Extremist Sects : Wahaby/ fake salafi – Syiah – Liberal

Extremist Sects
  Exposing Extremist Misguided Sects (who falsely claim to follow Ahlus-Sunnah)

قال الله تعالى: كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ ۗ ﴿١١٠﴾

Surat Al ^Imran, Ayah 110 means: [You are the best of the nations that were brought to the people commanding the lawful and forbidding the unlawful.] Also, al-Hakim related the Prophet said which means:”If you see my nation fearful of telling he who is unjust, ‘You are unjust,’–then know the support of Allah is withdrawn from them”. Thus in Islam warning from the wrong is a must. The Prophet ordered us to command the lawful and forbid the unlawful. He said what means: “He who does not respect the elderly among us, is not merciful to the youngsters among us, and does not command the lawful and forbid the unlawful is not following our methodology.” Abu ^Ali ad-Daqqaq said “The one who is silent from telling the truth is a mute devil” so warning from the evil and the wrong is a Must  in Islam. And so you will find detailed articles and refutations to misguided sects such as the Wahhabis so-called Salafis, Hizb al-Ikhwan and Hizb at-Tahrir and other extremists who claim to be Sunnis but in reality have hidden agendas to promote their extreme beliefs that no Muslim accepts.

Title Filter     Display # 5101520253050100All
# Article Title
1 Portrait of a Wahhabi (so-called Salafis)
2 Shocking facts on Wahhabi Terrorist Recruitment and Infiltration in the United States
3 The insults of Wahhabis towards Prophet Muhammad:
4 Wahhabi Fatwa Claims Mawlid is Shirk فتوى للوهابية تزعم أن المولد شرك
5 Allamah Ibn Abidin Warns From Wahhabis
6 Proofs on Ibn Taymiyyah’s Extreme Kufur Tajseem and Tashbeeh
7 Wahhabi Albani Fatwa Against Palestinians
8 The Radical ideas of Wahhabis against Muslims
9 Proofs that Wahhabis oppose the way of True Salaf
10 The Jews
11 Ibn Taymiyah’s Prohibiting the Tawassul by the Prophets and Awliya’ and the Tabarruk by them and their Traces (V)
12 From Battling the Grass Roots of Extremism in Islamic History
13 Wahhabis generally have 3 problems..
14 Who are the wahhabis?
15 Book: Fitnat-ul-Wahhabiyyah (The wahhabi Tribulation)
# Article Title
11 Ibn Taymiyah’s Prohibiting the Tawassul by the Prophets and Awliya’ and the Tabarruk by them and their Traces (V)
12 From Battling the Grass Roots of Extremism in Islamic History
13 Wahhabis generally have 3 problems..
14 Who are the wahhabis?
15 Book: Fitnat-ul-Wahhabiyyah (The wahhabi Tribulation)
16 Quoting blasphemous beliefs of Wahhabis about Allah (God)
17 Committing Suicide is An Abhorrent Enormous Sin and a Path to Hellfire
18 Memoirs Of Hempher, The British Spy To The Middle East & The intrusion of Wahabism
19 The Irrefutable Proof that Nazim al-Qubrusi Negates Islam
20 Exposing Nazim al-Qubrusi’s Exaggeration in Sufism
21 Warning from the following Misleading People
22 The uprising of Hizb at-Tahrir Extremists
23 The uprising of Hizbul-Ikhwan Extremists
24 Quoting The Misguidance of Wahhabis in Beliefs (Aqeedah)
25 Extreme Criminal Violence of Wahhabis
25 Extreme Criminal Violence of Wahhabis
26 Ibn Taymiyah’s Disagreement with the Ijma^ of the Muslims in the Divorce Issue (VI)
27 Quoting the Scholars on the Permissibility of Tawassul
28 Important Note about Tawassul Refuting Ibn Taymiah
29 Visiting the Grave of the Prophet and Waliys – Refuting Ibn Taymiah & Wahahbis!
30 Proofs on Tawassul – Refuting the claims of Ibn Taymiah & Wahhabis
31 Ibn Taymiyah’s Saying of the Sitting of Allah, Ta^ala (IV)
32 Ibn Taymiyah’s Saying of the Hadd to the Self of Allah (III)
33 Ibn Taymiyah’s Saying of Hawadith with No Beginning Existing Eternally with Allah (II)
34 Ibn Taymiyah’s Deviations from the Muslims
35 Exposing Ibn Taymiyah’s Deviations from the Muslims

 http://www.alsunna.org/Table/Extremist-Sects/Page-2.html

 

Perkataan Kufur Ibnu taymiyah – ibnu qayyim – wahabi dan Yusuf qardhawi : Neraka akan punah

Perkataan Kufur Yusuf al Qardlawi, mengatakan; Neraka akan Punah]

video:

ingatlah wahai qardawi!!!

72:23] Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya

illaa balaaghan mina allaahi warisaalaatihi waman ya’shi allaaha warasuulahu fa-inna lahu naara jahannama khaalidiina fiihaa abadaan

http://www.youtube.com/watch?v=IhJljy2O1yM&feature=related


Al Qardlawi berkata:
Ibn Qayyim sebenarnya memiliki pendapat sebagaimana pendapat Ibn Taimiyah; gurunya, bahwa menurut keduanya neraka akan punah, sementara surga kekal. Menurut mereka; suatu hari nanti neraka akan punah. Dalam hal ini mereka memiliki dalil, Ibn Qayyim menjelaskan masalah ini dalah bukunya; syifa’ al ‘Alil Fi Masa’il al Qadla’ Wa al Qadar Wa al Hikmah Wa at Ta’lil, lalu dalam bukunya; Hadi al Arwah Ila Bilad al Afrah, dan ketiga ada dalam bukunya yang lain. Lalu Ibn Taimiyah juga berpendapat demikian. Ibn Qayyim menyebutkan banyak dalil untuk masalah ini, menyebutkan sekitar 20 dalil. Pendapatnya ini sesuai dengan keluasan rahmat Allah. Ia menyebutkan tiga ayat dalam al Qur’an; firman Allah; Qala an naru matswakum khalidin fiha illa ma sya’Allah Inna Rabbaka hakimun alim (Qs. Al An’am), kemudian ayat dalam surat Hud; Fa ammalladzina kafaru fa finnari lahum fiha zafiruw wa syahiq khalidina fiha ma damatissamawatu wal ardlu illa ma sya’a rabbuka inna rabbaka fa’allun lima yurid. Dalam masalah surga Allah tidak menyebutkan “illa ma sya’a Rabbuka”, yang ada disebutkan tentang surga adalah “atha’an ghayru majdzudz”, jadi penyebutan prihal neraka berbeda dengan penyebutan prihal surga. Lalu ayat ke tiga adalah firman Allah dalam surat an Naba’; “labitsin fiha ahqaban, la yadzuquna fiha badan wala syaraban”, makna “ahqab”; sekalipun waktu panjang, namun pada akhirnya ia memiliki penghabisan, taruh misalkan makna “ahqab” di sini 1 juta tahun, namun akhirnya itu akan habis. Ini adalah pendapat Ibn Qayyim (dan gurunya). Dan Ini adalah pendapat yang saya sendiri setuju dengannya, karena ini sesuai dengan keluasan rahmat Allah dan kebijaksanaan-Nya. Lalu Ibn Qayyim sendiri di akhir bukunya menyatakan bahwa dasarnya semua urusan Allah “inna rabbakan fa’alun lima yurid’, artinya ibn Qayyim tidak memastikan hal itu.

**************************

Di antara kontroversi Ibn Taimiyah yang menggegerkan adalah pernyataannya bahwa neraka akan punah, dan bahwa siksaan terhadap orang-orang kafir di dalamnya memiliki penghabisan. Kontroversi ini bahkan diikuti oleh murid terdekatnya; yaitu Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah (Lihat Ibn al-Qayyim dalam Hadi al-Arwah Ila Bilad al-Afrah, h. 579 dan h. 582).

Dalam karyanya berjudul ar-Radd ’Ala Man Qala Bi Fana’ an-Nar, Ibn Taimiyah menuliskan sebagai berikut:

”Di dalam kitab al-Musnad karya ath-Thabarani disebutkan bahwa di bekas tempat neraka nanti akan tumbuh tumbuhan Jirjir. Dengan demikian maka pendapat bahwa neraka akan punah dikuatkan dengan dalil dari al-Qur’an, Sunnah, dan perkataan para sahabat. Sementara mereka yang mengatakan bahwa neraka kekal tanpa penghabisan tidak memiliki dalil baik dari al-Qur’an maupun Sunnah” (Lihat ar-Radd ‘Ala Man Qala Bi Fana’ an-Nar, h. 67).

