Bukti Al-irsyad (Wahhaby Indonesia 1914) buatan kafir Belanda!

mina alladziina farraquu diinahum wakaanuu syiya’an kullu hizbin bimaa ladayhim farihuuna

[30:32] yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka (tauhidnya menyimpang seperti mujasimmah dan musyabihah/mensifati Allah dengan sifat makhluq) dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Kelompok wahhaby ini dengan jelas-jelas mengkafirkan imam-imam ahlusunnah dalam taklim-taklim mereka!

adapun imam-imam sunni yang dikafirkan antara lain Imam Ibnu Hajar, Imam Nawawi, Imam 4 madzab dan lainnya!

karena imam-imam sunni sama aqidahnya dengan aqidah imam sunni (asya’irah).

SYEIKH AHMAD SURKATI AL-ANSHARI (ANTEK ZIONIS BELANDA)
(Pendiri Al-Irsyad Al-Islamiyyah)
Image

Pendiri al-irsyad adalah As-Surkati yang merupakan agen mossad tempo dulu atau agen organisasi rahasia Yahudi Fremasonry dan menjadi sahabat penjajah missionaris kafir Belanda untuk merusak Islam dan kaum muslimin dari dalam!

Ia adalah guru daripada tokoh wahhaby indonesia yaitu Ahmad Dahlan (Pendiri Wahhaby Muhammadiyah) dan Haji Zam-zam dan Muhammad Yunus (Pendiri Wahhaby persis) yang memecah belah perjuangan Indonesia melawan kafir Belanda dengan  menghukumi   seluruh ulama Indonesia yang bermadzab syafii adalah sesat!.

Syekh Ahmad surkati memutuskan mundur dari Jami’at Kheir (Jamaah para Habib alawiyyin/haddadiyah yang bermadzab ahlusunnah asysyaf’i), pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Dan dihari itu juga Syekh Ahmad bersama beberapa sahabatnya dari golongan non-Alawi mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, serta organisasi untuk menaunginya: Jam’iyat al-Islah wal-Irsyad al-Arabiyah (kemudian berganti nama Jam’iyat al-Islah wal-Irsyad Al-Islamiyyah).

berikut ini kutipan dari wahhaby dhiyausunnah assewed yang kecewa karena dianggap pesaing dalam mengemis dana bantuan dari rezim wahhaby saudy :

Pengkhianatan Al-Irsyad Terhadap Perjuangan Muslimin Indonesia Melawan Penjajah Kafir Belanda?


Memang belum selesai serial kemesraan (baca: rifq, liyn dan hikmah) Al-Irsyad dengan para pejabat penjajah kafir Belanda yang menjadi murid sekaligus sahabat As-Surkati.
Syahida syahidun min ahliha…
Hussein Badjerei berkata:
“Atas permintaan Syaikh Ahmad Surkati, hoofbestuur Al-Irsyad  dalam sidangnya tanggal 14 Maret 1941 pukul 16.30 di rumah Syaikh Ahmad Surkati telah mengambil keputusan antara lain:
1.Mempersiapkan naskah sejarah Al-Irsyad yang akan ditulis oleh Ahmad Surkati sendiri
2.Selaku pembantu khusus untuk penulisan sejarah ini ditunjuk Umar Naji…
3.Naskah jadi kelak akan diterbitkan secara resmi oleh Hoofdbestuur Al-Irsyad
4.Petugas pencari data ke daerah diangkat Abdulqadir Bahalwan
5.Panitia berkedudukan di Jakarta dengan Ketua, Sekretaris dan Bendahara sebagai pimpian harian. Panitianya disusun sebagai berikut: Ketua merangkap Bendahara: Hasan Argubi; Sekretaris Ali Harharah….
Dalam kegiatannya, Panitia yang dinamakan Lajnah Ta’liif Taarikh Al-Irsyad, telah meminta tulisan dan kesan tentang Al-Irsyad dan pemimpinnya Syaikh Ahmad Surkati dari: VAN DER PLAS, PIJPER, W.Wondoamiseno, A.Hassan, DE VRIES, PB.Muhammadiyah, PB Persis dan lain-lain, termasuk kalangan senior Al-Irsyad sendiri.

Yang jelas VAN DER PLAS sudah menyampaikan tulisannya, tetapi buku iini tidak sampai berhasil diterbitkan, baru berbentuk manuskrip tulisan tangan yang dikerjakan oleh Muhammad Nur Alanshary dan telah dikoreksi oleh Ahmad Surkati bersama-sama Abdullah Badjerei.” (AIMSB, hal.150)
Komentar:
Hussein Badjerei tidak menjelaskan secara rinci, bagaimana mekanisme panitia penulisan sejarah Al-Irsyad dalam meminta tulisan dan kesan dari individu dan organisasi yang mereka hubungi.
Ada dua catatan sangat penting mengenai informasi yang “dibocorkan’ oleh Hussein Badjerei ini:
Pertama: Panitia penulisan sejarah Al-Irsyad ini diketuai dan sekaligus dibendaharai oleh Kapten Arab Hasan Argubi dan kita tidak akan mengulang lagi dengan menjelaskan kedudukan penting antek Belanda ini di sisi As-Surkati!!
Kedua: Silakan anda perhatikan betapa mulianya kedudukan para pejabat penjajah kafir Belanda di sisi As-Surkati dan Irsyadnya!! Bahkan TIGA ORANG PEJABAT PENJAJAH BELANDA (Van Der Plas, Pijper dan De Vries) ikut menentukan isi sejarah Al-Irsyad!! Surkati-lah yang langsung mengoreksi hasil tulisannya!! Inikah wahai Aba Salma yang engkau katakan bahwa semua ini tidak ada hubungannya dengan wala’ dan kecintaan?!!

Website dan tokoh al-irsyad :

– salafy.or.id

alirsyad.net

Ahlussunnah Jakarta

AntiTeroris.com

As Salafy

An Nashihah

Majalah AsySyariah

Maktabah as sunnah

PP Ibnu qayim

Mereka adalah teroris.com

Thullabu Ilmy.com dsb

– abusalma dsb

Sumber :

berasal dari website wahhaby/salafy palsu dhiyaussunnah assewed! silahkan lihat di :

tukpencarialhaq.wordpress.com/2007/03/28/apakah-sebenarnya-haddadiyah-itu/

atau di :
darussalaf.com

(Allah pecah belahkan golongan yang menyimpang dr aqidah ahlusunnah)

Puasa ‘Asyura dan Keagungannya (Fadhilahnya)

Puasa ‘Asyura dan Keagungannya

Berpuasa adalah sebuah amalan yang biasa dilakukan oleh para Nabi dan Rasul serta orang-orang shalih sepanjang masa dunia terbentang, sebagai ibadah atas diri mereka. Kadang-kadang sebagai tanda syukur atas nikmat yang mereka terima dari Allah, para Nabi dan orang-orang shalih biasa bersyukur dengan melaksanakan ibadah puasa.

Puasa ‘asyura adalah sebuah puasa yang hukumnya sunnat. Puasa ini sudah berusia sangat lama, bahkan mungkin puasa ‘asyura adalah salah satu dari puasa yang tertua yang pernah ada di muka bumi. Dalam Islam, puasa ‘asyura sudah berusia 1444 tahun lamanya, seusia dengan agama Islam, yaitu semenjak awal pertama Nabi diutuskan Allah ke muka bumi. Jadi keliru besar jika ada anggapan selama ini bahwa puasa hari ‘asyura, dan mengangungkannya  hanyalah sebuah tradisi orang-orang Jawa, dan bukan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Orang-orang Quraisy dan suku Arab Jahiliyyah di Mekah pun sudah terbiasa selama ratusan tahun berpuasa pada hari ‘asyura ini. Di sisi mereka hari ‘asyura adalah satu hari yang agung, sehingga mereka mengisinya dengan ibadah puasa. Sebuah hadis dari Siti ‘Aisyah menceritakan: “Adalah hari ‘asyura itu, hari dimana kaum Quraisy berpuasa pada masa Jahiliyyah.” Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berpuasa pada hari ‘asyura itu sejak zaman Jahiliyah dan Beliau juga berpuasa pada hari ‘asyura tersebut ketika beliau memasuki kota Madinah (ketika hijrah). Dan, Beliau pun mewajibkan umatnya untuk puasa pada hari ‘asyura itu. Manakala puasa Ramadhan sudah diwajibkan, maka kewajiban atas puasa ‘asyura dicabut, barangsiapa yang mau berpuasa dipersilahkan dan barangsiapa yang tidak mau berpuasa dipersilahkan juga (hukumnya menjadi sunat). (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Keterangan dan Keutamaan Tentang Puasa ‘Asyura

Hari ‘asyura adalah hari ke-10 dari bulan Muharram, dalam Islam semenjak diwajibkannya puasa Ramadhan, yakni pada tahun ke-2 Hijrah (tahun ke-15 kenabian), puasa ‘asyura ini tidak lagi menjadi wajib atas kaum Muslimin, tetapi hanya disunnatkan saja, setelah sebelumnya sempat diwajibkan atas kaum muslimin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (keterangan ini dikutip dari hadis Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ahmad, dan Baihaqi dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Imam Nawawi, Jilid VII, halaman 646).

Keutamaan puasa ‘asyura ini ada diriwayatkan dalam hadis Muslim dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu: “Adalah Rasulullah SAW ditanya tentang puasa pada hari ‘asyura, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Puasa ‘asyura menggugurkan dosa setahun yang terdahulu.” (HR. Muslim)

Sedangkan hari tasu’a adalah hari kesembilan dari bulan Muharram. Kaum muslimin juga disunatkan berpuasa pada hari tasu’a berdasarkan sebuah riwayat dimana Nabi bercita-cita ingin berpuasa pada hari tasu’a ini. Walaupun Nabi tidak sempat melakukannya karena terlebih dahulu wafat pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal di tahun itu, namun hukumnya dalam syariat Islam tetap sunnat juga melakukannya atas kaum muslimin. Hal ini berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Seandainya aku masih hidup pada hari ‘asyura di tahun depan, aku pasti akan berpuasa pada hari tasu’a, (hari kesembilan bulan Muharam). (HR. Muslim). Pada riwayat yang lain, Imam Muslim menambahkan: “Ketika hari yang dimaksud tiba di tahun depan, Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah dipanggil Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Dari hadis tersebut, dapat dipetik hikmah bahwa menambahkan puasa tasu’a pada bulan Muharram adalah agar amalan kaum muslimin tidak serupa persis dengan amalan umat Yahudi yang biasa berpuasa hanya pada hari ‘asyura saja. Dalam hadis yang lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi bersabda; “Berpuasalah kamu pada hari ‘asyura itu, dan bedakan olehmu akan umat Yahudi dengan berpuasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya” ( H.R. Imam Ahmad, Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, dan Humaidi, shohih).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sunnat dalam Islam, berpuasa di bulan Muharram sedikitnya selama tiga  hari berturut-turut, yaitu tanggal 9,10, dan 11 Muharram.

‘Asyura Puasanya Banyak Umat

Kaum Yahudi sudah terbiasa mengagungkan hari ‘asyura ini sebagai ‘hari raya’ di kalangan mereka selama kurang lebih 2000 tahun sebelum masa Nabi Muhammad. Ketika Nabi berhijrah, Beliau sempat tinggal beberapa hari di Quba’ dan membangun sebuah masjid di sana, serta melaksanakan sholat Jum’at untuk pertama kalinya. Kemudian Nabi memasuki kota Madinah pada hari ‘asyura sambil berpuasa pada hari itu, karena puasa ‘asyura memang sudah biasa dilakukan oleh kaum Quraisy sejak zaman Jahiliyah. Saat itu Nabi menjumpai komunitas Yahudi yang banyak di Madinah dan mereka ternyata sedang berpuasa pula pada hari ‘asyura itu. Kemudian terjadilah percakapan antara Nabi Muhammad dengan umat Yahudi Madinah itu, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki kota Madinah, Beliau mendapati umat Yahudi berpuasa pada hari ‘asyura, maka Nabi bertanya kepada mereka, “Hari apakah ini, sehingga kalian berpuasa atasnya?” Umat Yahudi menjawab: “Ini adalah hari yang Agung, di mana Allah telah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya, sehingga Nabi Musa berpuasa pada hari ini karena bersyukur kepada Allah. Oleh karena itu kami juga berpuasa pada hari ini.” Kemudian Nabi SAW bersabda: “(sebagai ummat Nabi Musa kamu berhak mengagungkan hari ini tetapi) Kami kaum muslimin, lebih berhak dan lebih utama (mengagungkan hari ini) untuk penghormatan kepada Nabi Musa daripada kalian.” Maka Nabi berpuasa pada hari itu, serta memerintahkan pula umatnya untuk berpuasa. (HR. Bukhari Muslim, dengan lafazh Imam Muslim).

Dalam hadis yang lain, terjadi di tahun kesepuluh setelah Nabi hijrah, (yakni tahun terakhir Nabi hidup bersama Sahabatnya di dunia), telah diceritakan oleh para Sahabat kepada Nabi bahwa ternyata puasa pada hari ‘asyura itu sudah diamalkan oleh umat Yahudi dan Nasrani. Mendengar ini, Rasulullah berkata: ”Jika begitu, pada tahun depan kita tambahkan berpuasa pada hari tasu’a.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain, dijelaskan dari Abu Musa al Asy’ari bahwa: “Adalah umat Yahudi telah menjadikan hari ‘asyura itu sebagai hari ‘ied, yakni hari raya di kalangan  mereka.” (HR. Bukhari Muslim)

Hikmah

Telah nyata bagi kita bahwa hari ‘asyura itu adalah hari agungnya umat Yahudi dan Nasrani, dan mereka telah menjadikannya sebagai ‘hari raya’ yang diperingati selama lebih dua ribu tahun lamanya sampai ke zaman Nabi Muhammad, sebagai hari yang bersejarah. Pada hari itu Nabi Musa dan kaumnya telah diselamatkan Allah (ketika menyeberangi Laut Merah), dari kejaran Fir’aun laknatullah ‘alaih dan para tentaranya. Ketika kabar ini sampai kepada Nabi, Beliau justru menguatkan bahwa memperingati hari Agungnya Nabi Musa bukan hanya merupakan haknya umat Yahudi, akan tetapi Nabi dan kaum muslimin bahkan lebih berhak memperingatinya.

Dari riwayat ini dapat diambil kesimpulan, kalau memperingati hari Agung Nabi Musa saja, umat Yahudi dan kaum muslimin diperintahkan Nabi untuk mengagungkannya, bagaimana dengan hari Agung Nabi kita sendiri…..? Dan, jika peristiwa Nabi Musa berhasil menyeberang Laut Merah dengan selamat diagungkan oleh umatnya selama lebih dua ribu tahun (dan Nabi Muhammad ikut mengagungkannya pula), lantas kenapa kita umat Nabi tidak boleh mengagungkan Isra’ Mi’raj Nabi kita….? Bukankah pada peristiwa Isra’ Mi’raj itu Nabi Muhammad berhasil ‘menyeberang’ langit dan kembali ke  bumi dalam satu malam! Nah, Manakah yang lebih Agung, menyeberang laut atau ‘menyeberang’ langit….?

Inilah hikmah yang dapat dipetik dari kisah puasa ‘asyura, satu hari yang sangat diagungkan oleh banyak umat, mulai dari umat Yahudi, bersambung kepada umat Nasrani, diteruskan oleh suku Quraisy di zaman Jahiliyah, dan terus berlanjut sampai kepada kaum muslimin. Saat ini, puasa di hari ‘asyura sudah berlangsung pada generasi manusia selama kurun waktu lebih dari 3400 tahun lamanya dan masih akan terus berlanjut sampai dunia kiamat.

Wallahu a’lam bishshowab

from :

website ustaz  tengku zulkarnaen

http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/index/70/Puasa-Asyura-dan-Keagungannya

Golongan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah Menurut Imam Al Baghdadi (wafat429H) dalam kitabnya al-Farq Baina al-Firaq

Golongan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah Menurut Imam Al Baghdadi

Oleh: Dr Asmadi Mohamed Naim

Saya membaca tulisan mengenai makna atau definisi Ahlu al-sunnah wal Jamaah (ASWJ) oleh Dr MAZA pada pertengahan November 2009 lepas dalam Utusan Malaysia. Penulis mengutip definisi Ahlussunnah yang ditulis oleh Imam al-Baghdadi (wafat429H) dalam kitabnya al-Farq Baina al-Firaq. Namun malangnya perkataan ‘al-turuq al-sifatiah’ atau ‘jalan-jalan sifat’ dalam definisi tersebut diabaikan. Walhal itulah antara perkara yang penting bagi menentukan samada tauhid yang mensyarahkan sifat-sifat adalah sesuatu yang baru atau sememangnya sudah lama. Pada saya, ada sedikit masalah ‘amanah ilmu’ bila dia tidak menerangkan secukupnya maksud al-Baghdadi bila mensyarahkan pengertian ASWJ (atau mungkin dia tidak sengaja). Penulis juga tidak memperjelaskan penerangan Imam al-Baghdadi (selepas memetik definisi Imam itu) berkaitan dengan definisi tersebut.

Demikian juga, ada sebuah lagi penulisan yang menceritakan aliran pemikiran tauhid di Nusantara yang merujuk bahawa aliran yang mensyarahkan Sifat 20 hanyalah muncul selepas tahun seribu Hijrah melalui Imam Sanusi dengan kitabnya Umm al-Barahin. Penulis tidak merujuk kemunculan metode tersebut kepada penyusunnya yang sebenar iaitu Abu Hassan al-Asy’ari (wafat324H) yang muncul pada akhir kurun ke 3 Hijrah (atau mungkin dia juga tidak sengaja).

Dalam kesempatan ini, saya hanya mahu menjelaskan siapakan Ahlussunnah menurut penulisan Imam al-Baghdadi yang telah menjadi rujukan definisi ASWJ supaya pembaca dapat memahaminya secara jelas. Bagi pembaca-pembaca yang berupaya membaca bahasa Arab, boleh merujuk terus kepada kitab Imam ini. Imam al-Baghdadi Rahimahullah menyatakan (hal.19):

“Maka golongan yang ke 73 ialah Ahli Sunnah Wal Jamaah iaitu golongan ahl al-ra’y (Abu Hanifah dan murid-muridnya) dan ahlu al-hadis; bukan mereka yang mempermain-mainkan hadis; dan ulama fekah mereka, penghafal al-Quran mereka, perawi hadis dari mereka, dan ulama hadis di kalangan mereka, semuanya sepakat atas keesaan pencipta, keesaan sifat-sifatNya, keadilanNya, hikmahNya, dan nama-namaNya dan pada bab kenabian dan kepimpinan, hukum hudud, dan pada perkara usuluddin.”

Seterusnya, Imam al-Baghdadi Rahimahullah memperincikan LAPAN (8) golongan yang termasuk dalam Ahlusunnah wal Jamaah (lihat bukunya dari halaman 240-243):

• Golongan pertama, mereka yang menguasai ilmu khususnya dalam bab Tauhid (meng-esa-kan Allah) dan kenabian, hukum-hukum wa’ad (khabar gembira) dan wa’id (ancaman siksa), pahala dan balasan, syarat-syarat ijtihad, pemerintahan dan kepimpinan. Mereka yang melalui jalan ini ialah ulama Kalam (Tauhid) yang bebas dari fahaman tasybih (menyerupakan sifat Allah dengan makhluk) dan bebas dari fahaman ta’til (yang menafikan sifat-sifat yang Azali bagi Allah SWT)), dan bebas dari bidaah al-Rafidhah, Khawarij, Jahmiah, Najariah dan seluruh pengikut bidaah dan hawa nafsu.

• Golongan kedua ialah imam-imam fiqh samada kumpulan yang cenderung pada rakyun (dalil aqal) atau hadith. Iaitu mereka yang beriktikad (berkeyakinan) pada perkara usuluddin dengan mazhab-mazhab sifat pada Allah dan pada sifat-sifatnya yang azali (membicarakan sifat-sifat Allah SWT sebagaimana sifat 20), dan mereka bebas dari fahaman Qadariah dan Muktazilah; mereka menetapkan melihat Allah Taala dengan mata (di akhirat kelak) dengan mata tanpa tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), tanpa ta’til’ (menafikan sifat-sifat Allah).

Termasuk dalam golongan ini ialah murid-murid kepada Malik, al-Shafie, al-Auza’i, al-Thauri, Abu hanifah, Ibn Abu Laila (wafat148H), sahabat-sahabat Abu Thaur (wafat240H), sahabat-sahabat Ahmad bin Hanbal (wafat241H), ahli al-Zahir, keseluruhan ulama fiqh yang beriktikad dalam bab-bab akal ini dengan prinsip-prinsip Sifat (tauhid yang membahaskan Sifat-sifat Allah). Dan mereka tidak mencampurkannya dengan apa-apa dari ahli bidaah dan hawa nafsu.

• Golongan ketiga ialah mereka yang menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan periwayatan hadith dan sunnnah yang disampaikan oleh Nabi SAW, mereka berupaya membezakan antara sahih dan cacat antaranya, mengetahui sebab-sebab ‘al-jarh wa al-ta’dil’ (kredibiliti seorang rawi), dan mereka tidak memasukkan ilmu mereka dengan apa-apa dari ahli bidaah dan nafsu yang menyesatkan.

• Golongan ke empat ialah kaum yang menguasai kebanyakan topik-topik sastera Arab, nahu dan saraf. Mereka berada atas jalan pakar bahasa seperti al-Khalil (wafat175H), Abu ‘Amr bin al-‘Ala` (wafat 145), Sibawaih (wafat 180H), al-Farra’ (wafat 207H), al-Akhfash (wafat 215H), al-Asma’i, al-Mazini (wafat 236H), Abu Ubaid (wafat 224H) dan seluruh imam-imam Nahu samada ulama-ulama Kufah atau Basrah, yang mana mereka tidak mencampurkan ilmu mereka dengan sesuatu dari bidaah al-Qadariah, atau Rafidhah atau Khawarij. Maka sekiranya seseorang itu cenderung ke arah nafsu yang menyesatkan, maka bukanlah ia dari golongan Ahlussunnah walaupun kata-katanya adalah ‘hujah’ dalam ilmu bahasa dan Nahu.

• Golongan ke lima, antaranya ialah mereka yang menguasai ilmu yang berkaitan dengan jenis-jenis qiraat untuk al-Quran, dan jenis-jenis tafsiran al-Quran, penakwilannya berdasarkan mazhab-mazhab Ahlussunnah, tanpa berpegang dengan takwilan ahli nafsu yang sesat.

• Golongan ke enam ialah, antaranya ialah para ahli zuhud sufi yang mempunyai ilmu maka jauh pandangan, yang telah dinilai maka ia diiktibarkan, mereka redha dengan hidup yang ringkas, mereka mengatahui bahawa penglihatan, pendengaran dan hati dipertanggungjawabkan terhadap kebaikan dan kejahatan; menghisab dengan neraca zarah-zarah, justeru menyediakan diri mereka dengan sebaik-baik perisapan untuk hari Kiamat. Perkataan mereka berjalan di atas dua jalan iaitu secara jelas dan isyarat di atas jalan ahli hadis, tanpa mereka ‘membeli’ pandangan yang mempermainkan hadis. Mereka tidak melakukan kebaikan kerana riak, tidak pula meninggalkan kebaikan kerana malu kepada orang lain. Agama mereka hanya satu dan menafikan ‘pentasybihan’ (menyerupakan Allah dengan makhluk), mazhab mereka ialah tafwidh (menyerahkannya) kepada Allah SWT, bertawakkal kepadanya, penyerahan kepada-Nya, tenang dengan apa yang direzekikan-Nya.

• Golongan ke tujuh ialah, antaranya kaum yang terikat dengan barisan hadapan peperangan dengan orang-orang kafir, berjihad melawan musuh-musuh Islam, mereka menjadi benteng melindungi umat Islam, meninggalkan isteri-isteri mereka dan negara mereka, dan menzahirkan pada barisan hadapan mereka Mazhab ASWJ.

• Golongan ke lapan ialah, antaranya kebanyakan negara-negara yang secara kebiasaannya terdapat syiar ASWJ, bukannya negara yang menzahirkan syiar ahli hawa-nafsu yang sesat.

Itulah huraian sebenar al-Imam Abdul Qahir bin Tohir bin Muhammad al-Baghdadi (wafat429H). Rupanya ramai sebenarnya yang diiktiraf sebagai Ahlussunnah. Ia berbeza dengan pandangan yang meminoritikan dan mengekslusifkan ASWJ hanya untuk golongannya sahaja dengan tuduhan sesat dan bidaah pada perkara remeh-temeh seperti qunut, talqin, zikir selepas solat, berdoa beramai-ramai dan sebagainya. Lihat kata Imam al-Baghdadi tentang perkara-perkara cabang (hal. 19):

“Mereka (ASWJ) hanya khilaf mengenai halal dan haram pada cabang hukum, bukanlah khilaf tersebut mengundang kepada sesat dan fasik; mereka adalah puak yang terselamat, kerana mereka bersatu pada keesaan pencipta dan qidamNya, qidam segala sifatnya sejak azali, dan harus melihatNya tanpa sebarang perumpamaan dan gangguan, serta yakin terhadap isi kandungan kitabNya dan rasulNya, dan mengikut segala syariat islam, dan menghalalkan segala yang dihalalkan oleh Al-Quran, dan mengharamkan segala yang diharam oleh Al-Quran, serta menerima apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan beriman pada hari kebangkitan dan perhitungan, dan soal dua Malaikat dalam kubur, beriman dengan telaga Kauthar dan Timbangan”.

Semoga masyarakat Islam tidak terbelenggu dengan perpecahan yang lebih parah lantaran perkara-perkara tersebut. Banyak masa yang perlu digunakan untuk memperbetulkan generasi muda yang menyongsang arus dengan pelbagai gejala sosial. Wallahu a’lam.

http://al-ghari.blogspot.com/

DOWNLOAD KITAB KLASIK/ KITAB KUNING / ISLAMIC ARABIC BOOK (SCAN PDF) TERLENGKAP

FROM :

http://read.kitabklasik.co.cc (sudah tak aktif lagi)

http://read.kitabklasik.net/

Categories

Authors

Languages

File Types

 

Dalil sanggah pembagian tauhid uluhiah dan rububiah

Dalil sanggah beza tauhid uluhiah dan rububiah

Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

MENYAMBUNG persoalan minggu lepas tentang tauhid uluhiah dan rububiah yang dibezakan oleh pereka tauhid ini, adakah terdapat perbezaan di antara kedua-duanya? Maka minggu ini kami memaparkan pula dalil aqal dan naqal yang menafikan sama sekali perbezaan ini.

Kami tegaskan sekali lagi, bahawa dengan membezakan di antara kedua-dua tauhid ini, mereka menganggap orang musyrik sebagai ahli tauhid dengan tauhid rububiah.

Dalam erti kata lain, melalui konsep tauhid rekaan Ibnu Taimiyyah ini, orang musyrik atau orang yang tidak mengucapkan kalimah syahadah dianggap sebagai ahli tauhid atau orang yang mengesakan Allah.

Ini kerana, kononnya mereka percaya dan mengakui bahawa Allah yang mencipta segala sesuatu dan mentadbir segala urusan alam ini, tetapi mereka tidak bertauhid dengan tauhid uluhiah kerana menyekutukan Allah dalam sembahannya.

Maknanya juga, dalam satu masa seseorang itu boleh dikira sebagai ahli tauhid dan musyrik. Inilah salah satu kepincangan tauhid ini yang mendapat sanggahan yang hebat daripada ulama Ahli Sunnah.

Sebagai menjelaskan lagi kepincangan dan kebatilan tauhid ini, marilah sama-sama kita merujuk kepada dalil-dalil ulama dari sudut akal dan naqal.

Dari sudut aqal

Sekiranya orang-orang musyrik termasuk di dalam golongan ahli tauhid rububiah (sebagaimana yang mereka percayai), bermakna mereka ini beriktikad dengan iktikad yang jazam (teguh dan tidak berbelah bahagi).

Dengan iktikad ini, sudah pasti mereka tidak akan meragui bahawa Allah itu Esa pada ciptaan, kekuasaan, pentadbiran, takdir dan perbuatan-Nya serta dalam mendatangkan suatu kesan sama ada manfaat atau pun mudarat, yang kesemuanya ini adalah komponen bagi tauhid rububiah.

Jika inilah keadaannya, bolehkah diterima akal, dengan iktikad sedemikian mereka boleh pula mengambil tuhan selain Allah untuk disembah, sedangkan tuhan yang lain itu tidak berkuasa mendatangkan sebarang manfaat atau mudarat kepada mereka?

Orang-orang musyrik pada setiap zaman dan tempat menyembah pelbagai sembahan selain Allah. Mereka mempercayai bahawa sembahan-sembahan mereka itu boleh melakukan sesuatu perbuatan, mendatangkan kesan, manfaat dan mudarat.

Boleh mendekatkan mereka kepada Allah, boleh mendatangkan sesuatu kebaikan bagi setiap orang yang datang meminta pertolongan kepada tuhan-tuhan mereka dan boleh mendatangkan mudarat kepada setiap orang yang berpaling daripadanya.

Semua kepercayaan ini menafikan tauhid rububiah.

Dari sudut naqal

Nas-nas syariat telah menetapkan secara jelas, terang dan qatie (pasti) bahawa orang-orang musyrik pada setiap masa dan tempat tidak akan mampu bertauhid dengan tauhid rububiah semata-mata dan menafikan uluhiah, tetapi mereka semua adalah orang-orang musyrik pada uluhiah dan rububiah sekali gus kerana kedua-duanya adalah perkara yang satu.

Sebagai contoh, kami sebutkan di sini dalil-dalilnya:

1. Firman Allah SWT dalam menceritakan tentang orang-orang musyrik ketika ditanya tentang rahsia sebenar mereka menyembah berhala selain Allah: Tidaklah kami (orang musyrik) menyembah atau memuja mereka (sembahan-sembahan mereka), melainkan supaya mereka mendampingkan kami kepada Allah dengan sedamping-dampingnya. (al-Zumar: 3)

Ayat ini jelas menunjukkan, orang-orang kafir beriktikad bahawa patung-patung mereka mempunyai kekuasaan untuk memberikan hidayah kepada mereka dan mendekatkan diri mereka kepada Allah. Maksudnya sembahan mereka itu mampu memberi kesan dengan sendirinya.

Maka di manakah letaknya tauhid mereka bagi tauhid rububiah?!.

2. Nabi Hud a.s ketika berdialog dengan orang musyrikin tentang patung-patung sembahan mereka dan ketika diterangkan kepada mereka bahawa sembahan mereka itu tidak berkuasa untuk mendatangkan sesuatu kepada mereka melainkan Allah, mereka berkata: Kami hanya boleh berkata bahawa setengah daripada tuhan-tuhan kami telah mengenakanmu sesuatu penyakit gila (disebabkan engkau selalu mencaci penyembahan kami itu). (Hud: 54)

Kepercayaan bahawa sembahan-sembahan mereka boleh mendatangkan kesan yang buruk, jelas menunjukkan bahawa orang musyrik mempercayai pada sembahan-sembahan mereka ada kekuasaan yang boleh melakukan sesuatu perbuatan dan mendatangkan kesan mudarat atau manfaat.

Ini menunjukkan bahawa orang musyrikin tidakpun mengesakan Allah pada rububiah tetapi menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain pada tauhid uluhiah. Iktikad mereka ini ternyata berbeza dengan apa yang dipercayai oleh pendokong bidaah pembahagian tauhid.

3. Allah SWT berfirman: Tidakkah engkau pelik memikirkan (wahai Muhammad) tentang orang yang berhujah membantah Nabi Ibrahim (dengan sombongnya) mengenai tuhannya (Rabb) kerana Allah memberikan orang itu kuasa pemerintahan? Ketika Nabi Ibrahim berkata: Tuhanku (Rabbi) ialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Ia (Namrud) menjawab: Aku juga boleh menghidupkan dan mematikan. (al-Baqarah: 258)

Berdasarkan ayat di atas jelas dapat dilihat, Namrud telah mendakwa dirinya dengan perkara yang berkaitan tentang rububiah seperti mempunyai kerajaan, kekuasaan dan pemerintahan.

Dia juga mempercayai mempunyai keistimewaan rububiah yang boleh menghidupkan dan mematikan. Kemudian selepas itu, dia berdebat dengan Nabi Ibrahim a.s tentang Rabbnya (tuhan yang menjadikan) dan bukan tentang Ilahnya (tuhan yang disembah) sebagaimana penggunaan istilah dalam ayat tersebut.

Adakah selepas penjelasan ini, masih ada yang mendakwa: Sesungguhnya Namrud adalah ahli tauhid dengan tauhid rububiah dan Nabi Ibrahim a.s telah datang kepadanya untuk mengajak kepada tauhid uluhiah sahaja?

4. Allah SWT telah berfirman dalam menceritakan tentang Nabi Yusuf a.s yang mengajak sahabat-sahabat sepenjaranya kepada akidah tauhid yang suci:

Wahai sahabat sepenjaraku berdua! Memuja dan menyembah berbilang-bilang tuhan (Arbaab – jama’ kepada Rabb) yang bercerai-berai itukah yang lebih baik atau menyembah Allah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Berkuasa? (Yusuf: 39)

Marilah bersama saya memerhatikan perkataan Nabi Yusof a.s ketika mempersoalkan tentang Tuhan yang lebih baik disembah: “Adakah Tuhan-tuhan (Arbab) yang bercerai-berai. Beliau tidak berkata: “Tuhan-tuhan (Aalihah – jamak kepada Ilah).”

Adalah jelas bahawa penghuni penjara menyembah lebih daripada satu Rabb dan lebih daripada satu Ilah.

Adakah masih boleh diterima oleh akal yang sejahtera, jika dikatakan: Orang-orang musyrikin bertauhid dengan tauhid rububiah dan Nabi Yusuf datang kepada mereka dengan membawa tauhid uluhiah sahaja? Maha Suci Allah, ini adalah suatu pembohongan yang besar!.

5. Allah SWT berfirman menceritakan tentang Firaun yang berkata ketika menakut-nakutkan kaumnya agar mereka mentaatinya. Firaun berkata: Akulah tuhan kamu (Rabbukum) yang tertinggi. (al-Naazi’aat: 24)

Demikianlah dakwaan rububiah Firaun bagi dirinya dan dia cuba mengagamakan kaumnya dengan rububiah ini. Maka dari sini, tidakkah ada langsung sebesar zarah perasaan salah bagi mereka yang mendakwa bahawa Firaun dan kaumnya bertauhid dengan tauhid rububiah dan telah datang kepada mereka Musa Kalimullah a.s dengan tauhid uluhiah sahaja?

Di ketika yang lain, Firaun juga mendakwa uluhiah bagi dirinya ketika dia berkata: Wahai orang-orangku, aku tidak mengetahui adanya bagi kamu sebarang tuhan (ilah) selain daripadaku. (al-Qasas: 38)

Ini menunjukkan bahawa tidak ada perbezaan di antara rububiah dan uluhiah. Oleh kerana itu, sesiapa yang mendakwa dirinya dengan rububiah, maka dia telah menjadikan dirinya Ilah (sebagai tuhan yang patut disembah).

Sesiapa yang mendakwa dirinya dengan uluhiah pula, maka dia telah menjadikan dirinya sebagai Rabb (tuhan yang menciptakan, mentadbir dan sebagainya) bagi orang lain.

6. Mayat-mayat yang berada di dalam kubur, masing-masing tidak ditanya tentang uluhiah dan tauhidnya, tetapi malaikat akan bertanya kepadanya: Man Rabbuka? (Siapakah rab (tuhan) kamu?”

Sekiranya tauhid itu seperti yang dipercayai oleh Ibnu Taimiyyah, yang mana semua manusia di sisinya beriktikad dengan tauhid rububiah, kenapakah soalan malaikat ini masih diperlukan dan bermanfaat?

Ini menunjukkan bahawa dakwaan Ibnu Taimiyyah adalah tidak benar dan palsu semata-mata.

Kesimpulannya, orang yang syirik pada uluhiahnya dikira sebagai syirik pada rububiahnya juga. Sesiapa yang syirik pada rububiah maka dia juga adalah syirik pada uluhiah.

Minggu hadapan kami akan mengemukakan dalil-dalil mereka dan jawapan ulama tentang kesamaran dakwaan mereka. Benarlah perumpamaan Quraniy bahawa, sesungguhnya rumah yang paling rapuh ialah rumah labah-labah. (al-Ankabut: 41). Wallahu a’lam.

Tauhid Uluhiah & Rububiah – 3

Syarat sah syahadat kita adalah mengucap dengan lisan, membenarkan dengan hati dan beramal dengan anggota.

Menyorot ruangan Relung Cahaya minggu lepas, kita telah pun mempersoalkan dan membincangkan secara ringkas tentang sumber tauhid tiga serangkai ini.

Setelah kita mengetahui dengan jelas bahawa pembahagian tauhid kepada tiga ini tidak mempunyai sumber yang sahih di sisi syarak, maka pada minggu ini kami ingin mengajak pembaca menghalusi lagi penelitian tentang permasalahan ini agar kebenaran akan terserlah dan kebatilan akan terpadam.

Memandangkan pereka tauhid bidaah ini mengklasifikasikan tauhid kepada tiga, maka kami ingin mengemukakan persoalan, apakah terdapat perbezaan di antara tauhid uluhiah dan rububiah?

Sebelum persoalan ini dijawab, kami ingin berkongsi dengan pembaca tentang jawapan ringkas melalui e-mel yang kami terima daripada seorang pembaca yang pro-tauhid tiga serangkai ini.

Namun, jawapan yang mewakili penghantar tidak menjawab persoalan yang diutarakan pada minggu lepas.

Beliau hanya mengemukakan hujah hasil dari pemikiran Ibnu Taimiyyah seperti yang dapat dilihat di dalam kitab-kitabnya, sedangkan hujah Ibnu Taimiyyah ini telah lama disangkal oleh ulama ahli sunnah.

Perlu kita fahami, tidak semua ilmu yang diformulasikan atau semua hasil istiqra’ (telaah) atau pemikiran seseorang itu boleh diterima jika tidak sejajar dengan al-Quran dan sunnah.

Apatah lagi, ilmu yang berkaitan dengan akidah yang mesti dirujuk dengan rapi dan betul kepada sumber yang sahih lagi mutawatir. Jika wujud kepincangan, maka ia tertolak sama sekali.

Kepincangan itu telah pun dibincangkan oleh ulama dan telah pun kami paparkan dan akan kami sebutkan, insya-Allah.

Menurut penghantar e-mel itu lagi, mengingkari tauhid tiga ini bererti tidak bertafaqquh terhadap kitab Allah, tidak mengetahui kedudukan Allah, mengetahui sebahagian dan tidak mengetahui sebahagian yang lainnya.

Dengan spontan benak hati kami bertanya, inikah jawapan yang sepatutnya kami peroleh daripada seseorang yang merasa telah bertafaqquh dengan kitab Allah?

Kami juga agak terkejut dengan kenyataan ini. Jika mereka yang mengingkari tauhid tiga ini dianggap tidak bertafaqquh dengan kitab Allah, bagaimanakah kedudukan ulama dan para sarjana yang telah saya sebutkan pada siri pertama yang mengingkari pembahagian tauhid ini?

Apakah al-Azhar, sebuah universiti yang diiktiraf oleh dunia Islam, mempunyai ulama dan tokoh-tokoh yang lemah kefahamannya tentang kitab Allah? Bagaimana pula dengan Mufti Mesir yang telah menafikan dengan lantang perkara ini di dalam fatwanya?

Apa pun jawapan yang dikemukakan oleh pro tauhid tiga serangkai ini, ia telah kami rujuk di dalam kitab asalnya yang sememangnya tersimpan kemas di perpustakaan kami.

Ramai ulama yang telah menjawabnya, cuma pada keluaran kali ini kami tidak berkesempatan untuk menyertakannya.

Sebaiknya kita tinggalkan dahulu tajuk ini dan kembali kepada persoalan hari ini.

Kenapa soalan ini dikemukakan dan sebelum persoalan ini dijawab, kami ingin nyatakan di sini bahawa melalui tauhid tiga serangkai ini didapati perekanya, Ibnu Taimiyyah dan pengikut-pengikutnya telah menyatakan bahawa:

1. Orang musyrik atau orang yang menyekutukan Allah adalah ahli tauhid (orang yang mengesakan Allah) dengan tauhid rububiah.

2. Tauhid orang musyrik ini samalah dengan tauhid sebahagian orang Islam yang bertawassul, beristighathah dan bertabarruk dengan para nabi dan orang-orang soleh.

Ini bermaksud orang Islam yang bertawassul (memohon kepada Allah melalui perantaraan), beristighathah (menyeru minta tolong) dan bertabarruk (ambil berkat) samalah dengan orang musyrik kerana tidak memiliki tauhid uluhiah kerana dianggap menyembah apa yang ditawassulkan.

Kenyataannya berbunyi: “Tauhid rububiah sahaja tidak menafikan kekufuran seseorang dan tidak mencukupi bagi keimanan/keislaman seseorang”. (Risalah Ahli al Suffah H: 34.)

“Sesungguhnya orang-orang musyrik adalah ahli tauhid dengan tauhid rububiah. Mereka tidak termasuk dari kalangan ahli tauhid uluhiah kerana telah mengambil sembahan-sembahan yang lain untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT”.

Mereka juga menyatakan: “Sesungguhnya orang-orang Islam yang bertawassul dan beristighathah dengan para Nabi dan orang-orang soleh serta bertabarruk dengan mereka (para nabi dan orang-orang soleh), adalah kufur. Bahkan, kekufuran mereka lebih dahsyat daripada kekufuran Abu Lahab, Firaun, Haman dan lain-lain”. (Fatawa Ibni Taimiyyah 14/380).

Ini adalah antara kenyataan yang tidak ditulis dan tidak ditemui di dalam kebanyakan kitab-kitab berkaitan pembahagian tauhid ini di Malaysia.

Di negara kita, tauhid ini masih berada dalam peringkat pengenalan. Tetapi jika kita merujuk kepada kitab Ibnu Taimiyyah, Muhammad ibn Abdul Wahhab dan pemuka-pemukanya, kenyataan ini banyak ditulis di dalam kitab-kitab mereka. Inilah natijah sebenar yang akan kita dapati dari pembahagian tauhid ini.

Oleh kerana itu, kita dapati di kebanyakan negara timur tengah yang telah lama memakai tauhid ini berlaku pergolakan, perpecahan dan pembunuhan akibat gejala sembarangan mengkafirkan dan menghalalkan darah umat Islam yang dianggap menyanggahi tauhid ini.

Malah, dengan tauhid inilah menyebabkan berlakunya keruntuhan kepada Empayar Uthmaniyyah yang merupakan empayar terbesar Islam suatu ketika dahulu. Insya-Allah, perinciannya akan kami susuli pada keluaran akan datang.

Apa yang pasti, kenyataan Ibnu Taimiyyah ini jelas bertentangan dengan dalil-dalil syarak dan telah diketahui secara dharuri di sisi ulama.

Bagi menjelaskan tentang kesalahan dan kebatilan pendapat mereka ini, maka soalan ini dijawab: Sesungguhnya tidak ada perbezaan di antara tauhid uluhiah dan tauhid rububiah.

Kedua-duanya adalah perkara yang sama dan tidak boleh dipisahkan serta tidak menerima sebarang pembahagian. Allah tidak menerima daripada hamba-hamba-Nya, melainkan akidah tauhid yang tulus dan suci kepada-Nya, Tuhan sekelian alam, yang dilafazkan dengan lidah, diiktikad dengan hati, diamalkan dengan anggota jasad dan dimanifestasikan dengan kalimah (Laa Ilaaha Illallah).

Dengan perkara inilah, semua Nabi dan Rasul diutuskan.

Adakah orang kafir ahli tauhid?

Terhadap pendapat yang menyatakan bahawa orang kafir dan musyrik sejak zaman berzaman adalah ahli tauhid dengan tauhid rububiah dan para Rasul a.s tidak diutuskan melainkan dengan tauhid uluhiah.

Jawabnya: Hakikatnya, pendapat ini merupakan suatu perkara yang telah menutup pintu kebenaran dan hakikat, menyalahi akal dan syarak dan mendustai penjelasan daripada nas-nas al-Quran dan sunnah.

Perkara ini juga merupakan perkara bidaah yang sesat dan tidak terdapat pada umat salaf yang terawal. Tauhid seperti ini meruntuhkan akidah dan bersifat saling bercanggah.

Dalam satu masa, mereka telah menjadikan sekelompok orang Islam sebagai ahli tauhid dan bukan ahli tauhid. Ini suatu perkara yang pelik.

Sedangkan, realitinya ialah seseorang itu mesti berada di salah satu kedudukan, iaitu sama ada berada dalam kedudukan ahli tauhid atau pun musyrik. Tidak boleh seseorang itu berada di antara dua keadaan (tauhid dan kufur).

Kepercayaan mereka juga tentang ketauhidan orang musyrik dengan tauhid rububiah tidaklah benar. Bahkan dakwaan ini adalah suatu penipuan yang ditolak sama sekali oleh akal dan naqal.

Insya-Allah, kami akan mengemukakan dalil-dalil dari akal dan naqal pada minggu hadapan.

Sesungguhnya perkara yang paling pelik ialah menganggap orang kafir sebagai ahli tauhid dan menganggap orang Islam yang telah mengucapkan kalimah tauhid sebagai bukan ahli tauhid.

Renungilah! Berfikir sesaat lebih baik daripada beribadat 70 tahun. Ibadah Abu Darda’ r.a yang paling utama selepas melaksanakan kefarduan ialah bertafakur kerana dengannya dia sampai kepada hakikat suatu perkara dan membezakan di antara yang hak dan batil.

Bahkan, dengannya juga dia dapat menilik kerosakan dan helah nafsu yang halus, tipu daya dunia, dan mengenali helah-helah untuk lebih berwaspada dengannya.

WAHHABI (Drmaza&Uthaimien) MENGKAFIRKAN RAJA SAUDI (Amir wahhaby)

WAHHABI (Drmaza&Uthaimien) MENGKAFIRKAN RAJA SAUDI

Wahhabi (Drmaza&Uthaimien) Mengkafirkan Raja Saudi?

VIDEO (LIHAT PADA MINIT 1) RAJA SAUDI RAJA ABDULLAH BERDOA MENGHADAP SECARA JELAS KEPADA KUBUR NABI. AMALAN INI SEMUA WAHHABI SEPAKAT ADALAH KAFIR SYIRIK BESAR TERKELUAR DARI ISLAM (MURTAD) SESIAPA YANG MELAKUKANNYA.-FATWA WAHHABI

Bekas basi Muftary Perlis Mohd Asri Zainul Abidin yang suka menghina Raja Saudi Arabia dengan penghinaan yang buruk tidak beradab kini menonjolkan siapa dirinya berguru dengan Wahhabi Muhammad Soleh Al-Uthaimien yang menghukum KAFIR dan SYIRIK BESAR ke atas sesiapa yang berdoa menghadap maqam Nabi Muhammad. Raja Saudi ‘Malik’ Abdullah secara jelas berdoa menghadap maqam Nabi Muhammad dan ini secara maknanya Mohd Asri dan gurunya Al-Uthaimien mengkafirkan Raja Saudi Raja Abdullah seperti kebiasaan Mohd Asri menghina raja-raja Saudi dengan kutukan dan hinaan yang amat buruk.

GAMBAR RAJA SAUDI RAJA ABDULLAH BERDOA MENGHADAP KUBUR NABI DAN AMALAN INI DIHUKUM OLEH KESEMUA WAHHABI SEBAGAI KAFIR DAN SYIRIK BESAR. LIHAT BAGAIMANA WAHHABI MEMPERDAYAKAN KERAJAAN DAN RAJA SAUDI ARABIA UNTUK MENYEBARKAN KESESATAN MEREKA (WAHHABI). RAJA ABDULLAH RAJA SAUDI PUN DIKAFIRKAN OLEH WAHHABI SAUDI.

FATWA WAHHABI MENGHUKUM AMALAN BERDOA MENGHADAP KUBUR NABI ATAU MANA-MANA KUBUR SEBAGAI KAFIR SYIRIK BESAR. RAJA ABDULLAH RAJA SAUDI MELAKUKANNYA. INI JELAS WAHHABI SEPERTI AL-UTHAIMIEN GURU KEPADA MOHD ASRI ZAINUL ABIDIN MENGHUKUM RAJA SAUDI SEBAGAI KAFIR SESAT. WAHHABILAH YANG MENGKAFIRKAN KERAJAAN SAUDI ARABIA.

Terjemahan kata Wahhabi Al-Uthaimien guru kepada Mohd Asri: ” perbuatan menghadap kepada Rasulullah ketika berdoa adalah SYIRIK BESAR KELUAR DARI ISLAM” – Fatwa 1416

Zionist Conspiracy = Anti christ (To destroy christian) and Wahhaby (To destroy Moslem)

Zionist Conspiracy = Anti christ (To destroy christian) and Wahhaby (To destroy Moslem)

antichrist prince william

“Zionist yahudi ingin menguasai dunia penghalangnya adalah Islam dan Kristen”

bagai mana yahudi untuk mengalahkan islam dan kristen?

1. Yahudi mengadu islam  vs kristen dengan membuat aliran-aliran radikal (spt majelis  mujahidin indonesia (wahaby), noordin M top cs (wahaby), taliban (wahaby, taliban/alqaida adalah pendatang yang memecah balah umat islam di afgan dan yang merusak perjuangan suci rakyat afgan melawan penjajah, ia menegakan hukum wahaby bukan hukum islam), dsb.

2. Mengadu sesama umat islam (membuat aliran-aliran sesat seperti wahhaby, islam liberal dsb.)

3. Mengadau sesama kristen (seperti membuat aliran-aliran radikal  dalam kristen)

A. Wahhaby symbol (Saudi arabia kingdom or wahhaby kingdom  symbol)

from : http://www.alriyadh.gov.sa/election/en-sh.asp

An emblem was designed for the elections campaign. It evokes the national symbol of Saudi Arabia and highlights the electoral process as a continuous build up and preservation of the country’s achievements in the field of development.

The campaign also selected a quotation from the address of the Custodian of the Two Holy Mosques King Fahd bin Abdul Aziz (Chief of wahhaby) in which he called on the citizens to practice the election process as it is a participation in the decision making.


‘Sir’ Fahd – Dapat Penghargaan Inggeris dan BERKALUNG SALIB

Mungkin ramai yang tidak mengetahui yang Kerajaan Arab Saudi berhutang budi dan “body” serta nyawa dengan Empayar British. Ini adalah kerana “berkat” kerjasama dan bantuan Britishlah, maka tertubuhnya Kerajaan Arab Saudi mengikut sunnah Great Britain bersendikan ajaran Wahhabiyyah. Pemimpin-pemimpin Saudi merupakan “loyal servants” bagi Empayar British, dahulu dan sehingga kini, dan kini ditambah pula jadi khadam Amerika dan sekutunya, Bahkan Raja Abdul Aziz menerima gaji bulanan berjumlah 5,000 paun sterling daripada British mulai tahun 1917. Selain daripada itu, Kerajaan British telah menganugerahkan “knighthood” kepada Raja Abdul Aziz, bahkan Raja Fahd pun dapat anugerah tersebut.

Walau apa pun Raja Fahd dah pergi menemui Penciptanya, tetapi kebenaran harus dan perlu diketahui ramai. Hansome tak Fahd dengan berkalungkan pingat salibiyyah di lehernya ? Apa pulak fatwa ulama Wahhabi , kalau orang pakai azimat tentu mereka terus tuduh kafir dan syirik. Kalau pakai salib, nak kata apa ? Kalau tuan-tuan dan puan-puan nak tengok lagi gambar warna kesegakan Raja Fahd dengan pingat kebesarannya boleh carilah buku “Custodian of the Two Holy Mosques King Fahd bin Abdul Aziz”, Guernsey, Channel Islands, 2001, p. 214, karya Dr. Fouad al-Farsy.

Berikut petikan dari buku Dr. Hamid Algar “Wahhabism: A Critical Essay”, mukasurat 38 – 39:-
  • The first contact was made in 1865, and British subsidies started to flow into the coffers of the Saudi family, in ever growing quantity as World War One grew closer. The relationship fully matured during that war. In 1915, the British signed with the Saudi Ruler of the day, ‘Abd al-’Aziz b. Sa`ud (Ibn Sa`ud), one of those contracts with their underlings that were euphemistically known as “treaties of friendship and cooperation”. Money was, of course, the principal lubricant of friendship and cooperation, and by 1917 the Saudi ruler was receiving five thousand (5,000) pounds a month, not a bad sum for a junior hireling of the British Empire. However, the British also graciously saw fit to confer a knighthood on the champion of Wahhabism. (In later years these formalities continued to be observed; in 1935, ‘Abd al-’Aziz b. Sa`ud was made a Knight of the Order of the Bath. Likewise, when visiting Queen Elizabeth in 1986, King Fahd, “Custodian of the Two Holy Mosques,” was photographed with the cruciform insignia of a British knightly order hanging round his neck.)

Allahummashuril Islam wal Muslimin bijaahi Sayyidil Mursalin.

Khutbah Jumaat al-Sheikh Prof. Dr. Muhammad Saed Ramadhan al-Bouthi



* Al-Sheikh Prof. Dr. Muhammad Saed Ramadhan al-Bouthi adalah tokoh ulama’ yang tak perlu diperkenalkan lagi dalam dunia Islam hari ini. Kuliah masjidnya di Syria dan merata dunia sentiasa penuh dan melimpah. Beliau pernah datang ke Malaysia beberapa kali dalam beberapa seminar dan acara.

* Ayah beliau, al-Sheikh Mulla Ramadhan, seorang alim yang sangat terkenal di Syria pada zamannya. Anaknya Dr. Taufiq Ramadhan al-Bouthi juga sering ke seluruh dunia untu berdakwah termasuk Malaysia.

* Berkenaan dengan gerakan Wahhabi, beliau mendedahkan bahawa Wahhabi adalah satu gerakan yang dirancang (sebahagiannya) pengasasannya oleh kerajaan British yang pada satu ketika dulu menakluki negara-negara Islam. Lihatlah kandungan khutbahnya pada Hari Jumaat 5 Rejab 1423H bersamaan 5 Sept 2003.

Terjemahan (Bergaris Merah):

“Seluruh dunia mengetahui tentang peranan kerajaan Britain yang memainkan peranan utama dalam memecahbelahkan umat Islam…

Dan aku terpaksa membentangkan kedudukan ini kepada kamu dengan disertakan beberapa nama dan dokumen.

Barangsiapa yang pernah membaca buku “Tujuh Tunggak Pemerintahan” oleh Lawrence, dan membaca dokumen-dokumen yang lain, akan tahu dengan sejelas-jelasnya apa yang aku katakan bahawa Britain telah memainkan peranan utamanya dalam memecah belahkan umat Islam sebelum pihak-pihak yang lain dan mereka telah mewujudkan tiga pasak untuk itu.”

“Pasak pertama: Fahaman al-Qadiyaniyyah, ia adalah pasak yang diwujudkan oleh Britain di India dan kawasan-kawasan sekitarnya.

Pasak kedua: Fahaman al-Babiyyah dan/atau al-Baha’iyyah ia adalah pasak yang diwujudkan oleh Britain di Mesir dan di beberapa penjuru di Asia Tenggara.

Pasak ketiga: Fahaman al-Wahhabiyyah, ia adalah pasak yang diwujudkan oleh Britain di kepulauan Arab, rujuklah kepada sumber yang telah aku nyatakan tadi, untuk kamu mendapatkan pengakuan yang nyata dan berani mengenai perkara ini.”

Muhasabah Diri

Sesiapa yang mengenali Sheikh al-Bouti pasti tidak teragak-teragak dengan kebenaran kenyataan ini.

Adakah rancangan British untuk memecahbelahkan umat Islam dengan ketiga-tiga fahaman ini berjaya? Masing-masing boleh fikir dan jawab

Berdoalah agar kita tidak termasuk ke kancah tipu daya British. Amin.

http://al-ashairah.blogspot.com/2008_05_01_archive.html

Yang Saya Maksud Wahabi Aliran Keras
Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir.

Wahabi aliran keras. Itu yang dimaksudkan Hendropriyono ketika menyebut habitat Noordin M Top sehingga sulit untuk ditangkap. Kepada Sabili di Jogjakarta, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu menjelaskan siapa yang dimaksud dengan Wahabi di balik serangan bom di Indonesia .

Dalam sebuah wawancara di stasiun televisi swasta, Jenderal TNI (Purn) Dr. Ir. Drs. Abdullah Mahmud Hendropriyono SH, SE, MBA, MH menyebut Wahabi, terkait dengan rentetan pemboman yang terjadi di negeri ini. Ketika Sabili mengkonfirmasi wahabi yang dimaksud, Hendro menjelaskan panjang lebar.

“Ketika itu saya ditanya oleh Metro TV tentang teroris, kenapa masih terus terjadi? Saya bilang, selama lingkungan masih ada yang menerima Noordin M Top, maka terorisme akan terus berlangsung. Agama kita, memberi pengertian yang dalam, bahwa tujuan yang baik tidak harus menghalalkan segala cara. Yang rugi, jelas umat Islam dan negara kita sendiri. Karena itu, harus dihentikan. Tujuan baik kalau caranya salah tetap salah.”

Lantas siapa yang dimaksud dengan lingkungan atau habitat Noordin M Top? Dikatakan Hendro, doktrin klasik kita, cuma mengenal dua, yaitu: al mukminin dan al kafirin. Antara al mukminin dan al kafirin itu ada yang dipertajam, dan ada yang memperhalus. “Yang mengkafir-kafirkan sesama Muslim inilah yang saya maksud sebagai habitat. Abu Ghifari, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) adalah salah satu yang tidak setuju doktrin mengkafir-kafirkan, makanya dia keluar dari JI, tapi bukan berarti dia tidak Islam. Kalau anggota JI punya pendirian seperti dia, Indonesia pasti aman.”

Hendro memberi contoh, Yayasan Muaddib di Cilacap, justru menciptakan masyarakat sendiri. Inilah masyarakat yang menjadi habitat Noordin M Top. Sekarang polisi terus memburu ketua yayasan pesantren itu.


Nasir Abbas


Baca Buku Membongkar “Jamaah Islamiyah”

Menurut Hendro, Noordin M Top punya akses langsung ke Al Qaidah. Karenanya, dunia kecolongan. Usamah bin Ladin dan Aiman Az Zawahir, sudah masuk ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Begitu JI dikendalikan oleh Abu Rusydan dan Nasir Abbas, organisasi itu mulai moderat.

“Tidak semua Wahabi, lho. Yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras. Kelompok ini tidak mau berpartai, karena partai menurutnya kafir. Kelompok keras ini beranggapan, dalam Islam tidak ada demokrasi. Menurut saya, setiap negara seyogianya punya filsafat dan ideologinya sendiri. Setelah itu, kita bisa hidup berdampingan secara damai. Tapi kalau mengusung ideologi internasionalisme, tidak bakal ketemu.”

Dikatakan Hendro, bahasa yang digunakan dalam terorisme ternyata terbelah atas dua tata permainan bahasa; mengancam dan berdoa. “Para pelaku terorisme juga mengalami kegagalan kategori, yaitu ketidakmampuan untuk membedakan pengetahuannya sehingga mengakibatkan subjek dan objek terorisme menjadi tak terbatas,” ungkap Hendro yang baru menyandang predikat doktor ilmu filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) dan berhasil meraih cumlaude Sabtu lalu (25/7).

Subjek terorisme mempunyai kondisi kejiwaan yang memungkinkan berkembangnya fisik, emosi dan intelektual secara optimal, karena mereka adalah orang normal, buka orang gila. Semua tindak terorisme, termasuk di Indonesia saat ini, adalah implementasi cara berpikir para pelakunya. Terorisme sendiri terjadi akibat ideologi, bukan kepentingan. “Apa yang bisa menghentikan terorisme adalah dengan menghentikan cara berpikir seorang yang berkepribadian terbelah. Kalau itu berhenti, teroris berhenti.”

Terorisme, kata Hendro, terjadi akibat benturan dua filsafat universal dunia, yakni demokrasi yang tidak dilaksanakan secara etis dan fundamentalisme. Selama keduanya belum berubah ke arah yang lebih baik dan menyatu, terorisme akan terus ada.

Diakui Hendro, di antara ideologi itu, ada yang menginginkan liberalisme dan kapitalistik. Sedangkan Islam menginginkan kekhilafahan. Kalau kita ingin perdamaian dunia, maka harus merupakan sintesis dari dua tesis. Sekuler-liberal dengan Islam yang akomodatif-moderat. “Kalau tidak gitu, gak ketemu. Teror dibalas teror gak selesai. Dunia akan terus kecolongan, sebelum kita selesaikan.”

Jadi yang ngebom-ngebom itu Wahabi, begitu? “Wahabi aliran keras lah yang mengakomodir Noordin M Top masih tetap hidup. Apa susahnya mencari Noordin M Top, dia orang Malaysia, logatnya saja kentara bahwa dia bukan orang Indonesia . Makanya lingkungan atau habitatnya harus dibersihkan. Yaitu aliran keras Wahabi yang kawin dengan aliran keras Ikhwanul Muslimin.”

Bukankah Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin berbeda? “Ya, akhirnya mengerucut di Al Qaidah. Jadi Usamah itu adalah gabungan salafi, wahabi, ikhwan,” terang Hendropriyono.

Seringkali Wahabi dijadikan stigma terhadap kelompok Islam tertentu. Yang ujung-ujungnya adalah Islamphobi. Menanggapi itu, Hendro mengatakan, “Itu orang nggak ngerti. Apa gunanya kita punya kementrian agama, harusnya diberi penjelasan, apa itu wahabi, salafi, Ikhwanul Muslimin dan Al Qaidah, biar jelas. Kalau yang menjelaskan intelijen, saya disalahin melulu. Capek saya,” ujar lelaki kelahiran Yogyakarta , 7 Mei 1945.

Yang jelas, tudingan Wahabi pernah dilekatkan pada PKS dan ormas Islam lainnya. Mereka tidak terima. “Memang, orang pasti akan bertanya, Wahabi yang mana? Salafi yang mana? Itu sama saja menyebut Jawa yang mana? Sekali lagi, yang saya maksudkan adalah Wahabi aliran keras yang tidak mau berpartai. Kalau ada yang mengikuti demokrasi, mereka akan mengkafirkan. Ini Wahabi yang saya maksud. Orang yang menyebut kafir karena menolak demokrasi, ini harus dibersihin. Terorisme akan hidup terus selama masih ada orang yang suka mengkafirkan!”

Apakah penyebutan Wahabi ini akan menjadi pukat harimau bagi gerakan Islam? Hendro yang mengaku dari kecil sekolah di Muhammadiyah pun juga Wahabi. Tapi, Hendro mengatakan, Muhammadiyah bukan Wahabi yang merusak. “Mereka takut. Kan saya tidak mau pukul rata, saya bukan orang tolol, ini Wahabi yang mana dulu. Yang maksudkan alah wahabi aliran keras. Memang yang lembut bisa menjadi keras. Itulah harus kita bersihin. Sebut saja Muhammadiyah, ada tarik menarik, untuk menjadi Wahabi, ada pula yang ingin menjadi Liberal. Posisi Muhammadiyah pun jadi rebutan ideologi.”

Perkembangan geopolitik global menjadi penyebab lahirnya terorisme global. Tapi tidak harus teror jawabannya, harusnya uswatun hasanah. Teror itu bukan perang. Hendro tidak setuju, dengan memunculkan Wahabi ini akan melemahkan spirit Islam sendiri. “Oh, nggak, bukan begitu. Kita tidak usah bergantung Wahabi. Kita berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits. Kenapa kita harus ikut-ikutan yang bukan Nabi. Tujuan baik kalau jalannya salah, keliru.”

Persoalannya bukan hanya di dalam internal umat Islam sendiri, melainkan juga keterlibatan unsur asing. Hendro mengatakan, bukan tidak mungkin, ada keterlibatan CIA. Yang jelas, yang bisa menyelesaikan adalah kita sendiri, bukan orang lain. Sebab, jika dari luar, nambah gak karuan negeri ini.

Menurut Hendro, untuk menghancurkan suatu jaringan ada empat poin yang bisa dilakukan. Pertama, tangkap orang-orang kunci. Kedua, putuskan hubungan. Ketiga pangkas support logistic. Keempat bersihkan lingkungan. Kempat inilah yang akan menghancurkan organisasi. Ketika bom berulangkali terjadi, ada kemirisan yang muncul, umat Islam kembali menjadi kambing hitam. “Itulah yang membuat saya sedih. Makanya sebelum saya mati, mudah-mudahan saya masih bisa melihat Indonesia aman, dan menjadi ummatan wahidah, umat yang bersatu. Umat ini terbelah akibat Noordin M Top.” (sabili)

(Oleh Adhes Satria & Eman Mulyatman)

http://swaramuslim.net/more.php?id=6307_0_1_0_M

__________

B. Zionist Anti Christ symbol (Symbol of British King dom)

https://i0.wp.com/img217.imageshack.us/img217/4977/skullandbonessocietykn4.jpg

TRACKING DOWN AND NARROWING THE IDENTITY OF THE FUTURE ANTICHRIST
____________________________________________________________

antichrist prince william

The Ancient World Powers are discussed in Daniel’s Prophecies
Briefly the four beasts were: a Lion, a Bear, a Leopard with four wings, and a fourth Wild Beast (a Dragon) not corresponding to any actual animal, unusually strong, with large iron teeth, ten horns, and another Little Horn developing, with a Man’s eyes and “a mouth speaking great and boastful things against the Lord.” These four distinct creatures are represented in the following ancient and historical fulfillments of Daniel’s Prophecy. Babylon (the Lion) fell to the Medo-Persian kingdom (The Bear) which, in turn, was ended by the lightning conquest of the Grecian forces (the Leopard) led by Alexander the Great. In a few short years he built an Empire which embraced parts of the Mideast, Asia, Europe, and Britannia, in essence the very first European based Empire to hold such a global position [making Alexander the first European archetype for the future Antichrist]. After Alexander’s death, his generals (the four wings on the Leopard) struggled for control of the Grecian Empire, four of them eventually gaining rulership of different sections. At this time, Israel was fought over by the rival Seleucid and Ptolemaic kingdoms, and Greece eventually ruled over the Holy Land. The Grecian Empire was eventually taken over completely by the new and more powerful Roman Empire (the Wild Beast), as it quickly amassed global dominance being stronger than any before it. As a result and because the Israelites continued to rebel against God and doing his Will, Rome likewise gained full control over the nation of Israel.

In its time, the Roman Empire surpassed all the preceding empires not only in the extent of its domain (covering the entire Mediterranean area and reaching the British Isles) but also in the efficiency of its military machine and power of its application of Roman law to the provinces of its far reaching European empire. Its Pax Romana (Roman peace) was merely a foreshadowing of the yet to be revealed, New World Order of the Ages, that future United Europe whose kingdom is actually called in Scripture the last world empire, yet stronger than any other empire before it (meaning the future European Union will far exceed the power and might of present day America). Rome was also the world’s political instrument in power at the time of Christ’s first advent and so will be in power again, according to prophecy, just before His Return, making its very existence today yet another strong sign we are entering the timeframe when the rest of prophecy is to be fulfilled. There will be a Revival of the Roman/Euro Empire shortly before Christ’s Return at Armageddon. Interestingly, right after the Crucifixtion, it was the ancient Romans who created the necessary port city of Londinium (today’s London), a place where they could land their ships and storm onto the English shore in search of it’s last territorial land grab before Rome’s impending demise, it became the most important trading port from Rome to this new world, this ‘New Rome.’ When Rome did die and eventually broke up into the various European nations, Great Britain, over time, ultimately took the globally dominant position in the world, raising itself up to be the new “Anglo” Roman Empire, better known as the British Empire. This is interesting because Scripture tells us that the Antichrist Prince will be of the Roman Empire, whose power (as we now know) was then given over to London, a Roman city. In other words, what we are quite possibly reading in Daniel 9:26-27 is that the Antichrist is a Prince of London. Interesting also is that the rest of prophecy in Daniel and Revelation describes the Antichrist as a King.

The British Empire became far stronger than ancient Rome ever had, and she ruled the seas and many nations, just as Rome did. What’s really interesting is that the European Union itself, created in 1993, has been patterned exactly after the ancient Roman Empire, including many of the same countries that were under Roman occupation and rule at the time of Christ, just as prophecy stated it would. Furthermore, the specific prophecies in Revelation and Daniel make clear that this all powerful (and still future) United Nations of Europe will return to it’s former glorious power that was Rome. Obviously this must occur after America, the current Rome, is somehow left behind or diminished in power while the rest of the world advances headlong toward the Tribulation (which is the common belief among Chirstian prophecy scholars who agree that America will be destroyed before the coming of the Antichrist allowing the emergence of Europe to take center stage), again, a yet-to-be revealed future time and event to make this possible. As it is determined by the men who control the European Union, America removed as a leading world power will most assuredly prompt the need for another Atlantic nation to take the reigns of global dominance and more openly establish her own rule of law [and Western-Zionist idealogy] throughout the rest of the known world, further solidifying the goals of the Illuminati. One last point of interest here with Europe, the placement of those European nations which attacked Israel (or Jews) before since the time just before Christ, has been Greece (150 BC) then Rome (50 BC-70AD), and more recently, Germany (1939-45). Looking at Greece, Rome, and Germany on a map shows an interesting line of succession all moving increasingly northwest from Israel, each seemingly pointing to the next agressor country in a path leading directly to one nation remaining, Great Britain. Also interesting, if not strange, England appears to be the head (or face) of this European Beast while Italy is the jack boot (or cloven hoof) seemingly about to crush the tiny Semitic nation underfoot.

Antichrist is represented by a single Little Horn admidst older Kings and Kingdoms of history
After this I saw in the night visions, and behold a fourth Beast [Kingdom], dreadful and terrible…I considered the horns, and, behold, there came up among them a Little Horn, and in this Horn were eyes like the eyes of man, and a mouth speaking great things. I beheld till the Thrones were cast down, and the Ancient of Days did sit, His Throne as fire. I beheld then because of the voice of the great words which the Little Horn spake: I beheld even till the BEAST was slain, and his body destroyed, and given to the burning flame. I saw in the vision one like the Son of Man came with the clouds of Heaven, and came to the Ancient of days, and they brought Him near before Him. And there was given Him Dominion, and Glory, and a Kingdom, that all people, nations, and languages, should serve Him: His Dominion is an Everlasting Kingdom which shall never be destroyed. -Daniel Chapter 7

The Antichrist is represented by a Bear in Daniel yet also in the Book of Revelation
Staying with the book of Daniel, let us now compare the similarities between verse 7:5 with 7:24 the Beast…”A BEAR” who subdues three “ribs” or 3 Kingdoms. This suggests that the Antichrist first arrives in either warlike fashion or peacefully places three Kings or Kingdoms quickly under his subjection in a type of annexation. Some have said this to be Scotland, Ireland, and Wales unifying into one Celtic Anglo nation, others see it perfectly fulfilling the Nostradamus prophecy known as Century 8 Quatrain 77. Take careful notice that it is the Angel Gabriel making the interpretation of the vision, simply telling us that the “Little Horn” [Antichrist] in verse 20-21, is symbolized by “the Bear.” In other words, the Antichrist is “The Bear.” Remember, the ancient Celtic word for Bear is Arth-ur. The name Arthur literally means Bear.

REVELATION 13:2 The Beast was like unto a Leopard, and his feet as a BEAR, and the mouth of a Lion ~ The Lion represents the country that this King will come from. The Lion that is the Heraldic and national symbol of England. The Leopard represents his youth contrasted by his absolute global power [like Alexander the Great, who was himself represented by the youthful symbol of the Leopard; quick to conquer]. The name of Philip is taken from his grandfather Prince Philip who is actually from Greece and named after Alexander the Great who also had the middle name of Philip, which could be said that when William becomes King, he quickly becomes a world leader much like Alexander, quick to conquer (as a leopard). Alexander himself conquered much of Asia Minor and Europe before the age of 25 making youth also an attribute of the future Antichrist (the anti-type of ‘a Child shall lead them’). The future Beast will quickly become a voice of reason which the earth certainly is to consider at a time the world is weakened and needs it most (and yet his growing confidence in Kingship will be further emblazoned thru means of a yet unseen guidence upon the realization of an inescapable destiny revealed). The name William itself conjures up another King in England’s violent past of the same name, William the Conqueror. William’s second name Arthur, means Bear, the Once and Future King returned. The fourth ancient empire to rule and referred to as the “Wild Beast,” was Rome, the most fierce of every kingdom before it as it has dual appearances in history, and one of its incarnations has already passed while the future Roman Empire is yet to rise. Currently, the reformed European Commonwealth of Nations known now as the European Union is gaining global power, wealth, and military strength every day that passes. The Bible also depictes a Woman of great iniquity is to ride this Beast. The Scripture’s reference to the Beast of Revelation having the attributes of a Lion, Bear, and Leopard may also contain within it something more than just what is read on face value. I believe the symbology is a code for the Beast’s name…

antichrist prince william
PRINCE WILLIAM ARTHUR PHILIP LOUIS WINDSOR-WALES:

W

The Conqueror (The King of England) = LION / Mouth / Speaking / Charismatic Leader
Arthur – King Arthur Pendragon (Celtic, Rome) = BEAR / Feet / Strength / Summer Solstice
Philip – Alexander Philip the Great (Greece) = LEOPARD / Body / Conquering /Youth
Windsor-Wales – Aryan Keltoi (Cain) = RED DRAGON / Spirit / Anglo-Celtic Power

illiam

antichrist prince william

THE BRITISH WINDSORS AND THE NATION OF WALES: SYMBOLOGY OF THE RED DRAGON AND THE DEVIL
____________________________________________________________

antichrist prince william

antichrist prince william

_____________________
antichrist prince william
___________________
antichrist prince william
_________

antichrist prince williamantichrist prince william_

ATANIC DRUIDS: FREEMASONS KNIGHTS TEMPLAR AND THE ILLUMINATI

antichrist prince william_

antichrist prince william______

antichrist prince william

_

Templart = Penyembah lembu samiri

templar logo


antichrist prince william

__

ANTICHRIST CREATES A GLOBAL PEACE POLICY AND IS ACCEPTED AS ISRAEL’S MESSIAH Andhttp://whosthebeast.com/PRINCE%20WILLIAM%20%20ANTICHRIST%20666%20%20King%20Arthur%20%20Knights%20Templar%20Conspiracy%20Grail%20Legend%20History%20Lost%20Tribes%20Israel%20Illuminati%20Masonic%20Bible%20Prophecy.htm

Why Does The Illuminati Eye Infest Christian Churches?

During a visit to a breathtaking, beautiful and ornate Christian cathedral in Lucerne, Switzerland last week, I was taken aback by the sight of something that seemed completely out of context and out of place – a baleful and evil-looking Illuminati eye staring out over a representation of the crucified Jesus. Why do similar depictions infest Christian churches the world over?

The Church of St. Leodegar, popularly called the Hofkirche, in the bustling town of Lucerne in northern Switzerland, was originally built in 735 and the present structure was erected in 1633 in the late Renaissance style. The cathedral’s distinctive twin needles were part of the original structure.

The church is opulently decorated with awe-inspiring golden statues and vibrant paintings depicting stories from the bible.

But when one reaches the front of the church and looks up at a statue of the crucified Jesus, looming over it in a window near the roof is a depiction of a single eye inside a pyramid with yellow and orange sun rays emanating from behind.

This occult symbol is completely not inkeeping with the rest of the style of the church and the cathedral’s literature makes no mention of why it was placed there or what its significance is supposed to be.

featured stories   Why Does The Illuminati Eye Infest Christian Churches?
CLICK IMAGE FOR ENLARGEMENT. The eye can be seen in the background above the Swiss flag.

featured stories   Why Does The Illuminati Eye Infest Christian Churches?
CLICK IMAGE FOR ENLARGEMENT. Close up of the eye.

Here’s another example of the depiction of the eye in the pyramid that Steve Watson photographed while visiting Piazza del Popolo in Rome this past June.

featured stories   Why Does The Illuminati Eye Infest Christian Churches?

The video below showcases the Illuminati eye as seen in dozens of churches and cathedrals around the world. The author attributes the eye to a representation of Dajjal or “The Impostor-Christ,” an evil figure in Islamic eschatology who will supposedly return as a false prophet before Judgment Day. According to one description, “It is said that he will have one eye damaged and the other will be working.”

http://www.infowars.com/why-does-the-illuminati-eye-infest-christian-churches/

Ucapan Imam 4 madzab yang diselewengkan wahhaby/ Salafy palsu

Perbahasan Berkenaan “إذا صح الحديث فهو مذهبي “

Penulis : Ustaz Nazrul Nasir


Beberapa hari saya tidak menulis, mungkin agak sibuk dengan persediaan peperiksaan yang semakin hampir. Teringin juga jari-jari ini memetik butang key board menulis semula . Tambahan pula semenjak akhir-akhir ini, golongan “mujtahid jadi-jadian” semakin ramai menceburi bidang penulisan ini. Semakin mereka menulis, semakin saya risau melihat masyarakat yang tertipu dengan gaya bahasa yang mereka gunakan seolah-olah menampakkan bahawa mereka benar-benar orang yang berkelayakkan di dalam memperkatakan tentang permasalahan hukum-hakam. Pelbagai pendapat digunakan oleh mereka demi mempertahankan pendapat-pendapat yang boleh kita klasifikasikan sebagai “menegakkan benang yang basah”.

Kalam para ulama Mujtahid yang sering kita dengar seperti :

  • إذا صح الحديث فهو مذهبي
  • لا ينبغي لمن لم يعرف دليلي أن يُفتي بكلامي
  • لا تقلدني و لا تقلد مالكا و لا الأوزاعي و لا غيرهم و خذ الأحكام من حيث أخذوا

Pendapat-pendapat para Imam Mujtahid ini sering disalah gunakan oleh golongan yang gemar mendakwa-dakwi sebegini.Kalam pertama yang bermaksud (( Jika sahih sesebuah hadis maka itulah mazhabku)) digunakan oleh golongan ini dengan mengatakan bahawa, jika kita berjumpa sebuah hadis yang sahih dan mendapati hadis tersebut bertentangan dengan pendapat Imam Mujtahid ( Abu Hanifah, Malik, Syafie dan Ahmad bin Hambal radhiyallahu anhum), maka dahulukan hadis yang sahih kerana ini juga merupakan pendapat sebahagian para Imam tersebut.

Al-Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan di dalam muqaddimah Majmu’ Syarah Muhazzab:

“ Memang benar al-Imam Syafie menyebutkan :

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه و سلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه و سلم و دعوا قولي

Maksudnya:

Jika kamu semua (para ulama) mendapati di dalam kitab yang aku tulis menyalahi Sunnah baginda sallallahu alaihi wasallam maka keluarkan pendapat kamu semua dengan Sunnah Baginda sallallahu alaihi wasallam dan tinggalkan pendapatku.”

Al-Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan lagi bahawa:

Kata-kata Imam Syafie tersebut bukanlah bermaksud sesiapa sahaja yang menjumpai hadis sahih maka terus mengatakan bahawa ianya merupakan mazhab Imam Syafie itu sendiri.Malah beramal dengan zahir kalam itu semata-mata. Bahkan sebenarnya kalam al-Imam Syafie tersebut ditujukan kepada para ulama yang telah sampai kepada peringkat ijtihad di dalam mazhab seperti yang telah kita sebutkan sebelum ini(rujuk Muqaddimah Majmu’ ). Syarat untuk para yang beramal dengan kalam Imam ini ialah mesti tidak meletakkan sangkaan bahawa al-Imam Syafie radhiyallahuanhu tidak berjumpa dengan hadis ini atau tidak mengetahui bahawa hadis ini tidak Sahih. Syarat ini tidak akan dapat disempurnakan melainkan setelah mengkaji dan mentelaah keseluruhan kitab-kitab karangan al-Imam Syafie , kitab-kitab para ulama Syafieyah yang lain dan yang seumpama dengannya. Inilah merupakan syarat yang agak sukar untuk dipenuhi. Hanya sedikit yang dapat menyempurnakan syarat ini.

Maksud kalam al-Imam Nawawi sangat jelas. Agak menghairankan kita, golongan yang mendakwa kalam al-Imam Syafie kadang-kadang bertentangan dengan hadis ini merupakan dakwaan yang ternyata menyimpang. Bahkan kitab-kitab al-Imam Syafie mereka tidak memahaminya dengan baik (maksudnya memerlukan penguasaan bahasa Arab yang tinggi kerana al-Imam Syafie radhiyallahu anhu merupakan seorang ahli Bahasa Arab yang hebat), apatah lagi membacanya. Ini sepatutnya yang disedari oleh mereka. Tetapi ego dan bodoh sombong yang menyebabkan mereka tidak mahu memahami pendapat ulama sebegini.

Oleh kerana itulah kita katakan, perlu membaca kitab para ulama dengan para alim-ulama yang benar ilmunya, bukan dengan pembacaan secara persendirian tanpa guru yang membimbing. Akan sesat jadinya. Ini asas pertama yang perlu diperbetulkan oleh mereka. Akhir-akhir ini kita melihat mereka juga belajar dengan guru, tetapi guru yang mengajar pula hakikatnya belajar dengan guru yang tidak belajar dengan ulama yang benar ilmunya,bersih pengambilannya serta jauh daripada pendapat-pendapat yang menyalahi jumhur para ulama.

Kata Imam Nawawi lagi menukilkan kata-kata Imam Abu Amru Ibn Salah rahimahumallah:

“Kalam al-Imam Syafie tersebut bukanlah boleh diamalkan dengan zahir luarannya semata-mata,Bukanlah semua ulama yang Faqih (hebat dalam ilmu fiqhnya) beramal secara terus daripada hadis yang dirasakan hujah baginya.”

Kata Imam Abu Amru Ibn Salah lagi:

“ Jika seorang ulama bermazhab Syafie tersebut menjumpai sebuah hadis yang menurutnya bertentangan dengan mazhab yang dipegangnya, Maka perlu dilihat semula kepada keahlian orang tersebut. Jika ulama tersebut telah mencapai peringkat Ijtihad (seperti yang kita sebutkan di dalam keluaran yang lepas) maka tiadalah masalah baginya untuk beramal dengan hadis tersebut. Tetapi jika dia masih tidak mencapai tahap Ijtihad dan menyukarkan baginya menemukan sebab-sebab pertentangan hadis tersebut dengan kalam Imam Mazhab @ Mazhab itu sendiri maka bolehlah baginya beramal dengan hadis tersebut jika terdapat seorang lagi Imam Mujtahid Mutlak selain Imam Syafie(seperti Imam Abu Hanifah , Malik, Ahmad dan lain-lain).”

Kata al-Syeikh Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani hafizahullah(bukan Syeikh Nasiruddin al-Albani) di dalam risalah kecilnya berkenaan kalam tersebut:

Maksud kalam tersebut ialah:

Kata para imam , kalam tersebut ditujukan kepada para ulama yang benar-benar berkelayakkan di dalam mengeluarkan hukum.Mereka(yang dibenarkan) adalah merupakan para ulama yang hebat di dalam ilmu hadis. Ini bermakna, jika sahih sesebuah hadis sahih tersebut yang bertepatan dengan syarat-syarat pengambilan sesebuah hadis dan kaedahnya berdasarkan mazhab yang mereka gunakan , maka gunakan hadis tersebut. Bukannya kalam tersebut menyuruh setiap kali membaca hadis yang sahih maka tinggalkan beramal dengan pendapat imam mazhab.



Sebaliknya golongan yang sering mendakwa-dakwi ini, menggunakan pendapat ini dengan luarannya sahaja, bukan maksud sebenar kalam tersebut.

Al-Imam Malik Radhiyallahuanhu menyebutkan kepada para muridnya(yang merupakan para mujtahid) ketika beliau mengeluarkan pendapat di dalam sesebuah hukum,

“ Kamu perlu mengkajinya semula, ini kerana ianya merupakan pegangan agama kita.Tiada seorang pun boleh diterima pendapatnya bulat-bulat tanpa perlu dikritik, melainkan pendapat yang dikeluarkan oleh pemilik Maqam yang mulia ini( mengisyaratkan kepada Saidina Muhammad sallallahu alaihi wasallam).”

Saya ingin bertanya, adakah Imam Malik radhiyallahu anhu bercakap seorang diri ketika tersebut? Atau adakah beliau mengucapkan pendapat tersebut dihadapan orang awam yang tidak mengerti hukum-hakam? Jawapannya tentu tidak sama sekali. Golongan yang dibicarakan oleh al-Imam ialah merupakan kelompok mujtahid. Seolah-olah al-Imam ingin memberitahu kepada murid-muridnya bahawa mereka juga telah sampai kepada peringkat Ijtihad yang tinggi. Syarat-syarat untuk menjadi seorang mujtahid telah saya terangkan di dalam keluaran yang lalu. Jika syarat sebegini masih tidak jelas, maka bagaimana seseorang tersebut boleh mengaku bahawa dia juga boleh mengeluarkan hukum terus daripada al-Quran dan Sunnah?

Pendapat kedua yang sering digunakan oleh mereka ialah pendapat yang dikeluarkan oleh al-Imam Abu Hanifah radhiyallahuanhu iaitu :

لا ينبغي لمن لم يعرف دليلي أن يُفتي بكلامي

Maksudnya:

Tidak sepatutnya bagi seseorang yang tidak mengetahui dalil yang aku keluarkan untuk berfatwa dengan pendapatku.

Pendapat ini jelas menunjukkan bahawa ianya disebutkan kepada golongan ulama yang benar-benar alim di dalam bidang tersebut. Ini kerana perkataan “ berfatwa” tersebut tidak lain dan tidak bukan semata-mata ditujukan kepada para ulama ahli fatwa,bukannya mujtahid jadi-jadian . Ini perlu difahami dengan baik dan jelas. Perlu juga bagi seseorang tersebut melihat semula kepada syarat-syarat untuk berfatwa yang disusun oleh para ulama . Antara ulama yang menyusun tentang adab-adab fatwa ini ialah al-Imam Abu Qasim al-Soimuri rahimahullah(guru kepada al-Imam Mawardi rahimahullah), al-Imam al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah, dan al-Imam Abu Amru Ibn Salah rahimahullah. Ketiga-tiga kitab ini telah diringkaskan perbahasannya oleh al-Imam Nawawi rahimahullah dan beliau meletakkan perbahasan tersebut di dalam kitabnya Majmu’ Syarah Muhazzab.

Jika kamu membaca semula syarat-syarat berfatwa dan Mufti, tentulah kamu akan menyedari betapa jauhnya jurang sebenar antara kamu (yang suka mendakwa-dakwi sebegini) dengan para ulama yang benar-benar sampai kepada peringkat mengeluarkan fatwa.Malah al-Imam Nawawi sendiri menyebutkan bahawa bidang fatwa adalah merupakan bidang yang sangat merbahaya diceburi tetapi sangat tinggi kelebihannya(bagi yang layak sahaja).

Al-Imam Malik radhiyallahu anhu menyebutkan:

ما أفتيت حتى شهد لي سبعون أني أهل لذلك

Maksudnya:

Aku tidak akan berfatwa melainkan selepas disaksikan oleh tujuh puluh orang ulama bahawa aku benar-benar layak di dalam bidang fatwa ini.

Kalam-kalam sebegini tidak pula dilihat oleh golongan sebegini. Mereka hanya mengambil pendapat-pendapat yang luarannya merupakan suatu kelebihan kepada diri mereka untuk meninggalkan berpegang dengan mazhab itu sendiri. Sedangkan langsung tidak memahami maksud kalam itu sendiri.

Jika kita memahami maksud kalam-kalam yang disebutkan dengan baik maka pendapat Imam Ahmad bin Hambal radhiyallahu anhu juga akan mudah bagi kita memahaminya. Maksudnya Imam Ahmad menyebutkan pendapat tersebut bukanlah untuk orang awam melainkan untuk para ulama yang telah mencapai peringkat Ijtihad.

Al-Allamah Syeikh Muhammad Awwamah hafizahullah menukilkan kalam al-Imam Kairanawi radhiyallahu anhu:


“Maksud sebenar kalam al-Imam Syafie (Jika sahih sesebuah hadis maka itulah Mazhabku) dan kalam ulama yang lain yang menyebutkan sedemikian ialah tidak lain selain ingin menunjukkan kepada kita hakikat bahawa kalam yang menjadi hujjah adalah kalam Baginda sallallahu alaihi wasallam bukannya kalam kami(para Imam Mujtahid).Seolah-olah Imam Syafie ingin mengatakan: Jangan kamu menyangka kalam aku adalah hujjah berbanding kalam Baginda Sallallahu alaihi wasallam dan aku juga berserah kepada Allah jika pendapat yang aku sebutkan bertentangan dengan Sabda Baginda sallallahu alaihi wasallam.”

Hakikatnya, kalam al-Imam Syafie radhiyallahu anhu adalah merupakan sifat tawaddhuk yang ada pada beliau. Mustahil seseorang Imam tersebut akan mengeluarkan sesuatu hukum dengan hawa nafsunya melainkan setelah dikaji secara terperinci dengan ilmu pengetahuan yang dipelajarinya dan iman yang mendalam.

Oleh sebab itulah al-Imam Ibn Uyainah Radhiyallahuanhu menyebutkan:

الحديث مضلة إلا للفقهاء

Maksudnya:

Hadis adalah sesuatu yang mampu menyesatkan seseorang (yang tidak memahaminya) melainkan kepada para fuqaha(ulama).

Al-Imam Ibn Hajar al-Haitami radhiyallahu anhu menerangkan maksud sebenar kalam al-Imam Ibn Uyainah radhiyallahu anhu di dalam kitabnya Fatawa Hadisiah mukasurat 521:

“Maksud kalam tersebut ialah Hadis adalah seumpama al-Quran yang mana ianya terkadang merupakan lafaz umum tetapi maknanya khusus, ianyanya juga terdapat Nasakh dan Mansukh, terdapat juga hadis yang tidak diamalkan, dan sebahagiannya jika dipegang dengan zahir maka akan menjadi masalah seperti hadis ينزل ربنا (Allah turun ke Langit pertama disepertiga malam). Jadi maksud sebenar sesebuah hadis tidak akan difahami melainkan diterangkan oleh para ulama.Ini berbeza dengan orang yang tidak mengetahui maksud sebenar hadis tersebut melainkan zahirnya semata-mata, maka akan tersesat jadinya seperti yang berlaku kepada sebahagian ulama terdahulu dan terkemudian seperti Ibn Taimiyah dan pengikutnya”

Bagi menentukan sesebuah hadis sahih tersebut bertentangan dengan pendapat Imam Mazhab maka perlu bagi mereka-mereka yang berkata sedemikian mempunyai dua perkara:

1. Kuat sangkaannya bahawa Sang Imam tidak menemukan hadis yang dia temui.

2. Orang yang mengatakan sedemikian mestilah seorang yang benar-benar pakar di dalam ilmu rijal Hadis, Matan Hadis, cara-cara berhujah dengan hadis, dan cara mengeluarkan hukum daripada hadis tersebut berdasarkan kaedah yang diletakkan oleh mazhab.

Terdapat 4 marhalah (peringkat ) bagi menentukan adakah benar seseorang tersebut benar-benar pakar di dalam Ilmu hadis.(Marhalah ini saya petik secara ringkas daripada risalah al-Syeikh Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani hafizahullah ):

Peringkat pertama

Di dalam peringkat ini seseorang tersebut perlulah mengetahui kedudukan perawi hadis tersebut samaada ianya Thiqah, Saduq dan sebagainya. Serta perlu juga memerhatikan hafalan dan kekuatan ingatan perawi tersebut.Perlu mengetahui tentang martabat thiqah, tempat mana yang perlu didahulukan jarah dan ta’dil(nama ilmu di dalam Mustalah Hadis bagi menentukan darjat seorang perawi).Mengetahui tentang bilakah tarikh perawi tersebut meninggal duni dan dari manakah asalnya dan sebagainya. Pendek kata kesemua ilmu yang diterangkan di dalam kitab Mustalah Hadis perlu diketahui secara lumat dan mendalam oleh seseorang tersebut.

Peringkat kedua

Peringkat ini lebih sukar daripada sebelumnya.Setelah seseorang tersebut mengetahui secara mendalam tentang mustalah hadis tersebut maka perlu pula baginya untuk mengkaji secara teliti dan mendalam hadis-hadis yang terdapat di dalam kitab Sihah, Sunan, Musnad, Jawami’, Mu’jam, al-Ajza’dan lain-lain kitab hadis bagi mencari sesebuah hadis tersebut adakah benar-benar bertentangan dengan pendapat sang Imam. Perlu juga baginya untuk mengetahui adakah hadis tersebut Mutawatir, Masyhur dan sebagainya. Perlu juga baginya mengetahui adakah hadis tersebut Syaz atau mungkar . Perlu juga baginya mengetahui adakah hadis tersebut marfu’, mauquf atau maqtu’.

Oleh sebab itulah al-Imam Abu Hatim al-Razi rahimahullah menyebutkan: “ Tidaklah seseorang tersebut dikatakan benar-benar pakar di dalam bidang hadis melainkan setelah kami (para ulama hadis )menulis hadis tersebut dengan 60 keadaan dan dia mampu menerangkan satu persatu hadis-hadis tersebut tentang hukumnya sama ada Syaz, Mungkar, Ma’ruf, Mutawatir, Marfu’, Mauquf, Fard dan Masyhur.”

Peringkat ketiga

Peringkat ini lebih sukar daripada kedua-dua peringkat di atas. Setelah benar-benar melalui kedua-dua peringkat tersebut, maka seseorang tersebut perlulah melihat sama ada hadis yang dikajinya terdapat illah(kecacatan) atau tidak. Illah yang tersembunyi menurut para ulama hadis adalah yang paling sukar ditemukan melainkan oleh ulama-ulama yang benar-benar pakar di dalam ilmu hadis. Ini diketahui dengan jelas oleh sesiapa yang mempelajari ilmu hadis dengan baik.

Peringkat keempat

Peringkat ini adalah yang paling sukar ditemukan melainkan para Mujtahid yang sampai ke peringkat mutlak. Ramai ulama hadis yang sukar mencapai peringkat ini walaupun mereka sudah mencapai ketiga-tiga peringkat sebelum ini. Walaupun mereka menghafal hadis tersebut dan mengetahui segalanya tentang ilmu hadis , tetapi di dalam permasalahan hukum hakam tetap mereka serahkan kepada para fuqaha.

Kerana itulah al-Imam al-A’mash radhiyallahu anhu menyebutkan kepada al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu:

يا معشر الفقهاء, أنتم الأطباء ونحن الصيادلة و أنت أيها الرجل أخذت بكلا الطرفين

Maksudnya:

Wahai para fuqaha, kamu adalah doktor yang mengetahui tentang ubat sesuatu penyakit, manakala kami para muhaddith (ulama hadis) merupakan pemilik ubat tersebut.Manakala kamu wahai lelaki( Imam Abu Hanifah ) , kedua-duanya kamu miliki (sebagai seorang doktor dan sebagai seorang pemilik farmasi).

Maksud kalam al-Imam al-A’mash tersebut ialah para fuqaha mengetahui di manakah sumber pengambilan hukum bagi menyelesaikan sesuatu permasalahan, manakala para muhaddis akan membekalkan hadis-hadis sebagai sumber pengambilan hukum tersebut. Manakala al-Imam Abu Hanifah radhiyallahu anhu mempunyai kepakaran di dalam kedua-dua bidang tersebut(iaitu hadis dan fiqh).

Kesimpulan

Setelah kita perhatikan dan baca dengan teliti perbahasan yang saya tulis ini,jelas lagi bersuluh bahawa menghukumkan sesuatu dengan zahir hadis yang kamu(golongan wahabi) rasakan bahawa ianya bertentangan dengan kalam Imam merupakan suatu tohmahan yang tidak berasas dan tidak mengikut jalur pengajian dan pengkajian yang baik. Perbahasan yang saya buat ini mungkin agak berat bagi sesiapa yang tidak mengetahui istilah-istilah yang digunakan. Jika ada masa, saya akan menerangkannya selepas ini. Tetapi jika “ para mujtahid jadi-jadian” tidak memahaminya maka jelaslah, kamu semua tidak mencapai lagi serendah-rendah martabat tersebut. Maka perlu beristghfar dan memohon keampunan di atas keterlanjuran dan keegoan yang terdapat di dalam diri kamu.

Rujukan:

1. Majmu’ Syarah Muhazzab oleh al-Imam Nawawi rahimahullah tahqiq Syeikh al-Allamah Najib Muti’ie .Cetakan Darul A’lam Kutub

2. Risalah إذا صح الحديث فهو مذهبي oleh Syeikh al-Allamah Wahbi Sulaiman Ghawuji al-Albani al-Hanafi hafizahullah.Cetakan Darul Iqra’.Cetakan Pertama 2005.

3. Fatawa Hadisiah oleh al-Imam Ibn Hajar al-Haitami rahimahullah .Cetakan Darul Taqwa.

MOHD NAZRUL ABD NASIR,
RUMAH KEDAH,
KAHERAH,MESIR

From : http://al-ghari.blogspot.com/

Al-Allamah Al-Sheikh al-Tabbani Seorang Alim Mekah Yang Mengajar di Masjidil Haram Selama 50 tahun Membongkar Kesesatan al-Wahhabi

Al-Allamah Al-Sheikh al-Tabbani Seorang Alim Mekah Yang Mengajar di Masjidil Haram Selama 50 tahun Membongkar Kesesatan al-Wahhabi

Berkenaan al-Allamah Al-Sheikh al-Tabbani – Tak kenal maka tak cinta

1. Al-Allamah Al-Tabbani adalah di antara salah seorang ulama’ terbilang di Mekah pada zamannya dan juga berketurunan Rasulullah SAW. Beliau mengajar di Masjidil Haram (Mekah) dan beberapa madarasah di sekitar Masjidil Haram dari tahun 1338H sehingga 1390H. Iaitu sekitar dari 1919/1920M sehingga 1969/1970, lebih kurang 50 tahun. Beliau juga mengajar di Masjid al-Nabawi di Madinah dalam ziarah-ziarah beliau ke sana. Dalam erti kata lain, beliau adalah pengajar “al-Haramayn” – Mekah dan Madinah. Beliau juga melihat perkembangan Wahhabi di hadapan mata beliau sendiri.

2. Para guru-guru beliau terdiri daripada para ulama’-ulama’ yang besar pada zamannya. Beliau belajar daripada ulama’-ulama’ di Tunisia (Universiti Zaytunah), di Damsyik, Syria, Madinah al-Munawwarah dan Mekah al-Mukarramah, dll, sebelum terus menetap di Mekah al-Mukarramah.

3. Hampir kesemua ulama’-ulama’ Mekah yang terkemuka selepas beliau adalah anak-anak murid beliau seperti:

  • Al-Sayyid Muhammad Amin Kutbi
  • Al-Sayyid ‘Alawi al-Maliki
  • Al-Sayyid Muhammad Ibn Al-Sayyid ‘Alawi al-Maliki
  • Al-Sheikh Muhammad Nur Sayf
  • Al-Sheikh Ismail al-Zayn, dan banyak lagi.

4. Beliau wafat pada hari Khamis, 22 Rabiul Awwal tahun 1390H dan dikebumikan di perkuburan al-Ma’lah di Shu’bah al-Nur berdekatan dengan maqam Saidatina Asma’ al-Siddiqiyyah Bint Saidina Abu Bakr al-Siddiq r.anhuma [Semoga Allah meredhai dan merahmati kita dengan kedudukan mereka di sisi-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin].

Pembongkaran Beliau tentang Kesesatan Wahhabi dan Jenayah Ilmiah yang dilakukan oleh Ulama’ Yang Disanjung oleh Wahhabi di dalam Kitabnya “Bara’ah al-‘Ash’ariyyin”

5. Beliau menggunakan nama pena beliau “Abu Hamid Ibn Marzuq” di dalam mengarang kitab ini bagi memelihara keselamatan beliau yang hidup di bawah pemerintahan Wahhabi. Bahkan, banyak juga penerbit buku di Tanah Arab yang menerbitkan buku menolak fahaman Wahhabi terpaksa menggunakan “nama syarikat yang tidak wujud” bagi mengelakkan konflik yang tegang dengan golongan Wahhabi dan bagi menjamin keselamatan mereka.

6. Di Malaysia, Wahhabi baru sampai ke tahap saman-menyaman, di banyak negara-negara lain, pembunuhan menjadi salah satu kaedah mereka berdepan dengan penolakan dan perbezaan pendapat daripada orang lain. Banyak lagi sebenarnya kekejian perlakuan Wahhabi terhadap orang yang berbeza pendapat dengan mereka.

7. Tanyalah kepada golongan Wahhabi di Malaysia:

“Siapakah yang mula-mula mengambil tindakan konfrontasi yang jijik dan kotor dengan menghantar surat kepada pihak berkuasa yang menfitnah seorang pegawai agama di JAKIM dengan tuduhan beliau membawa ajaran Syi’ah sehingga pegawai tersebut hampir-hampir ditukarkan ke Sabah?!”

“Siapakah yang menghalang tiga ulama’ dan pendakwah dunia Islam: Al-Habib Munzir al-Musawa, al-Habib Abdullah al-Attas dan Sayyid Abdurrahman Al-Junaid daripada memasuki negeri Perlis dalam usaha dakwah mereka dengan pelbagai tuduhan serta ugutan tangkap pada tahun 2007?” Untuk maklumat, sila ke:

http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_content&task=view&id=114&Itemid=29 [Baca tajuk Perlis].

Mungkin wartawan ataupun orang ramai boleh bertanya kepada mantan mufti Perlis berkenaan isu ini.

8. Di sini, penulis nukilkan terjemahan bagi sebahagian kecil daripada buku “Bara’ah al-Ash’ariyyin min ‘Aqaid al-Mukhalifin” yang dicetak pada tahun 1968 yang mungkin cukup untuk menggambar sikap dan watak golongan Wahhabi. Fahamilah.

Maksudnya:

“Dan terkumpul asas-asas akidah Muhammad Ibn Abdul Wahhab dan para pengikutnya pada empat perkara:

  • Menyerupakan (tashbih) Allah SWT dengan makhluk-Nya; dan
  • Tawhid al-Uluhiyyah dan al-Rububiyyah; dan [Tambahan penulis: Tauhid versi inilah yang merupakan asas bagi “Kaedah Takfir” fahaman Wahhabi] [Insya-Allah, akan dibincangkan kemudia]
  • Tidak menghormati Nabi SAW; dan
  • Mengkafirkan umat Islam.

Dan dia sebenarnya adalah pengikut kepada Ahmad Ibn Taymiyyah dalam setiap perkara tersebut, dan dia (Ibnu Taymiyyah);

  • adalah pengikut al-Karramiyyah dan Mujassimah al-Hanabilah dalam asas pertama
  • serta mengikut kedua golongan tersebut (al-Karramiyyah dan Mujassimah al-Hanabilah) serta golongan al-Haruriyyin [Tambahan penterjemah: salah satu golongan Khawarij] pada asas akidah yang keempat; dan
  • adalah pereka kepada Tauhid al-Uluhiyyah dan al-Rububiyyah yang terbit daripada (tauhid) ini juga (asas) tidak mengangungkan/menghormati Rasulullah SAW dan pengkafiran kepada umat Islam.

Dan kepercayaan dalam menukilkan agama di sisi mereka (Wahhabi) hanya terhad padanya (Ibnu Taymiyyah) dan anak muridnya Ibn al-Qayyim serta Muhammad Ibn Abdul Wahhab.

Mereka tidak mempercayai dengan mana-mana orang alim daripada ulama’ umat Islam dan tidak memberi nilai kepadanya (mana-mana orang alim) melainkan apabila mereka mendapati pada kata-katanya keserupaan yang menyokong hawa nafsu mereka.

Sesungguhnya, agama Islam yang luas ini hanya tertumpu para ulama’nya pada tiga orang ini (di sisi Wahhabi).

Dan umat (Nabi) Muhammad SAW yang dirahmati dan yang telah tersebar sejak perluasan pembukaan Islam di era pemerintahan Zun al-Nurayn (Saidina) Uthman r.a. sehingga ke zaman kita ini dan telah sampai ke lebih daripada satu perempat bumi dan umat inilah:

  • · yang mempunyai ulama’ dan pengarang kitab paling ramai, dan
  • · umat inilah 2/3 ahli syurga seperti di dalam hadis yang sahih;

(namun begitu, pengertian umat nabi Muhammad SAW yang selamat) hanyalah terhad kepada mereka (Wahhabi) dan ulama’ mereka yang tiga itu sahaja.

Dan setiap seseorang yang mempunyai ketajaman/keluasan ilmu yang membaca karangan-karangan Ibn al-Qayyim dan risalah-risalah Muhammad Ibn Abdul Wahhab tanpa ada kecenderungan tertentu dan bersikap dengan adil akan mendapati bahawa kedua-dua mereka adalah merupakan pengikut kepada Ibn Taymiyyah dalam semua kefahamannya, mempertuhankan hawa nafsunya dan mempunyai keunikan (dengan dua ciri dalam penulisan mereka):

  • Pertamanya: Mempertahankan pandangan-pandangannya (Ibnu Taymiyyah yang) pelik dan janggal (shazz) dengan sesungguh-sungguhnya “seakan-akan orang kurang bijak” [Tambahan penterjemah: “…” terjemahan yang sangat lembut digunakan oleh penulis]
  • Dan apa yang mereka tulis dengan baik di dalam penyelidikan-penyelidikan mereka sebenarnya mereka ambil daripada hasil tahqiq orang (ulama’) terdahulu daripada ulama’ umat Islam dan mereka mengambilnya dengan begitu banyak namun tidak menyandarkannya kepada pentahqiq (asal)nya (seperti mana – berdasarkan prinsip -amanah menukilkan ilmu daripada ulama’)”

Sekian terjemahan.

9. Banyak yang boleh diulas daripada petikan di atas. Namun, penulis tidak bercadang untuk mengulas dengan lebih panjang. Bagi para pengkaji di luar sana, carilah kitab yang sangat hebat dan bermanfaat ini.

10. Kepada para Wahhabi, bersangka baiklah dengan Al-Allamah al-Tabbani dan ulama’-ulama’ lain yang menolak Wahhabi sepertimana kamu bersangka baik dengan Ibnu Taymiyyah, Ibnu al-Qayyim dan Muhammad Ibn Abdul Wahhab. Tanpa bersangka baik dengan para ulama’, kamu tidak akan sampai kepada natijah yang benar.

11. Ketika penulis mengkaji isu ini, penulis mengambil sikap bersangka baik dengan semua para ulama’ (termasuk ulama’ wahhabi) dengan tanggapan setiap orang mencari kebenaran. Namun begitu, natijah yang penulis dapat – setelah berdoa, mengkaji dan menghadiri kuliah para ulama’ termasuk ulama’ Wahhabi, dll – ialah KESELAMATAN AGAMA ADALAH BERSAMA DENGAN MAJORITI ULAMA’ dan penilaian bagi sesuatu isu itu mestilah berdasarkan PERSPEKTIF MAJORITI ULAMA’. Dan hasil kajian penulis ini mempunyai dalil yang kuat dan sangat jelas daripada Hadis Rasulullah SAW.

12. Kepada masyarakat umum yang keliru, tak perlulah tuan-tuan dan puan-puan melalui liku-liku perjalanan ilmiah yang cukup “merbahaya” ini, khasnya berkaitan isu aqidah, dan khasnya lagi berkaitan perbahasan sifat bagi Zat Yang Maha Agung. Ada juga yang tidak dapat melepasinya dengan selamat dan tergelincir, lalu akidah bid’ah bersarang di dalam diri.

13. Ingatlah pesanan Imam al-Ghazali r.a., masyarakat awam tidak sesuai (bahkan haram) membahaskan dan mempelajari isu akidah yang rumit kerana perbahasan ini menuntut syarat-syarat yang sangat ketat. Cukuplah berpegang dengan Majoriti Ulama’ (Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah dalam pengajian akidah) dalam menyelamatkan agama di akhir zaman yang penuh dengan fitnah ini.

14. Berpeganglah dengan Akidah Khamsin/Lima puluh [20 sifat wajib + 20 sifat mustahil + 1 sifat harus bagi Allah dan 4 sifat wajib + 4 sifat mustahil + 1 sifat harus bagi Nabi/Rasul = 50 sifat] dan berusahalah menghayatinya melalui pengajian Tasawwuf dan berusahalah menjalaninya dengan Fiqh.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ya Allah! Rahmatilah, berkatilah, ampunilah, berilah hidayah kepada umat kekasih-Mu Nabi Muhammad SAW! Amin Ya Rabbal Alamin.

http://al-ashairah.blogspot.com/

Ibnu katsir membungkam wahhaby (3) : Tafsir ayat “Yang dilangit (QS. Mulk 16 -17)”

Ibnu katsir membungkam wahhaby (3) : Tafsir ayat “Yang dilangit (QS. Mulk 16 -17)”

Bagaimana cara ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami masalah asma wa sifat atau yang sering di sebut dngan ayat-aya dan hadit-haditst sifat?ayat-ayat sifat disini adalah ayat Alquran atau Hadits Nabi yang menyebutkan tentang aggota tubuh seperti mata ,tangan,naik turun yang di sandarkan kepada Allah dll yang jika salah dalam memahamimya seseorang bisa masuk dalam kesesatan aqidah mujassimah(yang megatakan bahwa Allah SWT mempunyai aggota badan yang menyerupai dengan hambanya).Atau akan terjerumus dalam ta’thil (yang menolak sifat-sifat Allah SWT ).Begitu penting dan bahaya permasalahan ini maka ulama benar-benar telah membahasnya dengan detail dan rinci agar ummat ini tidak salah dalam memahami ayat –ayat dan hadits-hadits sifat .
Ada dua catara yang di ambil oleh ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami ayat-ayat sifat ini :
Pertama adala tafwidh, maksudnuya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di fahami sesuai dhohir lafatnya akan merusak aqidah. Misanya disaat Allah menyebut tangan yang di nisbatkan kepada Allah, maka maknanya tidak di bahas akan tetapi dilalui dan diserahkan kepada Allah SWT.   Ibnu katsir adalah salah satu ulama yang menggunkan methode ini.
Kedua adalah dengan cara mentakwili ayat tersebut dengan makna yang ada melalaui dalil lain. Seperti tangan Allah di artikan dengan kekuasaan Allah yang memang makna kekuasaa itu sendiri di tetapkan dengan dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.

Perhatian
1-Dua cara ini yakni attafwid dan attakwil adalah cara yang di ambil oleh ulama salaf dan kholaf,sungguh tidak benar jika tafwid adalah metode tyang di ambil oleh ulama salaf dan ta’wil adalah yang di ambil oleh ulama kholaf saja.
2-Ada sekelompok orang di akhir zaman ini menfitnah para ulama terdahulu(salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini.maka kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu karena takwil ,sungguh mereka adalah orang –orang yang tidak mengerti bagaimana mentakwil dan mereka uga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu karena banyak riwayat ta’wil yang datang dari para salaf.
3-ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dam kesesatan takwil yang tidak mereka sadari.misalnya disaat mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘ars ,mereka mengatakan tidak boleh ayat tentang keberadaan Allah di ars ini di ta’wili.akan tetapi dengan tidak di sadari mereka menjelaskan keberadan Allah di ars dengan penjelasan bahwa ars adlah makhluq terbesar(seperti bola dan semua mkhluk yang lain di dalamnya.kemudian mereka mengatakkan dan Allah swt berada di atas Arsy nag besar itu di tempat yang namany makan ‘adami(tempat yang tidak ada).Lihat dari mana mereka mengatakan ini semua. Itu adalah takwil fasid dan ba’id(takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran.
Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang Allah dan ars,para ahli tafwid menyerahkan pemahaman maknanya kepada Allah swt,adapu ahli ta’wil mengatakan Alah menguasai Ars dan tidaklah salah karena memang Allah dzat yang maha kuasa terhadap makhluk terbesar Ars, sebab memang Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu.wallhu a’lam bishshowab

A.  Tafsir Ayat Mutasyabihat “Yang dilangit (QS. Mulk 16 -17)”

Makna firman Allah :
أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
(Al-Mulk:16)

Jawab:

1. Dalam Tafsir Ibnu Katsir (juz 4, halaman 511 -512, maktabah darussalam riyadh) Lihat yang diline merah :

Tarjamah : Dan pada ayat ini lagi dari kelembutan-Nya dan rahmat-Nya kepada makhluqnya sesungguhnya Allah berkuasa mengadzab mereka (orang kafir) dengan sebab kekafiran sebagian mereka terhadap Allah dan dengan sebab beribadahnya mereka kepada selain Allah, dan Dia (Allah) bersama (Azab) itu kesabaran Allah  dan Allah memaafkan dan memudahkan dan menangguhkan  (Azab) dan tidak mencepatkan (azab) seperti apa yang difirmankan Allah [

[35:45] Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun  akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (FAATHIR (PENCIPTA) ayat 45)]  Dan Allah  berfirman  di ayat ini [

a-amintum man fii alssamaa-i an yakhsifa bikumu al-ardha fa-idzaa hiya tamuuru
[67:16] Apakah kamu merasa aman terhadap  yang Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?,]

maksudnya mengadzabnya dan mendatangkan  dan menggoncangkan bumi

am amintum man fii alssamaa-i an yursila ‘alaykum hasiban fasata’lamuuna kayfa nadziiri
[67:17] atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?]

maksudnya angin di dalamnya batu-batu  yang akan mengenai kalian ”

Tidak pernah Ibnu katsir menafsirkan bhawa dzat Allah di langit seperti yang didakwa kaum musyabihah mujasimmah wahhaby !!

2. Dalam Tafsir Al Bahr al Muhith  dan Kitab “Amali (Imam Al-Hafiz Al-‘Iraqi )

Pakar tafsir, al Fakhr ar-Razi dalam tafsirnya dan Abu
Hayyan al Andalusi dalam tafsir al Bahr al Muhith mengatakan:

“Yang  dimaksud مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i) dalam ayat tersebut adalah malaikat”.

Ayat  tersebut tidak bermakna bahwa Allah bertempat di langit.

Perkataan ‘man’ iaitu ‘siapa’ dalam ayat tadi bererti malaikat bukan bererti Allah berada dan bertempat  dilangit.  Ia berdasarkan kepada ulama Ahli Hadith yang menjelaskannya iaitu Imam Al-Hafiz Al-‘Iraqi dalam Kitab Amali  bahawa “Perkataan ‘siapa’ pada ayat tersebut bererti malaikat”.

Kemudian, yang berada dilangit dan bertempat dilangit bukanlah Allah tetapi para malaikat berdasarkan hadith Nabi bermaksud: “ Tidaklah di setiap langit itu kecuali pada setiap empat jari terdapat banyak para malaikat melakukan qiyam, rukuk atau sujud ”. Hadith Riwayat Tirmizi.

Ketahuilah bahawa tempat tinggal para malaikat yang mulia adalah di langit pada setiap langit penuh dengan para malaikat manakala bumi terkenal dengan tempat tinggal manusia dan jin. Maha suci Allah dari bertempat samaada di langit mahupun di bumi.

Banyak hadis dan ayat yang menyebutkan man fissamawati (yang dilangit), penduduk langit dan sebagainya, tapi itu semua adalah para malaikat. Seperti dalamsurat al-ra’du ayat 15 (ayat sajadah) :
“walillahi yasjudu man fissamawati wal’ardhi thau’an wa karhan wa dhilaaluhum bil ghuduwwi wal aashaal”

artinya : “Apa yang di langit dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau atau tidak mau, demikian juga bayang-bayang mereka diwaktu pagi dan petang (QS arra’du ayat 15)

Dalam Tafsir jalalain (halaman 201, darul basyair, damsyik) :
“Apa yang di langit (man fisamawati) dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau” (adalah seperti orang beriman) “atau tidak mau” (sperti orang munafiq dan orang yang ditakut-takuti (untuk sujud)  dengan pedang).

Dalam kitab ihya ulumuddin (jilid I, bab Kitab susunan wirid dan uraian menghidupkan malam) ayat ini merupakan salah satu wirid yang dibaca pada pada waktu petang.

3. Dalam Tafsir qurtubi
Al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya turut menjelaskan perkara yang sama bila mentafsirkan ayat tersebut. Sekiranya ingin dimaksudkan dari perkataan ‘man’ (siapa) dalam ayat tadi itu adalah ‘Allah’ maka tidak boleh dikatakan keberadaan Allah itu di langit kerana Allah tidak memerlukan langit tetapi memberi erti ‘kerajaan Allah’ BUKAN ‘zat Allah’. Maha suci Allah dari sifat makhlukNya.

4. Dalam tafsir jalalain ((penerbit darul basyair, damsyiq,halaman 523)

Imam suyuthi rah mengatakan :
“Yang dimaksud مَّن فِي السَّمَاء (man fissama-i) dalam ayat tersebut adalah kekuasaan/kerajaan dan qudrat-Nya (Shulthonihi wa qudratihi )
jadi yang dilangit adalah kekuasaan dan qudratnya (Shulthonihi wa qudratihi ) bukan dzat Allah

sehingga penafsiran yang betul (dalam tafsir jalalain dan qurtubi) :

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

Apakah kamu merasa aman dengan Allah yang di langit (kekuasaan dan qudratnya) bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, (Al-Mulk:16)

أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

atau apakah kamu merasa aman dengan Allah yang di langit (kekuasaan dan qudratnya bukan dzat-Nya) bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Al-Mulk:17).

B. Hadis tentang isra mi’raj dan “Langit ” sebagai Kiblat Do’a Bukan “Tempat bersemayam dzat Alah”

As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya).
Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arahpenjuru tersebut”.
Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasanya bukanlah maksud dari mi’raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi
Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi’raj adalah memuliakan Rasulullah shalalllahu ‘alayhi wasallam dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur’an surat al Isra ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam sehingga jarak antara keduanya dua hasta atau lebih dekat, melainkan yang mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam di saat mi’raj adalah Jibril ‘alayhissalam, sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al
Bukhari (W. 256 H) dan lainnya dari as-Sayyidah ‘Aisyah -semoga Allah meridlainya-, maka wajib dijauhi kitab Mi’raj Ibnu ‘Abbas dan Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu ‘Abbas karena keduanya adalah kebohongan belaka yang dinisbatkan kepadanya.
Sedangkan ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah
berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat.

Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti al Imam al Mutawalli (W. 478 H) dalam kitabnya al Ghun-yah, al Imam al Ghazali (W. 505 H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulum ad-Din, al Imam an-Nawawi (W. 676 H) dalam
kitabnya Syarh Shahih Muslim, al Imam Taqiyy ad-Din as-Subki (W.756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil dan masih banyak lagi.
Perkataan al Imam at-Thahawi tersebut juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al Wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham Hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati
makhluk-Nya. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma’ (konsensus) kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Imam as-
Suyuthi (W. 911 H) dalam karyanya al Hawi li al Fatawi dan lainnya, juga para panutan kita ahli tasawwuf sejati seperti al Imam al Junaid al Baghdadi (W. 297 H), al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H), Syekh Abdul Qadir al Jilani (W. 561 H) dan semua Imam tasawwuf sejati, mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang berdusta sebagai pengikut tarekat tasawwuf dan meyakini aqidah Wahdah al Wujud dan Hulul.

C. Ayat  Mutasyabihat  NAIK

Artinya : Dan kepada-Nya naik (mengetahui-Nya)  perkataan yang baik dan amAlan yang shalih dinaikan (MENERIMA AMALAN SHALIHNYA)

Dalam tafsir Jalalain :  (ilaihi YUSH’ADU kalimuthayyib) ya’lamuhu ,….

Artinya lafadz :  ilaihi YUSH’ADU kalimuthayyib artinya  MENGETAHUINYA,…

(wa ‘amilushalihati yarfa’uhu) YAQBALUHU

Artinya  : menerima amalan baik itu (memberi  pahala/meridhai)

Bersambung ….

https://salafytobat.wordpress.com