wahabi vs wahabi : Bukti Syaikh Bin Baz Membolehkan Berdo’a Menghadap Kuburan

Bin Baz Membolehkan Berdo’a Menghadap Kuburan

ziarahSebagaimana kita ketahui bahwa orang-orang seperti wahabi beranggapan mendo’akan mayit dengan menghadap ke kuburnya itu dilarang. Mereka menganalogikan berdo’a menghadap kuburan dengan sholat menghadap kuburan. Terbukti golongan Salafi Wahabi yang menjaga disekitar makam Rasulullah SAW sering membentak orang-orang yang sedang berziarah agar waktu berdo’a harus menghadap ke kiblat.

Padahal banyak fatwa ulama yang mengatakan, bahwa diperbolehkan bagi orang yang berziarah ke makam Rasulullah SAW., berdiri mengucapkan do’a mohon kepada Allah swt agar dikarunia kebajikan dan kebaikan apa saja yang di-inginkan, dan tidak harus menghadap kearah kiblat (Ka’bah). Berdiri seperti ini bukan bid’ah, bukan perbuatan sesat dan bukan pula perbuatan syirik. Para ulama telah menfatwakan masalah itu bahkan ada diantara mereka yang memandangnya mustahab/baik.
Salah satu ulama yang membolehkan untuk berdo’a menghadap kuburan adalah ulama panutan wahabi sendiri, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Sebagaimana yang difatwakan olehnya dalam Fatawa Abdul Aziz bin Baz halaman 476 :
حكم استقبال القبر حال الدعاء للميت

هل ينهى عن استقبال القبر حال الدعاء للميت؟

لا ينهى عنه؛ بل يدعى للميت سواء استقبل القبلة أو استقبل القبر؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم وقف على القبر بعد الدفن وقال: ((استغفروا لأخيكم واسألوا له التثبيت فإنه الآن يسأل))، ولم يقل استقبلوا القبلة فكله جائز سواء استقبل القبلة أو استقبل القبر، والصحابة رضي الله عنهم دعوا للميت وهم مجتمعون حول القبر.

Berikut adalah scan kitabnya:

Atau bisa juga dilihat di situs resmi Bin Baz dihttp://www.binbaz.org.sa/mat/2732

Situs Resmi “Pecinta” Bin Baz

 Terjemahan:

Pertanyaan no.624: ”Apakah dilarang ketika berdoa untuk mayit dengan menghadap ke kuburannya?”

Jawaban:”

Tidak dilarang !! Bahkan mendoakan mayit dengan menghadap kiblat atau menghadap kuburnya itu terserah. Karena Nabi Muhammad saw pernah pada suatu hari setelah prosesi pemakaman beliau berdiri diatas kuburnya dan bersabda:
“Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian ini, dan mintakanlah ketetapan imannya, karena dia sekarang sedang di tanyai (oleh malaikat-pen). Dalam kejadian ini Nabi saw tidak mengatakan:
“Menghadaplah kalian ke arah kiblat…..!! (kemudian berdoa-pen). Oleh sebab itu, maka semuanya boleh, entah itu menghadap kiblat atau menghadap kuburan. Dan para sahabatpun telah berdoa untuk mayit dengan berkumpul disekitar kuburannya.

Fatwa diatas moderat sekali, karena selama ini yang pernah kami dengar dan kami baca adalah, jika berdoa (dimana saja dan untuk siapa saja) itu dianjurkan menghadap ke arah kiblat karena itu adalah sunnah nabi dan barangsiapa yang menyelisihinya maka dia bid’ah dan lain sebagainya. Adakah wahabi yang berani mengatakan Syaikh Bin Baz ini Kafir, Ahli Bid’ah, Sesat??

Namun praktiknya, disaat kami dan orang lain berziarah ke makam-makam besar di Makkah maupun Madinah, khususnya  ke makam baginda nabi besar Muhammad shalallahu alaihi wa sallam baru mengucapkan salam dan hendak menengadahkan tangan guna untuk berdoa, sudah di cegah dan dihardik seraya menyuruh untuk menghadap ke kiblat. Apakah mereka para askar penjaga makam ini tidak mengetahui fatwa ulama’nya diatas ini, atau memang ada fatwa lain lagi mengenai ini?

Ataukah mereka ma’rifat billah sehingga mengetahui doa para peziarah, mana yang diperuntukkan kepada ahli kubur dan mana doa yang diperuntukkan untuk kepentingan lain, misalnya doa untuk pribadi atau mendoakan sanak famili?”

Atau mereka mengklaim bahwa orang yang berdoa dengan menghadap ke kuburannya Rasul atau yang lain disaat berziarah adalah meminta pada penghuni kubur atau bahasa lainnya adalah syirik meminta kepada selainnya Allah?”

Namun yang paling berat adalah, disaat berziarah ke makam nabi melalui depan pintu makam dengan posisi pas menghadap ke arah pintu yang bertuliskan “disini Rasulullah (ke utara)” seakan-akan kita menghadap ke arah nabi persis, oleh askar disuruh menghadap ke kiblat (ke selatan) sehingga kita membelakangi makam, seakan akan kita membelakangi Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Astaghfirullah hal adhiim….

Sungguh memperihatinkan…

*) Oleh Kaheel’ Baba Naheel

Advertisements