HADITS SENTUHAN DIDHOIF-KAN IMAM BUKHARI : jadi wudhu Batal jadi Menyentuh wanita yang bukan muhrim

HADITS SENTUHAN DIDHOIF-KAN IMAM BUKHARI

 

1. Rasulullah mencium salah satu dari istrinya kemudian shalat dan tanpa mengulangi wudhu.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits No. 170)

2. Demikian pula hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya, “Pada suatu malam aku kehilangan Rasulullah dari tempat tidur, (tatkala meraba-raba mencarinya) maka aku menyentuhnya, aku letakan tanganku pada telapak kakinya yang ketika itu beliau berada di masjid dalam posisi sujud dengan menegakkan kedua telapak kakinya.” (HR. Muslim dan Tirmidzi telah menshahihkan)

 

Jawaban Habib Munzir Al Musawa

1. Hadits yang pertama

a. Di dhaifkan oleh Imam Bukhari, dan kita memahami bahwa jika suatu hadits dikatakan shahih oleh beberapa muhaddits, lalu ada satu yang mengatakannya dhoif, maka hadits itu bukan lagi hadits shahih, dan yang lebih dari itu, bahwa yang mendhoifkan adalah Imam Bukhari, dan Imam Bukhari adalah rujukan tertinggi dari seluruh Imam Ahli Hadits.

روى ابو داود والنسائي وغيرهما عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقبل بعض أزواجه ثم يصلي ولا يتوضأ . نقل الترمذي عن البخاري ” وهذا لا يصح ولا نعرف لابراهيم التيمي سماعا من عائشة وليس يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم في هذا الباب شيئ ” وروى الحديث احمد وابوداود والترمذي وغيرهم عن الاعمش عن حبيب بن ابي ثابت عن عروة عن عائشة ، وحكى الترمذي عن علي بن المديني قال : ضعف يحيى بن سعيد القطان هذا الحديث وقال : هو شبه لا شيئ ” وقال الترمذي : سمعت البخاري يضعف هذا الحديث وقال : حبيب بن ابي ثابت لم يسمع من عروة ” وقال ابن ابي حاتم في العلل 1/48 : وسمعت ابي يقول لم يصح حديث عائشة في ترك الوضوء في القبلة يعني حديث الاعمش عن حبيب عن عروة عن عائشة ” وكذا أنكره ابن معين كما في تاريخ الدوري 2925

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’iy dan lainnya, dari Aisyah ra, bahwa Sungguh Nabi saw mencium diantara istri istrinya dan shalat tanpa berwudhu, maka dijelaskan oleh Imam Tirmidziy dari ucapan Imam Bukhari bahwa hadits ini tidak shahih, berkata Imam Bukhari : bahwa kami tidak menemukan bahwa Ibrahim Attaymiy mendengarnya dari Aisyah ra, maka tidaklah shahih hadits ini kepada Nabi saw dalam pembahasan ini pun!”,

Dan diriwayatkan pula hadits ini dari Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, dan Imam Tirmidzi dan lainnya, dari A’masy, dari Hubaib bin Abi Tsaabit, dari Urwah, dari Aisyah ra, dan dihikayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Ali bin Almadaniy, didhoifkan oleh Yahya Al Qattan akan hadits ini, ia berkata hadits ini seakan tiada (tidak menjadikan suatu patokan hukum karena dhoif).

Dan berkata Imam Tirmidzi : kudengar Imam Bukhari mendhoifkan hadits ini, Imam Bukhari berkata bahwa Hubaib bin Tsabit tidak mendengarnya dari Urwah!”.

Dan berkata Imam Ibn Abi Hatim dalam kitabnya Al Ilal : kudengar ayahku berkata bahwa tidaklah shahih hadits Aisyah ra dalam meninggalkan wudhu saat mencium, yaitu hadits Al A’masy dari Hubaib, dari Urwah, dari Aisyah.

Demikian pula (hadits ini) dipungkiri oleh Imam Ibn Mu;in sebagaimana dijelaskan pada Taarikh Addauriy 2925. (Arsyif Multaqa Ahlul hadits Juz 1 hal 9974).

b. Pendapat lain tentang hadits dhoif itu bahwa ia hadis mansukh, karena menurut Imam Syafii hadits itu adalah sebelum turunnya ayat Aw Laamastumunnisa. (QS. An-Nisa: 43 dan QS. Al-Maidah: 6).

Maka walau pun seandainya hadits itu shahih maka ia telah digantikan hukumnya (mansukh) jika kemudian turun ayat yang merubahnya, sebagaimana ayat Alqur;an pun ada yang mansukh dengan ayat yang turun kemudian. Apalagi jika hadits itu sudah didhoifkan oleh Imam Seluruh Ahli hadits, yaitu Imam Bukhari.

c. Pendapat lain mengatakan hadits itu adalah kekhususan bagi Nabi saw dan tidak untuk ummat, sebagaimana beliau saw menikah lebih dari 4 istri.

2. Hadits yang kedua.

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi dalam kitabnya syarah Nawawi ala shahih Muslim :

اِسْتَدَلَّ بِهِ مَنْ يَقُول لَمْس الْمَرْأَة لَا يَنْقُض الْوُضُوء ، وَهُوَ مَذْهَب أَبِي حَنِيفَة رَضِيَ اللَّه عَنْهُ وَآخَرِينَ ، وَقَالَ مَالِك وَالشَّافِعِيّ وَأَحْمَد رَحِمَهُمْ اللَّه تَعَالَى وَالْأَكْثَرُونَ : يَنْقُض وَاخْتَلَفُوا فِي تَفْصِيل ذَلِكَ ، وَأُجِيبَ عَنْ هَذَا الْحَدِيث بِأَنَّ الْمَلْمُوس لَا يُنْتَقَض عَلَى قَوْل الشَّافِعِيّ رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى وَغَيْره ، وَعَلَى قَوْل مَنْ قَالَ يُنْتَقَض وَهُوَ الرَّاجِح عِنْد أَصْحَابنَا يُحْمَل هَذَا اللَّمْس عَلَى أَنَّهُ كَانَ فَوْق حَائِل فَلَا يَضُرّ .

“Berdalilkan orang yang berkata bahwa menyentuh wanita tidak batal wudhu, dan ia adalah madzhab Abu Hanifah (Imam hanafi), dan berkata Imam Malik, dan Imam Syafii, dan Imam Ahmad dan kebanyakan lainnya bahwa sentuhan itu membatalkan wudhu.

Dan beliau juga menjelaskan pada halaman yang sama bahwa yang dimaksud hadits itu adalah bersentuhan dengan dibatasi kain, maka tidak membatalkan. (Syarah Nawawi ala shahih Muslim).

Yahya meriwayatkan dari Malik bahwa ia mendengar bahwa Abdullah bin Mas’ud telah mengatakan, “Wudhu diperlukan jika seorang pria mencium istrinya.” [Al-Muwaththo’]

Yahya meriwayatkan dari Malik dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah bahwa ayahnya Abdullah bin Umar pernah berkata, “Seorang laki-laki yang mencium istrinya dan membelai dia dengan tangannya maka itu merupakan bagian dari menyentuh. Seseorang yang mencium istrinya atau membelainya dengan tangannya harus melakukan wudhu.” [Al-Muwaththo’]

http://sunnahrasul.com/2011/06/16/ii-38-hadits-sentuhan-didhoif-kan-imam-bukhari/

buku Kenalilah Aqidahmu 2 versi online (Al ustaz Habib Munzir al musawa) : Melindungi dari fitnah wahabi – syiah – liberal

buku Kenalilah Aqidahmu 2 versi online.

BAB I
DEFINISI BID’AH, HADITS DHO’IF DAN SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN

I.1. DEFINISI BID’AH
I.1.1 Nabi SAW Memperbolehkan Berbuat Bid’ah Hasanah
I.1.2 Siapakah Yang Pertama Memulai Bid’ah Hasanah Setelah Wafatnya Rasul Saw
I.1.3 Bid’ah Dhalalah
I.1.4 Pendapat Para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah

I.2. DEFINISI HADITS DHO’IF

I.3. SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN

BAB II
MASALAH KHILAFIYAH DAN DAN SEPUTAR TANYA JAWAB YANG ADA DI WEBSITE (www.majelisrasulullah.org)

II.1. Ayat Tasybih
II.2. Hukum Majelis Dzikir dan Dzikir Bersama
II.3. Hukum Alat Musik Rebana di Masjid
II.4. Surat Sanggahan
II.4.1 Dalam Hal Shalat
II.4.2 Dalam Shalat Jum’at
II.4.3 Dalam Shalat Tarawih / Witir / Tahajjud
II.4.4 Dalam Upacara Ta’ziyah
II.4.5 Dalam Upacara Penguburan
II.5. Kenduri Arwah, Tahlilan, Yassinan menurut Para Ulama
II.6. Tahlilan
II.7. Tawassul
II.8. Peringatan Maulid
II.9. Tabarruk
II.10. Istighatsah
II.11. Wajibkah Bermadzhab
II.12. Mengirim Pahala dan Bacaan kepada Mayyit
II.13. Orangtua Rasul SAW Mati Musyrik
II.14. Mengangkat Tangan Saat Berdoa Sesudah Shalat
II.15. Bersalaman Bid’ah
II.16. Cium Tangan Bid’ah
II.17. Melafadzkan Niat Menurut Madzhab Syafi’iyah
II.18. Qabliyah Jum’at Tidak Ada
II.19. Shalat Berjama’ah dan Wirid Bersama
II.20. Tanda Hitam di Kening / Dahi
II.21. Keutamaan Shalawat Nariyah ( Fiqh / Aqidah )
II.22. Hukum Adzan dan Iqamah di Kuburan
II.23. Jihad
II.24. Foto Ulama dan Kuburan di Masjid
II.25. Wanita Ziarah ke Makam
II.26. Nabi Muhammad SAW dan Ziarah Qubur
II.27. Zakat Profesi
II.28. Cara Menghitung Zakat Harta
II.29. Shalat Tarawih
II.30. Hadits Bantahan Amalan Bulan Rajab
II.31. Daulah Islamiyyah
II.32. Nabi Khidir As Masih Hidup
II.33. Sorban dan Imamah Bukan Sunnah Tapi Adat Orang Arab Saja
II.34. Yasinan Malam Jum’at Haditsnya Palsu
II.35. Petasan Kembang Api Maulid adalah Munkar
II.36. Jawaban Atas Penghinaan Terhadap Ulama Hadramaut, Yaman
II.37. Hukum Bayi Tabung
II.38. Hadits Sentuhan Didhoif-kan Imam Bukhari

BAB III
PERNYATAAN-PERNYATAAN YANG DIJAWAB

Bab ini berisi jawaban atas pernyataan-pernyataan dan fatwa-fatwa salafy yang berusaha menebarkan syubhat-syubhat dan berusaha menggambarkan kaum sunni sebagai ahlul bid’ah dan musyrik.

III.1. Pernyataan bahwa memperingati malam nisfu sya’ban adalah bid’ah
III.2. Pernyataan mengenai larangan membuat bangunan ataupun membangun masjid di atas kuburan
III.3. Pernyataan bahwa berdoa dan memohon pertolongan kepada orang yang telah mati adalah syirik
III.4. Pernyataan atas pelarangan mengkhususkan ibadah di malam isra mi’raj
III.5. Pernyataan mengenai Keutamaan Tauhid
III.6. Pernyataan bahwa memakai jimat / tulisan ayat-ayat Alquran untuk mengambil keberkahannya adalah syirik
III.7. Pernyataan bahwa menyembelih binatang dengan selain Nama Allah adalah haram.
III.8. Pernyataan bahwa meminta pertolongan kepada selain Allah adalah syirik
III.9. Pernyataan bahwa sikap berlebih – lebihan (ghuluw) dalam beribadah merupakan perusakan tauhid
III.10. Pernyataan bahwa melakukan thawaf di kuburan adalah syirik
III.11. Pernyataan bahwa bertanya sesuatu hal kepada shalihin adalah syirik
III.12. Pernyataan bahwa mencintai dan takut kepada Allah melalui perantara kekasih-Nya adalah bertentangan dengan akidah
III.13. Pernyataan bahwa bergantung kepada Nabi Saw adalah syirik
III.14. Pernyataan bahwa memberi nama haruslah disandarkan kepada Nama Allah
III.15. Pernyataan bahwa melukis / mengagungkan / menggantung gambar makhluk bernyawa adalah dosa besar
III.16. Pernyataan bahwa memuliakan orang shalih adalah syirik
III.17. Pernyataan bahwa menghukum dengan hukum selain hukum Allah adalah tidak sesuai dengan Syari’at Islam
III.18. Pernyataan bahwa bersumpah atas Nama selain Allah adalah syirik
III.19. Pernyataan mengenai golongan yang selamat