Kitab al-Farq baina al-Firaq (Abu Manshur Al-baghdadi) : Allah Ada Tanpa Tempat

al-Farq baina al-Firaq

Image

Kira-kira seribu tahun yang lalu di Baghdad lahir seorang yang kelak menjadi salah seorang pakar (imam) dalam bidang ushul ad-din. Ia bernama Abu Mashur Abd al-Qahir bin Thahir bin Muhammad bin Abdullah al-Baghdadi at-Tamimi al-Isfirayaini. Ia tumbuh besar di Baghdad, setelah dewasa pergi ke Khurasan dan meninggal pada tahun 429 H/ 1037 M di Isfirayain.

Buktinya yang menunjukkan atas kepakaran al-Baghdadi adalah banyaknya karya yang lahir dari tangannya. Di antara karya yang paling terkenal dan menjadi salah rujukan utama mengenai aliran-aliran teologi dalam Islam adalah al-Farq baina al-Firaq (Perbedaan di antara Aliran-aliran). Sebuah buku yang mencoba menelusuri dan menjelaskan secara ringkas-padat tentang aliran-aliran teologi dalam Islam.
Salah satu rujukan yang digunakan al-Baghdadi dalam bukunya adalah buku Maqalat al-Islamiyyin karya Abu al-Hasan al-Asy’ari. Meskipun al-Baghdadi tidak menyebutkannya tetapi jika membandingkan kedua buku tersebut maka akan tampak jelas bahwa al-Baghdadi dalam banyak hal mengutip pendapat Abu al-Hasan al-Asy’ari. Salah satu contohnya adalah ketika al-Baghdadi menjelaskan tentang al-Yunusiyyah, yaitu salah satu sempalan dari sekte Murji`ah. Al-Baghdadi menjelaskan bahwa menurut mereka iman terdapat dalam hati dan lisan, yaitu mengetahui Allah, mencintai, dan tunduk kepada-Nya dan mengikrarkan dengan lisan. [H. 199]. Pemamparan al-Baghdadi ini sama seperti yang dijelaskan oleh Abu al-Hasan al-Asy`ari dalam Maqalat al-Islamiyyin. [Lihat Abu al-Hasan al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyin, H. 132].

Buku al-Baghdadi ini lahir sebagai jawaban atas pertanyaan mengenai makna prediksi Nabi bahwa akan ada keterpecahan di antara umatnya (iftiraq al-ummah) menjadi tujuh puluh tiga sekte dan hanya satu yang selamat. Penulisnya membagi isi buku tersebut menjadi lima bab. [H. 9, 10].

Pertama, menjelaskan tentang hadits perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga sekte. Kedua, menjelaskan secara global mengenai sekte-sekte umat Islam dan sekte-sekte yang bukan termasuk Islam. Ketiga, menjelaskan pandangan setiap sekte yang sesat. Keempat, menjelaskan sekte yang berafiliasi kepada kepada Islam tetapi bukan dari kalangan sekte Islam. Kelima, menjelaskan sekte yang selamat.

Bab pertama, al-Baghdadi mencoba mengurai tranmisi (sanad) hadits tentang perpecahan. Menurut penelitiannya, ada banyak sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut dari Nabi Saw. Di antaranya ialah Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Darda, Jabir, Abu Sa’id al-Khudri, Ubay bin Ka’b, Abdullan bin Amr bin al-Ash, Abu Umamah, dan Watsilah bin al-Asyfa’. Sedangkan generasi setelah sahabat banyak yang meriwayatkan hadits tersebut dari para sahabat. [H. 16-17].

Dalam kacamata al-Baghdadi, bahwa perpecahan yang dimaksud dalam prediksi Nabi adalah perpecahan dalam arti perbedaan mengenai ushul ad-din bukan perbedaan dalam masalah cabang-cabang fiqh. Sebab, menurutnya, para fuqaha` meskipun berselisih dalam soal furu’ tetapi mereka bersepakat dalam hal yang menyangkut ushul ad-din. [H. 17].

Jadi, secara implisit al-Baghdadi berpandangan bahwa perbedaan pendapat para fuqaha` dalam soal furu’ tidak berdampak pada penyesatan terhadap mereka. Meskipun mereka salah dalam berpendapat. Sebab, dalam soal ushul ad-din mereka bersepakat.

Bab kedua, al-Baghdadi mencoba membahas tentang bagaimana terjadinya perpecahan umat sehingga mencapai tujuh puluh tiga sekte. Menurut al-Baghdadi, peristiwa awal yang menimbulkan perselisihan antara umat Islam adalah kematian Nabi saw. Sebagian ada yang menganggap bahwa Nabi saw tidaklah wafat, ia hanya dianggkat Allah swt ke langit sebagaimana yang terjadi pada nabi Isa as. Sebagian lagi mengatakan bahwa Nabi saw telah wafat.

Perselisihan ini kemudian dapat diselesaikan oleh Abu Bakar ra seraya berkata, “man kana ya’budu muhammadan fa inna muhammadan qad mata wa man kana ya’budu rabba muhammad fa innahu hayyun la yamut” (Barang siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya ia telah wafat, dan barang siapa yang menyembah Tuhan Muhammad maka sesungguhnya Ia adalah Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati). [H. 25].

Pandangan ini berbeda dengan Abu al-Hasan al-Asy`ari yang menyatakan bahwa awal mula timbulnya perselisihan dalam umat Islam adalah soal imamah. [Abu al-Hasan al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyin, H. 2]. Jadi, Al-Asy’ari melihat bahwa perselisihan umat Islam pada dasarnya bermula dari persoalan politis, yaitu menyangkut soal imamah atau kepempinan. Sedang al-Baghdadi melihat bahwa perselisihan itu berangkat dari persoalan teologis, yaitu tentang apakah Nabi telah wafat atau memang ia tidak wafat tetapi diangkat oleh Allah ke langit sebagaimana nabi Isa as.

Bagian ketiga, menguraikan pandangan atau keyakinan pelbagai sekte yang tersesat dan menjelaskan tentang kekeliruan pandangan mereka. Di antaranya adalah pandangan sekte Rafidhah, Khawarij, Mu’tazilah, Qadariyah, Murji`ah, Najjariyyah, dan lainnya. Pada bagian ini al-Baghdadi membeberkan aliran sempalan dari sekte-gologan tersebut secara ringkas dan padat sehingga memudahkan kepada para pembaca untuk mengkajinya.

Bab keempat, menguraikan tentang sekte yang berafiliasi pada Islam tetapi pada sebenarnya bukan termasuk dari sekte Islam. Dalam bagian ini al-Baghdadi menguraikan kembali perbedaan para teolog Islam (mutakallimin) mengenai siapa yang disebut atau diketegorikan sebagai umat Islam.

Salah satu sekte yang dianggap berafiliasi kepada Islam tetapi sebenarnya bukan Islam adalah Saba`iyyah, yaitu pengikut Abdullah bin Saba yang memposisikan sahabat Ali KW.dengan sangat berlebihan sehingga ia dianggap sebagai nabi. Bahkan sikap Abdullah bin Saba tidak berhenti sampai di sini saja, tetapi ia malah semakin jauh mengkultuskan sahabat Ali kw dengan menganggapnya sebagai Tuhan. [H. 335].

Bab kelima, menguraikan tentang sekte yang selamat, yaitu ahl as-sunnah wa al-jama’ah serta pandangan-pandangan yang mereka pegangi. Salah satunnya adalah pandangan mereka seputar Sang Pencipta alam semesta dan sifat-sifat dzatiyyah-Nya. Bagi ahl as-sunnah wa a-jama’ah Pencipta alam semesta adalah juga Pencipta ajsam (jisim-jisim) dan a’rad (aksiden-aksiden atau sifat-sifat).

Dengan pandangan ini mereka kemudian mengkafirkan Mu’ammar dan para pengikutnya dari kalangan Qadariyyah yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah tidak menciptakan a’rad tetapi hanya mencipatakan ajsam. Dan ajsam-lah yang merupakan pencipta a’rad dengan sendirinya. [H. 337].Meskipun demikian, buku ini telah memberikan jasa yang sangat besar karena telah berhasil dengan baik menggambarkan pergolakan dan wacana pemikiran teologis pada saat itu. Mengenai aqidah ahlusunnah yang sangat penting dalam Bab ini ialah mengenai aqidah sunni “Allah ada Tanpa Tempat /Allah Maujud Bilaa Makan)
كَانَ اللهُ ولَم ي ُ كن شىءٌ غَي  ره ” (رواه ” :r 2. قال رسول الله
البخاري والبيهقي وابن الجارود)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).
Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata:
“Allah ta’ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada sebelum menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segala sesuatu”.

Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah.  Dalam sebuah riwayat “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam:

َأنت الظَّا  ه  ر فَلَيس فَوقَك شىءٌ وأَنت ” :r 3. قال رسول الله
الْبا  ط  ن فَلَيس دونك شىءٌ ” (رواه مسلم وغيره)
Maknanya: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah alBathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).
Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.

Tidak Boleh dikatakan Allah ada di atas ‘Arsy atau ada di mana-mana
Seperti dengan hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari, perkataan sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:
كَانَ اللهُ ولاَ مكَانَ وهو الآنَ علَى ما علَيه ” :t  5. قَالَ سيدنا علي
( كَانَ” (رواه أبو منصور البغدادي في الفرق بين الفرق / ص: 333
Maknanya: “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur alBaghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333).
Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani (W. 973 H) dalam kitabnya al Yawaqiit Wa al Jawaahir menukil perkataan Syekh Ali al Khawwash: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana”. Aqidah yang mesti diyakini bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.
ِإنَّ اللهَ خلَق الْعرش ِإظْهارا لقُدرته وَلم ” :t  6. وقَالَ سيدنا علي
يتخذْه مكَانا لذَاته” (رواه أبو منصور البغدادي في الفرق بين
( الفرق/ ص : 333
Al Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untukmenjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)

ِإنَّ الَّذي َأين اْلأَين لاَ يقَا ُ ل َله َأين وِإنَّ “: t  7. قَالَ سيدنا علي
الَّذي كَيف الْكَيف لاَ يقَا ُ ل َله كَيف” (رواه أبو المظفّر الإسفراييني
( في كتابه التبصير في الدين/ ص: 98
Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- juga mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana” (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 98)

A llah Maha suci dari Hadd

َالْمحدود عند علَماءِ التوحيد ما َله حجم صغيرا كَانَ َأو كَبِيرا
والْحد عندهم هو الْحجم ِإنْ كَانَ صغيرا وِإنْ كَانَ كَبِيرا، َالذَّرةُ
محدودةٌ والْعرش محدود والنور والظَّلاَم والريح كُلٌّ محدود.
Maknanya: Menurut ulama tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran demikian juga ‘Arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran.
من زعم َأنَّ ِإلهَنا محدود فَقَد جهِلَ الْخالق ” :t  9. قَالَ اْلإِما م علي
الْمعبود” (رواه أبو نعيم)
Al Imam Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- berkata yang maknanya: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72).
Maksud perkataan sayyidina Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan merupakan kekufuran. Semua bentuk baik Lathif maupun Katsif, kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah serta ukuran. Sedangkan Allah bukanlah benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil”. Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda. Juga tidak boleh dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia. Adapun tentang benda Katsif bahwa ia mempunyai tempat, hal ini jelas sekali. Dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat, penjelasannya adalah bahwa ruang kosong yang diisi oleh benda lathif, itu adalah tempatnya. Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang diisi oleh suatu benda.
قَالَ اْلإِمام ال  سجا  د علي بن الْحسينِ بنِ علي بنِ َأِبي طَالبٍ
َأنت اللهُ الَّذي لاَ يحوِيك ” : t  الْمعروف ِبزينِ الْعابِدين
مكَانٌ”، وقَالَ: “َأنت اللهُ الَّذي لاَ تحد فَتكُونَ محدودا”، وقَالَ:
“سبحانك لاَ تحس ولاَ تجس ولاَ تمس”. (رواه الحافظ
الزبيدي)
Al Imam As-Sajjad Zayn al ‘Abidin ‘Ali ibn al Husain ibn ‘Aliibn Abi Thalib (38 H-94 H) berkata : “Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”, dan dia berkata: “Engkaulah Allah yang Maha suci dari hadd (benda, bentuk, dan ukuran)”, beliau juga berkata : “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh” yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah Maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan Allah ada tanpa arah. (Diriwayatkan oleh al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al Bayt; keturunan Rasulullah). Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan Wahdatul Wujud dan Hulul.
Tentang Buku
Judul Buku : al-Farq baina al-Firaq
Penulis : Abu Manshur Abd al-Qahir bin Thahir bin Muhammad al-Baghdadi
Penerbit : Mesir-Maktabah Dar at-Turats
Cet./ Tahun : Baru / Tahun 1427 H/2007 M
Tebal : 376 halaman

Imam Ibnu Abidin Mengkategorikan Wahhabi Sebagai Khawarij

Imam Ibnu Abidin Mengkategorikan Wahhabi Sebagai Khawarij

Fatwa Khatimah al-Muhaqqiqin al-Imam Muhammad Amin (terkenal dengan gelaran Ibn Abidin)

  • Imam Ibn Abidin adalah seorang ulama’ yang sangat terkenal dalam dunia Islam sebagai pentahqiq mazhab Hanafi dan mufti besar kerajaan ‘Uthmaniyyah. Beliau sempat menyaksikan kebangkitan gerakan Wahhabi di zamannya. [Dalam sejarah Islam, gerakan ini telah menakluk haramayn sebanyak dua atau tiga kali sebelum kejatuhan Turki ‘Uthmaniyyah. Namun, agak sukar untuk mencari buku sejarah yang menbincangkan perkara ini? Kenapa? Boleh teka sendiri.
  • Beliau meletakkan kedudukan gerakan Wahhabi sebagai satu gerakan Khawarij yang mudah mengkafirkan umat Islam dan membunuh Ulama’ Ahli Sunnah dan Jamaah. Sesiapa yang mengetahui konsep tauhid Wahhabi secara terperinci, maka dia akan sedar kenapa amalan menghukum orang lain sebagai syirik atau kafir mudah berlaku dalam gerakan ini.

Kitab yang berjilid-jilid ini bertajuk “Radd al-Muhtar ‘ala al-durr al-mukhtar’ yang bermaksud “Mengembalikan Orang Yang Keliru ke atas Mutiara Terpilih”, dan dikarang oleh Imam Ibn Abidin. Kitab ini merupakan antara kitab fiqh muktamad dalam mazhab Hanafi.

Sedikit Terjemahan

Bab: Berkenaan Pengikut-pengikut [Muhammad] Ibn Abdul Wahhab, Golongan Khawarij Dalam Zaman Kita.

…sepertimana yang berlaku pada masa kita ini pada pengikut [Muhammad] Ibn Abdul Wahhab yang keluar dari Najd dan menakluki al-Haramayn (Mekah dan Madinah) dan mereka bermazhab dengan mazhab al-Hanbali tetapi mereka ber’iktikad bahawa hanya mereka sahajalah orang Islam dan orang-orang yang bertentangan akidah dengan mereka adalah kaum Musyrik. Dengan ini mereka pun menghalalkan pembunuhan Ahli Sunnah dan pembunuhan ulama’-ulama’ mereka sehingga Allah SWT mematahkan kekuatan mereka dan memusnahkan negeri mereka dan askar Muslim berjaya menawan mereka pada tahun 1233 H..

Teka-teki

  • Walaupun nama pengasas Wahhabi adalah Muhammad Ibn Abdul Wahhab, namun para ulama’ menamakan gerakan mereka sebagai Wahhabiah kerana istilah Muhammadiyyah adalah untuk umat nabi Muhammad SAW.

Mufti Besar Mazhab Hanbali Menolak Wahhabi

Mufti Besar Mazhab Hanbali Menolak Wahhabi

Fatwa al-Imam al-’Allamah Al-Sheikh Muhammad Ibn Abdullah Ibn Humayd al-Najdi al-Hanbali, Mufti Mazhab Hanbali di Mekah al-Mukarramah (Wafat 1295H)
Kitab ini bertajuk: al-Suhub al-Wabilah ‘ala dara’ih al-Hanabilah bermaksud “Awan Yang Menurunkan Hujan ke atas Makam Ulama’ Mazhab Hanbali”.

Sedikit Ulasan

  • Wahhabi sering juga mendakwa bahawa mereka bermazhab Hanbali apabila mereka dilabelkan sebagai “golongan tidak bermazhab”.
  • Tetapi Mufti Mazhab Hanbali hanya mengiktiraf Sheikh Abdul Wahhab, ayah Muhammad [Ibn Abdul Wahhab] sahaja sebagai salah seorang alim dalam Mazhab Hanbali dan mendedahkan kesesatan ajaran Muhammad Ibn Abdul Wahhab dalam kitab ini. Namun begitu, mufti ini telah dituduh dengan tuduhan dengki dan iri hati oleh Ibn Bazz (bekas Mufti Saudi) dalam komentarnya.
  • Mana yang lebih anda percayai, Mufti Mazhab Hanbali di era ‘Uthmaniyyah atau Mufti Saudi di era Sa’udiyyah? Tepuk dada, tanya iman.

Sedikit Terjemahan Bagi Mereka Yang Tidak Mahir Membaca Buku Arab

[Abdul Wahhab] adalah ayah kepada Muhammad [Ibn Abdul Wahhab], pendokong dakwah yang tersebar kemudaratannya/kejahataannya/percikan apinya ke seluruh pelusuk [dunia].

Dan telah mengkhabarkan kepada daku sebagaian ahli ilmu (ulama’) yang daku temui yang sempat bertemu dengan Sheikh Abdul Wahhab bahawa beliau sangat marah kepada anaknya, Muhammad kerana keengganan [anak]nya belajar fiqh seperti abang-abangnya…

Dan [Sheikh] berkata kepada orang ramai: “Sesungguhnya amat besar kejahatan yang akan kamu semua lihat datang daripada Muhammad (Ibn Abdul Wahhab)..

Dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab tidak menerima pendapat selain daripada dua orang sahaja, dan dia tidak akan berpaling kepada mana-mana pendapat orang alim (sama ada dahulu atau sekarang) biar siapapun dia melainkan Sheikh Taqiyyuddin Ibn Taymiyyah dan anak muridnya Ibnu al-Qayyim. Dan sesungguhnya dia menganggap kata-kata mereka berdua sebagai nas yang tidak boleh ditakwil.

Muhasabah Diri

Andainya Mufti Mazhab Hanbali di Mekah al-Mukarramah menghukum Muhammad Ibn Abdul Wahhab sebagai pembawa ajaran yang memudaratkan dan sesat, adakah anda:

  • sanggup menuduh mufti tersebut dengan iri hati dan dengki. Wal ‘iyadhubillahi. Seperti Ulama’ Wahhabi.
  • atau; menilai semula kedudukan anda terhadap gerakan Salafi Wahhabi menggunakan neraca Ahli Sunnah dan Jemaah.
  • atau; terus berpegang dengan ulama’ Ahli Sunnah dan Jemaah tanpa sebarang syak wasangka lagi.

Fikir-fikirkanlah, jangan biarkan diri anda diselubungi misteri Salafi Wahhabi.

http://al-ashairah.blogspot.com/2008_05_01_archive.html

Al-Imam Al-Mujaddid Al-‘Allamah Murtadha Al-Husayni Al-Zabidi: Istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” adalah bagi Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah

Al-Imam Al-Mujaddid Al-‘Allamah Murtadha Al-Husayni Al-Zabidi: Istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” adalah bagi Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,

Selawat dan Salam ke atas Rasulullah SAW, rahmat ke seluruh alam,

Juga kepada ahli keluarga dan para sahabat r.a. yang telah bertebaran di merata alam;

 


1. Dalam penulisan kali ini, penulis membawa sebuah tema yang baru bagi penulisan dalam Blog ini. Tema tersebut ialah “Mempertahankan Al-Asha’irah”. Ini adalah kerana penulis melihat beberapa penulisan yang diterbitkan oleh majalah-majalah tertentu telah mula menyerang ulama’ Al-Asha’irah dengan tuduhan-tuduhan yang sangat berat.

 


2. Sebagai contoh, sebuah artikel terbaru di dalam Majalah-i [Bil. 73, November 2008] dengan secara terang-terangan meletakkan ulama’ Al-Asha’irah (atau Al-Ash’ariyyah) sebagai salah satu “kelompok Ahli Bid’ah.” Lihat muka surat 19. [Penulis akan scan artikel tersebut kemudian].

 


3. Penulis tidaklah terkejut dengan tuduhan dan tohmahan yang sangat berat ini terhadap ulama’ Al-Asha’irah kerana dendam golongan bid’ah terhadap Al-Asha’irah memang telah lama diketahui. Namun, penulis begitu sedih apabila tuduhan seperti ini dimuatkan di dalam majalah-majalah yang menjadi bacaan masyarakat awam dan pihak yang bertanggungjawab tidak memantau hal ini dengan berhati-hati.

 


WAHAI JABATAN, MAJLIS AGAMA DAN PEGAWAI-PEGAWAI YANG BERKUASA!

 


INGATLAH JAWATAN-JAWATAN YANG ANTUM SEMUA PEGANG ITU MEMPUNYAI TANGGUNGJAWAB YANG SANGAT BESAR DAN AKAN DIHISAB DI HARI AKHIRAT KELAK!

 


DI MANAKAH ANTUM SEMUA SEWAKTU ULAMA’ ISLAM DIHINA OLEH GOLONGAN AHLI BID’AH?!!!

 


DI MANAKAH ANTUM SEMUA SEWAKTU AHLI BID’AH MENYEBARKAN FAHAMAN MEREKA DI TENGAH-TENGAH MASYARAKAT AWAM?!!!

 


4.Ulama’ Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah telah diberi tawfiq oleh Allah SWT untuk menghancurkan golongan-golongan ahli bid’ah seperti Muktazilah, Jahmiyyah, Jabariyyah, , Qadariyyah, Hashawiyyah/Mushabbihah/Mujassimah, dll apabila golongan ini mula timbul di akhir-akhir kurun ke-3 hijrah dan awal kurun ke-4 hijrah. Sesiapa yang mengkaji sejarah Islam pasti tidak dapat menolak hakikat ini dan para ulama Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah adalah penyelamat aqidah umat ini. Insya-Allah, satu masa nanti, penulis akan menghuraikan sejarah Ulama’ Al-Asha’irah dan al-Maturidiiyah secara terperinci.

 


5. Bagi menolak tuduhan yang sangat buruk ini, penulis membawa kata-kata al-Imam al-Mujaddid al-Allamah Murtadha al-Husayni al-Zabidi daripada kitabnya yang sangat masyhur: “Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin”. Kitab ini adalah syarahan bagi kitab “Ihya’ Ulumiddin” karya al-Imam al-Mujaddid al-Ghazali. Hadis-hadis di dalam kitab “Ihya’ Ulumiddin” telah ditakhrij oleh al-Imam al-Mujaddid al-Hafidh Nuruddin al-‘Iraqi.

 


Ketahuilah wahai pembaca sekalian:

 


KITAB IHYA’ ULUMIDDIN DITULIS OLEH SEORANG MUJADDID (IMAM AL-GHAZALI), DITAKHRIJ HADISNYA OLEH SEORANG MUJADDID (AL-HAFIDH NURUDDIN AL-‘IRAQI) DAN DISYARAH OLEH SEORANG MUJADDID JUA (AL-IMAM MURTADHA AL-ZABIDI). Maka berpeganglah dengan kitab-kitab ini.

 

Terjemahan (Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin):

 


Dan apabila disebutkan istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” secara mutlak/umum, maka golongan yang dimaksudkan ialah (ulama’) Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah.

 


Berkata Imam Al-Khayyali di dalam Hashiyahnya bagi (kitab) Syarh al-Aqa’id: Al-Asha’irah itu adalah Ahli Sunnah dan Jama’ah dan istilah ini masyhur di negeri-negeri Khurasan, Iraq, Sham dan di kebanyakan tempat.

 


Dan (manakala) di negara-negara Balkan (istilah Ahli Sunnah dan Jamaah) itu digunakan bagi Al-Maturidiyyah, para ulama’ yang mengikut manhaj Abu Mansur (al-Maturidi), dan di antara dua golongan ini perbezaan pendapat dalam beberapa perkara seperti isu al-Takwin dan lain-lainnya. (Selesai).”

 


Huraian:

 


6. Lihatlah betapa jelasnya bahawa istilah Ahli Sunnah dan Jama’ah itu adalah sebenarnya merujuk kepada ulama’ al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah. Perbezaan di kalangan al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah adalah bukan dalam perkara-perkara pokok. Insya-Allah, penulis akan memberi penerangan mengenai perkara-perkara perbezaan ini di masa akan datang.

 


7.Namun begitu, kita melihat golongan Wahabi (atau yang sering mendakwa diri mereka sebagai Salafi atau Muwahhidun atau Firqah Najiyah atau Gerakan Islah dan Tajdid) cuba “merompak” istilah ini untuk mereka dan mengelirukan orang awam bahawa istilah al-Asha’irah dan istilah Ahli Sunnah dan Jama’ah adalah bertentangan.

 


8. Kejahilan mengenai hakikat dan kedudukan ulama’ Al-Asha’irah ini bukan sahaja tidak diketahui kebanyakan masyarakat awam, bahkan para penuntut ilmu agama dan para ustaz juga masih ramai yang masih keliru di dalam isu ini.

 


9. Penulis sentiasa menasihati diri sendiri dan para pembaca agar sentiasa memohon petunjuk daripada Allah SWT dan berpeganglah dengan majoriti ulama’ dan di dalam bidang aqidah, majoriti ulama’ adalah al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah.

 


Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya (ulama’) umatku tidak akan bersepakat di dalam kesesatan.”

 


Wassalamu ‘ala man ittaba’a al-huda.

Dan sejahteralah ke atas mereka yang mengikut petunjuk (daripada Allah SWT).

http://al-ashairah.blogspot.com/

Al-Allamah Al-Mufassir Al-Muhaddith Al-Sheikh Husayn Sami Badawi : Bahaya aqidah wahaby

Al-Allamah Al-Mufassir Al-Muhaddith Al-Sheikh Husayn Sami Badawi Al-Shafi’e Menjelaskan Bahaya Tashbih dan Tajsim Yang Muncul Pada Waktu Ini

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,

Selawat dan Salam ke atas Rasulullah SAW, rahmat ke seluruh alam,

Juga kepada ahli keluarga dan para sahabat r.a. yang telah bertebaran di merata alam;



1. Al-Sheikh Husyan Sami Badwi al-Shafie dilahirkan pada 1320H dan wafat pada tahun 1362 H merupakan seorang ahli tafsir dan ahli hadis bermazhab Shafi’e daripada keluaran ulama’ Al-Azhar. Melalui buku ini, kita mendapati beliau menolak dengan sangat tegas fahaman Wahabi yang membawa Aqidah Tashbih & Tajsim yang sedang mula bertapak di Mesir pada waktu itu.


2. Buku “al-Hujjah al-Damighah li shubhat al-mujassimah al-za’ighah” [Yang Bermaksud: Hujah Yang Mampu Mematahkan Shubhat-shubhat Golongan Pentajsim Yang Menyeleweng daripada Kebenaran” merupakan salah satu daripada risalah yang telah beliau karang pada zaman beliau di awal kebangkitan fahaman Tashbih dan Tajsim di Mesir yang dibawa oleh puak yang menggelar diri mereka “Ansar al-Sunnah”.


Komen penulis: Kalau tak silap, puak ini masih ada di Mesir dan merekalah yang bertanggungjawab mengumpul semula fatwa-fatwa Ibnu Taymiyyah menjadi satu majmu’ah (kumpulan) fatwa.


Di dalam buku ini, beliau menyatakan bahawa beliau akan terus menumpukan usaha memerangi golongan yang membawa fahaman Tashbih dan Tajsim ini.


3. Yang menarik pada muqaddimah buku kecil ini, pihak penerbit buku ini ada menyatakan rasa kesalnya dengan senario “membisu” di kalangan sebahagian orang berilmu:


“Setiap daripada kami berharap semoga risalah ini – dan yang lain-lain yang kami berazam untuk menerbitkannya/menyebarkannya – diterima baik dan tersebar, pada waktu di mana golongan-golongan yang memiliki kebenaran mendiamkan diri daripada berterus terang, kerana takut, rendah hina dan tunduk demi menjaga pekerjaan dan pangkat, undangan ke seminar-seminar, dan penyertaan di dalam perhimpunan-perhimpunan.


Komen penulis: Maka hendaklah setiap daripada kita (khasnya para ustaz) menilai diri masing-masing, adakah kita takut menyatakan kebenaran hanya semata-mata takut tidak mendapat tempat di dalam masyarakat untuk berceramah, mengajar? Atau takut tidak mendapat kawan? dan sebagainya?. Pendakyah Wahabi sanggup menerima penolakan daripada masyarakat kerana memperjuangkan aqidah dan fiqh yang menyeleweng, sebaliknya kita yang berada di pihak kebenaran takut untuk bersuara? Fikir-fikirkanlah.


4. Di dalam buku yang kecil ini, al-Sheikh Husayn Sami Badwi dengan terus terang menggunakan tajuk Mushabbihah dan Mujassimah di dalam beberapa bahagiannya dan menceritakan latar belakang fitnah ini, pendapat para ulama’ mengenai golongan Mushabbihah dan Mujassimah, dan kaedah Ahli Sunnah dan Jama’ah memahi ayat al-Quran Muhkam dam Mutashabihat, dan lain-lain. Kemudian beliau menekankan bahawa fitnah Tashbih dan Tajsim telah timbul semula setelah ia terkambus sebelum ini, beliau berkata (ms 30).


Dan sesungguhnya telah timbul di zaman kita ini satu golongan yang menjadikan asas pemikiran mereka menyeru kepada mazhab al-Mujassimah yang telah sepakat/ijma’ umat Islam di atas kebathilannya serta penyelewengan para pemikulnya. Dan golongan ini telah memukau masyarakat awam dan seumpama mereka dengan makna-makna zahir ayat-ayat al-Quran dan hadis yang mutashabihat setelah melucutkan mereka daripada kefahaman menyeluruh nas-nas yang muhkam. Hal keadaan mereka itu sebenarnya memesongkan masyarakat awan daripada kaedah yang kukuh dan jalan yang lurus yang telah dipegang secara berterusan oleh umat Islam sejak era Salafus Soleh sehingga ke zaman kita sekarang ini..”.

5. Beliau juga menyatakan empat sebab mengapa golongan seperti ini terpesong dari jalan yang lurus.


Terjemahan:

1. Kejahilan mereka mengenai Allah Yang Maha Agung, dan nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang mulia yang menjadi bukti bahawa Maha Suci Dia SWT daripada menyerupai makhluk ciptaanNya.

2. Kehilangan cahaya hati yang dengannya seorang Mukmin itu dapat membezakan di antara kebenaran dan kebathilan, dan di antara petunjuk dan kesesatan.

3. Kejumudan mereka untuk berpegang dengan makna-makna zahir nas-nas Mutashabihat, dan kealpaan mereka daripada qarinah-qarinah yang menunjukkan kepada penyelidik yang bersikap adil tentang makna yang dikehendaki dengan nas-nas tersebut, sama ada daripada ayat-ayat Muhkamat atau daripada konteks ayat.

4. Kejahilan mereka yang melampau berkenaan majaz (kiasan) bahasa dan keluasan makna bahawa arab dan kaedah penerangan yang diturunkan al-Quran al-Karim dengannya dan yang dituturkan oleh sefasih-sefasih bangsa Arab, iaitu, penghulu dan ketua kita, (Nabi) Muhammad SAW.”


Komen penulis: Insya-Allah, kami akan bentangkan akan datang kata-kata ulama’ bahawa “Di antara pokok-pokok kekufuran itu ialah berpegang dengan semua makna zahir al-Quran dan al-Sunnah”.


Huraian


6. Al-Sheikh telah memberi amaran kepada kita semua tentang FITNAH AQIDAH TASHBIH DAN TAJSIM yang sedang melanda umat Islam masa kini sejak dulu lagi. Apakah kita tidak mengambil manfaat pesanan ini?


7. Masihkan kita beranggapan bahawa kita semua tidak perlu menolak Wahabi kerana takut berlaku perpecahan di dalam masyarakat? Atau sebenarnya di dalam diri kita ada shahwat yang tersembunyi yang ingin mencari kedudukan yang baik di dalam masyarakat walaupun terpaksa membiarkan dan merelakan fitnah aqidah ini tersebar di dalam masyarakat? Muhasabah diri dan fikir-fikirkanlah.


Wassalam.


“Hanyasanya yang mengambil peringatan itu adalah golongan ulul-albab”.

Imam al-Nawawi mengenai Kepentingan Bermazhab (kitab majmu’)

Penjelasan Imam al-Nawawi mengenai Kepentingan Bermazhab

Penjelasan Imam al-Nawawi dipetik dari kitab Majmu’ Sharh al-Muhazzab

Bab Adab Berfatwa, Mufti dan Orang Yang Bertanya Fatwa

Pendahuluan

Golongan al-Wahhabi sering menimbulkan syak wasangka bagi mereka yang ingin bermazhab khasnya mazhab al-Shafie (di Tanah Melayu ini) dengan menyatakan ia adalah seolah-oleh bertentangan dengan mazhab para sahabat r.anhum. Mereka juga sering mewar-warkan bahawa kita perlu ikut al-Quran dan al-Sunnah sahaja. Pernyataan mereka ini seolah2 mereka sahajalah yang ingin mengikut al-Quran dan al-Sunnah. Pernyataan mereka ini juga bermaksud bahawa mengikut mazhab itu bererti tidak mengikut al-Quran dan al-Sunnah? [Astanghfirullah]. Bahkan, lebih jauh lagi, mereka kata tak perlu ikut mazhab, tapi ikut dalil, sedangkan mereka (pun orang awam) yang sedang bercakap dengan orang awam.

Apabila seseorang berkata bahawa dia bermazhab al-Shafie, maka mereka cuba mengenengahkan soalan yang menimbulkan syak seperti:

“Kalau anda bermazhab al-Shafie, Saidina Umar al-Khattab r.a. itu bermazhab apa?”

Mereka berlagak seolah-olah merekalah yang mempertahankan Saidina Umar al-Khattab r.a. tapi dalam bab solat tarawih 20 rakaat dan talak 3 dalam satu majlis jatuh tiga, mereka tidak pula mempertahankan mazhab Umar al-Khattab r.a.? Maka umat Islam masyarakat awam perlu berwaspada dengan sikap berpura-pura ini.

Yang jelas, sikap mereka ini ialah mereka memilih pendapat Umar al-Khattab r.a. yang mereka suka sahaja dan meninggalkan pendapat Umar al-Khattab yang bertentangan dengan fahaman mereka .

Isu yang utama dalam perkara ini adalah:

  • Bolehkah kita bermazhab dengan mazhab Sahabat r.anhum?
  • Dan kenapakah sebahagian ulama’ seperti Imam al-Nawawi memilih untuk bermazhab dalam mazhab al-Shafie? Adakah ia semata-mata taqlid buta? [Astaghfirullah janganlah anda beranggapan demikian]

Mari kita lihat kata-kata Imam al-Nawawi.

Kata-kata Imam al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’

‏ ‏

Terjemahan

“Dan tidak boleh bagi si awam itu bermazhab dengan mazhab salah seorang daripada imam-imam di kalangan para sahabat r.anhum dan selain daripada mereka daripada generasi-generasi yang terawal, walaupun mereka lebih alim dan lebih tinggi darjatnya berbanding dengan (ulama’) selepas mereka; ini adalah kerena mereka tidak meluangkan masa sepenuhnya untuk mengarang ilmu dan meletakkan prinsip-prinsip asas dan furu’nya. Maka tidak ada bagi salah seorang daripada mereka sebuah mazhab yang telah dihalusi, dianalisis dan diperakui. Hanyasanya, (ulama’2) yang datang selepas mereka yang merupakan pendokong mazhab para sahabat dan tabien lah yang melakukan usaha meletakkan hukum-hukum sebelum berlakunya perkara tersebut; yang bangkit menerangkan prinsip-prinsip asas dan furu’ mereka seperti (Imam) Malik dan (Imam) Abu Hanifah dan selain dari mereka berdua.”

[Kemudian Imam al-Nawawi menjelaskan kelebihan mazhab Imam al-Shafie dari pandangan beliau dan dengan secara tersiratnya menerangkan mengapa beliau bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie]

“Dan oleh kerana Imam al-Shafie adalah merupakan imam yang terkemudian dari sudut masa, maka beliau telah melihat mazhab-mazhab mereka seperti mana mereka melihat mazhab-mazhab ulama’ sebelum mereka. Maka beliau menperhalusinya, mengujinya dan mengkritiknya dan memilih yang paling rajih (kuat) dan beliau mendapat hasil daripada usaha ulama’2 sebelum beliau yang telah meletakkan gambaran dan pengasasan, maka beliau telah meluangkan masa untuk memilih dan mentarjih dan menyempurnakan dan meminda, dengan pengetahuan beliau dan kebijaksanaan beliau dalam pelbagai bidang ilmu. Dan dengan perkara ini beliau mendapat kedudukan yang lebih kuat dan rajih, kemudian tidak ada selepas beliau, (alim) yang mencapai kedudukan seperti beliau dalam perkara ini. Maka dengan ini, mazhab beliau adalah mazhab yang paling utama untuk diikuti dan bertaqlid dengannya – dan ini dengan jelasnya bahawa kita mestilah berlaku adil dan tidak ada meletakkan sebarang sikap memandang rendah pada salah seorang daripada para imam. Hal ini, apabila diteliti oleh si awam akan memandunya kepada memilih mazhab Imam al-Shafie dan bermazhab dengannya.”

Sedikit Ulasan

  • Mengikut mazhab yang empat pada hakikatnya mengikut mazhab para sahabat dan tabien kerana ulama’ mazhab empat merupakan pendokong mazhab para sahabat dan tabien yang mengikut sunnnah Rasulullah SAW.

  • Terdapat beberapa Imam dalam mazhab al-Shafie yang menerangkan sebab kenapa mereka bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie seperti Imam al-Nawawi, Imam al-Bayhaqi dan Imam al-Suyuthi. Jelaslah mereka bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie bukan kerana taqlid semata-mata.

  • Kalau andadapat cari sebab-sebab yang dikemukan oleh para imam tersebut, Insya Allah, akan bertambah kuat pegangan anda dengan mazhab yang muktabar seperti mazhab Imam al-Shafie .
  • Ada saper2 nak bantah kata2 Imam al-Nawawi ini?!

  • Pelik sungguh bila melihat orang ramai sanggup mengikut pendapat golongan Wahhabi yang tidak mempunyai latar belakang pengajian agama yang kukuh, bahkan sebahagian besar mereka adalah daripada golongan professional [pilot pun ader, pegawai syarikat komunikasi pun ader, pegawai bank pun ader] yang tidak mahir berbahasa arab dan meninggalkan ulama’ mazhab yang empat seperti Imam al-Nawawi .

  • Fikir-fikirkanlah .

Imam subki : Awas Qasidah SESAT Nuniyyah Ibn Qayyim Al-Jawziyyah

    alsubki1


Beliau Adalah A’li Bin A’bdul Kafi Bin A’di Bin Tamam Al-subki Al-Ansari Al-Khazraji Abul Hasan Taqiyuddin, merupakan Syaikhul Islam Pada zamannya,

Juga adalah asalah seorang daripada Alhuffaz, Dan Al- Mufassirin, Dan beliau adalah bapa kepada Al-Taj Al-Subki Yang merupakan penulis kepada Kitab Al-Tabaqat, dilahirkan di Al-Manufiyyah Pada tahun 683 Hijrah bersamaan 1284M, Daripada Manufiyyah, beliau telah berpindah ke qahirah, kemudian ke Syam, dan telah dilantik sebagai Qadi di Syam,

Pada tahun 739H, kemudian beliau pulang ke Qahirah dan kembali ke rahmatullah di sana pada tahun 1355M Bersamaan 756H, diantara kitab yang telah dikarang oleh beliau berjudul As-saiful As-saqil Fi Raddi A’la Bni Zafil, Kitab Ini telah memperjelaskan kebatilan dan kesesatan Qasidah Nuniah yang telah ditulis Oleh Ibnul Qayyim Al-Jauzi dalam rangka mendokong Akidah Ibnu Taimiyah yang rosak dan Batil. Beliau Diantara tokoh di zamannya yang terang-terangan menentang kenyataan2 akidah Ibnu Taimiyah yang bertentangan dengan akidah Ahli Sunnah wal Jammaah. Begitulah yang diungkapkan oleh beliau berhubung akidah Ibnu Taimiyah yang rosak dan Batil didalam Kitabnya A-saiful Saqil M/s 19 cetakan Maktabah Zahran.

inilah buku qasidah nuniyah ibnul qayyim yang terselip didalamnya aqudah tajsim ibnu taymiyah dan ibnul qayyim.

Ibn Qayyim Al-Jawziyyah’s Qasidah SESAT Nuniyyah