Murid-murid senior Albani mengungkap pribadi Syaikh Albani yang sebenarnya (muhadits palsu = tdk bersanad – tdk hafal qur’an dan kitab hadis – tdk ada adab)

Murid-murid senior Albani buka mulut dan mengungkap pribadi Albani yang sebenarnya

Ini adalah secuil dari kisah lautan hidup syaikh Albani, saya hadiahkan teruntuk mereka para pecinta syaikh Albani..
 
Pertikaian syaikh Mahmud Mahdi al-Istanbuuli dengan syaikh Albani.
 
Syaikh Mahmud Mahdi ini menjadi murid dan selalu bersama gurunya yaitu syaikh Albani selama empat puluh tahun. Ia dikenal seorang ahli hadits di kalangan salafi dan diakui oleh Albani sehingga dipercaya untuk mengajar anak-anaknya.
Tapi kemudian karena ada problem yang terjadi antara keduanya yaitu dalam masalah harta, maka saat itu syaikh Mahmud berlepas diri dari gurunya tersebut dan berbalik membencinya.

Mantan murid senior syaikh Albani akhirnya buka mulut dan mengungkapkan siapa Albani sebenarnya.  Simak pengakuan dan penuturan ustadz Mahmud Mahdi al-Istanbuuli dan Zuhair asy-Syaawis :
Beliau menulis sebuah risalah yang ditujukan khusus untuk gurunya berjudul : “ Kitaabun Maftuuh ila asy-Syaikh Nashir Albani min Mahmud Mahdi al-Istanbuuli “.
Di antara isi kitab tersbut adalah :
 
“ Sesungguhnya saya sudah mengetahui bahwa anda (Albani) menyimpan dendam padaku sejak saat Madrasah itu menolak putra-putramu dikarenakan penolakan biaya pada mereka, sesorang telah memberitahukan padaku hal itu, maka aku maklumi dirimu dan aku katakan padamu ; bahwsanya para pengajar wanita telah bersekutu dengan sebab peraturan-peraturan yang terakhir lalu engkau menggelengkan kepalamu karena marah dan semua tujuanmu adalah memakan hak-hak mereka, sebagaimana engkau telah memakan hak-hakku bertahun-tahun dengan mengajar putrimu tanpa terlontar rasa syukur sepatah kata pun darimu. Seandainya aku lakukan pada seekor kucing dari apa yang telah aku lakukan itu, maka niscaya kucing pun akan berterima kasih dengan caranya sendiri yang telah Allah ciptakan untuknya..”
(Kitaabun Maftuuh : 3, Syaikh Mahmud Mahdi)
Pada halaman berikutnya syaikh Mahmud berkata :
 
“ Kemudian dia (Albani) mencuri harta salafiyun (orang-orang yang mengaku pengikut salaf) yang diletekkan secara teledor bukan pada tempatnya dan tidak dikembalikan pada jama’ah sebagaimana semestinya amanat dan menyerhakan hukumnya pada ketentuan syare’at. Engkau (Albani) telah melakukan hal itu yang telah aku sebutkan dan akan aku sebutkan perihal lainnya lagi yang telah engkau lakukan.. “
(Kitaabun Maftuuh : 5, Syaikh Mahmud Mahdi)
Pada halaman berikutnya syaikh Mahmud berkata :
 
“ Sesungguhnya apa yang telah engkau lakukan di malam itu dari berucap dari ucapan yang kasar adalah disebabkan sulukmu (prilaku adab) dungu lagi menyimpang “
(Kitaabun Maftuuh : 6, Syaikh Mahmud Mahdi)
Pada halaman berikutnya syaikh Mahmud berkata :
 
“ Dan di antara paling buruknya dan paling dungunya sulukmu dan sedikitnya adabmu…”
(Kitaabun Maftuuh : 6, Syaikh Mahmud Mahdi)
Dia juga berkata :
 
“ Engkau berkata bahwa engkau menginginkan sesuap makan, apakah hal itu dicontohkan oleh para pengikut Nabi Saw?? Kenapa engkau tidak mengeluhkan urusanmu kepada saudara-saudaramju lalu mereka akan membantumu sebgaimana mereka telah membantumu atas usulanku itu wahai yang keras hatinya…afwan bukan karena untuk sesuap makanan tapi untuk memperbanyak harta “. (Kitaabun Maftuuh : 9, Syaikh Mahmud Mahdi)
Pada halaman berikutnya syaikh Mahmud berkata :
 
“ Kedelapan : Dan di antara kedunguan dan keburukan adabmu adalah penyimpangan dan sikap semena-menamu di Jami’ah (sebangsa universitas) khususnya kepada Al-Mukarram Syaikh Abdul Aziz, engkau telah mengusirnya dari Jami’ah “.
(Kitaabun Maftuuh : 12, Syaikh Mahmud Mahdi)
Tentang kitab ini (Kitaabun Maftuuh) konon isunya dicetak dan disebarkan oleh Syaikh Zuhair asy-Syawis tanpa sepengetahun syaikh Mahmud Mahdi yang juga merupakan murid senior Albani dan bergaul selama empat puluh tahun pula dengan Albani.
Syaikh Zuhair asy-Syawis sengaja menyebarkan kitab tersebut dikarenakan juga ada polemic masalah percetakan buku-buku gurunya tsb yaitu Albani, ia merasa sakit hati dengan Albani yang telah mencaci maki habis kepadanya.
Pertikaian syaikh Albani dan muridnya; Syaikh Zuhair asy-Syaawis :
Berikut sebagian caci maki Albani kepada syaikh Zuhair mantan murid Albani :
 
“ Cetakan ini adalah cetakan yang resmi, adapaun cetakan penerbit Al-Maktab Al-Islami yang baru, maka itu tidaklah resmi karena itu DICURI dari yang cetakan pertama sedangkan hak cipta milik sipengarang diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya dan mencegahnya dari orang YANG TIDAK BERTAQWA kepada Allah dan BERMAEN-MAEN dengan HAK-HAK hamba-Nya dan di dalam cetakan yang DICURI tersebut terdapat tambahan dan pengurangan. Allah Al-Musta’aan wa ilahil mustakaa (Allah tempat diminta pertolongan dan keluhan) dari kerusakan penduduk zaman sekarang “. (Di dalam hasyiah Shifah sholah Nabi; Albani : 7)
Albani juga mencacinya di halaman lainnya :
“ Kemudian Allah memberikan anugerahnya padaku dan memudahkannya untukku dari hal itu, maka aku menjadikan dari kitab Jami’ Shagir menjadi dta kitab; Sahihul Jami’ dan Dhaiful Jami’ keduanya telah dicetak. Akan tetapi kami memepringatkan pada para pembaca dari TIPU DAYA Syaawis di dalam cetakannya yang baru yang tujuannya utk dagang tentang ta’liq-taliq dan muqoddimah kedua kitab tsb, Allah Al-Musta’aan “.(Di dalam hasyiah Shifah sholah Nabi; Albani : 66)
Dia juga berkata di halaman lainnya :
“ Ketamakan yang bersifat bisnis, merubah bentuk (kitab) demi untuk cari makan, yang selalu menjulurkan lidahnya, menghalakan dusta dan tipu, sangat jauh dari ilmu dan jauh dari bidang ilmu takhrij, suka mencuri..” (Hasyiah shifah sholat Nabi; Albani)
Caci maki balasan dari syaikh Zuhair Asy-Syaawis kepada gurunya; Albani :
Zuhair kemudian mulai mencetak kitab-kitab untuk menyerang gurunya tsb di antaranyta kitab “ Fadhlul Kilaab ‘Ala man Labisa ast-Tsiyaab “ dan ia langsung menghadiahkannya kepada Albani. Zuhair dalam muqoodimah kitab tsb mengatakan :
“ Aku khususkan (kitab ini) kepada orang yang telah Allah berikan ilmu lalu ia menanggalkan ilmu tersebut (Bal’am) zaman itu dan kepada orang yang berjalan di jalannya, mengikuti jejaknya dari Bal’am-Bal’am hari ini sebagai celaan. Dan kepada sahabat iblis dan kepada orang yang tersohor dengan dusta dan tipu daya…
Dan masih banyak lagi ceaan dan caci maki Zuhair kepada gurunya tersebut yang telah berguru dengannya selama empat puluh tahun padahal di salah satu kitabnya kia pernah berkata “ Duduk satu jam bersama syaikh Albani lebih utama daripada duduk seribu kali bersama selainnya “.
 Tanggapan :
Beginikah hasil tarbiyah (pendidikan) diperoleh dari Albani bahkan selama 40 tahun bersama Albani??
Beginikah adab seorang murid kepada gurunya ?? dan begitukah adab seorang guru dengan muridnya ??
Itukah akhlak para penolong sunnah Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam ??
Begitukah akhlak Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam ??
Dan hal inui merupakan adzab Allah kepada mereka yang telah mencaci maki para wali-wali Allah Swt dalam kitab-kitab mereka seperti mencaci imam Al-Muhaddtis Al-Kautsary hingga mengrang kitab berjudul ” At-Tankiil bimaa fii ta’niibil Kautsari minal Abaathil “, berisi caci maki dan celaan kepada imam Al-Kautsari, dan hal ini juga merupakan karomah dari para wali Allah yang dicaci maki Albani sehingga Albani dan banyak dari para muridnya saling mencaci maki.
Kita memohon kepada Allah adab yang baik kepada para guru-guru kita dan kepada semua yang telah mengajarkan kita akan ilmu yang bermanfaat. Aamiin..
By : Shofiyyah An-Nuuriyyah
25-11-2012
Advertisements

Bukti wahaby (syaikh utsaimin) memanipulasi pendapat Ibnu taymiyah dan menyembunyikan fatwa maulid murid ibnu taymiyah ( ibnu katsir dan imam adzahabi)

Sungguh ia telah melakukan talbis (penipuan terhadap umat)

Peringatan maulid, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa merayakan maulid dengan dasar cinta Nabi Saw. adalah bernilai pahala. Kaum wahabi berpendapat sebaliknya. Mereka mengatakan perbuatan itu sebagai bid’ah, kurafat, dan pengkultusan yang ujung-ujungnya adalah syirik.

Ibnu Utsaimin telah kurang ajar berani memanipulasi fatwa seorang ulama besar tokoh sentral salafy Ibnu Taimiyyah, perhatikan berikut ini.
Ibnu Taimiyyah di dalam kitabnya Iqtidhoush shirotil Mustaqim juz 1 halaman : 619 mengatakan tentang Maulid Nabi Saw :

وكذلك ما يحدثه بعض الناس، إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، وتعظيمًا. والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد، لا على البدع- من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيدًا. مع اختلاف الناس في مولده. فإن هذا لم يفعله السلف، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه لو كان خيرً ا  (اقتضاء الصراط المستقيم مخالفة أصحاب الجحيم ، ج 1 ، ص  619 )1)

“Demikian pula apa yang diperbuat orang-orang, terkadang bisa saja menyerupai orangt-orang Nashroni di dalam memperingati hari lahirnya isa As, dan juga terkadang bisa juga karena rasa cinta dan pengagungan Kepada Nabi Saw dan Allah memberi pahala mereka atas kecintaan dan ijtihad ini bukan karena bid’ah berupa menjadikan mauled Nabi Saw sebagai hari raya padahal para ulama berbeda pendapat tentang hari kelahiran Nabi Saw “

Sekarang perhatikan fatwa Utsaimin dan pengkaburannya terhadap fatwa Ibnu Taimiyah dengan membuang sebagian tulisan ibnu Timiyyah dalam kitab Majmu’ Fatawanya jilid 6 halaman 200 berikut ini :

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله: “وكذلك ما يحدثه بعض الناس؛ إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم وتعظيما له… من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيدًا – مع اختلاف الناس في مولده؛ فإن هذا لم يفعله السلف مع القيام المقتضى له وعدم المانع ولو كان هذا خيرًا محضا أو راجحا؛ لكان السلف – رضي الله عنهم – أحق به منا؛

“Demikian pula apa yang diperbuat orang-orang, terkadang bisa saja menyerupai orangt-orang Nashroni di dalam memperingati hari lahirnya isa As, dan juga terkadang bisa juga karena rasa cinta dan pengagungan Kepada Nabi Saw (sampai di sini Utsaimin memotong ucapan Ibnu Taimiyah), dari menjadikan hari kelahiran Nabi Saw sebagai hari raya…”

Catatan :

Lihatlah, bagaimana Utsaimin begitu lancang berani membuang dan memotong ucapan ulama sentralnya sendiri Ibnu Taimiyah bukan hanya memotong tetapi ia juga menambahi ucapannya sendiri ke dalam ucapan Ibnu Taimiyyah seperti tertera di atas… Sungguh ia telah melakukan talbis (penipuan terhadap umat) dan berkhianat terhadap ilmu dan ulama panutannya…!

 

… 

Video berikut akan memperjelas buktinya

 

 

Terjemah narasi:

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta. Amma ba’du

Peringatan maulid Nabi Saw. itu tergolong bid’ah hasanah. Peringatan semacam ini sudah ditradisikan sejak ratusan tahun lalu. Peringatan ini merupakan kesepakatan yang dilakukan oleh raja-raja, para ulama’, masayikh. Termasuk para ahli hadits, pakar fikih, orang-orang zuhud, para ahli ibadah dan berbagai individu dari kalangan awam.

Di samping itu, peringatan ini punya dasar kuat yang diambil dengan cara istinbath seperti telah dijelaskan Imam al-Hafid Ibnu Hajar dan para ulama ahlussunnah lainnya.

Diantara bidah dan kesesatan para penentang tawassul, mereka mengharamkan maulid dengan ekstrem. Bahkan seorang tokoh mereka, Abubakar Aljazairi –semoga Allah memberinya petunjuk- menyatakan, sembelihan yang disediakan untuk suguhan maulid lebih haram dari babi. Wal iyadzu billah, semoga Allah melindungi kita dari membenci Rasulillah Saw.

Begitu antinya mereka terhadap maulid. Namun yang menarik, Ibnu Taimiyah sendiri tidak mengharamkan, bahkan dalam sebagian fatwanya dia katakan, “Jika maulid dilaksanakan dengan niat baik akan membuahkan pahala,” artinya sah-sah saja dilakukan.

Marilah kita simak kitab Iqtidha’ as-Sirath al-Mustaqim karya seorang filosof mujassim Ahmad ibn Taimiyah (meninggal tahun 728 hijriah) cet. Darul Fikr Lebanon th.1421 H. Pada hal.269 Ibnu Taimiyah berkata,

“Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah Saw..”

Jika semua ini telah jelas, maka bersama siapakah kelompok sempalan wahabi ini? Mereka tidak bersama ahlussunnah wal jamaah. Tidak pula bersama tokohnya, Ibnu Taimiyah. Sepatutnya mereka mencela diri mereka sendiri, dan bertaubat dari kesesatan mereka selama masih ada kesempatan. Cukuplah sebagai kehinaan, penilaian buruk mereka terhadap hal yang telah disepakati kaum muslimin berabad-abad di penjuru timur dan barat bumi.

Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita taufiq untuk menjelaskan hal ini. Semoga salawat dan rahmat Allah tetap tercurah atas Rasulullah Saw.. [http://www.forsansalaf.com/]

Dalil Dan Bukti Legalitas Amalan Maulid Nabi dalam Kitab Imam Ahlusunnah
1. Kitab Bidayah Wannihah (Ibnu Katsir)
ibnu katsir memuji amalan maulid khalifah sultan almuzaffar (saudara ipar shalhuddin al ayubi) yang buat maulid diseluruh negeri tiap tahunnya.

2. Imam Dhahabi (Kitab Tarikh al-Islam: wa-tabaqat al-mashahir wa-al-a`lam)
ibnu katsir dan adzahabi memuji amalan maulid khalifah sultan almuzaffar (saudara ipar shalhuddin al ayubi) yang buat maulid diseluruh negeri tiap tahunnya.

3. Kitab Al Hawi lil Fatawi (Imam Jalal al-Din al-Suyuti)
4. Husn al-Maqsad fi Amal al-Mawlid, (Imam Jalal al-Din al-Suyuti)
5. Kitab Syarah al ‘alamah Azzarqani
6. Dalil Dalil Keutamaan Maulid

Slide1 Slide2 Slide3 Slide4 Slide5 Slide6 Slide7 Slide8 Slide9 Slide10 Slide11 Slide12 Slide13 Slide14 Slide15 Slide16 Slide18 Slide19

https://salafytobat.wordpress.com

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. QS.Yunus:58.
Ibnu Abbas Ra.:
Kurnia Allah : Ilmu Islam /Syariat Islam
Rahmat Allah : Di Utusnya baginda Muhammad SAW. Sebagai Rahmat Seluruh Alam

—-senin, 12 rabiul awal : hari kelahiran nabi
Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya. عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم”Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin.
Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).

—-12 rabiul awal : Nabi tiba dimadinah dalam peristiwa hijrahj—-

Sahabat Ansor berdiri Menyambut Nabi
Sahabat memukul Rebana dan Syair:
“Thala’al badru ‘alayna – Mintsaniyatil wada’
Wajaba syukru ‘alaina — mada’a lilahi da’i

Simak di: http://www.sarkub.com/2011/ngusaimin-menyunat-fatwa-ibnu-taimiyah/#ixzz2jux2JgH7
Salam Aswaja by Tim Menyan United
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook

Syarah Kitab shahih bukhari : Khalifah Umar Bin khatab ra. Orang yang pertama kali membina kubah kuburan

maqam-al-habib-ali-bin-muhammad-al-habsyi

Siapa pertama kali yang membangun kubah di kuburan?

قَالَ مَالٍكٌ: أَوَّلُ مَنْ ضَرَبَ عَلَى قَبْرٍ فُسْطَاطًا عُمَرُ، ضَرَبَ عَلَى قَبْرِ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ زَوْجِ النَّبِىِّ، – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – (شرح ابن بطال – ج 5 / ص 346)
“Malik berkata: Orang yang pertama kali membangun kubah diatas kuburan adalah Umar. Ia membangun kubah di atas makam Zainab binti Jahsy, istri Nabi Saw” (Syarahal-Bukhari karya Ibnu Baththal, 5/346)

Padahal Sayidina Umar adalah salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga dan Amir al-Mu’minin atau Khalifah kedua. Apakah yang dilakukan Sayidina Umar adalah bid’ah yang sesat?

Simak di: http://www.sarkub.com/2013/yang-pertama-kali-membangun-kubah-di-kuburan/#ixzz2jurZmLjd
Salam Aswaja by Tim Menyan United
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook

 

Kubah Makam Para Ulama

IMAM3

Bagi Wahabi makam ulama yang tinggi-tinggi dan memiliki kubah wajid dibongkar. Namun keanehan dari Wahabi ini bertolak belakang dengan realitas sejarah umat Islam sejak masa Salaf

Kubah Makam Para Sahabat
وَأَمَّا اْلمَشَاهِدُ الْمَعْرُوْفَةُ الْيَوْمَ بِالْمَدِيْنَةِ فَمَشْهَدُ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ وَالْحَسَنِ بْنِ عَلِيّ وَمَنْ مَعَهُمَا عَلَيْهِمْ قُبَّةٌ شَامِخَةٌ قَالَ ابْنُ النَّجَارِ وَهِيَ كَبِيْرَةُ عَالِيَةُ قَدِيْمَةُ الْبِنَاءِ وَعَلَيْهَا بَابَانِ (خلاصة الوفا بأخبار دار المصطفى – ج 1 / ص 262)
“Adapun makam-makam yang terkenal saat ini di Madinah adalah makam Abbas bin Abdil Muthallib, makam Hasan bin Ali dan orang yang bersamanya. Diatas makam-makam mereka ada kubah yang tinggi. Ibnu an-Najjar berkata: Kubah itu besar, tinggi dan bangunan kuno, yang memiliki 2 pintu” (Khulashat al-Wafa 1/262)

Kubah Makam Sayidina Abbas
وَمَاتَ (الْعَبَّاسُ) سَنَةَ اثْنَتَيْنِ وَثَلاَثِيْنَ، فَصَلَّى عَلَيْهِ عُثْمَانُ. وَدُفِنَ بِالْبَقِيْعِ. وَعَلَى قَبْرِهِ الْيَوْمَ قُبَّةٌ عَظِيْمَةٌ مِنْ بِنَاءِ خُلَفَاءِ آلِ الْعَبَّاسِ. (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 2 / ص 97)
“Abbas (paman Rasulullah Saw) meninggal pada tahun 32 H. Disalati oleh Utsman, dimakamkan di Baqi’ dan diatas kuburnya ada kubah besar yang dibangun para Khalifah keluarga Abbas” (Siyar A’lam an-Nubala’ 2/97)
Syaikh al-Arnauth yang mentahqiq kitab tersebut berkata:
هَذَا كَانَ فِي عَصْرِ الْمُؤَلِّفِ أَمَّا اْلآنَ فَلَمْ يَبْقَ لَهَا أَثَرٌ.
“Kubah ini ada di masa muallif (al-Hafidz adz-Dzahabi). Sedangkan saat ini sudah tidak ada bekasnya”

Kubah Makam Sahabat Uqail
عُقَيْلُ بْنُ أَبِى طَالِبٍ الصَّحَابِى، رَضِىَ اللهُ عَنْهُ: تُوُفِّىَ فِى خِلاَفَةِ مُعَاوِيَةَ، وَقَدْ كُفَّ بَصَرُهُ، وَدُفِنَ بِالْبَقِيْعِ، وَقَبْرُهُ مَشْهُوْرٌ عَلَيْهِ قُبَّةٌ فِى أَوَّلِ الْبَقِيْعِ. (تهذيب الأسماء للحافظ النووي – ج 1 / ص 463)
“Uqail bin Abi Thalib, seorang sahabat. Wafat di masa khilafah Muawiyah, sungguh ia telah buta, dimakamkan di Baqi’, dan makamnya terkenal, diatasnya ada kubahnya di awal Baqi’” (Tahdzib al-Asma’ 1/463)

Kubah Makam Ibrahim Putra Rasulullah
وَدُفِنَ (اِبْرَاهِيْمُ) بِالْبَقِيْعِ، وَقَبْرُهُ مَشْهُوْرٌ عَلَيْهِ قُبَّةٌ (تهذيب الأسماء للحافظ النووي – ج 1 / ص 130)
“Ibrahim dimakamkan di Baqi’, makamnya terkenal, diatasnya ada kubahnya” (Tahdzib al-Asma’ 1/130)

Kubah Makam Zubair bin Awwam
حَوَادِثُ سَنَةَ سِتٍّ وَثَمَانِيْنَ وَثَلاَثِمِائَةٍ. فِي الْمُحَرَّمِ ادَّعَى أَهْلُ الْبَصْرَةِ أَنَّهُمْ كُشِفُوْا عَنْ قَبْرٍ عَتِيْقٍ، فَوَجَدُوْا فِيْهِ مَيِّتاً طَرِياً بِشَابِهِ وَسَيْفِهِ، وَأَنَّهُ الزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ، فَأَخْرَجُوْهُ وَكَفَّنُوْهُ وَدَفَنُوْهُ بِالْمَرْبَدِ، وَبَنَوْا عَلَيْهِ، وَعُمِلَ لَهُ مَسْجِدٌ، وَنُقِلَتْ إِلَيْهِ الْقَنَادِيْلُ وَالْبُسُطُ وَالْقُوَّامٌ وَالْحَفَظَةُ. قَامَ بِذَلِكَ اْلأَمِيْرُ أَبُوْ الْمِسْكِ. فَاللهُ أَعْلَمُ مِنْ ذَاكَ الْمَيِّتِ. (تاريخ الإسلام للحافظ الذهبي – ج 6 / ص 303)
“Kejadian-kejadian tahun 386 H. Di bulan Muharram, penduduk Bashrah mengaku bahwa mereka menemukan makam tua yang terbuka. Mereka mendapati janazah yang masih segar bugar dan pedangnya. Menurut mereka ia adalah Zubair bin Awwam. Lalu mereka mengeluarkannya, mengkafaninya, membangun makamnya, dibuatkan masjid, diberi lampu, tikar, perawat dan penjaga. Pendirinya adalah al-Amir Abu al-Misk. Allah yang mengetahui mayit tersebut” (Tarikh al-Islam 6/303)

Kubah Makam Imam Abu Hanifah
تُوُفِّيَ (اَبُوْ حَنِيْفَةَ) شَهِيْدًا مَسْقِيًّا فِي سَنَةِ خَمْسِيْنَ وَمِئَةٍ. وَلَهُ سَبْعُوْنَ سَنَةً، وَعَلَيْهِ قُبَّةٌ عَظِيْمَةٌ وَمَشْهَدٌ فَاخِرٌ بِبَغْدَادَ، وَاللهُ أَعْلَمُ. (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 6 / ص 403)
“Abu Hanifah wafat sebagai syahid pada 150 H, usianya 70 tahun dan diatas makamnya ada kubah besar dan makam yang megah di Baghdad” (Siyar A’lam an-Nubala’ 6/403)
Di bagian lain al-Hafidz adz-Dzahabai berkata:
وَبَنَوْا عَلَى قَبْرِ أَبِي حَنِيْفَةَ قُبَّةً عَظِيْمَةًً (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 18 / ص 314)
“Mereka membangun kubah besar di atas makam Abu Hanifah” (Siyar A’lam an-Nubala’ 18/314)
al-Hafidz Ibnu Katsir berkata:
سَنَةَ تِسْعٍ وَخَمْسِيْنَ وَأَرْبَعِمِاَئةٍ فِيْهَا بَنَى أَبُوْ سَعِيْدِ الْمُسْتَوْفِى الْمُلَقَّبُ بِشَرَفِ الْمَلِكِ مَشْهَدَ اْلإِمَامِ أَبِي حَنِيْفَةَ بِبَغْدَادَ وَعَقَدَ عَلَيْهِ قُبَّةً وَعَمِلَ بِإِزَائِهِ مَدْرَسَةً (البداية والنهاية للحافظ ابن كثير – ج 12 / ص 95)
“Pada tahun 459, Abu Said al-Mustahfa yang dibelari dengan Syaraf al-Malik membangun makam Abu Hanifah di Baghdad. Ia membuatkan kubah dan madrasah di dekanya” (al-Bidayah wa an-Nihayah 12/95)

Kubah Makam Qadli Iyadl
وَبُنِىَ عَلَيْهِ (الْقَاضِي عِيَاضٍ) قُبَّةٌ عَظِيْمَةٌ ذَاتَ أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ، وَأَلْزَمَ الْفُقَهَاءُ بِالتَّرَدُّدِ إِلَى هُنَاكَ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ لِيَشْتَهِرَ الْقَبْرُ. قَالَ لِي أَبُوْ عَمْرٍو: أَنَا جِئْتُ إِلَى الْقُبَّةِ الْمَذْكُوْرَةِ، وَدَعَوْتُ اللهَ تَعَالَى، فَاسْتَجَابَ لِي. وَاللهُ أَعْلَمُ. (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 20 / ص 217)
“Dan makam Qadli Iyadl dibangunkan kubah besar persegi empat. Para ulama fikih bolak-balik berdatangan kesana untuk membaca al-Quran, untuk mempopulerkan makam. Abu Amr berkata kepada saya; Saya mendatangi kubah makam tersebut dan saya berdoa kepada Allah, lalu Allah mengabulkan untuk saya. Wallahu A’lam” (Siyar A’lam an-Nubala’ 20/217)

Kubah Makam Syaikh al-Karmani
وَمَاتَ رَاجِعاً مِنْ مَكَّةَ فِي سَادِسَ عَشَرَ الْمُحَرَّمِ بِمَنْزِلَةٍ تُعْرَفُ بِرَوْضٍ مِنْهَا، وَنُقِلَ إِلَى بَغْدَادَ فَدُفِنَ بِهَا، وَكَانَ أَعَدَّ لِنَفْسِهِ قَبْراً بِجِوَارِ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ الشَّيْرَازِي وَبُنِيَتْ عَلَيْهِ قُبَّةٌ (إنباء الغمر بأبناء العمر للحافظ ابن حجر – ج 1 / ص 112)
“Syaikh Muhammad bin Yususf al-Karmani (lahir 717 H). Ia wafat ketika kembali dari Makkah pada 16 Muharram di sebuat tempat yang dikenal dengan sebah taman, kemudian dipindah ke Baghdad dan dimakamkan disana. Ia telah menyiapkan makam untuk dirinya sendiri di dekat Abu Ishaq asy-Syairazi, dan dibangunkan sebuah kubah” (Iba’ al-Ghumr fi Abna’ al-Umr 1/112)

Kubah Makam Imam Syafii
وَقَالَ الْمُنْذِرِي: أَنْشَأَ الْكَامِلُ دَارَ الْحَدِيْثِ بِالْقَاهِرَةِ، وَعَمَّرَ قُبَّةً عَلَى ضَرِيْحِ الشَّافِعِي (سير أعلام النبلاء للحافظ الذهبي – ج 22 / ص 127)
“al-Kamil (seorang raja besar penguasa Mesir dan Syam tahun 576 H) tumbuh di Dar al-Hadis di Mesir. Ia membangun kubah makam asy-Syafii” (Siyar A’lam an-Nubala’2 2/127)

Kubah Makam Imam Syafii Wajib Dibongkar?
وَأَفْتَى جَمْعٌ شَافِعِيُّوْنَ بِوُجُوْبِ هَدْمِ كُلِّ بِنَاءٍ بِالْقَرَافَةِ حَتَّى قُبَّةِ إِمَامِنَا الشَّافِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الَّتِي بَنَاهَا بَعْضُ الْمُلُوْكِ (فيض القدير – ج 6 / ص 402)
“Sekelompok ulama Syafiiyah berfatwa dengan wajibnya merobohkan setiap bangunan di Qarafah, hingga kubahnya imam kita, asy-Syafii radliallahu anhu, yang dibangun oleh sebagian raja” (Faidl al-Qadir 6/402)
Mengapa kubah makam Imam Syafii mau dibongkar? Apakah khawatir syirik? Bukan karena itu, namun karena tanah Qarafah di Mesir adalah tanah wakaf dari Sayidina Umar:
وَقَالَ فِي الْمَدْخَلِ فِي فَصْلِ زِيَارَةِ الْقُبُورِ : الْبِنَاءُ فِي الْقُبُورِ غَيْرُ مَنْهِيٍّ عَنْهُ إذَا كَانَ فِي مِلْكِ الْإِنْسَانِ لِنَفْسِهِ وَأَمَّا إذَا كَانَتْ مُرْصَدَةً فَلَا يَحِلُّ الْبِنَاءُ فِيهَا ، ثُمَّ ذَكَرَ أَنَّ سَيِّدَنَا عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَعَلَ الْقَرَافَةَ بِمِصْرَ لِدَفْنِ مَوْتَى الْمُسْلِمِينَ وَاسْتَقَرَّ الْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ وَأَنَّ الْبِنَاءَ بِهَا مَمْنُوعٌ (مواهب الجليل في شرح مختصر الشيخ خليل – ج 5 / ص 468)
Akan tetapi makam Imam Syafii terletak di rumah murid beliau, bukan di area tanah wakaf:
وَقَدْ أَفْتَى الْعِزُّ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ بِهَدْمِ مَا فِي الْقَرَافَةِ ، وَيُسْتَثْنَى قُبَّةُ الْإِمَامِ لِكَوْنِهَا فِي دَارِ ابْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ ا هـ (حاشية البجيرمي على الخطيب – ج 6 / ص 156)
Dan sungguh Izzuddin bin Abdissalam berfatwa untuk merobohkan kubah makam yang ada di Qarafa. Kecuali kubahnya Imam asy-Syafii sebab kubah tersebut berada di rumah Ibnu Abdil Hakam” (Hasyiah Bujairimi ala al-Khathib 6/156)

Makam Ulama Yang Memiliki Kubah Tak Terhitung Jumlahnya
Apa yang saya tulis disini hanya sebagian kecil dari kitab-kitab Tarikh, belum mencantumkan kitab-kitab lain seperti an-Nur as-Safir karya Syaikh al-Aidrus, Simth an-Nujum karya Syaikh al-‘Ishami, Khulashat al-Atsar karya Syaikh al-Muhibbi, al-Kawakib as-Sairah karya Syaikh Najmuddin al-Ghazi, Mir’at al-Jinan karya Syaikh al-Yafi’i, Bughyat ath-Thalab fi Tarikhi Halb karya Syaikh Ibnu al-Adim, dan sebaginya.

 

(Oleh: Ust. Ma’ruf Khozin)

Simak di: http://www.sarkub.com/2013/kubah-makam-para-ulama/#ixzz2k0wXO1Qa
Salam Aswaja by Tim Menyan United
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook

Maulid nabi : Amalan sejalan dengan perintah Allah dan sunnah Nabi

 

 

 

Assalamu’alaikum wr wb.

Ustadz Muhammad Idrus Ramli yang kami hormati. Setiap bulan Rabiul Awal, umat Islam di berbagai belahan dunia, khususnya umat Islam Indonesia, merayakan hari kelahiran Nabi saw yang diisi dengan aneka ragam kebajikan dan sedekah. Pada saat yang sama, ada juga sebagian kecil umat Islam, setiap bulan Rabiul Awal tiba, menyebarkan isu bahwa merayakan maulid Nabi saw hukumnya bid’ah tercela, haram dan dilarang agama, karena Nabi saw tidak pernah merayakan hari kelahirannya, dan tidak ada hadits shahih yang secara tegas menganjurkan umat Islam agar merayakan Maulid Nabi saw. Ustadz yang kami hormati, bagaimana sebenarnya hukum merayakan Maulid Nabi saw menurut para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah? Terima kasih atas jawabannya. Wassalam.

Wa’alaikumussalam wr wb.

Saudara penanya –semoga dimuliakan Allah-. Pernyataan sebagian kelompok kecil bahwa merayakan hari kelahiran Nabi saw adalah bid’ah tercela dan haram, dengan alasan Nabi saw tidak pernah melakukan dan tidak ada hadits shahih yang menganjurkan, adalah keliru dan tidak benar berdasarkan alasan-alasan berikut ini:

Pertama, merayakan Maulid Nabi saw, bukan termasuk bid’ah tercela dan haram, bahkan termasuk bid’ah hasanah dan dianjurkan dalam agama, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama dari berbagai madzhab dan kalangan, termasuk para ulama ahli hadits. Al-Imam al-Hafizh Abu Syamah al-Maqdisi, guru al-Imam al-Nawawi, berkata dalam kitabnyaal-‘Baits fi Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits sebagai berikut:

أَفْضَلُ ذِكْرَى فِيْ أَيَّامِنَا هِيَ ذِكْرَى الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ. فَفِيْ هَذَا الْيَوْمِ يُكْثِرُ النَّاسُ مِنَ الصَّدَقَاتِ وَيَزِيْدُوْنِ فِي الْعِبَادَاتِ وَيُبْدُوْنَ كَثِيْراً مِنَ الْمَحَبَّةِ لِلنَّبِيِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَحْمَدُوْنَ اللهَ تَعَالىَ كَثِيْراً بِأَنْ أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ رَسُوْلَهُ لِيَحْفَظَهُمْ عَلىَ سُنَّةِ وَشَرِيْعَةِ اْلإِسْلاَمِ.

“Peringatan paling utama pada masa sekarang adalah peringatan Maulid Nabi saw. Pada hari tersebut, manusia memperbanyak mengeluarkan sedekah, meningkatkan aktifitas ibadah, mengekspresikan kecintaan kepada Nabi saw secara maksimal, memuji Allah Subhanahu wata’ala dengan lebih meriah karena telah mengutus Rasul-Nya kepada mereka untuk menjaga mereka di atas Sunnah dan Syariat Islam.”

Demikian pernyataan Al-Imam Abu Syamah dalam kitabnya al-Ba’its fi Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits. Kitab ini sangat dikagumi oleh kaum Salafi-Wahabi yang anti Maulid, karena pandangannya dalam persoalan bid’ah.

Kedua, seandainya Nabi saw memang tidak pernah merayakan hari kelahirannya, dan tidak ada hadits shahih yang secara tekstual menganjurkan merayakan Maulid, maka hal ini tidak serta merta menjadi alasan untuk mengharamkan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menganggapnya sebagai bid’ah yang tercela. Dalam hal ini masih harus melihat dalil-dalil agama yang lain, seperti Qiyas, Ijma’ dan pemahaman secara kontekstual terhadap dalil-dalil syar’i. Oleh karena itu, meskipun telah dimaklumi bahwa Nabi saw tidak pernah merayakan Maulid dan tidak ada hadits shahih yang secara tekstual menganjurkan Maulid,  para ulama fuqaha dan ahli hadits dari berbagai madzhab tetap menganggap baik dan menganjurkan perayaan Maulid Nabi saw, berdasarkan pemahaman secara kontekstual (istinbath/ijtihad) terhadap dalil-dalil al-Qur’an dan hadits.

Ketiga,  di antara ayat al-Qur’an yang menjadi dasar perayaan Maulid adalah ayat berikut:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (107)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya’ : 107).

Dalam hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan bahwa dirinya merupakan rahmat Allah yang dipersembahkan kepada umat Islam. (HR. al-Hakim, dalam al-Mustadrak 1/83). Ayat al-Qur’an dan hadits di atas, merupakan penegasan bahwa Rasulullah saw adalah rahmat bagi semesta alam. Sementara dalam ayat yang lain, Allah juga memerintahkan untuk bergembira dengan rahmat tersebut. Allah subhanahu wata’ala  berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا (58)

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus : 58).

Ayat di atas memerintahkan kita agar bergembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya yang diberikan kepada kita. Sahabat Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat tersebut berkata: “Karunia Allah adalah ilmu agama, sedangkan rahmat-Nya adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Al-Hafizh al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur 7/668). Dari sini dapatlah disimpulkan, bahwa merayakan hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pengejawantahan dari ayat dan hadits di atas yang memerintahkan kita bergembira dengan rahmat Allah.

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman tentang Nabi Isa AS:

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (114)

“Isa putra Maryam berdoa: “Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama”. (QS. al-Maidah : 114).

Dalam ayat di atas, Allah SWT menegaskan bahwa turunnya hidangan dari langit yang dimohonkan oleh Nabi Isa ‘Alaihissalam, layak dijadikan hari raya bagi para pengikut Isa AS. Sudah barang tentu, lahirnya Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam, lebih utama dari pada turunnya hidangan dari langit tersebut. Apabila turunnya hidangan dari langit tersebut layak menjadi hari raya bagi pengikut Nabi Isa ‘alaihissalam, tentu saja lahirnya Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam lebih layak lagi menjadi hari raya bagi umatnya yang dirayakan dalam setiap tahun. Pemahaman kontenkstual semacam ini, dalam ilmu ushul fiqih disebut dengan Qiyas Aula.

Keempat,  selain didasarkan kepada dua ayat di atas, perayaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, juga didasarkan pada hadits-hadits shahih. Antara lain hadits berikut ini:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah, kaum Yahudi sedang berpuasa Asyura. Rasulullah saw bertanya: “Hari apa kalian berpuasa ini?” Mereka menjawab: “Ini hari agung, Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, lalu Musa berpuasa karena bersyukur kepada Allah, maka kami juga berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Kami lebih berhak mensyukuri Musa dari pada kalian.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa dan memerintahkan umatnya berpuasa.” (HR. Muslim).

Dalam hadits shahih di atas, selamatnya Nabi Musa ‘alaihissalam dari kejaran Raja Fir’aun, serta tenggalamnya Fir’aun dan kaumnya, telah dijadikan momentum oleh Nabi Musa ‘alaihissalam dan kaumnya untuk dirayakan setiap tahun dengan cara berpuasa. Lalu Nabi saw membenarkan puasa tersebut, dan bahkan beliau melakukan dan memerintahkan umat Islam agar berpuasa pada hari Asyura setiap tahun. Sudah barang tentu, lahirnya Nabi saw lebih utama untuk dijadikan momentum sebagai hari raya, dalam setiap tahun, karena derajat beliau yang lebih mulia dan lebih utama dari pada nabi-nabi yang lain termasuk Nabi Musa ‘alaihissalam. Dalam hal ini, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata:

“فَيُسْتَفَادُ مِنْهُ فِعْلُ الشُّكْرِ للهِ عَلىَ مَا مَنَّ بِهِ فِيْ يَوْمٍ مُعَيَّنٍ مِنْ إِسْدَاءِ نِعْمَةٍ، أَوْ دَفْعِ نِقْمَةٍ، وَيُعَادُ ذَلِكَ فِيْ نَظِيْرِ ذَلِكَ الْيَوْمِ مِنْ كُلَّ سَنَةٍ، وَالشُّكْرُ يَحْصُلُ بِأَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ وَأَيُّ نِعْمَةٍ أَعْظَمُ مِنَ النِّعْمَةِ بِبُرُوْزِ هَذاَ النَّبِيِّ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ”.

“Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan tentang perbuatan bersyukur kepada Allah karena karunianya pada hari tertentu berupa datangnya kenikmatan atau tertolaknya malapetaka, dan perbuatan syukur tersebut diulangi pada hari yang sama dalam setiap tahunnya. Bersyukur dapat terlaksana dengan beragam ibadah… Kenikmatan apa yang kiranya lebih agung dari pada kenikmatan dengan lahirnya Nabi pembawa rahmat shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Pemahaman kontekstual semacam ini, dalam ilmu ushul fiqih, disebut dengan Qiyas Aula, dimana hukum yang dianalogikan lebih kuat dari pada hukum asal yang menjadi patokan analogi. Syaikh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya (jua 21 hal. 207), menganggap bahwa hukum yang disimpulkan dari pemahaman kontekstual (mafhum) melaluiQiyas Aula, lebih kuat dari pada hukum yang diambil pemahaman tekstualnya (manthuq). Menurutnya, penolakan terhadap hukum yang dihasilkan melalui Qiyas Aula, termasuk bid’ah kaum literalis (zhahiriyah) yang tercela.

Kesimpulan.

Dari paparan di atas dapatlah disimpulkan, bahwa perayaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk bid’ah hasanah yang dianjurkan dalam agama berdasarka ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih. Sedangkan pendapat sebagian kalangan, yang menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, termasuk bid’ah tercela dan haram, adalah keliru dan memandang persoalan dari perspektif yang sempit dan terbatas. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata:

“Mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai tradisi, pahalanya agung, karena tujuannya baik dan mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Ibnu Taimiyah, Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, hal. 621).

Wallahu a’lam.

 

Dalil Dan Bukti Legalitas Amalan Maulid Nabi dalam Kitab Imam Ahlusunnah
1. Kitab Bidayah Wannihah (Ibnu Katsir)
ibnu katsir memuji amalan maulid khalifah sultan almuzaffar (saudara ipar shalhuddin al ayubi) yang buat maulid diseluruh negeri tiap tahunnya.

2. Imam Dhahabi (Kitab Tarikh al-Islam: wa-tabaqat al-mashahir wa-al-a`lam)
ibnu katsir dan adzahabi memuji amalan maulid khalifah sultan almuzaffar (saudara ipar shalhuddin al ayubi) yang buat maulid diseluruh negeri tiap tahunnya.

3. Kitab Al Hawi lil Fatawi (Imam Jalal al-Din al-Suyuti)
4. Husn al-Maqsad fi Amal al-Mawlid, (Imam Jalal al-Din al-Suyuti)
5. Kitab Syarah al ‘alamah Azzarqani
6. Dalil Dalil Keutamaan Maulid

https://salafytobat.wordpress.com

JIHAD SEKSUAL ALA WAHABI JIHADI ANTEK DAJJAL : Ditipu di Suriah- Sejumlah Wanita Tunisia Pulang Dalam Kondisi Hamil

JIHAD SEKSUAL ALA WAHABI JIHADI ANTEK DAJJAL

ini bukan mujahid wanita tapi mujahil wanita…wahaby jihady koplak lebih parah dr syii

Ditipu di Suriah, Sejumlah Wanita Tunisia Pulang Dalam Kondisi Hamil

Tunis – Menteri Dalam Negeri Tunisia menyebut adanya sejumlah wanita Tunisia yang menjalani misi jihad ke Suriah. Namun usai melakukan jihad ini, para wanita Tunisia tersebut pulang dalam keadaan hamil.

Menteri Dalam Negeri Tunisia, Lofti Bin Jeddo menuturkan adanya jaringan kriminal yang menipu para wanita ini dengan dalih menjalani jihad di Suriah. Sebanyak 86 orang yang terlibat dalam jaringan ini telah ditangkap.

“Wanita-wanita tersebut berganti-ganti antara 20, 30, dan 100 pemberontak dan mereka kembali menanggung buah hubungan seksual dalam nama jihad seksual dan kami hanya bisa diam tanpa melakukan apapun dan tetap diam,” ujar Lofti Bin Jeddo saat berbicara di hadapan Dewan Konstituen Nasional seperti dilansir Al Arabiya, Jumat (20/9/2013).

Menurut Bin Jeddo, kementeriannya melarang sekitar 6.000 warga Tunisia untuk bepergian ke Suriah sejak Maret 2013 lalu. Hal ini sebagai upaya antisipasi atas aktivitas jaringan khusus yang mengirimkan wanita muda Tunisia ke Suriah dengan dalih menjalani jihad.

Pernyataan Bin Jeddo ini sekaligus menjawab kritikan yang dilontarkan sejumlah kelompok aktivis HAM yang memprotes larangan bepergian ke Suriah. Menurut Bin Jeddo, larangan bepergian tersebut kebanyakan diberlakukan bagi mereka yang berusia di bawah 35 tahun.

“Kaum muda kita ditempatkan di garis depan dan diajari bagaimana untuk mencuri dan menjarah desa (di Suriah),” ucapnya.

Secara terpisah, mantan Ulama Besar Tunisia Sheikh Othman Battikh pernah mengatakan bahwa ada 13 gadis asal Tunisia yang ditipu dan dibodohi dengan diajak pergi ke Suriah. Di sana, gadis-gadis tersebut dipaksa melayani nafsu seksual para pemberontak yang melawan rezim Presiden Bashar al-Assad.

Menurut Battikh, aktivitas yang disebut jihad seksual tersebut tidak ada bedanya dengan aktivitas prostitusi. “Untuk jihad di Suriah, mereka memaksa gadis-gadis muda ke sana. Sebanyak 13 gadis muda dikirimkan untuk menjalani jihad seksual. Apa-apaan ini? Ini namanya prostitusi. Ini jelas-jelas merupakan korupsi moral,” tegasnya kepada wartawan setempat.

Pada Agustus lalu, kepala dinas layanan keamanan publik setempat, Mostafa Bin Omar menyatakan adanya pembongkaran markas jaringan jihad seksual tersebut. Jaringan ini bersembunyi di wilayah-wilayah yang ditempati anggota militan Al-Qaeda. Menurut Bin Omar, jaringan ini menggunakan gadis di bawah umur yang mengenakan pakaian menutup tubuh hingga ke wajah untuk melayani para pelaku jihad setempat.

http://news.detik.com/read/2013/09/20/151932/2364829/1148/ditipu-di-suriah-sejumlah-wanita-tunisia-pulang-dalam-kondisi-hamil?

JIHAD SEKS HEBOHKAN TUNISIA

  • Email
Category: Dunia
Published on Tuesday, 09 April 2013 07:09
Hits: 1231

Beberapa waktu yang lalu jagad maya dibuat geger dengan pemberitaan  tentang fatwa  “jihad seks” untuk para anggota pemberontak Suriah. Akibat beredarnya fatwa tersebut, diberitakan oleh Daily Mail pada Jumat (5/4) sebanyak 13 perempuan Tunisia baru-baru ini  pergi ke wilayah utara Suriah (kawasan yang dikuasai kelompok pemberontak) untuk menyediakan diri mereka sebagai pemuas seks para tentara pemberontak tersebut.

 

Pemerintah Tunisia sendiri merespon isu fatwa tersebut secara keras. Lewat Menteri urusan Agama-nya, Noureddine al-Khadimi, pemerintah Tunisia menyerukan kepada kaum perempuan di negara tersebut  supaya tidak  mengindahkan seruan yang kata mereka dibuat oleh ulama dari luar Tunisia.

“Kami menolak fatwa jihad seksual itu dan meminta kepada rakyat Tunisia supaya tidak merespon itu,”katanya.

Respon keras pemerintah Tunisia itu dianggap wajar, mengingat banyak warga negara negara itu yang menuruti fatwa tersebut. Media Tunisia bahkan pernah menngisahkan tentang seorang lelaki Tunisia yang menceraikan istrinya hanya supaya sang istri bisa ikut pergi “berjihad” ke Suriah bersamanya. Jika sang suami melakukan jihad bersenjata maka sang istri diakuinya akan berjihad lewat seks.

Dari mana munculnya “fatwa biru” tersebut?  Media-media Tunisia dan media sosial negara tersebut menyebut  nama Syekh Muhammad al-Arifi sebagai ulama yang mengeluarkan fatwa itu. Namun, tuduhan itu  dibantah keras oleh  sumber terdekat Syekh Muhammad al-Arifi. Mereka menyatakan fatwa itu bersifat liar dan  bisa dikeluarkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab.(hj/Islam Indonesia/dm) foto:istimewa

http://islamindonesia.co.id/index.php/hot-news/dunia/1055-jihad-seks-hebohkan-tunisia

Ulama Afganistan Belajar Pancasila (piagam jakarta) yang mirip PIAGAM MADINAH ZAMAN NABI

Ulama Afganistan Belajar Pancasila

ulama afganistan belajar pancasila / piagam jakaarta yg mirip dgn negara kesatuan madinah [piagam madinah: dimana disepakai oelh wakil islam (nabi muhammad), wakil yahudi, wakil nasRAni, daan agama nenek moyang (wakil suku2 di madinah sebelum mereka islam) dulu]
Di Upload : Kamis, 19 September 2013 — Gusti
Kategori :

Ulama Afganistan Belajar Pancasila

Ulama Afganistan Belajar Pancasila

YOGYAKARTA – Sebanyak 12 ulama terkemuka dari 12 provinsi di Afganistan berkunjung ke Kampus UGM untuk mempelajari Pancasila secara lebih mendalam. Kedatangan mereka yang dipimpin dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini berdiskusi dengan para pakar UGM untuk mengetahui lebih jauh perkembangan kehidupan toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Rektor UGM Prof. Dr. Pratikno, M.Soc., Sc mengatakan kunjungan delegasi dari Afganistan ini memang sengaja untuk mempelajari Pancasila dan kehidupan multikultural masyarakat Indonesia yang bisa hidup rukun dan damai. “Sebagai negara penduduk muslim terbesar, masyarakat muslim Indonesia bisa berdampingan dengan non muslim. Bahkan Borobudur dan Prambanan adalah  peninggalan agama Budha dan Hindu di sini,” kata Pratikno saat menerima kunjungan delegasi Afganistan di ruang multimedia, Kamis (19/9).

Seraya menerangkan keberadaan UGM sebagai kampus yang menampung anak-anak muda dari berbagai agama, suku, dan budaya, memiliki mandat untuk mengembangkan pengetahuan dan teknologi untuk kemajuan bangsa. Lebih dari itu, UGM juga diberi mandat menjaga kebudayaan, toleransi dan multikultural. “Karena itu di sini ada Pusat Studi Pancasila, Program Studi Lintas Agama dan Budaya, dan Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian,” katanya.

Peneliti Senior Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, Prof. Dr. Sutaryo, mengatakan Indonesia dan Afganistan sama-sama memiliki mayoritas penduduk muslim. Bedanya, Indonesia memiliki lebih dari 8000 jenis ragam budaya dan 5000 bahasa yang dapat dipersatukan lewat Pancasila. “Di Afganistan, bukan perkara agama, tapi kondisi politik dan sosial yang membuat mereka terbelah,” imbuhnya.

Dr. Fazal Gahani, salah seorang ketua tim delegasi afganistan mengatakan kondisi Afganistan saat ini tidak seperti yang diberitakan oleh media asing yang menyebutkan di Afganistan masih adanya perang, bom bunuh diri dan konflik antar kelompok bertikai. Padahal menurutnya setiap ulama di Afganistan dalam setiap ceramahnya selalu menyampaikan pesan pentingnya menjaga perdamaian. “Sesama ulama kita selalu mengajak semua ulama bersatu dan memberi pengertian agat rakyat juga ikut bersatu,” ujarnya.

Dia menambahkan, mayoritas  rakyat Afganistan cinta damai, namun masuknya negara asing yang menjadikan konflik antar kolompok di Afganistan tidak pernah usai. Bahkan negara luar tersebut berkompetisi memperebutkan sumber ladang minyak dan gas bumi. “Banyak tambang minyak dan gas bumi yang belum dieksplorasi karena masalah keamanan,” imbuhya.

Selain mengajak ormas islam dan akademisi UGM ikut berkontribusi merealisasikan perdamaian di Afganistan, ia juga berharap UGM juga membantu pendidikan di Afganistan. Pasalnya negara ini masih kekurangan tenaga pengajar. “Kami masih kekurangan dosen dan guru, saya kira Indoneia bisa bantu dosen dan guru belajar di sini,” harapnya.

Hal senada juga disampaikan Shafiullah sahfi, ulama dari propinsi Nooristan yang berharap ormas Islam segera bergerak membantu perdamaian di negaranya. “Tahun 2014 tentara asing akan keluar dari Afganistan. Banyak rakyat yang senang, tapi ada juga khawatir jika tentara asing keluar, Afganistan jadi tidak aman,” katanya.

Wakil Sekjen PBNU, Abdul Munim, mengatakan 12 ulama dari Afganistan ini sengaja didatangkan ke Indonesia untuk mengetahui lebih jauh tentang Pancasila yang diyakini sebagai pemersatu kehidupan masyarakat Indonesia yang terkenal majemuk. “Mereka tahu Indonesia bisa rukum karena Pancasila. Mereka ingin belajar, karena mereka yang hanya punya satu agama saja tidak bisa rukun dan saling bertengkar,” kata Munim ditemui disela-sela memimpin kunjungan rombongan ulama Afganistan.

Selain berkunjung ke UGM, kata Munim, rombongan ulama Afganistan ini juga berkunjung ke lokasi pesantren di Surabaya dan Yogyakarta serta bertemu tokoh agama.  (Humas UGM/Gusti Grehenson)

http://ugm.ac.id/id/berita/8233-ulama.afganistan.belajar.pancasila

tarjamah teks lengkaP PIAGAM MADINAH :

https://salafytobat.wordpress.com/2013/01/14/tarjamah-teks-piagam-madinah-rukun-negara-zaman-rasulullah-di-madinah-tiap-negara-ada-rukun-negara-indonesia-panca-sila-piagam-jakarta/

astaghfirullah… khawarij wahaby jabhah nusrah (alqaeda iraq) perintahkan bantai sufi sunni di syira

alqaida bukan mujahidin tapi binatang yg berbahasa arab
Gawat, Salafi Suriah Perintahkan Bantai Sufi
dituduh semua sufi berpaham wihadatul wujud oleh mujasimmah wahabi (yg tuhannya bersarang dilangit)
===================
syiria alqaeda bantai sufi
Aleppo—Di tengah semakin memanaskan kondisi perang di Suriah, tersebar surat perintah pembantaian kaum sufi di Aleppo. Kaum sufi dihalalkan darahnya karena telah dianggap kafir oleh kalangan salafi. Berikut scan surat edaran tersebut beserta terjemahannya.

Panggilan Syariat di Aleppo
Bismillahirrahmanirrahim
Himbauan Umum Nomor (13)
Setiap orang yang terbukti berafiliasi kepada tarekat penyembah kuburan yang mengaku-ngaku Ahlusunnah wal Jamaah, seperti Tarekat Sufi Qadiriyah, Rifa’iyah, Mulawiyah, dan Naqsyabandiyah, maka akan diterapkan hukum Allah atasnya, yaitu halal darah, harta, dan kehormatannya.
Keyakinan para sufi itu telah sampai batas hingga menyamakan Allah dengan segala makhluk. Akhirnya ibadah dan ketaatan yang khusus untuk Allah, mereka jadikan sebagai hak untuk seluruh makluk, karena mereka menjadi Allah sebagai eksistensi dari makhluk itu sendiri.
Ini merupakan bentuk kekufuran dan pengingkaran yang sangat besar terhadap Allah Ta’ala. Bahkan kekufuran mereka sudah sampai tingkat mereka tidak menganggap bahwa diri mereka adalah hamba Allah. Mereka menganggap diri mereka adalah Allah itu sendiri. Hal ini sebagaimana secara terang-terangan dikatakan oleh thaghut mereka seperti Ibnu Arabi pengarang kitab ‘Fushush’, dan orang-orang kafir semisalnya.
3/Ramadhan/1434
12/7/2013
Ketua Dewan Syariat
Syekh Abu Muhammad.
___________
Sumber : http://www.mosleminfo.com/index.php/berita/internasional/gawat-salafi-suriah-perintahkan-bantai-sufi/