Yahudi, Nenek Moyang Taliban?

Yahudi, Nenek Moyang Taliban?

suku pastun adalah salah satu keturunan suku yahudi yang memeluk islam. Mereka tinggal di gunung-gunung perbatasan afaganistan -pakistan sehingga mempunyai kemampuan tempur dan perang yang tinggi. SEbagai muslim mereka menentang agenda zionist yahudi membuat negara Israel, sehingga zionist yahudi ingin membinasakan mereka sebagai mana mereka membinasakan YAHUDI YANG TIDAK MENDUKUNG PROGRAM ZIONIST DI GERMAN SEMASA PEMERINTAHAN HITLER.

Suku pastun banyak yg buta huruf dan tidak bisa baca qur’an. Bertahun-tahun agen zionist wahabi/alqaida mendekati dan mendoktrin mereka. Doktrin wahaby alqaida ini aka menysesatkan semua muslim diluar kelompoknya dan dikobarkan semangat membunuh kuffar (USA) tanpa dakwah terlebih dahulu. Sehingga suku  pastun yang masuk alqaida/taliban ini di adu domba oleh zionist yahudi untuk memerangi muslim non alqaida dan USA/NATO (Kristen non suku yahudi)

KNRP – Apakah Taliban yang sebagian besar elemen-elemennya tergabung ke suku Pashtun yang melakukan perlawanan terhadap pendudukan AS itu asalnya Yahudi? Pertanyaan yang tampaknya cukup aneh. Tapi Kementerian Luar Negeri Israel percaya bahwa pertanyaan itu layak diteliti.
Sementara itu para ahli Afghanistan menafikan asumsi itu. Mereka melihat itu sebagai hal yang tak lebih daripada mitos lantaran itu tidak ada dasar ilmiah untuk masalah ini dan lebih untuk tujuan-tujuan politik.

Deplu Israel sendiri telah mendanai sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti genetika asal India, Chaniz, yang saat ini sedang dalam sebuah kunjungan ke Israel guna membawa sampel genetik Suku Afridi di India dimana dari suku itulah Suku Pashtun berasal yaitu suku yang mewakili ras utama dari orang-orang Afghanistan. Sampel itu kemudian untuk dianalisis dan guna membuktikan apakah suku-suku Pashtun adalah keturunan dari Sepuluh Suku Yahudi hilang sejak sekitar 2.700 tahun yang lalu atau bukan? Demikian dilaporkan surat kabar Inggris The Guardian, Ahad (17/1), seperti disitat islamonline, Selasa (191).

Terkait laporan yang diterbitkan oleh The Guardian itu, pakar Afghanistan Habibullah Rafe dalam pernyataan eksklusifnya kepada situs BBC mengatakan, “Pashtun itu Bangsa Arya asli. Apa yang dikatakan mengenai asalnya itu dari anak-anak Israel itu sekadar teori yang didasarkan pada mitos-mitos populer. ”

Dia melanjutkan, “Adapun mereka itu orang-orang Arya maka itu berdasarkan pada penelitian ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan Antropologi, benda-benda kuno, bahasa dan dialek yang mereka itu diangggap sebagai Bahasa Pashtun sebagai salah satu bahasa Bahasa Arya.”

Amin Mujahid, seorang anggota Academy of Afghanistan menyetujui Rafee yang menilai teori dikaitkannya Pashtun dengan anak cucu Israel sebagai sesuatu yang tendensius, dan di balik itu untuk mencapai tujuan-tujuan politik, serta tidak memiliki dasar ilmiah.

Mencuatnya perhatian Israel terkait masalah ini bersamaan dengan menjelmanya Suku Pashtun sebagai pusat perlawanan terhadap kehadiran Amerika di Afghanistan dan Pakistan, di mana sebagian besar para pimpinan Taliban berasal dari Suku Pasthun.
Sementara terkait studi Chaniz ini diperkirakan akan memakan waktu 3 sampai 6 bulan, untuk memastikan apakah Suku Pashtun yang merupakan ras utama di Afghanistan dan Pakistan barat laut itu berasal dari suku Yahudi Efraim yang sudah punah itu.

Penelitian ini didasarkan atas asumsi bahwa Pashtun adalah keturunan dari suku Afridi di Uttar Pradesh India, dan dari sana Chaniz kemudian membawa sampel genetik dari beberapa anggota Suku Afridi untuk dianalisa dan diperbandingankan dengan sifat-sifat genetis dari suku-suku Yahudi yang hilang.

Selama berabad-abad, telah tersebar cerita-cerita Israel mengenai masalah ini, , tetapi tak satu pun dari itu dapat diverifikasi secara ilmiah.

Untuk diketahui, dari kelompok-kelompok etnis besar di dunia para ilmuwan antropologi Israel percaya bahwa etnis Pashtun atau Patton berasal dari keturunan salah satu dari sepuluh suku Israel yang hilang. Memang kadang-kadang isu itu terdengar di kalangan suku itu sendiri, tetapi itu tidak menunjukkan simpati yang kuat atau keinginan agar mereka berpindah ke Negara Israel yang didirikan di wilayah Palestina yang diduduki.

Menurut versi Israel, Nabi Musa ketika ia keluar dari Mesir ikut bersamanya 12 suku-suku dari keturunan Bani Israel, di antaranya Suku Benjamin, Rabin, Lewi, Yehuda, Gad, Asyer, Zebulon, Saar, Yusuf, Naftali, Daan, Shimon, lalu dua di antara suku itu bermukim di selatan Palestina, sementara sepuluh sisanya yang menghuni sebelah utara Palestina, mereka itu berpencar dan bermigrasi ke tempat-tempat lain. Riwayat lainnya menyebutkan, sepuluh suku-suku itu dibuang setelah orang-orang Asyur yang berhasil menaklukkan sepuluh suku Yahudi yang hilang.

Kemudian diyakini bahwa sepuluh suku yang hilang itu tersebar di seluruh daerah yang dikenal di zaman modern sekarang dengan nama utara Irak dan Afghanistan, dan dari sanalah kemungkinan dan premis itu menguat.(milyas/iol)

——-

OR YOU CAN SEARCH IN YOUTUBE :

Jewish Zionist faking Al Qaeda

Zionist used al aqaida to destroy WTC (9/11)

9/11 CONSPIRACY: MORE PROOF OF BOMBS PLANTED IN THE TOWERS!!

OR :  http://www.youtube.com/watch?v=h7cvjBViV7g&feature=related

Alqaida  hanya memusuhi Amerika & HAMAS palestine?

Ternyata ada Agen Yahudi di Al qaida!

ketahuilah, Syiah adalah pemecah umat islam yang didirikan oleh YAHUDI YANG PURA PURA MEMELUK ISLAM.

KINI MUNCULAH GOLONGAN TAKFIRI WAHABI JIHADI / SALAFY JIHADI/ TERORIS ALQAIDA YANG DIDALAMNYA BANYAK ANTEK ANTEK ZIONIST.

“Zionist yahudi ingin menguasai dunia penghalangnya adalah Islam dan Kristen”bagai mana yahudi untuk mengalahkan islam dan kristen?
1. Yahudi mengadu islam  vs kristen dengan membuat aliran-aliran radikal (spt majelis  mujahidin indonesia (wahaby), noordin M top cs (wahaby), taliban (wahaby)
Sedangkan taliban/alqaida adalah pendatang yang memecah balah umat islam di afgan dan yang merusak perjuangan suci rakyat afgan melawan penjajah, ia menegakan hukum wahaby bukan hukum islam), dsb.

2. Mengadu sesama umat islam (membuat aliran-aliran sesat seperti wahhaby, islam liberal dsb.)

3. Mengadu sesama kristen (seperti membuat aliran-aliran radikal  dalam kristen)

—————————————————————————

Kakek Jubir Al-Qaidah untuk AS Penyumbang Negara Israel?

Laporan dari saluran televisi Israel Channel 10 menyebutkan bahwa juru bicara Al-Qaidah untuk Amerika yaitu Yahya Adam Gadahn, yang merupakan salah satu yang orang yang paling dicari oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya setelah Usamah bin Ladin adalah orang keturunan Yahudi.

Channel 10 melaporkan bahwa Yahya adalah seorang Yahudi bernama Adam Perlman sebelum ia mengumumkan dirinya masuk Islam dan menjadi salah satu yang orang yang dianggap paling berbahaya dan merupakan pembantu senior Usaman bin Ladin.

Laporan itu mengatakan bahwa kakek Gadahn adalah seorang Yahudi, dan telah menjadi penyumbang sejumlah besar uang bagi negara Yahudi Israel.”

————————————————–

———————————————————————————-

TERORIS ALQAIDA (ANTEK ZIONIST) HANYA MENGADU DOMBA MUSLIM DENGAN USA SEMENTARA IA MEMERANGI HAMAS DAN MEMECAH BELAH PERLAWANAN RAKYAT PALESTINE MELAWAN ISRAEL..LIHATLAH KETUA ALQAIDA PALESTINE MENDIRIKAN NEGARA BARU DAN MENGKAFIRKAN HAMAS! DAN SEMUA ANTEK ALQAIDA BERSUMPAH TIDAK AKAN MEMBERITAKAN TENTANG HAMAS! BUKTI ARRAHMAH ANTEK WAHABY ALQAIDA MEMUSUHI HAMAS :

—————————————————————

Di Saudi Arabia (daulah rezim wahabi) Ada Pangkalan Militer Kafir USA dan Zionist Israel


Advertisements

Al-Awa’il al-Sunbuliyyah: Kitab Sanad yang Masyhur

Al-Awa’il al-Sunbuliyyah: Kitab Sanad yang Masyhur

Tulisan ini adalah merupakan cuplikan daripada tulisan al-Fadhil Ustaz Mohd. Khafidz bin Soroni di blog beliau yang bernama Sawanih wa Khawathir.

Biografi Penyusun: Penyusun kitab ialah Syeikh Abu al-Khayr Muhammad Sa‘id ibn Muhammad Sunbul al-Qurasyi al-Makki al-Syafi‘i. Beliau berasal daripada Mekah, dan merupakan salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i di Mekah. Beliau pernah menjawat tugas bagi hal-ehwal fatwa dan pengajaran bagi mazhab Syafi’i di Masjidil Haram. Beliau telah menghasilkan beberapa buah karya. Antara tulisan buah tangannya selain kitab al-Awa’il al-Sunbuliyyah ialah kitab Isnad Muhammad Sa‘id, kitab Thabat dan lain-lain. Beliau telah meninggal dunia di Taif pada tahun 1175 H.

Murid: Di antara murid-muridnya yang terkenal ialah:

  • Anak beliau sendiri, Muhammad Thahir Sunbul (m.1218H),
  • Muhammad Sa‘id Safar al-Madani (m.1194H),
  • Syeikh Isma‘il bin ’Abdullah al-Naqsyabandi (m.1182H),
  • Muhammad ibn Sulayman al-Kurdi al-Madani (m.1192H),
  • Mustafa bin Muhammad al-Rahmati (m.1205H),
  • Muhammad al-Murtadha al-Zabidi, pensyarah Ihya’ ’Ulumiddin (m.1205H) dan lain-lain lagi.

(Lihat: Khayr al-Din al-Zirikli, al-A‘lam, j. 6, h. 140. Muhammad ‘Abd al-Hay ibn ‘Abd al-Kabir al-Kattani, Fihris al-Faharis wa al-Athbat wa Mu‘jam al-Ma‘ajim wa al-Musalsalat, j. 1, h. 100-102. Muhammad ‘Abd Allah Al Rasyid, Imdad al-Fattah bi Asanid wa Marwiyyat al-Syaykh ‘Abd al-Fattah. h. 588-589).

Latarbelakang Kitab: Kitab al-Awa’il al-Sunbuliyyah ialah sebuah kitab kecil yang menghimpunkan hadith-hadith pertama yang terdapat di dalam 43 buah kitab hadith, yang diriwayatkan oleh Syeikh Muhammad Sa‘id secara bersambung sanadnya sampai kepada penyusun-penyusun kitab berkenaan. Ini termasuklah al-Kutub al-Sittah, Sunan al-Darimi, Muwatta’ Malik, Musnad Imam Abu Hanifah, Musnad Imam al-Syafi’i, Musnad Imam Ahmad, Sunan al-Daraqutni, Sunan Sa’id bin Mansur, Musannaf Ibnu Abi Syaibah, Syarh al-Sunnah oleh al-Baghawi, Musnad al-Tayalisi dan lain-lain [1].

Tujuan kitab al-Awa’il seperti ini disusun ialah bagi memudahkan penyusunnya mengijazahkan kitab-kitab hadith yang diriwayatkan kepada murid-muridnya atau sesiapa sahaja yang ingin meminta ijazah daripadanya dan layak. Maka sesiapa yang meriwayatkan kitab al-Awa’il ini bermakna sanadnya bersambung secara langsung dengan penyusun-penyusun kitab hadith yang tersebut, seterusnya bersambung dengan Rasulullah SAW. Syeikh Muhammad Sa‘id telah meriwayatkan semua kitab-kitab tersebut daripada guru-gurunya, yang nama mereka seperti berikut: Syeikh Abu Tahir Muhammad bin Ibrahim al-Kurani (juga guru Syah Waliyullah al-Dihlawi), Syeikh ‘Id ibn ‘Ali al-Azhari (murid Syeikh ’Abdullah bin Salim al-Basri), Syeikh Ahmad al-Nakhli al-Makki dan Syeikh ‘Umar ibn Ahmad ibn ‘Aqil al-Saqqaf. Beliau juga menambah kemudiannya beberapa hadith daripada beberapa kitab hadith lain yang hampir berjumlah 30 buah. Kitab al-Awa’il al-Sunbuliyyah ini masyhur digunakan di daerah Hijjaz dan juga benua kecil India sejak kurun ke-12 Hijrah. (Muhammad ‘Abd al-Hay ibn ‘Abd al-Kabir al-Kattani, ibid., j. 1, h. 100-101) [2]

Sanad Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani: Kitab al-Awa’il al-Sunbuliyyah ini telah menerima tumpuan daripada ramai ahli ilmu dan para pencari sanad. Ini dapat dilihat sebagai contohnya di dalam sanad Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani (foto kanan), di mana beliau telah meriwayatkan kitab ini daripada hampir 40 orang syeikh yang dihimpunkan kesemua sanad mereka di dalam risalah kecil berjudul : (النفحة المسكية في الأسانيد المتصلة بالأوائل السنبلية). Jumlah keseluruhan perawi yang terdapat di dalam risalah ini adalah sekitar 190 orang, iaitu antara murid-murid Syeikh Muhammad Sa‘id Sunbul sehingga guru-guru Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani. رحمهم الله تعالى Kebanyakan mereka terdiri daripada alim ulama besar yang berasal dari berbagai tempat seperti Hijjaz, Syria, Mesir, Maghribi, Yaman, India, dan juga Nusantara.

Tahkik Syeikh ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah: Kitab ini telah menerima perhatian daripada ramai ahli ilmu. Ada yang memberi huraian terhadapnya seperti Syeikh Ahmad ibn ‘Uthman al-‘Attar, dan ada juga yang mentahkik isi kandungannya, antaranya ialah Syeikh ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah (foto kanan). Beliau telah meriwayatkan kitab al-Awa’il al-Sunbuliyyah ini melalui rantaian sanad keluarga Sunbul, iaitu daripada Umm Tahir ‘A’isyah Sunbul (m. 1415H), daripada bapanya Syeikh Muhammad Tahir Sunbul (m. 1343H) (foto atas, tengah), daripada bapanya ‘Umar Sunbul, daripada bapanya ‘Abd al-Muhsin Sunbul (m. 1266H), daripada bapanya Muhammad Tahir Sunbul (m. 1218H), daripada bapanya Syeikh Muhammad Sa‘id Sunbul, penyusun kitab tersebut. (Muhammad ‘Abd Allah Al Rasyid (1999), op.cit., h. 589)

Kitab ini sebenarnya sudah dicetak banyak kali, namun edisi yang ditahkik oleh Syeikh ‘Abd al-Fattah ini agak berbeza dengan edisi-edisi cetakan yang lainnya kerana beliau turut melampirkan beberapa tambahan yang dibuat oleh penyusunnya sendiri yang belum pernah dicetak sebelumnya.

Contoh Manuskrip Kitab Awail al-Sunbuliyyah

Sanad al-Faqir (al-Fadhil Ustaz Mohd. Khafidz bin Soroni): Alhamdulillah, saya telah meriwayatkan kitab al-Awa’il al-Sunbuliyyah ini daripada guru kami, al-’Allamah al-Muhaddith Syeikh Mahmud Sa’id Mamduh, yang meriwayatkannya daripada Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani (foto kanan dan di bawah adalah contoh sanad kitab Awail al-Sunbuliyyah yang Syeikh Yasin al-Fadani riwayatkan dari syeikh-syeikh beliau sepertimana yang disebut diatas – abu zahrah). Namun beliau tidak menyebut kesemua sanad Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani, dan hanya menyebut jalur riwayatnya daripada Sayyid Zaki bin Ahmad al-Barzanji al-Madani, daripada bapanya al-Mufti Sayyid Ahmad bin Isma’il al-Barzanji, daripadanya bapanya Sayyid Isma’il bin Muhammad al-Hadi al-Barzanji, daripada Syeikh Khalid bin Hasan al-Kurdi, daripada Syeikh Muhammad bin ’Abdur Rahman al-Kazbari, daripada Syeikh Muhammad ibn Sulayman al-Kurdi al-Madani, daripada penyusunnya sendiri Syeikh Muhammad Sa‘id Sunbul. [3] حمهم الله تعالى جميعا.

Pesanan penulis (al-Fadhil Ustaz Mohd. Khafidz bin Soroni): Dilarang menerbit semula kecuali dengan izin penulis, atau memberi kredit kepada penulis demi amanah ilmiah.

***************

Nota tambahan oleh al-Fagir Abu Zahrah:

[1] – Kitab-kitab tersebut adalah: Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan at-Tirmidhi, Sunan an-Nasai, Sunan Ibn Majah, Musnad ad-Darimi, Muwattho` Malik, Muwattho’ Muhammad al-Hasan, Jaami` Masanid Abi Hanifah, Musnad al-Imam asy-Syafie, Sunan al-Imam asy-Syafie, Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal, Kitab al-Aasar li Muhammad al-Hasan, Sunan ad-Daraqutni, al-Mustakhraj ‘ala Shahih Muslim lil Haafidz Nu’aim, Sunan Abu Muslim al-Kasyi, Sunan Said bin Manshur, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, Kitab Syarh as-Sunnah oleh al-Baghwi, al-Mashobih oleh al-Baghwi, Musnad at-Thoyaalisi, Musnad ‘Abdu ibn Humaid – al-Muntakhab, Musnad al-Haarits ibn Abi Usamah, Musnad al-Bazaar, Musnad abi Ya’la al-Maushuli, Kitab az-Zuhd wa al-Riqaaq – al-Haafidz Ibn al-Mubaarak, Nawaadir al-Ushuul – al-Hakiim at-Tirmidhi, Kitab ad-Du’a – ath-Thabarani, Iqtidha` al-Ilm al-Amal – Khatib al-Baghdadi, Kitan Tarikh al-Rijaal – Yahya ibn Ma’in, Mushannaf ‘Abdur Razzaq al-Shon’ani, as-Sunan as-Shogra` – al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra` – al-Baihaqi, al-Mustakhraj ‘ala Shahih Muslim – Abi ‘Awanah, Shahih Ibn Hibban, Shahih al-Haakim @ al-Mustadrak, Shahih Ibn Khuzaimah, Shahih Abi Bakar al-Ismaa’iiliy, Kitab ‘amal al-Yaum wa al-Lailah – Ibn as-Sunni dan Jam’u al-Fawaaid min Jaami’ al-Ushuul wa Majma’ al-Zawaaid – Muhammad bin Sulaiman.

[2] – Telah menjadi tradisi di Makkah al Mukarramah suatu masa dahulu, kitab ini dibaca dan mula-mula diijazahkan sebelum pembacaan dan pengijazahan kitab-kitab yang lain.

[3] – Dengan limpahan rahmatNYA, al-Fagir juga memperolehi sanad kitab yang masyhur ini daripada Guru Mulia, Syeikh Muhammad Nuruddin bin Marbu bin ‘Abdullah al-Banjari al-Makki dan juga daripada al-‘Allamah al-Muhaddits Syeikh Mahmud Said Mamduh. AlhamduliLlah.

DOWNLOAD : KItab aqidah ahlusunnah dengan pengantar ulama ahlusunnah terkemuka (Syahamah)

Print E-mail
Image

Click here to read and download “Dengan Kata Pengantar Ulama Ahlussunnah Terkemuka” in PDF format

Image

http://www.aicp.org/islamic-information-mainmenu-42/indonesian-mainmenu-43/230-dengan-kata-pengantar

BUKTI : ALQAIDA (WAHABY QUTHBIYUN) AGENT ZIONIST – Jewish Zionist faking Al Qaeda

OR YOU CAN SEARCH IN YOUTUBE :

Jewish Zionist faking Al Qaeda

Zionist used al aqaida to destroy WTC (9/11)

9/11 CONSPIRACY: MORE PROOF OF BOMBS PLANTED IN THE TOWERS!!

OR :  http://www.youtube.com/watch?v=h7cvjBViV7g&feature=related

Alqaida  hanya memusuhi Amerika & HAMAS palestine?

Ternyata ada Agen Yahudi di Al qaida!

ketahuilah, Syiah adalah pemecah umat islam yang didirikan oleh YAHUDI YANG PURA PURA MEMELUK ISLAM.

KINI MUNCULAH GOLONGAN TAKFIRI WAHABI JIHADI / SALAFY JIHADI/ TERORIS ALQAIDA YANG DIDALAMNYA BANYAK ANTEK ANTEK ZIONIST.

“Zionist yahudi ingin menguasai dunia penghalangnya adalah Islam dan Kristen”bagai mana yahudi untuk mengalahkan islam dan kristen?
1. Yahudi mengadu islam  vs kristen dengan membuat aliran-aliran radikal (spt majelis  mujahidin indonesia (wahaby), noordin M top cs (wahaby), taliban (wahaby)
Sedangkan taliban/alqaida adalah pendatang yang memecah balah umat islam di afgan dan yang merusak perjuangan suci rakyat afgan melawan penjajah, ia menegakan hukum wahaby bukan hukum islam), dsb.

2. Mengadu sesama umat islam (membuat aliran-aliran sesat seperti wahhaby, islam liberal dsb.)

3. Mengadu sesama kristen (seperti membuat aliran-aliran radikal  dalam kristen)

—————————————————————————

Kakek Jubir Al-Qaidah untuk AS Penyumbang Negara Israel?

Laporan dari saluran televisi Israel Channel 10 menyebutkan bahwa juru bicara Al-Qaidah untuk Amerika yaitu Yahya Adam Gadahn, yang merupakan salah satu yang orang yang paling dicari oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya setelah Usamah bin Ladin adalah orang keturunan Yahudi.

Channel 10 melaporkan bahwa Yahya adalah seorang Yahudi bernama Adam Perlman sebelum ia mengumumkan dirinya masuk Islam dan menjadi salah satu yang orang yang dianggap paling berbahaya dan merupakan pembantu senior Usaman bin Ladin.

Laporan itu mengatakan bahwa kakek Gadahn adalah seorang Yahudi, dan telah menjadi penyumbang sejumlah besar uang bagi negara Yahudi Israel.”

————————————————–

———————————————————————————-

TERORIS ALQAIDA (ANTEK ZIONIST) HANYA MENGADU DOMBA MUSLIM DENGAN USA SEMENTARA IA MEMERANGI HAMAS DAN MEMECAH BELAH PERLAWANAN RAKYAT PALESTINE MELAWAN ISRAEL..LIHATLAH KETUA ALQAIDA PALESTINE MENDIRIKAN NEGARA BARU DAN MENGKAFIRKAN HAMAS! DAN SEMUA ANTEK ALQAIDA BERSUMPAH TIDAK AKAN MEMBERITAKAN TENTANG HAMAS! BUKTI ARRAHMAH ANTEK WAHABY ALQAIDA MEMUSUHI HAMAS :

—————————————————————

Di Saudi Arabia (daulah rezim wahabi) Ada Pangkalan Militer Kafir USA dan Zionist Israel

1. PANGKALAN MILITER KAFIR USA DI SAUDIARABIA SEJAK TAHUN 1942 SAMPAI SEKARANG

Beberapa peristiwa yang tidak ada fatwa yang melarang/membolehkannya. Inilah bukti bahwa WAHABI ADALAH MADZAB PELINDUNG THAGHUT REZIM ZIONIST SAUDI ARABIA! :

Traktat Ibn Sa`ud – Inggris pada 26 Desember 1915

Penempatan pangkalan udara penting milik AS di Dhahran, dari 1942 sampai 1962 (dilanjutkan sampai sekarang)

Wahaby menyewa pasukan zionis USA dengan bayaran yang sangat tinggi, cukup  untuk USA membuat senjata-senjata baru dan membantu zionis israel membantai muslim di Palestine

– Fatwa membolehkan meminta pertolongan Amerika dalam Perang Teluk 1990-1991.

Pada 1990, Alm Saddam Husein menginvasi Kuwait dan menimbulkan salah satu krisis dan kemudian perang penting setelah Perang Dingin. Dalam rangka menentang agresi dan invasi tersebut, Raja Saudi Arabia meminta bantuan terutama dari Amerika Serikat. Majelis ulama senior Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang membolehkan tindakan tersebut dengan alasan dlarurah. Sehingga USA dengan wahaby membantai jutaan muslim sunni di irak.

Raja Abdullah, pemimpin Arab Saudi dikenal dekat dengan AS. Bahkan terhadap mantan presiden AS George W. Bush, Raja Abdullah banyak memberikan bantuan secara finansial dan juga keleluasaan dalam menentukan kebijakan militer AS dan Barat di Arab Saudi yang juga berimbas pada kawasan Timur Tengah.

Tidak jauh dengan rajanya, tentara Arab Saudi pun mau tak mau menjadi akrab dengan tentara AS. Ibaratnya, guru kencing berdiri, ya murid pun kencing berlari. Mereka sering mengadakan acara bersama. Mulai latihan perang bersama, sampai acara santai. Berikut foto-foto yang menunjukan betapa “mesranya” hubungan antara tentara AS dan Arab Saudi.

Seorang komandan tentara Saudi menyambut kedatangan para tentara AS.

Para pembesar militer AS tengah menyusun rencana, sementara tentara-tentara Saudi Arabia merubunginya.

“Nih lihat, iPhone terbaru. Di sini  udah ada belum?” Mungkin begitu kata si tentara AS pamer gadget terbarunya.

Dua komandan berbeda negara, berbeda ideologi saling menjabat tangan dalam acara sarasehan.

“Ha ha ha…. situ bisa aja. Bercandanya jangan kelewatan dong!”

Seorang perwira AS tengah memberikan briefing pada tentara Saudi.

Dan kini, tentara AS pun bebas jalan-jalan atau sekadar olah raga di kota-kota Saudi. Dipandu tentara Saudi lagi.

(sa/alhqmh)

2. Pangkalan Militer  Israel di Pulau Tiran dan Sanafir SAUDI ARABIA (DAULAH WAHABI) SEJAK TAHUN 1967 SAMPAI SEKARANG

Ini adalah rahasia yang sudah cukup lama tersimpan. Ternyata Israel telah menduduki pulau-pulau bagian Arab Saudi sejak tahun 1967. Tiran dan Sanafir, dua pulau gabungan dengan luas 113 kilometer persegi.

Posisi kedua pulau ini berada di lokasi yang sangat strategis di mulut Teluk Aqaba, di mana lalu lintas laut ke pelabuhan selatan Israel Eilat harus melewati perjalanan ke dan dari Laut Merah.

Meskipun pemerintah Arab Saudi mungkin mengatakan bahwa itu adalah pulau-pulau kecil, dan hanya mempunyai kekayaan terumbu karang yang tak begitu penting, tapi siapa pun yang menguasai Teluk Aqaba, maka sama saja dengan menguasai lalu lintas perairan di daerah itu.

Juga ada sebuah kenyataan yang bertentangan, selama ini Arab Saudi berjuang mati-matian untuk pulau-pulau yang sama di sekitar itu, namun khusus Tiran dan Sanafir tampaknya mereka enggan untuk menentang Israel.

Ketika Mesir berdamai dengan Israel pada tahun 1978, Presiden Anwar Sadat menolak untuk memasukkan kedua pulau itu dalam perjanjian damai, dengan alasan bahwa mereka milik Arab Saudi. Bahkan dalam Google map pun kedua pulau itu terlihat jelas sebagai milik Arab Saudi. Jadi mengapa ada keengganan untuk menentang orang Israel, dan mengapa ada penggelapan media?

File:Strait tiran 83.jpg


Awal mula berdirinya israel adalah runtuhnya kekhalifan Sunni Turki ustmani yang disebabkan pengkhianatan arab badwi wahabi pimpinan king FAISAL DAN LAWRENCE DE ARABIA (YAHUDI AGEN BRITISH). Ini adalah video dokumenter tentang pengkhianatn wahhaby ini :

Rezim Wahhaby Saudi arabia  adalah madzab sesat buatan yahudi british untuk menghancurkan islam dari dalam serta mengadu domba islam dnegan kristen. Ini bertujuan agar zionis yahudi laknatullah lebih mudah mengusai palestine dan dunia. Inilah pemimpin rezim suadi arabia (Raja fahd) yang dengan bangga berkawan dengan zionis britis dan berkalung salib:

Bush Su\

Logo Resmi Kerajaan British (Inggris) ternyata adalah Logo Freemason Zionist

antichrist prince william

Wahhaby symbol (Saudi arabia kingdom or wahhaby kingdom  symbol)

from : http://www.alriyadh.gov.sa/election/en-sh.asp

An emblem was designed for the elections campaign. It evokes the national symbol of Saudi Arabia and highlights the electoral process as a continuous build up and preservation of the country’s achievements in the field of development.

The campaign also selected a quotation from the address of the Custodian of the Two Holy Mosques King Fahd bin Abdul Aziz (Chief of wahhaby) in which he called on the citizens to practice the election process as it is a participation in the decision making.

Hizbut Tahrir, wahaby gaya baru?

Hizbut Tahrir. MyKhilafah??

Soalan:

Askum Ustaz. Kami pernah mendengar satu golongan yang agak kasar cara mereka. Yang saya maksudkan adalah Hizbu Tahrir. Saya pernah mendengar mereka ini bersama golongan Wahabi untuk mendakyah ditengah masyarakat kita di Malaysia. Kami dari persatuan pelajar universiti-universiti Malaysia (namanya dirahsiakan) amat risau dengan gerakan Hizbut Tahrir ini. Minta ustaz jelaskan mengenai Hizbu Tahrir ini ustaz.

Jawapan:

Wa’alaikumsalam.

Em..sebenarnya saya kurang berminat menyatakan perihal gerakan-gerakan ini lebih-lebih lagi gerakan atau ajaran yang baru tetapi demi beramal dengan sabda Nabi maka ia perlu dijelaskan. Berkenaan Hizbu Tahrir you all boleh baca dibawah ini:

Selain kesesatan al-Wahhabiyyah al-Mujassimah yang sedang berleluasa di tanah air kita Malaysia dan seluruh dunia, ada satu lagi pertubuhan sesat yang amat perlu diperhatikan juga iaitu Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir adalah satu pertubuhan yang diasaskan oleh Taqiyyuddin al-Nabhani al-Falistini (meninggal pada tahun 1400 H) di Lubnan. Penyelewengan dan kesesatan pertubuhan ini ditentang oleh para ulama Ahlis-Sunnah wal-Jama^ah sedunia. Antara penyelewengan dan kesesatan Hizbut Tahrir ialah:
1. Menghukum Orang Yang Meninggal Dunia Tanpa Bay^ah Seorang Khalifah Sebagai Mati Jahiliyyah
Antara kesesatan Hizbut Tahrir dan bukti terkeluarnya kelompok ini dari majoriti umat Islam ialah pernyataan mereka bahawa orang yang meninggal dunia tanpa membay^ah seorang khalifah, maka matinya adalah mati jahiliyyah[1]. Ini bermakna – menurut mereka – kematian orang tersebut seperti matinya orang-orang yang menyembah berhala. Bahkan, ini bermakna – menurut mereka – bahawa seluruh orang Islam dalam tempoh seratus tahun terakhir ini mati dalam keadaan mati jahiliyyah. Ini berlaku sejak saat dunia Islam kehilangan khalifah. Apatah lagi, khilafah Islamiyyah tertinggi yang mengurus keperluan seluruh umat Islam telah terputus sejak sekian lama. Umat Islam yang pada masa sekarang tidak mengangkat khalifah, sesungguhnya mereka mempunyai uzur (alasan yang diterima). Yang dimaksud dengan umat Islam di sini adalah rakyat, kerana terbukti rakyat tidak memiliki kemampuan untuk mendirikan khilafah dan mengangkat seorang khalifah. Lantas berdosakah mereka jika memang tidak mampu!?. Bukankah Allah taala berfirman:

لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
Maknanya: “Allah ta’ala tidak membebankan terhadap satu jiwa, kecuali apa yang ia sanggup melakukannya”. (Surah al Baqarah: 286)

2. Berakidah Dengan Aqidah Muktazilah Atau Qadariyyah
Lebih sesat lagi, Hizbut Tahrir menyatakan bahawa seorang hamba adalah pencipta perlakuan ikhtiyari (perbuatan yang dilakukan atas dasar kemahuannya). Menurut mereka bahawa perkara yang diciptakan oleh Allah hanya perlakuan manusia yang bersifat idtirari (perbuatan yang di luar inisiatifnya seperti degupan jantung, takut, menggigil kerana kedinginan dan lain-lain)[2]. Dengan pernyataannya ini, Hizbut Tahrir telah menyalahi firman Allah taala:

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ
Maknanya: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu”. (Surah al-Zumar: 62)

Segala sesuatu (shay’) dalam ayat ini mencakupi diri makhluk dan segala perbuatannya. Selain itu, mereka juga menyalahi firman Allah:

هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللهِ
Maknanya: “Adakah pencipta selain Allah?” (Surah Fatir: 3)

Ertinya tidak ada Pencipta atau yang mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada kecuali Allah. Seterusnya, mereka juga menyalahi firman Allah:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمحْيَاىَ وَمَمَاتِى للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Maknanya: “Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya solatku dan nusukku (sembelihan yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah seperti al-Hady dan korban ‘Id al-Adha), hidupku dan matiku adalah milik Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya” (Surah Al-An^am: 162-163)

Ayat di atas jelas menyatakan bahawa solat dan amalan ibadat korban yang merupakan perbuatan ikhtiyari, serta kehidupan dan kematian yang bukan perbuatan ikhtiyari kesemuanya adalah ciptaan Allah, tidak ada yang menyekutui-Nya dalam hal ini. Sesungguhnya hanyalah Allah yang menciptakan kesemuanya itu; yang mengadakannya daripada tidak ada kepada ada.

Ayat-ayat tersebut semuanya menunjukkan bahwa segala apa yang ada di dunia ini adalah ciptaan Allah. Segala benda (zat-zat) dan sifat-sifatnya seperti bergerak, diam, warna, fikiran, rasa sakit, rasa nikmat, mengerti, lemah dan lain-lain, semuanya tidak lain adalah ciptaan Allah. Manusia hanyalah berbuat (yaf^al –Kasb-), tidak menciptakan (la yakhluq) perbuatannya sendiri. Ini adalah akidah yang telah menjadi ijmak (kesepakatan) para sahabat dan majoriti umat Islam hingga kini.

Al-Imam Abu Hanifah radiyaLlahu ^anhu berkata dalam kitabnya al-Wasiyyah:

وَالْعَبْدُ مَعَ أَعْمَالِهِ وَإِقْرَارِهِ وَمَعْرِفَتِهِ مَخْلُوقٌ, فَإِذَا الْفَاعِلُ مَخْلُوقٌ فَأَفْعَالُهُ أَوْلَى أَنْ تَكُونَ مَخْلُوقَةً
Maknanya: “Dan si hamba itu bersama-sama segala perbuatannya, pengakuannya dan pengetahuannya adalah makhluk ciptaan Allah. Oleh itu, apabila si pelaku itu suatu makhluk maka perlakuannya lebih utama sebagai makhluk ciptaan Allah”.

Inilah yang diyakini oleh majoriti umat Islam, baik mereka para ulamak Salaf (mereka yang hidup pada 300 tahun pertama hijriyyah; iaitu zaman sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’it tabi’in) mahupun ulama Khalaf (pasca zaman salaf hingga kini). Pendapat yang menyalahi akidah ini bererti telah menyalahi al-Quran dan hadis Nabi. Dalam sebuah hadis riwayat Ibn Hibban diriwayatkan bahawa Rasulullah sallaLlahu ^alayhi wa-sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ صَانِعُ كُلِّ صَانِعٍ وَصُنْعَتِهِ
Maknanya: “Sesungguhnya Allah pencipta setiap pembuat dan perbuatannya”.

Hadis di atas jelas menyatakan bahawa manusia sama sekali tidak menciptakan perbuatannya.
3. Beberapa Pegangan Sesat Yang Lain
Selain itu, ada lagi beberapa pegangan mereka yang menyeleweng dari pegangan Ahlis Sunnah wal Jama^ah. Antaranya:
1) Mereka mengatakan bahawa sifat ^ismah atau maksum para nabi dan rasul itu hanya berlaku selepas mereka menjadi nabi atau rasul, manakala sebelum kenabian atau kerasulan maka sesuatu dosa yang boleh terjadi ke atas manusia biasa lain boleh berlaku ke atas mereka kerana sifat maksum itu adalah kerana kenabian dan kerasulan[3].
2) Mereka juga mengatakan bahawa perjalanan dengan tujuan zina tidak haram kerana yang haram hanya perbuatan zina[4].
3) Mereka juga membolehkan cumbuan lelaki dengan perempuan ajnabiyyah[5].
4) Mereka juga membolehkan seseorang lelaki berjabat tangan dengan perempuan ajnabiyyah[6].
5) Mereka juga mendakwa bahawa semua manusia boleh berijtihad terutamanya selepas mereka dapat membaca kitab-kitab yang berbahasa Arab dan yang berkaitan syariat Islam[7].

Oleh itu, jauhilah Hizbut Tahrir kerana mereka mengancam akidah umat Islam! Sebarkan maklumat ini kepada orang lain! AWAS! Mereka sedang mencari pengaruh di kalangan masyarakat Islam di Malaysia terutama golongan siswazah dan profesional yang tidak kuat asas akidah Islam dan ilmu fardu ain bagi memudahkan lagi pergerakan mereka.
[Risalah ini telah siap disusun oleh Abu Nur al-Dununiyy al-Ash^ariyy pada 28 Jumadal-Awwal 1427 H dan diedarkan di sebahagian negeri Johor bersama dengan doa: “Ya Allah! Jadikanlah risalah kecil ini sebagai RIBUT PETIR yang melanda HIZBUT TAHRIR!”.]
________________________________

[1] Sila rujuk penulisan-penulisan mereka seperti berikut: (1) Al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah, juzuk 2, bahagian 3, hlm. 13, 15 dan 29. (2) Al-Khilafah, hlm. 3, 4 dan 9. (3) Al-Dawlah al-Islamiyyah, hlm. 179. (4) Mudhakkirah Hizb al-Tahrir ila al-Muslimin fi Lubnan, hlm. 4.
[2] Sila rujuk penulisan-penulisan mereka seperti berikut: (1) Al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah, juzuk 1, bahagian 1, hlm. 71, 72 dan 74. (2) Nizam al-Hukm fi al-Islam, hlm. 22.
[3] Sila rujuk penulisan pengasas dan ketua Hizbut Tahrir iaitu Taqiyyuddin al-Nabhani al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah, juzuk 1, bahagian 1, hlm. 120.
[4] Perkara ini telah ditulis dan disebarkan dalam kertas edaran mereka di Tripoli, Syam pada tahun 1969 dan masih disebut sehingga sekarang oleh penduduk Tripoli dan mendapat tentangan daripada kebanyakan penduduk.
[5] Sila rujuk edaran soal jawab terbitan Hizbut Tahrir pada 24 Rabi^ul-Awwal 1390, dan edaran soal jawab terbitan Hizbut Tahrir pada 21 Jamadil-Awwal 1400/ 7 April 1980.
[6] Sila rujuk edaran soal jawab terbitan Hizbut Tahrir pada 8 Muharram 1390, dan buku mereka al-Khilafah, hlm. 22 – 23, serta buku ketua mereka al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah, juzuk 2, bahagian 3, hlm. 22 – 23, dan juzuk 3, hlm. 107 – 108.
[7] Sila rujuk kitab mereka al-Tafkir, hlm. 149.

___________________________________________________________

HIZBUT TAHRIR (HT) Merupakan satu angkatan @ ajaran baru yang bertopengkan politik islam tetapi pada hakikatnya TIDAK menerima pakai hukum islam antaranya isu bersalaman, bercium laki perempuan ajnabiyah bukan muhrim dan bukan suami isteri & yang berjalan menuju zina merupakan tidak haram bahkan harus lagi HALAL bagi Hizbut Tahrir.

HT sering menyebarkan ajaran mereka kepada persatuan2 islam dimalaysia termasuk JAKIM demi merialisasikan impian mereka iaitu kesemua manusia didunia ini WAJIB ikut dan sertai HT.Dengan bertopengkan penegakan sistem Khilafah Islamiyah HT turut bertindak kurang ajar dengan menghukum seluruh umat islam yang bersemangat wataniyah sebagai KAFIR halal darahnya dan juga menghukum KUFUR terhadap semua umat islam di Malaysia dan Indonesia yang beramal dengan demokrasi.
Selainya HT tidak mengutamakan ilmu agama HT turut menerapkan nilai2 penghinaan terhadap para nabi antaranya HT menyandarkan perbuatan syirik terhadap Nabi Ibrahim serta HT turut menghukum nabi Yusuf BERKEHENDAK DAN BERNIAT MELAKUKAN ZINA dengan ZULAIKAH.Dan..dan..dan banyak lagi beribu-ribu kesongsangan ajaran baru Hizbut Tahrir yang tidak sempat diutarakan kesemuanya disini…

Umat islam tidak habis lagi dengan ajaran Mujassimah Moden( yang mengatakan Allah Duduk & Membid’ah-bid’ahkan umat islam )kini umat islam terpaksa menghadapi dengan pelbagai ajaran baru yang bertopengkan islam atau politik islam pula.

Dibawah ini saya menyatakan beberapa kesongsangan dan Hubbut Takfir ( HT ) iaitu gemar&suka menkafirkan umat islam yang wujud dalam ajaran Hizbut Tahrir ( HT ) merujuk kepada kitab asal atau risalah asal puak ajaran baru Hizbut Tahrir yang dipetik dari laman web HT sendiri dan ini bukanlah satu fitnah dan tuan2 boleh rujuk sendiri dari website HT sendiri.

( http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Hizb-ut-Tahrir.pdf )

1- HIZBUT TAHRIR MENGKAFIRKAN UMAT ISLAM.
Hizbut Tahrir Semakin Kurang Ajar Terhadap Islam dan UmatnyaHizbut Tahrir ( HT ) merupakan satu angkatan perpaduan baru yang bertopengkan dengan nama politik islam.
Umat islam memang sedari bahawa Khalifah adalah perlu dan kerja kearah mewujudkan khalifah islam sebenar sememangnya diusahakankan oleh umat islam dan ulamanya dengan cara yang cukup rapi tanpa menghukum kafir terhadap umat islam lain tanpa hak.
HT Mengharamkan Patriotisme Bahkan Mengkafirkan Sesiapa sahaja yang menubuhkannya dan menganggotainya.Dalam kitab mereka ini
http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Hizb-ut-Tahrir.pdf
Pada mukasurat 3 jelas HT mengharamkan bahkan MENGKAFIRKAN sesiapa sahaja yang menubuhkan, menganggotai dan menyokong serta bersemangat Patriotisme.
Ini bererti HT telah menghukum KUFUR terhadap semua umat islam di Malaysia dan diluar Malaysia yang mencintai negara sendiri (berbatasan syariat), maka tiada yang muslim di dunia ini bagi HT kecuali puak mereka sahaja.Hari kemerdekaan merupakan hari kekufuran bagi semua umat islam ( inilah tanggapan HT berdasarkan dalam kitab mereka tersebut ).
Nampak gayanya berasa lega sungguh puak HT ini bila dah kafirkan umat islam.

2- HIZBUT TAHRIR MEWAJIBKAN KEATAS UMAT ISLAM MENGIKUT DAN MENGANGGOTAI MEREKA ( walaupun kekadang mereka menafikannya tetapi kitab mereka membuktikannnya).
Wahai umat islam…lihatlah cara pendekatan HT ini dan saya berharap anda jangan tertipu dengan HT yang memang kurang ajar..dahlah tidak berhukum dengan hukum islam bila HT menghalalkan ciuman diantara lelaki dan perempuan dan persalaman antara mereka dalam risalah edaran HT di Tripoly.
Lihat pada perenggan pertama pada mukasurat 6
http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Hizb-ut-Tahrir.pdf
Jelas! bahawa HT mewajibkan anda semua menganggotainya dan siapa yang tidak melakukan perkara yang wajib maka dia telah melanggar perintah ‘islam’ dan akan diazab dalam api neraka Allah.

3- HIZBUT TAHRIR MENGKAFIRKAN SESIAPA YANG BERAMAL,BERSETUJU DAN BERKAITAN DENGAN DEMOKRASI.
Lihat http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Hizb-ut-Tahrir.pdf mukasurat 17 jelas bahawa HT gemar menghukum umat islam sekarang ini adalah kafir yang islam hanya HT sebab itu HT mewajibkan ikut mereka..rujuk semula m/s 6
http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Hizb-ut-Tahrir.pdf.

4- HIZBUT TAHRIR MENGANGGAP bahawa NABI&RASUL TIDAK MAKSUM ( TIDAK TERPILIHARA DARI KEKUFURAN ).
Mungkin yang maksum disisi HT hanya Taqiyuddin Nabhani.
Ketahuilah bahawa disisi agama islam yang dipelopori oleh Ahli Sunnah Wal Jamaah berpegang bahawa para Nabi dan Rasul mereka adalah maksum( terpelihari) dari kekufuran,
dosa besar & dosar kecil yang buruk pada SEBELUM kenabian dan kerasulam mereka serta SESUDAH kenabian dan kerasulan mereka. Inilah aqidah islam.
Malangnya HT beranggapan bahawa kemaksuman Nabi & Rasul dari kekufuran dan dosa besar HANYALAH SELEPAS dilantik oleh Allah sebagai nabi atau rasul.
Ini bermakna HT mengharuskan kekufuran berlaku pada Nabi dan Rasul sebelum kenabian sedangkan Allah tidak akan mengutuskan manusia sekeji itu ( iaitu yang melakukan kekufuran).
Laman Hizbut Tahrir membuktikan perkara tersebut
:http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Shakhsiyah1.pdf
Lihat pada m/s 137 diakhir perenggan jelas HT mengatakan bahawa para Nabi dan Rasul tidak maksum dan harus melakukan seperti mana manusia lain melakukan ( dari perkara kufur,dosa besar dan selainnya).nak tanya pada HT..taqiyuddin nabhani yang menentang ikhwan muslimin tu maksum ke tak?.

5- HIZBUT TAHRIR MENYANDARKAN SIKAP SYIRIK TERHADAP NABI IBRAHIM.
Saudara seislam sekalian…tidak cukup HT menafikan kemaksuman Anbya’ dari kekufuran sebelum kenabian, kini HT sanggup menyandarkan sikap seakan syirik terhadap nabi Ibrahim.Ketahuilah bahawa Nabi Ibrahim tidak pernah bersikap seakan bulan itu tuhan!
Dan Nabi Ibrahim tidap pernah mengadap matahari seolah-olah bersetuju dengan cara pemikiran org musyrik! Tidak dan tidak pernah!Akan tetapi HT telah menyandarkan perkara yang jelek itu terhadap Nabi Ibrahim…subhanallah..Ini juga bukan satu fitnah terhadap HT tapi anda boleh rujuk pada website HT ( http://www.mykhilafah.com/sautun_nahdhah/pdf/sn200615_istimewa_maulidur_rasul_1427_hijrah_mengapa_kita_perlukan_rasul_allah.pdf )Pada risalah mereka SAUTUN NAHDHAH SN652406 mukasurat 2 & 3.

Tidak pernahkan HT memahami firman Allah dalam surah Al-Imran ayat 67 Allah ta’ala menafikan nabi Ibrahim dari kalangan musyrikin!.

6- DALIL GANJIL HIZBUT TAHRIR MENGHALALKAN MAKAN KHINZIR DEMI UNTUK MENGELAK KEMUDARATAN.
Saya nasihatkan kepada HT agar terus mempelajari ilmu agama dari ahli ilmu agama dan bukannya dari Taqiyuddin Nabhani! Agar anda dapat meletakkan dalil syarak ditempatnya dan bukan pakai tibai saja!Pada website http://www.mykhilafah.com/sautun_nahdhah/pdf/sn200615_istimewa_maulidur_rasul_1427_hijrah_mengapa_kita_perlukan_rasul_allah.pdf& risalah Hizbut Tahrir SAUTUN NAHDHAH SN652406 di mukasurt 3,
Apabila HT menghalalkan makan khinzir untuk mengelak kemudaratan, HT telah mengunakan ayat yang dipesongkan terjemahannya dan tafsirannya.
Cuba lihat bahawa ayat 106 dalam surah An-Nahl cukup panjang, malangnya HT yang tiada amanah dengan ayat Alquran telah meringkaskanya mengikut hawa nafsu mereka.

Kerja meringkaskan ayat Al-quran (sehingga terkeluar dari maksudnya) tidak dilakukan melainkan hanyalah kerja org jahil!Ayat tersebut menyatakan mengenai hukum kekufuran dan org islam yang dipaksa untuk kufur tiada kaitan dengan halal makan khinzir!
Demikian terjemahan sebenar ayat tersebut :
“Sesiapa yang kufur kepada Allah sesudah dia beriman (maka baginya kemurkaan dan azab dari Allah), kecuali orang yang dipaksa (melakukan atau melafazkan kufur) sedang hatinya tenang tenteram dengan iman; akan tetapi sesiapa yang terbuka hatinya menerima kufur maka atas mereka tertimpa kemurkaan dari Allah dan mereka pula beroleh azab yang besar”.
Qias yang digunakan oleh HT sering menyimpang kerana kejahilan mereka!
Adakah HT mahukan sistem khilafah ala meringkaskan ayat-ayat alquran dan dipotong-potong serta memutarbelit ayat-ayat Allah?!!

7- HIZBUT TAHRIR MENYATAKAN NABI YUSUF BERMAKSUD MELAKUKAN ZINA.
Tabarakallah!…apa ini?!Subhanallah…Kejahilan mentafsir Alquran membuatkan HT menyandarkan terhadap nabi Yusuf sifat keinginan melakukan zina terhadap zulaikha.
Saya menyeru agar HT memerangi kejahilan dan pergi belajar balik cara tafsir Alquran sebenar kerana HT telah melakukan jutaan kesilapan dalam Alquran. Adakah kejahilan Alquran asas Hizbut Tahrir bagi menyokong sistem khilafah?!.
Dalam website HT http://www.mykhilafah.com/sautun_nahdhah/pdf/sn200615_istimewa_maulidur_rasul_1427_hijrah_mengapa_kita_perlukan_rasul_allah.pdf pada risalah mereka SAUTUN NAHDHAH SN652406 di mukasurt 4, HT telah menerangkan ayat Alquran dengan salah sehingga menyebabkan HT menyandarkan terhadap nabi Yusuf sifat hendak melakukan seks dengan wanita itu.
Tabarakallah allazi ‘assoma ambiyaahu.

