Amalan Tharekat 4 : Zuhud

3.2.4 Zuhud

Zuhud menurut arti bahasa adalah tidak ingin kepada sesuatu, lalu meninggalkannya. Menurut istilah tasawuf berarti berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi, dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akhirati, yaitu dekat kepada Allah SWT dengan mendapat ridla-Nya.
Kedudukan zuhud dalam tasawuf adalah salah satu makam (tingkatan) yang harus ditempuh oleh seorang sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Maqam zuhud merupakan maqam pertama dalam rangka menempuh beberapa makam selanjutnya. Zuhud dipandang sebagai landasan utama bagi seorang sufi dalam perjalanan spiritualnya mendekati atau bertaqarrub ke hadirat Allah SWT.
Al Qusyayri mengawali penjelasannya tentang zuhud dengan mengemukakan sebuah hadis.
Sabda Rasulullah SAW,
Artinya : Apabila kamu sekalian melihat seseorang yang telah dianugerahi zuhud berkenaan dengan dunia dan ucapan, maka dekatilah dia, karena sesungguhnya orang itu telah dialiri oleh kebijaksanaan. (H.R. Abu Khallad).
Al Qusyayri mengatakan ada dua versi pendapat tentang zuhud. Versi pertama mengatakan, ” Zuhud adalah masalah-masalah yang berkenaan dengan hal-hal yang haram saja, sebab masalah-masalah yang halal dibolehkan oleh Allah SWT. “Versi ini berpendapat, apabila Allah SWT memberikan karunia berupa harta yang halal kepada hambanya, kemudian dia bersyukur dan tidak berniat dan tidak loba untuk memilikinya, maka itu adalah baik dan benar menurut syariat.” Versi kedua mengatakan, “Bahwa zuhud terhadap hal-hal yang haram merupakan suatu kewajiban dan zuhud terhadap hal-hal yang halal, adalah suatu kebaikan utama.” Versi ini mengatakan, apabila seseorang berzuhud miskin, tetapi sabar terhadap keadaan miskinnya itu, serta berpuas diri dan bersyukur terhadap apa saja yang diberikan Allah SWT kepadanya, adalah lebih baik dari seorang yang hanya berusaha untuk menumpuk kekayaan dunia, tapi tidak sabar dan tidak mensyukurinya.
Firman Allah SWT,

Artinya : Katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sebentar, dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun (Q.S. An Nisa’ 4 : 77) (Al Qusyayri : 115).

Dari hadis dan ayat serta pendapat kedua versi tentang zuhud di atas, betapa utamanya dan mulianya sikap zuhud yang menjadi salah satu makam orang sufi.
Apabila diteliti dan menelusuri definisi atau pun pendapat-pendapat para sufi tentang tasawuf, maka akan kita jumpai definisi atau pendapat itu amat banyak dan bervariasi. Dari definisi- definisi dan pendapat-pendapat itu dapat kita simpulkan bahwa tekanan utama zuhud adalah mengurangi keinginan terhadap duniawi. Kehidupan duniawi adalah bersifat sementara, sedangkan kehidupan ukhrawi adalah kekal. Kehidupan duniawi penuh dengan permainan dan senda gurau, yang dapat menyilaukan pandangan dan melalaikan tugas hidup sebagai hamba Allah, sedangkan Allah menjadikan manusia hanya untuk beribadat kepada-Nya. Oleh sebab itu janganlah kita rela diperbudak oleh dunia dengan segala permainan dan kemegahannya itu.
Firman Allah SWT,
Artinya : Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. (Q.S. Al Hadid 57 : 20).
Untuk lebih mendapatkan gambaran tentang pengertian dan maksud zuhud, kita ikuti pendapat para sufi berikut ini.
1). Abu Nasr As-Sarraj at-Tusi membagi makam zuhud kepada tiga tingkatan :
a. Tingkat mubtadi’ (tingkat pemula), yakni orang yang tidak memiliki sesuatu dan hatinya pun tidak ingin memilikinya.
b. Tingkat mutahaqqiq (tingkat orang yang mengenal hakikat zuhud), yakni orang yang bersikap tidak mau mengambil keuntungan pribadi dari harta duniawi, karena ia tahu dunia ini tidak mendatangkan keuntungan baginya.
c. Tingkat ‘alim muyaqqin, yaitu orang yang tidak lagi memandang dunia ini mempunyai nilai. Bagi kelompok ini dunia hanyalah sesuatu yang melalaikan orang dari mengingat Allah SWT.
2). Al Ghazali membagi makam zuhud atas tiga bagian :
a. Meninggalkan sesuatu karena menginginkan sesuatu yang lebih baik daripadanya.
b. Meninggalkan keduniaan karena mengharap sesuatu yang bersifat keakhiratan.
c. Meninggalkan segala sesuatu selain Allah SWT, karena mencintai-Nya.
3). Sofyan Ats Tsauri mengatakan,

Artinya : “Zuhud terhadap dunia adalah mengurangi keinginan untuk memperoleh dunia, bukan memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar.”

4). As Sari As Saqati mengatakan

Artinya : Sesungguhnya Allah ta’ala menjauhkan dunia dari para wali-Nya dan dari makhluk- Nya yang berhati suci serta dari hati para kekasih yang dicintai-Nya, oleh sebab Allah SWT tidak meperuntukkan dunia itu bagi mereka.

5). Ahmad bin Hambal membagi zuhud atas tiga tingkatan orang

Artinya : pertama, zuhud orang awam yaitu meninggalkan hal-hal yang haram. Kedua, zuhud orang khusus (terpilih) yaitu menjauhi berlebih-lebihan dalam hal-hal yang halal. Ketiga, zuhud orang ‘arif yaitu menjauhi apa saja yang mengalihkan kesibukan hamba dari Allah SWT.

6). Al Fudzail bin Ziyad mengatakan,

Artinya : Allah SWT menempatkan seluruh kejahatan dalam satu rumah dan menjadikan kecintaan kepada dunia sebagai kuncinya. Allah juga menempatkan seluruh kebaikan dalam satu rumah yang lain dan menjadikan zuhud sebagai kuncinya. (Al Qusyayri : 117 – 119).

Dari pandangan-pandangan dan pendapat-pendapat para sufi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa duniawiyah dengan segala kemegahannya itu janganlah menjadi sebab, janganlah menjadi halangan atau rintangan bagi seseorang untuk bertaqarrub kepada Allah SWT. Bagi orang-orang sufi, nilai duniawiyah adalah nisbi, sedangkan nilai mendapat ridla dan dekat kepada Allah SWT adalah nilai hakiki. Diingatkan, kita tidak boleh terlena oleh tipu daya nilai nisbi itu dengan mengabaikan nilai hakiki.
Dari pengertian dan uraian tersebut di atas, timbul pertanyaan mendasar, dapatkah manusia itu memisahkan dirinya sama sekali dari harta dan segala bentuk kesenangan duniawi ?, sementara melihat kenyataan sejarah bahwa sebagian sahabat-sahabat Rasulullah SAW adalah orang-orang kaya. Abu Bakar Siddiq, Usman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf adalah sebagian dari sahabat-sahabat utama Rasul yang kaya. Nabi Sulaiman adalah seorang Nabi dan Rasul yang mempunyai kerajaan dan kaya raya. Demikian juga sebagian para wali Allah SWT seperti Saidi Syekh Abul Hasan Asy Syazili, Ibnu Athaillah as-Sakandari, Imam Syamsudin ad-Dirawati Dimyati, Saidi Syekh Prof.Dr.H.SS. Kadirun Yahya adalah termasuk para sufi yang dianugerahi kekayaan yang cukup banyak pada masanya masing-masing. Walaupun demikian, para sahabat, Nabi dan wali-wali Allah itu tetap hidup sebagai zuhud dan hidup sebagai fakir indallah tapi ghani indannas. Mereka tidak terpengaruh oleh kekayaan itu dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT, bahkan kekayaannya itu dijadikan sebagai sarana utama untuk lebih meningkatkan kuantitas dan kualitas ubudiyah mereka. Kami berpendapat bahwa pengertian dan maksud zuhud bukanlah semata-mata tidak mau memiliki harta dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi, tetapi hakikat zuhud yang sebenarnya adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT.
Pandangan terhadap zuhud dalam hubungannya dengan mencari rezeki telah diuraikan pada Bab III tentang : Tasawuf Dan Mencari Rezeki. Demikian juga pada bagian laian tentang Sebab Tumbuhnya Tasawuf dan Zuhud.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: