Berbohong yang diperbolehkan menurut hukum islam

Berbohong yang diperbolehkan
1. keadaan perang /merbahaya
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membonceng Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di atas kendaraan beliau, maka jika ada seseorang yang bertanya kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah perjalanan, beliau mengatakan, “Ini adalah seorang penunjuk jalanku”. Maka orang yang bertanya tersebut mengira bahwa jalan yang dimaksud adalah makna haqiqi, padahal yang dimaksud oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah jalan kebaikan (sabîlul khair)”. Semata-mata demi kemaslahatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari ancaman musuh-musuh beliau.” (HR. al-Bukhari)
2. Mendamaikan manusia
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah dikatakan pendusta orang yang mendamaikan manusia (yang berseteru), melainkan apa yang dikata kan adalah kebaikan”. (Muttafaq ‘Alaih)

3. mendamaikan suami istri
Imam Muslim menambahkan dalam suatu riwayat, berkata Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha, “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan (rukhshah pada apa yang diucapkan oleh manusia (berdusta) kecuali dalam tiga perkara, yakni: perang, mendamaikan perseteruan/perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau sebaliknya”.

4. Nasihat /dakwah
seperti : cerita islami, film islami, pelajaran ahlaq buat kanak kanak etc

tapi dalam hal ini banyak syarat syarat yang tidak boleh bertentangan dengan syariat seperti aqidah, membuka aurat dan sebagainya.

Thaghut yang paling berbahaya adalah Orang sesat yang mengaku ulama / muhadis /imam mujtahid / nabi / tuhan = dajjal (pendusta)

pa beda Dajjal (penipu/pendusta) dengan Thaghut?
macam2 taghut :
– Orang sesat yang mengaku muhadis/ulama/imam/nabi/tuhan/ = dajjal

Dajjal /penipu akan muncul berperingkat peringkat mulai dari orang sesat yang mengaku sebagai ulama / muhadis / imam mujtahid sampai mengaku nabi dan terakhir dajjal yang mengaku Tuhan. Dajjal yang paling hebat sampai mengaku tuhan akhirnya mati dibunuh oleh Nabi Isa as. dan pengikut Imam mahdi. Dajal (bahasa Arab: الدّجّال ad-Dajjāl) adalah seorang tokoh kafir yang jahat dalam Eskatologi Islam, ia akan muncul menjelang Kiamat. Dajjal pembawa fitnah di akhir zaman, menurut Al-hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: “”Sejak Allah swt menciptakan Nabi Adam a.s. sampai ke hari kiamat nanti, tidak ada satu ujian pun yang lebih dahsyat daripada Dajjal”[1].

– Hakim sesat (menghukum selain dgn hukum Allah)
– Iblis/setan
– Berhala
– Tukang sihir
– dsb

KENAPA KITA DILARANG MEMUKUL ANAK KECIL SEDANG MENANGIS

KENAPA KITA DILARANG MEMUKUL ANAK KECIL SEDANG MENANGIS
===========================================

JANGAN MEMUKUL ANAK KECIL YANG SEDANG MENANGIS

Baginda Rasulullah s.a.w. bersabda :
… ” Janganlah kamu pukul anak-anak kamu di sebabkan mereka menangis dalam masa setahun. Karena pada empat bulan pertama kelahirannya Ia bersyahadat LAA ILAAHA ILLALLAH. Pada empat bulan kedua pula ia bersalawat …ke atas Nabi s.a.w. Dan pada empat bulan seterusnya pula ia mendoakan kedua orang tua nya.” ( H.R. Abdullah Ibnu Umar r.a. )

Baginda Rasulullah s.a.w. menjelaskan bahwa tangisan anak di waktu kecil pada bulan pertama adalah tanda ia bertauhid kepada Tuhan Nya dan empat bulan kedua pula ia membacakan salawat kepada Nabi nya dan empat bulan seterus nya ia memohon istighfar untuk kedua orang tua nya.

Bersabda Baginda Rasulullah s.a.w. :
” Anak-anak sebelum sampai ia baligh maka apa-apa yang di perbuat nya daripada kebaikan maka di tuliskan untuknya dan kedua ibu bapanya. Dan apa yang di perbuat nya daripada kejahatan maka tiadalah di tulis untuk nya dan tidak pula di tulis untuk kedua ibu bapa nya. Apabila ia telah baligh maka berlakulah yang di tulis itu atasnya ia itu segala amal baik atau buruknya.” ( H.R.Imam Anas bin Malik r.a.)

Note : Anak adalah anugerah Allah. Didiklah mereka sebaik-baiknya. Asuhlah mereka dengan kasih sayang bukan dengan kekerasan dan pukulan. Janganlah tangisan mereka itu merupakan tangisan terakhir yang mampu kita dengar jadi kesan dari perbuatan kejam kita terhadap mereka.

(Kitab Fathul bari Membungkam kaidah fiqh wahaby )Kaidah Fiqh Islam : “Asal Ibadah adalah Tauqif” Bukan “haram”

ingat kaidah fiqh: “Asal Ibadah adalah Tauqif” Bukan “haram”
dan “ibadah” yang dimaksud dalam kaidah ini hanyalah : “ibadah mahdhah sahaja”

Ibadah Mahdhah yaitu Ibadah yang hanya berhubungan dengan Allah dan telah lengkap dan sempurna penjelasannya dalam Qur’an dan Hadits. Seperti : Shalat, Puasa, Haji, Zakat, berikut syarat dan rukun yang mendampinginya.

bisa dilihat di Kitab Fathul Bari dan beberapa Kitab Ushul Fiqh.
Asal Ibadah adalah Tauqif (berhenti) pada dalil yang jelas (sahih) baik Qur’an dan hadits. Pengertian berhenti adalah mengikuti pada dalil yang sahih dari Qur’an dan hadits tidak boleh dikurangi, ditambahi, mendahulukan ataupun mengakhirkan. lebih lengkapnya:::

Sangat sering kita membaca atau mendengar ucapan, “Mana dalilnya ?”, “Kalau memang itu baik/benar mengapa Rasulallah dan para sahabat tidak pernah melakukannya ?”, “Lau Kana Khairan Ma Sabaquna ilaihi ?”, “Apakah Rasulallah dan sahabatnya pernah melakukannya ?” dan lain sebagainya. Hal ini paling sering diucapkan oleh kelompok Salafy Wahabi dalam memvonis amaliah pengikut I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah, seperti Yasinan, Tahlilan, Maulid Nabi Muhammad SAW., peringatan hari besar Islam, bermazhab, sunahnya mengucap ushalli sebelum takbiratul ihram dan amalan lainnya.

AT TARK

Pertanyaannya adalah apakah “At Tark” yaitu “Rasulallah meninggalkan atau tidak melakukan sesuatu” itu merupakan suatu hukum baru ? Bisakah “At Tark” itu dijadikan alat untuk menghukumi suatu amaliah itu makruh atau bahkan haram ? Ataukah “At Tark” itu dianggap Salafy Wahabi hanya sebagai “jembatan” untuk diarahkan ke bid’ah dhalalah, yang semua tempatnya neraka ?
Mari kita bahas bersama bagaimana sebenarnya kedudukan “At Tark” ini. “At Tark” yang kita pahami sebagai amaliah yang tidak dilakukan atau ditinggalkan oleh Rasulullah” tidak secara langsung menghukumi sesuatu itu makruh atau haram atau sering disebut kelompok Salafy Wahabi “Bid’ah (Dhalalah)”.
Hal ini bisa kita buktikan dari banyak sudut pandang, yaitu :
1.    Dari sudut Ushul Fiqh, larangan jelas ditunjukkan dengan tiga hal :
  • Ada sighat nahi (berupa kalimat larangan).
             Contoh :
             ولا تقربوا الزن
             (Jangan kalian dekati zina)
  • Ada Lafadz Tahrim (Lafadz keharaman).
             Contoh :
             إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ
             (Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu bangkai dst.)

  • Ada Dzammul Fi’l (Celaan/ancaman atas suatu perkara/amal)
             Contoh :
             من غش فليس منا
             (Barang siapa memalsu maka bukan golongan kami)
Dari ketiga dasar ushul fiqh tersebut tidak ada “At Tark” di salah satunya.
2.    Nash Qur’an menyebutkan :
        وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
        “Apa yang diberikan Rosul bagimu terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” QS. Al Hasyr : 7
Disini jelas nash Qur’an menggunakan lafadz “Naha” (dilarang), bukan “Tark” (ditinggalkan/tidak         pernah dilakukan)
3.    Dalil dari Hadits menyebutkan :
        مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
        “Apa saja yang aku cegah atas kalian maka jauhilah (tinggalkanlah), dan apa-apa yang aku perintahkan pada kalian
         kerjakanlah semampu kalian” (HR. Bukhori Muslim)
Disini Rasulullah juga tidak mengatakan “Tark” tapi “Nahi” (larangan yang jelas).
Jadi jelas sudah bahwa “At Tark” bukan sumber hukum dan tidak bisa secara otomatis menghukumi sesuatu itu makruh atau haram. Hal ini berbeda dengan qaidah yang baru dibuat oleh Salafy Wahabi yang mengatakan “at-Tarku Yadullu ‘ala Tahrim”. Jelas ini mengada-ada.
LAU KAANA KHAIRAN MA SABAQUUNA ILAIHI
Berikutnya adalah sering kita baca atau dengar kalimat
لَوْ كَانَ خَيْرًا مَّا سَبَقُونَا إِلَيْهِ
Lau Kaana Khairan Maa Sabaquunaa Ilaihi
Yang diartikan secara asal-asalan oleh Salafy Wahabi :
“Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para Shahabat telah mendahului kita mengamalkannya”
Adakah kalimat itu dijadikan dasar hukum ? ataukah ada sumber dari Ushul Fiqh ?
Dengan tegas harus kita jawab tidak ada hal tersebut sebagai sumber hukum untuk menilai halal/haram ataupun bid’ah suatu amaliah. Dan yang paling penting kita ketahui kalimat itu sebenarnya adalah ayat Qur’an surat Al Ahqaf ayat 11. Dalam asbabun nuzul ayat tersebut menyatakan bahwa kalimat tersebut adalah kalimat “orang kafir quraisy “ yang mempertanyakan masuk Islamnya “Zanin”, budak wanita Sayyidina Umar ibn Khattab Ra. Sebelum beliau memeluk Islam.
Pantaskah hal itu digunakan sebagai dalil menghukumi suatu amal ??? Dengan tegas jawab tidak bisa. Bahkan hal itu jelas diucapkan oleh orang yang tidak punya ilmu.
ASAL IBADAH ADALAH TAUQIF

Selanjutnya yang santer juga diucapkan oleh Salafy Wahabi yaitu “Asal Ibadah adalah haram”. Yang kami temui istilah yang tepat dan banyak disebut ulama adalah “Asal Ibadah adalah Tauqif” bisa dilihat di Kitab Fathul Bari dan beberapa Kitab Ushul Fiqh.

Untuk jelasnya dalam Kitab Ushul Fiqh :
الأصل في العبادات التوقيف
وفي هذه الليلة أود أن أقف عند قضية أساسية في العبادات جميعا وهي قاعدة معروفة عند أهل العلم، أن الأصل في العبادات التوقيف كما أن الأصل في المعاملات والعقود الإباحة، وهذه قاعدة نفيسة ومهمة جدا ونافعة للإنسان، فبالنسبة للعبادات لا يجوز للإنسان أن يخترع من نفسه عبادة لم يأذن بها الله عز وجل، بل لو فعل لكان قد شرع في الدين ما لم يأذن به الله، فلم يكن لأحد أن يتصرف في شأن الصلاة أو الزكاة أو الصوم أو الحج زيادة أو نقصا أو تقديما أو تأخيرا أو غير ذلك، ليس لأحد أن يفعل هذا، بل هذه الأمور إنما تتلقى عن الشارع، ولا يلزم لها تعليل، بل هي كما يقول الأصوليون: غير معقولة المعنى، أو تعبدية، بمعنى أنه ليس في عقولنا نحن ما يبين لماذا كانت الظهر أربعا، والعصر أربعا، والمغرب ثلاثا، والفجر ركعتين، ليس عندنا ما يدل على ذلك إلا أننا آمنا بالله جل وعلا، وصدقنا رسوله صلى الله عليه وسلم، فجاءنا بهذا فقبلناه، هذا هو طريق معرفة العقائد وطريق معرفة العبادات، فمبناها على التوقيف والسمع والنقل لا غير، بخلاف المعاملات والعقود ونحوها، فإن الأصل فيها الإباحة والإذن إلا إذا ورد دليل على المنع منها، فلو فرض مثلا أن الناس اخترعوا طريقة جديدة في المعاملة في البيع والشراء عقدا جديدا لم يكن موجودا في عهد النبوة، وهذا العقد ليس فيه منع، ليس فيه ربا ولا غرر ولا جهالة ولا ظلم ولا شيء يتعارض مع أصول الشريعة، فحينئذ نقول: هذا العقد مباح؛
التوقيف في صفة العبادة
العبادة توقيفية في كل شيء، توقيفية في صفتها -في صفة العبادة- فلا يجوز لأحد أن يزيد أو ينقص، كأن يسجد قبل أن يركع مثلا أو يجلس قبل أن يسجد، أو يجلس للتشهد في غير محل الجلوس، فهيئة العبادة توقيفية منقولة عن الشارع
التوقيف في زمن العبادة
زمان العبادة توقيفي -أيضا- فلا يجوز لأحد أن يخترع زمانا للعبادة لم ترد، مثل أن يقول مثلا
التوقيف في نوع العبادة
كذلك لابد أن تكون العبادة مشروعة في نوعها، وأعني بنوعها أن يكون جنس العبادة مشروعا، فلا يجوز لأحد أن يتعبد بأمر لم يشرع أصلا، مثل من يتعبدون بالوقوف في الشمس، أو يحفر لنفسه في الأرض ويدفن بعض جسده ويقول: أريد أن أهذب وأربي وأروض نفسي مثلا، فهذه بدعة
التوقيف في مكان العبادة
كذلك مكان العبادة لابد أن يكون مشروعا، فلا يجوز للإنسان أن يتعبد عبادة في غير مكانها، فلو وقف الإنسان -مثلا- يوم عرفة بالـمزدلفة فلا يكون حجا أو وقف بـمنى، أو بات ليلة المزدلفة بـعرفة، أو بات ليالي منى بالـمزدلفة أو بـعرفة، فإنه لا يكون أدى ما يجب عليه، بل يجب أن يلتزم بالمكان الذي حدده الشارع إلى غير ذلك
Jika kita baca penjelasan diatas, maka rangkumannya adalah Asal Ibadah adalah Tauqif (berhenti) pada dalil yang jelas (sahih) baik Qur’an dan hadits. Pengertian berhenti adalah mengikuti pada dalil yang sahih dari Qur’an dan hadits tidak boleh dikurangi, ditambahi, mendahulukan ataupun mengakhirkan. Dijelaskan selanjutnya tauqif itu mengikuti :
1. Tauqif Sifat Ibadah (التوقيف في صفة العبادة)
    dicontohkan dalam penjelasannya :
    “tidak boleh untuk menambah dan megurangi. seperti sujud sebelum ruku’, atau duduk sebelum sujud, atau duduk
     tasyahud tidak pada tempatnya”
2. Tauqif Waktu Ibadah (التوقيف في زمن العبادة)
    dicontohkan dalam penjelasannya :
    “tidak boleh seseorang itu membuat buat ibadah di waktu tertentu yang syari’ tidak memerintahkannya”
3. Tauqif Macamnya Ibadah (التوقيف في نوع العبادة)
    dicontohkan dalam penjelasannya :
  “tidak sah bagi orang yang menyembah sesuatu yang tidak di syariatkan, seperti menyembah matahari atau
   memendam jasadnya sebagian sembari berkata ” saya ingin melatih badanku “ misalkan ini semua bid’ah.”
4. Tauqif Tempat Ibadah (التوقيف في مكان العباد)
    dicontohkan dalam penjelasannya :
    “jika seseorang wukuf di muzdalifah, maka ini bukan haji, atau wuquf dimina, atau bermalam ( muzdalifah ) di arafah, dan
     sebaliknya, maka ini semua bukanlah sesuatu yang masyru’. kita wajib melaksanakan ibadah sesuai tempat yang sudah
     disyari’atkan oleh syari’
Jadi dari penjelasan diatas jelas bahwa Ibadah yang dimaksud adalah Ibadah Mahdhah yaitu Ibadah yang hanya berhubungan dengan Allah dan telah lengkap dan sempurna penjelasannya dalam Qur’an dan Hadits. Seperti : Shalat, Puasa, Haji, Zakat, berikut syarat dan rukun yang mendampinginya. 
Maka jelas disini dalam I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah hal ini tidak boleh dikurangi, ditambahi, mendahulukan ataupun mengakhirkan. Semua sudah dalam batasan yang jelas.
Sedangkan pada Ibadah Ghairu Mahdhah yaitu Ibadah yang tidak berketatapan hukum mengikat tapi menjadikan penghubung untuk mencari ridha Allah.
Maka secara umum dalam ushul fiqh terdapat suatu ijma’ ulama yaitu Lil Wasa’il Hukmul Maqashid, artinya “Hukum untuk perantara sama dengan hukum tujuannya”.
Untuk mudahnya contohnya adalah :
“Berzina itu haram, maka menyediakan kamar/rumah untuk berzina itu juga haram”. Maka Berzina itu maqashid (tujuannya) sedang menyediakan kamar/rumah untuk berzina itu wasail (perantaranya). Jika kita cari hukum berzina jelas ada dalilnya, tapi wasailnya tanpa dalil dia sudah berhukum haram.
“Bershalawat adalah perintah (sunnah muakkad) maka mengadakan maulid nabi Muhammad SAW untuk mengenal kehidupan Nabi, membangun kecintaan kepada beliau, termasuk bershalawat didalamnya adalah Sunnah”. Bershalawat adalah maqashidnya sedang memperingati maulid adalah wasailnya.
Dan masih banyak contoh yang bisa kita ambil dalam Ibadah Ghairu Mahdhah seperti Yasinan, Tahlilan, Mengucap ushalli dan lain sebagainya. Terpenting adalah hal tersebut dari sisi maqashidnya tidak boleh bertentangan dengan Qur’an dan Hadits.
Demikianlah pemahaman dalam I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang mengikut junjungan kita Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wa Alihi Wasallam.
Maka jelas apa yang tidak dilakukan Rasulullah bukan “bid’ah dhalalah (tersesat)”. Dan hal itu sesuai dengan hadits Rasulullah SAW :

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barang siapa yang menjalankan suatu sunnah yang baik didalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tidak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa yang menjalankan suatu sunnah yang jelek didalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tidak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (HR. Imam Muslim Nomor 1017)

Read more: http://www.sarkub.com/2012/apakah-yang-tidak-dilakukan-rasulullah-adalah-bidah-sesat/#ixzz2G9JiCIvC
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | 140014749377806 on Facebook

Kitab Fathul Bari : Bukti Wahabi menipu ummat (pendapat Ibnu rajab pada masalah shalat – bukan menolak takwil imam ahmad)

Inilah salah satu bukti kecurangan dan penipuan wahabi yang sangat licik..

Wahabi /Manhaj salaf palsu menipu umat atas nama al-Hafizd Ibnu Rajab al-Hanbali

fathul bari fatwa ibnu rajab 1 fathul bari fatwa ibnu rajab 2
Ketika wahabi / manhaj salaf palsu berhujjah menolak riwayat takwilan imam Ahmad bin Hanbal pada salah satu ayat shifat, mereka membawakan ucapan al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fathul Bari syarh Sahih Bukhari halaman 367-368, yang seolah-olah Ibnu Rajab mengatakan riwayat takwil imam Ahmad itu musykil dan sanadnya tidak tsabit / kuat.

Berikut nukilan Ibnu Rajab dalam kitab Fathul Barinya yang dibawakan wahabi sebagai hujjah :

وهذه رواية مشكلة جداً ، ولم يروها عن أحمد غير حنبل ، وهو ثقة ، إلا أنه يهم أحيانا ، وقد اختلف متقدمو الأصحاب فيما تفرد به حنبل عن أحمد: هل تثبت به رواية عنه أم لا ؟

Riwayat ini sangatlah rumit dan tidak meriwayatkannya seorang pun selain Hanbal, walaupun ia tsiqah akan tetapi ia terkadang sedikit wahm. Telah berbeda pendapat para ulama terdahulu tentang tafarrud (riwayat menyendiri)-nya dari imam Ahmad,
apakah riwayatnya tsabit (kuat) atau tidak “. (Fathul Bari syrh Sahih Bukhari, Ibnu Rajab : Juz 2 halaman 368)

Bisa dicek nukilan ulama wahabi penipu ini di situs berikut :

1. http://islamport.com/w/amm/Web/2571/13893.htm
2. http://www.osalaf.com/vb/archive/index.php/t-91.html
3. http://www.startimes.com/f.aspx?t=24404600

Juga ada di salah satu kitab ulama wahabi karya Faiz Ahmad Habis salah satu dosen di Universitas Malik Abdul Aziz Jeddah.

Jawaban :

Benarkah komentar Ibnu Rajab tsb menyinggung masalah Takwil imam Ahmad bin Hanbal ??

Ternyata setelah kita cek di kitab Fathul Bari Ibnu Rajab sendiri, komentar beliau tersebut bukanlah membahas atau menyinggung tentang takwilan imam Ahmad, melainkan sedang membahas bab sholat, jika pakaiannya sempit.

Simak redaksi aslinya berikut ini :

وقال حنبل : قيل لأبي عبد الله – يعني أحمد -: الرجل يكون عليه الثوب اللطيف لا يبلغ أن يعقده ، ترى أن يتزر به ويصلي ؟ قال : لا أرى ذلك مجزئا عنه ، وإن كان الثوب لطيفاً صلَّى قاعداً وعقده مِن ورائه ، على ما فعل أصحاب النبي -صلى الله عليه وسلم- (في الثوب الواحد) . وهذه رواية مشكلة جداً ، ولم يروها عن أحمد غير حنبل ، وهو ثقة ، إلا أنه يهم أحيانا ، وقد اختلف متقدمو الأصحاب فيما تفرد به حنبل عن أحمد: هل تثبت به رواية عنه أم لا ؟
ولكن اعتمد الأصحاب على هذه الرواية ، ثم اختلفوا في معناها : فقال القاضي أبو يعلى ومن اتبعه: من وجد ما يستر به منكبيه أو عورته ولا يكفي إلا أحدهما فإنه يستر عورته ، ويصلي جالسا ؛ لأن الجلوس بدل عن القيام ، ويحصل به ستر العورة ، فيستر بالثوب اللطيف منكبيه حيث لم يكن له بدل

“ Hanbal berkata : “ Ditanyakan kepada Abu Abdillah yaitu imam Ahmad ; Seseorang memakai pakaian tipis dan tidak sampai diikatnya, apakah engkau berpendapat ia boleh memakainya dan sholat ? “ beliau menjawab : “ Aku berpendapat tidak boleh, jika pakaiannya tipis, maka ia sholat dengan cra duduk dan mengikatnya dari belakang sebagaimana dilakukan oleh para sahabat Nabi Saw (di dalam satu baju) “. Riwayat ini sangatlah rumit dan tidak meriwayatkannya seorang pun selain Hanbal, walaupun ia tsiqah akan tetapi ia terkadang sedikit wahm. Telah berbeda pendapat para ulama terdahulu tentang tafarrud (riwayat menyendiri)-nya dari imam Ahmad, apakah riwayatnya tsabit (kuat) atau tidak “.

=========================
Dalam redaksi tersebut sangatlah jelas, bahwa yang sedang dibahas bukanlah tentang penakwilan imam Ahmad pada ayat mutasyabihat akan tetapi pembahasan tentang bab sholat. Sungguh hal ini adalah penipuan nyata yang sangat buruk yang telah mereka lakukan demi mencari pembenaran.

Di samping itu, mereka selain berdusta atas nama imam Ahmad dengan cara menipu, mereka juga berusaha membuat pengkaburan fakta dengan menukil-nukil secara septong-potong agar membuat kesan bahwa periwayatan imam Hanbal tidaklah tsiqah.

Mereka tidak menukil lanjutan redaksi dalam kitab tersebut yang tertulis :

ولكن اعتمد الأصحاب على هذه الرواية ، ثم اختلفوا في معناها : فقال القاضي أبو يعلى ومن اتبعه: من وجد ما يستر به منكبيه أو عورته ولا يكفي إلا أحدهما فإنه يستر عورته ، ويصلي جالسا.

“ Akan tetapi para ulama Hanabilah memegang kuat riwayat tersebut, kemudian berbeda pendapat tentang maknanya; Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulam yang mengikutinya berkata “ Orang yang menukan pakaian yang menutup kedua pundak atau auratnya akan tetapi tidak mencukupi salah satunya, maka ia gunakan untuk menutupi auratnya saja dan sholat dengan cara duduk. ”
========================

Terlihat nyata, mereka sudah menipu pembaca dengan riwayat yang sengaja disalah tempatkan, juga mereka menipu pembaca dengan membuang lanjutan redaksi tersebut tentang pembahasan bab Sholat.

Sebuah penibuan yang nyata dan Allah-lah yang akan menghisap perbuatan kalian tersebut di hari perhitungan kelak.
Oleh sebab itu berhati-hatilah wahai saudaraku dari sekte manhaj salaf palsu ini, demi menutup-nutupi kesesatan ajaran mereka, apapun mereka lakukan walaupun berdusta atas nama ulama….
Perjuangkan terus manhaj salaf shaleh, jauhi bid’ah dholalah salafi-wahabi si manhaj salaf palsu…

By : Shofiyyah An-Nuuriyyah

 

Bukti Imam al-Baghawi (Lahir 433 H) : Kemaksuman dan Keimanan Para Nabi sebelum di Turunkan wahyu pada mereka

 

Imam al-Baghawi – Keimanan Para Nabi

 

Imam al-Baghawi atau nama penuhnyaal-Imam, al-Hafiz, al-Faqih, al-Mujtahid, Muhyis Sunnah, Ruknuddin, Abu Muhammad al-Husain bin Mas`ud bin Muhammad al-Farra’ al-Baghawi asy-Syafi`i rahimahullah adalah seorang ulama besar bermazhab Syafi`i. Beliau adalah seorang ulama yang mengabdikan dirinya untuk kitab al-Quran yang mulia dan as-Sunnah an-Nabawiyyah, dengan mempelajari, mengajar, menulis dan menyingkap perbendaharaan dan rahsia – rahsia keduanya. Yaqut al-Hamawi dalam “Mu’jam al-Buldaan” menyatakan bahawa Imam al-Baghawi dilahirkan pada tahun 433H, namun az-Zarkali dalam “al-A’lam” menyebut tahun 436H sebagai tahun kelahiran beliau.
Imam al-Baghawi mempunyai ramai guru, antaranya, al-Imam al-Qadhi Husain bin Muhammad al-Mirwazi (al-Maruzi / al-Marwazi) asy-Syafi`i, Syaikh `Abdul Wahid bin Ahmad bin Abil Qasim al-Mulaikhi al-Harawi, al-Faqih Abul Hasan ‘Ali bin Yusuf al-Juwaini, Musnid Khurasan Syaikh Abu Bakar Muhammad bin `Abdus Shamad at-Turaabi al-Mirwazi, Imam Abul Qasim `Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi dan ramai lagi, sehingga dikatakan jumlah guru- guru beliau adalah sekitar 460 orangrahimahumullahu ta`ala jami`an.
Imam al-Baghawi telah dipuji oleh ramai ulama atas ketinggian ilmu dan ketakwaan beliau. Qadhi Ibnu Syuhbah dalam “Thabaqaat asy-Syafi`iyyah” memuji beliau sebagai: “seorang yang kuat beragama, alim dan beramal dengan jalan para salaf”. Imam az-Zahabi menulis dalam “Siyar A’laam an-Nubala`”: “Adalah al-Baghawi digelar sebagai “Muhyis Sunnah (penghidup ajaran sunnah) dan “Ruknuddin (Sendi/Tiang Agama)”, beliau adalah pemimpin, Imam yang `Alim lagi `Allaamah, seorang yang zuhud serta sentiasa bersikap qana`ah”. Imam as-Sayuthi pula dalam “Thabaqaat al-Huffaz”menyatakan: “Dan telah diberkati baginya (yakni al-Baghawi) dalam karya-karya beliau kerana niatnya yang baik, sesungguhnya beliau adalah termasuk dalam kalangan ulama rabbani yang sentiasa beribadah dan mengabdikan dirinya kepada Allah dan memiliki sifat qanaah yang tinggi.” Dalam“Thabaqaat al-Mufassirin”, Imam as-Sayuthi menyebut Imam al-Baghawi sebagai: “Beliau adalah Imam dalam tafsir, Imam dalam hadits dan Imam dalam fiqh”. Imam Ibnu Katsir dalam “al-Bidayah wan Nihayah” menyatakan bahawa: “Beliau (Imam al-Baghawi) adalah orang yang paling `alim di zamannya, kuat berpegang dengan agama, seorang zahid yang warak, ahli ibadah dan seorang yang sholeh.” Qadhi Ahmad bin Muhammad al-Barmaki al-Irbili asy-Syafi`i @ Ibnu Khallikan dalam“Wafayaat al-A’yaan” menyebut Imam al-Baghawi sebagai: “al-Faqih, asy-Syafi`i (pengikut mazhab Syafi`i), al-Muhaddits, al-Mufassir, Lautan Ilmu.”
Imam al-Baghawi rahimahullah meninggalkan karya-karya bernilai dalam berbagai bidang, antaranya:-
  1. Tafsir Ma`aalim at-Tanziil;
  2. at-Tahdzib fi fiqh al-Imam asy-Syafi`e;
  3. Syarhus Sunnah;
  4. Mashaabiihus Sunnah;
  5. al-Anwaar fi Syamaail an-Nabi al-Mukhtar;
  6. al-Jam`u bayna ash-Shahihain;
  7. Majmu`ah min al-Fatawa.
Tafsir “Ma`aalim at-Tanziil” atau lebih masyhur disebut sebagai“Tafsir al-Baghawi” adalah tafsir bil ma’tsur yang amat bernilai sehingga Ibnu Taimiyyah al-Harrani pernah menyatakan bahawa:” Tafsir al-Baghawi adalah ringkasan bagi Tafsir Tsa’labi akan tetapi beliau telah menapisnya daripada hadits-hadits yang maudhu` dan pendapat – pendapat yang bid`ah.”
Imam al-Baghawi rahimahullah wafat dalam bulan Syawwal tahun 516H dan jenazah beliau disemadikan bersebelahan dengan makam guru beliau, al-Imam al-Qadhi Husain rahimahullah. Mudah-mudahan Allah sentiasa merahmati beliau dan menempatkan beliau bersama dengan para anbiya`, syuhada` dan shalihin.
Imam al-Baghawi ketika menafsir ayat ke-52 surah asy-Syura menyatakan bahawa yang dimaksudkan dengan kalimah “al-iman” dalam ayat tersebut adalah “segala syariat dan tanda keimanan“. Oleh itu, dapat difahami bahawa perkara yang tidak diketahui oleh Junjungan Nabi SAW sebelum wahyu diturunkan kepada baginda adalah mengenai hukum – hakam syariat baginda dan bukannya perkara yang menjadi akidah keimanan (`aqaaidul iman). Ayat tersebut tidak membawa maksud, yang sebelum diturunkan wahyu, baginda SAW tidak mengetahui perkara akidah keimanan dan tidak beriman kepada Allah SWT dengan akidah yang benar. Jauh sekali para nabi sekaliannya, apatah lagi Penghulunya Para Nabi, Junjungan Sayyidina Muhammad SAW daripada tidak beriman dengan segala simpulan keimanan / aqaidul iman kepada Allah SWT. Kita harus tahu membedakan antara “syariat” dan “aqidah”, jelas bahawa Imam al-Baghawi menyatakan yang tidak diketahui adalah “syara`i`ul iman’” dan bukannya “`aqaaidul iman“.Fahamilah dengan benar wahai ikhwah, agar kita tidak mencemar kehormatan para nabi secara sedar atau tanpa sedar. Sebagai penegasan mengenai keimanan para nabi ‘alaihimus sholatu was salam kepada Allah SWT dengan akidah yang benar dan jitu, walaupun sebelum mereka dilantik menjadi nabi, Imam al-Baghawi turut menyatakan bahawa:-
Para ulama usuluddin berpegang atas pandangan bahawasanya para nabi ‘alaihimus salam adalah orang – orang yang beriman sebelum wahyu diturunkan kepada mereka. Dan adalah Junjungan Nabi shallaAllahu `alaihi was salam beribadah kepada Allah, sebelum diturunkan wahyu kepada baginda, atas agama / syariat Nabi Ibrahim dan ketika itu belum lagi dijelaskan bagi baginda akan segala syariat agama baginda (yakni segala syariat Islam yang diturunkan kepada Baginda Muhammad SAW).

Allahu … Allah, malang sejuta kali malang bagi sesiapa yang tidak menahan lidahnya daripada mencemar kehormatan para nabi. Mudah-mudahan kita diselamatkan Allah daripada perbuatan tersebut.

Kitab Manaqib Syafi’i lil Baihaqi : Prilaku Ima ahmad dan ayahnya bertabaruk dengan imam syafii.. syirik menurut wahaby?

 

 

Aqidah wahabi-salafi berkonsekuensi musyriknya imam Ahmad bin Hanbal dan imam Syafi’i

Pemahamn dan Aqidah Wahabi-Salafi menyebabkan takfir (pengkafiran) kepada mayoritas para sahabat Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam dan para imam Ahlus sunnah wal Jama’ah, hampir seluruhnya tak luput dari konsekuensi takfir dari hasil buah pemikiran aqidah mereka.

Salah satu contoh prilaku para imam Ahlus sunnahyang mau tidak mau, wahabi-salafi harus memvonisnya sebagai perbuatan ghuluw dan syirik dalam ajarannya dan aqidahnya adalah sikap imam Ahmad bin Hanbal kepada gurunya yaitu imam Syafi’i. Berikut kisahnya yang ditampilkan imam Baihaqi dalam kitabnya Manaaqib Asy-Syafi’I dengan sanad yang shahih :

“ Sholeh bin Ahmad bercerita “ Suatu hari imam Syafi’I dating menjenguk ayahku yang sedang sakit, tiba-tiba ayahku meloncat menuju imam Syafi’I dan langsung mencium kening gurunya tersebut, kemudian ayahku menempatkan imam Syafi’I di tempat duduk ayahku dan ayahku duduk di hadapan beliau kemudian saling bertanta sesaat. Ketika imam Syafi’I bangkit untuk menaiki tunggaannya, maka ayahku meloncat dan memegang tunggangan imam Syafi’i lalu berjalan bersama beliau. Kisah tersebut didengar oleh imam Yahya bin Ma’in, lalu dating dan berkata kepada ayahku “ Yaa Subhanllah (ungkapan heran), sunnguh besar urusan itu sampai-sampai andai berjalan di sisi tunggan (baghlah, peranakan keledai) imam Syafi’I ?? “, maka ayahku menjawabnya “ Wahai Yahya, seandainya anda berjalan di sisi satunya dari tunggangan beliau itu, maka anda pasti akan mendapat manfaat “. Kemudian ayahku berkata “ Barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu fiqih, maka ciumlah buntut keledai tersebut “.
(Manaaqib Asy-Syafi’I : juz II halaman 253)

Komentar :

1. Dalam kisah tersebut menceritakan kisah imam Ahmad bin Hanbal yang begitu ta’dzim kepada gurunya, hingga saat beliau sakit pun ketika gurunya yaitu imam Syafi’I dating menjenguknya, sepontan beliau bangkit dan meloncat dari pembaringannyauntuk mendatangi gurunya tersebut kemudian mencium kening imam Syafi’i. Hal ini sudah pasti dalam ajaran wahab-salafi dinilai sebagai sikap ghuluw (berlebihan) dalam menghormati seorang ulama, bahkan tidak jarang mereka berteriak ghuluw kepada kaum muslimin yang merunduk mencium tangan kiyai atau ustdaznya. Bukankah yang dilakukan imam Ahmad bin Hanbal melebihi hal itu ??

Beranikah kalian wahai pengaku-ngaku pengikut manhaj salaf untuk memevonis imam Ahmad bin Hanbal telah berbuat ghuluw yang terlarang ??

2. Dalam kisah tersebut, dikisahkan bahwa imam Ahmad bin Hanbal telah berkata :

“Barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu fiqih, maka ciumlah buntut keledai tersebut “

Ungkapan itu, merupakan ungkapan fatal menurut wahabi-salafi bahkan dinilai syirik, bagaimana mungkin mencium buntut keledai dapat menjadikan seseorang mendapat ilmu fiqih ??

Maka saya tanyakan kepada kalian wahai para pengaku-ngaku pengikut manhaj salaf, beranikah kalian memvonis imam Ahmad bin Hanbal sebagai pelaku syirik dan menjadi musyrik bahkan kafir menurut akidah tauhid uluhiyyah kalian demikian juga imam Syafi’i yang mengakui perilaku imam Ahmad ??

3. Siapakah yang salah, imam Ahmad bin Hanbal dan imam Syafi’i ataukah aqidah kalian wahai pengaku-ngaku pengikut manhaj salaf ??

Lihat redaksinya dalam scan di foto postingan.

 

manaqib asyaii 253 manaqib asyaii cover

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 480 other followers