Matahari tepat diatas ka’bah : Umat Islam Diimbau Seragamkan Kiblat 28 Mei 2010

Umat Islam Diimbau Seragamkan Kiblat 28 Mei

Sosbud / Selasa, 25 Mei 2010 16:37 WIB

Metrotvnews.com, Bekasi: Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Bekasi, Jawa Barat mengimbau seluruh umat Islam, khususnya di wilayah setempat untuk menyeragamkan arah kiblat pada Jumat (28/5) 2010 pukul 16.17 WIB.

“Sebab, pada saat itu matahari tepat berada di atas Ka`bah. Setiap bayangan yang tegak lurus akan mengarah ke Ka`bah,” kata Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kabupaten Bekasi KH Munir Abbas Bukhori di Cikarang, Selasa (25/5).

Perhitungan itu berdasarkan hasil kajian Lajnah Falakiah Pengurus Besar (PB) NU yang membidangi hukum shalat. Kejadian itu hanya berlangsung sekali dalam setahun, ujarnya.

“Imbauan itu sudah kami sebarkan kepada masyarakat dalam bentuk selebaran, khususnya di 23 kecamatan Kabupaten Bekasi agar seluruh kaum Muslim mengetahui hal itu,”. Sebagian besar bangunan masjid dan mushola di wilayah Kabupaten Bekasi memiliki kesalahan dalam menentukan arah kiblat sehingga mempengaruhi hasil ibadah, katanya .

Secara terpisah, Kepala Seksi Urusan Agama Islam Kantor Wilayah (Kanwil) Kementrian Agama Kabupaten Bekasi Edi Suhadi menyambut baik gagasan tersebut.

Menurut Edi, mayoritas masjid tersebut berdiri di lahan pemukiman penduduk. “Karena pada saat proses pembangunannya tidak diperhitungkan secara rinci oleh kontraktor yang bersangkutan,” ujarnya.

Edi mengatakan, ada dua cara untuk membenahi keadaan tersebut. Yakni, pertama dengan merenovasi bangunan masjid jika memang dananya memungkinkan. Cara kedua, dengan mengubah barisan jamaah (shaf) ke arah Kiblat yang sempurna.  (Ant/ICH)

Rashdul Qiblat 2008

Apakah arah kiblat bisa berubah? Tentu Tidak! Artinya pengukuran sebelumnya memang yang tidak tepat.

“Dan dari mana saja engkau keluar (untuk mengerjakan shalat), maka hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (Ka’bah), dan sesungguhnya perintah berkiblat ke Ka’bah itu adalah benar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali lalai akan segala apa yang kamu lakukan.” ( QS. Al-Baqarah : 149 )
.
“ Baitullah ( Ka’bah ) adalah kiblat bagi orang-orang di dalam Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Haram adalah kiblat bagi orang-orang yang tinggal di Tanah Haram ( Makkah ) dan Makkah adalah qiblat bagi seluruh penduduk bumi, Timur dan Barat dari umatKu” ( Hadith Riwayat Al-Baihaqi )
Dalam ajaran Islam, mengadap ke arah kiblat ( Masjidil Haram / Ka’bah ) adalah suatu tuntutan syariah di dalam melaksanakan ibadah tertentu, ia wajib dilakukan ketika hendak mengerjakan shalat dan menguburkan jenazah orang Islam, ia juga merupakan sunah ketika azan, berdoa, berzikir, membaca Al-Quran, menyembelih binatang dan sebagainya.
Berdasarkan tinjauan astronomis atau falak, terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan untuk meluruskan arah kiblat antaranya menggunakan kompas, theodolit, rasi bintang serta fenomena posisi matahari serta transit utama matahari di atas kota Makkah yang dikenal dengan istilah Istiwa A’zam (Istiwa Utama). Di kalangan pesantren di Indonesia istilah yang cukup dikenal adalah “zawal” atau “rashdul qiblat”.

Di atas Ka’bah matahari tepat berada di titik Zenith saat Istiwa A’zam.

Istiwa adalah fenomena astronomis saat posisi matahari melintasi meridian langit. Dalam penentuan waktu shalat, istiwa digunakan sebagai pertanda masuknya waktu shalat Zuhur. Pada saat tertentu di sebuah daerah dapat terjadi peristiwa yang disebut Istiwa Utama atau ‘Istiwa A’zam’ yaitu saat posisi matahari berada tepat di titik Zenith (tepat di atas kepala) suatu lokasi dimana peristiwa ini hanya terjadi di daerah antara 23,5˚ Lintang Utara dan 23,5˚ Lintang Selatan.

Istiwa Utama yang terjadi di kota Makkah dapat dimanfaatkan oleh kaum Muslimin di negara-negara sekitar Arab khususnya yang berbeda waktu tidak lebih dari 5 (lima) jam untuk menentukan arah kiblat secara presisi menggunakan teknik bayangan matahari. Istiwa A’zam di Makkah terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada tanggal 28 Mei sekitar pukul 12.18 Waktu Makkah dan 16 Juli sekitar pukul 12.27 Waktu Makkah pada tahun-tahun biasa. Sedangkan untuk tahun-tahun Kabisat tanggal ini dapat maju 1 hari (27 Mei dan 15 Juli) seperti yang terjadi pada tahun 2008 ini.

Fenomena Istiwa Utama terjadi akibat gerakan semu matahari yang disebut gerak tahunan matahari (musim) sebab selama bumi beredar mengelilingi matahari sumbu bumi miring 66,5˚ terhadap bidang edarnya sehingga selama setahun terlihat di bumi matahari mengalami pergeseran 23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS. Saat nilai azimuth matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa Utama yaitu melintasnya matahari melewati zenith lokasi setempat.

________________________________________________________

SELASA, 27 MEI 2008 @ 16:18 WIB (Hari ke-1)
SELASA, 15 JULI 2008 @ 16:27 WIB (Hari ke-2)
MATAHARI TEPAT DI ZENITH KOTA MAKKAH
POSISI MATAHARI = ARAH KIBLAT
BAYANGAN MATAHARI = ARAH KIBLAT
_________________________________________________________

Teknik penentuan arah kiblat menggunakan Istiwa Utama sebenarnya sudah dipakai lama sejak ilmu falak berkembang di Timur Tengah. Demikian halnya di Indonesia dan beberapa negara Islam yang lain juga banyak menggunakan teknik ini. Sebab teknik ini memang tidak memerlukan perhitungan yang rumit dan siapapun dapat melakukannya. Yang diperlukan hanyalah sebatang tongkat lurus dengan panjang lebih kurang 1 meter dan diletakkan berdiri tegak di tempat yang datar dan mendapat sinar matahari. Pada tanggal dan jam saat terjadinya peristiwa Istiwa Utama tersebut maka arah bayangan tongkat menunjukkan kiblat.

Karena di negara kita peristiwanya terjadi pada sore hari maka arah bayangan tongkat adalah ke Timur, sedangkan arah bayangan sebaliknya yaitu yang ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang benar. Cukup sederhana dan tidak memerlukan ketrampilan khusus serta perhitungan perhitungan rumus-rumus. Jika hari itu gagal karena matahari terhalang oleh mendung maka masih diberi roleransi penentuan dilakukan pada H+1 atau H+2.

Saat matahari di atas Ka’bah semua bayangan matahari mengarah ke Ka’bah juga

Penentuan arah kiblat menggunakan teknik seperti ini memang hanya berlaku untuk daerah-daerah yang pada saat peristiwa Istiwa Utama dapat melihat secara langsung matahari dan untuk penentuan waktunya menggunakan konversi waktu terhadap Waktu Makkah. Sementara untuk daerah lain di mana saat itu matahari sudah terbenam misalnya wilayah Indonesia bagian Timur praktis tidak dapat menggunakan teknik ini. Sedangkan untuk sebagian wilayah Indonesia bagian Tengah barangkali masih dapat menggunakan teknik ini karena posisi matahari masih mungkin dapat terlihat. Namun demikian masih ada teknik lain yang juga menggunakan bayangan matahari untuk menentukan arah kiblat misalnya teknik sudut azimuth, teknik lingkaran, teknik bayangan muka dan bayangan belakang dan penggunaan theodolit dengan bantuan posisi matahari. Salah satunya yang cukup popiler adalah teknik bayangan matahari (sundial) dengan data bayangan matahari dapat dicari DISINI.

Berdasarkan perhitungan astronomis menggunakan program Simulator Planetarium Starrynight Pro Plus 6.2.3 diperoleh posisi matahari secara presisi saat terjadinya Istiwa Utama di Makkah tahun 2008 ini. Pertama, tanggal 27 Mei 2008 pukul 09:18:00 GMT atau 12:18:00 Waktu Makkah atau 16:18:00 WIB, lalu yang kedua terjadi pada tanggal 15 Juli 2008 pukul 09:26:50 GMT atau 12:26:50 Waktu Mekkah (GMT+3) atau 16:26:50 WIB (GMT+7) dengan posisi matahari berada di azimuth 294° 40.124′ dan ketinggian (altitude) 14° 56.32′. Seperti tertera pada gambar di bawah ini.

Dari Yogyakarta Posisi matahari masih cukup tinggi untuk melakukan pengukuran.

Teknik Penentuan Arah Kiblat menggunakan Istiwa Utama :

1. Tentukan lokasi masjid/mushalla/langgar atau rumah yang akan diluruskan arah kiblatnya.

2. Sediakan tongkat lurus sepanjang 1 sampai 2 meter dan peralatan untuk memasangnya. Lebih bagus menggunakan benang berbandul agar tegak benar. Siapkan juga jam/arloji yang sudah dicocokkan / dikalibrasi waktunya secara tepat dengan radio/televisi/internet.

3. Cari lokasi di samping Selatan atau di halaman depan masjid yang masih mendapatkan penyinaran matahari pada jam-jam tersebut serta memiliki permukaan tanah yang datar lalu pasang tongkat secara tegak dengan bantuan pelurus berupa tali dan bandul. Persiapan jangan terlalu mendekati waktu terjadinya istiwa utama agar tidak terburu-buru.

4. Tunggu sampai saat istiwa utama terjadi amatilah bayangan matahari yang terjadi dan berilah tanda menggunakan spidol, benang kasur yang dipakukan, lakban, penggaris atau alat lain yang dapat membuat tanda lurus.

5. Di Indonesia peristiwa Istiwa Utama terjadi pada sore hari sehingga arah bayangan menuju ke Timur. Sedangakan bayangan yang menuju ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang tepat.

6. Gunakan tali, susunan tegel lantai, atau pantulan sinar matahari menggunakan cermin untuk meluruskan arah kiblat ini ini ke dalam masjid / rumah dengan menyejajarkannya terhadap arah bayangan.

7. Tidak hanya tongkat yang dapat digunakan untuk melihat bayangan. Menara, sisi selatan bangunan masjid, tiang listrik, tiang bendera atau benda-benda lain yang tegak. Atau dengan teknik lain misalnya bandul yang kita gantung menggunakan tali sepanjang beberapa meter maka bayangannya dapat kita gunakan untuk menentukan arah kiblat.

=============================================================

UNTUK ORIENTASI LAKUKAN UJI COBA PADA 1 ATAU 2 HARI SEBELUMNYA
=============================================================

Sebaiknya bukan hanya masjid atau mushalla / langgar saja yang perlu diluruskan arah kiblatnya. Mungkin kiblat di rumah kita sendiri selama ini juga saat kita shalat belum tepat menghadap ke arah yang benar. Sehingga saat peristiwa tersebut ada baiknya kita juga bisa melakukan pelurusan arah kiblat di rumah masing-masing. Dan juga melakukan penentuan arah kiblat menggunakan teknik ini tidak mutlak harus dilakukan pada saat tersebut bisa saja mundur atau maju 1-2 hari pada jam yang sama atau dalam rentang +/- 5 menit pada hari itu. Hal ini dikarenakan pergeserannya hanya relatif sedikit yaitu sekitar 1/6 derajat setiap hari atau sekitar 3 menit setiap harinya. Sebelum hari H dikurangi (-) dan sesudah hari H ditambah (+) 3 menit setiap hari.

Catatan : Untuk keterangan lebih lanjut bisa menghubungi markas Rukyat Hilal Indonesia (RHI) di 0274-552630 atau 08122743082.

Tambahan

Sekedar tambahan dari yang telah dijelaskan pak Mutoha. Sebagaimana diketahui, pada 27 Mei 2008 pukul 12:18 waktu Makkah (GMT + 3) Matahari mengalami transit (melintasi garis bujur kota Makkah) dimana posisiMatahari pada saat itu sangat berdekatan dengan titik zenith Makkah(koordinat 21° 25′ LU 39° 50′ BT) alias mempunyai tinggi mendekati 90°. Dalam bahasa sederhananya, jika pada saat itu kita berada di kota Makkahmaka kita akan melihat Matahari persis di atas kepala. Kondisi ini disebutrashdul qiblat istimewa dan dimanapun manusia berada di Bumi (asalkan masihtersinari cahaya Matahari), maka arah kiblat setempat bisaditetapkan/dikalibr asikan karena setiap bayang-bayang benda yang tegak lurusterhadap permukaan Bumi tepat mengarah ke kiblat.

Untuk itu ada catatan tambahan :

1. Akurasi

Berbeda dengan bintang-bintang lainnya yang berperanan sebagai sumber cahayatitik (point source) jika dilihat dari Bumi, Matahari merupakan cakrambercahaya kuat (disk source) dengan apparent diameter 0,5° dimana intensitascahayanya homogen di setiap titik dalam cakram ini. Konsekuensinya pengukuran arah dengan menggunakan bayang-bayang Matahari pun selalumengandung ketidakpastian sebesar 0,5°.

Dengan diameternya yang besar, maka pada 26 Mei 2008 pukul 12:18 waktuMakkah, meski tinggi pusat cakram Matahari baru senilai 87,75° namun tepicakram bagian barat telah menyentuh titik zenith. Demikian pula meskipundeklinasi pusat cakramnya saat itu baru +21° 10′ namun tepi cakram sebelahutara sudah menyentuh deklinasi +21° 25′ (alias berimpit dengan lintang kotaMakkah).

Dan pada 28 Mei 2008 pukul 12:18 waktu Makkah juga mirip, dimanawalaupun tinggi pusat cakram Matahari senilai 87,75° namun tepi cakrambagian timur masih menyentuh titik zenith. Demikian pula meskipun deklinasipusat cakramnya saat itu sudah +21° 40′ namun tepi cakram sebelah selatanmasih menyentuh deklinasi +21° 25.Kondisi yang sama juga kita jumpai bila pada ketiga tanggal tersebut jamnyadivariasikan menjadi 12:18:00 ± 00:00:30 WIB. Sehingga dengan demikian rashdul qiblat terjadi pada 26 – 28 Mei 2008 pukul12:18:00 ± 00:00:30 waktu Makkah atau 16:18:00 ± 00:00:30 WIB.2.

2. Keberlakuan

Per teori penetapan/kalibrasi arah kiblat dengan rashdul qiblat ini hanyaberlaku untuk daerah dengan zona waktu GMT + 1 sampai GMT + 7 denganperkecualian pada Asia Timur (karena Matahari di sini masih cukup tinggimeski zona waktunya sudah GMT + 8).Untuk Indonesia, metode ini bisa dilakukan pada kawasan Indonesia bagianbarat khususnya Pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan hingga ke sebagian NusaTenggara dan pantai barat Sulawesi. Di Nusa Tenggara dan pantai baratSulawesi itu tinggi Matahari pada saat rashdul qiblat sudah cukup rendah(yakni di sekitar 10°) sehingga cahaya sudah redup ataupun sudah tertutupawan di dekat horizon.

3. Cara

– Kalibrasikan petunjuk waktu (jam/HP) dengan standar waktu (misalnyadengan siaran BBC, RRI ataupun dengan men-dial nomor 103 lewat telpon fixedline maupun Flexi).

– Gunakan sudut bangunan/sisi jendela, atau gunakan benang tebal yangdiberi pemberat dan digantung sebagai media yang tegaklurus permukaan tanahsetempat.

– Tetapkan tanggal pengukuran (26, 27 atau 28 Mei 2008).

– Pada pukul 16:18:00 ± 00:00:30 WIB tandai bayang-bayang bangunan/sisi jendela/benang pada permukaan lantai/tanah pada dua titik sekaligus. Lantastarik garis lurus melintasi kedua titik tersebut. Itulah arah kiblatsetempat. Selamat mencoba.

Salam

M. Khoirur Rofiq

[www.shafiifiqh.com]: Introduction to Usul al-Fiqh II: Al-Risalah and Its Commentaries

bismillah clipart

Al-Risālah of Al-Imām Al-Shāfiʿī

The praise of al-muhaqqiq al-shaykh Ahmad Muhammad Shakir to Imam al-Shafiʿī radiyaLlahu ‘anhu.

هذا كتاب (الرسالة) للشافعيوكفى الشافعي مدحا أنه الشافعي

وكفى (الرسالة) تقريظا أنها تأليف الشافعي

وكفاني فخرا أن أنشر بين الناس علم الشافعي

This is the risalah of al-Shafi’i

It is sufficed as a praise for al-Shafi’i that he is al-Shafi’i

It is sufficed for al-Risalah as an eulogy that it is a writing of al-Shafi’i

It is sufficed for me as an honour that I am spreading among people the knowledge of al-Shafi’i .

Imam al-Shafiʿī rahimahuLlah ta’ala wrote al-Risalah twice, (1) The old Risalah, and (2) The new Risalah. The old Risalah is the one that Imam al-Shafiʿī rahimahuLlahu ta’ala wrote in response to the request of ‘Abd al-Rahman ibn Mahdi. The new al-Risalah was authored after he completed most of the books in al-Umm.

The preferred opinion is that Imam al-Shafiʿī dictated the new Risalah to Imam al-Rabiʿ. Only two copies of the original al-Risalah are found, the copy of Imam al-Rabīʿ and Ibn Jamāʿah. Among those who heard al-Risālah from the copy of Imam al-Rabīʿ are al-Ḥāfiẓ al-Ḥumaydī ṣāḥib al-Jamʿ bayn al-Ṣaḥihayn, al-Ḥāfiẓ Ibn Mākūlā, al-Ḥāfiẓ Ibn ʿAsākir, al-Ḥāfiẓ ʿAbd al-Qādir al-Rahāwī and others. (Muqaddimah of al-Risalah by Shaykh Aḥmad Muḥammad Shākir)

Imam al-Shafiʿī ‘s Risalah dominated studies in Islamic jurisprudence from the moment it appeared. As a result of it, the scholars divided into two groups. One group, the majority of Ahl al-Ḥadīth, accepted it, and used it in support of Imam al-Shafiʿī’s madhhab.

Some of these scholars devoted their attention to producing commentaries on al-Shafiʿī ‘s al-Risalah:

  1. Abu Bakr Muhammad ibn ‘Abd Allah (SWT) al-Ṣayrafi (330 H) It is said that he is the most knowledgeable on usul after Imam al-Shafi’ī. His commentary was mentioned in the Kashf al-Zunun, Tabaqat al-Shafiʿiyyah and khutbah of al-Bahr by al-Zarkashi.
  2. Abu al-Walid al-Naisābūrī Ḥasān ibn Muḥammad ibn Aḥmad al-Qurashī (349 H). He is the student of Imam Ibn Surayj and the teacher of al-Ḥākim Abū ʿAbdillah and the author of al-Mustakhraj ʿala Ṣaḥīḥ Muslim. His commentary was mentioned by Kashf al-Zunun al-Zarkashi. He passed away on Fridah, 5 Rabīʿ al-awwal 349 H.
  3. Al-Qaffal al-kabīr al-Shāshī Muḥammad ibn ʿAlī ibn Ismaʿīl. He was born on 291 H and passed away in the year 365 H. He commentary was mentioned by al-Zarkashī, Kashf al-Zunun and al-Ṭabaqāt.
  4. Al-Imām al-Ḥāfiẓ Abu Bakr Muḥammad ibn ʿAbdullah al-Shaybānī al-Jūzaqi al-Naisābūrī (388 H). He is the student of Imam al-Aṣam and Abū Nuʿaym and the teacher of al-Ḥākim Abū ʿAbdillah and the author of al-Musnad ʿala Ṣaḥīḥ Muslim. His commentary was mentioned by Kashf al-Zunun.
  5. Abu Muhammad ʿAbdullah ibn Yūsuf al-Juwayni, the father of the famed Imam al-Haramayn; teacher of al-Imam al-Ghazzali.

None of these commentaries, from which the scholars used to quote until after the seventh century, have come to light in modern times.

References:

Islamic Jurisprudence by Dr. Taha Jabir al-Alwani.

Al-Wajīz fī uṣūl al-tashrīʿi al-Islāmī, Dr. Muḥammad Hasan Hītū

Al-Risālah with the tahqiq of Shaykh Aḥmad Muhammad Shākir.

Salah 'ala al-Nabi

Introduction to Usul al-Fiqh II: Al-Risalah and Its Commentaries

Introduction to Usul al-Fiqh I: Ahl al-Ḥadīth (Traditionists), Ahl al-Raʾy (Rationalists) and al-Imam al-Shafiʿī

Introduction to Usul al-Fiqh I: Ahl al-Ḥadīth (Traditionists), Ahl al-Raʾy (Rationalists) and al-Imam al-Shafiʿī rahimahuLlahu ta’ala.basmalasftan1

الحمد لله الذي أنزل القرآن ووضع الميزان وجعل علم الأصول مصالح الأنام وأساس الأحكام. وصلى الله على سيدنا ومولانا وقرة أعيننا محمد النبي الأمي القرشي وعلى آله وصحبه حاملي لواء الدين القوي . أما بعدقد سأل بعض الزائرين في هذا الموقع أن تكتب لهم نبذة من مقدمة أصول الفقه وهو من أهم الفنون وأشرف علوم الشرع. بدأت بهذه العجالة أن أذكر فيها من أهم المؤلفات التي ألفت في هذا الفن ومصنفيهن. ولا نزاع لمن يعرف بتاريخ علم الأصول أن إمامنا الشافعي القرشي كان أول من كتب فيه ودون وحرر وأصل وهذا من مفاخر مقلدي مذهبه والحمد لله رب العالمين على هذا الفضل العظيم

This is an abridged exceprt from the Book: “Islamic Jurisprudence” by Dr. Taha Jabir al-Alwani.

Writers on Islamic legal history emphasize that the rationalist school of Ahl al-Raʾy was an extension of the school of Sayyidunā ʿUmar and ʿAbdullah ibn Masʿud radiyaLlahu ‘anhuma who, among the Ṣaḥabah, were the most wide-ranging in their use of ra’y (lit. opinion). In turn, ʿAlqamah al-Nakhaʿi (d. 60 or 70 AH), the uncle and teacher of Ibrāhim al-Nakhaʿi, was influenced by them. Ibrāhim then taught Ḥammad ibn Abū Sulaymān (d 120 AH) who, in turn, was the teacher of Abū Hanīfah rahimahumuLlah ta’ala.

The same historians stress that the traditionist school of Ahl al-Ḥadīth was a continuation of the school of those Sahabah whose fear of contradicting the letter of the source texts Nusus made them circumspect to the point where they never went any further than the texts. This was the case, by and large, with ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al Khattab, ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn al ‘As, al-Zubayr, and ‘Abdullah ibn ‘Abbas radiyaLlahu ‘anhum.

The school of Ahl al-Raʾy, on the other hand, gained currency in Iraq. The scholars of this group thought that legal interpretations of the Sharīʿah should have a basis in reason, should take into account the best interests of the people, and should be backed by discernable wisdom.

It was in response to a request from Ahl al-Ḥadīth, that al Imam al-Shafiʿī wrote his book, al-Hujjah (The Argument), in Baghdad, in order to refute the arguments which Ahl al-Raʾy brought against him.

Thereafter, al-Imam al-Shafiʿī  travelled to Egypt where he found that most of the people adhered strictly and unquestioningly to the opinions of Malik. Consequently, al-Imām al-Shafiʿī  began a critical analysis of al-Imām Malik’s legal opinions, and found that in some cases, “…he (Malik) formulates opinions on the basis of a general principle, while ignoring the specific issue; whereas at other times he gives a ruling on a specific issue and ignores the general principle.”

Al-Imam al-Shafiʿī  also found that al-Imām Malik’s opinion that the Ijma’ of the people of Madinah could be treated as source-evidence was, in fact, not very strong. He wrote a book entitled Al-Ikhtilaf maʿa Malik “Disagreement with Malik,” in which he dealt with all of the matters mentioned above.

With these matters in mind, then, al-Imam al-Shafiʿī rahimahuLlahu ta’ala came to the conclusion that the undertaking most deserving of attention was the collection of the principles of jurisprudence, the organization of the basic rules for their application, and the development of a source methodology by means of which questions of Fiqh may be decided through proper recourse to valid and relevant forms of evidence. Thus, Fiqh might become the practical application of this methodology, so that a new Fiqh might emerge as an alternative to the two established schools of legal thought.

It was for this reason that al Imam al Shafiʿī  wrote the Risalah, and built his Fiqh and legal teachings on the foundations of the principles and methodology he expounded in his book.

Al-Imam Ahmad ibn Hanbal said: “Until al-Imam al-Shafiʿī  came along, we never thought of things like the general and the specific al-ʿumum wa al-khuu”.

The scholars writing on the subject of the history of Usul al-Fiqh are unanimously agreed that the first writer on the subject was al-Imam al-Shafiʿī rahimahuLlahu ta’ala, and that the first book ever written on the subject was the Risalah.

Al-Imām Al-Zarkashi rahimahuLlahu ta’ala (d 794 AH) in his book, al-Bahr al-Muhit, devoted a chapter to this, in which he said:

“Al-Imam al-Shafiʿī  was the first to write about Usul al-Fiqh. He wrote the Risalah,  Ahkam al-Qur’an (Legal Interpretations of the Qur’an), Ikhtilaf al-Ḥadīth (Conflicting Ḥadīth), Ibtāl al-Istihsan (The Invalidity of Juristic Preference),  Jima’ al-’Ilm (The Congruence of Knowledge), and al-Qiyas (Analogical Reasoning), – the book in which he discussed the error of the Mu’tazilah group, and changed his mind about accepting their testimony. Then, other scholars followed him in writing books on al-Usul.”

Al-Imām al-Juwaynī rahimahuLlahu ta’ala, in his commentary on the Risalah, wrote:

“No one before al-Imām al-Shafiʿī  wrote books on the subject of al-Usul, or had as much knowledge as he concerning it. It is related that Ibn ʿAbbās mentioned something about the particularization of the general, and that some of the others among the early scholars made pronouncements which suggested they understood these principles. Still, those who came after them said nothing about al-Usul, and they contributed nothing to it. We have seen the books of the Tābiʿūn and the third generation, and have found that none of them wrote books about al-Usul.”

Salah 'ala al-Nabi

[www.shafiifiqh.com]: Is it Permissible for men to wear White Gold?

Is it Permissible for men to wear White Gold?


Posted by Abul Layth on Apr 23, 2010 in Clothing – Libaas, Featured | 207 views

Is it Permissible for men to wear White Gold?

Question:
Is it permissible to wear white gold for a man? Thanks

Answer:

الحمد لله رب العالمين ، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وبالله التوفيق

يحرم  على الرجل حلي الذهب (المنهاج: 1: (387

الذهب الأبيض قد يطلق على البلاتين و على خليط المعدني الذي جعل من الذهب مع أي المعدن الأبيض كان.

أما البلاتين هي ليست بذهب أحمر كما هو المعروف وليس فيه دليل يدل على تحريمه والأصل في الأشياء أنها على الإباحة إلا ما حظره الشرع (الورقات)

والذهب الأبيض التي هي الخليطة من الذهب الأصفر المعروف مع أحد المعدن الأبيض فأكثر وهذا لبسه للرجل حرام.

“It is not permissible for a man to wear jewelry made of gold.” [Minhaj 1:387]
The term “white gold” may be applied to the metal platinum or an alloy of gold and at least one white metal.  The metal platinum is not gold, and there is no indication to show the prohibition of its usage for a man, because of the principle ‘the basis of a thing is permissibility unless there is a prohibition of Islamic Law’.

However, the white gold, which is a mixture of gold with at least one white metal, falls within the rules of gold. Therefore, a man’s using it is forbidden.

والله أعلم وعلمه أتم

Answered by:
ʿAbdullah Muhammad al-Marbuqi al-Shāfiʿī.

[www.shafiifiqh.com]: Is it permissible to use Gold or Silver Picture Frames?

Is it permissible to use Gold or Silver Picture Frames?

Question:

Salamu aleykum

I want to know if we are allowed to have silver or gold frames (around pictures for example). Im particularly intrested to know how the word “inaa” is to be understood. Jazakumu Allahu kulla al-khayr!

Answer:

الحمد لله رب العالمين ، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وبالله التوفيقفاستعمال الإناء من ذهب أو فضة حرام وإنما نهي عنه للسرف والخيلاء (المجموع: 1: 135)

Imam An-Nawawi said,

“The utilization of utensils made of gold and silver is Haram. It is forbidden because it entails extravagance1 and boastful pride.” [Al-Majmu’ 1:135]

It is not permissible to use silver or gold frames. The utilization of gold or silver vessels are haram, this is due to the hadith narrated by Sayyiduna Hudhayfah  that Rasulullah said,

“Do not drink and eat from gold and silver dishes, and do not wear silk and brocade, because indeed they are for them in this world and for you in the Hereafter.” (al-Bukhārī: 5633)

The prohibition taken from this hadith is for the utilization or usage of the vessel (al-Nihāyah: 1: 103). “Utilization or utilize” is defined by whatever is known as utilize in the ʿurf (custom) of the people. Therefore, the prohibition includes all practical purposes such as eating, drinking, purification, cooking, defecating, decorating etc.

Al-Imām Ibn Hajar in explaining how the word “istiʿmāl” should be understood mentioned,

وظاهر أن المدار على الاستعمال العرفي أخذا من قولهم يحرم الاحتواء على مجمرة النقد وشم رائحتها من قرب بحيث يعد متطيبا بها لا من بعد (التحفة: 1: 96)

“The clear opinion holds that the yardstick (in determining what constitutes usage) is customary usage [what this essentially means is that whatever custom considers to be usage will be usage; whatever it does not consider to be so will not be so]. This deduction is derived from their (the jurists/ashab) statement: it is haram to enclose oneself over a gold brazier (so as to capture the scented vapor) or for one to smell its scent from such a close distance that he is considered to be applying perfume. This is contrary to the case where he smells the scent from a far distance (as he is not considered to be applying perfume in this instance).”  [Thus the jurist in the mentioned example draws a distinction between the two scenarios, near and far, based on custom]. (al-Tuḥfah: 1: 96)2

An even clearer text is presented by Imam An-Nawawi in his Majmu’ for the prohibition of utilizing gold or silver utensils,

ويحرم تزيين الحوانيت والبيوت والـمجالس بأواني الذهب والفضة على المذهب الصحيح المشهور

“And it is forbidden (haram) to decorate the markets, houses, and the places of gatherings3 with Awani4 of gold and silver upon the correct and well known view of the Madhdhab [of Imam Ash-Shafi’i].”

Lastly, the original query of the questioner: what constitutes an ‘inā/āniyah/awānī needs to be addressed. Consider the following from al-Qāmūs al-Muhīt:

كل ظرف يمكن أن يستوعب غيره

“Any vessel or receptacle that encompasses anything besides it.”

A picture frame is an object that encompasses, or contains within it, the picture so it is classified as an ‘inā. It is deemed forbidden if made of gold or silver.

والله تعالى أعلم
Allah (SWT) Most High knows best.

Answered by:

Abdullah Muhammad al-Marbuqi al-Shafi‘i

with additions and translation assistance by Shaykh AbdurRahman Khan

  1. sarafa also means wastefullness, in this case it could mean extravagant waste []
  2. Notes and explanation by Shaykh A. Khan []
  3. majalis could mean the places of religious teachings as well []
  4. the pl. of Ina‘ generally translated as ‘vessel’ definition will be given further down in the fatwa []

Alqaida Vs HAMAS : Bukti Juru Bicara Alqaida (WAHABY QUTHBIYUN) adalah Agen ZIONIST KETURUNAN YAHUDI

OR YOU CAN SEARCH IN YOUTUBE :

Jewish Zionist faking Al Qaeda

Zionist used al aqaida to destroy WTC (9/11)

9/11 CONSPIRACY: MORE PROOF OF BOMBS PLANTED IN THE TOWERS!!

OR :  http://www.youtube.com/watch?v=h7cvjBViV7g&feature=related

Alqaida  hanya memusuhi Amerika & HAMAS palestine?

Ternyata ada Agen Yahudi di Al qaida!

ketahuilah, Syiah adalah pemecah umat islam yang didirikan oleh YAHUDI YANG PURA PURA MEMELUK ISLAM.

KINI MUNCULAH GOLONGAN TAKFIRI WAHABI JIHADI / SALAFY JIHADI/ TERORIS ALQAIDA YANG DIDALAMNYA BANYAK ANTEK ANTEK ZIONIST.

“Zionist yahudi ingin menguasai dunia penghalangnya adalah Islam dan Kristen”bagai mana yahudi untuk mengalahkan islam dan kristen?
1. Yahudi mengadu islam  vs kristen dengan membuat aliran-aliran radikal (spt majelis  mujahidin indonesia (wahaby), noordin M top cs (wahaby), taliban (wahaby)
Sedangkan taliban/alqaida adalah pendatang yang memecah balah umat islam di afgan dan yang merusak perjuangan suci rakyat afgan melawan penjajah, ia menegakan hukum wahaby bukan hukum islam), dsb.

2. Mengadu sesama umat islam (membuat aliran-aliran sesat seperti wahhaby, islam liberal dsb.)

3. Mengadu sesama kristen (seperti membuat aliran-aliran radikal  dalam kristen)

—————————————————————————

Kakek Jubir Al-Qaidah untuk AS Penyumbang Negara Israel?

Laporan dari saluran televisi Israel Channel 10 menyebutkan bahwa juru bicara Al-Qaidah untuk Amerika yaitu Yahya Adam Gadahn, yang merupakan salah satu yang orang yang paling dicari oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya setelah Usamah bin Ladin adalah orang keturunan Yahudi.

Channel 10 melaporkan bahwa Yahya adalah seorang Yahudi bernama Adam Perlman sebelum ia mengumumkan dirinya masuk Islam dan menjadi salah satu yang orang yang dianggap paling berbahaya dan merupakan pembantu senior Usaman bin Ladin.

Laporan itu mengatakan bahwa kakek Gadahn adalah seorang Yahudi, dan telah menjadi penyumbang sejumlah besar uang bagi negara Yahudi Israel.”

————————————————–

Juru Bicara Al-Qaidah AGEN ZIONIST Keturunan Yahudi

Seorang kepercayaan Usamah bin Ladin, Yahya Gadhan, keturunan dari Yahudi yang sangat berperan dalam pendirian negara Israel

Hidayatullah.com–Salah satu stasiun televisi Israel melaporkan bahwa ternyata Yahya Gadhan, juru bicara resmi Al-Qaidah adalah seorang keturunan Yahudi.

Yahya Gadhan merupakan orang yang sangat dicari oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, setelah pemimpin Al Qaidah Usamah bin Ladin. Demikian dilansir Islammemo.cc (23/5).

Seperti dikutip stasiun televisi tersebut, nama asli Yahya Gadhan sebelum masuk Islam dan bergabung dengan kelompok Usamah bin Ladin adalah Adam Perl Man.

Laporan televisi tersebut juga menambahkan bahwa kakek Yahya Gadhan adalah seorang Yahudi, yang telah banyak menyumbangkan hartanya untuk kepentingan pendirian negara Israel.

———————————————————————————-

TERORIS ALQAIDA (ANTEK ZIONIST) HANYA MENGADU DOMBA MUSLIM DENGAN USA SEMENTARA IA MEMERANGI HAMAS DAN MEMECAH BELAH PERLAWANAN RAKYAT PALESTINE MELAWAN ISRAEL..LIHATLAH KETUA ALQAIDA PALESTINE MENDIRIKAN NEGARA BARU DAN MENGKAFIRKAN HAMAS! DAN SEMUA ANTEK ALQAIDA BERSUMPAH TIDAK AKAN MEMBERITAKAN TENTANG HAMAS! BUKTI ARRAHMAH ANTEK WAHABY ALQAIDA MEMUSUHI HAMAS :

—————————————————————

Di Saudi Arabia (daulah rezim wahabi) Ada Pangkalan Militer Kafir USA dan Zionist Israel

1. PANGKALAN MILITER KAFIR USA DI SAUDIARABIA SEJAK TAHUN 1942 SAMPAI SEKARANG

Beberapa peristiwa yang tidak ada fatwa yang melarang/membolehkannya. Inilah bukti bahwa WAHABI ADALAH MADZAB PELINDUNG THAGHUT REZIM ZIONIST SAUDI ARABIA! :

Traktat Ibn Sa`ud – Inggris pada 26 Desember 1915

Penempatan pangkalan udara penting milik AS di Dhahran, dari 1942 sampai 1962 (dilanjutkan sampai sekarang)

Wahaby menyewa pasukan zionis USA dengan bayaran yang sangat tinggi, cukup  untuk USA membuat senjata-senjata baru dan membantu zionis israel membantai muslim di Palestine

– Fatwa membolehkan meminta pertolongan Amerika dalam Perang Teluk 1990-1991.

Pada 1990, Alm Saddam Husein menginvasi Kuwait dan menimbulkan salah satu krisis dan kemudian perang penting setelah Perang Dingin. Dalam rangka menentang agresi dan invasi tersebut, Raja Saudi Arabia meminta bantuan terutama dari Amerika Serikat. Majelis ulama senior Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang membolehkan tindakan tersebut dengan alasan dlarurah. Sehingga USA dengan wahaby membantai jutaan muslim sunni di irak.

Raja Abdullah, pemimpin Arab Saudi dikenal dekat dengan AS. Bahkan terhadap mantan presiden AS George W. Bush, Raja Abdullah banyak memberikan bantuan secara finansial dan juga keleluasaan dalam menentukan kebijakan militer AS dan Barat di Arab Saudi yang juga berimbas pada kawasan Timur Tengah.

Tidak jauh dengan rajanya, tentara Arab Saudi pun mau tak mau menjadi akrab dengan tentara AS. Ibaratnya, guru kencing berdiri, ya murid pun kencing berlari. Mereka sering mengadakan acara bersama. Mulai latihan perang bersama, sampai acara santai. Berikut foto-foto yang menunjukan betapa “mesranya” hubungan antara tentara AS dan Arab Saudi.

Seorang komandan tentara Saudi menyambut kedatangan para tentara AS.

Para pembesar militer AS tengah menyusun rencana, sementara tentara-tentara Saudi Arabia merubunginya.

“Nih lihat, iPhone terbaru. Di sini  udah ada belum?” Mungkin begitu kata si tentara AS pamer gadget terbarunya.

Dua komandan berbeda negara, berbeda ideologi saling menjabat tangan dalam acara sarasehan.

“Ha ha ha…. situ bisa aja. Bercandanya jangan kelewatan dong!”

Seorang perwira AS tengah memberikan briefing pada tentara Saudi.

Dan kini, tentara AS pun bebas jalan-jalan atau sekadar olah raga di kota-kota Saudi. Dipandu tentara Saudi lagi.

(sa/alhqmh)

2. Pangkalan Militer  Israel di Pulau Tiran dan Sanafir SAUDI ARABIA (DAULAH WAHABI) SEJAK TAHUN 1967 SAMPAI SEKARANG

Ini adalah rahasia yang sudah cukup lama tersimpan. Ternyata Israel telah menduduki pulau-pulau bagian Arab Saudi sejak tahun 1967. Tiran dan Sanafir, dua pulau gabungan dengan luas 113 kilometer persegi.

Posisi kedua pulau ini berada di lokasi yang sangat strategis di mulut Teluk Aqaba, di mana lalu lintas laut ke pelabuhan selatan Israel Eilat harus melewati perjalanan ke dan dari Laut Merah.

Meskipun pemerintah Arab Saudi mungkin mengatakan bahwa itu adalah pulau-pulau kecil, dan hanya mempunyai kekayaan terumbu karang yang tak begitu penting, tapi siapa pun yang menguasai Teluk Aqaba, maka sama saja dengan menguasai lalu lintas perairan di daerah itu.

Juga ada sebuah kenyataan yang bertentangan, selama ini Arab Saudi berjuang mati-matian untuk pulau-pulau yang sama di sekitar itu, namun khusus Tiran dan Sanafir tampaknya mereka enggan untuk menentang Israel.

Ketika Mesir berdamai dengan Israel pada tahun 1978, Presiden Anwar Sadat menolak untuk memasukkan kedua pulau itu dalam perjanjian damai, dengan alasan bahwa mereka milik Arab Saudi. Bahkan dalam Google map pun kedua pulau itu terlihat jelas sebagai milik Arab Saudi. Jadi mengapa ada keengganan untuk menentang orang Israel, dan mengapa ada penggelapan media?

File:Strait tiran 83.jpg


Awal mula berdirinya israel adalah runtuhnya kekhalifan Sunni Turki ustmani yang disebabkan pengkhianatan arab badwi wahabi pimpinan king FAISAL DAN LAWRENCE DE ARABIA (YAHUDI AGEN BRITISH). Ini adalah video dokumenter tentang pengkhianatn wahhaby ini :

Rezim Wahhaby Saudi arabia  adalah madzab sesat buatan yahudi british untuk menghancurkan islam dari dalam serta mengadu domba islam dnegan kristen. Ini bertujuan agar zionis yahudi laknatullah lebih mudah mengusai palestine dan dunia. Inilah pemimpin rezim suadi arabia (Raja fahd) yang dengan bangga berkawan dengan zionis britis dan berkalung salib:

Bush Su\

Logo Resmi Kerajaan British (Inggris) ternyata adalah Logo Freemason Zionist

antichrist prince william

Wahhaby symbol (Saudi arabia kingdom or wahhaby kingdom  symbol)

from : http://www.alriyadh.gov.sa/election/en-sh.asp

An emblem was designed for the elections campaign. It evokes the national symbol of Saudi Arabia and highlights the electoral process as a continuous build up and preservation of the country’s achievements in the field of development.

The campaign also selected a quotation from the address of the Custodian of the Two Holy Mosques King Fahd bin Abdul Aziz (Chief of wahhaby) in which he called on the citizens to practice the election process as it is a participation in the decision making.

DR. Hendro Priyono (Mantan Ketua BIN ) : Wahhaby (agen yahudi) Dalang semua semua Aksi Teroris!

“Zionist yahudi ingin menguasai dunia penghalangnya adalah Islam dan Kristen”bagai mana yahudi untuk mengalahkan islam dan kristen?
1. Yahudi mengadu islam  vs kristen dengan membuat aliran-aliran radikal (spt majelis  mujahidin indonesia (wahaby), noordin M top cs (wahaby), taliban (wahaby)
Sedangkan taliban/alqaida adalah pendatang yang memecah balah umat islam di afgan dan yang merusak perjuangan suci rakyat afgan melawan penjajah, ia menegakan hukum wahaby bukan hukum islam), dsb.

2. Mengadu sesama umat islam (membuat aliran-aliran sesat seperti wahhaby, islam liberal dsb.)

3. Mengadu sesama kristen (seperti membuat aliran-aliran radikal  dalam kristen)

Yang Saya Maksud Wahabi Aliran Keras

Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir.Wahabi aliran keras. Itu yang dimaksudkan Hendropriyono ketika menyebut habitat Noordin M Top sehingga sulit untuk ditangkap. Kepada Sabili di Jogjakarta, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu menjelaskan siapa yang dimaksud dengan Wahabi di balik serangan bom di Indonesia .Dalam sebuah wawancara di stasiun televisi swasta, Jenderal TNI (Purn) Dr. Ir. Drs. Abdullah Mahmud Hendropriyono SH, SE, MBA, MH menyebut Wahabi, terkait dengan rentetan pemboman yang terjadi di negeri ini. Ketika Sabili mengkonfirmasi wahabi yang dimaksud, Hendro menjelaskan panjang lebar.“Ketika itu saya ditanya oleh Metro TV tentang teroris, kenapa masih terus terjadi? Saya bilang, selama lingkungan masih ada yang menerima Noordin M Top, maka terorisme akan terus berlangsung. Agama kita, memberi pengertian yang dalam, bahwa tujuan yang baik tidak harus menghalalkan segala cara. Yang rugi, jelas umat Islam dan negara kita sendiri. Karena itu, harus dihentikan. Tujuan baik kalau caranya salah tetap salah.”

Lantas siapa yang dimaksud dengan lingkungan atau habitat Noordin M Top? Dikatakan Hendro, doktrin klasik kita, cuma mengenal dua, yaitu: al mukminin dan al kafirin. Antara al mukminin dan al kafirin itu ada yang dipertajam, dan ada yang memperhalus. “Yang mengkafir-kafirkan sesama Muslim inilah yang saya maksud sebagai habitat. Abu Ghifari, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) adalah salah satu yang tidak setuju doktrin mengkafir-kafirkan, makanya dia keluar dari JI, tapi bukan berarti dia tidak Islam. Kalau anggota JI punya pendirian seperti dia, Indonesia pasti aman.”

Hendro memberi contoh, Yayasan Muaddib di Cilacap, justru menciptakan masyarakat sendiri. Inilah masyarakat yang menjadi habitat Noordin M Top. Sekarang polisi terus memburu ketua yayasan pesantren itu.


Nasir Abbas


Baca Buku Membongkar “Jamaah Islamiyah”

Menurut Hendro, Noordin M Top punya akses langsung ke Al Qaidah. Karenanya, dunia kecolongan. Usamah bin Ladin dan Aiman Az Zawahir, sudah masuk ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Begitu JI dikendalikan oleh Abu Rusydan dan Nasir Abbas, organisasi itu mulai moderat.

“Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir. Kelompok keras ini beranggapan, dalam Islam tidak ada demokrasi. Menurut saya, setiap negara seyogianya punya filsafat dan ideologinya sendiri. Setelah itu, kita bisa hidup berdampingan secara damai. Tapi kalau mengusung ideologi internasionalisme, tidak bakal ketemu.”

Dikatakan Hendro, bahasa yang digunakan dalam terorisme ternyata terbelah atas dua tata permainan bahasa; mengancam dan berdoa. “Para pelaku terorisme juga mengalami kegagalan kategori, yaitu ketidakmampuan untuk membedakan pengetahuannya sehingga mengakibatkan subjek dan objek terorisme menjadi tak terbatas,” ungkap Hendro yang baru menyandang predikat doktor ilmu filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) dan berhasil meraih cumlaude Sabtu lalu (25/7).

Subjek terorisme mempunyai kondisi kejiwaan yang memungkinkan berkembangnya fisik, emosi dan intelektual secara optimal, karena mereka adalah orang normal, buka orang gila. Semua tindak terorisme, termasuk di Indonesia saat ini, adalah implementasi cara berpikir para pelakunya. Terorisme sendiri terjadi akibat ideologi, bukan kepentingan. “Apa yang bisa menghentikan terorisme adalah dengan menghentikan cara berpikir seorang yang berkepribadian terbelah. Kalau itu berhenti, teroris berhenti.”

Terorisme, kata Hendro, terjadi akibat benturan dua filsafat universal dunia, yakni demokrasi yang tidak dilaksanakan secara etis dan fundamentalisme. Selama keduanya belum berubah ke arah yang lebih baik dan menyatu, terorisme akan terus ada.

Diakui Hendro, di antara ideologi itu, ada yang menginginkan liberalisme dan kapitalistik. Sedangkan Islam menginginkan kekhilafahan. Kalau kita ingin perdamaian dunia, maka harus merupakan sintesis dari dua tesis. Sekuler-liberal dengan Islam yang akomodatif-moderat. “Kalau tidak gitu, gak ketemu. Teror dibalas teror gak selesai. Dunia akan terus kecolongan, sebelum kita selesaikan.”

Jadi yang ngebom-ngebom itu Wahabi, begitu? “Wahabi aliran keras lah yang mengakomodir Noordin M Top masih tetap hidup. Apa susahnya mencari Noordin M Top, dia orang Malaysia, logatnya saja kentara bahwa dia bukan orang Indonesia . Makanya lingkungan atau habitatnya harus dibersihkan. Yaitu aliran keras Wahabi yang kawin dengan aliran keras Ikhwanul Muslimin.”

Bukankah Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin berbeda? “Ya, akhirnya mengerucut di Al Qaidah. Jadi Usamah itu adalah gabungan salafi, wahabi, ikhwan,” terang Hendropriyono.

Seringkali Wahabi dijadikan stigma terhadap kelompok Islam tertentu. Yang ujung-ujungnya adalah Islamphobi. Menanggapi itu, Hendro mengatakan, “Itu orang nggak ngerti. Apa gunanya kita punya kementrian agama, harusnya diberi penjelasan, apa itu wahabi, salafi, Ikhwanul Muslimin dan Al Qaidah, biar jelas. Kalau yang menjelaskan intelijen, saya disalahin melulu. Capek saya,” ujar lelaki kelahiran Yogyakarta , 7 Mei 1945.

Yang jelas, tudingan Wahabi pernah dilekatkan pada PKS dan ormas Islam lainnya. Mereka tidak terima. “Memang, orang pasti akan bertanya, Wahabi yang mana? Salafi yang mana? Itu sama saja menyebut Jawa yang mana? Sekali lagi, yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras yang tidak mau berpartai. Kalau ada yang mengikuti demokrasi, mereka akan mengkafirkan. Ini Wahabi yang saya maksud. Orang yang menyebut kafir karena menolak demokrasi, ini harus dibersihin. Terorisme akan hidup terus selama masih ada orang yang suka mengkafirkan!”

Apakah penyebutan Wahabi ini akan menjadi pukat harimau bagi gerakan Islam? Hendro yang mengaku dari kecil sekolah di Muhammadiyah pun juga Wahabi. Tapi, Hendro mengatakan, Muhammadiyah bukan Wahabi yang merusak. “Mereka takut. Kan saya tidak mau pukul rata, saya bukan orang tolol, ini Wahabi yang mana dulu. Yang maksudkan alah wahabi aliran keras. Memang yang lembut bisa menjadi keras. Itulah harus kita bersihin. Sebut saja Muhammadiyah, ada tarik menarik, untuk menjadi Wahabi, ada pula yang ingin menjadi Liberal. Posisi Muhammadiyah pun jadi rebutan ideologi.”

Perkembangan geopolitik global menjadi penyebab lahirnya terorisme global. Tapi tidak harus teror jawabannya, harusnya uswatun hasanah. Teror itu bukan perang. Hendro tidak setuju, dengan memunculkan Wahabi ini akan melemahkan spirit Islam sendiri. “Oh, nggak, bukan begitu. Kita tidak usah bergantung Wahabi. Kita berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits. Kenapa kita harus ikut-ikutan yang bukan Nabi. Tujuan baik kalau jalannya salah, keliru.”

Persoalannya bukan hanya di dalam internal umat Islam sendiri, melainkan juga keterlibatan unsur asing. Hendro mengatakan, bukan tidak mungkin, ada keterlibatan CIA. Yang jelas, yang bisa menyelesaikan adalah kita sendiri, bukan orang lain. Sebab, jika dari luar, nambah gak karuan negeri ini.

Menurut Hendro, untuk menghancurkan suatu jaringan ada empat poin yang bisa dilakukan. Pertama, tangkap orang-orang kunci. Kedua, putuskan hubungan. Ketiga pangkas support logistic. Keempat bersihkan lingkungan. Kempat inilah yang akan menghancurkan organisasi. Ketika bom berulangkali terjadi, ada kemirisan yang muncul, umat Islam kembali menjadi kambing hitam. “Itulah yang membuat saya sedih. Makanya sebelum saya mati, mudah-mudahan saya masih bisa melihat Indonesia aman, dan menjadi ummatan wahidah, umat yang bersatu. Umat ini terbelah akibat Noordin M Top.” (sabili)

(Oleh Adhes Satria & Eman Mulyatman)

http://swaramuslim.net/more.php?id=6307_0_1_0_M

Perhiasan Untuk Laki-Laki (Hukum emas – perak – cincin – emas putih etc)

Perhiasan Untuk Laki-Laki

cincin berlianAssalamu’alaikum.wr.wb
ana mau tnya apa hukumnx seorng pria memakai perhiasan (khususnx cincin yg terbuat dari emas putih)
terima kasih…

FORSAN SALAF menjawab :

Perhiasan wanita (seperti kalung, anting-anting) haram bagi laki-laki secara mutlak (dari emas atau bukan)  karena tasyabbuh (penyerupaan), kecuali cincin perak, disunnahkan bagi laki-laki dengan syarat tidak mencapai satu mitsqol ( 4 gram). Adapun cincin emas, maka haram, atau cincin perak yang mencapai satu mitsqol dan sudah menjadi ‘urf di daerah itu sebagai isrof, maka haram juga.

Posisi cincin perak disunnahkan di jari kelingking kanan atau kiri.

Emas putih hanya istilah masyarakat Indonesia saja, sebenarnya itu adalah platinum, sehingga dalam hukum tidak berlaku hukum emas. Oleh karena itu, diperbolehkan menggunakan cincin yang terbuat dari platinum.

المنهج القويم شرح المقدمة الحضرمية للهيتمي – (1 / 221(

ولا اتخاذه بلا لبس و حل لمن مر الجلوس عليه فوق حائل فرش عليه ولو خفيفا مهلهل النسج لأنه لا يسمى في العرف مستعملا له ويحرم على الرجل والخنثى المزعفر والمعصفر كما في الروضة وغيرها من تصويب البيهقي وأطال فيه وألحق جمع المورس بالمزعفر لكن ظاهر كلام الأكثرين حله ويحرم على الرجل وغيره استعمال جلد الفهد والنمر ويسن التختم بالفضة للرجل ولو لغير ذي منصب للاتباع والأولى أن يكون دون مثقال فإن بلغ مثقالا وعده العرف إسرافا حرم وإلا فلا على الأوجه وخبر فلا يبلغه مثقالا ضعيف وإن حسنه بعض المتأخرين ويسن كونه في الخنصر اليمنى أو اليسرى للاتباع و لكن اليمنى أفضل لأن حديث لبسه فيها أصح كما قاله البخاري ويكره لبسه في غير الخنصر وقيل يحرم واعتمده الأذرعي ويجوز لبسه فيهما معا وبفص وبدونه وجعله في باطن الكف أفضل ونقشه ولو بذكر ولا يكره ويكره تنزيها للرجل لبس فوق خاتمين وللمرأة لبس أكثر من خلخالين ويجوز التختم بنحو الحديد والنحاس والرصاص بلا كراهة وخبر مالي أرى عليك حلية أهل النار لرجل وجده لابسا خاتم حديد ضعيف لكن حسنه بعضهم فالأولى ترك ذلك والسنة في الثوب والأزار للرجل أن يكون إلى نصف الساقين ويجوز بلا كراهة إلى الكعبين وفي العذبة أن تكون بين الكتفين وفي الكم أن يكون إلى الرسغ وهو المفصل بين الكف والساعد ويكره نزول ذلك عما ذكره ومنه نزول الثوب أو الأزار من الكعبين أي عنهما ويحرم نزول ذلك كله عما ذكر فيه للخيلاء أي بقصده للوعيد الشديد الوارد فيه

الاقناع في حل ألفاظ أبي شجاع – (1 / 316(

يحرم على الرجال ومثلهم الخناثى التختم بالذهب لخبر أبي داود بإسناد صحيح أنه صلى الله عليه وسلم أخذ في يمينه قطعة حرير وفي شماله قطعة ذهب وقال هذان أي استعمالهما حرام على ذكور أمتي حل لإناثهم وألحق بالذكور الخناثى احتياطا واحترز بالتختم عن اتخاذ أنف أو أنملة أو سن فإنه لا يحرم اتخاذها من ذهب على مقطوعها وإن أمكن اتخاذها من الفضة ويحل للنساء لبس الحرير واستعماله بفرش أو غيره والتختم بالذهب والتحلي به للحديث المار ويسير الذهب وكثيره في حكم التحريم على من حرم عليه سواء بلا فرق وإذا كان بعض الثوب إبريسيما وهو بكسر الهمزة وبفتح الراء وفتحهما وكسر الراء ثلاث لغات الحرير وبعضه قطنا أو كتانا جاز لبسه ما لم يكن الإبريسم غالبا فإنه يحرم تغليبا للأكثر بخلاف ما أكثره من غيره والمستوى منهما لأن كلا منهما لا يسمى ثوب حرير والأصل الحل وتغليبا للأكثر في الأولى وللولي إلباس ما ذكر من الحرير

// http://www.forsansalaf.com/2010/perhiasan-untuk-laki-laki/