Inilah bendera / panji nabi dan sahabat ( pasukan dakwah sahabat) : warna Hijau ( real flag of the prophet Muhammad pbuh)

bendera nabi ok

 

 

BENDERA NABI

 

 

Inilah 2 bendera / panji nabi dan sahabat ( pasukan dakwah sahabat) : warna Hijau ( real flag of the prophet Muhammad pbuh)

warna dasar : hijau

merah pada daerah tulisan

tersimpan di museum turki

Maksud hadis “mengikuti al jamaah” adalah mengikuti golongan mayority umat islam dari dulu hingga kiamat (assawad al a’dzhom)

Janganlah mengasingkan diri dari mayoritas kaum muslim  

alfetih shalat

Potongan firman Allah ta’ala yang disalahgunakan oleh kaum Zionis Yahudi untuk menghasut atau melancarkan ghazwul fikri (perang pemahaman) agar kaum muslim tidak mentaati sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mengikuti as-sawad al a’zham (mayoritas kaum muslim) adalah yang artinya

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS Al An’Am [6]:116)

Padahal firmanNya selengkapnya adalah yang artinya

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS Al An’Am [6]:116)

Jadi yang dimaksud “kebanyakan orang-orang yang di muka bumi” adalah orang-orang yang mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” dan dari asbabun nuzul ayat tersebut mereka adalah yang menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

Hadits yang disalahgunakan oleh kaum Zionis Yahudi untuk menghasut atau melancarkan ghazwul fikri (perang pemahaman) agar kaum muslim tidak mentaati sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mengikuti as-sawad al a’zham (mayoritas kaum muslim) adalah

Badaal islamu ghoriban wasaya’udu ghoriba kama bada’a fatuuba lil ghoroba“ ,

Islam datang dalam keadaan asing dan akan akan kembali asing maka beruntunglah orang-orang yang asing itu”.. (Hr Ahmad)

Kalau asing ditengah-tengah orang kafir atau orang yang sesat, tentulah hal yang benar namun asing ditengah-tengah as-sawad al a’zham (mayoritas kaum muslim) maka itulah yang dimaksud keluar seperti anak panah yang meluncur dari busurnya menjadi khawarij atau orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah at Tamimi An Najdi yang pemahamannya telah keluar (kharaja) dari pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a’zham). Khawarij adalah bentuk jamak (plural) dari kharij (bentuk isim fail) artinya yang keluar

Orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim An Najdi , mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan muncul suatu sekte/firqoh/kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya”. (HR Muslim 1773)

Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan” artinya sholat mereka tidak sampai ke hati yakni sholatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar sehingga mereka semakin jauh dari Allah ta’ala

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)

Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS al Ankabut [29]:45).

Contohnya pada masa sekarang mereka yang pemahamannya telah keluar (kharaja) dari pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a’zham) seperti pelaku bom atau pengrusakan masjid, pengrusakan kuburan kaum muslim, pelaku bom bunuh diri di negeri yang dipenuhi kaum muslim dan tidak pula dalam keadaan perang

Mereka bersikap radikalisme atau ekstremisme karena salah memahami firmanNya seperti yang artinya

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (QS At Taubah [9]:123)

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian”. (QS At Taubah [9]:5)

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu; dan fitnah” (QS Al Baqarah [2]:191)

Mereka bersikap radikalisme atau ekstremisme dikarenakan pembagian tauhid menjadi tiga (tauhid Rububiyyah, tauhid Uluhiyyah, tauhid Asma’ was Shifaat) sehingga berkeyakinan bahwa kaum muslim pada umumnya (as-sawad al a’zham) telah kafir, menyekutukan Allah, dan lepas dari tali tauhid

Mereka berakhlak buruk dapat ditimbulkan dari hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi bahwa “Tuhan adalah jauh” bertentangan dengan firmanNya yang artinya “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”. (QS Al Baqarah [2]:186).

Mereka terindoktrinisasi bahwa Tuhan bertempat di suatu tempat yang jauh mengikuti aqidah Fir’aun sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan padahttps://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/09/14/terhasut-aqidah-firaun/

Sehingga mereka secara psikologis atau alam bawah sadar mereka menjauhkan diri dari Allah atau berpaling dari Allah sehingga terbentuklah akhlak yang buruk

Akhlak yang buruk adalah mereka yang tidak takut kepada Allah atau mereka yang berpaling dari Allah atau menjauhkan diri dari Allah karena mereka memperturutkan hawa nafsu.

Firman Allah ta’ala yang artinya

…Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad [38]:26)

Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An’Aam [6]:56 )

Jadi orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim an Najdi adalah korban hasutan atau ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi sehingga mempergunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang kaum muslim

Abdullah bin Umar ra dalam mensifati kelompok khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[Lihat: kitab Sohih Bukhari jilid:4 halaman:197].

Oleh karena itu janganlah menyempal atau mengasingkan diri dari mayoritas kaum muslim (as-sawad al a’zham)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“إِنَّ اللهَ لَا يُجْمِعُ أُمَّةِ عَلَى ضَلَالَةٍ وَيَدُ اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ”

Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku diatas kesesatan. Dan tangan Allah bersama jama’ah. Barangsiapa yang menyelewengkan, maka ia menyeleweng ke neraka“. (HR. Tirmidzi: 2168).

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jama’ah adalah as-sawadul a’zham (mayoritas kaum muslim)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al a’zham (mayoritas kaum muslim).” (HR.Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)

Ibnu Mas’ud radhiallahuanhu mewasiatkan yang artinya: ”Al-Jama’ah adalah sesuatu yang menetapi al-haq walaupun engkau seorang diri

Maksudnya tetaplah mengikuti Al-Jamaah atau as-sawad al a’zham (mayoritas kaum muslim) walaupun tinggal seorang diri di suatu tempat yang terpisah. Hindarilah firqoh atau sekte yakni orang-orang yang mengikuti pemahaman seorang ulama yang telah keluar (kharaja) dari pemahaman mayoritas kaum muslim (as-sawad al a’zham).

Dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jama’ah, karena Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah satu firqah/sekte. Hindarilah semua firqah/sekte itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan”.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan bahwa Islam pada akhirnya akan asing pula sebagaimana pada awalnya karena pada umumnya kaum muslim walaupun mereka banyak dan menjalankan perkara syariat namun mereka gagal untuk sampai (wushul) kepada Allah atau mereka gagal mendekatkan diri kepada Allah ta’ala atau mereka gagal meraih maqom disisiNya

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Islam itu pada mulanya datang dengan asing dan akan kembali dengan asing lagi seperti pada mulanya datang. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing”. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu ?”. Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya manusia”. [HR. Ibnu Majah dan Thabrani]

Orang yang asing, orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak atau orang-orang shalih di antara banyaknya orang yang buruk, orang yang menyelisihinya lebih banyak dari yang mentaatinya”. (HR. Ahmad)

Islam pada awalnya datang dengan asing diantara manusia yang berakhlak buruk (non muslim / jahiliyah). Tujuan beragama adalah untuk menjadi manusia yang berakhlakul karimah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)

Firman Allah ta’ala yang artinya,

Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

Imam Sayyidina Ali ra berpesan, “Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan akhlak mulia sebagai perantara antara Dia dan hambaNya. Oleh karena itu,berpeganglah pada akhlak, yang langsung menghubungkan anda kepada Allah

Salah satu tanda yang utama dari seorang muslim yang dekat dengan Allah adalah berakhlakul karimah sehingga akan berkumpul dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para Nabi, para Shiddiqin dan Syuhada

Firman Allah ta’ala yang artinya,

…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS Shaad [38]:46-47)

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS Al Hujuraat [49]:13)

Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:6-7)

Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)

Muslim yang terbaik bukan nabi yang mendekatkan diri (taqarub) kepada Allah sehingga meraih maqom disisiNya dan menjadi kekasih Allah (wali Allah) adalah shiddiqin, muslim yang membenarkan dan menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat. Bermacam-macam tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan padahttps://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah

Muslim yang bermakrifat atau muslim yang menyaksikan Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh) adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.

Imam Qusyairi mengatakan “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)

Ubadah bin as-shamit ra. berkata, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: “Seutama-utama iman seseorang, jika ia telah mengetahui (menyaksikan) bahwa Allah selalu bersamanya, di mana pun ia berada

Rasulullah shallallahu alaihi wasallm bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا حَفْصٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَآهُ بِقَلْبِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Hafsh dari Abdul Malik dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas dia berkata, “Beliau telah melihat dengan mata hatinya.” (HR Muslim 257)

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”

Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. “Bagaimana anda melihat-Nya?” dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”

Jika belum dapat melihat Allah dengan hati (ain bashiroh) atau bermakrifat maka yakinlah bahwa Allah Azza wa Jalla melihat kita.

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)

Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)

Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu memandang Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga dia dekat dengan Allah ta’ala karena berakhlakul karimah meneladani manusia yang paling mulia Sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

 

Wassalam

 

Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

 

kabar gembira bagi sunni pengikut imam 4 madzab :

Sabda Rasulullah SAW ketika menggali parit dalam peperangan Khandaq, “…Konstantinopel (kini Istanbul) akan jatuh ke tangan tentera Islam. Rajanya adalah sebaik-baik raja, tenteranya adalah sebaik-baik tentera…” (Hadis riwayat Imam Ahmad)
(sultan alfateh turki usmani bermadzzab hanafi-aqidah asya’irah maturudiyah laa wahaby)

ijtima / perhimpunan umat islam di jepang 2014 : japan / jepang juga kirim jemaah dakwah ke seluruh alam

perkembangan umat islam dan dakwahislam di jepang

 

pondok pesantren / madrasah Al fatah temboro : atraksi silat student pondok dakwah

jom silat
pondok pesantren al fatah temboro dan cabang
http://www.youtube.com/watch?v=lEqtWxbgetI

 

 

madrasah alfatah temboro
alhamdulillah tahun 2011 mempunyai murid 14ribu
diseluruh cabang nya di Indonesia 

http://www.youtube.com/watch?v=ApAHcVKl9_w

 

kemuliaan dakwah dan tabligh ( kata kata nasihat /qaul)

” Da’wah suatu kegiatan penyampaian pesan atau nasehat dengan menggunakan kata-kata yang sesuai yang di anjurkan di dalam Al qur’an sbb :
1.Qaulan Sadieda ( Perkataan yang benar ) Al-Ahzab ayat 70-71
2. Qaulan baliigha ( Perkataan yang membekas pada jiwa ) An-nisa’ ayat 63
3. Qaulan layyinana ( Perkataan yang lembut ) Thaha ayat 43-44
4. Qaulan ma’rufa ( Perkataan yang baik ) Al Baqarah ayat 235, S An-Nisa 4-8 , Al Ahzab ayat 33
5. Qaulan masysuura ( Perkataan yang ringan dan mudah ) Al -Isro’ ayat 28
6. Qaulan Karima ( Perkataan yang mulia ) Al Isro’ ayat 23
7. Qaulan tsaqiela ( Perkataan yang berat ) Al -Muzzammil ayat 4

8. Ahsanulqaula (sebaik baik perkataan)
Smoga perkataan yang kita sampaikan melalui lisan kita menjadikan asbab hidayah keseluruh alam..Aamiin..

Jihad nabi dan shahabat itu “tidak menyerang” dan “tidak bertahan” – tapi jihad mereka itu untuk “DAKWAH”

Jihad nabi dan shahabat itu “tidak menyerang” dan “tidak bertahan”, tapi jihad mereka itu untuk “DAKWAH”

jamaah jalan kaki afrika

Syaikh maulana ilyas rah pernah ditanya oleh seorang ulama,
ulama : ” wahai maulana, jihad nabi dan shahabat itu “menyerang” atau “bertahan” ?
syaikh Maulana ilyas rah : Jihad nabi dan shahabat itu tidak menyerang dan tidak bertahan, tapi jihad mereka itu untuk “DAKWAH”

keterangan :
karena haram memerangi suatu kaum sebelum dakwah ..
semua peperangan pasti didahului dakwah yang sempurna bil hikmah

– perang badar dan uhud dgn musyrikin makkah didahului dakwah bil hikamah 13 thn di makkah

– nabi dan shahabat sekurang kurangnya 3 hari dakwah dengan hikmah baru boleh berperang
– Larangan Memerangi Suatu Kaum sebelum Diseru kepada Islam
Baihaqi memberitakan dari Ubay bin Ka’ab ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW dibawakan kepadanya tawanan dari kaum Laata dan Uzza, lIalu Beliau bertanya kepada panglima perang Islam: “Apakah engkau sudah mengajak mereka memeluk Islam, sebelum engkau menawan mereka?”. “Tidak”, jawab panglima itu. Kemudaan Rasulullah SAW pun bertanya kepada orang-orang tawanan itu: “Apakah kaumku telah mengajak kamu memeluk Islam, sebelum kamu ditawan mereka?”. “Tidak, tidak pernah mereka mengajak kami”, jawab mereka. “Bebaskan mereka semua sekarang juga, sehingga mereka kembali ke perkampungan mereka!” perintah Rasulullah SAW kepada panglima pasukan itu. Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman Allah yang berikut, (maksudnya): “Sesungguhnya Kami (Allah) mengutusmu sebagai penyaksi dan pembawa berita gembira dan ancaman. Dan mengajak kamu kepada (agama) Allah dengan keizinanNya dan sebagai pelita yang menerangi!” Sesudah itu dibacakan pula, ayat yang lain (maksudnya): “Dan diwahyukan kepadaku Al-Quran ini untuk aku mengingatkan kamu dengan perintahnya, dan juga kepada semua yang sampai kepadanya ajaranku ini, apakah kamu ingin menyaksikan ada tuhantuhan yang lain di samping Tuhan Allah…” hingga ke akhir ayatnya.
Menurut versi Al-Waqidi bahwa Rasulullah SAW pernah mengutus pasukannya ke suku kaum Laata dan Uzza, lalu mereka memerangi mereka sehingga mereka berhasil menawan orang-orang tersebut beserta keluarga mereka, lalu mereka mengadu kepada Rasulullah SAW kata mereka: “Kaummu telah menyerang kami tanpa terlebih dahulu menyeru kami!”. Rasulullah SAW pun menanyakan perkara itu kepada pasukannya, dan mereka membenarkan pengaduan itu. Maka Rasulullah SAW pun berkata: “Kembalikan mereka semua ke perkampungan mereka dengan penuh keamanan, dan sesudah itu ajak mereka untuk memeluk Islam terlebih dahulu!”.
(Kanzul Ummal 2:297)

https://salafytobat.wordpress.com/2010/01/27/dakwah-dan-jihad-larangan-memerangi-suatu-kaum-sebelum-diseru-kepada-islam/

Hanya dengan “Amal shalih dan dakwah ” maka akan dapatkan kesempurnaan islam – iman dan ihsan (menurut Alquran dan hadis)

hadis mengenai : ISLAM – IMAN – IHSAN:

 

azhira hariza

siti aswj

 عن عمر (رضي الله عنه) أيضاً قال: بينما نحن جلوس عند رسول الله (صلى الله عليه وسلم) ذات يوم إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب، شديد سواد الشعر، لا يرى عليه أثر السفر، ولا يعرفه منا أحد، حتى جلس إلى النبي (صلى الله عليه وسلم) ، فأسند ركبتيه إلى ركبتيه، ووضع كفيه على فخذيه، وقال: يا محمّد أخبرني عن الإسلام؟! فقال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : “الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمداً رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلاً”، قال: صدقت. فعجبنا له يسأله ويصدّقه، قال: فأخبرني عن الإيمان؟ قال: “أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره”، قال: صدقت. قال: فأخبرني عن الإحسان؟ قال: “أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك”. قال: فأخبرني عن الساعة؟ قال: “ما المسؤول عنها بأعلم من السائل”، قال: فأخبرني عن أماراتها؟ قال: “أن تلد الأمة ربتها، وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان”، ثم انطلق. فلبثت ملياً، ثم قال: “ياعمر أ تدري من السائل؟” قلت: الله ورسوله أعلم، قال: “فإنه جبريل أتاكم يعلّمكم دينكم”. رواه مسلم)

Maksudnya:

Daripada Saiyidina ‘Umar Radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam pada suatu hari, tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang lelaki yang memakai pakaian yang sangat putih, berambut sangat hitam, yang tidak ternampak pada dirinya kesan-kesan tanda musafir dan tidak seorang pun di kalangan kami yang mengenalinya. Lalu dia duduk menghampiri Nabi Sallallahu’alaihiwasallam, lalu disandarkan kedua-dua lututnya ke lutut Baginda dan meletakkan dua tapak tangannya atas dua paha Baginda seraya berkata:

Wahai Muhammad! Terangkan kepadaku tentang Islam.

Lalu Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam bersabda: Islam itu bahawa engkau naik saksi bahawa tiada Ilah melainkan Allah dan bahawa Muhammad itu utusan Allah, (dan bahawa) engkau mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan haji ke BaitulLah (Mekah) sekiranya engkau berkuasa mengerjakannya.

Lelaki tersebut berkata: Benarlah engkau.

Maka kamipun merasa hairan kepadanya, dia yang bertanya dia pula yang membenarkannya.

Dia bertanya: Terangkan kepadaku tentang Iman.

Baginda bersabda: (Iman itu ialah) bahawa engkau percaya kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Kiamat dan bahawa engkau percaya kepada Qadar baik dan buruk.

Lelaki itu berkata: Benarlah engkau.

Dia berkata lagi: Terangkanlah kepadaku tentang Ihsan.

Baginda bersabda: Ihsan itu ialah bahawa engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Sekiranya engkau tidak dapat melihatnya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.

Lelaki itu bertanya lagi: Terangkan kepadaku tentang Kiamat.

Baginda bersabda: Orang yang ditanya tentang Kiamat tidaklah lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.

Lelaki itu berkata: Maka terangkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya.
Baginda bersabda: (Antara tanda-tandanya ialah) apabila seorang hamba perempuan melahirkan tuannya dan apabila engkau melihat orang-orang miskin yang berkaki ayam, tidak berpakaian dan papa kedana yang hanya menjadi pengembala kambing berlumba-lumba membina bangunan (iaitu bertukar menjadi kaya raya). Kemudian lelaki itu berlalu, lalu aku terdiam sebentar.

Kemudian Baginda bertanya: Wahai ‘Umar!
Adakah engkau tahu siapa lelaki yang bertanya itu?

Aku berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.

Baginda bersabda: Sesungguhnya dia adalah Malaikat Jibril yang datang kepada kamu untuk mengajar kamu tentang agama kamu.

(Hadis riwayat al-Imam Muslim, al-Tirmizi, al-Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah dan Ahmad, musnad ).

 

 

1. Cara mendapatkan islam yang sempurna

selain mengerjakan rukun islam dan amal shalih lainnya, untuk mendpatkan hakikat islam = kita harus buat dakwah:

 

[41:33] Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru/mengajak kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang  Islam (yang menyerah diri)

tafsir: menurut ulama, seorang akan boleh mendapatkan hakikat islam / mengatakan saya orang islam (islam yang benar /sempurna) setelah ia melakukan dakwah/mengajak manusia kepada agama Allah dan beramal shalih.

 

sedangkan ucapan terburuk:

Luqman:62

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokkan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (Luqman, 31 : 6 )

 

 

 

 

 

2. Cara mendapatkan Iman yang sempurna:

 selain mengerjakan rukun iman  dan amal shalih lainnya, untuk mendapatkan hakikat iman = kita  harus buat dakwah:

[3:110] Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.  (QS Ali imran 110).

khusus dalam ayat ini , lafadz “BER-IMAN” setelah lafadz “menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar”, menurut ulama: ini maksudnya : ” kesempurnaan iman didapat dengan dakwah (amr ma’ruf nahi mungkar”

sebagai mana dalam hadis:

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

[رواه مسلم]

Terjemah hadith / ترجمة الحديث :

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.”(Riwayat Muslim)

 

Iman yang sempurna tanpa SYIRIK didapat dengan dakwah:

[12:108] Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata , Jalanku dan orang-orang yang mengikutiku , Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS Yusuf 108)

 

3. Mendapatkan ihsan yang sempurna

selain berdzikir dan beramal shalih, untuk mendapat hakikat ihsan, maka kita  harus berdakwah/menyebarkan islam dengan  keluar di jalan Allah atau berjihad

 

[29:69] Dan orang-orang yang berjihad/BERKORBAN/berdakwah untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang IHSAN/berbuat baik.

DALAM AYAT ini : berjuang /mendakwahkan agama Allah lebih dahulu setelah janji Allah “Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang IHSAN/berbuat baik.”

dengan ayat ini dapat di tafsirkan pula  : dengan berjuang /mendakwahkan agama Allah akan menjadi mukhsin ( orang yang ihsan)

dengan tetap menjaga dzikir, amal shalih dan terus berdakwah insya Allah, akan mendapat hakikat ihsan:
فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Maksudnya:

“Maka besarlah kecelakaan (azab siksa) bagi mereka yang keras hatinya untuk berzikrullah. Mereka itu adalah dalam kesesatan yang nyata.”     

                                                                                         (Surah al – Zumar, ayat: 22)

 

kisah dakwah waliyullah mencapai derajat makrifat:

kisah waliyullah syaikh abdul qadir jailani , berdakwah meninggalkan kampung halaman selama 25 tahun sperti nabi isa (manaqib syaikh abdul qaidr jailanai)

kisah imam ghazali meninggal kan kampung halaman untuk berdakwah selama 13 tahun seperti nabi ibrahim

kisah waliyullah syaikh mu’inuddin khisti , dakwah meninggalkan kampungnya (iraq) berjalan kaki sampai india, dan mengislamlan lebih 6 juta orang di india (pengazaz thareqat khistyah)