Bocoran wikileaks : Pangeran Saudi Doyan pesta alkohol dan Narkoba


foto Para anggota penjaga kehormatan tradisional kebudayaan badwi najd Saudi merayakan akhir Ramadhan.

JEDDAH, KOMPAS.com — Para diplomat AS dalam kawat diplomatik yang dibocorkan WikiLeaks menggambarkan dunia seks, narkoba, dan rock ‘n roll di balik kasalehan formal Kerajaan Arab Saudi.

Para pejabat Konsulat AS di Jeddah menggambarkan sebuah pesta Halloween bawah tanah yang digelar tahun lalu oleh seorang anggota keluarga kerajaan, yang menabrak semua tabu di negara Islam itu. Minuman keras dan para pelacur hadir dalam jumlah berlimpah di balik pintu gerbang vila yang dijaga ketat. Demikian menurut bocoran itu.

Pesta tersebut digelar oleh seorang pangeran kaya dari keluarga besar Al-Thunayan. Para diplomat itu mengatakan, identitasnya harus dirahasiakan.

“Alkohol, meskipun sangat dilarang oleh hukum dan pabean Saudi, sangat berlimpah di bar pesta itu dengan koleksi yang lengkap. Bartender Filipina yang disewa menyajikan koktail sadiqi, sebuah minuman keras buatan lokal,” kata kawat itu sebagaimana dilansir The Guardian. “Juga diketahui dari mulut ke mulut bahwa sejumlah tamu (pada pesta itu) ternyata “gadis panggilan”, sesuatu yang tidak biasa untuk pesta semacam itu.

Kiriman informasi dari para diplomat AS itu ditandatangani oleh konsul AS di Jeddah, Martin Quinn, yang menambahkan, “Meski tidak menyaksikan langsung peristiwa tersebut, kokain dan hashishsh (ganja) digunakan secara umum dalam lingkungan sosial semacam itu.”

Pesta bawah tanah sedang “berkembang dan berdenyut” di Arab Saudi berkat perlindungan dari Kerajaan Arab Saudi. Namun, pesta semacam itu hanya tersedia di balik pintu tertutup dan untuk orang yang sangat kaya. Terdapat sedikitnya 10.000 pangeran di kerajaan itu. Beberapa masih merupakan keturunan langsung Raja Abdul Aziz, sementara yang lain berasal dari cabang keluarga yang tidak langsung.

Para diplomat yang hadir dalam pesta itu melaporkan, lebih dari 150 pria dan perempuan Saudi, sebagian besar berusia 20-an dan 30-an tahun, hadir dalam pesta tersebut. Orang-orang yang masuk dikontrol melalui daftar tamu yang ketat. “Adegannya mirip sebuah klub malam di mana pun di luar kerajaan itu: banyak alkohol, pasangan muda yang menari-nari, seorang DJ dengan meja turntable, dan semua orang berdandan.”

Menurut bocoran itu, rak di bar tempat pesta itu menampilkan jenis-jenis minuman keras terkenal.

Para diplomat tadi juga coba menjelaskan mengapa sang tuan rumah begitu lengket dengan pengawal Nigeria, yang beberapa di antaranya berjaga-jaga di pintu. “Sebagian besar pasukan keamanan sang pangeran adalah laki-laki muda Nigeria. Merupakan praktik yang umum di kalangan para pangeran Saudi untuk tumbuh bersama para pengawal berusia muda (seusia dengan para pangeran itu) yang disewa dari Nigeria atau negara-negara Afrika lainnya, dan akan tetap bersama dengan pangeran tersebut hingga dewasa. Waktu bersama yang lama menciptakan ikatan kesetiaan yang intens.”

Seorang pemuda Saudi mengatakan kepada diplomat itu bahwa pesta besar merupakan tren baru. Hingga beberapa tahun lalu, katanya, kegiatan akhir pekan hanya berupa “kencan” dalam kelompok-kelompok kecil yang bertemu di dalam rumah orang kaya. Menurut bocoran itu juga, beberapa rumah mewah di Jeddah memiliki bar di bawah tanah, diskotik, dan klub.

Buku Baru : Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

wahhabi adalah ajaran sesat buatan agen zionist (istri Mohammad abdul wahab adalah agen yahudi) yang dibantu zionist british (lawrence dearabia) memberontak pada khalifah usmaniyah

Judul Buku : Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi
Penulis : Syaikh Idahram
Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : I, 2011 Tebal : 280 Halaman
Peresensi : Imam S Arizal*)

Keyakinan bahwa hanya ada kebenaran tunggal akan menjadi bencana bagi kehidupan beragama. Setidaknya hal itulah yang terekam dari perjalanan sejarah sekte salafi wahabi. Sejarah gerakan ini dipenuhi dengan darah umat islam. Banyak sekali tragedi-tragedi kemanusiaan, kekerasan dan bahkan pembunuhan yang mewarnai perjalanan dan pengembangan gerakan wahabi. Pun demikian, tak jarang Tuhan dijadikan alat legeitimasi untuk melangsungkan misi gerakan wahabi.

Wahabi adalah gerakan pembaharuan dan pemurnian Islam yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman at-Tamimi (1115-1206 H / 1703-1792 M) dari Najd (juga tempat munculnya Musailamah alkadzab), Semenanjung Arabia. Istilah Wahabi telah dikenal semasa Ibn Abdul Wahab hidup, tapi bukan atas inisiatif dirinya melainkan berasal dari lawan-lawannya. Ini berarti, istilah Wahabi merupakan bagian dari rangkaian stigma terhadap gerakannya.

Kaum Wahabi mengklaim sebagai muslim yang berkiblat pada ajaran Islam yang pure,paling murni. Mereka sering juga menamakan diri sebagai muwahiddun, yang berarti pendukung ajaran yang memurnikan keesaan Allah (tauhid). Tetapi, mereka juga menyatakan bahwa mereka bukanlah sebuah mazhab atau kelompok aliran Islam baru, tetapi hanya mengikuti seruan (dakwah) untuk mengimplementasikan ajaran Islam yang (paling) benar.

Tujuan awal aliran Wahabi adalah mengembalikan umat kepada ajaran Islam yang murni seperti yang termuat dalam Alquran dan sunah (menurut versi mereka). Karenanya, tauhid (mujasimmah khwarij) merupakan tema pokok dalam doktrin Wahabi. John L Esposito menegemukakan bahwa Abdul Wahhab memandang tauhid sebagai agama Islam itu sendiri.

Dengan semangat puritannya, Abdul Wahhab hendak membebaskan Islam dari semua perusakan yang diyakininya telah menggerogoti Islam seperti tasawuf, tawasul, bermadzab dsb.‘Abd al-Wahhab sendiri gemar membuat daftar panjang keyakinan dan perbuatan yang dinilainya munafik, yang bila diyakini atau diamalkan akan segera mengantarkan seorang muslim berstatus kafir.

Sejak kelahirannya, aliran wahabi sangat lekat dengan tradisi kekerasan. Bersama Dinasti Saud, kaum wahabi berusaha menundukkan suku-suku di Jazirah Arab di bawah bendera Wahabi/Saudi. Menyamun, menyerang, dan menjarah suku tetangga adalah praktik yang luas dilakukan suku-suku Badui di Jazirah Arab sepanjang sejarahnya. Setiap suku yang belum masuk wahabi diberi dua tawaran jelas: masuk wahabi atau diperangi sebagai orang-orang musyrik dan kafir (hlm. 119).

Dalam doktrinnya, setiap muslim yang tidak mempunyai pemahaman dan praktik agama Islam yang persis seperti wahabi dianggap murtad dan karenanya memerangi mereka diperbolehkan, atau bahkan diwajibkan. Razia, penggerebekan dan perampokan pun dilakukan. Dengan demikian, predikat muslim hanya merujuk secara eksklusif kepada para pengikut wahabi, seperti kata “muslim” yang digunakan dalam buku Unwan al-Majd fi Tarikh al-Najd, salah satu buku sejarah resmi wahabisme.

Gerakan wahabi telah melakukan keganasan dan kekejaman di kota Karbala (1216 H/1802 M) dengan pembunuhan yang tidak mengenal batas perikemanusiaan. Mereka telah membunuh puluhan ribu orang Islam, selama kurun waktu 12 tahun ketika mereka menyerang dan menduduki kota Karbala serta kawasan sekitarnya, termasuk Najaf.

Pada tahun 1803 M, kaum wahabi menyerang dan memberangus kota Thaif. Di kota itu mereka membunuh sibuan penduduk sipil, termasuk wanita dan anak-anak yatim. Bahkan, menurut Muhammad Muhsin al-Amin, mereka turut menyembelih bayi yang masih di pangkuan ibunya dan wanita-wanita hamil, sehingga tiada seorang pun yang terlepas dari kekejaman wahabi (hlm. 77).

Setelah mereka merampas, merusak segala yang ada, membunuh orang-orang tak berdosa, dan melakukan keganasan yang tidak terkira terhadap umat islam, mereka melanjutkan kebrutalannya menuju Makkah. Ibnu Bisyr dalam kitabnya Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, menguraikan bahwa pada bulan Muharram 1220 H/1805 M, wahabi di Makkah membunuh ribuan umat islam yang sedang menunaikan ibadah haji. Dalam cacatan lain disebutkan, pembunuhan bukan hanya terjadi pada jamaah haji, melainkan juga pada masyarakat sipil.

Aksi kekerasan wahabi tidak berhenti sampai disitu. Pada tahun 1341 H/1921 M tentara wahabi membantai seribu orang lebih rombongan jamaah haji asal Yaman yang sedang menuju Makkah tanpa sebab yang jelas. Tahun 1408 H/1986 M mereka juga menyerang jamaah haji asal Iran. Peristiwa itu menewaskan 329 orang dan ribuan lainnya luka-luka (hlm. 99-100).

Selain membunuh masyarakat sipil, tentara wahabi juga melakukan pembakaran terhadap perpustakaan-perpustakaan Islam. Di antara kasus pembakaran buku-buku yang paling fenomenal adalah pembakaran buku-buku yang terdapat di Perpustakaan Arab (Maktabah Arabiyah) di Makkah al-Mukarramah. Perpurkaan ini termasuk perpustakaan yang paling berharga dan paling bernilai historis. Bagaimana tidak, sedikitnya ada 60.000 buku-buku langka dan sekitar 40.000 masih berupa manuskrip yang sebagiaannya adalah hasil diktean dari Nabi Muhammad kepada para sahabatnya, sebagian lagi dari Khulafaur Rasyidin, dan para sahabat Nabi yang lainnya. Semua buku-buku tersebut dibumi-hanguskan oleh para tentara wahabi.

Itulah sebagian kecil dari sisi gelap perjalanan sekte wahabi yang termuat dalam buku ini. Karya Syaikh Idahram ini cukup kritis dan merupakan suatu karya ilmiah penting bagi bangsa Indonesia. Bahkan dalam pengantarnya, Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, memuji karya besar ini. menurutnya, belum ditemukan karya setajam ini sebelumnya dalam mengkritisi Gerakan Salafi Wahabi.

Imam S Arizal, Peneliti Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikitan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Syamaail ar-Rasuul : Fadhilah Siwak / Miswak

Syamaail ar-Rasuul – 4: Siwak


Bersiwak atau bersugi adalah merupakan sunnah junjungan kita, Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Ianya adalah satu ‘amalan yang tidak pernah Baginda صلى الله عليه وآله وسلم tinggalkan hatta disaat-saat akhir hayat Baginda صلى الله عليه وآله وسلم, Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersiwak. Sayyidatuna ‘Aisyah رضي الله عنها menceritakan:
دَخَلَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مُسْنِدَتُهُ إِلَى صَدْرِي وَمَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سِوَاكٌ رَطْبٌ يَسْتَنُّ بِهِ ، فَأَبَدَّهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ بَصَرَهُ، فَأَخَذْتُ السِّوَاكَ فَقَصَمْتُهُ وَنَفَضْتُهُ وَطَيَّبْتُهُ، ثُمَّ دَفَعْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَنَّ بِهِ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ اسْتَنَّ اسْتِنَانًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ، فَمَا عَدَا أَنْ فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَهُ أَوْ إِصْبَعَهُ، ثُمَّ قَالَ : فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى ثَلَاثًا، ثُمَّ قَضَى، وَكَانَتْ، تَقُولُ : مَاتَ بَيْنَ حَاقِنَتِي وَذَاقِنَتِي
Terjemahannya: Telah masuk ’Abdurrahman ibn Abu Bakar ke atas Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, sedangkan aku ketika itu menyandarkan Baginda صلى الله عليه وآله وسلم pada dadaku (yakni ketika detik-detik wafatnya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم) dan bersama ‘Abdurrahman kayu siwak basah yang dipergunakannya untuk bersiwak. Maka Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم menolehkan pandangannya kepadanya. Maka mengambil aku akan siwak itu dan meleraikannya, mengunyahnya serta melembutkannya, kemudian memberikannya kepada Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, lalu Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersiwak dengannya. Maka tidak pernah samasekali melihat aku akan Rasululah صلى الله عليه وآله وسلم bersiwak dengan cara yang lebih baik dari keadaannya hari ini. Maka setelah selesai bersiwak Baginda صلى الله عليه وآله وسلم mengangkat tangannya atau jarinya kemudian bersabda: Pada teman yang tertinggi … (iaitu Baginda صلى الله عليه وآله وسلم memilih untuk bertemu dengan Allah Yang Maha Mulia). Baginda صلى الله عليه وآله وسلم mengucapkannya sebanyak 3 kali. Kemudian Baginda صلى الله عليه وآله وسلم wafat. Sayyidatuna ‘Aisyah رضي الله عنها berkata: Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم wafat di antara tulang selangkaku dan tulang daguku. (Hadits riwayat al-Bukhari)

Imam al-Qusthullani رحمه الله تعالىdi dalam Khushusiyyaat ar-Rasuul dan Al-Habib Muhammad bin ‘Alwi al-Aidarus @ Habib Sa’ad حفظه الله تعالى di dalam kitab Fawaid al-Siwaak Syar’iyyan wa Thibbiyyan, menyebut bahawa bersiwak/bersugi ini adalah daripada khususiat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم.yakni diwajibkan keatas Baginda صلى الله عليه وآله وسلم . Manakala ke atas umat Baginda صلى الله عليه وآله وسلم.adalah disunatkan.

Melaksanakan Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم adalah bukti kecintaan:

لو كان حبك صادقاً لأطعته * إن المحب لمن يحب مطيع
Jikalau adalah cintamu benar nescaya engkau akan menta’atinya
Sesungguhnya orang yang mencintai itu taat bagi orang yang dicintai

Al-‘Allamah Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari رحمه الله تعالى (pendiri Nahdatul Ulama di Indonesia, wafat 25 Julai 1947) رحمه الله menyebut di dalam kitab beliau berjudul an-Nur al-Mubin: Menyintai Nabi صلى الله عليه وآله وسلم ada tanda-tandanya. Barangsiapa yang dzahir pada dirinya tanda-tanda tersebut, adalah ia benar-benar mencintai Nabi صلى الله عليه وآله وسلم. Dan sekiranya tidak, maka cintanya dakwaan semata-mata. Antara tanda-tanda yang beliau sebutkan adalah: Meneladani Bagindaصلى الله عليه وآله وسلم samada dalam percakapan, perbuatan dan ahwal, dzahir dan bathinnya.

Beberapa hadits mengenai tuntutan ber siwak dan kelebihannya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ
Terjemahannya: Bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah bersabda ia: Seandainya tidak memberatkan aku ke atas umatku nescaya aku perintahkan mereka dengan bersiwak (hadits riwayat al-Bukhari)
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ: أَكْثَرْتُ عَلَيْكُمْ فِي السِّوَاكِ
Terjemahannya: Daripada Sayyidina Anas bin Malik رضي الله عنه , telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: Telah aku sering (memperingatkan) atas kalian mengenai bersiwak. (hadits riwayat al-Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ: لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ
Terjemahannya: Daripada Sayyidina Abu Hurairah رضي الله عنه , telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: Seandainya bahwa tidak memberatkan aku ke atas umatku, nescaya aku perintahkan mereka dengan bersiwak tatkala setiap kali berwudhu`. (hadits riwayat Ibn Abi Syaibah)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ: لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ
Terjemahannya: Daripada Sayyidina Abu Hurairah رضي الله عنه , telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: Seandainya bahwa tidak memberatkan aku ke atas umatku, nescaya aku perintahkan mereka dengan bersiwak tatkala setiap kali bersholat. (hadits riwayat Imam Ahmad)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَت : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ: السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
Terjemahannya: Daripada Sayyidatuna ‘Aisyah رضي الله عنها telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: Siwak itu membersihkan bagi mulut, keredhaan bagi Rabb. (hadits riwayat Imam Ahmad)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنّ النَّبِيَّ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ، فَإِنَّهُ مَطْيَبَةٌ لِلْفَمِ ، وَمَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
Terjemahannya: Daripada Sayyidina Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: Hendaklah kalian bersiwak, kerana sesungguhnya bersiwak membaikkan bagi mulut dan keredhaan bagi Rabb. (hadits riwayat Imam Ahmad)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: قَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ، وَحَلْقُ الْعَانَةِ، وَنَتْفُ الإِبْطِ، وَالسِّوَاكُ
Terjemahannya: Daripada Sayyidina Abu Hurairah رضي الله عنه , telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: 5 perkara daripada fitrah. Memotong misai, mengetip kuku, mencukur bulu kemaluan, mencabut buku ketiak dan bersiwak. (hadits riwayat al-Bukhari)

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَامَ لِلتَّهَجُّدِ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
Terjemahannya: Daripada Sayyidina Huzaifah رضي الله عنه: Sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وآله وسلم adalah apabila bangun ia bagi bertahajjud diwaktu malam, Baginda صلى الله عليه وآله وسلم mengosok mulut Baginda صلى الله عليه وآله وسلم dengan siwak. (hadits riwayat al-Bukhari)

عَنْ عَائِشَةَ، أَنّ النَّبِيَّ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ، بَدَأَ بِالسِّوَاكِ
Terjemahannya: Daripada Sayyidatuna ‘Aisyah رضي الله عنها bahwasanya Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, apabila memasuki Baginda صلى الله عليه وآله وسلم akan rumahnya, memulai ia dengan bersiwak. (hadits riwayat Muslim)

رَكْعَتَانِ بِسِوَاكٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِينَ رَكْعَةً بِغَيْرِ سِوَاكٍ
Terjemahannya: 2 rakaat dengan bersiwak lebih utama daripada 70 rakaat tanpa bersiwak. (hadits riwayat Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah dengan sanad hasan dan diriwayatkan oleh ad-Daaruqutni dimana perawi-perawinya tsiqah)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ : فَضْلُ الصَّلاةِ الَّتِي يُسْتَاكُ لَهَا عَلَى الصَّلاةِ الَّتِي لا يُسْتَاكُ لَهَا سَبْعِينَ ضِعْفًا
Terjemahannya: Daripada Sayyidatuna ‘Aisyah رضي الله عنها telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: Keutamman sholat dengan bersiwak ke atas sholat tanpa siwak adalah 70 kali ganda (hadits riwayat Ahmad, Ibn Khuzaimah dan al-Hakim, beliau berkata hadits ini shohih atas syarat Muslim dan diakui oleh adz-Dzahabi)

Demikianlah beberapa buah hadits daripada sekian banyak hadits tentang tuntutan bersiwak dan keutamaannya.

Takrif siwak: Apakah ta’rif siwak? Siwak menurut bahasa adalah ‘الدلك’ bererti mengosok atau menyental. Manakala menurut istilah ‘دلك الأسنان وما حواليها بكل شيء خشن’ bererti mengosok gigi dan sekitarnya dengan segala sesuatu yang kesat (atau kasar) atau ‘استعمال عود أو نحوه كالفرشاة اليوم في تنظيف الأسنان وما حولها كاللسان واللثة لإذهاب التغير وآثار الطعام’ yang bermaksud penggunaan kayu siwak atau yang seumpamanya seperti berus gigi pada zaman sekarang, bagi membersihkan gigi dan apa-apa yang berada disekitarnya seperti lidah dan gusi bagi menghilangkan perubahan bau mulut dan sisa-sisa makanan.

Hukum bersiwak: Setelah mengetahui ta’rif siwak maka mari kita lihat pula hukum bersiwak. Hukum bersiwak terbahagi kepada 5 iaitu:
Wajib: Jika siwak itu diperlukan untuk menghilangkan najis dimulut, atau menghilangkan bau yang sangat buruk untuk yang menghadiri sholat Jum’at, dan wajib juga apabila di nadzarkannya.
Sunat: Hukum asal bersiwak, dan lebih di tekankan lagi (yakni sunat mu’akkad) ketika berwudhu’ (sunat juga bagi orang yang tak dak gigi, ketika berwudhu maupun sholat), sholat (yakni bagi setiap takbiratul ihram samada sholat fardhu atau sunat bahkan sekiranya seseorang itu lupa bersiwak tatkala takbiratul ihram kemudian ingat ia akan dia didalam sholatnya, sunatlah baginya bersiwak di dalam sholatnya dengan perbuatan yang sedikit – demikian yang telah disebut akan dia oleh Syeikh Ibn Hajar dan Syeikh Ramli), ketika hendak membaca Al Qur’an, ketika hendak masuk ke dalam rumah, ketika hendak tidur, ketika bangun dari tidur dan tatkala berubah bau mulut (disebabkan panjang masa diam – tak buka mulut – atau kerana lama tidak makan)
Makruh: Bagi orang yang berpuasa bersiwak setelah gelincir matahari. Namun Imam an-Nawawi memilih pendapat tidak makhruh.
Khilaful aula: Yakni memakai kayu siwak kepunyaan orang lain dengan keredhaannya, kecualilah untuk mengambil keberkatannya maka ianya disunatkan sepertimana Sayyidatuna ‘Aisyah رضي الله عنها yang pernah menggunakan siwaknya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم
Haram: Sekiranya menggunakan kayu siwak orang lain tanpa keizinannya dan tanpa diketahui keredhaannya.

Alat bersiwak: Yang utama adalah kayu aarak, kemudian pelepah tamar (inilah siwak yang digunakan diakhir hayat Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.) kemudian kayu zaitun kemudian setiap kayu yang mengeluarkan bau yang wangi seperti gaharu dan lain-lain kecuali kayu raihaan – kerana ia dilarang oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم kerana mewariskan (menyebabkan) penyakit kusta – kemudian kayu-kayu lain (yang tidak memudharatkan kesihatan).

Masalah: Bolehkah bersiwak menggunakan berus gigi sepertimana yang ada sekarang? Jawabnya, berdasarkan kepada takrif bersiwak menurut istilah syarak sepertimana disebut diatas maka pengunaan berus gigi atau kain yang kesat (sekiranya tiada alat siwak yang lain), maka secara langsung termasuk di dalam maksud penggunaan siwak. Adapun yang afdhalnya adalah menggunakan kayu aarak seperti yang disebut kerana mengikuti akan perbuatan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.

Tertib memakai kayu siwak yang baik bagi setiap alat bersiwak diatas: Memakai kayu siwak yang dibasahi dengan air bersih terlebih dahulu; memakai kayu siwak yang dibasahi air mawar; memakai kayu siwak yang dibasahi air ludahnya; memakai kayu siwak yang lembap; memakai kayu siwak yang kering.

Kadar panjang kayu siwak: Disunatkan kadar panjang kayu siwak tidak melebihi sejengkal ( jengkal orang yang sederhana besarnya) dan tidak pula kurang dari ukuran 4 jari. Makruh kayu siwak melebihi sejengkal kerana dikatakan syaitan akan bertenggek bahagian yang lebih itu. Wallahu a’lam. Saiznya pula hendaklah sederhana, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

Cara memegang kayu siwak: Disunatkan memegang kayu siwak dengan tangan kanan. Dan cara memegangnya sepertimana disebut oleh al-Habib ‘Abdullah bin Hussin Balfagih sunnah dijadikan kelingking dan ibu jari dibawah kayu siwak (yakni jari kelingking dibahagian belakang dan ibu jari dibahagian depan) manakala 3 jari yang lain (telunjuk, tengah dan manis) diatas kayu siwak. Lihat gambar disebelah dan dibawah.

Cara bersiwak: Sunat bersiwak pada lintang gigi (yakni secara melintang, melebar) dan dimakhruhkan dengan cara membujur (memanjang) pada gigi kerana ia boleh menyebabkan gusi akan berdarah. (lihat Syarah Shahih Muslim oleh an-Nawawi dan Sabil al-Muhtadin oleh Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari). Disunatkan bersiwak pada lidah dan langit-langit mulut yakni dengan cara membujur.

Diantara cara yang dianjurkan oleh ulama: (Dan sunat) memulai bersugi itu pada pihak [gigi] geraham diatas dan bawah dan luar dan dalam, maka dilakukannya [kayu sugi] hingga pertengahan [jajaran gigi]. Maka dimulainya pula pada geraham kiri seperti demikian itu [seperti dilakukan pada geraham sebelah kanan], maka dilakukannya hingga pertengahan [jajaran gigi].

Imam al-Ghazali رحمه الله تعالى menerangkan bahwa disunnahkan bersiwak memulai dari tengah jajaran gigi atas, lalu menggosokkan siwak ke kanan sampai ujung barisan gigi kanan atas, lalu turun ke barisan gigi kanan bawah, lalu digosokkan pada barisan gigi bawah ketengah, lalu naik lagi ke barisan gigi atas dan digosokkan ke kiri sampai ujung barisan gigi kiri atas, lalu turun ke ujung barisan gigi kiri bawah, lalu digosokkan ketengah barisan gigi bawah (seumpama menulis angka delapan ‘∞’. Demikian ini untuk perhitungan 1 kali, maka diulangi sebanyak 3 kali).

Disunatkan membersihkan kayu siwak sebelum dan selepas menggunakannya. Adapun cara bersiwak ini tiadalah ketentuan yang khusus, maka cara apapun adalah sudah terhasil baginya pahala sunnah. Menurut Ibnu Daqiq seseorang itu telah dihitung sebagai bersiwak walaupun hanya melalukan kayu siwak sepanjang mulutnya (yakni melalukan kayu siwak atas jajaran gigi atas dan bawah). Dan para shahabat رضي الله عنهم menyimpan atau meletakkan kayu siwak mereka dicelah telinga kiri.

Niat-niat bersiwak: Niat ber’amal dengan sunnah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.; membersihkan mulut kerana hendak bermunajat kepada Allah di dalam sholat, dan dhikir dan membaca al-Qur’an; memutihkan gigi dan mengharumkan bau mulut; untuk kebersihan kerana ianya sebahagian daripada iman; mendatangkan keredhaan Allah dan lain-lain.
Niat bersiwak adalah :

نويت الاستياك سنة لله تعالى
Sahaja aku bersiwak sunat kerana Allah Ta’ala
Bagi seseorang yang bersiwak dalam rangkaian ibadah, seperti sebelum wudhu dan lain-lain, tidak diharuskan melakukan niat siwak sebab niat ibadah tersebut sudah mengandung niat bersiwak.

Doa ketika mula bersiwak: Elok dibaca doa dibawah walaupun ianya tiada asal (yakni tidak warid daripada Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم), kerana tiada mengapa mengamalkannya. Doanya:
اَللَّهُمَّ بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ وَشُدَّ بِهِ لِثَاتِيْ وِثَبِّتْ بِهِ لِهاَتِيْ وَأَفْصِحْ بِهِ لِسَانِي وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Wahai Tuhanku, putihkanlah dengannya gigiku, kuatkanlah dengannya gusiku, teguhkanlah dengannya lisanku, fasihkanlah dengannya lisan pengucapanku dan berkatilah aku padanya wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bilakah disunatkan bersiwak: Ketika setiap kali melaksanakan sholat, yakni setiap kali sebelum takbiratul ihram; ketika hendak sujud tilawah atau syukur; ketika hendak menghadiri sholat Jum’at; ketika hendak thawaf; ketika hendak membaca al-Qur’an; ketika hendak membaca hadits; ketika hendak berdhikruLlah; ketika berubah bau mulut kerana diam yang lama; ketika sebelum dan sesudah makan; ketika sebelum tidur dan selepas bangun dari tidur; ketika hendak masuk ke dalam masjid; ketika hendak masuk kedalam rumah; ketika nazak; ketika membaca kitab-kitab ilmu agama dan juga kitab-kitab ilmu alat; ketika berwudhu atau bertayammum, ketika hendak mandi junub, ketika makan sesuatu makanan yang berbau; ketika sebelum berjima’ dan banyak lagi.

Kelebihan bersiwak: Terdapat banyak kelebihannya. Ulama berkata terdapat hampir 70 kelebihan bersiwak. Antaranya: 2 rakaat sholat dengan bersiwak lebih baik daripada tidak bersiwak – yakni menggandakan pahala ‘amalan; mendatangkan keredhaan Allah, membersihkan gigi, mewangikan bau nafas, mencerahkan mata (menajamkan penglihatan), memudahkan keluarnya ruh tatkala sakaratul maut, menambah kecedasan, menguatkan ingatan/hafalan, melambatkan penuaan, melambatkan tumbuh uban, memutihkan gigi, menguatkan tulang belakang, memudahkan untuk melafazkan kalimah syahadah tatkala nazak, menguatkan gigi ………….. dan banyak lagi.

Cukupkah dahulu perkongsian mengenai siwak, untuk memendekkan bicara. InsyaAllah sekiranya ada kesempatan al-Fagir akan tulis beberapa permasalahan yang berkaitan dengan siwak ini. Mohon para pengunjung membetulkan mana-mana yang tersalah atau tersilap, kerana manusia itu tiada sunyi ia daripada berbuat kesilapan. Akhirkata marilah kita mengamalkan sunnah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم ini, iaitu bersiwak dan istiqamah dengannya. – “Menyintai Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم ada tanda-tandanya. Barangsiapa yang dzahir pada dirinya tanda-tanda tersebut, adalah ia benar-benar mencintai Nabi صلى الله عليه وآله وسلم. Dan sekiranya tidak, maka cintanya dakwaan semata-mata. Antara tanda-tandanya adalah: Meneladani Bagindaصلى الله عليه وآله وسلم samada dalam percakapan, perbuatan dan ahwal, dzahir dan bathinnya” – al-‘Allamah Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari رحمه الله تعالى

sekian daripada alfagir ilaLlah abu zahrah ‘abdullah thahir al-qadahi
dhuha, di taman seri gombak
itsnain, 26 Jumadilakhirah 1432/30 Mei 2011

Daftar rujukan:

Al-Taqrirat al-Sadidah fi al-Masa’il al-Mufidah oleh al-Habib Hassan bin Ahmad bin Muhammad al-Kaf , Dar al-‘Ilm wa ad-Da’wah, cetakan pertama ,2003/1423
Mu’tamad fi al-Fiqh al-Syafie oleh Syeikh Dr.Muhammad al-Zuhaily cetakan Darul Qalam jilid 1
Sabil al-Muhtadin oleh Syeikh Arsyad bin ‘Abdullah al-Banjari, Maktabah wa Matba’ah Sulaiman Mar’ie, Singapura
Fawaid as-Siwaak Syar’iyyan wa Thibbiyan oleh al-Habib Muhammad bin ‘Alwi al-Aidarus @ Habib Sa’ad, cetakan pertama 2009/1430
Syarah Shahih Muslim oleh Imam an-Nawawi, cetakan Dar Ihya at-Turat al-‘Arabi, Jilid ke-2

WikiLeaks Ekspos Hubungan Saudi (Daulah Wahaby) dengan Israel

WikiLeaks Ekspos Hubungan Saudi dengan Israel

WikiLeaks merilis dokumen terbaru mereka yang menemukan adanya sebuah aliansi yang mendalam antara Israel dan Arab Saudi.

Salah satu kabel diplomatik yang dikirim dari Tel Aviv pada bulan Maret 2009, mengacu pada pertemuan antara Asisten Menteri Negara AS untuk urusan Timur Tengah Jeffrey Feltman dan Deputi Bidang Timur Tengah Departemen Luar Negeri Israel Yacov Hadas-Handelsman, surat kabar Mesir al-Masry al-Youm melaporkan Selasa kemarin (14/6).

Pertemuan, yang melibatkan para pejabat tinggi Israel, membahas sekitar hubungan Tel Aviv dengan negara-negara Teluk Persia dan situasi di Libanon, Suriah, Mesir dan Iran.

Pada satu titik Hadas mengaku melakukan komunikasi rahasia dengan Arab Saudi melalui berbagai saluran.

Pejabat Israel itu kemudian menambahkan bahwa hubungan antara Qatar dan Israel bahkan mempengaruhi keyakinan Doha bahwa Tel Aviv mempertahankan hubungan rahasia yang kuat dengan Riyadh.

“Tentu saja, bentuk komunikasi tidak langsung melalui pihak ketiga terjadi sepanjang waktu dalam diplomasi … sehingga dapat terjadi melalui Mesir, Yordania atau Amerika Serikat,” kata Kepala Pusat Studi Strategis Teluk berbasis di London, Omar Hassan.

Arab Saudi selama ini selalu berhati-hati untuk tidak memiliki komunikasi langsung dan terbuka atau hubungan dengan Israel karena posisinya di dunia Muslim.

Namun, pada tahun 2002, Arab Saudi memperpanjang sebuah inisiatif yang akan menormalkan hubungan dengan Israel dalam pertukaran dengan penarikan Israel ke perbatasan tahun 1967 dan mengakhiri konflik Israel-Palestina.

Inisiatif ini ditegaskan kembali pada tahun 2007, namun tidak ada kemajuan yang telah dibuat dalam hal itu.

Kabel WikeLeaks juga menekankan bahwa meskipun adanya perkembangan terbaru di kawasan ini, Israel terus menikmati hubungan dengan negara-negara Arab.(fq/prtv)

WikiLeaks exposes Saudi-Israeli ties
Wed Jun 15, 2011 9:55AM

Saudi Arabia has always been cautious not to have any direct communication with Israel, but in 2002, King Abdullah launched an initiative that would normalize Riyadh’s ties with Tel Aviv.
Freshly- released WikiLeaks documents have uncovered a deep alliance between Israel and Saudi Arabia, reportedly affecting Riyadh’s ties with regional states.

One of the cables dispatched from Tel Aviv on March 2009, refers to a meeting between US Assistant Secretary of State for Near Eastern Affairs Jeffrey Feltman and Israeli Foreign Ministry’s Deputy Director General for Middle East Yacov Hadas-Handelsman, Egyptian daily al-Masry al-Youm reported Tuesday.

The meeting, which involved other high-ranking Israeli officials, evolved around Tel Aviv’s relations with Persian Gulf nations and the situation in Lebanon, Syria, Egypt and Iran.

At one point Hadas admitted to having secret communications with Saudi Arabia through various channels.

The Israeli official then added that relations between Qatar and Israel were even affected Doha’s belief that Tel Aviv maintains secret and powerful ties with Riyadh.

“Of course, indirect forms of communication through third parties happen all the time in diplomacy… so it can happen through Egypt, Jordan or the US,” the head of the London-based Gulf Strategic Studies Center, Omar Hassan, said.

Saudi Arabia has always been cautious not to have any direct and open communication or ties with Israel due to its position in the Muslim world.

However, in 2002, Saudi Arabia extended an initiative that it would normalize relations with Israel in exchange for an Israeli withdrawal to the 1967 borders and an end to the Israeli-Palestinian conflict.

The initiative was reaffirmed in 2007, but no headway has been made in that regard.

WikeLeaks cables also underline that despite the recent regional developments, Israel continues to enjoy steady ties with Arab nations.

Meanwhile, the secret documents have unraveled Israel’s deep fear of Iran’s growing influence in the region, by pointing at Tel Aviv’s direct support for anti-Tehran positions held by the United Arabs Emirates, Saudi Arabia, Bahrain and Egypt (before the ouster of Egyptian President Hosni Mubarak).

FF/MB
http://www.presstv.ir/detail/184772.html

Maulid adalah amalan untuk memuliakan Nabi : Jawaban Khutbah sesat wahaby As-Sudais

Khutbah Syeikh Abdurrahman Sudais – Maulid Adalah Bid’ah Sesat

Khutbah Syeikh Abdurrahman as Sudais menghukum sesat (bid’ah bagi Wahhabi adalah sesat dan MASUK NERAKA) kepada Umat Islam yang menyambut Maulidul Rasul.

Ada yang bertanya apakah dalil dari al Quran dan Sunnah tentang sambutan maulidul Rasul.

Jawapan :

1. Dalil-dalil umum dari Al Quran yang dijadikan hujjah oleh Ulamak yang membenarkan :

فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُ ۥۤ‌ۙ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (١٥٧)

Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad), dan memuliakannya, juga menolongnya, serta mengikut nur (cahaya) yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang berjaya.
(Surah al A’raf 157)

Di dalam ayat ini dengan tegas menyatakan bahawa orang yang memuliakan RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang beruntung. Merayakan maulid Nabi termasuk dalam rangka memuliakannya.

ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيۡتُمُ ٱلزَّڪَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرۡتُمُوهُمۡ وَأَقۡرَضۡتُمُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنً۬ا لَّأُڪَفِّرَنَّ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَلَأُدۡخِلَنَّڪُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ‌ۚ

Bahawa Aku adalah berserta kamu (memerhati segala-galanya). Demi sesungguhnya jika kamu dirikan sembahyang, serta kamu tunaikan zakat dan kamu beriman dengan segala Rasul (utusanKu) dan kamu muliakan mereka dan kamu pinjamkan Allah (dengan sedekah dan berbuat baik pada jalanNya) secara pinjaman yang baik (bukan kerana riak dan mencari keuntungan dunia), sudah tentu Aku akan ampunkan dosa-dosa kamu, dan Aku akan masukkan kamu ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai.
(Surah al Ma’idah ayat 12)

Erti “azzartumuhum” ialah “memuliakan mereka” (Tafsir Tabari, juz VI halaman 151) Orang yang memuliakan Nabi akan dimasukkan ke dalam syurga. Dan menyambut Maulid Nabi adalah dalam rangka memuliakan Nabi.

2. Di kala ramai orang yang kini semakin jauh dari perasaan cinta kepada baginda, maka di waktu inilah perlunya program-program yang menganjurkan cinta kepada Rasulullah. Bukankah rasuluLlah bersabda yang bererti :

“Belum sempurna iman seseorang dari kamu. kecuali aku lebih dikasihinya berbanding dengan keluarganya, dan hartanya dan manusia keseluruhannya.”
(Riwayat Muslim juz 11, hlm 15)

Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu berkata kepada Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam :

“Engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri”. Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam berkata : “Tidak, wahai Umar. Sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu berkata, “Demi Allah subahanahu wa ta’ala, engkau sekarang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sekarang wahai Umar.”

(Hadith Riwayat Bukhari, Sohih Bukhari, vol 6 hlmn 2445)

3. Maulidul Rasul itu tidak pernah dibuat oleh RasuluLLah dan ia bid’ah sesat ?

Ada dalil umum bagaimana RasuluLlah sendiri pernah menyebut mengenai hari-hari kebesaran contohnya :

Bahawasanya Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, maka Baginda sallaLLahu ‘alaihi wasallam mendapati di situ orang-orang Yahudi berpuasa pada Hari Asyura iaitu hari 10 Muharram, maka Nabi bertanya kepada orang Yahudi itu: Kenapa kamu berpuasa pada hari Asyura ?

Jawab mereka : ini adalah hari peringatan, pada hari serupa itu dikaramkan Fir’aun dan pada hari itu Musa dibebaskan, kami puasa kerana bersyukur kepada Tuhan. Maka RasuluLlah bersabda : Kami lebih patut menghormati Musa dibanding kamu”
(Hadith riwayat Imam Bukhari dan Muslim).

Banyak sebenarnya perkara yang tidak pernah dibuat oleh RasuluLlah tetapi dilakukan oleh sahabat dan para salafussoleh melalui ijtihad mereka dalam perkara ibadah contoh yang senaraikan oleh bekas Mufti Iraq iaitu Sheikh Abdul Malik Abdul Rahman as Sa’adi :

1. Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam pernah menyamakan (qiyas) hukum menunaikan haji dan berpuasa untuk seorang yang telah mati dengan hutang terhadap hamba ALlah yang ia wajib tunaikan. (Fath al Bari, jld 4, m.s 64)

Walaupun ini tidak dianggap hukum yang telah ditetapkan oleh qiyas tetapi dengan nas, kerana RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam diberi kebenaran untuk mengeluarkan hukum, tetapi ini sebenarnya baginda telah membuka satu peluang atau laluan atau pintu kepada umatnya secara umum akan keharusan menggunakan qiyas. Terutama di dalam persoalan ibadah khusus kerana haji dan puasa adalah di antara bentuk ibadah.

2. Saidina Umar berpendapat bahawa tidak batal puasa seseorang yang berkucup dengan isterinya, kerana mengqiyaskan dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al Baihaqi).

3. Dalam menetapkan satu miqad baru iaitu Zatu Irq bagi jemaah Haji atau Umrah yang datang dari sebelah Iraq, Saidina Umar mengqiyaskannya dengan tempat yang setentang dengannya iaitu Qarn al Manazil. Sedangkan RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam hanya menetapkan empat tempat sahaja sebagai miqat tetapi Saidina Umar menambah satu lagi iaitu Zatu Irq (menjadi lima). (Lihat al Mughni, jld 3, m.s 3 258 dan Fath al Bari m.s 389)

4. Saidina Uthman mewujudkan azan dua kali (pertama dan kedua) pada hari Jumaat diqiyaskan dengan azan 2 kali pada solat subuh dengan alasan bahawa azan yang pertama pada Solat Subuh disyariatkan pada zaman RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam untuk mengejutkan mereka yang sedang tidur, maka begitu juga azan yang pertama pada solat Jumaat untuk mengingatkan mereka yang sedang sibuk berniaga di pasar dan yang bekerja (Nailul al Authar : 3/322)

5. Jumhur ulama mengharuskan dua solat sunat yang bersebab pada waktu yang makruh diqiyaskan dengan solat sunat selepas Zohor yang diqadha’ oleh RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam selepas Solat Asar ( Lihat al Nawawi, Syarah sahih Muslim: 6/111)

6. Sebilangan besar pada ulama berpendapat, menyapu tangan sampai ke siku ketika tayammum adalah wajib diqiyaskan dengan membasuh kedua tangan ketika berwudhuk. (Lihat Mughni al Muhtaj:1/99 dan al Mughni: 1/204)

7. Bagi ulama yang berpendapat bahawa solat sunat sebelum Solat Jumaat adalah sunat muakkad mengqiyaskan dengan solat sunat sebelum Zohor. Manakala sebilangan ulama lain di antaranya Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim berpendapat bahaya ia adalah sunat (sunat mutlak bukannya sunat muakkad) mengqiyaskannya dengan solat sunat hari raya yang tidak ada solat sunat (muakkad) sebelum solat tersebut. ((Al Fatawa: 24/194)

8. Sesetengah ulama bermazhab Hanafi mengqiyaskan air yang banyak yang tidak terjejas apabila jatuh najis ke dalamnya dengan air laut dari segi banyaknya. (al Mushili, al Ikhtiyar: 1/14)

9. Para ulama bermazhab Hambali mengharuskan ganti dengan memberi makanan sebagai kaffarat bunuh (yang tidak sengaja), kerana mengqiyaskannya dengan kaffarat zihar dan kaffarat jimak pada siang hari Ramadhan (Al Mughni: 8/97)

10. Menurut Imam Ahmad dalam satu riwayat daripadanya, dibasuh setiap benda yang terkena najis sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan air tanah, kerana beliau mengqiyaskannya dengan sesuatu yang terkena najis anjing atau babi (Al Mughni: 1/54-55)

11. Menurut Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, diwajibkan berdiri sekadar yang termampu bagi sesiapa yang tidak mampu berdiri dengan sempurna ketika solat samada kerana ketakutan atau kerana atap hendak roboh diqiyaskan dengan hukum berdiri seorang yang bongkok. (Al Mughni: 2/144)

12. Imam Malik berpendapat, diharuskan melewatkan solat bagi mereka yang ketiadaan air diqiyaskan dengan seorang perempuan yang kedatangan haid yang diharuskan melewatkan solatnya (al Mughni: 1/250)

13. Imam Abu Hanifah dan Imam asy Syafie berpendapat, sah tayammum bagi seorang yang berhadas besar dengan niat mengangkat hadas kecil diqiyaskan dengan sahnya wudhuk selepas membuang air kecil atau besar (walaupun tanpa niat untuk mengerjakan solat). (Al Mughni: 1/267)

14. Imam Malik membolehkan qadha’ solat malam yang terluput, iaitu dikerjakannya selepas terbit fajar sebelum solat Subuh diqiyaskan dengan solat witir. Tetapi ini adalah salah satu pendapat Imam Malik berhubung dengan masalah ini. (al Mughni:2/120)

15. Imam Abu Hanifah, Ath Thauri dan Al Auza’ie membolehkan lewat solat bagi mereka yang tidak menemui air dan tanah sehinggalah menemuinya, kemudian mengqadha’nya diqiyaskan dengan melewatkan puasa bagi wanita yang kedatangan haid (Al Mughni: 1/267)

Ini hanya sebahagian kecil daripada sebilangan besar persoalan ibadah yang dikeluarkan hukumnya berdasarkan kaedah qiyas. Qiyas ini adalah ijtihad dan pandangan. Oleh itu, sesiapa yang melarang menggunakan qiyas di dalam ibadah secara mutlaq, maka pendapatnya tidak dapat diterima sebagaimana yang dinyatakan tadi.

Ibnu Umar radiyaLlahu anhu berpendapat, solat Sunah Dhuha tidak digalakkan di dalam syariat Islam melainkan bagi mereka yang tiba dalam permusafiran. Beliau hanya mengerjakannya ketika tiba di Masjid Quba. Ini diriwayatkan oleh Al Bukhari daripada Mauriq katanya :
“Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar RadiyaLlahu ‘anhu.” Adakah kamu bersolat Dhuha? Beliau menjawab “Tidak”, Aku bertanya lagi “Adakah Umar mengerjakannya?” Beliau menjawab “Tidak”. Aku bertanya lagi ” Abu Bakar?” Jawabnya: “Tidak” Aku bertanya lagi: “RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam?” Jawabnya “Aku tidak pasti”.

Menurut al Hafiz Ibnu Hajar al Asqolani:

“Sebab tawaqqufnya Ibnu Umar pada masalah itu kerana beliau pernah mendengar daripada orang lain bahawa RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakannya tetapi beliau tidak begitu mempercayai perkara itu daripada seorang yang menyebut kepadanya.”.

Maka, beliau menganggap solat Dhuha adalah di antara bid’ah yang baik sepertimana yang diriwayatkan oleh Mujahid daripada beliau (Ibnu Umar).

Menurut Al A’raj:

“Aku pernah bertanya Ibnu Umar berkenaan Solat Sunah Dhuha? Beliau menjawab: “Ia adalah bid’ah dan sebaik-baik bid’ah”

. (Fath al Bari: 3/52)

Sepertimana yang telah dinyatakan daripada Ibnu Umar tadi, membuktikan bahawa perkara-perkara yang baharu diwujudkan dalam ibadah memang berlaku dan diakui oleh pada sahabat RadiyaLlahu ‘anhum sendiri.

4. Adakah contoh para salafussoleh yang menyambut maulidul Rasul ?

Prof Dr Ali Jum’ah iaitu Mufti Mesir menjawab begini :

Telah menjadi kebolehan (keharusan) dan tradisi di kalangan salafussoleh sejak abad ke 4 dan ke 5 merayakan peringatan maulid nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam yang agung. Mereka menghidupkan malam maulid dengan pelbagai ketaatan dan ibadah pendekatan kepada Allah seperti memberi makan fakir miskin, membaca al Quran, berzikir, melantunkan puisi-puisi dan puji-pujian tentang rasuluLlah. Hal ini ditegaskan oleh sebilangan ulama seperti : Al Hafizh Ibnu Jauzi, Al Hafizh Ibnu Katsir, Al Hafizh Ibnu Dihyah, al Hafizh Al Hebatusi, Al Hafizh Ibnu Hajar dan Penutup Huffazh (para penghafaz hadith dalam jumlah yang sangat banyak) Jalaluddin Al Suyuthi.

5. Ulamak lain yang membenarkan ?

Dalam kitab al Madkhal, Ibnu Hajj menjelaskan dengan panjang lebar tentang keutamaan yang berkaitan dengan perayaan ini dan dia mengemukakan huraian penuh manfaat yang membuat lapang hati orang yang beriman.

Imam Jalaluddin al Suyuthi dalam bukunya ‘Husnul Maqshid fi Amalil Maulid’ memberikan penjelasan tentang Maulid Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam :

Menurutku, bahawa hukum dasar kegiatan maulid yang berupa berkumpulnya orang-orang yang banyak, membaca beberapa ayat-ayat al Quran, menyampaikan khabar-khabar yang diriwayatkan tentang awal perjalanan hidup Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan tanda-tanda kebesaran yang terjadi pada waktu kelahiran Baginda, kemudian dihidangkan makanan untuk mereka dan emreka pun makan bersama, lalu mereka pun berangkat pulang, tanpa ada tambahan kegiatan lain. Adalah termasuk bid’ah hasanah dan diberikan pahala bagi orang yang melakukannya. Imam para hafizh Abu Fadhl Ibnu Hajar telah menjelaskan dasar hukumnya sunnah.

Imam Abu Syamah berkata :

Suatu hal yang baik ialah apa yang dibuat pada tiap-tiap tahun bersetuju dengan hari maulud Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam memberi sedekah, membuat kebajikan, maka hal itu selain berbuat baik bagi fakir miskin, juga mengingatkan kita untuk mengasihi junjungan kita Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam membesarkan beliau, dan syukur kepada Tuhan atas kurniaanNya, yang telah mengirim seorang Rasul yang dirasulkan untuk kebahagiaan seluruh makhluk

(I’anatut Tholibin, juzu’ III, halaman 364) – Imam Abu Syamah adalah seorang ulamak besar Mazhab Syafie dan merupakan guru kepada Imam An Nawawi.

Ya Allah jadikanlah kami senantiasa menyintai Nabi Muhammad sallaLLahu ‘alaihi wasallam
Sumber rujukan :

1. Prof Dr Ali Jum’ah, Penjelasan Terhadap Masalah-masalah KhilafiahAl Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, .2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor

2. K.H Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama, Pustaka Aman Press, Kelantan, Malaysia

3. As Shiekh al Hafiz Abu al Fadl AbduLlah al Siddiq al Ghumari, Makna Sebenar Bid’ah Satu Penjelasan Rapi, Cetakan 2007, Middle East Global (M) Sdn. Bhd, Selangor.

4. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur

Bacaan Tambahan :

1. Fatwa Ibnu Taimiyyah Mengenai Maulid

2. Fatwa Dr Yusof Al Qardhawi 1, Fatwa Dr Yusof Al Aqrdhawi 2

3. Menzahirkan Kegembiraan Menyambut Kelahiran RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam

4. Maulidur Rasul Dengan Dalil-dalil Yang Nyata

5. Adab Di Dalam Majlis Sambutan Maulidur Rasul

p/s : Adakah ulamak-ulamak muktabar di atas adalah SESAT kerana membenarkan sambutan Maulidul Rasul sebagaimana dakwaan Imam Mekah ini ? Dan majoriti Umat Islam yang menyambut Maulidul Rasul masuk neraka sebelum Allah memberikan keputusanNya (sebagaimana yang difahami oleh Wahhabi) ?

Boko Haram (Wahabi Arab Saudi di Nigeria) bunuh Ulama Muslim Nigeria Ibrahim Birkuti

Boko Haram (Wahabi Arab Saudi di Nigeria) bunuh Ulama Muslim Nigeria Ibrahim Birkuti
Rabu, 08/06/2011 08:47 WIB

Seorang pria bersenjata diyakini dari kelompok Boko Haram menembak mati seorang ulama terkemuka Ibrahim Birkuti di Nigeria utara.

Ibrahim Birkuti mengkritik Boko Haram karena membunuh puluhan agen keamanan dan politisi dalam beberapa bulan terakhir di dekat kota Maiduguri.

Birkuti berasal dari kelompok berpaham Wahabbi Arab Saudi, yang telah mendapatkan wilayah di utara terutama di kalangan Muslim Nigeria dalam beberapa tahun terakhir.

Dia salah seorang ulama yang paling menonjol dalam mengkritik Boko Haram di negara bagian Borno, yang Maiduguri sebagai ibukotanya.

Seorang jurubicara kepolisian mengatakan kepada BBC Birkuti terbunuh di luar rumahnya di kota Biu, sekitar 200km selatan Maiduguri.

“Seorang pria bersenjata mengendarai sepeda motor berhenti di luar rumah dan mengeluarkan pistol dari balik kemejanya dan menembaknya dua kali dalam jarak dekat sebelum melarikan diri,” kata Babagana Hanafi, tetangga Birkuti mengatakan kepada kantor berita AFP.

Seperti sebagian besar korban lainnya, ia ditembak mati oleh seorang pria yang mengendarai sepeda motor, saksi mata mengatakan.

Ratusan pendukung Boko Haram banyak yang tewas dalam pemberontakan tahun 2009 lalu. Mereka menyerang kantor polisi di Maiduguri tetapi pemimpin mereka berhasil dikalahkan dan dibunuh.

Boko Haram atau Kampanye melawan pendidikan Barat dan juga dikenal secara lokal sebagai Taliban.

Pekan lalu, Boko Haram mengatakan kepada BBC bahwa mereka telah melakukan serangkaian pemboman setelah pelantikan Presiden Goodluck Jonathan pekan lalu.

Seorang juru bicara Boko Haram menyatakan mereka bertanggung jawab atas pembunuhan saudara dari Shehu dari Borno, salah satu pemimpin Islam yang paling penting di Nigeria.(fq/bbc)

taqlid pada Imam Mujtahid (Madzab) itu wajib dilaksanakan bila kita tidak mampu berijtihad

Petikan di bawah di ambil dari Kitab Alla mazhabiyyatu Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu Asy Syariiata Al Islamiyyah karangan Dr Said Ramadhan al Buthi untuk berhujjah dengan Kitab Halil Muslimu Mulzamun Bittiba’i Mazhabin Mua’yyanin Minal Madzaahibil Arba’ah karangan Syeikh Khajandi (Muhammad Sulthan Al Ma’shumi Al Khajandi Al Makki) – ulama wahhabi terkenal yang juga guru besar Masjidil Haram yang telah menghukum bahawa mengikut mazhab itu adalah haram dan mempromosikan bebas mazhab (Alla mazhabiyyah)

Taqlid ialah mengikuti pendapat seseorang tanpa mengetahui hujah dan yang menunjukkan kebenaran pendapat tersebut. Dalam hal ini, tidak ada bezanya taqlid dan ittiba’ kerana kedua-duanya mempunyai erti yang sama.

Dalam al Quran, ALLah ‘azza wa Jalla menggunakan kata-kata ittiba’ sebagai pengganti kata-kata taqlid, sebagaimana firman -Nya yang bermaksud :

“(Iaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat seksa, serta ketika segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas dari kami…”
(Surah al Baqarah : 166-167)

Tidak ada keraguan lagi bahawa yang dimaksudkan ittiba’ dalam ayat itu ialah taqlid buta yang terlarang. Ada pun istilah yang anda (syeikh Khajandi) pergunakan membezakan erti taqlid dan ittiba’ dalam masalah ini, hanya ada dua alternatif iaitu :

Apabila anda (Syeikh Khajandi) mengerti dalil-dalil dan mempunyai kemampuan melakukan istinbath bererti anda adalah seorang mujtahid.

Tetapi apabila anda (Syeikh Khajandi) tidak mengerti dalil dan tidak menguasai cara-cara melakukan istinbath, anda adalah orang yang taqlid kepada mujtahid. Ada pun banyaknya lafaz dan istilah tidak akan mengubah kenyataan ini.

Kemudian, apakah dalil-dalil yang menunjukkan bahawa taqlid itu wajib dilaksanakan bila kita tidak mampu berijtihad? Berikut ini kami (Prof Dr Muhammad Said Ramadhan al Buthi) tunjukkan dalil dari beberapa segi :

Pertama : ALLah subahanahu wa ta’ala berfirman bermaksud :

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui” – (Surah an Nahl:43)

Para ulama telah sepakat bahawa ayat itu merupakan perintah kepada orang yang tidak mengerti hukum dan dalil agar mengikuti orang yang memahaminya. Seluruh ulama usul telah menetapkan ayat itu sebagai dasar pertama untuk mewajibkan orang awam agar taqlid kepada mujtahid.

Semakna dengan ayat itu, firman ALLah subahanahu wa ta’ala yang bermaksud :

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang beriman (mukmin) itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka, beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mreka itu dapat menjaga dirinya?” (Surah at Taubah : 122)

Dalam ayat ini, ALlah ‘azza wa Jalla melarang semua orang pergi berperang dan melakukan jihad, tetapi memerintahkan agar segolongan dari mereka tetap tinggal di tempatnya untuk mempelajari ilmu agama sehingga bila yang pergi berperang telah kembali. Mereka akan mendapatkan orang-orang yang dapat memberikan fatwa tentang urusan halal dan haram serta menjelaskan hukum-hukum ALLah subahanahu wa ta’ala lainnya. (Al Jaami’ Li Ahkaamil Quraan Imam Al Qurthubu, Jilid VIII, hlmn 293-294)

Kedua : Adanya ijma’ yang menunjukkan bahawa para sahabat Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam tidak sama tingkatan ilmu dan tidak kesemuanya ahli fatwa sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Khaldun. Dan masalah agama pun tidak diambil dari mereka semua. Di antara mereka ada yang menjadi mufti atau mujtahid, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan ada pula yang meminta fatwa dan menjadi muqallid yang jumlahnya sangat banyak.

Para sahabat yang menjadi mufti (mujtahid) dalam menerangkan hukum agama, tidak selalu menerangkan dalil-dalilnya kepada yang meminta fatwa. RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam telah mengutus para sahabatnya yang ahli hukum ke daerah-daerah yang penduduknya tidak mengenal Islam. Selain hanya mengetahui aqidah dan rukun-rukun sahaja. Kemudian para penduduk daerah tersebut mengikuti fatwa utusan RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam dengan mengamalkan ibadah dan muamalah, serta segala macam urusan yang ada sangkut pautnya dengan halal dan haram.

Apabila para utusan rasul menjumpai masalah yang tidak ditemukan dalilnya dari Al Kitab (al Quran al Karim) dan As Sunnah ((al Hadith Asy Syarif), ia melakukan ijtihad dan memberi menurut petunjuk dari hasil ijtihadnya. Selanjutnya, penduduk setempat mengikuti fatwa tersebut.

Imam al Ghazali RahimahuLLah dalam kitabnya Al Mustashfa pada bab Taqlid dan Istisfa mengatakan :

“Dalil orang awam harus taqlid ialah ijma’ sahabat. Mereka memberikan fatwa kepada orang awam, tanpa memerintahkannya untuk mencapai darjat ijtihad. Hal ini dapt diketahui dengan pasti dan dengan cara mutawatir, baik dari kalangan ulama mahupun awam.”

Imam Al Amudi berkata dalam kitabnya Al Ihkaam fii Ushuulil Ahkaam, :

“Adapun dalil taqlid dari segi ijma’ ialah orang awam pada zaman sahabat dan tabi’in, sebelum timbul golongan yang menentang, selalu meminta fatwa kepada para mujtahidin dan mengikuti mereka dalam urusan hukum syariat. Para ulama dari kalangan mereka dengan cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan tanpa menyebutkan dalilnya dan tidak ada seorang pun yang ingkar. Hal ini bererti mereka telah ijma; bahawa seorang awam boleh mengikuti mujtahid secara mutlak.”

Dari kalangan sahabat Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam, mereka yang tampil memberikan fatwa dapat dihitung jumlahnya. Mereka dikenal mempunyai kemampuan dalam hukum fiqh, riwayat, dan kemampuan istinbath (mengeluarkan hukum). Yang paling mahsyur di kalangan mereka ialah para Khulafa’ur Rasyidin (Abu Bakar, ‘Umar, Uthman dan Ali bin Abi Talib radiyaLlahu ‘anhum), AbduLlah bin Mas’ud RadiyaLlahu ‘anhu, Abu Musa al Asy’ari radiyaLlahu ‘anhu, Mu’az bin Jabal radiyaLlahu ‘anhu, Ubay bin Ka’ab radiyaLlahu ‘anhu dan Zaid bin Tsabit radiyaLLahu ‘anhu. Ada pun yang taqlid kepada mereka dalam mazhab dan fatwa, tidak terhitung jumlahnya.

Selanjutnya, pada zaman tabi’in daerah ijtihad semakin meluas. Pada masa ini kaum Muslimin tetap menempuh jalan yang sudah ditempuh oleh para sahabat. Hanya saja, ijtihad pada waktu itu bercermin (terpaku) pada 2 mazhab yang utama iaitu :

1. Mazhab ahli hadith

2. Mazhab ahli ra’yu

kerana adanya beberapa faktor yang telah kami sebutkan ketika menukilkan keterangan Ibnu Khaldun RahimahuLlah.

Tokoh-tokoh mazhab ahli hadith di Hijjaz ialah sa’id Ibnul Musayyab Al Makhzumi, Urwah Ibnul Zubair, Salim bin AbduLlah bin ‘Umar, Sulaiman bin Yasar, dan Nafi’ budak AbduLLah bin ‘Umar RadiyaLLahu anhum. Pada umumnya penduduk Hijjaz dan sekitarnya taqlid kepada mazhab ini tanpa ada yang mengingkarinya.

Adapun tokoh-tokoh mazhab ahli ra’yu di Iraq ialah AlQamah bin Qais an Nakha’i. Masruk bin Ajda’ Alhamdani Ibrahim bin Zaid An Nakha’i dan Sa’id bin Jubair RadiyaLlahu anhum. Sebahagian besar penduduk Iraq dan sekitarnya taqlid pada mazhab ini tanpa ada yang mengingkarinya.

Di antara tokoh kedua-dua mazhab ini terjadilah diskusi dan perdebatan hebat pada suatu saat. Tetapi di kalangan orang awam dan para penuntut ilmu yang tingkatannya di bawah mereka dalam urusan fiqih dan ilmu tidak mempedulikan perdebatan tersebut sebab mereka bebas taqlid kepada siapa sahaja yang mereka kehendaki. Diskusi antara para mujtahid tidak akan menjadi beban dan tanggungjawab bagi orang-orang yang bodoh (awam).

Sumber Rujukan : Dr Said Ramadhan Al Buthi, Alla mazhabiyyatu Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu Asy Syarii’ata Al Islamiyyah.