Kisah Nabi Yusya Bin Nun ‘alahi salam bersama bani Israel

Matahari Ditahan Terbenam Untuk Nabi Yusya’ Bin Nun “alahi salam

MediaMuslim.Info  – Nabi Musa ‘alaihis salam memiliki seorang murid yang menemaninya mencari Ilmu. Dia adalah Yusya’ Bin Nun, dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan hikmah kenabian dan mukjizat yang nyata kepadanya. Setelah Nabi Musa ‘alaihis salam wafat, Nabi Yusya’ bin Nun ‘alaihis salam membawa Bani Israil ke luar dari padang pasir. Mereka berjalan hingga menyeberangi sungai Yordania dan akhirnya sampai di kota Jerica.

Kota Jerica adalah sebuah kota yang mempunyai pagar dan pintu gerbang yang kuat. Bangunan-bangunan di dalamnya tinggi-tinggi serta berpenduduk padat. Nabi Yusya’ dan Bani Israil yang bersamanya, mengepung kota tersebut sampai enam bulan lamanya.

Suatu hari, mereka bersepakat untuk menyerbu ke dalam. Diiringi dengan suara terompet dan pekikan takbir, dan dengan satu semangat yang kuat, mereka pun berhasil menghancurkan pagar pembatas kota, kemudian memasukinya. Di situ mereka mengambil harta rampasan dan membunuh dua belas ribu pria dan wanita. Mereka juga memerangi sejumlah raja yang berkuasa. Mereka berhasil mengalahkan sebelas raja dan raja-raja yang berkuasa di Syam. Hari itu hari Jum’at, peperangan belum juga usai, sementara matahari sudah hampir terbenam. Berarti hari Jum’at akan berlalu, dan hari Sabtu akan tiba.

Padahal, menurut syari’at pada saat itu, pada Sabtu dilarang melakukan peperangan. Oleh karena itu Nabi Yusya’ bin Nun berkata: “Wahai matahari, sesungguhnya engkau hanya mengikuti perintah Alloh Subhanahu wa Ta’ala, begitu pula aku. Aku bersujud mengikuti perintahNya. Ya Alloh Subhanahu wa Ta’ala, tahanlah matahari itu untukku agar tidak terbenam dulu!”. Maka AllohSubhanahu wa Ta’ala  menahan matahari agar tidak terbenam sampai dia berhasil menaklukkan negeri ini dan memerintahkan bulan agar tidak menampakkan dirinya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata, bahwa Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya matahari itu tidak pernah tertahan tidak terbenam hanya karena seorang manusia kecuali untuk Yusya’. Yakni pada malam-malam dia berjalan ke Baitul Maqdis (untuk jihad).’” (HR: Ahmad dan sanad-nya sesuai dengan syarat Al-Bukhari).

Akhirnya Nabi Yusya’ dan kaumnya berhasil memerangi dan menguasai kota tersebut. Setelah itu Nabi Yusya’ bin Nun memerintahkan kaumnya untuk mengumpulkan harta rampasan perang untuk dibakar. Namun api tidak mau membakarnya. Lalu Beliau meminta sumpah kepada kaumnya. Dan akhirnya diketahui ternyata ada dari kaumnya yang berkhianat dengan menyembunyikan emas sebesar kepala sapi.

Akhirnya orang-orang yang berkhianat mengembalikan apa yang mereka curi dari harta rampasan perang itu. Kemudian dikumpulkan dengan harta rampasan perang lainnya. Barulah kemudian api mau membakarnya.

Demikian syariat yang dibawa oleh Nabi sebelum Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi Wa Sallam. Yaitu tidak boleh mengambil harta rampasan perang. Dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan Syariat Nya dengan memperbolehkan bagi Rasululloh Shollallahu ‘alaihi Wa Sallam untuk mengambil rampasan perang agar dapat diambil manfaat yang banyak dari harta rampasan perang itu.

Setelah Baitul Maqdis dapat dikuasai oleh Bani Israil, maka mereka hidup di dalamnya dan di antara mereka ada Nabi Yusya’ yang memerintah mereka dengan Kitab Alloh Subhanahu wa Ta’ala, Taurat, sampai akhir hayatnya. Dia kembali ke hadirat Alloh Subhanahu wa Ta’ala saat berumur seratus dua puluh tujuh tahun, dan masa hidupnya setelah wafatnya Nabi Musa  ‘alaihis salamadalah dua puluh tujuh tahun.

(Sumber Rujukan: Al Qur’anul Karim; Riyadhus Shalihin; Syarah Lum’atil I’tiqod)

http://kisahislam.wordpress.com/2007/05/21/matahari-ditahan-terbenam-untuk-nabi-yusya-bin-nun/

Bukti salafi/wahabi jihadi = antek israel : Wahabi jihadi disposori israel dan USA buka Kedubes Israel dan USA di Libia dan menghancurkan makam wali allah

 
Israel Akan Segera Membuka Kedutaan di Libya

Eramuslim.com | Media Islam Rujukan,Media Israel di Tel Aviv mengklaim telah melakukan pembicaraan dengan Dewan Transisi Libya dalam upaya untuk membangun hubungan dengan negara Muslim tersebut dan membuka kedutaan Israel di Tripoli.

Harian Israel Haaretz mengatakan, “bahwa pembukaan Kedutaan Besar Israel di Libya akan bekerjasama dengan Qatar”, yang Tel Aviv percaya untuk menjadi sekutu serta akan memfasilitasi pembukaan kedutaan Israel di sejumlah negara Arab.

Haaretz menyatakan bahwa calon Israel untuk memegang posisi Duta Besar akan segera mengunjungi Libya.

Sumber Inggris dikonfirmasi menyatakan bahwa ada pertemuan yang diadakan oleh sejumlah komunitas Yahudi Libya yang tinggal di Inggris, dipimpin oleh Rafael Luzon, dengan beberapa pejabat di pemerintah Inggris, serta pejabat dari Dewan Transisi Nasional Libya.

Media Israel mengungkapkan nama diplomat yang dinominasikan untuk posisi Duta Besar Israel pertama untuk Libya, adalah sosok warga Arab Druze, yang bernama Raslan Abu Rakoun, saat ini memegang jabatan Wakil Konsul Jenderal Israel di Amerika Atlanta. ”
Haaretz menambahkan, Rakoun akan mengunjungi Libya dalam waktu dekat, disertai dengan beberapa dokter Arab Israel sebagai “inisiatif medis” terhadap rakyat Libya.(fq/wb)

http://www.eramusl:m. com/berita-israel-akan-segera-membuka-kedutaan-di-libya.html

Libya’s Sufism being bulldozed to the ground

Libyan Islamist hardliners use a bulldozer to raze the mausoleum of Al-Shaab Al-Dahman near the center of Tripoli (AFP Photo / Mahmud Turkia)

Libyan Islamist hardliners use a bulldozer to raze the mausoleum of Al-Shaab Al-Dahman near the center of Tripoli (AFP Photo / Mahmud Turkia)

TAGS: ArmsConflictCrimeReligion,Human rightsLibya

Religious sectarian tensions are reaching record levels in post-Gaddafi Libya, with two Sufi religious sites attacked and destroyed in just two days by Salafi activists.

An armed group of people including government security personnel have bulldozed the Al-Shaab Al-Dahman mosque, containing many graves, in the center of Tripoli on Saturday over allegations that a Sufi Muslim sect has been engaging in “black magic”.

Libya’s government has condemned the attack and also voiced concern at the authorities’ involvement in the demolition.

“What is truly regrettable and suspicious is that some of those who took part in these destructive activities are supposed to be members of the security forces and from the revolutionaries,” the president of Libya’s newly-elected National Congress, Mohamed al-Magariaf, told reporters.

It is unclear how many security forces personnel were involved in the bulldozing. Authorities tried to stop the demolition, but after a small clash with the armed group, the police decided to cordon off the area while the destruction took place to prevent any violence erupting.

“A large number of armed militias carrying medium and heavy weapons arrived at the al-Sha’ab mosque with the intention of destroying the mosque because they believe graves are anti-Islamic,” an anonymous government official told Reuters.

Reuters also has information that the Interior Ministry allegedly gave the green light to the bulldozing “after discovering people had been worshipping the graves and practicing ‘black magic'”. 

Tripoli’s Al-Shaab Al-Dahman mosque contained around 50 Sufi graves, including the tombs of Libyan Sufi scholar Abdullah al-Sha’ab and of soldiers who fought Spanish colonialists.

Mohamed al-Magariaf called the Prime Minister to an emergency meeting on Sunday and slammed the Interior Minister Fawzi Abdel A’al for a general lack of security in the country. The attack on the mosque comes on the back of a similar incident in Zlitan and a double car bombing that killed two people in Tripoli a week ago.

The criticism did not go down well with the Interior Minister. In protest to the rebuke, he tendered his resignation.

AFP Photo / Mahmud Turkia
AFP Photo / Mahmud Turkia

Friday saw another attack on Sufi worship sites in the city of Zlitan. Ultra-conservative Islamists destroyed the tomb of a 15th-century Sufi scholar and set the Mosque’s library on fire.

The vandals bulldozed the grave of Abdel Salam al-Asmar and set a historic library in a neighboring mosque ablaze, according to witnesses. The structure’s dome collapsed and a minaret was pitted with holes.

“We are distraught at the destruction of this historical and spiritual place in Libya,” said Mohamed Salem, caretaker of the mosque.

Meanwhile, a Facebook page called “Together for the Removal of the Abdel Salam al-Asmar Shrine” praised supporters on the “successful removal of the Asmar shrine, the largest sign of idolatry in Libya.”

Following the ousting of Colonel Gaddafi, cultural clashes between followers of the mystical Sufi tradition and ultra-conservative Salafis have taken central stage in the new Libya.

Sufism is a mystical sect of Islam which includes dancing and building of shrines to venerated figures. Followers make pilgrimages to them.

As Libyan authorities struggle to control countless armed rings that refuse to surrender weapons following last year’s civil war, Salafis, who say Islam should return to the simple ways followed by Mohammed, have established a number of armed gangs in post-Gaddafi Libya. They view Sufi practices as idolatrous.

Since the start of the Arab Spring uprising across the region, a number of Sufi sites have been attacked in Egypt, Mali and Libya.

AFP Photo / Mahmud Turkia
AFP Photo / Mahmud Turkia
AFP Photo / Mahmud Turkia
AFP Photo / Mahmud Turkia

Sejarah qasidah burdah : Nabi memberi burdah (selendang) kepada shahabat nabi (Ka’ab bin Zuhair) yang membaca qasidah

Sejarah qasidah burdah : Nabi memberi burdah (selendang) kepada shahabat nabi (Ka’ab bin Zuhair) yang membaca qasidah

qasidah burdah al busyiri (chapter 1) by ahbab almustafa – yemen

qasidah burdah al busyiri (chapter 2) by ahbab almustafa – yemen

qasidah burdah al busyiri (chapter 5) by ahbab almustafa – yemen

Qasidah Burdah dikarang oleh Imam al-Busiri yang dilahirkan pada tahun 610 Hijrah (1213 Masehi) dan meninggal dunia pada tahun 695 Hijrah (1296 Masehi). Beliau telah diasuh oleh ayahandanya sendiri dalam mempelajari al-Quran dan ilmu pengetahuan yang lain. Untuk memperdalamkan lagi ilmu agama dan kesusasteraan Arab, Imam al-Busiri lalu berhijrah ke Kaherah. Di Kaherah, Imam al-Busiri menjadi seorang sasterawan dan penyair yang ulung. Kemahirannya didalam bidang syair mengatasi para penyair lain dizamannya. Karya-karya kaligrafinya juga terkenal dengan keindahannya. Gurunya yang paling utama ialah Abdul Abbas al-Mursi yang merupakan anak murid kepada pengasas tariqat Shazili iaitu Imam Abul Hasan as-Shazili.

 
Manuskrip burdah yang masih tersimpan

Qasidah Burdah mengandungi 160 bait yang ditulis dengan gaya bahasa atau uslub yang menarik, lembut dan elegan. Imam al-Busiri menterjemahkan kehidupan Nabi Muhammad saw kedalam bentuk bait-bait puisi yang sangat indah. Dengan bahasa yang sebegitu indah, Imam al-Busiri telah berhasil menanamkan kecintaan dan kasihnya umat Islam kepada Junjungan Besar Nabi Muhammad saw dengan lebih mendalam. Selain dari rasa kecintaan dan kasih yang mendalam terhadap Nabi saw, nilai-nilai sastera, sejarah dan moral turut terkandung dalam qasidah tersebut. Oleh itu, tidak hairanlah apabila qasidah ini sentiasa sahaja dibaca di institusi-institusi pengajian tradisional malah qasidah ini turut diajar di Universiti al-Azhar, Mesir.

Imam al-Busiri hidup dalam zaman transisi atau perpindahan kuasa dinasti Ayyubiyyah kepada dinastik Mamalik Bahriyah. Pada ketika itu, pergolakan politik semakin gawat, akhlak masyarakat merosot dan para pemerintah terlalu mengejar kemewahan. Maka dalam suasana serba kekalutan itu, muncullah Qasidah yang dikarang oleh Imam al-Busiri yang seakan-akan mengajak manusia kembali mencontohi kehdupan Nabi saw yang berasaskan uswatun hasanah yakni suri tauladan yang baik, mengawal hawa nafsu dan kembali kepada ajaran Islam yang sebenar yang berasaskan al-Quran dan Hadith.

Burdah yang menjadi tema utama dalam karya al-Busiri itu adalah merujuk kepada jubah yang dipakai oleh Nabi Muhammad saw. Burdah milik Nabi Muhammad saw ini telah diberikan kepada Ka’ab bin Zuhair bin Abi Salma, seorang penyair terkenal Muhadramin (penyair dua zaman iaitu Jahiliyyah dan Islam). Riwayat pemberian burdah oleh Rasulullah saw kepada Ka’ab bin Zuhair bermula apabila Ka’ab sentiasa menggubah syair yang mengejek-ejek Nabi saw dan para sahabat. Kerana rasa jiwanya terancam, ia lari bersembunyi untuk melindungi diri dari kemarahan para sahabat. Ketika terjadi penaklukan Makkah, saudara Ka’ab yang bernama Bujair bin Zuhair mengutus surat kepadanya yang isinya antara lain menganjurkan Ka’ab agar pulang bertaubat dan berjumpa Rasulullah saw.

Setelah memahami isi surat itu, Ka’ab pun pulang ke rumah dan bertaubat. Ka’ab lalu berangkat menuju ke Madinah. Menerusi Abu Bakar as-Siddiq, Ka’ab menyerahkan diri kepada Rasulullah saw. Ka’ab mendapat penghormatan yang tinggi dari Rasulullah saw sehinggalah baginda melepaskan burdahnya dan diberikan kepada Ka’ab. Ka’ab kemudiannya menggubah sebuah qasidah yang dikenali dengan nama Qasidah Burdah. Qasidah ini ditulis dengan indah oleh seorang ahli kaligrafi, Hasyim Muhammad al-Baghdadi didalam kitab kaligrafinya yang berjudul Qawaid al-Khat al-Arabi. Burdah yang diberikan oleh Rasulullah saw kepada Ka’ab kemudiannya menjadi milik keluarga Ka’ab sehinggalah ia dibeli oleh Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan dengan harga dua puluh ribu dirham. Burdah itu kemudiannya dibeli pula oleh Khalifah Abu Ja’far al-Mansur dari dinasti Abbasiyyah dengan harga empat puluh ribu dirham. Burdah itu seterusnya dipakai pada setiap kali solat hari raya oleh khalifah dan kemudiannya menjadi tradisi turun-temurun.

 
Manuskrip qasidah burdah yang ditulis tangan

Diringkaskan sehingga bagaimana Qasida Burdah ini menjadi terkenal bermula apabila Imam al-Busiri tiba-tiba jatuh sakit dan diserang penyakit Syalal (lumpuh). Mengikut catatan ahli tarikh, beliau lumpuh separuh badan. Tabib-tabib yang terkemuka gagal mengubat penyakitnya. Dalam keadaan kesakitan dan tidak berdaya, Imam al-Busiri mengarang qasidah yang berkaitan dengan Nabi Muhammad saw. Qasidah-qasidah ini disusun dengan begitu indah dan diulang-ulang oleh Imam al-Busiri. Kemuncaknya,pada satu malam ketika Imam al-Busiri tertidur, beliau bermimpi melagukan qasidah-qasidah yang dikarangnya di hadapan Baginda Rasulullah saw sendiri. Rasulullah saw dalam mimpi tersebut begitu gembira dan menyukai qasidah tersebut, lantas baginda mengusap muka Imam al-Busiri dengan kedua-dua tangan baginda yang mulia. Rasulullah saw turut menyentuh bahagian tubuh Imam al-Busiri yang lumpuh dan memakaikan Imam al-Busiri dengan burdah baginda.

Sebaik sahaja tersedar dari mimpi tersebut, Imam al-Busiri mendapati beliau tidak lagi lumpuh! Imam al-Busiri dengan segera keluar dari tempatnya untuk menceritakan kisahnya kepada orang lain. Beliau bertembung dengan seorang pemuda yang bertanya kepadanya, “Syeikh, bawakan kepadaku qasidah-qasidah yang telah kau karang tentang Nabi SAW.” Terkejut dengan permintaan pemuda tersebut, Imam al-Busiri bertanya, “Dimanakah anda mengetahui tentang qasidah yang kukarang? Aku tidak pernah menceritakannya mahupun melagukannya kepada sesiapapun!!” Jawab pemuda tersebut,

“Aku bermimpi malam tadi bahawa Nabi SAW didendangkan dengan qasidah-qasidah yang cukup indah yang memuji baginda. Aku lihat baginda begitu gembira dan menyukai qasidah tersebut dan memakaikan pakaian baginda (burdah) kepada orang yang melagukan qasidah tersebut…Dan aku melihatmu dalam mimpiku!”

Sejak saat tersebut, Qasidah Burdah yang dikarang oleh Imam al-Busiri menjadi masyhur. Anak-anak Islam pada zaman silam diajarkan tentangnya dan menjadi nasyid harian. Malahan ramai di antara ‘ulama Islam seperti Ibnu Hajar Haithami yang menganggap harus untuk mempelajari qasidah ini bagi penuntut-penuntut ilmu Islam bagi memupuk kecintaan terhadap baginda Rasulullah SAW. Selain dari Qasidah Burdah, sebuah lagi qasidah yang sangat terkenal yang dikarang oleh Imam al-Busiri ialah Qsidah Mudariyya.

Bukti (scan kitab) Pemalsuan Kitab Minhajussunnah annabawiyah (Ibnu Taymiyah) yang menafikan arah bagi Allah

Lenyapnya Teks Ibnu Taymiyyah Yang Menafikan Arah Bagi Allah

TIDAK HANYA AL-ASY’ARI, TEKS IBN TAIMIYYAH PUN LENYAP

Semoga kesalahan ini hanya kesalahan dipercetakan, bukan unsur kesengajaan. Dan semoga bermanfaat bagi ikhwah Salafi maupun ikhwah sarungan/tradisional dapat mengambil manfaat. Dan selalu memunculkan sikap kritis dan teliti dalam membaca Karya Para Ulama. Di bagian akhir catatan ini dicantumkan munaqasyah dengan perkataan Imam Abu Khanifah, Imam Sufyan Ibn ‘Uyainah, Imam Hammad Ibn Zaid, al-Hafizh Abu Ja’far al-Thahawi, al-Hafizh al-Khithabi, Imam Abu Muhammad al-Muzni (guru Imam al-Hakim), al-Hafizh al-Baihaqi dan al-Hafizh Ibn al-Jawzi.

Bermula dari bolak-balik buku karya Ibn Taimiyyah di kamar asrama; Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah, guna mencari bahan tugas akhir kuliah. Kejanggalan teks tiba-tiba terasa, pertama antara pembahasan sebelumnya agak terasa rancu dan tidak selaras dengan pembahasan setelahnya, kedua antara kata sebelum dengan sesudah terjadi jarak yang agak mencolok. Minhaj al-Sunnah ini adalah milik Perpustakaan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah.

Rasa penasaran itu membawa hasrat untuk memastikan hal ini. Sorenya langsung berangkat ke Perpustakaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Akhirnya kitab yang sama ditemukan, namun dengan cetakan berbeda. Cetakan yang dimiliki perpustakaan Darussunnah adalah Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah (sama dengan cetakan al-Ibanah yang kehilangan teks) 2 jilid font kecil, sementara yang dimiliki UIN adalah cetakan Mu’assasah Qurthubi 8 jilid font besar.

Sedikit rumit melakukan pencarian lantaran daftar isi tampil beda antara dua cetakan. Alhamdulillah hal yang dicari ditemukan. POSITIF, dengan perbandingan dua kitab, ternyata teks itu betul-betul hilang. Dengan analisa awal barangkali teks itu tidak banyak, namun fakta berkata lain.

Teks yang hilang (Ibn Taimiyyah membenarkan penafian Jihat -arah-) dalam kitab Minhâj al-Sunnah al-Nabawiyyah (dengan Hâmisy Bayân Muwâfaqah Sharîh al-Ma‘qûl li Shahîh al-Manqûl), cetakan Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz.1, hal.217, (teks yang benar-benar panjang untuk dilenyapkan mencapai 210 kata, 833 huruf), na‘ûdzu billah;

Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah Cetakan Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah. Milik Perpustakaan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah.

Perhatikan Baris Ke Tiga Dari Atas (teks yang di dalam), dilingkari pensil. Di situlah posisi lenyapnya teks, antara kata عال عليهdan kata وإذا كان

Teksnya sebagai berikut;

ونفاة لفظ الجهة يذكرون من أدلتهم أن الجهات كلها مخلوقة وأنه كان قبل الجهة وأنه من قال إنه في جهة يلزمه القول بقدم شيء من العالم أو أنه كان مستغنيا عن الجهة ثم صار فيها وهذه الأقوال ونحوها إنما تدل على أنه ليس في شيء من المخلوقات سواء سمى جهة أو لم يسم وهذا حق، فإنه سبحانه منزه عن أن تحيط به المخلوقات أو أن يكون مفتقرا إلى شيء منها العرش أو غيره ومن ظن من الجهال أنه إذا نزل إلى سماء الدنيا كما جاء الحديث يكون العرش فوقه ويكون محصورا بين طبقتين من العالم فقوله مخالف لإجماع السلف مخالف للكتاب والسنة كما قد بسط في موضعه وكذلك توقف من توقف في نفى ذلك من أهل الحديث فإنما ذلك لضعف علمه بمعانى الكتاب والسنة وأقوال السلف، ومن نفى الجهة وأراد بالنفي كون المخلوقات محيطة به أو كونه مفتقرا إليها فهذا حق، لكن عامتهم لا يقتصرون على هذا بل ينفون أن يكون فوق العرش رب العالمين أو أن يكون محمد صلى الله عليه وسلم عرج به إلى الله أو أن يصعد إليه شيء وينزل منه شيء أو أن يكون مباينا للعالم بل تارة يجعلونه لا مباينا ولا محايثا فيصفونه بصفة المعدوم والممتنع وتارة يجعلونه حالا في كل موجود أو يجعلونه وجود كل موجود ونحو ذلك مما يقوله أهل التعطيل وأهل الحلول.

Teks ini terdapat dalam cetakan Mu’assasah Kordoba, cet.1, vol.1, hal.189.

Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah Cetakan Mu’assasah Qurthubi

Teks yang diberi garis adalah teks yang lenyap

Teks yang diberi garis adalah teks yang hilang…

“Kalangan yang menafikan lafaz al-Jihah (arah penjuru) menyebutkan -berdasarkan dalil-dalil mereka- bahwa semua al-Jihât (arah penjuru) adalah makhluk, sementara Allah telah ada sebelum adanya al-Jihah. Dan orang yang mengatakan bahwa Allah berada pada Jihat, sama artinya bahwa bagian dari alam ini ada sesuatu yang Qadîm (karena Jihat adalah Makhluk/Hâdits), atau pada sisi lain dia mengatakan bahwa Allah sebelumnya tidak butuh Jihat yang kemudian Dia berjihat (hal ini sama dengan mengatakan Allah akan eksis bila ada Jihat, tentunya ini Bathil). Ungkapan-ungkapan ini dan lain sebagainya mengindikasikan bahwa Allah tidak berada pada sesuatupun (ليس في شيئ) daripada makhluk-Nya, baik dengan menyebutkan Jihat atau tidak, INI BENAR. Karena Allah subhanahu wa ta‘ala tidak diliputi oleh makhluk dan tidak membutuhkannya seumpama ‘Arasy atau selainnya (seperti langit, kursi). Jika ada kalangan tak terdidik mengira bahwa apabila Allah Nuzûl ke langit dunia -sebagaimana terdapat dalam hadis- lalu ‘Arasy berada di atas-Nya dan Dia berada di antara dua komponen alam (di antara langit dan ‘arasy, atau di antara bumi dan ‘arasy), maka dia telah menyelisihi konsensus kalangan salaf, al-Qur’an dan al-Sunnah, sebagaimana telah tertera di tempat (pembahasannya). Begitu juga sebagian ahli hadis ada yang bersikap tawaqquf dalam menafikan Jihat, hanyasaja hal itu lantaran tidak begitu mengetahui makna-makna al-Qur’an, al-Sunnah, dan statemen-statemen kalangan salaf (Allâhu A‘lam apa yang dimaksudkan oleh Ibn Taimiyyah dengan statemen ini bahwa ahli hadis tidak mengetahui). Dan orang yang menafikan Jihat dan bermaksud menafikan Allah diliputi oleh makhluk atau menafikan bahwa Allah membutuhkannya, MAKA INI ADALAH BENAR. Namun ada kalangan yang menafikan Jihat, tidak mencukupkan sampai disini (seperti Mu‘atthilah Mu‘tazilah), bahkan (secara muthlak) mereka menafikan fawqiyyah Tuhan semesta alam atas ‘Arasy, menafikan mi‘rajnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Nya, atau naik atau turunnya sesuatu dari-Nya (seperti turunnya rahmat), atau di antara mereka ada yang menafikan keberadaan Allah Mubâyinan terhadap alam, bahkan terkadang mereka menjadikan Allah tidak Mubâyin/Muhâyits (Mufâriq -al-Mu‘jam al-Wasîth- atau Muqâbil *berhadapan), sehingga mereka mensifatinya dengan sifat ketiadaan dan kemustahilan. Dan terkadang ada yang menjadikan-Nya menempati segala yang mawjûd (seperti al-Murji’ah), atau mereka menjadikan Allah sebagai wujud dari segala wujud (seperti al-Muttahidah) dan lain sebagainya dari ungkapan-ungkapan Ahl al-Ta‘thîl dan Ahl al-Hulûl”.

*Begitulah bagaimana Ibn Taimiyyah membenarkan penafian Jihat dari Allah, karena konsekuensi Jihat adalah keberadaan Allah diliputi oleh alam, karena jika Allah berjihat, sementara jihat adalah makhluk ciptaannya, maka ini adalah hulul, yaitu Allah berada pada jihat. Atau dengan ungkapan agak menipu logika seperti pada Azali Allah tidak berjihat, lalu setelah Dia menciptakan makhluk maka Dia berjihat. Benarlah apa yang diungkapkan Abu Ja‘far al-Thahawi;

لا تحويه الجهات الست

(Allah tidak diliputi enam penjuru; atas, bawah, depan, belakang, kanan dan kiri).

Manakala Allah bersifat Baqâ’ (kekal), maka segala sifat-Nya pun turut kekal tanpa berubah Min Bidâyatin Lâ Awwala Lahâ ilâ Nihâyatin Lâ Âkhira Lahâ. Sementara ada kalangan yang menganggap hal ini tidak logis dan sama saja mengatakan Allah itu tiada, karena semua wujud pasti ada jihat. Ungkapan ini adalah penganalogian Allah dengan makhluk, karena yang terbayang dalam benak mereka adalah keberadaan diri mereka berada pada jihat, dan mereka juga ingin mengatakan Allah berjihat seperti wujud mereka, konsekuensi hal ini adalah keberadaan hadd (batas) bagi Allah, maka cukuplah perkataan Imam ‘Ali

من زعم أن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود

(siapa yang beranggapan bahwa Allah berbatas dimensi, dia tidak mengenal Allah sang pencipta yang maha disembah)ز

juga ungkapan Abu Ja‘far al-Thahawi

وتعالى عن الحدود والغايات

(Allah maha suci dari batas dan batas akhir -dzat maupun sifat-).

*Ibn Taimiyyah menafikan konsekuensi nuzul yang berakibat keberadaan-Nya ada pada dua komponen alam yaitu ‘Arasy dan Langit ke 2,3,4,5,6 dan 7, karena langit dunia adalah langit pertama. Maka tidak sah jika nuzûl Allah aadalah Nuzûl berpindah dari atas ke bawah, akan tetapi Nuzûl sebagaimana layaknya bagi Dzat Allah ta‘âlâ. Jika turun cara makhluk adalah dari atas ke bawah, maka Nuzûl Allah tidak sebagaimana turunnya makhluk, karena turun dari atas ke bawah adalah ciri khas makhluk. Oleh karena itu Abu Ja‘far al-Thahawi berkata

من وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر

(siapa yang menyifati Allah dengan sebuah makna atau ciri dari ciri-ciri makhluk, maka dia telah ingkar/fasiq).

Begitu juga al-Hâfizh al-Khithâbî (guru al-Hâfizh al-Hâkim) berkata bahwa Allah tidak disifati dengan bergerak, perpindah karena dua hal ini adalah ciri-ciri makhluk (Lihat al-Asma’ wa al-Shifat Baihaqi, cet.Darul Hadis, hal.446), al-Hafizh al-Baihaqi pun menegaskan bahwa turun dari atas ke bawah adalah ciri khas makhluk, karena bentuk ini adalah sebuah kayfiyyah, dan Allah maha suci dari segala kayfiyyah (al-Asma’ wa al-Shifat,hal.466). Abu Hanifah ketika ditanya tentang Nuzûl, maka beliau jawab ينزل بلا كيف (Allah nuzul tanpa Kayf, lihat al-Asma’ wa al-Shifat, hal.447). Karena segala bentuk gerak adalah Kayf. Lebih dari itu Imam Hammad Ibn Zaid berkata نزوله إقباله (al-Iqbâl, lihat al-Asma’ wa al-Shifat, hal.447). Imam Abu Muhammad al-Muzni, juga guru Imam Hakim berkata

المجيئ والنزول صفتان منفيتان عن الله تعالى من طريق الحركة والانتقال من حال إلى حال، بل هما صفتان من صفات الله تعالى بلا تشبيه، جل الله تعالى عما يقول المعطلة لصفاته والمشبهة بها علوا كبيرا

(datang dan turun adalah dua sifat yang ternafi dari Allah ta‘ala -jika dipahami- dengan bergerak dan berpindah dari suatu keadaan ke keadaan lain, akan tetapi keduanya adalah dua sifat dari sifat-sifat Allah ta‘ala tanpa Antropomorphism, maha suci Allah dari anggapan Mu‘atthilah (yang menafikan nuzul) dan dari anggapan Musyabbihah (yang mengatakan nuzul dengan bergerak dan berpindah, lihat al-Asma’ wa al-Shifat, hal.447). Inilah pendapat salaf yang telah dikuatkan oleh al-Baihaqi.

Munaqasyah;

Fawqiyyah

Al-Hafizh Ibn al-Jawzi menegaskan bahwa Fawqiyyah Allah ta‘ala adalah Fawqiyyah yang bukan Fawqiyyah Hissiyyah (fawqiyyah fisik/inderawi), karena al-Fawq dan al-‘Uluw pada Dzat Allah adalah ‘Uluw al-Martabah (al-Hâfizh Ibn al-Jawzî, Daf‘u Syubhah al-Tasybîh bi Akuff al-Tanzîh bi man Yantahilu Madzhab al-Imâm Ahmad, al-Maktabah al-Tawfîqiyyah, hal.41). Fawqiiyah Hissiyyah adalah sebuah Hadd, Jihât, potensi Tahayyuz, Allah maha suci dari ciri khas makhluk.

Naiknya amalan shaleh

Al-Hafizh al-Baihaqi telah menuturkan, bahwa naiknya amal kebaikan adalah sebagai ibarat/istilah amalan itu diterima oleh Allah dengan baik. Sementara naiknya malaikat adalah ke tempat mereka di langit, kerena langit adalah tempat mereka. (lihat al-Asma’ wa al-Shifat, hal.425).

Mubâyin/Mujâwir

Al-Hafizh Ibn al-Jawzi menegaskan bahwa Mubâyin & Mujâwir (berhadapan antara Allah dan makhluk dengan Jihat dan Masâfah) mustahil bagi Zat Allah, karena dari sana Allah akan berbatas dan berjihat. (Lihat Daf‘u Syubhah al-Tasybîh bi Akuff al-Tanzîh bi man Yantahilu Madzhab al-Imâm Ahmad, hal.41).

———————

*Dapat disimpulkan, jika Allah tidak diliputi oleh Jihât, Masafah, Hadd, maka benarlah sikap Salafusshaleh; ketika muncul ayat Istiwâ’, mereka tidak memaknainnya dengan duduk, Julus atau Istiqrar, namun Istiwâ’ yang layak bagi keagungan Allah. Allah nuzul, tanpa menyerupai makhluk yang harus berpindah dari atas ke bawah, namun Allah nuzul sebagaimana yang tertera dalam nash. Dia tidak butuh bergerak. Maka jika ada nash2 mutasyabihat, hal yang harus dipahami oleh seorang muslim adalah ungkapan Sufyan Ibn ‘Uyaynah; تفسيره تلاوته/قراءته (tafsirnya adalah bacaan itu sendiri),

tidak perlu dibuat ungkapan-ungkapan “dari atas ke bawah, duduk, bersemayam, dll”. Maka madzhab yang lebih benar adalah Madzhab Salaf, yaitu Tafwîdh, dan dengan tafwidh ini semua syubhat-syubhat Karramiyyah, Hisyamiyyah, Mujassimah, Musyabbihah, Hasyawiyyah akan terbantahkan. Namun jika ada sebagian kalangan yang mengingkari Tafwîdz, adakalanya mereka adalah Musyabbihah, adakalanya Mu‘atthilah.

Rasulullah bersabda; وأنت الظاهر فليس فوقك شيئ، وأنت الباطن فليس دونك شيئ

(Engkau maha Zhahir, maka tiada sesuatu pun di atas-Mu, Engkau maha Bathin, maka tiada sesuatu pun di bawah-Mu).

Al-Hafizh al-Baihaqi menjelaskan hadis ini; jika di atas maupun di bawah-Nya tiada sesuatu pun maka Allah tidaklah bertempat (al-Asma’ wa al-Shifat, hal.406). Seperti Istiwâ’, tidak boleh dipahami dengan Istiqrâr atau menempati ‘Arasy.

Wajar Syeikh al-Albani membantah Syeikh Abu Zahrah ketika mengatakan bahwa Ibn Taimiyyah mengatakan bahwa Allah Istiwâ’ dengan makna Istiqrâr, kata beliau;

فأين رأيت ابن تيمية يقول بالاستقرار على العرش علما بأنه أمر زائد على العلو وهو مما لم يرد به الشرع ولذلك رأينا مؤلفنا الحافظ الذهبي قد أنكر على بعض القائلين بصفة العلو التعبير عنها بالاستقرار.

Perhatikan bagaimana Syeikh al-Albani tidak menyetujui Istiqrâr, lihat (Muhammad Nâshiruddîn al-Albani, Mukhtashar al-‘Uluw, Beirut: al-Maktab al-Islamî, cet.1, 1401H, hal.41).

“Tipuan logika musyabbihah; mengatakan Allah tiada berjihat sama saja mengatakan Allah tidak ada. Al-Hâfizh Ibn al-Jawzi menjawab; Jika sebuah wujud dapat disifati dengan al-ittishâl dan al-Infishâl, maka engkau benar. Namun jika sebuah wujud tidak disifati dengan keduanya, maka tidak mesti sesuatu wujud itu menjadi tidak ada (Lihat Daf‘u Syubhah al-Tasybîh bi Akuff al-Tanzîh bi man Yantahilu Madzhab al-Imâm Ahmad, hal.43). Dapat kita contohkan tentang Ittishal dan Infishalnya dua sifat yang memang tidak dimiliki oleh sebuah wujud, seperti sebuah BATU. Kita katakan bahwa batu tidak dapat melihat, di lain sisi batu ini juga tidak buta. Apakah hal ini kita katakan sebuah kontradiksi sehingga batu itu menjadi mustahil adanya? Jawabannya tidak, kerena persoalan melihat dan kebutaan bukan sifat batu. Begitu juga jika dikatakan Allah tidak di luar maupun di dalam alam, karena luar dan dalam bukan dimensi dan sifat Allah. Lalu apakah ini sebuah kontradiksi? Jawabannya iya jika hal ini dinisbatkan kepada makhluk. Karena makhluk tidak terlepas dari dua dimensi ini atau pun salah satunya, karena pada hakikatnya makhluk adalah alam”.

*Sebelum Allah menciptakan alam, tidak ada istilah luar dan dalam karena Rasulullah bersabda:

كان الله ولم شيئ قبله/غيره

(Allah ada sejak azali, tiada sesuatupun sebelum-Nya/selain-Nya)

‘Ali ibn Abi Thalib berkata:

كان الله ولا مكان

(Allah ada sejak azali tanpa tempat).

Setelah Allah menciptakan alam, Dia tetap sebagaimana ada-Nya, sebagaimana ‘Ali bin Abi Thalib berkata:

وهو الآن على ما عليه كان

(Dia sekarang ada sebagaimana adanya -pada azali-).

Mari kita pahami, dan kita bedakan istilah بالنسبة إلى الله dan بالنسبة إلى المخلوق.  Tidak adanya dimensi luar dan dalam sangat mustahil Bi al-Nisbah ilâ al-Makhlûk. Namun ketiadaan keduanya tidak mustahil Bi al-Nisbah ilâ Allah subhânahû wa ta‘âlâ, karena jika Allah tidak menghendaki adanya makhluk maka Allah akan tetap sebagaimana adanya, begitupun jika Allah menghendaki untuk melenyapkan alam, Dia akan tetap sebagaimana adanya tanpa Jihat, Ruang dan Waktu. Dimensi luar dan dalam mengikut kepada makhluk, maka jika makhluk atau alam dilenyapkan oleh Allah, dua dimensi ini pun akan lenyap. Untuk pendekaan memahami ini, dalam Fiqh ada sebuah kaedah kulliyyah yang tidak menyentuh hal-hal juz’iyyah, yaitu kaedah ke empat yang berbunyiالتابع تابع (sesuatu yang mengikut, pasti mengikuti-yang diikuti-, lihat al-Mawâhib al-Saniyyah), dalam hal ini dimensi luar maupun dalam adalah al-Tâbi‘u, sedangkan status keduanya adalah sebagai Tâbi‘un kepada alam. Dari sini dapat kita pahami perbedaan antara Khalik dengan Makhluk.

Ibnu ‘Abbas berkata, ليس في الدنيا مما في الجنة إلا الأسماء, dan nash lainلا يشبه شيءٌ مما في الجنة ما في الدنيا إلاألأسماء

(tiada sesuatu pun perserupaan antara apa yang ada di dunia dengan apa yang ada di surga melaikan hanya nama).

Manakala antara sesama makhluk hanya ada perserupaan nama saja, maka antara khalik dan makhluk lebih utama untuk itu. Begitulah Istiwâ’, Nuzûl, Wajah, Yad, ‘Ain. Jangan kita bersikap ghuluw dalam Itsbat, metode salaf adalah paling baik, yaitu menyerahkan maksudnya kepada Allah sembari mengimani, tanpa Takyîf. Maka janganlah hendaknya kita mengharapkan agar Ahwâl Allah serupa dengan kita, harus berjihat, berdimensi ruang dan waktu, Allah maha suci dari ini semua. Jangan kita mengkhianati Lisan yang berkata:

بلا كيف, بلا تكييف, وكيف عنه مرفوع

namun pemahaman kita tetap memberikan Kaifiyyah kepada Allah meski tidak kita sadari. Apalagi jika Lisan kita sering mengucapkan firman Allah ليس كمثله شيئ, namun pada prakteknya pemahaman kita tetap memberikan Tasybiih kepada Allah meski tidak kita sadari. Sudah cukup kiranya kefasihan al-Qur’an yang menampilkan penafian perserupaan dengan menggunakan dua adat Tasybîh dalam ayat itu, yaitu الكاف dan مثل, Semoga kita dapat diberi pemahaman oleh Allah subhanahu wa ta‘ala. Amin

مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك

Allahu A’lam

‘Ashfi Raihan

http://warkopmbahlalar.com/lenyapnya-teks-ibnu-taymiyyah-yang-menafikan-arah-bagi-allah/

Manaqib Imam Syafii (albaihaqi) : Imam Syafi’i Tentang Hadits Jariyah

Apa Kata i?

Inilah fakta bahwa Tauhid Salafi Wahabi sangat menyimpang dari Tauhid Ahlus Sunnah Waljama’ah umum nya dan bahkan menyimpang dari Manhaj Salafkhususnya, Hadits Jariyah yang sering dijadikan alat pembenaran Salafi Wahabi atas akidah sesat mereka yaitu menduga Allah bersemayam di atas ‘Arasy, ataubertempat di atas ‘Arasy, atau berada tinggi di atas langit, bahkan mereka bicara akidah ini atas nama Al-Quran dan As-Sunnah, dan atas nama Manhaj Salaf, dan atas nama Ahlus Sunnah Waljama’ah, tapi kenyataan nya mereka hanyalah mendustai Allah dan Rasul dan Sahabat dan Salafus sholih, karena faktanya pemahaman mereka bertolak-belakang dengan pemahaman Salafus Sholih khususnya, mereka hanya pandai berteori dan menggoda ummat dengan mengajak kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaf, tapi fakta nya tidak sama sekali, mereka menggoda ummat mengajak bertauhid dengan Tauhid nya Salaful ummah, tapi nyata nya tidak sama sekali, berikut ini adalah salah satu bukti dari sekian banyak bukti yang membungkam kelancangan Salafi Wahabi, bahwa akidah yang benar yaitu akidah Rasulullah dan para Sahabat, dan akidah Ahlus Sunnah Waljama’ah baik Salaf ataupun Khalaf adalah “Allah ada tanpa arah dan tanpatempat” dan bahwa Hadits Jariyah bukan dalil bahwa “Allah berada di atas” dan pemahaman Salafi Wahabi tentang Hadits Jariyah telah menyimpang dengan pemahaman ulama Salaful ummah.

Inilah pemahaman Imam Syafi’i tentang Hadits Jariyah :

Berkata Imam asy-Syafi’i –rahimahullah- :

واختلف عليه في إسناده ومتنه، وهو إن صح فكان النبي – صلى الله عليه وسلم – خاطبها على قَدرِ معرفتها، فإنها وأمثالها قبل الإسلام كانوا يعتقدون فيالأوثان أنها آلهة في الأرض، فأراد أن يعرف إيمانها، فقال لها: أين اللَّه؟ حتى إذا أشارت إلى الأصنام عرف أنها غير مؤمنة، فلما قالت: في السماء، عرفأنها برئت من الأوثان، وأنها مؤمنة بالله الذي في السماء إله وفي الأرض إله، أو أشار، وأشارت إلى ظاهر ما ورد به الكتاب.

“Dan telah terjadi khilaf pada sanad dan matan nya (hadits jariyah), dan seandainya shohih Haditstersebut, maka adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut menurutkadar pemahaman nya, karena bahwa dia (hamba) dan kawan-kawan nya sebelum Islam, merekameyakini bahwa berhala adalah Tuhan yang ada di bumi, maka Nabi ingin mengetahui keimanan nya,maka Nabi bertanya : “Dimana Allah ?” sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabimengetahui bahwa ia bukan Islam, maka manakala ia menjawab : “Di atas langit” Nabi mengetahuibahwa ia terlepas dari berhala dan bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan dilangit dan Tuhan di bumi, atau Nabi mengisyarah dan ia mengisyarah kepada dhohir yang datangdalam Al-Quran”.

[Lihat Kitab Tafsir Imam asy-Syafi’i pada surat al-Mulk -قال الله عزَّ وجلَّ: أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ -] dan [Lihat Kitab Manaqib Imam Syafi’i jilid 1 halaman 597 karangan Imam Baihaqqi, pada Bab -ما يستدل به على معرفة الشَّافِعِي بأصول الكلام وصحة اعتقاده فيها- ]

PERHATIKAN SCAN KITAB MANAQIB IMAM SYAFI’I DI BAWAH INI :

واختلف عليه في إسناده ومتنه

“Dan telah terjadi khilaf pada sanad dan matan nya”

Maksudnya : Pada Hadits Jariyah telah banyak terjadi perbedaan pendapat ulama Hadits, baik dalam keshohihan sanad nya atau dalam matan nya, sepantasnya Hadits ini ditinggalkan bagi orang yang ingin beraqidah dengan aqidah yang selamat, karena ketidak-jelasan status Hadits ini.

وهو إن صح فكان النبي – صلى الله عليه وسلم – خاطبها على قَدرِ معرفتها

“dan seandainya shohih Hadits tersebut, maka adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut menurut kadar pemahaman nya”

Maksudnya : Bila ternyata Hadits Jariyah itu benar Hadits Shohih, atau bagi orang yang menganggapnya sebagai Hadits Shohih, maka jangan di telan mentah-mentah, pahami dulu bagaimana maksud Nabi sesungguhnya dalam Hadits tersebut, Imam Syafi’i mengatakan bahwa maksud Nabi bertanya kepada hamba itu dengan pertanyaan “Dimana Allah” adalah bertanya menurut kemampuan kepahaman hamba tersebut, artinya Nabi bertanya “Siapa Tuhan nya” sebagaimana didukung oleh sanad dan matan dalam riwayat yang lain, Nabi tidak bermaksud menanyakan arah atau tempat keberadaan Allah.

فإنها وأمثالها قبل الإسلام كانوا يعتقدون في الأوثان أنها آلهة في الأرض

“karena bahwa dia (hamba) dan kawan-kawan nya sebelum Islam, mereka meyakini bahwa berhala adalah Tuhan yang ada di bumi”

Maksudnya : Cara Rasulullah bertanya untuk mengetahui status nya muslim atau non muslim dengan pertanyaan “Dimana Allah” adalah menyesuaikan dan mempertimbangkan keadaan hamba tersebut yang masih awam, karena mereka sebelum datang Islam, mereka menyembah dan meyakini bahwa berhala yang bertempat di bumi adalah Tuhan mereka, maka sesuailah keadaan tersebut dengan pertanyaan Nabi “Dimana Allah”. Sementara Allah tidak seperti Tuhan-Tuhan mereka yang bertempat.

فأراد أن يعرف إيمانها، فقال لها: أين اللَّه؟

“maka Nabi ingin mengetahui keimanan nya, maka Nabi bertanya : Dimana Allah ?”

Maksudnya : Nabi bertanya “Dimana Allah” untuk mengetahui status keimanan hamba tersebut, artinya Rasul bertanya siapa Tuhan yang ia imani, Nabi tidak bermaksud bertanya dimana tempat berhala nya berada bila hamba itu seorang penyembah berhala, dan tidak bermaksud menanyakan dimana tempat Allah berada bila hamba tersebut percaya kepada Allah, tapi hanya menanyakan apakah ia beriman kepada Allah atau bukan.

حتى إذا أشارت إلى الأصنام عرف أنها غير مؤمنة

“sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabi mengetahui bahwa ia bukan Islam”

Maksudnya : Mempertimbangkan keadaan orang-orang dimasa itu yang masih banyak menyembah berhala, maka ketika Rasul ingin mengetahui status hamba tersebut, Rasul bertanya dengan pertanyaan “Dimana Allah” agar muduh bagi nya menjawab bila ia penyembah berhala, maka ia menunjukkan tempat berhala yang ia sembah, dan otomatis diketahui bahwa ia bukan orang yang percaya kepada Allah.

فلما قالت: في السماء، عرف أنها برئت من الأوثان

“maka manakala ia menjawab : “Di atas langit” Nabi mengetahui bahwa ia terlepas dari berhala”

Maksudnya : Ketika hamba itu menjawab “Di atas langit” maka Nabi mengetahui bahwa ia adalah bukan penyembah berhala, jawaban hamba ini juga tidak bisa dijadikan alasan bahwa Nabi mengakui “Allah bersemayam di atas langit” karena tidak ada hubungan antara jawaban dan pertanyaan Nabi, seperti dijelaskan di atas bahwa maksud Nabi bertanya demikian adalah ingin mengetahui status hamba muslim atau non muslim, maka jawaban hamba ini dipahami sesuai dengan maksud dari pertanyaan, Nabi tidak menanyakan apakah ia berakidah “Allah ada tanpa arah dan tempat” atau “Allah ada di mana-mana” atau “Allah bersemayam di atas langit” atau lain nya, bukan itu masalah nya di sini.

وأنها مؤمنة بالله الذي في السماء إله وفي الأرض إله

“dan bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi”

Maksudnya : Dan dari jawaban hamba tersebut dapat diketahui bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi, ini poin penting yang harus digaris-bawahi oleh para Salafi Wahabi yang menduga “Allah bersemayam di atas ‘Arasy”. Imam Syafi’i membungkam akidah sesat Salafi Wahabi dengan pernyataan beliau “Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi”. Allah di langit bukan berarti Allah berada atau bersemayam di langit, dan Allah di bumi bukan berarti Allah berada di bumi atau di mana-mana, tapi Allah adalah Tuhan sekalian alam, baik di langit atau di bumi, makhluk di langit bertuhankan Allah, dan makhluk di bumi juga bertuhankan Allah, inilah akidah Imam Syafi’i bahwa “Allah ada tanpa arah dan tempat” sebagaimana akidah Ahlus Sunnah Waljama’ah Salaf dan Khalaf, pernyataan Imam Syafi’i ini menepis semua pemahaman salah dari Hadits Jariyah tersebut.

أو أشار، وأشارت إلى ظاهر ما ورد به الكتاب

“atau Nabi mengisyarah dan ia mengisyarah kepada dhohir yang datang dalam Al-Quran”

Maksudnya : Bahkan Imam Syafi’i berkata kemungkinan tanya-jawab Nabi dan hamba di atas tidak pernah ada, Nabi hanya mengisyarah tidak bertanya dengan kata-kata, dan hamba juga menjawab nya dengan isyarah tanpa kata, dan kata-kata di atas hanya berasal dari perawi atau pemilik hamba yang menceritakan kejadian tersebut, maka tidak mungkin sama sekali menjadikan Hadits Jariyah ini sebagai bukti kebenaran akidah Wahabi.

Fakta ini masih juga dipungkiri oleh Salafi Wahabi, semoga mereka mendapat hidayah Allah, sangat jelas sekalipenyimpangan akidah Salafi Wahabi dengan akidah Imam Syafi’i, dan ulama Salaf lain nya, dan dengan akidah Ahlus Sunnah Waljama’ah pada umum nya, Manhaj Salaf yang didakwahkan oleh Salafi Wahabi sangat jauh menyimpang dari hakikat Manhaj Salaf para ulama Salaf, maha suci Allah dari segala sangkaan Salafi Wahabi.

Maha suci Allah dari arah dan tempat

Imam Abu Hanifah (imam Hanafi) ternyata seorang tabiin yang bertemu dengan 16 shahabat

Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi (bahasa Arab: النعمان بن ثابت), lebih dikenal dengan nama Abū Ḥanīfah, (bahasa Arab: بو حنيفة) (lahir di KufahIrak pada 80 H / 699 M — meninggal di Baghdad, Irak, 148 H / 767 M) merupakan pendiri dariMadzhab Yurisprudensi Islam Hanafi.

Abu Hanifah juga merupakan seorang Tabi’in, generasi setelah Sahabat nabi, karena dia pernah bertemu dengan salah seorang sahabat bernama Anas bin Malik, dan meriwayatkan hadis darinya serta sahabat lainnya.[3]

Imam Hanafi disebutkan sebagai tokoh yang pertama kali menyusun kitab fiqh berdasarkan kelompok-kelompok yang berawal dari kesucian (taharah), salat dan seterusnya, yang kemudian diikuti oleh ulama-ulama sesudahnya seperti Malik bin AnasImam Syafi’i,Abu DawudBukhariMuslim dan lainnya.

[sunting]Referensi

  1. ^Imaam Abu Hanifa (R.A.), Biography of One of The Four Great Imaams- I
  2. ^ The Conclusive Argument from God:Shah Wali Allah of Delhi’s Hujjat Allah Al-baligha, pg 425
  3. ^Imam-ul-A’zam Abu Hanifa, The Theologian

 

Upholding the Opinion that Imam Abu Hanifa was One of the Tabi`in


[Source: Dr. `Inayatullah Iblagh al-Afghanistani, Doctorate thesis: al-Imam al-A`zam Abu Hanifa al-Mutakallim (The Greatest Imam: Abu Hanifa, The Theologian), 2nd edition, with supervision of Dr. Muhammad Ali Mahjub, Minister of Awqaf and President of the Supreme Council for Religious Affairs, Cairo, 1987.]

Some counted his teachers as four thousand within the ranks of the Tabi`in. Among them al-Laith ibn Sa`d and Malik ibn Anas, the Imam of Dar al-Hijra as mentioned by Daraqutni [al-Khairat al-Hisan, 23].

The author of al-Khairat al-Hisan collected information from books of biographies and cited the names of the Sahaba whom it is reported that the Imam has transmitted ahadith from. He counted them as sixteen of the Sahaba. They are:

1. Anas ibn Malik

2. Abdullah ibn Anis al-Juhani

3. Abdullah ibn al-Harith ibn Juz’ al-Zabidi

4. Jabir ibn Abdullah

5. Abdullah ibn Abi Awfa

6. Wa’ila ibn al-Asqa`

7. Ma`qal ibn Yasar

8. Abu Tufail `Amir ibn Wa’ila

9. `A’isha bint Hajrad

10. Sahl ibn Sa`d

11. al-Tha’ib ibn Khallad ibn Suwaid

12. al-Tha’ib ibn Yazid ibn Sa`id

13. Abdullah ibn Samra

14. Mahmud ibn al-Rabi`

15. Abdullah ibn Ja`far

16. Abu Umama

Many disagreements exist regarding his reporting of Ahadith from some of these Sahaba. His reporting from Anas is supported by most of the biographers. The following are some of the Ahadith believed to be reported by the Imam directly from the Sahaba. Many biographers list them in their books:

First Hadith:

“Seeking of knowledge is an obligation on each and every Muslim.” Reported by Abu Hanifa upon the authority of Anas ibn Malik. Many books of biography mention two chains of transmition for this Hadith.

Arabic transliteration: (“Talabu al-`ilmi fariDaatun `ala kulli muslim”)

Second Hadith:

Abu Hanifa reported upon the authority of Jabir ibn Abdullah, said, “A man from the Ansar came to the Prophet Muhammad (saw) and said, ‘O Messenger of Allah! I never was gifted a son and a son was never born to me.’ So he (saw) said, ‘And where are you from the abundance of zikr and istighfar? Allah provides, by them, the children.” He said, “So, the man used to increase his charity and his asking for forgiveness.” Then Jabir, said “nine sons were born to him.”

Some argued, though, that Jabir died in the year 79 A.H. while Abu Hanifa was born, most probably, in the year 80 A.H., so how can this report be true?

Arabic transliteration: (“Ja’a rajulun min al-anSar ila al-nabi – Salla allahu `alaihi wa sallam – fa qala lahu, ‘ya rasulallahi ma ruziqtu waladan qaTT wa la wulida li,’ faqala, ‘wa aina anta min kathrat al-istighfar wa al-Sadaqa, yarzuqu Allahu biha al-walad.’ Qal, “fa kana al-Rajul yukthiru min al-Sadaqa wa al-istighfar.” Wa qala jabir – radiya allahu `anh – “fa wulida lahu tis`atun mina al-dhukur”).

Third Hadith:

The Greatest Imam said, “I heard Abdullah ibn Juz’ al-Zabidi, the companion of the Prophet (saw), saying, “Whoever learned the knowledge of religion, Allah will protect him from worries and will provide him with sustenance from where he does not expect.”

Arabic transliteration: (“Man tafaqqaha fi al-din kafahu Allahu hammahu wa razaqahu min Haythu la yaHtasib”).

Fourth Hadith:

Reported from Abu Hanifa, said, “I heard Abdullah ibn Abi Awfa saing, “I heard the Prophet (saw) saying, “Whoever built a mosque, even if it be like a nest of a sand-grouse, Allah will build him a house in Paradise.”

Arabic transliteration: (“Man bana lillahi baitan wa law ka mafHaSi qaTa, bana Allahu lahu baitan fi al-janna”).

Fifth Hadith:

Reported from Abu Hanifa, said, “I was born in the year eighty, and Abdullah ibn Anis came to Kufa in the year ninety-four, and I heard from him while I was fourteen years old. I heard him saying, ‘Your loving the thing causes blindness and deafness.’”

Arabic transliteration: (“Wulidtu sanata thamanin, wa qadima Abdullah ibn Anis al-Kufa sanata arba`in wa tis`in, wa sami`tu minhu wa ana ibnu arba`a `ashrata sana. Sami`tuhu yaqul, ‘Hubbuka al-shay’a yu`mi wa yuSimm’”).

Sixth Hadith:

Reported by Abu Hanifa, said I heard Wa’ila ibn al-Asqa` saying, “I heard the Messenger of Allah (saw) saying, ‘Do not display your rejoicing at your brother [‘s misfortune], so that Allah might remedy him and inflict it upon you.’”

Arabic transliteration: (“La tuZhiranna shamatataka li akhika fa yu`afiahu Allahu wa yabtalika”).

Seventh Hadith:

Reported from Abu Hanifa, said, “Wa’ila ibn al-Asqa` told me, from the Messenger of Allah (saw), said, ‘Leave what causes you doubt and head towards what does not cause you doubt.’”

Arabic transliteration: (“Da` ma yuribuk ila ma la uribuk”).

[al-Manaqib, al-Muwaffaq al-Makki, Vol. 1, 27; al-Manaqib, al-Kurdari, Vol. 1, 5]

And from what is agreed upon among many of the authors is that the Imam saw Anas ibn Malik. [Even] al-Khatib al-Baghdadi, despite his advocacy of a negative image for the Imam, does support the fact of his seeing of Anas ibn Malik with his saying, “Abu Hanifa saw Anas ibn Malik and heard from `Ata’ ibn Abi Rabah” [Tarikh Baghdad, Vol. 13, 324].

Ibn `Abd al-Barr mentions in his Jami` Bayan al-`Ilm [Vol. 1, 35], after he mentioned, alongside its sanad, a piece of news which Imam Abu Hanifa heard from Abdullah ibn al-Harith ibn al-Juz’, the Sahabi, “Ibn Sa`d, author of al-Waqidi, mentioned that Abu Hanifa saw Anas ibn Malik and Abdullah ibn al-Harith ibn al-Juz’.” Counting on this, Ibn al-Juz’ is considered to have died late, and in priority, that Abu Hanifa saw Abdullah ibn Abi Awfa since he was Kufi with regards to his residence and place of death.

Furthermore, Abu Nu`aim al-Asfahani mentioned among the Sahaba, whom Abu Hanifa saw, Anas, Abdullah ibn al-Harith, and Ibn Abi Awfa. The same is reported by Sibt ibn al-Jawzi upon the authority of Dhakir ibn Kamil from Abu `Ali al-Haddad from his book al-Intisar wa’l-Tarjih. This, considering the birth date of Abu Hanifa in the year 80 A.H., but if his birth date was in the year 61 A.H., or in the year 70 A.H., as in the reports of Ibn Zawad and Ibn Hayyan, the possibility of his seeing of the Sahaba would be bigger. Abu al-Qasim ibn Abi al-`Awam expanded on clarifying who was comtemporary of him relying on the first report in his book Fazail Abi Hanifa wa Ashabih (The Virtues of Abu Hanifa and His Followers).

Among what was altered by means of tampering in [the process of] copying what was mentioned is that Daraqutni was asked about Abu Hanifa’s hearing from Anas, is it considered correct? He said “la wa la ru’ytuh” (No, niether his seening). But the original statement is “la illa ru’yatuh” (No, except his seeing). As an evidence on this is what Suyuti mentioned in the beginning of his book Tabiyd al-Sahifa with his saying “Hamza al-Sahmi said, ‘I heard Daraqutni saying Abu Hanifa did not meet any of the Sahaba except that he saw Anas with his eyes but did not hear from him.’” And from the ones who professed his seeing Anas are: Ibn Sa`d, al-Daraqutni, Abu Nu`aim al-Asfahani, Ibn `Abd al-Barr, al-Khatib [al-Baghdadi], Ibn al-Jawzi, al-Sam`ani, `Abd al-Ghani al-Maqdisi, Sibt ibn al-Jawzi, Fazl Allah al-Turishty, Nawawi, Yafi`i, Dhahabi, Zain al-Din al-`Iraqi, al-Wali al-`Iraqi, Ibn al-Wazir, al-Badr al-`Ayni, Ibn Hajar [al-`Asqalani], Shihab al-Din al-Qastalani, Suyuti, and Ibn Hajar al-Makki, among others. [Ta’nib al-Khatib fi ma Saqahu fi al-Imam Abi Hanifa min al-Akadhib, Kawthari, 15].


References the Author Relied On:

 

1. al-Haytami, al-Khairat al-Hisan. For al-`Allama, Mufti al-Hijaz Ibn Hajar (d.943 A.H.).

2. Manaqib al-Imam Abi Hanifa. For Abu al-Mu’ayyid al-Muwaffaq al-Makki (d.568).

3. Manaqib Abi Hanifa. For Ibn al-Bazzaz al-Kurdari, author of Fatawi al-Bazzaziyya (d. 827).

4. al-Durr al-Munazzam fi Manaqib al-Imam al-A`zam: a manuscript kept in the library of al-Azhar al-Sharif (#238). For Noah Afandi (d. 1070, Cairo).

5. al-`Uqud al-Jiman fi Manaqib Abi Hanifa al-Nu`man: also a manuscript in al-Azhar. For al-Salih al-Dimashqi.

Rabbi yahudi = ulama wahabi : memakai ghurtah /kain penutup kepala (tapi bukan sorban/turban)

dajjal followers :

A rabbi wearing a prayer shawl Stock Photo - Royalty-Freenull, Code: 614-02764107

A rabbi wearing a prayer shawl


^Rabbi Yahudi
 Rabbi wahabi
Green Shawls wahabi”
 
Jewish GREEN Tallit Talit Talis Prayer Shawl
” Mishkat that followers of Dajjal will have green shawls ontheir heads.”
Quote:
 shalat yahudi
shalat wahabi
yahudi
wahabi
This word in the hadith is Tayalisa’h which means a Cloth [chadar] which is put over like this one below:
^Jewish Rabbi wearing Talith (prayer shawl)

Sunnah Nabi, malaikat dan sahabat : memakai sorban (warna putih – hitam – hijau – Merah – Kuning) dan keutamaanya

SORBAN ADALAH PAKAIAN ORANG ISLAM !

 

Sorban Rasulullah masih utuh

HADITS TTG SORBAN

  1. 1. dari Amr bin Umayyah ra dari ayahnya berkata : Kulihat Rasulullah saw mengusap surbannya dan kedua khuffnya (Shahih Bukhari Bab Wudhu, Al Mash alalKhuffain).
  2. 2. dari Ibnul Mughirah ra, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw mengusap kedua khuffnya, dan depan wajahnya, dan atas surbannya (Shahih Muslim Bab Thaharah)
  3. 3. para sahabat sujud diatas Surban dan kopyahnya dan kedua tangan mereka disembunyikan dikain lengan bajunya (menyentuh bumi namun kedua telapak tangan mereka beralaskan bajunya krn bumi sangat panas untuk disentuh). saat cuaca sangat panas. (Shahih Bukhari Bab Shalat).
  4. 4. Rasulullah saw membasuh surbannya (tanpa membukanya saat wudhu) lalu mengusap kedua khuff nya (Shahih Muslim Bab Thaharah)
  1. 5. Hadhrat Anas R.a. meriwayatkan:

“Saya melihat Sallallahu alayhi wa sallam sedang berwudhu. Dia memakai sorban Qitri…” (Abû Dawûd Hal.19)

  1. 6. Sulaiman R.a.mengatakan: ”saya melihat Para Sahabat dari kalangan Awwalun Muhajirin(mereka yang pertama kali hijrah ke Madinah) memakai sorban berbahan dari katun.” (Mussanaf Ibn Abi Shaibah Vol.8 Hal.241)
  1. 7. Abu Dawud telah menyebutkan dalam kitab sunannya, bahwa Nabi SAW telah bersabda :”Perbedaan kita dengan orang musyrik adalah memakai sorban diatas kopiah.”
  1. 8. Abu Dawud dan Imam Ahmad Bin Hanbal, bahsawanya Ibn `Umar r.a. telah berkata, Rasulullah (Sallallaahu Álayhi Wasallam) telah bersabda yang mahfumnya bahwa Barang-siapa yang meniru-niru suatu kaum (dalam penampilan), maka dia termasuk dari mereka.

9. Rasulullah (Sallallaahu Álayhi Wasallam) telah bersabda yang mahfumnya : Pakailah sorban karena itu adalah tanda dari malaikat. Juga biarkan ujung sorban bergantung di pundak. (Baihaqi)

10. Pakailah sorban, karena itu akan menambah kesabaranmu. (Mustadrak of Hâkim)

11. “Beberapa malaikat Allah akan berdiri di depan pintu mesjid dan memintakan ampun bagi mereka yang memakai SORBAN BERWARNA PUTIH.” (AlMaqaasidul Hasanah Hal.466)

12. “Memakai sorban akan membedakan seorang muslim dengan kaum musryikin.(Ibid)

“Allah Ta’âla menurunkan rahmat-Nya kepada orang yang memakai sorban pada hari Jum’at dan para malaikat akan mendo’akan mereka.” (Dailami)

  1. 13. “Semoga dengan penjelasan ini,para Fuqaha akan menerima fakta bahwa pahala shalat dengan memakai sorban adalah lebih besar daripada shalat tanpa memakai sorban”

(Fatawa Rashidia Hal.326; Fatâwa Rahimia Vol. 4 Hal.359).

  1. 14. Moulana Rashid Ahmed Gangohi telah menulis seperti berikut ini ketika menjawab satu pertanyaan tentang sorban;

“Membolehkan seorang Imam (dalam shalat) tanpa memakai sorban adalah sama sekali diizinkan tanpa suatu celaan. ………Namun kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa dengan memakai sorban, pahala akan meningkat.”

(Fatâwa Rashidia Hal.326)

  1. 15. Allamah Anwar Shah Kashmiri telah menulis; “dari pandangan para fuqaha (ahli fiqgih), kami menemukan bahwa adalah mustahab (sangat disukai) jika sholat dilaksanakan dengan memakai 3 macam pakaian, satu siantaranya adalah sorban.” (Faizul Bari Vol.2 Hal.8)
  1. 16. Moulana Mohammed Zakariya Khandalwi telah menulis dalam ‘Khasâil-e-Nabawi’ (Penjelasan Kitab Shamâil Tirmizi): Memakai sorban adalah Sunnat-Mustamirrah’ (terus–menerus dilakukan oleh Nabi Sallallahu alayhi wa sallam). Nabi Sallallahu alayhi wa sallam sangat menganurkan kita untuk memakai sorban. Telah diriwayatkan dalam mahfum hadits: “Pakailah sorban. Karena itu akan membuatmu sabar” (Fathul Baari) Juga telah diriwayatkan bahwa that seseorang bertanya kepada Hadhrat Ibn Umar R.a. :”apakah memakai sorban itu adalah sunnah atau bukan?” Beliau menjawab bahwa itu adalah sunnah.
  1. 17. Shaikh Muhammad Ibn Jameel Zino (Imam Muhammad Ibn Saud Islamic University) dalam bukunya (Al-Shamail Al-Muhammadiyyah , hal. 106):

Ayat Al Qur’an , “ Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang MEMAKAI TANDA. (S. Al Imran : 125)

Ibn ‘Abbas r.hum , Ulama terbesar di awal Islam, berkata: ”Tanda itu maksudnya adalah MEREKA MEMAKAI SORBAN.”
(Note : Betapa agungnya sorban, sampai para malaikat juga memakainya)

  1. 18. Topi/kopiah/songkok adalah merupakan ciri suatu bangsa dan banyak kaum muslim yang meniru-niru mereka dengan memakai topi mereka. kenyataannya, menutup kepala dengan sorban, adalah lebih baik bagi mereka, untuk membedakan dari orang-orang kafir (Al-Shamail Al-Muhammadiyyah, Hal.106)

ULAMA MEMAKAI SORBAN

Dalam kitab tentang biografi pendiri mazhab Hanafi, Imam Abu Hanifah (terkenal karena pemikirannya yang intelek ), Imam al-Suyuti and al-Haytami meriwayatkan bahwa beliau (Imam Hanafi) memiliki tujuh buah sorban, mungkin beliau memakai satu sorban untuk satu hari dalam seminggu.

Imam Syafi’I selalu memakai sorban yang besar, seolah-olah beliau adalah orang Arab di tengah padang pasir.” Seperti juga dengan muridnya, Pendiri mazhab Hambali, Ahmad ibn Hanbal selalu memakai sorban dengan melilitkan sebagian ekornya dibawah dagu. Banyak kaum muslimin di Afrika Utara dan di Sudan meniru cara beliau dalam memakai sorban

Telah disebutkan juga bahwa Imam Bukhari Rahmatullah alayhi ketika mempersiapkan perjalanannya ke Samarqand, beliau memakai sorban dan memakai kaos kaki dari kulit. (Muqadama Fathul Bari Hal.493)
Juga telah diriwayatkan bahwa Imâm Muslim Rahmatullah alayhi suatu ketika pernah meletakkan cadarnya (selendangnya) pada sorbannya didepan gurunya lalu meninggalkan ruangan kelas. (Muqadama Fathul Bari Hal.491)

Ini membuktikan bahwa Imam Muslim Rahmatullah alayhi ketika mempelajari hadits selalu dalam keadaan memakai sorban.

Ibn Hajar Al-Asqalani (Rahimahullah) telah menyebutkan di dalam kitab Fathul Baari hal. 491 dan 493, bahwasanya Imam Bukhari dan Imam Muslim keduanya selalu memakai sorban.

Catatan : Walaupun mereka bukan orang Arab tapi mengamalkan hal ini (memakai sorban) untuk mengikuti Rasulullah (Sallallaahu Álayhi Wasallam) .

Ibn Al-Jawzi dan Ibn Al-Qayyim (dalam kitab Rawdat al-muhibbin hal. 225.) mengatakan bahwaHasan al-Basri (Rahimahullah) selalu memakai sorban hitam

Seorang ulama mengutip dari biografi Imam nawawi, bahwasanya Imam Nawawi seumur hidupnya hanya memakai baju panjang dan sebuah sorban.

SAHABAT MEMAKAI SORBAN

Abu Umar R.a.meriwayatkan bahwa ia pernah melihat Hadhrat Ibn Umar R.a. membeli sebuah sorban yang memiliki hiasan padanya Ia meminta sebuah gunting lalu memotong hiasan itu. (Ibn Majah Hal.26)

Nafi’ Rahmatullah alayhi mengatakan: ”Saya melihat Ibn Umar R.a. memakai sorban yang mana ekornya bergantung di antara kedua punggungnya.”( Ibn Majah Vol.8 Hal.2)

SORBAN HITAM

Hadhrat Huraith R.a.meriwayatkan that Nabi Sallallahu alayhi wa sallam menjumpai manusia sedang beliau memakai sorban hitam

Hadhrat Jaabir R.a.meriwayatkan bahwa pada saat Fathul Makkah (Penaklukan kota Makkah) , Nabi Sallallahu alayhi wa sallam memasuki kota Makkah Mukarramah dengan memakai sorban hitam. (Sahih Muslim Vol.1 Pg439)

Ibn Abbas (Radhiallaahu Án) meriwayatkan bahwa Rasulullah (Sallallaahu Álayhi Wasallam) menemui para sahabat sedang beliau memakai sorban hitam.

Hadhrat Ibn Abbas R.a.meriwayatkan selama Nabi Sallallahu alayhi wa sallam sakit yang menjadi asbab wafatnya, Nabi Sallallahu alayhi wa sallam menjumpai Para Sahabat Radhiallahu anhum dengan menggunakan sorban hitam. (Sahih Bukhari Vol.1 Hal. 536)

Hazrat Jaabir (Radiallahu Anhu) meriwayatkan bahwa pada saat Fathul Makkah, Nabi (SallallahuAlaihi Wasallam) memasuki kota Makkah Mukarramah dengan memakai sorban berwarna hitam.

(Shamaail Tirmizi Hal. 8; Ibn Majah Hal.256)

Dalam riwayat lain : “Saya melihat Nabi Sallallahu alayhi wa sallam memakai sorban hitam.”

Amr bin Huroits -radhiyallahu ‘anhu- berkata, أَ

“Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah berkhutbah, sedang beliau memakai surban hitam”. [HR. Muslim (1359), Abu Dawud (4077), Ibnu Majah (1104 & 3584)]
Al-Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- berkata dalam menceritakan kebiasaan sahabat dalam memakai songkok dan imamah,

“Dahulu kaum itu (para sahabat) bersujud pada surban, dan songkok (peci), sedang kedua tangannya pada lengan bajunya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah: Bab As-Sujud ala Ats-Tsaub fi Syiddah Al-Harr (1/150) , Abdur Razzaq dalam Al-Mushonnaf (1566)]
Abdullah bin Sa’id-rahimahullah- berkata,

SORBAN HIJAU

Sulaiman bin Abi Abdullah mengatakan, bahwa beliau melihat Sahabat dari kalangan kaum Muhajirin, mereka memakai sorban berwarna hitam, putih, merah, hijau dan kuning. (Musannaf-e-ibn Abi Shaiba, Vol 8, Hal. 241)

حدّثنا أبو بكر قال حدثنا سليمٰن بن حرب قال: حدثنا جرير بن حازم عن يعلى بن حكيم عن سليمٰن بن أبي عبدالله قال: أدركت المهاجرين الأولين يعتمون بعمائم كرابيس سود وبيض وحمر وخضر

Sulaiman bin Abi Abdullah (ra) berkata bahwa pada saat ia berjumpa “Muhajirina awwalun” (Para Sahabat dari kalangan Muhajirin yang paling awal berhijrah) mereka memakai sorban tebal, ada yang berwarna hitam, putih, merah and HIJAU” [Musannaf Ibn Abi Shaybah (6/48)]
FATWA ULAMA TENTANG SORBAN HIJAU

“Bagaimanapun, beberapa Sahabat [radhiallaahu anhum] memakai sorban hijau.” (Musannaf ibn Abi Shaybah).

Green Garments

Shaykh Nazim Al-Haqqani
Aĥmed ibn Yūnus reports from Ubaydullāh – that is ibn Iyād – from Iyād from abū Rimthah: ‘I went with my father to RasūlAllāh šallAllāhu álayhi wa sallam and i saw that he had on him, two green cloaks”. [fa ra’aytu álayhi burdayni akhĎarayn / Abū Dāwūd:4605]
Imām an-Nasāyī reports a ĥadīth under the title: ‘adornment for the preacher on the two ýīds’Muĥammad ibn Bash’shār said: Abdu’r Raĥmān reports: narrated úbaydullāh ibn Iyād from his father who reports fromAbū Rimthah: ‘I saw Nabiyy šallAllāhu álayhi wa sallam giving a sermon, and he was wearing two green cloaks. [wa álayhi burdāni akhĎarān / nasāyī: 1568]

Shaykh Muhammad al Yaqoubi
Imām an-Nasāyī repeated this ĥadīth under a separate title:‘concerning reports on wearing green clothes’.
Abu Rimthah at-Taymiyy reports: RasūlAllāh šallAllāhu álayhi wa sallam, came out [to us] and he was wearing two green robes.[wa álayhi thawbān akhĎarān / nasāyī: 5329]The same ĥadīth reported by Abū Rimthah, is found in Mishkāh from Tirmidhī

[álayhi burdān akhĎarān / mishkātu’l mašābīĥ:4359]

Muĥammad ibn kathīr reports that he was told by sufyān from ibn jurayj from ibn yaálā from yaálā said he:
RasûlAllâh SallAllâhu `alayhi wa sallam did the Ťawāf of kaábahwearing a green cloak passing under his right arm.
[Ťāfa’n Nabiyyu šallAllāhu álayhi wa sallam muĎŤabián bi burdin akhĎar / abū dāwūd: 1883.]
Abu Ramthah said: “I saw the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) wearing two green garments.” (Reported by al-Tirmidhi, who said, this is a ghareeb hasan hadeeth, and by al-Nisaa’i, 5224).


Shaykh GF Haddad


The Holy prophetPBUH) is reported to have said: “Hold on to the turban as it is a sign of the angels. Also let the loose end hang from the back.” (Baihaqi)

“Adopt the turban as it will increase your forbearance.” (Mustadrak of Hâkim)
Shaykh Pir Syed Naseer-ud-Din Naseer (RA)

“Some of Allah Ta’âla’s angels stand at the door of the Musjid and seek repentance on behalf of those wearing white turbans.” (Al Maqaasidul Hasanah pg.466)

“The turban distinguishes the Muslims from the Mushriks (polytheists). (Ibid)

“Allah Ta’âla causes his mercy to descend on the people wearing turbans on the day of Jummah and his Angels make du’â for such people.” (Dailami)

Sayyidina Abu Rimthah (RA) reported that he observed Allah’s Messenger (صلى الله عليه و آله وسلم in a pair of green garments[Dawud Book 9 Hadith 1678 ]
Sheikh Abul Haq Muhadith Dehalvi writes that
The Holy Prophet (صلى الله عليه و آله وسلم) also used Green Ammama Sharif”
[in his book in his book Zia’ul-Qaloub fi Libass-e-Mahboub]
Shaykh Hisham Kabbani
The mere fact that the wearing of the turban is proven to be Sunnat is in itself a sufficient and complete appraisal of its virtue and should provide the necessary impetus towards its adoption.
——————