Pengamalan Tharekat 3 : Qanaah

3.2.3 Qana’ah

Kana’ah menurut arti bahasa adalah merasa cukup. Abu Zakaria Anshari mengatakan kana’ah adalah perasaan seseorang bahwa dia telah merasa cukup dengan apa yang dia miliki, yang sudah dapat memenuhi kebutuhan hidupnya baik berupa makanan, pakaian maupun lainnya. Menurut Athaillah, Kana’ah ialah terhentinya keinginan seseorang terhadap apa yang sudah diberikan kepadanya dan tidak ada lagi keinginannya untuk menambah apa yang sudah ada.
Kana’ah adalah salah satu sikap sufi yang merupakan sebagian dari sikap hidup zuhud. Kana’ah merupakan permulaan makam ridla, sedangkan wara’ yaitu patuh dan taat kepada Allah SWT adalah permulaan makam zuhud. Sikap kana’ah adalah sikap yang dituntut dari para sufi, karena kana’ah dapat menjauhkan diri dari ajakan hawa nafsu yang mengandung tipu daya kehidupan duniawi, yang membuat seseorang lupa dan lalai kepada Allah dan kepada kewajibannya sebagai hamba Allah untuk beribadat menuju kehidupan di akhirat yang kekal.
Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : “Kana’ah adalah perbendaharaan yang tidak akan musnah”.

Perbendaharaan di sini maksudnya adalah suatu barang atau benda yang sangat berharga, amat bermanfaat dan memberi arti yang amat besar bagi orang yang memilikinya. Nilai sikap kana’ah yang berbentuk perbendaharaan ini dapat mengendalikan hawa nafsu seseorang, sehingga tidak melampaui batas-batas norma syariat.
Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Jadilah kamu seorang yang wara’, karena dengan itu kamu akan menjadi orang yang banyak beribadat, dan jadilah kamu orang yang bersikap kana’ah, karena dengan demikian kamu akan menjadi orang yang banyak bersyukur terhadap sesama manusia, cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, karena dengan itu kamu akan menjadi orang yang benar-benar beriman, berbuat baiklah kepada tetangga karena dengan itu kamu akan menjadi seorang muslim. Dan janganlah banyak tertawa, sebab banyak tertawa itu mematikan cahaya hati nurani (H.R. Al Baihaki dari Abu Hurairah).

Dalam hadis ini dinyatakan bahwa orang yang wara’ menjadikan yang bersangkutan gemar beribadat kepada Allah, dan tidak menghabiskan waktu dan umurnya terbuang percuma. Orang yang wara’, berusaha sepenuhnya untuk menjauhkan semua bentuk yang dapat merusak iman dan ibadatnya. Sikap wara’ ini menumbuhkan sikap kana’ah.
Orang yang mampu menempatkan dirinya ke derajat kana’ah, adalah orang yang mempunyai daya aqliyah, yang menyatukan daya pikir yang kuat, dengan iman yang kuat pula. Perpaduan antara akal pikiran dan iman ini akan membuahkan amal yang baik, yang akan berdampak positip bagi dirinya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Abu Bakar Al Maraghi mengatakan,”Orang yang berakal cerdas adalah orang yang mengatur urusan dunianya dengan kana’ah dan tidak tergesa-gesa, dan mengatur urusan akhiratnya dengan keinginan yang kuat dan bersungguh-sungguh, dan mengatur urusan agamanya dengan ilmu pengetahuan dan mujahadah”.
Dengan demikian terlihat bahwa kana’ah itu juga berarti kemampuan seseorang untuk mengatur urusan dunianya dan urusan-urusan agamanya. Ini berarti bahwa kana’ah adalah adanya rasa ketenangan dan kelapangan bagi jiwa seseorang terhadap rezeki yang telah diberikan Allah SWT kepadanya, dan dia merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, serta tidak mempunyai keinginan yang berlebihan terhadap sesuatu yang tidak mampu diperolehnya. Dengan kata lain kana’ah itu adalah mencukupkan apa yang telah dipunyainya, dan dia menyadari bahwa apa yang dimilikinya itu merupakan karunia Allah SWT yang harus disyukuri. Lawan dari kana’ah dalam artian ini adalah sikap loba dan tamak yang harus dijauhi dan dihindari, karena sikap loba dan tamak ini pada akhirnya akan membinasakan yang bersangkutan dan akan menjauhkannya dari Allah SWT.
Al Qusyayri menjelaskan dalam bukunya beberapa ayat-ayat Al Qur’an yang ditafsirkan dengan kana’ah. Ayat-ayat itu antara lain :
Firman Allah SWT,
Artinya : “Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik” (Q.S. Al Hajj 22 : 58).
Ditafsirkan bahwa “rizkan hasanan” rezeki yang baik adalah kana’ah.
Firman Allah SWT,

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan”. Naim artinya kana’ah di dunia, syurga di akhirat.

Firman All SWT,

Artinya : “Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka jahim” (Q.S. Al Infithar 82 : 13 – 14). Jahim berarti orang yang loba dan tamak di dunia dan masuk neraka di akhirat.

Firman Allah SWT,

Artinya : “Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras.” (Q.S. An Naml 27 : 21). Azab yang keras itu menanggalkan darinya sifat kana’ah dan memberinya cobaan dengan sifat tamak. (Al Qusyayri : 159 – 162).

Berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an, Hadis Rasulullah dan Qaulul ‘Arifin tersebut di atas, dapat disimpulkan betapa pentingnya tuntutan supaya bersikap kana’ah bagi sufi untuk berhasil dalam riyadah dan mujahadahnya, mensucikan diri rohani untuk bertaqarrub ke hadirat Allah SWT.
Karena itu para sufi mengajarkan lima prinsip pembinaan tasawuf, yaitu : (1) Merasa mulia jika dalam ketaatan, (2) Merasa hina jika dalam kemaksiatan, (3) Haibah (wibawa) dalam melakukan shalat di malam hari, (4) Hikmah di waktu perut sedang kosong, dan (5) Merasa kaya dalam sikap kana’ah. Semua prinsip dasar ini merupakan perwujudan sikap kana’ah dalam diri seorang muslim untuk mencapai keridlaan Allah SWT (Ensiklopedi Islam 1994, 3 : 10).


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: