Dalil mencium tangan orang shalih – orang tua – penguasa muslim yg shalih

Sahih Al-Bukhari Volume (5)

Perlu diketahui bahwa mencium tangan orang yang saleh, penguasa yang bertakwa dan orang kaya yang saleh adalah perkara mustahabb (sunnah) yang disukai Allah. Hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah dan dan atsar para sahabat, yang akan kita sebutkan berikut ini.

Di antaranya, hadits riwayat al-Imam at-Tirmidzi dan lainnya, bahwa ada dua orang Yahudi bersepakat menghadap Rasulullah. Salah seorang dari mereka berkata: “Mari kita pergi menghadap -orang yang mengaku- Nabi ini untuk menanyainya tentang sembilan ayat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa”. Tujuan kedua orang Yahudi ini adalah hendak mencari kelemahan Rasulullah, karena beliau adalah seorang yang Ummi (tidak membaca dan tidak menulis). Mereka menganggap bahwa Rasulullah tidak mengetahui tentang sembilan ayat tersebut. Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah dan menanyakan prihal sembilan ayat yang diturunkan kepada Nabi Musa tersebut, maka Rasulullah menjelaskan kepada keduanya secara rinci tidak kurang suatu apapun. Kedua orang Yahudi ini sangat terkejut dan terkagum-kagum dengan penjelasan Rasulullah. Keduanya orang Yahudi ini kemudian langsung mencium kedua tangan Rasulullah dan kakinya. Al-Imam at-Tarmidzi berkata bahwa kulitas hadits ini Hasan Shahih#.
Abu asy-Syaikh dan Ibn Mardawaih meriwayatkan dari sahabat Ka’ab ibn Malik, bahwa ia berkata: “Ketika turun ayat tentang (diterimanya) taubat-ku, aku mendatangi Rasulullah lalu mencium kedua tangan dan kedua lututnya”#.

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad bahwa sahabat ‘Ali ibn Abi Thalib telah mencium tangan al-‘Abbas ibn ‘Abd al-Muththalib dan kedua kakinya, padahal ‘Ali lebih tinggi derajatnya dari pada al-‘Abbas. Namun karena al-‘Abbas adalah pamannya sendiri dan seorang yang saleh maka dia mencium tangan dan kedua kakinya tersebut#.

Demikian juga dengan ‘Abdullah ibn ‘Abbas, salah seorang dari kalangan sahabat yang masih muda ketika Rasulullah meninggal. ‘Abdullah ibn ‘Abbas pergi kepada sebagian sahabat Rasulullah lainnya untuk menuntut ilmu dari mereka. Suatu ketika beliau pergi kepada Zaid ibn Tsabit, salah seorang sahabat senior yang paling banyak menulis wahyu. Saat itu Zaid ibn Tsabit sedang keluar dari rumahnya. Melihat itu, dengan cepat ‘Abdullah ibn ‘Abbas memegang tempat pijakan kaki dari pelana hewan tunggangan Zaid ibn Tsabit. ‘Abdullah ibn ‘Abbas menyongsong Zaid untuk menaiki hewan tunggangannya tersebut. Namun tiba-tiba Zaid ibn Tsabit mencium tangan ‘Abdullah ibn ‘Abbas, karena dia adalah keluarga Rasulullah. Zaid ibn Tsabit berkata: “Seperti inilah kami memperlakukan keluarga Rasulullah”. Padahal Zaid ibn Tsabit jauh lebih tua dari ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Atsar ini diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Bakar ibn al-Muqri dalam Juz Taqbil al-Yad.
Ibn Sa’d juga meriwayatkan dengan sanad-nya dalam kitab Thabaqat dari ‘Abd ar-Rahman ibn Zaid al-‘Iraqi, bahwa ia berkata: “Kami telah mendatangi Salamah ibn al-Akwa’ di ar-Rabdzah. Lalu ia mengeluarkan tangannya yang besar seperti sepatu kaki unta, kemudian dia berkata: “Dengan tanganku ini aku telah membaiat Rasulullah”. Oleh karenanya lalu kami meraih tangan beliau dan menciumnya”#.
Juga telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa al-Imam Muslim mencium tangan al-Imam al-Bukhari. Al-Imam Muslim berkata kepadanya:

وَلَوْ أَذِنْتَ لِيْ لَقَبَّلْتُ رِجْلَكَ.
“Seandainya anda mengizinkan pasti aku cium kaki anda”#.

Dalam kitab at-Talkhish al-Habir, al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menuliskan sebagai berikut: “Tentang masalah mencium tangan ada banyak hadits yang dikumpulkan oleh Abu Bakar ibn al-Muqri, beliau mengumpulkannya dalam satu juz penuh. Di antaranya hadits ‘Abdullah ibn ‘Umar, dalam menceritakan suatu peristiwa di masa Rasulullah, beliau berkata:

فَدَنَوْنَا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَدَهُ وَرِجْلَهُ (رواه أبو داود)
“Maka kami mendekat kepada Rasulullah lalu kami cium tangan dan kakinya”. (HR. Abu Dawud)

Di antaranya juga hadits Shafwan ibn ‘Assal, dia berkata: “Ada seorang Yahudi berkata kepada temannya: Mari kita pergi kepada Nabi ini (Muhammad). Kisah lengkapnya seperti tertulis di atas. Kemudian dalam lanjutan hadits ini disebutkan:

فَقَبَّلاَ يَدَهُ وَرِجْلَهُ وَقَالاَ: نَشْـهَدُ أَنَّكَ نَبِيٌّ.
“Maka keduanya mencium tangan Nabi dan kakinya lalu berkata: Kami bersaksi bahwa engkau seorang Nabi”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Para Penulis Kitab-kitab Sunan (al-Imam at-Tirmidzi, al-Imam an-Nasa’i, al-Imam Ibn Majah, dan al-Imam Abu Dawud) dengan sanad yang kuat.
Juga hadits az-Zari’, bahwa ia termasuk rombongan utusan ‘Abd al-Qais, bahwa ia berkata:

فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Maka kami bergegas turun dari kendaraan kami lalu kami mencium tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam”. (HR. Abu Dawud)

Dalam hadits tentang peristiwa al-Ifk (tersebarnya kabar dusta bahwa as-Sayyidah ‘Aisyah berbuat zina) dari ‘Aisyah, bahwa ia berkata: “Abu Bakar berkata kepadaku:

قُوْمِيْ فَقَبِّلِيْ رَأْسَهُ.
“Berdirilah dan cium kepalanya (Rasulullah)”. (HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir)#.

Dalam kitab sunan yang tiga (Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i) dari ‘Aisyah, bahwa ia berkata:

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَشْبَهَ سُمْتًا وَهَدْيَا وَدَلاًّ بِرَسُوْلِ اللهِ مِنْ فَاطِمَةَ، وَكَانَ إِذَا دَخَلَتْ عَلَيْهِ قَامَ إِلَيْهَا فَأَخَذَ بِيَدِهَا فَقَبَّلَهَا وَأَجْلَسَهَا فِيْ مَجْلِسِهِ، وَكَانَتْ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهَا قَامَتْ إِلَيْهِ فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَبَّلَتْهُ، وَأَجْلَسَتْهُ فِيْ مَجْلِسِهَا.
“Aku tidak pernah melihat seorangpun lebih mirip dengan Rasulullah dari Fathimah dalam sifatnya, cara hidup dan gerak-geriknya. Ketika Fathimah datang kepada Rasulullah, maka Rasulullah berdiri menyambutnya lalu mengambil tangan Fathimah, kemudian Rasulullah mencium Fathimah dan membawanya duduk di tempat duduk beliau. Dan apabila Rasulullah datang kepada Fathimah, maka Fathimah berdiri menyambutnya lalu mengambil tangan Rasulullah, kemudian mencium Rasulullah, setelah itu ia mempersilahkan beliau duduk di tempatnya”.

Demikian penjelasan al-Hafizh Ibn Hajar dalam kitab at-Talkhish al-Habir.
Dalam hadits yang terakhir disebutkan, juga terdapat dalil tentang kebolehan berdiri untuk menyambut orang yang masuk datang ke suatu tempat, jika memang bertujuan untuk menghormati bukan untuk menyombongkan diri dan menampakkan keangkuhan.
Sedangkan hadits riwayat al-Imam Ahmad dan al-Imam at-Tirmidzi dari Anas ibn Malik yang menyebutkan bahwa para sahabat jika mereka melihat Rasulullah mereka tidak berdiri untuknya karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah tidak menyukai hal itu, hadits ini tidak menunjukkan kemakruhan berdiri untuk menghormati. Pemaknaan hadits ini bahwa Rasulullah tidak menyukai hal itu karena beliau takut akan diwajibkan hal itu atas para sahabat. Dengan demikian, Rasulullah tidak menyukai hal itu karena beliau menginginkan keringanan bagi ummatnya. Sebagaimana sudah diketahui bahwa Rasulullah kadang suka melakukan sesuatu tapi ia meninggalkannya meskipun ia menyukainya karena beliau menginginkan keringanan bagi ummatnya.
Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Abu Dawud dan al-Imam at-Tirmidzi bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَتَمَثَّلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ (رَوَاه أبو دَاوُد والتّرمذيّ)

berdiri yang dilarang dalam hadits ini adalah berdiri yang biasa dilakukan oleh orang-orang Romawi dan Persia kepada raja-raja mereka. Jika mereka ada di suatu majelis lalu raja mereka masuk, maka mereka berdiri untuk raja tersebut dengan Tamatstsul; artinya berdiri terus hingga sang raja pergi meninggalkan majelis atau tempat tersebut. Ini yang dimaksud dengan Tamatstsul dalam bahasa Arab.
Sedangkan riwayat yang disebutkan oleh sebagian orang bahwa Rasulullah menarik tangannya dari tangan orang yang hendak menciumnya, ini adalah hadits yang sangat lemah menurut ahli hadits#.
Maka sangat aneh bila ada orang yang menyebut-nyebut hadits dla’if ini dengan tujuan menjelekkan perbuatan mencium tangan. Bagaimana dia meninggalkan sekian banyak hadits shahih yang membolehkan mencium tangan, dan dia berpegangan dengan hadits yang sangat lemah untuk melarangnya!? Hasbunallah.

Membongkar Kesesatan Ajaran Wahabi Yang Membagi Tauhid kepada 3 Bagian; Aqidah Mereka Ini Nyata Bid’ah Sesat

Pendapat kaum Wahabi yang membagi tauhid kepada tiga bagian; tauhid Ulûhiyyah, tauhid Rubûbiyyah, dan tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât adalah bid’ah batil yan menyesatkan. Pembagian tauhid seperti ini sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, hadits, dan tidak ada seorang-pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut. Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang; mereka mengaku datang untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah.

Di antara dasar yang dapat membuktikan kesesatan pembagian tauhid ini adalah sabda Rasulullah:

أمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتىّ يَشْهَدُوْا أنْ لاَ إلهَ إلاّ اللهُ وَأنّيْ رَسُوْل اللهِ، فَإذَا فَعَلُوْا ذَلكَ عُصِمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وأمْوَالَهُمْ إلاّ بِحَقّ (روَاه البُخَاريّ)

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (Ilâh) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan itu maka terpelihara dariku darang-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali karena hak”. (HR al-Bukhari).

Dalam hadits ini Rasulullah tidak membagi tauhid kepada tiga bagian, beliau tidak mengatakan bahwa seorang yang mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh” saja tidak cukup untuk dihukumi masuk Islam, tetapi juga harus mengucapkan “Lâ Rabba Illallâh”. Tetapi makna hadits ialah bahwa seseorang dengan hanya bersaksi dengan mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh”, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah maka orang ini telah masuk dalam agama Islam. Hadits ini adalah hadits mutawatir dari Rasulullah, diriwayatkan oleh sejumlah orang dari kalangan sahabat, termasuk di antaranya oleh sepuluh orang sahabat yang telah medapat kabar gembira akan masuk ke surga. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

Tujuan kaum Musyabbihah membagi tauhid kepada tiga bagian ini adalah tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang Islam ahi tauhid yang melakukan tawassul dengan Nabi Muhammad, atau dengan seorang wali Allah dan orang-orang saleh. Mereka mengklaim bahwa seorang yang melakukan tawassul seperti itu tidak mentauhidkan Allah dari segi tauhid Ulûhiyyah. Demikian pula ketika mereka membagi tauhid kepada tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât, tujuan mereka tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat Mutasyâbihât. Oleh karenanya, kaum Musyabbihah ini adalah kaum yang sangat kaku dan keras dalam memegang teguh zhahir teks-teks Mutasyâbihât dan sangat “alergi” terhadap takwil. Bahkan mereka mengatakan: “al-Mu’aw-wil Mu’ath-thil”; artinya seorang yang melakukan takwil sama saja dengan mengingkari sifat-sifat Allah. Na’ûdzu Billâh.

Dengan hanya hadits shahih di atas, cukup bagi kita untuk menegaskan bahwa pembagian tauhid kepada tiga bagian di atas adalah bid’ah batil yang dikreasi oleh orang-orang yang mengaku memerangi bid’ah yang sebenarnya mereka sendiri ahli bid’ah. Bagaimana mereka tidak disebut sebagai ahli bid’ah, padahal mereka membuat ajaran tauhid yang sama sekali tidak pernah dikenal oleh orang-orang Islam?! Di mana logika mereka, ketika mereka mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah saja tidak cukup, tetapi juga harus dengan pengakuan tauhid Rubûbiyyah?! Bukankah ini berarti menyalahi hadits Rasulullah di atas?! Dalam hadits di atas sangat jelas memberikan pemahaman kepada kita bahwa seorang yang mengakui ”Lâ Ilâha Illallâh” ditambah dengan pengakuan kerasulan Nabi Muhammad maka cukup bagi orang tersebut untuk dihukumi sebagai orang Islam. Dan ajaran inilah yang telah dipraktekan oleh Rasulullah ketika beliau masih hidup. Apa bila ada seorang kafir bersaksi dengan ”Lâ Ilâha Illallâh” dan ”Muhammad Rasûlullâh” maka oleh Rasulullah orang tersebut dihukumi sebagai seorang muslim yang beriman. Kemudian Rasulullah memerintahkan kepadanya untuk melaksanakan shalat sebelum memerintahkan kewajiban-kewajiban lainnya; sebagaimana hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadits oleh al-Imâm al-Bayhaqi dalam Kitâb al-I’tiqâd. Sementara kaum Musyabbihah di atas membuat ajaran baru; mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah saja tidak cukup, ini sangat nyata telah menyalahi apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Mereka tidak paham bahwa ”Ulûhiyyah” itu sama saja dengan ”Rubûbiyyah”, bahwa ”Ilâh” itu sama saja artinya dengan ”Rabb”.

Kemudian kita katakan pula kepada mereka; Di dalam banyak hadits diriwayatkan bahwa di antara pertanyaan dua Malaikat; Munkar dan Nakir yang ditugaskan untuk bertanya kepada ahli kubur adalah: ”Man Rabbuka?”. Tidak bertanya dengan ”Man Rabbuka?” lalu diikutkan dengan ”Man Ilahuka?”. Lalu seorang mukmin ketika menjawab pertanyaan dua Malaikat tersebut cukup dengan hanya berkata ”Allâh Rabbi”, tidak harus diikutkan dengan ”Allâh Ilâhi”. Malaikat Munkar dan Nakir tidak membantah jawaban orang mukmin tersebut dengan mengatakan: ”Kamu hanya mentauhidkan tauhid Rubûbiyyah saja, kamu tidak mentauhidkan tauhid Ulûhiyyah!!”. Inilah pemahaman yang dimaksud dalam hadits Nabi tentang pertanyaan dua Malaikat dan jawaban seorang mukmin dikuburnya kelak. Dengan demikian kata ”Rabb” sama saja dengan kata ”Ilâh”, demikian pula ”tauhid Ulûhiyyah” sama saja dengan ”tauhid Rubûbiyyah”.
Dalam kitab Mishbâh al-Anâm, pada pasal ke dua, karya al-Imâm Alawi ibn Ahmad al-Haddad, tertulis sebagai berikut:

”Tauhid Ulûhiyyah masuk dalam pengertian tauhid Rubûbiyyah dengan dalil bahwa Allah telah mengambil janji (al-Mîtsâq) dari seluruh manusia anak cucu Adam dengan firman-Nya ”Alastu Bi Rabbikum?”. Ayat ini tidak kemudian diikutkan dengan ”Alastu Bi Ilâhikum?”. Artinya; Allah mencukupkannya dengan tauhid Rubûbiyyah, karena sesungguhya sudah secara otomatis bahwa seorang yang mengakui ”Rubûbiyyah” bagi Allah maka berarti ia juga mengakui ”Ulûhiyyah” bagi-Nya. Karena makna ”Rabb” itu sama dengan makna ”Ilâh”. Dan karena itu pula dalam hadits diriwayatkan bahwa dua Malaikat di kubur kelak akan bertanya dengan mengatakan ”Man Rabbuka?”, tidak kemudian ditambahkan dengan ”Man Ilâhuka?”. Dengan demikian sangat jelas bahwa makna tauhid Rubûbiyyah tercakup dalam makna tauhid Ulûhiyyah.
Di antara yang sangat mengherankan dan sangat aneh adalah perkataan sebagian pendusta besar terhadap seorang ahli tauhid; yang bersaksi ”Lâ Ilâha Illallâh, Muhammad Rasulullah”, dan seorang mukmin muslim ahli kiblat, namun pendusta tersebut berkata kepadanya: ”Kamu tidak mengenal tahuid. Tauhid itu terbagi dua; tauhid Rubûbiyyah dan tauhid Ulûhiyyah. Tauhid Rubûbiyyah adalah tauhid yang telah diakui oleh oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik. Sementara tauhid Ulûhiyyah adalah adalah tauhid murni yang diakui oleh orang-orang Islam. Tauhid Ulûhiyyah inilah yang menjadikan dirimu masuk di dalam agama Islam. Adapun tauhid Rubûbiyyah saja tidak cukup”. Ini adalah perkataan orang sesat yang sangat aneh. Bagaimana ia mengatakan bahwa orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sebagai ahli tauhid?! Jika benar mereka sebagai ahli tauhid tentunya mereka akan dikeluarkan dari neraka kelak, tidak akan menetap di sana selamanya, karena tidak ada seorangpun ahli tauhid yang akan menetap di daam neraka tersebut sebagaimana telah diriwayatkan dalam banyak hadits shahih. Adakah kalian pernah mendengar di dalam hadits atau dalam riwayat perjalanan hidup Rasulullah bahwa apa bila datang kepada beliau orang-orang kafir Arab yang hendak masuk Islam lalu Rasulullah merinci dan menjelaskan kepada mereka pembagian tauhid kepada tauhid Ulûhiyyah dan tauhid Rubûbiyyah?! Dari mana mereka mendatangkan dusta dan bohong besar terhadap Allah dan Rasul-Nya ini?! Padalah sesungguhnya seorang yang telah mentauhidkan ”Rabb” maka berarti ia telah mentauhidkan ”Ilâh”, dan seorang yang telah memusyrikan ”Rabb” maka ia juga berarti telah memusyrikan ”Ilâh”. Bagi seluruh orang Islam tidak ada yang berhak disembah oleh mereka kecuali ”Rabb” yang juga ”Ilâh” mereka. Maka ketika mereka berkata ”Lâ Ilâha Illallâh”; bahwa hanya Allah Rabb mereka yang berhak disembah; artinya mereka menafikan Ulûhiyyah dari selain Rabb mereka, sebagaimana mereka menafikan Rubûbiyyah dari selain Ilâh mereka. Mereka menetapkan ke-Esa-an bagi Rabb yang juga Ilâh mereka pada Dzat-Nya, Sifat-sifat-Nya, dan pada segala perbuatan-Nya; artinya tidak ada keserupaan bagi-Nya secara mutlak dari berbagai segi”.

(Masalah): Para ahli bid’ah dari kaum Musyabbihah biasanya berkata: ”Sesungguhnya para Rasul diutus oleh Allah adalah untuk berdakwah kepada umatnya terhadap tauhid Ulûhiyyah; yaitu agar mereka mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Adapun tauhid Rubûbiyyah; yaitu keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam ini, dan bahwa Allah adalah yang mengurus segala peristiwa yang terjadi pada alam ini, maka tauhid ini tidak disalahi oleh seorang-pun dari seluruh manusia, baik orang-orang musyrik maupun orang-orang kafir, dengan dalil firman Allah dalam QS. Luqman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ (لقمان: 25)

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)

(Jawab): Perkataan mereka ini murni sebagai kebatilan belaka. Bagaimana mereka berkata bahwa seluruh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik sama dengan orang-orang mukmin dalam tauhid Rubûbiyyah?! Adapun pengertian ayat di atas bahwa orang-orang kafir mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi adalah pengakuan yang hanya di lidah saja, bukan artinya bahwa mereka sebagai orang-orang ahli tauhid; yang mengesakan Allah dan mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Terbukti bahwa mereka menyekutukan Allah, mengakui adanya tuhan yang berhak disembah kepada selain Allah. Mana logikanya jika orang-orang musyrik disebut sebagai ahli tauhid?! Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa di dalam Islam terdapat dua tauhid; Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah! Rasulullah tidak pernah berkata kepada seorang kafir yang hendak masuk Islam bahwa tidak cukup baginya untuk menjadi seorang muslim hanya bertauhid Rubûbiyyah saja, tapi juga harus bertauhid Ulûhiyyah! Oleh karena itu di dalam al-Qur’an Allah berfirman tentang perkataan Nabi Yusuf saat mengajak dua orang di dalam penjara untuk mentauhidkan Allah:

أَأَرْبَابٌ مُتَفَرّقُوْنَ خَيْرٌ أمِ اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهّار (يوسف: 39

”Adakah rabb-rabb yang bermacam-macam tersebut lebih baik ataukah Allah (yang lebih baik) yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan yang maha menguasai?!” (QS. Yusuf: 39).

Dalam ayat ini Nabi Yusuf menetapkan kepada mereka bahwa hanya Allah sebagai Rabb yang berhak disembah.
Perkataan kaum Musyabbihah dalam membagi tauhid kepada dua bagian, dan bahwa tauhid Ulûhiyyah (Ilâh) adalah pengakuan hanya Allah saja yang berhak disembah adalah pembagian batil yang menyesatkan, karena tauhid Rubûbiyyah adalah juga pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, sebagaimana yang dimaksud oleh ayat di atas. Dengan demikian Allah adalah Rabb yang berhak disembah, dan juga Allah adalah Ilâh yang berhak disembah. Kata “Rabb” dan kata “Ilâh” adalah kata yang memiliki kandungan makna yang sama sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Imâm Abdullah ibn Alawi al-Haddad di atas.

Dalam majalah Nur al-Islâm, majalah ilmiah bulanan yang diterbitkan oleh para Masyâyikh al-Azhar asy-Syarif Cairo Mesir, terbitan tahun 1352 H, terdapat tulisan yang sangat baik dengan judul “Kritik atas pembagian tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah” yang telah ditulis oleh asy-Syaikh al-Azhar al-‘Allamâh Yusuf ad-Dajwi al-Azhari (w 1365 H), sebagai berikut:

[[“Sesungguhnya pembagian tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah adalah pembagian yang tidak pernah dikenal oleh siapapun sebelum Ibn Taimiyah. Artinya, ini adalah bid’ah sesat yang telah ia munculkannya. Di samping perkara bid’ah, pembagian ini juga sangat tidak masuk akal; sebagaimana engkau akan lihat dalam tulisan ini. Dahulu, bila ada seseorang yang hendak masuk Islam, Rasulullah tidak mengatakan kepadanya bahwa tauhid ada dua macam. Rasulullah tidak pernah mengatakan bahwa engkau tidak menjadi muslim hingga bertauhid dengan tauhid Ulûhiyyah (selain Rubûbiyyah), bahkan memberikan isyarat tentang pembagian tauhid ini, walau dengan hanya satu kata saja, sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Demikian pula hal ini tidak pernah didengar dari pernyataan ulama Salaf; yang padahal kaum Musyabbihah sekarang yang membagi-bagi tauhid kepada Ulûhiyyah dan Rubûbiyyah tersebut mengaku-aku sebagai pengikut ulama Salaf. Sama sekali pembagian tauhid ini tidak memiliki arti. Adapun firman Allah:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لَيَقُولَنَّ اللهُ (لقمان: 25)

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan seluruh lapisan langit dan bumi? Maka mereka benar-benar akan menjawab: “Allah” (QS. Luqman: 25)
Ayat ini menceritakan perkataan orang-orang kafir yang mereka katakan hanya di dalam mulut saja, tidak keluar dari hati mereka. Mereka berkata demikian itu karena terdesak tidak memiliki jawaban apapun untuk membantah dalil-dalil kuat dan argumen-argumen yang sangat nyata (bahwa hanya Allah yang berhak disembah). Bahkan, apa yang mereka katakan tersebut (pengakuan ketuhanan Allah) ”secuil”-pun tidak ada di dalam hati mereka, dengan bukti bahwa pada saat yang sama mereka berkata dengan ucapan-ucapan yang menunjukan kedustaan mereka sendiri. Lihat, bukankah mereka menetapkan bahwa penciptaan manfaat dan bahaya bukan dari Allah?! Benar, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. Dari mulai perkara-perkara sepele hingga peristiwa-peristiwa besar mereka yakini bukan dari Allah, bagaimana mungkin mereka mentauhidkan-Nya?! Lihat misalkan firman Allah tentang orang-orang kafir yang berkata kepada Nabi Hud:

إِن نَّقُولُ إِلاَّ اعْتَرَاكَ بَعْضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوءٍ (هود: 54)

”Kami katakan bahwa tidak lain engkau telah diberi keburukan atau dicelakakan oleh sebagian tuhan kami” (QS. Hud: 54).

Sementara Ibn Taimiyah berkata bahwa dalam keyakinan orang-orang musyrik tentang sesembahan-sesembahan mereka tersebut tidak memberikan manfaat dan bahaya sedikit-pun. Dari mana Ibn Taimiyah berkata semacam ini?! Bukankah ini berarti ia membangkang kepada apa yang telah difirmankah Allah?! Anda lihat lagi ayat lainnya dari firman Allah tentang perkataan-perkataan orang kafir tersebut:

وَجَعَلُوا للهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَاْلأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا للهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَآئِنَا فَمَاكَانَ لِشُرَكَآئِهِمْ فَلاَيَصِلُ إِلَى اللهِ وَمَاكَانَ للهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَآئِهِمْ (الأنعام: 136)

”Lalu mereka berkata sesuai dengan prasangka mereka: ”Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka sajian-sajian yang diperuntukan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukan bagi Allah maka sajian-sajian tersebut sampai kepada berhala mereka” (QS. al-An’am: 136).
Lihat, dalam ayat ini orang-orang musyrik tersebut mendahulukan sesembahan-sesembahan mereka atas Allah dalam perkara-perkara sepele.

Kemudian lihat lagi ayat lainnya tentang keyakinan orang-orang musyrik, Allah berkata kepada mereka:

و َمَانَرَى مَعَكُمْ شُفَعَآءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاؤُا (الأنعام: 94)

”Dan Kami tidak melihat bersama kalian para pemberi syafa’at bagi kalian (sesembahan/berhala) yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu tuhan di antara kamu”(QS. al-An’am: 94).
Dalam ayat ini dengan sangat nyata bahwa orang-orang kafir tersebut berkeyakinan bahwa sesembahan-sesembahan mereka memberikan mafa’at kepada mereka. Itulah sebabnya mengapa mereka mengagung-agungkan berhala-berhala tersebut.

Lihat, apa yang dikatakan Abu Sufyan; ”dedengkot” orang-orang musyrik di saat perang Uhud, ia berteriak: ”U’lu Hubal” (maha agung Hubal), (Hubal adalah salah satu berhala terbesar mereka). Lalu Rasulullah menjawab teriakan Abu Sufyan: ”Allâh A’lâ Wa Ajall” (Allah lebih tinggi derajat-Nya dan lebih Maha Agung).

Anda pahami teks-teks ini semua maka anda akan paham sejauh mana kesesatan mereka yang membagi tauhid kepada dua bagian tersebut!! Dan anda akan paham siapa sesungguhnya Ibn Taimiyah yang telah menyamakan antara orang-orang Islam ahli tauhid dengan orang-orang musyrik para penyembah berhala tersebut, yang menurutnya mereka semua sama dalam tauhid Rubûbiyyah!”]].

Bocoran wikileaks : Pangeran Saudi Doyan pesta alkohol dan Narkoba


foto Para anggota penjaga kehormatan tradisional kebudayaan badwi najd Saudi merayakan akhir Ramadhan.

JEDDAH, KOMPAS.com — Para diplomat AS dalam kawat diplomatik yang dibocorkan WikiLeaks menggambarkan dunia seks, narkoba, dan rock ‘n roll di balik kasalehan formal Kerajaan Arab Saudi.

Para pejabat Konsulat AS di Jeddah menggambarkan sebuah pesta Halloween bawah tanah yang digelar tahun lalu oleh seorang anggota keluarga kerajaan, yang menabrak semua tabu di negara Islam itu. Minuman keras dan para pelacur hadir dalam jumlah berlimpah di balik pintu gerbang vila yang dijaga ketat. Demikian menurut bocoran itu.

Pesta tersebut digelar oleh seorang pangeran kaya dari keluarga besar Al-Thunayan. Para diplomat itu mengatakan, identitasnya harus dirahasiakan.

“Alkohol, meskipun sangat dilarang oleh hukum dan pabean Saudi, sangat berlimpah di bar pesta itu dengan koleksi yang lengkap. Bartender Filipina yang disewa menyajikan koktail sadiqi, sebuah minuman keras buatan lokal,” kata kawat itu sebagaimana dilansir The Guardian. “Juga diketahui dari mulut ke mulut bahwa sejumlah tamu (pada pesta itu) ternyata “gadis panggilan”, sesuatu yang tidak biasa untuk pesta semacam itu.

Kiriman informasi dari para diplomat AS itu ditandatangani oleh konsul AS di Jeddah, Martin Quinn, yang menambahkan, “Meski tidak menyaksikan langsung peristiwa tersebut, kokain dan hashishsh (ganja) digunakan secara umum dalam lingkungan sosial semacam itu.”

Pesta bawah tanah sedang “berkembang dan berdenyut” di Arab Saudi berkat perlindungan dari Kerajaan Arab Saudi. Namun, pesta semacam itu hanya tersedia di balik pintu tertutup dan untuk orang yang sangat kaya. Terdapat sedikitnya 10.000 pangeran di kerajaan itu. Beberapa masih merupakan keturunan langsung Raja Abdul Aziz, sementara yang lain berasal dari cabang keluarga yang tidak langsung.

Para diplomat yang hadir dalam pesta itu melaporkan, lebih dari 150 pria dan perempuan Saudi, sebagian besar berusia 20-an dan 30-an tahun, hadir dalam pesta tersebut. Orang-orang yang masuk dikontrol melalui daftar tamu yang ketat. “Adegannya mirip sebuah klub malam di mana pun di luar kerajaan itu: banyak alkohol, pasangan muda yang menari-nari, seorang DJ dengan meja turntable, dan semua orang berdandan.”

Menurut bocoran itu, rak di bar tempat pesta itu menampilkan jenis-jenis minuman keras terkenal.

Para diplomat tadi juga coba menjelaskan mengapa sang tuan rumah begitu lengket dengan pengawal Nigeria, yang beberapa di antaranya berjaga-jaga di pintu. “Sebagian besar pasukan keamanan sang pangeran adalah laki-laki muda Nigeria. Merupakan praktik yang umum di kalangan para pangeran Saudi untuk tumbuh bersama para pengawal berusia muda (seusia dengan para pangeran itu) yang disewa dari Nigeria atau negara-negara Afrika lainnya, dan akan tetap bersama dengan pangeran tersebut hingga dewasa. Waktu bersama yang lama menciptakan ikatan kesetiaan yang intens.”

Seorang pemuda Saudi mengatakan kepada diplomat itu bahwa pesta besar merupakan tren baru. Hingga beberapa tahun lalu, katanya, kegiatan akhir pekan hanya berupa “kencan” dalam kelompok-kelompok kecil yang bertemu di dalam rumah orang kaya. Menurut bocoran itu juga, beberapa rumah mewah di Jeddah memiliki bar di bawah tanah, diskotik, dan klub.

Buku Baru : Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

wahhabi adalah ajaran sesat buatan agen zionist (istri Mohammad abdul wahab adalah agen yahudi) yang dibantu zionist british (lawrence dearabia) memberontak pada khalifah usmaniyah

Judul Buku : Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi
Penulis : Syaikh Idahram
Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan : I, 2011 Tebal : 280 Halaman
Peresensi : Imam S Arizal*)

Keyakinan bahwa hanya ada kebenaran tunggal akan menjadi bencana bagi kehidupan beragama. Setidaknya hal itulah yang terekam dari perjalanan sejarah sekte salafi wahabi. Sejarah gerakan ini dipenuhi dengan darah umat islam. Banyak sekali tragedi-tragedi kemanusiaan, kekerasan dan bahkan pembunuhan yang mewarnai perjalanan dan pengembangan gerakan wahabi. Pun demikian, tak jarang Tuhan dijadikan alat legeitimasi untuk melangsungkan misi gerakan wahabi.

Wahabi adalah gerakan pembaharuan dan pemurnian Islam yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman at-Tamimi (1115-1206 H / 1703-1792 M) dari Najd (juga tempat munculnya Musailamah alkadzab), Semenanjung Arabia. Istilah Wahabi telah dikenal semasa Ibn Abdul Wahab hidup, tapi bukan atas inisiatif dirinya melainkan berasal dari lawan-lawannya. Ini berarti, istilah Wahabi merupakan bagian dari rangkaian stigma terhadap gerakannya.

Kaum Wahabi mengklaim sebagai muslim yang berkiblat pada ajaran Islam yang pure,paling murni. Mereka sering juga menamakan diri sebagai muwahiddun, yang berarti pendukung ajaran yang memurnikan keesaan Allah (tauhid). Tetapi, mereka juga menyatakan bahwa mereka bukanlah sebuah mazhab atau kelompok aliran Islam baru, tetapi hanya mengikuti seruan (dakwah) untuk mengimplementasikan ajaran Islam yang (paling) benar.

Tujuan awal aliran Wahabi adalah mengembalikan umat kepada ajaran Islam yang murni seperti yang termuat dalam Alquran dan sunah (menurut versi mereka). Karenanya, tauhid (mujasimmah khwarij) merupakan tema pokok dalam doktrin Wahabi. John L Esposito menegemukakan bahwa Abdul Wahhab memandang tauhid sebagai agama Islam itu sendiri.

Dengan semangat puritannya, Abdul Wahhab hendak membebaskan Islam dari semua perusakan yang diyakininya telah menggerogoti Islam seperti tasawuf, tawasul, bermadzab dsb.‘Abd al-Wahhab sendiri gemar membuat daftar panjang keyakinan dan perbuatan yang dinilainya munafik, yang bila diyakini atau diamalkan akan segera mengantarkan seorang muslim berstatus kafir.

Sejak kelahirannya, aliran wahabi sangat lekat dengan tradisi kekerasan. Bersama Dinasti Saud, kaum wahabi berusaha menundukkan suku-suku di Jazirah Arab di bawah bendera Wahabi/Saudi. Menyamun, menyerang, dan menjarah suku tetangga adalah praktik yang luas dilakukan suku-suku Badui di Jazirah Arab sepanjang sejarahnya. Setiap suku yang belum masuk wahabi diberi dua tawaran jelas: masuk wahabi atau diperangi sebagai orang-orang musyrik dan kafir (hlm. 119).

Dalam doktrinnya, setiap muslim yang tidak mempunyai pemahaman dan praktik agama Islam yang persis seperti wahabi dianggap murtad dan karenanya memerangi mereka diperbolehkan, atau bahkan diwajibkan. Razia, penggerebekan dan perampokan pun dilakukan. Dengan demikian, predikat muslim hanya merujuk secara eksklusif kepada para pengikut wahabi, seperti kata “muslim” yang digunakan dalam buku Unwan al-Majd fi Tarikh al-Najd, salah satu buku sejarah resmi wahabisme.

Gerakan wahabi telah melakukan keganasan dan kekejaman di kota Karbala (1216 H/1802 M) dengan pembunuhan yang tidak mengenal batas perikemanusiaan. Mereka telah membunuh puluhan ribu orang Islam, selama kurun waktu 12 tahun ketika mereka menyerang dan menduduki kota Karbala serta kawasan sekitarnya, termasuk Najaf.

Pada tahun 1803 M, kaum wahabi menyerang dan memberangus kota Thaif. Di kota itu mereka membunuh sibuan penduduk sipil, termasuk wanita dan anak-anak yatim. Bahkan, menurut Muhammad Muhsin al-Amin, mereka turut menyembelih bayi yang masih di pangkuan ibunya dan wanita-wanita hamil, sehingga tiada seorang pun yang terlepas dari kekejaman wahabi (hlm. 77).

Setelah mereka merampas, merusak segala yang ada, membunuh orang-orang tak berdosa, dan melakukan keganasan yang tidak terkira terhadap umat islam, mereka melanjutkan kebrutalannya menuju Makkah. Ibnu Bisyr dalam kitabnya Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, menguraikan bahwa pada bulan Muharram 1220 H/1805 M, wahabi di Makkah membunuh ribuan umat islam yang sedang menunaikan ibadah haji. Dalam cacatan lain disebutkan, pembunuhan bukan hanya terjadi pada jamaah haji, melainkan juga pada masyarakat sipil.

Aksi kekerasan wahabi tidak berhenti sampai disitu. Pada tahun 1341 H/1921 M tentara wahabi membantai seribu orang lebih rombongan jamaah haji asal Yaman yang sedang menuju Makkah tanpa sebab yang jelas. Tahun 1408 H/1986 M mereka juga menyerang jamaah haji asal Iran. Peristiwa itu menewaskan 329 orang dan ribuan lainnya luka-luka (hlm. 99-100).

Selain membunuh masyarakat sipil, tentara wahabi juga melakukan pembakaran terhadap perpustakaan-perpustakaan Islam. Di antara kasus pembakaran buku-buku yang paling fenomenal adalah pembakaran buku-buku yang terdapat di Perpustakaan Arab (Maktabah Arabiyah) di Makkah al-Mukarramah. Perpurkaan ini termasuk perpustakaan yang paling berharga dan paling bernilai historis. Bagaimana tidak, sedikitnya ada 60.000 buku-buku langka dan sekitar 40.000 masih berupa manuskrip yang sebagiaannya adalah hasil diktean dari Nabi Muhammad kepada para sahabatnya, sebagian lagi dari Khulafaur Rasyidin, dan para sahabat Nabi yang lainnya. Semua buku-buku tersebut dibumi-hanguskan oleh para tentara wahabi.

Itulah sebagian kecil dari sisi gelap perjalanan sekte wahabi yang termuat dalam buku ini. Karya Syaikh Idahram ini cukup kritis dan merupakan suatu karya ilmiah penting bagi bangsa Indonesia. Bahkan dalam pengantarnya, Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, memuji karya besar ini. menurutnya, belum ditemukan karya setajam ini sebelumnya dalam mengkritisi Gerakan Salafi Wahabi.

Imam S Arizal, Peneliti Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikitan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Syamaail ar-Rasuul : Fadhilah Siwak / Miswak

Syamaail ar-Rasuul – 4: Siwak


Bersiwak atau bersugi adalah merupakan sunnah junjungan kita, Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Ianya adalah satu ‘amalan yang tidak pernah Baginda صلى الله عليه وآله وسلم tinggalkan hatta disaat-saat akhir hayat Baginda صلى الله عليه وآله وسلم, Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersiwak. Sayyidatuna ‘Aisyah رضي الله عنها menceritakan:
دَخَلَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مُسْنِدَتُهُ إِلَى صَدْرِي وَمَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سِوَاكٌ رَطْبٌ يَسْتَنُّ بِهِ ، فَأَبَدَّهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ بَصَرَهُ، فَأَخَذْتُ السِّوَاكَ فَقَصَمْتُهُ وَنَفَضْتُهُ وَطَيَّبْتُهُ، ثُمَّ دَفَعْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَنَّ بِهِ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ اسْتَنَّ اسْتِنَانًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ، فَمَا عَدَا أَنْ فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَهُ أَوْ إِصْبَعَهُ، ثُمَّ قَالَ : فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى ثَلَاثًا، ثُمَّ قَضَى، وَكَانَتْ، تَقُولُ : مَاتَ بَيْنَ حَاقِنَتِي وَذَاقِنَتِي
Terjemahannya: Telah masuk ’Abdurrahman ibn Abu Bakar ke atas Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, sedangkan aku ketika itu menyandarkan Baginda صلى الله عليه وآله وسلم pada dadaku (yakni ketika detik-detik wafatnya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم) dan bersama ‘Abdurrahman kayu siwak basah yang dipergunakannya untuk bersiwak. Maka Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم menolehkan pandangannya kepadanya. Maka mengambil aku akan siwak itu dan meleraikannya, mengunyahnya serta melembutkannya, kemudian memberikannya kepada Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, lalu Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersiwak dengannya. Maka tidak pernah samasekali melihat aku akan Rasululah صلى الله عليه وآله وسلم bersiwak dengan cara yang lebih baik dari keadaannya hari ini. Maka setelah selesai bersiwak Baginda صلى الله عليه وآله وسلم mengangkat tangannya atau jarinya kemudian bersabda: Pada teman yang tertinggi … (iaitu Baginda صلى الله عليه وآله وسلم memilih untuk bertemu dengan Allah Yang Maha Mulia). Baginda صلى الله عليه وآله وسلم mengucapkannya sebanyak 3 kali. Kemudian Baginda صلى الله عليه وآله وسلم wafat. Sayyidatuna ‘Aisyah رضي الله عنها berkata: Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم wafat di antara tulang selangkaku dan tulang daguku. (Hadits riwayat al-Bukhari)

Imam al-Qusthullani رحمه الله تعالىdi dalam Khushusiyyaat ar-Rasuul dan Al-Habib Muhammad bin ‘Alwi al-Aidarus @ Habib Sa’ad حفظه الله تعالى di dalam kitab Fawaid al-Siwaak Syar’iyyan wa Thibbiyyan, menyebut bahawa bersiwak/bersugi ini adalah daripada khususiat Nabi صلى الله عليه وآله وسلم.yakni diwajibkan keatas Baginda صلى الله عليه وآله وسلم . Manakala ke atas umat Baginda صلى الله عليه وآله وسلم.adalah disunatkan.

Melaksanakan Sunnah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم adalah bukti kecintaan:

لو كان حبك صادقاً لأطعته * إن المحب لمن يحب مطيع
Jikalau adalah cintamu benar nescaya engkau akan menta’atinya
Sesungguhnya orang yang mencintai itu taat bagi orang yang dicintai

Al-‘Allamah Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari رحمه الله تعالى (pendiri Nahdatul Ulama di Indonesia, wafat 25 Julai 1947) رحمه الله menyebut di dalam kitab beliau berjudul an-Nur al-Mubin: Menyintai Nabi صلى الله عليه وآله وسلم ada tanda-tandanya. Barangsiapa yang dzahir pada dirinya tanda-tanda tersebut, adalah ia benar-benar mencintai Nabi صلى الله عليه وآله وسلم. Dan sekiranya tidak, maka cintanya dakwaan semata-mata. Antara tanda-tanda yang beliau sebutkan adalah: Meneladani Bagindaصلى الله عليه وآله وسلم samada dalam percakapan, perbuatan dan ahwal, dzahir dan bathinnya.

Beberapa hadits mengenai tuntutan ber siwak dan kelebihannya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ
Terjemahannya: Bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah bersabda ia: Seandainya tidak memberatkan aku ke atas umatku nescaya aku perintahkan mereka dengan bersiwak (hadits riwayat al-Bukhari)
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ: أَكْثَرْتُ عَلَيْكُمْ فِي السِّوَاكِ
Terjemahannya: Daripada Sayyidina Anas bin Malik رضي الله عنه , telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: Telah aku sering (memperingatkan) atas kalian mengenai bersiwak. (hadits riwayat al-Bukhari)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ: لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ
Terjemahannya: Daripada Sayyidina Abu Hurairah رضي الله عنه , telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: Seandainya bahwa tidak memberatkan aku ke atas umatku, nescaya aku perintahkan mereka dengan bersiwak tatkala setiap kali berwudhu`. (hadits riwayat Ibn Abi Syaibah)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ: لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ
Terjemahannya: Daripada Sayyidina Abu Hurairah رضي الله عنه , telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: Seandainya bahwa tidak memberatkan aku ke atas umatku, nescaya aku perintahkan mereka dengan bersiwak tatkala setiap kali bersholat. (hadits riwayat Imam Ahmad)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَت : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ: السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
Terjemahannya: Daripada Sayyidatuna ‘Aisyah رضي الله عنها telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: Siwak itu membersihkan bagi mulut, keredhaan bagi Rabb. (hadits riwayat Imam Ahmad)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنّ النَّبِيَّ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ، فَإِنَّهُ مَطْيَبَةٌ لِلْفَمِ ، وَمَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
Terjemahannya: Daripada Sayyidina Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: Hendaklah kalian bersiwak, kerana sesungguhnya bersiwak membaikkan bagi mulut dan keredhaan bagi Rabb. (hadits riwayat Imam Ahmad)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ: خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: قَصُّ الشَّارِبِ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ، وَحَلْقُ الْعَانَةِ، وَنَتْفُ الإِبْطِ، وَالسِّوَاكُ
Terjemahannya: Daripada Sayyidina Abu Hurairah رضي الله عنه , telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: 5 perkara daripada fitrah. Memotong misai, mengetip kuku, mencukur bulu kemaluan, mencabut buku ketiak dan bersiwak. (hadits riwayat al-Bukhari)

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَامَ لِلتَّهَجُّدِ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
Terjemahannya: Daripada Sayyidina Huzaifah رضي الله عنه: Sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وآله وسلم adalah apabila bangun ia bagi bertahajjud diwaktu malam, Baginda صلى الله عليه وآله وسلم mengosok mulut Baginda صلى الله عليه وآله وسلم dengan siwak. (hadits riwayat al-Bukhari)

عَنْ عَائِشَةَ، أَنّ النَّبِيَّ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ، بَدَأَ بِالسِّوَاكِ
Terjemahannya: Daripada Sayyidatuna ‘Aisyah رضي الله عنها bahwasanya Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, apabila memasuki Baginda صلى الله عليه وآله وسلم akan rumahnya, memulai ia dengan bersiwak. (hadits riwayat Muslim)

رَكْعَتَانِ بِسِوَاكٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِينَ رَكْعَةً بِغَيْرِ سِوَاكٍ
Terjemahannya: 2 rakaat dengan bersiwak lebih utama daripada 70 rakaat tanpa bersiwak. (hadits riwayat Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah dengan sanad hasan dan diriwayatkan oleh ad-Daaruqutni dimana perawi-perawinya tsiqah)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى اللهُ عَليْهِ وَسَلَّمَ : فَضْلُ الصَّلاةِ الَّتِي يُسْتَاكُ لَهَا عَلَى الصَّلاةِ الَّتِي لا يُسْتَاكُ لَهَا سَبْعِينَ ضِعْفًا
Terjemahannya: Daripada Sayyidatuna ‘Aisyah رضي الله عنها telah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم: Keutamman sholat dengan bersiwak ke atas sholat tanpa siwak adalah 70 kali ganda (hadits riwayat Ahmad, Ibn Khuzaimah dan al-Hakim, beliau berkata hadits ini shohih atas syarat Muslim dan diakui oleh adz-Dzahabi)

Demikianlah beberapa buah hadits daripada sekian banyak hadits tentang tuntutan bersiwak dan keutamaannya.

Takrif siwak: Apakah ta’rif siwak? Siwak menurut bahasa adalah ‘الدلك’ bererti mengosok atau menyental. Manakala menurut istilah ‘دلك الأسنان وما حواليها بكل شيء خشن’ bererti mengosok gigi dan sekitarnya dengan segala sesuatu yang kesat (atau kasar) atau ‘استعمال عود أو نحوه كالفرشاة اليوم في تنظيف الأسنان وما حولها كاللسان واللثة لإذهاب التغير وآثار الطعام’ yang bermaksud penggunaan kayu siwak atau yang seumpamanya seperti berus gigi pada zaman sekarang, bagi membersihkan gigi dan apa-apa yang berada disekitarnya seperti lidah dan gusi bagi menghilangkan perubahan bau mulut dan sisa-sisa makanan.

Hukum bersiwak: Setelah mengetahui ta’rif siwak maka mari kita lihat pula hukum bersiwak. Hukum bersiwak terbahagi kepada 5 iaitu:
Wajib: Jika siwak itu diperlukan untuk menghilangkan najis dimulut, atau menghilangkan bau yang sangat buruk untuk yang menghadiri sholat Jum’at, dan wajib juga apabila di nadzarkannya.
Sunat: Hukum asal bersiwak, dan lebih di tekankan lagi (yakni sunat mu’akkad) ketika berwudhu’ (sunat juga bagi orang yang tak dak gigi, ketika berwudhu maupun sholat), sholat (yakni bagi setiap takbiratul ihram samada sholat fardhu atau sunat bahkan sekiranya seseorang itu lupa bersiwak tatkala takbiratul ihram kemudian ingat ia akan dia didalam sholatnya, sunatlah baginya bersiwak di dalam sholatnya dengan perbuatan yang sedikit – demikian yang telah disebut akan dia oleh Syeikh Ibn Hajar dan Syeikh Ramli), ketika hendak membaca Al Qur’an, ketika hendak masuk ke dalam rumah, ketika hendak tidur, ketika bangun dari tidur dan tatkala berubah bau mulut (disebabkan panjang masa diam – tak buka mulut – atau kerana lama tidak makan)
Makruh: Bagi orang yang berpuasa bersiwak setelah gelincir matahari. Namun Imam an-Nawawi memilih pendapat tidak makhruh.
Khilaful aula: Yakni memakai kayu siwak kepunyaan orang lain dengan keredhaannya, kecualilah untuk mengambil keberkatannya maka ianya disunatkan sepertimana Sayyidatuna ‘Aisyah رضي الله عنها yang pernah menggunakan siwaknya Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم
Haram: Sekiranya menggunakan kayu siwak orang lain tanpa keizinannya dan tanpa diketahui keredhaannya.

Alat bersiwak: Yang utama adalah kayu aarak, kemudian pelepah tamar (inilah siwak yang digunakan diakhir hayat Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.) kemudian kayu zaitun kemudian setiap kayu yang mengeluarkan bau yang wangi seperti gaharu dan lain-lain kecuali kayu raihaan – kerana ia dilarang oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم kerana mewariskan (menyebabkan) penyakit kusta – kemudian kayu-kayu lain (yang tidak memudharatkan kesihatan).

Masalah: Bolehkah bersiwak menggunakan berus gigi sepertimana yang ada sekarang? Jawabnya, berdasarkan kepada takrif bersiwak menurut istilah syarak sepertimana disebut diatas maka pengunaan berus gigi atau kain yang kesat (sekiranya tiada alat siwak yang lain), maka secara langsung termasuk di dalam maksud penggunaan siwak. Adapun yang afdhalnya adalah menggunakan kayu aarak seperti yang disebut kerana mengikuti akan perbuatan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.

Tertib memakai kayu siwak yang baik bagi setiap alat bersiwak diatas: Memakai kayu siwak yang dibasahi dengan air bersih terlebih dahulu; memakai kayu siwak yang dibasahi air mawar; memakai kayu siwak yang dibasahi air ludahnya; memakai kayu siwak yang lembap; memakai kayu siwak yang kering.

Kadar panjang kayu siwak: Disunatkan kadar panjang kayu siwak tidak melebihi sejengkal ( jengkal orang yang sederhana besarnya) dan tidak pula kurang dari ukuran 4 jari. Makruh kayu siwak melebihi sejengkal kerana dikatakan syaitan akan bertenggek bahagian yang lebih itu. Wallahu a’lam. Saiznya pula hendaklah sederhana, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

Cara memegang kayu siwak: Disunatkan memegang kayu siwak dengan tangan kanan. Dan cara memegangnya sepertimana disebut oleh al-Habib ‘Abdullah bin Hussin Balfagih sunnah dijadikan kelingking dan ibu jari dibawah kayu siwak (yakni jari kelingking dibahagian belakang dan ibu jari dibahagian depan) manakala 3 jari yang lain (telunjuk, tengah dan manis) diatas kayu siwak. Lihat gambar disebelah dan dibawah.

Cara bersiwak: Sunat bersiwak pada lintang gigi (yakni secara melintang, melebar) dan dimakhruhkan dengan cara membujur (memanjang) pada gigi kerana ia boleh menyebabkan gusi akan berdarah. (lihat Syarah Shahih Muslim oleh an-Nawawi dan Sabil al-Muhtadin oleh Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari). Disunatkan bersiwak pada lidah dan langit-langit mulut yakni dengan cara membujur.

Diantara cara yang dianjurkan oleh ulama: (Dan sunat) memulai bersugi itu pada pihak [gigi] geraham diatas dan bawah dan luar dan dalam, maka dilakukannya [kayu sugi] hingga pertengahan [jajaran gigi]. Maka dimulainya pula pada geraham kiri seperti demikian itu [seperti dilakukan pada geraham sebelah kanan], maka dilakukannya hingga pertengahan [jajaran gigi].

Imam al-Ghazali رحمه الله تعالى menerangkan bahwa disunnahkan bersiwak memulai dari tengah jajaran gigi atas, lalu menggosokkan siwak ke kanan sampai ujung barisan gigi kanan atas, lalu turun ke barisan gigi kanan bawah, lalu digosokkan pada barisan gigi bawah ketengah, lalu naik lagi ke barisan gigi atas dan digosokkan ke kiri sampai ujung barisan gigi kiri atas, lalu turun ke ujung barisan gigi kiri bawah, lalu digosokkan ketengah barisan gigi bawah (seumpama menulis angka delapan ‘∞’. Demikian ini untuk perhitungan 1 kali, maka diulangi sebanyak 3 kali).

Disunatkan membersihkan kayu siwak sebelum dan selepas menggunakannya. Adapun cara bersiwak ini tiadalah ketentuan yang khusus, maka cara apapun adalah sudah terhasil baginya pahala sunnah. Menurut Ibnu Daqiq seseorang itu telah dihitung sebagai bersiwak walaupun hanya melalukan kayu siwak sepanjang mulutnya (yakni melalukan kayu siwak atas jajaran gigi atas dan bawah). Dan para shahabat رضي الله عنهم menyimpan atau meletakkan kayu siwak mereka dicelah telinga kiri.

Niat-niat bersiwak: Niat ber’amal dengan sunnah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم.; membersihkan mulut kerana hendak bermunajat kepada Allah di dalam sholat, dan dhikir dan membaca al-Qur’an; memutihkan gigi dan mengharumkan bau mulut; untuk kebersihan kerana ianya sebahagian daripada iman; mendatangkan keredhaan Allah dan lain-lain.
Niat bersiwak adalah :

نويت الاستياك سنة لله تعالى
Sahaja aku bersiwak sunat kerana Allah Ta’ala
Bagi seseorang yang bersiwak dalam rangkaian ibadah, seperti sebelum wudhu dan lain-lain, tidak diharuskan melakukan niat siwak sebab niat ibadah tersebut sudah mengandung niat bersiwak.

Doa ketika mula bersiwak: Elok dibaca doa dibawah walaupun ianya tiada asal (yakni tidak warid daripada Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم), kerana tiada mengapa mengamalkannya. Doanya:
اَللَّهُمَّ بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ وَشُدَّ بِهِ لِثَاتِيْ وِثَبِّتْ بِهِ لِهاَتِيْ وَأَفْصِحْ بِهِ لِسَانِي وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Wahai Tuhanku, putihkanlah dengannya gigiku, kuatkanlah dengannya gusiku, teguhkanlah dengannya lisanku, fasihkanlah dengannya lisan pengucapanku dan berkatilah aku padanya wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bilakah disunatkan bersiwak: Ketika setiap kali melaksanakan sholat, yakni setiap kali sebelum takbiratul ihram; ketika hendak sujud tilawah atau syukur; ketika hendak menghadiri sholat Jum’at; ketika hendak thawaf; ketika hendak membaca al-Qur’an; ketika hendak membaca hadits; ketika hendak berdhikruLlah; ketika berubah bau mulut kerana diam yang lama; ketika sebelum dan sesudah makan; ketika sebelum tidur dan selepas bangun dari tidur; ketika hendak masuk ke dalam masjid; ketika hendak masuk kedalam rumah; ketika nazak; ketika membaca kitab-kitab ilmu agama dan juga kitab-kitab ilmu alat; ketika berwudhu atau bertayammum, ketika hendak mandi junub, ketika makan sesuatu makanan yang berbau; ketika sebelum berjima’ dan banyak lagi.

Kelebihan bersiwak: Terdapat banyak kelebihannya. Ulama berkata terdapat hampir 70 kelebihan bersiwak. Antaranya: 2 rakaat sholat dengan bersiwak lebih baik daripada tidak bersiwak – yakni menggandakan pahala ‘amalan; mendatangkan keredhaan Allah, membersihkan gigi, mewangikan bau nafas, mencerahkan mata (menajamkan penglihatan), memudahkan keluarnya ruh tatkala sakaratul maut, menambah kecedasan, menguatkan ingatan/hafalan, melambatkan penuaan, melambatkan tumbuh uban, memutihkan gigi, menguatkan tulang belakang, memudahkan untuk melafazkan kalimah syahadah tatkala nazak, menguatkan gigi ………….. dan banyak lagi.

Cukupkah dahulu perkongsian mengenai siwak, untuk memendekkan bicara. InsyaAllah sekiranya ada kesempatan al-Fagir akan tulis beberapa permasalahan yang berkaitan dengan siwak ini. Mohon para pengunjung membetulkan mana-mana yang tersalah atau tersilap, kerana manusia itu tiada sunyi ia daripada berbuat kesilapan. Akhirkata marilah kita mengamalkan sunnah Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم ini, iaitu bersiwak dan istiqamah dengannya. – “Menyintai Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم ada tanda-tandanya. Barangsiapa yang dzahir pada dirinya tanda-tanda tersebut, adalah ia benar-benar mencintai Nabi صلى الله عليه وآله وسلم. Dan sekiranya tidak, maka cintanya dakwaan semata-mata. Antara tanda-tandanya adalah: Meneladani Bagindaصلى الله عليه وآله وسلم samada dalam percakapan, perbuatan dan ahwal, dzahir dan bathinnya” – al-‘Allamah Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari رحمه الله تعالى

sekian daripada alfagir ilaLlah abu zahrah ‘abdullah thahir al-qadahi
dhuha, di taman seri gombak
itsnain, 26 Jumadilakhirah 1432/30 Mei 2011

Daftar rujukan:

Al-Taqrirat al-Sadidah fi al-Masa’il al-Mufidah oleh al-Habib Hassan bin Ahmad bin Muhammad al-Kaf , Dar al-‘Ilm wa ad-Da’wah, cetakan pertama ,2003/1423
Mu’tamad fi al-Fiqh al-Syafie oleh Syeikh Dr.Muhammad al-Zuhaily cetakan Darul Qalam jilid 1
Sabil al-Muhtadin oleh Syeikh Arsyad bin ‘Abdullah al-Banjari, Maktabah wa Matba’ah Sulaiman Mar’ie, Singapura
Fawaid as-Siwaak Syar’iyyan wa Thibbiyan oleh al-Habib Muhammad bin ‘Alwi al-Aidarus @ Habib Sa’ad, cetakan pertama 2009/1430
Syarah Shahih Muslim oleh Imam an-Nawawi, cetakan Dar Ihya at-Turat al-‘Arabi, Jilid ke-2

WikiLeaks Ekspos Hubungan Saudi (Daulah Wahaby) dengan Israel

WikiLeaks Ekspos Hubungan Saudi dengan Israel

WikiLeaks merilis dokumen terbaru mereka yang menemukan adanya sebuah aliansi yang mendalam antara Israel dan Arab Saudi.

Salah satu kabel diplomatik yang dikirim dari Tel Aviv pada bulan Maret 2009, mengacu pada pertemuan antara Asisten Menteri Negara AS untuk urusan Timur Tengah Jeffrey Feltman dan Deputi Bidang Timur Tengah Departemen Luar Negeri Israel Yacov Hadas-Handelsman, surat kabar Mesir al-Masry al-Youm melaporkan Selasa kemarin (14/6).

Pertemuan, yang melibatkan para pejabat tinggi Israel, membahas sekitar hubungan Tel Aviv dengan negara-negara Teluk Persia dan situasi di Libanon, Suriah, Mesir dan Iran.

Pada satu titik Hadas mengaku melakukan komunikasi rahasia dengan Arab Saudi melalui berbagai saluran.

Pejabat Israel itu kemudian menambahkan bahwa hubungan antara Qatar dan Israel bahkan mempengaruhi keyakinan Doha bahwa Tel Aviv mempertahankan hubungan rahasia yang kuat dengan Riyadh.

“Tentu saja, bentuk komunikasi tidak langsung melalui pihak ketiga terjadi sepanjang waktu dalam diplomasi … sehingga dapat terjadi melalui Mesir, Yordania atau Amerika Serikat,” kata Kepala Pusat Studi Strategis Teluk berbasis di London, Omar Hassan.

Arab Saudi selama ini selalu berhati-hati untuk tidak memiliki komunikasi langsung dan terbuka atau hubungan dengan Israel karena posisinya di dunia Muslim.

Namun, pada tahun 2002, Arab Saudi memperpanjang sebuah inisiatif yang akan menormalkan hubungan dengan Israel dalam pertukaran dengan penarikan Israel ke perbatasan tahun 1967 dan mengakhiri konflik Israel-Palestina.

Inisiatif ini ditegaskan kembali pada tahun 2007, namun tidak ada kemajuan yang telah dibuat dalam hal itu.

Kabel WikeLeaks juga menekankan bahwa meskipun adanya perkembangan terbaru di kawasan ini, Israel terus menikmati hubungan dengan negara-negara Arab.(fq/prtv)

WikiLeaks exposes Saudi-Israeli ties
Wed Jun 15, 2011 9:55AM

Saudi Arabia has always been cautious not to have any direct communication with Israel, but in 2002, King Abdullah launched an initiative that would normalize Riyadh’s ties with Tel Aviv.
Freshly- released WikiLeaks documents have uncovered a deep alliance between Israel and Saudi Arabia, reportedly affecting Riyadh’s ties with regional states.

One of the cables dispatched from Tel Aviv on March 2009, refers to a meeting between US Assistant Secretary of State for Near Eastern Affairs Jeffrey Feltman and Israeli Foreign Ministry’s Deputy Director General for Middle East Yacov Hadas-Handelsman, Egyptian daily al-Masry al-Youm reported Tuesday.

The meeting, which involved other high-ranking Israeli officials, evolved around Tel Aviv’s relations with Persian Gulf nations and the situation in Lebanon, Syria, Egypt and Iran.

At one point Hadas admitted to having secret communications with Saudi Arabia through various channels.

The Israeli official then added that relations between Qatar and Israel were even affected Doha’s belief that Tel Aviv maintains secret and powerful ties with Riyadh.

“Of course, indirect forms of communication through third parties happen all the time in diplomacy… so it can happen through Egypt, Jordan or the US,” the head of the London-based Gulf Strategic Studies Center, Omar Hassan, said.

Saudi Arabia has always been cautious not to have any direct and open communication or ties with Israel due to its position in the Muslim world.

However, in 2002, Saudi Arabia extended an initiative that it would normalize relations with Israel in exchange for an Israeli withdrawal to the 1967 borders and an end to the Israeli-Palestinian conflict.

The initiative was reaffirmed in 2007, but no headway has been made in that regard.

WikeLeaks cables also underline that despite the recent regional developments, Israel continues to enjoy steady ties with Arab nations.

Meanwhile, the secret documents have unraveled Israel’s deep fear of Iran’s growing influence in the region, by pointing at Tel Aviv’s direct support for anti-Tehran positions held by the United Arabs Emirates, Saudi Arabia, Bahrain and Egypt (before the ouster of Egyptian President Hosni Mubarak).

FF/MB
http://www.presstv.ir/detail/184772.html

Maulid adalah amalan untuk memuliakan Nabi : Jawaban Khutbah sesat wahaby As-Sudais

Khutbah Syeikh Abdurrahman Sudais – Maulid Adalah Bid’ah Sesat

Khutbah Syeikh Abdurrahman as Sudais menghukum sesat (bid’ah bagi Wahhabi adalah sesat dan MASUK NERAKA) kepada Umat Islam yang menyambut Maulidul Rasul.

Ada yang bertanya apakah dalil dari al Quran dan Sunnah tentang sambutan maulidul Rasul.

Jawapan :

1. Dalil-dalil umum dari Al Quran yang dijadikan hujjah oleh Ulamak yang membenarkan :

فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُ ۥۤ‌ۙ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (١٥٧)

Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad), dan memuliakannya, juga menolongnya, serta mengikut nur (cahaya) yang diturunkan kepadanya (Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang berjaya.
(Surah al A’raf 157)

Di dalam ayat ini dengan tegas menyatakan bahawa orang yang memuliakan RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang beruntung. Merayakan maulid Nabi termasuk dalam rangka memuliakannya.

ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَيۡتُمُ ٱلزَّڪَوٰةَ وَءَامَنتُم بِرُسُلِى وَعَزَّرۡتُمُوهُمۡ وَأَقۡرَضۡتُمُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنً۬ا لَّأُڪَفِّرَنَّ عَنكُمۡ سَيِّـَٔاتِكُمۡ وَلَأُدۡخِلَنَّڪُمۡ جَنَّـٰتٍ۬ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَـٰرُ‌ۚ

Bahawa Aku adalah berserta kamu (memerhati segala-galanya). Demi sesungguhnya jika kamu dirikan sembahyang, serta kamu tunaikan zakat dan kamu beriman dengan segala Rasul (utusanKu) dan kamu muliakan mereka dan kamu pinjamkan Allah (dengan sedekah dan berbuat baik pada jalanNya) secara pinjaman yang baik (bukan kerana riak dan mencari keuntungan dunia), sudah tentu Aku akan ampunkan dosa-dosa kamu, dan Aku akan masukkan kamu ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai.
(Surah al Ma’idah ayat 12)

Erti “azzartumuhum” ialah “memuliakan mereka” (Tafsir Tabari, juz VI halaman 151) Orang yang memuliakan Nabi akan dimasukkan ke dalam syurga. Dan menyambut Maulid Nabi adalah dalam rangka memuliakan Nabi.

2. Di kala ramai orang yang kini semakin jauh dari perasaan cinta kepada baginda, maka di waktu inilah perlunya program-program yang menganjurkan cinta kepada Rasulullah. Bukankah rasuluLlah bersabda yang bererti :

“Belum sempurna iman seseorang dari kamu. kecuali aku lebih dikasihinya berbanding dengan keluarganya, dan hartanya dan manusia keseluruhannya.”
(Riwayat Muslim juz 11, hlm 15)

Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu berkata kepada Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam :

“Engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri”. Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam berkata : “Tidak, wahai Umar. Sampai aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” Saidina Umar radiyaLlahu ‘anhu berkata, “Demi Allah subahanahu wa ta’ala, engkau sekarang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Baginda sallaLlahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sekarang wahai Umar.”

(Hadith Riwayat Bukhari, Sohih Bukhari, vol 6 hlmn 2445)

3. Maulidul Rasul itu tidak pernah dibuat oleh RasuluLLah dan ia bid’ah sesat ?

Ada dalil umum bagaimana RasuluLlah sendiri pernah menyebut mengenai hari-hari kebesaran contohnya :

Bahawasanya Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, maka Baginda sallaLLahu ‘alaihi wasallam mendapati di situ orang-orang Yahudi berpuasa pada Hari Asyura iaitu hari 10 Muharram, maka Nabi bertanya kepada orang Yahudi itu: Kenapa kamu berpuasa pada hari Asyura ?

Jawab mereka : ini adalah hari peringatan, pada hari serupa itu dikaramkan Fir’aun dan pada hari itu Musa dibebaskan, kami puasa kerana bersyukur kepada Tuhan. Maka RasuluLlah bersabda : Kami lebih patut menghormati Musa dibanding kamu”
(Hadith riwayat Imam Bukhari dan Muslim).

Banyak sebenarnya perkara yang tidak pernah dibuat oleh RasuluLlah tetapi dilakukan oleh sahabat dan para salafussoleh melalui ijtihad mereka dalam perkara ibadah contoh yang senaraikan oleh bekas Mufti Iraq iaitu Sheikh Abdul Malik Abdul Rahman as Sa’adi :

1. Nabi sallaLLahu ‘alaihi wasallam pernah menyamakan (qiyas) hukum menunaikan haji dan berpuasa untuk seorang yang telah mati dengan hutang terhadap hamba ALlah yang ia wajib tunaikan. (Fath al Bari, jld 4, m.s 64)

Walaupun ini tidak dianggap hukum yang telah ditetapkan oleh qiyas tetapi dengan nas, kerana RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam diberi kebenaran untuk mengeluarkan hukum, tetapi ini sebenarnya baginda telah membuka satu peluang atau laluan atau pintu kepada umatnya secara umum akan keharusan menggunakan qiyas. Terutama di dalam persoalan ibadah khusus kerana haji dan puasa adalah di antara bentuk ibadah.

2. Saidina Umar berpendapat bahawa tidak batal puasa seseorang yang berkucup dengan isterinya, kerana mengqiyaskan dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al Baihaqi).

3. Dalam menetapkan satu miqad baru iaitu Zatu Irq bagi jemaah Haji atau Umrah yang datang dari sebelah Iraq, Saidina Umar mengqiyaskannya dengan tempat yang setentang dengannya iaitu Qarn al Manazil. Sedangkan RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam hanya menetapkan empat tempat sahaja sebagai miqat tetapi Saidina Umar menambah satu lagi iaitu Zatu Irq (menjadi lima). (Lihat al Mughni, jld 3, m.s 3 258 dan Fath al Bari m.s 389)

4. Saidina Uthman mewujudkan azan dua kali (pertama dan kedua) pada hari Jumaat diqiyaskan dengan azan 2 kali pada solat subuh dengan alasan bahawa azan yang pertama pada Solat Subuh disyariatkan pada zaman RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam untuk mengejutkan mereka yang sedang tidur, maka begitu juga azan yang pertama pada solat Jumaat untuk mengingatkan mereka yang sedang sibuk berniaga di pasar dan yang bekerja (Nailul al Authar : 3/322)

5. Jumhur ulama mengharuskan dua solat sunat yang bersebab pada waktu yang makruh diqiyaskan dengan solat sunat selepas Zohor yang diqadha’ oleh RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam selepas Solat Asar ( Lihat al Nawawi, Syarah sahih Muslim: 6/111)

6. Sebilangan besar pada ulama berpendapat, menyapu tangan sampai ke siku ketika tayammum adalah wajib diqiyaskan dengan membasuh kedua tangan ketika berwudhuk. (Lihat Mughni al Muhtaj:1/99 dan al Mughni: 1/204)

7. Bagi ulama yang berpendapat bahawa solat sunat sebelum Solat Jumaat adalah sunat muakkad mengqiyaskan dengan solat sunat sebelum Zohor. Manakala sebilangan ulama lain di antaranya Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim berpendapat bahaya ia adalah sunat (sunat mutlak bukannya sunat muakkad) mengqiyaskannya dengan solat sunat hari raya yang tidak ada solat sunat (muakkad) sebelum solat tersebut. ((Al Fatawa: 24/194)

8. Sesetengah ulama bermazhab Hanafi mengqiyaskan air yang banyak yang tidak terjejas apabila jatuh najis ke dalamnya dengan air laut dari segi banyaknya. (al Mushili, al Ikhtiyar: 1/14)

9. Para ulama bermazhab Hambali mengharuskan ganti dengan memberi makanan sebagai kaffarat bunuh (yang tidak sengaja), kerana mengqiyaskannya dengan kaffarat zihar dan kaffarat jimak pada siang hari Ramadhan (Al Mughni: 8/97)

10. Menurut Imam Ahmad dalam satu riwayat daripadanya, dibasuh setiap benda yang terkena najis sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan air tanah, kerana beliau mengqiyaskannya dengan sesuatu yang terkena najis anjing atau babi (Al Mughni: 1/54-55)

11. Menurut Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, diwajibkan berdiri sekadar yang termampu bagi sesiapa yang tidak mampu berdiri dengan sempurna ketika solat samada kerana ketakutan atau kerana atap hendak roboh diqiyaskan dengan hukum berdiri seorang yang bongkok. (Al Mughni: 2/144)

12. Imam Malik berpendapat, diharuskan melewatkan solat bagi mereka yang ketiadaan air diqiyaskan dengan seorang perempuan yang kedatangan haid yang diharuskan melewatkan solatnya (al Mughni: 1/250)

13. Imam Abu Hanifah dan Imam asy Syafie berpendapat, sah tayammum bagi seorang yang berhadas besar dengan niat mengangkat hadas kecil diqiyaskan dengan sahnya wudhuk selepas membuang air kecil atau besar (walaupun tanpa niat untuk mengerjakan solat). (Al Mughni: 1/267)

14. Imam Malik membolehkan qadha’ solat malam yang terluput, iaitu dikerjakannya selepas terbit fajar sebelum solat Subuh diqiyaskan dengan solat witir. Tetapi ini adalah salah satu pendapat Imam Malik berhubung dengan masalah ini. (al Mughni:2/120)

15. Imam Abu Hanifah, Ath Thauri dan Al Auza’ie membolehkan lewat solat bagi mereka yang tidak menemui air dan tanah sehinggalah menemuinya, kemudian mengqadha’nya diqiyaskan dengan melewatkan puasa bagi wanita yang kedatangan haid (Al Mughni: 1/267)

Ini hanya sebahagian kecil daripada sebilangan besar persoalan ibadah yang dikeluarkan hukumnya berdasarkan kaedah qiyas. Qiyas ini adalah ijtihad dan pandangan. Oleh itu, sesiapa yang melarang menggunakan qiyas di dalam ibadah secara mutlaq, maka pendapatnya tidak dapat diterima sebagaimana yang dinyatakan tadi.

Ibnu Umar radiyaLlahu anhu berpendapat, solat Sunah Dhuha tidak digalakkan di dalam syariat Islam melainkan bagi mereka yang tiba dalam permusafiran. Beliau hanya mengerjakannya ketika tiba di Masjid Quba. Ini diriwayatkan oleh Al Bukhari daripada Mauriq katanya :
“Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar RadiyaLlahu ‘anhu.” Adakah kamu bersolat Dhuha? Beliau menjawab “Tidak”, Aku bertanya lagi “Adakah Umar mengerjakannya?” Beliau menjawab “Tidak”. Aku bertanya lagi ” Abu Bakar?” Jawabnya: “Tidak” Aku bertanya lagi: “RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam?” Jawabnya “Aku tidak pasti”.

Menurut al Hafiz Ibnu Hajar al Asqolani:

“Sebab tawaqqufnya Ibnu Umar pada masalah itu kerana beliau pernah mendengar daripada orang lain bahawa RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakannya tetapi beliau tidak begitu mempercayai perkara itu daripada seorang yang menyebut kepadanya.”.

Maka, beliau menganggap solat Dhuha adalah di antara bid’ah yang baik sepertimana yang diriwayatkan oleh Mujahid daripada beliau (Ibnu Umar).

Menurut Al A’raj:

“Aku pernah bertanya Ibnu Umar berkenaan Solat Sunah Dhuha? Beliau menjawab: “Ia adalah bid’ah dan sebaik-baik bid’ah”

. (Fath al Bari: 3/52)

Sepertimana yang telah dinyatakan daripada Ibnu Umar tadi, membuktikan bahawa perkara-perkara yang baharu diwujudkan dalam ibadah memang berlaku dan diakui oleh pada sahabat RadiyaLlahu ‘anhum sendiri.

4. Adakah contoh para salafussoleh yang menyambut maulidul Rasul ?

Prof Dr Ali Jum’ah iaitu Mufti Mesir menjawab begini :

Telah menjadi kebolehan (keharusan) dan tradisi di kalangan salafussoleh sejak abad ke 4 dan ke 5 merayakan peringatan maulid nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam yang agung. Mereka menghidupkan malam maulid dengan pelbagai ketaatan dan ibadah pendekatan kepada Allah seperti memberi makan fakir miskin, membaca al Quran, berzikir, melantunkan puisi-puisi dan puji-pujian tentang rasuluLlah. Hal ini ditegaskan oleh sebilangan ulama seperti : Al Hafizh Ibnu Jauzi, Al Hafizh Ibnu Katsir, Al Hafizh Ibnu Dihyah, al Hafizh Al Hebatusi, Al Hafizh Ibnu Hajar dan Penutup Huffazh (para penghafaz hadith dalam jumlah yang sangat banyak) Jalaluddin Al Suyuthi.

5. Ulamak lain yang membenarkan ?

Dalam kitab al Madkhal, Ibnu Hajj menjelaskan dengan panjang lebar tentang keutamaan yang berkaitan dengan perayaan ini dan dia mengemukakan huraian penuh manfaat yang membuat lapang hati orang yang beriman.

Imam Jalaluddin al Suyuthi dalam bukunya ‘Husnul Maqshid fi Amalil Maulid’ memberikan penjelasan tentang Maulid Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam :

Menurutku, bahawa hukum dasar kegiatan maulid yang berupa berkumpulnya orang-orang yang banyak, membaca beberapa ayat-ayat al Quran, menyampaikan khabar-khabar yang diriwayatkan tentang awal perjalanan hidup Nabi sallaLlahu ‘alaihi wasallam dan tanda-tanda kebesaran yang terjadi pada waktu kelahiran Baginda, kemudian dihidangkan makanan untuk mereka dan emreka pun makan bersama, lalu mereka pun berangkat pulang, tanpa ada tambahan kegiatan lain. Adalah termasuk bid’ah hasanah dan diberikan pahala bagi orang yang melakukannya. Imam para hafizh Abu Fadhl Ibnu Hajar telah menjelaskan dasar hukumnya sunnah.

Imam Abu Syamah berkata :

Suatu hal yang baik ialah apa yang dibuat pada tiap-tiap tahun bersetuju dengan hari maulud Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam memberi sedekah, membuat kebajikan, maka hal itu selain berbuat baik bagi fakir miskin, juga mengingatkan kita untuk mengasihi junjungan kita Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam membesarkan beliau, dan syukur kepada Tuhan atas kurniaanNya, yang telah mengirim seorang Rasul yang dirasulkan untuk kebahagiaan seluruh makhluk

(I’anatut Tholibin, juzu’ III, halaman 364) – Imam Abu Syamah adalah seorang ulamak besar Mazhab Syafie dan merupakan guru kepada Imam An Nawawi.

Ya Allah jadikanlah kami senantiasa menyintai Nabi Muhammad sallaLLahu ‘alaihi wasallam
Sumber rujukan :

1. Prof Dr Ali Jum’ah, Penjelasan Terhadap Masalah-masalah KhilafiahAl Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, .2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor

2. K.H Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama, Pustaka Aman Press, Kelantan, Malaysia

3. As Shiekh al Hafiz Abu al Fadl AbduLlah al Siddiq al Ghumari, Makna Sebenar Bid’ah Satu Penjelasan Rapi, Cetakan 2007, Middle East Global (M) Sdn. Bhd, Selangor.

4. Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur

Bacaan Tambahan :

1. Fatwa Ibnu Taimiyyah Mengenai Maulid

2. Fatwa Dr Yusof Al Qardhawi 1, Fatwa Dr Yusof Al Aqrdhawi 2

3. Menzahirkan Kegembiraan Menyambut Kelahiran RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam

4. Maulidur Rasul Dengan Dalil-dalil Yang Nyata

5. Adab Di Dalam Majlis Sambutan Maulidur Rasul

p/s : Adakah ulamak-ulamak muktabar di atas adalah SESAT kerana membenarkan sambutan Maulidul Rasul sebagaimana dakwaan Imam Mekah ini ? Dan majoriti Umat Islam yang menyambut Maulidul Rasul masuk neraka sebelum Allah memberikan keputusanNya (sebagaimana yang difahami oleh Wahhabi) ?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 496 other followers