Bukti kitab wahabi : wajib hancurkan kubah makam Nabi Muhammad S.a.w

Wajib Bakar Rumah Nabi & Hancurkan Kubah Rasul- Fatwa Jahat Wahhabi


CELAKA SUNGGUH WAHHABI. MEREKA SANGGUP MEMBAKAR RUMAH DAN BILIK NABI MUHAMMAD SERTA WAHABI SANGGUP HANCURKAN KUBAH DI ATAS MAQAM JUNJUNGAN BESAR KITA NABI MUHAMMAD. YA ALLAH TUNJUKKAN KEBENARAN AGAR DIPAMERKAN KEPADA UMUM SUPAYA RUMAH, KUBUR SELURUH HAK WAHABI TERBAKAR TERUK TIDAK LAMA LAGI.

Dalam buku Muhammad bin Abdul Wahhabi yang turut disyarahkan oleh tokoh-tokoh Wahhabi bahawa mereka (wahabi) bersetuju bilik Nabi Muhammad itu di BAKAR dan kubah di atas maqam Nabi dihancurkan. Lihat Bukti di atas (laknatullah ‘alal Musyabbihah).

Advertisements

One Response

  1. Memang golongan wahabi sering seenaknya sendiri dan tekstual mengartikan ayat alqur’an dan sunnah Rasulallah saw, tanpa meneliti motif dan makna dari ayat dan sunnah Rasulallah saw. Apalagi dengan masalah2 yang bertentangan dengan akidah mereka, langsung menvonis syirik,haram dsb.nya.

    Dari zaman dahulu ,sebelum kelompok wahabi berkuasa di Hijaz (sekarang saudi Arabia), tidak ada seorang ulama pun yang mengeritik bangunan2 kubbah yang ada diatas penghuni kubur Baqi (medinah), kuburan Ma’la (mekkah) dan bangunan kubbah diatas pusara Rasulallah saw, sayidina Abubakar dan Umar–radhiyallah’anhuma- Setelah orang2 sekte wahabi berkuasa disana, maka mereka hancurkan bangunan kubbah di pekuburan baqi & ma’la.
    Mereka berdalil antara lain dengan hadits, Rasulallah saw, sbb :
    “Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani dikarenakan mereka telah menjadi- kan kubur para nabinya sebagai tempat ibadah” (lihat kitab Shahih Bukhari jilid 2 hal.111 dalam kitab al-Jana’iz (jenazah-jenazah), hadits serupa juga dapat di temukan dalam kitab Sunan an-Nasa’i jilid 2 hal.871 kitab al-Jana’iz).

    Untuk memahami hadits diatas, maka kita harus memahami terlebih dahulu tujuan/niat kaum Yahudi dan Nasrani dari pembikinan tempat ibadah (baca: masjid) di sisi kuburan para manusia sholeh mereka tadi.

    Kaum Yahudi dan Nasrani telah menjadikan kuburan para nabi dan manusia sholeh dari mereka bukan hanya sebagai tempat ibadah melainkan sekaligus sebagai kiblat (arah ibadah). Kepada kuburan itulah mereka menghadapkan muka mereka sewaktu bersujud (sebagai kiblat dan beribadah yang ditujukan pada penghuni kubur itu —pen.). Hakekat perilaku inilah yang meniscayakan sama hukumnya dengan menyembah kuburan-kuburan itu. Inilah yang dilarang dengan tegas oleh Rasulallah saw.

    Lain halnya dengan orang muslimin yang membangun tempat ibadah (masjid) disisi (bukan diatas) kuburan para nabi atau seorang waliyullah, sekedar untuk mengambil berkah dari tempat tersebut dan sewaktu ia melakukan shalat tidak ada niatan sedikit pun untuk menyembah kubur tadi. Maka hal ini tidak bertentangan dengan hadits-hadits tadi, terkhusus hadits dari Ummu Salamah dan Ummu Habibah yang menjelaskan kekhususan kaum Yahudi dan Nasrani, yang menjadikan kubur manusia sholeh dari mereka sebagai tempat ibadah dan sebagai kiblat.

