Hukum Berbicara Saat Berwudhu’

Berbicara Saat Berwudhu ’??

wudhu'2assalamu’alim.wr.wb..
ana mau tanya hukumnya berbicara saat ber wudhui??
sukron..

from : arabian alawiyin <arabian1030@gmail.com>

FORSAN SALAF menjawab :

Berbicara ketika berwudhu’ tanpa ada hajat/keperluan adalah makruh bahkan dianjurkan untuk berdzikir. Jika ada keperluan, maka diperbolehkan bahkan dapat menjadi wajib jika menyangkut keselamatan orang, seperti ketika melihat orang yang hendak digigit ular atau orang buta yang akan jatuh ke dalam sumur. Begitu juga tidak makruh bagi orang yang sedang berwudhu’ mengucapkan salam atau menjawabnya, bahkan menurut pendapat syekh Zakariya al-Anshori, wajib untuk menjawabnya.

إعانة الطالبين – (ج 1 / ص 67)

(قوله: وترك تكلم) أي ويسن ترك تكلم. (قوله: في أثناء وضوئه) أي في خلال وضوئه. وعبارة المنهج القويم: وأن لا يتكلم في جميع وضوئه. اه. قال الكردي: قال في الايعاب: حتى في الذكر بعده. (قوله: بلا حاجة) أي بلا احتياج للكلام، أما معها كأمر بمعروف ونهي عن منكر فلا يتركه، بل قد يجب الكلام، كما إذا رأى نحو أعمى يقع في بئر. (قوله: بغير ذكر) متعلق بتكلم، أي ويسن ترك التكلم بغير ذكر، أما الذكر فلا يسن ترك التكلم به. قوله: ولا يكره سلام عليه) أي ولا يكره على غير المتوضئ أن يسلم عليه. (قوله: ولا منه) أي ولا يكره صدور السلام منه ابتداء. وقوله: ولا رده أي ولا يكره على المتوضئ رد السلام إذا سلم عليه. وفي ع ش ما نصه: سئل شيخ الاسلام: هل يشرع السلام على المشتغل بالوضوء وليس له الرد أو لا ؟. فأجاب: بأن الظاهر أنه يشرع السلام عليه ويجب عليه الرد. اه. وهذا بخلاف المشتغل بالغسل لا يشرع السلام عليه، لان من شأنه أنه قد ينكشف منه ما يستحي من الاطلاع عليه فلا تليق مخاطبته حينئذ.

المجموع – (ج 1 / ص 465)

(فرع) قد ذكر المصنف أن سنن الوضوء اثنتا عشرة وكذا ذكرها بعضهم زاد بعضهم زيادات واختلفوا في تلك الزيادات وأنا ألخص جميع ذلك وأضبطه ضبطا واضحا مختصرا ان شاء الله تعالى واحذف أدلة ما أذكره من الزيادة ليقرب ضبطها ويسهل حفظها فأقول: سنن الوضوء ومستحباته منها استقبل القبلة وأن يجلس في مكان لا يرجع رشاش الماء إليه وأن يجعل الاناء عن يساره فان كان واسعا يغترف منه فعن يمينه وأن ينوى من أول الطهارة وأن يستصحب النية إلى آخرها وأن يجمع بين نية القلب ولفظ اللسان وأن لا يستعين في وضوئه لغير عذر وأن لا يتكلم فيه لغير حاجة والتسمية وغسل الكفين والمضمضة والاستنشاق والمبالغة فيهما لغير الصائم والجمع بينهما بثلاث غرف على الاصح والسواك على الاصح والاستنثار بعد الاستنشاق وأن يبدأ في الوجه بأعلاه وفي اليد والرجل بالاصابع ويختم بالمرفق والكعب ويبدأ في الرأس بمقدمه وان لا يلطم وجهه بالماء وأن يتعهد الماقين بالسبابتين وأن يدلك الاعضاء ويحرك الخاتم ويتعهد ما يحتاج فيه إلى الاحتياط كالعقب وأن يخلل اللحية والعارض الكثيفين واطالة الغرة واطالة التحجيل ومسح كل الرأس ومسح الاذنين ومسح الصماخين وغسل النزعتين مع الوجه وكذا موضع التحذيف والصدغ إذا قلنا هما من الرأس للخروج من الخلاف وتخليل الاصابع

والابتدأ باليد

http://www.forsansalaf.com/2010/berbicara-saat-berwudhu/

Di Saudi Arabia (daulah rezim wahabi) Ada Pangkalan Militer Kafir USA dan Zionist Israel

1. PANGKALAN MILITER KAFIR USA DI SAUDIARABIA SEJAK TAHUN 1942 SAMPAI SEKARANG

Beberapa peristiwa yang tidak ada fatwa yang melarang/membolehkannya. Inilah bukti bahwa WAHABI ADALAH MADZAB PELINDUNG THAGHUT REZIM ZIONIST SAUDI ARABIA! :

Traktat Ibn Sa`ud – Inggris pada 26 Desember 1915

Penempatan pangkalan udara penting milik AS di Dhahran, dari 1942 sampai 1962 (dilanjutkan sampai sekarang)

Wahaby menyewa pasukan zionis USA dengan bayaran yang sangat tinggi, cukup  untuk USA membuat senjata-senjata baru dan membantu zionis israel membantai muslim di Palestine

– Fatwa membolehkan meminta pertolongan Amerika dalam Perang Teluk 1990-1991.

Pada 1990, Alm Saddam Husein menginvasi Kuwait dan menimbulkan salah satu krisis dan kemudian perang penting setelah Perang Dingin. Dalam rangka menentang agresi dan invasi tersebut, Raja Saudi Arabia meminta bantuan terutama dari Amerika Serikat. Majelis ulama senior Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang membolehkan tindakan tersebut dengan alasan dlarurah. Sehingga USA dengan wahaby membantai jutaan muslim sunni di irak.

Raja Abdullah, pemimpin Arab Saudi dikenal dekat dengan AS. Bahkan terhadap mantan presiden AS George W. Bush, Raja Abdullah banyak memberikan bantuan secara finansial dan juga keleluasaan dalam menentukan kebijakan militer AS dan Barat di Arab Saudi yang juga berimbas pada kawasan Timur Tengah.

Tidak jauh dengan rajanya, tentara Arab Saudi pun mau tak mau menjadi akrab dengan tentara AS. Ibaratnya, guru kencing berdiri, ya murid pun kencing berlari. Mereka sering mengadakan acara bersama. Mulai latihan perang bersama, sampai acara santai. Berikut foto-foto yang menunjukan betapa “mesranya” hubungan antara tentara AS dan Arab Saudi.

Seorang komandan tentara Saudi menyambut kedatangan para tentara AS.

Para pembesar militer AS tengah menyusun rencana, sementara tentara-tentara Saudi Arabia merubunginya.

“Nih lihat, iPhone terbaru. Di sini  udah ada belum?” Mungkin begitu kata si tentara AS pamer gadget terbarunya.

Dua komandan berbeda negara, berbeda ideologi saling menjabat tangan dalam acara sarasehan.

“Ha ha ha…. situ bisa aja. Bercandanya jangan kelewatan dong!”

Seorang perwira AS tengah memberikan briefing pada tentara Saudi.

Dan kini, tentara AS pun bebas jalan-jalan atau sekadar olah raga di kota-kota Saudi. Dipandu tentara Saudi lagi.

(sa/alhqmh)

2. Pangkalan Militer  Israel di Pulau Tiran dan Sanafir SAUDI ARABIA (DAULAH WAHABI) SEJAK TAHUN 1967 SAMPAI SEKARANG

Ini adalah rahasia yang sudah cukup lama tersimpan. Ternyata Israel telah menduduki pulau-pulau bagian Arab Saudi sejak tahun 1967. Tiran dan Sanafir, dua pulau gabungan dengan luas 113 kilometer persegi.

Posisi kedua pulau ini berada di lokasi yang sangat strategis di mulut Teluk Aqaba, di mana lalu lintas laut ke pelabuhan selatan Israel Eilat harus melewati perjalanan ke dan dari Laut Merah.

Meskipun pemerintah Arab Saudi mungkin mengatakan bahwa itu adalah pulau-pulau kecil, dan hanya mempunyai kekayaan terumbu karang yang tak begitu penting, tapi siapa pun yang menguasai Teluk Aqaba, maka sama saja dengan menguasai lalu lintas perairan di daerah itu.

Juga ada sebuah kenyataan yang bertentangan, selama ini Arab Saudi berjuang mati-matian untuk pulau-pulau yang sama di sekitar itu, namun khusus Tiran dan Sanafir tampaknya mereka enggan untuk menentang Israel.

Ketika Mesir berdamai dengan Israel pada tahun 1978, Presiden Anwar Sadat menolak untuk memasukkan kedua pulau itu dalam perjanjian damai, dengan alasan bahwa mereka milik Arab Saudi. Bahkan dalam Google map pun kedua pulau itu terlihat jelas sebagai milik Arab Saudi. Jadi mengapa ada keengganan untuk menentang orang Israel, dan mengapa ada penggelapan media?

File:Strait tiran 83.jpg


Awal mula berdirinya israel adalah runtuhnya kekhalifan Sunni Turki ustmani yang disebabkan pengkhianatan arab badwi wahabi pimpinan king FAISAL DAN LAWRENCE DE ARABIA (YAHUDI AGEN BRITISH). Ini adalah video dokumenter tentang pengkhianatn wahhaby ini :

Rezim Wahhaby Saudi arabia  adalah madzab sesat buatan yahudi british untuk menghancurkan islam dari dalam serta mengadu domba islam dnegan kristen. Ini bertujuan agar zionis yahudi laknatullah lebih mudah mengusai palestine dan dunia. Inilah pemimpin rezim suadi arabia (Raja fahd) yang dengan bangga berkawan dengan zionis britis dan berkalung salib:

Bush Su\

Logo Resmi Kerajaan British (Inggris) ternyata adalah Logo Freemason Zionist

antichrist prince william

Wahhaby symbol (Saudi arabia kingdom or wahhaby kingdom  symbol)

from : http://www.alriyadh.gov.sa/election/en-sh.asp

An emblem was designed for the elections campaign. It evokes the national symbol of Saudi Arabia and highlights the electoral process as a continuous build up and preservation of the country’s achievements in the field of development.

The campaign also selected a quotation from the address of the Custodian of the Two Holy Mosques King Fahd bin Abdul Aziz (Chief of wahhaby) in which he called on the citizens to practice the election process as it is a participation in the decision making.

Kepentingan Ilmu Majaz Dalam Memahami Al Quran Dan Hadith

Kepentingan Majaz Dalam Memahami Al Quran Dan Hadith

// <![CDATA[//

Majaz aqli atau kiasan iaitu memindahkan maksud ucapan kepada makna yang lain.

Prof Dr Sayyid Muhammad Alawi dan Dr Isa ibn AbduLLah Mani’ al Himyari telah membahaskan perkara ini dengan panjang lebar di dalam kitab masing-masing.

Bahkan, penggunaan majaz adalah penting bagi memahami ayat-ayat al Quran. Imam Ibnu Qutaibah menyatakan :

Sekiranya majaz adalah dusta, maka kebanyakan kata-kata kita adalah fasid.

Imam al Zarkasyi radiyaLlahu ‘anhu menyatakan :

Sekiranya majaz terjatuh dari al Quran, nescaya terjatuhlah sebahagian daripada kebaikan.

Prof Dr Sayyid Muhammad Ibn ‘Alawi al Maliki RadiyaLlahu ‘anhu menulis di dalam kitabnya Mafahim Yajibu an Tusohhah.

Tidak diragui lagi, bahawa majaz ‘aqli sering digunakan, baik dalam al Quran mahupun hadith. Di antaranya, firman ALlah subahanahu wa ta’ala :

وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتُهُ ۥ زَادَتۡہُمۡ إِيمَـٰنً۬ا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ (٢)

Dan apabila dibacakannya kepada mereka ayat-ayatNya , menjadikan mereka bertambah iman dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah.

(Surah al Anfaal : Ayat 2)

Menyandarkan penambahan iman kepada ayat-ayat al Quran merupakan majaz ‘aqli, kerana (pembacaan) ayat-ayat itu hanyalah sebab bertambahnya keimanan, sedangkan yang menambahkan keimanan mereka sebenarnya ialah ALlah subahanahu wa ta’ala.

Begitu juga dengan firman ALlah subahanahu wa ta’ala :

يَوۡمً۬ا يَجۡعَلُ ٱلۡوِلۡدَٲنَ شِيبًا (١٧)

Hari yang huru-haranya menyebabkan kanak-kanak menjadi tua beruban?

(Surah al Muzammil : ayat 17)

Sesungguhnya “hari yang menjadikan anak-anak itu beruban” hanyalah ungkapan majaz aqli, kerana hari Kiamat merupakan tempat kejadian anak-anak segera menjadi tua dan beruban. Kita mengetahui dengan pasti , bahawa yang menjadikan anak-anak itu beruban hanyalah ALlah Subahanahu wa Ta’ala”.

Manakala contoh yang lain, firman ALlah subahanahu wa Ta’ala :

وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسۡرً۬ا (٢٣) وَقَدۡ أَضَلُّواْ كَثِيرً۬ا‌ۖ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا ضَلَـٰلاً۬ (٢٤)

Dari Yaguth dan Ya’uuq serta Nasr. Dan sesungguhnya ketua-ketua itu telah menyesatkan kebanyakan (dari umat manusia).

(Surah Nuh : ayat 23-24)

Kalimah (yang menyesatkan manusia adalah berhala-berhala) itu adalah majaz aqli, kerana berhala-berhala hanyalah menjadi sebab bagi sesatnya manusia. Padahal yang memberikan hidayah atau menyesatkan sebenarnya hanyalah ALlah Subahanahu wa Ta’ala.

Dalam perenggan yang lain beliau menyambung :

Dalam hadith Nabi Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam pun banyak ungkapan yang mengandungi majaz ‘aqli, yang hanya dapat diketahui oleh orang yang ahli dalam ilmu Balaghah. Bagi orang yang mengerti ungkapan haqiqi dan majazi (kiasan), tentu tidak memerlukan penjelasan yang panjang lebar berkenaan dengan masalah ini.

Ulama’mengatakan,

“Jika penyandaran ini keluarnya daripada ahli Tauhid, sudah cukup memahami ucapan tersebut sebagai penyandaran majazi”.

Ini kerana, i’tiqad yang sohih ialah i’tiqod bahawa Pencipta hamba-hamba ALlah subahanahu wa Ta’ala dan perbuatan mereka ialah ALlah subahanahu wa Ta’ala, Tiada selainNya yang mempunyai pengaruh dan kesan; baik yang masih hidup mahupun yang telah mati. I’tiqad ini adalah tauhid yang murni dan selain itu adalah syirik. – Terjemahannya terdapat di dalam kitab kami bertajuk Kefahaman Yang Wajib Diperbetulkan H:202-204.

Sumber : Haji Muhammad Fuad Kamaluddin al Maliki, Al Bayan 8, Cet Pertama 2008, Sekretariat Menangani Isu-isu Akidah Dan Syariah, Majlis Agama Islam Negeri Johor. Malaysia.

Anda mungkin juga meminati:

Hukum Beramal Dengan Hadith Dha’if

Hukum Beramal Dengan Hadith Dhoief

Ada juga yang membidahkan amal ibadat yang berdalilkan Hadis dha’if…

Pendapat yang macam begini adalah keliru kalau tidak akan dikatakan salah besar.

Hadith yang dha’if bukanlah Hadits yang maudu’ ( hadits dibuat buat ), tetapi hanya Hadits yang lemah sanadnya, dan bukan Hadits yang tidak benar, bukan Hadits bohong, kerana asalnya dari Nabi juga.

Hadits yang dikatakan dha’if atau lemah ini ialah Hadits yang derajatnya kurang sedikit dari Hadits Shahih atau Hadits Hasan.
Hal ini dapat dicontohkan umpamanya kepada sebuah Hadits dari Nabi, kemudian turun kepada Mansur, turun lagi kepada Zeid, turun lagi kepada Khalid dan akhirnya turun kepada Ibnu Majah atau Abu Daud.

Ibnu Majah atau Abu daud membukukan Hadits itu dalam kitabnya.
Kalau orang yang bertiga tersebut, yaitu Mansur, Zeid dan Khalid terdiri dari orang baik-baik, dengan arti baik perangainya, saleh orangnya, tidak pelupa hafalannya, maka haditsnya itu dinamai hadits shahih.

Tetapi kalau ketiganya atau salah seorang dari padanya terkenal dengan akhlaknya yang kurang baik, umpamanya pernah makan di jalanan, pernah buang air kecil berdiri, pernah suka lupa akan hafalannya, maka haditsnya dinamai Hadits dha’if (lemah).

Pada hakikatnya Hadits yang semacam ini adalah dari Nabi juga, tetapi “sanadnya” kurang baik. Bukan Haditsnya yang kurang baik.
Ada lagi yang menyebabkan Hadits itu menjadi dha’if, ialah hilang salah seorang daripada rawinya.

Umpamanya seorang Thabi’in yang tidak berjumpa dengan Nabi mengatakan : Berkata Rasulullah, pada hal ia tidak berjumpa dengan Nabi.
Hadits ini dinamai Hadits Mursal, yaitu Hadist yang dilompatkan ke atas tanpa melalui jalan yang wajar. Hadits ini ialah dha’if juga.
Dan banyak lagi yang menyebabkan dan membikin sesuatu Hadits menjadi dha’if atau lemah.

Tentang memakai Hadits dha’if untuk dijadikan dalil, terdapat perbedaan pendapat di antara Imam-imam mujtahid, yaitu :

1. Dalam madzhab syafi’I Hadits dha’if tidak dipakai untuk dalil bagi penegak hukum, tetapi dipakai untuk dalil bagi “ fadhailul a’mal”. Fadhailul A’mal maksudnya ialah amal ibadat yang sunat-sunat, yang tidak bersangkut dengan orang lain, seperti dzikir, doa, tasbih, wirid dan lain- lain.Hadits Mursal tidak dipakai juga bagi penegak hukum dalam madzhab Syafi’e kerana Hadits Mursal juga Hadits dha’if. Tetapi dikecualikan mursalnya seorang Thabi’in bernama Said Ibnul Musayyab.

2. Dalam madzhab Hambali lebih longgar. Hadits dha’if bukan saja dipakai dalam Fadhailul A’mal, tetapi juga bagi penegak hukum, dengan syarat dha’ifnya itu tidak keterlaluan.

3. Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad memakai Hadits yang dha’if kerana Mursal, baik untuk Fadhailul A’mal mahupun bagi penegak hukum.

Nah, di sini nampak bahwa Imam-imam Mujtahid memakai Hadits-hadits dha’if untuk dalil kerana Hadits itu bukanlah Hadits yang dibuat-buat, tetapi hanya lemah saja sifatnya.
Kerana itu tidaklah tepat kalau amal-amal ibadat yang berdasarkan kepada Hadits dha’if dikatakan bid’ah, apalagi kalau dikatakan bid’ah dhalalah.

Dipetik dari buku 40 Masalah Agama Jilid ke 3 oleh K.H. SIRADJUDDIN ABBAS.

Kedudukan Orang Awam Yang Tidak Mampu Menjadi Mujtahid

Kedudukan Orang Awam Yang Tidak Mampu Menjadi Mujtahid

// <![CDATA[// Dimasukkan oleh IbnuNafis Label:

Syeikh Asy syatibi berkata seperti berikut :

Fatwa-fatwa para mujtahid itu bagi para orang awam bagaikan dalil syariat bagi para mujtahidin. Adapun alasannya ialah ada atau tidak adanya dalil bagi orang yang taqlid (muqollid) adalah sama sahaja kerana mereka sedikit pun tidak mampu mengambil faedah darinya. Jadi masalah meneliti dalil dan istinbath bukanlah urusan mereka dan mereka tidak diperkenankan melakukan hal tersebut. Dan sungguh ALlah subahanahu wa ta’ala telah berfirman (yang bererti) :

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui (Surah an Nahl :43)

Orang yang taqlid bukanlah orang yang alim. Oleh kerana itu, tidak sah baginya selain bertanya kepada ahli ilmu. Para ahli ilmu itulah tempat kembali baginya urusan hukum agama secara mutlak. Jadi kedudukan mereka bagi orang yang taqlid serta ucapannya seperti syarak. (Al Muwafaqah, Karya Asy SYatibi, Jilid IV hlmn 290)

Orang yang alim tentang masalah syariat bila diikuti orang lain adalah kerana ilmunya tentang syariat bukan kerana segi lain. Jadi, pada hakikatnya dia menyampaikan apa yang diterima dari RasuluLLah sallaLlahu ‘alaihi wasallam, sedangkan beliau sallaLlahu ‘alaihi wasallam menyampaikan apa yang diterima dari ALlah azza wa jalla.

Selanjutnya Imam Asy Syatibi rahimahuLlah berkata : Dengan demikian keadaan mukallaf yang dibebani hukum syariat terbahagi kepada 3 macam iaitu :

1. Seorang mujtahid, kewajibannya ialah melaksanakan hasil ijtihadnya.

2. Seorang muqallid yang murni, iaitu tidak mengetahui apa-apa tentang hukum. Kewajipannya ialah harus ada orang yang membimbingnya dan menuntunnya kemudian ia mengikutinya. Sudah tentu ia ikut kepadanya kerana faktor ilmunya.

Kalau kemudian ia mengetahui atau mempunyai dugaan yang kuat bahawa orang yang diikutinya bukan ahli ilmu, dia tidak boleh mengikutinya dan tunduk kepadanya. Bahkan, sedikit pun tidak boleh ada bisikan hati untuk taqlid kepadanya. sebagaimana tidak mungkin orang sakit menyerahkan dirinya kepada seseorang yang bukan doktor. Kecuali kalau pesakit itu sudah kehilangan akal (gila). Dengan demikian, kesimpulannya bahawa seorang mufti diikuti fatwanya kerana faktor ilmunya, bukan faktor peribadi sebagai seorang manusia.

3. Ia belum mencapai tingkat ijtihad tetapi mampu memahami dalil dan mampu melakukan tarjih. Untuk golongan ketiga ini, kita perlu melihat keadaannya. Bila berkemampuan tarjihnya dapat dianggap memenuhi syarat, bererti ia adalah mujtahid sebab hakikat mujtahid hanyalah mengikuti ilmu dan menganalisisnya. Jadi orang yang mampu melakukan tarjih dan dapat diterima hasil tarjihnya adalah seorang mujtahid.

Akan tetapi, bila tarjihnya masih belum dapat diterima, keadaannya adalah sama dengan orang awam. Hal ini kerana orang awam mengikut mujtahid untuk mendapatkan kebenaran ilmu yang tidak mampu ia lakukan sendiri. Demikianlah halnya orang yang tarjihnya masih belum diterima . ( Al I’tisham, susunan Imam Asy Syatibi, jilid III, hlmn 250)

Imam Ad Dahlawi dari Ibn Hazm dalam Kitabnya Hujjatullaahil Balighah, Jilid 1, Halaman 123 menyatakan seperti berikut (yang bererti)

“Ketahuilah bahawa mazhab empat sudah dibukukan dan diteliti secara cermat. Umat dan orang-orang terpandang pun telah ijma’ mengikuti mazhab-mazhab tersebut sampai hari ini. Bagi mereka yang mengikuti mazhab-mazhab itu terdapat kemaslahatan yang tiada kesamaran lagi, apatah lagi pada hari sekarang ini ketika kefahaman manusia sangat terbatas dan jiwa seseorang sudah dicampuri hawa nafsu dan masing-masing saling membanggakan pendapatnya. Maka apa yang dipegang oleh Imam Ibnu Hazm sebagaimana ia telah menyatakan. “Sesungguhnya taqlid itu adalah haram dan tidak halal bagi seorang pun mengambil ucapan seseorang, selain RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam dapat dianggap sempurna (benar) kalau orang tersebut mampu melakukan ijtihad walaupun dalam satu masalah”

Sumber rujukan : Kitab Alla mazhabiyyatu Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu Asy Syariiata Al Islamiyyah karangan Dr Said Ramadhan al Buthi.

http://jomfaham.blogspot.com/2009/03/kedudukan-orang-awam-yang-tidak-mampu.html

DR. Hendropriyono (Mantan Ketua BIN) : Deradikalisasi Sistemik untuk Berantas Terorisme (wahabi quthbiyun)

Deradikalisasi Sistemik untuk Berantas Terorisme

Metro Hari Ini / Hukum & Kriminal / Jumat, 14 Mei 2010 18:40 WIB

Video streaming :

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2010/05/14/105352/Deradikalisasi-Sistemik-untuk-Berantas-Terorisme

Metrotvnews.com, Jakarta: Mantan Kepala Badan Intelijen Negara, A.M. Hendropriyono, memberi pandangan soal terorisme di Indonesia melalui gambar Pohon Terorisme. Hadir dalam dialog Metro Hari Ini di Studio Metro TV, Jakarta, Jumat (14/3), Hendropriyono mengibaratkan para teroris dengan bagian daun.

“Daun-daun itu pelaku teror. Patah tumbuh hilang berganti. Orangnya ada yang dipenjara, dihukum, tapi begitu keluar beraksi lagi. Kalau Saya sebagai pengamat bersyukur mereka ditembak mati. Tidak ada jalan lain. Daripada berulang-ulang dan tidak jera,” kata Hendropriyono.

Lebih lanjut Hendropriyono mengatakan, akar terorisme adalah ideologi. Akar akan mati pada tanah yang tandus. Pada lingkungan fundamentalistis, akar tumbuh subur dan memudahkan pohon terorisme tumbuh. Dengan kata lain, akar akan mati apabila masyarakat fundamentalis kering. “Mengeringkannya melalui deradikalisasi, seperti dakwah-dakwah yang terarah,” jelas Hendropriyono.

Menurut Hendropriyono, deradikaliasi merupakan salah satu program kepengurusan Nahdlatul Ulama yang baru. “Saya melihat ini cerah. Di samping Detasemen Khusus 88 beroperasi, Orgasisasi Massa Islam (di Indonesia) harus berusaha menjadikan lingkungan kondusif. Ini membantu Densus menggergaji batang pohon,” jelas Hendropriyono.

Deradikalisasi harus dilakukan secara sistemik. Bukan hanya mendatangkan ustad atau berdikusi. “Harus secara sistem dan terprogram baik. Misalnya, penjara (para teroris) harus terpisah, ada rencana yang didukung dana tertentu, serta strategi paralel dan sinkron. Ini yang dinamakan proses deradikalisasi sistemik,” kata Hendropriyono.(****)

Mengenal Pimpinan majalah salafi palsu /teroris / khawarih murji’ah :

Ust Muh. Mas’ad Lc (Redaktur pelaksana majalah
An Najah solo)

Penyebar dan penyelenggara bedah buku majalah an-najah di lampung : Ust Agus Supriyadi Lc (pengasuh dialog imani RRI) yang sering mengadakan taklim -taklim wahhaby di Lampung!

GB

Buku-buku yang disita dari dalam rumah tersebut. Salah satu buku berisi langkah-langkah teknis merakit senjata dan bahan peledak yang ditulis dalam bahasa inggris.

GB
GB

SOLO, KOMPAS.com — Tim Densus 88 Antiteror menangkap tiga orang di Solo, Jawa Tengah, sepanjang operasi yang dilakukan sejak Rabu (12/5/2010) malam. Awalnya, Densus menangkap Joko Purwanto di Purbayan, Sukoharjo, dan Abdul Hamid di Purwosari, Rabu malam.

Selanjutnya, Kamis pagi ini, Densus menggerebek sebuah toko aki di Dukuh Gondang, Desa Baki, Sukoharjo, dan menangkap Erwin. “Ini hasil pengembangan setelah penangkapan di Purbayan dan Purwosari,” kata seorang petugas kepolisian setempat yang tidak bersedia disebut namanya.

Sebelumnya diberitakan bahwa berdasarkan informasi Kepala Desa Bakipandeyan Pardio, ada dua orang yang ditangkap dalam operasi di Solo. Dalam penggerebekan di toko aki, Densus menyita sejumlah senjata api laras panjang dan pendek, ratusan peluru, belati, CD, dan buku-buku.

Hingga sekitar pukul 11.00, ribuan warga menyaksikan lokasi toko aki yang telah dipasangi garis polisi. Petugas Brimob berjaga-jaga di lokasi. Sementara itu, arus lalu lintas Sukoharjo-Solo terlihat tersendat.

http://us.foto.detik.com/readfoto/2010/05/13/123526/1356509/157/1/

DR. Hendro Priyono (Mantan Ketua BIN ) : Wahhaby (agen yahudi) Dalang semua semua Aksi Teroris!

“Zionist yahudi ingin menguasai dunia penghalangnya adalah Islam dan Kristen”bagai mana yahudi untuk mengalahkan islam dan kristen?1. Yahudi mengadu islam kr vs kristen dengan membuat aliran-aliran radikal (spt majelis  mujahidin indonesia (wahaby), noordin M top cs (wahaby), taliban (wahaby, taliban/alqaida adalah pendatang yang memecah balah umat islam di afgan dan yang merusak perjuangan suci rakyat afgan melawan penjajah, ia menegakan hukum wahaby bukan hukum islam), dsb.

2. Mengadu sesama umat islam (membuat aliran-aliran sesat seperti wahhaby, islam liberal dsb.)

3. Mengadau sesama kristen (seperti membuat aliran-aliran radikal  dalam kristen)

Yang Saya Maksud Wahabi Aliran Keras

Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir.Wahabi aliran keras. Itu yang dimaksudkan Hendropriyono ketika menyebut habitat Noordin M Top sehingga sulit untuk ditangkap. Kepada Sabili di Jogjakarta, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu menjelaskan siapa yang dimaksud dengan Wahabi di balik serangan bom di Indonesia .Dalam sebuah wawancara di stasiun televisi swasta, Jenderal TNI (Purn) Dr. Ir. Drs. Abdullah Mahmud Hendropriyono SH, SE, MBA, MH menyebut Wahabi, terkait dengan rentetan pemboman yang terjadi di negeri ini. Ketika Sabili mengkonfirmasi wahabi yang dimaksud, Hendro menjelaskan panjang lebar.

“Ketika itu saya ditanya oleh Metro TV tentang teroris, kenapa masih terus terjadi? Saya bilang, selama lingkungan masih ada yang menerima Noordin M Top, maka terorisme akan terus berlangsung. Agama kita, memberi pengertian yang dalam, bahwa tujuan yang baik tidak harus menghalalkan segala cara. Yang rugi, jelas umat Islam dan negara kita sendiri. Karena itu, harus dihentikan. Tujuan baik kalau caranya salah tetap salah.”

Lantas siapa yang dimaksud dengan lingkungan atau habitat Noordin M Top? Dikatakan Hendro, doktrin klasik kita, cuma mengenal dua, yaitu: al mukminin dan al kafirin. Antara al mukminin dan al kafirin itu ada yang dipertajam, dan ada yang memperhalus. “Yang mengkafir-kafirkan sesama Muslim inilah yang saya maksud sebagai habitat. Abu Ghifari, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) adalah salah satu yang tidak setuju doktrin mengkafir-kafirkan, makanya dia keluar dari JI, tapi bukan berarti dia tidak Islam. Kalau anggota JI punya pendirian seperti dia, Indonesia pasti aman.”

Hendro memberi contoh, Yayasan Muaddib di Cilacap, justru menciptakan masyarakat sendiri. Inilah masyarakat yang menjadi habitat Noordin M Top. Sekarang polisi terus memburu ketua yayasan pesantren itu.


Nasir Abbas


Baca Buku Membongkar “Jamaah Islamiyah”

Menurut Hendro, Noordin M Top punya akses langsung ke Al Qaidah. Karenanya, dunia kecolongan. Usamah bin Ladin dan Aiman Az Zawahir, sudah masuk ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Begitu JI dikendalikan oleh Abu Rusydan dan Nasir Abbas, organisasi itu mulai moderat.

“Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir. Kelompok keras ini beranggapan, dalam Islam tidak ada demokrasi. Menurut saya, setiap negara seyogianya punya filsafat dan ideologinya sendiri. Setelah itu, kita bisa hidup berdampingan secara damai. Tapi kalau mengusung ideologi internasionalisme, tidak bakal ketemu.”

Dikatakan Hendro, bahasa yang digunakan dalam terorisme ternyata terbelah atas dua tata permainan bahasa; mengancam dan berdoa. “Para pelaku terorisme juga mengalami kegagalan kategori, yaitu ketidakmampuan untuk membedakan pengetahuannya sehingga mengakibatkan subjek dan objek terorisme menjadi tak terbatas,” ungkap Hendro yang baru menyandang predikat doktor ilmu filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) dan berhasil meraih cumlaude Sabtu lalu (25/7).

Subjek terorisme mempunyai kondisi kejiwaan yang memungkinkan berkembangnya fisik, emosi dan intelektual secara optimal, karena mereka adalah orang normal, buka orang gila. Semua tindak terorisme, termasuk di Indonesia saat ini, adalah implementasi cara berpikir para pelakunya. Terorisme sendiri terjadi akibat ideologi, bukan kepentingan. “Apa yang bisa menghentikan terorisme adalah dengan menghentikan cara berpikir seorang yang berkepribadian terbelah. Kalau itu berhenti, teroris berhenti.”

Terorisme, kata Hendro, terjadi akibat benturan dua filsafat universal dunia, yakni demokrasi yang tidak dilaksanakan secara etis dan fundamentalisme. Selama keduanya belum berubah ke arah yang lebih baik dan menyatu, terorisme akan terus ada.

Diakui Hendro, di antara ideologi itu, ada yang menginginkan liberalisme dan kapitalistik. Sedangkan Islam menginginkan kekhilafahan. Kalau kita ingin perdamaian dunia, maka harus merupakan sintesis dari dua tesis. Sekuler-liberal dengan Islam yang akomodatif-moderat. “Kalau tidak gitu, gak ketemu. Teror dibalas teror gak selesai. Dunia akan terus kecolongan, sebelum kita selesaikan.”

Jadi yang ngebom-ngebom itu Wahabi, begitu? “Wahabi aliran keras lah yang mengakomodir Noordin M Top masih tetap hidup. Apa susahnya mencari Noordin M Top, dia orang Malaysia, logatnya saja kentara bahwa dia bukan orang Indonesia . Makanya lingkungan atau habitatnya harus dibersihkan. Yaitu aliran keras Wahabi yang kawin dengan aliran keras Ikhwanul Muslimin.”

Bukankah Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin berbeda? “Ya, akhirnya mengerucut di Al Qaidah. Jadi Usamah itu adalah gabungan salafi, wahabi, ikhwan,” terang Hendropriyono.

Seringkali Wahabi dijadikan stigma terhadap kelompok Islam tertentu. Yang ujung-ujungnya adalah Islamphobi. Menanggapi itu, Hendro mengatakan, “Itu orang nggak ngerti. Apa gunanya kita punya kementrian agama, harusnya diberi penjelasan, apa itu wahabi, salafi, Ikhwanul Muslimin dan Al Qaidah, biar jelas. Kalau yang menjelaskan intelijen, saya disalahin melulu. Capek saya,” ujar lelaki kelahiran Yogyakarta , 7 Mei 1945.

Yang jelas, tudingan Wahabi pernah dilekatkan pada PKS dan ormas Islam lainnya. Mereka tidak terima. “Memang, orang pasti akan bertanya, Wahabi yang mana? Salafi yang mana? Itu sama saja menyebut Jawa yang mana? Sekali lagi, yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras yang tidak mau berpartai. Kalau ada yang mengikuti demokrasi, mereka akan mengkafirkan. Ini Wahabi yang saya maksud. Orang yang menyebut kafir karena menolak demokrasi, ini harus dibersihin. Terorisme akan hidup terus selama masih ada orang yang suka mengkafirkan!”

Apakah penyebutan Wahabi ini akan menjadi pukat harimau bagi gerakan Islam? Hendro yang mengaku dari kecil sekolah di Muhammadiyah pun juga Wahabi. Tapi, Hendro mengatakan, Muhammadiyah bukan Wahabi yang merusak. “Mereka takut. Kan saya tidak mau pukul rata, saya bukan orang tolol, ini Wahabi yang mana dulu. Yang maksudkan alah wahabi aliran keras. Memang yang lembut bisa menjadi keras. Itulah harus kita bersihin. Sebut saja Muhammadiyah, ada tarik menarik, untuk menjadi Wahabi, ada pula yang ingin menjadi Liberal. Posisi Muhammadiyah pun jadi rebutan ideologi.”

Perkembangan geopolitik global menjadi penyebab lahirnya terorisme global. Tapi tidak harus teror jawabannya, harusnya uswatun hasanah. Teror itu bukan perang. Hendro tidak setuju, dengan memunculkan Wahabi ini akan melemahkan spirit Islam sendiri. “Oh, nggak, bukan begitu. Kita tidak usah bergantung Wahabi. Kita berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits. Kenapa kita harus ikut-ikutan yang bukan Nabi. Tujuan baik kalau jalannya salah, keliru.”

Persoalannya bukan hanya di dalam internal umat Islam sendiri, melainkan juga keterlibatan unsur asing. Hendro mengatakan, bukan tidak mungkin, ada keterlibatan CIA. Yang jelas, yang bisa menyelesaikan adalah kita sendiri, bukan orang lain. Sebab, jika dari luar, nambah gak karuan negeri ini.

Menurut Hendro, untuk menghancurkan suatu jaringan ada empat poin yang bisa dilakukan. Pertama, tangkap orang-orang kunci. Kedua, putuskan hubungan. Ketiga pangkas support logistic. Keempat bersihkan lingkungan. Kempat inilah yang akan menghancurkan organisasi. Ketika bom berulangkali terjadi, ada kemirisan yang muncul, umat Islam kembali menjadi kambing hitam. “Itulah yang membuat saya sedih. Makanya sebelum saya mati, mudah-mudahan saya masih bisa melihat Indonesia aman, dan menjadi ummatan wahidah, umat yang bersatu. Umat ini terbelah akibat Noordin M Top.” (sabili)

(Oleh Adhes Satria & Eman Mulyatman)

http://swaramuslim.net/more.php?id=6307_0_1_0_M

Pembunuhan Anwar saadat (PM Mesir 1981) oleh teroris wahhaby

SESUNGGUHNYA WAHABI MEMPUNYAI GERAKAN BERSENJATA DINAMAKAN SEBAGAI SALAFIYYAH JIHADIYYAH ATAU PEJUANG PELAMPAU WAHABI. MEREKA SUKA MENYERANG PEMIMPIN NEGARA ISLAM




DENGAN JELAS PADA KUBUR PEMBUNUH ANWAR SADAT BERNAMA KHALID AL-ISLAMBOULY TERTERA AKIDAH WAHABI YANG MENGKAFIRKAN PEMIMPIN ISLAM. MEREKA MENGUNAKAN AYAT AL-QURAN BUKAN PADA TEMPATNYA.

BAHKAN KERAJAAN SAUDI ARABIA MENOLAK AJARAN SESAT SAYIKH NASHIRUDDIN ALBANY AL WAHABI

KERAJAAN SAUDI ARABIA TOLAK AJARAN WAHHABI AL-ALBANI&PENGIKUTNYA -berbukti

SAUDI ARABIA MENOLAK AJARAN YANG DIBAWA OLEH NASIRUDDIN AL-ALBANY DAN PENGIKUTNYA YANG TERKENAL DENGAN AJARAN WAHHABI TETAPI KONONNYA MENDAKWA SEBAGAI SALAFI. MENERUSI DEKAN UNIVERSITI MUHAMMAD BIN SU’UD IAITU SEBUAH UNIVERSITI TERKEMUKA DI NEGARA SAUDI ARABIA MENEKAN BAHAWA AJARAN YANG DIBAWA OLEH AL-ALBANI DAN PENGIKUTNYA BUKAN AJARAN SEBENAR DAN BUKAN FAHAMAN SALAF YANG SAHIH SEPERTI YANG DIDAKWA.

Kita di Malaysia terdapat sebahagian golongan yang mengikut ajaran Al-Albany seperti MAZA, Institut Al-Qayyim dan sebagainya. Sebenarnya Saudi Arabi telah lama menolak ajaran mereka ini walaupun mereka mendakwa sebagai Salaf sebenar.

DI BAWAH INI MERUPAKA BUKTI BAHAWA SAUDIA ARABIA SEKARANG MENOLAK AJARAN AL-ALBANI AL-WAHHABI DAN PENGIKUTNYA :


[ Teroris solo] Majalah An-Najah : Majalah Teroris wahabi (Salafi palsu) solo

Mengenal Pimpinan majalah salafi palsu /teroris / khawarih murji’ah :

Ust Muh. Mas’ad Lc (Redaktur pelaksana majalah
An Najah solo)

Penyebar dan penyelenggara bedah buku majalah an-najah di lampung : Ust Agus Supriyadi Lc (pengasuh dialog imani RRI) yang sering mengadakan taklim -taklim wahhaby di Lampung!

GB

Buku-buku yang disita dari dalam rumah tersebut. Salah satu buku berisi langkah-langkah teknis merakit senjata dan bahan peledak yang ditulis dalam bahasa inggris.

GB
GB

SOLO, KOMPAS.com — Tim Densus 88 Antiteror menangkap tiga orang di Solo, Jawa Tengah, sepanjang operasi yang dilakukan sejak Rabu (12/5/2010) malam. Awalnya, Densus menangkap Joko Purwanto di Purbayan, Sukoharjo, dan Abdul Hamid di Purwosari, Rabu malam.

Selanjutnya, Kamis pagi ini, Densus menggerebek sebuah toko aki di Dukuh Gondang, Desa Baki, Sukoharjo, dan menangkap Erwin. “Ini hasil pengembangan setelah penangkapan di Purbayan dan Purwosari,” kata seorang petugas kepolisian setempat yang tidak bersedia disebut namanya.

Sebelumnya diberitakan bahwa berdasarkan informasi Kepala Desa Bakipandeyan Pardio, ada dua orang yang ditangkap dalam operasi di Solo. Dalam penggerebekan di toko aki, Densus menyita sejumlah senjata api laras panjang dan pendek, ratusan peluru, belati, CD, dan buku-buku.

Hingga sekitar pukul 11.00, ribuan warga menyaksikan lokasi toko aki yang telah dipasangi garis polisi. Petugas Brimob berjaga-jaga di lokasi. Sementara itu, arus lalu lintas Sukoharjo-Solo terlihat tersendat.

http://us.foto.detik.com/readfoto/2010/05/13/123526/1356509/157/1/

DR. Hendro Priyono (Mantan Ketua BIN ) : Wahhaby (agen yahudi) Dalang semua semua Aksi Teroris!

“Zionist yahudi ingin menguasai dunia penghalangnya adalah Islam dan Kristen”bagai mana yahudi untuk mengalahkan islam dan kristen?

1. Yahudi mengadu islam kr vs kristen dengan membuat aliran-aliran radikal (spt majelis  mujahidin indonesia (wahaby), noordin M top cs (wahaby), taliban (wahaby, taliban/alqaida adalah pendatang yang memecah balah umat islam di afgan dan yang merusak perjuangan suci rakyat afgan melawan penjajah, ia menegakan hukum wahaby bukan hukum islam), dsb.

2. Mengadu sesama umat islam (membuat aliran-aliran sesat seperti wahhaby, islam liberal dsb.)

3. Mengadau sesama kristen (seperti membuat aliran-aliran radikal  dalam kristen)

Yang Saya Maksud Wahabi Aliran Keras

Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir.Wahabi aliran keras. Itu yang dimaksudkan Hendropriyono ketika menyebut habitat Noordin M Top sehingga sulit untuk ditangkap. Kepada Sabili di Jogjakarta, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu menjelaskan siapa yang dimaksud dengan Wahabi di balik serangan bom di Indonesia .

Dalam sebuah wawancara di stasiun televisi swasta, Jenderal TNI (Purn) Dr. Ir. Drs. Abdullah Mahmud Hendropriyono SH, SE, MBA, MH menyebut Wahabi, terkait dengan rentetan pemboman yang terjadi di negeri ini. Ketika Sabili mengkonfirmasi wahabi yang dimaksud, Hendro menjelaskan panjang lebar.

“Ketika itu saya ditanya oleh Metro TV tentang teroris, kenapa masih terus terjadi? Saya bilang, selama lingkungan masih ada yang menerima Noordin M Top, maka terorisme akan terus berlangsung. Agama kita, memberi pengertian yang dalam, bahwa tujuan yang baik tidak harus menghalalkan segala cara. Yang rugi, jelas umat Islam dan negara kita sendiri. Karena itu, harus dihentikan. Tujuan baik kalau caranya salah tetap salah.”

Lantas siapa yang dimaksud dengan lingkungan atau habitat Noordin M Top? Dikatakan Hendro, doktrin klasik kita, cuma mengenal dua, yaitu: al mukminin dan al kafirin. Antara al mukminin dan al kafirin itu ada yang dipertajam, dan ada yang memperhalus. “Yang mengkafir-kafirkan sesama Muslim inilah yang saya maksud sebagai habitat. Abu Ghifari, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) adalah salah satu yang tidak setuju doktrin mengkafir-kafirkan, makanya dia keluar dari JI, tapi bukan berarti dia tidak Islam. Kalau anggota JI punya pendirian seperti dia, Indonesia pasti aman.”

Hendro memberi contoh, Yayasan Muaddib di Cilacap, justru menciptakan masyarakat sendiri. Inilah masyarakat yang menjadi habitat Noordin M Top. Sekarang polisi terus memburu ketua yayasan pesantren itu.


Nasir Abbas


Baca Buku Membongkar “Jamaah Islamiyah”

Menurut Hendro, Noordin M Top punya akses langsung ke Al Qaidah. Karenanya, dunia kecolongan. Usamah bin Ladin dan Aiman Az Zawahir, sudah masuk ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Begitu JI dikendalikan oleh Abu Rusydan dan Nasir Abbas, organisasi itu mulai moderat.

“Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir. Kelompok keras ini beranggapan, dalam Islam tidak ada demokrasi. Menurut saya, setiap negara seyogianya punya filsafat dan ideologinya sendiri. Setelah itu, kita bisa hidup berdampingan secara damai. Tapi kalau mengusung ideologi internasionalisme, tidak bakal ketemu.”

Dikatakan Hendro, bahasa yang digunakan dalam terorisme ternyata terbelah atas dua tata permainan bahasa; mengancam dan berdoa. “Para pelaku terorisme juga mengalami kegagalan kategori, yaitu ketidakmampuan untuk membedakan pengetahuannya sehingga mengakibatkan subjek dan objek terorisme menjadi tak terbatas,” ungkap Hendro yang baru menyandang predikat doktor ilmu filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) dan berhasil meraih cumlaude Sabtu lalu (25/7).

Subjek terorisme mempunyai kondisi kejiwaan yang memungkinkan berkembangnya fisik, emosi dan intelektual secara optimal, karena mereka adalah orang normal, buka orang gila. Semua tindak terorisme, termasuk di Indonesia saat ini, adalah implementasi cara berpikir para pelakunya. Terorisme sendiri terjadi akibat ideologi, bukan kepentingan. “Apa yang bisa menghentikan terorisme adalah dengan menghentikan cara berpikir seorang yang berkepribadian terbelah. Kalau itu berhenti, teroris berhenti.”

Terorisme, kata Hendro, terjadi akibat benturan dua filsafat universal dunia, yakni demokrasi yang tidak dilaksanakan secara etis dan fundamentalisme. Selama keduanya belum berubah ke arah yang lebih baik dan menyatu, terorisme akan terus ada.

Diakui Hendro, di antara ideologi itu, ada yang menginginkan liberalisme dan kapitalistik. Sedangkan Islam menginginkan kekhilafahan. Kalau kita ingin perdamaian dunia, maka harus merupakan sintesis dari dua tesis. Sekuler-liberal dengan Islam yang akomodatif-moderat. “Kalau tidak gitu, gak ketemu. Teror dibalas teror gak selesai. Dunia akan terus kecolongan, sebelum kita selesaikan.”

Jadi yang ngebom-ngebom itu Wahabi, begitu? “Wahabi aliran keras lah yang mengakomodir Noordin M Top masih tetap hidup. Apa susahnya mencari Noordin M Top, dia orang Malaysia, logatnya saja kentara bahwa dia bukan orang Indonesia . Makanya lingkungan atau habitatnya harus dibersihkan. Yaitu aliran keras Wahabi yang kawin dengan aliran keras Ikhwanul Muslimin.”

Bukankah Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin berbeda? “Ya, akhirnya mengerucut di Al Qaidah. Jadi Usamah itu adalah gabungan salafi, wahabi, ikhwan,” terang Hendropriyono.

Seringkali Wahabi dijadikan stigma terhadap kelompok Islam tertentu. Yang ujung-ujungnya adalah Islamphobi. Menanggapi itu, Hendro mengatakan, “Itu orang nggak ngerti. Apa gunanya kita punya kementrian agama, harusnya diberi penjelasan, apa itu wahabi, salafi, Ikhwanul Muslimin dan Al Qaidah, biar jelas. Kalau yang menjelaskan intelijen, saya disalahin melulu. Capek saya,” ujar lelaki kelahiran Yogyakarta , 7 Mei 1945.

Yang jelas, tudingan Wahabi pernah dilekatkan pada PKS dan ormas Islam lainnya. Mereka tidak terima. “Memang, orang pasti akan bertanya, Wahabi yang mana? Salafi yang mana? Itu sama saja menyebut Jawa yang mana? Sekali lagi, yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras yang tidak mau berpartai. Kalau ada yang mengikuti demokrasi, mereka akan mengkafirkan. Ini Wahabi yang saya maksud. Orang yang menyebut kafir karena menolak demokrasi, ini harus dibersihin. Terorisme akan hidup terus selama masih ada orang yang suka mengkafirkan!”

Apakah penyebutan Wahabi ini akan menjadi pukat harimau bagi gerakan Islam? Hendro yang mengaku dari kecil sekolah di Muhammadiyah pun juga Wahabi. Tapi, Hendro mengatakan, Muhammadiyah bukan Wahabi yang merusak. “Mereka takut. Kan saya tidak mau pukul rata, saya bukan orang tolol, ini Wahabi yang mana dulu. Yang maksudkan alah wahabi aliran keras. Memang yang lembut bisa menjadi keras. Itulah harus kita bersihin. Sebut saja Muhammadiyah, ada tarik menarik, untuk menjadi Wahabi, ada pula yang ingin menjadi Liberal. Posisi Muhammadiyah pun jadi rebutan ideologi.”

Perkembangan geopolitik global menjadi penyebab lahirnya terorisme global. Tapi tidak harus teror jawabannya, harusnya uswatun hasanah. Teror itu bukan perang. Hendro tidak setuju, dengan memunculkan Wahabi ini akan melemahkan spirit Islam sendiri. “Oh, nggak, bukan begitu. Kita tidak usah bergantung Wahabi. Kita berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits. Kenapa kita harus ikut-ikutan yang bukan Nabi. Tujuan baik kalau jalannya salah, keliru.”

Persoalannya bukan hanya di dalam internal umat Islam sendiri, melainkan juga keterlibatan unsur asing. Hendro mengatakan, bukan tidak mungkin, ada keterlibatan CIA. Yang jelas, yang bisa menyelesaikan adalah kita sendiri, bukan orang lain. Sebab, jika dari luar, nambah gak karuan negeri ini.

Menurut Hendro, untuk menghancurkan suatu jaringan ada empat poin yang bisa dilakukan. Pertama, tangkap orang-orang kunci. Kedua, putuskan hubungan. Ketiga pangkas support logistic. Keempat bersihkan lingkungan. Kempat inilah yang akan menghancurkan organisasi. Ketika bom berulangkali terjadi, ada kemirisan yang muncul, umat Islam kembali menjadi kambing hitam. “Itulah yang membuat saya sedih. Makanya sebelum saya mati, mudah-mudahan saya masih bisa melihat Indonesia aman, dan menjadi ummatan wahidah, umat yang bersatu. Umat ini terbelah akibat Noordin M Top.” (sabili)

(Oleh Adhes Satria & Eman Mulyatman)

http://swaramuslim.net/more.php?id=6307_0_1_0_M

Imam Malik ibn Anas (W 179 H) Berkeyakinan Allah Ada Tanpa Tempat, Tidak Seperti Yang Sering Diselewengkan Kaum Wahhabiyyah..!!

Imam Malik ibn Anas (W 179 H) Berkeyakinan Allah Ada Tanpa Tempat, Tidak Seperti Yang Sering Diselewengkan Kaum Wahhabiyyah..!!


Tuesday, March 30, 2010 at 5:42pm
Al-Hafizh al-Bayhaqi dalam karyanya berjudul al-Asma’ Wa ash-Shifat, dengan sanad yang baik (jayyid), -sebagaimana penilaian al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari-, meriwayatkan dari al-Imam Malik dari jalur Abdullah ibn Wahb, bahwa ia -Abdullah ibn Wahb-, berkata:

“Suatu ketika kami berada di majelis al-Imam Malik, tiba-tiba seseorang datang menghadap al-Imam, seraya berkata: Wahai Abu Abdillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah?. Abdullah ibn Wahab berkata: Ketika al-Imam Malik mendengar perkataan orang tersebut maka beliau menundukan kepala dengan badan bergetar dengan mengeluarkan keringat. Lalu beliau mengangkat kepala menjawab perkataan orang itu: “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa sebagaimana Dia mensifati diri-Nya sendiri, tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana, karena “bagaimana” (sifat benda) tidak ada bagi-Nya. Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”. Lalu kemudian orang tersebut dikeluarkan dari majelis al-Imam Malik (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408)”.

Anda perhatikan; Perkataan al-Imam Malik: “Engkau ini adalah seorang yang berkeyakinan buruk, ahli bid’ah, keluarkan orang ini dari sini”, hal itu karena orang tersebut mempertanyakan makna Istawa dengan kata-kata “Bagaimana?”. Seandainya orang itu hanya bertanya apa makna ayat tersebut, sambil tetap meyakini bahwa ayat tersebut tidak boleh diambil makna zhahirnya, maka tentu al-Imam Malik tidak membantah dan tidak mengusirnya.

Adapun riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) yang mengatakan: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul (al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal)”, yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an.

Dari sini dapat dipahami bahwa al-Lali’ka’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman mengatakan “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul”, sama sekali bukan untuk tujuan menetapkan makna duduk atau bersemayam bagi Allah. Juga sama sekali bukan untuk menetapkan makna duduk atau bersemayam yang Kayfiyyah duduk atau bersemayam-Nya tidak diketahui oleh kita. Hal ini berbeda dengan orang-orang Wahhabiyyah yang salah paham terhadap pernyataan al-Lalika’i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman tersebut. Mereka mengatakan bahwa Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy. Hanya saja, –menurut mereka–, Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. A’udzu Billah.

Untuk membantah keyakinan kaum Wahhabiyyah tersebut, kita katakan kepada mereka: Dalam perkataan al-Lalika-i dan Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman terdapat kata “al-Kayf Ghair Ma’qul”, ini artinya bahwa Istawa tersebut bukan Kayfiyyah, sebab Kayfiyyah adalah sifat benda. Dengan demikian, oleh karena kata Istawa ini bukan Kayfiyyah maka jelas maknanya bukan dalam pengertian duduk atau bersemayam. Karena duduk atau bertempat itu hanya berlaku pada sesuatu yang memiliki anggota badan, seperti pantat, lutut dan lainnya. Sementara Allah maha suci dari pada anggota-anggota badan.
Yang mengherankan, kaum Musyabbihah seperti kaum Wahhabiyyah di atas seringkali memutarbalikan perkataan dua Imam di atas. Mereka sering mengubahnya dengan mengatakan “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah”. Perkataan semacam ini sama sekali bukan riwayat yang benar berasal dari al-Imam Malik atau lainnya. Tujuan kaum Musyabbihah mengucapkan kata tesebut tidak lain adalah untuk menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Istawa Allah, lalu mereka mengatakan Kayfiyyah-Nya tidak diketahui. Karena itu mereka seringkali mengatakan: “Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy, tapi cara bersemayam-Nya tidak diketahui”. Atau terkadang mereka juga berkata: “Allah duduk di atas arsy, tapi cara duduk-Nya tidak diketahui”. jadi, Perkataan kaum Musyabbihah “al-Istiwa Ma’lum Wa al-Kayfiyyah Majhulah” tidak lain hanyalah untuk mengelabui orang-orang awam bahwa semacam itulah yang telah dikatakan dan yang dimaksud oleh Al-Imam Malik. A’udzu Billah.

Al-Hafizh al-Bayhaqi dari jalur Yahya ibn Yahya telah meriwayatkan bahwa ia -Yahya ibn Yahya- berkata: Suatu saat ketika kami berada di majelis al-Imam Malik ibn Anas, tiba-tiba datang seseorang menghadap beliau, seraya bekata: Wahai Abu Abdlillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimankah Istawa Allah? Lalu al-Imam Malik menundukan kepala hingga badanya bergetar dan mengeluarkan keringat. Kemudian beliau berkata: “al-Istiwa’ telah jelas -penyebutannya dalam al-Qur’an- (al-Istiwa Ghair Majhul), dan “Bagaimana (sifat benda)” tidak logis dinyatakan kepada Allah (al-Kayf Ghair Ma’qul), beriman kepada adanya sifat al-Istiwa adalah wajib, dan mempermasalahkan masalah al-Istiwa tersebut adalah perbuatan bid’ah. Dan bagiku, engkau tidak lain kecuali seorang ahli bid’ah”. Lalu al-Imam Malik menyuruh murid-muridnya untuk mengeluarkan orang tersebut dari majelisnya. Al-Imam al-Bayhaqi berkata: “Selain dari al-Imam Malik, pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman, guru dari al-Imam Malik sendiri” (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408).

Dalam mengomentari peristiwa ini, asy-Syaikh Salamah al-Uzami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka dalam bidang hadits, dalam karyanya berjudul Furqan al-Qur’an, mengatakan sebagai berikut:

“Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan Kayfiyyah Istiwa bagi Allah. Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna zhahirnya. Tentu makna zhahir Istawa adalah duduk bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yan lain. Makna zhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang Kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).

Ada pelajaran penting yang dapat kita tarik dari peristiwa ini. Jika al-Imam Malik sangat marah terhadap orang tersebut hanya karena menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, hingga mengklaimnya sebagai ahli bid’ah, maka tentunya beliau akan lebih marah lagi terhadap mereka yang dengan terang-terangan mengartikan Istawa dengan duduk, bertempat atau bersemayam! Dapat kita pastikan seorang yang berpendapat kedua semacam ini akan lebih dimurkai lagi oleh al-Imam Malik. Hal itu karena mengartikan Istawa dengan duduk atau bersemayam tidak hanya menetapkan adanya Kayfiyyah bagi Allah, tapi jelas merupakan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya.
Dan sesungguhnya sangat tidak mungkin seorang alim sekaliber al-Imam Malik berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat dan arah. Al-Imam Malik adalah Imam kota Madinah (Imam Dar al-Hijrah), ahli hadits terkemuka, perintis fiqih madzhab Maliki, sudah barang tentu beliau adalah seorang ahli tauhid, berkeyakinan tanzih, mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk-Nya. Tentang kesucian tauhid al-Imam Malik ibn Anas, al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyir al-Maliki, salah seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta). Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman akidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-, sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam -ketika beliau ditelan oleh ikan besar-, dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. Artinya satu dari lainnya tidak lebih dekat kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Karena seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah (Lihat penjelasan ini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa. Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).

Adapun riwayat yang dikemukan oleh Suraij ibn an-Nu’man dari Abdullah ibn Nafi’ dari al-Imam Malik, bahwa ia -al-Imam Malik- berkata: “Allah berada di langit, dan ilmu-Nya di semua tempat”, adalah riwayat yang sama sekali tidak benar (Ghair Tsabit). Abdullah ibn Nafi’ dinilai oleh para ahli hadits sebagai seorang yang dla’if. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal berkata: “’Abdullah ibn Nafi’ ash-Sha’igh bukan seorang ahli hadits, ia adalah seorang yang dla’if”. Al-Imam Ibn Adi berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’ banyak meriwayatkan ghara-ib (riwayat-riwayat asing) dari al-Imam Malik”. Ibn Farhun berkata: “Dia -Abdullah ibn Nafi’- adalah seorang yang tidak membaca dan tidak menulis” (Lihat biografi Abdullah ibn Nafi’ dan Suraij ibn an-Nu’man dalam kitab-kitab adl-Dlu’afa’, seperti Kitab ald-Dlu’afa karya an-Nasa-i dan lainnya).
Dengan demikian pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Malik di atas adalah riwayat yang sama sekali tidak benar. Dan kata-kata tersebut yang sering kali dikutip oleh kaum Musyabbihah dan dinisbatkan kepada al-Imam Malik tidak lain hanyalah kedustaan belaka.

kesimpulan, Aqidah Imam Malik, Imam AbuHanifah, Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad ibn Hanbal adalah bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.