4 pertanyaan gugurkan aqidah bathil salafy / wahabi

4 pertanyaan gugurkan aqidah bathil salafy / wahabi

Posted by dibyochemeng on April 12, 2008

Abdul jalas!!!!!!
itulah sebutan orang2 yg mengartikan “istiwa dgn jalas (duduk) padahal duduk adalah sifat makhluq, dan istiwa punya 15 arti(jalasa (duduk), qadara(menguasai)….. dsb) dan arti yg sesuai dalam ayat2 alquran dan hadis yg sesuai dalah qadara (menguasai)
padahal dlm asmaul husna 99 jg tdk ada sifat jalasa (duduk)
mane luh jawab nih pertanyaan ini :
1. wahabi katakan :
“Allah punya Tangan tetapi beda dng tangan Makhluk”

mereka katakan mereka menerima secara zahir,lalu mereka katakan lagi bahwa yg zahir itu beda dng zahirnya makhluk….
kami bertanya :
lalu makna zahir mana yg mereka katakan “menerima secara zahir” ??

Inilah akidah akal akalan mereka tak ada satu orangpun salaf al shalih yg berakal seperti ini…..

2. yang punya keyakinan keyakinan kalian bahwa Tuhan bersemayam di ‘arsy.

manakah yang berjarak lebih dekat ke ‘arsy : seseorang dalam keadaan berdiri atau sujud?

Coba kalian pikirkan, manakah yang berjarak lebih dekat ke ‘arsy : seseorang dalam keadaan berdiri atau sujud? Sudah tentu berdiri lebih dekat ke ‘arsy. Jadi apabila kalian berpendapat bahwa Allah bersemayam di ‘arsy, maka dimanakah hadits yang mengatakan, “Paling dekatnya kedudukan seorang hamba dengan Tuhannya adalah apabila dia dalam keadaan sujud”.

3. Sebelum Allah ciptakan semua makhluq (zaman azali)…..
semua makhluq tdk ada (langit,arsy,tempat, ruang,arah,cahaya, atas,bawah….smua makluq tdk ada,karena Allah blm ciptakan…..) pada saat itu dimana Allah?

dan setelah Allah ciptakan semua makhluq (langit,arsy,arah,tempat dsb), dimana allah?

Ingat : Sifat allah tetap tdk berubah..sifat allah tdk sama dgn makhluq

4 .kenapa kalian solat masih hadap kekiblat, katanya Allah diatas?

ingat Langit Hanyalah kiblat Do’a….bukan tempat bersemayam Allah….ingat : Allah ada tanpa tempat dan arah

Biar wahabi ga pening jawab…ane kasih kunci jawabannya :

WAHABI TIDAK IMANI SIFAT QIDAM DAN ZAMAN AZALI

Qidam = sudah sedia ada ( adanya tidak didahului oleh tidak adanya)
Dalil : huwal awwalu wal akhiiru
Huwa yaitu Allah, al awwalu, Dzat yang awal, wal akhiiru dan Dzat yang akhir
Sifat mustahil / lawan ( muhal ) qidam = huduts ( baru )

SEDANGKAN MAKHLUQ ADALAH BARU…..

DEFINISI MAKHLUQ DAN ZAMAN AZALI :

[ 1. قال الله تعالى : [لَيس كَمْثله شىءٌ] [سورة الشورى: 11

Allah ta’ala berfirman: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi
atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al Jawhar al
Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jisim).

Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam;
1. Benda Lathif: sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.
2. Benda Katsif: sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.
Adapun sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al Jawhar al Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.

كَانَ اللهُ ولَم ي ُ كن شىءٌ غَي  ره ” (رواه ” :r 2. قال رسول الله
البخاري والبيهقي وابن الجارود)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata:
“Allah ta’ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada sebelum Menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segala
sesuatu”.

Al Imam Fakhruddin ibn ‘Asakir (W. 620 H) dalam risalah aqidahnya mengatakan : “Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan “Kapan ada-Nya ?”, “Di mana Dia ?” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia ada tanpa tempat”.

Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya
tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Al Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat, hlm. 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam:
أَنت الظَّا  ه  ر فَلَيس فَوقَك شىءٌ وأَنت ” :r 3. قال رسول الله
الْبا  ط  ن فَلَيس دونك شىءٌ ” (رواه مسلم وغيره)
Maknanya: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah alBathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-
Mu” (H.R. Muslim dan lainnya). Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di
bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.

SEDANGKAN IBNU TAIMIYAH DAN WAHABI TIDAK MENGAKUI ADANYA ZAMAN AZALI …
TIDAK MENGAKUI “BAHWA ALLAH ITU ZAT YANG ADA TANPA ADA PERMULAAN”
tIDAK MENGAKUI BAHWA “ADANYA MAKHLUQ DICIPTAKAN OLEH ALLAH. DAN MAKHLUQ ADA PERMULAAN”

PADAHAL MAKHLUQ ADALAH BARU ATAU HADITS
INI DIBUKTIKAN KETIKA DITANYA:
DIMANAKAH ALLAH PADA ZAMAN AZALI (PADA ZAMAN DIMANA ALLAH BELUM MENCIPTAKAN SEMUA MAKHLUQ, BELUM MENCIPTAKAN, ARSY, LANGIT, ARAH, TEMPAT, ATAS, BAWAH DSB”)????

MEREKA AKAN MENJAWAB ALLAH BERTEMPAT DIATAS/ DILANGIT/ DIARSY/ NAIK TURUN DSB

INILAH BUKTI MEREKA TIDAK MENGIMANI ZAMAN AZALI

uNTUK LEBIH JELAS DOWNLOAD AQIDAH AHLUSUNNAH :

http://darulfatwa.org.au/languages/Indonesian/Kitab_Al-%5EAqidah_print3.pdf

Advertisements

3 Responses

  1. Memalsukan pendapat ulama adalah darah daging agama wahaby.

    mari kita buktikan bahwa kitab-kitab tafsir alqur’an yang mu’tabar adalh membantah pendapat mereka…dan rujukan-rujukan yang mereka buat adalah bathil :

    ahlusunnah menta’wil ayat mutasyabihat

    Ta’wil bererti menjauhkan makna dari segi zahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah, ini kerana zahir makna nas al-Mutasyabihat tersebut mempunyai unsur jelas persamaan Allah dengan makhluk.

    Ta’wilan pula ada dua,

    Pertama: Ta’wilan Ijmaliyy iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya.

    sebagai contoh perkataan istawa dikatakan istawa yang layak bagi Allah dan waktu yang sama dinafikan zahir makna istawa kerana zahirnya bererti duduk dan bertempat, Allah mahasuci dari bersifat duduk dan bertempat.

    Manakala kedua adalah: Ta’wilan Tafsiliyy iaitu ta’wilan yang menafikan makna zahir nas tersebut kemudian meletakkan makna yang layak bagi Allah.
    seperti istawa bagi Allah bererti Maha Berkuasa kerana Allah sendiri sifatkan dirinya sebagai Maha Berkuasa.
    lihat dalam tafsir berikut :

    Quote:
    Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra’d:

    1- Tafsir Ibnu Kathir:

    (ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf, sesungguhnya ia ditafsirkan tanpa kaifiat(bentuk) dan penyamaan

    2- Tafsir al Qurtubi

    (ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan

    3- Tafsir al-Jalalain

    (ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya

    4- Tafsir an-Nasafi Maknanya:

    makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain…

    Makna istiwa yang dikenal dalam bahasa arab :
    Di dalam kamus-kamus arab yang ditulis oleh ulama’ Ahlu Sunnah telah menjelaskan istiwa datang dengan banyak makna, diantaranya:

    1-masak (boleh di makan) contoh:

    قد استوى الطعام—–قد استوى التفاح maknanya: makanan telah masak—buah epal telah masak

    2- التمام: sempurna, lengkap

    3- الاعتدال : lurus

    4- جلس: duduk / bersemayam,

    contoh: – استوى الطالب على الكرسي : pelajar duduk atas kerusi -استوى الملك على السرير : raja bersemayam di atas katil

    5- استولى : menguasai,

    contoh: قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق

    Maknanya: Bisyr telah menguasai Iraq, tanpa menggunakan pedang dan penumpahan darah.

    Al Hafiz Abu Bakar bin Arabi telah menjelaskan istiwa mempunyai hampir 15 makna, diantaranya: tetap,sempurna lurus menguasai, tinggi dan lain-lain lagi, dan banyak lagi maknannya. Sila rujuk qamus misbahul munir, mukhtar al-Sihah, lisanul arab, mukjam al-Buldan, dan banyak lagi. Yang menjadi masalahnya, kenapa si penulis memilih makna bersemayam. Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah?, apakah dia tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Adakah si penulis ini tidak mengatahui bahawa siapa yang menyamakan Allah dengan salah satu sifat daripada sifat makhluk maka dia telah kafir?

    sepertimana kata salah seorang ulama’ Salaf Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):

    ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر

    Maknanya: barang siapa yang menyifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai arasy kerana arasy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala sepertimana kata-kata Saidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:

    ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته ولم يتخذه مكان لذاته

    Maknanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-arasy untuk menzohirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.

    Allah ada tanpa tempat dan arah adalah aqidah salaf yang lurus.
    Hukum Orang yang meyakini Tajsim; bahwa Allah adalah Benda

    Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al
    Qawim h. 64, mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.

    Al Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah meridlainyamengatakan:
    “Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’i dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal).

    Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”.

    As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

    الْموُلود سنةَ 227 ه t  16 . قَالَ اْلإِمام َأبو جعفَرٍ الطَّحاوِي
    والْمتوفَّى سنةَ 321 ه : “تعالَى (يعنِي الله) عنِ الْحدود
    والْغايات والأَركَان والأَعضاءِ والأَدوات لاَ تحوِيه الْجِهات
    الست كَسائرِ الْمبتدعات”.

    Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata:
    “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,
    kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

    Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

    Di sini akan dinyatakan sebahagian kata-kata ulamak 4 mazhab tentang aqidah:

    1- Imam Abu hanifah:

    لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه

    Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah, muka surat 1

    2-Imam Syafie:

    انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير

    Maknanya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 muka surat 23

    3-Imam Ahmad bin Hanbal :

    -استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

    Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.

    وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه

    Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahawa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya(Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami

    4- Imam Malik :

    الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة

    Maknannya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif(bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan soal tentangnya bidaah.

    lihat disini : imam malik menulis kata istiwa (لاستواء) bukan jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)…..

    TIDAK PERNAH IMAM MALIK MENTAFSIR MAKNA ISTIWA DENGAN ISTIQRAR /BERTEMPAT/BERSEMAYAM!!

    lihat bagaimana wahaby membodohi pengikutnya DENGAN MENULIS MAKNA ISTIWA DENGAN “BERSEMYAM/ISTIQRAR”:

    wahaby tulis :
    Imam Malik berkata “Allah bersemayam” (padahal aslinya hanya tertulis lafadaz istiwa) telah jelas kita ketahui. Bagaimana dia bersemayam tidak akan terjangkau oleh Akal. Beriman tentang hal tsb adalah suatu kewajiban bagi kita sedangkan menanyakan bagaimana hakikatnya/kaifiyyatnya adalah termasuk bid’ah “.

    https://salafytobat.wordpress.com

  2. Asslamu’alaiqum wr. wb. Alhamdulillah trimakasih atas situsnya ustd, salah satu manfaat dunia maya di dalam medan dakwah umat. Selagi dunia maya digunakan untuk akhirat, Insya Allah manfaatnya akan kekal. Hidayah untuk umat seluruh alam… Smoga Allah SWT. meridoi ustd. Amiin.

  3. ya Ustd, terma kasih!ini adalah suatu penceerahan bagi saya pribadi, terkadang bingung n sering terkecoh oleh paham salafywahaby,jangan berhenti tuk menganalisis paham2 mereka.jazakAllah kharon kasir.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: