Ibnu Taimiyah Manusia “Sesat” Pertama Yang Melarang Tawassul dan fatwakan Neraka akan punah

 

Ibnu Taimiyah Manusia “Sesat” Pertama Yang Melarang Tawassul

 

Manusia sesat yang pertamakali yang melarang “tawassul” dan menganggapnya sebagai perbuatan syirik dan kufur adalah Ahmad ibn Taimiyah; “Imam” utama kaum Wahabi.

al Imam al Mujtahid al Hafizh Taqiyyuddin as Subki (Imam terkemuka semasa dengan Ibn Taimiyah yang telah mencapai derajat MUJTAHID MUTLAQ; sekelas Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan lainnya. Ayah dari al Imam al Faqih Tajuddin as Subki; penulis kitab Jam’il Jawami’) telah membantah habis semua kesesatan Ibn Taimiyah, termasuk dalam masalah ziarah ke makam Rasulullah dan tawassul dengannya yang oleh Ibn Taimiyah dianggap sebagai perbuatan kufur dan syirik. (Na’udzu billah)

 

al Imam Taqiyyuddin as Subki dalam karya bantahannya kepada Ibn Taimiyah, berjudul ‘Syifa’ as Siqam Fi Ziyarah Khair al Anam”, pada h. 160 menuliskan sebagai berikut:

 

اعلم أنه يجوز ويحسن التوسل والاستعانة والتشفع بالنبي صلى الله عليه وسلم إلى ربه سبحانه وتعالى ، وجواز ذلك وحسنه من الأمور المعلومة لكل ذي دين المعروفة من فعل الأنبياء والمرسلين وسير السلف الصالحين والعلماء والعوام من المسلمين ، ولم ينكر أحد ذلك من أهل الأديان ولا سمع به في زمن من الأزمان حتى جاء ابن تيمية فتكلم في ذلك بكلام يلبس فيه على الضعفاء الأغمار، وابتدع ما لم يسبق إليه في سائر الأعصار. . . ].اهـ

“Ketahuilah bahwa dibolehkan dan baik  melakukan tawassul, istighatsah dan tasyaffu’ (menjadikan wasilah) dengan Rasulullah -dalam doa- kepada Allah. kebolehan dan baiknya masalah ini adalah perkara yang telah diketahui oleh semua orang beragama Islam; itu dikenal sebagai perbuatan yang dilakukan oleh para nabi sendiri, para rasul, orang-orang salaf saleh, para ulama, dan seluruh orang-orang Islam yang awam sekalipun. Tidak ada seorang-pun dari orang-orang Islam tersebut yang mengingkari perkara ini, bahkan tidak pernah didengar dari semenjak dahulu kala ada orang yang mengingkari masalah tawassul ini, hingga kemudian datang Ahmad ibn Taimiyah; lalu ia berbicara masalah tawassul dengan pembicaraan yang penuh tipuan terhadap orang-orang awam, ia membuat bid’ah sesat yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun di masa dahulu (dengan mengharamkan tawassul dan ziyarah ke makam Rasulullah)….”   

Lengkap untuk didownload kitab “Syifa’ as Siqam” karya Imam as Subki sebagai bantahan terhadap kesesatan Ahmad ibn Taimiyah Klik disini.

So, anda jangan tertipu… dan jangan ikut-ikutan mengatakan mengatakan Ibn Taimiyah sebagai “Syaikhul Islam”, yang benar Ibn Taimiyah adalah “SYAIKH ADL DLOLAL”……

 

Keyakinan Sesat Ibnu Taimiyah Bahwa Neraka Akan Punah

 

 

 ”Pernyataan Ibn Taimiyah bahwa Neraka dan siksaan siksaan terhadap orang kafir di dalamnya memiliki penghabisan”

Termasuk kontroversi besar yang menggegerkan dari Ibn Taimiyah adalah pernyataannya bahwa neraka akan punah, dan bahwa siksaan terhadap orang-orang kafir di dalamnya memiliki penghabisan. Kontroversi ini bahkan diikuti oleh murid terdekatnya; yaitu Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah[1].

Dalam karyanya berjudul ar-Radd ’Ala Man Qala Bi Fana’ an-Nar, Ibn Taimiyah menuliskan sebagai berikut:

”Di dalam kitab al-Musnad karya ath-Thabarani disebutkan bahwa di bekas tempat neraka nanti akan tumbuh tumbuhan Jirjir. Dengan demikian maka pendapat bahwa neraka akan punah dikuatkan dengan dalil dari al-Qur’an, Sunnah, dan perkataan para sahabat. Sementara mereka yang mengatakan bahwa neraka kekal tanpa penghabisan tidak memiliki dalil baik dari al-Qur’an maupun Sunnah”[2].

 

Pernyataan Ibn Taimiyah ini jelas merupakan dusta besar terhadap para ulama Salaf dan terhadap al-Imam ath-Thabarani. Anda jangan tertipu, karena pendapat itu adalah ”akal-akalan” belaka. Anda tidak akan pernah menemukan seorang-pun dari para ulama Salaf yang berkeyakinan semacam itu. Pernyataan Ibn Taimiyah ini jelas telah menyalahi teks-teks al-Qur’an dan hadits serta ijma’ seluruh orang Islam yang telah bersepakat bahwa surga dan neraka kekal tanpa penghabisan. Dalam kurang lebih dari 60 ayat di dalam al-Qur’an secara sharih (jelas) menyebutkan bahwa surga dengan segala kenikmatan dan seluruh orang-orang mukmin kekal di dalamnya tanpa penghabisan, dan bahwa neraka dengan segala siksaan serta seluruh orang-orang kafir kekal di dalamnya tanpa penghabisan. Di antaranya dalam QS. Al-Ahzab: 64-65, QS. At-Taubah: 68, QS. An-Nisa: 169, dan berbagai ayat lainnya.

Kemudian di dalam hadits-hadits shahih juga telah disebutkan bahwa keduanya kekal tanpa penghabisan. Di antaranya hadits shahih riwayat al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

يقال لأهل الجنة: يا أهل الجنة خلود لا موت، ولأهل النار: خلود لا موت (رواه البخاري)

”Dikatakan kepada penduduk surga: ”Wahai penduduk surga kalian kekal tidak akan pernah mati”. Dan dikatakan bagi penduduk neraka: ”Wahai penduduk neraka kalian kekal tidak akan pernah mati”. (HR. al-Bukhari)

Ini adalah salah satu kontroversi Ibn Taimiyah, -selain berbagai kontroversi lainnya- yang memicu ”peperangannya” dengan al-Imam al-Hafizh al-Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki. Hingga kemudian al-Imam as-Subki membuat risalah berjudul ”al-I’tibar Bi Baqa al-Jannah Wa an-Nar”sebagai bantahan keras kepada Ibn Taimiyah, yang bahkan beliau tidak hanya menyesatkannya tapi juga mengkafirkannya. Di antara yang dituliskan al-Imam as-Subki dalam risalah tersebut adalah sebagai berikut:

”Sesungguhnya keyakinan seluruh orang Islam bahwa surga dan neraka tidak akan pernah punah. Kesepakatan (Ijma’) kayakinan ini telah dikutip oleh Ibn Hazm, dan bahwa siapapun yang menyalahi hal ini maka ia telah menjadi kafir sebagaimana hal ini telah disepakati (Ijma’). Sudah barang tentu hal ini tidak boleh diragukan lagi, karena kekalnya surga dan neraka adalah perkara yang telah diketahui oleh seluruh lapisan orang Islam. Dan sangat banyak dalil menunjukan di atas hal itu”[3].

Pada bagian lain dalam risalah tersebut, al-Imam as-Subki menuliskan:

”Seluruh orang Islam telah sepakat di atas keyakinan bahwa surga dan neraka kekal tanpa penghabisan. Keyakinan ini dipegang kuat turun temurun antar generasi yang diterima oleh kaum Khalaf dari kaum Salaf dari Rasulullah. Keyakinan ini tertancap kuat di dalam fitrah seluruh orang Islam yang telah diketahui oleh seluruh lapisan mereka. Bahkan tidak hanya orang-orang Islam, agama-agama lainpun di luar Islam meyakini demikian. Maka barang siapa meyalahi keyakinan ini maka ia telah menjadi kafir”[4].

Catatan Kaki :

[1] Lihat Ibn al-Qayyim dalam Hadi al-Arwah Ila Bila al-Afrah, h. 579 dan h. 582

[2] Ar-Radd ‘Ala Man Qala Bi Fana’ an-Nar, h. 67

[3] Lihat al-I’tibar Bi Baqa’ al-Jannah Wa an-Nar dalam ad-Durrah al-Mudliyyah Fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah karya al-Hafizh ‘Ali ibn ‘Abd al-Kafi as-Subki, h. 60

[4] Ibid, h. 67

http://mbahtaimiyah.wordpress.com/2012/02/19/keyakinan-sesat-ibnu-taimiyah-bahwa-neraka-akan-punah/#more-30

Pengakuan Mantan wahabi sesat LDII (islam jamaah)

 

 
 

 

Hidayatullah.com – Rabu (14/04/2012) Majelis Intelektual Dan Ulama Muda (MIUMI) menerima kunjungan dari mantan anggota Islam Jamaah. Islam Jamaah adalah organisasi yang kini ditengarai berganti nama menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

Keempat orang tersebut adalah H. Durahim Darmo (Mantan Wakil Imam Daerah Islam Jamaah untuk daerah Jakarta Selatan), Adam Amrullah (Mantan Ketua Pemuda Islam Jamaah Wilayah Jakarta Timur), Mauludin Akhyar (Mantan Wakil Ketua) lalu Muhammad Imam Nasa’I salah satu mantan Mubaligh LDII.

Kehadiran keempat orang di kantor MIUMI di, Jalan Tebet Timur Dalam VIII No. 44. Jakarta Selatan (Rabu, 11/04/2012) selain bertujuan untuk bersilahturahim juga untuk melaporkan fakta fakta ajaran yang dikembangkan oleh Islam Jamaah dengan payung organisasinya LDII.

Adam Amrullah menjelaskan bahwa di dalam kajian LDII itu tidak ada sekalipun selama 32 tahun dia aktif diajarkan mengenai Ketauhidan.

“Sejujurnya saya baru memahami tauhid itu setelah saya keluar dari LDII. Selama saya di LDII saya hanya diajarkan untuk berbai’at kepada Imam LDII dan mendapat jaminan masuk surga dan orang selain LDII adalah adalah kafir dan sesat,” jelasnya.

Adam Amrullah menjelaskan di dalam LDII ada yang namanya konsep Bithonah.

Konsep Bithonah ini istilah yang sama dengan konsep Taqiyah di Syiah. Fungsinya adalah menghalalkan berdusta, berbohong untuk kepentingan dakwah LDII.

“Jadi kalau ditanya oleh orang luar LDII apakah mereka mengkafirkan orang di luar jamaahnya mereka akan berkata tidak. Apapun untuk menjaga kepentingan LDII mereka dibolehkan berbohong, walaupun ke orang tua mereka sendiri. Begitupun ketika LDII mengatakan ke ketua MUI bahwa LDII sudah berubah itu semua bagian dari strategi Bithonah. Kenyataannya sampai hari ini mereka tetap sama tidak ada yang berubah,” jelasnya.

Ada tiga prinsip dalam berkomunikasi dengan masyarakat di luar LDII yang dijelaskan Adam Amrullah kepada hidayatullah.com.

Pertama, mereka dituntut untuk fathonah yaitu cerdas dalam membaca situasi ketika menyampaikan hal hal terkait LDII.

Bithonah adalah membolehkan berbohong ketika terdapat ancaman dalam kepentingan LDII. Yang ketiga adalah Budi Luhur yaitu anggota LDII dituntut untuk menunjukkan perilaku baik, lemah lembut dan ramah untuk merebut simpati masyarakat.

Mauludin Akhyar mantan wakil ketua Islam Jamaah ini menjelaskan bahwa anggota LDII sampai sekarang tidak boleh menjadi makmum sholat dengan orang di luar jamaahnya. Ini karena ajaran LDII yang memang mengkafirkan orang diluar jamaahnya.

“Jadi kalau sampai terpaksa makmum dengan orang lain. Biasanya diulang lagi dirumah. Kalaupun tidak diulang, niat seorang LDII sholat berjamaah dengan orang diluarnya tetap dengan niat munfarid. Walaupun jasadnya, hati kecil mereka tidak mengakui imam sholat dan mereka tetap meniatkan sholat sendiri. Dan ini bagian dari ijtihan imam LDII” jelasnya.

Muhammad Imam Nasa’I juga menjelaskan bahwa di LDII ada yang namanya pengakuan dosa. Jadi perbuatan dosa di LDII bisa ditebus dengan membayarkan sejumlah uang sesuai aturan yang sudah ditetapkan oleh pengurus pusat  LDII di Kediri.

“Tradisinya itu disetiap menjelang Ramadhan, mereka mengumpulkan surat taubat. Jadi kesalahan kesalahan dosa itu seperti permainan. Dari surat taubat itu maka seorang anggota LDII bisa menebus dosanya dengan membayar sejumlah uang ke pengurus pusat sesuai yang sudah ditentukan, dengan ini maka dosanya hilang” jelasnya

Seperti yang dijelaskan oleh Muhammad Imam Nasa’i ke Hidayatullah.com. Beberapa biaya penebusan itu sendiri antara lain mulai dari dosa masturbasi penebusan dosanya Rp.180.000 sedangkan untuk dosa perzinahan Rp.180.000 dikali enam.

LDII sendiri membolehkan jamaahnya untuk mencuri dari orang – orang diluar jamaahnya. Setiap bulan setiap anggota diwajibkan untuk menyetor 10 persen dari pendapatannya kepada Pemimpin Islam Jamaah. Bahkan dalam ajaran mereka, Pemimpin Islam Jamaah atau LDII bisa memberikan syafaat untuk masuk surga diakhirat nanti.*/thufail

Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

Dalil Lengkap Sunnahnya mencium tangan ulama dan orang shaleh

Belakangan kelompok yang mengaku membawa jargon “basmi TBC” semakin menyebar di masyarakat kita. Mereka tidak sadar, sebenarnya meraka sendiri yang terkena “TBC”. Label mereka “Salafiyyah”, padahal sebenarnya mereka “Talafiyyah” (kaum perusak). Di antara masalah yang mereka pandang sebagai bid’ah sesat, bahkan sebagian mereka menyebutnya sebagai perbuatan syirik, adalah masalah “cium tangan”. Tanpa alasan yang jelas mereka mengatakan bahwa mencium tangan seseorang adalah perbuatan bid’ah, bahkan mendekati syirik. A’udzu Billah.

Perlu diketahui bahwa mencium tangan orang yang saleh, penguasa yang bertakwa dan orang kaya yang saleh adalah perkara mustahabb (sunnah) yang disukai Allah. Hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah dan dan atsar para sahabat berikut ini. Di antaranya;

    1. Hadits riwayat al-Imam at-Tirmidzi dan lainnya, bahwa ada dua orang Yahudi sepakat menghadap Rasulullah. Salah seorang dari mereka berkata: “Mari kita pergi menghadap -orang yang mengaku- Nabi ini untuk menanyainya tentang sembilan ayat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa”. Tujuan kedua orang Yahudi ini adalah hendak mencari kelemahan Rasulullah, karena beliau adalah seorang yang Ummi (tidak membaca dan tidak menulis). Mereka menganggap bahwa Rasulullah tidak mengetahui tentang sembilan ayat tersebut. Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah dan menanyakan prihal sembilan ayat yang diturunkan kepada Nabi Musa tersebut, maka Rasulullah menjelaskan kepada keduanya secara rinci tidak kurang suatu apapun. Kedua orang Yahudi ini sangat terkejut dan terkagum-kagum dengan penjelasan Rasulullah. Keduanya orang Yahudi ini kemudian langsung mencium kedua tangan Rasulullah dan kakinya. Al-Imam at-Tarmidzi berkata bahwa kulitas hadits ini Hasan Shahih (Lihat Jami’ at-Tirmidzi, Kitab al-Isti’dzan, Bab Ma Ja’a Fi Qublah al-Yad Wa ar-Rijl).
    2. Abu asy-Syaikh dan Ibn Mardawaih meriwayatkan dari sahabat Ka’ab ibn Malik, bahwa ia berkata:

      “Ketika turun ayat tentang (diterimanya) taubat-ku, aku mendatangi Rasulullah lalu mencium kedua tangan dan kedua lututnya” ( Lihat ad-Durr al-Mantsur, j. 4, h. 314).

    3. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad bahwa sahabat ‘Ali ibn Abi Thalib telah mencium tangan al-‘Abbas ibn ‘Abd al-Muththalib dan kedua kakinya, padahal ‘Ali lebih tinggi derajatnya dari pada al-‘Abbas. Namun karena al-‘Abbas adalah pamannya sendiri dan seorang yang saleh maka dia mencium tangan dan kedua kakinya tersebut (Lihat al-Adab al-Mufrad, h. 328).
    4. Demikian juga dengan ‘Abdullah ibn ‘Abbas, salah seorang dari kalangan sahabat yang masih muda ketika Rasulullah meninggal. ‘Abdullah ibn ‘Abbas pergi kepada sebagian sahabat Rasulullah lainnya untuk menuntut ilmu dari mereka. Suatu ketika beliau pergi kepada Zaid ibn Tsabit, salah seorang sahabat senior yang paling banyak menulis wahyu. Saat itu Zaid ibn Tsabit sedang keluar dari rumahnya. Melihat itu, dengan cepat ‘Abdullah ibn ‘Abbas memegang tempat pijakan kaki dari pelana hewan tunggangan Zaid ibn Tsabit. ‘Abdullah ibn ‘Abbas menyongsong Zaid untuk menaiki hewan tunggangannya tersebut. Namun tiba-tiba Zaid ibn Tsabit mencium tangan ‘Abdullah ibn ‘Abbas, karena dia adalah keluarga Rasulullah. Zaid ibn Tsabit berkata: “Seperti inilah kami memperlakukan keluarga Rasulullah”. Padahal Zaid ibn Tsabit jauh lebih tua dari ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Atsar ini diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Bakar ibn al-Muqri dalam Juz Taqbil al-Yad.
    5. Ibn Sa’d juga meriwayatkan dengan sanad-nya dalam kitab Thabaqat dari ‘Abd ar-Rahman ibn Zaid al-‘Iraqi, bahwa ia berkata: “Kami telah mendatangi Salamah ibn al-Akwa’ di ar-Rabdzah. Lalu ia mengeluarkan tangannya yang besar seperti sepatu kaki unta, kemudian dia berkata: “Dengan tanganku ini aku telah membaiat Rasulullah”. Oleh karenanya lalu kami meraih tangan beliau dan menciumnya” (Lihat Thabaqat Ibn Sa’d, j. 4, h. 229).
    6. Juga telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa al-Imam Muslim mencium tangan al-Imam al-Bukhari. Al-Imam Muslim berkata kepadanya:وَلَوْ أَذِنْتَ لِيْ لَقَبَّلْتُ رِجْلَكَ.“Seandainya anda mengizinkan pasti aku cium kaki anda” (Lihat at-Taqyid Li Ma’rifah as-Sunan Wa al-Masanid, h. 33).
    7. Dalam kitab at-Talkhish al-Habir, al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menuliskan sebagai berikut:“Tentang masalah mencium tangan ada banyak hadits yang dikumpulkan oleh Abu Bakar ibn al-Muqri, beliau mengumpulkannya dalam satu juz penuh. Di antaranya hadits ‘Abdullah ibn ‘Umar, dalam menceritakan suatu peristiwa di masa Rasulullah, beliau berkata:فَدَنَوْنَا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَدَهُ وَرِجْلَهُ (رواه أبو داود)

      “Maka kami mendekat kepada Rasulullah lalu kami cium tangan dan kakinya”. (HR. Abu Dawud)

      Di antaranya juga hadits Shafwan ibn ‘Assal, dia berkata: “Ada seorang Yahudi berkata kepada temannya: Mari kita pergi kepada Nabi ini (Muhammad). Kisah lengkapnya seperti tertulis di atas. Kemudian dalam lanjutan hadits ini disebutkan:

      فَقَبَّلاَ يَدَهُ وَرِجْلَهُ وَقَالاَ: نَشْـهَدُ أَنَّكَ نَبِيٌّ.

      “Maka keduanya mencium tangan Nabi dan kakinya lalu berkata: Kami bersaksi bahwa engkau seorang Nabi”.

      Hadits ini diriwayatkan oleh Para Penulis Kitab-kitab Sunan (al-Imam at-Tirmidzi, al-Imam an-Nasa’i, al-Imam Ibn Majah, dan al-Imam Abu Dawud) dengan sanad yang kuat.

    8. Juga hadits az-Zari’, bahwa ia termasuk rombongan utusan ‘Abd al-Qais, bahwa ia berkata:فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.“Maka kami bergegas turun dari kendaraan kami lalu kami mencium tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam”. (HR. Abu Dawud)
    9. Dalam hadits tentang peristiwa al-Ifk (tersebarnya kabar dusta bahwa as-Sayyidah ‘Aisyah berbuat zina) dari ‘Aisyah, bahwa ia berkata: “Abu Bakar berkata kepadaku:قُوْمِيْ فَقَبِّلِيْ رَأْسَهُ.“Berdirilah dan cium kepalanya (Rasulullah)”. (HR. Ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, j. 23, h. 108-114).
    10. Dalam kitab sunan yang tiga (Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i) dari ‘Aisyah, bahwa ia berkata:مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَشْبَهَ سُمْتًا وَهَدْيَا وَدَلاًّ بِرَسُوْلِ اللهِ مِنْ فَاطِمَةَ، وَكَانَ إِذَا دَخَلَتْ عَلَيْهِ قَامَ إِلَيْهَا فَأَخَذَ بِيَدِهَا فَقَبَّلَهَا وَأَجْلَسَهَا فِيْ مَجْلِسِهِ، وَكَانَتْ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهَا قَامَتْ إِلَيْهِ فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَبَّلَتْهُ، وَأَجْلَسَتْهُ فِيْ مَجْلِسِهَا.“Aku tidak pernah melihat seorangpun lebih mirip dengan Rasulullah dari Fathimah dalam sifatnya, cara hidup dan gerak-geriknya. Ketika Fathimah datang kepada Rasulullah, maka Rasulullah berdiri menyambutnya lalu mengambil tangan Fathimah, kemudian Rasulullah mencium Fathimah dan membawanya duduk di tempat duduk beliau. Dan apabila Rasulullah datang kepada Fathimah, maka Fathimah berdiri menyambutnya lalu mengambil tangan Rasulullah, kemudian mencium Rasulullah, setelah itu ia mempersilahkan beliau duduk di tempatnya”.

      Demikian penjelasan al-Hafizh Ibn Hajar dalam kitab at-Talkhish al-Habir.

      Dalam hadits yang terakhir disebutkan, juga terdapat dalil tentang kebolehan berdiri untuk menyambut orang yang masuk datang ke suatu tempat, jika memang bertujuan untuk menghormati bukan untuk menyombongkan diri dan menampakkan keangkuhan.

Membongkar Salah Paham Wahabi

Hadits riwayat al-Imam Ahmad dan al-Imam at-Tirmidzi dari Anas ibn Malik yang menyebutkan bahwa para sahabat jika mereka melihat Rasulullah mereka tidak berdiri untuknya karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah tidak menyukai hal itu, hadits ini tidak menunjukkan kemakruhan berdiri untuk menghormati. Pemaknaan hadits ini bahwa Rasulullah tidak menyukai hal itu karena beliau takut akan diwajibkan hal itu atas para sahabat. Dengan demikian, Rasulullah tidak menyukai hal itu karena beliau menginginkan keringanan bagi ummatnya. Sebagaimana sudah diketahui bahwa Rasulullah kadang suka melakukan sesuatu tapi ia meninggalkannya meskipun ia menyukainya karena beliau menginginkan keringanan bagi ummatnya.

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Abu Dawud dan al-Imam at-Tirmidzi bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَتَمَثَّلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ (رَوَاه أبو دَاوُد والتّرمذيّ)

berdiri yang dilarang dalam hadits ini adalah berdiri yang biasa dilakukan oleh orang-orang Romawi dan Persia kepada raja-raja mereka. Jika mereka ada di suatu majelis lalu raja mereka masuk, maka mereka berdiri untuk raja tersebut dengan Tamatstsul; artinya berdiri terus hingga sang raja pergi meninggalkan majelis atau tempat tersebut. Ini yang dimaksud dengan Tamatstsul dalam bahasa Arab.

Sedangkan riwayat yang disebutkan oleh sebagian orang bahwa Rasulullah menarik tangannya dari tangan orang yang hendak menciumnya, ini adalah hadits yang sangat lemah menurut ahli hadits (Ibn Hibban meriwayatkannya dalam Kitab adl-Dlu’afa’, j. 2, h. 51, al-Hafizh as-Suyuthi dalam al-Jami’ ash-Shaghir menganggapnya dla’if. Demikian pula dinyatakan dla’if oleh al-Hafizh al-‘Iraqi, al-Hafizh as-Sakhawi, al-Hafizh Ibn Hajar, dan lainnya. Bahkan al-Hafizh Ibn al-Jauzi mengklaimnya sebagai hadits Maudlu’. Lihat al-Maudlu’at, j. 3, h. 46-47).

Maka sangat aneh bila ada orang yang menyebut-nyebut hadits dla’if ini dengan tujuan menjelekkan perbuatan mencium tangan. Bagaimana dia meninggalkan sekian banyak hadits shahih yang membolehkan mencium tangan, dan dia berpegangan dengan hadits yang sangat lemah untuk melarangnya!? Hasbunallah.

Sekali lagi, jadi siapa sebenarnya yang memelihara “TBC”?? Anda jangan pernah menjadi maling yang teriak maling, karena walau anda selamat, pada akhirnya anda akan kualat…..

http://www.facebook.com/pages/AQIDAH-AHLUSSUNNAH-ALLAH-ADA-TANPA-TEMPAT/351534640896

Maulid Nabi Dalam Al-Qur’an dan Hadits

Rumah yang dikatakan tempat kelahiran nabi Muhammad s.a.w

Rabiul Awal adalah bulan bertabur pujian dan rasa syukur. Di bulan ini, seribu empat ratus tahun silam, terlahir makhluk terindah yang pernah diciptakan Allah SWT. Namanya Muhammad SAW. Kita patut memujinya, karena tiada ciptaan yang lebih sempurna dari Baginda Nabi SAW. Berkat beliau, seluruh semesta menjadi terang benderang. Kabut jahiliah tersingkap berganti cahaya yang memancarkan kedamaian dan ilmu pengetahuan. Karena itu kita wajib mensyukuri. Tiada nikmat yang lebih berhak untuk disyukuri dari nikmat wujudnya sang kekasih, Muhammad SAW.

Walau masih ada segelintir muslimin yang alergi dengan peringatan maulid Nabi SAW, antusiasme memperingati hari paling bersejarah itu tak pernah surut. Di seluruh belahan bumi, umat Islam tetap semangat menyambut hari kelahiran Nabi SAW dengan beragam kegiatan, seperti sedekah, berdzikir, shalawat, bertafakkur, atau dengan menghelat seminar-seminar ilmiah, bahkan Rasulullah telah mengawali mereka dan memberikan contoh dengan berpuasa setiap hari kelahiran beliau yaitu hari senin. Negara-negara muslim, kecuali Arab Saudi, menjadikan tarikh 12 Rabiul Awal sebagai hari libur nasional. Hari itu pun dijadikan sebagai momen pertukaran tahni’ah (ucapan selamat) bagi sebagian pemimpin negara-negara di Sumenanjung Arab.

Secara harfiah, maulid bermakna hari lahir. Belakangan istilah maulid digunakan untuk sirah Nabi SAW, karena, seperti telah dimafhumi, sejarah dimulai dengan kelahiran atau saat-saat jelang kelahiran. Sirah, atau sejarah hidup Rasulullah SAW itu sangat perlu dibaca dan dikaji karena penuh inspirasi dan bisa memantapkan iman. Allah SWT berfirman,
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.. (Hud :120)”

Maulid Nabi Isa

Dalam Al-Quran banyak tercantum maulid para nabi. Allah SWT mengisahkan Nabi Isa A.S. secara runtun: mulai kelahirannya, lalu diutus sebagai rasul, hingga diangkat ke langit. Coba tengok surat Ali Imran ayat 45 sampai 50. Di situ Allah SWT memulai kronologi kisah Nabi Isa a.s. dengan firmanNya,
إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

“(ingatlah), ketika malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),”

Dalam Surat Al Maidah ayat 110, Allah SWT lagi-lagi menegaskan sekali lagi siapa sosok Isa a.s., Allah SWT berfirman,
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

“(ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan dirimu dengan Ruhul qudus. kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (Ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, Kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (Ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata”.

Ayat-ayat di atas mengurai sirah nabi Isa a.s. mulai jelang kelahirannya sampai diangkat ke langit. Sebuah data yang tak bisa dibantah keontetikannya. Mengacu terminologi maulid sebagai sirah, jalinan kisah di atas sah-sah saja bila diistilahkan sebagai Maulid Nabi Isa a.s.

Maulid Nabi Yahya

Selain Nabi Isa a.s., Al-Quran juga mencatat “biografi” Nabi Zakaria dan maulid Nabi Yahya Alaihimassalam. Dalam surat Maryam ayat 3 sampai 33, Allah mengisahkan perjalanan hidup Nabi Zakaria dan Nabi Yahya dengan panjang lebar, dimulai dengan sebuah doa Nabiyullah Zakariya yang penuh pengharapan.
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4) وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

“Ia Berkata “Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya Aku khawatir terhadap mawaliku (pengganti) sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah Aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, sebagai seorang yang diridhai”.

Kemudian Allah menjawab permintaan rasul-Nya itu, sekaligus sebagai isyarat akan lahirnya sang “putra mahkota”, Nabi Yahya a.s.,
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

“Hai Zakaria, Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya.

Selanjutnya, dengan bahasa yang indah, Al-Quran mengisahkan sirah Nabi Zakaria a.s. dan putranya, Yahya a.s.. Sama seperti perjalanan hidup Nabiyullah Isa a.s., sirah Nabi Yahya bisa pula diistilahkan sebagai Maulid Nabi Yahya karena, hakikatnya, maulid adalah sirah. Begitu pun kisah Nabi Ibrohim, Nabi Ismail, Nabi Ishak, Nabi Ya’kub, Nabi Yusuf, Nabi Musa dan lainnya.

Maulid Siti Maryam

Tak hanya para nabi. Al-Quran juga mendedah sejarah hidup sebagian kaum shalihin. Salah satunya adalah Siti Maryam, sosok teladan bagi wanita sepanjang masa. Kisah wanita mulia itu dibuka dengan sebuah nazar yang diucapkan seorang ibu yang berhati tulus dalam surat Ali Imran ayat 35 sampai 37.
إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ )35( فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ )36( فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ )37(

“(ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

36. Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, Sesunguhnya Aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya Aku Telah menamai dia Maryam dan Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”

37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Dan masih banyak lagi yang tidak bisa kami sertakan pada artikel ini karena keterbatasan ruang di website ini.

Dari ayat-ayat di atas bisa diambil kesimpulan bahwa sebenarnya Maulid Nabi SAW, yang memuat sirah Rasulullah SAW, adalah semacam epigon (pengikut) bagi Al-Quranul Karim yang memuat sirah-sirah para nabi dan shalihin. Sebagai pemimpin para nabi, sudah sepatutnya sejarah Nabi Muhammad dibukukan dan dibaca sesering mungkin. Pentingnya mengenang perjalanan hidup Baginda Nabi SAW sangat dirasakan umat Islam pada periode akhir-akhir ini, tatkala berbagai figur non muslim ditawarkan oleh media-media secara gencar.

Hari Istimewa

Perlu diketahui, sejatinya Allah SWT juga menjadikan hari kelahiran Nabi SAW sebagai momen istimewa. Fakta bahwa Rasul SAW terlahir dalam keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177) adalah salah satu tengara. Fakta lainnya:

Pertama, perkataan Utsman bin Abil Ash Atstsaqafiy dari ibunya yang pernah menjadi pembantu Aminah r.a. ibunda Nabi SAW. Ibu Utsman mengaku bahwa tatkala Ibunda Nabi SAW mulai melahirkan, ia melihat bintang bintang turun dari langit dan mendekat. Ia sangat takut bintang-bintang itu akan jatuh menimpa dirinya, lalu ia melihat kilauan cahaya keluar dari Ibunda Nabi SAW hingga membuat kamar dan rumah terang benderang (Fathul Bari juz 6/583).

Kedua, Ketika Rasul SAW lahir ke muka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam).

Ketiga, riwayat yang shahih dari Ibn Hibban dan Hakim yang menyebutkan bahwa saat Ibunda Nabi SAW melahirkan Nabi SAW, beliau melihat cahaya yang teramat terang hingga pandangannya bisa menembus Istana-Istana Romawi (Fathul Bari juz 6/583).

Keempat, di malam kelahiran Rasul SAW itu, singgasana Kaisar Kisra runtuh, dan 14 buah jendela besar di Istana Kisra ikut rontok.

Kelima, padamnya Api di negeri Persia yang semenjak 1000 tahun menyala tiada henti (Fathul Bari 6/583).

Kenapa peristiwa-peristiwa akbar itu dimunculkan Allah SWT tepat di detik kelahiran Rasulullah SAW?. Tiada lain, Allah SWT hendak mengabarkan seluruh alam bahwa pada detik itu telah lahir makhluk terbaik yang pernah diciptakan oleh-Nya, dan Dia SWT mengagungkan momen itu sebagaimana Dia SWT menebar salam sejahtera di saat kelahiran nabi-nabi sebelumnya.

Hikmah maulid

Peringatan maulid nabi SAW sarat dengan hikmah dan manfaat. Di antaranya: mengenang kembali kepribadian Rasulullah SAW, perjuangan beliau yang penuh pelajaran untuk dipetik, dan misi yang diemban beliau dari Allah SWT kepada alam semesta.

Para sahabat radhiallahu anhum kerap menceritakan pribadi Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan. Salah satu misal, perkataan Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu anhu, “Kami selalu mengingatkan anak-anak kami tentang peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW, sebagaimana kami menuntun mereka menghafal satu surat dalam Al-Quran.”

Ungkapan ini menjelaskan bahwa para sahabat sering menceritakan apa yang terjadi dalam perang Badar, Uhud dan lainnya, kepada anak-anak mereka, termasuk peristiwa saat perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan.

Selain itu, dengan menghelat Maulid, umat Islam bisa berkumpul dan saling menjalin silaturahim. Yang tadinya tidak kenal bisa jadi saling kenal; yang tadinya jauh bisa menjadi dekat. Kita pun akan lebih mengenal Nabi dengan membaca Maulid, dan tentunya, berkat beliau SAW, kita juga akan lebih dekat kepada Allah SWT.

Sempat terbesit sebuah pertanyaan dalam benak, kenapa membaca sirah baginda rasulullah mesti di bulan maulid saja? Kenapa tidak setiap hari, setiap saat? Memang, sebagai tanda syukur kita sepatutnya mengenang beliau SAW setiap saat. Akan tetapi, alangkah lebih afdhal apabila di bulan maulid kita lebih intens membaca sejarah hidup beliau SAW seperti halnya puasa Nabi SAW di hari Asyura’ sebagai tanda syukur atas selamatnya Nabi Musa as, juga puasa Nabi SAW di hari senin sebagai hari kelahirannya.

Nah, sudah saatnyalah mereka yang anti maulid lebih bersikap toleran. Bila perlu, hendaknya bersedia bergabung untuk bersama-sama membaca sirah Rasul SAW. Atau, minimal – sebagai muslim– hendaknya merasakan gembira dengan datangnya bulan Rabiul Awal. Sudah sepantasnya di bulan ini kita sediakan waktu untuk mengkaji lebih dalam sejarah hidup Rasul SAW. Jangan lagi menggugat maulid!

Wahabi Jihadi di balik “Pembantaian Ulama Sunni di jawa timur 1998 (Fitnah dukun Santet) & Kerusuhan Poso 1999 & BOM Bali 2002

 

NinJa itu pembantai kyai itu adalah para teroris wahabi jihadi (antek alqaida)???????

Teroris wahabi mengebom warga kristen di ambon-poso sehingga warga kristen membantai minoritas islam ambon????

wahabi jihadi dibalik bom bali  (Tahun 2002), untuk mengadu domba hindu Vs minoritas islam di bali???

 

insya allah ….Fakta dan bukti bukti akan di publish di salafy tobat

 

FITNAH SANTET TERHADAP ULAMA BANYUWANGI

 

Kabupaten Banyuwangi (Jatim) sampai tulisan ini dibuat (7/10) masih mencekam, akibat gelombang aksi membunuh para kyai NU dengan tuduhan sebagai dukun santet. Aksi brutal dan sadis itu telah menewaskan 94 orang. Polisi telah menahan 116 orang yang terlibat. Pangdam Brawijaya Mayjen TNI Djoko Soebroto menyatakan, aksi itu bukan tindak kriminal biasa, tapi ada unsur politik. Ia mensinyalir kemungkinan keterlibatan orang-orang bekas PKI yang dendam, karena aksi-aksi itu mirip dengan yang terjadi pada tahun 1965. Mula-mula mereka menyerang dukun santet, lalu mengarah ke alim ulama di daerah (Kompas, 5/10/98).

Pembantaian massal terhadap para ustadz, guru ngaji, kyai-kyai pondok pesantren, dan ulama pengurus NU dengan fitnah sebagai dukun santet sungguh meresahkan masyarakat. Ketua PWNU Jawa Timur KH Hasyim Muzadi mengemukakan kepada UMMAT (No. 14 Thn. IV, 12 Oktober 1998/20 Jumadil Akhir 1419H), sudah 93 ulama yang dibantai! Hasyim membenarkan, dari mereka yang tertangkap –antara lain ditangkap oleh KH. Ahmad Burhan dari Kecamatan Srono– ada yang mengaku disuruh eks PKI dengan bayaran tertentu untuk membunuh para kyai. Hasyim juga menyebut adanya kelompok tertentu yang memaksakan kepentingannya di belakang aksi pembantaian para kyai itu.

Sungguh sadis yang mereka lakukan. Gerombolan datang dengan kostum ninja. Memadamkan lampu. Menggedor dan mendobrak pintu. Lalu menyeret korban. Mereka aniaya, pukuli, seret, dan bunuh ramai-ramai. Setelah korban sekarat mereka berteriak-teriak hingga masyarakat berhamburan keluar, lalu mereka pergi menghilang. Orang-orang muslim laki perempuan tua renta mereka bantai dengan sadis. Bahkan ada seorang korban yang dibunuh di masjid sedang shalat tahajjud! Dengan peristiwa itu, kini kaum muslimin di Banyuwangi yang biasanya shalat tahajjud di mushalla tak berani lagi. Bahkan shalat tahajjud di dalam rumah saja mereka tak berani lantaran untuk wudlu mereka harus keluar rumah (UMMAT, idem).

Kyai Hasyim Muzadi mengungkap rasa kecewanya terhadap kelambanan aparat keamanan dalam menangani kasus pembunuhan puluhan ulama dan warga NU ini. Keluhan serupa diungkap Fuad Anwar, Sekretaris PWNU Jatim. Ia mengatakan, kalau ada nonpri mati dua orang saja sudah ramai sekali. Tapi kalau ada pribumi dibunuh sampai 90 orang tak ada yang teriak. Komnas HAM juga tak ada suaranya (UMMAT, idem). Sementara itu koordinator Kontras, Munir SH, menyebut ada indikasi aparat keamanan membiarkan proses pembantaian orang yang diduga dukun santet berlangsung, sehingga banyak jatuh korban. Menurut catatan Kontras korban pembantaian sadis di Banyuwangi itu sudah lebih dari 100 orang (Republika, 6/10/98). Kompas (7/10/98) melaporkan teror dan pembunuhan yang telah meluas hingga ke Jember itu menewaskan 122 orang!

Mengapa para ulama dibunuh dengan fitnah bahwa mereka dukun santet? Mengapa aparat keamanan belum mampu juga mengungkap pembantaian lebih dari 100 orang muslim baik-baik itu? Mengapa Komnas HAM masih adem ayem saja? Adakah gerakan politik di balik itu? Sejauh mana gerakan memfitnahi kaum muslimin dari masa-masa ke masa? Fitnah-fitnah apa saja yang diderita kaum muslimin dalam kehidupan tanpa Khilafah? Apa yang harus dilakukan kaum muslimin dalam menghadapi fitnah? Tulisan ini mencoba mengurainya.

 

 

Fitnah lebih Kejam daripada Pembunuhan

 

Menilik laporan surat kabar tentang cara-cara pembunuhan maupun sasaran pembunuhan yang mereka lakukan, sungguh itu merupakan pembunuhan yang kejam. Sadis! Namun yang lebih kejam adalah isu-isu yang mereka kembangkan, yaitu fitnah dukun santet terhadap kaum muslimin bahkan mayoritas dari mereka adalah guru ngaji dan ulama, para kyai dan pengurus Nahdlatul Ulama!

Memfitnah ulama sebagai pelaku santet adalah satu fitnah yang sangat keji. Apalagi tanpa pembuktian mereka melakukan pembunuhan secara misterius! Atau bahkan mereka menebar fitnah dan membayar massa untuk membunuh orang yang dituduh sebagai dukun santet tanpa pembuktian yang jelas. Bagaimanapun pembunuhan massal adalah tindakan anarkis yang tak mungkin dilakukan kecuali oleh orang-orang bodoh, jahil, atau tak memiliki keimanan dalam hatinya! Dan membikin suasana mencekam dengan gerakan- gerakan misterius, teror yang sistematis yang tak memberikan rasa aman kepada kaum muslimin adalah sebuah fitnah yang lebih kejam dari pada pembunuhan itu sendiri. Apalagi para ulamanya, sehingga mereka mengungsi dan meninggalkan kampung halamannya guna menghindari fitnah itu. Allah SWT berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah : ‘Berperang pada bulan haram itu adalah dosa besar ; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, menghalangi masuk Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya lebih besar dosanya. Dan berbuat fitnah lebih besar dosanya daripada membunuh

(QS. Al Baqarah 217).

Fitnah dalam ayat itu artinya penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan kaum muslimin. Fitnah inilah yang pertama kali menimpa kaum muslimin di kota Mekkah tatkala Islam baru berkembang dan para penguasa kota Mekkah menolak kehadirannya. Mereka menyiksa, membunuh, dan mengusir kaum muslimin yang lemah. Mereka melakukan semua itu untuk menteror masyarakat agar menjauhi Islam yang disiarkan oleh Rasulullah saw. Sepuluh tahun dakwah terang-terangan di kota Mekkah mendapat sambutan teror mental dan fisik serta berbagai fitnah keji yang dilontarkan oleh orang-orang kafir Quraisy kepada Rasulullah saw. dan para sahabatnya.

Fitnah itu mulai bisa diatasi kaum muslimin setelah mereka hijrah ke kota Madinah dan Rasulullah saw. menjadi kepala negara di sana, membentuk suatu masyarakat baru yang terdiri dari kaum Anshar dan kaum Muhajirin yang memiliki asas kehidupan yang sama, yakni aqidah Islamiyyah. Masyarakat yang kompak dalam seluruh aspek kehidupan lantaran memiliki tolok ukur perbuatan (miqyas al amal) yang sama, yaitu halal-haram serta memiliki tujuan hidup yang sama, yaitu mencari ridla Allah SWT. Mereka merasa bahagia dan puas jika melakukan aktivitas yang diridlai Allah SWT. Oleh karena itu, masyarakat baru ini memiliki vitalitas yang sangat tinggi. Ditambah lagi mereka mendapat konsep-konsep hidup baru dengan turunnnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad saw. dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan. Dengan demikian masyarakat kaum muslimin yang kuat itu mampu mengatasi segala ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan dari musuh- musuhnya. Mereka aman dan tentram dalam perlindungan negara yang dipimpin oleh Rasulullah saw.

Kekuatan masyarakat baru pimpinan Rasulullah saw. itu semakin hari semakin membesar dan wilayahnya pun semakin meluas sehingga dalam tempo sekitar 10 tahun saja negara kota Madinah telah berubah menjadi negara besar yang meliputi seluruh jazirah Arab. Mereka menyebarkan Islam ke keseluruh dunia dengan membawa konsep kehidupan baru, menggantikan tradisi, adat istiadat, dan perundang-undangan yang rusak. Maka banyak bangsa dan negara yang kemudian menjadi satu: Islam!

Namun setelah Islam tak memiliki kekuasaan lagi, kaum muslimin mengalami berbagai fitnah dan cobaan. Ketika kaum muslimin kehilangan kekuasaan di Andalusia (Spa- nyol), mereka ditindas dan dibasmi habis dari bumi itu oleh penguasa Kafir di sana. Ketika Stalin berkuasa di Rusia, kurang lebih 20 juta kaum muslimin dibunuh oleh kaum komunis. Ketika Serbia menguasai Bosnia, puluhan ribu wanita muslim diperkosa. Ketika Mao Tse Tung melakukan revolusi kebudayaan, jutaan kaum muslimin di Cina jadi korban. Ketika negara Israel berdiri, jutaan kaum muslimin di Palestina terusir. Dan masih banyak lagi fitnah yang menimpa kaum muslimin di Kasymir, India, Sri Lanka, Rohingya, Chechnya, Kosovo, Irak, Pilipina, Timor-Timur, Aceh, dan negeri- negeri lainnya.

Dan seluruh fitnah yang ditimpakan kepada Islam dan kaum muslimin, baik yang dilakukan oleh para penjajah Kapitalis Barat, Komunis, maupun para penguasa kaum muslimin yang menjadi agen-agen penguasa Barat atau Komunis (di masa lalu) adalah lebih kejam dari pembunuhan terhadap kaum muslimin itu sendiri. Target mereka cuma satu: menghilangkan cahaya agama Allah (QS. At Taubah 32). Para aktivis dakwah Islam yang ikhlas mengajak kepada hukum Allah, mereka fitnah sebagai kaum ekstrimis, teroris, fundamentalis, sektarianis, dan istilah-istilah lain yang memojokkan. Para ustadz, guru ngaji, dan kyai yang sederhana mereka fitnah se- bagai tukang santet, tukang sihir. Risalah Islam yang paripurna, mereka fitnah sebagai agama kemunduran, agama anti kemajuan, agama ekstrim yang menakutkan, bahkan sebagian organisasi agama non Islam menyebut Islam sebagai bukan agama!

Sungguh fitnah-fitnah seperti itu dan masih banyak lagi ragam fitnah lainnya telah menimpa kaum muslimin setelah mereka kehi- langan negara pelindungnya, yakni Khilafah Islamiyyah, pada tahun 1924, di Istambul, setelah dihapuskan oleh kolonialis Inggris melalui agennya, si Yahudi Kamal Attaturk!

 

 

Imam adalah Pelindung Kaum Muslimin

 

Memang, sejak kaum muslimin kehilangan pelindungnya, mereka hidup dalam berbagai penderitaan di seluruh dunia. Negeri mereka bagaikan penjara besar buat mereka. Mereka tak berani menunjukkan identitas me- reka di negeri mereka sendiri. Bahkan orang yang dikenal integritas Islamnya tinggi pun tak berani mengungkap kata-kata bahwa ia meng- imani adanya negara syari’at yang diajarkan dan dicontohkan prakteknya oleh Rasulullah saw. Oleh karena itu, kalau kemudian ada hal-hal tragis yang menimpa umat Islam, para ulama diam karena takut menghadapi fitnah yang lebih besar. Lalu berbagai penderitaan yang menimpa kaum muslimin di berbagai penjuru dunia menjadi hal yang wajar. Tak ada yang berani membela mereka. Tak ada yang berani mengambil resiko membela kaum muslimin dari kezhaliman yang menimpa mereka. Lalu wajarlah kalau penghentian pembasmian kaum muslimin di Bosnia lantaran “kebaikan hati” Amerika. Lalu wajarlah kalau gadis-gadis muslim di Perancis yang mendapat kesulitan lantaran memakai jilbab, yang mengadukan nasibnya kepada Amnesti Internasional mendapatkan jawaban:Kami tidak membela orang- orang muslim!

Oleh karena itu, Imam atau Khalifah sebagai kepala negara kaum muslimin di seluruh dunia sangat mendesak keberadaannya. Hanya dengan institusi itulah kaum muslimin bisa aman tentram mendapatkan perlindungan. Rasullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Imam itu adalah pelindung yang ditaati …”

(HR. Bukhari dan Muslim)

.

 

Di saat kaum muslimin hidup dalam sistem yang lain, mereka tak mendapat keamanan yang layak. Dalam negara yang mayoritasnya kaum muslimin seperti Indonesia saja, mereka tidak aman. Apalagi kalau mereka menjadi minoritas di suatu negara. Kita memaklumi bahwa ABRI sebagai penanggung jawab keamanan dalam posisi sulit, maju kena mundur kena. ABRI telah dilemahkan posisinya oleh kekuatan-kekuatan eksternal yang bekerja sama dengan kekuatan-kekuatan internal. Kita memahami bahwa pemerintahan Habibie sulit memberikan keamanan kepada para ulama Banyuwangi, lantaran keamanan pemerintahannya saja sedang digoyang. Namun apakah itu berarti ratusan nyawa kaum muslimin harus dibiarkan melayang oleh sebuah kelompok kejahatan teroganisir (organized crime). Kita menyeru kepada Habibie dan ABRI yang mayoritasnya muslim itu: Keselamatan para ulama, kyai, dan haji yang meru- pakan representasi kaum muslimin terbaik di negeri ini adalah di pundak anda semua!. Kita kaum muslimin, baik dari kalangan NU maupun luar NU, tidak rela para kyai dibunuhi. Janganlah pembunuhan ratusan ulama Jawa Timur yang pernah dibarengkan dengan Petrus (penembakan misterius) dulu terulang dan terulang lagi! Kita tidak rela ABRI yang mayoritasnya adalah putra-putra kaum muslimin dilecehkan kewibawaannya oleh kelompok ninja bertopeng yang sadis itu! Sekaranglah saatnya kalian berbuat, membela Islam dan kaum muslimin, menegakkan Islam, menegakkan kebenaran dan keadilan!

 

Khatimah

 

Kita meminta agar pemerintah dan pihak keamanan segera berhasil mengungkap gerombolan pembunuh yang memfitnah para ulama sebagai dukun santet itu. Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal (qi- shash), yakni hukuman mati! (QS. Al Baqarah 178, Al Isra 33). Kita sangat berharap agar pihak keamanan tidak bermain-main dengan nyawa para ulama yang kita hormati dan cintai.

Kita meminta para pemuda muslim di wilayah Banyuwangi agar merapatkan barisan kaum muslimin untuk siap berperang bersama pihak keamanan melawan gerombolan pembunuh para ulama agar fitnah tidak berkepanjangan (QS. Al Anfal 39).

Dengan fitnah yang menimpa para ulama Banyuwangi ini, kita berharap para ulama dan pemimpin politik serta penguasa pemerintahan kaum muslimin melakukan introspeksi, mungkin ada something wrong dari penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat dan bernegara selama ini.

Segala krisis dan kekisruhan negeri muslim terbesar ini, barangkali lantaran banyak pelanggaran penduduknya –terutama para ulama dan pemimpin– terhadap perintah-perintah Rasulullah SAW. dalam seluruh aspek kehidupan. Allah SWT telah memperingatkan kita dengan firman-Nya:

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa azab yang pedih.”

(QS. An Nur 63).

 

Jika mau menyelesaikan semua persoalan dan mengurai benang kusut ini, tak ada cara lain kecuali cara yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Wallahu muwaffiq ila aqwamit thariiq!

Bukti Ibnu Taymiyah sokong aqidah Kristen: ” Tuhan bapa diatas langit”

HAKIKAT IBNU TAIMIYYAH SOKONG KRISTIAN- SIRI PERTAMA-

 KENYATAAN ASAL IBNU TAIMIYYAH
Petikan dari:
USTAZ AHMAD FAIDZURRAHIM
Blog: http://ustaz-faidzurrahim.blogspot.com/
Assalamualaikum.:Ibnu Taimiyyah berhujah menggunakan buku-buku kristian untuk membenarkan akidahnya yang menyeleweng.
Kitab : Haditsul Nuzul
Pengarang : Ibnu Taymiyah (661 – 728 H)
Penerbit : Darul ‘ashimah
Page :  217
Ibnu taymiyah  menyatakan pada Nabi Isa yang kononnya berkata:
“Dan ayah kamu di langit”.
Gambar di atas adalah bukti kenyataan Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya sendiri
Dan ada penyokong Wahhabi tegar mengatakan dengan menakwil buku Ibnu Taimiyyah tersebut, si Wahhabi mengatakan bahawa ini terdapat pada kitab injil yg benar.
Sedangkan para alim ulamak Ahli SUnnah seperti Imam al-Qorrofi al-Malaki menukilkan ijmak ulamak bahawa barang siapa yg menyandarkan anak atau ayah kepada Allah maka dia telah terkeluar dari Islam. Imam al-Andalusi dalam Tafsirnya mengatakan bahawa sesiapa yg menamakan Allah dgn bapa maka dia telah kafir walaupun dia mendakwa takwil.
Berhati-hati semua dengan penulisan-penulisan seumpama ini,

Fadhilah shalawat (Syaikhul Hadits Maulana zakariya) : Shalawat Nur al-Qiyamah

Shalawat Nur al-Qiyamah

 
 

 

Ya Allah Wahai Tuhan kami
Sholawat ke atas penghulu kami Muhammad dilimpahi
Baginda lautan segala nur yang Engkau miliki
Sumber segala asrarMu diperolehi
Lisan penegak hujjah kebenaran Ilahi
Dalam kerajaanMu baginda disanjung bak mempelai
Imam segala makhluk di hadhrat Ilahi
Hiasan kerajaanMu yang tiada terperi
Gudang rahmatMu yang tiada dibatasi
Jalan syariatMu yang menunjuki
Dalam mentawhidMu kelazatan baginda kecapi
Punca dan sebab wujud segala ciptaan Ilahi
 
Makhluk paling terpilih antara segala pilihan Ilahi
Ciptaan terawal daripada sinar cemerlang nur milik Ilahi
Shalawat yang kekal abadi dengan berkekalannya Zat Ilahi
Shalawat tiada diketahui kesudahannya selain ilmu Rabbi
Shalawat yang Engkau redhai
Shalawat yang diredhai Junjungan Nabi
Shalawat yang dengannya kami diredhai
Ya Rabbal `Aalamiin, Wahai Tuhan kami.
 

 

Shalawat ini terkenal dengan nama “Nurul Qiyamah” dan banyak dinukilkan oleh para ulama kita yang mulia dalam karya-karya mereka. Di antaranya al-`Alim al-`Allaamah Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani rahimahullah dalam “Afdhalus Shalawat `ala Sayyidis Saadaat”, shalawat ke-27 pada halaman 78. Dinukilkan bahawa Sayyidi Ahmad ash-Shawi rahimahullah dan selain beliau menyatakan bahawa shalawat ini dinamakan dengan “Nur al-Qiyamah” kerana pembacanya akan memperolehi nur yang banyak pada hari kiamat nanti. Menurut sebahagian wali-wali besar shalawat ini diumpamakan dengan 14,000 shalawat.
 

Dalam shalawat ini juga Junjungan Nabi shallaAllahu `alaihi wa sallam dirujuk sebagai “.. al-mutaqaddim min nuri dhiya-ik“…. yakni makhluk yang paling awal diciptakan daripada sinar cemerlang nur yang dimiliki oleh Allah ta`ala, iaitu merujuk kepada awwaliyyah Nur Muhammad yang diterima oleh ramai para ulama kita Ahlus Sunnah wal Jama`ah sebagai makhluk yang paling awal dijadikan Allah ta`ala mengikut tafsiran yang tidak bercanggah dengan aqidah dan syariah. Dan menarik juga untuk dinukilkan di sini bahawa Ra-isul Muhadditsin al-‘Alim al-‘Allaamah Maulana Muhammad Zakaria al-Kandahlawi `alaihi rahmatul Bari dalam “Fadhilat Shalawat” karangan beliau yang telah diterjemahkan turut memuatkan shalawat ini. Pada halaman 79 beliau menyatakan bahawa Syaikh Abdul Haq (seorang muhaddith dari Delhi) menulis dalam kitabnya “Targhib Ahli Sadat” menulis bahawa jika seseorang membaca shalawat ini (yakni Shalawat Nurul Qiyamah) 70 kali ketika hendak tidur, dia akan dapat melihat Rasulullah shallaAllahu `alaihi wa sallam dalam mimpinya.

 
Buku terjemahan “Fadhilat Shalawat” bagi Mawlana Zakaria ini ese nampak udah dicetak dengan cetakan baru yang cantik dan kemas oleh pihak Inteampublishing dengan jodol “Kelebihan Selawat“. Eloklah kome dapatkan sebelum habis stok, banyak manfaatnya untuk menambahkan lagi gemar kita bershalawat ke atas Junjungan Nabi shallaAllahu `alaihi wa sallam.