Mereka yang tersesat karena mensifatkan sifat Tempat dan arah bagi dzat Allah (Dalil yang digunakan Aliran sesat Mujasimmah – Mu’tazillah – Wihdatul Wujud)

Mereka yang tersesat karena mensifatkan sifat Tempat dan arah bagi dzat Allah                                                   (Dalil yang digunakan Aliran sesat Mujasimmah – Mu’tazillah – Wihdatul Wujud)

Benda (Bumi) Yang Bulat Tidak Punya Arah ATAS  [Imam Ghazali – Ihya ulumuddin Juz 1]

A. Aqidah Islam yang benar adalah Allah ada tanpa tempat dan Arah

Jika bersandar dengan makna dhahir ayat dan hadis maka mereka akan tersesat sebagai mana kaum mujasimmah. Sesungguhnya Arah dan Tempat adalah mahluq Allah, dan Allah tidak layak disifati dengan sifat mahluq. Dialah Allah yang Maha suci, Allah ada tanpa tempat dan arah sebagaimana dalam hadis :

Allah SWT sudah ada sebelum diciptakannya semua mahluq. Allah sudah ada sebelum diciptakannya Tempat, Arah, waktu, arsy, langit dan semua mahluq. Jadi, Sebelum Allah menciptakan mahluq, Allah sudah ada Tanpa tempat dan arah karena tempat dan rah belum diciptkan.

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ إِنِّيْ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِذْ دَخَلَ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالُوْا: جِئْنَاكَ لِنَتَفَقَّهَ فِي الدِّيْنِ وَلِنَسْأَلَكَ عَنْ أَوَّلِ هَذَا اْلأَمْرِ مَا كَانَ. قَالَ: كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

رواه البخاري

“Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berada bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan berkata: “Kami datang untuk belajar agama dan menanyakan tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah.” (HR. al-Bukhari [3191]).

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak bertempat. Allah subhanahu wa ta‘ala ada sebelum adanya makhluk, termasuk tempat. Al-Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dalam al-Sunan berikut ini:

عَنْ أَبِيْ رَزِيْنٍ قَالَ قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ ؟ قَالَ كَانَ فِيْ عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَخَلَقَ عَرْشَهُ عَلىَ الْمَاءِ قَالَ أَحْمَدُ بْنُ مَنِيْعٍ قَالَ يَزِيْدُ بْنُ هَارُوْنَ الْعَمَاءُ أَيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ قَالَ التِّرْمِذِيُّ وَهَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ.

“Abi Razin radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum menciptakan makhluk-Nya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertainya. Di atasnya tidak ada sesuatu dan di bawahnya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menciptakan Arasy di atas air.” Ahmad bin Mani’ berkata, bahwa Yazid bin Harun berkata, maksud hadits tersebut, Allah ada tanpa sesuatu apapun yang menyertai (termasuk tempat). Al-Tirmidzi berkata: “hadits ini bernilai hasan”. (Sunan al-Tirmidzi, [3109]).

Al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi berkata dalam al-Farqu Bayna al-Firaq:

وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّهُ لاَ يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلاَ يَجْرِيْ عَلَيْهِ زَمَان

“Kaum Muslimin sejak generasi salaf (para sahabat dan tabi’in) telah bersepakat bahwa Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh waktu.” (al-Farq bayna al-Firaq, 256).

Al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi juga berkata dalam al-’Aqidah al-Thahawiyyah, risalah kecil yang menjadi kajian kaum Sunni dan Wahhabi:

وَلاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِتُّ

“Allah subhanahu wa ta‘ala tidak dibatasi oleh arah yang enam.”

B. Dalil yang digunakan Aliran sesat Mujasimmah – Mu’tazillah – Wihdatul Wujud

berikut adalah ayat dan hadis mutasyabihat yang seolah olah tuhan bertempat dan berarah.

1. Kaum MUjasimmah Menyangka Tuhan didepan orang yang sedang Shalat???

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَحَكَّهَا بِيَدِهِ وَرُؤِيَ مِنْهُ كَرَاهِيَةٌ وَقَالَ: إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِيْ صَلاَتهِ فَإِنَّمَا يُنَاجِيْ رَبَّهُ أَوْ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ قِبْلَتِهِ فَلاَ يَبْزُقَنَّ فِيْ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di arah kiblat, lalu beliau menggosoknya dengan tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.” (HR. al-Bukhari [405]).

2. Kaum Mujasimmah menyangka Tuhan di palestina ??(ingat Dajjal mengaku Tuhan dan bermarkaz di Bukit Zion Palestin)

وَقالَ إِنِّيْ ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ

الصافات : ٩٩

“Dan Ibrahim berkata, “Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberiku petunjuk.” (QS. al-Shaffat : 99).

3. Kaum sesat Mu’tazillah berkeyakinan Tuhan dimana mana???

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعُ عَلِيمُُ{115}

Artinya :”Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmatNya) lagi Mahamengetahui”. (QS.al-Baqarah: 115)

3.  Kelompok sesat Wihdatul wujud menyangkaTuhan berserta/didalam mahluq??

– Mereka menyangka Tuhan menyatu dgn mahluqnya/manusia:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴿١٦﴾
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ

Dan sesungguhnya Kami (Allah dan hambaNya malaikat-malaikat yang mulia) telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, [Quran [50.16]]

– sebagian mereka juga berkeyakinan Tuhan didalam langit (na’udzubillah):
أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Apakah kamu merasa aman dengan Allah yang di langit (kekuasaan dan qudratnya) bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, (Al-Mulk:16)

أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

atau apakah kamu merasa aman dengan Allah yang di langit (kekuasaan dan qudratnya bukan dzat-Nya) bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Al-Mulk:17)

Padahal tafsirnya:

-Dalam Tafsir qurtubi
Al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya turut menjelaskan perkara yang sama bila mentafsirkan ayat tersebut. Sekiranya ingin dimaksudkan dari perkataan ‘man’ (siapa) dalam ayat tadi itu adalah ‘Allah’ maka tidak boleh dikatakan keberadaan Allah itu di langit kerana Allah tidak memerlukan langit tetapi memberi erti ‘kerajaan Allah’ BUKAN ‘zat Allah’. Maha suci Allah dari sifat makhlukNya.

-Dalam tafsir jalalain ((penerbit darul basyair, damsyiq,halaman 523)

Imam suyuthi rah mengatakan :
“Yang dimaksud مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i) dalam ayat tersebut adalahkekuasaan/kerajaan dan qudrat-Nya (Shulthonihi wa qudratihi )
jadi yang dilangit adalah kekuasaan dan qudratnya (Shulthonihi wa qudratihi ) bukan dzat Allah.

4. Kaum Mujasimmah berkeyakinan Tuhan berlari lari mendekati orang yang beribadah??

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832)

Padahal maksud hadis tersebut adalah :

Jika hambaku datang mendekatiKu dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari, yakni jika seseorang hamba menuju kepada Allah swt, maka rahmat Allah akan lebih cepat kepadanya dan ia melimpahi kekurniaanya padanya . (Syaikhul Hadis Muhammad Zakariya, Fadhilah dzikir, keterangan hadis ke 1, halaman 28, Era ilmu kuala lumpur).

bersambung…

Advertisements

Bukti Scan Kitab Syarh Shahih Muslim (Imam Nawawi) & at-tidzkar fi afdhali al-adzkar (Imam Qurtubi) : Hadits “jariyah” bukan Dalil Dzat Allah bertempat / di dalam langit

Hadits Jariyah Menurut Imam Nawawi

Sebuah Hadits yang biasa digunakan Salafi Wahabi untuk menipu ummat demi membenarkan aqidah sesat mereka, siasat sesat ini memang sangat efektif untuk menyesatkan orang awam, karena mereka berdusta atas nama Rasulullah SAW, yaitu satu kisah seorang hamba (jariyah) yang terdapat dalam satu Hadits, ketika Rasul bertanya kepada hamba tersebut “Dimana Allah” lalu hamba tersebut menjawab “di atas langit”. Tentu saja bila diartikan dengan hawa nafsu, kisah tersebut sudah cukup meyakikan bahwa “Allah berada di atas langit” dengan tanpa menghiraukan bagaimana pemahaman dan penjelasan para ulama tentang kisah jariyah tersebut, dan ternyata tidak ada satupun ulama salaf atau khalaf yang berdalil dengan kisah jariyah ini seperti cara berdalil nya Salafi Wahabi, bahkan kisah jariyah tersebut terdapat kontroversi yang banyak baik pada sanad nya maupun pada matan nya, dan terlepas dari segala kontroversi yang ada pada nya, bila ingin berpegang dengan kisah tersebut, tentu harus melihat dan mempertimbangkan bagaimana cara Ulama memahami kisah jariyah itu, kecuali bagi mereka yang lebih mendahulukan hawa nafsu nya atas pemahaman para Ulama.

Imam Nawawi menuliskan tentang pemahaman kisah jariyah menurut Ahlus Sunnahdalam Syarah Shohih Muslim jilid 5 halaman 24 sebagai berikut :

Imam Nawawi menuliskan tentang pemahaman kisah jariyah menurut Ahlus Sunnahdalam Syarah Shohih Muslim jilid 5 halaman 24 sebagai berikut :

هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان أحدهما الايمان به من غير خوضفي معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات والثاني تأويله بما يليق به فمن قال بهذا قال كان المراد امتحانها هل هيموحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده وهو الذي اذا دعاه الداعي استقبل السماء كما اذا صلى المصلي استقبل الكعبة وليس ذلك لأنه منحصر فيالسماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان التي بينأيديهم فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهمومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالى أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عندجميعهم

“Hadits ini sebagian dari Hadits-Hadits sifat, dan tentang nya ada dua Madzhab yang telah disebutka beberapa kalipada bab Iman, yang pertama adalah beriman dengan nya tanpa masuk dalam makna nya, serta meyakini bahwaAllah taala tidak sama dengan sesuatu pun, dan mensucikan-Nya dari tanda-tanda makhluk, dan yang keduaadalah menta’wilnya dengan makna yang layak dengan Allah, maka orang yang berpendapat dengan pendapat ini(pendapat Ta’wil) berkata maksud Hadits tersebut adalah menguji nya (mencari tahu) adakah ia seorang yangbertauhid yang mengakui bahwa yang menciptakan lagi yang mengatur lagi yang maha perkasa adalah Allahsemata, dan Dia Allah apabila seorang berdoa kepada-Nya, ia menghadap (tangan nya) ke langit, sebagaimanabila seorang sholat, ia menghadap (dada nya) ke Ka’bah, dan bukanlah demikian karena bahwa Allah berada dilangit sebagaimana Allah tidak berada di arah Ka’bah, tetapi demikian karena bahwa langit adalah Kiblat orangberdoa, sebagaimana bahwa Ka’bah adalah Kiblat orang sholat , ataukah ia adalah sebagian dari penyembahberhala yang ada di hadapan mereka, maka manakala ia menjawab “atas langit” Rasulullah tahu bahwa ia adalahorang yang percaya kepada Allah bukan penyembah berhala. berkata al-Qadhi ‘Iyadh : tidak ada khilaf antara kaummuslimin seluruhnya, baik ulama fiqih, dan ulama Hadits, dan ulama Tauhid, dan Mujtahid dan Muqallid, bahwamakna dhohir yang datang dengan menyebutkan Allah taala di langit seperti firman-Nya “adakah kamu merasaaman dengan yang (berkuasa) di langit ….dan seterusnya“dan seumpama nya, bukanlah maksud sebagaimanadhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua kaum muslimin”.

PERHATIKAN SCAN KITAB DI BAWAH INI

هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان

“Hadits ini sebagian dari Hadits-Hadits sifat, dan tentang nya ada dua Madzhab yang telah disebutka beberapa kali pada bab Iman”

Maksudnya : Nash-nash tentang sifat Allah, baik Hadits atau Al-Quran, ada dua pendapat yang kedua pendapat tersebut adalah pendapat Ahlus Sunnah, sementara pendapat ketiga yakni pendapat Salafi Wahabi tidak termasuk dalam salah satu dari dua Madzhab tersebut, membuktikan bahwa Salafi Wahabi bukan saja menyalahi Madzhab Salaf, tapi juga menyalahi seluruh Ahlus Sunnah baik Salaf maupun Khalaf, dan di sini dapat dipahami bahwa metode memahami ayat dan hadits sifat tidak mesti dengan satu metode yang sama, karena ini adalah masalah khilaf, dan metode Salafi Wahabi telah menyimpang dari khilafiyah.

أحدهما الايمان به من غير خوض في معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات

”yang pertama adalah beriman dengan nya tanpa masuk dalam makna nya, serta meyakini bahwa Allah taala tidak sama dengan sesuatu pun, dan mensucikan-Nya dari tanda-tanda makhluk”

Maksudnya : Madzhab atau Manhaj Ahlus Sunnah yang pertama dalam memahami nash-nash sifat adalahberiman dengan tanpa memasuki dalam pemaknaan nya, tidak mentafsirkan nya dan tidak mentakwilkan nya, artinya beriman dengan kata yang disebutkan oleh Allah untuk diri-Nya tanpa menentukan makna tertentu, serta meyakini bahwa Allah tidak sama dengan sesuatu pun, dan tidak ada sifat-sifat makhluk pada-Nya, artinya wallahu a’lam hanya Allah yang tahu dengan makna maksudnya, dan meyakini bahwa makna yang dimaksud oleh Allah adalah makna yang layak dengan keagungan-Nya, bukan makna yang terdapat keserupaan dengan makhluk, karena telah ada nash bahwa Allah tidak sama dengan sesuatu pun. Inilah Hakikat Manhaj kebanyakan para ulama Salaf, yang perlu digaris-bawahi di sini adalah “beriman dengan tidak memaknai nya” inilah yang disebutTafwidh atau Ta’wil Ijmali. Sementara Manhaj Salafi Wahabi adalah beriman dengan makna dhohir nya. Inilah fakta penyimpangan Salafi Wahabi terhadap Manhaj Salaf.

والثاني تأويله بما يليق به

“dan yang kedua adalah menta’wilnya dengan makna yang layak dengan Allah”

Maksudnya : Madzhab atau Manhaj Ahlus Sunnah yang kedua dalam memahami nash-nash sifat adalah :Menta’wilnya atau memaknai nya dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, artinya dengan makna yang telah ada nash bahwa Allah boleh bersifat dengan sifat tersebut, inilah yang di sebut Ta’wil Tafsili, dan inilah Manhaj sebagian ulama Salaf dan Asy’ariyah dan Maturidiyah, dan Manhaj ini tidak menyalahi Manhaj pertama di atas, karena sama meyakini dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, bedanya Manhaj pertama tidak menentukan apa makna yang layak tersebut, dan Manhaj kedua ini menentukan makna yang layak tersebut, dan Salafi Wahabi juga menyalahi Manhaj ini, bahkan mereka sangat anti dengan Manhaj ini, karena Salafi wahabi memaknainya dengan makna dhohir yang di situ terdapat penyerupaan dan tidak layak dengan keagungan Allah, dan Tasybih yang ada pada makna dhohir itu tidak akan hilang meskipun di tepis dengan seribu kali berkata “tapi tidak sama dengan kaifiyat makhluk”. Maka Manhaj Salafi Wahabi meyalahi dua Manhaj Ahlus Sunnah dalam masalah ini.

فمن قال بهذا قال كان المراد امتحانها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده

“maka orang yang berpendapat dengan pendapat ini (pendapat Ta’wil) berkata maksud Hadits tersebut adalah menguji nya (mencari tahu) adakah ia seorang yang bertauhid yang mengakui bahwa yang menciptakan lagi yang mengatur lagi yang maha perkasa adalah Allah semata”

Maksudnya : Setelah Imam Nawawi menguraikan dua Madzhab Ahlus Sunnah dalam menanggapi nash-nash sifat, di sini Imam Nawawi juga menjelaskan bagaimana menerapkan nya dalam masalah Hadits Jariyah ini, dan karena pada pendapat atau Madzhab yang pertama adalah “beriman dengan tidak memaknai nya” maka tidak ada penjelasan lebih lanjut untuk Madzhab pertama, maka atas Madzhab pertama ketika Rasul bertanya “aina Allah” tidak berarti Rasul bertanya dimana tempat Allah, dan juga ketika hamba tersebut manjawab “fis sama’ “ juga tidak menunjukkan Allah berada atau bersemayam di langit, karena sebagaimana telah digariskan di atas bahwa Madzhab pertama “beriman dengan tidak memaknai nya”. Imam Nawawi hanya menjelaskan panjang lebar tentang memahami Hadits Jariyah atas Madzhab yang kedua yakni “memaknai nya dengan makna yanglayak” atau di sebut dengan Ta’wil Tafsili, maka maksud Rasullullah bertanya “dimana Allah” hanya untuk mengetahui apakah hamba tersebut Muslim atau Kafir, Rasulullah bukan mempertanyakan apakah ia mayakiniAllah berada di langit atau meyakini Allah ada tanpa tempat atau meyakini Allah ada dimana-mana, cuma ketika Tuhan-Tuhan yang disembah saat itu adalah berhala, maka ketika ia menjawab “di atas langit” dapatlah diketahui bahwa ia bukan penyembah berhala, maka jawaban nya tersebut adalah caranya mengingkari berhala, bukan untuk menyatakan sebuah Aqidah bahwa Allah berada di atas langit.

وهو الذي اذا دعاه الداعي استقبل السماء كما اذا صلى المصلي استقبل الكعبة

“dan Dia Allah apabila seorang berdoa kepada-Nya, ia menghadap (tangan nya) ke langit, sebagaimana bila seorang sholat, ia menghadap (dada nya) ke Ka’bah”

Maksudnya : Ini adalah sebagai alasan atau hubungan kenapa ketika hamba tersebut manjawab “di atas langit”  dapatlah dipahami bahwa ia bukan penyembah berhala tapi ia adalah orang yang percaya kepada Allah, karena orang yang berdoa meminta kepada Allah, ia menggangkat tangan ke langit, tapi tidak berarti Allah berada di langit, karena ketika orang sholat menyembah Allah, justru menghadap Ka’bah, dan fakta nya Allah tidak berada di Ka’bah, begitu juga Allah tidak berada di atas langit.

وليس ذلك لأنه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة

“dan bukanlah demikian karena bahwa Allah berada di langit sebagaimana Allah tidak berada di arah Ka’bah”

Maksudnya : Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa mengangkat tangan ke langit bukan karena Allah berada di langit sebagaimana menghadap Ka’bah ketika Sholat bukan karena Allah berada di Ka’bah.

بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين

“tetapi demikian karena bahwa langit adalah Kiblat orang berdoa, sebagaimana bahwa Ka’bah adalah Kiblat orang sholat”

Maksudnya : Kenapa mengangkat tangan ke atas langit ketika berdoa bila Allah bukan berada di atas langit, jawaban nya adalah karena langit adalah Kiblat orang berdoa sebagaimana Kiblat orang Sholat adalah Ka’bah, maka ketika Sholat menghadap Ka’bah tidak berarti Allah berada di Ka’bah, begitu juga ketika berdoa mengangkat tangan ke langit tidak berarti Allah berada di atas langit, inilah akidah Ahlus Sunnah waljama’ah, Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat, Allah tidak bertempat di langit sebagaimana Allah tidak bertempat di bumi.

أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان التي بين أيديهم

“ataukah ia adalah sebagian dari penyembah berhala yang ada di hadapan mereka”

Maksudnya : ini adalah sambungan dari ..هل هي موحدة Artinya Rasulullah bertanya kepada nya untuk mengetahui apakah ia menyembah Allah atau penyembah berhala, yang tentu saja ia akan menjawab di bumi atau di rumah nya bila ia adalah penyembah berhala.

فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان

“maka manakala ia menjawab “atas langit” Rasulullah tahu bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah bukan penyembah berhala”

Maksudnya : Dari jawaban hamba tersebut “di atas langit” Rasulullah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang percaya kepada Allah, dan inilah tujuan Rasullah bertanya “dimana Allah”. Rasulullah ingin mengetahui Islamkah dia atau bukan, Rasulullah bukan ingin mengetahui bertauhidkah dia atau tidak, dan hubungan nya sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa Allah memerintahkan orang berdoa mengangkat tangan ke atas langit ketika berdoa, dan ini bukan berarti Allah berada di atas langit, maka ketika hamba tersebut menjawab kepada Rasulullah dengan “di atas langit”  maka Rasulullah tahu bahwa ia beriman kepada Allah, maka Hadits ini bukan sebagai bukti atau dalil bahwa Allah berada di atas langit.

قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالىأأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عند جميعهم

“berkata al-Qadhi ‘Iyadh : tidak ada khilaf antara kaum muslimin seluruhnya, baik ulama fiqih, dan ulama Hadits, dan ulama Tauhid, dan Mujtahid dan Muqallid, bahwa makna dhohir yang datang dengan menyebutkan Allah taala di langit seperti firman-Nya “adakah kamu merasa aman dengan yang (berkuasa) di langit ….dan seterusnya“dan seumpama nya, bukanlah maksud sebagaimana dhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua kaum muslimin”.

Maksudnya : Sebagai penguat sekaligus rujukan terhadap apa yang telah diuraikan oleh Imam Nawawi, beliau menampilkan pernyataan al-Qadhi ‘Iyadh tentang kata “fis sama’ “ yang ada dalam al-Quran, al-Qadhi ‘Iyadh berkata : tidak ada khilaf atau telah Ijma’ semua Ulama bahwa makna dhohir dari ayat yang menunjukkan Allah di atas langit bukan maksud dhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua Ulama, artinya Ijma’ wajib Ta’wil nash-nash Mutasyabihat, baik dengan Ta’wil Ijmali (Tafwidh) atau dengan Ta’wil Tafsili, dan memahami dan beriman dengan makna dhohir sebagaimana Manhaj Salafi Wahabi berarti telah melangkahi Ijma’ danmelangkahi pemahaman Ulama demi pemahaman sendiri, dan dari uraian di atas dapatlah dipastikan bahwa tidak ada satu pun Ulama Salaf dan Khalaf yang berdalil dengan Hadits jariyah seperti cara berdalil nya Salafi Wahabi, tidak ada satupun Ulama Salaf atau Khalaf yang mengatakan bahwa Hadits Jariyah adalah dalil Allah bersemayam di atas langit, na’uzubillah

Maha suci Allah dari arah dan tempat.

Hadits Jariyah Menurut Imam al-Qurthubi

Tahukah anda, bagaimana pandangan Imam al-Qurthubi tentang Hadits Jariyah? mari kita simak pemahaman beliau tentang Hadits Jariyah, adakah beliau sepakat dengan pemahaman Salafi Wahabi atau justru Salafi Wahabi telah menyalahi dan meninggalkan pemahaman beliau, sebagaimana Salafi Wahabi menyalahipemahaman Imam Syafi’i tentang Hadits Jariyah dan pemahaman Imam Nawawi tentang Hadits Jariyah dan semua ulama Ahlus Sunnah Waljama’ah, sebagian Salafi Wahabi bahkan berani mengatakan Imam Nawawi sesat dalam akidah nya dalam masalah asma’ wa sifat, bahkan mungkin mereka akan mengatakan bahwa Imam al-Qurthubi juga sesat karena ternyata Imam al-Qurthubi bertolak belakang dengan akidah mereka.

Imam al-Qurthubi berkata :

تنبيه: قوله عليه السلام: ((كل ما في السماوات وما في الأرض وما بينهما فهو مخلوق غير الله والقرآن)) مثل قولهتعالى: {لله ما في السماوات وما في الأرض} فما في الآية والحديث بمعنى الذي وهي متناولة لمن يعقل وما لا يعقل منغير تخصيص فيها بوجه. لأن كل من في السماوات والأرض وما فيهما وما بينهما خلق الله تعالى وملك له، وإذا كان ذلك كذلك يستحيل على الله أن يكون في السماء أو في الأرض، إذ لو كان في شيء لكان محصوراً أو محدوداً، ولو كان ذلك لكان محدثاً، وهذا مذهب أهل الحق والتحقيق.

وعلى هذه القاعدة قوله تعالى: {أأمنتم من في السماء} وقوله عليه السلام للجارية ((أين الله؟)) قالت في السماء ولمينكر عليها وما كان مثله ليس على ظاهره بل هو مؤول تأويلات صحيحة قد أبداها كثير من أهل العلم في كتبهم. وقدبسطنا القول في هذا بكتاب الأسنى في شرح أسماء الله الحسنى وصفاته العلى عند قوله تعالى: {الرحمن على العرشاستوى}.

“Peringatan : Sabda Nabi SAW “setiap sesuatu yang di langit dan yang di bumi dan di antara kedua nya, maka ituadalah makhluk, bukan Allah dan bukan Al-Quran (kalam Allah)” itu seperti firman Allah “milik Allah segala sesuatuyang ada di langit dan yang ada di bumi” dan (ما) yang ada dalam Ayat dan Hadits itu dengan makna (الذي) yaitusesuatu yang termasuk bagi yang berakal dan yang tidak berakal tanpa terkhusus dengan apa pun, karena segalasesuatu (yang berakal) di lanngit dan di bumi, dan segala sesuatu yang (tidak berakal) yang ada pada kedua nya,dan di antara kedua nya adalah ciptaan Allah dan milik-Nya, dan bila demikian maka mustahil bagi Allah bahwaAllah berada di langit atau di bumi, karena bila Allah berada pada sesuatu, sungguh Allah menjadi dibatasi, danbila demikian, sungguh Allah itu menjadi baharu. Dan inilah madzhab ahlul haq dan tahqiq. Dan berdasarkan ataskaidah ini, firman Allah taala “adakah kalian merasa aman dengan yang berkuasa di langit” dan juga sabda NabiSAW bagi seorang budak (hamba sahaya) “aina Allah ?” hamba tersebut manjawab “di langit” sedangkan Nabitidak atas jawaban nya, dan nash-nash yang seperti itu, bukanlah atas dhohir nya, tetapi dita’wilkan dengan ta’wilyang benar, yang telah dinyatakan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka, dan kami pun telah menguraikanpendapat tentang ini dalam kitab al-Asna fi syarhi asma’ Allah al-husna wa sifatihi al-‘ulya, pada firman Allah taala“ar-Rahman ‘ala al-‘arsyi istawa”.[Lihat kitab at-tidzkar fi afdhali al-adzkar –halaman 13-14, karangan Imam al-Qurthubi w-671 H]

PERHATIKAN SCAN KITAB DI BAWAH INI

KETERANGAN

تنبيه: قوله عليه السلام: ((كل ما في السماوات وما في الأرض وما بينهما فهو مخلوق غير الله والقرآن)) مثل قوله تعالى: {لله ما في السماوات وما فيالأرض}

“Peringatan : Sabda Nabi SAW “setiap sesuatu yang di langit dan yang di bumi dan di antara kedua nya, maka itu adalah makhluk, bukan Allah dan bukan Al-Quran (kalam Allah)” itu seperti firman Allah “milik Allah segala sesuatu yang ada di langit dan yang ada di bumi”

Maksudnya : Imam al-Qurtubi pada bab ini sedang menjelaskan mana sesungguhnya Al-Quran yang hakikat sifat kalam Allah yang akibat nya menjadi kafir bila mengatakan itu makhluk, sulit nya masalah ini sehingga banyak yang salah sangka dan menduga bahwa Al-Quran (sifat kalam Allah yang qadim dan bukan makhluk) adalah Al-Quran yang diturunkan dan diwahyukan dan dibacakan dan berhuruf dan bersuara dan berbahasa Arab, dan termasuk Salafi Wahabi salah paham dalam masalah ini, sementara Imam al-Qurthubi dan semua ulama Ahlus Sunnah Waljama’ah mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi dan di antara kedua nya adalah makhluk, termasuk Al-Quran firman Allah yang diturunkan dan diwahyukan dan dibacakan dan berhuruf dan bersuara dan berbahasa Arab itu, sekalipun itu disebut juga dengan Al-Quran dan dengan kalam Allah, sementaraAl-Quran atau kalam Allah yang bukan makhluk yang menjadi sifat Allah adalah ada pada dzat Allah, tidak berhuruf dan tidak bersuara, inilah yang dimaksud dengan Al-Quran yang bukan makhlukinilah hakikat sifat kalam Allah, dan inilah yang dihukumi kafir secara ijma’ bagi orang yang mengatakan Al-Quran ini (sifat yang adapada dzat-Nya) adalah makhluk, karena telah mensifatkan Allah dengan makhluk, maka orang yang memakhlukkan Al-Quran bukanlah orang yang mengatakan bahwa Al-Quran (yang diturunkan dan diwahyukan) adalah makhluk, karena yang diturunkan dan yang diwahyukan tersebut adalah makhluk, tetapi orang yang memakhlukkan Al-Quran adalah orang yang mengatakan bahwa Al-Quran yang diturunkan dan diwahyukan itu adalah sifat kalam Allah yang diturunkan kepada Rasul, karena ia telah mensifati Allah dengan makhluk (wahyu yang diturunkan), sedangkan sifat kalam Allah bukan makhluk, wallahu a’lam. Sekali lagi bahwa ini masalah yang sulit dibedakan, menjelaskan nya bahaya karena bisa salah pengertian, tidak menjelaskan nya pun lebih bahaya lagi, sehingga banyak yang tergelincir karena nya, hendak nya bagi orang yang tidak ceroboh dalam beragama berpegang dengan Ayat dan Hadits di atas yang telah diingatkan oleh Imam al-Qurthubi, yang intinya bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi dan di antara kedua nya adalah makhluk, bukan Allah dan bukan sifat-sifat Nya termasuk sifat kalam-Nya, Al-Quran yang menjadi sifat kalam-Nya ada pada dzat Allah, bukan yang ada dalam makhluk-Nya yakni langit dan bumi dan di antara nya.

فما في الآية والحديث بمعنى الذي وهي متناولة لمن يعقل وما لا يعقل من غير تخصيص فيها بوجه

“dan (ما) yang ada dalam Ayat dan Hadits itu dengan makna (الذي) yaitu sesuatu yang termasuk bagi yang berakal dan yang tidak berakal tanpa terkhusus dengan apa pun”

Maksudnya : (ما) biasa nya adalah sesuatu benda atau makhluk yang tidak berakal, tapi maksud dalam Ayat dan Hadits di atas adalah sama dengan makna (الذي) yaitu sesuatu apa pun, baik benda atau makhluk hidup, baik berakal atau tidak berakal tanpa terkecuali, termasuk Al-Quran yang diwahyukan dan diturunkan ke bumi, biar pun ini disebut juga kalamulllah, tapi bukan kalamullah sifat dzat Allah yang azali.

لأن كل من في السماوات والأرض وما فيهما وما بينهما خلق الله تعالى وملك له

“karena segala sesuatu (yang berakal) di lanngit dan di bumi, dan segala sesuatu yang (tidak berakal) yang ada pada kedua nya, dan di antara kedua nya adalah ciptaan Allah dan milik-Nya”

Maksudnya : Karena tanpa keraguan bahwa segala yang ada di langit dan di bumi dan di antara kedua nya adalah makhluk dan milik-Nya, baik yang berakal maupun yang tidak berakal, maka nya (ما) yang ada dalam Ayat dan Hadits itu dengan makna (الذي), maka di pahami dari Ayat dan Hadits di atas bahwa Allah dan sifat-sifat Nya tidak ada di langit atau di bumi atau di antara kedua nya, karena segala yang ada di situ adalah makhluk dan milik-Nya, sementara Allah dan sifat-sifat Nya bukan makhluk.

وإذا كان ذلك كذلك يستحيل على الله أن يكون في السماء أو في الأرض

“dan bila demikian maka mustahil bagi Allah bahwa Allah berada di langit atau di bumi”

Maksudnya : Ketika tanpa keraguan bahwa segala yang ada di langit dan di bumi dan di antara kedua nya adalah ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya, maka pastilah Allah mustahil berada di langit (termasuk di ‘Arasy) atau di bumi, dan apa yang di pahami oleh sebagian orang bahwa Allah berada di atas ‘Arasy adalah pemahaman yang salah dari dhohir dhohir ayat atau hadits, karena bertentangan dengan Ayat dan Hadits di atas.

إذ لو كان في شيء لكان محصوراً أو محدوداً

“karena bila Allah berada pada sesuatu, sungguh Allah menjadi dibatasi”

Maksudnya : Keberadaan Allah pada/dalam sesuatu dari pada makhluk-Nya baik langit atau bumi adalah sesuatu yang mustahil, karena menjadikan Allah terbatas pada sesuatu tersebut, padahal Allah tidak terbatas dengan sesuatu pun sebelum ada makhluk-Nya

ولو كان ذلك لكان محدثاً

“dan bila demikian, sungguh Allah itu menjadi baharu”

Maksudnya : Dan bila Allah dibatasi oleh sesuatu, sungguh Allah telah menjadi baharu dan berubah, inilah alasan kenapa Allah mustahil berada atau bertempat pada sesuatu baik langit atau bumi, dan ini pula sisi kesamaan dengan makhluk, yaitu sama-sama bersifat dengan sifat makhluk (hawadits), jadi diri sifat tersebut adalah makhluk, mensifatkan Allah dengan sifat tersebut berarti telah mensifati-Nya dengan kemakhlukan sifat tersebut, maka tidak ada guna berkilah bahwa “bersemayam Allah” dengan “bersemayam makhluk” tidak sama, karena diri sifat bersemayam tersebut adalah makhluk (sifat haditsah) yang tidak ada pada azali, sementara Allah dan segala sifat-Nya adalah qadim atau azali.

وهذا مذهب أهل الحق والتحقيق

“Dan inilah madzhab ahlul haq dan tahqiq”

Maksudnya : Pemahaman Ahlul haq yakni Ahlus Sunnah Waljama’ah dalam masalah ini, baik Salaf maupun Khalaf, adalah Allah mustahil berada pada makhluk-Nya dan makhluk pun mustahil berada pada dzat Allah, baik di langit maupun di bumi, Allah dan sifat-sifat Nya ada sebelum ada makhluk dan Allah dan sifat-sifat Nya tidak berubah atau bertambah.

وعلى هذه القاعدة قوله تعالى: {أأمنتم من في السماء} وقوله عليه السلام للجارية ((أين الله؟)) قالت في السماء ولم ينكر عليها وما كان مثله ليس علىظاهره

“Dan berdasarkan atas kaidah ini, firman Allah taala “adakah kalian merasa aman dengan yang berkuasa di langit” dan juga sabda Nabi SAW bagi seorang budak (hamba sahaya) “aina Allah ?” hamba tersebut manjawab “di langit” sedangkan Nabi tidak atas jawaban nya, dan nash-nash yang seperti itu, bukanlah atas dhohir nya”

Maksudnya : Berdasarkan kaidah ini yaitu “mustahil Allah berada pada/dalam makhluk-Nya” sesuai dengan dua ayat dan hadits di atas yakni sabda Nabi “setiap sesuatu yang di langit dan yang di bumi dan di antara kedua nya, maka itu adalah makhluk, bukan Allah dan bukan Al-Quran (kalam Allah)” dan firman Allah “milik Allah segala sesuatu yang ada di langit dan yang ada di bumi” maka pada ayat dan hadits yang dhohirnya menunjukkan bahwa Allah berada di langit atau di ‘Arasy seperti firman Allah “adakah kalian merasa aman dengan yang berkuasa di langit” dan seperti pada Hadits Jariyah, ayat dan hadits yang seperti ini tidak dimaksudkan dengan dhohir makna nya yang menunjukkan Allah berada di langit, maka itu bukan dalil bahwa “Allah berada di atas langit” kecuali mereka yang condong hati nya kepada kesesatan, rela mendustai Al-Quran dan As-Sunnah demi membela akidah yang menyalahi akidah mayoritas ulama Salaf dan Khalaf.

بل هو مؤول تأويلات صحيحة

“tetapi dita’wilkan dengan ta’wil yang benar”

Maksudnya : Nash-nash yang dhohir nya menunjukkan bahwa Allah berada di atas langit tersebut tidak dipahami dengan dhohir makna nya, tetapi dita’wilkan dengan ta’wil yang benar, dan ta’wil yang benar adalah ta’wil yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits, mayoritas Salaf memilih ta’wil ijmali atau tafwidh makna, dan mayoritas Khalaf memilih ta’wil tafsili, tapi perbedaan pada ta’wil ini tidak menjadi masalah, selama tidak menyalahi Al-Quran dan Hadits, dan sepakat para ulama Salaf dan Khalaf bahwa memahami nya dengan dhohir makna nya adalah menyalahi dengan Al-Quran dan Hadits.

قد أبداها كثير من أهل العلم في كتبهم

“yang telah dinyatakan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka”

Maksudnya : Ta’wil-ta’wil nya telah diterangkan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka, lihatlah bagaimana seorang Imam al-Qurthubi sama sekali tidak anti dengan Ta’wil, dan tidak membedakan antara Salaf dan Khalaf.

وقد بسطنا القول في هذا بكتاب الأسنى في شرح أسماء الله الحسنى وصفاته العلى عند قوله تعالى: {الرحمن على العرش استوى}

“dan kami pun telah menguraikan pendapat tentang ini dalam kitab al-Asna fi syarhi asma’ Allah al-husna wa sifatihi al-‘ulya, pada firman Allah taala “ar-Rahman ‘ala al-‘arsyi istawa”.

Maksudnya : Imam al-Qurthubi sendiri telah menguraikan tentang ta’wil-ta’wil nash yang dhohir makna nya menunjukkan “Allah berada di atas langit” dalam kitab nya al-Asna fi syarhi asma’ Allah al-husna wa sifatihi al-‘ulya, pada firman Allah taala “ar-Rahman ‘ala al-‘arsyi istawa”. Maka sangat jelas akidah Imam al-Qurthubi tentang nash-nahs sifat, bahwa makna dhohir bukanlah maksud dari ayat dan hadits sifatImam al-Qurthubi sangat mengingkari bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arasy, dan pemahaman Imam al-Qurthubi tentang Hadits Jariyah adalah wajib Ta’wil dengan makna yang shohih, sebagaimana ayat dan hadits mutasyabihat lain nya. Wallahu a’lam

Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat

http://suaraaswaja.com/hadits-jariyah-menurut-imam-nawawi.html

http://suaraaswaja.com/hadits-jariyah-menurut-imam-al-qurthubi.html

Tingkatan Mufti Dalam Mazhab Asy Syafie (1. Mujtahid Mutlak 2. Mujtahid Madzhab 3. Mujtahid Fatwa 4. Mufti Muqallid)

Tingkatan Mufti Dalam Mazhab Asy Syafie

Definisi madzhab adalah apa-apa yang dipilih oleh Imam As Syafi’i dan para pengikutnya terhadap hukum dalam
berbagai masalah, sebagaimana disebutkan Imam Al Mahalli dalam Syarh beliau terhadap Al Minhaj. (lihat,  Hasyiyatani Qalyubi wa Umairah, 1/7)
Dengan definisi di atas, otomatis madzhab As Syafi’i tidak hanya mencakup pendapat Imam As Syafi’i saja, namun, juga pendapat para pengikutnya. Nah, siapa para pengikut yang berhak memberi kontribusi kepada madzhab?
Pendapatnya diperhitungkan sebagai pendapat madzhab?
Tentu, itu bisa terjawab dengan pemaparan tingkatan para mufti yang dianggap mu’tabar dalam madzhab.
Imam An Nawawi menyatakan dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab (1/71), mengenai tingkatan mufti dalam madzhab As Syafi’i. Merujuk kepada pendapat Al Hafidz Ibnu Shalah, beliau membagi mufti dalam madzhab menjadi beberapa kelompok:

1. Mufti Mustaqil

Mufti mustaqil adalah mufti yang berada dalam peringkat tertinggi dalam madzhab, Ibnu Shalah juga menyebutkannya sebagai mujtahid mutlaq. Artinya, tidak terikat dengan madzhab. Bahkan mujtahid inilah perintis madzhab. Tentu dalam Madzhab As Syafi’i, mufti mustaqil adalah Imam As Syafi’i. Imam An Nawawi sendiri menyebutkan pendapat beberapa ulama ushul bahwa tidak ada mujtahid mustaqil setelah masa As Syafi’i. (lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/72)
Keistimewaan mufti mustaqil yang
tidak dimiliki oleh tingkatan mufti di
bawahnya adalah kemampuannya
menciptakan metode yang dianut
madzhabnya.

2. Mujtahid Madzhab

Yakni, mufti yang tidak taklid kepada imamnya, baik dalam madzhab (pendapat) atau dalilnya namun tetap
menisbatkan kepada imam karena mengikuti metode imam. ( lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzadzab, 1/72)
Contoh ulama Syafi’iyah yang sampai pada derajat ini adalah Imam Al Muzani dan Al Buwaithi, sebagaimana
disebutkan Nawawi Al Bantani dan Syeikh Ba’alawi (lihat, Nihayah Az Zain, hal. 7 dan Bughyah Al Mustarsyidin, hal.
7) Sedangkan Imam An Nawawi juga menyebutkan bahwa Abu Ishaq As Syairazi yang masa hidupnya jauh dari
masa Imam As Syafi’i mengaku sampai pada derajat ini. ( lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzadzab, 1/72) Di kalangan
muta’akhirin Imam As Suyuthi juga mengaku sampai pada derajat ini, sebagaimana disebutkan
Syeikh Ba’alawi. (lihat, Bughyah Al Mustarsyidin, hal. 7) Mufti golongan inilah yang relevan bagi mereka perkataan Imam As Syafi’i yang melarang taklid, baik kepada beliau maupun kepada para imam lainnya, sebagaimana
disebutkan Imam An Nawawi (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73).
Dan hal itu tidak berlaku kepada ulama yang berada di bawah level ini, sebab itulah Ibnu Shalah sendiri
berpendapat bahwa pelarangan taklid dari para imam tidak bersifat mutlak. (lihat, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1/72). Golongan ini pula yang menurut Ibnu Shalah dan Imam An Nawawi yang
berhak mengoreksi pendapat Imam, di saat mereka mengetahui ada hadits shahih yang bertantangan dengan
pendapat imam. Kenapa harus mereka?
Karena bisa jadi imam sengaja meninggalkan hadits walau ia shahih dikarenakan manshukh atau
ditakhsis, dan hal ini tidak akan diketahui kecuali yang bersangkutan telah menela’ah semua karya As Syafi’i
dan para pengikutnya, dan hal ini amatlah sulit, menurut penilaian ulama sekaliber Imam An Nawawi sekalipun.
(lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/99 dan Ma’na Al Qaul Al Imam Al Muthallibi Idza Shahah Al
Hadits fa Huwa Madzhabi) Jika sesorang sampai pada derajat ini, ia bisa menyelisihi pendapat imamnya
sendiri, dan hal ini tidaklah jadi persoalan, karena sudah sampai pada derajat mujtahid walau tetap memakai
kaidah imam. Tak heran jika beberapa pendapat Imam Al Muzani berbeda dengan pendapat Imam As Syafi’i
seperti dalam masalah masa nifas, Imam As Syafi’i berpendapat bahwa maksimal masa nifas 60 hari
sedangkan Al Muzani 40 hari. (lihat,Thabaqat As Syafi’iyah Al Kubra, 2/106)

3. Ashab Al Wujuh
Ashab Al Wujuh, yakni mereka yang taklid kepada imam dalam masalah syara’, baik dalam dalil maupun ushul
Imam. Namun, mereka masih memiliki kemampuan untuk menentukan hukum yang belum disebutkan imam dengan menyimpulkan dan menkiyaskan (takhrij) dari pendapat Imam, sebagaimana para mujtahid
menentukannya dengan dalil. Biasanya mereka mencukupkan diri dengan dalil imam. (lihat Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73) Imam An Nawawi menyebutkan bahwa para ulama As Syafi’iyah yang sampai pada derajat ini adalah ashab al wujuh. Yakni mereka yang mengkiyaskan masalah yang belum di-nash oleh imam kepada pendapat
imam. Sehingga, orang yang merujuk fatwa mereka pada hakikatnya tidak bertaklid kepada mereka, namun
bertaklid kepada imam. (lihat, AlMajmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/73).
4. Mujtahid Fatwa

Golongan ini termasuk para ulama yang tidak sampai pada derajat ashab al wujuh, namun menguasai madzhab
imam dan dalilnya serta melakukan tarjih terhadap pendapat-pendapat dalam madzhab. (lihat, Al Majmu’ fi
Syarh Al Muhadzdzab, 1/73) Perlu diketahui, dengan adanya mufti- mufti yang berada di atas tingkatan ini, dalam madzhab sudah banyak terjadi khilaf, baik antara imam dengan mujtahid madzhab juga disebabkan perbedaan kesimpulan para ashab al wujuh terhadap pendapat imam. Disinilah ulama pada tingkatan ini berperan untuk
mentarjih. Nawawi Al Bantani dan Syeikh Ba’alawi menyebutkan bahwa yang berada dalam tingkatan ini Imam Ar
Rafi’i dan Imam An Nawawi yang dikenal sebagai mujtahid fatwa.(lihat, An Nihayah, hal. 7 dan Al Bughyah, hal. 7) Hal ini nampak dalam corak karya Ar Rafi’i seperti Al Aziz fi Syarh Al Wajiz, juga karya Imam An Nawawi seperti
Raudhah At Thalibin dan Minhaj At Thalibin. Sehingga bagi para penuntut ilmu jika ingin mengetahu perkara yang rajih dalam madzhab bisa merujuk kepada buku-buku tersebut.

5. Mufti Muqallid

Tingkatan mufti dalam madzhab yang paling akhir adalah mereka yang menguasa madzhab baik untuk masalah yang sederhana maupun yang rumit. Namun tidak memiliki kemampuan seperti mufti-mufti di
atasnya. Maka fatwa mufti yang demikian bisa dijadikan pijakan penukilannya tentang madzhab dari pendapat imam dan cabang- cabangnya yang berasal dari para mujtahid madzhab. (lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab, 1/74) Ibnu Hajar Al Haitami, Imam Ar Ramli dan As Subramilsi termasuk kelompok mufti Muqallid, walau sebagian
berpendapat bahwa mereka juga melakukan tarjih dalam beberapa masalah. (lihat, Nihayah Az Zain, hal. 7
dan Bughyah Al Mustarsyidin, hal 7)
Jika tidak menemui nuqilan dalam madzhab, maka ia tidak boleh mengeluarkan fatwa, kecuali jika mereka memandang bahwa masalahnya sama dengan apa yang nash madzhab, boleh ia mengkiyaskannya. Namun, menurut Imam Al Haramain, kasus demikian jarang ditemui. (lihat, Al Majmu’ fiSyarh Al Muhadzdzab, 1/73). Namun tentunya tidak boleh berfatwa dengan semua pendapat tanpa melihat mana yang rajih menurut madzhab. Syeikh Ba’ alawi menilai orang yang demikian sebagai orang yang bodoh dan menyelisihi ijma. (lihat, Bughyah Al mustarsyidin, hal. 9) Jika demikian, para mufti yang berada di jajaran ini akan banyak berinteraksi dengan karya-karya para mujtahid fatwa, yang telah menjelaskan pendapat rajih dalam madzhab.

Penutup
Imam An Nawawi menyebutkan bahwa para mufti selain mufti mustaqil, yang telah disebutkan di
atas termasuk mufti muntasib, dalam artian tetap menisbatkan diri dalam madzhab. Dan semuanya harus
menguasai apa yang dikuasai oleh mufti muqallid. Barang siapa berfatwa sedangkan belum memenuhi syarat di
atas, maka ia telah menjerumuskan diri kepada hal yang amat besar!
(lihat, Al Majmu’ fi Syarh Al Muhadzdzab,
1/74) Tentu, amat tidak mudah untuk
masuk jajaran mufti di atas hatta mufti muqallid jika orang sekaliber Ibnu
Hajar Al Haitami dan Imam Ar Ramli
masih dinilai berada dalam tingkatan
itu! Namun ironisnya banyak anak-
anak muda yang baru mencari ilmu
dengan tanpa beban menyesat- nyesatkan siapa saja yang bertaklid.
Kemudian menyerukan untuk
mentarjih pendapat sesuai
berdasarkan dalil yang ia pahami
seakan-akan ia setingkat dengan
Imam An Nawawi, atau bahkan menggugurkan pendapat mujtahid
mustaqil dengan berargumen, idza
shahah al hadits fahuwa madzhabi,
seakan-akan ia satu level dengan
Imam Al Muzani! Padahal yang
bersangkutan belum menghatamkan dan menguasai kitab fiqih yang paling
sederhana sekalipun dalam madzhab.
Mudah-mudahan kita terlindung dari
hal-hal yang demikian. Dan tetap
bersabar untuk terus mencari ilmu,
hingga sampai kepada kita keputusan Allah, sampai dimana ilmu yang
mampu kita serap dan kita amalkan.

SCAN KITAB ASLI MANAQIB IMAM SYAFII ‘ALA IMAM BAIHAQI DAN KITAB IBNU TAYMIYAH : IMAM SYAFII BAGI 2 BID’AH (BID’AH HASANAH DAN BID’AH DLOLALAH)

Legalitas Bid’ah Hasanah tidak pernah menjadi permasalahan dan perdebatan sebelum datang nya Wahabi, keberagaman penjelasan para ulama tentang Bid’ahbukan karena perselisihan dalam memahami hakikat Bid’ah, tapi karena kekayaan ilmu yang dimiliki oleh para ulama, tapi ketika bahasa para ulama tersebut dipahami oleh kaum yang sempit pemahaman, mulailah benih-benih perselisihan muncul dan alangkah menyesal ketika kebodohan tersebut dijadikan senjata untuk membid’ah-sesatkan amalan yang telah dilegalisasi oleh syara’ melalui dalil-dalil dhanni atau ijtihadi, dan akhirnya kata Bid’ah menjadi senjata untuk memecah-belah ummat ini.

Bagaimana pandangan Al-Imam asy-Syafi’i tentang Bid’ah Hasanah ?

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ :

أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ،

وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ

Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua macam :

Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar, perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat (Bid’ah Dholalah).

Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi satu pun dari al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka perkara baru seperti ini tidak tercela (Bid’ah Hasanah).

(Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i –Jilid 1- Halaman 469).

Lihat Scan Kitab Manaqib asy-Syafi’i di bawah ini

Pernyataan Imam Syafi’i di atas adalah kelanjutan dari pemahaman Imam Syafi’i terhadap Hadits larangan Bid’ah, bukan malah dihantamkan dengan Hadits larangan Bid’ah, maka dapat dipahami bahwa Imam Syafi’i tidak otomatis menganggap setiap perkara baru dalam Agama itu Bid’ah Dholalah, tapi setiap perkara baru ada dua kemungkinan yaitu  apabila bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’ maka itu Bid’ah Dholalah dan inilah Bid’ah yang dilarang dalam Hadits “Setiap Bid’ah sesat”.

Sementara bila perkara baru dalam Agama itu tidak bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’ maka inilah Bid’ah Hasanah dan ini tidak termasuk dalam Bid’ah yang terlarang dalam Hadits “Kullu Bid’atinDholalah”.

Sangat jelas penjelasan Imam Syafi’i tentang legalitas Bid’ah Hasanah, batasan Bid’ah Dholalah adalah bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’, selama sesuatu yang baru dalam Agama itu tidak bertentangan dengan 4 batasan tersebut, maka itu bukan Bid’ah Dholalah dan tidak termasuk menambah atau mengada-ngada syari’at baru, karena batasan Bid’ah Dholalah bukan pada tidak ada nash yang shorih, atau padaadakah rasul dan para sahabat telah melakukan nya.

Memahami Perkataan Imam Syafi’i Dalam Pembagian Bid’ah

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ

“Perkara baru ada dua macam”

Maksudnya : semua perkara baru baik Ibadah atau bukan Ibadah, baik Aqidah atau bukan Aqidah terbagi kepada dua macam, poin yang perlu di ingat adalah Imam Syafi’i sedang memisah dan memilah antara dua macam perkara baru yang tentu saja perkara tersebut tidak di masa Rasulullah dan para sahabat.

أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا

“salah satunya adalah perkara baru yang menyalahi Kitab (Al-Quran), atau Sunnah (Hadits), atau Atsar, atau Ijma’.”

Maksudnya : yang pertama adalah perkara baru yang menyalahi Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’, poin penting di sini adalah “Yukhalifu” atau “menyalahi” jadi perkara baru itu sesat bukan karena semata-mata ia baru ada dan belum ada di masa rasul dan sahabat, tapi karena menyalahi 4 perkara di atas.

فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ

“maka perkara baru ini adalah Bid’ah Dholalah”

Maksudnya : perkara baru yang menyalahi Al-Quran atau menyalahi As-Sunnah atau menyalahi Atsar atau menyalahi Ijma’, maka inilah Bid’ah Dholalah yang terlarang dalam Hadits larangan Bid’ah, Bid’ah Dholalah bukan sesuatu yang tidak tersebut secara khusus dalam Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’, tapi harus diperiksa dulu apakah ia menyalahi atau justru sesuai dengan Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’.

وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا

“yang kedua, perkara baru yang baik lagi tidak menyalahi bagi salah satu dari ini (Al-Quran, As-Sunnah, Atsar, dan Ijma’)”

Maksudnya : yang kedua adalah perkara baru yang baik dan tidak menyalahi satupun dari Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’, bukan maksud baik itu hanya dianggap baik, tapi baik di sini adalah tidak menyalahi 4 perkara tersaebut, dan poin penting di sini juga pada “Tidak menyalahi” jadi perkara baru tidak otomatis Bid’ah dan Sesat,  tapi ketika ia menyalahi salah satu dari 4 perkara tersebut, maka otomatis sesat, dan bila tidak menyalahi salah satu dari 4 perkara tersebut maka otomatis tidak sesat, baik dinamai dengan Bid’ah Hasanahatau Bid’ah Lughawi atau dengan bermacam nama lain nya.

وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ

“dan perkara baru tersebut tidak tercela”

Maksudnya : perkara baru yang tidak menyalahi Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’ adalah Bid’ah yang tidak tercela atau di sebut juga dengan Bid’ah Hasanah.

Bid’ah Hasanah itu Syar’i atau Lughawi ?

Ini bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan, tidak berpengaruh apapun terhadap legalitas Bid’ah Hasanah, bahkan yang lebih bodoh lagi adalah mempermasalahkan adakah Bid’ah Hasanah ?,ulama pun berbeda pendapat dalam hal ini, tapi satu tujuan, ini bukan alasan untuk mengingkari Bid’ah Hasanah dalam Agama, karena walaupun Bid’ah Hasanah itu Lughawi atau Syar’i tetap saja maksudnya adalah perkara baru yang tidak bertentangan dengan Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’, permasalahan ini hanya karena berbeda dalam memaknai Bid’ah pada Syara’.

Maksud Bid’ah pada Syara’ menurut Imam Nawawi adalah :

إحداث ما لم يكن في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم، وهي منقسمه إلى حسنة وقبيحة

“mengadakan perkara baru yang belum ada di masa Rasulullah SAW, dan ia terbagi kepada hasanah (baik), dan qabihah (buruk)”.

Atas definisi Bid’ah pada syara’ menurut Imam Nawawi di atas, maka Bid’ah Hasanah adalah satu pembagian dari Bid’ah Syar’i, bukan Bid’ah Lughawi, kerena sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah dinamakan Bid’ah, tapi ada dua kemungkinan, bila sesuai dengan dalil-dalil syar’i maka itu Bid’ah Hasanah, dan bila menyalahi dalil-dalil syar’i maka ituBid’ah Qabihah atau Bid’ah Dholalah.

Maksud Bid’ah pada Syara’ menurut Ibnu Rajab adalah :

ما أحدث مما لا أصل له في الشريعه يدل عليه، وأما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه فليس ببدعة شرعا، وإن كان بدعة لغة

“perkara baru yang tidak ada dasar dalam syari’at yang menunjuki atas nya, dan adapun perkara baru yang ada dasar dari syara’ yang menunjuki atas nya, maka ia bukan Bid’ah pada Syara’, sekalipun Bid’ah pada Lughat”.

Atas definisi Bid’ah pada Syara’ menurut Ibnu Rajab, maka Bid’ah Hasanah adalah bukan pembagian dari Bid’ah pada Syara’, tapi Bid’ah Hasanah adalah Bid’ah Lughawi, karena maksud Bid’ah pada Syara’ yang seperti ini tidak mungkin terbagi kepada Hasanah (baik), sesuatu yang tidak ada dasar dari Syara’ otomatis Buruk atau sesat.

Maka sekalipun berbeda cara memahami Bid’ah pada Syara’ dan bereda dalam mengkategorikan Bid’ah Hasanah, tapi tidak berpengaruh pada legalitas Bid’ah Hasanah dalam Agama, ini bukan alasan mengingkari Bid’ah Hasanah, apalagi menjadikan sebagi alasan untuk membid’ahkan amalan-amalan yang tidak ada di masa para salafus sholeh, tapi ada dasar dari syara’ dan tidak menyalahi dalil-dali syar’i.

Kebesaran nama Imam Syafi’i tidak sanggup mereka tantang pernyataan sikap Imam Syafi’i secara langsung, tapi mereka mempermainkan pendapat Imam Syafi’i agar sesuai selera mereka dan cocok dengan kesalahpahaman mereka, mereka beralasan bahwa Bid’ah Hasanah yang dimaksud oleh Imam Syafi’i adalah Bid’ah Lughawi, untuk tetap bisa membid’ah-sesatkan amalan seperti Tahlilan, Yasinan, Maulidan dan sebagai nya.

Padahal alasan itu tidak ada hubungan dengan pembagian Bid’ah Hasanah dari Imam Syafi’i, karena sekalipun kita maksudkan dengan Bid’ah Lughawi, tetap saja yang dimaksud Bid’ah Hasanah oleh Imam Syafi’i adalah perkara baru dalam Agama yang tidak bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar, dan Ijma’, inilah yang perlu digarisbawahi, bahwa Bid’ah Hasanah adalah sesuatu yang baru (tidak ada di masa rasulullah dan para sahabat) tetapi tidak bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’, biarpun tidak ada dalil yang shorih. Wallahu a’lam.

Bukti Ibnu Taymiyah membagi Bid’ah menjadi 2 : Bid’ah hasanah dan bid’ah dlolalah (mengakui pendapat imam Syafii dan ijma ulama sunni)

Tanyakan Kpd Org2 Wahabi: Beranikah Kalian Menyesatkan Ibnu Taimiyah Yg Telah Membagi Bid’ah Kepada 2 Macam???

by AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT on Sunday, March 4, 2012 at 11:21pm ·

Kaum Wahabi mengatakan bahwa pembagian bid’ah kepada 2 bagian; bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah adalah pembagian batil (sesat), sementara Ibnu Taimiyah; “Imam tanpa tanding meraka”, mengatakan bahwa bid’ah terbagi kepada 2 bagian di atas. Dari sini anda katakan kepada orang-orang Wahabi itu; “Apakah kalian akan mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah sesat ahli bid’ah??? Terhadap para ulama Ahlussunnah; seperti Imam an-Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Imam al-‘Izz ibnu Abdissalam, dan lainya; kalian berani mengatakan bahwa mereka sesat karena membagi bid’ah kepada 2 bagian di atas??? Apakah kalian mengatakan Ibnu Taimiyah sesat karena telah membagi bid’ah kepada 2 baian; bid’ah hasanah, dan bid’ah sayyi’ah”???

Orang-orang Wahabi “mati kutu”….!!!!

Berikut ini adalah tulisan Ibnu Taimiyah dalam membagi bid’ah kepada 2 bagian tersebut dalam kitab karyanya berjudul “Muwafaqah Sharih al-MMa’qul Li Shahih al-Manqul”, silahkan dicek…..!!!

Kitab : “Muwafaqah Sharih al-MMa’qul Li Shahih al-Manqul”

Penulis : Ibnu taymiyah

Halaman : 144 – 145

Tarjamah :  ” Berkata Imam Syafi’i ra. : Bidah terbagi menjadi dua, (1) bidah yang menyalahi perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah dlolalah. (2)  sedangkan Bid’ah yang bidah yang tidak menyalahi (sesuai) dengan perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah hasanah.

Ibnu Katsir Vs Wahabi : Scan kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah “Riwayat Shahih Tawasul Sahabat dengan nabi setelah wafat Nabi”

Tawassul telah terbukti bahwa termasuk dalam Sunnah, bukan Bid’ah apa lagi di anggap Syirik, Salafi-Wahabi pun mengakuinya meski pun mereka masih malu, mereka masih membedakan dengan Istilah Tawassul Syar’i (Tawassul Masyru’) danTawassul bukan Syar’i (Tawassul Ghairu Masyru’), namun kesalahan mereka bukan dalam Istilah tersebut, tapi karena tidak mengaggap “Tawassul dengan Rasul dan para Sholihin setelah wafat” sebagai Tawassul Syar’i, dan bahaya nya mereka mengkafirkan Tawassul ini dan menganggap pelaku nya sebagai Kuburiyyun(penyembah kubur), dan bahkan masih ada dalam pengikut buta Wahabi yang justru masih mempermasalahkan perantara (Wasilah), dalam anggapan mereka harus berdoa langsung kepada Allah, tidak boleh pakai wasilah, karena wasilah itu dapat menjadi syirik, itulah sangkaan orang-orang yang tertipu oleh cara istidlal Salafi Wahabi yang tidak konsisten.

Ini Bukti Tawassul di masa Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah- Jilid 1- Halaman 91 sebagai berikut :

وقال الحافظ أبو بكر البيهقي : أخبرنا أبو نصر بن قتادة وأبو بكر الفارسي قالا : حدثنا أبو عمر بن مطر حدثنا إبراهيم بن علي الذهلي حدثنا يحيى بن يحيى حدثنا أبو معاوية عن الأعمش عن أبي صالح عن مالك قال : أصاب الناس قحط في زمن عمر بن الخطاب فجاء رجل إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله استسق الله لأمتك فإنهم قد هلكوا ، فأتاه رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال : ائت عمر فأقرئه مني السلام وأخبرهم أنهم مسقون ، وقل له : عليك بالكيس الكيس. فأتى الرجل فأخبر عمر ، فقال : يارب ! ما آلو إلا ما عجزت عنه . وهذا إسناد صحيح .

Telah berkata al-Hafidz Abu Bakar al-Baihaqqi: Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Nasr ibnu Qatadah dan Abu Bakar al-Farisi, berkata kedua nya: Telah menceritakan kepada kami Abu Umar ibn Mathar, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibn ‘ali al-Zuhli, telah menceritakan kepada kami Yahya Ibn Yahya, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah dari pada al-A’mash, dari pada Abu Sholeh dari pada Malik, beliau berkata :
“Pada zaman kekhalifahan Umar ibnu Khattab, manusia ditimpa kemarau yang panjang, Maka seorang lelaki pergi ke kubur Rasulullah lalu berkata : “Wahai Rasulullah! Mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada umatmu kerana mereka semua telah menderita”. Maka Rasulullah datang dalam tidurnya dan bersabda: “Pergilah bertemu Umar dan sampaikan salamku kepadanya, Khabarkanlah kepadanya bahwa mereka semua akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya Hendaklah kamu bersungguh-sungguh dan bijaksana (dalam mengurusi umat)”. Maka lelaki tersebut menemui umar dan menceritakan kepadanya tentang hal tersebut. Lalu Umar berkata : Wahai Tuhanku! Aku tidak melengah-lengahkan urusan umat kecuali apa yang tidak terdaya aku lakukannya” . Sanad riwayat ini Shohih. [kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah- Jilid 1- Halaman 91].

Perhatikan scan kitab di bawah ini :


Tidak ada alasan bagi Wahabi mengingkari riwayat ini kecuali dengan tuduhan hadits Dho’if atau Palsu, dan mereka lebih senang menuduh Quburiyyun dan Syirik kepada pelaku Tawassul dari pada mengakui nya, seharus nya mereka mengakui riwayat ini sekalipun tidak mau melakukan nya karena dalam anggapan mereka ini riwayat Dho’if, sesungguhnya menghukumi sesat terhadap orang lain karena amalan dalam riwayat dho’if lebih bahaya dari pada beramal dengan hadits dho’if, karena dho’if itu menurut perasaan mereka, sementara ulama besar seperti Ibnu Katsir dan Imam Baihaqqi dalam masalah ini dan juga imam-imam lain nya, sangat jelas berkata bahwa riwayat ini Shohih, ini juga membuktikan bahwa ulama sepakat bahwa Tawassul dengan Rasulullah setelah beliau wafat adalah Tawassul yang disyari’atkan (Tawassul Masyru’), bukan perkara syirik apalagi menuduh pelaku dengan tuduhan penyembah kubur nabi.

Semoga kita selamat dari fitnah Salafi Wahabi

Ibnu Katsir Vs Wahabi : Makna “Yadullah” Dalam Tafsir Ibnu Katsir

Makna “Yadullah” Dalam Tafsir Ibnu Katsir

Salah satu kesesatan Tauhid Salafi Wahabi adalah menetapkan tangan [anggota badan] bagi Allah, akibat salah paham terhadap hakikat Manhaj Salaf tentang Asma’ wa Sifat, mereka tersesat dalam pemahaman mereka sendiri, di satu sisi mereka seakan ingin tetap atas pendirian mereka bahwa “yadullah” itu atas makna dhohirnya yaitu “tangan Allah” akan tetapi di sisi lain mereka terlihat ragu dan ingin berlari dari pendirian mereka dengan sedikit menta’wil nya dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, tapi mereka sangat anti dengan Ta’wil, sehingga sampailah mereka pada kesimpulan bahwa “yadullah” adalah tangan [anggota tubuh] tapi dengan bentuk atau kaifiyat yang layak dengan Allah, sementara makna “yadullah” yang layak dengan keagungan Allah menurut akidah Ahlus Sunnah waljama’ah adalah bukan tangan dalam artian anggota tubuh sebagaimana di pahami dari makna dhohir, makna dhohir nya yaitu “tangan” justru tidak pantas dinisbahkan kepada Allah, oleh karena demikian lahirlah dua metode Ahlus Sunnah dalam memahami ayat dan hadits sifat, yakni menetapkan lafadh nya sebagaimana datang nya tanpa menentukan makna nya dan menyerahkan maksud nya kepada Allah, hanya Allah yang tahu dengan maksud sebenarnya, dan satu metode lagi yakni menta’wil nya dengan makna yang layak dan pantas bagi Allah, salah satu bukti bahwa tidak boleh mentafsirnya dengan makna dhohir lughat adalah, Ibnu Katsir dalam tafsir beliau menta’wil “yadullah” dengan makna yang layak bagi Allah sesuai dengan indikasi dan qarinah yang terdapat dalam ayat

Coba buka dalam surat al-Fath, ayat 10, lihat pada scan kitab di bawah ini :

Perhatikan pada teks berikut :

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ أَيْ هُوَ حَاضِرٌ مَعَهُمْ يَسْمَعُ أَقْوَالَهُمْ وَيَرَى مَكَانَهُمْ وَيَعْلَمُ ضَمَائِرَهُمْ وظواهرهم

“yadd Allah di atas tangan-tangan mereka artinya Allah hadir bersama mereka, Allah mendengar perkataan-perkataan mereka, dan Allah melihat tempat mereka, dan Allah mengetahui batin merekadan dhohir mereka”

Begitu gamblang dan jelas, bahwa seorang Ibnu Katsir tidak menyatakan Allah punya tangan, tetapi ayat yang dhohirnya bermakna tangan, beliau ta’wil dengan makna yang layak bagi Allah, Ibnu Katsir dalam ayat ini menta’wil “yadullah” dengan makna kehadiran Allah, tapi bukan dalam artian kehadiran yang harfiyah atau hissi, tapi kehadiran Allah artinya Allah mendengar perkataan-perkataan mereka, dan Allah melihat tempat mereka, dan Allah mengetahui batin mereka dan dhohir mereka, inilah metode Ahlus Sunnah dalam menyikapi nash-nash mutasyabihat, tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, kecuali mereka ingin berlari dari pintu hidayah yang telah terbuka lebar di hadapan mereka dengan beralasan bahwa Ibnu Katsir salah memahami ayat di sini dan Ibnu Katsir terpeleset dalam akidah tentang “yadullah”. [hadanallah wa iyyakum ajma’in]

 

Dan coba buka lagi Tafsir Ibnu Katsir surat al-Maidah ayat 64, lihat scan kitab nya berikut ini :

Perhatikan pada teks berikut :

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ } أيبل هو الواسع الفضل، الجزيل العطاء

“(tetapi Yadd-Nya terbuka, Allah memberi bagaimana yang Dia kehendaki) artinya tetapi Allah yangmaha luas karunia lagi yang maha banyak pemberian”

Sangat jelas kesesatan akidah Salafi Wahabi yang menetapkan bagi Allah ada dua tangan dengan berdalil atas kesalah-pahaman mereka memahami ayat ini, dan sangat terang benderang pula salah kaprah Salafi Wahabi yang sangat anti dan bahkan sangat mencela Ta’wil secara mutlak, karena nyatanya seorang Ibnu Katsir yang diakui keilmuan beliau dalam bidang tafsir Al-Quran oleh para Ulama Ahlus Sunnah, beliau menta’wil “yadullah” dengan makna karunia dan pemberian (al-Fadhli dan al-‘Atha’), Ibnu Katsir mentafsirkan “yadahu” dengan makna  “al-Fadhli dan al-‘Atha’, sementara Salafi Wahabi memaknainya dengan “dua tangan”. Dan Ibnu Katsir mentafsirkan “mabsuthatan” dengan makna “al-Wasi’ dan al-Jazil” sementara Salafi Wahabi memaknainya dengan “terbuka kedua nya”.

Maka nampak dengan jelas di sini siapa yang mentafsirkan Al-Quran dengan ilmu dan siapa yang mentafsirkan Al-Quran dengan nafsu belaka, dan sampailah kita pada kesimpulan bahwa akidah Ibnu Katsir dan semua Ahlus Sunnah Waljama’ah Salaf dan Khalaf, Asy’ariyah dan Maturidiyah, Ulama Sufi dan Ulama Fiqih, adalah Allah tidak memiliki tangan [anggota tubuh], sementara kata “yadullah” yang disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah bukan bermakna “tangan” tetapi dita’wilkan dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, atau ditafwidhkan makna nya kepada Allah yang maha tahu dengan maksud nya .

Dan seandainya makna dhohir yang dipahami dari lughat bukan masalah besar dalam akidah, yang dapat mengkufurkan orang nya karena telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, tentu saja para Ulama Ahlus Sunnah tidak menyetujui Tafwidh, apalagi Ta’wil, justru metode Tafwidh dan Ta’wil itu ada karena tidak boleh nya memaknai dengan makna dhohir yang dipahami dari makna lughat, karena pada diri makna dhohir tersebut telah terdapat Tasybih [menyerupakan Allah dengan makhluk] dan Tasybih tersebut tidak akan hilang mesti dengan membedakan kaifiyat nya, karena Tasybih yang ada pada makna dhohir bukan Tasybih kaifiyat nya.

Wallahul muwaffiq.

Dusta Salafi Di Balik Nama Wahabi – Wahabi sebenarnya difatwa sesat oleh mufti 4 madzab sunni

 

Cerita ini adalah fiktif belaka dan tidak lebih dari hanya sebuah dongeng semata, tapi aneh nya dongengini bukan saja di sukai oleh anak-anak, tapi justru sangat popular dan di sukai oleh Ustadz atau Syekh Salafi-Wahabi, Cuma saja dongeng ini beredar dengan beragam judul, dikalangan Salafi-Wahabi lebih sering didongengkan dengan judul “Siapakah Wahabi Sesungguhnya” dan “Inilah Wahabi Sesungguhnya” dan bahkan karena terlalu terbawa dan percaya dengan dongeng ini, tanpa mencari tau kebenaran nya, sebagian orang menyangka cerita fiktif tersebut adalah sebuah kenyataan, meskipun tidak bisa membuktikan kebenaran cerita nya, karena kebiasaan para pengikut mereka yang hanya bisa membaca tapi tidak mencari fakta, hanya bisa mendengar tak bisa berkomentar, sehingga dongeng tersebut terus disebarkan oleh orang-orang yang tidak punya malu dan tanggung jawab (semoga Allah membalas nya dengan balasan yang setimpal).

Dongeng Wahhabi Rustumi tersebut menceritakan tentang ajaran seorang yang bernama Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum [208 H/823 M] atau konon disebut dengan nama Wahhabi, dan di akhir cerita di vonis sesat oleh seorang Ulama bernama Al-Lakhmi atau nama lengkap Ali bin Muhammad Al-Lakhmi [478 H/1085 M], adapun bila ada kesamaan nama atau sebutan dalam dongen tersebut hanyalah sebuah kebetulan atau memang ada misi dibalik nama-nama tersebut, namun nama-nama dan sebutan dalam dongeng ini tidak ada hubungan dengan Salafi-Wahabi dengan bermacam varian nya, yang juga difatwakan sesat oleh Ulama Ahlus Sunnah Waljama’ah seluruh dunia, karena Wahabi yang difatwakan sesat oleh Ulama Ahlus Sunnah sedunia adalah ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi[1206 H/1791M], sekali lagi bahwa Wahabi dalam dongeng tersebut tidak ada hubungan apa pun dengan Wahabi yang beredar disekeliling kita sekarang ini atau yang sering menyebut diri nya Salafi, meri kita ikuti dongeng ini sampai akhir, agar generasi kita tidak termakan oleh sebuah dongeng atau cerita yang tidak bisa dibuktikan kebenaran nya (semoga Allah menjaga kita semua dari fitnah Agama ini).

DONGENG USTADZ SALAFI TENTANG WAHHABI RUSTUMI

Begini Cerita nya !  Dongeng ini kami copas dari situs dan blog Syekh Salafi-Wahabi, tapi ingat ini hanya sebuah dongeng ! harap baca sampai tuntas, agar tidak salah paham

(awal dongeng)– Cerita ini berawal dari dialog antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen di satu Universitas Islam di Maroko (tidak jelas Universitasnya).

Salah seorang Dosen itu berkata: ”Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya,dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”

Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: ”Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.

Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di Universitas ini terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya .Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”

Dosen itu berkata : ”saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.

Asy Syaikh berkata : ”saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.”

Dosen itu pun berkata :”baiklah kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah Firqoh yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi ’yar yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun membangun sebuah masjid,”Bolehkan kita Sholat di Masiid yang dibangun oleh orang-orang wahabi itu ??” maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab: ”Firqoh Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu ’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin ”.

Dosen itu berkata lagi :”Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini,”

Kemudian Asy Syaikh menjawab : ”Tunggu dulu..!! kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu !”

Dosen itu berkata: ”anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya ??”

Asy Syaikh menjawab:”dari sampul luarnya saja.”

Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar,yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H dikotaFas, di Maroko.”

Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya:”wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al- Lakhmi??”

Dosen itu berkata:”Ya,”kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Didalam kitab tersebut terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.

Kemudian Asy Syaikh berkata : ”Kapan beliau wafat?”

Yang membaca kitab menjawab: ”beliau wafat pada tahun 478 H”

Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi: ”wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi ” kemudian ditulis.

Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : ”Wahai para masyaikh….!!! Saya ingin bertanya kepada antum semua …!!! Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir) ???? kecuali kalau dapat wahyu????”

Mereka semua menjawab :”Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda !”

Asy syaikh berkata lagi : ”bukankah wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab????

Mereka berkata : ”Siapa lagi???”

Asy Syaikh berkata:”Coba tolong perhatikan..!!! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, …

Nah,ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab belum lahir..bahkan sampai 22 generasi keatas dari beliau sama belum yang lahir..apalagi berdakwah..

KAIF ??? GIMANA INI???

(Merekapun terdiam beberapa saat..)

Kemudian mereka berkata:”Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ??” mohon dielaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya !”

Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang : ”Apakah anda memiliki kitab Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang kebangsaan Francis ?”

Dosen itu berkata:”Ya ini ada,”

Asy Syaikh pun berkata :”Coba tolong buka di huruf “ wau” ..maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “ Wahabiyyah”

Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqoh wahabiyyah itu.

Dosen itu pun membacakannya: ”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al- Abadhi, Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H dikotaThorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.

Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata : ”Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulamaAndalusiadan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun Dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah-, maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul. (akhir dongeng)

Itulah dongeng lengkap yang sering diceritakan oleh para Syekh Salafi-Wahabi kepada pengikut setia mereka, hati-hati jangan terjebak oleh dongeng ini …..!!!

BENARKAH CERITA ITU DONGENG ?

Dalam dongeng itu menceritakan bahwa ajaran Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum bernama Wahhabiyahnisbah kepada nama Abdul Wahhab, ternyata ajaran yang disebarkan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum itu bukan Wahhabiyyah ( الوهابيه ) tapi Wahbiyyah ( الوهبية ), lalu kenapa juga ajaran nya disebut Wahbiyyah? apakah Wahbiyyah itu nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum ? nah tentu saja bukan karena ajaran Wahbiyyah tersebut adalah nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi (38 H) [عبد الله بن وهب الراسبي] [Lihat Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya- halaman 145], lalu pecah kepada beberapa firqah, nah firqah nya Abdul wahhab bin Abdirrahman bin Rustum di sebut Wahbiyyah Rustumiyyah (bukan Wahhabiyyah Rustumiyyah), bahkan dalam kitab yang tersebut di atas sangat jelas bahwa Al-Lakhmi di tanyakan tentang kaum Wahbiyyah, bukan tentangWahhabiyyah, tetapi dalam dongeng disebutkan bahwa Al-Lakhmi ditanyakan tentang Wahhabiyyah, ini jelas-jelas tipuan dan pembodohan, simak penjelasan berikut ini :

Dalam kitab Tarikh Ibnu Khaldun juzuk II halaman 98, beliau berkata :
وكان يزيد قد أذل الخوارج ومهد البلاد فكانت ساكنة أيام روح ورغب في موادعة عبد الوهاب بن رستم وكان من الوهبية فوادعه

Perhatikan dari teks di atas : (ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻫﺒﻴﺔ)
dan adalah Abdul Wahhab bin Rustum sebagian dari “Wahbiyyah”

Maksudnya, Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum adalah pengikut Wahbiyyah bukan Wahhabiyyah, dan juga bukan pendiri Wahbiyyah sehingga ada anggapan bahwa ajaran nya bernama Wahhabiyyah nisbah kepada nama nya Abdul Wahhab, sunnguh anggapan yang sangat keliru, perbedaan antara Wahbiyyah dan Wahhabiyyahbagaikan langit dan bumi, baik dari penulisan atau bacaan nya, atau pun pada nisbah dan ajaran nya, tapi kemiripan penulisan tulisan dan bacaan nya membantu para Syekh Salafi-Wahabi untuk menipu para simpatisan mereka, maka tertipulah orang-orang yang hanya bisa melihat tapi tak mau berpikir. (na’uzubillah)

Bahkan dalam Al-Mi’yaar al-Mu’rib wa al-Jaami’ al-Mughrib ‘an Fataawaa Ifriiqiyyah wa al-Andalus wa al-Maghrib juzuk 11 halaman 168 di tulis oleh Ahmad bin Yahya Al-Wansyarisi (sebagaimana rujukan dalam dongeng di atas)

وسئل اللخمي عن قوم من الوهبية سكنوا بين أظهر أهل السنة زمانا وأظهروا الآن مذهبهم وبنوا مسجدا ويجتمعون فيه ويظهرون مذهبهم في بلد فيه مسجد مبني لأهل السنة زمانا ، وأظهروا أنه مذهبهم وبنوا مسجدا يجتمعون فيه ويأتي الغرباء من كل جهة كالخمسين والستين ، ويقيمون عندهم ، ويعملون لهم بالضيافات ، وينفردون بالأعياد بوضع قريب من أهل السنة . فهل لمن بسط الله يده في الأرض الإنكار عليهم ، وضربهم وسجنهم حتى يتوبوا من ذلك ؟

Perhatikan dari teks di atas : (ﻭﺳﺌﻞ ﺍﻟﻠﺨﻤﻲ ﻋﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻫﺒﻴﺔ)
“Dan Al-Lakhmi ditanyakan tentang satu kaum dari Wahbiyyah

Maksudnya, Imam Al-Lakhmi ditanyakan tentang satu firqah dari Wahbiyyah, sementara dalam dongeng di atas disebutkan Al-Lakhmi ditanyakan tentang firqah Wahhabiyyah, sangat jelas ini tipuan belaka, Wahhabiyyah dalam penulisan bahasa Arab ber-tasydid pada (Ha) dan ada (Alif) di depan (Ha), sementara Wahbiyyah tulisan nya tidak ber-tasydid pada (Ha) dan tidak ada (Alif) di depan (Ha), maka fatwa Al-Lakhmi bukan tentang faham Wahhabiyyah, tapi tentang firqah Wahbiyyah, dan tidak ada hubungan antara Wahhabiyyah dan Wahbiyyah Rustumiyyah abadhiyyah.

Dan dalam buku seorang sejarawan asal  Prancis, sebagaimana rujukan dalam dongeng itu pula, yaitu Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil [1364 H/1945 M], lihatlah penyimpangan cerita itu dengan apa yang tersebut dalam buku rujukan nya, ini tulisan Al-Faradbil dalam buku nya :

وقد سموا أيضا الوهبيين نسبة إلى عبد الله بن وهب الراسبي ، زعيم الخوارج

“Dan sungguh mereka dinamakan Wahbiyyin (الوهبيين) karena dinisbahkan kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi, yang di tuduh sebagai Khawarij” [Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya- halaman 145].

Ternyata dalam buku Al-Faradbil juga tertulis Wahbiyyin, bukan Wahhabiyyin, dan dengan sharih disebutkan nisbah nya, Wahbiyyah atau Wahhbiyyin bukan nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustumsebagaimana dalam dongeng di atas, akan tetapi Wahbiyyah itu nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi.

Semakin terang benderang upaya makar para syekh Salafi-Wahabi hendak memutar balikkan fakta, sungguh tipuan yang hampir sempurna, banyak trik yang telah mereka susupi dalam kitab, buku, situs dan blog mereka, dan para pengikut mereka tidak pernah mempertanyakan atau membuktikan kebenaran nya, sikap para pengikut mereka yang hanya bisa taqlid buta, semakin mendukung para syekh akan terus mempertahankan taktik ini, (semoga membuka mata para pecinta dongeng itu).

Dan perhatikan nama-nama kitab Wahbiyyah berikut ini :

كتـاب ( تلخيص عقائد الوَهْبِيَّة في نكتة توحيد خالق البرية ) * للشيخ إبراهيم بن بيحمان اليسجني من علماء وادي مِيزَاب بالجزائر ( ت : 1232هـ / 1817م

كتاب ( العقيدة الوَهْبِيَّة ) * للشيخ أبي مسلم ناصر بن سالم البَهْلانِي من علماء عُمَان ( ت : 1339هـ / 1920م

كتاب ( دفع شبه الباطل عن الإباضية الوَهْبِيَّة المحقة ) * للشيخ أبي اليقظان إبراهيم من علماء وادي مِيزَاب بالجزائر ( ت : 1393هـ / 1973م

Perhatikan, ini pengakuan dan pernyataan dari mereka sendiri bahwa faham mereka bernama “Wahbiyyah-الوَهْبِيَّة” bukan Wahhabiyyah, semua mata pun bisa melihat dengan sangat jelas, hanya hati yang ingkar yang masih mempertahankan cerita yang tidak bisa dibuktikan kebenaran nya, ketika cerita atau sejarah sudah tidak lagi sesuai dengan fakta, maka pantaslah cerita itu masuk dalam kategori Dongeng, silahkan saja bercerita, tapi bukan untuk di percaya, tapi seharusnya seorang Ustadz tidak mengelabui murid-murid nya dengan cerita dusta, apalagi setingkat Ustadz lulusan luar negeri, sungguh sangat disayangkan. (semoga allah membuka mata mereka)

WAHHABI ADALAH NAMA AJARAN SYEKH MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB AT-TAMIMI AN-NAJDI

berikut bukti pengakuan dari Syaikh Wahabi yakni Ibnu Baz dalam kitab Fatawa Nur ‘ala al-darb pada soal yang ke 6 sebagai berikut :
س 6 – يقول السائل: فضيلة الشيخ، يسمي بعض الناس عندنا العلماء في المملكة العربية السعودية بالوهابية فهل ترضون بهذه التسمية؟ وما هو الرد على من يسميكم بهذا الاسم؟
“Soal ke 6 – Seseorang bertanya kepada Syaikh : Sebagian manusia menamakan Ulama-Ulama di Arab Saudi dengan nama Wahabi [Wahabiyyah], adakah antum ridho dengan nama tersebut ? dan apa jawaban untuk mereka yang menamakan antum dengan nama tersebut ?”
Syaikh Ibnu Baz menjawab sebagai berikut :
الجواب: هذا لقب مشهور لعلماء التوحيد علماء نجد ينسبونهم إلى الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمة الله عليه
“Jawab : Penamaan tersebut masyhur untuk Ulama Tauhid yakni Ulama Nejed [Najd], mereka menisbahkan para Ulama tersebut kepada Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab.
dan bahkan Ibnu Baz memuji nama tersebut, ia berkata :
فهو لقب شريف عظيم
“Dianya (Wahhabiyah) adalah panggilan yang sangat mulia dan sangat agung”.

Sungguh pengakuan yang sangat jujur yang seharusnya dimiliki oleh semua Syekh Salafi-Wahabi, kenapa harus main curang kalau memang yakin dengan kebenaran dakwah Wahabi ? lagi pula kebenaran dan kesesatan bukan pada sebuah nama atau julukan, justru kebohongan yang semakin lama semakin banyak Nampak ke permukaan, akan membuat para penggemar Salafi-Wahabi kecewa, ketika mereka tau ternyata Wahabi bukan bermanhaj Salaf.

KESALAHAN SYEKH WAHABI DALAM DONGEN INI

  1. Menghubungkan Fatwa tentang firqah Wahbiyyah dengan firqah Wahhabiyyah.
  2. Menghilangkan atau menganggap sama Wahbiyyah dengan Wahhabiyyah.
  3. Cerita nya tidak sesuai dengan apa yang ada dalam kitab atau buku rujukan yang tersebut dalam cerita itu.
  4. Menceritakan bahwa Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum adalah pendiri Wahbiyyah, agar sesuai dengan tujuan cerita.
  5. Ternyata tidak ada ajaran bernama Wahhabi pada masa daulah Rustumiyyah.
  6. Wahbiyyah ternyata nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi.
  7. Main curang untuk membela paham Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab At-Tamimi.

MISI DIBALIK DONGENG INI

Siapa pun bisa menebak apa misi di balik trik ini, trik yang sudah terlalu sering digunakan oleh para Syekh Wahhabi Saudi, walaupun trik ini kelihatan sangat super bodoh tapi tetap mereka pertahankan, karena sangat efektif mempengaruhi orang bodoh (awam), ideologi bodoh itu sangat ilmiah dan masuk akal di kalangan orang bodoh, tapi orang yang berpendidikan pasti bisa melihat apa maksudnya dongeng itu ? dia pasti bisa merasakan ada sesuatu di balik cerita yang tidak ada manfaat itu, dan bahkan sangat jelas dalam dongeng itu pun telah adapembelaan terhadap ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab, kemiripan sebuah nama, mereka gunakan untuk menutupi kesesatan ajaran mereka, agar orang buta bertambah gelap dalam kebutaan nya, dan menyangka itulah Wahhabi sesungguhnya yang difatwakan sesat oleh ulama Ahlus Sunnah, dan ajaran sesat Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab pun terlepas dengan hanya sebuah dongeng belaka (na’uzubillah min dzalik).

KESIMPULAN

  • Firqah yang difatwakan sesat oleh Al-Lakhmi dalam dongeng adalah ajaran yang dinisbahkan kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum yang bernama Wahhabiyyah, tapi kenyataan nya dalam rujukan kitab itu, bukan bernama Wahhabiyyah tapi Wahbiyyah.
  • Wahbiyyah bukan nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum, tapi nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi.
  • Wahbiyyah dan Wahhabiyyah adalah dua nama untuk dua ajaran yang berbeda dan masa berbeda.
  • Wahhabi atau Wahhabiyyah yang telah difatwakan sesat oleh Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah semua Madzhab, sejak kemunculan nya sampai sekarang adalah ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi, dan tidak ada hubungan dengan fatwa Al-Lakhmi.
  • Ada misi di balik dongeng tersebut, mereka ingin membela ajaran Syekh mereka dengan cara berdusta dan membodohi para pengikut setia mereka, dan mengalihkan semua Fatwa Ulama hlus Sunnah Waljama’ah kepada ajaran lain yang hampir serupa nama nya dalam penulisan dan bacaan nya.
  • Fatwa Ulama Ahlus Sunnah seluruh Madzhab, ditujukan kepada ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab An-Najdi, yakni ajaran Salafi-Wahabi.
  • Wahabi dalam dongeng tersebut tidak ada hubungan dengan Salafi-Wahabi, bukan sebagai bukti sesat nya atau tidak sesat nya.
  • Wahhabi yang sesungguhnya hanya ada satu yakni ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi, karena ajaran Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum tidak pernah dinamakan dengan nama Wahhabi kecuali hanya dalam dongeng itu saja.
  • Hati-hati membaca dongeng, jangan sampai anda termakan dan menjadi korban sebuah dongeng, apalagi dongeng dalam masalah Agama.

Semoga tulisan ini menjadi ilmu bagi penulis dan pembaca semua, dan juga kepada siapa pun yang pernah termakan oleh dongeng itu, Wallahul muwaffiq ila aqwamut thoriq, amiin…