Apa yang dimaksud dengan Madzhab Ahlul Bait ?

Apa yang dimaksud dengan Madzhab Ahlul Bait ?

Madzhab Ahlul Bait adalah nama samaran dari sekian banyak aliran-aliran Syiah. Dimana setiap aliran Syiah mengklaim alirannya sebagai Madzhab Ahlul Bait.

Sebagai contoh, aliran Syiah Zaidiyah mengaku sebagai Madzhab Ahlul Bait. Begitu pula aliran Syiah Ismailiyah, mereka juga mengaku sebagai Madzhab Ahlul Bait. Bahkan aliran Syiah yang paling sesat saat ini, yaitu aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) juga berani mengaku sebagai Madzhab Ahlul Bait.

Penyebab mereka sampai berani menyebut alirannya sebagai Madzhab Ahlul Bait, dikarenakan saat ini masyarakat dunia Islam sudah mengetahui bahwa aliran-aliran Syiah tersebut sesat dan menyesatkan dan ajarannya sangat menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW. dan ajaran Ahlul Bait.

Karena itu dalam usahanya menipu dan menyesatkan umat Islam, mereka menggunakan nama samaran sebagai Madzhab Ahlul Bait. Dan ternyata usaha mereka tersebut berhasil, sehingga ada dari umat Islam yang tertipu dan akhirnya terjerumus masuk Syiah.

Oleh karena aliran-aliran Syiah yang mengaku sebagai Madzhab Ahlul Bait tersebut berbeda rukun imannya, maka mereka saling mengkafirkan, Syiah yang satu mengkafirkan Syiah yang lain.

Jika aliran-aliran Syiah yang saling mengkafirkan itu benar-benar sebagai Madzhab Ahlul Bait, berarti hal itu menggambarkan bahwa pendiri madzhab-madzhab tersebut saling mengkafirkan, maka pertanyaan yang timbul adalah; mungkinkah Ahlul Bait yang telah disucikan sesuci-sucinya oleh Allah itu saling mengkafirkan ?.

Jawabnya, pasti tidak mungkin, dan itu hanyalah rekayasa dan tipu daya tokoh-tokoh Syiah yang tidak memikirkan akibatnya.

Dengan demikian yang namanya Madzhab Ahlul Bait itu tidak ada, yang ada adalah Madzhabnya Ahlul Bait, bukan Madzhab Ahlul Bait tapi madzhabnya Ahlul Bait atau akidah-nya Ahlul Bait. Yaitu akidah yang sekarang dikenal dengan nama akidah Ahlus Sunnah Waljamaah. Satu akidah yang berpegang kepada apa-apa yang diyakini

dan dikerjakan oleh Rasulullah SAW, Ahlul Bait dan para sahabatnya.

Jika yang namanya Madzhab Ahlul Bait itu ada dan benar, pasti yang mengikuti madzhab tersebut adalah keturunan Ahlul Bait, yaitu para habaib bukan orang-orang ajam dari Iran.

Tapi kenyataannya para habaib hampir semuanya mengikuti akidah Ahlus Sunnah Waljamaah. Mereka mengikuti akidah itu secara sambung menyambung sampai kedatuk mereka baginda Rasulullah SAW.

Hal ini dapat dibaca dalam kitab Iqdul Yawaqid Aljauhariyyah, karya Al-Allamah al-Habib Edrus bin Umar Al-Habsyi, dan dapat dibaca dalam puluhan, bahkan ratusan kitab-kitab yang ditulis oleh para habaib dzurriyaturrasul.

Jadi yang benar, akidahnya golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah akidahnya Ahlul Bait atau madzhabnya Ahlul Bait yang sampai sekarang diikuti oleh keturunan Ahlul Bait atau para habaib Al-Alawiyin dzurriyaturrasul.

Apabila dari sekian juta habaib itu ada dua, tiga orang yang menyimpang (syad), maka orang-orang tersebut tidak tergolong sebagai tokoh habaib yang menjadi panutan. Tapi mereka adalah korban-korban yang rusak akidahnya akibat membaca buku-buku yang ditulis oleh orang-orang orientalis dan Zionis Yahudi.

Demikian sedikit mengenai Madzhab Ahlul Bait dan madzhabnya Ahlul Bait. Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari tipu daya tokoh-tokoh Syiah yang sering mengaku sebagai pengikut Madzhab Ahlul Bait.

Apakah Syi’ah itu
Apa Ahlussunnah Waljamaah ?
Kapan lahirnya Agidah Ahlussunnah Waljamaah ?
Apa perbedaan Ahlussunnah Waljamaah dengan Syi’ah ?

Perbedaan Ahlussunnah Waljamaah & Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah

Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ?

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.

Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.

Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.

Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.

Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.

Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.

Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah).

Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.

Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

1. Ahlussunnah         : Rukun Islam kita ada 5 (lima)

a) Syahadatain

b) As-Sholah

c) As-Shoum

d) Az-Zakah

e) Al-Haj

Syiah                     : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:

a) As-Sholah

b) As-Shoum

c) Az-Zakah

d) Al-Haj

e) Al wilayah

2. Ahlussunnah         : Rukun Iman ada 6 (enam) :

a) Iman kepada Allah

b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya

c) Iman kepada Kitab-kitab Nya

d) Iman kepada Rasul Nya

e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat

f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

Syiah                     : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*

a) At-Tauhid

b) An Nubuwwah

c) Al Imamah

d) Al Adlu

e) Al Ma’ad

3. Ahlussunnah         : Dua kalimat syahadat

Syiah                     : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

4. Ahlussunnah         : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.

Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

Syiah                     : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5. Ahlussunnah         : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :

a) Abu Bakar

b) Umar

c) Utsman

d) Ali Radhiallahu anhum

Syiah                     : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

6. Ahlussunnah         : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.

Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

Syiah                     : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma’’hum, seperti para Nabi.

7. Ahlussunnah         : Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah                     : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8. Ahlussunnah         : Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah                     : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

9. Ahlussunnah         : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah :

a) Bukhari

b) Muslim

c) Abu Daud

d) Turmudzi

e) Ibnu Majah

f) An Nasa’i

(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).

Syiah                     : Kitab-kitab Syiah ada empat :

a) Al Kaafi

b) Al Istibshor

c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih

d) Att Tahdziib

(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).

10. Ahlussunnah         : Al-Qur’an tetap orisinil

Syiah                     : Al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).

11. Ahlussunnah         : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Syiah                     : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah.

Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

12. Ahlussunnah         : Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.

Syiah                     : Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.

Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.

Keterangan           : Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.

13. Ahlussunnah         : Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.

Syiah                     : Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.

14. Ahlussunnah         : Khamer/ arak tidak suci.

Syiah                     : Khamer/ arak suci.

15. Ahlussunnah         : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.

Syiah                     : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.

16. Ahlussunnah         : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.

Syiah                     : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.

(jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).

17. Ahlussunnah         : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.

Syiah                     : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya.

(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).

18. Ahlussunnah         : Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.

Syiah                     : Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.

19. Ahlussunnah         : Shalat Dhuha disunnahkan.

Syiah                     : Shalat Dhuha tidak dibenarkan.

(padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).

Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).  Sengaja  kami  nukil  sedikit saja,  sebab apabila kami nukil

seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini.

Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).

Masihkah mereka akan dipertahankan sebaga Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya).

Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).

Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).

Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.

Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.

Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita.

Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin.

http://www.albayyinat.net/jwb5tc.html

Al-Imam Al-Mujaddid Al-‘Allamah Murtadha Al-Husayni Al-Zabidi: Istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” adalah bagi Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah

Al-Imam Al-Mujaddid Al-‘Allamah Murtadha Al-Husayni Al-Zabidi: Istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” adalah bagi Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,

Selawat dan Salam ke atas Rasulullah SAW, rahmat ke seluruh alam,

Juga kepada ahli keluarga dan para sahabat r.a. yang telah bertebaran di merata alam;

 


1. Dalam penulisan kali ini, penulis membawa sebuah tema yang baru bagi penulisan dalam Blog ini. Tema tersebut ialah “Mempertahankan Al-Asha’irah”. Ini adalah kerana penulis melihat beberapa penulisan yang diterbitkan oleh majalah-majalah tertentu telah mula menyerang ulama’ Al-Asha’irah dengan tuduhan-tuduhan yang sangat berat.

 


2. Sebagai contoh, sebuah artikel terbaru di dalam Majalah-i [Bil. 73, November 2008] dengan secara terang-terangan meletakkan ulama’ Al-Asha’irah (atau Al-Ash’ariyyah) sebagai salah satu “kelompok Ahli Bid’ah.” Lihat muka surat 19. [Penulis akan scan artikel tersebut kemudian].

 


3. Penulis tidaklah terkejut dengan tuduhan dan tohmahan yang sangat berat ini terhadap ulama’ Al-Asha’irah kerana dendam golongan bid’ah terhadap Al-Asha’irah memang telah lama diketahui. Namun, penulis begitu sedih apabila tuduhan seperti ini dimuatkan di dalam majalah-majalah yang menjadi bacaan masyarakat awam dan pihak yang bertanggungjawab tidak memantau hal ini dengan berhati-hati.

 


WAHAI JABATAN, MAJLIS AGAMA DAN PEGAWAI-PEGAWAI YANG BERKUASA!

 


INGATLAH JAWATAN-JAWATAN YANG ANTUM SEMUA PEGANG ITU MEMPUNYAI TANGGUNGJAWAB YANG SANGAT BESAR DAN AKAN DIHISAB DI HARI AKHIRAT KELAK!

 


DI MANAKAH ANTUM SEMUA SEWAKTU ULAMA’ ISLAM DIHINA OLEH GOLONGAN AHLI BID’AH?!!!

 


DI MANAKAH ANTUM SEMUA SEWAKTU AHLI BID’AH MENYEBARKAN FAHAMAN MEREKA DI TENGAH-TENGAH MASYARAKAT AWAM?!!!

 


4.Ulama’ Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah telah diberi tawfiq oleh Allah SWT untuk menghancurkan golongan-golongan ahli bid’ah seperti Muktazilah, Jahmiyyah, Jabariyyah, , Qadariyyah, Hashawiyyah/Mushabbihah/Mujassimah, dll apabila golongan ini mula timbul di akhir-akhir kurun ke-3 hijrah dan awal kurun ke-4 hijrah. Sesiapa yang mengkaji sejarah Islam pasti tidak dapat menolak hakikat ini dan para ulama Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah adalah penyelamat aqidah umat ini. Insya-Allah, satu masa nanti, penulis akan menghuraikan sejarah Ulama’ Al-Asha’irah dan al-Maturidiiyah secara terperinci.

 


5. Bagi menolak tuduhan yang sangat buruk ini, penulis membawa kata-kata al-Imam al-Mujaddid al-Allamah Murtadha al-Husayni al-Zabidi daripada kitabnya yang sangat masyhur: “Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin”. Kitab ini adalah syarahan bagi kitab “Ihya’ Ulumiddin” karya al-Imam al-Mujaddid al-Ghazali. Hadis-hadis di dalam kitab “Ihya’ Ulumiddin” telah ditakhrij oleh al-Imam al-Mujaddid al-Hafidh Nuruddin al-‘Iraqi.

 


Ketahuilah wahai pembaca sekalian:

 


KITAB IHYA’ ULUMIDDIN DITULIS OLEH SEORANG MUJADDID (IMAM AL-GHAZALI), DITAKHRIJ HADISNYA OLEH SEORANG MUJADDID (AL-HAFIDH NURUDDIN AL-‘IRAQI) DAN DISYARAH OLEH SEORANG MUJADDID JUA (AL-IMAM MURTADHA AL-ZABIDI). Maka berpeganglah dengan kitab-kitab ini.

 

Terjemahan (Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin):

 


Dan apabila disebutkan istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” secara mutlak/umum, maka golongan yang dimaksudkan ialah (ulama’) Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah.

 


Berkata Imam Al-Khayyali di dalam Hashiyahnya bagi (kitab) Syarh al-Aqa’id: Al-Asha’irah itu adalah Ahli Sunnah dan Jama’ah dan istilah ini masyhur di negeri-negeri Khurasan, Iraq, Sham dan di kebanyakan tempat.

 


Dan (manakala) di negara-negara Balkan (istilah Ahli Sunnah dan Jamaah) itu digunakan bagi Al-Maturidiyyah, para ulama’ yang mengikut manhaj Abu Mansur (al-Maturidi), dan di antara dua golongan ini perbezaan pendapat dalam beberapa perkara seperti isu al-Takwin dan lain-lainnya. (Selesai).”

 


Huraian:

 


6. Lihatlah betapa jelasnya bahawa istilah Ahli Sunnah dan Jama’ah itu adalah sebenarnya merujuk kepada ulama’ al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah. Perbezaan di kalangan al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah adalah bukan dalam perkara-perkara pokok. Insya-Allah, penulis akan memberi penerangan mengenai perkara-perkara perbezaan ini di masa akan datang.

 


7.Namun begitu, kita melihat golongan Wahabi (atau yang sering mendakwa diri mereka sebagai Salafi atau Muwahhidun atau Firqah Najiyah atau Gerakan Islah dan Tajdid) cuba “merompak” istilah ini untuk mereka dan mengelirukan orang awam bahawa istilah al-Asha’irah dan istilah Ahli Sunnah dan Jama’ah adalah bertentangan.

 


8. Kejahilan mengenai hakikat dan kedudukan ulama’ Al-Asha’irah ini bukan sahaja tidak diketahui kebanyakan masyarakat awam, bahkan para penuntut ilmu agama dan para ustaz juga masih ramai yang masih keliru di dalam isu ini.

 


9. Penulis sentiasa menasihati diri sendiri dan para pembaca agar sentiasa memohon petunjuk daripada Allah SWT dan berpeganglah dengan majoriti ulama’ dan di dalam bidang aqidah, majoriti ulama’ adalah al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah.

 


Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya (ulama’) umatku tidak akan bersepakat di dalam kesesatan.”

 


Wassalamu ‘ala man ittaba’a al-huda.

Dan sejahteralah ke atas mereka yang mengikut petunjuk (daripada Allah SWT).

http://al-ashairah.blogspot.com/

SHEIKH ABDUS-SAMAD AL-FALIMBANI: SESEORANG YANG MENUDUH TARIKAT AHLI SUFI (YANG MUKTABAR) SEBAGAI TERKELUAR DARI AL-QURAN DAN SUNNAH BOLEH JATUH KAFIR

SHEIKH ABDUS-SAMAD AL-FALIMBANI: SESEORANG YANG MENUDUH TARIKAT AHLI SUFI (YANG MUKTABAR) SEBAGAI TERKELUAR DARI AL-QURAN DAN SUNNAH BOLEH JATUH KAFIR

1. Di kalangan agamawan Islam dunia Melayu ini, nama al-Sheikh Abdus-Samad al-Falimbani memang tidak perlu diperkenalkan lagi. Karyanya yang terkenal lagi penuh barakah dan masih di ajar lagi kepada masyarakat umum pada hari ini ialah “Siyar al-Salikin.” “Siyar al-Salikin” adalah terjemahan bagi kitab “Lubab Ihya’ Ulumuddin” (“Intisari Ihya’ Ulumiddin”) oleh Imam al-Ghazali r.a. dengan beberapa tambahan yang sangat bermanfaat oleh al-Sheikh Abdus-Samad al-Falimbani.


Untuk mengetahui sejarah dan latar belakang al-Sheikh Abdus-Samad al-Falimbani, sila klik di sini.


2. Dan –alhamdulillah – Tuan Guru Sheikh Ahmad Fahmi Zamzam Al-Nadwi Al-Maliki, – di antara ulama’ Melayu masa kini yang mewarisi keilmuan ulama’ silam – telah pun menterjemahkan karya agung “Siyar al-Salikin” daripada bahasa Melayu klasik ke dalam bahasa Melayu moden yang mudah difahami. Semoga Allah membalas budi dan jasa baik beliau sebaik-baiknya.

Komen penulis: Rugilah sesiapa yang tidak pernah mengaji atau sekurang-kurangnya membaca buku ini.


3. Dalam perbincangan kali ini, penulis ingin menegur sikap golongan Wahhabi atau pro-Wahhabi yang seringkali memandang hina dan mengeji tarikat-tarikat Sufi tanpa membezakan tarikat yang muktabar dan tidak muktabar.


4. Secara umumnnya, kita melihat bahawa golongan Wahhabi sering mengkafirkan golongan Sufi dan tarikat tasawwuf. Dalam satu program TV di negara Arab, seorang tokoh besar pergerakan Wahhabi dalam perdebatannya dengan al-Sheikh Yusuf al-Rifa’e mengatakan bahawa “Barangsiapa tidak mengkafirkan mereka (golongan Sufi yang membicarakan ilmu makrifat Ketuhanan), maka mereka juga jatuh kafir.” Banyak lagi contoh yang boleh kami berikan di masa akan datang.


5. Bahkan, kawan penulis sendiri yang mempunyai latar belakang ilmu agama yang sangat lemah pernah menyebarkan artikel yang menyebut kononnya (Guru kepada guru-guru kami) al-Sheikh Abu Yazid al-Busthami berakidah Hulul dan Ittihad. Sesungguhnya orang yang seperti ini mendedahkan dirinya kepada akibat yang sangat buruk. Tidakkah dia mengetahui bahawa al-Sheikh Abu Yazid al-Busthami digelar sebagai “Sulthan al-Arifin” (Sultan Para Ulama’ Arifin)? Semoga Allah memberi kawan penulis itu hidayah dan semoga kita tidak mati dengan membawa sangkaan yang begitu buruk terhadap para ulama’.


6. Dalam ruangan ini, penulis ingin menukilkan terjemahan kata-kata al-Imam Abdul Wahhab al-Sha’rani oleh al-Sheikh Abdus-Samad al-Falimbani yang menyatakan bahawa (dengan bahasa moden):

Barangsiapa menyatakan bahawa Tarikat Ahli Sufi itu tidak bersumberkan al-Quran dan al-Sunnah, nescaya jatuh kafir.”


Teks asal:

Dan takuti olehmu bahawa engkau kata bahawasanya Tarikat Ahli Sufi itu tiada mendatang akan dia oleh kitab yakni Quran, dan tiada mendatangkan akan dia oleh Sunnah yakni Hadith Nabi SAW, maka barangsiapa mengata akan yang demikian itu, nescaya jadi kafir…


(Muka surat: 200, baris ke-11 dari bahawa, Jilid ke-3, Tatimmah: Fi Bayani Fadhilah al-Salikin wa Thariqah al-Sufiyyah).


Huraian


7. Banyak golongan Wahhabi atau pro-Wahhabi tidak menyedari bahawa perbuatan mereka memandang hina, mencaci maki, mengeji Tarikat-tarikat Sufi merupakan KESALAHAN BESAR yang boleh menjerumuskan mereka ke LEMBAH KEKUFURAN?


8. Kalau beginilah kedudukan golongan yang menuduh Tarikat Sufi (yang muktabar) dengan kepalsuan, bagaimanakah kedudukan tokoh Wahhabi yang menyatakan bahawa: “Barangsiapa tidak mengkafirkan mereka (golongan Sufi yang membicarakan ilmu makrifat Ketuhanan), maka mereka juga jatuh kafir” ??? [Kami berlindung dengan Allah].


9. Maka oleh itu wahai pembaca sekalian, andainya kita tidak benar-benar mengerti tentang sesuatu perkara khasnya mengenai Tarikat Sufi yang seringkali menjadi mangsa fitnah pada hari ini oleh golongan yang menggunakan nama agama, maka eloklah tuan-tuan mengambil sikap berhati-hati dan wara’. Semoga dengan adab yang baik itu, Allah SWT membukakan hidayah dan petunjuk-Nya kepada kita semua satu masa nanti.


Wassalam.

http://al-ashairah.blogspot.com/

Talqin Dzikir Thareqat

Talqin Dzikir

PDF Cetak E-mail

Image


Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah

http://thoriqoh-indonesia.org/

Di dalam thariqoh ada yang disebut talqinu adz-dzikr, yakni pendiktean kalimat “dzikir la ilaaha illallah” dengan lisan (diucapkan) atau pendiktean ismu adz-dzat lafadz Allah secara bathiniyah dari seorang guru mursyid kepada muridnya. Dalam melaksanakan dzikir thariqoh seseorang harus mempunyai sanad (ikatan) yang muttashil (bersambung) dari guru mursyidnya yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah Saw. Penisbatan (pengakuan adanya hubungan) seorang murid dengan guru mursyidnya hanya bisa melalui talqin dan ta’lim dari seorang guru yang telah memperoleh izin untuk memberikan ijazah yang sah yang bersandar sampai kepada guru mursyid shohibuth thariqoh, yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah Saw. Karena dzikir tidak akan memberikan faidah secara sempurna kecuali melalui talqin dan izin dari seorang guru mursyid. Bahkan mayoritas ulama thariqoh menjadikan  talqin dzikir ini sebagai salah satu syarat dalam berthariqoh. Karena isi (rahasia) di dalam thariqoh sesungguhnya  adalah keterikatan antara satu hati dengan hati yang lainnya sampai kepada Rasulullah Saw, yang  bersambung sampai  ke hadirat Yang Maha Haqq, Allah ‘Azza wa Jalla.

Dan seseorang yang telah memperoleh talqin dzikir yang juga lazim di sebut bai’at dari seorang guru mursyid, berarti dia telah masuk  silsilahnya para kekasih Allah yang Agung. Jadi jika seeorang berbai’at thariqoh berarti dia telah berusaha untuk turut menjalankan perkara yang telah  dijalankan  oleh mereka.

Perumpamaan orang yang berdzikir yang telah di talqin/dibai’at oleh guru mursyid itu seperti lingkaran rantai yang saling bergandengan  hingga induknya, yaitu Rasulullah Saw. Jadi kalau induknya di tarik maka  semua lingkaran yang terangkai akan ikut tertarik kemanapun arah tarikannya itu. Dan silsilah para wali sampai kepada Rasulullah Saw itu bagaikan sebuah rangkaian lingkaran-lingkaran anak rantai yang saling berhubungan.

Berbeda dengan orang yang berdzikir yang belum bertalqin/ berbai’at kepada seorang guru mursyid, ibarat anak rantai yang terlepas  dari rangkaiannya. Seumpama induk rantai itu di tarik, maka ia tidak akan ikut tertarik. Maka kita semua perlu bersyukur karena telah diberi ghiroh (semangat) dan kemauan untuk berbai’at kepada seorang guru mursyid. Tinggal kewajiban kita untuk beristiqomah menjalaninya serta senantiasa menjaga dan menjalankan syariat dengan sungguh-sungguh. Dan hendaknya juga dapat istiqomah didalam murabathah (merekatkan hubungan) dengan guru mursyid kita masing-masing.

Adab Berdzikir Menurut Alqur’an dan Sunnah

Adab Berdzikir

Image


Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah

http://thoriqoh-indonesia.org/

Adab Berdzikir PDF Cetak E-mail

Untuk melaksanakan dzikir didalam thariqoh ada tata krama yang harus diperhatikan, yakni adab berdzikir. Semua bentuk ibadah bila tidak menggunakan tata krama atau adab, maka akan sedikit sekali faedahnya. Dalam kitab Al-Mafakhir Al-’Aliyah fi al-Ma-atsir Asy-Syadzaliyah disebutkan, pada pasal Adab adz-Dzikr, sebagaimana dituturkan oleh Asy-Sya’roni, bahwa adab berdzikir itu banyak tetapi dapat dikelompokkan menjadi 20 (dua puluh), yang terbagi menjadi tiga bagian; 5 (lima) adab dilakukan sebelum bedzikir, 12 (dua belas) adab dilakukan pada saat berdzikir, 2(dua) adab dilakukan setelah selesai berdzikir.

Adapun 5 (lima ) adab yang harus diperhatikan sebelum berdzikir adalah;

1.     Taubat, yang hakekatnya adalah meninggalkan semua perkara yang tidak berfaedah bagi dirinya, baik yang berupa ucapan, perbuatan, atau keinginan.

2.     Mandi dan atau  wudlu.

3.     Diam dan tenang. Hal ini dilakukan agar di dalam dzikir nanti dia dapat memperoleh shidq, artinya hatinya dapat terpusat pada bacaan Allah yang kemudian dibarengi dengan lisannya yang mengucapkan Lailaaha illallah.

4.     Menyaksikan dengan hatinya ketika sedang melaksanakan dzikir  terhadap himmah syaikh atau guru mursyidnya.

5.     Menyakini bahwa dzikir thariqoh yang didapat dari syaikhnya adalah  dzikir yang didapat  dari Rasulullah Saw, karena syaikhnya adalah naib (pengganti ) dari beliau.

Sedangkan 12 (dua belas) adab yang harus diperhatikan pada saat melakukan dzikir adalah;

1.     Duduk di tempat yang suci seperti duduknya di dalam shalat..

2.     Meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya.

3.     Mengharumkan tempatnya untuk berdzikir dengan bau  wewangian, demikian pula dengan pakaian di badannya.

4.     Memakai pakaian yang halal dan suci.

5.     Memilih tempat yang gelap dan sepi jika memungkinkan.

6.     Memejamkan kedua mata,  karena hal itu akan dapat menutup jalan indra dzahir, karena dengan tertutupnya indra dzahir akan menjadi penyebab terbukanya indra hati/bathin.

7.     Membayangkan pribadi guru mursyidnya diantara kedua matanya. Dan ini menurut ulama thariqoh merupakan adab yang sangat penting.

8.     Jujur dalam berdzikir. Artinya hendaknya seseorang yang berdzikir itu dapat memiliki perasaan yang sama, baik dalam keadaan sepi (sendiri) atau ramai (banyak orang).

9.     Ikhlas, yaitu membersihkan amal dari segala ketercampuran. Dengan kejujuran serta keikhlasan  seseorang yang berdzikir akan sampai derajat ash-shidiqiyah dengan syarat dia mau mengungkapkan segala yang terbesit di dalam hatinya (berupa kebaikan dan keburukan) kepada syaikhnya. Jika dia tidak mau mengungkapkan hal itu, berarti dia berkhianat dan akan terhalang dari fath (keterbukaan bathiniyah).

10.    Memilih shighot dzikir bacaan La ilaaha illallah , karena bacaan ini memiliki  keistimewaan yang tidak  didapati pada bacaan- bacaan dzikir syar’i lainnya.

11.    Menghadirkan makna  dzikir di dalam hatinya.

12.    Mengosongkan hati dari segala apapun selain Allah  dengan La ilaaha illallah , agar pengaruh kata “illallah” terhujam di dalam hati  dan menjalar ke seluruh anggota tubuh.

Dan 3 (tiga) adab setelah berdzikir adalah;

1.     Bersikap tenang ketika telah diam (dari dzikirnya), khusyu’ dan menghadirkan hatinya untuk menunggu waridudz-dzkir. Para ulama thariqoh berkata bahwa bisa jadi waridudz-dzikr datang dan sejenak memakmurkan hati itu pengaruhnya lebih besar dari pada apa yang dihasilkan oleh riyadlah dan mujahadah tiga puluh tahun.

2.     Mengulang-ulang pernapasannya berkali-kali. Karena hal ini – menurut ulama thariqoh- lebih cepat menyinarkan bashirah, menyingkapkan hijab-hijab dan memutus bisikan–bisikan hawa nafsu dan syetan.

3.     Menahan minum air. Karena dzikir dapat menimbulkan hararah (rasa hangat di hati orang yang melakukannya, yang disebabkan oleh syauq (rindu) dan tahyij (gairah) kepada al-madzkur/Allah Swt  yang merupakan tujuan utama dari dzikir, sedang meminum air setelah berdzikir  akan memadamkan rasa tersebut.

Para guru mursyid berkata: ”Orang yang berdzikir hendaknya memperhatikan  tiga tata krama ini, karena natijah (hasil) dzikirnya hanya akan muncul  dengan hal tersebut.” Wallahu a’lam.

Al-Allamah Al-Mufassir Al-Muhaddith Al-Sheikh Husayn Sami Badawi : Bahaya aqidah wahaby

Al-Allamah Al-Mufassir Al-Muhaddith Al-Sheikh Husayn Sami Badawi Al-Shafi’e Menjelaskan Bahaya Tashbih dan Tajsim Yang Muncul Pada Waktu Ini

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,

Selawat dan Salam ke atas Rasulullah SAW, rahmat ke seluruh alam,

Juga kepada ahli keluarga dan para sahabat r.a. yang telah bertebaran di merata alam;



1. Al-Sheikh Husyan Sami Badwi al-Shafie dilahirkan pada 1320H dan wafat pada tahun 1362 H merupakan seorang ahli tafsir dan ahli hadis bermazhab Shafi’e daripada keluaran ulama’ Al-Azhar. Melalui buku ini, kita mendapati beliau menolak dengan sangat tegas fahaman Wahabi yang membawa Aqidah Tashbih & Tajsim yang sedang mula bertapak di Mesir pada waktu itu.


2. Buku “al-Hujjah al-Damighah li shubhat al-mujassimah al-za’ighah” [Yang Bermaksud: Hujah Yang Mampu Mematahkan Shubhat-shubhat Golongan Pentajsim Yang Menyeleweng daripada Kebenaran” merupakan salah satu daripada risalah yang telah beliau karang pada zaman beliau di awal kebangkitan fahaman Tashbih dan Tajsim di Mesir yang dibawa oleh puak yang menggelar diri mereka “Ansar al-Sunnah”.


Komen penulis: Kalau tak silap, puak ini masih ada di Mesir dan merekalah yang bertanggungjawab mengumpul semula fatwa-fatwa Ibnu Taymiyyah menjadi satu majmu’ah (kumpulan) fatwa.


Di dalam buku ini, beliau menyatakan bahawa beliau akan terus menumpukan usaha memerangi golongan yang membawa fahaman Tashbih dan Tajsim ini.


3. Yang menarik pada muqaddimah buku kecil ini, pihak penerbit buku ini ada menyatakan rasa kesalnya dengan senario “membisu” di kalangan sebahagian orang berilmu:


“Setiap daripada kami berharap semoga risalah ini – dan yang lain-lain yang kami berazam untuk menerbitkannya/menyebarkannya – diterima baik dan tersebar, pada waktu di mana golongan-golongan yang memiliki kebenaran mendiamkan diri daripada berterus terang, kerana takut, rendah hina dan tunduk demi menjaga pekerjaan dan pangkat, undangan ke seminar-seminar, dan penyertaan di dalam perhimpunan-perhimpunan.


Komen penulis: Maka hendaklah setiap daripada kita (khasnya para ustaz) menilai diri masing-masing, adakah kita takut menyatakan kebenaran hanya semata-mata takut tidak mendapat tempat di dalam masyarakat untuk berceramah, mengajar? Atau takut tidak mendapat kawan? dan sebagainya?. Pendakyah Wahabi sanggup menerima penolakan daripada masyarakat kerana memperjuangkan aqidah dan fiqh yang menyeleweng, sebaliknya kita yang berada di pihak kebenaran takut untuk bersuara? Fikir-fikirkanlah.


4. Di dalam buku yang kecil ini, al-Sheikh Husayn Sami Badwi dengan terus terang menggunakan tajuk Mushabbihah dan Mujassimah di dalam beberapa bahagiannya dan menceritakan latar belakang fitnah ini, pendapat para ulama’ mengenai golongan Mushabbihah dan Mujassimah, dan kaedah Ahli Sunnah dan Jama’ah memahi ayat al-Quran Muhkam dam Mutashabihat, dan lain-lain. Kemudian beliau menekankan bahawa fitnah Tashbih dan Tajsim telah timbul semula setelah ia terkambus sebelum ini, beliau berkata (ms 30).


Dan sesungguhnya telah timbul di zaman kita ini satu golongan yang menjadikan asas pemikiran mereka menyeru kepada mazhab al-Mujassimah yang telah sepakat/ijma’ umat Islam di atas kebathilannya serta penyelewengan para pemikulnya. Dan golongan ini telah memukau masyarakat awam dan seumpama mereka dengan makna-makna zahir ayat-ayat al-Quran dan hadis yang mutashabihat setelah melucutkan mereka daripada kefahaman menyeluruh nas-nas yang muhkam. Hal keadaan mereka itu sebenarnya memesongkan masyarakat awan daripada kaedah yang kukuh dan jalan yang lurus yang telah dipegang secara berterusan oleh umat Islam sejak era Salafus Soleh sehingga ke zaman kita sekarang ini..”.

5. Beliau juga menyatakan empat sebab mengapa golongan seperti ini terpesong dari jalan yang lurus.


Terjemahan:

1. Kejahilan mereka mengenai Allah Yang Maha Agung, dan nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang mulia yang menjadi bukti bahawa Maha Suci Dia SWT daripada menyerupai makhluk ciptaanNya.

2. Kehilangan cahaya hati yang dengannya seorang Mukmin itu dapat membezakan di antara kebenaran dan kebathilan, dan di antara petunjuk dan kesesatan.

3. Kejumudan mereka untuk berpegang dengan makna-makna zahir nas-nas Mutashabihat, dan kealpaan mereka daripada qarinah-qarinah yang menunjukkan kepada penyelidik yang bersikap adil tentang makna yang dikehendaki dengan nas-nas tersebut, sama ada daripada ayat-ayat Muhkamat atau daripada konteks ayat.

4. Kejahilan mereka yang melampau berkenaan majaz (kiasan) bahasa dan keluasan makna bahawa arab dan kaedah penerangan yang diturunkan al-Quran al-Karim dengannya dan yang dituturkan oleh sefasih-sefasih bangsa Arab, iaitu, penghulu dan ketua kita, (Nabi) Muhammad SAW.”


Komen penulis: Insya-Allah, kami akan bentangkan akan datang kata-kata ulama’ bahawa “Di antara pokok-pokok kekufuran itu ialah berpegang dengan semua makna zahir al-Quran dan al-Sunnah”.


Huraian


6. Al-Sheikh telah memberi amaran kepada kita semua tentang FITNAH AQIDAH TASHBIH DAN TAJSIM yang sedang melanda umat Islam masa kini sejak dulu lagi. Apakah kita tidak mengambil manfaat pesanan ini?


7. Masihkan kita beranggapan bahawa kita semua tidak perlu menolak Wahabi kerana takut berlaku perpecahan di dalam masyarakat? Atau sebenarnya di dalam diri kita ada shahwat yang tersembunyi yang ingin mencari kedudukan yang baik di dalam masyarakat walaupun terpaksa membiarkan dan merelakan fitnah aqidah ini tersebar di dalam masyarakat? Muhasabah diri dan fikir-fikirkanlah.


Wassalam.


“Hanyasanya yang mengambil peringatan itu adalah golongan ulul-albab”.

Dasar/Dalil Talqin Dzikir Thariqat

Dasar Talqin Dzikir Thariqat

Image


Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah

http://thoriqoh-indonesia.org/

Dasar Talqin Dzikir PDF Cetak E-mail

Di dalam mentalqin dzikir, seorang guru mursyid dapat melakukan kepada jama’ah (banyak orang) atau kepada perorangan. Hal ini  didasarkan pada riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani yang menerangkan bahwa Rasulullah Saw telah men-talqin para sahabatnya, baik secara berjama’ah atau perorangan.

Adapun talqin Nabi Saw kepada para sahabatnya secara jamaah sebagaimana diriwayatkan dari Sidad bin Aus RA: ”Ketika kami (para sahabat) berada di hadapan Nabi Saw, beliau bertanya: ”Adakah diantara kalian orang asing (maksud beliau adalah ahli kitab-red), aku menjawab: ”Tidak!” Maka beliau menyuruh menutup pintu, lalu berkata: ”Angkatlah tangan-tangan kalian dan ucapkanlah La ilaaha illallah!” Kemudian beliau melanjutkan: ”Alhamdulillah, ya Allah sesungguhnya Engkau mengutusku dengan kalimat ini ”La ilaaha illallah”, Engkau perintahkan aku dengannya dan Engkau janjikan aku Surga karenanya. Dan Engkau sungguh tidak akan mengingkari janji.” Lalu beliau berkata: ”Ingat! Berbahagialah kalian, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian.”

Sedangkan talqin Beliau kepada sahabatnya secara perorangan adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Yusuf Al-Kirwaniy dengan sanad yang sahih, bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah pernah memohon kepada Nabi SAW: ”Ya Rasulullah, tunjukkanlah aku jalan yang paling  dekat  kepada Allah, yang paling mudah bagi hambanya dan yang paling utama di sisi-Nya!” Maka Beliau menjawab:” Sesuatu yang paling utama yang aku ucapkan dan para nabi sebelumku adalah La ilaaha illallah. Seandainya tujuh langit dan tujuh bumi berada di atas daun timbangan dan La ilaaha illallah berada di atas daun timbangan yang satunya, maka akan lebih beratlah ia (la ilaaha illallah),” lalu lanjut beliau: ”Wahai Ali, kiamat  belum akan terjadi selama di muka bumi ini  masih ada orang yang mengucapkan kata ’’Allah’’.” Kemudian sahabat Ali  berkata: ”Ya Rasulullah, bagaimana aku berdzikir menyebut nama Allah?” Beliau menjawab: ”Pejamkan kedua matamu dan dengarkan dariku tiga kali, lalu tirukan tiga kali dan aku akan mendengarkannya. ”Kemudian Nabi Saw  mengucapakan La ilaaha illallah tiga kali dengan memejamkan kedua mata dan mengeraskan suara beliau, lalu sahabat Ali bergantian  mengucapkan La ilaaha illallah seperti itu dan Nabi Saw  mendengarkannya. Inilah dasar  talqin dzikir jahri (La ilaaha illallah).

Adapun  talqin dzikir qolbi yakni dengan hati tanpa mengerakkan lisan  dengan itsbat tanpa nafi, dengan lafadz ismudz-dzat (Allah) yang diperintahkan Nabi Saw dengan sabdanya: ”Qul Allah Tsumma dzarhum” (Katakanlah, ”Allah” lalu biarkan mereka), adalah dinisbatkan kepada  Ash-Shiddiq Al-A’dham (Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ) yang mengambilnya secara batin dari Al-Musthofa Saw. Inilah dzikir yang bergaung mantap di hati Abu Bakar Ra. Nabi Saw  bersabda: ”Abu Bakar mengungguli kalian bukan karena banyaknya puasa dan shalat, tetapi karena sesuatu yang bergaung mantap di dalam hatinya.” Inilah dasar  talqin dzikir sirri.

Semua aliran thariqoh bercabang dari dua penisbatan ini, yakni nisbat kepada Sayyidina Ali Karamallahu wajhah untuk dzikir jahri dan nisbat kepada Sayyidina Abu Bakar Ra untuk dzikir sirri. Maka kedua beliau inilah sumber utama dan melalui keduanya pertolongan Ar-Rahman datang.

Nabi Saw mentalqin kalimah thoyibah ini kepada para sahabat radliallah ‘anhum untuk membersihkan hati mereka dan mensucikan jiwa mereka, serta menghubungkan mereka ke hadirat iIaahiyah (Allah) dan kebahagiaan yang suci murni. Akan tetapi pembersihan dan pensucian  dengan kalimah thoyibah ini atau  Asma-asma Allah yang lainnya itu, tidak akan berhasil kecuali si pelaku dzikir menerima talqin dari syaikhnya yang alim, amil, kamil, fahim, terhadap makna Al-Qur’an dan syariat, mahir dalam hadits atau sunnah dan cerdas dalam akidah dan ilmu kalam. Dimana syaikhnya tersebut juga telah menerima talqin kalimah thoyyibah tersebut dari syaikhnya yang terus bersambung dari syaikhnya yang agung, yang satu dari syaikh agung yang lainnya sampai kepada Rasulullah Saw.


Imam al-Nawawi mengenai Kepentingan Bermazhab (kitab majmu’)

Penjelasan Imam al-Nawawi mengenai Kepentingan Bermazhab

Penjelasan Imam al-Nawawi dipetik dari kitab Majmu’ Sharh al-Muhazzab

Bab Adab Berfatwa, Mufti dan Orang Yang Bertanya Fatwa

Pendahuluan

Golongan al-Wahhabi sering menimbulkan syak wasangka bagi mereka yang ingin bermazhab khasnya mazhab al-Shafie (di Tanah Melayu ini) dengan menyatakan ia adalah seolah-oleh bertentangan dengan mazhab para sahabat r.anhum. Mereka juga sering mewar-warkan bahawa kita perlu ikut al-Quran dan al-Sunnah sahaja. Pernyataan mereka ini seolah2 mereka sahajalah yang ingin mengikut al-Quran dan al-Sunnah. Pernyataan mereka ini juga bermaksud bahawa mengikut mazhab itu bererti tidak mengikut al-Quran dan al-Sunnah? [Astanghfirullah]. Bahkan, lebih jauh lagi, mereka kata tak perlu ikut mazhab, tapi ikut dalil, sedangkan mereka (pun orang awam) yang sedang bercakap dengan orang awam.

Apabila seseorang berkata bahawa dia bermazhab al-Shafie, maka mereka cuba mengenengahkan soalan yang menimbulkan syak seperti:

“Kalau anda bermazhab al-Shafie, Saidina Umar al-Khattab r.a. itu bermazhab apa?”

Mereka berlagak seolah-olah merekalah yang mempertahankan Saidina Umar al-Khattab r.a. tapi dalam bab solat tarawih 20 rakaat dan talak 3 dalam satu majlis jatuh tiga, mereka tidak pula mempertahankan mazhab Umar al-Khattab r.a.? Maka umat Islam masyarakat awam perlu berwaspada dengan sikap berpura-pura ini.

Yang jelas, sikap mereka ini ialah mereka memilih pendapat Umar al-Khattab r.a. yang mereka suka sahaja dan meninggalkan pendapat Umar al-Khattab yang bertentangan dengan fahaman mereka .

Isu yang utama dalam perkara ini adalah:

  • Bolehkah kita bermazhab dengan mazhab Sahabat r.anhum?
  • Dan kenapakah sebahagian ulama’ seperti Imam al-Nawawi memilih untuk bermazhab dalam mazhab al-Shafie? Adakah ia semata-mata taqlid buta? [Astaghfirullah janganlah anda beranggapan demikian]

Mari kita lihat kata-kata Imam al-Nawawi.

Kata-kata Imam al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’

‏ ‏

Terjemahan

“Dan tidak boleh bagi si awam itu bermazhab dengan mazhab salah seorang daripada imam-imam di kalangan para sahabat r.anhum dan selain daripada mereka daripada generasi-generasi yang terawal, walaupun mereka lebih alim dan lebih tinggi darjatnya berbanding dengan (ulama’) selepas mereka; ini adalah kerena mereka tidak meluangkan masa sepenuhnya untuk mengarang ilmu dan meletakkan prinsip-prinsip asas dan furu’nya. Maka tidak ada bagi salah seorang daripada mereka sebuah mazhab yang telah dihalusi, dianalisis dan diperakui. Hanyasanya, (ulama’2) yang datang selepas mereka yang merupakan pendokong mazhab para sahabat dan tabien lah yang melakukan usaha meletakkan hukum-hukum sebelum berlakunya perkara tersebut; yang bangkit menerangkan prinsip-prinsip asas dan furu’ mereka seperti (Imam) Malik dan (Imam) Abu Hanifah dan selain dari mereka berdua.”

[Kemudian Imam al-Nawawi menjelaskan kelebihan mazhab Imam al-Shafie dari pandangan beliau dan dengan secara tersiratnya menerangkan mengapa beliau bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie]

“Dan oleh kerana Imam al-Shafie adalah merupakan imam yang terkemudian dari sudut masa, maka beliau telah melihat mazhab-mazhab mereka seperti mana mereka melihat mazhab-mazhab ulama’ sebelum mereka. Maka beliau menperhalusinya, mengujinya dan mengkritiknya dan memilih yang paling rajih (kuat) dan beliau mendapat hasil daripada usaha ulama’2 sebelum beliau yang telah meletakkan gambaran dan pengasasan, maka beliau telah meluangkan masa untuk memilih dan mentarjih dan menyempurnakan dan meminda, dengan pengetahuan beliau dan kebijaksanaan beliau dalam pelbagai bidang ilmu. Dan dengan perkara ini beliau mendapat kedudukan yang lebih kuat dan rajih, kemudian tidak ada selepas beliau, (alim) yang mencapai kedudukan seperti beliau dalam perkara ini. Maka dengan ini, mazhab beliau adalah mazhab yang paling utama untuk diikuti dan bertaqlid dengannya – dan ini dengan jelasnya bahawa kita mestilah berlaku adil dan tidak ada meletakkan sebarang sikap memandang rendah pada salah seorang daripada para imam. Hal ini, apabila diteliti oleh si awam akan memandunya kepada memilih mazhab Imam al-Shafie dan bermazhab dengannya.”

Sedikit Ulasan

  • Mengikut mazhab yang empat pada hakikatnya mengikut mazhab para sahabat dan tabien kerana ulama’ mazhab empat merupakan pendokong mazhab para sahabat dan tabien yang mengikut sunnnah Rasulullah SAW.

  • Terdapat beberapa Imam dalam mazhab al-Shafie yang menerangkan sebab kenapa mereka bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie seperti Imam al-Nawawi, Imam al-Bayhaqi dan Imam al-Suyuthi. Jelaslah mereka bermazhab dengan mazhab Imam al-Shafie bukan kerana taqlid semata-mata.

  • Kalau andadapat cari sebab-sebab yang dikemukan oleh para imam tersebut, Insya Allah, akan bertambah kuat pegangan anda dengan mazhab yang muktabar seperti mazhab Imam al-Shafie .
  • Ada saper2 nak bantah kata2 Imam al-Nawawi ini?!

  • Pelik sungguh bila melihat orang ramai sanggup mengikut pendapat golongan Wahhabi yang tidak mempunyai latar belakang pengajian agama yang kukuh, bahkan sebahagian besar mereka adalah daripada golongan professional [pilot pun ader, pegawai syarikat komunikasi pun ader, pegawai bank pun ader] yang tidak mahir berbahasa arab dan meninggalkan ulama’ mazhab yang empat seperti Imam al-Nawawi .

  • Fikir-fikirkanlah .

Tata Cara Thoriqoh Syathoriyah

Tata Cara Thoriqoh Syathoriyah

Image


Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah

http://thoriqoh-indonesia.org/

Tata Cara Thoriqoh Syathoriyah PDF Cetak E-mail

Di dalam mendidik, membimbing,dan membina para murid, Thariqah Syathoriyyah menerapkan aturan-aturan sebagai berikut;

  1. Syarat Masuk Thariqah Syathoriyah

Untuk menjadi anggota Thariqah Syathoriyah, seseorang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Memperoleh talqin dzikir untuk mengamalkan wirid Thariqah Syathoriyah.

b. Yang memberi talqin dzikir adalah mursyid atau orang yang telah mendapatkan izin dan ijazah yang sah memberi wirid Thariqah Syathoriyah.

  1. Kewajiban Murid Syathoriyyah

Setelah menjadi anggota Thariqah Syathoriyah, maka dia mempunyai kewajiban-kewajiban sebagai beikut:

a.Harus menjaga syari’at.

b.Harus menjaga shalat lima waktu berjama’ah bila mungkin.

c.Harus mencintai Sayyidisy Syaikh Abdullah Asy-Syathari selama-lamanya.

d.Harus menghormati siapa saja yang  ada hubungannya dengan Sayyidisy Syaikh Abdullah Asy-Syathari.

e.Harus menghormati semua wali Allah Swt dan semua thariqah.

f.Harus mantap pada thariqahnya dan tidak boleh ragu-ragu.

g.Harus selamat dari mencela Thariqah Syathoriyah.

h.Harus berbuat baik kepada kedua orang tua.

i.Harus menjauhi orang yang mencela Thariqah Syathoriyah.

j.Harus mengamalkan aurad Thariqah Syathoriyah sampai akhir hayatnya.

  1. Larangan Atas Murid Syathoriyah

Seseorang yang telah menjadi anggota Thariqah Syathoriyah, maka dia dilarang melakukan hal-hal sebagai berikut:

a.Mencaci, membenci dan memusuhi Sayyidisy Syaikh Abdullah Asy-Syathari.

b.Meremehkan wirid Thariqah Syathoriyah.

c.Memutuskn hubungan dengan makhluk tanpa ada izin syara’,terutama dengan sesama anggota Thariqah Syathoriyah.

d.Merasa aman dari makrillah.

  1. Aturan Melaksanakan Wirid Syathoriyah

Untuk melaksanakan wirid atau dzikir dalam Thariqah Syathoriyah,hendaknya seseorang mempehatikan aturan-aturan sebagai berikut;

a.Dalam keadaan normal hendaknya bacaan wiridnya terdengar oleh dirinya sendiri.

b.Harus suci dari najis, baik pada pakaian, badan ,tempat maupun apa saja yang dibawanya.

c.Harus suci dari hadats,baik besar maupun kecil.

d.Harus menutup aurat sebagaimana dalam keadaan shalat, baik laki-laki maupun perempuan.

e.Tidak boleh berbicara.

f.Harus menghadap kiblat.

g.Harus dengan duduk.

h.Tashawwurr, yaitu membayangkan wajah mursyidnya dengan memejamkan mata setelah membaca Al-Ikhlas, Al-Mu’awwidzatain, istighfar, dan shalawat ummy serta sebelum hadlrah Al-fatihah.

i.Memikirkan dan mengingat makna wirid yang dibacanya dari awal sampai akhir. Kalau tidak bisa hendaknya memperhatikan dan mendengarkan bacaan wiridnya.

Keterangan

-Kalau ada udzur boleh berbicara asal tidak lebih dari dua kata. Kalau lebih dari itu, maka wiridnya batal, kecuali disebabkan oleh orangtuanya atau suaminya sekalipun bukan murid Syathariyah.

– Kalau ada udzur boleh tidak menghadap kiblat, seperti sedang dalam perjalanan atau sedang berada dalam ijtima’ (perkumpulan).

-Kalau ada udzur boleh tidak duduk, seperti sakit atau dalam perjalanan.

  1. Aurad Thariqah Syathoriyah

Wirid –wirid yang harus dibaca ketika melaksanakan amalan Thariqah Syathoriyyah adalah sebagai beikut:

a.Membaca surat Al-Ikhlas  3 kali.

b. Membaca surat Al-Falaq sekali.

c. Membaca surat An-Nas sekali.

d. Membaca istighfar 3 kali, dengan sighot sebagai berikut:

استغفر الله العظيم الذي لا اله الا هو الحي اليوم واتوب اليه.

e. Membaca shalawat ummy 3 kali sebagai berikut:

اللهم صل على سيدنا محمد النبي الاميى وعلى اله وصحبه وسلم.

f.Tashawwur kepada mursyidnya.

Hadlrah Al-Fatihah kepada:

    1. Nabi Muhammad Saw.
    2. Ahli silsilah Thariqah Syathoriyyah, khususnya kepada Sayyidisy Syaikh Abdullah Asy-Syathori.
    3. Guru mursyidnya.

H. Istidrok bi Kalimah At-Tauhid, yaitu membaca kalimah thoyyibah dengan memejamkan mata sambil menggenggam ibu jari tangan  dengan kedua tangan masing-masing, serta dengan memanjangkan bacaan kalimah thoyyibah sekuat nafas dan membacanya di dalam hati saja dengan di ulang tiga kali.

i. Membaca kalimah thoyibah lagi tujuh kali, dengan dibaca biasa seperti pada umumnya.

j. Membaca kalimah Thoyibah lagi yang sighotnya sebagai berikut;

لااله الا الله,  لا اله الا الله  لا اله الا اللهم حمد رسول الله صلى الله عليه وسلم كلمة حق عليها نحي وعليها نموت وعليها نبعث ان شاء الله تعالى من الامنين.

k. Membaca do’a yang diberikan oleh mursyidnya.

  1. Waktu Pelaksanaan

Untuk melaksanakan dalam Thariqah Syathoriyyah seperti tersebut di atas,waktunya terbagi menjadi dua bagian, yaitu;

a.Ba’da dhuhur, ba’da ‘Ashar dan ba’da maghrib.Diamalkan adalah tersebut di atas, baik urutannya maupun bacaannya, yang jumlah semua kalimah thoyyibahnya adalah 13 kali.

b.Ba’da ‘Isya’ dan ba’da Shubuh. Diamalkan adalah juga sama, hanya ada sedikit perbedaan yaitu pada huruf(i), jumlah kalimah thoyyibahnya adalah 107 kali. Jadi jumlah semua kalimah thoyyibahnya adalah 113 kali.

Keterangan:

Sumber informasi mengenai Thariqah Syathoriyyah ini adalah; 1).KH. Abdul Hamid bin KH.Anas bin KH.Abdul Jamil, salah satu pengasuh Pondok Pesantren “Buntet Pesantren”, Buntet, Astana Japura, Sindang Laut, Cirebon. 2).KH.M. Anis Wahdi Abbas bin KH. Ahmad Mustahdy bin KH. Muhammad Abbas bin KH.Abdul Jamil , Cirebon. 3).KH.M Ni’amullah Khan bin  KH. Abdul Hamid bin KH Anas bin KH.Abdul Jamil, Cirebon.

Adapun sanad thariqah (bukan kemursyidan) para beliau adalah sebagai berikut;

1.KH.Abdul Hamid bin Anas dari  KH.Ahmad Mustahdy dari ayahandanya KH.Muhammad Abbas dari ayahandanya  KH.Abdul Jamil dari Sayid Sholeh dari Syaikh Muhammad Anwar dari Syaikh Asy’ari dari Syaikh Sayyid Muhammad As-Sayyid  Al-Nadaniy dari Syaikh Sayyid  Thohir bin Ibrahim dari Syaikh Sayyid Ibrahim bin Thohir dari Syaikh Sayyid thohir dari Ayahandanya ,Sayid Al-Mala’ Ibrahim Al-Mu’alli dari Syaikh Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Qosyasiy Al-Qurosyi dari Syaikh Sayyid Ahmad Asy-Syanawi dari Syaikh Sayyid Shibghotullah bin Ruhullah Jamal Al-Buruji Al-Husaini dari Syaikh Sayyid Wajihuddin Muhammad Al-Ghouts Al-Alawiy dari Syaikh SayyidDhuhur Al-Hajj Hudlur dari Syaikh SayyidAbul Fath Hidayatullah Sarmasat dari Syaikh Sayyid Qodli Asy-Syathor dari Syaikh SayyidMaulan Abdullah Asy-Syathor dari Syaikh Sayyid Muhammad bin Al-‘Arif dari Syaikh Sayyid Muhammad Al-‘Asyiq dari  Ayahandanya, Syaikh  Khadzaqoli dari Syaikh Sayyid Abul Hasan Al-Khirqon dari Syaikh Sayyid Abul Mudhoffar At-turk Ath-Thusi dari Khawajah Al-‘a’rabi Yazid Al-‘Isyqi dari Khawajah Muhammad Al-Maghrabi dari Syaikh Sayyid Abu Yazid Al-Bustami dari Syaikh Sayyidina Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dari Sayidina Al-Imam Muhammad Al-Bagir Dari Sayidina Al-Imam Zainal Abidin dari Sayyina Al-Imam Al-Husein dari Sayidina Al-Imam Ali bin Abi Thalib radliallhu anhum ajma’in dari Sayyidina Rasulullah Saw dari Jibril AS dari Allah Swt.

2.KH.M.Anis Wahdy ‘Abbas dari KH.Abdullah Abbas dari KH.Ahmad Mustahdy dari ayahandanya KH.Muhammad Abbas dari ayahandanya KH.Abdul Jamil dan seterusnya sama dengan yang di atas.