Terjemah kitab ilmu Nahwu Matan Al-Ajurumiyah (Jurmiyah)

Terjemah kitab ilmu Nahwu Matan Al-Ajurumiyah (Jurmiyah). Kitab ilmu nahwu atau kaidah bahasa Arab paling populer di pesantren salaf untuk pelajaran bahasa Arab tingkat dasar dan dipelajari di Madrasah Diniyah Al-Khoirot Kelas Ula 2.

DAFTAR ISI

  1. I’rab Rafak
  2. I’rab Nasab
  3. I’rab Jar
  4. I’rab Jazm
متن الأجرومية

الكلامُ : هو اللفظُ المُرَكَّبُ المُفيدُ بالوَضْع،
وأقسامُه ثلاثة: اِسمٌ ، وفعلٌ، وحَرفٌ جاءَ لمَعنى
فالاسم يُعرَفُ بالخَفضِ، والتنوينِ ،ودخولِ الألف واللام، وحروفِ الخَفضِ وهي: مِن، واِلى ،وعَن، وعلى، وفِي ، ورُبَّ، والباءُ، والكافُ، واللامُ، وحروفِ القَسَم وهي:الواو، والباء، والتاء.
والفعلُ يُعرَفُ بقد، والسِّين، وسَوف،وتاء التأنيث الساكنة.
والحرفُ ما لا يَصلُحُ معه دليلُ الاسم ولا دليل الفعل.


PENGERTIAN KALAM / KALIMAT SEMPURNA

Artinya: Kalam[1] adalah susunan kata yang sempurna menurut standar bahasa Arab.

Kalam terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu isim (kata benda), fi’il (kata kerja) dan huruf yang bermakna.

Isim (kata benda) dapat diketahui dengan (a) jer, (b) tanwin, (c) alif laf (al).
Huruf jer adalah min, ila, ‘an, ‘ala, fi, rubba, ba’, kaf, lam, huruf sumpah yaitu wawu, ba’, ta’.

Fi’il (kata kerja) dapat diketahui dengan qad, sin, sawfa, tak ta’nits yang sukun.

Huruf adalah kata yang tidak ada tanda isim dan fi’il.

—————-
[1] Kalam dalam bahasa Indonesia adalah kalimat sempurna yaitu kumpulan kata-kata yang minimal terdiri dari subyek dan predikat (SP) atau subyek, predikat, obyek (SPO).

______________________________________________


PENGERTIAN I’RAB (I’ROB)

Pengertian I'rob (Ikrab)

I’rab adalah perubahan akhir kata karena perbedaan amil yang masuk padanya baik perubahan secara jelas (lafdzi) atau dikira-kira.

I’rab adalah perubahan akhir kata karena perbedaan amil yang masuk padanya baik perubahan secara jelas (lafdzi) atau dikira-kira.

JENIS I’ROB

I’rab ada 4 (empat): rafa’, nashab, jer (khafadh), jazm.

I’ROBNYA ISIM (KATA BENDA)

I’rab dari kata benda (isim) adalah rafa’, nashab, jer (khafadh)

I’ROBNYA FI’IL (KATA KERJA)

I’rab dari kata kerja (fi’il) adalah rafa’, nashab, jazm.

باب الإعراب

الإعراب : هو تغيير أواخرِ الكَلِم،لاختلافِ العوامل الداخلة عليها لفظا أو تقديرا،
وأقسامُه أربعة : رَفع، ونَصب ، وخَفْض ، وجَزْم.
فللأسماء من ذلك الرفع،والنصب، والخفض، ولا جزم فيها.
وللأفعالِ من ذلك : الرفع ، والنصب، والجزم ولا خَفضَ فيها.


I’RAB RAFAK

BAB TANDA I’ROB ROFA’
Dalam kitab Matan Jurumiyah

TANDA I’ROB RAFA’
I’rab rafa’ mempunyai 4 (empat) tanda: harkat dhammah, huruf wawu, huruf alif, huruf nun. Terjemah kitab Matan Jurumiyah

I’rab rafa’ mempunyai 4 (empat) tanda: harkat dhammah, huruf wawu, huruf alif, huruf nun.

HARKAT DHOMMAH SEBAGAI TANDA I’ROB RAFA’
Harkat dhammah menjadi tanda i’rab rafa’ dalam 4 (empat) tempat: isim mufrad (kata benda tunggal), jamak taksir (kata benda jamak tak beraturan), jamak mu’annats salim (kata benda jamak perempuan), fi’il (kata kerja) mudharik yang akhirnya tidak bertemu sesuatu.

HURUF WAWU SEBAGAI TANDA I’ROB RAFA’
Huruf wawu menjadi tanda i’rab rafa’ dalam 2 (dua) tempat: jamak mudzakkar salim (kata benda jamak beraturan untuk laki-laki), asma’ul khamsah (kata benda yang lima) yaitu أبوك وأخوك وحَمُوك وفُوكَ وذو مالٍ

HURUF ALIF SEBAGAI TANDA I’ROB RAFA’
Huruf alif menjadi tanda i’rab rafa’ pada isim tasniyah atau kata benda yang menunjukkan arti dua.

HURUF NUN SEBAGAI TANDA I’ROB RAFA’

Huruf nun menjadi tanda i’rab rafa’ pada fi’il (kata kerja) mudharik yang akhirnya bertemu dengan dhamir tasniyah (kata ganti dua orang), dhamir jamak (kata gantijamak), dhamir mu’annats mukhatabah (kata ganti perempuan tunggal).

للرفع أربعُ علامات: الضمة ،والواو، والألف، والنون.

فأما الضمة فتكون علامة للرفع في أربعة مواضع : في الاسم المُفرد، وجَمع التكسير، وجمع المؤنث السالم، والفعل المضارع الذي لم يتصل بآخره شيء.
وأما الواو فتكون علامة للرفع في موضعين: في جمع المذكر السالم، والأسماء الخمسة، وهي: أبوك وأخوك وحَمُوك وفُوكَ وذو مالٍ .
وأما الألف فتكون علامة للرفع في تَثْنِيَة الأسماء خاصة.
وأما النون فتكون علامة للرفع في الفعل
المضارع إذا اتصل به ضمير تثنية، أو ضمير جمع، أو ضمير المؤنَّثَة المُخَاطَبَة.

____________________________________________________


TANDA I’ROB NASHAB/NASHOB

Tanda I'rab Nashab

I’rab nashab mempunyai 5 (lima) tanda yaitu harkat fathah, huruf alif, harkat kasrah, huruf ya’, membuang huruf nun.
Terjemah ilmu nahwu kitab matan Al-Jurumiyah

I’rab nashab mempunyai 5 (lima) tanda yaitu harkat fathah, huruf alif, harkat kasrah, huruf ya’, membuang huruf nun.

HARKAT FATHA SEBAGAI TANDA I’ROB NASHAB

Harkat fathah menjadi tanda i’rab nashab dalam 3 (tiga) tempat yaitu isim mufrad (kata benda tunggal), isim jamak taksir (kata benda jamak tak beraturan), fi’il mudharik yang kemasukan amil nashab dan akhirnya tidak bertemu sesuatu.

HURUF ALIF SEBAGAI TANDA I’ROB NASHAB

Huruf alif menjadi alamat nashab dalam asma’ul khamsah (isim yang lima). Contoh, رأيتُ أباكَ وأخاكَ

HARKAT KASRAH SEBAGAI TANDA I’ROB NASHAB

Harkat kasrah menjadi tanda i’rab nashab dalam isim jamak muannats salim (kata benda jamak untuk perempuan).

HURUF YA’ SEBAGAI TANDA I’ROB NASHAB

Huruf ya’ menjadi tanda i’rab nashab dalam isim tasniyah (kata benda arti dua) dan jamak mudzakkar salim (kata benda jamak beraturan untuk laki-laki).

MEMBUANG HURUF NUN SEBAGAI TANDA I’ROB NASHAB

Membuang huruf nun menjadi tanda i’rab nashab dalam af’alul khamsah (fi’il mudharik yang lima) yang rafa’-nya memakai nun.

وللنصب خمس علامات: الفتحة ، والألف، والكسرة ، والياء، وحذف النون.

فأما الفتحةُ فتكون علامةً للنصب في ثلاثة مواضع: في الاسم المفرد ، وجمع التكسير، والفعل المضارع إذا دخل عليه ناصِبٌ ولم يَتَّصل بآخره شيء.
وأما الألف فتكون علامة للنصب في الأسماء الخمسة نحو:رأيتُ أباكَ وأخاكَ ، وما أشبَهَ ذلك.
وأما الكسرة فتكون علامة للنصب في جمع المؤنث السالم. وأما الياء فتكون علامة للنصب في التثنية والجمع.
وأما حذفُ النُّون فيكون علامة للنصب في الأفعال الخمسة التي رفعها بثَبَاتِ النون.

____________________________________________________


TANDA I’ROB JAR (KHAFADZ)

Tanda I'rab Jer (Khafadh)

Tanda I’rab jer/jar (khafadh) ada 3 (tiga) yaitu harkat kasrah, huruf ya’, harkat fathah.
Terjemah kitab ilmu nahwu matan Al-Jurumiyah

Tanda I’rab jer (khafadh) ada 3 (tiga) yaitu harkat kasrah, huruf ya’, harkat fathah.

HARKAT KASRAH SEBAGAI TANDA I’ROB JAR

Harkat kasrah menjadi tanda i’rab jar (khafadh) dalam 3 (tiga) tempat yaitu isiam mufrad munsharif (kata benda tunggal yang munsharif), jamak taksir munsharif (kata benda jamak yang munsharif) dan jamak mu’annats salim (kata benda jamak untuk perempuan).

HURUF YA’ SEBAGAI TANDA I’ROB JAR

Huruf ya’ menjadi tanda i’rab jar (khafadz) dalam 3 (tiga) tempat: asma’ul khamsah (isim yang lima), isim tasniyah (kata benda arti dua), jamak mudzakkar salim (kata benda jamak untuk laki-laki).

HARKAT FATHAH SEBAGAI TANDA I’ROB JAR

Harkat fathah menjadi tanda i’rab jar (khafadh) dalam isim (kata benda) yang tidak munsharif.

وللخفضِ ثلاثُ علامات: الكسرة، والياء ، والفتحة.

فأما الكسرةُ فتكونُ علامةً للخفضِ في ثلاثة مواضع، في الاسم المفرد المُنصَرِف، وجمع التكسير المُنصَرِف، وجمع المؤنث السالم.
وأما الياء فتكون علامة للخفض في ثلاثة مواضع: في الأسماء الخمسة، وفي التثنية والجمع.
وأما الفتحة فتكون علامة للخفض في الاسم الذي لا ينصَرِف.

____________________________________________________


TANDA I’ROB JAZM 

Tanda I'rab Jazm

I’rab jazam mempunyai 2 (dua) tanda yaitu sukun dan membuang (hadzf)

TANDA I’RAB JAZM ADA 2 (DUA)

I’rab jazam mempunyai 2 (dua) tanda yaitu sukun dan membuang (hadzf)

SUKUN SEBAGAI TANDA I’RAB JAZM)

Sukun menjadi tanda i’rab jazam pada fi’il mudharik (kata kerja waktu sekarang atau akan datang) yang sahih akhir.

MEMBUANG HURUF SEBAGAI TANDA I’RAB JAZM)

Membuang huruf (al-hadzfu) menjadi alamat i’rab jazm dalam (a) fi’il mudharik yang mu’tal akhir dan (b) dalam af’alul khamsah (fi’il yang lima) yang rafa’nya dengan tetapnya nun.

وللجَزمِ علامتان: السُّكُون والحَذف،

فأما السكون فيكون علامة للجزم في الفعل المضارع الصحيح الآخر.
وأما الحذف فيكون علامة للجزم في الفعل المضارع المُعتَلِّ الآخِر، وفي الأفعال الخمسة التي رَفْعُهَا بثَبَات النون.

 

Nabi Mengatakan Orang Mati Bisa Mendengar, Ulama Wahabi Mengingkarinya

Nabi Mengatakan Orang Mati Bisa Mendengar, Ulama Wahabi Mengingkarinya

Published March 23, 2012

PENAFSIRAN “BODOH” ULAMA KHALAF WAHABI QS. FATHIR: 22

Ibnu Mas’ud

PENAFSIRAN “BODOH” ULAMA KHALAF WAHABI QS. FATHIR: 22

Ibnu Mas’ud

Tafsir Ngawur Wahabi terhadap ayat 22 QS. FATHIR

Dalam Kitab “Kaif Nafham At-Tauhid?” hal. 20 Muhammad Ahmad Basyamil seorang ulama wahabi murid Bin Baz mengatakan bahwa mayit tidak bisa mendengar. Benarkah demikian?

Terjemah scan kitab berwarna kuning sbb:

“Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” [QS. Fathir: 22]. Tetapi karena kebodohanmu dari ajaran Allah [sunatullah] dan keberpalinganmu dari mengambil pelajaran yang datang dari kitabullah [al-Qur’an], maka jatuhlah kamu dalam kebodohan dan jadilah hatikamu berpaling dari ke-Maha Kuasaan Allah atas segala sesuatu yang Dia [Allah] selalu menyertaimu, mendengar dan melihatmu. Dan kamu menghadapkan wajahmu kepada mayit yang dimana dia [mayit] telah melupakanmu dan dia tidak mendengarmu dan melihatmu.”

1. Ini adalah kaidah umum yang tetap tidak akan berubah bahwa sesungguhnya mayit tidak bisa mendengar, kecuali seseorang mendatangkan dalil khusus dalam keadaan khusus pula dan ini [dalil] khusus yang ketetapannya secara umum dalam keberadaannya. Maka darimana [tiba-tiba] ada dalil buat kuburiyun [ahli ziarah kubur] atas wali-wali mereka yang sudah meninggal itu bisa mendengar? [suara dan do’a mereka]. Makaapakah telah didatangkan [diterangkan] di dalam al-Qur’an bahwa sesungguhnya Syaikh Fulan atau Sayyid Fulan telah mendapatkan prioritas Allah di antara orang-orang yang sudah meninggal [mayit] bahwa sesungguhnya mereka mendengar orang yang memanggilnya siapa dia dan dimana dia? dan seterusnya…………”

KITA BANDINGKAN DENGAN PENJELASAN ULAMA SALAF SBB:

IBNU KATSIR MENJELASKAN AYAT DIATAS SBB:

وَمَا يَسْتَوِي الأحْيَاءُ وَلا الأمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ

“Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” [QS. Fathir: 22]

يقول تعالى: كما لا تستوي هذه الأشياء المتباينة المختلفة، كالأعمى والبصير لا يستويان، بل بينهما فرق وبون كثير، وكما لا تستوي الظلمات ولا النور ولا الظل ولا الحرور، كذلك لا تستوي الأحياء ولا الأموات، وهذا مثل ضربه الله للمؤمنين وهم الأحياء، وللكافرين وهم الأموات،
{ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ } أي: كما لا [يسمع و] ينتفع الأموات بعد موتهم وصيرورتهم إلى قبورهم، وهم كفار بالهداية والدعوة إليها، كذلك هؤلاء المشركون الذين كُتِب عليهم الشقاوة لا حيلةَ لك فيهم، ولا تستطيع هدايتهم.

Alloh berfirman: Sebagaimana ketidaksamaan beberapa perkara yang memiliki beragam penjelasan seperti antara buta dan melihat keduanya tidaklah sama, tetapi antara keduanya memiliki banyak perbedaan, dan seperti ketidaksamaan antara kegelapan dan sinar terang, keteduhan dan kepanasan, begitu pula ketidaksamaan antara orang yang hidup dan orang yang mati. Dan ini sebuah perumpamaan Alloh atas orang-orang mukmin itu sebagai orang yang hidup, dan bagi orang-orang kafir itu orang yang mati.
{Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar}yaitu: sebagaimana [tdk bisa mendengar dan] bermanfa’at buat orang mati setelah kematiannya dan setelah mereka kembali ke kubur mereka. Mereka itu adalah orang-orang kafir dengan memberi petunjuk dan seruan [berbuat baik] atasnya. Demikian pula mereka orang-orang musyrik yang telah ditetapkan atas mereka kecelakaan tidak ada bagimu daya dan kemampuan untuk menunjukkannya.

IMAM AL-QURTHUBI MENJELASKAN AYAT DIATAS SBB:

.{ وَمَا يَسْتَوِي الأَحْيَاءُ وَلا الأَمْوَاتُ } قال ابن قتيبة: الأحياء العقلاء، والأموات الجهال. قال قتادة: هذه كلها أمثال؛ أي كما لا تستوي هذه الأشياء كذلك لا يستوي الكافر والمؤمن. { إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ } أي يسمع أولياءه الذين خلقهم لجنته. { وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ } أي الكفار الذين أمات الكفر قلوبهم؛ أي كما لا تسمع من مات، كذلك لا تسمع من مات قلبه.

{Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati}Ibnu Qutaibah berkata: Orang yang hidup adalah orang yang berakal [pandai], dan orang yang mati adalah orang yang jahil[bodoh]. Qotadah berkata: ini semua adalah perumpamaan; yaitu sebagaimana ketidaksamaan beberapa perkara begitu pula ketidaksamaan orang kafir dengan orang  mukmin. {Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya} yaitu para kekasih-NYA yang mereka telah dijadikan untuk menempati surga-Nya. {Dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar}yaitu orang kafir, mereka itu orang-orang yang telah mati hatinya, yaitu sebagaimana tidak mendengarnya orang yang sudah mati. Demikian halnya tidak bisa mendengarnya orang yang telah mati hatinya.

IMAM ATH-THOBARI MENJELASKAN AYAT DIATAS SBB:

وقوله ( وَمَا يَسْتَوِي الأحْيَاءُ وَلا الأمْوَاتُ ) يقول: وما يستوي الأحياء القلوب بالإيمان بالله ورسوله، ومعرفة تنزيل الله، والأموات القلوب لغلبة الكفر عليها، حتى صارت لا تعقل عن الله أمره ونهيه، ولا تعرف الهدى من الضلال، وكل هذه أمثال ضربها الله للمؤمن والإيمان والكافر والكفر

Dan firman Alloh: {Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati} dikatakan:tidaklah sama orang yang hidup hatinya dengan beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, mengetahui apa yang diturunkan Alloh, dan orang yang mati hatinya yang meliputi orang-orang kafir sehingga jadilah ketidaktahuan akan perintah-perintah dan larangan-larangan Alloh, dan tidak mengetahui petunjuk dan kesesatan. Dan ini semua adalah perumpamaan Alloh untuk orang-orang mukmin dan keimanan, orang-orang kafir dan kekufuran.

MENURUT IBNU TAIMIYAH [MAJMU’ FATAWA BAB. JANAIZ]

وسئل ـ رَحمه اللّه:
هل يتكلم الميت في قبره أم لا ؟

فأجاب:
يتكلم، وقد يسمع ـ أيضاً ـ من كلمه، كما ثبت في الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (إنهم يسمعون قرع نعالهم). وثبت عنه في الصحيح: أن الميت يسأل في قبره فيقال له: من ربك ؟ وما دينك؟ ومن نبيك؟ فيثبت اللّه المؤمن بالقـول الثابت، فيقول: اللّه ربي، والإسلام ديني، ومحمد نبيي، ويقال له: ما تقول في هذا الرجل الذي بعث فيكم؟ فيقول المؤمن: هو عبد اللّه ورسوله، جاءنا بالبينات والهدي، فآمنا به، واتبعناه. وهذا تأويل قوله تعالى: {يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ} [إبراهيم: 27]. وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنها نزلت في عذاب القبر.

Ditanyakan kepada (Syeikhul islam Ibnu Taimiyah) rohimahulloh (semoga Alloh merohmatinya), “Apakah mayyit bisa berbicara di dalam kuburnya atau tidak?”

Maka beliau menjawab, “Berbicara, juga mendengar tentang perkataannya, seperti yang terbukti dan telah ditetapkan dalam hadits Shahih bahwa Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ (Mereka [amwat] mendengar suara langkah kaki mereka (zaa-ir)). Dan diriwayatkan dalam hadits Shahih bahwa orang mati ditanya dalam kuburnya. dikatakan kepadanya: Siapa Tuhanmu?, Apa agamamu?, dan siapa Nabimu? Maka Alloh meneguhkan (iman) kepada orang mukmin dengan jawaban yang teguh. Maka (mayit) berkata, “Allah adalah Tuhanku, Islam agamaku, dan Nabi Muhammad Nabiku,” dan dikatakan kepadanya, “Apa yang kamu katakan (ketahui) kepada orang ini (Muhammad) yang diutus kepadamu?” Maka orang mukmin berkata, “Dia (Muhammad) adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, telah datang kepada kami bukti-bukti dan petunjuk, dan kami beriman dengannya serta mengikutinya. Dan ini adalah takwil dari firman Alloh (Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki) [QS. Ibrahim: 27] Sungguh benar bahwa dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya ayat tersebut turun berkenaan dengan siksa kubur.

Diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa orang-orang yang ikut dalam perang Badar setelah wafat dapat mendengar apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepada mereka. Hadis tersebut diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/26 no 182.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يحيى بن سعيد وأنا سألته ثنا سليمان بن المغيرة ثنا ثابت عن أنس قال كنا مع عمر بين مكة والمدينة فتراءينا الهلال وكنت حديد البصر فرأيته فجعلت أقول لعمر أما تراه قال سأراه وأنا مستلق على فراشي ثم أخذ يحدثنا عن أهل بدر قال إن كان رسول الله صلى الله عليه و سلم ليرينا مصارعهم بالأمس يقول هذا مصرع فلان غدا إن شاء الله تعالى وهذا مصرع فلان غدا إن شاء الله تعالى قال فجعلوا يصرعون عليها قال قلت والذي بعثك بالحق ما أخطئوا تيك كانوا يصرعون عليها ثم أمر بهم فطرحوا في بئر فانطلق إليهم فقال يا فلان يا فلان هل وجدتم ما وعدكم الله حقا فإني وجدت ما وعدني الله حقا قال عمر يا رسول الله أتكلم قوما قد جيفوا قال ما أنتم بأسمع لما أقول منهم ولكن لا يستطيعون أن يجيبوا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dan aku bertanya padanya, ia berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Mughirah yang berkata telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas yang berkata “Kami bersama Umar di antara Mekkah dan Madinah, dan kami sama-sama melihat bulan sabit. Aku termasuk orang yang tajam penglihatan sehingga aku dapat melihatnya. Aku berkata kepada Umar”Tidakkah engkau akan melihatnya?”. Umar berkata “Aku akan melihatnya ketika aku terkapar di tempat tidurku”. Dia kemudian menceritakan kepada kami tentang para Ahli Badar. Dia berkata “Sesungguhnya Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam telah memperlihatkan kepada kita tempat kematian mereka kemarin”. Beliau bersabda “Ini tempat kematian fulan besok jika Allah menghendaki dan ini tempat kematian fulan besok jika Allah menghendaki”. Mereka kemudian meninggal dunia di tempat itu. Aku berkata “Demi Yang mengutusmu dengan membawa kebenaran tidaklah mereka melangkah untuk itu. Mereka dibantai di tempat itu”. Beliau kemudian memerintahkan agar mereka dimasukkan kedalam sumur. Beliau Shollallohu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka dan bersabda “Wahai fulan dan fulan, apakah kalian telah menemukan apa yang Allah janjikan kepada kalian sebagai suatu kebenaran?. Sesungguhnya Aku telah menemukan apa yang Allah janjikan kepadaKu sebagai suatu kebenaran”. Umar berkata “Ya Rasulullah, apakah Engkau sedang berbicara dengan suatu kaum yang telah menjadi bangkai?Beliau menjawab “Tidaklah kalian lebih dapat mendengar apa yang aku katakan daripada mereka. Hanya saja mereka tidak dapat menjawab”

Hadis ini sanadnya Shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim. Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarh Musnad Ahmad no 182 berkata “sanadnya shahih”. Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Musnad Ahmad tahqiq beliau berkata

إسناده صحيح على شرط الشيخين

Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim. Wallohu A’lam bish-Showab

Para Nabi Hidup Dalam Kubur Mereka

Berikut kami kutipkan Tanya Jawab Masalah Aqidah bersama Al-’Allamah Al-Faqih  Al-Habib Zein bin Ibrahim bin Sumaith :
Apakah para nabi hidup dalam kubur mereka?

Para nabi, demikian pula orang-orang yang mati syahid, hidup dalam kubur mereka dengan kehidupan alam barzakh. Mereka mengetahui apa yang dikehendaki Allah untuk mereka ketahui, yang terkait dengan keadaan-keadaan alam ini, Al-Qur’an yang mulia menegaskan adanya kehidupan orang-orang yang mati syahid di alam barzakh mereka.
Allah SWT berfirmah, “Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” – QS Al- Baqarah (2): 154.
Tidak diragukan bahwa kehidupan para nabi AS dan orang-orang pilihan yang mewarisi mereka lebih utuh dan lebih sempuma daripada kehidupan orang- orang yang mati syahid, karena mereka memiliki tingkatari yang lebih tinggi diban- ding orang-orang yang mati syahid.
Dalilnya adalah firman Allah SWT, “Maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” – QS An-Nisa’ (4): 69.
Apakah adanya kehidupan mereka juga dinyatakan dengan jelas dalam as-sunnah?
Ya, dalam hadjs-hadis sahih dinyata­kan bahwa mereka tetap dalam kondisi hidup dan bahwasanya bumi tidak memakan jasad mereka. Dari Anas RA, Nabi SAW bersabda, “Pada malam saat aku mengalamjsra’, aku menemui Musa yang sedang berdiri di atas kubur- nya di bukit pasir merah.” – Disampaikan oleh Muslim (2385).
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at. Maka, perbanyaklah shalawat kepadaku, karena sesungguhnya shalawat kalian di­sampaikan kepadaku.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana shalawat kami disampaikan kepadamu sedang engkau sudah menjadi tulang belulang?” Maksudnya, sudah usang.
Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bagi bumi memakan ja­sad para nabi.” – Disampaikan oleh Abu Daud (1047), An-Nasa’i (1374), Ibnu Majah (1085), Ad-Darimi (1572), dan Ahmad (4: 8) dari hadits Aus bin Aus RA. Isnadnya shahih menurut Al-Allamah Arnauth dalam penjelasannya terhadap Al-Musnad.
Disebutkan pula dalam riwayat bah­wa mereka pun bershalawat dan amal kebajikan mereka tetap berlaku seperti kehidupan mereka. Di antaranya adalah sabda Nabi SAW, “Para nabi hidup di kubur mereka, mereka shalat.” Disampaikan oleh Abu Ya’la dalam kitabnya, Al-Musnad (6:147), dari hadits Anas bin Malik RA. Pentahqiqnya mengatakan, “Isnadnya shahih.”
Ulama mengatakan, ini tidak bertentangan dengan ketentuan yang menyatakan bahwa akhirat bukan negeri taklif (pembebanan) kewajiban tidak pula amal. Namun demikian amal dapat terjadi tanpa ada pembebanan, tapi hanya untuk dinikmati.
Sebagaimana kehidupan para nabi AS yang telah dipaparkan di atas juga tidak bertentangan dengan sabda Nabi SAW, “Tidaklah ada seorang yang memberi salam kepadaku melainkan Allah merigembalikan ruhku kepadaku hingga aku dapat menjawab salamnya.” – Disam- paikan oleh Abu Daud (2041), Ahmad (2: 527), dan Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (2: 215) dari hadits Abu Hurairah RA.
Makna pengembalian di sini adalah pengembalian makna ruh dari segi bah­wa Rasulullaji SAW merasakan adanya salam dari seorang di antara umat beliau yang memberi salam kepada beliau. Hadits ini mengungkapkan sebagian (dengan lingkup kalimat ruh), namun yang dimaksud adalah keseluruhan (diri Rasulullah SAW secara utuh). Dalam hadits ini terdapat kata yang dinisbahkan tapi tidak disebutkan, yaitu maksudnya: Allah mengembalikan makna ruh atau hal-hal yang berkaitan dengannya, se­perti bicara. Allah lebih mengetahui.
Di antara ulama ada yang mengata­kan, konsekuensi dari pengembalian ini menjadikan ruh Nabi SAW senantiasa berada dalam tubuh beliau yang mulia, karena di antara makhluk yang ada tidak lepas dari adanya orang yang bershalawat di antara umat beliau.
Dari Aisyah RA, ia mengatakan, “Aku masuk rumahku yang di dalamnya Rasulullah SAW dan bapakku (Abu Bakar RA) dimakamkan. Aku pun meletakkan (menanggalkan) pakaianku. Aku menga­takan, sesungguhnya dia adalah suamiku dan bapakku.
Begitu Umar dimakamkan bersama mereka, demi Allah, tidaklah aku masuk melainkan aku dalam keadaan berpakaian yang tertutup rapat lantaran malu kepada Umar.” – Disampaikan oleh Imam Ahmad (6: 202) dan Hakim (3:63,4: 8).
Ini menunjukkan bahwa Sayyidatuna Aisyah RA tidak ragu bahwa Sayyidina Umar melihatnya. Maka dari itu, dia menjaga diri dengan menutup rapat auratnya jika hendak menemuinya setelah dima­kamkan di rumahnya.
[Disadur dari buku Seribu Satu Jawaban Masalah-Masalah Aqidah Islam karangan Habib Zein bin Ibrahim bin Sumaith]

Al-Habib Zein bin Ibrahim bin Sumaith

Ibnu Katsir Vs Wahabi : Scan kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah “Riwayat Shahih Tawasul Sahabat dengan nabi setelah wafat Nabi”

Tawassul telah terbukti bahwa termasuk dalam Sunnah, bukan Bid’ah apa lagi di anggap Syirik, Salafi-Wahabi pun mengakuinya meski pun mereka masih malu, mereka masih membedakan dengan Istilah Tawassul Syar’i (Tawassul Masyru’) danTawassul bukan Syar’i (Tawassul Ghairu Masyru’), namun kesalahan mereka bukan dalam Istilah tersebut, tapi karena tidak mengaggap “Tawassul dengan Rasul dan para Sholihin setelah wafat” sebagai Tawassul Syar’i, dan bahaya nya mereka mengkafirkan Tawassul ini dan menganggap pelaku nya sebagai Kuburiyyun(penyembah kubur), dan bahkan masih ada dalam pengikut buta Wahabi yang justru masih mempermasalahkan perantara (Wasilah), dalam anggapan mereka harus berdoa langsung kepada Allah, tidak boleh pakai wasilah, karena wasilah itu dapat menjadi syirik, itulah sangkaan orang-orang yang tertipu oleh cara istidlal Salafi Wahabi yang tidak konsisten.

Ini Bukti Tawassul di masa Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah- Jilid 1- Halaman 91 sebagai berikut :

وقال الحافظ أبو بكر البيهقي : أخبرنا أبو نصر بن قتادة وأبو بكر الفارسي قالا : حدثنا أبو عمر بن مطر حدثنا إبراهيم بن علي الذهلي حدثنا يحيى بن يحيى حدثنا أبو معاوية عن الأعمش عن أبي صالح عن مالك قال : أصاب الناس قحط في زمن عمر بن الخطاب فجاء رجل إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله استسق الله لأمتك فإنهم قد هلكوا ، فأتاه رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال : ائت عمر فأقرئه مني السلام وأخبرهم أنهم مسقون ، وقل له : عليك بالكيس الكيس. فأتى الرجل فأخبر عمر ، فقال : يارب ! ما آلو إلا ما عجزت عنه . وهذا إسناد صحيح .

Telah berkata al-Hafidz Abu Bakar al-Baihaqqi: Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Nasr ibnu Qatadah dan Abu Bakar al-Farisi, berkata kedua nya: Telah menceritakan kepada kami Abu Umar ibn Mathar, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibn ‘ali al-Zuhli, telah menceritakan kepada kami Yahya Ibn Yahya, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah dari pada al-A’mash, dari pada Abu Sholeh dari pada Malik, beliau berkata :
“Pada zaman kekhalifahan Umar ibnu Khattab, manusia ditimpa kemarau yang panjang, Maka seorang lelaki pergi ke kubur Rasulullah lalu berkata : “Wahai Rasulullah! Mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada umatmu kerana mereka semua telah menderita”. Maka Rasulullah datang dalam tidurnya dan bersabda: “Pergilah bertemu Umar dan sampaikan salamku kepadanya, Khabarkanlah kepadanya bahwa mereka semua akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya Hendaklah kamu bersungguh-sungguh dan bijaksana (dalam mengurusi umat)”. Maka lelaki tersebut menemui umar dan menceritakan kepadanya tentang hal tersebut. Lalu Umar berkata : Wahai Tuhanku! Aku tidak melengah-lengahkan urusan umat kecuali apa yang tidak terdaya aku lakukannya” . Sanad riwayat ini Shohih. [kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah- Jilid 1- Halaman 91].

Perhatikan scan kitab di bawah ini :


Tidak ada alasan bagi Wahabi mengingkari riwayat ini kecuali dengan tuduhan hadits Dho’if atau Palsu, dan mereka lebih senang menuduh Quburiyyun dan Syirik kepada pelaku Tawassul dari pada mengakui nya, seharus nya mereka mengakui riwayat ini sekalipun tidak mau melakukan nya karena dalam anggapan mereka ini riwayat Dho’if, sesungguhnya menghukumi sesat terhadap orang lain karena amalan dalam riwayat dho’if lebih bahaya dari pada beramal dengan hadits dho’if, karena dho’if itu menurut perasaan mereka, sementara ulama besar seperti Ibnu Katsir dan Imam Baihaqqi dalam masalah ini dan juga imam-imam lain nya, sangat jelas berkata bahwa riwayat ini Shohih, ini juga membuktikan bahwa ulama sepakat bahwa Tawassul dengan Rasulullah setelah beliau wafat adalah Tawassul yang disyari’atkan (Tawassul Masyru’), bukan perkara syirik apalagi menuduh pelaku dengan tuduhan penyembah kubur nabi.

Semoga kita selamat dari fitnah Salafi Wahabi

Wow- Pesawat AS Bebas Terbang di Saudi (Negeri Tauhid ala wahaby)

REPUBLIKA.CO.ID, Amerika Serikat dan Arab Saudi telah menandatangani sebuah kesepakatan yang mengizinkan semua pesawat Amerika terbang bebas tanpa batas di wilayah udara Saudi.

RIYADH (IBU KOTA NAJD DAN SAUDI CLAN ) DULU PUSAT MUSAILAMAH AL KADZAB SEKARANG PUSAT WAHABI -PUSAT PERCETAKAN KITAB TURATS PALSU – PUSAT PASUKAN KAFIR HARBI USA DI JAZIRAH ARAB

PESAWAT SPIONASE AMERIKA SEKALI TERBANG BISA MEREKAM SEMUA DATA TELEKOMUNIKASI DI SELURUH DUNIA ISLAM DI JAZIRAH ARAB

Pesawat AS

http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/13/05/31/mnmukq-wow-pesawat-as-bebas-terbang-di-saudi

 

NAJD TEMPAT MUNCUL TANDUK SYETAN (FITNAH DAN PENGIKUT DAJJAL ) :

Soal Dajjal, banyak orang pada akhirnya akan sangat lalai memperhatikannya. Manusia akan lupa siapa Dajjal, yang mana sosok ini dulu umat Islam pernah sangat mengenalnya lewat ciri-ci-cirinya. Ya benar, kita sudah mengenal Dajjal, karena Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam jauh-jauh hari, bahkan sejak 1.400 tahun yang lalu sudah memperkenalkan Dajjal kepada ummatnya. Bahwa Dajjal adalah sebagai sosok buta sebelah matanya, dan penyebar fitnah yang paling dahsyat di muka bumi yang akan muncul di akhir zaman.

Fitnah Dajjal sebenarnya merupakan rangkaian fitnah yang sejak lama ada, disebarkan melalui fitnah yang terjadi di antara manusia yang telah diperdaya oleh hawa nafsunya sendiri. Bahkan Nabi saw memperingatkan bahwa kelompok umat Nabi Muhammad yang tidak hanyut dalam pusaran fitnah sesama manusia akan selamat pula dari fitnah Dajjal di akhir zaman. Rangkaian segala fitnah yang pernah ada di dunia saling berkaitan dari zaman ke zaman dan akan hadir mengkondisikan dunia semakin gonjang-ganjing menghadapi fitnah Dajjal.

ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Suatu ketika ihwal Dajjal disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam kemudian beliau bersabda: ”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal), dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini – baik kecil ataupun besar – kecuali untuk fitnah Dajjal.” (HR. Ahmad 22215)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”مَا أَهْبَطَ اللَّهُ إِلَى الأَرْضِ مُنْذُ خَلَقَ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ فِتْنَةً أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

“Allah tidak menurunkan ke muka bumi fitnah yang lebih besar dari fitnah Dajjal.” (HR. Thabrani 1672)

Justeru ketika kebanyakan manusia telah lalai dan tidak peduli akan Dajjal, kemunculan Dajjal sebagai “sosok jasmani” yang mengaku Tuhan sungguh mengagumkan bagi kebanyakan manusia. Terlebih Dajjal memiliki kemampuan yang luar biasa, sanggup menciptakan, mematikan dan menghidupkan, bahkan di tangan kanannya mempertontonkan kenikmatan surga dan tangan kirinya ada intimidasi dan horror sangat menakutkan bagi manusia yaitu neraka. Semuanya untuk menebar fitnah dan kekacauan akhir zaman. Pada saat itu manusia lupa akan pengetahuan tentang sosok Dajjal yang pernah dikenalnya, sedemikian rupa sehingga bila ada yang memperingatkan soal Dajjal, maka mereka mentertawakannya dan sinis  cenderung menganggapnya sekedar mitos atau legenda. Maka betapa manusia terlena dan terpedaya oleh Dajjal.

لَا يَخْرُجُ الدَّجَّالُ حَتَّى يَذْهَلَ النَّاسُ عَنْ ذِكْرِهِ وَحَتَّى تَتْرُكَ الْأَئِمَّةُ ذِكْرَهُ عَلَى الْمَنَابِرِ

“Dajjal tidak akan muncul sehingga sekalian manusia telah lupa untuk mengingatnya dan sehingga para Imam tidak lagi menyebut-nyebutnya di atas mimbar-mimbar.” (HR. Ahmad 16073)

Nah…. Siapakah sebenarnya Dajjal? Siapa kelak yang akan menjadi pengikut Dajjal sehingga terpedaya masuk ke surga Dajjal? Dan apakah Dajjal itu seorang manusia, ataukah dia termasuk makhluk setan atau jin, ataukah raksasa sehingga di tangannya terdapat surga dan neraka? Untuk lebih jelasnya marilah kita simak kajian ilmiyah soal Dajjal yang dipresentasikan oleh utadz Ibnu Abdillah Al Katiby

DATA MENGEJUTKAN : WAHABI ADALAH PENGIKUT DAJJAL KELAK

Oleh; Ibnu Abdillah Al Katiby

Kemunculan Dajjal merupakan puncak dari munculnya fitnah paling besar dan mengerikan di muka bumi ini bagi umat manusia khususnya umat Muslim. Kemunculannya di akhir zaman, di masa imam Mahdi dan Nabi Isa ‘alaihis salam, akan banyak mempengaruhi besar bagi umat muslim sehingga banyak yang mengikutinya kecuali orang-orang yang Allah jaga dari fitnahnya.

Dalam hadits disebutkan :

قام رسول الله صلى الله عليه و سلم في الناس فأثنى على الله بما هو أهله، ثم ذكر الدجال فقال: ” إني لأنذركموه، وما من نبي إلا وقد أنذر قومه

“ Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan manusia dan memuji keagungan Allah, kemudianbeliau menyebutkan Dajjal lalu mengatakan : “ Sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan dajjal,tidak ada satu pun seorang nabi, kecuali telah memperingatkan umatnya akan dajjal “. (HR. Bukhari : 6705)

Dalam hadits lain, Nabi bersabda :

ليس من بلد إلا سيطؤه الدجال

“ Tidak ada satu pun negeri, kecuali akan didatangi oleh dajjal “. (HR. Bukhari : 1782)

Pada kesempatan ini, saya tidak menjelaskan sepak terjang dajjal, namun saya akan sedikit membahas sebagian kaum yang menjadi pengikut dajjal. Dan kali ini, saya tidak mengungkap semua kaum yang mengikuti dajjal, namun saya akan menyinggung satu persoalan yang cukup menarik yang telah diinformasikan oleh nabi bahwa ada kelompok umatnya yang akan menjadi pengikut setia dajjal, padahal sebelumnya mereka ahli ibadah bahkan ibadah mereka melebihi ibadah umat Nabi Muhammad lainnya, mereka rajin membaca al-Quran, sering membawakan hadits Nabi, bahkan mengajak kembali pada al-Quran. Namun pada akhirnya mereka menjadi pengikut dajjal, apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut setianya ? simak uraiannya berikut :

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّ مِن بعْدِي مِنْ أُمَّتِي قَوْمًا يَقْرَؤُنَ اْلقُرآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَلاَقِمَهُمْ يَقْتُلُوْنَ أَهْلَ اْلإسْلاَمِ وَيَدَعُوْنَ أَهْلَ اْلأَوْثَانِ، يَمْرُقُوْنَ مِنَ اْلإسْلاَمِ كمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مَنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“ Sesungguhnya setelah wafatku kelak akan ada kaum yang pandai membaca al-Quran tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala,mereka lepas dari Islam seperti panah yang lepas dari busurnya seandainya (usiaku panjang dan) menjumpai mereka (kelak), maka aku akan memerangi mereka seperti memerangi (Nabi Hud) kepada kaum ‘Aad “.(HR. Abu Daud, kitab Al-Adab bab Qitaalul Khawaarij : 4738)

Nabi juga bersabda :

سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى اخْتِلاَفٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ لاَ يَرْجِعُونَ حَتَّى يَرْتَدَّ عَلَى فُوقِهِ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ

“ Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan, mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan, mereka lepas dari Islam sebagaimana anak panah lepas dari busurnya, mereka tidak akan kembali (pada Islam) hingga panah itu kembali pada busurnya. Mereka seburuk-buruknya makhluk. Beruntunglah orang yang membunuh mereka atau dibunuh mereka. Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka “, para sahabat bertanya “ Wahai Rasul Allah, apa cirri khas mereka? Rasul menjawab “ Bercukur gundul “. (Sunan Abu Daud : 4765)

Nabi juga bersabda :

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَة

“ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “. (HR. Imam Bukhari 3342)

Dalam hadits lain Nabi bersabda :

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun / generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)

Ketika sayyidina Ali dan para pengikutnya selesai berperang di Nahrawain, seseorang berkata :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَبَادَهُمْ وَأَرَاحَنَا مِنْهُمْ

“ Alhamdulillah yang telah membinasakan mereka dan mengistirahatkan kita dari mereka “, maka sayyidina Ali menyautinya :

كَلاَّ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ مِنْهُمْ لَمَنْ هُوَ فِي أَصْلاَبِ الرِّجَالِ لَمْ تَحْمِلْهُ النِّسَاءُ وَلِيَكُوْنَنَّ آخِرَهُمْ مَعَ اْلمَسِيْحِ الدَّجَّال

“ Sungguh tidak demikian, demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya akan ada keturunan dari mereka yang masih berada di sulbi-sulbi ayahnya dan kelak keturunan akhir mereka akan bersama dajjal “.

Penjelasan :

Dalam hadits di atas Nabi menginformasikan pada kita bahwasanya akan ada sekelompok manusia dari umat Nabi yang lepas dari agama Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya dengan sifat dan ciri-ciri yang Nabi sebutkan dalam hadits-haditsnya di atas sebagai berikut :

1. Senantiasa membaca al-Quran, Namun kata Nabi bacaanya tidak sampai melewati tenggorokannyaartinya tidak membawa bekas dalam hatinya.
2. Suka memerangi umat Islam.
3. Membiarkan orang-orang kafir.
4. Memperbagus ucapan, namun parkteknya buruk.
5. Selalu mengajak kembali pada al-Quran, namun sejatinya al-Quran berlepas darinya.
6. Bercukur gundul.
7. Berusia muda.
8. Lemahnya akal.
9. Kemunculannya di akhir zaman.
10. Generasi mereka akan terus berlanjut dan eksis hingga menajdi pengikut dajjal.

Jika kita mau mengkaji, meneliti dan merenungi data-data hadits di atas dan melihat realita yang terjadi di tengah-tengah umat akhir zaman ini, maka sungguh sifat dan cirri-ciri yang telah Nabi sebutkan di atas, telah sesuai dengan kelompok yang selalu teriak lantang kembali pada al-Quran dan hadits, kelompok yang senantiasa mempermaslahkan urusan furu’iyyah ke tengah-tengah umat, kelompok yang mengaku mengikut manhaj salaf, kelompok yang senantiasa membawakan hadits-hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yaitu tidak ada lain adalah wahhabi yang sekarang bermetomorfosis menjadi salafi.

Membaca al-Quran dan selalu membawakan hadist-hadits Nabi adalah perbuatan baik dan mulia, namun kenapa Nabi menjadikan hal itu sebagai tanda kaum yang telah keluar dari agama tersebut?? Tidak ada lain, agar umat ini tidak tertipu dengan slogan dan perilaku mereka yang seakan-akan membawa maslahat bagi agama Islam. Ciri mereka yang suka memerangi umat Islam, tidak samar dan tidak diragukan lagi, sejarah telah mencatat dan mengakui sejarah berdarah mereka di awal kemuculannnya, ribuan umat Islam dari kalangan awam maupun ulamanya telah menjadi korban berdarah mereka hanya karena melakukan amaliah yang mereka anggap perbuatan syirik dan kufr dan dianggap telah menentang dakwah mereka. Namun dengan musuh Islam yang sesungguhnya, justru mereka biarkan bahkan hingga saat ini mereka akrab dengan kaum kafir, adakah sejarahnya mereka memerangi kaum kafir??

Ciri berikutnya adalah memperbagus ucapan namun prakteknya buruk. Mereka jika berbicara dengan lawannya selalu mengutarakan ayat-ayat al-Quran dan hadits, namun ucapanya tersebut tidaklah dinyatakan dalam prakteknya, kadang mereka membaca mushaf al-Quran pun sambil tiduran tanpa ada adabnya sama sekali.

Ciri berikutnya adalah mereka senantiasa berkoar-koar kepada kaum muslimin lainnya agar kembali pada al-Quran. Tanda mereka ini sangat nyata dan kentara kita ketahui pada realita saat ini, kaum wahabi selalu teriak kepada kaum muslimin untuk kembali pada Al-Quran. Ahlus sunnah selalu mengajak pada Al-Quran karena ajaran mereka memang bersumber dari Al-Quran, namun kenapa Allah menjadikan sifat ini sebagai tanda pada kaum neo khawarij (wahabi) ini?? Sebab merekalah satu-satunya kelompok yang dikenali di kalangan awam yang selalu teriak mengajak pada Al-Quran sedangkan Al-Quran sendiri berlepas diri dari mereka.Sehingga hal ini (yad’uuna ilaa kitabillah; mengajak kepada Al-Quran) menjadi tanda atas kelompok ini bukan pada kelompok khawarij lainnya.

Tanda mereka adalah bercukur gundul. Hal ini menambah keyakinan kita bahwa yang dimaksud oleh Nabi dalam tanda ini adalah tidak ada lain kelompok wahabi. Tidak ada satu pun kelompok ahli bid’ah yang melakukan kebiasaan dan melazimkan mencukur gundul selain kelompok wahabi ini, mereka kelompok sesat lainnya hanya bercukur gundul pada saat ibadah haji dan umrah saja sama seperti kaum muslimin Ahlus sunnah. Namun kelompok wahabi ini menjadikan mencukur gundul ini suatu kelaziman bagi pengikut mereka kapan pun dan dimana pun. Bercukur gundul ini pun telah diakui oleh Tokoh mereka; Abdul Aziz bin Hamd (cucu Muhammad bin Abdul Wahhab) dalam kitabnya Majmu’ah Ar-Rasaail wal masaail : 578.

Cirri berikutnya adalah berusia muda dan akalnya lemah. Mereka pada umumnya masih berusia muda tetapi lemah akalnya, atau itu adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Subyektivitas dengan daya dukung pemaham yang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri.

Sebab-Sebab Manusia Jadi Pengikut Dajjal

Kemunculan kaum ( Wahabi ) ini ada di akhir zaman sebagaimana hadits Nabi di atas, kemudian generasi mereka juga akan terus berlanjut hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal menjadi pengikut setianya. Namun apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut dajjal ??Berikut kajian dan analisa ilmiyyahnya :

Sebab pertama : Wahabi beraqidahkan tajsim dan tsyabih.

Sudah maklum dalam kitab-kitab mereka bahwa mereka meyakini Allah itu memiliki organ-organ tubuh seperti wajah, mata, mulut, hidung, tangan, kaki, jari dan sebagainya, dan mereka mengatakan bahwa organ tubuh Allah tidak seperti organ tubuh makhluk-Nya.

Mereka juga meyakini bahwa Allah bertempat yaitu di Arsy, mereka juga memaknai istiwa dengan bersemayam dan duduk dan menyatakan semayam dan duduknya Allah tidak seperti makhluk-Nya.Mereka meyakini Allah turun ke langit dunia dari atas ke bawah di sepertiga malam terakhir, dan meyakini bahwa ketika Allah turun maka Arsy kosong dari Allah namun menurut pendapat kuat mereka Arsy tidak kosong dari Allah. Sungguh mereka telah memasukkan Allah dalam permainan pikiran mereka yang sakit itu. Dan lain sebagainya dari pensifatan mereka bahwa Allah berjisim….
Nah, demikian juga dajjal, renungkanlah kisah dajjal yang disebutkan oleh Nabi dalam hadts-hadits sahihnya,bahwasanya dajjal itu berjisim, berorgan tubuh, memiliki batasan, dia berjalan secara hakikatnya, dia turun secara hakikatnya, dia berlari kecil secara hakikatnya, dia memiliki kaki secara hakikat, memiliki tangan secara hakikat, memiliki mata secara hakikat, memiliki wajah secara hakikat dan lain sebagainya..dan tidak ada lain yang menyebabkan mereka mengakui dajjal sebagai tuhannya kecuali karena berlebihannya mereka di dalam menetapkan sifat-sifat Allah tersebut dan memperdalam makna-maknanya hingga sampai pada derajat tajsim.

Perhatikan dan renungkan sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

إني حدثتكم عن الدجال، حتى خشيت أن لا تعقلوا ، إن المسيح الدجال قصير أفحج ، جعد أعور ، مطموس العين ، ليست بناتئة ، ولا جحراء ، فإن التبس عليكم ، فاعلموا أن ربكم ليس بأعور

“ Sesungguhnya aku ceritkan pada kalian tentang dajjal, karena aku khawatir kalian tidak bisa mengenalinya, sesungguhnya dajjal itu pendek lagi congkak, ranbutnya keriting (kribo), matanya buta sebelah dan tidak menonjol dan cengkung, jika kalian masih samar, maka ketahuilah sesungguhnya Tuhan kalian tidaklah buta sebelah matanya “. (HR. Abu Dawud)

Nabi benar-benar khawatir umatnya tidak bisa mengenali dajjal, dan Nabi menyebutkan cirri-ciri dajjal yang semuanya itu bermuara pada jisim, dan menyebutkan aib-aib yang disepakati oleh kaum musyabbih dan sunni yang mutanazzih, namun kaum musyabbihah (wahabi-salafi) sangat mendominasi pada pemikiran tajsimnya sehingga bagi mereka Allah Maha melakukan apapun, dan Allah maha Mampu atas segala sesuatu, bahkan menurut mereka kemampuan Allah memungkinkan berkaitan dengan perkara yang mustahil bagi-Nya yang seharusnya kita sucikan, sehingga berkatalah sebagian mereka : Bahwa Allah jika berkehendak untuk bersemayam di punggung nyamuk, maka Allah pun akan bersemayam di atasnya. Naudzu billahi min dzaalik..

Sebab kedua : Tidak adanya pehamahan mereka tentang perkara-perkara di luar kebiasaan (khawariqul ‘aadah) atau disebut karomah.

Realita yang ada saat ini, kaum wahhabi-salafi tidak pernah membicarakan tentang khawariqul ‘aadah atau karomah, bahkan mereka mengingkari karomah-karomah para wali Allah yang disebutkan oleh para ulama hafidz hadits seperti al-Hafidz Abu Nu’aim dalam kitab hilyahnya, imam Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikhnya dan lainnya, bahkan mereka memvonis kafir kepada sebagian para wali Allah yang mayoritas ahli tasawwuf. Mereka tidak bisa mencerna karomah-karomah para wali yang ada sehingga tidak mempercayai imdadaat ruhiyyah (perkara luar biasa yang bersifat ruh) yang Allah berlakukan di tangan para wali-Nya yang bertaqwa sebagai kemuliaan Allah atas mereka.

Sedangkan dajjal akan datang dengan kesaktian-kesaktian yang lebih hebat dan luar biasa sebagai fitnah bagi orang yang Allah kehendaki, menumbuhkan tanah yang kering, menurunkan hujan, memunculkan harta duniawi, emas, permata, menghidupkan orang yang mati dan lain sebagainya, sedangkan kaum wahhabi tidak perneh membicarakan khawariqul ‘aadat semacam itu, sehingg akal mereka tidak mampu membenarkannya, oleh sebab itu ketika dajjal muncul dengan membawa khowariqul ‘aadat semacam itu disertai pengakuan rububiyyahnya, maka bagi wahabi, dajjal itu adalah Allah karena wahabi tidak mengathui sama sekali tentang khowariqul ‘aadat yang Allah jalankan atas seorang dari golongan manusia.

Mereka pun tidak mampu membedakan antara pelaku secara hakikatnya dan semata-semata sebab / perantaranya, maka bercampurlah pemahaman mereka antara kekhususan sang pencipta dengan makhluk-Nya. Seandainya mereka mengetahui bahwa apa yang terjadi dari khowariqul ‘aadat hanyalah semata-mata dari qudrah Allah, dan manusia hanyalah perantara, maka wahabi tidak akan heran atas apa yang dilakukan dajjal. Dan seandainya kaum wahabi bertafakkur atas khowariqul ‘aadat yang terjadi dari para Nabi dan wali, maka wahabi tidak akan terkena fitnah oleh khowariqul ‘aadat yang terjadi dari dajjal sebagai bentuk istidraajnya.

Yang membedakan khowariqul ‘aadat yang terjadi atas para Nabi dan dajjal adalah bahwa para nabi memperoleh hal itu sebagai penguat kebenaran yang mereka serukan, sedangkan dajjal memperoleh hal itu sebagai fitnah atas seseorang yang mengaku rububiyyah, perkara hal itu sama-sama perkara khowariqul ‘aadat (perkara luar biasa).
Sebab ketiga : Bermanhaj khowarij yakni keluar dari jama’ah muslimin dan mengkafirkan kaum muslimin.Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mensifati pengikut dajjal bahwasanya mereka adalah kaum khowarij,sebagaimana sebagian telah dijelaskan di awal :

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn ( kurun / generasi ) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya).

Arah Timur yang Nabi maksud tidak ada lain adalah arah Timur kota Madinah yaitu Najd sebab Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam telah menspesifikasikan letak posisinya yaitu tempat dimana ciri-ciri khas penduduknya orang-orang yang memiliki banyak unta dan baduwi yang berwatak keras dan berhati kasar dan tempat di mana menetapnya suku Mudhar dan Rabi’ah, dan semua itu hanya ada di Najd Saudi Arabia,Nabi bersabda :

مِنْ هَا هُنَا جَاءَتِ اْلفِتَنُ ، نَحْوَ اْلمَشْرِقِ ، وَاْلجَفَاءُ وَغِلَظُ اْلقُلوْبِ فيِ اْلفَدَّادِينَ أَهْلُ اْلوَبَرِ ، عِنْدَ أُصُوْلِ أَذْنَابِ اْلإِبِلِ وَاْلَبقَرِ ،فِي رَبِيْعَةْ وَمُضَرً

“Dari sinilah fitnah-fitnah akan bermunculan, dari arah Timur, dan sifat kasar juga kerasnya hati pada orang-orang yang sibuk mengurus onta dan sapi, kaum Baduwi yaitu pada kaum Rabi’ah dan Mudhar “.(HR. Bukhari)

Maka kaum wahhabi-salafi ini adalah regenerasi dari kaum khowarij pertama di masa Nabi dan sahabat, perbedaaanya kaum khowarij pertama bermanhaj mu’aththilah (membatalkan sifat-sifat Allah), sedangkankaum neo khowarij (wahhabi) ini bermanhaj tajsim dan taysbih. Walaupun berbeda, namun sama-sama menyimpang dari aqidah Islam, dan Allah merubah manhaj mereka dari kejelekan menuju manhaj yang lebih jelek lagi sebagai balasan atas kedhaliman dan kesombongan yang memenuhi hati mereka. Atas manhaj tajsim mereka inilah menjadi penyebab wahhabi mudah terpengaruh oleh dajjal, sedangkan khowarij terdahulu jika masih ada yg mengikuti manhaj ta’thilnya tidak mungkin terpengaruh oleh dajjal, sebab sangat anti terhadap sifat-sifat Allah, mereka mensucikan Allah dari sifat gerak, pindah, bersemayam, diam, duduk, turun dan sebagainya bahkan mereka membatalkan sifat-sifat wajib Allah.

Maka dengan jelas wahabi kelak akan menjadi pengikut dajjal, naudzu billahi min syarril wahhabiyyah wa imaamihim dajjal…

Bukti kaum mujasimmah (Ibnul Qayyim – al bani wahabi -tuwaijiri etc) berdusta atas nama imam al-Baihaqi

Kerap kali ditemukan bukti-bukti ulama wahabi melakukan penipuan dan kecurangan di dalam beristidal,berargumentasi dan berhujjah dalam kitab-kitabnya. Ada yang memelintir atau memanipulasi ucapan para ulama Ahlus sunnah untuk dipaksakan sesuai dengan keinginan nafsunya, ada yang mereduksi dan memotong ucapan para ulama, ada pula yang mendistorsinya bahkan berdusta atas nama Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam atau para sahabat. Allah al-Musta’aan..

Saya tidak tahu apakah berdusta dan menipu itu diwajibkan dalam ajaran mereka atau memang mereka sengaja melakukan itu tanpa rasa takut kepada Allah sama sekali dalam dada mereka.

Berikut ini bukti kedustaan seorang ulama besar yang menjadi panutan dan rujukan kaum wahhabi-salafi, murid dari Ibnu Taimiyyah yaitu Ibnul Qayyim yang telah dengan jelas melakukan kedustaan atas nama al-Hafidz al-Baihaqi :

Ibnul Qayyim mengatakan

“ Pendapat imam muslimin yang dijuluki Penerjemah lisan al-Quran yaitu Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma: telah disebutkan oleh imam Baihaqi tentang firman Allah Ta’aala :

الرّحْمٰنُ  عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى

“ Ar-Rahman beristiwa di Arsy “ (QS. Thaha : 5)

Ibnu Abbasmenafsirkannya : “ Istaqarra / bersemayam “.[1]

 

Benarkah pengakuan Ibnul Qayyim tersebut ? Sekarang kita tengok langusng kitab al-Asmaa wa ash-Shifat imam al-Baihaqi, bagaimanakah komentar imam al-Baihaqi sendiri tentang riwayat sayyidina Abdullah bin Abbas tersebut ? kita simak scan redaksinya berikut :

“….Riwayat tersebut (yang mengatakan Abdullah bin Abbas menafsirkan istiwa dengan bersemayam) adalah mungkar …“.[2]

Imam al-Baihaqi memang menukil riwayat itu, tapi setelahnya beliau mengomentarinya bahwa riwayat itu mungkar dan tak layak dinisbatkan kepada Ibnu Abbas. Namun kenapa oleh Ibnul Qayyim komentar beliau tersebut tidak diikut sertakan dalam nukilannya dikitabnya Ijtima’ al-Juyusy ?? seolah-olah imam Al-Baihaqi menerima riwayat tersebut, padahal beliau menolaknya. Dan nukilan Ibnul Qayyim ini banyak dinukil pula oleh ulama wahabi setelahnya.

Sikap curang seperti ini pun terwariskan oleh para ulama wahabi setelahnya, di antaranya syaikh at-Tuwaijari di dalam menukil kalam imam Ibnu Hajar tentang hadits Khalqi Adam, dalam kitabnya, at-Tuwaijari tidak jujur menampilkan ucapan al-Hafidz Ibnu Hajar secara lengkap sebagaimana dilakukan Ibnul Qayyim di atas, bahkan Albani pun mencela perbuatan at-Tuwaijari tersebut dan mengatakan ia telah memanipulasi ucapan Ibnu Hajar, dan Albani mengatakan bahwa bukan hanya di situ saja at-Tuwaijari melakukan penipuan dan kecurangannya bahkan di kitab-kitab lainnya pun tidak lepas dari penipuan, perhatikan ucapan Albani tersebut :

“ Dalam kesempatan ini aku katakan : Sungguh telah berbuat buruk syaikh at-Tuwaijari terhadap akidah dan sunnah yang sahih secara bersamaan dengan karya tulisnya yang ia namai “ Aqidah ahli iman fii khlaqi Adam ‘alaa shuratir Rahman “, karena akidah itu tidak boleh kecuali harus dengan hadits yang sahih..” kemudian Albani mengatakan setelahnya : “ Bagaimana at-Tuwaijari mensahihkan hadits itu, sedangan ia tahu bahwa Ibnu Luhai’ah adalah seorang rawi yang dhaif, dsamping itu at-Tuwaijari telah mendistorsi tautsiqnya (pada halaman 27) walaupun dengan merubah ucapan para ulama hafidz hadits dan memotong ucapa mereka. Dia (at-Tuwaijari) berkata : “ Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata di dalam kitab at-Taqrib : “ Dia adalah shaduq “, sedangkan di tidak menampilkan ucapan Ibnu Hajar secara lengkapnya berikut : “ Ia mengalami kesalahan setelah kitabnya terbakar, sedangkan riwayat Ibnul Mubarak dan Ibnu Wahb lebih adil lainnya “, Hadits ini bukanlah dari riwayat salah satunya, apa yang pantas disebut bagi orang yang menukil ucapan secara sepotong-potong dan menyembunyikan sebagian yang lainnya ? perbuatan at-Tuwaijari semacam ini sangat banyak tidak cukup menjelaskannya di ta’liq ini “.[3]

Demikianlah para ulama wahabi melakukan kecurangan dan penipuannya mulai dari ulama terdahulunya yang menjadi panutan di kalangan wahabi hingga sampai ulama kontemporernya, demi menyebarkan doktrin menyimpangnya. Naudzu billahi min dzaalik…

Semoga kita selalu istiqamah menjalankan manhaj para ulama salaf dan memberantas bid’ah-bid’ah dholalah para pelaku bid’ah seperti wahabi, syi’ah dan lainnya..

Ibnu Abdillah Al-Katibiy

Kota Santri, 30-04-2013

[1]  Ijtima’ al-Juyusyal-Islamiyyah, Ibnul Qayyim : 2/249, edisi tahqiq Dr. ‘AwadAbdullah, cetakan pertama, tt; 1988 M.

[2]  Al-Asmaa wa ash-Shifat, imam al-Baihaqi : 383, maktabah al-Azhar li at-Turats

[3]  Sahih al-Adab al-Mufrad , Albani : 375

Bukti Fitnah Wahabi (syaikh muqbil wahabi ) kepada Imam ahlusunnah Imam Hanafi attabi’in – Muqbil katakan Imam hanafi berbahaya bagi umat islam

Seorang imam panutan kaum muslimin, seorang imam besar madzhab dari 4 madzhab, seorang ulama salaf yang sangat agung, tidak luput menjadi sorotan, hujatan dan cacian oleh wahabi-salafi si manhaj salaf palsu atas nama jarh wa ta’dil.

Imam Abu Hanifah adalah seorang jahmi, penyembah berhala, paling bahanya manusia bagi umat Islam (Di tulis oleh syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i)

Dalam salah satu karya Muqbil bin Hadi yang berjudul Nasyru ash-Shahifah fi dzikri ash-Shahih min aqwal aimmatil jarh wat ta’dil fi Abi Hanifah (artinya : Membeberkan lembaran tentang menyebutkan ucapan-ucapan sahih dari para imam jarh wa ta’dil terkait Abu Hanifah)

Sampul kitab :

Di kitab itu Muqbil bin Hadi menampilkan riwayat para imam yang mencaci imam Abu Hanifah, di antaranya :

Makna yang saya garis bawahi :

” Imam Abu Hanifah berkata : ” Seandainya seseorang menyembah sandal ini untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka aku berpendapat tidak apa-apa “,

” Apakah Abu Hanifah seorang jahmi ? Abu Yusuf menjawab : iya, dia seorang jahmi “.

Dalam pandangan syaikh Muqbil, imam Abu Hanifah telah membolehkan menyembah sandal untuk bertaqarrub kepada Allah, naudzu billahi min dzaalikal kidzb…

Dan dalam pandangannya, imam Abu Hanifah seorang jahmi.

Dalam halaman lainnya, syaikh Muqbil menukil :

” Tidak ada seorang anak yang dilahirkan di Kufah yang lebih berbahaya bagi umat selain Abu Hanifah “.

Di halaman lain, Muqbil menukil :

” Abu Hanifah diminta bertaubat berulang-ulang karena ucapan zindiqnya”.

===============

Hebat, Muqbil lebih memilih riwayat-riwayat palsu yang menjelaskan cacian para imam kepada imam Abu Hanifah ketimbang riwayat sahih dan jelas yang memuji kepribadian imam Abu Hanifah.

al-Hafidz Abu Nu’aim berkata :

حدثنا محمد بن إبراهيم بن علي ، قال: سمعت حمزة بن علي البصري يقول: سمعت الربيع يقول: سمعت الشافعي يقول:«الناس عيال على أبي حنيفة في الفقه». وقال حرملة بن يحيى: سمعت محمد بن إدريسالشافعي يقول: «من أراد أن يتبحر في الفقه، فهو عيال على أبي حنيفة». قال: و سمعته-يعني الشافعي- يقول: «كان أبو حنيفة ممن وفق له الفقه

” Telah menceritakan padaku, Muhamamd bin Ibrahim bin Ali (Abu Bakar al-Aththar, tsiqah), berkata : Aku mendengar Hamzah bin Ali al-Bashri berkata : ” Aku telah mendengar Rabi’ berkata : Aku telah mendengar imam Syafi’i berkata : ” Manusia butuh terhadap fiqih imam Abu Hanifah “. Harmalah bin Yahya berkata : ” Aku mendengar imam Syafi’i berkata : Barangsiapa yang ingin mendalami ilmu fiqih, maka ia butuh kepada imam Abu Hanifah “. Ia berkata : ” Aku mendengar imam Syafi’i berkata : ” Imam Abu Hanifah adalah orang yang termasuk diistimewakan dalam fiqih “.

Ad-Dzahabi berkata :

كلامأبي حنيفة في الفقه أدق من الشعر، لا يعيبه إلا جاهل

” Ucapan imam Abu Hanifah tentang fiqih lebih lembut dari gandum, tidak mencelanya kecuali orang bodoh “. (Siyar a’laam an-Nubala : 6/404)

Al-Hafidz Ibnu Katsir :

الإمامأبو حنيفة… فقيه العراق، وأحد أئمة الإسلام، والسادة الأعلام، وأحد أركانالعلماء، وأحد الأئمة الأربعة أصحاب المذاهب المتبوعة، وهو أقدمهم وفاة

” Imam ABu Hanifah, seorang ahli fiqih Iraq, salah satu imam Islam, pemimpin yang alim, salah satu rukun ulama, salahs atu imam madzhab yang dikuti, dan paling dahulu wafatnya ” (Al-Bidayah : 10/110)

Sufyan Ats-Tsauri mengatakan :

كانأبو حنيفة أفقه أهل الأرض في زمانه

” Imam ABu Hanifah, seorang yang paling mengerti ilmu fiqih di muka bumi ini pada zamannya “. (al-Faqih wal mutfaqqih : 2/73)

Muhammad bin Muzahim berkata :

ابن المبارك أيضاً: «لولاأن الله أعانني بأبي حنيفة وسفيان، كنت كسائر الناس

” Ibnu Mubarak juga mengatakan :” Seandainya Allah tidak membantuku dengan perantara Abu Hanifah dan Sufyan, maka aku sama seperti manusia lainnya “.

Hot !!! hadis hadis Nabi Bukti Wahabi berasal dari Najd – tempat sumber fitnah danpengikut dajjal

Kemunculan Dajjal merupakan puncak dari munculnya fitnah paling besar dan mengerikan di muka bumi ini bagi umat manusia khususnya umat Muslim. Kemunculannya di akhir zaman, di masa imam Mahdi dan Nabi Isa ‘alaihis salam, akan banyak mempengaruhi besar bagi umat muslim sehingga banyak yang mengikutinya kecuali orang-orang yang Allah jaga dari fitnahnya.

 

Dalam hadits disebutkan :

Wahhabi adalah pengikut Dajjal kelak

 

“ Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan manusia dan memuji keagungan Allah, kemudian beliau menyebutkan Dajjal lalu mengatakan : “ Sesungguhnya aku memperingatkan kalian akan dajjal, tidak ada satu pun seorang nabi, kecuali telah memperingatkan umatnya akan dajjal “. (HR. Bukhari : 6705)

 

Dalam hadits lain, Nabi bersabda :

Wahhabi Salafi Adalah Pengikut Dajjal kelak

 

“ Tidak ada satu pun negeri, kecuali akan didatangi oleh dajjal “. (HR. Bukhari : 1782)

 

Pada kesempatan ini, saya tidak menjelaskan sepak terjang dajjal, namun saya akan sedikit membahas sebagian kaum yang menjadi pengikut dajjal. Dan kali ini, saya tidak mengungkap semua kaum yang mengikuti dajjal, namun saya akan menyinggung satu persoalan yang cukup menarik yang telah diinformasikan oleh nabi bahwa ada kelompok umatnya yang akan menjadi pengikut setia dajjal, padahal sebelumnya mereka ahli ibadah bahkan ibadah mereka melebihi ibadah umat Nabi Muhammad lainnya, mereka rajin membaca al-Quran, sering membawakan hadits Nabi, bahkan mengajak kembali pada al-Quran. Namun pada akhirnya mereka menjadi pengikut dajjal, apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut setianya ? simak uraiannya berikut :

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Wahhabi Salafi Adalah Pengikut Dajjal kelak

“ Sesungguhnya setelah wafatku kelak akan ada kaum yang pandai membaca al-Quran tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala, mereka lepas dari Islam seperti panah yang lepas dari busurnya seandainya (usiaku panjang dan) menjumpai mereka (kelak), maka aku akan memerangi mereka seperti memerangi (Nabi Hud) kepada kaum ‘Aad “.(HR. Abu Daud, kitab Al-Adab bab Qitaalul Khawaarij : 4738)

 

Nabi juga bersabda :

Wahhabi Salafi Adalah Pengikut Dajjal kelak

“ Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan, mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan, mereka lepas dari Islam sebagaimana anak panah lepas dari busurnya, mereka tidak akan kembali (pada Islam) hingga panah itu kembali pada busurnya. Mereka seburuk-buruknya makhluk. Beruntunglah orang yang membunuh mereka atau dibunuh mereka. Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka “, para sahabat bertanya “ Wahai Rasul Allah, apa cirri khas mereka? Rasul menjawab “ Bercukur gundul “.(Sunan Abu Daud : 4765)

 

Nabi juga bersabda :

Wahhabi Salafi Adalah Pengikut Dajjal kelak

“ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari 3342)

 

Dalam hadits lain Nabi bersabda :

Wahhabi Salafi Adalah Pengikut Dajjal kelak

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun / generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “(Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)

Ketika sayyidina Ali dan para pengikutnya selesai berperang di Nahrawain, seseorang berkata :

Wahhabi Salafi Adalah Pengikut Dajjal kelak

“ Alhamdulillah yang telah membinasakan mereka dan mengistirahatkan kita dari mereka “, maka sayyidina Ali menyautinya :

Wahhabi Salafi Adalah Pengikut Dajjal kelak

“ Sungguh tidak demikian, demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya akan ada keturunan dari mereka yang masih berada di sulbi-sulbi ayahnya dan kelak keturunan akhir mereka akan bersama dajjal “.

 

Penjelasan :

 

Dalam hadits di atas Nabi menginformasikan pada kita bahwasanya akan ada sekelompok manusia dari umat Nabi yang lepas dari agama Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya dengan sifat dan ciri-ciri yang Nabi sebutkan sebagai berikut dalam hadits-haditsnya di atas :

 

1. Senantiasa membaca al-Quran, Namun kata Nabi bacaanya tidak sampai melewati tenggorokannya artinya tidak membawa bekas dalam hatinya.

2. Suka memerangi umat Islam.

3. Membiarkan orang-orang kafir.

4. Memperbagus ucapan, namun parkteknya buruk.

5. Selalu mengajak kembali pada al-Quran, namun sejatinya al-Quran berlepas darinya.

6. Bercukur gundul.

7. Berusia muda.

8. Lemahnya akal.

9. Kemunculannya di akhir zaman.

10. Generasi mereka akan terus berlanjut dan eksis hingga menajdi pengikut dajjal.

 

Jika kita mau mengkaji, meneliti dan merenungi data-data hadits di atas dan melihat realita yang terjadi di tengah-tengah umat akhir zaman ini, maka sungguh sifat dan cirri-ciri yang telah Nabi sebutkan di atas, telah sesuai dengan kelompok yang selalu teriak lantang kembali pada al-Quran dan hadits, kelompok yang senantiasa mempermaslahkan urusan furu’iyyah ke tengah-tengah umat, kelompok yang mengaku mengikut manhaj salaf, kelompok yang senantiasa membawakan hadits-hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yaitu tidak ada lain adalah wahhabi yang sekarang bermetomorfosis menjadi salafi.

 

Membaca al-Quran dan selalu membawakan hadist-hadits Nabi adalah perbuatan baik dan mulia, namun kenapa Nabi menjadikan hal itu sebagai tanda kaum yang telah keluar dari agama tersebut?? Tidak ada lain, agar umat ini tidak tertipu dengan slogan dan perilaku mereka yang seakan-akan membawa maslahat bagi agama Islam. Ciri mereka yang suka memerangi umat Islam, tidak samar dan tidak diragukan lagi, sejarah telah mencatat dan mengakui sejarah berdarah mereka di awal kemuculannnya, ribuan umat Islam dari kalangan awam maupun ulamanya telah menjadi korban berdarah mereka hanya karena melakukan amaliah yang mereka anggap perbuatan syirik dan kufr dan dianggap telah menentang dakwah mereka. Namun dengan musuh Islam yang sesungguhnya, justru mereka biarkan bahkan hingga saat ini mereka akrab dengan kaum kafir, adakah sejarahnya mereka memerangi kaum kafir??

 

Ciri berikutnya adalah memperbagus ucapan namun prakteknya buruk, mereka jika berbicara dengan lawannya selalu mengutarakan ayat-ayat al-Quran dan hadits, namun ucapanya tersebut tidaklah dinyatakan dalam prakteknya, kadang mereka membaca mushaf al-Quran pun sambil tiduran tanpa ada adabnya sama sekali.

 

Ciri berikutnya adalah mereka senantiasa berkoar-koar kepada kaum muslimin lainnya agar kembali pada al-Quran. Tanda mereka ini sangat nyata dan kentara kita ketahui pada realita saat ini, kaum wahabi selalu teriak kepada kaum muslimin untuk kembali pada Al-Quran. Ahlus sunnah selalu mengajak pada Al-Quran karena ajaran mereka memang bersumber dari Al-Quran, namun kenapa Allah menjadikan sifat ini sebagai tanda pada kaum neo khawarij (wahabi) ini?? Sebab merekalah satu-satunya kelompok yang dikenali dikalangan awam yang selalu teriak mengajak pada Al-Quran sedangkan Al-Quran sendiri berlepas diri dari mereka. Sehingga hal ini (yad’uuna ilaa kitabillah; mengajak kepada Al-Quran) menjadi tanda atas kelompok ini bukan pada kelompok khawarij lainnya.

 

Tanda mereka adalah bercukur gundul, Hal ini menambah keyakinan kita bahwa yang dimaksud oleh Nabi dalam tanda ini adalah tidak ada lain kelompok wahabi. Tidak ada satu pun kelompok ahli bid’ah yang melakukan kebiasaan dan melazimkan mencukur gundul selain kelompok wahabi ini, mereka kelompok sesat lainnya hanya bercukur gundul pada saat ibadah haji dan umrah saja sama seperti kaum muslimin Ahlus sunnah. Namun kelompok wahabi ini menjadikan mencukur gundul ini suatu kelaziman bagi pengikut mereka kapan pun dan dimana pun. Bercukur gundul ini pun telah diakui oleh Tokoh mereka; Abdul Aziz bin Hamd (cucu Muhammad bin Abdul Wahhab) dalam kitabnya Majmu’ah Ar-Rasaail wal masaail : 578.

 

Cirri berikutnya adalah berusia muda dan akalnya lemah, Mereka pada umumnya masih berusia muda tetapi lemah akalnya, atau itu adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Subyektivitas dengan daya dukung pemaham yang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri.

 

Kemunculan kaum ini ada di akhir zaman sebagaimana hadits Nabi di atas, kemudian generasi mereka juga akan terus berlanjut hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal menjadi pengikut setianya.

 

Namun apa yang menyebabkan mereka terpengaruh oleh dajjal dan menjadi pengikut dajjal ?? berikut kajian dan analisa ilmiyyahnya :

 

Sebab pertama : Wahabi beraqidahkan tajsim dan tsyabih.

 

Sudah maklum dalam kitab-kitab mereka bahwa mereka meyakini Allah itu memiliki organ-organ tubuh seperti wajah, mata, mulut, hidung, tangan, kaki, jari dan sebagainya, dan mereka mengatakan bahwa organ tubuh Allah tidak seperti organ tubuh makhluk-Nya.

 

Mereka juga meyakini bahwa Allah bertempat yaitu di Arsy, mereka juga memaknai istiwa dengan bersemayam dan duduk dan menyatakan semayam dan duduknya Allah tidak seperti makhluk-Nya. Mereka meyakini Allah turun ke langit dunia dari atas ke bawah di sepertiga malam terakhir, dan meyakini bahwa ketika Allah turun maka Arsy kosong dari Allah namun menurut pendapat kuat mereka Arasy tidak kosong dari Allah. Sungguh mereka telah memasukkan Allah dalam permainan pikiran mereka yang sakit itu. Dan lain sebagainya dari pensifatan mereka bahwa Allah berjisim..

 

Nah, demikian juga dajjal, renungkanlah kisah dajjal yang disebutkan oleh Nabi dalam hadts-hadits sahihnya, bahwasanya dajjal itu berjisim, berorgan tubuh, memiliki batasan, dia berjalan secara hakikatnya, dia turun secara hakikatnya, dia berlari kecil secara hakikatnya, dia memiliki kaki secara hakikat, memiliki tangan secara hakikat, memiliki mata secara hakikat, memiliki wajah secara hakikat dan lain sebagainya..dan tidak ada lain yang menyebabkan mereka mengakui dajjal sebagai tuhannya kecuali karena berlebihannya mereka di dalam menetapkan sifat-sifat Allah tersebut dan memperdalam makna-maknanya hingga sampai pada derajat tajsim.

 

Perhatikan dan renungkan sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

Wahhabi Salafi Adalah Pengikut Dajjal kelak

“ Sesungguhnya aku ceritkan pada kalian tentang dajjal, karena aku khawatir kalian tidak bisa mengenalinya, sesungguhnya dajjal itu pendek lagi congkak, ranbutnya keriting (kribo), matanya buta sebelah dan tidak menonjol dan cengkung, jika kalian masih samar, maka ketahuilah sesungguhnya Tuhan kalian tidaklah buta sebelah matanya “. (HR. Abu Dawud)

 

Nabi benar-benar khawatir umatnya tidak bisa mengenali dajjal, dan Nabi menyebutkan cirri-ciri dajjal yang semuanya itu bermuara pada jisim, dan menyebutkan aib-aib yang disepakati oleh kaum musyabbih dan sunni yang mutanazzih, namun kaum musyabbihah (wahabi-salafi) sangat mendominasi pada pemikiran tajsimnya sehingga bagi mereka Allah Maha melakukan apapun, dan Allah maha Mampu atas segala sesuatu, bahkan menurut mereka kemampuan Allah memungkinkan berkaitan dengan perkara yang mustahil bagi-Nya yang seharusnya kita sucikan, sehingga berkatalah sebagian mereka : Bahwa Allah jika berkehendak untuk bersemayam di punggung nyamuk, maka Allah pun akan bersemayam di atasnya. Naudzu billahi min dzaalik..

 

Sebab kedua : Tidak adanya pehamahan mereka tentang perkara-perkara di luar kebiasaan (khawariqul ‘aadah) atau disebut karomah.

 

Realita yang ada saat ini, kaum wahhabi-salafi tidak pernah membicarakan tentang khawariqul ‘aadah atau karomah, bahkan mereka mengingkari karomah-karomah para wali Allah yang disebutkan oleh para ulama hafidz hadits seperti al-Hafidz Abu Nu’aim dalam kitab hilyahnya, imam Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikhnya dan lainnya, bahkan mereka memvonis kafir kepada sebagian para wali Allah yang mayoritas ahli tasawwuf. Mereka tidak bisa mencerna karomah-karomah para wali yang ada sehingga tidak mempercayai imdadaat ruhiyyah (perkara luar biasa yang bersifat ruh) yang Allah berlakukan di tangan para wali-Nya yang bertaqwa sebagai kemuliaan Allah atas mereka.

 

Sedangkan dajjal akan dating dengan kesaktian-kesaktian yang lebih hebat dan luar biasa sebagai fitnah bagi orang yang Allah kehendaki, menumbuhkan tanah yang kering, menurunkan hujan, memunculkan harta duniawi, emas, permata, menghidupkan orang yang mati dan lain sebagainya, sedangkan kaum wahhabi tidak perneh membicarakan khawariqul ‘aadat semacam itu, sehingg akal mereka tidak mampu membenarkannya, oleh sebab itu ketika dajjal muncul dengan membawa khowariqul ‘aadat semacam itu disertai pengakuan rububiyyahnya, maka bagi wahabi dajjal itu adalah Allah, karena wahabi tidak mengathui sama sekali tentang khowariqul ‘aadat yang Allah jalankan atas seorang dari golongan manusia, mereka pun tidak mampu membedakan antara pelaku secara hakikatnya dan semata-semata sebab / perantaranya, maka bercampurlah pemahaman mereka antara kekhususan sang pencipta dengan makhluk-Nya. Seandainya mereka mengetahui bahwa apa yang terjadi dari khowariqul ‘aadat hanyalah semata-mata dari qudrah Allah, dan manusia hanyalah perantara, maka wahabi tidak akan heran atas apa yang dilakukan dajjal. Dan seandainya kaum wahabi bertafakkur atas khowariqul ‘aadat yang terjadi dari para Nabi dan wali, maka wahabi tidak akan terkena fitnah oleh khowariqul ‘aadat yang terjadi dari dajjal sebagai bentuk istidraajnya.

 

Yang membedakan khowariqul ‘aadat yang terjadi atas para Nabi dan dajjal adalah bahwa para nabi memperoleh hal itu sebagai penguat kebenaran yang mereka serukan, sedangkan dajjal memperolah hal itu sebagai fitnah atas seseorang yang mengaku rububiyyah, perkara hal itu sama-sama perkara khowariqul ‘aadat (perkara luar biasa).

 

Sebab ketiga : Bermanhaj khowarij yakni keluar dari jama’ah muslimin dan mengkafirkan kaum muslimin.

 

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mensifati pengikut dajjal bahwasanya mereka adalah kaum khowarij, sebagaimana sebagian telah dijelaskan di awal :

Wahhabi Salafi Adalah Pengikut Dajjal kelak

“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membaca al-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun / generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama dajjal “(Diriwayatkan imam Thabrani di dalam Al-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalam musnadnya)

Arah Timur yang Nabi maksud tidak ada lain adalah arah Timur kota Madinah yaitu Najd sebab Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam telah menspesifikasikan letak posisinya yaitu tempat dimana ciri-ciri khas penduduknya orang-orang yang memiliki banyak unta dan baduwi yang berwatak keras dan berhati kasar dan tempat di mana menetapnya suku Mudhar dan Rabi’ah, dan semua itu hanya ada di Najd Saudi Arabia, Nabi bersabda :

Wahhabi Salafi Adalah Pengikut Dajjal kelak

“Dari sinilah fitnah-fitnah akan bermunculan, dari arah Timur, dan sifat kasar juga kerasnya hati pada orang-orang yang sibuk mengurus onta dan sapi, kaum Baduwi yaitu pada kaum Rabi’ah dan Mudhar “. (HR. Bukhari)

 

Maka kaum wahhabi-salafi ini adalah regenerasi dari kaum khowarij pertama di masa Nabi dan sahabat, perbedaaanya kaum khowarij pertama bermanhaj mu’aththilah (membatalkan sifat-sifat Allah), sedangkan kaum neo khowarij (wahhabi) ini bermanhaj tajsim dan taysbiih. Walaupun berbeda, namun sama-sama menyimpang dari aqidah Islam, dan Allah merubah manhaj mereka dari kejelekan menuju manhaj yang lebih jelek lagi sebagai balasan atas kedhaliman dan kesombongan yang memenuhi hati mereka. Atas manhaj tajsim mereka inilah menjadi penyebab wahhabi mudah terpengaruh oleh dajjal, sedangkan khowarij terdahulu jika masih ada yg mengikuti manhaj ta’thilnya tidak mungkin terpengaruh oleh dajjal, sebab sangat anti terhadap sifat-sifat Allah, mereka mensucikan Allah dari sifat gerak, pindah, bersemayam, diam, duduk, turun dan sebagainya bahkan mereka membatalkan sifat-sifat wajib Allah.

 

Semoga kita semua terhindar dari fitnah dajjal, Aamiin..

Artikel no 19 oleh:

Ibnu Abdillah Al-Katibiy, Pasuruan.

Surah adh-Dhuha Ayat 7 dan Surat Yusuf 95- (kitab kanzul Iman) : Dholal = bermakna mahabbah bukan kesesatan dalam agama

Surah adh-Dhuha Ayat 7 – Kanzul Iman

 

Jabal Nur adalah sebuah bukit yang terletak kira-kira 3 batu daripada Kota Mekah. Di puncak bukit tersebut ada sebuah gua yang telah dipilih Allah sebagai tempat yang menyaksikan turunnya wahyu yang pertama kepada kekasihNya, Junjungan Nabi SAW. Untuk sampai ke gua yang berkat bernama Hira` itu, Junjungan Nabi SAW terpaksa mendaki lereng bukit yang curam itu setinggi kira-kira 890 kaki. Kenapakah Junjungan mulia saban tahun sebelum menerima wahyu mendaki gua Hira` ? Adakah baginda menaikinya hanya untuk santai-santai, relaks – relaks atau hanya untuk beriadah semata-mata ? Tidak sekali-kali tidak, sungguh menurut pernyataan para ulama, baginda ke sana untuk bertahannuts atau berkhalwah atau menyendiri untuk beribadah kepada Tuhan yang Maha Esa, Allah SWT. Demi kasih, kecintaan, mahabbah dan kerinduan baginda kepada Allah SWT yang amat mendalam, maka baginda SAW sanggup mendaki bukit tersebut untuk menyendiri dengan Tuhannya dalam gua kecil bernama Hira. Ibnu Hisyam dalam karya beliau yang masyhur “as-Sirah an-Nabawiyyah“, juzuk 1, halaman 272 menyatakan bahawa menurut orang `Arab, yang dikehendaki dengan kalimah “tahannuts” dan “tahannuf” adalah “al-Hanifiyyah” yakni melakukan ibadah menurut agama al-Hanifiyyah, iaitu agama yang lurus / benar (yakni agama Islam) menurut syariat Nabi Ibrahim `alaihis salam. Oleh itu, Junjungan Nabi SAW sebelum menerima syariat baginda sendiri, syariat yang agung yang menasakhkan segala syariat rasul terdahulu, telah mengenal Allah dan beriman denganNya serta menjalankan ibadah kepadaNya menurut syariat nenda baginda Nabi Ibrahim `alaihis salam. Makanya, wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada baginda adalah ketika baginda tenggelam dalam kecintaan dan ibadah yang tulus kepada Allah SWT, amat buruklah sesiapa yang menafsirkan yang wahyu tersebut turun dalam keadaan baginda sesat tidak beriman kepada Allah yang Maha Pencipta. … Allahu … Allah.
Tidak dimungkiri bahawa sememangnya ada ulama dan ahli tafsir yang menafsirkan kalimah “dhallan” dalam ayat 7 surah adh-Dhuha tersebut sebagai “kecintaan atau mahabbah untuk makrifat kepada Allah SWT“. Antara yang berpendapat sedemikian adalah Ibnu Atha` rahimahullah, ini adalah kerana kalimah “dhallan” itu memiliki beberapa makna yang berbeza. Antara sandaran yang menunjukkan bahawa kalimah “dhallan” membawa makna “al-mahabbah” yakni kasih sayang atau cinta mahabbah adalah ayat 95 surah Yusuf di mana kalimah “dhalalika” diertikan sebagai “kecintaanmu“, sebab jika ianya diertikan dengan “kesesatanmu (dalam agama)“, ia akan membawa erti bahawa Nabi Ya’qub `alaihis salam adalah seorang yang sesat dan pengertian ini adalah meleset dan jauh daripada kebenaran.
[12:95] Keluarganya berkata (kepada yaqub): “Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kecintaanmu  yang dahulu “.
Oleh itu, tidak hairan, jika ada ulama yang menafsirkan ayat ke-7 surah adh-Dhuha tersebut atas pengertian kasih, sayang, cinta, mahabbah yang mendalam kepada Allah. Prof. Shah Faridul Haque rahimahullah (gambar di sebelah) dalam “The Holy Qur’an: An English Translation From Kanzul Iman” yang merupakan terjemahan tafsir “Kanzul Iman” oleh  Imam Ahmad Raza Khan Barelwi rahimahullah, menafsir ayat tersebut sebagai bermaksud: “And He found you drown in His love, therefore gave way unto Him.” Dalam tafsirnya yang lain, Prof. Shah Faridul Haque memberikan tafsiran yang hampir sama iaitu: “And found you deeply engrossed in His love, so directed you“. Dr. Muhammad Tahirul Qadiri pula dalam karya tafsir beliau dalam berbahasa Inggeris berjodol “Irfanul Quran” mentafsir ayat tersebut sebagai: “And He found you engrossed and lost in His love and then made you achieve the coveted objective.

Inilah antara tafsiran yang diberikan oleh para ulama terhadap ayat tersebut. Jelas tafsiran sebegini amat munasabah dan bersesuaian dengan maqam dan kedudukan Junjungan Nabi SAW yang merupakan kekasih Allah dan rasulNya yang teragung sejak azali lagi. Tidakkah telah datang kepada kita hadits Junjungan Nabi SAW yang menyatakan bahawa beliau telah menjadi nabi sedangkan ketika itu Nabi Adam `alaihis salam masih berupa air dan tanah sahaja (yakni masih belum diciptakan). Maka bagaimana boleh terlintas dalam akal dan benak hati sanubari kita yang manusia luar biasa yang kenabiannya sejak azali lagi boleh dianggap sebagai tidak beriman kepada Allah SWT? Jika masih ada yang berpendapat sedemikian, maka pasti telah berlaku kesilapan dalam penafsiran dan pemahamannya. Ingatlah bahawa para nabi itu maksum sejak kecil lagi, yakni terpelihara daripada melakukan dosa kesalahan, maka adakah dosa yang lebih besar daripada kekufuran kepada Allah ? Sungguh yang maksum itu para nabi `alaihimus sholatu was salam dan al-Quran, sedangkan manusia lain hatta ulama dan mufassir serta karya dan tafsiran mereka tidaklah maksum daripada kesalahan dan kesilapan. Maka hendaklah kita junjung kemaksuman para nabi tersebut, lebih-lebih lagi penghulu para rasul, Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.