Imam al-Fakhr ar-Razi (606 H) Dalam at-Tasir al-Kabir: ALLAH ADA TANPA TEMPAT (Membongkar Kesesatan Aqidah Wahabi)

Seorang ahli tafsir terkemuka, Imam al-Fakhr ar-Razi (w 606 H) dalam kitab tafsirnya menuliskan sebagai berikut:

“Jika keagungan Allah disebabkan dengan tempat atau arah atas maka tentunya tempat dan arah atas tersebut menjadi sifat bagi Dzat-Nya. Kemudian itu berarti bahwa keagungan Allah terhasilkan dari sesuatu yang lain; yaitu tempat. Dan jika demikian berarti arah atas lebih sempurna dan lebih agung dari pada Allah sendiri, karena Allah mengambil kemuliaan dari arah tersebut. Dan ini berarti Allah tidak memiliki kesempurnaan, sementara selain Allah memiliki kesempurnaan. Tentu saja ini adalah suatu yang mustahil”( at-Tafsîr al-Kabîr, QS. al-Baqarah: 225, jld. 4, juz 7, h. 14).

Pada bagian lain dari tafsirnya dalam penafsiran firman Allah QS. Thaha: 5 Imam al-Fakhr ar-Razi menuliskan sebagai berikut:

“Masalah kedua; Kaum Musyabbihah menjadikan ayat ini sebagai rujukan dalam menetapkan keyakinan mereka bahwa Tuhan mereka duduk, bertempat atau bersemayam di atas arsy. Pendapat mereka ini jelas batil, terbantahkan dengan dalil akal dan dalil naql dari berbagai segi;

Pertama: Bahwa Allah ada tanpa permulaan. Dia ada sebelum menciptakan arsy dan tempat. Dan setelah Dia menciptakan segala makhluk Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-Nya, tidak butuh kepada tempat, Dia Maha Kaya dari segala makhluk-Nya. Artinya bahwa Allah Azali -tanpa permulaan- dengan segala sifat-sifat-Nya, Dia tidak berubah. Kecuali bila ada orang berkeyakinan bahwa arsy sama azali seperti Allah. (Dan jelas ini kekufuran karena menetapkan sesuatu yang azali kepada selain Allah)”.

Kedua: Bahwa sesuatu yang duduk di atas arsy dipastikan adanya bagian-bagian pada dzatnya. Bagian dzatnya yang berada di sebelah kanan arsy jelas bukan bagian dzatnya yang berada di sebelah kiri arsy. Dengan demikian maka jelas bahwa sesuatu itu adalah merupakan benda yang memiliki bagian-bagian yang tersusun. Dan segala sesuatu yang memiliki bagian-bagian dan tersusun maka ia pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam susunannya tersebut. Dan hal itu jelas mustahil atas Allah.

Ketiga: Bahwa sesuatu yang duduk di atas arsy dipastikan ia berada di antara dua keadaan; dalam keadaan bergerak dan berpindah-pindah atau dalam keadaan diam sama sekali tidak bergerak. Jika dalam keadaan pertama maka berarti arsy menjadi tempat bergerak dan diam, dan dengan demikian maka arsy berarti jelas baharu. Jika dalam keadaan kedua maka berarti ia seperti sesuatu yang terikat, bahkan seperti seorang yang lumpuh, atau bahkan lebih buruk lagi dari pada orang yang lumpuh. Karena seorang yang lumpuh jika ia berkehendak terhadap sesuatu ia masih dapat menggerakan kepada atau kelopak matanya. Sementara tuhan dalam keyakinan mereka yang berada di atas arsya tersebut diam saja.

Keempat: Jika demikian berarti tuhan dalam keyakinan mereka ada kalanya berada pada semua tempat atau hanya pada satu tempat saja tidak pada tempat lain. Jika mereka berkeyakinan pertama maka berarti menurut mereka tuhan berada di tempat-tempat najis dan menjijikan. Pendapat semacam ini jelas tidak akan diungkapkan oleh seorang yang memiliki akal sehat. Kemudian jika mereka berkeyakinan kedua maka berarti menurut mereka tuhan membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam kekhususan tempat dan arah tersebut. Dan semacam ini semua mustahil atas Allah” (at-Tafsîr al-Kabîr, QS. Thaha: 5, jld. 11, juz 22, h. 5-6).

Waspadai Wahabi, mereka menyebarkan aqidah sesat; mengatakan Allah bertempat di atas arsy, lalu pada saat yang sama juga mengatakan Allah bertempat di langit. mereka mengatakan Allah bertempat bahkan di dua tempat, heh!!!!! Na’udzu Billah!!!
Mereka yakin arsy dan langit sebagai ciptaan Allah; tapi mereka mengatakan Allah bertempat pada keduanya!!! di mana logika sehat mereka?????? itu artinya dalam keyakinan mereka; Allah berubah-ubah, dari semula yang ada tanpa arsy dan tanpa langit, lalu berubah menjadi bertempat pada keduanya!!!

Benar, mereka adalah kaum yang ditertawakan oleh orang2 tolol; sebelum ditertawakan oleh orang2 berakal….!!!!!!
waspadai mereka….!!! jaga anak2 dan generasi kita, jangan sampai berkeyakinan rusak ala Wahabi!!!!

Hadits ini memberikan pemahaman berikut (sebagaimana dijelaskan Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari); Allah ada tanpa permulaan, Dia ada sebelum menciptakan arsy tanpa arsy. Maka demikian pula setelah menciptakan arsy; Dia ada tanpa arsy. Artinya; Allah tidak berubah, Dia yang menciptakan arsy maka Dia tidak berubah menjadi bertempat padanya.
Waspadai ajaran sesat Wahabi!!!!!!

Pelaku Teroris Aceh : Jamaah Anshar Tauhid (JAT) Pimpinan abu bakar ba’asyir teroris wahhabi quthbiyun / alqaida

Sementara, Densus 88 hingga kini juga belum merilis secara resmi identitas 12 orang yang ditangkap itu. Namun, inilah daftar mereka yang ditangkap:.

1. Andriansyah, anggota Jamaah Anshar Tauhid ditangkap di Pejaten Barat
2. Solehudin, anggota Jamaah Anshar Tauhid ditangkap di Pejaten Barat
3. Yanto Abdillah, anggota Jamaah Anshar Tauhid ditangkap di Pejaten Barat
4. Ustadz Mahali atau Mahali Abdul Jabal, anggota Jamaah Anshar Tauhid, seorang guru, ditangkap di Pejaten Barat
5. Agus, anggota Jamaah Anshar Tauhid, di Pejaten Barat
6. Firman Firdaus, anggota Jamaah Anshar Tauhid, mahasiswa, di Pejaten Barat
7. Untung, anggota Jamaah Anshar Tauhid
8. Syarif Usman, dokter, ditangkap di Menteng
9. Hariyadi Usman, wiraswasta, ditangkap di Bekasi
10. Hening Pujiati, ibu rumah tangga, ditangkap di Bekasi
11. Abdullah, anggota Jamaah Anshar Tauhid, ditangkap di Pejaten Barat
12. Nanang Purwoko, belum diketahui lokasi penangkapannya

Penangkapan Teroris Pejaten Hasil Pengembangan Aceh

Jum’at, 7 Mei 2010 – 15:33 wib
K. Yudha Wirakusuma – Okezone

Teroris Aceh (Foto: Dok. Okezone)
JAKARTA– Jajaran Mabes Polri menyatakan penangkapan 12 orang yang diduga teroris di Pejaten, Menteng, dan Bekasi, bermula dari pengembangan kasus teroris di Aceh.

“Nama-nama mereka awal kita dapatkan dari hasil pemeriksaan tersangka yang terlebih dulu ditangkap. Bagaimana perjalanan mereka ke Aceh, siapa yang membiayai, siapa yang cari sarana transportasi. Termasuk logistik, anggaran, dan sebagainya,” ungkap Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo No.I, Jakarta Selatan, Jumat (7/5/2010).

Lebih lanjut Edward berjanji bahwa petang nanti tim pemeriksa sudah akan mendapatkan hasil dari pemeriksaan.

“Tim pemeriksa minta waktu kepada saya sampai sore ini baru bisa menyelesaikan satu per satu. Nanti namanya, alamatnya, dan perannya dalam menyokong latihan pada teroris yang berlangsung di Aceh yang sudah kita ungkap beberapa waktu lalu,” sambungnya.

Jendral bintang dua ini juga masih menerapkan asas praduga tak bersalah kepada ke 12 orang tersebut yang diduga teroris.

“Saat ini kita belum bisa umumkan secara jelas namanya, tapi akan kita sampaikan setelah jelas perannya karena kita juga tidak mau kalau orang tidak terlibat, hanya bersama-sama trus di jadikan tersangka. Untuk itu kita perlu alat bukti yang bisa kita pertanggung jawabkan,” bebernya.(ful)

http://news.okezone.com/read/2010/05/07/337/330441/337/penangkapan-teroris-pejaten-hasil-pengembangan-aceh

 

Wahhaby (agen yahudi) Dalang semua semua Aksi Teroris!

“Zionist yahudi ingin menguasai dunia penghalangnya adalah Islam dan Kristen”

bagai mana yahudi untuk mengalahkan islam dan kristen?

1. Yahudi mengadu islam kr vs kristen dengan membuat aliran-aliran radikal (spt majelis  mujahidin indonesia (wahaby), noordin M top cs (wahaby), taliban (wahaby, taliban/alqaida adalah pendatang yang memecah balah umat islam di afgan dan yang merusak perjuangan suci rakyat afgan melawan penjajah, ia menegakan hukum wahaby bukan hukum islam), dsb.

2. Mengadu sesama umat islam (membuat aliran-aliran sesat seperti wahhaby, islam liberal dsb.)

3. Mengadau sesama kristen (seperti membuat aliran-aliran radikal  dalam kristen)

Yang Saya Maksud Wahabi Aliran Keras

Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir.

Wahabi aliran keras. Itu yang dimaksudkan Hendropriyono ketika menyebut habitat Noordin M Top sehingga sulit untuk ditangkap. Kepada Sabili di Jogjakarta, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu menjelaskan siapa yang dimaksud dengan Wahabi di balik serangan bom di Indonesia .

Dalam sebuah wawancara di stasiun televisi swasta, Jenderal TNI (Purn) Dr. Ir. Drs. Abdullah Mahmud Hendropriyono SH, SE, MBA, MH menyebut Wahabi, terkait dengan rentetan pemboman yang terjadi di negeri ini. Ketika Sabili mengkonfirmasi wahabi yang dimaksud, Hendro menjelaskan panjang lebar.

“Ketika itu saya ditanya oleh Metro TV tentang teroris, kenapa masih terus terjadi? Saya bilang, selama lingkungan masih ada yang menerima Noordin M Top, maka terorisme akan terus berlangsung. Agama kita, memberi pengertian yang dalam, bahwa tujuan yang baik tidak harus menghalalkan segala cara. Yang rugi, jelas umat Islam dan negara kita sendiri. Karena itu, harus dihentikan. Tujuan baik kalau caranya salah tetap salah.”

Lantas siapa yang dimaksud dengan lingkungan atau habitat Noordin M Top? Dikatakan Hendro, doktrin klasik kita, cuma mengenal dua, yaitu: al mukminin dan al kafirin. Antara al mukminin dan al kafirin itu ada yang dipertajam, dan ada yang memperhalus. “Yang mengkafir-kafirkan sesama Muslim inilah yang saya maksud sebagai habitat. Abu Ghifari, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) adalah salah satu yang tidak setuju doktrin mengkafir-kafirkan, makanya dia keluar dari JI, tapi bukan berarti dia tidak Islam. Kalau anggota JI punya pendirian seperti dia, Indonesia pasti aman.”

Hendro memberi contoh, Yayasan Muaddib di Cilacap, justru menciptakan masyarakat sendiri. Inilah masyarakat yang menjadi habitat Noordin M Top. Sekarang polisi terus memburu ketua yayasan pesantren itu.


Nasir Abbas


Baca Buku Membongkar “Jamaah Islamiyah”

Menurut Hendro, Noordin M Top punya akses langsung ke Al Qaidah. Karenanya, dunia kecolongan. Usamah bin Ladin dan Aiman Az Zawahir, sudah masuk ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Begitu JI dikendalikan oleh Abu Rusydan dan Nasir Abbas, organisasi itu mulai moderat.

“Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir. Kelompok keras ini beranggapan, dalam Islam tidak ada demokrasi. Menurut saya, setiap negara seyogianya punya filsafat dan ideologinya sendiri. Setelah itu, kita bisa hidup berdampingan secara damai. Tapi kalau mengusung ideologi internasionalisme, tidak bakal ketemu.”

Dikatakan Hendro, bahasa yang digunakan dalam terorisme ternyata terbelah atas dua tata permainan bahasa; mengancam dan berdoa. “Para pelaku terorisme juga mengalami kegagalan kategori, yaitu ketidakmampuan untuk membedakan pengetahuannya sehingga mengakibatkan subjek dan objek terorisme menjadi tak terbatas,” ungkap Hendro yang baru menyandang predikat doktor ilmu filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) dan berhasil meraih cumlaude Sabtu lalu (25/7).

Subjek terorisme mempunyai kondisi kejiwaan yang memungkinkan berkembangnya fisik, emosi dan intelektual secara optimal, karena mereka adalah orang normal, buka orang gila. Semua tindak terorisme, termasuk di Indonesia saat ini, adalah implementasi cara berpikir para pelakunya. Terorisme sendiri terjadi akibat ideologi, bukan kepentingan. “Apa yang bisa menghentikan terorisme adalah dengan menghentikan cara berpikir seorang yang berkepribadian terbelah. Kalau itu berhenti, teroris berhenti.”

Terorisme, kata Hendro, terjadi akibat benturan dua filsafat universal dunia, yakni demokrasi yang tidak dilaksanakan secara etis dan fundamentalisme. Selama keduanya belum berubah ke arah yang lebih baik dan menyatu, terorisme akan terus ada.

Diakui Hendro, di antara ideologi itu, ada yang menginginkan liberalisme dan kapitalistik. Sedangkan Islam menginginkan kekhilafahan. Kalau kita ingin perdamaian dunia, maka harus merupakan sintesis dari dua tesis. Sekuler-liberal dengan Islam yang akomodatif-moderat. “Kalau tidak gitu, gak ketemu. Teror dibalas teror gak selesai. Dunia akan terus kecolongan, sebelum kita selesaikan.”

Jadi yang ngebom-ngebom itu Wahabi, begitu? “Wahabi aliran keras lah yang mengakomodir Noordin M Top masih tetap hidup. Apa susahnya mencari Noordin M Top, dia orang Malaysia, logatnya saja kentara bahwa dia bukan orang Indonesia . Makanya lingkungan atau habitatnya harus dibersihkan. Yaitu aliran keras Wahabi yang kawin dengan aliran keras Ikhwanul Muslimin.”

Bukankah Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin berbeda? “Ya, akhirnya mengerucut di Al Qaidah. Jadi Usamah itu adalah gabungan salafi, wahabi, ikhwan,” terang Hendropriyono.

Seringkali Wahabi dijadikan stigma terhadap kelompok Islam tertentu. Yang ujung-ujungnya adalah Islamphobi. Menanggapi itu, Hendro mengatakan, “Itu orang nggak ngerti. Apa gunanya kita punya kementrian agama, harusnya diberi penjelasan, apa itu wahabi, salafi, Ikhwanul Muslimin dan Al Qaidah, biar jelas. Kalau yang menjelaskan intelijen, saya disalahin melulu. Capek saya,” ujar lelaki kelahiran Yogyakarta , 7 Mei 1945.

Yang jelas, tudingan Wahabi pernah dilekatkan pada PKS dan ormas Islam lainnya. Mereka tidak terima. “Memang, orang pasti akan bertanya, Wahabi yang mana? Salafi yang mana? Itu sama saja menyebut Jawa yang mana? Sekali lagi, yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras yang tidak mau berpartai. Kalau ada yang mengikuti demokrasi, mereka akan mengkafirkan. Ini Wahabi yang saya maksud. Orang yang menyebut kafir karena menolak demokrasi, ini harus dibersihin. Terorisme akan hidup terus selama masih ada orang yang suka mengkafirkan!”

Apakah penyebutan Wahabi ini akan menjadi pukat harimau bagi gerakan Islam? Hendro yang mengaku dari kecil sekolah di Muhammadiyah pun juga Wahabi. Tapi, Hendro mengatakan, Muhammadiyah bukan Wahabi yang merusak. “Mereka takut. Kan saya tidak mau pukul rata, saya bukan orang tolol, ini Wahabi yang mana dulu. Yang maksudkan alah wahabi aliran keras. Memang yang lembut bisa menjadi keras. Itulah harus kita bersihin. Sebut saja Muhammadiyah, ada tarik menarik, untuk menjadi Wahabi, ada pula yang ingin menjadi Liberal. Posisi Muhammadiyah pun jadi rebutan ideologi.”

Perkembangan geopolitik global menjadi penyebab lahirnya terorisme global. Tapi tidak harus teror jawabannya, harusnya uswatun hasanah. Teror itu bukan perang. Hendro tidak setuju, dengan memunculkan Wahabi ini akan melemahkan spirit Islam sendiri. “Oh, nggak, bukan begitu. Kita tidak usah bergantung Wahabi. Kita berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits. Kenapa kita harus ikut-ikutan yang bukan Nabi. Tujuan baik kalau jalannya salah, keliru.”

Persoalannya bukan hanya di dalam internal umat Islam sendiri, melainkan juga keterlibatan unsur asing. Hendro mengatakan, bukan tidak mungkin, ada keterlibatan CIA. Yang jelas, yang bisa menyelesaikan adalah kita sendiri, bukan orang lain. Sebab, jika dari luar, nambah gak karuan negeri ini.

Menurut Hendro, untuk menghancurkan suatu jaringan ada empat poin yang bisa dilakukan. Pertama, tangkap orang-orang kunci. Kedua, putuskan hubungan. Ketiga pangkas support logistic. Keempat bersihkan lingkungan. Kempat inilah yang akan menghancurkan organisasi. Ketika bom berulangkali terjadi, ada kemirisan yang muncul, umat Islam kembali menjadi kambing hitam. “Itulah yang membuat saya sedih. Makanya sebelum saya mati, mudah-mudahan saya masih bisa melihat Indonesia aman, dan menjadi ummatan wahidah, umat yang bersatu. Umat ini terbelah akibat Noordin M Top.” (sabili)

(Oleh Adhes Satria & Eman Mulyatman)

http://swaramuslim.net/more.php?id=6307_0_1_0_M

Merasionalkan Aqidah Sifat Dua Puluh dan kenali Pecahan / Cabang sifat wajib 20

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah dalam menetapkan konsep sifat 20 tersebut sebenarnya berangkat dari kajian dan penelitian yang mendalam. Ada beberapa alasan ilmiah dan logis yang dikemukakan oleh para ulama tentang latar belakang konsep wajibnya mengetahui sifat 20 yang wajib bagi Allah, antara lain:

Pertama, setiap orang yang beriman harus meyakini bahwa Allah SWT wajib memiliki semua sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya. Ia harus meyakini bahwa Allah mustahil memiliki sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Ia harus meyakini pula bahwa Allah boleh melakukan atau meninggalkan segala sesuatu yang bersifat mungkin seperti menciptakan, mematikan, menghidupkan dan lain-lain. Demikian ini adalah keyakinan formal yang harus tertanam dengan kuat dalam hati sanubari setiap orang yang beriman.

Kedua, para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah sebenarnya tidak membatasi sifat-sifat kesempurnaan Allah dalam 20 sifat. Bahkan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah barang tentu Allah wajib memiliki sifat tersebut, sehingga sifat-sifat Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada 99 saja sebagaimana dikatakan al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi:
وَقَوْلُهُ J: « إِنَّ للهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا » لاَ يَنْفِيْ غَيْرَهَا ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ مَنْ أَحْصَى مِنْ أَسْماَءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
Sabda Nabi J: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan Nama”, tidak menafikan nama-nama selainnya. Nabi J hanya bermaksud –wallahu a’lam-, bahwa barangsiapa yang memenuhi pesan-pesan sembilan puluh sembilan nama tersebut akan dijamin masuk surga. (al-Baihaqi, al-I’tiqad ‘ana Madzhab al-Salaf, hal. 14).

Pernyataan al-Hafizh al-Baihaqi di atas bahwa nama-nama Allah SWT sebenarnya tidak terbatas dalam jumlah 99 didasarkan pada hadits shahih:
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ، قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ J: اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ … أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ بَصَرِيْ، وَجَلاَءَ حَزَنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.
Ibn Mas’ud berkata, Rasulullah J bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku hamba-Mu… Aku memohon dengan perantara setiap Nama yang Engkau miliki, baik Engkau namakan Dzat-Mu dengan-Nya, atau Engkau turunkan nama itu dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, dan atau hanya Engkau saja yang mengetahui-Nya secara ghaib, jadikanlah al-Qur’an sebagai taman hatiku, cahaya mataku, pelipur laraku dan penghapus dukaku.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, al-Thabarani dan al-Hakim).

Ketiga, para ulama membagi sifat-sifat khabariyyah, yaitu sifat-sifat Allah yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits seperti yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna, terbagi menjadi dua. Pertama, Shifat al-Dzat, yaitu sifat-sifat yang ada pada Dzat Allah SWT, yang antara lain adalah sifat dua puluh. Dan kedua, Shifat al-Af’al, yaitu sifat-sifat yang sebenarnya adalah perbuatan Allah SWT, seperti sifat al-Razzaq, al-Mu’thi, al-Mani’, al-Muhyi, al-Mumit, al-Khaliq dan lain-lain. Perbedaan antara keduanya, Shifat al-Dzat merupakan sifat-sifat yang menjadi Syarth al-Uluhiyyah, yaitu syarat mutlak ketuhanan Allah, sehingga ketika Shifat al-Dzat itu wajib bagi Allah, maka kebalikan dari sifat tersebut adalah mustahil bagi Allah. Sebagai contoh, misalhnya ketika Allah SWT bersifat baqa’ (kekal), maka Allah SWT mustahil bersifat kebalikannya, yaitu fana’.

Dari sini para ulama menetapkan bahwa Shifat al-Dzat ini bersifat azal (tidak ada permulaan) dan baqa’ (tidak berakhiran) bagi Allah. Hal tersebut berbeda dengan Shifat al-Af’al. Ketika Allah memiliki salah satu di antara Shifat al-Af’al, maka kebalikan dari sifat tersebut tidak mustahil bagi Allah, seperti sifat al-Muhyi (Maha Menghidupkan) dan kebalikannya al-Mumit (Maha Mematikan), al-Dhar (Maha Memberi Bahaya) dan kebalikannya al-Nafi’ (Maha Memberi Manfaat), al-Mu’thi (Maha Pemberi) dan kebalikannya al-Mani’ (Maha Pencegah) dan lain-lain. Di samping itu para ulama juga mengatakan bahwa Shifat al-Af’al itu baqa’ (tidak berakhiran) bagi Allah, namun tidak azal (ada permulaan).

Dari sini dapat kita memahami, kekeliruan pernyataan Nurcholis Madjid beberapa tahun yang lalu, bahwa untuk saat ini sifat Rahmah Allah mestinya lebih layak ditekankan untuk diketahui dari pada yang lain. Karena pernyataan ini berangkat dari ketidakpahaman Nurcholis terhadap konsep Shifat al-Dzat yang menjadi Syarth al-Uluhiyyah (syarat ketuhanan) dan Shifat al-Af’al yang bukan Syarth al-Uluhiyyah.

Keempat, dari sekian banyak Shifat al-Dzat yang ada, sifat dua puluh dianggap cukup dalam mengantarkan seorang Muslim pada keyakinan bahwa Allah memiliki segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan. Di samping substansi sebagian besar Shifat al-Dzat yang ada sudah ter-cover dalam sifat dua puluh tersebut yang ditetapkan berdasarkan dalil al-Qur’an, sunnah dan dalil ‘aqli.

Kelima, sifat dua puluh tersebut dianggap cukup dalam membentengi akidah seseorang dari pemahaman yang keliru tentang Allah SWT. Sebagaimana dimaklumi, aliran-aliran yang menyimpang dari faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah seperti Mu’tazilah, Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk), Mujassimah (kelompok yang berpendapat bahwa Allah memiliki sifat-sifat makhluk), Karramiyah dan lain-lain menyifati Allah dengan sifat-sifat makhluk yang dapat menodai kemahasempurnaan dan kesucian Allah. Maka dengan memahami sifat wajib dua puluh tersebut, iman seseorang akan terbentengi dari keyakinan-keyakinan yang keliru tentang Allah. Misalnya ketika Mujassimah mengatakan bahwa Allah itu bertempat di Arsy, maka hal ini akan ditolak dengan salah satu sifat salbiyyah yang wajib bagi Allah, yaitu sifat qiyamuhu binafsihi (Allah wajib mandiri).

Ketika Musyabbihah mengatakan bahwa Allah memiliki organ tubuh seperti tangan, mata, kaki dan lain-lain yang dimiliki oleh makhluk, maka hal itu akan ditolak dengan sifat wajib Allah berupa mukhalafatuhu lil-hawadits (Allah wajib berbeda dengan hal-hal yang baru). Ketika Mu’tazilah mengatakan bahwa Allah Maha Kuasa tetapi tidak punya qudrat, Maha Mengetahui tetapi tidak punya ilmu, Maha Berkehendak tetapi tidak punya iradat dan lain-lain, maka hal itu akan ditolak dengan sifat-sifat ma’ani yang jumlahnya ada tujuh yaitu qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar dan kalam. Demikian pula dengan sifat-sifat yang lain. Wallahu a’lam.

http://www.aswaja-nu.com/2010/01/merasionalkan-aqidah-sifat-dua-puluh.html

Mari sama-sama kita pelajari ilmu tauhid sifat 20 yang dipegang oleh Imam Abu Hassan al-Asya’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi (Ahli sunnah wal jamaah) agar kita mempunyai asas mengenali Tuhan yang kita sembah dan taati.
https://i0.wp.com/3.bp.blogspot.com/_00eL9mqRD0U/SxSdqNvAzTI/AAAAAAAAAJ0/e4vZ72XHamw/s1600/sifat20.bmp
Takrifan:

1. Sifat Nafsiah – diri zat Allah swt, wujudNya tidak disebabkan oleh sesuatu sebab

2. Sifat Salbiah – menafikan perkara-perkara yang tidak layak bagi Zat Allah swt atau hujah-hujah sifat yang membesarkan kelebihan zat yang Maha Agung itu daripada sekalian yang baharu

3. Sifat Ma’ani – sifat yang berdiri pada zat Allah swt, yakni sifat khusus yang dimiliki oleh Allah swt dan lazim melazimi pula ia dengan sifat ma’anawiyah

4. Sifat Ma’anawiyah – zat yang disebabkan suatu sebab akan wujudnya, yakni kelakuan zat atau fungsi zat yang mempunyai sifat ma’ani atau kelakuan sifat ma’ani yang digerakkan oleh zatNya.

https://i1.wp.com/2.bp.blogspot.com/_00eL9mqRD0U/SxSdcAG_ihI/AAAAAAAAAJs/LI4hfI7ODPk/s1600/sifat20-istaghna_iftiqar.bmp
Takrifan:

ISTAGHNA – Sifat KEKAYAAN Allah swt

IFTIQAR – Sifat berhajat, berkehendak sekalian makhluk kepada Allah swt

Berjuang dan bermujahadahlah kita agar hati kita dibuka pintu makrifat kepada Allah swt dari segi Zat, Sifat, Afa’al dan Asma’-Nya. Sekurang-kurangnya makrifat afa’alnya agar amal ibadat dan amal kebaikan yang kita lakukan tiada “syirik khafi” (yang tersembunyi) yang kesannya ialah amalan itu umpama debu-debu yang berterbangan yang mana tidak bernilai sedikit pun di sisi Allah swt. Fakir dan berhajatnya kita dengan Allah swt dan Maha Kaya dan Hebatnya Allah swt……Astaghfirullahalazim…..laahaulawalaquwwataillabillah…..

Aqeedah: Allah is Attributed with Perfection, and Exists without a Place!

The Islamic Belief of True Salaf  Allah is Attributed with Perfection

Bismillah, Praise be to Allah, the Lord of the worlds, to Him belong the endowments and the befitting perfections and commendations. I ask Allah to raise the rank of Prophet Muhammad, sallallahu ^alayhi wa sallam, and to protect his nation from that which he fears for it, Thereafter:

The saying that Allah, ta^ala, exists without a place is the belief and the creed of the Messenger of Allah, sallallahu ^alayhi wa sallam, the Companions and the True Salaf and Khalaf, those who graciously followed them, and it shall be until the Day of Judgment. The proof of this precious statement is what Allah said in the Qur’an, in Surat ash-Shura, ayah 11 which means: “There is nothing like Him and He has the attribute of Hearing and Seeing.” This ayah absolutely and totally clears Allah of resembling the creation. It comprises that Allah, ta^ala, is different from the creations in the Self, Attributes, and Doings. Hence, it shows that Allah, ta^ala, exists without a place, because the one who exists in a place would, by nature, be composed of atoms, i.e., he would be a body, occupying a space, and Allah, ta^ala, is clear of occupying spaces.

Al-Bukhariyy, al-Bayhaqiyy and Ibn al­Jarud related that the Messenger of Allah, sallallahu ^alayhi wa sallam, said which means: “Allah existed eternally and there was nothing else.” This hadith proves that Allah was alone in al-‘azal, (the status of existence without a beginning,) i.e., before creating any of the creation. There was nothing with Him: no place, no space, no sky, no light, and no darkness. It is determined in the rules of the Religion and the judgments of the sound mind that Allah, the Exalted, does not change. Hence, it is impossible that after having been existing without a place, He would become in a place, because this is a development, and the development is a sign of needing others, and the one who needs others is not God.

Imam Abu Mansur al-Baghdadiyy related in his book, Al-Farqu Bayn al­Firaq, that Imam ^Aliyy, the fourth of the caliphs, may Allah reward his deeds, said which means: “Allah existed eternally and there was no place, and He now is as He was, i.e., without a place.”

Imam Abu Hanifah, who is one of the authorities of as-Salaf, said in his book Al-Fiqh al­Absat: “Allah existed eternally and there was no place. He existed before creating the creation. He existed, and there was no place, creation, or thing; and He is the Creator of everything.”

Imam al-Hafidh al-Bayhaqiyy said in his book, Al-Asma’u was-Sifat, on page 400: “…. What was mentioned towards the end of the hadith is an indication of denying Allah has a place and denying the slave is alike to Allah, wherever he was in proximity or remoteness. Allah, the Exalted, is adh­Dhahir–hence, it is valid to know about Him by proofs. Allah is al-Batin–hence, it is invalid that He would be in a place.”

He also said: “Some of our companions used as a proof to refute the place to Allah the saying of the Prophet, sallallahu ^alayhi wa sallam : ‘You are adh-Dhahir and there is nothing above You, and You are al-Batin and there is nothing underneath You.’ Therefore, if there is nothing above Him and nothing underneath Him, He is not in a place.

Imam Ahmad Ibn Salamah, Abu Ja^far at­Tahawiyy, who was born in the year 237 after Hijrah, and was one of the Heads of Great Salaf wrote a book called Al-^Aqidah at­Tahawiyyah. He mentioned that the content of his book is an elucidation of the creed of Ahl as­Sunnah wal Jama^ah, which is the creed of Imam Abu Hanifah, who died in the year 150 after al­Hijrah, and his two companions, Imam Abu Yusuf al-Qadi and Imam Muhammad Ibn al­Hasan ash-Shaybaniyy and others. He said in his book: “Allah is supremely clear of all boundaries, extremes, sides, organs and instruments. The six directions do not contain Him–these are attributed to all created things.” Such is the saying of Imam Abu Ja^far who is among the heads of as-Salaf. He explicitly stated that Allah is clear of being contained by the six directions. The six directions are above, below, in front of, behind, right, and left.

The linguist and scholar of hadith, Imam Muhammad Murtada az-Zabidiyy, narrated by a continuous chain from himself back to Imam Zayn al-^Abidin ^Aliyy Ibn al-Husayn Ibn ^Aliyy Ibn Abi Talib, (who was among the first of as-Salaf, who earned the title of as-Sajjad, i.e., the one who prays a lot), that Zayn al-^Abidin said in his treatise as­Sahifah as-Sajjadiyyah about Allah: which means: “O Allah, You are clear of all imperfection. You are Allah, the One Who no place contains You.” He also said which means: “O Allah, You are clear of all imperfection. You are Allah, the One Who is not in boundaries.”

In the explanation of al-Bukhariyy in the chapter on Al-Jihad, Hafidh Ibn Hajar said: “The fact that the two directions above and below are impossible to be attributes of Allah, does not necessitate that Allah would not be attributed with aboveness, because attributing aboveness to Allah is a matter of status and the impossibility lies in it being physical.”

The scholar Imam Zayn ad-Din Ibn Nujaym, the Hanafiyy, in his book Al-Bahr ar­Ra’iq, on page 129 said: “Whoever says it is possible that Allah would do a doing in which there is no wisdom commits blasphemy, and also he commits blasphemy by affirming a place to Allah, the Exalted.”

Imam Muhammad Ibn Hibah al-Makkiyy, in his book Hada’iq al-Fusul wa Jawahir al-^Uqul,–also called Al-^Aqidat-as-Salahiyyah because he gave it as a gift to Sultan Salah-ad-Din al-Ayyubiyy who ordered that this book be taught to the children in schools and broadcast from the top of minarets–said:

which means: “Allah existed eternally and there was no place, and the judgment about His existence now is that He is as He was, i.e., without a place.”

The great true Salafi, Imam Ja^far as-Sadiq said: “He who claims that Allah is in something or on something or from something, commits ash-shirk. Because if He was in something, He would be contained, and if He was on something, He would be carried, and if He was from something, He would be a creature.”

Shaykh ^Abdul-Ghaniyy an-Nabulsiyy said: “He who believes that Allah fills the heavens and earth or that He is a body sitting above al-^arsh (ceiling of Paradise; throne) is a kafir.”

Imam Abul-Qasim ^Aliyy Ibnul-Hasan Ibn Hibatillah Ibn ^Asakir said in his ^Aqidah: “Allah existed before the creation. He does not have a before or an after, an above or a below, a right or a left, an in front of or a behind, a whole or a part. It must not be said when was He, where was He, or how was He. He exists without a place.”

Imam Abu Sulayman al-Khattabiyy said: “What is obligatory upon us and upon every Muslim to know is that our Lord has no shape or form, because the shape has a ‘how’ and ‘how’ does not apply to Allah or His Attributes.”

Know beyond doubt that the question ‘how’ does not apply to Allah, because this is a question about shapes, bodies, places, depths and dimensions; Allah is clear of all of that. Also be firm that it is invalid to say about Allah “… but we do not know how”, because in essence, it falsely indicates that Allah has a color, shape, dimensions, body, place, but one is ignorant of the ‘how’ of it.

Imam al-Ghazaliyy said: ” Allah, the Exalted, existed eternally and there was no place. He is not a body, jawhar (atom), or property, and He is not on a place or in a place.”

All of these sayings show that attributing the sensuous physical aboveness and place to Allah is contrary to the Qur’an, the Hadith, the Ijma^, and the intellectual proof. The intellectual proof that Allah exists without a place lies in the fact that the one who is in a place would have an area, and the one who has an area is in need of it, and the one who needs others is not God. Moreover, as the mind determines that Allah existed without a place before creating places, the mind determines that after Allah created the places He still exists without a place.

The scholars like Imam Ahmad ar­Rifa^iyy determined that lifting the hands and the faces towards the sky when performing du^a (supplication) is because the heavens are the qiblah of du^a just as the Ka^bah is the qiblah of as­Salah. From the heavens, the mercies and blessings of Allah descend.

Hence, it is clear for the one who seeks the truth that the saying that Allah exists without a place is what complies with the Qur’an, the Hadith, the Ijma^, and the criteria of the sound intellect. Be firm and certain that before creating places, Allah Who created everything (places and others), existed without a place, and after creating places, He still exists without a place.

Since we have determined that the creed of the Muslims is that Allah exists without a place and that the question ‘how’ does not apply to Allah, it is clear to us that al-^arsh (the throne) which is the biggest of the creations of Allah and the ceiling of Paradise, is not a place for Allah, the Exalted.

Imam Abu Hanifah said in his book, al­Wasiyyah,: ” … and He is the Preserver of al­^arsh and other than al-^arsh, without needing it, for had He been in need, He would not have the power to create the world and to manage and preserve it. Moreover, had He been in a place needing to sit and rest­­before creating al-^arsh, where was Allah?” That is, the question ‘where was Allah’ would have applied to Him, which is impossible.

Also, in his book, Al-Fiqh al-Absat, Imam Abu Hanifah said: “Allah existed eternally and there was no place; He existed before creating the creation. He existed and there was not a place, a creation or a thing; and He is the Creator of everything. He who says ‘I do not know if my Lord is in the heavens or on the earth,’ is a kafir. Also is a kafir whoever says that ‘He is on al-^arsh, and I do not know whether al-^arsh is in the heaven or on the earth’.”

Consequently, the great True Salafi Scholar Imam Ahmad declared a kafir whomever says these last two phrases because they contain attributing a direction, boundary, and place to Allah. Everything which has a direction and boundary is by necessity in need of a Creator. Thus it is not the intention of Imam Abu Hanifah to prove that the heaven and al-^arsh are places for Allah, as those who liken Allah to the creation claim. This is by virtue of the aforementioned saying of the Imam: “Had He been in a place needing to sit and rest, then before creating al-^arsh where was Allah?”, which is clear in negating that Allah has a direction or a place.

In his book, Ihya’u ^Ulum ad-Din, Imam al­Ghazaliyy said: “… places do not contain Him, nor do the directions, earth, or heavens. He is attributed with an istiwa’ over al-^arsh as He said in the Qur’an–with the meaning that He willed–and not as what people may delude. It is an istiwa’ which is clear of touching, resting, holding, moving and containment. Al-^arsh does not carry Him, but rather al-^arsh and those that carry al-^arsh are all carried by Allah with His Power and are subjugated to Him. He is above al-^arsh and above the heavens and above everything–in status– an aboveness that does not give Him proximity to al-^arsh or the heavens as it does not give Him farness from earth. He is higher in status than everything: higher in status than al-^arsh and the heavens, as He is higher in status than earth and the rest of the creation.”

Shaykh ^Abdul-Ghaniyy an-Nabulsiyy said: “He who believes that Allah filled the heavens and earth or that He is a body sitting above al-^arsh, is a kafir.” Ayah 93 of Surat Maryam:

means: “All those in the heavens and earth must come to Allah as a slave.” In his Tafsir (book of explaining the Qur’an), Imam ar-Raziyy said: “… and since it is affirmed by this ayah that everything that existed in the heavens and earth is a slave to Allah, and since it is obligatory that Allah is clear of being a slave, thus He is clear of being in a place or direction, or on al-^arsh or al-kursiyy.”

Hence Surat Taha, ayah 5, in the Qur’an, clearly does not mean that Allah sits on the throne or that Allah is firmly established on the throne. In the Arabic language, the word istawa has fifteen (15) different meanings, among of which are to sit, to subjugate, to protect, to conquer, and to preserve. Based on what we have covered so far it is clear that it is blasphemous to apply the meaning ‘to sit’ to Allah. However the terms to preserve and to subjugate are in compliance with the Religion and the language. And those so-called translations of al-Quran that referred to the term “Istawa” to “Sits” or “Sat”or “Established himself firmly on the throne” contradict Arabic rules, and Islamic bases. Bewarned from such translations and such attribues, Allah is almighty clear from the sitting, movement, size, shape, form or change. Allah is great.

Allah knows best.

http://www.alsunna.org/Islamic-Beliefs/Allah-Exists-without-a-Place.html

The Quran Verses – Muhkamat ayat & Mutashabihat ayat

Understanding the Glorious Qur’an
The Muhkamat ayat and Mutashabihat ayat
The Muhkam Ayah: A verse that has one clear meaning. Like {Laysa Kamithlihi Shay’}
The Mutashabih Ayah: A verse that can have many meanings. Like: {Allahu Nurus-Samawati wal-‘Ard}

Click here for the Audio Lecture

Praise be to Allah, the Lord of the worlds, Who does not resemble the creation. To Him belong the endowments and the befitting perfections and commendations. I ask Allah to raise the rank of Prophet Muhammad, sallallahu ^alayhi wa sallam, and to protect his nation from that which he fears for them.

Thereafter:
Allah
said in the Qur’an:

Surat Al-^Imran, ayah 7 means: [Allah is the One Who has sent down to the Prophet the Book that contains muhkamat ayat, which are the foundation of the Book, and other ayat which are mutashabihat.] So, know firmly, that the Qur’an contains two types of ayat:

Muhkamat ayat and Mutashabihat ayat

  • Muhkamat ayat:

These are the ayat that have only one meaning according to the rules of the Arabic language or else the meaning of the ayah is clearly known. Examples of this type of ayat are: the saying of Allah, ta^ala:

Suratash-Shura,ayah 11 means: [Absolutely there is nothing like Him] and His saying, ta^ala:

Suratal-Ikhlas, ayah 4 means: [There is nothing which is equal to Him], and His saying, ta^ala:

Surat Maryam,ayah 65 means: [Do you know of anything which is similar to Him? There is none.]

  • Mutashabihat ayat:

These are the ayat that can have many meanings according to the rules of the Arabic language. Assigning meanings to these ayat requires thorough thinking so that acceptable meanings are given to them. Examples of this type of ayat are: the saying of Allah, ta^ala, in Surat Taha, ayah 5:

and His saying, ta^ala, in Surat Fatir, ayah 10:

According to the rules of the Arabic language, these ayat are mutashabihat; so they can have many meanings. If meanings are assigned to them, this must be done in a manner that complies with the language and the Religion, and does not contradict the ayat that are muhkamat. Surely the ayat of the Qur’an do not contradict one another. Likewise, the ahadith (sayings of the Prophet, sallallahu ^alayhi wa sallam,) do not contradict one another, and they do not contradict the ayat of the Qur’an.

There are two methodologies for explaining the mutashabihat ayat of the Qur’an, and both of them are valid:

  • The Methodology of the Salaf
  • The Methodology of the Khalaf

The Methodology of the Salaf:

The Salaf were the scholars who lived during the first three centuries after the Hijrah of the Prophet, sallallahu ^alayhi wa sallam. For the most part, this methodology consisted of giving general explanations, since the scholars of the Salaf believed that these ayat have meanings befitting to the perfection of Allah. Rather than saying what these meanings are, they referred these mutashabihat ayat to the muhkamat ayat. A good example is the saying of Imam ash-Shafi^iyy:

which means: “I believe in what Allah revealed according to the meaning that Allah willed, and in what the Messenger of Allah conveyed according to the meaning that the Messenger of Allah willed.” In other words, the proper befitting meanings are not according to the sensuous and physical meanings that delusions would lead to–such as places, shapes, limbs, movements, sitting, colors, directions, smiling, laughter, or any other meanings which are not permissible to be attributed to Allah.

Furthermore, the Arabs during these three centuries spoke the Arabic language with a natural disposition and great eloquence. Their understanding of its meanings was so sharp that they did not need to attribute specific meanings to the mutashabihat ayat. Instead, they understood that these ayat have meanings that befit Allah, and that it is impossible that they would have sensuous and physical meanings that do not befit Allah.

Nevertheless, it is well known that some of the scholars of the Salaf did attribute specific meanings to mutashabihat ayat. In his Sahih, in the chapter TafsirulQur’an (the explanation of the Qur’an,) Imam al-Bukhariyy attributed a specific meaning to the term “illa wajhahu” in Surat al­Qasas, ayah 88. He said, “illa mulkahu,” i.e., he said that word “wajh“–which is an attribute of Allah–means “Mulk” or “Dominion.”

The Methodology of the Khalaf:

The Khalaf were the scholars who lived after the first three centuries. For the most part, this methodology consisted of giving specific meanings to the mutashabihat ayat. The scholars of the Khalaf lived at a time when the people started to lose their natural disposition for the Arabic language. Seeing that the people had become weaker in the language, the scholars of the Khalaf feared that those with perversity in their hearts would read meanings into the mutashabihat ayat that do not befit Allah. They feared what is mentioned in SuratAl ^Imran, ayah 7. Allah said:

which means: [Those who have perversity in their hearts, they follow the mutashabihat ayat seeking discord and searching for unbefitting meanings based on their delusions.] In order to protect the creed of Islam, the scholars of the Khalaf followed the example of those scholars among the Salaf who chose to give specific meanings to the mutashabihat ayat. Referring them to the muhkamat ayat, they gave specific meanings to the mutashabihat ayat in compliance with the language and the Religion. They gave correct, acceptable meanings to the mutashabihat ayat. Allah said:

Ayah 7 in Surat Al-^Imran means: [No one knows their true meanings except Allah and those who are firmly rooted in the knowledge of the Religion. The latter say, “We believe in it, all of it is from our Lord” and none will understand the message except men of comprehension.”] In relation to this ayah, Ibn ^Abbas said: “I am one of those who are firmly rooted in the knowledge of the Religion.” It is well known that Ibn ^Abbas is generally regarded as being foremost among the Companions in the explanation of the meanings of the ayat of the Qur’an.

Among those who have perversity in their hearts are the mushabbihah, those who liken Allah to His creation. The followers of Ibn Taymiyah and Muhammad Ibn ^Abdil­Wahhab are among the group of the mushabbihah. They falsely claim that it is prohibited to assign specific meanings to the mutashabihat ayat and especially those that pertain to the attributes of Allah. Moreover, they innovated a devilish rule that assigning specific meanings to these ayat would lead to canceling these attributes of Allah. This claim of theirs leads to interpretations of the ayat of the Qur’an that contradict one another and interpretations of the ahadith of the Prophet that contradict one another and contradict the ayat of the Qur’an. Furthermore, their claim accuses the Islamic scholars among the Salaf and the Khalaf of blasphemy for denying the attributes of Allah. This would include: Ibn ^Abbas, Sufyan ath­Thawriyy, Mujahid, Sa^id Ibn Jubayr, Malik, Ahmad, al­Bukhariyy, an-Nawawiyy, Ibn Rajab al­Hanbaliyy, Ibn-ul-Jawziyy, Ibn Hajar, al­Bayhaqiyy, Abu Fadl at-Tamimiyy, ^Abdul-Qahir al-Baghdadiyy, the linguist and scholar of hadith Murtada az-Zabidiyy, and others.

Foremost, by this claim of theirs they are contradicting the Prophet, sallallahu ^alayhi wa sallam. Al-Bukhariyy related that the Prophet made a du^a’ (a supplication) for Ibn ^Abbas. The Prophet said:

which means: <<O Allah, teach him the Knowledge of Hadith and the explanation of the Qur’an.>>

In the chapter, Tafsir al­Qur’an, (Explanation of the meaning of the Qur’an), Imam al-Bukhariyy says that the term wajhahu in Suratal­Qasas,ayah 88, means “His Dominion.” However, those mushabbihah who liken Allah to the creation say, “We do not interpret, but rather we go by the literal meaning,” and hence (they say) wajhahu means “His face.”

Ibn Hajar al-^Asqalaniyy, in his book, Al­Fath (an explanation of the meaning of Sahih al­Bukhariyy), Volume 6, page 39-40, said: ” ….. in reference to al-Bukhariyy’s saying that the attribute of Allah, ad-dahik, means ‘mercy,’ it is closer to say that it means ‘acceptance of deeds.’ Yet, the mushabbihah insist on taking the literal meaning, and they say that Allah smiles, or laughs.

In Surat al-Qalam, ayah 42, Allah said:

The scholars of the Salaf explained the term saq by ‘hardship,’ and the ayah to mean ‘a day of anguish and hardship.’ This explanation is known to have been given by Ibn ^Abbas, Mujahid, Ibrahim an Nakh^iyy, Qatadah, Sa^id Ibn Jubayr, and a multiple of scholars. Both Imam al-Fakhr ar­Raziyy in his Explanation of the Qur’an, Volume 30, page 94 and Imam al-Bayhaqiyy in his books, Al-‘Asma’ was­Sifat, (page 245) and Fath-al-Bari, (Volume 13, page 428) related this explanation from Ibn ^Abbas. Ibn Qulayb also related that about Sa^id Ibn Jubayr who took his knowledge from ^Abdullah Ibn ^Abbas and Ibn ^Umar. Yet, the mushabbihah insist on taking the literal meaning and attribute ‘the shin’ to Allah, by saying saq literally means ‘shin.’

In Suratul-Baqarah, ayah 115, Allah said:

Imam Mujahid, the student of Ibn ^Abbas, said that the word wajh means ‘qiblah,’ i.e., the direction of prayers during the voluntary prayers while traveling and riding on an animal. Yet, the mushabbihah insist on taking the literal meaning; they say the term, wajh, means ‘face.’

Similarly, if ayah 12 in Suratat-Tahrim:

was taken literally, it would mean that Allah blew part of His Soul into ^Isa (Jesus.).) However, the scholars said that this ayah means: [Allah ordered Jibril to blow into ^Isa the soul which is honorable to Allah.]

Also, ayah 75 in Surat Sad:

if taken literally, would mean: “What has stopped you from performing sujud to what I have created with My hands?” However, the scholars said that the word ‘yadayn‘ in the ayah means the ‘care’ of Allah. Yet, the mushabbihah insist that yadayn means hands.

Likewise, ayah 35 in Suratan-Nur:

if taken literally, would mean: “Allah is the light of the heavens and the Earth.” The scholars said that this ayah means: [Allah is the Creator of guidance in the occupants of the skies and the occupants of the earth.] However, the mushabbihah insist on taking the literal meaning and say that Allah is ‘light.’

If taken literally, ayah 22 in Suratal-Fajr:

would mean: “Your Lord comes.” It was related that Imam Ahmad Ibn Hanbal, who is among the authorities of the Salaf, said that this ayah means: [An indication of the Power of Allah has come.] In his book, ManaqibAhmad, Hafidh Imam al­Bayhaqiyy, established that the sanad (chain) of narrators is sahih (authentic). Also, Ibn al-Jawziyy al­Hanbaliyy, one of the authorities of the school of Imam Ahmad, related that Imam Ahmad assigned specific, acceptable meanings to the ayat which are mutashabihat. He also said this is a proof that Imam Ahmad did not believe that the maji’ah (a noun for the verb ja’a) in the ayah is that of movement from one place to another. Imam Ibn al­Jawziyy also said: “It is not possible that Allah would move.” Yet, the mushabbihah insist on taking the literal meaning and say that ja’a means “Your Lord comes” (i.e., from one place to another.)

The hadith of the Prophet related by al­Bukhariyy was explained and affirmed by Imam Malik:

as a descent of mercy and not that of movement. However, the mushabbihah insist on taking the literal meaning and they say the nuzul in the hadith means a descent of movement and going from one place to another.

Copying from Imam al-‘Ash^ariyy, Imam al­Bayhaqiyy, in his book, Al-Asma’ was-Sifat, page 488, said: “Allah, ta^ala, is not in a place. Movement, coming to rest, and sitting are among the attributes of bodies.”

Imam Ibn Rajab al-Hanbaliyy explained the term al-istiwa’, in SuratTaha, ayah 5:

as al-istila’, which means subjugating. When al­istila’ is used to explain this ayah it means that Allah subjugated the ^arsh with a subjugation that is without a beginning, like all of the attributes of Allah. If the ayah is explained in this manner, it means that Allah was attributed with subjugating the ^arsh before the ^arsh was created in the same way that Allah was attributed with being the Creator before anything from the creation existed. In this context, the scholars have used the term al-azal, which means the status of existing without a beginning. Thus it can be said that Allah subjugated the ^arsh in al-azal, meaning that Allah subjugated the ^arsh with a subjugation which is without a beginning. Yet the mushabbihah insist on taking the literal meaning, and they say istiwa’ means Allah ‘sits’ on the throne and ‘firmly establishes’ Himself on it.

In his book, Al-Mu^taqad, Imam al­Bayhaqiyy related in a chain back to al­’Awza^iyy and Imam Malik and Sufyan ath-Thawriyy and al­Layth Ibn Sa^d that when they were asked about the ayat and the ahadith that are mutashabihat, they said:

which means: “Accept them as they came without applying a ‘how’ to them.” This is because if one asked the question ‘how?’ the answer would be, ‘Like this or that.’ Everything other than Allah is His creation so to say ‘like this or that’ would mean ‘like this or that created thing’ and Allah is not like His creation. Anything a person can imagine, Allah is different from it. When the scholars said: “… without applying a ‘how’ to them,” they meant that Allah is clear of being attributed with sitting, resting, moving, limbs, bodies, and parts. They did not mean that His istiwa’ over the throne has a ‘how’ of which we are ignorant. On the contrary, the scholars completely negated that a ‘how’ could be applied to Allah. So the statement of those who say “Allah sits on the throne but we do not know how,” is rejected on the basis of what these scholars said.

Anyone with a sound mind knows that sitting, no matter how it is, is an attribute of bodies. Occupying places necessitates a ‘how’ and applies to bodies. Furthermore, color and touching are attributes of bodies and ‘how’ applies to them. All of that is impossible to apply to Allah.

Similarly, when the Prophet, sallallahu ^alayhi wa sallam, asked the black slave woman the question: “Aynallah?”, the scholars said this meant he was asking her about her belief in the status of Allah. She answered: “Fis­sama‘” which has the meaning that Allah has the highest status. Yet the mushabbihah insist on taking the literal meaning–saying that the Prophet asked her about the place of Allah, and that she said, “In the sky,” meaning that the sky is a place for Allah.

Likewise, the hadith of the Prophet, sallallahu ^alayhi wa sallam:

means: <<If you are merciful to those on earth, the angels, who occupy the heavens, will bring onto you the mercy of Allah.>> Yet, the mushabbihah insist on taking the literal meaning–saying the hadith means: “Allah, Who occupies the heavens, will be merciful to you.”

So the mushabbihah insist on taking the literal meanings of the mutashabihatayat. They reject assigning specific meanings to them, and they refuse to ascribe acceptable meanings to them. By doing this, they render the ayat of the Qur’an and the ahadith in contradiction to one another. For example, the famous hadith of the Prophet:

if taken by the method of the mushabbihah, it would mean, “Allah is between the person and the neck of his animal.” This is in direct contradiction with their claim that the hadith of the black slave woman means: “Allah has a place, which is the sky.”

Likewise, if ayah 4 in Suratal-Hadid:

is taken literally, it would mean, “Allah is with you, wherever you are.” However, the scholars established that this ayah means: [Allah knows about you, wherever you are.] Similarly, if the saying of Allah in SuratFussilat, ayah 54:

is taken by its literal meaning, it would mean, “Allah surrounds everything.” Furthermore, if the saying of Allah that Ibrahim said in Suratas-Saffat, ayah 99:

is taken by its literal meaning, it would mean, “Allah is in the countries of ash-Sham,” since this ayah was related aboutSayyidina Ibrahim while he was moving from Iraq to the countries of ash-Sham. If the saying of Allah in Suratal Baqarah, ayah 125:

is taken by its literal meaning, it would mean: “The Ka^bah is the residence of Allah.” If ayah 128 in Suratan-Nahl is taken literally, it would mean, “Allah is physically with the pious.”

It is clear that if these ayat are interpreted based on the literal meanings, this will lead to numerous contradictions. The great scholars of Islam have ascribed proper and acceptable meanings to the mutashabihat ayat and the mutashabihat ahadith in accordance with the Religion, the language, and by referring them to the clear muhkamat ayat. They said Suratal-Hadid, ayah 4,

means: [Allah knows about you wherever you are.]
Surat Fussilat, ayah 54,

means [Allah knows everything.]
Surat al­Baqarah, ayah 125,

means: [The Ka^bah is a house of a great honor to Allah.]
Surat al-An^am, ayah 61,

refers to the fawqiyyah (aboveness) of subjugation, meaning: [All are subjugated to Allah.]
Surat an­Nahl
, ayah 128,

means: [Allah supports those who are pious.]
Surat Taha
, ayah 5,

means: [Allah subjugated the ^arsh in al-azal with a subjugation which is without a beginning, like all of the attributes of Allah.]

In taking the mutashabihatayat by their literal meanings, the mushabbihah contradict the muhkamat ayat, like Surat ash-Shura, ayah 11,

which means: [Absolutely there is nothing like Allah.] They try to escape the contradiction by camouflaging it, saying that Allah has a ‘face’ but without countenance; and Allah has a ‘direction’ which is above, but we do not know ‘how’ it is; and Allah has a ‘shin,’ but we do not know ‘how’ His ‘shin’ is. Moreover, they say that Allah ‘sits’ but we do not know ‘how’ His ‘sitting’ is.

The great Hanafiyy linguist and scholar of hadith, Imam Murtada az-Zabidiyy, in his book, Ithafus-Sadatil-Muttaqin, refuted those who reject acceptable meanings be assigned to the ayat which are mutashabihat and insist on taking them by their literal meanings. He said: “In essence they are slandering the office of Prophethood; they are claiming that the Prophet did not know the meaning of the attributes of Allah that were revealed to him; and they are claiming he called the creation to believe in that of which he was ignorant.” However, Allah says in the Qur’an in Surat ash-Shu^ara’, ayah 195:

which means: [The Qur’an was revealed in clear, explicit Arabic.] Az-Zabidiyy proceeded to say: “Those people who take a position against assigning acceptable meanings are basically likening Allah to the creation.” However, they camouflage it by saying that he has a ‘hand,’ not like the hands of the creation and a ‘shin’ not like the shins of creation and a physical istiwa’, that we cannot comprehend. He addressed them with: “Your saying, ‘we take it by its literal meaning and it is incomprehensible’ is contradictory in itself. If you take by its literal meaning, then ‘as-saq‘ in Suratal-Qalam, ayah 42, is a ‘shin’ which is a part made up of flesh, bones, muscle, and nerves. If you take by that literal meaning, then you have committed blasphemy, and if you deny it, then how do you claim to take by the literal meaning?”

Rest assured that the methodologies of both the Salaf and the Khalaf are correct and neither of them attribute anything to Allah that does not befit Him. In simple terms, one correct way of explaining the mutashabihat ayat in the Qur’an is to say one believes in them according to the meaning that Allah willed without saying what that meaning is; and without a ‘how,’ i.e., without attributing to Allah sitting, standing, occupying places, sensuous attributes, or any of the meanings that apply to humans and other creations. Following this method, one would say: “Allah has an istiwa’ which befits Him–which is not sitting, and Allah has a yad which befits Him–which is not a hand, and a wajh that befits Him–which is not a face.” The second correct way of explaining the mutashabihat ayat in the Qur’an is to give specific meanings to them which are in accordance with the Religion and the language. Following this method, one would say: “His istiwa’ means ‘He preserves the throne,’ His yad means ‘His Care,’ His wajh means ‘His Self,’ ‘His Dominion,’ or ‘His Qiblah.'”

Also know that among the mutashabih are things that only Allah knows about, such as the time when the Day of Judgment will occur, the exact day the sun will rise from its setting place, the exact time when the Dajjal would appear, and the like. This falls under one of the meanings of Surat Al-^Imran, ayah 7:

which means: [No one knows the meaning of that kind of mutashabih except Allah.]

May Allah protect us from falling into the trap of likening Allah to His creation. Imam Abu Ja^far at-Tahawiyy, in his book Al-^Aqidatut-Tahawiyyah, said:

which means: “Whoever attributes to Allah any of the meanings pertaining to humans commits blasphemy.”

We ask Allah to keep us steadfast on the correct path and creed of the Islamic scholars among the Salaf and the Khalaf. We seek refuge with Allah from falling into the trap of apostasy, because the Prophet, sallallahu ^alayhi wa sallam, said in the hadith related by at-Tirmidhiyy:

This means: <<The slave shall utter with a word he does not see harmful that will cause him to fall into Hellfire for seventy autumns.>> This is a place that only the kuffar will reach.

Be extremely observant of what you utter, for Allah, ta^ala said in Surat Qaf, ayah 18 :

which means: [Every word that a person utters will be written down by the two angels, Raqib and ^Atid.] Also, beware of books that are claimed to be interpretations of the Qur’an or translations of its meanings and in which they liken Allah, the Exalted, to His creation, by attributing to Him light, hands, eyes, shins, faces, sitting, directions, places, and the like. Allah is clear of all imperfection and of any resemblance to the creation.

Praise be to Allah the Lord of the Worlds, the One Who is clear of resembling the creation, all non­ befitting attributes, and all which the blasphemers unrightfully say about Him.

And Allah knows best.

http://www.alsunna.org/The-Quran-Verses-Muhkamat-ayat-Mutashabihat-ayat.html



Qiblah Direction for North America is East South East جهة القبلة بالنسبة لأمريكا الشمالية هي جنوب شرق

Qiblah Direction for North America is East South East

جهة القبلة بالنسبة لأمريكا الشمالية هي جنوب شرق

قدم المسلمون إلى أمريكا الشمالية في أوائل القرن الهجري المنصرم أفراداًَ و جماعات٬ و ما زال عددهم ينمو و يتزايد حتى صار لهم جاليات كبيرة في كل من الولايات المتحدة الأمريكية و كندا. فكان من الطبيعيّ أن يسعَوْا في بناء مساجد و مصليات يجتمعون فيها لتأدية الجماعات و استماع الخير و ذكر الله. و قد كانت كلّ هذه المصليات و المساجد تتوجه محاريبها إلى الجنوب الشرقي من غير استثناء بناء على فتاوى علماء بلاد الإسلام حتى قام عبد الله العبدليّ منذ نحو عشرين عاما و بالتحديد بين سنتى 1973 ر و 1974ر بنشر كتاب يذكر فيه أن جهة القبلة هي الشمال الشرقي في كلّ من الولايات المتحدة الأمريكية و كندا.
فتلقف كتابَهُ نفاةُ التوسل و أعضاءٌ من الحزب المسمى بحزب الإخوان المسلمين في شمال أمريكا معجبين به كإعجابهم المعتاد بالشاذِ، وقاموا بنشره و الترويج له كدأبهم مع ما فيه تشتيت الصف و تفريق الكلمة و تحريف الدين تحت اسم الإسلام. و قد تحدث بعضنا شخصيا مع مؤلف الكتاب فقال له: أنت عَلاَمَ اعتمدتَ من الأدلة الشرعية في نشر كتابك؟ فقال: أنا ما درستُ علوم الدين الشرعية لكنني اعتمدت على حساب المثلثات الكروية. فإِنَّا لله و إِنَّا إليه راجعون، صار أمر تحديد القبلة في هذه الأيام مَلعَبَةً بيد من لا يعرف علوم الدين و يريد التسلي !! بل يجد له مع ذلك أعواناً و أنصاراً!!  هذا مع العلم بأن مساجد عديدة ما زالت محافظة على جهة القبلة الصحيحة، ومقابر المسلمين القديمة كمقبرة ((سكرامنتو)) كليفورنيا القديمة التى يرجع دفن موتى المسلمين فيها إلى ما قبل عام 1937ر ومقبرة ((تورو)) في مقاطعة نوفاسكوتيا الكندية التى يرجع دفنهم فيها إلى ما قبل خمسين سنة شاهدعلى أن المسلمين كانوا يتوجهون إلى الجنوب الشرقي.

Click on here to view the actual Fatwa from alAzhar that Qiblah to North America is East South East

Praise be to Allah, may Allah raise the rank of our master Muhammad, his family members and companions, and protect his nation from that which he fears for it. Thereafter;

The proof to the issue of al-Qiblah in America is the consensus of the scholars of Islam in that the people of the east face to west and the people of the north face the south and the people of the south face to north, due to that Makkah is at the center of the earth, i.e., it is not at its edges. Hence, the saying that the people of the North America should face the northeast is invalid, and rather the people of North America should face the southeast. He who deviates from that has deviated from the unanimous agreement and consensus of the scholars of ‘Islam, the khalaf and the Salaf. He who wishes, let him look in shuruh al Minhaj and the book of ‘Anwar ^Amal al-‘Abrar by al-Ardabiliyy and the book of Nihayat al-Matlab by Imam of al-Haramayn and others, among the books of ash-Shafi^iyy school. Also in al-Mabsut by as-Sarakhsiyy al-Hanafiyy among the early scholars and Ibn ^Abidin among the late scholars along with others among the scholars and knowledgeable persons of the four schools.  And Allah, subhanahu wa ta^ala knows best. (see it from google)


Translation of the Ruling of the President of the Honorable al-‘Azhar University,

Dr.^AbdulFattah alHusayniyy ashShaykh

In the name of Allah, the Merciful to the believers and non-believers in this world, the Merciful to the believers only in the next world

University of al-‘Azhar

Office of the President of the University

Mr. Muhammad Hammadi

As-Salamu ^alaykum wa rahmatullah wa barakatuh

Thereafter, in reference to the request that was sent to us in which you requested guiding you to the correct direction of al-Qiblah in the city of Montreal, Kindly note that your request was transferred to Dr. Jamal-ud–Din Al-Fandi Professor of Astronomy and member of the Islamic Research Convention, and he advised us with the following:

1. The mathematical formulas for the triangular spherical computations are all sound.

2. The application that appeared in your request is wrong, since it was necessary to subtract the resulting figure from 180 degrees in compliance with the mathematical rules.

3. The reasoning shown in your request in scientifically wrong and is discarded. Accordingly, the direction of al-Qiblah in the city of Montreal is at an angle of 180 degrees minus 58 degrees, which is 122 degrees from due north, and it is southeast.

Please accept ample salutations and as-salamu alaykum wa rahmatullah wa barakatuh.

President of al-‘Azhar University

A.D. Abdul-Fattah 1413 AH

Dated 9/9/92

SRLNO of letter 859

8 September 1992 RC


Translation of the Response of the Chairman of the Fatwa Committee,

Shaykh ^Atiyyah Saqr.

North America

As-salamu^alaykum wa rahmatullah wa barakatuh.

Thereafter, in reply to your letter that we received on November 28,1993, we advise you that the direction of al-Qiblah for the people of the United States of America and Canada is the southeast. This is due to that North America falls in the northwestern quarter with respect to Makkah; he who prays toward northeast, his direction is incorrect and his prayers likewise.

Verily, the Qiblah for prayer for the Muslims in Canada and the United States of America is the direction of southeast, as it is shown in the previous word.

The Chairman of the Fatwa committee at al-‘Azhar

Shaykh ^Atiyyah Saqr

28/11/93

Allah knows best

http://www.alsunna.org/Qiblah-Direction-for-North-America-is-East-South-East.html

ANJURAN UNTUK TAHLILAN DAN ZIARAH KUBUR. TAK ADA LARANGAN!

Sebenarnya permasalahan ini merupakan permasalahan yang cukup usang dan sudah lama diperdebatkan. Akan tetapi dirasa perlu untuk diangkat kembali karena ada pergeseran isu yang cukup substantive, yaitu dari furu’ menuju ushul. Maksudnya, pada awalnya permasalahan ini dianggap sebagai permasalahan furu’iyah, sehingga masing-masing pihak yang berdebat tidak saling mengkafirkan dan mensyirikkan, dan kemudian berubah menjadi permasalahan ushul, sehingga pihak-pihak yang tidak setuju terhadap ziarah kubur dan tahlilan mengkafirkan dan mensyirikkan para pelakunya.

Semua pasti sepakat bahwa syirik dan kafir adalah hal yang mesti harus dijauhi dan dihindari. Semua muslim dari manapun kelompok dan organisasinya pasti marah apabila keislaman dan keimanannya dianggap tercemar dan berlumuran dengan Lumpur kesyirikan dan kekafiran. Demikian juga halnya dengan kita warga nahdliyin, akan marah dan jengkel ketika keislaman dan keimanan kita dianggap berlumuran dengan Lumpur kesyirikan dan kekafiran. Dalam konteks inilah sebenarnya LBM NU cabang Jember secara intensif melakukan kajian-kajian terhadap tradisi amaliyah nahdliyah dan melakukan advokasi terhadapnya dengan sebuah keyakinan bahwa para pendiri Nahdlatul Ulama adalah sosok ulama yang tingkat keislaman, keimanan, keilmuan dan keikhlasannya tidak perlu diragukan lagu, sehingga dalam menerima dan melanggengkan amaliyah nahdliyah beliah-beliau pasti selektif dan didasarkan pada sebuah ilmu, tidak ngawur, serampangan apalagi sembrono. Dengan tingkat keilmuan dan keikhlasan yang dimiliki pasti beliau-beliau itu lebih takut dosa dan neraka dibandingkan dengan kita, dan mungkin saja dibandingkan dengan mereka para penyerang tradisi amaliyah nahdliyah.

Semua permasalahan apabila dinisbahkan kepada Islam pasti sangat mudah untuk menyelesaikannya. Karena, semua keputusan hukum di dalam Islam harus selalu ada cantolan dalilnya. Seseorang tidak dapat memubahkan, mewajibkan, mengharamkan, mensunnahkan dan memakruhkan sesuatu apabila tidak ada cantolan dalil dan argumentasinya. Demikian juga halnya dengan para pendukung dan penentang amaliyah tahlilan dan ziarah kubur harus mendasarkan pandangannnya pada dalil-dalil yang absah, tidak boleh hanya didasarkan pada logika, hayalan dan lamunan saja.
Tulisan pendek ini mencoba untuk mengurai dasar-dasar argumentatif amaliyah nahdliyah yang biasa kita lakukan khususnya berkaitan dengan tahlil dan ziarah kubur.
Tradisi Tahlilan dan Analisis Argumentasi
Kata “tahlilan” merupakan bentuk masdar dari fi’il madli “hallala” yang berarti mengucapkan لااله الاالله . Dari sisi istilah, kata tahlilan bisa jadi didefinisikan dan digambarkan dengan sebuah bentuk ritual keagamaan yang berbentuk majlis dzikir dengan menggunakan bacaan-bacaan dzikir tertentu dan menghadiahkan pahalanya untuk si mayit. Biasanya majlis dzikir ini diadakan pada waktu malam jum’at atau malam setelah kematian seseorang, atau juga bisa dilaksanakan pada saat haul atau yang lain. Yang jelas, kapan ritual ini harus dilaksanakan dan modelnya bagaimana tidak ada aturan dan ketentuan yang pasti. Bisa jadi antara daerah yang satu dengan daerah yang lain memiliki teknis dan kaifiyah yang berbeda.

Biasanya sebab dan alasan kenapa tahlilan harus di tolak oleh para penentangnya bermuara pada argumentasi sebagai berikut :

•Tahlilan tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW, karena demikian dianggap bid’ah.

•Tahlilan merupakan budaya masyarakat Hindu, karena demikian dianggap tasyabbuh bi al-kuffar

•Tahlilan dianggap merepotkan dan memberatkan keluarga mayat, karena di dalam tahlilan pasti selalu ada jamuan
•Berkumpul untuk melakukan tahlilan pada saat setelah kematian dianggap “niyahah” (meratap)

•Di dalam tahlilan pasti ada unsur tawasul.

Argumentasi-argumentasi para penentang di atas adalah argumentasi klasik yang sudah ditanggapi berkali-kali. Akan tetapi, karena sejak awal bersikap tazkiyat al-nafsi (menganggap dirinya yang paling benar), maka penjelasan yang diberikan tidak berdampak dan berpengaruh sama sekali. Namun demikian, dalam kesempatan ini akan kita jelaskan sekali lagi mengenai kesalah-pahaman mereka yang dituduhkan kepada kita.

•Tahlilan tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW, karena demikian dianggap bid’ah.
Memang harus diakui bahwa kata “tahlilan” sebagai sebuah bentuk tradisi seperti yang kita pahami sekarang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, akan tetapi perlu diingat bahwa substansi tahlilan adalah dzikir berjamaah dan berdoa untuk si mayit. Dzikir berjamaah dan berdoa untuk si mayit yang muslim supaya mendapatkan pengampunan dari Allah -tidak diragukan lagi- terlalu banyak penjelasannya di dalam al-Qur’an dan al-Hadits, diantaranya adalah :

oDari al-Qur’an

Surat al-Hasyr : 10

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

Surat Muhammad : 19

“Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”.

oDari al-Hadits

•وعن أبي سعيد الخدري وأبي هريرة رضي الله عنهما قالا: قال النبي صلى الله عليه وآله وسلم «لا يقعد قوم يذكرون الله عز وجل إلا حفتهم الملائكة وغشيتهم الرحمة ونزلت عليهم السكينة وذكرهم الله فيمن عنده»
Dari Abu Hurairah ra. dari Abu Sa’id ra., keduanya berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada suatu kaum yang duduk dalam suatu majlis untuk dzikir kepada Allah melainkan mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi rahmat, di turunkan ketenangan, dan mereka disebut-sebut Allah di hadapan malaikat yang ada disisi-Nya”.

•وَمِنْ حَدِيث مُعَاوِيَة رَفَعَهُ أَنَّهُ قَالَ لِجَمَاعَةٍ جَلَسُوا يَذْكُرُونَ اللَّه تَعَالَى ” أَتَانِي جِبْرِيل فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّه يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَة ” .
” Dari hadits Mu’awiyah yang dihukumi marfu’, dia berkata “Nabi bersabda untuk para jama’ah yang duduk berdzikir kepada Allah: ” malaikat Jibril datang kepadaku dan menginformasikan bahwa Allah membanggakan kamu kepada malaikat”

oDari Logika

إن الجماعة قوة قال الله تعالى واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا والحجارة لا يستطيع كسرها إلا الجماعة وقد شبه الله تعالى القلوب القاسية بالحجارة في شدة قساوتها فقال عز من قائل ثم قست قلوبكم من بعد ذلك فهي كالحجارة أو أشد قسوة فكما أن الحجارة لا يستطيع كسرها إلا الجماعة فكذلك القلب القاسي يسهل تليينه إذا تساعدت عليه جماعة الذاكرين. (الموسوعة اليوسفية )

Dari uraian dan argumentasi di atas dapat dipastikan bahwa substansi tahlilan memliki cantolan dalil, baik naqliy (al-qur’an dan al-hadits), maupun aqliy.

•Tahlilan merupakan budaya masyarakat Hindu, karena demikian dianggap tasyabbuh bi al-kuffar.
Untuk menyimpulkan apakah di dalam tradisi tahlilan terdapat unsur tasyabbuh bi al-kuffar atau tidak, terlebih dahulu kita harus melakukan penelitian secara seksama. Mungkin saja memang ada tradisi kumpul-kumpul di dalam agama lain pada 1,2,3…..,7…,40 hari dan seterusnya setelah hari kematian seseorang. Tampaknya pada titik inilah tradisi tahlilan dianggap tasyabbuh bi al-kuffar. Namun demikian perlu diperhatikan beberapa hal, diantaranya:

o Harus dipahami bahwa permasalahan ini termasuk dalam wilayah I’tiqadi. Karena demikian, harus ditegaskan bahwa tidak ada keyakinan sama sekali di dalam hati warga nahdliyin bahwa tahlilan pada hari pertama kematian, hari kedua, ketiga dan seterusnya merupakan sebuah kewajiban, juga tidak ada keyakinan bahwa berdo’a kepada si mayit pada hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya lebih afdlal dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Tahlilan yang substansinya adalah berdoa untuk si mayit agar mendapatkan pengampunan dari Allah boleh dilakukan kapan saja, atau bahkan boleh tidak dilakukan, meskipun biasanya kegiatan tahlilan ini dilaksanakan pada hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

Tasyabbuh boleh dialamatkan kepada warga nahdliyin ketika meyikini bahwa tahlilan wajib dilaksanakan pada hari-hari dimaksud dan juga meyakini bahwa hari-hari dimaksud lebih afdlal dibandingkan hari lainnya. Jadi, penentuan hari dan seterusnya tidak lebih dari sebuah tradisi yang boleh dilakukan dan juga boleh ditinggalkan, berbeda dengan apa yang diyakini oleh umat Hindu. Tradisi ini sama persis dengan dengan tradisi memperingati hari-hari besar dalam Islam (Nuzulul qur’an, halal bi halal, maulid nabi, isra’-mi’raj dan lain sebagainya) yang boleh dilakukan kapan saja, tidak terbatas pada tanggal-tanggal tertentu. Peringatan hari besar yang biasanya diisi taushiah dan dzikir hanyalah merupakan tradisi yang boleh dikerjakan dan juga boleh ditinggalkan.

o Bahwa sikap warga nahdliyin sebagaimana di atas dapat dilihat dari kitab yang biasa dijadikan sebagai rujukan oleh mereka, diantaranya di dalam kitab al-fatawa al-fiqhiyah al-kubro yang berbunyi :

o ( وَسُئِلَ ) أَعَادَ اللَّهُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِ عَمَّا يُذْبَحُ مِنْ النَّعَمِ وَيُحْمَلُ مَعَ مِلْحٍ خَلْفَ الْمَيِّتِ إلَى الْمَقْبَرَةِ وَيُتَصَدَّقُ بِهِ عَلَى الْحَفَّارِينَ فَقَطْ وَعَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ ثَالِثِ مَوْتِهِ مِنْ تَهْيِئَةِ أَكْلٍ وَإِطْعَامِهِ لِلْفُقَرَاءِ وَغَيْرِهِمْ وَعَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ السَّابِعِ كَذَلِكَ وَعَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ تَمَامِ الشَّهْرِ مِنْ الْكَعْكِ وَيُدَارُ بِهِ عَلَى بُيُوتِ النِّسَاءِ اللَّاتِي حَضَرْنَ الْجِنَازَةَ وَلَمْ يَقْصِدُوا بِذَلِكَ إلَّا مُقْتَضَى عَادَةِ أَهْلِ الْبَلَدِ حَتَّى إنَّ مَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ صَارَ مَمْقُوتًا عِنْدَهُمْ خَسِيسًا لَا يَعْبَئُونَ بِهِ وَهَلْ إذَا قَصَدُوا بِذَلِكَ الْعَادَةَ وَالتَّصَدُّقَ فِي غَيْرِ الْأَخِيرَةِ أَوْ مُجَرَّدَ الْعَادَةِ مَاذَا يَكُونُ الْحُكْمُ جَوَازٌ وَغَيْرُهُ وَهَلْ يُوَزَّعُ مَا صُرِفَ عَلَى أَنْصِبَاءِ الْوَرَثَةِ عِنْدَ قِسْمَةِ التَّرِكَةِ وَإِنْ لَمْ يَرْضَ بِهِ بَعْضُهُمْ وَعَنْ الْمَبِيتِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ إلَى مُضِيِّ شَهْرٍ مِنْ مَوْتِهِ لِأَنَّ ذَلِكَ عِنْدَهُمْ كَالْفَرْضِ مَا حُكْمُهُ .( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ جَمِيعُ مَا يُفْعَلُ مِمَّا ذُكِرَ فِي السُّؤَالِ مِنْ الْبِدَعِ الْمَذْمُومَةِ لَكِنْ لَا حُرْمَةَ فِيهِ إلَّا إنْ فُعِلَ شَيْءٌ مِنْهُ لِنَحْوِ نَائِحَةٍ أَوْ رِثَاءٍ وَمَنْ قَصَدَ بِفِعْلِ شَيْءٍ مِنْهُ دَفْعَ أَلْسِنَةِ الْجُهَّالِ وَخَوْضِهِمْ فِي عِرْضِهِ بِسَبَبِ التَّرْكِ يُرْجَى أَنْ يُكْتَبَ لَهُ ثَوَابُ ذَلِكَ أَخْذًا مِنْ أَمْرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي الصَّلَاةِ بِوَضْعِ يَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَعَلَّلُوهُ بِصَوْنِ عِرْضِهِ عَنْ خَوْضِ النَّاسِ فِيهِ لَوْ انْصَرَفَ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُفْعَلَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ مِنْ التَّرِكَةِ حَيْثُ كَانَ فِيهَا مَحْجُورٌ عَلَيْهِ مُطْلَقًا أَوْ كَانُوا كُلُّهُمْ رُشَدَاءَ لَكِنْ لَمْ يَرْضَ بَعْضُهُمْ بَلْ مَنْ فَعَلَهُ مِنْ مَالِهِ لَمْ يَرْجِعْ بِهِ عَلَى غَيْرِهِ وَمَنْ فَعَلَهُ مِنْ التَّرِكَةِ غَرِمَ حِصَّةَ غَيْرِهِ الَّذِي لَمْ يَأْذَنْ فِيهِ إذْنًا صَحِيحًا وَإِذَا كَانَ فِي الْمَبِيتِ عِنْدَ أَهْلِ ( الفتاوى الفقهية الكبرى لأبن حجر الهيتمى )
oوالتصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب ولا يتقيد بكونه فى سبعة ايام او اكثر او اقل وتقييده ببعض الايام من العوائد فقط كما افتى بذلك السيد احمد دحلان وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت في ثالث من موته وفى سابع وفي تمام العشرين وفى الاربعين وفى المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا في يوم الموت كما افاده شيخنا يوسف السنبلاويني اما الطعام الذي يجتمع عليه الناس ليلة دفن الميت المسمى بالوحشة فهو مكروه مالم يكن من مال الايتام والا فيحرم (نهاية الزين : باب فى الوصية , 281)

Tradisi yang berlaku dan berkembang di kalangan nahdliyin adalah : apabila ada seorang muslim meninggal dunia, maka tetangga dan kerabat yang ada disekitarnya berbondong-bondong melakukan ta’ziyah, dan dapat dipastikan bahwa pada saat ta’ziyah kebanyakan dari mereka membawa beras, gula, uang dan lain sebagainya. Tetangga yang ada di kanan-kiri bau-membau membantu keluarga korban untuk memasak dan menyijakan jamuan, baik untuk keluarga korban atau untuk para penta’ziyah yang hadir. Apabila hal ini yang terjadi, apakah ini tidak dapat dianggap sebagai terjemahan kontekstual dari hadits nabi yang berbunyi :
قال النبي صلى الله عليه و سلم : اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد أتاهم أمر يشغلهم

Hadits di atas apabila diamalkan secara tekstual justru akan menjadi mubadzir, karena kalau seandainya semua tetangga yang ta’ziyah membawa makanan yang siap saji, maka dapat dipastikan akan banyak makanan yang basi. Catatan yang lain lagi adalah bahwa jamuan yang disajikan di dalam acara tahlilan bukanlah merupakan tujuan. Tujuan utama para tetangga yang hadir adalah berdo’a untuk si mayit. Karena demikian, jamuan boleh diadakan dan juga boleh ditiadakan. Bahkan, banyak dari kalangan kyai yang menjadi tokoh sentral warga nahdliyin memberikan pemahaman dan anjuran agar jamuan yang ada lebih disederhanakan, dan bahkan kalau mungkin hanya sekedar suguhan teh saja.

•Berkumpul untuk melakukan tahlilan pada saat setelah kematian dianggap “niyahah” (meratap).

Realitas berkumpul pada saat tahlilan sulit untuk dapat dipahami “hanya sekedar berkumpul” dalam rangka tenggelam dan larut dalam kesedihan, dimana hal ini dianggap sebagai illat al-hukmi kenapa berkumpul tersebut dianggap sebagai niyahah. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab I’anat al-Thalibin, yang berbunyi
كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة ووجه عده من النياحة ما فيه من شدة الاهتمام بأمر الحزن.

Berkumpul pada malam setelah kematian bukanlah menjadi tujuan. Yang menjadi tujuan adalah berdzikir dan berdoa untuk si mayit yang sedang mengalami ujian berat sebagaimana yang ditegaskan didalam kitab Nihayat al-zain, hal : 281 yang berbunyi :
وروي عن النبي صلى الله عليه وسلم انه قال ما الميت في قبره الا كالغريق المغوث – بفتح الواو المشددة – اى الطالب لان يغاث ينتظردعوة تلحقه من ابنه او اخيه او صديق له فاذا لحقته كانت احب اليه من الدنيا وما فيها

Ketika seorang muslim mendapat musibah (ditinggal mati keluarga, kena gempa, dll), adalah suatu kesunahan bagi saudara-saudaranya untuk datang takziah kepadanya, serta menghibur agar bersabar dari cobaan.Tidak ada yang lebih baik dari menghibur serta meringankan bebannya selain daripada mengajaknya berdzikir, mengingat Allah, dan berdoa bersama-sama, mendoakan si mayit dan keluarga yg ditinggalkannya.

Dari uraian di atas sulit dapat diterima apabila lafadz ” الاجتماع” yang terdapat didalam hadits nabi diarahkan pada tradisi tahlilan yang isinya adalah berdzikir dan berdoa, bukan semata-mata berkumpul hanya sekedar tenggelam dan berlarut-larut dalam kesedihan.

Di dalam tahlilan pasti ada unsur tawasul.

Sebagai gambaran awal untuk memetakan tentang konsep tawasul, dapat dijelaskan sebagai berikut :
Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa tawasul adalah menjadikan mutawasal bih sebagai wasilah (perantara) dalam rangka berdoa kepada Allah. Berdoa dapat langsung kepada Allah (tanpa tawasul) dan juga dapat menggunakan perantara mutawassal bih. Menggunakan mutawassal bih sebagai perantara bukanlah merupakan sebuah keharusan dalam berdoa.
Mutawassal bih secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

o Mutawassal bih yang berupa al-a’mal al-shalihah.

o Mutawassal bih yang berupa al-dzawat al-fadlilah. Mutawassal bih yang berupa al-dzawat al-fadlilah dibagi menjadi dua, yaitu :

o Dengan nabi Muhammad SAW. Kategori ini diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :

– Sebelum lahirnya nabi (قبل وجوده )
– Pada saat nabi hidup ( فى حياته )
– Setelah nabi wafat (بعد وفاته)

o Dengan awliya dan shalihin. Kategori ini diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
– Pada saat mereka masih hidup (في حياتهم)
– Setelah mereka wafat (بعد وفاتهم).

Tidak terjadi perbedaan pendapat mengenai diperbolehkannya menggunakan al-a’mal al-shalihah sebagai mutawassal bih. Hal ini didasarkan pada hadits nabi yang bercerita tentang tiga orang pemuda yang terjebak di sebuah goa. Hadits tersebut berbunyi :

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِىِّ حَدَّثَنِى سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ . فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِى أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ ، وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً ، فَنَأَى بِى فِى طَلَبِ شَىْءٍ يَوْمًا ، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا ، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً ، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَىَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ ، فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ » . قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِى بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَىَّ ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا ، فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ ، فَجَاءَتْنِى فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّىَ بَيْنِى وَبَيْنَ نَفْسِهَا ، فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ . فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا ، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْىَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَىَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى أَعْطَيْتُهَا ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا . قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّى اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ ، فَجَاءَنِى بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَىَّ أَجْرِى . فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ . فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِى . فَقُلْتُ إِنِّى لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ . فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ . فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ » .

Sedangkan tawassul dengan menggunakan dzawat fadlilah (orang-orang yang keistimewaan di hadapan Allah, dari kalangan para nabi, awliya dan shalihin) terjadi perbedaan pendapat yang cukup ekstrim tentang masalah ini. Ada yang membolehkan dan ada yang melarangnya dan bahkan menganggapnya sebagai sebuah bentuk kesyirikan. Semua pandangan, baik yang pro maupun yang kontra harus diapresiasi selama menggunakan dalil, analisa dan argumentasi yang ilmiyah. Sebaliknya, pandangan yang subyektif, sectarian dan tidak disertai argumentasi yang ilmiyah harus ditolak dan diluruskan.

Dalil-dalil yang menguatkan kebolehan tawasul dengan menggunakan dzawat fadlilah adalah :

• Bi al-nabi :

o Qabla wujudihi. Hadits nabi yang menguatkan hal ini adalah :

(قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : لما اقترف آدم الخطيئة قال : يارب ! أسألك بحق محمد لما غفرت لي ، فقال الله: ياآدم ! وكيف عرفت محمداً ولم أخلقه ؟ قال : يارب ! لأنك لما خلقتني بيدك ونفخت فيَّ من روحك رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوباً لا إله إلا الله محمد رسول الله ، فعلمت أنك لم تضف إلى اسمك إلا أحب الخلق إليك ، فقال الله : صدقت يا آدم ، إنه لأحب الخلق إليَّ ، أدعني بحقه فقد غفرت لك ، ولولا محمد ما خلقتك)) .أخرجه الحاكم في المستدرك وصححه [ج2 ص615] (1) ، ورواه الحافظ السيوطي في الخصائص النبوية وصححه (2) ، ورواه البيهقي في دلائل النبوة وهو لا يروي الموضوعات ، كما صرح بذلك في مقدمة كتابه (3) ، وصححه أيضاً القسطلاني والزرقاني في المواهب اللدنية [ج1 ص62](4) ، والسبكي في شفاء السقام ، قال الحافظ الهيثمي : رواه الطبراني في الأوسط وفيه من لم أعرفهم (مجمع الزوائد ج8 ص253)

o Fi hayatihi. Hadits nabi yang menguatkan tentang hal ini adalah :

ائت الميضأة فتوضأ ثم صل ركعتين ثم قال اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد – صلى الله عليه وسلم – نبي الرحمة يامحمد إني أتوجه بك إلى ربك فيجلي لي عن بصري ، اللهم شفعه فيَّ وشفعني في نفسي ، قال عثمان : فوالله ما تفرقنا ولا طال بنا الحديث حتى دخل الرجل وكأنه لم يكن به ضر)) ..قال الحاكم : هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه .وقال الذهبي عن الحديث : أنه صحيح (ج1 ص519) .

o Ba’da wafatihi. Penjelasan yang menguatkan tentang hal ini adalah :

وليس هذا خاصاً بحياته – صلى الله عليه وسلم – بل قد استعمل بعض الصحابة هذه الصيغة من التوسل بعد وفاته – صلى الله عليه وسلم – فقد روى الطبراني هذا الحديث وذكر في أوله قصة وهي أن رجلاً كان يختلف إلى عثمان بن عفان رضي الله عنه في حاجة له ، وكان عثمان رضي الله عنه لا يلتفت إليه ولا ينظر في حاجته ، فلقى الرجل عثمان بن حنيف فشكا ذلك إليه ، فقال له عثمان بن حنيف : ائت الميضأة فتوضأ ثم ائت المسجد فصل فيه ركعتين ثم قل :اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبينا محمد – صلى الله عليه وسلم – نبي الرحمة ، يامحمد ! إني أتوجه بك إلى ربك فيقضي حاجتي . وتذكر حاجتك ..

• Bi al-anbiya wa al-shalihin

o Fi hayatihim. Hadits nabi yang menguatkan tentang hal ini adalah :

أخرج البخاري في صحيحه عن أنس أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه – كانوا إذا قحطوا – استسقى بالعباس بن عبد المطلب فقال : [ اللهم إنا كنا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا وإنا نتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا ] .

o Ba’da wafatihim. Hadits nabi yang menguatkan tentang hal ini adalah :

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : من خرج من بيته إلى الصلاة ، فقال : اللهم إني أسألك بحق السائلين عليك وبحق ممشاي هذا فإني لم أخرج أشراً ولا بطراً ولا رياء ولا سمعة ، خرجت اتقاء سخطك وابتغاء مرضاتك ، فأسألك أن تعيذني من النار ، وأن تغفر لي ذنوبي ، إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت ، أقبل الله بوجهه واستغفر له سبعون ألف ملك .

Uraian di atas menegaskan bahwa tradisi tahlilan yang dilakukan oleh warga nahdliyin memiliki dasar, dalil dan argumentasi yang kuat, sehingga tidak patut untuk disesatkan, disyirikkan atau dibid’ahkan. Menganggap tradisi tahlilan adalah bid’ah, sesat dan syirik berarti yang bersangkutan kurang memahami konsep dan dalil agama.

Ziarah Kubur dan Analisis Argumentasi

Tak seorangpun dapat menyangkal dan menentang bahwa ziarah kubur merupakan hal yang disyariatkan di dalam Islam. Namun demikian, masih saja terdapat kelompok orang yang menentang ziarah kubur dengan berbagai dalih dan alasan yang tentunya kurang ilmiyah dan sangat emosional.

Ada nasihat yang sangat menarik yang ditawarkan oleh Imam al-qurthubi di dalam kitab tafsirnya yang berbunyi :

قال العلماء : ينبغي لمن أراد علاج قلبه وانقياده بسلاسل القهر إلى طاعة ربه ان يكثر من ذكر هاذم اللذات ومفرق الجماعات وموتم البنين والبنات ويواظب على مشاهدة المحتضرين وزيادرة قبور أموات المسلمين فهذه ثلاثة أمور ينبغي لمن قسا قلبه ولزمه ذنبه أن يستعين بها على دواء دائه ويستصرخ بها على فتن الشيطان وأعوانه فإن انتفع بالإكثار من ذكر الموت وانجلت به قساوة قلبه فذاك وإن عظم عليه ران قلبه واستحكمت فيه دواعي الذنب فإن مشاهدة المحتضرين وزيارة قبور أموات المسلمين تبلغ في دفع ذلك ما لا يبلغه الأول لأن ذكر الموت إخبار للقلب بما إليه المصير وقائم له مقام التخويف والتحذير وفي مشاهدة من احتضر وزيادة قبر من مات من المسلمين معاينة ومشاهدة فلذلك كان أبلغ من الأول

Dari pandangan dan uraian Imam al-Qurtubi di atas, kita akan menganggap wajar dan bahkan menganggap benar tradisi ziarah kubur yang dilakukan dan digandrungi oleh kalangan nahdliyin dengan berjamaah ziarah ke makam wali songo dan lain sebagainya. Karena ziarah kubur merupakan salah satu dari tiga hal yang mujarab untuk mengobati dan menundukkan kerasnya hati; tiga hal dimaksud adalah : mengingat mati, menyaksikan orang yang sedang sakaratul maut dan ziarah kubur.

Dari pandangan ini, maka sebenarnya orang yang berziarah ke makam para wali tidak hanya berkesempatan untuk bertawasul kepada para awliya dan shalihin, akan tetapi juga berkesempatan untuk mengobati hatinya sehingga pada akhirnya akan lebih taat kepada Allah.
Disamping pertimbangan di atas hadits nabi yang menjelaskan tentang dianjurkannya ziarah kubur sangat banyak dan dikeluarkan oleh banyak perawi, sehingga tingkat kemakbulannya tidak dapat diragukan lagi. Hadits-hadits dimaksud diantaranya adalah :

• حدثنا زبيد بن الحارث عن محارب بن دثار عن بن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إني كنت نهيتكم عن ثلاث عن زيارة القبور فزوروها ولتزدكم زيارتها خيرا …. (رواه النسائى )
• و حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب أنبأ محمد بن عبد الله بن عبد الحكم أنبأ ابن وهب أخبرني ابن جريج عن أيوب بن هانىء عن مسروق بن الأجدع عن عبد الله بن مسعود : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : إني كنت نهيتكم عن زيارة القبور و أكل لحوم الأضاحي فوق ثلاث و عن نبيذ الأوعية ألا فزوروا القبور فإنها تزهد في الدنيا و تذكر الآخرة …. (رواه الحاكم )
• حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَنْبَأَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ هَانِئٍ عَنْ مَسْرُوقِ بْنِ الأَجْدَعِ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِى الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الآخِرَةَ ». (رواه ابن ماجه )
• حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ زُبَيْدٍ عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَنَزَلْنَا مَنْزِلاً وَنَحْنُ مَعَهُ قَرِيبًا مِنْ أَلْفِ رَاكِبٍ فَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا وَعَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ فَقَامَ إِلَيْهِ عُمَرُ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فَفَدَاهُ بِالأَبِ وَالأُمِّ وَقَالَ لَهُ : مَا لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ :« إِنِّى اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى اسْتِغْفَارِى لأُمِّى فَلَمْ يَأْذَنْ لِى فَبَكَيْتُ لَهَا رَحْمَةً مِنَ النَّارِ ، وَإِنِّى كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا ، وَكُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الأَضَاحِىِّ أَنْ تُمْسِكُوهَا فَوْقَ ثَلاَثٍ فَكُلُوا وَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ ، وَكُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنِ الشُّرْبِ فِى الأَوْعِيَةِ فَاشْرَبُوا فِى أَىِّ وِعَاءٍ شِئْتُمْ وَلاَ تَشْرَبُوا مُسْكِرًا ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى الصَّحِيحِ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى عَنْ زُهَيْرٍ دُونَ قِصَّةِ أُمِّهِ. (رواه البيهقي )

Meskipun manfaat ziarah kubur sangat besar dan dalil yang menguatkannya juga sangat banyak, namun masih saja banyak kelompok yang menentang ziarah kubur. Dari literature yang kita baca yang ditulis oleh para penentang ziarah kubur dapat disimpulkan bahwa penentangan mereka bermuara pada beberapa alasan diantaranya adalah :

• Berbagai kemaksiatan banyak terjadi pada saat ziarah kubur.

• Kesyirikan banyak dilakukan oleh para peziarah.

Dua alasan di atas merupakan alasan yang bersifat ‘aridly (insidentil) dan bukan sesuatu yang pasti terjadi. Karena demikian, sebuah pembahasan akan menjadi bias dan tidak ilmiyah karena meninggalkan substansi permasalahan yang sebenarnya. Marilah kita mencoba untuk mengkritisi alasan yang mereka kemukakan.

http://www.aswaja-nu.com/2010/02/tahlilan-dan-ziarah-kubur-larangan-atau_20.html

E.  Sunnahnya membaca Al-quran diatas kubur dan mengirimkan pahalanya untuk mayyit.

Telah masyhur bahwa imam-imam madzab sunni menyatakan sampainya hadiah pahala kepada mayyit muslim, bahkan ibnu qayyim dan ibnu taymiyah yang katanya imamnya para wahhaby menyatakan demikian. Ini buktinya :
bnul Qayyim (Scan Kitab Ar-ruh) : Sampainya hadiah bacaan Alqur’an dan Bolehnya membaca Al-Qur’an diatas kuburanScan Kitab bahasa Arab :Cover :

kitab aroh arab cover

Baca Yang berwarna Merah  (page 5 digital book):

Aroh arab page 5ok

kitab ar-rooh (ar-ruh digital) Bisa di download di :

http://www.scribd.com/doc/21496576/alrooh

Scan kitab ar-ruh tarjamah (bahasa melayu) :

cover :

kitab ar-ruh ibnu qayyim_0004

Kitab ar-ruh :

kitab ar-ruh ibnu qayyim_0003

kitab ar-ruh ibnu qayyim_0002

Teks Arab Kitab Arruh Ibnu qayyim pada halaman 5 (kitab digital) :

وقد ذكر عن جماعة من السلف أنهم أوصوا أن يقرأ عند قبورهم وقت الدفن قال عبد الحق يروى أن عبد الله بن عمر أمر أن يقرأ عند قبره سورة البقرة وممن رأى ذلك المعلى بن عبد الرحمن وكان الامام أحمد ينكر ذلك أولا حيث لم يبلغه فيه أثر ثم رجع عن ذلك   وقال الخلال في الجامع كتاب القراءة عند القبور اخبرنا العباس بن محمد الدورى حدثنا يحيى بن معين حدثنا مبشر الحلبى حدثني عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه قال قال أبى إذا أنامت فضعنى في اللحد وقل بسم الله وعلى سنة رسول الله وسن على التراب سنا واقرأ عند رأسى بفاتحة البقرة فإنى سمعت عبد الله بن عمر يقول ذلك قال عباس الدورى سألت أحمد بن حنبل قلت تحفظ في القراءة على القبر شيئا فقال لا وسألت يحيى ابن معين فحدثنى بهذا الحديث   قال الخلال وأخبرني الحسن بن أحمد الوراق حدثنى على بن موسى الحداد وكان صدوقا قال كنت مع أحمد بن حنبل ومحمد بن قدامة الجوهرى في جنازة فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم فأخبرني مبشر عن عبد الرحمن بن العلاء اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال له أحمد فارجع وقل للرجل يقرأ

وقال الحسن بن الصباح الزعفراني سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال لا بأس بها   وذكر الخلال عن الشعبي قال كانت الأنصار إذا مات لهم الميت اختلفوا إلى قبره يقرءون عنده القرآن قال وأخبرني أبو يحيى الناقد قال سمعت الحسن بن الجروى يقول مررت على قبر أخت لي فقرأت عندها تبارك لما يذكر فيها فجاءني رجل فقال إنى رأيت أختك في المنام تقول جزى الله أبا على خيرا فقد انتفعت بما قرأ أخبرني الحسن بن الهيثم قال سمعت أبا بكر بن الأطروش ابن بنت أبي نصر بن التمار يقول كان رجل يجيء إلى قبر أمه يوم الجمعة فيقرأ سورة يس فجاء في بعض أيامه فقرأ سورة يس ثم قال اللهم إن كنت قسمت لهذه السورة ثوابا فاجعله في أهل هذه المقابر فلما كان يوم الجمعة التي تليها جاءت امرأة فقالت أنت فلان ابن فلانة قال نعم قالت إن بنتا لي ماتت فرأيتها في النوم جالسة على شفير قبرها فقلت ما أجلسك ها هنا فقالت إن فلان ابن فلانة جاء إلى قبر أمه فقرأ سورة يس وجعل ثوابها لأهل المقابر فأصابنا من روح ذلك أو غفر لنا أو نحو ذلك

Membaca Al-qur’an Diatas Kubur Dan Mengadiahkan Pahalanya bagi Mayyit (Muslim)

Tarjamahannnya :

Pernah disebutkan daripada setengah para salaf, bahwa mereka mewasiatkan supaya dibacakan diatas kubur mereka di waktu penguburannya. Telah berkata abdul haq, diriwayatkan bahwa Abdullah bin umar pernah menyuruh supaya diabacakan diatas kuburnya surah al-baqarah. Pendapat ini dikuatkan oleh mu’alla bin hanbal, pada mulanya mengingkari pendapat ini kerana masih belum menemui sesuatu dalil mengenainya, kemudian menarik balik pengingkarannya itu setelah jelas kepadanya bahwa pendapat itu betul.

Berkata Khallal di dalam kitabnya ‘Al-jami’ : Telah berkata kepadaku Al-Abbas bin Muhammad Ad-dauri, berbicara kepadaku Abdul Rahman bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, katanya : Ayahku telah berpesan kepadaku, kalau dia mati, maka kuburkanlah dia di dalam lahad, kemudian sebutkanlah : Dengan Nama Allah, dan atas agama Rasulullah !, Kemudian ratakanlah kubur itu dengan tanah, kemudian bacakanlah dikepalaku dengan pembukaan surat albaqarah, kerana aku telah mendengar Abdullah bin Umar ra. Menyuruh membuat demikian. Berkata Al-Abbas Ad-Dauri kemudian : Aku pergi bertanya Ahmad bin Hanbal, kalau dia ada menghafal sesuatu tentang membaca diatas kubur. Maka katanya : Tidak ada ! kemudian aku bertanya pula Yahya bin Mu’in, maka dia telah menerangkan kepadaku bicara yang menganjurkan yang demikian.

Berkata Khallal, telah memberitahuku Al-Hasan bin Ahmad Al-Warraq, berbicara kepadaku Ali bin Muwaffa Al-Haddad, dan dia adalah seorang yang berkata benar, katanya :Sekalai peristiwa saya bersama-sama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari menghadiri suatu jenazah. Setelah selesai mayit itu dikuburkan, maka telah duduk seorang yang buta membaca sesuatu diatas kubur itu. Maka ia disangkal oleh Imam Ahmad, katanya : Wahai fulan ! Membaca sesuatu diatas kubur adalah bid’ah !. Apa bila kita keluar dari pekuburan itu, berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari kepada Imam Ahmad bin Hanbal : Wahai Abu Abdullah ! Apa pendapatmu tentang si Mubasysyir Al-Halabi ? Jawab Imam Ahmad : Dia seorang yang dipercayai. Berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari seterusnya : Aku menghafal sesuatu daripadanya ! Sangkal Imam Ahmad bin Hanbal : Yakah, apa dia ? Berkata Muhammad bin Qudamah : Telah memberitahuku Mubasysyir, daribada Abdul Rahman Bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, bahwasanya ia berpesan, kalau dia dikuburkan nanti, hendaklah dibacakan dikepalanya ayat-ayat permulaan surat Al-Baqarah, dan ayat-ayat penghabisannya, sambil katanya : Aku mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mewasiatkan orang yang membaca demikian itu.

Mendengar itu, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada Muhammad bin Qudamah : Kalau begitu aku tarik tegahanku (Bhs Ind : penolakanku ) itu. Dan suruhlah orang buta itu membacakannya.

Berkata Al- Hasan  bin As-sabbah Az-za’farani pula : Saya pernah menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i, kalau boleh dibacakan sesuatu diatas kubur orang, maka Jawabnya : Boleh, Tidak mengapa !

Khalal pun telah menyebutkan lagi dari As-sya’bi, katanya : Adalah Kaum Anshor, apabila mati seseorang diantara mereka, senantiasalah mereka mendatangi kuburnya untuk membacakan sesuatu daripada Al-Qur’an.

Asy-sya’bi berkata, telah memberitahuku Abu Yahya An-Naqid, katanya aku telah mendengar Al-Hasan bin Al-Haruri berkata : Saya telah mendatangi kubur saudara perempuanku, lalu aku membacakan disitu Surat Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dianjurkan. Kemudian datang kepadaku seorang lelaki danmemberitahuku, katanya : Aku mimpikan saudara perempuanmu, dia berkata : Moga-moga Allah memberi balasan kepada Abu Ali (yakni si pembaca tadi) dengan segala yang baik. Sungguh aku mendapat manfaat yang banyak dari bacaannya itu.

Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar atrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !

Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.

(Tarjamah Kitab Ar-ruh  Hafidz Ibnuqayyim jauziyah, ‘Roh’ , Ustaz Syed Ahmad Semait, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, 1990, halaman 17 – 19)

untuk keterangan dan bukti scan kitab yang lain silahkan lihat di :

https://salafytobat.wordpress.com/2009/10/23/ibnul-qayyim-scan-kitab-ar-ruh-sampainya-hadiah-bacaan-alqur%E2%80%99an-dan-bolehnya-membaca-al-qur%E2%80%99an-diatas-kuburan/