Kitab al-Farq baina al-Firaq (Abu Manshur Al-baghdadi) : Allah Ada Tanpa Tempat

al-Farq baina al-Firaq

Image

Kira-kira seribu tahun yang lalu di Baghdad lahir seorang yang kelak menjadi salah seorang pakar (imam) dalam bidang ushul ad-din. Ia bernama Abu Mashur Abd al-Qahir bin Thahir bin Muhammad bin Abdullah al-Baghdadi at-Tamimi al-Isfirayaini. Ia tumbuh besar di Baghdad, setelah dewasa pergi ke Khurasan dan meninggal pada tahun 429 H/ 1037 M di Isfirayain.

Buktinya yang menunjukkan atas kepakaran al-Baghdadi adalah banyaknya karya yang lahir dari tangannya. Di antara karya yang paling terkenal dan menjadi salah rujukan utama mengenai aliran-aliran teologi dalam Islam adalah al-Farq baina al-Firaq (Perbedaan di antara Aliran-aliran). Sebuah buku yang mencoba menelusuri dan menjelaskan secara ringkas-padat tentang aliran-aliran teologi dalam Islam.
Salah satu rujukan yang digunakan al-Baghdadi dalam bukunya adalah buku Maqalat al-Islamiyyin karya Abu al-Hasan al-Asy’ari. Meskipun al-Baghdadi tidak menyebutkannya tetapi jika membandingkan kedua buku tersebut maka akan tampak jelas bahwa al-Baghdadi dalam banyak hal mengutip pendapat Abu al-Hasan al-Asy’ari. Salah satu contohnya adalah ketika al-Baghdadi menjelaskan tentang al-Yunusiyyah, yaitu salah satu sempalan dari sekte Murji`ah. Al-Baghdadi menjelaskan bahwa menurut mereka iman terdapat dalam hati dan lisan, yaitu mengetahui Allah, mencintai, dan tunduk kepada-Nya dan mengikrarkan dengan lisan. [H. 199]. Pemamparan al-Baghdadi ini sama seperti yang dijelaskan oleh Abu al-Hasan al-Asy`ari dalam Maqalat al-Islamiyyin. [Lihat Abu al-Hasan al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyin, H. 132].

Buku al-Baghdadi ini lahir sebagai jawaban atas pertanyaan mengenai makna prediksi Nabi bahwa akan ada keterpecahan di antara umatnya (iftiraq al-ummah) menjadi tujuh puluh tiga sekte dan hanya satu yang selamat. Penulisnya membagi isi buku tersebut menjadi lima bab. [H. 9, 10].

Pertama, menjelaskan tentang hadits perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga sekte. Kedua, menjelaskan secara global mengenai sekte-sekte umat Islam dan sekte-sekte yang bukan termasuk Islam. Ketiga, menjelaskan pandangan setiap sekte yang sesat. Keempat, menjelaskan sekte yang berafiliasi kepada kepada Islam tetapi bukan dari kalangan sekte Islam. Kelima, menjelaskan sekte yang selamat.

Bab pertama, al-Baghdadi mencoba mengurai tranmisi (sanad) hadits tentang perpecahan. Menurut penelitiannya, ada banyak sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut dari Nabi Saw. Di antaranya ialah Anas bin Malik, Abu Hurairah, Abu Darda, Jabir, Abu Sa’id al-Khudri, Ubay bin Ka’b, Abdullan bin Amr bin al-Ash, Abu Umamah, dan Watsilah bin al-Asyfa’. Sedangkan generasi setelah sahabat banyak yang meriwayatkan hadits tersebut dari para sahabat. [H. 16-17].

Dalam kacamata al-Baghdadi, bahwa perpecahan yang dimaksud dalam prediksi Nabi adalah perpecahan dalam arti perbedaan mengenai ushul ad-din bukan perbedaan dalam masalah cabang-cabang fiqh. Sebab, menurutnya, para fuqaha` meskipun berselisih dalam soal furu’ tetapi mereka bersepakat dalam hal yang menyangkut ushul ad-din. [H. 17].

Jadi, secara implisit al-Baghdadi berpandangan bahwa perbedaan pendapat para fuqaha` dalam soal furu’ tidak berdampak pada penyesatan terhadap mereka. Meskipun mereka salah dalam berpendapat. Sebab, dalam soal ushul ad-din mereka bersepakat.

Bab kedua, al-Baghdadi mencoba membahas tentang bagaimana terjadinya perpecahan umat sehingga mencapai tujuh puluh tiga sekte. Menurut al-Baghdadi, peristiwa awal yang menimbulkan perselisihan antara umat Islam adalah kematian Nabi saw. Sebagian ada yang menganggap bahwa Nabi saw tidaklah wafat, ia hanya dianggkat Allah swt ke langit sebagaimana yang terjadi pada nabi Isa as. Sebagian lagi mengatakan bahwa Nabi saw telah wafat.

Perselisihan ini kemudian dapat diselesaikan oleh Abu Bakar ra seraya berkata, “man kana ya’budu muhammadan fa inna muhammadan qad mata wa man kana ya’budu rabba muhammad fa innahu hayyun la yamut” (Barang siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya ia telah wafat, dan barang siapa yang menyembah Tuhan Muhammad maka sesungguhnya Ia adalah Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati). [H. 25].

Pandangan ini berbeda dengan Abu al-Hasan al-Asy`ari yang menyatakan bahwa awal mula timbulnya perselisihan dalam umat Islam adalah soal imamah. [Abu al-Hasan al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyin, H. 2]. Jadi, Al-Asy’ari melihat bahwa perselisihan umat Islam pada dasarnya bermula dari persoalan politis, yaitu menyangkut soal imamah atau kepempinan. Sedang al-Baghdadi melihat bahwa perselisihan itu berangkat dari persoalan teologis, yaitu tentang apakah Nabi telah wafat atau memang ia tidak wafat tetapi diangkat oleh Allah ke langit sebagaimana nabi Isa as.

Bagian ketiga, menguraikan pandangan atau keyakinan pelbagai sekte yang tersesat dan menjelaskan tentang kekeliruan pandangan mereka. Di antaranya adalah pandangan sekte Rafidhah, Khawarij, Mu’tazilah, Qadariyah, Murji`ah, Najjariyyah, dan lainnya. Pada bagian ini al-Baghdadi membeberkan aliran sempalan dari sekte-gologan tersebut secara ringkas dan padat sehingga memudahkan kepada para pembaca untuk mengkajinya.

Bab keempat, menguraikan tentang sekte yang berafiliasi pada Islam tetapi pada sebenarnya bukan termasuk dari sekte Islam. Dalam bagian ini al-Baghdadi menguraikan kembali perbedaan para teolog Islam (mutakallimin) mengenai siapa yang disebut atau diketegorikan sebagai umat Islam.

Salah satu sekte yang dianggap berafiliasi kepada Islam tetapi sebenarnya bukan Islam adalah Saba`iyyah, yaitu pengikut Abdullah bin Saba yang memposisikan sahabat Ali KW.dengan sangat berlebihan sehingga ia dianggap sebagai nabi. Bahkan sikap Abdullah bin Saba tidak berhenti sampai di sini saja, tetapi ia malah semakin jauh mengkultuskan sahabat Ali kw dengan menganggapnya sebagai Tuhan. [H. 335].

Bab kelima, menguraikan tentang sekte yang selamat, yaitu ahl as-sunnah wa al-jama’ah serta pandangan-pandangan yang mereka pegangi. Salah satunnya adalah pandangan mereka seputar Sang Pencipta alam semesta dan sifat-sifat dzatiyyah-Nya. Bagi ahl as-sunnah wa a-jama’ah Pencipta alam semesta adalah juga Pencipta ajsam (jisim-jisim) dan a’rad (aksiden-aksiden atau sifat-sifat).

Dengan pandangan ini mereka kemudian mengkafirkan Mu’ammar dan para pengikutnya dari kalangan Qadariyyah yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah tidak menciptakan a’rad tetapi hanya mencipatakan ajsam. Dan ajsam-lah yang merupakan pencipta a’rad dengan sendirinya. [H. 337].Meskipun demikian, buku ini telah memberikan jasa yang sangat besar karena telah berhasil dengan baik menggambarkan pergolakan dan wacana pemikiran teologis pada saat itu. Mengenai aqidah ahlusunnah yang sangat penting dalam Bab ini ialah mengenai aqidah sunni “Allah ada Tanpa Tempat /Allah Maujud Bilaa Makan)
كَانَ اللهُ ولَم ي ُ كن شىءٌ غَي  ره ” (رواه ” :r 2. قال رسول الله
البخاري والبيهقي وابن الجارود)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).
Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata:
“Allah ta’ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada sebelum menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segala sesuatu”.

Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah.  Dalam sebuah riwayat “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam:

َأنت الظَّا  ه  ر فَلَيس فَوقَك شىءٌ وأَنت ” :r 3. قال رسول الله
الْبا  ط  ن فَلَيس دونك شىءٌ ” (رواه مسلم وغيره)
Maknanya: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah alBathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).
Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.

Tidak Boleh dikatakan Allah ada di atas ‘Arsy atau ada di mana-mana
Seperti dengan hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari, perkataan sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:
كَانَ اللهُ ولاَ مكَانَ وهو الآنَ علَى ما علَيه ” :t  5. قَالَ سيدنا علي
( كَانَ” (رواه أبو منصور البغدادي في الفرق بين الفرق / ص: 333
Maknanya: “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur alBaghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333).
Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani (W. 973 H) dalam kitabnya al Yawaqiit Wa al Jawaahir menukil perkataan Syekh Ali al Khawwash: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana”. Aqidah yang mesti diyakini bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.
ِإنَّ اللهَ خلَق الْعرش ِإظْهارا لقُدرته وَلم ” :t  6. وقَالَ سيدنا علي
يتخذْه مكَانا لذَاته” (رواه أبو منصور البغدادي في الفرق بين
( الفرق/ ص : 333
Al Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untukmenjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)

ِإنَّ الَّذي َأين اْلأَين لاَ يقَا ُ ل َله َأين وِإنَّ “: t  7. قَالَ سيدنا علي
الَّذي كَيف الْكَيف لاَ يقَا ُ ل َله كَيف” (رواه أبو المظفّر الإسفراييني
( في كتابه التبصير في الدين/ ص: 98
Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- juga mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana” (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 98)

A llah Maha suci dari Hadd

َالْمحدود عند علَماءِ التوحيد ما َله حجم صغيرا كَانَ َأو كَبِيرا
والْحد عندهم هو الْحجم ِإنْ كَانَ صغيرا وِإنْ كَانَ كَبِيرا، َالذَّرةُ
محدودةٌ والْعرش محدود والنور والظَّلاَم والريح كُلٌّ محدود.
Maknanya: Menurut ulama tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran demikian juga ‘Arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran.
من زعم َأنَّ ِإلهَنا محدود فَقَد جهِلَ الْخالق ” :t  9. قَالَ اْلإِما م علي
الْمعبود” (رواه أبو نعيم)
Al Imam Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- berkata yang maknanya: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72).
Maksud perkataan sayyidina Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan merupakan kekufuran. Semua bentuk baik Lathif maupun Katsif, kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah serta ukuran. Sedangkan Allah bukanlah benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil”. Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda. Juga tidak boleh dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia. Adapun tentang benda Katsif bahwa ia mempunyai tempat, hal ini jelas sekali. Dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat, penjelasannya adalah bahwa ruang kosong yang diisi oleh benda lathif, itu adalah tempatnya. Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang diisi oleh suatu benda.
قَالَ اْلإِمام ال  سجا  د علي بن الْحسينِ بنِ علي بنِ َأِبي طَالبٍ
َأنت اللهُ الَّذي لاَ يحوِيك ” : t  الْمعروف ِبزينِ الْعابِدين
مكَانٌ”، وقَالَ: “َأنت اللهُ الَّذي لاَ تحد فَتكُونَ محدودا”، وقَالَ:
“سبحانك لاَ تحس ولاَ تجس ولاَ تمس”. (رواه الحافظ
الزبيدي)
Al Imam As-Sajjad Zayn al ‘Abidin ‘Ali ibn al Husain ibn ‘Aliibn Abi Thalib (38 H-94 H) berkata : “Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”, dan dia berkata: “Engkaulah Allah yang Maha suci dari hadd (benda, bentuk, dan ukuran)”, beliau juga berkata : “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh” yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah Maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan Allah ada tanpa arah. (Diriwayatkan oleh al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al Bayt; keturunan Rasulullah). Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan Wahdatul Wujud dan Hulul.
Tentang Buku
Judul Buku : al-Farq baina al-Firaq
Penulis : Abu Manshur Abd al-Qahir bin Thahir bin Muhammad al-Baghdadi
Penerbit : Mesir-Maktabah Dar at-Turats
Cet./ Tahun : Baru / Tahun 1427 H/2007 M
Tebal : 376 halaman
Advertisements

Aqidah Ahlusunnah menurut 4 madzab

–SIRI PERTAMA–

Menjawab ke atas risalah dusta:

‘ KESATUAN AQIDAH 4 IMAM MAZHAB ‘

yang telah diedarkan di masjid UIAM pada Jumaat 2 Mac 2007

Oleh: al_munqiz@yahoo.com.my

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah pujian bagi Allah yang mencipta Alam. Selawat dan salam ke atas junjungan besar nabi kita Saidina Muhammad sallahu ‘alaihi wasallam dan juga ke atas isteri-isteri dan sahabat-sahabatnya. Pertamanya sekali, saya meminta maaf kerana terdapat salah cetakan pada email saya yang asalnya al_munqiz@yahoo.com.my tetapi telah disalah cetak kepada al_munqiz@yahoo.com Kita telah dikejutkan baru-baru ini dengan satu risalah yang telah diedarkan selepas solat jumaat di masjid UIAM pada 2 Mac 2007 yang berjudul KESATUAN AQIDAH 4 IMAM MAZHAB. Isi kandungan dalam risalah tersebut terdapat banyak kepalsuan dan pendustaan yang ingin disebarkan di kalangan sahabat-sahabat kita di UIAM ini. Jelas di dalam risalah tersebut ada rancangan untuk menyebarkan aqidah tasybih(menyamakan Allah dengan makhluk) di kalangan para pelajar di dalam universiti kita ini. Di dalam artikel tersebut si penulis ingin menipu pelajar-pelajar kita tentang ilmu aqidah. Si penulis di dalam artikel tersebut secara tidak langsungnya telah memperlekehkan atau mencela ulama’-ulama’ Ahli Sunnah dalam pentakwilan ayat-ayat al Quran. Lihat tulisan si penulis:

(Selain itu wujud lagi pandangan yang lazim dikemukakan oleh Ahlul Takwil. Mereka mendakwa kononnya kaedah sebenar ASWJ adalah tafwidh iaitu beriman kepada sifat-sifat Allah manakala MAKNA dan KAIFIATNYA diserahkan kepada Allah bulat-bulat. Jika benar makna dan kaifiatnya diserahkan kepada Allah semata, dalam erti kata lain seolah-olah istilah tersebut adalah kosong tanpa erti dan manfaat. Oleh itu apa faedahnya Allah Subhanahu Ta’ala menerangkan sifat-sifatNya di dalam Al-quran dan melalui lisan RasulNYa)

Saya tidak tahu bagaimana si penulis ini menuntut ilmu Agama. Adakah beliau menuntut ilmu agama dari ulama’-ulama’ muktabar atau ulama’-ulama; musyabbihah dari golongan wahabi. Sekiranya si penulis ini mempunyai sijil hingga ke peringkat PhD pun atau menjadi pensyarah di universiti atau sekadar ‘student’ di universiti sahaja, ini tidak menjadikan beliau alim dan pakar dalam ilmu Agama sehingga boleh memperlekehkan ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah. Adakah ilmu agama itu boleh diukur dengan sijil atau dengan menjadi pensyarah sahaja ataupun memadai dia menjadi ’student’ di universiti mana-mana?…oh tidak sekali… Ulama’-ulama’ kita dahulu mana yang ada sijil sampai PhD seperti dia orang ni.

Tulisan-tulisan si penulis di dalam risalahnya telah memperlekehkan tafsiran-tafsiran ulama’ Salafussoleh. Ulama’ Salafussoleh ada sebahagian mereka telah menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat dengan mengatakan ayat-ayat tersebut mempunyai makna, tetapi maknanya hanya Allah Ta’ala sahaja yang tahu. Ini bukan bermaksud bahawa ayat-ayat tersebut tidak mempunyai makna langsung sepertimana tanggapan si penulis ini.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah (salah seorang daripada isteri –isteri nabi)) , dan juga diriwayatkan daripada Sufyan Bin Uyainah, dan daripada Imam Malik bahawa mereka menjelaskan ‘istiwa’ seperti berikut:

الاستواء معلوم ولا يقال كيف والكيف غير المعقول

Syarahnya : kalimah istiwa sudah diketahui ianya dinyatakan dalam al Quran, dan kaifiatnya(bentuk dan sifat-sifat makhluk) tidak boleh diterima oleh akal.

Diriwayatkan oleh Imam al-Lalikaie. Jadi macamana si penulis mengatakan ayat-ayat al Quran yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah ada kaifiatnya tetapi diserahkan kepada Allah. Sesungguhnya fahaman ini bukan dari pegangan ulama’ Ahli Sunnah, tetapi ia dijadikan pegangan pada golongan musyabihah yang mengatakan kaifiatnya hanya Allah Ta’ala sahaja yang tahu.

Imam Ahmad pernah ditanya tentang ayat-ayat mutasyabihat di antaranya yang berkaitan dengan istiwa, lalu beliau menjawab: استوى كما أخبر لا كما يخطر للبشر

Maknanya: (Allah) isiawa sepertimana disebut (dalam alQuran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran-fikiran manusia. Jelas di sini bahawa Imam Ahmad telah menjelaskan tafsiran ayat-ayat mutasyabihah dengan cara tafwidh(menyerahkan makna kepada Allah.

Si penulis di dalam risalahnya ada mengatakan Allah bersemayam di atas Arasy. Pertamanya sekali saya tidak tahulah penulis ini, adakah dia mahir dalam bahasa arab atau tidak. Kalaulah si penulis tidak mahir berbahasa arab janganlah pandai-pandai menafsir istiwa’ yang terkandung dalam surah al-R’ad ayat 2 dengan makna bersemayam. Ini menunjukan si penulis masih lagi jahil dalam bahasa arab. Kalaulah dia ini jahil sangat biarkan kita menerangkan makna istiwa dalam ayat-ayat tersebut dengan menggunakan tafsiran-tafsiran ulama’ Ahli Sunnah, bukannya ulama’ musyabihah seperti wahabi dewasa ini.

Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra’d:

1- Tafsir Ibnu Kathir:

(ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf, sesungguhnya ia ditafsirkan tanpa kaifiat(bentuk) dan penyamaan

2- Tafsir al Qurtubi

(ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan

3- Tafsir al-Jalalain

(ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya

4- Tafsir an-Nasafi Maknanya:

makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain.

Di sini telah dinyatakan tafsir Ibnu Kathir kerana mereka (wahabi) selalu menggunakan tafsir tersebut dan berbangga-bangga dengannya, sedangkan pegangan mereka (wahabi) bercanggah sama sekali dengan apa yang diterangkan oleh Ibnu Kathir.

Si penulis ini dengan ilmu yang diperolehinya entah dari siapa dan mana telah mengatakan bersemayam adalah sifat Allah. Subhanallah!!!! Apa yang telah terjadi di UIAM sekarang, masih ada lagi golongan musyabbihah yang menyamakan sifat makhluk dengan sifat Allah. Adakah si penulis ini tidak tahu bahawa istiwa dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu makna.

Di dalam kamus-kamus arab yang ditulis oleh ulama’ Ahlu Sunnah telah menjelaskan istiwa datang dengan banyak makna, diantaranya:

1-masak (boleh di makan) contoh:

قد استوى الطعام—–قد استوى التفاح maknanya: makanan telah masak—buah epal telah masak

2- التمام: sempurna, lengkap

3- الاعتدال : lurus

4- جلس: duduk / bersemayam,

contoh: – استوى الطالب على الكرسي : pelajar duduk atas kerusi –استوى الملك على السرير : raja bersemayam di atas katil

5- استولى : menguasai,

contoh: قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق

Maknanya: Bisyr telah menguasai Iraq, tanpa menggunakan pedang dan penumpahan darah.

Al Hafiz Abu Bakar bin Arabi telah menjelaskan istiwa mempunyai hampir 15 makna, diantaranya: tetap,sempurna lurus menguasai, tinggi dan lain-lain lagi, dan banyak lagi maknannya. Sila rujuk qamus misbahul munir, mukhtar al-Sihah, lisanul arab, mukjam al-Buldan, dan banyak lagi. Yang menjadi masalahnya, kenapa si penulis memilih makna bersemayam. Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah?, apakah dia tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Adakah si penulis ini tidak mengatahui bahawa siapa yang menyamakan Allah dengan salah satu sifat daripada sifat makhluk maka dia telah kafir?

sepertimana kata salah seorang ulama’ Salaf Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):

ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر

Maknanya: barang siapa yang menyifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai arasy kerana arasy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala sepertimana kata-kata Saidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:

ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته ولم يتخذه مكان لذاته

Maknanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-arasy untuk menzohirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.

Si penulis kononnya ingin menetapkan sifat-sifat Allah. Di antara sifat-sifat Allah yang hendak ditetapkan oleh si penulis ialah kita mesti menetapkan sifat bersemayam (duduk) kepada Allah. Lihat kata-kata si penulis: (Bukankah Allah itu tidak sama dengan makhluk. Bila tidak sama dengan makhluk maka Dia bersemayam juga tidak sama dengan makhluk. Bagaimana cara dia bersemayam hanya Allah sahaja yang tahu. Kita tafwidh caranya kepada Allah. Hanya Dia yang tahu ) Menjawab pada masalah ini: Di perenggan yang atas si penulis ada menyatakan: (Selain itu wujud lagi pandangan yang lazim dikemukan oleh Ahlul Takwil. Mereka mendawa kononnya kaedah sebenar ASWJ adalah tafwidh iaitu beriman kepada sifat-sifat Allah manakala MAKNA dan KAIFIATNYA diserahkan kepada Allah bulat-bulat. Jika benar makna dan kaifiatnya diserahkan kepada Allah semata, dalam erti kata lain seolah-olah istilah tersebut adalah kosong tanpa erti dan manfaat……………. )

Si penulis pada permulaannya telah mencela kaedah tafwidh, tetapi sekarang dia pulak yang menggunakan kaedah tafwidh dengan mengatakan cara tafwidh diserah pada Allah. Ooo nampaknya si penulis ni pun nak jadi kaki penipu, mula-mula mencela kaedah tafwidh kemudian dia sendiri pula yang menggunakan kaedah ini. Kemudian si penulis ini membolehkan kaedah tafwidh ini untuk kegunaan aqidah musyabbihah ataupun wahabi dengan mengatakan Allah bersemayam. Saya rasa si penulis ni masih lagi tak faham dalam bahasa. Bukankah bersemayam itu sifat makhluk, lafaz dan makna bersemayam’atau ‘duduk tidak ada dalam al-Quran, yang adanya ialah istawa, dan ulama’ telah menafsirkan istawa itu dengan makna ‘menguasai’ sepertimana yang telah disebutkan di atas.

Di sini saya nak menambah sedikit tentang penafsiran istawa dalam al Quran. Imam Fakhr Al- Razi telah menafsirkannya di dalam kitabnya Tafsir al-Kabir istawa di dalam ayat tersebut dengan makna yang layak bagi Allah iaitu mencipta, Jadi makna istawa dalam ayat tersebut memberi erti ‘mencipta’. Kerana itulah ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah menafsirkan makna istawa dengan makna yang layak baginya seperti ‘mencipta’ dan ‘menguasai’ sebab di antara sifat-sifat Allah ialah al Qohir( yang menguasai) dan al-Kholiq ( yang Maha mencipta).

Tidak ada seorang pun di kalangan ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah yang menafsirkan istawa dengan makna ‘bersemayam’, kecuali ulama’-ulama’ wahabi atau dari mereka yang cetek ilmu agamanya. Si penulis kononnya berhujah dengan adanya sifat mendengar kepada Allah, dia mengatakan (.Allah taala bersifat mendengar.Kita juga bersifat mendengar…..) Saya terasa begitu pelik sekali dengan si penulis ini. Dia telah telah membuat penyamaan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan sifat makhluk. Dalam al Quran telah dinyatakan sifat-sifat Allah seperti ‘mendengar’, ‘melihat’ dan lain-lain. Tetapi sifat ‘bersemayam’ tidak ada dalam al Quran. Kalaulah si penulis mengatakan ‘bersemayam’ adalah sifat Allah dengan berhujahkan ayat istiwa, maka si penulis ini masih lagi dalam kejahilan dengan ilmu arab, kerana istiwa dalam bahasa arab memberi makna lebih dari satu seperti mana yang disebutkan di atas.

Manakala sifat ‘mendengar’ yang disandarkan kepada Allah memanglah benar berdasarkan dengan firmanNya:

وهو السميع , kerana lafaz tersebut telah dinyatakan di dalam al Quran, tetapi sifat ‘mendengar’ Allah itu bersalahan sama sekali dengan makhluk. Janganlah buatlah kerja bodoh dengan mengatakan “kita boleh menyebut Allah bersemayam tetapi bukan seperti makhluknya bersemayam” dengan berhujahkan bahawa Allah Maha mendengar tapi bukan sepertimana makhluk mendengar. Subhanallah, ini sesuatu yang tak boleh diterima akal. Kalaulah binatang-binatang seperti kambing dianugerahkan akal oleh Tuhan untuk berfikir sudah pasti kambing itu akan mengatakan’tidak’(ini perumpamaan sahaja), sebabnya lafaz ‘mendengar’ ada dinyatakan dalam al-quran, manakala lafaz ‘bersemayam’ tidak ada dinyatakan di dalam al Quran.

Telah berkata Imam al Asy’ari:

لايجوز تسمية الله الا بما ورد في الكتاب و السنة الصحيحة أو الاجماع

Maknanya: tidak boleh menamakan Allah kecuali apa yang telah dinyatakan di dalam al Kitab(alquran) dan sunnah( hadis) atau ijma’

Telah berkata Imam al-Baqillani:

ما أطلق الله على نفسه أطلقناه عليه وما لا فلا

Maknanya: apa Yang Allah sebutkan keatas diriNya kita sebutkan dan apa yang tidak Dia sebut kita jangan disebut. Lihatlah saudara-saudaraku sebahagian kata-kata ulama’ ini yang menerangkan bahawa tidak boleh kita menyifatkan atau menamakan Allah dengan nama atau sifat yang tidak disebut oleh Allah atau tiada dinyatakan dalam al hadis. Adakah lafaz bersemayam ada dinyatakan dalam al-quran atau hadis atau dari kata-kata ulama’ yang muktabar?. Sesungguhnya golongan musyabbihah (wahabiah) yang menterjemahkan makna istiwa itu dengan makna bersemayam. Manakala aqidah Ahli sunnah tidak menyatakan bersemayam itu adalah sifat Allah.

Di sini akan dinyatakan sebahagian kata-kata ulamak 4 mazhab tentang aqidah:

1- Imam Abu hanifah:

لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه

Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah, muka surat 1

2-Imam Syafie:

انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير

Maknanya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 muka surat 23

3-Imam Ahmad bin Hanbal :

-استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.

وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه

Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahawa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya(Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami

4- Imam Malik :

الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة

Maknannya: Kalimah istiwah tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif(bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan soal tentangnya bidaah.

Al-Asma’ wa al-sifat karangan imam Al-Baihaqi muka surat 408. Peringatan. Golongan musyabbihah dari zaman dahulu lagi hingga zaman sekarang yang dikenali dengan wahabiah serta kuncu-kuncunya, telah mencela ilmu aqidah seperti mempelajari sifat 13. Mereka menganggap ianya dari ajaran falsafah Yunani yang menyusahkan. Subhanallah..ini adalah satu penghinaan terhadap ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah Waljamaah dalam membincangkan sifat 13. Ulama’-ulama’ kita di nusantara telah banyak menulis tentang mempelajari ilmu ini, begitu juga ulama’-ulama’ silam seperti Imam Abu Hanifah dan An-Nawawi. Sila rujuk kitab-kitab mereka. Kita berdoa kepada Allah, agar aqidah umat Islam seluruh dunia dan juga sahabat-sahabt kita di UIAM ini terselamat dari pengaruh ajaran sesat musyabihah dan wahabiah. Ulama’-ulama’ Ahli Sunnah telah menulis beratus-ratus kitab untuk menerangkan aqidah yang sebenar dan mendedahkan keburukan serta kekufuran golongan-golongan sesat yang lain. Kita di Malaysia Alhamdulillah berada di atas landasan asyai’rah dari segi aqidah dan Syafiah dari segi ibadah. Cukuplah untuk menunjukkan kelemahan si penulis dalam bahasa arab, apabila menterjemahkan ‘makrifatullah’ dengan memahami ilmu Allah (sila lihat di perenggan pertama dalam risalahnya). Sepatutnya diterjemahkan ‘mengenal Allah’( mengetahui sifat-sifat dan namaNya).

JANGANLAH TERPEDAYA DENGAN KEPALSUAN DAN PENIPUAN AJARAN MUSYABBIHAH. TUHAN TELAH MENGANUGERAHKAN KEPADA KITA AQAL UNTUK MEMBEZAKAN YANG MANA BAIK DAN YANG MANA BURUK. PELAJARILAH ILMU AQIDAH YANG DITERANGKAN OLEH AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH, DAN JANGANLAH MEMPELAJARI ILMU AQIDAH DARI GOLONGAN YANG SESAT SEPERTI GOLONGAN WAHABIAH . Wallahu a’lam bissowab. Wassalamualaikum warahmatullahiwabarokaatuh

http://bankwahabi.wordpress.com/2007/03/30/menjawab-ke-atas-risalah-dusta%E2%80%98-kesatuan-aqidah-4-imam-mazhab-%E2%80%99yang-telah-diedarkan-di-masjid-uiam-pada-jumaat-2-mac-2007/