Zionist Conspiracy = Anti christ (To destroy christian) and Wahhaby (To destroy Moslem)

Zionist Conspiracy = Anti christ (To destroy christian) and Wahhaby (To destroy Moslem)

antichrist prince william

“Zionist yahudi ingin menguasai dunia penghalangnya adalah Islam dan Kristen”

bagai mana yahudi untuk mengalahkan islam dan kristen?

1. Yahudi mengadu islam  vs kristen dengan membuat aliran-aliran radikal (spt majelis  mujahidin indonesia (wahaby), noordin M top cs (wahaby), taliban (wahaby, taliban/alqaida adalah pendatang yang memecah balah umat islam di afgan dan yang merusak perjuangan suci rakyat afgan melawan penjajah, ia menegakan hukum wahaby bukan hukum islam), dsb.

2. Mengadu sesama umat islam (membuat aliran-aliran sesat seperti wahhaby, islam liberal dsb.)

3. Mengadau sesama kristen (seperti membuat aliran-aliran radikal  dalam kristen)

A. Wahhaby symbol (Saudi arabia kingdom or wahhaby kingdom  symbol)

from : http://www.alriyadh.gov.sa/election/en-sh.asp

An emblem was designed for the elections campaign. It evokes the national symbol of Saudi Arabia and highlights the electoral process as a continuous build up and preservation of the country’s achievements in the field of development.

The campaign also selected a quotation from the address of the Custodian of the Two Holy Mosques King Fahd bin Abdul Aziz (Chief of wahhaby) in which he called on the citizens to practice the election process as it is a participation in the decision making.


‘Sir’ Fahd – Dapat Penghargaan Inggeris dan BERKALUNG SALIB

Mungkin ramai yang tidak mengetahui yang Kerajaan Arab Saudi berhutang budi dan “body” serta nyawa dengan Empayar British. Ini adalah kerana “berkat” kerjasama dan bantuan Britishlah, maka tertubuhnya Kerajaan Arab Saudi mengikut sunnah Great Britain bersendikan ajaran Wahhabiyyah. Pemimpin-pemimpin Saudi merupakan “loyal servants” bagi Empayar British, dahulu dan sehingga kini, dan kini ditambah pula jadi khadam Amerika dan sekutunya, Bahkan Raja Abdul Aziz menerima gaji bulanan berjumlah 5,000 paun sterling daripada British mulai tahun 1917. Selain daripada itu, Kerajaan British telah menganugerahkan “knighthood” kepada Raja Abdul Aziz, bahkan Raja Fahd pun dapat anugerah tersebut.

Walau apa pun Raja Fahd dah pergi menemui Penciptanya, tetapi kebenaran harus dan perlu diketahui ramai. Hansome tak Fahd dengan berkalungkan pingat salibiyyah di lehernya ? Apa pulak fatwa ulama Wahhabi , kalau orang pakai azimat tentu mereka terus tuduh kafir dan syirik. Kalau pakai salib, nak kata apa ? Kalau tuan-tuan dan puan-puan nak tengok lagi gambar warna kesegakan Raja Fahd dengan pingat kebesarannya boleh carilah buku “Custodian of the Two Holy Mosques King Fahd bin Abdul Aziz”, Guernsey, Channel Islands, 2001, p. 214, karya Dr. Fouad al-Farsy.

Berikut petikan dari buku Dr. Hamid Algar “Wahhabism: A Critical Essay”, mukasurat 38 – 39:-
  • The first contact was made in 1865, and British subsidies started to flow into the coffers of the Saudi family, in ever growing quantity as World War One grew closer. The relationship fully matured during that war. In 1915, the British signed with the Saudi Ruler of the day, ‘Abd al-’Aziz b. Sa`ud (Ibn Sa`ud), one of those contracts with their underlings that were euphemistically known as “treaties of friendship and cooperation”. Money was, of course, the principal lubricant of friendship and cooperation, and by 1917 the Saudi ruler was receiving five thousand (5,000) pounds a month, not a bad sum for a junior hireling of the British Empire. However, the British also graciously saw fit to confer a knighthood on the champion of Wahhabism. (In later years these formalities continued to be observed; in 1935, ‘Abd al-’Aziz b. Sa`ud was made a Knight of the Order of the Bath. Likewise, when visiting Queen Elizabeth in 1986, King Fahd, “Custodian of the Two Holy Mosques,” was photographed with the cruciform insignia of a British knightly order hanging round his neck.)

Allahummashuril Islam wal Muslimin bijaahi Sayyidil Mursalin.

Khutbah Jumaat al-Sheikh Prof. Dr. Muhammad Saed Ramadhan al-Bouthi



* Al-Sheikh Prof. Dr. Muhammad Saed Ramadhan al-Bouthi adalah tokoh ulama’ yang tak perlu diperkenalkan lagi dalam dunia Islam hari ini. Kuliah masjidnya di Syria dan merata dunia sentiasa penuh dan melimpah. Beliau pernah datang ke Malaysia beberapa kali dalam beberapa seminar dan acara.

* Ayah beliau, al-Sheikh Mulla Ramadhan, seorang alim yang sangat terkenal di Syria pada zamannya. Anaknya Dr. Taufiq Ramadhan al-Bouthi juga sering ke seluruh dunia untu berdakwah termasuk Malaysia.

* Berkenaan dengan gerakan Wahhabi, beliau mendedahkan bahawa Wahhabi adalah satu gerakan yang dirancang (sebahagiannya) pengasasannya oleh kerajaan British yang pada satu ketika dulu menakluki negara-negara Islam. Lihatlah kandungan khutbahnya pada Hari Jumaat 5 Rejab 1423H bersamaan 5 Sept 2003.

Terjemahan (Bergaris Merah):

“Seluruh dunia mengetahui tentang peranan kerajaan Britain yang memainkan peranan utama dalam memecahbelahkan umat Islam…

Dan aku terpaksa membentangkan kedudukan ini kepada kamu dengan disertakan beberapa nama dan dokumen.

Barangsiapa yang pernah membaca buku “Tujuh Tunggak Pemerintahan” oleh Lawrence, dan membaca dokumen-dokumen yang lain, akan tahu dengan sejelas-jelasnya apa yang aku katakan bahawa Britain telah memainkan peranan utamanya dalam memecah belahkan umat Islam sebelum pihak-pihak yang lain dan mereka telah mewujudkan tiga pasak untuk itu.”

“Pasak pertama: Fahaman al-Qadiyaniyyah, ia adalah pasak yang diwujudkan oleh Britain di India dan kawasan-kawasan sekitarnya.

Pasak kedua: Fahaman al-Babiyyah dan/atau al-Baha’iyyah ia adalah pasak yang diwujudkan oleh Britain di Mesir dan di beberapa penjuru di Asia Tenggara.

Pasak ketiga: Fahaman al-Wahhabiyyah, ia adalah pasak yang diwujudkan oleh Britain di kepulauan Arab, rujuklah kepada sumber yang telah aku nyatakan tadi, untuk kamu mendapatkan pengakuan yang nyata dan berani mengenai perkara ini.”

Muhasabah Diri

Sesiapa yang mengenali Sheikh al-Bouti pasti tidak teragak-teragak dengan kebenaran kenyataan ini.

Adakah rancangan British untuk memecahbelahkan umat Islam dengan ketiga-tiga fahaman ini berjaya? Masing-masing boleh fikir dan jawab

Berdoalah agar kita tidak termasuk ke kancah tipu daya British. Amin.

http://al-ashairah.blogspot.com/2008_05_01_archive.html

Yang Saya Maksud Wahabi Aliran Keras
Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir.

Wahabi aliran keras. Itu yang dimaksudkan Hendropriyono ketika menyebut habitat Noordin M Top sehingga sulit untuk ditangkap. Kepada Sabili di Jogjakarta, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu menjelaskan siapa yang dimaksud dengan Wahabi di balik serangan bom di Indonesia .

Dalam sebuah wawancara di stasiun televisi swasta, Jenderal TNI (Purn) Dr. Ir. Drs. Abdullah Mahmud Hendropriyono SH, SE, MBA, MH menyebut Wahabi, terkait dengan rentetan pemboman yang terjadi di negeri ini. Ketika Sabili mengkonfirmasi wahabi yang dimaksud, Hendro menjelaskan panjang lebar.

“Ketika itu saya ditanya oleh Metro TV tentang teroris, kenapa masih terus terjadi? Saya bilang, selama lingkungan masih ada yang menerima Noordin M Top, maka terorisme akan terus berlangsung. Agama kita, memberi pengertian yang dalam, bahwa tujuan yang baik tidak harus menghalalkan segala cara. Yang rugi, jelas umat Islam dan negara kita sendiri. Karena itu, harus dihentikan. Tujuan baik kalau caranya salah tetap salah.”

Lantas siapa yang dimaksud dengan lingkungan atau habitat Noordin M Top? Dikatakan Hendro, doktrin klasik kita, cuma mengenal dua, yaitu: al mukminin dan al kafirin. Antara al mukminin dan al kafirin itu ada yang dipertajam, dan ada yang memperhalus. “Yang mengkafir-kafirkan sesama Muslim inilah yang saya maksud sebagai habitat. Abu Ghifari, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) adalah salah satu yang tidak setuju doktrin mengkafir-kafirkan, makanya dia keluar dari JI, tapi bukan berarti dia tidak Islam. Kalau anggota JI punya pendirian seperti dia, Indonesia pasti aman.”

Hendro memberi contoh, Yayasan Muaddib di Cilacap, justru menciptakan masyarakat sendiri. Inilah masyarakat yang menjadi habitat Noordin M Top. Sekarang polisi terus memburu ketua yayasan pesantren itu.


Nasir Abbas


Baca Buku Membongkar “Jamaah Islamiyah”

Menurut Hendro, Noordin M Top punya akses langsung ke Al Qaidah. Karenanya, dunia kecolongan. Usamah bin Ladin dan Aiman Az Zawahir, sudah masuk ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Begitu JI dikendalikan oleh Abu Rusydan dan Nasir Abbas, organisasi itu mulai moderat.

“Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir. Kelompok keras ini beranggapan, dalam Islam tidak ada demokrasi. Menurut saya, setiap negara seyogianya punya filsafat dan ideologinya sendiri. Setelah itu, kita bisa hidup berdampingan secara damai. Tapi kalau mengusung ideologi internasionalisme, tidak bakal ketemu.”

Dikatakan Hendro, bahasa yang digunakan dalam terorisme ternyata terbelah atas dua tata permainan bahasa; mengancam dan berdoa. “Para pelaku terorisme juga mengalami kegagalan kategori, yaitu ketidakmampuan untuk membedakan pengetahuannya sehingga mengakibatkan subjek dan objek terorisme menjadi tak terbatas,” ungkap Hendro yang baru menyandang predikat doktor ilmu filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) dan berhasil meraih cumlaude Sabtu lalu (25/7).

Subjek terorisme mempunyai kondisi kejiwaan yang memungkinkan berkembangnya fisik, emosi dan intelektual secara optimal, karena mereka adalah orang normal, buka orang gila. Semua tindak terorisme, termasuk di Indonesia saat ini, adalah implementasi cara berpikir para pelakunya. Terorisme sendiri terjadi akibat ideologi, bukan kepentingan. “Apa yang bisa menghentikan terorisme adalah dengan menghentikan cara berpikir seorang yang berkepribadian terbelah. Kalau itu berhenti, teroris berhenti.”

Terorisme, kata Hendro, terjadi akibat benturan dua filsafat universal dunia, yakni demokrasi yang tidak dilaksanakan secara etis dan fundamentalisme. Selama keduanya belum berubah ke arah yang lebih baik dan menyatu, terorisme akan terus ada.

Diakui Hendro, di antara ideologi itu, ada yang menginginkan liberalisme dan kapitalistik. Sedangkan Islam menginginkan kekhilafahan. Kalau kita ingin perdamaian dunia, maka harus merupakan sintesis dari dua tesis. Sekuler-liberal dengan Islam yang akomodatif-moderat. “Kalau tidak gitu, gak ketemu. Teror dibalas teror gak selesai. Dunia akan terus kecolongan, sebelum kita selesaikan.”

Jadi yang ngebom-ngebom itu Wahabi, begitu? “Wahabi aliran keras lah yang mengakomodir Noordin M Top masih tetap hidup. Apa susahnya mencari Noordin M Top, dia orang Malaysia, logatnya saja kentara bahwa dia bukan orang Indonesia . Makanya lingkungan atau habitatnya harus dibersihkan. Yaitu aliran keras Wahabi yang kawin dengan aliran keras Ikhwanul Muslimin.”

Bukankah Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin berbeda? “Ya, akhirnya mengerucut di Al Qaidah. Jadi Usamah itu adalah gabungan salafi, wahabi, ikhwan,” terang Hendropriyono.

Seringkali Wahabi dijadikan stigma terhadap kelompok Islam tertentu. Yang ujung-ujungnya adalah Islamphobi. Menanggapi itu, Hendro mengatakan, “Itu orang nggak ngerti. Apa gunanya kita punya kementrian agama, harusnya diberi penjelasan, apa itu wahabi, salafi, Ikhwanul Muslimin dan Al Qaidah, biar jelas. Kalau yang menjelaskan intelijen, saya disalahin melulu. Capek saya,” ujar lelaki kelahiran Yogyakarta , 7 Mei 1945.

Yang jelas, tudingan Wahabi pernah dilekatkan pada PKS dan ormas Islam lainnya. Mereka tidak terima. “Memang, orang pasti akan bertanya, Wahabi yang mana? Salafi yang mana? Itu sama saja menyebut Jawa yang mana? Sekali lagi, yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras yang tidak mau berpartai. Kalau ada yang mengikuti demokrasi, mereka akan mengkafirkan. Ini Wahabi yang saya maksud. Orang yang menyebut kafir karena menolak demokrasi, ini harus dibersihin. Terorisme akan hidup terus selama masih ada orang yang suka mengkafirkan!”

Apakah penyebutan Wahabi ini akan menjadi pukat harimau bagi gerakan Islam? Hendro yang mengaku dari kecil sekolah di Muhammadiyah pun juga Wahabi. Tapi, Hendro mengatakan, Muhammadiyah bukan Wahabi yang merusak. “Mereka takut. Kan saya tidak mau pukul rata, saya bukan orang tolol, ini Wahabi yang mana dulu. Yang maksudkan alah wahabi aliran keras. Memang yang lembut bisa menjadi keras. Itulah harus kita bersihin. Sebut saja Muhammadiyah, ada tarik menarik, untuk menjadi Wahabi, ada pula yang ingin menjadi Liberal. Posisi Muhammadiyah pun jadi rebutan ideologi.”

Perkembangan geopolitik global menjadi penyebab lahirnya terorisme global. Tapi tidak harus teror jawabannya, harusnya uswatun hasanah. Teror itu bukan perang. Hendro tidak setuju, dengan memunculkan Wahabi ini akan melemahkan spirit Islam sendiri. “Oh, nggak, bukan begitu. Kita tidak usah bergantung Wahabi. Kita berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits. Kenapa kita harus ikut-ikutan yang bukan Nabi. Tujuan baik kalau jalannya salah, keliru.”

Persoalannya bukan hanya di dalam internal umat Islam sendiri, melainkan juga keterlibatan unsur asing. Hendro mengatakan, bukan tidak mungkin, ada keterlibatan CIA. Yang jelas, yang bisa menyelesaikan adalah kita sendiri, bukan orang lain. Sebab, jika dari luar, nambah gak karuan negeri ini.

Menurut Hendro, untuk menghancurkan suatu jaringan ada empat poin yang bisa dilakukan. Pertama, tangkap orang-orang kunci. Kedua, putuskan hubungan. Ketiga pangkas support logistic. Keempat bersihkan lingkungan. Kempat inilah yang akan menghancurkan organisasi. Ketika bom berulangkali terjadi, ada kemirisan yang muncul, umat Islam kembali menjadi kambing hitam. “Itulah yang membuat saya sedih. Makanya sebelum saya mati, mudah-mudahan saya masih bisa melihat Indonesia aman, dan menjadi ummatan wahidah, umat yang bersatu. Umat ini terbelah akibat Noordin M Top.” (sabili)

(Oleh Adhes Satria & Eman Mulyatman)

http://swaramuslim.net/more.php?id=6307_0_1_0_M

__________

B. Zionist Anti Christ symbol (Symbol of British King dom)

http://img217.imageshack.us/img217/4977/skullandbonessocietykn4.jpg

TRACKING DOWN AND NARROWING THE IDENTITY OF THE FUTURE ANTICHRIST
____________________________________________________________

antichrist prince william

The Ancient World Powers are discussed in Daniel’s Prophecies
Briefly the four beasts were: a Lion, a Bear, a Leopard with four wings, and a fourth Wild Beast (a Dragon) not corresponding to any actual animal, unusually strong, with large iron teeth, ten horns, and another Little Horn developing, with a Man’s eyes and “a mouth speaking great and boastful things against the Lord.” These four distinct creatures are represented in the following ancient and historical fulfillments of Daniel’s Prophecy. Babylon (the Lion) fell to the Medo-Persian kingdom (The Bear) which, in turn, was ended by the lightning conquest of the Grecian forces (the Leopard) led by Alexander the Great. In a few short years he built an Empire which embraced parts of the Mideast, Asia, Europe, and Britannia, in essence the very first European based Empire to hold such a global position [making Alexander the first European archetype for the future Antichrist]. After Alexander’s death, his generals (the four wings on the Leopard) struggled for control of the Grecian Empire, four of them eventually gaining rulership of different sections. At this time, Israel was fought over by the rival Seleucid and Ptolemaic kingdoms, and Greece eventually ruled over the Holy Land. The Grecian Empire was eventually taken over completely by the new and more powerful Roman Empire (the Wild Beast), as it quickly amassed global dominance being stronger than any before it. As a result and because the Israelites continued to rebel against God and doing his Will, Rome likewise gained full control over the nation of Israel.

