Seruan Dari Para Habib (keturunan Nabi) : Tolak Ajaran Wahaby!

Panutan Saadah Bani ‘Alawi

Dalam menghadapi fitnah Wahabiyyah, jangan pula kita lupa bahawa puak Syiah juga tidak duduk diam untuk menyebarkan dakyah mereka kepada masyarakat kita yang sedari dahulu majoritinya Sunniyyun Syafi`iyyun. Syiah menyembunyikan kedok dakyah mereka dengan berbagai cara, nama dan samaran, antara yang paling lazim dilaungkan mereka ialah bahawa mereka adalah pengikut Mazhab Ahlul Bait. Benarkah dakwaan dan dakyah Syiah ini??????? Dakwaan dan dakyah ini sedikit sebanyak telah mempengaruhi segelintir umat, sehingga sempat bikin kecoh di beberapa tempat di Indonesia dan Malaysia. Sebagaimana dimaklumi bahawa bumi kita sebelah Nusantara ini telah diberkati Allah dengan keberadaan sejumlah besar anak cucu Junjungan Nabi kita s.a.w. dan umumnya di Malaysia dan Indonesia, mereka-mereka ini adalah daripada keturunan Imam Ahmad bin ‘Isa al-Muhajir yang terkenal dengan gelaran para Habaib dan Saadah Ba ‘Alawi. Di samping itu ada juga keturunan Junjungan s.a.w. menurut susur galur nasab yang mulia daripada Imam Hasan r.a., Imam ‘Aun r.a. dan Imam Musa al-Kazim.

Melihat ada kelompok Saadah yang berada di Malaysia dan Indonesia yang terpengaruh dan termakan dengan dakyah “Mazhab Ahlul Bait” puak Syiah, maka para ulama, pemuka, munshib dan sesepuh habaib yang berada Hadhramaut dan al-Haramain telah bertindak mengutus sepucuk surat kepada pihak Rabithah al-‘Alawiyyah dan segala keturunan Ba ‘Alawi di Indonesia dan Asia untuk menegaskan dan mengingatkan para ‘Alawiyyin di mana pun mereka berada agar berpegang teguh dengan ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama`ah dan tidak terpengaruh dengan dakyah-dakyah selainnya termasuklah yang bertopengkan Mazhab Ahlul Bait. Surat tersebut telah ditandatangani antara lain oleh:-

  1. Habib ‘Abdullah BinSyihaab, Anggota Majlis Ulama Tarim;
  2. Habib Saalim asy-Syaathiri, Mudir Ribath Tarim;
  3. Habib Zain BinSumaith, Pimpinan ribath di Madinah;
  4. Habib ‘Ali al-Masyhur BinHafidz, Ketua Majlis Fatwa Tarim;
  5. Habib Muhsin al-Muhdhaar, Pemuka Ba ‘Alawi Shan`a;
  6. Habib Hasan al-Haddad, Munshib Maqam Imam al-Haddad;
  7. Habib ‘Aidrus al-Kaaf, Mudir Kuliah Syariah al-Ahqaaf;
  8. Habib ‘Ali BinSyihaab, Anggota Majlis Ulama Tarim;
  9. Habib ‘Aidrus BinSumaith, Pemuka Ba ‘Alawi Tarim;
  10. Habib ‘Umar BinHafidz, Pimpinan Darul Musthofa Tarim;
  11. Habib Muhammad bin Muhsin bin ‘Ali al-Haamid;
  12. Habib Hasan bin Ahmad, Munshib Syaikh Abu Bakar;
  13. Habib Haamid Ba ‘Alawi, Imam Masjid Ba ‘Alawi Tarim;
  14. Habib Husain ‘Aidiid, Imam Masjid Mawlal ‘Aidiid Tarim;
  15. Habib Syaikh bin ‘Abdullah al-Habsyi;
  16. Habib Sholeh al-Haamid, Munshib al-Haamid;
  17. Habib ‘Abdur Rahman al-Habsyi, Munshib Maqam al-Habsyi;
  18. Habib Husain BalFaqih, Munsib BalFaqih;
  19. Habib Hasan BinSyihaab, Anggota Majlis Ulama Tarim;
  20. Habib Haamid BinSyihaab, Anggota Majlis Ulama Tarim;
  21. Habib ‘Abdullah al-‘Aththas, Munshib al-‘Aththas;
  22. Habib Muhammad al-‘Aidrus, Imam Masjid as-Saqqaf;
  23. Habib Muhammad as-Saqqaf, Imam Masjid ‘Ali as-Saqqaf;
  24. Habib Ahmad al-Habsyi, cucu Imam Ali al-Habsyi;
  25. Habib Haasyim al-Habsyi ar-Rausy, Ketua Ulama Hadhramaut & Munshib ar-Rausy.

Antara pesanan mereka buat sekalian muslimin, umumnya dan Alawiyyin, khususnya, ialah:-

Dan kami menegaskan kepada kalian berhubung urusan ar-Rabithah al-‘Alawiyyah agar tetap kukuh dan istiqamah atas segala kaedah, peraturan dan susunan yang telah disusun oleh para pengasas dan pengurusnya yang terdahulu yang berjalan atas thoriqah (perjalanan) Ahlus Sunnah wal Jama`ah, mengikut mazhab yang empat lagi Asyaa`irah serta bertasawwuf. Keluarga Abi ‘Alawi (Ba ‘Alawi) adalah satu bahagian yang tidak terpisah daripada golongan terbanyak umat ini (as-sawadul a’dhzam) iaitu Ahlus Sunnah wal Jama`ah. Mereka dalam i’tiqad kepercayaan berpegang kepada manhaj al-‘Asyaa`irah, dalam furu’ fiqh berpegang dengan mazhab Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi`i al-Mutholibi serta menjalani manhaj tasawwuf yang suci dan jauh dari segala bid`ah dan penyelewengan. Maka jaga-jaga jangan sampai mengubah sesuatu dari apa yang telah mereka asaskan atau menyimpang dari jalan dan kaedah mereka atau menggantikannya dengan manhaj selain manhaj mereka, walau bagaimana pun rupa bentuknya. Maka thoriqah (perjalanan) mereka adalah (sebagaimana dinyatakan oleh Imam al-Haddad):-

Untaian mata rantai mereka yang sanadnya
Kepada Junjungan Nabi terpuji lagi pemuji termulia
Thoriqah petunjuk yang telah diambilkan dia
Dari sir orang-orang mulia
Para khalifah orang-orang mulia sebelumnya

Ayah mengambil daripada ayahandanya
Dan demikianlah berlanjut keadaannya

Alangkah mulianya segala ayahanda
Serta anak keturunan mereka

Begitulah antara himbauan para Habaib kita agar kita sentiasa berjalan atas jalan para salaf yang terdahulu dari kalangan ulama dan pemuka Ba ‘Alawi. Awas jangan ada yang cuba menyimpang dari jalan yang ambilannya cukup terang dan nyata tersebut. Memandangkan silsilah dzahabiyyah para Saadah ini yang telah diambil oleh seorang anak daripada bapanya yang mengambil daripada bapanya sehingga ke para leluhurnya yang ke atas, maka Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata:-

من لا سلك طريق ابآئه تخيب وضع
ٍ
Sesiapa (dari kalangan Ba’Alawi) yang tidak menjalani perjalanan para leluhurnya, nescaya dia akan kecewa dan terhina.

Oleh itu, Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi turut melantunkan doa yang berbunyi:-

اللهم إني أبرأ إليك من كل عقيدة لا يعتقدها أسلافنا الصالحون
Allahumma inni abra-u ilaika min kulli ‘aqiidatin
laa ya’taqiduhaa aslaafunaash shoolihuun

Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepadaMu daripada segala ‘aqidah yang tidak dipegangi oleh para salaf kami yang sholeh.

اللهم آمين يا رب العالمين

http://bahrusshofa.blogspot.com/2007/06/panutan-saadah-bani-alawi.html

6 Responses

  1. Assalamu’alaikum,
    izinkan saya ingin bertanya mengapa para imam masjid dan lainnya jarang sekali mengumandangkan hadits2 yang berkaitan dengan keturunan Rasulallah saw. ini ? Kalau saya membaca website http://www.everyoneweb.com/tabarruk bab 11 mengenai kemuliaan keturunan Rasulallah saw., kita malah diwajibkan utk mengikuti jalan/thariqah ulama dari keturunan Rasulallah saw. Sedangkan yang sering dikumandangkan oleh para ulama yaitu hadits yang masih diperselisihkan kebenarannya yaitu Kitabullah wa sunnatii. Sedangkan hadits yang shohih dan banyak diriwayatkan oleh para sahabat Nabi saw. ialah Kitabullah wa ithrathy ahla baitii. Mohon bisa adanya penjelasan dari tuan.

  2. Rasul bersabda “mengapa masih ada orang-orang yang mengganggu diriku melalui nasabku dan kaum kerabatku?sesungguhnya barang siapa mengganggu nasabku dan kaum kerabatku berarti ia menggangguku,dan barang siapa yang menggangguku berarti ia mengganggu Allah Ta’ala”.hr.ashhabus-sunan,shahih. Nabi bersabda”tidaklah beriman seorang hamba Allah hingga ia mencintaiku sebelum mencintai AHLIL BAITKU”. (hr.ibnu majah,dari abbas ibnu abdul mutthalib)

    ”wahai sharifah,janganlah engkau melihat hanya menilai untuk dirimu dari kekhususan-kekhususan dan keutamaan keluarga keturunan rasulullah saw saja,tanpa menilai menghisab dirimu sampai sejauh mana engkau menjalankan syariat allah dan rasulnya”,,”barang siapa tidak berlaku baik terhadap keluargaku sepeninggalku,ia akan dipendekkan umurnya(tidak berkah),dan pada hari kiamat akan dihadapkan kepadaku mukanya hitam”hr.ad-dailami.

    .”Telah bersabda rasulullah saw ”fatimah adalah bagian dari diriku,apa yg membuatnya marah,membuatku marah dan apa yg melegakannya melegakanku.sesungguhnya semua nasab akan terputus pada hari kiamat,selain nasabku,sebabku dan menantuku” hr ahmad dan al hakim,shahih..

    Banyak sekali keutamaan ulama-ulama dr nasab nabi, seperti imam syafei. Satu-satunya ulama madzab dari keturunan nabi.

    Mengenal Habib

    Kata Habib secara bahasa merupakan wazan fa’il dengan makna muhibbun artinya orang yang mencintai, dan bisa juga mahbubun yang berarti orang yang dicintai. Di Indonesia, kata Habib ini digunakan untuk panggilan kepada itroturrasul saw atau anak cucu keturunan Rasulullah saw. Tersebut dalam Kitab Syarah ‘Uqudullujjain fi bayani huquqizzaujain, karya Syeikh Annawawiy AlBantani, sebagai berikut :

    Menurut istilah sebagian orang, bahwa anak cucu Rasulullah saw apabila laki-laki disebut Habib, dan jika wanita disebut Habbabah. Sedangkan istilah kebanyakan orang adalah Sayyid dan Sayyidah.

    Sudah barang tentu leluhur para Habaib datang ke berbagai penjuru dunia, termasuk juga ke Indonesia, adalah untuk nasyrud da’wah, menyiarkan dakwah. Hal tersebut dapat diketahui dari tarikh masuknya Islam ke berbagai negara di dunia ini, bukan hanya Indonesia. Habaib yang berada di Indonesia ini, terutama yang kami ketahui di Jabodetabek dan tanah jawa, tiap pribadi mereka mempunyai silsilah keturunan dari : Sayyidina Alfaqihul Muqaddam ra., dari Sayyidina Ahmad Almuhajir ra., dari Sayyidina Ja’far Asshadiq ra., dari Sayyidina Muhammad Al-Baqir ra., dari Sayyidina Ali Zainal ’Abidin ra., dari Sayyidinal Husain ra. dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallahu wajhahu dan Sayyidatina Fathimatuzzhra ra., dari junjungan kita Rasulullah saw.

    Dewasa ini, para Habaib di Indonesia sudah menjadi warga negara Republik Indonesia, karena mereka telah turun-temurun tinggal di tanah air. Dan mereka juga telah membaur dengan kebudayaan setempat. Karena demikian membaurnya, terkadang tidak jarang identitas mereka sebagai keturunan Rasulullah saw tidak dikenal khalayak umum lagi. Hal ini terjadi karena sifat tawadhu yang ada pada dzurriyaturrasul saw ini yang tidak mau menonjolkan dirinya dan tidak mau mencari ketenaran yang tidak diperlukan oleh agama.

    Selain kata Habib, ada istilah lainnya yang biasa digunakan untuk panggilan kepada anak cucu Rasulullah saw ini. Misalnya kata Sayyid, Sayyidah, Syarief, dan Syarifah. Bahkan ada panggilan keakraban yang ambil dari penggalan kata tersebut, seperti Ayip yang disingkat dari Syarief. Atau Ipah dari kata Syarifah. Atau di Tb dari Tubagus yang diambil dari kata Thoyyib yang berarti baik. Istilah Tb ini biasanya untuk anak cucu keturunan Sulthan Hasanuddin Banten yang juga merupakan keturunan Rasululllah saw.

    Alasan mencintai Habaib

    Untuk lebih mencintai para Habaib ini, mari kita menelaah firman Allah swt. dalam suratus Syuraa ayat 23, sebagai berikut :

    Katakanlah olehmu. Aku tidak minta upah kepadamu dalam menyampaikan risalah ini. Hanya kecintaan kepada kaum kerabatku.

    Keterangannya termaktub dalam Tafsirul Munir li ma’alimit tanzil, karya Syekh Nawawi Al bantani, juz ke Il halaman 269, sebagai berikut:

    Katakanlah olehmu : Aku tidak minta kepadamu upah karenanya, kecuali cinta terhadap para keluarga.
    Artinya . Katakanlah olehmu wahai semulia-mulia makhluk, kepada ahli Makkah Aku tidak minta kepadamu upah sekali-kali atas menyampaikan khabar gembira dan ancaman, tetapi minta kepadamu kecintaan yang menetap pada ahli kerabat. Dan menyintai keluarga Nabi Muhammad itu wajib. Telah berkata Imam Syafi’i ra. Wahai pengendara, berhentilah engkau di tempat melontar Jamroh di Mina. Dan teriakkanlah terhadap orang yang mendiami masjid Khaif dan yang bangkit daripadanya diwaktu dinihari bila melirnpah Jama’ah Haji ke Mina, laksana limpahan air tawar yang melimpah. Jika yang disebut haluan Rafidhi itu, cinta kepada keluarga Nabi Muhammad. Maka hendaklah jin dan manusia menyaksikan, sesungguhnya aku ini Rafidhi.
    Rafidhi adalah satu kelompok daripada Ash-habussyi’ah.

    Tersebut pula, dalam Taajuttafsir li kalaami MalikiI Kabir, karya Sayyid Muhammad Utsman Almirghani juz II

    Katakanlah terhadap mereka wahai Nabi yang Mulia. Aku tidak meminta kepadamu, (aku tidak menuntut kepadamu, karena menyampaikan risalah dan keikhlasanku sebagai petunjukku bagimu), akan upah (manfaat daripadamu) kecuali kecintaan (ada dibaca mawaddatan) pada para kerabat (Dan bahwasannya kamu sayangi dan cintai kerabatku karena aku). Dan tatkala turun ayat ini, Beliau ditanya orang : “Ya Rasulullah, siapakah kerabat Tuanku?” Beliau menjawab :”Ali, Fathimah dan anak keduanya.”

    Ahlu bait mempunyai keutamaan, di mana selayaknya kita memuliakan mereka. Yang dikehendaki ahli bait di sini adalah mereka yang diharamkan menerima shadaqah wajib. Dan mereka itu menurut Imam kita Syafi’i ra. adalah orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dari Bani Hasyim dan Bani Muththalib.

    Perhatikanlah firman Allah swt pada suratul Ahzaab ayat 33, sebagai berikut:

    Hanyasanya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu wahai ahli bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

    Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. dari Abi Bakr Ash-shiddiq ra. yang mauquf atasnya:

    Indahkanlah Nabi Muhammad saw dalam ahli rumahnya. (HR. Albukhari).

    Menurut An Nawawi dalam Riyadlush shalihin :

    Makna Indahkanlah adalah peliharalah, hormatilah, dan muliakanlah dia.

    Mengenai apakah Habib itu diharamkan masuk neraka, dan pasti masuk surga adalah suatu hal yang amat wajar. Menurut apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:

    Karena sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan Laailaha illallah, yang dikehendakinya dengan kata-kata itu adalah ridhanya Allah swt.

    Seorang Habib, adalah anggota keluarga Rasulullah saw. yang patuh dan mengikuti perilaku Rasulullah saw. Menjalankan perintah, menjauhi larangan, melazimkan sunnah, memberikan contoh-contoh yang baik sesuai dengan agama Allah, ikhlas, zuhud, wara’ dan Tawakkal, sesuai dengan janji Allah bahwa mereka inilah penghuni-penghuni surga dan jauh dari api neraka. Seorang yang dianggap keluarga Rasulullah saw. adalah mereka yang Taqwa. Terbukti Abu Lahab, karena dia tidak beriman, penghalang besar atas perjuangan Rasulullah saw, walaupun paman beliau sendiri, tetapi bukanlah keluarga dan bukanlah Habib.

    Perhatikanlah firman Allah swt. dalam Surat Hud ayat 45 – 46, sebagai berikut :

    Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata :”Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah yang paling adil di antara semua Hakim”. Allah berfirman : “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya merupakan perbuatan yang tidak baik.”

    Wallahu a’lam
    (Dikutip dari tiga sumber)

  3. Terima kasih email jawaban tuan, saya memang sudah membaca hadits2, wejangan2 para ulama mengenai kemuliaan keturunan Nabi saw. dari website http://www.everyoneweb.com/tabarruk yang mana disitu cukup jelas dan banyak dalil2 ttg.hal. itu. Tetapi pertanyaan saya masih belum terjawab yaitu mengapa kebanyakan para ulama jarang mengumandangkan hadits tsaqalain ?
    mohon penjelasannya.

  4. Assalamuálaikum,
    Maaf pertanyaan saya pada tgl.5/11/08 yaitu mengapa para imam jarang sekali mengumandangkan hadits tsaqalain, kitabullah wa ithrati ahla baitii, itu kok nggak ada ya? Mengenai kemuliaan ahlu bait itu saya telah baca pada website2. , tetapi selama ini masih ada di benak pikiranku mengapa kok tidak dikumandangkan oleh para imam? Yang dikumandangkan hanya kitabullah wa sunnati. Padahal itu kan wasiat Rasulallah saw.? mohon penjelasannya, ya?

  5. dalam hadits “ikulah kitabullah dan sunahku dan sunnah khafaurrasyidin mahdiyyin….”

    hadits tsb shohih hanya kaum syiah yang mempermasalahkannya untuk kepentingan mereka………..

    hadits ini maknanya lebih luas…..termasuk didalamnya mencintai dan mengikuti ahlubait….(karena mencintai ahlubait termasuk sunnah nabi)

    wallahu a’lam

  6. ahsan kembali dan bertaubat kepada Allah…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: