Dalil Hadits Shahih: Sunnahnya Memakai Sorban/ Turban / ‘imamah

Jawaban Al faqih Habib Munzir:
saya jawab secara singkat saja, ketahuilah bahwa sorban itu bukan adat orang arab saja, tapi sunnah Nabi saw, Rasulullah saw memakai surban.

1. dari Amr bin Umayyah ra dari ayahnya berkata : Kulihat Rasulullah saw mengusap surbannya dan kedua khuffnya (Shahih Bukhari Bab Wudhu, Al Mash alalKhuffain).

2. dari Ibnul Mughirah ra, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw mengusap kedua khuffnya, dan depan wajahnya, dan atas surbannya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

3. para sahabat sujud diatas Surban dan kopyahnya dan kedua tangan mereka disembunyikan dikain lengan bajunya (menyentuh bumi namun kedua telapak tangan mereka beralaskan bajunya krn bumi sangat panas untuk disentuh). saat cuaca sangat panas. (Shahih Bukhari Bab Shalat).

4. Rasulullah saw membasuh surbannya (tanpa membukanya saat wudhu) lalu mengusap kedua khuff nya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

dan masih belasan hadits shahih meriwayatkan tentang surban ini, mengenai hadits hadits dhoif itu yg disebutkan, seandainya kesemua hadits itu tidak ada, cukuplah hadits Nabi saw : “Barangsiapa yg tak menyukai sunnahku maka ia bukan golongangku” (Shahih Bukhari).

silahkan bantah sunnah Nabi saw, dan itu tanda keluarnya mereka dari ummat Nabi saw.

Imam Syafii mengeluarkan fatwa bila seorang muslim menghina sunnah maka hukumnya kufur.

mengenai Albaniy sungguh ia tak mempunyai sanad, ia adalah orang biasa yg menukil nukil hadits dari buku buku yg ada, ia bukan muhaddits dan tak berhak menilai hadits, karena ia tak punya satu sanadpun, bagaimana disebut muhaddits?

orang yg tak punya sanad maka fatwanya mardud (tertolak), hujjahnya dhoif dan tak bisa dijadikan dalil untuk berfatwa.

bukti dari kedangkalan pemahamannya adalah pengingkarannya atas sunnah sayyidina Muhammad saw yg jelas jelas teriwayatkan dalam hadits hadits shahih Bukhari, sedangkan Shahih Bukhari adalah kitab hadits terkuat dari seluruh kitab hadits..

Sumber Habib Munzir Al Musawwa

Tambahan admin salafy tobat, Hadits Hadist tentang sorban:

1. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Jabir dikemukakan: “Nabi saw memasuki kota Makkah pada waktu Fathu Makkah beliau mengenakan sorban (‘imamah) hitam.” (HR. At-Tarmidzi. Hadits ini diriwayatan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadits ini pun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir ra.)
2. ‘Amr bin Huraits berkata: “Aku melihat sorban hitam di atas kepala Rasulullah saw.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar, dari Sufyan, dari Musawir al-Waraq, dari Ja’far bin ‘Amr bin Huraits, yang bersumber dari bapaknya.)
3. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Umar ra. dikemukakan : “Apabila Nabi memakai sorban, maka dilepaskannya ujung sorbannya di antara kedua bahunya.” Kemudian Nafi’ berkata: “Ibnu ‘Umar juga berbuat begitu.” ‘Ubaidullah berkata: “Kulihat al-Qasim bin Muhammad dan Salim, keduanya juga berbuat demikian.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al Hamdzani, dari Yahya bin Muhammad al-Madini, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Nafi’, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar.)
4. Ibnu ‘Abbas ra. mengemukakan: “Sesungguhnya Nabi Muhammad berpidato di hadapan ummat. Waktu itu beliau mengenakan sorban, dan sorbannya terkena minyak rambut.” (HR. At-Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Yusuf bin ‘Isa, dari Waki’, dari Abu Sulaiman, yaitu ‘Abdurrahman bin Ghasail, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas)

Advertisements

Kitab Darmogadul : Kitab kristenasasi berkedok ajaran kebatinan / kejawen

DISAMPING banyak berisi penghinaan melalui pemaknaan istilah Islam dengan ungkapan-ungkapan jorok, ternyata Darmagandul juga berisi banyak kisah-kisah yang bersumber dari Bible. Lebih dari itu, ungkapan-ungkapan di dalamnya berisi ajakan untuk meninggalkan ajaran Islam dengan memeluk ajaran Kristen.

Di sisi lain, Darmagandul sendiri banyak memiliki cacat ilmiah. Baik itu karena ada kesalahan dalam data sejarah, kontroversi mengenai identitas penulisnya atau karena karya lain yang menjadi rujukan dalam penulisannya sendiri amat bermasalah.

Namun anehnya, ada pihak-pihak yang masih menjadikan Darmagandul sebagai sumber sejarah dan diperlakukan sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Nah, bagaimana pemaparan selengkapnya?

Tulisan ini lanjutan dari tulisan sebelumnya berjudul: “Otak-Atik Gathuk” Serat Darmagandul [1]

***

Dalam Darmagandul, wali diartikan sebagai walikan (kebalikan). Artinya, para ulama Walisongo telah diberi kebaikan namun kemudian membalas dengan keburukan.

“Punika sadat sarengat, tegese sarengat niki, yen sare wadine njengat, tarekat taren kang estri, hakekat nunggil kapti, kedah rujuk estri kakung, makripat ngretos wikan, sarak sarat laki rabi, ngaben ala kaidenna yayah rina.”

Artinya, ”Lapal semacam itu adalah dinamakan syahadat Syari’at. Sarengat artinya, kalau sare (tidur) kemaluannya jengat (berdiri). Ada perkataan lain yang selalu dihubungkan dengan sarengat, yaitu tarekat, hakekat, dan ma’ripat. Tarekat artinya taren (bertanya, minta setubuh) kepada isteri, hakekat artinya: bersama selesai, lelaki dan wanita harus rukun (solider), ma’ripat artinya: mengerti, yakni mengetahui sarat pernikahan, dan dilakukan di waktu siang juga boleh.”

Demikianlah Serat Darmagandul berbicara mengenai beberapa istilah Islam dan memlesetkannya menjadi ungkapan-ungkapan jorok yang sama sekali jauh dari arti yang sesungguhnya. Hal ini ditunjukkan oleh Prof. H.M. Rasjidi dalam buku “Islam dan Kebatinan”.

Ungkapan uthak-athik gathuk yaitu usaha menghubung-hubungkan sejumlah istilah yang sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan permainan kata-kata agar sesuai dengan kepentingan yang menjadi misinya yang merendahkan Islam banyak dijumpai di Serat Darmagandul. Disamping berbicara mengenai syari`at, tarekat, hakikat atau ma`rifat, ia juga berbicara mengenai Al-Qur`an beserta para rasul.

Al-Qur`an sendiri “ditafsirkan” secara serampangan dengan plesetan. Misalnya, dalam penafsiran Surat Al Baqarah, penulis Darmagandul mengungkapnkan sebagai berikut:

“Tetep ing alame lama, kasebut Dalil Kurani, alip lam mim, dallikale kitabul rahepa pami, lara hudan lilmuttakin, waladina tegesipun, alip punika sastra, urip boten kenging pati, lami-lami mung ngangge alame lama. Alame lam mim dallikal, yen turu nyengkal ing wadi, tegesipun kitabulla,natab mlebu ala wadi,tegese rahabapi, rahaba kang nganggo sampur, hudan lil muttakiina, yen wus wuda jalu estri, den mutena wadi ala jroning ala.”
Artinya, ”Tersebut dalam Al-Qur`an: Alif Lam Mim, dzalikal kitabu la raiba fihi, hudan lilmuttaqien, alladzina …artinya: (menurut Damogandul) Dzalikal, jika tidur kemaluannya nyengkal (berdiri) kitabu la; kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa; raiba fihi perempuan yang pakai kain; hudan; telanjang (bahasa Jawa: wuda) Lil muttaqien; sesudah telanjang kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita … “
Utak-atik kata dari istilah-istilah, yang bertujuan merendahkan Islam dan para utusan Allah bisa juga ditemui di bagian lain dari Darmagandul:

“Niku agami muchammad, saminipun agamine Nuh Nabi, nuh neh remeh kawruhipun, niku nabine bocah, remen rumat abang kuning nedi tuwuk, …”

Artinya, “Itu agama Muhammad, sama dengan agama Nabi Nuh, Nuh adalah remeh pengetahuannya, itu nabinya untuk anak-anak (kekanak-kanakan), suka menyimpan merah kuning (maksudnya: sifat tercela) dan makan kenyang …”

Walhasil, cara pembahasan yang digunakan dalam Darmagandul tidak memiliki patokan metodologi yang jelas dan hanya menyandarkan pada teknik otak-atik gathuk. Dari upaya-upaya yang didukung dengan teknis yang tidak elegan ini, secara jelas telah menunjukkan bahwa Serat Darmagandul memang sekedar ditulis untuk sebuah “permainan” dalam artian perbuatan yang tidak bertanggungjawab. Oleh karena itu, seharusnya sukar menjadi referensi kepustakaan yang bersifat ilmiah, apalagi menjadi sebuah ajaran.

Ada Bible di Darmagandul

Marginalisasi ajaran Islam dilakukan penulis Darmagandul dengan menyatakan bahwa hukum dalam Al-Qur`an sudah tidak berlaku dan sebagai gantinya adalah hukum Kristen.

“Panjenengan Nabi Dawud, putranira kang tuwa, Abe Salam ingkang nami, mungsuh bapa anggege keprabonira. Dawud kengser saking praja, Abe Salam kang gumanti, sawise antara warsa, Nabi Dawud sarta dasih, wangsul amukul nagri, Sang Abe Salam lumayu, angungsi wana-wana, ginawa mbandang turanggi, pan kecantol tenggaknja oyoding wreksa. Kudane mberung lumajar, Abe Salam iku kari, tenggaknya ketjantol lata, gumatung wreksa ngemasi, iku kukume Widi, yen wong mungsuh bapa ratu…”

Itulah sepenggal kisah dari Serat Darmagandul yang mengisahkan tentang perebutan kekuasaan antara Nabi Dawud dan Absalom, puteranya. Demikian terjemahnya lengkapnya, “Putra Nabi dawud yang tua bernama Absalom, melawan ayahnya untuk merebut tahta. Dawud terusir dari istana dan Absalom menggantikannya sebagai raja. Setelah beberapa tahun Dawud kemudian menyerang Absalom dan berhasil merebut negerinya. Absalom melarikan diri dengan mengendarai kuda. Kudanya terus berlari kencang meskipun kepala Absalom menyangkut di dahan pohon, itulah hukum Tuhan, jika anak bermusuhan dengan ayahnya yang seorang raja…”

Kisah kedurhakaan putra Dawud di atas tarnyata hanya dapat dijumpai dari kitab II Samuel pasal 15 hingga 18. Kisah lain adalah cerita Darmagandul bahwa Nabi Dawud menghendaki (berzina) dengan Batsyeba, istri bawahannya yang bernama Uria. Dawud kemudian membuat muslihat agar Uria maju ke barisan terdepan medan pertempuran. Harapannya, Uria akan terbunuh dalam peperangan dan Batsyeba dapat diperistri oleh Dawud. Sumber cerita ini dapat ditelusur berasal dari II Samuel pasal 11 dan 12.

Penyisipan isi Bible ke dalam Darmagandul disamping menggunakan ungkapan yang amat gamblang seperti kasus di atas, terkadang juga menggunakan simbol-simbol. Sebagai contoh, adalah penggunaan ungkapan wit kawruh (pohon pengetahuan), wit kuldi (pohon Kuldi), dan wit budi (pohon budi). Wit kawruh digunakan sebagai simbol untuk mendeskripsikan Agama Nashrani, wit kuldi merupakan simbolisasi Agama Islam, dan wit Budi merepresentasikan “agama asli Jawa” yang oleh Darmagandul disebutkan sebagai Agama Budha. Hal ini dapat dilihat dalam contoh sebagai berikut:

“Lamun seneng neda woh wit budi, mituruta babon, Buda-Budi karan agamane, anyebuta Dewa Batara Di, Lamun seneng bukti, woh wit kajeng kawruh, Anyebuta asmane Jeng Nabi Isa kang kinaot, mituruta Gusti agamane, lamun seneng neda woh wit kuldi, njebuta Jeng Nabi Muhammad Rasulun.”

Artinya, “Jika suka memakan buah Pohon Budi, maka ikutilah induk, Agama Buda-Budi, Sebutlah nama Dewa Batara Di. Jika suka bukti, makanlah buah Pohon Pengetahuan, Sebutlah nama Nabi Isa yang termuat, turutilah Agamanya. Jika suka memakan buah Pohon Kuldi maka sebutlah nama Nabi Muhammad.”

Dari kutipan di atas telah cukup dimengerti bahwa istilah-istilah tersebut mewakili sebuah makna secara khusus. Ide penggunaan simbolisasi agama dengan meminjam nama “jenis pohon” dapat dilacak sumbernya sebagai berikut:

“Darmogandul matur, nyuwun diterangake bab enggone Nabi Adam lan Babu Kawa pada kesiku dening Pangeran, sabab saka enggone padha dhahar wohe kayu kawruh kang ditandur ana satengahing taman firdaus. Ana maneh kitab kang nerangake kang didhahar Nabi Adan lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ana ing swarga. Mula nyuwun diterangake, yen ing kitab Jawa diceritaake kepriye, kang nyebutake kok mung kitab Arab lan kitabe wong Srani.”

Artinya, “Darmagandul berbicara, minta diterangkan bab cerita Nabi Adam dan Hawa yang dihukum oleh Pangeran, sebab telah memakan buah pohon pengetahuan yang ditanam di tengah taman firdaus. Ada lagi yang menerangkan bahwa yang dimakan Nabi Adam dan Hawa itu buah Kuldi, yang ditanam di Surga. Maka minta diterangkan, jika dalam kitab Jawa diceritakan bagaimana, yang menyebutkan mengapa hanya kitab Arab dan kitab Agama Nashrani.”

Ternyata, ide penggunaan istilah “wit kawruh” rupanya diperoleh pengarang Darmagandul dari kitab Suci Kristen. Hal ini dapat dilihat dalam Kejadian 2:16-17 sebagai berikut: “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Jika demikian faktanya, pengarang Serat Darmagandul bisa dipastikan merupakan penganut Kristen yang telah bersentuhan dengan sejumlah cerita Perjanjian Lama. Ide-ide dari kitab tersebut lantas diolah sehingga menghasilkan jalinan cerita dalam Serat Darmagandul. Tidak mengherankan jika kitab berbahasa Jawa berbau pornografi ini kental dengan kisah yang bersumber dari Perjanjian Lama.

Kedekatan Serat Darmagandul dengan Kekristenan ini diakui oleh sejumlah penulis dan akademisi. G. W. J. Drewes, orientalis Belanda, dalam tulisannya “The Struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by Serat Dermagandul” di Jurnal BKI mengungkapkan bahwa buku ini menghadirkan term-term yang menunjukkan adanya pembahasan tentang ajaran Kristen di dalamnya. Philip Van Akkeren, orientalis Belanda lainnya, bahkan berspekulasi bahwa Darmagandul merupakan karya dari seorang Kristen bernama Ngabdullah Tunggul Wulung atau dikenal dengan nama baptis Ibrahim Tunggul Wulung. Ngabdullah merupakan sosok yang intens bersentuhan dengan sejumlah pendeta Kristen Belanda. Teori ini memang mampu menjelaskan keberadaan anasir Kristen dalam Serat Darmagandul. Namun ketidakjelasan argumentasi Van Akkeren dan ketidaksesuaian dengan sejumlah fakta, justru menguatkan bahwa teori ini lemah dan dapat dibantah.

Belakangan, teori Van Akkeren ini nampaknya mendapat dukungan. Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria (KOS), dalam bukunya “ Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen”, senada dengan Van Akkeren menganggap bahwa Tunggul Wulung dimungkinkan merupakan pengarang serat tersebut.

Kristenisasi

Pengarang Serat Darmagandul sejak awal beritikad menampilkan bahwa agama Nashrani lebih unggul dibandingkan agama-agama lainnya. Motif ini dapat ditelisik, dimana Islam senantiasa ditampilkan dalam image negatif. Ajaran Kristen sendiri ditempatkan secara positif dalam gambaran sebagai berikut:

“… Kang diarani agama Srani iku tegese sranane ngabekti, temen-temen ngabekti mrang Pangeran, ora nganggo nembah brahala, mung nembah marang Allah, mula sebutane Gusti Kanjeng Nabi Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, …”

Artinya,”… Yang disebut agama Nashrani adalah sarana berbakti, benar-benar berbakti kepada Tuhan tanpa menyembah berhala, hanya menyembah Allah, maka sebutannya Gusti Kanjeng Nabi Isa itu Putra Allah, sebab Allah yang mewujudkan.”

Selain itu Serat Darmagandul juga mencoba mengetengahkan upaya marginalisasi ajaran Islam dengan menyatakan bahwa hukum dalam Al-Qur`an sudah tidak berlaku dan sebagai gantinya adalah hukum Kristen. Simak ungkapan berikut:

”Kitab ‘Arab djaman wektu niki, sampun mboten kanggo, resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, kitabe Djeng Nabi, Isa Rahullahu.”

Artinya, “Kitab Arab pada jaman ini sudah tidak terpakai sebab hukumnya meresahkan dan tidak adil. Yang digunakan untuk memutuskan perkara adalah kitab Nabi Isa Rahullah.”

Adapun puncak dari seluruh motif dan kepentingan dalam penulisan buku Darmagandul digambarkan dalam suara kutukan roh Prabu Brawijaya terhadap Raden Patah sebagai berikut :

“…eling-elingen ing besuk, yen wis ana agama kawruh, ing tembe bakal tak wales, tak ajar weruh ing nalar bener lan luput, pranatane mengku praja, mangan babi kaya dek jaman Majapahit.”

Artinya, “Ingat-ingatlah besok, jika ada agama pengetahuan, maka akan kubalas, akan kuajari pengetahuan yang benar dan salah, peraturan tata negara, memakan babi seperti jaman Majapahit.”

Puncaknya, Serat Darmagandul ingin mengatakan bahwa Islam akan kalah oleh agama kawruh, dalam hal ini sebangun dengan pohon pengetahuan yang maksudnya adalah Kristen. Serat Darmagandul seolah-olah sedang memberikan ramalan masa depan bahwa Islam di Jawa akan ditundukkan oleh Kristen yang dianggap akan mengajar benar dan salah serta menghalalkan babi. Maka telah jelas bahwa penulisan Darmagandul sejak awal dimaksudkan guna kepentingan misi penginjilan, bukan kitab bagi kalangan kebatinan. */Susiyanto, SAHID

Dalil Hadits : Sunnahnya Memakai Kopiah / peci /tutup kepala

Pemakaian Penutup kepala(kopiah)


BismillahirahmanirRahim

Nah-Ma`duhu Wanusolli-Mu`ala-Rasuulihil- Kareem..

Pemakaian Penutup kepala(kopiah)

Alhamdulillah,segala syukur kepada Allah S.W.T dan salam kepada jujungan kita,Muhammad S.A.W,yang memberi sinar cahaya kehidupan yang baru di atas muka bumi ini.Disini hamba yang lemah lagi fakir ini akhirnya dapat menyiapkan terjemahan dari bahasa urdu tentang penekanan pemakaian penutup kepala. Kepada semua Rakan-rakan seagamaku,baik semasa kecil,remaja dan dewasa ini,seta muslimin,muslimat sekalian dan orang yang mengucap kalimah syahadah,bangkitlah dengan hati ikhlas dan terbuka..dan buatlah usaha pada agama kesayangan ini yang sedang menuju kehancuran ini,yakni pengorbanan,diri,harta,masa untuk agama Allah S.W.T dan supaya ummah Nabi S.A.W dapat direalisasikan dan diwujudkan.Berjalan pada jalan yang benar dan iman akan mengikutinya.Ia mungkin menjadi ummah dan mengamalkan zikir,tasbihat,taklim,berjuang di jalan Allah,membuat membantu(khidmat) pada rakan seagama,bertimbang-rasa,menghormati dan memuliakan yang lain.Dan apabila pengorbanan dibuat,maka sifat-sifat kebatilan,keburukan dan penyakit hati akan dibuang sedikit demi sedikit dengan usaha ini.Apabila usaha ini diambil,walaupun dijalankan di satu kawasan sahaja di atas muka bumi ini,ia akan tersebar ke seluruh alam.Disini hamba berharap semoga para muslim yang membaca alih bahasa dari kitab ini dapat memeberi penekanan tentang pentingya pemakaian penutup kepala. walaubagaimanapun,disebabkan perkara yang ingin hamba sampaikan ini penting,hamba menulis..sesiapa yang faham dan bertindak padanya,Allah S.W.T akan membuatkan dirinya bersinar,atau..dia seolah-olah memotong kakinya sendiri..

Penekanan tentang pemakaian penutup kepala oleh di dalam linkungan Sunnah Nabi S.A.W dan yang dipraktikkan oleh Sahabat (R.Anhum) dan Tabieen.

1.“hazrat Ibnu Umar R.Anhu meriwayatkan bahawa Nabi S.A.W menggunakan penutup kepala berwarna putih.” (tabrani)

(Allama suyooti rah. telah menulis di dlm kitab Jamius Sagheer yang mana sanad Hadith ini ialah hassan.komentator kitab jamiu`s sagheer,Azzezi telah memahami penulisan Allama suyooti ramatullah alaih.)

(As-Sirajuul Muneer,jilid ke-4 mukasurat 112)

2. “telah dilaporkan bahawa dari Ibnu Umar R.Anhu bahawa Nabi S.A.W memakai penutup kepala berwarna putih.”(mujamul kabeer dari tabrani)

(terdapat kemusykilan kepada salah seorang perawi,Abdullah Ibnu Khirash,pada hadith ini.Ibnu Hibban telah menulis bahawa dia dipercayai tetapi mungkin ada juga belaku sedikit kesilapan.Muzakarah pada Muhaddith ialah bahawa beliau perawi hadith yang lemah manakala para perawi lain adalah boleh dipercayai.

(Majmud-Zawaaid Haisani jilid ke-2 mukasurat 124)

3.”telah dilaporkan bahawa dari Ibnu Umar bahawa Nabi S.A.W memakai penutup kepala berwarna putih.”
(ini ialah hadith lemah –tazkiratul maudu`aat-mukasurat 155)

(Tabrani telah melaporkan bahawa di dalam mujamal aw`sat daripada gurunya Muhammed Ibnu Haneefa Waasiti.Walaubagaimanapun ia didapati lemah)

(Majmud-Zawaaid Haisani jilid ke-2 mukasurat 124)

4.Abu Sheikh melaporkan dari Ibnu Abbas R.Anhu bahawa Nabi S.A.W mempunyai 3 penutup kepala sepanjang kehidupannya.

(Bajhul Majhood,jilid ke-6,mukasurat 52)

5”.di dalam “mukhtasar”,kehidupan Nabi S.A.W,terdapat 3 jenis penutup kepala yang didapati,petama ialah seperti rupa kopiah yang mana di dalamnya mempunyai garisan padanya.yang kedua ialah yang diperbuat daripada kain hibarah dan yang ketiga ialah penutup kepala yang menutupi telinga,yang mana selalunya Baginda memakainya di dalam safar (perjalanan dan semasa namaaz.”

6.”Hazrat Aisyah R.Anhu meriwayatkan bahawa Nabi S.A.W memakai penutup kepala berwarna putih yang mana berbentuk rata dan menutupi dan mengikuti bentuk kepalanya.”
(Ibnu Assakir melaporkan ini,walaubagaimanapun,sanad (rantaian perawi Hadith) ialah lemah)

(Faizuul-Kadeer,jilid ke-5,mukasurat 246)

7.”Nabi S.A.W telah berkata bahawa muhrim (orang di dalam ihram),janganlah memakai kurta,seluar,serban dan “burnus”(sejenis bentuk penutup kepala)(Baginda tidak akan memakai pakaian jenis ini pada masa itu).”

(Bukhari Shareef jilid 1,mukasurat 209,dan jilid ke-2 mukasurat 864)
*adalah diketahu bahawa orang dimasa itu pemakaian penutup kepala telah menjadi kebiasaan di zaman Nabi S.A.W.*

8.Riwayat oleh Ibnu Abbas telah diterangkan (rujuk no.29) yang mana subjek berkaitan,iaitu bahawa Nabi S.A.W akan memakai penutup kepala di dalam serbannya.
Dan ada masanya Baginda hanya memakai penutup kepala “

(Ibnu Assakir,meriwayatkan hadith ini,sanadnya lemah)

9.”Hazrat Aisyah R.Anhu meriwayatkan bahawa akan memakai penutup kepala yang akan menutupi sekali bahagian telinganya dan semasa berada di rumah,Baginda akan memakai yang kecil(seperti kopiah Syria)jenis penutup kepala.Abu Shaikh yang meriwayatkan Hadith ini.Iraaqi menulis bahawa hadith berkenaan tentang pemakaian penutup kepala pada hadith ini ialah yang paling sahih sumber dan dipercayai.”

(Faizuul-Qadeer jilid ke-5,mukasurat 246)

Hadith ini telah melepasi dibawah hadith yang dilampirkan disini bernombor 29)

10.”Abu Kabshaa Anmaan meriwayatkan bahawa penutup kepala dipakai oleh para Sahabat R.Anhum terkeluar dan rata.”

(Tirmizi,Hadith ini lemah,mukasurat 308)

Hazrat Gangohi R.Alaih menerangkan bahawa maksud perawi yang mana “kepala merka tertutup.penutup kepala itu tidak akan tercabut dari tetapi rata dan tertekan pada kepala.

(Alkaukabud Durrie jilid ke-2 ,mukasurat 452.)

Penekanan pemakaian penutup kepala oleh Sahabat R.Anhu dan Tabieen.

11.Zaid Ibnu Jubair mengatakan bahawa beliau nampak Abdullah Ibnu Zubair R.Anhu memakai penutup kepala.(di dalam pengucapan perkataan bahasa arab “burtula” muncul untuk merujuk kepada sejenis bentuk penutup kepala.

Hisham Bin Urwa juga mengatakan bahawa beliau nampak Ibnu Zubair (R.Anhu) memakai penutup kepala yang bahannya nipis.

12. Eesa Ibn Tahmaan mengatakan bahawa beliau nampak Anas Bin Malik (R.Anhu) memakai penutup kepala.Di dalam perkataan “burnus” dengan memebawa maksud penutup kepala yang panjang.

(di dalam Bukhari juga pemakaian tentang penutup kepala oleh Anas (R.Anhu) diterangkan di dalam jilid ke 2,mukasurat 863.)

13.Bapa kepada Ash`as melaporkan bahawa beliau nampak Abu Musa Ashaari (R.Anhu)
Keluar dati tandas.Abu Musa memakai penutup kepala.

14.Ismael mengatakan bahawa beliau Nampak Shuriah memakai penutup kepala.

15.Abu Shihaab mengatakan bahawa beliau Nampak Saeed Ibnu Jubair (R.Anhu)
Memakai penutup kepala
(kedua Shihaab dan Ibnu Jubair ialah tabiees)
Ali Ibn Hussain (i.e Hazrat Zainul Abideen),Ibrahem Nakhee dan Dahaak sering dilihat memakai penutup kepala.

(kesemua rawian ini telaj dilaporkan di dalam dengan sanadnya dalam Musannaf Ibn Abi Shaiba jilid ke-8 pada mukasurat 212,213,242)

Hazrat Ali (R.Anhu) telah dilihat memakai penutup kepala mesir berwarna putih.
(Tabaqaat Ibnu Saad urdu jilid ke-3 mukasurat 187)

Penekanan tentang pemakaian penutup kepala oleh Abu Ishaq Sabee Tabiee dijumpai di dalam Bukhari (Jilkid petama ,mukasurat 159)

Ibnu Ul –Arabi menulis “pemakaian penutup kepala telah diapakai oleh hamper kesemua Ambiyaa dan orang Alim.Ia melindungi kepaa dan membolehkan serban yang dipakai tetap di tempatnya,yang mana ia sunnah.penutup kepala seharusnya muat mengikut bentuk kepala dan tidak berupa seperti dome.ada juga orang yang membuat lubang pengudaraan pada penutup kepala untuk menyejukkan dan memberikan udara masuk pada kepala dan membolehkan udara panas keluar,dan ia adalah salah satu jenis rawatan kepala.(ia tidak dilakukan kecuali terpaksa)

(Faizul Kadeer jilid ke-5 ,mukasurat 247)

Hamba Fakir kepada Allah yang maha kaya,

Muhammad_Efendie,

Sumber Rujukan:

1.Sub Topik:
Topee in the light of Sunnah and practice of the Sahaba and Tabieen
-by_Maulana Fazlur Rahman Saheb

2.Raudhul Muhtaar (Shaami)-Darre Sa`adah

3.Khasail Nabawi -(komentar dalam Shamail Al Tirmizi)1960,Kabeeri Shaarah Muniyyatul Mussali,Fatawa Raheemia

4. Sharah Shamaail-Oleh Allama Ahdul Raoof Munawi (nota)

5. Jamul wasa’il oleh Mulla Ali Qari Rahmatullah Alai`h,Al Maqaisidul Hassanah by Allma Sakhawi,Faizul Qadeer and sharah Jamius Sagheer,Al-Isaba by Hafiz Ibn Hajar,Fathuul Baari Ibn hajar with footnote of Sheikh Bin Baaz, Mukaddama Fathul Bari Ibn Hajar
– all reference this section is from Beirut,Lebanon.

6. Sahih Bukhari,Sahih Muslim,Jami tirmizi,Ibnu Majjah,Musnnaf Ibn Abi Shaiba,Shamail Tirmizi,Al Mustadrak lil Hakiini,Abu Dawood,Bazlul Majhood,Ummadatul Qaari,Alaaf ul Shazi Maa`na Tirmizi,Naafil Mufti was Saail by Maulana Abdul Hay Lakhnawi,Fatwa Rasheedia,
– all reference this section is from Pakistan

7.Durrul Mukhtar ma Raddhul Mukhtar-Darrus` saadah.

8.Alsira Jul Muneer-(komentari Jamius Sagheer –Madinah, Saudi Arabia.

Buku Baru : Mereka (wahabi salafi) memalsukan kitab kitab klasik karya ulama salaf

Tanbihun – Apapun akan diusahakan oleh sekte Salafi Wahabi untuk membentengi dan memperkokoh ajaran menyimpang mereka yang rapuh secara dalil (naqli) maupun secara ilmiah (‘aqli). Di antara cara-cara tak terpuji yang mereka lakukan adalah penyelewengan isi kitab-kitab turats dan makhthuthât (manuskrip) dari teks aslinya, baik dengan menghapus, menambah dan mengubah tulisannya, ataupun membelokkan maksud dan artinya dalam edisi cetakan mereka.
(Link Sponsor) :

MAKA tidak mengherankan jika Anda menemukan para pengikut Salafi Wahabi begitu fasih mencuplik pendapat ulama Ahlussunnah kenamaan yang selama ini menjadi rujukan Anda. Akan tetapi, jika Anda teliti lebih jauh, ternyata pendapat yang mereka cuplik itu telah diolah sedemikian rupa oleh tangan-tangan terampil para pemalsu kitab!

BUKU ini berisi bukti-bukti ilmiah tentang pemalsuan teks-teks keagamaan yang dilakukan oleh Sekte Salafi Wahabi. Mulai dari kitab tauhid, kitab tafsir, kitab hadits, hingga kitab fikih. Baik karya ulama klasik maupun tulisan ulama kontemporer. Tidak berlebihan jika dikatakan, inilah buku pertama di Indonesia yang membongkar penyelewengan sekte Salafi Wahabi terkait pemalsuan kitab-kitab. Buku ini mengajak siapa saja, para kiai, para ustadz, para santri, hingga para awam, agar mengenal dan mewaspadai cara-cara kurang terpuji yang dilakukan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab demi menopang klaim kebenaran yang mereka propagandakan.

Meski ada tantangan Salafi radikal dan juga Wahabisme yang bersifat trans-nasional dalam beberapa tahun terakhir—masa pasca-Soeharto—tapi Islam washatiyah tidak tergoyahkan. Walaupun demikian, penguatan dan pemberdayaan Islam washatiyah Indonesia tetap diperlukan. (Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., M.Phil., Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

“Saya rasa, rumah-rumah setiap muslim perlu dihiasi dengan buku penting seperti ini, agar anak-anak mereka juga turut membacanya, untuk membentengi mereka dengan pemahaman yang lurus. Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih-sayang.” (Ust. H. Muhammad Arifin Ilham, Pimpinan Majelis Zikir az-Zikra)

“Saya merinding membaca buku ini, seakan tidak percaya, tapi itulah kenyataannya. Sebuah realitas tentang Salafi Wahabi yang dikupas secara apik dan rapi dengan bahasa yang menarik dan enak dibaca.” (Dr. KH. Rohimuddin Nawawi al-Bantani al-Azmatkhan, M.A., Pimpinan Lembaga Dakwah dan Irsyad Dar al-Hasani Cairo, Egypt)

“Buku penting! Itulah kesan pertama setelah saya membaca buku ini. Anda tidak akan merugi jika memiliki buku langka ini. Karena pengetahuan di dalamnya sangat berharga. Saya merekomendasikan Anda memiliki buku ini!” (Prof. Dr. KH. Hamdani Anwar, M.A., Guru Besar Fakultas Ushuluddin & Filsafat UIN Jakarta)

“Buku ini sangat dahsyat dan mencengangkan, memuat informasi-informasi penting dengan kupasan yang akurat dan ilmiah. Umat Islam perlu mengetahuinya untuk menambah wawasan dan mengenal Islam lebih dalam.” (KH. Wahfiudin, M.B.A., Dai Nasional)

Ilmu Hadits 2 : Skema Unsur Hadis (Sanad dan Matan)

Skema Unsur HadisUnsur hadis adalah Sanad dan Matan.

I. Sanad

Sanad adalah rangkaian periwayatan hadis. Seperti gambaran berikut ini:

Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadis dari al-Humaidi Abdullah ibn al-Zubair dari Sufyan dari Yahya ibn Sa’id dari Muhammad ibn Ibrahim al-Taimi dari al-Qamah ibn Waqqas dari Umar ibn al-Khattab dari Rasulullah saw.

Urgensi Sanad dalam Hadis

Dalam hadis, kritik sanad termasuk kajian yang mendapat perhatian lebih dari para kritikus hadis, bahkan sejak zaman Nabi, dan hal itu berjalan sampai sekarang.
Pada zaman Nabi, diantaranya dengan cara Nabi menyebutkan bahwa beliau mendapat hadis dari Malaikat Jibril as.
Contoh dari sahabat yaitu dengan cara sahabat yang satu menanyakan kepada sahabat yang lain dari mana mendapatkan hadis tersebut.
Adapun urgensitas sanad tersebut adalah karena :

•Hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam
•Tidak seluruh hadis tertulis pada zaman Nabi
•Munculnya pemalsuan hadis
•Proses penghimpunan hadis yang cukup lama
Keshahisan Sanad Hadis

Dalam hadis, tidak semua perawi yang meriwayatkan hadis dikategorikan shahih dan periwayatannya diterima, karena mereka ada juga yang mempunyai cacat.
Adapun syarat sanad hadis bisa diterima, jika memenuhi syarat sebagai berikut :

•Sanadnya bersambung
•Periwayat bersifat adil
•Periwayat bersifat dhabit
•Terhindar dari syadz
•Terhindar dari ‘Illat
Mengapa ada Hadis yang Shahih dan Dha’if

Keshahihan hadis dilihat dari kekuatan sanad dan kebenaran matan.
Konsep Kekuatan sanad dilihat dari kredibilitas pera perawinya dan kesinambungan jalurnya.
Konsep Kebenaran matan dilihat dari kemungkinan bahwa itu adalah perkataan seorang Nabi.

Riwayat Penguat

Dalam sebuah hadis, ada permasalahan bahwa hadis tersebut mempunyai kualitas yang lemah, bisa jadi karena hanya diriwayatkan oleh seorang perawi.

Kondisi tersebut bisa meningkat kualitasnya, dengan adanya riwayat penguat yaitu : Status Mutaba’ah, Syawahid dan Mahfudz.

1. Pengertian Mutaba’ah

Ada yang menyamakan Mutabi’ dengan syahid, tetapi ada juga yang membedakan. Adapun yang membedakannya mendefinisikan
pengertian mutaba’ah atau mutabi’ adalah suatu riwayat yang mengikuti periwayatan orang lain dari guru yang terdekat atau gurunya guru. Atau dengan pengertian hadis mutabi’ adalah hadis yang diriwayatkan oleh periwayat lebih dari satu orang dan terletak bukan pada tingkat sahabat Nabi.
Riwayat mutabi’ biasanya berada pada tingkat tabi’in, oleh karenanya disebut dengan mutabi’ kalau penguat tersebut ada pada tabi’in.
Mutabi’ di sini biasanya menjadi penguat bagi riwayat hadis lain yang kurang kuat.

Pembagian Mutaba’ah, Riwayat mutabi’ terbagi menjadi dua macam, yaitu :

1.Mutabi’ tam, yaitu apabila periwayat yang lebih dari satu orang itu menerima hadis tersebut dari guru yang sama. Atau apabila periwayatan mutabi’ itu mengikuti periwayatan guru (mutaba’a) dari yang terdekat sampai guru yang terjauh.
2.Mutabi’ Qashr, yaitu apabila para periwayat tersebut menerima hadis itu dari guru yang berbeda-beda atau apabila periwayatan mutabi’ itu mengikuti periwayatan guru yang terdekat saja, tidak sampai mengikuti gurunya guru yang jauh sama sekali.
2. Pengertian Syawahid

Riwayat syawahid adalah riwayat lain yang diriwayakan dengan cara meriwayatkannya dengan sesuai maknanya.
Ada yang mendefinisikan, syahid adalah hadis yang periwayat di tingkat sahabat Nabi terdiri dari lebih seorang.
Syawahid ini pada intinya juga sebagai riwayat penguat atas riwayat yang lain, tetapi biasanya penguat tersebut ada pada tingkat sahabat.

Syawahid ini terbagi menjadi dua, yaitu :

1.Syahid bi al-Lafdz, yaitu apabila matan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang lain sesuai dengan redaksi dan maknanya dengan hadis yang dikuatkan.
2.Syahid bi al-makna, yaitu apabila matan hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang lain, namun hanya sesuai dengan maknanya secara umum.
3. Pengertian Mahfudz

Mahfudz adalah suatu riwayat yang mempunyai ketersambungan sampai pada Nabi.
Mahfudz bisa masuk dalam kategori sanad dan matan.
Riwayat mahfudz adalah kebalikan dari riwayat yang mengandung syadz, oleh karenanya bisa dijadikan sebagai penguat dari syadz itu sendiri.

Sumber: DVD Hadis & Ilmu Hadis.

Kajian ilmu Hadits 1: Definisi & Sumber Hadis

Definisi Hadis

هو الذي يقوم على نقل ما أَضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم من قول أو فعل أو صفة, و ما أضيف إلى أصحابه والتابعين

Hadis adalah semua yang dinisbatkan kepada Rasulullah saw, baik perkataan, perbuatan, persetujuan dan sifat baginda, juga yang dinisbatkan kepada Sahabat dan Tabi’in.

Sumber Hadis

•Rasulullah saw
•Sahabat
•Tabi’in
Sinonimitas Hadis

Ada juga yang membedakan antara hadis, sunah, khabar dan atsar.

Khabar (خبر) adalah berita. Kebanyakan ulama menyamakan antara hadis dan khabar.

Atsar (أثر) lebih diidentikkan dengan apa yang diterima dari sahabat.

Sunnah secara umum adalah segala apa yang disandarkan pada Nabi artinya sinonim dengan hadis, tetapi yang membedakan adalah:

•Ahli Hadis berpendapat: Sunnah adalah perkataan, ketetapan, sifat atau tingkah laku Nabi saw.
•Ulama Fiqih berpendapat: Sunnah adalah hal-hal yang berasal dari Nabi saw baik ucapan maupun pekerjaan, tetapi hal itu tidak wajib dikerjakan.
Contoh Sumber Hadis Rasulullah saw :

حدثنا الحميدي عبد الله بن الزبير قال حدثنا سفيان قال حدثنا يحيى بن سعيد الأنصاري قال أخبرني محمد بن إبراهيم التيممي أنه سمع علقمة بن وقاص الليثي يقول سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه على المنبر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرىء ما نوى فمن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو إلى امرأة ينكحها فهجرته إلى ما جاهر إليه )

Contoh Sumber Hadis dari Sahabat :

حدثنا الحسن بن الصباح سمع جعفر بن عون حدثنا أبو العميس أخبرنا قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب عن عمر بن الخطاب أن رجلا من اليهود قال له
: يا أمير المؤمنين آية في كتابكم تقرؤونها لو علينا معشر اليهود نزلت – لاتخذنا ذلك اليوم عيدا . قال أي آية ؟ قال {اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا} . قال عمر قد عرفنا ذلك اليوم والمكان الذي نزلت فيه على النبي صلى الله عليه و سلم وهو قائم بعرفة يوم جمعة
http://pusatkajianhadis.com/?q=content/definisi-sumber-hadis

Dalil Hadits rahasia Amalan 40 hari : puasa, ibadah, tawajuhhan dzikir, dakwah

Hadits riwayat Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam kitab Al-Hilyah :

Nabi Muhammad Saw. bersabda yang maksudnya : “Barangsiapa mengikhlashkan dirinya kepada Allah (dalam beribadah) selama 40 hari maka akan zhahir sumber-sumber hikmah daripada hati melalui lidahnya”. (HR. Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam alhilyah).

– Imam at Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ

“Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani (wahabi majnun) di kitab Shahih Al Jami’ II/1089, Al-Silsilah al-Shahihah: IV/629 dan VI/314).
– hadits yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Anas bin Malik radliyallah ‘anhu:

مَنْ وَاظَبَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً لا تَفُوْتُهُ رَكْعَةٌ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا بَرَاءَتَيْنِ، بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ

“Siapa yang menekuni (menjaga dengan teratur) shalat-shalat wajib selama 40 malam, tidak pernah tertinggal satu raka’atpun maka Allah akan mencatat untuknya dua kebebasan; yaitu terbebas dari neraka dan terbebas dari kenifakan.” (HR. Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, no. 2746)

– Dalam kitab syarah al-hikam

Nabi SAW bersabda :” Barangsiapa Yang Mengamalkan Ilmu Yang Ia Ketahui Maka Allah Akan Memberikan Kepadanya Ilmu Yang Belum Ia Ketahui”.

– Hadits qudsy shahih Riwayat Hakim

Dari Abu Darda Ra. berkata : “Aku mendengar Rasulullah Saw. Bersabada, “Sesungguhnya Allah Swt berfirman kepada Isa As. : “Aku akan mengirimkan satu umat setelahmu (ummat Muhammad Saw.), yang jika Aku murah hati pada mereka, mereka bersyukur dan bertahmid, dan jika Aku menahan diri, mereka sabar dan tawakal tanpa [harus] mempunyai hilm (kemurahan/kemurahan hati) dan ‘ilm (ilmu) .” Isa bertanya: “Bagaimana mereka bisa seperti itu ya Allah, tanpa hilm dan ‘ilm?” Allah menjawab: “Aku memberikan mereka sebagian dari hilmKu dan ‘ilmu-Ku.” [HR. Hakim. Katanya Hadits ini shahihmenurut syarat Bukhary, tetapi ia tidak meriwayatkannya, sedangkan adzahaby menyepakatinya”. I/348]

Keterangan : Hadits ini juga terdapat pada Muntakhab hadits SyaikhulHadits Maulana Yusuf, Hadits No. 27, Bab ikhlash dan Juga terdapat pada kitab Ucapan Nabi Isa as dalam kisah-kisah literature umat islam, Tarif Khalidi.

– Dalam hadits qudsy (Kitab Futuh Mishr wa Akhbaruha, Ibn ‘Abd al-Hakam wafat 257 H).

Allah mewahyukan kepada Isa untuk mengirimkan pendakwah ke para raja di dunia. Dia mengirimkan para muridnya. Murid-muridnya yang dikirim ke wilayah yang dekat menyanggupinya, tetapi yang dikirim ke tempat yang jauh berkeberatan untuk pergi dan berkata: “Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa dari penduduk yang engkau mengirimkan aku kepadanya.” Isa berkata: “Ya Allah, aku telah memerintahkan murid-muridku apa yang Kau perintahkan, tetapi mereka tidak menurut.” Allah berfirman kepada Isa: “Aku akan mengatasi masalahmu ini.” Maka Allah membuat para murid Isa bisa berbicara dalam bahasa tempat tujuan mereka diutus.

– Dalam hadis qudsi, Nabi Isa as. Juga bersabda:

“Isa As. berkata: “Buat kalian tidak ada gunanya mendapat ilmu yang belum kalian ketahui, selama kalian tidak beramal dengan ilmu yang telah kalian ketahui. Terlalu banyak ilmu hanya menumbuhkan kesombongan kalau kalian tidak beramal sesuai dengannya.” [ Diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 327. Dan (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:69-70].

https://salafytobat.wordpress.com/200…l-ilmu-laduni/
https://salafytobat.wordpress.com/2011/07/17/densus-99-laskar-ahlusunnah-indonesia-siap-hadapi-wahabi-radikal-teroris-antek-alqaida/