WAHHABI/salafy ADALAH HASIL TANGAN-TANGAN BRITISH & Yahudi

Khutbah Jumaat al-Sheikh Prof. Dr. Muhammad Saed Ramadhan al-Bouthi



* Al-Sheikh Prof. Dr. Muhammad Saed Ramadhan al-Bouthi adalah tokoh ulama’ yang tak perlu diperkenalkan lagi dalam dunia Islam hari ini. Kuliah masjidnya di Syria dan merata dunia sentiasa penuh dan melimpah. Beliau pernah datang ke Malaysia beberapa kali dalam beberapa seminar dan acara.

* Ayah beliau, al-Sheikh Mulla Ramadhan, seorang alim yang sangat terkenal di Syria pada zamannya. Anaknya Dr. Taufiq Ramadhan al-Bouthi juga sering ke seluruh dunia untu berdakwah termasuk Malaysia.

* Berkenaan dengan gerakan Wahhabi, beliau mendedahkan bahawa Wahhabi adalah satu gerakan yang dirancang (sebahagiannya) pengasasannya oleh kerajaan British yang pada satu ketika dulu menakluki negara-negara Islam. Lihatlah kandungan khutbahnya pada Hari Jumaat 5 Rejab 1423H bersamaan 5 Sept 2003.

Terjemahan (Bergaris Merah):

“Seluruh dunia mengetahui tentang peranan kerajaan Britain yang memainkan peranan utama dalam memecahbelahkan umat Islam…

Dan aku terpaksa membentangkan kedudukan ini kepada kamu dengan disertakan beberapa nama dan dokumen.

Barangsiapa yang pernah membaca buku “Tujuh Tunggak Pemerintahan” oleh Lawrence, dan membaca dokumen-dokumen yang lain, akan tahu dengan sejelas-jelasnya apa yang aku katakan bahawa Britain telah memainkan peranan utamanya dalam memecah belahkan umat Islam sebelum pihak-pihak yang lain dan mereka telah mewujudkan tiga pasak untuk itu.”

“Pasak pertama: Fahaman al-Qadiyaniyyah, ia adalah pasak yang diwujudkan oleh Britain di India dan kawasan-kawasan sekitarnya.

Pasak kedua: Fahaman al-Babiyyah dan/atau al-Baha’iyyah ia adalah pasak yang diwujudkan oleh Britain di Mesir dan di beberapa penjuru di Asia Tenggara.

Pasak ketiga: Fahaman al-Wahhabiyyah, ia adalah pasak yang diwujudkan oleh Britain di kepulauan Arab, rujuklah kepada sumber yang telah aku nyatakan tadi, untuk kamu mendapatkan pengakuan yang nyata dan berani mengenai perkara ini.”

Muhasabah Diri

Sesiapa yang mengenali Sheikh al-Bouti pasti tidak teragak-teragak dengan kebenaran kenyataan ini.

Adakah rancangan British untuk memecahbelahkan umat Islam dengan ketiga-tiga fahaman ini berjaya? Masing-masing boleh fikir dan jawab 🙂

Berdoalah agar kita tidak termasuk ke kancah tipu daya British. Amin.
http://al-ashairah.blogspot.com/2008_05_01_archive.html

__________


‘Sir’ Fahd – Dapat Penghargaan Inggeris dan BERKALUNG SALIB

Mungkin ramai yang tidak mengetahui yang Kerajaan Arab Saudi berhutang budi dan “body” serta nyawa dengan Empayar British. Ini adalah kerana “berkat” kerjasama dan bantuan Britishlah, maka tertubuhnya Kerajaan Arab Saudi mengikut sunnah Great Britain bersendikan ajaran Wahhabiyyah. Pemimpin-pemimpin Saudi merupakan “loyal servants” bagi Empayar British, dahulu dan sehingga kini, dan kini ditambah pula jadi khadam Amerika dan sekutunya, Bahkan Raja Abdul Aziz menerima gaji bulanan berjumlah 5,000 paun sterling daripada British mulai tahun 1917. Selain daripada itu, Kerajaan British telah menganugerahkan “knighthood” kepada Raja Abdul Aziz, bahkan Raja Fahd pun dapat anugerah tersebut.

Walau apa pun Raja Fahd dah pergi menemui Penciptanya, tetapi kebenaran harus dan perlu diketahui ramai. Hansome tak Fahd dengan berkalungkan pingat salibiyyah di lehernya ? Apa pulak fatwa ulama Wahhabi , kalau orang pakai azimat tentu mereka terus tuduh kafir dan syirik. Kalau pakai salib, nak kata apa ? Kalau tuan-tuan dan puan-puan nak tengok lagi gambar warna kesegakan Raja Fahd dengan pingat kebesarannya boleh carilah buku “Custodian of the Two Holy Mosques King Fahd bin Abdul Aziz”, Guernsey, Channel Islands, 2001, p. 214, karya Dr. Fouad al-Farsy.

Berikut petikan dari buku Dr. Hamid Algar “Wahhabism: A Critical Essay”, mukasurat 38 – 39:-
  • The first contact was made in 1865, and British subsidies started to flow into the coffers of the Saudi family, in ever growing quantity as World War One grew closer. The relationship fully matured during that war. In 1915, the British signed with the Saudi Ruler of the day, ‘Abd al-’Aziz b. Sa`ud (Ibn Sa`ud), one of those contracts with their underlings that were euphemistically known as “treaties of friendship and cooperation”. Money was, of course, the principal lubricant of friendship and cooperation, and by 1917 the Saudi ruler was receiving five thousand (5,000) pounds a month, not a bad sum for a junior hireling of the British Empire. However, the British also graciously saw fit to confer a knighthood on the champion of Wahhabism. (In later years these formalities continued to be observed; in 1935, ‘Abd al-’Aziz b. Sa`ud was made a Knight of the Order of the Bath. Likewise, when visiting Queen Elizabeth in 1986, King Fahd, “Custodian of the Two Holy Mosques,” was photographed with the cruciform insignia of a British knightly order hanging round his neck.)

Allahummashuril Islam wal Muslimin bijaahi Sayyidil Mursalin.

________________________

Awas agen zionis (wahai) berkedok dan mengaku-ngaku ahlusunnah/slafy/firqatunnijiyah/darulhatits!!

Mengenal Agen Mossad Dalam Gerakan Islam

Katagori : Untold Story / the X files
Oleh : Redaksi 16 Apr 2007 – 4:00 am

Risalah Mujahidin Edisi 7 Th I Rabiul Awal 1428 H / April 2007 M, hal. 42-46
Lihat catatan redaksi *)
imageFAKTA ini tentu amat mengejutkan, bahkan sulit dipercaya. Betapa kelompok Salafy yang selama ini dikenal sebagai kelompok Islam yang berdakwah untuk Ihyaus Sunnah (menghidup-hidupkan sunnah Nabi SAW), gerakan dakwah mereka ternyata didanai oleh jaringan intelejen Israel, Mossad. Tujuannya untuk menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan kaum Muslim.

Badan intelejen Palestina mengijinkan harian Al-Hayat dan Televisi Libanon, LBC, untuk mewawancarai orang-orang Palestina yang menjadi agen Mossad, dan sekarang ditawan oleh pemerintah Palestina. Mereka telah menyebabkan terbunuhnya sejumlah Mujahidin. Dalam sebuah wawancara, salah seorang agen mengungkapkan cara perekrutan mereka serta peranan yang mereka lakukan dalam memantau para mujahidin dan memicu fitnah lewat perselisihan, perpecahan, dan kebencian demi merealisasikan kepentingan strategis Zionisme.

Wawancara ini diterbitkan oleh tabloid An-Nas nomor 127 mengutip harian Al-Hayat yang terbit di London dan juga ditayangkan televisi LBC. Tabloid Al-Basya’ir kembali menyiarkan wawancara tersebut mengingat pentingnya fakta-fakta yang diungkapkan oleh agen ini. Wawancara di bawah ini, yang diterjemahkan oleh Jati Utomo Dwi Hatmoko, M.Sc. , mahasiswa Structural Engineering and Construction Management University of Newcastle Upon Tyne United Kingdom, dan dikutip dari Hidayatullah.com, laporan Bahrum A. Rambe. Berikut hasil wawancara dimaksud:

Wartawan: Bagaimana para zionis itu dapat memperalat anda untuk kepentingan mereka dalam konspirasi dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara anda?

Agen: Awalnya saya membaca iklan di koran lokal tentang adanya pusat studi strategis kemasyarakatan yang bertempat di Singapura, mereka membutuhkan reporter di Tepi Barat untuk melakukan studi sosial dan publisistik tentang lingkungan, kemiskinan, dan lain-lain.

Lalu saya kirim biodata dan ijazah saya. Setelah dua pekan, datang balasan penerimaan saya di lembaga tersebut yang ternyata dikendalikan oleh intelejen zionis Mossad, dan dilaksanakan oleh orang-orang Palestina yang bekerja sama dengan zionisme untuk merekrut orang Arab Palestina dengan cara jahannam yang tidak terpikir oleh siapapun.

Mereka meminta kepada saya untuk menyiapkan laporan kemasyarakatan strategis. Mereka memberi imbalan uang yang cukup banyak. Dari situ, Pusat Studi Strategis palsu itu meminta tambahan laporan-laporan sensitif. Dan saya memenuhinya dengan teratur. Dengan memperhatikan permintaan-permintaan mereka saya mengetahui bahwa lembaga ini ada di bawah Mossad. Tapi saya tidak bisa mundur karena saya sudah memberi laporan-laporan yang sangat sensitif tentang keamanan nasional, tokoh-tokoh Mujahidin, posisi tempat tinggal mereka, dan keberadaan mereka. Informasi ini memudahkan mereka untuk membunuh para Mujahidin terbaik dari Hamas dan Jihad Islami.

Kondisi berkembang sedikit demi sedikit sampai permainan ini tersingkap, mereka memberi kepada saya lisensi untuk menemui orang-orang penting di Tel Aviv. Di sana mereka menyambut saya di sebuah hotel bintang lima. Mereka memberi saya seluruh sarana kenikmatan, tapi ternyata mereka merekam saya ketika berada dalam kondisi memalukan dengan seorang wanita. Hal ini sebagai salah satu cara mereka untuk memperbudak dan mengendalikan saya di kemudian hari.

Dari sini pekerjaan menjadi lebih akurat. Mereka melatih saya seluruh dasar kerja intelejen. Dan komunikasi kami lewat internet, mengirim informasi lewat telepon seluler yang mereka berikan. Dari sini saya mulai mengumpulkan informasi yang paling akurat dan vital tentang tokoh-tokoh intifadhah secara rutin. Posisi saya sebagai reporter, membuat saya dapat bergabung dengan seluruh unsur Mujahidin.

Saya mendapatkan informasi yang sangat penting karena saya dianggap sebagai pejuang. Karena kedekatan saya dengan para pemimpin perlawanan dan pantauan saya terhadap posisi gerakan dan tempat tidur mereka saya telah memudahkan banyak pembunuhan melalui pesawat, penangkapan malam hari atau dengan menembak kendaraan. Dan saya telah merekrut banyak orang untuk kepentingan zionis dengan upah rendah tidak lebih dari 1500 chikel per bulan.

Wartawan: Kami mengetahui bahwa anda dapat mengintervensi beberapa jamaah Islamiyyah, bagaimana itu?

Agen: Sesungguhnya zionis sudah memanfaatkan kepolosan dan ketidak hati-hatian orang-orang Palestina. Kami ditugaskan membuat beberapa situs dengan nama: Palestine Islamiyyah, al-Jihad al-Muqaddas, Tahrir al-Quds, Syababul Intifadhah, dan lain-lain. Dengan situs-situs ini kami berhubungan dengan banyak anak muda yang memiliki semangat jihad. Kami janjikan kepada mereka untuk membiayai mereka dengan uang dan senjata, dengan menyebutkan bahwa dana tersebut bersumber dari orang-orang kaya dari Teluk dan aktivis Islam di Mesir, Yordan dan Kuwait.

Begitulah, kami dapat menembus banyak mata rantai Mujahidin dan merasuk ke dalam tubuh mereka dengan mengatasnamakan Islam dan jihad. Dan yang lebih berbahaya, kami dapat memperalat orang-orang yang bersemangat tinggi, khususnya orang-orang Salafiy untuk menyebarkan buku-buku yang menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam. Buku-buku ini, sebenarnya dicetak dan dibiayai dengan biaya dari Mossad untuk membuat pertempuran marginal antara aktivis Islam, khususnya antara Syi’ah dan Sunnah di Palestina, Pakistan, Yaman, dan Yordan.

Puluhan judul buku-buku yang menyerang Syi’ah dengan cara menjijikkan, dan buku lain yang menyerang Sunnah, sudah dicetak. Dan dimanfaatkan juga orang-orang yang fanatik dari kedua belah pihak, setelah diyakinkan bahwa buku-buku tersebut dicetak oleh para dermawan Teluk dengan cetakan lux. Selebihnya, pekerjaan akan dilakukan oleh mereka yang teripu dari kelompok fanatik Sunnah seperti Salafiyyin dan lain-lain. Tujuan utama dari pencetakan dan penyebaran buku ini, adalah menimbulkan fitnah dan kebencian serta saling mengkafirkan antarpihak dan menyibukkan mereka dengan pertarungan sampingsan sesama mereka, agar Israel dapat merealisasikan tujuannya, yaitu menghancurkan Islam, menelan tanah air, menghapus identitas generasi muda melalui penyebaran dekadensi moral, atau menggunakan orang-orang yang tersingkir di luar kehidupan, fanatik dan keras kepala. Hati mereka penuh dengan kebencian terhadap saudara mereka sesama Muslim, baik Sunnah atau Syi’ah.

Dalam hal ini, jaringan Mossad telah cukup sukses menjalankan missinya. Anda dapat melihat kira-kira semua masjid dan perkumpulan anak muda di Yaman, Pakistan, dan Palestina tenggelam dengan buku-buku ini, yang dicetak dan dibagikan secara gratis; yang dikesankan seolah-olah dibiayai dari kocek para donatur kaya Arab Saudi, padahal Mossad ada di belakang semua ini. Sayang sekali, banyak orang-orang yang tidak menyadari, termasuk para imam masjid, khatib-khatib, dan da’i-da’i yang menyibukkan diri secara ikhlas dan serius dengan menyebarkan buku-buku beracun minimal bisa dikatakan buku-buku lancang dan fitnah. Fitnah lebih berbahaya dari pembunuhan. Karena pikiran mereka sempit, maka mereka tidak berpikir tentang tujuan sebenarnya dari penyebaran buku-buku ini, yang meniupkan kebencian, perpecahan dan fitnah khususnya hari-hari belakangan ini.

Buku-buku ini telah mulai menuai pengaruhnya di Pakistan. Orang-orang yang menyebut dirinya pengikut Ahlu Sunnah wal jama’ah, membentuk Tentara Shahabat dan menyerang kaum Syi’ah dalam ritual dan rumah-rumah, membunuh mereka ketika shalat Shubuh.

Sebuah pembantaian ganas yang menyedihkan meninggalkan ribuan mayat. Di lain pihak membentuk Tentara Muhammad bereaksi dengan balasan yang lebih keras, ratusan orang terbunuh di kedua belah pihak tiap bulan. Pembantaian berdarah, kedengkian, membuat-buat pertempuran sampingan, fitnah yang berbahaya dengan pahlawan Khawarij zaman sekarang, dimanfaatkan oleh Mossad untuk menyulut fanatisme, pengkafiran, pembunuhan, untuk melemahkan negara Islam pertama yang memiliki bom atom, Pakistan.

Sedangkan rencana mereka di Yaman, sampai saat ini pekerjaan masih berjalan dengan serius dan hasilnya sebentar lagi akan bisa dilihat. Namun sangat disayangkan, khusus tentang pemicu fitnah di Palestina, seluruh tujuan tidak tercapai seperti di Pakistan dan Yaman.

Wartawan: Sekarang apakah anda menyesal? Di mana mata hati anda ketika anda menunjukkan tempat-tempat persembunyian tokoh-tokoh perlawanan kepada zionis, agar dibunuh dengan keji beserta keluarga mereka dengan pesawat Apache dan roket-roket mereka?

Agen: Apalah gunanya penyesalan. Saya merasa sedih ketika mereka memusnahkan sebuah bangunan beserta penghuninya hanya untuk membunuh salah seorang Mujahidin yang dicari, di mana operasi ini menyebabkan terbunuhnya 17 anak kecil dan wanita juga sang Mujahid yang dicari. Sayalah penyebabnya, sungguh sayang. Karena itu, saya berhak dihukum dengan hukuman yang diputuskan pengadilan, yaitu eksekusi.

Mengenal Gerakan Agen Mossad
Semangat menghidupkan sunnah Nabi SAW di satu segi, dan memposisikan gerakan Islam di luar komunitasnya sebagai bid’ah, khawarij, dan tuduhan lain yang jauh dari kesan Islami; tanpa dibarengi dengan wawasan ilmu, pemahaman syari’ah dan siyasah secara memadai, membuat mereka mudah diprovokasi dan diperalat musuh-musuh Islam. Banyak gerakan Islam, dalam melawan zionisme dan hegemoni AS, justru diperalat oleh musuh dengan mengusung doktrin zionis tanpa disadari, sehingga mudah dihancurkan.

Penting bagi aktivis Islam untuk mengenal di antara karakteristik ormas, orpol, maupun gerakan Islam, yang kadangkala tanpa disadari menjadi alat musuh untuk menghancurkan Islam. Berdasarkan kajian dan pengalaman karakteristik mereka itu dapat dikenali antara lain:

  1. Mendukung kekuasaan rezim yang zhalim secara apriori, selama penguasa tersebut masih melakukan shalat. Alasannya, karena Nabi memerintahkan taat kepada penguasa Muslim yang masih shalat sekalipun berbuat durhaka atau zhalim. “Enam puluh tahun di bawah penguasa zhalim, lebih baik daripada sehari tanpa pemimpin,” kata mereka. Sementara mereka mengabaikan ayat Al-Qur’an yang melarang membantu orang-orang zhalim yang berkhianat kepada Allah dan rasul-Nya.
  2. Mengklaim pahamnya paling benar tanpa mau diajak dialog mendengarkan hujjah dari pihak Muslim yang dikategorikan sesat.
  3. Mengajak umat untuk menjauhi politik, dan memfokuskan diri dalam aqidah dan ibadah dalam pengertian sempit.
  4. Gemar mengabaikan hujjah lawan sekalipun hujjah itu dari Al-Qur’an dan hadits shahih hanya karena hujjah tersebut tidak berasal dari syeikh-nya.
  5. Mempersempit sumber-sumber pemahaman agama, dan hanya menerima dari ulama panutannya atau pemahaman dari kelompoknya sendiri secara terbatas, dengan menganggap pemahaman jalur lain sebagai bid’ah.
  6. Sangat mengecam perilaku yang dikategorikan tasabbuh dengan golongan kafir dan musyrik. Tapi, mengikuti cara berpikir dan kepemimpinan golongan zionis dengan menempatkan pendapat ulama panutannya melebihi Al-Qur’an dan hadits.
  7. Menampilkan identitas tertentu untuk membedakan diri dengan kelompok lain secara fanatik sebagaimana halnya dengan sekte-sekte di lingkungan Yahudi dan Kristen.
  8. Mengambil ajaran agama dengan mengutamakan hal-hal yang bersifat personal dan keluarga, tapi mengabaikan masalah kenegaraan dan jihad. Hal ini sejalan dengan doktrin Kristen: “Berikan hak Kaisar kepada Kaisar, dan hak Tuhan kepada Tuhan.”
  9. Sangat membenci, bahkan memusuhi gerakan Islam yang menuntut pemberlakuan Syari’ah Islam secara kaffah, terutama ajaran amar makruf nahyu mungkar dan jihad.

Risalah Mujahidin Edisi 7 Th I Rabiul Awal 1428 H / April 2007 M, hal. 42-46

British adalah kerajaan Pro Yahudi dan anti christ!!

Lihat logo british adalah logo anti christ

TRACKING DOWN AND NARROWING THE IDENTITY OF THE FUTURE ANTICHRIST
____________________________________________________________

antichrist prince william

The Ancient World Powers are discussed in Daniel’s Prophecies
Briefly the four beasts were: a Lion, a Bear, a Leopard with four wings, and a fourth Wild Beast (a Dragon) not corresponding to any actual animal, unusually strong, with large iron teeth, ten horns, and another Little Horn developing, with a Man’s eyes and “a mouth speaking great and boastful things against the Lord.” These four distinct creatures are represented in the following ancient and historical fulfillments of Daniel’s Prophecy. Babylon (the Lion) fell to the Medo-Persian kingdom (The Bear) which, in turn, was ended by the lightning conquest of the Grecian forces (the Leopard) led by Alexander the Great. In a few short years he built an Empire which embraced parts of the Mideast, Asia, Europe, and Britannia, in essence the very first European based Empire to hold such a global position [making Alexander the first European archetype for the future Antichrist]. After Alexander’s death, his generals (the four wings on the Leopard) struggled for control of the Grecian Empire, four of them eventually gaining rulership of different sections. At this time, Israel was fought over by the rival Seleucid and Ptolemaic kingdoms, and Greece eventually ruled over the Holy Land. The Grecian Empire was eventually taken over completely by the new and more powerful Roman Empire (the Wild Beast), as it quickly amassed global dominance being stronger than any before it. As a result and because the Israelites continued to rebel against God and doing his Will, Rome likewise gained full control over the nation of Israel.

In its time, the Roman Empire surpassed all the preceding empires not only in the extent of its domain (covering the entire Mediterranean area and reaching the British Isles) but also in the efficiency of its military machine and power of its application of Roman law to the provinces of its far reaching European empire. Its Pax Romana (Roman peace) was merely a foreshadowing of the yet to be revealed, New World Order of the Ages, that future United Europe whose kingdom is actually called in Scripture the last world empire, yet stronger than any other empire before it (meaning the future European Union will far exceed the power and might of present day America). Rome was also the world’s political instrument in power at the time of Christ’s first advent and so will be in power again, according to prophecy, just before His Return, making its very existence today yet another strong sign we are entering the timeframe when the rest of prophecy is to be fulfilled. There will be a Revival of the Roman/Euro Empire shortly before Christ’s Return at Armageddon. Interestingly, right after the Crucifixtion, it was the ancient Romans who created the necessary port city of Londinium (today’s London), a place where they could land their ships and storm onto the English shore in search of it’s last territorial land grab before Rome’s impending demise, it became the most important trading port from Rome to this new world, this ‘New Rome.’ When Rome did die and eventually broke up into the various European nations, Great Britain, over time, ultimately took the globally dominant position in the world, raising itself up to be the new “Anglo” Roman Empire, better known as the British Empire. This is interesting because Scripture tells us that the Antichrist Prince will be of the Roman Empire, whose power (as we now know) was then given over to London, a Roman city. In other words, what we are quite possibly reading in Daniel 9:26-27 is that the Antichrist is a Prince of London. Interesting also is that the rest of prophecy in Daniel and Revelation describes the Antichrist as a King.

The British Empire became far stronger than ancient Rome ever had, and she ruled the seas and many nations, just as Rome did. What’s really interesting is that the European Union itself, created in 1993, has been patterned exactly after the ancient Roman Empire, including many of the same countries that were under Roman occupation and rule at the time of Christ, just as prophecy stated it would. Furthermore, the specific prophecies in Revelation and Daniel make clear that this all powerful (and still future) United Nations of Europe will return to it’s former glorious power that was Rome. Obviously this must occur after America, the current Rome, is somehow left behind or diminished in power while the rest of the world advances headlong toward the Tribulation (which is the common belief among Chirstian prophecy scholars who agree that America will be destroyed before the coming of the Antichrist allowing the emergence of Europe to take center stage), again, a yet-to-be revealed future time and event to make this possible. As it is determined by the men who control the European Union, America removed as a leading world power will most assuredly prompt the need for another Atlantic nation to take the reigns of global dominance and more openly establish her own rule of law [and Western-Zionist idealogy] throughout the rest of the known world, further solidifying the goals of the Illuminati. One last point of interest here with Europe, the placement of those European nations which attacked Israel (or Jews) before since the time just before Christ, has been Greece (150 BC) then Rome (50 BC-70AD), and more recently, Germany (1939-45). Looking at Greece, Rome, and Germany on a map shows an interesting line of succession all moving increasingly northwest from Israel, each seemingly pointing to the next agressor country in a path leading directly to one nation remaining, Great Britain. Also interesting, if not strange, England appears to be the head (or face) of this European Beast while Italy is the jack boot (or cloven hoof) seemingly about to crush the tiny Semitic nation underfoot.

Antichrist is represented by a single Little Horn admidst older Kings and Kingdoms of history
After this I saw in the night visions, and behold a fourth Beast [Kingdom], dreadful and terrible…I considered the horns, and, behold, there came up among them a Little Horn, and in this Horn were eyes like the eyes of man, and a mouth speaking great things. I beheld till the Thrones were cast down, and the Ancient of Days did sit, His Throne as fire. I beheld then because of the voice of the great words which the Little Horn spake: I beheld even till the BEAST was slain, and his body destroyed, and given to the burning flame. I saw in the vision one like the Son of Man came with the clouds of Heaven, and came to the Ancient of days, and they brought Him near before Him. And there was given Him Dominion, and Glory, and a Kingdom, that all people, nations, and languages, should serve Him: His Dominion is an Everlasting Kingdom which shall never be destroyed. -Daniel Chapter 7

The Antichrist is represented by a Bear in Daniel yet also in the Book of Revelation
Staying with the book of Daniel, let us now compare the similarities between verse 7:5 with 7:24 the Beast…”A BEAR” who subdues three “ribs” or 3 Kingdoms. This suggests that the Antichrist first arrives in either warlike fashion or peacefully places three Kings or Kingdoms quickly under his subjection in a type of annexation. Some have said this to be Scotland, Ireland, and Wales unifying into one Celtic Anglo nation, others see it perfectly fulfilling the Nostradamus prophecy known as Century 8 Quatrain 77. Take careful notice that it is the Angel Gabriel making the interpretation of the vision, simply telling us that the “Little Horn” [Antichrist] in verse 20-21, is symbolized by “the Bear.” In other words, the Antichrist is “The Bear.” Remember, the ancient Celtic word for Bear is Arth-ur. The name Arthur literally means Bear.

REVELATION 13:2 The Beast was like unto a Leopard, and his feet as a BEAR, and the mouth of a Lion ~ The Lion represents the country that this King will come from. The Lion that is the Heraldic and national symbol of England. The Leopard represents his youth contrasted by his absolute global power [like Alexander the Great, who was himself represented by the youthful symbol of the Leopard; quick to conquer]. The name of Philip is taken from his grandfather Prince Philip who is actually from Greece and named after Alexander the Great who also had the middle name of Philip, which could be said that when William becomes King, he quickly becomes a world leader much like Alexander, quick to conquer (as a leopard). Alexander himself conquered much of Asia Minor and Europe before the age of 25 making youth also an attribute of the future Antichrist (the anti-type of ‘a Child shall lead them’). The future Beast will quickly become a voice of reason which the earth certainly is to consider at a time the world is weakened and needs it most (and yet his growing confidence in Kingship will be further emblazoned thru means of a yet unseen guidence upon the realization of an inescapable destiny revealed). The name William itself conjures up another King in England’s violent past of the same name, William the Conqueror. William’s second name Arthur, means Bear, the Once and Future King returned. The fourth ancient empire to rule and referred to as the “Wild Beast,” was Rome, the most fierce of every kingdom before it as it has dual appearances in history, and one of its incarnations has already passed while the future Roman Empire is yet to rise. Currently, the reformed European Commonwealth of Nations known now as the European Union is gaining global power, wealth, and military strength every day that passes. The Bible also depictes a Woman of great iniquity is to ride this Beast. The Scripture’s reference to the Beast of Revelation having the attributes of a Lion, Bear, and Leopard may also contain within it something more than just what is read on face value. I believe the symbology is a code for the Beast’s name…

antichrist prince william
PRINCE WILLIAM ARTHUR PHILIP LOUIS WINDSOR-WALES:

William – The Conqueror (The King of England) = LION / Mouth / Speaking / Charismatic Leader
Arthur – King Arthur Pendragon (Celtic, Rome) = BEAR / Feet / Strength / Summer Solstice
Philip – Alexander Philip the Great (Greece) = LEOPARD / Body / Conquering /Youth
Windsor-WalesAryan Keltoi (Cain) = RED DRAGON / Spirit / Anglo-Celtic Power

antichrist prince william

And I stood upon the sand of the Sea, and saw a Beast rise up out of the Sea
having seven heads and ten horns,
http://whosthebeast.com/PRINCE%20WILLIAM%20%20ANTICHRIST%20666%20%20King%20Arthur%20%20Knights%20Templar%20Conspiracy%20Grail%20Legend%20History%20Lost%20Tribes%20Israel%20Illuminati%20Masonic%20Bible%20Prophecy.htmand upon his horns ten crowns, and upon his
heads the name of blasphemy. And the Beast which I saw was like unto a Leopard,
and his feet were as the feet of a Bear, and his mouth as the mouth of a Lion:
and the Dragon gave him his power, and his seat, and great authority.

Tujuh ‘aqobah (Kitab Al Qatrul Ghaisiyah oleh Sheikh Ahmad Al Banjari dan Minhajul Abidin oleh AlGhazali)

Penggulungan The Seven Battle
Assalamu a’laikum wrb

Alhamdulillah wa syukrulillah. Assolatuwassolamu a’la Rasulillah. Bersyukur kita ke hadrat Allah SWT. Mudah-mudahan dengan mengucap syukur ke hadrat Allah SWT, akan ditambah nikmat ke atas kita oleh Allah, dengan nikmat-nikmat yang lain. Selawat dan salam ke atas Rasulullah SAW, semoga dengan mengucapkan selawat dan salam ke atas RAsulullah SAW, akan bertambah kecintaan kita kepada Rasulullah SAW. Semoga dengan kecintaan itu, akan menjadi asbab buat kita untuk memperolehi syafaat Rasulullah SAW di akhirat nanti.Saudara dan saudari yang dihormati sekelian. Tamatlah sudah tazkirah bersiri fasa satu di teratak_ilmu dibawah tajuk The Seven Battle.

Secara ringkas, ianya mengupas akan peringkat-peringkat yang perlu dilalui oleh seorang Muslim untuk menghampirkan diri kepada Allah SWT. The Seven Battle merupakan rentetan syarahan oleh Allahyarham Tuan Guru Haji Ehsan Haji Harun berdasarkan Kitab Al Qatrul Ghaisiyah oleh Sheikh Ahmad Al Banjari dan Kitab Minhajul Abidin oleh Al Imam Ghazali rahimahumullahu ta’ala.

Selama 10 minggu yang telah kita sama-sama lalui, kita telah berusaha mengupas setakat termampu, berbekalkan ilmu yang sedikit ini, memperincikan ketujuh-tujuh peringkat yang dinisbahkan kepada pertempuran kerana kesukaran dan pengorbanan yang dituntut dalam menghampirkan diri kepada Allaah SWT.

Pertempuran Ke 7 : A’qabatul Hamdi Wa Syukri : Puji & Syukur

Setelah berhadapan dengan 6 pertempuran, akhirnya seseorang muslim haruslah berhadapan dengan pertempuran Menyatakan Kepujian dan Kesyukuran. Syukur atas nikmat dan rahmat yang telah dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba Nya. Antara nikmat yang terbesar yang dianugerahkan Allah buat makhluknya ialah nikmat iman dan Islam. Tidak ramai di kalangan makhluk Allah dianugerahkan nikmat iman dan Islam. Hatta ayah saudara Nabi SAW iaitu Abu Talib sendiri yang sanggup berkorban harta, kedudukan dan nyawa tidak direzkikan Allah dengan iman dan Islam.

Adalah menjadi kewajiban ke atas setiap muslim menyatakan kesyukuran ke atas nikmat yang diperolehi atas dua sebab, iaitu :

a. Agar nikmat yang diperolehi dikekalkan Allah ke atasnya.
b. Agar Allah SWT mengurniakan nikmat-nikmat yang lain yang boleh mendekatkan dirinya dengan Allah SWT lebih mudah.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti KAMI akan menambah nikmat ke atasmu. Seandainya kamu syukur, sesungguhnya azab KAMI amat pedih. (Surah Ibrahim : 7)

Nikmat Allah SWT ke atas hamba NYA ada 2 iaitu :

a. Nikmat dunia yang terkandung di dalamnya :

i. Nikmat berbentuk manfaat
1. Perawakan yang sempurna ( sihat tubuh badan, sempurna sifat )
2. Mengecapi pelbagai kesenangan fizikal seperti makan, minum, pakaian.

ii. Nikmat berbentuk perlindungan dari mudarat.
1. Allah memberi perlindungan dari wabak dan bala
2. Allah meindungi dari anasir-anasir yang mengundang kemudaratan

b. Nikmat berbentuk agama

i. Nikmat mendapat taufik dari Allah SWT
ii. Nikmat pemeliharaan dari Allah yang mengancam dari segi dunia dan akhirat.

Inilah antara nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Maka sayugialah hendaklah kita mengucapkan puji dan syukur atas nikmat NYA dan jangan sesekali kita mengengkari dan kufur atas nikmat NYA.

Timbul pula persoalan; Bagaimanakah hendak disyukuri nikmat yang telah diperolehi ?

Mudah sahaja, gunakanlah nikmat yang diperolehi untuk mentaati Allah dan menjauhi larangan NYA. Jangan sesekali menggunakan nikmat yang sedikit ini untuk melakukan perkara-perkara yang mengundang dosa.

Andai kita beroleh nikmat, maka segeralah kita bandingkan nikmat yang kita perolehi dengan nikmat orang lain yang beroleh nikmat yang lebih besar. Agar nanti kita tidak berasa ujub dan riyak. Gunakanlah nikmat yang diperolehi untuk mentaati Allah dan Rasul NYA. Juga gunakanlah nikmat tersebut untuk mendidik diri, keluarga dan masyarakat. Agar nanti akan lahir sebuah masyarakat yang saling pesan memesan kepada kesabaran dan kebajikan.

http://drmatgig.blogspot.com/

Secara ringkasnya, dalam merintis jalan mencari keredhaan dan ampunan Allah SWT, terdapat tujuh peringkat atau tujuh a,qabah yang perlu dihadapi oleh seorang muslim.Di nisbahkan kepada pertempuran, adalah kerana dalam menempuh ketujuh-tujuh peringkat atau a’qabah, merupakan sesuatu yang harus dilakukan dengan kesungguhan, teliti dan menuntut pengorbanan sama ada pengorbanan masa, harta dan sebagainya.

Ketujuh-tujuh peringkat atau a’qabah atau pertempuran itu adalah :
1. A’qabatul Ilmi (Peringkat Ilmu)
2. A’qabatut Taubah (Peringkat Taubat)
3. A’qbatul A’wai’q (Peringkat Menghadapi Perkara Yang Menghalang Ibadah)
4. A’qabatul A’warid (Peringkat Menghadapi Perkara Yang Memesongkan Ibadah)
5. A’qabatul Bawai’th (Peringkat Berhdapan Dengan Perkara Yang Mendorong Ibadah)
6. A’qabatul Qawadih (Peringkat Berhadapan Dengan Perkara Yang Mencacatkan Ibadah)
7. A’qabatul Hamdi Wa Syukri (Peringkat Mengucap Puji dan Syukur)

PERTAMA : A’qabatul Ilmi (Peringkat Ilmu) kita disedarkan pentingnya Ilmu Fardhu Ain untuk difahami, diyakini dan diamalkan. Ilmu fardhu Ain yang dituntut kita pelajari dan amalkan ialah :

Ilmu Tauhid – Merangkumi persoalan rukun Iman dan kalimah syahadah yang wajib dipelajari secara tafsili oleh setiap muslim. Dalam perosalan beriman kepada Allah SWT. Sekurang-kurangnya seseorang muslim mampu mendatangkan dalil aqli dan naqli kepada 20 sifat yang wajib bagi Allah SWT, 20 sifat yang mustahil bagi Allah dan satu sifat yang harus bagi Allah SWT. Seorang muslim wajib mampu mendatangkan dalil aqli dan dalil naqli walaupun secara ijmali.

Dalam persoalan beriman dengan Rasul dn Nabi, seorang muslim wajiblah mempelajari, memahami, meyakini akan Nabi & Rasul. Seorang muslim wajib mampu mendatangkan dalil aqli dan naqli walaupun secara ijmali (ringkas) akan 4 sifat yang wajib bagi Rasul/Nabi, 4 sifat yang wajib bagi Rasul/Nabi dan satu sifat yang harus bagi Rasul/Nabi. Ada 25 Rasul yang wajib diketahui oleh seseorang muslim. Dari Nabi Adam AS hinggalah Nabi Muhammad SAW. Di antara 25 orang Rasul yang wajib diketahui itu, ada pula 5 orang Nabi yang ulul azmi iaitu Nabi Nuh AS, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW. Yang dimaksudkan dengan ulul azmi ialah mempunyai keinginan yang teguh dan kesabaran yang tinggi dalam mengejar cita-cita dan matlamat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Dalam persoalan beriman dengan Malaikat, ada 10 malaikat yang wajib dipelajari, difahami dan diyakini oleh setiap Muslim.

Dalam persoalan beriman dengan Kitab, ada 4 kitab yang wajib diyakini oleh seseorang Muslim. Kitab Taurat diturunkan kepad Nabi Musa AS. Kitab Zabur kepada Nabi Daud AS, Kitab Injil kepada Nabi Isa AS dan Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, penutup segala nabi.

Dalam persoalan beriman dengan hari kiamat, wajiblah seseorang muslim yakin akan hari pembalasan, syurga dan neraka, mizan, titian sirat, mahsyar dan sebagainya.

Dalam persoalan beriman dengan qadha dan qadar, wajiblah seseorang muslim yakin dengan ketentuan yang baik dan buruk ke atas dirinya.

Walaupun hanya Allah yang memberi bekas, tetapi usaha dan ikhtiar adalah wajib bersesuaian dengan sunnatullah dan hukum adat.

Ilmu Fekah pula di dalamnya terkandung hal ehwal ibadah, munakahat, muamalat dan jenayah. Melalui ilmu ini, seseorang Muslim diajar bagaimana beribadah kepada Allah SWT. Diajar akan rukun dalam setiap ibadah. Juga ditunjukkan syarat sah dan batal sesuatu ibadah dengan jelas, sama ada ibadah solat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Ianya juga menunjukkan jalan bagaimana menjalani hidup sebagai hamba Allah dan bagaimana hidup sebagai sebuah masyarakat Islam, sama ada dari segi kekeluargaan, dari segi hubungan kemasyarakatan dan dari segi menjaga hal ehwal keamanan fitrah yang telah Allah kurniakan kepada setiap insan yang bernama manusia.

Ilmu Tasauf adalah untuk menyuluh hal ehwal kerohanian atau hati kita, agar tetap lurus mentaati Allah dan Rasul Nya tanpa di pesongkan oleh bisikan yang sering mengajak ke arah kemungkaran. Oleh itu setiap muslim perlu mempelajari, memahami, meyakini 10 jenis sifat mahmudah (sifat terpuji) dan 10 jenis sifat mazmumah (terkeji).

Ketiga-tiga cabang ilmu inilah yang dituntut untuk kita pelajari, fahami, yakini dan diamalkan serta diperjuangkan.

KEDUA : A’qabatut Taubah (Peringkat Taubat). Peringkat ini seseorang wajiblah membersihkan dirinya dari dosa zahir dan batin. Taubat diwajibkan agar :

a. Kita mendapat keringanan dalam beribadah dan tiada kegusaran dan keresahan dalm hidup.
b. Ibadah kita diterima Allah SWT.

Ada dua jenis dosa yang dilakukan oleh seseorang muslim iaitu :
a. Dosa kepada Allah (melakukan larangan Nya atau meninggallkan suruhan Nya)
b. Dosa sesama manusia ( adalah yang berhubung dengan diri peribadi seseorang atau berkaitan dengan hartanya atau berkaitan dengan keluarganya atau berkaitan dengan agamanya)

Syarat taubat atas dosa kepada Allah SWT ada 3 :
1. Menyesal atas dosa
2. Meninggalkan perkara yang mengundang dosa
3. Berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan yang mengundang dosa

Syarat taubat atas dosa sesama manusia ada 4 :
1. Menyesal atas dosa
2. Meninggalkan perkara yang mengundang dosa
3. Berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan yang mengundang dosa
4. Memohon maaf dan kifarah kepada orang yang dilakukan dosa

KETIGA : A’qabatul A’waiq (Peringkat Berhadapan Dengan Penghalang Untuk Beribadah). Ada 4 perkara yang menghalang seseorang muslim untuk beribadah.
1. Dunia
2. Manusia (Fasiq, Munafiq, Kafir Harbi)
3. Syaitan
4. Nafsu (Nafsu Ammarah, Lauwamah, Mulhamah)

Untuk berhadapan dengan godaan duniawi. Hendaklah seseorang muslim itu bersifat zuhud.

Dalam menghadapi halangan yang ditimbulkan oleh manusia yang fasiq, munafik dan kafir harbi, maka hendaklah seseorang Muslim :
1. Bersabar dengan kesusahan dan kesukaran yang ditimbulkan oleh mereka.
2. Melengkapkan diri dengan ilmu Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah
3.Beramala dengan ilmu Fardhu AIn dan Fardhu Kifayah
4. Berdakwah kepada mereka
5. Berhadapan dengan mereka sebagaimana mereka menyerang kita. Jika diserang dengan ekonomi kuffar, kita perangi dengan ekonomi Islam berlandaskan syariat.etc
6. Berdoa kepada Allah

Untuk berhadapan dengan halangan yang dilahirkan oleh syaitan ini, maka hendaklah kita :
1. Melengkapkan diri dengan ilmu Fardhu Ain.
2. Gunakan ilmu Tauhid dan Feqah untuk mengenal halal dan haram.
3. Gunakanlah ilmu tasauf untuk menyuluh sifat mazmumah yang terkandung di dalam diri kita dan kikislah sifat tersebut dengan menggantinya dengan sifat mahmudah.
4. Sentiasa berlapar
5. Memohon perlindungan dengan Allah dari syaitan yang direjam

Bagi berhadapan dengan nafsu yang buruk iaitu Ammarah, Lauwamah dan mulhamah serta mempertingkatkan quality nafsu ke tingkatan yang lebih tinggi, maka seseorang itu hendaklah bermujahadatunnafsi melalui proses mujahadatunnafsi. Proses mujahadatunnafsi ini melibatkan 3 perkara.

Yang pertama takhalli, iaitu mengikis/membuang sifat mazmumah(sifat terkeji) dalam diri. Kedua ialah tahalli, iaitu mengisi/menggantikan sifat mazmumah dengan sifat mahmudah (sifat terpuji). Dan yang ketiga tajalli, setelah seseorang telah berusaha mengungkai sifat mazmumah dan bersabar mengisi hatinya dengan sifat mahmudah, maka kemanisan dalam beribadah akan hadir, inilah yang dinamakan tajalli.

Untuk melalui ketiga-tiga proses ini, maka seseorang itu hendaklah :
1. Melengkapkan dengan ilmu Fardhu Ain dan beramal dengannya
2. Mengekang sifat mazmumah dan memaksa diri menerima sifat-sifat mahmudah dengan sabar.
3. Kekang bisikan hati, tindakan perbuatan dan percakapan dengan sifat taqwa.
4. Berdoa kepada Allah.

KEEMPAT : A’qabatul A’warid (Peringkat Menghadapi Perkara Yang Memesongkan Ibadah). Andainya perkara yang menghalang seseorang muslim untuk beribadah berjaya di atasi, namun masih ada lagi perkara yang memesongkan dan melalaikan seseorang muslim untuk beribadah iaitu :

1. Rezeki – kerana kesibukan mencari rezeki, maka ibadah telah terlalai. Solat di ta’akhirkan, zikir wirid disingkatkan, bacaan Al Quran diabaikan.
2. Khuatir – kebimbangan yang melanda apabila melakukan ibadah.
3. Musibah4.
Qadha & Qadar

Jalan penyelesaian kepada keempat-empat masalah di atas :
1. Hendaklah kita bertawakal kepada Allah SWT setelah kita berusaha dan berikhtiar.
2. Berserah diri kepada Allah SWT kerana sebagai Yang Maha Pencipta, Allah lebih tahu akan masa depan kita. Allah yang Maha Mengathui masa depan kita dan Allah yang mentadbir kehidupan kita.
3. Hendaklah bersabar dengan musibah yang melanda. Kuatkan pautan hati dengan Allah, dan ingatkan diri bahwa sebagai makhluk yang lemah tidak ada daya upaya kita untuk mengelakkannya melainkan dengan kudrah dan iradah Allah SWT.
4. Sentiasalah mengucapkan Innalillahi wainna ilai hirajiun (Dari Allah aku datang dan kepada Allah aku kembali”
5. Sentiasa mengucapkan La haula wala quwwata illah billah sebagai tanda kelemahan kita sebagai makhluk.
6. Anggaplah musibah yang melanda sebagai kifarah dosa kita didunia dan sebagai ujian dari Allah untuk meningkatkan darjat kita disisi Allah SWT.
7. Apabila ketentuan Allah datang berbentuk nikmat, ucapkanlah istighfar dan alhamdulillah. Syukurilah nikmat Allah dan ingatkan diri sendiri, seandainya nikmat yang hadir gagal ditadbir dengan hukum Allah, hakikatnya kita telah kufur nikmat.
8. Bersabar dan redha dengan ketentuan Allah yang tidak kita ingini. Ingatkan diri bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan Allah saja yang menjamin keselamatan di dunia dan di akhirat.

KELIMA : A’qabatul Bawai’th (Peringkat Berhdapan Dengan Perkara Yang Mendorong Ibadah). Dalam menyelusuri jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT, Allah bekalkan buat hamba-hamba NYA 2 sifat yang mendorong untuk beribadah iaitu :

a. Khauf ( rasa takut atas ancaman Allah )
b. Raja’ ( rasa harap atas ampunan dan rahmat Allah )

Kedua-dua sifat ini hyendaklah seimbang. Tidak boleh salah satu lebih dominan yang satu lagi. Jika khauf lebih diberati, ditakuti akan lahir manusia yang mudah berputus asa. Jika raja’ yang lebih diberati, maka akan lahir manusia yang terlalu yakin dengan amalannya, dan merasa diri sudah dijamin syurga. Namun tatkala sampai sakaratul maut, hendaklah seseorang muslim itu meletakkan 100% rasa raja’ atas rahmat Allah. Berbaik sangka dengan Allah.

Untuk mendapatkan dan menguruskan 2 perkara yang mendorong ibadah, maka hendaklah :

1. Sentiasa mengingatkan diri dengan Akhirat. Ingatkan diri tentang azab siksaan Allah. Ingatkan diri tentang kenikmatan syurga Allah.
2. Sentiasa ingatkan diri bahawa Allah Maha Hebat dan Allah Maha Pengampun.
3. Sentiasa berzikir
4. Membaca kisah para Nabi, Rasul, Para Sahabat dan orang di zaman salafussoleh.

KEENAM : A’qabatul Qawadih (Peringkat Berhadapan Dengan Perkara Yang Mencacatkan Ibadah). Ada dua sifat yang menjadi pokok kepada segala perkara-perkara yang mencacatkan ibadah iaitu :

a. Ujub – merasa hairan dengan diri sendiri, merasa dirinya amat istimewa, lain dari yang lain.
b. Riyak – melakukan sesuatu untuk mendapat anugerah dari makhluk dan bukan dari Allah SWT.

Faktor yang boleh menjadi sebab untuk berlaku ujub dan riyak ialah :
a. Darah keturunan
b. Jawatan pangkat kebesaran
c. Harta yang menggunung
d. Ilmu yang banyak
e. Wajah dan paras rupa yang indah dan cantik
f. Pengikut yang ramai
g. Kelebihan-kelebihan yang pada kebiasaan yang tidak terdapat pada orang lain

Manusia yang bersifat ujub dan riyak ini akan mendapat 2 keaiban dan 2 musibah iaitu :

a. Aib di hadapan malaikat dan aib di hadapan umat manusia di Padang Mahsyar.
b. Musibah kerana tidak beroleh syurga dan musibah dimasukkan ke neraka.

Ubat Riyak dan Ujub serta Cara Membersihkan Hati Daripada Riyak dan ujub

1. Memperkemaskan ilmu Fadhu Ain dan beramal dengannya. Dengan itu seseorang muslim akan sedar bahwa dirinya adalah hamba Allah yang hina. Hanya Allah tempat dipersembahkan segala amalan, bukan kepada makhluk. Hanya kepada Allah seseorang mengharapkan balasan dan bukannya mengharap anugerah pemberian makhluk.
2. Apabila menerima nikmat, segeralah mengingati Allah dan ucapkan kesyukuran atas nikmat yang diperolehi. Lantas segeralah beristighfar kepada Allah kerana takut nikmat yang bakal diperolehi menjadikan kita lupa bahawa nikmat itu merupakan ujian buat diri kita.
3. Bersegeralah mengucapkan la haula wala quwata illa billah sebagai tanda kelemahan kita sebagai makhluk Allah.
4. Apabila menerima nikmat, segeralah juga kita bandingkan nikmat yang kita perolehi itu dengan nikmat orang lain yang lebih besar dan berharga. Agar kita sedar bahwa nikmat yang kita perolehi itu tidak seberapa dan bila-bila masa sahaja Allah mampu menariknya semula. Dengan itu kita mampu bersyukur.
5. Apabila ditimpa musibah, segeralah kita membandingkan musibah tersebut dengan musibah orang yang lebih teruk dari kita. Agar nantinya kita akan bersabar dan redha dengan ketentuan Allah atas kita.
6. Sentiasalah menggauli orang yang kurang bernasib baik seperti fakir miskin dan anak-anak yatim. Kerana ianya menjadikan kita insaf akan kedudukan kita sebagai makhluk Allah yang lemah.

Maka tidak hairanlah ulamak-ulamak sufi dalam mendidik murid mereka agar tidak berlaku riyak dan ujub, anak-anak murid mereka dihina oleh mereka di khalayak ramai. Ini jelas diceritakan dalam kisah Sheikh Abu Yazid Al Bustami dan Sheikh Hassan Al Basri, mereka menghina dan mengaibkan orang-orang yang ujub dan riyak yang sedar mereka berbuat kemungkaran tetapi tidak mahu tunduk dan patuh kepada kebenaran. Maka AL Imam Al Ghazali dalam kitabnya Mukasyafatul Qulub menegaskan, harus mengaibkan orang yang ujub dan riyak di khalayak ramai sebagaimana harus seorang yang zalim diumpat, agar tindak tanduk mazmumahnya tidak diikuti oleh orang lain.

7. Bermujahadatunnafsi melalui tiga peringkat yang pernah dibincang dalam pertempuran yang lalu iaitu Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Bertafakur.
8. Memikir akan kebesaran Allah SWT.

Semoga syarahan yang ringkas ini mampu kita jadikan panduan untuk terus menghampirkan diri kepada Allah SWT.

KETUJUH : Aqabatul Hamdi Wa Syukri ( Mengucapkan Puji & Syukur )Adalah menjadi kewajiban ke atas setiap muslim menyatakan kesyukuran ke atas nikmat yang diperolehi atas dua sebab, iaitu :
a. Agar nikmat yang diperolehi dikekalkan Allah ke atasnya.
b. Agar Allah SWT mengurniakan nikmat-nikmat yang lain yang boleh mendekatkan dirinya dengan Allah SWT lebih mudah.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti KAMI akan menambah nikmat ke atasmu. Seandainya kamu syukur, sesungguhnya azab KAMI amat pedih. (Surah Ibrahim : 7)

Nikmat Allah SWT ke atas hamba NYA ada 2 iaitu :

a. Nikmat dunia yang terkandung di dalamnya :

i. Nikmat berbentuk manfaat
1. Perawakan yang sempurna ( sihat tubuh badan, sempurna sifat )
2. Mengecapi pelbagai kesenangan fizikal seperti makan, minum, pakaian.

ii. Nikmat berbentuk perlindungan dari mudarat.
1. Allah memberi perlindungan dari wabak dan bala
2. Allah meindungi dari anasir-anasir yang mengundang kemudaratan

b. Nikmat berbentuk agama

i. Nikmat mendapat taufik dari Allah SWT
ii. Nikmat pemeliharaan dari Allah yang mengancam dari segi dunia dan akhirat.

Inilah antara nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Maka sayugialah hendaklah kita mengucapkan puji dan syukur atas nikmat NYA dan jangan sesekali kita mengengkari dan kufur atas nikmat NYA.

Timbul pula persoalan; Bagaimanakah hendak disyukuri nikmat yang telah diperolehi ?Mudah sahaja, gunakanlah nikmat yang diperolehi untuk mentaati Allah dan menjauhi larangan NYA. Jangan sesekali menggunakan nikmat yang sedikit ini untuk melakukan perkara-perkara yang mengundang dosa.Semoga panduan ringkas ini dapat menjadi penyuluh buat kita dalam menuju ke arah keredhaan Allah SWT.

Semoga kebaikan yang terhasil dari kuliah ini menjadi jariah buat ibu & ayah ku, juga almarhum Datuk ku, terutamanya Guru-guru yang telah berjasa kepada ku.

Pertempuran Ke 7 : A’qabatul Hamdi Wa Syukri : Puji & Syukur

Setelah berhadapan dengan 6 pertempuran, akhirnya seseorang muslim haruslah berhadapan dengan pertempuran Menyatakan Kepujian dan Kesyukuran. Syukur atas nikmat dan rahmat yang telah dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba Nya. Antara nikmat yang terbesar yang dianugerahkan Allah buat makhluknya ialah nikmat iman dan Islam. Tidak ramai di kalangan makhluk Allah dianugerahkan nikmat iman dan Islam. Hatta ayah saudara Nabi SAW iaitu Abu Talib sendiri yang sanggup berkorban harta, kedudukan dan nyawa tidak direzkikan Allah dengan iman dan Islam.

Adalah menjadi kewajiban ke atas setiap muslim menyatakan kesyukuran ke atas nikmat yang diperolehi atas dua sebab, iaitu :

a. Agar nikmat yang diperolehi dikekalkan Allah ke atasnya.
b. Agar Allah SWT mengurniakan nikmat-nikmat yang lain yang boleh mendekatkan dirinya dengan Allah SWT lebih mudah.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti KAMI akan menambah nikmat ke atasmu. Seandainya kamu syukur, sesungguhnya azab KAMI amat pedih. (Surah Ibrahim : 7)

Nikmat Allah SWT ke atas hamba NYA ada 2 iaitu :

a. Nikmat dunia yang terkandung di dalamnya :

i. Nikmat berbentuk manfaat
1. Perawakan yang sempurna ( sihat tubuh badan, sempurna sifat )
2. Mengecapi pelbagai kesenangan fizikal seperti makan, minum, pakaian.

ii. Nikmat berbentuk perlindungan dari mudarat.
1. Allah memberi perlindungan dari wabak dan bala
2. Allah meindungi dari anasir-anasir yang mengundang kemudaratan

b. Nikmat berbentuk agama

i. Nikmat mendapat taufik dari Allah SWT
ii. Nikmat pemeliharaan dari Allah yang mengancam dari segi dunia dan akhirat.

Inilah antara nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Maka sayugialah hendaklah kita mengucapkan puji dan syukur atas nikmat NYA dan jangan sesekali kita mengengkari dan kufur atas nikmat NYA.

Timbul pula persoalan; Bagaimanakah hendak disyukuri nikmat yang telah diperolehi ?

Mudah sahaja, gunakanlah nikmat yang diperolehi untuk mentaati Allah dan menjauhi larangan NYA. Jangan sesekali menggunakan nikmat yang sedikit ini untuk melakukan perkara-perkara yang mengundang dosa.

Andai kita beroleh nikmat, maka segeralah kita bandingkan nikmat yang kita perolehi dengan nikmat orang lain yang beroleh nikmat yang lebih besar. Agar nanti kita tidak berasa ujub dan riyak. Gunakanlah nikmat yang diperolehi untuk mentaati Allah dan Rasul NYA. Juga gunakanlah nikmat tersebut untuk mendidik diri, keluarga dan masyarakat. Agar nanti akan lahir sebuah masyarakat yang saling pesan memesan kepada kesabaran dan kebajikan.

Syariat, Tarikat, Hakikat & Makrifat Part 3

Syariat, Tarikat, Hakikat & Makrifat Part 3

Setelah seseorang mempelajari syariat, serta mengamalkan hukum syariat bersungguh-sungguh dalam setiap aspek kehidupan ( atau dalam erti kata lain dia telah bersyariat dan bertarikat ). Maka Allah akan campakkan ke dalam dirinya rasa kehambaan dan rasa kesyukuran ke dalam dirinya.Mereka rasa lazat dalam beribadah dan merasa azab dalam melakukan dosa dan kemungkaran

Firman Allah : Hanyasanya orang mukin yang sebenar itu, apabila disebut sahaja nama Allah, gementarlah hati-hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat Quran, bertambahlah keimanan mereka dan hanya kepada Tuhan mereka (Allah) sahajalah mereka menyerah diri.” Al Anfal : 2.

Inilah yang dinamakan HAKIKAT. Hakikat ialah gerak rasa hati yang Allah campakkan ke dalam hati hambanya yang bersungguh-sungguh bersyariat dan mengamalkan syariat ( bertarikat ). Allah akan hapuskan sifat mazmumah (sifat hati yang terkeji) dalam hatinya dan Allah gantikan dengan sifat mahmudah (sifat hati yang terpuji ). Hakikat ini bukan ilmu yang boleh dipelajari, tetapi ianya anugerah Allah ke atas hamba NYA yang bersungguh-sungguh mempelajari, memahami, meyakini ilmu syariat secara ilmiah.serta melaksanakan hukum-hakam NYA (bersyariat dan bertarikat).

Bersesuaian dengan firman Allah : “Orang-orang yang bermujahadah pada jalan KAMI, KAMI tunjukkan jalan KAMI, Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang baik” Al Ankabut : 69.

Maka akan lahirlah manusia yang hatinya terpaut kecintaan kepada Allah. Manusia yang apabila disebut nama Allah, maka akan gementarlah seluruh jasad dan rohaninya. Akan lahirlah manusia yang memenuhi tuntutan konsep ibadah secara global yang mampu melaksanakan konsep ibadah menurut Islam yang merangkumi ibadah Asas, ibadah fadailul a’mal ( yang terkandung didalamnya amalan fardhu kifayah ) dan ibadah yang umum. Akan lahirlah manusia yang cantik dan anggun akhlaknya sebagaimana memenuhi tuntutan perutusan Rasul ke mukabumi untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Ingin diulangi bahawa hakikat adalah perasaan rasa hati yang telah Allah campakkan kepada hamba NYA yang berusaha gigih untuk mendekatkan diri kepada NYA.Allah hapuskan sifat mazmumah dan Allah gantikan dengan sifat mahmudah. Maka lahirlah dan hiduplah manusia itu dengan keadaan yang tenang dan berkhlak mulia, Inilah buah kepada pengamalan syariat. Inilah buah kepada iman & dan ibadah kepada Allah. Akhlak terpuji seperti sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak”.

Dalam ertikata lain, hakikat adalah buah dari syariat dan tarikat. Atau lebih tepat, hakikat adalah buah kepada pengabdian diri kepada Allah. Allah hapuskan sifat mazmumah dalam dirinya dan Allah gantikan dengan sifat mahmudah. Agar seseorang itu merindui saat beribadah bersama Allah. Dalam erti kata lain, hakikat adalah buah kepada ibadah. Hakikat adalah hasil seseorang beribadah kepada Allah dengan kesungguhan hati. Ianya adalah anugerah Allah SWT. Maka akan lahir rasa takut kepada Allah, rasa tawakal dengan Allah, rasa harap kepada Allah, dan setiap amal perbuatan, perkataan dan gerak hati mereka sentiasa di pautkan kepada Allah. Setiap kejadian dan penciptaan alam dihubungkaitkan dengan kekuasaan dan keagungan Allah bagi menambah keimanan kepada Allah. Setiap kejadian musibah dan bala juga dihubungkaitkan dengan kekuasaan Allah dan kelemahan manusia sebagai makhluk bagi menyuburkan sifat sabar dan redha kepada Allah. Setiap kejadian nikmat dihubungkaitkan juga dengan kekuasaan Allah dan kelemahan manusia sebagai makhluk bagi menyuburkan rasa kesyukuran dan kehambaan. Disinilah tahap keimanan seseorang telah terserlah. Dia bukan sahaja mengenal Allah dengan akal fikiran melalui ilmu tauhid, tetapi juga secara keyakinan hati. Inilah yang diistilahkan sebagai makrifat. Makrifat ialah keyakinan yang memperkuatkan keimanan kepada Allah setelah menempuh syariat dan tarikat, serta mencapai rasa hakikat. Orang yang memiliki makrifat inilah yang dinyatakan sebagai orang yang mengenal Allah dengan mata hati, ainul yakin. Orang yang sebeginilah yang diisyaratkan sebagai memiliki sifat yang disebut dalam Al Quran :

Al Anfal : Ayat 2-3 :Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Apabila seseorang telah menempuh syariat dan beramal dengan ilmu syariat ( bertarikat ) serta diberi hakikat, maka lahirlah sifat makrifat. Sifat makrifat kepada Allah Taala yang akan memancarkan berbagai perasaan yang baik dan dasar semangat untuk menuju ke arah perbaikan. Makrifat ini dapat pula mendidik hati untuk senantiasa menyelidiki dan meneliti mana yang salah dan tercela, malah dapat menumbuhkan kemauan untuk mencari keluhuran, kemuliaan dan ketinggian budi dan akhlak dan sebaliknya juga menyuruh seseorang supaya menghindarkan dirinya dari amal perbuatan yang hina, rendah dan tidak berharga sedikit pun.

Orang yang telah mencapai tingkatan makrifat , Allah ilhamkan jalan yang mampu membawanya ke arah kecemerlangan agar dia dapat menempuhnya dengan mudah. Dia juga akan Allah ilhamkan kepadanya jalan yang membawa kemusnahan agar dapat dia hindari sebagaimana firman Allah :

“Maka Allah ilhamkan kepada jiwa itu, jalan kefasiqan dan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang –orang yang mensucikan jiwa (nafsu) nya itu . Dan sesungguhnya merugilah ( celakalah ) orang yang mengotorinya.” As Syams : 8 – 10..

Orang yang mendapat hakikat dan makrifat, dia akan merasa dirinya sebagai hamba Allah yang hina. Tidak akan terlafaz dari lidahnya bahawa dialah yang paling bertaqwa. Tidak akan terlafaz dari perbuatannya tanda-tanda riak. Tidak terlintas di hatinya bahawa dialah yang paling kuat iman dikalangan manusia dan yang paling banyak amal ibadah dia antara makhluk Allah yang hidup di dunia. Seandainya ada di kalangan manusia yang memuji akan keupayaannya beribadah kepada Allah SWT, pujian itu dianggap suatu ancaman yang bakal merosakkan hubungan antara dia dan Allah. Dia akan segera menghentikan puji-pujian tersebut demi menjaga hatinya dengan Allah. Inilah sifat orang yang benar-benar memiliki hakikat dan makrifat. Seandainya dia merasa senang dan selesa dengan pujian tersebut , serta tidak menghentikannnya, nyatalah apa yang alami bukanlah hakikat mahupun makrifat, sebaliknya adalah tipu daya syaitan dan nafsu dalam amalannya. Hancur dan binasalah amalan itu kerana ujub. Orang yang telah beroleh hakikat dan makrifat, tidak sama sekali menceritakan keseronokan bersama Allah kerana ianya adalah rahsia antra orang yang merasa kasih sayang Allah. Ianya juga disebabkan orang yang “sedang asyik bercinta” tidak ada masa untuk menceritakan rasa cinta yang dirasai kepada orang lain. Inilah cara membezakan sama ada seseorang yang pada zahirnya cantik akhlaknya, benar-benar telah memiliki hakikat dan makrifat, atau sebenarnya sedang berlakon memiliki hakikat dan makrifat. Atau dalam istilah lain, sedang ujub, atau istilah melayunya syok sendiri. Malanglah bagi mereka yang telah menempuh syariat dan tarikat, tetapi merasa ujub dan menyangka diri telah mencapai hakikat dan makrifat. Tertipu dalam beribadah.

Mudah-mudahan penerangan ilmiah ini akan mendorong kita untuk terus mempertingkatkan amalan kita ke arah ketaqwaan.

http://drmatgig.blogspot.com/2005/06/syariat-tarikat-hakikat-ma_111969092856744391.html

Syariat, Tarikat, Hakikat & Makrifat Part 2

Bagi mereka yang berusaha bersungguh-sungguh mengamalkan dan melaksanakan hukum syariat, inilah yang dinamakan TARIKAT atau disebut dalam bahasa arab ialah TAREKAH. Tarikat dari segi bahasa ialah jalan. Ingin diulang lagi agar lebih jelas. Apabila seseorang telah mempelajari, memahami dan meyakini ilmu syariat, lalu dia meLAKSANAKAN atau BERAMAL dengan ilmu syariat tersebut, maka itulah yang diertikan dengan TARIKAT. Melaksanakan atau beramal dengan syariat. Oleh itu apabila seseorang menjalankan atau melaksanakan hokum syariat dengan bersungguh-sungguh, setiap suruhan Allah sama ada yang wajib dan yang sunat dilaksanakan sungguh-sungguh. Setiap larangan Allah sama ada yang haram atau yang makruh ditinggalkan sungguh-sungguh. Maka mereka telah dikatakan telah BERTARIKAT.

Contohnya ; Abu telah ke madrasah dan mempelajari cara sembahyang. Dia telah mempelajari rukun sembahyang, syarat wajib sembahyang, perkara yang sunat dilakukan dalam sembahyang, syarat sah sembahyang dan perkara-perkara yang membatalkan sembahyang. Setelah dia mempelajarai dan memahami ilmu tersebut, dia pun beramal dengan ilmunya untuk menunaikan sembahyang. Maka Abu telah dikatakan telah berTARIKAT di bidang sembahyang.

Tarikat pada erti kata yang pertama ini hukumnya adalah WAJIB. Inilah jalan yang dilalui oleh Rasulullah SAW dan para sahabat serta tabiin dan orang dizaman salafussoleh. Jalan inilah juga yang patut kita lalui, iaitu jalan yang menjadikan kita melaksanakan segala perintah yang disuruh Allah dan meninggalkan perintah yang dilarang oleh Allah. Inilah perkara yang wajib kita lakukan sebagai makhluk yang dicipta Allah dan mahu menjadi hamba kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Berkuasa.

Adapun Tarikat dari istilah yang kedua, ialah apabila seseorang menyusun ayat-ayat Al Quran tertentu, zikir-zikir tertentu, salawat ke atas Nabi Muhammad SAW dan diamalkan secara berjadual dalam kehidupan sehari-harian. Tarikat yang diertikan disini hokum asalnya hanyalah SUNAT. Dari sinilah lahir jemaah-jemaah zikir atau dipanggil orang sebagai jemaah tarikat. Antara jemaah zikir atau jemaah tarekat yang kita sering dengar ialah Tarikat Ahmadiah, Tarikat Naqsyabandiah, Tarikat Samaniah, Tarikat Syazaliah, Tarikat Kadiriah, Aurad Muhammadiah dan lain-lain lagi. Jadi termasuk jugalah di dalam kategori ini ialah pengamalan Al Ma’thurat. Tujuan mereka menghimpun dan beramal adalah untuk mendidik diri untuk berdisiplin dalam beramal dengan ketiga-tiga juzuk ilmu Islam iaitu Tauhid, Feqah & Tasauf

Secara tak langsung memberi kekuatan jiwa tambahan untuk beramal dengan hukum syariat secara keseluruhan, dalam kehidupan sehari-hari. Sama ada dalam diri, dalam keluarga, dalam masyarakat hingga ke peringkat negara. Sebab itu jika disingkap lembaran sejarah, tunggak perjuangan sesuatu gerakan Islam adalah disokong oleh jemaah zikir atau tarekat. Sultan Muhammad Al Fateh, sultan yang berjaya menawan Kota Konstantinopel dan pengasas Kekhalifahan Osmaniah adalah ahli zikir ( ahli tarikat ) , Begitu juga As Syahid Omar Mokhtar pejuang terakhir Gerakan Sanusi yang merupakan benteng pertahanan terakhir khalifah Osmaniah adalah pengamal Tarekat As Sanussiah. Imam Bonjol di Aceh yang menentang penjajahn Belanda adalah ahli tarekat Naqsyabandiah. Mat Kilau dan datok Bahaman yang berguru dengan Tokku Paloh adalah pengamal tarekat Naqsyabandiah. Malah As Syahid Hassan Al Banna dari Ikhwan Muslimin adalah ahli tarekat aliran Al Ma’thurat.

Tidak lupa disebut Almarhum Tok Kenali yang berguru dengan Sheikh Ahmad Al Fathani dari aliran Tarekat Syattariah dan Al Marhum Tokku Paloh dari aliran Tarekat Naqsyabandiah. Tokku Paloh yang melindungi Mat Kilau dan Datok Bahaman sewaktu diburu British. Tokku Paloh yang melarikan kedua-dua anak muridnya dan disembunyikan di Hulu Besut. Mereka ini bukan sekadar menyumbang di dalam perjuangan Islam menentang penjajah, malah mereka juga membangunkan pendidikan Islam serta menghasilkan kitab-kitab ilmu Tauhid, Feqah dan Tasauf yang menjadi sumber rujukan kepada umat Islam di nusantara. Antaranya ialah :

a. Sheikh Daud bin Abdullah Al Fathani menghasilkan kitab Dhiyaul Murid fi Bayani Kalimatit Tauhid yang membicarakan ilmu tauhid dari aliran tarekat Syatariah.
b. Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani yang menulis kitab Risalah Tauhid dan Hidayatus Salikin Fisuluki Maslakil Muttaqin kitab ilmu Tauhid dan Tasauf; adalah dari aliran tarekat Samaniah.
c. Sheikh Ahmad Al Fathani yang menulis kitab Faridatul Faraid yang juga kitab ilmu tauhid yang memperjelaskan aqidah ahlus sunnah wal jamaah, adalah ahli tarekat
d. Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari Pengarang Sabilal Muhtadin

Malangnya, kita dizaman moden ini, telah dijauhkan dengan istilah tarekat oleh orientalis. Apatah lagi wujud fahaman Islam yang menyeleweng. Kononnya mereka adalah pejuang kemerdekaan. Sebaliknya sejarah telah JELAS membuktikan fahaman tersebut lahir untuk membantu negara kuffar menjatuhkan empayar Osmaniah yang merupakan sistem kekhalifahan Islam terakhir serta menghalang segala usaha gerakan-gerakan Islam yang cuba membangunkan semula system khalifah Islam. Fahaman inilah yang sering memomok-momokkan umat Islam, bahawa jemaah tarekat adalah bidaah dan menyesatkan, kerana disebalik amalan zikir yang membawa ketenangan hati, disitulah lahirnya rasa kehambaan dan cinta kepada Allah Yang Maha Agung. Maka terciptalah manusia-manusia yang cintakan syahid dan merindui pertemuan dengan Allah Yang Amat Dicintai, yang mampu berjuang dan berkorban demi keagungan Islam terserlah kembali. Inilah yang amat ditakuti oleh fahaman terseleweng tersebut kerana akan hilang imbuhan menjadi boneka negara kuffar.

Tidak kurang juga, orang yang belajar sedikit-sedikit tentang ilmu tarikat, dan sedar kelebihan ilmu tarikat ini. Mereka mengambil kesempatan dengan memperbodohkan para pengikutnya yang sedia jahil. Bab dan persoalan ilmu syariat yang menjadi asas kepada perlaksanaan dan pengamalan Fardhu Ain dia abaikan dalam mendidik murid dan pengikutnya, agar dia boleh terus mempunyai para pengikut yang taksub buta yang jahil tentang syariat. Ini bagi memudahkan dia mempunyai kuasa dan menghimpunkan kepentingan duniawi termasuk mengaku dirinya wali Allah yang dijanjikan. Seandainya para pengikutnya arif dibidang agama khususnya ilmu asas Fardhu Ain, pastinya dia akan kehilangan pengikut. Jadi dia akan berusaha untuk menjauhkan para pengikutnya dari ilmu asas Fardhu Ain, sebaliknya dia sibuk menceritakan hal-hal kerohanian ciptaannya yang kononnya diterima dari Rasulullah dan secara langsung dari Allah. Manusia-manusia durjana sebeginilah yang mendatangkan fitnah ke atas jemaah tarikat yang haq.

Ingin ditegaskan sekali lagi bahawa antara kedua pengertian tarikat yang dibentang tadi, antara keduanya, pengerian yang pertama ( mengamalkan syariat secara keseluruhan ) adalah WAJIB, sementara tarikat dari pengertian kedua ( himpunan ayat Al Quran tertentu, zikir-zikir tertentu, selawat dan diamalkan secara berjadual dalam kehisupan harian) adalah SUNAT. Antara hukum yang WAJIB dan hokum yang SUNAT, tuntutan hukum yang WAJIB adalah lebih utama. Jangan sampai kerana hendak bertarikat dengan pengertian kedua yang kedudukannya SUNAT, lantas kita mengabaikan tarikat dalam pengertian yang pertama yang kedudukannya WAJIB. Kiasannya, perlaksanaan hokum yang wajib adalah KERJA FULLTIME, sementara pengamalan hokum yang sunat adalah OVER-TIME. Kalau kerja FULL-TIME tak dibuat, layakkah pekerja buat tuntutan kerja OVER-TIME ? Pastinya tidak layak, malah pekerja tersebut layak untuk diambil tindakan tatatertib. Kerana pengabaian untuk beramal dengan syariat menurut pengertian pertama tadilah maka munculnya fitnah ke atas jemaah-jemaah tarikat yang menurut pengertian kedua. Tetapi ingin ditegaskan juga, seandainya tarekat dari pengertian pertama dan dari pengertian kedua itu dilaksanakan atau diGABUNGkan, maka akan lahirlah manusia yang ingin sentiasa bertaqarrub kepada Allah. Akan lahirlah manusia yang akan menunaikan titah perintah Allah, dalam dirinya, keluarganya, masyarakatnya dan seterusnya di dalam ummahnya.

http://drmatgig.blogspot.com/

Apa yang dimaksud dengan Madzhab Ahlul Bait ?

Apa yang dimaksud dengan Madzhab Ahlul Bait ?

Madzhab Ahlul Bait adalah nama samaran dari sekian banyak aliran-aliran Syiah. Dimana setiap aliran Syiah mengklaim alirannya sebagai Madzhab Ahlul Bait.

Sebagai contoh, aliran Syiah Zaidiyah mengaku sebagai Madzhab Ahlul Bait. Begitu pula aliran Syiah Ismailiyah, mereka juga mengaku sebagai Madzhab Ahlul Bait. Bahkan aliran Syiah yang paling sesat saat ini, yaitu aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) juga berani mengaku sebagai Madzhab Ahlul Bait.

Penyebab mereka sampai berani menyebut alirannya sebagai Madzhab Ahlul Bait, dikarenakan saat ini masyarakat dunia Islam sudah mengetahui bahwa aliran-aliran Syiah tersebut sesat dan menyesatkan dan ajarannya sangat menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW. dan ajaran Ahlul Bait.

Karena itu dalam usahanya menipu dan menyesatkan umat Islam, mereka menggunakan nama samaran sebagai Madzhab Ahlul Bait. Dan ternyata usaha mereka tersebut berhasil, sehingga ada dari umat Islam yang tertipu dan akhirnya terjerumus masuk Syiah.

Oleh karena aliran-aliran Syiah yang mengaku sebagai Madzhab Ahlul Bait tersebut berbeda rukun imannya, maka mereka saling mengkafirkan, Syiah yang satu mengkafirkan Syiah yang lain.

Jika aliran-aliran Syiah yang saling mengkafirkan itu benar-benar sebagai Madzhab Ahlul Bait, berarti hal itu menggambarkan bahwa pendiri madzhab-madzhab tersebut saling mengkafirkan, maka pertanyaan yang timbul adalah; mungkinkah Ahlul Bait yang telah disucikan sesuci-sucinya oleh Allah itu saling mengkafirkan ?.

Jawabnya, pasti tidak mungkin, dan itu hanyalah rekayasa dan tipu daya tokoh-tokoh Syiah yang tidak memikirkan akibatnya.

Dengan demikian yang namanya Madzhab Ahlul Bait itu tidak ada, yang ada adalah Madzhabnya Ahlul Bait, bukan Madzhab Ahlul Bait tapi madzhabnya Ahlul Bait atau akidah-nya Ahlul Bait. Yaitu akidah yang sekarang dikenal dengan nama akidah Ahlus Sunnah Waljamaah. Satu akidah yang berpegang kepada apa-apa yang diyakini

dan dikerjakan oleh Rasulullah SAW, Ahlul Bait dan para sahabatnya.

Jika yang namanya Madzhab Ahlul Bait itu ada dan benar, pasti yang mengikuti madzhab tersebut adalah keturunan Ahlul Bait, yaitu para habaib bukan orang-orang ajam dari Iran.

Tapi kenyataannya para habaib hampir semuanya mengikuti akidah Ahlus Sunnah Waljamaah. Mereka mengikuti akidah itu secara sambung menyambung sampai kedatuk mereka baginda Rasulullah SAW.

Hal ini dapat dibaca dalam kitab Iqdul Yawaqid Aljauhariyyah, karya Al-Allamah al-Habib Edrus bin Umar Al-Habsyi, dan dapat dibaca dalam puluhan, bahkan ratusan kitab-kitab yang ditulis oleh para habaib dzurriyaturrasul.

Jadi yang benar, akidahnya golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah akidahnya Ahlul Bait atau madzhabnya Ahlul Bait yang sampai sekarang diikuti oleh keturunan Ahlul Bait atau para habaib Al-Alawiyin dzurriyaturrasul.

Apabila dari sekian juta habaib itu ada dua, tiga orang yang menyimpang (syad), maka orang-orang tersebut tidak tergolong sebagai tokoh habaib yang menjadi panutan. Tapi mereka adalah korban-korban yang rusak akidahnya akibat membaca buku-buku yang ditulis oleh orang-orang orientalis dan Zionis Yahudi.

Demikian sedikit mengenai Madzhab Ahlul Bait dan madzhabnya Ahlul Bait. Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari tipu daya tokoh-tokoh Syiah yang sering mengaku sebagai pengikut Madzhab Ahlul Bait.

Apakah Syi’ah itu
Apa Ahlussunnah Waljamaah ?
Kapan lahirnya Agidah Ahlussunnah Waljamaah ?
Apa perbedaan Ahlussunnah Waljamaah dengan Syi’ah ?

Perbedaan Ahlussunnah Waljamaah & Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah

Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ?

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.

Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.

Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.

Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.

Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.

Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.

Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah).

Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.

Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

1. Ahlussunnah         : Rukun Islam kita ada 5 (lima)

a) Syahadatain

b) As-Sholah

c) As-Shoum

d) Az-Zakah

e) Al-Haj

Syiah                     : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:

a) As-Sholah

b) As-Shoum

c) Az-Zakah

d) Al-Haj

e) Al wilayah

2. Ahlussunnah         : Rukun Iman ada 6 (enam) :

a) Iman kepada Allah

b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya

c) Iman kepada Kitab-kitab Nya

d) Iman kepada Rasul Nya

e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat

f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

Syiah                     : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*

a) At-Tauhid

b) An Nubuwwah

c) Al Imamah

d) Al Adlu

e) Al Ma’ad

3. Ahlussunnah         : Dua kalimat syahadat

Syiah                     : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

4. Ahlussunnah         : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.

Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

Syiah                     : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5. Ahlussunnah         : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :

a) Abu Bakar

b) Umar

c) Utsman

d) Ali Radhiallahu anhum

Syiah                     : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

6. Ahlussunnah         : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.

Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

Syiah                     : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma’’hum, seperti para Nabi.

7. Ahlussunnah         : Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah                     : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8. Ahlussunnah         : Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah                     : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

9. Ahlussunnah         : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah :

a) Bukhari

b) Muslim

c) Abu Daud

d) Turmudzi

e) Ibnu Majah

f) An Nasa’i

(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).

Syiah                     : Kitab-kitab Syiah ada empat :

a) Al Kaafi

b) Al Istibshor

c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih

d) Att Tahdziib

(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).

10. Ahlussunnah         : Al-Qur’an tetap orisinil

Syiah                     : Al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).

11. Ahlussunnah         : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Syiah                     : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah.

Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

12. Ahlussunnah         : Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.

Syiah                     : Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.

Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.

Keterangan           : Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.

13. Ahlussunnah         : Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.

Syiah                     : Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.

14. Ahlussunnah         : Khamer/ arak tidak suci.

Syiah                     : Khamer/ arak suci.

15. Ahlussunnah         : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.

Syiah                     : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.

16. Ahlussunnah         : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.

Syiah                     : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.

(jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).

17. Ahlussunnah         : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.

Syiah                     : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya.

(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).

18. Ahlussunnah         : Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.

Syiah                     : Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.

19. Ahlussunnah         : Shalat Dhuha disunnahkan.

Syiah                     : Shalat Dhuha tidak dibenarkan.

(padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).

Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).  Sengaja  kami  nukil  sedikit saja,  sebab apabila kami nukil

seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini.

Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).

Masihkah mereka akan dipertahankan sebaga Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya).

Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).

Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).

Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.

Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.

Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita.

Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin.

http://www.albayyinat.net/jwb5tc.html

Al-Imam Al-Mujaddid Al-‘Allamah Murtadha Al-Husayni Al-Zabidi: Istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” adalah bagi Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah

Al-Imam Al-Mujaddid Al-‘Allamah Murtadha Al-Husayni Al-Zabidi: Istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” adalah bagi Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,

Selawat dan Salam ke atas Rasulullah SAW, rahmat ke seluruh alam,

Juga kepada ahli keluarga dan para sahabat r.a. yang telah bertebaran di merata alam;

 


1. Dalam penulisan kali ini, penulis membawa sebuah tema yang baru bagi penulisan dalam Blog ini. Tema tersebut ialah “Mempertahankan Al-Asha’irah”. Ini adalah kerana penulis melihat beberapa penulisan yang diterbitkan oleh majalah-majalah tertentu telah mula menyerang ulama’ Al-Asha’irah dengan tuduhan-tuduhan yang sangat berat.

 


2. Sebagai contoh, sebuah artikel terbaru di dalam Majalah-i [Bil. 73, November 2008] dengan secara terang-terangan meletakkan ulama’ Al-Asha’irah (atau Al-Ash’ariyyah) sebagai salah satu “kelompok Ahli Bid’ah.” Lihat muka surat 19. [Penulis akan scan artikel tersebut kemudian].

 


3. Penulis tidaklah terkejut dengan tuduhan dan tohmahan yang sangat berat ini terhadap ulama’ Al-Asha’irah kerana dendam golongan bid’ah terhadap Al-Asha’irah memang telah lama diketahui. Namun, penulis begitu sedih apabila tuduhan seperti ini dimuatkan di dalam majalah-majalah yang menjadi bacaan masyarakat awam dan pihak yang bertanggungjawab tidak memantau hal ini dengan berhati-hati.

 


WAHAI JABATAN, MAJLIS AGAMA DAN PEGAWAI-PEGAWAI YANG BERKUASA!

 


INGATLAH JAWATAN-JAWATAN YANG ANTUM SEMUA PEGANG ITU MEMPUNYAI TANGGUNGJAWAB YANG SANGAT BESAR DAN AKAN DIHISAB DI HARI AKHIRAT KELAK!

 


DI MANAKAH ANTUM SEMUA SEWAKTU ULAMA’ ISLAM DIHINA OLEH GOLONGAN AHLI BID’AH?!!!

 


DI MANAKAH ANTUM SEMUA SEWAKTU AHLI BID’AH MENYEBARKAN FAHAMAN MEREKA DI TENGAH-TENGAH MASYARAKAT AWAM?!!!

 


4.Ulama’ Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah telah diberi tawfiq oleh Allah SWT untuk menghancurkan golongan-golongan ahli bid’ah seperti Muktazilah, Jahmiyyah, Jabariyyah, , Qadariyyah, Hashawiyyah/Mushabbihah/Mujassimah, dll apabila golongan ini mula timbul di akhir-akhir kurun ke-3 hijrah dan awal kurun ke-4 hijrah. Sesiapa yang mengkaji sejarah Islam pasti tidak dapat menolak hakikat ini dan para ulama Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah adalah penyelamat aqidah umat ini. Insya-Allah, satu masa nanti, penulis akan menghuraikan sejarah Ulama’ Al-Asha’irah dan al-Maturidiiyah secara terperinci.

 


5. Bagi menolak tuduhan yang sangat buruk ini, penulis membawa kata-kata al-Imam al-Mujaddid al-Allamah Murtadha al-Husayni al-Zabidi daripada kitabnya yang sangat masyhur: “Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin”. Kitab ini adalah syarahan bagi kitab “Ihya’ Ulumiddin” karya al-Imam al-Mujaddid al-Ghazali. Hadis-hadis di dalam kitab “Ihya’ Ulumiddin” telah ditakhrij oleh al-Imam al-Mujaddid al-Hafidh Nuruddin al-‘Iraqi.

 


Ketahuilah wahai pembaca sekalian:

 


KITAB IHYA’ ULUMIDDIN DITULIS OLEH SEORANG MUJADDID (IMAM AL-GHAZALI), DITAKHRIJ HADISNYA OLEH SEORANG MUJADDID (AL-HAFIDH NURUDDIN AL-‘IRAQI) DAN DISYARAH OLEH SEORANG MUJADDID JUA (AL-IMAM MURTADHA AL-ZABIDI). Maka berpeganglah dengan kitab-kitab ini.

 

Terjemahan (Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin):

 


Dan apabila disebutkan istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” secara mutlak/umum, maka golongan yang dimaksudkan ialah (ulama’) Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah.

 


Berkata Imam Al-Khayyali di dalam Hashiyahnya bagi (kitab) Syarh al-Aqa’id: Al-Asha’irah itu adalah Ahli Sunnah dan Jama’ah dan istilah ini masyhur di negeri-negeri Khurasan, Iraq, Sham dan di kebanyakan tempat.

 


Dan (manakala) di negara-negara Balkan (istilah Ahli Sunnah dan Jamaah) itu digunakan bagi Al-Maturidiyyah, para ulama’ yang mengikut manhaj Abu Mansur (al-Maturidi), dan di antara dua golongan ini perbezaan pendapat dalam beberapa perkara seperti isu al-Takwin dan lain-lainnya. (Selesai).”

 


Huraian:

 


6. Lihatlah betapa jelasnya bahawa istilah Ahli Sunnah dan Jama’ah itu adalah sebenarnya merujuk kepada ulama’ al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah. Perbezaan di kalangan al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah adalah bukan dalam perkara-perkara pokok. Insya-Allah, penulis akan memberi penerangan mengenai perkara-perkara perbezaan ini di masa akan datang.

 


7.Namun begitu, kita melihat golongan Wahabi (atau yang sering mendakwa diri mereka sebagai Salafi atau Muwahhidun atau Firqah Najiyah atau Gerakan Islah dan Tajdid) cuba “merompak” istilah ini untuk mereka dan mengelirukan orang awam bahawa istilah al-Asha’irah dan istilah Ahli Sunnah dan Jama’ah adalah bertentangan.

 


8. Kejahilan mengenai hakikat dan kedudukan ulama’ Al-Asha’irah ini bukan sahaja tidak diketahui kebanyakan masyarakat awam, bahkan para penuntut ilmu agama dan para ustaz juga masih ramai yang masih keliru di dalam isu ini.

 


9. Penulis sentiasa menasihati diri sendiri dan para pembaca agar sentiasa memohon petunjuk daripada Allah SWT dan berpeganglah dengan majoriti ulama’ dan di dalam bidang aqidah, majoriti ulama’ adalah al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah.

 


Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya (ulama’) umatku tidak akan bersepakat di dalam kesesatan.”

 


Wassalamu ‘ala man ittaba’a al-huda.

Dan sejahteralah ke atas mereka yang mengikut petunjuk (daripada Allah SWT).

http://al-ashairah.blogspot.com/

SHEIKH ABDUS-SAMAD AL-FALIMBANI: SESEORANG YANG MENUDUH TARIKAT AHLI SUFI (YANG MUKTABAR) SEBAGAI TERKELUAR DARI AL-QURAN DAN SUNNAH BOLEH JATUH KAFIR

SHEIKH ABDUS-SAMAD AL-FALIMBANI: SESEORANG YANG MENUDUH TARIKAT AHLI SUFI (YANG MUKTABAR) SEBAGAI TERKELUAR DARI AL-QURAN DAN SUNNAH BOLEH JATUH KAFIR

1. Di kalangan agamawan Islam dunia Melayu ini, nama al-Sheikh Abdus-Samad al-Falimbani memang tidak perlu diperkenalkan lagi. Karyanya yang terkenal lagi penuh barakah dan masih di ajar lagi kepada masyarakat umum pada hari ini ialah “Siyar al-Salikin.” “Siyar al-Salikin” adalah terjemahan bagi kitab “Lubab Ihya’ Ulumuddin” (“Intisari Ihya’ Ulumiddin”) oleh Imam al-Ghazali r.a. dengan beberapa tambahan yang sangat bermanfaat oleh al-Sheikh Abdus-Samad al-Falimbani.


Untuk mengetahui sejarah dan latar belakang al-Sheikh Abdus-Samad al-Falimbani, sila klik di sini.


2. Dan –alhamdulillah – Tuan Guru Sheikh Ahmad Fahmi Zamzam Al-Nadwi Al-Maliki, – di antara ulama’ Melayu masa kini yang mewarisi keilmuan ulama’ silam – telah pun menterjemahkan karya agung “Siyar al-Salikin” daripada bahasa Melayu klasik ke dalam bahasa Melayu moden yang mudah difahami. Semoga Allah membalas budi dan jasa baik beliau sebaik-baiknya.

Komen penulis: Rugilah sesiapa yang tidak pernah mengaji atau sekurang-kurangnya membaca buku ini.


3. Dalam perbincangan kali ini, penulis ingin menegur sikap golongan Wahhabi atau pro-Wahhabi yang seringkali memandang hina dan mengeji tarikat-tarikat Sufi tanpa membezakan tarikat yang muktabar dan tidak muktabar.


4. Secara umumnnya, kita melihat bahawa golongan Wahhabi sering mengkafirkan golongan Sufi dan tarikat tasawwuf. Dalam satu program TV di negara Arab, seorang tokoh besar pergerakan Wahhabi dalam perdebatannya dengan al-Sheikh Yusuf al-Rifa’e mengatakan bahawa “Barangsiapa tidak mengkafirkan mereka (golongan Sufi yang membicarakan ilmu makrifat Ketuhanan), maka mereka juga jatuh kafir.” Banyak lagi contoh yang boleh kami berikan di masa akan datang.


5. Bahkan, kawan penulis sendiri yang mempunyai latar belakang ilmu agama yang sangat lemah pernah menyebarkan artikel yang menyebut kononnya (Guru kepada guru-guru kami) al-Sheikh Abu Yazid al-Busthami berakidah Hulul dan Ittihad. Sesungguhnya orang yang seperti ini mendedahkan dirinya kepada akibat yang sangat buruk. Tidakkah dia mengetahui bahawa al-Sheikh Abu Yazid al-Busthami digelar sebagai “Sulthan al-Arifin” (Sultan Para Ulama’ Arifin)? Semoga Allah memberi kawan penulis itu hidayah dan semoga kita tidak mati dengan membawa sangkaan yang begitu buruk terhadap para ulama’.


6. Dalam ruangan ini, penulis ingin menukilkan terjemahan kata-kata al-Imam Abdul Wahhab al-Sha’rani oleh al-Sheikh Abdus-Samad al-Falimbani yang menyatakan bahawa (dengan bahasa moden):

Barangsiapa menyatakan bahawa Tarikat Ahli Sufi itu tidak bersumberkan al-Quran dan al-Sunnah, nescaya jatuh kafir.”


Teks asal:

Dan takuti olehmu bahawa engkau kata bahawasanya Tarikat Ahli Sufi itu tiada mendatang akan dia oleh kitab yakni Quran, dan tiada mendatangkan akan dia oleh Sunnah yakni Hadith Nabi SAW, maka barangsiapa mengata akan yang demikian itu, nescaya jadi kafir…


(Muka surat: 200, baris ke-11 dari bahawa, Jilid ke-3, Tatimmah: Fi Bayani Fadhilah al-Salikin wa Thariqah al-Sufiyyah).


Huraian


7. Banyak golongan Wahhabi atau pro-Wahhabi tidak menyedari bahawa perbuatan mereka memandang hina, mencaci maki, mengeji Tarikat-tarikat Sufi merupakan KESALAHAN BESAR yang boleh menjerumuskan mereka ke LEMBAH KEKUFURAN?


8. Kalau beginilah kedudukan golongan yang menuduh Tarikat Sufi (yang muktabar) dengan kepalsuan, bagaimanakah kedudukan tokoh Wahhabi yang menyatakan bahawa: “Barangsiapa tidak mengkafirkan mereka (golongan Sufi yang membicarakan ilmu makrifat Ketuhanan), maka mereka juga jatuh kafir” ??? [Kami berlindung dengan Allah].


9. Maka oleh itu wahai pembaca sekalian, andainya kita tidak benar-benar mengerti tentang sesuatu perkara khasnya mengenai Tarikat Sufi yang seringkali menjadi mangsa fitnah pada hari ini oleh golongan yang menggunakan nama agama, maka eloklah tuan-tuan mengambil sikap berhati-hati dan wara’. Semoga dengan adab yang baik itu, Allah SWT membukakan hidayah dan petunjuk-Nya kepada kita semua satu masa nanti.


Wassalam.

http://al-ashairah.blogspot.com/