HADITS SENTUHAN DIDHOIF-KAN IMAM BUKHARI : jadi wudhu Batal jadi Menyentuh wanita yang bukan muhrim

HADITS SENTUHAN DIDHOIF-KAN IMAM BUKHARI

 

1. Rasulullah mencium salah satu dari istrinya kemudian shalat dan tanpa mengulangi wudhu.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits No. 170)

2. Demikian pula hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya, “Pada suatu malam aku kehilangan Rasulullah dari tempat tidur, (tatkala meraba-raba mencarinya) maka aku menyentuhnya, aku letakan tanganku pada telapak kakinya yang ketika itu beliau berada di masjid dalam posisi sujud dengan menegakkan kedua telapak kakinya.” (HR. Muslim dan Tirmidzi telah menshahihkan)

 

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

1. Hadits yang pertama

a. Di dhaifkan oleh Imam Bukhari, dan kita memahami bahwa jika suatu hadits dikatakan shahih oleh beberapa muhaddits, lalu ada satu yang mengatakannya dhoif, maka hadits itu bukan lagi hadits shahih, dan yang lebih dari itu, bahwa yang mendhoifkan adalah Imam Bukhari, dan Imam Bukhari adalah rujukan tertinggi dari seluruh Imam Ahli Hadits.

روى ابو داود والنسائي وغيرهما عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقبل بعض أزواجه ثم يصلي ولا يتوضأ . نقل الترمذي عن البخاري ” وهذا لا يصح ولا نعرف لابراهيم التيمي سماعا من عائشة وليس يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم في هذا الباب شيئ ” وروى الحديث احمد وابوداود والترمذي وغيرهم عن الاعمش عن حبيب بن ابي ثابت عن عروة عن عائشة ، وحكى الترمذي عن علي بن المديني قال : ضعف يحيى بن سعيد القطان هذا الحديث وقال : هو شبه لا شيئ ” وقال الترمذي : سمعت البخاري يضعف هذا الحديث وقال : حبيب بن ابي ثابت لم يسمع من عروة ” وقال ابن ابي حاتم في العلل 1/48 : وسمعت ابي يقول لم يصح حديث عائشة في ترك الوضوء في القبلة يعني حديث الاعمش عن حبيب عن عروة عن عائشة ” وكذا أنكره ابن معين كما في تاريخ الدوري 2925

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’iy dan lainnya, dari Aisyah ra, bahwa Sungguh Nabi saw mencium diantara istri istrinya dan shalat tanpa berwudhu, maka dijelaskan oleh Imam Tirmidziy dari ucapan Imam Bukhari bahwa hadits ini tidak shahih, berkata Imam Bukhari : bahwa kami tidak menemukan bahwa Ibrahim Attaymiy mendengarnya dari Aisyah ra, maka tidaklah shahih hadits ini kepada Nabi saw dalam pembahasan ini pun!”,

Dan diriwayatkan pula hadits ini dari Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, dan Imam Tirmidzi dan lainnya, dari A’masy, dari Hubaib bin Abi Tsaabit, dari Urwah, dari Aisyah ra, dan dihikayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Ali bin Almadaniy, didhoifkan oleh Yahya Al Qattan akan hadits ini, ia berkata hadits ini seakan tiada (tidak menjadikan suatu patokan hukum karena dhoif).

Dan berkata Imam Tirmidzi : kudengar Imam Bukhari mendhoifkan hadits ini, Imam Bukhari berkata bahwa Hubaib bin Tsabit tidak mendengarnya dari Urwah!”.

Dan berkata Imam Ibn Abi Hatim dalam kitabnya Al Ilal : kudengar ayahku berkata bahwa tidaklah shahih hadits Aisyah ra dalam meninggalkan wudhu saat mencium, yaitu hadits Al A’masy dari Hubaib, dari Urwah, dari Aisyah.

Demikian pula (hadits ini) dipungkiri oleh Imam Ibn Mu;in sebagaimana dijelaskan pada Taarikh Addauriy 2925. (Arsyif Multaqa Ahlul hadits Juz 1 hal 9974).

b. Pendapat lain tentang hadits dhoif itu bahwa ia hadis mansukh, karena menurut Imam Syafii hadits itu adalah sebelum turunnya ayat Aw Laamastumunnisa. (QS. An-Nisa: 43 dan QS. Al-Maidah: 6).

Maka walau pun seandainya hadits itu shahih maka ia telah digantikan hukumnya (mansukh) jika kemudian turun ayat yang merubahnya, sebagaimana ayat Alqur;an pun ada yang mansukh dengan ayat yang turun kemudian. Apalagi jika hadits itu sudah didhoifkan oleh Imam Seluruh Ahli hadits, yaitu Imam Bukhari.

c. Pendapat lain mengatakan hadits itu adalah kekhususan bagi Nabi saw dan tidak untuk ummat, sebagaimana beliau saw menikah lebih dari 4 istri.

2. Hadits yang kedua.

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi dalam kitabnya syarah Nawawi ala shahih Muslim :

اِسْتَدَلَّ بِهِ مَنْ يَقُول لَمْس الْمَرْأَة لَا يَنْقُض الْوُضُوء ، وَهُوَ مَذْهَب أَبِي حَنِيفَة رَضِيَ اللَّه عَنْهُ وَآخَرِينَ ، وَقَالَ مَالِك وَالشَّافِعِيّ وَأَحْمَد رَحِمَهُمْ اللَّه تَعَالَى وَالْأَكْثَرُونَ : يَنْقُض وَاخْتَلَفُوا فِي تَفْصِيل ذَلِكَ ، وَأُجِيبَ عَنْ هَذَا الْحَدِيث بِأَنَّ الْمَلْمُوس لَا يُنْتَقَض عَلَى قَوْل الشَّافِعِيّ رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى وَغَيْره ، وَعَلَى قَوْل مَنْ قَالَ يُنْتَقَض وَهُوَ الرَّاجِح عِنْد أَصْحَابنَا يُحْمَل هَذَا اللَّمْس عَلَى أَنَّهُ كَانَ فَوْق حَائِل فَلَا يَضُرّ .

“Berdalilkan orang yang berkata bahwa menyentuh wanita tidak batal wudhu, dan ia adalah madzhab Abu Hanifah (Imam hanafi), dan berkata Imam Malik, dan Imam Syafii, dan Imam Ahmad dan kebanyakan lainnya bahwa sentuhan itu membatalkan wudhu.

Dan beliau juga menjelaskan pada halaman yang sama bahwa yang dimaksud hadits itu adalah bersentuhan dengan dibatasi kain, maka tidak membatalkan. (Syarah Nawawi ala shahih Muslim).

Yahya meriwayatkan dari Malik bahwa ia mendengar bahwa Abdullah bin Mas’ud telah mengatakan, “Wudhu diperlukan jika seorang pria mencium istrinya.” [Al-Muwaththo’]

Yahya meriwayatkan dari Malik dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah bahwa ayahnya Abdullah bin Umar pernah berkata, “Seorang laki-laki yang mencium istrinya dan membelai dia dengan tangannya maka itu merupakan bagian dari menyentuh. Seseorang yang mencium istrinya atau membelainya dengan tangannya harus melakukan wudhu.” [Al-Muwaththo’]

http://sunnahrasul.com/2011/06/16/ii-38-hadits-sentuhan-didhoif-kan-imam-bukhari/

buku Kenalilah Aqidahmu 2 versi online (Al ustaz Habib Munzir al musawa) : Melindungi dari fitnah wahabi – syiah – liberal

buku Kenalilah Aqidahmu 2 versi online.

BAB I
DEFINISI BID’AH, HADITS DHO’IF DAN SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN

I.1. DEFINISI BID’AH
I.1.1 Nabi SAW Memperbolehkan Berbuat Bid’ah Hasanah
I.1.2 Siapakah Yang Pertama Memulai Bid’ah Hasanah Setelah Wafatnya Rasul Saw
I.1.3 Bid’ah Dhalalah
I.1.4 Pendapat Para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah

I.2. DEFINISI HADITS DHO’IF

I.3. SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN

BAB II
MASALAH KHILAFIYAH DAN DAN SEPUTAR TANYA JAWAB YANG ADA DI WEBSITE (www.majelisrasulullah.org)

II.1. Ayat Tasybih
II.2. Hukum Majelis Dzikir dan Dzikir Bersama
II.3. Hukum Alat Musik Rebana di Masjid
II.4. Surat Sanggahan
II.4.1 Dalam Hal Shalat
II.4.2 Dalam Shalat Jum’at
II.4.3 Dalam Shalat Tarawih / Witir / Tahajjud
II.4.4 Dalam Upacara Ta’ziyah
II.4.5 Dalam Upacara Penguburan
II.5. Kenduri Arwah, Tahlilan, Yassinan menurut Para Ulama
II.6. Tahlilan
II.7. Tawassul
II.8. Peringatan Maulid
II.9. Tabarruk
II.10. Istighatsah
II.11. Wajibkah Bermadzhab
II.12. Mengirim Pahala dan Bacaan kepada Mayyit
II.13. Orangtua Rasul SAW Mati Musyrik
II.14. Mengangkat Tangan Saat Berdoa Sesudah Shalat
II.15. Bersalaman Bid’ah
II.16. Cium Tangan Bid’ah
II.17. Melafadzkan Niat Menurut Madzhab Syafi’iyah
II.18. Qabliyah Jum’at Tidak Ada
II.19. Shalat Berjama’ah dan Wirid Bersama
II.20. Tanda Hitam di Kening / Dahi
II.21. Keutamaan Shalawat Nariyah ( Fiqh / Aqidah )
II.22. Hukum Adzan dan Iqamah di Kuburan
II.23. Jihad
II.24. Foto Ulama dan Kuburan di Masjid
II.25. Wanita Ziarah ke Makam
II.26. Nabi Muhammad SAW dan Ziarah Qubur
II.27. Zakat Profesi
II.28. Cara Menghitung Zakat Harta
II.29. Shalat Tarawih
II.30. Hadits Bantahan Amalan Bulan Rajab
II.31. Daulah Islamiyyah
II.32. Nabi Khidir As Masih Hidup
II.33. Sorban dan Imamah Bukan Sunnah Tapi Adat Orang Arab Saja
II.34. Yasinan Malam Jum’at Haditsnya Palsu
II.35. Petasan Kembang Api Maulid adalah Munkar
II.36. Jawaban Atas Penghinaan Terhadap Ulama Hadramaut, Yaman
II.37. Hukum Bayi Tabung
II.38. Hadits Sentuhan Didhoif-kan Imam Bukhari

BAB III
PERNYATAAN-PERNYATAAN YANG DIJAWAB

Bab ini berisi jawaban atas pernyataan-pernyataan dan fatwa-fatwa salafy yang berusaha menebarkan syubhat-syubhat dan berusaha menggambarkan kaum sunni sebagai ahlul bid’ah dan musyrik.

III.1. Pernyataan bahwa memperingati malam nisfu sya’ban adalah bid’ah
III.2. Pernyataan mengenai larangan membuat bangunan ataupun membangun masjid di atas kuburan
III.3. Pernyataan bahwa berdoa dan memohon pertolongan kepada orang yang telah mati adalah syirik
III.4. Pernyataan atas pelarangan mengkhususkan ibadah di malam isra mi’raj
III.5. Pernyataan mengenai Keutamaan Tauhid
III.6. Pernyataan bahwa memakai jimat / tulisan ayat-ayat Alquran untuk mengambil keberkahannya adalah syirik
III.7. Pernyataan bahwa menyembelih binatang dengan selain Nama Allah adalah haram.
III.8. Pernyataan bahwa meminta pertolongan kepada selain Allah adalah syirik
III.9. Pernyataan bahwa sikap berlebih – lebihan (ghuluw) dalam beribadah merupakan perusakan tauhid
III.10. Pernyataan bahwa melakukan thawaf di kuburan adalah syirik
III.11. Pernyataan bahwa bertanya sesuatu hal kepada shalihin adalah syirik
III.12. Pernyataan bahwa mencintai dan takut kepada Allah melalui perantara kekasih-Nya adalah bertentangan dengan akidah
III.13. Pernyataan bahwa bergantung kepada Nabi Saw adalah syirik
III.14. Pernyataan bahwa memberi nama haruslah disandarkan kepada Nama Allah
III.15. Pernyataan bahwa melukis / mengagungkan / menggantung gambar makhluk bernyawa adalah dosa besar
III.16. Pernyataan bahwa memuliakan orang shalih adalah syirik
III.17. Pernyataan bahwa menghukum dengan hukum selain hukum Allah adalah tidak sesuai dengan Syari’at Islam
III.18. Pernyataan bahwa bersumpah atas Nama selain Allah adalah syirik
III.19. Pernyataan mengenai golongan yang selamat

Madzab Hambali Vs wahabi : Bukti Kitab Imam Al buhuti sunnahkan ziarah dan tabaruk ke makam Nabi Muhammad s.a.w.


Kitab ini berjudul Kasy-syaf al-Qina’ ‘An Matn al-Iqna’ karya Imam al-Buhuti; salah seorang ulama fiqih terkemuka dalam madzhab Hanbali


Terjemah:

hlm 142:


Dan disunnahkan untuk dikubur di wilayah/tempat-tempat yang mulia karena terdapat hadits marfu’ dari sahabat Abu Hurairah bahwa Nabi Musa saat datang hari wafatnya beliau meminta kepada Allah untuk didekatkan (makamnya) dari tanah/wilayah suci (wilayah Baitul Maqdis) seukuran selemparan batu, tentang ini Rasulullah bersabda: “Seandainya saya saat ini berada di sana (wilayah baitul Maqdis) saya pasti membritahukan/memperlihatkan kepada kalian makam Nabi Musa tersebut; yaitu di daerah al-Katsib al-Ahmar”.

Kemudian pula sahabt Umar ibn al-Khattab berkata dalam doanya: “Ya Allah karuniakan kepadaku untuk menjadi syahid di jalan-Mu dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu (Madinah)”. Dua hadits di atas diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaq Alayh).

Dan disunnahkan pula untuk dikubur di tempat (pemakaman) yang di dalamnya banyak orang-orang saleh supaya keberkahan mereka mendapatinya/mengenainya. Da oleh karena tujuan inilah sahabat Umar minta dimakamkan di dekat kedua sahabatnya (yaitu Rasulullah dan sahabat Abu Bakr as-Siddiq) dan ia meminta kepada Aisyah untuk dimakamkan di sana hingga Aisyah mengizinkannya.

hlm 150


Hendaklah seorang yang ziarah (ke makam Rasulullah) itu berdiri di hadapan makam dan medekat darinya sebagaimana kebiasaan (mendekat) terhadap seorang yang hidup, dan tidak masalah (NO PROBLEM) ia mengusap makam tersebut dengan tangananya.

hlm 151

Aku (al-Buhuti) katakata: “Bahkan Imam Ibrahim al-Harbi (salah seorang ulama terkemuka yang sifat zuhud dan ilmu-nya sering diserupakan dengan Imam Ahmad ibn Hanbal) berkata: DIANJURKAN UNTUK MENGECUP/MENCIUM RUANG (MAKAM) RASULULLAH”.


Penting Untuk Membungkam Wahabi:


Anda katakan kepada mereka; Ajaran kalian ajaran baru dan ekstrim yang dibawa oleh Muhammad ibn Abdil Wahhab. Kalian mengatakan syirik terhadap orang yang bertawassul dengan Rasulullah, kalian mengatakan syirik terhadap orang yang datang ke makam Rasulullah atau orang-orang saleh untuk tujuan mencari berkah di sana, sementara Imam Ahmad ibn Hanbal dan para ulama madzhab Hanbali terkemuka membolehka perkara itu….!!!!

Kalian jangan mengaku bermadzhab HANBALI; tapi madzhab kalian adalah madzhab WAHABI….!!!

MEDIU (Madinah University) kafirkan umat islam sunni ( semua pengikut 4 madzab berakidah aysa’irah maturudiyah)


MEDIU hukum umat Islam Malaysia KAFIR?

 

Saya memohon agar dirujuk penulisan saya sebelum-sebelum ini berkaitan Al-Madinah International University (MEDIU) yang berada kini di Malaysia.

Ini merupakan satu dari ratusan bukti bahaya MEDIU kepada umat Islam di Malaysia dan saya mohon perhatian kepada MQA, JAKIM, BUKIT AMAN dan selainnya termasuk mereka yang di lobi oleh MEDIU kemudian dilantik sebagai orang besar MEDIU untuk kepentingan orang asing yang jenis merosakkan negara Malaysia dengan membawa fahaman mengkafirkan umat Islam Ahli Sunnah Wal Jama’ah di Malaysia tanpa disedari.

Saya tahu bahawa MEDIU melobi pemimpin-pemimpin negara dan beberapa orang seperti Pengerusi Majlis Fatwa Kebangsaan agar pusat pengajian mereka yang tidak disedari itu yang jenisnya mengkafirkan umat Islanm dan ulama Islam dilihat dari mata kasar sebagai tempat pusat pengajian yang normal sahaja sedangkan ia tempat mengrekrut pelampau yang akan dan bakal memusnahkan negara Malaysia dengan pertelingkahan yang baka timbul kelak. Jika tidak sayang Islam sayangilah umat di tanah air kita ini pelihara mereka dari terpengaruh dengan dakyah MEDIU yang amat melampau.

MEDIU HUKUM UMAT ISLAM AHLI SUNNAH SEBAGAI SESAT AKIDAH

Jelas selain bukti2 lain MEDIU mengajar pelajarnya di Malaysia agar menganggap Ahli Sunnah Wal Jama’ah di Malaysia ini adalah SESAT AQIDAH di sila lihat buktinya di bawah:


MEDIU. Surat Terbuka Buat MQA,JAKIM & Imigresen Malaysia

 

Sila klik LiKe pada Facebook untuk nampak paparan bukti kesesatan universiti Wahhabi: Klik Sini Facebook

Al Madinah International University MEDIU merupakan sebuah institut pengajian tinggi ASING yg ditubuhkah di Shah Alam, Malaysia bertujuan menyebarkan fahaman ganjil mengkafirkan ulama dan umat Islam Ahli Sunnah Wal Jama’ah Malaysia dan ia akan membawa kepada perpecahan umat khususnya di Malaysia.

Buat pengetahuan semua terutama Malaysia Qualifications Agency (MQA), Jabatan Kemajuan Islam Malaysia & Imigresem Malaysia bahawa MEDIU merupakan pusat mengrekrut anak anak muda di Malaysia supaya menjadi seorang manusia yang membid’ahkan, mengkafirkan dan menghina Ahli Sunnah Wal Jama’ah di Malaysia yang akan membawa kepada perpecahan umat Islam khususnya di tanah air kita. Bukankah sudah belambak Institut Pengajian Tinggi yang tersedia untuk anak-anak kita di tanah air kita? Dikatakan..Mengapa perlu kepada MEDIU yang langsung tidak memberi apa-apa faedah kepada pembangunan modal insan bahkan membawa ajaran Wahhabi yang mengkafirkan dan menghina para ulama Islam Ahli Sunnah Wal Jama’ah.

Kepada MQA, pihak tuan perlu tahu bahawa MEDIU dilihat banyak melanggar beberapa syarat kepentingan kebaikan umat Islam dan jangan hanya dengan bayaran wang duit kita jadi kabur sehingga menjual maruah Islam dan perpaduan kita dan beberapa dokument yang meragukan.

Kepada JAKIM, pihak tuan sepatutnya bersuara lantang dalam hal ini kerana MEDIU dengan jelas menghidupkan fahaman mengkafirkan dan menghina ulama dan umat Islam terutama fahaman Ahli Sunnah Wal Jama’ah di Malaysia ini.

Kepada pihak Imigresen Malaysia, pihak tuan juga perlu tahu bahawa kewujudan MEDIU di Malaysia adalah bertujuan untuk membawa kepada kemudahan visa bagi warga asing yang entah apa latar belakang mereka. Perkara ini diakui sendiri oleh pelajar MEDIU di Malaysia bahawa MEDIU di Malaysia ditubuhkan untuk memberi pas lawatan ikhtisas bagi warga asing agar boleh lepak di Malaysia dan BUKAN untuk ilmu kerana MEDIU seolah tiada ilmu yang hendak disampaikan.

 

1500 year old Bible found in Turkey : ‘Jesus predicts coming of Prophet Muhammad’

Injil 1.500 Tahun Kabarkan Kedatangan Muhammad
Sosbud / Selasa, 28 Februari 2012 01:30 WIB

 
dailymail.co.uk

Metrotvnews.com, Ankara: Sebuah Kitab Injil berumur 1.500 tahun yang disembunyikan oleh Turki selama 12 tahun terakhir mengungkap menarik minat pihak Vatikan. Konon, Alkitab tersebut mengatakan bahwa Yesus memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW.

Sejumlah pihak mengatakan Injil tersebut ditulis dalam bahasa Aramaik dan disebut-sebut berisi ajaran-ajaran awal serta prediki Isa Almasih. Alkitab itu bersampul kulit dan ditulis pada kulit hewan dengan tinta emas berhuruf tebal.

Daily Mail melaporkan Alkitab itu diperkirakan berharga sekitar 14 juta poundsterling (Rp200 miliar). Bahkan fotokopi satu halamannya pun berharga sekitar 1,5 juta poundsterling.

Pemimpin spiritual tertinggi umat Katolik, Paus Benediktus XVI, mengaku tertarik untuk melihat kitab suci yang disebut-sebut sebagai Injil Barnabas asli. Hal itu dikatakan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki Ertugrul Gunay kepada Daily Mail.

Dia juga mengatakan Vatikan telah membuat permintaan resmi untuk melihat kitab tersebut. Menurut Gunay pihak Vatikan telah meminta salinan saat Injil itu hendak diselundupkan ke luar Turki pada tahun 2000.

Saat ini, Alkitab itu berada dalam brankas pengadilan Ankara. Nantinya, Injil tersebut akan diserahkan kepada Museum Etnografi Ankara.
 
Meski demikian, kalangan Gereja skeptis dengan keaslian Injil itu. Seorang pendeta Protestan Turki,  Ihsan Ozbek mengatakan, Injil itu diperkirakan berasal dari abad kelima atau keenam sesudah masehi. Sedangkan Santo Barnabas hidup pada abad pertama.

Oleh karena itu, lanjut Ozbek, keotentikan Alkitab tersebut perlu dipertanyakan. “Salinan Injil di Ankara mungkin telah ditulis ulang oleh salah seorang pengikut Barnabas. Karena ada sekitar 500 tahun antara Barnabas dan penulisan salinan Alkitab. Kaum Muslim mungkin kecewa melihat bahwa salinan ini tidak termasuk hal yang mereka ingin lihat,” katanya.

Bahkan Ozbek pun skeptis bahwa isi Alkitab tersebut menceritakan kedatangan Muhammad. “Mungkin tidak ada hubungannya dengan isi Injil Barnabas,” tambahnya.

Sementara itu, seorang teolog, Profesor Omer Faruk mengatakan Alkitab itu harus ditelisik lebih lanjut untuk memastikan orang yang menuliskannya, apakah oleh Barnabas atau pengikutnya. (Dailymail/Wrt3).

youtube video:

http://www.youtube.com/watch?v=v9wiT-mcFxw&feature=related

http://ahref=

http://ahref=

I do not own that website all materiels belong to them you can read about this news at this linkhttp://www.dailymail.co.uk/news/article-2105714/Secret-14million-Bible-Jesus­­-predicts-coming-Prophet-Muhammad-unearthed-Turkey.html i just wanted to spread the message it contains what are your thoughts? The Quran has a chapter on Maryam Jesus mom you can read about it here http://quran.com/19
Secret Bible ‘Jesus predicts coming of Prophet Muhammad’ unearthed in Turkey

A secret Bible in which Jesus is believed to predict the coming of the Prophet Muhammad to Earth has sparked serious interest from the Vatican.

Pope Benedict XVI is claimed to want to see the 1,500-year-old book, which many say is the Gospel of Barnabas, that has been hidden by the Turkish state for the last 12 years.

The £14million handwritten gold lettered tome, penned in Jesus’ native Aramaic language, is said to contain his early teachings and a prediction of the Prophet’s coming.

Imam Malik : Perlu Restu /ijazah /izin 70 Ulama sebelum Berfatwa – Imam Malik Tidak paksakan Madzabnya

Restu 70 Ulama sebelum Berfatwa

IMAM MALIK rahimahullah menyampaikan,”Aku tidak berfatwa, hingga telah bersaksi 70 ulama bahwa aku ahli dalam hal itu.”

Dalam riwayat lain Imam Malik menyampaikan,”Aku tidak berfatwa hingga aku bertanya kepada siapa yang lebih alim dariku, apakah ia melihat aku layak?”

Imam Malik menyampaikan,”Tidaklah pantas bagi seorang melihat bahwa dirinya ahli mengenai sesuatu, hingga bertanya kepada siapa yang lebih tahu darinya.” (Adab Al Fatwa wa Al Mufti wa Al Mustafti, hal. 18)

Demikianlah keadaan para ulama terdahulu, tidak gegabah berfatwa kecuali atas restu para ulama dan hal itu telah dijalani oleh seorang ulama sekaliber Imam Malik.

Imam Malik Enggan Paksakan Madzhabnya

   
 
 
 

IMAM MALIK BIN ANAS menyampaikan,”Suatu saat Harun Ar Rasyid meminta pendapat kepadaku agar Al Muwaththa’ di tempel di Ka’bah, dan manusia diseru untuk mengikuti apa yang ada di dalamnya. Maka aku mengatakan,’Jangan dilakukan hal itu, sesungguhnya para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah berselisih dalam masalah furu’ dan mereka menyebar di berbagai negeri, dan masing-masing meyakini bahwa pendapat merekalah yang benar’. Maka Harun Ar Rasyid mengatakan,’Semoga Allah memberi taufiq kepadamu wahai Abu Abdullah.’” (Hilyah Al Auliya, 2/332)

Demikianlah sikap yang diambil para ulama terdahulu. Mereka menghargai pandapat para mujtahid lainnya dan menolak untuk memaksakan pendapatnya kepada pihak lain./

 

 

 

Sebelum negara Saudi (badwi najd wahabi)- Sultan Hijaz (arab) adalah para habib/sharif/ sayyid / keturunan nabi

List of Sharifs of Mecca (967–1925)

[edit] During Fatimid Dynasty (967-1101)

Flag of Fatimid Hejaz

  • Muhammed Abu-Jafar Al-Thalab (The fox) (967–980)
  • Sharif Essa (980–994)
  • Sharif Abu Al-Futooh (994–1039)
  • Sharif Shukrul-Din (1039–1061)
  • Abul-Hashim ibn Muhammed (1061–1094)
  • Ibn Abul-Hashim Al-Thalab (1094–1101)

[edit] During Ayyubid Empire (1201–1254)

Flag of Ayyubid Hejaz

  • Qatada ibn Idris al-Alawi al-Hasani (1201–1220): Killed at age 90 by his son
  • Ibn Qatada Al-Hashimi (1220–1241): Al-Zahir Baibers ruler of Egypt sends a prince to collect Zakat from the area including the surrounding bedouins
  • Al-Hassan abul-Saad (1241–1254)

[edit] During Mamluk Empire (1254–1517)

Flag of Mamluk Hejaz

  • Muhammed abul-Nubaj (1254–1301): First Mamluk Sharif after the fall of Ayyubid Empire
  • Rumaitha Abul-Rada (1301–1346)
  • Aljan Abul-Sarjah (1346–1375)
  • Al-Hassan II (1394–1425)
  • Barakat I (1425–1455)
  • Malik ul-Adil ibn Muhammed ibn Barakat (1455–1497)
  • Barakat II bin Muhammed (Barakat Efendi) (1497–1525): Built the first Walls of Jeddah by order of Al-Ashraf Qansuh al-Ghawri

[edit] During Ottoman Empire (1517–1917)

Flag of Ottoman Hejaz

Muhammed bin Abdulmuin, Sharif of Mecca 1827–1851, as pictured in 1848-book by William Francis Lynch

  • Barakat Efendi (1497–1525): First Ottoman Sharif; Hejaz became an Ottoman state after the fall of Cairo to Sultan Selim I.
  • Muhammed Abul-Nubaj bin Barakat (1525–1583): Rebuilt the walls of Jeddah in 1525 following the victory over Portuguese Armada in the Red Sea
  • Al-Hassan bin Muhammad Abul-Nubaj (1583–1601)
  • Idris bin Al-Hassan (1601–1610)
  • Muhsin bin Hussein (1610–1628)
  • Ahmed bin Talib Al-Hasan (1628–1629)
  • Masud bin Idris (Masut Efendi) (1629–1630)
  • Abdullah bin Hassan (1630–1631)
  • Zeid bin Muhsin (1631–1666)
  • Saad bin Zeid (1666–1667)
  • Muhsin bin Ahmed (1667–1668)
  • Saad bin Zeid (1668–1670)
  • Homud bin Abdullah bin Al-Hasan (1670–1670)
  • Saad bin Zeid (1670–1671)
  • Barakat bin Muhammed (1672–1682)
  • Said bin Barakat (1682–1683)
  • Ibrahim bin Muhammed (1683–1684)
  • Ahmed bin Zeid (1684–1688)
  • Ahmed bin Ghalib (1688–1689)
  • Muhsin bin Ahmed (1689–1691)
  • Said bin Saad (1691–1693)
  • Saad bin Zeid (1693–1694)
  • Abdullah bin Hashim (1694–1694)
  • Saad bin Zeid (1694–1702)
  • Said bin Saad (1702–1704)
  • Abdulmuhsin bin Ahmad (1704–1704)
  • Abdulkarim bin Muhammed (1704–1705)
  • Said bin Saad (1705–1705)
  • Abdulkarim bin Muhammed (1705–1711)
  • Said bin Saad (1711–1717)
  • Abdullah bin Said (1717–1718)
  • Ali bin Said (1718–1718)
  • Yahya bin Barakaat (1718–1719)
  • Mubarak bin Ahmad (1719–1722)
  • Barakaat bin Yahya (1722–1723)
  • Mubarak bin Ahmad (1723–1724)
  • Abdullah bin Said (1724–1731)
  • Muhammed bin Abdullah (1731–1732)
  • Masud bin Said (1732–1733)
  • Muhammed bin Abdullah (1733–1734)
  • Masud bin Said (1734–1759)
  • Jafar bin Said (1759–1760)
  • Musa’ed bin Said (1760–1770)
  • Ahmad bin Said (1770–1770)
  • Abdullah bin Hussein (1770–1773)
  • Surour bin Musa’ed (1773–1788)
  • Abdulmuin bin Musa’ed (1788–1788): Appointed by Saud ibn Abdul Aziz ibn Muhammad ibn Saud, the ruler of Dir’iyyah
  • Ghalib Efendi bin Musa’ed (1788–1803)
  • Yahya bin Surour (1803–1813): Jailed in Constantinople during the Ottoman–Saudi War
  • Ghalib Efendi bin Musa’ed (1813–1827)
  • Abdulmutalib bin Ghalib (1827–1827)
  • Muhammed bin Abdulmuin (1827–1851)
  • Abdulmutalib bin Ghalib (1851–1856)
  • Muhammed bin Abdulmuin (1856–1858)
  • Abdullah Kamil Pasha (1858–1877)
  • Hussein bin Muhammed (1877–1880)
  • Abdulmutalib bin Ghalib (1880–1882)
  • Aun Al-Rafiq Pasha (1882–1905)
  • Ali Abdullah Pasha (1905–1908)
  • Hussein bin Ali Pasha (1908–1916) (later King Hussein)
  • Ali Haidar Pasha (1916–1917)

[edit] During Kingdom of Hejaz (1916–1925)

Flag of Kingdom of Hejaz