Pasukan Imam Mahdi Memerangi Jazirah Arab

‘Sir’ Fahd – Dapat Penghargaan Inggeris dan BERKALUNG SALIB

Mungkin ramai yang tidak mengetahui yang Kerajaan Arab Saudi berhutang budi dan “body” serta nyawa dengan Empayar British. Ini adalah kerana “berkat” kerjasama dan bantuan Britishlah, maka tertubuhnya Kerajaan Arab Saudi mengikut sunnah Great Britain bersendikan ajaran Wahhabiyyah. Pemimpin-pemimpin Saudi merupakan “loyal servants” bagi Empayar British, dahulu dan sehingga kini, dan kini ditambah pula jadi khadam Amerika dan sekutunya, Bahkan Raja Abdul Aziz menerima gaji bulanan berjumlah 5,000 paun sterling daripada British mulai tahun 1917. Selain daripada itu, Kerajaan British telah menganugerahkan “knighthood” kepada Raja Abdul Aziz, bahkan Raja Fahd pun dapat anugerah tersebut.

Walau apa pun Raja Fahd dah pergi menemui Penciptanya, tetapi kebenaran harus dan perlu diketahui ramai. Hansome tak Fahd dengan berkalungkan pingat salibiyyah di lehernya ? Apa pulak fatwa ulama Wahhabi , kalau orang pakai azimat tentu mereka terus tuduh kafir dan syirik. Kalau pakai salib, nak kata apa ? Kalau tuan-tuan dan puan-puan nak tengok lagi gambar warna kesegakan Raja Fahd dengan pingat kebesarannya boleh carilah buku “Custodian of the Two Holy Mosques King Fahd bin Abdul Aziz”, Guernsey, Channel Islands, 2001, p. 214, karya Dr. Fouad al-Farsy.

Berikut petikan dari buku Dr. Hamid Algar “Wahhabism: A Critical Essay”, mukasurat 38 – 39:-
  • The first contact was made in 1865, and British subsidies started to flow into the coffers of the Saudi family, in ever growing quantity as World War One grew closer. The relationship fully matured during that war. In 1915, the British signed with the Saudi Ruler of the day, ‘Abd al-’Aziz b. Sa`ud (Ibn Sa`ud), one of those contracts with their underlings that were euphemistically known as “treaties of friendship and cooperation”. Money was, of course, the principal lubricant of friendship and cooperation, and by 1917 the Saudi ruler was receiving five thousand (5,000) pounds a month, not a bad sum for a junior hireling of the British Empire. However, the British also graciously saw fit to confer a knighthood on the champion of Wahhabism. (In later years these formalities continued to be observed; in 1935, ‘Abd al-’Aziz b. Sa`ud was made a Knight of the Order of the Bath. Likewise, when visiting Queen Elizabeth in 1986, King Fahd, “Custodian of the Two Holy Mosques,” was photographed with the cruciform insignia of a British knightly order hanging round his neck.)

Allahummashuril Islam wal Muslimin bijaahi Sayyidil Mursalin.

Pasukan Imam Mahdi Memerangi Jazirah Arab


Prince Faysal with Colonel T.E. Lawrence, the British Officer who fought with the Arabs against the Ottoman

oleh Ihsan Tandjung
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim disebutkan adanya empat konfrontasi yang akan dipimpin oleh Imam Mahdi. Keempat perang tersebut akan diawali dengan pembebasan jazirah Arab dari dominasi para Mulkan Jabbriyyan (raja-raja yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya). Hadits tersebut sebagai berikut:

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ – ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ

Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian (kalian perangi) Persia sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Ruum sehingga Allah menangkan kalian atasnya. Kemudian kalian perangi Dajjal sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (HR Muslim 5161)

Sebagaimana kita telah bahas sebelumnya Ummat Islam dewasa ini sedang menjalani babak keempat dari lima babak perjalanan sejarahnya di Akhir Zaman. Tiga babak sebelumnya telah dilalui:
(1) Babak An-Nubuwwah (Kenabian), lalu
(2) Babak Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti Sistem / Metode Kenabian), kemudian
(3) Babak Mulkan ’Aadhdhon (Raja-raja yang menggigit).

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ (أحمد )
Kalian akan mengalami babak Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak Raja-raja yang menggigit,selama masa yang Allah kehendaki, kemudian babak para penguasa yang memaksakan kehendak selama masa yang Allah kehendaki, kemudian kalian akan mengalami babak kekhalifahan mengikuti manhaj Kenabian, kemudian Nabi diam.” (HR Ahmad)

Sesudah berlalunya babak ketiga yang ditandai dengan tigabelas abad masa kepemimpinan Kerajaan Daulat Bani Umayyah, kemudian Kerajaan Daulat Bani Abbasiyyah dan terakhir Kesultanan Utsmani Turki, maka selanjutnya ummat Islam memasuki Babak Mulkan Jabbriyyan (Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya). Babak keempat diawali semenjak runtuhnya Kesultanan Utsmani Turki yang sekaligus merupakan kekhalifahan Islam terakhir pada tahun 1924.

Setelah runtuhnya sistem pemerintahan Islam, maka selanjutnya ummat Islam mulai menjalani kehidupan dengan mengekor kepada pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara ala Barat. Mulailah di berbagai negeri muslim didirikan di atasnya berbagai nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa). Padahal sebelumnya semenjak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama ribuan tahun.

Walaupun terdapat kekurangan di sana-sini dalam penerapan ajaran Islam, namun kehadiran sistem Islam secara formal menyebabkan ummat Islam pada babak ketiga masih memiliki kejelasan identitas, ideologi dan nili-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegaranya. Adapun setelah dihapuskannya eksistensi Khilafah Islamiyyah kemudian diganti dengan pemberlakuan konsep negara kebangsaan bagi ummat Islam di babak keempat, mulailah terjadi pergeseran identitas, ideologi serta nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Mulailah ummat Islam mengkotak-kotakkan dirinya berdasarkan faham nasionalisme. Ummat Islam Mesir sendiri, ummat Islam Indonesia sendiri, ummat Islam Saudi sendiri dll.

Sejak memasuki babak keempat dunia Islam mulai mengalami peralihan kepemimpinan. Asalnya masih dipimpin oleh sesama muslim, maka Allah alihkan kepada kepemimpinan fihak Barat (baca: kaum kuffar). Sehingga terasa sekali bagaimana tidak berdayanya para pemimpin muslim di negeri mereka sendiri. Bahkan negeri muslim di mana terdapat dua kota suci utama (Mekkah dan Madinah) raja dan para pangerannya takluk kepada kemauan fihak Barat. Sehingga tidak mengherankan saat terjadinya penzaliman Yahudi Zionis Israel kepada saudara-saudara kita di Gaza-Palestina Januari kemarin, negara kerajaan Arab Saudi tidak menunjukkan keberfihakannya kepada Palestina, apalagi kepada Hamas. Malah sebaliknya mereka bersama Mesir dan Jordan bermain mata alias berkolaborasi dengan musuh ummat Islam, yaitu Israel.

Arab Saudi merupakan wilayah terbesar dari jazirah (semenanjung) Arabia. Kerajaan ini memiliki bendera yang tertera padanya kalimat Laa ilaha illAllah Muhammadur Rasulullah lengkap dengan pedangnya. Namun semua orang tahu betapa kezaliman banyak berlangsung di kerajaan tersebut. Misalnya berapa banyak TKW Indonesia yang dilaporkan mengalami penganiayaan oleh para majikan Arabnya. Kerajaan ini mensyaratkan jamaah haji seluruh dunia untuk divaksinasi Meningitis terlebih dahulu, padahal ia mengandung zat dari hewan babi yang najis. Arab Saudi membungkam para ulamanya yang menghidupkan kesadaran dan semangat berjihad fi sabilillah. Bahkan mencekal para ulamanya yang menunjukkan permusuhan kepada Amerika dan Israel.

Belum lagi para raja dan pengerannya mempertontonkan hedonisme gaya hidup mewah cinta dunia yang sungguh mencerminkan ketidakpedulian dan empati terhadap sebagian besar ummat Islam di berbagai negeri lainnya yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Dalam salah satu konsultasi di eramuslim berjudul ”Arab dan Kiamat” dijelaskan fakta sebagai berikut:

”Kita juga harus ingat, Kerajaan Saudi Arabia itu berdiri, berontak dan lepas dari Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, atas dukungan jaringan Zonis Internasional. Salah seorang perwira Yahudi Inggris, Letnan Terrence Edward Lawrence, disusupkan dan mengendalikan pasukan Saudi ini. Setelah menjadi kerajaan, 75.000 pasukan Saudi Arabia—Saudi Arabian National Guard (SANG)—dibentuk dan mendapat pelatihan dari Vinnel Corporation, salah satu Privat Military Agency (PMA) AS dengan nilai kontrak yang sangat besar. Tentu saja, CIA dan MOSSAD berada di belakang PMA ini.


Tahukah anda? sekrang Makkah sudah seperti Las Vegas?

Di Mekkah pula, para penguasa Saudi mempersilakan perusahaan-perusahaan donatur Zionis seperti Starbucks dan McD buka gerai dan banyak menarik pelanggan. Bahkan Al-Walid, salah seorang kerabat istana Saudi, menguasai banyak perusahaan yang banyak di antaranya menjadi donatur Zionis Israel. Namun ketika Muslim Gaza dibantai Israel, Saudi (dan juga Mesir) bersikap adem-ayem, bahkan merestui pembantaian ini karena mereka lebih bersahabat dengan pelayan Zionis bernama Mahmud Abbas, ketimbang dengan HAMAS.”

Pantaslah bilamana Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam memprediksi bahwa di antara langkah awal yang akan dikerjakan oleh Panglima Ummat Islam Akhir Zaman -yakni Imam Mahdi- ialah mengakhiri kesombongan para Mulkan Jabbriyyan di semenanjung Arabia. Proyek ini dalam bentuk perang terhadap semenanjung Arabia. Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Kalian akan perangi jazirah Arab sehingga Allah menangkan kalian atasnya.” (HR Muslim)

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam pasukan Imam Mahdi yang akan memperoleh salah satu dari dua kebaikan: ’Isy Kariman (hidup mulia di bawah naungan Syariat Allah) atau mati syahid. Amin ya Rabb. (swaramuslim https://salafytobat.wordpress.com)

Wahhaby hancurkan peninggalan Nabi Muhammad SAW.

wahhaby Rubah tempat sa’i yang asal

Isu Besar Tempat Sa’ie

Advertisements

Hadits Jariah – Syarh Imam Muslim- Tafsir Lafadz “fii sama-i”

Hadits Jariah – Imam Muslim

Antara dalil yang biasa dikemukakan oleh puak hasywiyah bagi menetapkan Allah bertempat di langit ialah Hadits Jariah. Maka dijajalah hadits ini ke sana ke mari untuk menegakkan pegangan mereka bahawa Allah itu mengambil tempat di langit, subhanAllah. Maka ramai, kalangan awam terpengaruh dengan kalam fahisy mereka ini, serta beri’tiqad bahawa Allah itu di langit, subhanAllah. Tidaklah mereka mengetahui bahasan dan penjelasan dan keterangan daripada para ulama kita berhubung dan mengenai hadits tersebut, sama ada kerana memang mereka tidak mengetahuinya atau sengaja buat-buat tak tahu. Ulama-ulama kita sebenarnya telah membahaskan dengan panjang lebar akan hadits ini dari segala aspeknya, baik sudut riwayat dan thuruqnya, sehinggalah kepada perbezaan lafaznya antara satu riwayat dengan riwayat yang lain kerana Hadits Jariah ini mempunyai riwayat yang berbilang-bilang.
Untuk posting ini aku nukil yang diriwayatkan Imam Muslim dalam “al-Jami` ash-Shohih” jilid 1, juzuk 2, halaman 70 – 71, kitab al-masaajid wa mawaadhi` ash-sholaah, bab tahriim al-kalaam fi ash-sholaah wa nasakha maa kaana min ibaahatih. Ianya adalah sebahagian daripada hadits yang panjang yang menceritakan kisah Sayyidina Mu`aawiyah bin al-Hakam as-Sulamiy r.a. mentasymit seseorang yang bersin ketika bersholat di belakang Junjungan Nabi s.a.w., lalu selesai sholat dia ditegur oleh Junjungan Nabi s.a.w. dengan menyatakan bahawa dalam sholat tidak boleh berbicara selain daripada tasbih, takbir dan pembacaan al-Quran. Setelah itu Sayyidina Mu`aawiyah telah bertanya beberapa persoalan kepada Junjungan Nabi s.a.w. dan di antaranya ialah mengenai permerdekaan seorang hambanya (jariahnya) yang telah ditempelengnya. Untuk ringkas aku tidak nukilkan keseluruhan hadits tersebut, cuma aku letakkan di sini bahagian akhirnya berhubung dengan kisah jariah tersebut.

Pada halaman 71, jilid 1, juzuk 2 kitab tersebut, Imam Muslim rhm. meriwayatkan, antara lain, sebagai berikut:

” (Telah berkata Mu`aawiyah bin al-Hakam as-Sulamiy) Aku mempunyai seorang jariah yang menggembala kambingku di sebelah bukit Uhud dan al-Jawwaniyyah. Suatu hari ketika aku menjengoknya, tiba-tiba seekor serigala telah melarikan seekor kambing dari gembalaannya. Dan aku sebagai seorang manusia menjadi marah sebagaimana manusia lainnya, lalu aku menampar mukanya sekali. Kemudian aku mendatangi Junjungan Nabi s.a.w. dan baginda memandang serius perbuatanku yang sedemikian (yakni menampar muka si jariah tersebut). Aku berkata kepada Junjungan Nabi s.a.w.: “Wahai Rasulallah, adakah kumerdekakan dia”, (yakni sebagai menebus kesilapan menampar tadi, dia hendak memerdekakan si jariah tersebut) ? Junjungan Nabi s.a.w. menyuruh agar si jariah didatangkan kepada baginda. (Apabila si jariah berada di hadapan Junjungan Nabi s.a.w.), Junjungan Nabi s.a.w. bertanya kepadanya: “Di manakah Allah ?” Jariah tersebut menjawab: ” Di langit.” Junjungan s.a.w. bertanya lagi: “Siapakah aku?”, jariah tersebut menjawab: “Engkau Rasulullah.” Junjungan bersabda: “Merdekakanlah dia, bahawasanya dia seorang wanita yang beriman.”

Itulah matan hadits mengenai jariah tersebut, manakala di pinggir atau tepi halaman yang sama tercatat nota tepi seperti berikut:

Perkataannya (yakni perkataan dalam matan hadits) – “Dia (si jariah) berkata: “Di langit,” – yakni (sebagai membuktikan) bahawasanya dia bukan termasuk dalam golongan yang menuhankan selain Allah yang Maha Gagah yang kegagahan dan keperkasaanNya mengatasi segala hamba dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya. Dan dikatakan bahawasanya tafsir bagi firman Allah : “Patutkah kamu merasa aman (tidak takut) kepada Tuhan (yang pusat pemerintahanNya) di langit itu …” (al-Mulk: 16 – Tafsir Pimpinan ar-Rahman), tafsir Dia yang di langititu ialah Allah ta`ala dengan takwil kekuasaanNya (yakni ditafsirkan dengan takwil seperti dikatakan Allah yang (kekuasaanNya) di langitatauAllah yang (pusat kekuasaanNya atau pemerintahanNya) di langit, bukan hanya ditafsirkan dengan semata-mata maknaAllah yang di langit“)

Sekarang, mari ikhwah lihat apa perkataan Imam an-Nawawi rhm. berhubung hadits ini. Komentar Imamuna an-Nawawi ini terdapat dalam syarahnya yang masyhur atas Shohih Muslim iaitu “Shohih Muslim bi syarhi al-Imam an-Nawawi“, jilid 3, juzuk 5, halaman 24, di mana Imam an-Nawawi menyatakan, antara lain:-

Sabda Junjungan Nabi s.a.w. (“Di manakah Allah ?” Jariah tersebut menjawab: ” Di langit.” Junjungan s.a.w. bertanya lagi: “Siapakah aku?”, jariah tersebut menjawab: “Engkau rasulullah.” Junjungan bersabda: “Merdekakanlah dia, bahawasanya dia seorang wanita yang beriman.”). Hadits ini adalah daripada hadits-hadits sifat yang dalam memahaminya ada 2 mazhab (jalan atau cara) yang mana kedua-duanya telah dinyatakan terdahulu dalam kitab al-iman (yakni pada awal atau permulaan kitab).

Jalan yang pertama ialah beriman dengannya (yakni dengan hadits tersebut) tanpa mendalami apa yang dimaksudkannya disertai dengan i’tiqad bahawasanya Allah ta`ala itu tidak menyerupai sesuatu apa pun dan mensucikanNya daripada segala tanda-tanda atau sifat-sifat makhluk.

Jalan yang kedua pula ialah mentakwilkan hadits tersebut dengan apa yang layak bagi Allah. Maka sesiapa yang berpegang dengan jalan yang kedua ini, berpeganglah dia dengan bahawasanya yang dimaksudkan dengan hadits tersebut ialah Junjungan Nabi s.a.w. menguji jariah tersebut untuk mengetahui sama ada dia seorang ahli tawhid yang mengakui Maha Pencipta, Maha Pentadbir dan Maha Pembuat adalah Allah semata-mata, yang mana Dialah Tuhan yang apabila seseorang memohon kepadaNya maka dia menghadap ke langit sebagaimana apabila seseorang sembahyang dia menghadap kaabah, dan tidaklah perlakuan sedemikian ini (yakni menghadap ke langit ketika berdoa atau menghadap kaabah ketika bersholat) menunjukkan bahawasanya Allah terbatas di langit sebagaimana juga tidaklah Dia terbatas pada jihat (arah) kaabah (yakni Allah tidak dibatasi oleh sebarang tempat kerana Dia Maha Suci daripada segala tempat dan arah, subhanAllah). Bahkan perbuatan menghadap ke langit itu adalah kerana langit itu adalah kiblat orang yang berdoa sebagaimana kaabah itu kiblat bagi orang yang sholat. Atau si jariah tadi ialah seorang penyembah segala berhala yang menyembah berhala-berhala tersebut di hadapan mereka (yakni di sisi atau bersama mereka di bumi), maka tatkala dia menjawab: “Di langit,” diketahuilah bahawasanya dia seorang ahli tawhid dan bukannya seorang penyembah berhala (yakni jika jariah tersebut seorang penyembah berhala, nescaya dia tidak akan menjawab bahawa Allah Tuhannya di langit, tetapi dia akan menunjukkan berhala yang disembahnya yang berada bersamanya di bumi ini).

Telah berkata al-Qaadhi ‘Iyaadh: “Tidak ada khilaf di kalangan umat Islam sekaliannya (qaathibatan), ahli-ahli fiqh mereka, ahli-ahli hadits mereka, ahli-ahli kalam mereka, para pemuka dan pengikut mereka bahawasanya segala nas yang pada zahirnya menyebut Allah di langit seperti firman Allah ta`ala: “Patutkah kamu merasa aman (tidak takut) kepada Tuhan (yang pusat pemerintahanNya) di langit itu, menunggang-balikkan bumi menimbus kamu,…..( al-Mulk: 16 – Tafsir Pimpinan ar-Rahman) dan ayat-ayat yang seumpamanya tidaklah diertikan atau dimaknakan secara zahir bahkan ditakwilkan di sisi mereka semua (yakni semua umat Islam, salaf dan khalaf semuanya mentakwilkan nash-nash ayat dan hadits tersebut, cuma kebanyakan ulama salaf mentakwilkannya secara ijmal sahaja dan mentafwidhkan makna hakikinya kepada Allah semata-mata, sekali-kali tidak mereka berpegang dengan makna zahir ayat dan hadits tersebut, bahkan mereka takwilkan maknanya dengan mengakui kelemahan fikiran mereka untuk memahami makna hakikinya lalu mereka mensucikan Allah dari menyerupai makhlukNya serta menyerahkan bulat-bulat makna dan pengertian ayat atau hadits tersebut kepada Allah s.w.t. sahaja, manakala kebanyakan ulama khalaf mentakwilkannya dengan tafshil).

Diharap ikhwah yang budiman boleh memahami akan perkara ini dengan sebenar-benar faham. Jelas sudah mengikut Imam an-Nawawi yang menukilkan kalam Qadhi ‘Iyaadh yang menyatakan bahawa dengan ayat-ayat atau hadits-hadits sifat yang mutasyabbihat, maka ianya ditanggapi dengan 2 cara atau kaedah, iaitu ditakwilkan secara ijmal dengan mentanzihkan Allah daripada menyerupai makhlukNya yang baharu dan ditafwidhkan maknanya terus kepada Allah semata-mata, tanpa sebarang komentar. Ini yang diisyaratkan oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalaani yang menyebut dalam “Fathul Bari” bahawa Imam al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad yang shohih daripada Imam Ahmad bin Abi al-Hawaari bahawasanya Imam Sufyan bin ‘Uyainah rhm berkata: “Segala sifat yang difirmankan Allah bagi diriNya dalam al-Quran, maka tafsirannya ialah pembacaan ayat tersebut dan diam daripada membicarakannya.” Hal ini jugalah dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam “Fatawa Haditsiyyah” yang menyatakan bahawa sesungguhnya khilaf ulama salaf dengan ulama khalaf hanyalah pada penggunaan takwil tafshil sahaja, di mana ulama salaf lebih mengutamakan takwil secara ijmal dan mendiamkan diri daripada berbicara lebih lanjut mengenainya kerana keelokan zaman mereka itu menyebabkan perbahasan panjang lebar mengenai hal ini tidak diperlukan. Tetapi para khalaf mengutamakan takwil secara tafshil kerana zaman mereka telah banyak manusia-manusia yang rosak, ahli-ahli bid`ah dan sebagainya.

Untuk memperjelaskan lagi, yang dimaksudkan dengan takwil ijmal itu ialah lencongan makna kalimah dengan ringkas tanpa memberi erti alternatifnya. Contoh, kalimah al-yad yakni tangan, jika dikatakan “Tangan Allah atas segala tangan mereka“, maka takwil ijmalnya ialah kalimah tangan di sini dilencongkan maknanya dari pengertian biasa sebagai satu anggota atau satu juzuk tubuh badan kepada makna selain pengertian biasa tersebut, iaitu ianya bukan membawa erti satu anggota atau satu juzuk daripada Dzat Allah yang Maha Mulia, tetapi ianya adalah satu sifat yang tidak kita ketahui akan hakikatnya dan Allah sahaja yang mengetahui hakikatnya. Maka tangan yang asal maknanya satu juzuk anggota dilencongkan maknanya kepada satu sifat yang lemah akal kita untuk memahami hakikatnya. Inilah takwil ijmal perlakuan kebanyakan salaf. Tidaklah mereka beri’tiqad bahawa Allah itu bertangan dengan tangan yang layak bagi Dzatnya. Ini bukan i’tiqad para salaf, tetapi i’tiqad orang-orang yang mengaku salaf zaman ini. Bila salaf kata tangan Allah, ia merujuk kepada satu sifat dan bukan satu juzuk atau satu anggota daripada Dzat yang Maha Mulia, subhanAllah, Maha Suci Allah daripada berjuzuk-juzuk dan beranggota-anggota. Kaedah ini memang lebih selamat (aslam), kerana hanya Allah sahaja yang Maha Mengetahui, tetapi bagi kalangan awam yang hanya duduk mendengar – dengar sahaja mungkin dikhuathiri membawa fitnah kerana awam akan memahami kalimah tangan itu dengan makna lazim iaitu satu anggota, lalu beri’tiqadlah si awam bahawa Allah juga beranggota kerana mempunyai tangan, cuma tanganNya tidaklah seperti tangan makhluk, iaitu tangan yang layak bagi DzatNya, subhanAllah, ini tidak lain melainkan i’tiqad hasywiyah dan mujasimah yang mentasybih serta mentajsimkan Allah, subhanAllah. Oleh itu, apabila sampai zaman khalaf, di mana manusia-manusia terutama golongan awam sudah mengutamakan dunia daripada akhirat, di mana banyak juhala` berbanding ‘ulama, maka para Khalaf yang merupakan pewaris para salaf mentakwilkan ayat-ayat dan hadits-hadits mutasyabbihaat ini dengan takwil tafshil demi menutup jalan bagi awam untuk berfikir yang bukan-bukan terhadap Dzat Allah yang Maha Mulia. Maka ditakwilkan tangan itu kepada kekuasaan dan sebagainya, maka bila dikatakan “Tangan Allah di atas segala tangan mereka”, ditakwilkanlah secara tafshil sebagai “Tangan yakni kekuasaan Allah mengatasi segala kekuasaan mereka”. Maka terhindarlah orang awam daripada berfikir yang bukan-bukan, oleh itu dikatakan bahawa jalan khalaf ini lebih ahkam yakni lebih mantap kerana ianya memantap dan menetapkan pegangan awam serta mencegah mereka daripada mengkhayal-khayalkan sifat yang tidak layak bagi Allah, seperti menyerupai akan segala makhluk yang baharu.

Harap segala ikhwan, baik lelaki maupun perempuan, khuntsa pun jika ada, faham betul-betul akan bahasan ini. Jika masih belum faham, maka diam itu keselamatan sebagaimana sabdaan Junjungan Nabi s.a.w. : man shomata najaa (yakni “Sesiapa yang mendiamkan diri, selamat“), dan duduklah tuan dan puan, sidi dan siti di hadapan para ulama tuan-tuan guru dengan mengaji menadah segala kitab peninggalan para ulama salaf dan khalaf. Sesungguhnya ilmu itu cahaya, bertambah ilmu nescaya bertambah cahaya, insya-Allah, tapi syaratnya hendaklah ilmu yang naafi` yang bermanfaat, bukan ilmu semata-mata ilmu untuk berjidal dan bermegah-megah.

Berbalik kepada hadits jariah tadi, maka selain penjelasan di atas, ada lagi penjelasan dan keterangan lain daripada para ulama kita dari berbagai aspek bahasannya. Dari semua penjelasan tersebut, maka mereka menyimpulkan bahawa apa yang dimaksudkan oleh hadits tersebut bukanlah menetapkan tempat bagi Allah. Oleh itu, sesiapa yang mengatakan bahawa Allah itu bertempat di sesuatu tempat seumpama langit, maka menyalahilah dia akan pegangan Ahlus Sunnah wal Jama`ah, jadi janganlah dok perasan bahawa dirinya pembela Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Dan tidaklah tepat baginya untuk menjadikan hadits jariah ini sebagai hujjah untuk mensabitkan bahawa Allah bertempat di langit. Apatah lagi hadits ini walaupun shohih tidaklah mencapai darjat mutawatir. Maka apa caranya dia hendak menjadikan hadits ini sebagai hujjahnya untuk menyesatkan orang yang tidak sependapat dengan i’tiqad hasywiyahnya itu. Perkara ini adalah antara kesimpulan yang telah ditekan dan diperjelaskan oleh mantan Mufti Tunisia, Syaikh Muhammad Mukhtar as-Salaami (hafizahUllah).

Bahkan, jika dilihat “Shohih Muslim“, kita dapati bahawa Imam Muslim rhm sendiri tidak meletakkan hadits ini dalam kitab al-iman atau bab-bab yang berhubung dengan keimanan dan pegangan aqidah tetapi beliau meletakkannya dalam bab fiqh berhubung hukum hakam sembahyang iaitu kitab al-masaajid wa mawaadhi` ash-sholaah, bab tahriim al-kalaam fi ash-sholaah wa nasakha maa kaana min ibaahatih (kitab mengenai masjid-masjid dan tempat-tempat sembahyang, bab haram berkata-kata dalam sembahyang serta menasakhkan riwayat yang mengharuskan berkata-kata dalamnya). Maka isyaratnya ialah hadits ini hanyalah untuk dijadikan hujjah dalam bab-bab fiqh semata-mata. Menjadikannya sebagai hujjah dalam mensabitkan secara qathi`e akan usul aqidah menunjukkan lemahnya si penghujjah itu daripada memahami uslub dan kaedah dalam menetapkan ‘aqidah pegangan umat ini. Oleh itu, jika datang kepada ikhwah akan orang yang hendak berhujjah untuk menetapkan Allah bertempat di langit dengan hadits ini, maka katakanlah kepadanya dengan lemah-lembut dan elok perkataan “keribang rebus, pegi belajar lagik…..” dengan nada yang lemah lembut….hehehe….jangan marah noooo…. melawak jee.

Allahu a’lam

Wahhabism (A Critical Essay) : Bukti Wahhaby Antek Kafir British dan Amir wahhaby berkalung salib(1)

Wahhabism: A Critical Essay


Sedikit sedutan sinopsis buku Dr. Hamid Algar berjodol “Wahhabism: A Critical Essay”:-

  • Wahhabism, a peculiar interpretation of Islamic doctrine and practice that first arose in mid-18th century Arabia, is sometimes regarded as simply an extreme or uncompromising form of Sunni Islam. This is incorrect, for at the very outset the movement was stigmatized as aberrant by the leading Sunni scholars of the day, because it rejected many of the traditional beliefs and practices of Sunni Islam and declared permissible warfare against all Muslims that disputed Wahhabi teaching.

Pada mukasurat 3, tertulis:-

  • It has, however, been observed by knowledgeable Sunnis since the earliest times that the Wahhabis do not count as part of the Ahl al-Sunna wa al-Jama`a, for almost all the practices, traditions and beliefs denounced by Muhammad b. ‘Abd al-Wahhab have been historically integral to Sunni Islam, enshrined in a vast body of literature and accepted by the great majority of Muslims. Precisely for that reason, many of the ‘ulama contemporary with the first emergence of Wahhabism denounced its followers as standing outside the pale of Ahl al-Sunna wa al-Jama`a. That Wahhabis are now counted as Sunni is one indication that the term “Sunni” has come to acquire an extraordinarily loose meaning, not extending much beyond recognition of the legitimacy of the first four caliphs (regarded by Sunnis as the Khulafa al-Rashidun [“the Rightly Guided Caliphs”]; in fact, it signifies little more than “non-Shi`i”. Our characterization of Wahhabis as non-Sunni is therefore above all a historical clarification; it has in itself no polemical purpose, if only because for the present writer Sunnism is but one representation and interpretation of Islam.

Adakah Wahhabi tergolong dalam kumpulan majoriti Ahlus Sunnah wal Jama`ah mazhab 4 ? Sila dapatkan buku tersebut dan baca kandungannya dengan teliti. Dr. Hamid Algar seorang berbangsa Inggeris yang lahir di England pada tahun 1940 dan memeluk agama Islam. Lulusan doktor falsafah dalam pengajian Islam daripada Universiti Cambridge dan menguasai bahasa-bahasa ‘Arab, Parsi dan Turki. Kini menjadi pensyarah di Universiti California, Berkeley.

‘Sir’ Fahd – Dapat Penghargaan Inggeris dan BERKALUNG SALIB

Mungkin ramai yang tidak mengetahui yang Kerajaan Arab Saudi berhutang budi dan “body” serta nyawa dengan Empayar British. Ini adalah kerana “berkat” kerjasama dan bantuan Britishlah, maka tertubuhnya Kerajaan Arab Saudi mengikut sunnah Great Britain bersendikan ajaran Wahhabiyyah. Pemimpin-pemimpin Saudi merupakan “loyal servants” bagi Empayar British, dahulu dan sehingga kini, dan kini ditambah pula jadi khadam Amerika dan sekutunya, Bahkan Raja Abdul Aziz menerima gaji bulanan berjumlah 5,000 paun sterling daripada British mulai tahun 1917. Selain daripada itu, Kerajaan British telah menganugerahkan “knighthood” kepada Raja Abdul Aziz, bahkan Raja Fahd pun dapat anugerah tersebut.

Walau apa pun Raja Fahd dah pergi menemui Penciptanya, tetapi kebenaran harus dan perlu diketahui ramai. Hansome tak Fahd dengan berkalungkan pingat salibiyyah di lehernya ? Apa pulak fatwa ulama Wahhabi , kalau orang pakai azimat tentu mereka terus tuduh kafir dan syirik. Kalau pakai salib, nak kata apa ? Kalau tuan-tuan dan puan-puan nak tengok lagi gambar warna kesegakan Raja Fahd dengan pingat kebesarannya boleh carilah buku “Custodian of the Two Holy Mosques King Fahd bin Abdul Aziz”, Guernsey, Channel Islands, 2001, p. 214, karya Dr. Fouad al-Farsy.

Berikut petikan dari buku Dr. Hamid Algar “Wahhabism: A Critical Essay”, mukasurat 38 – 39:-
  • The first contact was made in 1865, and British subsidies started to flow into the coffers of the Saudi family, in ever growing quantity as World War One grew closer. The relationship fully matured during that war. In 1915, the British signed with the Saudi Ruler of the day, ‘Abd al-‘Aziz b. Sa`ud (Ibn Sa`ud), one of those contracts with their underlings that were euphemistically known as “treaties of friendship and cooperation”. Money was, of course, the principal lubricant of friendship and cooperation, and by 1917 the Saudi ruler was receiving five thousand (5,000) pounds a month, not a bad sum for a junior hireling of the British Empire. However, the British also graciously saw fit to confer a knighthood on the champion of Wahhabism. (In later years these formalities continued to be observed; in 1935, ‘Abd al-‘Aziz b. Sa`ud was made a Knight of the Order of the Bath. Likewise, when visiting Queen Elizabeth in 1986, King Fahd, “Custodian of the Two Holy Mosques,” was photographed with the cruciform insignia of a British knightly order hanging round his neck.)

Allahummashuril Islam wal Muslimin bijaahi Sayyidil Mursalin.

Dakwah dan tabligh : Mereka itu Berjalan Kaki di Atas Permukaan Bumi Untuk Memberi Nasihat

jamaah jalan kaki afrika


Risalah ini terdiri dari :

A. Mengikuti kerja shahabat Nabi (Menyabarkan agama ke seluruh Alam)

B. Mereka itu Berjalan Kaki di Atas Permukaan Bumi Untuk Memberi Nasihat

C. Keutamaan Mengunjungi (ziarah/silaturahmi) kepada saudara Muslim Karena Allah

D. Tanggung Jawab/medan Dakwah Ummat Muhammad

Dakwah dan tabligh : Mereka itu Berjalan Kaki di Atas Permukaan Bumi Untuk Memberi Nasihat


Bismillah

Ba’da tahmid dan shalawat

Semoga Allah memberikan kita hidayah dan menjadikan kita asbab hidayah ke seluruh alam. Semoga Allah menggunakan diri, waktu, fikr dan harta kita untuk  senantiasa menyebarkan agama Allah di muka bumi. Sebagian risalah ini saya ambil dalam “kitab hayatushabat”, sebuah kitab yang berisi kisah-kisah kehidupan para shahabat radhiyallahu’anhum.

Kita ketahui bahwa nabi Muhammad Saw. adalah rasul yang setiap saat berdakwah menyebarkan agama Allah dan memikirkan bagaimana agama ini wujud dalam diri setiap ummat diseluruh alam sampai hari kiamat. Amalan rasulullah ini diamalkan oleh para shahabat sehingga mereka menjadi ummat terbaik. Kerja dakwah dan tabligh adalah kerja nabi Muhammad Saw. dan kerja/tugas ummat ini.

Dakwah artinya mengajak (bukan mengajar atau menggurui)

Tabligh artinya menyampaikan (menyampaikan apa yang kita ketahui walaupun satu ayat)

A. Mengikuti kerja shahabat Nabi (Menyebarkan agama ke seluruh Alam)

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim, Abdullah ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata:”Barangsiapa yang ingin meniru, hendaklah ia meniru perjalanan orang yang sudah mati, yaitu perjalanan para sahabat Nabi Muhammad SAW, karena mereka itu adalah sebaik-baik ummat ini, dan sebersih-bersihnya hati, sedalam-dalamnya ilmu pengetahuan, dan seringan-ringannya penanggungan. Mereka itu adalah suatu kaum yang telah dipilih Allah untuk menjadi para sahabat NabiNya SAW dan bekerja untuk menyebarkan agamaNya. Karena itu, hendaklah kamu mencontohi kelakuan mereka dan ikut perjalanan mereka. Mereka itulah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang berdiri di atas jalan lurus, demi Allah yang memiliki Ka’bah!” (Hilyatul-Auliya’ 1:305).

Hasan Basri Rah. mengatakan : “Barang siapa yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran maka dialah khalifatullah di bumi, dan dialah khalifaturrasul dan dialah khalifatul kitab (al-qur’an)” . (Hilyatul-Auliya’, Bahkan perkataan ini terdapat pada kitab  amr bil  ma’ruf nahi ‘anil munkar – Ibnu taymiyah).

B. Mereka itu Berjalan Kaki di Atas Permukaan Bumi Untuk Memberi Nasihat

Al-Baihaqiyy dan An-Naqoosy telah mentakhrijkan di dalam mu’jamnya dan Ibn An-Najjaar daripada Waaqid bin Salaamah daripada Yaziid Ar-Riqoosyiyy dari Anas ra. Bahawa Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallaam telah bersabda (mafhuumnya) :

Sudikah aku kabarkan kepada kalian akan qaum-qaum yang mana mereka itu adalah bukan para anbiyaa` dan buka pula para syuhadaa`, (walhal) pada hari qiyaamat (nanti) para anbiyaa` dan para syuhadaa` merasa ghibtoh (iri hati) terhadap mereka itu lantaran manaazil (status- status) mereka (begitu dekat) dengan Allah, di atas minbar-minbar daripada nuur mereka dikenali. Lalu mereka (para Sahabat r.ahum) Bertanya : siapakah mereka itu wahai Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallaam? Baginda menjawab (mafhuumnya) : al-ladziina yuhabbibuuna `ibaadaloohi ilAllahi, wa yuhabbibuunAllaha ilaa `ibaadihi, wa yamsyuuna `alal-ardhi nushan; artinya: (yaitu) orang-orang yang menjadikan para hamba Allah dicintai oleh Allah SWT , dan menjadikan Allah SWT dicintai oleh para hambanya, dan mereka itu berjalan kaki di atas (permukaan) bumi dalam hal keadaan memberikan nasihat.

Maka aku berkata : ini menjadikan Allah SWT dicintai oleh para hambanya, maka bagaimanakah mereka menjadikan para hamba Allah SWT dicintai oleh Allah SWT ? Jawab baginda Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallaam (mafhuumnya) : mereka itu menyuruh para hamba Allah dengan apa yang Allah SWT suka dan mereka itu mencegah para hamba Allah SWT daripada apa yang Allah SWT benci, maka apabila para hamba Allah SWT itu mentho’ati mereka lalu Allah `azza wa jalla menyintai mereka itu (yakni para hamba Allah itu). [Hayaatush-Shohaabah, juzu` 3, halaman 288 dan 289 – Risalah Fikir (229)]

Hadis riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata, Nabi saw. bersabda, Tidak beriman seorang hamba (dalam hadis Abdul Warits, seorang laki-laki) hingga Aku lebih dicintainya daripada keluarga, hartanya, dan semua orang
[Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 62]

Hadis riwayat Anas bin Malik ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, Tanda kemunafikan adalah membenci sahabat Ansar dan tanda keimanan adalah mencintai sahabat Ansar Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 108

Hadis riwayat Al Barra’ ra. ia berkata, Nabi saw. bersabda tentang kaum Anshar, Yang mencintai mereka hanyalah orang yang beriman dan yang membenci mereka hanyalah orang munafik. Siapa yang mencintai mereka, maka Allah mencintainya, siap yang membenci mereka, maka Allah membencinya [Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 110]

Hadis riwayat Abu Said Al Khudhri ra., Dari Tarek bin Syihab ra. ia berkata, Orang yang pertama berkhotbah pada hari raya sebelum salat Id, adalah Marwan. Ketika itu ada seorang berdiri mengatakan, salat Id itu sebelum khotbah! Marwan menjawab, telah ditinggalkan apa yang ada di sana. Abu Said berkata, Orang ini benar-benar telah melaksanakan kewajibannya, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran (hal yang keji, buruk), hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, itu adalah selemah-lemah iman
[Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 70]

C. Keutamaan Mengunjungi (ziarah/silaturahmi) kepada saudara Muslim Karena Allah

riyadushalihin hadits 361

361. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. bahawasanya ada seorang lelaki berziarah kepada seorang saudaranya di suatu desa lain, kemudian Allah memerintah seorang malaikat untuk melindunginya di sepanjang jalan – yang dilaluinya. Setelah orang itu melalui jalan itu, berkatalah malaikat kepadanya: “Ke mana engkau menghendaki?” Orang itu menjawab: “Saya hendak ke tempat seorang saudaraku di desa ini.” Malaikat bertanya lagi: “Adakah suatu kenikmatan yang hendak kau peroleh dari saudaramu itu?” Ia menjawab: “Tidak, hanya saja saya mencintainya kerana Allah.” Malaikat lalu berkata: “Sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah untuk menemuimu – guna memberitahukan – bahawa sesungguhnya Allah itu mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena Allah.” (Riwayat Muslim –   Riyadushalihin Anawawi , Hadits No.  361)

sayangi yang dibumiArtinya : Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam :

“Sayangilah penduduk Bumi, maka penduduk langit (malaikat) akan menyayangi kalian (HR Atirmidzi).

D. Tanggung Jawab/medan Dakwah Ummat Muhammad

SEBAIK-BAIK PEMBERIAN (SEDEKAH) ADALAH MENASIHATI /MENGINGATKAN MENGENAI IMAN DAN AMAL SHALIH (AMALAN AGAMA) SEHINGGA KITA TERLEPAS DARI TUNTUTAN (TANGGUNG JAWAB) SAUDARA-SAUDARA KITA DIAKHIRAT.

 

 

  1. Dakwah pada diri sendiri dan keluarga

[66:6] Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS Attahrim ayat 6)

2. Dakwah kepada Jiran/tetangga, sahabat dan orang-orang dekat/kerabat

[26:214] Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (QS Asysu’ara 214)

3. Dakwah kepada Umat didaerah sendiri dan daerah lain

[6:92] Dan ini (Al Quraan) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya  dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quraan) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. (QS Al an’am 92).

4. Dakwah kepada Ummat diseluruh dunia

[3:110] Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.  (QS Ali imran 110).

Sebarkan risalah ini, semoga Allah jadikan kita asbab hidayah bagi ummat…amiin

https://salafytobat.wordpress.com/

Bacaan al- Quran Di Tanah Perkuburan – Menjawab Tulisan Dr Azwira Abdul aziz UKM

Bacaan al- Quran Di Tanah Perkuburan – Menjawab Tulisan Dr Azwira

BACAAN AL QURAN DI TANAH PERKUBURAN
Oleh : Hj Zamihan Hj Mat Zin al-Ghari


Izinkan saya merujuk artikel dari UKM yang disiarkan HADIS PALSU MENYESATKAN MASYARAKAT oleh Dr Azwira Abd Aziz dari UKM yang disiarkan Utusan Malaysia, ruangan Agama-Mega, 5 November 2007. Saya pasti pandangan tersebut adalah pandangan peribadi. Ia bukannya satu pandangan rasmi Fakulti Pengajian Islam, UKM mahupun JAKIM. Sayangnya, pandangan beliau tidak cukup fakta, amat keras dan melampau. Para pembaca yang jujur diminta meneliti dahulu bait2 penghujahan Dr Azwira. Kemudian baru disusuli dengan hujjah saya. Jangan jadi penonton separuh masa kedua. Nanti tak tahu hujung pangkalnya. Terlebih dahulu, Minta ampun dan minta maaf..jika saya terikut-ikut dengan rentak Dr Azwira dalam penulisan ini.

REALITI PERMASALAHAN

Perlu disedari bahawa amalan membaca al-Qur’an di atas kubur merupakan permasalahan ranting agama. Ia bukannya permasalahan tunjang mendasari Iman dan Islam. Amalan ranting biasanya bersifat elektif bukannya subjek teras untuk seseorang mukmin. Oleh itu, mengamalkannya dikira satu kebaikan. Manakala meninggalkannya bukanlah satu kecelaan. Demikian betapa fleksibelnya hukum syarak dalam permasalahan ini.

SUSUNAN DALIL

Tinjauan permasalahan ini menemukan kita dengan beberapa dalil. Samada dari kitab Suci al-Qur’an mahupun al-Sunnah. Kekadang dalil berkaitan dapat difahami dan di hayati dengan baik. Kekadang ia gagal ditemui dan difahami. Lalu memanifestasi pelbagai tafsiran sonsang. Oleh itu, kita perlu memahami dalil secara jelas dengan sebaik-baiknya.

Dr Azwira jelas didapati gagal memahami hirarki dalil perundangan Islam. Sikit-sikit hadis, hadis, hadis…Macam dia tu perawi hadis, ulamak hadis, mahaguru hadis. Kenapa anda tidak merujuk al-Qur’an sebagai sumber utama.

Apabila kita membuka lembaran suci al-Qur’an didapati banyak ayat yang boleh dijadikan panduan bagi menjustifikasikan permasalahan ini. Antaranya :

  1. Surah alThur ayat 21
  2. Surah al-najm ayat 38 dan 39
  3. Surah al-Baqarah ayat 261
  4. Surah al-Kahf ayat 82
  5. Surah al-A’raf ayat 204
  6. Surah Surah al-Hasy ayat 10 DLL.

STATUS DALIL

Dalil syarak adakala bersifat qath’ie. Dan ada kalanya bersifat dzanni. Dalil Qath’ie adalah dalil yang jelas ketetapannya. Manakala dalil yang bersifat dzanni membuka ruang kepada ulamak untuk berijtihad. Justeru, perbezaan pendapat dikalangan ulamak adalah perkara biasa. Lebih-lebih lagi dalam permasalahan ranting agama. Namun, kita perlu mengambil pendekatan bijak dan bersikap sederhana ketika berinteraksi dengan situasi ini. Hal ini penting supaya aktiviti kehidupan kita menepati tuntutan syarak. Bahkan lebih akrab kepada taqwa. Sekaligus mengelakkan diri dari bersikap keras kepala terhadap amalan yang telah ‘diestablish’ para ulamak dan diperakui pihak berautoriti agama.

ANALISA FAKTA

Perlu diketahui secara insaf bahawa amalan membaca al-Qur’an di atas kubur berteraskan kepada dalil yang pelbagai. Adakalanya berstatus sahih, hasan, dhaif dan amat dhaif. Selain itu, kita juga yakin untuk menolak dari menggunakan hadis-hadis palsu. Antaranya ialah :

  1. Imam Muslim meriwayatkan : “Setiap anggota tubuh kamu berpagi-pagian dengan sedekah ke atasnya. Setiap tasbih adalah sedekah. Setiap tahmid adalah sedekah. Setiap tahlil adalah sedekah. Setiap takbir adalah sedekah. Menyuruh yang makruf adalah sedekah. Melarang yang mungkar adalah sedekah. Semua itu dapat diperolehi melalui dua rakaat solat di waktu dhuha.” (Muslim bin Hajjaj al-Neisaburi, Sahih Muslim, ed : Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, t.th, Dar Ihya’ Thurath al-Arabi : Beirut, hlm 498 juz 1). Imam al-Qurtubi mengatakan : “Berdasarkan dalil inilah para ulamak menggalakkan menziarahi kubur kerana bacaan al-Qur’an itu bagaikan buah tangan untuk si mati yang dibawa oleh penziarah kubur.”(al-Qurtubi, al-Tazkirah, Maktabah al-Iman : Mansurah, Mesir, hlm 74). Imam Abdullah bin al-Siddiq al-Ghumari mengatakan : “Hadis ini memberi kita satu kefahaman bahawa bacaan al-Qur’an juga termasuk dalam erti kata sedekah menurut syarak.” (Abdullah bin al-Siddiq, Itqan al-Sun’ah fi Tahkik Makna al-Bid’ah, 1997, Maktabah al-Qaherah : Mesir, hlm 8)
  2. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis tatkala Baginda SAW ditanyakan tentang solat qasar dalam suasana aman. Baginda SAW bersabda : “ Ia adalah sedekah yang disedekahkan oleh Allah kepada kamu. Maka terimalah sedekahnya.” (Muslim bin Hajjaj, Sahih Muslim, hlm 478 juz 1). Al-Qurtubi mengatakan : “Asal kepada bab ini ialah sedekah yang tidak ada pertikaian pendapat dikalangan ulamak. Sebagaimana pahala sedekah sampai kepada si mati maka begitu jugalah pahala membaca al-Qur’an sampai kepada si mati. Ini kerana semua itu termasuk dalam erti kata sedekah. Sedekah bukan terbatas kepada harta benda sahaja. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW ketika Baginda ditanyakan tentang solat qasar dalam keadaan aman.”
  3. Imam al-Thabrani meriwayatkan : “Menceritakan kepada kami al-Hussain bin Ishak al-Tustari, menceritakan kepada kami Ali bin Hajr, menceritakan kepada kami Mubasyir bin Ismail, menceritakan kepada kami Abd Rahman bin al-A’la bin Lajlaj daripada bapanya, katanya : berkata Abu al-Lajlaj Abu Khalid : “Wahai anakku, apabila aku meninggal dunia kebumikanlah aku. Apabila kamu meletakkan jasadku di liang lahad, bacalah : “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah SAW, Kemudian curahkanlah tanah dengan cermat ke atasku. Kemudian bacalah disisi kepalaku permulaan surah al-Baqarah dan penutupnya, kerana aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda sedemikian.” (al-Thabrani, Mu’jam al-Kabir, 1982, Maktabah al-Ulum Wal Hikam, hlm 220 juz 19). Imam al-Haitsami di dalam Majma’ al-Zawa’id hlm 44 juz 3 mengatakan bahawa rangkaian perawi ini terdiri dari kalangan perawi yang ditsiqahi (dipercayai). Manakala Imam al-Hakim membawa kesaksian hadis ini di dalam kitabnya al-Mustadrak hlm 512 juz 3 (al-Hakim, al-Mustadrak ‘Ala Sahihain, 1990, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah). Imam Ibn Hajar al-Asqalani di dalam Talkhis al-Habir turut memperakui hadis ini. (al-Asqalani, Talkhis al-Habir, 1964, ed : Abdullah Hasyim al-Yamani, al-Madinah al-Munawwarah, hlm 130 juz 2). Juga tiada sebarang komentar dari Imam al-Zaila’ie di dalam Nusb al-Rayah hlm 302 juz 2. Senario kesaksian ini juga turut dipersetujui oleh Sayyid Muhammad Alawi al-Makki di dalam kitabnya Hadaya al-Ahya’ Lil Amwaat (Hadiah Si Hidup Kepada Si Mati) hlm 57. Pemerincian sanad hadis ini dibuat berdasarkan kepada beberapa pandangan para pengkritik hadis. Jika para pengkritik hadis bertauliah menerimanya..kenapa tidak dengan kita? Hadis di atas secara jelas menaskan kepada kita bahawa Abu al-Lajlaj Abu Khalid (Seorang sahabat) mendengar Nabi SAW menggalakkan para sahabat membaca ayat suci al-Qur’an di bahagian kepala dan kaki si mati di atas kubur. Lalu mewasiatkan amalan tersebut kepada anaknya supaya berbuat demikian. Ternyata amalan membaca ayat suci al-Qur’an di atas kubur bukanlah sesuatu bid’ah yang sesat. Bahkan ia diwarisi daripada Nabi SAW sendiri. Justeru, amalan ini merupakan satu sunnah yang terpuji.
  4. Imam al-Baihaqi, al-Thabrani dan al-Hakim meriwayatkan dari Ibn Umar r.a berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW : “Apabila salah seorang kamu meninggal dunia, jangan kamu menahan jenazahnya dan segeralah membawanya ke kubur. Bacalah disisi kepalanya Fatihatul Kitab (surah al-Fatihah)-lafaz al-Baihaqi bunyi : “..permulaan surah al-Baqarah dan di sisi kakinya penutup surah al-Baqarah di kuburnya.” (al-Thabrani, Mu’jam al-Kabir m/s 44 juz 12, al-Baihaqi, Syuab al-Iman m/s 16 juz 7). Imam al-Haitsami di dalam Majma’ al-Zawaid m/s 44 juz 3 mengatakan : “Hadis ini diriwayatkan oleh al-Thabrani di dalam Mu’jam al-Kabir. Padanya terdapat Yahya bin Abdullah al-Bablati. Dia merupakan seorang perawi yang lemah.” Seterusnya al-Haitsami mengintegrasikan sanad yang lemah ini dengan riwayat al-Baihaqi. Riwayat itu bersumberkan Abd Rahman bin al’-‘Ala bin al-Lajlaj yang diperakui kesahihannya. Kedua-dua hadis ini secara jelas membuktikan kepada kita bahawa Ibn Umar dan Abu Khalid al-Lajlaj mendengar galakkan dari Nabi SAW agar dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an di tanah perkuburan. Walaupun riwayat dari Thabrani ini bertaraf dhaif, namun ia dibantu dengan beberapa riwayat yang sahih dari Imam Muslim dan al-Baihaqi sebagaimana di atas. Tambahan pula, Imam Ibn Hajr al-Asqalani mendakwa bahawa ia berstatus hasan (baik). (al-Asqalani, Fath al-Bari, 1379H, Dar al-Makrifah : Beirut, hlm 184 juz 3). Manakala Imam al-Ajlouni ketika membentangkan hadis ini menyatakan bahawa hadis yang diriwayat al-Thabrani ini adalah marfuk. (al-Ajlouni, Kasyf al-Khafa’, 1405H, Muassasah al-Risalah : Beirut, cet 4, hlm 192 juz 1). Al-Zurqani mengatakan : “Bahawa hadis : “Apabila seseorang kamu telah meninggal dunia jangan kamu menahannya..adalah diriwayatkan al-Thabrani dengan sanad-sanadnya yang hasan.” ( al-Zurqani, Syarh al-Zurqani, 1411H, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Beirut, hlm 127 juz 2). Kehasanan hadis ini juga turut diperakui oleh al-Syaukani di dalam Subul al-Salam. (al-Syaukani, Subul al-Salam, 1379H, Dar Ihya’ Thurats al-Arabi : Beirut, Cet 4, hlm 106 juz 2). Justeru, kedhaifan sanad pada riwayat al-Thabrani secara automatik ditampung dengan riwayat yang sahih dan dhaif yang lain. Himpunan jaluran sanad yang dhaif menjadikan ia bertaraf hasan sebagaimana diperakui ulamak. Justeru, situasi ini sedikitpun tidak mencacatkan penghujahan terhadap amalan membaca al-Qur’an di tanah perkuburan. Bahkan hujahnya kekal dalam kelasnya yang tersendiri.
  5. Imam Ahmad, Abu Daud, al-Nasai’ie, al-Tirmidzi dan Ibn Majah meriwayatkan daripada Ma’qil bin Yasar bahawa Nabi SAW bersabda: “Hati al-Qur’an adalah Yaasin. Tidaklah dibaca surah itu oleh seseorang yang mengkehendaki Allah dan hari akhirat melainkan diampunkan dosanya. Bacalah Yaasin kepada orang mati kamu.”Hadis ini dipandang sahih oleh Ibn Hibban dan al-Hakim. Ibn Hibban menyebutkan bahawa yang dimaksudkan dengan orang mati di dalam hadis ini ialah orang yang hampir mati.. pendapat ini ditarjih oleh Ibn Qayyim dengan beberapa alasan yang diberikannya. Akan tetapi Ibn Rif’ah berpegang kepada zahir hadis di atas. Lantaran itu, beliau mengesahkan bahawa surah Yaasin boleh dibacakan kepada orang yang telah mati. Al-Syaukani pula berpendapat bahawa lafaz al-Mauta pada hakikatnya bermaksud orang yang telah mati. Dan maksud hakikat tidak boleh dipesongkan melainkan ada qarenahnya.Syeikh Abdullah bin al-Siddiq al-Ghumari berpendapat bahawa tidak menjadi halangan dibacakan al-Qur’an kepada orang yang hampir mati supaya dia dapat mentadabbur bacaan itu. Manakala tidak menjadi halangan dibacakan al-Qur’an kepada orang yang telah mati supaya seseorang itu mendapat manfaat pahalanya.” (al-Ghumari, Itqan al-Sun’ah, hlm 87 )
  6. Imam al-Baihaqi meriwayatkan : “Menceritakan kepada kami Abu Abdullah al-Hafiz dari Abu al-Abbas bin Ya’qub dari al-Abbas bin Muhammad katanya : “Aku bertanya Yahya bin Ma’in tetang membaca al-Qur’an di atas kubur? Lalu beliau menjawab berdasarkan kepada riwayat Abd Rahman bin al-‘Ala bin al-Lajlaj daripada ayahnya dari Ibn Umar yang menggalakkan amalan sedemikian.” Imam Ibn Hajr al-Asqalani di dalam Amali al-Azkar mengesahkan bahawa hadis ini bertaraf mauquf dan hasan. Berdasarkan kepada keterangan di atas, jelaslah kepada kita bahawa Imam Yahya bin Ma’in (sarjana hadis yang mashyur) sendiri turut membenarkan amalan membaca al-Qur’an di atas kubur.
  7. Imam Muslim meriwayatkan : “Jangan kamu jadikan rumah kamu seperti kawasan perkuburan. Sesungguhnya syaitan akan lari daripada rumah yang dibacakan di dalamnya surah Al-Baqarah(Muslim, Sahih Muslim, no: 870, hlm 539 juz 1). Imam al-Tirmidzi mengatakan : “Perkara yang dimaksudkan ‘Jangan kamu jadikan rumah kamu seperti tanah perkuburan’ bermaksud jangan jadikan ia (rumah) sunyi dari berzikir dan melakukan ketaatan (kebaikan) sepertimana tanah perkuburan dan orang mati..” (al-Tirmidzi, Tuhfah al-Ahwazi, t.th, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Beirut, hlm 146 juz 8). Perintah hadis ini bersifat umum. Iaitu menggalakkan kita untuk membaca al-Qur’an di rumah atau di mana-mana sahaja kita berada. Asalkan bertunjangkan kepada niat, cara, tempat yang baik dan munasabah. Kandungan hadis ini sama sekali tidak menjustifikasikan larangan membaca Al-Quran ditanah perkuburan. Ini kerana kebenaran membaca al-Qur’an di tanah perkuburan tsabit dengan pemerincian hadis-hadis di atas. Oleh yang demikian, hadis yang bersifat umum tidak boleh digunakan hujjah untuk membatalkan galakkan yang bersifat khusus. Hal ini penting bagi mengelak percanggahan hadis.Tambahan pula, galakkan Rasulullah SAW supaya kita membaca al-Qur’an khususnya surah al-Baqarah ternyata ada kelebihan tersendiri. Bacaan surah ini dapat menghalau syaitan dari bermastautin kerana penghuninya telah menghidupkan suasana rumah dengan ibadat. Mafhum sebaliknya, jika kita tidak membaca al-Qur’an di tempat kediaman, maka jadilah tempat kediaman itu sunyi sepi bagaikan tanah perkuburan. Walaupun kediaman dihuni makhluk hidup tetapi suasana kediaman itu bagaikan dihuni orang mati apabila tidak diserikan dengan ibadat. Itulah yang dimaksudkan dengan ‘Jangan jadikan rumah kamu seperti tanah perkuburan.’

Berdasarkan keterangan ini bolehlah diandaikan bahawa hujjah Dr Azwira yang mendakwa ‘kekerapan mereka membaca al-Qur’an di kubur daripada rumah menyebabkan segala syaitan yang ada di kawasan itu berpindah ke kawasan perumahan umat Islam” amat kelakar. Dan layak diketawakan sahaja kerana ucapan seperti ini tidak sepatutnya dijadikan kiasan oleh seorang yang bergelar Doktor Falsafah dari Jabatan al-Qur’an dan al-Sunnah. Ini adalah contoh seni analogi yang fasid dan menyimpang dari kebenaran serta tidak diluahkan oleh orang-orang yang berakal.

Pembongkaran ilmiah ini juga menemukan hakikat bahawa Dr Azwira sendiri sebenarnya yang cuba memandai-mandai melarang umat Islam dari membaca al-Qur’an di tanah perkuburan. Secara tak langsung, Beliau memanifestasikan rekaan hadisnya: “Jangan membaca al-Qur’an di atas kubur, nanti Syaitan yang ada disitu akan datang ke kawasan perumahan kamu.” Renunglah wahai mereka yang mempunyai akal fikiran!

Sebenarnya, hadis-hadis yang bertali arus dengan amalan membaca al-Qur’an di atas kubur masih banyak, tetapi sengaja didatangkan beberapa hadis untuk disesuaikan dengan fokus perbincangan. Jika seseorang itu benar-benar celik hatinya dia pasti akan menerima hujjah dan kebenaran ini. Jika hatinya buta dan keras..hanya Allah sahaja yang mampu memberi hidayah.

PENDAPAT PARA ULAMAK

Sebenarnya isu klasik ini telah diselesaikan para ulamak dengan jayanya. Antaranya :

  1. Muhammad bin Ahmad al-Muruzi berkata : Aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata : “Apabila kamu masuk ke kubur, bacalah fatihah al-Kitab dan ayat Muawwizatain dan surah al-Ikhlas. Jadikanlah pahalanya untuk penghuni kubur itu kerana pahalanya itu sampai kepada mereka.”
  2. Di dalam kitab al-Azkar di bawah tajuk : “Apa yang perlu dibaca selepas pengebumian?. Imam al-Nawawi menyebutkan : “Al-Syafi’ie dan para sahabat (ulamak Syafi’iyyah) mengatakan : “Disunatkan membaca disisi kubur sesuatu daripada ayat al-Qur’an. Mereka mengatakan : Jika mereka mengkhatamkan al-Qur’an kesemuanya maka itu adalah (sesuatu yang) baik.” (al-Nawawi, al-Azkar, Dar al-Makrifah : Beirut, 1996, hlm 142 )
  3. Imam al-Zahabi di dalam Takzikah al-Huffaz ketika membicarakan biodata al-Khatib al-Baghdadi menyebutkan : “Tatkala beliau meninggal dunia orang membacakan al-Qur’an di atas kuburnya dengan beberapa kali dikhatamkan.”
  4. Imam al-Hassan bin al-Sobbah al-Za’farani berkata : “Aku bertanya kepada al-Syafi’ie tentang bacaan al-Qur’an di kubur. Lalu beliau menjawab : “Tidak mengapa. Al-Khallal meriwayatkan daripada Al-Sya’bie katanya : “Orang Ansar apabila berlakunya kematian dikalangan mereka, maka mereka selalu mengunjungi kuburnya untuk membaca al-Qur’an di sisinya.”
  5. Al-Khara’iti di dalam kitab al-Kubur menyebutkan : “Menjadi Sunnah kebiasaan ornag-orang ansar apabila mengusung mayat mereka membaca surah al-Baqarah.”
  6. Al-Qurtubi mengatakan : “Sebahagian ulamak kami mengemukakan dalil sampainya bacaan al-Qur’an ke pada si mati dengan hadis berkenaan pelepah tamar yang dibelah dua oleh Nabi SAW. Kemudian Baginda memacaknya satu di atas kubur orang ini dan satu lagi di atas kubur yang lain. Kemudian Baginda bersabda : “Mudah-mudahan ia dapat meringankan mereka berdua selagi kedua-duanya tidak kering.” Riwayat al-Syeikhain : Bukhari Kitab Wudhu 218 dan Muslim al-Thaharah 111/292)


Bagi saya, jika pacakan pelepah tamar yang basah dikubur boleh memberi manfaat kepada si mati, bagaimana pula halnya dengan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an yang dihadiahkan kepada si mati.? Tentunya bacaan ayat suci itu lebih istimewa dari pelepah tamar berkenaan.” Cumanya perbuatan Baginda memacak pelepah tamar tersebut adalah salah satu dari kepelbagaian yang boleh membantu mereka yang telah meninggal dunia. Wallahu’alam.

  1. Ibn Qayyim (ketika membicarakan panjang lebar tentang sampainya pahala amalan-amalan yang dihadiahkan kepad si mati beserta dalilnya) mengatakan : “Adapun membaca al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada si mati secar sukarela tanpa mengambil upah maka ia sampai kepada si mati sebagaimana pahala puasa dan haji…” (Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, al-Ruh, hlm 152-159)
  2. Imam Ibn al-Solah ketika menjawab penghujahan ayat 39 surah al-Najm mengatakan : “ Apa yang dimaksudkan oleh ayat ini ialah seseorang itu tidak mempunyai hak atau menadapat balasan melainkan apa yang diusahakannya. Ini tidak termasuk amalan yang dilakukan untuknya secara sukarela oleh orang lain seperti membaca al-Qur’an dan berdoa…”
  3. Syeikh Ibn Taimiyyah mengatakan : “Barangsiapa yang berkeyakinan bahawa manusia tidak dapat mengambil manfaat kecuali dengan amalannya sahaja beerti dia telah melanggar ijmak. Pendapat itu terbatal dengan beberapa sudut…” Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang bacaan Al-Quran untuk mayat dan juga tentang tasbih, tahmid, tahlil dan takbir jika dihadiahkan kepada mayat. Sampaikah pahalanya atau tidak? Maka beliau menjawab sebagaimana tersebut dalam kitab beliau;”Sampai kepada mayat pahala bacaan Al-Quran dari keluarganya, Dan tasbih, takbir serta seluruh zikir mereka kepada Allah apabila mereka menghadiahkan pahalanya kepada mayat akan sampai pula kepadanya” (Ibn Taimiyyah al-Harrani, Majmu’Fataawa, jilid 24 hlm 324)
  4. Imam Ibn Muflih al-Hanbali di dalam al-Furu’ mengatakan : “Tidak dilarang untuk membaca al-Qur’an di atas kubur atau tanah perkuburan. Telah dinaskan ke atasnya oleh Abu Bakar, al-Qadhi dan sebahagian ulamak dan ia merupakan pandangan mazhab…” (Ibn Muflih al-Hanbali, al-Furu’, hlm 304 juz 2)

KESIMPULAN

  1. Amalan membaca ayat-ayat suci al-Qur’an di atas kubur merupakan salah satu dari permasalahan ranting agama. Galakkan ini bersumberkan dalil-dalil yang sahih, hasan dan dhaif.
  2. Al-Qur’an al-Karim sepatutnya dijadikan dalil utama. Manakala sumber hadis dijadikan dalil sekunder dalam apa jua permasalahan umat Islam.
  3. Himpunan dalil yang ada menjustifikasikan amalan ini sebagai amalan sunat. Ia dilihat sebagai amalan aksesori sahaja.
  4. Kita perlu memahami permasalahan usul dan furu’ secara menyeluruh beserta dalil-dalil dan kaedah syariah yang jelas. Hal ini penting supaya sesuatu isu yang dirumus benar-benar menepati tuntutan syarak. Di samping boleh mengelakkan diri dari bersikap fanatik dan melampau.
  5. Dr Azwira gagal membuktikan bahawa amalan membaca al-Qur’an di tanah perkuburan sebagi bidah yang sesat. Pendapat seperti ini sebenarnya tidak diperkatakan oleh ahli ilmu. Amat malang bagi seseorang yang mempunyai Doktor Falsafah menduduki kerusi pensyarah Jabatan al-Qur’an dan al-Sunnah tetapi jahil tentang kedua-dua. Bahkan terus keras kepala bila hujjah ini dilihat menandasi pandangannya. Beliau hanya bijak memanjangkan ketaksuban terhadap al-Albaani semata-mata. Sehinggakan membutakan mata hati beliau bahawa dari menilai kebenaran jumhur ulamak. Justeru, pandangan kontroversi ala Wahhabi ini perlu di tolak.


SYOR DAN CADANGAN

  1. Fakulti Pengajian Islam, sepatutnya tidak membenarkan pensyarahnya mempergunakan jenama UKM untuk melariskan idea individu tertentu. Terutama dalam mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan arus perdana.
  2. JAKIM perlu membuat penyelarasan dengan pihak media agar isu-isu kontroversi agama tidak dibincangkan secara meluas dan emosional. Situasi ini dikhuatiri menyemarakkan perpecahan dikalangan umat Islam di Malaysia.
  3. Perlu diingat bahawa amalan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW dan generasi Salaf tidak boleh dijadikan alasan untuk mengharamkan sesuatu amalan selagi tidak ada tegahan putus daripada nas syarak.
  4. Para cendikiawan, profesional, pendakwah, pelajar Universiti sewajarnya sedar tentang aliran-aliran pemikiran yang tumbuh dalam persekitaran mereka. Jika anda mempunyai kekuatan, buatlah analisa secara sedar. Jika tidak, awasi dan jauhi diri anda dari pelbagai makhluk perosak zaman kini. Wallahu’lam.

http://al-fanshuri.blogspot.com/2007/11/bacaan-al-quran-di-tanah-perkuburan.html

Nur Muhammad Menurut Ahlusunnah dan Ibnu taymiyah

بسم الله الرحمن الرحيم

نحمده ونصلى على رسوله الكريم

Nur Muhammad Menurut Al-qur’an & Hadits

Adapaun mengenai konsep nur muhammad dijelaskan sebagai berikut :

A. Ayat-ayat Al-qur’an dalil tawassul dan Nur Muhammad

1. Dalam surat an-Nisa’ ayat 64, Allah swt. berfirman:

“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

2. Dalam surat  Al-Maidah ayat 35:

‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….”

Keterangan :

Ibnu Taimiyyah disalah satu kitabnya Qa’idah Jalilah Fit-Tawassul Wal-Washilah dalam pembicaraannya mengenai tafsir ayat Al-Qur’an Al-Maidah: 35 menulis: ‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….’ antara lain mengatakan:

“Mencari washilah atau bertawassul untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. hanya dapat dilakukan oleh orang yang beriman kepada Muhammad Rasulallah saw. dan mengikuti tuntunan agamanya. Tawassul dengan beriman dan taat kepada beliau saw. adalah wajib bagi setiap orang, lahir dan bathin, baik dikala beliau masih hidup maupun setelah wafat, baik langsung dihadapan beliau sendiri atau pun tidak. Bagi setiap muslim, tawassul dengan iman dan taat kepada Rasulallah saw. adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat ditinggalkan. Untuk memperoleh keridhoan Allah dan keselamatan dari murka-Nya tidak ada jalan lain kecuali tawassul dengan beriman dan taat kepada Rasul-Nya. Sebab, beliaulah penolong (Syafi’) ummat manusia.

Beliau saw. adalah makhluk Allah termulia yang dihormati dan diagungkan oleh manusia-manusia terdahulu maupun generasi-generasi berikutnya hingga hari kiamat kelak. Diantara para Nabi dan Rasul yang menjadi penolong ummatnya masing-masing. Muhammad Rasulallah saw. adalah penolong (Syafi’) yang paling besar dan tinggi nilainya dan paling mulia dalam pandangan Allah swt. Mengenai Nabi Musa as. Allah swt. berfirman, bahwa Ia mulia disisi Allah. Mengenai Nabi Isa a.s. Allah swt. juga berfirman bahwa Ia mulia didunia dan diakhirat, namun dalam firman-firman-Nya yang lain menegaskan bahwa Muhammad Rasulallah saw. lebih mulia dari semua Nabi dan Rasul. Syafa’at dan do’a beliau pada hari kiamat hanya bermanfaat bagi orang yang bertawassul dengan iman dan taat kepada beliau saw. Demikianlah pandangan Ibnu Taimiyyah mengenai tawassul.

Dalam kitabnya Al-Fatawil-Kubra I :140 Ibnu Taimiyyah menjawab atas pertanyaan: Apakah tawassul dengan Nabi Muhammad saw. diperbolehkan atau tidak? Ia menjawab: “Alhamdulillah mengenai tawassul dengan mengimani, mencintai, mentaati Rasulallah saw. dan lain sebagainya adalah amal perbuatan orang yang bersangkutan itu sendiri, sebagaimana yang di perintahkan Allah kepada segenap manusia. Tawassul sedemikian itu di- benarkan oleh syara’ dan dalam hal itu seluruh kaum muslimin sepen- dapat.”

3. Dalam Surat Al-Baqarah :37, mengenai Tawassul Nabi Adam as. pada Rasulallah saw.:

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ اَنَّهُ هُوَا الـَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang ”.

Keterangan :

Tawassul Nabi Adam as. pada Rasulallah saw..  Sebagaimana disebutkan pada firman Allah swt. (Al-Baqarah :37) diatas. Menurut ahli tafsir kalimat-kalimat dari Allah yang diajarkan kepada Nabi Adam as. pada ayat diatas agar taubat Nabi Adam as. diterima ialah dengan menyebut dalam kalimat taubatnya bi-haqqi (demi kebenaran) Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Makna seperti ini bisa kita rujuk pada kitab: Manaqib Ali bin Abi Thalib,  oleh Al-Maghazili As-Syafi’i halaman 63, hadits ke 89; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusui Al-Hanafi, halaman 97 dan 239 pada  cet.Istanbul,. halaman 111, 112, 283 pada cet. Al-Haidariyah; Muntakhab Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muntaqi, Al-Hindi (catatan pinggir) Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 419; Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’i, jilid 1 halaman 60; Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 7, halaman 300 dan Ihqagul Haqq, At-Tastari jilid 3 halaman 76. Begitu juga pendapat Imam Jalaluddin Al-Suyuthi waktu menjelaskan makna surat Al-Baqarah :37 dan meriwayatkan hadits tentang taubatnya nabi Adam as. dengan tawassul pada Rasulallah saw.

Nabi Adam as. ,manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah swt. agar taubatnya bisa diterima dengan bertawassul pada Habibullah Nabi Muhammad saw., yang mana beliau belum dilahirkan di alam wujud ini. Untuk mengkompliti makna ayat diatas tentang tawassulnya Nabi Adam as. ini, kami akan kutip berikut ini beberapa hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan masalah itu:

Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak/Mustadrak Shahihain jilid 11/651 mengetengahkan hadits yang berasal dari Umar Ibnul Khattab ra. (diriwayat- kan secara berangkai oleh Abu Sa’id ‘Amr bin Muhammad bin Manshur Al-‘Adl, Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzaly, Abul Harits Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah, Abdurrahman bin Zain bin Aslam dan datuknya) sebagai berikut, Rasulallah saw.bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ الله.صَ. : لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمَُ الخَطِيْئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِي,

فَقالَ اللهُ يَا آدَمُ, وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أخْلَقُهُ ؟ قَالَ: يَا رَبِّ ِلأنَّـكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيدِكَ

وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأسِي فَرَأيـْتُ عَلَى القَوَائِمِ العَرْشِ مَكْتُـوْبًا:لإاِلَهِ إلاالله

مُحَمَّدَُ رَسُـولُ اللهِ, فَعَلِمْتُ أنَّكَ لَمْ تُضِفْ إلَى إسْمِكَ إلا أحَبَّ الخَلْقِ إلَيْكَ, فَقَالَ اللهُ

صَدَقْتَ يَا آدَمُ إنَّهُ َلاَحَبَّ الخَلْقِ إلَيَّ اُدْعُنِي بِحَقِّهِ فَقـَدْ غَفَرْتُ لَكَ, وَلَوْ لاَمُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ.

“Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhanku, demi kebenaran Muhammad aku mohon ampunan-Mu’. Allah bertanya (sebenarnya Allah itu maha mengetahui semua lubuk hati manusia, Dia bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa mendengar jawaban Nabi Adam as.): ‘Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum kuciptakan?!’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang ‘Arsy termaktub tulisan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa disamping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai’. Allah menegaskan: ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdo’alah kepada-Ku bihaqqihi (demi kebenarannya), engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan’ “.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dan dibenarkan olehnya dalam Khasha’ishun Nabawiyyah dikemukakan oleh Al-Baihaqi didalam Dala ’ilun Nubuwwah, diperkuat kebenarannya oleh Al-Qisthilani dan Az-Zarqani di dalam Al-Mawahibul Laduniyyah jilid 11/62, disebutkan oleh As-Sabki di dalam Syifa’us Saqam, Al-Hafidz Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam Al-Ausath dan oleh orang lain yang tidak dikenal dalam Majma’uz Zawa’id jilid V111/253.

Sedangkan hadits yang serupa/senada diatas yang sumbernya berasal dari Ibnu Abbas hanya pada nash hadits tersebut ada sedikit perbedaan yaitu dengan tambahan:

وَلَوْلآ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُ آدَمَ وَلآ الجَنَّةَ وَلآ النَّـارَ

‘Kalau bukan karena Muhammad Aku (Allah) tidak menciptakan Adam, tidak menciptakan surga dan neraka’.

Mengenai kedudukan hadits diatas para ulama berbeda pendapat. Ada yang menshohihkannya, ada yang menolak kebenaran para perawi yang meriwayatkannya, ada yang memandangnya sebagai hadits maudhu’, seperti Adz-Dzahabi dan lain-lain, ada yang menilainya sebagai hadits dha’if dan ada pula yang menganggapnya tidak dapat dipercaya. Jadi, tidak semua ulama sepakat mengenai kedudukan hadits itu. Akan tetapi Ibnu Taimiyah sendiri untuk persoalan hadits tersebut beliau menyebutkan dua hadits lagi yang olehnya dijadikan dalil. Yang pertama yaitu diriwayatkan oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi dengan sanad Maisarah yang mengatakan sebagai berikut :

قُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ, مَتَى كُنْتَ نَبِيَّا ؟ قَالَ: لَمَّا خَلَقَ اللهُ الأرْضَ وَاسْتَوَى إلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَما وَا تٍ,

وَ خَلَقَ العَرْشَ كَتـَبَ عَلَى سَـاقِ العَـرْشِ مُحَمَّتدٌ رَسُوْلُ اللهِ  خَاتَمُ الأَنْبِـيَاءِ , وَ خَلَقَ اللهُ الجَنَّـةَ الَّتِي أسْكَـنَهَا

آدَمَ وَ حَوَّاءَ فَكـُتِبَ إسْمِي عَلَى الأبْـوَابِ وَالأوْرَاقِ وَالقـِبَابِ وَ الخِيَامِ وَ آدَمُ بَيْـنَ الرَُوْحِ وَ الجَسَدِ,فَلَـمَّا أحْيَاهُ اللهُ

تَعَالَى نَظَرَ إلَى العَـرْشِ , فَرَأى إسْمِي فَأخْبَرَهُ الله أنَّهُ سَيِّدُ وَلَدِكَ, فَلَمَّا غَرَّهُمَا الشَّيْطَانُ  تَابَا وَاسْتَشْفَعَا بِإسْمِي عَلَيْهِ

“Aku pernah bertanya pada Rasulallah saw.: ‘Ya Rasulallah kapankah anda mulai menjadi Nabi?’ Beliau menjawab: ‘Setelah Allah menciptakan tujuh petala langit, kemudian menciptakan ‘Arsy yang tiangnya termaktub Muham- mad Rasulallah khatamul anbiya (Muhammad pesuruh Allah terakhir para Nabi), Allah lalu menciptakan surga tempat kediaman Adam dan Hawa, kemudian menuliskan namaku pada pintu-pintunya, dedaunannya, kubah-kubahnya dan khemah-khemahnya. Ketika itu Adam masih dalam keadaan antara ruh dan jasad. Setelah Allah swt .menghidupkannya, ia memandang ke ‘Arsy dan melihat namaku. Allah kemudian memberitahu padanya bahwa dia (yang bernama Muhammad itu) anak keturunanmu yang termulia. Setelah keduanya (Adam dan Hawa) terkena bujukan setan mereka ber- taubat kepada Allah dengan minta syafa’at pada namaku’ ”.

Sedangkan hadits yang kedua berasal dari Umar Ibnul Khattab (diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Nu’aim Al-Hafidz dalam Dala’ilun Nubuwwah oleh Syaikh Abul Faraj, oleh Sulaiman bin Ahmad, oleh Ahmad bin Rasyid, oleh Ahmad bin Said Al-Fihri, oleh Abdullah bin Ismail Al-Madani, oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ayahnya) yang mengatakan bahwa Nabi saw. berrsabda:

لَمَّا أصَابَ آدَمَ الخَطِيْئَةُ, رَفَعَ رَأسَهُ فَقَالَ: يَا رَبِّ بَحَقِّ مُحَمَّدٍ إلاَّ غَفَرْتَ لِي, فَأوْحَى إلَيْهِ, وَمَا مُحَمَّدٌ ؟

وَمَنْ مُحَمَّدٌ ؟ فَقَالَ: : يَا رَبِّ إنَّكَ لَمَّا أتْمَمْتَ خَلْقِي وَرَفَعْتُ رَأسِي إلَى عَرْشِكَ فَإذَا عَلَيْهِ مَكْتُوْبٌ

لإلَهِ إلااللهُ مُحَمَّدٌ رَسُـولُ اللهِ فَعَلِمْتُ أنَّهُ أكْرَمُ خَلْقِـكَ عَلَيْكَ إذْ قَرََرَنْتَ إسْمُهُ مَعَ اسْمِكَ فَقَالَ, نَعَمْ, قَدْ غَفَرْتُ لَكَ ,

وَهُوَ آخِرُ الأنْبِيَاءِمِنْ ذُرِّيَّتِكَ, وَلَوْلاَهُ مَا خَلَقْتُكَ

“Setelah Adam berbuat kesalahan ia mengangkat kepalanya seraya berdo’a: ‘Ya Tuhanku, demi hak/kebenaran Muhammad niscaya Engkau berkenan mengampuni kesalahanku’. Allah mewahyukan padanya: ‘Apakah Muhamad itu dan siapakah dia?’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menyempurnakan penciptaanku, kuangkat kepalaku melihat ke ‘Arsy, tiba-tiba kulihat pada “Arsy-Mu termaktub Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak itu aku mengetahui bahwa ia adalah makhluk termulia dalam pandangan-Mu, karena Engkau menempatkan namanya disamping nama-Mu’. Allah menjawab: ‘Ya benar, engkau Aku ampuni,. ia adalah penutup para Nabi dari keturunanmu. Kalau bukan karena dia, engkau tidak Aku ciptakan’ ”.

Yang lebih heran lagi dua hadits terakhir ini walaupun diriwayatkan dan di benarkan oleh Ibnu Taimiyyah, tapi beliau ini belum yakin bahwa hadits-hadits tersebut benar-benar pernah diucapkan oleh Rasulallah saw.. Namun Ibnu Taimiyyah toh membenarkan makna hadits ini dan menggunakannya untuk menafsirkan sanggahan terhadap sementara golongan yang meng- anggap makna hadits tersebut bathil/salah atau bertentangan dengan prinsip tauhid dan anggapan-anggapan lain yang tidak pada tempatnya. Ibnu Taimiy yah dalam Al-Fatawi jilid XI /96 berkata sebagai berikut:

“Muhammad Rasulallah saw. adalah anak Adam yang terkemuka, manusia yang paling afdhal (utama) dan paling mulia. Karena itulah ada orang yang mengatakan, bahwa karena beliaulah Allah menciptakan alam semesta, dan ada pula yang mengatakan, kalau bukan karena Muhammad saw. Allah swt. tidak menciptakan ‘Arsy, tidak Kursiy (kekuasaan Allah), tidak menciptakan langit, bumi, matahari dan bulan. Akan tetapi semuanya itu bukan ucapan Rasulallah saw, bukan hadits shohih dan bukan hadits dho’if, tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya sebagai ucapan (hadits) Nabi saw. dan tidak dikenal berasal dari sahabat Nabi. Hadits tersebut merupakan pembicaraan yang tidak diketahui siapa yang mengucapkannya. Sekalipun demikian makna hadits tersebut tepat benar dipergunakan sebagai tafsir firman Allah swt.: “Dialah Allah yang telah menciptakan bagi kalian apa yang ada dilangit dan dibumi ” (S.Luqman : 20), surat Ibrahim 32-34 (baca suratnya dibawah ini–pen.) dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang menerangkan, bahwa Allah menciptakan seisi alam ini untuk kepentingan anak-anak Adam. Sebagai- mana diketahui didalam ayat-ayat tersebut terkandung berbagai hikmah yang amat besar, bahkan lebih besar daripada itu. Jika anak Adam yang paling utama dan mulia itu, Muhammad saw. yang diciptakan Allah swt. untuk suatu tujuan dan hikmah yang besar dan luas, maka kelengkapan dan kesempurnaan semua ciptaan Allah swt. berakhir dengan terciptanya Muhammad saw.“. Demikianlah Ibnu Taimiyyah.

Firman-Nya dalam  surat Ibrahim 32-34 yang dimaksud Ibnu Taimiyyah ialah:

اللهُ الَّذِى خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَ الاَرْضَ وَاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً َفاَََخْرَجَ بِهِ

مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًالَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِى البَحْرِ بِاَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ

الاَنْهَارَ َوَسَخَّرَ  لَكُمُ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَآتَاكُمْ مِنْ

كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْه وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا اِنَّ الاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rizki untuk kalian, dan Dia telah menundukkan bahtera bagi kalian supaya bahtera itu dapat berlayar di lautan atas kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagi kalian. Dan Dia jualah yang telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar dalam orbitnya masing-masing dan telah menundukkan bagi kalian siang dan malam. Dan Dia jugalah yang memberikan kepada kalian apa yang kalian perlukan/mohonkan. Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat mengetahui berapa banyaknya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”.(QS Ibrahim :32-34). DAPAT DISIMPULKAN JUGA BAHWA IBNU TAYMIYAH MENGAKUI KONSEP “NUR MUHAMMAD” BAHWA NUR NABI MUHAMMAD ADALAH MAKHLUQ YANG PERTAMA KALI DICIPTAKAN. Dan perhatikan kebiasaan buruk dan kedustaan ibnu taymiyah (mati 721 H)  yang mengatakan “tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya” padahal imam Thabrani (wafat 360 H) menulisnya dalam al -ausath, Abu Nu’aim (wafat 430 H)  dalam Dala’ilun Nubuwwah dsb.


B.  Kitab “al-Wafaa bi ahwaalil Musthofa s.a.w.” (Ibnu Qudamah al-Maqdisy 509 H)

Imam ‘Abdur Rahman bin ‘Ali yang terkenal dengan nama Imam Ibnul Jawzi ulama besar bermazhab Hanbali yang dilahirkan pada tahun 509/510H di Baghdad. Beliau adalah pengarang dan daie yang terkenal yang banyak menyedarkan umat serta ramai yang memeluk Islam di tangannya. Beliau adalah guru kepada Ibnu Qudamah al-Maqdisy yang masyhur itu.Tersebutlah dalam karya beliau yang berjodol “al-Wafaa bi ahwaalil Musthofa s.a.w.” akan kisah penciptaan Junjungan Nabi s.a.w. yakni penciptaan benih asal jasad baginda s.a.w. Kisahnya adalah sebagai berikut:-

عن كعب الأحبار قال: لما أراد الله تعالى أن يخلق محمداً صلى الله عليه وسلم أمر جبريل عليه السلام أن يأتيه فأتاه بالقبضة البيضاء التي هي موضع قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم، فعجنت بماء التَّسْنيم، ثم غمست في أنهار الجنة، وطيف بها في السموات والأرض، فعرفت الملائكة محمداً وفَضْله قبل أن تعرف آدم، ثم كان نور محمد صلى الله عليه وسلم يُرى في غُرَّة جبهة آدم. وقيل له: يا آدم هذا سيد ولدك من الأنبياء والمرسلين.

فلما حملت حواء بشيت انتقل عن آدم إلى حواء، وكانت تلد في كل بطن ولدين إلا شيتاً، فإنها ولدته وحده، كرامة لمحمد صلى الله عليه وسلم. ثم لم يزل ينتقل من طاهر إلى طاهر إلى أن ولد صلى الله عليه وسلم.

Daripada Ka’ab al-Ahbar: ” Tatkala Allah ta’ala berkehendak untuk menciptakan Nabi Muhammad s.a.w., Dia memerintahkan Jibril a.s. untuk membawakan segenggam tanah putih yang merupakan tanah tempat Junjungan Nabi s.a.w. dimakamkan nanti. Maka diulilah tanah tersebut dengan air Tasniim (air syurga) lalu dicelupkan ke dalam sungai-sungai syurga. Setelah itu, dibawakan dia berkeliling ke serata langit dan bumi. Para malaikat pun mengenali Junjungan Nabi s.a.w. dan keutamaan baginda sebelum mereka mengenali Nabi Adam a.s. Ketika nur Junjungan Nabi s.a.w. kelihatan di kening dahi Nabi Adam a.s., dikatakan kepadanya: “Wahai Adam, inilah sayyid (penghulu) keturunanmu daripada para anbiya’ dan mursalin.
Tatkala Siti Hawa mengandungkan Nabi Syits berpindahlah Nur Muhammad tersebut kepada Siti Hawa. Siti Hawa yang biasanya melahirkan anak kembar setiap kali hamil, tetapi pada hamilnya ini dia hanya melahirkan seorang anak sahaja iaitu Nabi Syits kerana kemuliaan Junjungan Nabi s.a.w. Maka sentiasalah berpindah-pindah Nur Muhammad daripada seorang yang suci kepada orang suci yang lain sehinggalah baginda dilahirkan.
C. Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’raawi dalam “Anta tas-al wal Islam yajib”

Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’raawi dalam “Anta tas-al wal Islam yajib” , cetakan Darul Muslim, Qahirah, tahun 1982 / 1402, juzuk 1, mukasurat 41 telah ditanya berhubung an-Nur al-Muhammadiy dan permulaan penciptaan. Soalannya lebih kurang:-
  • Telah warid dalam hadis: “Bahawa Jabir bin ‘Abdullah r.a. telah bertanya kepada Junjungan Rasulullah s.a.w.: “Apa yang awal-awal diciptakan Allah ?”, lalu Junjungan bersabda:”Nur nabimu, wahai Jabir.” Bagaimana disesuaikan/diselarikan hadis ini dengan bahawa seawal makhluk itu Adam dan dia daripada tanah ?

Antara jawapan Syaikh Mutawalli:-

  • Daripada kesempurnaan yang mutlak dan dari segi tabi`ienya, bahawa Allah memulakan penciptaan dengan menciptakan makhluk yang tinggi, kemudian diambil daripadanya akan yang rendah. Tidaklah masuk akal, bahawa diciptakan bahan baku materi / material / unsur tanah (al-maadah ath-thiniyyah) dahulu kemudian baru Dia mencipta daripadanya Muhammad, kerana sesungguhnya insan yang paling tinggi adalah para rasul, dan yang tertinggi daripada mereka adalah Muhammad bin ‘Abdullah.
  • Oleh itu, tidak sah (dikatakan) bahawa diciptakan unsur materi kemudian diciptakan daripadanya Muhammad. Tak dapat tiada bahawa jadilah an-Nur al-Muhammadiy itulah yang wujud dahulu, dan daripada an-Nur al-Muhammadiy timbulnya segala sesuatu, dan jadilah hadis Jabir itu benar……

Jelas daripada jawapan tersebut Syaikh Mutawalli asy-Sya’raawi termasuk ulama yang menerima kebenaran hadis Jabir r.a. Sebenarnya sandaran untuk konsep Nur Muhammad ini bukanlah hanya pada hadis Jabir ini sahaja, tetapi ada lagi hadis-hadis yang dijadikan sandaran. Silalah tuan-tuan rujuk segala kitab karangan ulama kita. Bahkan, jika ada pun yang menolak tsabitnya hadis Jabir, maka tidak bermakna mereka juga menolak konsep Nur Muhammad. Oleh itu selayaknya kita menghormati perbezaan pendapat dengan lapang dada tanpa saling tuduh – menuduh, kerana jari yang kau tuding itu mungkin mencucuk mata para ulama yang kita disuruh memuliakan mereka.

D. Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami al-Makki rhm. Dalam kitab “al-Fatawa al-Haditsiyyah” mukasurat 206

Ikhwah, aku nukilkan dari karangan-karangan al-Imam al-Faqih, Syaikhul Islam, pemuka ulama Syafi`i mutakhir, Mufti Makkah, sandaran umat, Shohibut Tohfah, Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami al-Makki rhm. Dalam kitab “al-Fatawa al-Haditsiyyah” mukasurat 206 dinyatakan:-
  • (Dan telah ditanyai) akan orang yang mudah-mudahan Allah memanfaatkan dengannya (yakni Syaikh Ibnu Hajar rhm.) mengenai hadis “Seawal-awal yang diciptakan Allah adalah ruhku dan alam keseluruhannya dicipta daripada nurku, setiap sesuatu kembali kepada asalnya”, siapakah perawinya ?
  • (Maka dijawab) dengan perkataannya:- “Aku tidak mengetahui sesiapa yang meriwayatkannya sedemikian. Dan bahawasanya yang diriwayatkan dia ‘Abdur Razzaq adalah bahawasanya Junjungan s.a.w. bersabda bahawa Allah telah mencipta nur Muhammad sebelum segala sesuatu daripada nurNya.”
Imam besar ini juga dalam syarahnya bagi kitab Syama-il menyatakan antara lain:-
  • ….Dan diriwayatkan ‘Abdur Razzaq dengan sanadnya bahawa Junjungan Nabi s.a.w. bersabda: ” Sesungguhnya Allah telah mencipta Nur Muhammad sebelum segala sesuatu daripada nurNya (yakni nur yang dimiliki Allah) lalu dijadikan nur tersebut berputar dengan qudrahNya mengikut kehendak Allah dan belumlah ada pada waktu tersebut loh dan tidak ada qalam”, al-hadis dengan panjangnya (yakni hadis ini ada lagi sambungannya yang panjang………….Maka diketahui bahawasanya seawal-awal sesuatu yang dijadikan secara ithlaq ialah an-Nur al-Muhammadiy, kemudian air, kemudian arsy, kemudian qalam……….

Juga dalam mukhtasar beliau bagi kitab mawlidnya ‘an-Ni’matul Kubra ‘alal ‘alam bi mawlidi Sayyidi Waladi Adam”, beliau menyatakan:-

  • Ketahuilah bahawa Allah ta`ala telah memuliakan nabiNya s.a.w. dengan terdahulu/terawal nubuwwah baginda pada azali lagi. Dan yang sedemikian itu adalah kerana apabila Allah ta`ala berkehendak untuk mewujudkan makhluk, diwujudkanNya (yakni diciptakanNya) al-Haqiqatul Muhammadiyyah dari semata-mata nur sebelum wujud apa-apa ciptaan dari segala makhluk, kemudian diambil daripadanya sekalian alam….

E. Nur Muhammad s.a.w. – 18

Ikhwah, meh kita tengok karangan Tuan Guru Haji Wan Mohd. Shaghir berhubung Nur Muhammad. Aku rekomenkan kat ikhwah agar cari buku “Penutup Perdebatan Islam Alaf Kedua di Dunia Melayu” dan telaahlah dengan teliti. Tuan Guru bukan sahaja cerita pasal Nur Muhammad tetapi juga tentang Martabat Tujuh yang telah ditafsirkan secara songsang oleh geng sebelah. Aku kata jika Nur Muhammad dan Martabat Tujuh seperti apa yang ditafsirkan oleh Dr. Fattah dan geng-gengnya, maka itu memang songsang dan sesat, cuma masalahnya adakah tafsiran dan pemahaman Tuan Dr. tersebut menjadi pegangan para ulama kita ? Atau mereka mempunyai tafsiran yang jauh berbeza dari tafsiran geng-geng tersebut ? Kome kaji le bebetul ye. Seingat akulah, Tuan Guru Haji Daud Bukit Abal pun ada risalah yang membahaskan pegangan atau tafsiran Nur Muhammad yang songsang yang difahami oleh segelintir golongan sesat. Tetapi ini tidak bererti Allahyarham Tuan Guru tersebut menolak konsep Nur Muhammad menurut tafsiran para ulama yang terkemuka. Contohnya mudah sahaja, jika kita tolak tafsiran atau pemahaman rigid puak Wahhabi terhadap Islam atau pemahaman puak Syiah mengenai Islam, bukan ertinya kita menolak Islam, kerana Islam itu bukan semata-mata apa yang ditafsirkan oleh geng anak Pak Wahhab tersebut atau geng Khomeini.

Berhubung Nur Muhammad, Tuan Guru Haji Wan Shaghir membahas dengan panjang lebar, kome carilah bukunya. Antara tulisannya pada halaman 45 – 46 :-
  • ….Beberapa orang ulama dunia Islam yang terkenal di antara mereka ada mencatat sanad yang di dalamnya terdapat nama Syeikh Ibnu Hajar al-’Asqalani. Sanad yang tersebut sampai kepada ‘Abdur Razzaq. Ada sanad ‘am mengenai beberapa bidang keilmuan, dan ada pula sanad khash tentang hadis, termasuk hadis Nur Muhammad. Di antara mereka yang mempunyai sanad kepada Syeikh Ibnu Hajar al-’Asqalani (wafat 852H/1448M) ialah: Syeikh Hasan al-Masyath, Saiyid ‘Ali al-Maliki, Syeikh Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah at-Tarmasi (1285H/1868M – 1385H/1965M), Syeikh Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid Bogor (1278H/1861M – 1374H/1954M), Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani (1272H/1856M – 1325H/1908M), Saiyid Bakri bin Muhammad Zainal ‘Abidin Syatha, Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan…..dan lain-lain.
  • Setelah melalui beberapa nama bertemu pada Syeikh ‘Abdullah asy-Syarqawi (1150H/1737M – 1227H/1821M), ia terima dari Syeikh Muhammad bin Salim al-Hifnawi/Hifni (Syaikhul Azhar 1173H/1715M – 1181H/1767M), ia terima dari ‘Abdul ‘Aziz az-Ziyadi, ia terima dari Syeikh Muhammad al-Babili, ia terima dari Syeikh Najamuddin Muhammad al-’Aithi, ia terima dari Qadhi Zakaria al-Anshari, ia terima dari Syeikh Ibnu Hajar al-’Asqalani (773H/1371M – 852H/1448M), ia terima dari Syeikh Abil Faraj ‘Abdur Rahman al-Ghazzi, ia terima dari Abin Nun Yunus bin Ibrahim ad-Dabbus, ia terima dari Abi Hasan ‘Ali, ia terima dari Muhammad bin Nashir as-Salami, ia terima dari ‘Abdul Wahhab bin Muhammad bin Mandah, ia terima dari Abil Fadhal Muhammad al-Kaukabi, ia terima dari Abil Qasim ath-Thabrani, ia terima dari Ya’qub Ishaq bin Ibrahim al-Mirwazi al-Hanzhali, ia terima dari ‘Abdur Razzaq bin Hammam bin Nafi dengan sanad sehingga sampai kepada Jabir bin ‘Abdullah.

Selain menjawab tuduhan puak-puak menentang kewujudan Nur Muhammad, Tuan Guru turut menyenaraikan beberapa nama ulama terkemuka yang membicarakan Nur Muhammad dalam karangan-karangan mereka, antaranya:-

  1. Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani, Sulthanul Awliya`;
  2. Syeikh ‘Abdullah ‘Arif;
  3. Imam as-Sayuthi;
  4. Imam al-Qasthalani;
  5. Imam al-Zarqani;
  6. Sayyidisy Syaikh Ja’far al-Barzanji;
  7. Syaikh Yusuf an-Nabhani;
  8. Syaikh Nawawi al-Bantani;
  9. Syaikh Nuruddin ar-Raniri;
  10. Syaikh ‘Abdur Rauf al-Fansuri / Singkel;
  11. Syaikh ‘Abdus Shomad al-Falimbani;
  12. Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari;
  13. Syaikh Daud al-Fathani;
  14. Tuan Guru Haji Ahmad bin Haji Yusuf bin ‘Abdul Halim Kelantan;
  15. ‘Allamah Abu ‘Abdullah asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad ‘Ilisy;
  16. ‘Allamah Syaikh Muhammad Bashri al-Manzalawi;
  17. Sayyid Utsman bin ‘Abdullah BinYahya;
  18. Syaikh Muhammad bin Ismail Daudi al-Fathani;
  19. Syaikh Zainal ‘Abidin al-Fathani, Tuan Minal;
  20. Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani;
  21. Syaikh Utsman bin Syihabuddin al-Funtiani;
  22. Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Ali Kudus;

Bagi menutup tulisannya, Tuan Guru menyebut:-

  • Perlulah diperhatikan bahawa dari keterangan di atas terdapat tiga buah hadis dari tiga orang sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Mereka ialah: Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib k.w.w.r.a. (wafat 40H/661M), ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a. (wafat 68H/687M) dan Jabir bin ‘Abdullah r.a. (wafat 78H/697M). Ada lagi beberapa hadis mengenai Nur Muhammad atau yang sama maksud dengannya, yang berasal dari sahabat yang lain, di antaranya, yang berasal dari: Salman al-Farsi r.a., Abu Zar al-Ghifari r.a., dll, termasuk juga Abu Hurairah r.a.
  • Oleh itu teori para pengkritik hadis Nur Muhammad atau hadis yang sama maksud dengannya, dengan tuduhan melulu dan berbagai-bagai adalah teori yang bersifat khayal.
  • Di antara mereka ada yang mengkhayal bahawa hadis Nur Muhammad adalah doktrin Syi`ah, golongan ini mungkin lebih banyak mempelajari Mazhab Syi`ah atau hidup dilingkungan mazhab itu ketimbang belajar secara mendalam Islam cara tradisional.
  • Yang lain mengkhayal pula, bahawa hadis Nur Muhammad adalah doktrin berasal ajaran Greek ajaran Platonisme, sama dengan yang di atas golongan ini mungkin lebih banyak mempelajari ajaran Greek-Platonisme atau hidup dilingkungan itu ketimbang belajar secara mendalam Islam cara tradisional.
  • Yang lain mengkhayal pula hadis Nur Muhammad adalah doktrin berasal dari ajaran trinitas dalam Kristian.
  • Yang lain pula mengkhayal berasal dari ajaran al-Hallaj, yang lain pula mengkhayal berasal dari Abi Yazid al-Bisthami, dll.
  • Di antara mereka ada menganggap bahawa hadis Nur Muhammad atau hadis yang sama maksud dengannya, adalah hadis maudhu`(hadis palsu). Penilaian mereka juga tidak sepakat atau tidak sependapat kerana selain yang berpendapat hadis maudhu`, dari golongan mereka pula ada yang berpendapat hadis dhaif, dan lain-lain. Sudah maklum bahawa pengertian atau takrif hadis maudhu` dengan hadis dhaif adalah tidak sama. Sesuatu penilaian yang bersifat teori maka bukanlah merupakan hujah atau hukum qath`ie, apatah lagi jika masih terdapat pertentangan atau kontroversi antara yang satu dengan yang lainnya.
  • Oleh itu sekian banyak kitab yang dikarang oleh sekian ramai ulama Ahlis Sunnah wal Jama`ah yang membicarakan hadis Nur Muhammad atau hadis yang sama maksud dengannya, perlu mendapat pembelaan.

Allahumma sholli wa sallim ‘ala Nuril Anwar.

F. Quthubul Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi rhm. dalam mawlidnya “Simthud Durar”

Quthubul Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi rhm. dalam mawlidnya “Simthud Durar” menulis antara lain:-
  • ……Telah sampai kepada kami dalam hadits-hadits yang masyhur, bahawa sesuatu yang mula pertama dicipta Allah ialah nur yang tersimpan dalam pribadi ini (yakni Junjungan Nabi s.a.w.). Maka nur insan tercinta inilah makhluk pertama muncul di alam semesta, daripadanya bercabang seluruh wujud ini, ciptaan demi ciptaan, yang baru datangnya ataupun yang sebelumnya (yang yang terlebih dahulu datangnya dari yang kemudian).
  • Sebagaimana diriwayatkan Abdur Razzaaq dengan sanadnya sampai kepada Jaabir bin ‘Abdullah al-Anshaari (semoga ridha Allah atas keduanya): “Bahawasanya ia pernah bertanya: “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah, Beritahukanlah kepadaku tentang suatu yang dicipta Allah sebelum segalanya yang lain (yakni sebelum segala makhluk yang lain). Jawab baginda: “Wahai Jabir, sesungguhnya Allah telah menciptakan nur nabimu Muhammad s.a.w. dari nurNya sebelum sesuatu yang lain.”

Ikhwah, jika dikatakan bahawa Allah menciptakan nur Muhammad ini daripada nurNya, maka yang dimaksudkan di sini adalah nur yang menjadi milik Allah, bukannya sebahagian daripada zat Allah yang Maha Suci dan Maha Esa daripada berjuzuk-juzuk dan berpisah-pisah. Inilah yang dikatakan idhafah tasyrifiyyah iaitu suatu sandaran untuk memuliakan sesuatu. Sama seperti kita sandarkan bait (rumah) kepada Allah seperti BaitUllah (rumah Allah) atau ka’baatUllah (ka’bah Allah) dan sebagainya. Sebahagian golongan tersesat kerana beranggapan bahawa nur Muhammad ini asalnya adalah sebahagian dari zat Allah kerana beranggapan bahawa nur itu adalah sebahagian daripada zat Allah. Ini menjadikan pegangan mereka seumpama pegangan nasrani terhadap ketuhanan Nabi Isa a.s. Jelas ini bukanlah pegangan kita Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Kita berpegang bahawa Nur Muhammad ini adalah makhluk yang diciptakan Allah dan tidak lebih daripada itu walau betapa hebat dan agungnya ciptaan ini.

Apa yang jelas, para ulama daripada kalangan habaib Bani ‘Alawi pada umumnya menerima dan berpegang dengan hadits tersebut sebagaimana termaktub dalam karya Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi yang termasyhur “Simthud Durar” yang menyatakan sebagai berikut:-

G. ”Sabilul Iddikar wal I’tibaar” karangan Imam al-Haddad

Posting kali ini aku hendak memperkenalkan ikhwah kepada karangan Imam al-Haddad yang masyhur dengan jodol “Sabilul Iddikar wal I’tibaar“. Satu karangan yang cukup bernilai. Karangan yang membicarakan dan memperjelaskan mengenai fasa-fasa kehidupan yang telah dan akan dilalui oleh seseorang insan bermula di alam arwah sejak dari penciptaan Nabi Adam a.s. sehinggalah ke kehidupan yang kekal abadi di Syurga atau di neraka (moga-moga Allah jadikan kita sekalian dan ibubapa kita dari kalangan ahli syurga dan bukannya ahli neraka, aaaamiiin). Kitab ini telah diterjemahkan dalam Bahasa Melayu oleh almarhum Habib Ahmad BinSemait rhm. dengan jodol “Peringatan Tentang Umur Insan” dalam edisi Rumi dan Jawi. Juga diterjemahkan dalam Bahasa Inggeris oleh Dr. Mostafa al-Badawi (murid Habib Ahmad Masyhur al-Haddad rhm.) dengan jodol “The Lives of Man“.
Di sini aku nak nukilkan sedikit tulisan Imam ini berhubung Nur Muhammad s.a.w., di mana dinyatakan pada halaman 16:-

Dan telah diriwayat bahawasanya Nabi Adam a.s. pernah mendengar Nur Junjungan Rasulullah s.a.w. bertasbih di tulang belakangnya (di sulbinya yakni pada ketika itu Nur Muhammad atau roh Junjungan Nabi s.a.w. berada dalam sulbi Nabi Adam a.s.) seperti bunyi kibasan burung. Maka tatkala Siti Hawa mengandungkan puteranya Nabi Syits alaihimas salam, nur itu berpindah kepada Siti Hawa, kemudian kepada Nabi Syits a.s. pula. Kemudian berterusan nur tersebut berpindah-pindah kepada sulbi-sulbi yang suci dan rahim-rahim yang cemerlang, sehingga lahir Junjungan Rasulullah s.a.w. daripada (pernikahan) kedua ibubapa baginda yang mulia. Tidaklah pernah terkena Junjungan Rasulullah s.a.w. akan sesuatu kekotoran jahiliyyah dan kekejiannya, walaupun ketika itu berlaku pada kalangan mereka (yakni kalangan umat-umat terdahulu) pernikahan-pernikahan yang dianggap batil, maka Allah telah mensucikan baginda daripadanya, sebagaimana disabdakan baginda ‘alaihis sholatu was salam: “Aku dilahirkan daripada nikah dan bukan daripada perzinaan.”

Sayyidina Ibnu ‘Abbas r.’anhuma dalam mentafsirkan firman Allah ta`ala:

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

menyatakan bahawa maksud ayat tersebut ialah berpindah-pindahnya (nur/ruh) Junjungan Nabi ‘alaihis sholatu was salam daripada sulbi seorang nabi kepada nabi yang lain seperti Nabi Ismail, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Nabi Syits dan Nabi Adam ‘alaihimus salam. Dalam hal ini (yakni dalam hal berpindah-pindahnya nur/roh Junjungan Nabi s.a.w. daripada sulbi seorang nabi kepada sulbi nabi yang lain) tidaklah ada khilaf padanya.
َ

H. Nur Muhammad 20 – Syaikh Wan `Ali Kutan

Syaikh Wan ‘Ali bin Wan `Abdul Rahman bin Wan `Abdul Ghafur al-Kelantani atau lebih dikenali dengan gelaran Syaikh Wan `Ali Kutan, adalah ulama terkenal kelahiran Kelantan dan mengajar di Masjidil Haram Makkah. Beliau adalah gurunya para ulama kita terdahulu seperti Syaikh Muhammad Yusuf bin Ahmad (Tok Kenali), Syaikh Ahmad bin Muhammad Said al-Linggi ( mufti pertama Negeri Sembilan, Syaikh `Abdullah Fahim (mufti pertama Pulau Pinang), Syaikh Ismail bin Haji Senik (Tok Kemuning), Syaikh `Uthman bin Haji Muhammad (Tok Bachok), Dato` Laksamana Haji Muhammad bin Haji Muhammad Said Khatib, Dato` Perdana Menteri Paduka Raja Haji Nik Mahmud bin Ismail. Tuan Guru Haji Wan Muhammad Shoghir telah menulis biografi beliau dan ikhwah bolehlah mencari tulisan beliau tersebut atau baca di laman saudara MuhibMahbub.
Antara karya Syaikh Wan `Ali Kutan yang masyhur dan tersebar luas adalah kitab “al-Jawharul Mawhub wa Munabbihaatul Quluub“. Pada mukaddimah kitab tersebut beliau memuji-muji Allah antara lain kerana Dia telah mencipta daripada nurNya (yakni nur yang menjadi miliknya) akan nur kekasihNya Junjungan Nabi Muhammad SAW 2,000 tahun sebelum diciptakanNya Nabi Adam AS, lalu diciptakan daripada nur kekasihNya tersebut segala sesuatu daripada arsy sehinggalah ke bumi. Penciptaan segala sesuatu daripada Nur Muhammad itu boleh difahami dengan erti bahawa penciptaan segala yang ada ini adalah dikeranakan oleh penciptaan nur Junjungan SAW yang merupakan seawal-awal makhluk yang dijadikan Allah. Silalah ikhwah semak segala entri yang sudah-sudah berhubung nur Muhammad SAW, antaranya kepada pernyataan Tok Syaikh Isma`il bin ‘Abdul Qadir al-Fathani (Pak Da `Eil al-Fathani) yang menyebut dalam nota no.4 di tepi kitab karangannya yang berjodol “Tabshiratul Adaani bi alhaan Bakurah al-Aamaani” mukasurat 9, antara lain:-

  • …. Adapun barang yang termasyhur bahawasanya dijadikan beberapa banyak alam ini daripada Nur Nabi kita s.a.w., maka yang zahir bagi hamba bahawasanya bukanlah dijadikan suku-suku nur itu akan alam, hanya dimulakan dia daripadanya dan dijadikan dia dengan sebabnya.

Oleh itu sebelum memberikan tafsiran-tafsiran yang entah apa-apa atau menolak mentah-mentah segala yang berkaitan dengan Nur Muhammad, eloklah lihat dan kaji tafsiran dan pandangan para ulama kita yang terdahulu. Dan jika pun tidak bersetuju, maka janganlah bersikap fanatik yang hanya mau benar sendiri dalam isu yang boleh dianggap sebagai khilaf yang diiktibar pada kalangan ulama, kerana di samping terdapat ulama yang menolaknya, wujud ramai lagi ulama yang menerimanya. Jadi bertasamuhlah, jangan bermudah-mudah menuduh syirik, karut dan khurafat.

Tanggung Jawab Ummat : Dakwah dan Tabligh Keseluruh Alam

Risalah ini terdiri :

– Dakwah adalah yang paling ditakuti oleh orang kafir

Tanggung Jawab/medan Dakwah Ummat Muhammad

Dakwah adalah maksud diciptakannya (tugas) ummat Muhammad SAW

Dua Amalan Orang Mukmin yang Allah SWT juga mengamalkannya

Dakwah (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran)  adalah tugas semua muslim bukan tugas ulama saja (Tugas ulama adalah mengajar dan  menunjukan jalan yang lurus (fatwa-fatwa) dsb.)

Kesalahan memahami ayat Al-qur’an (QS almaidah 105)

Jika dakwah ditinggalkan (Tidak bisa memahami al-qur’an dan hadits, doa tidak makbul dsb.)

*****

Tanggung Jawab Ummat : Dakwah dan Tabligh Keseluruh Alam

Bismillah

Ba’da tahmid dan shalawat.

Dakwah dan Tabligh adalah kerja Para Rasul dan Ummat Muhammad SAW. Al-qur’an  dan hadits turun dalam suasana dakwah Nabi Muhammad SAW dan Shahabat, sehingga dikatakan Al-qur’an dan Hadits adalah kalam dakwah. Alqur’an menceritakan kisah 25 nabi yang buat dakwah, kisah orang shalih yang buat dakwah (ali imran, maryam, Habib  annajar – surat yasin dsb), jin yang buat dakwah, binatang yang ikut dakwah (ashabul kahfi, burung hud-hud, semut –surat anmal dsb), kisah kaum yang menentang dakwah, bantahan terhadap pernyataan orang kafir dsb. Berikut ini adalah beberapa ayat dan hadits tentang pentingnya dakwahdan tabligh :

A. Dakwah adalah yang paling ditakuti oleh orang kafir

[42:13] Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat (takut)  bagi orang-orang musyrik terhadap apa (agama) yang kamu dakwahkan (kamu seru) kepada mereka. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (ASY SYUURA (MUSYAWARAT) ayat 13)

Orang musyrik paling takut dengan dakwah karena jika kewajiban dakwah (sesuai sunnah) sudah disampaikan kepada mereka maka :

Jika ia menerima dakwah islam maka ia akan Berjaya dunia dan akhirat

Jika ia menolak dakwah islam, maka pasti ia akan di adzab dengan adzab yang pedih didunia dan akhirat. Inilah yang mereka (Yahudi, nasrani, majusi dsb)  takuti!

B. Tanggung Jawab/medan Dakwah Ummat Muhammad

  1. Dakwah pada diri sendiri dan keluarga

[66:6] Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS Attahrim ayat 6)

2. Dakwah kepada Jiran/tetangga, sahabat dan orang-orang dekat/kerabat

[26:214] Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (QS Asysu’ara 214)

3. Dakwah kepada Umat didaerah sendiri dan daerah lain

[6:92] Dan ini (Al Quraan) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya  dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quraan) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. (QS Al an’am 92).

4. Dakwah kepada Ummat diseluruh dunia

[3:110] Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.  (QS Ali imran 110).

C. Dakwah adalah maksud diciptakannya (tugas) ummat Muhammad SAW

  1. Maksud diciptakannya manusia adalah untuk ibadah

[51:56] Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Qs adzariyat 56).

[24:41] Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS An Nur 41)

2. Maksud diciptakannya manusia adalah sebagai khalifatullah (wakil-wakil Allah dimuka bumi)

[2:30] Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  (Qs albaqarah ayat 30)

3. Maksud diciptakannya Ummat Muhammad adalah untuk dakwah

[12:108] Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS Yusuf 108)

[3:110] Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.  (QS Ali imran 110).

Hasan Basri Rah. mengatakan : “Barang siapa yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran maka dialah khalifatullah di bumi, dan dialah khalifaturrasul dan dialah khalifatul kitab (al-qur’an)” . (Kitab Hilyatul-Auliya’, Bahkan perkataan ini terdapat pada kitab  amr bil  ma’ruf nahi ‘anil munkar – Ibnu taymiyah).

D. Dua Amalan Orang Mukmin yang Allah SWT juga mengamalkannya

  1. Allah SWT Berdakwah

[10:25] Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam) (QS Yunus 25].

2. Allah SWT bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW

[33:56] Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Surat Al-ahzab 56)

E. Dakwah (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran)  adalah tugas semua muslim bukan tugas ulama saja (Tugas ulama adalah mengajar dan  menunjukan jalan yang lurus (fatwa-fatwa) dsb.)

1. Ayat al-qur’an

[16:125] Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-nahl 125).

[51:55] Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (Adz-adzaariyat 55)

[74:1-3] Hai orang yang berkemul (berselimut) (2) ,bangunlah, lalu berilah peringatan! (3) dan Tuhanmu agungkanlah!

2. Hadits Nabi

– Dari Anas ra. beliau meriwayatkan bahwa kami berkata : “Wahai Rasulullah, adakah betul kami tidak berhak (patut) mengajak kepada kebaikan sehingga kami mengamalkan semua kebaikan dan kami tidak berhak (patut) mencegah kemungkaran sebelum kami meninggalkan semua kemungkaran?

Maka Baginda SAW menjawab : “Tidak bahkan serulah kepada kebaikan walaupun kalian belum mengamalkan semua kebaikan dan cegahlah kemungkaran walaupun  kalian belum meninggalkan semuanya  dengannya (HR Imam athabrani dalam al ausath dan jami’ushaghir)

– Dari abi sa’id al khudry Ra. berkata saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa melihat kemungkaran dihadapannya maka rubahlah dengan tangannya. Sekiranya tidak mampu maka rubahlah dengan lidahnya. dan sekiranya tidak mampu maka rubahlah dengan hatinya dan yang sedemikian itu selemah-lemahnya iman (HR Imam Muslim).

F. Kesalahan memahami ayat Al-qur’an (QS almaidah 105)

Dari Abu bakar ashidiq Ra. berkata : “wahai manusia! Kalian membaca ayat ini :

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Al maidah 105)

Sungguh aku mendengar rasulullah Saw. bersabda : “Sesungguhnya manusia apabila melihat orang berbuat dhalim. tetapi ia tidak menghentikan kedhaliman itu dengan tangannya, maka hampir saja Allah SWT. menimpakan adzabnya secara menyeluruh (HR Tirmidzi katanya hadits ini shahih. Bab Turunya adzab ketika kemungkaran tidak dicegah, Hadits nomor 2168).

Keterangan :

Makna dhahir  ayat alqur’an dalam hadits diatas adalah :

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Al maidah 105)

Kalau memang pengertiannya seperti itu , mengapa mereka diperintahkan melakukan tugas amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karena itu apabila seseorang melakukan tugasnya (amar ma’ruf nahi munkar), tetapi orang yang diajaknya tidak mau mengikuti, maka ia tidak akan dipersalahkan, karena ia telah melaksanakan tugasnya. Karena sesungguhnya kewajibannya hanyalah menyuruh (kepada kebaikan) dan melarang (dari kemungkaran), bukan memaksa orang untuk menerimanya . Wallahu a’lam (An-nawawi -Syarah muslimII/22, Syaikh Yusuf alkhandahlawi-muntakhob ahadits, hadits no. 19 bab dakwah dan tabligh)

G. Jika dakwah ditinggalkan

1. Diharamkan keberkahan wahyu (Tidak bisa memahami al-qur’an dan hadits)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra. beliau berkata bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda :

“Apabila ummatku mengagungkan dunia maka akan dicabut darinya kehebatan islam, apabila mereka meninggalkan amr bil ma’ruf (mengajak kepada kebaikan) dan nahi ‘anil munkar (mencegah kemungkaran maka diharamkan atasnya keberkahan wahyu dan apabila mereka saling caci mencaci maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah swt. (HR Hakim dan Tirmidzi – Dari kitab Durrul mantsur).

(bersambung….)

2. Diadzab sebagaimana diadzabnya Bani israil

Dari Urs bin ‘amirah ra. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab masyarakat banyak disebabkan kejahatan segelintir orang, sehingga segelintir orang itu melakukan suatu kejahatan yang sebenarnya mampu dicegah oleh masyarakat banyak, tetapi mereka tidak berusaha mencegahnya. Ketika terjadi demikian, maka Allah akan membinasakan semuanya, masyarakat banyak dan segelintir orang tersebut” (HR Imam thabrani dan sanad-sanagnya tisqat/terpercaya – majmauz zawaa’id VII/528).

– tafsir (surat almaidah [5] :78).

[5:78] Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

3. Doa tidak dikabulkan

Dari Hudzaifah bin al yaman ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : ” Demi dzat yang nyawaku dalam kekuasaannya! kalian harus menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran ! atau (jika tidak), Allah akan mengirimkan pada kalian adzab dari-Nya, kemudian kalian berdoa (meminta tolong kepada-Nya), tetapi Dia tidak menerima doa kalian (HR Tirmidzi, katanya hadits ini hasan. Bab tentang amr ma’ruf nahi munkar, hadits nomor 2169).

4. Dibangkitkan pemimpin yang dhalim

Hadzat abu darda ra. salah seorang shahabat yang masyhur berkata : “Tetaplah kamu menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kalau tidak Allah Swt akan membangkitkan pemimpin (raja) yang dhalim yang memerintah kamu. Dia (aja dhalim) tidak akan  menghormati orang tua kamu dan tidak akan menaruh belas kasihan kepada yang muda-muda dikalangan kamu. Pada masa itu, doa orang-orang shalih tidak akan diterima, Kamu inginkan bantuan tapi bantuan tidak akan diberikan, kamu mohon keampunan tetapi Allah swt  tetapi kamu tidak akan diampuni”.

[47:7] Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Qs. Muhammad ayat 7).

5. Pintu hidayah tertutup, banyak orang islam murtad

6. Orang islam banyak yang mati tanpa mengucapkan kalimah tayyibah

7. Orang-orang munafiq banyak memberontak (pada pemimpin/khalifah)

8. Orang kafir berani menyerang/membunuh orang islam

9. Muncul Nabi-nabi palsu/aliran-aliran sesat.

10. Kemaksiatan merajalela

11. Keberkahan rezeki dicabut (Harga barang-barang naik, susahnya mendapatkan makanan  dsb)…

12. Amalan sunnah dianggap asing (aneh)

13. dsb.


Sebarkanlah artikel ini, Semoga menjadi asbab hidayah bagi kita dan ummat

https://salafytobat.wordpress.com