In its time, the Roman Empire surpassed all the preceding empires not only in the extent of its domain (covering the entire Mediterranean area and reaching the British Isles) but also in the efficiency of its military machine and power of its application of Roman law to the provinces of its far reaching European empire. Its Pax Romana (Roman peace) was merely a foreshadowing of the yet to be revealed, New World Order of the Ages, that future United Europe whose kingdom is actually called in Scripture the last world empire, yet stronger than any other empire before it (meaning the future European Union will far exceed the power and might of present day America). Rome was also the world’s political instrument in power at the time of Christ’s first advent and so will be in power again, according to prophecy, just before His Return, making its very existence today yet another strong sign we are entering the timeframe when the rest of prophecy is to be fulfilled. There will be a Revival of the Roman/Euro Empire shortly before Christ’s Return at Armageddon. Interestingly, right after the Crucifixtion, it was the ancient Romans who created the necessary port city of Londinium (today’s London), a place where they could land their ships and storm onto the English shore in search of it’s last territorial land grab before Rome’s impending demise, it became the most important trading port from Rome to this new world, this ‘New Rome.’ When Rome did die and eventually broke up into the various European nations, Great Britain, over time, ultimately took the globally dominant position in the world, raising itself up to be the new “Anglo” Roman Empire, better known as the British Empire. This is interesting because Scripture tells us that the Antichrist Prince will be of the Roman Empire, whose power (as we now know) was then given over to London, a Roman city. In other words, what we are quite possibly reading in Daniel 9:26-27 is that the Antichrist is a Prince of London. Interesting also is that the rest of prophecy in Daniel and Revelation describes the Antichrist as a King.

The British Empire became far stronger than ancient Rome ever had, and she ruled the seas and many nations, just as Rome did. What’s really interesting is that the European Union itself, created in 1993, has been patterned exactly after the ancient Roman Empire, including many of the same countries that were under Roman occupation and rule at the time of Christ, just as prophecy stated it would. Furthermore, the specific prophecies in Revelation and Daniel make clear that this all powerful (and still future) United Nations of Europe will return to it’s former glorious power that was Rome. Obviously this must occur after America, the current Rome, is somehow left behind or diminished in power while the rest of the world advances headlong toward the Tribulation (which is the common belief among Chirstian prophecy scholars who agree that America will be destroyed before the coming of the Antichrist allowing the emergence of Europe to take center stage), again, a yet-to-be revealed future time and event to make this possible. As it is determined by the men who control the European Union, America removed as a leading world power will most assuredly prompt the need for another Atlantic nation to take the reigns of global dominance and more openly establish her own rule of law [and Western-Zionist idealogy] throughout the rest of the known world, further solidifying the goals of the Illuminati. One last point of interest here with Europe, the placement of those European nations which attacked Israel (or Jews) before since the time just before Christ, has been Greece (150 BC) then Rome (50 BC-70AD), and more recently, Germany (1939-45). Looking at Greece, Rome, and Germany on a map shows an interesting line of succession all moving increasingly northwest from Israel, each seemingly pointing to the next agressor country in a path leading directly to one nation remaining, Great Britain. Also interesting, if not strange, England appears to be the head (or face) of this European Beast while Italy is the jack boot (or cloven hoof) seemingly about to crush the tiny Semitic nation underfoot.

Antichrist is represented by a single Little Horn admidst older Kings and Kingdoms of history
After this I saw in the night visions, and behold a fourth Beast [Kingdom], dreadful and terrible…I considered the horns, and, behold, there came up among them a Little Horn, and in this Horn were eyes like the eyes of man, and a mouth speaking great things. I beheld till the Thrones were cast down, and the Ancient of Days did sit, His Throne as fire. I beheld then because of the voice of the great words which the Little Horn spake: I beheld even till the BEAST was slain, and his body destroyed, and given to the burning flame. I saw in the vision one like the Son of Man came with the clouds of Heaven, and came to the Ancient of days, and they brought Him near before Him. And there was given Him Dominion, and Glory, and a Kingdom, that all people, nations, and languages, should serve Him: His Dominion is an Everlasting Kingdom which shall never be destroyed. -Daniel Chapter 7

The Antichrist is represented by a Bear in Daniel yet also in the Book of Revelation
Staying with the book of Daniel, let us now compare the similarities between verse 7:5 with 7:24 the Beast…”A BEAR” who subdues three “ribs” or 3 Kingdoms. This suggests that the Antichrist first arrives in either warlike fashion or peacefully places three Kings or Kingdoms quickly under his subjection in a type of annexation. Some have said this to be Scotland, Ireland, and Wales unifying into one Celtic Anglo nation, others see it perfectly fulfilling the Nostradamus prophecy known as Century 8 Quatrain 77. Take careful notice that it is the Angel Gabriel making the interpretation of the vision, simply telling us that the “Little Horn” [Antichrist] in verse 20-21, is symbolized by “the Bear.” In other words, the Antichrist is “The Bear.” Remember, the ancient Celtic word for Bear is Arth-ur. The name Arthur literally means Bear.

REVELATION 13:2 The Beast was like unto a Leopard, and his feet as a BEAR, and the mouth of a Lion ~ The Lion represents the country that this King will come from. The Lion that is the Heraldic and national symbol of England. The Leopard represents his youth contrasted by his absolute global power [like Alexander the Great, who was himself represented by the youthful symbol of the Leopard; quick to conquer]. The name of Philip is taken from his grandfather Prince Philip who is actually from Greece and named after Alexander the Great who also had the middle name of Philip, which could be said that when William becomes King, he quickly becomes a world leader much like Alexander, quick to conquer (as a leopard). Alexander himself conquered much of Asia Minor and Europe before the age of 25 making youth also an attribute of the future Antichrist (the anti-type of ‘a Child shall lead them’). The future Beast will quickly become a voice of reason which the earth certainly is to consider at a time the world is weakened and needs it most (and yet his growing confidence in Kingship will be further emblazoned thru means of a yet unseen guidence upon the realization of an inescapable destiny revealed). The name William itself conjures up another King in England’s violent past of the same name, William the Conqueror. William’s second name Arthur, means Bear, the Once and Future King returned. The fourth ancient empire to rule and referred to as the “Wild Beast,” was Rome, the most fierce of every kingdom before it as it has dual appearances in history, and one of its incarnations has already passed while the future Roman Empire is yet to rise. Currently, the reformed European Commonwealth of Nations known now as the European Union is gaining global power, wealth, and military strength every day that passes. The Bible also depictes a Woman of great iniquity is to ride this Beast. The Scripture’s reference to the Beast of Revelation having the attributes of a Lion, Bear, and Leopard may also contain within it something more than just what is read on face value. I believe the symbology is a code for the Beast’s name…

antichrist prince william
PRINCE WILLIAM ARTHUR PHILIP LOUIS WINDSOR-WALES:

W

The Conqueror (The King of England) = LION / Mouth / Speaking / Charismatic Leader
Arthur – King Arthur Pendragon (Celtic, Rome) = BEAR / Feet / Strength / Summer Solstice
Philip – Alexander Philip the Great (Greece) = LEOPARD / Body / Conquering /Youth
Windsor-Wales – Aryan Keltoi (Cain) = RED DRAGON / Spirit / Anglo-Celtic Power

illiam -

antichrist prince william

THE BRITISH WINDSORS AND THE NATION OF WALES: SYMBOLOGY OF THE RED DRAGON AND THE DEVIL
____________________________________________________________

antichrist prince william

antichrist prince william

_____________________
antichrist prince william
___________________
antichrist prince william
_________

antichrist prince williamantichrist prince william_

ATANIC DRUIDS: FREEMASONS KNIGHTS TEMPLAR AND THE ILLUMINATI

antichrist prince william_

antichrist prince william______

antichrist prince william

_

Templart = Penyembah lembu samiri

templar logo


antichrist prince william

__

ANTICHRIST CREATES A GLOBAL PEACE POLICY AND IS ACCEPTED AS ISRAEL’S MESSIAH Andhttp://whosthebeast.com/PRINCE%20WILLIAM%20%20ANTICHRIST%20666%20%20King%20Arthur%20%20Knights%20Templar%20Conspiracy%20Grail%20Legend%20History%20Lost%20Tribes%20Israel%20Illuminati%20Masonic%20Bible%20Prophecy.htm

Why Does The Illuminati Eye Infest Christian Churches?

During a visit to a breathtaking, beautiful and ornate Christian cathedral in Lucerne, Switzerland last week, I was taken aback by the sight of something that seemed completely out of context and out of place – a baleful and evil-looking Illuminati eye staring out over a representation of the crucified Jesus. Why do similar depictions infest Christian churches the world over?

The Church of St. Leodegar, popularly called the Hofkirche, in the bustling town of Lucerne in northern Switzerland, was originally built in 735 and the present structure was erected in 1633 in the late Renaissance style. The cathedral’s distinctive twin needles were part of the original structure.

The church is opulently decorated with awe-inspiring golden statues and vibrant paintings depicting stories from the bible.

But when one reaches the front of the church and looks up at a statue of the crucified Jesus, looming over it in a window near the roof is a depiction of a single eye inside a pyramid with yellow and orange sun rays emanating from behind.

This occult symbol is completely not inkeeping with the rest of the style of the church and the cathedral’s literature makes no mention of why it was placed there or what its significance is supposed to be.

featured stories   Why Does The Illuminati Eye Infest Christian Churches?
CLICK IMAGE FOR ENLARGEMENT. The eye can be seen in the background above the Swiss flag.

featured stories   Why Does The Illuminati Eye Infest Christian Churches?
CLICK IMAGE FOR ENLARGEMENT. Close up of the eye.

Here’s another example of the depiction of the eye in the pyramid that Steve Watson photographed while visiting Piazza del Popolo in Rome this past June.

featured stories   Why Does The Illuminati Eye Infest Christian Churches?

The video below showcases the Illuminati eye as seen in dozens of churches and cathedrals around the world. The author attributes the eye to a representation of Dajjal or “The Impostor-Christ,” an evil figure in Islamic eschatology who will supposedly return as a false prophet before Judgment Day. According to one description, “It is said that he will have one eye damaged and the other will be working.”

http://www.infowars.com/why-does-the-illuminati-eye-infest-christian-churches/

Ucapan Imam 4 madzab yang diselewengkan wahhaby/ Salafy palsu

Perbahasan Berkenaan “إذا صح الحديث فهو مذهبي “

Penulis : Ustaz Nazrul Nasir


Beberapa hari saya tidak menulis, mungkin agak sibuk dengan persediaan peperiksaan yang semakin hampir. Teringin juga jari-jari ini memetik butang key board menulis semula . Tambahan pula semenjak akhir-akhir ini, golongan “mujtahid jadi-jadian” semakin ramai menceburi bidang penulisan ini. Semakin mereka menulis, semakin saya risau melihat masyarakat yang tertipu dengan gaya bahasa yang mereka gunakan seolah-olah menampakkan bahawa mereka benar-benar orang yang berkelayakkan di dalam memperkatakan tentang permasalahan hukum-hakam. Pelbagai pendapat digunakan oleh mereka demi mempertahankan pendapat-pendapat yang boleh kita klasifikasikan sebagai “menegakkan benang yang basah”.

Kalam para ulama Mujtahid yang sering kita dengar seperti :

  • إذا صح الحديث فهو مذهبي
  • لا ينبغي لمن لم يعرف دليلي أن يُفتي بكلامي
  • لا تقلدني و لا تقلد مالكا و لا الأوزاعي و لا غيرهم و خذ الأحكام من حيث أخذوا

Pendapat-pendapat para Imam Mujtahid ini sering disalah gunakan oleh golongan yang gemar mendakwa-dakwi sebegini.Kalam pertama yang bermaksud (( Jika sahih sesebuah hadis maka itulah mazhabku)) digunakan oleh golongan ini dengan mengatakan bahawa, jika kita berjumpa sebuah hadis yang sahih dan mendapati hadis tersebut bertentangan dengan pendapat Imam Mujtahid ( Abu Hanifah, Malik, Syafie dan Ahmad bin Hambal radhiyallahu anhum), maka dahulukan hadis yang sahih kerana ini juga merupakan pendapat sebahagian para Imam tersebut.

Al-Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan di dalam muqaddimah Majmu’ Syarah Muhazzab:

“ Memang benar al-Imam Syafie menyebutkan :

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه و سلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه و سلم و دعوا قولي

Maksudnya:

Jika kamu semua (para ulama) mendapati di dalam kitab yang aku tulis menyalahi Sunnah baginda sallallahu alaihi wasallam maka keluarkan pendapat kamu semua dengan Sunnah Baginda sallallahu alaihi wasallam dan tinggalkan pendapatku.”

Al-Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan lagi bahawa:

Kata-kata Imam Syafie tersebut bukanlah bermaksud sesiapa sahaja yang menjumpai hadis sahih maka terus mengatakan bahawa ianya merupakan mazhab Imam Syafie itu sendiri.Malah beramal dengan zahir kalam itu semata-mata. Bahkan sebenarnya kalam al-Imam Syafie tersebut ditujukan kepada para ulama yang telah sampai kepada peringkat ijtihad di dalam mazhab seperti yang telah kita sebutkan sebelum ini(rujuk Muqaddimah Majmu’ ). Syarat untuk para yang beramal dengan kalam Imam ini ialah mesti tidak meletakkan sangkaan bahawa al-Imam Syafie radhiyallahuanhu tidak berjumpa dengan hadis ini atau tidak mengetahui bahawa hadis ini tidak Sahih. Syarat ini tidak akan dapat disempurnakan melainkan setelah mengkaji dan mentelaah keseluruhan kitab-kitab karangan al-Imam Syafie , kitab-kitab para ulama Syafieyah yang lain dan yang seumpama dengannya. Inilah merupakan syarat yang agak sukar untuk dipenuhi. Hanya sedikit yang dapat menyempurnakan syarat ini.

Maksud kalam al-Imam Nawawi sangat jelas. Agak menghairankan kita, golongan yang mendakwa kalam al-Imam Syafie kadang-kadang bertentangan dengan hadis ini merupakan dakwaan yang ternyata menyimpang. Bahkan kitab-kitab al-Imam Syafie mereka tidak memahaminya dengan baik (maksudnya memerlukan penguasaan bahasa Arab yang tinggi kerana al-Imam Syafie radhiyallahu anhu merupakan seorang ahli Bahasa Arab yang hebat), apatah lagi membacanya. Ini sepatutnya yang disedari oleh mereka. Tetapi ego dan bodoh sombong yang menyebabkan mereka tidak mahu memahami pendapat ulama sebegini.

Oleh kerana itulah kita katakan, perlu membaca kitab para ulama dengan para alim-ulama yang benar ilmunya, bukan dengan pembacaan secara persendirian tanpa guru yang membimbing. Akan sesat jadinya. Ini asas pertama yang perlu diperbetulkan oleh mereka. Akhir-akhir ini kita melihat mereka juga belajar dengan guru, tetapi guru yang mengajar pula hakikatnya belajar dengan guru yang tidak belajar dengan ulama yang benar ilmunya,bersih pengambilannya serta jauh daripada pendapat-pendapat yang menyalahi jumhur para ulama.

Kata Imam Nawawi lagi menukilkan kata-kata Imam Abu Amru Ibn Salah rahimahumallah:

“Kalam al-Imam Syafie tersebut bukanlah boleh diamalkan dengan zahir luarannya semata-mata,Bukanlah semua ulama yang Faqih (hebat dalam ilmu fiqhnya) beramal secara terus daripada hadis yang dirasakan hujah baginya.”

Kata Imam Abu Amru Ibn Salah lagi:

“ Jika seorang ulama bermazhab Syafie tersebut menjumpai sebuah hadis yang menurutnya bertentangan dengan mazhab yang dipegangnya, Maka perlu dilihat semula kepada keahlian orang tersebut. Jika ulama tersebut telah mencapai peringkat Ijtihad (seperti yang kita sebutkan di dalam keluaran yang lepas) maka tiadalah masalah baginya untuk beramal dengan hadis tersebut. Tetapi jika dia masih tidak mencapai tahap Ijtihad dan menyukarkan baginya menemukan sebab-sebab pertentangan hadis tersebut dengan kalam Imam Mazhab @ Mazhab itu sendiri maka bolehlah baginya beramal dengan hadis tersebut jika terdapat seorang lagi Imam Mujtahid Mutlak selain Imam Syafie(seperti Imam Abu Hanifah , Malik, Ahmad dan lain-lain).”

Kata al-Syeikh Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani hafizahullah(bukan Syeikh Nasiruddin al-Albani) di dalam risalah kecilnya berkenaan kalam tersebut:

Maksud kalam tersebut ialah:

Kata para imam , kalam tersebut ditujukan kepada para ulama yang benar-benar berkelayakkan di dalam mengeluarkan hukum.Mereka(yang dibenarkan) adalah merupakan para ulama yang hebat di dalam ilmu hadis. Ini bermakna, jika sahih sesebuah hadis sahih tersebut yang bertepatan dengan syarat-syarat pengambilan sesebuah hadis dan kaedahnya berdasarkan mazhab yang mereka gunakan , maka gunakan hadis tersebut. Bukannya kalam tersebut menyuruh setiap kali membaca hadis yang sahih maka tinggalkan beramal dengan pendapat imam mazhab.



Sebaliknya golongan yang sering mendakwa-dakwi ini, menggunakan pendapat ini dengan luarannya sahaja, bukan maksud sebenar kalam tersebut.

Al-Imam Malik Radhiyallahuanhu menyebutkan kepada para muridnya(yang merupakan para mujtahid) ketika beliau mengeluarkan pendapat di dalam sesebuah hukum,

“ Kamu perlu mengkajinya semula, ini kerana ianya merupakan pegangan agama kita.Tiada seorang pun boleh diterima pendapatnya bulat-bulat tanpa perlu dikritik, melainkan pendapat yang dikeluarkan oleh pemilik Maqam yang mulia ini( mengisyaratkan kepada Saidina Muhammad sallallahu alaihi wasallam).”

Saya ingin bertanya, adakah Imam Malik radhiyallahu anhu bercakap seorang diri ketika tersebut? Atau adakah beliau mengucapkan pendapat tersebut dihadapan orang awam yang tidak mengerti hukum-hakam? Jawapannya tentu tidak sama sekali. Golongan yang dibicarakan oleh al-Imam ialah merupakan kelompok mujtahid. Seolah-olah al-Imam ingin memberitahu kepada murid-muridnya bahawa mereka juga telah sampai kepada peringkat Ijtihad yang tinggi. Syarat-syarat untuk menjadi seorang mujtahid telah saya terangkan di dalam keluaran yang lalu. Jika syarat sebegini masih tidak jelas, maka bagaimana seseorang tersebut boleh mengaku bahawa dia juga boleh mengeluarkan hukum terus daripada al-Quran dan Sunnah?

Pendapat kedua yang sering digunakan oleh mereka ialah pendapat yang dikeluarkan oleh al-Imam Abu Hanifah radhiyallahuanhu iaitu :

لا ينبغي لمن لم يعرف دليلي أن يُفتي بكلامي

Maksudnya:

Tidak sepatutnya bagi seseorang yang tidak mengetahui dalil yang aku keluarkan untuk berfatwa dengan pendapatku.

Pendapat ini jelas menunjukkan bahawa ianya disebutkan kepada golongan ulama yang benar-benar alim di dalam bidang tersebut. Ini kerana perkataan “ berfatwa” tersebut tidak lain dan tidak bukan semata-mata ditujukan kepada para ulama ahli fatwa,bukannya mujtahid jadi-jadian . Ini perlu difahami dengan baik dan jelas. Perlu juga bagi seseorang tersebut melihat semula kepada syarat-syarat untuk berfatwa yang disusun oleh para ulama . Antara ulama yang menyusun tentang adab-adab fatwa ini ialah al-Imam Abu Qasim al-Soimuri rahimahullah(guru kepada al-Imam Mawardi rahimahullah), al-Imam al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah, dan al-Imam Abu Amru Ibn Salah rahimahullah. Ketiga-tiga kitab ini telah diringkaskan perbahasannya oleh al-Imam Nawawi rahimahullah dan beliau meletakkan perbahasan tersebut di dalam kitabnya Majmu’ Syarah Muhazzab.

Jika kamu membaca semula syarat-syarat berfatwa dan Mufti, tentulah kamu akan menyedari betapa jauhnya jurang sebenar antara kamu (yang suka mendakwa-dakwi sebegini) dengan para ulama yang benar-benar sampai kepada peringkat mengeluarkan fatwa.Malah al-Imam Nawawi sendiri menyebutkan bahawa bidang fatwa adalah merupakan bidang yang sangat merbahaya diceburi tetapi sangat tinggi kelebihannya(bagi yang layak sahaja).

Al-Imam Malik radhiyallahu anhu menyebutkan:

ما أفتيت حتى شهد لي سبعون أني أهل لذلك

Maksudnya:

Aku tidak akan berfatwa melainkan selepas disaksikan oleh tujuh puluh orang ulama bahawa aku benar-benar layak di dalam bidang fatwa ini.

Kalam-kalam sebegini tidak pula dilihat oleh golongan sebegini. Mereka hanya mengambil pendapat-pendapat yang luarannya merupakan suatu kelebihan kepada diri mereka untuk meninggalkan berpegang dengan mazhab itu sendiri. Sedangkan langsung tidak memahami maksud kalam itu sendiri.

Jika kita memahami maksud kalam-kalam yang disebutkan dengan baik maka pendapat Imam Ahmad bin Hambal radhiyallahu anhu juga akan mudah bagi kita memahaminya. Maksudnya Imam Ahmad menyebutkan pendapat tersebut bukanlah untuk orang awam melainkan untuk para ulama yang telah mencapai peringkat Ijtihad.

Al-Allamah Syeikh Muhammad Awwamah hafizahullah menukilkan kalam al-Imam Kairanawi radhiyallahu anhu:


“Maksud sebenar kalam al-Imam Syafie (Jika sahih sesebuah hadis maka itulah Mazhabku) dan kalam ulama yang lain yang menyebutkan sedemikian ialah tidak lain selain ingin menunjukkan kepada kita hakikat bahawa kalam yang menjadi hujjah adalah kalam Baginda sallallahu alaihi wasallam bukannya kalam kami(para Imam Mujtahid).Seolah-olah Imam Syafie ingin mengatakan: Jangan kamu menyangka kalam aku adalah hujjah berbanding kalam Baginda Sallallahu alaihi wasallam dan aku juga berserah kepada Allah jika pendapat yang aku sebutkan bertentangan dengan Sabda Baginda sallallahu alaihi wasallam.”

Hakikatnya, kalam al-Imam Syafie radhiyallahu anhu adalah merupakan sifat tawaddhuk yang ada pada beliau. Mustahil seseorang Imam tersebut akan mengeluarkan sesuatu hukum dengan hawa nafsunya melainkan setelah dikaji secara terperinci dengan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya dan iman yang mendalam.

Oleh sebab itulah al-Imam Ibn Uyainah Radhiyallahuanhu menyebutkan:

الحديث مضلة إلا للفقهاء

Maksudnya:

Hadis adalah sesuatu yang mampu menyesatkan seseorang (yang tidak memahaminya) melainkan kepada para fuqaha(ulama).

Al-Imam Ibn Hajar al-Haitami radhiyallahu anhu menerangkan maksud sebenar kalam al-Imam Ibn Uyainah radhiyallahu anhu di dalam kitabnya Fatawa Hadisiah mukasurat 521:

“Maksud kalam tersebut ialah Hadis adalah seumpama al-Quran yang mana ianya terkadang merupakan lafaz umum tetapi maknanya khusus, ianyanya juga terdapat Nasakh dan Mansukh, terdapat juga hadis yang tidak diamalkan, dan sebahagiannya jika dipegang dengan zahir maka akan menjadi masalah seperti hadis ينزل ربنا (Allah turun ke Langit pertama disepertiga malam). Jadi maksud sebenar sesebuah hadis tidak akan difahami melainkan diterangkan oleh para ulama.Ini berbeza dengan orang yang tidak mengetahui maksud sebenar hadis tersebut melainkan zahirnya semata-mata, maka akan tersesat jadinya seperti yang berlaku kepada sebahagian ulama terdahulu dan terkemudian seperti Ibn Taimiyah dan pengikutnya”

Bagi menentukan sesebuah hadis sahih tersebut bertentangan dengan pendapat Imam Mazhab maka perlu bagi mereka-mereka yang berkata sedemikian mempunyai dua perkara:

1. Kuat sangkaannya bahawa Sang Imam tidak menemukan hadis yang dia temui.

2. Orang yang mengatakan sedemikian mestilah seorang yang benar-benar pakar di dalam ilmu rijal Hadis, Matan Hadis, cara-cara berhujah dengan hadis, dan cara mengeluarkan hukum daripada hadis tersebut berdasarkan kaedah yang diletakkan oleh mazhab.

Terdapat 4 marhalah (peringkat ) bagi menentukan adakah benar seseorang tersebut benar-benar pakar di dalam Ilmu hadis.(Marhalah ini saya petik secara ringkas daripada risalah al-Syeikh Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani hafizahullah ):

Peringkat pertama

Di dalam peringkat ini seseorang tersebut perlulah mengetahui kedudukan perawi hadis tersebut samaada ianya Thiqah, Saduq dan sebagainya. Serta perlu juga memerhatikan hafalan dan kekuatan ingatan perawi tersebut.Perlu mengetahui tentang martabat thiqah, tempat mana yang perlu didahulukan jarah dan ta’dil(nama ilmu di dalam Mustalah Hadis bagi menentukan darjat seorang perawi).Mengetahui tentang bilakah tarikh perawi tersebut meninggal duni dan dari manakah asalnya dan sebagainya. Pendek kata kesemua ilmu yang diterangkan di dalam kitab Mustalah Hadis perlu diketahui secara lumat dan mendalam oleh seseorang tersebut.

Peringkat kedua

Peringkat ini lebih sukar daripada sebelumnya.Setelah seseorang tersebut mengetahui secara mendalam tentang mustalah hadis tersebut maka perlu pula baginya untuk mengkaji secara teliti dan mendalam hadis-hadis yang terdapat di dalam kitab Sihah, Sunan, Musnad, Jawami’, Mu’jam, al-Ajza’dan lain-lain kitab hadis bagi mencari sesebuah hadis tersebut adakah benar-benar bertentangan dengan pendapat sang Imam. Perlu juga baginya untuk mengetahui adakah hadis tersebut Mutawatir, Masyhur dan sebagainya. Perlu juga baginya mengetahui adakah hadis tersebut Syaz atau mungkar . Perlu juga baginya mengetahui adakah hadis tersebut marfu’, mauquf atau maqtu’.

Oleh sebab itulah al-Imam Abu Hatim al-Razi rahimahullah menyebutkan: “ Tidaklah seseorang tersebut dikatakan benar-benar pakar di dalam bidang hadis melainkan setelah kami (para ulama hadis )menulis hadis tersebut dengan 60 keadaan dan dia mampu menerangkan satu persatu hadis-hadis tersebut tentang hukumnya sama ada Syaz, Mungkar, Ma’ruf, Mutawatir, Marfu’, Mauquf, Fard dan Masyhur.”

Peringkat ketiga

Peringkat ini lebih sukar daripada kedua-dua peringkat di atas. Setelah benar-benar melalui kedua-dua peringkat tersebut, maka seseorang tersebut perlulah melihat sama ada hadis yang dikajinya terdapat illah(kecacatan) atau tidak. Illah yang tersembunyi menurut para ulama hadis adalah yang paling sukar ditemukan melainkan oleh ulama-ulama yang benar-benar pakar di dalam ilmu hadis. Ini diketahui dengan jelas oleh sesiapa yang mempelajari ilmu hadis dengan baik.

Peringkat keempat

Peringkat ini adalah yang paling sukar ditemukan melainkan para Mujtahid yang sampai ke peringkat mutlak. Ramai ulama hadis yang sukar mencapai peringkat ini walaupun mereka sudah mencapai ketiga-tiga peringkat sebelum ini. Walaupun mereka menghafal hadis tersebut dan mengetahui segalanya tentang ilmu hadis , tetapi di dalam permasalahan hukum hakam tetap mereka serahkan kepada para fuqaha.

Kerana itulah al-Imam al-A’mash radhiyallahu anhu menyebutkan kepada al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu:

يا معشر الفقهاء, أنتم الأطباء ونحن الصيادلة و أنت أيها الرجل أخذت بكلا الطرفين

Maksudnya:

Wahai para fuqaha, kamu adalah doktor yang mengetahui tentang ubat sesuatu penyakit, manakala kami para muhaddith (ulama hadis) merupakan pemilik ubat tersebut.Manakala kamu wahai lelaki( Imam Abu Hanifah ) , kedua-duanya kamu miliki (sebagai seorang doktor dan sebagai seorang pemilik farmasi).

Maksud kalam al-Imam al-A’mash tersebut ialah para fuqaha mengetahui di manakah sumber pengambilan hukum bagi menyelesaikan sesuatu permasalahan, manakala para muhaddis akan membekalkan hadis-hadis sebagai sumber pengambilan hukum tersebut. Manakala al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu mempunyai kepakaran di dalam kedua-dua bidang tersebut(iaitu hadis dan fiqh).

Kesimpulan

Setelah kita perhatikan dan baca dengan teliti perbahasan yang saya tulis ini,jelas lagi bersuluh bahawa menghukumkan sesuatu dengan zahir hadis yang kamu(golongan wahabi) rasakan bahawa ianya bertentangan dengan kalam Imam merupakan suatu tohmahan yang tidak berasas dan tidak mengikut jalur pengajian dan pengkajian yang baik. Perbahasan yang saya buat ini mungkin agak berat bagi sesiapa yang tidak mengetahui istilah-istilah yang digunakan. Jika ada masa, saya akan menerangkannya selepas ini. Tetapi jika “ para mujtahid jadi-jadian” tidak memahaminya maka jelaslah, kamu semua tidak mencapai lagi serendah-rendah martabat tersebut. Maka perlu beristghfar dan memohon keampunan di atas keterlanjuran dan keegoan yang terdapat di dalam diri kamu.

Rujukan:

1. Majmu’ Syarah Muhazzab oleh al-Imam Nawawi rahimahullah tahqiq Syeikh al-Allamah Najib Muti’ie .Cetakan Darul A’lam Kutub

2. Risalah إذا صح الحديث فهو مذهبي oleh Syeikh al-Allamah Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani al-Hanafi hafizahullah.Cetakan Darul Iqra’.Cetakan Pertama 2005.

3. Fatawa Hadisiah oleh al-Imam Ibn Hajar al-Haitami rahimahullah .Cetakan Darul Taqwa.

MOHD NAZRUL ABD NASIR,
RUMAH KEDAH,
KAHERAH,MESIR

From : http://al-ghari.blogspot.com/

Al-Allamah Al-Sheikh al-Tabbani Seorang Alim Mekah Yang Mengajar di Masjidil Haram Selama 50 tahun Membongkar Kesesatan al-Wahhabi

Al-Allamah Al-Sheikh al-Tabbani Seorang Alim Mekah Yang Mengajar di Masjidil Haram Selama 50 tahun Membongkar Kesesatan al-Wahhabi

Berkenaan al-Allamah Al-Sheikh al-Tabbani – Tak kenal maka tak cinta

1. Al-Allamah Al-Tabbani adalah di antara salah seorang ulama’ terbilang di Mekah pada zamannya dan juga berketurunan Rasulullah SAW. Beliau mengajar di Masjidil Haram (Mekah) dan beberapa madarasah di sekitar Masjidil Haram dari tahun 1338H sehingga 1390H. Iaitu sekitar dari 1919/1920M sehingga 1969/1970, lebih kurang 50 tahun. Beliau juga mengajar di Masjid al-Nabawi di Madinah dalam ziarah-ziarah beliau ke sana. Dalam erti kata lain, beliau adalah pengajar “al-Haramayn” – Mekah dan Madinah. Beliau juga melihat perkembangan Wahhabi di hadapan mata beliau sendiri.

2. Para guru-guru beliau terdiri daripada para ulama’-ulama’ yang besar pada zamannya. Beliau belajar daripada ulama’-ulama’ di Tunisia (Universiti Zaytunah), di Damsyik, Syria, Madinah al-Munawwarah dan Mekah al-Mukarramah, dll, sebelum terus menetap di Mekah al-Mukarramah.

3. Hampir kesemua ulama’-ulama’ Mekah yang terkemuka selepas beliau adalah anak-anak murid beliau seperti:

  • Al-Sayyid Muhammad Amin Kutbi
  • Al-Sayyid ‘Alawi al-Maliki
  • Al-Sayyid Muhammad Ibn Al-Sayyid ‘Alawi al-Maliki
  • Al-Sheikh Muhammad Nur Sayf
  • Al-Sheikh Ismail al-Zayn, dan banyak lagi.

4. Beliau wafat pada hari Khamis, 22 Rabiul Awwal tahun 1390H dan dikebumikan di perkuburan al-Ma’lah di Shu’bah al-Nur berdekatan dengan maqam Saidatina Asma’ al-Siddiqiyyah Bint Saidina Abu Bakr al-Siddiq r.anhuma [Semoga Allah meredhai dan merahmati kita dengan kedudukan mereka di sisi-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin].

Pembongkaran Beliau tentang Kesesatan Wahhabi dan Jenayah Ilmiah yang dilakukan oleh Ulama’ Yang Disanjung oleh Wahhabi di dalam Kitabnya “Bara’ah al-‘Ash’ariyyin”

5. Beliau menggunakan nama pena beliau “Abu Hamid Ibn Marzuq” di dalam mengarang kitab ini bagi memelihara keselamatan beliau yang hidup di bawah pemerintahan Wahhabi. Bahkan, banyak juga penerbit buku di Tanah Arab yang menerbitkan buku menolak fahaman Wahhabi terpaksa menggunakan “nama syarikat yang tidak wujud” bagi mengelakkan konflik yang tegang dengan golongan Wahhabi dan bagi menjamin keselamatan mereka.

6. Di Malaysia, Wahhabi baru sampai ke tahap saman-menyaman, di banyak negara-negara lain, pembunuhan menjadi salah satu kaedah mereka berdepan dengan penolakan dan perbezaan pendapat daripada orang lain. Banyak lagi sebenarnya kekejian perlakuan Wahhabi terhadap orang yang berbeza pendapat dengan mereka.

7. Tanyalah kepada golongan Wahhabi di Malaysia:

“Siapakah yang mula-mula mengambil tindakan konfrontasi yang jijik dan kotor dengan menghantar surat kepada pihak berkuasa yang menfitnah seorang pegawai agama di JAKIM dengan tuduhan beliau membawa ajaran Syi’ah sehingga pegawai tersebut hampir-hampir ditukarkan ke Sabah?!”

“Siapakah yang menghalang tiga ulama’ dan pendakwah dunia Islam: Al-Habib Munzir al-Musawa, al-Habib Abdullah al-Attas dan Sayyid Abdurrahman Al-Junaid daripada memasuki negeri Perlis dalam usaha dakwah mereka dengan pelbagai tuduhan serta ugutan tangkap pada tahun 2007?” Untuk maklumat, sila ke:

http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=114&Itemid=29 [Baca tajuk Perlis].

Mungkin wartawan ataupun orang ramai boleh bertanya kepada mantan mufti Perlis berkenaan isu ini.

8. Di sini, penulis nukilkan terjemahan bagi sebahagian kecil daripada buku “Bara’ah al-Ash’ariyyin min ‘Aqaid al-Mukhalifin” yang dicetak pada tahun 1968 yang mungkin cukup untuk menggambar sikap dan watak golongan Wahhabi. Fahamilah.

Maksudnya:

“Dan terkumpul asas-asas akidah Muhammad Ibn Abdul Wahhab dan para pengikutnya pada empat perkara:

  • Menyerupakan (tashbih) Allah SWT dengan makhluk-Nya; dan
  • Tawhid al-Uluhiyyah dan al-Rububiyyah; dan [Tambahan penulis: Tauhid versi inilah yang merupakan asas bagi “Kaedah Takfir” fahaman Wahhabi] [Insya-Allah, akan dibincangkan kemudia]
  • Tidak menghormati Nabi SAW; dan
  • Mengkafirkan umat Islam.

Dan dia sebenarnya adalah pengikut kepada Ahmad Ibn Taymiyyah dalam setiap perkara tersebut, dan dia (Ibnu Taymiyyah);

  • adalah pengikut al-Karramiyyah dan Mujassimah al-Hanabilah dalam asas pertama
  • serta mengikut kedua golongan tersebut (al-Karramiyyah dan Mujassimah al-Hanabilah) serta golongan al-Haruriyyin [Tambahan penterjemah: salah satu golongan Khawarij] pada asas akidah yang keempat; dan
  • adalah pereka kepada Tauhid al-Uluhiyyah dan al-Rububiyyah yang terbit daripada (tauhid) ini juga (asas) tidak mengangungkan/menghormati Rasulullah SAW dan pengkafiran kepada umat Islam.

Dan kepercayaan dalam menukilkan agama di sisi mereka (Wahhabi) hanya terhad padanya (Ibnu Taymiyyah) dan anak muridnya Ibn al-Qayyim serta Muhammad Ibn Abdul Wahhab.

Mereka tidak mempercayai dengan mana-mana orang alim daripada ulama’ umat Islam dan tidak memberi nilai kepadanya (mana-mana orang alim) melainkan apabila mereka mendapati pada kata-katanya keserupaan yang menyokong hawa nafsu mereka.

Sesungguhnya, agama Islam yang luas ini hanya tertumpu para ulama’nya pada tiga orang ini (di sisi Wahhabi).

Dan umat (Nabi) Muhammad SAW yang dirahmati dan yang telah tersebar sejak perluasan pembukaan Islam di era pemerintahan Zun al-Nurayn (Saidina) Uthman r.a. sehingga ke zaman kita ini dan telah sampai ke lebih daripada satu perempat bumi dan umat inilah:

  • · yang mempunyai ulama’ dan pengarang kitab paling ramai, dan
  • · umat inilah 2/3 ahli syurga seperti di dalam hadis yang sahih;

(namun begitu, pengertian umat nabi Muhammad SAW yang selamat) hanyalah terhad kepada mereka (Wahhabi) dan ulama’ mereka yang tiga itu sahaja.

Dan setiap seseorang yang mempunyai ketajaman/keluasan ilmu yang membaca karangan-karangan Ibn al-Qayyim dan risalah-risalah Muhammad Ibn Abdul Wahhab tanpa ada kecenderungan tertentu dan bersikap dengan adil akan mendapati bahawa kedua-dua mereka adalah merupakan pengikut kepada Ibn Taymiyyah dalam semua kefahamannya, mempertuhankan hawa nafsunya dan mempunyai keunikan (dengan dua ciri dalam penulisan mereka):

  • Pertamanya: Mempertahankan pandangan-pandangannya (Ibnu Taymiyyah yang) pelik dan janggal (shazz) dengan sesungguh-sungguhnya “seakan-akan orang kurang bijak” [Tambahan penterjemah: “…” terjemahan yang sangat lembut digunakan oleh penulis]
  • Dan apa yang mereka tulis dengan baik di dalam penyelidikan-penyelidikan mereka sebenarnya mereka ambil daripada hasil tahqiq orang (ulama’) terdahulu daripada ulama’ umat Islam dan mereka mengambilnya dengan begitu banyak namun tidak menyandarkannya kepada pentahqiq (asal)nya (seperti mana – berdasarkan prinsip -amanah menukilkan ilmu daripada ulama’)”

Sekian terjemahan.

9. Banyak yang boleh diulas daripada petikan di atas. Namun, penulis tidak bercadang untuk mengulas dengan lebih panjang. Bagi para pengkaji di luar sana, carilah kitab yang sangat hebat dan bermanfaat ini.

10. Kepada para Wahhabi, bersangka baiklah dengan Al-Allamah al-Tabbani dan ulama’-ulama’ lain yang menolak Wahhabi sepertimana kamu bersangka baik dengan Ibnu Taymiyyah, Ibnu al-Qayyim dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab. Tanpa bersangka baik dengan para ulama’, kamu tidak akan sampai kepada natijah yang benar.

11. Ketika penulis mengkaji isu ini, penulis mengambil sikap bersangka baik dengan semua para ulama’ (termasuk ulama’ wahhabi) dengan tanggapan setiap orang mencari kebenaran. Namun begitu, natijah yang penulis dapat – setelah berdoa, mengkaji dan menghadiri kuliah para ulama’ termasuk ulama’ Wahhabi, dll – ialah KESELAMATAN AGAMA ADALAH BERSAMA DENGAN MAJORITI ULAMA’ dan penilaian bagi sesuatu isu itu mestilah berdasarkan PERSPEKTIF MAJORITI ULAMA’. Dan hasil kajian penulis ini mempunyai dalil yang kuat dan sangat jelas daripada Hadis Rasulullah SAW.

12. Kepada masyarakat umum yang keliru, tak perlulah tuan-tuan dan puan-puan melalui liku-liku perjalanan ilmiah yang cukup “merbahaya” ini, khasnya berkaitan isu aqidah, dan khasnya lagi berkaitan perbahasan sifat bagi Zat Yang Maha Agung. Ada juga yang tidak dapat melepasinya dengan selamat dan tergelincir, lalu akidah bid’ah bersarang di dalam diri.

13. Ingatlah pesanan Imam al-Ghazali r.a., masyarakat awam tidak sesuai (bahkan haram) membahaskan dan mempelajari isu akidah yang rumit kerana perbahasan ini menuntut syarat-syarat yang sangat ketat. Cukuplah berpegang dengan Majoriti Ulama’ (Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah dalam pengajian akidah) dalam menyelamatkan agama di akhir zaman yang penuh dengan fitnah ini.

14. Berpeganglah dengan Akidah Khamsin/Lima puluh [20 sifat wajib + 20 sifat mustahil + 1 sifat harus bagi Allah dan 4 sifat wajib + 4 sifat mustahil + 1 sifat harus bagi Nabi/Rasul = 50 sifat] dan berusahalah menghayatinya melalui pengajian Tasawwuf dan berusahalah menjalaninya dengan Fiqh.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ya Allah! Rahmatilah, berkatilah, ampunilah, berilah hidayah kepada umat kekasih-Mu Nabi Muhammad SAW! Amin Ya Rabbal Alamin.

http://al-ashairah.blogspot.com/

Ibnu katsir membungkam wahhaby (3) : Tafsir ayat “Yang dilangit (QS. Mulk 16 -17)”

Ibnu katsir membungkam wahhaby (3) : Tafsir ayat “Yang dilangit (QS. Mulk 16 -17)”

Bagaimana cara ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami masalah asma wa sifat atau yang sering di sebut dngan ayat-aya dan hadit-haditst sifat?ayat-ayat sifat disini adalah ayat Alquran atau Hadits Nabi yang menyebutkan tentang aggota tubuh seperti mata ,tangan,naik turun yang di sandarkan kepada Allah dll yang jika salah dalam memahamimya seseorang bisa masuk dalam kesesatan aqidah mujassimah(yang megatakan bahwa Allah SWT mempunyai aggota badan yang menyerupai dengan hambanya).Atau akan terjerumus dalam ta’thil (yang menolak sifat-sifat Allah SWT ).Begitu penting dan bahaya permasalahan ini maka ulama benar-benar telah membahasnya dengan detail dan rinci agar ummat ini tidak salah dalam memahami ayat –ayat dan hadits-hadits sifat .
Ada dua catara yang di ambil oleh ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami ayat-ayat sifat ini :
Pertama adala tafwidh, maksudnuya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di fahami sesuai dhohir lafatnya akan merusak aqidah. Misanya disaat Allah menyebut tangan yang di nisbatkan kepada Allah, maka maknanya tidak di bahas akan tetapi dilalui dan diserahkan kepada Allah SWT.   Ibnu katsir adalah salah satu ulama yang menggunkan methode ini.
Kedua adalah dengan cara mentakwili ayat tersebut dengan makna yang ada melalaui dalil lain. Seperti tangan Allah di artikan dengan kekuasaan Allah yang memang makna kekuasaa itu sendiri di tetapkan dengan dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.

Perhatian
1-Dua cara ini yakni attafwid dan attakwil adalah cara yang di ambil oleh ulama salaf dan kholaf,sungguh tidak benar jika tafwid adalah metode tyang di ambil oleh ulama salaf dan ta’wil adalah yang di ambil oleh ulama kholaf saja.
2-Ada sekelompok orang di akhir zaman ini menfitnah para ulama terdahulu(salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini.maka kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu karena takwil ,sungguh mereka adalah orang –orang yang tidak mengerti bagaimana mentakwil dan mereka uga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu karena banyak riwayat ta’wil yang datang dari para salaf.
3-ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dam kesesatan takwil yang tidak mereka sadari.misalnya disaat mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘ars ,mereka mengatakan tidak boleh ayat tentang keberadaan Allah di ars ini di ta’wili.akan tetapi dengan tidak di sadari mereka menjelaskan keberadan Allah di ars dengan penjelasan bahwa ars adlah makhluq terbesar(seperti bola dan semua mkhluk yang lain di dalamnya.kemudian mereka mengatakkan dan Allah swt berada di atas Arsy nag besar itu di tempat yang namany makan ‘adami(tempat yang tidak ada).Lihat dari mana mereka mengatakan ini semua. Itu adalah takwil fasid dan ba’id(takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran.
Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang Allah dan ars,para ahli tafwid menyerahkan pemahaman maknanya kepada Allah swt,adapu ahli ta’wil mengatakan Alah menguasai Ars dan tidaklah salah karena memang Allah dzat yang maha kuasa terhadap makhluk terbesar Ars, sebab memang Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu.wallhu a’lam bishshowab

A.  Tafsir Ayat Mutasyabihat “Yang dilangit (QS. Mulk 16 -17)”

Makna firman Allah :
أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
(Al-Mulk:16)

Jawab:

1. Dalam Tafsir Ibnu Katsir (juz 4, halaman 511 -512, maktabah darussalam riyadh) Lihat yang diline merah :

Tarjamah : Dan pada ayat ini lagi dari kelembutan-Nya dan rahmat-Nya kepada makhluqnya sesungguhnya Allah berkuasa mengadzab mereka (orang kafir) dengan sebab kekafiran sebagian mereka terhadap Allah dan dengan sebab beribadahnya mereka kepada selain Allah, dan Dia (Allah) bersama (Azab) itu kesabaran Allah  dan Allah memaafkan dan memudahkan dan menangguhkan  (Azab) dan tidak mencepatkan (azab) seperti apa yang difirmankan Allah [

[35:45] Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun  akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (FAATHIR (PENCIPTA) ayat 45)]  Dan Allah  berfirman  di ayat ini [

a-amintum man fii alssamaa-i an yakhsifa bikumu al-ardha fa-idzaa hiya tamuuru
[67:16] Apakah kamu merasa aman terhadap  yang Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?,]

maksudnya mengadzabnya dan mendatangkan  dan menggoncangkan bumi

am amintum man fii alssamaa-i an yursila ‘alaykum hasiban fasata’lamuuna kayfa nadziiri
[67:17] atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?]

maksudnya angin di dalamnya batu-batu  yang akan mengenai kalian “

Tidak pernah Ibnu katsir menafsirkan bhawa dzat Allah di langit seperti yang didakwa kaum musyabihah mujasimmah wahhaby !!

2. Dalam Tafsir Al Bahr al Muhith  dan Kitab “Amali (Imam Al-Hafiz Al-‘Iraqi )

Pakar tafsir, al Fakhr ar-Razi dalam tafsirnya dan Abu
Hayyan al Andalusi dalam tafsir al Bahr al Muhith mengatakan:

“Yang  dimaksud مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i) dalam ayat tersebut adalah malaikat”.

Ayat  tersebut tidak bermakna bahwa Allah bertempat di langit.

Perkataan ‘man’ iaitu ‘siapa’ dalam ayat tadi bererti malaikat bukan bererti Allah berada dan bertempat  dilangit.  Ia berdasarkan kepada ulama Ahli Hadith yang menjelaskannya iaitu Imam Al-Hafiz Al-‘Iraqi dalam Kitab Amali  bahawa “Perkataan ‘siapa’ pada ayat tersebut bererti malaikat”.

Kemudian, yang berada dilangit dan bertempat dilangit bukanlah Allah tetapi para malaikat berdasarkan hadith Nabi bermaksud: “ Tidaklah di setiap langit itu kecuali pada setiap empat jari terdapat banyak para malaikat melakukan qiyam, rukuk atau sujud ”. Hadith Riwayat Tirmizi.

Ketahuilah bahawa tempat tinggal para malaikat yang mulia adalah di langit pada setiap langit penuh dengan para malaikat manakala bumi terkenal dengan tempat tinggal manusia dan jin. Maha suci Allah dari bertempat samaada di langit mahupun di bumi.

Banyak hadis dan ayat yang menyebutkan man fissamawati (yang dilangit), penduduk langit dan sebagainya, tapi itu semua adalah para malaikat. Seperti dalamsurat al-ra’du ayat 15 (ayat sajadah) :
“walillahi yasjudu man fissamawati wal’ardhi thau’an wa karhan wa dhilaaluhum bil ghuduwwi wal aashaal”

artinya : “Apa yang di langit dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau atau tidak mau, demikian juga bayang-bayang mereka diwaktu pagi dan petang (QS arra’du ayat 15)

Dalam Tafsir jalalain (halaman 201, darul basyair, damsyik) :
“Apa yang di langit (man fisamawati) dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau” (adalah seperti orang beriman) “atau tidak mau” (sperti orang munafiq dan orang yang ditakut-takuti (untuk sujud)  dengan pedang).

Dalam kitab ihya ulumuddin (jilid I, bab Kitab susunan wirid dan uraian menghidupkan malam) ayat ini merupakan salah satu wirid yang dibaca pada pada waktu petang.

3. Dalam Tafsir qurtubi
Al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya turut menjelaskan perkara yang sama bila mentafsirkan ayat tersebut. Sekiranya ingin dimaksudkan dari perkataan ‘man’ (siapa) dalam ayat tadi itu adalah ‘Allah’ maka tidak boleh dikatakan keberadaan Allah itu di langit kerana Allah tidak memerlukan langit tetapi memberi erti ‘kerajaan Allah’ BUKAN ‘zat Allah’. Maha suci Allah dari sifat makhlukNya.

4. Dalam tafsir jalalain ((penerbit darul basyair, damsyiq,halaman 523)

Imam suyuthi rah mengatakan :
“Yang dimaksud مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i) dalam ayat tersebut adalah kekuasaan/kerajaan dan qudrat-Nya (Shulthonihi wa qudratihi )
jadi yang dilangit adalah kekuasaan dan qudratnya (Shulthonihi wa qudratihi ) bukan dzat Allah

sehingga penafsiran yang betul (dalam tafsir jalalain dan qurtubi) :

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Apakah kamu merasa aman dengan Allah yang di langit (kekuasaan dan qudratnya) bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, (Al-Mulk:16)

أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

atau apakah kamu merasa aman dengan Allah yang di langit (kekuasaan dan qudratnya bukan dzat-Nya) bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Al-Mulk:17).

B. Hadis tentang isra mi’raj dan “Langit ” sebagai Kiblat Do’a Bukan “Tempat bersemayam dzat Alah”

As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya).
Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arahpenjuru tersebut”.
Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasanya bukanlah maksud dari mi’raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi
Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi’raj adalah memuliakan Rasulullah shalalllahu ‘alayhi wasallam dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur’an surat al Isra ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam sehingga jarak antara keduanya dua hasta atau lebih dekat, melainkan yang mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam di saat mi’raj adalah Jibril ‘alayhissalam, sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al
Bukhari (W. 256 H) dan lainnya dari as-Sayyidah ‘Aisyah -semoga Allah meridlainya-, maka wajib dijauhi kitab Mi’raj Ibnu ‘Abbas dan Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu ‘Abbas karena keduanya adalah kebohongan belaka yang dinisbatkan kepadanya.
Sedangkan ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah
berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat.

Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti al Imam al Mutawalli (W. 478 H) dalam kitabnya al Ghun-yah, al Imam al Ghazali (W. 505 H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulum ad-Din, al Imam an-Nawawi (W. 676 H) dalam
kitabnya Syarh Shahih Muslim, al Imam Taqiyy ad-Din as-Subki (W.756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil dan masih banyak lagi.
Perkataan al Imam at-Thahawi tersebut juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al Wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham Hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati
makhluk-Nya. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma’ (konsensus) kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Imam as-
Suyuthi (W. 911 H) dalam karyanya al Hawi li al Fatawi dan lainnya, juga para panutan kita ahli tasawwuf sejati seperti al Imam al Junaid al Baghdadi (W. 297 H), al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H), Syekh Abdul Qadir al Jilani (W. 561 H) dan semua Imam tasawwuf sejati, mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang berdusta sebagai pengikut tarekat tasawwuf dan meyakini aqidah Wahdah al Wujud dan Hulul.

C. Ayat  Mutasyabihat  NAIK

Artinya : Dan kepada-Nya naik (mengetahui-Nya)  perkataan yang baik dan amAlan yang shalih dinaikan (MENERIMA AMALAN SHALIHNYA)

Dalam tafsir Jalalain :  (ilaihi YUSH’ADU kalimuthayyib) ya’lamuhu ,….

Artinya lafadz :  ilaihi YUSH’ADU kalimuthayyib artinya  MENGETAHUINYA,…

(wa ‘amilushalihati yarfa’uhu) YAQBALUHU

Artinya  : menerima amalan baik itu (memberi  pahala/meridhai)

Bersambung ….

http://salafytobat.wordpress.com

Kitab Durratun nashihin & Ibnu Katsir : Keutamaan Sepuluh Dzul hijah

Kitab Durratun nashihin & Ibnu Katsir : Keutamaan Sepuluh Dzul hijah

Tak’lim Ke 72

Keutamaan Sepuluh Dzul hijah

Surat Wal-fajri ayat 1 -4

waalfajri
[89:1] Demi fajar,
walayaalin ‘asyrin
[89:2] dan malam yang sepuluh1573,
waalsysyaf’i waalwatri
[89:3] dan yang genap dan yang ganjil,
waallayli idzaa yasri
[89:4] dan malam bila berlalu.

Dari Hasan bin Aly bahwa dia berkata : “Apabila engkau masuk ke masjid, maka bersalamlah karena Rasulullah saw., telah bersabda :

“Jangnlah kamu sekalian menjadikan rumahku hari raya dan jangan pula kamu sekalian menjadikan rumah-rumahmu sebagi kuburan, bahkan bacalah kamu sekalian shalawat untuk saya dimana kamu sekalian berada; karena sesungguhnya shalawatmu itu sampai kepada saya”.

Di dalam hadits sahabat Ausin Radhiyallu’anhu bahwa dia berkata : “Beliau Nabi Saw., bersabda :

“Perbanyaklah oelhmu sekalian membaca shalawat untuk saya pada hari jum’at, karena sesungguhnya shalawatmu itu ditampakan/disampaikan kepada saya” (al-hadits).

Dari salman bin Sahiim rah. Bahwa dia berkata :

“Saya bermimpi melihat Nabi SAW , maka saya berkata : “Wahai Rasulullah, mereka orang-orang yang datang kepadamu member salam kepadamu, apakah engkau faham/mengerti salam mereka?”

Maka Beliau menjawab : “Ya saya mengerti dan membalas salam mereka” (Syifaa-un syarifuun)

Sementara Kata Ulama : “Barang siapa berpuasa pada hari ini (enam hari sesudah hari raya), maka akan dimuliakan oleh Allah ta’ala dengan 10 perkara :

  1. Berkah dalam umurnya
  2. 2. Tambah hartanya
  3. 3. Terjaga keluarganya
  4. Terhapus semua kejahatannya
  5. Dilipatgandakan kebaikannya
  6. Mudah dalam sakaratul maut
  7. Penerangan dalam kuburnya
  8. Berat timbangan kebaikannya dihari hisab
  9. Selamat dari semua tinadakan yang hina
  10. Naik derajatnya

Dan demikian juga diriwayatkan : “Sungguh Allah Swt. Telah memilih tiga puluhan dalam satu tahun :

  1. Sepuluh hari di akhir bulan ramadhan

Karena didalmnya terdapat berkah lailatul qadar

2. Sepuluh hari Bulan Qurban/Dzilhijjah

Karena didalamnya terdapat hari tarwiyah, hari arafah dan hari qurban, talbiyah, ibnadah haji dan macam-macam ibadah haji lainnya.

Sebagaimana telah dating dalam sebuah hadits :

“Sungguh Allah ta’ala berbangga pada malaikat-Nya; maka Dia Allah berfirman : “Lihatlah olehmu sekalian, para hambaku sekiranya mereka telah datang dari segenap penjuru dengan keadaan kusut lelah lagi berjalan guna melihat kemanfaatab mereka. Maka dari itu saksikanlah olehmu sekalian sesungguhnya aku telah mengampuni mereka’ (Bagian dari hadits yang panjang, ini terdapat dalam kita-kitab hadits mu’tabar)

3.  Sepuluh Hari Bulan Muharram

Karena didalmnya terdapat berkah dari hari asyura, dan karena adanya hadits atsar dan yang sepertinya”.

Hadits-hadits Keutamaan 10 Hari Bulan Dzil Hijjah

Kata sebagian ulama Ahlu fiqh Rah. : “Kalau ada seorang laki-laki berkata : “Karena Allah; saya akan berpuasa pada hari yang paling utama ditahun ini sesudah bulan Ramadhan”, maka wajib baginya berpuasa pada sepuluh hari yang pertama dari bulan Dzulhijjah. Karena hari-hari yang utama dari satu tahun ialah hari-hari ini (10 hari pertama bulan Dzil hijjah).

Hadits 1

Dalam sebuah hadits disebutkan :

“Barangsiapa berpuasa pada hari arafah dari bulan Dzil Hijjah, maka Allah ta’ala mencatat baginya pahala enam puluh tahun dan dicatat oleh Allah pula termasuk golongan orang-orang yang ta’at” (zubdatul waa’idziina).

Hadits ke 2

Diriayatkan dari Ibnu Abbas r.a bahwa sesungguhnya dia berkata : “Beliau Nabi Saw. Bersabda :
ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid). (HR Bukhari)

Hadits ke 3

Dan diriwayatkan juga oleh Abi Hurairah Ra. Dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda :

“Tidak ada hari-hari yang lebih disukai oleh Allah dikala dia disembah dari pada  sepuluh hari bulan Dzilhijjah : Berpuasa setiap hari padanya sebanding dengan puasa setahun dan berdiri mengerjakan ahalat setiap malam dari padanya sebanding dengan shalat pada malam lailatul qadar”

Hadits ke 4

Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa Nabi Musa as. Berkata : “Wahai Tuhanku, aku telah berdoa dan engkau belum mengabulkan doaku, maka berilah aku satu ilmu untuk berdoa kepadamu”

Dia Allah SWT memberikan wahyu kepadanya : “Hai Musa, apabila engkau telah masuk dalam hari-hari yang sepuluh dari bulan Dzilhijjah bacalah :

Laa ilaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah) Maka akan aku kabulkan hajatmu”

Kata Nabi Musa as. : “Tuhanku semua hambaku sudah membacanya”.

Firman Allah Swt : “Hai Musa, Barang siapa membaca “Laa ilaaha illallaah” Pada hari hari ini sekali saja sekiranya tujuh langit dan tujuh bumi diletakan piring timbangan dan “Laa ilaaha illallaah” di piringan yang satunya, niscaya “Laa ilaaha illallaah” itu menjadi berat dan berbobot mengalahkan semuanya”.

Hadits ke 5

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW., bahwa sesungguhnya beliau bersabda : “

“hari saat mana Allah mengampuni Nabi Adam as., adalah hari pertama bulan dzulhijjah. Barang siapa berpuasa pada hari itu maka Allah mengampuni dosanya.

Pada hari kedua, Allah telah mengabulkan doa nabi yunus as. Dan mengeluarkannya dari perut ikan. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka seperti orang yangberibadah kepada Allah ta’aala selama satu tahun serta tidak mendurhakai Allah dalam ibadahnya meskipun sekejap mata.

Pada hari ketiga, Allah telah mengabulkan doa Nabi Zakariya as. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah mengabulkan doanya.

Pada Hari keempat, Nabi Isa as. Dilahirkan. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah meniadakan/menghilangkan kesusahannya dan kefakirannya, dan dia besok pada hari qiyamat bersama dengan orang-orang yang pergi yang baik-baik dan yang mulia.

Pada Hari kelima, Nabi Musa as. Dilahirkan, Barangsiapa berpuasa pada hari itu, maka dia bebas dari siksa kubur.

Pada hari kekenam, Allah ta’aala membuka kebaikan untuk nabinya. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah memperhatikan kepadanya dengan kasih saying dan dia tidak disiksa sesudah itu.

Pada Hari ketujuh, semua pintu-pintu neraka jahannam ditutup dan tidak dibuka sehingga berlalu hari-hari yang sepuluh itu.

Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah akan menghindarkan dari padanya tiga puluh pintu kesukaran dan membukakan baginya tiga puluh pintu kemudahan.

Pada Hari ke delapan, dinamakn hari tarwiyah.

Barang siapa yang berpuasa pada hari itu, maka dia diberi pahala yang hanya diketahui oleh Allah ta’aala sendiri.

Pada hari hari kesembilan, dinamakan hari arafah.

Barang siapa berpuasa pada hari itu maka sebagai tebusan dosanya pada tahun yang telah lewat dan yang akan dating. Dan pada hari itu juga telah diturunkan ayat : “Pada hari ini telah kau sempurnkanbagimu akan agamamu dan aku sempurnakan pula nikmatku kepadamu”

Pada hari kesepuluh, Hari Raya iedul adhaa.

Barang siapa berkurban dengan satu qurban, maka mulai tetesan darah yang terjatuh ketanah, Allah mengampuni semua dosanya dan dosa-dosa keluarganya dan barangsiapa member makan orang mukmin atau bersedekah dengan satu pemberian, maka Allah ta’aala membangkitkan pada hari qiyamat dengan selamat dan timbangannya pun menjadi lebih berat daripada gunung uhud. (Dari Kitab Majaalis).

Diceritakan dari Sufyan atsauri bahwa dia berkata : Saya mengitari kubur-kubur orang islam di Bashrah pada beberapa malam di bulan dzulhijjah. Tiba-tiba ada cahaya dikubur salah seorang dari mereka. Maka saya berhenti sambil berfikir. Pada saat itu ada suara keras yang mengatakan : “Hai Sufyan, supaya engkau berpuasa sepuluh hari dibulanDzilhijjah,  maka akan diberikan kepadamu seperti cahaya ini” (zubdatul waa’idziina).

Hadits ke 6

Nabi bersabda :

“Barang siapa berpuasa pada hari akhir bulan Dzil hijjah dan pada hari pertama bulan muharram, maka sungguh dia telah memungkasi tahun yang lalu dengan puasa dan telah mengawali tahun mendatang dengan puasa dan Allah ta’ala menjadikan  baginya tebusan dosa selama lima puluh tahun.

Hadits ke 7

Dari Aisyah ra., bahwa dia berkata “Sungguh Rasulullah SAW telah bersabda :

Tidak satu haripun yang saat itu Allah memerdekakan para hambanya dari neraka lebih banyak daripada yang dia bebaskan pada hari arafah” (Demikian di zubdatul wa’izdiina)

Ambilah apa-apa yang telah saya sampaikan padamu dan janganlah termasuk orang-orang yang menentang

Hadits 8.

Suatu bacaan yang paling utama say abaca dan dibaca pula oleh para nabi sebelumku pada hari-hari yang sepuluh ini ialah : “Tidak ada Tuhan melainkan Allah dengan sendirinya tidak ada sekutu bagiNya”.

Hadits 9

Beliau Nabi SAW., bersabda :

Tidak ada hari-hari suatu amal lebih utama melainkan pada hari sepuluh Dzilhijjal. Rasulullah ditanya : Dan tidak juga bulan ramadhan ?

Beliau bersabda : Amal dibulan ramadhan lebih utama, akan tetapi hari-hari ini (sepuluh hari dzil hijjah) kemuliaannya lebih besar”

Firman Allah :

[89:3] dan yang genap dan yang ganjil,

Dari Abdullah Bin Mas’ud ra. menerangkan “asy’u (genap) yaitu hari tarwiyah dan nhari arafah , sedang al witru (ganjil) adalah hari raya.

waallayli idzaa yasri
[89:4] dan malam bila berlalu.

Kata sebagian ulama : Malam itu adalah malam mudzalifah. Allah ta’ala telah bersumpah dengan malam itu karena keutamaan dan kemuliaannya sebab berjalanya jamaah haji pada malam itu.

Syaikh abu sa’id menafsirkan   malam itu adalah malam isra mi’raj

walayaalin ‘asyrin
[89:2] dan malam yang sepuluh

yakni sepuluh malam bulan dzulhijjah.

Allah bersumpah dengan 10 malam dzilhijjah karena masa-masa kesibukan ibadah haji dan malam malam lainnya.

Ibadah haji yang mabrur adalah amalan yang paling utama, sebab sbagai tebusan semua dosa/umur orang itu.

Hadits 10.

Dalam sebuah hadits disebutkan :

“Tidak ada hari-hari disaat mana amal yang baik lebih utama dari hari-hari yang sepuluh ini”.

sepuluh hari itu ditafsirkan sepuluh hari dzilhijjah. (Syaikhun zaadah)

Ringkasan :

Tafsir ibnu katsir juz 4 surat al-fajr, page 563, penerbit darusalam riyadh

Kitab Durratun Nashin, halaman 903-914, penerbit Victory agency kuala lumpur

http://salafytobat.wordpress.com

Ibnu katsir membungkam wahhaby (2) : Tafsir ayat “istiwa”

Ibnu katsir membungkam wahhaby (2) : Tafsir ayat “istiwa”

Bagaimana cara ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami masalah asma wa sifat atau yang sering di sebut dngan ayat-aya dan hadit-haditst sifat?ayat-ayat sifat disini adalah ayat Alquran atau Hadits Nabi yang menyebutkan tentang aggota tubuh seperti mata ,tangan,naik turun yang di sandarkan kepada Allah dll yang jika salah dalam memahamimya seseorang bisa masuk dalam kesesatan aqidah mujassimah(yang megatakan bahwa Allah SWT mempunyai aggota badan yang menyerupai dengan hambanya).Atau akan terjerumus dalam ta’thil (yang menolak sifat-sifat Allah SWT ).Begitu penting dan bahaya permasalahan ini maka ulama benar-benar telah membahasnya dengan detail dan rinci agar ummat ini tidak salah dalam memahami ayat –ayat dan hadits-hadits sifat .
Ada dua catara yang di ambil oleh ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami ayat-ayat sifat ini :
Pertama adala tafwidh, maksudnuya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di fahami sesuai dhohir lafatnya akan merusak aqidah. Misanya disaat Allah menyebut tangan yang di nisbatkan kepada Allah, maka maknanya tidak di bahas akan tetapi dilalui dan diserahkan kepada Allah SWT.   Ibnu katsir adalah salah satu ulama yang menggunkan methode ini.
Kedua adalah dengan cara mentakwili ayat tersebut dengan makna yang ada melalaui dalil lain. Seperti tangan Allah di artikan dengan kekuasaan Allah yang memang makna kekuasaa itu sendiri di tetapkan dengan dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.
Perhatian
1-Dua cara ini yakni attafwid dan attakwil adalah cara yang di ambil oleh ulama salaf dan kholaf,sungguh tidak benar jika tafwid adalah metode tyang di ambil oleh ulama salaf dan ta’wil adalah yang di ambil oleh ulama kholaf saja.
2-Ada sekelompok orang di akhir zaman ini menfitnah para ulama terdahulu(salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini.maka kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu karena takwil ,sungguh mereka adalah orang –orang yang tidak mengerti bagaimana mentakwil dan mereka uga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu karena banyak riwayat ta’wil yang dating dari para salaf..
3-ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dam kesesatan takwil yang tidak mereka sadari.misalnya disaat mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘ars ,mereka mengatakan tidak boleh ayat tentang keberadaan Allah di ars ini di ta’wili.akan tetapi dengan tidak di sadari mereka menjelaskan keberadan Allah di ars dengan penjelasan bahwa ars adlah makhluq terbesar(seperti bola dan semua mkhluk yang lain di dalamnya.kemudian mereka mengatakkan dan Allah swt berada di atas Arsy nag besar itu di tempat yang namany makan ‘adami(tempat yang tidak ada).Lihat dari mana mereka mengatakan ini semua. Itu adalah takwil fasid dan ba’id(takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran.
Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang Allah dan ars,para ahli tafwid menyerahkan pemahaman maknanya kepada Allah swt,adapu ahli ta’wil mengatakan Alah menguasai Ars dan tidaklah salah karena memang Allah dzat yang maha kuasa terhadap makhluk terbesar Ars, sebab memang Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu.wallhu a’lam bishshowab

A.  Tafsir Ayat Mutasyabihat ISTIWA

I. Tafsir Makna istiwa Menurut Kitab Tafsir Mu’tabar
lihat dalam tafsir berikut :

1. Tafsir Ibnu katsir menolak makna dhahir (lihat surat al -a’raf ayat 54, jilid 2 halaman 295)

Tarjamahannya (lihat bagian yang di line merah)  :

{kemudian beristawa kepada arsy} maka manusia pada bagian ini banyak sekali perbedaan pendapat , tidak ada yang memerincikan makna (membuka/menjelaskannya)  (lafadz istiwa) dan sesungguhnya kami menempuh dalam bagian ini seperti apa yang dilakukan salafushalih, imam malik, imam auza’I dan imam atsuri, allaits bin sa’ad dan syafi’I dan ahmad dan ishaq bin rawahaih dan selainnya dan ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang. Dan lafadz (istawa) tidak ada yang memerincikan maknanya seperti yang datang tanpa takyif (memerincikan bagaimananya) dan tanpa tasybih (penyerupaan dgn makhluq) dan tanpa ta’thil(menafikan)  dan (memaknai lafadz istiwa dengan)  makna dhahir yang difahami (menjerumuskan) kepada pemahaman golongan musyabih yang menafikan dari (sifat Allah)  yaitu Allah tidak serupa dengan makhluqnya…”

Wahai mujasimmah wahhaby!!

lihatlah ibnu katsir melarang memaknai ayat mutasyabihat  dengan makana dhohir karena itu adalah pemahaman mujasimmah musyabihah!

bertaubatlah dari memaknai semua ayat mutasyabihat dengan makna dhahir!!

Kemudian Ibnu katsir melanjutkan lagi :

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [al-Syura: 11]. Bahkan perkaranya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata: “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir, dan siapa yang mengingkari apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir, dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat muhkamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.”

Inilah selengkapnya dari penjelasan Ibnu Katsir.Berdasarkan penjelasan ibnu katsir :

- Ayat mutasyabihat harus di tafsir dengan ayat syarif (ayat muhkamat) atau ayat yang jelas maknanya/Bukan ayat mutasyabihat!! Tidak seperti wahhaby yang menggunakan ayat mutasyabihat utk mentafsir ayat mutasyabihat yang lain!!!! ini adalah kesesatan yang nyata!

- ibnu katsir mengakui ayat ‘istiwa’ adalah ayat mutasyabihat yang tidak boleh memegang makna dhahir dari ayat mutasyabihat tapi mengartikannya dengan ayat dan hadis yang – jadi ibnu katsir tidak memperincikan maknanya tapi juga tidak mengambil makna dhahir ayat tersebut.

- disitu imam ibnu katsir, imam Bukhari dan imam ahlsunnah lainnya  tidak melarang ta’wil.

“…dan  selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya)tanpa takyif  (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan)….”

sedangkan wahaby melarang melakukan tanwil!

2.    Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra’d:

1- Tafsir al Qurtubi

(ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan

2- Tafsir al-Jalalain

(ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya

3- Tafsir an-Nasafi Maknanya:

makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain…

4- Tafsir Ibnu Kathir , darussalam -riyadh, Jilid 2 , halaman 657, surat ara’ad ayat 2):

(ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf,  sesungguhnya ia ditafsirkan sebagaimana lafadznya yang datang (tanpa memrincikan maknanya) tanpa kaifiat(bentuk) dan penyamaan, tanpa permisalan, maha tinggi

Disini Ibnu Katsir mengunakan ta’wil ijtimalliy iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya.

II. Makna istiwa yang dikenal dalam bahasa arab dan dalam kitab-kitab Ulama salaf

Di dalam kamus-kamus arab yang ditulis oleh ulama’ Ahlu Sunnah telah menjelaskan istiwa datang dengan banyak makna, diantaranya:

1-masak (boleh di makan) contoh:

قد استوى الطعام—–قد استوى التفاح maknanya: makanan telah masak—buah epal telah masak

2- التمام: sempurna, lengkap

3- الاعتدال : lurus

4- جلس: duduk / bersemayam,

contoh: – استوى الطالب على الكرسي : pelajar duduk atas kerusi -استوى الملك على السرير : raja bersemayam di atas katil

5- استولى : menguasai,

contoh: قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق

Maknanya: Bisyr telah menguasai Iraq, tanpa menggunakan pedang dan penumpahan darah.

Al Hafiz Abu Bakar bin Arabi telah menjelaskan istiwa mempunyai hampir 15 makna, diantaranya: tetap,sempurna lurus menguasai, tinggi dan lain-lain lagi, dan banyak lagi maknannya. Sila rujuk qamus misbahul munir, mukhtar al-Sihah, lisanul arab, mukjam al-Buldan, dan banyak lagi. Yang menjadi masalahnya, kenapa si penulis memilih makna bersemayam. Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah?, apakah dia tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Adakah si penulis ini tidak mengatahui bahawa siapa yang menyamakan Allah dengan salah satu sifat daripada sifat makhluk maka dia telah kafir?

sepertimana kata salah seorang ulama’ Salaf Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):

ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر

Maknanya: barang siapa yang menyifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai arasy kerana arasy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala sepertimana kata-kata Saidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:

ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته ولم يتخذه مكان لذاته

Maknanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-arasy untuk menzohirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.

Allah ada tanpa tempat dan arah adalah aqidah salaf yang lurus.

III. Hukum Orang yang meyakini Tajsim; bahwa Allah adalah Benda

 


*Bersemayam yang bererti Duduk adalah sifat yang tidak layak bagi Allah dan Allah tidak pernah menyatakan demikian, begitu juga NabiNya. Az-Zahabi adalah Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Uthman bin Qaymaz bin Abdullah ( 673-748H ). Pengarang kitab Siyar An-Nubala’ dan kitab-kitab lain termasuk Al-Kabair.Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah Duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair. Demikian teks Az-Zahabi kafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” :Nama kitab: Al-Kabair.
Pengarang: Al-Hafiz Az-Zahabi.
Cetakan: Muassasah Al-Kitab Athaqofah,cetakan pertama 1410h.Terjemahan.
Berkata Al-Hafiz Az-Zahabi:
“Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas terkeluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah Duduk untuk menetap atau katanya Allah Berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”. Rujuk scan kitab tersebut di atas m/s 142.

Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al
Qawim h. 64, mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.

Al Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah meridlainyamengatakan:
“Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’i dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal).

Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”.

As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata:
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,
kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

III.  ulamak 4 mazhab tentang aqidah

1- Imam Abu hanifah:

لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه

Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah, muka surat 1.


IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.

Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :

“ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat.

Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.

Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.

2-Imam Syafie:

انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير

Maknanya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 muka surat 23

3-Imam Ahmad bin Hanbal :

-استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.

وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه

Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahawa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya(Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami

4- Imam Malik :

الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة

Maknannya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif(bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan soal tentangnya bidaah.

lihat disini : imam malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir  jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)…..

Bersambung ….

http://salafytobat.wordpress.com

Ibnu Katsir Membungkam Wahhaby (I) : Tafsir ayat Mutasyabihat Yad (tangan)

Ibnu Katsir Membungkam Wahhaby (I)

TIK 4  COVER

- Ayat Mutaysabihat tentang Lafadz Tangan / yad (kata tunggal/ single)/ aidin (jamak/plural).

- Ahlusunnah Tidak Mengambil Makna Dhahir ayat mutasyabihat

I.  Wahhaby mengelirukan makna “tafsir”  dengan “ta’wil”

Ilmu- yang harus dimilki oleh orang yang ingin menjadi ahli tafsir alqur’an. Disamping harus mengusai 14 cabang ilmu lainnya seperti ilmu lughah, nahwu, saraf, balaghah, isytiqoqo, ilmu alma’ani, badi’, bayan, fiqh, aqidah, asbabunuzul, nasikh mansukh, ilmu qiraat, ilmu hadits, usul fiqah ( hukum-hukum furu’) dan ilmu mauhub ( fadhilah alqur’an, syaikh maulana zakariyya).

Kenapa perlu ilmu aqidah dalam hal ini tahu sifat-siafat Allah yang wajib, sifat yang mustahil dan sifat yang jaiz (boleh/harus) bagi Allah? Karena banyak ayat mutasyabihat yang tidak boleh mengambil makna dhahir (explisit) dari ayat itu, tapi menggunkan makna implisit dari lafadz tersebut. Jadi ta’wil adalah salah satu cara untuk mentafsir Al-qur’an.

apakah WAHABY  masih bersikeras menggunakan makna dhahir pada ayat/hadist mutasyabihat ini ?

coba lihat tafsir ayat berikut

- ”Nasuullaha fanasiahum” (QS Attaubah:67),

Artinya : Mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka (QS Attaubah:67),

- ”Innaa nasiinaakum” (QS Assajadah 14).

Artinya : (sungguh kami telah lupa pada kalian ( QS Assajadah 14)

Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman :

”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)

II. Ahlusunnah Tidak Mengambil Makna Dhahir ayat mutasyabihat

Ahlusunnah TIDAK MENERIMA MAKNA DHOHIR ayat atau hadits mutasyabihat (ta’wil) tapi juga TIDAK MERUBAH LAFADZ AYAT/HADIST (TASHRIF) , karena merubah lafadz ayat atau hadits adalah haram dan dilarang. Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.

Ta’wil disni  berarti menjauhkan makna dari segi zahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah, ini kerana zahir makna nas al-Mutasyabihat tersebut mempunyai unsur jelas persamaan Allah dengan makhluk. Dalil melakukan ta’wil ayat dan hadis  mutasyabihat:

Rasulullah berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa:

dalil ta'wil ibnu abbas

Maknanya: “Ya Allah alimkanlah dia hikmah dan takwil Al quran” H.R Ibnu Majah. (Sebahagian ulamak salaf termasuk Ibnu Abbas mentakwil ayat-ayat mutasyabihah)

Masalah ayat/hadist mutasyabihat  dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya.
1.Pendapat Tafwidh ma’a tanzih (Ta’wil ijtimaly)

2.Pendapat Ta’wil (Ta’wil Tafsilly)

Keterangan :

1. Madzhab tafwidh ma’a tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kpd

Allah swt, dg i’tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan).

Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu;minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dg hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yg juga di pegang oleh Imam Abu hanifah.

Pendapat ini dikenal juga dengan TA’WIL IJTIMALY iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya. Sebagai contoh perkataan istawa dikatakan istawa yang layak bagi Allah dan waktu yang sama dinafikan zahir makna istawa kerana zahirnya bererti duduk dan bertempat, Allah mahasuci dari bersifat duduk dan bertempat.

dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dg mahluk, bukan seperti para imam yg memegang madzhab tafwidh.

2. Madzhab takwil yaitu menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dg keesaan dan keagungan Allah

swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari,Imam Nawawi dll. (syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)
Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam imam ahlussunnah waljamaah.

Ta’wilan Tafsiliyy iaitu ta’wilan yang menafikan makna zahir nas tersebut kemudian meletakkan makna yang layak bagi Allah. Seperti istawa bagi Allah bererti Maha Berkuasa kerana Allah sendiri sifatkan dirinya sebagai Maha Berkuasa.

Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yg berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy).
Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah swt, sebagaimana firman Nya : ”Maha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa apa yg mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas tuhan sekalian alam” . (QS Asshaffat 180-182).

III. Ayat Mutaysabihat tentang Lafadz Tangan / yad (kata tunggal/ single)/ aidin (jamak/plural)

ini adalah untuk membantah mufassir sesat dan palsu yang bernama Syaikh AsySyinqithy  al wahaby (Guru syaikh Shalih  Fauzan Al wahaby).

Bisa kita lihat dalam kamus manapun bahwa yad adalah bernakna  tangan (untuk mufrad/tunggal). Sedangkan bentuk jamaknya (plural) adalah aidin. Lihat dalam kamus bahasa arab berikut :

Kemudian kita lihat lagi Tafsir Ibnu Katsir Surat AdzDzaariyaat ayat 47 (pada yang di line merah) :


وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuatan (Tangan) dan sesungguhnya Kami benar-benar memperluasnya” (Surat AdzDzaariyaat ayat 47)


tarjamah (Scan kitab tafsir Ibnu katsir yang di line merah) :

Makna Lafadz ا بِأَيْدٍ (dengan Tangan ) adalah  kekuatan. Yang mengatakan seperti ini adalah Ibnu abbas, mujahid, qatadah,  atsauri dan selainnya”

jadi Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud lafadz د  (biaidin) adalah “dengan  kekuasaan“, bukan maksudnya tangan yang merupakan anggota badan (jarihah) kita, karena Allah maha suci darinya.

Lihat rujukan dalam kitab Tafsir mu’tabar :

Dalam Tafsir Qurtuby:

لَمَّا بَيَّنَ هَذِهِ الْآيَات قَالَ : وَفِي السَّمَاء آيَات وَعِبَر تَدُلّ عَلَى أَنَّ الصَّانِع قَادِر عَلَى الْكَمَال , فَعَطَفَ أَمْر السَّمَاء عَلَى قِصَّة قَوْم نُوح لِأَنَّهُمَا آيَتَانِ . وَمَعْنَى ” بِأَيْدٍ ” أَيْ بِقُوَّةٍ وَقُدْرَة . عَنْ اِبْن عَبَّاس وَغَيْره .

Dalam  Tafsir Thobary :

الْقَوْل فِي تَأْوِيل قَوْله تَعَالَى : { وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } يَقُول تَعَالَى ذِكْرُهُ : وَالسَّمَاء رَفَعْنَاهَا سَقْفًا بِقُوَّةٍ . وَبِنَحْوِ الَّذِي قُلْنَا فِي ذَلِكَ قَالَ أَهْل التَّأْوِيل . ذِكْرُ مَنْ قَالَ ذَلِكَ : 24962 – حَدَّثَنِي عَلِيّ , قَالَ : ثنا أَبُو صَالِح , قَالَ : ثني مُعَاوِيَة , عَنْ عَلِيّ , عَنِ ابْن عَبَّاس , قَوْله : { وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } يَقُول : بِقُوَّةٍ.

Dalam Tafsir Jalalain

Biquwati  (وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ)

Tarjamahannya : Lafadz BI AIDIN artinya DENGAN KEKUATAN-NYA

- kemudian dalam surat Al-Fath : 10


Lihat pada scan kitab yang di line merah :

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ……………

Tarjamahan firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10).

Tidak ada yang menafsirkan “yad”dengan makna dhahir bahwa “tangan” . Disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbai’at pada sahabat.

Dalam Tafsir Ibnu katsir (lihat scan kitab yang di line merah) , beliau tidak mengambil makana dhahir tangan sebagaimana yang difahami mujasimmah wahhaby dan yahudi :

makna yadullah (Tangan Allah) bermakna : Allah menyaksikan (hadhir) bersama mereka, Allah  mendengar percakapan mereka, allah melihat tempat mereka, Allah mengetahui kata Bathin (hati mereka) dan dhahir mereka maka dialah Allah Ta’ala Yang membai’at mereka dengan perantara Rasulullah SAW, seperti dalam firman Allah ta’ala:

[9:111] Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (SURAT AT TAUBAH (Pengampunan) ayat 111) )… (Tafsir Ibnu katsir, jilid 4, page 236).

Sedangkan dalam tafsir qurtubi :

Al-Qurthubi telah menukil pendapat Ibn Kisan sbb :

قِيلَ : يَده فِي الثَّوَاب فَوْق أَيْدِيهمْ فِي الْوَفَاء , وَيَده فِي الْمِنَّة عَلَيْهِمْ بِالْهِدَايَةِ فَوْق أَيْدِيهمْ فِي الطَّاعَة . وَقَالَ الْكَلْبِيّ : مَعْنَاهُ نِعْمَة اللَّه عَلَيْهِمْ فَوْق مَا صَنَعُوا مِنْ الْبَيْعَة . وَقَالَ اِبْن كَيْسَان : قُوَّة اللَّه وَنُصْرَته فَوْق قُوَّتهمْ وَنُصْرَتهمْ

Dalam Tafsir  At-Thobary

وَفِي قَوْله : { يَد اللَّه فَوْق أَيْدِيهمْ } وَجْهَانِ مِنْ التَّأْوِيل : أَحَدهمَا : يَد اللَّه فَوْق أَيْدِيهمْ عِنْد الْبَيْعَة , لِأَنَّهُمْ كَانُوا يُبَايِعُونَ اللَّه بِبَيْعَتِهِمْ نَبِيّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ; وَالْآخَر : قُوَّة اللَّه فَوْق قُوَّتهمْ فِي نُصْرَة رَسُوله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , لِأَنَّهُمْ إِنَّمَا بَايَعُوا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نُصْرَته عَلَى الْعَدُوّ.

Jadi tidak ada kitab tafsir mu’tabar yang menganbil makna dhahir dari ayat-ayat mutasyabihat!.

Jangan terkecoh  antara lafadz ayd (dengan huruf ya disukun artinya tangan (jamak)) dengan lafadz ayyad (karena artinya menguatkan), karena dalam bahasa arab  perbedaan satu huruf atau tanda baca satu bisa merusak makna, seperti dalam ayat :

[2:87] Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?

Ini bisa dilhat dalam kamus bahasa arab bahwa aid (tangan – jamak) berbeda dengan ayyad (mengatkan – fi’il/kata kerja)  (lihat yang diline merah) :

Kesimpulan :

- Ibnu katsir menta’wil ayat  bi aidin dengan makna kekuatan (padahal makna dhahirnya adalah dengan tangan, karena aid adalah jamak dari kata tangan).

- Bagi yang mengingkari lafadz “aid”  adalah jamak dari kata tangan, silahkan buka kamus bahasa arab manapun dan lihat pula ayat : “

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ……………

Tarjamahan firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan  mereka” (QS Al Fath 10). Disini jelas bahwa “أَيْدِ” adalah jamak dari “yad”/tangan.

- Ibnu katsir menta’wil ayat “yadu llah fauqa aidihim ” = beliau tidak mngambil arti dhahir “tangan” sebagaimana aqidah tajsim wahhaby dan yahudi.

InsyaAllah Bersambung…

Bagaimana Hukum Membaca bismillah dalam shalat?

Buya Yahya On Air

http://buyayahya.org

Bagaimana Hukum Membaca bismillah dalam shalat?

Jawab :

Dalam hal ini Ulama berbeda pendapat sebagian mengatakan bahwa Bismillah adalah bagian dari surat Al fatihah maka menurut mereka awal surat al fatihah adalah bismillah.

Sebagian lagi berpendapat bahwa Bismillah bukan termasuk bagian dari surat Al Fatihah maka menurut mereka permulaan surat Al Fatiah adalah Al hamdulillahi Robbil alamin .

Perbedaan ini ada sangkut pautnya dengan sah tidaknya sholat seorang Imam atau yang lainnya jika meninggalkan Bismillahir rohmanir rohim dalam bacaan fatihah di dalam shalat .

Menurut pendapat yang dikukuhkan didalam mazham Imam Syafei maka sholatnya Imam yang tidak membaca bismillah adalah tidak sah begitu juga makmum yang mengikutinya (Al Ibroh bi ‘idiqodil makmumi laa bi ‘idiqodil imam.).

Dan pendapat yang kedua yang boleh dambil dalam saat-saat tertentu, yaitu jika memang menurut Imam tersebut adalah sah maka makmum juga sah untuk mengikutinya (Al Ibroh bi ‘idiqodil imami laa bi ‘idiqodil makmum). Bagi yg berpendapat Bismillah bukan bagian dari Surat Al Fatihah maka tidak membaca Bismillah pun tidak membatalkan sholat dan ini adalah pendapat yang dikukuhkan dalam madzhab Imam Malik dan sebagian Riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal.

Hanya yang perlu diketahui agar kita semakin bijak didalam bermasyarakat khususnya didalam melihat perbedaan-perbedaan yang muncul saat ini, maka jangan sampai membuat keanehan didalam masyarakat. Jika seandainya Anda adalah seorang yang mengikuti mazhab Imam Malik yang tidak mewajibkan bismillah .

Disaat Anda menjadi Imamnya orang yang bermazdhab Syafei maka alangkah bijaknya bila Anda masih menjaga Bismillah untuk memberikan ketenangan kepada para makmum. Sebab yang harus kita pahami bahwa JIKA Anda TIDAK MEMBACA BISMILLAH ADA ULAMA YG MENGATAKAN SHOLAT Anda TIDAK SAH, AKAN TETAPI JIKA Anda MEMBACA BISMILLAH TIDAK ADA SATU ULAMA PUN YANG MENGATAKAN SHOLAT Anda TIDAK SAH.

http://buyayahya.org/index.php?option=com_fireboard&Itemid=58&func=view&id=200&catid=12

Membantah Fatwa sesat Bin Baz : Sunnah mencium Tangan Orang Shalih / Ulama

Membantah Kitab sesat Wahhaby (Bin Baz)

 

 

 

3. Jama’ah ba’da shalat, tidak perlu mencium tangan imam, cukup bersalaman saja???.
JAWAB
Kebiasaan mencium tangan merupakan kebiasaan baik sebagai tanda penghormatan, hal ini telah dilakukan dan diajarkan oleh Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan bahwa Ibn Abbas ra setelah wafatnya Rasul saw beliau berguru pada Zeyd bin Tsabit ra, maka Ibn Abbas ra disuatu hari menuntun tunggangan Zeyd bin tsabit ra, maka berkata Zeyd ra : “jangan kau berbuat itu”, maka berkata Ibn Abbas ra : “beginilah kita diperintah utk menghormati ulama ulama kita”, maka turunlah Zeyd bin tsabit ra dari tunggangannya seraya mencium tangan Ibn Abbas ra dan berkata : “Beginilah kita diperintah memuliakan keluarga Rasulullah saw”.

(Faidhul Qadir oleh Al hafidh Al Imam Abdurra’uf Almanaawiy Juz 2 hal 22), (Is’aful Mubtha’ oleh Al Hafidh Al Muhaddits Imam Assuyuthi ).
Anda lihat kalimat : “beginilah kita diperintah..”, kiranya siapa yang memerintah mereka?, siapa yang mengajari mereka?, mereka tak punya guru selain Muhammad Rasulullah saw.
Riwayat lain adalah ketika Ka’b bin malik ra gembira karena taubatnya diterima Allah swt, ia datang kepada Rasul saw dan mencium tangan dan juga kedua paha beliau saw (Fathul Baari Al masyhur oleh Imam Al Hafidh Al Muhaddits Ibn Hajar Al Atsqalaniy juz 8 hal 122)
Riwayat lain : “Kami mendekat pada Nabi saw dan mencium tangan nabi saw” (Sunan Imam Al Baihaqi Alkubra hadits no.13.362)

Riwayat lain : “Berkata Tamiim ra bahwa Mencium tangan adalah sunnah”. (Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13.363)

Demikian Rasul saw tak melarang cium tangan, demikian para sahabat radhiyallahu’anhum melakukannya.

 

Mufti BEN BAZ&Tuwaijiry adalah KAFIR&MUSYABBIH- kata Al-Bani (berbukti)

AL-ALBANI AL-WAHHABI KAFIRKAN BEKAS MUFTI SAUDI BEN BAZ AL-WAHHABI

Seorang tokoh agama baru agama Wahhabi bernama Nasiruddin Al-Albani yang menjadi nabi kepada agama Wahhabi telah menghukum KAFIR ke atas seluruh Wahhabi khususnya pengarang buku Wahhabi yang terkenal bernama Al-Tuwaijiry dan Abdul Aziz Bin Baz kerana menyamakan Allah dengan makhluk dan merujuk dhomir kata ganti nama dalam hadith Nabi dengan cara yang salah dan terpesong.

At-Tuwaijiry merupakan penulis buku Wahhabi yang banyak mengunakan dalil dari ucapan Yahudi untuk menyamakan Allah dengan makhluk dan Abdul Aziz Bin Baz yang merupakan bekas Mufti Saudi pula memuji bukunya dan menyokong sepenuhnya dengan menyatakan bahawa dhomir tersebut kembali kepada Allah dan dengan itu Al-Albani telah menghukum KAFIR ke atas kedua-duanya sekali kerana sepatutnya dhomir itu kembali kepada nabi Adam. Maha suci Allah dari menyerupai nabi Adam dan makhluk lain.

SILA DOWNLOAD KENYATAAN AL-ALBANI TERSEBUT DISINI:
KLIK

http://albrhan.org/portal/index.php?show=sounds&op=download&id=339

Sekiranya anda telah download rakaman itu sila fokuskan pada pentakfiran Al-Albani Al-Wahhabi keatas Wahhabi At-Tuwaijiry termasuk Ben Baz bekas Mufti Saudi yang menyokong Al-Tuwaijiry. Sila fokus pada minit 12 hingga tamat.

Wassalam

Ustaz Abu Syafiq

Ibnul Qayyim (Scan Kitab Ar-ruh) : Sampainya hadiah bacaan Alqur’an dan Bolehnya membaca Al-Qur’an diatas kuburan

Ibnul Qayyim (Scan Kitab Ar-ruh) : Sampainya hadiah bacaan Alqur’an dan Bolehnya membaca Al-Qur’an diatas kuburan

Scan Kitab bahasa Arab :

Cover :

kitab aroh arab cover

Baca Yang berwarna Merah  (page 5 digital book):

Aroh arab page 5ok

kitab ar-rooh (ar-ruh digital) Bisa di download di :

http://www.scribd.com/doc/21496576/alrooh

Scan kitab ar-ruh tarjamah (bahasa melayu) :

cover :

kitab ar-ruh ibnu qayyim_0004

Kitab ar-ruh :

kitab ar-ruh ibnu qayyim_0003

kitab ar-ruh ibnu qayyim_0002

Teks Arab Kitab Arruh Ibnu qayyim pada halaman 5 (kitab digital) :

وقد ذكر عن جماعة من السلف أنهم أوصوا أن يقرأ عند قبورهم وقت الدفن قال عبد الحق يروى أن عبد الله بن عمر أمر أن يقرأ عند قبره سورة البقرة وممن رأى ذلك المعلى بن عبد الرحمن وكان الامام أحمد ينكر ذلك أولا حيث لم يبلغه فيه أثر ثم رجع عن ذلك   وقال الخلال في الجامع كتاب القراءة عند القبور اخبرنا العباس بن محمد الدورى حدثنا يحيى بن معين حدثنا مبشر الحلبى حدثني عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه قال قال أبى إذا أنامت فضعنى في اللحد وقل بسم الله وعلى سنة رسول الله وسن على التراب سنا واقرأ عند رأسى بفاتحة البقرة فإنى سمعت عبد الله بن عمر يقول ذلك قال عباس الدورى سألت أحمد بن حنبل قلت تحفظ في القراءة على القبر شيئا فقال لا وسألت يحيى ابن معين فحدثنى بهذا الحديث   قال الخلال وأخبرني الحسن بن أحمد الوراق حدثنى على بن موسى الحداد وكان صدوقا قال كنت مع أحمد بن حنبل ومحمد بن قدامة الجوهرى في جنازة فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم فأخبرني مبشر عن عبد الرحمن بن العلاء اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال له أحمد فارجع وقل للرجل يقرأ

وقال الحسن بن الصباح الزعفراني سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال لا بأس بها   وذكر الخلال عن الشعبي قال كانت الأنصار إذا مات لهم الميت اختلفوا إلى قبره يقرءون عنده القرآن قال وأخبرني أبو يحيى الناقد قال سمعت الحسن بن الجروى يقول مررت على قبر أخت لي فقرأت عندها تبارك لما يذكر فيها فجاءني رجل فقال إنى رأيت أختك في المنام تقول جزى الله أبا على خيرا فقد انتفعت بما قرأ أخبرني الحسن بن الهيثم قال سمعت أبا بكر بن الأطروش ابن بنت أبي نصر بن التمار يقول كان رجل يجيء إلى قبر أمه يوم الجمعة فيقرأ سورة يس فجاء في بعض أيامه فقرأ سورة يس ثم قال اللهم إن كنت قسمت لهذه السورة ثوابا فاجعله في أهل هذه المقابر فلما كان يوم الجمعة التي تليها جاءت امرأة فقالت أنت فلان ابن فلانة قال نعم قالت إن بنتا لي ماتت فرأيتها في النوم جالسة على شفير قبرها فقلت ما أجلسك ها هنا فقالت إن فلان ابن فلانة جاء إلى قبر أمه فقرأ سورة يس وجعل ثوابها لأهل المقابر فأصابنا من روح ذلك أو غفر لنا أو نحو ذلك

Membaca Al-qur’an Diatas Kubur Dan Mengadiahkan Pahalanya bagi Mayyit (Muslim)

Tarjamahannnya :

Pernah disebutkan daripada setengah para salaf, bahwa mereka mewasiatkan supaya dibacakan diatas kubur mereka di waktu penguburannya. Telah berkata abdul haq, diriwayatkan bahwa Abdullah bin umar pernah menyuruh supaya diabacakan diatas kuburnya surah al-baqarah. Pendapat ini dikuatkan oleh mu’alla bin hanbal, pada mulanya mengingkari pendapat ini kerana masih belum menemui sesuatu dalil mengenainya, kemudian menarik balik pengingkarannya itu setelah jelas kepadanya bahwa pendapat itu betul.

Berkata Khallal di dalam kitabnya ‘Al-jami’ : Telah berkata kepadaku Al-Abbas bin Muhammad Ad-dauri, berbicara kepadaku Abdul Rahman bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, katanya : Ayahku telah berpesan kepadaku, kalau dia mati, maka kuburkanlah dia di dalam lahad, kemudian sebutkanlah : Dengan Nama Allah, dan atas agama Rasulullah !, Kemudian ratakanlah kubur itu dengan tanah, kemudian bacakanlah dikepalaku dengan pembukaan surat albaqarah, kerana aku telah mendengar Abdullah bin Umar ra. Menyuruh membuat demikian. Berkata Al-Abbas Ad-Dauri kemudian : Aku pergi bertanya Ahmad bin Hanbal, kalau dia ada menghafal sesuatu tentang membaca diatas kubur. Maka katanya : Tidak ada ! kemudian aku bertanya pula Yahya bin Mu’in, maka dia telah menerangkan kepadaku bicara yang menganjurkan yang demikian.

Berkata Khallal, telah memberitahuku Al-Hasan bin Ahmad Al-Warraq, berbicara kepadaku Ali bin Muwaffa Al-Haddad, dan dia adalah seorang yang berkata benar, katanya :Sekalai peristiwa saya bersama-sama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari menghadiri suatu jenazah. Setelah selesai mayit itu dikuburkan, maka telah duduk seorang yang buta membaca sesuatu diatas kubur itu. Maka ia disangkal oleh Imam Ahmad, katanya : Wahai fulan ! Membaca sesuatu diatas kubur adalah bid’ah !. Apa bila kita keluar dari pekuburan itu, berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari kepada Imam Ahmad bin Hanbal : Wahai Abu Abdullah ! Apa pendapatmu tentang si Mubasysyir Al-Halabi ? Jawab Imam Ahmad : Dia seorang yang dipercayai. Berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari seterusnya : Aku menghafal sesuatu daripadanya ! Sangkal Imam Ahmad bin Hanbal : Yakah, apa dia ? Berkata Muhammad bin Qudamah : Telah memberitahuku Mubasysyir, daribada Abdul Rahman Bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, bahwasanya ia berpesan, kalau dia dikuburkan nanti, hendaklah dibacakan dikepalanya ayat-ayat permulaan surat Al-Baqarah, dan ayat-ayat penghabisannya, sambil katanya : Aku mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mewasiatkan orang yang membaca demikian itu.

Mendengar itu, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada Muhammad bin Qudamah : Kalau begitu aku tarik tegahanku (Bhs Ind : penolakanku ) itu. Dan suruhlah orang buta itu membacakannya.

Berkata Al- Hasan  bin As-sabbah Az-za’farani pula : Saya pernah menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i, kalau boleh dibacakan sesuatu diatas kubur orang, maka Jawabnya : Boleh, Tidak mengapa !

Khalal pun telah menyebutkan lagi dari As-sya’bi, katanya : Adalah Kaum Anshor, apabila mati seseorang diantara mereka, senantiasalah mereka mendatangi kuburnya untuk membacakan sesuatu daripada Al-Qur’an.

Asy-sya’bi berkata, telah memberitahuku Abu Yahya An-Naqid, katanya aku telah mendengar Al-Hasan bin Al-Haruri berkata : Saya telah mendatangi kubur saudara perempuanku, lalu aku membacakan disitu Surat Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dianjurkan. Kemudian datang kepadaku seorang lelaki danmemberitahuku, katanya : Aku mimpikan saudara perempuanmu, dia berkata : Moga-moga Allah memberi balasan kepada Abu Ali (yakni si pembaca tadi) dengan segala yang baik. Sungguh aku mendapat manfaat yang banyak dari bacaannya itu.

Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar atrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !

Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.

(Tarjamah Kitab Ar-ruh  Hafidz Ibnuqayyim jauziyah, ‘Roh’ , Ustaz Syed Ahmad Semait, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, 1990, halaman 17 – 19)

http://salafytobat.wordpress.com/2009/04/23/sampainya-hadiah-bacaan-al-qur%E2%80%99an-untuk-mayyit-orang-mati/

Sampainya Hadiah Bacaan Al-qur’an untuk mayyit (Orang Mati)

Sampainya Hadiah Bacaan Al-qur’an untuk mayyit (Orang Mati)

A. Dalil-dalil Hadiah Pahala Bacaan

1. Hadits tentang wasiat ibnu umar tersebut dalam syarah aqidah Thahawiyah Hal :458 :

“ Dari ibnu umar Ra. : “Bahwasanya Beliau berwasiat agar diatas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awa-awal surat albaqarah dan akhirnya. Dan dari sebagian muhajirin dinukil juga adanya pembacaan surat albaqarah”

Hadits ini menjadi pegangan Imam Ahmad, padaha imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang mengingkari sampainya pahala dari orang hidup kepada orang yang sudah mati, namun setelah mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat ibnu umar tersebut, beliau mencabut pengingkarannya itu. (mukhtasar tadzkirah qurtubi halaman 25).

Oleh karena itulah, maka ada riwayat dari imam Ahmad bin Hnbal bahwa beliau berkata : “ Sampai kepada mayyit (pahala) tiap-tiap kebajikan karena ada nash-nash yang dating padanya dan juga karena kaum muslimin (zaman tabi’in dan tabiuttabi’in) pada berkumpul disetiap negeri, mereka membaca al-qur’an dan menghadiahkan (pahalanya) kepada mereka yang sudah meninggal, maka jadialah ia ijma . (Yasaluunaka fid din wal hayat oleh syaikh DR Ahmad syarbasy Jilid III/423).

2. Hadits dalam sunan Baihaqi danan isnad Hasan

“ Bahwasanya Ibnu umar menyukai agar dibaca keatas pekuburan sesudah pemakaman awal surat albaqarah dan akhirnya”

Hadits ini agak semakna dengan hadits pertama, hanya yang pertama itu adalah wasiat seadangkan ini adalah pernyataan bahwa beliau menyukai hal tersebut.

3. Hadits Riwayat darulqutni

“Barangsiapa masuk kepekuburan lalu membaca qulhuwallahu ahad (surat al ikhlash) 11 kali, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati (dipekuburan itu), maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu”.

4. Hadits marfu’ Riwayat Hafidz as-salafi

“ Barangsiapa melewati pekuburan lalu membaca qulhuwallahu ahad (surat al ikhlash) 11 kali, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati (dipekuburan itu), maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu”.

(Mukhtasar Al-qurtubi hal. 26).

5. Hadits Riwayat Thabrani dan Baihaqi

“Dari Ibnu Umar ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika mati salah seorang dari kamu, maka janganlah menahannya dan segeralah membawanya ke kubur dan bacakanlah Fatihatul kitab disamping kepalanya”.

6. Hadits riwayat Abu dawud, Nasa’I, Ahmad dan ibnu Hibban:

“Dari ma’qil bin yasar dari Nabi SAW., Beliau bersabda: “Bacakanlah surat yaasin untuk orang yang telah mati diantara kamu”.

B. Fatwa Ulama Tentang Sampainya Hadiah Pahala Bacaan kepada Mayyit

1. Berkata Muhammad bin ahmad al-marwazi :

“Saya mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Jika kamu masuk ke pekuburan, maka bacalah Fatihatul kitab, al-ikhlas, al falaq dan an-nas dan jadikanlah pahalanya untuk para penghuni kubur, maka sesungguhnya pahala itu sampai kepada mereka. Tapi yang lebih baik adalah agar sipembaca itu berdoa sesudah selesai dengan: “Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca ini kepada si fulan…” (Hujjatu Ahlis sunnah waljamaah hal. 15)

2. Berkata Syaikh aIi bin Muhammad Bin abil lz :

“Adapun Membaca Al-qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang mati secara sukarela dan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai kepadanya sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji”. (Syarah aqidah Thahawiyah hal. 457).

3. Berkata Ibnu taymiyah :

“sesungguhnya mayyit itu dapat beroleh manfaat dengan ibadah-ibadah kebendaan seperti sedekah dan seumpamanya”. (yas alunka fiddin wal hayat jilid I/442).

Di atas adalah kitab ibnu taimiah berjudul majmuk fatawa jilid 24 pada mukasurat 324. Ibnu taimiah ditanya mengenai seseorang yang bertahlil, bertasbih,bertahmid,bertakbir dan menyampaikan pahala tersebut kepada simayat muslim lantas ibnu taimiah menjawab amalan tersebut sampai kepada si mayat dan juga tasbih,takbir dan lain-lain zikir sekiranya disampaikan pahalanya kepada si mayat maka ianya sampai dan bagus serta baik.

Manakala Wahhabi menolak dan menkafirkan amalan ini.

Di atas pula adalah kitab ibnu tamiah berjudul majmuk fatawa juzuk 24 pada mukasurat 324.ibnu taimiah di tanya mengenai seorang yang bertahlil 70000 kali dan menghadiahkan kepada si mayat muslim lantas ibnu taimiah mengatakan amalan itu adalah amat memberi manafaat dan amat baik serta mulia.

4. Berkata Ibnu qayyim al-jauziyah:

“sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayyit adalah sedekah, istighfar, berdoa untuknya dan berhaji atas nama dia. Adapun membaca al-qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayyit secara sukarela dan tanpa imbalan, maka akan sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji juga sampai kepadanya (yasaaluunaka fiddin wal hayat jilid I/442)

Berkata Ibnu qayyim al-jauziyah dalam kitabnya Ar-ruh : “Al Khallal dalam kitabnya Al-Jami’ sewaktu membahas bacaan al-qur’an disamping kubur” berkata : Menceritakan kepada kami Abbas bin Muhammad ad-dauri, menceritakan kepada kami yahya bin mu’in, menceritakan kepada kami Mubassyar al-halabi, menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ala’ bin al-lajlaj dari bapaku : “ Jika aku telah mati, maka letakanlah aku di liang lahad dan ucapkanlah bismillah dan baca permulaan surat al-baqarah disamping kepalaku karena seungguhnya aku mendengar Abdullah bin Umar berkata demikian.

Ibnu qayyim dalam kitab ini pada halaman yang sama : “Mengabarkan kepadaku Hasan bin Ahmad bin al-warraq, menceritakan kepadaku Ali-Musa Al-Haddad dan dia adalah seorang yang sangat jujur, dia berkata : “Pernah aku bersama Ahmad bin Hanbal, dan Muhammad bin Qudamah al-juhairi menghadiri jenazah, maka tatkala mayyit dimakamkan, seorang lelaki kurus duduk disamping kubur (sambil membaca al-qur’an). Melihat ini berkatalah imam Ahmad kepadanya: “Hai sesungguhnya membaca al-qur’an disamping kubur adalah bid’ah!”. Maka tatkala kami keluar dari kubur berkatalah imam Muhammad bin qudamah kepada imam ahmad bin Hanbal : “Wahai abu abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubassyar al-halabi?. Imam Ahmad menjawab : “Beliau adalah orang yang tsiqah (terpercaya), apakah engkau meriwayatkan sesuatu darinya?. Muhammad bin qodamah berkata : Ya, mengabarkan kepadaku Mubasyar dari Abdurahman bin a’la bin al-laj-laj dari bapaknya bahwa dia berwasiat apabila telah dikuburkan agar dibacakan disamping kepalanya permulaan surat al-baqarah dan akhirnya dan dia berkata : “aku telah mendengar Ibnu Umar berwasiat yang demikian itu”. Mendengar riwayat tersebut Imam ahmad berkata : “Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar bacaannya diteruskan (Kitab ar-ruh, ibnul qayyim al jauziyah).

5. Berkata Sayaikh Hasanain Muhammad makhluf, Mantan Mufti negeri mesir : “ Tokoh-tokoh madzab hanafi berpendapat bahwa tiap-tiap orang yang melakukan ibadah baik sedekah atau membaca al-qur’an atau selain demikian daripada macam-macam kebaikan, boleh baginya menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan pahalanya itu akan sampai kepadanya.

6. Imam sya’bi ; “Orang-orang anshar jika ada diantara mereka yang meninggal, maka mereka berbondong-bondong ke kuburnya sambil membaca al-qur’an disampingnaya”. (ucapan imam sya’bi ini juga dikutip oleh ibnu qayyim al jauziyah dalam kitab ar-ruh hal. 13).

7. Berkata Syaikh ali ma’sum : “Dalam madzab maliki tidak ada khilaf dalam hal sampainya pahala sedekah kepada mayyit. Menurut dasar madzab, hukumnya makruh. Namun ulama-ulama mutakhirin berpendapat boleh dan dialah yang diamalkan. Dengan demikian, maka pahala bacaan tersebut sampai kepada mayyit dan ibnu farhun menukil bahwa pendapat inilah yang kuat”. (hujjatu ahlisunnah wal jamaah halaman 13).

8. Berkata Allamah Muhammad al-arobi: Sesungguhnya membaca al-qur’an untuk orang-orang yang sudah meninggak hukumnya boleh (Malaysia : Harus) dan sampainya pahalanya kepada mereka menurut jumhur fuqaha islam Ahlusunnah wal-jamaah walaupun dengan adanya imbalan berdasarkan pendapat yang tahqiq . (kitab majmu’ tsalatsi rosail).

9. Berkata imam qurtubi : “telah ijma’ ulama atas sampainya pahala sedekah untuk orang yang sudah mati, maka seperti itu pula pendapat ulama dalam hal bacaan al-qur’an, doa dan istighfar karena masing-masingnya termasuk sedekah dan dikuatkan hal ini oleh hadits : “Kullu ma’rufin shadaqah / (setiapkebaikan adalah sedekah)”. (Tadzkirah al-qurtubi halaman 26).

Begitu banyaknya Imam-imam dan ulama ahlusunnah yang menyatakan sampainya pahala bacaan alqur’an yang dihadiahkan untuk mayyit (muslim), maka tidak lah kami bisa menuliskan semuanya dalam risalah ini karena khawatir akan terlalu panjang.

C. Dalam Madzab Imam syafei

Untuk menjelaskan hal ini marilah kita lihat penuturan imam Nawawi dalam Al-adzkar halaman 140 : “Dalam hal sampainya bacaan al-qur’an para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang masyhur dari madzab Syafei dan sekelompok ulama adalah tidak sampai. Namun menurut Imam ahmad bin Hanbal dan juga Ashab Syafei berpendapat bahwa pahalanya sampai. Maka lebih baik adalah si pembaca menghaturkan doa : “Ya Allah sampaikanlah bacaan yat ini untuk si fulan…….”

Tersebut dalam al-majmu jilid 15/522 : “Berkata Ibnu Nahwi dalam syarah Minhaj: “Dalam Madzab syafei menurut qaul yang masyhur, pahala bacaan tidak sampai. Tapi menurut qaul yang Mukhtar, adalah sampai apabila dimohonkan kepada Allah agar disampaikan pahala bacaan terbut. Dan seyogyanya memantapkan pendapat ini karena dia adalah doa. Maka jika boleh berdoa untuk mayyit dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh si pendoa, maka kebolehan berdoa denagn sesuatu yang dimiliki oleh si pendoa adalah lebih utama”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam madzab syafei terdapat dua qaul dalam hal pahala bacaan :

1. Qaul yang masyhur yakni pahala bacaan tidak sampai

2. Qaul yang mukhtar yakni pahala bacaan sampai.

Dalam menanggapai qaul masyhur tersebut pengarang kitab Fathul wahhab yakni Syaikh Zakaria Al-anshari mengatakan dalam kitabnya Jilid II/19 :

“Apa yang dikatakan sebagai qaul yang masyhur dalam madzab syafii itu dibawa atas pengertian : “Jika alqur’an itu tidak dibaca dihadapan mayyit dan tidak pula meniatkan pahala bacaan untuknya”.

Dan mengenai syarat-syarat sampainya pahala bacaan itu Syaikh Sulaiman al-jamal mengatakan dalam kitabnya Hasiyatul Jamal Jilid IV/67 :

“Berkata syaikh Muhammad Ramli : Sampai pahala bacaan jika terdapat salah satu dari tiga perkara yaitu : 1. Pembacaan dilakukan disamping kuburnya, 2. Berdoa untuk mayyit sesudah bacaan Al-qur’an yakni memohonkan agar pahalanya disampaikan kepadanya, 3. Meniatkan samapainya pahala bacaan itu kepadanya”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Syaikh ahmad bin qasim al-ubadi dalam hasyiah Tuhfatul Muhtaj Jilid VII/74 :

“Kesimpulan Bahwa jika seseorang meniatkan pahala bacaan kepada mayyit atau dia mendoakan sampainya pahala bacaan itu kepada mayyit sesudah membaca Al-qur’an atau dia membaca disamping kuburnya, maka hasilah bagi mayyit itu seumpama pahala bacaannya dan hasil pula pahala bagi orang yang membacanya”.

Namun Demikian akan menjadi lebih baik dan lebih terjamin jika ;

1. Pembacaan yang dilakukan dihadapan mayyit diiringi pula dengan meniatkan pahala bacaan itu kepadanya.

2. Pembacaan yang dilakukan bukan dihadapan mayyit agar disamping meniatkan untuk simayyit juga disertai dengan doa penyampaian pahala sesudah selesai membaca.

Langkah seperti ini dijadikan syarat oleh sebagian ulama seperti dalam kitab tuhfah dan syarah Minhaj (lihat kitab I’anatut Tahlibin Jilid III/24).

D. Dalil-dalil orang yang membantah adanya hadiah pahala dan jawabannya

1. Hadis riwayat muslim :

“Jika manusia, maka putuslah amalnya kecuali tiga : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya”

Jawab : Tersebut dalam syarah Thahawiyah hal. 456 bahwa sangat keliru berdalil dengan hadist tersebut untuk menolak sampainya pahala kepada orang yang sudah mati karena dalam hadits tersebut tidak dikatakan : “inqata’a intifa’uhu (terputus keadaannya untuk memperoleh manfaat). Hadits itu hanya mengatakan “inqatha’a ‘amaluhu (terputus amalnya)”. Adapun amal orang lain, maka itu adalah milik (haq) dari amil yakni orang yang mengamalkan itu kepadanya maka akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepadanya. Jadi sampai itu pahala amal si mayyit itu. Hal ini sama dengan orang yang berhutang lalu dibayarkan oleh orang lain, maka bebaslah dia dari tanggungan hutang. Akan tetapi bukanlah yang dipakai membayar utang itu miliknya. Jadi terbayarlah hutang itu bukan oleh dia telah memperoleh manfaat (intifa’) dari orang lain.

2. Firman Allah surat an-najm ayat 39 :

“ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.

Jawab : Banyak sekali jawaban para ulama terhadap digunakannya ayat tersebut sebagai dalil untuk menolak adanya hadiah pahala. Diantara jawaban-jawaban itu adalah :

a. Dalam syarah thahawiyah hal. 1455 diterangkan dua jawaban untuk ayat tersebut :

1. Manusia dengan usaha dan pergaulannya yang santun memperoleh banyak kawan dan sahabat, melahirkan banyak anak, menikahi beberapa isteri melakukan hal-hal yang baik untuk masyarakat dan menyebabkan orang-orang cinta dan suka padanya. Maka banyaklah orang-orang itu yang menyayanginya. Merekapun berdoa untuknya dan mengahadiahkan pula pahala dari ketaatan-ketaatan yang sudah dilakukannya, maka itu adalah bekas dari usahanya sendiri. Bahkan masuknya seorang muslim bersama golongan kaum muslimin yang lain didalam ikatan islam adalah merupakan sebab paling besar dalam hal sampainya kemanfaatan dari masing-masing kaum muslimin kepada yang lainnya baik didalam kehidupan ini maupun sesudah mati nanti dan doa kaum muslimin yang lain. Dalam satu penjelasan disebutkan bahwa Allah SWT menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh kemanfaatan dengan doa serta usaha dari kaum mukminin yang lain. Maka jika seseorang sudah berada dalam iman, maka dia sudah berusaha mencari sebab yang akan menyampaikannya kepada yang demikian itu. (Dengan demikian pahala ketaatan yang dihadiahkan kepadanya dan kaum mukminin sebenarnya bagian dari usahanya sendiri).

2. Ayat al-qur’an itu tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain. Ayat al-qur’an itu hanya menafikan “kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”. Allah SWT hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri). Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri. (jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insane” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”).

Demikianlah dua jawaban yang dipilih pengarang kitab syarah thahawiyah.

b. Berkata pengarang tafsir Khazin :

“Yang demikian itu adalah untuk kaum Ibrahin dan musa. Adapun ummat islam (umat Nabi Muhammad SAW), maka mereka bias mendapat pahala dari usahanya dan juga dari usaha orang lain”.

Jadi ayat itu menerangkan hokum yang terjadi pada syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim, bukan hukum dalam syariat nabi Muhammad SAW. Hal ini dikarenakan pangkal ayat tersebut berbunyi :

“ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.

c. Sahabat Nabi, Ahli tafsir yang utama Ibnu Abbas Ra. Berkata dalam menafsirkan ayat tersebut :

“ ayat tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Allah SWT : “Kami hubungkan dengan mereka anak-anak mereka”, maka dimasukanlah anak ke dalam sorga berkat kebaikan yang dibuat oleh bapaknya’ (tafsir khazin juz IV/223).

Firman Allah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas Ra sebagai penasakh surat an-najm ayat 39 itu adalah surat at-thur ayat 21 yang lengkapnya sebagai berikut :

“Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”.

Jadi menurut Ibnu abbas, surat an-najm ayat 39 itu sudah terhapus hukumnya, berarti sudah tidak bias dimajukan sebagai dalil.

d. Tersebut dalam Nailul Authar juz IV ayat 102 bahwa kata-kata : “Tidak ada seseorang itu…..” Maksudnya “tidak ada dari segi keadilan (min thariqil adli), adapun dari segi karunia (min thariqil fadhli), maka ada bagi seseorang itu apa yang tidak dia usahakan.

Demikianlah penafsiran dari surat An-jam ayat 39. Banyaknya penafsiran ini adalah demi untuk tidak terjebak kepada pengamalan denganzhahir ayat semata-mata karena kalau itu dilakukan, maka akan banyak sekali dalil-dalil baik dari al-qur’an maupun hadits-hadits shahih yang ditentang oleh ayat tersebut sehingga menjadi gugur dan tidak bias dipakai sebagai dalil.

3. Dalil mereka dengan Surat al-baqarah ayat 286 :

“Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya. Baginya apa yang dia usahakan (daripada kebaikan) dan akan menimpanya apa yang dia usahakan (daripada kejahatan)”.

Jawab : Kata-kata “laha maa kasabat” menurut ilmu balaghah tidak mengandung unsur hasr (pembatasan). Oleh karena itu artinya cukup dengan : “Seseorang mendapatkan apa yang ia usahakan”. Kalaulah artinya demikian ini, maka kandungannya tidaklah menafikan bahwa dia akan mendapatkan dari usaha orang lain. Hal ini sama dengan ucapan : “Seseorang akan memperoleh harta dari usahanya”. Ucapan ini tentu tidak menafikan bahwa seseorang akan memperoleh harta dari pusaka orang tuanya, pemberian orang kepadanya atau hadiah dari sanak familinya dan para sahabatnya. Lain halnya kalau susunan ayat tersebut mengandung hasr (pembatasan) seperti umpamanya :

“laisa laha illa maa kasabat”

“Tidak ada baginya kecuali apa yang dia usahakan atau seseorang hanya mendapat apa yang ia usahakan”.

4. Dalil mereka dengan surat yasin ayat 54 :

“ Tidaklah mereka diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan”.

Jawab : Ayat ini tidak menafikan hadiah pahala terhadap orang lain karena pangkal ayat tersebut adalah :

“Pada hari dimana seseorang tidak akan didhalimi sedikitpun dan seseorang tidak akan diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan”

Jadi dengan memperhatikan konteks ayat tersebut dapatlah dipahami bahwa yang dinafikan itu adalah disiksanya seseorang sebab kejahatan orang lain, bukan diberikannya pahala terhadap seseorang dengan sebab amal kebaikan orang lain (Lihat syarah thahawiyah hal. 456).

(ringkasan dari Buku argumentasi Ulama syafi’iyah terhadap tuduhan bid’ah,Al ustadz haji Mujiburahman, halaman 142-159, mutiara ilmu)

Semoga menjadi asbab hidayah bagi Ummat

Admin

http://salafytobat.wordpress.com/