Bukti Aqidah wahabi = aqidah yahudi : Tuhan Yahudi/wahabi duduk diatas langit

Bukti Kongkrit Akidah wahabi-salafi adalah Akidah Yahudi

Para pembaca sekalian, mungkin banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya akidah wahabi-salafi, orang-orang awam pada umumnya hanya mengetahui bahwa akidah mereka menetapkan sifat-sifat Allah yang ada dalam al-Quran dan menghindari takwil karena takwil bagi mereka adalah perbuatan Yahudi.
Apalagi orang-orang yang telah menjadi doktrin mereka atau tertarik ajaran mereka sebab topeng yang mereka gunakan dengan slogan kembali pada Al-Quran dan Sunnah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan, maka sudah pasti akan melihat ajaran dan akidah mereka murni ajaran tauhid yang suci. Usaha keras untuk memberantas segala bentuk kesyirikan yang ada dan telah merata di seluruh permukaan bumi ini.
Tapi tidak bagi kaum muslimin yang memiliki pondasi Tauhid Ahlus sunnah waljama’ah, mereka akan mampu mengetahui dan melihat misi jahat yang diselipkan di belakang slogan itu. Seiring waktu berjalan, semakin terlihat, semakin terbongkar akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya, semakin tercium dan tampak persamaan akidah wahabi-salafi dan Yahudi. Mereka secara lahir menampakkan pada kaum muslimin permusuhan pada Yahudi, tapi secara sembunyi berteman akrab dengan Yahudi.
Pada kali ini, saya akan bongkar untuk pembaca akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya yaitu “ AKIDAH WAHABI-SALAFI ADALAH AKIDAH YAHUDI “. Tidak perlu saya mengambil sumber dari kitab-kitab para ulama ahlus sunnah yang menceritakan akidah wahabi. Jika saya nukil dari para ulama ahlu sunnah tentang perkataan tasybih dan tajsim mereka, maka mungkin mereka masih bisa menolak dan mengelak, mereka akan mengatakan itu fitnah dan tuduhan yang tak berdasar pada syaikh-syaikh kami,  tapi saya akan tampilkan dengan bukti-bukti kuat akurat yang bersumber dari kitab-kitab karya ulama mereka sendiri yang sudah mereka cetak, terutama Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, ad-Darimi (bukan ad-Darimi sunni pengarang kitab sunan), Albani, Ibnu Utsaimin dan yang lainnya, Yang tak akan mampu mereka bantah.
Saya hanya menampilkan bukti-bukti kongkrit ini semata-mata hanya untuk suadara-saudaraku yang telah terpengaruh dengan akidah wahabi. Dan petunjuk hanyalah dari Allah Swt.
Jika masih ada wahabi yang membantah bukti dan penjelasan nyata ini, maka ibarat orang yang berusaha menutupi cahaya matahari yang terang benderang di sinag hari dengan segenggam tangannya.
  1. Akidah Yahudi :
Di dalam naskah kitab Taurat yang sudah dirubah yang merupakan asas akidah Yahudi yang mereka namakan “ SAFAR AL-MULUK “ Al-Ishah 22 nomer : 19-20 disebutkan :
و قال فاسمع إذاً كلام الرب قد رأيت الرب جالسا على كرسيه و كل جند السماء وقوف لديه عن يمينه و عن يساره
“ Dan berkata “ Dengarkanlah, ucapan Tuhan..aku telah melihat Tuhanku duduk di atas kursinya dan semua pasukan langit berdiri di hadapannya dari sebelah kanan dan kirinya “.
Dalam kitab mereka yang berjudul “ SAFAR AL-MAZAMIR “ Al-Ishah 47 nomer 8 disebutkan :
الله جلس على كرسي قدسه
“ Allah duduk di atas kursi qudusnya “.
Akidah wahabi-salafi :
 
Di dalam kitab andalan wahabi-salafi yaitu Majmu’ al-Fatawa Ibnu Taimiyyah al-Harrani imam wahabi juz 4 halaman 374 :
إن محمدا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه
“ Sesungguhnya Muhammad Rasulullah didudukkan Allah di atas Arsy bersama Allah “.
Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ halaman 400 cetakan Dar al-‘Ashimah disebutkan bahwasanya Ibnu Taimiyyah berkata :
فما جاءت به الأثار عن النبى من لفظ القعود و الجلوس فى حق الله تعالى كحديث جعفر بن أبى طالب و
حديث عمر أولى أن لا يماثل صفات أجسام العباد
“ Semua hadits yang datang dari Nabi dengan lafadz qu’ud dan julus (duduk) bagi Allah seperti hadits Ja’far bin Abi Thalib dan hadits Umar, lebih utama untuk tidak disamakan dengan anggota tubuh manusia “.
Dalam halaman yang sama Ibnu Taimiyyah berkata :
إذا جلس تبارك و تعالى على الكرسي سمع له أطيط كأطيط الرحل الجديد
“ Jika Allah duduk di atas kursi, maka terdengarlah suara suara saat duduk sebagaimana suara penunggang bintang tunggangan karena beratnya ”
Kitab tersebut dicetak di Riyadh tahun 1993, penerbit Dar al-‘Ashimah yang dita’liq oleh Muhammad al-Khamis.
Di dalam kitab ad-Darimi (bukan ulama sunni al-Hafdiz ad-Darimi pengarang hadits sunan) halaman 73 disebutkan :
هبط الرب عن عرشه إلى كرسيه
“ Allah turun dari Arsy ke kursinya “
Kitab itu terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah yang dita’liq oleh Muhamamd Hamid al—Faqiy.
Kitab ad-Darimi (al-wahhabu) ini dipuji-puji oleh Ibnu Taimiyyah dan menganjurkannya untuk dipelajari, sebab inilah wahabi menjadi taqlid buta.
Tapi akidah mereka ini disembunyikan dan tidak pernah dipublikasikan ke khalayak umum.
Sekedar info : Lafadz duduk bagi Allah tidak pernah ada dalam al-Quran dan hadits.
  1. Akidah Yahudi :
Di dalam naskah Taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan “ Safar at-Takwin Ishah pertama nomer : 26-28 disebutkan :
و قال الله نعمل الإنسان على صورتنا على شبهنا… فخلق الله الإنسان على صورته على صورة الله خلقه ذكرا و أنثى خلقهم
“ Allah berkata ; “ Kami buat manusia dengan bentuk dan serupa denganku…lalu Allah menciptakan manusia dengan bentuknya, dengan bentuk Allah, dia menciptakan laki-laki dan wanita “.
Akidah wahabi :
 
Di dalam kitab “ Aqidah ahlu Iman fii Khalqi Adam ‘ala shurati ar-Rahman “ karya Hamud bin Abdullah at-Tuajari syaikh wahabi, yang dicetak di Riyadh oleh penerbit Dar al-Liwa cetakan kedua, disebutkan dalam halama 16 :
قال ابن قتيبة: فرأيت في التوراة: إن الله لما خلق السماء و الأرض قال: نخلق بشرا بصورتنا
“ Berkata Ibnu Qathibah “ Lalu aku melihat di dalam Taurat : “ Sesungguhnya Allah ketika menciptakan langit dan bumi, Dia berkata : “ Kami ciptakan manusia dengan bentukku “.
Pada halaman berikutnya di halaman 17 disebutkan :
و في حديث ابن عباس: إن موسى لما ضرب الحجر لبني إسرائيل فتفجر و قال: اشربوا يا حمير فأوحى الله إليه: عمدت إلى خلق من خلقي خلقتهم على صورتي فتشبههم بالحمير ، فما برح حتى عوتب
“ Di dalam hadits Ibnu Abbas : “ Sesungguhnya Musa ketika memukul batu untuk Bani Israil lalu keluar air dan berkata : “ Minumlah wahai keledai, maka Allah mewahyukan pada Musa “ Engkau telah mencela satu makhluk dari makhlukku yang Aku telah ciptakan mereka dengan rupaku, lalu engkau samakan mereka dengan keledai “ Musa terus ditegor oleh Allah “.
Naudzu billah dari pendustaan pada Allah dan pada para nabi-Nya.
  1. Akidah Yahudi :

Disebutkan dalam kitab Yahudi yang mereka namakan “ Safar Khuruj “ ishah 19 nomer : 3-6 :
فناداه الرب من الجبل … فالآن إن سمعتم لصوتي و حفظتم عهدي
“ Maka Tuhan memanggil kami dari bukit….sekarang jika kalian mendengar suaraku dan menjaga janjiku “.
Akidah wahabi :
 
Di dalam kitab “ Fatawa al-Aqidah “ karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang dicetak Maktabah as-Sunnah cetakan pertama tahun 1992 di Mesir, pada halaman 72 Ibnu Utsaimin berkata :
في هذا إثبات القول لله و أنه بحرف و صوت ، لأن أصل القول لا بد أن يكون بصوت فإذا أطلق القول
فلا بد أن يكون بصوت
“ Dalam hal ini dijelaskan adanya penetapan akan ucapan Allah Swt. Dan sesungguhnya ucapan Allah itu berupa huruf dan suara. Karena asli ucapan itu harus adanya suara. Maka jika dikatakan ucapan, maka sudah pasti ada suara “.
  1. Akidah Yahudi :
Di dalam kitab taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan dengan “ SAFAR ISY’IYA “ Ishah 25 nomer 10, Yahudi berkata :
لأن يد الرب تستقر على هذا الجبل
“ Sesungguhnya tangan Tuhan istiqrar / menetap di gunung ini “
Akidah wahabi :
 
dalam kitab Fatawa al-Aqidah karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang diterbitkan oleh Maktabah as-Sunnah cetakan pertama halaman 90, al-Utsaimin berkata :
و على كل فإن يديه سبحانه اثنتان بلا شك ، و كل واحدة غير الأخرى ، و إذا وصفنا اليد الأخرى بالشمال فليس المراد أنها أنقص من اليد اليمنى
“ kesimpulannya, sesungguhnya kedua tangan Allah itu ada dua tanpa ragu lagi. Satu tangannya berlainan dari tangan satunya. Jika kita sifatkan tangan Allah dengan sebelah kiri, maka yang dimaksud bukanlah suatu hal yang kurang dari tangan kanannya “.
  1. Akidah Yahudi :
Di dalam kitab Yahud “ Safar Mazamir “ Ishah 2 nomer : 4 disebutkan :
الساكن في السموات يضحك الرب
“ Yang tinggal di langit, Tuhan sedang tertawa “
Akidah wahabi :
Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ cetakan Dar al-’Ashimah halaman 182, Ibnu Taimiyyah berkata :
أن الله فوق السموات بذاته
“ Sesungguhnya Allah itu di atas langit dengan Dzatnya “
Di dalam kitab “ Qurrah Uyun al-Muwahhidin “ karya Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab (cicit Muhammad bin Abdul wahhab), cetakan Maktabah al-Muayyad tahun 1990 cetakan pertama, halaman 263 disebutkan :
أجمع المسلمون من أهل السنة على أن الله مستو على عرشه بذاته…استوى على عرشه بالحقيقة لا بالمجاز
“ Sepakat kaum muslimin dari Ahlus sunnah bahwa sesungguhnya Allah beristiwa di Arsy dengan dzat-Nya…Allah beristiwa di atas Arsy secara hakekat bukan majaz “.
Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi.
Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi. Dan jika saya beberkan semuanya, maka akan menjadi lembaran yang sangat banyak. Cukup yang singkat sedikit ini membuktikan bahwa akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya adalah akidah Yahudi.

Bukti Wahabi Saudi memalsukan Kitab shahih Bukhary : Hadits Mutasyabihat “Pinggang Arrahman” diubah / dipalsukan

Kitab umat muslim paling shahih setelah Al-Quran tak luput dari ulah jahil tangan-tangan wahabi.

Mereka menggunting sebagian teks dari hadits dalam kitab shahih Bukhari.

Wahabi terkenal dengan doktrinya yang anti takwil, hamper semua ayat-ayat dan hadits-hadits shifat ia haramkan untuk ditakwil, menurut mereka takwil itu ta’thil yaitu meniadakan sifat-sifat Allah. Mereka tutup mata dan telinga dari kenyataan pentakwilan sebagian ulama salaf terhadap ayat-ayat shifat, entah karena mempertahankan doktrin tajsimnya atau memang sengaja menyesatkan umat muslim dari kebenaran.

Berikut salah satu redaksi hadits shahih riwayat imam Bukhari yang merupakan mutasyabih dan tak ada jalan untuk memahaminya kecuali dengan metode ulama salaf sholeh yaitu tafwidh al-ma’na bilaa kaifin walaa tasubiihin wa laa tamtsilin atau disebut takwil ijmali dan metode takwil tafsili yaitu memebrikan makna yang layak bagi sifat keagungan dan kesempurnaan Allah.

Namun hadits ini karena wahabi merasakan kebuntuan di dalam memahaminya dan dapat menyebabkan runtuhnya serta terkuaknya doktrin tajsim mereka, maka dengan sengaja mereka membuang teks tersebut.
Berikut bukti akurat yang akan saya tampilkan :

Inilah redaksi hadits aslinya :

Nabi Sallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda :

خَلَقَ الله الْخَلْقَ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتِ الرَّحِمُ فَأَخَذَتْ بِحَقْوِ الرحمن فَقَالَ لَهَا: مَهْ. قَالَتْ: هذا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ الْقَطِيْعَةِ. قَالَ: أَلاَ تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ. قَالَتْ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَذَاكِ لَكِ. قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ: اِقْرَءُوْا إِنْ شِئْتُمْ ((: فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ))

”Allah menciptakan makhluk, ketika Allah telah merampungkannya, maka berdirilah rahim, ia berpegang kepada pinggang ar-Rahman. Allah berfirman kepadanya : “Diamlah”. Ia menjawa : “Ini adalah kesempatan berlindung kepadaMu dari pemutusan”. Allah berfirman : “Apakah kamu tidak rela Aku menyambung orang yang menyam-bungmu dan memutus orang yang memutusmu?”. Ia menjawab : “Ya, ya Rabbi”. Allah berfirman : “Itu untukmu”. Abu Hurairah berkata : “’Bacalah kalau kamu mau : “Maka apakah jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1696, dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1764, shohih bukhary no. 4455, bab 2945 Surat Muhar).

‎”PINGGANG ARRAHMAN” DITAFSIRKAN OLEH ULAMA SUNNI = “PINGGANG YANG DIMULIAKAN ARRAHMAN”.

SEPERTI “BAITULLAH” = “RUMAH YG DIMULIAKAN ARRAHMAN”

NAQATALLAH = “ONTA BETINA YANG DIMULIAKAN ALLAH”

Teks asli tersebut (belum digunting) ada pada 4 terbitan :

1. Terbitan Doktor Musthofa Dib Al-Bigha
2. Terbitan Dar Tauqun Najah
3. Terbitan Al-Mathba’tus salafiyyah
4. Terbitan Dar Ibn Katisr

Dan telah ditahrif oleh terbitan Dar As-Salam Riyadh milik wahabi :
Dan berikut scan kitab yang ditahrif wahabi :
Dalam scan kitab terbitan Dar As-Salam tsb teks “ بحقو للرحمن  “ telah digunting wahabi dan tidak akan ditemukan dalam terbitan itu.
Bandingkan dengan keempat terbitan milik sunni berikut :
1. Terbitan Doktor Musthofa Dib Al-Bigha :
Dalam terbitan ini teks ” “ بحقو للرحمن  “ ditetapkan (tidak dibuang).
2. Terbitan Dar Tauqun Najah :
Dalam terbitan ini pun teks ” “ بحقو للرحمن  “ ditetapkan (tidak dibuang).
3. Terbitan Al-Mathba’tus salafiyyah :
Dalam terbitan ini pun teks ” “ بحقو للرحمن  “ ditetapkan (tidak dibuang).
4. Terbitan Dar Ibn Katsir :
Dalam terbitan Dar Ibn Katsir juga teks “ بحقو للرحمن  “ juga ditetapkan (tidak dibuang).
Inilah bukti pengkhianatan ilmiyyah dan kejahatan yang sudah biasa dilakukan wahabi-salafi demi melancarkan doktrin-doktrin sesat mereka.
By : Shofiyyah An-Nuuriyyah
30-08-2012

Meriahnya Maulid Nabi di Pakistan : Minhajul qur’an International (International Sunni (Hanafi ) movement- Syaikh Tahir ulqadri

Maulid Nabi di Menara Pakistan (Monasnya Pakistan) 2010

dihadiri ulama ulama habib/keturunan nabi sunni dr berbagai negara

Maulid Nabi di Menara Pakistan (Monasnya Pakistan) 2009

MAWLID UN NABI – EID MILAD UN NABI (SAW) – Birthday Celebration Holy Prophet Muhammad Mustafa (SAW) Sira & Virtures of the Prophet (S.A.W)۔ – It is the unique honour of Minhaj ul Quran International (MQI) that it organizes International Mawlid-un-Nabi Conference annually to celebrate the birth anniversary of the Holy Prophet (S.A.W). The event is broadcast live globally and attracts participation of millions of people.

Special Speech: Shaykh-ul-Islam Dr Muhammad Tahir-ul-Qadri

مولد النبی میلاد النبی، عالمی میلاد کانفرنس از منہاج القرآن انٹرنیشنل

1- FAZILAT E DAROOD -O-SALAM & HALQAT-E-DUROOD
2- Salat o Salam ka Mafhoom aur Fazilat v Barkat

http://www.minhaj.org
http://www.irfan-ul-quran.com
http://www.minhajbooks.com
http://www.deenislam.com
http://www.gosha-e-durood.com
http://www.welfare.org.pk
http://www.minhajsisters.com

Bergembira atas diutusnya Baginda Muhammad S.A.W.

Maulid nabi

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. [qs. Yunus 10:58]

 

Ibnu abbas mengatakan bahwa “kurnai Allah” dalam ayat ini adalah “ilmu/syariat Islam” sedangkan “Rahmat Allah” adalah diutusnya “Nabi Muhammad Saw”.

 

Rahmat Allah Paling besar adalah diutusnya nabi Muhammad.

 

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS al anbiya 21:107]

[5:15] Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan408.

[408 : cahaya maksudnya Nabi Muhammad saw dan kitab maksudnya alquran]

salafytobat have link to minhajul international :

Salafytobat : DR. Muhammad Tahir Ul Qadri : Bongkar kesesatan terrorist wahhaby

March 3, 2010

LONDON – Seorang ulama ternama mengeluarkan fatwa sebanyak 600 halaman yang menentang terorisme. Fatwa yang dikeluarkan di London, Inggris ini menurut ulama tersebut merupakan bentuk persuasif kepada pemuda muslim untuk berpaling dari kelompok ekstrimis muslim.

Fatwa ini dikeluarkan oleh Muhammad Tahir Ul Qadri, seorang ulama yang telah mempromosikan perdamaian dan dialog lintas agama selama 30 tahun.

Fatwa yang dikeluarkan olehnya ini merupakan yang pertama dikeluarkan, sejak fatwa serupa yang dirilis oleh kelompok muslim lain menyusul terjadinya serangan 11 September 2001 lalu di New York, Amerika Serikat.

Namun Qadri sendiri mengklaim jika fatwa yang dikeluarkannya kali ini berbeda dengan fatwa sebelumnya. Fatwa yang ia keluarkan kali ini menyebutkan, teroris dan pelaku bom bunuh diri sebagai golongan tidak beragama. Ulama yang juga bergelar doktor ini menyatakan fatwanya mencakup lebih jauh dibandingkan fatwa sebelumnya.

“(Fatwa) ini merupakan sebuah fatwa yang paling komprehensif yang menulis subjek tentang terorisme,” ungkap Dr Qadri seperti dikutip Reuters, Selasa (2/3/2010).

“Saya mencoba untuk tidak meninggalkan satu pun fakta mengenai masalah terorisme dan mencoba untuk menjawab semua pertanyaan yang relevan dengan subjek ini,” imbuh Dr Qadri.

Fatwa Dr Qadri sendiri ditanggapi positif oleh Dosen Ilmu Islam Universitas Cambridge, Inggris, Tim Winter. Winter melihat meskipun fatwa ini serupa dengan fatwa sebelumnya, ia mengakui jika fatwa Dr Qadri memang selangkah lebih maju.

“Menyatakan teroris sebagai kalangan yang tidak beragama adalah tidak biasa, karena tidak ada aturan jelas untuk menyatakan jika para teroris merupakan muslim.” ungkap Tim Winter. “fatwa ini mungkin akan diabaikan oleh kelompok Islam garis keras. Namun untuk warga muslim yang menghormati para ulama mungkin akan mengikuti fatwa ini,” tambahnya.

Penulis 350 buku mengenai ajaran Islam ini merupakan pemimpin organisasi pendidikan dan religi, Minhaj ul Quran. Mantan Menteri Pakistan dan rekan dari Perdana Menteri Pakistan yang tewas terbunuh Benazir Bhutto ini, sering memberikan kuliah di seluruh dunia. Kuliahnya tersebut berisi pesan perdamaian usai serangan 11 September 2001 di AS.

http://www.minhaj.org/english/tid/10358/Salafytobat–DR-Muhammad-Tahir-Ul-Qadri–Bongkar-kesesatan-terrorist-wahhaby.html

Terkini (2012) WAHABI JIHADY (QUTHBIYUN) : MEMBUNUHI ULAMA – ULAMA SUNNI MADZAB HANAFI DI DAGESTAN RUSIA

Adakah Wahhabi Irhabi Khariji di sebalik pembunuhan ulama’ di Rusia? Sejarah umat Islam boleh menjawabnya.

Ulama Rusia mati ditembak

BEBERAPA anggota polis memeriksa bangkai kereta yang membawa Ildus selepas ia hangus akibat letupan bom di Kazan, Rusia semalam.

MOSCOW – Seorang ulama wilayah Tatarstan, Rusia mati ditembak manakala seorang lagi ulama cedera dalam satu letupan bom kereta di Kazan, wilayah Tatarstan, kata beberapa penyiasat semalam.
Beberapa pemimpin tempatan menyatakan, kedua-dua serangan tersebut mempunyai kaitan dengan kritikan mereka terhadap golongan radikal Islam.
Jawatankuasa Siasatan Rusia memberitahu, Timbalan Mufti Tatarstan, Valiulla Yakupov ditembak mati ketika beliau meninggalkan rumahnya di Kazan semalam.
Menurut jawatankuasa itu, Ketua Mufti, Ildus Faizov cedera di kaki selepas bom pada keretanya meletup di pusat bandar tersebut.
Kedua-dua ulama berkenaan merupakan penentang pengikut fahaman Salafi atau Wahabi.
Jurucakap Jawatankuasa Siasatan, Vladimir Markin memberitahu beberapa agensi berita Rusia bahawa agensinya sedang menyiasat aktiviti kedua-dua ulama itu sebagai punca mereka diserang.
Berusia 49 tahun, Ildus menjadi Ketua Mufti Tatarstan pada tahun 2011 dan memulakan operasi membanteras golongan radikal Islam dengan memecat pendakwah Wahabi dan mengharamkan buku agama dari Arab Saudi.
Beliau turut dikritik media di Tatarstan kerana mengaut keuntungan daripada pakej mengerjakan haji anjurannya selain cuba mengawal sebuah masjid yang dikategori sebagai antara tertua dan terbesar di Kazan. – AP
Sumber: Kosmo
—————————————————————————-
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh; Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam; Selawat dan Salam ke atas Rasulullah SAW, Rahmat ke seluruh alam; Juga kepada ahli keluarga baginda dan para sahabat r.a. yang telah bertebaran di merata alam;
1. Merujuk berita di atas. Al-Fatihah kepada Timbalan Mufti Tatarstan, Valiulla Yakupov. (Gambar di bawah) . Semoga Allah merahmati beliau dan menempatkan beliau di kalangan orang-orang soleh. Amin.
2. Dan semoga Allah menyembuhkan Ketua Mufti Tatarstan, Ildus Faizov (Gambar di bawah). Berita yang sama banyak dilaporkan di dalam media-media antarbangsa yang lain seperti di sini dan di sini.
3. Peristiwa pembunuhan ulama’ yang disyaki didalangi oleh Wahhabi Irhabi ini sememangnya mengingatkan kita kepada banyak peristiwa berdarah umat Islam yang dilakukan oleh golongan Khawarij amnya dan Wahhabi khususnya (Rujuk Sejarah Kebangkitan Wahhabi di dalam Inwan al-Majd dan Tarikh Najd). Begitu ramai ulama’ yang terkorban di tangan Wahhabi Irhabi. Allahu al-Musta’an.
4. Negara-negara balkan sedang cuba bangkit dalam kewangan Islam seperti Kazakhstan sendiri telah menubuhkan Kaz Haj yang menyerupai model Tabung Haji dengan bantuan Amanah Raya Berhad (Malaysia) dan Tatarstan bercadang untuk mengintai peluang penerbitan sukuk dengan Amanah Raya Berhad (Malaysia).
5. Negara-negara Balkan sememangnya pernah menjadi pusat ilmu Islam sehingga digambarkan ketinggian ilmu di Bukhara menyamai perbincangan ilmu di Baghdad.
6. Semoga negara-negara Islam Balkan kembali bangkit dan semoga Allah menjauhkan mereka daripada fahaman-fahaman menyeleweng seperti Wahhabi, Syiah, Islam Liberal, Hizb al-Tahrir, dan lain-lain. Amin Ya Rabbal Alamin.

Ulama Sufi  (Madzab Hanafi) Terkemuka di Rusia Tewas Akibat Bom Bunuh Diri

Moskow Bom bunuh diri yang dibawa seorang perempuan, menewaskan seorang ulama Sufi terkemuka, Said Atsayev (74), di wilayah Dagestan, Rusia Selatan. Atas aksi brutal tersebut, Presiden Vladimir Putin menyerukan penghentian kekerasan agama.

Seperti diberitakan Reuters, Selasa (28/8/2012), berdasarkan keterangan kepolisian setempat, aksi bom bunuh diri itu diduga dilakukan seorang perempuan. Pelaku memasuki kediaman sang ulama dengan berpura-pura menjadi peziarah dan meledakan bom dengan menarik sabuk yang melingkari pinggangnya.

Sebagai seorang pemuka agama terkemuka, Atsayev sangat begitu dikenal banyak kalangan di Dagastan. Begitu pula di pemerintahan, ulama ini namanya begitu populer.

Ribuan orang terus berdatangan ke prosesi pemakaman sang ulama di Dagestan sejak Selasa malam. Pemerintah daerah setempat mengumumkan hari berkabung atas insiden berdarah tersebut.

Sementara itu, Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengecam aksi bom bunuh diri yang menewaskan Atsayev. “Kami tidak akan membiarkan siapa pun merobek negara kita dengan memanfaatkan perbedaan etnis dan agama,” tegas Putin.

“Teroris, bandit, apapun ideologi yang mereka gunakan, hanya untuk satu tujuan, menabur kebencian dan ketakutan,” tegasnya lagi.

(ahy/ahy)

KISAH ASY-SYAHID SYEIKH NIZAR (ASWJ) DIBUNUH WAHHABI

ULAMA AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH BERNAMA SYEIKH NIZAR AL-HALABY MATI SYAHID DIBUNUH DENGAN KEJAM OLEH TOKOH WAHHABI


SYEIKH NIZAR HALABI MATI SYAHID DIBUNUH OLEH WAHHABI DAN WAHHABI MENGHALALKAN SEGALA PERBUATAN ZALIM TERUTAMA KE ATAS UMAT ISLAM DENGAN CARA MEMBUNUH

Lihat darah Syeikh Nizar masih mengalir menandakan beliau mati Syahid suci.

Sejak kebangkitan agama jahat: agama Wahhabi memang terkenal dengan radikal mereka membunuh ulama Islam. Al-Qodhi Zawawi mufti di tanah hijaz ketika kebangkitan agama Wahhabi mati dibunuh oleh Wahhabi. Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab saudara kepada pengasas agama Wahhabi iaitu Muhammad bin Abdul Wahhab pernah dicuba bunuh oleh saudaranya sendiri (muhammad b abd wahhab) dengan cara mengupah orang lain untuk membunuh beliau. Ratusan ulama dibunuh oleh Wahhabi dan ratusan ribu umat Islam awam dibunuh oleh Wahhabi. Yang amat menyedihkan adalah pembunuhnya adalah dari tokoh-tokoh agama Wahhabi bukan hanya pengikut mereka yang jahil murakkab.

Syeikh Nizar Al-Halaby seorang tokoh ulama Ahli Sunnah Wal Jama’ah dan merupakan ketua Persatuan Islam di Lubnan tidak terlepas mati dibunuh dengan kejam oleh tokoh-tokoh Wahhabi. Beliau (Syeikh Nizar) juga merupaka ulama yang bersikap baik terhadap orang-orang Islam dan berhikmah dalam berdakwah. Walaupun beliau tidak pernah menjentik ataupun memukul Wahhabi beliau tetap dibunuh dengan kejam oleh Wahhabi. Dan sesudah kematian beliau keluarga beliau dan pendokong dibawah Persatuan yang diketua oleh beliau ketik itu tidak pula membalas pembunuh kejam Wahhabi itu walaupun dengan ludahan benci. Mereka yang bersama beliau tidak bertindak radikal terhadap Wahhabi walaupun Wahhabi turut menembak anak kepada Syeikh Nizar Al-Halabi Rahimahullah. Demikian Persatuan tersebut iaitu Persatuan Perusahaan Kebajikan Islamiah Lubnan (JAM’IYYAH AL-MASYARI’ KHOIRIYA AL-ISLAMIYYAH) terkenal dengan pertubuhan Ahli Sunnah Wal Jamaah Al-Asya’irah Al-Maturidiyyah diiktiraf sebagai persatuan keadilan dan kemurnian dalam segelap tindakan.

Pada pagi Khamis itu 31.Ogos. 1995/ 6. Rabiul Akhir tahun 1416H Syeikh Nizar bersama anak beliau dan pemandu kereta beliau masuk ke dalam kereta untuk menghantar Syeikh Nizar ke Pejabat Persatuan Islam di Lubnan. Sebelum mereka menggerakkan kereta sebuah kereta lain jenis Marcedes warna putih tiba-tiba datang bersama sebuah motosikal lantas turun dari kereta putih mereka dan terus menembak ke atas Syeikh Nizar dengan jarak yang amat dekat berkali-kali. Lihat! Wahhabi menembak ulama Islam berkali-kali kerana benci dengan Islam.

TOKOH WAHHABI YANG MEMBUNUH SYEIKH NIZAR HALABI. PEMBUNUH DI BAWAH MENGAKUI MEREKA BERFAHAMAN WAHHABI DALAM RAKAMAN TV BEIRUT

Beberapa hari selepas Wahhabi-wahhabi itu membunuh ulama Islam Syeikh Nizar mereka telah ditangkap oleh polis dan pihak keselamatan negara dan ternyata mereka yang membunuh itu mengakui mereka memang berfahaman Wahhabi Ibnu Taimiah dan Mujassimah. Mereka yang melakukan pembunuhan terhadap Syeikh Nizar adalah pembesar Wahhabi yang dibayar oleh ketua atasan mereka untuk membeli senjata. Mereka yang membunuh adalah bernama:
1- Munir Solah ‘Abboud,
2- Ahmad Qasam,
3- Wasim Muhammad Abdul Nasir,
4- Rabie’ Muhammad Nab’ah,
5- Muhammad Hamid (Abou Ubaida).

TOKOH WAHHABI & PEMBUNUH SYEIKH NIZAR BERNAMA MUNIR

– Berkata Munir ‘Abboud
(Tokoh Wahhabi&Pembunuh) : ”
Startegi pembunuhan tersebut kami lakukan secara berpakat bersama sahabat kami untuk melakukan pembunuhan itu pada jam 8.30pagi dan kami menunggu (pembunuh memaki dengan kata yang termat kesat) Nizar Halabi, kami bertolak mengunakan kereta Marcedes putih dan apabila kami melihat (pembunuh memaki lagi seperti Wahhabi memaki Nabi) Nizar Halabi turun dari rumahnya menggunakan lif dan kemudian dia masuk dalam keretanya maka terus kami menembak dia (Syeikh Nizar) dan kami telah membunuhnya. Yang menembak kepada Syeikh Nizar adalah saya dan saudara saya bernama Umar. Saya bernama Abdullah. Saya bernama Munir Solah ‘Abboud. Saudara saya Umar Asy-SYamiy juga membawa kereta dan kemudian turun dari kereta lantas menembak Nizar Halabi si B*b*.
Aku tidak akan kesal sama sekali dan aku mahu hidup”.

Ulasan:
Lihat bagaimana pembunuh kejam ini memaki hamun dengan perkataan yang amat kesat seperti B*B* dan carutan yang lain ke atas ulama Islam yang telah dibunuhnya dengan bangga. Dia (pembunuh) menghalalkan hukum membunuh orang Islam tanpa sebarang syarat.
Betapa kejamnya seluruh pengikut dan tokoh Wahhabi ke atas ulama Islam.

TOKOH WAHHABI & PEMBUNUH SYEIKH NIZAR BERNAMA AHMAD QOSAM

– Berkata Ahmad Qasam (Tokoh WahhabiPembunuh):
” Kami berdua menembak Syiekh Nizar”.

WAHHABI & PEMBUNUH BERNAMA RABIE’

– Berkata Rabie’ Muhammad Nab’ah (Wahhabi&Pembunuh):
” Aku bersama saudaraku atas motor, tugas kami adalah menjaga dua orang sahabat kami yang menembak Nizar Halaby juga memastikan pembunuhan kami berjalan lancar. Bersama aku senjata api”.

WAHHABI & PEMBUNUH BERNAMA WASIM

– Wasim (Wahhabi&Pembunuh):
” Aku juga ketika itu mempunyai senjata api. Tugas aku adalah menjaga pembunuh. Kami semua bangga sangat kerana dapat membunuh dan kami menghukum semua Ahli Sunnah Wal Jama’ah sebagai Murtad halal darah”.

WAHHABI & PEMBUNUH BERNAMA ABOU UBAIDA

– Abou ‘Ubaida (Wahhabi Pembunuh&Drebar):
” Saya tinggal di Beirut, Musaibe. Tugas aku adalah membawa kereta. Kami telah terlatih membunuh orang Islam sejak zaman perang dahulu lagi. Aku berharap sangat dapat menembak Nizar Halabi”.

Ulasan:
Lihat bagaimana kekejaman Wahhabi terhadap ulama Islam dengan membunuh ulama Islam yang tidak bertindak ke atas mereka pun. Paling menyedihkan Wahhabi membiarkan orang Yahudi membunuh umat Islam waktu yang sama Wahhabi pula membunuh ulama Islam di negara lain. Wahhabi-wahhabi pembunuh tadi amat bergembira membunuh ulama Islam kerana inilah agama Wahhabi. Mereka tadi mengakui semua Wahhabi akan bertindak membunuh ulama Islam jika tidak menyokong Yahudi.Inilah kekejaman Wahhabi dan bukti keadilan ulama Islam Ahli Sunnah Wal Jamaa’ah seperti Syeikh Abdullah Al-Harari, Syeikh Nizar Halabi, Syeikh Abdullah Al-Ghumary dan selainnya.

KENANGAN SYEIKH NIZAR HALABI BERSAMA MUFTI DAGHISTAN YANG TURUT DIBUNUH OLEH WAHHABI

Nantikan paparan bagaiman Wahhabi dengan kejam membunuh Mufti Daghistan yang berfahaman Ahli Sunnah Wal Jama’ah.

Ku tinggalkan sementara kepada pembaca dengan video ini:

Syeikh Nizar Al-Halaby pernah berkata kepadaku dan semua:
“Aku tidak peduli sekiranya aku mati dibunuh kerana matiku dalam Islam dan jihad. Dibunuh akan seorang pejuang Islam itu adalah satu Sunnatullah bagi pendakwah kepada agama Ilah”.

Disusun oleh: Abu Syafiq (012-2850578)

Hujjah Dakwah di jalan Allah : 3 hari – 40 Hari – 4 bulan – 6 bulan – 1 tahun – 5 tahun dsb

Assalamualaikum,

puak Wahabi menuduh jemaah Tabligh sebagai pengamal bida’ah,begitu juga firqah-firqah yang lain menuduh dan memfitnah jemaah ini sebagai pengamal bidaah sedangkan jemaah ini sedang dan telah menghidupkan sunnah di seluruh dunia,dalam masa yang sama,para pencaci dan pemfitnah itu tidak kelihatan pun sunnah walau dalam diri mereka sendiri jauh sekali orang lain.

Puak Wahabi misalnya,mereka sering lantang menyatakan itu bida’ah,ini bida’ah sedangkan mereka tidak tunjukkan yang mana sunnah,jika mereka tunjukkan sekalipun yang mana sunnah,mereka sendiri jauh dari amalan sunnah itu.Satu perkara perlu diingat,agama ini tersebar dengan amalan dan akhlak,bukan dengan ceramah dan pandai berkata-kata semata-mata.

Jika kita lantang menjerit sana sini,tapi tidak tunjukkan amal,maka para pendengar tidak akan mendapat taufik untuk beramal dengan perkara yang didakwahkan itu.Bahkan ceramah yang mereka dengar itu semata-mata menjadi ‘halwa telinga’ dan menusuk kebencian pada umat semata-mata.Maka lahirlah ramai golongan manusia yang suka mengkafirkan orang lain,membida’ahkan orang lain dan menuduh orang lain dengan pelbagai tohmahan tanpa selidik.

Jadi disini,aku ingin menjawab kepada para penanya yang bertanya apakah jemaah ini mengamalkan bida’ah kerana mengehadkan masa keluar di jalan Allah sebanyak 3 hari,40 hari,4 bulan dan lain-lain?

Para Sahabat Keluar ke Jalan Allah:

Sebanyak 150 jemaah telah dihantar dari Madinah dalam masa 10 tahun tersebut. Baginda s.a.w. sendiri telah menyertai 25 daripada jemaah-jemaah tersebut. Sebahagian jemaah tersebut terdiri daripada 10,000 orang, ada yang 1,000 orang, 500 orang, 300 orang, 15 orang, 7 orang dan sebagainya. Jemaah-jemaah ini ada yang keluar untuk 3 bulan, 2 bulan, 15 hari, 3 hari dan sebagainya. 125 jemaah lagi sebahagiannya terdiri daripada 1000 orang, 600 orang, 500 orang dan sebagainya dengan masa 6 bulan, 4 bulan dan sebagainya.
Sekiranya kita menghitung dengan teliti maka akan didapati purata masa yang diberikan oleh setiap sahabat untuk keluar ke jalan Allah dalam masa setahun ialah antara 6 hingga 7 bulan.
(Petikan Bayan Maulana Yusuf: USAHA RASULULLAH SAW DAN SAHABAT RA DALAM KEHIDUPAN MADINAH)

Sahabat keluar 5 tahun:

Pada tahun 627M satu rombongan sahabat-sahabat Nabi S.A.W yang diketuai oleh Wahab bin Abi Qabahah dikatakan telah mengunjungi Riau dan menetap selama 5 tahun di sana (sebelum pulang ke Madinah)
(dipetik dari kitab ‘Wali Songo dengan perkembangan Islam di Nusantara’, oleh Haji Abdul Halim Bashah, terbitan Al Kafilah Enterprise, Kelantan, 1996, m/s 79, bab 9, ISBN 983-99852-8-0)

Sahabat radiyalaahu anhum keluar 6 bulan:
Bara Radiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutus Khalid ibne-Walid Radiyallahu ‘anhu kepada penduduk Yamen untuk mengajak mereka masuk Islam. Bara berkata: Aku juga termasuk dalam jamaah itu. Kami tinggal di sana selama 6 bulan. Khalid radiyalaahu anhu selalu mengajak mereka untuk masuk Islam, tetapi mereka menolak ajakannya. Kemudian Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam mengutus ‘Ali ibne-Abi Talib Radiyallahu ‘anhu ke sana dan memerintahkan kepada Khalid r.a. untuk kembali dengan seluruh jamaah kecuali salah seorang dari jamaah Khalid r.a. yang mahu menemani Ali r.a, maka ia boleh ikut serta dengan Ali r.a. Bara r.a berkata: Akulah yang menemani Ali r.a. selama di sana. Ketika kami betul-betul dekat dengan penduduk Yaman, maka mereka keluar dan dan dating kehadapan kami. Lalu Ali r.a. mengatur shaf mereka untuk mengerjakan solah dan Ali yang menjadi imam dalam solah kami. Selesai solah, Ali r.a membacakan isi surat Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka. Setelah mendengar isi surat Rasulullah sallalaahu alayhi wasalam itu maka seluruh Bani Hamdan masuk Islam. Kemudian Ali r.a. menulis surat kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yang isinya memberitahukan tentang ke-Islaman mereka kepada baginda. Setelah isi surat tersebut dibacakan kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, maka baginda langsung sujud syukur kepada Allah Swt. Setelah mengangkat kepala, baginda berdoa: Keselamatan bagi Bani Hamadan. Keselamatan bagi Bani Hamadan. (Bukhari, Baihaqi, Bidayah-wan-Nihayah)
(Dipetik dari kitab Muntakhab Ahadith, bab Dakwah dan Tabligh, hadith 108)

Keluar 4 bulan:
Ibn Juraij berkata: “Ada seseorang yang menceritakan kepada saya bahawa pada suatu malam ketika Umar radiyalaahu anhu sedang berkeliling (ghast) di sekitar lorong-lorong kota Madinah, tiba-tiba beliau mendengar seorang wanita sedang melantunkan sya’ir:
Betapa panjang malam ini dan betapa gelap di sekelilingnya
Daku tidak boleh tidur kerana tiada yang tersayang yang boleh ku ajak bercumbu
Andai bukan kerana takut berdosa kepada Allah yang tiada sesuatu pun dapat menyamaiNya
Sudah pasti ranjang ini di goyang oleh yang lainnya
Ketika Umar r.a. mendengar sya’irnya itu, maka dia bertanya kepada wanita tersebut, “Apa yang terjadi padamu?” Wanita itu menjawab, “Saya sangat merindukan suami saya yang telah meninggalkan saya selama beberapa bulan.” Umar r.a. betanya, “Apakah kamu bermaksud melakukan hal yang buruk?” Wanita itu menjawab, “Saya berlindung kepada Allah.” Umar r.a. berkata, “Kuasailah dirimu! Sekarang saya akan mengutus orang untuk memanggil suami mu.”
Setelah itu Umar r.a. bertanya kepada anak perempuannya Hafsah r.anha, “Aku akan bertanya padamu mengenai sesuatu masalah yang membingungkan aku, mudah-mudahan kamu boleh memberi jalan keluar untukku. Berapa lama seorang wanita mampu menahan kerinduan ketika berpisah dari suaminya?” Mendengar pertanyaan itu, Hafsah r.anha menundukkan kepala merena merasa malu. Umar r.a. berkata, “ Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa malu dalam hal kebaikan.” Hafsah menjawab sambil berisyarat dengan jari tangannya, “Tiga sampai empat bulan.” Kemudian Umar r.a. menulis surat kepada setiap amir (pimpinan) pasukan tentera Islam supaya tidak menahan anggota pasukannya lebih dari 4 bulan.” (Riwayat Abdur Razzaq dalam kitab Al-Kanz Jilidl VIII, m/s.308).

Ibnu ‘Umar (Radiallahu’Anhu) mengatakan bahawa pada suatu malam Umar r.a. keluar (untuk melihat ehwal orangramai), tiba-tiba belaiu mendengar seorang wanita sedang bersya’ir:
Betapa panjang malam ini dan betapa gelap di sekelilingnya
Aku tidak boleh tidur kerana tida yang tersayang yang boleh kuajak bercumbu.
Kemudia Umar r.a. bertanya kepada Hafsah r.anha, “Berapa lama wanita dapat bertahan tidak bertemu dengan suaminya?” Hafsah r.anha menjawab, “Enam atau empat bulan.” Maka Umar r.a. berkata, “Untuk selanjutnya saya tidak akan menahan tentera lebih dari masa itu.” (Hr. Baihaqi dalam kitabnya jilid IX m/s 29)
[seperti yang dipetik dari kitab Hayatus Sahabah, bab Al-Jihad]

Keluar 40 hari:
“Seorang lelaki telah datang kepada Saiyidina Umar ibnu Khattab r.a. maka Saiyidina Umar r.a. pun bertanya: Di manakah engkau berada? Dijawabnya: Saya berada di Ribat. Saiyidina Umar r.a. bertanya lagi: Berapa hari engkau berada di Ribat itu? Jawabnya tiga puluh hari. Maka berkata Saiyidina Umar r.a.: Mengapa kamu tidak cukupkan empat puluh hari?
(Kanzul Ummal, Juzuk 2 muka surat 288, dipetik dari kitab ‘Risalah ad Dakwah – Apa itu Dakwah Tabligh’, susunan Hj. Abdul Samad Pondok Al Fusani Thailand, terbitan Perniagaan Darul Khair, 1988)

Keluar 3 Hari:
Daripada Ibnu Umar r.a. berkata: Nabi SAW telah memanggil Abdul Rahman bin Auf r.a. lalu bersabda: Siap sedialah kamu, maka sesungguhnya aku akan menghantar engkau bersama satu jama’ah maka menyebut ia akan hadis dan katanya: Maka keluarlah Abdul Rahman hingga berjumpa dengan para sahabatnya, maka berjalanlah mereka sehingga sampai ke suatu tempat pertama bernama Daumatul Jandal, maka manakala ia masuk ke kampung itu ia mendakwah orang-orang kampung itu kepada Islam selama tiga hari. Manakala sampai hari yang ketiga dapat Islamlah Asbagh bin Amru al Kalbi r.a. dan adalah ia dahulunya beragama Nasrani dan ia ketua di kampung itu.
(Hadith riwayat Darul Qutni, dipetik dari kitab ‘Risalah ad Dakwah – Apa itu Dakwah Tabligh’, susunan Hj. Abdul Samad Pondok Al Fusani Thailand, terbitan Perniagaan Darul Khair, 1988)

Fatwa Ulama:


Oleh Mufti Ebrahim Desai, Darul Ifta, Madrasah In’aamiyyah, Camperdown, South Africa.

Istilah, ‘Tashkeel’ (yang biasa digunakan dalam Jamaah Tabligh), bermaksud menyeru orang ramai kaum Muslimin untuk memberi masa mereka, untuk keluar ke Jalan Allah bagi tujuan pengislahan diri dan membuat kerja dakwah dan tabligh dalam jangkamasa tertentu, seperti 3 hari, 10 hari, 15 hari, 40 hari, 4 bulan, 7 bulan, 1 tahun dsbnya. Jangkamasa tersebut bukan satu kemestian tapi ianya hanya dianjurkan seperti mana seseorang yang mengikuti kursus kecemasan (first aid), misalnya, dianjurkan untuk mengikuti kursus praktikal selama sebulan. Walaupun tidak bermakna yang dia terus akan jadi doktor pakar, sekurang-kurangnya dia tahu apa yang perlu dia lakukan semasa kecemasan. Begitu juga, seseorang yang keluar ke Jalan Allah selama 3 hari, atau 40 hari, atau 4 bulan dsbnya, bukan bermakna dia telah menjadi seorang yang ahli atau pakar dalam Shari’ah, tapi sekurang-kurangnya dia tahu apa kehendak-kehendak asas dalam Shari’ah. Lebih lama masa yang dia berikan untuk keluar ke Jalan Allah, lebih banyak dia akan belajar dan menyempurnakan dirinya sebagai seorang Mukmin. Jangkamasa keluar tersebut bukanlah kriteria yang diwajibkan mengikut Shari’ah..
Dan Allah Maha Mengetahui.
(Mufti Ebrahim Desai, FATWA DEPT, Jawapan No. 2611)

Mereka berkata: Orang-orang Tabligh membuat bida’ah berupa keluar di jalan Allah secara berjemaah dan membatasi masa keluar 3 hari, 40 hari dan 4 bulan.

Kami katakan: Sesungguhnya keluar untuk memperbaiki diri adalah seperti keluar untuk menuntut ilmu dan hidayah. Juga seperti keluar untuk mendakwah manusia kepada Allah dan mengajar mereka hal-hal yang bermenafaat di dunia dan akhirat. Semuanya itu adalah keluar di Jalan Allah, apabila di landasi niat yang benar dan untuk mengapai redho Allah Ta’ala, bukan untuk memperolehi harta dan penghormatan atau untuk hiburan, permainan dan kebatilan. Adalah termasuk kelakuan bodoh atau pura-pura bodoh apabila ada orang yang mengingkari keluarnya Jemaah Tabligh untuk kepentingan hidayah bagi manusia, mengajar mereka, memperbaiki diri mereka dan mendidik rohani mereka. Padahal Rasulullah (sallalaahu alayhi wasalam) bersabda, “Satu petang atau satu pagi keluar di jalan Allah, lebih baik daripada mendapatkan dunia dan segala isinya. Juga sabda Rasulullah (sallalaahu alayhi wasalam), “Barangsaiapa mendatangi masjid ini, semata-mata untuk kebaikan yang ia ajarkan atau ia pelajari, laksana mujahid fi sabilillah.” Dan banyak lagi hadith sahih dan hassan yang mengajarkan dan memberi semangat untuk keluar di Jalan Allah. Alangkah ajaibnya perkataan mereka bahawa keluarnya Jemaah Tabligh adalah bida’ah! Dan lebih ajaib lagi mereka berhujah terhadap “keluar fi sabilillah secara berjemaah adalah bida’ah” dengan jangkaan mereka bahawa Rasulullah (sallalaahu alayhi wasalam) mengirimkan Mu’az (radiyalaahu anhu) ke Yaman sendirian saja dan tidak berjemaah. Mereka lupa atau tidak tahu bahawa Rasulullah (sallalaahu alayhi wasalam) tidak mengirimkan Mu’az (radiyalaahu anhu) sendirian tetapi mengirimkan Abu Musa Al Asy’ary (radiyalaahu anhu) bersamanya. Baginda (sallalaahu alayhi wasalam) bersabda kepada keduanya, “Gembirakanlah mereka dan jangan kalian buat mereka lari. Mudahkan mereka dan jangan kalian persulit. Bertolong-tolonglah kalian dan jangan berselisih.” Juga beliau mengirimkan Ali bin Abi Talib dan Khalid bin Sa’id bin al Ash (radiyalaahu anhuma). Bersama mereka baginda (sallalaahu alayhi wasalam) mengirimkan rombongan besar untuk dakwah, ta’leem dan memutuskan perkara diantara manusia.

Tentang pembatasan masa keluar yang mereka katakan sebagai Bidaah, adalah peraturan dakwah sebagaimana peraturan sekolah dan universiti yang mengenal batasan masa belajar dan kerehatan, untuk menyiapkan bekal dan perbelanjaan selama masa keluar. Apakah dengan demikian, orang-orang Tabligh dianggap membuat bida’ah kerena mereka mengatur hari-hari untuk kepentingan dan khuruj fi sabilillah (keluar di jalan Allah)? Subhanallah!
Mereka yang mengatakan demikian seperti yang dikatakan di dalam syair “Pandangan ridho/senang selalu tumpul terhadap setiap aib, sedang pandangan benci selalu membongkar keburukan.”
Apakah yang menyebabkan kemarahan kalian, wahai hamba-hamba Allah!?
Seorang hamba Allah, mendakwah manusia pada Allah Ta’ala, kemudian dia mendapat keredhaan untuk dirinya dan saudara-saudaranya yang ia dakwah. Jiwa mereka menjadi suci, hati mereka menjadi bersih dan akhlak mereka menjadi mulia disebabkan mereka selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan melakukan amal-amal yang soleh.
Apakah yang menyebabkan kalian marah, wahai hamba-hamba Allah!? Semoga Allah sentiasa menjaga kita. Kami tidak dapat mengatakan bahawa dalam Jemaah Tabligh ada sesuatu yang dapat di anggap sebagai penghalang manusia dari Jalan Allah. Alhamdulillah.

Ditulis oleh Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy
Guru Besar di Masjid Nabawi dan Universiti Madinah Al-Munawarrah
Dipetik dari buku “Menyingkap Tabir Kesalahfahaman Terhadap Jemaah Tabligh”

Abu Abil Hasan (bekas pelajar Darul Uloom Faisalabad Pakistan) menulis:

Dakwah dan Tabligh ialah kerja para Ambiya’. Dan inilah juga usaha yang telah dipertanggungjawabkan oleh Allah kepada seluruh umat Islam. Maksud kepada usaha ini ialah supaya seluruh manusia dapat mengamalkan keseluruhan agama. Usaha untuk menghidupkan agama ini tidak memadai dengan hanya memberi masa 3 hari 40 hari dan 4 bulan. Bahkan harus berjuang dan berjihad seumur hidup kita. Ini telah dijelaskan oleh Allah SWT didalam al-Qur’an:

Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri mereka dan harta mereka dengan (balasan) syurga untuk mereka (disebabkan) mereka berperang dijalan Allah: maka (diantara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. (Balasan Syurga yang demikian ialah) sebagai janji yang benar yang ditetapkan oleh Allah didalam Taurat Injil dan Al-Qur’an; dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu bergembiralah dengan jualbelinya itu dan (ketahuilah bahawa) jualbeli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar. (At-Taubah ayat 111).

Dalam ayat yang tersebut diatas Allah telah membeli dan meminta keseluruhan hidup orang-orang mukmin dan harta mereka untuk berjuang menegakkan agama Allah. Bukan setakat 4 bulan 40 hari sahaja. Tetapi malangnya pada hari ini umat Islam untuk melaksanakan satu perintah Allah yang paling besar iaitu sembahyang yang hanya mengambil masa beberapa minit sahaja pun sudah tidak ada masa kerana sibuk dengan fikir dan kerja-kerja dunia. Apa lagi untuk keluar seumur hidup…
Umat hari ini telah jauh daripada agama. Kemampuan yang ada pada mereka juga berbeza-beza. Melalui panduan Al-Qur’an dan Hadith ini para Ulama’ dan masyaikh didalam jemaah ini telah menetapkan nisab yang mampu diikuti oleh setiap umat Islam. Memanglah tidak ada ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk keluar bertabligh selama 4 bulan dan 40 hari tetapi bilangan dan angka ini banyak terkandung didalam Al-Qur’an dan hadith.

Kenapakah angka-angka ini tercatit didalam Al-Qur’an dan Hadith? Sudah pasti ada hikmahnya di sebalik angka itu. Disini saya nukilkan beberapa riwayat dan pandangan Ulama’ betapa hikmahnya bilangan hari-hari tersebut.

1. Hikmah keluar tiga hari

i. Suasana amat mempengaruhi seseorang itu. Seorang yang duduk didalam suasana Iman dan akhlak yang baik dan dipenuhi dengan ibadat dalam masa tiga hari sudah pasti akan membenihkan satu suasana dan kejernihan hati didalam sanubari seseorang itu. Di zaman Nabi SAW orang-orang kafir yang ditawan akan dikurung didalam masjid. Tujuannya ialah supaya mereka dapat melihat amalan-amalan orang Islam didalam masjid.

Didalam Sahih Bukhari jilid kedua bab Maghazi dinukilkan bahawa seorang lelaki bernama Sumamah bin Ausal dari banu Hanafiah telah ditawan dan diikat didalam masjid Nabi. Selama 3 hari beliau telah melihat amalan orang Islam yang sibuk dengan amalan dakwah. belajar dan mengajar. beribadat dan berkhidmat diantara satu sama lain. Hari yang pertama beliau ingkar untuk menerima Islam. Begitu juga pada hari yang kedua. Pada hari yang ketiga baginda Rasulullah SAW telah membebaskannya. Setelah dibebaskan dari tawanan beliau merasai sesuatu didalam hatinya lantas beliau mandi dan datang semula ke masjid Nabi dan bertemu dengan baginda Rasulullah SAW dan terus memeluk agama Islam. Betapa besarnya perubahan pada diri Sumamah yang amat berkesan dengan amalan masjid pada ketika itu. Dalam masa tiga hari menjadi sumber hidayat kepadanya (shahih bukary 442, bab mandi bagi orang yang masuk islam dan mengikat tawanan).

ii. Jemaah-jemaah yang dihantar oleh baginda Rasulullah SAW atas maksud dakwah atau berjihad akan diberi penerangan tertib dan usul bagaimana untuk berdakwah dan berperang. Diantaranya ialah:

• Jangan memerangi mereka sebelum diberi dakwah selama 3 hari.
• Jangan membunuh kanak-kanak. wanita dan orang-orang tua yang lemah dikalangan mereka.
• Jangan membuat kerosakan pada harta benda. tanam-tanaman dan membunuh binatang ternakan.

Kenapa baginda memberi tempoh selama 3 hari dengan memberikan dakwah terlebih dahulu sebelum memulakan peperangan? Ini ialah pengajaran daripada baginda Rasulullah SAW bahawa didalam Islam tidak ada peperangan tanpa memberi dakwah terlebih dahulu. Melalui amalan dakwah selama 3 hari ini orang-orang kafir akan melihat muamalah dan akhlak orang-orang Islam terhadap orang kafir sendiri. Ini sudah pasti akan mempengaruhi jiwa mereka dan memeluk agama Islam. Kisah ini terkandung didalam Hayatus Sahabah dimana baginda Rasulullah SAW telah menghantar Abdul Rahman bin Auf r.a. ke satu tempat bernama Daumatul Jandal sebagaimana berikut:

Sehingga beliau sampai ke Daumatul Jandal lantas beliau mendakwahkan kepada mereka (penduduk Daumatul jandal) selama tiga hari supaya memeluk agama islam. Maka pada hari yang ketiga Asbagh bin Amar Al Kalbi telah memeluk agama Islam. Beliau ialah seorang nasrani dan ketua di kalangan mereka.

iii. Hadzrat Zakaria AS seorang Nabi yang telah tua. Apabila Allah SWT mahu mengurniakan anak kepadanya beliau bertanya “Wahai Allah apakah tandanya yang engkau akan mengurniakan anak kepadaku sedangkan aku telah tua? Allah SWT menjawab sebagaimana didalam Al-Qur’an:

Tandanya bagimu kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Berzikirlah kepada Tuhanmu sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah diwaktu pagi dan petang (Ali Imran ayat 41).

Para mufassirin berkata tanda diterimanya doa Hadzrat Zakaria AS ialah dia tidak boleh bercakap selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Pada masa itu Allah SWT telah memerintahkan Hadzrat Zakaria AS supaya berzikir sebanyak-banyaknya dan meninggalkan perkataan-perkataan dunia untuk menambah penghampirannya kepada Allah. Daripada ayat ini para ulama’ berpendapat bahawa sekiranya manusia dapat mengasingkan diri keluar dijalan Allah selama tiga hari dengan membersihkan diri dari fakir dunia. meninggalkan percakapan dunia dan menyibukkan diri dengan amalan dakwah. beribadah. belajar dan mengajar dan duduk dalam suasana agama sudah pasti akan memberi kesan didalam hati sanubari seseorang itu. Cinta pada agama akan datang. manusia akan membersihkan diri daripada dosa. bertaubat dan lebih hampir kepada Allah SWT. Demikianlah hikmah yang terdapat didalam masa tiga hari. Isyarat dari Al-Qur’an dan athar As-Sahabah inilah yang menjadi saranan oleh ahli jemaah Tabligh supaya setiap orang dapat melapangkan masa selama tiga hari. Disamping itu ia juga akan menimbulkan keghairahan untuk belajar agama dan mengislahkan diri sendiri.

(Abu Abil Hasan Abn Musa – Soal Jawab Agama: Membahaskan Masalah Terkini Dalam Fekah: Bahagian Pertama – Klang Book Centre – Cetakan Pertama 2004 – m/s 260 – 266)

2. Dalil dan hikmahnya keluar 40 hari

Ramai orang mempersoalkan masalah ini. Dari manakah orang-orang tabligh ini mengambil dalil supaya keluar 40 hari. Sebenarnya bilangan 40 hari ini telah banyak disebut didalam al-Qur’an dan Hadith. Keberkatan yang ada padanya telah jelas apabila Allah SWT sendiri telah memerintahkan Musa AS supaya menambah bilangan hari untuk bermunajat kepada Allah sebagaimana didalam al-Qur’an

– Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberi Taurat) sesudah berlaku 30 malam dan Kami telah sempurnakan waktu yang telah ditetapkan oleh Tuhannya dengan sepuluh malam. Maka genaplah dari Tuhannya selama empat puluh malam (Al A’raf 142)

– Begitulah juga didalam Surah al Baqarah ayat 51. Allah SWT menyebut dengan janji-Nya kepada Nabi Musa AS untuk mengurniakan Taurat setelah bermunajat selama empat puluh malam.

Didalam hadith baginda SAW banyak sekali menyebut tentang bilangan 40 ini. Diantaranya ialah hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA beliau berkata daku mendengar Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya salah seorang daripada kamu dicipta didalam perut ibu selama 40 hari sebagai nutfah kemudian 40 hari menjadi seketul darah kemudian menjadi segumpal daging kemudian dihantar kepadanya seorang malaikat untuk meniupkan roh dan menulis kepadanya empat kalimat… (HR Muslim)

Hadits riwayat Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam kitab Al-Hilyah :

Nabi Muhammad Saw. bersabda yang maksudnya : “Barangsiapa mengikhlashkan dirinya kepada Allah (dalam beribadah) selama 40 hari maka akan zhahir sumber-sumber hikmah daripada hati melalui lidahnya”. (HR. Abu Dawud dan Abu Nu’man dalam alhilyah).

– Imam at Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ

“Barangsiapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjama’ah dengan mendapatkan Takbiratul pertama (takbiratul ihramnya imam), maka ditulis untuknya dua kebebasan, yaitu kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani (wahabi majnun) di kitab Shahih Al Jami’ II/1089, Al-Silsilah al-Shahihah: IV/629 dan VI/314).
– hadits yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Anas bin Malik radliyallah ‘anhu:

مَنْ وَاظَبَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً لا تَفُوْتُهُ رَكْعَةٌ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا بَرَاءَتَيْنِ، بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ

“Siapa yang menekuni (menjaga dengan teratur) shalat-shalat wajib selama 40 malam, tidak pernah tertinggal satu raka’atpun maka Allah akan mencatat untuknya dua kebebasan; yaitu terbebas dari neraka dan terbebas dari kenifakan.” (HR. Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, no. 2746)
Dalam hadith yang lain ada dinukilkan bahawa barangsiapa bersembahyang selama 40 hari berjemaah tanpa ketinggalan takbiratul ula akan mendapat dua jaminan. Satu keselamatan daripada neraka dan kedua bebas dari nifaq.
HazdratAbdullah bin Abbas RA berkata dihari kematian anak lelakinya lihatlah berapa ramai orang yang berada diluar. Hambanya berkata orang ramai telah berkumpul. “Adakah telah cukup empat puluh orang?” Mereka menjawab “Ya… telah cukup”. Abdullah bin Abbas RA berkata “hadirilah sembahyang jenazah kamu aku mendengar baginda SAW bersabda mana-mana orang Islam yang meninggal dunia dan disembahyangi oleh 40 orang yang tidak melakukan syirik melainkan telah menjadi hak kepada si mayat bahawa jaminannya pasti diterima”.
Dalam hadith yang lain baginda SAW bersabda:
“Barangsiapa mengikhlaskan dirinya kepada Allah selama 40 hari akan zahir sumber-sumber hikmah daripada hati melalui lidahnya”.
Banyak lagi hadith yang seumpama dengan ini yang menunjukkan keberkatan dan keutamaan pada tempoh atau bilangan 40 hari ini. Kita dapat melihat seorang yang keluar dijalan Allah melatihkan dirinya dalam menjalani ketaatan selama 40 hari sudah pasti amalan ini akanterus dilakukan ketika berada di rumah atau dikampungnya.

Daripada hadith-hadith ini dan pandangan nuraniah inilah maka masyaikh dan ulama’ didalam usaha ini menyarankan supaya setiap orang dapat melapangkan masa selama 40 hari mempelajari usaha dakwah dan mengislahkan diri masing-masing.

Hikmah Keberkahan Ilmu asbab Mujahadah dengan ihlas untuk agama:

– Dalam kitab syarah al-hikam

Nabi SAW bersabda :” Barangsiapa Yang Mengamalkan Ilmu Yang Ia Ketahui Maka Allah Akan Memberikan Kepadanya Ilmu Yang Belum Ia Ketahui”.

– Hadits qudsy shahih Riwayat Hakim

Dari Abu Darda Ra. berkata : “Aku mendengar Rasulullah Saw. Bersabada, “Sesungguhnya Allah Swt berfirman kepada Isa As. : “Aku akan mengirimkan satu umat setelahmu (ummat Muhammad Saw.), yang jika Aku murah hati pada mereka, mereka bersyukur dan bertahmid, dan jika Aku menahan diri, mereka sabar dan tawakal tanpa [harus] mempunyai hilm (kemurahan/kemurahan hati) dan ‘ilm (ilmu) .” Isa bertanya: “Bagaimana mereka bisa seperti itu ya Allah, tanpa hilm dan ‘ilm?” Allah menjawab: “Aku memberikan mereka sebagian dari hilmKu dan ‘ilmu-Ku.” [HR. Hakim. Katanya Hadits ini shahihmenurut syarat Bukhary, tetapi ia tidak meriwayatkannya, sedangkan adzahaby menyepakatinya”. I/348]

Keterangan : Hadits ini juga terdapat pada Muntakhab hadits SyaikhulHadits Maulana Yusuf, Hadits No. 27, Bab ikhlash dan Juga terdapat pada kitab Ucapan Nabi Isa as dalam kisah-kisah literature umat islam, Tarif Khalidi.

– Dalam hadits qudsy (Kitab Futuh Mishr wa Akhbaruha, Ibn ‘Abd al-Hakam wafat 257 H).

Allah mewahyukan kepada Isa untuk mengirimkan pendakwah ke para raja di dunia. Dia mengirimkan para muridnya. Murid-muridnya yang dikirim ke wilayah yang dekat menyanggupinya, tetapi yang dikirim ke tempat yang jauh berkeberatan untuk pergi dan berkata: “Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa dari penduduk yang engkau mengirimkan aku kepadanya.” Isa berkata: “Ya Allah, aku telah memerintahkan murid-muridku apa yang Kau perintahkan, tetapi mereka tidak menurut.” Allah berfirman kepada Isa: “Aku akan mengatasi masalahmu ini.” Maka Allah membuat para murid Isa bisa berbicara dalam bahasa tempat tujuan mereka diutus.

– Dalam hadis qudsi, Nabi Isa as. Juga bersabda:

“Isa As. berkata: “Buat kalian tidak ada gunanya mendapat ilmu yang belum kalian ketahui, selama kalian tidak beramal dengan ilmu yang telah kalian ketahui. Terlalu banyak ilmu hanya menumbuhkan kesombongan kalau kalian tidak beramal sesuai dengannya.” [ Diriwayatkan oleh (Abu ‘Abdallah Ahmad bin Muhammad al-Syaibani) Ibn Hanbal (… – 241 H), Kitab al-Zuhd, 327. Dan (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (… – 505 H), Ihya’ ‘Ulum al-Din, 1:69-70].

Hikmah dakwah 3 hari:

Allah SWT berfirman : Berkata Zakariya: “Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung).” Allah berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia SELAMA TIGA HARI, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali ‘Imran 41)

Setelah Zakaria mendengar jawaban itu dari malaikat Jibril maka dia berkata: “Tuhanku berilah aku sesuatu tanda bahwa istriku akan hamil”. Menurut Hasan Al-Basri, Nabi Zakaria bertanya demikian itu adalah untuk segera memperoleh kegembiraan hatinya atau untuk menyambut nikmat dengan syakur, tanpa menunggu sampai anak itu lahir.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa tanda istrinya mengandung itu ialah, bahwa dia sendiri tidak dapat berbicara dengan orang lain selama tiga hari. Selama tiga hari itu dia hanya dapat mempergunakan isyarat dengan tangan, kepala dan lain-lainnya. Dan beliau tidak lalai dari berzikir dan bertasbih kepada Allah. Dan Allah menjadikan Zakaria tidak bisa berbicara selama tiga hari itu adalah, agar seluruh waktunya digunakan untuk zikir dan bertasbih kepada-Nya, sebagai pernyataan syukur yang hakiki.

Menurut Al Qurtubi, sebagian mufassirin mengatakan bahwa tiga hari Zakaria menjadi bisu itu adalah sebagai hukuman Allah terhadapnya, karena dia meminta pertanda kepada Malaikat sehabis percakapan mereka.

Di akhir ayat ini Allah memerintahkan kepada Zakaria agar tetap ingat kepada Allah dan berzikir sebanyak-banyaknya pada waktu pagi dan petang hari, sebagai tanda syukur kepada-Nya.

Menurut Jalalain, (Maka katanya, “Wahai Tuhanku! Berilah aku suatu ciri.”) atau tanda bahwa istriku telah hamil. (Firman-Nya, “Tandanya ialah bahwa kamu tidak dapat berbicara dengan manusia) artinya terhalang untuk bercakap-cakap dengan mereka tetapi tidak terhalang untuk berzikir kepada Allah swt. (selama tiga hari) dan tiga malam (kecuali dengan isyarat) atau kode (dan sebutlah nama Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah) maksudnya salatlah (di waktu petang dan pagi.”) di penghujung siang dan di akhir malam.

Menurut Ibnu Katsir, Allah memerintahkan kepada Zakariya agar banyak berzikir, bertakbir dan membaca tasbih selama masa tersebut (tiga hari).

Para mufassirin berkata tanda diterimanya doa Zakariya ialah dia tidak boleh bercakap selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Pada masa itu Allah SWT telah memerintahkan Zakariya supaya berzikir sebanyak-banyaknya dan meninggalkan perkataan-perkataan dunia untuk menambah penghampirannya kepada Allah SWT.

Daripada ayat ini para ulama berpendapat bahwa sekiranya manusia dapat mengasingkan diri keluar dijalan Allah selama tiga hari dengan membersihkan diri dari fakir dunia. Meninggalkan percakapan dunia dan menyibukkan diri dengan amalan dakwah, beribadah, belajar dan mengajar dan duduk dalam suasana agama sudah pasti akan memberi kesan didalam hati sanubari seseorang itu. Cinta pada agama akan datang. Manusia akan membersihkan diri daripada dosa. Bertaubat dan lebih hampir kepada Allah SWT.

Didalam Sahih Bukhari jilid kedua bab Maghazi dinukilkan bahwa seorang lelaki bernama Sumamah bin Ausal dari banu Hanafiah telah ditawan dan diikat didalam masjid Nabi. Selama 3 hari beliau telah melihat amalan orang Islam yang sibuk dengan amalan dakwah, belajar dan mengajar, beribadat dan berkhidmat diantara satu sama lain. Hari yang pertama beliau tidak mau menerima Islam. Begitu juga pada hari yang kedua. Pada hari yang ketiga baginda Rasulullah SAW telah membebaskannya. Setelah dibebaskan dari tawanan beliau merasakan sesuatu didalam hatinya, lantas beliau mandi dan datang kembali ke masjid Nabi, bertemu dengan baginda Rasulullah SAW dan terus memeluk agama Islam. Betapa besarnya perubahan pada diri Sumamah yang amat berkesan dengan amalan masjid pada ketika itu. Dalam masa tiga hari menjadi sumber hidayah kepadanya.

Rasulullah SAW. Mengutus Abdurrahman bin Auf ke Dumah al Jandal Untuk Berdakwah

Diriwayatkan oleh Daraquthni dan Ibnu Umar ra, katanya: Rasulullah saw. memanggil Abdur Rahman bin Auf dan bersabda kepadanya, “Bersiap-siaplah karena aku akan mengutusmu bersama satu sariyah.”

Kemudian Ibnu Umar menceritakan hadits tersebut selengkapnya, di dalamnya dinyatakan: Kemudian Abdur Rahman pun keluar sampai menyusul sahabat-sahabatnya dan berjalan bersama mereka hingga tiba di Dumah al Jandal sebuah negeri yang terletak di antara Syam dan Madinah, dekat dengan gunung Tha’i. Ketika beliau memasuki negeri itu, SELAMA TIGA HARI beliau menyeru mereka kepada Islam. Pada hari yang ketiga, seorang bernama Asbagh bin Amr al Kalbi masuk agama Islam. Sebelum memeluk islam ia adalah seorang Nasrani dan ketua bagi kaumnya. Abdur Rahman Auf ra. menulis surat kepada Rasulullah SAW. yang dibawa oleh seorang laki-laki dan Juhainah bernama Rafi’ bin Makits dan memberi tahu beliau hal tersebut. Maka Nabi SAW. pun membalas suratnya dan memberi tahu Abdur Rahman bin Auf ra. supaya menikahi anak gadis al Asbagh. Lalu Abdur Rahman menikahi putrinya yang bernama Tumadhir, dan sesudah itu Tumadhir melahirkan seorang anak lelaki untuk Abdur Rahman bin Auf ra. Yang bernama Abu Salamah bin Abdur Rahman. Riwayat ini tertulis dalam kitab al Ishaabah (1/108).

Rasulullah SAW Mengutus Khalid bin Walid Ke Najran

Dinukilkan oleh lbnu Ishaq bahwa Rasulullah saw. mengutus Khalid bin Walid ra. kepada Bani Harits bin Ka’b di Najran (pada bulan Rabiul Akhir atau Jumadil Ula 10 H.) dan memerintahkannya supaya menyeru mereka kepada agama Islam SELAMA TIGA HARI, sebelum memerangi mereka. Jika mereka menerima seruan itu, maka terimalah mereka. Jika tidak, perangilah mereka. Maka Khalid pergi hingga ke Najran. Khalid ra. mengutus pasukan berkuda untuk pergi ke setiap tempat dan menyampaikan dakwah Islam. Adapun seruan mereka adalah: “Wahai sekalian manusia, masuklah kalian ke dalam Islam, niscaya kalian akan selamat.”

Maka mereka pun memeluk agama Islam. Khalid ra. tinggal untuk sementara waktu bersama mereka, mengajari mereka mengenai Islam dan kitab Allah serta sunnah Nabi-Nya sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW, jika mereka mau menerima Islam dan tidak memerangi.

Riwayat ini tertulis dalam kitab Hayatus Shahabah (1/128).

Surat Umar ra. Kepada Sa’ad Supaya Mendakwahkan Manusia Kepada Agama Islam Selama Tiga Hari

Diriwayatkan oleh Abu Ubaidah dan Yazid bin Abu Habib katanya :

Umar bin al Khaththab menulis sepucuk surat kepada Sa’ad bin Abu Waqas ra. yang isinya, “Sesungguhnya aku menulis surat kepadamu agar mendakwahi manusia kepada agama Islam SELAMA TIGA HARI, maka barangsiapa yang menerima seruan dakwah ini dan memeluk Islam sebelum terjadinya perang, maka ia adalah laki-laki dan kalangan orang Islam. Ia mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana orang-orang Islam lainnya. Ia mempunyai hak untuk memperoleh bagian dalam harta rampasan (ghanimah). Barangsiapa yang menerima seruanmu setelah selesainya perang atau setelah kekalahan mereka, maka hartanya adalah fa’i bagi orang-orang Islam, karena sesungguhnya mereka telah mempertahankannya sebelum ke-Islamannya. Maka ini adalah perintah dan surat kepadamu.” (al Kanz)

Dakwah Salman al Farisi Selama Tiga Hari Pada Han Istana-Istana Putih di Persia

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab al Hilyah dan Abu al Bukhtari bahwa sepasukan tentara Islam yang dipimpin oleh Salman al Farisi ra. telah mengepung sebuah istana dan istana-istana putih di Persia. Tentara-tentara itu berkata kepada Salman, “Ya Abu Abdullah, apakah tidak kita serang saja mereka?”

Salman menjawab, “Biarlah aku yang mengurusnya, aku akan mendakwahkan Islam kepada mereka terlebih dahulu SELAMA TIGA HARI sebagaimana yang telah aku dengar dan Rasulullah SAW. dan sebagaimana kebiasaan dakwah mereka.”

Salman benkata kepada onang-orang Persia itu, “Aku adalah seorang lelaki dati kalangan kamu, bangsa Persia. Apakah kamu tidak melihat bahwa orang-orang Arab telah menaatiku, maka jika kamu memeluk Islam, kamu akan mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana kami mempunyai hak dan kewajiban. Sebaliknya, jika kamu ingkar dan terus berpegang kepada agamamu, maka kami akan membiarkanmu untuk terus berpegang kepada agama itu, tetapi kamu harus membayar jizyah dan kamu adalah taklukan kami.”

Salman berbicara kepada mereka dengan bahasa Persia, antara lain katanya, “Kamu tidak akan disanjung dan dipuji jika kamu menolak agama Islam dan kami akan menyamaratakan di antara kamu.”

Orang-orang Persia itu menjawab, “Kami tidak akan beriman dan tidak akan membayar jizyah, bahkan kami akan memerangi kalian.”

Tentara-tentara Islam pun berkata kepada Salman, “Ya Abu Abdullah, kita serang saja mereka.”

Jawab Salman, “Tidak.”

Maka Salman melakukan dakwah kepada mereka SELAMA TIGA HARI. Tetapi setelah tiga hari berlalu, mereka tetap menolak Islam. Maka Salman pun berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Bangunlah dan perangi mereka.”

Tentara Islam pun bangun dan memerangi orang-orang Persia itu sampai akhirnya mereka dikalahkan.

Dikeluarkan juga oleh al Hakim dalam kitab al Mustadrak dan Ahmad dalam musnadnya sebagaimana dalam kitab Nasbirra’yah yang mengeluarkan hadits-hadits hidayah dengan maknanya: Ketiga tiba hari keempat, Salman memerintahkan orang-orang Islam supaya menyerang pada pagi hari dan menawannya.

Dikeluarkan juga oleh Ibnu Abu Syaibah sebagaimana dalam al Kanz dan dikeluarkan juga oleh Ibnu Jaris dan Abu al Bukhtari, katanya, “Pimpinan orang Islam ketika itu adalah Salman al Farisi, yang telah diangkat oleh mereka untuk menyeru orang-orang Persia kepada Islam.”

Dakwah Huzaifah bin Mihsan dan al Mughirah bin Syu’bah Kepada Rustam Pada Hari Kedua dan Hari Ketiga

Kemudian pada Hari yang kedua, Rustam meminta agar dikirimkan kepadanya seorang lelaki lain. Sa’ad kemudian mengutus Huzaifah bin Mihsan. Huzaifah lalu berbicara kepada Rustam sebagaimana Rib’i berbicra. Kemudian pada HARI YANG KETIGA al Mughirah bin Syu’bah diutus kepada Rustam, dan ia berbicara kepada Rustam dengan pembicaran yang panjang dan baik sekali.

Rustam berkata, “Sesungguhnya, dengan cara bagaimana kamu masuk ke negeri kami. Apakah seperti lalat yang menjumpai madu.”

Al Mughirah menjawab, “Barangsiapa yang dapat menyampaikanku ke tempat itu (madu), Ia akan memperoleh dua dirham. Apabila ia jatuh ke dalamnya, lalu ia meminta agar dikeluarkan darinya, tetapi tidak memperoleh pertolongan. Maka ia berkata, ‘Barangsiapa yang membebaskanku, akan aku beri upah empat dirham.’ Perumpamaan kamu itu seperti serigala yang lemah yang memasuki sebuah ladang anggur. Pemilik ladang itu merasa kasihan melihatnya, lalu membiarkan begitu saja. Ketika serigala itu menjadi gemuk, lalu binatang itu membuat kerusakan di dalam ladang itu. Pemilik ladang itu datang dengan membawa sebatang kayu, lalu menyuruh seorang pembantunya untuk mengusirnya keluar. Serigala itu berusaha keluar dan ladang itu, tetapi tidak mampu karena kegemukan. Oleh karena itu, pemilik ladang itu memukulnya hingga mati. Seperti itulah kamu akan keluar dan negeri kami.”

Maka Rustam pun sangat marah dan bersumpah demi matahari akan membunuh orang-orang Islam keesokan harinya.

Al Mughirah berkata, “Engkau akan mengetahuinya besok.”

Rustam berkata, “Aku akan memerintahkan orang-orangku agar memberimu pakaian, dan kepada amirmu akan aku berikan uang seribu dinar, pakaian dan kendaraan. Dengan begitu, kalian harus meninggalkan kami.”

Al Mughirah berkata, “Akankah itu terjadi setelah kami memusnahkan kerajaanmu dan melemahkan kekuatanmu? Kami hanya mempunyai waktu yang sedikit saja dan akan mengambil bayaran jizyah darimu, dan kamu akan berada di bawah taklukan kami dan menjadi hamba kami, akibat dan kekerasan hatimu.”

Betapa geramnya Rustam mendengar perkataan itu.

Sebagaimana yang diceritakan dalam kitab al Bidaayah. Juga telah diriwayatkan oleh at Tabari dan Ibnu ar Rufail dan ayahnya dan Abu Usman an Nahdi dan yang lainnya.

Bukti Terkini Wahabi hancurkan kubur sahabat Nabi di mesir (Saidina ‘Uqbah Bin ‘Amir Ra.) dan libya (Saidina Zuhair bin Qais Ra.)

WAHHABI BAKAR&HANCURKAN KUBUR2 PARA SAHABAT NABI DAN WAHHABI BERJANJI AKAN HANCURKAN KUBUR NABI MUHAMMAD.

Dimana umat Nabi Muhammad yg mengaku mencintai Nabi&Sahabt. Kita tolak Syiah yg hina sahabat nabi waktu yg sama kita biarka

n sahabat Nabi dan kubur Nabi akan diperhina begini?! fikirkan apa tindakan kita??!

Tahukah anda baru2 ini Wahhabi hancurkan dan bakar kubur sahabat nabi yg terkenal bernama Saidina ‘Uqbah Bin ‘Amir di kawasan Al-Buhairah di Mesir?http://www.azahera.net/showthread.php?t=7740

Dan tahukah anda bhw Wahhabi baru2 ini menghancurkan maqam/kubur sahabat Nabi di Libya yg bernama Saidina Zuhair bin Qais di kwsn Darnah di Libya?http://naseemalsham.com/ar/Pages.php?page=readviestor&pg_id=34713&page1=1

Terbaru Wahhabi di Libya mengunakan peluang ketidak tenteraman negara Libya mereka (Wahhabi) telah menghancurkan maqam ulama dan waliyullah yg terkenal bernama Syeikh Abdus Salam Al-Asmar? Dan kitab2 Ahli Sunnah Wal Jama’ah didalamnya dibakar dan dibaling dengan najis. Dimana kita?! Ittaqullah wahai para pendakwah. Tak usahlah berpolitik sangat sampai ilmu Ahli Sunnah Wal Jama’ah dan keadaanya kita jahili. http://www.dar-alifta.org/Viewstatement.aspx?ID=581&type=0

www.abu-syafiq.blogspot.com

Wahabi Mesir Memalsukan Kitab Nihayah al-Qaul al-Mufid fi Ilm at-Tajwid : Menghilangkan keterangan mushanif sebagai pengikut “Thareqat syadzilii”

Wahabi Memalsukan Kitab Nihayah al-Qaul al-Mufid

Ini adalah kitab Nihayah al-Qaul al-Mufid fi Ilm at-Tajwid karya Syaikh Muhammad Makki Nashr al-Juraisi, Imam Masjid az-Zahid Kairo Mesir. Buku ini ditahkik oleh Syaikh al-‘Allamah ad-Dhabba’ dan dicetak pada awal abad ke-14 Hijriah dengan versi cetakan lama.

Namun pada cetakan baru terbitan Maktabah ash-Shafa yang terletak di Darbu al-Atrak di samping Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, dengna pentahkiknya Syaikh Thaha Abdur R’uf Sa’ad, buku itu mengalami perubahan teks asli.

Ucapan Syaikh Muhammad Makki Nashr al-Juraisi  dipalsukan. Diduga, pemalsuan ini dilakukan oleh pihak penerbit, yaitu Maktabah ash-Shafa, yang memang kencang menerbitkan buku-buku berfaham Salafi Wahabi di Mesir. Di dalam buku yang dipalsukan itu, mereka enggan untuk menulis dan mengakui—sesuai teks aslinya—bahwa Syaikh Muhammad Makki Nashr al-Juraisi adalah seorang sufi yang menempuh jalan tarekat (thariqah) Imam Sadzily, bahkan beliau menyelam dan basah kuyup di dalam tarekat sufinya itu.

Inilah scan teks dari buku Nihayah al-Qaul al-Mufid fi Ilm at-Tajwid versi asli sebelum dipalsukan (silakan cermati redaksi yang digarisbawah):

Sedangkan gambar di bawah ini adalah versi palsu berikut perubahan teksnya:

Anda dapat membandingkan tulisan tersebut, antara versi yang telah diubah (palsu) dengan versi asli, khususnya yang tulisannya ditandai dengan garis. Lebih jelasnya, penulis salinkan tulisan di versi asli tersebut sebagai berikut:

 فيقول أسير الشهوات كثير الهفوات الرا خي من مولاه الفوز والنصر الفقير محمد مكي نصر الجريسيّ مولدا والشافعي مذهبا الشاذلي طريقة ومشربا. إن أولي ما شغل العبد به لسانه وعمر به قلبه وجنانه وأفضل مايقوسل به إلي نيل الغفران وأعظم مايتو صل به إلي دخول الجنان قراءة كتاب الله الجيد

“Telah berkata-orang yang digelari-sang Pemenjara Syahwat, sang Banyak Hikmah, sang Pengharap Pertolongan dan Kemenangan dari Tuhannya, yaitu al-Faqir Muhammad Makki Nashr yang dilahirkan di Jurais, bermazhab Syafi’i, bertarekat Syadzili dan menyelam di dalamnya: “Sesungguhnya kesibukan seorang hamba yang paling utama dari lidah, hati dan pikirannya, dan tawasul yang paling afdal untuk memperoleh ampunan Allah, serta wasilah yang paling agung untuk masuk ke dalam surga-Nya adalah membaca Al-Qur’ an yang mulia…”

Sedangkan tulisan pada versi palsunya tertulis:

فيقول أسير الشهوات كثير الهفوات الرا خي من مولاه الفوز والنصر الفقير محمد مكي نصر الجريسيّ مولدا والشافعي مدهبا . إن أولي ما شغل العبد به لسانه وعمر به قلبه وجنانه وأفضل مايقوسل به إلي نيل الغفران وأعظم مايتو صل به إلي دخول الجنان قراءة كتاب الله الجيد

 “Telah berkata-orang yang digelari-sang Pemenjara Syahwat, sang Banyak Hikmah, sang Pengharap Pertolongan dan Kemenangan dari Tuhannya, yaitu al-Faqir Muhammad Makki Nashr yang dilahirkan di Jurais, bermazhab Syafi’i, * * * ** kalimat di sini menghilang* * * * *: “Sesungguhnya kesibukan seorang hamba yang paling utama dari lidah, hati, dan pikirannya, dan tawasul yang paling afdal untuk memperoleh ampunan Allah, serta sarana yang paling agung untuk masuk ke dalam surga- Nya adalah membaca Al-Qur’an yang mulia…”

Dengan penghapusan dan pemalsuan tersebut, sepertinya Salafi Wahabi merasa takut sekali jika umat Islam mengamalkan nilai-nilai ajaran tasawuf. Padahal, nilai-nilai tasawuf itu pada hakikatnya dari Rasulullah Saw. Pada masa Rasul, sebagaimana masyhur adanya, kata tasawuf sebagai istilah tentang ilmu tertentu belum muncul, namun hakikat dan spiritnya sudah ada dalam kehidupan sehari-hari beliau. Demikian pula istilah fikih, ilmu kalam, dan lain-lain.  Sebaiknya, biarkan saja teks-teks tulisan ulama berada di buku itu seperti apa adanya, tidak perlu diubah, apalagi dipalsukan. Sebab, tasawuf ada dalilnya dari ajaran Rasulullah Saw., dan karenanya perlu disampaikan, bukan ditutup-tutupi. Biarkan saja umat yang menilai, mana yang baik dan mana yang buruk. Toh Rasulullah Saw telah menjamin bahwa umatnya tidak akan mudah tergelincir ke dalam jurang kemusyrikan, sebagaimana disinggung pada sebuah hadis:

إنّي اُعطيت مفاتيح خزثڽ الأرض أومفاتيح الأرض وإنّي والله ما أخاف عليكم أن تشركوا بعدي ولكن أخاف عليكم أن تنافسوا فيها

“Sesungguhnya aku telah diberikan berbagai kunci gudang-gudang dunia—atau kunci-kunci dunia—dan sesungguhnya aku tidak takut (sama sekaii) kalian akan musyrik setelah wafatku. Namun, yang aku takutkan terhadap kalian adalah kalian saling memperebutkan dunia.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Baihaqi, Thabarani, Ibnu Hibban dan lainnya). [Sarkub.Com]

Read more: http://www.sarkub.com/2012/wahabi-memalsukan-kitab-nihayah-al-qaul-al-mufid/#ixzz25BmWUL1b

versi arabic:

 06-02-2006 02:35
هذا الكتاب : نهاية القول المفيد من أعظم كتب التجويد التي ظهرت في أول القرن الرابع عشر الهجري إن لم يكن أعظمها، وقد طبع الكتاب في مصر طبعات قديمة بعناية العلامة الضباع، لكن هناك طبعة جديدة بتحقيق الأستاذ العالم طه عبدالرؤوف سعد خرجت عن دار الصفا هذه صورتها:

وقد جاء في مقدمتها النص التالي:

— اضغط على الصورة لمشاهدتها بحجمها الطبيعي —

هذا النص جاء في الطبعات القديمة هكذا:

— اضغط على الصورة لمشاهدتها بحجمها الطبيعي —

والأستاذ طه عبدالرؤوف سعد رفيع المقام عن مثل هذا الفعل، ولا أظن تلك الدار الكائنة بدرب الأتراك في الأزهر تتعمد مثل هذا التحريف فلا بد أن يكون ثمت عنصر خسيس مندس في تلك الدار قام بهذا التزوير وحذف نسبة الرجل إلى الطريقة الشاذلية، ولا نعرف أحدا يهمه الإقدام على مثل هذا التزوير إلا طائفة واحدة معادية لأهل التصوف هي الوهابية، فالرجاء من طلبة العلم بالقاهرة متابعة الموضوع والتحري فيه وإفادتنا عن سبب مثل هذا التحريف البعيد عن كونه مجرد سقط سهوا وموافاتنا بما تفيده إدارة تلك الدار ومن هو العنصر المسؤول عن هذا التزوير؟؟؟؟ وعلى أبناء الطريقة الشاذلية بالذات تقع مسؤولية الانتصار لأحد أعظم وأجل المنتسبين للمدرسة السلوكية الشاذلية، فباعتبار العلامة محمد مكي نصر الجريسي إمام القراءات والتجويد في وقته شاذليا يحمل إخوانه في الطريق فريضة الانتصار له ورد التحريف عنه، فلتعقد مشيخة الطريقة الشاذلية لجنة تحقيق تتولى مساءلة الدار عن سبب هذا التزوير ثم نشر نتائج تلك التحقيقات، وعلى الدار المذكورة أن تتبرأ من هذا وتساهم في كشف الحقيقة فإن لم تتبرأ الدار من ذلك التزوير وتسعى في كشف الحقيقة التصق بها العار والشنار، وعلى طلبة العلم الأزهريين الانتصار لمنهج الأزهر الحق بدرء مثل هذه المحاولات الفاشلة لتشويه صورة عالم أزهري ومكتبة ودار تجاور الأزهر وتستمد من أنوراه الباهرة، وعلى القريبين من الأستاذ المحقق طه عبدالرؤوف سعد إعلامه بهذا التغيير ومطالبته بالسعي لكشف من وراءه لأن مسؤوليته هو كمحقق واضحة ونحن لا نظن به إلا خيرا وكم خدم التراث الإسلامي وتراث أهل السنة والجماعة بشكل خاص فلا نظن إلا أن يدا خبيثة وهابية تسللت إلى تلك الدار وعملت في الخفاء.

الكلام على طبعة أخرى فيها شيء:

وهذه هي طبعة دار مكتبة الآداب التي أشرف على تحقيقها والعناية بها أحمد علي حسن المدقق بالدار المذكورة، طالعتها فوجدتها طبعة أمينة، وهذا غلافها:

لكن وجدت في الصفحة رقم 32 منها صورة تمثيلية لمخارج الحروف هي هذه:

لكن دون تنبيه ولا إشارة إلى أن هذه الصورة الواقعة في الصفحة المذكورة لا علاقة لها بالكتاب وأنها مدرجة فيه للتوضيح ومثل هذا لا يجوز فنتمنى من المدقق المذكور التنبيه على هذا في طبعة لاحقة.
http://cb.rayaheen.net/showthread.php?tid=11650