Urgent ! Usaha Dakwah dan Tabligh dikalangan Bisu Tuli – Tahukah anda mayoritas guru bisu tuli adalah misionaris kafir

Urgent ! Usaha Dakwah dikalangan Bisu Tuli – Tahukah anda mayoritas guru bisu tuli adalah misionaris kafir

Laporan mengenai usaha dakwah dikalangan bisu tuli:

– India dan pakistan sudah memulai dakwah dan tablih sejak 20 tahun yang lalu

– Malaysia sudah memulai dakwah dan tabligh dikalangan bisu tuli sejak 6 tahun yang lalu (2003-2004) dan di malam markaz  ada halaqah utk orang bisu dan penerjamah bahasa isyarat, seperti malam markaz di sripetaling kuala lumpur, markaz penanti sebrang prai, markaz johor, markaz pulau pinang dsb.

– Usaha Bisu tuli di bentuk tiap halaqah, maka da’i harus belajar bahasa bisu tuli

– Orang bisu tuli ikut serta dalam program 3 hr / 40 hari / 4 bulan disertai dengan penerjamah atau orang yang sedikit tahu tentang bahasa isyarat (karena bisu tuli yang sudah sekolah bisa baca buku agama, baca sms pakai hanphone etc)

– Saatnya muslimin belajar bahasa bisu tuli

– Bahasa bisu tuli mudah, semua negara sama bahasanya

angka isyarat bahasa untuk bisu tuli:

 

 

isyarat alfabet:

Ibnu Taimiyah (Kitab Bayan Tablis Jahmiah): Hadits Dari Arah Timur Akan Muncul FITNAH BESAR Dan PANGKAL KEKUFURAN adalah Najd (Tempat asal mula wahabi mujasimmah dan Musailamah Al kadzab)

Ibnu Taimiyah Dalam Karyanya Mengatakan Bahwa Dari Arah Timur Akan Muncul FITNAH BESAR Dan PANGKAL KEKUFURAN

 
 

 

 

يقول المجسم ابن تيمية في كتابه المسمى (بيان تلبيس الجهمية) ج1 /ص 17 : و قد (تواتر) عن النبي صلى الله عليه و سلم إخباره بأن الفتنة و رأس الكفر من المشرق , الذي هو (مشرق مدينته كنجد) . انتهى. ابن تيمية مرجع الوهابية يسمي بلد محمد بن عبد الوهاب مطلعا للفتنة و رأسا للكفر قبل أن يأتي أذنابه بمئات من السنين

 

Terjemah “Bebas” :

 

al Mujassim Ibnu Taimiyah dalam kitab karyanya berjudul Bayan Talbis al Jahmiyyah, j. 1, h. 17 menuliskan sebagai berikut:

 

“Dan telah datang berita secara mutawatir dari Rasulullah yang memberitahukan bahwa  FITNAH BESAR dan PANGKAL KEKUFURAN akan muncul dari arah timur”.

 

Arah timur yang dimaksud oleh Rasulullah adalah arah timur dari tempat tinggal Rasulullah sendiri, yaitu arah timur kota Madinah. Dan yang dimaksud adalah Nejd. Lihat peta di atas ——————–>> Nejd adalah wilayah timur dari Kota Madinah.

 

Ibnu Taimiyah adalah “imam besar” dan “referensi yang tidak dapat diganggu gugat” bagi kaum Wahabi. Ibnu Taimiyah  menamakan Nejd; –wilayah tempat munculnya ajaran sesat wahabi yang dirintis oleh Muhammad bin Abdil Wahhab– sebagai tempat kedatangan FITNAH BESAR dan tempat PANGKAL KEKUFURAN. Ibnu Taimiyah telah menuliskan hal itu dalam karyanya di atas ratusan tahun sebelum kedatangan gerakan sesat Wahabi itu sendiri. Ironisnya, aqidah tasybih dan tajsim Ibnu Taimiyah kini menjadi “primadona tanpa tanding yang dipeluk erat” oleh kaum Wahabi.

 

catatan:

Ahmad ibn Taimiyah meninggal tahun 728 H.

Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal tahun 1206 H

Terbongkar kedustaan wahabi mengenai perkataan Imam Syafii mengenai Tasawwuf – Sufi – Thareqat

…. anak2 wahabi “blo’on”… dan hanya “ngomong se-enak perut”….

silahakan… jika anda hendak menilai catatan ini KASAR! bagi saya sudah sepantasnya catatan ini dibahasakan seperti ini….

Perhatikan.. !! Baca dan plototiiiin….!! Ada kata-kata yang sering diungkapkan oleh orang2 wahabi yang mereka kutip mentah2 dari perkataan Imam Syafi’i, sedikitpun mereka tidak pernah melihat konteks pembicaraan Imam Syafi’i ini, bahwa Imam Syafi’i berkata:

“Jika ada seseorang bertasawwuf di pagi hari maka sebelum datang zhuhur aku sudah mendapatinya telah menjadi orang dungu”.

BAIKLAH…. !!!

kita bahas ungkapan Imam Syafi’i yang seringkali disalahpahami orang2 Wahabi ini… dengan menampilkan scan kitab Manaqib asy Syafi’i karya Imam Abu Bakr al Bayhaqi yang menjadi rujukan dari statemen dimaksud.

Perhatikan scan berikut ini…

Secara lengkap saya terjemahkan dengan rangkaian sanadnya, berikut ini:

“Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Abdillah al Hafizh, berkata: Aku telah mendengan Abu Muhammad; Ja’far ibn Muhammad al Harits berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah al Husain ibn Muhammad ibn Bahr, berkata: Aku telah mendengar Yunus ibn Abd al A’la berkata: Aku telah mendengar asy Syafi’i berkata: “Jika ada seseorang bertasawwuf di pagi hari maka sebelum datang zhuhur aku sudah mendapatinya telah menjadi orang dungu”.

Dan telah memeberitakan kepada kami Abu Abdurrahman as Sullami, berkata: Aku telah mendengarJa’far ibn Muhammad al Maraghi, berkata: Aku telah mendengar al Husain ibn Bahr, berkata: (lalu mengatakan apa yang dinyatakan oleh Imam Syafi’i di atas).

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad ibn Abdullah, berkata: Aku telah mendengar Abu Zur’ah ar Razi, berkata: Aku telah mendengar Ahmad ibn Muhammad ibn as Sindi, berkata: Aku telah mendengar ar Rabi’ ibn Sulaiman, berkata: “Aku tidak pernah melihat seorang –yang bernar2– sufi kecuali Muslim al Khawwash”.

Aku (al Bayhaqi) katakan: “Sesungguhnya yang dimaksud –oleh Imam Syafi’i–; adalah orang yang masuk dalam kalangan sufi yang hanya mencukupkan dengan “nama” saja sementara dia tidak paham makna intinya, dia hanya mementingkan catatan tanpa mendalami hakekatnya, hanya duduk dan tidak mau berusaha, ia menyerahkan biaya hidup dirinya ke tangan orang-orang Islam, dia tidak peduli dengan orang-orang Islam tersebut, tidak pernah menyibukan diri dengan mencari ilmu dan ibadah, sebagaimana maksud ucapan Imam Syafi’i ini ia ungkapkan dalam riwayat lainnya”, yaitu riwayat yang telah dikhabarkan kepada kami oleh Abu Abdirrahman as Sullami, berkata: Aku telah mendengar Abu Abdillah ar Razi berkata: Aku telah mendengar Ibrahim ibn al Mawlid berkata dalam meriwayatkan perkataan asy Syafi’i: “Seseorang tidak akan menjadi sufi hingga terkumpul pada dirinya empat perkara; pemalas, tukang makan, tukang tidur, dan tukang berlebihan”. Sesungguhnya, jelas yang dicaci oleh Imam Syafi’i dalam perkataannya ini adalah orang2 sufi –gadungan– dengan sifat-sifat tersebut itu tadi…..

udah sampe sini ajaaa…!!!

Bagi yang berakal sehat, dan sedikit “cerdas”; tidak akan blo’on seperti wahabi; hanya mengutip perkataan ulama lalu ditempatkan bukan pada tempatnya….

abiiiissss…

eeeh tar dulu, tambah dikit neeeh;  (lumayan banyak juga… baca yang sabar!!!)

Kita katakan pula kepada para pembenci tasawuf tersebut, pemimpin tertinggi kalian yang kalian anggap sebagai Imam; Ahmad Ibn Taimiyah al-Harrani (al Mujassim) sangat menghormati al-Junaid al-Baghdadi. Ia menyebut al-Junaid sebagai “Imâm al-Hudâ”.

Lalu siapakah al-Junaid?! Semua orang terpelajar sudah pasti tahu bahwa beliau adalah seorang sufi besar, bahkan pemuka kaum sufi (Sayyid ath Tha’ifah ash Shufiyyah).

Kemudian Imam Ahmad Ibn Hanbal, yang kalian anggap dengan kedustaan kalian sebagai Imam madzhab bagi kalian, sedikitpun tidak pernah membeci para ulama sufi, bahkan menghormati mereka. Bila Imam Ahmad menghadapi suatu masalah maka ia akan meminta komentar dari Abu Hamzah dengan berkata: “Bagaimana pendapatmu wahai sufi?” [Lihat al-Qusyairi, ar-Risâlah…, h. 395].

Dari sini kita katakan kepada para pembenci tasawuf, siapakah yang kalian ikuti?! Apakah kalian bersama Ibn Taimiyah atau bersama Imam Ahmad Ibn Hanbal?! Atau memang kalian membawa ajaran dan keyakinan sendiri?! Bahaya apakah bagi syari’at Islam dari penamaan tasawuf, atau menamakan seorang yang saleh dengan sufi?! Ibn Hibban dalam kitab Shâhîh-nya (al-Ihsân Bi Tartîb Shâhîh Ibn Hibban) banyak mengambil periwayatan haditsnya dari orang-orang yang dikenal sebagai kaum sufi. Demikian pula Imam Ahmad dalam Musnad-nya, beberapa periwayatan haditsnya mengambil dari kaum sufi. Lalu Imam al-Baihaqi, beliau banyak sekali mengambil periwayatan haditsnya dari Abu ‘Ali ar-Raudzabari yang notabene seorang sufi terkemuka. Bahkan orang disebut terakhir ini adalah salah seorang pemuka dan pemimpin kaum sufi, beliau adalah murid dari al-Junaid al-Baghdadi.

Kemudian jika para pembenci tasawuf tersebut mengingkari istilah “sufi” atau “tasawuf” dari segi panamaan belaka karena dianggap tidak pernah ada sebelumnya (bid’ah), maka kita katakan kepada mereka: “Di dalam Islam banyak sekali nama-nama atau istilah-istilah yang dahulu tidak pernah ada, seperti istilah “Syaikh” bagi seorang yang alim, atau “Syaikh al-Islâm” atau apapun namanya yang bahkan kalian sendiri mempergunakannya. Demikian pula penamaan disiplin-disiplin ilmu, seperti Ilmu Sharaf, Ilmu Nahwu, Ilmu Balghah, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits dan lainnya, nama-nama tersebut adalah sesuatu yang tidak pernah dikenal sebelumnya”.

———————

Tambahan:  Bait Diwan Imam Syafe’i yang dihilangkan oleh wahabi ****

BAIT YANG HILANG DARI DIWAN IMAM SYAFI’I !

فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح

Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan
juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.

Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf,
maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa.
Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih,
maka bagaimana bisa dia menjadi baik?

[Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

COBA DOWNLOAD DARI :

http://www.almeshkat.net/books/open.php?cat=17&book=16

MAKA KALIMAT DI ATAS SUDAH HILANG !

BANDINGKAN DENGAN TERBITAN BEIRUT DAN DAMASKUS:

Dar al-Jil Diwan (Beirut 1974) p.34

 Dar al-Kutub al-`Ilmiyya (Beirut 1986) p.48  


Bahkan terbitan Dar el-mareefah juga dihilangkan:
http://www.4shared.com/file/37064910/c3ad321/Diwan_es-Safii.html?s=1

Bukti Khawarij Wahabi (salafy palsu) : Kafirkan Umat islam [emgikut 4 madzab (ahlusunnah wal jamaah)

الوهابية أتباع قرن الشيطان يكفرون الامة الاسلامية /  وثائق مهمه

بسم الله الرحمن الرحيم والصلاه والسلام علي اشرف المرسلين وعلي اله وصحبه اجمعين

 

الوهابية أتباع محمد بن عبد الوهاب على نهجه في تكفير الأمّة الإسلامية واستباحة دمائهم

http://al7ewar.net/forum

 

قال القنوجي في كتابه المسمى “الدين الخالص” ، ج 1/140

 

 

“تقليد المذاهب من الشرك”.

 

 

وبذلك على زعمه كفر كلّ الأمّة الإسلامية اليوم لأن الأمة اليوم هم أهل المذاهب الأربعة وهم عند الوهابية كفار. انظر الكتاب : الغلاف ـ ص 140

 

Terjemah:

 

Kaum Wahabi Pengikut “Tanduk Setan” Mengkafirkan Seluruh Umat Islam (Dokumen Penting)

Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam selalu tercurah bagi pimpinan para nabi dan rasul, dan bagi keluarga dan para sahabatnya.

Kaum Wahabi; pengikut Muhammad ibn Abdil Wahhab, ajarannya adalah pengkafiran terhadap seluruh umat Islam dan menghalalkan darah mereka.

Lihat http://al7ewar.net/forum

 

Salah seorang pemuka Wahabi, bernama al Qanuji, dalam kitab karyanya berjudul “ad Din al Khalish”, j. 1, h. 140, berkata:

 

 

“Taqlid dengan madzhab-madzhab adalah syirik”.

 

 

Dengan demikian, di atas dasar keyakinannya ini, ia telah mengkafirkan seluruh umat Islam karena mereka semua adalah para muqallid bagi empat madzhab yang ada (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali). Karena itu semua orang Islam tersebut menurut kaum Wahabi adalah orang-orang kafir. Lihat scan kitab di maksud…!!!!

 

Wahabi Vs Imam Adzahabi al hambali (Kitab Siyar A’lam an-Nubala’) : Adzahabi Bolehkan Bertawasul s

Berikut ini kutipan dalam menjelaskan kebolehan mendatangi makam orang-orang saleh, bertawassul dengan mereka di dalam doa kepada Allah dari tulisan oleh adz-Dzahabi; salah satu rujukan utama kaum Wahabi. Setelah ini apakah orang-orang Wahabi tersebut akan mengikuti adz-Dzahabi dalam masalah tawassul atau justru akan menyalahinya dan mengatakan bahwa dia telah menjadi musyrik sebagaimana mereka menuduh seluruh umat Islam yang bertawassul telah menjadi musyrik???? [[[[ SODORKAN KENYATAAN INI KEPADA MEREKA…!!! ]]]]

 

Adz-Dzahabi; dalam karyanya; , jld. 9, cet. 9, tentang biografi Imam Ma’ruf al-Karkhi; beliau adalah Abu Mahfuzh al-Baghdadi. Dari Ibrahim al-Harbi berkata: “Makam Imam Ma’ruf al-Karkhi adalah obat yang paling mujarab”. Adz-Dzahabi berkata:

 

“Yang dimaksud ialah terkabulnya doa di sana yang dipanjatkan oleh orang yang tengah kesulitan, oleh karena tempat-tempat yang berkah bila doa dipanjatkan di sana akan terkabulkan, sebagaimana terkabulkannya doa yang dipanjatkan di waktu sahur (sebelum subuh), doa setelah shalat-shalat wajib, dan doa di dalam masjid-masjid……”.

 

Siyar A’lam an-Nubala’, jld. 12, cet. 14, tentang biografi Imam al-Bukhari (penulis kitab Shahih); beliau adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahim al-Bukhari, dalam menceritakan tentang wafatnya. simak tulisan adz-Dzahabi berikut ini:

 

“Abu ‘Ali al-Gassani berkata: “Telah mengkhabarkan kepada kami Abu al-Fath Nasr ibn al-Hasan as-Sakti as-Samarqandi; suatu ketika dalam beberapa tahun kami penduduk Samarqand mendapati musim kemarau, banyak orang ketika itu telah melakukan shalat Istisqa’, namun hujan tidak juga turun. Kemudian datang seseorang yang dikenal sebagai orang saleh menghadap penguasa Samarqand, ia berkata: “Saya punya pendapat maukah engkau mendengarkannya? Penguasa tersebut berkata: “Baik, apa pendapatmu?”. Orang saleh berkata: “Menurutku engkau harus keluar bersama segenap manusia menuju makam Imam Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari, makam beliau berada di Kharatnak, engkau berdoa meminta hujan di sana, dengan begitu semoga Allah menurunkan hujan bagi kita”. Sang penguasa berkata: “Aku akan kerjakan saranmu itu”. Maka keluarlah penguasa Samarqand tersebut dengan orang banyak menuju makam Imam al-Bukhari, banyak sekali orang yang menangis di sana, mereka semua meminta tolong kepada Imam al-Bukhari. Kemudian Allah menurunkan hujan yang sangat deras, hingga orang-orang saat itu menetap di Kharatnak sekitar tujuh hari, tidak ada seorangpun dari mereka yang dapat pulang ke Samarqand karena banyak dan derasnya hujan. Jarak antara Samarqand dan Kharatnak sekitar tiga mil”.

 

Dalil Kebolehan Mencium Hajar Aswad – Makam Rasulullah – Makam Orang-orang Saleh Dari Kitab Wafa’ al Wafa (Imam as Samhudi al hambali (W 911 H))

Dalil Kebolehan Mencium Makam Rasulullah Atau Orang-orang Saleh Dari Kitab Wafa’ al Wafa (Menohok Ajaran Sesat Wahabi)

 

Terjemah teks yang diberi garis bawah:

 

 

Wafa al Wafa Bi Akhbar Dar al Musthafa

Karya Imam as Samhudi (W 911 H)

 

Al Izz bin al Jama’ah berkata: “Dalam kitab al Ilal dan kitab Su’alat Abdullan bin Ahmad bin Hanbal; (Kitab berisi pertanyaan-pertanyaa yang ditanyakan oleh Abdullah kepada ayahnya sendiri; yaitu Imam Ahmad bin Hanbal), sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ali bin as Shuf dari Abdullah, bahwa Abdullah berkata: Saya telah bertanya kepada ayahku tentang orang yang mengusap mimbar Rasulullah untuk tujuan mendapatkan berkah, menciuminya, lalu melakukan hal yang sama terhadap makam Rasulullah supaya mendapatkan pahala dari Allah; ia (Imam Ahmad bin Hanbal) menjawab: Tidak masalah (boleh)”.

 

As Subki (Imam Taqiyyuddin Ali bin Abdil Kafi as Subki) dalam risalah bantahannya terhadap Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa larangan mengusap makam Rasulullah bukan perkara yang telah disepakati para ulama. Telah meriwayatkan Abul Husain Yahya bin al Husain —- dengan sanadnya —–, berkata: Ketika Marwan bin al Hakam (salah seorang khalifah Bani Umayyah) mendatangi makam Rasulullah ia mendapati seseorang tengah duduk di hadapan makam tersebut. Marwan memagang tengkuk orang itu, berkata: Apakah sadar apa yang engkau lakukan ini? Orang itu berbalik menghadap, menjawab: Iya, (saya sadar) saya tidak mendatangi (berhadapan) sebongkah batu dan tembok, saya mendatangi Rasulullah. (saya mendengar Rasulullah bersabda): “Janganlah kalian tangisi jika agama ini dipimpin oleh ahlinya, tapi tangisilah jika agama ini dipimpin oleh orang yang bukan ahlinya”. (artinya; engkau wahai Marwan bukan seorang yang ahli dalam memimpin agama ini). Orang tersebut ternyata adalah sahabat Rasulullah; yaitu Abu Ayyub al Anshari.

 

Kemudian sahabat Bilal bin Rubah ketika datang dari Syam (sekarang Lebanon, Siria, Yordani, dan Palestina) ke Madinah untuk tujuan ziarah ke makam Rasulullah maka ia langsung mendatangi makam, menangis di hadapannya, dan membolak-balikan wajahnya di atas makam tersebut. Sanad riwayat ini baik.

 

Setelah Rasulullah dimakamkan maka datanglah Fatimah (putri Rasulullah), ia berdiri di hadapan makam, lalu mengambil segenggam tanah dari makam tersebut, ia letakan pada kedua matanya, ia menangis lalu berkata:

 

Apa yang akan diraih oleh orang yang mencium tanah Muhammad; adalah bahwa ia tidak akan penah mencium sepanjang masanya sesuatu yang lebih berharga dari pada tanah tersebut.

Telah ditimpakan kepadaku berbagai musibah (termasuk wafatnya Rasulullah); yang musibah-musibah jika tersebut ditimpakan pada siang maka ia seluruh siang akan menjadi malam (artinya musibah tersebut sangat berat).

 

Al Khathib bin Hamalah menyebutkan bahwa sahabat Abdullah bin Umar bin khattab telah meletakan tangan kanannya di makam mulia Rasulullah. Lalu Bilal bin Rubah juga telah meletakan kedua pipinya di atas makam Rasulullah. al Khathib juga telah menyebutkan riwayat dari kitab Su’alat Abdullah bin Ahmad (sebagaimana yang telah kita sebutkan di atas). Ia (al Khathib) berkata: Tidak diragukan lagi bahwa tenggelam dalam rasa cinta menjadikan itu (mengusap makam) perkara yang boleh. Tujuan dari pada itu semua adalah untuk penghormatan dan memuliakan. Sungguh derajat manusia itu bertingkat, sebagaimana dahulu di masa Rasulullah masih hidup manusia itu bertingkat (berbeda-beda); ada sebagian mereka ketika melihat Rasulullah mereka tidak dapat menahan dirinya (karena cinta) maka langsung “memburu” Rasulullah, ada sebagian lainnya yang “kalem (berhati-hati; tidak grasa-grusu)” maka mereka dapat menahan dirinya. Yang jelas semua itu adalah baik”.

 

Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani berkata: “Sebagian ulama dalam mengambil kesimpulan/intisari (istinbath) tentang mengapa disyari’atkan mencium hajar aswad adalah dengan dengan dasar kebolehan mencium segala sesuatu yang berhak untuk dimuliakan; baik manusia atau lainya. Adapun tentang anjuran mencium tangan manusia (yang mulia) penjelasannnya telah lalu bahwa termasuk bentuk adab. Sementara anjuran terhadap selain manusia adalah dengan dasar (di antaranya) riwayat bahwa Imam Ahmad ditanya tentang mencium mimbar Rasulullah dan makamnya; beliau memandang itu bukan masalah (artinya boleh)”.  

 

Sementara kaum Wahabi berkata bahwa orang yang ziarah ke makam para wali Allah adalah orang-orang musyrik (dalam istilah buruk mereka “Quburiyyun”)… terlebih lagi yang mencium makam mereka!!!!

 

Lebih parah lagi, “imam besar tanpa tanding” mereka; Ibnu Taimiyah, mengatakan bahwa perjalanan ziarah ke makam Rasulullah untuk tujuan ziarah adalah perjalanan maksiat; tidak boleh mengqasar shalat dalam perjalanan tersebut…. nau’dzu billah!!!!

 

heh… wahabi khabits…!!! Lihat; sahabat Abdullah bin Umar bin Khattab meletakan tangan di atas tanah makam Rasulullah….!!! lihat; sahabat Bilal bin Rubah meletakan ke dua pipinya di atas tanah makam Rasulullah…!!!! apakah kalian akan mengatakan dua sahabat mulia ini orang-orang musyrik??????

?????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Hati2, Ada 2 orang nama ad-Darimi yg jauh berbeda ( yg 1 sesat – yg 1 lagi ahli hadits terkemuka) [Waspadai Tipu daya Kaum Wahabi]

Ada dua orang bernama ad Darimi, keduanya jauh berbeda, yang satu orang sesat, yang kedua seorang ulama besar ahli hadits terkemuka yang telah menulis kitab Sunan ad Darimi.

Ad Darimi yang sesat adalah orang yang berkeyakinan tasybih; menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, dia bernama Utsman ibn Sa’id as-Sajzi, wafat tahun 272 Hijriyah.

Sementara ad-Darimi penulis kitab Sunan (Sunan ad-Dârimi) bernama Abdullah ibn Abdul Rahman, wafat tahun 255 Hijriyah, salah seorang ahli Hadits terkemuka dan merupakan salah seorang guru dari Imam Muslim.

Adapun Utsman ibn Sa’id ad-Darimi yang kita sebut pertama adalah seorang pendahulu dalam aqidah tajsîm, bahkan dapat dikatakan sebagai peletak awal dan perintis penyebaran aqidah buruk ini. Ia menulis sebuah buku berjudul Kitâb an-Naqdl, yang menurutnya buku ini ia tulis sebagai bantahan terhdap Bisyr al-Marisi. Padahal di dalamnya ia tuliskan banyak sekali aqidah tajsîm dan aqidah “berhala” (Watsaniyyah); persis seperti aqidah kaum Yahudi dan Nasrani yang berkeyakinan bahwa tuhan seperti manusia.

Mengungkapkan siapa sebenarnya ad-Darimi al-Mujassim ini sangat penting dan mendesak. Karena orang-orang Musyabbihah Mujassimah di masa sekarang ini, seperti Wahhabiyyah seringkali mengutip perkataan-perkataannya. Sementara pada saat yang sama sebagian orang di kalangan Ahlussunnah, yang terpelajar sekalipun terlebih lagi orang-orang awam banyak yang tidak mengetahui siapa sebenarnya ad-Darimi yang mereka jadikan sandaran tersebut. Banyak sekali yang tidak mengetahui perbedaan antara ad-Darimi al-Mujassim (Utsman ibn Sa’id) dan ad-Darimi penulis kitab as-Sunan (Imam Abdullah ibn Abdul Rahman), yang karenanya tidak sedikit orang-orang di kalangan Ahlussunnah terkecoh dengan sanggahan-sanggahan kaum Musyabbhihah yang mereka kutip dari ad-Darimi al-Mujassim ini.

Berikut ini kita kutip beberapa ungkapan aqidah tajsîm yang ditulis oleh ad-Darimi al-Mujassim dalam kitab an-Naqdl supaya kita dapat menghindari dan mewaspadainya. Karena sesungguhnya setiap orang dari kita dianjurkan untuk mengenal keburukan-keburukan untuk tujuan menghindari itu semua. Terlebih di masa akhir zaman seperti ini di mana aqidah tasybîh dan tajsîm semakin menyebar di tangah-tangah masyarakat kita.

Ad-Darimi al-Mujassim, dalam kitab karyanya tersebut menuliskan sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah al-Hayy al-Qayyûm (Yang maha hidup dan tidak membutuhkan kepada apapun dari makhluk-Nya) maha berbuat terhadap segala suatu apapun yang Dia kehendaki. Dia bergerak sesuai apa yang Dia kehendaki. Dia turun dan naik sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Meggenggam dan menebarkan, berdiri dan duduk sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Karena sesungguhnya tanda nyata perbedaan antara yang hidup dengan yang mati adalah adanya gerakan. Setiap yang hidup pasti ia bergerak, dan setiap yang mati pasti ia tidak bergerak” (Kitab An-Naqdl, h. 20).

Ungkapan ad-Darimi ini sangat jelas sebagai ungkapan tajsîm. Aqidah semacam ini tidak mungkin diterima oleh akal sehat. Karenanya, aqidah ini terbantahkan oleh argumen-argumen logis, tentu juga oleh dalil-dalil al-Qur’an dan Hadits, serta oleh pernyataan dan kesepakatan (Ijma’) para ulama kita. Kayakinan yang mengatakan bahwa Allah berdiri, duduk, dan bergerak tidak ubahnya persis seperti keyakinan kaum Hindu para penyembah sapi. Kemudian juga keyakinan bahwa Allah bersifat seperti sifat-sifat makhluk semacam itu tidak lain merupakan aqidah hulûl; yaitu keyakinan sesat mengatakan bahwa Allah bersatu dengan makhluk-Nya. Dan aqidah semacam ini telah disepakati oleh para ulama kita di kalangan Ahlussunnah sebagai aqidah kufur.

Pada bagian lain dalam Kitab an-Naqdl tersebut, ad-Darimi menuliskan sebagai berikut:

“Para musuh kita berkeyakinan bahwa Allah tidak memiliki bentuk (al-Hadd), tidak memiliki sisi penghabisan dan batasan (al-Ghâyah Wa an-Nihâyah). Ini adalah dasar keyakinan Jahm ibn Shafwan yang merupakan pondasi dan akar seluruh kesesatannya dan kerancuannya. Dan kesesatan semacam ini Shafwan adalah orang yang pertama kali membawanya, sebelumnya tidak pernah ada seorang-pun yang mengungkapkan kesesatan seperti ini” (Kitab An-Naqdl, h. 23).

Setelah menuliskan ungkapan ini, ad-Darimi kemudian membeberkan keyakinannya bahwa Allah memiliki bentuk dan batasan serta penghabisan. A’ûdzu Billâh. Padahal segala apapun yang memiliki bentuk pasti merupakan benda (Jism) dan memiliki arah. Sementara itu para ulama kita di kalangan Ahl al-Haq telah menetapkan konsensus (Ijma’) bahwa seorang yang berkeyakinan Allah sebagai benda maka orang tersebut bukan seorang muslim, sekalipun dirinya mengaku sebagai orang Islam. Lihat konsensus ini di antaranya telah dituliskan oleh Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam beberapa karyanya, seperti al-Farq Bayn al-Firaq, al-Asmâ’ Wa ash-Shifât dan at-Tabshirah al-Baghdâdiyyah.

Pada halaman lainnya, ad-Darimi al-Mujassim menuliskan sebagai berikut:

“Allah berada jauh dari makhluk-Nya. Dia berada di atas arsy, dengan jarak antara arsy tersebut dengan langit yang tujuh lapis seperti jarak antara Dia sendiri dengan para makhluk-Nya yang berada di bumi” (Kitab An-Naqdl, h. 79).

Kemudian pada halaman lainnya, ia menuliskan:

“Dan jika Allah benar-benar berkehandak bertempat di atas sayap seekor nyamuk maka dengan sifat kuasa-Nya dan keagungan sifat ketuhanan-Nya Dia mampu untuk melakukan itu, dengan demikian maka terlebih lagi untuk menetap di atas arsy (Artinya menurut dia benar-benar Allah bertempat di atas arsy)”. (Kitab An-Naqdl, h. 85).

Ungkapan ad-Darimi ini benar-benar membuat merinding bulu kuduk seorang ahli tauhid. Ia mengatakan jika Allah maha kuasa untuk bertempat pada sayap seekor nyamuk, maka lebih utama lagi untuk bertempat pada arsy. Ini murni merupakan aqidah tasybîh. Apakah dia tidak memiliki logika sehat?! Apakah dia tidak mengetahui hukum akal?! Apakah dia tidak bisa membedakan antara Wâjib ‘Aqly Mustahîl ‘Aqly dan Jâ’iz ‘Aqly?! Sudah pasti yang disembah oleh ad-Darimi al-Mujassim ini bukan Allah. Siapakah yang dia sembah?! Tidak lain yang ia sembah hanyalah khayalannya sendiri.

Kemudian pada halaman lainnya dalam Kitâb an-Nadl, ad-Darimi menuliskan sebagai berikut:

“Dari mana kamu tahu bahwa puncak gunung tidak lebih dekat kepada Allah dari pada apa yang ada di bawahnya?! Dan dari mana kamu tahu bahwa puncak sebuah menara tidak lebih dekat kepada Allah dari pada apa yang ada di bawahnya?!”. (Kitab An-Naqdl, h.100).

Ungkapan ad-Darimi ini hendak menetapkan bahwa seorang yang berada di tempat tinggi lebih dekat jaraknya kepada Allah di banding yang berada di tempat rendah. Dengan demikian, sesuai pendangan ad-Darimi, mereka yang berada di atas pesawat dengan ketinggian ribuan kaki dari bumi lebih dekat kepada Allah. Na’ûdzu Billâh. Keyakinan ad-Darimi ini di kemudian hari diikuti oleh Ibn Taimiyah al-Harrani dan Ibn al-Qayyim, yang juga dijadikan dasar aqidah oleh para pengikutnya, yaitu kaum Wahhabiyyah di masa sekarang ini. Hasbunallâh.

Adapun seorang muslim ahli tauhid maka ia berkeyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Segala tempat dan segala arah dalam pengertian jarak pada hakekatnya bagi Allah sama saja, artinya satu sama lainnya tidak lebih dekat atau lebih jauh dari Allah. Karena makna “dekat” kepada Allah bukan dalam pengertian jarak, demikian pula makna “jauh” dari Allah bukan dalam pengertian jarak. Tapi yang dimaksud “dekat” atau “jauh” dalam hal ini adalah sejauh mana ketaatan sorang hamba terhadap segala perintah Allah.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman: “Wasjud Waqtarib” (QS. Al-‘Alaq: 19), artinya “Dan Sujudlah engkau -Wahai Muhammad- dan “mendekatlah”. Kemudian dalam Hadits riwayat an-Nasa-i, Rasulullah bersabda:

أقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ (رواه النسائي)

“Seorang hamba yang paling “dekat” kepada Tuhannya adalah saat ia dalam keadaan sujud”. (HR. An-Nasa-i)

Yang dimaksud “dekat” dalam ayat al-Qur’an dan Hadits ini bukan dalam makna zhahirnya. Dua teks syari’at tersebut artinya menurut ad-Darimi dan para pengikutnya, -sesuai aqidah mereka-, adalah dua teks yang tidak benar, karena menurut mereka yang berada pada posisi berdiri lebih dekat kepada Allah dari pada yang sedang dalam posisi sujud, dan yang berada di atas gunung lebih dekat kapada Allah dari pada mereka yang berada di bawahnya. Lalu mereka “buang” ke mana ayat al-Qur’an dan Hadits tersebut?! Hasbunallâh.

Di samping itu siapapun telah tahu bahwa bumi ini berbentuk bulat. Dengan demikian berarti menurut ad-Darimi dan para pengikutnya, seorang yang berada pada satu tempat yang tinggi dari bumi ini dengan yang berada pada 90 derajat pada tempat lain yang juga sama tinggi sama-sama dekat dengan Allah, kalau demikian lalu sebenarnya siapakah dari dua orang ini yang benar-benar pada posisi tinggi? Ataukah memang ad-Darimi dan para pengikutnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda bulat seperti bumi itu sendiri? Mereka tidak akan memiliki jawaban sehat bagi pertanyaan ini. Kita katakan: Tidak lain, itulah aqidah tasybîh yang telah disepakati ulama kita terhadap kesesatannya.

Pada halaman lainnya, ad-Darimi menggambarkan Hadits yang sama sekali tidak benar menyebutkan “’Athîth al-Arsy Min Tsiqalillâh…”. Ia mengatakan bahwa arsy menjadi sangat berat karena menyangga Allah yang berada di atasnya, seperti beratnya bebatuan dan besi. (Kitab An-Naqdl, h. 92, lihat pula h. 182).

Tulisan ad-Darimi ini benar-benar tidak akan menjadikan seorang ahli tauhid berdiam diri. Ini adalah pernyataan yang akan menjadi bahan tertawaan orang-orang yang tidak waras sebelum ditertawakan oleh orang-orang waras (Yadl-hak Minhu al-Majânîn Qabl al-‘Uqalâ’). Bagaimana mungkin seorang muslim akan berdiam diri jika Tuhannya disamakan dengan beratnya besi dan bebatuan?! Hadits ini sendiri adalah Hadits batil, sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Hâfizh Ibn Asakir. Dengan demikian Hadits ini sama sekali tidak benar dan tidak tidak boleh dijadikan dalil dalam menetapkan masalah aqidah.

Pada halaman lainnya dalam kitabnya di atas ad-Darimi menuliskan:

“Kita tidak menerima secara mutlak bahwa semua perbuatan itu baharu (makhluk). Karenanya, kita telah sepakat bahwa gerak (al-Harakah), turun (an-Nuzûl), berjalan (al-Masy), berjalan cepat (al-Harwalah), dan bertempat di atas arsy dan di atas langit itu semua adalah Qadim”. (Kitab An-Naqdl, h. 121).

Inilah keyakinan tasybîh ad-Darimi; keyakinan yang tidak ada bedanya dengan keyakinan para penyembah berhala. Keyakinan ini pula yang setiap jengkalnya dan setiap tapaknya diikuti oleh Ibn Taimiyah al-Mujassim dan muridnya; Ibn al-Qayyim al-Mujassim. Dua orang yang disebut terakhir ini, guru dan murid, memiliki keyakinan yang sama persis, yaitu aqidah tasybîh. Karena itu, keduanya memberikan wasiat kepada para pengikutnya untuk memegang teguh tulisan-tulisan ad-Darimi di atas. Dari sini semakin jelas siapakah sebenarnya Ibn Taimiyah, dan Ibn al-Qayyim serta para pengikutnya tersebut! Tidak lain mereka adalah Ahl at-Tasybîh.

Ungkapan-ungkapan lainnya yang ditulis oleh ad-Darimi di antaranya sebagai berikut:

“Bagaimana mungkin orang semacam Bisyr akan memahami tauhid, padahal ia tidak tahu tempat tuhannya yang ia sembah (yang dimaksud Allah)?!”. (Kitab An-Naqdl, h. 4).

Yang diserang oleh ad-Darimi dalam ungkapannya tersebut adalah musuhnya, yaitu Bisyr al-Marisi. Kitab an-Naqdl yang ditulis ad-Darimi ini secara keseluruhan adalah sebagai bantahan terhadap Bisyr. Dan ungkapan ad-Darimi tersebut di atas adalah untuk menetapkan bahwa Allah bertempat, yaitu berada di arsy dan di langit. Na’ûdzu Billâh.

Pada halaman lainnya, ad-Darimi menuliskan:

“Allah memiliki bentuk dan ukuran, demikian pula tempat-Nya juga memiliki bentuk dan ukuran, yaitu bahwa Dia bertempat di atas arsy yang berada di atas langit-langit, dengan demikian maka Allah dan arsy keduanya memiliki bentuk dan ukuran”. (Kitab An-Naqdl, h. 23).

Na’ûdzu Billâh.

Ad-Darimi juga menuliskan:

“Setiap orang jauh lebih mengetahui tentang Allah dan tempat-Nya di banding kaum Jahmiyyah, dan Dia Allah sendiri yang telah menciptakan Adam dengan Tangan-Nya dengan cara menyentuhnya”. (Kitab An-Naqdl, h. 25).

Na’ûdzu Billâh.

Juga menuliskan:

“Jika Allah tidak memiliki dua tangan seperti yang engkau yakini, padahal dengan kedua tangan-Nya Dia telah menciptakan Adam dengan jalan menyentuhnya, maka berarti tidak boleh dikatakan bagi Allah “Bi Yadika al-Khayr…”. (Kitab An-Naqdl, h. 29).

Na’ûdzu Billâh.

Juga menuliskan:

“Makna takwil dari sabda Rasulullah “Innallâh Laysa Bi A’war…” artinya bahwa Dia Allah Maha melihat dengan kedua mata, karena melihat dengan kedua mata adalah kebalikan dari picak yang hanya melihat dengan sebelah mata saja (al-a’war)”. (Kitab An-Naqdl, h. 48).

Na’ûdzu Billâh.

Juga menuliskan:

“Sesungguhnya Allah benar-benar duduk di atas kursi, dan tidak tersisa (kosong) dari kursi tersebut kecuali seukuran empat jari saja”. (Kitab An-Naqdl, h. 74).

Na’ûdzu Billâh.

Dan banyak lagi berbagai aqidah tasybîh lainnya yang dimuat dalam Kitab an-Naqdl ini. Adakah ini yang dinamakan tauhid?! Adakah orang semacam ad-Darimi dan para pengikutnya memahami dengan benar tentang firman Allah QS. Asy-Syura: 11 bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya?!

Pada halaman lainnya dalam Kitab an-Naqdl di atas, ad-Darimi juga menuliskan:

“Apa yang diriwayatkan dari Rasulullah, bila tanpa adanya pengulangan, tidak lebih hanya sekitar 12.000 Hadits saja. Dengan demikian kebanyakan riwayat yang mereka ambil sumbernya berasal dari kaum zindiq…”. (Kitab An-Naqdl, h. 151).

Semoga kita terhindar dari keyakinan sesat kaum Musyabbihah yang di akhir zaman ini tengah gencar-gencarnya dipropagandakan oleh kaum Wahabi…!!!

Perhatikan generasi kita, jangan sampai ikut-ikutan berkeyakinan ajaran sesat Wahabi…..!!!