Apa yang telah ditetapkan oleh Ibn Taimiyah dan dikuatkan oleh muridnya ini sekarang telah menjadi dasar keyakinan kaum Wahhabiyyah. Bahkan salah seorang pemuka mereka bernama Abd al-Karim al-Humaid, dengan bangga menulis satu buku yang ia beri judul ”al-Qaul al-Mukhtar Li Fana’ an-Nar”. Di dalamnya, dengan sangat tegas dan gamblang sebagaimana judul buku tersebut, ia mengatakan bahwa neraka akan punah, serta seluruh siksaan terhadap orang-orang kafir di dalamnya akan habis. (Lihat al-Qaul al-Mukhtar Li Fana’ an-Nar, h. 8, Riyadl, Saudi). Hasbunallah…!!! Pertanyaannya; Lantas ke manakah orang-orang kafir itu? Ke surga? Na’udzu Billah.

Ini adalah salah satu kontroversi Ibn Taimiyah, -selain berbagai kontroversi lainnya- yang memicu ”perang” antara dia dengan al-Imam al-Hafizh al-Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki. Hingga kemudian al-Imam as-Subki membuat risalah berjudul ”al-I’tibar Bi Baqa’ al-Jannah Wa an-Nar” sebagai bantahan keras terhadap Ibn Taimiyah, hingga beliau mengatakan bahwa Ibn Taimiyah telah keluar dari Islam; seorang yang sesat dan menyesatkan. Di antara yang dituliskan al-Imam as-Subki dalam risalah tersebut adalah sebagai berikut:

”Sesungguhnya keyakinan seluruh orang Islam adalah bahwa surga dan neraka tidak akan pernah punah. Kesepakatan (Ijma’) keyakinan ini telah dikutip oleh Ibn Hazm, dan bahwa siapapun yang menyalahi hal ini maka ia telah menjadi kafir sebagaimana hal ini telah disepakati (Ijma’). Sudah barang tentu hal ini tidak boleh diragukan lagi, karena kekalnya surga dan neraka adalah perkara yang telah diketahui oleh seluruh lapisan orang Islam. Dan sangat banyak dalil menunjukan di atas hal itu” (Lihat al-I’tibar Bi Baqa’ al-Jannah Wa an-Nar dalam ad-Durrah al-Mudliyyah Fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah karya Al-Hafizh ‘Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki, h. 60).

Pada bagian lain dalam risalah tersebut al-Imam as-Subki menuliskan:

”Seluruh orang Islam telah sepakat di atas keyakinan bahwa surga dan neraka kekal tanpa penghabisan. Keyakinan ini dipegang kuat turun temurun antar generasi yang diterima oleh kaum Khalaf dari kaum Salaf dari Rasulullah. Keyakinan ini tertancap kuat di dalam fitrah seluruh orang Islam yang telah diketahui oleh seluruh lapisan mereka. Bahkan tidak hanya orang-orang Islam, agama-agama lain-pun di luar Islam meyakini demikian. Maka barangsiapa meyalahi keyakinan ini maka ia telah menjadi kafir” (Lihat al-I’tibar Bi Baqa’ al-Jannah Wa an-Nar dalam ad-Durrah al-Mudliyyah Fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah karya Al-Hafizh ‘Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki, h. 67).

Pernyataan Ibn Taimiyah di atas jelas merupakan bohong besar terhadap para ulama Salaf dan terhadap al-Imam ath-Thabarani. Anda jangan tertipu, karena pendapat itu adalah ”akal-akalan” belaka. Anda tidak akan pernah menemukan seorang-pun dari para ulama Salaf yang berkeyakinan semacam itu. Pernyataan Ibn Taimiyah ini jelas telah menyalahi teks-teks al-Qur’an dan hadits serta Ijma’ seluruh orang Islam yang telah bersepakat bahwa surga dan neraka kekal tanpa penghabisan. Bahkan, dalam kurang lebih dari 60 ayat di dalam al-Qur’an secara sharih (jelas) menyebutkan bahwa surga dengan segala kenikmatan dan seluruh orang-orang mukmin kekal di dalamnya tanpa penghabisan, dan bahwa neraka dengan segala siksaan serta seluruh orang-orang kafir kekal di dalamnya tanpa penghabisan, di antaranya dalam QS. Al-Ahzab: 64-65, QS. At-Taubah: 68, QS. An-Nisa: 169, dan berbagai ayat lainnya.

[Al -ahzab (33):64] Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka),
[Al -ahzab (33):65] mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong.
Dalam surat attaubat ayat 68:
[9:68] Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.
Dalam Surat Annisa 169:
[4:169] kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Kemudian di dalam hadits-hadits shahih juga telah disebutkan bahwa keduanya kekal tanpa penghabisan. Di antaranya hadits shahih riwayat al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

يُقَالُ لِأهْلِ الْجَنّةِ: يَا أهْلَ الْجَنّةِ خُلُوْدٌ لاَ مَوْت، وَلأهْلِ النّار: خُلُوْدٌ لاَ مَوْت (رواه البخاري)

”Dikatakan kepada penduduk surga: ”Wahai penduduk surga kalian kekal tidak akan pernah mati”. Dan dikatakan bagi penduduk neraka: ”Wahai penduduk neraka kalian kekal tidak akan pernah mati”. (HR. al-Bukhari)

kitab Tasynif Al-masami’ (Al- Imam Badr al-Din Muhammad bin Bahadar bin `Abdullah al- Zarkasyi (wafat 794 H) : Akidah Mujasimah adalah akidah kufur dan sesat (berserta dalil dari kitab)

BuktiBukti

Assalamualaikum,
Berserta post ini,aku lampirkan dengan izin Allah foto muka surat kitab Tasynif Al-masami’ yang menyatakan dengan jelas bahawa menyatakan Allah itu berjisim walaupun bukan seperti jisim yang lain adalah kufur.

Maka kepada pembaca budiman berakal waras,tolong jangan menjisimkan Allah seperti menyatakan Allah ada tangan,Allah tinggal di langit,duduk di arasy,Allah turun ke langit bumi dan sebagainya,untuk hadis dan ayat Quran yang secara lafzi(dari segi bahasa)mengatakan demikian,maka perlu dirujuk alim ulama’(yang berakidah sahih)untuk mendapat takwil yang sebenar.

Pandangan yang mengatakan MUJASSIMAH GHOIRU SORIH termasuk dalam golongan FASIQ adalah pandangan yang tidak SAHIH (tidak benar) dan Tidak boleh diguna pakai kerana menyalahi pendapat yang SAHIH.

 

Telah Berkata Al- Imam Badr al-Din Muhammad bin Bahadar bin `Abdullah al- Zarkasyi (wafat 794 H) di dalam Tasynif al-Masami` Bi Jam`ie al- Jawami` Li al-Tajjudin al-Subki pada perbahasan ketujuh pada membicarakan bab IJTIHAD:

 

وَنَقَلَ صَاحِبُ ((الْخِصَالِ)) مِنَ الْحَنَابِلَةِ عَنْ أَحْمَدَ أَنَّهُ قَالَ :مَنْ قَالَ جِسْمٌ لا كَالأَجْسَامِ كَفَرَ ، وَنَقَلَ عَنِ الأَشْعَرِيَّةِ أَنَّهُ يُفَسَّقُ ،وَهَذَا النَّقْلُ عَنِ الأَشْعَرِيَّةِ لَيْسَ بِصَحِيْحٍ

 

Terjemahan:

 

“Dan telah dinaqalkan oleh pengarang kitab ((al-Khisal)) daripada para ulama’ Hanabilah, daripada (al-Imam) Ahmad bahwa sesungguhnya beliau telah berkata: “Barangsiapa yang mengatakan Allah jisim tetapi tidak sama dengan semua jisim (jisim-jisim yang lain), KUFUR”, dan telah dinaqalkan daripada para ulama’ al-Asy`ariyyah bahawasanya (orang yang berkata Allah jisim tetapi tidak serupa jisim) dihukum FASIQ (sesat lagi mubtadi`), dan (pendapat) yang menukilkan pendapat tersebut dari para ulama’ al-Asy`ariyyah (maka pendapat tersebut adalah) TIDAK SAHIH/TIDAK BENAR”.

 

 

Telah Berkata Al- Imam Badr al-Din Muhammad bin Bahadar bin `Abdullah al- Zarkasyi, (t.t.), Tasynif al-Masami` Bi Jam`ie al- Jawami` Li al-Tajjudin al-Subki, Beirut: Dar al-Kutub al-I`lmiyyah, j. 2, h. 249.

 

INFO MENGENAI KITAB INI:

 

Kitab ini dikarangan oleh Al- Imam Badr al-Din Muhammad bin Bahadar bin `Abdullah al- Zarkasyi dan diberi nama Tasynif al-Masami` dan disyarahkan oleh al-Imam Tajuddin al-Subki dan diberi nama iaitu Tasynif al-Masami` Bi Jam`ie al- Jawami` Li al-Tajjudin al-Subki (kedua-dua ulama’ ini masyhur dalam bidang AKIDAH) dan telah ditahqiq oleh Abi `Amr al-Husaini bin `Umar bin `Abd al-Rahim.

 

PERHATIAN:

 

1. Isyarat huruf (م) di dalam kitab di atas adalah isyarat bagi hendak menyatakan itu adalah MATAN asal kitab Tasynif al-Masami` yang dikarang oleh Al- Imam Badr al-Din Muhammad bin Bahadar bin `Abdullah al- Zarkasyi.

 

2. Isyarat huruf (ش) di dalam kitab di atas adalah isyarat bagi hendak menyatakan itu adalah SYARAH bagi matan, yang disyarah oleh al-Imam Tajuddin al-Subki dan diberi nama Tasynif al-Masami` Bi Jam`ie al- Jawami` Li al-Tajjudin al-Subki.

 

3. Footnote yang terdapat di bawah kitab tersebut iaitu no (ا) itu adalah TAHQIQ bagi kitab di atas yang ditahqiq oleh Abi `Amr al-Husaini bin `Umar bin `Abd al-Rahim

Posted with WordPress for BlackBerry by Ibnbatoota

http://sufiafriqiyya.wordpress.com/

Imam Syafi`i Shalat hajat 2 rekaat Tabarruk dengan Kubur Imam hanafi dalam Kitab Khatib al-Baghdadi

 

Tabarruk Imam Syafi`i – Khatib al-Baghdadi

 
 

 

 Imam Abu Hanifah, an-Nu’man bin Tsabit radhiyallahu `anhu adalah salah seorang pengasas mazhab yang masyhur. Beliau wafat pada tahun kelahiran Imam asy-Syafi`i radhiyallahu `anhu, iaitu 150H. Makam beliau yang berada di Baghdad sentiasa menjadi tumpuan ziarah kaum muslimin yang kasihkan para kekasih Allah SWT. Imam kita, Sultanul A-immah Muhammad bin Idris asy-Syafi`i ketika di Baghdad, juga tidak ketinggalan untuk menziarahi Imamul A’dhzam Abu Hanifah di makam beliau tersebut. Bahkan Imam Besar keturunan Bani Muthallib ini turut menadah tangan berdoa kepada Allah SWT dengan bertawassul kepada Imam Abu Hanifah RA. Kisah mengenai perkara ini disebut oleh Imam al-Hafiz Abu Bakar Ahmad bin `Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi asy-Syafi`i rahimahullah yang masyhur dengan gelaran Imam Khatib al-Baghdadi, seorang ulama bermazhab Syafi`i yang hidup sekitar tahun 392H – 463H. 
 
Dalam karya beliau yang  masyhur “Tarikh Baghdad” pada jilid 1 halaman 123 beliau menulis kisah tersebut melalui jalan daripada al-Qadhi Abu `Abdullah al-Husain bin `Ali bin Muhammad as-Saymari daripada `Umar bin Ibrahim al-Muqri daripada Makram bin Ahmad daripada `Umar bin Ishaq bin Ibrahim daripada `Ali bin Maimun yang menyatakan bahawa beliau mendengar Imam asy-Syafi`i RA berkata: ” Sesungguhnya aku bertabarruk dengan Abu Hanifah dan aku menziarahi kubur beliau setiap hari. Apabila aku mempunyai suatu hajat keperluan, aku bershalat dua rakaat, kemudian pergi ke kubur Abu Hanifah dan berdoa kepada Allah di sisinya, maka dalam masa yang singkat sahaja hajat tersebut ditunaikan.
 
Sebahagian orang mempertikaikan kesahihan kisah tersebut. Maka itu adalah hak mereka dan sebagaimana mereka, kita juga punya hak untuk tidak menerima pendapat mereka dan sebaliknya menerima pendapat ulama yang mensabitkan kebenaran pada kisah tersebut. Menurut kajian Imam Khatib al-Baghdadi, segala periwayat kisah tersebut adalah orang – orang yang shaduq dan tsiqah (yakni orang – orang yang dipercayai) dan pandangan beliau ini turut dikongsi oleh ulama-ulama lain.

Pihak yang menolak kisah tersebut seperti al-Albani juga tidak menafikan kedudukan dan status para perawi kisah tersebut adalah orang – orang kepercayaan selain daripada ” `Umar bin Ishaq bin Ibrahim” yang dikatakan sebagai seorang yang majhul (yakni yang tidak diketahui identitinya). Atas dasar tersebut maka al-Albani menghukumkan kisah tersebut sebagai dhaif bahkan batil. Rasanya penilaian kisah tersebut sebagai batil adalah satu penilaian yang terlampau kerana beliau gagal mempertimbangkan fakta yang para periwayat lain adalah mereka-mereka yang shaduq dan tsiqah. Sewajarnya perkara ini masuk dalam pertimbangan al-Albani sebelum menyatakan yang ianya batil.

 

Menurut penjelasan sebahagian ulama lain, ada kemungkinan ‘Umar bin Ishaq tersebut adalah `Amr bin Ishaq al-Himsi yang merupakan seorang yang diketahui dan boleh dipercayai. Jika ianya benar, maka tiadalah apa lagi kecacatan pada sanad yang dikemukakan oleh Imam Khatib tersebut. Selain daripada itu, perlu diberi perhatian juga bahawa kisah ini turut disampaikan melalui jalan lain, antaranya oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam karya beliau “al-Khairat al-Hisan” yang merupakan manaqib Imam Abu Hanifah pada fasal 35 halaman 129 dengan sanad yang shahih dan Imam Ibnu Abil Wafa menyebutkan kisah ini dalam “Tabaqat al-Hanafiyyah” pada halaman 519 dengan sanad lain melalui al-Ghaznawi. Tidak ketinggalan para ulama di masa kita ini turut memuatkan kisah ini dalam karya mereka, misalnya Imam Muhammad Zahid al-Kawthari membawa kisah ini dalam “Maqalat al-Kawthariy” pada halaman 453 dan mengatakan bahawa sanad kisah ini adalah bagus (jayyid). Mufti Muhammad Taqi Uthmani memuatkannya dalam karya beliau “Jahan-e-Deedah“, jika kisah tersebut dianggap sebagai batil, pasti Mufti Muhammad Taqi yang terkenal sebagai seorang ulama bermazhab Hanafi dengan aliran Deobandi tidak akan memuatkannya dalam karya beliau. Maka hendaklah kita berlapang dada, jangan terlalu taksub dengan pegangan kita sehingga menuduh pihak yang tidak sependapat dengan berbagai tuduhan yang keji. Tiada paksaan samada untuk menerima atau menolak kisah Imam asy-Syafi`i RA bertabarruk dengan Imam Abu Hanifah RA.

Sholawat Nabi Rukun Khutbah Jum’at : Harus Menyebutkan Nama “Nabi Muhammad” ataugelaran Junjungan Nabi SAW yang shorih / Jelas”

 

Sholawat Nabi Rukun Khutbah

 
Menurut ulama Syafi`iyyah, sholawat ke atas Junjungan Nabi SAW adalah salah satu dari rukun dalam kedua-dua khutbah shalat Jumaat. Namun ada terjadi di mana sesetengah khatib tidak begitu memberi perhatian kepada rukun ini, sehingga kekadang ianya ditinggalkan atau shighah yang digunakan tidak tepat bagi melepaskan tuntutan rukun tersebut. Ramai juga yang keliru sehingga beranggapan bahawa ucapan syahadatain sebagai rukun dan bukannya sholawat. Perlu diingat bahawa khutbah walaupun sepanas mana, walau berapi-api berisikan kupasan isu semasa, jika rukun-rukunnya tidak dilaksanakan akan menyebabkan ianya tidak sah, dan jika khutbah tidak sah, maka tidak sah pula sholat Jumaat tersebut. Sesungguhnya khutbah Jumaat itu tidaklah seperti ceramah-ceramah biasa, ianya adalah salah satu ibadah yang besar yang menjadi syarat bagi sah atau tidak sembahyang jumaat yang didirikan. Bahkan mimbar tempat tuan khatib menyampaikan khutbah turut dimuliakan bahkan dijadikan sebagai taghlidhz dalam sesuatu sumpah. Oleh itu, hendaklah diberikan perhatian sewajarnya berhubung segala rukun khutbah tersebut agar amal ibadah kita sah dan diterima Allah SWT.
 

Menurut fuqaha` kita, ucapan sholawat yang memadai untuk menunaikan rukun khutbah hendaklah:-

    1. Menggunakan ucapan sholawat, samada dalam bentuk mashdarnya yakni ” الصلاة ” atau musytaqnya seperti ” صلى “atau ” صل ” atau ” اصلى ” atau ” نصلى ” dan sebagainya;
    1. Menggunakan nama atau gelaran Junjungan Nabi SAW yang shorih (jelas) dan bukan hanya dirujuk dengan  dhomir (gantinama) sahaja, walaupun sebelumnya disebut akan nama Junjungan SAW;
  1. Ianya hendaklah diucapkan dalam bahasa ‘Arab.
Sering berlaku kekeliruan pada sebahagian khatib yang menyangka bahawa lafaz dua kalimah syahadah (asy-syahadatain) itu sebagai rukun, maka setelah mengucapkan dua kalimah syahadah tersebut lalu diiringi dengan ucapan sholawat ke atas Nabi dengan shighah dhomir, contohnya:- ” …. wa asyhadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuluh, shallaAllahu `alaihi wa sallam….“, tanpa diulangkan lafaz sholawat dengan menyebut salah satu daripada nama-nama atau gelaran-gelaran baginda yang mulia seumpama Muhammad atau Ahmad atau Rasulullah atau ar-Rasul atau an-Nabiy atau al-Haasyir dan sebagainya. Maka jika ini dilakukan, cacatlah khutbah itu kerana telah tertinggal satu rukun.
 
 Oleh itu, berilah perhatian wahai para khatib agar mengucapkan sholawat dengan menyebut dengan terang dan nyata “….`alan Nabiy” atau “……`ala Sayyidina Muhammad” atau “…….`alar Rasul” dan seumpamanya.
Inilah yang dinaskan dalam kitab-kitab muktabar dalam mazhab kita. Antaranya oleh Khatimatul Muhaqqiqin, Mufti Haramain, Imam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin `Ali bin Hajar al-Haitami as-Sa’di al-Anshari al-Makki @ Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahUllah dalam kitab “Tuhfah” juzuk 2 halaman 484, di mana beliau menulis:-
……(Dan lafaz keduanya) iaitu lafaz hamdallah dan sholawat ke atas Rasulillah SAW (adalah dengan lafaz yang tertentu) kerana menurut apa yang telah diamalkan orang semenjak masa Junjungan Nabi SAW sehinggalah ke hari ini. Maka tidaklah memadai tsana` (ucapan sanjungan selain tahmid) atau ucapan syukur; dan tidak juga memadai ucapan tahmid yang menggunakan nama selain daripada lafzul jalalah ALLAH” seperti diucapkannya “al-hamdulir Rahman” atau “al-hamdulir Rahim“. Dan tidak memadai ucapan yang tidak menggunakan ucapan sholawat ke atas Junjungan Nabi SAW seperti dikatakannya “rahimaAllahu Rasulillah” atau “barakAllahu `alaih“, dan tidak memadai bersholawat kepada selain Junjungan Nabi SAW seperti dikatakan “shallAllahu `ala Jibril“, DAN TIDAK MEMADAI SHOLAWAT YANG MERUJUK KEPADA JUNJUNGAN NABI SAW DENGAN ISM DHOMIR SEPERTI “SHALLALLAHU `ALAIH” WALAUPUN DIDAHULUI DENGAN MENYEBUT NAMA BAGINDA ….
Oleh itu, sayogia diberi perhatian oleh para khatib sekalian. Ingat sentiasa bahawa dua khutbah itu syarat bagi sahnya shalat Jumaat. Jangan kerana kita maka Jumaat tidak didirikan dengan sempurna rukun dan syarat.

Mulla ali qari (Mufassir Madzab Hanafi) : Nur Muhammad berasal dari Nur-Nya (yakni Nur yang dimiliki Allah)

 

 

Imam Mulla `Ali bin Sulthan al-Harawi al-Qari @ Mulla `Ali al-Qari rahimahullah adalah seorang ulama ahli hadis yang bermazhab Hanafi. Ketinggian ilmu dan pribadi beliau diakui umat sehingga digelar sebagai ” al-Imam Naashirus Sunnah wa Qaami`ul Bid`ah – Imam Pembela Sunnah dan Pembasmi Bid`ah“. Beliau  sempat berguru dan menjadi murid kepada Mufti Makkah, Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah, ulama besar bermazhab Syafi`i, pengarang kitab “Tuhfah” yang masyhur. Imam Mulla `Ali al-Qari rahimahullah adalah antara ulama yang menerima riwayat hadits masyhur yang menyatakan bahawa seawal-awal penciptaan Allah adalah Nur Muhammad SAW. Dalam karya mawlid beliau yang berjodol “al-Mawridur Rawiy fi Mawlidin Nabiy SAW” beliau telah menukilkan hadits tersebut yang menyatakan:-

 

Seawal-awal Makhluk : an-Nur al-Muhammadiy
 Telah dikatakan: Telah diriwayatkan oleh Imam `Abdur Razzaq dengan sanad daripada Sayyidina Jaabir bin `Abdullah al-Anshari yang berkata:: ” Wahai Rasulallah, demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusan bagimu, khabarkanlah kepadaku mengenai apa yang mula pertama dicipta Allah ta`ala sebelum segala sesuatu.” Junjungan s.a.w. bersabda:- “Wahai Jabir, bahawasanya Allah telah mencipta, sebelum segala sesuatu, akan nur nabimu daripada nurNya (yakni nur yang menjadi milikNya). Lalu dengan kudratNya berputar nur tersebut (yakni menjalani satu proses yang Allah sahaja Maha Mengetahui hakikatnya) menurut kehendakNya, dan pada waktu itu belum ada lauh, belum ada qalam, belum ada syurga, belum ada neraka, belum ada malaikat, belum ada langit, belum ada bumi, belum ada matahari, belum ada bulan, belum ada jin dan belum ada manusia. Ketika Allah ta`ala berkehendak untuk menciptakan makhluk, dibahagiNya nur tersebut kepada empat bahagian, maka dijadikanNya daripada bahagian pertama, qalam, dan daripada bahagian kedua, lauh, dan daripada bahagian ketiga, arsy. Kemudian dibahagiNya bahagian keempat kepada empat bahagian lagi, lalu diciptakanNya daripada bahagian pertama akan malaikat penanggung arsy (hamalatul-arsy), dan daripada bahagian kedua, kursiy; dan daripada bahagian ketiga, malaikat-malaikat lain. Kemudian dibahagiNya pula bahagian keempat kepada empat bahagian, lalu dijadikan daripada bahagian pertama akan segala langit; dan daripada bahagian kedua, segala bumi; dan daripada bahagian ketiga, syurga dan neraka. DibahagiNya lagi bahagian keempat kepada empat bahagian, lalu diciptaNya daripada bahagian pertama, nur absharil mu`minin (nur pandangan orang-orang mu`min); daripada bahagian kedua, nur hati-hati mereka iaitu ma’rifatu billah ta`ala (yakni ma`rifat akan Allah ta`ala); dan bahagian ketiga, nur ucapan mereka iaitu tauhid “la ilaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah.”
 
Aku (yakni Imam Mullah `Ali al-Qari) berkata: Dan pengertian inilah yang diisyaratkan oleh firman Allah ta`ala: “Allah (Pemberi) cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan nurNya – iaitu Nur Muhammad SAW – adalah seperti misykah (lubang yang tidak tembus cahaya yang dibuat pada dinding rumah untuk meletakkan pelita/lampu agar sinar pancaran cahayanya kuat dan tidak berselerak) yang berisi sebuah lampu ……..
 
Mudah-mudahan bertambah faham kita mengenai konsep Nur Muhammad yang sering dijadikan modal oleh sesetengah pihak untuk menyesatkan pihak yang berpegang dengan makhluk terawal diciptakan Allah ini. Sentiasalah berlapang dada, adakah kamu hendak menghukum ulama-ulama seperti Imam Mulla `Ali al-Qari sebagai sesat kerana menerima Nur Muhammad ? Kalau berani terpulanglah, nanti tanggung sendiri. Jangan jadi pepatah tok nenek kita, tiada beban batu digalas. Pandai-pandai kome le….

Kitab Al absath Imam Abu Hanifah (80H – 150H) : Jika Ditanya “dimana Allah ” Jawabnya: Allah Tidak Bertempat

Jika ditanya dimana Allah? Ulama Salaf Menjawab: Allah Ada TANPA Bertempat

 

Akidah Salaf: Imam Abu Hanifah (80H-150H):

 1- Allah tiada Kaif(bentuk) bagiNya,

2-Sifat Allah Bukan Anggota,

3-Jika ditanya dimana Allah?Jawablah: Allah Ada TANPA Bertempat,

4- Tiada bagi Allah Aina (dimana)

5- Siapa yg kata api neraka itu akan fana’ (terpadam) maka dia KAFIR.-

Rujuk Al-Fiqh Al-Absat M/S 56-57 oleh Imam Salaf Abu Hanifah Rahimahullah

http://abu-syafiq.blogspot.com/

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 470 other followers