Ihsan

1.6 Ihsan

Ihsan berarti baik atau berbuat baik. Menurut istilah, ihsan adalah keadaan seseorang dalam beribadat kepada Allah SWT seakan-akan dia melihat Allah dengan mata hatinya. Jika tidak bisa melihat-Nya, maka dia yakin bahwa sesungguhnya Allah SWT senantiasa melihat kepadanya. Dengan kata lain, ihsan berarti suasana hati dan perilaku seseorang untuk senantiasa merasa dekat dengan Allah, sehingga tindakannya, perilakunya, sesuai dengan aturan dan hukum Allah SWT.
Syekh Sulaiman Zuhdi dalam risalah “Majmu’atul Khalidiyah an- Naqsyabandiyah” pada waktu menafsirkan firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat Ihsan (kebaikan) (Q.S. An Nahl :90).
Beliau menyampaikan bahwa penafsiran Ihsan yang benar dan tepat adalah seperti sabda Rasulullah SAW, “Apabila kamu menyembah (beribadat kepada Allah) seakan-akan engkau melihat- Nya, maka apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia Allah melihat kamu (H.R. Bukhari).
Beliau mengatakan pengertian Ihsan menurut Hadis ini adalah hadirnya Allah dalam hati sanubari pada waktu beribadat kepada-Nya, sehingga dengan demikian ibadat  itu bersambung dan sampai kepada-Nya ketika itu juga. Kehadiran ini tidak mungkin tercapai kecuali terpenuhi dua syarat, yaitu : (1) bersihnya hati nurani kita dari dosa dan noda, dan (2) ikhlasnya ibadat kita hanya semata-mata kepada Allah. Kesucian dan keihlasan ini juga tidak mungkin tercapai, kecuali beribadat dengan metodologi tarikatullah yang maha tinggi. Oleh sebab itu kata beliau selanjutnya, kewajiban pertama seseorang setelah beriman adalah memasuki dan mengamalkan tarikatullah yang tinggi, baik laki-laki maupun perempuan. Menurut beliau pendapat ini adalah pendapat sebagian besar para ulama berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul. (Sulaiman Zuhdi 1288 H : 7 – 8).
Ihsan dijadikan sebagai motto oleh para sufi dalam menempuh kehidupan tasawufnya. Tasawuf bertujuan untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Tuhan melalui akidah (keimanan), pengamalan syariat Islam, dan akhlak. Akhlak inilah yang menjadi prinsip utama Ihsan. Seorang sufi setelah melalui makam-makam seperti tobat, zuhud, fakir, sabar, tawakal, ridla, mahabah, dan makrifat, dapat melihat Tuhan dengan mata hati (sirr) yang terdapat dalam roh atau kalbu. Karena itu untuk memperoleh Ihsan, sebagaimana digambarkan dalam Hadis Rasulullah SAW, diperlukan usaha yang berat lagi tidak mudah. Namun pada dasarnya manusia dengan roh, kalbu atau sirr-nya dapat dekat sekali dengan Tuhan, karena Tuhan Yang Maha Suci hanya bisa didekati oleh roh, kalbu atau sirr yang suci.
Abdul Karim al-Jili (tokoh tasawuf) memasukkan ihsan sebagai salah satu station (makam) yang harus dilalui oleh calon sufi dalam mencapai derajat insan kamil(manusia yang sempurna). Setelah sampai pada derajat tersebut, calon sufi menempuh taraqi (jalan naik) untuk memperoleh nur Muhammad dengan melalui tiga tahap yaitu bidayah(permulaan), tawassut (pertengahan), dan khitam(terakhir). (Ensiklopedi Islam 1994, 2 : 179).
Masalah ihsan ini telah dijelaskan pula pada Bagian”Tiga Pilar Utama Agama Islam”. Ihsan itu artinya kita beribadat kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah berada di hadapan kita, atau kita merasakan dan mengi’tikadkan bahwa Allah selalu melihat dan memperhatikan kita. Ihsan sebagai salah satu pilar agama Islam, sasarannya adalah batin ruhaniyah. Batin ruhaniah seseorang yang beribadat harus bersih agar dapat membuahkan ubudiah yang ikhlas dan akhlak yang mulia. Ilmu yang membahas tentang itu adalah Ilmu Tasawuf dan tarikat.
Termasuk dalam kajian tasawuf adalah segala usaha dan ikhtiar untuk berakhlakul karimah, beribadat yang khusuk, dengan cara mujahadah terus menerus dengan cara atau metode tertentu, sehingga diri rohani kita menjadi besih, dapat dekat kepada Allah SWT, guna memperoleh ridla dan Nur Uluhiyah-Nya.
Dengan demikian ihsan itu merupakan suatu maqam, di mana seseorang melaksanakan syariat yang dijiwai dengan hakikat syariat itu sendiri, sehingga dia memperoleh ma’rifah terhadap Allah SWT. Pada bagian lain, pakar tasawuf mengatakan ihsan itu adalah ajaran muraqabah, tahalli dan tajalli.
Ada 11 (sebelas) tempat Allah menyebutkan kata ihsan dalam Al Qur’an dengan berbagai konteks dan 40 (empat puluh) tempat menggunakan kata itu sebagai pelaku Ihsan, yaitu muhsin.
Firman Allah SWT dalam surat An Nahl 16 : 90:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebaikan.”
Saidi Syekh Sulaiman Zuhdi seorang tokoh sufi dari kalangan Tarikat Naqsyabandiyah, menafsirkan ayat ini dalam konteks hadis Jibril riwayat Bukhari Muslim tersebut di atas tadi, bahwa pelaksanaan Ihsan wajib hadir Allah SWT secara maknawi pada waktu kita melaksanakan ibadat. Hadirnya Allah dalam hati sanubari pada waktu seseorang beribadat tidak mungkin, kecuali terpenuhi 2 (dua) syarat, yaitu, sucinya hati nurani dan ikhlasnya seseorang yang beribadat itu. Suci dan ikhlas itu tidak mungkin dicapai, kecuali melalui metode atau cara tertentu, yaitu tasawuf dengan metode tarikat yang agung. Oleh sebab itu menurut sebagian besar pendapat ulama, bahwa bertarikat merupakan kewajiban pertama setelah seseorang beriman, baik laki-laki maupun perempuan. Pendapat ini dikuatkan oleh beberapa hadis sahih, termasuk beberapa hadis Qudsi yang dijelaskan panjang lebar dalam risalah beliau. (Sulaiman Zuhdi : 7 – 8).
Ihsan yang pelaksanaannya melalui tasawuf dan metode tarikatullah dijadikan sebagai moto utama oleh para sufi. Tasawuf bertujuan untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah melalui akidah (keimanan), pengamalan syariat Islam, dan akhlak. Abdul Karim al-Jili tokoh sufi memasukkan Ihsan sebagai salah satu ahwal atau maqam yang harus dilalui oleh sufi untuk mencapai derajat insan kamil.
Dalam buku-buku tasawuf disebutkan bahwa tasawuf itu adalah ilmu batin, ilmu rohani yang berpusat pada hati nurani. Ilmu Fikih adalah ilmu zahir, ilmu yang membahas tentang masalah syariat dan rukun ibadat, sah dan batalnya ibadat, masalah kemasyarakatan dan lain-lain yang dikelola oleh akal, yang berpusat pada otak. Sering juga dikatakan bahwa Ilmu Tasawuf itu Ilmu Hakikat, sedangkan Ilmu Fikih itu dinamakan Ilmu Syariat. Melaksanakan suatu ibadat yang berbentuk syariat yang dijiwai dengan hakikat, itulah ibadat yang dapat menimbulkan ibadat yang ikhlas dan khusuk, sebab bersatu padanya syariat dan hakikat, dan bersatu pula padanya olahan otak dan hati.
