SCAN KITAB ASLI MANAQIB IMAM SYAFII ‘ALA IMAM BAIHAQI DAN KITAB IBNU TAYMIYAH : IMAM SYAFII BAGI 2 BID’AH (BID’AH HASANAH DAN BID’AH DLOLALAH)

Legalitas Bid’ah Hasanah tidak pernah menjadi permasalahan dan perdebatan sebelum datang nya Wahabi, keberagaman penjelasan para ulama tentang Bid’ahbukan karena perselisihan dalam memahami hakikat Bid’ah, tapi karena kekayaan ilmu yang dimiliki oleh para ulama, tapi ketika bahasa para ulama tersebut dipahami oleh kaum yang sempit pemahaman, mulailah benih-benih perselisihan muncul dan alangkah menyesal ketika kebodohan tersebut dijadikan senjata untuk membid’ah-sesatkan amalan yang telah dilegalisasi oleh syara’ melalui dalil-dalil dhanni atau ijtihadi, dan akhirnya kata Bid’ah menjadi senjata untuk memecah-belah ummat ini.

Bagaimana pandangan Al-Imam asy-Syafi’i tentang Bid’ah Hasanah ?

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ :

أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ،

وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ

Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua macam :

Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar, perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat (Bid’ah Dholalah).

Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi satu pun dari al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka perkara baru seperti ini tidak tercela (Bid’ah Hasanah).

(Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i –Jilid 1- Halaman 469).

Lihat Scan Kitab Manaqib asy-Syafi’i di bawah ini

Pernyataan Imam Syafi’i di atas adalah kelanjutan dari pemahaman Imam Syafi’i terhadap Hadits larangan Bid’ah, bukan malah dihantamkan dengan Hadits larangan Bid’ah, maka dapat dipahami bahwa Imam Syafi’i tidak otomatis menganggap setiap perkara baru dalam Agama itu Bid’ah Dholalah, tapi setiap perkara baru ada dua kemungkinan yaitu  apabila bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’ maka itu Bid’ah Dholalah dan inilah Bid’ah yang dilarang dalam Hadits “Setiap Bid’ah sesat”.

Sementara bila perkara baru dalam Agama itu tidak bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’ maka inilah Bid’ah Hasanah dan ini tidak termasuk dalam Bid’ah yang terlarang dalam Hadits “Kullu Bid’atinDholalah”.

Sangat jelas penjelasan Imam Syafi’i tentang legalitas Bid’ah Hasanah, batasan Bid’ah Dholalah adalah bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’, selama sesuatu yang baru dalam Agama itu tidak bertentangan dengan 4 batasan tersebut, maka itu bukan Bid’ah Dholalah dan tidak termasuk menambah atau mengada-ngada syari’at baru, karena batasan Bid’ah Dholalah bukan pada tidak ada nash yang shorih, atau padaadakah rasul dan para sahabat telah melakukan nya.

Memahami Perkataan Imam Syafi’i Dalam Pembagian Bid’ah

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ

“Perkara baru ada dua macam”

Maksudnya : semua perkara baru baik Ibadah atau bukan Ibadah, baik Aqidah atau bukan Aqidah terbagi kepada dua macam, poin yang perlu di ingat adalah Imam Syafi’i sedang memisah dan memilah antara dua macam perkara baru yang tentu saja perkara tersebut tidak di masa Rasulullah dan para sahabat.

أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا

“salah satunya adalah perkara baru yang menyalahi Kitab (Al-Quran), atau Sunnah (Hadits), atau Atsar, atau Ijma’.”

Maksudnya : yang pertama adalah perkara baru yang menyalahi Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’, poin penting di sini adalah “Yukhalifu” atau “menyalahi” jadi perkara baru itu sesat bukan karena semata-mata ia baru ada dan belum ada di masa rasul dan sahabat, tapi karena menyalahi 4 perkara di atas.

فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ

“maka perkara baru ini adalah Bid’ah Dholalah”

Maksudnya : perkara baru yang menyalahi Al-Quran atau menyalahi As-Sunnah atau menyalahi Atsar atau menyalahi Ijma’, maka inilah Bid’ah Dholalah yang terlarang dalam Hadits larangan Bid’ah, Bid’ah Dholalah bukan sesuatu yang tidak tersebut secara khusus dalam Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’, tapi harus diperiksa dulu apakah ia menyalahi atau justru sesuai dengan Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’.

وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا

“yang kedua, perkara baru yang baik lagi tidak menyalahi bagi salah satu dari ini (Al-Quran, As-Sunnah, Atsar, dan Ijma’)”

Maksudnya : yang kedua adalah perkara baru yang baik dan tidak menyalahi satupun dari Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’, bukan maksud baik itu hanya dianggap baik, tapi baik di sini adalah tidak menyalahi 4 perkara tersaebut, dan poin penting di sini juga pada “Tidak menyalahi” jadi perkara baru tidak otomatis Bid’ah dan Sesat,  tapi ketika ia menyalahi salah satu dari 4 perkara tersebut, maka otomatis sesat, dan bila tidak menyalahi salah satu dari 4 perkara tersebut maka otomatis tidak sesat, baik dinamai dengan Bid’ah Hasanahatau Bid’ah Lughawi atau dengan bermacam nama lain nya.

وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ

“dan perkara baru tersebut tidak tercela”

Maksudnya : perkara baru yang tidak menyalahi Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’ adalah Bid’ah yang tidak tercela atau di sebut juga dengan Bid’ah Hasanah.

Bid’ah Hasanah itu Syar’i atau Lughawi ?

Ini bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan, tidak berpengaruh apapun terhadap legalitas Bid’ah Hasanah, bahkan yang lebih bodoh lagi adalah mempermasalahkan adakah Bid’ah Hasanah ?,ulama pun berbeda pendapat dalam hal ini, tapi satu tujuan, ini bukan alasan untuk mengingkari Bid’ah Hasanah dalam Agama, karena walaupun Bid’ah Hasanah itu Lughawi atau Syar’i tetap saja maksudnya adalah perkara baru yang tidak bertentangan dengan Al-Quran atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’, permasalahan ini hanya karena berbeda dalam memaknai Bid’ah pada Syara’.

Maksud Bid’ah pada Syara’ menurut Imam Nawawi adalah :

إحداث ما لم يكن في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم، وهي منقسمه إلى حسنة وقبيحة

“mengadakan perkara baru yang belum ada di masa Rasulullah SAW, dan ia terbagi kepada hasanah (baik), dan qabihah (buruk)”.

Atas definisi Bid’ah pada syara’ menurut Imam Nawawi di atas, maka Bid’ah Hasanah adalah satu pembagian dari Bid’ah Syar’i, bukan Bid’ah Lughawi, kerena sesuatu yang tidak ada di masa Rasulullah dinamakan Bid’ah, tapi ada dua kemungkinan, bila sesuai dengan dalil-dalil syar’i maka itu Bid’ah Hasanah, dan bila menyalahi dalil-dalil syar’i maka ituBid’ah Qabihah atau Bid’ah Dholalah.

Maksud Bid’ah pada Syara’ menurut Ibnu Rajab adalah :

ما أحدث مما لا أصل له في الشريعه يدل عليه، وأما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه فليس ببدعة شرعا، وإن كان بدعة لغة

“perkara baru yang tidak ada dasar dalam syari’at yang menunjuki atas nya, dan adapun perkara baru yang ada dasar dari syara’ yang menunjuki atas nya, maka ia bukan Bid’ah pada Syara’, sekalipun Bid’ah pada Lughat”.

Atas definisi Bid’ah pada Syara’ menurut Ibnu Rajab, maka Bid’ah Hasanah adalah bukan pembagian dari Bid’ah pada Syara’, tapi Bid’ah Hasanah adalah Bid’ah Lughawi, karena maksud Bid’ah pada Syara’ yang seperti ini tidak mungkin terbagi kepada Hasanah (baik), sesuatu yang tidak ada dasar dari Syara’ otomatis Buruk atau sesat.

Maka sekalipun berbeda cara memahami Bid’ah pada Syara’ dan bereda dalam mengkategorikan Bid’ah Hasanah, tapi tidak berpengaruh pada legalitas Bid’ah Hasanah dalam Agama, ini bukan alasan mengingkari Bid’ah Hasanah, apalagi menjadikan sebagi alasan untuk membid’ahkan amalan-amalan yang tidak ada di masa para salafus sholeh, tapi ada dasar dari syara’ dan tidak menyalahi dalil-dali syar’i.

Kebesaran nama Imam Syafi’i tidak sanggup mereka tantang pernyataan sikap Imam Syafi’i secara langsung, tapi mereka mempermainkan pendapat Imam Syafi’i agar sesuai selera mereka dan cocok dengan kesalahpahaman mereka, mereka beralasan bahwa Bid’ah Hasanah yang dimaksud oleh Imam Syafi’i adalah Bid’ah Lughawi, untuk tetap bisa membid’ah-sesatkan amalan seperti Tahlilan, Yasinan, Maulidan dan sebagai nya.

Padahal alasan itu tidak ada hubungan dengan pembagian Bid’ah Hasanah dari Imam Syafi’i, karena sekalipun kita maksudkan dengan Bid’ah Lughawi, tetap saja yang dimaksud Bid’ah Hasanah oleh Imam Syafi’i adalah perkara baru dalam Agama yang tidak bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar, dan Ijma’, inilah yang perlu digarisbawahi, bahwa Bid’ah Hasanah adalah sesuatu yang baru (tidak ada di masa rasulullah dan para sahabat) tetapi tidak bertentangan dengan Al-Quran, As-Sunnah, Atsar dan Ijma’, biarpun tidak ada dalil yang shorih. Wallahu a’lam.

Bukti Ibnu Taymiyah membagi Bid’ah menjadi 2 : Bid’ah hasanah dan bid’ah dlolalah (mengakui pendapat imam Syafii dan ijma ulama sunni)

Tanyakan Kpd Org2 Wahabi: Beranikah Kalian Menyesatkan Ibnu Taimiyah Yg Telah Membagi Bid’ah Kepada 2 Macam???

by AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT on Sunday, March 4, 2012 at 11:21pm ·

Kaum Wahabi mengatakan bahwa pembagian bid’ah kepada 2 bagian; bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah adalah pembagian batil (sesat), sementara Ibnu Taimiyah; “Imam tanpa tanding meraka”, mengatakan bahwa bid’ah terbagi kepada 2 bagian di atas. Dari sini anda katakan kepada orang-orang Wahabi itu; “Apakah kalian akan mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah sesat ahli bid’ah??? Terhadap para ulama Ahlussunnah; seperti Imam an-Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Imam al-‘Izz ibnu Abdissalam, dan lainya; kalian berani mengatakan bahwa mereka sesat karena membagi bid’ah kepada 2 bagian di atas??? Apakah kalian mengatakan Ibnu Taimiyah sesat karena telah membagi bid’ah kepada 2 baian; bid’ah hasanah, dan bid’ah sayyi’ah”???

Orang-orang Wahabi “mati kutu”….!!!!

Berikut ini adalah tulisan Ibnu Taimiyah dalam membagi bid’ah kepada 2 bagian tersebut dalam kitab karyanya berjudul “Muwafaqah Sharih al-MMa’qul Li Shahih al-Manqul”, silahkan dicek…..!!!

Kitab : “Muwafaqah Sharih al-MMa’qul Li Shahih al-Manqul”

Penulis : Ibnu taymiyah

Halaman : 144 – 145

Tarjamah :  ” Berkata Imam Syafi’i ra. : Bidah terbagi menjadi dua, (1) bidah yang menyalahi perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah dlolalah. (2)  sedangkan Bid’ah yang bidah yang tidak menyalahi (sesuai) dengan perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah hasanah.

Ibnu Katsir Vs Wahabi : Scan kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah “Riwayat Shahih Tawasul Sahabat dengan nabi setelah wafat Nabi”

Tawassul telah terbukti bahwa termasuk dalam Sunnah, bukan Bid’ah apa lagi di anggap Syirik, Salafi-Wahabi pun mengakuinya meski pun mereka masih malu, mereka masih membedakan dengan Istilah Tawassul Syar’i (Tawassul Masyru’) danTawassul bukan Syar’i (Tawassul Ghairu Masyru’), namun kesalahan mereka bukan dalam Istilah tersebut, tapi karena tidak mengaggap “Tawassul dengan Rasul dan para Sholihin setelah wafat” sebagai Tawassul Syar’i, dan bahaya nya mereka mengkafirkan Tawassul ini dan menganggap pelaku nya sebagai Kuburiyyun(penyembah kubur), dan bahkan masih ada dalam pengikut buta Wahabi yang justru masih mempermasalahkan perantara (Wasilah), dalam anggapan mereka harus berdoa langsung kepada Allah, tidak boleh pakai wasilah, karena wasilah itu dapat menjadi syirik, itulah sangkaan orang-orang yang tertipu oleh cara istidlal Salafi Wahabi yang tidak konsisten.

Ini Bukti Tawassul di masa Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah- Jilid 1- Halaman 91 sebagai berikut :

وقال الحافظ أبو بكر البيهقي : أخبرنا أبو نصر بن قتادة وأبو بكر الفارسي قالا : حدثنا أبو عمر بن مطر حدثنا إبراهيم بن علي الذهلي حدثنا يحيى بن يحيى حدثنا أبو معاوية عن الأعمش عن أبي صالح عن مالك قال : أصاب الناس قحط في زمن عمر بن الخطاب فجاء رجل إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله استسق الله لأمتك فإنهم قد هلكوا ، فأتاه رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال : ائت عمر فأقرئه مني السلام وأخبرهم أنهم مسقون ، وقل له : عليك بالكيس الكيس. فأتى الرجل فأخبر عمر ، فقال : يارب ! ما آلو إلا ما عجزت عنه . وهذا إسناد صحيح .

Telah berkata al-Hafidz Abu Bakar al-Baihaqqi: Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Nasr ibnu Qatadah dan Abu Bakar al-Farisi, berkata kedua nya: Telah menceritakan kepada kami Abu Umar ibn Mathar, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibn ‘ali al-Zuhli, telah menceritakan kepada kami Yahya Ibn Yahya, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah dari pada al-A’mash, dari pada Abu Sholeh dari pada Malik, beliau berkata :
“Pada zaman kekhalifahan Umar ibnu Khattab, manusia ditimpa kemarau yang panjang, Maka seorang lelaki pergi ke kubur Rasulullah lalu berkata : “Wahai Rasulullah! Mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada umatmu kerana mereka semua telah menderita”. Maka Rasulullah datang dalam tidurnya dan bersabda: “Pergilah bertemu Umar dan sampaikan salamku kepadanya, Khabarkanlah kepadanya bahwa mereka semua akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya Hendaklah kamu bersungguh-sungguh dan bijaksana (dalam mengurusi umat)”. Maka lelaki tersebut menemui umar dan menceritakan kepadanya tentang hal tersebut. Lalu Umar berkata : Wahai Tuhanku! Aku tidak melengah-lengahkan urusan umat kecuali apa yang tidak terdaya aku lakukannya” . Sanad riwayat ini Shohih. [kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah- Jilid 1- Halaman 91].

Perhatikan scan kitab di bawah ini :


Tidak ada alasan bagi Wahabi mengingkari riwayat ini kecuali dengan tuduhan hadits Dho’if atau Palsu, dan mereka lebih senang menuduh Quburiyyun dan Syirik kepada pelaku Tawassul dari pada mengakui nya, seharus nya mereka mengakui riwayat ini sekalipun tidak mau melakukan nya karena dalam anggapan mereka ini riwayat Dho’if, sesungguhnya menghukumi sesat terhadap orang lain karena amalan dalam riwayat dho’if lebih bahaya dari pada beramal dengan hadits dho’if, karena dho’if itu menurut perasaan mereka, sementara ulama besar seperti Ibnu Katsir dan Imam Baihaqqi dalam masalah ini dan juga imam-imam lain nya, sangat jelas berkata bahwa riwayat ini Shohih, ini juga membuktikan bahwa ulama sepakat bahwa Tawassul dengan Rasulullah setelah beliau wafat adalah Tawassul yang disyari’atkan (Tawassul Masyru’), bukan perkara syirik apalagi menuduh pelaku dengan tuduhan penyembah kubur nabi.

Semoga kita selamat dari fitnah Salafi Wahabi

Ibnu Katsir Vs Wahabi : Makna “Yadullah” Dalam Tafsir Ibnu Katsir

Makna “Yadullah” Dalam Tafsir Ibnu Katsir

Salah satu kesesatan Tauhid Salafi Wahabi adalah menetapkan tangan [anggota badan] bagi Allah, akibat salah paham terhadap hakikat Manhaj Salaf tentang Asma’ wa Sifat, mereka tersesat dalam pemahaman mereka sendiri, di satu sisi mereka seakan ingin tetap atas pendirian mereka bahwa “yadullah” itu atas makna dhohirnya yaitu “tangan Allah” akan tetapi di sisi lain mereka terlihat ragu dan ingin berlari dari pendirian mereka dengan sedikit menta’wil nya dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, tapi mereka sangat anti dengan Ta’wil, sehingga sampailah mereka pada kesimpulan bahwa “yadullah” adalah tangan [anggota tubuh] tapi dengan bentuk atau kaifiyat yang layak dengan Allah, sementara makna “yadullah” yang layak dengan keagungan Allah menurut akidah Ahlus Sunnah waljama’ah adalah bukan tangan dalam artian anggota tubuh sebagaimana di pahami dari makna dhohir, makna dhohir nya yaitu “tangan” justru tidak pantas dinisbahkan kepada Allah, oleh karena demikian lahirlah dua metode Ahlus Sunnah dalam memahami ayat dan hadits sifat, yakni menetapkan lafadh nya sebagaimana datang nya tanpa menentukan makna nya dan menyerahkan maksud nya kepada Allah, hanya Allah yang tahu dengan maksud sebenarnya, dan satu metode lagi yakni menta’wil nya dengan makna yang layak dan pantas bagi Allah, salah satu bukti bahwa tidak boleh mentafsirnya dengan makna dhohir lughat adalah, Ibnu Katsir dalam tafsir beliau menta’wil “yadullah” dengan makna yang layak bagi Allah sesuai dengan indikasi dan qarinah yang terdapat dalam ayat

Coba buka dalam surat al-Fath, ayat 10, lihat pada scan kitab di bawah ini :

Perhatikan pada teks berikut :

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ أَيْ هُوَ حَاضِرٌ مَعَهُمْ يَسْمَعُ أَقْوَالَهُمْ وَيَرَى مَكَانَهُمْ وَيَعْلَمُ ضَمَائِرَهُمْ وظواهرهم

“yadd Allah di atas tangan-tangan mereka artinya Allah hadir bersama mereka, Allah mendengar perkataan-perkataan mereka, dan Allah melihat tempat mereka, dan Allah mengetahui batin merekadan dhohir mereka”

Begitu gamblang dan jelas, bahwa seorang Ibnu Katsir tidak menyatakan Allah punya tangan, tetapi ayat yang dhohirnya bermakna tangan, beliau ta’wil dengan makna yang layak bagi Allah, Ibnu Katsir dalam ayat ini menta’wil “yadullah” dengan makna kehadiran Allah, tapi bukan dalam artian kehadiran yang harfiyah atau hissi, tapi kehadiran Allah artinya Allah mendengar perkataan-perkataan mereka, dan Allah melihat tempat mereka, dan Allah mengetahui batin mereka dan dhohir mereka, inilah metode Ahlus Sunnah dalam menyikapi nash-nash mutasyabihat, tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, kecuali mereka ingin berlari dari pintu hidayah yang telah terbuka lebar di hadapan mereka dengan beralasan bahwa Ibnu Katsir salah memahami ayat di sini dan Ibnu Katsir terpeleset dalam akidah tentang “yadullah”. [hadanallah wa iyyakum ajma’in]

 

Dan coba buka lagi Tafsir Ibnu Katsir surat al-Maidah ayat 64, lihat scan kitab nya berikut ini :

Perhatikan pada teks berikut :

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ } أيبل هو الواسع الفضل، الجزيل العطاء

“(tetapi Yadd-Nya terbuka, Allah memberi bagaimana yang Dia kehendaki) artinya tetapi Allah yangmaha luas karunia lagi yang maha banyak pemberian”

Sangat jelas kesesatan akidah Salafi Wahabi yang menetapkan bagi Allah ada dua tangan dengan berdalil atas kesalah-pahaman mereka memahami ayat ini, dan sangat terang benderang pula salah kaprah Salafi Wahabi yang sangat anti dan bahkan sangat mencela Ta’wil secara mutlak, karena nyatanya seorang Ibnu Katsir yang diakui keilmuan beliau dalam bidang tafsir Al-Quran oleh para Ulama Ahlus Sunnah, beliau menta’wil “yadullah” dengan makna karunia dan pemberian (al-Fadhli dan al-‘Atha’), Ibnu Katsir mentafsirkan “yadahu” dengan makna  “al-Fadhli dan al-‘Atha’, sementara Salafi Wahabi memaknainya dengan “dua tangan”. Dan Ibnu Katsir mentafsirkan “mabsuthatan” dengan makna “al-Wasi’ dan al-Jazil” sementara Salafi Wahabi memaknainya dengan “terbuka kedua nya”.

Maka nampak dengan jelas di sini siapa yang mentafsirkan Al-Quran dengan ilmu dan siapa yang mentafsirkan Al-Quran dengan nafsu belaka, dan sampailah kita pada kesimpulan bahwa akidah Ibnu Katsir dan semua Ahlus Sunnah Waljama’ah Salaf dan Khalaf, Asy’ariyah dan Maturidiyah, Ulama Sufi dan Ulama Fiqih, adalah Allah tidak memiliki tangan [anggota tubuh], sementara kata “yadullah” yang disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah bukan bermakna “tangan” tetapi dita’wilkan dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, atau ditafwidhkan makna nya kepada Allah yang maha tahu dengan maksud nya .

Dan seandainya makna dhohir yang dipahami dari lughat bukan masalah besar dalam akidah, yang dapat mengkufurkan orang nya karena telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, tentu saja para Ulama Ahlus Sunnah tidak menyetujui Tafwidh, apalagi Ta’wil, justru metode Tafwidh dan Ta’wil itu ada karena tidak boleh nya memaknai dengan makna dhohir yang dipahami dari makna lughat, karena pada diri makna dhohir tersebut telah terdapat Tasybih [menyerupakan Allah dengan makhluk] dan Tasybih tersebut tidak akan hilang mesti dengan membedakan kaifiyat nya, karena Tasybih yang ada pada makna dhohir bukan Tasybih kaifiyat nya.

Wallahul muwaffiq.

Dusta Salafi Di Balik Nama Wahabi – Wahabi sebenarnya difatwa sesat oleh mufti 4 madzab sunni

 

Cerita ini adalah fiktif belaka dan tidak lebih dari hanya sebuah dongeng semata, tapi aneh nya dongengini bukan saja di sukai oleh anak-anak, tapi justru sangat popular dan di sukai oleh Ustadz atau Syekh Salafi-Wahabi, Cuma saja dongeng ini beredar dengan beragam judul, dikalangan Salafi-Wahabi lebih sering didongengkan dengan judul “Siapakah Wahabi Sesungguhnya” dan “Inilah Wahabi Sesungguhnya” dan bahkan karena terlalu terbawa dan percaya dengan dongeng ini, tanpa mencari tau kebenaran nya, sebagian orang menyangka cerita fiktif tersebut adalah sebuah kenyataan, meskipun tidak bisa membuktikan kebenaran cerita nya, karena kebiasaan para pengikut mereka yang hanya bisa membaca tapi tidak mencari fakta, hanya bisa mendengar tak bisa berkomentar, sehingga dongeng tersebut terus disebarkan oleh orang-orang yang tidak punya malu dan tanggung jawab (semoga Allah membalas nya dengan balasan yang setimpal).

Dongeng Wahhabi Rustumi tersebut menceritakan tentang ajaran seorang yang bernama Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum [208 H/823 M] atau konon disebut dengan nama Wahhabi, dan di akhir cerita di vonis sesat oleh seorang Ulama bernama Al-Lakhmi atau nama lengkap Ali bin Muhammad Al-Lakhmi [478 H/1085 M], adapun bila ada kesamaan nama atau sebutan dalam dongen tersebut hanyalah sebuah kebetulan atau memang ada misi dibalik nama-nama tersebut, namun nama-nama dan sebutan dalam dongeng ini tidak ada hubungan dengan Salafi-Wahabi dengan bermacam varian nya, yang juga difatwakan sesat oleh Ulama Ahlus Sunnah Waljama’ah seluruh dunia, karena Wahabi yang difatwakan sesat oleh Ulama Ahlus Sunnah sedunia adalah ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi[1206 H/1791M], sekali lagi bahwa Wahabi dalam dongeng tersebut tidak ada hubungan apa pun dengan Wahabi yang beredar disekeliling kita sekarang ini atau yang sering menyebut diri nya Salafi, meri kita ikuti dongeng ini sampai akhir, agar generasi kita tidak termakan oleh sebuah dongeng atau cerita yang tidak bisa dibuktikan kebenaran nya (semoga Allah menjaga kita semua dari fitnah Agama ini).

DONGENG USTADZ SALAFI TENTANG WAHHABI RUSTUMI

Begini Cerita nya !  Dongeng ini kami copas dari situs dan blog Syekh Salafi-Wahabi, tapi ingat ini hanya sebuah dongeng ! harap baca sampai tuntas, agar tidak salah paham

(awal dongeng)– Cerita ini berawal dari dialog antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen di satu Universitas Islam di Maroko (tidak jelas Universitasnya).

Salah seorang Dosen itu berkata: ”Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya,dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”

Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: ”Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.

Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di Universitas ini terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya .Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”

Dosen itu berkata : ”saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.

Asy Syaikh berkata : ”saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.”

Dosen itu pun berkata :”baiklah kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah Firqoh yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi ’yar yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun membangun sebuah masjid,”Bolehkan kita Sholat di Masiid yang dibangun oleh orang-orang wahabi itu ??” maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab: ”Firqoh Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu ’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin ”.

Dosen itu berkata lagi :”Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini,”

Kemudian Asy Syaikh menjawab : ”Tunggu dulu..!! kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu !”

Dosen itu berkata: ”anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya ??”

Asy Syaikh menjawab:”dari sampul luarnya saja.”

Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar,yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H dikotaFas, di Maroko.”

Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya:”wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al- Lakhmi??”

Dosen itu berkata:”Ya,”kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Didalam kitab tersebut terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.

Kemudian Asy Syaikh berkata : ”Kapan beliau wafat?”

Yang membaca kitab menjawab: ”beliau wafat pada tahun 478 H”

Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi: ”wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi ” kemudian ditulis.

Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : ”Wahai para masyaikh….!!! Saya ingin bertanya kepada antum semua …!!! Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir) ???? kecuali kalau dapat wahyu????”

Mereka semua menjawab :”Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda !”

Asy syaikh berkata lagi : ”bukankah wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab????

Mereka berkata : ”Siapa lagi???”

Asy Syaikh berkata:”Coba tolong perhatikan..!!! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, …

Nah,ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab belum lahir..bahkan sampai 22 generasi keatas dari beliau sama belum yang lahir..apalagi berdakwah..

KAIF ??? GIMANA INI???

(Merekapun terdiam beberapa saat..)

Kemudian mereka berkata:”Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ??” mohon dielaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya !”

Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang : ”Apakah anda memiliki kitab Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang kebangsaan Francis ?”

Dosen itu berkata:”Ya ini ada,”

Asy Syaikh pun berkata :”Coba tolong buka di huruf “ wau” ..maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “ Wahabiyyah”

Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqoh wahabiyyah itu.

Dosen itu pun membacakannya: ”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al- Abadhi, Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H dikotaThorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.

Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata : ”Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulamaAndalusiadan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun Dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah-, maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul. (akhir dongeng)

Itulah dongeng lengkap yang sering diceritakan oleh para Syekh Salafi-Wahabi kepada pengikut setia mereka, hati-hati jangan terjebak oleh dongeng ini …..!!!

BENARKAH CERITA ITU DONGENG ?

Dalam dongeng itu menceritakan bahwa ajaran Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum bernama Wahhabiyahnisbah kepada nama Abdul Wahhab, ternyata ajaran yang disebarkan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum itu bukan Wahhabiyyah ( الوهابيه ) tapi Wahbiyyah ( الوهبية ), lalu kenapa juga ajaran nya disebut Wahbiyyah? apakah Wahbiyyah itu nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum ? nah tentu saja bukan karena ajaran Wahbiyyah tersebut adalah nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi (38 H) [عبد الله بن وهب الراسبي] [Lihat Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya- halaman 145], lalu pecah kepada beberapa firqah, nah firqah nya Abdul wahhab bin Abdirrahman bin Rustum di sebut Wahbiyyah Rustumiyyah (bukan Wahhabiyyah Rustumiyyah), bahkan dalam kitab yang tersebut di atas sangat jelas bahwa Al-Lakhmi di tanyakan tentang kaum Wahbiyyah, bukan tentangWahhabiyyah, tetapi dalam dongeng disebutkan bahwa Al-Lakhmi ditanyakan tentang Wahhabiyyah, ini jelas-jelas tipuan dan pembodohan, simak penjelasan berikut ini :

Dalam kitab Tarikh Ibnu Khaldun juzuk II halaman 98, beliau berkata :
وكان يزيد قد أذل الخوارج ومهد البلاد فكانت ساكنة أيام روح ورغب في موادعة عبد الوهاب بن رستم وكان من الوهبية فوادعه

Perhatikan dari teks di atas : (ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻫﺒﻴﺔ)
dan adalah Abdul Wahhab bin Rustum sebagian dari “Wahbiyyah”

Maksudnya, Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum adalah pengikut Wahbiyyah bukan Wahhabiyyah, dan juga bukan pendiri Wahbiyyah sehingga ada anggapan bahwa ajaran nya bernama Wahhabiyyah nisbah kepada nama nya Abdul Wahhab, sunnguh anggapan yang sangat keliru, perbedaan antara Wahbiyyah dan Wahhabiyyahbagaikan langit dan bumi, baik dari penulisan atau bacaan nya, atau pun pada nisbah dan ajaran nya, tapi kemiripan penulisan tulisan dan bacaan nya membantu para Syekh Salafi-Wahabi untuk menipu para simpatisan mereka, maka tertipulah orang-orang yang hanya bisa melihat tapi tak mau berpikir. (na’uzubillah)

Bahkan dalam Al-Mi’yaar al-Mu’rib wa al-Jaami’ al-Mughrib ‘an Fataawaa Ifriiqiyyah wa al-Andalus wa al-Maghrib juzuk 11 halaman 168 di tulis oleh Ahmad bin Yahya Al-Wansyarisi (sebagaimana rujukan dalam dongeng di atas)

وسئل اللخمي عن قوم من الوهبية سكنوا بين أظهر أهل السنة زمانا وأظهروا الآن مذهبهم وبنوا مسجدا ويجتمعون فيه ويظهرون مذهبهم في بلد فيه مسجد مبني لأهل السنة زمانا ، وأظهروا أنه مذهبهم وبنوا مسجدا يجتمعون فيه ويأتي الغرباء من كل جهة كالخمسين والستين ، ويقيمون عندهم ، ويعملون لهم بالضيافات ، وينفردون بالأعياد بوضع قريب من أهل السنة . فهل لمن بسط الله يده في الأرض الإنكار عليهم ، وضربهم وسجنهم حتى يتوبوا من ذلك ؟

Perhatikan dari teks di atas : (ﻭﺳﺌﻞ ﺍﻟﻠﺨﻤﻲ ﻋﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻫﺒﻴﺔ)
“Dan Al-Lakhmi ditanyakan tentang satu kaum dari Wahbiyyah

Maksudnya, Imam Al-Lakhmi ditanyakan tentang satu firqah dari Wahbiyyah, sementara dalam dongeng di atas disebutkan Al-Lakhmi ditanyakan tentang firqah Wahhabiyyah, sangat jelas ini tipuan belaka, Wahhabiyyah dalam penulisan bahasa Arab ber-tasydid pada (Ha) dan ada (Alif) di depan (Ha), sementara Wahbiyyah tulisan nya tidak ber-tasydid pada (Ha) dan tidak ada (Alif) di depan (Ha), maka fatwa Al-Lakhmi bukan tentang faham Wahhabiyyah, tapi tentang firqah Wahbiyyah, dan tidak ada hubungan antara Wahhabiyyah dan Wahbiyyah Rustumiyyah abadhiyyah.

Dan dalam buku seorang sejarawan asal  Prancis, sebagaimana rujukan dalam dongeng itu pula, yaitu Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil [1364 H/1945 M], lihatlah penyimpangan cerita itu dengan apa yang tersebut dalam buku rujukan nya, ini tulisan Al-Faradbil dalam buku nya :

وقد سموا أيضا الوهبيين نسبة إلى عبد الله بن وهب الراسبي ، زعيم الخوارج

“Dan sungguh mereka dinamakan Wahbiyyin (الوهبيين) karena dinisbahkan kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi, yang di tuduh sebagai Khawarij” [Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya- halaman 145].

Ternyata dalam buku Al-Faradbil juga tertulis Wahbiyyin, bukan Wahhabiyyin, dan dengan sharih disebutkan nisbah nya, Wahbiyyah atau Wahhbiyyin bukan nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustumsebagaimana dalam dongeng di atas, akan tetapi Wahbiyyah itu nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi.

Semakin terang benderang upaya makar para syekh Salafi-Wahabi hendak memutar balikkan fakta, sungguh tipuan yang hampir sempurna, banyak trik yang telah mereka susupi dalam kitab, buku, situs dan blog mereka, dan para pengikut mereka tidak pernah mempertanyakan atau membuktikan kebenaran nya, sikap para pengikut mereka yang hanya bisa taqlid buta, semakin mendukung para syekh akan terus mempertahankan taktik ini, (semoga membuka mata para pecinta dongeng itu).

Dan perhatikan nama-nama kitab Wahbiyyah berikut ini :

كتـاب ( تلخيص عقائد الوَهْبِيَّة في نكتة توحيد خالق البرية ) * للشيخ إبراهيم بن بيحمان اليسجني من علماء وادي مِيزَاب بالجزائر ( ت : 1232هـ / 1817م

كتاب ( العقيدة الوَهْبِيَّة ) * للشيخ أبي مسلم ناصر بن سالم البَهْلانِي من علماء عُمَان ( ت : 1339هـ / 1920م

كتاب ( دفع شبه الباطل عن الإباضية الوَهْبِيَّة المحقة ) * للشيخ أبي اليقظان إبراهيم من علماء وادي مِيزَاب بالجزائر ( ت : 1393هـ / 1973م

Perhatikan, ini pengakuan dan pernyataan dari mereka sendiri bahwa faham mereka bernama “Wahbiyyah-الوَهْبِيَّة” bukan Wahhabiyyah, semua mata pun bisa melihat dengan sangat jelas, hanya hati yang ingkar yang masih mempertahankan cerita yang tidak bisa dibuktikan kebenaran nya, ketika cerita atau sejarah sudah tidak lagi sesuai dengan fakta, maka pantaslah cerita itu masuk dalam kategori Dongeng, silahkan saja bercerita, tapi bukan untuk di percaya, tapi seharusnya seorang Ustadz tidak mengelabui murid-murid nya dengan cerita dusta, apalagi setingkat Ustadz lulusan luar negeri, sungguh sangat disayangkan. (semoga allah membuka mata mereka)

WAHHABI ADALAH NAMA AJARAN SYEKH MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB AT-TAMIMI AN-NAJDI

berikut bukti pengakuan dari Syaikh Wahabi yakni Ibnu Baz dalam kitab Fatawa Nur ‘ala al-darb pada soal yang ke 6 sebagai berikut :
س 6 – يقول السائل: فضيلة الشيخ، يسمي بعض الناس عندنا العلماء في المملكة العربية السعودية بالوهابية فهل ترضون بهذه التسمية؟ وما هو الرد على من يسميكم بهذا الاسم؟
“Soal ke 6 – Seseorang bertanya kepada Syaikh : Sebagian manusia menamakan Ulama-Ulama di Arab Saudi dengan nama Wahabi [Wahabiyyah], adakah antum ridho dengan nama tersebut ? dan apa jawaban untuk mereka yang menamakan antum dengan nama tersebut ?”
Syaikh Ibnu Baz menjawab sebagai berikut :
الجواب: هذا لقب مشهور لعلماء التوحيد علماء نجد ينسبونهم إلى الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمة الله عليه
“Jawab : Penamaan tersebut masyhur untuk Ulama Tauhid yakni Ulama Nejed [Najd], mereka menisbahkan para Ulama tersebut kepada Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab.
dan bahkan Ibnu Baz memuji nama tersebut, ia berkata :
فهو لقب شريف عظيم
“Dianya (Wahhabiyah) adalah panggilan yang sangat mulia dan sangat agung”.

Sungguh pengakuan yang sangat jujur yang seharusnya dimiliki oleh semua Syekh Salafi-Wahabi, kenapa harus main curang kalau memang yakin dengan kebenaran dakwah Wahabi ? lagi pula kebenaran dan kesesatan bukan pada sebuah nama atau julukan, justru kebohongan yang semakin lama semakin banyak Nampak ke permukaan, akan membuat para penggemar Salafi-Wahabi kecewa, ketika mereka tau ternyata Wahabi bukan bermanhaj Salaf.

KESALAHAN SYEKH WAHABI DALAM DONGEN INI

  1. Menghubungkan Fatwa tentang firqah Wahbiyyah dengan firqah Wahhabiyyah.
  2. Menghilangkan atau menganggap sama Wahbiyyah dengan Wahhabiyyah.
  3. Cerita nya tidak sesuai dengan apa yang ada dalam kitab atau buku rujukan yang tersebut dalam cerita itu.
  4. Menceritakan bahwa Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum adalah pendiri Wahbiyyah, agar sesuai dengan tujuan cerita.
  5. Ternyata tidak ada ajaran bernama Wahhabi pada masa daulah Rustumiyyah.
  6. Wahbiyyah ternyata nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi.
  7. Main curang untuk membela paham Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab At-Tamimi.

MISI DIBALIK DONGENG INI

Siapa pun bisa menebak apa misi di balik trik ini, trik yang sudah terlalu sering digunakan oleh para Syekh Wahhabi Saudi, walaupun trik ini kelihatan sangat super bodoh tapi tetap mereka pertahankan, karena sangat efektif mempengaruhi orang bodoh (awam), ideologi bodoh itu sangat ilmiah dan masuk akal di kalangan orang bodoh, tapi orang yang berpendidikan pasti bisa melihat apa maksudnya dongeng itu ? dia pasti bisa merasakan ada sesuatu di balik cerita yang tidak ada manfaat itu, dan bahkan sangat jelas dalam dongeng itu pun telah adapembelaan terhadap ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab, kemiripan sebuah nama, mereka gunakan untuk menutupi kesesatan ajaran mereka, agar orang buta bertambah gelap dalam kebutaan nya, dan menyangka itulah Wahhabi sesungguhnya yang difatwakan sesat oleh ulama Ahlus Sunnah, dan ajaran sesat Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab pun terlepas dengan hanya sebuah dongeng belaka (na’uzubillah min dzalik).

KESIMPULAN

  • Firqah yang difatwakan sesat oleh Al-Lakhmi dalam dongeng adalah ajaran yang dinisbahkan kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum yang bernama Wahhabiyyah, tapi kenyataan nya dalam rujukan kitab itu, bukan bernama Wahhabiyyah tapi Wahbiyyah.
  • Wahbiyyah bukan nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum, tapi nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi.
  • Wahbiyyah dan Wahhabiyyah adalah dua nama untuk dua ajaran yang berbeda dan masa berbeda.
  • Wahhabi atau Wahhabiyyah yang telah difatwakan sesat oleh Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah semua Madzhab, sejak kemunculan nya sampai sekarang adalah ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi, dan tidak ada hubungan dengan fatwa Al-Lakhmi.
  • Ada misi di balik dongeng tersebut, mereka ingin membela ajaran Syekh mereka dengan cara berdusta dan membodohi para pengikut setia mereka, dan mengalihkan semua Fatwa Ulama hlus Sunnah Waljama’ah kepada ajaran lain yang hampir serupa nama nya dalam penulisan dan bacaan nya.
  • Fatwa Ulama Ahlus Sunnah seluruh Madzhab, ditujukan kepada ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab An-Najdi, yakni ajaran Salafi-Wahabi.
  • Wahabi dalam dongeng tersebut tidak ada hubungan dengan Salafi-Wahabi, bukan sebagai bukti sesat nya atau tidak sesat nya.
  • Wahhabi yang sesungguhnya hanya ada satu yakni ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi, karena ajaran Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum tidak pernah dinamakan dengan nama Wahhabi kecuali hanya dalam dongeng itu saja.
  • Hati-hati membaca dongeng, jangan sampai anda termakan dan menjadi korban sebuah dongeng, apalagi dongeng dalam masalah Agama.

Semoga tulisan ini menjadi ilmu bagi penulis dan pembaca semua, dan juga kepada siapa pun yang pernah termakan oleh dongeng itu, Wallahul muwaffiq ila aqwamut thoriq, amiin…

Bid’ah bukan Hukum Islam – Hukum dalam Islam Hanya ada 5 [Wajib – Sunnah (Mandzub/Mustahab) – Mubah (Jaiz)- Makruh dan Haram.]

Bacalah dengan cermat dan hati yang lapang, tulisan singkat ini..
Hendaknya kalian tahu bahwa sunnah menurut ulama hadits adalah sesuatu yang berasal dari Rasulullah baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrir (ketetapan). Menurut Fuqaha’ (ahli Fiqh), sunnah adalah salah satu dari status hukum Islam, yang apabila mengerjakannya mendapat pahala dan apabila meninggalkanya tidak apa-apa (tidak berdosa), kadang disebut mandub juga nafilah.
Hukum Islam sendiri adalah 5 : Wajib, Sunnah (Mandzub/Mustahab), Mubah (Jaiz), Makruh dan Haram.

 

Sunnah Rasulullah (perbuatan, perkataan, taqrir) tidak serta status hukumnya menjadi wajib, tetapi ada yang sunnah (mandub/mustahab) tergantung bentuk anjurannya dan konsekuensinya. InsyaAllah kalian paham, bahwa apa yang berasal dari Rasul tidak serta merta wajib bagi kalian.
Demikian juga apa yang dinamakan bid’ah, bid’ah bukanlah status hukum Islam (sekali lagi bid’ah bukan status hukum Islam), melainkan istilah untuk sesuatu yang berlawan dengan sunnah.
Kalau Sunnah adalah perkataan/perbuatan yang berasal dari Rasul, sedangkan
Kalau Bid’ah adalah perkataan/perbuatan yang bukan berasal dari Rasul.
Dari sini, semoga paham maksud dari istilah “berlawanan”. Maka, sesuatu yang bukan berasal dari Rasul ini, haruslah di tinjau dan dikaji apakah sesuai dengan Sunnah ataukah tidak. Bukan serta merta ditolak begitu saja kemudian di masukkan kepada salah satu status hukum Islam yaitu status haram.
Jika langsung dimasukkan kepada status hukum haram, nantinya akan absurd dalam memahaminya dan bingung terus-menerus seperti sebagian orang jahil. Karena kalau langsung dimasukkan kepada status hukum haram dan sisi lain mengatakan “berlawan dengan sunnah” maka jadinya seperti ini :
“Bid’ah (Haram)” VS “Sunnah (Wajib)”. Karena lawan dari haram adalah wajib, dan pemahaman seperti ini bak otak yang terbalik. Sedangkan apa yang berasal dari Rasul (perbuatan/perkataan/taqir) tidak selalu dimasukkan kedalam status hukum wajib.
Oleh karena itu, sesuatu perkara baru (bid’ah) atau lawan dari yang berasal dari Rasul (sunnah) harus diklasifikasikan status hukumnya.
Yang mana nantinya ada yang masuk pada status hukum wajib, mandub, mubah, makruh dan haram. Istilah seperti ini telah diajarkan oleh al-Imam Shulthanul Ulama Syaikh ‘Izzuddin Abdissalam asy-Syafi’i untuk menyederhanakan memahami bid’ah. Sehingga dikenal istilah ;
1. Bid’ah Wajibah : bid’ah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum wajib, seperti : menyibukkan diri dengan ilmu nahwu sebab dengannya bisa memahami Kalamullah dan Sabda Nabi, hal ini tergolong wajib karena dalam rangka menjaga syariat Islam, sebab apa jadinya jika tidak paham nahwu, maka orang-orang jahil akan berbicara secara serampangan.
Contohnya lainya seperti : menjaga pembendaharaan kata asing al-Qur’an dan as-Sunnah, pembukuan disiplin ilmu-ilmu ushul, perkataan jahr wa ta’dil dalam pembahasan ilmu hadits.
2. Bid’ah Mandubah ; bid’ah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum sunnah/mandub, seperti : membangun madrasah-madrasah, perkataan-perkataan yang mengandung hikmah seperti tashawuf, perkataan yang bisa menyatukan kaum Muslimin, shalat jama’ah tarawih, Maulid Nabi dan sebagainya.
3. Bid’ah Mubahah ; bid’ah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum mubah, seperti : bersalaman setelah shalat subuh dan ashar, juga memperluas kesenangan dalam urusan makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal, pakaian kebesaran ulama, dan melebarkan lengan baju.
4. Bid’ah Makruhah ; bid’ah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum makruh, seperti : sekedar kumpul-kumpul di kediaman orang meninggal, menghiasi masjid dengan berlebihan dan lain sebagainya
5. Bid’ah Muharramah ; bid’ah yang masuk dalam prinsip atau bahasan kaidah tentang penetapan status hukum haram, seperti : pemikiran Qadariyah, jabariyah, murji’ah, mujassimah (contohnya : Wahabiyah, Karramiyah dan sejenisnya)
Jika perkara baru tersebut sesuai dengan sunnah maka itu baik (hasanah) dan status hukumnya bisa jadi sunnah, bahkan hingga wajib.
Namun, jika sesuatu perkara baru bertentangan dengan sunnah maka itu buruk (qabihah) dan status hukumnya bisa jatuh pada status hukum makruh bahkan haram.
Semoga dengan pemaparan singkat ini dapat memberikan pemahaman yang benar dalam memahami bid’ah dan sunnah. Dan sekali lagi bid’ah itu bukan status hukum, ingat ini.
Bahkan ada sesuatu yang dibenci tapi halal, yaitu thalaq (perceraian). Sangat tidak mungkin kalau karena disebabkan dibenci kemudian langsung dimasukkan kedalam status hukum haram. Jadi pemahaman-pemahaman seperti ini atau sejenisnya adalah benar-benar absurd.
Wallahu A’lam.
Agar lebih jelas lagi, marilah kita simak video ceramah Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki tentang pembagian bid’ah:

Read more: http://www.sarkub.com/2011/bidah-itu-bukanlah-hukum/#ixzz26v8tGMRz

Niaga : Senjata (Sai / Tekpi – Ninjato – Samurai – Karambit – Shuriken – Kunai – Baton – Archery /Panah) Murah (only for Malaysia – Singapore – Thailand

sai japanese style

Sai Classic Style

ninja equipment : Trisula / Sai / Tekpi
bahan: stainless steel
harga : satu buah : 80 RM
sepasang : 150 RM

Gagang: Stainlist Steel
Panjang seluruhnya : +_ 47 cm
Berat: +_ 1,5 kg setelah packing
yang nak inbox saja:::
(harga Belum termasuk biaya penghantaran – pos laju )

Archery Package RM 600

Terdiri dari :

Bow Set Type II (raiser, Limbs, arrow rest, sight, string)

Fingger Tab

Almunium arrows (6pcs)

Hips Quiver

KUNAI – PISAU LEMPAR (GENUINE)
ALL : RM 85

Genuine Ninjato (import Product)

Panjang pedang (yang tajam) : 60 -70 cm
Lengkap dengan : sumpitnya/blow gun
only : RM 400

Shuriken (genuine)
each pcs : 15 RM
Minimum buy 5 pcs

ninja equipment : Screet Double Stick (Best quality with nice painting)
Double stick with 10 chains – can be transformed into stick/baton
Panjang Total : 60 Cm
bahan: stainless steel (tebal dan berat)
harga : satu buah : 85 RM
yang nak inbox saja:::
(harga Belum termasuk biaya penghantaran – pos laju )

Karambit Minang
Biasa dipakai untuk Seni Silat
(Asli – Tajam)
2 Pcs = 150 RM

A. How to Purchase (Bagaimana cara membeli): 1. Write the name of item and how many items do you want (Tulis nama barang dan berapa pcs yang nak dibeli).

2. Write your complete name, address with your postal code (Tulis nama lengkap anda, alamat dan kode post).
3. Send via email or comment in this page  to : (Kirim via  email  atau comment kat page ini 🙂
name: Fathimah qosimy @Ni Galih Anggraeni
 
4. Message or email will be replied
5. Transfer the money (include the price of item and charge of delivery/post) to : (Uang dihantar (termasuk harga barang dan biaya post/penghantaran) ke :
Bank Muamalat (Branch : Parit Buntar – Perak)
Name : Ni Galih Anggraeni
No. Account : 0801 – 0012258 – 72 -8
6. The items will be send to your address (Barang akan dihantar ke alamat anda)
—–
B. Biaya penghantaran barang [Charge of delivery (via post Malaysia)]: 
For Peninsular malaysia (Untuk semenanjung Malaysia):
Weight : 0 – 2 kg
Rates : 7 RM
For Sabah and Serawak – Malaysia (Via air – Pos Malaysia):
Weight : 0 – 1 kg
Rates : 10 RM
For Singapore (surface parcel – Pos Malaysia):
Weight : 1 kg
Rates : 16 RM
Others Country: Follow Pos Malaysia Regulation

Hadits Kehidupan Khusus Nabi Muhammad di alam kubur : dari kubur nabi menjawab salam- shalawat – terdengar suara adzan

Kehidupan Khusus Nabi Muhammad SAW Di Alam Barzakh

Telah terbukti bahawa kehidupan Nabi kita Muhammad SAW di alam barzakh adalah lebih sempurna dan lebih hebat daripada manusia yang lain. Hal ini diceritakan sendiri oleh Nabi SAW dan Baginda SAW juga mengesahkan wujudnya hubungan di antara Baginda SAW dengan umatnya.

Baginda SAW mengetahui perihal keadaan mereka, dapat melihat amalan mereka, mendengar percakapan mereka dan menjawab salam mereka. Terdapat banyak hadis yang membahaskan berkenaan bab ini. Di antaranya ialah hadith daripada Abdullah ibn Mas’ud RA, daripada Nabi SAW bersabda maksudnya: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berlegar-legar di muka bumi, untuk menyampaikan kepada saya salam daripada umat saya.” Dalam sebuah hadis yang lain, diriwayatkan daripada Ibnu Mas’ud RA, daripada Nabi SAW bersabda, maksudnya:

“Kehidupan saya adalah baik bagi kalian; kalian berbicara (bertanya masalah dan hukum kepada Baginda SAW) dan dibicarakan bagi kalian (dengan wahyu dan syari’ah daripada Allah melalui perantaraan Baginda SAW). Kewafatan saya juga adalah baik bagi kalian. Amalan kalian dibentangkan kepada saya; sekiranya apa yang saya lihat berunsur kebaikan, maka saya memuji Allah ke atasnya, dan sekiranya apa yang saya lihat berunsur kejahatan, maka saya memohon keampunan kepada Allah untuk kalian.”

Al Hafiz Abu Zur’ah al ‘Iraqi berkata di dalam Kitab al Janaiz, dari kitabnya Tarh al Tathrib fi Syarh al Taqrib: Sanad hadith ini adalah baik. Al Hafiz al Haithami berkata di dalam Majma’ al Zawa’id (jilid 9, halaman 24): Hadis ini diriwayatkan oleh al Bazzar, dan perawi-perawinya adalah perawi yang sahih. Ia menunjukkan bahawa Nabi SAW mengetahui tentang amalan kita kerana ia dibentangkan kepadanya dan Baginda SAW memohon keampunan kepada Allah untuk kita atas kejahatan dan keburukan yang telah kita lakukan. Jika demikian keadaannya, maka diharuskan kita bertawassul dengan Baginda SAW kepada Allah dan memohon syafaatnya di sisi Allah SWT.

Oleh kerana Baginda SAW mengetahui perbuatan kita termasuk bertawassul dan memohon syafa’at tersebut, maka Baginda SAW akan memberi syafaat kepada kita dan mendoakan kita. Baginda adalah al Syafi’ al Musyaffa’ (pemberi syafa’at yang diizinkan oleh Allah SWT memberikan syafa’at) dan Allah menambah kemuliaan dan ketinggiannya. Sesungguhnya Allah SWT telah menyatakan di dalam al Quran bahawa Nabi SAW adalah saksi ke atas umatnya. Ini tentu sekali menuntut kepada perlunya diperlihatkan kepada Baginda SAW segala amalan mereka agar Baginda SAW menjadi saksi atas apa yang dilihat dan diketahuinya.

Ibnu al Mubarak berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami seorang lelaki daripada kaum Ansar, daripada Al-Minhal ibn ‘Amru, bahawa dia mendengar Sa’id ibn Al-Musayyib RA berkata: Tidak berlalu walau satu hari, melainkan dibentangkan kepada Nabi SAW pada hari tersebut amalan umatnya saban pagi dan petang. Maka Baginda SAW mengenali umatnya melalui nama-nama mereka dan amalan mereka. Justeru itulah, Baginda SAW menjadi saksi ke atas mereka. Allah SWT berfirman dalam Surah al Nisa’ ayat 41 yang bermaksud:

“Maka bagaimanakah (keadaan orang-orang kafir pada hari Kiamat kelak), apabila Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi (iaitu Rasul mereka sendiri menjadi saksi terhadap perbuatan mereka), dan Kami juga datangkan engkau (wahai Muhammad) sebagai saksi terhadap umatmu ini?”

Hadis lain yang menunjukkan wujudnya pertalian kehidupan Nabi SAW di alam barzakh dengan umatnya yang masih hidup, ialah hadith daripada ’Ammar ibn Yasir RA di mana beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah mewakilkan bagi kubur saya malaikat yang Allah telah diberikan kepadanya nama-nama sekalian makhluk. Maka tidak seorang pun yang bersalawat ke atas saya sehingga hari Kiamat melainkan dia menyampaikan kepada saya dengan namanya dan nama bapanya, ”Ini Fulan ibn Fulan, dia telah bersalawat ke atas engkau.”

Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Abu Al-Syeikh Ibnu Hibban dengan lafaznya bahawa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung mempunyai malaikat yang diberikan kepadanya pendengaran sekalian makhluk. Maka dia berdiri di kubur saya apabila saya telah wafat. Tiada seorang pun bersalawat kepada saya melainkan malaikat itu berkata, ”Wahai Muhammad! Fulan ibn Fulan telah bersalawat kepada engkau.” Lalu Baginda SAW bersabda,

”Maka Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung akan bersalawat ke atas lelaki tersebut bagi setiap satu salawatnya dengan sepuluh salawat (daripada Allah).” Daripada Abu al Darda’ RA berkata, Rasulullah SAW bersabda maksudnya: “Perbanyakanlah salawat kepada saya pada hari Jumaat, kerana ia menjadi barang saksian yang disaksikan oleh malaikat. Tidaklah seseorang bersalawat ke atas saya melainkan dibentangkan selawatnya itu kepada saya hinggalah dia selesai bersalawat. Abu Darda’ RA berkata, “Saya bertanya, “Walaupun setelah engkau wafat?”

Baginda SAW menjawab, “Walaupun setelah saya wafat. Sesungguhnya Allah mengharamkan ke atas bumi ini dari memamah jasad para Nabi, maka sebenarnya Nabi Allah itu hidup dengan diberi rezeki padanya.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud daripada Abu Hurairah RA, bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak seorang pun memberi salam kepada saya kecuali Allah mengembalikan ruh saya kepada saya sehingga saya dapat menjawab salamnya.” Manakala dalam riwayat al Nasa’i dan lain-lainnya, daripada Nabi SAW bersabda, maksudnya:

“Sesungguhnya Allah telah mewakilkan beberapa malaikat di kuburku untuk menyampaikan kepadsaya salam daripada umatku.” UMAT MENGIRIM SALAM DAN NABI SAW MENYAHUT SERUAN ORANG YANG MENYERUNYA Daripada Yazid ibn al-Muhri berkata: Ketika saya mengucapkan selamat tinggal kepada Umar ibn Abdul Aziz RA, beliau berkata, “Saya mempunyai suatu hajat untuk engkau tunaikan.” Saya berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Bagaimanakah tuan memerlukan sesuatu daripada saya?” Khalifah Umar RA berkata, “Saya melihat, apabila engkau sampai ke Madinah, engkau pasti akan pergi menziarahi maqam Nabi SAW. Apabila tiba di sana nanti, sampaikanlah salam saya kepada Baginda SAW.”

Terdapat juga hadis lain yang diriwayatkan oleh Hatim ibn Wardan, beliau berkata: Sesungguhnya Umar ibn Abdul Aziz RA mengirim utusan dari Syam ke Madinah untuk menyampaikan salamnya kepada Nabi SAW. Al-Khufaji dan Al-Mulla Ali Qari menyebut di dalam Syarh al Syifa bahawa hadith ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dan Al-Baihaqi di dalam Syu’ab Al-Iman. Al-Khufaji Berkata: Telah menjadi kebiasaan dan adat ahli salaf, mengutus salam kepada Rasulullah SAW. Ibnu Umar RA sendiri melakukannya dan mengutuskan salam kepada Nabi SAW, Saiyyiduna Abu Bakar RA dan juga Saiyyiduna Umar RA. Meskipun ucapan salam orang-orang yang mengucapkannya akan sampai kepada Rasulullah SAW, sekali pun jauh daripadanya, namun terdapat keutamaan bagi orang yang mengucapkan sendiri salam tersebut di sisinya dan Baginda SAW sendiri yang akan menyahut salam tersebut. Nabi SAW sebenarnya menjawab seruan orang yang memanggilnya, misalnya seruan, “Wahai Muhammad!”.

Perkara ini disebut dalam hadith yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA dari riwayat Abi Ya’la, dalam menceritakan hal Nabi Isa AS, maksudnya: “Sekiranya Isa berdiri di kubur saya, lalu berkata, “Wahai Muhammad!”, nescaya saya akan menyahut seruannya itu.” SUARA, UCAPAN SALAM DAN LAUNGAN AZAN DARI MAQAM NABI SAW Al-Imam Al-Hafiz Abu Muhammad Abdullah Al-Darimi meriwayatkan di dalam kitab Sunannya, beliau berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Marwan ibn Muhammad, daripada Sa’id ibn Abdul Aziz berkata: Sewaktu berlakunya peristiwa pertelingkahan (di antara penduduk Madinah dengan tentera Yazid ibn Mu’awiyah tahun 63 Hijrah), tidak kedengaran azan di Masjid Nabawi selama tiga hari. Selama itulah Sa’id ibn Musayyib RA tidak bangun dan tidak keluar dari Masjid Nabawi.

Beliau tidak mengetahui masuknya waktu solat melainkan melalui suara azan yang sayup-sayup kedengaran daripada Maqam Nabi SAW. Ibrahim ibn Syaiban pula berkata: Saya melaksanakan ibadah haji, kemudian saya pergi ke Madinah dan terus menuju ke Maqam Nabi SAW. Maka saya pun memberi salam ke atas Baginda SAW lalu saya terdengar suara dari dalam maqam itu menjawab: “Waalaikassalam.”

Demikianlah kasih sayang Allah SWT ke atas umat ini sehingga Dia tidak memutuskan hubungan mereka dengan kekasih-Nya Sayyiduna Muhammad SAW hanya disebabkan oleh sebuah kematian. Rasulullah SAW sentiasa hampir dengan kita selaku umatnya, lebih-lebih lagi bagi mereka yang tidak putus-putus mengucapkan salawat dan menitipkan syair-syair indah tanda kerinduan dan kecintaan terhadap Baginda SAW. Bagaimana mungkin kita selaku umat yang mengharapkan syafaatnya di akhirat kelak melupakan Baginda SAW sedangkan Baginda SAW sentiasa mendoakan kerahmatan dan keampunan atas setiap kesalahan yang kita lakukan.