Maturidi”.

Ini satu isyarat yang jelas dari Imam Zabidi berhubung siapakah Ahli Sunnah wa al Jamaah yang tulin!!

Golongan ini sebenarnya tidak menyenangi banyak kenyataan-kenyataan yang terdapat dalam Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Ghazali kerana tidak memihak kepada apa yang mereka perjuangkan.

Justeru mereka berusaha keras mencari dalil sebagai bahan bukti untuk mengendorkan kenyakinan umat Islam dengan mempersende-sendekan tulisan al-Imam yang agung ini seperti mengatakan terdapat banyak hadith-hadith dha’if (lemah) dan maudhu’(palsu).

Tetapi kalau kenyataan di dalamnya memihak dengan apa yang mereka perjuangkan serta bersesuaian dengan selera mereka pastinya mereka akan memuja dengan keterlaluan sebagaimana mereka memuja Ibnu Taymiyyah al Harrani dan mereka yang sealiran dengannya.

(2) Kitab Risalah al Mu’awanah wa al muzaharah wa al muazarah oleh Abdullah ‘Alawy al Haddad.

“Kebenaran itu jelas terpancar pada golongan yang dikenali sebagai al ‘Asy’ariyyah….. “

(3) Kitab al Bayan oleh al Ustaz al Doktor ‘Ali Jum’ah (Mufti Mesir)

“…’Aqidah Nabi s.a.w dan para sahabah adalah ‘aqidah Asya’irah .

Dikatakan kebanyakan qiraat Nabi s.a.w dalam membaca al Quran adalah qiraat Imam Nafe’ walaupun Nabi tidak pernah bertemu Imam Nafe’. Namun ulama’ tidak ragu untuk menisbahkan bacaan Nabi s.a.w dengan qiraat Imam Nafe’.

Kalau begitu tidak lah menjadi kesalahan untuk menisbahkan aqidah Nabi s.a w dan para sahabah dengan aqidah Imam Asy’ary.

Mengapa tidak ! Bila diteliti aqidah yang dirumuskan oleh al Imam ternyata hanya sekadar merumuskan dan meneguhkan(muqarrir) aqidah yang menjadi pegangan Rasullullah dan para sahabat Nabi dengan tanpa menokok tambah .

(4) Dr Sa’ed Ramadhan al Buthy dalam khutbahnya yang dipaparkan di laman web beliau yang bertajuk “al Asya’irah wa al Maturidiyyah”

“Siapakah Asya’irah dan Maturidiyyah? Mereka adalah lisan yang menterjemahkan “Aqidah sawad al a’zam” (majoriti Ulama’) dan Rasul s.a.w memerintahkan umatnya agar berpegang dengan pegangan mejoriti.

Dari penjelasan Dr Saed Ramadhan al Buty jelas beliau menyatakan yang dimaksudkan di dalam hadith Rasulullah s.a w sebagai “sawad l a’zam” (mejoriti Ulama’) adalah “Asya’irah dan Maturudiyyah”.

Beliau juga menekankan betapa dharurahnya kita berpegang dengan “sawad al a’azam” berdasarkan perintah Rasulullah s.a.w yang menyebutkan “’alaikum bi al sawad al a’azam” yang bermaksud: “Hendaklah kamu berpegang dengan amalan yang berpaksikan menjoriti ulama’.”

13-FIKH

Golongan anti mazhab

Di Malaysia setiap kali mereka mengadakan seminar kerap kali mereka akan melaungkan TA’ASUB MAZHAB

Mereka mengatakan Umat Islam di Malaysia khasnya extrim dengan Imam Shafe’.

Mereka juga melaungkan ADAB AL IKHTILAF /adab berbeda pendapat.
Tetapi sebenarnya mereka bertujuan JAHAT.Mereka menggunakan metod ini untuk mengajak kita longgar dengan pegangan dan seterusnya menjadikan fatwa mereka yang ganjil-ganjil pegangan.

Ini terbukti dalam banyak masaalah.Contohnya masaalah batal wdhu’
Mereka mengatakan tidak batal dengan bersentuh kulit diantara lelaki dan wanita yang ajnabi(halal nikah).

Kenapa mereka yang mempromosi ADAB IKHTILAF tidak menghormati ijtihad Imam Shafe’ yang menjadi amalan masyarakat Islam di Malaysia khasnya dan amnya diseluruh dunia??

Kita masyarakat Islam yang berpegang dengan MAZAHIB ISLAMIYYAH MU’TABARAH begitu menghormati perbedaan pendapat diantara mazahib.
Contohnya masaalah zakat di Malaysia diamalkan dengan menggunakan duit/nilai makanan asasi setempat.

Ini merupakan pandangan yang bertentangan dengan mazhab Syafe’.
Namun kita melihat ada kebaikan maka kita mengguna pakai pandangan mazhab yang lebih bersesuaian dengan keaadan semasa.

Dr ‘Ali Jum’ah dalam kitabnya Al Bayan menyatakan dengan tegas bahawa golongan faham ini adalah bersifat MUTASYADDID/مُتَشَدِّدٌ yang membawa
makna extreme !!

Sifat memaksa orang lain berpegang hanya pada pandangannya semata-semata adalah BID’AH MAZMUMAH .

Sementara Dr Saed Ramadhan al Buthy menyifatkan golongan anti mazhab sebagai BID’AH YANG SANGAT MERBAHAYA YANG MENGANCAM SYARIAT ISLAMIYAH.

Kenapa begitu kerana dengan sikap mereka ingin berijtihad secara terus dari sumber yang asal dan sedar akan kemampuan dirinya maka lahirlah ijtihad-ijtihad yang disifatkan oleh Sheikh Muhammad Ghazali sebagai اِجْتِهَادُ طُفُوْلِي (ijtidad anak-anak/ijtihad yang tidak matang).

14-Laungan Tajdid adakah benar satu pembaharuan?

Kerap kita mendengar laungan TAJDID, yang bermakna pembaharuan. Mereka mengatakan apa yang menjadi amalan masyarakat Islam sebagai lapuk, berkulat dan bercendawan. Amalan-amalan yang diamalkan sekian lama di Malaysia tidak bersandarkan nas-nas yang jelas dari Allah dan Rasul-Nya. Jestru itu, mereka mengatakan perlu dikaji semula segala amalan ini yang disebut sebagai TAJDID! Di antara amalan yang disebut sebagai perlu ada “TAJDID” ialah seperti berikut:

1- Amalan Yasin di malam Jumaat.
2- Tahlil arwah.
3- Kenduri arwah.
4- Bacaan Quran di samping jenazah bila berlaku kematian.
5- Bacaan Quran di Kubur.
6- Bacaan al-Fatihah bila jenazah keluar dari rumah.
7- Haram membinkan Abdullah bagi mereka yang memeluk Islam.
8- Boleh memberi dan menjawab salam daripada orang kafir.
9- Daging babi tidak najis.
10- Bersentuh dengan perempuan yang ajnabiyyah tidak membatalkan wudhuk.
11- Maulid itu syirik.
12- Bacaan barzanji itu syirik.
13- Berdiri waktu selawat juga syirik.
14- Selawat yang tiada warid itu dilarang.
15- Selawat tafrijiyyah itu syirik.
16- Tahi ayam tiada najis.
17- Bila bertembung Jumaat dan hari raya, gugur salat Jumaat.
18- Tiada air musta‘mal.
19- Boleh jama‘ dan qasar pada bila-bila masa, tanpa mengira dari sudut marhalah.
20- Sifat dua puluh tiada sunnah dalam mempelajari tauhid.
21- Tauhid yang sunnah itu, tauhid tiga T; Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Sifat.
22- Taqlid pada Ulama mujtahid dilarang dan ada yang mengatakan taqlid buta.
23- Imam Ghazali itu banyak meletakkan hadith-hadith palsu dalam Ihya’ Ulumuddin.
24- Ibnu Batutah sejarawan yang tidak boleh dipegangi.
25- Tawassul dan tabarruk itu syirik.
26- Dan lain-lain lagi.

Adakah amalan-amalan ini merupakan amalan turun temurun nenek moyang yang bersifat warisan?? atau mungkin boleh dikatakan sebagai amalan-amalan yang sama seperti bersemah di sawah, bersemah di tepian pantai, amalan mandi bunga dan lain-lain??

Hujjah yang diutarakan golongan ini seakan rasional!! Tetapi tidak semua yang seakan rasional itu betul!! Seperti kenapa talaq hanya diberikan kepada kaum lelaki? Secara singkat kita berfikir seakan tidak adil!! Adakah ini sebagai rasional!! Kalau anda bersetuju dengan pandangan ini, seakan senada seirama dengan Islam Libral!! Kalau begitu setiap perkara itu perlu dilihat dengan teliti sebelum menghukum, kerana takut-takut tersalah, tersilap dan ini akan menidakkan perkara-perkara yang baik di sisi Syara‘ yang telah diamalkan sekian lama. Dan lebih menakutkan lagi, takut kita menidakkan amalan-amalan baik yang didasarkan dengan nas-nas yang bersifat umum dari al-Quran dan al-Hadith, sehingga membawa kepada menafikan keduanya! Ini sangat merbahaya!!!

Oleh kerana itu di ruangan ini saya ingin mengajak bersama merenung semula apakah benar GELOMBANG TAJDID yang dilaung-laungkan, atau sekadar gimik dan ingin mencari glamour!! atau ingin sekadar mencari kelainan!! sehingga membawa namanya dipersada tanah air sebagai wira….

Kalau ditelek-telek dan diteliti apa yang dibawa oleh GERAKAN TAJDID seakan senada seirama dengan gerakan-gerakan yang lepas seperti gerakan Hassan Bandung (persatuan Islam Bandung), Muhammadiyyah di Indonesia, Ansar al-Sunnah, Atba‘ al- Sunnah, pemikiran al-Bani, pemikiran Bin Baz, pemikiran Uthaimin, gerakan Salafiyyah (Wahhabiyyah) di Timur Tengah, gerakan kaum muda (mudah), gerakan Abu Bakar Asy‘ari di Utara Malaysia, aliran Wahhabiyyah di kurun ke 12H, pemikiran Ibnu Taimiyyah serta anak muridnya Ibnu al-Qayyim al-Jauzi (al Khaariji) di kurun ke tujuh masuk ke lapan hijrah.

Kelihatan setelah diintai-intai pemikiran golongan TAJDID senada seirama, seakan tidak dapat dipisahkan antara nada dan lagu. Tarian aliran ini memang tarian yang ditarikan oleh aliran yang disebutkan tadi. Rentak, lenggang-lenggoknya memang tidak ada cacat celanya dengan rentak tarian aliran-aliran yang disebutkan tadi.

Mungkin kita boleh mengatakan memang mereka ingin mempromosi semula tarian lama yang telah lapuk dek zaman dan bercendawan dek abad berabad.

Memang betul lah kalau mereka mengatakan itu TAJDID!! Tajdid tarian lama yang dah tak laku cuba dipersembahkan semula dengan segala macam bunga-bunga hiasan baru. Ramai yang terpukau , seperti disantau sehingga kelihatan seperti dirasuk syaitan.

Di tangan saya ada beberapa buku-buku yang ditulis pada tahun-tahun sebelum merdeka. Setelah diteliti seakan terdapat pertembungan pemikiran dan fahaman. Saling menjawab di antara satu sama lain.

Di antaranya buku yang dikeluarkan oleh PERSATUAN ISLAM BANDUNG, dikenali juga pada masa itu sebagai pengikut HASSAN BANDUNG, bertajuk “soal jawab”, cetakan pertama yang diterbitkan oleh PERSAMA PRESS, Acen Street Pulau Pinang pada tahun 1953. Kalau diamati kandungan buku tersebut terpapar di sana perkara-perkara yang dikatakan sebagai TAJDID oleh pendokong-pendokong aliran ini.

Di antaranya yang tersebut di bahagian kandungan seperti berikut:

1- Ahli kubur tak bisa dibikin dengar (masaalah talkin) .
2- Babi dan dagingnya tidak najis.
3- Taqlid dilarang.
4- Tawassul dengan berhala.
5- Fidyah puasa atas yang bisa dengan susah payah.
6- Urusan dunia boleh bid‘ah.
7- Talqin bid‘ah.
8- Jari diguyang-guyang dalam tahiyyat.
9- Ziarah kubur .
10- Qunut Rasullullah s.a.w sebulan .
11- Makanan untuk orang kematian.
12- Atba‘ dan ijtihad .
13- Talaffuz niat/melafazkan niat.
14- Quran dan tahlil buat si mati.
15- Qunut, selawat dan waktunya.

16- Masalah muqallid.
17- Wa bihamdih dalam ruku‘.

Dan lain-lain yang masih banyak lagi.

Kalau diamati isi kandungan buku Hasan Bandung ini saling tak tumpah dengan gerakan Tajdid sama ada di Malaysia maupun di seluruh dunia.

Lebih mengukuhkan hujjah lagi bila kita meneliti penulisan-penulisan Pendita Za’ba yang baru-baru ini dipaparkan oleh seorang yang baru beberapa hari bergelar Sahibus Samahah Dr. Mufti, untuk mengukuhkan hujjah-hujjahnya dalam mendokong slogan Tajdidnya. Dah habis modal ker?? Orang yang dikenali sebagai ahli bahasa pun dipikul untuk menjadikan hujjah dalam masalah agama!! Semua orang tau tentang kepakaran beliau. Rupa-rupanya sipendita ini pun telah diresap pemikiran seperti buku Hassan Bandung!!!

Yang peliknya kalau kita utarakan hadith-hadith, cepat-cepat dia melatah, mengatakan dha‘if lah!! palsu lah!! dan berbagai lagi anggapan-anggapan yang tidak menyenangkan. Yang jelasnya dalil-dalil itu tak sesuai dengan alirannya.

Tetapi kalau sesuatu dalil itu sehaluan dengan alirannya maka dalil yang tak terpakai pun menjadi hujjah seakan Hadith yang sahih dari Bukhari dan Muslim. Kita menunggang kebenaran atau kebenaran menunggang kita?? Aneh dan pelik tetapi benar!!

15-Perpecahan yang dijanjikan oleh Nabi s.a.w

Nabi s.a.w bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ مِنْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا …

Maksudnya:
“Barangsiapa hidup selepas dari ku maka pastinya dia akan melihat perselisihan yang banyak … ”.
(Riwayat Abu Daud)

Carta Firqah:

No Nama Firqah Jumlah Aliran
1 SYI‘AH 22
2 KHAWARIJ 20
3 MU‘TAZILAH 20
4 MURJI’AH 05
5 NAJARIYYAH 03
6 JABARIYYAH 01
7 MUSYABBIHAH 01

jumlah 72

1.3 Aliran-aliran umat Islam hari ini ada yang bergerak atas nama-nama di atas seperti faham Syi‘ah dan sebahagian yang lain dengan nama-nama yang baru yang kalau diamati ternyata pemikiran faham itu berdasarkan sebahagian firqah-firqah di atas.

1.4 Rasulullah s.a.w menjanjikan kebenaran kepada golongan Ahlus Sunnah Wa al-Jama‘ah, sebagaimana di dalam hadith:

مَا أَناَ عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.
Maksudnya:
“Mereka yang berpegang dengan sunnah ku dan sunnah para sahabat”.

16-Neraca kebenaran

إِنَّ أُمَّتِي لا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلالَةٍ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ الإِخْتِلَافَ فَعَلَيْكُمْ بِسَوَادِ الأَعْظَمِ.
“Sesunguhnya (ulama’) umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan, dan sekiranya kamu melihat perselisihan hendaklah kamu berpegang dengan al-Sawad al-A’zham (Majoriti para ulama’).”

17-Kesimpulan

1- Dalam mencari kebenaran hendaklah kita berpegang dengan pegangan yang disepakati ramai.
2- Mempelajari Islam dari ramai guru.
3- Tinggalkan sikap TA’ASSUB kepada seseorang.
4- Mengelak diri dari guru-guru yang pandangannya berbeza dari majoriti.
5- Elakkan dari mempelajari Islam hanya dengan membaca tanpa berguru.
6- Mengawal kawasan dari dimasuki golongan ini.
7- Mengenal pasti ciri-ciri golongan ini [Lihat Lampiran I]
8- Pihak yang bertanggung jawab hendaklah sentiasa memantau di seluruh kawasan.Tanpa pemantauan yang berkala mereka akan berterusan bergerak.
9- Memastikan guru-guru yang mengajar di masjid-masjid, surau-surau pejabat dan di mana jua dari mereka yang mendapat kebenaran.
10 -Segera laporkan kepada pihak yang berwajib .

Wassalam.

http://alsubki2.blogspot.com/search?updated-min=2009-01-01T00%3A00%3A00-08%3A00&updated-max=2010-01-01T00%3A00%3A00-08%3A00&max-results=15

[salafy salafi tobat ] Doa dan Dzikir sunnah selepas sholat

[salafy salafi tobat ] Doa dan Dzikir sunnah selepas sholat

Sunnah Dzikir Setelah Sholat

Para ulama sedunia telah sepakat bahwa sunnat hukumnya bagi kaum muslimin untuk melakukan dzikir setelah selesai sholat fardhu lima waktu. Bahkan, juga disunnatkan membaca dzikir-dzikir setelah selesai melakukan sholat-sholat sunnat. Ada banyak sekali hadis-hadis Nabi yang shahih berkenaan dengan dzikir setelah selesai melaksanakan sholat. Sedangkan lafazh-lafazh (bacaan-bacaan) dzikir yang diajarkan pun berbeda-beda satu dengan lainnya.

Dalil yang masyhur tentang dzikir dan doa setelah selesai sholat adalah hadis dari Abi Umamah radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan: “Telah ditanyai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Kapankah doa didengar (dimustajabkan) oleh Allah?” Rasul menjawab: “Doa yang dilakukan di tengah malam dan setelah selesai melaksanakan sholat fardhu lima waktu (Hadis Riwayat Imam Turmidzi, hasan shahih).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menunjukkan kepada kita bahwa dzikir setelah selesai sholat itu sunnat hukumnya dan dilakukan dengan mengeraskan suara. Nabi dan para Sahabat melakukan dzikir dengan suara keras ini pada zaman Nabi masih hidup. Dengan demikian tuduhan bahwa berdzikir dengan suara keras adalah perbuatan bid’ah sama sekali tidak ada dasarnya. Malah perbuatan yang sunnah adalah mengeraskan suara saat berdzikir setelah selesai sholat lima waktu itu.

Ada juga sebahagian kecil kaum muslimin yang mengatakan bahwa jika selesai sholat fardhu orang-orang melakukan dzikir bersuara, maka hal ini akan mengganggu kekhusyu’an orang-orang yang ingin melaksanakan sholat sunnat. Perkataan mereka itu hanya pendapat akal semata, dan tidak ada landasan hadisnya sama sekali. Sayangnya, meskipun hanya berdasarkan pendapat akal saja, mereka berani  melarang orang untuk berdzikir dengan bersuara keras di masjid-masjid. Padahal kalau dilihat pada hadis Nabi, melarang orang melakukan dzikir dengan bersuara di masjid justru merupakan perbuatan yang melanggar sunnah Nabi, karena tidak didapati sepotong hadis pun yang Nabi melarang umat melakukan dzikir bersuara itu.

Perkataan mereka yang mengatakan dzikir itu mengganggu orang sholat sunnat juga keliru, sebab Nabi telah mengajarkan agar setelah selesai sholat fardhu, afdholnya kaum muslimin berdzikir terlebih dahulu, bukan langsung buru-buru melakukan sholat sunnat tanpa berdzikir terlebih dahulu. Tegasnya, dzikir setelah selesai sholat adalah perintah Nabi! Lantas bagaimana perbuatan yang hanya didasarkan pada pendapat akal dapat diterima, sampai dipakai pula untuk tmenggusur sunnah  Nabi yang ada dalam hadis-hadis shahih…..?

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, saudara sepupu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menceritakan sebuah hadis yang shahih. Hadis itu berbunyi, “Kami mengetahui Nabi dan para Sahabatnya telah selesai mengerjakan sholat fardhu di masjid dengan mendengar suara takbir mereka……”(Hadis Riwayat Bukhari Muslim). Dalam hadis yang lain, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Adalah berdzikir dengan mengeraskan suara setelah selesai mengerjakan sholat fardhu telah dilakukan pada zaman  Rasulllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan aku mengetahui mereka telah selesai mengerjakan sholat fardhu itu karena mendengar suara dzikirnya itu.” (Hadis Riwayat Bukhari Muslim, Lihat kitab Al Adzkar Imam Nawawi, halaman 77).

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mendengar suara Nabi dan Sahabat berdzikir sampai terdengar ke rumah beliau tentu karena suara dzikir itu keras. Jika dzikirnya tidak bersuara, bagaimana mungkin beliau mendengar suara dzikir tersebut? Saat mendengarkan suara dzikir Nabi dan para Sahabat, diyakini Abdullah bin Abbas saat itu masih kecil dan belum ikut sholat berjama’ah ke Masjid Nabawi.

Keterangan dalil berdzikir bersuara ini telah dibahas secara panjang lebar oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, dalam Kitab Fathul Bari, Syarah Hadis Bukhari, Jilid II, halaman 591-610. Dan seorang ulama salafy, Syekh Utsaimin pun sudah mengakui sunnah hukumnya berdzikir bersuara itu dalam kitab Ensiklopedi Bid’ah. Namun, meskipun demikian, jika ada yang mau mengerjakan dzikir itu tanpa bersuara, menurut faham Ahlussunnah Wal Jama’ah masih merupakan amalan sunnah juga.

Beberapa bacaan-bacaan dzikir dan doa yang telah dibuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada masa hidup beliau, antara lain:

  1. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan bahwa Rasulullah beristighfar (membaca astaghfirullahal ‘azhim) tiga kali setiap selesai sholat. Kemudian Nabi membaca doa, “Allahumma antassalam wa minkassalam tabarakta ya dzaljalali wal Ikram.” (Ya Allah Engkaulah Assalam, dan dari Engkaulah segala Keselamatan, Maha Mulia Engkau Wahai Yang Memiliki Keperkasaan dan Kemuliaan). (Hadis Riwayat Imam Muslim).
  2. Dari Al Harits at Tamimi radhiyallahu ‘anhu adalah Rasulullah telah mengajarkan kepadanya secara diam-diam (berbisik): “Apabila engkau telah selesai mengerjakan sholat magrib, maka bacalah olehmu, “Allahumma ajjirni minannaar” (Ya Allah selamatkan aku daripada azab neraka) sebanyak 7 kali, karena apabila engkau mati pada malam itu ketika engkau telah membaca doa tadi, maka wajib atasmu apa yang kau minta itu. Apabila engkau selesai sholat subuh maka bacalah doa yang sama sebanyak 7 kali, karena sesungguhnya jika engkau mati di siang harinya, maka wajiblah atasmu apa yang engkau minta (yakni kebebasan dari neraka).” (Hadis Riwayat Muslim dan Abu Dawud).
  3. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila telah selesai mengerjakan sholat dan memberi salam maka Beliau berdoa: “Laa ilaha illallah wahdahu la syarikalah, lahulmulku wa lahulhamdu wahuwa ‘ala kulli sya-in qadir.” (Tiada Tuhan yang disembah selain Allah, Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nyalah segala kekuasaan, dan bagiNyalah segala Pujian, dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa). (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim). Tetapi ada tambahan kalimat yuhyi wa yumit (Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan), setelah kata wa lahulhamdu. Bacaan ini sudah biasa diamalkan oleh kaum muslimin di Indonesia selama ratusan tahun pula. Amalan dan tambahan kalimat itu dikutip dari Hadis Riwayat Imam Turmudzi, Hasan Shohih. Hal ini penting kami tuliskan karena ada segelintir umat Islam yang rajin menuduh bid’ah kepada orang yang menambahkan kalimat  yuhyi wa yumit itu, padahal sebenarnya tambahan kalimat ini justru sunnah Nabi, bukan bid’ah!
  4. Kemudian Nabi membaca doa: “Allahumma laa mani’a lima a’thaita, wa laa mu’thiya lima mana’ta wa laa yanfa’ul jad minkal jad.” (Ya Allah,tiada yang dapat mencegah akan apa yang telah Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi akan apa yang telah Engkau cegah. Dan tidak memberi manfaa orang yang memiliki kesungguhan, karena kesungguhan adalah dari Engkau. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
  5. Kemudian Nabi juga ada membaca doa: ”La hawla wala quwwata illa billahi, la ilaha illah wa la na’budu illa iyyahu, lahunni’matul walfadhlu walahutstsina-ul hasanu, La ilaha illah mukhlishina lahuddina, walaukarihal kafirun.” (Hadis Riwayat Muslim). Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi menyuarakan takbir ini setiap selesai sholat lima waktu. Ini juga merupakan salah satu lagi dalil berdzikir bersuara (jahar) setelah sholat fardhu. (Lihat Al-Adzkar, Imam Nawawi halaman 77).
  6. Rasulullah ada mengajarkan para shahabat yang miskin-miskin untuk melakukan dzikir setelah sholat fardhu: “Ucapkanlah olehmu, “Subhanallah, Alhamdulillah, dan  Allahu Akbar setelah selesai sholat fardhu sebanyak 33 kali”. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim). Hadis ini lebih dijelaskan lagi dalam syarah hadis Abu Sholih yakni orang yang meriwayatkan hadis ini langsung dari Abu Hurairah bahwa cara mengerjakannya adalah sekaligus digabungkan/disatukan seperti ini: “Subhanallah…walhamdulillah…wallahu Akbar…semuanya total berjumlah 33 kali. Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi telah bersabda: “Senantiasa tidak kecewa orang yang membaca dzikir setelah sholat fardhu dengan kalimat;  Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.” (Hadis Riwayat Muslim). Dzikir ini dibuat secara terpisah, tidak bergabung menjadi satu seperti amalan hadis yang sebelumnya.” Meskipun cara ini sedikit berbeda, namun tetap sunnah dan telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam hadis yang lain dikatakan setelah membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali, maka hendaklah disempurnakan menjadi seratus kali dengan kalimat, ; “La ilaha illallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir”. Maka siapa yang melakukan hal ini akan diampunkan Allah seluruh dosa-dosanya walau dosanya sebanyak buih di lautan. (Hadis Riwayat Muslim).
  7. Dan diriwayatkan dalam kitab Ibnu Sunni oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu telah berkata dia: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam jika telah selesai mengerjakan sholatnya, maka Beliau mengusap keningnya dengan tangan kanannya kemudian beliau membaca, “Asyhadu anlaa ilaaha illallah, arrahmaanurrahim, Allahummadz hib ‘annil hamma wal hazan.” (Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani, Ya Allah buanglah daripadaku kegunda-gulanaan dan kesedihan).
  8. Dan diriwayatkan dengan sanad yang shahih dalam kitab Sunan Abu Dawud dan Nasai dari Mu’adz bin radhiyallahu ‘anhu: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memegang tanganku seraya Nabi bersabda, “Wahai Mu’adz, demi Allah sesungguhnya aku sangat mencintaimu. Kemudian Beliau menyambung ucapannya lagi, “Aku berwasiat kepadamu wahai Mu’adz, janganlah engkau meninggalkan bacaan dzikir ini setelah selesai melakukan sholat. Ucapkanlah olehmu, “Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.” (Ya Allah, tolonglah aku dalam mengingatMu dan bersyukur kepadaMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baiknya).

Wallahu A’lam Bishshowab

http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/index/77/Sunnah-Dzikir-Setelah-Sholat

http://rahba81.blogspot.com (image)

[Salafytobat]Dakwah dan Jihad : Larangan Memerangi Suatu Kaum sebelum Diseru kepada Is

Dakwah dan Jihad

http://harapandiri.files.wordpress.com/2009/01/1_609062389l.jpg


Larangan Memerangi Suatu Kaum sebelum Diseru kepada Islam
Baihaqi memberitakan dari Ubay bin Ka’ab ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW dibawakan kepadanya tawanan dari kaum Laata dan Uzza, lIalu Beliau bertanya kepada panglima perang Islam: “Apakah engkau sudah mengajak mereka memeluk Islam, sebelum engkau menawan mereka?”. “Tidak”, jawab panglima itu. Kemudaan Rasulullah SAW pun bertanya kepada orang-orang tawanan itu: “Apakah kaumku telah mengajak kamu memeluk Islam, sebelum kamu ditawan mereka?”. “Tidak, tidak pernah mereka mengajak kami”, jawab mereka. “Bebaskan mereka semua sekarang juga, sehingga mereka kembali ke perkampungan mereka!” perintah Rasulullah SAW kepada panglima pasukan itu. Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman Allah yang berikut, (maksudnya): “Sesungguhnya Kami (Allah) mengutusmu sebagai penyaksi dan pembawa berita gembira dan ancaman. Dan mengajak kamu kepada (agama) Allah dengan keizinanNya dan sebagai pelita yang menerangi!” Sesudah itu dibacakan pula, ayat yang lain (maksudnya): “Dan diwahyukan kepadaku Al-Quran ini untuk aku mengingatkan kamu dengan perintahnya, dan juga kepada semua yang sampai kepadanya ajaranku ini, apakah kamu ingin menyaksikan ada tuhantuhan yang lain di samping Tuhan Allah…” hingga ke akhir ayatnya.

Menurut versi Al-Waqidi bahwa Rasulullah SAW pernah mengutus pasukannya ke suku kaum Laata dan Uzza, lalu mereka memerangi mereka sehingga mereka berhasil menawan orang-orang tersebut beserta keluarga mereka, lalu mereka mengadu kepada Rasulullah SAW kata mereka: “Kaummu telah menyerang kami tanpa terlebih dahulu menyeru kami!”. Rasulullah SAW pun menanyakan perkara itu kepada pasukannya, dan mereka membenarkan pengaduan itu. Maka Rasulullah SAW pun berkata: “Kembalikan mereka semua ke perkampungan mereka dengan penuh keamanan, dan sesudah itu ajak mereka untuk memeluk Islam terlebih dahulu!”.
(Kanzul Ummal 2:297)

Rasulullah SAW Berdakwah dengan Berjalan Kaki ke Tha’if
Thabarani mengeluarkan dari Abdullah bin Ja’far ra. katanya: Raulullah SAW telah berangkat ke Tha’if berjalan kaki untuk mengajak penduduknya memeluk Islam, tetapi sangat disayangkan, tidak ada seorang yang mau menerimanya. Ketika kembali, Beliau duduk berteduh di bawah pohon besar, Beliau lalu bersholat dua rakaat di situ, dan setelah itu Beliau berdoa (yang bermaksud): Ya Allah! Ya Tuhanku! Aku mengadukan kepadamu akan kelemahanku dan penghinaan orang terhadap diriku, wahai Tuhan Maha Pengasih dari sekalian manusia. Kepada siapakah Engkau ingin menyerahkan, diriku ini? Apakah Engkau akan menyerahkan diriku kepada musuh-musuhku yang akan membinasakanku, ataupun kepada seorang yang bertimbang rasa yang dapat menimbangkan perkaraku. Tetapi jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak menghiraukan semua itu, selain belas kasihanmu itu lebih banyak yang aku harapkan. Aku berlindung kepadamu demi ZatMu yang mencetuskan cahaya yang dapat menghapuskan segala kegelapan, dan yang mana digantungkan padanya segala urusan dunia dan akhirat, agar tiadalah turun ke atas diriku ini kemurkaanmu, atau menempat pada diriku kebencianmu, bagimu segala rupa keridhaan sehinggalah Engkau meridhai, dan tiada daya upaya melainkan dengan Allah saja! (Majma’uz-Zawa’id 6:35)

Mereka itu Berjalan Kaki di Atas Permukaan Bumi

Al-Baihaqiyy dan An-Naqoosy telah mentakhrijkan di dalam mu’jamnya dan Ibn An-Najjaar daripada Waaqid bin Salaamah daripada Yaziid Ar-Riqoosyiyy dari Anas ra. Bahawa Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallaam telah bersabda (mafhuumnya) :

Sudikah aku kabarkan kepada kalian akan qaum-qaum yang mana mereka itu adalah bukan para anbiyaa` dan buka pula para syuhadaa`, (walhal) pada hari qiyaamat (nanti) para anbiyaa` dan para syuhadaa` merasa ghibtoh (iri hati) terhadap mereka itu lantaran manaazil (status- status) mereka (begitu dekat) dengan Allah, di atas minbar-minbar daripada nuur mereka dikenali. Lalu mereka (para Sahabat r.ahum) Bertanya : siapakah mereka itu wahai Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallaam? Baginda menjawab (mafhuumnya) : al-ladziina yuhabbibuuna `ibaadaloohi ilAllahi, wa yuhabbibuunAllaha ilaa `ibaadihi, wa yamsyuuna `alal-ardhi nushan; artinya: (yaitu) orang-orang yang menjadikan para hamba Allah dicintai oleh Allah SWT , dan menjadikan Allah SWT dicintai oleh para hambanya, dan mereka itu berjalan kaki di atas (permukaan) bumi dalam hal keadaan memberikan nasihat.

Maka aku berkata : ini menjadikan Allah SWT dicintai oleh para hambanya, maka bagaimanakah mereka menjadikan para hamba Allah SWT dicintai oleh Allah SWT ? Jawab baginda Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallaam (mafhuumnya) : mereka itu menyuruh para hamba Allah dengan apa yang Allah SWT suka dan mereka itu mencegah para hamba Allah SWT daripada apa yang Allah SWT benci, maka apabila para hamba Allah SWT itu mentho’ati mereka lalu Allah `azza wa jalla menyintai mereka itu (yakni para hamba Allah itu).

Hayaatush-Shohaabah, juzu` 3, halaman 288 dan 289.
Risalah Fikir (229)

Hadis riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata, Nabi saw. bersabda, Tidak beriman seorang hamba (dalam hadis Abdul Warits, seorang laki-laki) hingga Aku lebih dicintainya daripada keluarga, hartanya, dan semua orang
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 62

Hadis riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Ansar dan tanda keimanan adalah mencintai sahabat Ansar Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 108

Hadis riwayat Al Barra’ ra. ia berkata, Nabi saw. bersabda tentang kaum Anshar, Yang mencintai mereka hanyalah orang yang beriman dan yang membenci mereka hanyalah orang munafik. Siapa yang mencintai mereka, maka Allah mencintainya, siap yang membenci mereka, maka Allah membencinya
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 110

Hadis riwayat Abu Said Al Khudhri ra., Dari Tarek bin Syihab ra. ia berkata, Orang yang pertama berkhotbah pada hari raya sebelum salat Id, adalah Marwan. Ketika itu ada seorang berdiri mengatakan, salat Id itu sebelum khotbah! Marwan menjawab, telah ditinggalkan apa yang ada di sana. Abu Said berkata, Orang ini benar-benar telah melaksanakan kewajibannya, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran (hal yang keji, buruk), hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, itu adalah selemah-lemah iman
Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 70

 

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

[رواه مسلم]

Terjemah hadith / ترجمة الحديث :

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.”

(Riwayat Muslim)

sumber:

http://sahabatnabi.0catch.com/dakwah02.htm

salafytobat salafytaubat salafitaubat  salafysalafi wahhabysalafy sesat

Hadist Dho’if dan hadis “Janganlah kamu menulis hadits, Tuliskanlah Alqur’an”

Hadist Dho’if dan hadis “Janganlah kamu menulis hadits, Tuliskanlah Alqur’an”

Sebagian dari kaum muslimin mendudukan hadist dho’if seperti halnya hadist maudhu’ atau buatan lantas bagaimana kedudukan hadist itu sendiri dalam hukum islam dan bagaimana kita menyikapi hadist dho’if itu?

Jawab:

Hadits dho’if tidaklah sama dengan hadits maudhu’. Hadits dho’if adalah hadits yang bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bukan hadits yang dikarang-karang atau yang dibuat-buat oleh sembarang manusia. Hanya saja salah satu pemangkunya (sanadnya) ada yang terputus sehingga hadits itu menjadi dhoif, tapi tetap saja hadits dhoif bukan hadits palsu!

Zaman awal Islam mulai berkembang, hadits tidaklah dituliskan oleh para sahabat Nabi. Hal ini terjadi karena nabi melarang menuliskan hadits-hadits baginda yang mulia. Rasul bersabda: “La taktubul hadits!” Janganlah kamu menuliskan hadits, Uktubul Qur’an! Tuliskanlah al Qur’an. (HR Muslim).

Dengan demikian, maka hadits hanya beredar di kalangan sahabat melalui hafalan dari satu orang ke orang lain. Hal ini berlangsung sampai tahun ke-100 Hijriyah. Saat itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mulai khawatir akan perkembangan hadits. Ada jutaan orang yang sudah memeluk agama islam, dan generasi pun telah berubah, tidak lagi terdiri dari sahabat-sahabat Nabi yang terkenal sangat jujur, tapi juga telah muncul orang-orang di luar komunitas Arab yang sama sekali tidak jumpa Nabi. Dan, di antara mereka  ada yang kurang mujahadah dalam agama. Saat itu, mulailah muncul tukang-tukang penjual cerita yang di antara mereka bahkan berani mengarang-ngarang hadits, dan mengatakan bahwa hadits karangannya itu berasal dari Nabi. Hal ini ini membuat para Ulama mulai khawatir.

Akhirnya dibuatlah sebuah tindakan bid’ah hasanah oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan memerintahkan ditulisnya hadits-hadits Nabi, sesuatu yang sebelumnya merupakan hal yang sangat dilarang oleh  Baginda Nabi. (Ini membuktikan bahwa para Ulama zaman Ta’biin, yakni orang yang sempat bertemu dengan Sahabat Nabi, telah sepakat  bahwa ada bid’ah yang hasanah alias bid’ah yang baik dan akan diberi pahala oleh Allah orang yang  melakukannya. Salah satunya adalah dilakukannya penulisan dan pengumpulan hadits. Hal ini sangat bertentangan dengan faham sekelompok kecil umat Islam yang mengatakan bahwa semua bid’ah itu adalah sesat dan semua para pelakunya kelak akan dicampakkan ke dalam neraka).

Alhamdulillah muncullah ilmu baru dalam dunia Islam yakni ilmu Musthalah  Hadits. Di antaranya adalah ilmu sanad hadits, yakni memeriksa suatu hadits itu dari orang-orang yang menghafal dan menyampaikannya terus diurut ke atas sampai kepada shahabat dan bersumber kepada Nabi. Jika para pemangkunya (sanadnya) tidak terputus, terus bersambung kepada Nabi, dan secara matan juga bagus maka hadits itu dinyatakan sebagai hadits shohih. Namun, jika ada sanad yang terputus maka hadits tersebut disebut hadits dhoif.

Saat itu jenis hadits hanya ada tiga saja, pertama hadits shohih, kedua hadits dhoif, dan ketiga disebut hadits maudhu’, yang pada hakekatnya hadits palsu.

Kelak Ilmu Hadits makin maju dan berkembang dan istilah derajat hadits pun bertambah pula. Ada hadits shohih, hadits hasan lidzatihi, hadits hasan lighoirihi, hadits mutawatir lafdzi, mutawatir ma’nawi, hadits dhoif, munkar, dan maudhu’ dll.

Kedudukan hadits Dhoif

Semua madzhab Imam yang Empat yakni Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali sepakat bahwa hadits dhoif tidak boleh dibuang semuanya, karena hadits dhoif adalah hadits Rasulullah yang berderajat dhoif, bukan hadits maudhu’. Imam Hambali, madzhab beliau dipakai di Saudi Arabia dalam Mahkamah Syari’ah di sana, memutuskan bisa mengambil hukum dengan bersandar pada hadits dhoif sekalipun, jika saja tidak didapati ada hadits yang shohih dalam perkara tersebut. Imam Syafi’i memakai hadits dhoif sebagai penyemangat dalam beramal (fadhoilul a’mal). Demikian juga halnya Imam Hanafi dan Imam Maliki.

Sebagai contoh: Imam Hambali mengambil hukum bersentuhnya kulit antara pria dan wanita dewasa yang bukan mahrom membatalkan wudhu’. Padahal hadits ini kedudukannya dhaif, diriwayatkan dari Aisyah ra. Meskipun demikian ulama empat mazhab tidak pernah menyesatkan Imam Hambali atas tindakan beliau yang mengutip hadits dhaif sebagai dalil untuk menegakkan hukum (hujjah).

Kenapa hadits dhoif tidak serta merta dibuang? Logikanya begini!

Imam Hambali umpamanya. Beliau menghafal sejuta hadits lengkap dengan sanad-sanadnya. Namun kenyataannya, hadits yang beliau hafal itu hanya sempat dituliskan sebanyak 27.688 buah hadits. Nah, kemana perginya yang 970 ribuan hadits lagi? Semua yang tersisa itu Tentu karena TIDAK DAPAT DITULISKAN, BUKAN KARENA DIBUANG begitu saja! Hal ini disebabkan karena kesibukan sang Imam dalam mengajar sehari-hari, menjawab pertanyaan masyarakat, memberi fatwa dan juga beribadah untuk dirinya sendiri. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Imam Hambali setiap malam melakukan sholat sekitar 300 rakaat banyaknya. Belum lagi karena keterbatasan peralatan saat itu. Kertas belum banyak, juga tinta dan pena masih sangat sederhana. Sementara mesin ketik, alat cetak, apalagi computer sama sekali belum ada. Sebab itulah sedikit sekali hadits yang beliau hafal itu yang sempat ditulis dan sampai kepada kita.

Namun demikian, tidaklah serta merta hadits-hadits yang tidak sempat ditulis itu terbusng dan hilang begitu saja. Para murid yang setiap hari bergaul dengan sang guru pasti sempat memperhatikan dan menghafal setiap gerak langkah sang guru. Dan, gerak langkah sang guru ini pastilah sesuai dengan tuntunan sejuta hadits yang beliau hafal di dadanya. Sehingga kelak setelah sang guru wafat para muridnya mulai menulis dalam berbagai masalah dengan rujukan perilaku atau fiil sang guru tersebut. Prilaku sang guru tersebut kemudian hari dituliskan juga sebagai hadits yang terwarisi oleh kita sehingga kini.

Dalam rangka memilah dan memilih hadits dhaif para ulama hadits empat mazhab membagi-baginya dalam berbagai bagian. Ada yang membaginya ke dalam 42 bagian, ada yang membaginya menjadi 49 bagian dan ada yang membaginya ke dalam 89 bagian. Hadits-hadits inilah yang dipilah dan dipilih dan sebagiannya dapat diamalkan juga karena dhaifnya tidak keterlaluan.

Ulama hadits bukanlah sembarangan orang. Mereka memiliki ukuran tersendiri agar masuk ke dalam golongan ulama hadits. Ada ulama hadits yang sampai derajat hafizh, yakni mereka yang telah menghafal 100 ribu hadits lengkap dengan sanad-sanadnya. Di atas derajat hafizh ada yang disebut ulama hujjah, yakni mereka yang menghafal 300 ribu hadits beserta sanad-sanadnya. Di atas kedua derajat ini ada lagi  yang dinamai hakim, yakni yang kemampuannya diatas hafizh dan hujjah. Dahsyat bukan?

Sayangnya, ada segelintir manusia akhir zaman, yang mana dia bukan seorang hafizh, bukan pula seorang hujjah apalagi seorang hakim, tetapi anehnya mereka berani bersuara lantang mengkritik dan menuduh sesat amal serta keputusan ulama-ulama hadits terdahulu. Kata mereka hadits ini dhoif, hadits itu mauhdu’, hadits ini munkar menyalahi pendapat ahli hadits tempo dulu, padahal mereka tidak pernah sekalipun bertemu dengan salah seorang pemangku (sanad) dari hadits yang mereka kritik itu. Sementara yang mereka caci itu justru orang-orang yang pernah kenal, bertemu dan bergaul langsung dengan para sanad tersebut. Lantas, ketika mereka sudah mengatakan sanad ini dan sanad itu terpercaya, tiba-tiba muncul manusia yang lahir entah zaman kapan dan hanya bermodal membaca buku di perpustakaan, seenaknya saja menyalahkan ulama-ulama hadits tempo dulu, dan merasa paling benar. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un! . Lalu mereka yang manakah yang patut kita percaya?

Sebagai contoh sebuah persoalan adalah masalah qunut shubuh. Imam Syafi’I, Imam Hakim, Imam Daruquthni, dan Imam Baihaqi sepakat mengatakan bahwa hadits qunut shubuh adalah shahih, sanadnya bagus, dan mengamalkannya adalah sunat. Tiba-tiba muncul manusia zaman sekarang dengan modal nekat berani mengatakan qunut shubuh itu bid’ah, dan seluruh pelakunya akan dicampakkan ke dalam neraka. Padahal, seluruh ulama Imam Empat Madzhab tidak pernah mengatakan qunut shubuh itu bid’ah meskipun mereka tidak mengamalkannya.

Sekarang terserah anda mau percaya ulama hadits yang telah teruji tempo dulu, atau orang-orang nekat akhir zaman yang rusak ini! Wallahu a’lam.

Tambahan admin salafytobat:

bagaimana wahhaby / salafy/salafi palsu dalam menyikapi hadis dhaif?

mereka sama sekali menolak hadis dhaif sekalipun hadis itu untuk fadhilah, targhib agar zuhud/tidak cinta dunia, kisah sejarah, dsb. Kaidah wahhaby ini benar-benar menentang kaidah ilmu hadis yang dipegang oleh ahlusunnah waljamaah . Hati harilah wahai muslimin dari fitnah agama wahhaby!

Bid’ah Dholalah, Apakah Itu ?

Bid’ah Dholalah, Apakah Itu ?

Ada beberapa pendekatan yang dilakukan oleh para ulama dalam mendefinisikan bid’ah. Perbedaan cara pendekatan para ulama disebabkan, apakah kata bid’ah selalu dikonotasikan dengan kesesatan, atau tergantung dari tercakup dan tidaknya dalam ajaran Islam. Hal ini disebabkan arti bid’ah secara bahasa adalah : sesuatu yang asing, tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. Sehingga inti pengertian bid’ah yang sesat secara sederhana adalah: segala bentuk perbuatan atau keyakinan yang bukan bagian dari ajaran Islam, dikesankan seolah-olah bagian dari ajaran Islam, seperti membaca ayat-ayat al-Qur’an atau shalawat disertai alat-alat musik yang diharamkan, keyakinan/faham kaum Mu’tazilah, Qodariyah, Syi’ah, termasuk pula paham-paham Liberal yang marak akhir-akhir ini, dan lain-lain. Imam ‘Izzuddin bin ‘Abdus Salam sebagaimana disebutkan dalam kitab tuhfatul akhwadzi juz 7 hal 34 menyatakan: “Apabila pengertian bid’ah ditinjau dari segi bahasa, maka terbagi menjadi lima hukum :
  1. Haram, seperti keyakinan kaum Qodariyah dan Mu’tazilah.
  2. Makruh, seperti membuat hiasan-hiasan dalam masjid.
  3. Wajib, seperti belajar ilmu gramatikal bahasa arab (nahwu).
  4. Sunnah, seperti membangun pesantren atau madrasah.
  5. Mubah, seperti jabat tangan setelah shalat.

Alhasil, menurut Imam ‘Izzuddin, “Segala kegiatan keagamaan yang tidak ditemukan pada zaman Rasulullah SAW, hukumnya bergantung pada tercakupnya dalam salah satu kaidah hukum Islam, haram, makruh, wajib, sunnah, atau mubah. Sebagai contoh, belajar ilmu bahwu untuk menunjang dalam belajar ilmu syariat yang wajib, maka hukum belajar ilmu nahwu menjadi wajib.”.[1]

Penjelasan tentang bid’ah bisa kita ketahui dari dalil-dalil berikut :

  1. Hadits riwayat sayyidatina A’isyah :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. رواه مسلم

“Dari ‘Aisyah RA. Ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tiada perintah kami atasnya, maka amal itu ditolak” HR.Muslim.

Hadits ini sering dijadikan dalil untuk melarang semua bentuk perbuatan yang tidak pernah dilaksanakan pada masa Nabi SAW. Padahal maksud yang sebenarnya bukanlah seperti itu. Para ulama menyatakan bahwa hadits ini sebagai larangan dalam membuat-buat hukum baru yang tidak pernah dijelaskan dalam al-Qur’an ataupun Hadits, baik secara eksplisit (jelas) atau implisit (isyarat), kemudian diyakini sebagai suatu ibadah murni kepada Allah SWT sebagai bagian dari ajaran agama. Oleh karena itu, ulama membuat beberapa kriteria dalam permasalahan bid’ah ini, yaitu :

Pertama, jika perbuatan itu memiliki dasar dalil-dalil syar’i yang kuat, baik yang parsial (juz’i) atau umum, maka bukan tergolong bid’ah. Namun jika tidak ada dalil yang dapat dibuat sandaran, maka itulah bid’ah yang dilarang.

Kedua, memperhatikan pada ajaran ulama salaf (ulama pada abad l, ll dan lll H.). Apabila sudah diajarkan oleh mereka, atau memiliki landasan yang kuat dari ajaran kaidah yang mereka buat, maka perbuatan itu bukan tergolong bid’ah.

Ketiga, dengan jalan qiyas. Yakni, mengukur perbuatan tersebut dengan beberapa amaliyah yang telah ada hukumnya dari nash al-Qur’an dan Hadits. Apabila identik dengan perbuatan haram, maka perbuatan baru itu tergolong bid’ah muharromah. Apabila memiliki kemiripan dengan yang wajib, maka perbuatan baru itu tergolong wajib. Dan begitu seterusnya.[2]

2. Hadits riwayat Ibn Mas’ud :

عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ, أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلاَ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. رواه ابن ماجه

“Dari ‘Abdullah bin Mas’ud. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “ Ingatlah, berhati-hatilah kalian, jangan sampai membuat hal-hal baru. Karena perkara yang paling jelek adalah membuat hal baru . dan setiap perbuatan yang baru itu adalah bid’ah. Dan semua bid’ah itu sesat.” HR. Ibnu Majah.

Hadits inipun sering dijadikan dasar dalam memvonis bid’ah segala perkara baru yang tidak ada pada zaman Rasulullah SAW, para sahabat atau tabi’in dengan pertimbangan bahwa hadits ini menggunakan kalimat kullu (semua), yang secara tekstual seolah-olah diartikan semuanya atau seluruhnya.

Namun, dalam menanggapi makna hadits ini, khususnya pada kalimat وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, terdapat perbedaan pandangan pandangan di kalangan ulama’.

Pertama, ulama’ memandang hadits ini adalah kalimat umum namun dikhususkan hanya pada sebagian saja (عام مخصوص البعض ), sehingga makna dari hadits ini adalah “bid’ah yang buruk itu sesat” . Hal ini didasarkan pada kalimat kullu, karena pada hakikatnya tidak semua kullu berarti seluruh atau semua, adakalanya berarti kebanyakan (sebagian besar). Sebagaimana contoh-contoh berikut :

  • Al-Qu’an surat Al-Anbiya’ ; 30 :

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” QS. Al-Anbiya’:30.

Meskipun ayat ini menggunakan kalimat kullu, namun tidak berarti semua makhluk hidup diciptakan dari air. Sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Qur’an berikut ini:

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

“Dan Allah SWT menciptakan Jin dari percikan api yang menyala”. QS. Ar-Rahman:15.

Begitu juga para malaikat, tidaklah Allah ciptakan dari air.

  • Hadits riwayat Imam Ahmad :

عَنِ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ

Dari al-Asyari berkata: “ Rasulullah SAW bersabda: “ setiap mata berzina” (musnad Imam Ahmad)

Sekalipun hadits di atas menggunakan kata kullu, namun bukan bermakna keseluruhan/semua, akan tetapi bermakna sebagian, yaitu mata yang melihat kepada ajnabiyah.

Kedua, ulama’ menetapkan sifat umum dalam kalimat kullu, namun mengarahkan pengertian bid’ah secara syar’iyah yaitu perkara baru yang tidak didapatkan di masa Rasulullah SAW, dan tidak ada sandarannya sama sekali dalam usul hukum syariat. Telah kita ketahui bahwa perkara yang bertentangan dengan syariat baik secara umum atau isi yang terkandung di dalamnya, maka haram dan sesat. Dengan demikian, makna hadits di atas adalah setiap perkara baru yang bertentangan dengan syariat adalah sesat, bukan berarti semua perkara baru adalah sesat walaupun tidak bertentangan dengan syai’at.

Oleh karena itu, jelas sekali bahwa bukan semua yang tidak dilakukan di zaman Nabi adalah sesat. Terbukti, para sahabat juga melaksanakan atau mengadakan perbuatan yang tidak ada pada masa Rasulullah SAW. Misalnya, usaha menghimpun dan membukukan al-Qur’an, menyatukan jama’ah tarawih di masjid, adzan Jum’ah dua kali dan lain-lain. Sehingga, apabila kalimat kullu di atas diartikan keseluruhan, yang berarti semua hal-hal yang baru tersebut sesat dan dosa. Berarti para sahabat telah melakukan kesesatan dan perbuatan dosa secara kolektif (bersama). Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang pilihan yang tidak diragukan lagi keimanan dan ketaqwaannya. Bahkan diantara mereka sudah dijamin sebagai penghuni surga. Oleh karena itu, sungguh tidak dapat diterima akal, kalau para sahabat Nabi SAW yang begitu agung dan begitu luas pengetahuannya tentang al-Qur’an dan Hadits tidak mengetahuinya, apalagi tidak mengindahkan larangan Rasulullah SAW.[3]


[1] Risalatu Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah hal. 6-8.

[2] Risalatu Ahli as-Sunnah wa  al-Jama’ah hal.6-7.

[3] Mawsu’ah Yusufiyyah juz ll hal 488.

http://www.forsansalaf.com/2010/bidah-dholalah-apakah-itu/