Kesesatan Albany/wahaby dalam ilmu hadits (tarjamah)

Kesesatan Nashiruddin Al-bany (wahaby – salafy) Dalam Ilmu Hadits

Judul asli : Tanaqudlaat Albany al-Waadlihah fiima waqo’a fi tashhihi al-Ahaadiits wa tadl’iifiha min akhtho’ wa gholath (Kontradiksi Al-Albani yang nyata terhadap penshahihan hadits-hadits dan pendhaifannya yang salah dan keliru).

Penulis : Syaikh Hasan Ali Assegaf

Penerbit : Imam Al-Nawawi House Postbus 925393 Amman Jordan

Siapakah Syekh Muhammad Nashirudin al- Albani?

Pada akhir-akhir ini diantara ulama yang dibanggakan dan dijuluki oleh sebagian golongan Wahabi/Salafi sebagai Imam Muhadditsin (Imam para ahli hadits) yaitu Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani karena menurut mereka ilmunya tentang hadits bagaikan samudera tanpa bertepi. Beliau lahir dikota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M. Begitu juga Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baz di Saudi Arabia. Ada juga dari golongan Salafi ini berkata bahwa al-Albani sederajad dengan Imam Bukhori pada zamannya. Sehingga semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan dan sebagainya, oleh beliau ini, sudah pasti lebih mendekati kebenaran.

Buat ulama-ulama madzhab sunnah selain madzhab Wahabi, julukan dan pujian golongan Wahabi/Salafi terhadap ulama mereka Al-Albani semacam itu tidak ada masalahnya. Hanya sekarang yang dimasalahkan adalah penemuan ulama-ulama ahli hadits dari berbagai madzhab diantaranya dari Jordania yang bernama Hasan Ali Assegaf tentang banyaknya kontradiksi dari hadits-hadits dan catatan-catatan yang dikemukakan oleh al-Albani ini jumlahnya lebih dari 1200 hadits. Judul bukunya yang mengeritik Al-Albani ialah: Tanaqudlaat Albany al-Waadlihah fiima waqo’a fi tashhihi al-Ahaadiits wa tadl’iifiha min akhtho’ wa gholath (Kontradiksi Al-Albani yang nyata terhadap penshahihan hadits-hadits dan pendhaifannya yang salah dan keliru).

Sebagian isi buku itu telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris yang saya akan mengutipnya dibawah ini beserta terjemahan bahasa Indonesianya sekali. Bagi para pembaca yang ingin membaca seluruh isi buku Syeikh Seggaf ini dan berminat untuk memiliki buku aslinya bisa menulis surat pada alamat: IMAM AL-NAWAWI HOUSE POSTBUS 925393 AMMAN, JORDAN. (Biaya untuk jilid 1 ialah US$ 4,00 belum termasuk ongkos pengiriman (via kapal laut) dan biaya untuk jilid 2 ialah US$ 7, 00 belum termasuk ongkos pengiriman (via kapal laut). Biaya bisa selalu berubah.

Kami mengetahui setiap manusia tidak luput dari kesalahan walaupun para imam atau ulama pakar kecuali Rasulallah saw. yang maksum. Tujuan kami mengutip kesalahan-kesalahan Syeikh Al-Albani ini bukan untuk memecah belah antara muslimin tapi tidak lain adalah untuk lebih meyakinkan para pembaca bahwa Syeikh ini sendiri masih banyak kesalahan dan belum yakin serta masih belum banyak mengetahui mengenai hadits karena masih banyak kontradiksi yang beliau kutip didalam buku-bukunya. Dengan demikian hadits atau riwayat yang dilemahkan, dipalsukan dan sebagainya oleh Syeikh ini serta pengikut-pengikutnya tidak bisa dipertanggung jawab- kan kebenarannya, harus diteliti dan diperiksa lagi oleh ulama madzhab lainnya.

Contoh-contoh kesalahan

Syeikh Albani ini yaitu umpamanya disatu halaman atau bukunya mengatakan hadits ..Lemah tapi dihalaman atau dibuku lainnya mengatakan hadits (yang sama itu) ….Shohih atau Hasan. Begitu juga beliau disatu buku atau halaman mengatakan bahwa perawi…. adalah tidak Bisa Dipercaya banyak membuat kesalahan dan sebagainya, tapi dibuku atau halaman lainnya beliau mengatakan bahwa perawi (yang sama ini) Dapat Dipercaya dan Baik. Begitu juga beliau disatu halaman atau bukunya memuji-muji perawi… atau ulama… tapi dibuku atau halaman lainnya beliau ini mencela perawi atau ulama (yang sama tersebut).

Juga diantara ulama-ulama pengeritik Al-Albani ini ada yang berkata; Kontradiksi tentang hadits Nabi saw. itu atau perubahan pendapat terdapat juga pada empat ulama pakar yang terkenal (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hanbali) atau ulama lainnya ! Perubahan pendapat empat ulama ini biasanya yang berkaitan dengan pendapat atau ijtihadnya sendiri. Misalnya; Disalah satu kitab mereka membolehkan suatu masalah sedangkan pada kitab lainnya memakruhkan atau mengharamkan masalah ini atau sebaliknya. Perubahan pendapat ulama ini kebanyakan tidak ada sangkut pautnya dengan hadits yang mereka kemukakan sebelum dan sesudahnya, tapi kebanyakan yang bersangkutan dengan pendapat atau ijtihadnya sendiri waktu mengartikan hadits yang bersangkutan tersebut.

Dan seandainya diketemukan adanya kontradiksi mengenai hadits yang disebutkan ulama ini pada kitabnya yang satu dengan kitabnya yang lain, maka kontradiksi ini tidak akan kita dapati melebihi dari 10 hadits. Jadi bukan ratusan yang diketemukan !

Tapi yang lebih aneh lagi ulama golongan Salafi (baca:Wahabi) tetap mempunyai keyakinan tidak ada kontradiksi atau kesalahan dalam hadits yang dikemukakan oleh al-AlBani tersebut tapi lebih merupakan ralat, koreksi atau rujukan. Sebagaimana alasan yang mereka ungkapkan sebagai berikut; umpama al-Albani menetapkan dalam kitabnya suatu hadits kemudian dalam kitab beliau lainnya menyalahi dengan kitab yang pertama ini bisa dikatakan bahwa dia meralat atau merujuk hal tersebut!

Alasan ini baik oleh ulama maupun awam (bukan ulama) tidak bisa diterima baik secara aqli (akal) maupun naqli (menurut nash). Seorang yang dijuluki ulama pakar oleh sekte Wahabi dan sebagai Imam Muhadditsin karena ilmu haditsnya seperti samudra yang tidak bertepian, seharusnya sebelum menulis satu hadits, beliau harus tahu dan meneliti lebih dalam apakah hadits yang akan ditulis tersebut shohih atau lemah, terputus dan sebagai- nya. Sehingga tidak memerlukan ralatan yang begitu banyak lagi pada kitabnya yang lain. Apalagi ralatan tersebut yang diketemukan para ulamabukan puluhan tapi ratusan!!

Sebenarnya yang bisa dianggap sebagai ralatan yaitu bila sipenulis menyatakan dibukunya sebagai berikut; hadits ..…yang saya sebutkan pada kitab .… sebenarnya bukan sebagai hadits …..(dhoif, maudhu’ dan sebagainya) tapi sebagai hadits…… ( shohih dan sebagainya). Dalam kata-kata semacam ini jelas si penulis telah mengakui kesalahannya serta meralat pada kitabnya yang lain. Selama hal tersebut tidak dilakukan maka ini berarti bukan ralatan atau rujukan tapi kesalahan dan kekurang telitian si penulis.

Golongan Salafi/Wahabi ini bukan hanya tidak mau menerima keritikan ulama-ulama yang tidak sependapat dengan keyakinan ulama mereka, malah justru sebaliknya mengecam pribadi ulama-ulama yang mengeritik ini sebagai orang yang bodoh, golongan zindik, tidak mengerti bahasa Arab, dan lain sebagainya. Mereka juga menulis hadits-hadits Nabi saw. dan wejangan ulama-ulamanya untuk menjawab kritikan ini tetapi sebagian isinya tidak ada sangkut pautnya dengan kritikan yang diajukan oleh para ulama madzhab, selain madzhab Salafi (baca:Wahabi) ini!!

Alangkah baiknya kalau golongan Salafi ini tidak mencela siapa/ bagaimana pribadi ulama pengeritik itu, tapi mereka langsung membahas atau menjawab satu persatu dengan dalil yang aqli dan naqli masalah yang dikritik tersebut. Sehingga bila jawabannya itu benar maka sudah pasti ulama-ulama pengeritik ini dan para pembaca akan menerima jawaban golongan Wahabi dengan baik. Ini tidak lain karena ke egoisan dan kefanatikan pada ulamanya sendiri sehingga mereka tidak mau terima semua keritikan-keritikan tersebut, dan mereka berusaha dengan jalan apapun untuk membenarkan riwayat-riwayat atau nash baik yang dikutip oleh al-Albani maupun ulama mereka lainnya. Sayang sekali golongan Salafi ini merasa dirinya yang paling pandai memahami ayat al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah saw., paling suci, dan merasa satu-satunya golongan yang memurnikan agama Islam dan sebagainya. Dengan demikian mudah mensesatkan, mensyirikkan sesama muslimin yang tidak sepaham dengan pendapatnya.

Mari kita sekarang meneliti sebagian pilihan/seleksi isi buku Syeikh Segaf tentang kesalahan-kesalahan al-Albani. Setiap nomer yang dalam bahasa Inggris selesai langsung kami terjemahkan (kurang lebih artinya) kedalam bahasa Indonesia, insya Allah buat pembaca mudah untuk menelitinya.

AL-ALBANI’S WEAKENING OF SOME OF IMAM BUKHARI AND MUSLIM’S AHADITH.

Al-Albani melemahkan beberapa hadits dari Imam Bukhori dan Imam Muslim.

Al-Albani has said in “Sharh al-Aqeedah at-Tahaweeah, pg. 27-28″ (8th edition, Maktab al-Islami) by Shaykh Ibn Abi al-Izz al-Hanafi (Rahimahullah), that any Hadith coming from the Shohih collections of al-Bukhari and Muslim is Shohih, not because they were narrated by Bukhari and Muslim, but because the Ahadith are in fact correct. But he clearly contradicts himself, since he has weakened Ahadith from Bukhari and Muslim himself! Now let us consider this information in the light of elaboration :

Syekh Al-Albani telah berkata didalam Syarh Al-Aqidah at-Tahaweeah hal.27-28 cet.ke 8 Maktab Al-Islami oleh Sjeik Ibn Abi Al-Izz Al-Hanafi (Rahimahullah). “Hadits-hadits shohih yang dikumpulkan oleh Bukhori dan Muslim bukan karena diriwayatkan oleh mereka tapi karena hadits-hadits tersebut sendiri shohih”. !

Tetapi dia (Albani) telah nyata berlawanan dengan omongannya sendiri karena pernah melemahkan hadits dari dua syeikh tersebut. Mari kita lihat beberapa hadits dari Imam Bukhori dan Imam Muslim yang dilemahkan oleh Syekh al-Albani keterangan berikut ini :

Selected translations from volume 1.

Terjemahan-terjemahan yang terpilih dari jilid (volume) 1.

No.1: (*Pg. 10 no. 1 ) Hadith: The Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) said: “Allah says I will be an opponent to 3 persons on the day of resurrection: (a) One who makes a covenant in my Name but he proves treacherous, (b) One who sells a free person (as a slave) and eats the price (c) And one who employs a laborer and gets the full work done by him, but doesn’t pay him his wages.” [Bukhari no 2114-Arabic version, or see the English version 3/430 pg 236]. Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in “Daeef al-Jami wa Z iyadatuh, 4/111 no. 4054″. Little does he know that this Hadith has been narrated by Ahmad and Bukhari from Abu Hurayra (Allah be pleased with him)!!

No.1: (Hal. 10 nr.1) Sabda Rasulallah saw. bahwa Allah swt.berfirman: Aku musuh dari 3 orang pada hari kebangkitan ; a) Orang yang mengadakan perjanjian atas NamaKu, tetapi dia sendiri melakukan pengkhianatan atasnya b) Orang yang menjual orang yang merdeka sebagai budak dan makan harta hasil penjualan tersebut c) orang yang mengambil buruh untuk dikerjakan dan bekerja penuh untuk dia, tapi dia tidak mau membayar gajihnya. (Bukhori no.2114 dalam versi bahasa Arab atau dalam versi bahasa Inggris 3/430 hal. 236). Al-Albani berkata dalam Dhaif Al-jami wa Ziyadatuh 4/111 nr. 4054. bahwa hadits ini lemah. Dia (Al-Albani) memahami hanya sedikit tentang hadits, hadits diatas ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhori dari Abu Hurairah ra.

No.2: (*Pg. 10 no. 2 ) Hadith: “Sacrifice only a grown up cow unless it is difficult for you, in which case sacrifice a ram.” [Muslim no. 1963-Arabic edition, or see the English version 3/4836 pg. 1086]. Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 6/64 no. 6222.” Although this Hadith has been narrated by Imam’s Ahmad, Muslim, Abu Dawood, Nisai and Ibn Majah from Jaabir (Allah be pleased with him)!!

No.2: (Hal. 10 nr.2) Hadits : “Korbanlah satu sapi muda kecuali kalau itu sukar buatmu maka korbanlah satu domba jantan” ( Muslim nr.1963 dalam versi bahasa Arab yang versi bahasa Inggris 3/4836 hal.1086). Al-Albani berkata Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 6/64 nr. 6222 bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Jabir ra.

No.3: (*Pg. 10 no. 3 ) Hadith: “Amongst the worst people in Allah’s sight on the Day of Judgement will be the man who makes love to his wife and she to him, and he divulges her secret.” [Muslim no. 1437- Arabic edition]. Al-Albani claims that this Hadith is DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 2/197 no. 2005.” Although it has been narrated by Muslim from Abi Sayyed (Allah be pleased with him)!!

No.3: (Hal.10 nr.3) Hadits: ‘Termasuk orang yang paling buruk dan Allah swt. akan mengadilinya pada hari pembalasan yaitu suami yang berhubung- an dengan isterinya dan isteri berhubungan dengan suaminya dan dia menceriterakan rahasia isterinya (pada orang lain) (Muslim nr.1437 penerbitan dalam bahasa Arab). Al-Albani menyatakan dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/197 nr. 2005 bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Sayyed ra.

No.4: (*Pg. 10 no. 4 ) Hadith: “If someone woke up at night (for prayers) let him begin his prayers with 2 light rak’ats.” [Muslim no. 768]. Al-Albani stated that this Hadith was DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 1/213 no. 718.” Although it is narrated by Muslim and Ahmad from Abu Hurayra (may Allah be pleased with him)!!

No.4: (Hal.10 nr.4) Hadits: “Bila seorang bangun malam (untuk sholat), maka mulailah sholat dengan 2 raka’at ringan” (Muslim nr. 768). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 1/213 nr. 718 menyatakan bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah.

No.5: (*Pg. 11 no. 5 ) Hadith: “You will rise with shining foreheads and shining hands and feet on the Day of Judgement by completing Wudhu properly. . . . . . . .” [Muslim no. 246]. Al-Albani claims it is DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 2/14 no. 1425.” Although it has been narrated by Muslim from Abu Hurayra (Allah be pleased with him)!!

No.5: (Hal.11 nr. 5) Hadits: ‘Engkau akan naik keatas dihari kiamat dengan cahaya dimuka, cahaya ditangan dan kaki dari bekas wudu’ yang sempurna’ (Muslim nr 246). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/14 nr. 1425 menyatakan bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah.

No.6: (*Pg. 11 no. 6 ) Hadith: “The greatest trust in the sight of Allah on the Day of Judgement is the man who doesn’t divulge the secrets between him and his wife.” [Muslim no’s 124 and 1437] Al-Albani claims it is DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 2/192 no. 1986.” Although it has been narrated by Muslim, Ahmad and Abu Dawood from Abi Sayyed (Allah be pleased with him)!!

No.6: (Hal.11 nr. 6) Hadits: ‘orang yang dimuliakan disisi Allah pada hari pembalasan (kiamat) ialah yang tidak membuka rahasia antara dia dan isterinya’. (Muslim nr.124 dan 1437). Al-Albani dalam Dhaeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/192 nr. 1986 menyatakan bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Abu Daud dari Abi Sayyed.

No.7: (*Pg. 11 no. 7 )Hadith: “If anyone READS the last ten verses of Surah al-Kahf he will be saved from the mischief of the Dajjal.” [Muslim no. 809]. Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 5/233 no. 5772.”

NB- The word used by Muslim is MEMORIZED and not READ as al-Albani claimed; what an awful mistake! This Hadith has been narrated by Muslim, Ahmad and Nisai from Abi Darda (Allah be pleased with him)!! (Also recorded by Imam Nawawi in “Riyadh us-Saliheen, 2/1021″ of the English ed’n).

No.7: (Hal.11 nr.7) Hadits: ‘Siapa yang membaca 10 surah terakhir dari Surah Al-Kahfi, akan dilindungi dari kejahatan Dajjal ‘ (Muslim nr. 809). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 5/233 nr. 5772 menyatakan hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Nasa’i dari Abi Darda ra. juga dikutip oleh Imam Nawawi dalam Riyadhos Sholihin 2/1021 dalam versi Inggris).

NotaBene: Didalam riwayat Muslim disebut Menghafal (10 surat terakhir Al-Kahfi) bukan Membaca sebagaimana yang dinyatakan Al-Albani, ini adalah kesalahan yang nyata !

No.8: (*Pg. 11 no. 8 ) Hadith: “The Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) had a horse called al-Laheef.” [Bukhari, see Fath al-Bari of Hafiz Ibn Hajar 6/58 no. 2855]. But Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 4/208 no. 4489.” Although it has been narrated by Bukhari from Sahl ibn Sa’ad (Allah be pleased with him)!!! Shaykh Saqqaf said: “This is only anger from anguish, little from a lot and if it wasn’t for the fear of lengthening and boring the reader, I would have mentioned many other examples from al-Albani’s books whilst reading them. Imagine what I would have found if I had traced everything he wrote?”

AL-ALBANI’S INADEQUACY IN RESEARCH (* Vol. 1 pg. 20) Shaykh Saqqaf said: “The strange and amazing thing is that Shaykh l-Albani misquoted many great Hadith scholars and disregards them by his lack of knowledge, either directly or indirectly! He crowns himself as an unbeatable source and even tries to imitate the great scholars by using such terms like “Lam aqif ala sanadih”, which means “I could not find the chain of narration”, or using similar phrases! He also accuses some of the best memorizers of Hadith for lack of attention, even though he is the one best described by that!”

No. 8 (Hal.11 nr. 8)Hadits: Rasulallah saw. mempunyai seekor kuda bernama Al Laheef’’ (Bukhori, lihat Fath Al-Bari oleh Hafiz ibn Hajar 6/58 nr.2855). Tapi Al-Albani dalam “Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 4/208 nr. 4489 berkata bahwa hadits ini lemah. Walaupun diriwayatkan oleh Bukhori dari Sahl Ibn Sa’ad ra.

Syeikh Segaf berkata : Ini hanya marah dari sakit hati ! Kalau tidak karena takut terlalu panjang dan pembaca menjadi bosan karenanya saya akan sebutkan banyak contoh-contoh dari buku-buku Al-Albani …………..)

AL-ALBANI TIDAK SESUAI DALAM PENYELIDIKANNYA (jilid 1 hal.20) Syeikh Seggaf berkata: ‘ Sangat heran dan mengejutkan, bahwa Syeikh Al-Albani menyalahkan dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh ulama-ulama pakar ahli hadits baik secara langsung atau tidak secara langsung, tidak lain semuanya ini karena kedangkalan ilmu Al-Albani ! . Dia mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia sering meniru kata-kata para ulama pakar (dalam menyelidiki suatu hadits) ‘Lam aqif ala sanadih’ artinya ‘ Saya tidak menemukan rantaian sanadnya’ atau dengan kata-kata yang serupa. Dia juga menyalahkan beberapa ulama pakar penghafal Hadits yang terbaik untuk kurang perhatian, karena dia sendiri merasa sebagai penulis yang paling baik.

Now for some examples to prove our point:

Beberapa contoh-contoh bukti yang dimaksud berikut ini :

No.9: (* Pg. 20 no. 1 ) Al-Albani said in “Irwa al-Ghalil, 6/251 no. 1847″ (in connection to a narration from Ali): “I could not find the sanad.” Shaykh Saqqaf said: “Ridiculous! If this al-Albani was any scholar of Islam, then he would have known that this Hadith can be found in “Sunan al-Bayhaqi, 7/121″ :- Narrated by Abu Sayyed ibn Abi Amarah, who said that Abu al-Abbas Muhammad ibn Yaqoob who said to us that Ahmad ibn Abdal Hamid said that Abu Usama from Sufyan from Salma ibn Kahil from Mu’awiya ibn Soayd who said, ‘I found this in my fathers book from Ali (Allah be pleased with him).’”

No.9: (Hal. 20 nr.1) Al-Albani dalam “Irwa Al-Ghalil, 6/251 nr. 1847″ berkata: (riwayat dari Ali): ‘ Saya tidak menemukan sanadnya”.

Syeikh Seggaf berkata: ‘Menggelikan! Bila Al-Albani ini orang yang terpelajar dalam Islam maka dia akan tahu bahwa hadits ini ada dalam Sunan Al-Baihaqi 7/121 diriwayatkan dari Abi Sayyed ibn Abi Amarah yang katanya bahwa Abu Al-Abbas Muhammad ibn Yaqub berkata pada kami bahwa Ahmad ibn Abdal Hamid berkata, bahwa Abu Usama dari Sufyan dari Salma ibn Kahil dari Mu’awiyah ibn Soayd berkata, Saya menemukan ini dalam buku ayah saya dari Ali kw.

No.10: (* Pg. 21 no. 2 ) Al-Albani said in ‘Irwa al-Ghalil, 3/283′: Hadith of Ibn Umar ‘Kisses are usury,’ I could not find the sanad.” Shaykh Saqqaf said: “This is outrageously wrong for surely this is mentioned in ‘Fatawa al-Shaykh ibn Taymiyya al-Misriyah (3/295)’: ‘Harb said Obaidullah ibn Mu’az said to us, my father said to me that Soayd from Jiballa who heard Ibn Umar (Allah be pleased with him) as saying: Kisses are usury.’ And these narrators are all authentic according to Ibn Taymiyya!”

No.10: (Hal.21 nr.2) Al-Albani dalam ‘Irwa Al-Ghalil, 3/283′ berkata; Hadits dari Ibn Umar (Ciuman-ciuman adalah bunga yang tinggi [riba’) Saya tidak menemukan sanadnya.

Syeikh Seggaf berkata: Ini kesalahan yang sangat aneh ! Ini sudah ada didalam Fatwa Syeikh Ibn Taimiyya Al-Misriyah 3/295: “Harb berkata bahwa Ubaidullah ibn Mu’az berkata pada kita; ayah saya berkata bahwa Suaid dari Jiballa mendengar dari Ibn Umar ra berkata: ‘ Ciuman-ciuman itu adalah (bunga?) yang tinggi ‘ Dan perawi-perawi dapat dipercaya menurut Ibn Taimiyyah !

No.11: (* Pg. 21 no. 3 ) Hadith of Ibn Masood (Allah be pleased with him): “The Qur’an was sent down in 7 dialects. Everyone of its verses has an explicit and implicit meaning and every interdiction is learly defined.” Al-Albani stated in his checking of “Mishkat ul-Masabih, 1/80 no. 238” that the author of Mishkat concluded many Ahadith with the words “Narrated in Sharh us-Sunnah,” but when he examined the chapter on Ilm and in Fadail al-Qur’an he could not find it! Shaykh Saqqaf said: “The great scholar has spoken! Wrongly as usual. I wish to say to this fraud that if he is seriously interested in finding this Hadith we suggest he looks in the chapter entitled ‘Al-Khusama fi al-Qur’an’ from Sharh-us-Sunnah (1/262), and narrated by Ibn Hibban in his Shohih (no. 74), Abu Ya’ala in his Musnad (no.5403), Tahawi in Sharh al-Mushkil al-Athar (4/172), Bazzar (3/90 Kashf al-Asrar) and Haythami has mentioned it in Majmoo’a al-Zawaid (7/152) and he has ascribed it to Bazzar, Abu Ya’ala and Tabarani in al-Awsat who said that the narrators are trustworthy.”

No.11: (Hal.21 nr.3) Hadits dari Ibn Mas’ud ra : ‘Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh (macam) bahasa, setiap ayat ada yang jelas dan ada yang kurang jelas dan setiap larangan itu jelas ….(ada batasnya) ‘ Al-Albani dalam Mishkat ul-Masabih, 1/80 nr. 238 menyatakan menurut penyelidikannya bahwa pengarang/penulis Mishkat memutuskan banyak hadits dengan kata-kata “diceriterakan/diriwayatkan dalam Syarh As Sunnah” tapi waktu dia (Albani) menyelidiki bab masalah Ilmu dan Keutamaan Al-Qur’an tidak menemukan hal itu !

Syeikh Seggaf berkata: ‘Ulama yang paling pandai telah berbicara kesalahan yang sudah biasa. Dengan kebohongan itu saya ingin mengata= kan, bila dia benar-benar tertarik untuk menemukan ini hadits, kami mengusulkan agar dia melihat dalam bab yang berjudul ‘Al-Khusama fi Al-Qur’an van Sharh-us-Sunnah (1/262) dan diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam shohihnya nr. 74, Abu Ya’la dalam Musnadnya nr. 5403, Tahawi dalam Sharh Al Mushkil Al-Athar 4/172, Bazzar dalam Kash Al-Asrar 3/90, Haitami telah menyatakan dalam Majmu’a Al-Zawaid 7/152 dan dia merujuk kepada Bazzar, Abu Ya’la dan Tabrani dalam Al-Awsat yang berkata bahwa semua perawinya bisa dipercayai.

No.12: (* Pg. 22 no. 4 ) Al-Albani stated in his “Shohihah, 1/230” while he was commenting on Hadith no. 149: “The believer is the one who does not fill his stomach. . . . The Hadith from Aisha as mentioned by Al-Mundhiri (3/237) and by Al-Hakim from Ibn Abbas, I (Albani) could not find it in Mustadrak al-Hakim after checking it in his ‘Thoughts’ section.” Shaykh Saqqaf said: “Please don’t encourage the public to fall into the void of ignorance which you have tumbled into! If you check Mustadrak al-Hakim (2/12) you will find it! This proves that you are unskilled at using book indexes and the memorization of Hadith!”

No.12: (hal.22 nr.4) Al-Albani berkata dalam Shahiha, 1/230 waktu dia memberi komentar tentang hadits nr. 149; “ Orang yang beriman ialah orang yang perutnya tidak kenyang… “ hadits ini dari Aisyah yang disebutkan dalam Al-Mudhiri 3/237 dan Al-Hakim dari Ibn Abbas. Saya (Albani) tidak menemukan dalam Mustadrak Al-Hakim setelah penyelidikannya dan menurut pasal pikirannya.

Syeikh Seggaf berkata: Tolong jangan berani menjatuhkan masyarakat kepada kebodohan yang sia-sia, yang mana engkau sudah terperosok didalamnya! Kalau engkau akan mencari dalam Mustadrak Al-Hakim 2/12 maka dia akan engkau dapati ! Ini membuktikan bahwa engkau sendiri tidak ahli menggunakan buku index dan memberitakan dari Hadits.

No.13: (* Pg. 23 ) Another ridiculous assumption is made by al-Albani in his “Shohihah, 2/476” where he claims that the Hadith: “Abu Bakr is from me, holding the position of (my) hearing” is not in the book ‘Hilya’. We suggest you look in the book “Hilya , 4/73!”

No.13: (Hal.23) Lebih menggelikan lagi dugaan yang dibuat oleh Al-Albani dalam Shohihah, 2/476 yang mana dia menyatakan bahwa hadits: ‘Abu Bakar dari saya dan dia menempati posisi saya’ tidak ada didalam ‘Hilya’. Saya usulkan agar anda melihat didalam “Hilya, 4/73 ” !

No.14: (*Pg. 23 no. 5 )Al-Albani said in his “Shohihah, 1/638 no. 365, 4th edition”: “Yahya ibn Malik has been ignored by the 6 main scholars of Hadith, for he was not mentioned in the books of Tahdhib, Taqreeb or Tadhhib.” Shaykh Saqqaf: “That is what you say! It is not like that, for surely he is mentioned in Tahdhib al-Tahdhib of Hafiz ibn Hajar al-Asqalani (12/19 Dar al-Fikr edition) by the nickname Abu Ayoob al-Maraagi!! So beware!

No.14 (Hal.23 nr. 5) Al-Albani dalam “Shohihah, 1/638 nr. 365, cet.ke 4” mengatakan : Yahya Ibn Malik tidak dikenal/termasuk 6 ahli hadits karena dia ini tidak tercatat Tahdzib, Taqreeb dan Tadzhib.

Syeikh Seggaf berkata: ‘Itu menurut anda! Sebenarnya bukan begitu, nama julukannya ialah Abu Ayub Al-Maraagi dan ini ada didalam Tahdzib, Al-Tahdzib disebutkan oleh Hafiz ibn Hajar Al-Asqalani 12/19 cet.Dar Al-Fikr ! Hati-hatilah!

FURTHER EXAMPLES OF AL-ALBANI’S CONTRADICTIONS

MASIH BANYAK CONTOH KONTRADIKSI DARI AL-ALBANI !

No 15 : (* Pg. 7 )Al-Albani has criticized the Imam al-Muhaddith Abu’l Fadl Abdullah ibn al-Siddiq al-Ghimari (Rahimahullah) for mentioning in his book “al-Kanz al-Thameen” a Hadith from Abu Hurayra (Allah be pleased with him) with reference to the narrator Abu Maymoona: “Spread salaam, feed the poor. . . .”

Al-Albani said in “Silsilah al-Daeefa, 3/492”, after referring this Hadith to Imam Ahmad (2/295) and others: “I say this is a weak sanad, Daraqutni has said ‘Qatada from Abu Maymoona from Abu Hurayra: Unknown, and it is to be discarded.'” Al-Albani then said on the same page: “Notice, a slapdash has happened with Suyuti and Munawi when they came across this Hadith, and I have also shown in a previous reference, no. 571, that al-Ghimari was also wrong for mentioning it in al-Kanz.” But in reality it is al-Albani who has become slapdashed, because he has made a big contradiction by using this same sanad in “Irwa al-Ghalil, 3/238” where he says, “Classified by Ahmad (2/295), al-Hakim . . . from Qatada from Abu Maymoona, and he is trusted as in the book ‘al-Taqreeb’, and Hakim said: ‘A Shohih sanad’, and al-Dhahabi agreed with Hakim! So, by Allah glance at this mistake! Who do you think is wrong, the Muhaddith al-Ghimari (also Suyuti and Munawi) or al-Albani?

No.15. (Hal.7) Al-Albani mengeritik Imam Al-Muhaddith Abu’l Fadl Abdullah ibn Al-Siddiq Al-Ghimari (Rahimahullah) waktu mengetengahkan hadits dari Abu Hurairah ra. dalam kitabnya Al-Kanz Al-Thameen yang bertalian dengan perawi Abu Maymuna ; ‘Sebarkan salam, beri makan orang-orang miskin..’

” Al-Albani berkata dalam Silsilah Al-Daifa, 3/492 setelah merujuk hadits ini pada Imam Ahmad 2/295 dan lain-lain : Saya berkata bahwa sanadnya lemah, Daraqutni juga berkata ‘Qatada dari Abu Maymoona dari Abu Hurairah tidak dikenal dan itu harus dikesampingkan “. Al-Albani berkata pada halaman yang sama; ‘Pemberitahuan, pukulan bagi Suyuti dan Munawi, waktu mereka menemukan hadits ini, dan saya juga telah menunjuk kan dalam referensi yang lalu nr. 571 bahwa Al-Ghimari itu telah salah menyebutkan (hadits) itu dalam Al-kanz.

Tetapi sebenarnya Al-Albani-lah yang terkena pukulan, sebab sangat bertentangan dengan perkataannya dalam Irwa Al-Ghalil, 3/238 yang meng gunakan sanad yang sama, katanya: ‘ Diklasifikasikan oleh Ahmad (2/295), al-Hakim….dari Qatada dari Abu Maymuna dan orang mepercayainya sebagaimana yang disebutkan didalam buku Al-Taqreeb dan Hakim berkata; Sanad yang shohih dan Al-Dhahabi sepakat dengan Hakim !

Begitulah Allah langsung melihatkan kesalahan tersebut ! Sekarang siapa- kah yang selalu salah; Ahli hadits( Al-Ghimari, Suyuti, Munawi) atau Al-Albani ?

No 16 : (* Pg. 27 no. 3 ) Al-Albani wanted to weaken a Hadith which allowed women to wear golden jewellery, and in the sanad for that Hadith there is Muhammad ibn Imara. Al-Albani claimed that Abu Haatim said that this narrator was: “Not that strong,” see the book “Hayat al-Albani wa-Atharu. . . part 1, pg. 207.” The truth is that Abu Haatim al-Razi said in the book ‘al-Jarh wa-Taadeel, 8/45’: “A good narrator but not that strong. . .” So note that al-Albani has removed the phrase “A good narrator !”

NB-(al-Albani has made many of the Hadith which forbid Gold to women to be Shohih, in fact other scholars have declared these Hadith to be daeef and abrogated by other Shohih Hadith which allow the wearing of gold by women. One of the well known Shaykh’s of the “Salafiyya” – Yusuf al-Qardawi said in his book: ‘Islamic awakening between rejection and extremism, pg. 85: “In our own times, Shaykh Nasir al-Din al-Albani has come out with an opinion, different from the consensus on permitting women to adorn themselves with gold, which has been accepted by all madhahib for the last fourteen centuries. He not only believes that the isnad of these Ahadith is authentic, but that they have not been revoked. So, he believes, the Ahadith prohibit gold rings and earrings.” So who is the one who violates the ijma of the Ummah with his extreme opinions?!)

No 16 (Hal.27 nr. 3) Al-Albani mau melemahkan hadits yang membolehkan wanita memakai perhiasan emas dan dalam sanad hadits itu ada Muhammad ibn Imara. Al-Albani menyatakan bahwa Abu Haatim berkata perawi ini ” tidak kuat “, lihat buku Hayat Al-Albani wa-Atharu ..jilid 1 hal.207.

Yang benar ialah bahwa Abu Haatim Al-Razi dalam buku ‘Al-Jarh wa-Taadeel, 8/45 berkata: “ Perawi yang baik tapi tidak sangat kuat….” Jadi lihat pada catatan Al-Albani bahwa kalimat “Perawi yang baik “ dibuang !

NotaBene: Al-Albani telah membuat/menulis banyak hadits yang menyata- kan larangan emas (dipakai) untuk wanita menjadi Shohih, padahal kenyataannya para Ulama lain menyatakan hadits-hadits ini lemah dan berlawanan dengan hadits Shohih yang memperbolehkan pemakaian (perhiasan) emas oleh kaum wanita. Salah seorang Syeikh ‘Salafiah’ terkenal, Yusuf Al-Qardawi berkata dalam bukunya Islamic awakening between rejection and extremism, halaman 85 : “Dalam zaman kita sendiri Syeikh Nasir al-Din telah muncul dengan suatu pendapat yang bertentangan dengan kesepakatan tentang pembolehan wanita-wanita menghias diri mereka dengan emas, yang telah diterima/ disetujui oleh semua madzhab selama empat belas abad terakhir. Dia tidak hanya mempercayai bahwa sanad dari hadits-hadits ini dapat dipercaya, tapi bahwa hadits-hadits ini belum dicabut/dihapus. Maka dia percaya hadits-hadits tersebut melarang cincin dan anting-anting emas “. Lalu siapa yang merusak kesepakatan (ijma’) ummat dengan pendapat-pendapatnya yang ekstrem ?

No 17: (* Pg. 37 no. 1 )Hadith: Mahmood ibn Lubayd said, “Allah’s Messenger (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) was informed about a man who had divorced his wife 3 times (in one sitting), so he stood up angrily and said: ‘Is he playing with Allah’s book whilst I am still amongst you?’ Which made a man stand up and say, ‘O Allah’s Messenger, shall I not kill him?'” (al-Nisai). Al-Albani declared this Hadith to be Daeef in his checking of “Mishkat al-Masabih, 2/981, 3rd edition, Beirut, 1405 A.H; Maktab al-Islami”, where he says: “This man (the narrator) is reliable, but the isnad is broken or incomplete for he did not hear it directly from his father.” Al-Albani then contradicts himself in the book “Ghayatul Maram Takhreej Ahadith al-Halal wal Haram, no. 261, pg. 164, 3rd Edn, Maktab al-Islami, 1405 A.H”; by saying it is SHOHIH!!!

No 17 (Hal. 37 nr. 1) Hadits : Mahmud ibn Lubayd berkata; ‘Rasulallah saw. telah diberitahu mengenai seorang yang telah mencerai isterinya 3x dalam satu waktu, oleh karena itu dia berdiri dengan marah dan berkata; ‘Apakah dia bermain-main dengan Kitabullah, sedangkan aku masih berada dilingkungan engkau ? Yang mana berdiri seorang untuk berkata ; Wahai Rasulallah, apakah dia tidak saya bunuh saja ? (Al-Nisa’i).

Al-Albani menyatakan hadits ini lemah menurut penyelidikannya dari kitab ‘Mishkat Al-Masabih 2/981 cet.ketiga, Beirut 1405 A.H. de Maktab Al-Islami ‘ yang mengatakan “ Perawinya bisa dipercaya tapi isnadnya terputus atau tidak komplit, karena dia tidak mendengar langsung dari ayahnya”. Al-Albani berkata berlawanan dengan dirinya sendiri dalam buku Ghayatul Maram Takhreej Ahadith Al-Halal wal-Haram, nr. 261, hal. 164, cet.ketiga Maktab Al-Islami, 1405 A.H” telah mengatakan bahwa hadits itu Shohih !!

No 18 : (* Pg. 37 no. 2)Hadith: “If one of you was sleeping under the sun, and the shadow covering him shrank, and part of him was in the shadow and the other part of him was in the sun, he should rise up.” Al-Albani declared this Hadith to be SHOHIH in “Shohih al-Jami al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761)”, but then contradicts himself by saying it is DAEEF in his checking of “Mishkat ul-Masabih, 3/1337 no. 4725, 3rd Ed” and he has referred it to the Sunan of Abu Dawood!”

No 18 (Hal.37 nr.2) Hadits; “Bila salah satu dari engkau tidur dibawah sinar matahari dan bentuk naungan telah menutupinya dan sebagian darinya didalam naungan dan sebagiannya lagi dibawah sinar matahari, maka dia harus bangun” . Al-Albani menyatakan hadits ini shohih dalam Shohih Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761) tapi perkataannya berlawanan dengannya karena mengatakan hadits ini lemah dalam penyelidikannya dari Mishkat ul-Masabih 3/1337 nr.4725 cet.ketiga dan dia merujuk hadits ini pada Sunan Abu Daud.

No 19 : (* Pg. 38 no. 3 )Hadith: “The Friday prayer is obligatory on every Muslim.” Al-Albani rated this Hadith to be DAEEF in his checking of “Mishkat al-Masabih, 1/434”, and said: “Its narrators are reliable but it is discontinuous as is indicated by Abu Dawood”. He then contradicts himself in “Irwa al-Ghalil, 3/54 no. 592”, and says it is SHOHIH!!! So beware o wise men!

No. 19 (Hal.38 nr. 3) Hadits : “Sholat Jum’at itu wajib bagi setiap Muslim” Al-Albani menganggap hadits ini lemah dalam penyelidikannya dari De Mishkat Al-Masabih, 1/434 dan katanya; Perawi dari hadits ini bisa dipercaya, tetapi terputus sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Daud. Kalau begitu dia bertentangan dengan perkataannya dalam’ Irwa Al-Ghalil 3/54 nr. 592’ dan mengatakan hadits ini Shohih ! Hati-hatilah sedikit, wahai orang bijaksana !

No 20 : (* Pg. 38 no. 4 ) Al-Albani has made another contradiction. He has trusted Al-Muharrar ibn Abu Hurayra in one place and then weakened him in another. Al-Albani certifies in “Irwa al-Ghalil, 4/301” that Muharrar is a trustee with Allah’s help, and Hafiz (Ibn Hajar) saying about him “accepted”, is not accepted, and therefore the sanad is Shohih. He then contradicts himself in “Shohihah 4/156” where he makes the anad DAEEF by saying: “The narrators in the sanad are all Bukhari’s (i.e.; used by Imam al-Bukhari) men, except for al-Muharrar who is one of the men of Nisai and Ibn Majah only. He was not trusted accept by Ibn Hibban, and that’s why al-Hafiz Ibn Hajar did not trust him, Instead he only said ‘accepted!'” So beware of this fraud!

No.20 (Hal. 38 nr. 4). Al-Albani membuat lagi kontradiksi. Dia disatu tempat mempercayai Al-Muharrar ibn Abu Huraira kemudian ditempat lain dia melemahkannya. Al-Albani menerangkan dalam Irwa Al-Ghalil 4/301 bahwa Al-Muharrar dengan bantuan Allah seorang yang dapat dipercayai dan Hafiz (Ibnu Hajar) berkata mengenai dia “dapat diterima”, tidak dapat diterima, dan oleh karenanya sanadnya Shohih.

Maka dia (Albani) berlawanan dengan omongannya dalam Shohihah 4/156 yang mana dia melemahkan sanad sambil mengatakan: ‘Perawi-perawi dalam sanad ialah semua orang-orang didalam Bukhori (lain kata orang-orang yang dicantumkan oleh Imam Bukhori) kecuali Al-Muharrar dia hanya salah satu dari orang-orang Nasa’i dan Ibn Majah . Dia tidak dipercaya oleh Ibn Hibban dan oleh karenanya Al Hafiz Ibn Hajar tidak mempercayainya, daripada itu dia hanya mengatakan “dapat diterima” .Hatilah-hatilah dari kebohongan !

No 21 : (* Pg. 39 no. 5 ) Hadith: Abdallah ibn Amr (Allah be pleased with him): “The Friday prayer is incumbent on whoever heard the call” (Abu Dawood). Al-Albani stated that this Hadith was HASAN in “Irwa al-Ghalil 3/58”, he then contradicts himself by saying it is DAEEF in “Mishkatul Masabih 1/434 no 1375”!!!

No.21 (Hal. 39 nr. 5) Hadits: Abdullah ibn Amr ra. “ Sholat Jumat wajib bagi orang yang sudah mendengar panggilan (adzan)” (Abu Daud). Al-Albani menyatakan hadits ini Hasan dalam “Irwa Al-Ghalil 3/58”, dan dia berlawanan dengan perkataannya yang menyatakan hadits ini lemah dalam Mishkatul Masabih 1/434 nr. 1375 !

No 22 : (* Pg. 39 no. 6 ) Hadith: Anas ibn Malik (Allah be pleased with him) said that the Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) used to say : “Do not be hard on yourself, otherwise Allah will be hard on you. When a people were hard on themselves, then Allah was hard on them.” (Abu Dawood) Al-Albani stated that this Hadith was DAEEF in his checking of “Mishkat, 1/64”, but he then contradicts himself by saying that this Hadith is HASAN in “Ghayatul Maram, pg. 141”!!

No.22 (Hal. 39 nr. 6) Hadits : Anas ibn Malik ra. berkata bahwa Rasulallah saw. telah bersabda: “Janganlah keras terhadap dirimu, dengan demikian Allah juga akan keras terhadapmu, bilamana manusia keras terhadap dirinya maka Allah akan keras juga terhadap mereka”. (Abu Daud). Al-Albani menurut penyelidikannya di Mishkat 1/64, mengatakan bahwa hadits ini lemah. Tapi dia lalu berlawanan dengan perkataannya di “Ghayatul Maram, hal. 141 bahwa hadits ini Hasan !!

No 23: (* Pg. 40 no. 7 ) Hadith of Sayyida Aisha (Allah be pleased with her): “Whoever tells you that the Prophet (Peace be upon him) used to urinate while standing, do not believe him. He never urinated unless he was sitting.” (Ahmad, Nisai and Tirmidhi ) Al-Albani said that this sanad was DAEEF in “Mishkat 1/117.” He then contradicts himself by saying it is SHOHIH in “Silsilat al-Ahadith al-Shohihah 1/345 no. 201”!!! So take a glance dear reader!

No.23 (Hal.40 nr. 7) Hadits dari ‘Aisyah ra : “Siapapun yang mengatakan bahwa Rasulallah saw biasa kencing dengan berdiri, janganlah dipercayai. Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan duduk” (Ahmad,Nasa’i dan Tirmidzi). Al-Albani dalam Mishkat 1/117 mengatakan sanad hadits ini lemah. Dia bertentangan dengan perkataannya di “Silsilat Al-Ahadits al-Shohihah 1/345 nr.201” bahwa hadits ini Shohih !

No 24 : (* Pg. 40 no. 8 ) Hadith “There are three which the angels will never approach: The corpse of a disbeliever, a man who wears ladies perfume, and one who has had sex until he performs ablution” (Abu Dawood). Al-Albani corrected this Hadith in “Shohih al-Jami al-Sagheer wa Ziyadatuh, 3/71 no. 3056” by saying it was HASAN in the checking of “Al-Targhib 1/91” [Also said to be Hasan in the English translation of ‘The Etiquettes of Marriage and Wedding, pg. 11]. He then makes an obvious contradiction by saying that the same Hadith was DAEEF in his checking of “Mishkatul-Masabih, 1/144 no. 464″ and says that the narrators are trustworthy but the chain is broken between Al-Hasan al-Basri and Ammar (Allah be pleased with him) as al-Mundhiri had said in al-Targhib (1/91)!!

No.24 (Hal.40 nr.8) Hadits : “Tiga macam orang yang malaikat tidak mau mendekatinya : Mayit orang kafir, lelaki yang memakai minyak wangi wanita dan orang yang telah berhubungan sex (junub) sampai dia bersuci ” (Abu Daud). Al-Albani telah membenarkan hadits ini dalam Shohih Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh 3/71 nr. 3056 dengan mengatakan hadits itu Hasan dalam penyelidikan dari Al-Targhib 1/91 (juga mengatakan Hasan dalam Terjemahannya kedalam bahasa Inggris “The Etiquettes of Marriage and Wedding, page 11). Dia membuat kontradiksi yang nyata dalam penyelidikannya dalam Mishkatul-Masabih 1/144 nr. 464 mengatakan hadits yang sama ini Lemah, dan dia berkata bahwa perawi-perawinya patut di- percaya tapi rantai sanadnya terputus antara Hasan Basri dan Ammar sebagaimana yang disebutkan juga oleh Al-Mundhiri dalam Al-Targhib 1/91 !!

No 25 : (* Pg. 42 no. 10 ) It reached Malik (Rahimahullah) that Ibn Abbas (Allah be pleased with him) used to shorten his prayer, in distances such as between Makkah and Ta’if or between Makkah and Usfan or between Makkah and Jeddah. . . . Al-Albani has weakened it in “Mishkat, 1/426 no. 1351″, and then contradicts himself by saying it is SHOHIH in “Irwa al-Ghalil, 3/14″!!

No.25 (Hal. 42 nr. 10) Telah sampai (riwayat) dari Malik rh “bahwa Ibn Abbas ra. biasa menyingkat (menggashor) sholatnya dalam jarak antara Makkah dan Ta’if atau antara Makkah dan Usfan atau antara Makkah dan Jeddah…..” Al-Albani telah melemahkannya dalam Mishkat, 1/426 nr.1351, dan dia bertentangan dengan perkataannya di Irwa al-Ghalil 3/14 yang mengatakan ini Shahih !

No 26 : (* Pg. 43 no. 12 ) Hadith: “Leave the Ethiopians as long as they leave you, because no one takes out the treasure of the Ka’ba except the one with the two weak legs from Ethiopia.” Al-Albani has weakened this Hadith in his checking of “Mishkat 3/1495 no. 5429″ by saying: “The sanad is DAEEF.” But then he contradicts himself as is his habit, by correcting it in “Shohihah, 2/415 no. 772.”

No. 26. (Hal.43 nr.12) Hadits : “Tinggalkan orang-orang Ethiopia selama mereka meninggalkanmu, sebab tidak ada orang yang mengambil barang berharga dari Ka’bah kecuali seorang Ethopia yang dua kakinya lemah” . Al-Albani dalam penyelidikannya di Mishkat 3/1495 nr. 5429 mengatakan sanadnya Lemah. Tapi sebagaimana biasa dia bertentangan dengan perkata- annya dengan membenarkannya dalam Shahihah 2/415 nr. 772 !

An example of al-Albani praising someone in one place and then disparaging him in another place in his books

Contoh (Sifat) dari Al-Albani ialah pertama memuji seseorang disatu tempat dibukunya dan dilain tempat mengecilkan orang tersebut.!!

No 27 : (* Pg. 32 ) He praises Shaykh Habib al-Rahman al-Azami in the book ‘Shohih al Targhib wa Tarhib, page 63′, where he says: “I want you to know one of the things that encouraged me to. . . . which has been commented by the famous and respected scholar Shaykh Habib al-Rahman al-Azami” . . . . And he also said on the same page, “And what made me more anxious for it, is that its checker, the respected Shaykh Habib al-Rahman al-Azami has announced. . . .” Al-Albani thus praises Shaykh al-Azami in the above mentioned book; but then makes a contradiction in the introduction to ‘Adaab uz Zufaaf (The Etiquettes of Marriage and Wedding), new edition page 8′, where he said: “Al-Ansari has used in the end of his letter, one of the enemies of the Sunnah, Hadith and Tawhid, who is famous for that, is Shaykh Habib al-Rahman al-Azami. . . . . For his cowardliness and lack of scholarly deduction. . . ..”

No.27 (Hal. 32) Dia (Albani) memuji Syeikh Habib al-Rahman al-Azami didalam Shahih al Targhib wa Tarhib hal. 63 yang mana katanya ; “Saya ingin agar engkau mengetahui satu dari beberapa hal bahwa saya memberanikan diri untuk….yang dikomentari oleh ulama yang terkenal dan terhormat Syeikh Habib al-Rahman al-Azami “…. dan dia (Albani) mengatakan pada halaman yang sama “Dan apa yang membuat saya rindu untuknya, orang yang menyelidiki sesuatu dan mengumumkannya yaitu yang terhormat Syeikh Habib al-Rahman al-Azami “. Al-Albani memuji Syeikh al-Azami dalam buku yang tersebut diatas. Tapi kemudian membuat penyangkalan dalam ‘Adaab uz Zufaaf (Akhlak Perkawinan dan Pernikahan), edisi baru hal.8 yang dia berkata; Al-Ansari telah membiasakan akhir dari tulisannya, salah satu musuh dari Sunnah, Hadits dan Tauhid, yang cukup terkenal , ialah Syaikh Habib al-Rahman al-Azami……karena ketakutan dan kekurangan ilmunya….””

NB – (The above quotation from Adaab uz Zufaaf is not found in the English translation by his supporters, which shows that they deliberately avoided translating certain parts of the whole work). So have a glance at this!

NB: (Kutipan diatas dari ‘Adaab uz Zufaaf , tidak terdapat didalam terjemahan bahasa Inggris oleh pendukung-pendukungnya yang mana menunjukkan bahwa mereka dengan sengaja tidak mau menterjemahkan bagian-bagian tertentu). Ini perlu diperhatikan !

SELECTED TRANSLATIONS FROM VOLUME 2

Terjemahan-terjemahan pilihan dari jilid (volume) 2

No 28 : (* Pg. 143 no. 1 ) Hadith of Abi Barza (Allah be pleased with him): “By Allah, you will not find a man more just than me” (Sunan al-Nisai, 7/120 no. 4103). Al-Albani said that this Hadith was SHOHIH in “Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 6/105 no. 6978″, and then he astonishingly contradicts himself by saying it is DAEEF in “Daeef Sunan al-Nisai, pg. 164 no. 287.” So beware of this mess!

No.28 (Hal.143 nr.1) Hadits dari Abi Barza ra: “ Demi Allah, Engkau tidak akan menemukan seorang lebih benar dari saya “(Sunan Al-Nisai 7/120 nr. 4103) Al-Albani berkata bahwa hadits ini Shohih dalam Shohih Al-Jami wa Ziyadatuh 6/105 nr.6978 dan kemudian lebih mengherankan dia bertentang- an dengan perkataannya dalam Daeef Sunan Al-Nisai hal. 164 nr. 287 yang mengatakan itu Lemah. HATI-HATILAH DARI PENGACAUAN INI !

No 29 : (* Pg. 144 no. 2 ) Hadith of Harmala ibn Amru al-Aslami from his Uncle: “Throw pebbles at the Jimar by putting the extremity of the thumb on the fore-finger.” (Shohih Ibn Khuzaima, 4/276-277 no. 2874) Al-Albani acknowledged its weakness in “Shohih Ibn Khuzaima” by saying that the sanad was DAEEF, but then contradicts himself by saying it is SHOHIH in “Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923!”

No 29 (Hal. 144 nr. 2) Hadits dari Harmala ibn Amru al-Aslami dari pamannya: “Letakkanlah batu kerikil pada ujung ibu jari diatas jari depan (telunjuk) pada lemparan jumrah “ (Shohih Ibn Khuzaima, 4/276-277 nr.2874). Al-Albani memberitahu kelemahan ini (hadits) dalam Shohih Ibn Khuzaima sambil mengatakan sanad hadits ini Lemah, tapi kemudian dia bertentangan sendiri yang mengatakan Shohih dalam “Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923 !”

No 30 : (* Pg. 144 no. 3 ) Hadith of Sayyidina Jabir ibn Abdullah (Allah be pleased with him): “The Prophet (Peace be upon him) was asked about the sexually defiled [junubi]. . . can he eat, or sleep. . . He said :’Yes, when this person makes wudhu.’” (Ibn Khuzaima no. 217 and Ibn Majah no. 592). Al-Albani has admitted its weakness in his comments on “Ibn Khuzaima, 1/108 no. 217″, but then contradicts himself by correcting the above Hadith in “Shohih Ibn Majah, 1/96 no. 482 “!!

No 30 (Hal. 144 nr.3) Hadits dari Sayyidina Jabir ibn Abdullah ra. : “Rasulallah saw. ditanyai tentang Junub (orang yang belum suci setelah bersetubuh) …apa boleh dia makan atau tidur…Beliau saw. bersabda : Boleh, bila orang ini wudu dahulu “ (Ibn Khuzaima nr. 217 dan Ibn Majah nr.592). Al-Albani telah mengikrarkan kelemahannya didalam komentarnya di Ibn Khuzaima 1/108 nr. 217, Tetapi kemudian kontradiksi sendiri dengan membenarkan hadits tersebut dalam Shohih Ibn Majah 1/96 nr. 482).

No 31 : (* Pg. 145 no. 4 ) Hadith of Aisha (Allah be pleased with her): “A vessel as a vessel and food as food” (Nisai, 7/71 no. 3957). Al-Albani said that it was SHOHIH in “Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 2/13 no. 1462″, but then contradicts himself in “Daeef Sunan al-Nisai, no. 263 pg. 157″, by saying it is DAEEF!!!

No. 31 (Hal.145 nr.4) Hadits dari Aisyah ra ; “ Perahu sebagai perahu (berlayar) dan makanan sebagai makanan “ (Nasai 7/71 nr. 3957). Al-Albani mengatakan hadits ini Shohih dalam Shohih al-Jami wa Ziyadatuh 2/13 nr.1462, tetapi kemudian menyangkal sendiri dengan mengatakan Lemah dalam Daeef Sunan al-Nisai nr. 263 hal. 157. !!

No 32 : (* Pg. 145 no. 5 ) Hadith of Anas (Allah be pleased with him): “Let each one of you ask Allah for all his needs, even for his sandal thong if it gets cut.” Al-Albani said that the above Hadith was HASAN in his checking of “Mishkat, 2/696 no. 2251 and 2252″, but then contradicts himself in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 5/69 no. 4947 and 4948″!!!

No 32 (Hal.145 nr. 5) Hadits dari Anas ra : “Mintalah setiap kamu pada Allah semua yang engkau butuhkan walaupun mengenai tali sandalnya bila telah putus” Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini Hasan dalam penyelidik- annya di Mishkat 2/696 nr. 2251 dan 2252, tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam Daeef al-jami wa Ziyadatuh 5/69 nr. 4947 dan 4948 !!

No 33 : (* Pg. 146 no. 6 ) Hadith of Abu Dharr (Allah be pleased with him): “If you want to fast, then fast in the white shining nights of the 13th, 14th and 15th.” Al-Albani declared it to be DAEEF in “Daeef al-Nisai, pg. 84″ and in his comments on “Ibn Khuzaima, 3/302 no. 2127″, but then contradicts himself by calling it SHOHIH in “Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 2/10 no. 1448″ and also corrected it in “Shohih al-Nisai, 3/902 no. 4021″!! So what a big contradiction!

NB- (Al-Albani mentioned this Hadith in ‘Shohih al-Nisai’ and in ‘Daeef al-Nisai’, which proves that he is unaware of what he has and is classifying, how inept!).

No. 33 (Hal.146 nr.6) Hadits dari Abu Dzar ra : “Bila engkau ingin berpuasa, maka puasalah pada bulan purnama tanggal 13, 14 dan 15 “ . Al-Albani menyatakan hadits ini Lemah dalam Daeef al-Nisai hal. 84 dan dalam komentarnya di Ibn Khuzaima 3/302 nr. 2127. Tetapi kemudian kontradiksi sendiri yang menyebutnya Shohih dalam Shohih al-Jami wa Ziyadatuh 2/10 nr. 1448 dan pula membenarkan itu dalam Shohih al-Nisai 3/902 nr. 4021 !! Ini adalah kontradiksi yang besar !

NB: (Al-Albani menyebutkan hadits ini dalam Shohih al-Nisai dan dalam Daeef al-Nisai, ini semua menunjukkan bahwa dia tidak hati-hati/ceroboh atas apa yang telah dia perbuat, semuanya tidak layak)

No 34 : (* Pg. 147 no. 7 )Hadith of Sayyida Maymoonah (Allah be pleased with her): “There is nobody who has taken a loan and it is in the knowledge of Allah. . . .” (Nisai, 7/315 and others). Al-Albani said in “Daeef al-Nisai, pg 190″: “Shohih, except for the part al-Dunya.” Then he contradicts himself in “Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/156″, by saying that the whole Hadith is SHOHIH, including the al-Dunya part. So what an amazing contradiction!

No.34 (Hal. 147 nr.7) Hadits dari Siti Maymunah ra ; “ Tidak seorangpun yang menerima pinjaman dan itu (selalu)dalam pengetahuan Allah” (Nisai, 7/315 dan lain-lain). Al-Albani berkata dalam Daeef al-Nisai hal.190 ; ‘Shohih, kecuali bagian al-Dunya’. Kemudian dia menayangkal sendiri dalam Shohih al Jami wa Ziyadatuh 5/156, dengan mengatakan bahwa semua Hadits ini Shohih termasuk bagian al-Dunya. Ini kontradiksi yang sangat menakjubkan !

No 35 : (* Pg. 147 no. 8 )Hadith of Burayda (Allah be pleased with him): “Why do I see you wearing the jewellery of the people of hell” (Meaning the Iron ring), [Nisai, 8/172 and others. . .]. Al-Albani has said that it was SHOHIH in “Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/153 no. 5540″, but then contradicts himself by saying it is DAEEF in “Daeef al-Nisai, pg. 230″!!!

No.35 (Hal. 147 nr. 8)Hadits dari Buraidah ra: “Mengapa saya melihat engkau memakai perhiasan dari penghuni neraka (Maksudnya cincin besi)”. (Nisai 8/172 dan lain-lainnya….). Al-albani telah mengatakan hadits in Shohih dalam Shahih al-jami wa Ziyadatuh 5/153 nr. 5540. Tetapi kemudian dia menyangkal sendiri dengan mengatakan Lemah dalam Daeef al-Nisai hal.230) !

No 36 : (* Pg. 148 no. 9 )Hadith of Abu Hurayra (Allah be pleased with him): “Whoever buys a carpet to sit on, he has 3 days to keep it or return it with a cup of dates that are not brownish in colour” (Nisai 7/254 and others). Al-Albani has weakened it with reference to the ‘3 days’ part in “Daeef Sunan al-Nisai, pg. 186″, by saying: “Correct, except for 3 days.” But the ‘genius’ contradicts himself by correcting the Hadith and approving the ‘3 days’ part in “Shohih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/220 no. 5804″. So wake up (al-Albani)!!

No.36 (Hal.148 nr. 9) Hadits dari Abu Huraira ra ; “ Siapapun membeli permadani untuk diduduki, dia mempunyai waktu tiga hari untuk menyimpan- nya atau mengembalikannya dalam beberapa waktu selama warnanya tidak menjadi coklat (karena kotor) ”. (Nisai 7/254 dan lain-lainya). Al-Albani telah melemahkan hadits ini pada bagian “tiga hari” dengan menyebut referensi- nya dalam Daeef Sunan al-nisai hal. 186, sambil katanya “Benar/Shohih kecuali kata-kata tiga hari”.Tetapi ‘orang cerdik ini’ menyangkal sendiri dengan membenarkan hadits itu dan termasuk bagian kata-kata “tiga hari” dalam Shohih al-jami wa Ziyadatuh 5/220 nr. 5804“. Bangunlah hai al-Albani!

No 37 : (* Pg. 148 no. 10 )Hadith of Abu Hurayra (Allah be pleased with him): “Whoever catches a single rak’ah of the Friday prayer has caught (the whole prayer).” (Nisai 3/112, Ibn Majah 1/356 and others). Al-Albani has weakened it in “Daeef Sunan al-Nisai, no. 78 pg. 49″, where he said: “Abnormal (shadh), where Friday is mentioned.” He then contradicts himself by saying SHOHIH, including the Friday part in “Irwa, 3/84 no. 622 .” May Allah heal you!

No.37 (Hal. 148 nr.10) Hadits Abu Hurairah ra : “Siapapun yang mendapati satu raka’at dari Sholat Jum’at itu telah memadainya (untuk semua sholat)”. (Nisai 3/112, Ibn Majah 1/356 dan lain-lainnya). Al-Albani telah melemahkan ini dalam Daeef Sunan al-Nisai, nr. 78 hal. 49, dimana dia telah berkata; ‘Luar biasa (shadh), bilamana disitu disebutkan hari jumat’. Kemudian dia kontradiksi sendiri dengan mengatakan Shohih termasuk bagian hari Jum’at dalam Irwa, 3/84 nr. 622 !! Semoga Allah menyembuhkanmu !

AL-Albani and his Defamation and Authentication of Narrators at will !

Al-Albani dan Fitnahannya Dan Perawi-perawi yang dipercaya kesenangannya !

No 38 : (* Pg 157 no 1 ) KANAAN IBN ABDULLAH AN-NAHMY :- Al-Albani said in his “Shohihah, 3/481″ : “Kanaan is considered Hasan, for he is attested by Ibn Ma’een.” Al-Albani then contradicts himself by saying, “There is weakness in Kanaan” (see “Daeefah, 4/282″)!!

No 38 (Hal. 157 nr.1) Kanan Ibn Abdullah An-Nahmy : Al-Albani berkata dalam Shohihah, 3/481 ; “Kanaan telah dianggap sebagai Hasan, untuk itu telah dinyatakan oleh Ibn Ma’een. Kemudian Al-Albani menyangkal sendiri dengan katanya “ Ada kelemahan pada Kanaan” (lihat Daeefah, 4/282) !!

No 39 : (* Pg. 158 no. 2 )MAJA’A IBN AL-ZUBAIR :- Al-Albani has weakened Maja’a in “Irwa al-Ghalil, 3/242″, by saying, “This is a weak sanad because Ahmad has said: ‘There is nothing wrong with Maja’a’, and Daraqutni has weakened him. . .” Al-Albani then made a contradiction in his “Shohihah, 1/613″ by saying: “His men (the narrators) are trusted except for Maja’a who is a good narrator of Hadith.” An amazing contradiction!

No 39 (Hal.158. nr.2) Maja’a Ibn Al-Zubair : Al-Albani telah melemahkan Maja’a dalam Irwa al-Ghalil, 3/242, dengan katanya. “ Ini adalah sanad yang lemah sebab Ahmad telah berkata ‘ Tidak ada kesalahan dengan Maja’a, dan Daraqutni telah melemahkan dia…’“. Al-Albani telah membuat kontradiksi dalam bukunya Shohihah 1/613 dengan mengatakan “ Perawi-perawinya bisa dipecaya kecuali Maja’a, itu seorang perawi hadits yang baik“. Suatu pertentangan yang menakjubkan !!!

No 40 : (* Pg. 158 no. 3 ) UTBA IBN HAMID AL-DHABI :- Al-Albani has weakened him in “Irwa al-Ghalil, 5/237″ by saying: “And this is a weak (Daeef) sanad which has three defects. . . . the second defect is the weakness of al-Dhabi, the Hafiz said: ‘A truthful narrator with hallucinations’”. Al-Albani then makes an obvious contradiction in “Shohihah, 2/432″, where he said about a sanad which mentions Utba: “And this is a good (Hasan) sanad, Utba ibn Hamid al-Dhabi is trustworthy but has hallucinations, and the rest of the narrators in the sanad are trusted.” !!

No 40 (Hal. 158 nr.3) Utba Ibn Hamid Al-Dhabi; Al-Albani telah melemahkan dia dalam Irwa al-Ghalil 5/237 sambil katanya ; “ Dan ini adalah sanad lemah yang mempunyai tiga kekeliruan….kekeliruan kedua ialah kelemahan dari al- Dhabi, Hafiz berkata ; ‘ Seorang perawi jujur dengan khayalan’ . Kemudian Al-Albani membuat kontradiksi yang nyata dalam Shohihah 2/432, dimana dia ber- kata tentang sanad yang menyebut Utba; ”Dan ini sanad yang baik (Hasan), Utba ibn Hamid al-Dhabi dapat dipercaya…..tapi mempunyai khayalan, dan lain daripada sanad perawi itu semuanya dapat dipercaya”.

No 41: (* Pg. 159 no. 4 )HISHAM IBN SA’AD :- Al-Albani said in his “Shohihah, 1/325″: “Hisham ibn Sa’ad is a good narrator of Hadith.” He then contradicts himself in “Irwa al-Ghalil, 1/283″ by saying: “But this Hisham has a weakness in memorizing” So what an amazement !!

No 41 (Hal. 159 nr. 4) Hisham Ibn Sa’ad ; Al-Albani berkata dalam Shohihah 1/325; “ Hisham ibn sa’ad ialah perawi hadits yang baik”. Kemudian dia bertentangan sendiri dalam Irwa al-Ghalil 1/283 sambil katanya ; “Tapi Hisham ini lemah dalam hafalan”. Sesuatu yang mengherankan !!

No 42 : (* Pg. 160 no. 5 )UMAR IBN ALI AL-MUQADDAMI :- Al-Albani has weakened him in “Shohihah, 1/371″, where he said: “He in himself is trusted but he used to be a very bad forger, which makes him undependable. . . .” Al-Albani then contradicts himself again in “Shohihah, 2/259″ by accepting him and describing him as being trustworthy from a sanad which mentions Umar ibn Ali. Al-Albani says: “Classified by Hakim, who said: ‘A Shohih Isnad (chain of transmission)’, and al-Dhahabi went along with it, and it is as they have said.” So what an amazement !!!

No 42 (Hal.160 nr. 5) Umar Ibn Ali Al-Muqaddami ; Al-albani telah melemahkan dia dalam Shohihah 1/371, dimana dia berkata ; “ Dia merasa dirinya bisa dipercaya, tapi dia sebagai Pemalsu yang sangat jelek, dengan menjadikan dirinya tidak dipercayai…” Al-Albani membuat kontradiksi baru lagi dalam Shohihah 2/259 mengakui dia (Umar ibn Ali) dan mengatakan bila ada sanad yang menyebut Umar Ibn Ali maka bisa dipercayainya. Al-Albani berkata “ Diklasifikasikan oleh Hakim yang mana berkata : “Shohih isnadnya” (rantaian perawinya) dan Al-Dhahabi mengakuinya juga dan mereka (berdua) mengatakan demikian adalah benar “. Itu sangat mengherankan !

No 43: (* Pg. 160 no. 6 )ALI IBN SA’EED AL-RAZI :- Al-Albani has weakened him in “Irwa, 7/13″, by saying: “They have said nothing good about al-Razi.” He then contradicts himself in another ‘fantastic’ book of his, “Shohihah, 4/25″, by saying: “This is a good (Hasan) sanad and the narrators are all trustworthy.” So beware !!!

No 43 (Hal. 160. nr. 6) Ali Ibn Sa’eed Al-Razi ; Al-Albani telah melemahkan dia dalam Irwa 7/13, dengan katanya : “Mereka telah mengatakan tidak ada yang benar tentang al-Razi” Dia kemudian menyangkal sendiri dalam ‘buku lainnya yang ‘indah/hebat’ Shohihah, 4/25, sambil mengatakan “Ini adalah baik (Hasan) sanadnya dan perawi-perawinya semua bisa dipercaya”. Berhati-hatilah !!

No 44: (* Pg. 165 no. 13 )RISHDIN IBN SA’AD :- Al-Albani said in his “Shohihah, 3/79″ : “In it (the sanad) is Rishdin ibn Sa’ad, and he has been declared trustworthy.” But then he contradicts himself by declaring him to be DAEEF in “Daeefah, 4/53″; where he said: “And Rishdin ibn Sa’ad is also daeef.” So beware!!

No 44: (Hal. 165 nr. 13) Rishdin Ibn Sa’ad : Al-Albani berkata dalam Shohihah 3/79 : “ Ada dalam sanad Rishdin ibn Sa’ad, dan dia telah menyatakan bisa dipercaya”. Tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam penyataannya yang mengatakan Lemah tentang dia (Rishdin) dalam Daeefah 4/53, dimana dia berkata : “dan Rishdin ibn Sa’ad ini juga lemah “. BERHATI-HATILAH !!

No 45: (* Pg. 161 no. 8 ) ASHAATH IBN ISHAQ IBN SA’AD :- What an amazing fellow this Shaykh!! Al-Albani!! Proves to be. He said in “Irwa al-Ghalil, 2/228″: “His status is unknown, and only Ibn Hibban trusted him.” But then he contradicts himself by his usual habit! Because he only transfers from books and nothing else, and he copies without knowledge; this is proven in “Shohihah, 1/450″, where he said about Ashaath: “Trustworthy”. So what an amazement !!!

No 45 (Hal. 161 nr. 8)Ashaath Ibn Ishaq Ibn Sa’ad : Betapa mengherankan lelaki (Al-Albani) ini !! Terbukti, dia berkata dalam Irwa al-Ghalil 2/228, “Keadaannya/statusnya tidak dikenal, dan hanya Ibn Hibban mempercayai dia”. Tetapi kemudian dia bertentangan sendiri, seperti kebiasaannya! Karena dia hanya mengalihkan/menyalin dari buku-buku dan tidak ada lain- nya, dan dia mengutip/menyalin tanpa adanya ilmu pengetahuan. Ini dibukti- kan dalam Shohihah 1/450, dimana dia berkata tentang Ashaath : “Dapat dipercaya”. Keajaiban yang luar biasa!!

Nr.46: (* Pg. 162 no. 9 )IBRAHIM IBN HAANI :- The honourable!! The genius!! The copier!! Has made Ibrahim ibn Haani trustworthy in one place and has then made him unknown in another. Al-Albani said in ‘Shohihah, 3/426′: “Ibrahim ibn Haani is trustworthy”, but then he contradicts himself in “Daeefah, 2/225″, by saying that he is unknown and his Ahadith are refused!!

No 46: (Hal.162 nr.9) Ibrahim Ibn Haani : “Paling terhormat ! Paling Pandai ! Tukang Menyalin ! Dia (Albani) telah membuat Ibn Haani ‘dapat dipercaya‘ disatu tempat dan membuat dia ‘tidak dikenal’ ditempat lainnya.. Al-Albani berkata dalam Shohihah 3/426; “ Ibrahim ibn Haani ialah dapat dipercaya”, tetapi kemudian dia bertentangan sendiri dalam Daeeah, 2/225 dengan katanya “bahwa dia itu tidak dikenal dan haditsnya itu tertolak ! “.

No 47: (* Pg. 163 no. 10 ) Al-Ijlaa Ibn Abdullah Al-Kufi : Al-Albani has corrected a sanad by saying it is good in “Irwa, 8/7″, with the words: “And its sanad is good, the narrators are trustworthy, except for Ibn Abdullah al-Kufi who is truthful.” He then contradicts himself by weakening the sanad of a Hadith where al-Ijlaa is found and has made him the reason for declaring it DAEEF (see ‘Daeefah, 4/71′); where he said: “Ijlaa ibn Abdullah has a weakness.” Al-Albani then quoted Ibn al-Jawzi’s (Rahimahullah) words by saying: “Al-Ijlaa did not know what he was saying .”!!!

No 47: (Hal. 163 nr. 10) Al-Ijlaa Ibn Abdullah Al-Kufi ; Al-Albani memperbaiki sanad sambil mengatakan itu baik dalam Irwa 8/7, dengan kata-kata : “ Dan sanad tersebut adalah baik , perawi-perawi semua dapat dipercaya, kecuali Ibn Abdullah al-Kufi dia adalah jujur “. Dia kemudian kontradiksi sendiri dengan melemahkan sanad dari hadits yang diketemukan al-Ijlaa dan dia membuat alasan baginya untuk menyatakannya lemah (lihat Daeefah 4/71) , dimana dia berkata: “ Ijlaa ibn Abdullah mempunyai kelemahan “ Al-Albani menukil kata-kata Ibn al-Jawzi’s (Rahimahullah) yang berkata ; “ Al-Ijlaa tidak mengetahui apa yang dia katakan “ !!!

No 48: (* Pg. 67-69 )ABDULLAH IBN SALIH : KAATIB AL-LAYTH :- Al-Albani has criticised Al-Hafiz al-Haythami, Al-Hafiz al-Suyuti, Imam Munawi and the Muhaddith Abu’l-Fadl al-Ghimari (Allah’s mercy be upon them) in his book “Silsilah al-Daeefah, 4/302″, when checking a Hadith containing the narrator Abdullah ibn Salih. He says on page 300: “How could Ibn Salih be all right and his Hadith be good, even though he has got many mistakes and is of little awareness, which also made some fraudulent Hadiths enter his books, and he narrates them without knowing about them!” He has not mentioned that Abdullah ibn Salih is one of Imam al-Bukhari’s men (i.e. used by al-Bukhari), because it does not suit his mode, and he does not state that Ibn Ma’een and some of the leading critics of Hadith have trusted him. Al-Albani has contradicted himself in other places in his books by making Hadiths containing Abdullah ibn Salih to be good, and here they are :- Al-Albani said in “Silsilah al-Shohihah, 3/229″ : “And so the sanad is good, because Rashid ibn Sa’ad is trustworthy by agreement, and who is less than him in the men of Shohih, and there is also Abdullah ibn Salih who has said things that are unharmful with Allah’s help!!”.”

Al-Albani also said in “Shohihah, 2/406″ about a sanad which contained Ibn Salih: “a good sanad in continuity.” And again in “Shohihah, 4/647″: “He’s a proof with continuity”

NB- (Shaykh Saqqaf then continued with some important advice, this has been left untranslated for brevity but one may refer to the Arabic for further elaboration). By the grace of Allah, this is enough from the books of Shaykh Saqqaf to convince any seeker of the truth, let alone the common folk who have little knowledge of the science of Hadith. If anyone is interested for hundreds of other similar quotes from Shaykh Saqqaf, then I suggest you write to the following address to obtain his book Tanaqadat al-Albani al-Wadihat (The Clear Contradictions of al-Albani).

No 48: (Hal. 67-69) Abdullah Ibn Salih: Kaatib Al-Layth: Al-albani telah mengeritik Al-Hafiz al-Haitami, Al-Hafiz al-Suyuti, Imam Munawi dan ahli hadits Abu’l-Fadzl al-Ghimari (rh) dalam bukunya Silsilah al-Daeefah 4/302, waktu mengontrol hadits yang didalamnya ada perawi Abdullah ibn Salih. Dia (Albani) berkata pada halaman 300 ; “Bagaimana dapat Ibn Salih menjadi benar dan haditsnya menjadi baik, dia sendiri sangat banyak membuat kesalahan dan yang mana juga memasukkan beberapa hadits palsu didalam bukunya, dan dia meyebutkan sanad-sanadnya tapi dia sendiri tidak mengenal mereka.”

Dia (Albani) tidak menyebutkan bahwa Abdullah Ibn Salih ialah salah satu orang dari orang-orangnya Imam Bukhori (yaitu dipakai oleh Bukhori), karena (Albani) tidak cocok dengan caranya (Albani) dan dia (Albani) tidak menyebutkan bahwa Ibn Ma’een dan beberapa kritikus dari hadits telah mempercayai dia (Abdullah Ibn Salih). Al-Albani telah berlawanan dengan perkataannya sendiri, dalam tempat lain dibuku-bukunya telah mengatakan bahwa semua hadits yang diketengahkan Abdullah ibn Salih adalah baik, sebagai berikut :

Al-Albani berkata dalam de Silsilah Al-Shohihah, 3/229 : “ Dan sanad itu baik, karena Rashid ibn Saad telah disepakati dapat dipercaya dan lebih rendah dari dia dalam lingkungan orang-orang yang Shohih dan juga Abdullah ibn Salih telah mengatakan sesuatu yang tidak bahaya dengan bantuan Allah “Al-Albani juga berkata dalam Shohihah 2/406 mengenai sanad yang didalamnya ada Ibn Salih “sanad berkesinambungan yang baik” Dan lagi dalam Shohihah 4/647; “Dia adalah bukti dalam berkesinambung an”

NB: (kemudian Syeikh Seggaf meneruskan dengan beberapa wejangan yang penting, demi keringkasan sengaja tidak diterjemahkan , tetapi bila orang ingin merujuknya bisa lihat bahasa Arabnya). Dengan karunia Allah, ini telah cukup dari buku-buku Syeikh Seggaf untuk meyakinkan siapa saja yang mencari kebenaran, biarkan orang-orang itu sendiri bersama-sama mengetahui sedikit tentang ilmu hadits. Bila ada orang tertarik untuk mendapatkan buku yang didalamnya ada ratusan kutipan yang serupa (tentang Al-Albani) yang berjudul Tanaqadat Al-Albani Al-Wadihat silahkan anda menulis kealamat dibawah ini :

IMAM AL-NAWAWI HOUSE POSTBUS 925393 AMMAN JORDAN

(Biaya untuk jilid 1 ialah US$ 4,00 belum termasuk ongkos pengiriman (via kapal laut) dan biaya untuk jilid 2 ialah US$ 7,00 belum termasuk ongkos pengiriman -via kapal laut- dan biaya bisa berubah setiap waktu). ALLAH MAHA MENGETAHUI.

Demikianlah sebagian kecil (seleksi) isi buku Syeikh Segaf tentang kesalah an-kesalahan Al-Albani yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris.

Nama-nama sebagian ulama pengeritik Al-Albani

Syekh Al-Albani sering juga mengeritik para ulama lainnya diantaranya beliau juga mengeritik buku Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq dan buku At-Tajj Al Jaami’ Lil Ushuuli Fii Ahadadiitsir Rasuuli oleh Syeikh Manshur Ali Nashif Al-Husaini. Al-Albani sering menyalahkan dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh ulama-ulama pakar ahli hadits baik secara langsung maupun tidak langsung. Dia mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia selalu meniru kata-kata ulama pakar dalam menyelidiki suatu hadits yaitu Lam aqif ala sanadih artinya saya tidak menemukan rantaian sanadnya atau kata-kata yang serupa !

Disamping kritikan diatas ini, tidak kurang para ulama-ulama lainnya yang mengeritik Syekh Al-Albani ini yang saya dapati dari internet diantaranya adalah sebagai berikut :

Sarjana ahli hadits India yang bernama Habib al-Rahman al-A`zami telah menulis buku yang berjudul al-Albani Shudhudhuh wa Akhta’uh (Kekhilafan dan Kesalahan Al-Albani) dalam empat jilid.

Sarjana Syria yang bernama Muhammad Sa`id Ramadan al-Buuti menulis dalam dua buku klasiknya yang berjudul al-Lamadhhabiyya Akhtaru Bid`atin Tuhaddidu al-Shari`a al-Islamiyya (”Not Following A School of Jurisprudence is the Most Dangerous Innovation Threatening Islamic Sacred Law”) dan al-Salafiyya Marhalatun Zamaniyyatun Mubaraka La Madhhabun Islami (”The `Way of the Early Muslims’ Was A Blessed Historical Epoch, Not An Islamic School of Thought”).

Sarjana hadits dari Marokko yang bernama `Abd Allah ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari buku-bukunya yang berjudul e Irgham al-Mubtadi` al-Ghabi bi Jawaz al-Tawassul bi al-Nabi fi al-Radd `ala al-Albani al-Wabi; (”The Coercion of the Unintelligent Innovator with the Licitness of Using the Prophet as an Intermediary in Refutation of al-Albani the Baneful”), al-Qawl al-Muqni` fi al-Radd `ala al-Albani al-Mubtadi` (”The Persuasive Discourse in Refutation of al-Albani the Innovator”), dan Itqan al-Sun`a fi Tahqiq Ma`na al-Bid`a (”Precise Handiwork in Ascertaining the Meaning of Innovation”).

Sarjana hadits dari Marokko yang bernama `Abd al-`Aziz ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari bukunya berjudul Bayan Nakth al-Nakith al-Mu`tadi (”The Exposition of the Treachery of the Rebel”).

Sarjana Hadits dari Syria yang bernama `Abd al-Fattah Abu Ghudda bukunya yang berjudul Radd `ala Abatil wa Iftira’at Nasir al-Albani wa Sahibihi Sabiqan Zuhayr al-Shawish wa Mu’azirihima (”Refutation of the Falsehoods and Fabrications of Nasir al-Albani and his Former Friend Zuhayr al-Shawish and their Supporters”).

Sarjana hadits dari Mesir yang bernama Muhammad `Awwama bukunya berjudul Adab al-Ikhtilaf (”The Proper Manners of Expressing Difference of Opinion”).

Sarjana Mesir yang bernama Mahmud Sa`id Mamduh buku-bukunya berjudul Wusul al-Tahani bi Ithbat Sunniyyat al-Subha wa al-Radd `ala al-Albani (”The Alighting of Mutual Benefit and Confirmation that the Dhikr-Beads are a Sunna in Refutation of al-Albani”) dan Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani `ala Shohih Muslim (”Warning to the Muslim Concerning al-Albani’s Attack on Shohih Muslim”).

Sarjana hadits dari Saudi Arabi yang bernama Isma`il ibn Muhammad al-Ansar buku-bukunya yang berjudul Ta`aqqubat `ala “Silsilat al-Ahadith al-Da`ifa wa al-Mawdu`a” li al-Albani (”Critique of al-Albani’s Book on Weak and Forged Hadiths”), Tashih Sholat al-Tarawih `Ishrina Rak`atan wa al-Radd `ala al-Albani fi Tad`ifih (”Establishing as Correct the Tarawih Sholat in Twenty Rak`as and the Refutation of Its Weakening by al-Albani”), dan Ibahat al-Tahalli bi al-Dhahab al-Muhallaq li al-Nisa’ wa al-Radd `ala al-Albani fi Tahrimih (”The Licitness of Wearing Gold Jewelry for Women Contrary to al-Albani’s Prohibition of it”). –

Sarjana Syria Badr al-Din Hasan Diab bukunya berjudul Anwar al-Masabih `ala Zulumat al-Albani fi Sholat al-Tarawih (”Illuminating the Darkness of al-Albani over the Tarawih Prayer”). —– Direktur dari Pensubsidian Keagamaan (The Director of Religious Endowments) di Dubai, yang bernama `Isa ibn `Abd Allah ibn Mani` al-Himyari buku bukunya yang berjudul al-I`lam bi Istihbab Shadd al-Rihal li Ziyarati Qabri Khayr al-Anam (”The Notification Concerning the Recommendation of Travelling to Visit the Grave of the Best of Creation) dan al-Bid`a Al-Hasana Aslun Min Usul al-Tashri` (”The Excellent Innovation Is One of the Sources of Islamic Legislation”). – Menteri Agama dan Subsidi dari Arab Emiraat (The Minister of Islamic Affairs and Religious Endowments in the United Arab Emirates) yang bernama Shaykh Muhammad ibn Ahmad al-Khazraji yang menulis artikel al-Albani: Tatarrufatuh (”Al-Albani’s Extremist Positions”).

Sarjana dari Syria yang bernama Firas Muhammad Walid Ways dalam edisinya yang berjudul Ibn al-Mulaqqin’s Sunniyyat al-Jumu`a al-Qabliyya (”The Sunna Prayers That Must Precede Sholat al-Jumu`a”).

Sarjana Syria yang bernama Samer Islambuli bukunya yang berjudul al-Ahad, al-Ijma`, al-Naskh.

Sarjana Jordania yang bernama As`ad Salim Tayyim bukunya yang berjudul Bayan Awham al-Albani fi Tahqiqihi li Kitab Fadl al-Sholat `ala al-Nabi.

Sarjana Jordania Hasan `Ali al-Saqqaf menulis dua jilid yang berjudul Tanaqudat al-Albani al-Wadiha fi ma Waqa`a fi Tashih al-Ahadith wa Tad`ifiha min Akhta’ wa Ghaltat (”Albani’s Patent Self-Contradictions in the Mistakes and Blunders He Committed While Declaring Hadiths to be Sound or Weak”), dan tulisan-tulisannya yang lain ialah Ihtijaj al-Kha’ib bi `Ibarat man Idda`a al-Ijma` fa Huwa Kadhib (”The Loser’s Recourse to the Phrase: `Whoever Claims Consensus Is a Liar!’”), al-Qawl al-Thabtu fi Siyami Yawm al-Sabt (”The Firm Discourse Concerning Fasting on Saturdays”), al-Lajif al-Dhu`af li al-Mutala`ib bi Ahkam al-I`tikaf (”The Lethal Strike Against Him Who Toys with the Rulings of I`tikaf), Shohih Sifat Sholat al-Nabi Sallallahu `alayhi wa Sallam (”The Correct Description of the Prophet’s Prayer “), I`lam al-Kha’id bi Tahrim al-Qur’an `ala al-Junub wa al-Ha’id (”The Appraisal of the Meddler in the Interdiction of the Qur’an to those in a State of Major Defilement and Menstruating Women”), Talqih al-Fuhum al-`Aliya (”The Inculcation of Lofty Discernment”), dan Shohih Sharh al-`Aqida al-Tahawiyya (”The Correct Explanation of al-Tahawi’s Statement of Islamic Doctrine”).

Dan masih banyak ulama berbeda madzhab yang mengeritik kekhilafan dan kesalahan Syekh Al-Albani dan pengikut madzhab Wahabi ini yang tidak tercantum disini. Kalau kita baca diatas, banyak ulama dari bermacam-macam madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali) mengeritik kekhilafan dan kesalahan ulama madzhab Wahabi, khususnya Syeikh al-Albani, maka kita akan bertanya sendiri apakah bisa beliau ini dikatagorikan sebagai Imam Muhadditsin (Imamnya para ahli hadits) pada zaman sekarang ini sebagaimana yang dijuluki oleh sebagian golongan Salafi/Wahabi ? Memang ada ulama-ulama yang memuji Syekh Al-Albani ini dan memuji ulama gologan Salafi/Wahabi lainnya, tapi ulama-ulama yang memuji ini semua- nya semadzhab dan sejalan dengan golongan Wahabi/Salafi !

Sudah tentu kita tidak jujur kalau mengatakan bahwa semua pendapat/ faham golongan Salafi/Wahabi yang mengaku sebagai penerus akidah dari Ibnu Taimiyyah atau Muhammad Ibnul Wahhab ini salah dan disangkal oleh ulama-ulama pakar lainnya, tapi ada juga pendapat-pendapat beliau dan pengikutnya mengenai syariat Islam yang sefaham dengan ulama-ulama madzhab lainnya. Yang sering disangkal tidak lain pendapatnya mengenai tajsim dan tasybih Allah swt.(akidah tauhid) dengan makhluk-Nya, yang mana hal ini bertentangan dengan firman-firman Allah swt. dan sunnah Rasulallah saw.

Disamping itu yang sering disangkal juga oleh para ulama madzhab sunnah mengenai akidah dan pendapat mereka yang membid’ahkan sesat, sampai-sampai berani mensyirikkan tawassul, tabarruk pada pribadi orang baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, ziarah kubur, peringatan keagamaan, kumpulan majlis dzikir dan sebagainya (baca keterangan tersendiri mengenai bab-bab ini). Padahal semuanya ini baik untuk diamalkan serta tidak keluar dari syariat agama malah banyak dalil shohih baik secara langsung maupun tidak secara langsung yang menganjurkan amalan-amalan tersebut diatas.

Setiap Muslim boleh memohon pertolongan dan bertawassul, bertabarruk kepada para Nabi, wali Allah didalam setiap urusan, baik yang gaib maupun yang materi, dengan menjaga dan memperhatikan syarat-syarat sebagai- mana yang telah diuraikan sebelumnya.

Sekali lagi kami cantumkan sebagian kecil judul-judul buku dan nama-nama ulama diatas yang mengeritik akidah atau keyakinan golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya, bukan ingin mencari kesalahan lawan atau ingin membongkar rahasia kekurangannya, tapi ingin menjelaskan para pembaca mengapa golongan Wahabi/Salafi selalu berani mensesatkan, mencela madzhab selain madzhabnya yang tidak sependapat dengan faham mereka. Tidak lain karena akidah atau keyakinan mereka ini berbeda dengan madzhab-madzhab lainnya !

Sebenarnya berbeda pendapat antara madzhab atau golongan muslimin atau antara para ulama itu selalu ada, karena masing-masing mempunyai sudut pandang yang tersendiri. Umpamanya satu hadits didhoifkan oleh satu ulama, tapi hadits ini bisa juga oleh ulama’ lainnya dishohihkannya. Yang kita sesalkan dan sayangkan golongan Salafi/Wahabi dan pengikutnya sering menyalahkan, mensesatkan sampai-sampai berani mengafirkan golongan muslimin lainnya karena tidak sepaham atau sependapat dengan mereka ini dan mereka merasa yang paling pandai, murni dan…..dalam syari’at Islam !.

Kita cukupkan sampai di sini pembahasan mengenai seputar akidah/ keyakinan golongan Wahabi/Salafi. Diskusi dengan mereka memerlukan waktu yang panjang dan membutuhkan kitab yang tersendiri. Para ulama telah membantah ajaran golongan Wahabi/Salafi didalam berpuluh-puluh kitab dan makalah yang mereka tulis. ‘Allamah Muhsin Amin telah mem- bantah keyakinan keyakinan Wahabi melalui syairnya yang panjang, yang terdiri dari 546 bait. Silahkan Anda rujuk di dalam kitabnya yang berjudul Kasyf al-Irtiyab fi atba ‘i Muhammad bin Abdul Wahhab.

Banyak sekali kitab-kitab ulama dari berbagai madzhab (Hanafi, Malik Syafii dan lain lain) yang menyangkal golongan Wahabi/Salafi. Mengenai sanggah- an para ulama mengenai akidah ulama-ulama golongan Wahabi/ Salafi dan pengikutnya para pembaca bisa membaca sendiri dan memilih judulnya yang bersangkutan dengan akidah golongan ini dan pengikutnya dalam website bahasa Indonesia :

www.abusalafy.wordpress.com atau dalam bahasa Inggris: www.ummah.net/Al_adaab/radd_ul_salafiyya.html

Sebagian isi makalah dari bab ini kami kutip dan kumpulkan dari website-website mengenai akidah Wahabi/Salafi dan juga dari website abusalafy.

Semoga kita semua diberi hidayah dan taufiq oleh Allah swt.Amin

http://www.everyoneweb.com/tabarruk/#Dalildalillaranganmensesatkanmengkafirkansesamamuslimin

Buku baru yang berjudul Telaah kritis atas doktrin faham Salafi/Wahabi belum beredar merata pada toko-toko buku di Indonesia. Bagi peminat bisa langsung hubungi toko-toko di jalan Sasak. Surabaya-Indonesia.

Atas izin dan Rahmat Allah, Semoga Jadi asbab Hidayah Keseluruh Alam!

Abu Haidar

Alumni Ponpes Darussa’adah – Jl Purnawirawan 7

Tanjung Karang Barat

Bandar Lampung – Indonesia

https://salafytobat.wordpress.com

Advertisements

Pengkafiran Wahhaby (3); Muhammad bin Abdul Wahhab dan Pengkafiran Kaum Muslimin

Pengkafiran Wahhaby (3); Muhammad bin Abdul Wahhab dan Pengkafiran Kaum Muslimin PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh redaksi
Sunday, 08 June 2008
Konsep tauhid rancu tersebut ternyata dijadikan tolok ukur oleh Muhammad bin Abdul Wahhab -yang mengaku paling paham konsep tauhid pasca Nabi- sebagai neraca kebenaran, keislaman dan keimanan seseorang sehingga dapat menvonis kafir bahkan musyrik setiap ulama (apalagi orang awam) yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Dia pernah menyatakan: “Derajat kesyirikan kaum kafir Quraisy tidak jauh berbeda dengan mayoritas masyarakat sekarang ini” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 120). Bid’ah dan kebiasaan buruk Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi semacam ini yang hingga saat ini ditaklidi dan dilestarikan oleh pengikut Wahabisme, tidak terkecuali di Tanah Air.
Setelah kita mengetahui bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah berani menvonis sesat bahkan mengkafirkan beberapa tokoh ulama Ahlusunah, maka jangan heran jika masyarakat awam (baca: umum) pun juga menjadi sasaran pengkafirannya. Pada kesempatan kali ini kita akan memberikan contoh dari pengkafiran terhadap kaum muslimin yang tidak mengikuti ajaran sekte Syeikh yang berasal dari Najd itu:

1- Pengkafiran Penduduk Makkah
Dalam hal ini Muhamad bin Abdul Wahhab menyatakan: “Sesungguhnya agama yang dianut penduduk Makkah (di zamannya .red) sebagaimana halnya agama yang karenanya Rasulullah diutus untuk memberi peringatan” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 86, dan atau pada jilid 9 halaman 291)

2- Pengkafiran Penduduk Ihsa’
Berkaitan dengan ini, Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan: “Sesungguhnya penduduk Ihsa’ di zaman (nya) adalah para penyembah berhala (baca: Musyrik)” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 113)

3- Pengkafiran Penduduk ‘Anzah.
Berkaitan dengan ini, Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan: “Mereka telah tidak meyakini hari akhir” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 113)

4- Pengkafiran Penduduk Dhufair.
Penduduk Dhufair merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh penduduk wilayah ‘Anzah, dituduh sebagai “pengingkar hari akhir (kiamat)”. (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 113)

5- Pengkafiran Penduduk Uyainah dan Dar’iyah.
Hal ini sebagaimana yang pernah kita singung pada kajian-kajian terdahulu bahwa, para ulama wilayah tersebut terkhusus Ibnu Sahim al-Hambali beserta para pengikutnya telah dicela, dicaci dan dikafirkan. Dikarenakan penduduk dua wilayah itu (Uyainah dan Dar’iyah) bukan hanya tidak mau menerima doktrin ajaran sekte Muhammad bin Abdul Wahhab, bahkan ada usaha mengkritisinya dengan keras. Atasa dasar ini maka Muhammad bin Abdul Wahhab tidak segan-segan mengkafirkan semua pensusuknya, baik ulama’nya hingga kaum awamnya. (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 8 halaman 57)

6- Pengkafiran Penduduk Wasym.
Berkaitan dengan ini, Muhamad bin Abdul Wahhab telah menvonis kafir terhadap semua penduduk Wasym, baik kalangan ulama’nya hingga kaum awamnya. (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 2 halaman 77)

7- Pengkafiran Penduduk Sudair.
Berkaitan dengan ini, Muhammad bin Abdul Wahhab telah melakukan hal yang sama sebagaimana yang dialami oleh penduduk wilayah Wasym. (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 2 halaman 77)

Dari contoh-contoh di atas telah jelas dan tidak mungkin dapat dipungkiri oleh siapapun (baik yang pro maupun yang kontra terhadapa sekte Wahabisme) bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah mengkafirkan kaum muslimin yang tidak sepaham dengan keyakinan-keyakinanya yang merupakan hasil inovasi (baca: Bid’ah) otaknya. Baik bid’ah tadi berkaitan dengan konsep tauhid sehingga muncul vonis pensyirikan Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap kaum muslimin yang tidak sejalan, maupun keyakinan lain (seperti masalah tentang pengutusan Nabi, hari akhir / kiamat dsb) yang menyebabkan munculnya vonis kafir. (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 43).

Sebagai penutup kajian kita kali ini, marilah kita perhatikan ungkapan Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri sekte Wahabisme berkaitan dengan kaum muslimin di zamannya secara umum. Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan: “Banyak dari penghuni zaman sekarang ini yang tidak mengenal Tuhan Yang seharusnya disembah melainkan Hubal, Yaghus, Ya’uq, Nasr, al-Laata, al-Uzza dan Manaat. Jika mereka memiliki pemahaman yang benar niscaya akan mengetahui bahwa kedudukan benda-benda yang mereka sembah sekarang ini seperti manusia, pohon, batu dan sebagainya seperti matahari, rembulan, Idris, Abu Hadidah ibarat menyembah berhala ” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 117). Pada kesempatan lain ia mengatakan: “Derajat kesyirikan kaum kafir Quraisy tidak jauh berbeda dengan mayoritas masyarakat sekarang ini” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 120). Dan pada kesempatan lain dia juga mengatakan: “Sewaktu masalah ini (tauhid dan syrik .red) telah engkau ketahui niscaya engkau akan mengetahui bahwa mayoritas masyarakat lebih dahsyat kekafiran dan kesyirikannya dari kaum musyrik yang telah diperangi oleh Nabi” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 160).

Namun, setelah kita menelaah dengan teliti konsep tauhid versi pendiri sekte tersebut (Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Tauhid-nya) ternyata banyak sekali kerancuan dan ketidakjelasan dalam pendefinisan dan pembagian, apalagi dalam penjabarannya. Bagaimana mungkin konsep tauhid rancu semacam itu akan dapat menjadi tolok ukur keislaman bahkan keimanan seseorang, bahkan dijadikan tolok ukur pengkafiran?

Ya, konsep tauhid rancu tersebut ternyata dijadikan tolok ukur oleh Muhammad bin Abdul Wahhab -yang mengaku paling paham konsep tauhid pasca Nabi- sebagai neraca kebenaran, keislaman dan keimanan seseorang sehingga dapat menvonis kafir bahkan musyrik setiap ulama (apalagi orang awam) yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Sebagai dalil dari ungkapan tadi, Muhammad bin Abdul Wahhab pernah menyatakan: “Kami tidak mengkafirkan seorangpun melainkan dakwah kebenaran yang sudah kami lakukan telah sampai kepadanya. Dan ia telah menangkap dalil kami sehingga argumen telah sampai kepadanya. Namun jika ia tetap sombong dan menentangnya dan bersikeras tetap meyakini akidahnya sebagaimana sekarang ini kebanyakan dari mereka telah kita perangi, dimana mereka telah bersikeras dalam kesyirikan dan mencegah dari perbuatan wajib, menampakkan (mendemonstrasikan) perbuatan dosa besar dan hal-hal haram…” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 234) Di sini jelas sekali bahwa, Muhammad bin Abdul Wahhab telah menjatuhkan vonis kafir dan syirik di atas kepala kaum muslimin dengan neraca kerancuan konsep Tauhid-Syirik versinya maka ia telah ‘memerangi’ mereka. Bid’ah dan kebiasaan buruk Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi semacam ini yang hingga saat ini ditaklidi dan dilestarikan oleh pengikut Wahabisme, tidak terkecuali di Tanah Air.

Lantas apakah kekafiran dan kesyirikan yang dimaksud oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam ungkapan tersebut? Dengan singkat kita nyatakan bahwa yang ia maksud dari kwesyirikan dan kekafiran tadi adalah; “pengingkaran terhadap dakwah Wahabisme”. Dan dengan kata yang lebih terperinci; “Meyakini terhadap hal-hal yang dinyatakan syirik dan kafir oleh Wahabisme seperti Tabarruk, Tawassul, Ziarah Kubur…dsb”. Padahal, hingga sekarang ini, para pemuka Wahaby –baik di Indonesia maupun di negara asalnya sendiri- masih belum mampu menjawab banyak kritikan terhadap ajaran Wahabisme berkaitan dengan hal-hal tadi.

NB: Untuk kajian dari kitab Ad-Durar as-Saniyah sebagai bukti pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab kita cukupkan sekian. Pada kesempatan lain kita akan mengkaji dari kitab lainnya.

http://al-badar.net/index.php?option=com_content&task=view&id=87&Itemid=56

Kerancuan konsep Tauhid versi Wahaby (Salafy) – Bag I

Kerancuan konsep Tauhid versi Wahaby (Salafy) – Bag I PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh redaksi
Sunday, 08 June 2008
Kerancuan konsep keesaan tuhan (tauhid) jenis ini –tauhid uluhiyah hanya diidentikkan dengan tauhid dalam peribadatan- yang mengakibatkan kerancuan pengikut Wahaby dalam menentukan obyek syirik sehingga mereka pun akhirnya suka menuduh kaum muslimin yang bertawassul (mencari penghubung dengan Allah) dan bertabarruk (mencari berkah) sebagai bagian dari pebuatan syirik. Karena kaum Wahaby menganggap bahwa denga perbuatan itu –tawassul dan tabarruk- berarti pelakunya telah menyembah selain Allah. Disaat menyembah selain Allah berarti ia telah meyakini ketuhanannya karena tidak mungkin menyembah kepada selain yang diyakininya sebagai Tuhan.Islam dibawa oleh Muhammad bin Abdillah saw. Sebagaimana fungsi pengutusan para nabi terdahulu, Muhammad Rasulullah saw diutus untuk mengajarkan ajaran pengesaan (tauhid) Allah swt dan untuk menyebarkan agama Ilahi yang terkenal denga sebutan Islam. Islam adalah agama tauhid yang menentang segala macam jenis syirik (penyekutuan) Allah swt. Atas dasar itu semua mazhab-mazhab dalam Islam selalu menyerukan akidah tauhid sebagai penentangan atas akidah syirik.

Kaum yang mengatasnamakan dirinya sebagai Salafy (baca: Wahaby) selain mereka merasa diri sebagai paling monoteisnya (ahli tauhid) makhluk di muka bumi maka dengan otomatis merekapun akhirnya suka menuduh kelompok muslim lainnya yang tidak sepaham sebagai pelaku syirik, penyekutu Allah swt. Padahal terbukti bahwa para pengikut muslim lain -selain Wahaby- pun telah mengikrarkan Syahadatin (dua kalimat syahadat) dengan ungkapan “Tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Kalimat ini sebagai bukti bahwa seseorang telah dinyatakan muslim (pengikut Islam Muhammad) dan telah terjauhkan dari ajaran syirik yang diperangi oleh agama Islam dari berbagai mazhab Islam manapun.

Dalam tulisan ringkas ini kita akan sebutkan secara global apa dan bagaimana konsep keesaan Tuhan menurut al-Quran sehingga dapat menjadi pedoman dalam menentukan tauhid atau syiriknya sebuah keyakinan. Sekaligus akan menjadi jawaban terhadap tuduhan kaum Wahhaby terhadap kaum muslimin lainnya. Untuk artikel kali ini kita hanya mencukupkan dengan menggunakan dalil teks agama saja yang mencakup al-Quran dan as-Sunnah. Adapun untuk artikel selanjutnya akan kita perluas dalil kita kepada dalil-dalil lain.

Dalam pembahasan akidah Islam yang berdasarkan al-Quran disebutkan bahwa para ulama telah membagi akidah tauhid menjadi beberapa bagian. Secara ringkas dapat disebutkan beberapa tingkatan tauhid versi al-Quran:

Pertama: Tauhid dalam Dzat Allah swt
Tauhid Dzat juga dapat diistilahkan dengan Tauhid Dzati. Yang dimaksud dengan tauhid jenis ini adalah keyakinan bahwa Dzat Allah swt adalah satu dan tiada yang menyamai-Nya. Ajaran tauhid ini didasarkan atas ayat al-Quran yang tercantum dalam surat al-Ikhlash ayat 1 yang berbunyi: “Katakanlah: ”Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”.

Kedua: Tauhid dalam Penciptaan (Khaliqiyah)
Yang dimaksud dengan keyakinan tauhid dalam penciptaan adalah suatu keyakinan yang menyatakan bahwa di alam wujud ini tiada pencipta –yang menciptakan secara murni dan independent secara penuh- lain selain Allah swt semata. Dalam arti, tiada yang mampu untuk memberi kesan secara independent berkaitan dengan sebenap alam wujud –baik yang bersifat material, maupun non materi seperti ruh dan malaikat- secara murni melainkan karena perintah, kehendak dan izin Allah swt, karena Ia penguasa alam semesta. Ajaran tauhid semacam ini disandarkan kepada ayat al-Quran yang terdapat dalam surat ar-Ra’d ayat 16 yang berbunyi: “…Katakanlah: Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.

Ketiga: Tauhid dalam Pengaturan/Pemeliharaan (Rububiyah)
Yang dimaksud dengan keyakinan tauhid jenis ini adalah berkaitan dengan keyakinan bahwa di alam wujud hanya terdapat satu pengatur yang bersifat sempurna secara mutlak dimana tidak lagi memerlukan terhadap selainnya. Sang pengatur itu adalah Allah swt, Tuhan seru sekalian alam. Adapun berbagai pengaturan yang dilakukan oleh malaikat –sebagaimana yang tercantum dalam al-Quran- dan makhluk lainnya semuanya dapat terjadi karena izin-Nya. Tanpa izin Allah swt niscaya pengaturan makhluk-makhluk lain tidak akan pernah terjadi. Keyakinan tauhid jenis ini disandarkan kepada ayat al-Quran dari surat Yunus ayat 3 yang berbunyi: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasyi untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesuadah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”

Yang dimaksud dengan kata “Syafi’” (pemberi syafa’at) dalam ayat di atas tadi adalah penyebab-penyebab lain yang bersifat vertical. Disebut vertical karena semua yang terjadi di alam ini terjadi secara beruntun dan keterkaitan antara hubungan sebab-akibat (kausalitas) yang harus kembali kepada sebab yang tiada lagi perlu terhadap sebab lain. Sebab Maha Sempurna yang tidak lagi memerlukan sebab lain itu adalah Allah swt. Dalam ayat tadi, disebutkan kata “” (syafi’) –yang sama arti dengan kata “adh-Dham” (memasukkan/campurtangan)- karena kesan apapun di alam semesta ini yang dihasilkan oleh segala sesuatu selain Allah swt harus melalui izin Allah swt.

Keempat: Tauhid dalam Penentuan Hukum (Tasyri’iyah)
Yang dimaksud dengan tauhid pada jenis ini adala suatu keyakinan yang menyatakan bahwa, tiada yang layak untuk menentukan hukum syariat melainkan Allah swt. Dalam arti, tiada yang berhak –secara mutlak- menghalalkan dan mengharamkan atau memerintahkan dan melarang secara syar’i melainkan Allah swt. Ajaran tauhid ini disandarkan kepada ayat 40 dari surat Yusuf yang berbunyi: “…Sesungguhnya hukum itu hanyalah kepunyaan Allah”.

Kelima: Tauhid dalam Ketaatan
Yang dimaksud dengan tauhid jenis ini adalah keyakinan akan ketiadaan yang layak ditaati secara esensial dan mutlak melainkan Allah swt. Jika kita diperintahkan untuk taat kepada Nabi, orang tua, ulama dan sebagainya, itu semua karena ketaatan kita kepada Allah swt. Dikarenakan Allah-lah yang memerintahkan kita taat kepada mereka. Hanya melalui izin Allah akhirnya kita mentaati mereka. ajaran tauhid ini disandarkan kepada ayat 16 dari surat at-Taghabun yang berbunyi: “Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atilah…”.

Keenam: Tauhid dalam Kekuasaan (Hakimiyah)
Yang dimaksud dengan konsep tauhid ini adalah keyakinan bahwa segenap manusia adalah sama dimana tidak ada yang dapat menguasai satu atas yang lainnya. Akan tetapi kekuasaan dan kepemimpinan (wilayah) hanyalah milik Allah swt semata. Atas dasar itu, barangsiapa yang mempraktekkan konsep kekuasaan dan kepemimpinan di alam ini maka ia harus mendapat izin (legalitas) dari Allah swt. Tanpa itu maka ia telah mencuri hak Allah swt sehingga meniscayakan murka-Nya. Ajaran tauhid jenis ini disandarkan pada ayat 57 dari surat al-An’am yang berbunyi: “…Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”.

Ketujuh: Tauhid dalam Pemberian Ampun dan Syafaat

Yang dimaksud dengan ajaran tauhid ini adalah keyakinan bahwa hak mutlak untuk memberikan ampunan dan syafaat hanyalah milik Allah semata. Dan kalaupun ada beberapa makhluk –dari jajaran para nabi, rasul, para syuhada’ dan kekasih Allah (waliyullah)- yang juga dapat memberi syafaat maka itu semua adalah karena izin dari Allah. Mereka tidak dapat mendapat kemampuam pemberan syafaat melainkan melalui izin Allah. Ajaran tauhid ini disandarkan kepada ayat 255 dari surat al-Baqaran yang berbunyi: “…Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah melainkan dengan izin-Nya…”. dan surat Aali Imran ayat 135 yang berbunyi: “…dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?”.

Kedelapan: Tauhid dalam Peribadatan
Tauhid jenis ini berarti keyakinan bahwa tiada yang layak disembah melainkan Allah swt semata. Dan tiada yang layak disekutukan dalam masalah peribadatan dengan Allah swt. Ini adalah konsep tauhid yang telah menjadi kesepakatan segenap kaum monoteis (ahli tauhid). Tiada seorang ahli tauhid pun yang menyangkal keyakinan itu. Akan tetapi terdapat perbedaan pendapat yang sangat mencolok dalam masalah-masalah kecil –cabang dari pembahasan tadi- antara mayoritas mutlak Ahlusunah wal Jamaah dengan kelompok Wahaby (Salafy Gadungan) dalam masalah seperti istighosah kepada para wali Allah, meminta doa dan bertawassul kepada mereka yang hal-hal tadi digolongkan prilaku syirik ataukah tidak? Apakah keyakinan diperbolehkannya hal-hal semacam tadi tergolong syirik karen tergolong beribadah kepada selain Allah swt ataukah tidak? Alhasil, singkat kata, perbedaan mencolok antara Wahaby dan Ahlusunah wal Jamaah bukan terletak pada konsep teuhid dalam peribadatan, namun lebih pada penentuan obyek akidah tersebut. Pada kesempatan selanjutnya (artikel selanjutnya) akan kita bahas satu persatu ketidakpahaman dan kerancuan ajaran kaum Wahaby dalam memahami permasalah itu akhirnya menyebabkan mereka terjerumus dalam jurusan pengkafiran kelompok lain (takfir) yang tidak sepaham dengan doktrin ajarannya. Dari situ akhirnya ia disebut dengan “jama’ah takfiriyah” (kelompok pengkafiran).

Setelah kita mengetahui secara singkat dan global tentang pembagian tahapan ajaran tauhid yang sesuai dengan ajaran al-Quran maka dalam tulisan kali ini, marilah kita menengok sejenak kerancuan pembagian akidah tauhid versi Wahabi yang menyebabkan mereka terjerumus ke dalam jurang pengkafiran.

Dalam buku-buku karya ulama Wahaby –sebagai contoh dapat anda telaah dalam kitab at-Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahab yang disyarahi oleh Abdul Aziz bin Baz- akan kita dapati bahwa ajaran tauhid menurut kaum Wahaby hanya mereka bagi menjadi dua bagian saja; tauhid dalam pengaturan/pemeliharaan (rububiyah) dan tauhid dalam ketuhanan (uluhiyah). Lantas tauhid dalam pengaturan/pemeliharaan (rububiyah) mereka artikan dengan tauhid dalam penciptaan (khaliqiyah). Sedang mereka tafsirkan tauhid dalam ketuhanan (uluhiyah) dengan tauhid dalam peribadatan (ubudiyah). Dengan kata lain, kaum wahabi telah mengidentikkan ketuhanan (uluhiyah) dengan peribadatan (ubudiyah), dan pengaturan/pemeliharaan (rububiyah) dengan penciptaan (khaliqiyah). Dan akan jelas sekali kasalahan fatal dalam pembagian, pengertian dan pengidentikan semacam ini. Akan kita buktikan secara ringkas di sini.

Dalam masalah pokok bagian pertama, yaitu tentang tauhid dalam pengaturan/pemeliharaan (rububiyah) mereka artikan dengan tauhid dalam penciptaan (khaliqiyah). Padahal yang dimaksud dengan pengaturan dan pemeliharaan (rububiyah) adalah pengaturan dan pemeliharaan alam semesta setelah tercipta, pasca penciptaan. Kata “ar-Rab” yang berarti pemilik (as-Shohib) memiliki tugas untuk mengatur dan memelihara yang dimilikinya (al-marbub). Sebagaimana pemilik (rab) kendaraan, rumah dan kebun yang bertugas untuk mengatur dan memelihara semua itu. Maka tauhid dalam pemeliharaan dan pengaturan (rububiyah) jelas berbeda dengan tauhid dalam penciptaan (khaliqiyah). Walaupun pemeliharaan dan pengaturan berasal dari penciptaan. Dalam arti, konsep tauhid dalam pemeliharaan dan pengaturan alam semesta adalah imbas dari konsep tauhid dalam penciptaan Allah atas alam semesta.

Dalam masalah pokok bagian kedua, yaitu tentang tauhid dalam ketuhanan (uluhiyah) yang mereka tafsirkan dan identikkan dengan tauhid dalam peribadatan (ubudiyah). Jadi mereka jadikan tauhid dalam ketuhanan bertumpu pada ungkapan bahwa Tuhan (ilah) berarti obyek ibadah (ma’bud). Padahal Tuhan Hal itu memiliki banyak konsekuensi, bukan hanya sekedar obyek penghambaan. Jika kita lihat pada hakekatnya Tuhan (ilah) dan lafaz “Jalalah” (Allah) memiliki arti yang sama. Bedanya, kata “ilah” bersifat umum (nakirah) dan mencakup konsep universal tentang tuhan, namun “Allah” adalam nama obyek (isim ‘alam) yang bersifat khusus (makrifah) dan wujud riil (ekstensi) dari konsep universal tadi. Jadi sewaktu kita sebut kata “uluhiyah” yang berasal dari kata “ilah” maka tidak ada lain yang dimaksud melainkan kata “Allah” yang berarti lafadz Jalalah yang menunjukkan atas Tuhan Yang Esa (baca: satu), bukan hanya sekedar berarti “Dzat Yang disembah” (ma’bud). Kerancuan konsep keesaan tuhan (tauhid) jenis inilah yang mengakibatkan kerancuan pengikut Wahaby dalam menentukan obyek syirik sehingga mereka pun akhirnya suka menuduh kaum muslimin yang bertawassul (mencari penghubung dengan Allah) dan bertabarruk (mencari berkah) sebagai bagian dari pebuatan syirik. Karena kaum Wahaby menganggap bahwa dengan perbuatan itu –tawassul dan tabarruk- berarti pelakunya telah menyembah selain Allah. Disaat menyembah selain Allah berarti ia telah meyakini ketuhanannya karena tidak mungkin menyembah kepada selain yang diyakininya sebagai Tuhan.

http://al-badar.net/index.php?option=com_content&task=view&id=98&Itemid=56

HAKIKAT SEBENAR FAHAMAN AL-WAHHABIYAH (AL-TABDI’)

HAKIKAT SEBENAR FAHAMAN AL-WAHHABIYAH (AL-TABDI’)


HAKIKAT SEBENAR FAHAMAN AL-WAHHABIYAH (AL-TABDI’)



OLEH:
HJ ZAMIHAN HJ MAT ZINPEN. PENGARAH ILIM, BANGI.


1.0 PENDAHULUAN
Sejak akhir-akhir ini lahir pelbagai aliran pemikiran dalam memahami Islam sebagai satu cara hidup .


Lantaran itu, kita begitu ghairah mencari identiti hidup yang beteraskan al-Qur’an dan al-Sunnah .


Adakalanya selari dengan Islam dan adakalanya aliran pemikiran tersebut ‘lari dan bercanggah’ dari penghayatan Islam yang sebenar .


Sehinggakan ada dikalangan saudara kita mendakwa bahawa pegangan , fahaman dan sikap mereka sahaja yang benar.


Manakala pegangan, fahaman dan sikap orang lain dianggap menyeleweng. Bahkan dituduh sebagai sesat, mengamalkan khurafat, melakukan syirik dan golongan ini telah mengkafirkan umat islam salaf dan khalaf hatta ulamak-ulamak ahlussunnah wal jamaah dan sebagainya.



Hasilnya, berlakulah aktiviti tuduh menuduh, fitnah-memfitnah dan kafir mengkafir dalam masyarakat. Senario ini bukan sahaja melibatkan ahli adademik dan professional tetapi turut mendatangkan keracunan kepada masyarakat awam kita. Masyarakat kita bingung, keliru dan buntu.


Akhirnya, umat Islam kita berpecah-belah menurut ideology dan fahaman masing-masing. Walaupun kita satu agama, sayangnya fahaman dan kita berbeza.Justeru, kertas am ini ditulis secara ringkas bagi mengunkapkan sedikit tentang latarbelakang permasalahan, membentuk pemahaman sekaligus mencerna pendirian dalam menghadapi isu ini. Khususnya dalam memahami fahaman al-Wahabiyyah atau dengan kata lain fahaman al-Tabdi’.


Memandangkan isu ini telah dibincang secara terbuka di televisyen, radio, akhbar dan majalah maka kita juga harus berlapang dada dan bersifat terbuka dalam membicarakannya.



2.0 DEFINISI
Al-Wahabiyyah ialah satu fahaman atau aliran pemikiran yang dinisbahkan kepada pengasasnya Muhammad bin Abdul al-Wahab (1115H-1206H). Pemahaman ini muncul hasil tanggungjawab beliau terhadap isu-isu agama yang berlaku pada waktu itu.


Asasnya ialah beliau begitu fanatik terhadap pendapat-pendapat keras al-Hanabilah, pendapat Ibnu Taimiyyah dan ditambah dengan pendapat sendiri. Walaupun sikapnya itu ditentang oleh ayahnya sendiri, namun beliau tetap berkeras dengan pemahaman dan pendekatan yang dirasakan releven itu. Penisbahan ini muncul dari kalangan masyarakat tempatan yang bertentangan pendapatnya dengannya dengan memanggilnya dengan gelaran Ibnu Abdul Wahab , dan akhirnya menjadial-Wahhabi .


Namun apabila beliau memperagakan akidah al-Salaf menurut kacamatanya , maka kita katakan “al-Salafiyyah al-Wahabiyyah.”Kesimpulanya, samada penisbahan ini tepat atau tidak bukan soalmya. Ini kerana penisbahan tersebut tersurat dalam lipatan sejarah. Namun apa yang penting adalah pemahaman dan aliran pemikiran yang dibawanya, Apabila diteliti dan dikaji, jelas pemahaman al-Wahabiyyah menjadikan pendekatan al-Tabdi’ ,iaitu satu fahaman yang menghukum bid’ah golongan yang tidak selari dengan pandangan mereka dan mengkafirkan umat islam secara terang-terangan hatta berani membunuh beribu-ribu umat islam pada zamannya yang kemudiannya jenayah bunuh ini disambung oleh pengikut Muhamad abd wahhab yang fanatik/taksub dengan ajaran sesat Wahhabi.


Sejarah Wahhabi yang hitam ini banyak dirakam di dalam kitab2 ulamak muktabar seperti da dalam kitab Fitnah wahhabiyah karangan Sayyid Zaini Dahlan Mufti Mekah .



3.0 FIRASAT ULAMAK TENTANG MUHAMMAD ABDUL WAHABI
Imam al-Habib Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Shohibur Ratib Habib ‘ Abdullah al-Haddad dalam kitabnya “Mishabul Anam” m/s 15 menceritakan seperti berikut:-


“Aku telah diberitahu oleh seorang tua yang bersinar wajahnya kerana kesolehannya dan sudah melebihi 80 tahun umurnya, Beliau salah seorang pemuka kita keluarga Abu ‘Alawi yang lahir dan membesar di Makkah dan kerap berulang alik ke Madinah.


Nama beliau Musa bin Hasan bin Ahmad al-‘Alawi berketurunan Sayyidina ‘Uqait bin Salim, saudara Sayyidina Quthubus-Syahir asy Syaikhul Kabir Abu Bakar bin Salim.


Beliau berkata :


“Aku dahulu berada di Madinah belajar kepada asy-Syaikh Muhammad Hayat (as-Sindi al-Madani). Muhammad bin Abdul Wahab juga berulang-alik ke majlis Syeikh Muhammad Hayat seperti murid-murid lainnya, Aku mendengar daripada orang-orang soleh dan ulama, sebagai kasyaf daripada mereka, firasat mereka mengenai Muhammad bin Abdul Wahab di mana mereka menyatakan bahawa dia akan sesat dan menyesatkan Allah dengannya orang yang dijauhkan dari rahmatNya dan dibinasakanNya.


Dan demikian yang telah berlaku (yakni firasat mereka telah menjadi kenyataan) sehingga Syeikh Abdul Wahab, bapa kepada Muhammad bin Abdul Wahab, juga berfirasat sedemikian terhadap anaknya, dia telah menasihati dan mengkritik anaknya serta memperingati orang lain berhubung sikap anaknya itu.Di antara ulama yang mempunyai firasat sedemikian juga ialah Syeikh Muhammad Hayat as-Sindi dan Syeikh Muhammad Sulaiman al-Kurdi al-Madani asy-Syafi’i.


Syeikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menceritakan berhubung firasat Syeikh Muhammad Sulaiman al-Kurdi dalam kitab-kitabnya.Dan perlu diketahui bahawa Syeikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan mempunyai sanad riwayat daripada Syeikh Muhammad Sulaiman al-Kurdi seperti berikut:-


Sayyidi Ahmad Zaini Dahlan daripada Muhaddis Syam Syaikh Abdur Rahman al-Kuzbarly daripada al-Hafiz al-Hujjah Abdullah al-Kurdi al-Madani daripada al-Muhaddis al-Musnid Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi al-Madani.


Dalam isu Muhammad bin Abdul Wahab tidak ada langsung Syeikh Abdur Rahman al-Kuzbari menolak kata-kata Syeikh Muhammad Sulaiman al-Kurdi dan beliau adalah tokoh utama dalam bidang periwayatan hadis yang terkenal dalam dunia Islam.



Kesimpulannya, perawi-perawi tersebut adalah orang yang dipercayai dan tidak berbohong. Syeikh Sulaiman al-Kurdi bukan sahaja berfirasat mengenai Muhammad bin Abdul Wahab, tetapi setelah zahir fitnah Muhammad bin Abdul Wahhab beliau telah ditanyai mengenainya dan membuat jawapan untuk menolak ajaran Muhammad bin Abdul Wahab.


Kitab yang ditulis oleh Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab al-Hanbali, saudara kandung Muhammad bin Abdul Wahab, yang berjudul “Syawa’ iqul Ilahiyyah”, sudah cukup membuktikan penyelewengan Muhammad bin Abdul Wahab dan sekaligus membuktikan kebenaran firasat para ulama dan solihin di atas.


Bukan sahaja Syeikh Sulaiman sahaja yang menceritakan kesesatan Muhammad bin Abdul Wahab bahkan ramai lagi ulama sehingga Habib Alwi al-Haddad pada mukasurat 3 kitab “Misbahul Anam” membuat kesimpulan bahawa kesesatan Muhammad bin Abdul Wahab telah disampaikan oleh ramai ulama secara tawatur dalam tulisan-tulisan mereka daripada orang-orang yang tsiqah dari kalangan ulama-ul-akhyar (terpilih) dan selain mereka yang telah melihat dengan matanya sendiri dan mendengar dengan telinganya sendiri akan kesesatan Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikut-pengikutnya dan juga tulisan-tulisan, perkataan, perbuatan dan perintah Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikut-pengkutnya.


Sememangnya firasat bukan hujjah, tetapi tidak boleh diketepikan mentah-mentah.


Apatah lagi, jika ada qarinah lain membuktikan kebenaran firasat tersebut. Ingat Junjungan Nabi Shallallahu alayhi wasalam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dan Imam al-Tobrani :


“Takutilah firasat orang mukmin, kerana bahawasanya dia memandang dengan cahaya Allah.”


4.0 PERIOD FAHAMAN AL-WAHABIYYAH
Gerakan dakwah ini secara umumnya mengalami tiga peringkat :


A-Kerajaan Saud yang pertama :1) Period Muhammad bin Abdul Wahab & Muhammad Su’ud (1153H-1206H)


2) Period Abdul Aziz al-Saud & Saud Abdul Aziz (1762M-1814M)3) Period Abdullah Al-Saud – Ditangkap – Dipancung (1814M-1818M)B-Kerajaan Saud yang kedua :


1) Muncul Faysal al-Turki al-Saud (1835M-1838M)- dibawa ke Mesir dan dipenjara-( 1843M)-melarikan diri2) Faysal memulakan pemerintahan al-Saud ke-2 di Najad3) Kolonel Lewis Pelly (Peg Kanan Tentera British ke teluk bertemu pemimpin Wahabi)


4) Faysal meninggal dunia akibat kecederaan serius dalam pertempuran dan diganti oleh saudara Abdullah (1874M)


5) Abdul Rahman bin Faysal al-Saud berjaya menakluki Riyadh (1889M)


6) Riyadh berjaya ditawan kembali oleh Jeneral Muhammad bin Rasyid (1890)


7) Abdul Rahman bin Faysal berjaya lari ke Kuwait.



C-Kerajaan Saud yang ketiga :


1)Munculnya Abdul Aziz al-Saud menawan semula Riyadh (1902)


2) Captain WHI Shakespeare (agen British) di Kuwait menemui Amir Abdul al-Aziz (1910) dan mengatur pertemuan dengan Sir Perry Cox dan melantik Philby sebagai penasihat amir (1915)


3) Berlakunya Uqary Conference antara Brtish dan Saudi. Abdul al-Aziz dianugerahkan 60,000 pound setahun kerana khidmatnya pada British dan kemudiannya dianugerahkan Knight Of Grand Commander of The Most Eminent Order of The Indian Empire.


4) Amir Abdul al-Aziz menghapuskan Ikhwan al-Najdi. British membekalkan 4 pesawat, 200 kenderaan tentera dalam operasi ini. Faisal al-Duuwaish telah ditangkap oleh British di Kuwait dan menyerahkan kepada Abdul Aziz (1930M).


5) Tahun 1931M, Philby membawa masuk jutawan US Charles R. Crane & Kari Twithcell untuk meneroka minyak di teluk.


6) Pada tahun 1933, Syarikat Standard Oil of California mendapat konsesi minyak selama 60 tahun dan dikenali dengan AramCo. Ini merupakan sebahagian dari strategi Philby untuk membawa campurtangan Amerika terhadap Saudi.


7) Kerajaan Saudi Arabia terbentuk secara rasminya pada tahun 1932M dengan identiti Pedang bersilang sampai ke hari ini.


5.0 INTISARI PENTING FAHAMAN AL-WAHABIYYAH
Berikut merupakan sebahagian methodology fahaman al-Wahabiyyah. Antaranya :


1)Meneruskan fahaman pemecahan Tauhid kepada 3 bahagian.


2)Bergerak aktif dengan isu syirik-mensyirik , kafir-mengkafir.


3)Mempromosi ayat mustasyabihat secara meluas.


4)Mendasari salah faham terhadap bid’ah


5)Menyerang golongan tasawuf /tarekat.


6)Menyubuhkan fahaman Tasbyih dan Tajsim


7)Menentang fatwa Kebangsaan dan negeri-negeri


8)Mempunyai kaitan rapat dengan gerakan militant


9)Bersikap fanatik


10)Menolak pendekatan Mazhab dalam Islam


6.0 TOKOH –TOKOH
Toloh-tokoh Wahhabiyyah terdahulu tidaklah ramai jika dibandingkan dengan ulamak-ulamak Ahlus Sunnah Wal Jamaah.


Di sini perlu didedahkan tokoh-tokoh yang menyebarkan fahaman wahabiyyah di Timur Tengah.Antaranya ialah:


6.1 Ibn al-Alusi (1202-1317)


6.2 Abdul al-Rahman al-Mua’llimiy (1313-1386)


6.3 Al-Qanuji : Sidq Hassan al-Khan


6.4 Hamad bin Nasr bin Uthman al-Najdi


6.5 Ahmad Ibrahim al-Najdi6.6 Jamaluddin al-Qasimi al-Dimasyqi


6.7 Muhammad Khalil Harras al-Masri


6.8 Abdul Razzaq Afifi Ahmad Syakir al-Masri


6.9 Nasr al-Din al-Banni


6.10 Zuhair Syawisy


6.11 Muhammad Nasib al-Rida’i


6.12 Mahmud Mahdi Istanbuli


6.13 Hamud al-Tuwaijri


6.14 Ibnu Baz(Abdullah bin Baz)


6.15 Hamad al-Ansari


6.16 Abu Bakar al-Jaza’iri


6.17 Soleh Uthaimin


6.18 Soleh Fauzan


6.19 Abdullah bin Sa’di al-Ghamidiy


6.20 Muhammad Jamil Zainu


6.21 Umar Sulaiman Asyqar


6.22 Furaih bin Soleh al-Bahlul


6.23 Salim al-Hilali


6.24 Marwan al-Qaisi


6.25 Abdul Qader al-Arnawuth.



7.0 IMPLIKASI
Penyebaran fahaman ini sedikit sebanyak memberi ancaman kepada umat Islam di Malaysia. Hampir-hampir kita bakal menjadi Indonesia.


Antara implikasinya ialah:


7.1 Memberi fokus perdebatan kepada masalah usuliyyah-akidah dengan sifat-sifat Allah.


7.2 Memberi fokus tentang permasalahan khilafiyyah-bid’ah dan mencambahkan bibit perpecahan dan kekeliruan fahaman dalam masyarakat.


7.3 Munculnya pelbagai aliran, puak dan fanatic kepada ustaz-ustaz atau pensyarah tertentu. Akhir menggunakan fatwa tersendiri dalam menyampaikan hukum kepada masyarakat awam.


7.4 Membelakangi JAKIM, Jabatan-jabatan Agama Islam Negeri, PUM, IKIM, YADIM dan


Majlis Fatwa Kebangsaan dalam penentuan dan penyebaran hukum.



8.0 SENARAI HUJJAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH KE ATAS FAHAMAN AL-WAHABIYYAH


9.0 STATUS
Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan kali ke-27 yang bersidang 31 Mac 1994 dan 14 pada 22-23 Oktober 1985 telah memutuskan bahawa fahaman Ittiba’ al-Sunnah atau Fahaman al-Salafiyyin, Kaum Muda atau Al-Wahabiyyah dan yang sealiran dengannya boleh membawa kekeliruan dan perpecahan kepada masyarakat dan perlu disekat.


Adalah menjadi hak untuk Kerajaan Negeri untuk menfatwakannya samada sesat atau menyeleweng.


10.0 KESIMPULAN
Antara usaha yang boleh diambil dalam menangani isu fahaman ini ialah:


10.1 Kita perlu memahami isu ini dengan sebaik-baiknya dan menyedari implikasi yang berlaku hasil penyebaran fahaman ini.


10.2 Menggesa JAKIM, JAIN, PUM, IKIM, YADIM dan NGO Islam yang lain bersatu untuk mengeluarkan satu kenyataan bersama tentang fahaman ini.


10.3 Menapis atau menyekat buku-buku, majalah, laman web, pendakwah ekstrem yang didapati menyebarkan fahaman ini.


10.4 Memantau sebarang aktiviti yang dianjurkan mereka termasuk seminar, forum, ceramah dan sebagainya.


10.5 Usaha pendidikan dan penerangan perlu dilakukan secara menyeluruh dan bersepadu.


10.6 Kita perlu menggunakan pendekatan yang bijak dalam menangani kes ini. Ibarat menarik rambut di dalam tepung.


Subhanallah..marilah sama-sama kita meyelamatkan diri kita dan berpesan kepada saudara islam kita yang lain daripada mereka ini, yang pada zahirnya menunjukkan persenaliti islam,berkopiah,berjubah,tapi akidah mereke bertereskan Muhammad abdul wahhab, ibn Taimiyyah yang membawa kepada tajsim dan tasybih.


Akidah mereka ini pada hakikatnya di ambil terus dari akidah yahudi dan agama-agama sesat lain bukannya akidah nabi Muhammad dan para sahabat.Nauzubillah……


Ya Allah selamatkan bumi Malaysia daripada Wahhabi..


AL-GHARI

Kesalahan Wahaby/salafy terhadap keistimewaan Rejab/Rajab

SALAH FAHAM TERHADAP KEISTIMEWAAN REJAB ( JAWAPAN TERHADAP MOHD ASRI BIN ABDUL TALIB@ZAINUL ABIDIN alwahaby)

SALAH FAHAM TERHADAP KEISTIMEWAAN REJAB[1]
Jawapan Terhadap Mufti Perlis






Oleh :
Zamihan Mat Zin al-Ghari
Pen Pengarah
Institut Latihan Islam Malaysia (ILIM)
JAKIM

Pendahuluan

Rejab semakin melabuhkan tirainya. Namun, kita masih berperang mencari hakikatnya.
Antara benar dan salah.. sahih dan palsu menjadi pertikaian. Zaman kita kekadang yang benar dianggap salah. Dan yang salah dianggap benar. Amat kejam sekali. Zaman ini persis wanita yang mengandung. Lihatlah apa yang berlaku padanya dalam sekelip mata. Lebih-lebih lagi apabila penguasaan ilmu dan iman semakin tidak dipedulikan manusia.

Sehinggakan ada pihak yang menggelarkan diri mereka sebagai sarjana cuba menakut-nakutkan umat Islam dari melakukan amalan di bulan rejab. Alasannya, hadis yang berkaitan dengan kelebihan bulan rejab adalah palsu. Sedangkan kepalsuan yang didakwa hanya berdasarkan kepada pendapat satu riwayat hadis dan pandangan seorang ulamak sahaja. Iaitu Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Soalnya, apakah pandangan ini mewakili dunia kesarjanaan Islam keseluruhannya?

Ada pula yang sengaja mendatangkan dalil-dalil yang berat sebelah bagi mengikis keistimewaan bulan rejab. Bahkan melarang umat Islam melakukan amalan mendekatkan diri kepada Allah dengan tuduhan hadis berkenaan semuanya palsu, taksub pahala dan sebagainya. Ayuh, bukalah sedikit ufuk minda kita untuk menemui hakikatnya.

Bandingkan definisi, tafsiran dan keistimewaan rejab yang dikemukakan ini dengan dakwaan golongan yang menentangnya. Penulis menghidangkan hakikat Rejab dan keistimewaanaya menerusi kitab al-Ghunyah li thalib Thariq al-Haq karangan Syeikh Abd Qader al-Jaylani. Beliau merupakan Sultan para Wali dan terkenal sebagai seorang ulamak yang menghimpunkan ilmu zahir dan batin. Beliau juga terkenal dengan pakar hadis di zamannya. Keilmuan dan keimaman beliau turut diperakui sendiri oleh Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim al-Jauziyah dan seluruh cendikiawan Islam.

Pendekatan

Dalam memahami selok-belok rejab kita perlu cermat membuat penilaian terhadap sumber-sumber yang berkaitan dengannya. Tegasnya, Al-Qur’an, al-Hadis, pandangan ulamak muktabar dan fatwa berkaitan perlu dipersembahkan secara jujur dan telus. Ia boleh membantu kita dalam memahami kes berkaitan dan memberi justifikasi yang jelas dalam pelaksanaan. Paling tuntas, kita tidak mencemuh dan menuduh mereka yang ikhlas melakukan kebaikan.

Apabila kita meneliti kepelbagaian sumber yang ada ditangan para ulamak, didapati rejab ada keistimewaannya yang tersendiri. Maka tidak hairanlah intisari (matan) hadis “Rejab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan ramadhan bulan umatku..” disokong oleh ramai para ulamak muktabar.

Antaranya, Imam Hibbatullah bin Mubarak. Beliau meriwayatkan keistimewaan rejab berdasarkan sanad-sanadnya yang jelas sebagaimana yang direkodkan oleh Syeikh Abd Qader al-Jaylani di dalam al-Ghunyah. Oleh, amat baik jika diperhatikan siapa beliau dan bagaimana qualiti sanad-sanad yang diriwayatkannya.

Tambahan pula, matan hadis : “Rejab bulan Allah, Sya’aban bulanku, ramadhan bulan umatku…” tidak bertentangan dengan nas al-Qur’an. Sebaliknya selari dengan perisytiharan Allah SWT pada surah al-Taubah ayat 36 tentang empat bulan haram yang dimaksudkan : Rejab, Zulqaedah, Zulhijjah dan Muharam.

Imam al-Qurtubi di dalam tafsirnya menyifatkan Nabi SAW sendiri pernah menegaskan bahawa rejab itu adalah bulan Allah. Iaitu bulan Ahlullah. Dan dikatakan penduduk (mukmin) Tanah Haram itu Ahlullah kerana Allah yang memelihara dan memberi kekuatan kepada mereka.” (al-Qurtubi, Jami’ Ahkam al-Qur’an, hlm 326 juz 6)

Imam Abu Daud pula membawa intisari hadis yang menampakkan kesaksian yang jelas tentang lafaz “Sya’ban bulanku”. Buktinya beliau meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Qais dari Aisyah berbunyi : “Bulan yang paling disukai Rasulullah SAW ialah berpuasa di bulan Sya’aban. Kemudian Baginda menyambung puasanya hingga ke Ramadhan.”(Sulaiman bin al-Asy’at al-Sijistani, Sunan Abu Daud, t.th, Dar al-Fikr : Beirut , hlm 323 juz 2)

Imam al-Thabrani pula meriwayatkan dari Anas bin Malik RA bahawa apabila tibanya bulan rejab, Baginda mendoakan : “Ya Allah, berkatilah hidup kami di bulan rejab dan Sya’aban dan sampaikan (hayat) kami kepada bulan ramadhan.”(al-Thabrani, Mu’jam al-Ausath, 1415H, Dar al-Haramain : Qaherah, hlm 189 juz 4, no hadis : 3939)

Hadis ini turut dipersetujui Imam Ahmad di dalam Musnadnya m/s 259 juz 1, hadis bernombor 2346.

Imam al-Thabrani juga meriwayatakan dari Abu Hurairah RA bahawa Nabi SAW tidak menyempurnakan puasa sebulan selepas berlalunya ramadhan kecuali pada rejab dan Sya’ban.” (ibid, hlm 161 juz 9 no hadis : 9422)

Jika sanad yang dibicarakan oleh Ibn Qayyim itu bermasalah dengan periwayatan Ibn Jahdam. Ianya tidak menggugurkan nilai keistimewaan rejab sama sekali. Ini kerana masih terdapat beberapa sanad yang lain menjelaskan kelebihan bulan rejab.

Al-Hafiz al-Haitsami di dalam Majma’ al-Zawa’id turut meriwayatkan tentang kelebihan bulan rejab. Walaupun dengan sanad-sanad yang dhaif, namun ia sudah memadai untuk menepati spesifikasi kelebihan untuk beramal dan meningkatkan hemah diri. Hal ini jelas sebagaimana yang diakui oleh para fuqaha’ dan ahli hadis menerusi kenyataan Imam al-Nawawi di dalam kitab al-Arba’ien.

Lebih kukuh, Imam Muslim meriwayatkan dari Uthman bin Hakim al-Ansari beliau (Uthman) pernah menanyakan Said bin Jubayr RA tentang puasa rejab (pada bulan rejab). Said menjawab : “Aku mendengar Ibn Abbas RA mengatakan : “Rasulullah SAW berpuasa rejab sehingga kami menyangka Baginda tidak berbuka (terus-menerus berpuasa) dan Baginda berbuka sehingga tidak nampak berpuasa.”(Muslim bin Hajjaj, Sahih Muslim,t.th, Dar Ihya Thuras al-Arabi : Beirut , hlm 811 juz 2)

Imam al-Nawawi mengatakan : “Apa yang zahir dari ucapan Sa’id bin Jubayr itu menjadi bukti bahawa tiada tegahan untuk berpuasa padanya (rejab) kerana (semata) bulan berkenaan. Bahkan kedudukannya sama mengikut baki bulan Islam yang lain. Dan tidak ada larangan (yang tsabit) untuk melakukan ibadat puasa di bulan rejab, tidak pula disunatkan kerana bulannya. Tetapi apa yang disunatkan ialah kerana kesunahan puasa tersebut.”(al-Nawawi, Syarh al-Nawawi ala Sahih Muslim, 1392, Dar Ihya’ Thuras al-Arabi : Beirut , hlm 38 juz 8)

Imam Abu Thayyib al-Azhim juga mengatakan : “Di dalam Sunan Abi Daud direkodkan bahawa Nabi SAW menggalakkan kita untuk berpuasa di bulan-bulan yang haram. Dan rejab adalah salah satu darinya.”( Abu Thayyib al-‘Azhim, Aun al-Ma’bud bi Syarh Sunan Abi Daud, 1415H, Cetakan Kedua, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Beirut , hlm 60 juz 7)

Al-Hakim pula meriwayatkan dari Nubaisyah RA : “Seorang lelaki menanyakan Nabi SAW, wahai Rasulullah! Kami memberi persembahan (kepada berhala) di zaman jahiliyah. Maka apa pula yang harus dilakukan di bulan rejab ini. Baginda menjawab : “Sembelihlah binatang ternakan kerana Allah di mana-mana bulan sekalipun. Lakukanlah kebaikan kerana Allah dan berilah makanan.” Imam Al-Hakim mengatakan : “Isnad hadis ini adalah sahih tetapi tidak dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim menerusi kitab Sahih mereka berdua.”(Abu Abdillah al-Hakim, al-Mustadrak ala Sahihain, 1990, Cetakan pertama, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Beirut, hlm 263 juz 4)

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam al-Syafi’ie berbunyi : “Telah samapai kepada kami bahawa al-Syafi’ie mengatakan : “Sesungguhnya doa itu mustajab pada lima malam : malam jumaat, malam aidil adha, malam adil fitri, malam pertama bulan rejab dan malam nisfu Sya’ban.”(al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, 1994, Maktabah Dar al-Baz : Makkah al-Mukarramah, hlm 319 juz 3)

Di dalam Syuab al-Iman, Imam al-Baihaqi meriwayatkan lagi tentang keistimewaan bulan rejab. Hadis itu berbunyi : Allah telah memilih bulan rejab. Rejab adalah bulan Allah. Barangsiapa yang memuliakan bulan Allah sesungguhnya dia telah memuliakan perintah Allah. Barangsiapa yang memuliakan perintah Allah sesungguhnya dia akan dimasukkan ke syurga al-Naim..”(al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, 1410H, Cetakan pertama, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Beirut , hlm 374 juz 3, no hadis 3814). Lihat juga hadis bernombor 3812 sebagai sokongan terhadap keistimewaan bulan rejab pada malam harinya.

Adapun hadis yang menunjukkan Nabi SAW melarang umatnya berpuasa di bulan rejab bukanlah satu larangan yang bersifat mutlak. Bahkan bertentangan dengan anjuran berpuasa sunat dalam Islam. Tambahan pula, hadis tersebut diriwayatkan oleh Daud bin ‘Atha al-Madani. Beliau merupakan perawi hadis yang dhaif. Para ulamak bersepakat mendhaifkan periwayatannya termasuk Imam Ibn Jauziy menerusi kitabnya al-‘Ilal al-Mutanahiyah (Ahmad bin Abu Bakar al-Kinani, Misbah al-Zujajah, 1403H, Dar al-‘Arbiah : Beirut , hlm 78 juz 2)

Imam al-Zahabi memperakui hadis berkenaan pauasa rejab sebagai hadis yang marfuk. Hadis itu berbunyi : “Barangsiapa yang berpuasa satu hari dalam bulan rejab Allah SWT akan menulis baginya pahala puasa bagaikan setahun. Dan barangsiapa yang berpuasa dua hari dalam bulan rejab Allah SWT akan menulis baginya pahala puasa bagaikan dua tahun.” (al-Zahabi, Mizal al-I’tidal Fi Naqd al-Rijal, 1995, Cetakan Pertama, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Beirut , hlm 417 juz 4)

Selain itu, al-Zahabi juga membawakan sanad yang mursal daripada Uthman bin Mathar, daripada Abd Ghafur bin Abd Aziz dari ayahnya tentang kelebihan berpuasa sehari dalam bulan rejab. (Ibid, hlm 70 juz 5 no hadis : 5570)

Tetapi beliau juga membawakan hadis palsu tentang puasa rejab yang berbunyi : “Barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan rejab Allah kurniakan pahala baginya bagaikan berpuasa seribu tahun.” Imam al-Zahabi mengatakan : “Aku tidak mengetahui siapa (sebenarnya) yang mereka cipta hadis ini.” (ibid, hlm 197 juz 5 no hadis : 5973)

Imam Ibn Hajar al-Asaqalani juga membentangkan pertikaian ulamak terhadap hadis kelebihan tentang puasa rejab yang bersumberkan riwayat Abd Malik bin Harun bin ‘Antarah. Katanya : “Darulquthni memandang Abd Malik dan ayahnya (Harun) sebagai dhaif. Begitu juga dengan Imam Ahmad. Tetapi Yahya (Ibn Ma’in) menghukumnya sebagai pendusta. Abu Hatim menghukumnya sebagai matruk (ditinggalkan) hadisnya. Ibn Hibban menganggap dia sebagai pereka hadis…”(Ibn Hajar al-Asqalani, Lisan al-Mizan, 1986, Cetakan ke-3, Muassasah al-A’lami : Beirut, hlm 71-72 juz 4 no ind: 213)

Imam al-Munawi ketika membawakan hadis kelebihan puasa rejab yang panjang menasihati kita dengan katanya : “Hadis-hadis ini terhadis apa yang ditemukan oleh Ibn Hajar al-Asqalani, al-Sakhawi dan saya sendiri. Kebanyakkan dhaif. Barangsiapa yang ingin menghentikan perbincangannya dia boleh menilai pandangan ulamak (yang berkaitan dengannya). Barangsiapa yang ingin meneliti periwayatannya (telusurilah) rujuklah kepada pengarang yang berkaitan.” (al-Munawi, Fayd al-Qader, 1356H, Cetakan Pertama, Maktabah al-Tijariyah al-Kubra : Mesir, hlm 90 juz 4)

Perawi yang dipertikaikan

Adapun berkenaan dengan Ibn Jahdham, pengkritik periwatannya tidak memperincikan siapa sebenarnya Ibn Jahdam yang dimaksudkan Ibn Qayyim al-Jauziyah. Kitab-kitab biografi mencatatkan kepada kita beberapa nama Ibn Jahdham. Antaranya : Muhammad bin Jahdham, Jahdham bin Abdullah, Abu Muadz Jahdham bin Abd Rahman, Ubaidillah bin Jahdham dan Abu Hassan Ali bin Abdullah bin al-Hassan al-Hamazani.

Penjelasan Perawi

Imam Ibn Hibban meriwayatkan lima hadis dari Muhammad bin Jahdham yang dimaksudkan penulis.( Ibn Hibban, Sahih Ibn Hibban, hlm 443 juz 2, hlm 582 juz 4, hlm 194 juz 7, hlm 96 juz 8, hlm 193 juz 11)

Manakala al-Hakim meriwayatkan empat hadis di dalam kitab Mustadraknya daripada Muhammad bin Jahdham dan satu hadis lagi bersumberkan Jahdham bin Abdullah al-Qaisiy. (al-Hakim, al-Mustadrak ala sahihain, hlm 573 juz 4)

Imam Abu Daud meriwayatkan satu hadis dari Muhammad bin Jahdham berkenaan dengan zakat fitrah. Kenyataan boleh dirujuk paha hadis yang bernombor 1612 melalui Sunannya. (Abu Daud, Sunan Abu Daud, t.th, Dar al-Fikr : Beirut , hlm 112 juz 2)

Imam al-Tirmidzi meriwayatkan pula meriwayatkan dua hadis dari Jahdham bin Abdullah menerusi Sunannya. Perhatikanlah hadis bernombor 1563 dan 3235 di dalam Sunannya (al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, t.thn, Dar Ihya’ Thuras al-Arabiy : Beirut , hlm 132 juz 4 dan hlm 368 juz 5)

Imam al-Baihaqi turut meriwayatkan hadis daripada Jahdham bin Abdullah bin Badr menerusi Sunan al-Kubra. Rujuklah hadis bernombor 12327 sebagai pemerincian. (al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, 1994, Maktabah Dar al-Baz, hlm 265 juz 6)

Selain itu, Muhammad bin Jahdham dan Jahdam bin Abdullah juga merupakan perawi yang disenaraikan dalam rangkaian sanad-sanad Imam Ibn Majah, Imam AbdRazzaq, Imam Abu Ja’far al-Thahawi, Imam Ahmad, al-Thabrani dan lain-lain.

Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan Muhammad bin Jahdham merupakan orang suruhan Ibn Umar yang tsiqah. Dan beliau perawi al-Bukhari tetang zakat fitrah.(Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, 1379, Dar al-Makrifah : Beirut , hlm 368 juz 3)

Manakala, di dalam kitab al-Kuna wa al-Asma, pengarangnya membawakan biografi Abu Muadz Jahdham bin Abd Rahman. Beliau seorang perawi yang meriwayatkan dari Ikrimah. Dan Muhammad bin Yazid dan Ubbad bin Awwam mengambil hadis darinya.(Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi, al-Kuna wa al-Asma, 1404H, Matbaah Jamiah Islamiyah Madinah al-Munawwarah, hlm 775 juz 1)

Di dalam kitab al-Muntaqa fi sard al-Kuna diperjelaskan pula tentang Ubaidillah bin Jahdham yang meriwayatkan dari Qadhi Syuraih. Periwayatannya diambil pula oleh Jarir bin Hazm.(al-Zahabi, al-Muntaqa fi sard al-Kuna, 1408H, Matbaah Jamiah Islamiyah Madinah al-Munawwarah, hlm 153 juz 1)

Manakala ada seorang lagi Ibn Jahdham yang diperkatakan. Iaitu Abu Hassan Ali bin Abdullah bin al-Hassan al-Hamazani. Beliau merupakan salah seorang Syeikh Imam al-Kabir Syeikh Sufiyyah di Makkah al-Mukarramah. Demikian menurut terjemahan biodata yang dibuat oleh Imam al-Zahabi menerusi kitab Siyar A’lam al-Nubalak, hlm 275 juz 17.

Meriwayatkan daripada beliau ialah Abi Hassan bin Salamat al-Qaththan, Ahmad bin Uthman al-Adami, Ali bin Abi al-Aqab dan Khalq. Dia bukanlah seorang yang tsiqah. Bahkan ditohmah dengan pelbagai musibah. Ibn Khairun mengatakan : “Dikatakan bahawa beliau mendustakan hadis. Khabar tentangnya telah kusebutkan di dalam kita al-Tarikh wa al-Mizan”. Beliau meninggal dunia tahun 441H.”(al-Zahabi, Siyar A’lam al-Nubalak, 1413H, Muassasah al-Risalah : Beirut , cetakan ke-9, hlm 275 juz 17)

Ibn Jauziy al-Hanbali (bukan Ibn Qayyim al-Jauziyyah) ketika mengulas hadis berkenaan solat al-Raghaib (periwayatan) Ibn Jahdham mengatakan : “Hadis ini direka-reka dan mereka (ulamak hadis) menuduh Ibn Jahdham melakukannya dan menisbahkan beliau dengan berdusta.”(al-Zahabi, Mizan I’tidal fi Naqd al-Rijal, hlm 162 juz 8)

Pendapat ini berbeza dengan pendapat Imam Abd al-Karim al-Qazwini. Di dalam Tadwin fi Akhbar al-Qazwin beliau mencatatkan : “al-Kayya Syarwiyyah di dalam Tabaqat Ahli Hamadan mengatakan bahawa Abu Hassan Ibn Jahdham merupakan seorang yang tsiqah. Beliau seorang yang dikenali dengan ilmu hadis dan meninggal dunia 407H.” (Abd al-Karim al-Qazwini, al-Tadwin fi Akhbar Akhbar al-Qazwin, 1987, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah: Beirut, hlm 370 juz 3)

Al-Ajlouni pula pernah menyebut satu riwayat dari Ibn Jahdham ini. Di dalam kitab Kasyf al-Khafa’ li Muzil al-Ilbas beliau memuatkan satu riwayat dari Abu Hassan Ali bin Abdullah bin al-Hassan (Ibn Jahdham) daripada Abi Muhammad al-Hariri berkenaan dengan hikmah Ilahiyyah. Imam al-Ajlouni tidak menarafkan periwayatan Ibn Jahdham ini. Keterangan boleh dirujuk kepada hadis bernombor 3124.

Dari biodata perawi ini boleh dibuat beberapa kesimpulan.

1) Sekadar menyebut nama seorang perawi (Ibn Jahdham) belum cukup untuk membuktikan hadis tersebut adalah palsu. Ini kerana nama Ibn Jahdham terdiri dari beberapa orang perawi yang tsiqah dan meriwayatkan hadis dari kitad-kitab sahih mahupun sunan.

2) Perawi yang dipertikaikan perlu diperincikan dengan tepat. Perawi yang dikritiki ialah Abu al-Hassan Ali bin Abdullah Ibn Jahdham. Beliau merupakan seorang tokoh sufi. Mengaitkan tokoh sufi dengan amalan memalsukan hadis adalah contoh sarjana liberal yang tidak bertanggungjawab.Perlu diketahui bahawa Fudhail Bin ‘Iyadh pernah meriwayatkan dari beliau.

3) Walaupun kedudukan beliau dipertikaikan. Sebahagian ulamak hadis mengatakan beliau tidak tsiqah. Tetapi beliau ditsiqahi dikalangan ulamak Qazwin. Sebahagian ulamak pula mentadh’ifkan periwatannya. Sebahagian lagi menuduhnya sebagai pemalsu hadis. Justeru, beliau bukanlah seorang perawi yang dimuktamadkan sebagai pemalsu hadis. Dan tidak sepatutnya tuduhan itu menjadi satu penarafan terhadap periwayatan beliau tanpa merai beberapa pandangan yang lain terhadapnya.

Tambahan pula, kedudukan beliau sebagai Imam al-Kabir Syeikh al-Sufi di Makkah menjustifikasikan kepada kita satu kepercayaan identiti beliau. Ternyata beliau seorang yang dihormati lagi disegani.

Justeru, kita perlu melihat kepada kedua-dua sudut antara tajrih dan ta’dil terhadapnya. Bagi saya, tajrih beliau hanyalah berkisar kepada tohmahan semata-mata. Mungkin ada tangan-tangan yang tidak senang hati dengan aliran kesufiannya. Mungkin juga faktor politik atau environment semasa yang mewarnai tajrih keatasnya.
Manakala keadilan beliau itu jelas. Walaupun riwayatnya tidak cukup kuat mencapai taraf sahih, namun tidak semua periwatannya bertentangan dgn riwayat yang sahih. Ataupun kita boleh menerima periwayatan yang dhaif jika ada kesaksian dan sokongannya.

Kesimpulan

Berdasarkan kepada keterangan di atas, jelaslah kepada kita bahawa rejab mempunyai pengertian dalam kelasnya yang tersendiri. Sumber-sumber hukum melalui Al-Qur’an, al-Hadis dan keterangan para ulamak Salaf pula memberitahu kita bahawa di sana terdapat hadis-hadis yang sahih, hasan, mursal, marfuk, dhaif, dhaif jiddan, wahin (amat lemah) dan palsu seputar rejab.

Oleh itu, setiap isu dan dalil harus difahami secara menyeluruh lagi mendalam agar kita tidak tersasar dari landasan yang benar.

Dalil-dalil yang jelas, terang lagi bersuluh sepatutnya diamalkan. Manakala dalil-dalil yang lemah boleh dijadikan bahan sokongan dan penambahbaikan dalam sesuatu amalan. Manakala dalil-dalil yang palsu seharusnya ditinggalkan. Bahkan perlu diperjelaskan kekurangan dan kesannya terhadap mutu periwayatan, penghujahan dan amalan.

Terbukti juga kepada kita bahawa satu sanad dan satu pendapat belum baligh untuk dijadikan asas pemutusan sesuatu hukum. Apatah lagi untuk digunakan sebagai anjakan bagi memberi was-was atau menakut-nakutkan umat Islam melakukan amalan tambahan bagi mendekatkan diri kepada Allah. Walhal, kita sendiri tidak berganjak kemana-mana dengan penghujahan dan kefahaman kita.

Justeru, disamping penguasaan ilmu, kita perlu warak dalam mencari pendekatan dan membuat penilaian terhadap sesuatu perkara. Ini penting supaya kredibiliti kita terpelihara. Dalam masa yang sama mampu memberi input membina untuk Islam dan umatnya.

Sempena sepertiga rejab yang mulia. Renunglah, setakat mana ilmu kita? Berapa banyak yang diamalkannya. Dan dimana pula keikhlasannya. Kalau kita tidak mampu melakukan kebaikan, kita perlu berusaha memahaminya. Jangan sesekali cuba menghalang kebaikan. Barangsiapa cuba menghalang mereka yang ikhlas melakukan kebaikan, memperbaiki amalan dan melatih diri menuju Allah, Allah juga akan menghalang perjalanan hidupnya.

Alangkah manisnya apabila kita dapat menyatukan ibadat solat, puasa, zikir, tasbih, tahlil, tahmid, qiyam, bersedekah dan lain-lain kebaikan di bulan rejab. Semoga amalan rejab ini menjadi pemangkin untuk mereka yang benar-benar dahagakan kebesaran dan keagungan Allah. Pencarian hakikat rejab sebenarnya bermula dan berakhir dengan kesucian hati kita. Sucikan suapan, pakaian dan perbuatan kita. Insya Allah sinar keagungan rejab mampu menjadi milik kita secara hakikatnya.

[1] Kertas konsep ini dibentang dalam program Diskusi Ilmiyyah pada 8hb Ogos 2007, jam 8-9mlm anjuran Surau al-Amin, Presint 8, Putrajaya.

AL-GHARI.

http://www.al-ghari.blogspot.com/

Hulul (Wihdatul Wujud) Bukan aqidah sufi dan ibnu al ‘araby

Imam Ibnu Al-Araby SUFI (Mangsa Takfir)
SYEIKHUL AKBAR MUHYIDDIN IBNU AL-‘ARABIY SEORANG ULAMA SUFI YANG MENJADI MANGSA TAKFIR

Oleh: Abu Syafiq

Ramai dikalangan penuntut ilmu yang mendapat maklumat kurang tepat mengenai Syeikh Ibnu Al-‘Arabiy atau juga dikenali sebagai Syeikh Ibnu ‘Arabiy (tanpa alif lam ta’rif AL), ini berlaku kerana permulaan bacaan dan maklumat mereka mengenai Syeikh tersebut diambil dari penulisan yang dibacaa sekerat-sekerat tanpa kajian yang mendalam terutama yang memfitnah Syeikh Ibnu Al-‘Arabiy sebagai berakidah HULUL dan ITTIHAD sedangkan Syeikh Ibnu Al-Arabiy tersangat jauh dari akidah tersebut.

Maklumat ringkas mengenai Syeikhul Akbar Sufi Muyhiddin Ibnu Al-‘Arabiy:

Beliau adalah Syeikhul Akbar Muhyuddin Ibnu Al-‘Arabiy Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah Al-Hatimiy At-Toiy dari keturunan Abdullah bin Hatim saudara kandung kepada sahabat Nabi ‘Udaiy bin Hatim.
Digelar sebagai Muhyiddin dan diberi kunyah sebagai Abu Abdillah dan juga Abu Bakar. Dikenali dengan Al-Hatimiy, At-Toiy dan juga dikenali sebagai Ibnu ‘Arabiy (tanpa alim lam ta’rif AL) dan di Maghribiy beliau terkenal dengan kunyah Ibnu Al-‘Arabiy(dengan alim lam ta’rif AL). Terkenal juga dengan panggilan Sultan ‘Arifin dan Imam Muttaqin dan sebagainya dari gelaran yang sememangnya layak untuk beliau setelah pengkaji meneliti hakikat beliau sebenar.
Dilahirkan pada malam Isnin 17 Ramadhan tahun 560H di Andalusia. Meninggal pada tahun 638H Rahimahullah.

IBNU ‘ARABIY KE IBNU AL-‘ARABIY?
Kekeliruan pada gelaran beliau juga berlaku dan ini turut menunjukkan beberapa isi kandungan kitab karangan beliau juga tidak terlepas dari tokok-tambah dusta dan nista dari golongan Musyabbihah Mujassimah yg mahukan fitnah berterus terhadap umat Islam.

Gelaran atau kunyah untuk beliau setepatnya adalah IBNU AL-‘ARABIY
( ابن العربي ) iaitu dengan alif lam ta’rif, apabila ditulis terdapat AL pada permulaan perkataan ‘ARABIY menjadikan ejaan Al-‘ARABIY atau apabila disebut secara sambung (wasal) menjadi IBNUL ‘ARABIY. Ini kerana beliau sejak kecil lagi sudah terkenal dengan gelaran sedemikian ditambah pula kebanyakan bapa saudara beliau dan datuk-datuk beliau turut digelar sebagai AL-‘ARABIY. Begitu juga kitab-kitab karangan beliau sendiri menulis nama sebagai IBNU AL-‘ARABIY.

Ya, sememangnya disana ada seorang lagi ulama yang juga digelar sebagai IBNU AL-‘ARABIY iaitu Al-Qodhi Muhammad bin Abdullah IBNU AL-‘ARABIY Al-Ma’firiy Al-Malikiy lahir pada 468H pengarang kitab Qonun Ta’wil tetapi ia tidak menjadi penghalang untuk mengelarkan yang lain sebagai nama tersebut. Dalam Artikel ini hanya menceritakan Imam Ibnu Al-‘Arabiy atau Ibnu ‘Arabiy yang Syeikh Sufi tu atau lebih dikenali dengan Imam Muhyuddin Ibnul ‘Arabiy. Tidak ada masaalah sekiranya sekejap beliau digelar sebagai IBNU ‘ARABIY kemudian IBNU AL-‘ARABIY pula kerana kedua-duanya adalah gelaran bagi beliau.

HULUL DAN ITTIHAD BUKAN AQIDAH IMAM IBNU AL-‘ARABIY @ ‘ARABIY
Akidah Hulul adalah akidah sesat yang mendakwa zat Allah berada didalam diri makhluk dan makhluk berada didalam diri Allah. Akidah Ittihad pula adalah akidah sesat yang mendakwa semua yang ada ini makhluk dan Allah adalah bersatu antara satu sama lain. Kedua-duanya lebih kurang sama dan sesat.

Manakala tuduhan akidah hulul, ittihad dan pelbagai lagi akidah batil terhadap Imam Ibnul ‘Arabiy adalah satu fitnah yang membawa kepada pentakfiran antara satu sama lain dan fitnah yang besar sehingga ke hari ini. Ramai yang keliru termasuk beberapa para pengkaji dan ini penjelasan ringkas saya (Abu Syafiq) atas segala kekeliruan itu :

* Kebanyakan isi kandungan kitab-kitab Imam Ibnu Al-‘Arabiy sebenarnya telah ditokok tambah dengan pengisian yang terpesong dari ajaran Islam sebenar. Ia bukanlah tulisan Imam Ibnul ‘Arabiy bahkan beliau berlepas tangan dari segala itu.

Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya’roniy berkata dalam kitabnya berjudul Al-Yawaqit Wal Jawahir Fi ‘Aqoidil Akabir m/s 9:
” Segala isi kandungan kitab Ibnul ‘Arabiy yang bertentangan dengan syariat Islam dan bertentangan dengan jumhur ulama maka ketahuilah bahawa ianya adalah palsu, dusta dan ditokok-tambah oleh musuh-musuh Islam. Syeikh Sayyidy Abu At-Tohir Al-Maghribiy di Mekah juga telah memberitahu aku sedemikian dan beliau membawa kepada aku naskhah asal kitab Imam Ibnul ‘Arabiy yang berjudul Al-Futuhaat Al-Makkiyah yang diterima dari naskhah asal di Madinah Quniyyah maka aku dapati isi kandungannya tidak langsung terdapat akidah yang pernah aku lihat (hulul dan ittihad) dan ianya selari dengan apa yang aku telah ringkaskan dari kitab Al-Futuhaat “.

Bagaimana Imam Ibnu Al-‘Arabiy dikatakan berakidah Hulul atau Ittihad sedangkan beliau sendiri terkenal menolak akidah tersebut dan akidah-akidah batil yang lain dan beliau terkenal sebagai seorang yang menyebut kenyataan menolak kedua akidah batil tersebut dengan :
من قال بالحلول فدينه معلول، وما قال بالاتحاد إلا أهل الإلحاد

Maksud kenyataan Ibnu Al-‘Arabiy tadi :
“Sesiapa yang berakidah Hulul maka agamanya terpesong, dan tidak berakidah Ittihad melainkan orang itu mulhid”.
Rujuk kitab Al-Futuhaat AL-Makkiyah pada Bab Al-Asrar dan pada Bab Yang Ke 559 yang telah dinyatakan oleh Asy-Sya’roniy.
Amat jelas Imam Muhyiddin Ibnu Al-‘Arabiy menolak akidah Hulul dan Ittihad.

Maka segala fitnah terhadap beliau atas tuduhan berakidah Hulul dan Ittihad hendaklah dihentikan dan perlu dibezakan antara As-Sufi Imam Muhyiddin Ibnul ‘Arabiy dengan golongan yang mengaku sufi ataupun yang mengaku pengikut Imam Ibnu ‘Arabiy tetapi hakikatnya sufi dan Ibnu ‘Arabiy amat jauh dengan mereka.

DAKWAAN KUFUR TERHADAP IBNU AL-‘ARABIY
Sememangnya ada beberapa insan yang mengkafirkan Imam Ibnu Al-‘Arabiy ini atas salah anggap tulisan terpapar yang dibaca.
Pelik juga pentakfiran terhadap Imam Ibnul ‘Arabiy tidak terkenal berlaku pada zaman beliau tetapi selepas puluhan tahun kematian beliau. Berbeza dengan keadaan Ibnu Taimiyah yang mana ulama Islam menghukum Ibnu Taimiah sebagai kafir terkeluar dari akidah islam adalah dari kalangan ulama Islam yang hidup dizaman Ibnu Taimiyah sendiri bahkan para tuan kadi dari keempat-empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafie dan Hambali) telah menghukum kufur terhadap Ibnu Taimiyah dizaman Ibnu Taimiah sendiri.

Ini juga menunjukkan penghukuman kufur/sesat terhadap Imam Ibnu ‘Arabiy oleh sebahagian insan adalah tidak berbukti yang tepat, hanya sekadar melihat pada buku yang telahpun dicetak yang sememangnya telahpun ditokok-tambah oleh musuh Islam sedangkan naskhah asal kitab Imam Ibnu ‘Arabiy tidak tertera akidah sesat tersebut.

Lihat sahaja bagaimana mereka mengkafirkan Imam Ibnu ‘Arabiy atas dakwaan kononnya Ibnu ‘Arabiy berakidah manusia itu Tuhan Tuhan juga adalah manusia lantas menuduh Ibnu ‘Arabiy berkata “hamba itu adalah Tuhan” sedangkan apabila kita melihat naskah kitab asal beliau terdapat ayat yang amat berlainan pada syi’ir yang didakwa.

DAN SAYA (ABU SYAFIQ) TINGGALKAN KEPADA PEMBACA SEBAGAI BUKTI IMAM INI DIFITNAH…
DIBAWAH INI ADALAH TULISAN TANGAN NASKHAH ASAL KITAB IMAM IBNU ‘ARABIY BERJUDUL AL-FUTUHAAT AL-MAKKIYAH IAITU:

الرب حق و العبد حق فياليت شعرى من المكلف
إن قلت عبد فذاك ميت أو قلت رب أنى يكلف
Bermaksud: “Tuhan itu benar (wujud) dan hamba juga wujud, Sekiranya dikatakan hamba maka pastinya akan mati dan pabila dikatakan Tuhan maka tidak mungkin Tuhan itu dipertanggungjawabkan”.

Manakala tuduhan terhadap beliau telah dipalsukan isu kandungan kitabnya oleh sebahagian pengaku Salaf dengan dakwaan kononnya Ibnu ‘Arabi mendakwa:

الرب رب و العبد رب … إن قلت عبد فذاك حق
Tuduhan bermaksud: Tuhan itu adalah Tuhan dan hamba adalah Tuhan, sekiranya dikatakan kedua-duanya hamba maka ia benar”.

Demikian kenyataan palsu golongan pengaku Salaf terhadap Ibnu ‘Arabiy dan ini buktinya tuduhan itu adalah palsu:

Perhatikan pada perenggan yang ke 14&15 amat bercanggah dengan dakwan golongan yang mengkafirkan Imam Ibnu ‘Arabiy

Semoga Allah merahmati para ulama Islam Ahli Sunnah Wal Jamaah sejati.
Kaji dan renung-renunglah…..

Disediakan oleh: Ustaz Abu Syafiq (012-28505578)

Racun Yang Disebarkan Yahudi : Selalu Menanyakan Dalil

APAKAH ANGKARA DISEBALIK SEMUA PERLU BERDALIL?

(Kitab kuning karangan : Kiyai Khalil Abu Ammar al-Jawi al-Lasami -Ilmu Faraidh/Warith)

Kalau dilihat senario hari ini kita mulai melihat segolongan orang Islam yang suka menimbulkan isu-isu dalil. Mereka berkata beramal jangan semberono..perlu ada dalil yang jelas dari Quran atau hadith yang sahih.

Tanpa dalil dari keduanya, apa juga amalan yang diamalkan dianggap hanyalah bersifat adat tradisi yang diwarisi turun temurun dari datuk nenek moyang yang jahil.Yang lebih menggerunkan orang awam bila mana amalan sedemikian dianggap sebagai menokok tambah agama Islam yang suci ini. Lebih menakutkan lagi, diancam pelakunya sebagai ahli bid’ah yang membawa hukuman sesat dan terkadang syirik yang seterusnya menghantar dirinya kedalam api neraka Jahannam.

Mereka menghujahi orang awam dengan acuan-acuan lojika seperti “ tahlil arwah tiada dalil…qunut tiada dalil….Usolli tiada dalil…baca yasin malam jumaat tiada dalil…dan…dan….”

Satu yang menarik , baru-baru ini seorang Ustaz mengadukan sesuatu kepada saya. Katanya “ saya ada menjawab persoalan-persoalan agama dimajalah, namun terdapat banyak rungutan dari pembaca , kononnya jawapan tiada berdalil, hanya pendapat ulama’ semata-mata. Mereka mahu dalil dari Quran atau Hadith (sunnah).

http://al-subki.blogspot.com/2008_10_01_archive.html

Yang lucunya , mereka yang minta dalil hanyalah orang awam yang kalau diberikan dalil pastinya tidak banyak mendatang faedah. Mengapa demikian? Ini kerana kalau didatangkan dalil-dalil tetap mereka tidak dapat memastikan sejauh mana dalil yang diberikan itu benar atau tidak? Berapa ramai masyarakat Islam yang terpedaya dengan golongan Pak Wahab yang kononnya sentiasa mendatangkan dalil, sedangkan dalil-dalil yang diajukan adalah bohong belaka !!!

Beliau memberitahu kepada saya, dimana beliau telah mengajukan persoalan ini kepada seorang ulama’ dari Yaman, meminta pandangannya tentang kaum yang selalu mahukan dalil, adakah perlu dilayan?

BELIAU MENYATAKAN GOLONGAN YANG SENTIASA MAHUKAN DALIL TERHADAP APA JUGA AMALAN ADALAH MERUPAKAN RACUN YANG TELAH DISEMAI DAN DIRANCANG OLEH YAHUDI UNTUK MEROSAKKAN UMAT ISLAM DAN MENGHILANGKAN KEPERCAYAAN TERHADAP ULAMA’ .


BILA ULAMA YANG MENJADI TUNGGAK DALAM AGAMA DAN UMMAH SUDAH TIDAK DIPAKAI PANDANGANNYA MAKA LIHAT LAH DISANA RAMAI YANG MULA BERLAGAK MACAM ULAMA.


HASILNYA LAHIRLAH SERIBU KESESATAN YANG MENUJU KEPADA PERBALAHAN SESAMA MUSLIM YANG BERPANJANGAN YANG BERKEMUNCAK UMMAH MENJADI LEMAH RANAP DAN TIDAK DAPAT BERFUNGSI UNTUK MENEGAKKAN KEBENARAN DIATAS MUKA BUMI ALLAH INI . !!!

NAH …HASILNYA MULA KELIHATAN DEWASA INI…..

Kalau begitu jelas perancangan Yahudi untuk memporak perandakan Umat Islam, bila kepercayaan para ulama sudah terhakis dan tiada lagi. Mana-mana Ulama’ tidak dapat mendatang dalil, maka segala tunjuk ajarnya tidak terpakai lagi, walaupun apa yang dibawa itu adalah benar belaka.

Dan sebaliknya mereka yang sesat melarat tapi fasih berdalil maka itu yang dianggap benar , walaupun sudah tersasar jauh dari kebenaran.

Bagi saya dalil bukanlah makanan orang awam. Sebaliknya dalil adalah perbincangan diperingkat yang lebih tinggi. Orang awam kalau dapat memahami dengan sesuatu amalan dan melaksanakan dengan betul, pada pandangan saya sudah cukup baik. Tetapi kalau dipaksa pula untuk memahami dalil itu dan ini ohhhhhhhhhh itu amat menyukarkan !!! faham entah kemana …dalil entah kemana…apa pun tidak menjadi.. Oleh sebab itu kitab-kitab yang bersifat untuk orang awam atau permulaan biasanya tidak disertakan dalil. Lihat saja kitab matla’ al-badrain , yang menjelaskan masalah fikh dan kitab-kitab yang sedarjat dengannya.

Oleh sebab itu kita mula mendengar golongan Pak Wahab di Malaysia khasnya mula mempertikaikan kitab-kitab kuning karangan ulama-ulama silam hanya kerana tidak berdalil. Yang lebih parah ada saya terdengar Pak Wahab yang bergelar Mufti berkata ” kita kena bakar kitab-kitab tua kuning kerana banyak menyesatkan “!!!

AWAS GOLONGAN MINTA DALIL !!!!