Menjawab kedustaan Syiah dan wahabi : Keutamaan Abu bakar ashidiq (pahlawan islam – khalifah islam )

Abu Bakar Ash-Shiddiq khalifah Rasulullah , nama aslinya adalah Abdullah bin Abu Qahafah Utsman bin ’Amir bin ’Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tayim bin Marrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib, Al-Qurasy, At-Taimi, bertemu dengan Rasulullah  di daerah Marrah.
Imam Nawawi dalam kitabnya Tahdzib Al-Asma’[1] mengatakan : Bahwasannya nama dari Abu Bakar Ash-Shiddiq yang paling masyhur dan benar adalah Abdullah, dikatakan namanya adalah Atiq, adapun yang benar sebagaimana yang disepakati mayoritas ulama bahwa Atiq adalah gelarnya bukan nama sebenarnya, beliau bergelar Atiq karena terbebas dari api neraka, sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dan dikatakan : Bahwa Abu Bakar terbebas wajahnya dari aib yaitu dengan rupa dan paras yang tampan, diriwayatkan oleh Mus’ab bin Zubair dan Laits bin Sa’ad serta sekelompok orang.Juga dikatakan beliau bergelar Atiq dikarenakan tidak ada cacat pada nasabnya sedikitpun.
Mus’ab bin Zubair dan yang lainnya berkata : Mayoritas ummat Islam sepakat dengan gelar Ash-Shiddiq karena Abu Bakar-lah yang pertama dan bersegera membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah, dan selalu berkata benar, serta tidak berkhianat sedikitpun dan tidak ragu dalam setiap keadaan dari apa yang disampaikan oleh Rasulullah.Abu Bakar pada masa awal Islam adalah seorang yang mempunyai pendirian yang agung dan kokoh, sebagaimana yang kita ketahui pada kisah Isra’ dan Mi’rajnya Rasulullah, dimana beliau meyakini sepenuhnya apa yang terjadi pada Rasulullah, tatkala kaum kafir Quraisy mengingkarinya.Beliau adalah orang yang menemani Rasulullah di gua Tsur dan sepanjang perjalanan tatkala hijrah serta rela untuk meninggalkan sanak saudaranya.Disamping itu pendapat beliau untuk menangguhkan masuk kota Mekah pada saat perang Badar dan pada peristiwa perjanjian Hudaibiyyah, tatkala sebagian kaum Muslimin dalam keadaan bingung.Beliau adalah orang yang menangis tatkala Rasulullah bersabda : Sesungguhnya apabila Allah memberikan pilihan kepada hambanya antara dunia dan akhirat maka memilih akhirat.Beliau adalah seorang yang kokoh jiwanya pada hari wafatnya Rasulullah, sehingga beliau berkhutbah untuk menenangkan ummat Islam dan beliau selalu bersama kaum Muslimin dalam masalah pembaiatan untuk kemaslahatan kaum Muslimin serta perhatiannya dan keteguhannya dalam pengiriman pasukan Usamah bin Zaid ke Syam dan beliau pula yang mengatur strategi tersebut, serta sikapnya yang teguh dalam memerangi Ahlu Ar-Riddah (golongan yang enggan mengeluarkan zakat) dan perdebatannya dengan para sahabat seraya mengutarakan dalil-dalil yang kuat, sehingga Allah melapangkan hati para sahabat tatkala Allah melapangkan hatinya dengan kebenaran untuk memerangi Ahlu Ar-Riddah, Beliaulah yang mempersiapkan bala tentara menuju Syam untuk menaklukan daerah tersebut, sehingga mereka siap dengan sangat siap, kemudian Abu Bakar mengakhiri perjalanan hidupnya dengan keagungan dan kemuliaan, sampai akhirnya beliau menyerahkan tongkat kekhalifahan dan kepemimpinan pada Umar bin Khattab, dan berwasiat kepadanya, serta Allah memberikan amanat kepadanya akan urusan kaum Muslimin, maka Allah menganugrahkan kepada ummat Islam khalifah yang terbaik, setelah itu Umar muncul dengan keutamaannya sebagai penolong dan pembela bagi Islam dan kaum Muslimin, maha benar janji-Nya yang akan memuliakan agama-Nya atas agama yang lainnya.Dan Yang terakhir Imam Nawawi berkata : (Berapa banyak pendapat dan pendiriaan yang agung dan mulia dari pribadi seperti Abu Bakar As-Siddiq yang menguntungkan kaum Muslimin).
Dibawah ini penulis akan menyajikan secara singkat hal-hal yang berkaitan dengan biografi tokoh yang mulia dan agung, beliau adalah Abu Bakar As-Siddiq, dalam hal ini penulis telah menyuguhkannya kedalam beberapa pasal.
  
Nama dan Gelar Abu Bakar
Ibnu Katsir berkata : Kaum Muslimin sepakat bahwa nama Abu Bakar adalah Abdullah bin Utsman, disamping itu juga ada riwayat lain dari Ibnu Sa’id dari Ibnu Sirin bahwa namanya adalah ’Atiq, adapun yang benar bahwa ’Atiq adalah gelarnya bukan namanya, kemudian kaum Muslimin berbeda pendapat mengenai waktu dan sebab pemberian gelar tersebut, dikatakan bahwa beliau bergelar ’Atiq dikarenakan ketampanannya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Laits bin Sa’id, Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Mu’in serta yang lainnya.Abu Na’im Al-Fadl bin Dakin berkata : Beliau bergelar ’Atiq dikarenakan selalu mengerjakan kebaikan, juga dikatakan : beliau bergelar ’Atiq disebabkan kesucian pada nasabnya, karena tidak ditemukan pada nasabnya cela (aib) sedikit pun.Dikatakan : Beliau terlebih dahulu disebut ’Atiq kemudian namanya Abdullah.Imam Thabrani meriwayatkan dari Al-Qasim bin Muhammad bahwasannya dia bertanya tentang nama asli Abu Bakar kepada Siti Aisyah, lalu menjawab : Namanya adalah Abdullah, kemudian seseorang berkata : Sesungguhnya orang-orang memanggilnya dengan sebutan ’Atiq, maka Aisyah berkata : Sesungguhnya Abu Qahafah mempunyai tiga orang anak, Abu Bakar menamai mereka : ’Atiq, Mu’tiq dan Mu’aitiq.Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah.Ibnu Asakir meriwayatkan dari Musa bin Thalhah, berkara : Saya bertanya kepada Abu Thalhah : kenapa Abu Bakar dinamai ’Atiq?lalu menjawab : Bahwa dahulu Ibunya tidak memiliki anak, maka tatkala melahirkannya Ibunya pergi menghadap ka’bah, kemudian berkata : (Ya Allah sesungguhnya anak ini selamat dari kematian maka anugrahilah dia untukku).Imam At-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkata : (Bahwasannya Abu Bakar bergelar ’Atiq dikarenakan ketampanan wajahnya).Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari ’Aisyah, berkata : (Nama asli Abu Bakar yang diberikan keluarganya adalah Abdullah, akan tetapi beliau lebih populer dipanggil ’Atiq, dan pada riwayat lain : akan tetapi Nabi menamainya dengan ’Atiq.Telah meriwayatkan Abu Ya’la dalam musnadnya, Ibnu Sa’ad serta menshahihkannya Imam Al-Hakim dari ’Aisyah, berkata : (Demi Allah, pada suatu hari saya berada di rumah dan pada saat itu Rasulullah dan para sahabat sedang berada di teras rumah, dan tidak ada yang menghalaingiku dengan mereka melainkan hijab, kemudian datanglah Abu Bakar, lalu Rasulullah bersabda : (Barang siapa yang ingin melihat seorang yang diselamatkan dari api neraka, maka lihatlah kepada Abu Bakar), adapun nama sebenarnya adalah ’Atiq kemudian populer dengan panggilan ’Atiq.Imam Tirmidzi dan Hakim meriwayatkan dari Siti ’Aisyah : Bahwa suatu saat Abu Bakar menemui Rasulullah, kemudian beliau bersabda : (Wahai Abu Bakar sesungguhnya kamu adalah penyelamat dari api neraka), maka sejak saat itu Abu Bakar bergelar ’Atiq.Telah meriwayatkan Al-Bazzar dan Imam At-Thabrani dengan sanad ”Jayyid” dari Abdullah bin Zubair, berkata : Pada mulanya Abu Bakar bernama Abdullah, kemudian Rasulullah bersabda : (Kamu adalah penyelamat manusia dari api neraka).maka sejak saat itu beliau dipanggil ’Atiq.
Adapun Ash-Shiddiq adalah gelar yang diberikan kepada beliau pada masa jahiliyah, tatkala diketahui pada dirinya kebenaran.Diriwayatkan oleh Ibnu Musadda.Dikatakan : Beliau bergelar Ash-Shiddiq dikarenakan selalu membenarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah.Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Hasan Al-Bashri dan Qatadah : Abu Bakar terkenal dengan gelar tersebut pertama kali pada pagi hari setelah Rasulullah ’Isra, dikarenakan beliau adalah orang yang pertama meyakini peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah.Imam Al-Hakim meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustadrak dari Siti ’Aisyah, berkata : (Suatu ketika orang-orang musyrik datang kepada Abu Bakar, kemudian mereka berkata : Apa pendapatmu tentang sahabatmu yang menyangka bahwa dia telah melakukan Isra’ (perjalanan malam) ke Baitul Maqdis, berkata : Apakah dia berkata demikian ?, mereka menjawab : Ya benar, lalu Abu Bakar berkata : Sungguh apa yang dikatakannya benar, Sesungguhnya pasti Aku akan membenarkannya (beriman kepadanya) dengan yang lebih jauh dari pada itu akan berita yang datang dari langit dengan sebenar-benarnya, maka karena itu beliau diberi gelar Ash-Shiddiq, sanad hadits ini ”Jayyid”.Diriwayatkan juga oleh Anas dan Abu Hurairah dengan sanad dari Ibnu ’Asakir dan Ummu Hani’ juga meriwayatkannya At-Thabrani.
Said bin Manshur dalam kitab Sunannya berkata : Telah meriwayatkan Abu Ma’syar dario Abu Wahab hamba sahaya Abu Hurairah, berkata : Tatkala Rasulullah kembali dari peristiwa Isra’ dan pada saat itu Rasulullah berada di Dzi Thuwa[2], beliau bersabda : Wahai Jibril sesungguhnya kaumku tidak mempercayaiku, kemudian Jibril berkata : Abu Bakar percaya dan membenarkanmu, dia adalah Ash-Shiddiq.Diriwayatkan oleh Imam At-Tahbrani dalam kitabnya Al-Ausath yang sanadnya bersambung kepada Abu Wahab dan Abu Hurairah.
Imam Hakim meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustadrak dari An-Nazzal bin Sabrah, berkata : Kami berkata kepada Ali : Wahai pemimpin kaum beriman, beritahukanlah kepada kami tentang sosok Abu Bakar?, Ali berkata : Dia adalah seseorang yang diberi gelar oleh Allah dengan Ash-Shiddiq lewat lisan Malaikat Jibril, dan lisan Nabi Muhammad, beliau adalah khalifah Rasulullah dalam shalat, Rasulullah telah meridhai kepadanya bagi agama kami, dan kami pun meridhainya bagi agama kami).Sanad hadits ini ”Jayyid”.
Imam Ad-Daruquthni dan Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Yahya, berkata : Aku tidak dapat menghitung berapa banyak Imam Ali berkata diatas mimbar : (esungguhnya Allah telah menamai Abu Bakar lewat lisan Rasul-Nya dengan Shiddiq).
Imam At-Thabrani meriwayatkan dengan sanad ”Jayyid Shahih” dari Hakim bin Sa’id, berkata : Saya mendengar Ali berkata dan bersumpah Sesungguhnya Allah telah menurunkan nama dari langit untuk Abu Bakar dengan Ash-Shiddiq, dan dalam sebuah hadits pada peristiwa Uhud : (Tenanglah karena Nabi, Shiddiq dan Syahidani bersamamu).
Kelahiran Abu Bakar dan Masa Pertumbuhannya.
Abu Bakar lahir sekitar dua tahun setelah Rasulullah dilahirkan, dan beliau wafat pada usia 63 tahun.
Ibnu katsir berkata : Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Khalifah bin Khayyath dari Yazid bin Al-Asham, yang menyatakan bahwasannya Nabi berkata kepada Abu Bakar : (Yang lebih tua Aku atau kamu?), Abu Bakar berkata : (Engkau lebih tua dan aku lebih muda dari padamu), termasuk dalam kategori hadits mursal gharib jiddan.Dan yang paling masyhur adalah sebaliknya, yang diriwayatkan oleh Al-Abbas, yang menyatakan bahwa Abu Bakar lebih tua dari pada Nabi.
Beliau tumbuh dan dibesarkan di kota Makkkah, dan tidak pernah keluar kota Makkah kecuali hanya untuk berdagang.Abu Bakar adalah seseorang yang mempunyai harta yang melimpah diantara kaumnya dan mempunyai harga diri yang mulia, serta selalu berbuat baik dan memiliki keutamaan ditengah kaumnya.Ibnu Ad-Dughunnah berkata : Sesungguhnya Engkau adalah seseorang yang selalu bersilaturahmi, dan senantiasa berkata jujur, dan memikul beban orang lain, dan menolong mereka yang dalam kesulitan, serta menghormati tamu.
Imam Nawawi berkata : Abu Bakar adalah seorang pembesar yang dihormati pada masa jahiliyah, dan pemimpin dalam bermusyawarah yang dicintai diantara kaumnya, juga seorang yang cerdas, maka tatkala datang agama Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, beliau memberikan pengaruh yang cukup luas kepada yang lainnya, dan beliau masuk agama Islam dengan kesungguhan dan kesempurnaan.Az-Zubair bin Bakkar dan Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari Ma’ruf bin Kharbudz, berkata : Bahwasannya Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu dari sepuluh orang Qurays yang mempunyai kemuliaan pada masa jahiliyah dan Islam.Beliau adalah orang yang bertanggung jawab mengurusi masalah diyat dan pajak.Dan Bangsa Qurays pada masa jahiliyah tidak mempunyai seorang raja yang mengurus urusan rakyatnya, akan tetapi pada setiap kabilah dan wilayah pada umumnya mempunyai seorang pemipin.Bani Hasyim adalah salah satu kabilah yang ditugasi untuk mengurus air minum dan kebutuhan pangan bagi kafilah yang datang ke Makkah, dimana tidak seorang pun dapat makan dan minum kecuali dari makanan dan minuman yang diberikan Bani Hasyim.Adapun Bani Abduddar yang mengurusi masalah perhijaban (memegang kuncui Ka’bah) dan bendera serta pertemuan, yang mana tidak seorang pun dapat masuk kedalam Ka’bah kecuali atas idzin dari mereka.Dan apabila kaum Qurays hendak berperang dan memerlukan bendera maka yang mengurusnya adalah Bani Abduddar, dan apabila mereka hendak mengadakan rapat atau suatu pertemuan mereka mengadakannya di Daar An-Nadwah, dan semuanya itu tidak dapat dilaksanakan kecuali atas persetujuan Bani Abduddar.
Abu Bakar, Seorang Yang Menjaga Harga Dirinya
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Siti Aisyah, berkata : (Demi Allah, Bahwasannya Abu Bakar tidak pernah mengucapkan syair (berpuisi) sedikit pun pada masa jahiliyah atau Islam, Juga Abu Bakar dan Utsman tidak minum khamer (arak) pada masa jahiliyah).
Abu Nu’aim meriwayatkan dengan sanad ”Jayyid”, Siti Aisyah berkata : (Abu Bakar telah mengharamkan khamer (arak) bagi dirinya sejak masa jahiliyah).
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari Abdullah bin Zubair, berkata : (Abu Bakar belum pernah mengucapkan syair (berpuisi) walau hanya satu bait).
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari Abu Al-’Aliyah Ar-Riyyahi, berkata : Ketika para Sahabat Rasulullah berkumpul, seorang bertanya kepada Abu Bakar : Apakah kamu pernah minum khamer (arak) pada masa jahiliyah?, Abu Bakar menjawab : Aku berlindung kepada Allah dari khamer, kemudian seorang bertanya : Kenapa demikian?, Abu Bakar berkata : Aku adalah seorang yang selalu menjaga harga diri, karena sesungguhnya barang siapa yang minum khamer berarti dia telah kehilangan harga dirinya, lalu seorang Sahabat menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah, kemudian beliau bersabda : (Sungguh benar apa yang dikatakan Abu Bakar, beliau mengucapkannya dua kali).Hadits ini baik matan atau pun sanadnya masuk dalam kategori mursal gharib.
Perawakan Abu Bakar Ash-Shiddiq
Ibnu Sa’id meriwayatkan dari Siti ’Aisyah, seorang bertanya kepadanya : Beritahukanlah kepadaku tentang perawakan (sifat) Abu Bakar?, ’Aisyah menjawab : (Beliau adalah seorang lelaki yang berkulit putih, kurus, tidak terlalu lebar bentuk tubuhnya, sedikit bungkuk, tidak bisa menahan pakaiannya turun dari pinggangnya, tulang-tulang wajahnya menonjol, kedua matanya cekung, keningnya menonjol, dan pangkal jari-jarinya datar.
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari ’Aisyah, bahwa Abu Bakar mewarnai rambutnya dengan daun pacar dan katam (sejenis tumbuhan).Dia juga meriwayatkan dari Anas, berkata : Ketika Rasulullah datang ke Madinah, dan tidak ada dari para sahabatnya yang beruban kecuali Abu Bakar, kemudian dia menyemirnya dengan daun pacar dan katam.
  
Islamnya Abu Bakar
Imam Thirnidzi dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, berkata : Abu Bakar berkata : Bukankah aku yang paling berhak untuk menjadi khalifah?, bukankah aku orang yang pertama masuk Islam?
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari Al-Harits dari Ali, berkata : (Orang yang pertama masuk Islam adalah Abu Bakar).
Ibnu Abi Khaitsamah telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Zaid bin Arqam, berkata : (Orang yang pertama shalat bersama Nabi adalah Abu Bakar).
Telah meriwayatkan Ibnu Sa’id dari Abu Arwa Ad-Dausi As-Shahaby, berkata : (Abu Bakar As-Siddiq adalah orang yang pertama masuk Islam).Imam At-Thabrani dalam kitabnya Al-Kabir dan Abdullah bin Ahmad dalam kitabnya Zawaid Az-Zuhd dari As-Sya’bi, berkata : Aku bertanya kepada Ibnu Abbas : Siapakah orang yang pertama masuk Islam? Beliau berkata : Abu Bakar As-Siddiq.
Abu Nu’aim meriwayatkan dari Farat bin As-Sa’ib, berkata : Aku bertanya kepada Maimun bin Mahran : Menurutmu, siapakah yang lebih utama Ali atau Abu Bakar dan Umar?berkata : Maka bergetarlah tubuhnya sehingga tongkatnya terjatuh dari tangannya, kemudian berkata : Saya tidak menyangka bahwa saya akan hidup pada masa yang membedakan keduanya, Demi Allah pencipta keduanya! Bahwasannya keduanya adalah pemimpin dalam Islam, lalu saya bertanya lagi : Siapakah yang pertama masuk Islam Abu Bakar atau Ali?berkata : Demi Allah sesungguhnya Abu Bakar telah beriman pada masa pendeta Buhaira ketika bertemu dengannya dan dialognya dengan Nabi juga dengan Siti Khadijah sampai Nabi menikahinya, semua peristiwa itu terjadi sebelum Ali dilahirkan, berkata : Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk Islam diantara seluruh Sahabat dan tabi’in dan yang lainnya, bahkan hampir semuanya sepakat tentang hal tersebut.Dan dikatakan : Orang yang pertama masuk Islam adalah Ali, juga ada yang mengatakan Siti Khadijah.Semua pendapat tersebut dapat digabungkan bahwasannya Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk Islam dari kalangan laki-laki, dan dari kalangan pemuda adalah Ali, sedangkan dari kalangan perempuan adalah Siti Khadijah.Telah meriwayatkannya Imam Abu Hanifah.
Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu ’Asakir telah meriwayatkan dari Salim bin Abi Al-Ja’ad, berkata : Saya bertanya kepada Muhammad bin Al-Hanafiyah : apakah Abu Bakar orang yang pertama masuk Islam ? menjawab : Bukan, saya berkata kenapa bukan Abu Bakar sedangkan tidak ada orang lain selain Abu Bakar?berkata : Karena Abu Bakar orang yang paling utama dalam keIslamannya dari sejak Dia masuk Islam sampai wafatnya.
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dengan sanad ”Jayyid”dari Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqas, seseorang bertanya kepada Abu Sa’ad : Apakah Abu Bakar yang pertama masuk Islam dari pada kalian, menjawab : Bukan, karena pada saat itu ada lima orang yang juga telah masuk Islam, akan tetapi Abu Bakar adalah orang yang paling bagus diantara kami Islamnya.
Ibnu Katsir berkata : Yang jelas bahwasannya Ahli Bait Rasulullah adalah yang pertama beriman sebelum orang lain, diantaranya : istrinya Siti khadijah, Hamba sahaya Nabi Zaid bin Haritsah, Istri Zaid yaitu Ummu Aiman, Ali dan Waraqah.
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari Isya bin Yazid, berkata : Abu Bakar berkata : (Suatu ketika saya duduk diteras Ka’bah, dan Zaid bin Amr bin Nufail sedang duduk, kemudian lewat dihadapannya Umayyah bin Abi As-Shalt, berkata : Bagaimana keadaanmu pagi ini wahai pencari kebaikan?berkata : Baik,kemudian berkata : Apakah kamu sudah mendapatkannya?,menjawab : Belum, kemudian berkata :
(Pada hari kiamat semua agama akan binasa, kecuali yang telah ditetapkan Allah)
Adapun yang berkaitan dengan Nabi yang kami tunggu dan juga kalian, maka sesungguhnya aku belum pernah mendengar tentang Nabi yang ditunggu dan diutus, berkata : Sampai saya menemui Waraqah bin Naufal, ketika itu dia sedang menengadahkan wajahnya kelangit dan nafasnya kencang, kemudian saya menyapanya, dan saya menceritakan suatu peristiwa tersebut kepadanya, berkata : Betul, wahai anak apamanku, sesungguhnya kami adalah kaum yang memiliki kitab-kitab dan Ilmu pengetahuan, akan tetapi Nabi yang ditunggu itu akan datang dari keturunan bangsa Arab-dan aku mengetahui ilmu tentang pernasaban- dan kaummu dalah bangsa Arab yang paling sentral secara nasab, saya berkata : Wahai paman, apakah yang akan disabdakan Nabi?berkata : Dia sabdakan sebagaimana yang disampaikan kepadanya, dan Dia tidak mendzalimi juga tidak didzalimi dan tidak membuat kedzaliman, maka tatkala Rasulullah diutus saya beriman kepadanya dan membenarkannya.
Ibnu Ishaq berkata : Telah meriwayatkan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin Al-Husain At-Tamimi, bahwa Rasulullah bersabda : (Tidaklah Aku berdakwah kepada seseorang untuk masuk Islam, kecuali muncul rasa kebimbangan, keraguan dan pertimbangan dalam dirinya, akan tetapi tidak bagi Abu Bakar, karena Abu Bakar cepat yakin (merespon dengan cepat) ketika aku berdakwah kepadanya, dan dia tidak sedikitpun ada keraguan dalam dirinya.
Imam Al-Baihaqi berkata : Yang demikian dikarenakan Abu Bakar melihat cahaya kenabian pada diri Rasulullah, dan merasakan pengaruhnya sebelum Nabi berdakwah, maka ketika Nabi mengajaknya masuk Islam, Abu Bakar sudah berpikir jauh-jauh hari sebelumnya, maka dia masuk Islam ketika itu juga.Abu Maisarah meriwayatkan : Bahwa suatu ketika Rasulullah sedang menunaikan hajatnya, lalu mendengar suara memanggilnya : Ya Muhammad, kemudian Rasulullah bergegas pergi, lalu berbisik kepada Abu Bakar tentang hal itu, karena Abu Bakar adalah orang kepercayaan Nabi pada masa itu.
Abu Nu’aim dan Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkata : Rasulullah bersabda : (Tidaklah ketika Aku berdakwah kepada seseorang tentang Islam, melainkan orang itu menolak dan mengembalikan apa yang aku katakan, kecuali Ibnu Abu Qahafah karena sesungguhnya Aku tidak berkata kepadanya tentang suatu perkara kecuali dia menerimanya dan istiqamah terhadapnya).Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Darda, berkata : Rasulullah bersabda : (Apakah kalian akan meninggalkanku?apakah kalian akan meninggalkanku?,sesungguhnya aku berkata : Wahai Manusia, sesungguhnya Aku adalah Rasulullah yang diutus kepada kalian semua, lalu mereka menjawab : Kamu telah berdusta, sedangkan Abu Bakar berkata : Kamu benar).
  
Kesetiaan Abu Bakar terhadap Rasulullah dan Peristiwa yang Diikutinya
Para Ulama berkata : Abu Bakar selalu setia menemani Rasulullah sejak permulaan masuk Islam sampai wafatnya Rasulullah, dan beliau tidak pernah berpisah dengan Rasulullah, baik ketika berpergian atau pun ketika tinggal menetap, kecuali atas idzin Rasulullah ketika melaksanakan haji atau peperangan.Abu Bakar menjadi saksi akan semua peristiwa penting bersama Rasulullah, Beliau hijrah bersama Rasulullah dan meninggalkan seluruh sanak saudaranya hanya semata-mata karena Allah dan RasulNya, dan Abu Bakar lah yang menemani Rasulullah digua saat hijrah, Allah berfirman : (Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya : ”Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita”)[3].Dan Abu Bakar selalu berdiri pada barisan paling depan untuk membela Rasulullah, sehingga memberikan pengaruh yang mulia pada diri Abu Bakar akan kesaksiannya pada semua peristiwa tersebut.Dan Abu Bakar adalah orang yang bersama Rasulullah pada perang Uhud dan Hunain ketika kebanyakan kaum Muslimin pergi berlari meninggalkannya, sebagaimana yang akan dijelaskan pada pasal berikutnya tentang keberaniannya.
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari Abu Hurairah, berkata : Para Malaikat saling memberikan kabar gembira pada perang Badar, mereka berkata : ”Tidaklah kalian melihat bahwasannya ash-Siddiq bersama Rasulullah berada dalam naungan mahligai yang penuh dengan kemuliaan?”.
Abu Ya’la, Al-Hakim dan Ahmad meriwayatkan dari Ali, berkata : Ketika perang Badar Rasulullah bersabda kepadaku dan Abu Bakar : ”Bersama kalian berdua ada Malaikat Jibril,. dan bersama yang lain Malaikat Mikail”.
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari Ibnu Sirin, berkata : Bahwa Abdurrahman bin Abu Bakar pada perang Badar bersama kaum Musyrikin, kemudian tatkala masuk Islam berkata kepada Ayahnya : ”Sesungguhnya Aku telah mendekatimu pada perang Badar, lalu Aku berpaling darimu dan tidak memerangimu”, lalu Abu Bakar berkata : ”Akan tetapi kalau sekiranya Aku mendekatimu, Aku tidak akan berpaling darimu”.
  
Keberanian Abu Bakar dan Orang Yang Paling Berani Diantara Sahabat
Al-Bazzar meriwayatkan dalam musnadnya dari Ali, bahwa Abu Bakar berkata : Siapakah orang yang paling pemberani?mereka berkata : Engkau,Abu Bakar berkata : Adapun sesungguhnya Aku tidak memerangi seseorang kecuali Aku tidak berlebihan terhadapnya, akan tetapi siapakah yang sebenarnya paling pemberani?, mereka berkata : Kami tidak tahu, lalu siapa?,seorang berkata : ”Dia adalah Abu Bakar, bahwasannya pada saat perang Badar kami membuatkan bangsal sebagai tempat berteduh bagi Rasulullah”, kemudian kami berkata :”Siapakah yang akan tinggal bersama Rasulullah supaya kaum Musyrikin tidak menyerangnya dan melukainya?Demi Allah tidak ada seorang pun dari kami yang dekat dengan Rasulullah serta melindunginya dengan pedangnya selain Abu Bakar, tidak seorang pun dari kaum Musyrikin yang mendekati Rasulullah untuk menyerangnya kecuali Abu Bakar telah mendekatinya terlebih dahulu, oleh karena itu Abu Bakar adalah seorang yang sangat pemberani”.
Ali bercerita tentang Abu Bakar : ”Aku melihat Rasulullah diantara orang kafir Quraisy, yang ini melemparinya dan yang lain memukulinya, mereka berkata : Kamu lah yang menjadikan tuhan-tuhan menjadi tuhan yang satu?Ali berkata : Demi Allah tidak ada yang lebih dekat dari Rasulullah selain Abu Bakar, Dia memukul, melempar dan menyerang mereka, Abu Bakar berkata : ”Celakalah kalian!apakah kalian akan membunuh seseorang yang berkata : Tuhanku Allah, kemudian Ali mengambil burdah (jubah) Rasulullah, lalu menangis sehingga membasahi janggutnya, dan berkata : ”Saya bersumpah dengan nama Allah. Siapakah yang terbaik orang yang beriman dari keluarga Fir’aun atau kah Abu Bakar?lalu orang-orang pun terdiam, kemudian berkata : Tidakkah kalian menjawab pertanyaanku?Demi Allah bahwasannya satu jam bersama Abu Bakar lebih baik dari pada seribu jam bersama seperti orang-orang yang beriman dari keluarga Fir’aun, mereka menyembunyikan keimanannya, adapun Abu Bakar adalah seorang yang memproklamirkan keimanannya dengan terang-terangan.
Imam Bukhari meriwayatkan dari ’Urwah bin Zubair, berkata : Aku bertanya kepada Abdullah bin ’Amr bin ’Ash tentang perbuatan yang paling keras yang dilakukan Kaum Musyrikin kepada Rasulullah.Berkata : Aku melihat ’Uqbah bin Abu Mu’aith mendatangi Rasulullah ketika Beliau sedang shalat, kemudian dia meletakkan selendangnya pada pundak Rasulullah lalu dia mencekiknya dengan keras, kemudian datanglah Abu Bakar menolong Rasulullah, dan berkata : ”Apakah kalian akan membunuh seseorang yang berkata Tuhanku adalah Allah, sungguh telah datang kepada kalian bukti-bukti yang nyata dari Tuhan kalian?”.Al-Haitsam bin Kalib meriwayatkan dalam musnadnya dari Abu Bakar, berkata : ”Tatkala perang Uhud semua orang berpaling meninggalkan Rasulullah, dan Aku adalah orang yang pertama kembali”.
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari Siti ’Aisyah, berkata : Tatkala para Sahabat Nabi yang berjumlah tiga puluh delapan orang berkumpul, Abu Bakar tetap memberikan perlindungan dan bantuannya kepada Rasulullah, kemudian seorang berkata kepada Abu Bakar : Wahai Abu Bakar sesungguhnya jumlah kita sedikit, akan tetapi Abu Bakar tetap bersikeras membela Rasulullah, sampai akhirnya beliau datang, kemudian Kaum Muslim berpencar pada setiap pojok Mesjid, setiap orang bergabung dengan kelompok (kabilahnya), kemudian Abu Bakar berdiri untuk berkhutbah, dan Abu Bakar adalah orang yang pertama berkhutbah untuk menyeru kepada Allah dan RasulNya, yang menyebabkan orang kafir Qurays menjadi marah dan benci kepada Abu Bakar dan kaum Muslimin, lalu mereka menyerang dengan sangat kedegala penjuru Mesjid.
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari Ali, berkata : ”Ketika Abu Bakar masuk Islam, Dia menampakkan keislamannya dengan terang-terangan dan berdakwah kepada Allah dan RasulNya”.
  
Kedermawanan Abu Bakar ash-Siddiq
Allah berfirman : ”Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari api neraka, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya”.(al-Lail : 17-18).Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata : Rasulullah bersabda : ”Tidak ada harta yang memberikan manfaat kepadaku lebih dari apa yang diberikan oleh Abu Bakar”.Mendengar ucapan Rasulullah tersebut Abu Bakar menangis, kemudian berkata : ”Apa yang aku persembahkan dari jiwa dan hartaku kecuali hanya untukmu Ya Rasulullah”.Demikian juga Abu Ya’la meriwayatkan dengan lafadz yang sama secara marfu’ dari Siti ’Aisyah.
Ibnu Katsir berkata : Diriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas, Anas, Jabir bin Abdullah, dari Abu Said al-Khudhri.Dan al-Khatib meriwayatkan dari Sa’id bin Musayyab dengan sanad yang mursal, dengan tambahan lafadz :”Rasulullah menggunakan harta Abu Bakar sebagaimana Rasulullah menggunakan hartanya bagi dirinya sendiri”.
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari berbagai riwayat dari Siti Aisyah, dan Urwah bin Zubair : Bahwasannya ketika Abu Bakar masuk Islam, pada saat itu Abu Bakar mempunyai empat puluh ribu dinar, dan dalam lafadz yang lain : Empat puluh ribu dirham, kemudian Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya kepada Rasulullah”.
Abu Said bin al-A’rabi dari Ibnu Umar, berkata : Tatkala Abu Bakar masuk islam, pada saat itu dirumahnya terdapat empat puluh ribu dirham, kemudian Abu Bakar berhijrah bersama Rasulullah, dan tidak tersisa dari hartanya kecuali lima ribu, semuanya Abu Bakar menginfakkannya untuk memerdekakan hambasahaya Muslim dan menolong agama Islam.
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Siti Aisyah : Bahwasannya Abu Bakar memerdekakan tujuh orang budak yang semuanya disiksa karena membela Agama Allah.
Ibnu Syahin meriwayatkan dalam as-Sunnah, dan al-Baghawi dalam tafsirnya, juga Ibnu Asakir dari Ibnu Umar, berkata : Suatu ketika saya bersama Rasulullah dan Abu Bakar ash-Siddiq, dia memakai jubah yang berlubang dibagian dadanya, kemudian malaikat Jibril turun, lalu berkata :”Wahai Muhammad kenapa saya melihat Abu Bakar memakai jubah yang berlubang pada bagian dadanya?”, Rasulullah menjawab : ”Wahai Jibril, sesungguhnya Abu Bakar telah menginfakkan hartanya kepadaku sebelum penaklukan kota Makkah”, Jibril berkata : ”Sesungguhnya Allah telah menyampaikan salam untuknya”.Dia berkata : ”Katakan kepadanya apakah kamu rela dengan kefakiranmu ataukah kamu tidak menyukainya?”, Abu Bakar berkata : ”Apakah saya tidak rela terhadap Tuhanku?Saya rela kepada Tuhanku, saya rela kepada Tuhanku, saya rela kepada Tuhanku”.Hadits ini masuk dalam kategori hadits gharib yang sanadnya dhaif (lemah) sekali.Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dari Abu Hurairah, dan dari Ibnu Mas’ud dengan sanad yang dhaif (lemah), serta Ibnu ’Asakir dari hadits Ibnu Abbas.
Al-Khatib meriwayatkan dari Ibnu Abbas dengan sanad yang cacat, Rasulullah bersabda : ”Jibril turun kepadaku dan padanya sebuah permadani yang dia lubangi, Kemudian saya bertanya kepadanya : ”Wahai Jibril, mengapa kamu berbuat demikian?”,Jibril menjawab : ”Sesungguhnya Allah menyuruh para malaikat dilangit untuk melubanginya sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar di muka bumi”.
Ibnu Katsir berkata : Hadits ini sangat munkar, kalau sekiranya hadits ini dan dua hadits sebelumnya beredar ditengah masyarakat, maka berpaling dari dua hadits tersebut adalah perbuatan yang mulia.
Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab, berkata : Rasulullah menyuruh kami agar bersedekah, pada saat itu saya sedang mempunyai harta untuk bersedekah.Kemudian saya berkata : Hari ini saya akan lebih dulu untuk bersedekah dari pada Abu Bakar, dimana saya belum pernah mendahului Abu Bakar dalam bersedekah, lalu saya datang kepada Rasulullah untuk menyedekahkan setengah dari harta yang saya miliki, kemudian Rasulullah bertanya : ”Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?, saya menjawab : ”Saya meninggalkan dari harta seperti apa yang saya infakkan”.Kemudian Abu Bakar datang kepada Rasulullah dengan menginfakkan seluruh hartanya.Rasulullah bertanya : ”Adakah yang kamu sisakan untuk keluargamu?”,Abu Bakar menjawab : ”Saya menyisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.Saya berkata : ”Setelah itu bahwasannya saya tidak akan pernah bisa mengalahkan Abu Bakar dalam segala hal”.Imam Tirmidzi berkata : ”Hadits ini hasan shahih”.
Abu Nu’aim meriwayatkan dalam al-Hilyah dari Hasan al-Bashri : Bahwasannya Abu Bakar datang kepada Rasulullah untuk bersedekah dengan tidak menampakkannya pada orang lain.Dia berkata : Wahai Rasulullah, inilah sedekahku dan saya serahkan pahalanya kepada Allah, kemudian Umar datang kepada Rasulullah dengan membawa sedekahnya, akan tetapi dia menampakkannya.Dia berkata : Wahai Rasulullah inilah sedekahku dan aku serahkan pahalanya kepada Allah.Rasulullah bersabda : ”jarak antara infak yang kalian lakukan ibarat dua kaliamat yang kalian ucapkan”.Sanad hadits ini baik akan tetapi masuk dalam kategori hadits mursal.
Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata : Tidak seorang pun yang memberikan hartanya kepada kami, kecuali telah kami balas dengan balasan yang sesuai, kecuali Abu Bakar.Karena dia memberikan bantuan yang pahalanya akan dibalas oleh Allah pada hari kiamat.Dan tidak ada seorang pun yang memberikan hartanya melebihi apa yang diberikan oleh Abu Bakar.
Al-Bazzar meriwayatkan dari Abu Bakar as-Siddiq, dia berkata : Saya datang kepada Rasulullah bersama Abu Quhafah.Rasulullah bersabda : ”Tidakkah kamu tinggalkan saja Bapakmu sampai saya datang menemuimu?”.Abu Bakar berkata : ”Akan tetapi dialah yang lebih berhak untuk datang menemuimu”, Rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya kami menghormatinya karena bantuan-bantuan anaknya kepada kami”.
Ibnu ’Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata : ”Tidak ada seorang pun yang besar pemberiannya kepada kami melebihi pemberian yang diberikan Abu Bakar, dia mengabdikan jiea dan raganya kepadaku, dan dia menikahkan anaknya kepadaku.

Kepandaian Abu Bakar ash-Siddiq
Imam Nawawi berkata dalam kitabnya at-Tahdzib, dan dalam karyanya saya nukil : Bahwasannya para sahabat kami berargumen akan keagungan ilmunya dengan perkataannya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim : Demi Allah saya akan memerangi orang yang membedakan antara shalat dan zakat, Demi Allah kalau sekiranya mereka tidak mau memberikan anak kambing yang mereka berikan kepada Rasulullah, pasti saya akan memerangi mereka karena penolakan mereka.Syeikh Abu Ishaq berdalil dengan riwayat ini dan yang lainnya dalam kitabnya at-Thabaqat : Bahwasannya Abu Bakar ash-Siddiq adalah orang yang paling pandai diantara para sahabat, karena mereka tidak mampu memahami hukum dalam suatu permasalahan kecuali Abu Bakar, yang tampak jelas dalam pandangan mereka, bahwa apa yang dikatakan Abu Bakar adalah benar, sehingga mereka pun mengambil pendapat Abu Bakar.
Kami meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwasannya beliau ditanya : Siapakah yang memberikan fatwa di zaman Rasulullah?.Dia berkata : Abu Bakar dan Umar dan saya tidak tahu orang lain selain mereka berdua.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata : Rasulullah berkhutbah di depan khalayak dan bersabda :
إن الله تبارك وتعالى خير عبدا بين الدنيا وبين ما عنده فاختار ذلك العبد ما عند الله تعالى.
“Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung telah memberikan pilihan kepada hamba-Nya antara dunia dan akhirat, lalu hamba itu memilih apa yang ada disisi Allah.”
Mendengar sabda Rasulullah tersebut, Abu Bakar menangis dan berkata : “Kami menjadikan bapak-bapak dan ibu-ibu kami sebagai jaminan.”Maka kami pun merasa heran dengan suara tangisan Abu Bakar, ketika Rasulullah bersabda tentang pilihan seorang hamba yang diberikan pilihan dua pilihan.Dan Rasulullah adalah orang yang diberi pilihan tersebut, sedangkan pada saat itu Abu Bakar adalah orang yang paling pandai diantara kami.Setelah itu Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling setia persahabatannya denganku dan dalam menginfakkan hartanya adalah Abu Bakar.Andaikata saya menjadikan seseorang menjadi khalil (sahabat) selain Tuhanku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai sahabat, namun aku jadikan dia sebagai saudara seagama yang penuh kasih saying.Tidak akan tersisa satu pintu pun didalam masjid ini untuk ditutup kecuali pintu Abu Bakar.”[4]
Ibnu Katsir berkata : “Abu Bakar adalah orang yang paling baik bacaannya –yakni Abu Bakar lah yang paling paham akan al-Qur’an- Sebab Rasulullah menjadikannya sebagai imam shalat para sahabat, dengan sabdanya : “Orang yang menjadi Imam adalah orang yang paling baik bacaan al-Qur’annya.”
Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Siti ‘Aisyah, dia berkata : Rasulullah bersabda : “Tidak selayaknya seseorang dari suatu kaum menjadi imam padahal ditengah-tengah mereka ada Abu Bakar.”
Selain dari pada itu Abu Bakar adalah orang yang paling mengerti tentang as-Sunnah.Tatkala para sahabat sering bertanya kepadanya tentang banyak hal, Abu Bakar adalah orang yang paling menonjol diantara para sahabat dalam memahami dan menukil as-Sunnah, dia menghafalnya dan menghadirkannya ketika diperlukan.Dimana hadits-hadits tersebut tidak ada pada mereka.Bagaimana tidak demikian padahal Abu Bakar selalu bersama Rasulullah sejak masa awal diutusnya sampai wafat, dia juga seorang yang paling pandai dikalangan para sahabat, dan bahwasannya tidak diriwayatkan hadits-hadits darinya kecuali dalam jumlah yang sedikit, dikarenakan dia hidup tidak begitu lama setelah meninggalnya Rasulullah.Andaikata usianya panjang niscaya akan banyak hadits yang diriwayatkan darinya, dan tidak ada seorangpun yang menukil suatu hadits kecuali telah menukil darinya, karena pada masanya orang-orang tidak akan meriwayatkan darinya hadits-hadits yang mereka juga mengetahuinya.Mereka hanya menukil darinya apa yang tidak mereka dengar langsung dari Rasulullah.”
Abu al-Qasim al-Baghawi meriwayatkan dari Maimun bin Mahran, dia berkata : Apabila Abu Bakar mendapatkan suatu perselisihan atau perbedaan pendapat, maka dia melihat hukumnya di dalam al-Qur’an, jika dia mendapatkan hukumnya di dalam al-Qur’an maka dia akan memutuskan hukumnya sesuai dengan apa yang terdapat didalam al-Quran.Akan tetapi jika dia tidak menemukan hukumnya didalam al-Qur’an dan dia mengetahui bahwa hukumnya terdapat dalam hadits Rasulullah, maka dia akan memutuskan dengan hadits Rasulullah.Apabila tidak mendapatkannya dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, maka dia akan bertanya kepada kaum muslimin dan berkata : Seseorang telah dating kepadaku dan dia menanyakan demikian dan demikian.Apakah salah seorang diantara kalian mengetahui bahwa Rasulullah pernah memutuskan perkara demikian ini?
Mungkin Abu Bakar akan mengumpulkan banyak orang, kemudian mereka diminta untuk mengutarakan keputusan yang bersumber dari Rasulullah dalam masalah itu, lalu Abu Bakar berkata : Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diantara kami orang yang hafal riwayat dari Nabi-Nya.Dan jika dia tidak menemukannya dari sunnah Rasulullah, dia akan mengumpulkan para pemimpin dan pembesar kaum Muslimin untuk bermusyawarah dengan mereka, jika mereka sepakat dengan suatu keputusan, maka dia akan memutuskan hukumnya berdasarkan apa yang telah mereka sepakati.
Demikian juga dengan Umar bin Khaththab yang melakukan hal yang sama dengan Abu Bakar dalam menetapkan hokum.Jika dia tidak mendapatkan hukumnya dalam al-Quran dan sunnah Rasulullah dia akan merujuk pada apa yang dikerjakan Abu Bakar, maka jika dia mendapatkan bahwasannya Abu Bakar telah menetapkan hukumnya, maka dia akan menetapkan hukumnya berdasarkan apa yang telah ditetapkan Abu Bakar.Dan jika tidak menemukannya, dia akan memanggil kaum Muslimin, dan jika mereka sepakat pada suatu keputusan, maka dia akan memutuskan sesuai dengan apa yang mereka sepakati.
Abu Bakar juga adalah orang yang paling mengetahui tentang nasab orang-oang Arab, terutama nasabnya suku Quraisy, Ibnu Ishaq meriwayatkan dari dari Ya’qub bin ‘Utbah dari salah seorang sesepuh kaum Anshar, dia berkata : Jubair bin Muth’im adalah orang yang paling tahu tentang nasab Quraisy dan keturunan Arab seluruhnya, dia berkata : Sesungguhnya saya telah mendapatkan silsilah nasab ini dari Abu Bakar, dan Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang yang paling tahu tentang nasab orang Arab.
Disamping itu Abu Bakar juga adalah seorang yang paling faham tentang tafsir mimpi, beliau pernah menakwilkan mimpi pada zaman Rasulullah.Ibnu Sirin –salah seorang pakar dalam tafsir mimpi- mengatakan : “Abu Bakar adalah orang yang paling tahu tentang takwil mimpi setelah Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam[5].
Ad-Dailami meriwayatkan dalam Musnad al-Firdaus dan Ibnu ‘Asakir dari Samrah, dia berkata : Rasulullah bersabda : “Saya diperintahkan untuk menakwilkan mimpi dan diperintahkan pula untuk mengajarkannya kepada Abu Bakar”.
Ibnu Katsir berkata : “Abu Bakar adalah orang yang paling fasih lidahnya dan paling pandai dalam berkhutbah.Zubair bin Bakkar berkata : Saya mendengar sebagian ahli ilmu berkata : Orang yang paling fasih dalam berkhutbah diantara para sahabat Rasulullah adalah Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib.(Masalah ini akan dibahas kemudian dalam peristiwa Bani Saqifah tentang perkataan Umar : “Abu Bakar adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah dan orang yang paling takut kepada-Nya.Kemudian akan dibahas juga tentang tabir mimpi dan khutbahnya dalam pembahsan terpisah.
Adapun diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwasannya Abu Bakar adalah seorang yang pandai dikalangan para sahabat adalah saat peristiwa perdamaian Hudaibiyyah, dimana pada saat itu Umar bertanya kepada Rasulullah adan perdamaian tersebut, dan berkata : “Karena alasan apa kita memberikan perangai yang tidak terpuji terhadap agam kita?Maka Rasulullah menjawabnya.Kemudian Umar pun pergi menemui Abu Bakar dan menanyakan pertanyaan serupa yang dia tanyakan kepada Rasulullah, maka Abu Bakar menjawabnya dengan jawaban yang sama dengan jawaban Rasulullah[6].
Dia seorang sahabat yang memiliki pandangan yang tajam dan pemikiran yang cemerlang.Tamam ar-Razi dalam kitabnya al-Fawaid dan Ibnu ‘Asakir dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda : “Jibril datang kepadaku dan berkata : “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk meminta pendapat Abu Bakar”.Imam Thabrani, Abu Nu’aim dan yang lainnya meriwayatkan dari Muadz bin Jabal : Bahwasannya tatkala Rasulullah mengutus Muadz ke Yaman, beliau meminta pendapat beberapa orang dari para sahabatnya, diantaranya adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair dan Usaid bin Hudhair, lalu setiap sahabat yang hadir mengutarakan pendapatnya.Rasulullah bertanya kepada Muadz : “Bagaimana pendapatmu wahai Muadz?”.Saya berkata : Saya sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Abu Bakar.Kemudian Rasulullag bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai kalau sekiranya Abu Bakar disalahkan”.
Ibnu Abi Usamah meriwayatkan dalam musnadnya, Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai jika Abu Bakar disalahkan di muka bumi.”Ath-Thabrani juga meriwayatkan dalam al-Awsath dari Sahl bin Sa’ad as-Saadi, dia berkata : Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak suka jika Abu Bakar disalahkan.”(Para perowinya dapat dipercaya).
Imam Nawawi dalam kitabnya at-Tahdzib berkata : “Abu Bakar ash-Shiddiq adalah salah seorang sahabat yang hafal al-Qur’an secara keseluruhan.”Riwayat yang sama juga dikatakan oleh beberapa orang, diantaranya adalah Ibnu Katsir dalam tafsirnya.Adapun riwayat yang menyatakan bahwasannya yang mengumpulakan al-Quran dizaman Rasulullah sebanyak empat orang”, maksudnya adalah mereka yang berasal dari golongan Anshar, sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam kitab al-Itqan fi Ulum al-Qur’an.
Sedangkan riwayat Ibnu Abi Dawud dari asy-Sya’bi yang berkata : bahwasannya pada saat Abu Bakar meninggalal-Qur’an belum dikumpulkan secara keseluruhan, maka pendapat yang demikian itu tertolak.Atau bisa saja penakwilannya menyatakan bahwa al-Qur’an dikumpulkan secara teratur susunannya oleh Utsman.
Sahabat Paling Utama dan Paling Baik
Seluruh ahlus sunnah sepakat bahwa sahabat yang paling utama setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, kemudian Umar, Utsman, Ali, dan semua sahabat yang mendapat jaminan Rasulullah untuk masuk surga, kemudian setelah itu adalah mereka yang ikut dalam perang Badar, yang bertempur dalam perang Uhud, mereka yang membaiat Rasulullah pada Bai’at Ridwan, kemudian seluruh sahabat sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Manshur al-Baghdadi.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata : Suatu ketika kami disuruh memilih orang-orang di zaman Rasulullah, maka kami memilih Abu Bakar, Umar, dan Utsman.Imam at-Thabrani menambahkan dalam al-Kabir : Kemudian Rasulullah mengetahui hal tersebut dan tidak mengingkarinya.
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Ibnu Umar, berkata : Suatu ketika kami bersama Rasulullah, kemudian kami menyatakan bahwasannya kami mengutamakan Abu Bakar, lalu Umar, kemudian Utsman dan Ali.
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau berkata : Kami para sahabat Rasulullah-yang pada waktu itu dalam jumlah yang banyak- kami berkata : Yang paling utama diantara ummat setelah Nabinya adalah Abu Bakar, lalu Umar, kemudian Utsman dan kami pun diam.
Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, beliau berkata : Umar berkata kepada Abu Bakar : Wahai orang yang paling baik setelah Rasulullah, kemudian Abu Bakar berkata : Ketahuilah jika engkau mengatakan demikian, maka sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah bersabda : “Sepanjang matahari terbit, tidak ada orang yang paling baik selain Umar.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, beliau berkata : Saya bertanya kepada bapakku : “Siapakah orang yang paling baik setelah RAsulullah?”, beliau menjawab : “Abu Bakar”, kemudian saya bertanya lagi : Lalu setelah itu siapa?, beliau menjawab : “Umar”, dan saya khawatir kalau dia mengatakan Utsman, maka saya pun berkata : “kemudian engkau sendiri”.Ali berkata : “Saya ini hanya orang biasa seperti kaum Muslimin yang lain”.
Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan dari Ali, beliau berkata : Orang yang paling baik dikalangan ummat setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, kemudian Umar.Imam ad-Dzahabi berkata : Riwayat ini mutawatir dari Ali.Maka sungguh terlaknatlah orang-orang Rafidhah dengan kebodohan mereka.
Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim meriwayatkan dari Umar bin Khaththab, beliau berkata : “Abu Bakar adalah tuan kami, orang yang paling baik, dan orang yang paling dicintai Rasulullah”.
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Laila, berkata : Suatu ketika Umar naik keatas mimbar kemudian berkata : “Ketahuilah, sesungguhnya orang yang paling baik diantara ummat setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, barangsiapa yang mengatakan perkataan selain ini, berarti dia telah berbohong, dan dia akan diadzab karena kebohongannya itu.”
Beliau juga meriwayatkan dari Ibnu Abi Laika, berkata : Imam Ali berkata : “Tidak ada seorang pun yang menganggap bahwa saya lebih baik dari Abu Bakar, kecuali akan saya siksa dia sebagaimana orang yang melakukan kebohongan”.
Abdurrahman bin Humaid dalam musnadnya meriwayatkan, juga Abu Nu’aim serta selain keduanya, melalui riwayat Abu Darda’, beliau berkata : Bahwasannya Rasulullah bersabda : “Selama matahari terbit dan tenggelam, tidak ada seorang pun yang lebih baik dari Abu Bakar, kecuali jika ada seorang Nabi.”Dalam riwayat lain disebutkan : “Selama matahari terbit dan terbenam, tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin, yang lenih baik setelah para Nabi dan Rasul selain Abu Bakar.”
Juga dalam sebuah hadits riwayat Jabir, menyebutkan : “Tidak ada yang lebih baik dari Abu Bakar selama matahari masih terbit untuk kalian.”[7]
Hadits ini mempunyai bukti penguat dari hadits-hadits yang lain, yang bias mengangkat hadits ini kepada derajat shahih atau hasan.
Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’, berkata : Rasulullah bersabda : “Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sebaik-baiknya manusia, kecuali jika ada orang itu adalah seorang Nabi.”Dalam kitab al-Awsath dari Sa’ad bin Zurarah, dia berkata : Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Ruhul Qudus, Jibril, memberitahukan kepadaku bahwasannya sebaik-baiknya umat setelah kamu adalah Abu Bakar.”
Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah : Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?Rasulullah menjawab : “Aisyah”, Saya bertanya lagi : dari kalangan laki-laki siapa?Rasulullah menjawab : “Bapaknya”, kemudian saya bertanya lagi : Lalu siapa?”Rasulullah menjawab : “Umar bin Khaththab.”
Dalam riwayat Anas, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas tidak disebutkan lafadz : “Kemudian Umar.”
Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan al-Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Syaqiq, beliau berkata : Saya bertanya kepada Aisyah : “Siapakah diantara sahabat Rasulullah yang paling dicintai oleh Rasulullah?”Aisyah menjawab : “Abu Bakar”, Saya bertanya lagi : “Kemudian siapa?”, Aisyah menjawab : “Umar”, Saya bertanya : “Kemudian siapa?”Aisyah menjawab : “Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah.”
Imam at-Tirmidzi dan yang lainnya meriwayatkan dari Anas, beliau berkata : Rasulullah bersabda kepada Abu Bakar dan Umar : “Kedua orang ini adalah tuannya orang-orang tua ahli surga, baik orang-orang terdahulu atau pun yang akan dating, kecuali para Nabi dan Rasul.”(Riwayat ini juga dia lansir dari Ali).
Dalam bab yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Abu Sa’id al-Khudri, serta Jabir bin Abdullah.
Imam ath-Thabrani dalam kitabnya al-Awsath meriwayatkan dari Ammar bin Yasir, beliau berkata : “Barangsiapa yang menempatkan seseorang lebih utama dari Abu Bakar dan Umar, diantara para sahabat Rasulullah, maka dia telah melakukan dosa kepada kaum Muhajirin dan Anshar.”Ibnu Sa’id meriwayatkan dari az-Zuhri, beliau berkata : “Rasulullah bersabda kepada Hassan bin Tsabit : “Apakah engkau akan mengatakan suatu syair tentang Abu Bakar?” : “Dia berkata : “Ya”Kemudian Rasulullah bersabda : “Katakanlah dan saya akan mendengarkan apa yang akan kamu katakana.”Lalu Hassan bin Tsabit bersenandung :
“Orang kedua dari dua orang penghuni gua yang sunyi
Musuh-musuh mengepungnya tatkala bersama menaiki gunung
Dia adalah sahabat yang dicintai Rasulullah yang orang mengenalnya
Tidak ada yang menyamainya dari kalangan manusia”
            Kemudian Rasulullah tertawa, sampai kelihatan gigi gerahamnya, dan bersabda : ”Kau benar wahai Hassan, dia sebagaimana yang kau katakan.”
Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Orang yang paling penyayang diantara umatku adalah Abu Bakar, dan yang paling keras dalam membela agama Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling mengetahui akan halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal, yang paling pintar tentang ilmu waris adalah Zaid bin Tsabit, dan yang paling bagus bacaannya adalah Ubay bin Ka’ab.Dan dalam setiap umat ada seorang kepercayaan dan kepercayaan umat ini adalah Abu ’Ubaidah bin al-Jarrah.”Diriwayatkan juga oleh Abu Ya’la dari hadits Ibnu Umar, dengan tambahan lafadznya : “Dan yang paling bijak dalam memutuskan perkara adalah Ali.”
Dan merieayatkannya juga ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dari Saddad bin Aus dengan menambahkan lafadz : “Abu Dzar adalah orang yang paling zuhud dan paling benar diantara umatku.”, Abu Darda’ adalah orang yang paling taat beribadah dan paling bertakwa, sedangkan Muawiyah bin Abi Sufyan adalah orang yang paling pemurah dan paling dermawan diantara umatku.”
Guru kami, al-’Alamah al-Kafiji, suatu saat ditanya tentang pengutamaan-pengutamaan yang disebut diatas, apakah hal tersebut meniadakan keutamaan-keutamaan sebelumnya?Beliau menjawab : “Bahwasannya hal tersebut sama sekali tidak meniadakan keutamaan-keutamaan yang disebutkan sebelumnya”.
  
Ayat-ayat yang Berkenaan dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq
Ketahuilah, bahwasannya saya pernah melihat buku tentang nama-nama seseorang yang disebutkan nama mereka dalam al-Qur’an yang tidak semuanya tersusun rapih dan tidak lengkap.Saya telah menulis sebuah buku yang berkenaan dengan nama-nama orang yang disebut dalam al-Qur’an yang lengkap dan tersusun rapih.Dalam pembahasan ini saya akan memaparkan secara ringkas ayat-ayat yang berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq.
Allah berfirman :
( ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْه (
“dia adalah salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya : “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.”[8]
Kaum Muslimin sepakat bahwasannya yang disebut dalam ayat ini adalah Abu Bakar.Adapun riwayatnya akan disebutkan belakangan.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah :
 فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْه ِ(
“Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya”[9]
Ibnu Abbas berkata : “Bahwa ketenangan yang turun itu adalah ditujukan kepada Abu Bakar, karena Rasulullah pada saat itu dalam keadaan tenang.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata : Bahwa Abu Bakar membeli Bilal dari Umayyah bin Khalaf dan Ubay bin Khalaf dengan satu selendang dan sepuluh awaq[10] lalu Abu Bakar bebaskan Bilal dengan mengharap keridhaan Allah, kemudian Allah menurunkan firman-Nya tentang sikapnya itu :
“Sesungguhnya usaha kamu sekalian memang berbeda-beda.”[11]
Maksudnya adalah usaha Abu Bakar, Umayyah dan Ubay.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari ’Amir bin Abdullah bin az-Zubair, beliau berkata : Abu Bakar memerdekakan budak-budak di Makkah.Dia juga membebaskan budak-budak perempuan yang sudah tua, apabila mereka masuk Islam.Kemudian Ayahnya berkata : “Wahai anakku, saya melihat engkau memerdekakan budak-budak yang lemah, kenapa kamu tidak membebaskan laki-laki yang kuat yang bisa membantu kamu, membelamu dan memberikan perlindungan terhadap dirimu?”Abu Bakar berkata : “Wahai Ayahku, saya menginginkan apa yang ada disisi Allah.”Amir bin Abdullah bin az-Zubair berkata : “Sebagian keluarga saya mengatakan kepada saya, bahwa ayat ini turun mengenai Abu Bakar, yakni firman Allah :
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.”[12], sampai akhir surat.
Ibnu Abi Hatim dan ath-Thabrani meriwayatkan dari Urwah, berkata : “Bahwasannya Abu Bakar ash-Shiddiq memerdekakan tujuh orang budak, yang semuanya disiksa karena membela agama Allah.”Lalu turunlah ayat kepada Rasulullah mengenai Abu Bakar :
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling bertakwa dari api neraka.”[13]Sampai akhir surat.
Al-Bazzar meriwayatkan dari Abdullah bin zubair, beliau berkata : Telah turun firman Allah : “Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.”[14]Hingga akhir surat adalah berkenaan dengan Abu Bakar.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Siti Aisyah, berkata : Bahwa Abu Bakar tidak pernah bersumpah dengan satu sumpah pun sampai Allah menurunkan ayat tentang tebusan atas sumpah yang diucapkan seseorang.
Al-Bazzar dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Usaid bin Shafwan-salah seorang sahabat-, dia berkata, Ali berkata : “Demi orang yang membawa kebenaran, اyakni Muhammad, dan yang membenarkannya, yakni ash-Shiddiq.”[15]Ibnu Asakir berkata : Demikianlah, riwayat ini menyebutkan dengan lafadz (الحق) sedangkan dalam Mushaf Utsmani ditulis (بالصدق) mungkin ini adalah bacaan Imam Ali.
            Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang berkenaan dengan firman Allah : “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan ini.”[16] Ibnu Abbas berkata : “Ayat ini turun mengenai Abu Bakar dan Umar.
            Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Syawdzab, beliau berkata : Telah turun firman Allah : “Dan bagi orang yang takut pada saat menghadap Tuhannya, ada dua surga.”[17] Ayat ini turun mengenai Abu Bakar.Hadits ini memiliki rieayat yang lain yang telah saya sebutkan dalam kitab Asbabun Nuzul.
            Imam ath-Thabrani dalam kitabnya al-Awsath meriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, tentang firman Allah : “Dan orang-orang Mukmin yang baik”[18] Turun berkenaan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq.
            Abdullah bin Abi Hamid dalam tafsirnya meriwayatkan dari Mujahid, beliau berkata : Tatkala turun firman Allah, yang berbunyi : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi.”[19] Abu Bakar berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu kebaikan kepadamu melainkan kami ikut serta didalamnya, lalu turunlah ayat : “Dialah yang memberikan rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohon ampun untukmu).”[20]
            Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ali bin Husain, bahwa firman Allah, yang berbunyi : “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedangkan mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan diatas dipan.”[21] Turun mengenai Abu Bakar, Umar dan Ali.
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkata : Bahwasannya ayat yang berbunyi : “Kami perintahkan pada manusia supaya mereka berbuat baik kepada dua ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula), mengandungnya sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun dia berdoa : Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berikanlah kebaikan kepadaku dengan memberikan kebaikan kepada anak cucuku.Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang dijanjikan kepada mereka.”[22]
Turun mengenai Abu Bakar.
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu ’Uyainah, beliau berkata : “Semua kaum Muslimin mendapat teguran dari Allah, karena sikap mereka kepada Rasulullah, kecuali Abu Bakar, karena dia mampu keluar dari teguran tersebut.Kemudian membaca firman Allah : “Jika kamu sekalian tidak menolongnya(Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafirmengeluarkannya (dari Mekkah) sedangkan dia adalah salah seorang dari dua orangketika keduanya berada dalam gua.”[23]
  
Hadits-hadits yang Menyebutkan Keutamaan Abu Bakar Digandengkan dengan Keutamaan Umar
Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau berkata : “Tatkala ada seorang penggembala yang sedang menggembalakan kambingnya, tiba-tiba datanglah seekor serigala dan menerkam kambingnya.Penggembala itu meminta kepada serigala itu agar mengembalikan kambingnya.Dan serigala itu menoleh kepadanya seraya berkata : “Siapakah pemilik hari penggembalaan binatang buas, dimana tidak ada penggembala selainku.Dan tatkala seorang lelaki membawa sapinya, dengan dibebani bawaan yang berat, lalu sapi itu menoleh kepadanya dan berkata : “Saya tidak diciptakan untuk ini, tetapi saya diciptakan untuk membajak tanah.”Orang-orang pun berkata : “Maha Suci Allah, seekor sapi dapat berbicara.”Rasulullah bersabda : “Saya beriman dengan hal itu, demikian juga dengan Abu Bakar dan Umar, demikianlah juga apa yang akan dilakukan Abu Bakar dan Umar.”
Maksudnya, walaupun keduanya tidak hadir dalam majlis, namun keduanya akan beriman.Dikarenakan Rasulullah mengetahui bahwa Abu Bakar dan Umar memiliki keimanan yang sempurna.
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Tidak ada seorang Nabi pun melainkan dia memiliki dua orang menteri (pembantu) di langit dan dua menteri di bumi.Adapun dua menteriku di langit adalah Jibril dan Mikail, sedangkan yang dibumi adalah Abu Bakar dan Umar.”
Ashabus Sunan dan yang lainnya meriwayatkan dari Sa’id bin Zaid, berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda : “Abu Bakar akan masuk surga, demikian pula halnya dengan Umar, Utsman dan Ali.”Hingga beliau menyebutkan sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga.
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Sa’id, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang-orang yang mendapatkan derajat yang tinggi di dalam surga, akan melihat kepada mereka orang-orang yang ada dibawahnya, sebagaimana kalian melihat bintang-bintang yang ada di langit.Abu Bakar dan Umar ada dalam derajat tinggi tersebut.”[24]
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas, bahwasannya Rasulullah pergi keluar untuk menemui para sahabatnya dari kaum Muhajirin dan Anshar, dan mereka sedang duduk, diantara mereka ada Abu Bakar dan Umar.Saat itu tidak seorang pun dari sahabat Rasulullah yang berani mengangkat pandangannya untuk melihat Rasulullah, kecuali Abu Bakar dan Umar.Keduanya melihat Rasulullah, dan Rasulullah pun melihat kepada mereka, mereka tersenyum kepada Rasulullah dan Rasulullah pun tersenyum kepada mereka.”
Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim meriwayatkan dari dari Ibnu Umar, bahwa suatu ketika Rasulullah keluar kemudian masuk masjid, sementara Abu Bakar dan Umar berada disebelah kanan dan kirinya, dan Rasulullah memegang tangan keduanya seraya bersabda : “Demikianlah kami akan dibangkitkan pada hari kiamat.”[25]
Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Saya adalah orang yang pertama yang akan direkahkan untukku bumi, lalu setelah itu Abu Bakar dan Umar.”
Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim -dengan menyatakan keshahihan hadits ini- meriwayatkan dari Abdullah bin Hanthab, bahwa Rasulullah melihat Abu Bakar dan Umar kemudian bersabda : “Dua orang ini laksana pendengaran dan penglihatan.”[26]
Al-Bazzar dan al-Hakim meriwayatkan dari Abu Arwa ad-Dausi, dia berkata : “Suatu ketika saya bersama Rasulullah, kemudian datanglah Abu Bakar dan Umar, saat melihat kedatangan keduanya Rasulullah bersabda : “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kekuatan kepadaku dengan kalian berdua.”Hadits serupa juga diriwayatkan dari hadits al-Barra’ bin ’Azib, yang diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dalam kitabnya al-Awsath.
Abu Ya’la telah meriwayatkan dari Ammar bin Yasir, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Jibril telah dating kepadaku tadi, kemudian saya katakana kepadanya : Wahai Jibril, katakana kepadaku mengenai keutamaan-keutamaan Umar.”Jibril berkata : “Kalau sekiranya aku katakan kepadamu mengenai keutamaan Umar, sepanjang usia Nuh, maka tidak akan habis keutamaannya untuk saya bicarakan.Dan sesungguhnya Umar adalah satu kebaikan dari kebaikan-kebaikan Abu Bakar.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdurrahman bin Ghanam, bahwa Rasulullah bersabda kepada Abu Bakar dan Umar : “Apabila kalian telah sepakat dalam suatu masalah, maka saya tidak akan menolak dari apa yang telah kalian sepakati.”[27]
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwasannya beliau ditanya : “Siapakah yang pernah memberikan fatwa pada zaman Rasulullah?kemudian beliau menjawab : “Abu Bakar dan Umar dan saya tidak tahu orang lain selain keduanya.”
Al-Qasim bin Muhammad meriwayatkan, beliau berkata : Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali mereka adalah yang memberikan fatwa pada zaman Rasulullah.”
Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwasannya Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya bagi setiap nabi ada orang pilihan dari umatnya, sedangkan orang pilihan dari sahabat-sahabatku adalah Abu Bakar dan Umar.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ali, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Semoga Rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Abu Bakar.Dia nikahkan saya dengan anaknya, dia menemaniku pada saat hijrah ke Madinah, dan dia telah memerdekakan Bilal dari perbudakan.Dan semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Umar.Dia katakan yang hak meskipun pahit, dia meninggalkan hak-hak dan sahabat-sahabatnya.Dan semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Utsman.Dimana malaikat malu kepadanya.Dan semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Ali.Ya Allah jadikanlah kebenaran selalu bersamanya dimana saja dia berada.”
Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Sahl, berkata : Tatkala Rasulullah datang dari menunaikan Haji Wada’, Rasulullah naik mimbar lalu memuji Allah, kemudian bersabda : “Wahai manusia sesungguhnya Abu Bakar sama sekali tidak pernah menyakiti kepadaku, maka ketahuilah oleh kamu sekalian, wahai manusia, swsungguhnya aku ridha kepadanya, kepada Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad, Abdurrahman bin ’Auf serta kaum Muhajirin yang hijrah pertama kali.Maka ketahuilah hal tersebut.
Abdullah bin Ahmad dalam kitabnya Zawaid az-Zuhd meriwayatkan dari Ibnu Abi Hazim, dia berkata : seorang laki-laki dating kepada Ali bin Husain, lalu berkata : “Bagaimanakah kedudukan Abu Bakar dan Umar disisi Rasulullah?”Ali bin Husain berkata : “Sebagaimana kedudukan keduanya disisi Rasulullah pada hari kiamat.”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Bastham bin Muslim, beliau berkata : Rasulullah bersabda kepada Abu Bakar dan Umar : “Tidak akan ada seorang pun yang memerintahkan kepada kalian berdua setelahku.”[28]
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Anas dengan sanad yang marfu’, : “Kecintaan kepada Abu Bakar dan Umaradalah sebagian dari keimanan, sedangkan kebencian kepada keduanya adalah bagian dari kekufuran.”
Dia juga meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata : “Kecintaan kepada Abu Bakar dan Umar dan mengetahui kedudukan keduanya, adalah bagian dari sunnah.”
Dan dia juga meriwayatkan dari Anas dengan sanad yang marfu’: “Sesungguhnya saya mengharapkan kepada umatku rasa cinta kepada Abu Bakar dan Umar sebagaimana harapanku kepada umatku agar mengatakan : “Tiada Tuhan selain Allah.”
  
Hadits-Hadits Lain Tentang Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau berkata saya mendengar Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang menginfakkan sepasang barang di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu surga : Wahai hamba Allah ini adalah sebuah kebaikan. Jika dia adalah ahli shalat maka dia akan dipanggil dari pintu shalat, dan jika dia ahli jihad maka dia akan dipanggil dari pintu jihad, dan jika dia ahli sedekah maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah, dan jika dia ahli puasa maka dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan.”Kemudian Abu Bakar berkata : “Lalu bagaimana jika ada orang yang dipanggil dari semua pintu itu wahai Rasulullah, apakah dia akan dipanggil dari pintu-pintu tersebut satu persatu?Rasulullah menjawab ; “Ya, dan saya berharap kamu adalah salah seorang dari mereka.”
Abu Daud dan al-Hakim –dia menyatakan bahwa hadits ini adalah shahih- dari Abu Hurairah, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Ketahuilah wahai Abu Bakar bahwasannya engkau adalah orang yang pertama masuk surga dari umatku.”
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling dekat persahabatannya denganku dan penginfakkan hartanya untukku adalah Abu Bakar, andaikata saya menjadikan seseorang sebagai kekasih selain Tuhanku, niscaya saya akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku (khalil), akan tetapi kami adalah saudara seiman.”
Dalam hadits ini juga disebutkan dari hadits Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ibnu Mas’ud, Jundub bin Abdullah, al-Barra’, Ka’ab bin Malik, Jabir bin Abdullah, Anas, Abu Waqid al-Laitsi, Abu al-‘Ali, Aisyah dan Abu Hurairah serta Ibnu Umar.Saya telah meriwayatkan hadits ini dalam kitab al-Hadits al-Mutawatirah.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Darda’, beliau berkata : “Saya sedang duduk bersama Rasulullah, lalu tiba-tiba datinglah Abu Bakar dan mengucapkan salam, dia berkata : “Sesungguhnya saya mempunyai masalah dengan Umar bin Khaththab dan saya terlanjur mengecam perbuatannya, kemudian saya menyesal apa yang telah saya lakukan, dan saya memintanya untuk memberi maaf kepada saya, namun dia menolaknya, maka saya pun datang menemuimu, kemudian Rasulullah bersabda : “Allah akan mengampunimu wahai Abu Bakar(Rasulullah berucap demikian sebanyak tiga kali).Kemudian Umar menyesali apa yang telah dilakukan.Kemudian Umar pergi ke rumah Abu Bakar, namun tidak mendapatinya, Lalu dia datang kerumah Rasulullah.Melihat kedatangan umar, wajah Rasulullah berubah karena marah, hingga Rasulullah merasa kasihan, dan umar pun bersimpuh dihadapan Rasulullah.Kemudian Umar berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya saya telah berbuat dzalim kepadanya(Umar mengucapkannya dua kali).Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian, dan kalian katakana : “Kamu berdusta”, dan Abu Bakar mengatakan : “Kamu adalah orang yang benar”, dan dia mengorbankan jiwa dan hartanya untukku.Apakah kalian akan menyia-nyiakannya sebagai sahabatku.”maka setelah kejadian itu Abu Bakar tidak pernah disakiti.
Ibnu ‘Adi merieayatkan dari hadits Ibnu Umar, sebagaimana riwayat diatas.Dalam riwayat itu disebutkan, Rasulullah bersabda : “Janganlah kalian menyakitiku dengan menyakiti sahabatku ini.Karena sesungguhnya Allah mengutusku dengan petunjuk dan agama yang benar kepada kalian, dan kalian katakana : “Kamu berdusta”, sedangkan Abu Bakar berkata : “Kamu benar”.Andaikata Allah tidak menjadikan Abu Bakar sebagai sahabatku, niscaya aku akan menjadikannya sebagai khalil (kekasih), akan tetapi kita adalah saudara seiman.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari al-Miqdam, beliau bersabda : “’Uqail bin Abu Thalib pernah terlibat pertengkaran dengan Abu Bakar”, beliau berkata : “Abu Bakar adalah orang yang paling mengetahui tentang nasab orang Arab, oleh karena itu Abu Bakar segan terhadap ‘Uqail karena dia memiliki ikatan kekerabatan dengan Rasulullah, sehingga Abu Bakar berpaling darinya, Lalu dia memberitahukan kejadian tersebut kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah berdiri dihadapan khalayak seraya bersabda : “Tidakkah kalian membiarkan sahabatku supaya dia tidak diganggu, apakah urusan kalian dengannya?.Demi Allah, tidak ada di antara pintu-pintu kamu sekalian selain didalamnya ada kegelapan, kecuali pintu Abu Bakar karena didepan pintunya ada cahaya.Demi Allah kalian mengatakan kepadaku : “Kamu berdusta”, sedangkan Abu Bakar mengatakan : “Kamu benar”.Kalian tidak memberikan harta kalian kepadaku, tetapi dia memberikan hartanya untuk membantuku.Kalian merendahkanku , namun dia mengikutiku.”
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang memanjangkan pakaiannya sampai ketanah dengan sombong, maka Allah tidak akan pernah melihat kepadanya pada hari kiamat.”Abu Bakar berkata : “Sesungguhnya salah satu bagian dari pakaian saya melorot, kecuali jika aku talikan”, kemudian Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya kamu melakukan itu bukan karena sombong.”
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Siapakah diantara kalian yang puasa hari ini?”Abu Bakar berkata : “Saya”.Rasulullah bersabda : “Siapakah yang hari ini ikut mengantar jenazah?”Abu Bakar berkata : “Saya”.Rasulullah bersabda : “Lalu siapakah diantara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”Abu Bakar berkata : “Saya”.Rasulullah bersabda lagi : “Siapakah yang hari ini menjenguk orang sakit?”Abu Bakar berkata : “Saya”.Kemudian Rasulullah bersabda : “Tidaklah semua perkara yang disebutkan tadi ada pada seseorang melainkan orang tersebut akan masuk surga.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan Abdur Rahman bin Abu Bakar.Hadits Anas tersebut diriwayatkan oleh al-Baihaqi, dan pada bagian akhirnya disebutkan : “Kamu akan masuk surga.”Sedangkan hadits Abdur Rahman diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan lafadz berikut : “Suatu ketika Rasulullah menunaikan shalat shubuh.Kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepada para sahabatnya.Kemudian beliau bertanya : “Siapakah diantara kalian yang puasa hari ini?”Umar berkata : “Wahai Rasulullah saya tidak berniat puasa semalam, maka saya berbuka hari ini.”Abu Bakar berkata : “Al-Hamdulillah saya semalam sudah berniat untuk puasa, maka hari ini saya sedang berpuasa.”
Rasulullah bersabda : “Lalu adakah diantara kalian yang mengunjungi orang sakit hari ini?”Umar berkata : “Ya Rasulullah, kita belum memasuki waktu siang, lalu bagaimana kita akan menjenguk orang yang sakit?”Abu Bakar berkata : “Saya mendengar bahwa saudara saya Abdur Rahman bin ‘Auf sakit, maka saya pun mampir kerumahnya untuk melihat bagaimana kondisinya di pagi ini.”
Rasulullah kembali bertanya : “Siapakah diantara kalian yang memberi makan orang miskin pagi ini?”Umar berkata : “Ya Rasulullah, kami baru saja mengerjakan shalat, dan matahari belum terbit.”
Abu Bakar berkata : “Ketika saya masuk masjid saya bertemu dengan seorang peminta-minta.Saya mendapatkan sepotong roti dari Abdur Rahman, lalu saya mengambilnya dan memberikannya kepada orang tadi.”
Rasulullah bersabda : “Kabar gembira bagimu dengan surga.”Kemudian Rasulullah bersabda kepadanya yang membuat umar ridha.Dan Umar mengatakan bahwa setiap kali dia mengharapkan sebuah kebaikan dia selalu saja terkalahkan oleh Abu Bakar.”
Abu Ya’la meriwayatkan dari Ibnu mas’ud, beliau berkata : “Suatu ketika saya sedang shalat dimasjid.Kemudian Rasulullah datang dengan Abu Bakar dan Umar.Rasulullah mendapatkan saya saat itu sedang berdoa.Rasulullah bersabda : “Mintalah, niscaya akan diberikan kepadamu.”Kemudian Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang ingin membaca al-Quran dengan penuh kelembutan dan kesejukan, maka bacalah seperti bacaannya Ibnu Ummi ‘Abd.”
Kemudian setelah itu saya pulang kerumah, dan Abu Bakar pun datang menemuiku dengan memberikan kabar gembira untukku, kemudian datang Umar dan dia mendapatkan Abu Bakar telah keluar dari rumahku.Lalu Umar berkata : “Sesungguhnya engkau adalah pemburu kebaikan.”
Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya yang baik dari Rabi’ah al-Aslami, beliau berkata : “Suatu ketika saya pernah terlibat perdebatan dengan Abu Bakar.Dia mengatakan suatu perkataan yang tidak saya sukai, kemudian Abu Bakar menyesali perkataannya itu.Dia lalu berkata kepadaku : “Wahai Rabi’ah, balaslah perkataanku dengan perkataan yang sama sebagai balasan atas apa yang aku katakana.”Saya berkata : “Saya tidak akan melakukan itu.”Abu Bakar berkata : “Kamu harus katakana itu, maka jika tidak Rasulullah akan marah kepadamu.”Lalu saya katakana lagi : “Saya tidak akan melakukan itu.”Kemudian Abu Bakar pergi menemui Rasulullah dan saya menyusul dibelakangnya.Kemudian datang beberapa orang yang telah masuk Islam.Mereka berkata kepada saya : “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Bakar, mengapa Rasulullah marah kepadamu, sedangkan dia memujimu dalam banyak hal?Saya berkata : “Tahukah kalian siapa dia?Dia adalah Abu Bakar, dia adalah salah satu diantara dua orang yang ada bersama Rasulullah di dalam gua, dia adalah pemuka kaum Muslimin.Janganlah kalian palingkan wajah terhadapnya sehingga dia menyangka bahwa kalian akan membantuku sehingga dia marah.Abu Bakar pun menemui Rasulullah, lalu Rasulullah marah karena dia marah, dan Allah marah karena keduanya ( Rasulullah dan Abu Bakar) marah, yang mengakibatkan Rabi’ah akan celaka.Mereka berkata : Lalu apa yang akan kamu perintahkan pada kami?Rabi’ah berkata : “Pulanglah kalian.”
Abu Bakar kemudian menemui Rasulullah dan saya mengikutinya sendirian, hingga dia sampai dihadapan Rasulullah, lalu dia menceritakan apa yang telah terjadi sebagaimana adanya.Kemudian Rasulullah mengangkat wajahnya dan berkata kepada saya : “Wahai Rabi’ah, apa yang telah terjadi padamu dan Abu Bakar?”Saya berkata : “Wahai Rasulullah telah terjadi demikian dan demikian.”Lalu dia katakan sesuatu kepadaku yang saya tidak menyukainya.Lalu dia katakana kepada saya : Katakan kepada saya sebagaimana yang telah saya katakan sebagai balasan dari apa yang telah saya katakana.Namun saya menolak apa yang dia minta.Kemudian Rasulullah bersabda : “Baiklah, janganlah kau balas sebagaimana yang dia ucapkan, tapi katakana kepadanya : “Allah telah mengampunimu wahai Abu Bakar.”Lalu saya katakana sebagaimana yang Rasulullah katakan : “Allah telah mengampunimu wahai Abu Bakar.”Al-Hasan berkata : “Lalu Abu Bakar berbalik dan menangis.”
Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar – dan dia mengatakan bahwa riwayat ini hasan-, bahwa Rasulullah berkata kepada Abu Bakar : “Engkau adalah sahabatku di atas Haudh dan sahabatku di dalam gua.”
Abdullah bin Ahmad meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda : “Abu baker adalah sahabat dan yang menemaniku di dalam gua.”(Sanad hadits ini hasan).
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Hudzaifah, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya di dalam surga itu ada seekor burung sejenis burung Bakhati.Abu Bakar berkata : “Sesungguhnya dagingnya sangatlah lembut, wahai Rasulullah.”Rasulullah bersabda : “Namun lebih lembut orang yang memakannya, dan engkau adalah salah seorang yang akan menikmatinya.”(Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Anas).
Abu Ya’la meriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Saya diangkat kelangit (pada saat Mi’raj), dan tidaklah aku lewati satu langit kecuali aku dapatkan namaku dan nama Abu Bakar setelahku.”Hadits ini sanadnya lemah.Namun hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas, Abu Sa’id dengan sanad-sanad yang juga lemah, yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain.
Ibnu Abi Hatim dan Abu Nu’aim meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, beliau berkata : Saya membaca firman Allah : “Wahai jiwa yang tenang.”[29]Abu Bakar kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini sangat baik.”Kemudian Rasulullah bersabda : “Ketahuilah wahai Abu Bakar, sesungguhnya malaikat akan mengatakan demikian saat menjelang kematianmu.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Amir bin Abdullah bin Zubair, beliau berkata : Tatkala turun firman Allah yang berbunyi : “Dan sesungguhnya kalau kami perintahkan kepada mereka, bunuhlah dirimu atau keluarlah dari kampungmu, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka.”[30]
Abu Bakar berkata : “Wahai Rasulullah, andaikata engkau menyuruhku untuk membunuh diriku sendiri, maka akan saya lakukan apa yang engkau perintahkan atasku.”Rasulullah bersabda : “Kamu benar.”
Abu al-Qasim al-Baghawi meriwayatkan, berkata kepada kami Daud bin Umar, berkata kepada kami Abdul Jabbar bin al-Ward dari Ibnu Abi Mulaikah, beliau berkata : Suatu ketika Rasulullah dan para sahabatnya memasuki sebuah kolam, beliau bersabda : “Hendaknya setiap orang berenang menuju sahabtnya.”Ibnu Abi Mulaikah berkata : Maka berenanglah semua orang yang ada, hingga yang tersisa hanya Rasulullah dan Abu Bakar.Kemudian Rasulullah berenang menuju Abu Bakar, hingga dia memeluknya.Dan beliau bersabda : “Andaikata saya bolaeh menjadikan seseorang sebagai khalil, maka akan saya jadikan Abu Bakar, namun dia adalah sahabat saya.”(Hadits ini juga diriwayatkan oleh Waki’ dan Abdul Jabbar bin al-Ward, juga diriwayatkan oleh Ibnu Asakir.Abdul Jabbar adalah seorang perawi yang kredibel.Sedangkan syaikh Ibnu Abi Mulaikah adalah seorang Imam dalam hadits.Akan tetapi hadits ini termasuk dalam kategori hadits mursal dan sangat gharib.
Saya katakana bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dalam kitabnya al-Kabir, dan Ibnu Syahin dalam kitabnya as-Sunnah, dengan melalui jalur yang lain dimana sanadnya bersambung kepada Ibnu Abbas.
Ibnu Abi ad-Dunya meriwayatkan dalam kitabnya Makarim al-Akhlaq, juga Ibnu Asakir dari jalur periwayatan Sadaqah bin maimun al-Qurasyi dari Sulaiman bin Yasar, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Akhlak yang baik itu ada tiga ratus enam puluh jumlahnya.Dan jika Allah menghendaki dari seorang hamba suatu kebaikan, maka dia akan menjadikan dalam dirinya satu kebaikan, yang dengannya dia akan masuk surga.”Abu Bakar berkata : “Apakah dalam diri saya ada salah satunya wahai Rasulullah?”Rasulullah menjawab : “Semuanya.”
Ibnu Asakir dari jalur yang lain meriwayatkan, dari Shadaqah al-Qurasy, dari seseorang, dia berkata :Rasulullah bersabda : “Akhlak yang baik itu ada tiga ratus enam puluh jumlahnya.”Kemudian Abu Bakar berkata : “Apakah salah satu diantaranya ada pada diri saya wahai Rasulullah?”Rasulullah bersabda : “Semuanya ada pada dirimu, maka selamat atasmu wahai Abu Bakar.”
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Majma’ bin Ya’qub al-Anshari dari ayahnya berkata : “Jikalau majlis Rasulullah demikian rapatnya hingga ia laksana tembok.Maka sesungguhnya disitu ada tempat duduk Abu Bakar yang selalu dikosongkan, dimana manusia tidak mau duduk di tempat duduknya.Apabila Abu Bakar datang maka dia akan duduk ditempat itu.Dan Rasulullah akan menghadapkan wajah kepadanya, kemudian Rasulullah menyampaikan kata-kata kepadanya, sementara khalayak yang hadir mendengarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Anas, beliau berkata : Rasulullah bersabda : ”Mencintai Abu Bakar dan berterima kasih kepadanya adalah wajib bagi segenap umatku.”(Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’id).
Ibnu Asakir juga meriwayatkan dari Siti Aisyah dengan sanad yang marfu’: “Swmua orang akan dihisab kecuali Abu Bakar.”
Pendapat Para Sahabat dan Salafus Shalih Tentang Keutamaan Abu Bakar
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir, beliau berkata : Umar bin Khaththab pernah berkata : “Abu Bakar adalah Sayyid (pemimpin) kami.”
Imam al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab al-Iman meriwayatkan dari Umar bahwa beliau berkata : “Andaikata Iman Abu Bakar ditimbang dengan keimanan seluruh keimanan penghuni bumi, maka keimanan Abu Bakar akan lebih berat dari keimanan mereka.”
Ibnu Abi Khaitsamah dan Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid az-Zuhd meriwayatkan dari Umar bin Khaththab : “Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang senantiasa paling awal dalam melakukan kebaikan.”
Dalam musnadnya Musaddad meriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab berkata : “Sesungguhnya saya sangat mendambakan diriku adalah seutas rambut di dada Abu Bakar.”[31]
Umar juga berkata : “Sesungguhnya wangi badan Abu Bakar itu jauh lebih wangi dari pada wanginya misk.”[32]
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ali Bahwasannya dia masuk untuk menemui Abu Bakar, yang saat itu dia sedang berbaring dengan berselimut.Kemudian Ali berkata : “Tidak ada seorang pun yang menemui Allah dengan mushafnya yang lebih saya cintai dari orang yang berbaring ini.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Umar berkata kepada saya bahwa tidak satu kali pun saya berlomba dalam melakukan kebaikan kecuali saya selalu dikalahkan oleh Abu Bakar.”
Imam at-Thabrani dalam al-Awsath meriwayatkan dari Ali, beliau berkata : “Demi dzat yang diriku berada di tangan-Nya, tidak pernah kita berlomba melakukan suatu kebaikan, kecuali Abu Bakar akan selalu mengungguli kita.”
Dalam al-Awsath ath-Thabrani juga meriwayatkan dari Jahifah, beliau berkata : Ali Berkata : “Manusia yang paling baik setelah Rasulullah adalah Abu Bakar kemudian Umar.Tidak akan pernah bersatu perasaan cinta dan benci kepada Abu Bakar dan Umar dalam hati seorang mukmin.”
Di dalam al-Kabir beliau meriwayatkan dari Abdullah bin Umar : “Tiga orang dari bangsa Quraisy yang merupakan orang-orang terbaik dan merupakan orang yang paling kuat memegang prinsip serta berbudi pekerti sangat baik.Jika mereka berbicara kepadamu mereka tidaka akan membohongimu, dan jika kalian berbicara kepada mereka, mereka tidak akan mendustakanmu : Abu Bakar ash-Shiddiq, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, serta Utsman bin Affan.”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha’i, beliau berkata : “Abu Bakar itu disebut sebagai al-Awwah dikarenakan sifat kasih dan sayang beliau.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Anas, beliau berkata : “Di dalam kitab-kitab terdahulu tertulis : “Abu Bakar ash-Shiddiq itu bagaikan hujan, dimanapun dia turun, maka dia akan selalu mendatangkan manfaat.”
Beliau juga berkata : “Kami melihat sahabat-sahabat para nabi, akan tetapi kami tidak meanemukan seorang nabi pun yang sahabatnya sama dengan Abu Bakar ash-Shiddiq.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Imam az-Zuhri, beliau berkata : “Salah satu keutamaan Abu Bakar adalah bahwasannya beliau tidak pernah ragu terhadap Allah dalam kehidupannya sedetik pun.”
Dia juga meriwayatkan dari az-Zubair bin Bakkar, berkata : “Saya mendengar sebagian ahli ilmu berkata : “Para ahli khutbah dari sahabat Rasulullah adalah Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib.”
Dia juga meriwayatkan dari Hushain, berkata : “Tidak ada anak keturunan Adam yang lebih baik, setelah para nabi dan rasul dari pada Abu Bakar, bahwasannya Abu Bakar saat memerangi orang-orang yang murtad memiliki sikap laksana seorang nabi.”
Imam ad-dainuri dalam al-Mujalasah dan Ibnu Asakir dari Sya’bi meriwayatkan : “Allah memberikan kekuasaan kepada Abu BAkar dalam empat hal yang tidak dimiliki oleh seorang pun.Dia adalah ash-Shiddiq yang belum pernah ada seorang pun yang bernama ash-Shiddiq.Dia adalah sahabat Rasulullah didalam gua, dia adalah temannya saat berhijrah.Rasulullah memerintahkannya untuk menjadi Imam dalam shalat saat Rasulullah masih hidup.”
Ibnu Abu Daud meriwayatkan dalam kitab al-Mashahif dari Ja’far, berkata : “Abu Bakar mendengar panggilan Jibril kepada Rasulullah akan tetapi dia tidak melihatnya.”
Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu al-Musayyab, berkata : “Kedudukan Abu Bakar disisi Rasulullah adalah laksana menteri.Dia selalu diajak bermusayawarah dalam segala urusannya.Dia adalah orang kedua dalam Islam, orang kedua di dalam gua, orang kedua yang ada dalam bangsal pada saat perang Badar.Rasulullah belum pernah mengedepankan orang lain lebih daripadanya.”
  
Ayat-ayat dan Hadits Yang Mengisyaratkan atas Kekhalifahannya dan Pendapat Ulama Dalam Hal Ini
Imam Tirmidzi dengan sanad yang hasan dan Imam al-Hakim dengan sanad yang shahih meriwayatkan dari Hudzaifah, berkata : Rasulullah bersabda : “Ikutilah jejak dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar.”(Hadits serupa juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Abu Darda’, dan al-Hakim dari hadits Ibnu Mas’ud).
Abu al-Qasim al-Baghawi dengan sanad yang hasan meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda : “Di belakang saya akan ada dua belas orang khalifah, sedangkan Abu Bakar akan berkuasa dalam waktu sebentar.”Semua ulama sepakat dengan keshahihan hadits ini.Hadits ini diriwayatkan dari berbagai riwayat, sebagaimana yang telah diterangkan pada awal buku ini.
Sedangkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dalam hadits yang telah lalu disebutkan bahwasannya Rasulullahketika sedang berkhutbah menjelang wafatnya beliau bersabda : “Sesungguhnya seorang hamba telah diberi pilihan oleh Allah.”Dan dalam akhir hadits itu disebutkan : “Pintu-pintu akan ditutup kecuali pintu Abu Bakar.”Dalam riwayat lain dari keduanya disebutkan : “Tidak akan tinggal satu pintu pun di dalam masjid kecuali pintu Abu Bakar.”Para ulama berkata : “Hadits ini memberikan isyarat atas kekhalifahan, karena Abu Bakar selalu keluar dari pintu itu untuk shalat bersama kaum muslimin.”Lafadz serupa juga diriwayatkan dalam hadits ini yang lafadznya adalah sebagai berikut : “Tutuplah pintu-pintu masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.”[33]
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jubair bin Muth’im dari bapaknya, berkata : “Seorang wanita datang kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menyuruhnya agar dia kembali datang untuk menemuinya.Wanita itu berkata : “Bagaimana jika saya datang dan tidak mendapatkan engkau wahai Rasulullah –dia seakan-akan mengatakan jika engkau meninggal- Rasulullah bersabda : “Jika kau tidak mendapatkan aku maka temuilah Abu Bakar.”Al-Hakim meriwayatkan –dan beliau telah mensahihkannya- dari Anas, berkata : “Bani Musthaliq mengutusku kepada Rasulullah untuk menanyakan kepada siapa mereka harus membayar zakat setelah Rasulullah.Kemudian saya datang menemui Rasulullah dan saya tanyakan hal itu.Beliau bersabda : “Berikan kepada Abu Bakar.”Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata : “Seorang wanita datang kepada Rasulullah dia menanyakan sesuatu kepadanya.Rasulullah bersabda kepadanya : “Datanglah engkau kembali menemuiku.”Lalu wanita tersebut bertanya : “Bagaimana jika aku datang dan tidak mendapatimu?(seakan dia bertanya bagaimana jika engkau meninggal?).Rasulullah bersabda : “Jika engkau kembali ketempat ini dan tidak mendapatkanku, maka temuilah Abu Bakar, karena sesungguhnya dia adalah khalifah sesudah saya.”
Imam Muslim meriwayatkan dari Siti Aisyah, berkata : “Rasulullah bersabda kepada saya ketika beliau sedang sakit : “Pergilah ayahmu (Abu Bakar) dan saudaramu hingga aku tuliskan sesuatu.Sebab saya khawatir ada orang yang berambisi (kepada kekuasaan).Atau akan ada orang yang mengatakan, saya lebih pantas, padahal Allah dan orang-orang yang beriman, padahal Allah dan orang-orang yang beriman tidak suka kecuali jika ada pada tangan Abu Bakar.”
Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan (melalui beberapa jalur periwayatan) dari Aisyah dia berkata : “Rasulullah bersabda kepada saya pada saat beliau sakit dan menjelang wafatnya : “Panggillah saudaramu Abdur Rahman bin Abu Bakar, saya akan menulis easiat unruk Abu Bakar, hingga orang-orang tidak berselisih setelah aku meninggal, kemudian dia bersabda : “Tinggalkanlah hal itu, saya berlindung kepada Allah jika kaum muslimin akan berselisih mengenai Abu Bakar.”
Imam Muslim meriwayatkan dari Siti Aisyah, bahwasannya beliau ditanya : “Siapakah gerangan kiranya yang akan dipilih olehnya sebagai penggantinya andaikata dia memilih seseorang sebagai penggantinya?Aisyah berkata : “Abu Bakar.”Lalu siapakah setelah Abu Bakar?Aisyah berkata : “Umar.”Kemudian siapa?Aisyah berkata : “Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, beliau berkata : “Rasulullah sakit, kemudian sakitnya bertambah parah.Kemudian Rasulullah bersabda : “Suruhlah Abu Bakar agar dia menjadi Imam shalat.”Aisyah berkata : “Ya Rasulullah sesungguhnya dia itu adalah seorang yang berhati lembut.Jika dia menempati posisimu, maka dia tidak sanggup untuk menjadi imam.”Rasulullah bersabda : “Suruhlah dia agar menjadi imam shalat.”Lalu Siti Aisyah mengulangi apa yang dikatakan oleh Rasulullah : “Suruhlah dia menjadi imam shalat, sesungguhnya kalian adalah laksana wanita-wanita yang ada di zaman nabi Yusuf.”Kemudian datanglah seorang suruhan menemui Abu Bakar.Maka Abu Bakar pun menjadi imam pada saat Rasulullah masih hidup.
Hadits ini mutawatir, yang juga diriwayatkan dari Aisyah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Abdullah bin Zam’ah, Abu Sa’id, Ali bin Abu Thalib dan Hafsah.Dan saya telah menyebutkan riwayat-riwayatnya dalam al-Hadits al-Mutawatirah.
Pada riwayat yang lain dari Siti Aisyah beliau bersabda : “Saya mengulang-ulang apa yang disampaikan Rasulullah tersebut.Dan tidak ada seorang pun yang mendorongku untuk melakukan itu, kecuali karena tidak terbersit dalam hatiku akan ada orang yang mencintai seseorang persis seperti dia mencintai Rasulullah dan tidak ada seorang pun yang mampu menggantikan posisi Rasulullah kecuali dia akan merasa pesimis dengannya.Maka saya menginginkan agar Rasulullah tidak memilih Abu Bakar.”
Dalam hadits Zam’ah, beliau berkata : Bahwasannya Rasulullah menturuh mereka untuk melakukan shalat.Sedangkan saat itu Abu Bakar tidak ada.Lalu Umar maju memimpin shalat.Rasulullah bersabda : “Tidak, tidak, tidak.Allah dan kaum muslimin tidak suka kecuali Abu Bakar yang menjadi imam shalat.”
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar disebutkan : “Umam telah mengucapkan takbir untuk memimpin shalat.Kemudian Rasulullah mendengar takbirnya.Lalu Rasulullah menjulurkan kepalanya melihat dengan marah dan bersabda : “Dimana Ibnu Abi Quhafah?”
Para Ulama berkata : “dalam hadits ini ada petunjuk yang sangat jelas bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang paling utama secara mutlak, dan dia adalah orang yang paling berhak untuk memangku jabatan khalifah dan orang yang paling berhak menjadi imam.”
Al-Asy’ari berkata : Telah diketahui dengan jelas bahwa Rasulullah menyuruh ash-Shiddiq untuk menjadi imam di tengah-tengah kaum Nuhajirin dan Anshar, dengan sabdanya : “Orang yang memimpin shalat hendaknya orang yang paling mengerti tentang Kitab Allah.”
Dengan demikian hal ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling mengerti tentang al-Qur’an.
Para sahabat juga berdalil dengan hadits ini bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling berhak untuk menjabat sebagai khalifah.Diantara orang yang menjadikan hadits ini sebagai dalil adalah Umar dan Ali.
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata : “Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar untuk memimpin shalat, sedangkan saya menyaksikan sendiri, tidak ghaib dan juga tidak sedang sakit.Maka kami rela menyerahkan urusan dunia kami sebagaimana Rasulullah rela menyerahkan urusan agama kami kepadanya.”
Para Ulama berkata : “Telah diketahui bersama bahwasannya Abu Bakar adalah orang yang paling mampu menjadi pemimpin di zaman Nabi.”
Imam Ahmad, Abu Daud dan yang lainnya meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad, beliau berkata : “Telah terjadi peperangan diantara Bani Amr bin Auf.Lalu berita tersebut sampai kepada Rasulullah.Rasulullah pun menemui mereka setelah zhuhur untuk mendamaikan mereka.Kemudian Rasulullah bersabda : “Wahai Bilal, jika waktu shalat telah tiba dan saya belum juga datang, maka suruhlah Abu Bakar untuk menjadi Imam.”
Maka tatkala waktu ashar tiba, Bilal mengumandangkan iqamah dan dia meminta Abu Bakar untuk menjadi imam, kemudian Abu Bakar shalat dengan mereka.”
Abu Bakar asy-Syafi’i meriwayatkan dalam kitabnya al-Ghailaniyyat, begitu juga Ibnu Asakir dari Hafsah, bahwa dia berkata kepada Rasulullah : “Apabila engkau sakit, engkau selalu menunjuk Abu Bakar.Rasulullah bersabda : “Bukanlah saya yang menunjuknya tetapi Allah.”
Imam ad-Daruquthni meriwayatkan dalam kitabnya al-Afrad dan Imam al-Khatib serta Ibnu Asakir dari Ali, beliau berkata : Rasulullah bersabda kepada saya : “Saya telah memohon kepada Allah sebanyak tiga kali agar engkau dapat menjadi imam dalam shalat.Namun Dia tidak menyukainya dan selalu mengedepankan Abu Bakar.”
Ibnu Saad meriwayatkan dari al-Hasan, beliau berkata : Abu Bakar berkata : “Wahai Rasulullah, saya masih saja melihat diriku masih memiliki kesalahan sebagaimana manusia lainnya.Rasulullah bersabda : “Engkau pasti akan mendapatkan jalan untuk memimpin manusia, dan saya dapatkan dalam dadaku bagaikan dua kebun, beliau bersabda : “Dua tahun.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Bakrah dia berkata : “Suatu ketika saya mendatangi Umar yang sedang berada ditengah-tengah orang yang sedang makan.Kemudian beliau mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang duduk di bagian belakang, seraya berkata : “Apa yang telah kamu dapatkan dalam kitab-kitab terdahulu yang pernah kamu baca?”Kemudian orang itu menjawab : “Khalifah Rasulullah itu adalah Shiddiquhu (orang yang membenarkannya).”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Muhammad bin Zubair, beliau berkata : “Umar bin Abdul Aziz mengutus saya kepada al-Hasan al-Bashri untuk menanyakan kepadanya beberapa masalah, Lalu saya pun datang kepadanya, dan saya berkata : “Berikanlah jawaban yang memuaskan kepada saya tentang perselisihan yang terjadi diantara kaum muslimin.Apakah Rasulullah menentukan Abu Bakar sebagai penggantinya?”Kemudian al-Hasan membenarkan posisi duduknya seraya berkata : “Apakah Abu Bakar diragukan dalam hal itu?Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya Rasulullah telah menunjuknya sebagai penggantinya.Bukankah dia adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan paling bertakwa kepada-Nya.Dan yang paling dia takutkan adalah kalau sekiranya dia meninggal, sementara Rasulullah tidak memerintahkan Abu Bakar untuk memimpin.”
Ibnu Adi meriwayatkan dari Abu Bakar bin Iyasy, beliau berkata : ar-Rasyid berkata kepada saya : “bagaimanakah orang-orang yang mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah?”Saya berkata : “Wahai Amirul Mukminin, Allah diam, Rasulullah juga diam dan kaum muslimin diam.”ar-Rasyid berkata : “Demi Allah kau tidak memberikan jawaban yang memuaskan kecuali menambah kepadaku kebingungan, dia berkata : Wahai Amirul Mukminin, Rasulullah mengalami sakit sakit selama delapan hari.Kemudian Bilal masuk menemui Rasulullah dan bertanya kepadanya : Siapakah yang akan menjadi Imam dalam shalat?Rasulullah menjawab : “Suruhlah Abu Bakar untuk menjadi imam shalat.”Kemudian Abu Bakar menjadi imam shalat selama delapan hari, sedangkan saat itu wahyu masih turun kepada Rasulullah.Maka Rasulullah pun diam karena Allah diam, dan kaum muslimin juga diam karena Rasulullah diam.Jawabannya pun sangat mengagumkan ar-Rasyid.Lalu dia berkata : “Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu.”
Para Ulama telah mengambil kesimpulan tentang kekhalifahan Abu Bakar dari ayat-ayat al-Quran.Diantaranya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dari Hasan al-Bashri tentang firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.”[34]
Dia berkata : “Demi Allah yang dimaksud adalah Abu Bakar dan para sahabatnya.Yaitu tatkala orang-orang Arab murtad, Abu Bakar memerangi mereka hingga mereka kembali kepada agama Islam.”
Yunus bin Bakir meriwayatkan dari Qatadah, beliau berkata : Tatkala Rasulullah wafat orang-orang Arab banyak yang murtad.Lalu kami bicarakan tentang peran Abu Bakar dalam memerangi mereka, sehingga dia berkata, bahwasannya firman Allah yang berbunyi : “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.”[35]Bahwasannya ayat tersebut diturunkan mengenai Abu Bakar dan para sahabatnya.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Juwaibir tentang firman Allah : “Katakanlah kepada orang-orang Arab badui, kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar.”[36]
Dia berkata : “Mereka adalah Banu Hanifah.”Sementara Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Qutaibah berkata : “Ayat ini menjadi bukti akan kekhalifahan Abu Bakar, karena dialah yang menyeru kaum muslimin untuk memerangi mereka.”
Syeikh Abu Hasan al-Asy’ari berkata : “Kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq yang ditunjukkan al-Quran terkandung dalam ayat ini.”Dia berkata : “Karena para ahli ilmu sepakat sebab tidak ada perang setelah ayat ini yang menyerukan perang selain seruan Abu Bakar untuk memerangi orang-orang murtad dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat.”Dia berkata : “Hal itu menunjukkan akan kekhalifahan Abu Bakar dan kewajiban untuk taat atas kepemimpinannya, sebab Allah menggambarkan bahwa mereka yang berpaling akan disiksa dengan siksaan yang pedih.”
Ibnu Katsir berkata : “Barangsiapa yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang-orang Romawi dan Persia, maka Abu Bakar adalah khalifah yang mempersiapkan pasukan Islam untuk memerangi mereka, yang diselesaikan pada masa pemerintahan Umar dan Utsman.Dimana keduanya adalah cabang dari Abu Bakar.”
Allah berfirman : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.”[37]Ibnu Katsir berkata : “Ayat ini berkesesuaian dengan kekhalifahan Abu Bakar.”
Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya meriwayatkan dari Abdur Rahman bin Abdul Hamid al-mahdi, beliau berkata : “Sesungguhnya tentang kepemimpinan Abu Bakar dan Umar itu ada di dalam al-Quran.Sebagaimana firman Allah : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.”[38]
Al-Khathib meriwayatkan dari Abu Bakar bin ’Iyasy, beliau berkata : “Abu Bakar ash-Shiddiq adalah khalifah Rasulullah.Dan hal itu ada di dalam al-Quran karena Allah berfirman : “(Juga) bagi orang-orang fakir yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya dan karena mereka menolong Allah dan rasul-Nya.Nereka itulah orang-orang yang benar.”[39]
Barangsiapa yang telah disebut oleh Allah sebagai orang yang benar, maka dia tidak akan pernah berbohong.Dan mereka berkata : “Wahai khalifah Rasulullah.”Ibnu Katsir berkata : “Ini adalah suatu kesimpulan yang baik.”
Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari az-Za’farani, beliau berkata : Saya mendengar asy-Syafi’i berkata : “Semua orang telah sepakat akan kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq.Hal ini dikarenakan bahwa setelah sepeninggal Rasulullah, manusia di muka bumi mencari seseorang sebagai khalifah, namun mereka tidak menemukan seorang pun yang lebih baik dari Abu Bakar.Maka mereka menjadikannya sebagai khalifah.”
Ashabus Sunnah meriwayatkan dalam al-Fadhail dari Muawiyah bin Qurrah, dia berkata : “Tidak ada di antara para sahabat Rasulullah yang meragukan kekhalifahan Abu Bakar, dan mereka tidak pernah menyebutnya kecuali dengan sebutan khalifah Rasulullah.dan mereka tidak pernah sepakat bahwa pada dirinya ada kesalahan dan kesesatan.”
Al-Hakim –beliau telah menshahihkannya- meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata : “Apa yang dipandang oleh kaum muslimin baik, maka hal itu baik dalam pandangan Allah.Dan apa saja yang dipandang jelek oleh kaum muslimin, maka hal tersebut jelek dalam pandangan Allah.Dan para sahabat telah sepakat menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah.”
Al-Hakim –sebagaimana yang telah dishahihkan oleh adz-Dzahabi- meriwayatkan dari Murrah bin ath-Thayyib, dia berkata : “Abu Sufyan bin Harb datang menemui Ali bin Abi Thalib, dan berkata : “Mengapa kepemimpinan ini ada di tangan orang Quraisy yang paling rendah dan paling hina –yaitu Abu Bakar- Demi Allah jika kau mau, maka aku akan penuhi pemerintahan ini dengan kuda-kuda dan tentara-tentara.”Murrah berkata : Maka berkatalah Ali : “Wahai Abu Sufyan, bukankah telah sekian lama kamu memusuhi Islam dan pemeluk-pemeluknya, namun semua itu tidak mempengaruhi dan tidak membahayakannya.Sesungguhnya kami dapatkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang cocok untuk itu.”
  
Pembaiatan Abu Bakar Sebagai Khalifah
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan : bahwasannya Umar bin al-Khaththab berkhutbah dihadapan kaum muslimin sekembalinya dari melaksanakan ibadah haji.Dia berkata dalam khutbahnya : “Telah sampai berita kepada saya bahwa salah seorang diantara kalian ada yang berkata, kalau sekiranya Umar meninggal, maka saya akan membaiat fulan, janganlah salah seorang diantara kalian ada yang tertipu dengan mengatakan bahwasannya pembaiatan Abu Bakar adalah suatu kesalahan.Jika sekiranya demikian , maka sesungguhnya Allah telah menjaga dari keburukannya.Sedangkan kalian sekarang tidak dalam kondisi dimana leher-leher bisa dipancung sebagaimana di zaman Abu Bakar.Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang paling baik di antara kami tatkala Rasulullah meninggal.Sedangkan Ali bin Abi Thalib dan Zubair serta orang-orang yang bersama mereka terlambat untuk berbaiat karena mereka berada dirumah Siti Fatimah, juga kaum Anshar berbaiat belakangan di Saqifah bani Sa’idah.Sedangkan orang-orang Muhajirin sepakat untuk berbaiat kepada Abu Bakar.Lalu saya berkata kepadanya : “Wahai Abu Bakar, Pergilah engkau bersama kami untuk menemui saudara-saudara kami dari kaum Anshar”.Kemudian kami berangkat mewakili mereka sampai kami bertemu dengan dua orang yang shalih, lalu mengabarkan kepada kami dari apa yang telah terjadi di kalangan orang-orang Anshar.Kemudian kedua orang shalih itu bertanya : “Lalu akan pergi kemanakah kalian wahai orang-orang Muhajirin?”Saya menjawab : “Kami ingin bertemu dengan saudara-saudara kami dari golongan Anshar.”Mereka berkata : “Janganlah kalian mendekati mereka, selesaikan urusanmu sendiri wahai kaum Muhajirin.” Saya berkata : “Demi Allah, saya akan datang kepada mereka.” Kemudian kami pun berangkat hingga kami sampai di Saqifah Bani Sa’idah, sedangkan kaum Anshar pada waktu itu sedang berkumpul dan diantara mereka ada seorang laki-laki yang berselimut.Saya bertanya : Siapakah orang ini?Mereka menjawab : Sa’ad bin Ubadah.Saya bertanya lagi : “Kenapa dia?”Mereka menjawab : “Dia sedang sakit demam.”
Tatkala kami telah duduk salah seorang diantara mereka berdiri untuk menyampaikan pidatonya.Kemudian dia memuji Allah sebagai mana yang semestinya.Dia berkata : “Amma Ba’du.Kami adalah penolong Allah dan pasukan Islam.Wahai kaum Muhajirin, kamu sekalian adalah bagian dari kami.Kalian datang kepada kami, kalian menginginkan untuk mengesampingkan kami dari hak kami, dan kalian ingin mengambil alih kekuasaan dari kami.”
Maka tatkala dia telah menyampaikan pidatonya, saya bermaksud untuk berbicara dihadapan mereka dan saya pun telah menyiapkan naskah pidatonya dengan sangat bagus.Saya ingin menyampaikannya dihadapan Abu Bakar.Dan saya merasa lebih tahu dari padanya pada batas tertentu, dan dia lebih sabar dariku dan lebih tenang.Kemudian Abu Bakar berkata : “Tenanglah kamu wahai Umar, karena saya tidak ingin membuatnya marah, dia adalah orang yang lebih tahu dariku.Demi Allah, dia tidak meninggalkan satu patah kata pun yang membuat saya kagum, daripada persiapan balasan yang saya siapkan.Dia telah menyampaikannya dengan gamblang sesuai dengan apa yang telah saya persiapkan, bahkan lebih baik dari pada itu.Kemudian dia pun mengakhiri pidatonya.Kemudian dia berkata : “Amma Ba’du, Adapun yang engkau sebutkan tentang kebaikan-kebaikan yang ada pada kalia, maka itu sudah menjadi hak kalian.Akan tetapi orang-orang Arab tidak mengakui kepemimpinan selain bangsa Quraisy, karena mereka berasal dari keturunan yang baik dan dari tempat yang baik pula.Saya rela jika kalian memilih salah seorang dari kedua orang ini.Maka baiatlah diantara keduanya yang kalian kehendaki.”Kemudian dia mengambil tanganku dan tangan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, yang saat itu sedang duduk diantara kami.Dan saya tidak senang terhadap apa yang dia telah katakan sebelumnya.Demi Allah, lebih baik leher saya dipenggal daripada saya maju menjadi pemimpin di saat masih ada Abu Bakar.”Kemudian salah seorang dari golongan Anshar berdiri dan berkata : “Wahai orang-orang Quraisy, dari kami ada pemimpin dan dari kalian ada pemimpin”.Kemudian saat itu terjadi kegalauan dan teriakan-teriakan, sampai saya khawatir akan terjadi persengketaan.Saya berkata : “Angkat tanganmu, wahai Abu Bakar!Kemudian dia pun mengangkat tangannya.Lalu saya membaiat Abu Bakar dan kaum muslimin pun mengikutinya, kemudian kaum Anshar juga ikut membaiatnya.Maka ketahuilah bahwasannya kami tidak pernah menghadiri sama sekali satu majlis pun, yang sangat genting, yang lebih mendapat taufik daripada pembaiatan Abu Bakar.Kami khawatir kalau sekiranya kami memecah belah umat, sedangkan saat itu belum dilakukan pembaiatan.Kemudian kami akan diberikan pilihan pada pembaiatan yang tidak kami sukai, atau kami berbeda pendapat dengan mereka sehingga menimbulkan kehancuran.
 Imam An-Nasa’i, Abu Ya’la serta al-Hakim meriwayatkan –dan telah menshahihkannya- dari Ibnu Mas’ud, berkata : “Tatkala Rasulullah wafat, kaum Anshar berkata : “Dari kami ada seorang pemimpin dan dari kalian ada seorang pemimpin, kemudian Umar datang kepada mereka dan berkata : “Wahai kaum Anshar, apakah kalian tidak mengetahui bahwasannya Rasulullah telah menyuruh kepada Abu Bakar untuk menjadi imam, shalat pada saat hidupnya.Maka siapakah diantara kalian yang merasa dirinya lebih berhak maju mendahului Abu Bakar?”Orang-orang Anshar pun berkata : “Kami berlindung kepada Allah untuk maju mendahului Abu Bakar.”
Ibnu Sa’ad, al-Hakim dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Abi Sa’id al-Khudri, berkata : “Tatkala Rasulullah wafat, kaum muslimin berkumpul di rumah Sa’ad bin Ubadah.Hadir diantara mereka Abu Bakar dan Umar, kemudian salah seorang dari golongan Anshar berdiri seraya berkata : “Wahai kaum Muhajirin, Rasulullah jika menempatkan seseorang dari kalian maka beliau mengambil dari kami juga sebagai teman.Maka kami melihat agar perkara kekhalifahan diserahkan kepada dua orang, satu dari kami dan satu lagi dari kalian.Orang-orang yang berpidato dari golongan Anshar saling menekankan hal demikian.Kemudian Zaid bin Tsabit berdiri dan berkata : “Tidaklah kalian lihat bahwasannya Rasulullah dari kalangan Muhajirin dan khalifahnya adalah dari kalangan Muhajirin, sedangkan kami adalah para penolong Rasulullah (Anshar).Dengan demikian kami juga adalah pembantu Khalifahnya.Kemudian dia mengambil tangan Abu Bakar dan berkata : “Inilah sahabat kalian semua”.Lalu Umar membaiatnya, diikuti oleh kaum Muhajirin kemudian kaum Anshar”.Kemudian Abu Bakar naik ke mimbar, dan dia melihat kehadapan wajah kaum muslimin, namun dia tidak melihat Zubair, maka dia memerintahkan untuk memanggil Zubair. Lalu Zubair datang menghadap Abu Bakar.Abu Bakar berkata : “Engkau adalah anak bibi Rasulullah dan seorang hawari Rasulullah, apakah kau ingin memecah belah kaum muslimin?”.Zubair berkata : “Tidak wahai khalifah Rasulullah”.Lalu dia membaiat Abu Bakar.
Kemudian dia kembali melihat orang yang hadir, Abu Bakar tidak mendapatkan Ali, kemudian Abu Bakar menyuruh memanggilnya, lalu Ali datang kepada Abu Bakar.Abu Bakar berkata : “Engkau adalah anak paman Rasulullah dan Rasulullah menikahkan engkau dengan putrinya, apakah kau akan memecah belah persatuan kaum Muslimin?”Ali menjawab : “Tidak wahai khalifah Rasulullah!dan Ali pun membaiatnya.
Ibnu Ishaq dalam kitab sirahnya berkata : Az-Zuhri berkata kepada saya, Anas bin Malik berkata kepada saya, beliau berkata : “Tatkala Abu Bakar dibaiat di Saqifah Bani Saidah, keesokan harinya Abu Bakar duduk di atas Mimbar, lalu Umar berpidato sebelum Abu Bakar.Dia memuji Allah dan memanjatkan syukur kepada-Nya, kemudian berkata : “Sesungguhnya Allah telah menjadikan orang terbaik diantara kalian sebagai khalifah.Dia adalah sahabat Rasululah, orang yang menemaninya saat berada dalam gua.Maka bangunlah kalian semua dan berbaiatlah kepadanya.”
Lalu kaum muslimin berdiri dan menyatakan baiat kepadanya setelah baiat Saqifah.Kemudian Abu Bakar berdiri dan memuji Allah dan memanjatkan syukur kepadaNya, kemudian dia berkata : “Amma Ba’du.Wahai manusia!Sesungguhnya saya telah dipilih untuk memimpin kalian dan bukanlah saya orang yang terbaik diantara kalian.Maka, jika saya melakukan sesuatu yang baik, bantulah saya.Dan jika saya melakukan perbuatan yang menyimpang, luruskanlah saya, sebab kebenaran itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan.Orang yang lemah di antara kalian adalah orang yang kuat dalam pandangan saya, hingga saya ambilkan hak-haknya untuknya InsyaAllah, sedangkan orang yang kuat diantara kalian adalah orang yang lemah dihadapanku hingga saya akan ambil orang lain darinya, InsyaAllah.Dan tidak ada suatu kaum yang yang meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan menimpakan kepadanya suatu kehinaan.Dan tidak pula tersebar kemaksiatan pada suatu kaum kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka malapetaka.Taatlah kalian kepadaku selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jika saya melakukan kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban taat kalian kepadaku.Bangunlah kalian untuk melakukan shalat, rahimakumullah.”
Musa bin ’Uqbah meriwayatkan dalam kitabnya al-Maghazi, juga al-Hakim-dan telah menshahihkannya- dari Abdur Rahman bin ’Auf, beliau berkata : Abu Bakar berkhutbah, lalu berkata : “Demi Allah, bahwasannya saya tidak pernah berambisi kepada kekuasaan meskipun sehari atau semalam dalam hidupku.Saya pun tidak pernah menginginkannya.Saya tidak pernah satu kali pun meminta kepada Allah, baik secara terang-terangan atau pun sembunyi-sembunyi.Namun saya khawatir akan terjadi fitnah.Dan tidaklah ada padaku untuk bersantai-santai.Sebab saya telah diberi tugas yang amat besar.Dan tidaklah ada padaku suatu kekuatan dan daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah.Ali dan Zubair berkata : “Kemarahan ada pada kami karena kami tidak disertakan dalam musyawarah.Sesungguhnya kami memandang bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling berhak untuk memangku jabatan khalifah.Karena sesungguhnya Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah di dalam gua.Dan kami mengetahui kemuliaan yang ada padanya.Dan Rasulullah telah memerintahkannya untuk menjadi imam shalat ketika beliau masih hidup.”
 Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ibrahim at-Tamimi, beliau berkata : Tatkala Rasulullah wafat Umar datang kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah, kemudian berkata : “Angkat tanganmu karena saya akan berbaiat kepadamu, karena engkau adalah Amin (kepercayaan) umat ini, sebagaimana Rasulullah katakan, lalu Abu Ubaidah berkata : “Saya tidak pernah melihat lemahnya pendapatmu semenjak kamu masuk Islam, Apakah kamu akan membaiat saya padahal masih ada ash-Shiddiq, seorang dari dua orang yang berada dalam gua.”
Ibnu Sa’ad juga meriwayatkan dari Muhammad bahwa Abu Bakar berkata kepada Umar : “Angkatlah tanganmu supaya aku bias membaiat kepadamu.”Umar berkata kepadanya : “Engkau jauh lebih baik dariku”.Abu Bakar berkata : “Engkau lebih kuat dariku”.Kemudian Abu Bakar mengulangi ucapannya itu, lalu Umar berkata : “Sesungguhnya kekuatanku adalah untukmu bersama keutamaanmu.”Lalu Umar pun membaiatnya.
Ahmad meriwayatkan dari Hamid bin Abdur Rahman bin ’Auf dia berkata : Ketika Rasulullah meninggal, Abu Bakar berada di sebuah tempat di Madinah.Lalu beliau datang ke tempat Rasulullah dang menyingkapkan wajahnya yang mulia.Dia mencium wajah Rasulullah sambil berkata : “Ibu dan Ayahku menjadi penebus bagimu.Alangkah baiknya engkau ketika engkau hidup dan saat engkau wafat.Muhammad telah meninggal, demi Tuhan pemelihara ka’bah”- kemudian Abu Bakar menyebutkan suatu hadits- Kemudian Abu Bakar dan Umar berkata hingga beliau sampai di tempat orang-orang Anshar.Kemudian Abu Bakar berbicara dihadapan mereka.Dia tidak meninggalkan satu permasalahan pun yang diturunkan Allah mengenai kaum Anshar dan beliau tidak menyebutkan suatu permasalahn pun yang disampaikan oleh Rasulullah tentang mereka melainkan beliau menyebutkannya, dan berkata : “Kalian semua telah mengetahui bahwasannya Rasulullah bersabda : “Andai kata semua orang melewati satu lembah dan kaum Anshar melewati lembah yang lain.Maka pasti saya akan lewat lembah yang dilewati oleh kaum Anshar.Wahai Sa’ad, engkau tahu bahwa Rasulullah bersabda dan saat itu kau sedang duduk : “Orang-orang Quraisy adalah pemangku kekuasaan ini.Orang yang baik akan ikut orang yang baik, dan orang yang jelek akan ikut orang yang jelek.Saad berkata : “Kau benar, kami adalah para wazir (menteri) sedangkan kalian adalah para Amir.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri, beliau berkata : “Tatkala Abu Bakar dilantik sebagai khalifah, dia melihat sebagian orang yang tidak bisa menerima.Maka Abu Bakar berkata : “Wahai manusia, apakah yang mengjalangi kalian, bukanlah aku adalah orang yang paling berhak?Bukankah aku orang yang pertama masuk Islam?Bukankah……bukankah……Kemudian Abu Bakar menyebutkan beberapa hal.”
Ahmad meriwayatkan dari Rafi’ ath-Thai, beliau berkata : “Abu Bakar berkata kepadaku tentang pembaiatannya, tentang apa yang dikatakan oleh orang-orang Anshar dan apa yang dikatakan oleh Umar.Dia berkata : “Mereka membaiat saya dan saya pun menerima baiat mereka.Saya akan terjadi akan terjadi suatu fitnah, yang mengakibatkan terjadinya kemurtadan.”
Ibnu Ishaq dan Ibnu ’Ayid dalam kitab al-Maghazi meriwayatkan dari Rafi’ ath-Thai, behwa beliau berkata kepada Abu Bakar : “Apa yang mendorongmu untuk menerima jabatan ini, padahal engkau telah melarangku untuk tidak menjadi pemimpin dari dua orang?”Abu Bakar berkata : “Saya tidak mendapatkan jalan lain, dan saya takut terjadi perpecahan pada umat Muhammad”.
Ahmad meriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim, beliau berkat : Sesungguhnya saya pernah duduk bersama Abu Bakar setelah sebulan wafatnya Rasulullah.Kemudian dia menhkisahkan kisahnya.Kemudian terdengar panggilan untuk shalat :ash-Shalat al-Jamiah.Lalu orang-orang berkumpul.Dan dia naik mimbar dan berkata : Wahai manusia, sesungguhnya saya menginginkan urusan ini berada pada tangan orang lain.Dan jika kalian menuntut aku untuk melaksanakan semua sunnah Rasulullah, maka pasti saya tidak akn sanggup memikulnya.Sebab Rasulullah terjaga dari godaan syetan dan kepadanya diturunkan wahyu dari langit.”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Hasan al-Basri dia berkata : Tatkala Abu Bakar dilantik menjadi khalif dia berdiri dihadapan kaum muslimin untuk berkhutbah.Kemudian berkata : “Amma Ba’du.Sesungguhnya saya diberi beban kekuasaan ini, padahal saya sangat tidak suka, sesungguhnya saya menginginkan diantara kalian ada yang menggantikan posisi ini.Ketahuilah jika seandainya kalian membebani saya seperti yang dibebankan Rasulullah pastilah saya tidak akan sanggup memikulnya.Rasulullah adalah seorang hamba yang kepadanya diturunkan wahyu serta seorang yang terjaga dari kesalahan-kesalahan.Ketahuilah bahwasannya saya adalah manusia biasa, dan saya bukanlah orang yang terbaik diantara kalian.Dan ketahuilah bahwa syetan selalu menggodaku.Apabila kalian melihat saya sedang marah, maka jauhilah saya, sehingga saya tidak membuat kesalahan pada rambut dan kulit kalian.”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari al-Khathib meriwayatkan dari malik dari urwah, beliau berkata : “Tatkala Abu Bakar resmi dilantik sebagai khalifah dia berkhutbah dihadapan kaum muslimin.Dia memuji dan bersyukur kepada Allah, kemudian berkata : “Amma Ba’du.Sesungguhnya saya telah dinobatkan sebagai khalifah, dan saya bukanlah orang yang terbaik diantara kalian.Al-Quran telah turun dan Rasulullah telah mengajarkan sunnah.Dan kami diajari sunnah tersebut oleh Rasulullah sehingga kami tahu.Maka ketahuilah wahai manusia sepandai-pandainya kalian adalah orang yang bertakwa.Dan selemah-lemahnya orang diantara kalian adalah orang yang ingkar.Sesungguhnya orang yang paling lemah diantara kalian adalah orang yang kuat, sampai aku ambilkan hak-haknya.Dan orang yang paling kuat diantara kalian adalah orang yang lemah, hingga aku ambil hak-hak orang lain darinya.Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah orang yang mengikuti sunnah Rasulullah, dan saya bukan orang yang membuat-buat sesuatu yang baru.Jika saya melakukan sesuatu hal yang baik, maka bantulah saya dan jika saya melakukan sesuatu hal yang jelek maka luruskanlah saya.Demikian yang dapat saya sampaikan dan saya memohon ampun kepada Allah untuk saya dan untuk kalian.”
Imam Malik berkata : “Tidak ada seorang pun yang dapat menjadi imam (pemimpin) kecuali telah memenuhi persyaratan seperti itu.”
Al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak meriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau berkata : “Ketika Rasulullah wafat kota Makkah serasa bergoncang, Abu Quhafah (Abu Bakar) mendengar itu.Kemudian dia berkata : “Ada apa ini?”mereka berkata : Rasulullah telah meninggal.Beliau berkata : “Ini adalah suatu perkara yang agung, lalu siapakah yang akan menggantikannya setelah wafatnya?”.Mereka menjawab : Anakmu.Dia berkata : “Apakah orang-orang Bani Abdi Manaf dan Bani al-Mughirah menerima keputusan ini?”Mereka berkata : “Ya”,Dia berkata : “Tidak Tidak akan ada yang bias menurunkan apa yang kau angkat, dan tidak bias diangkat apa yang telah diletakkan.”
Al-Waqidi meriwayatkan lewat jalur riwayat dari Aisyah, Ibnu Umar, Said bin al-Musayyab dan yang lainnya, mereka berkata : “Sesungguhnya Abu Bakar dibaiat pada saat Rasulullah wafat pada hari senin tanggal dua belas bulan Rabiul Awwal tahun sebelas Hijriyah.”
Imam Ath-Tahbrani meriwayatkan dalam kitan Al-Awsath dari Ibnu Umar, beliau berkata : “Abu Bakar tidak pernah duduk di tempat duduk Rasulullah hingga beliau menghadap Allah, demikian juga halnya dengan Umar belum pernah duduk di tempat duduk Abu Bakar, demikian juga Utsman yang tidak pernah duduk di tempat duduk Umar sampai beliau menghadap Allah.”
Peristiwa-Peristiwa yang Terjadi Pada masa Kekhalifahannya
Diantara peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa kekhalifahannya, adalah : Diteruskannya kembali pengiriman pasukan Usamah yang pernah disiapkan oleh Rasulullah sebelum meninggalnya, perang melawan orang-orang yang murtad dan para pembangkang yang tidak mau membayar zakat, perang melawan Musailamah al-Kadzadzab, serta peristiwa pengumpulan Al-Quran.”
Al-Ismaili meriwayatkan dari Umar, beliau berkata : “Tatkala Rasulullah wafat, banyak orang yang murtad dan mereka berkata : “Kami akan tetap melakukan shalat namun kami tidak akan pernah membayar zakat.”Kemudian saya datang menemui Abu Bakar dan berkata : “Wahai khalifah Rasulullah, satukanlah manusia dan bersikap lemah lembutlah terhadap mereka karena mereka itu ibarat manusia yang buas.”Abu Bakar berkata : “Saya mengharapkan bantuanmu namun yang saya dapatkan adalah pengkhianatan.Dahulu kamu adalah orang yang garang dimasa jahiliyyah, dan menjadi penakut dalam Islam,Wahai Umar, Lalu dengan apa saya harus satukan mereka?Apakah dengan syair yang dibuat-buat atau dengan sihir yang peanuh tipu daya?Tidak,tidak.Rasulullah telah meninggal dan wahyu telah terputus.Demi Allah saya akan perangi mereka selama pedang masih ada dalam genggaman tanganku, walaupun mereka menolak untuk memberikan seutas tali binatang yang pernah diberikan kepada Rasulullah.Ternyata saya dapatkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling berani dan kuat keinginannya dan orang yang paling bersemangat terhadap suatu perkara yang mungkin dalam pandangan manusia adalah kecil dan tidak berharga tatkala mereka memimpin.
Abu Al-Qasim Al-Baghawi, Abu Bakar Asy-Syafi’i dalam kitabnya fawaid dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Siti Aisyah, beliau berkata : “Tatkala Rasulullah meninggal, kemunafikan merajalela, dan orang-orang Arab murtad dari agama Islam.Adapun orang-orang Anshar melarikan diri, Andaikata Hal-hal tersebut menimpa gunung-gunung tinggi sebagaimana menimpa terhadap ayahku pastilah dia akan menghancurkannya.Dan tidak ada satu persoalan pun yang diperselisihkan orang-orang kecuali ayahku akan datang untuk memecahkan persoalan tersebut.Mereka berkata : Dimana seharusnya Nabi dimakamkan?Dan kami tidak mendapatkan seorang pun yang mengetahui masalah ini.Kemudian Abu Bakar berkata : “Saya mendengar Nabi bersabda : “Tidak ada seorang Nabi punyang meninggal kecuali dia harus disemayamkan di tempat dimana dia meninggal.”Orang-orang juga berbeda pendapat tentang warisannya.Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang masalah ini, maka berkatalah Abu Bakar : Saya mendengar bahwasannya Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya kami para nabi tidak mewariskan (harta), dan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.”
Sebagian ulama berkata : “Ini adalah masalah pertama dimana terjadi perbedaan diantara para sahabat.Sebagian mereka berkata : Kami akan menyemayamkannya di Makkah, dikota tempat dia dilahirkan.Sedangkan yang lain berkata : Hendaknya beliau disemayamkan di masjidnya.Yang lain berkata : Hendaknya disemayamkan di Baqi’ dan yang lain berkata : Hendaklah dia disemayamkan di Baqi’.Yang lain berkata : Hendaknya dia disemayamkan di Baitul Maqdis, tempat para nabi disemayamkan.Sampai akhirnya Abu Bakar memberitahukan kepada mereka tentang apa yang diketahuinya dari Rasulullah.
Ibnu Zanjawaih berkata : “Hadits ini adalah hadits yang hanya diriwayatkan oleh Abu Bakar, sedangkan kaum Muhajirin dan Anshar semuanya merujuk kepadanya.
Imam Al-Baihaqi dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Hurairah, beliau berkata : “Demi Dzat yang tidak ada Tuhan selain Allah, andaikata Abu Bakar tidak menjadi khalifah, maka Allah tidak akan disembah dimuka bumi ini.”Dia mengulangi perkataannya itu dua kali hingga tiga kali.Maka seseorang berkata kepadanya : “Apa yang kau maksudkan wahai Abu Hurairah ?Beliau berkata : “Sesungguhnya Rasulullah telah mempersiapkan tentara Usamah bin Zaid dengan jumlah tujuh ratus tentara ke negeri Syam.maka tatkala dia sampai didaerah Dzi Khasyab, Rasulullah dipanggil Allah menghadap kehadirat-Nya.Orang-orang disekitar Madinah serentak Murtad.Para sahabat Rasulullah berkumpul : Tampak kebimbangan dalam diri mereka, apakah akan melanjutkan perjalanan ke wilayah Romawi, sedangkan orang-orang disekitar Madinah murtad?Abu Bakar berkata : “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, andaikata anjing-anjing menarik kaki isteri-isteri Rasulullah, saya tidak akan pernah menarik pasukan yang telah dipersiapkan oleh Rasulullah, dan saya tidak akan pernah membuka ikatan bendera yang telah diikat oleh Rasulullah.Kemudian dia mengirim tentara Usamah.Dan setiap kali pasukan tersebut melewati kabilah yang hendak murtad, mereka selalu berkata : “Jika saja mereka tidak mempunyai kekuatan yang demikian besar, niscaya orang-orang ini tidak akan keluar dari Madinah.Namun biarkanlah mereka pergi hingga mereka bertemu dengan pasukan Romawi, sampai akhirnya mereka memenangkan pertempuran dan mereka pulang dengan selamat.Akhirnya orang-orang yang hendak murtad pun tetap dalam keislamannya.
Al-Baihaqi juga meriwayatkan dari Urwah, beliau berkata : Rasulullah pada saat beliau sedang sakit, bersabda :“Teruskan perjuangan pasukan Usamah.”Pada saat itu pasukan Usamah telah sampai ke daerah al-Jurf.Isterinya, Fatimah bin Qais mengutus seseorang untuk menemuinya dan berkata : Janganlah kamu terburu-buru berangkat, sebab saat ini Rasulullah sedang dalam keadaan sakit keras.”Maka tidak lama kemudian Rasulullah meninggal.Dan tatkala Rasulullah meninggal dia kembali dan menemui Abu Bakar dan berkata : “Sesungguhnya Rasulullah mengutusku, sedangkan saya waktu itu tidak berada seperti keadaanmu saat ini.Saya khawatir kalau sekiranya orang-orang Arab kafir kembali.Dan jika mereka kafir, maka merekalah yang pertama kali harus diperangi.Apabila mereka tidak kafir, maka saya akan melanjutkan perjalanan perang, karena masih banyak orang-orang yang kuat dan baik.
Abu Bakar kemudian berkhutbah dihadapan kaum Muhajirin dan Anshar : “Demi Allah, Diterkam burung yang ganas lebih baik bagi saya daripada saya harus memulai sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah.”Kemudian dia mengutusnya kembali sesuai dengan pesan Rasulullah.
Adz-Dzahabi berkata : “Tatkala kabar wafatnya Rasulullah tersebar luas kesemua wilayah, banyak orang-orang Arab yang murtad dari Islam, mereka tidak mau membayar zakat.Kemudian Abu Bakar bangkit untuk memerangi mereka.Sedangkan Umar dan para sahabat lainnya menyarankan kepada Abu Bakar agar tidak memerangi mereka.Maka Abu Bakar berkata : “Demi Allah, sekiranya mereka tidak mau memberikan seutas tali yang pernah mereka berikan keapada Rasulullah, pastilah saya akan saya perangi mereka akan tindakannya itu.”Kemudian Umar berkata : “Bagaimana kau akan perangi mereka, sementara Rasulullah telah bersabda : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan : Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasulullah.Maka siapa pun yang mengatakannya maka dia akan terjaga harta dan darahnya kecuali dengan haknya adapun hisabnya ada pada Allah.”
Abu Bakar berkata : “Demi Allah, sungguh akan saya perangi siapa saja yang memisahkan antara shalat dan zakat.Sebab zakat adalah hak hartanya, dan Rasulullah bersabda : “Kecuali dengan haknya.”Lalu Umar berkata : “Demi Allah, saya melihat bahwa Allah telah membukakan hati Abu Bakar untuk berperang.Maka saya mengetahui bahwa apa yang dilakukannya itu adalah benar.”Dari Urwah berkata : “Abu Bakar keluar dengan kaum Muhajirin dan Anshar hingga sampailah mereka di Najd.Sedangkan orang Arab badui berlarian bersama dengan keluarga dan kerabat mereka.Kemudian orang-orang berkata kepada Abu Bakar : “Pulanglah ke Madinah kepada keluarga dan wanita-wanita, dan tempatkanlah seseorang untuk memimpin pasukan.Mereka mengatakan itu hingga akhirnya Abu Bakar pulang.Dan dia memerintahkan Khalid bin Walid untuk memimpin pasukan.Abu Bakar berkata kepada Khalid : “Jika mereka telah menyerah dan membayar zakat, lalu apabila ada diantara kalian yang hendak pulang keMadinah maka pulanglah, setelah itu Abu Bakar pulang ke Madinah.”
Imam ad-daruquthni meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata : “Tatkala Abu Bakar keluar untuk berperang dan tengah siap untuk melakukan perjalanan, Ali bin Abi Thalib mengambil tali kekang kudanya dan berkata : “Mau kemana engkau wahai khalifah Rasulullah?Saya akan mengatakan kepadamu sebagaimana yang telah dikatakan oleh Rasulullah kepadamu saat perang Uhud : “Sarungkan pedangmu, dan janganlah kaum membuat kami bersedih karena kehilanganmu, pulanglah ke Madinah.Demi Allah jika kami kehilangan dirimu, maka tidak ada lagi aturan dalam islam untuk selamanya.”
Dari Hanzhalah bin Ali al-Laitsi, berkata : Bahwa Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid dan memerintahkannya untuk memerangi manusia atas lima perkara.Barangsiapa yang meninggalkan salah satunya maka dia harus diperangi karena dia ibarat meninggalkan empat yang lain.Mereka harus diperangi jika mereka tidak mengucapkan syahadatain, meninggalkan shalat, tidak membayar zakat, meninggalkan puasa dan tidak mau melaksanakan haji.
Dan berangkatlah Khalid bin Walid serta pasukan yang bersamanya, pada bulan Jumadil Akhir.Dia memerangi Bani Asad, Bani Ghatafan, ada yang terbunuh dan ditawan.Sedangkan sisanya kembali dalam pangkuan Islam.Pada peristiwa itu, dua orang sahabat yaitu ’Ukasyah bin Muhshin dan Tsabit bin Arqam mati syahid.
Pada bulan Ramadhan di tahun itu Fatimah, putri Rasulullah, penghulu para wanita, meninggal dunia pada usia 24 tahun.
Adz-Dzahabi berkata : “Bahwasannya Rasulullah tidak memiliki nasab kecuali darinya.Sebab dari anak Zainab tidak mempunyai keturunan, sebagaimana dikatakan oleh Zubair bin Bakkar.Sedangkan Ummu Aiaman meninggal sebulan sebelum meninggalnya Fatimah.Pada bulan Syawwal.Abdullah bin Abu Bakar meninggal.
Kemudian Khalid bin Walid melanjutkan ekspedisinya ke Yamamah untuk memerangi Musailamah al-Kadzadzab pada akhir tahun.Kedua pasukan bertemu.Mereka dikepung dalam beberapa hari.Kemudian Musailamah –semoga Allah melaknatnya- terbunuh.Pembunuhnya adalah Wahsyi, yang tidak lain adalah pembunuh Hamzah pada perang Uhud.
Pada perang itu orang yang mati syahid, adalah : Abu Hudzaifah bin Utbah, Salim bekas budak Hudzaifah, Syuja’ bin Wahb, Zaid bin al-Khaththab, Abdullah bin Sahl, Malik bin Amr, ath-Thufail bin Amr ad-Dawsi, Yazid bin Qais, Amir bin Al-Bakir, Abdullah bin Makhramah, As-Saib bin Utsman bin Madz’un, Ubbad bin Basyar, Ma’an bin Uday, Tsabit bin Qais bin Syammas, Abu Dujanah, Sammak bin Harb, dan beberapa sahabat lain yang jumlahnya tujuh puluh orang.Saat terbunuh, Musailamah berusia seratus lima puluh tahun, dia lahir sebelum lahirnya Abdullah ayah Rasulullah.
Pada tahun 12 Hijriyyah Abu Bakr mengutus Al-Ala’ bin Al-Hadrami ke Bahrain.Orang-orang disana telah murtad.Kemudian mereka bertemu dengan Jawasi[40] Lalu mereka menolong kaum muslimin, kemudian Abu Bakr mengutus Ikrimah bin Abu Jahal ke Amman yang penduduknya murtad.sementara itu al-Muhajir bin Umayyah diutus kepada kaum Najir yang murtad.Sedangkan Zaid bin Labib Al-Anshari diutus kepada suatu kelompok manusia yang telah murtad.
Pada tahun itu Abu al-Ash bin al-Rabi’, suami Zainab putri Rasulullah meninggal dunia.Demikian juga dengan Ash-Sha’ab bin Jatsamah serta Abu Martsad al-Ghanawi.
Setelah selesai memerangi kaum musrtad.Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid untuk menuju wilayah Basrah dan memerangi Ublah.Beliau kemudian menaklukannya.Dia juga menaklukan wilayah Kaisar yang berada diwilayah Irak melalui perjanjian damai dan peperangan.
Pada tahun itu pula Abu Bakar menunaikan ibadah haji.Kemudian dia pulang dan mengirim Amr bin al-Ash dan pasukannya ke Syam.Pada saat itulah terjadinya perang Ajnadain, yaitu pada bulan Jumadil Ula tahun 13 Hijriyah.Lalu kaum muslimin pun mendapatkan kemenangan, sedangkan Abu Bakar mendapatkan kabar tersebut saat menjelang akhir hayatnya.Dan pada perang tersebut Ikrimah bin Hisyam bin al-Ash mati syahid.
Disaat itu juga terjadi perang Marj ash-Shafr.Dimana kaum muslimin dapat memukul mundur kaum musyrikin dan beberapa orang mati syahid di antaranya al-Fadk bin al-Abbas.
Peristiwa Pengumpulan Al-Qur’an
Imam Bukhari meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit : Abu Bakar menceritakan kepada saya tentang para sahabat yang syahid dalam perang Yamamah, dan pada saat itu Umar bersamanya.Kenudian Abu Bakar berkata : “Sesungguhnya Umar mendatangi saya, lalu dia berkata : “Bahwasannya peperangan telah mengakibatkan banyak para sahabat yang syahid dan saya khawatir kejadian serupa akan menimpa para al-Qurra’ (para penghafal al-Qur’an) pada peperangan yang lain, maka karena kejadian itu akan menghilangkan sebagian besar al-Quran kecuali jika mereka mengumpulkannya.Dan saya berpendapat supaya al-Qur’an dikumpulkan.”Abu Bakar berkata : Lalu saya katakan kepada Umar : Bagaimana mungkin saya melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah?”Umar menegaskan : “Demi Allah ini adalah perbuatan yang baik.”Dan Umar berulang kali mengungkapkan maksud baik tersebut, sehingga Allah membulatkan hati Abu Bakar dengan pendapat Umar itu.Maka saya pun sependapat dengan apa yang disampaikan Umar.Zaid berkata : “Umar pada saat itu hanya duduk dan tidak berbicara sepatah kata pun.”Abu Bakar berkata : “Sesungguhnya engkau adalah anak muda yang cerdas dan kami percaya sepenuhnya kepadamu.Engkau adalah seorang penulis wahyu Rasulullah.Maka carilah olehmu Al-Qur’an itu lalu kumpulkanlah.
Zaid berkata : “Sungguh demi Allah, andaikata Abu Bakar memberiku beban untuk memindahkan salah satu gunung, maka itu jauh lebih ringan dari pada yang dia perintahkan untuk mengumpulkan Al-Quran.”Kemudian saya berkata : “Mengapa kalian akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah?”.Abu Bakar menjawab : “Demi Allah ini adalah perbuatan yang baik!!Maka saya pun meminta Abu Bakar untuk mempertimbangkan hal itu, hingga akhirnya Allah membukakan hati saya sebagaimana Allah membukakan hati Umar dan Abu Bakar.Maka saya pun mulai menyusunnya dan mengumpulkan Al-Qur’an yang tertulis pada daun, pelepah kurma, tulang belulangdan dari para penghafal Al-Qur’an, hingga saya dapatkan dua ayat surat At-Taubah dari khuzaimah bin Tsabit, yang tidak saya dapatkan dari orang lain selain dia, yaitu firman Allah :
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ # فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ$[سورة التوبة : 128-129].
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.Jika mereka berpaling (dari keimanan) maka katakanlah : “Cukuplah bagiku Allah, tidak ada Tuhan selain Dia.Hanya kepadanyalah aku berytawakkal, dan dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang Agung.”(At-Taubah : 128-19).
            Adapun mushaf yang telah dikumpulkannya itu ada pada Abu Bakar hingga beliau meninggal, kemudian disimpan pada Umar hingga beliau wafat sampai akhirnya berada pada Hafshah.
Abu Ya’la meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, beliau berkata : “Orang yang paling besar pahalanya berkaitan dengan Al-Qur’an adalah Abu Bakar.Karena Abu Bakar adalah orang yang pertama kali menghimpun Al-Quran.
  
Yang Pertama Dalam Berbagai Hal
Diantaranya adalah : Abu Bakar adalah orang yang pertama kali masuk Islam, yang pertama kali menghimpun Al-Quran, yang pertama kali menamakan al-Qur’an sebagai Mushaf, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.Dan Abu Bakr adalah orang yang pertama kali disebut sebagai khalifah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Mulaikah, beliau berkata : Dikatakan kepada Abu Bakar : Wahai khalifah Rasulullah, beliau berkata : “Saya adalah khalifah Rasulullah dan saya ridha dengannya.”
Abu Bakar adalah orang pertama yang diangkat sebagai khalifah ketika ayahnya masih hidup dan khalifah pertama yang rakyatnya memberikan santunan kepadanya.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Siti Aisyah, beliau berkata : “Tatkala Abu Bakar diangkat sebagai khalifah beliau berkata : “Telah mengetahui bahwasanya kaumku telah mengetahui bahwasannya pekrrjaanku mampu menutupi semua kebetuhan keluargaku.Kemudian saya sibuk dengan urusan kaum muslimin, maka keluarga Abu Bakar akan mampu menutupi kebutuhannya dari harta yang ada di Baitul Mal, dan saya bekerja untuk kepentingan kaum Muslimin.”
Ibnu Saad juga meriwayatkan dari Atha’ bin As-Saib, beliau berkata : “tatkala Abu Bakar di baiat dia berangkat ke pasar dan di atas pundaknya ada kain.Kemudian dia pergi menuju pasar.Umar berkata : “Akan pergi kemana engkai?”Abu Bakar menjawab : “Saya akan pergi kepasar.”Umar berkata lagi : “Apa yang akan kau lakukan sedangkan kau telah diangkat sebagai khalifah untuk memimpin kaum muslimin?”Abu Bakar menjawab : “Lalu dari mana saya harus memberi makan keluargaku?”Kemudian Umar berkata : “Pergilah engkau kerumah Abu Ubaidah, kita akan memintai pendapatnya tentang pemberian dana untuk kepentinganmu dan keluargamu.”
Maka keduanya pergi menuju rumah Abu Ubaidah.Abu Ubaidah berkata : “Saya akan jamin kebutuhan makananmu sebagai bagian dari kebutuhan makanan kaum Muhajirin.Bukan saja hanya yang terbaik bagi mereka atau yang terjelek.Baik itu pakaian musim dingin dan musim panas.Apabila itu telah rusak maka kembalikanlah dan kaun ambil yang lain.”Lalu ditetapkan bagi Abu Bakar agar diberikan setiap harinya setengah potong kambing, dan apa yang dipakai untuk menutupi kepala dan badan.
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari dari Maimun, dia berkata : “Tatkala Abu Bakar diangkat sebagai khalifah para pengurus Baitu Mal menetapkan gaji kepada Abu Bakar sebanyak dua ribu, Abu Bakar berkata : “Saya mohon agar jumlah itu ditambah, karena saya mempunyai keluarga, sedangkan kalian telah membuat saya untuk tidak bisa berdagang.”Kemudian mereka pun memberikan tambahan gaji kepada Abu Bakar sebesar lima ratus.
Imam ath-Thabrani dalam musnadnya meriwayatkan dari al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, beliau berkata : Tatkala menjelang wafatnya Abu Bakar berkata kepada Siti Aisyah : “Wahai Aisyah, lihatlah sapi perahan kita yang susunya selalu kita minum serta mangkuk besar untuk membumbui rempah-rempah, serta beludru yang biasa kita pakai.Kita menggunakannya ketika kita memangku urusan kaum muslimin.Maka jika saya telah mati, kembalikanlah semuanya itu kepada Umar.”Maka tatkala dia meninggal saya kembalikan semua barang yang di pesankannya itu kepada Umar.Dan Umar berkata : “Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu wahai Abu Bakar.Kau telah membuat orang-orang setelahmu memikul tanggung jawab yang berat.”
Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dari Abu Bakar bin Hafs, beliau berkata : “Pada saat menjelang wafatnya Abu Bakar berkata kepada Aisyah : “Wahai anakku sesungguhnya aku diberi beban untuk mengurus urusan kaum muslimin, sedangkan kita tidak mengambil dinar atau dirham.Akan tetapi kita makan tumbukan tepung yang tidak halaus dari makanan mereka di dalam perut kita, dan kita memakai pakaian yang kasar dari pakaian mereka pada badan kita.Sesungguhnya kini tidak ada sisa dari kekayaan kaum muslimin, sedikit ataupun banyak, kecuali budak Habsyi, dan unta perahan ini, serta sisa pakaian usang.Maka apabila saya meninggal, kembalikanlah semuanya itu kepada Umar.”Abu Bakar adalah orang pertama membangun Baitul Mal.
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Sahl bin Abi Khaitsamah dan yang lainnya, Bahwasannya Abu Bakar mempunyai Baitul Mal di Sanah[41] yang tidak dijaga oleh siapa pun, kemudian dikatakan kepadanya : “Apakau kau tidak menempatkan orang untuk menjaganya?Abu Bakar menjawab : “Bukankah telah ada kunci gemboknya?”Abu Bakar membagikan harta yang ada pada Baitul Mal tersebut sampai habis.Tatkala dia pindah ke Madinah dia memindahkan Baitul Mal tersebut ke rumahnya.Harta kaum muslimin disimpan didalam Baitul Mal tersebut.Dan Abu Bakar membagikannya kepada fakir miskin dengan pembagian yang rata.Dia membeli unta, kuda dan senjata untuk kepentingan kaum di jalan Allah.Dia juga membeli beludru yang didatangkan dari orang-orang pedalaman dan dia bagikan kepada janda-janda yang ada di Madinah.Tatkala Abu baker wafat dan dia telah disemayamkan, Umar memanggil orang-orang kepercayaannya, diantaranya : Abdur Rahman bin Auf, Utsman bin Affan, mereka masuk kedalam Baitul Mal Abu Bakar dan membukanya.Mereka tidak mendapatkan satu dinar atau dirham pun didalamnya.
Saya berkata : “Atsar diatas merupakan jawaban terhadap apa yang dikatakan oleh Al-Askari dalam kitabnya Al-Awail yang menyatakan bahwa yang pertama kali membangaun Baitul Mal adalah Umar.Dan pada zaman Nabi tidak ada Baitul Mal, serta tidak juga dizaman Abu Bakar.Apa yang dikatakan oleh Al-Askari telah saya bantah dalam buku saya Al-Awail.Kemudian Al-Askari menyadari kekeliruannya dalam pembahsan bab lain di dalam kitabnya itu, Sesungguhnya orang yang pertama kali bertugas mengawasi Baitul Mal adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah dimasa khalifah Abu Bakar.
Al-Hakim berkata : “Gelar yang pertama ada dalam Islam adalah gelar Abu Bakar, yaitu ‘Atiq.”
Imam Bukhari dan muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, beliau berkata : Rasulullah bersabda : “Jika kekayaan dari Bahrain datang maka saya akan berikan kepadamu demikian dan demikian.”Maka tatkala harta dari Bahrain datang setelah wafatnya Rasulullah, Abu Bakar berkata : “Barangsiapa yang Rasul berhutang kepadanya atau beliau menjanjikan sesuatu, maka hendaklah dia datang menemuai kami.”Kemudian saya datang menemui Abu Bakar dan saya beritahukan –janji Rasulullah- kepadanya, ambillah, saya pun mendapatkan lima ratus, kemudian dia memberikan kepada saya seribu lima ratus.”
  
Tentang Kesabaran dan Kerendahan Hatinya
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Anisah, beliau berkata : “Abu Bakar hadir di tengah-tengah kita tiga tahun sebelum dia menjadi khalifah.Dan setahun setelah dia diangkat menjadi khalifah.saat itu wanita di kampung kami datang menemuinya dengan kambing-kambingnya.Abu Bakar memeraskan susu kambing mereka.”
Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitabnya az-Zuhd dari Maimun bin Mahran, dia berkata : “Ada seorang laki-laki datang kepada Abu Bakar, dia berkata : “Keselamatan atasmu wahai khalifah Rasululah.Dia berkata : “Dan kepada semua yang hadir disini.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Shalih al-Ghifari, beliau berkata : Bahwasannya suatu ketika Abu Bakar mendapati seorang wanita tua dan buta di pojik kota Madinah di tengah malam.Dia memberi minum orang tua itu dan memenuhi kebutuhannya.Maka apabila dia datang dan orang lain telah memndahuluinya, dia akan selalu memperbagus apa yang menjadi kemauannya.Dia menemui wanita tersebut berkali-kali supaya tidak ada orang yang mendahuluinya.Umar kemudian beruasaha untuk tahu siapakah gerangan yang telah datang menemui wanita tersebut.Maka diketahuilah bahwa orang tersebut adalah Abu Bakar yang pada saat itu telah menjadi khalifah.Umar berkata : “Selalu saja engkau (yang datang memberikan pertolongan), wahai Abu Bakar.”
Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abdur Rahman al-Ashbahani, beliau berkata : “Al-Hasan bin Ali datang menemui Abu Bakar, yang saat itu berada diatas mimbar Rasulullah, dia berkata : Turunlah engkau dari majlis ayahku.Abu Bakar berkata : “Kau benar, sesungguhnya ini adalah majlis ayahmu, dan saya telah duduk di tempatnya, kemudian Abu Bakar menangis.Ali berkata : “Demi Allah, ini bukanlah keinginanku”Abu Bakar berkata : “Kau benar, dan kami tidak pernah menuduhmu.”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata : “Rasulullah memerintahkan Abu Bakar untuk memimpin rombongan haji pada haji pertama dalam Islam.Kemudian Rasulullah menunaikan haji setelah Abu Bakar.Dan tatkala Rasulullah m eninggal, kemudian Abu Bakar diangkat menjadi khalifah,dia memerintahkan Umar untuk menjadi pemimpin rombongan haji, kemudian Abu Bakar menunaikan haji pada tahun berikutnya.Tatkala Abu Bakar meninggal dan Umar menjadi khalifah, Umar memerintahkan Abdur Rahman bin Auf untuk memimpin rombongan haji.Kemudian setelah itu Umar melakukan Ibadah haji hingga dia meninggal.Kemudian Utsman menjadi khalifah dan dia menyuruh Abdur Rahman bin Auf untuk memimpin rombongan haji.”
  
Sakitnya, Wafatnya dan Wasiatnya, serta Menjadikan Umar Sebagai Khalifah
Saif dan Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata : “Penyebab wafatnya Abu Bakar adalah wafatnya Rasulullah.Dia sangat sedih, sampai badannya kurus dan akhirnya meninggal dunia.”
Ibnu Sa’ad dan Al-Hakim dengan sanadnya yang shahih meriwayatkan dari Ibnu Syihab bahwa Abu Bakar dan Al-Harits bin Kaladah, adalah dua orang yang makannya adalah daging kecil yang diiris yang dicampur dengan tepung yang dihadiahkan kepada Abu Bakar, kemudian al-Harits berkata kepada Abu Bakar : “Wahai khalifah Rasululah angkatlah tanganmu karena sesungguhnya didalamnya ada racun tahunan, sesungguhnya engkau dan aku akan mati pada hari yang sama.Kemudian Abu Bakar mengangkat tangannya.Dan keduanya sakit hingga akhirnya keduanya meninggal dunia pada hari yang sama di akhir tahun.
Al-Hakim meriwayatkan dari Asy-Sya’bi dia berkata : “Apa yang kita bayangkan akan terjadi pada dunia yang fana ini, dimana Rasulullah diracun dan Abu Bakar diracun.”
Al-Waqidi dan Al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah dia berkata : “Bahwasannya asal mula ayahku sakit adalah ketika dia mandi pada hari senin tanggal tujuh Jumadil Akhir.Kemudian dia merasa kedinginan seharian.Dia terserang demam selama lima belas hari, sehingga beliau tidak bisa menghadiri shalat berjamaah.Beliau meninggal pada malam selasa tanggal 22 Jumadil Akhir tahun ke 13 Hijriyah dalam usia 63 tahun.”
Ibnu Sa’ad dan Ibnu Abi ad-Dunya meriwayatkan dari Abu as-Safar, beliau berkata : Para sahabat datang menemui Abu Bakar pada saat beliau sakit.Mereka berkata : “Wahai khalifah Rasulullah, tidaklah kami panggilkan untukmu seorang dokter hingga dia memeriksa penyakit yang engkau derita?”Abu Bakar berkata : “Dia telah melihat penyakit yang ada pada diriku.Mereka berkata : “Apa katanya?”Dia berkata : “Saya telah melakukan apa yang saya kehendaki.”
Al-Waqidi meriwayatkan dari berbagai jalur periwayatan, bahwa tatkala Abu Bakar merasa bahwa ajalnya telah dekat, dia memanggil Abu Bakar bin Auf, dan berkata : “Katakan kepadaku apa pendapatmu tentang Umar bin al-Khaththab?”Abdur Rahman bin Auf menjawab : “Tidaklah kau tanyakan kepadaku tentang sesuatu melainkan bahwa engkau lebih tahu masalah tersebut dari diriku.”Abu Bakar berkata : “Apakah begitu!”Lalu Abdur Rahman berkata : “Demi Allah, dia lebih utama daripada pandanganmu tentangnya.”Kemudian dia memanggil Utsman, dan berkata : “Beritahukanlah kepadaku bagaimana pendapatmu tentang Umar?”Utsman menjawab : “Diantara kami kaulah orang yang lebih mengetahui tentangnya.”Abu Bakar berkata : “Apakah begitu.”Kemudian dia berkata : “Ya Allah saya tahu tentangnya bahwa isi hatinya jauh lebih baik daripada penampilannya, dan bahwasannya tidak ada orang yang sama dengannya diantara kami.”Disamping mereka berdua Abu Bakar juga mengajak bermusyawarah Sa’id bin Zaid, Usaid bin al-Hudhair dan lainnya dari kalangan Muhajirin dan Anshar.Usaid berkata : “Saya tahu bahwasannya Umar adalah orang yang terbaik setelah engkau.Dia rela untuk suatu hal yang baik dan akan marah dengan suatu hal yang wajib untuk dibenci.Yang dia rahasiakan jauh lebih baik dari apa yang nampak.Dan tidak ada seorang pun yang lebih mampu untuk memangku jabatan khalifah daripadanya.”
Sebagian sahabat datang kepadanya.Salah seorang dari mereka berkata : “Apa yang akan engkau katakan kepada Tuhanmu jika engkau ditanya tentang keputusanmu mengangkat Umar sebagai penggantimu, padahal engkau tahu sikap dia yang sangat keras?”Abu Bakar berkata : “Demi Allah, apakah kalian menakut-nakutiku?Saya akan katakan : Saya telah memutuskan orang yang menggantikanku untuk menjadi khalifah atas kaum muslimin adalah orang yang paling baik dari hamba-Mu.Sampaikan apa yang saya katakan ini kepada orang-orang yang ada dibelakangmu.”
Kemudian Abu Bakar memanggil Utsman dan berkata : “Tulislah Bismillahirrahmanirrahim, inilah yang diwasiatkan Abu Bakar bin Abu Quhafah di akhir hidupnya di dunia saat akan keluar darinya, dan awal hidupnya diambang akhirat.Dimana orang-orang kafir telah beriman, orang-orang durhaka telah yakin dan orang-orang yang berdusta telah membenarkan (ajaran Islam).Sesungguhnya saya telah menetapkan Umar sebagai khalifah atas kalian setelah saya meninggal.Maka dengar dan taatilah dia.Saya telah melakukan yang terbaik kepada Allah, Rasul dan agama-Nya dan kepada kalian serta kepada diri saya sendiri.Maka apabila dia berbuat adil, itulah yang saya harapkan dari yang saya ketahui tentang dirinya.Namun jika dia berubah, maka setiap orang akan menanggung apa yang dia lakukan.Adapun saya menginginkan hal yang baik, akan tetapi saya tidak mengetahui hal yang ghaib.Dan orang-orang yang melakukan kezhaliman akan tahu kemana mereka akan dikembalikan.Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Kwmudian dia menyuruh Utsman untuk menuliskannya dan memberikan stempel lalu menyuruhnya keluar dengan membawa surat wasiat yang telah diberi stempel itu.Kemusian orang-orang yang hadir ditempati itu membaiatnya dan mereka sama-sama menerima terhadap keputusan Abu Bakar, lalu memanggil Umar sendirian.Abu Bakar memberikan nasihat kepadanya.Kemudian Umar keluar dari dalam kamarnya.Kemudian Abu Bakar mengangkat tangannya seraya berdoa : “Ya Allah, saya telah menjatuhkan pilihanku untuk kesejahteraan kaum muslimin dengan harapan supaya tidak terjadi percekcokan yang akan terjadi diantara mereka.Tentang apa yang telah saya putuskan maka Engkaulah yang Maha Mengetahui.Setelah mempertimbangkannya dengan matang, saya telah menjatuhkan pilihan kepada orang yang saya anggap dapat mengikuti jalan yang lurus.Perintah-Mu telah dikeluarkan dan saya amanahkan semuanya kepada-Mu.Mereka adalah hamba-Mu dan semuanya berada dalam genggaman kekuasaan-Mu.Ya Allah, jagalah pemimpin mereka agar senantiasa berjalan pada jalan yang lurus dan saya memohon kepada-Mu jadikanlah penggantiku sebagai khalifah yang mendapatkan petunjuk dan memberikan kedamaian.”
Ibnu Sa’ad dan al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dia berkata : “Tiga orang yang memiliki firasat paling tajam adalah : Abu Bakar tatkala dia menentukan Umar sebagai penggantinya, sahabat Musa (maksudnya, anak perempuan nabi Syu’aib) tatkala dia berkata kepada ayahnya : “Berikanlah balasan atas perbuatan baiknya.”Dan penguasa Mesir tatkala dia memiliki firasat tentang Yusuf yang berkata kepada isterinya : Berikilah kepadanya tempat ( pelayanan) yang baik.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Yasar bin Hamzah dia berkata : “Tatkala menjelang wafatnya Abu Bakar keluar dari dinding menengok kaum muslimin dan berkata : “Wahai manusia, sesungguhnya saya telah mewasiatkan sesuatu tentang penggantiku, apakah kalian akan rela terhadap apa yang saya lakukan?”Orang-orang berkata : “Kami rela wahai khalifah rasulullah.”Ali kemudian berdiri dan berkata : “Kami tidak rela kecuali yang kau tentukan sebagai penggantimu adalah Umar.Abu Bakar berkata : “Benar, dia adalah Umar.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata : tatkala menjelang wafatnya Abu Bakar berkata : “Hari apakah ini?”Mereka berkata : “Hari senin.”Abu Bakar berkata : “Jika saya mati pada malam nanti, maka janganlah kalian menunggu hingga hari esok, karena sesungguhnya hari dan malam yang paling saya sukai adalah malam yang sama dengan Rasulullah (kelahirannya).
Imam Malik meriwayatkan dari Siti Aisyah, beliau berkata : “Bahwa Abu Bakar memberikan kepadanya untuk mengurusi perkebunan yang biasa ditanami 20 wasq yang ada dihutan dengan harta miliknya.Tatkala ajal menjelang dia berkata : “Wahai anakku, tak ada kekayaan yang lebih saya cintai melebihi dirimu wahai anakku, dan tidak ada yang lebih dapat memuliakanku dari pada jika engkau menjadi miskin setelah saya tiada.Sesungguhnya saya telah memberikan kepadamu perkebunan supaya kamu urus, yang telah ditanam 20 wasq.Jika kau memperbaharuinya dan mengurusinya, maka itulah milikmu.Namun kini ia adalah harta warisan.Dia juga adalah bagian untuk dua orang saudaramu dan dua saudara perempuanmu, maka bagilah sebagaimana yang telah Allah tetapkan dalam kitab-Nya.”
Aisyah berkata : “Wahai ayahku, jika demikian halnya, maka akan saya tinggalkan.Yang saya ketahui bahwa saudaraku adalah Asma’, lalu siapa yang lainnya?”Dia adalah anakku yang masih ada dalam perut Bintu Kharijah dan saya rasa dia adalah seorang perempuan.”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari urwah bahwa Abu Bakar berkata : “Di dalam perut Bintu Kharijah dan saya rasa dia adalah perempuan, maka perlakukanlah dia sebai-baiknya.Kemudian lahirlah daripadanya Ummu Kultsum.”
Ibnu Saad meriwayatkan dari Urwah bahwa Abu Bakar mewasiatkan seperlima hartanya.Dia berkata : “Saya mengambil dari hartaku sebagaimana Allah telah mengambil dari harta rampasan perang kaum muslimin.”
Ibnu Sa’ad juga meriwayatkan dari jalur yang lain, dari Abu Bakar, beliau berkata : “Lebih baik saya mewasiatkan seperlima harta saya daripada saya mewasiatkan seperempat, dan mewasiatkan seperempat bagi saya lebih baik dari pada saya mewasiatkan sepertiga.Dan barangsiapa yang berwasiat dengan sepertiga.Dan barangsiapa yang berwasiat dengan sepertiga maka sama sekali dia tidak menyisakan apa-apa.”
Sa’id bin Manshur meriwayatkan dalam sunnan-nya dari adh-Dhahak, bahwa Abu Bakar dan Ali mewasiatkan seperlima hartanya kepada orang yang tidak berhak mendapatkan warisan dari keluarga dekatnya.
Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dalam kitabnya Zawaid az-Zuhd dari Aisyah dia berkata : “Demi Allah, Abu Bakar tidak meninggalkan satu dinar atau dirham pun”.
Ibnu Sa’ad dan yang lainnya meriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata : “tatkala Abu BAkar sakit keras, saya katakan kepadanya sebuah bait syair :
Demi usiamu wahai ayahanda, tak berguna kekayaan bagi seseorang
Apabila dia telah sekarat dan nafasnya terasa sedemikian sesak
Dia lalu menyingkapkan kain yang menutupi wajahnya, kemudian berkata : “Bukan demikian, tapi katakanlah Abu Bakar menhutip firman Allah) :
“Dan datanglah sakaratul Maut dengan sebenar-benarnya, itulah yang kamu selalu lari daripadanya.”[42]
Lihatlah dua pakaianku ini, maka cucilah olehmu, dan kafanilah aku dengannya.Sebab orang yang hidup lebih membutuhkan daripada orang yang mati.”
Abu Ya’la meriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata : Saya menemui Abu Bakar menjelang wafatnya.Kemudian saya berkata kepadanya :
Siapa yang air matanya masih terpendam
Pastilah suatu saat air mata itu mengucur
Abu Bakar berkata : “Janganlah kau katakana itu.Tapi katakanlah : “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya itulah yang kamu senantiasa lari dari padanya.”(Qaaf : 19).
Kemudian dia berkata : “Pada hari apa Rasulullah meninggal dunia?”Saya menjawab : “Pada hari senin.”Dia berkata : “Semoga saya meninggal antara saat ini hingga malam nanti.”Dia meninggal pada malam selasa dan disemayamkan sebelum shubuh.
Abdullah bin Ahmad dalam kitabnya Zawaid az-Zuhd meriwayatkan dari Bakar bin Abdullah al-Mazini, beliau berkata : “Tatkala menjelang wafatnya Abu Bakar, Aisyah duduk di dekat kepalanya seraya mengucapkan dua bait syair.
Setiap pemilik unta pada suatu saat akan mengambilnya
Dan setiap pemilik rampasan akan dirampas
Abu Bakar memahami penggalan bait syair tersebut, kemudian berkata : “Tidak demikian wahai anakku.Namun sebagaimana yang Allah firmankan : “Dan datanglah Sakaratul Maut dengan sebenar-benarnya, itulah yang kamu sekalian selalu lari daripadanya.”(Qaaf : 19).
Imam Ahmad meriwayatkan dari Aisyah bahwa dia menyatakan suatu bait syair tatkala menjelang wafatnya Abu Bakar :
Putih beseri yang menaungi wajahnya
 Pelindung anak yatim dan pemelihara janda.
Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dalam kitabnya Zawaid az-Zuhd dari Ubadah bin Qais, beliau berkata : “Tatkala Abu Bakar menjelang wafatnya, dia berkata kepada Aisyah : “Cucilah dua pakaianku ini dan kafanilah aku dengannya, sebab ayahmu mungkin berada dalam kondisi dua orang laki-laki, mungkin dia akan mendapatkan pakaian yang paling baik dan mungkin pula diterlantarkan dalam keadaan yang paling jelek.”
Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyab bahwa Umar melakukan shalat (jenazah) untuk Abu Bakar diantara kuburan dan mimbar serta dia bertakbir sebanyak empat kali.”
Dia juga meriwayatkan dari Urwah dan al-Qasim bin Muhammad, bahwa Abu Bakar memberi wasiat kepada Aisyah agar dia dimakamkan di samping makam Rasulullah.Tatkala dia meninggal maka digalilah kuburan untuknya, dan diletakkan bagian kepalanya dekat dengan pundak rasulullah.Sedangkan lubang kuburnya berdampingan dengan kuburan Rasulullah.
Dia juga meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata : “Yang turun kedalam kuburan Abu Bakar adalah Umar, Thalhah, Utsman dan Abdurrahman bin Abu Bakar.”
Dia juga meriwayatkan dari beberapa jalur periwayatan, bahwasannya Abu Bakar disemayamkan pada malam hari.
Dia juga meriwayatkan dari Ibnu al-Musayyab bahwa tatkala Abu Bakar meninggal, kota Makkah gempar.Abu Quhafah bertanya : “Apa yang sedang terjadi?”Mereka berkata : “Anakmu meninggal.”Dia berkata : “Ini adalah peristiwa yang besar.” “Lalu siapakah penggantinya?”Mereka berkata : “Umar.”Dia berkata : Dia adalah sahabatnya.”
Ibnu Saad meriwayatkan dari Mujahid bahwa Abu Quhafah mengembalikan warisan yang dia terima dari Abu Bakar kepada anak Abu Bakar.Abu Quhafah meninggal enam bulan beberapa hari setelah Abu Bakar meninggal.Dia meninggal pada bulan Muharram, tahun 14 Hijriyah, pada usia 97 tahun.
Para ulama berkata : “Tidak ada seorang pun yang menjadi khalifah saat ayahnya masih hidup melainkan Abu Bakar, dan tidak ada seorang ayah pun yang mewarisi warisan dari khalifah kecuali ayah Abu Bakar.
Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata : “Abu Bakar menjadi khalifah selama dua tahun tujuh bulan.”
Ibnu Asakir dalam kitab Tarikhnya, dengan sanadnya dia meriwayatkan dari al-Ashma’i, beliau berkata : “Khafah bin Nadbah as-Sulami, berkata hingga membuat Abu Bakar menangis.”
Tidak ada satu pun yang hidup akan abadi
Dunia ini adalah fana
Penguasa kaum akan berpisah
Mestilah bagi setiap penguasa melakukan tugasnya
Manusia berusaha akan tetapi ada yang menunggunya
Yaitu, linangan air mata dan kematian
Sebab ketuaan, dibunuh, atau dihancurkan
Atau karena sakit yang tidak ada penawarnya
Sesungguhnya Abu Bakar adalah hujan
Dengan apakah kau akan tanam, kelapa atau sayuran?
Demi Allah tidak ada seorang pun yang mampu mengejar hari-harinya
Pemilik kain dan selendang
Siapakah yang akan mengejar hari-harinya?
Usaha yang akan mengantarkannya kedalam tanah yang hampa.
Hadits-Hadits yang Diriwayatkan dari Abu Bakar
Imam Nawawi dalam kitabnya At-Tahdzib berkata : Abu Bakar meriwayatkan hadits dari Rasulullah sebanyak seratus empat puluh dua hadits.Adapun sebab sedikitnya hadits yang dia riwayatkan dari Rasulullah, padahal Abu Bakar termasuk sahabat yang paling lama menemani Rasulullah, yaitu dikarenakan dia meninggal tidak lama setelah Rasulullah meninggal, sebelum hadits-hadits itu menyebar dan belum adanya perhatian yang demikian besarnya dari para tabiin untuk mendengarkannya, mencari serta menghafalnya.
Saya telah mengatakan, bahwa Umar bin al-Khaththab telah berkata dalam hadits tentang baiat Abu Bakar (yang telah disebutkan sebelumnya) bahwa Abu Bakar tidak meninggalkanm sedikit pun dari apa yang diturunkan Allah berkenaan dengan kaum Anshar dan tidak pula beliau menyebutkan apa yang disampaikan Rasulullah mengenai mereka.Dan ini merupakan bukti kuat bahwasannya beliau mempunyai hafalan yang sangat banyak tentang hadits Rasulullah dan keluasan ilmunya tentang al-Qur’an.
Adapun para sahabat yang meariwayatkan hadits darinya adalah Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah, Abdullah bin Umar, Ibnu Zubair, Abdullah bin ’Amr bin ’Ash, Abdullah bin Abbas, Anas, Zaid bin Tsabit, al-Barra bin ’Azib, Abu Hurairah, Uqbah bin al-Harits, Abdur Rahman bin Abu Bakar, Zaid bin Arqam, Abdullah bin Mughaffal, Uqbah bin Amir al-Juhani, Imran bin Hushain, Abu Barzah al-Aslami, Abu Sa’id Al-Khudri, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Thufail al-Laitsi, Jabir bin Abdullah, Bilal bin Rabah dan Aisyah (anaknya).Sedangkan dari kalangan tabiin adalah Aslam, maula (bekas budak) Umar, Basith al-Bajili, dan masih banyak lagi sahabat lainnya.
Saya memandang perlu unjtuk mencantumkan hadits-hadits tersebut dalam fasal ini secara ringkas, disertai dengan keterangan ringkas siapa yang meriwayatkannya.Dan InsyaAllah saya berencana untuk membukukannya dalam kitab musnad tersendiri.
1.      Hadits tentang Hijrah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
2.      Hadits tentang kesucian air laut, yaitu hadits yang berbunyi : “Laut itu adalah suci airnya dan halal bangkainya (ikannya).”(H.R.ad-Daruquthni).
3.      Hadits yang berbunyi : “Siwak adalah pembersih mulut dan membuat Tuhan ridha.”(H.R.Ahmad).
4.      Hadits bahwa Rasulullah makan daging pundak unta, lalu shalat dan tidak berwudhu lagi.(H.R.Al-Bazzar dan Abu Ya’la).
5.      Hadits : “Janganlah salah seorang diantara kamu berwudhu karena memakan makanan yang halal.”(H.R.Abu Ya’la dan Al-Bazzar).
6.      “Rasulullah melarang memukul orang yang sedang shalat.”(H.R.Abu Ya’la dan Al-Bazzar).
7.      “Sesungguhnya shalat terakhir yang dilakukan Rasulullah dibelakang saya adalah dengan memakai sehelai pakaian.”(H.R.Abu Ya’la).
8.      Hadits yang berbunyi : “Barangsiapa yang ingin membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang segar sebagaimana ketika diturunkan, maka bacalah seperti bacaan Ibnu Ummi ‘Abd(Ibnu Mas’ud).”(H.R.Ahmad).
9.      Hadits bahwa dia berkata kepada Rasulullah : “Ajarkanlah saya doa dan saya akan baca dalam shalatku.”Rasulullah menjawab : Katakan : “Ya Allah sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku dengan kezhaliman yang demikian banyak.Dan tidak ada seorang pun yang memberikan ampunan selain Engkau.Maka ampunilah saya dengan ampunan yang datang dari-Mu, dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha penyayang.”(H.R.Bukhari dan Muslim).
10.  “Barangsiapa yang melakukan shalat shubuh, maka dia berada dibawah lindungan Allah.Maka janganlah kamu tidak menepati janji Allah.Barangsiapa membunuhnya, maka Allah akan menuntutnya hingga menelungkupkan wajahnya kedalam api neraka.”(H.R.Ibnu Majah).
11.  “Tidak akan meninggal seorang nabi kecuali ada salah seorang dari umatnya yang menjadi imam bagi mereka.”(H.R.Al-Bazzar).
12.  “Tidak ada seorang pun yang melakukan dosa, lalu dia mengambil air wudhu dan membaikkan wudhunya, lalu shalat dua raka’at dan minta ampunan kepada Allah, kecuali Allah akan memberikan ampunan kepadanya.”(H.R.Penulis sunan yang empat dan Ibnu Hibban).
13.  “Tidaklah Allah mencabut nyawa seorang nabi kecuali di tempat dimana dia merasa senang untuk di kuburkan di tempat itu.”(H.R.Tirmidzi).
14.  “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai masjid.”(H.R.Abu Ya’la).
15.  “Sesungguhnya mayat itu akan disirami dengan api neraka karena tangisan yang hidup.”(H.R.Abu Ya’la).
16.  “Berlindunglah dari api neraka meskipun dengan sebiji kurma, karena dia akan meluruskan yang bengkok, mencegah kematian yang buruk, dan akan mengenyangkan yang lapar.”(H.R.Abu Ya’la).
17.  Hadits tentang Faraidh yang cukup panjang.(H.R.Bukhari).
18.  Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata : “Mungkin saja tali kekang jatuh dari tangan Abu Bakar, lalu dia akan menepuk kaki untanya dan mengambil tali kekang itu?”Dia menjawab : “Sesungguhnya kekasih saya (Nabi Muhammad) menyuruh saya untuk tidak meminta sesuatu pun kepada manusia.”(H.R.Ahmad).
19.  Rasulullah menyuruh Asma binti Umais tatkala dia melahirkan Muhammad bin Abu Bakar untuk mandi dan membaca talbiyah.(H.R.al-Bazzar).
20.  Rasulullah ditanya : “Haji yang manakah yang paling utama?”Rasulullah menjawab : “Teriakan (talbiyah) dan mengalirnya darah kurban.(H.R.Thirmidzi dan Ibnu Majah).
21.  Hadits bahwa Rasulullah mmencium Hajar Aswad.Dan Abu Bakar berkata : “Andaikata saya tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya saya tidak akan menciummu.”(H.R.Ad-Daruquthni).
22.  Hadits bahwa Rasulullah mengutusnya kepada orang-orang Makkah dengan surat Bara’ah (at-Taubah) yang mengatakan : “Tidak ada seorang musyrik pun yang akan menunaikan ibadah haji setelah tahun ini, dan tidak ada seorang pun yang melakukan thawaf dengan telanjang.”(H.R.Ahmad).
23.  “Diantara rumah dan mimbarku ini ad ataman (Raudhah) dari taman surga, dan mimbarku ini ada diatas salah satu pintu surga.”(H.R.Abu Ya’la).
24.  Hadits tentang keberangkata Rasulullah ke rumah Abu al-Haitsam bin at-Tayyihan, dalam sebuah riwayat yang panjang.(H.R.Abu Ya’la).
25.  Hadits emas dengan emas yang setimpal, perak dengan perak yang setimpal, orang yang melebihkan dan minta dilebihkan akan masuk neraka.(H.R.Abu Ya’la dan al-Bazzar).
26.  “Terkutuklah orang yang mendatangkan mudharat kepada orang mukmin atau melakukan tipu daya kepadanya.”(H.RTirmidzi).
27.  “Tidak akan masuk surga orang yang kikir, penipu, pengkhianat, dan pemilik sifat yang buruk.Sedangkan orang yang pertama kali masuk surga adalah seorang budak yang taat kepada Allah dan taat pada tuannya.”
28.  “Al-Wala (harta pusaka) diberikan kepada orang yang memerdekakan dirinya dari perbudakan.”(H.R.Adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah).
29.  “Kami para nabi, tidak mewariskan (harta), dan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.”(H.R.Bukhari).
30.   “Sesungguhnya Allah jika memberi makan kepada nabi-Nya kemudian dia meninggal, maka dia akan menjadikan untuknya penggantinya.”(H.R.Abu Daud).
31.  “Kafirlah seseorang yang melepaskan diri dari nasab meskipun itu sangat halus.”(al-Bazzar).
32.  “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.Abu Bakar berkata : “Yang dimaksud oleh Rasulullah adalah dalam masalah nafkah.”(H.R.Al-Baihaqi)
33.  “Barangsiapa yang kakinya berdebu dijalan Allah, maka Allah akan mengharamkan atasnya untuk menyentuh neraka.”(H.R.al-Bazzar).
34.  “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia…”(H.R.Bukhari dan Muslim serta yang lainnya).
35.  “Sebaik-baik hamba Allah dan saudara kita adalah Khalid bin Walid, dan dia adalah pedang dari salah satu pedang Allah yang terhunus untuk orang-orang kafir dan orang-orang munafik.(H.R.Ahmad).
36.  “Tidak ada orang yang paling baik daripada umar selama matahari masih terbit.”(H.R.Tirmidzi).
37.  Barangsiapa yang diamanati kaum muslimin untuk memegang kekuasaan, lalu dia mengangkat seseorang dalam posisi tertentu berdesarkan kehendaknya, maka laknat Allah akan menimpanya dan Allah tidak akan menerima apa yang dia lakukan hinga dia masuk neraka jahannam.Dan barangsiapa memberikan kebebasan kepada batas-batas Allah dengan cara yang tidak benar, maka dia telah melanggar ketentuan-ketentuan Allah dan baginya laknat Allah.”(H.R.Ahmad).
38.  Hadits yang mengisahkan tentang Ma’iz dan perajamannya.(H.R.Ahmad).
39.  Hadits : “Tidak dianggap terus menerus melakukan dosa orang yang beristighfar, meskipun dia mengulangi dosanya sebanyak tyjuh puluh kali dalam sehari.”(H.R.Tirmidzi).
40.  Hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah selalu melakukan musyawarah dalam masalah perang.”(H.R.Ath-Thabrani).
41.  Hadits tatkala turun ayat : “Barangsiapa yang melakukan perbuatan buruk, maka dia akan diganjar dengan perbuatannya itu.”(H.R.Tirmidzi, Ibnu Hibban dan yang lainnya).
42.  “Sesungguhnya kalian membaca ayat ini : “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu : tiadalahorang yang sesat itu akan memberikan madharat kepadamu jika kalaian telah mendapatkan petunjuk.”(Al-Maidah : 105).(HR.Ahmad,. empat pengarang sunnah dan Ibnu Hibban).
43.  Hadits : “Bagaimana pendapatmu tentang dua orang yang Allah menjadi ketiganya.”(HR.Bukhari dan Muslim).
44.  Hadits : “Ya Allah, jauhkanlah, tikaman, dan tha’un[43].(HR.Abu Ya’la).
45.  Hadits : nabi Hud telah menjadi diriku berubah.(Ad-Daruquthni dalam kitabnya al-’Ilah).
46.  Hadits : “Syirik ditengah umatku adalah lebih samara daripada kaki semut ditempat yang gelap.”(HR.Abu Ya’la dan yang lainnya).
47.  Saya berkata : “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dapat say abaca pada pagi dan petang.”(HR.Al-Haitsam dalam musnadnya, juga imam Tirmidzi dalam musnad Abu Hurairah).
48.  “Bacalah oleh kalian Laa Ilaaha Illallah dan Istighfar, sebab Iblis berkata : “Saya binasakan manusia dengan dosa-dosa dan mereka binasakan saya dengan Laa Ilaaha Illallah dan Istighfar.Maka tatkala saya tahu itu saya binasakan mereka dengan hawa nafsu mereka, hingga mereka menyangka bahwa mereka termasuk kedalam golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”(HR.Abu Ya’la).
49.  Hadits tatkala turun ayat Allah : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suaramu melebihi suara nabi.”(Al-Hujurat : 2).Saya berkata : “Demi Allah saya tidak akan berbicara kepadamu kecuali ibarat saya berbicara kepada saudara saya yang sudah tua.”(al-Bazzar).
50.  Hadits : “Setiap segala sesuatu itu dimudahkan sesuai dengan apa yang diciptakan untuknya.”(HR.Ahmad).
51.  Hadits : “barangsiapa yang sengaja berbohong atas namaku, atau menolak apa yang saya perintahkan maka bersiaplah untuk menempati tempatnya didalam neraka.”(HR.Abu Ya’la).
52.  Tentang suatu perkara yang dapat menyelamatkan , hadits mengenai ucapan Laa Ilaaha Illallah(HR.Ahmad dan yang lainnya).
53.  Keluarlah dan serukanlah kepada manusia : Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, maka wajib baginya surga.Lalu saya bertemu dengan Umar.(HR.Abu Ya’la yang dia hafal dari riwayat Abu Hurairah.Hadits ini sangat gharib yang berasal dari Abu Bakar).
54.  “Dua golongan dari umatku yang tidak akan masuk surga, orang Murjiah[44] dan Qadariyyah.”(HR.Imam Ad-Daruquthni dalam kitabnya al-‘Illal).
55.  Hadits tentang minta diberikan kesehatan (‘afiyat) kepada Allah.(HR.Ahmad, an-Nasa’I, Ibnu Majah.Hadits ini memiliki jalur yang banyak dalam periwayatan).
56.  Hadits : Rasulullah apabila menginginkan sesuatu beliau berkata : “Ya Allah pilihkanlah bagiku sesuatu yang lebih baik.”(HR.Tirmidzi).
57.  Hadits tentang doa lepas dari hutang : “Ya Allah yang membebaskan makhluknya dari kesusahan.”(HR.Al-Bazzar dan Al-Hakim).
58.  Hadits : Setiap daging yang tumbuh dari barang yang haram, maka nerakalah yang lebih berhak untuk melumatkannya, serta dalam lafadz yang lain disebutkan : “Tidak akan masuk surga badan yang tumbuh dari barang yang haram.”(HR.Abu Ya’la).
59.  “Tidak ada satu anggota tubuh pun dari tubuh manusia kecuali dia akan mengeluhkan ketajaman ucapan lisannya.”(HR.Abu Ya’la).
60.  “Allah akan turun pada malam pertengahan bulan Sya’ban.Pada malam itu Allah memberikan ampunan kepada semua manusia kecuali orang yang kafir dan orang yang didalam hatinya ada kebencian.”(HR.Ad-Daruquthni).
61.  “Sesungguhnya Dajjal akan muncul dari daerah timur yang disebut Khurasan.Dia akan diikuti oleh sekelompok manuasia yang wajah mereka laksana benda keras.”(HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah).
62.  Hadits : “Ada tujuh puluh ribu umatku yang masuk surga tanpa hisab.”(HR.Ahmad).
63.  Hadits tentang syafaat pada hari kiamat, dimana pada saat itu manusia menemuai nabi satu persatu.(HR.Ahmad).
64.  Hadits : “Andaikata manusia melewati sebuah lembah, sedangkan orang-orang Anshar melewati lembah yang lain, niscaya saya akan melewati lembah yang dilewati orang-orang Anshar.”(HR.Ahmad).
65.  “Orang-orang Quraisy adalah pemangku khalifah ini.Orang-orang yang baik akan mengikuti yang baik, sedangkan yang jahat akan mengikuti yang jahat.”(HR.Ahmad).
66.  Hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah mewasiatkan tentang kaum Anshar dengan sabdanya : “Terimalah apa yang baik dari orang-orang Anshar dan maafkanlah kejelekan mereka.”(HR.Al-Bazzar dan Ath-Thabrani).
67.  Hadits : “Saya sungguh mengetahui suatu tempat bernama Amman, ditepinya ada laut, disatu wilayahnya ada tempat orang arab berada.Dan jika ada utusanku yang datang kesana dia tidak akan dilempar dengan anak panah atau batu.”(HR.Ahmad dan Abu Ya’la).
68.  Hadits yang menyebutkan bahwa Abbu Bakar lewat di tempat Al-Hasan yang bermain dengan teman-temannya.Kemudian dia menggendong al-Hasan dan berkata : “Dia mirip dengan Nabi dan tidak mirip dengan Ali.”(HR.Bukhari).Mengenai hadits ini Ibnu Katsir berkata : Hadits ini kedudukannya laksana hadits marfu’,karena adanya perkataan yang kuat yaitu bahwa Rasulullah mirip dengan wajah al-Hasan.
69.  Hadits : “Sesungguhnya Rasulullah pernah menziarahi Ummu Aiman.”(HR.Muslim).
70.  Hadits mengenai dibunuhnya pencuri pada pencurian yang kelima.(HR.Abu Ya’la dan Ad-Dailami).
71.  Hadits tentang kisah gunung Uhud.(HR.Ath-Thayalisi dan Ath-Thabrani).
72.  Hadits : Tatkala kami berada bersama Rasulullah, tiba-tiba saya melihat beliau mendorongkan tangannya, namun kami tidak melihat apa-apa.Saya berkata kepadanya : Wahai Rasulullah apakah yang kau dorong tadi?Rasulullah bersabda : “Dunia.Dia menggangguku.Saya katakana kepadanya : “Jauhlah kau dariku”.Dunia itu berkata : “Ketahuilah bahwa kau tidak sanggup menaklukkanku.”(HR.Al-Bazzar).Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam Musnad Abu Bakar yang merupakan hadits-hadits marfu’.Dia tidak mencantumkan beberapa hadits, yang kami cari penguatnya sebagai pelengkap sebagaimana ynag disebutkan oleh an-Nawawi.
73.  “Bunuhlah kera dari jenis manusia siapa pun dia.(HR.Ath-Thabrani dalam al-Awsath).
74.  Hadits : “Lihatlah rumah-rumah yang kalian bangun, bumi tempat kalian tinggal, dan jalan yang kalian lewati.”(HR.Ad-dailami).
75.  Hadits : “Perbanyaklah mengucapkan shalawat kepada saya, karena Allah menempatkan malaikat dikuburku, maka jika ada dari umatku yang mengucapkan shalawat kepadaku, maka malaikat itu akan berkata : “Sesungguhnya Fulan bin Fulan mengucapkan shalawat kepadamu jam sekian.”(HR.Ad-Dailami).
76.  “Antara Jum’at ke Jum’at akan menjadi penebus dosa (kafarat), sedangkan mandi pada hari jumat adalah penebus dosa.(al-Uqaili dalam adh-Dhu’afa’).
77.  “Sesungguhnya panasnya Jahanam bagi umatku adalah laksana penyakit demam.”(HR.Ath-Thabrani).
78.  “Jauhilah olehmu kebohongan, karena ia akan menjauhkan kamu dari keimanan.”(HR.Ibnu Lal dalam kitab Makarim al-Akhlaq).
79.  “Berilah kabar gembira pada orang0orang yang ikut dalam perang Badar dengan jaminan surga.”(HR.Ad-Daruquthni dalam al-Afraad).
80.  “Sesungguhnya agama itu adalah bendera yang sangat berat.Maka siapa yang sanggup memikulnya?”(HR.Ad-Dailami).
81.  Surat yasin disebut dalam Taurat al-Muammimah al-Muth’imah yang memberikan kebaikan dunia dan ikhrat kepada orang yang membacanya.(HR.Ad-Dailami dan al-baihaqi dalam Su’ab al-Iman).
82.  “Penguasa yang adil adalah bayangan dan tombak-Nya di bumi.Diangkat baginya amal setiap hari dan malam amal enam puluh orang shiddiq.”(HR.Abu Syeikh, al-Uqaili dalam adh-Dhu’afa serta Ibnu Hibban dalam kitab ats-Tsawaab).
83.  Musa berkata kepada Tuhannya : “Apakah pahala bagi orang yang menyatakan bela sungkawa begi orang yang ditinggal mati anaknya?”Allah menjawab : “Aku akan memberikan naungan dibawah nauangan-Ku.”(HR.Ibnu Syahin dalam at-Taghrib dan Ad-Dailami).
84.  Hadits : “Ya Allah kuatkanlah Islam dengan Umar bin al-Khaththab.”(HR.Ath-Thabrani dalam Al-Awsath).
85.  “Tidak akan diburu buruan, tidak akan ditebang pepohonan dan tidak akan diputus tali ikatan kecuali karena sedikitnya dzikir (tasbih).(HR.Ibnu Rahawaih dalam musnadnya).
86.  “Andaikata Allah tidak mengutusku menjadi rasul, niscaya dia akan mengutus Umar).(HR.Ad-Dailami).
87.  “Jika ahli surga itu berdagang niscaya mereka akan memilih kain sebagai bahan dagangan.”(HR.Abu Ya’la).
88.  “Barangsiapa yang memberontak untuk kepentingan dirinya atau untuk orang lain selain dirinya, sedangkan pada saat itu ada penguasa (imam) yang memimpin manusia, maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia.Dan bunuhlah dia.”(HR.Ad-DAilami dalam kitabnya at-Tarikh).
89.  Hadits : “Barangsiapa yang menuliskan dariku ilmu atau hadits, maka pahalanya akan terus dituliskan untuknya selama ilmu dan hadits itu masih ada.”(HR.Al-Hakim dalam At-Tarikh).
90.  Hadits : “Barangsiapa yang berjalan dengan telanjang kaki karena taat kepada perintah Allah, maka Allah tidak akan menanyakan kepada dirinya pada hari kiamat tentang apa yang diwajibkan pada dirinya.”(HR.Ath-Thabrani dalam al-Awsath).
91.  Hadits : “Barangsiapa yang menginginkan dilindungi Allah dari semburan api neraka, dan berada dibawah naungan-Nya, maka hendaknya dia tidak berkeras hati kepada orang-orang mukmin, namun bersikap ramah dan pengasih.”(HR.Ibnu Lal dalam Makarim al-Akhlaq, Abu Syaikh, serta Ibnu Hibban dalam Ats-Tsawwab).
92.  Hadits : “Barangsiapa yang berada di waktu pagi dan dia berniat untuk taat kepada Allah, maka Allah akan menuliskan baginya kebaikan walaupun dia bermaksiat kepada-Nya.(HR.Ad-Dailami).
93.  Hadits : “Tidak ada satu kaum pun yang meninggalkan jihad kecuali akan Allah adzab atas mereka.(HR.Ath-Thabrani dalam Al-Awsath).
94.  Hadits : “Tidak akan masuk surga orang yang mengada-adakan kebohongan.”(HR.Ad-Dailami, namun tidak ada yang mensanadkannya).
95.  Hadits : “Janganlah engkau sekali-kali menghina seorang muslim pun, sebab orang muslim yang dianggap hina adalah mulia dalam pandangan Allah.”(HR.Ad-Dailami).
96.  Allah berfirman : “Apabila kalian menginginkan rahmat-Ku, maka sayangilah makhluk-Ku.”(HR.Abu Syaikh, Ibnu Hibban dan Ad-Dailami).
97.  Hadits : Saya bertanya kepada Rasulullah tentang bagaimana cara memakai sarung.Kemudian dia memegang bagian otot betis.Saya berkata : “Tambahkanlah kepada saya.Kemudian Rasulullah mengambil bagian depan betisku.Saya berkata : Tambahkanlah kepada saya.Rasulullah bersabda : “Tidak ada kebaikan memakai pakaian diatas betis itu.Saya berkata : “Jika demikian, maka binasalah kami wahai Rasulullah.Rasulullah bersabda : “Wahai Abu Bakar, ketatkan dan rapatkanlah, kau akan selamat.”(HR.Abu Nu’aim dalam Hilyatu al-Awliya).
98.  Hadits tentang mencukupi dan menahannya Ali dalam keadilan adalah sama.”(HR.Ad-Dailami dan Ibnu Asakir).
99.  Hadits : “Janganlah kalian lalai untuk meminta perlindungan kepada Allah dari godaan syetan, sebab kalian tidak melihatnya, maka sesungguhnya dia tidak pernah lalai untuk menggodamu.”
100.          Hadits : “Barangsiapa yang membangun masjid, maka Allah akan membangunkan baginya rumah di surga.”(HR.Ath-Thabrani dalam Al-Awsath).
101.          Hadits : “barangsiapa yang makan dari sayur-sayuran yang berbau bawang merah, maka janganlah kalian sekali-kali mendekati masjid kami.”(HR.Ath-Thabrani dalam Al-Awsath).
102.          Hadits tentang mengangkat tangan )takbiratul ihram) pada saat pembukaan shalat, ruku, sujud dan bangkit dari sujud.(Al-Baihaqi dalam As-Sunan).
103.          Hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah menghadiahkan seekor unta kepada Abu Jahal.”(HR.Al-Ismaili dalam Mu’jamnya).
104.          Hadits : “Melihat kepada Ali adalah ibadah.”(HR.Ibnu Asakir).
  
Tafsir yang Berasal dari Abu Bakar
Abu Qasim al-Baghawi meriwayatkan dari Ibnu Mulaikah, beliau berkata : Abu Bakar ditanya tentang penafsiran suatu ayat.Lalu dia berkata : “Bumi mana yang akan menjadi pijakanku dan langit mana yang akan menaungiku jika saya mengatakan sesuatu tentang Kitab Allah yang tidak dikehendaki oleh Allah maksudnya.”
Abu Ubaidah meriwayatkan dari dari Ibrahim at-Taimi dia berkata : Abu BAkar ditanya tentang tafsir firman Allah :وفاكهة وأبا))[45].Dia berkata : “langit mana yang akan menaungiku dan bumi mana yang akan menjadi pijakanku jika saya mengatakan sesuatu tentang Kitab Allah yang saya sendiri tidak tahu maknanya?”Al-Baihaqi dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Bakar bahwa beliau ditanya tentang (الكلالة) Beliau menjawab : “Saya akan mengatakan apa yang menjadi pendapat saya, jika yang saya katakana benar, maka itu adalah dari Allah, dan jika salah, maka itu adalah dari saya dan syetan.Saya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Kalalah (dalam warisan) adalah selain dari anak laki-laki dan bapak.”Dan tatkala Umar menjadi khalifah dia berkata : “Sesungguhnya saya sangat malu untuk menolak apa yang dikatakan oleh Abu Bakar.”
Abu Nu’aim meriwayatkan dalam kitabnya Hilyat Al-Awliya dari al-Aswad bin Hilal,beliau berkata : “Abu Bakar berkata kepada para sahabat-sahabatnya, apa yang akan kalian katakana mengenai dua ayat ini?
]إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ[[46].
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun pada mereka (dengan mengatakan), janhalah kamu merasa takut dan kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”(Fushshilat : 30).
 ]الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ[ [47]
“Orang-orang yang beriman dan tidak memcampuradukkan keimanan mereka dengan kedzaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”(Al-An’am : 82).
            Para sahabat berkata : “Yang dimaksud dengan “Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka” adalah mereka tidak melakukan dosa, sedangkan maksud dari “tidak mencampuradukan keimanan mereka dengan kedzaliman”adalah dengan kesalahan.
Abu Bakar berkata : “Sesungguhnya kalian telah menyeret tafsir kepada ini kepada tempat yang tidak benar.”Kemudian beliau berkata : Mereka berkata : Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maksudnya adalah mereka tidak condong kepada Tuhan selain Allah, Sedangkan maksud ayat :Tidak mencampuradukan keimanan mereka dengan kedzaliman.adalah tidak mencampuradukannya dengan kemusyrikan.
Ibnu jarir meriwayatkan dari Amir bin Sa’ad al-Bajili dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, tentang firman Allah :
]لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ[ [48]
 “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”(Yunus : 26).
Beliau berkata : “Yang dimaksud dengan tambahannya adalah melihat wajah Allah.”
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Bakar tentang firman Allah :
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun pada mereka (dengan mengatakan), janhalah kamu merasa takut dan kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”(Fushshilat : 30).
Beliau berkata : “Telah ditafsirkan oleh banyak orang, maka barangsiapa yang meninggal dalam keadaan demikian, maka dia termasuk orang yang teguh pendiriannya (istiqamah).
Atsar Mauquf yang diriwayatkan dari Abu Bakar
( Perkataan, Keputusan, Khutbah Atau Doa)
Al-Lalakai meriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata : Ada seorang laki-laki datang kepada Abu Bakar, kemudian dia berkata : “Apakah zina itu ada sangkut pautnya dengan qadar?”
Abu Bakar berkata : “Ya”Orang itu berkata : “Allah menakdirkannya kepada saya lalu Dia menyiksa saya?”
Abu Bakar berkata : “Wahai Anak durhaka.Andaikata saya punya orang, maka saya akan perintahkan dia untuk memukul hidungmu.”
Ibnu Syaibah dalam kitabnya meriwayatkan dari Zubair bahwa Abu Bakar berkata saat sedang khutbah dihadapan kaum muslimin : “Wahai manusia, malulah kalian kepada Allah. Demi dzat yang diriku ada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya saya akan tetap menutup kepala saat membuang hajat walaupun diangkasa, karena rasa malu saya kepada Allah.”
Abdur Razzaq meriwayatkan dari Amr Ibnu Dinar, dia berkata : Abu Bakar berkata : “Malaulah kalian kepada Allah?Demi Allah jika saya masuk ke jamban, saya akan sandarkan punggung saya ketembok, karena malu kepada Allah.”
Abu Daud dalam sunannya meriwayatkan dari Abu Abdullah ash-Shunaji, bahwa dia pernah menunaikan shalat maghrib dibelakang Abu Bakar.Pada dua raka’at pertama dia membaca Ummul Qur’an dan salah satu surat pendek.Sedangkan pada raka’at ketiga membaca :
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا.
 Ibnu Khaitsamah dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Uyaynah berkata : Jika Abu Bakar berta’ziah kepada seseorang, beliau berkata : “Tidak ada musibah dengan adanya Ta’ziah, dan tidak ada manfaat dari rasa takut.Kematian itu lebih ringan daripada yang sebelumnya, dan lebih pedih dari yang setelahnya.Ingatlah saat kematian Rasulullah, maka akan terasa ringan dan kecillah musibah yang menimpa kalian.Semoga Allah memberikan kepada kalian balasan yang besar.”
Ibnu Abi Syaibah dan ad-Daruquthni meriwayatkan dari Salim bin Abid-Dia adalah seorang sahabat- beliau berkata : Abu Bakar pernah berkata kepada saya : “Bangunlah kamu diantara saya dan shalat fajar hingga saya dapat bangun untuk sahur.”
Dia juga meriwayatkan dari Abi Qulabah dan Abi Safar mereka berdua berkata :Abu Bakar ash-Shiddiq berkata : “Tutuplah pintu, sehingga kita bisa bangun di waktu sahur (menjelang sahur).”
Al-Baihaqi dan Abu Bakar an-Naisaburi dalam kitab az-Ziyadat meriwayatkan dari Huszaidah bin Usaid, beliau berkata : “Kami sempat bertemu dengan Abu Bakardan Umar dan mereka menyembelih kurban dengan harapan bahwa hal itu akan dicontoh oleh manusia setelahnya.”Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Abbas, deliau berkata : “Saya mendengar Abu Bakar berkata : “Makanlah olehmu ikan yang mengapung”.
Imam asy-Syafi’I dalam kitabnya al-Umm meriwayatkan dari Abu Bakar bahwa dia tidak suka menjual daging untuk ditukar dengan binatang.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Bakar bahwa dia telah menempatkan kakek pada kedudukan ayah. (dalam warisan).
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari ‘Atha’ dari Abu Bakar, beliau berkata : “Seorang kakek itu posisinya sama dengan ayah, jika tidak ada ayah.Sedangkan cucu sama dengan anak, jika tidak anak diatasnya.
Al-Qasim meriwayatkan, bahwa didatangkan kepadanya seorang laki-laki yang kehilangan ayahnya ; Abu Bakar berkata : “Pukullah kepala sebab syetan berada di kepala.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Malik dia berkata : Jika Abu Bakar menshalatkan mayit, maka dia berkata : “Ya Allah ini adalah hamba-Mu, dia telah tinggalkan keluarga, harta dan kerabatnya.Dosa-dosa demikian banyak, dan Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”
Sa’id bin Manshur dalam sunannya meriwayatkan dari Umar bahwa Abu Bakar memutuskan perkara antara Ashim bin Umar bin al-Khaththab dengan Ummu Ashim.Beliau berkata kepada Ashim : “Bau dan wanginya serta kelembutannya lebih baik baginya daripada engkau.”
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Qais bin Abi Hazam, beliau berkata : Seorang laki-laki datang menemui Abu Bakar dan dia berkata : “Sesungguhnya ayah saya akan mengambil semua harta yang ada pada saya untuk dibelanjakan.”Kemudian Abu Bakar berkata kepada ayah laki-laki itu : “Sesungguhnya kau berhak mengambil harta anakmu secukupnya.”Orang itu berkata : “Wahai khalifah Rasulullah, bukankah Rasulullah telah bersabda : “Kau dan harta bendamu adalah milik ayahmu?”Abu Bakar berkata : “Ya, namun yang dimaksud adalah nafkah”
 Ahmad bin Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata : “Abu Bakar dan Umar tidak melakukan qishash orang yang merdeka deisebabkan membunuh seorang hamba.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah dari kakeknya bahwa seorang laki-laki menggigit tangan seseorang.Kemudian orang itu mematahkan gigi serinya, maka Abu Bakar membolehkan bagi orang tersebut untuk membalasnya.
Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ikrimah bahwa Abu Bakar memutuskan bagi orang yang menghilangkan telinga orang lain dengan denda sebanyak lima belas unta.Dia berkata : “Kemudian dia menutupi cacatnya dengan rambut dan sorbannya.”
Al-Baihaqi dan yang lainnya meriwayatkan dari Abi Imran al-Juni bahwa Abu Bakar telah mengutus pasukan ke Syam dan beliau memerintahkan Yazid bin Abu Sufyan untuk menjadi komandan pasukan.Abu Bakar berkata : “Saya mewasiatkan kepadamu sepuluh hal : Jangan membunuh seorang perempuan, anak-anak, dan orang tua renta, jangan membabat pepohonan yang menghasilkan buah, jangan merusak bangunan, janganlah kamu membunuh domba atau unta yang sedang bunting kecuali untuk pemiliknya, janganlah memotong pepohonan kurma, dan jangan pula membakarnya, jangan berkhianat serta janganlah menampakkan rasa takutmu.”
Imam Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa’I meriwayatkan dari Abu barzah al-Aslami, beliau berkata : Suatu saat Abu Bakar memarahi seorang laki-laki.Kemarahannya demikian memuncak.Lalu saya katakana kepadanya : “Wahai khalifah Rasulullah, apakah harus saya penggal lehernya?”Beliau berkata : “Celakalah kamu, bahwasannya tidak ada yang berhak melakukan itu setelah Rasulullah wafat.”
Saif meriwayatkan dalam kitab Al-Futuh dari syeikhnya, bahwa Bahwa al-Muhajir bin Abi Umayyah-Yang pada saat itu menjabat gubernur al-Yamamah- Diadukan kepadanya dua orang wanita, yang salah seorang diantara mereka menyanyikan lagu yang berisikan penghinaan kepada Rasulullah, Maka dia memotong tangannya dan mencabut gigi depannya.Sementara wanita yang satu lagi bernyanyi dengan menghujat kaum muslimin, maka dia pun memotong tangannya dan mencabut gigi serinya.Setelah kejadian itu Abu Bakar menulis surat kepadanya, yang berbunyi : Telah sampai kepadaku tentang apa yang kamu lakukan kepada wanita yang menyanyikan lagu yang melecehkan Rasulullah.Andaikata kamu belum melakukannya, maka akan saya suruh kamu untuk membunuh wanita itu, sebab hudud para nabi tidak sama dengan hudud manusia biasa.Jika yang melakukan itu seorang muslim, maka dia adalah orang yang murtad.Jika yang melakukannya dari orang yang sedang melakukan perjanjian dengan kita, maka dia telah ingkar janji.Sedangkan wanita yang menghina kaum muslimin, maka jika dia seorang yang mengaku sebagai orang Islam, maka berilah pelajaran kepadanya dan asingkanlah dia, dan j angan kamu merusak anggota badannya(mutslah), dan jika dia seorang dzimmi, maka ketahuilah bahwa kemusyrikan mereka itu lebih besar daripada yang mereka katakana.Andaikata saya mengajukan itu dalam kondisi demikian, maka mungkin kau akan marah.Maka terimalah kehidupan yang menyenangkan dan janganlah kamu merusak anggota tubuh seseorang kecuali dengan cara qishash, karena perbuatan menyakiti orang lain itu adalah dosa dan membuat orang lari.
Imam Malik dan ad-Daruquthni meriwayatkan dari Shafiyyah binti Abi Ubaid bahwasannya ada seorang yang berzina dengan seorang gadis.Lelaki itu mengakui apa yang telah diperbuatnya.Kemudian orang itu dihukum cambuk lalu diasingkan ke daerah Fadak.
Abu Ya’la meriwayatkan dari Muhammad bin Hathib, beliau berkata : “Didatangkan kepada Abu Bakar seorang laki-laki yang mencuri yang telah dipotong bagian yang wajib diqishas.Abu Bakar berkata : “Saya tidak mendapatkan satu hokum yang lebih pantas untukmu kecuali dengan apa yang pernah di putuskan oleh Rasulullah, pada hari dia memerintahkan untuk membunuhmu.”Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar orang itu dibunuh.
Imam Malik meriwayatkan dari al-Qasim bin Muhammad bahwa seorang laki-laki yang berasal dari Yaman datang menemui Abu Bakar sementara tangan dan kakinya telah bunting.Dia mengadukan bahwa petugas di Yaman telah melakukan ketidakadilan terhadapnya.Orang tersebut melakukan shalat malam namun dia mencuri?setelah itu mereka kehilangan perhiasan milik Asma bintiUmais, isteri Abu Bakar.Orang itu ikit mencuri perhiasan bersama mereka dan berkata : “Ya Allah, kuserahkan urusan ini kepadaMu, terhadap orang yang telah melakukan kejahatan terhadap rumah keluarga yang shalih ini.”
Kemudian mereka mendapatkan perhiasan itu ada pada seorang tukang emas yang mengaku bahwa orang yang bertangan buntung itu telah menjualnya.Kemudian lelaku bertangan buntung itu mengakui apa yang telah dilakukannya.Lalu Abu Bakar memerintahkan agar tangan kiri orang tersebut dipotong.Abu Bakar berkata : “Demi Allah, doa yang dia panjatkan kepada Allah atas dirinya lebih berat dalam pandanganku daripada tindakan pencuriannya.”
Imam Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Anas bahwa Abu Bakar memotong tangan orang yang mencuri barang seharga lima dirham.
Abu Nu’aim dalam al-Hilyah meriwayatkan dari Abu Shalih, beliau berkata : tatkala orang-orang Yaman datang menemui Abu Bakar dan mereka mendengarkan Al-Qur’an, mereka menagis tersedu-sedu.Abu Bakar berkata : “Demikianlah kami di zaman Rasulullah, lalu hati kami menjadi kuat.”Abu Nu’aim berkata : “Artinya pada saat itu hati mereka menjadi kokoh dan tenag dengan makrifat kepada Allah.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar, Abu Bakar berkata : “Perhatikanlah oleh kalian perilaku Rasulullah terhadap Ahli Baitnya.”
Imam Bukhari dalam kitabnya al-Gharib meriwayatkan dari Abu Bakar, beliau berkata : “Berbahagialah orang-orang yang meninggal di awal-awal Islam, yaitu sebelum munculnya banyak fitnah.”
Imam empat pengarang sunan dan Malik meriwayatkan dari Qubaishah, beliau berkata : “Seorang Nenek datang menemui Abu Bakar menanyakan tentang hak warisnya.Abu Bakar berkata : “Saya tidak mendapatkan dalam ayat manapun ataupun dalam sunnah Rasulullah yang menyebutkan tentang bagian seorang nenek.Tapi walau demikian.Tapi walau pun demikian datanglah lagi kemari, nanti akan saya tanyakan kepada sahabat-sahabatku.
Abu Bakar kemudian menanyakan masalah tersebut kepada para sahabat, maka Mughirah bin Syu’bah berkata : “Saya menyaksikan Rasulullah memberikan seperenam bagian.”
Abu Bakar bertanya : “Siapakah yang hadir bersamamu saat itu?”Maka berdirilah Muhammad bin Maslamah dan mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Mughirah.Maka Abu Bakar melaksanakan seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah.
Imam Ad-Daruquthni meriwayatkan dari al-Qasim bin Muhammad, beliau berkata : Ada dua orang nenek yang menghadap kepada Abu Bakar.Salah satu dari mereka adalah ibu dari seorang ibu(nenek dari cucu dari pihak ibunya), sedangkan yang lain adalah nenek dari cucu dari anak gadis ayahnya.Abu Bakar menetapkan warisan kepada nenek yang berasal dari pihak ibunya.
Melihat pembagian ini, seorang sahabat bernama Abdur Rahman bin Suhail al-Anshari yang ikut dalam perang badar, yang berasal dari bani haritsah berkata : “Wahai khalifah Rasulullah, apakah engkau memberikan bagian kepada seorang nenek yang jika ia meninggal, tidak ada orang yang mendapatkan warisan darinya?”maka Abu Bakar pun membagikan harta warisannya sama rata diantara keduanya.
Abdur Razzaq meriwayatkan dari Siti Aisyah tentang peristiwa Rafa’ah yang dicerai oleh suaminya, kemudian dia kawin dengan Abdur Rahman bin Zubair.Tetapi Abdur Rahman bin Zubair tidak mampu menggaulinya, lalu wanita tersebut ingin kembali kepada suaminya yang pertama.Rasulullah bersabda kepadanya :
“Janganlah kamu kembali kepadanya sampai kamu menikmati madu perkawinan dengannya, dan dia juga menikmati madu perkawinan denganmu.”[49]
Abdur Razzaq menambahkan : Kemudian wanita itu datang menemui Abdur Rahman bin Zubair, lalu dia datang kembali menemui Rasulullah, memberitahukan bahwa dia telah menggaulinya.Rasulullah tetap melarang untuk kembali kepada suaminya yang pertama.Rasulullah berkata : “Tidak akan saya lakukan, sebab jika saya izinkan dia untuk kembali kepada Rafa’ah, maka tidak akan sempurna kembali pernikahannya.”lalu wanita tersebut datang menemui Abu Bakar dan Umar pada masa pemerintahannya dan keduanya menolak sebagaimana yang dilakukan oleh rasulullah.
Imam Baihaqi meriwayatkan dari ‘Uqbah bin Amir bahwa ‘Amr bin ‘Ash dan Syarahbil bin Hasanah mengirim bingkisan kepada Abu Bakar yang berupa kepala manusia melalui Syam.Maka tatkala utusan itu datang, Abu Bakar tidak membenarkan tindakan tersebut.Kemudian ‘Uqbah berkata : “Wahai khalifah Rasulullah, mereka telah melakukan tindakan kejahatan pada kita.Abu Bakar berkata : “Apakah mereka ingin meniru cara-cara orang Persia dan Romawi, cukuplah bagiku surat dan kabar saja.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Qais bin Hazm, beliau berkata : Abu Bakar menemui seorang wanita yang berasal dari Ahmas , bernama Zainab, wanita itu tidak berbicara kepada Abu Bakar.Abu Bakar berkata : “Mengapa dia tidak berbicara?”Orang-orang yang hadir berkata : “Dia sedang melaksanakan haji dengan cara diam.”Abu Bakar berkata : “Berbicaralah, sebab ini tidak halal dilakukan, ini adalah bentuk perbuatan Jahiliyah.maka berbicaralah wanita itu : “Siapakah engkau?”Abu Bakar menjawab : “Saya adalah orang Muhajir.”
Muhajir yang mana?Abu Bakar menjawab : “Saya dari suku Quraisy.”Wanita itu kembali bertanya : “Quraisy yang mana ?”Abu Bakar berkata : Sesungguhnya kamu ini wanita yang banyak tanya.Wanita itu berkata : “Lalu apa makna keberadaan kita dalam perkara yang hak ini, dimana Allah mendatangkannya setelah Jahiliyyah?”Abu Bakar berkata : “Para imammu yang istiqamah.”Wanita itu bertanya lagi : “Apakah imam-imam itu?”Abu Bakar berkata : “Apakah tidak ada diantara kaummu seorang pemimpin dan orang-orang yang mulia yang memerintah kalian dan kalian menaatinya?”Dia berkata : “Tentu.”Abu Bakar berkata : “Mereka itulah yang disebut para imam.”
Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah, berkata : Abu Bakar punya seorang pelayan yang suka memberikan upeti kepadanya.Dia suka makan dari upeti tersebut.Suatu ketika pelayan tersebut datang dengan membawa makanan,Abu Bakar kemudian makan dari makanan yang dia bawa.Pelayan itu berkata : “Tahukah engkau apa ini?”Abu Bakar berkata : “Apakah itu?”Pelayan berkata : “Saya pernah meramal nasib pada masa Jahiliyyah, sedangkan saya tidak tahu tentang ilmu ramalan, namun saya menipu orang lain.Lalu orang itu menemuiku dan memberikan apa yang engkau makan tadi.”Kemudian Abu Bakar memasukkan tangannya kedalam mulutnya kemudian beliau memuntahkan seluruh makanan yang dimakannya tadi.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitabnya az-Zuhd dari Ibnu Sirin, berkata : “Saya tidak pernah tahu dan mendengar seorang pun yang memuntahkan makanan dari apa yang dia makan, selain Abu Bakar.Ibnu Sirin kemudian menceritakan kisah tadi.”
Imam an-Nasa’i meriwayatkan dari Aslam bahwa Umar datang kepada Abu Bakar.Beliau kemudian memegang lidahnya dan berkata : “Inilah yang akan menghantarkanmu kedalam bahaya.”
Abu Ubaid meriwayatkan dalam kitabnya al-Gharib dari Abu Bakar, bahwa dia pernah menemui Abdur Rahman bin ‘Auf saat dia sedang bersitegang dengan tetangganya.Maka Abu Bakar berkata kepadanya : “Janganlah kau bertengkar dengan tetanggamu, karena dia akan tetap bersamamu saat orang-orang meninggalkanmu.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Musa bin Uqbah bahwa Abu baker suatu ketika berkhutbah : “Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam.Saya memuji, dan meminta pertolongan kepada-Nya.Kita memohon karomah-Nya setelah kita wafat.Sesungguhnya ajalku dan ajal kalian telah dekat.Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Ahad dan tidak ada serikat baginya.Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah yang diutus dengan membawa kebenaran dan menjadi pemberi kabar gembira dan amcaman, serta menjadi penerang.Agar dia dapat memberikan peringatan kepada orang yang hidup.Dan sesungguhnya apa yang Allah janjikan akan menimpa terhadap orang-orang yang kafir.Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, berarti dia telah mendapatkan petunjuk.Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada keduanya, berarti dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.”
Saya wasiatkan kepada kalian agar kalian senantiasa bertakwa kepada Allah, berpegeng teguh pada semua perintah Allah yang telah diperintahkan kepada kalian.Sesungguhnya hidayah yang paling besar setelah kata ikhlas adalah mendengar dan taat kepada orang yang telah Allah tentukan untuk menjadi pemimpin untuk kalian.Karena sesungguhnya orang-orang yang taat kepada Allah dan pemimpin yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang kemungkaran, dia telah beruntung dan telah menunaikan apa yang harus dia lakukan dari kebenaran.Janganlah mengikuti hawa nafsu kalian, karena sesungguhnya telah beruntung orang yang terjaga dari hawa nafsu, rasa tamak dan kemarahan.jangan pula kalian membanggakan diri.Apakah yang bias dibanggakan dari makhluk yang diciptakan dari tanah?Lalu dia akan kembali ketanah pula.Kemudian jasadnya akan dimakan tanah.Memang saat ini dia hidup, namun ketahuilah besok dia kan mati.Maka sadarilah itu dari hari ke hari dari waktu kewaktu.Hati-hatilah kalian dari doa orang yang dizhalimi dan masukkanlah diri kalian kepada kelompok orang yang telah meninggal.Sabarlah kalian karena semua perbuatan itu bisa dilalui dengan kesabaran.Tetaplah waspada dan mawas diri, karena sesungguhnya kewaspadaan itu sangatlah berguna.Bekerjalah karena amal itu akan diterima.Waspadalah terhadap apa yang Allah perintahkan kepada kalian dari adzabNya.Dan bersegeralah terhadap apa yang Allah janjikan bagi kalian dari rahmat-Nya.Pahamilah, maka pahamilah dengan sangat mendalam, dan bertakwalah niscaya kalian akan dilindungi.Karena Allah telah menerangkan kepada kalian apa yang mencelakakan orang-orang sebelum kalian, dan apa-apa yang menyebabkan mereka selamat.Dia telah menjelaskan kepada kalian yang halal dan yang haram dalam kitab-Nya, perbuatan yang dia sukai dan yang dibenci oleh-Nya.Karena sesungguhnya saya tidak dapat menyelamatkan kalian dan dari diriku sendiri.Dan Allah-lah tempat kita memohon perlindungan.Dan tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah.
Ketahuilah bahwasannya pekerjaan yang kalian lakukan dengan ikhlas adalah ketaatan kalian pada Tuhan kalian, dan dari bagian yang telah kalian jaga, dan kalian akan senang dengan amal kalian.Dan apa yang kalian lakukan dari yang sunnah-sunnah maka jadikanlah itu sebagai perbedaan yang ada disisi kalian yang akan mencukupi apa yang terlewatkan dari pekerjaan kalian dan akan menutupi hajat kalian pada saat kalian membutuhkannya.
Kemudian wahai hamba Allah, berpikirlah kalian tentang saudara-saudara dan sahabat-sahabat kalian yang telah lampau.Mereka telah melakukan apa yang menjadi kewajiban yang dibebankan kepada mereka.Dan ingatlah tentang kesulitan dan kesengan setelah kematian.Sesungguhnya tidak ada sekutu bagi Allah.Dan ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang akan dikaruniai kebaikan dan akan dia cegah darinya kejahatan kecuali dengan taat dan mengikuti perintah-Nya.Sesungguhnya tidak ada kebaikan dalam perkara yang baik yang berakhir dengan neraka, dan tidak ada kejahatan dalam suatu kejahatan yang berakhir dengan surga.Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan.Semoga Allah memberikan ampunan kepada kita semua.Dan ucapkanlah salam dan shalawat pada nabi kalian.Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Al-Hakim dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Hakim, beliau berkata : “Abu Bakar berkhutbah dihadapan kami.Dia mengucapkan : puji serta syukur kepada Allah yang sesuai dengan kebesaran-Nya.Kemudian berkata : “Saya wasiatkan kepada kalian untuk selalu bertakwa kepada Allah.Dan hendaklah kalian memuji-Nya yang sesuai dengan keagungan-Nya.Hendaklah kalian memadukan antara rasa takut dan harap kepada Allah pada hati kalian.Sebab Allah memuji Nabi Zakaria dan keluarganya dengan firman-Nya :
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan mereka berdoa kepada kami dengan penuh harap dan cemas.Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.”[50]
 Kemudian ketahuilah wahai hamba Allah, bahwa Allah telah menggadai jiwa kalian dengan hak-Nya.Untuk itu Allah telah mengambil sumpai dan janji dari kalian.Allah telah membeli dari kalian perkara yang sedikit dan fana dengan sesuatu yang banyak dan abadi.Kitab Allah kini berada ditengah-tengah kalian.Kitab yang cahayanya tidak akan pernah padam, dan keajaibannya tidak akan pernah berakhir.Maka jadikanlah Kitab Allah itu sebagai penerang dalam perjalanan hidup kalian, dan galilah nasehat-nasehatnya.Jadikanlah dia sebagai cahaya untuk menerangi suatu hari yang sangat gelap gulita (alam kubur).Ketahuilah bahwa Allah menciptakan kalian agar kalian beribadah kepada-Nya.Allah menjadikan pada kalian para malaikat yang mencatat amal kalian, mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
Wahai hamba Allah, ketahuilah bahwa ajal akan selalu mengikuti kalian diwaktu siang dan malam hari dan Allah tidak memberitahukan ilmunya kepada kalian.Maka, apabila kalian mampu menghabiskan seluruh waktu untuk beramal di jalan Allah maka lakukanlah, namun hal itu tidak dapat dilakukan tanpa izin-Nya.Oleh sebab itu, bersegeralah melakukan kebaikan sebelum ajal kalian tiba, dan sebelum kalian dikembalikan pada perbuatan yang sangat buruk.Sebab banyak manusia yang menyerahkan ajalnya kepada orang lain, sementara mereka lupa akan diri sendiri.Maka janganlah kalian menjadi seperti mereka.Maka bersegeralah, kalian akan semangat.Sebab di belakang kalian ada pemohon yang melakukan urusannya dengan cepat.”
Ibnu Abi Dunya dan Ahmad dalam az-Zuhd serta Abu Nu’aim dalam Hilyat meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir bahwa Abu Bakar pernah berucap pada khutbahnya : “Dimanakah orang-orang yang berparas tampan dan mengagung-agungkan masa mudanya?Dan dimanakah para raja yang membangun kota-kota dan membentenginya?Dimanakah para penakluk di medan perang?Sesungguhnya persendian mereka telah menjadi lemah karena dimakan waktu dan mereka sekarang berada dalam kegelapan kubur.Maka bersegeralah (kembali kepada kebenaran), kalian akan selamat.”
Imam Ahmad dalam Az-Zuhd merieayatkan dari Salman, dia berkata : Saya datang menemui Abu Bakar dan berkata : “Berilah saya nasehat.”Abu Bakar berkata : “Wahai SAlman, bertakawalah kepada Allah.Ketahuilah akan ada penaklukan negeri-negeri, dimana saya tidak tahu apa yang akan menjadi bagianmu dan apa yang kamu masukkan dalam perutmu serta apa yang kamu pikul diatas pundakmu.Ketahuilah bahwa siapa saja yang melakukan shalat lima waktu, dia akan berada di dalam perlindungan Allah di waktu pagi dan petang.Maka janganlah kalian membunuh yang berada dalam perlindungan Allah, karena itu adalah pelanggaran terhadap aturan-Nya, dan kamu akan dimasukkan oleh-Nya ke dalam neraka.”
Diriwayatkan dari Abu Bakar, beliau berkata : “Orang-orang yang shalih akan diwafatkan satu persatu hingga tidak tersisa dari manusia kecuali yang jelek-jelek sebagaimana jeleknya bagian kurma dan gandum dan Allah tidak peduli lagi pada mereka.”
Sa’id bin Manshur dalam sunannya meriwayatkan dari Mu’awiyyah bin Qurra’ bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq berkata dalam do’anya ; Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah akhirnya, dan sebaik-baik amalku adalah penutupnya dan sebaik-baik hariku adalah saat saya berjumpa dengan-Mu.”
Imam Ahmad meriwayatkan dalam az-Zuhd dari al-Hasan, dia berkata : “Telah sampai berita kepadaku bahwa Abu Bakar berkata dalam doanya ; Ya Allah, saya mohon kepadamu suatu hal yang baik dalam akhir setiap urusan.Ya Allah, jadikanlah terakhir yang Kau berikan adalah ridha-Mu, dan derajat yang tinggi di surga yang dengan penuh kenikmatan.
Ahmad dan Ibnu ‘Arafah meriwayatkan : Abu Bakar berkata : “Barangsiapa yang bisa menangis ketika membaca Al-Qur’an, maka hendaklah dia menangis, dan jika tidak bisa maka berpura-puralah menangis.”
Dia juga meriwayatkan dari ‘Azrah dari Abu Bakar bahwa dia berkata : “Dua benda yang banyak menghancurkan kaum wanita yaitu emas dan za’faran.”
Dia meriwayatkan dari dari Muslim bin Yasar dari Abu Bakar, beliau berkata : “Sesungguhnya seorang muslim itu akan diberi pahala dalam segala hal.Sampai dalam bencana yang menimpanya, atau lepas tali sandalnya, atau barang bawaan yang ada disaku bajunya hilang dan dia kaget karena kehilangannya, hingga akhirnya dia temukan kembali bahwa barang tersebut ada di saku bajunya.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Maymun bin Mahran, dia berkata : “Diberikan kepada Abu Bakar seekor burung gagak, kemudian dia mengembalikan burung gagak tersebut, dan berkata : “Tidak ada seekor burung pun yang diburu dan tidak ada sebatang pohon yang ditebang kecuali karena telah diabaikannya tasbih kepada Allah.”
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad dan Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dalam Zawaid az-Zuhd dari ash-Shanabihi bahwa dia mendengar Abu Bakar berkata : “Sesungguhnya doa seorang saudara atas saudaranya yang seiman akan dikabulkan.”
Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid Az-Zuhd meriwayatkan dari Labib, bahwa dia datang menemui Abu Bakar dan berkata : “Ketahuilah bahwa segala sesuatu selain Allah akan musnah.”Abu Bakar berkata : “kau benar.”Labib kemudian melanjutkan perkataannya : “Dan segala nikmat pasti akan sirna.”
Abu Bakar berkata : “Kau bohong karena disisi Allah ada kenikmatan yang tidak akan pernah sirna.”tatkala labib berpaling, Abu Bakar berkata : “Mungkin penyair itu mengutip syairnya dari kata-kata hikmah.”
Dalil-dalil yang Menunjukkan Sangat takutnya Abu Bakar kepada Allah
Abu Ahmad al-Hakim meriwayatkan dari Muadz bin Jabal dia berkata : “Suatu ketika Abu Bakar memasuki sebuah kebun.Kemudian dia melihat seekor burung di bawah sebuah pohon.lalu beliau menghela nafas seraya berkata : “Alangkah bahagianya kamu wahai burung, kamu makan dari pepohonan dan kamu bernaung di bawah pohon, dan berjalan menempuh hidupmu tanpa ada yang akan menghisab perbuatan-perbuatanmu.Alangkah senangnya jika Abu Bakar menjadi sepertimu.”
Ibnu Asakir meriwayatkan dari al-Asma’i, dia berkata : Jika Abu Bakar dipuji oleh seseorang, dia akan mengatakan : “Ya Allah, Engkau lebih tahu tentang diriku dari pada saya, dan saya lebih tahu dari mereka.Ya Allah jadikanlah saya lebih baik daripada yang mereka duga.Dan ampunilah saya dari apa yang mereka tidak ketahui.Dan janganlah kau siksa aku dikarenakan perkataan mereka terhadapku.”
Imam Ahmad meriwayatkan dalam az-Zuhd dari Abu Imran al-Juni, beliau berkata : Abu Bakar ash-Shiddiq berkata : “Sungguh saya akan merasa senang jika saya hanyalah sehelai bulu kecil di bagian tubuh seorang mukmin.”
Ahmad juga meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata : Abdullah bin Zubair apabila sedang shalat maka dia laksana sebatang kayu, dikarenakan kekhusyuannya.Demikian juga Abu Bakar.
Ahmad meriwayatkan dari al-Hasan, dia berkata : Abu Bakar berkata : “Demi Allah, saya akan merasa senang jika saya hanyalah sebatang pohon yang dimakan dan dipotong.”
Dia juga meriwayatkan dari Qatadah, berkata : Telah sampai kepada saya bahwa Abu Bakar berkata : “Saya menginginkan seandainya saya hanyalah rumput hijau yang dimakan binatang.”
Ahmad meriwayatkan dari Dhamrah bin Habib, berkata : Ketika anak lelaki Abu Bakar menjelang ajalnya, dia selalu melihat kebantal,Lalu orang-orang menggeser mayatnya dari bantalnya.Mereka mendapatkan dibawah bantalnya ada lima atau enam dinar.Melihat itu Abu Bakar menepuk-nepukkan tangannya dan berkata : “Inna Lillaahi wa Inna Ilaihi Raji’un saya tidak menyangka bahwa kulitmu sanggup menampung uang ini.”
Dia juga meriwayatkan dari Tsabit al-Banani bahwa Abu Bakar mengumpamakan sesuatu harapan lewat syair berikut :
Selalu saja kau ratapi kematian kekasihmu
Seseorang yang mengharapkan sesuatu yang dia mati karenanya
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ibnu Sirin, dia berkata : Tidak ada seorang pun setelah nNabi yang lebih takut untuk mengatakan sesuatu yang tidak dia ketahui daripada Abu Bakar.Dan tidak ada seorang pun yang lebih takut untuk mengatakan sesuatu yang tidak diketahui setelah Abu Bakardaripada Umar.Sesungguhnya jika ada suatu permasalahan yang diajukan kepada Abu Bakar dan dia tidak mendapatkannya didalam Kitab Allah dan As-Sunnah, maka Abu Bakar akan mengatakan : “Saya akan berijtihad dengan menggunakan kemampuan akal saya.Dan apabila itu benar maka itu adalah dari Allah, dan jika salah maka itu berasal dari kelemahan saya dan saya memohon ampun kepada Allah.”
  
Tentang Tafsir Mimpi
Sa’id bin Manshur berkata : Aisyah pernah bermimpi melihat tiga bulan turun kerumahnya.Kemudian dia mengisahkan menceritakan mimpinya tersebut kepada Abu Bakar-pada saat itu Abu Bakar adalah orang yang paling tahu tentang tafsir mimpi-Lalu beliau berkata : “Jika mimpimu benar maka akan dikuburkan di dalam rumahmu didalam rumahmu tiga orang terbaik dari penduduk bumi.”Maka pada saat Rasulullah wafat, Abu Bakar berkata : “Wahai anakku, ini adalah bulan terbaik dari tiga bulan yang pernah ada dalam mimpimu.”
Said juga meriwayatkan dari Amr bin Syarahbil, dia berkata : Rasulullah bersabda : “Saya bermimpi mengembalakan kambing-kambing hitam, lalu setelah itu saya gembalakan kambing-kambing putih hingga kambing-kambing yang hitam tidak kelihatan.Abu Bakar berkata : “Wahai Rasulullah, adapun kambing-kambing hitam, mereka adalah orang-orang Arab yang masuk Islam kemudian mereka menjadi banyak.Sedangkan kambing-kambing putih itu adalah orang-orang diluar arab yang masuk Islam hingga seolah-olah orang-orang Arab tenggelam di tengah mereka karena saking banyaknya.”
Rasulullah kemudian bersabda : “Memang demikian seperti di tafsirkan malaikat pada waktu pagi menjelang fajar.”
Ibnu Said juga meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila, dia berkata : Rasulullah bersabda : “Saya bermimpi ada disebuah sumur, kemudian datang kepadaku kambing hitam dan kambing putih.”Kemudian Abu Bakar berkata : “Biarkanlah saya menafsirkan mimpi itu”.Lalu dia menafsirkan mimpi tersebut sebagaimana tafsiran diatas.
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Muhammad bin Sirin ,berkata : “Tidak ada seorang pun yang lebih paham tentang tafsir mimpi setelah Rasulullah selain daripada Abu Bakar.”
Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ibnu Syihab, beliau berkata : “rasulullah pernah bermimpi.Kemudian dia menceritakan mimpi tersebut kepada Abu Bakar.Rasulullah bersabda : “Saya bermimpi, bahwa saya berlomba denganmu dalam menaiki anak tangga.Dan ternyata saya lebih unggul daripadamu dua tangga setengah.”
Abu Bakar berkata : “Allah akan mengembalikanmu ke dalam rahmat dan ampunan-Nya, dan setelah itu saya akan hidup dua tahun setengah setelah wafatmu.”
Abdur Razzaq meriwayatkan dalam kitabnya dari Abi Qilabah, berkata : “Ada seorang laki-laki berkata kepada Abu Bakar : “Saya bermimpi bahwa saya kencing darah.”.Kemudian Abu Bakar berkata : “Kamu Adalah laki-laki yang melakukan hubungan dengan isterimu saat dia sedang dalam keadaan haidh, maka mohon ampunlah kepada Allah.”
  
Perihal Lain Tentang Abu Bakar
Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Dalail an-Nubuwah dari Abdullah bin Buraidah, dia berkata : “Rasulullah mengutus Amr bin ‘Ash sebagai komandan dalam sebuah ekspedisi perang.Ikut dalam ekspedisi tersebut antara lain Abu Bakar dan Umar.Tatkala mereka sampai di medan perang, Amr memerintahkan kepada pasukan untuk tidak menyalakan apai.Mendengar perintah tersebut Umar marah dan dia mau mendatangi Amr bin ‘Ash.Namun Abu Bakar mencegahnya.Beliau mengatakan kepada Umar bahwa rasulullah tidak akan menjadikan seseorang sebagai komandan kecuali orang itu paling mengerti tentang strategi perang.Mendengar perkataan Abu Bakar Umar pun menjadi tenang.”
Imam al-BAihaqi juga meriwayatkan dari jalur Abu Ma’syar dari sebagian para gurunya bahwa Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya saya akan menjadikan seseorang sebagai pemimpin pasukan dalam sebuah pertempuran dimana di dalamnya ada orang-orang yang lebih baik, dengan alas an orang itu lebih pandai dan lebih pandai strategi perang.”
Khalifah bin al-Khayyath, Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Yazid bin al-Aslam bahwa Rasulullah bersabda kepada Abu Bakar : “Sayakah yang lebih tua ataukah kamu?”Abu Bakar berkata : “Kau lebih agung dan lebih mulia daripada aku, namun saya lebih tua daripadamu.Hadits ini termasuk hadits Mursal dan sangat Gharib.Maka jika memang benar demikian maka hal tersebut membuktikan kepandaian Abu Bakar dan sopan santunnya.Namun yang termasyhur dari jawabannya itu adalah jawaban yang diberikan oleh al-Abbas (paman Rasulullah).
Hadits serupa juga ada dalam riwayat Said bin Yarbu yang diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dengan lafadznya : Bahwa Rasulullah bersabda kepada Abu Bakar : “Siapakah diantara kita yang lebih tua?”Abu Bakar berkata : “Kau lebih agung dan lebih baik daripada saya, sedangkan saya lebih dulu lahir daripadamu.”
Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa dikatakan kepada Abu Bakar : “Wahai khalifah Rasulullah, tidakkah kau menyertakan ahli Badar sebagai pejabat-pejabat?”Abu Bakar berkata : “Saya mengetahui kedudukan mereka, namun saya tidak ingin mengotori mereka dengan dunia.”
Imam Ahmad juga meriwayatkan dalam kitabnya az-Zuhd dari Ismail bin Muhammad bahwa Abu Bakar membagikan harta kepada orang-orang dengan pembagian harta yang rata.Maka berkatalah Umar : “Apakah kamu samakan pembagian antara orang-orang yang ikut perang Badar dengan orang-orang yang tidak ikut di dalamnya?”Abu Bakar berkata : “Sesungguhnya dunia ini adalah bekal, dan sebaik-baiknya bekal adalah yang paling luas.Sesungguhnya keutamaan mereka itu ada dalam pahala mereka.”
Imam Ahmad dalam kitabnya az-Zuhd meriwayatkan dari Abu Bakar bin Hafash bahwa beliau berkata : “Telah sampai berita kepada saya bahwa Abu Bakar selalu berpuasa sunnah pada musim panas dan tidak berpuasa pada musim dingin.”
Ibnu Sa’id meriwayatkan dari Sa’ad bin Hibban ash-Shaigh dia berkata : Ukiran yang ada pada cincin Abu Bakar adalah (نعم القادر الله).
Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Musa bin Uqbah, beliau berkata : “Saya tidak menemukan orang yang pada dirinya, anak, cucu dan cicitnya hidup sezaman dengan Rasulullah kecuali empat orang, mereka adalah : Abu Quhafah, Abu Bakar, Abdur Rahman bin Abu Bakar dan Atiq bin Abdur Rahman yang bernama Muhammad.
Ibnu Mandah dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Aisyah, berkata : “Tidak ada seorang ayah pun dari kaum Muhajirin yang masuk Islam kecuali ayah Abu Bakar.” (Abu Quhafah).
Ibnu Sa’ad dan al-Bazzar meriwayatkan dengan sanad Hasan dari Anas, dia berkata : “Sahabat Rasulullah yang paling tua adalah Abu Bakar dan Suhail bin ‘Amr bin Baidha.”
Imam Baihaqi dalam kitabnya Dalail an-Nubuwah meriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar, berkata : “Tatkala penaklukan kota Makkah salah seorang anak perempuan Abu Quhafah pergi keluar dengan berkuda -ketika itu dia sedang memakai kalung dari perak- Kemudian seseorang merampas kalungnya.Tatkala Rasulullah masuk kedalam masjid, Abu Bakar berdiri dan berkata : “Wahai orang-orang yang hadir, bertakwalah kepada Allah dan berpegang teguhlah dengan Islam.Sesungguhnya kalung adikku telah ada yang merampas.”Dan pada saat itu tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab, kemudian beliau katakana sekali lagi, namun hasilnya tetap sama.Beliau kemudian berkata kepada adiknya itu : “Wahai saudariku, harapkanlah pahala dari Allah atas kalung yang hilang darimu, karena amanah pada saat ini sudah sangat jarang.”
Saya membaca dalam tulisan al-Hafizh adz-Dzahabi tentang orang-orang yang pada zamannya memiliki keunggulan dan kepiawaian dalam bidang tertentu : Abu Bakar unggul dalam bidang silsilah keturunan, Umar bin al-Khaththab seorang yang keras dalam menegakkan peritah Allah, Utsman bin Affan denagn sifat pemalunya, Ali bin Abi Thalib dalam menetapkan keputusan hokum, Ubay bin Ka’ab dalam ilmu qira’at, Zaid bin Tsabit dalam ilmu faraidh (ilmu waris), Abu Ubaidah dalam amanah, Ibnu Abbas dalam bidang tafsir, Abu Dzar dalam kejujuran perkataannya, Khalid bin Walid dalam keberaniannya, al-Hasan al-Bashri dalam nasehat dan mutiara hikmah,, Wahab bin Munabbih dalam menuturkan kisah, Ibnu Sirin dalam tafsir mimpi, Nafi’ dalam bidang qira’ah, Abu Hanifah dalam bidang fikih, Ibnu Ishaq dalam ilmu perang, Muqatil dalam bidang takwil, al-Kalbi dalam kisah-kisah al-Qur’an, al-Khalil dalam ilmu ‘Arudh, Fudhail bin Iyadh dalam bidang ibadah, Sibawaih dalam ilmu Nahwu, Imam Malik dalam pengetahuan, Imam Syafi’i dalam pemahaman hadits, Abu Ubaidah dalam hadits yang gharib, Ali bin al-Madini dalam masalah illat hadits, Yahya bin Ma’in dalam bidang para perawi hadits, Abu Tamam dalam bidang syair, al-Junaid dalam bidang tasawwuf, Ahmad dalam Sunnah, Imam bukhari dalam bidang hadits, Muhammad bin an-Nashr al-Marwazi dalam masalah ikhtilaf, al-Juba’i terkenal dengan tokoh Mu’tazilah, al-Asy’ari dalam bidang teologi, Muhammad Zakaria ar-Razi dalam bidang kedokteran, Abu Masy’ar dalam bidang perbintangan (astrologi), Ibrahim al-Karmani dalam bidang tabir mimpi, Ibnu Nubatah dalam berkhutbah, Abu al-Faraz al-Asfahani dalam bidang retorika, Abdul Qasim ath-Thabrani dalam masalah al-‘Awali, Ibnu Hazm terkenal dengan pandangannya yang sangat tekstual, Abul Hasan al-Bakri paling terkenal dalam berbohong, al-Hariri dalam bidang Maqamat, Ibnu Mandah dalam banyaknya melakukan perjalanan, al-Mutanabbi dalam syair, al-Mushili dalam bidang lagu-lagu, ash-Shuli dalam main catur, al-Khatib al-Baghdadi dalam kecepatan membaca, Ali bin al-Hilal dalambidang kaligrafi, Atha’ al-Salimi dalam takutnya, al-Qadhi al-Fadhil dalam karang mengarang, al-Ashma’i dalam hal yang aneh dan jarang, Asy’ab dalam ketamaka, Ma’bad dalam nyanyian dan Ibnu Sina dalam bidang filsafat.(Ibnu Khaldun dalam bidang sejarah-pen).


[1] Tahdzib Al-Asma’ : 2/181.
[2] Dzi Thuwa adalah suatu daerah dekat Mekah.
[3] Q.S.At-Taubah : 40.
[4] Diriwayatkan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Tahdzib al-Asma wa al-Lughat : 2/190.
[5] Diriwayatkan oleh Ibnu Saad.
[6] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
[7] Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dan yang lainnya
[8] Q.S.At-Taubah : 40.
[9] Q.S.At-Taubah : 40.
[10] Awaq dalam bahasa Arab berarti harta atau mata uang.
[11] Q.S.Al-Lail : 4.
[12] Q.S.Al-Lail : 5.
[13] Q.S.Al-Lail : 17.
[14] Q.S.Al-Lail : 19.
[15] Lihat Q.S.Az-Zumar : 33.
[16] Q.S.Ali Imran : 159.
[17] Q.S.Ar-Rahman : 46.
[18] Q.S.At-Tahrim : 4.
[19] Q.S.Al-Ahzab : 56.
[20] Q.S.Al-Ahzab : 43.
[21] Q.S.Al-Hijr : 47.
[22] Q.S.Al-Ahqaf : 15-16.
[23] Q.S.At-Taubah : 40.
[24] Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dari hadits Jabir bin Samrah dan Abu Hurairah.
[25] Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani didalam kitabnya al-Awsath dari Abu Hurairah.
[26] Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dari Ibnu Umar dan Ibnu Amr.
[27] Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dari al-Barra’ bin ‘Azib.
[28] Hadits ini menjadi dalil bahwa khalifah setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, kemudian Umar.
[29] Q.S.Al-Fajr : 27.
[30] Q.S.An-Nisa’ : 66.
[31] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dan Ibnu Asakir.
[32] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim.
[33] Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dari hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan yang lainnya, serta dari hadits Ibnu Abbas dalam Zawaid al-Musnad, dan dari hadits Muawiyah bin Abu Sufyan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani, serta dari hadits Anas yang diriwayatkan oleh al-Bazzar.
[34] Q.S.Al-Maidah : 54.
[35] Q.S.Al-Maidah : 54.
[36] Q.S.Al-Fath : 16.
[37] Q.S.An-Nur : 55.
[38] Q.S.An-Nur : 55>
[39] Q.S.Al-Hasyr : 8.
[40] Jawasi atau dikatakan : Jawasa’ yaitu pelindung atau para penolong bagi Abdul Qais di Bahrain.
[41] Sanah adalah salah satu kawasan yang terletak di pinggiran kota Madinah.
[42] Q.S.Qaaf : 19.
[43] Sejenis penyakit kusta.
[44] Golongan yang berpendapat bahwasannya seseorang apabila telah memiliki keimanan yang sempurna dan akan masuk surga serta meyakini ketuhanan Allah dalam hati walaupun tidak ada realisasinya dalam ucapan dan perbuatan.
[45] Q.S.Abbasa : 31.
[46] Q.S.Fushilat : 30.
[47] Q.S.Al-An’am : 82.
[48] Q.S.Yunus : 26.
[49] Hadits ini termasuk dalam kategori hadits shahih.
[50] Q.S.Al-Anbiya : 90.
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: