Shalat Ghaib/ghoib menurut sunnah Nabi

Shalat Ghaib

”Ghaib” artinya tidak ada. Shalat Ghaib adalah shalat jenazah yang dilakukan seseorang ketika jasad si mayit sudah dimakamkan, atau shalat yang dilakukan dari jarak yang jauh dari si mayit.

Shalat Ghaib ini termasuk shalat yang unik. Pada Muktamar ke-11 NU di Banjarmasin tahun 1936, telah diambil keputusan lewat pendapat Imam Ibnu Hajar yang menyatakan: “Tak perlu Shalat Ghaib bagi seorang yang meniggal di dalam satu negeri.” Sementara fakta yang berlaku di masyarakat NU, biasanya pada hari Jum’at sebelum khotbah ada pengumuman untuk mengerjakannya secara bersama-sama; seorang imam berdiri dan diikuti jama’ah untuk mengerjakan Shalat Ghaib.

Dua kubu yang kami sebutkan tadi tampil dengan argumen masing-masing. Bagi kubu yang tidak perlu Shalat Ghaib (Keputusan Muktamar ke 11) dalilnya adalah:

”Bahwa tak sah shalat jenasah atas mayit yang ghaib yang tidak berada di tempal seorang yang hendak menyalatinyaa, sementara ia berada di negeri (daerah) di mana mayit itu berada walaupun negeri tersebut luas karena dimungkinkan untuk bisa mendatanginya. Para ulama menyamakannya dengan qadha atas seorang yang berada di suatu negeri sementara ia bisa menghadirinya. Yang menjadi pedoman adalah ada tidaknya kesulitan untuk mendatangi tempat si mayit. Jika sekiranya sulit untuk mendatanginya walaupun berada di negerinya, misalnya karena sudah tua atau sebab lain maka shalat hgaibnya sah. Sedangkan jika tidak ada kesulitan maka shalatnya tidak sah walau berada di luar batas negeri yang bersangkutan.” (dalam kitab I’anatut Thalibin)

Dalil kedua: Keterangan yang ada di dalam kitab Tuhfah dapat dijadikan pedoman bahwa seseorang tidak boleh melakukan shalat ghaib atas mayit yang meninggal dalam satu negeri, sedang ia tidak hadir karena sakit atau ditahan.

Sedangkan dari kubu yang membolehkan dilakukan shalat ghaib dalilnya adalah, pertama, shalat ghaib boleh diselenggarakan karena lain negara. Rasulullah pernah menyalati seorang muslim Najasyi yang meninggal sewaktu berada di Madinah (HR Bukhari dan Muslim).

Jika seorang menyalati jenasah di hari meninggalnya setelah dimandikan, hukumnya adalah sah, sebagaimana pendapat Imam Ar-Rayani. Juga menyalati jenasah yang telah dimakamkan, hukumnya juga sah karena Rasulullah pernah menyalati jenasah yang sudah dikubur (HR Bukhari dan Muslim dan Imam Darul-Quthni). (Lihat dalam kitab Kifayatul Ahyar I hlm 103-104)

Dalil kedua: Jelas tertera dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim: Ada seorang Najasi meninggal Rasulullah segera memberi tahu para sahabatnya, sabdanya: ”Saudara kita di negeri Habasyah telah meninggal shalatlah kalian untuknya.” Mereka pun keluar menuju lapangan, membuat barisan, dan mengerjakan shalat untuknya. (Tafsir Ibnu Katsir I hlm. 443)

Dalil ketiga: ”Boleh menyalati beberapa jenasah dengan sekali shalat dan niat untuk semua secara global.” Disebutkan juga boleh dengan niat ”ijmal” artinya seperti dalam kalimat saya niat shalat untuk para jenazah muslim… atau, berniat shalat seperti sang imam menyalati saja. (dalam kitab Fathul Mu’in, juga Ianatut Thalibin II, 132-135).

Dalil keempat: ”Batasan ”ghaib” adalah bila seseorang berada di sebuah tempat di mana panggilan adzan sudah tak terdengar. Di dalam kitab Tuhfah disebutkan: Jika sudah di luar jangkauan pertolongan.” (Bughyatul Musytarsyidin, hlm 95)

Dalil Kelima, Keputusan bahtsul masail Syuriah NU se-Jateng 1984. Ketentuan jarak untuk Shalat Ghaib ada tiga versi: (1) Jarak 44 meter, (2) Jarak 1666 meter (1 mil), (3) Jarak 2000 – 3000 meter.

KH. Munawir Abdul fatah
Pesantren Krapyak, Yogyakarta

kemudian jawaban dari al ustaz habib munzir :

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Rahmat dan Kebahagiaan Nya semoga selalu menerangi hari hari anda,

Saudaraku yg kumuliakan,
1. Apakah benar itu Shalat Ghaib??
jawaban :
hal itu dinamakan shalat gaib, yaitu shalat jenazah setelah penguburan dan tanpa dihadapan jenazah,
shalat gaib bisa dilakukan dimakam, bisa dilakukan di masjid atau dimana saja.

2.Apakah shalat saya sah karena hanya taqlid kepada orang orang tersebut (Shalat di depan makam) sedangkan saya belum mendapatkan pembahasan tersebut dalam mengaji.?
jawaban :
taqlid kepada ulama adalah hal yg masyru dan justru demikianlah syariah ini berlaku, demikian para sahabat radhiyallahu ‘anhum, demikian para tabiin, para imam imam dst,

cuma segolongan wahabi masa kini mereka mencela taqlid, padahal taqlid adalah asal muasal tersebarnya syariah.

yg dilarang adalah Taqlid buta, yaitu asal ikut aja tanpa tahu orang yg diikuti itu muslim atau non muslim, munafik atau baik,

namun taqlid pada ulama adalah justru kebenaran, karena dimasa lalu pun demikian, para sahabat bertaqlid pada sahabat lainnya, aku bertaqlid pada Ibn Umar, aku bertaqlid pada Ibn Abbas, aku melihat Ustman bin affan berbuat demikian, aku lihat Imam Syafii berbuat demikian, aku lihat Imam Nawawi melakukan demikian,

hal hal seperti ini adalah dalil kuat, demikian dalam syariah kita, demikian ditemukan di shahih bukhari, shahih muslim dan seluruh riwayat syariah kita.

3.  bolehkah kita melakukan shalat ghaib kepada orang yang telah meninggal bertahun tahun yang lalu sedangkan kita baru mengetahui kalau orang yang dimaksud sudah meninggal?
jawaban :
sebagian ulama membatasinya hanya 6 bulan, sebagian membatasinya hanya orang yg hidup dimasa kita, dan banyak pendapat lainnya.

4.  kalau berkenan. bolehkah Habibana memberikan penjelasan tentang asal usul shalat di depan makam. misalnya apakah itu bersumber dari Hadits atau dilakukan pada sahabat ataukah Tabi’it tabi’in.?
jawaban :
jawaban : Rasul saw bertanya tentang seorang wanita yg biasa berkhidmat di masjid, para sahabat berkata ia telah wafat, maka Rasul saw marah dan berkata : kenapa tak kalian katakan padaku..??, maka para sahabat menjawab ; ia wafat dimalam hari wahai Rasulullah, kami enggang membangunkanmu untuk hadir jenazahnya, maka Rasul saw minta ditunjukkan makamnya, lalu Rasul saw bertakbir (shalat gaib) didepan makamnya diikuti para sahabat, 4X takbir dg keadaan berdiri lalu bersalam (Shahih Muslim)

riwayat lainnya adalah ketika raja Habsyah (muslim) wafat maka Rasul saw berkata : telah wafat Raja Habsyah dan kita akan akan melakukan shalat untuknya.
inilah sejarah shalat ghaib yg pertama kalinya (Shahih Bukhari).

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,

Wallahu a’lam
http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=5&func=view&id=20245&catid=8

MAJLIS PENGAJIAN INTENSIF KITAB TURATH I’TIQAD ASWJ [Siri 2]

MAJLIS PENGAJIAN INTENSIF KITAB TURATH I’TIQAD ASWJ [Siri 2]


MAJLIS PENGAJIAN INTENSIF KITAB TURATH I’TIQAD ASWJ [Siri 2]
[23 – 24 Mei 2009 / 24-25 Jamadilawwal 1430H]

Anjuran

PERSATUAN KEBANGSAAN PELAJAR ISLAM MALAYSIA (PKPIM),

dan

Kolej Dar Hikmah,Jalan Sungai Ramal Dalam, 43000, Kajang, Selangor Darul Ehsan


OBJEKTIF

  • Menimbulkan kesedaran terhadap kepentingan aqidah dan iman di kalangan belia.
  • Mendedahkan umat Islam mengenai kewajiban beramal dengan ilmu daripada ahli agama Islam yang faqih.
  • Menghidupkan budaya bertalaqqi secara berkitab.
  • Memberi kefahaman tentang konsep dan perlaksanaan nilai-nilai Islam.


TEMA

Menghidupkan Ruhaniah Berlandaskan Pemantapan Akidah.


TARIKH & TEMPAT

23 – 24 Mei 2009 / 24-25 Jamadilawwal 1430H di Kolej Dar Hikmah,Jalan Sungai Ramal Dalam, 43000, Kajang, Selangor Darul Ehsan


TENAGA PENGAJAR

Al-Fadhil Ustaz Hj. Zamihan Mat Zin Al-Ghari

Al-Fadhil Ustaz Ahmad Faidzurrahim

Al-Fadhil Ustaz Mohd Rasyiq Alwi


SASARAN

Seramai 150 orang yang terdiri dari:

  • Ahli Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM)
  • Orang Awam
  • Pelajar IPTA dan IPTS di Lembah Kelang


YURAN

RM 15 [INDIVIDU]

MODUS OPERANDI

Program diadakan selama 2 hari 1 malam. Mengikut kaedah pengajaran kulit ke kulit menggunkan Kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah; Kiyai Haji Siradjuddin Abbas. Terbitan PUSTAKA TARBIYYAH Jakarta, Kitab Mukhtasor dan Kitab Aqidah Ibnu ‘Asakir (Aqidah Mursyidah). [DIJUAL PADA HARI KEJADIAN]

(Talaqqi kitab/Pembentangan/)
TENTATIF PROGRAM

Sabtu (23/05/2009)

7:30 pagi : Sarapan dan Pendaftaran

8:30 pagi : Taklimat & Aluan oleh ;

Saudara Abd. Muntaqqim Bin Zulkifli

Timbalan Presiden PKPIM

9: 15 pagi : Slot 1 : Al-Fadhil Ustaz Ahmad Faidzurrahim

Syarah Kitab Aqidah Muslimin (Diiktiraf Universiti Al-Azhar).

10:45 pagi : Minum pagi

11:00 pagi : Slot 2 : Al-Fadhil Ustaz Ahmad Faidzurrahim

Penjelasan Ajaran Bertentangan Dengan Ahli Sunnah Wal Jama’ah.

12:30 tghari : Makan Tengahari & solat Zohor

2:00 petang : Slot 3 : Al-Fadhil Ustaz Mohd Rasyiq Alwi

Kitab Mukhtasor (1).

4:00 petang : Slot 4 : Al-Fadhil Ustaz Mohd Rasyiq Alwi

Kitab Mukhtasor (2).

6:00 petang : Makan Malam

7:00 malam : Solat Maghrib & Kuliah/Tazkirah & solat Isya’

9:00 malam : Slot 5 : Al-Fadhil Ustaz Mohd Rasyiq Alwi

Penjelasan Bid’ah & Ancaman Terhadap Aqidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah.

9:45 malam: Slot 6 : Al-Fadhil Ustaz Mohd Rasyiq Alwi
Talaqqi & Ijazah Kitab Aqidah Ibnu ‘Asakir (Aqidah Mursyidah).

10:00 malam : Minum malam & Berehat



Ahad (24/05/2009)

4:00 pagi : Qiamullail

6:00 pagi : Solat Subuh /Tazkirah /Sarapan pagi

8:30 pagi : Slot 7 : Al-Fadhil Ustaz Hj. Zamihan Mat Zin Al-Ghari

Syarah Kitab I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah

10:30 pagi : Minum pagi

11:00 pagi : Slot 8 : Al-Fadhil Ustaz Hj. Zamihan Mat Zin Al-Ghari

Syarah Kitab I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah

12:00 tghari : Ulasan & Penutup oleh;

Saudara Mohd Hilmi B. Ramli

Presiden PKPIM

1:00 tghari : Makan Tengahari

2:00 petang : (Check-out)

Sebarang Pertanyaan, Sila Hubungi ;

Saudara Ikhram Husin [019-3731744]

Saudari Izzah Khanani [013-2197192]

…MOHON SEBARAN…


http://almukminun.blogspot.com/2009/05/majlis-pengajian-intensif-kitab-turath.html

melafazkan niat shalat (sebelum Takbir) dan Niat (bersamaan dgn Takbir)

Melafazkan Niat Shalat (Sebelum Takbir) Dan Niat (Bersamaan Dgn Takbir ula)

A. Hukum Dalam Shalat

Melafazdkan Niat dengan lisan (Sebelum Takbir= sebelum shalat) adalah sunnah (tidak wajib) menurut madzab syafei, hambali dan habafi.

Menurut pengikut mazhab Imam Malik (Malikiyah) bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbiratul ihram tidak disyari’atkan kecuali bagi orang yang terkena penyakit was-was (peragu terhadap niatnya sendiri).

Niat (dalam hati bersamaan dengan takiratul ula) adalah wajib.

B. Tujuan melafadzkan niat

Tujuan dari talafudz binniyah menurut kitab-kitab fiqh ahlusunnah adalah :

1. Liyusaa’idallisaanul qalbu (“ Agar lidah menolong hati”)

2. Agar menjauhkan dari was-was

3. Keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya

C. Ayat – ayat Al-qur’an Dasar Talaffudz binniyah (melafadzkan niat sebelum takbir)

Tidaklah seseorang itu mengucapkan suatu perkataan melainkan disisinya ada malaikat pencatat amal kebaikan dan amal kejelekan (Al-qaf : 18).

Dengan demikian melafadzkan niat dgn lisan akan dicatat oleh malaikat sebagai amal kebaikan.

Kepada Allah jualah naiknya kalimat yang baik (Al-fathir : 10).

Malsudnya segala perkataan hamba Allah yang baik akan diterima oleh Allah (Allah akan menerima dan meridhoi amalan tersebut) termasuk ucapan lafadz niat melakukan amal shalih (niat shalat, haji, wudhu, puasa dsb).

D. Hadits-Hadist dasar Dasar Talaffudz binniyah (melafadzkan niat sebelum takbir)

1. Diriwayatkan dari Abu bakar Al-Muzani dari Anas Ra. Beliau berkata :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلّّمَ

يَقُوْلُ لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّاً

“Aku pernah mendengar rasulullah Saw. Melakukan talbiyah haji dan umrah bersama-sama sambil mengucapkan : “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk melaksanakan haji dan umrah”.

”. (Hadith riwayat Muslim – Syarah Muslim Juz VIII, hal 216)).

Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah Saw. Mengucapkan niat atau talafudz binniyah diwaktu beliau melakukan haji dan umrah.

Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Tuhfah, bahawa Usolli ini diqiyaskan kepada haji. Qiyas adalah salah satu sumber hukum agama.

2. Hadits Riwayat Bukhari dari Umar ra. Bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda ketika tengah berada di wadi aqiq :”Shalatlah engkau di lembah yang penuh berkah ini dan ucapkanlah “sengaja aku umrah didalam haji”. (Hadith Sahih riwayat Imam-Bukhari, Sahih BUkhari I hal. 189 – Fathul Bari Juz IV hal 135)

Semua ini jelas menunjukan lafadz niat. Dan Hukum sebagaimana dia tetap dengan nash juga bias tetap dengan qiyas.

3. Diriwayatkan dari aisyah ummul mukminin Rha. Beliau berkata :

“Pada suatu hari Rasulullah Saw. Berkata kepadaku : “Wahai aisyah, apakah ada sesuatu yang dimakan? Aisyah Rha. Menjawab : “Wahai Rasulullah, tidak ada pada kami sesuatu pun”. Mendengar itu rasulullah Saw. Bersabda : “Kalau begitu hari ini aku puasa”. (HR. Muslim).

Hadits ini mununjukan bahwa Rasulullah Saw. Mengucapkan niat atau talafudz bin niyyah di ketika Beliau hendak berpuasa sunnat.

4. Diriwayatkan dari Jabir, beliau berkata :

“Aku pernah shalat idul adha bersama Rasulullah Saw., maka ketika beliau hendak pulang dibawakanlah beliau seekor kambing lalu beliau menyembelihnya sambil berkata : “Dengan nama Allah, Allah maha besar, Ya Allah, inilah kurban dariku dan dari orang-orang yang tidak sempat berkurban diantara ummatku” (HR Ahmad, Abu dawud dan turmudzi)

Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah mengucapkan niat dengan lisan atau talafudz binniyah diketika beliau menyembelih qurban.

E. Pendapat Imam-Imam ahlu sunnah (sunni) mengenai melafadzkan niat

1. Didalam kitab Az-zarqani yang merupakan syarah dari Al-mawahib Al-laduniyyah karangan Imam Qatshalani jilid X/302 disebutkan sebagai berikut :

“Terlebih lagi yang telah tetap dalam fatwa para shahabat (Ulama syafiiyyah) bahwa sunnat melafadzkan niat (ushalli) itu. Sebagian Ulama mengqiyaskan hal tersebut kepada hadits yang tersebut dalam shahihain yakni Bukhari – Muslim.

Pertama : Diriwayatkan Muslim dari Anas Ra. Beliau berkata :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلّّمَ

يَقُوْلُ لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّاً

“Aku pernah mendengar rasulullah Saw. Melakukan talbiyah haji dan umrah bersama-sama sambil mengucapkan : “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk melaksanakan haji dan umrah”.

Kedua, Hadits Riwayat Bukhari dari Umar ra. Bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda ketika tengah berada di wadi aqiq :”Shalatlah engkau di lembah yang penuh berkah ini dan ucapkanlah “sengaja aku umrah didalam haji”.

Semua ini jelas menunjukan lafadz niat. Dan Hukum sebagaimana dia tetap dengan nash juga bias tetap dengan qiyas.”

2. Berkata Ibnu hajar Al-haitsami dalam Tuhfatul Muhtaj II/12

“Dan disunnahkan melafadzkan apa yang diniatkan sesaat menjelang takbir agar supaya lisan dapat menolong hati dan juga untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya walaupun (pendapat yang mewajibkan ini) adalah syaz yakni menyimpang. Kesunatan ini juga karena qiyas terhadap adanya pelafadzan dalam niat haji”.

3. Berkata Imam ramli dalam Nihayatul Muhtaj Jilid I/437 :

“Dan disunnatkan melafadzkan apa yang diniatkan sesaat menjelang takbir agar supaya lisan menolong hati dank arena pelafadzan itu dapat menjauhkan dari was-was dan juga untuk keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya.”

4. DR. Wahbah zuhaili dalam kitab Al-fiqhul islam I/767 :

“Disunnatkan melafadzkan niat menurut jumhur selain madzab maliki.”

Adapun menurut madzab maliki  diterangkan dalam kitab yang sama jilid I/214 bahwa :

“Yang utama adalah tidak melafadzkan niat kecuali bagi orang-orang yang berpenyakit was-was, maka disunnatkan baginya agar hilang daripadanya keragu-raguan”.

F. Niat sebagai Rukun syahnya  Shalat

Rukun-rukun Shalat 13 (tiga belas) perkara dengan menjadikan segala thuma’ninah yang di empat rukun itu lazimnya satu rukun, adapun jikalau dijadikan tiap-tiap thuma’ninah yang di empat rukun itu bahwa ia rukun sendiri-sendiri, maka jadilah bilangan rukun Shalat itu 17 (tujuhbelas) perkara, yaitu:

  1. Niat di dalam hati ketika mengucapkan takbiratul ihram (اَللهُ اَكْبَرُ)

Apabila Shalat Fardhu maka:

  1. wajib qashad, artinya “sajahku Shalat”.
  2. wajib ta’ridh lilfardhiyah, artinya menyebut kata “fardhu”
  3. wajib ta’yin, artinya menentukan waktu “Zhuhur” atau “Ashar” atau lainnya.

Adapun jikalau Shalat Sunnat yang ada waktunya atau ada sebabnya, maka wajib qashad dan wajib ta’yin saja. Sedangkan jikalau Shalat Sunnat yang tidak ada waktu dan tidak ada sebabnya, yaitu nafal muthlaq maka wajib qashad saja, sebagian lagi mengatakan wajib maqarinah ‘arfiyah yaitu wajib mengadakan qashad ta’ridh ta’yin di dalam hati ketika mengucapkan اَللهُ اَكْبَرُ (takbiratul ihram).

Artinya maqarinah ‘arfiyah yakni dengan mengucapkan ketiga-tiganya itu di dalam hati seluruhnya, atau beraturan maka jangan ada yang keluar daripada masa mengucapkan اَللهُ اَكْبَرُ.

Adapun jikalau Shalat berjama’ah maka wajib hukumnya atas ma’mum menambah lagi niat مَأْمُوْمًا (artinya mengikuti imam)

Adapun jikalau Shalat Jum’at maka wajib hukumnya atas imam menambah niat اِمَامًا artinya menjadi imam.

Sedangkan pada Shalat yang lain seperti Shalat Zhuhur atau Ashar atau lainnya, maka hukumnya Sunnah bagi imam niat اِمَامًا.

G. Kesimpulan

Lihatlah bagaimana fatwa dari imam mujtahid dari madzab syafei, hambali dan hanafi bahwa melafadzkan niat adalah sunnah. Sedangkan menurut madzab maliki disunnahkan bagi orang yang berpenyakit was-was.

Hati-hati dengan ucapan fitnah pemecah barisan sunni yakni golongan anti madzab wahhaby yang menebarkan isu khilafiah dan mereka mengambil fatwa bertentangan dengan pegangan majority ummat sunni agar ummat terjauh dari mengikuti ulama yang haq dan terjauh dari kitab imam –imam sunni.

Rujukan :

Al –ustadz Haji Mujiburrahman, Argumentasi Ulama syafei’yah terhadap tuduhan bid’ah, mutiara ilmu Surabaya.

DR. Wahbah zuhaili, kitab Al-fiqhul islam,  Jilid I/214

DR. Wahbah zuhaili, kitab Al-fiqhul islam,  Jilid I/767

Imam ramli,  KitabNihayatul Muhtaj,  Jilid I/437

Ibnu hajar Al-haitsami dalam Tuhfatul Muhtaj II/12

Imam Qatshalani, Kitab Az-zarqani, jilid X/302

Imam bukhari, Kitab Shahih Bukhary, Jilid I/189

Imam Muslim, Kitab Shahih Muslim, Jilid VIII/216

Abu Haidar, Alumni Ponpes Darussa’adah, Gunung Terang, Bandar Lampung

https://salafytobat.wordpress.com

Potret Arab Saudi di Masa Datang : Menghilangkan Jejak Rasulullah & Rubah tempat Sa’i?

Potret Arab Saudi di Masa Datang : Menghilangkan Jejak Rasulullah?


Tahukah anda? Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas?

Arab Saudi, seperti juga negara-negara lain yang bergelimang harta, terus melakukan modernisasi. Selain secara pemikiran, seperti diangkatnya seorang perempuan dalam jajaran kementrian di negara itu, juga pembangunan fisik pun dilakukan. Tetapi, pengembangan Arab Saudi, khususnya kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak memedulikan situs-situs sejarah Islam.

Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya.

Bangunan-bangunan itu dibongkar karena berbagai alasan, namun sebagian besar karena ingin menyesuaikan dengan kota-kota besar di dunia lainnya. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir.

Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.


Beberapa bulan yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah Arab mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.


Jamarat Project – dalam tahap penyelesaian
“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir.


Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994.Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW.


Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata.


Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari. Wallohu alam bi shawab. (sa/skpc/erm)

Tahukah anda? Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas
Makkah sekarang sudah seperti Las Vegas, ” begitulah pernyataan yang dilontarkan Ali al-Ahmad, direktur Institute for Gulf Affairs-lembaga riset oposisi Saudi- yang berbasis di Washington, melihat perkembangan kota suci Makkah saat ini.

Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis, Ka’bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat Muslim sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi.

Menurutnya, perkembangan kota Makkah sekarang adalah sebuah bencana. “Hal ini akan memberikan pengaruh buruk bagi umat Islam. Ketika mereka ke Makkah mereka tidak punya perasaan apapun, tidak ada keunikan lagi. Apa yang anda lihat cuma semen dan kaca, ” ujar Ahmad serius.

Ahmad cukup beralasan melontarkan pernyataannya itu, karena kota Makkah saat ini makin penuh dengan bangunan-bangunan tinggi mulai dari hotel, pusat perbelanjaan dan toko-toko besar yang menjual produk Barat. Sebut saja kedai kopi Starbucks, Cartier and Tiffany, H&M dan Topshop.

Pusat perbelanjaan Abraj Al-Bait ( www.abrajalbait.com ), salah satu mall terbesar di Saudi yang baru dibuka menjelang musim haji bulan Desember 2006 kemarin, nampak megah dengan monitor-monitor televisi flat, cahaya lampu-lampu neon, dengan pusat hiburan, resto-resto cepat saji, bahkan toko pakaian dalam.

Pusat perbelanjaan itu, nantinya juga akan dilengkapi dengan kompleks hotel yang menjulang tinggi. Bahkan kompleks bangunan yang rencananya selesai tahun 2009 nanti, akan menjadi gedung tertinggi ketujuh di seluruh dunia, dilengkapi dengan fasilitas rumah sakit dan tempat sholat yang luas.

Seluruh pegunungan di dekat Jabal Omar, kini sudah diratakan. Di lokasi itu juga akan dibangun kompleks hotel dan lebih dari 130 gedung-gedung tinggi baru.

Kota Makkah yang menyandang sebutan kota suci dan menjadi pusat ibadah haji umat Islam di seluruh dunia, ketenangan dan kekhusyuk-annya makin terkikis, Ka’bah yang terletak di tengah masjid Haram dan menjadi arah sholat Muslim sedunia, semakin tenggelam oleh berdirinya gedung-gedung tinggi.

Ini adalah akhir dari Makkah, ” kata Irfan Ahmad dari London, pendiri Islamic Heritage Foundation, yang secara khusus aktivitasnya mempertahankan peninggalan-peninggalan bersejarah di Makkah, Madinah dan tempat-tempat lainnya di Arab Saudi.

“Sebelumnya, bahkan pada masa Ustmani, tak satu pun gedung-gedung di Makkah yang tingginya melebihi tinggi Masjid Haram. Sekarang, banyak gedung yang lebih tinggi dari Masjid Haram dan tidak menghormati keberadaan masjid itu, ” tukas Irfan.

Uang, tentu saja menjadi motivasi utama boomingnya gedung-gedung tinggi di Makkah. Karena setiap tahun, kota itu dibanjiri oleh para jamaah haji. Papan-papan iklan di sepanjang jalan menuju Makkah, seolah menjadi daya tarik bagi para investor yang mencari keuntungan dari usaha penginapan.

Sejumlah organisasi Islam mengatakan, berdirinya gedung-gedung megah di kota Makkah, juga dilatarbelakangi motif agama. Mereka menuding pemerintah Saudi mengizinkan kelompok konservatif untuk menghancurkan tempat-tempat bersejarah dengan alasan khawatir tempat itu justeru disembah-sembah oleh para pengunjung.

Ahmad dari Islamic Heritage Foundation mengaku punya kalatog lebih dari 300 tempat-tempat bersejarah di Arab Saudi, termasuk pemakaman dan masjid-masjid. Ia mengatakan, sebuah rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan dihancurkan untuk membangun tempat kamar mandi.

“Sama sekali tidak menghormati Kabah, tidak menghormati rumah Tuhan atau lingkungan dari tempat-tempat bersejarah itu, ” kata Sami Angawi, seorang arsitek Saudi yang ingin mempertahankan peninggalan bersejarah di Makkah.

“Padahal, memotong pohon saja seharusnya tidak boleh dilakukan di kota ini, ” sambungnya.

Kemajuan kadang memang harus dibayar mahal. Bahkan pasar malam, di mana para jamaah bisa menjual barang-barang yang dibawanya, kini sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan keluarga-keluarga di Makkah yang biasa menyambut para jamaah haji, sudah tidak terlihat lagi sejak rumah-rumah mereka digusur untuk perluasan Masjid Haram di era tahun 1970-an.

Angawi kini berusaha melakukan pendekatan pada kerajaan Arab Saudi agar memberi perhatian besar atas penghancuran tempat-tempat bersejarah. Ahmad melobi pemerintah-pemerintah negara Asia dan Arab untuk menghentikan penghancuran yang dilakukan pemerintah Saudi. Kedua tokoh ini menyayangkan kurangnya kepedulian umat Islam atas isu-isu ini. Kepentingan bisnis dan uang mengalahkan segala-galanya.

“Makkah tidak pernah berubah seperti sekarang ini. Apa yang anda lihat sekarang baru 10 persennya saja dari apa yang akan ada, yang akan jauh lebih, lebih buruk lagi, ” kata Angawi risau. (ln/IHT/eramuslim)

su Besar Tempat Sa’ie


PERUBAHAN TEMPAT SA’IE ISU BESAR PERLU DIJELASKAN

Oleh: Abu Syafiq 006 012 2850578

Sebelum ini saya pernah menulis berkaitan perubahan yang berlaku pada tempat sa’ie (Mas’a) yang merupakan syiar Allah dalam beribadatan haji dan umrah. Pada tahun lepas kerajaan Saudi telah bertindak merobohkan tempat sa’ie yang lama (yang sah dinamakan Mas’a) kemudian dibina tempat sa’ie yang baru dan diperluaskan lagi lebarnya satu kali ganda sehingga terkeluar dari landasan ukuran lebar yang ditentukan oleh syarak (dinamakan Tausi’ah)tanpa meneliti kajian yang tepat hanya berdasarkan syubhah yang tertolak.

Pada masa yang sama kita dapati ramai dikalangan pelajar dan pengajar kurang mahir dalam pengkajian pada perubahan yang berlaku di tempat sa’ie lantas mereka tidak mengkaji secara telus hanya menyerah kepada jawapan atau fatwa yang dikeluarkan oleh mana-mana individu atau jabatan dan dukacita didapati beberapa jawapan yang mereka terima itu hakikatnya tidak berdasarkan kaedah feqhiyyah yang tepat bahkan lebih hampir kepada ianya bercanggah dengan Al-Quran, Al-Hadith, Ijma’ dan Qawa’id Fiqhiyyah itu sendiri. Alasan mereka yang mengharuskan perluasan tempat sa’ie dilihat hanya berkisarkan slogan “Memudahkan Jangan Menyusahkan”.
Amat memalukan mereka yang diperakui keilmuannya tidak mengikut disiplin ilmu dalam menuturkan satu hukum sehingga mengharuskan perluasan tempat sa’ie walaupun ianya adalah tawqify (ditetapkan syarak tidak boleh ijtihad).

Apapun berlaku seorang muslim harus merenung, memikirkan dan wajib bertindak dalam memelihari agama yang suci murni ini. Hadith Nabi yang masyhur: “ Sesiapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah ia dengan kuasanya jika tidak dengan lidahnya jika tidak mampu jua maka dengan hatinya ” dan perubahan pada pelebaran tempat sa’ie adalah satu jenayah yang tidak harus dibisukan. Bukan tidak menghormati pemerintah disana tetapi syarak lebih aula lagi utama untuk ditegakkan.

Saya kesal setelah beberapa rombongan haji pulang ke tanah air baru-baru ini ketika sempat saya bertanyakan kepada mereka berkaitan tempat sa’ie. Kebanyakan mereka mengatakan “kami melakukan sa’ie antara Sofa dan Marwah ditempat dan kawasan baru yang dibina dan diperluaskan itu”. Saya sangat sedih kerana perkara ini berkaitan peribadatan mereka sendiri lantas saya perjelaskan kepada mereka isu sebenar dan tindakan susulan bagi menjaga ibadah haji mereka. Bayangkan berapa juta manusia yang pergi haji dan umrah baru-baru ini? Sudah pasti ramai yang tidak tahu terus melakukan sa’ie ditempat yang baru itu. Allah!

Sudah pasti soalan yang timbul. Adakah haji dan umrah mereka tidak sah? Apakah tindakan sewajarnya? Jawapan ringkas yang saya boleh berikan adalah mereka yang melakukan ibadah haji atau umrah ketikama mana mereka melakukan sa’ie itu diluar kawasan sa’ie yang sahih maka hukum bersa’ie mereka itu tidak sah. Inilah yang telah dinaskan oleh Imam Asy-Syafi’e dan para ulama. Sekarang ini yang telah berlaku tempat sa’ie tersebut telah diperlebarkan sehingga terkeluar dari ukuran syarak dan ramai yang melakukan sa’ie dikawasan yang tidak sah itu setelah pemerintah disana memperlebarkan tempat sa’ie (mas’a) sehingga melebihi ukuran lebar syarak. Ada pula yang mendakwa kononnya lebar tempat sa’ie itu tidak pernah ditentukan oleh sesiapa pun lantas dinukilkan beberapa kenyataan para ulama tanpa tadqiq dan tahqiq.

Sedangkan hakikatnya lebar ukuran Sofa dan Marwah itu telah ditentukan oleh ramai ulama berdasarkan sejarah dan sabda Rasulullah sollallahu ‘alaihiwasallam antara mereka Imam An-Nahrawaniy (w 990H) dalam kitab Al-I’lam Bi ‘Alam Baitillihil Haram dan ulama Islam pengaji sejarah yang terkenal Al-Azroqy dalam Akbar Makkah dan lain-lain ulama.
Perlu diingatkan ukuran tempat sa’ie bukanlah perkara ijtihadiy tetapi ianya tauqifiy iaitu tidak boleh seseorang walaupun seorang ulama mujtahid mengubah tempat’ sa’ie tersebut atau diperluaskan sehingga keluasan yang amat besar sepertimana sekarang ini yang berlaku.

Untuk kali ini saya tinggalkan pembaca dengan keputusan Fatwa Saudi sendiri menolak perluasan tempat sa’ie itu sendiri :

KEPUTUSAN RASMI MAJLIS FATWA SAUDI ARABIA BERKAITAN PERLEBARAN TEMPAT SA’IE YANG BARU ITU ADALAH IANYA HARAM DIPERLEBARKAN DAN MEMADAI DENGAN DIBINA BERTINGKAT TINGAT DAN JANGAN DIPERLUASKAN UKURAN LEBARNYA KERANA BERCANGGAH DENGAN SYARAK.
KEPUTUSAN BIL (227) BERTARIKH 22/ 2 1427H.

………

* Walaupu ia fatwa dari negara yang terkenal disana akan kewujudan beberapa orang berfikrah kewahabiyatan mereka. Tetapi pada keputusan tersebut terdapat kebenaran yang telahpun lama jelas dikalangan para tokoh-tokoh ulama Islam yang telah lama mengkaji antaranya Tuan Guru Dr. Syeikh Toha Ad-Dasuqy yang merupakan juga Prof dan Dekan Qism Aqidah Wal Falsafah Kuliyyah Usuluddin Kaherah Universiti Al-Azhar Mesir dan ramai lagi. Fatwa tersebut hanya sekadar susulan sokongan pada kajian yang telah dibuat dan bukan mempersetujui aqidah Wahhabi. Maha suci Allah dari sifat makhluk dan sifat duduk.

Nantikan penjelasan isu penting ini lagi pada penulisan mendatang….

http://www.abu-syafiq.blogspot.com

Kubur Nabi-nabi dlm Masjid? Bagaimana Sembahyang didlmnya?

Kubur Nabi-nabi dlm Masjid? Bagaimana Sembahyang didlmnya?

1.Adakah hadis-hadis yang Sahih atau Hasan yang menyatakan terdapatnya Kubur Nabi-nabi berada dalam masjid-masjid?.

2. Adakah sah bersembahyang dimasjid yang didalamnya terdapat kubur?.

JAWAB:
Soalan 1:

قبور الأنبيأ –عليهم الصلاة- التى بمسجد الخيف


أخرج البزار فى مسنده( كشف الأستار 1177) والطبرانى فى أكبر معاجمعه
( 12\316, 13525) وهو فى مشيخه ابن طهمان جميعهم من حديث ابراهيم بن طهمان عن منصور عن مجاهد عن ابن عمر رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

فى مسجد الخيف قبر سبعين نبيا
Didalam Masjid Khaif (Mina) terdapat 70 Kuburan Para Nabi- alaihimussholatuwassalam.


قال البزار : لا نعلمه عن ابن عمر بأحسن من هذا, تفرد به ابراهيم و عمرعن منصور


قال الحافظ ابن حجر فى (( مختصر زوائد )) رقم 713 (( وهو اسناد صحيح ))

Berkata : AlHafiz Ibnu Hajar dalam Mukhtasar Zawaid no 713 ” Iaitu Isnadnya Sohih”.


و قال الحافظ الهيثمى فى – المجمع- (3\297) رواه البزار: ورجاله ثقات

Berkata al hafiz Al Haisthami dalam “Majma” (2\297) “Telah meriwayatkannya al Bazzar, Dan Rijalnya adalah Thiqaat (kepercayaan) “.


فهذا الاسناد رجاله ثقات , وهو غاية فى الصحة , بل هو صحيح على شرط الشيخين , فلله دَرّ هذين الحافظين الجليلين


Soalan 2.

Jikalau kubur tersebut adalah sebahagian dari Masjid, maka tidak harus (Bhs Indonesia tidak boleh).

Tetapi kalau Kubur berada didalam/pinggiran/sebelah masjid,( maka tidak jadi masalah besembahyang disitu. Sah sembahyang .

Melainkan jika kubur berada diarah kiblat depan masjid , maka makruh sembahyang dimasjid begitu disisi ulamak mazhab Hanafi. wallahu a’lam.
Terlebih jelas keharusannya (Bhs Indonesia = Boleh) , jika kubur hanya berada diruangan yang dikhaskan dengan berdinding yg hanya berada disisi masjid seperti MASJID NABAWI, MASJID DISISI MAKAM IMAM SHAFIE, MASJID DISISI MAKAM KEPALA SAYYDINA HUSIN R.A. DAN SEBAGAINYA. Maka tak ada masalah langsung dan tidak ada kena mengena langsung dengan hadis-hadis yg larang jadikan kuburan tempat sembahan. Wallahu a’lam.
——————————————————————————————
Jawaban Habib MUnzir tentang ziarah kubur dan Makam para Nabi :

http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=1&func=view&id=14131&catid=9
Mengenai membangun diatas kuburnya tempat ibadah

Berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar : “Berkata Imam Al Baidhawiy : ketika orang yahudi dan nasrani bersujud pada kubur para nabi mereka dan berkiblat dan menghadap pada kubur mereka dan menyembahnya dan mereka membuat patung patungnya, maka Rasul saw melaknat mereka, dan melarang muslimin berbuat itu, tapi kalau menjadikan masjid di dekat kuburan orang shalih dengan niat bertabarruk dengan kedekatan pada mereka tanpa penyembahan dg merubah kiblat kepadanya maka tidak termasuk pada ucapan yg dimaksud hadits itu”(Fathul Bari Al Masyhur Juz 1 hal 525)

Kita akan lihat ucapan para Imam :
1. Berkata Guru dari Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu Imam Syafii rahimahullah : “Makruh memuliakan seseorang hingga menjadikan makamnya sebagai masjid, (*Imam syafii tidak mengharamkan memuliakan seseorang hingga membangun kuburnya menjadi masjid, namun beliau mengatakannya makruh), karena ditakutkan fitnah atas orang itu atau atas orang lain, dan hal yg tak diperbolehkan adalah membangun masjid diatas makam setelah jenazah dikuburkan, Namun bila membangun masjid lalu membuat didekatnya makam untuk pewakafnya maka tak ada larangannya”. Demikian ucapan Imam Syafii (Faidhul qadir Juz 5 hal.274).

2. Berkata Imam Al Muhaddits Ibn Hajar Al Atsqalaniy : “hadits hadits larangan ini adalah larangan shalat dg menginjak kuburan dan diatas kuburan, atau berkiblat ke kubur atau diantara dua kuburan, dan larangan itu tak mempengaruhi sah nya shalat, (*maksudnya bilapun shalat diatas makam, atau mengarah ke makam tanpa pembatas maka shalatnya tidak batal), sebagaimana lafadh dari riwayat kitab Asshalaat oleh Abu Nai’im guru Imam Bukhari, bahwa ketika Anas ra shalat dihadapan kuburan maka Umar ra berkata : kuburan..kuburan..!, maka Anas melangkahinya dan meneruskan shalat dan ini menunjukkan shalatnya sah, dan tidak batal. (Fathul Baari Almayshur juz 1 hal 524).

Darisini diambil kesimpulan bahwa shalat menghadap kuburan tidak haram dan tetap sah shalatnya, namun makruh, dan makruh adalah tidak dosa bila dikerjakan dan mendapat pahala bila ditinggalkan.

Berkata Imam Al Baidhawiy : bahwa Kuburan Nabi Ismail as adalah di Hathiim (disamping Miizab di ka’bah dan di dalam masjidilharam) dan tempat itu justru afdhal shalat padanya, dan larangan shalat di kuburan adalah kuburan yg sudah tergali (Faidhulqadiir Juz 5 hal 251)

jelaslah bahwa yg dimaksud shalat menghadap kuburan adalah yg langsung berhadapan dengan kuburan yg telah digali, bukan kuburan yg tertutup tembok atau terhalang dinding.

Rasul saw menyalatkan seorang yg telah dikuburkan, beliau shalat gaib menghadap kuburannya tanpa dinding atau penghalang, yaitu langsung menghadap kuburan

Maka telah jelas bahwa larangan adalah :
• Membangun masjid diatas kuburan untuk menyembah kuburan para nabi.
• Larangan membangun masjid yg “sengaja” menghadapkan kiblatnya ke kuburan untuk menyembahnya.

Kita memahami bahwa Masjidirrasul saw itu diperluas dan diperluas, namun bila saja perluasannya itu akan menyebabkan hal yg dibenci dan dilaknat Nabi saw karena menjadikan kubur beliau saw ditengah tengah masjid, maka pastilah ratusan Imam dan Ulama dimasa itu telah memerintahkan agar perluasan tidak perlu mencakup rumah Aisyah ra (makam Rasul saw),

Perluasan adalah di zaman khalifah Walid bin Abdulmalik sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, sedangkan Walid bin Abdulmalik dibai’at menjadi khalifah pd 4 Syawal th 86 Hijriyah, dan ia wafat pada 15 Jumadil Akhir pd th 96 Hijriyah

lalu dimana Imam Bukhari? (194 H – 256 H), Imam Muslim? (206 H – 261H), Imam Syafii? (150 H – 204 H), Imam Ahmad bin Hanbal? (164 H – 241 H), Imam Malik? (93 H – 179 H), dan ratusan imam imam lainnya?, apakah mereka diam membiarkan hal yg dibenci dan dilaknat Rasul saw terjadi di Makam Rasul saw?, anda kira orang yg beriman itu hanya sahabat kah?, lalu Imam Imam yg hafal ratusan ribu hadits itu adalah para musyrikin yg bodoh dan hanya menjulurkan kaki melihat kemungkaran terjadi di Makam Rasul saw??, munculkan satu saja dari ucapan mereka yg mengatakan bahwa perluasan Masjid nabawiy adalah makruh.
TIDAK ADA..! itu hanya muncul dari kedangkalan pemahaman anda.

Justru inilah jawabannya, mereka diam karena hal ini diperbolehkan, bahwa orang yg kelak akan bersujud menghadap Makam Rasul saw itu tidak satupun yg berniat menyembah Nabi saw, atau menyembah Abubakar ra atau Umar bin Khattab ra, mereka terbatasi dengan tembok, maka hukum makruhnya sirna dengan adanya tembok pemisah, yg membuat kubur2 itu terpisah dari masjid, maka ratusan Imam dan Muhadditsin itu tidak melarang perluasan masjid Nabawiy.

Kenapa Ulama Guna Istilah “Bid’ah Dholalah” Bukan “sunnah sayyi’ah”

Kenapa Ulama Guna Istilah “Bid’ah Dholalah dgn bid’ah hasanah” Bukan “sunnah sayyi’ah dgn sunnah hasanah”

FAHAMAN YANG SAHIH PADA AL- SUNNAH DAN AL- BID’AH.
Disediakan

OLEH :
AL-USTAZ ABD RAOF AL-BAHANJI AL-ALIYY.
http://pondoktampin.blogspot.com

Al-Sunnah dan al-Bid’ah adalah dua perkara yang berlawanan pada tuturan Soohib al- Syara’ , maka tidak dapat didefinasikan salah-satu dari keduanya melainkan dengan mendefinasikan pasangannya, dengan makna bahawa keduanya adalah saling berlawanan, (dengan sebab berlawanan definasi, ternyata segala perkara). Sesungguhnya kebanyakan pengarang telah mendefinasikan makna al-Bid’ah terlebih dulu dari al-Sunnah , maka sebab itu mereka jatuh kejurang yang sempit yang tidak mampu untuk keluar darinya dan berlumuran dengan dalil-dalil yang bercanggah dengan penta’rifan al- Bid’ah mereka . Jika mereka mendahulukan definasi al-Sunnah nescaya mereka dapat keluar dari kekeliruan dengan dhobith- dhobith yang tidak bercanggahan. Rasulullah s.a.w dalam hadis-hadis berkenaannya, bersungguh-sungguh mendahulukan mendefinasikan al-Sunnah , kemudian barulah dengan pasangannya yang berlawanan iaitu al-Bid’ah , seperti yang dilihat dalam hadis-hadis yang berikut:

1. Hadis Jabir disisi Muslim:

كان رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إذا خطب احمرت عيناه وعلا صوته : ويقول أما بعد فأن خير الحديث كتاب الله خير الهدى هدى محمد صلى الله عليه وآله وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثه بدعة وكل بدعة ضلالة

{ Adalah Rasulullah apabila berkhutbah , merah kedua mata baginda dan meninggi suara. Baginda bersabda : Amma ba’du ,maka sebaik-baik hadis itu adalah Kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan sejahat –jahat perkara adalah perkara baru. Tiap-tiap perkara baru adalah Bid’ah , dan setiap bid’ah adalah sesat.}. AL-Bukhari telah mentakhrijkannya sebagai mawquf atas Ibnu Mas’ud.

2. Menjelaskannya lagi oleh hadis Irbadh disisi Abi Daud dan al-Tirmizi , al-Tirmizi berkata Hasan Sahih , Ibnu Majah dan selain beliau
وعظنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم موعظة بليغة وجلت منها القلوب ودرفت منها العيون فقلنا يا رسول الله كأنها موعظه مودع فأوصنا فقال : أوصيكم بتقوى الله عز وجل والسمع وان تأمر عليكم عبد حبشي فأنه من يعش بعدي فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فان كل بدعة ضلالة

{Rasulullah s.a.w, telah memberi wa’adz kepada kami satu wa’adz yang hebat sehingga hati kami berasa takut dan mata, maka kami berkata ” Wahai Rasulullah , seolah-olahnya wa’adz ini untuk yang terakhir, wasiatkankan kami . Baginda bersabda : Daku berwasiat kepada kamu dengan bertakwa kepada Allah s.w.t dan dengarlah (patuhilah amir ) sekalipun bahawa memerintahkan kamu oleh seorang Habsyhi , Sesungguhnya….. sesiapa yang sempat hidup selepas wafatku akan melihat pertelingkahan yang banyak . Maka lazimkan olehmu berpegang dengan al-Sunnahku dan Sunnah al-Khulafa al- Rashidin al- Mahdiyyin , gigitlah ia dengan gigi gerham . Jaga-jagalah akan perkara-perkara baru, maka sesungguhnya setiap yang bid’ah adalah sesat}.

3. Telah menjelaskannya lagi oleh hadis Muslim dari Jarir r.a:
من سن في الإسلام سنة حسنة فله اجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شئ ومن سن في الإسلام سنه سيئة كان عليه وزرها ووز من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من اوزارهم شئ

{Sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang baik didalam Islam, maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala sesiapa yang beramal dengan (SUNNAH) nya selepas (kematian) nya.Tidak berkurang pahalanya sedikitpun. (Sebaliknya) sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang buruk , adalah dosa atasnya dan dosa mereka yang beramal dengan (SUNNAH BURUK) nya selepas (kematian) nya, tidak berkurang sedikitpun dosa-dosa mereka yang akan ditanggungnya).}

Seumpama hadis-hadis ini ada lagi hadis-hadis lain yang beredar disekitarnya . Salahsatunya hadis riwayat Ibnu Masud r.a:
( من دل على خير فله مثل أجر فاعله )

{Sesiapa yang menunjjukan perkara kebaikan maka baginya seumpama pahala orang yang melakukannya.}.

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص من أجورهم شئ ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الآثم

{Sesiapa yang menyeru kepada petunjuk , nescaya dia mendapat pahala seumpama pahala mereka yang mengikutinya ,tidak ada kurang pahalanya sedikitpun. Sesiapa yang menyeru kepada kesesatan ,adalah ia mendapat dosa….. hingga akhir hadis…}.

Cublah kita perhatikan pada susunan ayat hadis-hadis tersebut. Nabi s.a.w telah mendahulukan anjuran menuruti Sunnah/petunjuk kemudian barulah diikuti tegahan bid’ah/kesesatan.. disetiap kalimat yang datang dari Penghulu Segala Rasul ,adalah hikmat dan makna yang perlu diperhatikan dengan teliti . Jangan gopoh dan melulu membuat kesimpulan .Perhatikanlah dan telitilah pada hadis yang pertama lawan bagi- “Perkara baru (al-muhdath) dan al-Bid’ah” – adalah- “Petunjuk Nabawi”-, dan bahawa petunjuk Rasul adalah sebaik-baik petunjuk . dan sejahat-jahat perkara baru yang bertentangan bagi petunjuk adalah bid’ah.

Hadis yang kedua ini :

.عليكم بسنتي وسنة الخلفاء … الخ
. واياكم ومحدثان الأمور فأن كل محدثة بدعة

dan pada hadis yang ketiga – “al-Sunnah yang baik (al-sunnah al-Hasanah)”- dilawankan -dengan “al-Sunnah yang buruk ( al-Sunnah al-Sayyiah)”;
من سن سنة حسنة ومن سن سنة الحسنة مقابل بالسنة السيئة من سن سنة حسنة ومن سن سنة سيئة

Oleh itu, “al-Sunnah” yang disebut diawal hadis-hadis tersebut adalah merupakan “Asal” atau punca , sedangkan perkara yang keluar atau terbit atau dikatakan furu’ dari asalnya,disebut
“al-Bida’h”.

Kemudian marilah kita menyelidik , apakah yang dimaksudkan dengan “al-Sunnah” yang telah dilawankan dengan pasangannya “al-Bid’ah” didalam hadis riwayat al-Irbadh tersebut?.

“Al-Sunnah” pada sisi bahasa Arab dan disisi Syara’ bermakna “al-Thoriqah” iaitu “Petunjuk Rasul s.a.w” . Pentakrifan begitu sebenarnya adalah yang paling tepat sebab ianya telah diambil dari sisi pihak matan Hadis-hadis tersebut sendiri .

Lihatlah saja pada kalimat dalam hadis Jabir :
من دعا إلى هدى

(Sesiapa yang telah menyeru kepada “Petunjuk” Rasul s.a.w )…

Satu lagi pada hadis Sahih yang Masyhur :
لتتبعن سنن من قبلكم

(Nanti kamu akan mengikuti sunnah-sunnah mereka yang terdahulu dari kamu)

– maksudnya – Thoriqah mereka- .

Demikian juga hadis: (Sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang baik didalam Islam…(Sebaliknya) sesiapa yang melakukan satu SUNNAH yang jahat) iaitu maksudnya adalah “Thoriqah- seperti makna-makna hadis dulu juga..

Maka Thoriqah Rasul s.a.w adalah PetunjukNya (al-Huda), samada menerimanya atau menolaknya adalah disebut juga al-Sunnah yang yang dimaksudkan dan ditafsirkan oleh hadis Jabir r.a dengan – Sunnah yang Baik- dan Sunnah yang jahat- iaitu Thoriqah yang baik atau Thoriqah kejahatan atau Petunjuk yang baik dan Petunjuk yang jahat. Disebut juga method.

Mendefinasikan al-Sunnah dalam hadis-hadis tersebut dengan makna-makna lain , seperti mana definasi “al-Sunnah” dalam ilmu Musthalah dan ilmu Usul Fiqh atau ilmu Fiqh , adalah kekeliruan yang membawa kepada bencana yang dahsyat dalam arena keilmuan.

1.Takrif al-Sunnah disisi ilmu Musthalah memaksudkan “hadis-hadis”.

2.Takrif al-Sunnah disisi ilmu Fiqh dan Usulnya, bermaksud Muqobil (lawanan) bagi “al-Waajib”.

Kedua-dua bentuk takrifan tesebut adalah bertentangan dan tidak menepati kehendak-kehendak hadis-hadis yang berkaitan. Kerana takrif al-Sunnah pada sisi kedua-dua bidang tersebut adalah bukan makna-makna yang difaham dari hadis-hadis yang berkaitannya. Bahkan yang dimaksudkan dengan “al-Sunnah” atau “Sunnatur Rasul” disisi hadis-hadis tersebut adalah -ThoriqahNya- pada Perbuatan, Perintah, Menerima dan Menolak – ianya juga merupakan Thoriqah Khalifah-khalifahnya (Khulafaa al-Raashidin) , yang telah mengikuti ThoriqahNya pada Perbuatan, Perintah, Menerima dan Menolak.

Saya menegaskan , jika dipakai makna ayat “Sunnatun Hasanatun dan Sunnatun Sayyiatun” sebagai makna 2 takrifan yang tersebut adalah yang betul dan menepati kehendak lafaz hadis tersebut?, maka timbul kemuskilan yang besar pula, iaitu ” adakah pernah dijumpai dimana-mana petunjuk dalil bahawa terdapatnya satu contoh Sunnah Jahat (Sunnatun Sayyiatun) dalam Perbuatan, perkataan dan cita-cita Nabi s.a.w????? “. maka fikirkanlah dan kajilah dengan melalui method yang wajar.

Lampiran (dari admin salafytobat) :

1. Ayat al-qur’an

Bid’ah Huda (baik) dan Bid’ah Dlalalah (sesat). Allah ta’ala berfirman:
( (ورهبانية ابتدعوها ما كتبناها عليهم إلا ابتغاء رضوان الله) (سورة الحديد : 27
Maknanya: “… dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya)
untuk mencari keridlaan Allah” (Q.S. al Hadid: 27) >>>> lihat dalam ayat ini : ini fi’il atau kata kerja yg artinya mengada-adakan ,(lafadz bid’ah adalah kata isim (benda))
Allah memuji perbuatan para pengikut nabi Isa ‘alayhissalam yang muslim, yaitu melakukan rahbaniyyah (menjauhkan diri dari hal-hal yang mendatangkan kesenangan nafsu, supaya bisa berkonsentrasi penuh dalam melakukan ibadah), padahal hal itu tidak diwajibkan atas mereka. Hal ini mereka lakukan sematamata

2. Menurut Imam Syafi’i tentang pemahaman bid’ah ada dua riwayat yang menjelaskannya.

Pertama, riwayat Abu Nu’aim;

اَلبِدْعَة ُبِدْعَتَانِ , بِدْعَة ٌمَحْمُودَةٌ وَبِدْعَةِ مَذْمُوْمَةٌ فِيْمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُومْ.

‘Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah, maka itulah bid’ah yang terpuji sedangkan yang menyalahi sunnah, maka dialah bid’ah yang tercela’.Kedua, riwayat Al-Baihaqi dalam Manakib Imam Syafi’i :

. اَلمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ, مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا اَوْ سُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ

وَمَا اُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا ِمْن ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٌ

‘Perkara-perkara baru itu ada dua macam. Pertama, perkara-perkara baru yang menyalahi Al-Qur’an, Hadits, Atsar atau Ijma’. Inilah bid’ah dholalah/ sesat. Kedua, adalah perkara-perkara baru yang mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan salah satu dari yang disebutkan tadi, maka bid’ah yang seperti ini tidaklah tercela’.

Menurut kenyataan memang demikian, ada bid’ah yang baik dan terpuji dan ada pula bid’ah yang buruk dan tercela. Banyak sekali para Imam dan ulama pakar yang sependapat dengan Imam Syafi’i itu. Bahkan banyak lagi yang menetapkan perincian lebih jelas lagi seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu ‘Abdussalam, Imam Al-Qurafiy, Imam Ibnul-‘Arabiy, Imam Al-Hafidh Ibnu Hajar dan lain-lain.

Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa bid’ah itu adalah segala praktek baik termasuk dalam ibadah ritual maupun dalam masalah muamalah, yang tidak pernah terjadi di masa Rasulullah saw. Meski namanya bid’ah, namun dari segi ketentuan hukum syari’at,, hukumnya tetap terbagi menjadi lima perkara sebagaimana hukum dalam fiqih. Ada bid’ah yang hukumnya haram, wajib, sunnah, makruh dan mubah.

Menurut Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari 4/318 sebagai berikut: “Pada asalnya bid’ah itu berarti sesuatu yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului. Menurut syara’ bid’ah itu dipergunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan sunnah, maka jadilah dia tercela. Yang tepat bahwa bid’ah itu apabila dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka dia menjadi baik dan jika dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap jelek oleh syara’, maka dia menjadi jelek. Jika tidak begitu, maka dia termasuk bagian yang mubah. Dan terkadang bid’ah itu terbagi kepada hukum-hukum yang lima”.

Pendapat beliau ini senada juga yang diungkapkan oleh ulama-ulama pakar berikut ini :

Jalaluddin as-Suyuthi dalam risalahnya Husnul Maqooshid fii ‘Amalil Maulid dan juga dalam risalahnya Al-Mashoobih fii Sholaatit Taroowih; Az-Zarqooni dalam Syarah al Muwattho’ ; Izzuddin bin Abdus Salam dalam Al-Qowaa’id ; As-Syaukani dalam Nailul Author ; Ali al Qoori’ dalam Syarhul Misykaat; Al-Qastholaani dalam Irsyaadus Saari Syarah Shahih Bukhori, dan masih banyak lagi ulama lainnya yang senada dengan Ibnu Hajr ini yang tidak saya kutip disini.

3. Bid’ah menurut wahhaby???

Ada golongan lagi yang menganggap semua bidáh itu dholalah/sesat dan tidak mengakui adanya bidáh hasanah/mahmudah, tetapi mereka sendiri ada yang membagi bidáh menjadi beberapa macam. Ada bidáh mukaffarah (bidáh kufur),  bidáh muharramah (bidáh haram) dan bidáh makruh (bidáh yang tidak disukai). Mereka tidak menetapkan adanya bidáh mubah, seolah-olah mubah itu tidak termasuk ketentuan hukum syariát, atau seolah-olah bidáh diluar bidang ibadah tidak perlu dibicarakan

Pemalsuan pendapat salaf oleh wahhaby dengan kedok Takhrij dan mukhtarat (meringkas)

Tanyakan Kpd Org2 Wahabi: Beranikah Kalian Menyesatkan Ibnu Taimiyah Yg Telah Membagi Bid’ah Kepada 2 Macam???

Kaum Wahabi mengatakan bahwa pembagian bid’ah kepada 2 bagian; bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah adalah pembagian batil (sesat), sementara Ibnu Taimiyah; “Imam tanpa tanding meraka”, mengatakan bahwa bid’ah terbagi kepada 2 bagian di atas. Dari sini anda katakan kepada orang-orang Wahabi itu; “Apakah kalian akan mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah sesat ahli bid’ah??? Terhadap para ulama Ahlussunnah; seperti Imam an-Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Imam al-‘Izz ibnu Abdissalam, dan lainya; kalian berani mengatakan bahwa mereka sesat karena membagi bid’ah kepada 2 bagian di atas??? Apakah kalian mengatakan Ibnu Taimiyah sesat karena telah membagi bid’ah kepada 2 baian; bid’ah hasanah, dan bid’ah sayyi’ah”???

Orang-orang Wahabi “mati kutu”….!!!!

Berikut ini adalah tulisan Ibnu Taimiyah dalam membagi bid’ah kepada 2 bagian tersebut dalam kitab karyanya berjudul “Muwafaqah Sharih al-MMa’qul Li Shahih al-Manqul”, silahkan dicek…..!!!

Kitab : “Muwafaqah Sharih al-MMa’qul Li Shahih al-Manqul”

Penulis : Ibnu taymiyah

Halaman : 144 – 145

Tarjamah :  ” Berkata Imam Syafi’i ra. : Bidah terbagi menjadi dua, (1) bidah yang menyalahi perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah dlolalah. (2)  sedangkan Bid’ah yang bidah yang tidak menyalahi (sesuai) dengan perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah hasanah.

Pemalsuan pendapat ulama  antek wahhaby

1). AL-ALBANY MENGKAFIRKAN IMAM BUKHARY

AL-ALBAANY MENGKAFIRKAN IMAM BUKHARY

بيان الحق وكشف أهل الضلال بسم لله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, المنـزه عن الشبيه والمثيل والزوجة والولد والإخوان، الموجود بلا جهة ولا مكان، المنـزه عن كل ما لا يليق به من الصفات والنعوت، والملك القهار ذي الجلال والجبروت، وأفضل الصلاة وأتم السلام على سيدنا محمد خير الأنام، وخاتم أنبياء الإسلام، وعلى ءاله الطاهرين، وصحبه الغر الميامين، ومن اتبع منهاجهم واقتفى أثرهم إلى يوم الدين.ـ”قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “حتى متى ترعون عن ذكر الظالم اذكروه بما فيه حتى يحذره الناس
Antara Fatwanya lagi, mengingkari takwilan Imam Bukhari. Sesungguhnya Imam Bukhari telah mentakwilkan Firmanallah :

كل سيء هالك إلا وجههقال البخاري بعد هذه الأية : أي ملكه
artinya : “Setiap sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya berkata imam bukhari setelah ayat ini : “maknanya (wajah-Nya) adalah kekuasaanya”

Tetapi Al-Albaany mengkritik keras takwilan ini lalu berkata :
(( هذا لا يقوله مسلم مؤمن ))
” Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang Muslim yang beriman “.
Lihatlah kitab (( Fatawa Al-Albaany )) m/s 523. Tentang takwilan Imam Bukhari ini adalah suatu yang diketahui ramai kerana jika dilihat pada naskhah yang ada pada hari ini tidak ada yang lain melainkan termaktub di sana takwilan Imam Bukhari terhadap ayat Mutasyabihat tadi. Di samping itu juga, ini adalah antara salah satu dalil konsep penakwilan nusush sudah pun wujud pada zaman salaf (pendetailan pada pegertian makna). Bagaimana Beliau berani melontarkan pengkafiran terhadap Imam Bukhary As-Salafi dan mendakwa Imam Bukhary tiada iman dalam masa yang sama beriya-riya mengaku dirinya sebagai Muhaddits??!! memalukan je..
Beliau bukanlah hanya terhenti di situ sahaja, tetapi berani lagi mengeluarkan fatwa-fatwa sesat termasuk pengharaman bertawassul kepada dengan diri Nabi Sollallahu ‘Alaihi WassallaM dan menjadikan Istigahtsah selain daripada nabi sebagai syirik. Perkara ini boleh di rujuk didalam kitabnya (( AL-TAWASSSUL)), m/s 70 dan 73. Maka apa yang akan dikata oleh pengikut yang taasub dengan Al-Albaany jika penulis mengatakan Imam Bukhary meriwayatkan Hadis Tentang hari kiamat yang menunjukkan keharusan beristighatsah..yallah nanzur…

(( فبينما هم كذلك استغاثوا بآدم ثم موسى ثم محمحد ))
” maka ketika mana mereka juga beristighatsah dengan nabi Adam kemudian Nabi Musa, kemudian nabi Muhamad”..
Sebenarnya berlambak lagi dalil-dalil tentang keharusan bertawassul dan beristighatsah yang sohih dan diriwayatkan oleh ulama’-ulama’ muhadditsin yang muktabar….CUME WAHHABY KENO GHETI BAHASO CIKIT, JANGE DOK GHETI KAPIR KO OGHE JAH…HADITS TOK GHETI JGN KECEK. PUAK WAHHABI DALIL TAK DOK, KONA JAH BANYOK. PUOK-PUOK ASWJ BERMANHAJ SUNNAH DAN PENUH DENGAN DALIL..INGAT JANGE NIPU DALAM AGAMO.. MAHKAMAH ALLAH ADALAH MAHKAMAH PALING ADIL..TUNGGULAH WAHAI WAHHABI…
Disediakan oleh :
Abu Lehyah Al-Kelantany

2. Takhrij bathil Kitab fathul Bary oleeh Abdullah  bin  Bin Baz alwahhaby

BIN BAZ & SEMUA WAHHABI KAFIRKAN SAHABAT NABI (bukti rasmi Wahabi )

DI ATAS ADALAH KITAB FATHUL BARY SYARAH SOHIH BUKHARY OLEH ULAMA ISLAM AHLI SUNNAH WAL JAMA’AH AL-ASYA’IRAH IAITU IMAM SYEIKH IBNU HAJAR AL-ASQOLANY.

DI ATAS PULA ADALAH ISI KANDUNGANNYA DALAM PERMULAAN KITAB TADI YANG DICETAK DENGAN NAMA 4 BUAT SYARIKAT PENCETAKAN MENYATAKAN KITAB TERSEBUT TELAH DI TAHKIK ( DILETAK NOTA ) OLEH ABDUL AZIZ BIN BAZ AL-WAHHABI.LIHAT LINE YANG TELAH DIMERAHKAN.

NAH….INILAH BUKTI BAHAWA BIN BAZ MUFTI WAHHABI DAN KESEMUA WAHHABI DI MALAYSIA MENGKAFIRKAN SAHABAT NABI MUHAMMAD: DI ATAS ADALAH ISI KANDUNGAN KITAB TERSEBUT YANG DITAMBAH NOTA KAKINYA OLEH BIN BAZ AL-WAHHABI DAN KESEMU WAHHABI DI MALAYSIA MEMPERAKUINYA.TERTERA PADA LINE YANG BERWARNA MERAH HADITH NABI YANG SAHIH DALAM KITAB FATHUL BARY TERSEBUT MENYATAKAN BAHAWA SAHABAT NABI YANG BERNAMA BILAL AL-HARITH ALMUZANY TELAH MELAKUKAN AMALAN TAWASSUL IAITU MEMINTA HUJAN DARI ALLAH BERTAWASSULKAN NABI DINAMAKAN “ISTISQO’ “.

PADA LINE YANG BERWARNA BIRU PULA ADALAH KENYATAAN RASMI BIN BAZ AL-WAHHABI DAN KESEMUA WAHHABI MALAYSIA MEMPERSETUJUINYA DIMANA KENYATAAN TERSEBUT AMAT JELAS WAHHABI MENGKAFIRKAN DAN MENGHUKUM SYIRIK SAHABAT NABI (BILAL) KERANA BERTAWASSULKAN NABI KETIKA ” ISTISQO’ “. DAN PERHATIKAN PADA KENYATAAN WAHHABI DIATAS: و ان ما فغله هذا الرجل منكر ووسيلة الى الشرك YANG DIERTIKAN “SESUNGGUHNYA APA DILAKUKAN OLEH LELAKI INI IAITU SAHABAT NABI MUHAMMAD (BILAL) ADALAH SATU-SATUNYA PEMBAWA SYIRIK“. DAN PERHATIKAN PADA AYAT SELEPASNYA LEBIH JELAS WAHHABI MENGKAFIRKAN SAHABAT NABI DAN MENGHUKUM SAHABAT NABI MUHAMMAD (BILAL) SEBAGAI MUSYRIK.

Semoga Allah memelihara kita dari terjatuh dalam kancah wahhabi atau yg seakidah dgn Wahhabi.sekalipun nk didakwa Wahhabi tak wujud didunia ini tapi kekufuran mereka masih menyebarkannya termasuk website mereka yg bertopengkan ahkam.

3. WAHHABI PALSUKAN & UBAH KITAB TAFSIR ULAMA

Disusun oleh: Abu Syafiq Al-Asy’ary 012-2850578
DI ATAS ADALAH COVER BAGI KITAB “HASYIYAH AL-ALLAMAH AS-SOWI ALA TAFSIR JALALAIN” KARANGAN SYEIKH AHMAD BIN MUHAMMAD AS-SOWI ALMALIKY MENINGGAL 1241H.
YANG TELAH DIPALSUKAN OLEH WAHHABI.CETAKAN DAR KUTUB ILMIAH PADA TAHUN 1420H IAITU SELEPAS CETAKAN YANG ASAL TELAH PUN DIKELUARKAN PADA TAHUN 1419H.

INI ISU KANDUNGAN DALAM KITAB YANG TELAH DIPALSUKAN:

ISI KITAB DI ATAS YANG TELAH DIPALSUKAN & TIDAK BERSANDARKAN PADA NASKHAH YANG ASAL DAN DIUBAH PELBAGAI ISI KANDUNGAN ANTARANYA PENGARANG KITAB TELAH MENYATAKAN WAHHABI ADALAH KHAWARIJ KERANA MENGHALALKAN DARAH UMAT ISLAM TANPA HAK. TETAPI DIPALSUKAN OLEH WAHHABI LANTAS DIBUANG KENYATAAN TERSEBUT. INI MERUPAKAN KETIDAK ADANYA AMANAH DALAM ILMU AGAMA DISISI KESEMUA PUAK WAHHABI.

NAH…!
INILAH KITAB TAFSIR TERSEBUT YANG ORIGINAL LAGI ASAL:


DI ATAS INI ADALAH COVER KITAB SYARHAN TAFSIR ALQURAN BERJUDUL “HASYIYAH AL-ALLAMAH AS-SOWI ALA TAFSIR JALALAIN”.KARANGAN SYEIKH AHMAD BIN MUHAMMAD AS-SOWI ALMALIKY MENINGGAL 1241H.CETAKAN INI ADALAH CETAKAN YANG BERSANDARKAN PADA NASKHAH KITAB TERSEBUT YANG ASAL.DICETAK OLEH DAR IHYA TURATH AL-‘ARABY.
PERHATIKAN PADA BAHAGIAN BAWAH SEBELUM NAMA TEMPAT CETAKAN TERTERA IANYA ADALAH CETAKAN YANG BERPANDUKAN PADA ASAL KITAB.CETAKAN PERTAMA PADA TAHUN 1419H IAITU SETAHUN SEBELUM KITAB TERSEBUT DIPALSUKAN OLEH WAHHABI.

INI ISI KANDUNGAN DALAM KITAB TERSEBUT PADA JUZUK 5 MUKASURAT 78:
DI ATAS INI ADALAH KENYATAAN SYEIKH AS-SOWI DARI KITAB ASAL MENGENAI WAHHABI DAN BELIAU MENYIFATKAN WAHHABI SEBAGAI KHAWARIJ YANG TERBIT DI TANAH HIJAZ.
BELIAU MENOLAK WAHHABI BAHKAN MENYATAKAN WAHHABI SEBAGAI SYAITAN KERANA MENGHALALKAN DARAH UMAT ISLAM, MEMBUNUH UMAT ISLAM DAN MERAMPAS SERTA MENGHALALKAN RAMPASAN HARTA TERHADAP UMAT ISLAM.LIHAT PADA LINE YANG TELAH DIMERAHKAN.

Inilah Wahhabi. Bila ulama membuka pekung kejahatan mereka Wahhabi akan bertindak ganas terhadap kitab-kitab ulama Islam.
Awas..sudah terlalu banyak kitab ulama Islam dipalsukan oleh Wahhabi kerana tidak sependapat dengan mereka.

Semoga Allah memberi hidayah kepada Wahhabi dan menetapkan iman orang Islam.

http://www.abu-syafiq.blogspot.com

4. BUKTI KESEMUA SANG WAHHABI PENGKHIANAT KITAB AGAMA



Peluh yang mengalir, keringat menadah usaha pergi menuntut mutiara ilmu tidak akan kecapi serinya sekiranya apa yang dipelajari penuh dengan pengkhianatan dan hilang keaslianya.
Penipu…!!! Pembohong lagi sang penukar isi kandungan kitab-kitab ulama merupakan pengkhianat dan penjenayah yang wajib dihumban ke pintu-pintu neraka dunia ( jail )…
Pengkhianat tersebut wataknya tidak asing lagi iaitu hero sekalian hero Iblis Syaiton yang celaka iaitu Wahhabi Dajjal…!…

Demikian kata-kata yang terkeluar daripada seorang penuntut ilmu agama yang ikhlas apabila mengetahui kebanyakan isi kandungan kitab-kitab agama telah diubah, ditukar dan diputar belit tanpa amanah oleh sang Pengkhianat Wahhabi. BUKTINYA….

Dalam ratusan kitab ulama Islam antaranya yang telah di ubah oleh Sang Wahhabi adalah:
(Rujuk kenyataan kitab yang telah di scan di atas)

1- Kitab berjudul Al-Azkar karangan Imam Nawawi cetakan Dar Al-Huda di RIYADH SAUDI ARABIA Tahun 1409H Sang Wahhabi mengubah tajuk yang asalnya ditulis oleh Imam Nawawi adalah FASAL PADA MENZIARAHI KUBUR RASUL SOLLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM wahhabi menukar kepada FASAL PADA MENZIARAHI MASJID RASULULLAH.

Lihat perubahan yang amat ketara Wahhabi menukar pada tajuk besar dalam kitab tersebut dan juga isi kandungannya dibuang dan diubah.
Mungkin bagi kanak-kanak hingus Wahhabi akan mengatakan.. “alaa..apa sangat tukarnya…sket jek”.

Saya ( Abu Syafiq ) katakan. Haza ‘indallahi ‘azhim. Perubahan yang dilakukan oleh sang Wahhabi adalah amat menyimpang disebaliknya motif dan agenda tertentu mengkafirkan umat Islam yang menziarahi maqam Nabi.
Ditambah lagi isi kandungan dalam FASAL tersebut turut dihilangkan dan dibuang dari kitab tersebut dan kisah ‘Utby turut dihapuskan dalam FASAL tersebut.
Beginilah jadinya apabila kitab-kitab agama yang diterbitkan oleh tangan-tangan Wahhabi yang tidak amanah…pengkhianat agama Allah!

Mereka turut menukar dan berubah kenyataan fakta dalam kitab Hasyiyah As-Syowy ‘Ala Tafsir Jalalain. Dan Sang Wahhabi turut membuang kenyataan pada FASAL yang khas dalam kitab Hasyiyah Ibnu ‘Abidin As-Syamy.

Ini hanya secebis pengkhianatan sang Wahhabi merubah kesemua kitab-kitab agama mengikut hawa nafsu Yahudi mereka.
Cara yang sama turut dilakukan oleh Wahhabi sekarang demi membangkitkan lagi fitnah dalam masyarakat Islam.

Akan datang…pembongkaran ilmiah.. Wahhabi ubah ayat Al-Quran dan Hadith dalam Sohih Bukhari…nantikan bahawa SYIAH DAN WAHHABI ADALAH SEKUFU.

Wassalam.

5. WAHHABI TIPU AL-IBANAH LAGI…


(KITAB AL- IBANAH ‘AN USULI DIYANAH)

WAHHABI KELIRUKAN KITAB AL-IBANAH (2)
Oleh: Abu Syafiq (012-2850578)

Setelah merujuk kepada semua cetakan kitab Al-Ibanah didapati tiada suatu cetakan pun yang mengatakan “Allah Bersemayam Atas Arasy” dan tidak wujud langsung perkataan “Allah Duduk Atas Arasy” sepertimana yang didakwa oleh Wahhabi. Bahkan tertera pada cetakan kitab Al-Ibanah ‘An Usuli Adiyanah oleh Imam Abu Hasan Al-Asya’ry yang diTahkik Oleh Dr. Fauqiyah Husain Mahmoud Prof Di Universiti “ain Syams Kaherah Mesir cetakan 2 Tahun 1987M didapati dalam kitab Al-Ibanah tersebut

Imam Abu Hasan Al-Asya’ary menyatakan : ” Istiwa Allah bukan bersentuhan, bukan menetap, bukan mengambil tempat, bukan meliputi Arasy, bukan bertukar-tukar tempat, bukanlah Allah di angkat oleh Arasy bahkan arasy dan malaikat pemikul arasylah yang diangkat oleh Allah dengan kekuasaanNya, dan mereka dikuasai oleh Allah dengan keagunganNya “. Lihat kitab di atas yang telah Disacn dan perhatikan pada line yang telah dimerahkan.

Amat jelas Imam Abu Hasan Al-Asy’ary menafikan TEMPAT bagi Allah dan juga beliau menolak akidah kufur yang mendakwa Allah Berada Diatas Arasy Mengambil Arasy Sebagai TempatNya… Ini adalah akidah kufur yang ditolak oleh Imam Al-Asy’ary.

Sungguh jijik dan jahat golongan Wahhabi menokok dan menukar serta membohongan kitab Imam Sunnah Abu Hasan Al-Asy’ary.

SOALAN SAYA KEPADA WAHHABI: KENAPA ANTUM TIDAK AMANAH DALAM HAL AKIDAH?!!JAWAB!

Semoga Allah memberi hidayah kepada Wahhabi dengan hujjah yang saya kemukakan dengan terang,jelas lagi bersuluh.

*ISTAWA TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN KEPADA BERSEMAYAM KERANA BERSEMAYAM BERERTI DUDUK, INI BUKAN SIFAT ALLAH. SEPERTI MANA ALMUTAKABBIR TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN PADA ALLAH SEBAGAI SOMBONG&ANGKUH KERANA ITU SIFAT JELEK BUKAN SIFAT ALLAH. AKAN TETAPI SEBAIKNYA DITERJEMAHKAN DENGAN MAHA MENGUASAI.

http://www.abu-syafiq.blogspot.com

WAHHABI TIPU AL-IBANAH


( BUKTI DARI KITAB AL-IBANAH 1)


( BUKTI DARI KITAB AL-IBANAH 2 )

Oleh: Abu Syafiq (012-2850578)

” AL-IBANAH ‘AN USULI DIYANAH ” BUKAN KESEMUA ISI KANDUNGANNYA TULISAN IMAM AL-ASY’ARY.

Sememangnya kitab-kitab karangan Imam yang agong iaitu Imam Abu Hasan Al-Asy’ary ini menjadi carian dan keutamaan dalam menyebarkan dakwah. Ini kerana nama Imam tersebut sudah cukup mengambarkan kehebatan ilmu yang disampaikan seperti tersemai di tenta sejarah.

Berdasarkan kajian yang teliti dan amanah didapati bahawa kebanyakan kitab karangan Imam Al-Asya’ry dipermainkan dan ditokok tambah beberapa isi kandungannya berdasarkan apa yang telah diterangkan dalam kitab Tabyin Kazibi Muftary ‘Ala Imam Abu Hasan Al-Asy’ary oleh Ibnu ‘Asakir yang merupakan antara tokoh Al-Asya’irah yang utama.

WAHHABI BERDUSTA TERHADAP KITAB AL-IBANAH.
Rujuk sahaja buku-buku Wahhabi pasti akan diselitkan kenyataan dusta tanpa amanah terhadap Imam Al-Asy’ary. Paling kerap dinukilkan adalah dari kitab yang berjudul Al-Ibanah ‘An Usuli Ad-Diyanah.
Sebenarnya banyak pendustaan yang jelas terhadap sebahagian isi kandungan kitab tersebut.
Cuma kali ini difokuskan kepada satu sahaja daripada 39 pendustaan yang ditokok tambah dalam kitab tersebut.

WAHHABI BERDUSTA MENDAKWA “ALLAH DUDUK ATAS ARASY” ADALAH AKIDAH IMAM AL-ASYA’RY.
Ini merupakan pendustaan terhadap Imam Abu Hasan Al-Asy’ary.
Sebenarnya Imam Abu Hasan Al-Asy’ary tidak pernah mengatakan Allah Duduk Di Atas ‘Arasy dan tidak pernah juga beliau menyatakan Allah Bersemayam Di Atas ‘Arasy.
Tidak wujud dalam mana-mana kitab beliau pun kenyataan kufur tersebut.
Tidak wujud juga perkataan kufur tersebut dalam kitab Al-Ibanah ‘An usuli Ad-Diyanah karangan Imam Asy’ary. Tetapi Wahhabi berdusta lantas menyandarkan perkataan kufur tersebut kepada Imam Al-Asya’ry
Amat keji sungguh si penokok tambah yang mendakwa Imam Asy’ary kata begitu dalam Al-Ibanah. Bahkan apabila Imam Al-Asya’ry menyatakan tentang Istawa Allah beliau mensyarahkan dengan erti yang bukan bertempat dan berbentuk.
Lihat kitab Al-Ibanah di atas artikel ini yang telah discan dan perhatikan pada line yang telah digaris, kitab Al-Ibanah tersebut dicetakan Saudi Arabia Universiti Islamiah Madinah Munawwarah cetakan 5 mukasurat 119 & 126.

WAHHABI KATA : Imam Abu Hasan Al-Asya’ry pun kata Allah bertempat duduk/bersemayam di atas arasy dalam kitabnya Al-Ibanah.

Sedangkan

IMAM ABU HASAN AL-ASYA’RY PULA SEBUT DALAM KITABNYA ITU SENDIRI: ALLAH BERISTAWA ATAS ARASY TANPA BERBENTUK DAN TANPA MENGAMBIL TEMPAT. Lihat kitab Al-Ibanah di atas artikel ini yang telah discan dan perhatikan pada line yang telah digaris, kitab Al-Ibanah tersebut dicetakan Saudi Arabia Universiti Islamiah Madinah Munawwarah cetakan 5 mukasurat 119 & 126.

Pendusta Wahhabi amat keji disisi Allah dan Islam. Semoga pembohong Wahhabi ini diberi hidayah sebelum mati.

*ISTAWA TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN KEPADA BERSEMAYAM KERANA BERSEMAYAM BERERTI DUDUK, INI BUKAN SIFAT ALLAH. SEPERTI MANA ALMUTAKABBIR TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN KEPADA SOMBONG&ANGKUH KERANA ITU SIFAT JELEK BUKAN SIFAT ALLAH. AKAN TETAPI SEBAIKNYA DITERJEMAHKAN DENGAN MAHA BERKUASA.

http://www.abu-syafiq.blogspot.com

5. Takhrij bathil kitab iqtidlo siratal mustaqim ibnu taymiyah


cover mutarat iqitidho

9 10 mutarat iqitidho

89 mutarat iqitidho

contoh pemalsuan pemalsuan pendapat ibnu taymiyah dalam kitab Mukhtarat Iqtidha’ Ash-Shirathal Mustaqim Syaikh Ibnu Taimiyah ” (Ringkasan kitab ibnu taymiyah oleh Syekh Muhammad bin ‘Ali bin Ibrahim Adh Dhabi‘i.

Wahhaby ini memanipulasi fatwa ibnu taymiyah, sehingga seoalh-olah ibnu Taymiyah membid’ahkan amalan maulid Nabi. Seharusnya dalam kitab yang asli tertulis :

Syeikh Ibn Taimiyah : “Di dalam kitab beliau, Iqtidha’ as-Shiratil Mustaqim, cetakan Darul Hadis, halaman 266, beliau nyatakan: Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebahagian manusia samada menyaingi orang Nasrani pada kelahiran Isa عليه السلام, ataupun kecintaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengagungkan baginda, dan Allah mengurniakan pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad ini…”


Kita pula tidak mengadakan maulid melainkan seperti apa yang dikatakan oleh Ibn Taimiyah sebagai: “Kecintaan kepada Nabi dan mengagungkan baginda.”

BUkan pula kita  menjadikannya sebagai hari raya seperti hari raya idul fitri dan idul adha.!!!

ATAU  TIDAK PULA MENJADIAKAN  AMALAN TARIKHIYAH ( YANG DIANGGAP TIDAK SYAH JIKA TIDAK DILAKUKAN PADA TANGGAL 12 RABIUAWWAL) SEBAGAIMANA YG DIDAKWA IBNU TAYMIYAH DAN WAHHABY

APA MAKNA “AKAN MENDAPATKAN PAHALA ATAS KECINTAAN DAN IJTIHADNYA ITU”????

sebagaimana yang difatwakan oleh imam-imam sunni dalam kitab-kitabnya :
Tersebut di dalam kitab I’anathuth Tholibin oleh Sayyidisy-Syaikh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi:-

Telah berkata Imam Hasan al-Bashri (Wafat 116H, pernah bertemu dengan lebihkurang 100 orang shahabat): “Aku kasih jika ada bagiku seumpama gunung Uhud emas untuk kunafkahkan atas pembacaan mawlid ar-Rasul”.

Telah berkata Shaikh Junaid al-Baghdadi (wafat 297H): “Sesiapa yang hadir mawlid ar-Rasul dan membesarkan kadar baginda, maka telah berjayalah dia dengan iman”.

Kata-kata ulama ini juga boleh didapati didalam kitab an-Nafahatul Miskiyyah fi fadhilathi qiraati maulidi khairil bariyyah karangan asy-Shaikh Muhammad bin Abdullah as-Suhaimi dan juga terjemahannya yang bertajuk Hembusan Kasturi oleh Fadhilatul Ustaz Taha as-Suhaimi.

Selain itu bagi menjawab tohmahan mereka kononnya ulamak silam mencerca sambutan ini, kita bawakan kata-kata yang jelas dari tiga ulamak yang kehebatan mereka diakui semua.

1) Al-Imam al-Hujjah al-Hafiz as-Suyuthi:

Di dalam kitab beliau, al-Hawi lil Fatawa, beliau telah meletakkan satu bab yang dinamakan Husnul Maqsad fi ‘Amalil Maulid, halaman 189, beliau mengatakan: Telah ditanya tentang amalan Maulid Nabi صلى الله عليه وسلم pada bulan Rabiul Awal, apakah hukumnya dari sudut syara’? Adakah ia dipuji atau dicela? Adakah pelakunya diberikan pahala atau tidak?

Dan jawapannya di sisiku: Bahawasanya asal kepada perbuatan maulid, iaitu mengadakan perhimpunan orangramai, membaca al-Quran, sirah Nabi dan kisah-kisah yang berlaku pada saat kelahiran baginda dari tanda-tanda kenabian, dan dihidangkan jamuan, dan bersurai tanpa apa-apa tambahan daripadanya, ia merupakan bid’ah yang hasanah yang diberikan pahala siapa yang melakukannya kerana padanya mengagungkan kemuliaan Nabi صلى الله عليه وسلم dan menzahirkan rasa kegembiraan dengan kelahiran baginda yang mulia.

2) Syeikhul Islam wa Imamussyurraah al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani: Berkata al-Hafiz as-Suyuthi dalam kitab yang disebutkan tadi: Syeikhul Islam Hafizul ‘Asr Abulfadhl Ibn Hajar telah ditanya tentang amal maulid, dan telah dijawab begini: “Asal amal maulid (mengikut cara yang dilakukan pada zaman ini) adalah bid’ah yang tidak dinaqalkan dari salafussoleh dari 3 kurun (yang awal), walaubagaimanapun ia mengandungi kebaikan serta sebaliknya. Maka sesiapa yang melakukan padanya kebaikan dan menjauhi yang buruk, ia merupakan bid’ah yang hasanah.

Telah jelas bagiku pengeluaran hukum ini dari asal yang tsabit iaitu apa yang tsabit dalam shahihain (shahih al-Bukhari dan shahih Muslim) bahawa Nabi صلى الله عليه وسلم ketika tiba di Madinah mendapati orang Yahudi berpuasa Asyura’, lalu baginda bertanya kepada mereka (sebabnya). Mereka menjawab: Ia merupakan hari ditenggelamkan Allah Fir’aun dan diselamatkan Musa, maka kami berpuasa kerana bersyukur kepada Allah. Maka diambil pengajaran darinya melakukan kesyukuran kepada Allah atas apa yang Dia kurniakan pada hari tertentu, samada cucuran nikmat atau mengangkat kesusahan.”

Seterusnya beliau berkata lagi: Dan apakah nikmat yang lebih agung dari nikmat diutuskan Nabi ini صلى الله عليه وسلم, Nabi Yang Membawa Rahmat, pada hari tersebut? Dan ini adalah asal kepada amalan tersebut. Manakala apa yang dilakukan padanya, maka seharusnya berlegar pada apa yang difahami sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Ta’ala samada tilawah, memberi makan, sedekah, membacakan puji-pujian kepada Nabi, penggerak hati atau apa sahaja bentuk kebaikan dan amal untuk akhirat.”

Inilah istinbat-istinbat yang dikatakan oleh mereka yang menentang sambutan maulid (anti-maulid) sebagai istidlal yang bathil serta qias yang fasid, lalu mereka mengingkarinya. Cukuplah bagi kita memerhatikan siapakah yang mengingkari dan siapa pula yang mereka ingkari!!!

6. BID’AH WAHHABY SAUDI : HARAMKAN AMALAN MAULID NABI MALAH BUAT MAULID IBNU ABDULWAHHAB

PERAYAAN MENYAMBUT MINGGU MUHAMMAD ABDUL WAHHAB

[image]

Program ini diadakan di Riyadh, Saudi Arabia di bawah kelolaan University Islam (ala za’mihi) Muhammad Ibn Sa’ud Al-Islamiyah. Program yang berslogankan perayaan menyambut ” Minggu Muhammad Abdul Wahhab” ini diadakan selama seminggu bertujuan mengagungkan Muhammad Abdul Wahhab dan memperingati sumbangan serta mempunyai agenda tersendiri supaya hasil daripada perbentangan dari para pembentang , Muhammad Ibn Abdul Wahhab digelar sebagai Mujaddid. Golongan al-Wahhabiyah di Saudi ini menjemput seramai 150 peserta daripada Saudi sendiri dan Luar Saudi.

[image]
Tarikh : Hari Sabtu 21-4-1400H sehingga hari Khamis 27-4-1400H BERSAMAAN 8-3-1980 sehingga 14-3-1980.

(tujuh hari -tujuh malam nii…..masyaAllah …ada dalilnya nii?…kenape tak 40 hari saja ya???? he…he….dasar badwi)


Majlis tersebut di rasmikan oleh Amir Sulaiman Bin Abdul Aziz, Pemimpin di bumi Riyadh, majlis yang meriah itu dihadiri daripada pelbagai tempat, mereka dikalangan pendakwah-pendakwah khas upahan kerajaan saudi, tenaga pengajar universiti, dan tidak lupa juga mereka menjemput hadirin dari kalangan pelajar-pelajar. Para pembentang yang hadir dikatakan mendapat upah atau sumbangan kerana memuji dan mengagungkan Muhammad Abdul Wahhab. Amat sedih sekali mereka dibeli dengan harga yang murah, sehingga sanggup menggadaikan agama tercinta kepada regim Al-wahhabiyah. Muktamar besar-besaran ini di adakan di dalam dewan beesar Malik Faishal. Majlis ini dimeriahkan lagi dengan kehadiran “kepala pengat wahhabiyah” , Abdul Aziz Bin Baz, yang merangkap sebagai ketua Am bagi Pejabat Al-Buhuts Al-Ilmiyyah Wal-ifta’ wad-dakwah wal-irsyad (ala-za’mihim) yang diiringi oleh Hasan Bin Abdullah Ali Syeikh, Menteri Pengajian Tinggi.

Para pembentang pada Program tersebut :

1.
Ahmad Bin Abdul Aziz Ali Mubarak
2.
At-Thuhami Naqirah
3.
Muhammad bin Ahmad Al-’Aqily
4.
Abdul Hafidz Abd ‘al
5.
Yusuf Jasim Al-Hajjy
6.
Ahmad Zubarah
7.
Mahmud Syit Khattab
8.
Amid Al-Jasir
9.
Abdullah Utsaimin
10.
Ismail Muhammad Al-Anshoriy
11.
Muhamad Yusuf
12.
Mana’ Khalil al-Qatthan
13.
Soleh Bin Abdul Rahman Al-Athram
14.
Abdullah Bin Saad Ar-Ruwaishid
15.
Syiajuddin KakalKhail
16.
Abdullah Abdul Majid
17.
Al-Ghazali Khalil ‘Aid
18.
Ali Abdul Halim Mahmud
19.
Ahmad Abduh Nasyir
20.
Muhammad Fathi Othman
21.
Abdul Wahhab Ibrahim Abu Sulaiman
22.
Muhammad Yusuf
23.
Abdul Rahman Umairah
24.
Abdul Karim Khatib
25.
Muhammad Nasib Al-rifa’iy
26.
Muhammad Muhammad Husain
27.
Muhammad Abdul Rahman.
28.
Soleh Auzjany
29.
Abdul Bari Abdul Baqiy
30.
Muhammad Salam Madkur
31.
Abdul Fattah Muqallidil Ghunaimiy
32.
Wahbah Zuhaily
33.
Ismail Ahmad
34.
Anwarul Jundiy
35.
Abdul Halim Uwais
36.
‘Athiah Muhammad Salim
37.
Mushtofa Muhammad Mas’ud
38.
Muhammad Al-Sa’iid Jamaluddin
39.
Najih ahyad Abdullah
40.
Abdul Qudwas Al-Anshory

[image]
[image]
[image]

Ulasan :

Cinta kepada Rasulullah Sollahu ‘alaihi Wassallam tidak boleh, Mengagungkan Nabi Muhammad Sollallahu ‘Alaihi Wasallam tidak boleh, Ikut Imam Syafie tidak boleh, Ikut Imam 4 mazdhab tidak boleh, Menyambut Maulidurrasul dianggap bid’aah, ditambah lagi pelakunya layak dihumban ke dalam neraka, tetapi kalau sambut Minggu Muhammad Abdul WahhAb?..haik.. tidak bida’ah, Cintakan dan agungkan Muhammad Abdul Wahhab?..haik tidak Bida’ah, taklid ta’asub kepada Muhammad Abdul wahhab?..Haik..tidak bid’aah..Subhanakallahu Buhtanun ‘Adzim.

Sebenarnya golongan al-wahhabiyah tidak mencinta Nabi, bahkan wahhabiyah ini membenci habibuna Mushtofa Muhammad Sollallahu ‘Alaihi Wasalllam…
Disediakan oleh;
Abu Lehyah Al-Kelantany
0133005046
http://abulehyah.blogspot.com/

wahai wahaby/salafy palsu/ahlusunnah palsu!!!

membid’ahkan dan melarang maulid nabi muhammad saw…..

tapi buat perayaan bid’ah menyambut maulid abdulwahab sang badwi najd…..tujuh hari -tujuh malam lagi….

betul-betul bid’ah baru bagi saudiarabia rajanya para badwi najd