Buku Aqidah Sunni : Tafsir Istawa Studi Komprehensif Tafsir Istawa Allah ada tanpa TEMPAT

Judul : Tafsir Istawa Studi Komprehensif Tafsir Istawa Allah ada tanpa tempat
Penulis : Kholil Abou Fateh
Ukuran buku : 20 cm x 14 cm
Tebal halaman : 186 halaman,- (Selain Muqadimah)
Harga : Rp. 20.000,- (Selain ongkos kirim)
Alamat : Bagi yang hendak membeli secara on line silahkan hubungi saya (kholil Abou Fateh) di email: aboufaateh@yahoo.com, atau lewat pesan di facebook juga boleh, kita bicarakan “kesepakatan harga/transfer pembayaran/dan pengiriman buku” di sana. Atau dapat pula anda datang langsung ke tempat saya, alamat jelasnya saya kirim lewat email atau pesan facebook.

Latar Belakang
Al-Hamdu Lillâh Rabb al-‘Âlamîn.
Wa ash-Shalât Wa As-Salâm ’Alâ Rasûlulillâh.
Ada beberapa poin ringkas yang hendak penulis ungkapkan dalam mukadimah buku ini, sebagai berikut:
• Bahwa kecenderungan timbulnya aqidah tasybîh (Penyerupaan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya) belakangan ini semakin merebak di berbagai level masyarakat kita. Sebab utamanya adalah karena semakin menyusutnya pembelajaran terhadap ilmu-ilmu pokok agama, terutama masalah aqidah. Bencananya sangat besar, dan yang paling parah adalah adanya sebagian orang-orang Islam, baik yang dengan sadar atau tanpa sadar telah keluar dari agama Islam karena keyakinan rusaknya. Imam al-Qâdlî Iyadl al-Maliki dalam asy-Syifâ Bi Ta’rîf Huqûq al-Musthafâ mengatakan bahwa ada dari orang-orang Islam yang keluar dari Islamnya (menjadi kafir) sekalipun ia tidak bertujuan keluar dari agama Islam tersebut. Ungkapan-ungkapan semacam; “Terserah Yang Di atas”, “Tuhan tertawa, tersenyum, menangis” atau “Mencari Tuhan yang hilang”, dan lain sebagainya adalah gejala tasybîh yang semakin merebak belakangan ini. Tentu saja kesesatan aqidah tasybîh adalah hal yang telah disepakati oleh para ulama kita, dari dahulu hingga sekarang. Terkait dengan masalah ini Imam Ibn al-Mu’allim al-Qurasyi (w 725 H) , dalam kitab Najm al-Muhtadî Wa Rajm al-Mu’tadî , meriwayatkan bahwa sahabat Ali ibn Abi Thalib berkata: “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir”. Seseorang bertanya kepadanya: “Wahai Amîr al-Mu’minîn apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran? Sahabat Ali ibn Abi Thalib menjawab: “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan”.

• Ada seorang mahasiswa bercerita kepada penulis bahwa suatu ketika salah seorang dosen Ilmu Kalam mengajukan “pertanyaan” di hadapan para mahasiswanya, ia berkata: “Benarkah Allah maha kuasa? Jika benar, kuasakah Allah untuk menciptakan “Sesuatu” yang sama dengan Allah sendiri?”, atau “Benarkah Allah maha kuasa? Jika benar, maka mampukah Dia menciptakan sebongkah batu yang sangat besar, hingga Allah sendiri tidak sanggup untuk mengangkatnya?”, atau berkata: “Jika benar Allah maha Kuasa, maka kuasakah Dia menghilangkan Diri-Nya hanya dalam satu jam saja?”. Ungkapan-ungkapan buruk semacam ini seringkali dilontarkan di perguruan-perguruan tinggi Islam, terutama pada jurusan filsafat. Ironisnya, baik dosen maupun mahasiswanya tidak memiliki jawaban yang benar bagi pertanyaan sesat tersebut. Akhirnya, baik yang bertanya maupun yang ditanya sama-sama “bingung”, dan mereka semua tidak memiliki jalan keluar dari “bingung” tersebut. Hasbunallâh.
Entah dari mana pertanyaan buruk semacam itu mula-mula dimunculkan. Yang jelas, jika itu datang dari luar Islam maka dapat kita pastikan bahwa tujuannya adalah untuk menyesatkan orang-orang Islam. Namun jika yang menyebarkan pertanyaan tersebut orang Islam sendiri maka hal itu jelas menunjukan bahwa orang tersebut adalah orang yang sama sekali tidak memahami tauhid, dan tentunya pengakuan bahwa dirinya sebagai seorang muslim hanya sebatas di mulutnya saja. Ini adalah contoh kecil dari apa yang dalam istilah penulis bahwa Ilmu Kalam telah mengalami distorsi.
Padahal, jawaban bagi pertanyaan sesat tersebut adalah bahasan sederhana dalam Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam; ialah bahwa hukum akal terbagi kepada tiga bagian; Pertama; Wâjib ‘Aqly; yaitu sesuatu yang wajib adanya, artinya; akal tidak dapat menerima jika sesuatu tersebut tidak ada, yaitu; keberadaaan Allah dengan sifat-sifat-Nya. Kedua; Mustahîl ‘Aqly; yaitu sesuatu yang mustahil adanya, artinya akal tidak dapat menerima jika sesuatu tersebut ada, seperti adanya sekutu bagi Allah. Ketiga; Jâ-iz ‘Aqly atau Mumkin ‘Aqly; yaitu sesuatu yang keberadaan dan ketidakadaannya dapat diterima oleh akal, yaitu alam semesta atau segala sesuatu selain Allah.
Sifat Qudrah (kuasa) Allah hanya terkait dengan Jâ-iz atau Mumkim ‘Aqly saja. Artinya, bahwa Allah Maha Kuasa untuk menciptakan segala apapun yang secara akal dapat diterima keberadaan atau tidakadanya. Sifat Qudrah Allah tidak terkait dengan Wâjib ‘Aqly dan Mustahîl ‘Aqly. Dengan demikian tidak boleh dikatakan: “Apakah Allah kuasa untuk menciptakan sekutu bagi-Nya, atau menciptakan Allah-Allah yang lain?” Pertanyaan ini tidak boleh dijawab “Iya”, juga tidak boleh dijawab “Tidak”. Karena bila dijawab “Iya” maka berarti menetapkan adanya sekutu bagi Allah dan menetapkan keberadaan sesuatu yang mustahil adanya, dan bila dijawab “Tidak” maka berarti menetapkan kelemahan bagi Allah. Jawaban yang benar adalah bahwa sifat Qudrah Allah tidak terkait dengan Wâjib ‘Aqly dan tidak terkait dengan Mustahîl ‘Aqly.

• Contoh kasus lainnya yang pernah dialami penulis dan teman-teman, bahwa suatu ketika datang seorang mahasiswa yang mengaku sangat menyukai filasafat. Setelah ngobrol “basa-basi” dengannya, tiba-tiba pembicaraan masuk dalam masalah teologi; secara khusus membahas tentang kehidupan akhirat. Dan ternyata dalam “otak” mahasiswa tersebut, yang kemudian dengan sangat “ngotot” ia pertahankan ialah bahwa kehidupan akhirat pada akhirnya akan “punah”, dan segala sesuatu baik mereka yang ada di surga maupun yang ada di neraka akan kembali kepada Allah. “Mahasiswa” ini beralasan karena jika surga dan neraka serta segala sesuatu yang ada di dalam keduanya kekal maka berarti ada tiga yang kekal, yaitu; Allah, surga, dan neraka. Dan jika demikian maka menjadi batal-lah definisi tauhid, karena dengan begitu berarti menetapkan sifat ketuhanan kepada selain Allah; dalam hal ini sifat kekal (al-Baqâ’).
Kita jawab; Baqâ’ Allah disebut dengan Baqâ’ Dzâty; artinya bahwa Allah maha Kekal tanpa ada yang ada yang mengekalkan-Nya. Berbeda dengan kekalnya surga dan neraka; keduanya kekal karena dikekalkan oleh Allah (Bi Ibqâ-illâh Lahumâ). Benar, secara logika seandainya surga dan neraka punah dapat diterima, karena keduanya makhluk Allah; memiliki permulaan, akan tetapi oleh karena Allah menghendaki keduanya untuk menjadi kekal, maka keduanya tidak akan pernah punah selamanya. Dengan demikian jelas sangat berbeda antara Baqâ’ Allah dengan Baqâ’-nya surga dan neraka. Kemudian, dalam hampir lebih dari enam puluh ayat al-Qur’an, baik yang secara jelas (Sharîh) maupun tersirat, Allah mengatakan bahwa surga dan neraka serta seluruh apa yang ada di dalam keduanya kekal tanpa penghabisan. Dan oleh karenanya telah menjadi konsensus (Ijmâ’) semua ulama dalam menetapkan bahwa surga dan neraka ini kekal selamanya tanpa penghabisan, sebagaimana dikutip oleh Ibn Hazm dalam Marâtib al-Ijmâ’, Imam al-Hâfizh Taqiyyuddin as-Subki dalam al-I’tibâr Bi Baqâ’ al-Jannah Wa an-Nâr, dan oleh para ulama terkemuka lainnya.
Dalam pandangan penulis, sebenarnya mahasiswa seperti ini adalah murni sebagai korban distorsi Ilmu Kalam. Kemungkinan besarnya, ketika ia masuk ke Perguruan Tinggi, ia merasa bahwa dirinya telah berada di wilayah “elit” secara ilmiah, ia “demam panggung” dengan iklim wilayah tersebut, merasa dapat berfikir dan berpendapat sebebas mungkin, termasuk kebebasan berkenalan dengan berbagai faham teologis. Padahal ketika awal masuk ke Perguruan Tinggi tersebut ia adalah “botol kosong” yang tidak memiliki pijakan sama sekali. Akhirnya, karena ia botol kosong maka seluruh faham masuk di dalam otaknya, termasuk berbagai aliran faham teologis, tanpa sedikitpun ia tahu manakah di antara faham-faham tersebut yang seharusnya menjadi pijakan keyakinannya, padahal -dan ini yang sangat mengherankan-, mahasiswa tersebut kuliah di fakultas dan jurusan keagamaan. Tentunya lebih miris lagi, ketika faham-faham teologis yang beragam ini dijamah oleh otak-otak mahasiswa non-keagamaan. Dan yang penulis sebut terakhir ini adalah realitas yang benar-benar telah ada di depan mata kita. Karenanya, seringkali kita melihat mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari jurusan non-keagamaan mengusung faham-faham teologis yang sangat ekstrim, bahkan seringkali mereka mengafirkan kelompok apapun di luar kelompok mereka sendiri, padahal mereka tidak memahami atau bahkan tidak tahu sama sekali apa yang sedang mereka bicarakan.

• Penulis termasuk cukup aktif “berselancar” di dunia maya, dalam banyak blog, web, facebook, twitter, dan lainnya sering menuangkan materi-materi tauhid di atas dasar aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah; termasuk melakukan dialog dengan beberapa orang yang memiliki faham di luar keyakinan penulis. Teks-teks mutasyâbihât, baik dari al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi, yang seharusnya dapat dipahami dengan logika yang sederhana menjadi bahan yang sangat “hangat”, bahkan cenderung “panas”; yang dengan sebabnya seringkali terjadi tuduhan “kafir”, “sesat”, “zindik”, “ilhâd”, dan semacamnya terhadap mereka yang tidak sepaham. Akibatnya, nama “Ahlussunnah Wal Jama’ah” menjadi “kabur”; khususnya bagi orang-orang awam yang bukan Ahl at-Tamyîz, hingga mereka tidak dapat membedakan antara keyakinan tauhid yang suci dengan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya) yang jelas menyesatkan.
Seringkali ketika “berselancar” di internet, penulis berdialog dengan beberapa orang yang “sangat ngotot” berkeyakinan bahwa Allah bertempat di atas arsy, lalu –dan ini yang sangat mengherankan– pada saat yang sama mereka juga ngotot mengatakan bahwa Allah bertempat di langit. Untuk ini kemudian mereka mengutip beberapa ayat dan hadits yang menurut mereka sebagai bukti kebenaran aqidah tersebut. Penulis mencoba menyederhanakan “problem mereka” dengan logika sederhana; “Bukankah arsy dan langit itu ciptaan Allah? Bila anda berkeyakinan arsy dan langit itu ciptaan Allah maka berarati menurut anda Allah berubah dari semula yang ada tanpa langit dan tanpa arsy menjadi bertempat pada kedua makhluk-Nya tersebut; lalu bukankah perubahan itu menunjukan kebaharuan? Bukankah pula arsy dan langit itu memiliki bentuk dan ukuran? Lalu anda sendiri mengatakan bahwa Allah berada di dua tempat; arsy dan langit?”. Logika-logika sederhana semacam inilah yang sengaja bahkan seringkali penulis ungkapkan untuk “menyehatkan” akal dan pikiran orang-orang yang memiliki problem di atas. Tapi alih-alih mereka mau berfikir, namun ternyata tuduhan “kafir”, “mu’ath-thil” (pengingkar sifat Allah) dan berbagai tuduhan lainnya yang diterima oleh penulis dari mereka, yang penulis sendiri tidak tahu persis apakah ungkapan-ungkapan semacam itu “senjata pamungkas” mereka? Nyatanya memang mereka mengutip beberapa ayat al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi untuk dijadikan dasar bagi keyakinan mereka, masalahnya ialah bahwa ayat-ayat tersebut tidak dipahami secara komprehensif, tidak dipahami secara kontekstual, dan bahkan pemahaman mereka jauh berseberangan dengan pemahaman para ulama terdahulu yang benar-benar kompeten dalam masalah tersebut. Inilah di antara yang mendorong penulis untuk membukukan buku ini.

• Benar, tulisan ini hanya menyentuh “setitik” persoalan saja dari lautan Ilmu Kalam, tetapi mudah-mudahan semua yang tertuang di dalamnya memiliki orientasi dan memberikan pencerahan, paling tidak dalam beberapa persoalan teologis. Hanya saja titik konsentrasi yang hendak penulis sampaikan kepada pembaca dari buku ini adalah esensi tauhid dengan aqidah tanzîh di dalamnya yang diintisarikan dari firman Allah dalam QS. Asy-Syura: 11; bahwa Allah tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya. Benar, Ilmu Kalam ini sangat luas, namun bukan untuk mengabaikan bahasan-bahasan pokok lainnya, penulis memandang bahwa pembahasan “Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah” untuk saat ini sangat urgen, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apa yang penulis ungkapkan pada poin nomor satu di atas tentang menyebarnya aqidah tasybîh benar-benar sudah sampai kepada batas yang sangat merisihkan dan mengkhawatirkan, bahkan –meminjam istilah guru-guru penulis– sebuah kondisi “yang tidak bisa membuat mata tertidur pulas”. Mudah-mudahan materi-materi lainnya menyangkut berbagai aspek Ilmu Kalam secara formulatif dapat segera dibukukan dalam bentuk bahasa Indonesia.
Pada dasarnya seluruh apa yang tertuang dalam buku ini bukan barang baru, dan setiap ungkapan yang tertuang di dalamnya secara orisinil penulis kutip dari tulisan para ulama dan referensi-referensi yang kompeten dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, setiap “klaim”, “kesimpulan”, maupun “serangan” terhadap faham-faham tertentu di dalam buku ini, semua itu bukan untuk tujuan apapun, kecuali untuk mendudukan segala persoalan secara proporsional sebagaimana yang telah dipahami oleh para ulama saleh terdahulu.

• Imam al-Hâfizh Abu Hafsh Ibn Syahin, salah seorang ulama terkemuka yang hidup sezaman dengan Imam al-Hâfizh ad-Daraquthni (w 385 H), berkata: “Ada dua orang saleh yang diberi cobaan berat dengan orang-orang yang sangat buruk dalam aqidahnya. Mereka menyandarkan aqidah buruk itu kepada keduanya, padahal keduanya terbebas dari aqidah buruk tersebut. Kedua orang itu adalah Ja’far ibn Muhammad dan Ahmad ibn Hanbal” .
Orang pertama, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq ibn Imam Muhammad al-Baqir ibn Imam Ali Zainal Abidin ibn Imam asy-Syahid al-Husain ibn Imam Ali ibn Abi Thalib, beliau adalah orang saleh yang dianggap oleh kaum Syi’ah Rafidlah sebagai Imam mereka. Seluruh keyakinan buruk yang ada di dalam ajaran Syi’ah Rafidlah ini mereka sandarkan kepadanya, padahal beliau sendiri sama sekali tidak pernah berkeyakinan seperti apa yang mereka yakini.
Orang ke dua adalah Imam Ahmad ibn Hanbal, salah seorang Imam madzhab yang empat, perintis madzhab Hanbali. Kesucian ajaran dan madzhab yang beliau rintis telah dikotori oleh orang-orang Musyabbihah yang mengaku sebagai pengikut madzhabnya. Mereka banyak melakukan kedustaan-kedustaan dan kebatilan-kebatilan atas nama Ahmad ibn Hanbal, seperti aqidah tajsîm, tasybîh, anti takwil, anti tawassul, anti tabarruk, dan lainnya, yang sama sekali itu semua tidak pernah diyakini oleh Imam Ahmad sendiri. Terlebih di zaman sekarang ini, madzhab Hanbali dapat dikatakan telah “hancur” karena dikotori oleh orang-orang yang secara dusta mengaku sebagai pengikutnya.

Akhirnya, dengan segala keterbatasan dan segala kekurangan yang terdapat dalam buku ini, penulis serahkan sepenuhnya kepada Allah. Segala kekurangan dan aib semoga Allah memperbaikinya, dan seluruh nilai-nilai yang baik dari buku ini semoga menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi seluruh orang Islam. Amin.
Wa Shallallâh Wa Sallam ‘Alâ Rasûlillâh.
Wa al-Hamd Lillâh Rabb al-‘Âlamîn.

Prolog; Latar Belakang
Bab I Kata Istawâ Dalam Tinjauan Terminologis
a. Penyebutan Kata Istawâ,_
b. Definisi Arsy,_
c. Makna Istawâ Dalam Tinjauan Bahasa,_
d. Pembahasan Terminologis,_
e. Istawâ Dalam Makna Istawlâ Dan Qahara,_
f. Tidak Semua Makna Istawlâ atau Qahara Berindikasi Sabq al-Mughâlabah,_
g. Penggunaan Kata “Tsumma” Dalam Beberapa Ayat Tentang Istawâ,_
h. Di Atas Arsy Terdapat Tempat,_
i. Makna Nama Allah “al-‘Alyy” Dan Kata“Fawq” Pada Hak-Nya,_
j. Di antara Ulama Ahlussunnah Dari Kalangan Ulama Salaf Dan Khalaf Yang Mentakwil Istawâ Dengan Istawlâ dan Qahara,_

Bab II Penjelasan Imam Empat Madzhab Tentang Makna Istawa
a. Penjelasan Imam Malik ibn Anas,_
b. Penjelasan Imam Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit,_
c. Penjelasan Imam asy-Syafi’i,_
d. Penjelasan Imam Ahmad ibn Hanbal,_

Bab III Jawaban Atas Kerancuan Faham Musyabbihah Dalam Pengingkaran Mereka Terhadap Tafsir Istawâ Dengan Istawlâ
a. Kerancuan Pertama; Pengingkaran Mereka Terhadap Ahli Bahasa,_
b. Kerancuan Kedua; Pemahaman Mereka Tentang Sabq al-Mughâlabah,_
c. Kerancuan ke Tiga; Pengingkaran Mereka Terhadap Sya’ir Tentang Basyr Ibn Marwan,_
d. Kerancuan Ke Empat; Pernyataan Mereka Bahwa Di Dalam Al-Qur’an Tidak Terdapat Penyebutan Kata Istawlâ (Menguasai),_
e. Kerancuan ke Lima; Faedah Penyebutan Arsy Secara Khusus Dalam Ayat-Ayat Tentang Istawâ,_
f. Kerancuan Ke enam; Pengingkaran Mereka Bahwa Tidak Ada Ulama Salaf Yang Mentakwil Istawâ Dengan Istawlâ,_
g. Kerancuan Ke tujuh; Mereka Menyerupakan Sifat Menguasai Basyr Ibn Marwan Dengan Sifat Menguasai (al-Qahr; al-Istîlâ) Pada Hak Allah,_
h. Kerancuan Ke Delapan; Pernyataan Mereka Bahwa Takwil Istawâ Dengan Istawlâ Adalah Faham Mu’tazilah,_
i. Kerancuan Ke Sembilan; Keyakinan Tasybih Utsaimin Dalam Menyerupakan Istawâ Pada Hak Allah Dengan Istawâ Pada Hak Makhluk,_
j. Kerancuan Ke Sepuluh; Mereka Mengatakan Bahwa Metodologi Takwil Sama Dengan Menafikan Sifat-Sifat Allah,_

Bab III Konsensus Akidah Tanzîh
a. Pernyataan Ulama Bahwa Allah Ada Tanpat Dan Tanpa Arah,_
b. Dalil Akal Kecusian Allah Dari Tempat Dan Arah,_
c. Pernyataan Ulama Ahlussunnah Bahwa Allah Tidak Boleh Dikatakan Berada Di Semua Tempat Atau Ada Di Mana-Mana,_
d. Langit Adalah Kiblat Doa,_
e. Pernyataan Ulama Ahlussunnah Tentang Kekufuran Orang Yang Menetapkan Tempat Bagi Allah,_

Penutup; Epilog_
Daftar Pustaka_

DAFTAR PUSTAKA

al-Qur-ân al-Karîm.
Abbas, Sirajuddin, I’tiqad Ahlusuunah Wal Jama’ah, 2002, Pustaka Tarbiyah, Jakarta
Abadi, al-Fairuz, al-Qâmûs al-Muhîth, Cet. Mu’assasah ar-Risalah, Bairut.
Abidin, Ibn, Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, Cet. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, Bairut.
Amidi, al, Saifuddin, Abkâr al-Afkâr,
Ashbahani, al, Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah (w 430 H), Hilyah al-Awliyâ’ Wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Dar al-Fikr, Bairut
Ashbahani, al, ar-Raghib al-Ashbahani, Mu’jam Mufradât Gharîb Alfâzh al-Qur-ân, tahqîq Nadim Mar’asyli, Bairut, Dar al-Fikr,
Asqalani, al, Ahmad Ibn Ibn Ali Ibn Hajar, Fath al-Bâri Bi Syarh Shahîh al-Bukhâri, tahqîq Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, Cairo: Dar al-Hadits, 1998 M
_________, ad-Durar al-Kâminah Fî al-Ayân al-Mi-ah ats-Tsâminah, Haidarabad, Majlis Da-irah al-Ma’arif al-Utsmaniyyah, cet. 2, 1972.
¬¬¬¬_________, al-Ishâbah Fî Tamyîz ash-Shahâbah, tahqîq Ali Muhammad Bujawi, Bairut, Dar al-Jail, cet. 1, 1992 M
_________, Tahdzîb at-Tahdzîb, Bairut, Dar al-Fikr, 1984 M.
_________, Lisân al-Mîzân, Bairut, Mu’assasah al-Alami Li al-Mathbu’at, 1986 M.
Asakir, Ibn; Abu al-Qasim Ali ibn al-Hasan ibn Hibatillah (w 571 H) Tabyîn Kadzib al-Muftarî Fîmâ Nusiba Ilâ Imam Abî al-Hasan al-Asy’ari, Dar al-Fikr, Damaskus.
Asy’ari, al, Ali ibn Isma’il al-Asy’ari asy-Syafi’i (w 324 H), Risâlah Istihsân al-Khaudl Fî ‘Ilm al-Kalâm, Dar al-Masyari’, cet. 1, 1415 H-1995 M, Bairut
Asy’ari, Hasyim, KH, ‘Aqîdah Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ’ah, Tebuireng, Jombang.
Azdi, al, Abu Dawud Sulaiman ibn al-Asy’ats ibn Ishaq as-Sijistani (w 275 H), Sunan Abî Dâwûd, tahqîq Shidqi Muhammad Jamil, Bairut, Dar al-Fikr, 1414 H-1994 M
Azhari, Isma’il al-Azhari, Mir-ât an-Najdiyyah, India
Baghdadi, al, Abu Manshur Abd al-Qahir ibn Thahir (W 429 H), al-Farq Bayn al-Firaq, Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. Tth.
_________, Kitâb Ushûl ad-Dîn, cet. 3, 1401-1981, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
¬¬_________, Tafsîr al-Asmâ’ Wa ash-Shifât, Turki.
Balabban, Ibn; Muhammad ibn Badruddin ibn Balabban ad-Damasyqi al-Hanbali (w 1083 H), al-Ihsân Bi Tartîb Shahîh Ibn Hibbân, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut
_________, Mukhtashar al-Ifâdât Fî Rub’i al-‘Ibâdât Wa al-Âdâb Wa Ziyâdât. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Bairut
Baghdadi, al, Abu Bakar Ahmad ibn Ali, al-Khathib, Târîkh Baghdâd, Bairut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t. th.
_________, al-Faqîh Wa al-Mutafaqqih, Cet. Dar al-Kutug al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Bayjuri, al, Tuhfah al-Murîd Syarh Jawhar at-Tawhîd, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Indonesia
Bayhaqi, al, Abu Bakar ibn al-Husain ibn ‘Ali (w 458 H), al-Asmâ’ Wa ash-Shifât, tahqîq Abdullah ibn ‘Amir, 1423-2002, Dar al-Hadits, Cairo.
_________, Syu’ab al-Îmân, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
_________, as-Sunan al-Kubrâ, Dar al-Ma’rifah, Bairut. t. th.
Bantani, al, Umar ibn Nawawi al-Jawi, Kâsyifah as-Sajâ Syarh Safînah an-Najâ, Maktabah Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, Indonesia, th.
_________, Salâlim al-Fudalâ Syarh Manzhûmah Kifâyah al-Atqiyâ’ Ilâ Thariq al-Awliyâ’, Syarikat al-Ma’arif Bandung, t. th.
Bakri, al, As-Sayyid Abu Bakar ibn as-Sayyid Ibn Syatha al-Dimyathi, Kifâyah al-Atqiyâ’ Wa Minhâj al-Ashfiyâ’ Syarh Hidâyah al-Adzkiyâ’. Syarikat Ma’arif, Bandung, t. th.
_________, Hâsyiyah I’ânah ath-Thâlibîn ‘Alâ Hall Alfâzh Fath al-Mu’in Li Syarh Qurrah al-‘Ayn Li Muhimmah ad-Dîn, cet. 1, 1418, 1997, Dar al-Fikr, Bairut.
Bayyadli, al, Kamaluddin Ahmad al-Hanafi, Isyârât al-Marâm Min ‘Ibârât Imam, tahqîq Yusuf Abd al-Razzaq, cet. 1, 1368-1949, Syarikah Maktabah Musthafa al-Halabi Wa Auladuh, Cairo.
Bukhari, al, Muhammad ibn Isma’il, Shahîh al-Bukhâri, Bairut, Dar Ibn Katsir al-Yamamah, 1987 M
Dahlan, Ahmad Zaini Dahlan, al-Futûhât al-Islâmiyyah, Cairo, Mesir, th. 1354 H
_________, ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, Cet. Musthafa al-Babi al-Halabi, Cairo, Mesir
Dawud, Abu; as-Sijistani, Sunan Abî Dâwûd, Dar al-Janan, Bairut.
Dawud, Abu; ath-Thayalisi, Musnad ath-Thayâlisiy, Cet. Dar al-Ma’rifah, Bairut
Dzahabi, adz-, Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman, Abu Abdillah, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, tahqîq Syua’ib al-Arna’uth dan Muhammad Nu’im al-Arqusysyi, Bairut, Mu’assasah ar-Risalah, 1413 H.
_________, Mîzân al-I’tidâl Fî Naqd al-Rijâl, tahqîq Muhammad Mu’awwid dan Adil Ahmad Abd al-Maujud, Bairut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1, 1995 M
_________, an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah, Bairut: Dar al-Masyari’, 1419 H-1998 M.
Dimyathi, ad, Abu Bakar as-Sayyid Bakri ibn as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, Kifâyah al-Atqiyâ’ Wa Minhâj al-Ashfiyâ’ Syarh Hidâyah al-Adzkiyâ’, Bungkul Indah, Surabaya, t. th.
Fayyumi, al, al-Mishbâh al-Munîr, Cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Ghazali, al, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ath-Thusi (w 505 H), Kitâb al-Arba’în Fî Ushûl ad-Dîn, cet. 1408-1988, Dar al-Jail, Bairut
_________, al-Maqshad al-Asnâ Syarh Asmâ’ Allâh al-Husnâ, t. th, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cairo
_________, Minhâj al-Âbidîn, t. th. Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, Indonesia
_________, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, Dar al-Fikr, Bairut.
Ghumari, al, as-Sayyid Ahmad ibn Muhammad ash-Shiddiq al-Hasani al-Maghribi, Abu al-Faidl, al-Mughîr ‘Alâ al-Ahâdîts al-Mawdlû’ah Fî al-Jâmi’ ash-Shaghîr, cet. 1, t. th. Dar al-‘Ahd al-Jadid
Hanbal, Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad, Dar al-Fikr, Bairut
Haytami, al, Ahmad Ibn Hajar al-Makki, Syihabuddin, al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah, t. th. Dar al-Fikr
_________, al-I’lâm Bi Qawâthi’ al-Islâm, cet. Dar al-Fikr, Bairut
Hakim, al, al-Mustadrak ‘Alâ al-Shahîhayn, Bairut, Dar al-Ma’rifah, t. th.
Habasyi, al, Abdullah ibn Muhammad ibn Yusuf, Abu Abdirrahman, al-Maqâlât as-Sunniyah Fî Kasyf Dlalâlât Ahmad Ibn Taimiyah, Bairut: Dar al-Masyari’, cet. IV, 1419 H-1998 M.
_________, asy-Syarh al-Qawîm Fî Hall Alfâzh ash-Shirât al-Mustaqîm, cet. 3, 1421-2000, Dar al-Masyari’, Bairut.
_________, ad-Dalîl al-Qawîm ‘Alâ ash-Shirâth al-Mustaqîm, Thubi’ ‘Ala Nafaqat Ahl al-Khair, cet. 2, 1397 H. Bairut
_________, ad-Durrah al-Bahiyyah Fî Hall Alfâzh al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, cet. 2, 1419-1999, Dar al-Masyari’, Bairut.
_________, Sharîh al-Bayân Fî ar-Radd ‘Alâ Man Khâlaf al-Qur-ân, cet. 4, 1423-2002, Dar al-Masyari’, Bairut.
_________, Izh-hâr al-‘Aqîdah as-Sunniyyah Fî Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, cet. 3, 1417-1997, Dar al-Masyari’, Bairut
_________, al-Mathâlib al-Wafiyyah Bi Syarh al-’Aqîdah an-Nasafiyyah, cet. 2, 1418-1998, Dar al-Masyari’, Bairut
_________, at-Tahdzîr asy-Syar’iyy al-Wâjib, cet. 1, 1422-2001, Dar al-Masyari’, Bairut.
Haddad, al, Abdullah ibn Alawi ibn Muhammad, Risâlah al-Mu’âwanah Wa al-Muzhâharah Wa al-Ma’âzarah, Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, Indonesia.
Haramain, al, Imam, Abu al-Ma’ali Abd al-Malik al-Juwaini, al-‘Aqîdah an-Nizhâmiyyah, ta’lîq Muhammad Zahid al-Kautsari, Mathba’ah al-Anwar, 1367 H-1948 M.
Hayyan, Abu Hayyan al-Andalusi, an-Nahr al-Mâdd Min al-Bahr al-Muhîth, Dar al-Jinan, Bairut.
Hibban, Ibn, ats-Tsiqât, Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, Bairut
Hushni, al, Taqiyyuddin Abu Bakar ibn Muhammad al-Husaini ad-Dimasyqi ( w 829 H), Kifâyah al-Akhyâr Fî Hall Ghâyah al-Ikhtishâr, Dar al-Fikr, Bairut. t. th.
_________, Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad Wa Nasab Dzâlik Ilâ Imam al-Jalîl Ahmad, al-Maktabah al-Azhariyyah Li at-Turats, t. th.
Imad, al, Ibn; Abu al-Falah ibn Abd al-Hayy al-Hanbali, Syadzarât adz-Dzahab Fî Akhbâr Man Dzahab, tahqîq Lajnah Ihya al-Turats al-‘Arabi, Bairut, Dar al-Afaq al-Jadidah, t. th.
Iraqi, al, Zaynuddin Abd ar-Rahim ibn al-Husain, Tharh at-Tatsrîb Fî Syarh at-Taqrîb, cet. Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Bairut.
Iyadl, Abu al-Fadl Iyyadl ibn Musa ibn ‘Iyadl al-Yahshubi, asy-Syifâ Bi Ta’rîf Huqûq al-Musthafâ, tahqîq Kamal Basyuni Zaghlul al-Mishri, Isyrâf Maktab al-Buhuts Wa al-Dirasat, cet. 1421-2000, Dar al-Fikr, Bairut.
Isfirayini, al, Abu al-Mudzaffar (w 471 H), at-Tabshîr Fî ad-Dîn Fî Tamyîz al-Firqah al-Nâjiyah Min al-Firaq al-Hâlikîn, ta’liq Muhammad Zahid al-Kautsari, Mathba’ah al-Anwar, cet. 1, th.1359 H, Cairo.
Jailani-al, Abd al-Qadir ibn Musa ibn Abdullah, Abu Shalih al-Jailani, al-Gunyah, Dar al-Fikr, Bairut
Jama’ah, Ibn, Muhammad ibn Ibrahim ibn Sa’adullah ibn Jama’ah dikenal dengan Badruddin ibn Jama’ah (w 727 H), Idlâh ad-Dalîl Fi Qath’i Hujaj Ahl al-Ta’thîl, tahqîq Wahbi Sulaiman Ghawaji, Dar al-Salam, 1410 H-1990 M, Cairo
Jawzi, al, Ibn; Abu al-Faraj Abd ar-Rahman ibn al-Jawzi (w 597 H), Talbîs Iblîs, tahqîq Aiman Shalih Sya’ban, Cairo: Dar al-Hadits, 1424 H-2003 M
¬¬_________, Daf’u Syubah at-Tasybîh Bi Akaff at-Tanzîh, tahqîq Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari, Muraja’ah DR. Ahmad Hijazi as-Saqa, Maktabah al-Kulliyyat al-Azhariyyah, 1412-1991
_________, Zad al-Masîr Fî ‘Ilm at-Tafsîr, Cet. Zuhair asy-Syawisy, Bairut.
Jawziyyah, al; Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Hâdî al-Arwâh Ilâ Bilâd al-Afrâh, Ramadi Li an-Nasyr, Bairut.
Kalabadzi-al, Muhammad ibn Ibrahim ibn Ya’qub al-Bukhari, Abu Bakar (w 380 H), at-Ta’arruf Li Madzhab Ahl al-Tashawwuf, tahqîq Mahmud Amin an-Nawawi, cet. 1, 1388-1969, Maktabah al-Kuliyyat al-Azhariyyah Husain Muhammad Anbabi al-Musawi, Cairo
Katsir, Ibn; Isma’il ibn Umar, Abu al-Fida, al-Bidâyah Wa an-Nihâyah, Bairut, Maktabah al-Ma’arif, t. th.
Kautsari, al, Muhammad Zahid ibn al-Hasan al-Kautsari, Takmilah ar-Radd ‘Alâ Nûniyyah Ibn al-Qayyim, Mathba’ah al-Sa’adah, Mesir.
_________, Maqâlât al-Kawtsari, Dar al-Ahnaf , cet. 1, 1414 H-1993 M, Riyadl.
Khalifah, Haji, Musthafa Abdullah al-Qasthanthini al-Rumi al-Hanafi al-Mulla, Kasyf al-Zhunûn ‘An Asâmi al-Kutub Wa al-Funûn, Dar al-Fikr, Bairut.
Khallikan, Ibn; Wafayât al-A’yân, Dar al-Tsaqafah, Bairut
Laknawi, al, Abu al-Hasanat Muhammad Abd al-Hayy al-Laknawi al-Hindi, ar-Raf’u Wa at-Takmîl Fî al-Jarh Wa at-Ta’dîl, tahqîq Abd al-Fattah Abu Ghuddah, cet. Dar al-Basya-r al-Islamiyyah, Bairut.
Majah, Ibn, Sunan, cet. al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Malik, ibn Anas, al-Muwath-tha-, cet. Dar asy-Sya’b, Cairo.
Manzhur, Ibn, al-Ifriqi, Lisân al-‘Arab, cet. Dar Shadir, Bairut.
Maqarri-al, Ahmad al-Maghrirbi al-Maliki al-Asy’ari, Idla-âh al-Dujunnah Fi I’tiqâd Ahl al-Sunnah, Dar al-Fikr, Bairut.
Maturidi, al, Abu Manshur, Kitâb al-Tawhîd, Dar al-Masyriq, Bairut
Malibari, al, Zainuddin Ibn Ali, Nadzm Hidâyah al-Adzkiyâ’, Syirkah Bukul Indah, Surabaya, t. th.
Makki, al, Tajuddin Muhammad Ibn Hibatillah al-Hamawi, Muntakhab Hadâ-iq al-Fushûl Wa Jawâhir al-Ushûl Fî ‘Ilm al-Kalâm ‘Alâ Ushul Abî al-Hasan al-Asy’ari, cet, 1, 1416-1996, Dar al-Masyari’, Bairut
Mayyarah, Ahmad Mayyarah, ad-Durr at-Tsamîn Wa al-Mawrid al-Mu’în Syarh al-Mursyid al-Mu’în ‘Alâ adl-Dlarûriyy Min ‘Ilm ad-Dîn, cet. Dar al-Fikr, Bairut.
Mizzi, al, Tahdzîb al-Kamâl Fî Asmâ’ ar-Rijâl, Mu’assasah ar-Risalah, Bairut.
Mutawalli, al, al-Ghunyah Fî Ushûl ad-Din, Mu’assasah al-Kutub ats-Tsaqafiyyah, Bairut.
Muslim, Muslim ibn al-Hajjaj, Shahîh Muslim, Cat. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, Bairut.
Nabhani, al, Yusuf Isma’il, Jâmi’ Karâmât al-Awliyâ’, Dar al-Fikr, Bairut
Naisaburi, al, Muslim ibn al-Hajjaj, al-Qusyairi (w 261 H), Shahîh Muslim, tahqîq Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, Bairut, Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1404
Nawawi, al, Yahya ibn Syaraf, Muhyiddin, Abu Zakariya, al-Minhâj Bi Syarh Shahîh Muslim Ibn al-Hajjâj, Cairo, al-Maktab ats-Tsaqafi, 2001 H.
_________, Rawdlah at-Thâlibîn, cet. Dar al-Fikr, Bairut.
Najdi, an, Muhammad ibn Humaid an-Najdi, as-Suhub al-Wâbilah ‘Alâ Dlarâ-ih al-Hanâbilah, Cet. Maktabah Imam Ahmad.
Qari, al, Ali Mulla al-Qari, Syarh al-Fiqh al-Akbar, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut
Qadli, al, Samir, Mursyid al-Hâ-ir Fî Hall Alfâzh Risâlah Ibn ‘Asâkir, cet. I, 1414 H-1994 M, Dar al-Masyari’, Bairut
Qath-than, Ibn, Abu al-Hasan Ali ibn al-Qath-than (w 628 H), an-Nazhar Fî Ahkâm an-Nazhar Bi Hâssah al-Bashar, tahqîq Muhammad Abu al-Ajfan, Cet. Maktabah at-Taubah, Riyadl
Qusyairi, al, Abu al-Qasim Abd al-Karim ibn Hawazan an-Naisaburi, ar-Risâlah al-Qusyairiyyah, tahqîq Ma’ruf Zuraiq dan ‘Ali Abd al-Hamid Balthahji, Dar al-Khair.
Qurthubi, al, al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, Dar al-Fikr, Bairut
Rifa’i, ar, Abu al-Abbas Ahmad ar-Rifa’i al-Kabîr ibn al-Sulthan Ali, Maqâlât Min al-Burhân al-Mu’ayyad, cet. 1, 1425-2004, Dar al-Masyari’, Bairut.
Razi, ar, Fakhruddin ar-Razi, at-Tafsîr al-Kabîr Wa Mafâtîh al-Ghayb, Dar al-Fikr, Bairut
Sarraj, as, Abu Nashr, Al-Luma’, tahqîq Abd al-Halim Mahmud dan Thaha Abd al-Baqi Surur, Maktabah ats-Tsaqafah al-Diniyyah, Cairo Mesir
Syafi’i, asy, Muhammad ibn Idris ibn Syafi’ (w 204 H), al-Kawkab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, al-Maktabah al-Tijariyyah Mushthafa Ahmad al-Baz, Mekah, t. th.
Sya’rani, as, Abd al-Wahhab, ath-Thabaqat al-Qubra, Maktabah al-Taufiqiyyah, Amam Bab al-Ahdlar, Cairo Mesir.
_________, al-Yawâqît Wa al-Jawâhir Fî Bayân ‘Aqâ-id al-Akâbir, t. th, Mathba’ah al-Haramain.
_________, al-Kibrît al-Ahmar Fî Bayân ‘Ulum asy-Syaikh al-Akbar, t. th, Mathba’ah al-Haramain.
_________, al-Anwâr al-Qudsiyyah al-Muntaqat Min al-Futûhât al-Makkiyyah, Bairut, Dar al-Fikr, t. th.
_________, Lathâ-if al-Minan Wa al-Akhlâq, Alam al-Fikr, Cairo
Subki, as, Taqiyyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki, as-Sayf ash-Shaqîl Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Zafîl, Mathba’ah al-Sa’adah, Mesir.
_________, ad-Durrah al-Mudliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah, dari manuskrif Muhammad Zahid al-Kautsari, cet. Al-Qudsi, Damaskus, Siria, th. 1347
_________, al-I’tibâr Bi Baqâ’ al-Jannah Wa an-Nâr, dari manuskrif Muhammad Zahid al-Kautsari, cet. Al-Qudsi, Damaskus, Siria, th. 1347
Subki, as, Tajuddin Abd al-Wahhab ibn Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, tahqîq Abd al-Fattah dan Mahmud Muhammad ath-Thanahi, Bairut, Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah.
Subki, as, Mahmud, Ithâf al-Kâ-inât Bi Bayân Madzhab as-Salaf Wa al-Khalaf Fi al-Mutasyâbihât, Mathba’ah al-Istiqamah, Mesir
Suhrawardi, as, Awârif al-Ma’ârif, Dar al-Fikr, Bairut
Syakkur, asy, Abd, Senori, KH, al-Kawâkib al-Lammâ’ah Fî Bayân ‘Aqîdah Ahl al-Sunnah Wa al-Jamâ’ah
Syahrastani, asy, Muhammad Abd al-Karim ibn Abi Bakr Ahmad, al-Milal Wa an-Nihal, ta’lîq Shidqi Jamil al-‘Athar, cet. 2, 1422-2002, Dar al-Fikr, Bairut.
Sulami, as, Abu Abd ar-Rahman Muhammad Ibn al-Husain (w 412 H), Thabaqât ash-Shûfiyyah, tahqîq Musthafa Abd al-Qadir Atha, Mansyurat Ali Baidlun, cet. 2, 1424-2003, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Suyuthi, as, Jalaluddin Abd ar-Rahman ibn Abi Bakr, al-Hâwî Li al-Fatâwî, cet. 1, 1412-1992, Dar al-Jail, Bairut.
¬¬¬¬¬¬¬¬¬_________, ad-Durr al-Mantsûr Fî at-Tafsîr al-Ma’tsûr, Dar al-Fikr, Bairut.
Tabban, Arabi (Abi Hamid ibn Marzuq), Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, Mathba’ah al-‘Ilm, Damaskus, Siria, th. 1968 M-1388 H
Taimiyah, Ibn; Ahmad ibn Taimiyah, Minhâj as-Sunnah an-Nabawiyyah, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
¬¬¬_________, Muwâfaqah Sharîh al-Ma’qûl Li Shahîh al-Manqûl, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
_________, Syarh Hadîts an-Nuzûl, Cet. Zuhair asy-Syawisy, Bairut.
_________, Majmû Fatâwâ, Dar ‘Alam al-Kutub, Riyadl.
_________, Naqd Marâtib al-Ijmâ’ Li Ibn Hazm, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
_________, Bayân Talbîs al-Jahmiyyah, Mekah.
Thabari, ath, Târîkh al-Umam Wa al-Mulûk, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
_________, Tafsîr Jâmi’ al-Bayân ‘An Ta-wîl Ây al-Qur-ân, Dar al-Fikr, Bairut
Tim Pengkajian Keislaman Pada Jam’iyyah al-Masyari al-Khairiyyah al-Islamiyyah, al-Jawhar ats-Tsamîn Fî Ba’dl Man Isytahar Dzikruh Bayn al-Muslimîn, Bairut, Dar al-Masyari’, 1423 H, 2002 M.
_________, at-Tasyarruf Bi Dzikr Ahl at-Tashawwuf, Bairut, Dar al-Masyari, cet. I, 1423 H-2002 M
Thabarani, ath, Sulaiman ibn Ahmad ibn Ayyub, Abu Sulaiman (w 360 H), al-Mu’jam ash-Shagîr, tahqîq Yusuf Kamal al-Hut, Bairut, Muassasah al-Kutuh al-Tsaqafiyyah, 1406 H-1986 M.
_________, al-Mu’jam al-Awsath, Bairut, Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah.
_________, al-Mu’jam al-Kabîr, Bairut, Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah.
Tirmidzi, at, Muhammad ibn Isa ibn Surah as-Sulami, Abu Isa, Sunan at-Tirmidzi, Bairut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t. th.
Zabidi, az, Muhammad Murtadla al-Husaini, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn Bi Syarh Ihyâ’ Ulûm al-Dîn, Bairut, Dar at-Turats al-‘Arabi
¬¬_________, Tâj al-‘Arûs Syarh al-Qâmûs, Cet. al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Zurqani, az, Abu Abdillah Muhammad ibn Abd al-Baqi az-Zurqani (w 1122 H), Syarh az-Zurqâni ‘Alâ al-Muwatha’, Dar al-Ma’rifah, Bairut.

Data Penyusun

H. Kholilurrohman Abu Fateh, Lc, MA, lahir di Subang 15 November 1975, Dosen Unit Kerja Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (DPK/Diperbantukan di STAI Al-Aqidah al-Hasyimiyyah Jakarta). Jenjang pendidikan formal dan non formal, di antaranya; Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta (1993), Institut Islam Daarul Rahman (IID) Jakarta (S1/Syari’ah Wa al-Qanun) (1998), STAI az-Ziyadah Jakarta (S1/Ekonomi Islam) (2002), Pendidikan Kader Ulama (PKU) Prop. DKI Jakarta (2000), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (S2/Tafsir dan Hadits) (2005), Tahfîzh al-Qur’an di Pondok Pesantren Manba’ul Furqon Leuwiliang Bogor (Non Intensif), “Ngaji face to face” (Tallaqqî Bi al-Musyâfahah) untuk mendapatkan sanad beberapa disiplin ilmu kepada beberapa Kiyai dan Haba-ib di wilayah Jawa Barat, Banten, dan khususnya di wilayah Prop. DKI Jakarta. Khâdim pada Syabab Ahlussunnah Wal Jama’ah (Syahamah) Jakarta, sebuah organisasi yang aktif membela aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah; al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Selain sebagai dosen juga mengajar di beberapa Pondok Pesantren dan memimpin beberapa Majalis ‘Ilmiyyah di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sekarang tengah menyelesaikan jenjang S3 (Doktor) di UIN Syarif Haidayatullah Jakarta pada konsentrasi Tafsir Dan Hadits.
Ijâzah sanad (mata rantai) keilmuan yang telah didapat di antaranya; dalam seluruh karya Syekh Nawawi al-Bantani dari KH. Abdul Jalil (Senori Tuban); dari KH. Ba Fadlal; dari KH. Abdul Syakur; dari Syekh Nawawi Banten. KH. Ba Fadlal selain dari KH. Abdul Syakur, juga mendapat sanad dari KH. Hasyim Asy’ari (Tebuireng); dari Syekh Nawawi Banten.
Kemudian dalam seluruh disiplin ilmu Islam; mendapatkan Ijâzah ‘Âmmah dari KH. Abdul Hannan Ma’shum (Kediri); dari KH. Abu Razin Muhammad Ahmad Sahal Mahfuzh (Pati); dari KH. Zubair ibn Dahlan (Sarang) dan al-Musnid Syekh Yasin al-Padani. Secara khusus; Syekh Yasin al-Padani telah membukukan seluruh sanad beliau (ats-Tsabt) di antaranya dalam kitab “al-‘Iqd al-Farîd Min Jawâhir al-Asânîd”.

Nasihat adzahabi kepada Gurunya Ibnu Taimyah : Letter from al-Dhahabi to his former sheikh, Ibn Taymiyya

an-Nasihah al-Dhahabia li ibn Taymiyya


Bukti Scan; Menohok Wahabi

Al-Hâfizh adz-Dzahabi ini adalah murid dari Ibn Taimiyah. Walaupun dalam banyak hal adz-Dzahabi mengikuti faham-faham Ibn Taimiyah, –terutama dalam masalah akidah–, namun ia sadar bahwa ia sendiri, dan gurunya tersebut, serta orang-orang yang menjadi pengikut gurunya ini telah menjadi bulan-bulanan mayoritas umat Islam dari kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah pengikut madzhab al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari. Kondisi ini disampaikan oleh adz-Dzahabi kepada Ibn Taimiyah untuk mengingatkannya agar ia berhenti dari menyerukan faham-faham ekstrimnya, serta berhenti dari kebiasaan mencaci-maki para ulama saleh terdahulu. Untuk ini kemudian adz-Dzahabi menuliskan beberapa risalah sebagai nasehat kepada Ibn Taimiyah, sekaligus hal ini sebagai “pengakuan” dari seorang murid terhadap kesesatan gurunya sendiri. Risalah pertama berjudul Bayân Zghl al-‘Ilm Wa ath-Thalab, dan risalah kedua berjudul an-Nashîhah adz-Dzhabiyyah Li Ibn Taimiyah.

Dalam risalah Bayân Zghl al-‘Ilm, adz-Dzahabi menuliskan ungkapan yang diperuntukan bagi Ibn Taimiyah sebagai berikut [Secara lengkap dikutip oleh asy-Syaikh Arabi at-Tabban dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, lihat kitab j. 2, h. 9/ bukunya ada sama saya]:

“Hindarkanlah olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu jika engkau selamat dari ilmumu sendiri karena engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari musuhmu atau engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari dirimu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya, dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibn Taimiyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian, dan terhadap perempuan. Kemudian ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun. Sungguh saya telah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifatnya (Ibn Taimiyah) ini hingga saya merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata saya medapatinya mengapa ia dikucilkan oleh para penduduk Mesir dan Syam (sekarang Siria, lebanon, Yordania, dan Palestina) hingga mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya, dan bahkan mengkafirkannya, adalah tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan, dan karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka. Anda lihat sendiri, alangkah besar bencana yang ditimbulkan oleh sikap “ke-aku-an” dan sikap kecintaan terhadap kehormatan semacam ini!”.

Adapun nasehat adz-Dzahabi terhadap Ibn Taimiyah yang ia tuliskan dalam risalah an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah, secara lengkap dalam terjemahannya sebagai berikut [Teks lebih lengkap dengan aslinya lihat an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah dalam dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, j. 2, h. 9-11]:

“Segala puji bagi Allah di atas kehinaanku ini. Ya Allah berikanlah rahmat bagi diriku, ampunilah diriku atas segala kecerobohanku, peliharalah imanku di dalam diriku.

Oh… Alangkah sengsaranya diriku karena aku sedikit sekali memiliki sifat sedih!!

Oh… Alangkah disayangkan ajaran-ajaran Rasulullah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya telah banyak pergi!!

Oh… Alangkah rindunya diriku kepada saudara-saudara sesama mukmin yang dapat membantuku dalam menangis!!

Oh… Alangkah sedih karena telah hilang orang-orang (saleh) yang merupakan pelita-pelita ilmu, orang-orang yang memiliki sifat-sifat takwa, dan orang-orang yang merupakan gudang-gudang bagi segala kebaikan!!

Oh… Alangkah sedih atas semakin langkanya dirham (mata uang) yang halal dan semakin langkanya teman-teman yang lemah lembut yang menentramkan. Alangkah beruntungnya seorang yang disibukan dengan memperbaiki aibnya sendiri dari pada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang disibukan dengan mencari-cari aib orang lain dari pada ia memperbaiki aibnya sendiri.
Sampai kapan engkau (Wahai Ibn Taimiyah) akan terus memperhatikan kotoran kecil di dalam mata saudara-saudaramu, sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri?!

Sampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji-muji pikiran-pikiranmu sendiri, atau hanya memuji-muji ungkapan-ungkapanmu sendiri?! Engkau selalu mencaci-maki para ulama dan mencari-cari aib orang lain, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyebut-menyebut orang-orang yang telah mati di antara kalian kecuali dengan sebutan yang baik, karena sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang telah mereka perbuat”.
Benar, saya sadar bahwa bisa saja engkau dalam membela dirimu sendiri akan berkata kepadaku: “Sesungguhnya aib itu ada pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak pernah merasakan kebenaran ajaran Islam, mereka betul-betul tidak mengetahui kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, memerangi mereka adalah jihad”. Padahal, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan, yang apa bila kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan maka seorang manusia akan menjadi sangat beruntung. Dan sungguh, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal (tidak mengerjakan) kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan) yang sama sekali tidak memberikan manfa’at kepada diri mereka. Dan sesungguhnya (Sabda Rasulullah); “Di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang adalah apa bila ia meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfa’at bagi dirinya”. (HR. at-Tirmidzi)

Hai Bung…! (Ibn Taimiyah), demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen dan tajam lidah, engkau tidak pernah mau diam dan tidak tidur. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu (Nabi Muhammad) sangat membenci dan mencaci perkara-perkara [yang ekstrim]. Nabimu melarang kita untuk banyak bertanya ini dan itu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang paling ditakutkan yang aku khawatirkan atas umatku adalah seorang munafik yang tajam lidahnya”. (HR. Ahmad)

Jika banyak bicara tanpa dalil dalam masalah hukum halal dan haram adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras, maka terlebih lagi jika banyak bicara dalam ungkapan-ungkapan [kelompok yang sesat, seperti] kaum al-Yunusiyyah, dan kaum filsafat, maka sudah sangat jelas bahwa itu akan menjadikan hati itu buta.

Demi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan terus berbicara hanya mengungkap kekufuran-kekufuran kaum filsafat supaya kita bisa membantah mereka dengan logika kita??

Hai Bung…! Padahal engkau sendiri telah menelan berbagai macam racun kaum filsafat berkali-kali. Sungguh, racun-racun itu telah telah membekas dan menggumpal pada tubuhmu, hingga menjadi bertumpuk pada badanmu.

Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya diisi dengan tilâwah dan tadabbur, majelis yang isinya menghadirkan rasa takut kepada Allah karena mengingt-Nya, majelis yang isinya diam dalam berfikir.

Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguhnya, ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya maka akan turun rahmat Allah. Bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu disebut-sebut namanya maka mereka dihinakan, dilecehkan, dan dilaknat.

Pedang al-Hajjaj (Ibn Yusuf ats-Tsaqafi) dan lidah Ibn Hazm adalah laksana dua saudara kandung, yang kedua-duanya engkau satukan menjadi satu kesatuan di dalam dirimu. (Engkau berkata): “Jauhkan kami dari membicarakan tentang “Bid’ah al-Khamîs”, atau tentang “Akl al-Hubûb”, tetapi berbicaralah dengan kami tentang berbagai bid’ah yang kami anggap sebagai sumber kesesatan”. (Engkau berkata); Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid, barangsiapa tidak mengetahuinya maka dia seorang yang kafir atau seperti keledai, dan siapa yang tidak mengkafirkan orang semacam itu maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari pada kekufuran Fir’aun. (Engkau berkata); Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita. Demi Allah, [ajaran engkau ini] telah menjadikan banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat.

Oh… Alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (az-Zandaqah) dan kekufuran, terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah seorang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas, dan bersyahwat besar, namun ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakekatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuatan dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibn Taimiyah), bahwa mayoritas pengikutmu tidak lain kecuali orang-orang yang “terikat” (orang-orang bodoh) dan lemah akal?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah orang pendusta yang berakal tolol?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah aneh yang serampangan, dan tukang membuat makar?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah seorang yang [terlihat] ahli ibadah dan saleh, namun sebenarnya dia adalah seorang yang tidak paham apapun?! Kalau engkau tidak percaya kepadaku maka periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!

Wahai Muslim (yang dimaksud Ibn Taimiyah), adakah layak engkau mendahulukan syahwat keledaimu yang selalu memuji-muji dirimu sendiri?! Sampai kapan engkau akan tetap menemani sifat itu, dan berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi?! Sampai kapan engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan?!
Sampai kapan engkau hanya akan mengagungkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan)?!

Sampai kapan engkau akan terus bersahabat dengan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi?!

Sampai kapan engkau hanya akan memuji-muji pernyataan-pernyataan dirimu sendiri dengan berbagai cara, yang demi Allah engkau sendiri tidak pernah memuji hadits-hadits dalam dua kitab shahih (Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim) dengan caramu tersebut?!

Oh… Seandainya hadits-hadits dalam dua kitab shahih tersebut selamat dari keritikmu…! Tetapi sebalikanya, dengan semaumu engkau sering merubah hadits-hadits tersebut, engkau mengatakan ini dla’if, ini tidak benar, atau engkau berkata yang ini harus ditakwil, dan ini harus diingkari.
Tidakkah sekarang ini saatnya bagimu untuk merasa takut?! Bukankah saatnya bagimu sekarang untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah)?! Bukankah engkau sekarang sudah dalam umur 70an tahun, dan kematian telah dekat?! Tentu, demi Allah, aku mungkin mengira bahwa engkau tidak akan pernah ingat kematian, sebaliknya engkau akan mencaci-maki seorang yang ingat akan mati! Aku juga mengira bahwa mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nesehatku ini, sebaliknya engkau akan tetap memiliki keinginan besar untuk membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid, dan engkau akan merinci bagiku berbagai rincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang, sehingga aku sendiri akan berkata kepadaku: “Sekarang, sudah cukup, diamlah…!”.
Jika penilaian terhadap dirimu dari diri saya seperti ini, padahal saya sangat menyangi dan mencintaimu, maka bagaimana penilaian para musuhmu terhadap dirimu?! Padahal para musuhmu, demi Allah, mereka adalah orang-orang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka, sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol, dan para pengangguran yang tidak berilmu.

Aku sangat ridla jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasehatku ini. “Sungguh Allah telah memberikan rahmat kepada seseorang, jika ada orang lain yang menghadiahkan (memperlihatkan) kepadanya akan aib-aibnya”. Karena memang saya adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya saya jika saya tidak bertaubat. Alangkah celaka saya jika aib-aibku dibukakan oleh Allah yang maha mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya, dan hidayah-Nya.

Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para Nabi, atas keluarganya, dan para sahabatnya sekalian.

english version:

Letter from al-Dhahabi to his former sheikh, Ibn Taymiyya

Letter from al-Dhahabi to his former sheikh, Ibn Taymiyya al-Nasihah al-Dhahabia li ibn Taymiyya (Sincere Advice to Ibn Taymiyya, Maktab al-Misria 18863)

“In the Name of Allah Most Merciful and Compassionate. Praise be to Allah for my lowliness. O Lord, have mercy on me, diminish my mistakes, and preserve my Iman for me. What sadness at my lack of sadness; what sorrow over the sunna and the departure of its people; what longing for believing brothers to share with me in weeping; what grief over the loss of people who were light-giving lamps of Sacred Knowledge, men of taqwa, and treasure-troves of every good; alas for not finding a dirhem that is halaal or a brother who is loving. Great good tidings to him whose own faults divert him from those of others, and woe to whom the faults of others divert him from his own. How long will you see the speck in your brother’s eye and forget the log in your own? How long will you praise yourself, your prattle, your style, while blaming religious scholars and searching out people’s shameful points, knowing as you do that the Prophet (Allah bless him and give him peace) forbade it saying: “Mention not your dead save with good, for they have gone onto what they have sent ahead.” Of course, I realise that you will defend yourself by telling me the attacks are only for those who’ve never smelled the scent of Islam and don’t know what Muhammad (Allah bless him and give him peace) brought and that is your jihad. Not so, by Allah those who you attack know what is even better than the amount that suffices if the servant acts on it to make him succeed. Moreover, they are ignorant of a great deal that does not concern them. And “the excellence of a person’s Islam includes leaving what does not concern him.” By Allah man! Give us respite from you, for you are an eloquent polemicist who neither rests nor sleeps. Beware of doubt-creating, problematic religious questions. Our Prophet (Allah bless him and give him peace) was offended by too many questions, found fault with them, and forbade excessive asking. He also said: “The thing I fear most for my people is the eloquent hypocrite.” Too much talking, if free of mistakes, hardens the heart when it concerns the halaal and haraam. So how should it be when it concerns the words of the Yunusiyya, the philosophers, and expressions of kufr, which make hearts go blind? By Allah, we’ve become a laughing stock in existence. How long will you disinter the details of philosophical expressions of kufr for us to refute with our minds? You’ve swallowed, man, the poison of the philosophers and of their works more than once; and by too much using of a poison one’s constitution gets addicted. It collects, by Allah, in the body. O, what longing for a group among whom the Qur’an is recited with reflection, where awe is experienced through its meditation, where there is silence from its contemplation. O, what longing for an assembly where the pious are mentioned, for mercy descends where the righteous people are remembered, not where the righteous are spoken of with contempt and curses. The sword of al-Hajjaj and the tongue of Ibn Hazm were brothers [ie no Muslims was safe from them], and now you have joined the family. By Allah, give us a break from talking about “the bid`a of Thursday”, and “eating the grains”, and rather make a serious effort to remember the bid`as we used to consider the source of all misguidance, which have now become the “genuine sunna” and the “basis of tawhid”, and whoever doesn’t know them is a Kafir, or a donkey, and whoever doesn’t call him a Kafir is a bigger Kafir than Pharaoh. You consider the very Christians like us. By Allah, there are misgivings in hearts. You are fortunate if your faith in the two shahadahs has remained unscathed. Oh the disappointment of him who follows you, for he is exposed to corruption in basic beliefs and to dissolution. Particularly if he is short of learning and religion, a self-indulgent idler who does well for you by fighting on your behalf with his hand and tongue, while he is actually your enemy in his being and heart. What are your followers but hidebound do-nothings of little intelligence, common liars with dull minds, silent outlanders strong in guile, or dryly righteous without understanding? If you don’t believe it, just look at them and honestly assess them. The donkey of your lusts, O Muslim, has stepped forward to applaud your self. How long will you dote on your ego and attack the finest people? How long will you credit it, and disdain the pious? How long will you exalt it, and despise the devotees? How long will you be its closest friend, and detest the abstinent? How long will you praise your own words in a manner you do not even use for the Sahihs of Bukhari and Muslim? Would that the hadiths of the two Sahihs were safe from you, as you continually attack them, by suggesting weakness, considering them fair game, or with figurative explanations and denial. Hasn’t the time come to give up? Is it not it time to repent and atone? Aren’t you at that tenth of a man’s life when he reaches seventy years and the final departure has drawn near? Indeed, By Allah, I don’t recall that you remember death much. You sneer at whoever remembers death. So I don’t think you’ll take to my words or hear my exhortation. You will, instead, probably show great energy and concern to demolish this piece of paper with weighty volumes, snipping off the ends of my sentences for me until you gain the upper hand and can close the argument with a triumphant “…at all. And he was silent.” If this is how you stand in my eyes, and I am someone sympathetic to you, fond and affectionate, how do you think you stand with your enemies? By Allah among your enemies, there are the righteous and intelligent men and virtuous ones, just as among your friends there are the wicked, liars, ignoramuses, layabouts, the vile, and cattle. I can accept that you should publicly disparage me, while secretly benefiting from what I have said. “May Allah have mercy on the man who shows me my faults” [words attributed to `Umar (Allah be pleased with him)]. For I have many faults and sins, and woe to me if I myself do not repent, and how enormous my disgrace from Him who knows the Hidden. The sole remedy for me is the forgiveness of Allah and His clemency, His giving success and His guidance. Praise be to Allah, Lord of the worlds. Allah bless our lieglord Muhammad, the Last of the Prophets, his folk and companions one and all.”

وقد قال الحافظ السخاوي في الإعلان والتوبيخ لمن ذم التاريخ: وقد وقفت للذهبي على رسالة مجيدة وجهها إلى ابن تيمية يردعه فيها عن غوايته.

Dalil Asawad al adham (Mayority ulama islam & Muslimin) adalah sunni 4 madzab = golongan yang selamat

Kesimpulan Penjelasan Tentang As-Sawad Al-A’zhom (1)

Kesimpulan Penjelasan Tentang “As-Sawad Al-A’zhom” – 1
Oleh al-Fadhil Ustaz Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin al-Azhari asy-Syadhuli

Pendahuluan

Allah s.w.t. sentiasa merahmati umat Islam dengan menjaga ketulenan dan keaslian ajaran agama mereka sepanjang zaman. Oleh yang demikian, ketika Allah s.w.t. menyampaikan wahyu Al-Qur’an kepada Rasulullah –shollallahu ‘alahi wasallam-, Allah s.w.t. juga menegaskan bahawasanya Dia juga akan menjaga Al-Qur’an tersebut. Antara cara Allah s.w.t. menjaga Al-Qur’an adalah dengan melahirkan dalam setiap generasi umat Islam, ada para ulama’ dan ahli ilmu yang sentiasa menjaganya dari sudut lafaz mahupun maknanya.

Imam Al-Razi r.a. menyebut dalam tafsirnya terhadap ayat ke-9 daripada Surah Al-Hijr, bahawasanya, antara cara Allah s.w.t. menjaga Al-Qur’an adalah dengan menjadikan para sahabat r.a. menyusun Al-Qur’an dalam satu Mashaf. Begitulah seterusnya, di mana muncul ramai ulama’ muktabar terus menjaga isi kandungan Al-Qur’an dari sudut lafaz mahupun maknanya. Penjagaan terhadap sumber dan kefahaman sahih Islam bukan terbatas kepada sesuatu zaman sahaja, tetapi akan terus terpelihara sehinggalah akhir zaman.

Antara konsep yang wujud dalam institusi keilmuan Islam yang menjaga kefahaman sahih terhadap agama Islam melalui sumbernya adalah konsep As-Sawad Al-A’zhom. Konsep ini adalah suatu konsep yang disebutkan sendiri oleh Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam-. Sesetengah pihak cuba memalingkan konsep ini daripada maknanya yang asal kerana mereka sudah menyalahi konsep itu sendiri. Mereka cuba menjadikan keganjilan (syaz) mereka sebagai kebenaran dan majoriti ulama’ Islam yang berbeza dengan mereka sebagai golongan yang sesat.

Penulis yang faqir telah menyusun sebuah risalah yang mengandungi perbahasan terperinci mengenai As-Sawad Al-A’zhom dalam sebuah siri perbahasan berjudul “Ilmu Warisan Nabawi Merentasi Zaman”. Ini kerana, ianya merupakan suatu konsep yang perlu difahami menerusi perkembangan bidang keilmuan Islam di sisi para ulama’ secara menyeluruh. Namun di sini, disebabkan permintaan beberapa teman yang jujur dalam inginkan penjelasan, penulis mengambil sebahagian tulisan tersebut dan meringkaskannya serta menambah beberapa perbahasan bagi menumpukan topik As-Sawad Al-A’zhom ini secara lebih khusus. Para pembaca boleh merujuk kepada tulisan asal “Ilmu Warisan Nabawi Merentasi Zaman (siri kedua)” yang berjudul: “As-Sawad Al-A’zhom dalam Tradisi Keilmuan Islam”.

Begitu juga dengan tulisan-tulisan sebelum itu yang mungkin mengandungi banyak kelemahan yang perlu diperbaiki. Antaranya adalah seperti tulisan berjudul Mafhum Al-Jamaah dalam Neraca As-Sunnah.

As-Sawad Al-A’zhom dalam Institusi Ulama’ Islam

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mewariskan sumber agama iaitulah Al-Qur’an dan As-Sunnah dan mewariskan juga manhaj dalam berinteraksi dengan nas-nas Islam tersebut kepada para sahabat r.a. [rujuk hadith tentang Saidina Mu’az bin Jabal r.a. yang diutuskan ke Yaman]. Maka, para sahabat r.a. mewariskannya pula kepada para ulama’ pada generasi setelah mereka sehingggalah ianya diwarisi secara silsilah dalam suatu tradisi pembelajaran Islam yang sempurna sebagaimana telah disebutkan tadi.

Maka, antara ciri-ciri keistimewaan umat Islam adalah, para ulama’ yang mewarisi ilmu nabawi dengan jalan warisan yang muktabar (sistem talaqqi bersanad) tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Janji ini telah dijelaskan sendiri oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Bahkan, ketika berlakunya perpecahan dalam perkara-perkara usul, maka kebenaran tetap bersama majoriti ulama’ Islam yang mewarisi ilmu nabawi dengan manhaj pengajian ilmu agama yang sahih. Golongan majoriti ulama’ Islam tersebutlah dikenali sebagai As-Sawad Al-A’zhom atau Ahlus-Sunnah wal Jamaah.

Jika kita singkapi kitab-kitab sejarah, Tabaqat, Tarikh dan sebagainya yang menceritakan tentang perkembangan institusi ulama’ dalam masyarakat Islam, maka kita akan dapati majoriti ulama’ berpegang teguh dengan dasar kesepakatan asas (usul) yang sama dan tidak saling bertentangan antara mereka secara meluas. Perselisihan hanya pendapat dan ikhtilaf berlaku dalam perkara-perkara cabang atau bersumberkan sumber yang zhonni (tidak muktamad) samada dalam aqidah mahupun syariat. Pertembungan kuat dalam perkara usul yang berlaku dalam wacana ilmiah adalah melibatkan golongan As-Sawad Al-A’zhom dengan golongan pinggiran (syaz) yang sesat atau terseleweng daripada manhaj ilmiah Islam yang sebenar, di sepanjang zaman.

As-Sawad Al-A’zhom dalam Neraca As-Sunnah

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لا يجمع الله هذه الأمة على الضلالة أبدا…يد الله على الجماعة فاتبعوا السواد الأعظم فإنه من شذ شذ في النار

Maksudnya: “Tidak akan Allah himpunkan umat ini ke dalam kesesatan selama-lamanya. Yadd (bantuan) Allah di atas Al-Jamaah. Maka ikutilah As-Sawad Al-A’zhom kerana sesiapa yang syaz (terasing) bererti terasing dalam neraka.” [Hadith riwayat At-Tirmizi, Al-Hakim (no:358), At-Tabrani (Al-Mu’jam Al-Kabir: no: 13461), Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wa As-Sifat dan sebagainya]

Sheikhuna (guru kami) Al-Allamah Al-Muhaddith As-Sayyid Muhammad bin Ibrahim Al-Kattani hafizahullah berkata dalam kitab beliau Ibra’ Az-Zimmah (m/s: 41): Jika seseorang berkata: “Tidak semestinya maksud As-Sawad Al-A’zhom itu adalah banyak dan dominan. Bahkan, boleh jadi juga maknanya dominasi kebenaran walaupun kurang orang yang mempertahankannya”.

Maka, saya (Sheikh Ibrahim) berkata: “Sesungguhnya hadith-hadith dengan kandungan As-Sibaq (perkataan sebelumnya) dan As-Siyaq (konteks) menunjukkan makna As-Sawad adalah: Al-Ummah (jumlah bilangan yang ramai)”. – tamat nukilan –

Antara petunjuk dan konteks yang menunjukkan kepada jumlah yang ramai adalah:

Dalam hadith riwayat Al-Hakim, Abu Nu’aim dan sebagainya tadi menyebut di hujung hadith tersebut yang bermaksud: “…Sesungguhnya sesiapa yang syaz (terasing) bererti terasing dalam neraka”.

Perkataan “…sesiapa yang terasing…” sudah jelas menunjukkan maksud As-Sawad Al-A’zhom adalah lawan bagi keterasingan tersebut iaitulah bilangan yang ramai. Namun, kita akan sebutkan selepas ini bahawa, ukuran “bilangan yang ramai” pada setiap zaman dalam hadith tersebut tidaklah mutlak kepada seluruh manusia termasuk orang-orang kafir dan bukan juga multak kepada orang-orang awam Islam. Hal ini akan dibincangkan kemudian, insya Allah.

Dalam hadith yang lain, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda yang bermaksud: “…Aku tidak menyembunyikan sesuatupun (daripada kebenaran). Hendaklah kamu semua bertaqwa dan bersama-sama dengan jamaah. Janganlah kamu berpecah (mengikut golongan yang terkeluar daripada jamaah). Sesungguhnya (dengan keluar dari jamaah) itulah kesesatan. Sesungguhnya Allah s.w.t. tidak akan menghimpun umat Muhammad dalam kesesatan” [Hadith riwayat At-Tabrani]

Hadith ini menunjukkan maksud As-Sawad Al-A’zhom adalah Al-Jama’ah. Al-Jama’ah sudah tentu merujuk kepada suatu golongan yang ramai, terutamanya jika kita gandingkan dengan petunjuk pertama tadi di mana lawan bagi As-Sawad Al-A’zhom adalah syaz atau keterasingan.

Hal ini lebih jelas dalam hadith lain, di mana Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ ‏ ‏الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ مَنْ أَرَادَ ‏ ‏بُحْبُوحَةَ ‏ ‏الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمْ الْجَمَاعَةَ

Maksudnya: “…Hendaklah kamu menyertai jamaah dan janganlah kamu berpecah (mengikut golongan yang tersesat). Sesungguhnya syaitan bersama yang satu sedangkan ia dengan yang dua lebih jauh (berbanding dengan yang satu). Sesiapa yang mahu menghuni taman syurga, maka hendaklah dia mengikut jamaah” [Hadith riwayat Ahmad, At-Tirmizi (no: 2091) dan Al-Hakim]

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda lagi:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ ‏ ‏الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ

Maksudnya: “Hendaklah kamu bersama-sama dengan Al-Jamaah. Dan janganlah kamu berpecah-belah. Sesungguhnya, syaitan itu berserta dengan yang satu, sedangkan dia lebih jauh daripada yang dua (berbanding yang satu tersebut)”. [Hadith ini riwayat At-Tirmizi (4/465) daripada jalan Saidina Umar r.a.. Diriwayatkan juga oleh Al-Hakim (1/197), Al-Baihaqi (7/91) dan Imam Ahmad (1/18 no: 114). Imam Al-Hakim berkata: “hadith ini sahih mengikut syarat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim”]

Dalam hadith-hadith tersebut juga mengandungi isyarat yang jelas tentang bilangan yang ramai. Ia terzahir pada perkataan Al-Jamaah dan perkataan: ((وهو عن الإثنين أبعد الشيطان مع الواحد )) (maksudnya: Syaitan bersama yang satu sedangkan dia lebih jauh darpada yang dua berbanding yang satu).

Ini suatu perumpamaan dalam bentuk nisbah, iaitu ((2:1)). Di mana, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengingatkan bahawasanya, syaitan itu akan bersama dengan yang satu berbanding yang dua orang. Maknanya, syaitan akan bersama-sama dengan minoriti berbanding yang majoriti. Ini menunjukkan jemaah yang dimaksudkan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah golongan majoriti dalam kalangan ulama’ dan umat Islam. Oleh yang demikian juga, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- mengingatkan supaya tidak beserta dengan golongan pinggiran dan ganjil kerana syaitan bersama dengan golongan pinggiran.

Ketika membahaskan tentang kepentingan berpegang dengan Ahlus-Sunnah wal Jamaah, Imam Ibn Al-Jauzi r.a. juga ada meriwayatkan sebuah hadith dengan sanad yang bersambung kepada Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam:

اثنان خير من واحد وثلاثة خير من اثنين وأربعة خير من ثلاثة فعليكم بالجماعة فإن الله عز وجل لم يجمع أمتي إلا على الهدى

Maksudnya: “Dua itu lebih baik daripada satu. Tiga itu lebih baik daripada dua. Empat itu lebih baik daripada tiga. Hendaklah kamu bersama dengan Al-Jama’ah kerana sesungguhnya Allah s.w.t. tidak akan menghimpunkan umatku melainkan di atas kebenaran.” [hadith riwayat Imam Ahmad pada no: 20331 dan dikeluarkan juga oleh Imam Ibn Al-Jauzi dalam Talbis Iblis]

Ini menunjukkan kuantiti yang banyak dalam kalangan umat Islam khususnya dari kalangan ahli ilmu (ulama’) sangat berkait rapat dengan maksud Al-Jama’ah dan As-Sawad Al-A’zhom yang dijamin kebenaran mereka oleh Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam sendiri.

Hadith lain juga menyebut tentang kepentingan mengikut majoriti umat Islam dengan perkataan ((العامة )) iaitu yang umum [hadith riwayat Ahmad]. Adapun istilah am atau ammah digunakan dalam bermaksud, kebanyakan umat Islam yang dipimpin oleh majoriti ulama’ Islam.

Dalam hadith riwayat Ahmad tersebut juga menyebut bahawa, syaitan umpama serigala yang mencari mangsa kambingnya. Jadi, syaitan berpeluang menangkap kambing yang terpinggir dari kelompok kumpulannya. Perumpamaan ini adalah jelas menunjukkan, celaan terhadap golongan minoriti yang keluar daripada kelompok majoriti umat Islam khususnya dalam masalah usul termasuklah masalah aqidah Islam. Jadi, syaz dan minoriti dicela oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam galakan supaya kita beserta dengan golongan majoriti umat Islam. Ukuran As-Sawad Al-A’zhom atau majoriti itu dinilai pada bilangan ahli ilmu umat Islam, bukan dari sudut orang awam kerana ijtima’ ummah (kesepakatan ummah) itu merujuk kepada kesepatakan ulama’.

Kita juga boleh merujuk syarah Imam As-Sindi dalam perbahasan ini. Dalam hadith riwayat Sunan Ibn Majah, Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ ‏بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ ‏

Maksudnya: Sesungguhnya umatku tidak akan berhimpun dalam kesesatan. Jika kamu melihat perselisihan, maka hendaklah kamu mengikut As-Sawad Al-A’zhom. [Sunan Ibn Majah no: 3940]

Imam As-Sindi berkata dalam syarah hadith ini:

قَوْله ( بِالسَّوَادِ الْأَعْظَم ) ‏
أَيْ بِالْجَمَاعَةِ الْكَثِيرَة فَإِنَّ اِتِّفَاقهمْ أَقْرَب إِلَى الْإِجْمَاع قَالَ السُّيُوطِيُّ فِي تَفْسِير السَّوَاد الْأَعْظَم أَيْ جَمَاعَة النَّاس وَمُعْظَمهمْ الَّذِينَ يَجْتَمِعُونَ عَلَى سُلُوك الْمَنْهَج الْمُسْتَقِيم

Maksudnya: “Sabda Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-: ((dengan As-Sawad Al-A’zhom)) –
Iaitu: Suatu jamaah yang ramai. Sesungguhnya, kesepakatan mereka (para ulama’ yang ramai tersebut) dekat dengan Ijma’. Imam As-Suyuti r.a. berkata pada tafsiran bagi As-Sawad Al-A’zhom iaitulah: Jamaah manusia yang mana kebanyakan mereka yang berhimpun dalam suatu jalan metodologi yang lurus (manhaj keilmuan yang benar). [Syarah Sunan Ibn Majah oleh Imam As-Sindi]

Ini menunjukkan bahawasanya As-Sawad Al-A’zhom adalah suatu jumlah bilangan yang ramai yang berpegang dengan manhaj yang sahih. Maka, boleh dikatakan, manhaj tersebut merujuk kepada sebuah aliran arus perdana yang dipegang oleh ramai orang. Sudah pasti, ramai orang tersebut merujuk kepada ahli ilmu atau para ulama’ yang menyusun, memegang dan menjaga manhaj yang lurus tersebut lalu diikuti oleh ramai masyarakat awam. Namun, ukurannya yang utama adalah para ramainya ahli ilmu dan para ulama’ yang berpegang kepada sesuatu manhaj keilmuan dan kefahaman terhadap agama.

Imam Ibn Al-Athir juga berkata dalam mensyarahkan perkataan As-Sawad Al-A’zhom dalam hadith tersebut:

وفيه [ عليكم بالسَّوادِ الأعْظَم ] أي جُمْلة النَّاس ومُعْظَمهم الذين يجتمعون على طاعة السُّلطان وسُلُوك النَّهج المُسْتقيم

Maksudnya: “Dan yang dimaksudkan dengan ((Alaikum bi as-Sawadul A’zham)) adalah sekumpulan besar manusia yang berhimpun di dalam mentaati sultan (pemimpin) dan berjalan di atas jalan yang benar (lurus). [An-Nihayah Fi Ghoribil Hadis: 2/1029]

Menurut Imam Ibn Al-Athir juga, As-Sawad Al-A’zhom berkaitan dengan kebanyakan manusia yang berhimpun dalam pegangan manhaj yang lurus. Jadi, ia juga merujuk kepada sebuah aliran atau manhaj arus perdana atau mainstream yang dipegang oleh majoriti ulama’ Islam sepanjang zaman.

Dalam institusi ulama’ Islam dan perkembangan bidang keilmuan Islam, konsep As-Sawad Al-A’zhom sangat jelas khususnya bagi merujuk kepada golongan yang berpegang teguh dengan manhaj sahih dalam berinteraksi dengan nas-nas agama dan golongan yang berada di atas landasan kebenaran sejak zaman berzaman.

Penjelasan terhadap Perkataan Imam Ibn Rahuyah

Ada sesetengah pihak mendakwa perkataan Ibn Rahuyah menolak konsep As-Sawad Al-A’zhom itu mengikut jumlah ramainya golongan. Mereka menukilkan perkataannya yang berkata:

Ishaq (bin Rahuyah) berkata (sebagaimana yang dibawakan oleh Imam asy-Syathibi):

لو سألت الجهال عن السواد الأعظم لقالوا: جماعة الناس ولا يعلمون أن الجماعة عالم متمسك بأثر النبي صلى الله عليه و سلم وطريقه فمن كان معه وتبعه فهو الجماعة

Maksudnya: Jika kamu bertanya kepada orang-orang yang jahil berkenaan maksud as-Sawad Al-A’zhom, sudah tentu mereka akan menjawab: majoriti/himpunan manusia, dan sebenarnya mereka tidak mengetahui bahawa al-Jama’ah itu adalah seorang alim yang berpegang teguh kepada atsar (jejak/prinsip) Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- serta golongan yang sentiasa bersama beliau, dan mereka yang mengikutinya adalah al-Jama’ah. [Al-I’thisham 3/300-315 pada masalah ke-17, cetakan Maktabah At-Tauhid]

Dalam perkataan Imam Ibn Rahuyah ini sedikit pun tidak mengingkari pendirian dan maksud bahawasanya As-Sawad Al-A’zhom adalah berkaitan dengan majoriti ulama’ Islam yang memimpin majoriti umat Islam kerana menurut Ibn Rahuyah, orang-orang jahil mengatakan bahawa As-Sawad Al-A’zhom adalah jemaah manusia secara umum. Sedangkan, apa yang kita tegaskan, bilangan yang ramai merujuk kepada jumlah ramainya para ulama’ yang berpegang dengan sesuatu manhaj, bukan merujuk kepada jumlah ramainya manusia termasuklah bilangan orang awam yang jahil.

Maka, lihatlah Imam Ibn Rahuyah menyebut setelah itu bahawasanya, Al-Jamaah adalah dengan mengikut seorang sahaja yang berilmu yang berpegang dengan Athar Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, apatah lagi jika mereka mengikut majoriti ulama’ Islam yang berilmu dan berpegang dengan Athar Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam? Maka, jumlah ramainya para ulama’ yang berpegang dengan sesuatu manhaj itu juga adalah ukuran Al-Jama’ah yang lebih utama berbanding hanya satu dua individu yang terpinggir daripada majoriti ulama’ Islam sejak zaman berzaman.

Hal ini sangat jelas berdasarkan perkataan Imam As-Syatibi sendiri yang menyebut setelah itu:

فانظر في حكايته تتبين غلط من ظن أن الجماعة هي جماعة الناس وإن لم يكن فيهم عالم وهو وهم العوام لا فهم العلماء فليثبت الموفق في هذه المزلة قدمه لئلا يضل عن سواء السبيل ولا توفيق إلا بالله

Maksudnya: Maka lihatlah, dari sini kita dapat mengetahui kesalahan orang yang menyangka bahawa Al-Jama’ah itu adalah kelompok (atau majoriti) manusia, walaupun tidak terdapat seorang alim pun dalam kelompok mereka. Ia hanyalah prasangka orang-orang awam, bukannya kefahaman para ulama. Dari itu, kita perlulah memperteguhkan pendirian kita supaya tidak tergelincir sebagaimana mereka dan supaya tidak tersesat memasuki jalan yang buruk. Tiada taufiq untuk itu melainkan hanya dari Allah. [Al-I’thisham 3/300-315 pada masalah ke-17, cetakan Maktabah At-Tauhid]

Lihatlah betapa Imam As-Syatibi mengatakan ukuran “majoriti” yang salah jika melihat dari sudut ramainya golongan “awam” yang tiada ulama’ dalam kalangan mereka. Sedangkan, “majoriti” yang ditegaskan oleh kita dan para ulama’ sebelum ini adalah “majoriti ulama’” Islam itu sendiri, yang memimpin majoriti umat Islam dalam bidang agama. Maka, jika majoriti atau ramai bilangan itu merujuk kepada para ulama’, lalu mereka diikuti oleh majoriti umat Islam, maka itu adalah suatu yang dipersetujui oleh Imam As-Syatibi sendiri dalam kitab Al-I’thisham tersebut.

Bagi pengkaji yang adil, dia boleh membaca ungkapan Imam As-Syatibi sebelum beliau meriwayatkan perkataan Ibn Rahuyah tersebut. Lebih adil dan teliti lagi, rujuklah kitab Al-I’tisham terus, bukan rujuk ringkasan (Mukhtasar Al-I’thisham) apa lagi versi terjemahan. Lihat sendiri dengan mata keilmuan di mana Imam As-Syathibi r.a. berkata:

وذلك أن الجميع اتفقوا على اعتبار أهل العلم والاجتهاد، وسواء ضموا إليهم العوام أم لا، فإن لم يُضَمُّوا إليهم فلا إشكال أن الاعتبار إنما هو بالسواد الأعظم من العلماء المعتبر اجتهادهم، فمن شذَّ عنهم فمات فميتته جاهلية، وإن ضموا إليهم العوام فبحكم التبع لأنهم غير عارفين بالشريعة، فلابد من رجوعهم في دينهم إلى العلماء فإنهم لو تمالؤا على مخالفة العلماء فيما حدُّوا لهم لكانوا هم الغالب، والسواد الأعظم في ظاهر الأمر، لقلة العلماء وكثرة الجهال، فلا يقول أحد: أنّ اتباع جماعة العوام هو المطلوب، وأن العلماء هم المفارقون للجماعة والمذمومون في الحديث، بل الأمر بالعكس، وإن العلماء هم السواد الأعظم وإن قلوا، والعوام هم المفارقون للجماعة إن خالفوا، فإن وافقوا فهو الواجب عليهم.

Maksudnya: Sesungguhnya semua (kelima-lima perkataan tentang As-Sawad Al-A’zhom) sepakat bahawasanya yang diukur adalah Ahli Ilmu dan Ijtihad, samada ianya merangkumi golongan awam ataupun tidak. Jika tidak merangkumi orang-orang awam, maka tidak ada keraguan lagi bahawasanya ukuran As-Sawad Al-A’zhom adalah merujuk kepada para ulama’ yang diakui ijtihad mereka. Sesiapa yang terasing daripada mereka (para ulama’ muktabar), maka dia mati dalam keadaan jahiliyyah. Jika dirangkumkan juga orang-orang awam (dalam mafhum As-Sawad Al-A’zhom), maka ia kerana hukum mengikut As-Sawad Al-A’zhom (iaitu, orang-orang awam mengikut majoriti para ulama’ yang muktabar tersebut). Ini kerana, mereka tidak mengetahui tentang syariah. Maka, hendaklah mereka (orang-orang awam) merujuk kepada para ulama’ dalam urusan agama mereka. Jika mereka (orang-orang awam) beramai-ramai ingin menyalahi ulama’ terhadap batasan yang telah mereka bataskan (dalam manhaj dan disiplin ilmu), maka nescaya merekalah yang menjadi golongan yang mendominasi, dan As-Sawad Al-A’zhom pada zahirnya, kerana kurangnya para ulama’ dan ramainya orang-orang jahil. Namun, tidak ada seorang pun berkata bahawasanya mengikut jamaah awam adalah yang dituntut (kerana mereka ramai) sedangkan para ulama’ pula terkeluar daripada jemaah dan dicela dalam hadith ini. Bahkan, apa yang betula dalah sebaliknya. Para ulama’ tetap As-Sawad Al-A’zhom walaupun sedikit (berbanding orang-orang awam) sedangkan orang-orang awam-lah yang keluar daripada jemaah jika mereka menyalahi para ulama’ (aliran arus perdana dalam kalangan ulama’). Jika mereka mengikut manhaj para ulama’, maka itulah kewajipan mereka. [Al-I’thisham 3/300-315 pada masalah ke-17, cetakan Maktabah At-Tauhid]

Jelaslah di sisi Imam As-Syathibi sendiri, jika ukuran ramai itu merujuk kepada para ulama’, maka itulah maksud sebenar As-Sawad Al-A’zhom. Beliau cuma menafikan jika orang-orang awam Islam yang lebih ramai daripada para ulama’ dalam sesuatu zaman, lalu mereka (orang-orang awam) menyalahi manhaj para ulama’ (arus perdana di sisi ulama’ muktabar), kemudian As-Sawad Al-A’zhom dinilai pada banyaknya orang-orang awam berbanding para ulama’. Ukuran beginilah yang salah menurut beliau. Tetapi, jika sesama para ulama’, sudah semestinyalah ukuran majoriti ulama’ merupakan suatu ukuran yang benar berbanding keterasingan mereka yang menyalahi majoriti ulama’ tersebut dalam sesuatu aliran, pegangan dan kefahaman yang usul terhadap agama Islam.

Oleh sebab itulah juga, kita tegaskan bahawasanya, dalam bidang aqidah misalnya, Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah (di samping sebahagian Hanabilah yang berpegang dengan aqidah murni Imam Ahmad dan tidak terlibat dengan fahaman Tajsim) adalah Al-Jama’ah atau As-Sawad Al-A’zhom. Bahkan dalam kelompok merekalah menghuninya majoriti ulama’ Islam sepanjang zaman. Siapakah Imam Al-Baihaqi, Imam Al-Baqillani, Imam Al-Bulqini, Imamul Haramain Al-Juwaini, Imam Al-Ghazali, Imam Al-Razi, Imam Ibn Asakir, Imam Ibn Hajar Al-Asqollani, Imam An-Nawawi, Imam As-Subki dan sebagainya yang terdiri dari kalangan Al-Asya’irah yang merupakan As-Sawad Al-A’zhom sebagaimana yang kita tegaskan, jika mereka bukan dari kalangan para ulama’? Jadi, benarlah menurut kita, majoriti itu dinilai dari sudut ramainya para ulama’ yang berpegang dengan sesuatu manhaj sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibn Asakir dalam Tabyiin Kazb Al-Muftari yang akan disentuh kemudian.

Ada sesetengah pihak juga merujuk pada zaman Imam Ahmad r.a. di mana beliau dikatakan bersendirian dalam berpegang dengan aqidah yang benar. Ini suatu perkataan dusta terhadap sejarah murni Islam. Ketika berlaku fitnah tersebarnya fahaman Al-Qur’an adalah makhluk, Imam Ahmad r.a. adalah antara yang paling menonjol dalam menolaknya di hadapan pemerintah. Oleh sebab itulah, beliau disiksa. Namun, pendirian majoriti ulama’ Islam pada ketika itu juga tetap menolak fahaman Al-Qur’an makhluk yang merupakan fahaman Mu’tazilah. Bahkan, ada juga sebahagian ulama’ yang bangkit secara terbuka menentang fahaman tersebut, sebelum Imam Ahmad r.a. lagi. Antara mereka adalah, Al-Muhaddith Affan bin Muslim Al-Kufi, Al-Imam Al-Muhaddith Abu Na’im Al-Fadhl, Imam Al-Khaza’ie, Imam Abdul A’la Al-Ghassani As-Syami, Imam Muhammad bin Nuh Al-Maruzi, Imam Nu’aim bin Hamad, Imam Al-Buwaithi (murid Imam As-Syafi’e r.a.) dan sebagainya yang mati dalam penjara ketika mempertahankan aqidah murni Islam [rujuk Bara’ah Al-Asy’ariyyin: m/s 32]

Cuma, kebanyakan ulama’ lain tidak menzahirkan pertentangan secara terbuka seperti para ulama’ tersebut. Jadi, tidak boleh dikatakan hanya Imam Ahmad r.a. seorang sahaja, yang berpegang dengan aqidah murni Islam pada ketika itu dan mempertahankannya, kerana masih ramai lagi ulama’ yang berpegang dengannya khususnya murid-murid kepada Imam Abu Hanifah r.a., murid-murid kepada Imam Malik r.a., murid-murid kepada Imam As-Syafi’e’ r.a. dan sebagainya.

Bilangan yang Ramai Merujuk kepada Para Ulama’ dan Pengikut Mereka

Setelah kita jelaskan sebelum ini, ukuran bilangan yang ramai itu adalah merujuk kepada para ulama’ dan ahli ilmu yang menguasai ilmu-ilmu agama dan kefahaman Islam. Maka, apa yang menjadi pegangan dan kefahaman mereka dalam perkara-perkara usul dalam agama perlu diikuti. Merekalah yang menyusun manhaj dan kefahaman agama tanpa kesesatan. Merekalah yang menjaga kefahaman agama yang sahih dalam perkara-perkara usul. Ini berdasarkan nas-nas hadith yang jelas disebutkan sebelum ini. Merekalah As-Sawad Al-A’zhom, yang mana bilangan mereka adalah majoriti dalam kalangan ulama’ dalam sepanjang zaman, sehinggalah tiada lagi ulama’ yang tinggal.

Hal ini jelas berdasarkan perkataan para ulama’ sebelum ini. Imam As-Sindi dan Imam Ibn Athir menegaskan betapa As-Sawad Al-A’zhom adalah pemegang manhaj yang sahih. Itu merujuk kepada para ulama’. Bahkan, di sisi Imam As-Sindi, bilangan mereka yang memegang dengan manhaj yang sahih tersebut adalah ramai. Ini menunjukkan bahawasanya, ukuran As-Sawad Al-A’zhom merujuk kepada ramainya para ulama’ berdasarkan maksud asal perkataan As-Sawad Al-‘Azhom itu sendiri. Isyarat ini juga disebutkan oleh Imam As-Syatibi dalam kitab Al-I’thisham di mana ukuran As-Sawad Al-A’zhom merujuk kepada para ulama’ dan orang-orang awam yang mengikut manhaj majoriti ulama’ tersebut.

Lebih jelas lagi, perkataan Imam Ibn Asakir r.a. yang berkata:

فإن قيل أن الجم الغفير في سائر الأزمان وأكثر العامة في جميع البلدان لا يقتدون بالأشعري ولا يقلدونه ولا يرون مذهبه ولا يعتقدونه وهم السواد الأعظم وسبيلهم السبيل الأقوم قيل لا عبرة بكثرة العوام ولا التفات إلى الجهال الغتام وإنما الإعتبار بأرباب العلم والاقتداء بأصحاب البصيرة والفهم وأولئك في أصحابه أكثر ممن سواهم ولهم الفضل والتقدم على من عداهم على ان الله عزوجل

Maksudnya: “Kalau dikatakan bahawa bilangan yang ramai dalam setiap zaman dan ramai orang awam (Al-Ammah) dalam setiap tempat tidak mengikut mazhab Al-Asy’ari (tidak mendalami perbahasan aqidah dengan manhaj Al-Asy’ari), tidak bertaqlid dengan mazhabnya, tidak melihat kepada mazhabnya dan tidak berpegang dengannya sedangkan mereka (Al-Asya’irah) adalah As-Sawad Al-A’zhom dan manhaj mereka (ulama’ Al-Asya’irah) adalah manhaj yang lurus. Maka, dikatakan (sebagai jawapan) tidak diambil kira banyaknya orang awam dan tidak dipandang (sebagai kayu pengukur) pada orang-orang jahil, kerana ukuran (As-Sawad Al-A’zhom) adalah di sisi ahli ilmu dan neraca ikutan adalah kepada Ashaab Al-Bashirah (yang mempunyai pandangan mata hati/neraca ilmu) dan kefahaman sedangkan mereka (para ulama’/ahli ilmu dan sebagainya) dalam pengikut mazhab Al-Asy’ari (Ashaabnya) lebih ramai daripada selainnya (ulama’ yang bukan Al-Asya’irah)…” [Tabyiin Kazb Al-Muftari: 134]

Maka, kita dapat simpulkan bahawasanya memang benar As-Sawad Al-A’zhom adalah mengikut jumlah bilangan yang ramai. Namun, jumlah bilangan yang ramai (majoriti) itu bukan mutlak, iaitu merujuk kepada jumlah bilangan seluruh manusia yang mana majoritinya masih bukan Islam. Ia juga bukan merujuk kepada majoriti orang-orang awam Islam. Majoriti yang diukur adalah majoriti ulama’ Islam dalam setiap zaman. Maka, majoriti para ulama’ yang meneruskan manhaj majoriti ulama’ sebelum mereka, gabungan keseluruhan para ulama’ tersebutlah dinilai sebagai As-Sawad Al-A’zhom.

Orang-orang awam yang mengikut manhaj dan aliran majoriti para ulama’ dalam sepanjang zaman ini juga terangkum dalam As-Sawad Al-A’zhom dari sudut mereka mengikuti para ulama’ tersebut dalam kefahaman agama, terutamanya dalam perkara-perkara usul (asas), samada dalam aqidah, fiqh mahupun tasawwuf.

Kedudukan institusi ulama’ dalam Islam sangat penting khususnya sebagai jambatan bagi orang-orang awam untuk memahami agama Islam dengan kefahaman yang sahih daripada sumber agama. Ketika orang-orang awam cuba berlepas diri daripada institusi ulama’ khususnya pegangan As-Sawad Al-A’zhom, maka merekalah yang akan sesat.

Rasulullah –shollallahu ‘alahi wasallam- bersabda:

‏‏إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا ‏

Maksudnya: “Sesungguhnya Allah s.w.t. tidak mencabut ilmu dengan cabutan serta merta daripada manusia. Akan tetapi, Allah s.w.t. mencabut ilmu dengan mengambil para ulama’, sehinggalah tiada lagi orang yang berilmu (ulama’), lalu manusia mengambil pimpinan dari kalangan orang-orang jahil. Mereka (orang-orang jahil) ditanya lalu mereka berfatwa tanpa ilmu lalu mereka sesat lagi menyesatkan”. [Hadith riwayat At-Tirmizi (no: 2576)]

Jadi, pegangan As-Sawad Al-A’zhom adalah pegangan majoriti para ulama’ sejak zaman berzaman dalam perkara-perkara usul agama. Inilah yang perlu difahami secara asas, agar tidak salah dalam menggambarkan kedudukan sebenar “majoriti” tersebut.

Di sinilah juga maksud perkataan Imam Ibn Hibban r.a. yang berkata (yang bermaksud): Sedangkan pengertian al-Jama’ah setelah sepeninggalan para Sahabat adalah orang-orang yang pada diri mereka berkumpul tiang-tiang agama, akal, dan ilmu, serta sentiasa meninggalkan hawa nafsu yang ada pada mereka dan jumlah mereka adalah sedikit. Dan bukanlah al-Jama’ah itu kumpulan manusia sebarangan dan orang-orang kecil yang tidak berilmu walaupun jumlahnya ramai. [Shohih Ibnu Hibban: 26/6]

Jumlah mereka sedikit kerana jumlah para ulama’ memang sedikit berbanding orang-orang awam. Oleh sebab itulah, Imam Ibn Hibban r.a. menekankan para ulama’ dengan berkata: “…Dan bukanlah Al-Jamaah itu bererti kumpulan manusia sebarangan dan orang-orang kecil yang tidak berilmu walaupun jumlahnya ramai.”. Ini secara jelas menunjukkan bilangan ramai yang ditolak oleh Imam Ibn Hibban adalah jumlah ramainya orang-orang yang tidak berilmu. Adapun jumlah ramai para ulama’, itulah ukuran sebenar As-Sawad Al-A’zhom.

Sangat benar perkataaan Imam Ahmad bin Hanbal r.a. yang berkata:

هذه الأمة المرحومة قد ميزها الله تعالى على سائر الأمم بكثرة العلماء

Maksudnya: Sesungguhnya umat Islam ini adalah ummah yang dirahmati. Allah s.w.t. memberi keistimewaan kepadanya berbanding umat-umat terdahulu dengan banyaknya ulama’ (dalam umat Islam). [Manaqib Imam Ahmad oleh Imam Ibn Al-Jauzi r.a.. Dinukilkan dalam Bara’ah Al-Asy’ariyyin m/s: 34]


Penjelasan terhadap Ayat-ayat Larangan Mengikut Ramai Manusia

Sebahagian orang menyenaraikan beberapa ayat Al-Qur’an dalam rangka untuk membatalkan kefahaman ramai para ulama’ tentang As-Sawad Al-A’zhom yang berkaitan dengan majoriti ulama’ Islam yang memimpin majoriti umat Islam dengan nas-nas yang tidak kena pada tempatnya.

Antaranya firman Allah s.w.t.:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ

Maksudnya: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah al-An’am, 6: 116)

Penolakan konsep majoriti ulama’ Islam sebagai As-Sawad Al-A’zhom dengan ayat ini adalah suatu Istidlal yang rosak (fasid) kerana konteks ayat ini tidak ada kaitan dengan konsep “majoriti ulama’ Islam” sebagai As-Sawad Al-A’zhom yang telah disebutkan. Ayat ini ditujukan kepada kebanyakan manusia di muka bumi yang sesat dan tidak mengikut kebenaran Islam sama sekali (iaitulah orang-orang kafir).

Imam At-Tabari menafsirkan “ramai manusia di muka bumi” dalam ayat ini sebagai:

-وَإنْ تُطِعْ أكْثَرَ مَنْ فِي الأرْض- من بني آدم، لأنهم كانوا حينئذٍ كفاراً ضلالاً

Maksudnya: “((…Jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi…)) dari kalangan bani Adam kerana mereka pada ketika itu adalah orang-orang kafir lagi sesat…” [Tafsir At-Tabari pada ayat ini]

Imam Al-Qurtubi juga secara jelas berkata:

قوله تعالى: { وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي ٱلأَرْضِ } أي الكفار

Maksudnya: “Firman Allah s.w.t. ((Jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini…)) iaitulah orang-orang kafir…” [Al-Jami’e li Ahkam Al-Qur’an]

Begitu juga dengan ayat (yang bermaksud): “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?.” (Surah al-Baqarah, 2: 170)

Berdasarkan Imam At-Tabari dalam tafsir beliau, melalui beberapa riwayat yang kuat daripada para ulama’ salaf, ayat ini diturunkan kepada suatu kaum daripada golongan Yahudi. Ia adalah tafsiran Saidina Ibn Abbas r.a. dan sebagainya. Bahkan, tafsiran bagi perkataan “mengikut apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami…” berdasarkan sebahagian ulama’ salaf adalah, mereka (sebahagian golongan Yahudi tersebut) menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah s.w.t. dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah s.w.t.. Kesimpulannya, para mufassirin menegaskan bahawasanya, ayat ini diturunkan ke atas orang-orang kafir.

Adakah ini (menghalalkan yang haram dan sebaliknya) merupakan perbuatan nenek moyang orang-orang Islam, atau para ulama’ Nusantara? Na’uzubillah min su’ Az-Zhon bil muslimin. Hanya golongan Tabdi’e (suka menuduh bid’ah) sahaja kelihatan suka mengharamkan atau membid’ahkan (dengan hukum bid’ah yang sesat) apa yang tidak diharamkan oleh Allah s.w.t..

Jadi, bagaimana ayat yang ditujukan kepada orang-orang kafir boleh digunakan untuk menilai konsep majoriti ulama’ Islam sebagai As-Sawad Al-A’zhom? Begitu jugalah dengan ayat-ayat yang lain yang mengkritik ramai manusia, yang mana ianya ditujukan kepada orang-orang kafir. Sikap begini sangat tidak tepat. Rujuklah perkataan Saidina Ibn Umar r.a. sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari secara ta’liq tentang khawarij:-

إنهم انطلقوا إلى آيات نزلت في المشركين فجعلوها على المؤمنين

Maksudnya: “Mereka mencari ayat-ayat al-Quran yang ditujukan kepada orang kafir tetapi mereka tujukannya kepada orang beriman”.

Oleh sebab itulah juga, Sheikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buti menegaskan tentang As-Sawad Al-A’zhom sebagai berkata:

لا السواد الأعظم من العالم، وإنما تدعوا إلى السواد الأعظم من المسلمين

Maksudnya: Tidaklah maksud As-Sawad Al-A’zhom (dalam seruan mengikut As-Sawad Al-A’zhom itu) daripada seluruh alam (merangkumi semua manusia termasuk orang-orang kafir) tetapi As-Sawad Al-A’zhom dari kalangan orang-orang Islam. [Sumber: http://www.ghrib.net/vb/showthread.php?t=11860 ]

Penjelasan tentang Hadith Al-Ghuraba’

Sesetengah pihak turut menjadikan hadith Ghuraba’ dalam menolak konsep As-Sawad Al-A’zhom sebagai majoriti ulama’ Islam sejak zaman berzaman padahal hadith Ghuraba’ menceritakan tentang kurangnya dari kalangan masyarakat Islam sendiri yang ingin mengamalkan agama Islam secara sempurna walaupun ketika itu mereka sudah ramai. Ia sama sekali tidak bertentangan majoriti para ulama’ yang masih berpegang kepada manhaj dan asas kebenaran dalam agama.

Lihatlah perkataan Imam As-Sindi dalam mensyarahkan hadith Al-Ghuraba’ dengan berkata:

بِقِلَّةِ مَنْ يَقُوم بِهِ وَيُعِين عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَهْله كَثِيرً

Maksudnya: “((Akan kembali asing)) dengan sedikitnya orang yang mendirikannya (mengamalkannya) dan membantunya walaupun ramai ahlinya (penganut agama Islam).” [Syarah Sunan Ibn Majah: no: 3976]

Hadith ini juga tidak menafikan sama sekali konsep kebenaran yang tetap bersama dengan majoriti ulama’ Islam yang memimpin majoriti umat Islam sebagaimana yang disebut dalam hadith As-Sawad Al-A’zhom. Ini kerana, kedua-dua hadith (hadith As-Sawad Al-A’zhom dengan hadith Al-Ghuraba’) membincangkan dua konteks yang berbeza. Hadith As-Sawad Al-A’zhom menjelaskan tentang majoriti ulama’ Islam yang memimpin majoriti umat Islam dalam bidang agama yang tidak akan sesat dalam masalah usul agama sedangkan hadith Al-Ghuraba’ menceritakan tentang sedikitnya orang Islam yang mengamalkan agama dengan sempurna. Jadi, sangat berbeza antara “berpegang kepada kebenaran pada perkara usul” dengan “mengamalkannya secara sempurna”. Bahkan, berbeza juga antara membandingkan keseluruhan masyarakat Islam dengan majoriti ulama’ Islam sejak zaman berzaman yang disebut sebagai As-Sawad Al-A’zhom itu sendiri.

Oleh sebab itulah dalam Musnad Imam Ahmad ada menyebut syarah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tentang Al-Ghuraba’ iaitulah:

الذين يصلحون إذا فسد الناس

Maksudnya: “Mereka yang melakukan kebaikan ketika manusia sudah rosak (banyak melakukan keburukan)”. [hadith riwayat Imam Ahmad, no: 16049]

Dalam hadith Mursal pula ada menyebut maksud Al-Ghuraba’, bahawasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الذين يزيدون اذا نقص الناس

Maksudnya: “Mereka yang bertambah (amalan mereka) ketika manusia berkurangan (amalan mereka)” [Madarij As-Salikin: 3/203]

Dalam suatu penjelasan yang lain berbunyi:

الذين يحيون سنتي ويعلمونها عباد الله

Maksudnya: “(Al-Ghuraba’) adalah mereka yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada para hamba Allah”. [riwayat Imam Al-Bazzar (no:3287) dalam Kasyf Al-Astar, Imam Al-Khatib dalam Syarf Ashab Al-Hadith (m/s: 38) dan Ibn Abdil Bar dalam Jami’e Bayan Al-Ilm]

Maksudnya, mereka (Al-Ghuraba’) ini masih lagi mengamalkan ajaran murni Islam secara lengkap dan sempurna kerana kesempurnaan iman mereka, berbanding dengan ramai manusia yang sudah tidak lagi mahu mengamalkan ajaran Islam secara sempurna. Namun, aqidah dan kebenaran tetap bersama dengan majoriti ulama’ Islam dan majoriti umat Islam yang mengikut para ulama’ tersebut. Oleh yang demikianlah, konsep Al-Ghuraba’ dalam hadith ini sedikit pun tidak menolak maksud As-Sawad Al-A’zhom sebagai majoriti ulama’ Islam yang memimpin bidang agama majoriti umat Islam sejak zaman berzaman secara keseluruhan dari zaman awal Islam sehingga hari ini atau lebih dikenali sebagai manhaj arus perdana.

Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله

Maksudnya: Sentiasa satu golongan daripada umatku akan menonjol (terzahir) di atas kebenaran yang tidak dapat dimudaratkan oleh mereka yang cuba menyaingi golongan tersebut sehinggalah datangnya urusan Allah (Hari Kiamat). [Hadith riwayat Imam Muslim, no: 3544]

Imam An-Nawawi r.a. juga mensyarahkan hadith ini dengan menyebut:

وَأَمَّا هَذِهِ الطَّائِفَة فَقَالَ الْبُخَارِيّ : هُمْ أَهْل الْعِلْم , وَقَالَ أَحْمَد بْن حَنْبَل : إِنْ لَمْ يَكُونُوا أَهْل الْحَدِيث فَلَا أَدْرِي مَنْ هُمْ ؟ قَالَ الْقَاضِي عِيَاض : إِنَّمَا أَرَادَ أَحْمَد أَهْل السُّنَّة وَالْجَمَاعَة , وَمَنْ يَعْتَقِد مَذْهَب أَهْل الْحَدِيث , قُلْت : وَيَحْتَمِل أَنَّ هَذِهِ الطَّائِفَة مُفَرَّقَة بَيْن أَنْوَاع الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُمْ شُجْعَان مُقَاتِلُونَ , وَمِنْهُمْ فُقَهَاء , وَمِنْهُمْ مُحَدِّثُونَ , وَمِنْهُمْ زُهَّاد وَآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَاهُونَ عَنْ الْمُنْكَر , وَمِنْهُمْ أَهْل أَنْوَاع أُخْرَى مِنْ الْخَيْر , وَلَا يَلْزَم أَنْ يَكُونُوا مُجْتَمعِينَ بَلْ قَدْ يَكُونُونَ مُتَفَرِّقِينَ فِي أَقْطَار الْأَرْض

Maksudnya: “Adapun At-Tho’ifah ini maka: Imam Al-Bukhari berkata: Mereka adalah ahli ilmu.
Imam Ahmad bin Hanbal r.a. berkata: Kalau mereka bukan ahli hadith, maka saya tidak tahu siapa mereka. Imam Al-Qadhi Iyadh Al-Maliki berkata: Imam Ahmad bermaksud mereka adalah Ahlus-Sunnah wal Jamaah dan mereka yang berpegang dengan mazhab ahli hadith. Saya katakan (Imam An-Nawawi): Golongan ini membawa maksud yang pelbagai dalam jenis orang-orang beriman yang berbeza yang mana antara mereka adalah para pejuang yang berani, para fuqaha’, para ahli hadith, ahli zuhud, mereka yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan dan sebahagian mereka adalah mereka yang dari golongan-golongan lain dalam kebaikan. Mereka ini tidak semestinya berhimpun (di sesuatu tempat atau dalam sesuatu golongan) tetapi boleh juga terpisah-pisah di serata pelusuk dunia.” [Syarah Imam An-Nawawi kepada hadith tersebut]

Jadi, Imam An-Nawawi r.a. sendiri menceritakan tentang golongan yang ramai yang sentiasa menonjol dalam masyarakat Islam dan tidak pernah dikalahkan oleh mana-mana pihak yang menyalahi mereka. Golongan tersebut adalah ahli ilmu dan para ulama’ yang berpegang kepada manhaj yang benar dalam perkara-perkara usul.

Konsep At-Talaqqi bi Al-Qabul dalam Manhaj Keilmuan Islam

Konsep At-Talaqqi bi Al-Qabul adalah suatu konsep asas dalam membentuk manhaj dalam aliran As-Sawad Al-A’zhom. Ini kerana, kitab-kitab karangan ulama’, manhaj dan disiplin ilmu agama sentiasa berkembang mengikut keperluan semasa dan kepentingan dalam menjaga kefahaman agama yang sahih. Setiap manhaj yang tumbuh dan disiplin ilmu baru yang berkembang dalam insititusi ulama’ sentiasa dinilai dan dikaji secara adil berdasarkan ukuran keilmuan oleh para ulama’. Maka, setiap disiplin dan manhaj yang diterima oleh As-Sawad Al-A’zhom (majoriti ulama’ Islam) akan terus dipertahankan kerana mereka tidak akan sepakat dalam kesesatan.

Selain daripada konsep penerimaan ramai ulama’ tentang kitab-kitab karangan ulama’, konsep At-Talaqqi bi Al-Qabul juga berlaku dalam manhaj atau metodologi keilmuan Islam dalam rangka menjaga manhaj tersebut. Apa yang dimaksudkan dengan manhaj keilmuan Islam ini adalah, suatu struktur atau kerangka umum yang menghimpunkan kaedah-kaedah dan disiplin keilmuan untuk berinteraksi dengan sumber agama secara sahih dalam usaha untuk memahami ajarannya secara sahih.

Dalam perkembangan ilmu mengenai hukum-hakam syariat Islam, ilmu fiqh pada awalnya berkembang sebagai sarana yang menghimpunkan ijtihad-ijtihad ulama’ berdasarkan sumber agama seperti Al-Qur’an, As-Sunnah dan sebagainya. Maka, sejajar dengan perkembangan ilmu-ilmu yang menjaga sumber agama seperti ilmu Nahu, Ilmu Rijal, Ilmu Qiraat dan sebagainya, ilmu-ilmu lain yang menjaga manhaj sahih dalam berinteraksi dengan sumber agama juga turut berkembang. Ilmu itu akhirnya dikenali sebagai Usul Fiqh.

Perpaduan antara Ilmu Fiqh yang merangkumi ijtihad para ulama’ dengan ilmu Usul Fiqh akhirnya dikenali sebagai mazhab fiqh. Ia adalah nama lain bagi suatu manhaj atau disiplin ilmu dalam memahami syariat Islam melalui sumbernya. Empat mazhab fiqh mendapat penerimaan dalam kalangan ulama’ Islam secara meluas walaupun pada awalnya, masih banyak mazhab-mazhab fiqh ulama’ lain yang berkembang dalam masyarakat Islam di zaman salaf


Namun, Allah s.w.t. memelihara empat mazhab fiqh ini (iaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’e dan Hanbali) dan ianya diterimapakai malah dikembangkan oleh para ulama’ Islam yang berkhidmat terhadap mazhab masing-masing. Setelah itu, tradisi Tamazhub (bermazhab) menjadi suatu tradisi yang diterima pakai oleh para ulama’ Islam secara sepakat. Tradisi Tamazhub (bermazhab) dalam kalangan ulama’ Islam sebenarnya bukanlah suatu tradisi Taqlid atau berpegang kepada sesuatu perkataan tanpa dalil, tetapi tradisi bermazhab yang diamalkan oleh ulama’ Islam adalah suatu tradisi Ittiba’ Manhaji atau mengikuti seseorang ulama’ dari sudut metodologi dan disiplin dalam berijtihad dan menggali hukum syarak daripada sumbernya.

Hatta, para ulama’ yang menerima dan mengikut sesuatu mazhab fiqh sebenarnya memperjuangkan mazhab yang dipegang dan menyebarkannya atas dasar Ijtihad mereka terhadap kebenaran sesuatu Manhaj fiqh tersebut dalam neraca umum Islam. Oleh sebab itulah, tradisi bermazhab dalam ulama’ Islam tidak boleh disamakan dengan amalan Kristian yang sekadar bertaqlid kepada para paderi mereka terdahulu tanpa suluhan wahyu kerana dari sudut sumber agama mereka sahaja sudah diragui.

Ia berbeza dengan masyarakat awam di mana masyarakat awam pada asasnya tidak mengamalkan tradisi bermazhab dalam erti kata yang khusus kepada mazhab-mazhab besar tersebut secara langsung, tetapi lebih bersifat bertalqid kepada para ulama’ dan para mufti tempatan yang menjaga urusan agama di tempat mereka. Ini kerana, mereka tidak menguasai disiplin ilmu untuk menggali hukum hakam secara sendirian dan tidak menguasai kerangka usul sesuatu mazhab sehingga dapat berinteraksi dengan sesuatu mazhab secara langsung. Secara asasnya, taqlid berbeza dengan ittiba’ yang boleh dilihat perbahasannya dalam kitab-kitab Usul Fiqh walaupun kedua-duanya adalah antara bentuk-bentuk tamazhub (tradisi bermazhab).

Tradisi bermazhab berkembang berdasarkan penilaian para ulama’ terhadap kesempurnaan manhaj penggalian hukum dan pendalilan para ulama’ mujtahid mustaqil (terasing) yang telah mereka susun seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam As-Syafi’e dan Imam Ahmad. Lalu, para fuqaha’ yan lahir setelah mereka khususnya yang mempelajari ilmu fiqh daripada para ashaab (murid-murid) para imam tersebut hanya mengembangkan sahaja manhaj para imam mujtahid tersebut. Maka, walaupun pintu ijtihad tidak ditutup sepenuhnya tetapi tiada ruang lagi untuk membuat suatu manhaj tersendiri yang baharu yang belum pernah disusun oleh para mujtahid terdahulu.

Imam Az-Zarkasyi berkata tentang perkara ini:

وهذا كله يوضح أن الضرورة دعت المتأخرين إلى اتباع المتقدمين ، لأنهم سبقوهم بالبرهان حتى لم يبقوا لهم باقية يستبدون بها ، وذلك فضل الله يؤتيه من يشاء ، ولكن الفضل للمتقدم ، وظهر بهذا تعذر إثبات مذهب مستقل بقواعد

Maksudnya: “Ini semua menunjukkan bahawasanya sangat penting bagi golongan ulama’ terkemudian untuk mengikut golongan ulama’ terdahulu kerana mereka sudah mendahulu mereka (golongan terkemudian) dari sudut penguasaan dalil-dalil sehingga tiada lagi tersisa bagi mereka (ulama’ terkemudian) untuk menzahirkan dengannya (dalil-dalil lain). Inilah kelebihan Allah yang diberikan kepad sesiapa yang Dia kehendakinya. Akan tetapi, kelebihan tersebut ada pada golongan ulama’ terdahulu, maka terzahirlah suatu keuzuran dalam menetapkan suatu mazhab lain yang tersendiri dengan kaedah-kaedah (tersendiri)…” [Al-Bahr Al-Muhith 8/217]

Oleh sebab itulah kita perlu fahami, di mana, sebahagian para fuqaha’ menjelaskan bahawasanya pintu Ijtihad sudah tertutup itu sebenarnya bererti, suatu Ijtihad dengan mengadakan sebuah mazhab tersendiri yang baharu, yang berbeza dengan mazhab-mazhab yang sudah diterima oleh ummah samada Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’e mahupun Mazhab Hanbali. Oleh yang demikian, sebahagian para fuqaha’ lain masih berpegang kepada pintu Ijtihad masih terbuka iaitulah Ijtihad Tarjihi (menguatkan salah satu daripada pendapat para ulama’ yang saling berselisihan) dan Ijtihad dalam masalah yang baharu.

Imam Al-Khattab berkata:

التقليد هو الأخذ بقول الغير من غير معرفة دليله ، والذي عليه الجمهور أنه يجب على من ليس فيه أهلية الاجتهاد أن يقلد أحد الأئمة المجتهدين سواء كان عالما أو ليس بعالم

Maksudnya: Taqlid adalah mengambil perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya. Maka, majoriti ulama’ mengatakan bahawasanya wajib bagi orang yang tidak mempunyai keahlian untuk berijtihad agar bertaqlid kepada para imam mujtahid samada orang tersebut seorang yang berilmu atau tidak. [Mawahib Al-Jalil 1/30]

Imam Al-Ghazali r.a. berkata:

مسألة تقليد العامي للعلماء: العامي يجب عليه الاستفتاء واتباع العلماء

Maksudnya: Masalah pada taqlid seorang awam kepada ulama’. Maka, seorang awam perlu meminta fatwa daripada para ulama’ dan mengikut para ulama’. [Al-Mustashfa: 1/372]

Oleh sebab itulah kita dapati, para ulama’ hadith yang menguasai bidang Riwayah juga tetap mengikut mazhab fiqh para ulama’ mujtahid yang mendapat penerimaan ulama’ Islam secara sepakat. Ini kerana, mazhab fiqh sudah menghimpunkan sudut Dirayah dan Riwayah dalam bidang syariah Islamiyyah.

Antara para ulama’ hadith yang bermazhab adalah:

Bermazhab Hanafi: Imam At-Tahawi, Imam Az-Zil’ie, Imam Al-‘Aini, Imam Al-‘Ala’ie, Imam Al-Muttaqi Al-Hindi, Imam Al-Mubarakfuri, Imam Al-Azhimabadi, Imam Al-Laknawi, Imam Al-Kandahlawi dan sebagainya.

Bermazhab Maliki: Imam Ibn Abdil Bar, Imam Al-Qadhi ‘Iyadh, Imam Ibn Al-Munir, Imam Ibn Bathal, Imam Ibn Arabi, Imam Ar-Zarqani dan sebagainya.

Bermazhab Syafi’e: Imam Abu Zur’ah, Imam Ibn Abi Hatim, Imam At-Tirmizi, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Ad-Darqutni, Imam Al-Hakim, Imam Al-Baihaqi, Imam Ar-Ruyani, Imam Al-Khatib Al-Baghdadi, Imam Ibn ‘Asakir, Imam Ibn As-Sholah, Imam An-Nawawi, Imam Al-‘Iraqi, Imam Ibn Jama’ah, Imam Ibn Hajar Al-Asqollani, Imam As-Sakhawi, Imam As-Suyuti, Imam Al-Munawi dan sebagainya.

Bermazhab Hanbali: Imam Abu Daud, Imam An-Nasa’ie, Imam Al-Khallal, Imam Ibn Al-Jauzi, Imam Al-Maqdisi, Imam Ibn Rajab dan sebagainya. [rujuk kitab At-Tamazhub m/s 111 oleh Sheikh Abdul Fattah Al-Yafi’e]

Maka, penerimaan ulama’ Islam terhadap keempat-empat mazhab fiqh tersebut adalah hasil ijtihad mereka dalam mempertahankan mazhab-mazhab tersebut terutamanya sebagai disiplin ilmu untuk memahami nas dalam bab syariat. Maka, penerimaan para ulama’ terhadap mazhab-mazhab fiqh ini menunjukkan ianya diterima baik dalam tradisi keilmuan Islam. Sebagaimana kedudukan Sahih Al-Bukhari yang diterima oleh para ulama’ secara menyeluruh sebagai sumber agama paling sahih selepas Al-Qur’an lalu ianya tidak dipertikaikan lagi, begitu jugalah mazhab-mazhab fiqh sebagai disiplin untuk menggali hukum daripada sumber agama.

Ramai orang awam tidak memahami tradisi bermazhab dalam kalangan ulama’ Islam lalu menyangka bermazhab hanya sebagai mengikut perkataan seseorang ulama’ semata-mata. Jika seseorang ulama’ berbeza pendapat dengan ulama’ sesuatu mazhab bererti sudah menyalahi mazhab imam tersebut. Ini suatu kekeliruan yang nyata berdasarkan neraca keilmuan yang sebenar.

Oleh kerana itu didapati berlaku perbezaan pendapat antara sebahagian Fuqaha’ Syafi’iyyah dengan pendapat dan ijtihad asal Imam As-Syafi’e dalam sesuatu masalah, namun tidak menjadikan para Fuqaha’ Syafi’iyyah tersebut terkeluar daripada disiplin mazhab As-Syafi’e kerana secara asasnya, mengikut mazhab seseorang ulama’ itu merujuk kepada mengikut kerangka usul Fiqh dalam sesuatu mazhab tersebut di samping ijtihad mereka. Oleh sebab itulah muncul istilah seperti Ashab Al-Wujuh (para ulama’ yang mana ijtihad mereka dirujuk dalam sesuatu mazhab), Al-Mu’tamad fi Al-Mazhab (Ijtihad yang muktamad dalam sesuatu mazhab fiqh) dan sebagainya. Mazhab Fiqh bukanlah suatu mazhab yang merujuk kepada pelopor utamanya sahaja (yang dikenali sebagai Imam Al-Mazhab), tetapi merujuk kepada para Fuqaha’ yang mengembangkan mazhab seseorang imam itu juga.

Sepertimana dalam mazhab dalam bidang fiqh, dalam bidang aqidah juga wujud mazhab-mazhab yang mencapai tahap penerimaan ulama’ Islam secara majoriti. Mazhab-mazhab tersebut adalah mazhab Al-Asy’ari dan mazhab Al-Maturidi. Mazhab-mazhab ini adalah penerus kepada pegangan As-Salaf As-Sholeh dalam masalah aqidah tetapi dirangka dalam bentuk yang lebih teratur dengan gabungan hujah secara naqli dan aqli.

Akhirnya, kedua-dua mazhab ini mencapai tahap At-Talaqqi bi Al-Qabul dan terus dikembangkan oleh majoriti ulama’ Islam sepanjang zaman. Ini menunjukkan keagungan dan keutuhan mazhab aqidah tersebut dalam konsep At-Talaqqi bi Al-Qabul di sisi majoriti ulama’ Islam. Kedua-dua golongan ini (Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyyah) akhirnya lebih dikenali sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Imam Az-Zabidi meriwayatkan dalam kitab tersebut bahawa: Imam Al-Khayali berkata dalam Hasyiyah ‘Ala Syarh Al-‘Aqa’id : “Al-Asya’irah adalah ahlus-Sunnah wal Jamaah…Disebutkan juga Ahlus-Sunnah wal Jamaah kepada golongan Al-Maturidiyyah pengikut Imam Abu Manshur Al-Maturidi…” [Ittihaf Saadah Al-Muttaqin]

Sumber: Ustaz Raja Ahmad Mukhlis (artikel ini diterbitkan dengan keizinan dari beliau kepada al-Fagir)

http://al-fanshuri.blogspot.com/

Video DR. M. Yahya Waloni (Mantan pendeta) (2): Islam Runtuhkan keyakinan pendeta

Video DR. M. Yahya Waloni (Mantan pendeta) (2): Islam Runtuhkan keyakinan pendeta

——————————————————————————————-

Dr M Yahya Waloni Menemukan Kebenaran dalam Islam

Sebagai pakar teologi, Pendeta Yahya Yopie Waloni sangat mengetahui teori-teori yang ada dalam agama Islam. Meskipun masih beragama Kristen, Yahya memandang teori apa pun yang ada di Islam sangat benar. Islam pun, mampu menceritakan peradaban dunia dari yang lalu sampai sekarang. Bahkan, agama Kristen diceritakan pula dalam Islam.

Namun, menurut pria kelahiran Manado tahun 1970 ini, yang paling membuatnya tunduk patuh hingga memutuskan untuk masuk Islam pada Oktober 2006 adalah Islam menunjuk satu individu yang sangat tepat untuk menyebarkan ajarannya. “Ada satu individu yang membuat saya tunduk dan patuh, dia buta huruf tapi bisa menyusun Alquran secara sistematis,” ujar pria yang mengganti namanya menjadi M Yahya Waloni setelah memeluk agama Islam itu kepada Republika.

Menurut suami dari Lusiana (33) yang mengganti namanya menjadi Mutmainnah setelah memeluk Islam itu, dirinya masuk agama islam karena dari sistematika teori Islam sudah benar. Sebagai akamdemisi, kata dia, dirinya pun berpikir orang yang sudah memili teori benar saja bisa salah apalagi yang tidak memiliki teori yang benar. “Orang Islam yang sudah memiliki teori yang benar saja bisa salah apalagi yang tidak memiliki teori benar. Jadi, saya mengakui Islam secara teori dan spiritual,” ujar Yahya.

Ketertarikan Yahya untuk masuk Islam, kata dia, sebenarnya sudah ada sejak kecil, saat berumur sekitar 14 tahun. Pada usia itu, dirinya sudah ke masjd karena tertarik melihat banyak orang islam menggunakan pakaian seperti yang digambarkan di agamanya yaitu baju ikhram. Selain itu, dirinya pun sangat tertarik dengan gendang yang suka dimainkan di masjid-masjid.

“Saya hanya berani ke masjid satu kali saja karena ketahuan dan dipukul sampai babak belur oleh bapak saya. Kalau nekad ke masjid lagi, saya takut bapak saya yang seorang tentara akan menggantung saya,” ujar pria yang memiliki hobi bermain gendang ini.

Namun, sambung pria yang pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Theologia Calvinis di Sorong tahun 2000-2004 ini, dari sekian kejadian yang mendorongnya untuk memeluk Islam adalah pengalaman spiritual yang dialaminya. “Suatu hari, saya bertemu dengan seorang penjual ikan, di rumah lama kompleks Tanah Abang, Kelurahan Panasakan, Tolitoli,” ia memulai kisahnya.

Pertemuannya dengan si penjual ikan berlangsung tiga kali berturut-turut dengan waktu pertemuan yang sama yaitu pukul 09.45 Wita. “Kepada saya, si penjual ikan itu mengaku namanya Sappo (dalam bahasa Bugis artinya sepupu). Dia juga panggil saya Sappo. Dia baik sekali dengan saya,” ujar bapak dari Silvana (8 tahun, kini bernama Nur Hidayah), Sarah (7 tahun, menjadi Siti Sarah), dan Zakaria (4 tahun) ini.

Setiap kali ketemu dengan si penjual ikan itu, kata Yahya, dirinya berdialog panjang soal Islam. Anehnya, kata dia, si penjual ikan yang mengaku tidak lulus sekolah dasar (SD) itu sangat mahir dalam menceritakan soal Islam. Ia makin tertarik pada Islam.

Namun, sejak saat itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan penjual ikan itu. Si penjual ikan mengaku dari dusun Doyan, desa Sandana, salah satu desa di sebelah utara kota Tolitoli). “Saat saya datangi kampungnya, tidak ada satupun warganya yang menjual ikan dengan bersepeda,” tambahnya.

Sejak pertemuannya dengan si penjual ikan itulah katanya, konflik internal keluarga Yahya dengan istrinya meruncing. Istrinya, Lusiana tetap ngotot untuk tidak memeluk Islam. Karena dipengaruhi oleh pendeta dan saudara-saudaranya. “Ia tetap bertahan pada agama yang dianut sebelumnya. Jadi, kita memutuskan untuk bercerai,” katanya.

Namun, sambung dia, tidak lama setelah itu, tepatnya 17 Ramadan 1427 Hijriah atau tanggal 10 Oktober sekitar pukul 23.00 Wita, ia bermimpi bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba putih, duduk di atas kursi. Sementara, dia di lantai dengan posisi duduk bersila dan berhadap-hadapan dengan seseorang yang berpakaian serba putih itu. “Saya dialog dengan bapak itu. Namanya, katanya Lailatulkadar,” kata Yahya.

Setelah dari itu, Yahya kemudian berada di satu tempat yang dia sendiri tidak pernah melihat tempat itu sebelumnya. Di tempat itulah, Yahya menengadah ke atas dan melihat ada pintu buka-tutup. Tidak lama berselang, dua perempuan masuk ke dalam. Perempuan yang pertama masuk, tanpa hambatan apa-apa. Namun perempuan yang kedua, tersengat api panas.

“Setelah sadar, seluruh badan saya, mulai dari ujung kaki sampai kepala berkeringat. Saya seperti orang yang kena malaria. Saya sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan. Tetap saja begitu,” ujarnya.

Setelah diceritakan ke istrinya, kata dia, istrinya semakin tidak percaya dan ingin bercerai dengan Yahya. Namun, beberapa jam kemudian, istrinya menangis karena mimpi yang diceritakan suaminya kepadanya, sama dengan apa yang dimimpikan. Akhirnya istri saya yang mengajak segera masuk Islam,” katanya.

Akhirnya, kata Yahya, bersama istrinya memeluk Islam secara sah pada hari Rabu, 11 Oktober 2006 pukul 12.00 Wita melalui tuntunan Komarudin Sofa, Sekretaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Tolitoli. Hari itulah, Yahya dan istrinya mengucapkan dua kalimat syahadat. “Kekuatan saya, sekarang hanya shalat tahajud malam dan Dhuha pukul 08.00,” ujar mantan Rektor yang UKI Papua ini.

Sumber : http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=331677&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=376

http://yesuscross.wordpress.com/

Video documenter : Saudy (wahhaby) – America adalah hamba (servant) dan Tuan (Master)

Rezim Wahhaby Saudi arabia  adalah madzab sesat buatan yahudi british untuk menghancurkan islam dari dalam serta mengadu domba islam dnegan kristen. Ini bertujuan agar zionis yahudi laknatullah lebih mudah mengusai palestine dan dunia. Inilah pemimpin rezim suadi arabia (Raja fahd) yang dengan bangga berkawan dengan zionis britis dan berkalung salib:

Bush Su\

Logo Resmi Kerajaan British (Inggris) ternyata adalah Logo Freemason Zionist

antichrist prince william

Wahhaby symbol (Saudi arabia kingdom or wahhaby kingdom  symbol)

from : http://www.alriyadh.gov.sa/election/en-sh.asp

An emblem was designed for the elections campaign. It evokes the national symbol of Saudi Arabia and highlights the electoral process as a continuous build up and preservation of the country’s achievements in the field of development.

The campaign also selected a quotation from the address of the Custodian of the Two Holy Mosques King Fahd bin Abdul Aziz (Chief of wahhaby) in which he called on the citizens to practice the election process as it is a participation in the decision making.


Bukti kesesatan LDII / Darul hadits /Ajaran Manqul/ Maqoliyah beraqidah wahhaby takfiri

LDII / Darul hadits adalah salah satu varian dari wahhaby. Pendiri aliran ini terpengaruh dengan ajaran sesat wahhaby ketika di arab saudi dan membawanya ke Indonesia.

Sekitar tahun 1940-an sepulang Al-Imam Nurhasan Ubaidah Lubis Amir (Madigol) dari mukimnya selama 10 tahun di Makkah (belajar faham takfiri wahhaby), saat itulah masa awal dia menyampaikan ilmu hadits manqulnya, juga mengajarkan ilmu bela diri pencak silat kanuragan serta qiroat. Selain itu juga ia biasa melakukan kawin cerai, terutama mengincar janda-janda kaya. Kebiasaan itu benar-benar ia tekuni hingga ia mati (1982 M). Kebiasaan lainnya adalah mengkafir-kafirkan dan mencaci maki para kiyai/ulama yang diluar aliran kelompoknya dengan cacian dan makian sumpah serapah yang keji dan kotor. Dia sering menyebut-nyebut ulama yang kita kaum Suni muliakan yaitu  Imam Ghozali dengan sebutan (maaf, pen) Imam Gronzali. Juga dia sangat hobi membakar kitab-kitab kuning pegangan para kiyai/ulama NU madzab syafii kebanyakan dengan membakarnya di depan para murid-murid dan pengikutnya.

Hati-hati organisasi ini mempunyai kurang lebih mempunyai cabang di 9 negara termasuk di Malaysia.

ketaatan mutlak pada imamnya, mau bener atau salahnya perintah itu gak masalah !

doktrin kuat yg disuntikkan ke pemikiran mulai dari balita sampe orang2 tua, sehingga memiliki pemahaman islam yang jauh dari ajaran Nabi Muhammad !

seperti yang di anut LDII , Islam Jamaah , 354

Mereka Berani Sumpah Bohong dengan Demi ALLAH !
” Demi Allah ! Kami tidak punya imam ! ” begitu sumpah ketua LDII dan seluruh jajarannya…

karena bohong ke MUI, ke seluruh Rakyat dan Pemerintah Indonesia itu halal bagi mereka…

ini foto aselinya Penguasa2 / Imam2 mereka :

Imam Pertama :
Nurhasan (berfaham wahhaby anti madzab, membuat madzab sendiri dan mengkafirkan semua yang ada di luar organisasi mereka, ini adalah aqidah sesat yang dimiliki oleh semua varian wahhaby)

Imam Kedua :
Abdudhohir

Imam Ketiga :
Sulthon Aulia,
Apa bener gak ada hubungan antara LDII dan Islam Jamaah ?
Lihat baik2 foto dibawah ini , Imam ke 3 mereka hadir diacara LDII !

Imam Ketiga dan Wakil2nya :

Gak Usah Komen SARA atau HOAX, cukup buktikan ini !
elo boleh tanya sama siapapun orang LDII dan sebut nama salah satu dari mereka …

Coba Lihat Kurikulum Pendidikan Anak-Anak Mereka ( cetakan 2005 ) :

( Katanya Paradigma Baru ? Yang Ada Kebohongan Yang Makin Parah ! Makin Berani Bohong Pake Demi Allah Dan Sumpah Pake Quran Segala ! )

sumber : debat sesama khawarij wahhaby (wahhaby salafy vs wahhaby darusl hadits LDII) dikaskus

Tafsir Ibnu Katsir dan Adzkar Imam Nawawi : Kisah Tawassul Dengan Nabi Muhammad (Sesudah Wafatnya Nabi)

Kisah Tawassul Utby Rah. (Guru Imam Syafii) dalam kitab Tafsir Ibnu katsir (Lihat di Surat ke 4 ayat 64)  dan Al adzkar Imam Nawawi (Lihat di Bab ziarah kemakam Nabi) yang diingkari oleh golongan mujasimmah Wahhaby/salafi/salafy palsu. Bahkan puncak dari kedustaan wahhaby adalah membuang kisah Uthby pada kitab al adzkar Nawawi cetakan penerbit wahhaby saudi arabia.

BANTAHAN TERHADAP SITUS WAHHABY PENENTANG AHLUSSUNNAH (BAGIAN KE-IV, V, VI) : Kesesatan Paham yang Menafikan Tawassul

Risalah ini terdiri dari :

–          Ayat-ayat Al-qur’an dalil tawassul

Hadits-hadis Nabawi dalil tawassul dengan Nabi dan Wali Allah Semasa Hidup ataupun sesudah wafatnya.

–          Tawassul kepada Rasulallah saw. sesudah wafatnya:

–          Allah menjadikan Penolong-penolong bagi  Orang Beriman

–          Muhammad Ibnu Abdul Wahhab  (Imamnya madzhab Wahabi) tidak mengingkari tawassul

–          Para Nabi Hakikatnya Hidup didalam Kuburnya

–          Diantara dalil-dalil orang yang membantah serta jawabannya

Kesesatan Paham yang Menafikan Tawassul

Bertawassul dengan para Nabi dan orang-orang shalih (Wali Allah) baik ketika mereka sudah hidup maupun setelah wafatnya adalah amalan ummat muslim diseluruh dunia. Berikut ini kami ketengahkan dalil-dalil shahih yang dijadikan rujukan pada amalan sunnah ini. Sedangkan nash atau dalil yang melarang tawassul dengan Nabi atau Wali Allah semasa hidup atau wafatnya.

A. Ayat-ayat Al-qur’an dalil tawassul

1. Dalam surat an-Nisa’ ayat 64, Allah swt. berfirman:

“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

2. Dalam surat  Al-Maidah ayat 35:

‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….”

Keterangan :

Ibnu Taimiyyah disalah satu kitabnya Qa’idah Jalilah Fit-Tawassul Wal-Washilah dalam pembicaraannya mengenai tafsir ayat Al-Qur’an Al-Maidah: 35 menulis: ‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….’ antara lain mengatakan:

“Mencari washilah atau bertawassul untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. hanya dapat dilakukan oleh orang yang beriman kepada Muhammad Rasulallah saw. dan mengikuti tuntunan agamanya. Tawassul dengan beriman dan taat kepada beliau saw. adalah wajib bagi setiap orang, lahir dan bathin, baik dikala beliau masih hidup maupun setelah wafat, baik langsung dihadapan beliau sendiri atau pun tidak. Bagi setiap muslim, tawassul dengan iman dan taat kepada Rasulallah saw. adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat ditinggalkan. Untuk memperoleh keridhoan Allah dan keselamatan dari murka-Nya tidak ada jalan lain kecuali tawassul dengan beriman dan taat kepada Rasul-Nya. Sebab, beliaulah penolong (Syafi’) ummat manusia.

Beliau saw. adalah makhluk Allah termulia yang dihormati dan diagungkan oleh manusia-manusia terdahulu maupun generasi-generasi berikutnya hingga hari kiamat kelak. Diantara para Nabi dan Rasul yang menjadi penolong ummatnya masing-masing. Muhammad Rasulallah saw. adalah penolong (Syafi’) yang paling besar dan tinggi nilainya dan paling mulia dalam pandangan Allah swt. Mengenai Nabi Musa as. Allah swt. berfirman, bahwa Ia mulia disisi Allah. Mengenai Nabi Isa a.s. Allah swt. juga berfirman bahwa Ia mulia didunia dan diakhirat, namun dalam firman-firman-Nya yang lain menegaskan bahwa Muhammad Rasulallah saw. lebih mulia dari semua Nabi dan Rasul. Syafa’at dan do’a beliau pada hari kiamat hanya bermanfaat bagi orang yang bertawassul dengan iman dan taat kepada beliau saw. Demikianlah pandangan Ibnu Taimiyyah mengenai tawassul.

Dalam kitabnya Al-Fatawil-Kubra I :140 Ibnu Taimiyyah menjawab atas pertanyaan: Apakah tawassul dengan Nabi Muhammad saw. diperbolehkan atau tidak? Ia menjawab: “Alhamdulillah mengenai tawassul dengan mengimani, mencintai, mentaati Rasulallah saw. dan lain sebagainya adalah amal perbuatan orang yang bersangkutan itu sendiri, sebagaimana yang di perintahkan Allah kepada segenap manusia. Tawassul sedemikian itu di- benarkan oleh syara’ dan dalam hal itu seluruh kaum muslimin sepen- dapat.”

3. Dalam Surat Al-Baqarah :37, mengenai Tawassul Nabi Adam as. pada Rasulallah saw.:

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ اَنَّهُ هُوَا الـَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang ”.

Keterangan :

Tawassul Nabi Adam as. pada Rasulallah saw..  Sebagaimana disebutkan pada firman Allah swt. (Al-Baqarah :37) diatas. Menurut ahli tafsir kalimat-kalimat dari Allah yang diajarkan kepada Nabi Adam as. pada ayat diatas agar taubat Nabi Adam as. diterima ialah dengan menyebut dalam kalimat taubatnya bi-haqqi (demi kebenaran) Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Makna seperti ini bisa kita rujuk pada kitab: Manaqib Ali bin Abi Thalib,  oleh Al-Maghazili As-Syafi’i halaman 63, hadits ke 89; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusui Al-Hanafi, halaman 97 dan 239 pada  cet.Istanbul,. halaman 111, 112, 283 pada cet. Al-Haidariyah; Muntakhab Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muntaqi, Al-Hindi (catatan pinggir) Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 419; Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’i, jilid 1 halaman 60; Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 7, halaman 300 dan Ihqagul Haqq, At-Tastari jilid 3 halaman 76. Begitu juga pendapat Imam Jalaluddin Al-Suyuthi waktu menjelaskan makna surat Al-Baqarah :37 dan meriwayatkan hadits tentang taubatnya nabi Adam as. dengan tawassul pada Rasulallah saw.

Nabi Adam as. ,manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah swt. agar taubatnya bisa diterima dengan bertawassul pada Habibullah Nabi Muhammad saw., yang mana beliau belum dilahirkan di alam wujud ini. Untuk mengkompliti makna ayat diatas tentang tawassulnya Nabi Adam as. ini, kami akan kutip berikut ini beberapa hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan masalah itu:

Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak/Mustadrak Shahihain jilid 11/651 mengetengahkan hadits yang berasal dari Umar Ibnul Khattab ra. (diriwayat- kan secara berangkai oleh Abu Sa’id ‘Amr bin Muhammad bin Manshur Al-‘Adl, Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzaly, Abul Harits Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah, Abdurrahman bin Zain bin Aslam dan datuknya) sebagai berikut, Rasulallah saw.bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ الله.صَ. : لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمَُ الخَطِيْئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِي,

فَقالَ اللهُ يَا آدَمُ, وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أخْلَقُهُ ؟ قَالَ: يَا رَبِّ ِلأنَّـكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيدِكَ

وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأسِي فَرَأيـْتُ عَلَى القَوَائِمِ العَرْشِ مَكْتُـوْبًا:لإاِلَهِ إلاالله

مُحَمَّدَُ رَسُـولُ اللهِ, فَعَلِمْتُ أنَّكَ لَمْ تُضِفْ إلَى إسْمِكَ إلا أحَبَّ الخَلْقِ إلَيْكَ, فَقَالَ اللهُ

صَدَقْتَ يَا آدَمُ إنَّهُ َلاَحَبَّ الخَلْقِ إلَيَّ اُدْعُنِي بِحَقِّهِ فَقـَدْ غَفَرْتُ لَكَ, وَلَوْ لاَمُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ.

“Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhanku, demi kebenaran Muhammad aku mohon ampunan-Mu’. Allah bertanya (sebenarnya Allah itu maha mengetahui semua lubuk hati manusia, Dia bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa mendengar jawaban Nabi Adam as.): ‘Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum kuciptakan?!’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang ‘Arsy termaktub tulisan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa disamping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai’. Allah menegaskan: ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdo’alah kepada-Ku bihaqqihi (demi kebenarannya), engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan’ “.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dan dibenarkan olehnya dalam Khasha’ishun Nabawiyyah dikemukakan oleh Al-Baihaqi didalam Dala ’ilun Nubuwwah, diperkuat kebenarannya oleh Al-Qisthilani dan Az-Zarqani di dalam Al-Mawahibul Laduniyyah jilid 11/62, disebutkan oleh As-Sabki di dalam Syifa’us Saqam, Al-Hafidz Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam Al-Ausath dan oleh orang lain yang tidak dikenal dalam Majma’uz Zawa’id jilid V111/253.

Sedangkan hadits yang serupa/senada diatas yang sumbernya berasal dari Ibnu Abbas hanya pada nash hadits tersebut ada sedikit perbedaan yaitu dengan tambahan:

وَلَوْلآ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُ آدَمَ وَلآ الجَنَّةَ وَلآ النَّـارَ

‘Kalau bukan karena Muhammad Aku (Allah) tidak menciptakan Adam, tidak menciptakan surga dan neraka’.

Mengenai kedudukan hadits diatas para ulama berbeda pendapat. Ada yang menshohihkannya, ada yang menolak kebenaran para perawi yang meriwayatkannya, ada yang memandangnya sebagai hadits maudhu’, seperti Adz-Dzahabi dan lain-lain, ada yang menilainya sebagai hadits dha’if dan ada pula yang menganggapnya tidak dapat dipercaya. Jadi, tidak semua ulama sepakat mengenai kedudukan hadits itu. Akan tetapi Ibnu Taimiyah sendiri untuk persoalan hadits tersebut beliau menyebutkan dua hadits lagi yang olehnya dijadikan dalil. Yang pertama yaitu diriwayatkan oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi dengan sanad Maisarah yang mengatakan sebagai berikut :

قُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ, مَتَى كُنْتَ نَبِيَّا ؟ قَالَ: لَمَّا خَلَقَ اللهُ الأرْضَ وَاسْتَوَى إلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَما وَا تٍ,

وَ خَلَقَ العَرْشَ كَتـَبَ عَلَى سَـاقِ العَـرْشِ مُحَمَّتدٌ رَسُوْلُ اللهِ  خَاتَمُ الأَنْبِـيَاءِ , وَ خَلَقَ اللهُ الجَنَّـةَ الَّتِي أسْكَـنَهَا

آدَمَ وَ حَوَّاءَ فَكـُتِبَ إسْمِي عَلَى الأبْـوَابِ وَالأوْرَاقِ وَالقـِبَابِ وَ الخِيَامِ وَ آدَمُ بَيْـنَ الرَُوْحِ وَ الجَسَدِ,فَلَـمَّا أحْيَاهُ اللهُ

تَعَالَى نَظَرَ إلَى العَـرْشِ , فَرَأى إسْمِي فَأخْبَرَهُ الله أنَّهُ سَيِّدُ وَلَدِكَ, فَلَمَّا غَرَّهُمَا الشَّيْطَانُ  تَابَا وَاسْتَشْفَعَا بِإسْمِي عَلَيْهِ

“Aku pernah bertanya pada Rasulallah saw.: ‘Ya Rasulallah kapankah anda mulai menjadi Nabi?’ Beliau menjawab: ‘Setelah Allah menciptakan tujuh petala langit, kemudian menciptakan ‘Arsy yang tiangnya termaktub Muham- mad Rasulallah khatamul anbiya (Muhammad pesuruh Allah terakhir para Nabi), Allah lalu menciptakan surga tempat kediaman Adam dan Hawa, kemudian menuliskan namaku pada pintu-pintunya, dedaunannya, kubah-kubahnya dan khemah-khemahnya. Ketika itu Adam masih dalam keadaan antara ruh dan jasad. Setelah Allah swt .menghidupkannya, ia memandang ke ‘Arsy dan melihat namaku. Allah kemudian memberitahu padanya bahwa dia (yang bernama Muhammad itu) anak keturunanmu yang termulia. Setelah keduanya (Adam dan Hawa) terkena bujukan setan mereka ber- taubat kepada Allah dengan minta syafa’at pada namaku’ ”.

Sedangkan hadits yang kedua berasal dari Umar Ibnul Khattab (diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Nu’aim Al-Hafidz dalam Dala’ilun Nubuwwah oleh Syaikh Abul Faraj, oleh Sulaiman bin Ahmad, oleh Ahmad bin Rasyid, oleh Ahmad bin Said Al-Fihri, oleh Abdullah bin Ismail Al-Madani, oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ayahnya) yang mengatakan bahwa Nabi saw. berrsabda:

لَمَّا أصَابَ آدَمَ الخَطِيْئَةُ, رَفَعَ رَأسَهُ فَقَالَ: يَا رَبِّ بَحَقِّ مُحَمَّدٍ إلاَّ غَفَرْتَ لِي, فَأوْحَى إلَيْهِ, وَمَا مُحَمَّدٌ ؟

وَمَنْ مُحَمَّدٌ ؟ فَقَالَ: : يَا رَبِّ إنَّكَ لَمَّا أتْمَمْتَ خَلْقِي وَرَفَعْتُ رَأسِي إلَى عَرْشِكَ فَإذَا عَلَيْهِ مَكْتُوْبٌ

لإلَهِ إلااللهُ مُحَمَّدٌ رَسُـولُ اللهِ فَعَلِمْتُ أنَّهُ أكْرَمُ خَلْقِـكَ عَلَيْكَ إذْ قَرََرَنْتَ إسْمُهُ مَعَ اسْمِكَ فَقَالَ, نَعَمْ, قَدْ غَفَرْتُ لَكَ ,

وَهُوَ آخِرُ الأنْبِيَاءِمِنْ ذُرِّيَّتِكَ, وَلَوْلاَهُ مَا خَلَقْتُكَ

“Setelah Adam berbuat kesalahan ia mengangkat kepalanya seraya berdo’a: ‘Ya Tuhanku, demi hak/kebenaran Muhammad niscaya Engkau berkenan mengampuni kesalahanku’. Allah mewahyukan padanya: ‘Apakah Muhamad itu dan siapakah dia?’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menyempurnakan penciptaanku, kuangkat kepalaku melihat ke ‘Arsy, tiba-tiba kulihat pada “Arsy-Mu termaktub Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak itu aku mengetahui bahwa ia adalah makhluk termulia dalam pandangan-Mu, karena Engkau menempatkan namanya disamping nama-Mu’. Allah menjawab: ‘Ya benar, engkau Aku ampuni,. ia adalah penutup para Nabi dari keturunanmu. Kalau bukan karena dia, engkau tidak Aku ciptakan’ ”.

Yang lebih heran lagi dua hadits terakhir ini walaupun diriwayatkan dan di benarkan oleh Ibnu Taimiyyah, tapi beliau ini belum yakin bahwa hadits-hadits tersebut benar-benar pernah diucapkan oleh Rasulallah saw.. Namun Ibnu Taimiyyah toh membenarkan makna hadits ini dan menggunakannya untuk menafsirkan sanggahan terhadap sementara golongan yang meng- anggap makna hadits tersebut bathil/salah atau bertentangan dengan prinsip tauhid dan anggapan-anggapan lain yang tidak pada tempatnya. Ibnu Taimiy yah dalam Al-Fatawi jilid XI /96 berkata sebagai berikut:

“Muhammad Rasulallah saw. adalah anak Adam yang terkemuka, manusia yang paling afdhal (utama) dan paling mulia. Karena itulah ada orang yang mengatakan, bahwa karena beliaulah Allah menciptakan alam semesta, dan ada pula yang mengatakan, kalau bukan karena Muhammad saw. Allah swt. tidak menciptakan ‘Arsy, tidak Kursiy (kekuasaan Allah), tidak menciptakan langit, bumi, matahari dan bulan. Akan tetapi semuanya itu bukan ucapan Rasulallah saw, bukan hadits shohih dan bukan hadits dho’if, tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya sebagai ucapan (hadits) Nabi saw. dan tidak dikenal berasal dari sahabat Nabi. Hadits tersebut merupakan pembicaraan yang tidak diketahui siapa yang mengucapkannya. Sekalipun demikian makna hadits tersebut tepat benar dipergunakan sebagai tafsir firman Allah swt.: “Dialah Allah yang telah menciptakan bagi kalian apa yang ada dilangit dan dibumi ” (S.Luqman : 20), surat Ibrahim 32-34 (baca suratnya dibawah ini–pen.) dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang menerangkan, bahwa Allah menciptakan seisi alam ini untuk kepentingan anak-anak Adam. Sebagai- mana diketahui didalam ayat-ayat tersebut terkandung berbagai hikmah yang amat besar, bahkan lebih besar daripada itu. Jika anak Adam yang paling utama dan mulia itu, Muhammad saw. yang diciptakan Allah swt. untuk suatu tujuan dan hikmah yang besar dan luas, maka kelengkapan dan kesempurnaan semua ciptaan Allah swt. berakhir dengan terciptanya Muhammad saw.“. Demikianlah Ibnu Taimiyyah.

Firman-Nya dalam  surat Ibrahim 32-34 yang dimaksud Ibnu Taimiyyah ialah:

اللهُ الَّذِى خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَ الاَرْضَ وَاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً َفاَََخْرَجَ بِهِ

مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًالَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِى البَحْرِ بِاَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ

الاَنْهَارَ َوَسَخَّرَ  لَكُمُ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَآتَاكُمْ مِنْ

كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْه وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا اِنَّ الاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rizki untuk kalian, dan Dia telah menundukkan bahtera bagi kalian supaya bahtera itu dapat berlayar di lautan atas kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagi kalian. Dan Dia jualah yang telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar dalam orbitnya masing-masing dan telah menundukkan bagi kalian siang dan malam. Dan Dia jugalah yang memberikan kepada kalian apa yang kalian perlukan/mohonkan. Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat mengetahui berapa banyaknya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”.(QS Ibrahim :32-34). DAPAT DISIMPULKAN JUGA BAHWA IBNU TAYMIYAH MENGAKUI KONSEP “NUR MUHAMMAD” BAHWA NUR NABI MUHAMMAD ADALAH MAKHLUQ YANG PERTAMA KALI DICIPTAKAN. Dan perhatikan kebiasaan buruk dan kedustaan ibnu taymiyah (mati 721 H)  yang mengatakan “tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya” padahal imam Thabrani (wafat 360 H) menulisnya dalam al -ausath, Abu Nu’aim (wafat 430 H)  dalam Dala’ilun Nubuwwah dsb.

B. Hadits-hadis Nabawi dalil tawassul dengan Nabi dan Wali Allah Semasa Hidup ataupun sesudah wafatnya.

1. Hadits Shahih dari Abu Sa’id al Khudri Ra.

hadist tawassul 1

Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri –semoga Allah meridlainya-, ia berkata: Rasulullah Shallalahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Barangsiapa keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat (di masjid) kemudian ia berdo’a: Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan derajat orang-orang yang saleh yang berdo’a kepada-Mu (baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal) dan dengan derajat langkah-langkahku ketika berjalan ini, sesungguhnya aku keluar rumah bukan untuk menunjukkan sikap angkuh dan sombong, juga bukan karena riya’ dan sum’ah, aku keluar rumah untuk menjauhi murka-Mu dan mencariridla-Mu, maka aku memohon kepada Engkau: selamatkanlah aku dari api neraka dan ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, maka Allah akan meridlainya dan tujuh puluh ribu malaikat memohonkan ampun untuknya” (H.R. Ahmad dalam al Musnad, ath-Thabarani dalam ad-Du’a, Ibn as-Sunni dalam ‘Amal al Yaum wa allaylah,

al Bayhaqi dalam Kitab ad-Da’awat al Kabir dan selain mereka, sanad hadits ini dihasankan oleh al Hafizh Ibn Hajar, al Hafizh Abu al Hasan al Maqdisi, al Hafizh al ‘Iraqi, al Hafizh ad-Dimyathi dan lainlain). Dalam hadits ini terdapat dalil dibolehkannya bertawassul dengan para shalihin, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Hadits ini adalah salah satu dalil Ahlussunnah Wal Jama’ah untuk membantah golongan Wahhabi yang mengharamkan tawassul dan mengkafirkan pelakunya.

2. Hadits Shahih tentang tawassulnya Sahabat yang sembuh penyakit Mata (Buta)

Dari Ustman bin Hunaif yang mengatakan: “Sesungguhnya telah datang seorang lelaki yang tertimpa musibah (buta matanya) kepada Nabi saw. Lantas lelaki itu mengatakan kepada Rasulllah; ‘Berdo’alah kepada Allah untukku agar Dia (Allah swt) menyembuhkanku!’. Kemudian Rasulallah ber- sabda: ‘Jika engkau menghendaki maka aku akan menundanya untukmu, dan itu lebih baik. Namun jika engkau menghendaki maka aku akan berdo’a (untukmu)’. Kemudian dia (lelaki tadi) berkata: ‘Mohonlah kepada-Nya (untukku)!’. Rasulallah memerintahkannya untuk mengambil air wudhu, kemudian ia berwudhu dengan baik lantas melakukan shalat dua rakaat. Kemudian ia (lelaki tadi) membaca do’a tersebut:

hadist tawassul 2

‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dan aku datang meng- hampiri-Mu, demi Muhammad sebagai Nabi yang penuh rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya aku telah datang menghampiri-mu untuk menjumpai Tuhan-ku dan meminta hajat-ku ini agar terkabulkan. Ya Allah, jadikanlah dia sebagai pemberi syafa’at bagiku’.

Utsman bin Hunaif berkata; ‘Demi Allah, belum sempat kami berpisah, dan belum lama kami berbicara, sehingga laki-laki buta itu menemui kami dalam keadaan bisa melihat dan seolah-olah tidak pernah buta sebelumnya”. (HR. Imam at-Turmudzi dalam “Sunan at-Turmudzi” 5/531 hadits ke-3578; Imam an-Nasa’i dalam kitab “as-Sunan al-Kubra” 6/169 hadits ke-10495; Imam Ibnu Majah dalam “Sunan Ibnu Majah” 1/441 hadits ke-1385; Imam Ahmad dalam “Musnad Imam Ahmad” 4/138 hadits ke-16789; al-Hakim an-Naisaburi dalam “Mustadrak as-Shohihain” 1/313; as-Suyuthi dalam kitab “al-Jami’ as-Shoghir” halaman 59, Sunan Ibnu Majah, jilid 1, hal 331; Mustadrak al-Hakim, jilid 1, hal 313 ; Talkhish al-Mustadrak, adz-Dzahabi dan sebagainya. Sehingga dari situ, Ibnu Taimiyah pun menyatakan kesahihannya pula ).

Syeikh Ja’far Subhani melakukan kajian tentang sanad hadits diatas ini di dalam bukunya yang berjudul Ma’a al-Wahabiy yinfi Khuthathihim wa ‘Aqa’idihim. Dia berkata, “Tidak ada keraguan tentang keshohihan sanad hadits ini. Bahkan, ulama yang dipercaya oleh kalangan Wahabi yaitu Ibnu Taimiyyah mengakui keshohihan sanad hadits ini, dengan mengatakan, ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan nama Abu Ja’far yang terdapat di dalam sanad hadits ini adalah Abu Ja’far al-Khathmi. Dia seorang yang dapat dipercaya.’

3. Kisah Shahabat yang menyaksikan kisah  No. 2,  mengajarkan Tawassul ini Pada Masa Khalifah Utsman

Dalam sebuah riwayat panjang tentang kisah Utsman bin Hunaif (salah seorang sahabat mulia Rasulallah saw.) yang disebutkan oleh at-Tabrani dari Abi Umamah bin Sahal bin Hunaif yang bersumber dari pamannya, Utsman bin Hunaif. Disebutkan bahwa, “Suatu saat seorang lelaki telah beberapa kali mendatangi khalifah Utsman bin Affan agar memenuhi hajat- nya. Saat itu, Utsman tidak menanggapi kedatangannya dan tidak pula mem- perhatikan hajatnya. Kemudian lelaki itu pergi dan ditengah jalan bertemu Utsman bin Hunaif dan mengeluhkan hal yang dihadapinya kepadanya. Mendengar hal itu, lantas Utsman bin Hunaif mengatakan kepadanya: ‘Ambillah bejana dan berwudhulah. Kemudian pergilah ke masjid (Nabi) dan shalatlah dua rakaat’. Seusainya maka katakanlah: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan mendatangi-Mu demi Nabi-Mu Muhammad yang sebagai Nabi pembawa Rahmat. Wahai Muhammad, aku menghadapkan wajahku kepadamu untuk memohon kepada Tuhanku. Maka kabulkan-lah hajatku’ Kemudian sebutkanlah hajatmu. Beranjaklah maka aku akan mengiringimu’.

Kemudian lelaki itu melakukan apa yang telah diberitahukan kepadanya. Selang beberapa saat, lalu ia kembali mendatangi pintu rumah Utsman (bin ‘Affan). Utsman pun mempersilahkannya masuk dan duduk di satu kursi dengannya, seraya berkata: Apakah gerangan hajatmu? Kemudian ia menyebutkan hajatnya, dan Utsman pun segera memenuhinya. Ia (Utsman) berkata kepadanya: ‘Aku tidak ingat terhadap hajatmu melainkan baru beberapa saat yang lalu saja’. Ia (Utsman bin Affan) pun kembali mengatakan: ‘Jika engkau memiliki hajat maka sebutkanlah (kepadaku)’! Setelah itu, lelaki itu keluar meninggalkan rumah Utsman bin Affan dan kembali bertemu Utsman bin Hunaif seraya berkata: ‘Semoga Allah membalas kebaikanmu’ ! Dia (Utsman bin Affan) awalnya tidak melihat dan memperhatikan hajatku sehingga engkau telah berbicaranya kepadanya tentangku.

Utsman bin Hunaif berkata: ‘Demi Allah, aku tidak pernah berbicara tentang kamu kepadanya. Tetapi aku telah melihat Rasulullah saw. didatangi dan dikeluhi oleh seorang yang terkena musibah penyakit kehilangan kekuatan penglihatannya, kemudian Nabi bersabda kepadanya: ‘Bersabarlah’! Lelaki itu menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki penggandeng dan itu sangat menyulitkanku’. Nabi bersabda: ‘Ambillah bejana dan berwudhulah, kemudian shalatlah dua rakaat, kemudian bacalah do’a-do’a berikut….’ (info: ini mengisyaratkan pada hadits tentang sahabat yang mendatangi Rasulallah karena kehilangan penglihatannya yang diriwayatkan dalam kitab “Musnad Ahmad” 4/138, “Sunan at-Turmudzi” 5/569 hadits ke-3578, “Sunan Ibnu Majah” 1/441 dan “Mustadrak as-Shohihain” 1/313) berkata Ibnu Hunaif: Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan [cara tawassul itu]. Percakapan itu begitu panjang sehingga datanglah seorang lelaki yang seakan dia tidak mengidap satu penyakit”. (Lihat: Kitab “Mu’jam at-Tabrani” 9/30 nomer 8311, “al-Mu’jam as-Shoghir” 1/183, dikatakan hadits ini sahih)

Al-Mundziri (At-Targhib jilid 1/44 dan Majma’uz Zawaid jilid 11/279) mengatakan hadits diatas ini shahih begitupun juga Ibnu Taimiyyah yang mengatakan bahwa hadits yang diriwayatkan At-Thabarani diatas ini berasal dari Abu Ja’far yang nama aslinya Umar bin Yazid, seorang perawi hadits yang dapat dipercaya. Abu Abdullah al-Maqdisi mengatakan bahwa hadits itu shahih. Juga Al-Hafidz Nuruddin Al-Haitsami membenarkan hadits itu.

4. Hadits tawassul Nabi Muhammad kepada para Nabi yang telah wafat

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia mengatakan; ketika Fathimah binti Asad meninggal dunia, Rasulullah saw. datang dan duduk di sisi kepalanya sembari bersabda: ‘Rahimakillah ya ummi ba’da ummi ‘ (Allah merahmatimu wahai ibuku pasca ibu [kandung]-ku). Kemudian beliau saw. menyebutkan pujian terhadapnya, lantas mengkafaninya dengan jubah beliau. Kemudian Rasulallah memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin Khattab dan seorang budak hitam untuk menggali kuburnya. Kemudian mereka menggali liang kuburnya. Sesampai di liang lahat, Rasulallah saw. sendiri yang menggalinya dan mengeluarkan tanah lahat dengan meng- gunakan tangan beliau saw.. Setelah selesai (menggali lahat), kemudian Rasulallah saw. berbaring disitu sembari berkata: ‘Allah Yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia Yang selalu hidup, tiada pernah mati. Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad. Perluaskanlah jalan masuknya, demi Nabi-Mu dan para nabi sebelumku”. (Lihat: Kitab al-Wafa’ al-Wafa’)

5. Hadits tawassul Nabi Muhammad kepada para Nabi yang telah wafat (2)

Hadits yang serupa diatas yang diketengahkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath. Rasulallah saw. bertawassul pada dirinya sendiri dan para Nabi sebelum beliau saw. sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik, ketika Fathimah binti Asad isteri Abu Thalib, bunda Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw. wafat, Rasulallah saw. sendirilah yang menggali liang-lahad. Setelah itu (sebelum jenazah dimasukkan ke lahad) beliau masuk kedalam lahad, kemudian berbaring seraya bersabda:

“Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah Allah yang Maha Hidup. Ya Allah, limpahkanlah ampunan-Mu kepada ibuku panggilan ibu, karena Rasulallah saw. ketika masih kanak-kanak hidup dibawah asuhannya, lapangkanlah kuburnya dengan demi Nabi-Mu (yakni beliau saw. sendiri) dan demi para Nabi sebelumku. Engkaulah, ya Allah Maha Pengasih dan Penyayang”. Beliau saw. kemudian mengucapkan takbir empat kali. Setelah itu beliau saw. bersama-sama Al-‘Abbas dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhumaa memasukkan jenazah Fathimah binti Asad kedalam lahad. ( At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath.)

Dalam kitab Majma’uz-Zawaid jilid 9/257 disebut nama-nama perawi hadits tersebut, yaitu Ruh bin Shalah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Ada perawi yang dinilai lemah, tetapi pada umumnya adalah perawi hadit-hadits shohih. Sedangkan para perawi yang disebut oleh At-Thabrani didalam Al-Kabir dan Al-Ausath semuanya baik (jayyid) yaitu Ibnu Hiban, Al-Hakim dan lain-lain yang membenarkan hadits tersebut dari Anas bin Malik.

Selain mereka terdapat juga nama Ibnu Abi Syaibah yang meriwayatkan hadits itu secara berangkai dari Jabir. Ibnu ‘Abdul Birr meriwayatkan hadits tersebut dari Ibnu ‘Abbas dan Ad-Dailami meriwayatkannya dari Abu Nu’aim. Jadi hadits diatas ini diriwayatkan dari sumber-sumber yang saling memper- kuat kebenarannya.

Imam Sayyid Muhammad Zaki Ibrahim dalam karyanya “al-Ifhaam wal Ifhaam @ Qadhaya al-Wasiilah wal Qubur” halaman 32, di mana beliau, rahimahUllah, menyatakan:-

Dan juga kita dapat perhatikan di sini bahawa para nabi yang Junjungan Nabi s.a.w. bertawassul dengan haq mereka kepada Allah dalam hadits tersebut dan lain-lain hadits telah pun wafat. Maka tsabit harus (jawaz) bertawassul kepada Allah dengan “haq” atau dengan “ahlil haq” yang hidup dan yang mati. Justru setelah ini adakah hujjah bagi orang yang menegah bertawassul?! Ya Allah, tiada kekuatan melainkan denganMu!!

Kalam yang kedua daripada al-Faqih Habib Zain bin Ibrahim BinSumaith dalam “al-Ajwibah al-Ghaaliyyah” halaman 76, di mana beliau, hafizahUllah, menyatakan:-

Lihatlah kepada sabdaan baginda : “dengan haq para nabi sebelumku“, maka itu adalah dalil yang jelas bagi mengharuskan / membolehkan bertawassul dengan para nabi setelah kewafatan mereka, sesungguhnya mereka itu hidup di alam barzakh. Dan demikian pulalah segala waris-waris mereka yang sempurna dari kalangan para shiddiqin dan awliya. (Yakni boleh bertawassul dengan mereka semuanya, sama ada yang masih hidup maupun yang telah wafat).

C. Tawassul kepada Rasulallah saw. dikala wafatnya:

1. Kisal Sahabat Bilal al-habsyi ra.

Abu Darda’ dalam sebuah riwayat menyebutkan: “Suatu saat, Bilal (al-Habsyi) bermimpi bertemu dengan Rasulallah. Beliau bersabda kepada Bilal: ‘Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidak perhatianmu (jafa’)? Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?’. Selepas itu, dengan perasa- an sedih, Bilal segera terbangun dari tidurnya dan bergegas mengendarai tunggangannya menuju ke Madinah. Lalu Bilal mendatangi kubur Nabi sambil menangis lantas meletakkan wajahnya di atas pusara Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulallah) datang. Kemudian Bilal mendekap dan mencium keduanya”. (Tarikh Damsyiq jilid 7 Halaman: 137, Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar jilid: 1 Halaman: 208, Tahdzibul Kamal jilid: 4 Halaman: 289, dan Siar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi Jilid: 1 Halaman 358)

Bilal menganggap ungkapan Rasulallah saw. dalam mimpinya sebagai teguran dari beliau saw., padahal secara dhohir beliau saw. telah wafat. Jika tidak demikian, mengapa sahabat Bilal datang jauh-jauh dari Syam menuju Madinah untuk menziarahi Rasulallah saw.? Kalau Rasulallah benar-benar telah wafat sebagaimana anggapan madzhab Wahabi bahwa yang telah wafat itu sudah tiada maka Bilal tidak perlu menghiraukan teguran Rasulallah itu. Apa yang dilakukan sahabat Bilal juga bisa dijadikan dalil atas ketidakbenaran paham Wahabisme –pemahaman Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab– tentang pelarangan bepergian untuk ziarah kubur sebagaimana yang mereka pahami tentang hadits Syaddur Rihal.

Apakah Bilal khusus datang jauh-jauh dari Syam hanya sekedar berziarah dan memeluk pusara Rasulallah saw. tanpa mengatakan apapun (tawassul) kepada penghuni kubur tersebut? Sekarang mari kita lihat riwayat lain yang berkenaan dengan diperbolehkannya tawassul secara langsung kepada yang telah meninggal:

“Masyarakat telah tertimpa bencana kekeringan di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Bilal bin Harits –salah seorang sahabat Nabi– datang ke pusara Rasul dan mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah (banyak) yang binasa’. Rasul saw. menemuinya di dalam mimpi dan memberitahukannya bahwa mereka akan diberi hujan (oleh Allah) ”. (Fathul Bari jilid 2 halaman 398, atau as-Sunan al-Kubra jilid 3 halaman 351)

Hadits-hadits diatas mencakup sebagai dalil tentang kebolehan tabarruk dan tawassul kepada orang yang dhahirnya telah wafat, hal itu telah dicontohkan oleh tokoh Salaf Saleh.

2. Kisah Tawassul seorang Badwi pada zaman khalifah Ali ra.

Berkata al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Musa an-Nukmani dalam karyanya yang berjudul ‘Mishbah adz-Dzolam’; Sesungguhnya al-Hafidz Abu Said as-Sam’ani menyebutkan satu riwayat yang pernah kami nukil darinya yang bermula dari Khalifah Ali bin Abi Thalib yang pernah mengisahkan: “Telah datang kepada kami seorang badui setelah tiga hari kita mengebumi- kan Rasulullah. Kemudian ia menjatuhkan dirinya ke pusara Rasulallah saw. dan membalurkan tanah (kuburan) di atas kepalanya seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, engkau telah menyeru dan kami telah mendengar seruanmu. Engkau telah mengingat Allah dan kami telah mengingatmu. Dan telah turun ayat; ‘Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang’ (QS an-Nisa: 64) dan aku telah mendzalimi diriku sendiri. Dan aku mendatangimu agar engkau memintakan ampun untukku. Kemudian terdengar seruan dari dalam kubur: ‘Sesungguhnya Dia (Allah) telah mengampunimu’ ”. (Kitab “Wafa’ al-Wafa’” karya as-Samhudi 2/1361)

Dari riwayat di atas menjelaskan bahwa; bertawassul kepada Rasulullah pasca wafat beliau adalah hal yang legal dan tidak tergolong syirik atau bid’ah. Bagaimana tidak? Sewaktu prilaku dan ungkapan tawassul/istigho- tsah itu disampaikan oleh si Badui di pusara Rasul –dengan memeluk dan melumuri kepalanya dengan tanah pusara– yang ditujukan kepada Rasulallah yang sudah dikebumikan, hal itu berlangsung di hadapan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib. Dan khalifah Ali sama sekali tidak menegurnya, padahal beliau adalah salah satu sahabat terkemuka Rasulullah yang memiliki keilmuan yang sangat tinggi dimana Rasulullah pernah bersabda berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib kw. sebagai berikut: ‘Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali’. (Kitab “Tarikh Baghdad” karya Khatib al-Baghdadi 14/321, dan dengan kandungan yang sama bisa dilihat dalam kitab “Shohih at-Turmudzi” 2/298).

Dalam Kitab “Mustadrak as-Shohihain” karya al-Hakim an-Naisaburi 3/124, ‘Ali bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Ali, keduanya tidak akan pernah terpisah hingga hari kebangkitan’. Dalam Kitab “Mustadrak as-Shohihain” 3/126, ‘Aku (Rasulallah saw.) adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya. Barangsiapa meng- hendaki (masuk) kota maka hendaknya melalui pintu gerbangnya’. Dalam Kitab Mustadrak as-Shohihain” 3/122, ‘Engkau (Ali) adalah penjelas kepada umatku tentang apa-apa yang mereka selisihkan setelah (kematian)-ku’. Dan masih banyak lagi riwayat mengenai Khalifah Ali kw.ini.

3. Kisah Al-‘Utbah

Syeikh Abu Manshur As-Shabbagh dalam kitabnya Al-Hikayatul Masyhur- ah mengemukakan kisah peristiwa yang diceriterakan oleh Al-‘Utbah sebagai berikut:

“Pada suatu hari ketika aku (Al-‘Utbah) sedang duduk bersimpuh dekat makam Rasulallah saw., tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui. Didepan makam beliau itu ia berkata: ‘As-Salamu’alaika ya Rasulallah. Aku mengetahui bahwa Allah telah berfirman: Sesungguhnya jika mereka ketika berbuat dhalim terhadap diri mereka sendiri segera datang kepadamu (hai Muhammad), kemudian mohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun me mohonkan ampun bagi mereka, tentulah mereka akan mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (An-Nisa: 64). Sekarang aku datang kepadamu ya Rasulallah untuk mohon ampunan kepada Allah atas segala dosaku, dengan syafa’atmu, ya Rasulallah..’. Setelah mengucapkan kata-kata itu ia lalu pergi. Beberapa saat kemudian aku (Al-‘Utbah) terkantuk. Dalam keadaan setengah tidur itu aku bermimpi melihat Rasulallah saw. berkata kepadaku : ‘Hai ‘Utbah, susullah segera orang Badui itu dan beritahu kan kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya’ ”.

Peristiwa diatas ini dikemukakan juga oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Idhah bab 4 hal. 498. Dikemukakan juga oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengenai ayat An-Nisa : 64. Para ulama pakar lainnya yang mengetengah- kan peristiwa Al-‘Utbah ini ialah: Syeikh Abu Muhammad Ibnu Qaddamah dalam kitabnya Al-Mughny jilid 3/556 ; Syeikh Abul Faraj Ibnu Qaddamah dalam kitabnya Asy-Syarhul-Kabir jilid 3/495 ; Syeikh Manshur bin Yunus Al-Bahuty dalam kitabnya Kisyaful-Qina (kitab ini sangat terkenal dikalangan madzhab Hanbali) jilid 5/30 dan Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi jilid 5/265) yang mengemukakan peristiwa semakna tapi kalimatnya agak berbeda.

Hadits-hadits diatas, jelas lelaki itu tawassul kepada Rasulallah saw agar beliau saw. berdo’a kepada Allah swt. untuk orang itu. Kalau ini bukan di katakan sebagai dalil tawassul, mengapa orang tersebut tidak langsung ber- do’a kepada Allah swt. tanpa mohon kepada beliau saw. untuk mendo’akannya ?

4. Kisah Shahabat dan Ahlu Madinah Bertabaruk dengan makam Nabi (1)

Ad-Darami meriwayatkan: “Penghuni Madinah mengalami paceklik yang sangat parah. Mereka mengadu kepada Aisyah ra (ummul Mukminin). Aisyah mengatakan: ‘Lihatlah pusara Nabi ! Jadikanlah ia (pusara) sebagai penghubung menuju langit sehingga tidak ada lagi penghalang dengan langit’. Dia (perawi) mengatakan: Kemudian mereka (penduduk Madinah) melakukannya, kemudian turunlah hujan yang banyak hingga tumbuhlah rerumputan dan gemuklah onta-onta dipenuhi dengan lemak. Maka saat itu disebut dengan tahun ‘al-fatq’ (sejahtera)”. (Lihat: Kitab “Sunan ad-Darami” 1/56).

5. Kisah Shahabat dan Ahlu Madinah Bertabaruk dengan makam Nabi (2)

Hadits serupa diatas yang diriwayatkan secara berangkai dari Abu Nu’man dari Sa’id bin Zaid, dari ‘Amr bin Malik Al-Bakri dan dari Abul Jauza bin ‘Abdullah yang mengatakan sebagai berikut: “Ketika kota Madinah dilanda musim gersang hebat, banyak kaum muslimin mengeluh kepada isteri Rasulallah saw. ‘Aisyah ra. Kepada mereka ‘Aisyah berkata: ‘Datang-lah kemakam Nabi saw. dan bukalah atapnya agar antara makam beliau dan langit tidak terhalang apapun juga’. Setelah mengerjakan saran ‘Aisyah ra.itu turunlah hujan hingga rerumputan pun tumbuh dan unta-unta menjadi gemuk”. (ini menggambarkan betapa banyaknya hujan yang turun hingga kota Madinah menjadi subur kembali). (Kitab Sunan Ad-Daramy jilid 1/43)

6. Kisah Shahabat Bilal bin al-Harits al-Muzni dan Ahlu Madinah Bertabaruk dengan makam Nabi (3) dan bukti pengkafiran wahaby terhadap sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzni

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih dari Abu Salih as-Saman dari Malik ad-Dar –seorang bendahara Umar–. yang ber- kata: “Masyarakat mengalami paceklik pada zaman (kekhalifahan) Umar. Lantas seseorang datang kemakam Nabi saw. seraya berkata: ‘Ya Rasulullah mohonkan (kepada Allah swt) hujan untuk umatmu, karena mereka hendak binasa’. Kemudian didalam tidur bermimpi datanglah sese- orang dan berkata kepadanya: ‘Datangilah Umar’! Saif juga meriwayatkan hal tersebut dalam kitab al-Futuh; Sesungguhnya lelaki yang bermimpi tadi adalah Bilal bin al-Harits al-Muzni, salah seorang sahabat. (Lihat: Kitab Fathul Bari 2/577).

di atas adalah kitab fathul bary syarah sohih bukhary oleh ulama islam ahli sunnah wal jama’ah al-asya’irah iaitu imam syeikh ibnu hajar al-asqolany.

di atas pula adalah isi kandungannya dalam permulaan kitab tadi yang dicetak dengan nama 4 buat syarikat pencetakan menyatakan kitab tersebut telah di tahkik ( diletak nota ) oleh abdul aziz bin baz al-wahhabi.lihat line yang telah dimerahkan.

nah….inilah bukti bahawa bin baz mufti wahhabi dan kesemua wahhabi di malaysia mengkafirkan sahabat nabi muhammad: di atas adalah isi kandungan kitab tersebut yang ditambah nota kakinya oleh bin baz al-wahhabi dan kesemu wahhabi di malaysia memperakuinya.tertera pada line yang berwarna merah hadith nabi yang sahih dalam kitab fathul bary tersebut menyatakan bahawa sahabat nabi yang bernama bilal al-harith almuzany telah melakukan amalan tawassul iaitu meminta hujan dari allah bertawassulkan nabi dinamakan “istisqo’ “.

pada line yang berwarna biru pula adalah kenyataan rasmi bin baz al-wahhabi dan kesemua wahhabi malaysia mempersetujuinya dimana kenyataan tersebut amat jelas wahhabi mengkafirkan dan menghukum syirik sahabat nabi (bilal) kerana bertawassulkan nabi ketika ” istisqo’ “. dan perhatikan pada kenyataan wahhabi diatas: و ان ما فغله هذا الرجل منكر ووسيلة الى الشرك yang diertikan “sesungguhnya apa dilakukan oleh lelaki ini iaitu sahabat nabi muhammad (bilal) adalah satu-satunya pembawa syirik“. dan perhatikan pada ayat selepasnya lebih jelas wahhabi mengkafirkan sahabat nabi dan menghukum sahabat nabi muhammad (bilal) sebagai musyrik.

semoga allah memelihara kita dari terjatuh dalam kancah wahhabi atau yg seakidah dgn wahhabi.sekalipun nk didakwa wahhabi tak wujud didunia ini tapi kekufuran mereka masih menyebarkannya termasuk website mereka yg bertopengkan ahkam.

7. Kisah Shahabat Bilal bin al-Harits al-Muzni dan Ahlu Madinah Bertabaruk dengan makam Nabi (4)

Hadits lainnya yang semakna dengan hadits terakhir diatas ini tentang tawassul pada Rasulallah saw. dimuka makam beliau yaitu yang diketengah- kan oleh Al-Hafidz Abubakar Al-Baihaqy. Hadits itu diriwayatkan secara berangkai oleh para perawi: Abu Nashar, Ibnu Qatadah dan Abubakar Al-Farisy dari Abu ‘Umar bin Mathar, dari Ibrahim bin ‘Ali Adz-Dzihly, dari Yahya bin Yahya dari Abu Mu’awiyah, dari A’masy bin Abu Shalih dan dari Malik bin Anas yang mengatakan sebagai berikut:

“Pada zaman Khalifah Umar Ibnul Khattab ra. terjadi musim kemarau amat gersang. Seorang datang kemakam Rasulallah saw. kemudian berkata: ‘Ya Rasulallah, mohonkanlah hujan kepada Allah bagi ummat anda. Mereka banyak yang telah binasa’. Pada malam harinya orang itu mimpi didatangi Rasulallah saw. dan berkata kepadanya: ‘Datanglah engkau kepada ‘Umar dan sampaikan salamku kepadanya. Beritahukan dia bahwa mereka akan memperoleh hujan’. Katakan juga kepadanya: ‘Engkau harus bijaksana …bijaksana’ ! Kemudian orang itu segera menyampaikan berita mimpinya kepada Khalifah ‘Umar. Ketika itu ‘Umar berkata: ‘Ya Rabb (Ya Tuhanku), mereka mohon pertolongan-Mu karena aku memang tidak dapat berbuat sesuatu’ “.

Hadits itu isnadnya shohih. Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wan-Nihayah jilid 1/91 mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 18 H. Ibnu Abi Syaibah juga mengetengahkan hadits itu dengan isnad shohih dari riwayat Abu Shalih As-Saman yang berasal dari Malik ad-Dariy, seorang bendaharawan (Khazin) pada zaman Khalifah Umar. Menurut Saif dalam kitabnya Al-Futuh orang yang mimpi didatangi Rasulallah saw. itu ialah sahabat Nabi saw. yang bernama Bilal bin Al-Harits Al-Muzny. Dalam kitab Fathul Bari jilid 11/415 Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits tersebut isnadnya shohih.

8.  Tawassul dengan hanya menyebut nama Rasulallah saw. (1)

Al-Haitsam bin Khanas meriwayatkan kesaksiannya sendiri sebagai berikut:

“Ketika aku datang kepada ‘Abdullah bin Umar ra.kulihat ada seorang yang menderita kejang kaki (kaku hingga tidak dapat berjalan). ‘Abdullah bin Umar berkata kepadanya: ‘Sebutlah orang yang paling kau cintai‘! Orang yang kejang itu berseru: ‘Ya Muhammad’ ! Saat itu juga aku melihat ia langsung dapat berjalan seperti orang yang terlepas dari belenggu “.

9. Tawassul dengan hanya menyebut nama Rasulallah saw. (2)

Imam Mujahid meriwayatkan hadits dari Abdullah bin ‘Abbas sebagai berikut:

“Seorang yang menderita penyakit kejang kaki datang kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas ra. Kepadanya ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata: ‘Sebutlah orang yang paling kau cintai !’ Orang itu lalu menyebut; ‘Muhammad saw’.! Seketika itu juga lenyaplah penyakitnya“. Ibnu Taimiyyah juga mengetengahkan riwayat ini dalam kitabnya Al-Kalimut-Thayyib bab 47 halaman 165.

10. Kisah Shahabat yang menyaksikan kisah  No. 2,  mengajarkan Tawassul ini Pada Masa Khalifah Utsman

Kisah ini telah dijelaskan pada hadits-hadits pada point B diatas.

D. Allah menjadikan Penolong-penolong bagi  Orang Beriman

Disamping itu, sesuatu yang menunjukkan diperbolehkannya tawassul/ istighotsah ialah, ijma’ kaum muslimin, dan begitu juga sejarah hidup orang-orang yang sezaman dengan Rasulallah saw. Kaum muslimin, sejak dahulu hingga sekarang, mereka bertawassul kepada para nabi dan orang-orang sholeh. Tidak ada seorang ulama pun yang memprotes dan mengharamkan, mensyirikkan perbuatan ini, kecuali golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya Begitu pun juga halnya dengan permintaan tolong kepada hamba Allah, tidak langsung kepada Allah swt., itu adalah mustahab.

1.  Allah swt. berfirman:

“Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”. (Q.S. 66:4)

Apakah kita benar-benar menyekutukan sesuatu kepada Allah ketika kita percaya bahwa Jibril as, orang beriman dan para malaikat yang juga bisa sebagai Maula (pelindung) kita dan Naseer (Penolong) bersama-sama dengan Allah ?

Jika kita tetap memakai pengertian Syirik sebagaimana pendapat golongan pengingkar maka kita secara otomatis telah membuat Allah sendiri Musyrik (Na‘udzubillah) dan begitu pula dengan orang-orang yang percaya terhadap seluruh ayat Al-Quran. Dan masih banyak firman Allah swt. yang mengatakan selain Dia ada hamba-hamba-Nya yang bisa menolong.

1. Hadits Rasulallah saw.:

وَاللهُ فِى عَوْنِ العَبْدِ مَاكَانَ العَبْدُ فِى عَوْنِِ أخِيْهِ

Allah menolong hamba-Nya selagi hamba itu mau menolong saudaranya”. (HR Muslim, Abu Daud dan lainnya.

2. Hadits :

إنَّ لِلَّهِ خلْـقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ يَفْزَعُ النَّاسُ إلَيْهِمْ فِي حَوَائِجِهِمْ واُولاَئِـكَ الآمِنُوْنَ مِنْ عَذَابِ اللهِ

“Allah mempunyai makhluk yang diciptakan untuk keperluan orang banyak. Kepada mereka itu banyak orang yang minta pertolongan untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka adalah orang-orang yang selamat dari siksa Allah”.

3. Sebuah riwayat dari ‘Abdullah bin Abbas ra. mengatakan bahwa Rasulallah saw. bersabda:

“Banyak Malaikat Allah dimuka bumi selain yang bertugas mengawasi amal perbuatan manusia. Mereka mencatat setiap lembar daun yang jatuh dari batangnya. Karena itu jika seorang diantara kalian tersesat ditengah sahara (atau tempat lainnya), hendaklah ia berseru: ‘Hai para hamba Allah tolonglah aku’ “. (HR.At-Thabrani dengan para perawi yang terpercaya).

4. ‘Abdullah bin Mas’ud ra meriwayatkan, bahwa Rasulallah saw. pernah bersabda:

“Jika seorang diantara kalian ternak piaraannya terlepas ditengah sahara, hendaklah ia berseru: ’Hai para hamba Allah, tahanlah ternakku…hai para hamba Allah tahanlah ternakku’. Karena sesungguhnya Allah mempunyai makhluk (selain manusia) dimuka bumi yang siap memberi pertolongan”. (HR. Abu Ya’la dan At-Thabarani dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya, kecuali satu orang yang dipandang lemah yaitu Ma’ruf bin Hasan). Imam Nuruddin ‘Ali bin Abubakar Al-Haitsami juga mengetengahkan riwayat ini dalam Majma’uz-Zawaid Wa Manba’ul-Fuwa’id jilid X/132.

  1. ‘Utbah bin Ghazwan mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulallah saw. bersabda:

“Jika seorang dari kalian kehilangan sesuatu atau ia mem- butuhkan bantuan, saat ia berada didaerah dimana ia tidak mempunyai kenalan, maka ucapkanlah; ’Hai para hamba Allah, tolonglah aku’, karena sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba (makhluk-makhluk ciptaan-Nya selain manusia) yang tidak kita lihat”. Dan ‘Utbah sendiri telah mencoba melaksanakan anjuran Rasulallah saw. ini !

Riwayat diatas ini diketengahkan oleh At-Thabarani dengan para perawi yang dapat dipercaya, kecuali Yazid bin ‘Ali yang oleh At-Thabarani di pandang lemah, karena Yazid ini tidak hidup sezaman dengan ‘Utbah. Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat lain yang tidak kami cantumkan disini.

Hadits-hadits diatas ini juga menunjukkan permintaan tolong kepada hamba Allah yang tidak kelihatan (ghoib), tidak langsung minta tolong kepada Allah!

Apakah orang yang minta pertolongan pada hamba Allah tidak langsung kepada Allah swt. disebut ‘musyrik atau durhaka’?

Jadi sekali lagi permintaan tolong/istighotsah itu bukan berarti berbuat ke kufuran apa pun kecuali jika disertai keyakinan sebab utama pertolongan bukan dari Allah swt. melainkan dari orang yang dimintai tolong itu sendiri. Kita harus mempunyai keyakinan bahwa orang yang mohon pertolongan itu adalah upaya/iktisab sedangkan yang dimintai pertolongan itu hanya sekedar washithah.

Begitupun juga soal minta syafa’at kepada Nabi atau kepada para waliyullah atau kepada orang shaleh yang telah wafat. Namun kita tidak boleh mempunyai keyakinan bahwa Nabi, para waliyullah dan orang-orang shalih yang telah wafat tersebut dapat memberi syafa’at tanpa seizin Allah swt. Kaum muslimin juga percaya bahwa yang mohon syafa’at itu adalah ‘upaya/ iktisab’ sedangkan yang diminta syafa’at adalah ‘washithah’, tidak lebih dari itu !!

E. Muhammad Ibnu Abdul Wahhab  (Imamnya madzhab Wahabi) tidak mengingkari tawassul

Muhammad Ibnu Abdul Wahhab adalah orang yang sering menolak atau mengharamkan tawassul, tetapi anehnya atas pertanyaan yang diajukan kepadanya, menjawabnya dalam kitab Al-Istifta: “Tidak ada salahnya orang bertawassul kepada orang-orang sholeh”. Lebih lanjut dia mengatakan, ‘bahwa pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang memperbolehkan tawassul khusus kepada Nabi Muhammad saw. saja, berlainan sekali dengan pendapat sementara orang yang tidak memperbolehkan minta pertolongan kepada sesama makhluk’.

Muhammad Ibnu Abdul Wahhab berpendapat, bahwa persoalan tersebut adalah persoalan Fiqh. Ia mengatakan: ‘Banyak ulama yang tidak menyukai hal itu (tawassul). Kalau kami sependapat dengan jumhurul-ulama yang memandang tawassul itu makruh, tidaklah berarti bahwa kami mengingkari atau melarang orang bertawassul. Kami pun tidak mempersalahkan orang yang melakukan ijtihad mengenai soal itu. Yang kami ingkari dan tidak dapat kami benarkan ialah orang yang lebih banyak minta (berdo’a) kepada sesama makhluk daripada mohon kepada Allah swt. Yang kami maksud ialah orang yang minta-minta kepada kuburan, seperti kuburan Syeikh Abdul Kadir Al-Jailani dan lain-lain. Kepada kuburan-kuburan itu mereka minta supaya diselamatkan dari bahaya, minta supaya dipenuhi keinginannya dan lain sebagainya’ “. Demikianlah antara lain yang dikatakan oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dalam Majmu’atul-Muallafat bagian 111 halaman 68, yang diterbitkan oleh ‘Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa’ud’ dalam pekan peringatan Muhammad Ibnu ‘Abdul-Wahhab.

F. Para Nabi Hakikatnya Hidup didalam Kuburnya

Jelaslah bagi golongan yang mau berpikir, sekalipun Rasulallah saw. telah wafat namun ketinggian martabatnya, kemuliaan kedudukannya dan segala keutamaannya masih tetap disisi Allah swt. Dan pujian-pujian, tawassul serta salam pada beliau saw. selalu sampai kepadanya. Tidak lain semua itu dalam usaha mendekatkan diri pada Allah swt. pada hakekatnya berdasar- kan keyakinan akan kebenaran ayat-ayat Allah dan Sunnah Nabi saw.

  1. Hadits  yang dikemukakan oleh Al-Hafidz Ismail Al-Qadhi dalam kitabnya tentang shalawat kepada Nabi Muhammad saw. dan Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id dan menilainya sebagai hadits shohih sebagai berikut:

حَياَتيِ خَيْرُْ لَّكُمْ فَاِذَا أَنَامِتُّ كَانَتْ وَفَاتِى خَيْرًا لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَىَّ أَعْمَالَكُم

فَاِنْ رَأَيْتُ خَيْرًا حَمِدْتُ الله وَأِنْ رَأَيْتُ شَرًّا اسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ

“Hidupku didunia ini baik untuk kalian. Bila aku telah wafat, maka wafatku pun baik bagi kalian. Amal perbuatan kalian akan diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat sesuatu baik, kupanjatkan puji syukur kehadirat Allah, dan jika aku melihat sesuatu yang buruk aku mohon kan ampunan kepada-Nya bagi kalian”.

2. Juga sabda beliau saw. yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah ra :

مَا مِنْ اَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ.

“Setiap salam yang disampaikan kepadaku oleh seseorang, Allah akan menyampaikan kepada ruhku agar aku menjawab salam itu”.(HR.Imam Ahmad bin Hambal dan Abu Dawud). Imam Nawawi mengatakan hadits ini isnadnya shohih.

3. ‘Ammar bin Yasir ra meriwayatkan, bahwasanya Rasulallah saw bersabda:

قاَلَ رَسُولُ اللهِ.صَ. اِنَّ اللهَ وَكَّلَ بِقَبْرِى َملَكاً أَعْطاَهُ اللهُ أَسْماَء الْخَلآِئقِ،

فَلآ يُصَلِّى عَلَىَّ اَحَدًا أِلىَ يَوْمِ الْقِياَمَةِ أِلآّ أَبْلَغَنِى بِاِسْمِهِ وَاسْمِ أَبِيْهِ،

هَذَا فُلآنُ اِبْنُ فُلآنُ قَدْ صَلَّى عَلَيْكَ

“Allah mewakilkan Malaikat didalam kuburku. Kepadanya Allah memberikan nama-nama seluruh umat manusia. Karena itu hingga hari kiamat kelak setiap orang yang mengucapkan shalawat kepadaku pasti akan disampaikan oleh Malaikat itu nama dan nama ayahnya: si Fulan bin si Fulan telah mengucapkan shalawat kepada anda”. (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazar. Dalam riwayat Abu Syaikh Ibnu Hibban disampaikan dalam kalimat agak berbeda tetapi sama maknanya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Thabarani dan lain-lain.)

Dari semua hadits tersebut jelas buat kita bahwa Rasulallah saw. dialam barzakh senantiasa menjawab setiap salam yang disampaikan oleh ummat-nya kepada beliau saw. Salam artinya keselamatan, dengan demikian terang lah bahwa Rasulallah saw. selalu berdo’a keselamatan dan ampunan untuk ummatnya.

4. Anas Ra. Meriwayatkan hadits :

“Semua para nabi adalah hidup didalam kubur dan mereka melakukan shalat (HR. Imam Baihaqi dalam kitabnya Hayati Anbiya (Nabi-nabi hidup dalam kuburnya). Allamah Juga meriwayatkan hadits ini dari berbagai isnad.

5. Hadits Riwayat Muslim, Dari Anas ra. Bahwasanya  Rasulullah SAW bersabda :

“Pada malam mi’raj, daku melewati Nabi Musa as. Dan melihatnya shalat didalam kuburnya.”

6. Hadits Riwayat Muslim, mengenai berjumpanya nabi Muhammad dengan para Nabi pada waktu isra mi’raj.

Bahwasanya  Rasulullah SAW bersabda : “Daku Nampak sendiri sekumpulan Nabi-nabi dan melihat Nabi Ibrahim dan nabi Isa As. Sedang shalat di dalam keadaan berdiri”.

7. Imam Suyuti Rah. Juga menulis Kitab tentang Hidupnya para nabi di dalam kuburnya. (KitabFadhilah Shalawat Syaikhul Hadits Maulana zakariyya Halaman 16).

G. Diantara dalil-dalil orang yang membantah serta jawabannya

Lebih mudahnya marilah kita baca sanggahan Imam Syaukani terhadap orang yang melarang Tawassul dengan makhluk atau sesama manusia dalam berdo’a memohon sesuatu kepada Allah swt., berikut ini:

Imam Syaukani dalam Ad-Durr An-Nadhiid Fi Ikhlashi Kalimatit Tauhid mengatakan:

“Syeikh ‘Izuddin Ibnu ‘Abdussalam telah menegaskan: ‘Tawassul yang diper- bolehkan dalam berdo’a kepada Allah hanyalah tawassul dengan Nabi Muhammad saw., itupun kalau hadits yang mengenai itu shohih’.

Asy-Syaukani selanjutnya berkata, mungkin hadits yang dimaksud oleh Syeikh ‘Izuddin ialah hadits mengenai soal tawassul yang dikemukakan oleh An-Nasai dalam Sunan-nya, At-Tirmudzi dan dipandang shohih olehnya oleh Ibnu Majah dan lain-lain, yaitu ‘sebuah hadits yang meriwayatkan adanya seorang buta datang menghadap Nabi Muhammad saw…’. (baca hadits ‘Utsman bin Hunaif yang telah kami kemukakan—pen). Mengenai soal itu ada dua pendapat:

Pendapat pertama: Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Umar bin Khattab ra. (dalam shohih Al-Bukhori dll.), yaitu setelah Rasulallah saw. wafat, tiap musim gersang atau paceklik ia bersama kaum Muslimin berdo’a kepada Allah swt. mohon diturunkan hujan (istisqa) dengan bertawassul pada paman Nabi saw., yaitu ‘Abbas bin Abdul Mutthalib.

Pendapat kedua : Bertawassul dengan Nabi Muhammad saw. diperkenan- kan baik dikala beliau saw. masih hidup maupun setelah wafat, dihadapan beliau mau pun tidak sepengetahuan beliau saw. Mengenai tawassul dengan Rasulallah saw. dikala hidupnya, tidak ada perbedaan pendapat. Adapun mengenai tawassul dengan pribadi orang selain beliau saw. setelah beliau wafat, hal ini disepakati bulat oleh para sahabat Nabi secara diam-diam.

Tidak seorang pun dari para sahabat Nabi yang mengingkari atau tidak mem benarkan prakarsa Khalifah Umar ra. untuk bertawassul dengan paman Nabi saw. yaitu ‘Abbas ra.. Saya (Imam Syaukani) berpendapat: ‘bahwa tawassul diperkenankan tidak hanya khusus pada pribadi Rasulallah saw. sebagai- mana yang dikatakan oleh Syeikh ‘Izuddin. Mengenai soal itu ada dua alasan (dalil/hujjah).

Pertama: Telah disepakati bulat oleh para sahabat Nabi saw, yaitu sebagai- mana dikatakan dalam hadits ‘Umar bin Khattab ra’.

Kedua: Tawassul pada para ‘ahlul-fadhl’ (pribadi-pribadi utama dan mulia) dan para ahli ilmu (para ulama), pada hakekatnya adalah tawassul pada amal kebajikan mereka. Sebab, tidak mungkin dapat menjadi ‘ahlul-fadhl’ dan ‘ulama’, kalau mereka itu tidak cukup tinggi amal kebajikannya. Jadi kalau orang berdo’a kepada Allah swt. dengan mengucap: ‘Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bertawassul kepada orang alim yang bernama Fulan…., itu telah menunjukkan pengakuannya tentang kedalaman ilmu yang ada pada orang ‘alim yang dijadikan washilah. Hal ini dapat dipastikan kebenarannya berdasarkan sebuah hadits dalam Shohih Bukhori dan Shohih Muslim tentang hikayat tiga orang dalam goa yang terhambat keluar karena longsornya batu besar hingga menutup rapat mulut goa. Mereka kemudian berdo’a dan masing-masing bertawassul dengan amal kebajikannya sendiri-sendiri. Pada akhirnya Allah mengabulkan do’a mereka dan terangkatlah batu besar yang menyumbat mulut goa.

Lebih jauh Asy-Syaukani mengatakan: ‘Kalau bertawassul dengan amal ke bajikan tidak diperkenankan atau merupakan perbuatan syirik, sebagai- mana dikatakan oleh Syeikh ‘Izuddin dan para pengikutnya; Tentu Rasul- Allah saw. tidak akan menceriterakan hikayat tersebut diatas, dan Allah tidak akan mengabulkan do’a mereka bertiga’.

1. Para penentang tawassul berhujjah: (Tulisan yang di TEBALkan adalah tambahan dari penulis, bukan dari kitab asyaukani)

Nash-nash Al-Qur’an yang dijadikan hujjah/dalil untuk tidak membenarkan tawassul dengan para ahli takwa dan orang-orang sholeh seperti firman-firman Allah swt.:

“Kami tidak menyembah mereka (berhala-berhala) kecuali untuk men- dekatkan diri kami sedekatnya dengan Allah”.(Az-Zumar : 3)

َلاَ تَدْعُوْا مَعَ اللهِ اَحَدًا

“…Maka janganlah kalian berdo’a kepada Allah (dengan) menyertakan seseorang”. (Al-Jin:18)

لَهُ دَعْوَةُ اْلحَقُّ وَالّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ لآيَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُمْ بِشَيْءٍ

Hanya Allah lah (yang berhak mengabulkan) do’a yang benar. Apa-apa juga yang mereka seru selain Allah tidak akan dapat mengabulkan apapun juga bagi mereka.” (Ar-Ra’ad : 14)

Jawaban :

Ayat-ayat diatas dan ayat-ayat lainnya tidak pada tempatnya dijadikan hujjah bagi persoalan itu. Bahkan ayat-ayat tersebut oleh mereka hanya dijadikan dalil untuk memperuncing perselisihan pandangan. Sebab, ayat-ayat suci tersebut pada hakekatnya adalah larangan menyekutukan Allah swt. Sedangkan soal tawassul sama sekali buka soal menyembah sesuatu selain Allah. Ayat-ayat tersebut ditujukan kepada mereka yang tidak berdo’a kepada Allah swt., sedangkan orang yang bertawassul berdo’a hanya kepada Allah swt. tidak berdo’a kepada sesuatu yang mereka sekutukan dengan Allah !

2. Juga golongan pengingkar ini berhujjah/berdalil pada firman Allah swt. :

وَمَا اَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّ يْنِ ثُمَّ مَا اَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّ يْن يَوْمَ لآ تَمْلِكُ َنفْسُْ لِنَفْسٍ  شَيئًا وَالأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ

“Tahukah engkau, apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah engkau, apakah hari pembalasan itu? Yaitu hari pada saat seseorang tidak berdaya sedikitpun menolong orang lain; dan segala urusan pada hari itu berada di dalam kekuasaan Allah” (Al-Infithar:17-19)

Jawaban :

Ayat suci tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk mengingkari kebenaran tawassul, karena orang yang bertawassul dengan Nabi, ulama yang sholeh dan ahli taqwa, sama sekali tidak mempunyai pikiran atau keyakinan bahwa Nabi, ulama yang sholeh, ahli taqwa atau waliyullah yang mereka jadikan washilah, itu akan menjadi sekutu Allah atau menyaingi kekuasaan-Nya pada hari pembalasan ! Setiap muslim tahu benar bahwa keyakinan seperti itu adalah sesat.

3. Pihak-pihak yang melarang tawassul pada Nabi Muhammad saw. juga meng gunakan firman-firman Allah dibawah ini sebagai dalil:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِشَئُْ

Tidak ada sedikitpun campur tanganmu (hai Muhammad) dalam urusan mereka (kaum musyrikin)”. (Ali Imran : 128)

Dan firman-Nya lagi : قُلْ لآ اََمْلِكُ لِنَفْسِى نَقْعًا وَلآ ضَرًّا

Katakanlah (hai Muhammad): ‘Aku tidak berkuasa mendatangkan ke manfaatan bagi diriku, dan tidak pula berkuasa menolak kemadharatan”. (Al-A’raf : 188)

Jawaban :

Itu pun tidak pula pada tempatnya, karena Allah swt. telah mengaruniakan kedudukan (maqam) terpuji dan tertinggi kepada Rasulallah saw. yaitu kewenangan memberi syafa’at seizin Allah. Demikian pula pernyataan beliau saw. kepada kaum kerabatnya, beberapa saat setelah beliau menerima wahyu Ilahi, ‘dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat’ (Asy-Syu’ara : 214), yaitu: ‘Hai Fulan bin Fulan dan hai Fulanah binti Fulan, di hadapan Allah aku (Muhammad saw.) tidak dapat memberi pertolongan apa pun kepada kalian…!

Pernyataan Rasulallah saw. itu tidak berarti lain kecuali bahwa beliau tidak berdaya menangkal madharat/malapetaka yang telah dikenakan Allah kepada seseorang dan beliau saw. pun tidak berdaya menolak manfaat yang telah diberikan Allah swt. kepada seseorang, sekalipun orang itu kerabat beliau sendiri.

Pengertian itu tidak ada kaitannya dengan tawassul. Karena orang yang bertawassul tetap memanjatkan do’anya kepada Allah swt. Bertawassul kepada Rasulallah saw. dalam berdo’a tidak berarti lain kecuali mengharap- kan syafa’at beliau agar Allah swt. berkenan mengabulkan do’a dan per- mohonan yang diminta. Adapun soal terkabulnya suatu do’a atau tidak, sepenuhnya berada didalam kekuasaan Allah swt.”. Demikianlah garis besar pandangan Imam Asy-Syaukani mengenai soal tawassul.

https://salafytobat.wordpress.com/2008/08/14/dalil-nabi-muhammad-bertawasul-dengan-para-nabi-alaihissalam/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 503 other followers