Amalan 5 : Tawakal / at-tawakkal

3.2.5 Tawakal

Tawakal diambil dari bahasa Arab “at tawakkal” yang berarti menyerahkan, mempercayakan, atau mewakili urusan kepada orang lain. Menurut istilah, tawakal adalah menyerahkan segala perkara, ikhtiar dan usaha yang dilakukan, kepada Allah SWT serta berserah diri sepenuhnya kepada-Nya guna mendapatkan manfaat atau menolak mudharat.
Al Qusyayri menjelaskan bahwa tawakal tempatnya dalam hati, dan pekerjaan batin. Perbuatan lahiriah yang berbentuk usaha dan ikhtiar tidaklah menanggalkan tawakal seseorang yang ada dalam hatinya, manakala seseorang hamba telah yakin bahwa takdir itu datangnya dari Allah SWT. Karena itu jika usahanya tidak tercapai maka dia melihat begitulah ketentuan takdir yang berlaku padanya, dan jikalau dia berhasil itu adalah takdir, yang berbentuk rahmat pertolongan dari Allah SWT. Dikatakan bahwa tawakal itu merupakan pekerjaan hati manusia dan merupakan puncak tertinggi keimanan seseorang. Sifat ini akan datang dengan sendirinya manakala Iman seseorang sudah kuat dan matang.
Imam Al Ghazali menilai bahwa pendapat yang mengatakan tawakal adalah meninggalkan usaha- usaha badaniah dan tadbir (memutuskan) dengan hati merupakan pendapat yang tak paham agama. Hal tersebut haram di dalam syariat. Syariat memuji orang yang bertawakal yang disertai dengan usaha. Karena itu Hujjatul Islam tersebut menjelaskan bahwa amal orang-orang yang bertawakkal terbagi empat bagian : (1) Berusaha memperoleh sesuatu yang dapat memberi manfaat kepadanya, (2) Berusaha memelihara sesuatu yang dimilikinya dari hal-hal yang bermanfaat itu, (3) Berusaha menolak dan menghindarkan diri dari hal-hal yang akan menimbulkan mudharat (bencana), dan (4) Berusaha menghilangkan mudharat yang menimpa dirinya (Ensiklopedi Islam 1994, 5 : 97).
Pendapat Imam Al Ghazali ini sesuai dengan hadis riwayat Tarmizi

Artinya : Diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dengan mengendarai unta, dan dia bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah saya membiarkan saja unta saya ini lepas tanpa diikat sebab saya bertawakkal kepada Allah?”. Rasulullah menjawab, “Ikatlah untamu terlebih dahulu, kemudian barulah engkau bertawakkal.” (H.R. Tarmizi).

Orang yang bertawakkal karena berserah diri sepenuhnya kepada Allah, maka Allah pun menjamin segala sesuatu tentang orang tersebut setelah dia berusaha dan berikhtiar.
Firman Allah SWT,

Artinya : Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. (Q.S. At Thalaq 65 : 3).

Firman Allah SWT,
Artinya : Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu ? Hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal. (Q.S. Ali Imran 3 : 160).
Firman Allah SWT,

Artinya : Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Q.S. Al Maidah 5 : 23).

Dasar utama orang yang bertawakkal ialah yang bersangkutan meyakini dan mengimani sepenuhnya akan kekuasaan, kehendak dan kebesaran Allah SWT. Oleh sebab itu, tawakal merupakan bukti dari kuatnya iman, akidah dan tauhid seseorang. Orang yang bertawakkal meyakini, bahwa segala sesuatu itu terletak di tangan Allah SWT dan berlaku atas ketentuan-Nya. Siapa pun tidak dapat berbuat dan tidak berdaya upaya kalau tanpa izin dan kehendak dari Allah SWT. Andaikata berkumpul seluruh makhluk yang berusaha untuk memberikan manfaat kepada seseorang, maka ia tidak akan berhasil, kecuali dengan izin Allah. Demikian pula andaikata seluruh makhluk berkumpul untuk memberikan mudharat kepada seseorang, maka dia tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan izin Allah.
Orang yang telah sampai ke derajat tawakal, berarti dia telah mendapatkan rahmat dan karunia yang amat besar dari Allah SWT. Orang yang bertawakal tidak akan berkeluh kesah dan gelisah, karenanya dia selalu berada dalam ketenangan, ketentraman dan kegembiraan. Orang yang bertawakal, akan bersyukur manakala dia memperoleh nikmat dan karunia, dan bersabar manakala dia ditimpa musibah. Orang yang bertawakal, menjadi orang yang penuh percaya diri, memiliki keberanian dalam setiap persoalan, memiliki ketenangan dan ketentraman jiwa. Karena dia dekat kepada Allah SWT dan menjadi kekasih-Nya, maka Allah SWT akan memelihara, menolong dan melindunginya serta memeberikan rezeki yang cukup kepadanya sebagai bekal untuk berbakti dan taat kepada Allah SWT.
Di dalam penerapannya, tawakal terdiri atas tiga tingkat. (1) Tawakal itu sendiri, yaitu hati senantiasa merasa tenang dan tenteram terhadap apa yang yang dijanjikan Allah SWT. Tawakal pada tingkat ini merupakan tawakal yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin dan menempati peringkat pertama atau peringkat terbawah di dalam makam tawakal yang disebut makam bidayah. (2) Taslim, yaitu menyerahkan urusan kepada Allah SWT karena dia mengetahui segala sesuatu mengenai diri dan keadaannya. Tawakal dalam bentuk ini dimiliki oleh orang tertentu (khawas) dan menempati peringkat kedua di dalam makam tawakal yang disebut makam mutawassit. (3) Tafwid, yaitu ridla atau rela menerima segala ketentuan Allah SWT, bagaimana pun bentuk dan keadaannya. Tawakal semacam ini dimiliki oleh khawas al-khawas, seperti Rasulullah SAW. Makam ini disebut makam nihayat dan merupakan makam yang tertinggi dalam peringkat tawakal. (Ensiklopedi Islam 1994, 5 : 97).

TAWAKAL
Tawakal diambil dari bahasa Arab “at tawakkal” yang berarti menyerahkan, mempercayakan, atau mewakili urusan kepada orang lain. Menurut istilah, tawakal adalah menyerahkan segala perkara, ikhtiar dan usaha yang dilakukan, kepada Allah SWT serta berserah diri sepenuhnya kepada-Nya guna mendapatkan manfaat atau menolak mudharat.
Al Qusyayri menjelaskan bahwa tawakal tempatnya dalam hati, dan pekerjaan batin. Perbuatan lahiriah yang berbentuk usaha dan ikhtiar tidaklah menanggalkan tawakal seseorang yang ada dalam hatinya, manakala seseorang hamba telah yakin bahwa takdir itu datangnya dari Allah SWT. Karena itu jika usahanya tidak tercapai maka dia melihat begitulah ketentuan takdir yang berlaku padanya, dan jikalau dia berhasil itu adalah takdir, yang berbentuk rahmat pertolongan dari Allah SWT. Dikatakan bahwa tawakal itu merupakan pekerjaan hati manusia dan merupakan puncak tertinggi keimanan seseorang. Sifat ini akan datang dengan sendirinya manakala Iman seseorang sudah kuat dan matang.
Imam Al Ghazali menilai bahwa pendapat yang mengatakan tawakal adalah meninggalkan usaha- usaha badaniah dan tadbir (memutuskan) dengan hati merupakan pendapat yang tak paham agama. Hal tersebut haram di dalam syariat. Syariat memuji orang yang bertawakal yang disertai dengan usaha. Karena itu Hujjatul Islam tersebut menjelaskan bahwa amal orang-orang yang bertawakkal terbagi empat bagian : (1) Berusaha memperoleh sesuatu yang dapat memberi manfaat kepadanya, (2) Berusaha memelihara sesuatu yang dimilikinya dari hal-hal yang bermanfaat itu, (3) Berusaha menolak dan menghindarkan diri dari hal-hal yang akan menimbulkan mudharat (bencana), dan (4) Berusaha menghilangkan mudharat yang menimpa dirinya (Ensiklopedi Islam 1994, 5 : 97).
Pendapat Imam Al Ghazali ini sesuai dengan hadis riwayat Tarmizi

Artinya : Diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dengan mengendarai unta, dan dia bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah saya membiarkan saja unta saya ini lepas tanpa diikat sebab saya bertawakkal kepada Allah?”. Rasulullah menjawab, “Ikatlah untamu terlebih dahulu, kemudian barulah engkau bertawakkal.” (H.R. Tarmizi).

Orang yang bertawakkal karena berserah diri sepenuhnya kepada Allah, maka Allah pun menjamin segala sesuatu tentang orang tersebut setelah dia berusaha dan berikhtiar.
Firman Allah SWT,

Artinya : Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. (Q.S. At Thalaq 65 : 3).

Firman Allah SWT,
Artinya : Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu ? Hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal. (Q.S. Ali Imran 3 : 160).
Firman Allah SWT,

Artinya : Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Q.S. Al Maidah 5 : 23).

Dasar utama orang yang bertawakkal ialah yang bersangkutan meyakini dan mengimani sepenuhnya akan kekuasaan, kehendak dan kebesaran Allah SWT. Oleh sebab itu, tawakal merupakan bukti dari kuatnya iman, akidah dan tauhid seseorang. Orang yang bertawakkal meyakini, bahwa segala sesuatu itu terletak di tangan Allah SWT dan berlaku atas ketentuan-Nya. Siapa pun tidak dapat berbuat dan tidak berdaya upaya kalau tanpa izin dan kehendak dari Allah SWT. Andaikata berkumpul seluruh makhluk yang berusaha untuk memberikan manfaat kepada seseorang, maka ia tidak akan berhasil, kecuali dengan izin Allah. Demikian pula andaikata seluruh makhluk berkumpul untuk memberikan mudharat kepada seseorang, maka dia tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan izin Allah.
Orang yang telah sampai ke derajat tawakal, berarti dia telah mendapatkan rahmat dan karunia yang amat besar dari Allah SWT. Orang yang bertawakal tidak akan berkeluh kesah dan gelisah, karenanya dia selalu berada dalam ketenangan, ketentraman dan kegembiraan. Orang yang bertawakal, akan bersyukur manakala dia memperoleh nikmat dan karunia, dan bersabar manakala dia ditimpa musibah. Orang yang bertawakal, menjadi orang yang penuh percaya diri, memiliki keberanian dalam setiap persoalan, memiliki ketenangan dan ketentraman jiwa. Karena dia dekat kepada Allah SWT dan menjadi kekasih-Nya, maka Allah SWT akan memelihara, menolong dan melindunginya serta memeberikan rezeki yang cukup kepadanya sebagai bekal untuk berbakti dan taat kepada Allah SWT.
Di dalam penerapannya, tawakal terdiri atas tiga tingkat. (1) Tawakal itu sendiri, yaitu hati senantiasa merasa tenang dan tenteram terhadap apa yang yang dijanjikan Allah SWT. Tawakal pada tingkat ini merupakan tawakal yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin dan menempati peringkat pertama atau peringkat terbawah di dalam makam tawakal yang disebut makam bidayah. (2) Taslim, yaitu menyerahkan urusan kepada Allah SWT karena dia mengetahui segala sesuatu mengenai diri dan keadaannya. Tawakal dalam bentuk ini dimiliki oleh orang tertentu (khawas) dan menempati peringkat kedua di dalam makam tawakal yang disebut makam mutawassit. (3) Tafwid, yaitu ridla atau rela menerima segala ketentuan Allah SWT, bagaimana pun bentuk dan keadaannya. Tawakal semacam ini dimiliki oleh khawas al-khawas, seperti Rasulullah SAW. Makam ini disebut makam nihayat dan merupakan makam yang tertinggi dalam peringkat tawakal. (Ensiklopedi Islam 1994, 5 : 97).


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: