Imam Ibn al-Jauzi al-Hanbali : Menyingkap Pemalsuan Aqidah Imam Ahmad

TAHDZIR AKIDAH TAJSIM

AKIDAH TAJSIM ialah satu fahaman akidah yang mempercayai bahawa Allah SWT memiliki anggota badan dan bersifat sebagaimana keterangan ayat mutasyabihaat yang zahir. Tetapi dlm masa yang sama mereka menafikan Allah dari menyerupai makhluk. Mereka tidak mengaku mentajsimkan Allah (mengkhayalkan Allah). Bahkan mereka mendakwa inilah akidah Salafusoleh @ Ahli Sunnah Wal Jamaah. Padahal ia adalah manifestasi Akidah Tajsim yang setara dengan akidah yahudi, Hindu dan Kristian. Tetapi cuba dimplementasikan ke dalam Islam. Prinsip ini kemudiannya dipopularkan oleh sebahagian dari pendakwah Wahhabiy ghuluw. Apapun, sila ikuti penjelasan Ibn al-Jauzi al-Hambali (bukan Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah) dalam hal ini :

Mushanif : Imam Ibn al-jauzi al-Hambali (w597H)

Takhrij : Syeikh Hassan bin Ali al-Saqqaf,

Kitab : Daf’u Syubah al-Tasybih, , hlm 97-102.

Penerbit : Dar Imam al-Nawawi,  Jordan, 1991, Cet Pertama,

Imam Ibn al-Jauzi al-Hanbali (w597H) mengatakan : “Aku melihat golongan dari mazhabku membicarakan tentang usuluddin secara tidak benar. Mereka diwakili oleh 3 orang tokoh : Abu Abdullah al-Hassan bin Hamid bin Ali al-Baghdadi, rakannya Qadhi Abu Ya’la Muhammad Bin Hussain al-Farra al-Hanbali dan Abu Hassan Ali bin Ubaidillah bin Nasr al-Zaghuni (w527). (Biografi ketiga tokoh ini ditahkik oleh Imam al-Muhaddith al-Kautsari dlm ualasan beliau terhadap kitab Imam Ibn al-Jauzi ini)

Imam Ibn al-Jauzi berkata lagi : “Mereka menulis kita yang membicarakan (pendapat) mazhab. Dan aku telah melihat mereka turun ke martabat awam. Lalu memperlakukan Sifat Allah mengikut apa yang mampu dirasa oleh panca indera (iaitu mengkhayalkan Allah dengan sifat-sifat makhluk). Lalu kedengaranlah mereka melaungkan : “Allah SWT mencipta Adam atas gambaranNya. Mereka menetapkan bagi Allah ada muka sbg sesuatu yang menumpang di Dzat). Bagi Allah ada dua mata, dua bibir, dua gigi geraham, wajah yang bercahaya, dua tangan, dua telapak tangan, jari jemari, ibu jari, dada, dua paha, dua betis dan dua kaki.”

Sesetengah mereka mengatakan : “Kami tak mendengar Allah mempunyai kepala.” Sesetengah mereka pula berkata : “Harus bagi Allah menyentuh dan disentuh dan mendekatkan DzatNya kepada hambaNya. Sesetengah mereka pula mendakwa : “Allah itu bernafas. Kemudian mereka (Ahli Tajsim al-Hambali) mendekati masyarakat awam dengan mengatakan : “Ia (sifat-sifat Allah itu) bukan sebagaimana yang kamu bayangkan.”

Padahal zahir ucapan diatas adalah sesuatu yang diketahui. Zahir ucapan ini adalah dari anggotan anak adam. Dan sesuatu itu boleh ditanggung atas hakikatnya jika memungkinkan. (Ini adalah sesuatu yang tidak memungkinkan) Kemudian mereka menyempitkan diri dengan pemikiran Tasybih (menyerupai Allah dengan makhluk) Dan menafikan dari menyandarkan Allah dengan sifat2 yang sedemikian. Lalu mereka berkata : “Kami adalah Ahli Sunnah. Sedangkan ucapan mereka secara jelas adalah Tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Dan segelintir masyarakat ada yang terpengaruh dengan mereka.”

Aku telah menasihati pendakwah dan pengikut mereka : “Wahai ashab al-Hanbaliyyah, kamu adalah golongan penukil Hadis Nabi SAW. Imam kamu adalah Imam Ahmad Bin Hanbal yang mengatakan : “bagaimana kamu memperkatakan sesuatu yang aku tidak memperkatakannya.”

Imam Ibn al-Jauzi berkata lagi : “Jagalah diri kamu dari melakukan bid’ah yang bukan dari asas mazhab ini (Hambali). Kamu bicarakan hadis (al-Sifat) dan ditanggungkan hadis berkenaan secara zahirnya. Sedangkan zahir lafaz kaki itu adalah anggota. Ini kerana jika golongan Kristian mendakwa Isa adalah Ruhullah, mereka percaya bahawa Allah SWT itu bersifat dengan roh yang menjelma di dalam tubuh Maryam. Jika sesiapa yang mendakwa : “Allah bersemayam dengan DzatNya maka sesungguhnya dia telah menjadikan Allah sesuatu yang terkesan dengan pancaindera. Dan sewajarnya sesuatu yang zahir itu tidak ditetapkan (sebagaimana) menurut penjelasan akal yang sihat.” – Imam Ibn al-jauzi al-Hambali, Daf’u Syubah al-Tasybih, takhrij : Syeikh Hassan bin Ali al-Saqqaf, 1991, Cet Pertama, Dar Imam al-Nawawi : Jordan, hlm 97-102.

Imam Asy-syatibi (Penulis Kitab Al-I’tisham) Membungkam Wahhaby

Imam Asy-syatibi (Penulis Kitab Al-I’tisham) Membungkam Wahhaby

al i'tisham cover

Alhamdulillah, cahaya  hidayah mulai menyebar dimuka bumi seiring dengan bangkitnya dakwah ahlusunnah waljamaah. Berbondong-bondong umat mendapatkan hidayah, kedok dantipu daya  musuh-musuh Islam mulai terbuka. Sehingga jelaslah  mana haq dan mana yang batil. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan ummat diseluruh alam, serta menjadikannya  asbab hidayah.

Pada Risalah ini akan dibahas mengenai fatwa-fatwa ahlusunnah dalam kitab Al-I’tisham (kitab yang membahas mengenai Bid’ah dan seluk beluknya) karya Imam Asy-syatibi, karena pernyataan-pernyataan dalam kitab ini sering dipalsukan oleh musuh-musuh Islam yang mengaku-ngaku sebagai salafy (Wahhaby). Bagi mereka yang ingin membaca kitab al-I’tisham ini hendaklah membacanya dengan teliti dan hingga tuntas, jangan setengah-setangah. Kitab tarjamah ini, Insya Allah  dapat di Download :

http://www.scribd.com/doc/13441519/Al-iTisham-Imam-Syatibi

Beberapa hal yang akan dibentangkan berasal dari tarjamah kitab al-I’tisham ,diantaranya adalah  :

  • Tassawuf Bukan Bid’ah (Kitab Tarjamah Al-I’tisham, Delik delik tasawwuf, halaman 237 )
  • Mimpi Bertemu Allah atau nabi yang dapat dijadikan acuan untuk beramal (Kitab Tarjamah  Al-I’tisham, halaman 308-310).
  • Kewajiban Bertaqlid kepada imam Mujtahid dan haramnya Ber-ijtihad bagi orang yang bukan Mujtahid (Kitab Tarjamah  Al-I’tisham, Halaman  879- 880)
  • Aqidah Imam Ahlusunnah : Allah ada tanpa tempat dan arah! (dalam kitabnya berjudul Al-Ifadaat Wa Al-Insyadaat pada bilangan 11-Ifadah : Al-Isyarah Lil Baiid Bi Ismi Al-Isyarah Al-Maudhu’ Lil Qorib mukasurat 93-94)

Imam Asy-syatibi (Penulis Kitab Al-I’tisham) Membungkam Wahhaby

  1. Tassawuf Bukan Bid’ah (Kitab Tarjamah Al-I’tisham, Delik delik tasawwuf, halaman 237 )

al i'tisham 237 delik tasawwuf

“3. Delik-delik Tasawuf………………………………………………..237

3. Delik-delikTasawuf
Tasawuf bukan termasuk perkara bid’ah dan bukan pula permasalahan yang dapat dipecahkan dengan dalil secara mutlak, karena perkara ini terbagi-bagi…..dst.” (Kitab Tarjamah Al-I’tisham, Delik delik tasawwuf, halaman 237 ).

Mengenai ajnuran bertasawwuf tanpa meninggalkan syari’at/fiqh juga disebutkan Dalam  Imam Syafii :

فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح

فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح

Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.

Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, Dar el-mareefah, pp. 42]

Download Diwan Asyafii- Dar el-mareefah Beirut 9 (Lihat di page 42) :

http://www.scribd.com/doc/13455395/Diwan-esSafii-Diwan-Imam-Syafei-Beirut

2. Mimpi Bertemu Allah atau nabi yang dapat dijadikan acuan untuk beramal (Kitab Tarjamah  Al-I’tisham, halaman 308-310).

al i'tisham 309 new ok

“H. Menilai Berdasarkan Maqam (Derajat Kemanusiaan)

Yang paling hebat hujjahnya adalah kaum yang mengambil amal perbuatan hanya bersandar kepada maqam-maqam. Standar mereka untuk menerima atau menolak adalah hal tersebut. Mereka berkata, “Aku melihat si fulan adalah orang shalih.” la lalu berkata kepada kami, “Tinggalkanlah ini… kerjakanlah ini.” Yang seperti ini banyak kecocokan dengan orang-orang yang memakai bentuk tasawuf. Mungkin sebagian mereka berkata, “Aku melihat Nabi SAW dalam tidurku (mimpi), lalu beliau bersabda kepadaku begini…dan memerintahkanku untuk mengerjakan ini…” la mengerjakan dan meninggalkan segala sesuatu karena mimpi itu, tanpa mempedulikan batasan-batasan yang ada dalam syariat, dan itu adalah perbuatan yang salah, karena mimpi dari selain para nabi tidak dapat dijadikan hukum yang sejajar dengan syariat dalam segala kondisi, kecuali bersesuaian dengan hukum-hukum syariat yang ada pada kita. Jika syariat membolehkannya maka ia akan mengerjakannya sesuai dengan tuntutan, dan jika tidak demikian maka tinggalkanlah dan berpalinglah darinya, karena mimpi itu hanya untuk memberi kabar gembira atau peringatan.

Sedangkan memanfaatkan hukum, jelas tidak diperbolehkan, sebagaimana dikisahkan dari Al Kattani, ia berkata, “Aku bermimpi melihat Nabi, dan di dalam mimpi itu aku berkata, ‘Doakanlah aku kepada Allah agar tidak mematikan hatiku. Beliau menjawab, ‘Katakanlah setiap hari sebanyak empat puluh kali kalimat, “Ya hayyu ya qayyum laailaaha ilia anta.” Ini perkataan baik dan tidak ada masalah kebenarannya, karena menurut syariat dzikir memang dapat menghidupkan hati. Faidah mimpi adalah memberitahukan kebaikan, dan ini dari sisi kabar gembira. Dengan demikian, masalah yang tersisa hanya pembicaraan tentang empat puluh kali; apabila tidak ada dalam bentuk kelaziman, maka itu benar.

Diriwayatkan dari Abu Yazid Al Bustami, ia berkata, “Aku ‘melihat’ Tuhanku di dalam mimpi, maka aku berkata, ‘Bagaimana jalan menuju-Mu?’ Allah berfirman, Tinggalkan dirimu dan kemarilah!’”

Perkataan seperti itu ada di dalam syariat, mengerjakan sesuai substansinya adalah benar, karena ia seperti pemberitahuan pada dalil, karena meninggalkan jiwa artinya meninggalkan hawa nafeu secara mutlak dan berdiri pada kaki persembahan. Ada beberapa ayat yang menunjukkan makna ini, antara lain “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).n (Qs. An-Naazi’aat [79]: 40-41)

Seandainya di dalam mimpinya ia melihat orang berkata, “Sesungguhnya si fulan mencuri, maka potonglah tangannya,” atau, “Si fulan orang pandai, maka tanyalah atau kerjakan perintah atau, “Fulan berzina, maka dirikanlah hadd padanyadan sebagainya, maka tidak dibolehkan untuk mengerjakan hal tersebut, sampai ada saksi pada waktu terjaga, dan jika tidak maka ia telah mengerjakannya. tanpa syariat, karena tidak ada wahyu setelah Nabi. Tidak dikatakan, “Mimpi itu bagian dari kenabian,” maka tidak seharusnya hal itu diremehkan, dan orang yang mengabarkan di dalam mimpi bisa jadi Nabi, beliau bersabda,

“Orang yang melihatku dalam tidurnya, berarti ia sungguh telah melihatku, karena syetan tidak dapat menyerupaiku.

Jika demikian, maka pengabarannya dalam mimpi sama seperti pengabaran beliau pada waktu terjaga.

Oleh karena itu, kami mengatakan: Jika mimpi itu bagian dari kenabian, maka itu bukan untuk menyempumakan wahyu kepada kita, tapi hanya bagian dari bagian-bagiannya, dan bagian tidak menempati posisi keseluruhannya dalam segala sisi, tetapi hanya menempati posisinya pada sebagian sisinya, yaitu memberikan sisi kabar gembira dan peringatan, dan itu saja cukup.

Di samping itu, mimpi yang merupakan satu bagian dari bagian kenabian di antara syaratnya adalah kecocokannya untuk orang shalih, dan tercapainya syarat yang perlu ditinjau, sebab hal itu terkadang memenuhi syarat dan terkadang tidak.

Mimpi terbagi menjadi mimpi yang bersumber dari syetan, kepada pembicaraan jiwa, dan terkadang hanya untuk mengacaukan. Lalu, kapan menentukan yang shalih dan kapan harus meninggalkan yang tidak shalih?

Jika mimpi menuntut adanya pembaharuan wahyu dengan hukum setelah Nabi SAW, maka yang demikian itu terlarang secara ijma’. ” (Tarjamah kitab al-I’tisham halaman 308 -310).

3. Kewajiban Bertaqlid kepada imam Mujtahid dan haramnya Ber-ijtihad bagi orang yang bukan Mujtahid (Kitab Tarjamah  Al-I’tisham, page 879- 880)

al i'tisham 879

“Dari hal yang disebutkan tadi, dapat dideskripsikan menjadi dua poin:

1. Hendaknya mengikuti mujtahid, yaitu mereka yang menjadikan syariat sebagai pijakan utama.

2. Hendaknya mengikuti sebagian ulama. Seperti halnya ulama modern yang bertaqlid kepada ulama masa lalu, dengan menukil kitab-kitab mereka dan fikih-fikih madzab mereka. Benar atau tidaknya, dikembalikan pada keabsahan dalil naqli. Dari siapa mereka menukil pendapat dan kesesuaian dengan yang dinukil.

Pembagian kedua ini rentan dengan pertentangan, maka jangan memaksa mereka untuk berijtihad dengan meng-istimbat sebuah hukum, sebab tidak ada kemampuan ke arah sana.

Ijtihad yang dikemukakan mereka tidaklah sah. Jika memaksakan untuk tetap berijtihad, maka poerbuatannya itu salah dan berdosa, walaupun ijtihadnya benar atau tidak sama sekali, karena ia bukan ahlinya. Hal itu dapat mencemarkan posisi mujtahid, sebab ia mengambil keputusan atas perkara yang tidak ia ketahui. Dengan demikian, tidak dibenarkan untuk mengikuti jalan ijtihadnya. Semua sepakat bahwa proses ijtihad tersebut tidak mu’tabar, perbedaannya secara umum dianggap tiada, dan perbedaannya dengan ulama adalah dosa. Jadi, bagaimana mungkin bisa sah —ketetapan— mengikuti yang bukan mujtahid dalam hal ijtihad?

Ingat! Suatu kaum yang keluar dari tuntunan sahabat dan tabi’in —karena bertentangan dengan dalil dan pedoman para ulama— akan benar-benar tersesat. Mereka juga mengikuti hawa nafsu perasaannya, tanpa dilandasi ilmu, maka mereka akan tersesat pula dari kebenaran.” (Kitab Tarjamah  Al-I’tisham, page 879- 880).

4. Aqidah Imam Ahlusunnah : Allah ada tanpa tempat dan arah!

Ketahuilah bahawa Syeikh As-Syatiby ( Abu ishak Ibrahim Bin Musa As-Syatiby wafat 790) yang antara karangannya kitab Al-I’tisom dan Al-Ifaadaat Wa Al-Insyaadaat merupakan seorang ulama yang berpegang dengan akidah islam dalam manhaj Ahli Sunnah Waljamaah mengikut method Al-Asya’iroh dan Al-Maturidiyah. Ini amat jelas seperti yang dinyatakan oleh beliau sendiri dalam kitab Al-I’tisom yang ‘dikambinghitamkan’ oleh Wahhabi dalam penjelasan Bid’ah. Sememangnya perangai Wahhabi sebegini, mereka mempergunakan kenyataan ulama yang mereka sendiri kafirkannya pula. Subhanallah.

Antara kejelasan akidah Syeikh As-Syatiby ini adalah seperti yang dijelaskan dalam kitabnya berjudul Al-Ifadaat Wa Al-Insyadaat pada bilangan 11-Ifadah : Al-Isyarah Lil Baiid Bi Ismi Al-Isyarah Al-Maudhu’ Lil Qorib mukasurat 93-94 nasnya:

إفادة

سألني الشيخ الاستاذ الكبير الشهير أبو سعيد فرج بن قاسم بن لُب التغلبي أدام الله أيامه عن قول ابن مالك في “تسهيل الفوائد” في باب اسم الإشارة :”وقد يغني ذو البعد عن ذي القرب لعظمة المشير أو المشار إليه”، فقال: إن المؤلف مثَّل عظمة المشير في الشرح بقوله تعالى:{وما تلك بيمينك يا موسى} [سورة طه/17] ولم يبين ما وجه ذلك، فما وجهه؟ ففكرت فلم أجد جوابًا. فقال: وجهه أن الإشارة بذي القرب ههنا قد يُتوهم فيها القرب بالمكان، والله تعالى يتقدس عن ذلك، فلما أشار بذي البعد أعطى بمعناه أن المشير مباين للأمكنة، وبعيد عن أن يُوصف بالقرب المكاني، فأتى البعدُ في الإشارة منبهًا على بُعدِ نسبة المكان عن الذات العلي وأنه يبعد أن يحلَّ في مكان أو يدانيه

(Rujuk: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?s=&threadid=13646 )

Saya terjemahkan sebahagian nukilan As-Syatiby dalam perguruannya bersama As-Syeikh Al-Ustaz Al-Kabir Abu Saiid dan As-Syatiby menghukum serta menganggap ianya adalah antara faedah-faedah ilmu yang agong ( إفادة )

1- هاهنا قد يتوهم فيها القرب بالمكان، والله تعالى يتقدس عن ذلك

Terjemahannya: “Disini mungkin tersangka satu sangkaan yang tidak benar(waham) kedekatan Allah dengan bertempat sedangkan Allah ta’aala mahasuci dari sedemikian (bertempat)”.

Saya menyatakan:

Ini merupakan diantara persetujuan As-Syatiby berkaitan akidah yang benar ‘Allah Tidak Dilingkungi Oleh Tempat’ selain beliau beraliran Asya’irah dalam akidah (seperti juga termaktub dalam kitabnya Al-i’tisom yang tidak berpegang zohir ayat mutasyabihaat).

Malangnya pula Wahhabi mengkafirkan atau kekadang itu hanya menghukum sesat sahaja terhadap golongan Al-Asyairoh. maka apakah mereka katakan pada As-Syatiby ini?! kafir??! sesat?!!atau salah akidah??!

2: في الإشارة منبهاً على بعد نسبة المكان عن الذات العلية، وأنه يبعد أن يحل في مكان أو يدانيه

Terjemahannya: “Padanya isyarah menunjukkan tidak menyandarkan tempat bagi Allah zat yang maha agong, dan sesungguhnya mahasuci Allah dari diliputi oleh tempat atau bersentuhan dengan tempat”.

Saya menyatakan: Ini merupakan satu perkara yang dianggap faedah besar disisi Syeikh As-Syatiby sehingga beliau meletakkan dalam Ifadahnya.

Saya nasihatkan kepada Wahhabi, kuncu-kuncu yahudi dan sesiapa sahaja yang mempergunakan penerangan As-Syatiby agar mengambil juga keterangan akidah oleh beliau seperti di atas dan jangan mengkafirkan akidah benar tersebut atau menyesatkannya.

Sesungguhnya Allah Maha suci dari bertempat dan tidak bersifat duduk.

Wallahu ‘alam.

https://salafytobat.wordpress.com

http://abu-syafiq.blogspot.com

BANTAHAN TERHADAP SITUS PENENTANG AHLUSSUNNAH (BAGIAN KE-IV, V, VI) : Kesesatan Paham yang Menafikan Tawassul

Risalah ini terdiri dari :

–          Ayat-ayat Al-qur’an dalil tawassul

Hadits-hadis Nabawi dalil tawassul dengan Nabi dan Wali Allah Semasa Hidup ataupun sesudah wafatnya.

–          Tawassul kepada Rasulallah saw. sesudah wafatnya:

–          Allah menjadikan Penolong-penolong bagi  Orang Beriman

–          Muhammad Ibnu Abdul Wahhab  (Imamnya madzhab Wahabi) tidak mengingkari tawassul

–          Para Nabi Hakikatnya Hidup didalam Kuburnya

–          Diantara dalil-dalil orang yang membantah serta jawabannya

Kesesatan Paham yang Menafikan Tawassul

Bertawassul dengan para Nabi dan orang-orang shalih (Wali Allah) baik ketika mereka sudah hidup maupun setelah wafatnya adalah amalan ummat muslim diseluruh dunia. Berikut ini kami ketengahkan dalil-dalil shahih yang dijadikan rujukan pada amalan sunnah ini. Sedangkan nash atau dalil yang melarang tawassul dengan Nabi atau Wali Allah semasa hidup atau wafatnya.

A. Ayat-ayat Al-qur’an dalil tawassul

1. Dalam surat an-Nisa’ ayat 64, Allah swt. berfirman:

“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

2. Dalam surat  Al-Maidah ayat 35:

‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….”

Keterangan :

Ibnu Taimiyyah disalah satu kitabnya Qa’idah Jalilah Fit-Tawassul Wal-Washilah dalam pembicaraannya mengenai tafsir ayat Al-Qur’an Al-Maidah: 35 menulis: ‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….’ antara lain mengatakan:

“Mencari washilah atau bertawassul untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. hanya dapat dilakukan oleh orang yang beriman kepada Muhammad Rasulallah saw. dan mengikuti tuntunan agamanya. Tawassul dengan beriman dan taat kepada beliau saw. adalah wajib bagi setiap orang, lahir dan bathin, baik dikala beliau masih hidup maupun setelah wafat, baik langsung dihadapan beliau sendiri atau pun tidak. Bagi setiap muslim, tawassul dengan iman dan taat kepada Rasulallah saw. adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat ditinggalkan. Untuk memperoleh keridhoan Allah dan keselamatan dari murka-Nya tidak ada jalan lain kecuali tawassul dengan beriman dan taat kepada Rasul-Nya. Sebab, beliaulah penolong (Syafi’) ummat manusia.

Beliau saw. adalah makhluk Allah termulia yang dihormati dan diagungkan oleh manusia-manusia terdahulu maupun generasi-generasi berikutnya hingga hari kiamat kelak. Diantara para Nabi dan Rasul yang menjadi penolong ummatnya masing-masing. Muhammad Rasulallah saw. adalah penolong (Syafi’) yang paling besar dan tinggi nilainya dan paling mulia dalam pandangan Allah swt. Mengenai Nabi Musa as. Allah swt. berfirman, bahwa Ia mulia disisi Allah. Mengenai Nabi Isa a.s. Allah swt. juga berfirman bahwa Ia mulia didunia dan diakhirat, namun dalam firman-firman-Nya yang lain menegaskan bahwa Muhammad Rasulallah saw. lebih mulia dari semua Nabi dan Rasul. Syafa’at dan do’a beliau pada hari kiamat hanya bermanfaat bagi orang yang bertawassul dengan iman dan taat kepada beliau saw. Demikianlah pandangan Ibnu Taimiyyah mengenai tawassul.

Dalam kitabnya Al-Fatawil-Kubra I :140 Ibnu Taimiyyah menjawab atas pertanyaan: Apakah tawassul dengan Nabi Muhammad saw. diperbolehkan atau tidak? Ia menjawab: “Alhamdulillah mengenai tawassul dengan mengimani, mencintai, mentaati Rasulallah saw. dan lain sebagainya adalah amal perbuatan orang yang bersangkutan itu sendiri, sebagaimana yang di perintahkan Allah kepada segenap manusia. Tawassul sedemikian itu di- benarkan oleh syara’ dan dalam hal itu seluruh kaum muslimin sepen- dapat.”

3. Dalam Surat Al-Baqarah :37, mengenai Tawassul Nabi Adam as. pada Rasulallah saw.:

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ اَنَّهُ هُوَا الـَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang ”.

Keterangan :

Tawassul Nabi Adam as. pada Rasulallah saw..  Sebagaimana disebutkan pada firman Allah swt. (Al-Baqarah :37) diatas. Menurut ahli tafsir kalimat-kalimat dari Allah yang diajarkan kepada Nabi Adam as. pada ayat diatas agar taubat Nabi Adam as. diterima ialah dengan menyebut dalam kalimat taubatnya bi-haqqi (demi kebenaran) Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Makna seperti ini bisa kita rujuk pada kitab: Manaqib Ali bin Abi Thalib,  oleh Al-Maghazili As-Syafi’i halaman 63, hadits ke 89; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusui Al-Hanafi, halaman 97 dan 239 pada  cet.Istanbul,. halaman 111, 112, 283 pada cet. Al-Haidariyah; Muntakhab Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muntaqi, Al-Hindi (catatan pinggir) Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 419; Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’i, jilid 1 halaman 60; Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 7, halaman 300 dan Ihqagul Haqq, At-Tastari jilid 3 halaman 76. Begitu juga pendapat Imam Jalaluddin Al-Suyuthi waktu menjelaskan makna surat Al-Baqarah :37 dan meriwayatkan hadits tentang taubatnya nabi Adam as. dengan tawassul pada Rasulallah saw.

Nabi Adam as. ,manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah swt. agar taubatnya bisa diterima dengan bertawassul pada Habibullah Nabi Muhammad saw., yang mana beliau belum dilahirkan di alam wujud ini. Untuk mengkompliti makna ayat diatas tentang tawassulnya Nabi Adam as. ini, kami akan kutip berikut ini beberapa hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan masalah itu:

Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak/Mustadrak Shahihain jilid 11/651 mengetengahkan hadits yang berasal dari Umar Ibnul Khattab ra. (diriwayat- kan secara berangkai oleh Abu Sa’id ‘Amr bin Muhammad bin Manshur Al-‘Adl, Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzaly, Abul Harits Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah, Abdurrahman bin Zain bin Aslam dan datuknya) sebagai berikut, Rasulallah saw.bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ الله.صَ. : لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمَُ الخَطِيْئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِي,

فَقالَ اللهُ يَا آدَمُ, وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أخْلَقُهُ ؟ قَالَ: يَا رَبِّ ِلأنَّـكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيدِكَ

وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأسِي فَرَأيـْتُ عَلَى القَوَائِمِ العَرْشِ مَكْتُـوْبًا:لإاِلَهِ إلاالله

مُحَمَّدَُ رَسُـولُ اللهِ, فَعَلِمْتُ أنَّكَ لَمْ تُضِفْ إلَى إسْمِكَ إلا أحَبَّ الخَلْقِ إلَيْكَ, فَقَالَ اللهُ

صَدَقْتَ يَا آدَمُ إنَّهُ َلاَحَبَّ الخَلْقِ إلَيَّ اُدْعُنِي بِحَقِّهِ فَقـَدْ غَفَرْتُ لَكَ, وَلَوْ لاَمُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ.

“Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhanku, demi kebenaran Muhammad aku mohon ampunan-Mu’. Allah bertanya (sebenarnya Allah itu maha mengetahui semua lubuk hati manusia, Dia bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa mendengar jawaban Nabi Adam as.): ‘Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum kuciptakan?!’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang ‘Arsy termaktub tulisan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa disamping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai’. Allah menegaskan: ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdo’alah kepada-Ku bihaqqihi (demi kebenarannya), engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan’ “.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dan dibenarkan olehnya dalam Khasha’ishun Nabawiyyah dikemukakan oleh Al-Baihaqi didalam Dala ’ilun Nubuwwah, diperkuat kebenarannya oleh Al-Qisthilani dan Az-Zarqani di dalam Al-Mawahibul Laduniyyah jilid 11/62, disebutkan oleh As-Sabki di dalam Syifa’us Saqam, Al-Hafidz Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam Al-Ausath dan oleh orang lain yang tidak dikenal dalam Majma’uz Zawa’id jilid V111/253.

Sedangkan hadits yang serupa/senada diatas yang sumbernya berasal dari Ibnu Abbas hanya pada nash hadits tersebut ada sedikit perbedaan yaitu dengan tambahan:

وَلَوْلآ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُ آدَمَ وَلآ الجَنَّةَ وَلآ النَّـارَ

‘Kalau bukan karena Muhammad Aku (Allah) tidak menciptakan Adam, tidak menciptakan surga dan neraka’.

Mengenai kedudukan hadits diatas para ulama berbeda pendapat. Ada yang menshohihkannya, ada yang menolak kebenaran para perawi yang meriwayatkannya, ada yang memandangnya sebagai hadits maudhu’, seperti Adz-Dzahabi dan lain-lain, ada yang menilainya sebagai hadits dha’if dan ada pula yang menganggapnya tidak dapat dipercaya. Jadi, tidak semua ulama sepakat mengenai kedudukan hadits itu. Akan tetapi Ibnu Taimiyah sendiri untuk persoalan hadits tersebut beliau menyebutkan dua hadits lagi yang olehnya dijadikan dalil. Yang pertama yaitu diriwayatkan oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi dengan sanad Maisarah yang mengatakan sebagai berikut :

قُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ, مَتَى كُنْتَ نَبِيَّا ؟ قَالَ: لَمَّا خَلَقَ اللهُ الأرْضَ وَاسْتَوَى إلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَما وَا تٍ,

وَ خَلَقَ العَرْشَ كَتـَبَ عَلَى سَـاقِ العَـرْشِ مُحَمَّتدٌ رَسُوْلُ اللهِ  خَاتَمُ الأَنْبِـيَاءِ , وَ خَلَقَ اللهُ الجَنَّـةَ الَّتِي أسْكَـنَهَا

آدَمَ وَ حَوَّاءَ فَكـُتِبَ إسْمِي عَلَى الأبْـوَابِ وَالأوْرَاقِ وَالقـِبَابِ وَ الخِيَامِ وَ آدَمُ بَيْـنَ الرَُوْحِ وَ الجَسَدِ,فَلَـمَّا أحْيَاهُ اللهُ

تَعَالَى نَظَرَ إلَى العَـرْشِ , فَرَأى إسْمِي فَأخْبَرَهُ الله أنَّهُ سَيِّدُ وَلَدِكَ, فَلَمَّا غَرَّهُمَا الشَّيْطَانُ  تَابَا وَاسْتَشْفَعَا بِإسْمِي عَلَيْهِ

“Aku pernah bertanya pada Rasulallah saw.: ‘Ya Rasulallah kapankah anda mulai menjadi Nabi?’ Beliau menjawab: ‘Setelah Allah menciptakan tujuh petala langit, kemudian menciptakan ‘Arsy yang tiangnya termaktub Muham- mad Rasulallah khatamul anbiya (Muhammad pesuruh Allah terakhir para Nabi), Allah lalu menciptakan surga tempat kediaman Adam dan Hawa, kemudian menuliskan namaku pada pintu-pintunya, dedaunannya, kubah-kubahnya dan khemah-khemahnya. Ketika itu Adam masih dalam keadaan antara ruh dan jasad. Setelah Allah swt .menghidupkannya, ia memandang ke ‘Arsy dan melihat namaku. Allah kemudian memberitahu padanya bahwa dia (yang bernama Muhammad itu) anak keturunanmu yang termulia. Setelah keduanya (Adam dan Hawa) terkena bujukan setan mereka ber- taubat kepada Allah dengan minta syafa’at pada namaku’ ”.

Sedangkan hadits yang kedua berasal dari Umar Ibnul Khattab (diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Nu’aim Al-Hafidz dalam Dala’ilun Nubuwwah oleh Syaikh Abul Faraj, oleh Sulaiman bin Ahmad, oleh Ahmad bin Rasyid, oleh Ahmad bin Said Al-Fihri, oleh Abdullah bin Ismail Al-Madani, oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ayahnya) yang mengatakan bahwa Nabi saw. berrsabda:

لَمَّا أصَابَ آدَمَ الخَطِيْئَةُ, رَفَعَ رَأسَهُ فَقَالَ: يَا رَبِّ بَحَقِّ مُحَمَّدٍ إلاَّ غَفَرْتَ لِي, فَأوْحَى إلَيْهِ, وَمَا مُحَمَّدٌ ؟

وَمَنْ مُحَمَّدٌ ؟ فَقَالَ: : يَا رَبِّ إنَّكَ لَمَّا أتْمَمْتَ خَلْقِي وَرَفَعْتُ رَأسِي إلَى عَرْشِكَ فَإذَا عَلَيْهِ مَكْتُوْبٌ

لإلَهِ إلااللهُ مُحَمَّدٌ رَسُـولُ اللهِ فَعَلِمْتُ أنَّهُ أكْرَمُ خَلْقِـكَ عَلَيْكَ إذْ قَرََرَنْتَ إسْمُهُ مَعَ اسْمِكَ فَقَالَ, نَعَمْ, قَدْ غَفَرْتُ لَكَ ,

وَهُوَ آخِرُ الأنْبِيَاءِمِنْ ذُرِّيَّتِكَ, وَلَوْلاَهُ مَا خَلَقْتُكَ

“Setelah Adam berbuat kesalahan ia mengangkat kepalanya seraya berdo’a: ‘Ya Tuhanku, demi hak/kebenaran Muhammad niscaya Engkau berkenan mengampuni kesalahanku’. Allah mewahyukan padanya: ‘Apakah Muhamad itu dan siapakah dia?’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menyempurnakan penciptaanku, kuangkat kepalaku melihat ke ‘Arsy, tiba-tiba kulihat pada “Arsy-Mu termaktub Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak itu aku mengetahui bahwa ia adalah makhluk termulia dalam pandangan-Mu, karena Engkau menempatkan namanya disamping nama-Mu’. Allah menjawab: ‘Ya benar, engkau Aku ampuni,. ia adalah penutup para Nabi dari keturunanmu. Kalau bukan karena dia, engkau tidak Aku ciptakan’ ”.

Yang lebih heran lagi dua hadits terakhir ini walaupun diriwayatkan dan di benarkan oleh Ibnu Taimiyyah, tapi beliau ini belum yakin bahwa hadits-hadits tersebut benar-benar pernah diucapkan oleh Rasulallah saw.. Namun Ibnu Taimiyyah toh membenarkan makna hadits ini dan menggunakannya untuk menafsirkan sanggahan terhadap sementara golongan yang meng- anggap makna hadits tersebut bathil/salah atau bertentangan dengan prinsip tauhid dan anggapan-anggapan lain yang tidak pada tempatnya. Ibnu Taimiy yah dalam Al-Fatawi jilid XI /96 berkata sebagai berikut:

“Muhammad Rasulallah saw. adalah anak Adam yang terkemuka, manusia yang paling afdhal (utama) dan paling mulia. Karena itulah ada orang yang mengatakan, bahwa karena beliaulah Allah menciptakan alam semesta, dan ada pula yang mengatakan, kalau bukan karena Muhammad saw. Allah swt. tidak menciptakan ‘Arsy, tidak Kursiy (kekuasaan Allah), tidak menciptakan langit, bumi, matahari dan bulan. Akan tetapi semuanya itu bukan ucapan Rasulallah saw, bukan hadits shohih dan bukan hadits dho’if, tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya sebagai ucapan (hadits) Nabi saw. dan tidak dikenal berasal dari sahabat Nabi. Hadits tersebut merupakan pembicaraan yang tidak diketahui siapa yang mengucapkannya. Sekalipun demikian makna hadits tersebut tepat benar dipergunakan sebagai tafsir firman Allah swt.: “Dialah Allah yang telah menciptakan bagi kalian apa yang ada dilangit dan dibumi ” (S.Luqman : 20), surat Ibrahim 32-34 (baca suratnya dibawah ini–pen.) dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang menerangkan, bahwa Allah menciptakan seisi alam ini untuk kepentingan anak-anak Adam. Sebagai- mana diketahui didalam ayat-ayat tersebut terkandung berbagai hikmah yang amat besar, bahkan lebih besar daripada itu. Jika anak Adam yang paling utama dan mulia itu, Muhammad saw. yang diciptakan Allah swt. untuk suatu tujuan dan hikmah yang besar dan luas, maka kelengkapan dan kesempurnaan semua ciptaan Allah swt. berakhir dengan terciptanya Muhammad saw.“. Demikianlah Ibnu Taimiyyah.

Firman-Nya dalam  surat Ibrahim 32-34 yang dimaksud Ibnu Taimiyyah ialah:

اللهُ الَّذِى خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَ الاَرْضَ وَاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً َفاَََخْرَجَ بِهِ

مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًالَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِى البَحْرِ بِاَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ

الاَنْهَارَ َوَسَخَّرَ  لَكُمُ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَآتَاكُمْ مِنْ

كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْه وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا اِنَّ الاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rizki untuk kalian, dan Dia telah menundukkan bahtera bagi kalian supaya bahtera itu dapat berlayar di lautan atas kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagi kalian. Dan Dia jualah yang telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar dalam orbitnya masing-masing dan telah menundukkan bagi kalian siang dan malam. Dan Dia jugalah yang memberikan kepada kalian apa yang kalian perlukan/mohonkan. Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat mengetahui berapa banyaknya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”.(QS Ibrahim :32-34). DAPAT DISIMPULKAN JUGA BAHWA IBNU TAYMIYAH MENGAKUI KONSEP “NUR MUHAMMAD” BAHWA NUR NABI MUHAMMAD ADALAH MAKHLUQ YANG PERTAMA KALI DICIPTAKAN. Dan perhatikan kebiasaan buruk dan kedustaan ibnu taymiyah (mati 721 H)  yang mengatakan “tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya” padahal imam Thabrani (wafat 360 H) menulisnya dalam al -ausath, Abu Nu’aim (wafat 430 H)  dalam Dala’ilun Nubuwwah dsb.

B. Hadits-hadis Nabawi dalil tawassul dengan Nabi dan Wali Allah Semasa Hidup ataupun sesudah wafatnya.

1. Hadits Shahih dari Abu Sa’id al Khudri Ra.

hadist tawassul 1

Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri –semoga Allah meridlainya-, ia berkata: Rasulullah Shallalahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Barangsiapa keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat (di masjid) kemudian ia berdo’a: Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan derajat orang-orang yang saleh yang berdo’a kepada-Mu (baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal) dan dengan derajat langkah-langkahku ketika berjalan ini, sesungguhnya aku keluar rumah bukan untuk menunjukkan sikap angkuh dan sombong, juga bukan karena riya’ dan sum’ah, aku keluar rumah untuk menjauhi murka-Mu dan mencariridla-Mu, maka aku memohon kepada Engkau: selamatkanlah aku dari api neraka dan ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, maka Allah akan meridlainya dan tujuh puluh ribu malaikat memohonkan ampun untuknya” (H.R. Ahmad dalam al Musnad, ath-Thabarani dalam ad-Du’a, Ibn as-Sunni dalam ‘Amal al Yaum wa allaylah,

al Bayhaqi dalam Kitab ad-Da’awat al Kabir dan selain mereka, sanad hadits ini dihasankan oleh al Hafizh Ibn Hajar, al Hafizh Abu al Hasan al Maqdisi, al Hafizh al ‘Iraqi, al Hafizh ad-Dimyathi dan lainlain). Dalam hadits ini terdapat dalil dibolehkannya bertawassul dengan para shalihin, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Hadits ini adalah salah satu dalil Ahlussunnah Wal Jama’ah untuk membantah golongan Wahhabi yang mengharamkan tawassul dan mengkafirkan pelakunya.

2. Hadits Shahih tentang tawassulnya Sahabat yang sembuh penyakit Mata (Buta)

Dari Ustman bin Hunaif yang mengatakan: “Sesungguhnya telah datang seorang lelaki yang tertimpa musibah (buta matanya) kepada Nabi saw. Lantas lelaki itu mengatakan kepada Rasulllah; ‘Berdo’alah kepada Allah untukku agar Dia (Allah swt) menyembuhkanku!’. Kemudian Rasulallah ber- sabda: ‘Jika engkau menghendaki maka aku akan menundanya untukmu, dan itu lebih baik. Namun jika engkau menghendaki maka aku akan berdo’a (untukmu)’. Kemudian dia (lelaki tadi) berkata: ‘Mohonlah kepada-Nya (untukku)!’. Rasulallah memerintahkannya untuk mengambil air wudhu, kemudian ia berwudhu dengan baik lantas melakukan shalat dua rakaat. Kemudian ia (lelaki tadi) membaca do’a tersebut:

hadist tawassul 2

‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dan aku datang meng- hampiri-Mu, demi Muhammad sebagai Nabi yang penuh rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya aku telah datang menghampiri-mu untuk menjumpai Tuhan-ku dan meminta hajat-ku ini agar terkabulkan. Ya Allah, jadikanlah dia sebagai pemberi syafa’at bagiku’.

Utsman bin Hunaif berkata; ‘Demi Allah, belum sempat kami berpisah, dan belum lama kami berbicara, sehingga laki-laki buta itu menemui kami dalam keadaan bisa melihat dan seolah-olah tidak pernah buta sebelumnya”. (HR. Imam at-Turmudzi dalam “Sunan at-Turmudzi” 5/531 hadits ke-3578; Imam an-Nasa’i dalam kitab “as-Sunan al-Kubra” 6/169 hadits ke-10495; Imam Ibnu Majah dalam “Sunan Ibnu Majah” 1/441 hadits ke-1385; Imam Ahmad dalam “Musnad Imam Ahmad” 4/138 hadits ke-16789; al-Hakim an-Naisaburi dalam “Mustadrak as-Shohihain” 1/313; as-Suyuthi dalam kitab “al-Jami’ as-Shoghir” halaman 59, Sunan Ibnu Majah, jilid 1, hal 331; Mustadrak al-Hakim, jilid 1, hal 313 ; Talkhish al-Mustadrak, adz-Dzahabi dan sebagainya. Sehingga dari situ, Ibnu Taimiyah pun menyatakan kesahihannya pula ).

Syeikh Ja’far Subhani melakukan kajian tentang sanad hadits diatas ini di dalam bukunya yang berjudul Ma’a al-Wahabiy yinfi Khuthathihim wa ‘Aqa’idihim. Dia berkata, “Tidak ada keraguan tentang keshohihan sanad hadits ini. Bahkan, ulama yang dipercaya oleh kalangan Wahabi yaitu Ibnu Taimiyyah mengakui keshohihan sanad hadits ini, dengan mengatakan, ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan nama Abu Ja’far yang terdapat di dalam sanad hadits ini adalah Abu Ja’far al-Khathmi. Dia seorang yang dapat dipercaya.’

3. Kisah Shahabat yang menyaksikan kisah  No. 2,  mengajarkan Tawassul ini Pada Masa Khalifah Utsman

Dalam sebuah riwayat panjang tentang kisah Utsman bin Hunaif (salah seorang sahabat mulia Rasulallah saw.) yang disebutkan oleh at-Tabrani dari Abi Umamah bin Sahal bin Hunaif yang bersumber dari pamannya, Utsman bin Hunaif. Disebutkan bahwa, “Suatu saat seorang lelaki telah beberapa kali mendatangi khalifah Utsman bin Affan agar memenuhi hajat- nya. Saat itu, Utsman tidak menanggapi kedatangannya dan tidak pula mem- perhatikan hajatnya. Kemudian lelaki itu pergi dan ditengah jalan bertemu Utsman bin Hunaif dan mengeluhkan hal yang dihadapinya kepadanya. Mendengar hal itu, lantas Utsman bin Hunaif mengatakan kepadanya: ‘Ambillah bejana dan berwudhulah. Kemudian pergilah ke masjid (Nabi) dan shalatlah dua rakaat’. Seusainya maka katakanlah: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan mendatangi-Mu demi Nabi-Mu Muhammad yang sebagai Nabi pembawa Rahmat. Wahai Muhammad, aku menghadapkan wajahku kepadamu untuk memohon kepada Tuhanku. Maka kabulkan-lah hajatku’ Kemudian sebutkanlah hajatmu. Beranjaklah maka aku akan mengiringimu’.

Kemudian lelaki itu melakukan apa yang telah diberitahukan kepadanya. Selang beberapa saat, lalu ia kembali mendatangi pintu rumah Utsman (bin ‘Affan). Utsman pun mempersilahkannya masuk dan duduk di satu kursi dengannya, seraya berkata: Apakah gerangan hajatmu? Kemudian ia menyebutkan hajatnya, dan Utsman pun segera memenuhinya. Ia (Utsman) berkata kepadanya: ‘Aku tidak ingat terhadap hajatmu melainkan baru beberapa saat yang lalu saja’. Ia (Utsman bin Affan) pun kembali mengatakan: ‘Jika engkau memiliki hajat maka sebutkanlah (kepadaku)’! Setelah itu, lelaki itu keluar meninggalkan rumah Utsman bin Affan dan kembali bertemu Utsman bin Hunaif seraya berkata: ‘Semoga Allah membalas kebaikanmu’ ! Dia (Utsman bin Affan) awalnya tidak melihat dan memperhatikan hajatku sehingga engkau telah berbicaranya kepadanya tentangku.

Utsman bin Hunaif berkata: ‘Demi Allah, aku tidak pernah berbicara tentang kamu kepadanya. Tetapi aku telah melihat Rasulullah saw. didatangi dan dikeluhi oleh seorang yang terkena musibah penyakit kehilangan kekuatan penglihatannya, kemudian Nabi bersabda kepadanya: ‘Bersabarlah’! Lelaki itu menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki penggandeng dan itu sangat menyulitkanku’. Nabi bersabda: ‘Ambillah bejana dan berwudhulah, kemudian shalatlah dua rakaat, kemudian bacalah do’a-do’a berikut….’ (info: ini mengisyaratkan pada hadits tentang sahabat yang mendatangi Rasulallah karena kehilangan penglihatannya yang diriwayatkan dalam kitab “Musnad Ahmad” 4/138, “Sunan at-Turmudzi” 5/569 hadits ke-3578, “Sunan Ibnu Majah” 1/441 dan “Mustadrak as-Shohihain” 1/313) berkata Ibnu Hunaif: Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan [cara tawassul itu]. Percakapan itu begitu panjang sehingga datanglah seorang lelaki yang seakan dia tidak mengidap satu penyakit”. (Lihat: Kitab “Mu’jam at-Tabrani” 9/30 nomer 8311, “al-Mu’jam as-Shoghir” 1/183, dikatakan hadits ini sahih)

Al-Mundziri (At-Targhib jilid 1/44 dan Majma’uz Zawaid jilid 11/279) mengatakan hadits diatas ini shahih begitupun juga Ibnu Taimiyyah yang mengatakan bahwa hadits yang diriwayatkan At-Thabarani diatas ini berasal dari Abu Ja’far yang nama aslinya Umar bin Yazid, seorang perawi hadits yang dapat dipercaya. Abu Abdullah al-Maqdisi mengatakan bahwa hadits itu shahih. Juga Al-Hafidz Nuruddin Al-Haitsami membenarkan hadits itu.

4. Hadits tawassul Nabi Muhammad kepada para Nabi yang telah wafat

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia mengatakan; ketika Fathimah binti Asad meninggal dunia, Rasulullah saw. datang dan duduk di sisi kepalanya sembari bersabda: ‘Rahimakillah ya ummi ba’da ummi ‘ (Allah merahmatimu wahai ibuku pasca ibu [kandung]-ku). Kemudian beliau saw. menyebutkan pujian terhadapnya, lantas mengkafaninya dengan jubah beliau. Kemudian Rasulallah memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin Khattab dan seorang budak hitam untuk menggali kuburnya. Kemudian mereka menggali liang kuburnya. Sesampai di liang lahat, Rasulallah saw. sendiri yang menggalinya dan mengeluarkan tanah lahat dengan meng- gunakan tangan beliau saw.. Setelah selesai (menggali lahat), kemudian Rasulallah saw. berbaring disitu sembari berkata: ‘Allah Yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia Yang selalu hidup, tiada pernah mati. Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad. Perluaskanlah jalan masuknya, demi Nabi-Mu dan para nabi sebelumku”. (Lihat: Kitab al-Wafa’ al-Wafa’)

5. Hadits tawassul Nabi Muhammad kepada para Nabi yang telah wafat (2)

Hadits yang serupa diatas yang diketengahkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath. Rasulallah saw. bertawassul pada dirinya sendiri dan para Nabi sebelum beliau saw. sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik, ketika Fathimah binti Asad isteri Abu Thalib, bunda Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw. wafat, Rasulallah saw. sendirilah yang menggali liang-lahad. Setelah itu (sebelum jenazah dimasukkan ke lahad) beliau masuk kedalam lahad, kemudian berbaring seraya bersabda:

“Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah Allah yang Maha Hidup. Ya Allah, limpahkanlah ampunan-Mu kepada ibuku panggilan ibu, karena Rasulallah saw. ketika masih kanak-kanak hidup dibawah asuhannya, lapangkanlah kuburnya dengan demi Nabi-Mu (yakni beliau saw. sendiri) dan demi para Nabi sebelumku. Engkaulah, ya Allah Maha Pengasih dan Penyayang”. Beliau saw. kemudian mengucapkan takbir empat kali. Setelah itu beliau saw. bersama-sama Al-‘Abbas dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhumaa memasukkan jenazah Fathimah binti Asad kedalam lahad. ( At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath.)

Dalam kitab Majma’uz-Zawaid jilid 9/257 disebut nama-nama perawi hadits tersebut, yaitu Ruh bin Shalah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Ada perawi yang dinilai lemah, tetapi pada umumnya adalah perawi hadit-hadits shohih. Sedangkan para perawi yang disebut oleh At-Thabrani didalam Al-Kabir dan Al-Ausath semuanya baik (jayyid) yaitu Ibnu Hiban, Al-Hakim dan lain-lain yang membenarkan hadits tersebut dari Anas bin Malik.

Selain mereka terdapat juga nama Ibnu Abi Syaibah yang meriwayatkan hadits itu secara berangkai dari Jabir. Ibnu ‘Abdul Birr meriwayatkan hadits tersebut dari Ibnu ‘Abbas dan Ad-Dailami meriwayatkannya dari Abu Nu’aim. Jadi hadits diatas ini diriwayatkan dari sumber-sumber yang saling memper- kuat kebenarannya.

Imam Sayyid Muhammad Zaki Ibrahim dalam karyanya “al-Ifhaam wal Ifhaam @ Qadhaya al-Wasiilah wal Qubur” halaman 32, di mana beliau, rahimahUllah, menyatakan:-

Dan juga kita dapat perhatikan di sini bahawa para nabi yang Junjungan Nabi s.a.w. bertawassul dengan haq mereka kepada Allah dalam hadits tersebut dan lain-lain hadits telah pun wafat. Maka tsabit harus (jawaz) bertawassul kepada Allah dengan “haq” atau dengan “ahlil haq” yang hidup dan yang mati. Justru setelah ini adakah hujjah bagi orang yang menegah bertawassul?! Ya Allah, tiada kekuatan melainkan denganMu!!

Kalam yang kedua daripada al-Faqih Habib Zain bin Ibrahim BinSumaith dalam “al-Ajwibah al-Ghaaliyyah” halaman 76, di mana beliau, hafizahUllah, menyatakan:-

Lihatlah kepada sabdaan baginda : “dengan haq para nabi sebelumku“, maka itu adalah dalil yang jelas bagi mengharuskan / membolehkan bertawassul dengan para nabi setelah kewafatan mereka, sesungguhnya mereka itu hidup di alam barzakh. Dan demikian pulalah segala waris-waris mereka yang sempurna dari kalangan para shiddiqin dan awliya. (Yakni boleh bertawassul dengan mereka semuanya, sama ada yang masih hidup maupun yang telah wafat).

C. Tawassul kepada Rasulallah saw. dikala wafatnya:

1. Kisal Sahabat Bilal al-habsyi ra.

Abu Darda’ dalam sebuah riwayat menyebutkan: “Suatu saat, Bilal (al-Habsyi) bermimpi bertemu dengan Rasulallah. Beliau bersabda kepada Bilal: ‘Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidak perhatianmu (jafa’)? Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?’. Selepas itu, dengan perasa- an sedih, Bilal segera terbangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju ke Madinah. Lalu Bilal mendatangi kubur Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulallah) datang. Kemudian Bilal mendekap dan mencium keduanya”. (Tarikh Damsyiq jilid 7 Halaman: 137, Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar jilid: 1 Halaman: 208, Tahdzibul Kamal jilid: 4 Halaman: 289, dan Siar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi Jilid: 1 Halaman 358)

Bilal menganggap ungkapan Rasulallah saw. dalam mimpinya sebagai teguran dari beliau saw., padahal secara dhohir beliau saw. telah wafat. Jika tidak demikian, mengapa sahabat Bilal datang jauh-jauh dari Syam menuju Madinah untuk menziarahi Rasulallah saw.? Kalau Rasulallah benar-benar telah wafat sebagaimana anggapan madzhab Wahabi bahwa yang telah wafat itu sudah tiada maka Bilal tidak perlu menghiraukan teguran Rasulallah itu. Apa yang dilakukan sahabat Bilal juga bisa dijadikan dalil atas ketidakbenaran paham Wahabisme –pemahaman Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab– tentang pelarangan bepergian untuk ziarah kubur sebagaimana yang mereka pahami tentang hadits Syaddur Rihal.

Apakah Bilal khusus datang jauh-jauh dari Syam hanya sekedar berziarah dan memeluk pusara Rasulallah saw. tanpa mengatakan apapun (tawassul) kepada penghuni kubur tersebut? Sekarang mari kita lihat riwayat lain yang berkenaan dengan diperbolehkannya tawassul secara langsung kepada yang telah meninggal:

“Masyarakat telah tertimpa bencana kekeringan di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Bilal bin Harits –salah seorang sahabat Nabi– datang ke pusara Rasul dan mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah (banyak) yang binasa’. Rasul saw. menemuinya di dalam mimpi dan memberitahukannya bahwa mereka akan diberi hujan (oleh Allah) ”. (Fathul Bari jilid 2 halaman 398, atau as-Sunan al-Kubra jilid 3 halaman 351)

Hadits-hadits diatas mencakup sebagai dalil tentang kebolehan tabarruk dan tawassul kepada orang yang dhahirnya telah wafat, hal itu telah dicontohkan oleh tokoh Salaf Saleh.

2. Kisah Tawassul seorang Badwi pada zaman khalifah Ali ra.

Berkata al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Musa an-Nukmani dalam karyanya yang berjudul ‘Mishbah adz-Dzolam’; Sesungguhnya al-Hafidz Abu Said as-Sam’ani menyebutkan satu riwayat yang pernah kami nukil darinya yang bermula dari Khalifah Ali bin Abi Thalib yang pernah mengisahkan: “Telah datang kepada kami seorang badui setelah tiga hari kita mengebumi- kan Rasulullah. Kemudian ia menjatuhkan dirinya ke pusara Rasulallah saw. dan membalurkan tanah (kuburan) di atas kepalanya seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, engkau telah menyeru dan kami telah mendengar seruanmu. Engkau telah mengingat Allah dan kami telah mengingatmu. Dan telah turun ayat; ‘Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang’ (QS an-Nisa: 64) dan aku telah mendzalimi diriku sendiri. Dan aku mendatangimu agar engkau memintakan ampun untukku. Kemudian terdengar seruan dari dalam kubur: ‘Sesungguhnya Dia (Allah) telah mengampunimu’ ”. (Kitab “Wafa’ al-Wafa’” karya as-Samhudi 2/1361)

Dari riwayat di atas menjelaskan bahwa; bertawassul kepada Rasulullah pasca wafat beliau adalah hal yang legal dan tidak tergolong syirik atau bid’ah. Bagaimana tidak? Sewaktu prilaku dan ungkapan tawassul/istigho- tsah itu disampaikan oleh si Badui di pusara Rasul –dengan memeluk dan melumuri kepalanya dengan tanah pusara– yang ditujukan kepada Rasulallah yang sudah dikebumikan, hal itu berlangsung di hadapan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib. Dan khalifah Ali sama sekali tidak menegurnya, padahal beliau adalah salah satu sahabat terkemuka Rasulullah yang memiliki keilmuan yang sangat tinggi dimana Rasulullah pernah bersabda berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib kw. sebagai berikut: ‘Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali’. (Kitab “Tarikh Baghdad” karya Khatib al-Baghdadi 14/321, dan dengan kandungan yang sama bisa dilihat dalam kitab “Shohih at-Turmudzi” 2/298).

Dalam Kitab “Mustadrak as-Shohihain” karya al-Hakim an-Naisaburi 3/124, ‘Ali bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Ali, keduanya tidak akan pernah terpisah hingga hari kebangkitan’. Dalam Kitab “Mustadrak as-Shohihain” 3/126, ‘Aku (Rasulallah saw.) adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya. Barangsiapa meng- hendaki (masuk) kota maka hendaknya melalui pintu gerbangnya’. Dalam Kitab Mustadrak as-Shohihain” 3/122, ‘Engkau (Ali) adalah penjelas kepada umatku tentang apa-apa yang mereka selisihkan setelah (kematian)-ku’. Dan masih banyak lagi riwayat mengenai Khalifah Ali kw.ini.

3. Kisah Al-‘Utbah

Syeikh Abu Manshur As-Shabbagh dalam kitabnya Al-Hikayatul Masyhur- ah mengemukakan kisah peristiwa yang diceriterakan oleh Al-‘Utbah sebagai berikut:

“Pada suatu hari ketika aku (Al-‘Utbah) sedang duduk bersimpuh dekat makam Rasulallah saw., tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui. Didepan makam beliau itu ia berkata: ‘As-Salamu’alaika ya Rasulallah. Aku mengetahui bahwa Allah telah berfirman: Sesungguhnya jika mereka ketika berbuat dhalim terhadap diri mereka sendiri segera datang kepadamu (hai Muhammad), kemudian mohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun me mohonkan ampun bagi mereka, tentulah mereka akan mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (An-Nisa: 64). Sekarang aku datang kepadamu ya Rasulallah untuk mohon ampunan kepada Allah atas segala dosaku, dengan syafa’atmu, ya Rasulallah..’. Setelah mengucapkan kata-kata itu ia lalu pergi. Beberapa saat kemudian aku (Al-‘Utbah) terkantuk. Dalam keadaan setengah tidur itu aku bermimpi melihat Rasulallah saw. berkata kepadaku : ‘Hai ‘Utbah, susullah segera orang Badui itu dan beritahu kan kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya’ ”.

Peristiwa diatas ini dikemukakan juga oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Idhah bab 4 hal. 498. Dikemukakan juga oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengenai ayat An-Nisa : 64. Para ulama pakar lainnya yang mengetengah- kan peristiwa Al-‘Utbah ini ialah: Syeikh Abu Muhammad Ibnu Qaddamah dalam kitabnya Al-Mughny jilid 3/556 ; Syeikh Abul Faraj Ibnu Qaddamah dalam kitabnya Asy-Syarhul-Kabir jilid 3/495 ; Syeikh Manshur bin Yunus Al-Bahuty dalam kitabnya Kisyaful-Qina (kitab ini sangat terkenal dikalangan madzhab Hanbali) jilid 5/30 dan Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi jilid 5/265) yang mengemukakan peristiwa semakna tapi kalimatnya agak berbeda.

Hadits-hadits diatas, jelas lelaki itu tawassul kepada Rasulallah saw agar beliau saw. berdo’a kepada Allah swt. untuk orang itu. Kalau ini bukan di katakan sebagai dalil tawassul, mengapa orang tersebut tidak langsung ber- do’a kepada Allah swt. tanpa mohon kepada beliau saw. untuk mendo’akannya ?

4. Kisah Shahabat dan Ahlu Madinah Bertabaruk dengan makam Nabi (1)

Ad-Darami meriwayatkan: “Penghuni Madinah mengalami paceklik yang sangat parah. Mereka mengadu kepada Aisyah ra (ummul Mukminin). Aisyah mengatakan: ‘Lihatlah pusara Nabi ! Jadikanlah ia (pusara) sebagai penghubung menuju langit sehingga tidak ada lagi penghalang dengan langit’. Dia (perawi) mengatakan: Kemudian mereka (penduduk Madinah) melakukannya, kemudian turunlah hujan yang banyak hingga tumbuhlah rerumputan dan gemuklah onta-onta dipenuhi dengan lemak. Maka saat itu disebut dengan tahun ‘al-fatq’ (sejahtera)”. (Lihat: Kitab “Sunan ad-Darami” 1/56).

5. Kisah Shahabat dan Ahlu Madinah Bertabaruk dengan makam Nabi (2)

Hadits serupa diatas yang diriwayatkan secara berangkai dari Abu Nu’man dari Sa’id bin Zaid, dari ‘Amr bin Malik Al-Bakri dan dari Abul Jauza bin ‘Abdullah yang mengatakan sebagai berikut: “Ketika kota Madinah dilanda musim gersang hebat, banyak kaum muslimin mengeluh kepada isteri Rasulallah saw. ‘Aisyah ra. Kepada mereka ‘Aisyah berkata: ‘Datang-lah kemakam Nabi saw. dan bukalah atapnya agar antara makam beliau dan langit tidak terhalang apapun juga’. Setelah mengerjakan saran ‘Aisyah ra.itu turunlah hujan hingga rerumputan pun tumbuh dan unta-unta menjadi gemuk”. (ini menggambarkan betapa banyaknya hujan yang turun hingga kota Madinah menjadi subur kembali). (Kitab Sunan Ad-Daramy jilid 1/43)

6. Kisah Shahabat Bilal bin al-Harits al-Muzni dan Ahlu Madinah Bertabaruk dengan makam Nabi (3) dan bukti pengkafiran wahaby terhadap sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzni

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih dari Abu Salih as-Saman dari Malik ad-Dar –seorang bendahara Umar–. yang ber- kata: “Masyarakat mengalami paceklik pada zaman (kekhalifahan) Umar. Lantas seseorang datang kemakam Nabi saw. seraya berkata: ‘Ya Rasulullah mohonkan (kepada Allah swt) hujan untuk umatmu, karena mereka hendak binasa’. Kemudian didalam tidur bermimpi datanglah sese- orang dan berkata kepadanya: ‘Datangilah Umar’! Saif juga meriwayatkan hal tersebut dalam kitab al-Futuh; Sesungguhnya lelaki yang bermimpi tadi adalah Bilal bin al-Harits al-Muzni, salah seorang sahabat. (Lihat: Kitab Fathul Bari 2/577).

di atas adalah kitab fathul bary syarah sohih bukhary oleh ulama islam ahli sunnah wal jama’ah al-asya’irah iaitu imam syeikh ibnu hajar al-asqolany.

di atas pula adalah isi kandungannya dalam permulaan kitab tadi yang dicetak dengan nama 4 buat syarikat pencetakan menyatakan kitab tersebut telah di tahkik ( diletak nota ) oleh abdul aziz bin baz al-wahhabi.lihat line yang telah dimerahkan.

nah….inilah bukti bahawa bin baz mufti wahhabi dan kesemua wahhabi di malaysia mengkafirkan sahabat nabi muhammad: di atas adalah isi kandungan kitab tersebut yang ditambah nota kakinya oleh bin baz al-wahhabi dan kesemu wahhabi di malaysia memperakuinya.tertera pada line yang berwarna merah hadith nabi yang sahih dalam kitab fathul bary tersebut menyatakan bahawa sahabat nabi yang bernama bilal al-harith almuzany telah melakukan amalan tawassul iaitu meminta hujan dari allah bertawassulkan nabi dinamakan “istisqo’ “.

pada line yang berwarna biru pula adalah kenyataan rasmi bin baz al-wahhabi dan kesemua wahhabi malaysia mempersetujuinya dimana kenyataan tersebut amat jelas wahhabi mengkafirkan dan menghukum syirik sahabat nabi (bilal) kerana bertawassulkan nabi ketika ” istisqo’ “. dan perhatikan pada kenyataan wahhabi diatas: و ان ما فغله هذا الرجل منكر ووسيلة الى الشرك yang diertikan “sesungguhnya apa dilakukan oleh lelaki ini iaitu sahabat nabi muhammad (bilal) adalah satu-satunya pembawa syirik“. dan perhatikan pada ayat selepasnya lebih jelas wahhabi mengkafirkan sahabat nabi dan menghukum sahabat nabi muhammad (bilal) sebagai musyrik.

semoga allah memelihara kita dari terjatuh dalam kancah wahhabi atau yg seakidah dgn wahhabi.sekalipun nk didakwa wahhabi tak wujud didunia ini tapi kekufuran mereka masih menyebarkannya termasuk website mereka yg bertopengkan ahkam.

7. Kisah Shahabat Bilal bin al-Harits al-Muzni dan Ahlu Madinah Bertabaruk dengan makam Nabi (4)

Hadits lainnya yang semakna dengan hadits terakhir diatas ini tentang tawassul pada Rasulallah saw. dimuka makam beliau yaitu yang diketengah- kan oleh Al-Hafidz Abubakar Al-Baihaqy. Hadits itu diriwayatkan secara berangkai oleh para perawi: Abu Nashar, Ibnu Qatadah dan Abubakar Al-Farisy dari Abu ‘Umar bin Mathar, dari Ibrahim bin ‘Ali Adz-Dzihly, dari Yahya bin Yahya dari Abu Mu’awiyah, dari A’masy bin Abu Shalih dan dari Malik bin Anas yang mengatakan sebagai berikut:

“Pada zaman Khalifah Umar Ibnul Khattab ra. terjadi musim kemarau amat gersang. Seorang datang kemakam Rasulallah saw. kemudian berkata: ‘Ya Rasulallah, mohonkanlah hujan kepada Allah bagi ummat anda. Mereka banyak yang telah binasa’. Pada malam harinya orang itu mimpi didatangi Rasulallah saw. dan berkata kepadanya: ‘Datanglah engkau kepada ‘Umar dan sampaikan salamku kepadanya. Beritahukan dia bahwa mereka akan memperoleh hujan’. Katakan juga kepadanya: ‘Engkau harus bijaksana …bijaksana’ ! Kemudian orang itu segera menyampaikan berita mimpinya kepada Khalifah ‘Umar. Ketika itu ‘Umar berkata: ‘Ya Rabb (Ya Tuhanku), mereka mohon pertolongan-Mu karena aku memang tidak dapat berbuat sesuatu’ “.

Hadits itu isnadnya shohih. Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan-Nihayah jilid 1/91 mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 18 H. Ibnu Abi Syaibah juga mengetengahkan hadits itu dengan isnad shohih dari riwayat Abu Shalih As-Saman yang berasal dari Malik ad-Dariy, seorang bendaharawan (Khazin) pada zaman Khalifah Umar. Menurut Saif dalam kitabnya Al-Futuh orang yang mimpi didatangi Rasulallah saw. itu ialah sahabat Nabi saw. yang bernama Bilal bin Al-Harits Al-Muzny. Dalam kitab Fathul Bari jilid 11/415 Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits tersebut isnadnya shohih.

8.  Tawassul dengan hanya menyebut nama Rasulallah saw. (1)

Al-Haitsam bin Khanas meriwayatkan kesaksiannya sendiri sebagai berikut:

“Ketika aku datang kepada ‘Abdullah bin Umar ra.kulihat ada seorang yang menderita kejang kaki (kaku hingga tidak dapat berjalan). ‘Abdullah bin Umar berkata kepadanya: ‘Sebutlah orang yang paling kau cintai‘! Orang yang kejang itu berseru: ‘Ya Muhammad’ ! Saat itu juga aku melihat ia langsung dapat berjalan seperti orang yang terlepas dari belenggu “.

9. Tawassul dengan hanya menyebut nama Rasulallah saw. (2)

Imam Mujahid meriwayatkan hadits dari Abdullah bin ‘Abbas sebagai berikut:

“Seorang yang menderita penyakit kejang kaki datang kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas ra. Kepadanya ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata: ‘Sebutlah orang yang paling kau cintai !’ Orang itu lalu menyebut; ‘Muhammad saw’.! Seketika itu juga lenyaplah penyakitnya“. Ibnu Taimiyyah juga mengetengahkan riwayat ini dalam kitabnya Al-Kalimut-Thayyib bab 47 halaman 165.

10. Kisah Shahabat yang menyaksikan kisah  No. 2,  mengajarkan Tawassul ini Pada Masa Khalifah Utsman

Kisah ini telah dijelaskan pada hadits-hadits pada point B diatas.

D. Allah menjadikan Penolong-penolong bagi  Orang Beriman

Disamping itu, sesuatu yang menunjukkan diperbolehkannya tawassul/ istighotsah ialah, ijma’ kaum muslimin, dan begitu juga sejarah hidup orang-orang yang sezaman dengan Rasulallah saw. Kaum muslimin, sejak dahulu hingga sekarang, mereka bertawassul kepada para nabi dan orang-orang sholeh. Tidak ada seorang ulama pun yang memprotes dan mengharamkan, mensyirikkan perbuatan ini, kecuali golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya Begitu pun juga halnya dengan permintaan tolong kepada hamba Allah, tidak langsung kepada Allah swt., itu adalah mustahab.

1.  Allah swt. berfirman:

“Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”. (Q.S. 66:4)

Apakah kita benar-benar menyekutukan sesuatu kepada Allah ketika kita percaya bahwa Jibril as, orang beriman dan para malaikat yang juga bisa sebagai Maula (pelindung) kita dan Naseer (Penolong) bersama-sama dengan Allah ?

Jika kita tetap memakai pengertian Syirik sebagaimana pendapat golongan pengingkar maka kita secara otomatis telah membuat Allah sendiri Musyrik (Na‘udzubillah) dan begitu pula dengan orang-orang yang percaya terhadap seluruh ayat Al-Quran. Dan masih banyak firman Allah swt. yang mengatakan selain Dia ada hamba-hamba-Nya yang bisa menolong.

1. Hadits Rasulallah saw.:

وَاللهُ فِى عَوْنِ العَبْدِ مَاكَانَ العَبْدُ فِى عَوْنِِ أخِيْهِ

Allah menolong hamba-Nya selagi hamba itu mau menolong saudaranya”. (HR Muslim, Abu Daud dan lainnya.

2. Hadits :

إنَّ لِلَّهِ خلْـقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ يَفْزَعُ النَّاسُ إلَيْهِمْ فِي حَوَائِجِهِمْ واُولاَئِـكَ الآمِنُوْنَ مِنْ عَذَابِ اللهِ

“Allah mempunyai makhluk yang diciptakan untuk keperluan orang banyak. Kepada mereka itu banyak orang yang minta pertolongan untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka adalah orang-orang yang selamat dari siksa Allah”.

3. Sebuah riwayat dari ‘Abdullah bin Abbas ra. mengatakan bahwa Rasulallah saw. bersabda:

“Banyak Malaikat Allah dimuka bumi selain yang bertugas mengawasi amal perbuatan manusia. Mereka mencatat setiap lembar daun yang jatuh dari batangnya. Karena itu jika seorang diantara kalian tersesat ditengah sahara (atau tempat lainnya), hendaklah ia berseru: ‘Hai para hamba Allah tolonglah aku’ “. (HR.At-Thabrani dengan para perawi yang terpercaya).

4. ‘Abdullah bin Mas’ud ra meriwayatkan, bahwa Rasulallah saw. pernah bersabda:

“Jika seorang diantara kalian ternak piaraannya terlepas ditengah sahara, hendaklah ia berseru: ’Hai para hamba Allah, tahanlah ternakku…hai para hamba Allah tahanlah ternakku’. Karena sesungguhnya Allah mempunyai makhluk (selain manusia) dimuka bumi yang siap memberi pertolongan”. (HR. Abu Ya’la dan At-Thabarani dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya, kecuali satu orang yang dipandang lemah yaitu Ma’ruf bin Hasan). Imam Nuruddin ‘Ali bin Abubakar Al-Haitsami juga mengetengahkan riwayat ini dalam Majma’uz-Zawaid Wa Manba’ul-Fuwa’id jilid X/132.

  1. ‘Utbah bin Ghazwan mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulallah saw. bersabda:

“Jika seorang dari kalian kehilangan sesuatu atau ia mem- butuhkan bantuan, saat ia berada didaerah dimana ia tidak mempunyai kenalan, maka ucapkanlah; ’Hai para hamba Allah, tolonglah aku’, karena sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba (makhluk-makhluk ciptaan-Nya selain manusia) yang tidak kita lihat”. Dan ‘Utbah sendiri telah mencoba melaksanakan anjuran Rasulallah saw. ini !

Riwayat diatas ini diketengahkan oleh At-Thabarani dengan para perawi yang dapat dipercaya, kecuali Yazid bin ‘Ali yang oleh At-Thabarani di pandang lemah, karena Yazid ini tidak hidup sezaman dengan ‘Utbah. Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat lain yang tidak kami cantumkan disini.

Hadits-hadits diatas ini juga menunjukkan permintaan tolong kepada hamba Allah yang tidak kelihatan (ghoib), tidak langsung minta tolong kepada Allah!

Apakah orang yang minta pertolongan pada hamba Allah tidak langsung kepada Allah swt. disebut ‘musyrik atau durhaka’?

Jadi sekali lagi permintaan tolong/istighotsah itu bukan berarti berbuat ke kufuran apa pun kecuali jika disertai keyakinan sebab utama pertolongan bukan dari Allah swt. melainkan dari orang yang dimintai tolong itu sendiri. Kita harus mempunyai keyakinan bahwa orang yang mohon pertolongan itu adalah upaya/iktisab sedangkan yang dimintai pertolongan itu hanya sekedar washithah.

Begitupun juga soal minta syafa’at kepada Nabi atau kepada para waliyullah atau kepada orang shaleh yang telah wafat. Namun kita tidak boleh mempunyai keyakinan bahwa Nabi, para waliyullah dan orang-orang shalih yang telah wafat tersebut dapat memberi syafa’at tanpa seizin Allah swt. Kaum muslimin juga percaya bahwa yang mohon syafa’at itu adalah ‘upaya/ iktisab’ sedangkan yang diminta syafa’at adalah ‘washithah’, tidak lebih dari itu !!

E. Muhammad Ibnu Abdul Wahhab  (Imamnya madzhab Wahabi) tidak mengingkari tawassul

Muhammad Ibnu Abdul Wahhab adalah orang yang sering menolak atau mengharamkan tawassul, tetapi anehnya atas pertanyaan yang diajukan kepadanya, menjawabnya dalam kitab Al-Istifta: “Tidak ada salahnya orang bertawassul kepada orang-orang sholeh”. Lebih lanjut dia mengatakan, ‘bahwa pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang memperbolehkan tawassul khusus kepada Nabi Muhammad saw. saja, berlainan sekali dengan pendapat sementara orang yang tidak memperbolehkan minta pertolongan kepada sesama makhluk’.

Muhammad Ibnu Abdul Wahhab berpendapat, bahwa persoalan tersebut adalah persoalan Fiqh. Ia mengatakan: ‘Banyak ulama yang tidak menyukai hal itu (tawassul). Kalau kami sependapat dengan jumhurul-ulama yang memandang tawassul itu makruh, tidaklah berarti bahwa kami mengingkari atau melarang orang bertawassul. Kami pun tidak mempersalahkan orang yang melakukan ijtihad mengenai soal itu. Yang kami ingkari dan tidak dapat kami benarkan ialah orang yang lebih banyak minta (berdo’a) kepada sesama makhluk daripada mohon kepada Allah swt. Yang kami maksud ialah orang yang minta-minta kepada kuburan, seperti kuburan Syeikh Abdul Kadir Al-Jailani dan lain-lain. Kepada kuburan-kuburan itu mereka minta supaya diselamatkan dari bahaya, minta supaya dipenuhi keinginannya dan lain sebagainya’ “. Demikianlah antara lain yang dikatakan oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dalam Majmu’atul-Muallafat bagian 111 halaman 68, yang diterbitkan oleh ‘Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa’ud’ dalam pekan peringatan Muhammad Ibnu ‘Abdul-Wahhab.

F. Para Nabi Hakikatnya Hidup didalam Kuburnya

Jelaslah bagi golongan yang mau berpikir, sekalipun Rasulallah saw. telah wafat namun ketinggian martabatnya, kemuliaan kedudukannya dan segala keutamaannya masih tetap disisi Allah swt. Dan pujian-pujian, tawassul serta salam pada beliau saw. selalu sampai kepadanya. Tidak lain semua itu dalam usaha mendekatkan diri pada Allah swt. pada hakekatnya berdasar- kan keyakinan akan kebenaran ayat-ayat Allah dan Sunnah Nabi saw.

  1. Hadits  yang dikemukakan oleh Al-Hafidz Ismail Al-Qadhi dalam kitabnya tentang shalawat kepada Nabi Muhammad saw. dan Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id dan menilainya sebagai hadits shohih sebagai berikut:

حَياَتيِ خَيْرُْ لَّكُمْ فَاِذَا أَنَامِتُّ كَانَتْ وَفَاتِى خَيْرًا لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَىَّ أَعْمَالَكُم

فَاِنْ رَأَيْتُ خَيْرًا حَمِدْتُ الله وَأِنْ رَأَيْتُ شَرًّا اسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ

“Hidupku didunia ini baik untuk kalian. Bila aku telah wafat, maka wafatku pun baik bagi kalian. Amal perbuatan kalian akan diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat sesuatu baik, kupanjatkan puji syukur kehadirat Allah, dan jika aku melihat sesuatu yang buruk aku mohon kan ampunan kepada-Nya bagi kalian”.

2. Juga sabda beliau saw. yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah ra :

مَا مِنْ اَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ.

“Setiap salam yang disampaikan kepadaku oleh seseorang, Allah akan menyampaikan kepada ruhku agar aku menjawab salam itu”.(HR.Imam Ahmad bin Hambal dan Abu Dawud). Imam Nawawi mengatakan hadits ini isnadnya shohih.

3. ‘Ammar bin Yasir ra meriwayatkan, bahwasanya Rasulallah saw bersabda:

قاَلَ رَسُولُ اللهِ.صَ. اِنَّ اللهَ وَكَّلَ بِقَبْرِى َملَكاً أَعْطاَهُ اللهُ أَسْماَء الْخَلآِئقِ،

فَلآ يُصَلِّى عَلَىَّ اَحَدًا أِلىَ يَوْمِ الْقِياَمَةِ أِلآّ أَبْلَغَنِى بِاِسْمِهِ وَاسْمِ أَبِيْهِ،

هَذَا فُلآنُ اِبْنُ فُلآنُ قَدْ صَلَّى عَلَيْكَ

“Allah mewakilkan Malaikat didalam kuburku. Kepadanya Allah memberikan nama-nama seluruh umat manusia. Karena itu hingga hari kiamat kelak setiap orang yang mengucapkan shalawat kepadaku pasti akan disampaikan oleh Malaikat itu nama dan nama ayahnya: si Fulan bin si Fulan telah mengucapkan shalawat kepada anda”. (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazar. Dalam riwayat Abu Syaikh Ibnu Hibban disampaikan dalam kalimat agak berbeda tetapi sama maknanya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Thabarani dan lain-lain.)

Dari semua hadits tersebut jelas buat kita bahwa Rasulallah saw. dialam barzakh senantiasa menjawab setiap salam yang disampaikan oleh ummat-nya kepada beliau saw. Salam artinya keselamatan, dengan demikian terang lah bahwa Rasulallah saw. selalu berdo’a keselamatan dan ampunan untuk ummatnya.

4. Anas Ra. Meriwayatkan hadits :

“Semua para nabi adalah hidup didalam kubur dan mereka melakukan shalat (HR. Imam Baihaqi dalam kitabnya Hayati Anbiya (Nabi-nabi hidup dalam kuburnya). Allamah Juga meriwayatkan hadits ini dari berbagai isnad.

5. Hadits Riwayat Muslim, Dari Anas ra. Bahwasanya  Rasulullah SAW bersabda :

“Pada malam mi’raj, daku melewati Nabi Musa as. Dan melihatnya shalat didalam kuburnya.”

6. Hadits Riwayat Muslim, mengenai berjumpanya nabi Muhammad dengan para Nabi pada waktu isra mi’raj.

Bahwasanya  Rasulullah SAW bersabda : “Daku Nampak sendiri sekumpulan Nabi-nabi dan melihat Nabi Ibrahim dan nabi Isa As. Sedang shalat di dalam keadaan berdiri”.

7. Imam Suyuti Rah. Juga menulis Kitab tentang Hidupnya para nabi di dalam kuburnya. (KitabFadhilah Shalawat Syaikhul Hadits Maulana zakariyya Halaman 16).

G. Diantara dalil-dalil orang yang membantah serta jawabannya

Lebih mudahnya marilah kita baca sanggahan Imam Syaukani terhadap orang yang melarang Tawassul dengan makhluk atau sesama manusia dalam berdo’a memohon sesuatu kepada Allah swt., berikut ini:

Imam Syaukani dalam Ad-Durr An-Nadhiid Fi Ikhlashi Kalimatit Tauhid mengatakan:

“Syeikh ‘Izuddin Ibnu ‘Abdussalam telah menegaskan: ‘Tawassul yang diper- bolehkan dalam berdo’a kepada Allah hanyalah tawassul dengan Nabi Muhammad saw., itupun kalau hadits yang mengenai itu shohih’.

Asy-Syaukani selanjutnya berkata, mungkin hadits yang dimaksud oleh Syeikh ‘Izuddin ialah hadits mengenai soal tawassul yang dikemukakan oleh An-Nasai dalam Sunan-nya, At-Tirmudzi dan dipandang shohih olehnya oleh Ibnu Majah dan lain-lain, yaitu ‘sebuah hadits yang meriwayatkan adanya seorang buta datang menghadap Nabi Muhammad saw…’. (baca hadits ‘Utsman bin Hunaif yang telah kami kemukakan—pen). Mengenai soal itu ada dua pendapat:

Pendapat pertama: Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Umar bin Khattab ra. (dalam shohih Al-Bukhori dll.), yaitu setelah Rasulallah saw. wafat, tiap musim gersang atau paceklik ia bersama kaum Muslimin berdo’a kepada Allah swt. mohon diturunkan hujan (istisqa) dengan bertawassul pada paman Nabi saw., yaitu ‘Abbas bin Abdul Mutthalib.

Pendapat kedua : Bertawassul dengan Nabi Muhammad saw. diperkenan- kan baik dikala beliau saw. masih hidup maupun setelah wafat, dihadapan beliau mau pun tidak sepengetahuan beliau saw. Mengenai tawassul dengan Rasulallah saw. dikala hidupnya, tidak ada perbedaan pendapat. Adapun mengenai tawassul dengan pribadi orang selain beliau saw. setelah beliau wafat, hal ini disepakati bulat oleh para sahabat Nabi secara diam-diam.

Tidak seorang pun dari para sahabat Nabi yang mengingkari atau tidak mem benarkan prakarsa Khalifah Umar ra. untuk bertawassul dengan paman Nabi saw. yaitu ‘Abbas ra.. Saya (Imam Syaukani) berpendapat: ‘bahwa tawassul diperkenankan tidak hanya khusus pada pribadi Rasulallah saw. sebagai- mana yang dikatakan oleh Syeikh ‘Izuddin. Mengenai soal itu ada dua alasan (dalil/hujjah).

Pertama: Telah disepakati bulat oleh para sahabat Nabi saw, yaitu sebagai- mana dikatakan dalam hadits ‘Umar bin Khattab ra’.

Kedua: Tawassul pada para ‘ahlul-fadhl’ (pribadi-pribadi utama dan mulia) dan para ahli ilmu (para ulama), pada hakekatnya adalah tawassul pada amal kebajikan mereka. Sebab, tidak mungkin dapat menjadi ‘ahlul-fadhl’ dan ‘ulama’, kalau mereka itu tidak cukup tinggi amal kebajikannya. Jadi kalau orang berdo’a kepada Allah swt. dengan mengucap: ‘Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bertawassul kepada orang alim yang bernama Fulan…., itu telah menunjukkan pengakuannya tentang kedalaman ilmu yang ada pada orang ‘alim yang dijadikan washilah. Hal ini dapat dipastikan kebenarannya berdasarkan sebuah hadits dalam Shohih Bukhori dan Shohih Muslim tentang hikayat tiga orang dalam goa yang terhambat keluar karena longsornya batu besar hingga menutup rapat mulut goa. Mereka kemudian berdo’a dan masing-masing bertawassul dengan amal kebajikannya sendiri-sendiri. Pada akhirnya Allah mengabulkan do’a mereka dan terangkatlah batu besar yang menyumbat mulut goa.

Lebih jauh Asy-Syaukani mengatakan: ‘Kalau bertawassul dengan amal ke bajikan tidak diperkenankan atau merupakan perbuatan syirik, sebagai- mana dikatakan oleh Syeikh ‘Izuddin dan para pengikutnya; Tentu Rasul- Allah saw. tidak akan menceriterakan hikayat tersebut diatas, dan Allah tidak akan mengabulkan do’a mereka bertiga’.

1. Para penentang tawassul berhujjah: (Tulisan yang di TEBALkan adalah tambahan dari penulis, bukan dari kitab asyaukani)

Nash-nash Al-Qur’an yang dijadikan hujjah/dalil untuk tidak membenarkan tawassul dengan para ahli takwa dan orang-orang sholeh seperti firman-firman Allah swt.:

“Kami tidak menyembah mereka (berhala-berhala) kecuali untuk men- dekatkan diri kami sedekatnya dengan Allah”.(Az-Zumar : 3)

َلاَ تَدْعُوْا مَعَ اللهِ اَحَدًا

“…Maka janganlah kalian berdo’a kepada Allah (dengan) menyertakan seseorang”. (Al-Jin:18)

لَهُ دَعْوَةُ اْلحَقُّ وَالّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ لآيَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُمْ بِشَيْءٍ

Hanya Allah lah (yang berhak mengabulkan) do’a yang benar. Apa-apa juga yang mereka seru selain Allah tidak akan dapat mengabulkan apapun juga bagi mereka.” (Ar-Ra’ad : 14)

Jawaban :

Ayat-ayat diatas dan ayat-ayat lainnya tidak pada tempatnya dijadikan hujjah bagi persoalan itu. Bahkan ayat-ayat tersebut oleh mereka hanya dijadikan dalil untuk memperuncing perselisihan pandangan. Sebab, ayat-ayat suci tersebut pada hakekatnya adalah larangan menyekutukan Allah swt. Sedangkan soal tawassul sama sekali buka soal menyembah sesuatu selain Allah. Ayat-ayat tersebut ditujukan kepada mereka yang tidak berdo’a kepada Allah swt., sedangkan orang yang bertawassul berdo’a hanya kepada Allah swt. tidak berdo’a kepada sesuatu yang mereka sekutukan dengan Allah !

2. Juga golongan pengingkar ini berhujjah/berdalil pada firman Allah swt. :

وَمَا اَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّ يْنِ ثُمَّ مَا اَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّ يْن يَوْمَ لآ تَمْلِكُ َنفْسُْ لِنَفْسٍ  شَيئًا وَالأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

“Tahukah engkau, apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah engkau, apakah hari pembalasan itu? Yaitu hari pada saat seseorang tidak berdaya sedikitpun menolong orang lain; dan segala urusan pada hari itu berada di dalam kekuasaan Allah” (Al-Infithar:17-19)

Jawaban :

Ayat suci tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk mengingkari kebenaran tawassul, karena orang yang bertawassul dengan Nabi, ulama yang sholeh dan ahli taqwa, sama sekali tidak mempunyai pikiran atau keyakinan bahwa Nabi, ulama yang sholeh, ahli taqwa atau waliyullah yang mereka jadikan washilah, itu akan menjadi sekutu Allah atau menyaingi kekuasaan-Nya pada hari pembalasan ! Setiap muslim tahu benar bahwa keyakinan seperti itu adalah sesat.

3. Pihak-pihak yang melarang tawassul pada Nabi Muhammad saw. juga meng gunakan firman-firman Allah dibawah ini sebagai dalil:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِشَئُْ

Tidak ada sedikitpun campur tanganmu (hai Muhammad) dalam urusan mereka (kaum musyrikin)”. (Ali Imran : 128)

Dan firman-Nya lagi : قُلْ لآ اََمْلِكُ لِنَفْسِى نَقْعًا وَلآ ضَرًّا

Katakanlah (hai Muhammad): ‘Aku tidak berkuasa mendatangkan ke manfaatan bagi diriku, dan tidak pula berkuasa menolak kemadharatan”. (Al-A’raf : 188)

Jawaban :

Itu pun tidak pula pada tempatnya, karena Allah swt. telah mengaruniakan kedudukan (maqam) terpuji dan tertinggi kepada Rasulallah saw. yaitu kewenangan memberi syafa’at seizin Allah. Demikian pula pernyataan beliau saw. kepada kaum kerabatnya, beberapa saat setelah beliau menerima wahyu Ilahi, ‘dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat’ (Asy-Syu’ara : 214), yaitu: ‘Hai Fulan bin Fulan dan hai Fulanah binti Fulan, di hadapan Allah aku (Muhammad saw.) tidak dapat memberi pertolongan apa pun kepada kalian…!

Pernyataan Rasulallah saw. itu tidak berarti lain kecuali bahwa beliau tidak berdaya menangkal madharat/malapetaka yang telah dikenakan Allah kepada seseorang dan beliau saw. pun tidak berdaya menolak manfaat yang telah diberikan Allah swt. kepada seseorang, sekalipun orang itu kerabat beliau sendiri.

Pengertian itu tidak ada kaitannya dengan tawassul. Karena orang yang bertawassul tetap memanjatkan do’anya kepada Allah swt. Bertawassul kepada Rasulallah saw. dalam berdo’a tidak berarti lain kecuali mengharap- kan syafa’at beliau agar Allah swt. berkenan mengabulkan do’a dan per- mohonan yang diminta. Adapun soal terkabulnya suatu do’a atau tidak, sepenuhnya berada didalam kekuasaan Allah swt.”. Demikianlah garis besar pandangan Imam Asy-Syaukani mengenai soal tawassul.

https://salafytobat.wordpress.com/2008/08/14/dalil-nabi-muhammad-bertawasul-dengan-para-nabi-alaihissalam/

Membantah fitnah wahhaby 3-b : Allah bukan jisim (Tangan – wajah- kaki- jari dsb)

Membantah fitnah wahhaby 3-b : Allah bukan jisim (Tangan – wajah- kaki- jari dsb)

A. Daftar Pertanyaan menggugurkan aqidah tajsim wahhaby

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah untuk membantah aqidah sesat wahhaby, yang mana mereka hanya mengambil makna dhahir dari ayat dan hadits mutasyabihat sehingga mereka mensifatkan Allah dgn sifat makhluq. Pertanyaan ini akan terjawab jika membaca keseluruhan artikel ini. insyaAllah.

1.  Apakah Tuhan wahaby  SAKIT dan LUPA?

apakah kalian masih bersikeras menggunakan makna dhahir pada ayat/hadist mutasyabihat ini ?

– ”Nasuullaha fanasiahum” (QS Attaubah:67),

Artinya : Mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka (QS Attaubah:67),

– ”Innaa nasiinaakum” (QS Assajadah 14).

Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman :

”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)

Artinya : (sungguh kami telah lupa pada kalian ( QS Assajadah 14).

2. Dalam hadits shahih muhakamat disebutkan bahwa Allah ada tanpa arah (atas atupun bawah), kenapa kalian mengingkarinya?

Allah ada tanpa arah adalah aqidah shahih yang didukung oleh banyak ayat dan hadist muhkamat. Al Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-
Shifat, hlm. 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam
menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah
shalllallahu ‘alayhi wa sallam:

kitab aqidah arab 3Maknanya: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).
Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.

3. Manakah yang berjarak lebih dekat ke ‘arsy : seseorang dalam keadaan berdiri atau sujud?

Wahhaby punya keyakinan bahwa Tuhan bersemayam di ‘arsy. Coba kalian pikirkan, manakah yang berjarak lebih dekat ke ‘arsy : seseorang dalam keadaan berdiri atau sujud? Sudah tentu berdiri lebih dekat ke ‘arsy. Jadi apabila kalian berpendapat bahwa Allah bersemayam di ‘arsy, maka dimanakah hadits yang mengatakan, “Paling dekatnya kedudukan seorang hamba dengan Tuhannya adalah apabila dia dalam keadaan sujud”.

4. Dimanakah Allah sebelum diciptakannya semua makhluq (Tempat, arah, arsy dsb) ? setelah Allah ciptakan semua makhluq (langit,arsy,arah,tempat dsb), dimanaallah? Apakah sifat dzat Allah berubah?

Sebelum Allah ciptakan semua makhluq (zaman azali)…..
semua makhluq tidak ada (langit,arsy,tempat, ruang,arah,cahaya, atas,bawah….semua makluq tdk ada,karena Allah blm ciptakan…..) pada saat itu dimana Allah?

dan setelah Allah ciptakan semua makhluq (langit,arsy,arah,tempat dsb), dimana allah?

Ingat : Sifat allah tetap tdk berubah..sifat allah tdk sama dgn makhluq. Maka orang yang mengatakan tuhan bertempat dan berarah menyalahi sifat wajib salbiyah Allah.

Sifat Salbiyah :Sifat yang digunakan untuk menolak sesuatu yang tidak patut untuk dinisbahkan kepada Allah. Ada 5 sifat yaitu :

–          Wahdaniyah/esa (Allah tidak banyak atau tidak terpecah-pecah (ada tuhan yg dilangit, ada tuhan yang di arsy, ada tuhan yang di sorga, ada tuhan yang di baitullah dsb))

–          Qidam/ada sebelum semua makhluq ada (Allah Ada sebelum tempat dan arah ada)

–          Baqo /kekal (Allah kekal sedangkan langit akan di gulung/hancurkan)

–          Mukhalafatu lil hawaditsi/berbeda dgn makhluq (Allah beda dgn makhkuq, sedangkan yang bertempat dan berarah  adalah benda kasar/makhluq)

–          Qiyamuhu binafsihi /tidak memerlukan apapun( Allah tidak memerlukan tempat/arsy dsb)

5. Kenapa kalian solat masih hadap kekiblat, katanya Allah diatas?

ingat Langit Hanyalah kiblat Do’a….bukan tempat bersemayam Allah….ingat : Allah ada tanpa tempat dan arah.

6. Manakah arah ATAS yang kalian maksud? Tunjukan?

Bumi ini Bulat dan tidak ada arah atas bagi benda yang bulat,

Arah atasnya orang di Indonesia adalah arah bawahnya Orang yang ada di Negara Amerika, dan sebaliknya.

7. Apakah Tuhan-Mu bergelantungan di langit pertama setiap saat?

Kalian katakan pada sepertiga malam Allah dilangit pertama bukan diatas arsy, padahal waktu bergulir setiap saat. Jika di Indonesia tengah Malam maka di Amerika adalah siang hari.

8. Makna zahir mana yg mereka katakan “menerima secara zahir” ??

wahabi katakan :
“Allah punya Tangan tetapi beda dengan tangan Makhluk”

Mereka katakan mereka menerima secara zahir,lalu mereka katakan lagi bahwa yg zahir itu beda dengan zahirnya makhluk….
kami bertanya :
lalu makna zahir mana yg mereka katakan “menerima secara zahir” ??

Inilah akidah akal akalan mereka tak ada satu orangpun salaf al shalih yg berakal seperti ini.

9. Dimanakah Tuhan kalian:  apakah di langit pertama (lihat hadis nuzul), di langit (surat al mulk),  diatas arsy (lihat surat ar’ad), menempel/menyatu dengan orang beriman (lihat surat albaqarah), dimana-mana/disemua arah, tanpa tempat (hadis zaman azali)?

Jika menggunakan makna dhahir ayat dan hadist maka tidak akan bisa menjawabnya dan terjerumus dalam tasybih (penyerupaan kepada makhluq).

Ta’wil disni  berarti menjauhkan makna dari segi zahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah, ini kerana zahir makna nas al-Mutasyabihat tersebut mempunyai unsur jelas persamaan Allah dengan makhluk. Dalil melakukan ta’wil ayat dan hadis  mutasyabihat:

Rasulullah berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa:

dalil ta'wil ibnu abbas

Maknanya: “Ya Allah alimkanlah dia hikmah dan takwil Al quran” H.R Ibnu Majah. (Sebahagian ulamak salaf termasuk Ibnu Abbas mentakwil ayat-ayat mutasyabihah)

dan selanjutanya lihat : Membantah fitnah wahhaby 3-a : Allah ada tanpa tempat bukan di arsy/langit/arah atas

https://salafytobat.wordpress.com/2009/06/20/membantah-fitnah-wahhaby-3-a-allah-ada-tanpa-tempat-bukan-di-arsylangitarah-atas/

A. Tafsir Ayat Mutasyabihat  TANGAN

Allah SWT telah berfirman dalam Adzariyat : 47

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ

Artinya : ” Dan langit, kami membinanya dengan Tangan(Kekuasaan)  Kami….” (Qs adzariyat ayat 47)

Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud lafadz  ِبأَيد  (biaidin) adalah “dengan  kekuasaan“, bukan maksudnya tangan yang merupakan anggota badan (jarihah) kita, karena Allah maha suci darinya.

Lihat rujukan dalam kitab Tafsir mu’tabar :

Dalam Tafsir Qurtuby:

لَمَّا بَيَّنَ هَذِهِ الْآيَات قَالَ : وَفِي السَّمَاء آيَات وَعِبَر تَدُلّ عَلَى أَنَّ الصَّانِع قَادِر عَلَى الْكَمَال , فَعَطَفَ أَمْر السَّمَاء عَلَى قِصَّة قَوْم نُوح لِأَنَّهُمَا آيَتَانِ . وَمَعْنَى ” بِأَيْدٍ ” أَيْ بِقُوَّةٍ وَقُدْرَة . عَنْ اِبْن عَبَّاس وَغَيْره .

Dalam  Tafsir Thobary :

الْقَوْل فِي تَأْوِيل قَوْله تَعَالَى : { وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } يَقُول تَعَالَى ذِكْرُهُ : وَالسَّمَاء رَفَعْنَاهَا سَقْفًا بِقُوَّةٍ . وَبِنَحْوِ الَّذِي قُلْنَا فِي ذَلِكَ قَالَ أَهْل التَّأْوِيل . ذِكْرُ مَنْ قَالَ ذَلِكَ : 24962 – حَدَّثَنِي عَلِيّ , قَالَ : ثنا أَبُو صَالِح , قَالَ : ثني مُعَاوِيَة , عَنْ عَلِيّ , عَنِ ابْن عَبَّاس , قَوْله : { وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } يَقُول : بِقُوَّةٍ.

Dalam Tafsir Jalalain

Biquwati  (وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ)

Lafadz BI AIDIN artinya DENGAN KEKUTAN-NYA

kemudian dalam surat Al-Fath : 10

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ……………

firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10), dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbai’at pada sahabat.

Dalam Tafsir Qurtubi

Al-Qurthubi telah menukil pendapat Ibn Kisan sbb :

قِيلَ : يَده فِي الثَّوَاب فَوْق أَيْدِيهمْ فِي الْوَفَاء , وَيَده فِي الْمِنَّة عَلَيْهِمْ بِالْهِدَايَةِ فَوْق أَيْدِيهمْ فِي الطَّاعَة . وَقَالَ الْكَلْبِيّ : مَعْنَاهُ نِعْمَة اللَّه عَلَيْهِمْ فَوْق مَا صَنَعُوا مِنْ الْبَيْعَة . وَقَالَ اِبْن كَيْسَان : قُوَّة اللَّه وَنُصْرَته فَوْق قُوَّتهمْ وَنُصْرَتهمْ

Dalam At-Thobary

وَفِي قَوْله : { يَد اللَّه فَوْق أَيْدِيهمْ } وَجْهَانِ مِنْ التَّأْوِيل : أَحَدهمَا : يَد اللَّه فَوْق أَيْدِيهمْ عِنْد الْبَيْعَة , لِأَنَّهُمْ كَانُوا يُبَايِعُونَ اللَّه بِبَيْعَتِهِمْ نَبِيّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ; وَالْآخَر : قُوَّة اللَّه فَوْق قُوَّتهمْ فِي نُصْرَة رَسُوله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , لِأَنَّهُمْ إِنَّمَا بَايَعُوا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نُصْرَته عَلَى الْعَدُوّ.

B. Tafsir Ayat Mutasyabihat  WAJAH,

1. MAKNA LAFADZ “WAJH-ALLAH”

al baqarah 115

Kemanapun engkau menghadap maka akan kamu dapati WAJAH ALLAH (KIBLAT ALLAH ) (QS albaqarah 115).

Lafadz mutasyabihat WAJAH ALLAH  tidak boleh diartikan secara dhahir, tapi dimaknai dengan “KIBLAT ALLAH”

sebagaimana disebutkan dalam tafsir alqur’an yang mu’tabar.

2. MAKNA LAFADZ “WAJHAHU”

WAJHAHU

artinya : “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya”

Maknalafadz illa wajhahu (kecuali wajah-Nya), al Imam al Bukhari berkata: “kecuali sulthan (tasharruf  atau kekuasaan-) Allah”.

Al Imam Sufyan ats-Tsauri mengatakan: “…Kecuali amal shaleh yang dilakukan hanya untuk mengharap ridla Allah”.

Wahhaby manapun mengakui tafsiran Imam Bukhary, tapi malangnya mereka malah menentang bahkan mengkafirkan Imam Bukhary. Lihat bukti pengkafiran Nashiruddin Al-bany terhadap Imam Bukhary Rah. :

AL-ALBAANY MENGKAFIRKAN IMAM BUKHARY


بيان الحق وكشف أهل الضلال

بسم لله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين,
المنـزه عن الشبيه والمثيل والزوجة والولد والإخوان، الموجود بلا جهة ولا مكان، المنـزه عن كل ما لا يليق به من الصفات والنعوت، والملك القهار ذي الجلال والجبروت، وأفضل الصلاة وأتم السلام على سيدنا محمد خير الأنام، وخاتم أنبياء الإسلام، وعلى ءاله الطاهرين، وصحبه الغر الميامين، ومن اتبع منهاجهم واقتفى أثرهم إلى يوم الدين.ـ”قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “حتى متى ترعون عن ذكر الظالم اذكروه بما فيه حتى يحذره الناس

Antara Fatwanya lagi, mengingkari takwilan Imam Bukhari. Sesungguhnya Imam Bukhari telah mentakwilkan Firmanallah :

 

 

 

كل سيء هالك إلا وجههقال البخاري بعد هذه الأية : أي ملكه

artinya : “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya”

Maknalafadz illa wajhahu (kecuali wajah-Nya), al Imam al Bukhari berkata: “kecuali Kekuasaannya (tasharruf  atau kekuasaan-) Allah”.

Tetapi Al-Albaany mengkritik keras takwilan ini lalu berkata :
(( هذا لا يقوله مسلم مؤمن ))

” Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang Muslim yang beriman “. Lihatlah kitab (( Fatawa Al-Albaany )) m/s 523.

Tentang takwilan Imam Bukhari ini adalah suatu yang diketahui ramai kerana jika dilihat pada naskhah yang ada pada hari ini tidak ada yang lain melainkan termaktub di sana takwilan Imam Bukhari terhadap ayat Mutasyabihat tadi. Di samping itu juga, ini adalah antara salah satu dalil konsep penakwilan nusush sudah pun wujud pada zaman salaf (pendetailan pada pegertian makna).

3. Melihat Dzat Allah di Sorga

kitab aqidah arab 15Al Imam Abu Hanifah –semoga Allah meridlainya- dalam kitabnya al Washiyyah berkata yang maknanya: “Bahwa penduduk surga melihat Allah ta’ala adalah perkara yang haqq (pasti terjadi) tanpa (Allah) disifati dengan sifat-sifat benda, tanpa menyerupai makhluk-Nya dan tanpa (Allah) berada di suatu arah”.

Ini adalah penegasan al Imam Abu Hanifah –semoga Allah meridlainya– bahwa beliau menafikan arah dari Allah ta’ala dan ini menjelaskan kepada kita bahwa ulama salaf mensucikan Allah dari tempat dan arah.

4. Mengaharapkan “wajah Allah” bermakna “mengharapkan pahala/ridho Allah

wa maa tunfiquuna illabtighaa-a wajhillah

“Dan Janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena Keridhoan Allah ” (Al-Baqarah 272).

Dalam tafsir jalalain disebutkan : (illabtighaa-a wajhillah) mengharapkan ganjaran dari Allah saja bukan selainnya dari kekayaan  dunia.

C. Tafsir Hadits  Mutasyabihat  KAKI,  TELINGA, MATA, TANGAN (PANCA INDERA)

hadits qudsiy yg mana Allah berfirman :

”Barangsiapa memusuhi waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku dengan hal hal yg fardhu, dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan menjadi matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia gunakan untuk memerangi, dan menjadi kakinya yg ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya….” (shahih Bukhari hadits no.6137)
Maka hadits Qudsiy diatas tentunya jelas jelas menunjukkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan panca indera lainnya, bagi mereka yg taat pada Allah akan dilimpahi cahaya kemegahan Allah, pertolongan Allah, kekuatan Allah, keberkahan Allah, dan sungguh maknanya bukanlah berarti Allah menjadi telinga, mata, tangan dan kakinya.

D. Tafsir Hadits Mutasyabihat MEMBUKA TANGAN

Dari Abu Musa Ra. Dari Nabi Saw., Beliau besrabda : “Sesungguhnya Allah ‘aza wa jalla membuka lebar-lebar tangan-Nya (rahmat-Nya) pada malam hari agar orang-orang yang berbuat jahat disiang hari bertaubat dan Allah ‘aza wa jalla membuka lebar-lebar tangan-Nya (rahmat-Nya) pada siang hari agar orang-orang yang berbuat jahat dimalam hari bertaubat” (HR. Muslim, bab diterimanya taubat dari dosa-dosa…, Hadits No 6989 ).

Lafadz “yabsuthu yadahu” bermakna membuka lebar-lebar RAHMATNYA , jadi tidak diartikan secara dhahir : membuka lebar-lebar tangannya. (Syaikhul hadits Maulana Yusuf Rah, Muntahab hadits, Bab Ilmu disertai dzikir hadist nomor 176, Pustaka Ramadhan, Bandung)

E. Tafsir HADITS Mutasyabihat BERJALAN, BERLARI

Allah berfirman dalam hadis qudsi : “Jika hambaku datang mendekatiku dengan berjalan, makaAku akan mendekatinya dengan berlari” (hadis riwayat tabrani,  al bazzar, al baihaqi, ibnu majah, ibnu hibban dan lainnya)

maksud hadis tersebut adalah :

Jika hambaku datang mendekatiKu dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari, yakni jika seseorang hamba menuju kepada Allah swt, maka rahmat Allah akan lebih cepat kepadanya dan ia melimpahi kekurniaanya padanya . (Syaikhul Hadis Muhammad Zakariya, Fadhilah dzikir, keterangan hadis ke 1, halaman 28, Era ilmu kuala lumpur).

F. Tafsir hadith al-dhahik (ketawa)

Berkata:  “Al-Bukhariyy telah mentakwilkan hadith al-dhahik (ketawa) dengan erti rahmat dan redha.”

G. Tafsir Ayat Mutasyabihat “DATANG”

Makna surat al fajr 22
Begitu juga Imam Ahmad bin Hanbal yang merupakan ulama Salaf telah mentakwilkan ayat 22, Surah al-Fajr seperti yang diriwayatkan secara bersanad yang sahih oleh Imam Bayhaqiyy dalam kitab Manaqib Ahmad dari Imam Ahmad mengenai firman Allah:

“Dan telah datang Tuhanmu”

ditakwilkan oleh Imam Ahmad dengan: “Telah datang kekuasaan Tuhanmu“.

Dalam Tafsir Jalalain ditafsirkan : “Telah datang  perintah Tuhanmu (amruhu)”

H. Tafsir Ayat mutasyabihat tentang “Nur” atau Cahaya (Ayat 35 Surat an-Nur)

Dan begitulah seluruh ayat-ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat dan tidak boleh diambil secara zhahirnya. Seperti firman Allah ta’ala dalam surat an-Nur: 35

Allahu nurussamawati wal ardl (QS An-nur 35)

Artinya : Allah (adalah pemberi) cahaya langit dan bumi (QS An-nur 35)

tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah cahaya atau Allah adalah sinar. Karena kata cahaya dan sinar adalah khusus bagi makhluk. Allah-lah yang telah menciptakan keduanya, maka Ia tidak menyerupai keduanya. Tetapi makna ayat ini, bahwa Allah menerangi langit dan bumi dengan cahaya matahari, bulan dan bintang-bintang. Atau maknanya, bahwa Allah adalah pemberi petunjuk penduduk langit, yakni para malaikat dan pemberi petunjuk orang-orang mukmin dari golongan manusia dan jin, yang berada di bumi yaitu petunjuk kepada keimanan. Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Abdullah ibn Abbas –semoga Allah meridlainya- salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Takwil ini diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma’ Wa as-Shifat. Dengan demikian kita wajib mewaspadai kitab Mawlid al ‘Arus yang disebutkan di dalamnya bahwa “Allah menggenggam segenggam cahaya wajah-Nya kemudian berkata kepadanya: jadilah engkau Muhammad, maka ia menjadi Muhammad”. Ini adalah kekufuran wal ‘iyadzu billah karena menjadikan Allah sebagai cahaya dan nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bagian dari-Nya. Kitab ini merupakan kebohongan yang dinisbatkan kepada al Hafizh Ibn alJawzi, tidak seorangpun menisbatkannya kepada al Hafizh Ibn al Jawzi kecuali seorang orientalis yang bernama Brockelmann.

I. Tafsir Hadis mutasyabihat  tentang JIWA ANAK ADAM DAN “JARI-JARI ARRAHMAN”

Makna Hadis mutaysabihat :  ” Hati anak adam berada dalam jari-jari Arrahman”

Makna sebenarnya : Hati atau jiwa anak Adam di bawah qudrah (kekuasaan) Allah Ta’ala, jika Allah mahu memberi hidayah
kepadanya maka dia akan mendapat hidayah dan jika Allah mahu sesatkannya dia akan sesat

Dalilnya :

Hadis:
Maknannya: ” Dialah Allah yang mengubah mengikut kehendakNya”.
Dan hadis Nabi:

Maksudnya: Hati Manusia dibawah pengaturan Ar-rahman”. (H.R Tarmizi)
Maksud hadis ini ialah hati-hati anak Adam di bawah kuasa Allah Ta’ala.

Kesesatan wahaby :

wahaby artikan  jari dalam makna dhahir katakan, Buktinya :

Usaimin berkata: “hati anak-anak Adam itu semuanya berada diantara dua jari dari jari-jari Ar Rahman dari segi hakikinya dan

ianya tidak melazimi penyentuhan dan penyatuan” (Kitab: Qawa’idul Mithly, Karangan Usaimin, m/s : 51, Riyadh).

J.  Tafsir Hadis mutasyabihat  “Berjalan dan Berlari”

Allah berfirman dalam hadis qudsi : “Jika hambaku datang mendekatiku dengan berjalan, makaAku akan mendekatinya dengan berlari” (hadis riwayat tabrani,  al bazzar, al baihaqi, ibnu majah, ibnu hibban dan lainnya)

maksud hadis tersebut adalah :

Jika hambaku datang mendekatiKu dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari, yakni jika seseorang hamba menuju kepada Allah swt, maka rahmat Allah akan lebih cepat kepadanya dan ia melimpahi kekurniaanya padanya . (Syaikhul Hadis Muhammad Zakariya, Fadhilah dzikir, keterangan hadis ke 1, halaman 28, Era ilmu kuala lumpur).

K. Tafsir ayat mutasyabihat RUHULLAH

isa ruhullah

Artinya : Maka kami tiupkan kedalam (rahim Maryam) sebagian dari Ruh (ciptaan) kami (At-tahrim 12)

Lafadz Ruhuna (ruh kami ) bermakna : Ruh ciptaan Kami. Menurut riwayat yang shahih bahwa Untuk  memuliakan nabi Isa. As., Allah SWT mengutus jibril as. Untuk meniupkan ruh Nabi Isa as.

L.  Tafsir Hadist   JARIYYAH yang shahih

Sedangkan salah satu riwayat hadits Jariyah yang zhahirnya member persangkaan bahwa Allah ada di langit, maka hadits tersebut tidak boleh diambil secara zhahirnya, tetapi harus ditakwil dengan makna yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, jadi maknanya adalah Dzat yang sangat tinggi derajat-Nya sebagaimana dikatakan oleh ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, di antaranya adalah al Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Sementara riwayat hadits Jariyah yang maknanya shahih adalah:

kitab aqidah arab 4

 

 

Al Imam Malik dan al Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya salah seorang sahabat Anshar datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam dengan membawa seorang hamba sahaya berkulit hitam, dan berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai kewajiban memerdekakan seorang hamba sahaya yang mukmin, jika engkau menyatakan bahwa hamba sahaya ini mukminah maka aku akan memerdekakannya, kemudian Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah? Ia (budak) menjawab: “Ya”, Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rasul (utusan) Allah? Ia menjawab: “Ya”, kemudian Rasulullah berkata: Apakah engkau beriman terhadap hari

kebangkitan setelah kematian? ia menjawab : “Ya”, kemudian Rasulullah berkata: Merdekakanlah dia”.

Al Hafizh al Haytsami (W. 807 H) dalam kitabnya Majma’ az- Zawa-id Juz I, hal. 23 mengatakan: “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih“. Riwayat inilah yang sesuai dengan prinsip-prinsip dan dasar ajaran Islam, karena di antara dasar-dasar Islam bahwa orang yang hendak masuk Islam maka ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat, bukan yang lain.

M.  Tafsir Hadist mutasyabihat “Disayangi Penduduk langit”

sayangi yang dibumiArtinya : Sayangilah penduduk Bumi maka akan disayangi oleh Penduduk langit (HR Tirmidzi)

Lafadz “Man fissamaa-i ” bermakna Penduduk langit /malaikat. Jadi maksud hadist ini adalah Jika kalian menyayangi penduduk  bumi maka Malaikat yang dilangit akan menyayangi kalian.

 

Bersambung….

 

 

Membantah fitnah wahhaby 3-a : Allah ada tanpa tempat bukan di arsy/langit/arah atas

Membantah fitnah wahhaby 3-a : Allah ada tanpa tempat bukan di arsy/langit/arah atas

A. Daftar Pertanyaan menggugurkan aqidah tajsim wahhaby

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah untuk membantah aqidah sesat wahhaby, yang mana mereka hanya mengambil makna dhahir dari ayat dan hadits mutasyabihat sehingga mereka mensifatkan Allah dgn sifat makhluq. Pertanyaan ini akan terjawab jika membaca keseluruhan artikel ini. insyaAllah.

1.  Apakah Tuhan wahaby  SAKIT dan LUPA?

apakah kalian masih bersikeras menggunakan makna dhahir pada ayat/hadist mutasyabihat ini ?

– ”Nasuullaha fanasiahum” (QS Attaubah:67),

Artinya : Mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka (QS Attaubah:67),

– ”Innaa nasiinaakum” (QS Assajadah 14).

Artinya : (sungguh kami telah lupa pada kalian ( QS Assajadah 14).

Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman :

”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)

2. Dalam hadits shahih muhakamat disebutkan bahwa Allah ada tanpa arah (atas atupun bawah), kenapa kalian mengingkarinya?

Allah ada tanpa arah adalah aqidah shahih yang didukung oleh banyak ayat dan hadist muhkamat. Al Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-
Shifat, hlm. 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam
menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah
shalllallahu ‘alayhi wa sallam:

kitab aqidah arab 3Maknanya: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).
Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.

3. Manakah yang berjarak lebih dekat ke ‘arsy : seseorang dalam keadaan berdiri atau sujud?

Wahhaby punya keyakinan bahwa Tuhan bersemayam di ‘arsy. Coba kalian pikirkan, manakah yang berjarak lebih dekat ke ‘arsy : seseorang dalam keadaan berdiri atau sujud? Sudah tentu berdiri lebih dekat ke ‘arsy. Jadi apabila kalian berpendapat bahwa Allah bersemayam di ‘arsy, maka dimanakah hadits yang mengatakan, “Paling dekatnya kedudukan seorang hamba dengan Tuhannya adalah apabila dia dalam keadaan sujud”.

4. Dimanakah Allah sebelum diciptakannya semua makhluq (Tempat, arah, arsy dsb) ? setelah Allah ciptakan semua makhluq (langit,arsy,arah,tempat dsb), dimanaallah? Apakah sifat dzat Allah berubah?

Sebelum Allah ciptakan semua makhluq (zaman azali)…..
semua makhluq tidak ada (langit,arsy,tempat, ruang,arah,cahaya, atas,bawah….semua makluq tdk ada,karena Allah blm ciptakan…..) pada saat itu dimana Allah?

dan setelah Allah ciptakan semua makhluq (langit,arsy,arah,tempat dsb), dimana allah?

Ingat : Sifat allah tetap tdk berubah..sifat allah tdk sama dgn makhluq. Maka orang yang mengatakan tuhan bertempat dan berarah menyalahi sifat wajib salbiyah Allah.

Sifat Salbiyah :Sifat yang digunakan untuk menolak sesuatu yang tidak patut untuk dinisbahkan kepada Allah. Ada 5 sifat yaitu :

–          Wahdaniyah/esa (Allah tidak banyak atau tidak terpecah-pecah (ada tuhan yg dilangit, ada tuhan yang di arsy, ada tuhan yang di sorga, ada tuhan yang di baitullah dsb))

–          Qidam/ada sebelum semua makhluq ada (Allah Ada sebelum tempat dan arah ada)

–          Baqo /kekal (Allah kekal sedangkan langit akan di gulung/hancurkan)

–          Mukhalafatu lil hawaditsi/berbeda dgn makhluq (Allah beda dgn makhkuq, sedangkan yang bertempat dan berarah  adalah benda kasar/makhluq)

–          Qiyamuhu binafsihi /tidak memerlukan apapun( Allah tidak memerlukan tempat/arsy dsb)

5. Kenapa kalian solat masih hadap kekiblat, katanya Allah diatas?

ingat Langit Hanyalah kiblat Do’a….bukan tempat bersemayam Allah….ingat : Allah ada tanpa tempat dan arah.

6. Manakah arah ATAS yang kalian maksud? Tunjukan?

Bumi ini Bulat dan tidak ada arah atas bagi benda yang bulat,

Arah atasnya orang di Indonesia adalah arah bawahnya Orang yang ada di Negara Amerika, dan sebaliknya.

7. Apakah Tuhan-Mu bergelantungan di langit pertama setiap saat?

Kalian katakan pada sepertiga malam Allah dilangit pertama bukan diatas arsy, padahal waktu bergulir setiap saat. Jika di Indonesia tengah Malam maka di Amerika adalah siang hari.

8. Makna zahir mana yg mereka katakan “menerima secara zahir” ??

wahabi katakan :
“Allah punya Tangan tetapi beda dengan tangan Makhluk”

Mereka katakan mereka menerima secara zahir,lalu mereka katakan lagi bahwa yg zahir itu beda dengan zahirnya makhluk….
kami bertanya :
lalu makna zahir mana yg mereka katakan “menerima secara zahir” ??

Inilah akidah akal akalan mereka tak ada satu orangpun salaf al shalih yg berakal seperti ini.

9. Dimanakah Tuhan kalian:  apakah di langit pertama (lihat hadis nuzul), di langit (surat al mulk),  diatas arsy (lihat surat ar’ad), menempel/menyatu dengan orang beriman (lihat surat albaqarah), dimana-mana/disemua arah, tanpa tempat (hadis zaman azali)?

Jika menggunakan makna dhahir ayat dan hadist maka tidak akan bisa menjawabnya dan terjerumus dalam tasybih (penyerupaan kepada makhluq).

Ta’wil disni  berarti menjauhkan makna dari segi zahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah, ini kerana zahir makna nas al-Mutasyabihat tersebut mempunyai unsur jelas persamaan Allah dengan makhluk. Dalil melakukan ta’wil ayat dan hadis  mutasyabihat:

Rasulullah berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa:

dalil ta'wil ibnu abbas

Maknanya: “Ya Allah alimkanlah dia hikmah dan takwil Al quran” H.R Ibnu Majah. (Sebahagian ulamak salaf termasuk Ibnu Abbas mentakwil ayat-ayat mutasyabihah)

B. Ahlusunnah Menta’wil  Ayat Mutasyabihat

Ahlusunnah TIDAK MENERIMA MAKNA DHOHIR ayat atau hadits mutasyabihat (ta’wil) tapi juga TIDAK MERUBAH LAFADZ AYAT/HADIST (TASHRIF) , karena merubah lafadz ayat atau hadits adalah haram dan dilarang. Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.

Ta’wil disni  berarti menjauhkan makna dari segi zahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah, ini kerana zahir makna nas al-Mutasyabihat tersebut mempunyai unsur jelas persamaan Allah dengan makhluk. Dalil melakukan ta’wil ayat dan hadis  mutasyabihat:

Rasulullah berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa:

dalil ta'wil ibnu abbas

Maknanya: “Ya Allah alimkanlah dia hikmah dan takwil Al quran” H.R Ibnu Majah. (Sebahagian ulamak salaf termasuk Ibnu Abbas mentakwil ayat-ayat mutasyabihah)

Masalah ayat/hadist mutasyabihat  dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya.
1.Pendapat Tafwidh ma’a tanzih (Ta’wil ijtimaly)

2.Pendapat Ta’wil (Ta’wil Tafsilly)

Keterangan :

1. Madzhab tafwidh ma’a tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kpd

Allah swt, dg i’tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan).

Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu;minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dg hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yg juga di pegang oleh Imam Abu hanifah.

Pendapat ini dikenal juga dengan TA’WIL IJTIMALY iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya. Sebagai contoh perkataan istawa dikatakan istawa yang layak bagi Allah dan waktu yang sama dinafikan zahir makna istawa kerana zahirnya bererti duduk dan bertempat, Allah mahasuci dari bersifat duduk dan bertempat.

dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dg mahluk, bukan seperti para imam yg memegang madzhab tafwidh.

2. Madzhab takwil yaitu menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dg keesaan dan keagungan Allah

swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari,Imam Nawawi dll. (syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)
Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam imam ahlussunnah waljamaah.

Ta’wilan Tafsiliyy iaitu ta’wilan yang menafikan makna zahir nas tersebut kemudian meletakkan makna yang layak bagi Allah. Seperti istawa bagi Allah bererti Maha Berkuasa kerana Allah sendiri sifatkan dirinya sebagai Maha Berkuasa.

Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yg berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy).
Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah swt, sebagaimana firman Nya : ”Maha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa apa yg mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas tuhan sekalian alam” . (QS Asshaffat 180-182).

C. Tafsir Lafadz Ayat mutasyabihat  LUPA

– ”Nasuullaha fanasiahum” (QS Attaubah:67),

Artinya : Mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka (QS Attaubah:67),

– ”Innaa nasiinaakum” (QS Assajadah 14).

Artinya : (sungguh kami telah lupa pada kalian ( QS Assajadah 14).

Keterangan :

Dengan ayat ini kita tidak bisa menyifatkan sifat lupa kepada Allah walaupun tercantum dalam Alqur’an, dan kita tidak boleh mengatakan Allah punya sifat lupa, tapi berbeda dg sifat lupa pada diri makhluk, karena Allah berfirman :  ”dan tiadalah Tuhanmu itu lupa” (QS Maryam 64).

D. Tafsir Lafadz Ayat mutasyabihat  SAKIT

Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman :

”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)

Keterangan :

apakah kita bisa mensifatkan sakit kepada Allah tapi tidak seperti sakitnya kita?
Berkata Imam Nawawi berkenaan hadits Qudsiy diatas dalam kitabnya yaitu Syarah Annawawiy alaa Shahih Muslim bahwa yg dimaksud sakit pada Allah adalah hamba Nya, dan kemuliaan serta kedekatan Nya pada hamba Nya itu, ”wa ma’na wajadtaniy indahu ya’niy wajadta tsawaabii wa karoomatii indahu” dan makna ucapan : akan kau temui aku disisinya adalah akan kau temui pahalaku dan kedermawanan Ku dengan menjenguknya (Syarh Nawawi ala shahih Muslim Juz 16 hal 125).

E. Hadis Mutasyabihat NUZUL  (turun kelangit pertama)

“Pada sepertiga malam terakhir Allah akan turun kelangit pertama…..” (HR Shahih Muslim hadits no.758)

“Pada hari arafah  Allah akan turun kelangit pertama…..”

Keterangan :

makna hadis tersebut adalah  rahmat Allah yang begitu dekat pada waktu-waktu tersebut, sehingga waktu tersebut menjadi lebih utama untuk berdo’a.jadi  Bukan dzat Allah yang turun (Fadhilah Haji, Syaikhul hadis Muhammad Zakariya)

Dalam hadits qudsiy disebutkan Allah swt turun kelangit yg terendah saat sepertiga malam terakhir, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim hadits no.758, sedangkan kita memahami bahwa waktu di permukaan bumi terus bergilir, maka bila disuatu tempat adalah tengah malam, maka waktu tengah malam itu tidak sirna, tapi terus berpindah ke arah barat dan terus ke yang lebih barat, tentulah berarti Allah itu selalu bergelantungan mengitari Bumi di langit yg terendah, maka semakin ranculah pemahaman ini, dan menunjukkan rapuhnya pemahaman mereka, jelaslah bahwa hujjah yg mengatakan Allah ada di Arsy telah bertentangan dg hadits qudsiy diatas, yg berarti Allah itu tetap di langit yg terendah dan tak pernah kembali ke Arsy, sedangkan ayat itu mengatakan bahwa Allah ada di Arsy, dan hadits Qudsiy mengatakan Allah dilangit yg terendah.

F.  Tafsir Ayat Mutasyabihat ISTIWA

I. Tafsir Makna istiwa Menurut Kitab Tafsir Mu’tabar
lihat dalam tafsir berikut :

Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra’d:

1- Tafsir al Qurtubi

(ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan

2- Tafsir al-Jalalain

(ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya

3- Tafsir an-Nasafi Maknanya:

makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain…

4- Tafsir Ibnu Kathir:

(ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf, sesungguhnya ia ditafsirkan tanpa kaifiat(bentuk) dan penyamaan

Disini Ibnu Katsir mengunakan ta’wil ijtimalliy iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya. sebenarnya memahami makna istiwa ini sebenarnya.

وأما قوله تعالى: {ثم استوى على العرش} فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جداً، ليس هذا موضع بسطها، وإنما نسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح مالك والأوزاعى والثوري والليث بن سعد والشافعي و أحمد وإسحاق راهويه وغيرهم من أئمة المسلمين قديما وحديثا وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل، والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن اللّه فإن اللّه لا يشبهه شيء من خلقه و{ليس كمثله شيء وهو السميع البصير}، بل الأمر كما قال أئمة منهم نعيم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري قال: من شبَّه اللّه بخلقه كفر، ومن جحد ما وصف اللّه به نفسه فقد كفر، وليس فيما وصف اللّه به نفسه ولا رسوله تشبيه فمن أثبت للّه تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة على الوجه الذي يليق بجلال اللّه ونفي عن الله تعالى النقائص قد سلك سبيل الهدى

“Dan adapun firman-Nya: “Kemudian Dia istiwa di atas ‘arsy”, Orang-orang mempunyai berbagai pendapat yang sangat banyak dalam hal ini, dan bukan ini tempatnya perinciannya. Hanyasaja dalam hal ini kami menapaki (meniti) cara yang dipakai oleh madzhab Salaf al-Shalih, (seperti) Malik, al-Auza’i, al-Laits bin Sa’ad, al-Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan  selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya)tanpa takyif  (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan). Zhahirnya apa yang mudah ditangkap oleh musyabbih (orang yang melakukan tasybih) adalah hal yang tidak ada bagi Allah, karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya, dan “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [al-Syura: 11]. Bahkan perkaranya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata: “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir, dan siapa yang mengingkari apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir, dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat mukamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.”

Inilah selengkapnya dari penjelasan Ibnu Katsir.Berdasarkan penjelasan ibnu katsir :

– ibnu katsir mengakui ayat ‘istiwa’ adalah ayat mutasyabihat yang tidak boleh memegang makna dhahir dari ayat mutasyabihat tapi mengartikannya dengan ayat dan hadis yang – jadi ibnu katsir tidak memperincikan maknanya tapi juga tidak mengambil makna dhahir ayat tersebut.

– disitu imam ibnu katsir, imam Bukhari dan imam ahlsunnah lainnya  tidak melarang ta’wil.

“…dan  selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya)tanpa takyif  (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan)….”

sedangkan wahaby melarang melakukan tanwil!

Bukti imam Bukhari, imam Ahmad dan lainnya melakukan ta’wil ayat mutasyabihat akan dijelaskan pada point E.

II. Makna istiwa yang dikenal dalam bahasa arab dan dalam kitab-kitab Ulama salaf

Di dalam kamus-kamus arab yang ditulis oleh ulama’ Ahlu Sunnah telah menjelaskan istiwa datang dengan banyak makna, diantaranya:

1-masak (boleh di makan) contoh:

قد استوى الطعام—–قد استوى التفاح maknanya: makanan telah masak—buah epal telah masak

2- التمام: sempurna, lengkap

3- الاعتدال : lurus

4- جلس: duduk / bersemayam,

contoh: – استوى الطالب على الكرسي : pelajar duduk atas kerusi -استوى الملك على السرير : raja bersemayam di atas katil

5- استولى : menguasai,

contoh: قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق

Maknanya: Bisyr telah menguasai Iraq, tanpa menggunakan pedang dan penumpahan darah.

Al Hafiz Abu Bakar bin Arabi telah menjelaskan istiwa mempunyai hampir 15 makna, diantaranya: tetap,sempurna lurus menguasai, tinggi dan lain-lain lagi, dan banyak lagi maknannya. Sila rujuk qamus misbahul munir, mukhtar al-Sihah, lisanul arab, mukjam al-Buldan, dan banyak lagi. Yang menjadi masalahnya, kenapa si penulis memilih makna bersemayam. Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah?, apakah dia tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Adakah si penulis ini tidak mengatahui bahawa siapa yang menyamakan Allah dengan salah satu sifat daripada sifat makhluk maka dia telah kafir?

sepertimana kata salah seorang ulama’ Salaf Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):

ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر

Maknanya: barang siapa yang menyifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai arasy kerana arasy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala sepertimana kata-kata Saidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:

ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته ولم يتخذه مكان لذاته

Maknanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-arasy untuk menzohirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.

Allah ada tanpa tempat dan arah adalah aqidah salaf yang lurus.

III. Hukum Orang yang meyakini Tajsim; bahwa Allah adalah Benda


*Bersemayam yang bererti Duduk adalah sifat yang tidak layak bagi Allah dan Allah tidak pernah menyatakan demikian, begitu juga NabiNya. Az-Zahabi adalah Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Uthman bin Qaymaz bin Abdullah ( 673-748H ). Pengarang kitab Siyar An-Nubala’ dan kitab-kitab lain termasuk Al-Kabair.

Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah Duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair. Demikian teks Az-Zahabi kafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” :

Nama kitab: Al-Kabair.
Pengarang: Al-Hafiz Az-Zahabi.
Cetakan: Muassasah Al-Kitab Athaqofah,cetakan pertama 1410h.

Terjemahan.
Berkata Al-Hafiz Az-Zahabi:
“Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas terkeluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah Duduk untuk menetap atau katanya Allah Berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”. Rujuk scan kitab tersebut di atas m/s 142.

Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al
Qawim h. 64, mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.

Al Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah meridlainyamengatakan:
“Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’i dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal).

Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”.

As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata:
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,
kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

III.  ulamak 4 mazhab tentang aqidah

1- Imam Abu hanifah:

لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه

Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah, muka surat 1.


IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.

Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :

“ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat.

Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.

Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.

2-Imam Syafie:

انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير

Maknanya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 muka surat 23

3-Imam Ahmad bin Hanbal :

-استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.

وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه

Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahawa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya(Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami

4- Imam Malik :

الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة

Maknannya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif(bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan soal tentangnya bidaah.

lihat disini : imam malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir  jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)…..

G. Ayat  Mutasyabihat  NAIK

Artinya : Dan kepada-Nya naik (mengetahui-Nya)  perkataan yang baik dan amAlan yang shalih dinaikan (MENERIMA AMALAN SHALIHNYA)

Dalam tafsir Jalalain :  (ilaihi YUSH’ADU kalimuthayyib) ya’lamuhu ,….

Artinya lafadz :  ilaihi YUSH’ADU kalimuthayyib artinya  MENGETAHUINYA,…

(wa ‘amilushalihati yarfa’uhu) YAQBALUHU

Artinya  : menerima amalan baik itu (memberi  pahala/meridhai)

H. Tafsir Ayat Mutasyabihat LAFADZ “MAN FISSAMA-I DALAM ALMULK 16 “

Makna firman Allah :
أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
(Al-Mulk:16)

Jawab:
1. Dalam Tafsir Al Bahr al Muhith  dan Kitab “Amali (Imam Al-Hafiz Al-‘Iraqi )

Pakar tafsir, al Fakhr ar-Razi dalam tafsirnya dan Abu
Hayyan al Andalusi dalam tafsir al Bahr al Muhith mengatakan:

“Yang  dimaksud مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i) dalam ayat tersebut adalah malaikat”.

Ayat  tersebut tidak bermakna bahwa Allah bertempat di langit.

Perkataan ‘man’ iaitu ‘siapa’ dalam ayat tadi bererti malaikat bukan bererti Allah berada dan bertempat  dilangit.  Ia berdasarkan kepada ulama Ahli Hadith yang menjelaskannya iaitu Imam Al-Hafiz Al-‘Iraqi dalam Kitab Amali  bahawa “Perkataan ‘siapa’ pada ayat tersebut bererti malaikat”.

Kemudian, yang berada dilangit dan bertempat dilangit bukanlah Allah tetapi para malaikat berdasarkan hadith Nabi bermaksud: “ Tidaklah di setiap langit itu kecuali pada setiap empat jari terdapat banyak para malaikat melakukan qiyam, rukuk atau sujud ”. Hadith Riwayat Tirmizi.

Ketahuilah bahawa tempat tinggal para malaikat yang mulia adalah di langit pada setiap langit penuh dengan para malaikat manakala bumi terkenal dengan tempat tinggal manusia dan jin. Maha suci Allah dari bertempat samaada di langit mahupun di bumi.

Banyak hadis dan ayat yang menyebutkan man fissamawati (yang dilangit), penduduk langit dan sebagainya, tapi itu semua adalah para malaikat. Seperti dalamsurat al-ra’du ayat 15 (ayat sajadah) :
“walillahi yasjudu man fissamawati wal’ardhi thau’an wa karhan wa dhilaaluhum bil ghuduwwi wal aashaal”

artinya : “Apa yang di langit dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau atau tidak mau, demikian juga bayang-bayang mereka diwaktu pagi dan petang (QS arra’du ayat 15)

Dalam Tafsir jalalain (halaman 201, darul basyair, damsyik) :
“Apa yang di langit (man fisamawati) dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau” (adalah seperti orang beriman) “atau tidak mau” (sperti orang munafiq dan orang yang ditakut-takuti (untuk sujud)  dengan pedang).

Dalam kitab ihya ulumuddin (jilid I, bab Kitab susunan wirid dan uraian menghidupkan malam) ayat ini merupakan salah satu wirid yang dibaca pada pada waktu petang.

2. Dalam Tafsir qurtubi
Al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya turut menjelaskan perkara yang sama bila mentafsirkan ayat tersebut. Sekiranya ingin dimaksudkan dari perkataan ‘man’ (siapa) dalam ayat tadi itu adalah ‘Allah’ maka tidak boleh dikatakan keberadaan Allah itu di langit kerana Allah tidak memerlukan langit tetapi memberi erti ‘kerajaan Allah’ BUKAN ‘zat Allah’. Maha suci Allah dari sifat makhlukNya.

3. Dalam tafsir jalalain ((penerbit darul basyair, damsyiq,halaman 523)

Imam suyuthi rah mengatakan :
“Yang dimaksud مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i) dalam ayat tersebut adalah kekuasaan/kerajaan dan qudrat-Nya (Shulthonihi wa qudratihi )
jadi yang dilangit adalah kekuasaan dan qudratnya (Shulthonihi wa qudratihi ) bukan dzat Allah

sehingga penafsiran yang betul (dalam tafsir jalalain dan qurtubi) :

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Apakah kamu merasa aman dengan Allah yang di langit (kekuasaan dan qudratnya) bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, (Al-Mulk:16)

أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

atau apakah kamu merasa aman dengan Allah yang di langit (kekuasaan dan qudratnya bukan dzat-Nya) bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Al-Mulk:17).

N. Hadis tentang isra mi’raj dan “Langit ” sebagai Kiblat Do’a Bukan “Tempat bersemayam dzat Alah”

As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya).
Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arahpenjuru tersebut”.
Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasanya bukanlah maksud dari mi’raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi
Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi’raj adalah memuliakan Rasulullah shalalllahu ‘alayhi wasallam dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur’an surat al Isra ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam sehingga jarak antara keduanya dua hasta atau lebih dekat, melainkan yang mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam di saat mi’raj adalah Jibril ‘alayhissalam, sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al
Bukhari (W. 256 H) dan lainnya dari as-Sayyidah ‘Aisyah -semoga Allah meridlainya-, maka wajib dijauhi kitab Mi’raj Ibnu ‘Abbas dan Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu ‘Abbas karena keduanya adalah kebohongan belaka yang dinisbatkan kepadanya.
Sedangkan ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah
berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat.

Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti al Imam al Mutawalli (W. 478 H) dalam kitabnya al Ghun-yah, al Imam al Ghazali (W. 505 H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulum ad-Din, al Imam an-Nawawi (W. 676 H) dalam
kitabnya Syarh Shahih Muslim, al Imam Taqiyy ad-Din as-Subki (W.756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil dan masih banyak lagi.
Perkataan al Imam at-Thahawi tersebut juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al Wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham Hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati
makhluk-Nya. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma’ (konsensus) kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Imam as-
Suyuthi (W. 911 H) dalam karyanya al Hawi li al Fatawi dan lainnya, juga para panutan kita ahli tasawwuf sejati seperti al Imam al Junaid al Baghdadi (W. 297 H), al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H), Syekh Abdul Qadir al Jilani (W. 561 H) dan semua Imam tasawwuf sejati, mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang berdusta sebagai pengikut tarekat tasawwuf dan meyakini aqidah Wahdah al Wujud dan Hulul.

Bersambung ke bagian kedua tentang tafsir ayat mutasyabihat tangan, kaki, jari-jari, tertawa, berjalan/berlari, nur/cahaya, ruh Allah, baitullah dsb….

https://salafytobat.wordpress.com

Dr.Yusuf Qardawi & AL-AZHAR MESIR : Ibnu Taimiah&Ibnu Qayyim Adalah MUJASSIM

DR. YUSUF QARDAWI TELAH MENYATAKAN BAHAWA AHMAD IBNU TAIMIYYAH AL-HARRANI 72BH DAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYYAH 1350M YANG TERKENAL DENGAN AKIDAH SYAZ (BURUK) KEDUANYA MERUPAKAN PEMBAWA AJARAN SONGSANG IAITU AJARAN TAJSIM YANG MENJISIMKAN ALLAH DAN MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK.

Apabila kita mengkaji mengenai sejarah yangt tidak boleh dipalsukan lagi kita akan dapati bahawa dua orang manusia ini yang pertamanya bernama Ibnu Taimiah dan yang keduanya adalah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah meruapakan dua manusia yang menyebarkana aqidah yang amat membahayakan umat Islam. Malangnya Ajaran Wahhabi menjadikan mereka berdua tadi sebagai ‘al-Quran’ dan seorang lagi pula sebagai ‘as-sunnah’ dengan mendakwa hujjah keduanya adalah benar sedangkang keduanya merupakan tokoh yang merosakkan akidah Islam di persada sejarah mata-kaca ulama Islam sebenar.

KENYATAAN DR. YUSUF QARDAWI DAN UNIVERSITI AL-AZHAR MENGENAI TOKOH AKIDAH SONGSANG AKIDAH TAJSIM :IBNU TAIMIAH DAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYYAH


Setelah mengkaji secara telus dan amanah kita dapati bahawa terlalu ramai ulama Islam yang menolak akidah yang dibawa oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah ini kerana akidah mereka berdua terpesong dari akidah Islam yang berpandukan al-Quran dan As-Sunnah sebenar. Dalam hal ini tidak terlepas juga ulama-ulama Al-Azhar Syarief yang menolak ajaran Tajsim yang dibawa oleh kedua tokoh songsang tadi. Dr. Yusuf Al-Qardawi didalam laman (http://www.islamonline.net) telah menyatakan demikian dan menolak akidah Tajsim.

Berkata Yusuf Qardawi:

فقد كان الأزهر قبل ذلك يقاوم فكر هؤلاء، ويحشرهم في زمرة المجسِّمين).

Maksud: Universiti Al-Azhar sebelum inipun telah menolak habis-habisan pemikiran (sesat) yang dibawa oleh keduanya (Ibnu Taimiah&Ibnu Qayyim) dan sememang mereka berdua diletakkan dalam ajaran Mujassim (yang menjisimkan dan menyamakan Allah dengan makhluk).

Ulasan:
Jika dibaca seluruh kenyataan Yusuf Qardawi dalam laman tersebut kita akan dapati bahawa dia mengakui bahawa seluruh ulama Al-Azhar telah menghukum dan menolak ajaran Tajsim yang dibawa oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dan selepas dari itu beberapa fahaman tokoh telah memasukkan fahaman Tajsim tersebut dengan menaikkan nama keduannya.

1- Dr. Yusuf Qardawi menceritakan bahawa ulama Al-Azhar dizaman kehebatan Al-Azhar kesemuanya menolak ajaran Ibnu Taimiah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

2- Dr. Yusuf Qardawi memberitahu bahawa seluruh ulama Al-Azhar yang hebat dulunya menolak ajaran Tajsim yang di bawa oleh Ibnu Taimiah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.

3- Dr. Yusuf Qardawi memberitahu bahawa terjadinya evolusi menukaran sistem pada Al-Azhar dari kehebatan kepada fahaman yang mempunyai kecendorongan kepada ajaran Ibnu Taimiah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah adalah setelah beberapa buku Ibnu Taimiah dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dimasukkan secara halus di Universiti Al-Azhar dimulakan atas nama ‘buku rujukan’ kemudian diisi dengan fahaman Tajsim.

Semoga kita diselamat dari tipu daya ajaran Yahudi yang memperalatkan umat Islam dengan menggunakan nama Salafiyyah.

Wassalam.

B. HASAN AL-bANNA VS IBNU TAYMIYAH

HASAN AL-BANNA TERANGKAN MENGENAI AYAT MUTASYABIHAT

Mari sama-sama kita renung penerangan yang hebat oleh Imam Hasan
Al-Banna sekaligus menjadi alternativ menyelesaikan pertelingkahan
akidah. Semoga yang murtad memeluk Islam kembali.

Berkata Imam Hasan Al-Banna selepas menyatakan ayat 5 surah Toha:
” Menyanggah dan menolak mereka yang mendakwa kononnya berpegang
secara zahir ayat Quran dan Hadith mustasyabihat secara zahir
merupakan mazhab As-Salaf.
Sebenarnya ringkasan daripada dakwaan palsu itu merupakan Tajsim iaitu
menjisimkan Allah dan Tasybih iaitu menyamakan Allah dengan makhluk,
kerana zahir lafaz tersebut adalah apa yang telah diletakkan makna
baginya.
Maka tiada makna `Tangan’ secara hakikat zahirnya kecuali anggota
badan dan begitu juga selainnya.
Manakala mazhab As-Salaf tulen tidak berpegang secara zahir pada ayat
dan hadith tersebut”.
Rujuk scan kitab di atas, dipetik dari Majmuk Rasail Imam As-Syahid
Hasan Al-Banna pada kitab Al-Aqoid m/s 415.

Dinyatakan oleh Imam Hasan AL-Banna lagi: ” Sesungguhnya ulama
As-Salaf tulen dan ulama Al-Khalaf bersepakat tidak berpegang secara
zahir “.
Rujuk scan kitab di atas, m/s 418.I

Rujuk scan kitab di atas, m/s 418.I

C. Pusat Fatwa Mesir : Kesesatan Aqidah Rububiyah – Uluhiyah Wahhaby

Berikut adalah sebahagian daripada terjemahan kami bagi Fatwa yang telah dikeluarkan oleh Pusat Fatwa Mesir berkaitan kesesatan Pembahagian Tauhid ala Taymiyyah dan Wahhabiyyah. Oleh kerana fatwanya agak panjang maka kami pilih yang sesuai dan bagi sesiapa yang boleh berbahasa Arab, silalah merujuk ke:

http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=6623

TERJEMAHAN:

“Dan pembahagian Tauhid kepada Uluhiyyah dan Rububiyyah adalah daripada pembahagian yang baru yang tidak datang daripada generasi Salafus Soleh. Dan orang pertama yang menciptanya – mengikut pendapat yang masyhur – ialah Sheikh Ibnu Taymiyyah (semoga Allah merahmati beliau),…

Melainkan beliau membawanya kepada had yang melampau sehingga menyangkakan bahawa Tauhid Rububiyyah semata-mata tidak cukup untuk beriman, dan bahawa sesungguhnya golongan Musyrikin itu bertauhid dengan Tauhid Rububiyyah dan sesungguhnya ramai daripada golongan umat Islam daripada Mutakallimin (ulama’ tauhid yang menggabungkan naqal dan aqal) dan selain daripada mereka hanyalah bertauhid dengan Tauhid Rububiyyah dan mengabaikan Tauhid Uluhiyyah.

Dan pendapat yang menyatakan bahawa sesungguhnya Tauhid Rububiyyah sahaja tidak mencukupi untuk menentukan keimanan adalah pendapat yang bid’ah dan bertentangan dengan ijma’ umat Islam sebelum Ibnu Taymiyyah…

Dan pemikiran-pemikiran takfir ini sebenarnya bersembunyi dengan pendapat-pendapat yang rosak ini dan menjadikannya sebagai jalan untuk menuduh umat Islam dengan syirik dan kufur dengan menyandarkan setiap kefahaman yang salah ini kepada Sheikh Ibnu Taymiyyah (semoga Allah merahmatinya) adalah daripada tipu daya dan usaha menakutkan yang dijalankan oleh pendokong-pendokong pendapat luar (yang bukan daripada Islam ini) untuk mereka memburuk-burukkan kehormatan umat Islam.

Dan inilah sebenarnya hakikat mazhab golongan Khawarij dan telah banyak nas-nas Syariat menyuruh agar kita berhati-hati daripada terjebak ke dalam kebathilannya.”

Pembahasan :

1. Syirik dan Tauhid (Iman)  tidak mungkin bersatu. Hal ini adalah 2 perkara yang berlawanan bagai siang dengan malam.

“Tidak boleh berkumpul antara iman dan kikir di dalam hati orang yang beriman selama-lamanya” [HR Ibn Adiy].

lihatlah : iman dan bakhil saja tidak akan bercampur!
apalagi iman dengan KUfur!!!!
TIDAK ADA SEBUTAN UMMAT BERTAUHID BAGI YANG TAUHIDNYA BERCAMPUR DGN KUFUR, YANG ADA ADALAH “MUSYRIK” SECARA MUTLAK!

2. Orang kafir di nash kafir tidak layak disebut bertauhid (dengan tauhid apapun) bahkan orang yang telah masuk islam tapi melakukan perbuatan yang membuat mereka kufur, itupun tak layak mendapat sebutan bertauhid dan di nash sebagai KAFIR SECARA MUTLAK!

Dalil Kufur Fi’li:

Maknanya: “Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan…” (Q.S. Fushshilat: 37)

Dalil Kufur Qauli:

Maknanya: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka katakan) tentulah mereka akan menjawab sesungguhnya
kami hanyalah bersendagurau dan bermain-main saja. Katakanlah apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu berolok-olok , tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman …” (Q.S. at-Tubah 65-66)

Maknanya: “Mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka telah mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kufur dan menjadi kafir sesudah mereka sebelumnya muslim …” (Q.S. at-Taubah: 74)

3. Iman itu yakin sepenuhnya dalam hati, diucapkan dgn lisan dan diamalkan dengan lisan. Orang hanya ucapannya saja itu tak layak disebut beriman/bertauhid!

Maknanya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka
tidak ragu-ragu…” (Q.S. al Hujurat: 15)

4. Tidak ada pembagaian Tauhid rububiyah dan uluhiyah. Tauhid uluhiyah ialah tauhid rububiyah dan tidak bisa dipisah.

Dari abu dzar ra. berkata, rasulullah saw bersabda : “Tidaklah seorang hamba Allah yang mengucapkan Laa ilaha illallah kemudian mati dengan kalimat itu melainkan ia pasti masuk sorga”, saya berkata : “walaupun ia berzina dan mencuri?”, Beliau menjawab :” walaupun ia berzina dan mencuri”, saya berkata lagi : “walaupun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab :” walaupun ia berzina dan mencuri, walaupun abu dzar tidak suka” (HR imam bukhary, bab pakaian putih, Hadis no. 5827). Lihat ratusan hadis ttg kalimat tauhid laa ilaha illah dalam kutubushitah!

Kalimat “laailaha illalllah” mencakup rububiyah dan uluhiyah, kalau saja uluhiayah tak mencukupi, maka syahadat ditambah : “laa ilaha wa rabba illallah”
tapi nyatanya begitu!!

hadis tentang pertanyaan malaikat munkar nakir di kubur : “Man rabbuka?”
kalaulah tauhid rububiyah tak mencukupi, pastilah akan ditanya : Man rabbuka wa ilahauka?, tapi nyatanya tidak!!

5. WAHABY MENGGELARI ORANG YANG DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA DENGAN GELAR “UMAT BERTAUHID RUBUBIYAH”
– orang kafir tetap di sebut kafir secara mutlak, tak ada satupun  gelaran “tauhid” bagi mereka! lihat QS. Az Zukhruf ayat 88
وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

وَقِيلِهِ يَارَبِّ إِنَّ هَؤُلَاء قَوْمٌ لَّا يُؤْمِنُونَ

فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

86. Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)1368.

87.Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?,

88.dan (Allah mengetabui) ucapan Muhammad: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman (tidak bertauhid DI NASH KAFIR SECARA MUTLAK!!)”.

89.Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah: “Salam (selamat tinggal).” Kelak mereka akan mengetahui (nasib mereka yang buruk).
(QS. Az Zukhruf : 86-89)

Orang kafir menurut tauhid rububiyah wahaby sendiri tidak yakin 100% kerububiyahan Allah
MEREKA MASIH MENYAKINI BERHALA-BERHALA BISA MEMBERI MANFAAT!!! Mereka telah di nash kafir atau tidak ada iman oleh Allah dan rasulnya!,  tak ada satupun  gelaran “tauhid” bagi mereka! lihat QS. Az Zukhruf ayat 88

Sedangkan “seorang kafir tidak mungkin muslim apalagi mu’min (beriman/bertauhid)

dan “seorang mu’min itu pasti muslim, tetapi seorang muslim belum tentu mu’min” sesuai dengan firman Allah :

Surat alHujurat : 14
Jadi , muslim =  orang islam (secara hukum) sudah syhadatain
munafiq = muslim (secara hukum) yang bukan mu’min, dhahirnya muslim tapi aqidahnya belum betul
mu’min = orang yang iman betul dan kuat dan pasti muslim
kafir = bukan bukan muslim apalagi mu’min

‘Orang-orang Arab Badui berkata, “kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu … ”

kenapa wahaby menghukumi orang kafir sebagai “umat bertauhid/beriman rububiyah”????

