Kitab Durratun nashihin & Ibnu Katsir : Keutamaan Sepuluh Dzul hijah

Kitab Durratun nashihin & Ibnu Katsir : Keutamaan Sepuluh Dzul hijah

Tak’lim Ke 72

Keutamaan Sepuluh Dzul hijah

Surat Wal-fajri ayat 1 -4

waalfajri
[89:1] Demi fajar,
walayaalin ‘asyrin
[89:2] dan malam yang sepuluh1573,
waalsysyaf’i waalwatri
[89:3] dan yang genap dan yang ganjil,
waallayli idzaa yasri
[89:4] dan malam bila berlalu.

Dari Hasan bin Aly bahwa dia berkata : “Apabila engkau masuk ke masjid, maka bersalamlah karena Rasulullah saw., telah bersabda :

“Jangnlah kamu sekalian menjadikan rumahku hari raya dan jangan pula kamu sekalian menjadikan rumah-rumahmu sebagi kuburan, bahkan bacalah kamu sekalian shalawat untuk saya dimana kamu sekalian berada; karena sesungguhnya shalawatmu itu sampai kepada saya”.

Di dalam hadits sahabat Ausin Radhiyallu’anhu bahwa dia berkata : “Beliau Nabi Saw., bersabda :

“Perbanyaklah oelhmu sekalian membaca shalawat untuk saya pada hari jum’at, karena sesungguhnya shalawatmu itu ditampakan/disampaikan kepada saya” (al-hadits).

Dari salman bin Sahiim rah. Bahwa dia berkata :

“Saya bermimpi melihat Nabi SAW , maka saya berkata : “Wahai Rasulullah, mereka orang-orang yang datang kepadamu member salam kepadamu, apakah engkau faham/mengerti salam mereka?”

Maka Beliau menjawab : “Ya saya mengerti dan membalas salam mereka” (Syifaa-un syarifuun)

Sementara Kata Ulama : “Barang siapa berpuasa pada hari ini (enam hari sesudah hari raya), maka akan dimuliakan oleh Allah ta’ala dengan 10 perkara :

  1. Berkah dalam umurnya
  2. 2. Tambah hartanya
  3. 3. Terjaga keluarganya
  4. Terhapus semua kejahatannya
  5. Dilipatgandakan kebaikannya
  6. Mudah dalam sakaratul maut
  7. Penerangan dalam kuburnya
  8. Berat timbangan kebaikannya dihari hisab
  9. Selamat dari semua tinadakan yang hina
  10. Naik derajatnya

Dan demikian juga diriwayatkan : “Sungguh Allah Swt. Telah memilih tiga puluhan dalam satu tahun :

  1. Sepuluh hari di akhir bulan ramadhan

Karena didalmnya terdapat berkah lailatul qadar

2. Sepuluh hari Bulan Qurban/Dzilhijjah

Karena didalamnya terdapat hari tarwiyah, hari arafah dan hari qurban, talbiyah, ibnadah haji dan macam-macam ibadah haji lainnya.

Sebagaimana telah dating dalam sebuah hadits :

“Sungguh Allah ta’ala berbangga pada malaikat-Nya; maka Dia Allah berfirman : “Lihatlah olehmu sekalian, para hambaku sekiranya mereka telah datang dari segenap penjuru dengan keadaan kusut lelah lagi berjalan guna melihat kemanfaatab mereka. Maka dari itu saksikanlah olehmu sekalian sesungguhnya aku telah mengampuni mereka’ (Bagian dari hadits yang panjang, ini terdapat dalam kita-kitab hadits mu’tabar)

3.  Sepuluh Hari Bulan Muharram

Karena didalmnya terdapat berkah dari hari asyura, dan karena adanya hadits atsar dan yang sepertinya”.

Hadits-hadits Keutamaan 10 Hari Bulan Dzil Hijjah

Kata sebagian ulama Ahlu fiqh Rah. : “Kalau ada seorang laki-laki berkata : “Karena Allah; saya akan berpuasa pada hari yang paling utama ditahun ini sesudah bulan Ramadhan”, maka wajib baginya berpuasa pada sepuluh hari yang pertama dari bulan Dzulhijjah. Karena hari-hari yang utama dari satu tahun ialah hari-hari ini (10 hari pertama bulan Dzil hijjah).

Hadits 1

Dalam sebuah hadits disebutkan :

“Barangsiapa berpuasa pada hari arafah dari bulan Dzil Hijjah, maka Allah ta’ala mencatat baginya pahala enam puluh tahun dan dicatat oleh Allah pula termasuk golongan orang-orang yang ta’at” (zubdatul waa’idziina).

Hadits ke 2

Diriayatkan dari Ibnu Abbas r.a bahwa sesungguhnya dia berkata : “Beliau Nabi Saw. Bersabda :
ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء

Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya (menjadi syahid). (HR Bukhari)

Hadits ke 3

Dan diriwayatkan juga oleh Abi Hurairah Ra. Dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda :

“Tidak ada hari-hari yang lebih disukai oleh Allah dikala dia disembah dari pada  sepuluh hari bulan Dzilhijjah : Berpuasa setiap hari padanya sebanding dengan puasa setahun dan berdiri mengerjakan ahalat setiap malam dari padanya sebanding dengan shalat pada malam lailatul qadar”

Hadits ke 4

Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa Nabi Musa as. Berkata : “Wahai Tuhanku, aku telah berdoa dan engkau belum mengabulkan doaku, maka berilah aku satu ilmu untuk berdoa kepadamu”

Dia Allah SWT memberikan wahyu kepadanya : “Hai Musa, apabila engkau telah masuk dalam hari-hari yang sepuluh dari bulan Dzilhijjah bacalah :

Laa ilaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah) Maka akan aku kabulkan hajatmu”

Kata Nabi Musa as. : “Tuhanku semua hambaku sudah membacanya”.

Firman Allah Swt : “Hai Musa, Barang siapa membaca “Laa ilaaha illallaah” Pada hari hari ini sekali saja sekiranya tujuh langit dan tujuh bumi diletakan piring timbangan dan “Laa ilaaha illallaah” di piringan yang satunya, niscaya “Laa ilaaha illallaah” itu menjadi berat dan berbobot mengalahkan semuanya”.

Hadits ke 5

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW., bahwa sesungguhnya beliau bersabda : “

“hari saat mana Allah mengampuni Nabi Adam as., adalah hari pertama bulan dzulhijjah. Barang siapa berpuasa pada hari itu maka Allah mengampuni dosanya.

Pada hari kedua, Allah telah mengabulkan doa nabi yunus as. Dan mengeluarkannya dari perut ikan. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka seperti orang yangberibadah kepada Allah ta’aala selama satu tahun serta tidak mendurhakai Allah dalam ibadahnya meskipun sekejap mata.

Pada hari ketiga, Allah telah mengabulkan doa Nabi Zakariya as. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah mengabulkan doanya.

Pada Hari keempat, Nabi Isa as. Dilahirkan. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah meniadakan/menghilangkan kesusahannya dan kefakirannya, dan dia besok pada hari qiyamat bersama dengan orang-orang yang pergi yang baik-baik dan yang mulia.

Pada Hari kelima, Nabi Musa as. Dilahirkan, Barangsiapa berpuasa pada hari itu, maka dia bebas dari siksa kubur.

Pada hari kekenam, Allah ta’aala membuka kebaikan untuk nabinya. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah memperhatikan kepadanya dengan kasih saying dan dia tidak disiksa sesudah itu.

Pada Hari ketujuh, semua pintu-pintu neraka jahannam ditutup dan tidak dibuka sehingga berlalu hari-hari yang sepuluh itu.

Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allah akan menghindarkan dari padanya tiga puluh pintu kesukaran dan membukakan baginya tiga puluh pintu kemudahan.

Pada Hari ke delapan, dinamakn hari tarwiyah.

Barang siapa yang berpuasa pada hari itu, maka dia diberi pahala yang hanya diketahui oleh Allah ta’aala sendiri.

Pada hari hari kesembilan, dinamakan hari arafah.

Barang siapa berpuasa pada hari itu maka sebagai tebusan dosanya pada tahun yang telah lewat dan yang akan dating. Dan pada hari itu juga telah diturunkan ayat : “Pada hari ini telah kau sempurnkanbagimu akan agamamu dan aku sempurnakan pula nikmatku kepadamu”

Pada hari kesepuluh, Hari Raya iedul adhaa.

Barang siapa berkurban dengan satu qurban, maka mulai tetesan darah yang terjatuh ketanah, Allah mengampuni semua dosanya dan dosa-dosa keluarganya dan barangsiapa member makan orang mukmin atau bersedekah dengan satu pemberian, maka Allah ta’aala membangkitkan pada hari qiyamat dengan selamat dan timbangannya pun menjadi lebih berat daripada gunung uhud. (Dari Kitab Majaalis).

Diceritakan dari Sufyan atsauri bahwa dia berkata : Saya mengitari kubur-kubur orang islam di Bashrah pada beberapa malam di bulan dzulhijjah. Tiba-tiba ada cahaya dikubur salah seorang dari mereka. Maka saya berhenti sambil berfikir. Pada saat itu ada suara keras yang mengatakan : “Hai Sufyan, supaya engkau berpuasa sepuluh hari dibulanDzilhijjah,  maka akan diberikan kepadamu seperti cahaya ini” (zubdatul waa’idziina).

Hadits ke 6

Nabi bersabda :

“Barang siapa berpuasa pada hari akhir bulan Dzil hijjah dan pada hari pertama bulan muharram, maka sungguh dia telah memungkasi tahun yang lalu dengan puasa dan telah mengawali tahun mendatang dengan puasa dan Allah ta’ala menjadikan  baginya tebusan dosa selama lima puluh tahun.

Hadits ke 7

Dari Aisyah ra., bahwa dia berkata “Sungguh Rasulullah SAW telah bersabda :

Tidak satu haripun yang saat itu Allah memerdekakan para hambanya dari neraka lebih banyak daripada yang dia bebaskan pada hari arafah” (Demikian di zubdatul wa’izdiina)

Ambilah apa-apa yang telah saya sampaikan padamu dan janganlah termasuk orang-orang yang menentang

Hadits 8.

Suatu bacaan yang paling utama say abaca dan dibaca pula oleh para nabi sebelumku pada hari-hari yang sepuluh ini ialah : “Tidak ada Tuhan melainkan Allah dengan sendirinya tidak ada sekutu bagiNya”.

Hadits 9

Beliau Nabi SAW., bersabda :

Tidak ada hari-hari suatu amal lebih utama melainkan pada hari sepuluh Dzilhijjal. Rasulullah ditanya : Dan tidak juga bulan ramadhan ?

Beliau bersabda : Amal dibulan ramadhan lebih utama, akan tetapi hari-hari ini (sepuluh hari dzil hijjah) kemuliaannya lebih besar”

Firman Allah :

[89:3] dan yang genap dan yang ganjil,

Dari Abdullah Bin Mas’ud ra. menerangkan “asy’u (genap) yaitu hari tarwiyah dan nhari arafah , sedang al witru (ganjil) adalah hari raya.

waallayli idzaa yasri
[89:4] dan malam bila berlalu.

Kata sebagian ulama : Malam itu adalah malam mudzalifah. Allah ta’ala telah bersumpah dengan malam itu karena keutamaan dan kemuliaannya sebab berjalanya jamaah haji pada malam itu.

Syaikh abu sa’id menafsirkan   malam itu adalah malam isra mi’raj

walayaalin ‘asyrin
[89:2] dan malam yang sepuluh

yakni sepuluh malam bulan dzulhijjah.

Allah bersumpah dengan 10 malam dzilhijjah karena masa-masa kesibukan ibadah haji dan malam malam lainnya.

Ibadah haji yang mabrur adalah amalan yang paling utama, sebab sbagai tebusan semua dosa/umur orang itu.

Hadits 10.

Dalam sebuah hadits disebutkan :

“Tidak ada hari-hari disaat mana amal yang baik lebih utama dari hari-hari yang sepuluh ini”.

sepuluh hari itu ditafsirkan sepuluh hari dzilhijjah. (Syaikhun zaadah)

Ringkasan :

Tafsir ibnu katsir juz 4 surat al-fajr, page 563, penerbit darusalam riyadh

Kitab Durratun Nashin, halaman 903-914, penerbit Victory agency kuala lumpur

http://salafytobat.wordpress.com

Ibnu katsir membungkam wahhaby (2) : Tafsir ayat “istiwa”

Ibnu katsir membungkam wahhaby (2) : Tafsir ayat “istiwa”

Bagaimana cara ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami masalah asma wa sifat atau yang sering di sebut dngan ayat-aya dan hadit-haditst sifat?ayat-ayat sifat disini adalah ayat Alquran atau Hadits Nabi yang menyebutkan tentang aggota tubuh seperti mata ,tangan,naik turun yang di sandarkan kepada Allah dll yang jika salah dalam memahamimya seseorang bisa masuk dalam kesesatan aqidah mujassimah(yang megatakan bahwa Allah SWT mempunyai aggota badan yang menyerupai dengan hambanya).Atau akan terjerumus dalam ta’thil (yang menolak sifat-sifat Allah SWT ).Begitu penting dan bahaya permasalahan ini maka ulama benar-benar telah membahasnya dengan detail dan rinci agar ummat ini tidak salah dalam memahami ayat –ayat dan hadits-hadits sifat .
Ada dua catara yang di ambil oleh ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami ayat-ayat sifat ini :
Pertama adala tafwidh, maksudnuya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di fahami sesuai dhohir lafatnya akan merusak aqidah. Misanya disaat Allah menyebut tangan yang di nisbatkan kepada Allah, maka maknanya tidak di bahas akan tetapi dilalui dan diserahkan kepada Allah SWT.   Ibnu katsir adalah salah satu ulama yang menggunkan methode ini.
Kedua adalah dengan cara mentakwili ayat tersebut dengan makna yang ada melalaui dalil lain. Seperti tangan Allah di artikan dengan kekuasaan Allah yang memang makna kekuasaa itu sendiri di tetapkan dengan dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.
Perhatian
1-Dua cara ini yakni attafwid dan attakwil adalah cara yang di ambil oleh ulama salaf dan kholaf,sungguh tidak benar jika tafwid adalah metode tyang di ambil oleh ulama salaf dan ta’wil adalah yang di ambil oleh ulama kholaf saja.
2-Ada sekelompok orang di akhir zaman ini menfitnah para ulama terdahulu(salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini.maka kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu karena takwil ,sungguh mereka adalah orang –orang yang tidak mengerti bagaimana mentakwil dan mereka uga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu karena banyak riwayat ta’wil yang dating dari para salaf..
3-ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dam kesesatan takwil yang tidak mereka sadari.misalnya disaat mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘ars ,mereka mengatakan tidak boleh ayat tentang keberadaan Allah di ars ini di ta’wili.akan tetapi dengan tidak di sadari mereka menjelaskan keberadan Allah di ars dengan penjelasan bahwa ars adlah makhluq terbesar(seperti bola dan semua mkhluk yang lain di dalamnya.kemudian mereka mengatakkan dan Allah swt berada di atas Arsy nag besar itu di tempat yang namany makan ‘adami(tempat yang tidak ada).Lihat dari mana mereka mengatakan ini semua. Itu adalah takwil fasid dan ba’id(takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran.
Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang Allah dan ars,para ahli tafwid menyerahkan pemahaman maknanya kepada Allah swt,adapu ahli ta’wil mengatakan Alah menguasai Ars dan tidaklah salah karena memang Allah dzat yang maha kuasa terhadap makhluk terbesar Ars, sebab memang Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu.wallhu a’lam bishshowab

A.  Tafsir Ayat Mutasyabihat ISTIWA

I. Tafsir Makna istiwa Menurut Kitab Tafsir Mu’tabar
lihat dalam tafsir berikut :

1. Tafsir Ibnu katsir menolak makna dhahir (lihat surat al -a’raf ayat 54, jilid 2 halaman 295)

Tarjamahannya (lihat bagian yang di line merah)  :

{kemudian beristawa kepada arsy} maka manusia pada bagian ini banyak sekali perbedaan pendapat , tidak ada yang memerincikan makna (membuka/menjelaskannya)  (lafadz istiwa) dan sesungguhnya kami menempuh dalam bagian ini seperti apa yang dilakukan salafushalih, imam malik, imam auza’I dan imam atsuri, allaits bin sa’ad dan syafi’I dan ahmad dan ishaq bin rawahaih dan selainnya dan ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang. Dan lafadz (istawa) tidak ada yang memerincikan maknanya seperti yang datang tanpa takyif (memerincikan bagaimananya) dan tanpa tasybih (penyerupaan dgn makhluq) dan tanpa ta’thil(menafikan)  dan (memaknai lafadz istiwa dengan)  makna dhahir yang difahami (menjerumuskan) kepada pemahaman golongan musyabih yang menafikan dari (sifat Allah)  yaitu Allah tidak serupa dengan makhluqnya.

Wahai mujasimmah wahhaby!!

lihatlah ibnu katsir melarang memekanai ayat mutasyabihat  dengan makana dhohir karena itu adalah pemahaman mujasimmah musyabihah!

bertaubatlah dari memaknai semua ayat mutasyabihat dengan makna dhahir!!

Kemudian Ibnu katsir melanjutkan lagi :

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [al-Syura: 11]. Bahkan perkaranya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata: “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir, dan siapa yang mengingkari apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir, dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat muhkamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.”

Inilah selengkapnya dari penjelasan Ibnu Katsir.Berdasarkan penjelasan ibnu katsir :

- ibnu katsir mengakui ayat ‘istiwa’ adalah ayat mutasyabihat yang tidak boleh memegang makna dhahir dari ayat mutasyabihat tapi mengartikannya dengan ayat dan hadis yang – jadi ibnu katsir tidak memperincikan maknanya tapi juga tidak mengambil makna dhahir ayat tersebut.

- disitu imam ibnu katsir, imam Bukhari dan imam ahlsunnah lainnya  tidak melarang ta’wil.

“…dan  selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya)tanpa takyif  (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan)….”

sedangkan wahaby melarang melakukan tanwil!

- Ayat mutasyabihat harus di tafsir dengan ayat syarif (ayat muhkamat) yang jelas maknanya!!c Tidak seperti wahhaby yang menggunakan ayat mutasyabihat utk mentafsir ayat mutasyabihat yang lain!!!! ini adalah kesesatan yang nyata!

2.    Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra’d:

1- Tafsir al Qurtubi

(ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan

2- Tafsir al-Jalalain

(ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya

3- Tafsir an-Nasafi Maknanya:

makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain…

4- Tafsir Ibnu Kathir , darussalam -riyadh, Jilid 2 , halaman 657, surat ara’ad ayat 2):

(ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf,  sesungguhnya ia ditafsirkan sebagaimana lafadznya yang datang (tanpa memrincikan maknanya) tanpa kaifiat(bentuk) dan penyamaan, tanpa permisalan, maha tinggi

Disini Ibnu Katsir mengunakan ta’wil ijtimalliy iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya.

II. Makna istiwa yang dikenal dalam bahasa arab dan dalam kitab-kitab Ulama salaf

Di dalam kamus-kamus arab yang ditulis oleh ulama’ Ahlu Sunnah telah menjelaskan istiwa datang dengan banyak makna, diantaranya:

1-masak (boleh di makan) contoh:

قد استوى الطعام—–قد استوى التفاح maknanya: makanan telah masak—buah epal telah masak

2- التمام: sempurna, lengkap

3- الاعتدال : lurus

4- جلس: duduk / bersemayam,

contoh: – استوى الطالب على الكرسي : pelajar duduk atas kerusi -استوى الملك على السرير : raja bersemayam di atas katil

5- استولى : menguasai,

contoh: قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق

Maknanya: Bisyr telah menguasai Iraq, tanpa menggunakan pedang dan penumpahan darah.

Al Hafiz Abu Bakar bin Arabi telah menjelaskan istiwa mempunyai hampir 15 makna, diantaranya: tetap,sempurna lurus menguasai, tinggi dan lain-lain lagi, dan banyak lagi maknannya. Sila rujuk qamus misbahul munir, mukhtar al-Sihah, lisanul arab, mukjam al-Buldan, dan banyak lagi. Yang menjadi masalahnya, kenapa si penulis memilih makna bersemayam. Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah?, apakah dia tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Adakah si penulis ini tidak mengatahui bahawa siapa yang menyamakan Allah dengan salah satu sifat daripada sifat makhluk maka dia telah kafir?

sepertimana kata salah seorang ulama’ Salaf Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):

ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر

Maknanya: barang siapa yang menyifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai arasy kerana arasy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala sepertimana kata-kata Saidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:

ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته ولم يتخذه مكان لذاته

Maknanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-arasy untuk menzohirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.

Allah ada tanpa tempat dan arah adalah aqidah salaf yang lurus.

III. Hukum Orang yang meyakini Tajsim; bahwa Allah adalah Benda

 


*Bersemayam yang bererti Duduk adalah sifat yang tidak layak bagi Allah dan Allah tidak pernah menyatakan demikian, begitu juga NabiNya. Az-Zahabi adalah Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Uthman bin Qaymaz bin Abdullah ( 673-748H ). Pengarang kitab Siyar An-Nubala’ dan kitab-kitab lain termasuk Al-Kabair.Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah Duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair. Demikian teks Az-Zahabi kafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” :Nama kitab: Al-Kabair.
Pengarang: Al-Hafiz Az-Zahabi.
Cetakan: Muassasah Al-Kitab Athaqofah,cetakan pertama 1410h.Terjemahan.
Berkata Al-Hafiz Az-Zahabi:
“Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas terkeluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah Duduk untuk menetap atau katanya Allah Berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”. Rujuk scan kitab tersebut di atas m/s 142.

 

Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al
Qawim h. 64, mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.

Al Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah meridlainyamengatakan:
“Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’i dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal).

Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”.

As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata:
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,
kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

III.  ulamak 4 mazhab tentang aqidah

1- Imam Abu hanifah:

لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه

Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah, muka surat 1.


IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.

Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :

“ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat.

Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.

Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.

2-Imam Syafie:

انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير

Maknanya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 muka surat 23

3-Imam Ahmad bin Hanbal :

-استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.

وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه

Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahawa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya(Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami

4- Imam Malik :

الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة

Maknannya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif(bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan soal tentangnya bidaah.

lihat disini : imam malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir  jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)…..

Bersambung ….

http://salafytobat.wordpress.com

Ibnu Katsir Membungkam Wahhaby (I) : Tafsir ayat Mutasyabihat Yad (tangan)

Ibnu Katsir Membungkam Wahhaby (I)

TIK 4  COVER

- Ayat Mutaysabihat tentang Lafadz Tangan / yad (kata tunggal/ single)/ aidin (jamak/plural).

- Ahlusunnah Tidak Mengambil Makna Dhahir ayat mutasyabihat

I.  Wahhaby mengelirukan makna “tafsir”  dengan “ta’wil”

Ilmu- yang harus dimilki oleh orang yang ingin menjadi ahli tafsir alqur’an. Disamping harus mengusai 14 cabang ilmu lainnya seperti ilmu lughah, nahwu, saraf, balaghah, isytiqoqo, ilmu alma’ani, badi’, bayan, fiqh, aqidah, asbabunuzul, nasikh mansukh, ilmu qiraat, ilmu hadits, usul fiqah ( hukum-hukum furu’) dan ilmu mauhub ( fadhilah alqur’an, syaikh maulana zakariyya).

Kenapa perlu ilmu aqidah dalam hal ini tahu sifat-siafat Allah yang wajib, sifat yang mustahil dan sifat yang jaiz (boleh/harus) bagi Allah? Karena banyak ayat mutasyabihat yang tidak boleh mengambil makna dhahir (explisit) dari ayat itu, tapi menggunkan makna implisit dari lafadz tersebut. Jadi ta’wil adalah salah satu cara untuk mentafsir Al-qur’an.

apakah WAHABY  masih bersikeras menggunakan makna dhahir pada ayat/hadist mutasyabihat ini ?

coba lihat tafsir ayat berikut

- ”Nasuullaha fanasiahum” (QS Attaubah:67),

Artinya : Mereka melupakan Allah maka Allah pun lupa dengan mereka (QS Attaubah:67),

- ”Innaa nasiinaakum” (QS Assajadah 14).

Artinya : (sungguh kami telah lupa pada kalian ( QS Assajadah 14)

Dan juga diriwayatkan dalam hadtist Qudsiy bahwa Allah swt berfirman :

”Wahai Keturunan Adam, Aku sakit dan kau tak menjenguk Ku, maka berkatalah keturunan Adam : Wahai Allah, bagaimana aku menjenguk Mu sedangkan Engkau Rabbul ’Alamin?, maka Allah menjawab : Bukankah kau tahu hamba Ku fulan sakit dan kau tak mau menjenguknya?, tahukah engkau bila kau menjenguknya maka akan kau temui Aku disisinya?” (Shahih Muslim hadits no.2569)

II. Ahlusunnah Tidak Mengambil Makna Dhahir ayat mutasyabihat

Ahlusunnah TIDAK MENERIMA MAKNA DHOHIR ayat atau hadits mutasyabihat (ta’wil) tapi juga TIDAK MERUBAH LAFADZ AYAT/HADIST (TASHRIF) , karena merubah lafadz ayat atau hadits adalah haram dan dilarang. Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.

Ta’wil disni  berarti menjauhkan makna dari segi zahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah, ini kerana zahir makna nas al-Mutasyabihat tersebut mempunyai unsur jelas persamaan Allah dengan makhluk. Dalil melakukan ta’wil ayat dan hadis  mutasyabihat:

Rasulullah berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa:

dalil ta'wil ibnu abbas

Maknanya: “Ya Allah alimkanlah dia hikmah dan takwil Al quran” H.R Ibnu Majah. (Sebahagian ulamak salaf termasuk Ibnu Abbas mentakwil ayat-ayat mutasyabihah)

Masalah ayat/hadist mutasyabihat  dalam ilmu tauhid terdapat dua pendapat dalam menafsirkannya.
1.Pendapat Tafwidh ma’a tanzih (Ta’wil ijtimaly)

2.Pendapat Ta’wil (Ta’wil Tafsilly)

Keterangan :

1. Madzhab tafwidh ma’a tanzih yaitu mengambil dhahir lafadz dan menyerahkan maknanya kpd

Allah swt, dg i’tiqad tanzih (mensucikan Allah dari segala penyerupaan).

Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal masalah hadist sifat, ia berkata ”Nu;minu biha wa nushoddiq biha bilaa kaif wala makna”, (Kita percaya dg hal itu, dan membenarkannya tanpa menanyakannya bagaimana, dan tanpa makna) Madzhab inilah yg juga di pegang oleh Imam Abu hanifah.

Pendapat ini dikenal juga dengan TA’WIL IJTIMALY iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya. Sebagai contoh perkataan istawa dikatakan istawa yang layak bagi Allah dan waktu yang sama dinafikan zahir makna istawa kerana zahirnya bererti duduk dan bertempat, Allah mahasuci dari bersifat duduk dan bertempat.

dan kini muncullah faham mujjassimah yaitu dhohirnya memegang madzhab tafwidh tapi menyerupakan Allah dg mahluk, bukan seperti para imam yg memegang madzhab tafwidh.

2. Madzhab takwil yaitu menakwilkan ayat/hadist tasybih sesuai dg keesaan dan keagungan Allah

swt, dan madzhab ini arjah (lebih baik untuk diikuti) karena terdapat penjelasan dan menghilangkan awhaam (khayalan dan syak wasangka) pada muslimin umumnya, sebagaimana Imam Syafii, Imam Bukhari,Imam Nawawi dll. (syarah Jauharat Attauhid oleh Imam Baajuri)
Pendapat ini juga terdapat dalam Al Qur’an dan sunnah, juga banyak dipakai oleh para sahabat, tabiin dan imam imam ahlussunnah waljamaah.

Ta’wilan Tafsiliyy iaitu ta’wilan yang menafikan makna zahir nas tersebut kemudian meletakkan makna yang layak bagi Allah. Seperti istawa bagi Allah bererti Maha Berkuasa kerana Allah sendiri sifatkan dirinya sebagai Maha Berkuasa.

Dan banyak pula para sahabat, tabiin, dan para Imam ahlussunnah waljamaah yg berpegang pada pendapat Ta’wil, seperti Imam Ibn Abbas, Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Tirmidziy, Imam Abul Hasan Al Asy’ariy, Imam Ibnul Jauziy dll (lihat Daf’ussyubhat Attasybiih oleh Imam Ibn Jauziy).
Maka jelaslah bahwa akal tak akan mampu memecahkan rahasia keberadaan Allah swt, sebagaimana firman Nya : ”Maha Suci Tuhan Mu Tuhan Yang Maha Memiliki Kemegahan dari apa apa yg mereka sifatkan, maka salam sejahtera lah bagi para Rasul, dan segala puji atas tuhan sekalian alam” . (QS Asshaffat 180-182).

III. Ayat Mutaysabihat tentang Lafadz Tangan / yad (kata tunggal/ single)/ aidin (jamak/plural)

ini adalah untuk membantah mufassir sesat dan palsu yang bernama Syaikh AsySyinqithy  al wahaby (Guru syaikh Shalih  Fauzan Al wahaby).

Bisa kita lihat dalam kamus manapun bahwa yad adalah bernakna  tangan (untuk mufrad/tunggal). Sedangkan bentuk jamaknya (plural) adalah aidin. Lihat dalam kamus bahasa arab berikut :

kamus makna yad tangan_0018

Kemudian kita lihat lagi Tafsir Ibnu Katsir Surat AdzDzaariyaat ayat 47 (pada yang di line merah) :

TIK4 ADZARIYAT 47 BIAYDIN ok

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuatan (Tangan) dan sesungguhnya Kami benar-benar memperluasnya” (Surat AdzDzaariyaat ayat 47)


tarjamah (Scan kitab tafsir Ibnu katsir yang di line merah) :

Makna Lafadz ا بِأَيْدٍ (dengan Tangan ) adalah  kekuatan. Yang mengatakan seperti ini adalah Ibnu abbas, mujahid, qatadah,  atsauri dan selainnya”

jadi Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud lafadz د  (biaidin) adalah “dengan  kekuasaan“, bukan maksudnya tangan yang merupakan anggota badan (jarihah) kita, karena Allah maha suci darinya.

Lihat rujukan dalam kitab Tafsir mu’tabar :

Dalam Tafsir Qurtuby:

لَمَّا بَيَّنَ هَذِهِ الْآيَات قَالَ : وَفِي السَّمَاء آيَات وَعِبَر تَدُلّ عَلَى أَنَّ الصَّانِع قَادِر عَلَى الْكَمَال , فَعَطَفَ أَمْر السَّمَاء عَلَى قِصَّة قَوْم نُوح لِأَنَّهُمَا آيَتَانِ . وَمَعْنَى ” بِأَيْدٍ ” أَيْ بِقُوَّةٍ وَقُدْرَة . عَنْ اِبْن عَبَّاس وَغَيْره .

Dalam  Tafsir Thobary :

الْقَوْل فِي تَأْوِيل قَوْله تَعَالَى : { وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } يَقُول تَعَالَى ذِكْرُهُ : وَالسَّمَاء رَفَعْنَاهَا سَقْفًا بِقُوَّةٍ . وَبِنَحْوِ الَّذِي قُلْنَا فِي ذَلِكَ قَالَ أَهْل التَّأْوِيل . ذِكْرُ مَنْ قَالَ ذَلِكَ : 24962 – حَدَّثَنِي عَلِيّ , قَالَ : ثنا أَبُو صَالِح , قَالَ : ثني مُعَاوِيَة , عَنْ عَلِيّ , عَنِ ابْن عَبَّاس , قَوْله : { وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } يَقُول : بِقُوَّةٍ.

Dalam Tafsir Jalalain

Biquwati  (وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ)

Tarjamahannya : Lafadz BI AIDIN artinya DENGAN KEKUATAN-NYA

- kemudian dalam surat Al-Fath : 10

tik alfath 4 fauqa aidihim ok

Lihat pada scan kitab yang di line merah :

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ……………

Tarjamahan firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10).

Tidak ada yang menafsirkan “yad”dengan makna dhahir bahwa “tangan” . Disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbai’at pada sahabat.

Dalam Tafsir Ibnu katsir (lihat scan kitab yang di line merah) , beliau tidak mengambil makana dhahir tangan sebagaimana yang difahami mujasimmah wahhaby dan yahudi :

makna yadullah (Tangan Allah) bermakna : Allah menyaksikan (hadhir) bersama mereka, Allah  mendengar percakapan mereka, allah melihat tempat mereka, Allah mengetahui kata Bathin (hati mereka) dan dhahir mereka maka dialah Allah Ta’ala Yang membai’at mereka dengan perantara Rasulullah SAW, seperti dalam firman Allah ta’ala:

[9:111] Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (SURAT AT TAUBAH (Pengampunan) ayat 111) )… (Tafsir Ibnu katsir, jilid 4, page 236).

Sedangkan dalam tafsir qurtubi :

Al-Qurthubi telah menukil pendapat Ibn Kisan sbb :

قِيلَ : يَده فِي الثَّوَاب فَوْق أَيْدِيهمْ فِي الْوَفَاء , وَيَده فِي الْمِنَّة عَلَيْهِمْ بِالْهِدَايَةِ فَوْق أَيْدِيهمْ فِي الطَّاعَة . وَقَالَ الْكَلْبِيّ : مَعْنَاهُ نِعْمَة اللَّه عَلَيْهِمْ فَوْق مَا صَنَعُوا مِنْ الْبَيْعَة . وَقَالَ اِبْن كَيْسَان : قُوَّة اللَّه وَنُصْرَته فَوْق قُوَّتهمْ وَنُصْرَتهمْ

Dalam Tafsir  At-Thobary

وَفِي قَوْله : { يَد اللَّه فَوْق أَيْدِيهمْ } وَجْهَانِ مِنْ التَّأْوِيل : أَحَدهمَا : يَد اللَّه فَوْق أَيْدِيهمْ عِنْد الْبَيْعَة , لِأَنَّهُمْ كَانُوا يُبَايِعُونَ اللَّه بِبَيْعَتِهِمْ نَبِيّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ; وَالْآخَر : قُوَّة اللَّه فَوْق قُوَّتهمْ فِي نُصْرَة رَسُوله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , لِأَنَّهُمْ إِنَّمَا بَايَعُوا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نُصْرَته عَلَى الْعَدُوّ.

Jadi tidak ada kitab tafsir mu’tabar yang menganbil makna dhahir dari ayat-ayat mutasyabihat!.

Jangan terkecoh  antara lafadz ayd (dengan huruf ya disukun artinya tangan (jamak)) dengan lafadz ayyad (karena artinya menguatkan), karena dalam bahasa arab  perbedaan satu huruf atau tanda baca satu bisa merusak makna, seperti dalam ayat :

[2:87] Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?

Ini bisa dilhat dalam kamus bahasa arab bahwa aid (tangan – jamak) berbeda dengan ayyad (mengatkan – fi’il/kata kerja)  (lihat yang diline merah) :

kamus makna ayyad

Kesimpulan :

- Ibnu katsir menta’wil ayat  bi aidin dengan makna kekuatan (padahal makna dhahirnya adalah dengan tangan, karena aid adalah jamak dari kata tangan).

- Bagi yang mengingkari lafadz “aid”  adalah jamak dari kata tangan, silahkan buka kamus bahasa arab manapun dan lihat pula ayat : “

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ……………

Tarjamahan firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan  mereka” (QS Al Fath 10). Disini jelas bahwa “أَيْدِ” adalah jamak dari “yad”/tangan.

- Ibnu katsir menta’wil ayat “yadu llah fauqa aidihim ” = beliau tidak mngambil arti dhahir “tangan” sebagaimana aqidah tajsim wahhaby dan yahudi.

InsyaAllah Bersambung…

Bagaimana Hukum Membaca bismillah dalam shalat?

Buya Yahya On Air

http://buyayahya.org

Bagaimana Hukum Membaca bismillah dalam shalat?

Jawab :

Dalam hal ini Ulama berbeda pendapat sebagian mengatakan bahwa Bismillah adalah bagian dari surat Al fatihah maka menurut mereka awal surat al fatihah adalah bismillah.

Sebagian lagi berpendapat bahwa Bismillah bukan termasuk bagian dari surat Al Fatihah maka menurut mereka permulaan surat Al Fatiah adalah Al hamdulillahi Robbil alamin .

Perbedaan ini ada sangkut pautnya dengan sah tidaknya sholat seorang Imam atau yang lainnya jika meninggalkan Bismillahir rohmanir rohim dalam bacaan fatihah di dalam shalat .

Menurut pendapat yang dikukuhkan didalam mazham Imam Syafei maka sholatnya Imam yang tidak membaca bismillah adalah tidak sah begitu juga makmum yang mengikutinya (Al Ibroh bi ‘idiqodil makmumi laa bi ‘idiqodil imam.).

Dan pendapat yang kedua yang boleh dambil dalam saat-saat tertentu, yaitu jika memang menurut Imam tersebut adalah sah maka makmum juga sah untuk mengikutinya (Al Ibroh bi ‘idiqodil imami laa bi ‘idiqodil makmum). Bagi yg berpendapat Bismillah bukan bagian dari Surat Al Fatihah maka tidak membaca Bismillah pun tidak membatalkan sholat dan ini adalah pendapat yang dikukuhkan dalam madzhab Imam Malik dan sebagian Riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal.

Hanya yang perlu diketahui agar kita semakin bijak didalam bermasyarakat khususnya didalam melihat perbedaan-perbedaan yang muncul saat ini, maka jangan sampai membuat keanehan didalam masyarakat. Jika seandainya Anda adalah seorang yang mengikuti mazhab Imam Malik yang tidak mewajibkan bismillah .

Disaat Anda menjadi Imamnya orang yang bermazdhab Syafei maka alangkah bijaknya bila Anda masih menjaga Bismillah untuk memberikan ketenangan kepada para makmum. Sebab yang harus kita pahami bahwa JIKA Anda TIDAK MEMBACA BISMILLAH ADA ULAMA YG MENGATAKAN SHOLAT Anda TIDAK SAH, AKAN TETAPI JIKA Anda MEMBACA BISMILLAH TIDAK ADA SATU ULAMA PUN YANG MENGATAKAN SHOLAT Anda TIDAK SAH.

http://buyayahya.org/index.php?option=com_fireboard&Itemid=58&func=view&id=200&catid=12

Membantah Fatwa sesat Bin Baz : Sunnah mencium Tangan Orang Shalih / Ulama

Membantah Kitab sesat Wahhaby (Bin Baz)

 

 

 

3. Jama’ah ba’da shalat, tidak perlu mencium tangan imam, cukup bersalaman saja???.
JAWAB
Kebiasaan mencium tangan merupakan kebiasaan baik sebagai tanda penghormatan, hal ini telah dilakukan dan diajarkan oleh Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan bahwa Ibn Abbas ra setelah wafatnya Rasul saw beliau berguru pada Zeyd bin Tsabit ra, maka Ibn Abbas ra disuatu hari menuntun tunggangan Zeyd bin tsabit ra, maka berkata Zeyd ra : “jangan kau berbuat itu”, maka berkata Ibn Abbas ra : “beginilah kita diperintah utk menghormati ulama ulama kita”, maka turunlah Zeyd bin tsabit ra dari tunggangannya seraya mencium tangan Ibn Abbas ra dan berkata : “Beginilah kita diperintah memuliakan keluarga Rasulullah saw”.

(Faidhul Qadir oleh Al hafidh Al Imam Abdurra’uf Almanaawiy Juz 2 hal 22), (Is’aful Mubtha’ oleh Al Hafidh Al Muhaddits Imam Assuyuthi ).
Anda lihat kalimat : “beginilah kita diperintah..”, kiranya siapa yang memerintah mereka?, siapa yang mengajari mereka?, mereka tak punya guru selain Muhammad Rasulullah saw.
Riwayat lain adalah ketika Ka’b bin malik ra gembira karena taubatnya diterima Allah swt, ia datang kepada Rasul saw dan mencium tangan dan juga kedua paha beliau saw (Fathul Baari Al masyhur oleh Imam Al Hafidh Al Muhaddits Ibn Hajar Al Atsqalaniy juz 8 hal 122)
Riwayat lain : “Kami mendekat pada Nabi saw dan mencium tangan nabi saw” (Sunan Imam Al Baihaqi Alkubra hadits no.13.362)

Riwayat lain : “Berkata Tamiim ra bahwa Mencium tangan adalah sunnah”. (Sunan Imam Baihaqi Alkubra hadits no.13.363)

Demikian Rasul saw tak melarang cium tangan, demikian para sahabat radhiyallahu’anhum melakukannya.

 

Mufti BEN BAZ&Tuwaijiry adalah KAFIR&MUSYABBIH- kata Al-Bani (berbukti)

AL-ALBANI AL-WAHHABI KAFIRKAN BEKAS MUFTI SAUDI BEN BAZ AL-WAHHABI

Seorang tokoh agama baru agama Wahhabi bernama Nasiruddin Al-Albani yang menjadi nabi kepada agama Wahhabi telah menghukum KAFIR ke atas seluruh Wahhabi khususnya pengarang buku Wahhabi yang terkenal bernama Al-Tuwaijiry dan Abdul Aziz Bin Baz kerana menyamakan Allah dengan makhluk dan merujuk dhomir kata ganti nama dalam hadith Nabi dengan cara yang salah dan terpesong.

At-Tuwaijiry merupakan penulis buku Wahhabi yang banyak mengunakan dalil dari ucapan Yahudi untuk menyamakan Allah dengan makhluk dan Abdul Aziz Bin Baz yang merupakan bekas Mufti Saudi pula memuji bukunya dan menyokong sepenuhnya dengan menyatakan bahawa dhomir tersebut kembali kepada Allah dan dengan itu Al-Albani telah menghukum KAFIR ke atas kedua-duanya sekali kerana sepatutnya dhomir itu kembali kepada nabi Adam. Maha suci Allah dari menyerupai nabi Adam dan makhluk lain.

SILA DOWNLOAD KENYATAAN AL-ALBANI TERSEBUT DISINI:
KLIK
http://albrhan.org/portal/index.php?show=sounds&op=download&id=339

Sekiranya anda telah download rakaman itu sila fokuskan pada pentakfiran Al-Albani Al-Wahhabi keatas Wahhabi At-Tuwaijiry termasuk Ben Baz bekas Mufti Saudi yang menyokong Al-Tuwaijiry. Sila fokus pada minit 12 hingga tamat.

Wassalam

Ustaz Abu Syafiq

Ibnul Qayyim (Scan Kitab Ar-ruh) : Sampainya hadiah bacaan Alqur’an dan Bolehnya membaca Al-Qur’an diatas kuburan

Ibnul Qayyim (Scan Kitab Ar-ruh) : Sampainya hadiah bacaan Alqur’an dan Bolehnya membaca Al-Qur’an diatas kuburan

Scan Kitab bahasa Arab :

Cover :

kitab aroh arab cover

Baca Yang berwarna Merah  (page 5 digital book):

Aroh arab page 5ok

kitab ar-rooh (ar-ruh digital) Bisa di download di :

http://www.scribd.com/doc/21496576/alrooh

Scan kitab ar-ruh tarjamah (bahasa melayu) :

cover :

kitab ar-ruh ibnu qayyim_0004

Kitab ar-ruh :

kitab ar-ruh ibnu qayyim_0003

kitab ar-ruh ibnu qayyim_0002

Teks Arab Kitab Arruh Ibnu qayyim pada halaman 5 (kitab digital) :

وقد ذكر عن جماعة من السلف أنهم أوصوا أن يقرأ عند قبورهم وقت الدفن قال عبد الحق يروى أن عبد الله بن عمر أمر أن يقرأ عند قبره سورة البقرة وممن رأى ذلك المعلى بن عبد الرحمن وكان الامام أحمد ينكر ذلك أولا حيث لم يبلغه فيه أثر ثم رجع عن ذلك   وقال الخلال في الجامع كتاب القراءة عند القبور اخبرنا العباس بن محمد الدورى حدثنا يحيى بن معين حدثنا مبشر الحلبى حدثني عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه قال قال أبى إذا أنامت فضعنى في اللحد وقل بسم الله وعلى سنة رسول الله وسن على التراب سنا واقرأ عند رأسى بفاتحة البقرة فإنى سمعت عبد الله بن عمر يقول ذلك قال عباس الدورى سألت أحمد بن حنبل قلت تحفظ في القراءة على القبر شيئا فقال لا وسألت يحيى ابن معين فحدثنى بهذا الحديث   قال الخلال وأخبرني الحسن بن أحمد الوراق حدثنى على بن موسى الحداد وكان صدوقا قال كنت مع أحمد بن حنبل ومحمد بن قدامة الجوهرى في جنازة فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم فأخبرني مبشر عن عبد الرحمن بن العلاء اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال له أحمد فارجع وقل للرجل يقرأ

وقال الحسن بن الصباح الزعفراني سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال لا بأس بها   وذكر الخلال عن الشعبي قال كانت الأنصار إذا مات لهم الميت اختلفوا إلى قبره يقرءون عنده القرآن قال وأخبرني أبو يحيى الناقد قال سمعت الحسن بن الجروى يقول مررت على قبر أخت لي فقرأت عندها تبارك لما يذكر فيها فجاءني رجل فقال إنى رأيت أختك في المنام تقول جزى الله أبا على خيرا فقد انتفعت بما قرأ أخبرني الحسن بن الهيثم قال سمعت أبا بكر بن الأطروش ابن بنت أبي نصر بن التمار يقول كان رجل يجيء إلى قبر أمه يوم الجمعة فيقرأ سورة يس فجاء في بعض أيامه فقرأ سورة يس ثم قال اللهم إن كنت قسمت لهذه السورة ثوابا فاجعله في أهل هذه المقابر فلما كان يوم الجمعة التي تليها جاءت امرأة فقالت أنت فلان ابن فلانة قال نعم قالت إن بنتا لي ماتت فرأيتها في النوم جالسة على شفير قبرها فقلت ما أجلسك ها هنا فقالت إن فلان ابن فلانة جاء إلى قبر أمه فقرأ سورة يس وجعل ثوابها لأهل المقابر فأصابنا من روح ذلك أو غفر لنا أو نحو ذلك

Membaca Al-qur’an Diatas Kubur Dan Mengadiahkan Pahalanya bagi Mayyit (Muslim)

Tarjamahannnya :

Pernah disebutkan daripada setengah para salaf, bahwa mereka mewasiatkan supaya dibacakan diatas kubur mereka di waktu penguburannya. Telah berkata abdul haq, diriwayatkan bahwa Abdullah bin umar pernah menyuruh supaya diabacakan diatas kuburnya surah al-baqarah. Pendapat ini dikuatkan oleh mu’alla bin hanbal, pada mulanya mengingkari pendapat ini kerana masih belum menemui sesuatu dalil mengenainya, kemudian menarik balik pengingkarannya itu setelah jelas kepadanya bahwa pendapat itu betul.

Berkata Khallal di dalam kitabnya ‘Al-jami’ : Telah berkata kepadaku Al-Abbas bin Muhammad Ad-dauri, berbicara kepadaku Abdul Rahman bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, katanya : Ayahku telah berpesan kepadaku, kalau dia mati, maka kuburkanlah dia di dalam lahad, kemudian sebutkanlah : Dengan Nama Allah, dan atas agama Rasulullah !, Kemudian ratakanlah kubur itu dengan tanah, kemudian bacakanlah dikepalaku dengan pembukaan surat albaqarah, kerana aku telah mendengar Abdullah bin Umar ra. Menyuruh membuat demikian. Berkata Al-Abbas Ad-Dauri kemudian : Aku pergi bertanya Ahmad bin Hanbal, kalau dia ada menghafal sesuatu tentang membaca diatas kubur. Maka katanya : Tidak ada ! kemudian aku bertanya pula Yahya bin Mu’in, maka dia telah menerangkan kepadaku bicara yang menganjurkan yang demikian.

Berkata Khallal, telah memberitahuku Al-Hasan bin Ahmad Al-Warraq, berbicara kepadaku Ali bin Muwaffa Al-Haddad, dan dia adalah seorang yang berkata benar, katanya :Sekalai peristiwa saya bersama-sama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari menghadiri suatu jenazah. Setelah selesai mayit itu dikuburkan, maka telah duduk seorang yang buta membaca sesuatu diatas kubur itu. Maka ia disangkal oleh Imam Ahmad, katanya : Wahai fulan ! Membaca sesuatu diatas kubur adalah bid’ah !. Apa bila kita keluar dari pekuburan itu, berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari kepada Imam Ahmad bin Hanbal : Wahai Abu Abdullah ! Apa pendapatmu tentang si Mubasysyir Al-Halabi ? Jawab Imam Ahmad : Dia seorang yang dipercayai. Berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari seterusnya : Aku menghafal sesuatu daripadanya ! Sangkal Imam Ahmad bin Hanbal : Yakah, apa dia ? Berkata Muhammad bin Qudamah : Telah memberitahuku Mubasysyir, daribada Abdul Rahman Bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, bahwasanya ia berpesan, kalau dia dikuburkan nanti, hendaklah dibacakan dikepalanya ayat-ayat permulaan surat Al-Baqarah, dan ayat-ayat penghabisannya, sambil katanya : Aku mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mewasiatkan orang yang membaca demikian itu.

Mendengar itu, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada Muhammad bin Qudamah : Kalau begitu aku tarik tegahanku (Bhs Ind : penolakanku ) itu. Dan suruhlah orang buta itu membacakannya.

Berkata Al- Hasan  bin As-sabbah Az-za’farani pula : Saya pernah menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i, kalau boleh dibacakan sesuatu diatas kubur orang, maka Jawabnya : Boleh, Tidak mengapa !

Khalal pun telah menyebutkan lagi dari As-sya’bi, katanya : Adalah Kaum Anshor, apabila mati seseorang diantara mereka, senantiasalah mereka mendatangi kuburnya untuk membacakan sesuatu daripada Al-Qur’an.

Asy-sya’bi berkata, telah memberitahuku Abu Yahya An-Naqid, katanya aku telah mendengar Al-Hasan bin Al-Haruri berkata : Saya telah mendatangi kubur saudara perempuanku, lalu aku membacakan disitu Surat Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dianjurkan. Kemudian datang kepadaku seorang lelaki danmemberitahuku, katanya : Aku mimpikan saudara perempuanmu, dia berkata : Moga-moga Allah memberi balasan kepada Abu Ali (yakni si pembaca tadi) dengan segala yang baik. Sungguh aku mendapat manfaat yang banyak dari bacaannya itu.

Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar atrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !

Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.

(Tarjamah Kitab Ar-ruh  Hafidz Ibnuqayyim jauziyah, ‘Roh’ , Ustaz Syed Ahmad Semait, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, 1990, halaman 17 – 19)

http://salafytobat.wordpress.com/2009/04/23/sampainya-hadiah-bacaan-al-qur%E2%80%99an-untuk-mayyit-orang-mati/

Sampainya Hadiah Bacaan Al-qur’an untuk mayyit (Orang Mati)

Sampainya Hadiah Bacaan Al-qur’an untuk mayyit (Orang Mati)

A. Dalil-dalil Hadiah Pahala Bacaan

1. Hadits tentang wasiat ibnu umar tersebut dalam syarah aqidah Thahawiyah Hal :458 :

“ Dari ibnu umar Ra. : “Bahwasanya Beliau berwasiat agar diatas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awa-awal surat albaqarah dan akhirnya. Dan dari sebagian muhajirin dinukil juga adanya pembacaan surat albaqarah”

Hadits ini menjadi pegangan Imam Ahmad, padaha imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang mengingkari sampainya pahala dari orang hidup kepada orang yang sudah mati, namun setelah mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat ibnu umar tersebut, beliau mencabut pengingkarannya itu. (mukhtasar tadzkirah qurtubi halaman 25).

Oleh karena itulah, maka ada riwayat dari imam Ahmad bin Hnbal bahwa beliau berkata : “ Sampai kepada mayyit (pahala) tiap-tiap kebajikan karena ada nash-nash yang dating padanya dan juga karena kaum muslimin (zaman tabi’in dan tabiuttabi’in) pada berkumpul disetiap negeri, mereka membaca al-qur’an dan menghadiahkan (pahalanya) kepada mereka yang sudah meninggal, maka jadialah ia ijma . (Yasaluunaka fid din wal hayat oleh syaikh DR Ahmad syarbasy Jilid III/423).

2. Hadits dalam sunan Baihaqi danan isnad Hasan

“ Bahwasanya Ibnu umar menyukai agar dibaca keatas pekuburan sesudah pemakaman awal surat albaqarah dan akhirnya”

Hadits ini agak semakna dengan hadits pertama, hanya yang pertama itu adalah wasiat seadangkan ini adalah pernyataan bahwa beliau menyukai hal tersebut.

3. Hadits Riwayat darulqutni

“Barangsiapa masuk kepekuburan lalu membaca qulhuwallahu ahad (surat al ikhlash) 11 kali, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati (dipekuburan itu), maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu”.

4. Hadits marfu’ Riwayat Hafidz as-salafi

“ Barangsiapa melewati pekuburan lalu membaca qulhuwallahu ahad (surat al ikhlash) 11 kali, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati (dipekuburan itu), maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu”.

(Mukhtasar Al-qurtubi hal. 26).

5. Hadits Riwayat Thabrani dan Baihaqi

“Dari Ibnu Umar ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika mati salah seorang dari kamu, maka janganlah menahannya dan segeralah membawanya ke kubur dan bacakanlah Fatihatul kitab disamping kepalanya”.

6. Hadits riwayat Abu dawud, Nasa’I, Ahmad dan ibnu Hibban:

“Dari ma’qil bin yasar dari Nabi SAW., Beliau bersabda: “Bacakanlah surat yaasin untuk orang yang telah mati diantara kamu”.

B. Fatwa Ulama Tentang Sampainya Hadiah Pahala Bacaan kepada Mayyit

1. Berkata Muhammad bin ahmad al-marwazi :

“Saya mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Jika kamu masuk ke pekuburan, maka bacalah Fatihatul kitab, al-ikhlas, al falaq dan an-nas dan jadikanlah pahalanya untuk para penghuni kubur, maka sesungguhnya pahala itu sampai kepada mereka. Tapi yang lebih baik adalah agar sipembaca itu berdoa sesudah selesai dengan: “Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca ini kepada si fulan…” (Hujjatu Ahlis sunnah waljamaah hal. 15)

2. Berkata Syaikh aIi bin Muhammad Bin abil lz :

“Adapun Membaca Al-qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang mati secara sukarela dan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai kepadanya sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji”. (Syarah aqidah Thahawiyah hal. 457).

3. Berkata Ibnu taymiyah :

“sesungguhnya mayyit itu dapat beroleh manfaat dengan ibadah-ibadah kebendaan seperti sedekah dan seumpamanya”. (yas alunka fiddin wal hayat jilid I/442).

Di atas adalah kitab ibnu taimiah berjudul majmuk fatawa jilid 24 pada mukasurat 324. Ibnu taimiah ditanya mengenai seseorang yang bertahlil, bertasbih,bertahmid,bertakbir dan menyampaikan pahala tersebut kepada simayat muslim lantas ibnu taimiah menjawab amalan tersebut sampai kepada si mayat dan juga tasbih,takbir dan lain-lain zikir sekiranya disampaikan pahalanya kepada si mayat maka ianya sampai dan bagus serta baik.

Manakala Wahhabi menolak dan menkafirkan amalan ini.

Di atas pula adalah kitab ibnu tamiah berjudul majmuk fatawa juzuk 24 pada mukasurat 324.ibnu taimiah di tanya mengenai seorang yang bertahlil 70000 kali dan menghadiahkan kepada si mayat muslim lantas ibnu taimiah mengatakan amalan itu adalah amat memberi manafaat dan amat baik serta mulia.

4. Berkata Ibnu qayyim al-jauziyah:

“sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayyit adalah sedekah, istighfar, berdoa untuknya dan berhaji atas nama dia. Adapun membaca al-qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayyit secara sukarela dan tanpa imbalan, maka akan sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji juga sampai kepadanya (yasaaluunaka fiddin wal hayat jilid I/442)

Berkata Ibnu qayyim al-jauziyah dalam kitabnya Ar-ruh : “Al Khallal dalam kitabnya Al-Jami’ sewaktu membahas bacaan al-qur’an disamping kubur” berkata : Menceritakan kepada kami Abbas bin Muhammad ad-dauri, menceritakan kepada kami yahya bin mu’in, menceritakan kepada kami Mubassyar al-halabi, menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ala’ bin al-lajlaj dari bapaku : “ Jika aku telah mati, maka letakanlah aku di liang lahad dan ucapkanlah bismillah dan baca permulaan surat al-baqarah disamping kepalaku karena seungguhnya aku mendengar Abdullah bin Umar berkata demikian.

Ibnu qayyim dalam kitab ini pada halaman yang sama : “Mengabarkan kepadaku Hasan bin Ahmad bin al-warraq, menceritakan kepadaku Ali-Musa Al-Haddad dan dia adalah seorang yang sangat jujur, dia berkata : “Pernah aku bersama Ahmad bin Hanbal, dan Muhammad bin Qudamah al-juhairi menghadiri jenazah, maka tatkala mayyit dimakamkan, seorang lelaki kurus duduk disamping kubur (sambil membaca al-qur’an). Melihat ini berkatalah imam Ahmad kepadanya: “Hai sesungguhnya membaca al-qur’an disamping kubur adalah bid’ah!”. Maka tatkala kami keluar dari kubur berkatalah imam Muhammad bin qudamah kepada imam ahmad bin Hanbal : “Wahai abu abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubassyar al-halabi?. Imam Ahmad menjawab : “Beliau adalah orang yang tsiqah (terpercaya), apakah engkau meriwayatkan sesuatu darinya?. Muhammad bin qodamah berkata : Ya, mengabarkan kepadaku Mubasyar dari Abdurahman bin a’la bin al-laj-laj dari bapaknya bahwa dia berwasiat apabila telah dikuburkan agar dibacakan disamping kepalanya permulaan surat al-baqarah dan akhirnya dan dia berkata : “aku telah mendengar Ibnu Umar berwasiat yang demikian itu”. Mendengar riwayat tersebut Imam ahmad berkata : “Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar bacaannya diteruskan (Kitab ar-ruh, ibnul qayyim al jauziyah).

5. Berkata Sayaikh Hasanain Muhammad makhluf, Mantan Mufti negeri mesir : “ Tokoh-tokoh madzab hanafi berpendapat bahwa tiap-tiap orang yang melakukan ibadah baik sedekah atau membaca al-qur’an atau selain demikian daripada macam-macam kebaikan, boleh baginya menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan pahalanya itu akan sampai kepadanya.

6. Imam sya’bi ; “Orang-orang anshar jika ada diantara mereka yang meninggal, maka mereka berbondong-bondong ke kuburnya sambil membaca al-qur’an disampingnaya”. (ucapan imam sya’bi ini juga dikutip oleh ibnu qayyim al jauziyah dalam kitab ar-ruh hal. 13).

7. Berkata Syaikh ali ma’sum : “Dalam madzab maliki tidak ada khilaf dalam hal sampainya pahala sedekah kepada mayyit. Menurut dasar madzab, hukumnya makruh. Namun ulama-ulama mutakhirin berpendapat boleh dan dialah yang diamalkan. Dengan demikian, maka pahala bacaan tersebut sampai kepada mayyit dan ibnu farhun menukil bahwa pendapat inilah yang kuat”. (hujjatu ahlisunnah wal jamaah halaman 13).

8. Berkata Allamah Muhammad al-arobi: Sesungguhnya membaca al-qur’an untuk orang-orang yang sudah meninggak hukumnya boleh (Malaysia : Harus) dan sampainya pahalanya kepada mereka menurut jumhur fuqaha islam Ahlusunnah wal-jamaah walaupun dengan adanya imbalan berdasarkan pendapat yang tahqiq . (kitab majmu’ tsalatsi rosail).

9. Berkata imam qurtubi : “telah ijma’ ulama atas sampainya pahala sedekah untuk orang yang sudah mati, maka seperti itu pula pendapat ulama dalam hal bacaan al-qur’an, doa dan istighfar karena masing-masingnya termasuk sedekah dan dikuatkan hal ini oleh hadits : “Kullu ma’rufin shadaqah / (setiapkebaikan adalah sedekah)”. (Tadzkirah al-qurtubi halaman 26).

Begitu banyaknya Imam-imam dan ulama ahlusunnah yang menyatakan sampainya pahala bacaan alqur’an yang dihadiahkan untuk mayyit (muslim), maka tidak lah kami bisa menuliskan semuanya dalam risalah ini karena khawatir akan terlalu panjang.

C. Dalam Madzab Imam syafei

Untuk menjelaskan hal ini marilah kita lihat penuturan imam Nawawi dalam Al-adzkar halaman 140 : “Dalam hal sampainya bacaan al-qur’an para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang masyhur dari madzab Syafei dan sekelompok ulama adalah tidak sampai. Namun menurut Imam ahmad bin Hanbal dan juga Ashab Syafei berpendapat bahwa pahalanya sampai. Maka lebih baik adalah si pembaca menghaturkan doa : “Ya Allah sampaikanlah bacaan yat ini untuk si fulan…….”

Tersebut dalam al-majmu jilid 15/522 : “Berkata Ibnu Nahwi dalam syarah Minhaj: “Dalam Madzab syafei menurut qaul yang masyhur, pahala bacaan tidak sampai. Tapi menurut qaul yang Mukhtar, adalah sampai apabila dimohonkan kepada Allah agar disampaikan pahala bacaan terbut. Dan seyogyanya memantapkan pendapat ini karena dia adalah doa. Maka jika boleh berdoa untuk mayyit dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh si pendoa, maka kebolehan berdoa denagn sesuatu yang dimiliki oleh si pendoa adalah lebih utama”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam madzab syafei terdapat dua qaul dalam hal pahala bacaan :

1. Qaul yang masyhur yakni pahala bacaan tidak sampai

2. Qaul yang mukhtar yakni pahala bacaan sampai.

Dalam menanggapai qaul masyhur tersebut pengarang kitab Fathul wahhab yakni Syaikh Zakaria Al-anshari mengatakan dalam kitabnya Jilid II/19 :

“Apa yang dikatakan sebagai qaul yang masyhur dalam madzab syafii itu dibawa atas pengertian : “Jika alqur’an itu tidak dibaca dihadapan mayyit dan tidak pula meniatkan pahala bacaan untuknya”.

Dan mengenai syarat-syarat sampainya pahala bacaan itu Syaikh Sulaiman al-jamal mengatakan dalam kitabnya Hasiyatul Jamal Jilid IV/67 :

“Berkata syaikh Muhammad Ramli : Sampai pahala bacaan jika terdapat salah satu dari tiga perkara yaitu : 1. Pembacaan dilakukan disamping kuburnya, 2. Berdoa untuk mayyit sesudah bacaan Al-qur’an yakni memohonkan agar pahalanya disampaikan kepadanya, 3. Meniatkan samapainya pahala bacaan itu kepadanya”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Syaikh ahmad bin qasim al-ubadi dalam hasyiah Tuhfatul Muhtaj Jilid VII/74 :

“Kesimpulan Bahwa jika seseorang meniatkan pahala bacaan kepada mayyit atau dia mendoakan sampainya pahala bacaan itu kepada mayyit sesudah membaca Al-qur’an atau dia membaca disamping kuburnya, maka hasilah bagi mayyit itu seumpama pahala bacaannya dan hasil pula pahala bagi orang yang membacanya”.

Namun Demikian akan menjadi lebih baik dan lebih terjamin jika ;

1. Pembacaan yang dilakukan dihadapan mayyit diiringi pula dengan meniatkan pahala bacaan itu kepadanya.

2. Pembacaan yang dilakukan bukan dihadapan mayyit agar disamping meniatkan untuk simayyit juga disertai dengan doa penyampaian pahala sesudah selesai membaca.

Langkah seperti ini dijadikan syarat oleh sebagian ulama seperti dalam kitab tuhfah dan syarah Minhaj (lihat kitab I’anatut Tahlibin Jilid III/24).

D. Dalil-dalil orang yang membantah adanya hadiah pahala dan jawabannya

1. Hadis riwayat muslim :

“Jika manusia, maka putuslah amalnya kecuali tiga : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya”

Jawab : Tersebut dalam syarah Thahawiyah hal. 456 bahwa sangat keliru berdalil dengan hadist tersebut untuk menolak sampainya pahala kepada orang yang sudah mati karena dalam hadits tersebut tidak dikatakan : “inqata’a intifa’uhu (terputus keadaannya untuk memperoleh manfaat). Hadits itu hanya mengatakan “inqatha’a ‘amaluhu (terputus amalnya)”. Adapun amal orang lain, maka itu adalah milik (haq) dari amil yakni orang yang mengamalkan itu kepadanya maka akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepadanya. Jadi sampai itu pahala amal si mayyit itu. Hal ini sama dengan orang yang berhutang lalu dibayarkan oleh orang lain, maka bebaslah dia dari tanggungan hutang. Akan tetapi bukanlah yang dipakai membayar utang itu miliknya. Jadi terbayarlah hutang itu bukan oleh dia telah memperoleh manfaat (intifa’) dari orang lain.

2. Firman Allah surat an-najm ayat 39 :

“ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.

Jawab : Banyak sekali jawaban para ulama terhadap digunakannya ayat tersebut sebagai dalil untuk menolak adanya hadiah pahala. Diantara jawaban-jawaban itu adalah :

a. Dalam syarah thahawiyah hal. 1455 diterangkan dua jawaban untuk ayat tersebut :

1. Manusia dengan usaha dan pergaulannya yang santun memperoleh banyak kawan dan sahabat, melahirkan banyak anak, menikahi beberapa isteri melakukan hal-hal yang baik untuk masyarakat dan menyebabkan orang-orang cinta dan suka padanya. Maka banyaklah orang-orang itu yang menyayanginya. Merekapun berdoa untuknya dan mengahadiahkan pula pahala dari ketaatan-ketaatan yang sudah dilakukannya, maka itu adalah bekas dari usahanya sendiri. Bahkan masuknya seorang muslim bersama golongan kaum muslimin yang lain didalam ikatan islam adalah merupakan sebab paling besar dalam hal sampainya kemanfaatan dari masing-masing kaum muslimin kepada yang lainnya baik didalam kehidupan ini maupun sesudah mati nanti dan doa kaum muslimin yang lain. Dalam satu penjelasan disebutkan bahwa Allah SWT menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh kemanfaatan dengan doa serta usaha dari kaum mukminin yang lain. Maka jika seseorang sudah berada dalam iman, maka dia sudah berusaha mencari sebab yang akan menyampaikannya kepada yang demikian itu. (Dengan demikian pahala ketaatan yang dihadiahkan kepadanya dan kaum mukminin sebenarnya bagian dari usahanya sendiri).

2. Ayat al-qur’an itu tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain. Ayat al-qur’an itu hanya menafikan “kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”. Allah SWT hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri). Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri. (jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insane” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”).

Demikianlah dua jawaban yang dipilih pengarang kitab syarah thahawiyah.

b. Berkata pengarang tafsir Khazin :

“Yang demikian itu adalah untuk kaum Ibrahin dan musa. Adapun ummat islam (umat Nabi Muhammad SAW), maka mereka bias mendapat pahala dari usahanya dan juga dari usaha orang lain”.

Jadi ayat itu menerangkan hokum yang terjadi pada syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim, bukan hukum dalam syariat nabi Muhammad SAW. Hal ini dikarenakan pangkal ayat tersebut berbunyi :

“ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.

c. Sahabat Nabi, Ahli tafsir yang utama Ibnu Abbas Ra. Berkata dalam menafsirkan ayat tersebut :

“ ayat tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Allah SWT : “Kami hubungkan dengan mereka anak-anak mereka”, maka dimasukanlah anak ke dalam sorga berkat kebaikan yang dibuat oleh bapaknya’ (tafsir khazin juz IV/223).

Firman Allah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas Ra sebagai penasakh surat an-najm ayat 39 itu adalah surat at-thur ayat 21 yang lengkapnya sebagai berikut :

“Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”.

Jadi menurut Ibnu abbas, surat an-najm ayat 39 itu sudah terhapus hukumnya, berarti sudah tidak bias dimajukan sebagai dalil.

d. Tersebut dalam Nailul Authar juz IV ayat 102 bahwa kata-kata : “Tidak ada seseorang itu…..” Maksudnya “tidak ada dari segi keadilan (min thariqil adli), adapun dari segi karunia (min thariqil fadhli), maka ada bagi seseorang itu apa yang tidak dia usahakan.

Demikianlah penafsiran dari surat An-jam ayat 39. Banyaknya penafsiran ini adalah demi untuk tidak terjebak kepada pengamalan denganzhahir ayat semata-mata karena kalau itu dilakukan, maka akan banyak sekali dalil-dalil baik dari al-qur’an maupun hadits-hadits shahih yang ditentang oleh ayat tersebut sehingga menjadi gugur dan tidak bias dipakai sebagai dalil.

3. Dalil mereka dengan Surat al-baqarah ayat 286 :

“Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya. Baginya apa yang dia usahakan (daripada kebaikan) dan akan menimpanya apa yang dia usahakan (daripada kejahatan)”.

Jawab : Kata-kata “laha maa kasabat” menurut ilmu balaghah tidak mengandung unsur hasr (pembatasan). Oleh karena itu artinya cukup dengan : “Seseorang mendapatkan apa yang ia usahakan”. Kalaulah artinya demikian ini, maka kandungannya tidaklah menafikan bahwa dia akan mendapatkan dari usaha orang lain. Hal ini sama dengan ucapan : “Seseorang akan memperoleh harta dari usahanya”. Ucapan ini tentu tidak menafikan bahwa seseorang akan memperoleh harta dari pusaka orang tuanya, pemberian orang kepadanya atau hadiah dari sanak familinya dan para sahabatnya. Lain halnya kalau susunan ayat tersebut mengandung hasr (pembatasan) seperti umpamanya :

“laisa laha illa maa kasabat”

“Tidak ada baginya kecuali apa yang dia usahakan atau seseorang hanya mendapat apa yang ia usahakan”.

4. Dalil mereka dengan surat yasin ayat 54 :

“ Tidaklah mereka diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan”.

Jawab : Ayat ini tidak menafikan hadiah pahala terhadap orang lain karena pangkal ayat tersebut adalah :

“Pada hari dimana seseorang tidak akan didhalimi sedikitpun dan seseorang tidak akan diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan”

Jadi dengan memperhatikan konteks ayat tersebut dapatlah dipahami bahwa yang dinafikan itu adalah disiksanya seseorang sebab kejahatan orang lain, bukan diberikannya pahala terhadap seseorang dengan sebab amal kebaikan orang lain (Lihat syarah thahawiyah hal. 456).

(ringkasan dari Buku argumentasi Ulama syafi’iyah terhadap tuduhan bid’ah,Al ustadz haji Mujiburahman, halaman 142-159, mutiara ilmu)

Semoga menjadi asbab hidayah bagi Ummat

Admin

http://salafytobat.wordpress.com/

Jawaban Atas Kitab Sesat Wahhaby “Benteng Tauhid” (syaikh Bin Baz) : Nisyfu Sya’ban

Tarjamah English Al- Fiqh Al-Akbar (Imam Abu Hanifah )

Al- Fiqh Al-Akbar

The great Imam Abu Hanifah An-Nu^man said in Al-Fiqh Al-Akbar:

The basis of Tawhid1 and what constitutes a valid belief is for one to say I believe in

Allah, His Angels, His Books, His Messengers, Resurrection after death, Destiny2

both good and evil and that it is created by Allah, the Settlement of Accounts on the

Day of Judgment, the Balance, Paradise and Hellfire. All are true matters.

Allah, the Exalted, is One not in the context of numbers but with the meaning that

He has no partners. Allah said in Surah Al-Ikhlas:

قل ھو لله أحد لله الصمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوًا أحد

This means: Say (O Muhammad) He is Allah, the One clear of partners and anything

similar.

Allah is the One needed by all and He needs none. He does not beget children and He is not begotten.

And there is none, in any way, similar to Him.

He does not resemble any of His creations, and nothing among His creations is like

Him. He existed Eternally3 and exists Everlastingly4 having His Names and

Attributed with the Attributes of His Self5 and the Attributes of His Doings. As to

the Attributes of His Self they are such as Life, Power, Knowledge, Speech,

Hearing, Sight and Will.

As to the Attributes of His doings they are such as Creating, Giving Sustenance, Insha’-Creating, Ibda^-Creating, Sun^-Creating and other than that among the Attributes of His Doings.

He existed Eternally and exists Everlastingly having His Names and Attributed

with His Attributes. He did not acquire a Name or an Attribute that He did not have.

He is Knowledgeable Eternally and Everlastingly by His Knowledge.

The Knowledge is His Eternal Attribute. He is Powerful by His Power. The Power is His

Eternal Attribute. He Speaks by His Speech. The Speech is His Eternal Attribute.

He Creates by His Creating. The Creating is His Eternal Attribute. He Does things

by His Doings. The Doing is His Eternal Attribute. The Doer is Allah, the Exalted.

The Doing is His Eternal Attribute and what is done is a created matter. The Doing

of Allah, the Exalted, is not created. His Attributes are Eternal without a beginning and not created. The one who claims they have a beginning or are created or doubts

or wavers about them, indeed is a blasphemer.

The Qur’an is The Speech of Allah. It is written in the Books of Qur’an, memorized

in the hearts, recited by the tongues and descended onto the Prophet sallallahu

^alayhi wa sallam. Our utterance of the Qur’an is created and our writing it is

created and the Qur’an is NOT created.

What Allah has mentioned in the Qur’an predicating about Musa and other Prophets, sallallahu ^alayhim wa sallam, and about Pharaoh and Iblis, all of that is the Speech of Allah, the Exalted, predicating about them. The Speech of Allah, the Exalted, is not created. The speech of Musa and the other creations is created. The Qur’an is the Speech of Allah and it is Eternal without a beginning, hence it is not their speech. Musa, peace be upon him, heard

the Speech of Allah, the exalted, as Allah, the Exalted, said:

وكلم لله موسى تكليمًا

Which means: Allah Spoke to Musa who heard the Eternal Speech of Allah.

Allah,the Exalted, was Attributed with Speech Eternally and yet had not spoken to

Musa. Allah, the Exalted,was Attributed with Creating Eternally and yet had not

created the creation.

ليس كمثله شىء وھو السميع البصير

This means: Absolutely nothing is like Him and He is Attributed with Hearing and

Sight.

When Allah spoke to Musa He spoke to him with His Eternal Speech. All His

Eternal Attributes are different from the attributes of the creations. He Knows unlike

our knowing, He is Powerful unlike our powerfulness, He Sees unlike our seeing,

He Hears unlike our hearing, He Speaks unlike our speech. We speak with

instruments and letters but Allah, the Exalted, Speaks without an instrument and

without letters. The letters are created and the Speech of Allah is not created. He is a

Thing unlike other things.

The meaning of a Thing is that His existence is confirmed– clear of bodily attributes, a jawhar-atom of a body, an ^arad-quality of a body, a limit, an opposite, a rival, a similar. He is Attributed with Yad, Wajh, and Nafs. What Allah mentioned in the Qur’an about the Yad, Wajh, Nafs refer to that they are His Attributes without a manner of being6. His Yad is His Attribute without a manner of being. His Ghadab7 and Rida8 are two of His Attributes without a manner of being.

Allah created the things from no other thing. Allah Knew in Eternity about all things

before they were created. Allah Decreed and Created these things. Nothing happens

in this world and the Hereafter except by His Will, Knowledge, Creating, and

Destining and He ordered all of it be Written in the Guarded Tablet (attribute wise

and not judgment wise). Creating, Destining and Will are His Attributes in Eternity

without a manner of being.

Allah knows the non-existent thing while in the state of non-existence as nonexistent.

He knows how it would be had He created it. Allah Knows the existent

while in the state of existence as existent. He knows how its annihilation would be.

Allah knows the one who is standing, while standing up, as standing up and if one

sits He Knows one is sitting while in the state of sitting. All of this is without the

Knowledge of Allah changing or Him acquiring knowledge. The change and the

different situations occur in the creations.

Allah created the creations empty of blasphemy or belief and then He spoke to them

and ordered and prohibited them. The one who blasphemed did so by ones own

action and disbelieving in the existence of Allah, all out of Allah’s Will to deprive

one of goodness. The one who believed did so by ones own action, admittance and

belief, all out of Allah’s Will to guide one to goodness and of support to one.

He took out the offspring of Adam, peace be upon him, from his back in forms as

tiny as the small red ants and made them mindful. He spoke to them and ordered

them to believe and prohibited them from blasphemy. They admitted to Him that He

is the Owner of all things and thus were established as believers, hence they are

born with Fitrah9. So after that, whoever blasphemes has in fact changed and altered

and whoever becomes a believer and believes has remained steadfast and lasted. He

did not force any of His creations to blaspheme or believe and did not create them

believers and blasphemers, rather He created them as persons; belief and blasphemy

are the doings of the slave. Allah Knows whoever blasphemes, while in the state of

blasphemy, as a blasphemer, and if one believes after that He knows him, while in

the state of belief, as a believer, without a change in the Knowledge and Attribute of

Allah. All the doings of the slaves among motion and rest, they truly acquire, and

Allah is their Creator, and all of them are by the Will, Knowledge, Creating and

Destining of Allah.

The acts of obedience no matter what they entail are due by the Order of Allah, the

Exalted, His Love10, Acceptance, Knowledge, Will, Creating and Destining. All the

sins are by His Knowledge, Creating, Destining and Will but not by His Love11,

Acceptance and Order.

All of the Prophets, sallallahu ^alayhim wa sallam, are clear of minor sins12,

enormous sins and abhorrent matters. Some errs and faults occurred from them.

Muhammad, the Messenger of Allah, sallallahu ^alayhi wa sallam, is His beloved,

slave, Prophet and Choicest. He did not worship an idol and did not associate

partners with Allah not for a blink of an eye. He never did commit a minor13 or a

major sin.

The best of the people after the Prophets, sallallahu ^alayhim wa sallam, is Abu

Bakr As-Siddiq, may Allah accept his deeds, thereafter ^Umar Ibn Al-Khattab,

thereafter ^Uthman Ibn ^Affan, thereafter ^Ali Ibn Abi Talib, may Allah accept all of

their deeds and keep them strolling with truth and make us support them in the truth.

We do not speak ill of the companions and we do not judge a Muslim as a

blasphemer for any of the sins, even if enormous, unless one deems it lawful.

We do not remove him from the nomenclature of a believer, and call him truly a believer,

and he could be a believer committing iniquities but not a blasphemer.

Wiping over the Khuff-foot gear is sunnah14 and tarawih prayers in Ramadan are

sunnah.

Praying behind every pious and committer of iniquities is permissible.

We do not say that the believer is not harmed by sins, and we do not say that he

does not enter Hellfire, and we do not say that he remains therein forever even if he

used to be a blasphemer, as long as he departs this life as a believer.

We do not say

our good deeds are accepted and our sins are forgiven, as the Murji’ah15 say. But we

say the one who does a good deed, satisfying all its conditions and is clear of the

invalidating defects and matters and does not invalidate it by blasphemy and

apostasy until one departs this life, is a believer, and then Allah will not make it

wasted for him, rather He accepts it from him and rewards him for it.

Whatever sinsone commits less than associating partners with Allah and blasphemy and does not repent from them until he dies as a believer, then he is under the Will of Allah, if

Allah Wills, He will torture him in Hellfire and if He Wills forgives him and does

not torture him in Hellfire, fundamentally speaking.

Should insincerity infiltrate one of the deeds it nullifies its reward, and likewise

arrogance. Miracles are confirmed for the Prophets and the supernatural-karamas

doings are truthful for the highly pious-waliyys.The extraordinary doings that occur

from the likes of Iblis, Pharaoh and the Imposter, which were mentioned in the

religious reports that they happened or will happen, we do not call them miracles or

supernatural-karamas doings. Rather we call them fulfillment of needs for them,

because Allah fulfills the needs of His enemies with the purpose of leading them for

the punishment they deserve, and as a punishment for them, so they become

satisfied in deceit and exaggerate in sinning or blasphemy, and all of that is possible

and permissible.

Allah the Exalted was Eternally a Creator before He created things and was

Eternally a Sustainer before providing sustenance.

Allah the Exalted will be seen in the Hereafter. The believers will see Him while

they are in Paradise with their eyes without likening Allah to the creations, without a

manner of being, without a volume and there will not be a distance between Him

and His creations.

The belief is admitting and believing. The belief of the occupants of earth and

heavens does not increase or decrease as far as the One believed in is concerned,

and increases and decreases as far as ones degree of certainty and belief are

concerned.

The believers are equal in the belief and excel in deeds. Islam is submitting and following the orders of Allah the exalted.

Linguistically there is a difference between belief and Islam, however, there is no belief without Islam and Islam does not exist without belief for they are together like the front and the back of the thing. The religion is a name that encompasses the belief, the Islam and the entire rules revealed to the prophets.

We know Allah with the knowledge that is due to Him and as per the Attributes He

Attributed to His Self. No one can worship Allah the worship due to Him that He is

entitled to, but rather one worships Him in fulfillment of His Orders and as He

ordered.

The believers are equal16 about Allah in knowledge, certainty, reliance, love,

acceptance, fear, hopefulness, belief and differ in all what is less than this.

Allah, the exalted, is generous to His slaves and is Just. He might reward the slave

many folds of what he deserves out of His generosity, and might punish for the sin

out of His justice or forgive it out of His generosity.

The intercession of the Prophets, sallallahu ^alayhim wa sallam, is confirmed for the sinners and committers of enormous sins among the believers who deserve punishment.

Weighing the deeds on the Balance on the Day of Judgment is true and the

settlement of the dues between the plaintiffs and defendants is true, and it is

permissible that if they had no good deeds of their own, the sins of the other party

will be added to them.

The Basin of the Prophet, sallallahu ^alayhi wa sallam, is true. Paradise and Hellfire are now created and shall never annihilate, and the Huril^in-women shall never annihilate. The torture of Allah shall never annihilate and the reward of Allah lasts forever. Allah, the Exalted, guides whomever He willed out of His generosity, and makes misguided whomever He willed out of His Justice. Making one misguided entails depriving one of goodness; that is the slave will not be guided to the deeds that Allah accepts from one. This is justice from

Allah. Likewise, the punishment for the sin of the deprived one is justice from

Allah.

It is not permissible to say that the Devil takes away the belief from the believing

slave forcefully and out of subjugation, rather we say the slave becomes lose with

the belief and if one leaves it at such an instance, the Devil takes it away from one.

The questioning of Munkar and Nakir is a true matter that takes place in the grave.

The return of the soul to the body of the slave in the grave is true. The pressing of

the grave and the torture therein is true for all the blasphemers and for some sinful

believers.

Proximity and being far from Allah are not matters of length or shortness of

distance, rather they are meanings pertaining to one being favored with acceptance

or deprived by being unaccepted. The one who is obedient is close to Him without a

manner of being, and the sinful one is far from Him without a manner of being.

Proximity, being far and coming forth fall on the supplicating one. Likewise, being

in the jiwar17 of Allah in Paradise and standing between His Yadayh18 are without a

manner of being.

The Qur’an was sent down onto the Prophet, sallallahu ^alayhi wa sallam, and is

written in the books. All the verses of the Qur’an are equal in merit and greatness,

except some have the merit of recitation and some have the merit of who is

mentioned in them.

Like the ayah of Al-Kursi, because who is mentioned in it is the Glory and greatness of Allah and His Attributes. Hence, two merits are combined in it, the merit of the recitation and the merit of who is mentioned in it.

Some of the verses have only the merit of reciting, such as the tale of the

blasphemers, so who is mentioned in it has no merit and they are the blasphemers.

Likewise, the Names and Attributes are equal in greatness and merit with no

excellence of one over the other between them.

Qasim, Tahir and Ibrahim were the sons of the Prophet, sallallahu ^alayhi wa

sallam. Fatimah, Ruqayyah, Zaynab, Umm Kulthum were all the daughters of the

Prophet sallallahu ^alayhi wa sallam, May Allah Accept the deeds of all of them.

If one is perplexed about something among the delicate matters of the science of

Tawhid19, one is ought to immediately believe what is correct about Allah, the

Exalted, until one finds a scholar and asks him, and one is not entitled to delay.

The news of the Ascension is true and the one who rejects it is deemed a misguided

blasphemer.

The appearance of Gog and Magog, and the sunrise from the Westside,

and the decent of ^Isa, peace be upon him, from the sky, and the rest of the signs of

the Day of Judgment according to the authentic reports, are true and shall happen.

Allah, the Exalted, guides whomever He willed to a straight path.

The text of Al-Fiqh Al-Akbar for the great Imam Abu Hanifah, may Allah accept his

deeds, ends here. Some terms used here might be different due to the different copies of

the text.

1 The knowledge about Allah and His Messenger.

2 Destiny is used here to denote the things created by Allah whether good or evil. Allah creates these

things as per His Destining — an Eternal and Everlasting Attribute of Allah . Hence we do not say about

the Destining of Allah evil.

3 The status of existence without a beginning.

4 The status of existence without ending.

5 Refers to the Reality of Allah.

6 A manner of being refers to all what could be an attribute of the creation.

7 Ghadab is an Attribute of Allah pertaining to non-acceptance of deeds and punishment.

8 Rida is an Attribute of Allah pertaining to acceptance of deeds and reward.

9 Refers to the inherent readiness after birth to accept the call of Islam.

10 When Love is Attributed to Allah it refers to acceptance of deeds and reward and NOT emotions and

reactions; Allah is clear from that.

11 See footnote 5

12 This refers to the small abject sins that constitute meanness. It is possible for Prophets to commit

non abject small sins but they are guided to immediately repent from them before others follow their

pursuit.

13 See footnote 12

14 Recommended and not obligatory.

15 A well known deviant group who strayed in the matter of the Islamic creed.

16 That is fundamentally as far as the essence of the aforementioned matters is concerned.

17 Jiwar means one would be enjoying the endowments that Allah endows on one in Paradise—all

being owned by Allah .

18 Standing between His Yadahy reflect when one stands on the Day of Judgment to face the settlement

of ones account and to be judged.

19 The knowledge about Allah and His Messenger.

Syaikh Nashiruddin Albani Kafirkan Syaikh Bin Baz dan Tuwaijiry

Mufti BEN BAZ&Tuwaijiry adalah KAFIR&MUSYABBIH- kata Al-Bani (berbukti)

AL-ALBANI AL-WAHHABI KAFIRKAN BEKAS MUFTI SAUDI BEN BAZ AL-WAHHABI

Seorang tokoh agama baru agama Wahhabi bernama Nasiruddin Al-Albani yang menjadi nabi kepada agama Wahhabi telah menghukum KAFIR ke atas seluruh Wahhabi khususnya pengarang buku Wahhabi yang terkenal bernama Al-Tuwaijiry dan Abdul Aziz Bin Baz kerana menyamakan Allah dengan makhluk dan merujuk dhomir kata ganti nama dalam hadith Nabi dengan cara yang salah dan terpesong.

At-Tuwaijiry merupakan penulis buku Wahhabi yang banyak mengunakan dalil dari ucapan Yahudi untuk menyamakan Allah dengan makhluk dan Abdul Aziz Bin Baz yang merupakan bekas Mufti Saudi pula memuji bukunya dan menyokong sepenuhnya dengan menyatakan bahawa dhomir tersebut kembali kepada Allah dan dengan itu Al-Albani telah menghukum KAFIR ke atas kedua-duanya sekali kerana sepatutnya dhomir itu kembali kepada nabi Adam. Maha suci Allah dari menyerupai nabi Adam dan makhluk lain.

SILA DOWNLOAD KENYATAAN AL-ALBANI TERSEBUT DISINI:
KLIK
http://albrhan.org/portal/index.php?show=sounds&op=download&id=339

Sekiranya anda telah download rakaman itu sila fokuskan pada pentakfiran Al-Albani Al-Wahhabi keatas Wahhabi At-Tuwaijiry termasuk Ben Baz bekas Mufti Saudi yang menyokong Al-Tuwaijiry. Sila fokus pada minit 12 hingga tamat.

Wassalam

WAHHABI MUJASSIM DAKWA ALLAH ADA BAYANG-BAYANG



( BUKTI WAHHABI MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK, WAHHABI MENDAKWA ALLAH ADA BAYANG-BAYANG DAN BERSIFAT DENGAN BAYANG-BAYANG ).

Disusun oleh: Abu Syafiq ( Call lah saya untuk berbincang 012-2850578 )

ORANG YAHUDI JUGA MENDAKWA BERIMAN KEPADA ALLAH. TETAPI “ALLAH” BAGI ORANG YAHUDI ITU ADALAH YANG BERANAK DAN BERJISIM. WAHHABI TURUT MENJISIMKAN ALLAH DENGAN MENYIFATKAN ALLAH SERUPA DENGAN MAKHLUK, ALLAH DUDUK ATAS KERUSI, ALLAH ADA BAYANG-BAYANG, ALLAH BERSIFAT DENGAN BAYANG-BAYANG DAN PELBAGAI LAGI DARI AQIDAH TAJSIM.

Umat Islam tidak cukup dengan tosokkan kuat datang dari Yahudi sendiri kini agennya pula sering menyerapkan aqidah tajsim menyamakan Allah dengan makhluk.Wahhabi bukan sahaja mendakwa Allah mempunyai telinga dan mulut. Wahhabi juga menyamakan Allah dengan mendakwa Allah ada BAYANG-BAYANG.
Makhluk macam manusia ada bayang2, matahari pun ada bayang2 dan bayang-bayang bukan sifat kesempurnaan tetapi menunjukkan kepada sifat lemahnya makhluk tersebut. Maka bayang-bayang adalah sifat makhluk BUKAN sifat bagi Tuhan Yang Maha Esa.

Cukup pelik kerana Wahhabi mendakwa sebagai Salaf ( hakikatnya bukan Salaf tapi Mujassim) Wahhabi menyifatkan Allah dengan sifat yang tidak pernah dinyatakan oleh mana-mana ulama Islam termasuk ulama Salafi sebenar mahupun ulama Khalaf.
Tidak ada ulama Islam seorang pun yang menyifatkan Allah dengan sifat BAYANG-BAYANG…cukup pelik jijik dan hina Wahhabi ini.

WAHHABI DENGAN LIDAH DAN PENGAKUAN ABDUL AZIZ BIN BAZ MENDAKWA ALLAH ADA BAYANG-BAYANG DAN SIFAT ALLAH BERBAYANG-BAYANG.

Bin Baz apabila ditanya adakah Allah mempunya bayang-bayang? lantas Bin Baz menjawab Allah ada bayang-bayang dan bersifat dengan sifat bayang-bayang yang mempunya bentuk dan rupa.
Rujuk: http://www.binbaz.org.sa/mat/4234

Inilah bukti aqidah Wahhabi telah diresapi dengan falsafah Mujassimah.
Subhanallah…bukan kesemua nas yang disandarkan sesuatu itu kepada Allah maka ianya sifat bagi Allah.TIDAK!. Tetapi hendaklah dilihat pengertian yang mengikut konsep akidah Islam berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Allah ta’ala menyandarkan pada diriNya Ruh..adakah kita nak sifatkan Allah dengan sifat RUH…Ini dah jadi mcm Kristian mendakwa Allah adalah RUH MUQADDAS.Maha suci Allah dari disifatkan dengan ruh.

* AQIDAH ‘ ALLAH ADA BAYANG-BAYANG DAN BERSIFAT DENGAN BAYANG-BAYANG’ ADALAH AQIDAH KARUT MARUT ISRAILIYYAT BUKAN AQIDAH ISLAM.

Semoga Allah menetapkan kita dalam aqidah Tanzih dan memberi hidayah aqidah kepada golongan Wahhabi.

www.abu-syafiq.blogspot.com


DI ATAS ADALAH KITAB FATHUL BARY SYARAH SOHIH BUKHARY OLEH ULAMA ISLAM AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH AL-ASYA’IRAH IAITU IMAM SYEIKH IBNU HAJAR AL-ASQOLANY.


DI ATAS PULA ADALAH ISI KANDUNGANNYA DALAM PERMULAAN KITAB TADI YANG DICETAK DENGAN NAMA 4 BUAT SYARIKAT PENCETAKAN MENYATAKAN KITAB TERSEBUT TELAH DI TAHKIK ( DILETAK NOTA ) OLEH ABDUL AZIZ BIN BAZ AL-WAHHABI.LIHAT LINE YANG TELAH DIMERAHKAN.

NAH….INILAH BUKTI BAHAWA BIN BAZ MUFTI WAHHABI DAN KESEMUA WAHHABI DI MALAYSIA MENGKAFIRKAN SAHABAT NABI MUHAMMAD:

DI ATAS ADALAH ISI KANDUNGAN KITAB TERSEBUT YANG DITAMBAH NOTA KAKINYA OLEH BIN BAZ AL-WAHHABI DAN KESEMU WAHHABI DI MALAYSIA MEMPERAKUINYA.TERTERA PADA LINE YANG BERWARNA MERAH HADITH NABI YANG SAHIH DALAM KITAB FATHUL BARY TERSEBUT MENYATAKAN BAHAWA SAHABAT NABI YANG BERNAMA BILAL AL-HARITH ALMUZANY TELAH MELAKUKAN AMALAN TAWASSUL IAITU MEMINTA HUJAN DARI ALLAH BERTAWASSULKAN NABI DINAMAKAN “ISTISQO’ “.

PADA LINE YANG BERWARNA BIRU PULA ADALAH KENYATAAN RASMI BIN BAZ AL-WAHHABI DAN KESEMUA WAHHABI MALAYSIA MEMPERSETUJUINYA DIMANA KENYATAAN TERSEBUT AMAT JELAS WAHHABI MENGKAFIRKAN DAN MENGHUKUM SYIRIK SAHABAT NABI (BILAL) KERANA BERTAWASSULKAN NABI KETIKA ” ISTISQO’ “.
DAN PERHATIKAN PADA KENYATAAN WAHHABI DIATAS: و ان ما فغله هذا الرجل منكر ووسيلة الى الشرك
YANG DIERTIKAN “SESUNGGUHNYA APA DILAKUKAN OLEH LELAKI INI IAITU SAHABAT NABI MUHAMMAD (BILAL) ADALAH SATU-SATUNYA PEMBAWA SYIRIK“.
DAN PERHATIKAN PADA AYAT SELEPASNYA LEBIH JELAS WAHHABI MENGKAFIRKAN SAHABAT NABI DAN MENGHUKUM SAHABAT NABI MUHAMMAD (BILAL) SEBAGAI MUSYRIK.

Semoga Allah memelihara kita dari terjatuh dalam kancah wahhabi atau yg seakidah dgn Wahhabi.sekalipun nk didakwa Wahhabi tak wujud didunia ini tapi kekufuran mereka masih menyebarkannya termasuk website mereka yg bertopengkan ahkam.

www.abu-syafiq.blogspot.com 012-2850578 (antipuakkuffar)

AL-BANI BERAKIDAH ” ALLAH WUJUD TANPA TEMPAT ” & TOLAK AKIDAH “ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK ATAS ‘ARASY”



ALBANI & AZ-ZAHABI KATA: AKIDAH ISLAM ADALAH “ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT” & ALLAH TIDAK BERSEMAYAM/DUDUK ATAS ARASY.

Oleh: Abu Syafiq ( Hp: 006-012-2850578 )

Sememang kebenaran akidah Islam tidak dapat ditolak oleh golongan munafiq mahupun kafir Mujassim. Ini kerana burhan dan adillah (hujjah dan dalil) yang terbit dari sumber yang mulia iaitu Al-Quran dan Hadith tiada secebis pun keraguan manakan pula kebatilan. Antara akidah Islam adalah “ Allah Wujud Tanpa Bertempat” dan inilah antara yang Ahlu Sunnah Wal Jama’ah war-warkan bagi memberi kefahaman yang tepat dalam perbincangan akidah Islam dalam mentauhidkan diri kepada Allah.

WAHHABI MALAYSIA KAFIRKAN ALBANI & AZ-ZAHABI
Kesemua Wahhabi di Malaysia berakidah dengan akidah yang tidak menepati Al-Quran dan Hadith Nabawi. Ini amat jelas dengan hujjah yang telah saya ( Abu Syafiq ) kemukakan sebelum2 ini berlandaskan ayat2 Allah dan sabda Nabi Muhammad berkonsepkan kaedah ulama Salaf dan Khalaf tulen.

Semua Wahhabi di Malaysia yang berakidah Allah Bertempat telah menghukum kafir terhadap umat Islam yang berakidah benar Allah Wujud Tanpa Bertempat. Pada masa yang sama Wahhabi di Malaysia alpa akan akidah tok guru mereka sendiri Nasiruddin Al-Bany dan rujukan utama mereka Al-Hafiz Az-Zahaby yang juga berakidah Allah Wujud Tanpa Bertempat, malangnya Wahhabi mengkafirkan sesiapa yang berakidah sedemikian. Ini amat jelas semua Wahhabi di Malaysia bukan hanya mengkafirkan umat Islam bahkan turut mengkafirkan tok guru dan rujukan utama mereka sendiri iaitu Al-Bani dan Az-Zahabi.

Silakan pembaca rujuk teks kenyataan Allah Wujud Tanpa Bertempat Dan Tanpa Berarah oleh Al-Bani & Az-Zahabi :

Kitab: Mukhtasor ‘Ulu Li ‘Aliyyil ‘Azhim.
Pengarang: Syamsuddin Az-Zahabi.
Pentahkik: Nasiruddin Al-Bani.
Cetakan: Maktab Islami.
Mukasurat: 71.

Kenyataan teks Al-Bani bersumber kitab di atas : “ Apabila kamu telah mendalami perkara tersebut, denganizin Allah kamu akan faham ayat-ayat Al-Quran dan Hadith Nabai serta kenyataan para ulama Salaf yang telah dinyatakan oleh Az-Zahabi dalam kitabnya ini Mukhtasor bahawa erti dan maksud sebalik itu semua adalah makna yang thabit bagi Allah iaitu ketinggian Allah pada makhluk-makhlukNya ( bukan ketinggian tempat), istawanya Allah atas arasyNya layak bagi keagonganNya dan Allah tidak ber arah dan Allah tidak bertempat”.
(Sila rujuk kitab tersebut yang telah di scan di atas).

Saya menyatakan:
Al-Bani telah nukilan lafaz akidah yang benar walaupun ulama Islam telah maklum bahawa golongan Mujassimah dan Tabdi’ ini pada hakikatnya akidah mereka sering berbolak balik. Albani pun mengatakan Allah tidak bertempat tetapi Wahhabi di Malaysia pula berakidah Allah itu bertempat bahkan mereka mengkafirkan pula sesiapa yang percaya Allah wujud tanpa bertempat. Kenyatan Al-Bani menafikan tempat bagi Allah adalah secara mutlak dan tidak disebut tempat yang makhluk atau tidak dan ini juga adalah bukti Al-Bani dan Az-Zahabi menafikan Allah Bersemayam/Duduk Atas Arasy. Sememangnya Al-Bani dan Az-Zahabi sering menolak akidah Allah Bersemayam/Duduk Atas ‘Arasy.

Soalan saya kepada Wahhabi..mengapa kamu mengkafirkan Muhaddith kamu ini? Adakah Syeikh Islam kamu, ulama kamu dan Muftary kamu termasuk Albani ini adalah kafir kerana berakidah Allah Tidak Bertempat? Sekiranya TIDAK maka mengapa kamu bawa akidah palsu dan sekiranya YA maka kamu semua adalah NAJIS SYAITON!.

Wahai pembaca yang berakal dan budiman….
- Albani berakidah “ Allah Wujud Tanpa Bertempat dan Tidak Ber Arah ” tetapi Wahhabi Malaysia kafirkan akidah tersebut.

- Hafiz Az-Zahabyi berakidah “ Allah Wujud Tanpa Bertempat dan Tanpa Ber Arah ” tetapi Wahhabi Malaysia kafirkan akidah tersebut bahkan Wahhabi berakidah Allah bertempat. Sila rujuk bukti:
http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/12/buku-wahhabi-yang-tersebar-di-seluruh.html

Nah..! Dimanakah hendak dikategorikan golongan Wahhabi ini? Jamban,mangkuk, tandas? atau di tanah perkuburan yang hanya disemadikan dalamnya ahli-ahli Mujassimah pengkhianat amanah?!.

Apapun saya doakan hidayah keimanan diberikan oleh Allah kepada Wahhabi yang masih hidup.

Wassalam.

www.abu-syafiq.blogspot.com

Fitnah Wahhaby di hari raya : Wahhaby bid’ahkan takbir Hari Raya

Fatwa Sesat Wahhabi Pasal Raya (DrMaza): TAKBIR RAYA MASUK NERAKA & BID’AH SESAT (berbukti)

WAHHABI MENGHUKUM UMAT ISLAM YG MELAUNGKAN TAKBIR RAYA SEBAGAI SESAT, AHLI BID’AH, MASUK NERAKA

Kesemua umat Islam di masjid-masjid, surau-surau ketika tibanya hari raya mereka akan mengumandangkan takbir raya seperti biasa kita dengar sejak bezaman dan bertahun lalu. Ianya adalah tidak salah dan tidak bercanggah dengan Islam bahkan bukan bid’ah kerana melaungkan takbir raya dilakukan dizaman Nabi Muhammad.

Paling malang Wahhabi menghukum amalan takbir raya sebagai BID’AH, SESAT, MASUK NERAKA.Rujuk fatwa Wahhabi yang telah discan di atas dan rujuk juga laman rasmi Wahhabi yang MENGHUKUM TAKBIR RAYA SEBAGAI SESAT, BID’AH DAN MASUK NERAKA.
( http://www.binbaz.org.sa/mat/8690 )

wa wa wa.

Macam neraka dia (wahhabi) yang punya.

http://abu-syafiq.blogspot.com/2008/09/fatwa-sesat-wahhabi-pasal-raya-drmaza.html