8- HIZBUT TAHRIR MENGATAKAN BAHAWA AGAMA PARA NABI TERDAHULU BUKAN AGAMA ISLAM.
Dalam kitab HT berjudul Syakhsiyah Islamiah Juzuk Tiga Usul Fiqh di Mukasurat 406 & 407, http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Shakhsiyyah3.pdf
HT telah menafikan Islam sebagai agama para nabi-nabi terdahulu.Ketahuilah bahawa seluruh para Nabi beragama Islam berdalilkan banyak ayat dan bukti lain..antaranya firman Allah dalam surah Al-Imran ayat 67.Firman Allah bermaksud :
“Bukanlah Nabi Ibrahim itu seorang pemeluk agama Yahudi dan bukanlah dia seorang pemeluk agama Kristian, tetapi dia seorang yang tetap di atas dasar Tauhid sebagai seorang MUSLIM (yang taat dan berserah bulat-bulat kepada Allah) dan dia pula bukanlah dari orang-orang musyrik”.
Cuma syariat iaitu hukum-hakam para rasul sahaja yang berbeza, manakala agama adalah sama iaitu agama Islam yang beriman dengan Allah sebagai Tuhan yang disembah.

Demikianlah beberapa cebis penerangan mengenai bahayanya ajaran Hizbut Tahrir.
Semoga Allah memelihara umat islam dari terpengaruh dengan ajaran Hizbut Tahrir. amin.

Ikutilah Ahlusunnah wal jamaah (pengikut 4 madzab) adalah mayoritas umat (assawad ala’dzhom)

Berpegang kepada pendapat majoriti

Ahlusunnah wal jamaah / sunni (pengikut 4 madzab) adalah mayority ummat (assawad al a’dham).
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لا يجمع الله هذه الأمة على الضلالة أبدا…يد الله على الجماعة فاتبعوا السواد الأعظم فإنه من شذ شذ في النار


Maksudnya: “Tidak akan Allah himpunkan umat ini ke dalam kesesatan selama-lamanya. Yadd (bantuan) Allah di atas Al-Jamaah. Maka ikutilah As-Sawad Al-A’zhom kerana sesiapa yang syaz (terasing) bererti terasing dalam neraka.” [Hadith riwayat At-Tirmizi, Al-Hakim (no:358), At-Tabrani (Al-Mu’jam Al-Kabir: no: 13461), Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wa As-Sifat dan sebagainya]

————————————————————————————————————————————–
Petikan dari Ruangan Bicara Agama – Utusan Malaysia
Bersama:MOHD. YUSOF ABAS

Berpegang kepada pendapat majoriti

SOALAN: Ada kawan saya yang mengatakan kita tidak boleh berpegang atau mengikut pendapat majoriti umat Islam hari ini kerana katanya suara ramai itu sesat dan bidaah. Adakah pendapat ini benar?
– Siti Norbaya binti Zakaria, Kuala Muda,Kedah.

JAWAPAN: Pendapat kawan anda itu kurang tepat, kerana banyak kekeliruan terdapat di dalamnya antara lain ianya bertentangan dengan al-Quran dan juga hadis Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dalam hal ini Allah berfirman yang bermaksud: Siapa yang menentang (ajaran) Rasulullah صلى الله عليه وسلم sesudah nyata kepadanya kebenaran petunjuk (yang dibawanya) dan ia pula mengikut jalan yang lain dari jalan orang-orang beriman Kami akan berikan kepadanya kuasa untuk melakukan (kesesatan) yang dipilihnya (dan pada hari akhirat kelak) Kami akan memasukkannya neraka jahanam dan itulah sejahat dan seburuk tempat kembali. (surah an-Nisa ayat 115).

Oleh itu kumpulan majoriti Islam adalah tetap kekal atas jalan petunjuk dari Tuhan mereka selaras dengan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم yang bermaksud: Sentiasa umatku berada atas jalan petunjuk keredaan Tuhan tidak menjejaskan mereka oleh mereka (kumpulan yang menyalahi mereka) sedikitpun sehingga kiamat (riwayat Muslim). Adapun yang dimaksudkan dengan pendapat ramai itu ialah majoriti dari kalangan umat manusia di dunia ini seluruhnya sesuai dengan firman-Nya bermaksud: sekiranya kamu patuh kepada kebanyakan umat manusia di muka bumi ini mereka akan menyesatkan kamu dari jalan petunjuk-Nya. Dan Allah berfirman lagi bermaksud: tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعالى oleh kebanyakan (manusia) melainkan mereka mempersekutukan-Nya (surah Yusof ayat 106). Sedangkan majoriti umat Islam serta majoriti ulama mereka itu dinamakan ijmak yang perlu dijadikan pegangan dan ikutan kita dari kalangan orang awam hari ini. Wallahualam.

Neraca Nabawi Bagi Mengetahui Kebenaran
Untuk Orang-orang Awam – Oleh Ustaz Raja Ahmad Mukhlis Raja Jamaludin al-Razi.

Pendahuluan:

Saban waktu dan masa, umat Islam sering dilanda perselisihan dan perpecahan, dalam pelbagai bidang. Namun, isu yang lebih penting ialah, berkenaan dengan perselisihan yang melibatkan perkara-perkara pokok seperti masalah aqidah dan sebagainya, kerana perselisihan dalam masalah-masalah furu’ (cabang) tidak membawa kepada kesesatan.

Tidak dapat dinafikan bahawa, dalam kalangan umat Islam, sejak zaman salafus sholeh lagi, berlaku perselisihan sehingga melahirkan beberapa kelompok dan golongan yang tersesat daripada dasar aqidah Islam yang murni. Mereka terfitnah dek kecetakan ilmu mereka, dalam berinteraksi dengan nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah.

Sejarah menunjukkan tentang kelahiran golongan khawarij, muktazilah, syi’ah, jabbariyah, qadariyah, mujassimah dan sebagainya, yang mana kelompok tersebut sudah keluar daripada kefahaman aqidah Islam yang murni. Sebahagian daripada golongan tersebut sudah lenyap dan sebahagian golongan masih terus wujud dalam pelbagai nama dan imej yang berbeza, namun masih mewarisi kejumudan paradigma golongan-golongan yang sesat tersebut.

Walaubagaimanapun, Allah سبحانه وتعالى. menjanjikan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, bahawa, Dia akan menjaga umat Islam daripada kesesatan, dengan memelihara majoriti umat Islam daripada terjerumus ke dalam kesesatan, takkala munculnya golongan-golongan yang sesat dalam umat Islam tersebut.

Bahkan, para ulama’ dari kalangan majoriti umat Islam inilah yang terus mempertahankan umat Islam daripada kesesatan golongan-golongan yang sesat, dengan menolak kesesatan mereka samada dengan hujah dan sebagainya. Hal ini sentiasa berlaku sehinggalah berlakunya hari Kiamat, di mana, Allah سبحانه وتعالى akan sentiasa memelihara majoriti umat Islam daripada kesesatan, yang mana, mereka (majoriti umat Islam) ini dipelihara oleh para ulama mereka sendiri, yang merupakan majoriti ulama’ Islam.

Dalil daripada as-Sunnah tentang Perpecahan Umat Islam

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda yang bermaksud:

“Sesungguhnya sebelum kamu, iaitu sebahagian daripada ahlul kitab telahpun berpecah kepada tujuh puluh dua golongan. Sesungguhnya, umat ini (umat Rasulullah صلى الله عليه وسلم) akan berpecah kepada tujuh puluh tiga golongan…” (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Imam Abu Daud)

Sesungguhnya, terdapat lebih kurang sepuluh buah hadits yang menceritakan tentang perpecahan umat Rasulullah صلى الله عليه وسلم. kepada lebih tujuh puluh golongan. Peristiwa tentang perpecahan umat Rasulullah صلى الله عليه وسلم ini sememangnya sudahpun diramalkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Namun, para ulama’ berselisih pendapat tentang perpecahan tersebut. Kebanyakkan ulama’ berpendapat bahawa, perpecahan itu berlaku dalam kalangan umat Islam itu sendiri (ummah ijabah). Sebahagian ulama’ pula berpendapat bahawa, perpecahan tersebut berlaku antara umat Islam dengan orang-orang kafir yang lain, yang mana, kesemua mereka adalah umat Rasulullah صلى الله عليه وسلم dari sudut ummah dakwah (iaitu umat manusia yang menjadi sasaran dakwah Rasulullah صلى الله عليه وسلم).

Pendapat yang kuat dalam kalangan para ulama’ adalah, pendapat yang mengatakan bahawa, perpecahan tersebut berlaku dalam kalangan umat Islam sendiri. Antara para ulama’ yang berpegang dengan pendapat ini adalah: Imam Al-Asy’ari (maqalat al-Islamiyin), Imam Abu Mansur (al-Milal wa an-Nihal dan al-Farq bainal Firaq), Imam Abu al-Fath as-Syahrastani (al-Milal wa an-Nihal), Imam Ibn Hazm (al-Fashlu fi al-Milal), Imam Ibn Jauzi (Talbis Iblis), Imam asy-Sya’rani (al-Mizan al-Kubro) dan ramai lagi.

Hal ini berdasarkan hadits Nabi صلى الله عليه وسلم yang lain yang berbunyi: “…Sesungguhnya, orang yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang besar…” (Hadits Shahih). Hadits ini menceritakan perihal umat Islam yang berselisihan sesama mereka, kerana kalau yang dimaksudkan adalah perselisihan antara umat Islam dengan umat-umat dari agama yang lain, maka sejak zaman Baginda صلى الله عليه وسلم lagi, telah berlaku perselisihan antara mereka, sedangkan hadits ini mengisyaratkan tentang keadaan setelah kewafatan Baginda صلى الله عليه وسلم.

Bahkan, hadits setelah ini yang menjadi pokok perbincangan di sini, turut menjadi dalil yang menunjukkan tentang berlakunya perselisihan dalam umat Islam itu sendiri. Bahkan, realiti sendiri menunjukkan berlakunya perselisihan besar dalam masalah aqidah, dalam kalangan umat Islam, menerusi catatan sejarah sehinggalah realiti hari ini.

Umat Islam Tetap Terpelihara

Walaupun berlaku perselisihan dalam kalangan umat Islam, namun Allah سبحانه وتعالى tetap memelihara keutuhan umat Islam, dengan memberi jaminan, akan terus menjaga umat Islam daripada terjerumus ke dalam kesesatan secara menyeluruh.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya umat aku (umat Islam) tidak akan berhimpun dalam kesesatan. Jika kamu melihat perselisihan (dalam kalangan mereka), maka hendaklah kamu mengikuti sawadul a’zhom (majoriti umat Islam). Sesungguhnya, sesiapa yang terasing, maka dia akan terasing dalam neraka” (Hadits riwayat Ibn Majah)

Daripada Ibn Umar رضي الله عنهما, bahawa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda lagi:”Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى tidak akan menghimpunkan umat ini (umat Islam) dalam kesesatan selama-lamanya. Yadd (tangan: bantuan) Allah itu bersama-sama jama’ah. Maka, hendaklah kamu mengikuti sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam)” (Hadits riwayat al-Hakim daripada jalan ad-Dhiya’ al-Maqdisi)

Dalam dua hadits tersebut menjelaskan beberapa nota penting iaitu:

Pertama: Rasulullah صلى الله عليه وسلم memberitahu kita bahawa, akan berlaku perpecahan dalam kalangan umat Islam. Perpecahan yang dimaksudkan ini, pasti berkaitan dengan masalah aqidah kerana perselisihan dalam masalah furu’ (cabang) seperti perbezaan mazhab dalam fiqh, tidak membawa kepada perpecahan.

Kedua: Apabila berlaku perpecahan, maka setiap muslim hendaklah bersama dengan “sawadhul a’zhom” (majoriti umat Islam), yang turut dinamakan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai jamaah.

Ketiga: Jelaslah bahawasanya, majoriti umat Islam inilah yang benar, kerana mereka tidak akan berhimpun dalam kesesatan. Manakala, golongan yag tersesat atau tersalah dalam masalah aqidah, dari kalangan umat Islam hanyalah golongan minoriti sahaja. Kerana itulah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menganjurkan umat Islam mengikut majoriti umat Islam (sawadhul a’zhom) ketika berlaku perselisihan dan perpecahan dalam umat Islam.

Keempat: Allah سبحانه وتعالى sentiasa membantu golongan majoriti umat Islam ini, dalam menangkis kesesatan yang cuba dibawa masuk oleh golongan-golongan yang tersesat (syaz: terasing atau terpinggir) daripada aqidah sebenar Islam.

Perintah Agar Menyertai Majoriti Umat Islam (Sawadhul A’zhom) atau Jamaah

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لا يجمع الله هذه الأمة على الضلالة أبدا…يد الله على الجماعة فاتبعوا السواد الأعظم فإنه من شذ شذ في النار


Maksudnya: “Tidak akan Allah himpunkan umat ini ke dalam kesesatan selama-lamanya. Yadd (bantuan) Allah di atas Al-Jamaah. Maka ikutilah As-Sawad Al-A’zhom kerana sesiapa yang syaz (terasing) bererti terasing dalam neraka.” [Hadith riwayat At-Tirmizi, Al-Hakim (no:358), At-Tabrani (Al-Mu’jam Al-Kabir: no: 13461), Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wa As-Sifat dan sebagainya]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda yang bermaksud: “…Hendaklah kamu menyertai jamaah (majoriti umat Islam) dan janganlah kamu berpecah (mengikut golongan yang tersesat)…Sesiapa yang mahu menghuni taman syurga, maka hendaklah dia mengikut jamaah” (Hadits riwayat Ahmad, at-Tirmidhi, dan al-Hakim).

Telah berkata Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang bermaksud:”…Dan sesungguhnya pada jamaah itu ada rahmat, dan pada perpecahan itu ada azab.” Maka berkatalah Abu Umamah al-Bahili: “Hendaklah kamu bersama dengan sawadhul a’zhom”…(Hadits riwayat Imam Ahmad, al-Bazzar dan ath-Thabrani).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda lagi yang bermaksud:”…Aku tidak menyembunyikan sesuatupun (daripada kebenaran). Hendaklah kamu semua bertaqwa dan bersama-sama dengan jamaah. Janganlah kamu berpecah (mengikut golongan yang terkeluar daripada jamaah). Sesungguhnya (dengan keluar dari jamaah) itulah kesesatan. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى tidak akan menghimpun umat Muhammad dalam kesesatan” (Hadits riwayat ath-Thabrani)

Antara pengajaran-pengajarannya:

Pertama: Hendaklah setiap individu muslim, bersama-sama dengan jamaah (kumpulan orang-orang Islam). Ia merupakan suatu seruan daripada Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri.

Kedua: Jamaah (kumpulan orang-orang Islam) ini adalah sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam) seperti yang dimaksudkan oleh Abu Umamah dalam hadits kedua tersebut. Maksudnya, apabila berlaku perselisihan dan perpecahan dalam umat Islam, maka sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam)-lah yang merupakan jamaah Islam (kumpulan umat Islam) yang dimaksudkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Ketiga: Sesungguhnya, dengan bersikap menyalahi majorit umat Islam khususnya berkenaan dengan kefahaman-kefahaman dalam aqidah Islam, pada hakikatnya, merupakan suatu kesesatan yang nyata.

Ancaman Bagi Mereka Yang Menyertai Kesesatan Golongan Yang Menyalahi Sawadhul A’zhom

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda yang bermaksud:”Sesungguhnya umat aku (umat Islam) tidak akan berhimpun dalam kesesatan. Jika kamu melihat perselisihan (dalam kalangan mereka), maka hendaklah kamu mengikuti sawadul a’zhom (majoriti umat Islam). Sesungguhnya, sesiapa yang terasing, maka dia akan terasing dalam neraka” (Hadits riwayat Ibn Majah)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda lagi yang bermaksud:”…Barangsiapa yang keluar daripada jamaah walaupun sejengkal, maka dia sudahpun memenggalkan agama Islam…” (Hadits riwayat Imam Ahmad)

Dalam hadits-hadits ini, Rasululullah صلى الله عليه وسلم melarang setiap individu muslim daripada keluar daripada kelompok umat Islam, dengan menyalahi aqidah kelompok umat Islam.

Bahkan, Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga menegaskan bahawa, orang yang bercanggah dengan jamaah atau menyalahi majoriti umat Islam (sawadhul a’zhom) dalam masalah usul (pokok iaitu masalah aqidah), maka dia dianggap sebagai syaz, iaitu: orang yang terasing ataupun terpinggir daripada kelompok umat Islam.

Adapun orang yang terpinggir (syaz) ataupun kelompok-kelompok yang terpinggir (syawaz kata ramai bagi syaz) yang bercanggah dengan kefahaman murni aqidah sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam), akan terpinggir ke dalam neraka juga, na’uzubillah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga memberi ancaman keras kepada mereka yang keluar daripada jamaah ataupun keluar daripada manhaj sawadhul a’zhom dalam masalah aqidah terutamanya, dengan memanggil orang yang keluar tersebut sebagai orang yang memenggal agama Islam itu sendiri. Hal ini menunjukkan, betapa beratnya fitnah yang dibawa oleh seseorang itu keluar daripada kelompok sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam) kepada agama Islam itu sendiri.

Siapakah Jamaah, Sawadhul A’zhom dan Syaz itu?

Di awal zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم, jamaah atau jemaah umat Islam itu jelas, iaitu orang-orang yang memeluk Islam dan berjuang bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Namun, setelah kemuncak kecemerlangan Islam di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم, terbit musuh-musuh Islam dari dalam, samada golongan munafiq mahupun golongan yang mendakwa sebagai nabi-nabi palsu seperti Musailamah al-Kazzab.

Walaubagaimanapun, Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan umat Islam berjaya mematahkan musuh-musuh Islam tersebut. Namun, golongan munafiq masih bersembunyi di tengah-tengah umat Islam.

Setelah kewafatan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, umat Islam semakin berkembang. Dalam perkembangan yang sama, timbul bibit-bibit awal yang membawa kepada perpecahan dalam umat Islam. Perselisihan dalam umat Islam mula terasa bahangnya pada zaman Saidina Uthman رضي الله عنه dan semakin memuncak pada zaman Saidina Ali كرم الله وجهه

Namun, pada permulaannya, perselisihan hanya berlaku di sekitar aspek politik, yang tidak melibatkan masalah aqidah. Sehinggalah kemuncak kegemilangan para tabi’in, muncul golongan-golongan yang tersalah dalam memahami nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, sehingga membentuk beberapa golongan bid’ah dalam masalah aqidah iaitu golongan Muktazilah, Jabbariyah, Qadariyah, Mujassimah, Syi’ah dan sebagainya. Mereka inilah golongan-golongan yang terpinggir (syaz) daripada kelompok umat Islam (majoriti umat Islam).

Namun, Allah سبحانه وتعالى masih memelihara umat Islam dengan menyelamatkan aqidah majoriti umat Islam (sawadhul a’zhom), dengan peranan yang dimainkan oleh majoriti ulama’ Islam (golongan al-Asya’irah dan al-Maturidiyah), dalam membenteras fahaman-fahaman sesat golongan-golongan tersebut.

Para ulama’ majoriti umat Islam dari kalangan al-Asya’irah dan al-Maturidiyah inilah yang akhirnya berjuang atas nama, ahlus sunnah wal jamaah, kerana mereka mewakili majoriti umat Islam itu sendiri, yang berdiri di atas kebenaran, sesuai dengan jaminan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. [Tersebut didalam kitab Ithaf as-Saadah al-Muttaqin bi Syarhi Ihya` ‘Ulumiddin oleh Sayyid Murthada az-Zabidi:

إذا أطلق أهل السنة فالمراد بهم الأشاعرة و الماتريدية

Maksudnya: Apabila diithlaqkan ahlus sunnah wal jamaah maka yang dimaksudkan adalah al-Asya’irah dan al-Maturidiah]

Para ulama’ ahlus sunnah wal jamaah menentang fahaman muktazilah yang terlalu bebas dalam menggunakan akal sehingga mencemari kesucian wahyu, dan turut menentang fahaman mujassimah dan musyabbihah yang terlalu jumud dalam berinteraksi dengan nash-nash mutasyabihat (kesamaran maknanya) sehingga mencemarkan keagungan sifat-sifat Allah سبحانه وتعالى, takkala mereka menyamakan Allah سبحانه وتعالى dengan makhluk atau mereka menjisimkan Allah سبحانه وتعالى.

Para ulama ahlus sunnah wal jamaah turut menentang fahaman-fahaman lain seperti fahaman syi’ah, jabbariah, qadariyah dan sebagainya yang tidak jauh berbeza dengan golongan-golongan syaz yang lain.

Sebahagian daripada golongan-golongan terpinggir (syaz) tersebut berjaya dihapuskan namun sebahagian golongan yang lain, terus bersembunyi dan menyebarkan fahaman mereka secara tersembunyi, memang bagaikan kelompok yang terasing seperti yang dimaksudkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Sebahagian fahaman muktazilah menyelinap masuk ke dalam sebahagian ahli-ahli falsafah Islam sehingga memaksa ulama’ ahlus sunnah wal jamaah membasmi fahaman mereka, seperti yang dilakukan oleh Imam Al-Ghazali رحمه الله..

Bahkan, setelah itu, fahaman golongan mujassimah dan musyabbihah mula diketengahkan semula dalam masyarakat Islam, atas nama yang berbeza yang lebih dikenali dengan golongan hasyawiyah. Ulama’-ulama’ Islam ahlus sunnah wal jamaah yang mewakili golongan sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam) turut bertungkus-lumus membendung fahaman ini.

Kekeliruan yang Mengelirukan

Namun, setelah itu, muncul seorang pendakwah yang bernama Sheikh Ibn Taimiyah, yang secara tidak langsung, cuba mempelopori semula fahaman hasyawiyah dan mujassimah ini dalam bentuk yang lebih berhati-hati dan teliti. Beliau membuka semula kaedah-kaedah untuk menjisimkan Allah سبحانه وتعالى. melalui nash-nash mutasyabihat (kesamaran maknanya) daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Antara kaedah-kaedah tersebut adalah, beliau menetapkan makna zahir bagi nash-nash mutasyabihat yang membawa kepada makna kejisiman Allah سبحانه وتعالى, sedangkan para salafus sholeh tidak pernah menetapkan sebarang makna bagi nash-nash mutasyabihat tersebut.

Beliau juga menolak konsep ta’wil dan kiasan bagi nash-nash mutasyabihat lalu menuduh golongan majoriti ulama’ Islam sebagai golongan yang menafikan sifat Allah سبحانه وتعالى, padahal tidak sedemikian.

Bahkan, bukan setakat itu sahaja, beliau malah, menyandarkan fahamannya kepada salafus sholeh, dek kerana salah mentafsirkan sebahagian daripada kata-kata para ulama’ salaf, padahal para ulama’ salafus sholeh berlepas tangan darpada fahaman neo-mujassimah beliau.

Beliau turut menolak para ulama’ ahlus sunnah wal jamaah seperti Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali yang diterima oleh majoriti ulama’ Islam dan majoriti umat Islam, dan Imam Ar-Razi kerana mereka menolak tajsim bagi Allah سبحانه وتعالى. Ibn Taimiyah dalam banyak karangan beliau seperti dalam buku-buku At-Ta’sis, Risalah Tadmuriyah, Al-Arasy’ dan Fatawa beliau, di mana beliau cuba menetapkan kejisiman bagi Allah سبحانه وتعالى secara tidak langsung. Bahkan, beliau turut mengkritik para ulama’ Al-Asya’irah yang mewakili majoriti ulama Islam dan majoriti umat Islam, sejak 400 tahun sebelum kemunculan beliau, (yang dijamin kebenaran mereka oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri, berdasarkan hadits “tidak berhimpun umat atas kesesatan…”).

Namun, beliau ditentang hebat oleh para ulama’ ahlus sunnah wal jamaah, dari kalangan al-Asya’irah khususnya, kerana cuba menghidupkan fahaman mujassimah semula, secara tidak langsung.

Setelah itu, sepertimana kebiasaan bagi golongan syaz (terpinggir), fahaman Ibn Taimiyah dan beberapa anak muridnya lenyap seketika ditelan zaman. Golongan al-Hasyawiyah kembali bersembunyi di sebalik golongan athariyah atau para ahli hadits. Namun, golongan athariyah (ahli hadits) ini berbeza dengan muhaddithiin (ulama’ hadits) dari kalangan ahlus sunnah wal jamaah.

Sehinggalah, setelah kemunculah seorang pemuda yang ghairah menghukum, iaitu Muhammad bin Abdul Wahab, beliau cuba menghidupkan semula fahaman Ibn Taimiyah dan turut mengkritik sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam) dan menuduh majoriti ulama’ Islam iaitu al-Asya’irah sebagai golongan yang tidak mengikut aqidah salafus sholeh. Beliau cuba memutarbelitkan fakta bagi menipu masyarakat awam Islam, terhadap aqidah salafus sholeh.

Sekali lagi, golongan ahlus sunnah wal jamaah bangkit untuk menangkis fahaman neo-mujassimah yang cuba diketengahkan oleh kebanyakan para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab [atau lebih dikenali dengan golongan Wahabi].

Para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab mula menyusun dan mengetengahkan semula kaedah-kaedah yang membawa kepada kejisiman Allah سبحانه وتعالى ketika berinteraksi dengan nash-nash mutasyabihat, yang pernah diketengahkan oleh Sheikh Ibn Taimiyah suatu ketika dahulu.

Antara kaedah-kaedah tersebut adalah, menetapkan makna zahir bagi nash-nash mutasyabihat, menolak ta’wil bagi nash-nash mutasyabihat, menetapkan tempat bagi Allah سبحانه وتعالى dan sebagainya, yang mana mereka membuka pintu kesesatan yang lebih besar, daripada pintu yang dibuka oleh Sheikh Ibn Taimiyah.

Malangnya, mereka berdusta ke atas para salafus sholeh, dengan menisbahkan fahaman tajsim (menjisimkan Allah سبحانه وتعالى) mereka kepada para salafus sholeh, sedangkan para salafus sholeh tidak sedemikian kefahaman mereka.

Lebih malang lagi, sebahagian orang-orang awam yang tidak pandai dalam kaedah bahasa Arab, mula terpengaruh dengan fahaman golongan mujassimah moden ini, sehingga sanggup menetapkan kejisiman bagi Allah سبحانه وتعالى, sanggup menetapkan tempat bagi Allah سبحانه وتعالى, sedangkan aqidah sawadhul a’zhom yang dijamin kebenaran mereka oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم itu sendiri, menafikan jisim dan tempat bagi Allah سبحانه وتعالى. Bahkan, aqidah sawadhul a’zhom tidak menetapkan makna-makna zahir nash-nash mutasyabihat tersebut.

Kembalilah Kepada Salafus Sholeh, Neracanya Adalah Sawadhul A’zhom.

Wahai orang-orang awam. Janganlah tertipu dengan sesetengah golongan yang menyeru kepada manhaj salafi, padahal mereka bercanggah dengan sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam). Janganlah tertipu dengan olahan dan kefahaman salah mereka terhadap perkataan-perkataan salafus sholeh dan janganlah turut mengikut bid’ah mereka dalam masalah aqidah takkala mereka tersalah dalam memahami nash-nash al-Qur’an terutamanya nash-nash mutasyabihat.

Jauhilah golongan yang terpinggir daripada majoriti umat Islam ini, yang berfahaman tajsim, atas nama salafi padahal salafus sholeh berlepas tangan daripada fahaman mereka. Ukurannya adalah majoriti umat Islam itu sendiri. Sejak sebelum kemunculan Sheikh Ibn Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab, sehingga hari ini, sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam) adalah golongan ahlus sunnah wal jamaah yang terdiri daripada golongan al-Asya’irah dan al-Maturidiyah dalam masalah aqidah, dan terdiri daripada golongan yang bermazhab Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam asy-Syafi’e dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam masalah fiqh.

Sesungguhnya, aqidah sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam) iaitu golongan al-Asya’irah dan al-Maturidiyah yang menolak kejisiman Allah سبحانه وتعالى, yang menolak tempat bagi Allah سبحانه وتعالى dan sebagainya, merupakan aqidah yang dijamin oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ini janji Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Mustahil golongan al-Asya’irah tersesat sedangkan merekalah golongan majoriti umat Islam, sejak sebelum kelahiran Ibn Taimiyah dan Ibn Abdul Wahab lagi.

Nashihat Kepada Golongan Yang Terpinggir (Keluar dari Sawadhul A’zhom)

Janganlah ingkar dengan saranan Rasulullah صلى الله عليه وسلم agar kembali kepada sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam). Kembalilah kepada aqidah sawadhul a’zhom dari kalangan salafus sholeh, al-Asya’irah dan al-Maturidiyah. Janganlah kalian keluar daripada kelompok ini, kerana sesiapa yang terpinggir, maka dia akan terpinggir ke dalam neraka, na’uzubillah.

Janganlah bersikap sombong dengan terus membid’ahkan amalan-amalan yang diamalkan oleh sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam) seperti amalan menyambut maulid Nabi صلى الله عليه وسلم, amalan berzikir secara berjemaah, bertawassul kepada orang mati dan sebagainya, apatah lagi, ianya masalah yang khilafiyah bahkan diamalkan oleh kebanyakkan umat Islam. Sesungguhnya, umat Islam tidak akan berhimpun dalam kesesatan. Orang yang perasan bahawa majoriti umat Islam telah tersesat ataupun telah melakukan bid’ah, sebenarnya dialah yang telahpun sesat kerana tidak meyakini hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم dalam bab ini.

Bertaubatlah kepada Allah سبحانه وتعالى, kerana sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى itu Maha Pengampun. Kembalilah ke pangkal jalan, kerana sesungguhnya jalan kebenaran masih terbentang luas, selagi nafas masih di rongga. Rasulullah صلى الله عليه وسلم seorang yang amanah lagi jujur. Jaminan kebenaran bersama dengan sawadhul a’zhom, sesuai dengan janji Baginda صلى الله عليه وسلم. Sesungguhnya, mati dalam bersama dengan sawadhul a’zhom itu suatu ketenangan kerana bersama dengan janji kebenaran daripada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Adapun hidup walau dengan bergunung emas sekalipun, tidak akan memberi ketenangan jika memusuhi dan keluar daripada sawadhul a’zhom (majoriti umat Islam).

Wallahu a’lam…

Raja Ahmad Mukhlis bin Raja Jamaludin ar-Razi
http://al-fanshuri.blogspot.com/

Kitab al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa (Imam Ghazali) : menggugat konsep ketuhanan Yesus

https://i0.wp.com/2.bp.blogspot.com/_m1ALyYSRw9U/SsLkF-GiLoI/AAAAAAAAGl4/qBhUAomZQBg/s400/al+ghazali4.bmp

Imam Al Ghazali

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li Ilahiyati `Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.

Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafii (pengikut mazhab Syaf’i). AlGhazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun.

Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah “Ihya `Ulumiddin” (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.

Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam mukaddimah bukunya: “Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil” Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu menyatunya zat Allah dengan zat Yesus.

Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan bahwa Isa AS mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.

Dalam pandangan al-Ghazali, teori alittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157: “Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa AS) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka”.

Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali, makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata “Bapa” dan “Anak”. Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10: “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaanNya.”

Dalam melakukan kajiannya, Imam alGhazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al-Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.

Di antara teks yang dikritisi oleh alGhazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, “Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku? Jawab orang-orang Yahudi itu: “bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah. Kata Yesus kepada mereka: “tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah ­ sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan, masihkah kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia.” (Teks dikutip dari Bibel terbitan Lembaga Al-kitab Indonesia; Jakarta 2008.)

Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus “aku dan Bapa adalah satu”. Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa AS “..aku dan Bapa adalah satu” adalah makna metafora.

Al Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: “Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya.”

Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam taat kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tangan-Nya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadis Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.

Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tantang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan Alquran.

Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaslan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama.

Red: irf
Rep: Rachmat Morado S Alumnus Univ Mulay Islamil, Meknes, Maroko