Ketiga pilar tersebut tidak boleh dilaksanakan sendiri-sendiri, tapi harus dilaksanakan terpadu secara utuh dan bulat, sebab ketiga pilar itulah yang membuat menyatu menjadi agama Islam. Dengan penjelasan ini, jelas bahwa tasawuf itu adalah bagian dari agama Islam, tidak di luar Islam, bukan pula bid’ah, syirik dan sebagainya.
Setelah Rukun Iman dan Rukun Islam itu terlaksana dengan baik, maka dia dilengkapi dan disempurnakan dengan amal-amal kebaikan yang lahiriah, yang kita namakan Ihsan. Ihsan di sini dalam artian lahiriah melaksanakan amal-amal sunnah, seperti shalat-shalat sunat, puasa sunat, infaq, sadakah sunat, saling membantu dan berbuat kebaikan sesama umat. Ihsan dalam bentuk lahiriah ini, manakala dilandasi dan dijiwai dalam bentuk rohaniah batin, akan menumbuhkan keikhlasan. Beramal Ihsan yang ikhlas membuahkan takwa yang merupakan buah tertinggi dari segala amal ibadat kita.
Adapun hubungan antara iman dan Islam itu laksana hubungan akar dengan batang pada suatu pohon. Pohon tidak akan berbuah kalau tidak ada akar, pohon tidak akan tumbuh kalau tidak ada akar. Adanya akar yang kuat dengan pohon yang subur itulah yang mendatangkan buah. Apa artinya Rukun Iman, tanpa pelaksanaan Rukun Islam. Apa artinya pelaksanaan Rukun Islam, tanpa dilandasi Rukun Iman. Kedua-duanya tidak akan menghasilkan buah. Dengan jelas dan gamblang Allah SWT mengisyaratkan hubungan keduanya ini dalam firman-Nya Q.S. Ibrahim 14 : 24-25,

Artinya : Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. (Q.S. Ibrahim 14 : 24-25).

Dalam kajian tasawuf yang menghubungkan Rukun Iman dengan Rukun Islam adalah Ihsan. Pelaksanaan rukun Islam harus dengan Ihsan yaitu dirasakan hadirnya Allah SWT pada waktu beribadat sehingga ibadat tersebut menjadi khusuk. Ibadat dengan Ihsan itu akan berbekas dan berbuah. Demikian pulalah yang menghubungkan akar dengan batang dan sebaliknya, batang dengan akar dalam suatu pohon. Serapan dari akar didistribusikan kepada batang. Sebaliknya, serapan batang yang terdiri dari dahan, ranting dan daun akan didistribusikan pula kepada akar. Pohon tidak akan tumbuh dan subur tanpa adanya serapan itu.
Prof.Dr.H.S.S. Kadirun Yahya menyampaikan, bahwa kita jangan hanya pandai bercerita tentang Maqam Ihsan, di mana memang benar, pada maqam ihsan itu, tidak ada doa yang ditolak Allah SWT. Yang paling utama adalah, bagaimana cara menguasai pelaksanaan teknisnya, agar sampai mencapai maqam ihsan itu, di mana Allah SWT tidak akan menolak tiap-tiap doa dari hambaNya yang khalis mukhlisin, yang dikasihi, yang di dalam dadanya bersinar Nuurun ala Nurin, barulah Allah SWT tergugah dan menurunkan Rahmat dan kurniaNya.
Kita harus paham bahwa Maqam Ihsan adalah pada sisi Allah SWT di tempat yang jauh letaknya, di Arasy yang tak terhingga jauhnya, mau tak mau harus ada yang membawa rohani kita ke situ yang mempunyai kapasitas yang tak terhingga pula, itulah dia Nuurun ala Nurin yang semestinya kita warisi dari Ruhani Rasulullah SWT.
Semua itu termaktub dalam bidang Tasauf dan Sufi, yang hanya dapat diuraikan dengan hukum-hukum teknologi modern, berdampingan dengan Al Qur’an dan Al Hadits.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: