9 Scanned Books : Live after Death : Mereka Yang Hidup setelah Mati (Para nabi dan wali : Menjawab Salam – shalat – berdoa – jasad utuh etc di dalam kuburnya)

Daftar scan kitab: 

1. Tafsir-ul-Qur’an al-Azim, Ibn Kathir : Sahabat yang meninggal menjawab dari dalam kuburnya

2. Sunan al-Kubra , Imam al-Bayhaqi : Jasad Shahabat Masih utuh setelah setahun dikubur

3. Tafsir Mafatih al-Ghayb, by Imam Fakhr ud-Deen ar-Razi

4. Mirqat al-Mafatih Sharah Mishqat, Mullah Ali Qari

5. al-Albani, in Silsilat al-ahadith al-sahihah : Para Nabi Shalat didalam kuburnya.

6. Hayat ul-Anbiyah Imam al-Bayhaqi: Para Nabi Shalat dalam kuburnya

7. Fath ul Bari ba-Sharah Sahih al-Bukhari : Hadits Aisyah : Orang Mati (orang kafir)  tidak bisa mendengar , Hadits Ibnu umar : orang mati (mukmin /shalih) bisa mendengar

8. Imam Sakhawi’s ‘al-Qawl al-Badi’ : Nabi Muhammad Melihat Musa as. shalat didalam kuburnya, bertemu para Nabi di Baitul Maqdis dan di langit.

9. Sharah ush-Shifah -Mullah Ali Qari: Nabi Muhammad melihat dan mendoakan orang yang bershalawat kepadanya

1. Tafsir-ul-Qur’an al-Azim, Ibn Kathir : Sahabat yang meninggal menjawab dari dalam kuburnya

Ibn Kathir menulis: Ibnu Asakir meriwayatkan dalam biografi Amr Ibn Jamah: “Seorang muda yang biasa datang ke Masjid untuk beribadah.  Suatu hari seorang wanita dengan niat buruk mengundangnya ke rumahnya Ketika ia berada di rumahnya, ia membacakan.. sebuah ayat dari Al-Qur’an (إن ٱلذين ٱتقوا إذا مسهم طئف من ٱلشيطن تذكروا فإذا هم مبصرون) dengan suara keras dan pingsan dan meninggal karena takut kepada Allah, orang-orang berdoa dipemakamannya dan menguburkannya.. “Umar (semoga Allah berkenan dengan dia) bertanya: ‘Di mana bahwa anak muda yang sering datang ke Masjid untuk beribadah? “Mereka menjawab: “Dia meninggal dan kami menguburkannya ‘Umar (semoga Allah berkenan dengan dia) pergi ke kuburnya dan memanggilnya dan membacakan ayat dari Al-Qur’an:”. Tapi bagi orang yang ketakutan untuk berdiri di hadapan Tuhannya ada dua surga ‘(Sura al-Rahman, 46) pemuda menjawab dari kuburnya’ Sesungguhnya Allah telah memberi saya dua surga ‘[Tafsir Ibnu Katsir Volume 006, No 496 Halaman, Under 7: 202]

Ibn Kathir writes: Ibn Asakir narrated in biography of Amr Ibn Jamah: “A young person used to come to the Mosque for his prayers. One day a woman with bad intentions invited him to her house. When he was in her house, he recited a verse from the Qur’an (إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْاْ إِذَا مَسَّهُمْ طَـٰئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ) loudly and collapsed and died from the fear of Allah. The people prayed the funeral prayer and buried him. ‘Umar (may Allah be well pleased with him) asked: ‘Where is that young individual who used to come to the Mosque for his prayers?’ They replied: ‘He passed away and we have buried him’. ‘Umar (may Allah be well pleased with him) went to his grave and called out to him and recited a verse from the Holy Qur’an: ‘But for him who fears to stand before his Lord there are two Paradises’ (Sura al-Rahman, 46) The young man replied from his grave ‘Indeed Allah has given me two Paradises’ [Tafsir Ibn Kathir Volume 006, Page No. 496, Under 7:202]

2. Sunan al-Kubra , Imam al-Bayhaqi : Jasad Shahabat Masih utuh setelah setahun dikubur

Sunan al-Kubra Baihaqi, Publish: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon

Jabir bin Abdullah mengatakan bahwa pada pertempuran hari Uhud, seseorang dimakamkan bersama dengan ayah saya, saya tidak senang tentang hal ini, saya mengambil ayah saya (memindahkan jasad) mengeluarkanna a dan dimakamkan di tempat lain, Jabir bin Abduallah mengatakan bahwa saya mengambil (jasad) ayah saya setelah tahun (dikubu) kami dapati setiap bagian dari tubuh baik-baik saja dan sempurna seperti sebelumnya ‘, Imam Baihaqi mengatakan dari Sanad lain. Jabir bin Abdullah mengatakan bahwa saya dikuburkan seseorang bersama dengan ayah saya, sehingga beberapa hajat datang ke padaku, dan setelah enam bulan, saya mengambil jasadnya,kami dapati rambut, jenggot semua bagian lain dari tubuh adalah seperti sebelumnya’. [Sunan al-Kubra, Baihaqi, Volume 004, Bab No 141, Halaman No 95, Hadis Nomor 7.076-7.077]

Jabir bin Abdullah says that on the day battle of Uhad a person was buried along with my father, i wasnt happy on this, i took my father out and buried at another place, Jabir bin Abduallah says that i took my father our and except the year ‘every part of the body was fine and perfect as before’, Imam Bayhaqi says from another Sanad. Jabir bin Abdullah says that I buried a person along with my father, so some thing came into my heart, and after six months i took it out, ‘except only a few hairs of beard all other parts of body was as before’. [Sunan al-Kubra, Bayhaqi, Volume 004, Chapter No. 141, Page No. 95, Hadith Number 7076-7077]

3. Tafsir Mafatih al-Ghayb, by Imam Fakhr ud-Deen ar-Razi, Publish by Dar al Fiqar, Beriut, Lebanon

4. Mirqat al-Mafatih Sharah Mishqat

Mirqat al-Mafatih Sharah Mishqat, Mullah Ali Qari, Publish: Dar al-Kutub al-ILmiyah, Beirut/Lebanon
Mullah Ali Qari on Hadhir o Nadhir: [And he (Nuh) shall reply, ‘Muhammad and his Community’] This means that his Community is witness while he vouches for them, but his mention came first out of reverence (للتعظيم). It not Ba’eed (i.e. impossible) that the Prophet (Peace be upon him) is himself witness for Nuh, since it is a context of help and Allah Most High said [When Allah made (His) convenant with the Prophets] until He said [you shall believe in him and you shall help him] (3:81). In this there is a remarkable warning that the Prophet (Peace be upon him) “IS PRESENT AND WITNESSING” in the Greatest Inspection (وفيه تنبيه نبيه أنه حاضر ناظر في ذلك العرض الأكبر), when the Prophets are brought, Nuh being the first, and the latter’s witnesses are brought, namely, this Community. [Mirqat al-Masabih Sharah Mishqat, Mullah Ali Qari Volume 010, Page No. 210, Published by Dar al-Kutub al-ILmiyah]

Mirqat al-Mafatih Sharah Mishqat, Mullah Ali Qari, Publish: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut / Lebanon
Mullah Ali Qari pada Hadhir o Nadhir: [Dan dia (Nuh) akan menjawab, 'Muhammad dan Masyarakat nya'] Ini berarti bahwa masyarakat itu adalah saksi sementara ia vouches untuk mereka, tetapi menyebutkan nya datang pertama keluar dari hormat (للتعظيم). Ini tidak Ba’eed (yaitu mustahil) bahwa Nabi (saw) adalah dirinya saksi untuk Nuh, karena merupakan konteks bantuan dan Allah Swt mengatakan [Ketika Allah membuat (Nya) Convenant dengan Nabi] sampai Dia mengatakan [Anda harus percaya kepada-Nya dan Anda akan membantunya] (3:81). Dalam hal ini ada peringatan yang luar biasa bahwa Nabi (saw) “hadir dan menyaksikan” dalam Inspeksi Greatest (وفيه تنبيه نبيه أنه حاضر ناظر في ذلك العرض الأكبر), ketika Nabi dibawa, Nuh menjadi yang pertama, dan saksi yang terakhir dibawa, yaitu Komunitas ini. [Mirqat al-Masabih Sharah Mishqat, Mullah Ali Qari Volume 010, No 210 Halaman, Diterbitkan oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyah]

5. al-Albani, in Silsilat al-ahadith al-sahihah: Para Nabi Shalat dalam kuburnya

(al-anbiya’u ahya’un fi quburihim yusallun) “The Prophets are alive in their graves, praying to their Lord” [al-Albani, in Silsilat al-ahadith al-sahihah Volume 02, Page No. 187, Hadith Number 621]

(al-anbiya’u ahya’un fi quburihim yusallun) “Para nabi yang hidup di kuburan mereka, shalat/berdoa kepada Tuhan mereka” [Al-Albani, di Silsilat al-hadis al-sahihah Volume 02, Halaman No 187, Hadis Nomor 621]

6. Hayat ul-Anbiyah Imam al-Bayhaqi: Para Nabi Shalat dalam kuburnya

Anas bin malik melaporkan: Rasulullah (saw) mengatakan: Para nabi yang hidup di kuburan mereka, shalat/berdoa kepada Tuhan mereka. [Baihaqi, Hayat ul-Anbiyah, Page No 003] – (1) FN: Imam Suyuthi mengatakan dalam Jami al-Saghir Abu Ya’la melaporkan Anas bin Dikisahkan dengan ‘marfu’ Muhadith Banyak yang mengatakan itu adalah suara Malik. (saihih)

Anas bin malik reported: Allah’s Messenger (Peace Be Upon Him) said: The Prophets are alive in their graves, praying to their Lord. [Bayhaqi, Hayat ul-Anbiyah, Page No. 003] – (1) FN: Imam Suyuti said in Jami al-Saghir Abu Ya’la reported Anas bin Malik Narrated with ‘marfu’ Many Muhadith said it is sound. (shahih)

7. Fath ul Bari ba-Sharah Sahih al-Bukhari : Hadits Aisyah : Orang Mati (orang kafir)  tidak bisa mendengar , Hadits Ibnu umar : orang mati (mukmin /shalih) bisa mendengar

Imam Ibnu hajr Asqalani (rah) pada hadits Aisyah (ra dengan dia) ‘Orang mati tidak bisa mendengar kita’ [Bukhari Volume 005, Buku 059, Hadis Nomor 316, Online]: [dhukira]: telah disebutkan dalam Isma ‘Ilis narasi, katanya:’ mencapai Aisyah ‘[anna ayishata Balagah-ha] namun saya tidak tahu siapa wartawan [mubalig] adalah. Namun, dia [Ismailiyah] memiliki laporan lain dari mana ia disimpulkan bahwa urwah yang telah meriwayatkan hal ini. [Wahil]: ketakutan, teror. juga telah dilaporkan sebagai ‘wahal’ tetapi yang terkenal adalah ‘wahil’, itu salah baik dalam makna dan juga salah dalam tegang. Jika dibaca ‘wahal’ artinya: [dia] ketakutan, pelupa, pengecut dan memprihatinkan. [Fazia wa nasiya wa wa jabuna qalaqa] Farabi, Az’hari, Ibn al-qatta’a, Ibnu faris, Qabisi dan orang lain telah mengatakan: ‘wahaltu ilayh’ [aku takut / khawatir tentang hal itu] dengan fat’hah; ‘ahil’ dengan kasrah dan wahlan dengan sukun.That adalah ‘ketika keraguan Anda condong ke arah yang’ Qali dan Jawhari mengatakan: ‘dan Anda berarti [sesuatu] selain itu dan ibn al-qatta’a telah menambahkan lebih.’ … …. (Catatan penerjemah:.. Ini adalah argumen linguistik yang tidak masuk akal ketika diterjemahkan, Imam Ibnu hajr yang membahas perbedaan dalam penggunaan sangat tidak relevan dengan diskusi kita, tetapi diterjemahkan di sini untuk tetap konsisten) ……… [Dia berkata: "yaitu, ketika mereka dikirim ke neraka ']: Wartawan di sini adalah Urwah. Dia mencoba untuk menjelaskan apa yang Aisha (ra dengan dia) berarti dan menunjukkan bahwa negasi dalam ayat Alquran: “Anda tidak dapat membuat orang mati mendengar ‘diturunkan dan dibatasi [muqayyad] untuk periode setelah mereka [musyrik ] yang dimasukkan ke dalam api neraka. Dan di sini tidak ada konflik dalam penolakan Aisyah (ra dengan dia) dan penegasan dari Ibnu Umar [bahwa orang mati mendengar] karena hal ini telah diklarifikasi dan dijelaskan dalam bab tentang pemakaman. [Al-janayiz]
Namun, setelah satu narasi ini membuktikan bahwa Aisha (ra dengan dia) membantah [pendengaran seperti orang mati] secara absolut, karena dia bersikeras bahwa hadits itu dalam kata-kata ‘sesungguhnya, mereka akan mengetahui’ dan bahwa Ibn Umar keliru [wahma] ketika ia mengatakan ‘mereka akan mendengar. “Baihaqi berkata:’ pengetahuan tidak meniadakan mendengar ‘Ayat ini kemudian menjelaskan bahwa’ mereka tidak dapat dibuat untuk mendengar ketika mereka mati ‘tapi kemudian Allah memberi mereka kehidupan dan kemudian mereka mendengar ‘menurut Qatadah. [Juga] Umar dan putranya bukanlah satu-satunya yang telah melaporkan peristiwa ini [dari mereka yang tewas dalam badr ditangani], bahkan Abu Tal’aah setuju dengan mereka karena kami telah dijelaskan sebelumnya. Tabarani memiliki laporan ketat dikonfirmasi [isnadin sahih] meriwayatkan dari Ibnu Masud mirip dengan yang satu ini. [Fath ul Bari Volume 007, No 303 Halaman]

Ada laporan serupa diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Sidan dan dalam laporan itu adalah memiliki kata-kata ini: “mereka [sahabat] berkata, ‘O’ Rasulullah (saw) mereka [yang mati] mendengarnya? ‘Dia menjawab ‘mereka mendengar seperti yang Anda dengar, tetapi mereka tidak dapat menjawab’ Dalam [buku] al-Maghazi [kampanye] oleh Ibnu Is’haq ada yang luar biasa [jarang, Gharib] narasi dilaporkan oleh Ibn Yunus Bukayr melalui rantai yang sah [isnadin jayyid ] dari Aisha (ra dengan dia) yang mirip dengan narasi oleh Abu Thalhah dan [tambahan,] mengandung: “Anda tidak mendengar apa yang saya katakan lagi dari mereka [yang mati] lakukan ‘dan [imam] Ahmed telah [juga] melaporkan ini dengan rantai baik dikonfirmasi [isnadin hasan] dan jika hal ini dipertahankan, maka seolah-olah dia ditarik dari posisi mantan penolakan sebagaimana terbukti dari sahabat ini [dalam laporan] karena ia tidak menyaksikan bahwa acara [dari badr, sedangkan Umar melakukan]. Ismailiyah mengatakan: tidak ada keraguan bahwa Aisha (ra dengan dia) memiliki ketajaman otak, kecerdasan, koleksi besar narasi dan wawasan yang mendalam [al-ghaws fi ghawamidi'l ilm] dalam ilmu yang tak tertandingi , tapi tetap saja, bahkan dia tidak bisa membantah laporan sebuah narator handal [dalam hal ini Umar dan putranya] kecuali dengan narasi serupa yang dapat membuktikan, baik pencabutan, eksklusivitas atau ketidakmungkinan laporan bertentangan. [Naskhihi, takhsisihi, istihalatihi] sehingga tidak mungkin untuk mendamaikan [bertentangan] laporan penolakan dan penegasan dirinya, kecuali seperti di atas [bahwa dia ditarik dari posisi mantan] Juga ayat ‘sesungguhnya, Anda tidak dapat membuat orang mati mendengar’ tidak tidak bertentangan dengan perkataan-Nya (saw): “. Sesungguhnya, sekarang mereka mendengar ‘karena’ membuat seseorang mendengar ‘[al-Isma'a] adalah untuk memberikan suara di telinga pendengar. Dan itu adalah Allah tala yang membuat mereka mendengar dengan membuat suara nabi-Nya untuk mencapai ears.And mereka mengenai apa yang dia [Aisha] mengatakan dalam laporannya ‘sesungguhnya mereka tahu’ dia tidak akan menegasikan laporan lain jika dia mendengar dari yang satu ini. Suhaiyli mengatakan bahwa ‘hal ini terbukti dari permintaan dari teman-temannya, bahwa dasar dari laporan yang sangat merupakan kejadian yang tidak biasa dan mukjizat Rasulullah (saw), ketika mereka bertanya kepadanya: “Anda mengatasi orang yang mati dan busuk ‘dan ia menjawab kepada mereka [seperti yang disebutkan dalam hadits di atas] Jadi, jika mereka bisa’? tahu ‘dalam keadaan itu, tentu mereka dapat mendengar? ini dimungkinkan oleh telinga eksternal mereka – menurut komentator sebagian besar – atau oleh telinga hati mereka. Mereka yang mengatakan bahwa ‘pertanyaan diarahkan jiwa dan tubuh’ menggunakan hadits ini sebagai bukti mereka. Dan orang-orang yang membantah mereka berkata: ‘pertanyaan ditujukan hanya untuk jiwa, karena’ pendengaran ‘bisa baik oleh telinga eksternal atau oleh telinga hati. [Ekspresi khas arab] dan ada tidak tetap lingkup apapun untuk argumen lebih lanjut [lam yabqa fihi'l hujjah] saya katakan [Ibnu hajr]: jika ini adalah sebuah keajaiban dari Rasulullah (saw), tidak benar untuk menggunakan ini sebagai bukti untuk [generik] soal mempertanyakan [di kuburan] Para penafsir Alquran [ahlu't ta-wil] telah berbeda pada siapa yang dijelaskan oleh kata ‘mati’ dalam ayat tersebut: ‘ Sesungguhnya Anda tidak dapat membuat orang mati mendengar. “Demikian pula, ada perbedaan yang digambarkan oleh ‘orang-orang dalam kuburan’ Aisyah (ra dengan dia) disimpulkan oleh makna yang jelas dan membawanya sebagai prinsip untuk menjelaskan. mengatakan dari [Rasulullah] “Anda tidak mendengar lagi apa yang saya katakan, daripada yang mereka lakukan. ‘itulah yang kebanyakan ahli katakan [tentang penolakan Aisha]. Hal ini juga mengatakan bahwa ‘orang mati’ dan ‘orang-orang di kuburan’ adalah metafora [Majaz] yang menggambarkan orang-orang kafir. yaitu, meskipun mereka masih hidup, mereka menyerupai orang mati. Jika itu terjadi, maka ayat ini tidak dapat digunakan sebagai bukti untuk apa Aisha (ra dengan dia) dinegasikan. (Allah Ta’la a’lam) [Fath ul Bari Volume 007, Halaman 304]

english:

Imam Ibn Hajr Asqalani (rah) on hadith Aisha (may Allah be pleased with her) ‘The dead cannot hear us’ [Bukhari Volume 005, Book 059, Hadith Number 316, Online]: [dhukira] : it has been mentioned in Isma’ilis narration, he says: ‘it reached Aisha’ [anna ayishata balagha-ha] however i don’t know who the reporter [muballigh] is. however, he [isma'ili] has another report from which it is inferred that it is urwah who has reported this. [wahil]: fright, terror. it has also been reported as ‘wahal’ but that which is well-known is ‘wahil’; it is wrong both in meaning and also incorrect in tense. If it is read ‘wahal’ it means: [he is] terrified, forgetful, cowardly and apprehensive. [fazia wa nasiya wa jabuna wa qalaqa] Farabi, Az’hari, Ibn al-qatta’a, Ibn faris, Qabisi and others have said: ‘wahaltu ilayh’ [i was scared/apprehensive about it] with the fat’hah; ‘ahil’ with kasrah and wahlan with sukun.That is ‘when your doubt inclines towards that’ Qali and Jawhari said: ‘and you mean [something] other than that and ibn al-qatta’a has added more.’……. (Translator’s note: this is a linguistic argument which doesn’t make much sense when translated; Imam Ibn Hajr is discussing differences in usage. quite irrelevant to our discussion but translated here to remain consistent.)……… [He said: ‘that is, when they are sent to hell’]:The reporter here is úrwah. He is trying to explain what Aisha (may Allah be pleased with her) meant and indicates that the negation in the qur’anic verse: ‘you cannot make the dead hear’ is relegated and restricted [muqayyad] to the period after they [polytheists] are put in hellfire. And here there is no conflict in the denial of Aisha (may Allah be pleased with her) and the affirmation of ibn Umar [that the dead hear] as this has been clarified and explained in the chapter on funerals. [al-janayiz]
However, the narration after this one proves that Aisha (may Allah be pleased with her) denied [such hearing of the dead] in absolute terms, since she insisted that the hadith was in the words ‘verily, they shall know’ and that Ibn Umar was mistaken [wahma] when he said ‘they shall hear.’ Bayhaqi said: ‘knowledge does not negate hearing’ The verse is then explained that ‘they cannot be made to hear when they are dead’ but then Allah gave them life and then they heard’ according to qatadah. [also] Umar and his son are not the only ones who have reported this event [of those killed in badr being addressed]; even Abu Tal’aah agrees with them as we have described earlier. Tabarani has a rigorously authenticated report [isnadin sahih] narrated from Ibn Masud similar to this one. [Fath ul Bari Volume 007, Page No. 303]

There is a similar report narrated from Abdullah Ibn Sidan and in that report it is has these words: ‘they [companions] said, ‘O’ Messenger of Allah (Peace Be Upon Him) do they [the dead] hear?’ he replied ‘they hear as you hear, but they cannot reply’ In [the book] al-maghazi [campaigns] by Ibn Is’haq there is an exceptional [uncommon, gharib] narration reported by Yunus Ibn Bukayr through a valid chain [isnadin jayyid] from Aisha (may Allah be pleased with her) that is similar to the narration by Abu Talha and [additionally,] it contains: ‘you do not hear what i say anymore than they [the dead] do’ and [imam] Ahmed has [also] reported this with a well authenticated chain [isnadin hasan] and if this is retained, then it is as if she retracted from her former position of denial as proven from these companions [in these reports] because she had not witnessed that event [of badr, whereas Umar did] . Isma’ili says: there is no doubt that Aisha (may Allah be pleased with her) had the perspicacity, intelligence, a vast collection of narrations and a deep insight [al-ghaws fi ghawamidi’l ilm] in the sciences which is unrivalled; but still, even she cannot refute a report of a reliable narrator [in this case Umar and his son] except with a similar narration that can prove, either the abrogation, exclusivity or the impossibility of the contradicting report. [naskhihi, takhsisihi, istihalatihi] therefore it is impossible to reconciliate [contradictory] reports of her denial and her affirmation except as above [that she retracted from her former position] Also the verse ‘verily, you cannot make the dead to hear’ does not contradict his saying (Peace Be Upon Him): ‘verily, now they hear.’ because ‘to make someone hear’ [al-Isma’a] is to deliver the sound in the ear of the hearer. And it is Allah tala who makes them to hear by making the voice of His prophet to reach their ears.And regarding what she [Aisha] said in her report ‘verily they know’ she would not have negated the other report if she had heard of this one. Suhaiyli said that ‘it is evident from the query of his companions, that the basis of the very report is an unusual occurrence and a miracle of Messenger of Allah (Peace Be Upon Him), when they asked him: ‘do you address a people who are dead and rotten?’ and he replied to them [as mentioned in the hadith above] So, if they can ‘know’ in that state, certainly they can hear? this is possible by their external ears – according to a most commentators – or by the ears of their heart. Those who say that ‘the question is directed towards the soul and the body’ use this hadith as their proof. And those who refute them say: ‘the question is addressed only to the soul; because ‘hearing’ can be either by external ears or by the ears of the heart. [expression peculiar to arabic] and there does not remain any scope for further argument [lam yabqa fihi’l hujjah] I say [Ibn Hajr]: if this was a miracle of Messenger of Allah (Peace Be Upon Him), it is not correct to use this as a proof for [the generic] matter of questioning [in the grave] The qur’anic exegetes [ahlu’t ta-wil] have differed on who is described by the word ‘dead’ in the verse: ‘verily you cannot make the dead to hear.’ Similarly, there is difference on who is described by ‘those in the graves.’ Aisha (may Allah be pleased with her) inferred by the obvious meaning and took it as the principle to explain the saying of [Messenger of Allah] ‘you do not hear anymore what i say, than they do.’ that is what most scholars say [about Aisha's denial]. It is also said that ‘the dead’ and ‘those in graves’ is a metaphor [majaz] that describes the disbelievers. that is, even though they are alive, they resemble the dead. If that is the case, then this verse cannot be used as evidence for what Aisha (may Allah be pleased with her) negated. (Allah Ta’la knows best) [Fath ul Bari Volume 007, Page 304]

8. Imam Sakhawi’s ‘al-Qawl al-Badi’ : Nabi Muhammad Melihat Musa as. shalat didalam kuburnya, bertemu para Nabi di Baitul Maqdis dan di langit.

Imam Sakhawi ‘al-Qawl al-Badi’ – (Kalmi Nuskha) Jamiyah al-Riyadh

Abu Zar dan Malik Hadis pada Miraj membuktikan bahwa Nabi Muhammad (saw) bertemu kelompok Nabi (As) di langit, Anda (Muhammad S.a.w) berbicara dengan mereka dan mereka (saw) berbicara dengan Anda (Nabi Muhammad s.a.w), ini semua adalah benar (shahih) dan mereka tidak kebingungan tentang dimana saja, Rasulullah (saw) melihat Musa (saw) dan lain-lain di kuburan mengerjakan  salah, kemudian dia (Nabi Muhammad saw) melihat Musa (saw) dan para Nabi lainnya (saw) di Bayt-ul-Muqadas, maka Nabi (saw) dibawa ke langit, maka Nabi (Perdamaian Jadilah setelah Nya) juga melihat mereka di langit seperti Rasulullah (saw) melihat mereka di kuburan demikian kehadiran nabi (saw) di tempat-tempat yang logis setelah mereka meninggal.

Imam Sakhawi’s ‘al-Qawl al-Badi’ – (Kalmi Nuskha) Jamiyah al-Riyadh

Abu Zar and Malik’s Hadith on Miraj proves that Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him) met group of Prophets (Peace Be Upon Him) on sky, You (Peace Be Upon Him) talked to them and they (Peace Be Upon Him) talked to You (Peace Be Upon Him), this all is sound (sahih) and their is no confusion about it any where, Messenger of Allah (Peace Be Upon Him) saw Musa (Peace Be Upon Him) and others in graves offering Salah, then He (Peace Be Upon Him) saw Musa (Peace Be Upon Him) and other Prophets (Peace Be Upon Him) at Bayt-ul-Muqadas, then Holy Prophet (Peace Be Upon Him) was taken to the skies, then Prophet (Peace Be Upon Him) also saw them in the skies just as Messenger of Allah (Peace Be Upon Him) saw them in the graves so does the presence of Prophets (Peace Be Upon Him) at those places was logical after they died.

9. Sharah ush-Shifah -Mullah Ali Qari: Nabi Muhammad melihat dan mendoakan orang yang bershalawat kepadanya

(Jika tidak ada orang yang hadir di rumah maka salah satu harus membaca Shalawat : Damai sejahtera bagimu, wahai Rasulullah dan rahmat Allah dan berkah) . Saat melakukan syarah ini Mullah Ali Qari (rah) menulis: “Artinya, karena ruh (Nabi Muhammad Saw. ), hadir (melihat dari dalam kuburnya) di rumah kaum muslimin (yg bershalawat kepadanya). [Mullah Ali Qari, Sharah ush-Shifah, Volume 002, No 117 Halaman]

(If nobody is present in the house then one should say: Peace be upon you O Messenger of Allah and Allah’s Mercy and blessings) while doing Sharh of this Mullah Ali Qari (rah) writes: “Meaning, because his (Peace Be Upon Him) soul, is present in the house of the Muslims. [Mullah Ali Qari, Sharah ush-Shifah, Volume 002, Page No. 117]

Shifa

Legality of Tawassul /inter mediation : Part 2 (5 of 21 Scanned Kitab of Musnad Ahmad bin Hambal – Tuhfah uth-Dhakireen (Assawkani) – Sunan Darimi – Tafsir Ibn Katsir – al-Musannaf Ibn Abi Shaybah)

1

At-Targheeb wa-Tarheeb, by Imam al-Mundhiri

2

Al Hisn ul Haseen, by Imam al-Hafidh Abi al Khayr Muhammad Ibn al Jazri (Rahimuhullah)

3

Tabarani Mu’jam al-Ausat

4

Tafsir Imam Qurtubi, al-Jami li Ahkam al-Quran

5

Siyar al A’lam wa al Nubalah

6

Musnad Ahmad bin Hambal

7

Tuhfah uth-Dhakireen

8

Sunan Darimi

9

Ibn Kathir, Tafsir-ul-Qur’an al-azim

10

al-Musannaf Ibn Abi Shaybah

11

Dala’il un Nubuwwah

12

Abdur Rahim al-Mubarakpori, Tuhfatul Ahwazi ba-Sharah Tirmidhi

13

Tafsir Ruh ul Ma’ani

14

al-Madkhal, Imam Abu Abdullah Ibn al-Haaj al-Maliki

15

al-Mu’jam al-Kabir, Imam Tabarani

16

at-Tawassul, anwa‘uhu wa ahkamuhu – Nasir Albani

17

Tahdhib ut-Tahdhib – Ibn Hajr Asqalani

18

Kitab uth-Thiqat Imam Ibn Hibban

19

Shua’b ul Iman by Imam Bayhaqi

20

Bidayah wannihayah – Ibnu katsir

21

Al adzkar – Imam Annawawi

Musnad Ahmad bin Hambal

Front Cover Musnad Ahmad bin Hambal, Publish: Dar al-Hadith al-Qahira Misr
Hakim declared that it fulfils the requirements of authentic traditions as demanded by Bukhari and Muslim, while Dhahabi has also called it sahih (sound). It is attributed to Dawud bin Abu Salih. He says: one day Marwan came and he saw that a man was lying down with his mouth turned close to the Prophet’s grave. Then he (Marwan) said to him, “Do you know what are you doing?” When he moved towards him, he saw that it was Abu Ayyub al-Ansari. (In reply) he said, “Yes (I know) I have come to the Messenger of Allah (Peace Be Upon Him) and not to a stone. I have heard it from the Messenger of God (Peace Be Upon Him) not to cry over religion when its guardian is competent. Yes, shed tears over religion when its guardian is incompetent. [Ahmad bin Hambal with a sound chain of transmission in his Musnad Volume 017, Page No. 42-43, Hadith Number 23476]

Tuhfah uth-Dhakireen

Tuhfah uth-Dhakireen, Front Cover, Publish Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, Lebanon

Qadhi Shawkani (rah) Writes: I says this hadith is proof for Intercession of Prophets (Peace Be Upon Him) narrated by Imam Tirmidhi, Imam Nisa’I, Imam Ibn Maja, Imam Ibn Khuzaimah in his Sahih, and Hakim said hadith is correct on Bukhari and Muslim conditions. Narrated By ‘Uthman ibn Hunayf, that a blind man came to the Prophet (Peace Be Upon Him) and said, “I’ve been afflicted in my eyesight, so please pray to Allah for me.” The Prophet (Peace Be Upon Him) said: “Go make ablution (wudu), perform two rak’as of prayer, and then say: “Oh Allah, I ask You and turn to You through my Prophet Muhammad, the Prophet of mercy; O Muhammad (Ya Muhammad), I seek your intercession with my Lord for the return of my eyesight. on Tawasuul on Saint’s that hadith is a proof which is present in Bukhari in which Umar took Tawassul of Abbas and said that we take your Intercession after Prophet (Peace Be Upon Him). [Tuhfat uth-Dhakireen Page No. 37]

Imam Qadhi Shawkani (Salafi Scholer) on Tawassul: O Allah! Verily I ask you, and turn to you through your Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him) the Prophet of Mercy, O Muhammad verily I turn towards my Lord through you to my Lord in this need of mine, to fulfill it, O Allah intercede/cure this! This hadith has been extracted by Tirmidhi, al-Hakim in his Mustadrak and Nisa’I, and it is from the hadith of Uthman bin Hanif may Allah be pleased with him. He said a blind man came to the Messenger of Allah (Peace Be Upon Him) and said: O Messenger of Allah Pray for me! He (Peace Be Upon Him) said: If you wish I will pray for you, but if you wish, you have been patient and this is better for you. He preferred to be supplicated for. The Messenger (Peace Be Upon Him) instructed him to make Wudu and to make a perfect Wudu – Nisai’s narration adds in some of the reports (turuq) to make Wudu and pray two Rakah and then the supplication (as above). [Tuhfah al-Dhakireen Page No. 137]

It was also extracted by Ibn Maja , and al-Hakim in his mustadrak who stated that it is [authentic] according to the criterion of the two shaykhs (Muslim and Bukhari) and his narration had the addition: so he supplicated with this Dua and he arose and was able to see. Tirmidhi said the Hadith is Hasan Sahih (good and authentic) and we know this narration through this channel only from the Hadith of Abu Jafar and that is not al-Khatmi, these and other Imams have authenticated this narration, Nisa’I is alone in mentioneing the prayer, but Tabarani agreed with him and in mentions the same in some of his reports (turuq) it reports. In the narration there is [evidence] of the permissibility of Tawassul (taking a means) through the Messenger of Allah (saw) to Allah azza wa-jal with the firm belief that the only active agent (Faa’il) is Allah, for verily He alone is the giver and the preventer, what He wishes, is, and what He does not wish never can be. [Tuhfah al-Dhakireen Page No. 138]

Sunan Darimi

Front Cover Sunan Darimi, Dar al-Mughni, Riyadh, Saudia Arabia

Relates from Abu al-Jawza’ Aws bin ‘Abdullah: The people of Medina were in the grip of a severe famine. They complained to ‘A’ishah (about their terrible condition). She told them to go towards the Prophet’s grave and open a window in the direction of the sky so that there is no curtain between the sky and the grave. The narrator says they did so. Then it started raining heavily; even the lush green grass sprang up (everywhere) and the camels had grown so fat (it seemed) they would burst out due to the over piling of blubber. So the year was named as the year of greenery and plenty. [Sunan Darimi Volume 001, Page 227, Hadith Number 093] Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki says, “This tradition has a good chain of transmission; rather, in my opinion, it is sound. The scholars have also acknowledged its soundness and have established its genuineness on the basis of almost equally credible evidence. [Shifa’-ul-fu’ad bi-ziyarat khayr--il-‘ibad Page No.153]

Ibn Kathir, Tafsir-ul-Qur’an al-azim

Ibn Kathir, Tafsir-ul-Qur’an al-azim Volume 004, Page No. 140, Under the Verse 4:64

Imam Ibn Kathir on Tawassul: Many have stated this tradition. One of them is Abū Mansūr Sabbagh who writes in his book al-Hikayat-ul-mashhurah that, according to ‘Utbi, once he was sitting beside the Prophet’s grave when a bedouin came and he said, “Peace be on you, O Allah’s Messenger. I have heard that Allah says: ‘(O beloved!) And if they had come to you, when they had wronged their souls, and asked forgiveness of Allah, and the Messenger also had asked forgiveness for them, they (on the basis of this means and intercession) would have surely found Allah the Granter of repentance, extremely Merciful.I have come to you, asking forgiveness for my sins and I make you as my intermediary before my Lord and I have come to you for this purpose.” Then he recited these verses: “O, the most exalted among the buried people who improved the worth of the plains and the hillocks! May I sacrifice my life for this grave which is made radiant by you, (the Prophet,) the one who is (an embodiment) of mercy and forgiveness.” Then the bedouin went away and I fell asleep. In my dream I saw the Holy Prophet (Peace Be Upon Him). He said to me: O ‘Utbi, the bedouin is right, go and give him the good news that Allah has forgiven his sins. [Ibn Kathir, Tafsir-ul-Qur'an al-azim Volume 004, Page No. 140, Under the Verse 4:64]

al-Musannaf Ibn Abi Shaybah

Front Cover, al-Musannaf Ibn Abi Shaybah, Publish by Maqtabah ar-Rashid, Riyadh, Saudia Arabia

Malik ad-Dar has related: The people were gripped by famine during the tenure of ‘Umar (bin al-Khattab). Then a Companion walked up to the Prophet’s grave and said, “O Messenger of Allah, please ask for rain from Allah for your Community who is in dire straits.” Then the Companion saw the Prophet (Peace Be Upon Him) in a dream. The Prophet (Peace Be Upon Him) said to him, “Go over to ‘Umar, give him my regards and tell him that the rain will come to you. And tell ‘Umar that he should be on his toes, he should be on his toes, (he should remain alert).” Then the Companion went over to see ‘Umar and passed on to him the tidings. On hearing this, ‘Umar broke into a spurt of crying. He said, “O Allah, I exert myself to the full until I am completely exhausted.” [al-Musannaf Ibn Abi Shaybah Volume 011, Page No. 118, Hadith Number 32538]

http://www.islamieducation.com/en/tawassul-intermediation/tawassul-10-al-musannaf-ibn-abi-shaybah.html

Tafsir yang bernama Abu Hayyan al Andalusi : kesesatan aqidah tajsim ibnu taymiyah

 
Disediakan oleh;
Abu Lehyah Al-Kelantany

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

 

الحمدلله رب العالمين, مكون الأكوان, مدبر الأزمان, الموجود أزلا وأبدا بلاكيف ولاجهة ولامكان , والصلاة والسلام على محمد سيد الأنبياء والمرسلين, وعلى ءاله الطاهرين وصحابته الطيبين, اما بعد

 

 

Abu Hayyan al-Andalusy al-Nahwiyyu al-Mufassiru al-Muqri-u Menegaskan dalam kitab tafsirnya al-Nahr al-Mad satu ungkapan yang berbunyi :

 

 

“Saya telah membaca dalam sebuah buku karya Ahmad ibn Taimiyah, seorang yang hidup semasa dengan kami, dengan tulisan tangannya sendiri, buku berjudul al-‘Arsy, ia berkata: Sesungguhnya Allah duduk di atas Kursi, dan Dia telah menyisakan tempat dari Kursi tersebut untuk Ia dudukan nabi Muhammad di sana bersama-Nya. Ibn Taimiyah ini adalah orang yang pemikirannya dikuasai oleh pemikiran at-Taj Muhammad ibn ‘Ali ibn ‘Abd al-Haqq al-Barinbri. Bahkan Ibn Taimiyah ini telah menyerukan dan berdakwah kepada pemikiran orang tersebut, dan mengambil segala pemikirannya darinya. Dan kita telah benar-benar membaca hal tersebut di dalam bukunya tersebut”[4].

Read more: http://www.sarkub.com/2012/pernyataan-ibn-taimiyah-bahwa-allah-duduk/#ixzz25hB6faSg

 

Nukilan Abu Hayyan Al-Andalusi ini berkemungkinan tidak terdapat dalam sesetengah cetakan kerana sengaja dibuang oleh sesetengah pihak. Akan tetapi manuskip ( tulisan tangan beliau sendiri ada dengan penulis) tetap membuktikan bahawa nukilan Abu Hayyan Al-Andalusi tadi sabit. Antara sebab mereka membuangkan nukilan ini dalam cetakan mereka ialah sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Zahid al-Kautsary pada taa’liq bagi kitab Al-Shoif al-Shoqil : ” Dan telah dikhabarkan kepadaku oleh editor cetakan di tempat percetakan As-Sa’adah bahawa dia terkejut sangat, lalu dibuangnya nukilan tersebut ketika mencetakkannya supaya tidak disibukkan oleh musuh-musuh agama. Dan menjadi harapanku untuk memasukkannya kembali nukilan tadi disini supaya diambil faedah dan menjadi nasihat kepada umat Islam sejagat”.

 

 

Mari kita lihat pula di dalam kitab Ibn Taymiyah al-Harrany..jum..

 

 

 

Dalam kitab Majmuk Fatawa Jilid 4 m/s 374, Ibn Taymiyah Al-Harrany yang yang menjadi pujaan kepada Muhammad Abdul Wahhab, kuncu-kuncunya, dan Wahhabiyyah Mujassimah mengatakan :

إن محمدًا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه

Akidah yang kufur ini bermaksud:

“Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Tuhannya mendudukkannya diatas arasy bersamaNya”.

 

Lihatlah mereka yang mempunyai akal yang sihat penipuan Ibn Taymiyah ini.. Sekejap cakap Allah duduk atas Al-arasy, sekejap cakap Allah duduk atas Al-kursi . Yang mana satu???!! Padahal telah sabit hadits bahawa Al-Kursi dinisbahkan dengan Al-Arasy dari sudut saiznya seperti sebentuk cincin yang bulat di tanah yang amat luas dan lapang. Bagaimana orang yang mempunyai akal yang sihat boleh menerima pentashbihan dan penajsiman terhadap Allah taala ini?? …na’uzubillah min syarrihim.Lebih menjijikkan lagi akidah Ibn Taymiyah al-Harrany ini dan membawa kepada tajsim yang lebih jelas bila mana beliau meletakkan pergantungan akidahnya kepada pandangan mujassim yang telah wujud dizaman salaf iaitu Othman Al-Darimi, dalam kitab Bayan Talbis al-Jahmiyah jilid 1 m/s 068 :

” Seandainya sesungguhnya Dia (Allah) kehendaki, nescaya dia boleh menetap di atas belakang nyamuk,lalu terangkat dengan kekuasaanNya dan kelembutan RububiyahNya, maka bagaimana pula di atas Arasy yang besar, lebih besar dari langit dan bumi?”..

Penulis menjawab : Subhanaka haza buhtanun adhzim..Perlu juga berhati-hati bila membaca kitab “Mafahim Yajibu ‘an Tusohhah” kerana terdapat unsur-unsur mempertahankan Ibn Taymiyah Al-Harrany dan Muhammad Abdul Wahhab dan juga pengarang kitab tersebut menamakan mereka (Ibn Taymiyah dan Muhammad Abdul Wahhab) berdua sebagai Syeikhul Islam..wal’yazubillah..Golongan wahhabi juga banyak menggunakan kitab ini sebagai hujah untuk mengatakan kata-kata Ibn Taymiyah Dan Muhammad Abdul Wahhab sebagai tidak sabit. Padahal ini adalah dusta dan bohong kerana penstasybihan dan pentajsiman sememang wujud di dalam kitab-kitab mereka dan diiktifar oleh mereka sendiri. Seterusnya akidah tashbih dan tajsim ini diambil pula oleh anak-anak murid mereka seperti Ibn Qayyim al-Jauziyyah, cucunya Abdur Rahman Bin Hasan bin Muhammad Bin Abdul Wahhab, kemudian Bin Baz, soleh Utsaimin dan berlambak lagi. Perkara tersebut sebenarnya tidak diingkari oleh golongan Al-Wahhabiyah..

 

Siapakah Abu Hayyan al-Andalusy ?

Beliau ialah Pakar Lughah (bahasa) yang masyshur, Pakar Tafsir, yang terkenal dengan karyanya al-Bahrul Al-Muhith. Kitab Al-Nahr al-Mad merupakan ringkasan beliau ke atas kitab al-Bahrul Al-Muhith.

Jawapan kepada Syubuhah wahhabi ;

Jika dibawa kenyataan Abu Hayyan Al-Andalusi memuji Ibn Taymiyah Al-Harrany, ketahuilah itu adalah sebelum beliau mengetahui Ibn Taymiyah mencela dan menghentam Sibaweh, seorang ulamak Lughah yang amat masyhur. Bilamana Ibn Taymiyah mendakwa Sibaweh bercanggah dengan Kitabullah (al-Quran) dalam banyak permasalahan (konon-konon dialah “sibaweh” yang sebenar) sedangkan Abu Hayyan al-Andaslusi pula adalah antara orang yang amat menyukai Sibaweh. Selepas diketahui hal keadaan tersebut Abu Hayyan Al-Andalusi terus menglaknat Ibn Taymiyah Al-Harrany sehinggalah beliau meninggal dunia pada 754 H. Rujuk kitab Ad-Durarul Kaminah karya tulisan al-Hafidz Ibn Hajar al-Asqolany.

Disediakan oleh;
Abu Lehyah Al-Kelantany
0133005046

 

Bukti Scan Kitab Ithaf As-Sadati Al-Muttaqin: Aqidah Imam Syafi’i -Allah Tidak Bertempat

Aqidah Imam Syafi’i -Allah Tidak Bertempat

By T. MUHAMMAD SYUHADA -

Semua Ulama Salaf mendapat fitnah dari Salafi Wahabi terhadap aqidah mereka, disebabkan oleh kesalah-pahaman Wahabi memahami hakikat Manhaj Salaf, betapa sedih ketika membaca buku atau artikel yang memuat aqidah Imam Syafi’i yang di tulis oleh para Wahabi, sadar atau tidak, tulisan mereka tentang aqidah Imam Syafi’ijustru menjadi fitnah terhadap Imam Syafi’i, yang menyedihkan lagi ketika mereka menulis biografi Imam Syafi’i, di awal tulisan mereka memuji kehebatan Imam Syafi’i setinggi langit, tapi di ujung tulisan mereka selipkan aqidah mereka yang mereka nisbahkan kepada Imam Syafi’i, sementara Imam Syafi’i terlepas dari aqidah mereka, trik ini mereka gunakan agar terkesan bahwa aqidah mereka sama persis dengan Imam Syafi’i dan para ulama salaf lain nya, padahal aqidah mereka sangat jauh berbeda dari aqidah ulama salaf, bagaikan perbedaan langit dan bumi, sebagai bukti lihat perkataan Imam Syafi’i yang termaktub dalam kitab Ithaf as-Sadati al-Muttaqin,lihat scan kitab di bawah ini :

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata :
إنه تعالى كان ولا مكان فخلق الـمكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه الـمكان لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته
“Sesungguhnya Allah ta’ala ada dan tidak ada tempat, maka Dia (Allah) menciptakan tempat, sementara Dia (Allah) tetap atas sifat azali-Nya, sebagaimana Dia (Allah) ada sebelum Dia (Allah) menciptakan tempat, tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya”. [Kitab Ithaf As-Sadati Al-Muttaqin –Jilid 2-halaman 36].

إنه تعالى كان ولا مكان
“Sesungguhnya Allah ta’ala ada dan tidak ada tempat”
Maksudnya : Allah telah ada tanpa permulaan atau di sebut azali atau qadim, dan belum ada tempat seperti ‘Arasy, langit, bumi, dan segala makhluk lain nya, Allah ta’ala sudah sempurna dengan segala sifat-Nya yang azali sebelum ada apa pun selain-Nya, sifat-sifat dzat Allah tidak lantas bertambah ketika Allah menciptakan makhluk-Nya.

فخلق الـمكان وهو على صفة الأزلية
“maka Dia (Allah) menciptakan tempat, sementara Dia (Allah) tetap atas sifat azali-Nya”
Maksudnya : kemudian Allah menciptakan tempat, artinya bukan tempat Allah, tapi menciptakan makhluk-Nya yang di sangka itu adalah tempat Allah oleh orang-orang yang berprasangka buruk terhadap Allah, tetapi Imam Syafi’i menepis prasangka tersebut, beliau berkata allah tetap atas sifat azali-Nya, artinya sekalipun setelah ada makhluk-Nya, Allah tetap bersifat dengan sifat-sifat azali-Nya, tidak ada sifat yang bertambah bagi Allah setelah adanya makluk-Nya, karena sifat yang baru ada setelah adanya makhluk itu juga termasuk makhluk.

كما كان قبل خلقه الـمكان
“sebagaimana Dia (Allah) ada sebelum Dia (Allah) menciptakan tempat”
Maksudnya : Sebagaimana Allah ada sebelum adanya makhluk, dengan segala sifat kesempurnaan-Nya, begitu juga Allah dan sifat-Nya setelah adanya makhluk, adanya makhluk tidak dapat memberi pengaruh apa pun terhadap dzat dan sifat Allah, Allah maha sempurna jauh sebelum adanya makhluk.

لا يجوز عليه التغيِير فى ذاته ولا في صفاته
“tidak boleh atas-Nya berubah pada dzat-Nya dan pada sifat-Nya”
Maksudnya : tidak boleh (mustahil) ada perubahan pada dzat dan sifat Allah, tidak terjadi perubahan pada Allah bukan berarti itu kelemahan atau kekurangan Allah, tapi justru bila berubah, dapat menimbulkan kekurangan bagi Allah, karena Allah maha sempurna, berubah dari sempurna tentu dapat kekurangan bagi-Nya, dan setiap perubahan adalah makhluk, karena tidak ada yang dapat berubah dengan sendiri nya kecuali Allah yang menciptakan perubahan tersebut, sementara Allah adalah khaliq, bukan makhluk.

Maka dengan memahami perkataan Imam Syafi’i di atas, dapat pula kita pahami Aqidah Imam Asy-Syafi’i bahwaImam Syafi’i meniadakan tempat bagi dzat AllahAllah ada tanpa arah dan tempatinilah hakikat aqidah ulama salaf, sangat bertolak-belakang dengan aqidah Salafi-Wahabi, yang menduga ‘Arasy adalah tempat persemayaman Tuhan, padahal ‘Arasy juga makhluk-Nya, yang baru ada ketika diciptakan oleh-Nya, dan sifat-sifat kesempurnaan Allah telah ada sebelum adanya ‘Arasy dan segala makhluk lain nya.

Maha suci Allah dari Arah dan tempat.

Bukti scan kitab Fathul Bari (Ibnu Hajar atsqalani) – Mustahil Sifat Arah Pada Allah

Ibnu Hajar – Mustahil Arah Pada Allah

By T. MUHAMMAD SYUHADA -

Setiap yang mengaku muslim, pasti mengakui dan yakin bahwa Allah maha tinggi, tidak ada seorang muslim pun yang mengingkari ketinggian-Nya, namum sebagian yang mengaku muslim salah dalam memahami maksud sifat maha tinggi Allah, mereka menyangka maha tinggi artinya Allah berada di arah atas paling tinggi, dan tanpa sadar telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, mereka menyangka hakikat sifat Allah dengan hakikat sifat makhluk sama saja, cuma berbeda kaifiyat nya, seakan yang tidak boleh sama Allah dan makhluk-Nya hanya dalam kaifiyat nya saja, sementara aqidah Ahlus sunnah waljama’ah tidak hanya membedakan dalam kaifiyat nya tapi juga membedakan dalam hakikat sifat nya, dzat dan sifat Allah sangat berbeda dengan dzat dan sifat makhluk-Nya, bukan bereda kaifiyat saja, oleh karena itu, Allah bersifat dengan maha tinggi, tapi bukan berarti Allah berada di arah atas, berada di arah atas adalah sesuatu yang tidak mungkin pada Allah (mustahil), karena dapat menimbulkan kekurangan bagi Allah dan keserupaan sifat dengan makhluk.

Berkata Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani :

ولا يلزم من كون جهتي العلو والسفل مُحالاً على الله أن لا يوصف بالعلو ، لأن وصفه بالعلو من جهة الـمعنى ، والـمستحيل كون ذلك من جهة الحس، ولذلك ورد في صفته العالي والعلي والـمتعالي ، ولـم يرد ضد ذلك وإن كان قد أحاط بكل شىءٍ علـماً

“Dan tidak melazimi dari keadaan dua arah (jihat) atas dan bawah itu mustahil pada Allah, bahwa Allah tidak disifatkan dengan sifat tinggi (uluw), karena sesungguhnya mensifati-Nya dengan sifat tinggi (uluw) itu dari segi maknawi, sedangkan yang mustahil adalah keadaan demikian dari segi hissi, dan karena demikian datang pada sifat-Nya Al-‘Aaliy dan Al-‘Aliy dan Al-Muta’aliy, dan tidak datang lawan sifat demikian, sekalipun adalah Allah itu meliputi ilmu dengan setiap sesuatu”.[ Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani Jilid 6 Halaman 136].

Perhatikan scan kitab di bawah ini

ولا يلزم من كون جهتي العلو والسفل مُحالاً على الله أن لا يوصف بالعلو

“Dan tidak melazimi dari keadaan dua arah (jihat) atas dan bawah itu mustahil pada Allah, bahwa Allah tidak disifatkan dengan sifat tinggi (uluw)”

Maksudnya : arah (jihat) atas dan bawah adalah mustahil (tidak mungkin) bagi Allah, maka tidak ada kemungkinan Allah berada di bawah bahkan di atas, baik di atas langit atau di atas ‘Arasy, akan tetapi ketidak-mungkinan ini tidak berarti Allah tidak bersifat dengan sifat tinggi (uluw), artinya Allah bersifat dengan sifat tinggi, tapi ketinggian Allah bukan berada di arah atas, karena arah atas mustahil pada Allah sebagaimana mustahil arah bawah pada-Nya.

لأن وصفه بالعلو من جهة الـمعنى ، والـمستحيل كون ذلك من جهة الحس

“karena sesungguhnya mensifati-Nya dengan sifat tinggi (uluw) itu dari segi maknawi, sedangkan yang mustahil adalah keadaan demikian dari segi hissi”

Maksudnya : ketika arah atas itu mustahil pada Allah tapi tidak otomatis Allah tidak bersifat dengan maha tinggi, karena tidak ada pertentangan antara sifat maha tinggi dengan kemustahilan arah atas pada-Nya, karena sifat tinggi (uluw) itu dari segi maknawi, tinggi dalam artian keagungan dan keluhuran-Nya, sementara yang mustahil itu adalah keberadaan dzat-Nya di arah atas, Allah bersifat dengan tinggi maknawi bukan dengan tinggi hissi, tinggi yang hissi inilah yang mustahil pada Allah, oleh karena itu, sekalipun arah atas mustahil pada Allah tapi Allah bersifat dengan sifat tinggi dalam artian tinggi martabat, yakni maha agung lagi maha luhur.

ولذلك ورد في صفته العالي والعلي والـمتعالي ، ولـم يرد ضد ذلك وإن كان قد أحاط بكل شىءٍ علـماً

“dan karena demikian datang pada sifat-Nya Al-‘Aaliy dan Al-‘Aliy dan Al-Muta’aliy, dan tidak datang lawan sifat demikian, sekalipun adalah Allah itu meliputi ilmu dengan setiap sesuatu”

Maksudnya : karena tidak ada pertentangan antara mustahil arah atas dengan sifat tinggi Allah, maka diperdapatkan dalam Al-Quran dan Hadits sifat-sifat Allah seperti Al-‘Aaliy, Al-‘Aliy, Al-Muta’aliy dan sifat-sifat yang menunjuki kepada ketinggian dan keluhuran-Nya, dan tidak didapati lawan dari sifat tersebut, karena mustahil Allah bersifat dengan lawan sifat tersebut, sekalipun Allah mengetahui setiap sesuatu, baik dilangit atau dibumi, bahkan di dasar bumi sekalipun, tapi Allah tidak harus berada dilangit atau dibumi atau dimanapun.

Itulah cuplikan pernyataan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar secara jelas mengatakan bahwa arah atas adalah mustahil pada Allah. maha suci Allah dari arah dan tempat

Wallahu a’lam

Bukti Bin Baz & Wahhabi Kafirkan Ibnu Hajar & Imam Nawawi (1 & 2)

Ibnu Hajar BERAQIDAH SESAT- Bin Baz & Wahhabi (berbukti)

 

IMAM IBNU HAJAR AL-ASQOLANY DIHUKUM OLEH KESEMUA WAHHABI SEBAGAI BERAQIDAH SESAT

Bukan anda sahaja yang dikafirkan oleh Wahhabi. Imam yang agong dan hebat pengarang kitab Fathul Bari Syarh Sohih Bukhari yang terkenal ini juga tidak terlepas dihukum sebagai sesat aqidahnya.

Buktinya dalam kitab Wahhabi berjudul: ” At-Tanbih ‘Ala Al-Mukhalafaat Al-’Aqdiyah Fi Fathil Bary ” tajuk buku yang bermaksud Peringatan Ke Atas Penyelewengan Aqidah Dalam Kitab Fathul Bary (karangan Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany)” yang mana buku ini telah mendapat kata-kata aluan dan pujian oleh tokoh-tokoh Wahhabi setelah mereka menelitinya isi kandungannya.

Tajuk buku Wahhabi itu: At-Tanbih ‘Ala Al-Mukhalafaat Al-’Aqdiyah Fi Fathil Bary

Dikumpulkan oleh Wahhabi bernama: Ali Bin Abdul Aziz Bin Ali Asy-Syibil.

Buku itu telah diteliti dan diperakui benar dan betul belaka oleh tokoh-tokoh Wahhabi:

1- Abdul Aziz Bin Baz.
2- Soleh Al-Fauzan.
3- Abdullah Bin ‘Aqil.
4- Abdul Bin Muni’.
5- Abdullah Al-Ghonimaan.

* Kenyataan Bin Baz Mufti Wahhabi mengatakan: ” Kerja menghukum sesat aqidah Ibnu Hajar Al-Asqolany dari bukunya Fathul Bary adalah amalan yang TERBAIK “. Lihat Taqriz dalam kitab di atas.

Lihat bagaimana Bin Baz dan Wahhabi memuliakan amalan menghukum sesat terhadap aqidah ulama Islam.
APA WAHHABI KATA DALAM BUKU ITU?

Dalam kitab Wahhabi tadi mereka telah bersepakat menghukum Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany pengarang kitab Fathul Bary Syarah Sohih Al-Bukhari sebagai:-

1- Tidak beraqidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah.

2- Pembasmi aqidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah.

3- Menafikan sifat Allah (nufaat).

4- Suka ta’wil yang sesat.

5- Ikut Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah yang sesat.

6- Suka bawa bid’ah.

7- Mangharuskan tawassuk syirik.

8- Mengharuskan tabarruk syirik.

9- Sesat.

10- Kafir. (itulah hakikat Wahhabi ingin nyatakan tetapi mereka BERTAQIYYAH).

Demikianlah penghukuman Wahhabi terhadap Imam Ibnu Hajar Al-Aqolany dalam kitab mereka tadi. Ada lagi banyak kenyataan yang jelek dan keji Wahhabi luahkan kepada Imam Ibnu Hajar ini.

* P/S: Wahhabi suka bertaqiyyah iaitu bercakap bohong dan bersumpah bohong. Contoh. Jika anda tanya mereka berdepan perihal Imam Ibnu Hajar dihadapan khalayak ramai Wahhabi akan menjawab Beliau bagus…beliau ok. tapi Wahhabi MENGKAFIRKAN Imam Ibnu Hajar pada hakikatnya. JANGAN TERTIPU DENGAN TAQIYYAH WAHHABI. WAHHABI TURUT MENGHUKUM IMAM NAWAWI SEBAGAI SESAT KEKAL DALAM NERAKA. AWAS!

 

IMAM NAWAWI & IBNU HAJAR PUN KAFIR?!

Assalamualaikum.
Oleh: abu_syafiq 

Islam dan ulamanya tidak harus dikafirkan seperti yang dilakukan oleh Wahhabi..habis dikafirkan semua.
Mungkin sekiranya Nabi Muhammad masih hidup dimuka bumi ini pun baginda tidak akan terlepas dari dikafiran oleh golongan Wahhabiyah ini.
Tidak mustahil pada suatu hari nanti Allah pun Wahhabi kafirkan…wal iyazubillah.
Wahhabi bukan sahaja mengkafirkan Sultan Solahuddin Al-Ayyubi.
tetapi…. WAHHABI TURUT MENGKAFIRKAN IMAM NAWAWI DAN IMAM IBNU HAJAR AL-ASQOLANY!

Saudara seislam sekali….. Apa dah jadi dengan Wahhabi ni?!!!
aduiii..pesal Wahhabi benci sangat dgn ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah dan ulamanya?! tengok dibawah ini seorang lagi ulama Wahhabi yang menjadi rujukan utama oleh Wahhabi dan kitab2 nya diberi secara percuma ketika kita semua pergi menunaikan umrah dan haji…Wahhabi ini yg bernama Muhammad Soleh Uthaimien menyatakan bahawa :
“IMAM IBNU HAJAR AL-ASQOLANY ( PENGARANG FATHUL BARI SYARAH SOHIH BUKHARY) DAN JUGA IMAM NAWAWI ( PENGARANG SYARAH SOHIH MUSLIM) KATA WAHHABI : NAWAWI DAN IBNU HAJAR ADALAH PEMBUAT KESESATAN DAN NAWAWI SERTA IBNU HAJAR BERAQIDAH SESAT DAN MEREKA BERDUA ADALAH KAFIR”!!.
Inilah makna dakwaan Wahhabi.

BUKTI ; Lihat buktinyapada line yg telah dikuningkan:

Bukti scan kitab: Imam Bukhari Menta’wil Tertawa Dengan Rahmat

Benarkah Salafi Wahabi bermanhaj salaf ? atau cuma Manhaj Salaf Bid’ah yang baru ada sejak masa Ibnu Taymiyah ? ini satu bukti bahwa Salafi Wahabi tidak bermanhaj ulama Salaf, tapi hanya Manhaj Salaf versi baru, sementara hakikat Manhaj Salaf sangat berbeda dengan Manhaj Salaf versi mereka, sudah bukan rahasia lagi bahwa Wahabi sangat anti dengan Ta’wil, semua nash-nash tentang sifat Allah mereka artikan serampangan, tidak peduli adanya pertentangan atau tidak, mereka boleh saja menganggap merekalah yang bertauhid sesuai dengan tauhid para Salafus Sholeh, tapi apakah Ulama Salaf bertauhid seperti tauhid mereka ?

Imam Bukhari yang juga bermanhaj Salaf, tapi tidak sejalan dengan Manhaj Wahabi yakni Manhaj Salaf versi Wahabi, Imam Bukhari sama sekali tidak anti Ta’wil, pertanda bahwa Ta’wil sudah ada sejak Ulama Salaf, dan Ta’wil tidak otomatis telah bertentangan dengan Manhaj Salaf, sehingga harus mengecam Ta’wil secara mutlak.

Berikut bukti Ta’wil dari Imam Bukhari yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqqi dalamkitab al-Asma’ was-Sifat Halaman 459, lihat scan kitab di bawah ini :

 

 

Imam Baihaqqi menuliskan :

قال البخاري معنى الضحك الرحمة

“Berkata Imam Bukhari : Makna Al-Dhahak adalah Rahmat”.

Maksudnya : الضحك yang seharusnya bermakna “tertawa” tapi ketika kalimat tersebut disandarkan kepada Allah maka makna nya tidak boleh bermakna dhohir karena dapat terbawa kepada menyerupakan Allah dengan makhluk, Allah tidak bersifat dengan tertawa, maka nya Imam Bukhari menta’wil dari makna tertawa kepada makna yang pantas bagi Allah yaitu Rahmat, maka dapatlah kita pahami bahwa pada kalimat yang mutasyabihat tidak boleh diartikan secara dhohiriyah, oleh karena itu timbullah dua Manhaj Tafwidh dan Ta’wil, seandainya makna dhohiriyah itu tidak bermasalah, maka sungguh tidak akan diperdapatkan metode Ta’wil dari para ulama, karena tidak punya hajat kepada demikian,  dan dapat pula kita pahami bahwa metode Tafwidh dari sebagian Ulama Salaf bukan maksudnya beriman dengan makna dhohiriyah lalu mentafwidh kaifiyat, akan tetapi ketika makna dhohir tidak boleh bagi Allah, maka sebagian ulama Salaf mentafwidh makna nya kepada Allah, bukan tafwidh kaifiyat, dan dengan tanpa Ta’wil, baik atas metode Tafwidh atau pun metode Ta’wil sepakat bahwa makna dhohiriyah tidak boleh dan tidak sah bagi Allah, maka Tafwidh dan Ta’wil tidak bertentangan, justru metode Tafwidh sangat bertentangan dengan metode Wahabi yang menetapkan makna dhohir, dan dapatlah dipastikan bahwaManhaj Salaf versi Salafi Wahabi sangat bertentangan dengan Manhaj Salaf Ahlus Sunnah Waljama’ah.

Wallahul muwaffiq.

Kitab Tafsir mu’tabar Sunni (Allah ada tanpa tempat dan arah) : Tafsir Istawa Dalam Tafsir Ibnu Katsir – Tafsir Annasafi – Imam qurtubi

Istawa Dalam Tafsir Ibnu Katsir

Tulisan ini kami persembahkan buat mereka yang tiap minggu Dauroh kajian Tafsir Ibnu Katsir, tapi pemahaman mereka justru berbeda dengan kajian-kajian mereka, parah nya penyakit Tasybih yang sudah mendarah daging dalam keras nya hati mereka, membuat mereka sulit menerima fakta kebenaran nya, dan membuat mereka tidak bisa menyadari bahaya besar yang sedang menjerat akidah mereka, hendak nya tulisan ini menjadi semangat baru bagi mereka agar kembali membuka kembali kajian mereka dan semoga tulisan ini menjadi pertimbangan dalam kajian ulangan nanti nya. Kesalahan mereka dalam memahami hakikat Manhaj Salaf telah menjadikan mereka sebagai fitnah agama ini, sebagai bukti mari lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang “Istawa”atau tentang bab Mutasyabihat umum nya, dan bagaimana hakikat Manhaj Salaf versi Ibnu Katsir akan kita pahami di sini. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir -Surat al-A’raf – ayat 54 sebagai berikut :

وأما قوله تعالى: { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنمايُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري،والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل،وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولاتعطيل. والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله، فإن الله لا يشبهه شيء من خلقه، و { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌوَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } بل الأمر كما قال الأئمة -منهم نُعَيْم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري -: “من شبه الله بخلقه فقدكفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر”. وليس فيما وصف الله به نفسه ولا رسوله تشبيه، فمن أثبت للهتعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالىالنقائص، فقد سلك سبيل الهدى.

Barkata Ibnu Katsir dalam Tafsirnya :

“Adapun firman Allah taala { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } maka bagi manusia pada tempat ini pernyataan yang banyak sekali, di sini tidak mengupas semua nya, di sini hanya menempuh Madzhab Salafus Sholih yaitu imam Malik, dan al-Auza’i, dan Al-tsuri, al-laits bin sa’ad dan imam Syafi’i dan imam Ahmad dan Ishaq bin rahawaih dan selain mereka dari ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang, dan Madzhab Salaf adalah memperlakukan ayat tersebut sebagaimana datang nya, dengan tanpa takyif (memerincikan kaifiyat nya) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk) dan tanpa ta’thil (meniadakan)  dan makna dhohir (lughat) yang terbayang dalam hati seseorang, itu tidak ada pada Allah, karena sesungguhnya Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya, dan [tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia maha mendengar lagi maha melihat. QS Asy-Syura ayat 11], bahkan masalahnya adalah sebagaimana berkata para ulama diantaranya adalah Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata : “Barang siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka sungguh ia telah kafir, dan barang siapa yang mengingkari  sifat yang Allah sifatkan (sebutkan) kepada diri-Nya, maka sungguh ia telah kafir”. Dan tidak ada penyerupaan (Tasybih) pada sifat yang disifatkan/disebutkan oleh Allah dan Rasul kepada diri-Nya, maka barang siapa yang menetapkan bagi Allah taala akan sesuatu yang telah datang ayat yang shorih (ayat Muhkam) dan Hadits yang shohih, dengan cara yang layak dengan keagungan Allah taala, dan meniadakan segala kekurangan dari Allah taala, maka sungguh ia telah menempuh jalan yang terpetunjuk”.[Tafsir Ibnu Katsir -Surat al-A’raf – ayat 54]

Perhatikan scan kitab di bawah :

Mari kita pahami uraian Ibnu Katsir tentang “Istawa” di atas pelan-pelan :

فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري،والليث بنسعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا

“maka bagi manusia pada tempat ini pernyataan yang banyak sekali, di sini tidak mengupas semua nya, di sini hanya menempuh Madzhab Salafus Sholih yaitu imam Malik, dan al-Auza’i, dan Al-tsuri, al-laits bin sa’ad dan imam Syafi’i dan imam Ahmad dan Ishaq bin rahawaih dan selain mereka dari ulama-ulama islam masa lalu dan masa sekarang”

Maksudnya : pada ayat-ayat Mutasyabihat seperti ayat tersebut ada banyak pendapat manusia, dan di sini Ibnu Katsir tidak membahas semua nya, hanya membahas bagaimana pendapat kebanyakan ulama Salaf saja seperti imam Malik, dan al-Auza’i, dan Al-tsuri, al-laits bin sa’ad dan imam Syafi’i dan imam Ahmad dan Ishaq bin rahawaih dan selain mereka dari ulama-ulama islam, dari sini nantinya kita pahami mana Manhaj Salaf / Madzhab Salaf sebenarnya, agar tidak tertipu dengan tipu daya Salafi Wahabi yang juga mengaku bermanhaj Salaf.

وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل. والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله

“dan Madzhab Salaf adalah memperlakukan ayat tersebut sebagaimana datang nya, dengan tanpa takyif (memerincikan kaifiyat nya) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk) dan tanpa ta’thil (meniadakan)  dan makna dhohir (lughat) yang terbayang dalam hati seseorang, itu tidak ada pada Allah”

Maksudnya : Menurut Ibnu Katsir, Manhaj Salaf adalah memberlakukan ayat-ayat Mutasyabihat sebagaimana datang nya dari Al-Quran, artinya para ulama Salaf ketika membahas atau membicarakan atau menulis ayat tersebut, selalu menggunakan kata yang datang dalam Al-Quran tanpa menggunakan kata lain, baik dengan Tafsirnya atau Ta’wilnya atau bahkan terjemahannya, atau biasa disebut dengan metode Tafwidh makna, dan tanpa menguraikan kaifiyatnya, artinya tanpa membicarakan apakah itu sifat dzat atau sifat fi’il, apakah itu sifat atau ta’alluq-nya atau lain nya, dan tanpa Tasybih artinya menyerupakan atau memberi makna yang terdapat penyerupaan di situ, dan tidak meniadakan nya karena keadaan nya yang tidak diketahui makna nya, artinya bukan berarti ketika tidak diketahui makna nya, otomatis telah mengingkari sifat Allah, karena telah menetapkan sifat Allah dengan kata yang datang dari Al-Quran, sedangkan makna atau terjemahan yang dipahami oleh seseorang, makna tersebut tidak ada pada Allah, artinya sebuah makna yang otomatis dipahami ketika disebutkan sebuah kalimat, maka makna tersebut bukan maksud dari ayat Mutasyabihat, karena makna tersebut tidak boleh ada pada Allah, kerena dengan menyebutkan makna tersebut kepada Allah, otomatis ia telah melakukan penyerupaan Allah dengan makhluk, Ibnu Katsir di atas menyebut dengan sebutan “Musyabbihin” kepada orang yang memahami makna dhohirnya, ini artinya menyebutkan makna dhohir kepada Allah otomatis telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, inilah poin penting yang harus diperhatikan oleh para Salafi Wahabi, bahwa para ulama Salaf dan Khalaf sepakat bahwa makna terjemahan dhohiriyah dalam bab Mutasyabihat tidak layak dengan keagungan Allah, dan menjadikan orang nya sebagai orang yang telah menyerupakan Allah dengan makhluk.inilah metode kebanyakan dari ulama Salaf, dan nampak jelas perbedaan manhaj Salaf dengan manhaj Salafi Wahabi.

فإن الله لا يشبهه شيء من خلقه، و { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ }

“karena sesungguhnya Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya, dan [tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia maha mendengar lagi maha melihat. QS Asy-Syura ayat 11]”

Maksudnya : kenapa makna dhohirnya tidak boleh, karena Allah tidak serupa sedikit pun dengan makhluk-Nya sebagaimana disebutkan dalam surat asy-Syura ayat 11, dan ketika makna dhohirnya terdapat sedikit keserupaan, maka makna dhohir tersebut tidak boleh pada Allah.

بل الأمر كما قال الأئمة -منهم نُعَيْم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري -: “من شبه الله بخلقه فقد كفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر”

“bahkan masalahnya adalah sebagaimana berkata para ulama diantaranya adalah Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata : “Barang siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka sungguh ia telah kafir, dan barang siapa yang mengingkari  sifat yang Allah sifatkan (sebutkan) kepada diri-Nya, maka sungguh ia telah kafir”.

Maksudnya : Bukan saja masalah nya sebatas tidak boleh, bahkan orang tersebut dapat menjadi kafir dengan sebab ini, sebagaimana berkata para ulama diantaranya adalah Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata : “Barang siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka sungguh ia telah kafir, dan barang siapa yang mengingkari  sifat yang Allah sifatkan (sebutkan) kepada diri-Nya, maka sungguh ia telah kafir”. artinya termasuk dalam orang dihukumi kafir adalah orang yang beriman dengan makna dhohir, karena sudah dijelaskan di atas bahwa dalam makna dhohir sudah terkandung Tasybih, dan tidak termasuk dalam mengingkari sifat Allah adalah orang yang mengingkari makna dhohir, karena alasan tersebut juga. Maka dapat dipastikan bahwa beriman dengan makna dhohir dalam masalah ini adalah akidah yang salah, bukan akidah Ahlus Sunnah Waljama’ah, bahkan bukan Manhaj Salaf, sekalipun tentang hukum kafir orang nya terdapat perbedaan pendapat ulama, karena kemungkinan dimaafkan bagi orang awam, mengingat ini adalah masalah yang sulit, na’uzubillah.

وليس فيما وصف الله به نفسه ولا رسوله تشبيه

“Dan tidak ada penyerupaan (Tasybih) pada sifat yang disifatkan/disebutkan oleh Allah dan Rasul kepada diri-Nya”

Maksudnya : Tidak ada Tasybih pada kata-kata yang datang dalam Al-Quran dan hadits tentang sifat Allah, bukan pada makna nya, sementara pada makna nya tergantung bagaimana memaknainya, sekaligus ini alasan kenapa tidak boleh mengimani makna dhohiriyah, karena semua sifat yang Allah sebutkan dalam Al-Quran dan Rasul sebutkan dalam Hadits untuk sifat Allah, tidak ada satupun yang ada Tasybih (penyerupaan), maka makna dhohir tersebut dapat dipastikan bukan sifat Allah, karena pada nya terdapat keserupaan.

فمن أثبت لله تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالى النقائص، فقد سلك سبيلالهدى.

“maka barang siapa yang menetapkan bagi Allah taala akan sesuatu yang telah datang ayat yang shorih (ayat Muhkam) dan Hadits yang shohih, dengan cara yang layak dengan keagungan Allah taala, dan meniadakan segala kekurangan dari Allah taala, maka sungguh ia telah menempuh jalan yang terpetunjuk”.

Maksudnya : Kesimpulan dari uraian di atas, siapa yang menetapkan bagi Allah akan sifat-sifat yang datang dalam ayat-ayat yang shorih yakni ayat-ayat yang Muhkam, bukan malah yakin dengan makna tasybih dalam ayat Mutasyabihat, dan yang datang dalam hadits-hadits yang shohih, dengan metode yang layak dengan keagungan Allah, bukan malah dengan metode yang identik dengan makhluk, dan meniadakan pada Allah segala bentuk kekurangan dari pada sifat-sifat makhluk atau keserupaan dengan makhluk, maka ia telah menempuh jalan yang terpetunjuk yaitu bertauhid dengan tauhid yang benar.

Wallahu a’lam

Istawa Dalam Tafsir An-Nasafi

Dalam Tafsir an-Nasafi terbukti bahwa Salafi Wahabi adalah pendusta agama yang berdusta atas nama Al-Quran dan as-Sunnah, dan memfitnah para ulama Salaf atas nama Manhaj Salaf, mereka dalam bab Mutasyabihat mentafwidh kaifyat dan mentafsirkan dengan makna dhohir, mereka sangat anti dengan Ta’wil dan mengkafirkan aqidah Ta’wil, mereka sangan anti dengan Ta’wil Istawa dengan Istaula, sementara dakwaan mereka sebalik dengan hakikat Manhaj Salaf sesungguhnya, sebagai bukti mari buka Tafsir an-Nasafi, dan lihat apa kata Imam an-Nasafi sebagai berikut :

{ استوى } استولى . عن الزجاج ، ونبه بذكر العرش وهو أعظم المخلوقات على غيره . وقيل : لما كان الاستواء على العرش وهو سرير الملك مما يردف الملك جعلوه كناية عن الملك فقال استوى فلان على العرش أي ملك وإن لم يقعد على السرير ألبتة وهذا كقولك «يد فلان مبسوطة» أي جواد وإن لم يكن له يد رأساً ، والمذهب قول علي رضي الله عنه : الاستواء غير مجهول والتكييف غير معقول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة لأنه تعالى كان ولا مكان فهو على ما كان قبل خلق المكان لم يتغير عما كان .

“Istawa artinya Istaula (menguasai) dihikayahkan dari Imam az-Zajjaj as-Salafi (241-311 H), dan memberitahu dengan penyebutan ‘Arasy atas lain nya, dan dia adalah sebesar-besar makhluk, dan dikatakan : manakala Istiwa’ atas ‘Arasy yaitu singgasana Raja adalah sebagian dari sesuatu yang berhubungan dengan milik, maka para ulama menjadikan Istiwa’ sebagai kinayah dari pada milik, maka dikatakan Istawa fulan atas ‘Arasy artinya memiliki nya, sekalipun ia tidak duduk atas singgasana sama sekali, demikian seperti perkataan “tangan si fulan luas” artinya pemurah sekalipun ia tidak punya tangan pada kenyataan nya. Dan pendapat kuat itu pernyataan Sayyidina Ali –radhiyallahu ‘anhu- : Istiwa’ tidak majhul, dan menguraikan kaifiyat nya tidak ma’qul, dan beriman dengan nya wajib, dan bertanya tentang nya Bid’ah, karena sesungguhnya Allah taala ada dan tidak ada tempat, maka Allah tetap sebagaimana sebelum menciptakan tempat, Allah tidak berubah sebagaimana ada-Nya”.

Perhatikan scan kitab berikut

{ استوى } استولى . عن الزجاج

“Istawa artinya Istaula (menguasai) dihikayahkan dari Imam az-Zajjaj as-Salafi (241-311 H)”

Maksudnya : Imam an-Nasafi merujuk ke Tafsir Imam az-Zajjaj as-Salafi, dalam Tafsirnya az-Zajjaj menta’wil Istawa dengan Istaula, inilah bukti bahwa Ta’wil juga berasal dari Manhaj Salaf, karena sebagian ulama Salaf melakukan Ta’wil pada sebagian ayat Mutasyabihat, Cuma kebanyakan ulama Salaf lebih memilih Tafwidh makna dan tidak mengkafirkan ulama yang bermanhaj Ta’wil, dua manhaj Ta’wil dan Tafwidh adalah metode agar tidak terjebak dengan Tasybih dalam makna dhohir nya, lain hal nya dengan Salafi Wahabi yang tidak melakukan Tafwidh seperti Tafwidh nya Salaf, dan juga mengkafirkan orang yang bermanhaj Ta’wil, dan mereka justru mentafsirkan nya dengan makna dhohir yang terdapat Tasybih dan Tajsim pada nya.

ونبه بذكر العرش وهو أعظم المخلوقات على غيره

“dan memberitahu dengan penyebutan ‘Arasy atas lain nya, dan dia adalah sebesar-besar makhluk”

Maksudnya : kenapa disebutkan ‘Arasy bila Istawa bermakna Istaula, padahal Allah menguasai semua makhluk-Nya, bukan hanya ‘Arasy, maka jawabnya dengan penyebutan ‘Arasy maka termasuklah semua makhluk lain, karena ‘Arasy adalah makhluk yang paling besar.

وقيل : لما كان الاستواء على العرش وهو سرير الملك مما يردف الملك جعلوه كناية عن الملك

“dan dikatakan : manakala Istiwa’ atas ‘Arasy yaitu singgasana Raja adalah sebagian dari sesuatu yang berhubungan dengan milik, maka para ulama menjadikan Istiwa’ sebagai kinayah dari pada milik”

Maksudnya : Sebagian ulama mentafsirkan Istawa dengan makna memiliki, karena punya hubungan antara makna Istiwa’ dan makna milik, karena tertegah memaknai nya dengan makna dhohir Istawa, maka kata Istawa adalah kinayah dari memiliki.

فقال استوى فلان على العرش أي ملك وإن لم يقعد على السرير ألبتة وهذا كقولك «يد فلان مبسوطة» أي جواد وإن لم يكن له يد رأساً

“maka dikatakan Istawa fulan atas ‘Arasy artinya memiliki nya, sekalipun ia tidak duduk atas singgasana sama sekali, demikian seperti perkataan “tangan si fulan luas” artinya pemurah sekalipun ia tidak punya tangan pada kenyataan nya”

Maksudnya : ketika dikatakan bahwa “si fulan bersemayam /beristiwa’ atas singgasana, maka artinya si fulan memiliki singgasana tersebut walaupun ia tidak berada /bersemayam di atas nya, demikian juga seperti dikatakan “Tangan si fulan luas” maka artinya si fulan adalah seorang yang pemurah, sekalipun ia tidak punya tangan sama sekali, karena kata tangan adalah kiasan dari pemurah, sebagaimana Istawa adalah kiasan dari memiliki.

والمذهب قول علي رضي الله عنه : الاستواء غير مجهول

“Dan pendapat kuat itu pernyataan Sayyidina Ali –radhiyallahu ‘anhu- : Istiwa’ tidak majhul”

Maksudnya : Pendapat kuat dalam masalah makna ayat Mutasyabihat adalah sebagaimana Manhaj kebanyakan ulama Salaf yaitu pernyataan Sayyidina Ali –Radhiyallahu ‘anhu- bahwa Istawa tidak majhul artinya telah dimaklumi kata Istawa dari Al-Quran dan dimaklumi makna dhohirnya, tapi tidak dimaklumi makna maksud darinya. Dapatlah diketahui bahwa tentang masalah makna nash Mutasyabihat adalah masalah khilafiyah, ketika makna dhohirnya tidak boleh dinisbahkan kepada Allah, maka boleh memaknainya dengan makna apa saja yang layak dengan keagungan dan kesempurnaan Allah, sehingga lahirlah bermacam ta’wil dengan makna yang layak dengan Allah, sementara kebanyakan ulama Salaf lebih memilih tidak menentukan satu makna tertentu untuk kata tersebut, karena apapun makna yang dipakai, semua makna itu tidak akan mampu mewakili kata yang telah dipilih oleh Allah untuk diri-Nya.

والتكييف غير معقول

“menguraikan kaifiyat nya tidak ma’qul”

Maksudnya : berbicara tentang kaifiyat nya adalah tidak masuk akal (mustahil), bagaimana pun mengurai kaifiyat nya, namun yakinlah bahwa Allah tidak seperti demikian.

والإيمان به واجب

“dan beriman dengan nya wajib”

Maksudnya : Wajib beriman dengan kata Istawa karena jelas penyebutan nya dalam Al-Quran, bukan beriman dengan makna dhohir, sementara beriman dengan makna dhohir adalah tidak boleh karena terdapat Tasybih padanya, maka mengingkari makna dhohir tidak menjadi kafir karena nya, tapi kafir bila ingkar kata Istawa, maka termasuk dalam orang yang beriman di sini adalah orang yang bermanhaj Ta’wil.

والسؤال عنه بدعة

“dan bertanya tentang nya Bid’ah”

Maksudnya : Bertanya tentang Istawa Bid’ah dan bahkan membicarakan dan menguraikan ini adalah Bid’ah, tapi mudah-mudahan ini Bid’ah hasanah, karena para ulama telah menguraikan nya, selama tidak membicarakan kaifiyat nya.

لأنه تعالى كان ولا مكان

“karena sesungguhnya Allah taala ada dan tidak ada tempat”

Maksudnya : Ini poin penting, apa hubungan nya dengan Istawa, seandainya makna dhohir Istawa yaitubersemayam itu layak dengan keagungan dan kesempurnaan Allah, maka tidak ada hubungan Istawa dengan pernyataan Sayyidina Ali ini, tapi Sayyidina Ali mengatakan Allah telah ada dan tidak ada tempat, artinya sebelum ada ‘Arasy Allah tidak bersifat dengan bertempat/bersemayam, maka setelah menciptakan ‘Arasy juga demikian, maka makna dhohir yang dipahami bahwa Allah bertempat atau bersemayam di atas ‘Arasy setelah menciptakan ‘Arasy adalah tidak layak dengan keagungan dan kesempurnaan Allah, karena terdapat Tasybih di dalam nya, inilah hubungan antara pernyataan ini dengan Istawa.

فهو على ما كان قبل خلق المكان لم يتغير عما كان

“maka Allah tetap sebagaimana sebelum menciptakan tempat, Allah tidak berubah sebagaimana ada-Nya”.

Maksudnya : Dzat Allah dan sifat-sifat Allah tidak berubah atau bertambah, sebagaimana Allah ada sebelum menciptakan apapun, begitu juga Allah setelah menciptakan makhluk-Nya dan selama nya, sementara Salafi Wahabi percaya dan sangat yakin bahwa Allah berubah dan bertambah sifat-Nya ketika menciptakan ‘Arasy dan langit. Na’uzubillah

Kesimpulan dari Tafsir an-Nasafi adalah :

·         Sepakat ulama Salaf tidak memahami nash Mutasyabihat dengan makna dhohir, dengan dua metode Tafwidh makna dan Ta’wil makna.

·         Kebanyakan ulama Salaf memilih Tafwidh dan sebagian ulama Salaf memilih Ta’wil.

·         Ta’wil Istawa dengan Istaula adalah Ta’wil dari Manhaj sebagian Salaf.

·         Ulama Salaf tidak anti Ta’wil.

·         Manhaj Salaf bukan mentafwidh kaifiyat, tapi mentafwidh makna maksud kepada Allah.

Wallahu a’lam

Istawa Dalam Tafsir Imam al-Qurthubi

Mulia dengan Manhaj Salaf adalah selogan yang agung dan benar adanya, namun ketika fakta nya mereka yang mereka yang selalu mengagung-agungkan manhaj Salaf, pada kenyataan nya mereka sendiri sangat bertentangan dan jauh menyimpang dari Manhaj Salaf, mereka hanya membanggakan diri, tapi tidak ada yang bisa dibanggakan dari mereka, tidak mungkin ada kemuliaan pada dua sisi yang saling bertentangan, itulah gambaran bagi para pengikut Manhaj Wahabi, Manhaj Salaf versi mereka adalah Manhaj mereka sendiri, tidak ada hubungan dengan Manhaj Salaf nya para ulama Salaf, ini salah satu buktinya :

Imam al-Qurthubi menuliskan dalam Tafsir nya sebagai berikut :

وهذه الآية من المشكلات، والناس فيها وفيما شاكلها على ثلاثة أوجه، قال بعضهم : نقرؤها ونؤمن بها ولا نفسرها؛ وذهب إليه كثير من الأئمة، وهذا كما روي عن مالك رحمه الله أن رجلاً سأله عن قوله تعالى ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَى,قال مالك : الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة، وأراك رجل سَوْء! أخرجوه. وقال بعضهم : نقرؤها ونفسّرها على ما يحتمله ظاهر اللغة. وهذا قول المشبّهة. وقال بعضهم : نقرؤها ونتأوّلها ونُحيل حَمْلها على ظاهرها

“Dan ayat ini sebagian dari ayat-ayat yang sulit, Dan manusia pada ayat ini dan pada ayat-ayat sulit lainnya, ada tiga (3) pendapat : Sebagian mereka berkata : “kami baca dan kami imani dan tidak kami tafsirkan ayat tersebut, pendapat ini adalah pendapat mayoritas para Imam, dan pendapat ini sebagaimana diriwayatkan dari Imam Malik –rahimahullah- bahwa seseorang bertanya kepada nya tentang firman Allah taala (Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsyi Istawa), Imam Malik menjawab : Istiwa’ tidak majhul, dan kaifiyat tidak terpikir oleh akal (mustahil), dan beriman dengan nya wajib, dan bertanya tentang nya Bid’ah, dan saya lihat anda adalah orang yang tidak baik, tolong keluarkan dia”. Dan sebagian mereka berkata : “kami bacakan dan kami tafsirkan menurut dhohir makna bahasa (lughat)”, pendapat ini adalah pendapat Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Dan sebagian mereka berkata : “kami bacakan dan kami Ta’wil dan kami berpaling dari memaknainya dengan makna dhohir”.[Tafsir al-Qurthubi. Surat al-Baqarah ayat 29]

Perhatikan scan kitab di bawah ini

Imam al-Qurthubi sangat shorih dalam menafsirkan ayat tersebut, dan beliau juga sangat telilti dalam menjelaskanmetode dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat, dan kita tahu bagaimana aqidah Imam al-Qurthubi, mari kita pahami syarahan dari Imam al-Qurthubi di atas.

وهذه الآية من المشكلات

“Dan ayat ini sebagian dari ayat-ayat yang sulit”

Maksudnya : Ayat tersebut termasuk dalam bagian ayat-ayat yang sulit, yaitu yang sering disebut dengan ayat-ayat Mutasyabihat, memahami ayat ini tidak segampang memahami ayat lain, menandakan ada “sesuatu” pada ayat tersebut, karena memahami ayat ini dengan metode yang sama dengan ayat lain, akan membuat seseorang terjebak dalam aqidah Tasybih, maka nya Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa ayat tersebut termasuk dalam ayat yang sulit, dan tertolaklah anggapan sebagian orang yang menyangka semua ayat mudah dan ditafsirkan dengan cara yang sama.

والناس فيها وفيما شاكلها على ثلاثة أوجه

“Dan manusia pada ayat ini dan pada ayat-ayat sulit lainnya, ada tiga (3) pendapat”

Maksudnya : Setelah melakukan penelitian, Imam al-Qurthubi mendapati ada tiga macam pendapat atau metode dalam memahami ayat-ayat Mutasyabihat, tiga pendapat ini masih secara keseluruhan, mana yang benar dan mana yang sesat, insyaallah akan kita pahami nantinya.

قال بعضهم : نقرؤها ونؤمن بها ولا نفسرها

“Sebagian mereka berkata : kami baca dan kami imani dan tidak kami tafsirkan ayat tersebut”

Maksudnya : Pendapat pertama adalah mereka yang membaca dan beriman dengan kata yang datang dari Al-Quran dengan tidak mentafsifkan nya, mereka memperlakukan kata tersebut sebagaimana datang nya tanpa mentafsirkan nya dengan kata lain yang sama artinya, metode mereka adalah tidak mentafsirkan baik denganmakna dhohir atau makna Ta’wil, baik dalam membaca atau mengungkapkan nya atau pun dalam mengimani nya, mereka bukan mengimani makna nya karena mereka tidak mentafsirkan nya, inilah yang disebut Tafwidh atau Ta’wil Ijmali, maka disini jelas kesalahan orang yang mengatakan bahwa Tafwidh adalah Tafwidh kaifiyat bukan Tafwidh makna maksud.

وذهب إليه كثير من الأئمة

“pendapat ini adalah pendapat mayoritas para Imam”

Maksudnya : Metode di atas adalah metode mayoritas Ulama, yaitu metode Tafwidh makna maksud, dan beriman dengan mengungkapkan dengan kata yang datang dari Al-Quran tanpa mentafsirkan nya dengan kata lain yang sama makna nya. Dan Imam al-Qurthubi tidak membedakan antara Ulama Salaf dan Ulama Khalaf, artinya metode tersebut bukan hanya metode Ulama Salaf, karena Ulama Khalaf pun ada yang berpegang dengan metode ini, dan Ulama Salaf pun ada yang tidak tetap atas metode ini pada sebagian ayat Mutasyabihat.

وهذا كما روي عن مالك رحمه الله أن رجلاً سأله عن قوله تعالى ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَى

”dan pendapat ini sebagaimana diriwayatkan dari Imam Malik –rahimahullah- bahwa seseorang bertanya kepada nya tentang firman Allah taala (Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsyi Istawa)”

Maksudnya : Imam al-Qurthubi memahami metode ini dari sebuah riwayat bahwa Imam Malik ditanyakan oleh seseorang tentang ayat (Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsyi Istawa), dari jawaban Imam Malik terhadap orang itu, Imam al-Qurthubi memahami bahwa Imam Malik dalam bab Mutasyabihat bermanhaj Tafwidh, yaitu tidak mentafsirkan  atau tidak menterjemahkan kapada satu makna tertentu, tapi menetapkan kata tersebut sebagaimana adanya, baik dalam bacaan atau ungkapan atau pun dalam mengimani nya. Lihatlah bagaimana perbedaan mendasar antara apa yang dipahami oleh Imam al-Qurthubi dan apa yang dipahami oleh kaum Salafi Wahabi, lebih celakanya lagi Salafi Wahabi menyandarkan pemahaman mereka yang sangat jauh melenceng itu kepada Imam Malik dan para ulama Salaf lain nya.

قال مالك : الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة، وأراك رجل سَوْء! أخرجوه

“Imam Malik menjawab : Istiwa’ tidak majhul, dan kaifiyat tidak terpikir oleh akal (mustahil), dan beriman dengan nya wajib, dan bertanya tentang nya Bid’ah, dan saya lihat anda adalah orang yang tidak baik, tolong keluarkan dia”

Maksudnya : Imam Malik menjawab bahwa lafadz Istiwa’ tidak majhul, ada dua versi dalam memahami perkataan ini, pertama : Tidak majhul artinya lafadh Istawa ma’lum karena telah datang dalam Al-Quran, kedua : Tidak majhul artinya makna lughat Istawa ma’lum dari bahasa Arab, namun kedua versi tersebut tidak saling bertentangan karena sepakat bahwa Imam Malik tidak mentafsirkan nya kedalam makna lughat atau makna dhohir, sebagaimana Imam al-Qurthubi dan Imam Ahlus Sunnah lain nya, memahami dari pernyataan Imam Malik ini bahwa Imam Malik memberlakukan lafadh tersebut sebagaimana datang nya tanpa mentafsirkan nya dengan satu makna maksud, jadi jelaslah bahwa maksud “tidak majhul” adalah bukan maklum makna maksud (makna murad). Selanjutnya Imam Malik berkata : dan kaifiyat nya tidak ma’qul, artinya kaifiyat nya mustahil pada Allah, bukan hanya sebatas tidak diketahui oleh manusia, artinya Allah taala tidak bersifat dengan kaifiyat, sementara Salafi Wahabi meyakini Allah bersifat dengan kaifiyat tapi tidak ada dalil, dan mereka mentafwidh kaifiyat nya, bukan meniadakan kaifiyat nya sebagaimana aqidah ahlus sunnah waljama’ah. Selanjutnya Imam Malik berkata : danberiman dengan nya wajib, artinya beriman dengan kata Istawa wajib hukum nya, dan kafirlah siapa pun yangmengingkari Istawa, tapi bukan beriman dengan “Bersemayam” atau dengan makna lughat Istawa lain nya, karena tidak pernah mentafsirkan kata Istawa, jadi di sini pun maksudnya adalah beriman dengan kata Istawa bukan dengan makna lughat Istawa. Selanjutnya Imam Malik berkata : dan bertanya tentang nya adalah Bid’ah, menunjukkan ini adalah pembahasan baru yang tidak ada dimasa Rasulullah, lalu Imam Malik meminta agar orang tersebut dikeluarkan karena beliau melihat ia tidak bermaksud baik.

وقال بعضهم : نقرؤها ونفسّرها على ما يحتمله ظاهر اللغة

“Dan sebagian mereka berkata : kami bacakan dan kami tafsirkan menurut dhohir makna bahasa (lughat)”

Maksudnya : Pendapat kedua adalah sebagian orang dalam bab Mutasyabihat memilih metode membaca lalumentafsirkan atau menterjemahkan ke dalam arti bahasa, inilah hakikat Manhaj Salafi Wahabi, tentunya sangat jelas perbedaan metode mereka dengan metode Imam malik di atas, walau pun mereka sandarkan metode mereka kepada metode Ulama Salaf, mereka tidak menyadari ada bahaya besar di balik metode mereka, dan mereka tidak akan pernah sadar telah berpaling dari aqidah Salaf, selama mereka menyangka bahwa metode mereka sama dengan metode Salaf.

وهذا قول المشبّهة

“pendapat ini adalah pendapat Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk)”

Maksudnya : Metode menterjemahkan ayat-ayat Mutasyabihat ke dalam arti lughat adalah metode kaum Musyabbihah dulu, artinya dengan berpegang dengan metode ini maka dengan sendiri nya sudah termasuk dalam Musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), karena dalam metode tersebut tersimpan Tasybih. Manhaj inilah yang didakwahkan oleh Salafi Wahabi atas nama Tauhid, tapi ternyata Tauhid yang mereka tegakkan hanyalah Tauhid Musyabbihah. Dan dari pernyataan ini dapatlah diketahui bahwa Imam al-Qurthubi tidak setuju dengan metode ini, dan dari tiga macam metode yang ada hanya metode ini yang tidak berjalan atas Manhaj Ahlus Sunnah Waljama’ah.

وقال بعضهم : نقرؤها ونتأوّلها ونُحيل حَمْلها على ظاهرها

“Dan sebagian mereka berkata : kami bacakan dan kami Ta’wil dan kami berpaling dari memaknainya dengan makna dhohir”

Maksudnya : Pendapat ketiga adalah sebagian orang yang memilih metode membaca lalu menta’wil  atau mentafsirkan nya dengan makna yang layak dengan kesempurnaan Allah, bukan dengan makna lughat, dan dari pernyataan ini dapat diketahui bahwa Imam al-Qurthubi tidak mencela metode ini, dan menghargainya selayak nya sebuah khilafiyah, dan Imam al-Qurthubi juga mengatakan bahwa metode ini bukan Manhaj Salaf atau bahkan bertentangan dengan Manhaj Salaf, karena sebagian Salaf juga melakukan Ta’wil pada sebagian ayat Mutasyabihat, cuma mayoritas Ulama lebih memilih metode pertama di atas dari metode ini.

Hasbunallah wa ni’mal wakil, semoga Salafi Wahabi segera kembali ke Hakikat Manhaj Salaf di atas, bukan hanya di bibir saja tapi mati-matian membela Manhaj Musyabbihah Mujassimah, sementara Manhaj Salaf terlepas dari mereka. Wallahu a’lam.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 419 other followers