Kesimpulan (silahkan rujuk pusat fatwa al-azhar mesir):

orang Wahabi mengatakan : orang kafir mengakui adanya Allah tetapi mereka menyembah selain Allah.
Jadi, kata mereka, ada orang yang mengakui adanya Tuhan tetapi menyembah selain Tuhan adalah bertauhid Rububiyah iaitu Tauhidnya orang yang mempersekutukan Allah. Adapun Tauhid Uluhiyah ialah tauhid yang sebenar-benarnya iaitu mengesakan Tuhan sehingga tidak ada yang disembah selain Allah.

Demikian pengajian Wahabi.Pengajian seperti ini tidak pernah ada sejak dahulu. hairan kita melihat falsafahnya. Orang kafir yang mempersekutukan Tuhan digelar kaum Tauhid. Adakah Sahabat-sahabat Nabi menamakan orang musyrik sebagai ummat Tauhid? Tidak!

Syirik dan Tauhid tidak mungkin bersatu. Hal ini adalah 2 perkara yang berlawanan bagai siang dengan malam. Mungkinkah bersatu siang dengan malam serentak?Begitulah juga tidak adanya syirik dan tauhid bersatu dalam diri seseorang. Sama ada dia Tauhid atau Musyrik. Tidak ada kedua-duanya sekali. Jelas ini adalah ajaran sesat dan bidaah yang dipelopori oleh puak Wahabi & kini telah merebak ke dalam pengajian Islam teruatamnya di Timur Tengah. Kaum Wahabi yang sesat ini menciptakan pengajian baru dengan maksud untuk menggolongkan manusia yang datang menziarahi makam Nabi di Madinah, bertawasul dan amalan Ahlussunnah wal Jamaah yang lain sebagai orang “kafir” yang bertauhid Rububiyah dan yang mengikuti mereka sahaja adalah tergolong dalam Tauhid Uluhiyah.

D. Al-Allamah Al-Mufassir Al-Muhaddith Al-Faqih al-Sheikh Abdurrahman Khalifah dan Fatwa Ulama’ Al-Azhar Menolak Wahhabiyyah Taymiyyah

1. Semoga Allah SWT merahmati al-Sheikh Abdurrahman Khalifah (Lahir 1877M 1294H, Wafat pada 1364H)…seorang mufassir, seorang Muhaddith, seorang Faqih, seorang penyair dan sasterawan arab, di kalangan ulama’ al-Azhar yang masyhur. Bapa beliau, al-Sheikh Khalifah tergolong di kalangan ulama’ besar (kibar al-ulama’) al-Azhar, adik-beradik beliau juga tergolongan di dalam golongan ulama’ yang masyhur. Beliau telah melahirkan ramai para ulama’ yang masyhur, semoga kita mendapat keberkatan daripada Allah SWT dengan kedudukan beliau di sisi-Nya…..Allah Allah…

2. Di dalam kitab beliau yang padat ini bertajuk (Al-Mushabbihah wa al-Mujassimah) [maksudnya: Golongan Yang Menyerupakan Allah dengan Makhluk dan Meletakkan Sifat Jisim pada Allah] …Maha Suci Allah. Beliau mendedahkan sikap majalah berfahaman Wahabi (bertajuk al-Huda) di Mesir yang “berlagak” seumpama orang-orang soleh dan nabi apabila dilanyak/diserang/ditolak oleh para ulama’…kononnya mereka (Wahabi) tidak mahu terlibat dengan kekotoran keji mengeji dan caci maki sesama Muslim….maka ramailah orang awam yang terpedaya…dengan kepura-puraan mereka … sedangkan merekalah (Wahabi) yang telah memulakan sikap memburuk-burukkan, mengkafirkan, mencaci maki, menuduh para ulama’ Islam dengan kejahilan… inilah sifat golongan Wahabi apabila mereka diserang dengan hujah ilmiah….. Di dalam kitab ini juga, beliau telah menyentuh beber apa perkara yang tidak disentuh di dalam kitab-kitab lain berkenaan kekeliruan yang berlaku.

Komen Penulis: Wahabi ni memang pandai “tai-chi” apabila tak ada hujah ilmiah…

3. Namun itu bukanlah perkara utama yang ingin penulis tekankan di sini. Di sini kami nukilkan “Fatwa Ulama’ Al-Azhar” pada era al-Sheikh Abu al-Fadhl Al-Jizawi mengenai kitab “Ijtima’ al-Juyush al-Islamiyyah” yang dikarang oleh Ibnu Qayyim al-Jawziyyah yang disertakan di dalam kitab ini…

[Klik pada gambar untuk membesarkannya]

Terjemahan:

[[[ Ini adalah nukilan bagi fatwa para mashayikh al-Azhar di zaman al-Maghfur Lah al-Sheikh ABu al-Fadhl al-Jizawi berkenaan kitab “Ijtima’ al-Juyush al-Islamiyyah” dan apa yang terkandung di dalamnya daripada pandangan-pandangan yang mentashbihkan Allah

Ayat al-Quran: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” Ayat 7: Surah Ali Imran.

Keputusan Berkenaan Kitab “Ijtima’ al-Juyush al-Islamiyyah” yang disandarkan kepada Ibnu Qayyim al-Jawziyyah yang telah dibawa kepada ulama’ Al-Azhar untuk tujuan memberi pendapat mereka berkenaan kitab ini dan inilah ia:

“Kitab ini telah ditulis oleh penulisnya Ibn al-Qayyim untuk menyokong pendapatnya dan pendapat sheikhnya Ibnu Taymiyyah dalam perkara berkenaan nas-nas Mutashabihat yang terkandung di dalam al-Quran dan al-Sunnah, yang mana mereka (Ibnu al-Qayyim dan Ibnu Taymiyyah) mewajibkan beriman dengan makna zahir nas-nas tersebut walaupun ia bertentangan dengan fahaman akal yang sihat/sejahtera, dan walaupun makna zahir tersebut tersangat jelas dalam menyebabkan Tashbih (Menyerupakan Allah dengan makhluk) dan Tajsim (meletakkan sifat jisim ke atas Allah),

Dalam hal ini, mereka (Ibnu al-Qayyim dan Ibnu Taymiyyah) bertentangan dengan perkumpulan umat-umat Islam dan persepakatan para ulama’ Islam yang telah bersepakat bahawa prinsip-prinsip asas aqidah dan isu-isu berkaitan ketuhanan hanyalah diambil daripada dalil-dalil akal yang pasti, dan apabila aqal dan naqal bertentangan dalam hal-hal tersebut maka diutamakan akal kerana ia (akal) adalah asas beriman dengan naqal.

Dan dalil akal yang pasti itu menunjukkan bahawa wajib Allah SWT itu suci daripada menyerupai perkara-perkara baharu (makhluk) kerana kalau Dia menyerupai yang baharu itu, maka Dia jua adalah baharu, dan ini adalah mustahil.

Dan telah datang nas-nas Shariat yang banyak yang menguatkan akidah ini (Allah tidak menyerupai yang baharu) melainkan hanya sedikit ayat-ayat al-Quran dan Hadis yang mengandungi sedikit sangkaan tashbih pada zahirnya, maka wajiblah dikatakan makna yang zahir (yang mengandungi sangkaan tashbih itu) itu mustahil kerana berdasarkan fahaman akal yang sahih dan nas-nas Al-Quran dan Hadis Muhkam (Yang Jelas, Tepat dan Tidak Dinasakh Maknanya) yang mewajibkan tanzih (Menyucikan Allah Daripada Segala Sifat-sifat Yang Tidak Layak Bagi-Nya, Menolak Tashbih dan Tajsim).” ]]]

Sedikit Huraian:

4. Seorang alim yang masyhur seperti Sheikh Abdurrahman Khalifah telah menolak golongan Wahhabi dengan secara terang dan jelas serta menyatakan bahawa mereka membawa fahaman Tashbih dan Tajsim. Namun, ada di antara kita yang masih berdegil. Mengapa, fikirlah sendiri. Kita yang tidak faham masalah sebenar? atau Sheikh Abdurrahman Khalifah yang silap faham? Fikir-fikirkanlah.

5. Para ulama’ al-Azhar pada zaman Sheikh Abu al-Fadhl al-Jizawi telah sepakat menolak akidah yang dibawa di dalam kitab-kitab Ibnu Taymiyyah dan Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah dan menyatakan bahawa akidah mereka bertentangan dengan majoriti umat dan ulama’ Islam. Bagaimanakan pendirian anda? Patutkan anda berkata bahawa ulama’ al-Azhar tersilap faham? Fikir-fikirkanlah

6. Sekirangnya anda meneliti kandungan rujukan kitab-kitab golongan Wahhabi pada hari ini, banyak daripada mereka menjadikan kitab “Ijtima’ al-Juyush al-Islamiyyah” ini sebagai rujukan mereka. dan anda telah pun mengetahui kedudukan kitab ini daripada kacamata ulama’ al-Azhar.

7 Banyak lagi yang tidak dapat kami tuliskan di sini. Diharapkan agar anda semua terus berdoa dan mengkaji. Semoga Allah SWT menunjukkan kepada kita jalan yang lurus.

LAMPIRAN


Senarai para ulama’ yang telah menolak Wahhabi/Hashawiyyah/al-Jahwiyyah/Tajsim & Tashbih ala Ibnu Taymiyyah dan anak muridnya Ibnu al-Qayyim dan nas-nas mereka telah disertakan di dalam blog ini:

Ulama’ Arab:

1. al-Imam al-’Allamah Al-Sheikh Muhammad Ibn Abdullah Ibn Humayd al-Najdi al-Hanbali, Mufti Mazhab Hanbali di Mekah al-Mukarramah (Wafat 1295H)

2. Khatimah al-Muhaqqiqin al-Imam Muhammad Amin (terkenal dengan gelaran Ibn Abidin), alim besar mazhab Hanafi

3. al-Sheikh Prof. Dr. Muhammad Saed Ramadhan al-Bouthi

4. Mufti Mazhab Shafie di Masjidil Haram, Sheikh Ahmad Zayni Dahlan

5. Al-Qadhi al-Sheikh Yusuf al-Nabhani al-Shafi’e, Qadhi Mahkamah Syariah/ Ketua Mahkamah Tinggi di Beirut [wafat 1350 H], Kitab beliau yang menolak Wahabi ditaqridz (disemak dan dipuji) oleh:

*Hadrah al-Ajall al-Afkham Al-‘Allamah Al-Jalil Al-Akram Al-Marhum al-Sayyid Ali al-Bablawi al-Maliki – Mantan Sheikh al-Jami’ al-Azhar (Sheikh Masjid Jami’ al-Azhar) ;

*Al-‘Allamah al-Kamil Al-Fahhamah al-Fadhil Sheikh Mashayikh al-Hanafiyyah (Sheikh Para Ulama’ Mazhab Hanafi) dan Mantan Mufti Mesir al-Marhum al-Sheikh Abd al-Qadir al-Rafi’e;

*Sheikh al-Islam, Mahathth Nazr al-‘Anam Sheikh al-Jami’ Al-Azhar (Sheikh Masjid Jami’ al-Azhar) al-Sheikh Abd al-Rahman al-Sharbini;

*Hadrah al-Ustaz al-Mukarram al-Allamah Al-Afkham U’jubah al-Zaman wa Marja’ al-Ummah fi Mazhab al-Nu’man Sahib al-Fadhilah al-Sheikh al-Bakri al-Sadafi, Mufti Mesir dan Ketua Ulama’ Mazhab al-Hanafi Al-Sheikh Muhammad Bakri Muhammad ‘Ashur al-Sadafi;

*Hadrah al-Allamah Shams Bahjah al-Fudala’ wa Durrah Uqad Zawi al-Tahqiq al-Nubala’ al-Ustaz al-Fadhil wa al-Fahhamah al-Kamil al-Sheikh Muhammad Abd al-Hayy Ibn al-Sheikh Abd al-Kabir al-Kattani Al-Hasani – di antara ulama’ yang teragung di Maghribi;

*Hadrah al-Hasib al-Nasib al-Ha’iz min darari al-Majd aw fi nasib zi al-kamal al-Zahir wa al-‘Ilm al-Wafir al-Sayyid Ahmad Bek al-Husayni al-Shafie al-Muhami al-Shahir – alim mazhab al-Shafie;

*Hadrah al-‘Allamah al-Kabir wa al-Fahhamah al-Shahir, Subhan al-Zaman wa Ma’din al-Fadl wa al-‘Irfan al-Sheikh Sulayman al-‘Abd al-Shibrawi al-Shafie al-Azhari – alim mazhab al-Shafie;

*Hadrah al-Allamah al-Lawza’I al-Fahhamah, Ma’din al-Kamal wa Insan ‘Ayan al-Fadl wa al-Jalal, al-Sheikh Ahmad Hasanayn al-Bulaqi – salah seorang ulama’ mazhab al-Shafie di Al-Azhar;

*Hadrah al-‘Allamah Al-Fadhil wa al-Malazz al-Kamil al-Sheikh Ahmad al-Basyouni – Sheikh Mazhab Hanbali di Al-Azhar;

*Al-Allamah al-Sheikh Said al-Muji al-Gharqi al-Shafie al-Azhari – di antara ulama’ mazhab al-Shafie di Al-Azhar; dan

*Al-‘Allamah Al-Sheikh Muhammad al-Halabi al-Shafie Al-Misri Al-Azhari – di antara ulama’ mazhab al-Shafie di Al-Azhar.

6. Sultan al-Ulama’, Imam Izzuddin Ibn Abd al-Salam, alim besar mazhab al-Shafie

7. Penutup Para Fuqaha’ dan Ulama’ Hadis, Sheikh al-Islam Al-Imam Ibnu Hajar al-Haytami Al-Makki Al-Sa’di, alim besar mazhab Shafie dan pelbagai disiplin ilmu.

8. al-Qadhi Ibn Jahbal [Wafat 733H] seorang faqih mazhab Shafie dan ulama’ mazhab al-Asha’irah yang merupakan salah seorang alim yang sezaman dengan Ibnu Taymiyyah [Wafat 728H].

9. Imam Abu Zahrah (menolak metodologi Ibnu Taymiyyah dalam memahami mutashabihat)

10. Al-Allamah Al-Mufassir Al-Muhaddith Al-Faqih al-Sheikh Abdurrahman Khalifah

11. Ulama’ Al-Azhar pada era al-Sheikh Abu al-Fadhl Al-Jizawi


Ulama’ Melayu:

1. Abu Zahidah Bin Haji Sulaiman

2. Abu Qani’ah – Haji Harun Bin Muhammad al-Samadi al-Kalantani

Kitab mereka berdua telah ditaqridz (disemak dan dipuji) oleh tiga ulama’ Melayu di utara tanah air pada waktu itu. Mereka ialah:

*Sheikh Abdullah Fahim;

*Sheikh Tuan Haji Ahmad Bin Tuan Hussein (Kedah); dan

*Sheikh Tuan Guru Haji Abdurrahman Merbuk, Kedah.

3. Sheikh Ahmad al-Fathani.

“Hidayah itu milik Allah jua”.

BACA JUGA :

https://salafytobat.wordpress.com/category/ibnu-hajar-al-haytami-aqidah-imam-ahmad-berbeda-aqidah-ibnu-taymiyyah-dan-ibnul-qayyim/

Roh/Ruh Orang Beriman

Roh Orang Beriman

Dalam beberapa karangan para ulama kita, ada tercatat kisah berhubung tentang pergi dan datangnya arwah kaum mu’minin ke langit dunia untuk menziarahi kaum keluarga mereka yang masih hidup di alam dunia. Ada sesetengah pihak dengan mudah sahaja mengenepikan kemungkinan perkara tersebut berlaku. Sedangkan hakikatnya hanya Allah SWT sahaja yang Maha Mengetahui sebab persoalan ini merupakan urusanNya. Tidak tergambar pula yang para ulama kita seperti Sidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi rahimahUllah dan Syaikh Sulaiman al-Bujairimi rahimahUllah, ahli-ahli fiqh yang terkemuka, hendak memenuhkan karya-karya mereka dengan pendustaan dan kebohongan. Contohnya Sidi Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi menulis berkenaan perkara ini dalam karya agungnya ” I`aanatuth Thoolibiin” jilid 2 halaman 161, antara lain beliau menulis:-
Juga telah warid: “ Bahawasanya roh-roh orang mukmin datang pada setiap malam ke langit dunia dan mereka berhenti di hadapan rumah-rumah mereka. Setiap seorang daripada mereka menyeru dengan suara sedih 1000 kali: “Wahai ahli keluargaku, wahai kaum kerabatku, wahai anakku, wahai orang yang mendiami rumah-rumah kami, berpakaian dengan pakaian kami, berbahagi harta kami, tidak adakah sesiapa antara kamu yang mengingati kami dan memikirkan keadaan kami yang berada dalam kejauhan, kami berada dalam tahanan yang panjang dan kawalan yang ketat? Kasihanilah kami, moga-moga Allah akan mengasihi kamu, dan janganlah kamu bakhil kepada kami sebelum kamu menjadi seperti kami. Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya kelebihan yang ada pada tangan kamu sekarang, dahulunya ada pada tangan kami. Malangnya kami tidak menafkahkan sebahagian daripadanya untuk jalan Allah, maka perkiraan hisab serta penyesalan atas kami sedangkan manfaatnya bagi orang lain. Maka apabila tidak memperolehi sesuatu (yakni hadiah, sedekah, doa, istighfar dan sebagainya daripada orang hidup kepada mereka), pergilah roh-roh tersebut dengan kekecewaan dan hampa.” Dan telah warid juga bahawasanya Junjungan Nabi s.a.w. bersabda: “Tidaklah orang mati itu di dalam kuburnya melainkan seperti orang yang kelemasan memohon pertolongan. Dia menunggu datangnya doa-doa kepadanya daripada anaknya atau saudaranya atau temannya. Apabila diterimanya (doa-doa tersebut), maka ianya adalah sesuatu yang terlebih kasih baginya daripada dunia dan segala isinya (yakni menerima hadiah berupa doa adalah lebih disukai si mati daripada memperolehi dunia dan segala isinya).
Datang dan perginya sebahagian roh-roh orang mukmin yang tertentu ke barang mana tempat dengan kehendak dan izin Allah adalah suatu perkara yang tidak dapat dinafikan lagi. Bulan Rejab yang bakal menjelang tiba, di mana kisah Isra` dan Mi’raj biasanya akan diperingati. Dalam kisah tersebut jelas dan nyata bahawa segala arwah anbiya` yang telah wafat sekian lama sebelum lahirnya Junjungan Nabi SAW telah berhimpun pada malam 27 Rejab tersebut di Masjidil Aqsha untuk sholat berimamkan Junjungan Nabi s.a.w. Bukankah Masjidil Aqsha itu wujudnya di alam nyata di dunia yang fana ini dan bukankah arwahnya para anbiya` tersebut berada di barzakh. Mungkin ada yang berkata bahawa ianya dikhususkan untuk arwahnya para nabi, itu satu kemungkinan, tetapi mungkin juga tidak. Mungkin juga ianya berlaku kepada arwah para nabi dan para pewaris mereka yang terdiri daripada kalangan khawasnya umat. Oleh itu, pendapat yang menyatakan bahawa setiap roh yang berada di barzakh tidak boleh kembali ke alam dunia adalah pendapat yang tidak tepat. Ya, tiada roh yang sudah berpindah ke alam barzakh boleh kembali ke dunia untuk menjalani kehidupan duniawi seperti sebelum kematiannya iaitu hidup kembali dengan roh dan jasad, tetapi apa pula yang menegahkan roh kalangan khawas daripada para anbiya` dan awliya` serta sholihin untuk kembali ke alam dunia dengan kehidupan barzakhiyyah, iaitu dengan roh semata-mata. Bukankah wujud nas-nas yang menyatakan keharusan (baca: boleh) bagi roh-roh tertentu untuk berpergian ke mana-mana sahaja. Bahkan banyaknya hadits dan atsar yang berbagai-bagai menceritakan tempat dan keberadaan roh-roh, sudah cukup membuktikan kepelbagaian tempat dan keadaan roh-roh tersebut. Walau bagaimanapun, roh itu termasuk urusan Tuhan, maka, setiap pihak baik yang pro dan kontra, sewajarnya mengembalikan urusan tersebut kepadaNya, tanpa bersikap fanatik dengan pendapat sendiri semata-mata. Dan perlu juga kita ketahui bahawa datang dan perginya arwah para anbiya` dan awliya` tersebut termasuk perkara yang mumkin bagi Allah SWT. Akhirul kalam, Imam asy-Sayuthi rahimahUllah dalam “Syarhush Shudur bi syarhi haalil mawtaa wal qubuur” pada halaman 312 menulis:-

Diriwayatkan oleh al-Hakim at-Tirmidzi daripada Sayyidina Salman r.a. yang berkata: “Bahawasanya arwah kaum mu’minin di barzakh pada dunia ini bebas berpergian ke mana-mana yang dikehendaki antara langit dan bumi, sehinggalah Allah mengembalikannya kepada jasad-jasad mereka (yakni pada hari kebangkitan nanti).”

Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya daripada Sayyidina Malik bin Anas r.a. yang berkata:- “Telah sampai kepadaku bahawasanya roh-roh orang mu’min itu bebas berpergian ke mana-mana sahaja yang dikehendaki.”

الله اعلم
************************************