Membongkar Kebohongan Buku “Mantan Kyai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik”

 

Fatwa mufti malaysia / JAKIM : jamaah tabligh sesuai ajaran Ahlusunnah wal jamaah

Blog Fatwa Malaysia

Kedudukan Jemaah Tabligh Menurut Ahli Sunnah Wal Jamaah.

ISU:
Mohon penjelasan kedudukan jemaah tabligh menurut Ahli Sunnah Wal Jamaah.
PENJELASAN:
Jamaah Tabligh ditubuhkan oleh Mawlana Ilyas al-Kandahlawi di India pada 1926. Beliau menuruti Tarikat Chistiyyah. Walaupun bermula di India pengaruh gerakan ini tersebar luas ke seluruh dunia khususnya di kawasan Asia Selatan. Gerakan ini dinamakan Jamaah Tabligh atas sebab pendekatan mereka yang selalu keluar bagi menyampaikan dakwah kepada masyarakat di tempat lain. Mawlana Ilyas sendiri walau bagaimanapun menamakan gerakan yang beliau pelopori sebagai gerakan iman (harakah al-iman)
Dari segi kaedah, jamaah tabligh membawa pendekatan pembersihan jiwa (tazkiyah ruhiyyah). Mereka mengajak ke arah memperkuatkan iman dan mengamalkan amalan-amalan sunat .
Dari segi fiqh, jamaah tabligh tidak terikat dengan satu-satu mazhab fiqh Sunni dan memberikan kebebasan kepada pengikut untuk mengikut mana-mana mazhab.
Mereka berpegang dengan enam prinsip utama:
1. Yakin terhadap kalimah tayyibah (la ilaha illallah Muhammad Rasulullah)
2. Solat khusyu’ dan khudu’ (ketundukan)
3. Ilmu dan zikir
4. Ikram muslimin (Memuliakan muslim yang lain dengan khidmat)
5. Tashih al-niyyah (membetulkan dan mengikhlaskan niat)
6. Dakwah dan tabligh (dengan cara keluar berdakwah[khuruj] dalam tempoh-tempoh tertentu seperti tiga atau empat puluh hari atau empat bulan.
Berdasarkan keenam-enam prinsip ini, kesemuanya pada asasnya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam yang dipegang oleh Ahli Sunnah Wal Jamaah. Cuma penekanan yang diberikan oleh jamaah tabligh adalah lebih kepada aspek kerohanian dan kurang memberi penekanan kepada aspek lain. Adapun perbezaan pendekatan yang dibawa oleh jemaah tabligh seperti keluar dalam jumlah hari-hari tertentu termasuk dalam konteks ijtihadi.
Wallahu a’lam.

FATWA MUFTI MALAYSIA / JAKIM = THAREQAT NAQSYABANDI HAQQANI ADALAH SESAT (AQIDAH WIHDATUL WUJUD AL HALAJ)

Tariqat Naqsyabandiah Al-Aliyyah Syeikh Nazim Al-Haqqani

Tarikh Keputusan: 

3 Apr, 2000

Tarikh Mula Muzakarah: 

3 Apr, 2000

Tarikh Akhir Muzakarah: 

3 Apr, 2000

Oleh: 

Muzakarah Kali Ke-48

Keputusan:

Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-48 yang bersidang pada 3 Apr 2000 telah membincangkan Tariqat Naqsyabandiah Al-Aliyyah Syeikh Nazim Al-Haqqani. Muzakarah telah memutuskan bahawa Tariqat Naqsyabandiah Al-Aliyyah di bawah pimpinan Syeikh Nazim bertentangan dengan fahaman akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah dan menyeleweng dari ajaran Islam. Pengamal ajaran ini hendaklah segera bertaubat.

Semua negeri dikehendaki memfatwa dan mewartakan bahawa tariqat Naqsyabandiah Al-Aliyyah di bawah pimpinan Syeikh Nazim diharamkan dan tidak boleh diamalkan oleh umat Islam kerana ia bercanggah dengan ajaran Islam yang sebenar.

Keputusan (English):
The Naqsyabandiah Al-Aliyyah Syeikh Nazim al-Haqqani Sufi Order

Decision:
The 48th Muzakarah (Conference) of the Fatwa Committee of the National Council for Islamic Religious Affairs Malaysia held on 3rd April 2000 has discussed the Naqsyabandiah Al-Aliyyah Syeikh Nazim al-Haqqani Sufi Order. The Conference decided that the Naqsyabandiah Al-Aliyyah Sufi Order led by Syeikh Nazim contradicts with the creedal doctrine of the Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah and deviates from the teachings of Islam. Practitioners of this Order must repent at once.
All states are required to issue a fatwa that is gazetted which decrees that the Naqsyabandiah Al-Aliyyah Sufi Order led by Syeikh Nazim is unlawful (haram) and must not be practiced by Muslims as it is a deviation from the true teachings of Islam.

 

FATWA JAKIM HAQQANI SESAT

 

http://www.e-fatwa.gov.my/print/fatwa-kebangsaan/tariqat-naqsyabandiah-al-aliyyah-syeikh-nazim-al-haqqani

 

FATWA MUFTI AUSTRALIA: HAQQANI SESAT

 

Lihat fatwa para habaib sunni madzab syafiI al asy’ary:

http://www.darulfatwa.org.au/languages/Indonesian/Kitab_Al-%5EAqidah_print3.pdf

Halaman 58: ALIRAN THAREQAT NAQSYABANDI HAQQANI BANYAK BERKEMBANG DI MALAYSIA DAN MULAI MASUK INDONESIA

Di antara para pendusta yang mengaku sebagai ahli tasawwuf adalah orang yang
bernama Abdullah ad-Daghistani. Ia bukanlah sunni sebagaimana dinyatakan oleh Syekh
Muhammad Zahid an-Naqsyabandi. Abdullah ad-Daghistani keluar dari Daghistan dan
mengaku sebagai seorang sunni, pengikut Thariqah an-Naqsyabandiyyah padahal sanadnya
terputus, tidak bersambung. Mufti Daghistan terdahulu Sayyid Ahmad ibn Sulaiman Darwisy
Hajiyu memperingatkan umat Islam akan bahaya dan kesesatan Abdullah ad-Dagistani ini.
Abdullah ad-Daghistani punya beberapa pengikut, di antaranya Nazhim al-Qubrushshi.
Nazhim kemudian mempunyai murid, di antaranya Hisyam Qabbani yang menyebut dirinya
al-Haqqani, juga saudaranya ‘Adnan Qabbani. Mereka ini termasuk orang yang paling bodoh
tentang agama, dan karenanya para ulama Ahlussunnah memperingatkan masyarakat akan
bahaya dan kesesatan mereka. Bahkan Mufti Tripoli Lebanon menulis komentarnya di
majalah al Afkar agar masyarakat mewaspadai dan tidak tertipu oleh mereka, karena mereka
ini mengaku mengetahui ilmu ghaib dan menganggap bahwa hamba ini adalah bagian dari
Dzat Allah, mereka mengatakan bahwa orang kafir jika membaca al Fatihah maka akan
memperoleh keutamaan dan anugerah dari Allah yang belum pernah diperoleh oleh para nabi,
dan barangsiapa yang membaca ayat… ءامن الرسول sekali saja ia akan memperoleh anugerah yang
belum pernah diperoleh olah para nabi dan para wali, serta masih banyak kekufurankekufuran
mereka yang lain. Alhamdulillah para ulama Indonesia, khususnya para pengikut
Thariqah Naqsyabandiyah telah menyadari kesesatan mereka ini dan memperingatkan
masyarakat akan bahaya dan kesesatan mereka. Kesesatan-kesesatan ini bisa dilihat dalam
buku-buku mereka seperti Muhithat ar-Rahmah, al Washiyyah dan lain-lain.

hALAMAN 56:

Inilah kebenaran yang tidak mungkin dibantah dan ditolak. Namun terdapat
sebagian kelompok yang menyalahi pernyataan ulama Ahlussunnah ini, di antaranya yang
dikenal dengan nama Wahidiyyah. Mereka membagi-bagikan selebaran yang memuat perkataan
mereka: أن تغرقنا في لجة بحر الوحدة yang maknanya : Ya Allah kami memohon kepada-Mu untuk
menenggelamkan kami ke tengah lautan (menyatu dengan- Mu). Redaksi-redaksi semacam ini (bahkan
dalam bahasa Indonesia) juga banyak terdapat dalam majalah mereka. Jelas ini adalah sebuah
kekufuran yang sharih dan menyalahi keyakinan para sufi hakiki.

awas aliran sufi wihdatul wujud al halaj (Tuhan menyatu dgn makhluq) bernama: Thareqat wahidyah indonesia dan Thareqat naqsaybandi ALHAQQANI

Lihat fatwa para habaib sunni madzab syafi al asy’ary:

http://www.darulfatwa.org.au/languages/Indonesian/Kitab_Al-%5EAqidah_print3.pdf

Halaman 58: ALIRAN THAREQAT NAQSYABANDI HAQQANI BANYAK BERKEMBANG DI MALAYSIA DAN MULAI MASUK INDONESIA

Di antara para pendusta yang mengaku sebagai ahli tasawwuf adalah orang yang
bernama Abdullah ad-Daghistani. Ia bukanlah sunni sebagaimana dinyatakan oleh Syekh
Muhammad Zahid an-Naqsyabandi. Abdullah ad-Daghistani keluar dari Daghistan dan
mengaku sebagai seorang sunni, pengikut Thariqah an-Naqsyabandiyyah padahal sanadnya
terputus, tidak bersambung. Mufti Daghistan terdahulu Sayyid Ahmad ibn Sulaiman Darwisy
Hajiyu memperingatkan umat Islam akan bahaya dan kesesatan Abdullah ad-Dagistani ini.
Abdullah ad-Daghistani punya beberapa pengikut, di antaranya Nazhim al-Qubrushshi.
Nazhim kemudian mempunyai murid, di antaranya Hisyam Qabbani yang menyebut dirinya
al-Haqqani, juga saudaranya ‘Adnan Qabbani. Mereka ini termasuk orang yang paling bodoh
tentang agama, dan karenanya para ulama Ahlussunnah memperingatkan masyarakat akan
bahaya dan kesesatan mereka. Bahkan Mufti Tripoli Lebanon menulis komentarnya di
majalah al Afkar agar masyarakat mewaspadai dan tidak tertipu oleh mereka, karena mereka
ini mengaku mengetahui ilmu ghaib dan menganggap bahwa hamba ini adalah bagian dari
Dzat Allah, mereka mengatakan bahwa orang kafir jika membaca al Fatihah maka akan
memperoleh keutamaan dan anugerah dari Allah yang belum pernah diperoleh oleh para nabi,
dan barangsiapa yang membaca ayat… ءامن الرسول sekali saja ia akan memperoleh anugerah yang
belum pernah diperoleh olah para nabi dan para wali, serta masih banyak kekufurankekufuran
mereka yang lain. Alhamdulillah para ulama Indonesia, khususnya para pengikut
Thariqah Naqsyabandiyah telah menyadari kesesatan mereka ini dan memperingatkan
masyarakat akan bahaya dan kesesatan mereka. Kesesatan-kesesatan ini bisa dilihat dalam
buku-buku mereka seperti Muhithat ar-Rahmah, al Washiyyah dan lain-lain.

hALAMAN 56:

Inilah kebenaran yang tidak mungkin dibantah dan ditolak. Namun terdapat
sebagian kelompok yang menyalahi pernyataan ulama Ahlussunnah ini, di antaranya yang
dikenal dengan nama Wahidiyyah. Mereka membagi-bagikan selebaran yang memuat perkataan
mereka: أن تغرقنا في لجة بحر الوحدة yang maknanya : Ya Allah kami memohon kepada-Mu untuk
menenggelamkan kami ke tengah lautan (menyatu dengan- Mu). Redaksi-redaksi semacam ini (bahkan
dalam bahasa Indonesia) juga banyak terdapat dalam majalah mereka. Jelas ini adalah sebuah
kekufuran yang sharih dan menyalahi keyakinan para sufi hakiki.

kitab Al-Asror Rabbaniyyah = kisah nabi Khidr dan nabi Ilyas

 

Di dalam kitab “Al-Asror Rabbaniyyah wal Fuyudhatur Rahmaniyyah” karya Syeikh Ahmad Shawi Al-Maliki halaman 5 diterangkan yang artinya sebagai berikut:

Telah berkata guru dari guru-guru kami, Sayyid Mushtofa Al-Bakri: Telah berkata Al-’Ala’i di dalam kitab tafsirnya bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas as hidup kekal sampai hari kiamat. Nabi Khidir as berkeliling di sekitar lautan sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di lautan.

Sedangkan, Nabi Ilyas berkeliling di sekitar gunung-gunung sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di gunung-gunung. Inilah kebiasaan mereka di waktu siang hari. Sedangkan di waktu malam hari mereka berkumpul di bukit Ya’juj wa Ma’luj (يأجوج و مأجوج) sambil mereka menjaganya.

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas berjumpa pada tiap-tiap tahun di Mina (Saudi Arabia). Mereka saling mencukur rambutnya secara bergantian. Kemudian mereka berpisah dengan mengucapkan kalimat:

بسم الله ما شاء الله لا يسوق الخير الا الله
بسم الله ما شاء الله لا يصرف السو ء الا الله
بسم الله ما شاء الله ما كان من نعمة فمن الله
بسم الله ما شاء الله لا حول و لا قوة الا بالله

Maka barangsiapa mengucapkan kalimat-kalimat ini pada waktu pagi dan sore hari, maka ia akan aman dari tenggelam, kebakaran, pencurian, syaitan, sultan, ular, dan kalajengking.

Dan telah dikeluarkan oleh Ibnu ‘Asakir bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas itu berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis (Palestina) dan mereka melakukan ibadah haji pada tiap-tiap tahun. Mereka minum air zamzam dengan sekali tegukan, yang mencukupkan mereka seperti minuman dari Kabil.

Sebagian ulama menceritakan bahwa sesungguhnya Nabi Khidir itu putera Nabi Adam as yang diciptakan dari tulang iganya. Menurut segelintir kecil ulama lagi beliau putera Halqiya. Ada yang mengatakan putera Kabil bin Adam. Adapula yang mengatakan beliau itu cucunya Nabi Harun as, yaitu putera bibinya Iskandar Dzul Qarnain. Dan Perdana Menterinya benar-benar aneh mengatakan bahwa Nabi Khidir itu dari golongan malaikat.

Sedangkan, menurut pendapat ulama yang paling shohih adalah bahwa Khidir itu adalah seorang Nabi. Menurut ulama jumhur beliau itu masih hidup dan beliau tidak akan pernah meninggal terkecuali pada hari kiamat apabila Al-Qur’an telah diangkat dan Dajjal telah membunuhnya. Kemudian, Allah menghidupkannya kembali. Sesungguhnya, beliau itu masa hidupnya panjang sekali. Karena, beliau meminum air kehidupan.

Simak di: http://www.sarkub.com/2013/kisah-nabi-khidir-dan-nabi-ilyas/#ixzz2vf5PnK4i
Powered by Menyansoft
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook

Teks – terjamah – video syair = Nadhom / Nadzom Alfiyyah Ibni Malik

 

المقدمة

 

MUQADDIMAH

 

قَـالَ مُحَمَّد هُوَ ابنُ مَـالِكِ ¤ أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ

Muhammad Ibnu Malik berkata: Aku memuji kepada Allah Tuhanku sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki.

مُصَلِّيَاً عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى ¤ وَآلِـــهِ الْمُسْــتَكْمِلِينَ الْشَّــرَفَا

Dengan bersholawat atas Nabi terpilih dan atas keluarganya yang mencapai derajat kemulyaan.

وَأسْتَـعِيْنُ اللهَ فِيْ ألْفِــيَّهْ ¤ مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ

Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu..

تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ¤ وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat.

وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ ¤ فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي

Kitab ini mudah menuntut kerelaan tanpa kemarahan, melebihi kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thi..

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

Beliau lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal. Beliau behak atas sanjunganku yang indah..

وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat..

**********************

الْكَلاَمُ وَمَا يَتَألَّفُ مِنْهُ

 

BAB KALAM DAN SESUATU YANG KALAM TERSUSUN DARINYA

PENGERTIAN KALAM, KALIM, KALIMAT, QOUL

كَلاَمُــنَا لَفْــظٌ مُفِيْدٌ كَاسْــتَقِمْ ¤ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ

Kalam (menurut) kami (Ulama Nahwu) adalah lafadz yang memberi pengertian. Seperti lafadz “Istaqim!”. Isim, Fi’il dan Huruf adalah (tiga personil) dinamakan Kalim.

وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ ¤ وَكَلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ

Tiap satu dari (personil Kalim) dinamakan Kalimat. Adapun Qaul adalah umum. Dan dengan menyebut Kalimat terkadang dimaksudkan adalah Kalam.

 

BENTUK KALIMAT-KALIMAT DAN CIRI-CIRINYA

بِالجَرِّ وَالتّنْوِيْنِ وَالنِّدَا وَاَلْ ¤ وَمُسْنَدٍ لِلإسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ

Dengan sebab Jar, Tanwin, Nida’, Al, dan Musnad, tanda pembeda untuk Kalimat Isim menjadi berhasil.

بِتَا فَعَلْتَ وَأَتَتْ وَيَا افْعَلِي ¤ وَنُوْنِ أَقْبِلَنَّ فِعْـــلٌ يَنْجَلِي

Dengan tanda Ta’ pada lafadz Fa’alta dan lafadz Atat, dan Ya’ pada lafadz If’ali, dan Nun pada Lafadz Aqbilanna, Kalimat Fi’il menjadi jelas.

سِوَاهُمَا الْحَرْفُ كَهَلْ وَفِي وَلَمْ ¤ فِعْـــلٌ مُـضَــارِعٌ يَلِي لَمْ كَـيَشمْ

Selain keduanya (ciri Kalimah Isim dan ciri Kalimah Fi’il) dinamaan Kalimah Huruf, seperti lafadz Hal, Fi, dan Lam. Ciri Fi’il Mudhori’ adalah dapat mengiringi Lam, seperti lafadz Lam Yasyam.

وَمَاضِيَ الأَفْعَالِ بِالتَّا مِزْ وَسِمْ ¤ بِالنُّـــوْنِ فِعْلَ الأَمْرِ إِنْ أَمْرٌ فُهِمْ

Dan untuk ciri Fi’il Madhi, bedakanlah olehmu! dengan tanda Ta’. Dan namakanlah! Fi’il Amar dengan tanda Nun Tauqid (sebagi cirinya) apabila Kalimah itu difahami sebagai kata perintah.

وَالأَمْرُ إِنْ لَمْ يَكُ لِلنّوْنِ مَحَلْ ¤ فِيْهِ هُوَ اسْمٌ نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ

Kata perintah jika tidak dapat menerima tempat untuk Nun Taukid, maka kata perintah tersebut dikategorikan Isim, seperti Shah! dan Hayyahal!

**********************

 

BAB MU’RAB DAN MABNI

KALIMAH-KALIMAH YANG MU’RAB DAN YANG MABNIY

وَالاسْمُ مِنْهُ مُعْرَبٌ وَمَبْنِي ¤ لِشَبَـــهٍ مِنَ الْحُــرُوْفِ مُدْنِي

Diantara Kalimat Isim ada yang Mu’rab, dan ada juga yang Mabni karena keserupaan dengan kalimah Huruf secara mendekati

كَالْشَّبَهِ الْوَضْعِيِّ فِي اسْمَيْ جِئْتَنَا ¤ وَالْمَعْـنَـــوِيِّ فِي مَتَى وَفِي هُـــــــنَا

Seperti keserupaan bangsa wadh’iy didalam contoh dua Isimnya lafadz Ji’tana. Dan keserupaan bangsa Ma’nawiy di dalam contoh Mata, dan Huna.

وَكَنِيَابَةٍ عَنِ الْفِعْلِ بِلاَ ¤ تَأَثُّــــرٍ وَكَافْــتِقَارٍ أُصِّلا

Dan keserupaan bangsa Niyabah (pengganti) dari Fi’il tanpa pembekasan I’rob (Isim Fi’il). Dan keserupaan bangsa Iftiqor/kebutuhan yang dimustikan (yakni, isim maushul musti membutuhkan shilah).

وَمُعْرَبُ الأَسْمَاءِ مَا قَدْ سَلِمَا ¤ مِنْ شَبَهِ الْحَرْفِ كَأَرْضٍ وَسَمَا

Adapun Mu’rabnya Kalimah-kalimah Isim, adalah Kalimah yang selamat dari keserupaan dengan Kalimah Huruf, seperti contoh Ardhin dan Sumaa.

وَفِـــعْلُ أَمْرٍ وَمُضِيٍّ بُنِـيَا ¤ وَأَعْرَبُوا مُضَارِعَاً إنْ عَرِيَا

Fi’il Amar dan Fi’il Madhi, keduanya dihukumi Mabni. Dan mereka Ulama Nahwu sama menghukumi Mu’rab terhadap Fi’il Mudhori’ jika sepi…..

مِنْ نُوْنِ تَوْكِيْدٍ مُبَاشِرٍ وَمِنْ ¤ نُوْنِ إنَــاثٍ كَيَرُعْنَ مَنْ فُـــتِنْ

Dari Nun Taukid yang mubasyaroh (bertemu langsung) dan Nun Ta’nits, seperti lafadz: Yaru’na Man Futin.

وَكُلُّ حَـرْفٍ مُسْتَــحِقٌّ لِلْبِنَا ¤ وَالأَصْلُ فِي الْمَبْنِيِّ أَنْ يُسَكَّنَا

Semua Kalimah Huruf menghaki terhadap Mabni.   Asal didalam Kemabnian adalah dihukumi Sukun.

وَمِنْهُ ذُو فَتْحٍ وَذُو كَسْرٍ وَضَمُّ ¤ كَأَيْنَ أَمْسِ حَيْثُ وَالْسَّــــاكِنُ كَمْ

Diantara hukum Mabni adalah Mabni Fathah, Mabni Kasroh dan Mabni Dhommah. Seperti lafadz: Aina, Amsi, Haitsu, dan Mabni Sukun seperti Lafadz Kam.

 

MACAM-MACAM I’RAB

وَالْرَّفْعَ وَالْنَّصْبَ اجْعَلَنْ إعْرَابَا ¤ لاسْــمٍ وَفِــعْــلٍ نَحْـوُ لَنْ أَهَـــــابَا

Jadikanlah Rofa’ dan Nashab sebagai I’rab (sama bisa) untuk Isim dan Fi’il, seperti lafadz Lan Ahaba.

وَالاسْمُ قَدْ خُصِّصَ بِالْجَرِّ كَمَا ¤ قَــدْ خُصِّصَ الْفِعْـلُ بِأَنْ يَنْـجَزِمَا

Kalimah Isim dikhususi dengan I’rab Jarr, sebagaimana juga Fi’il dikhususi dengan dii’rab Jazm.

 

TANDA ASAL I’RAB

فَارْفَعْ بِضَمَ وَانْصِبَنْ فَتْحَاً وَجُرْ ¤ كَسْــــــرَاً كَــذِكْرُ اللَّهِ عَبْــدَهُ يَسُـرْ

Rofa’kanlah olehmu dengan tanda Dhommah, Nashabkanlah! Dengan tanda Fathah, Jarrkanlah! Dengan tanda Kasrah. Seperti lafadz Dzikrullahi ‘Abdahu Yasur.

وَاجْزِمْ بِتَسْكِيْنٍ وَغَيْرُ مَا ذُكِرْ ¤ يَنُــوْبُ نَحْوُ جَا أَخْــو بَنِي نَمِــرْ

Dan Jazmkanlah! Dengan tanda Sukun. Selain tanda-tanda yang telah disebut, merupakan penggantinya. Seperti lafadz: Jaa Akhu Bani Namir.

 

TANDA I’RAB ASMAUS SITTAH

وَارْفَعْ بِــوَاوٍ وَانْصِبَنَّ بِالأَلِفْ ¤ وَاجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الأَسْمَا أَصِفْ

Rofa’kanlah dengan Wau, Nashabkanlah dengan Alif, dan Jarrkanlah dengan Ya’, untuk Isim-Isim yang akan aku sifati sebagai berikut (Asmaus Sittah):

مِنْ ذَاكَ ذُو إِنْ صُحْبَةً أَبَانَا ¤ وَالْفَــــــمُ حَيْثُ الْمِيْمُ مِنْهُ بَانَا

Diantara Isim-Isim itu (Asmaus Sittah) adalah Dzu jika difahami bermakna Shahib (yg memiliki), dan Famu sekiranya Huruf mim dihilangkan darinya.

أَبٌ آخٌ حَـــمٌ كَـــذَاكَ وَهَـــنُ ¤ وَالْنَّقْصُ فِي هذَا الأَخِيْرِ أَحْسَنُ

Juga Abun, Akhun, Hamun, demikian juga Hanu. Tapi dii’rab Naqsh untuk yang terakhir ini (Hanu) adalah lebih baik.

وَفِي أَبٍ وَتَـالِيَيْهِ يَنْـــدُرُ ¤ وَقَصْرُهَا مِنْ نَقْصِهِنَّ أَشْهَرُ

Dan untuk Abun berikut yang mengiringinya (Akhun dan Hamun) jarang diri’rab Naqsh, sedangkan dii’rab Qoshr malah lebih masyhur daripada I’rab Naqshnya.

وَشَرْطُ ذَا الإعْرَابِ أَنْ يُضَفْنَ لاَ ¤ لِلْيَــا كَــجَا أَخْــو أَبِيْـــكَ ذَا اعْـــتِلاَ

Syarat I’rab ini (Rafa’ dg wau, Nasha dg Alif, dan Jarr dg Ya’ pada Asmaus Sittah) harus Mudhaf kepada selain Ya’ Mutakallim. Seperti: Jaa Akhu Abiika Dza-’tilaa.

 

TANDA I’RAB ISIM TATSNIYAH DAN MULHAQNYA

بِالأَلِفِ ارْفَع الْمُثَنَّى وَكِلاَ ¤ إذَا بِمُـــضْمَرٍ مُضَــافَاً وُصِلاَ

Rafa’kanlah! dengan Alif terhadap Isim Mutsanna, juga lafadz Kilaa apabila tersambung langsung dengan Dhomir, dengan menjadi Mudhof.

كِلْتَا كَذَاكَ اثْنَانِ وَاثْنَتَانِ ¤ كَابْنَــيْنِ وَابْنَتَيْــنِ يَجْــرِيَانِ

Juga (Rofa’ dg Alif) lafadz Kiltaa, begitupun juga lafadz Itsnaani dan Itsnataani sama (I’rabnya) dengan lafadz Ibnaini dan Ibnataini keduanya contoh yang dijarrkan.

وَتَخْلُفُ الْيَا فِي جَمِيْعِهَا الأَلِفْ ¤ جَــــرًّا وَنَصْـــبَاً بَعْدَ فَتْـــحٍ قَدْ أُلِفْ

Ya’ menggantikan Alif (tanda Rofa’) pada semua lafadz tsb (Mutsanna dan Mulhaq-mulhaqnya) ketika Jarr dan Nashabnya, terletak setelah harkat Fathah yang tetap dipertahankan.

TANDA I’RAB JAMAK MUDZAKKAR SALIM  DAN MULHAQNYA

وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَبِيَا اجْرُرْ وَانْصِبِ ¤ سَــــــــالِمَ جَمْعِ عَــــــــامِرٍ وَمُذْنِبِ

Rofa’kanlah dengan Wau!, Jarrkan dan Nashabkanlah dengan Ya’! terhadap Jamak Mudzakkar Salim dari lafadz “‘Aamir” dan “Mudznib”

وَشِبْهِ ذَيْنِ وَبِهِ عِشْرُوْنَا ¤ وَبَابُـــهُ أُلْحِــقَ وَالأَهْــــلُوْنَا

….dan yang serupa dengan keduanya ini (“Aamir” dan “Mudznib”, pada bait sebelumnya). Dan lafadz “‘Isyruuna dan babnya”, dimulhaqkan kepadanya (I’rab Jamak Mudzakkar Salim). Juga lafadz “Ahluuna”

أوْلُو وَعَالَمُوْنَ عِلِّيّونَا ¤ وَأَرْضُـــوْنَ شَذَّ وَالْسِّـنُوْنَا

Juga lafadz “Uluu, ‘Aalamuuna, ‘Illiyyuuna dan lafazh Aradhuuna adalah contoh yang syadz (paling jauh dari definisi Jamak Mudzakkar Salim). Juga Lafadz “sinuuna….

وَبَابُهُ وَمِثْلَ حِيْنٍ قَـدْ يَرِدْ ¤ ذَا الْبَابُ وَهْوَ عِنْدَ قَوْمٍ يَطَّرِدْ

…dan babnya”. Terkadang Bab ini (bab sinuuna) ditemukan dii’rab semisal lafadz “Hiina” (dii’rab harkat, dengan tetapnya ya’ dan nun) demikian ini ditemukan pada suatu kaum (dari Ahli Nawu atau orang Arab)

وَنُوْنَ مَجْمُوْعٍ وَمَا بِهِ الْتَحَقْ ¤ فَافْــتَحْ وَقَــلَّ مَنْ بِكَــسْرِهِ نَطَــقْ

Fathahkanlah! harakah “Nun”nya Kalimat yang dijamak Mudzakkar Salim dan Mulhaqnya. Ada segelintir orang bercakap-cakap dengan mengkasrahkannya.

وَنُوْنُ مَا ثُنِّيَ وَالْمُلْحَقِ بِهْ ¤ بِعَـــكْسِ ذَاكَ اسْتَعْمَلُوْهُ فَانْتَبِهْ

Adapun “Nun”nya Kalimat yang ditatsniyahkan dan Mulhaqnya, adalah terbalik (Harakah Nun dikasrahkan). Semuanya mengamalkan demikian, maka perhatikanlah!

TANDA I’RAB JAMAK MU’ANNATS SALIM  DAN MULHAQNYA

وَمَا بِتَـــا وَأَلِــفٍ قَــدْ جُمِــعَا ¤ يُكْسَرُ فِي الْجَرِّ وَفِي النَّصْبِ مَعَا

Setiap Kalimah yang dijamak dengan tambahan Alif dan Ta’ (Jamak Muannats Salim) tanda Jarr dan Nashabnya sama dikasrohkan.

كَذَا أُوْلاَتُ وَالَّذِي اسْمَاً قَدْ جُعِلْ ¤ كَــــأَذْرِعَــاتٍ فِــيْهِ ذَا أَيْــضَاً قُــبِلْ

Begitu juga (Dii’rab seperti Jamak Muannats Salim) yaitu lafadz “Ulaatu”. Dan Kalimah yang sungguh dijadikan sebuah nama seperti lafadz “Adri’aatin” (nama tempat di Syam) yang demikian ini juga diberlakukan I’rab seperti Jamak Mu’annats Salim.

TANDA I’RAB ISIM YANG TIDAK MUNSHORIF

وَجُرَّ بِالْفَتْحَةِ مَا لاَ يَنْصَرِفْ ¤ مَا لَمْ يُضَفْ أَوْ يَكُ بَعْدَ أَلْ رَدِفْ

Setiap Isim yang tidak Munshorif dijarrkan dengan Harakah Fathah, selama tidak Mudhof atau tidak jatuh sesudah AL.

 

TANDA I’RAB AF’ALUL KHOMSAH

وَاجْعَلْ لِنَحْوِ يَفْعَلاَنِ الْنُّوْنَا ¤ رَفْـــعَاً وَتَدْعِــيْنَ وَتَسْـــــأَلُونَا

Jadikanlah! Nun sebagai tanda Rofa’ untuk contoh Kalimah-kalimah yang seperti lafadz يفعلان(Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Alif Tatsniyah) dan lafadz  تدعين (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Ya’ Mu’annats Mukhatabah) dan lafadz تسألون (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Wau Jamak).

وَحَذْفُهَا لِلْجَزْمِ وَالْنَّصْبِ سِمَهْ ¤ كَــلَمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ

Sedangkan tanda Jazm dan Nashabnya, yaitu dengan membuang Nun. seperti contoh َلمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ

TANDA I’RAB ISIM MU’TAL (ISIM MAQSHUR DAN ISIM MANQUSH)

وَسَمِّ مُعْتَلاًّ مِنَ الأَسْمَاءِ مَا ¤ كَالْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَقَي مَكَارِمَا

Namailah! Isim Mu’tal, terhadap Isim-Isim yang seperti lafadz الْمُصْطَفَى (Isim yang berakhiran huruf Alif) dan seperti lafadz الْمُرْتَقَي مَكَارِمَا (Isim yang berakhiran huruf Ya’).

فَالأَوَّلُ الإِعْرَابُ فِيْهِ قُدِّرَا ¤ جَمِيْـعُهُ وَهْوَ الَّذِي قَدْ قُصِرَا

Contoh lafadz yang pertama (الْمُصْطَفَى) Semua tanda I’rabnya dikira-kira, itulah yang disebut Isim Maqshur.

وَالْثَّانِ مَنْقُوصٌ وَنَصْبُهُ ظَهَرْ ¤ وَرَفْـعُهُ يُنْــوَى كَذَا أيْضَــــاً يُجَرْ

Contoh lafadz yang kedua (الْمُرْتَقَي) dinamakan Isim Manqush, tanda Nashabnya Zhohir. Tanda Rofa’ dan juga Jarrnya sama dikira-kira.

TANDA I’RAB FI’IL MU’TAL

وَأَيُّ فِعْــلٍ آخِرٌ مِنْهُ أَلِفْ ¤ أوْ وَاوٌ أوْ يَاءٌ فَمُعْتَلاًّ عُرِفْ

Setiap Kalimah Fi’il yang akhirnya huruf illat Alif , Wau atau Ya’, maka dinamakan Fi’il Mu’tal.

فَالأَلِفَ انْوِ فِيْهِ غَيْرَ الْجَزْمِ ¤ وَأَبْـــدِ نَصْبَ مَا كَيَدْعُو يَرْمِي

Kira-kirakanlah! I’rab untuk Kalimah Fi’il yang berakhiran Alif pada selain Jazmnya. Dan Zhohirkanlah! tanda nashab untuk Kalimah Fi’il yang seperti يَدْعُو (Berakhiran huruf Wau) danيَرْمِي (Berakhiran huruf Ya’)…

والرَّفعَ فيهما انْوِ واحذِفْ جازِمَا ¤ ثــلاثَـــهُنَّ تَقــــضِ حُكمَــا لازِمَــــا

dan kira-kirakanlah! tanda Rofa’ untuk kedua lafadz (يَدْعُو dan يَرْمِي ). Buanglah (huruf-huruf illat itu) jika engkau sebagai orang yang menjazmkan ketiga Kalimah Fi’il Mu’tal tsb, maka berarti engkau memutuskan dengan Hukum yang benar.

**********************

lengkapnya:

  1. Bab Kalam dan Susunannya
  2. Bab Mu’rab dan Mabni
  3. Bab Nakirah dan Ma’rifat
  4. Bab Isim Alam
  5. Bab Isim Isyaroh
  6. Bab Isim Maushul
  7. Bab Ma’rifat dengan Alat Ta’rif
  8. Bab Ibtada’
  9. Bab Kana dan Saudara-saudaranya
  10. Bab Maa, Laa, Laata, dan In yang beramal Laisa
  11. Bab Af’aalul Muqorabah
  12. Bab Inna dan Saudara-saudaranya
  13. Bab Laa Nafi Jenis
  14. Bab Zhonna dan Saudara-saudaranya
  15. Bab A’lama dan Aroo
  16. Bab Isim Fa’il
  17. Bab Naibul Fa’il
  18. Bab Istighol
  19. Bab Fi’il Muta’adi dan Fi’il Lazim
  20. Bab Tanaazu’ Dalam Amal
  21. Bab Maf’ul Muthlaq
  22. Bab Maf’ul Lah
  23. Bab Maf’ul Fih-Zhorof
  24. Bab Maf’ul Ma’ah
  25. Bab Istitsna’
  26. Bab Haal
  27. Bab Tamyiz
  28. Bab Huruf Jarr
  29. Bab Idhofah
  30. Bab Mudhof kepada Ya’ Mutakallim
  31. Bab Amal Mashdar
  32. Bab Amal Isim Fa’il
  33. Bab Bina’ Mashdar
  34. Bab Bina’ Isim Fa’il, Bina’ Isim Maf’ul dan Bina’ Shifat Musyabbah
  35. Bab Shifat yang menyerupai Isim Fa’il
  36. Bab Ta’ajjub
  37. Bab Ni’ma, Bi’sa dan Ma yang menempati pada keduanya
  38. Bab Af’alut Tafdhil
  39. Bab Na’at
  40. Bab Taukid
  41. Bab ‘Athaf
  42. Bab ‘Athaf Nasaq
  43. Bab Badal
  44. Bab Nida’
  45. Bab Fashlun Tabi’ Munada
  46. Bab Munada Mudhof pada Ya’ Mutakallim
  47. Bab Isim-Isim yang hanya berlaku pada Nida’
  48. Bab Istighotsah
  49. Bab Nudbah
  50. Bab Tarkhim
  51. Bab Ikhtishosh
  52. Bab Tahdzir dan Ighro’
  53. Bab Isim Fi’il dan Isim Ashwat
  54. Bab Nun Taukid
  55. Bab Isim yang tidak Munshorif
  56. Bab I’rab Fi’il
  57. Bab ‘Amil Jazm
  58. Bab Fashl Lau
  59. Bab Amma, Laula dan Lauma
  60. Bab Khabar dari Alladzi dan Alif Lam
  61. Bab Hitungan
  62. Bab Kam, Ka’ayyin dan Kadza
  63. Bab Hikayah
  64. Bab Ta’nits
  65. Bab Maqshur dan Mamdud
  66. Bab Cara Mentatsniyah dan Menjama’kan Isim Maqshur dan Mamdud
  67. Bab Jama’ Taksir
  68. Bab Tashghir
  69. Bab Nasab
  70. Bab Waqof
  71. Bab Imalah
  72. Bab Tashrif
  73. Bab Tambahan Hamzah Washal
  74. Bab Penggantian Huruf
  75. Bab Fashal Penggantian Wau dari Ya
  76. Bab Fashal Berkumpulnya Wau dan Ya’
  77. Bab Fashal Pemindahan Harakah pada Huruf Mati Sebelumnya
  78. Bab Fashal Penggantian Fa’ Ifti’ala pada Ta’
  79. Bab Fashal Membuang Fa’ Fi’il Amar dan Fi’il Mudhori’
  80. Bab Idgham dan Khatimah Nadzam

http://anwchelsea.wordpress.com/ilmu-islami/nahwu/alfiyah-ibnu-malik/

Hadis hadis mengenai cara tidur nabi (Posisi nabi tidur ada 2: telentang dan tidur miring menghadap kiblat)

Umat Islam (Muslim) adalah sangat dianjurkan malah merupakan suatu kemestian untuk selalu berdoa dan berzikir kepada Allah dalam apa jua keadaan demi mendapatkan rahmat dan keberkatan yang berterusan di dunia mahupun akhirat kelak. Salah satu tujuannya adalah untuk memastikan manusia itu dapat hidup dengan bahagia, harmoni dan diredhai oleh Allah. Selain itu ianya bertujuan untuk mengelakkan terjadinya gangguan makhluk-makhluk dari kalangan manusiajin dan syaitan. Berdoa dan berzikir adalah antara perkara yang termasuk dalam cara-cara mengingati Allah samada ketika manusia itu senang, susah, berdiri, duduk, berjalan, bekerja, berehat, bangun mahupun ketika mahu tidur sekalipun.

Nabi Muhammad SAW telah menganjurkan setiap Muslim untuk berzikir dan berdoa sebelum dan selepas mereka tidur. Dalam sebuah HadisRasulullah yang bermaksud:

A. berwudhu dan berdszikir/doa

“Al-Barra bin Azib RA berkata; Adalah Rasulullah S.A.W jika akan tidur, baginda mengiring ke sebelah kanan kemudian membaca: (Maksudnya); “Ya Allah aku serahkan diriku kepada-Mu dan mengadapkan wajah ku pada-Mu dan menyerahkan semua urusanku kepada-Mu dan menyandarkan punggungku kepada-Mu kerana mengharap dan takut kepada-Mu, tiada perlindungan dan tiada tempat selamat daripada seksa-Mu kecuali kembali kepada-Mu. Aku percaya kepada Kitab yang Engkau turunkan dan Nabi yang telah Engkau utuskan.”

B. Posisi nabi tidur ada 2: telentang dan tidur miring menghadap kiblat

1. Menurut sebuah Hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang bermaksud:

“Jika kamu hendak tidur, maka berwuduklah bagaikan kamu hendak Solat, kemudian berbaring atas pinggang kanan dan bacalah doa ini (seperti maksud doa yang tersebut diatas) dan jadikanlah bacaan doa itu yang terakhir daripada bacaanmu (perkataanmu sebelum tidur).”

(posisi seperti mayat dalam kubur YAITU TIDUR MIRING PINGGANG KANAN DIATAS (DADA DAN MUKA MENG HADAP KIBLAT, KEPALA DI SEBELAH KANAN/ UTARA (JIKA KIBLAT DI BARAT))

2. Rasulullah juga pernah tidur terlentang dengan cara meletakkan satu kaki diatas kaki yang lain sebagaimana yang tersebut dalam maksud Hadis:

“Daripada Abbad bi Tamim, daripada bapa saudaranya, bahawasanya Rasulullah SAW tidur terlentang di Masjid sambil meletakkan satu kaki diatas yang lain.” (Hadis diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim) TIDAK DISEBUTKAN KAKI MENGHADAP / TAK MENGHADAP KIBLAT

C. Doa nabi sebelumt idur:

Dalam sebuah Hadis lain pula bermaksud:

“Daripada Huzaifah katanya: Nabi SAW apabila berbaring di tempat tidurnya lalu baginda berdoa: (Maksudnya); “Dengan nama-Mu Ya Allah, aku hidup dan aku mati.”

D. Sunnah Mandi ayat / menyapu badan dgn tapak tangan setelah baca surat2 alqur’an

Dalam riwayat Hadis yang lain ada menerangkan yang bermaksud:

“Daripada Aisyah RA katanya: Rasulullah SAW apabila berbaring di tempat tidurnya pada setiap malam, baginda mengangkat kedua tangannya (seperti berdoa), lalu meniup dan membaca Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falak dan Surah An-Naas, kemudian baginda menyapukan tangannya ke seluruh badan yang dapat disapunya dari kepala dan mukanya dan bahagian depan daripada tubuhnya. Baginda melakukannya sebanyak tiga kali.” (Hadis Riwayat Imam Tirmidzi).

Dalam pada itu, Rasulullah (Nabi Muhammad SAW) sebelum hendak tidur juga pernah membaca doa yang bermaksud:

“Ya Allah, Tuhan langit dan bumi. Tuhan Arasy Yang Maha Agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah biji dan benih, Yang menurunkan (Kitab) TauratInjil dan Al-Furqan (Al-Quran). Aku berlindung kepada Mu daripada kejahatan setiap yang memiliki kejahatan, dimana Engkaulah yang memegang setiap yang memiliki kejahatan, dimana Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya. Engkaulah yang pertama, maka tidak ada sesuatu pun sebelum Mu. Dan Engkaulah yang terakhir, tidak ada sesuatu pun sesudahMu. Engkaulah yang zahir, maka tidak ada sesuatu pun diatas Mu. Engkaulah yang batin, tidak ada sesuatu pun dibawah Mu. Tunaikanlah hutang kami dan jauhilah kami dari kemiskinan.” (Hadis Riwayat Imam Muslim).

Nabi Muhammad juga menyarankan umat Muslim utuk menunaikan Solat Sunat Witir sebelum tidur, sebagaimana yang tercatat dalam Hadis berikut yang bermaksud:

“Rasulullah SAW juga telah mengingatkan umatnya bahawa syaitan sering menganggu manusia ketika tidur. Oleh itu, umat Islam adalah dianjurkan supaya mengamalkan Solat Witir setiap kali sebelum tidur”. (Hadis Riwayat Imam Bukhari).

Terdapat juga suatu Hadis lain dimana Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud:

Syaitan akan mengikat hujung kepala seseorang yang sedang tidur dengan tiga ikatan, menyebabkan kamu tidur dengan cukup lama. Apabila seseorang diantara kamu bangkit seraya menyebut nama Allah, maka akan terlepaslah ikatan yang pertama. Apabila ia berwuduk maka akan terbuka ikatan kedua. Apabila ia Solat , maka akan terlepaslah semua ikatannya. Ia akan merasa sesuatu kesegaran dan ketenangan hati, jika tidak ia akan merasa malas dan kekusutan hati”. (Hadis Riwayat Imam Bukhari).

Jika Rasulullah terjaga dari tidur di tengah malam, baginda akan membasuh muka dan kedua belah tangannya, sebelum baginda tidur semula.

Dan setiap kali Rasulullah bangun selepas selesai waktu tidurnya, baginda akan mengucap syukur dengan membaca:

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami dan kepadaNya lah tempat kembali”.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 381 other followers