    Dalil inti yang dapat dijadikan argument diskusi dengan pengikut Wahabi dalam masalah pelarangan membangun masjid di sisi makam para manusia Sholeh adalah, ayat dan perilaku Salaf Sholeh. Berikut ini akan kita sebutkan beberapa dalil saja untuk meringkas pembahasan.

    –Al-Baidhawi dalam mensyarahi hadits tadi menyatakan: “Hal itu dikarenakan kaum Yahudi dan Nasrani selalu mengagungkan kubur para nabi dengan melaku- kan sujud dan menjadikannya sebagai kiblat (arah ibadah). Atas dasar inilah akhirnya kaum muslimin dilarang untuk melakukan hal yang sama, dikarenakan perbuatan ini merupakan perbuatan syirik yang nyata. Namun jika masjid di bangun di sisi kuburan seorang hamba sholeh dengan niatan. bertabarruk (mencari berkah) maka pelarangan hadits tadi tidak dapat di terapkan padanya”.

    Hal yang serupa, dinyatakan oleh As-Sanadi dalam mensyarahi kitab Sunan an-Nasa’i jilid 2 hal.41, dimana ia menyatakan: “Nabi melarang umatnya untuk melakukan perbuatan yang mirip prilaku Yahudi dan Nasrani dalam memperlakukan kuburan para nabi mereka. Baik dengan menjadikannya sebagai tempat sujud dan tempat pengagungan (pada kuburnya), maupun arah kiblat dimana mereka akan menghadapkan wajahnya kearahnya (kubur) sewaktu ibadah”.

    Begitu juga tidak jelas apakah pelarangan (tempat ibadah dan arah kiblat) dalam hadits itu menjurus kepada hukum haram ataupun hanya sekedar makruh (tidak sampai pada derajat haram) saja. Hal itu dikarenakan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya (lihat kitab Shahih al-Bukhari jilid 2 hal.111) dimana beliau mengumpulkan hadits-hadits itu kedalam topik “Bab apa yang dimakruhkan dari menjadikan masjid di atas kuburan” (Bab maa yukrahu min ittikhodz al-Masajid ‘alal Qubur). Hal ini meniscayakan bahwa hal itu sekedar pelarangan yang bersifat makruh saja, yang selayaknya dihindari, bukan mutlak haram.

    Atas dasar itu, dalam kitab al-Maqolaat as-Saniyah hal.427 disebutkan, bahwa Syeikh Abdullah Harawi dalam menjelaskan hadits diatas tadi mengatakan, “Hadits tadi diperuntukkan bagi orang yang hendak melakukan ibadah diatas (bukan disisi—pen.) kuburan para nabi dengan niat untuk mengagungkan (menyembah) kubur mereka. Ini terjadi jika posisi kuburan itu nampak (menonjol .red) dan terbuka. Jika tidak maka melaksanakan shalat di situ tidak haram hukumnya”.

    Begitu pula apa yang dinyatakan oleh salah seorang ulama Ahlusunah lain yang bermadzhab Hanafi –Abdul Ghani An-Nablusi– dalam kitab al-Hadi- qoh ast-Tsaniyah jilid 2 hal.631: ”Jika sebuah masjid dibangun disisi kubur an (makam) orang sholeh, ataupun disamping kuburannya yang hanya ber fungsi untuk mengambil berkahnya saja, tanpa ada niatan untuk mengagung kannya (baca: menyembahnya), maka hal itu tidak mengapa. Sebagaimana kuburan Ismail as terletak di Hathim di dalam Masjidil Haram, dimana tempat itu adalah sebaik-baik tempat untuk melaksanakan shalat”.

    Allamah Badruddin al-Hautsi pun menyatakan hal serupa, dalam kitab Ziarah al-Qubur hal.28: “Arti dari menjadikan kuburan sebuah masjid adalah seseorang menjadikan kuburan sebagai kiblat (arah ibadah) dan untuknya dilaksanakan peribadatan”.

    Nah malah diatas kuburan Nabi Ismail as. (hijr Ismail) terbangun masjidil Haram yang sudah ada pada zaman Rasulallah saw dan sebelum beliau saw. Jika itu merupakan perbuatan syirik (haram), maka selayaknya sejak dari dulu telah dihancurkan lokasi masjid ini oleh Rasulallah besrta para sahabat beliau saw!

    Kita juga lihat perilaku Salaf Sholeh yang dalam hal ini diwakili oleh Abu Jundal, salah seorang sahabat mulia Rasulallah. Para Ahli sejarah menjelaskan peristiwa yang dialami oleh Abu Jundal dengan menyatakan: “Suatu saat, sepucuk surat Rasulallah sampai ketangan Abu Jundal. Kala surat itu sampai, Abu Bashir –sahabat mulia Rasulallah yang menemani Abu Jundal.red– tengah mengalami sakaratul-maut (naza’). Beliau wafat dengan posisi menggenggam surat Rasulallah. Kemudian Abu Jundal mengebumikan beliau (Abu Bashir-red) di tempat itu, dan membangun masjid diatasnya”. Kisah ini dapat dilihat dalam karya Ibnu Asakir, dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir jilid 8 hal.334 dan kitab al-Isti’ab jilid 4 hal.21-23 karya Ibnu Hajar.

    Apakah mungkin seorang sahabat Rasulallah seperti Abu Jundal melakukan perbuatan syirik? Jika itu syirik, mengapa Rasulallah sendiri atau para sahabatnya tidak menegurnya? Apakah Rasulallah dan para sahabat lainnya tidak tahu akan peristiwa itu? Jika mereka tahu, mengapa mereka tetap membiarkannya melakukan ke syirikan? Jelas bahwa membangun masjid disisi kuburan merupakan hal yang diperbolehkan oleh Islam sesuai dengan dalil ayat al-qur’an dan prilaku Salaf Sholeh, hukumnya tidak seperti yang diklaimkan oleh kelompok golongan pengingkar, yang mengaku mengikuti ajaran Salaf Sholeh.

    –At-Tabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir jilid 3 hal.204 menyatakan, didalam masjid Khaif (di Mina dekat Makkah– red) terdapat delapan puluh makam para nabi, padahal masjid itu telah ada semenjak zaman Salaf Sholeh. Mengapa para Salaf Sholeh tetap mempertahankan berdiri tegaknya masjid tersebut? Jika itu merupakan perbuatan syirik (haram), maka selayaknya sejak dari dulu telah dihancurkan oleh Rasulallah besrta para sahabat beliau saw!

    — Dalam ayat 21 dari surat al-Kahfi disebutkan: “Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: ‘Dirikanlah sebuah bangunan diatas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka’. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadat an diatasnya’”.

    Jelas sekali bahwa mayoritas masyarakat ahli tauhid (monoteis) kala itu, sepakat untuk membangun masjid disisi makam para penghuni gua (Ashabul-Kahfi). Tentu golongan pengingkar pun sepakat dengan kaum muslimin lainnya, bahwa al-qur’an bukan hanya sekedar kitab cerita, yang hanya menceritakan peristiwa-peristiwa zaman dahulu, tanpa memuat ajaran untuk dijadikan pedoman hidup kaum muslimin. Jika kisah pembuatan tempat ibadah di sisi makam Ashabul-Kahfi merupakan perbuatan syirik, maka pasti Allah swt menyindir dan mencela hal itu dalam lanjutan kisah al-qur’an tadi. Karena syirik adalah perbuatan yang paling dibenci oleh Allah swt.

    Namun terbukti Allah swt tidak melakukan peneguran, baik secara langsung maupun secara tidak langsung (sindiran). Atas dasar itu pula terbukti para ulama tafsir Ahlusunah menyatakan, bahwa para penguasa (yang tercantum pada surah Kahfi) kala itu adalah orang-orang yang bertauhid kepada Allah swt, bukan kaum musyrik penyembah kuburan (Quburiyuun). Hal ini seperti yang dikemukakan oleh az-Zamakhsari dalam kitab Tafsir al-Kassyaf jilid 2 hal.245, Fakhrurrazi dalam kitab Mafatihul Ghaib jilid 21 hal.105, Abu Hayyan al-Andalusy dalam kitab al-Bahrul Muhith,dalam menjelaskan ayat 21 dari surat al-Kahfi tadi dan Abu Sa’ud dalam kitab Tafsir Abi Sa’ud jilid 5 hal.215.

    Dalil lain yang dijadikan oleh kaum Wahabi/Salafi ,terkhususIbnu Qoyyim al-Jauziyah, adalah kaidah Sadd adz-Dzarayi’ dimana kaidah itu menyatakan: “Jika sebuah perbuatan secara dzatnya (esensial) dihukumi boleh atau pun sunah, namun dengan melalui perbuatan itu menjadikan seseorang mungkin akan terjerumus kedalam perbuatan haram, maka untuk menghindari hal buruk tersebut –agar orang tadi tidak terjerumus ke dalam jurang tersebut–, perbuatan itupun lantas dihukumi haram”(lihat kitab A’lam al-Muwaqi’in jilid 3 hal.148).

    Dalil di atas itu secara ringkas dapat kita jawab, bahwa dalam pembahasan Ushul Fikih disebutkan,“hanya mukadimah untuk pelaksanaan perbuatan wajib yang menjurus secara langsung kepada kewajiban itu saja, yang juga di hukumi wajib”. Seperti kita tahu kewajiban wudu, karena ia merupakan mukadimah langsung dari shalat. Begitu juga dengan mukadimah yang menjurus langsung kepada hal haram, hukumnya pun haram, jadi tidak mutlak berlaku untuk semua mukadimah. Atas dasar ini maka membangun masjid disisi kuburan manusia mulia (para nabi atau waliyullah) jika tidak untuk tujuan syirik maka tidak apa-apa (boleh).

    Dan terbukti mutlak bahwa mayoritas masyarakat muslim disaat melakukan hal tersebut dengan niatan penghambaan terhadap Allah (tidak untuk menyekutukan Allah/Syirik). Kalaupun ada seorang muslim yang berniat melakukan syirik, itu merupakan hal yang sangat jarang (minim) sekali. Begitu juga kita tidak bisa mengharamkan pembangunan masjid disisi kuburan disebabkan perbuatan perorangan/individu ini yang keliru ini.

    Marilah kita ikuti ,berikut ini, uraian para pakar tentang membuat bangunan (kubbah) diatas kuburan.

    Banyak riwayat diketengahkan oleh para ulama ahli hadits dan para ulama ahli Fiqih mengenai ja’iznya (dibolehkannya) hal-hal diatas itu. Bahkan diantara mereka ada yang berpendapat: ‘Meskipun dengan maksud kemegahan’. Hal ini disebutkan dalam kitab Ad-Durr Al-Mukhtar. Ada pula yang menegaskan ja’iznya pembuatan bangunan diatas kuburan, walau berupa rumah.

    –Ibnu Hazm didalam Al-Muhalla mengatakan, “jika diatas kuburan itu di bangun sebuah rumah atau tempat persinggahan pun tidak dimakruhkan (yakni boleh-boleh saja)”. Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu Muflih didalam Al-Furu’, bagian dari Fiqh madzhab Hanbali.

    –Penulis Al-Mustau’ab dan Al-Muharrir mengatakan, “pembuatan kubbah (dikuburan), rumah dan tempat untuk berkumpul diatas tanah milik sendiri tidak ada salahnya, karena penguburan jenazah didalamnya dibolehkan”. Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnul-Qashshar dan jama’ah madzhab Maliki, yaitu sebagaimana dikatakan oleh Al-Khattab didalam Syarhul-Mukhtashar. Itu semua mengenai kuburan orang awam.

    –Murid Ibnu Taimiyah yaitu Ibnu Muflih dari madzhab Hanbali menyatakan pendapatnya didalam Al-Fushul: “Mendirikan bangunan berupa kubbah, atau Hadhirah (tempat untuk berkumpul jama’ah) diatas kuburan, boleh dilakukan asal saja kuburan itu berada ditanah milik sendiri. Akan tetapi jika tanah itu telah diwakafkan dijalan Allah (musbalah), hal itu makruh (tidak disukai), karena mengurangi luas tanah tanpa guna”.

    Mengenai Ibnu Muflih itu, Ibnul Qayyim yang juga murid Ibnu Taimiyyah dari madzhab Hanbali, mengatakan, “dibawah kolong langit ini saya tidak melihat seorang ahli Fiqih (pada zamannya) madzhab Ahmad bin Hanbal, yang ilmunya melebihi dia (Ibnu Muflih)”.

    Mengenai kuburan orang-orang Sholeh, Ar-Rahmani mengatakan, “diatas kuburan orang-orang sholeh boleh didirikan bangunan, sekalipun berupa kubbah, guna menghidupkan ziarah dan tabarruk”. Demikian itulah yang dikatakan para ulama muhaqqiqun (para ulama yang tidak diragukan kebenaran fatwa-fatwanya) dari empat madzhab dan lain-lain.

    Begitu juga kubbah atau tembok pada kuburan Rasul saw itu dari zaman para sahabat sudah ada dan para salaf sholeh ada yang menggeluti tembok dari kuburan tsb. untuk mengambil barokah dari beliau saw.

    Mari kita ikuti beberapa riwayat masalah ini:

    –Dawud bin Abi Shaleh mengatakan: “Suatu saat Marwan bin Hakam datang kemasjid (Nabawi). Dia melihat seorang lelaki telah meletakkan wajahnya diatas makam Rasul. Kemudian Marwan menarik leher dan mengatakan: ‘Sadarkah apa yang telah engkau lakukan?’. Kemudian lelaki itu menengok kearah Marwan (ternyata lelaki itu adalah Abu Ayyub al-Anshari ra) dan mengatakan: ‘Ya, aku bukan datang untuk seonggok batu, aku datang disisi Rasulallah’. Aku pernah mendengar Rasulallah bersabda: ‘Sewaktu agama di pegang oleh pakar (ahli)nya, maka janganlah menangis untuk agama tersebut. Namun ketika agama dipegang oleh yang bukan ahlinya, maka tangisilah’“ (Lihat: Mustadrak ala as-Shohihain karya al-Hakim an-Naisaburi jilid: 4 hal.560 hadits ke-8571 atau Wafa’ al-Wafa’ karya Samhudi jilid: 4 hal.1404). Juga riwayat semacam itu, bisa dirujuk didalam kitab-kitab: Ibnu Hibban dalam shahihnya; Imam Ahmad (5:422); Tabarani didalam Mu`jam al-Kabir (4:189) dan didalam ‘Awsat’ disahkan oleh Haithami dalam al-Zawa’id (5:245); Al-Hakim dalam Mustadrak (4:515); Adz-Dhahabi menshahihkan juga, al-Subki didalam Shifa’ al-Siqam hal.126; IbnuTaimiyyah dalam al-Muntaqa 2:261f, Haithami dalam al-Zawa’id 4:2). Hadits diatas (dari Hakim an-Naisaburi) telah dinyatakan keshohihannya oleh adz-Dzahabi. Sehingga tidak ada seorang ahli hadits lain yang meragukannya. Atas dasar hadits tersebut maka, as-Samhudi dalam kitab Wafa ’ al-Wafa’ jilid 4 hal.1404 menyatakan bahwa; “jika sanad haditsnya dinyatakan baik (benar), maka menyentuh tembok kuburan (makam) tidak bisa dinyatakan makruh”.

    Dalam konteks riwayat itu juga, tidak jelas disebutkan apa penyebab teguran Marwan terhadap Abu Ayyub. Ada banyak kemungkinan disini. Yang jelas bukan karena syirik atau bid’ah, karena kalau benar semacam itu, niscaya Marwan akan tetap bersikeras melarang perbuatan Abu Ayyub tersebut. Mengapa Marwan menghentikan tegurannya, ketika melihat bahwa yang melakukannya adalah Abu Ayyub? Bila orang ingin menjalankan Amar makruf nahi munkar, tidak perduli siapa yang berbuat (baik itu sahabat maupun bukan sahabat) harus dicegah perbuatan munkarnya.

    — Kuburan Ma’ruf al-Karakhi pun termasuk yang dicari berkahnya oleh kaum muslimin. Ibnu al-Jauzi dalam hal ini menyatakan: “Kuburannya terletak diBaghdad nampak menonjol dan diambil berkahnya. Ibrahim al-Harbi mengata kan: ‘Kuburan Ma’ruf adalah obat yang mujarab’ “(Lihat: Shofwah al-Shofwah jilid 2 hal. 324).

    — Kuburan Imam al-Bukhari (pemilik kitab Shohih) pun tidak luput dari pencari berkah dari kaum muslimin. As-Subki dalam menjelaskan wafat beliau, menyatakan: “Adapun tentang tanah (kuburan), mereka telah meninggikan tanah kuburannya sehingga nampak menonjol. Sampai-sampai para penjaga tidak mampu menjaga kuburan tersebut. Kami telah melupakan diri kami sendiri, kami menyerbu kuburan tersebut bersama-sama. Hingga sulit bagi kami untuk sampai kekuburan tersebut”(Lihat: Thobaqoot as-Syafi’iyah jilid 2 hal. 233 atau kitab Siar A’lam an-Nubala karya adz-Dzahabi jilid 12 hal. 467).

    — Kuburan Imam Ahmad bin Hanbal (wafat tahun 241 H) nampak menonjol dan masyhur, menjadi tujuan ziarah para penziarah dan tempat pencarian berkah (Lihat: Mukhtashar Thabaqoot al-Hanabilah hal.14).

    — Hadits serupa diatas, juga diriwayatkan secara berangkai, dari Abu Nu’man dari Sa’id bin Zaid, dari Amr bin Malik Al-Bakri dan dari Abul Jauza bin Abdullah yang mengatakan sebagai berikut: “Ketika kota Madinah dilanda musim gersang hebat, banyak kaum muslimin mengeluh kepada isteri Rasulallah saw, Aisyah ra. Kepada mereka Aisyah berkata: ‘Datanglah kemakam Nabi saw dan buka lah atapnya, agar antara makam beliau dan langit tidak terhalang apapun juga’. Setelah melakukan saran Aisyah ra itu, turunlah hujan hingga rerumputan pun tumbuh, dan unta-unta menjadi gemuk”(ini menggambarkan betapa banyaknya hujan yang turun hingga kota Madinah menjadi subur kembali) [Kitab Sunan Ad-Darami jilid 1/43].

    Penerangan pada kuburan:
    Golongan wahabi dan antek2nya masalah memberi lampu atau penerangan pada kuburan, akan menjawab secara mutlak Haram. Mereka menyandarkan pendapatnya dengan riwayat yang dinukil oleh an-Nasa’i dalam kitab Sunan-nya jilid 4 hal.95, atau kitab Mustadrak alas Shahihain jilid 1 hal.530 hadits ke-1384 yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas berkata;
    Rasulallah saw bersabda: “Allah melaknat perempuan yang datang guna menziarahi kubur dan orang yang menjadikan kubur sebagai masjid, juga buat orang yang meneranginya (kuburan) dengan penerang”.
    Padahal hadits ini telah didhoifkan oleh ulama yang diandalkan kelompok Wahabi sebagai Imamul Muhaditsin,Nashiruddin al-Albani, dalam kitabnya Tahdzirul Masajid min it-Tikhodzil Qubur Masajid hal.43-44 dimana Al-Albani mengatakan;
    “Hadits ini telah dinukil oleh Abu Dawud dan selainnya. Namun dari sisi sanad (urutan perawi) ternyata hadits ini dihukumi lemah (Dha’if)”. Al-Albani kembali mengatakan, “Kelemahan hadits ini telah saya tetapkan dalam kitab al-Ahadits adh-Dho’ifah wal Maudhu’ah wa Atsaruha as-Salbi fi al-Ummah”.

    –Begitu juga yang menyatakan bahwa hadits itu lemah adalah al-Muslim (pemilik kitab shahih). Beliau dalam karyanya yang berjudul at-Tafshil mengatakan, “hadits ini tidak jelas. Masyarakat tidak berpegangan terhadap hadits yang diriwayatkan oleh Abu Shaleh Badzam. Orang itulah yang meriwayatkan hadits tadi, dari Ibnu Abbas. Tidak jelas apakah benar bahwa ia telah mendengarkan hadits tersebut darinya (Ibnu Abbas)”.

    –Azizi dalam kitab Syarh Jami’ as-Shaghir jilid tiga hal.198 dalam rangka mensyarahi/menjelaskan makna hadits tadi mengatakan, “hadits tadi menjelaskan tentang ketidakperluan orang-orang yang masih hidup akan penerang. Namun jika hal tadi menyebabkan manfaat (buat yang masih hidup), maka tidak menjadi masalah”.

    –Syeikh Sanadi dalam mensyarahi kitab Sunan an-Nasa’i jilid keempat hal.95 mengatakan, “larangan memberikan penerangan tersebut di karenakan penggunaan lampu untuk hal tersebut merupakan membuang-buang harta tanpa ada manfaat yang berarti. Hal ini meniscayakan bahwa jika terdapat manfaat di balik itu semua, maka hal itu telah mengeluarkannya dari pelarangan”.

    –Hal serupa juga dikemukakan oleh Syeikh Ali Nashif dalam kitab at-Tajul Jami’ lil Ushul jilid pertama hal.381: “Memberi penerangan pada kubur merupakan perbuatan yang dilarang. Hal itu dikarenakan membuang-buang harta, kecuali jika disisi kuburan tersebut terdapat seorang yang masih hidup (yang memerlu kan penerangan) maka hukumnya tidak apa-apa”.

    Dan terbukti bahwa penerangan terhadap kuburan merupakan hal lumrah yang telah dilakukan oleh para Salaf Sholeh semenjak dahulu.

    –Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh al-Baghdadi jilid 1 halaman 154 yang pengisahannya disandarkan kepada seorang syeikh penduduk Palestina, dimana ia menyatakan, “kulihat terdapat bangunan yang terang, terletak dibawah tembok Kostantiniyah (Istanbul,Turki—pen). Lantas kutanya- kan perihal bangunan tersebut. Mereka menjawab: “Ini adalah makam Abu Ayyub al-Anshari, seorang sahabat Rasulallah”. Kudatang mendekati makam tersebut. Kulihat makam beliau terletak didalam bangunan tersebut, dimana terdapat lampu yang tergantung dengan rantai dari arah atas atap”.

    –Ibnu Jauzi dalam kitab al-Muntadham jilid 14 hal.383 menyatakan, “salah satu kejadian tahun 386 Hijriyah adalah para penghuni kota Basrah mengaku bahwa mereka telah berhasil menemukan kuburan Zubair bin Awam. Setelah itu berbagai peralatan penerangan dan penghias diletakkan (dalam pemakam an) dan ditunjuk seseorang yang bertugas sebagai penjaga. Dan tanah yang berada disekitarnya pun di wakafkan”.

    Minimalnya, semua argument yang dikemukakan tadi merupakan bukti bahwa pelarangan tersebut tidak sampai pada derajad haram, paling maksimal hanyalah dapat divonis sebagai makruh (kurang disenangi) saja, dan (makruh) inipun tidak mutlak. Terbukti ada beberapa hal yang menyebabkan pemberian penerangan itu dihukumi boleh (Ja’iz). Malah jika itu termasuk kategori Ta’dhim Sya’ariallah atau Ta’awun ‘alal Birri wat Takwa, maka tergolong sesuatu yang sangat ditekankan/dianjurkan.

    –Begitu juga hadits –larangan pemberian lampu penerang– yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bertentangan dengan hadits lainnya yang diriwayatkan juga oleh Ibnu Abbas, yang pernah dinukil oleh at-Turmudzi dalam kitab al-Jami’ as-Shahih jilid 3 hal.372 bab ke-62 di mana Ibnu Abbas berkata: “Suatu malam Rasulallah memasuki areal pemakaman (untuk berziarah). Saat itu ada seseorang yang menyiapkan penerang buat beliau”.
    Ini membuktikan bahwa menerangi pemakaman dengan lampu penerang tidak dapat dihukumi haram secara mutlak, namun sangat bergantung terhadap tujuan dan faedah di balik hal tersebut.

    { Sumber: Dari kitab Kamus Syirik (telaah kritis atas doktrin faham Wahabi/Salafi bab Ziarah kubur dan tabarruk oleh A.Shihabuddin }

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: