Bukti Albany Palsukan dan mendhaifkan Kitab Hadis Imam Bukhary

Bukti Albany Palsukan dan mendhaifkan Kitab Hadis Imam Bukhary

Saksikan videonya di :

Syaikhul islam DR. Muhammad Tahir Qadri menjelaskan kesesatan wahhaby (salafy palsu) dan kesesatan Syaikh Albany alwahhaby. Beliau menjelaskan dan membuktikan bahwa Albany telah memalsukan kitab adabul mufrad Imam Bukhary dengan:

- membuang hadis-hadis yang tidak sesuai denagn anfsunya

- mendhaifkan hadis-hadis yang telah dishahihkan Imam Bukhary dsb

12 RABIUL AWAL : PERISTIWA MAULID, HIJRAH DAN WAFAT (HAUL) NABI MUHAMMAD SAW.

12 RABIUL AWAL : PERISTIWA MAULID, HIJRAH DAN WAFAT (HAUL) NABI MUHAMMAD SAW.

Gambar diatas menunjukan bahwa Ummul qara university – arab saudi pun mengakui bahwa 12 rabiul awal adalah tarikh kelahiran Nbi Muhammad SAW berdasarkan riwayat yang shahih dan mashur!

Puji syukur Alhamdulillah hirobil ‘alamin marilah kita panjatkan kehadlirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya.

Sholawat serta salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, yang selalu kita nantikan syafa’at-nya di Hari Kiamat. Amin.

Amalan umat islam ahlusunnah wal jamaah pada saat “maulid”

- membaca sirah/kisah Nabi Muhammad SAW

Sirah, atau sejarah hidup Rasulullah SAW itu sangat perlu dibaca dan dikaji karena penuh inspirasi dan bisa memantapkan iman. Allah SWT berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.. (Hud :120)”

- Membaca shalawat.

Bahkan Allah SWT dan para malaikat bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW :

[33:56] Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Surat Al-ahzab 56)

Sebagaimana diketahui, setiap tanggal 12 Rabiul Awal, kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini dimaksudkan untuk mengingat tiga peristiwa besar yang dialami oleh Rasulullah SAW, yakni kelahiran, Hijrah dan wafatnya Muhammad SAW.

A. Peristiwa besar saat lahirnya sebaik baik makhluk (Nabi Muhammad SAW) pada 12 Rabiul awal

Tanggal 12 Rabiul Awal adalah hari bersejarah yang utama bagi umat Islam di seluruh dunia, karena para hari itulah junjungan kita Nabi Muhammad SAW dilahirkanke dunia, membawa rahmat bagi seluruh alam.

Beliau dilahirkan di Makkah, kira-kira 200 meter dari Masjidil Haram pada Senin menjelang terbit fajar 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah bertepatan dengan 20 April 571 M. Kini tempat kelahiran Nabi itu dijadikan perpustakaan “Maktabah Makkah al Mukarromah”.

Dinamakan tahun itu dengan ‘tahun Gajah’ karena tentara Abrahah dari Yaman menyerang Ka’bah dengan maksud akan meruntuhkannya. Mereka datang dengan mengendarai gajah. Akan tetapi penyerangan itu gagal, dengan dikirim Allah pasukan burung ababil dari angkasa menjatuhkan batu-batu berapi kepada mereka sehingga mereka hancur lumat seperti daun kayu yang dimakan ulat, sebagaimana firman Allah dalam al Quran surat al Fil ayat 1 – 4.

Menurut pendapat Ibnu Ishak yang mahsyur, Nabi SAW lahir 50 hari sesudah peristiwa itu. Ada pula pendapat yang menyatakan 30 hari, 40 hari dan 55 hari sesudah kejadian itu. Mengenai tanggal lahirnya pun terjadi pula perbedaan pendapat ahli-ahli sejarah. Ada yang mengatakan tanggal 2 Rabiul Awal, 8 Rabiul Awal, 17 Rabiul Awal, dan 18 Rabiul Awal. Pendapat yang mahsyur dan penduduk Makkah sependapat tanggal 12 Rabiul Awal. Adapun saat kelahiran beliau itu menurut yang mahsyur menjelang terbit fajar, saat doa dimakbulkan Allah SWT.

Hari Istimewa

Perlu diketahui, sejatinya Allah SWT juga menjadikan hari kelahiran Nabi SAW sebagai momen istimewa. Fakta bahwa Rasul SAW terlahir dalam keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177) adalah salah satu tengara. Fakta lainnya:

Pertama, perkataan Utsman bin Abil Ash Atstsaqafiy dari ibunya yang pernah menjadi pembantu Aminah r.a. ibunda Nabi SAW. Ibu Utsman mengaku bahwa tatkala Ibunda Nabi SAW mulai melahirkan, ia melihat bintang bintang turun dari langit dan mendekat. Ia sangat takut bintang-bintang itu akan jatuh menimpa dirinya, lalu ia melihat kilauan cahaya keluar dari Ibunda Nabi SAW hingga membuat kamar dan rumah terang benderang (Fathul Bari juz 6/583).

Kedua, Ketika Rasul SAW lahir ke muka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam).

Ketiga, riwayat yang shahih dari Ibn Hibban dan Hakim yang menyebutkan bahwa saat Ibunda Nabi SAW melahirkan Nabi SAW, beliau melihat cahaya yang teramat terang hingga pandangannya bisa menembus Istana-Istana Romawi (Fathul Bari juz 6/583).

Keempat, di malam kelahiran Rasul SAW itu, singgasana Kaisar Kisra runtuh, dan 14 buah jendela besar di Istana Kisra ikut rontok.

Kelima, padamnya Api di negeri Persia yang semenjak 1000 tahun menyala tiada henti (Fathul Bari 6/583).

Kenapa peristiwa-peristiwa akbar itu dimunculkan Allah SWT tepat di detik kelahiran Rasulullah SAW?. Tiada lain, Allah SWT hendak mengabarkan seluruh alam bahwa pada detik itu telah lahir makhluk terbaik yang pernah diciptakan oleh-Nya, dan Dia SWT mengagungkan momen itu sebagaimana Dia SWT menebar salam sejahtera di saat kelahiran nabi-nabi sebelumnya.

Dalam Shahih Bukhari diceritakan, sebuah kisah yang menyangkut tentang Tsuwaibah. Tsuwaibah adalah budak [perempuan] Abu Lahab [paman Nabi Muhammad [SAW]. Tsuwaibah memberikan kabar kepada Abu Lahab tentang kelahiran Muhammad [keponakannya], tepatnya hari Senin tanggal 12 Robiul Awwal tahun Gajah. Abu Lahab bersuka cita sekali dengan kelahiran beliau. Maka, dengan kegembiraan itu, Abu Lahab membebaskan Tsuwaibah. Dalam riwayat disebutkan, bahwa setiap hari Senin, di akhirat nanti, siksa Abu Lahab akan dikurangi karena pada hari itu, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Abu Lahab turut bersuka cita. Kepastian akan hal ini tentu kita kembalikan kepada Allah SWT, yang paling berhak tentang urusan akhirat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara seremonial sebagaimana yang kita lihat sekarang ini, dimulai oleh Imam Shalahuddin Al-Ayyubi, komandan Perang Salib yang berhasil merebut Jerusalem dari orang-orang Kristen. Akhirnya, setelah terbukti bahwa kegiatan ini mampu membawa umat Islam untuk selalu ingat kepada Nabi Muhammad SAW, menambah ketaqwaan dan keimanan, kegiatan ini pun berkembang ke seluruh wilayah-wilayah Islam, termasuk Indonesia. Kita tidak perlu merisaukan aktifitas itu. Aktifitas apapun, jika akan menambah ketaqwaan kita, perlu kita lakukan.

B. PERISTIWA HIJRAH : SAMPAINYA RASULULLAH DI MADINAH PADA  12 RABIUL AWAL

12 Rabiul Awal ,tahun 13 kerasulan atau 2 JULAI 622 M.  Rasulullah, Abu Bakar  dan rombongan sampai ke Madinah disambut oleh penduduk Madinah dengan kegembiraan dan kesyukuran. Hijrah Tarikh hijrah adalah tarikh tibanya Rasulullah di Madinah al-Munawwarah pada ketika itu di sebut Yatsrib. Rasulullah sampai di Quba’ pada hari Isnin 8 Rabiulawal dan Baginda sampai di Kota Madinah pada hari Jumaat 12 Rabiulawal dan Baginda menunaikan solat Jumaat yang pertama.

C. PERISTIWA WAFATNYA NABI MUHAMMAD : 12 RABIUL AWAL

Wafatnya junjungan besar kita, Muhammad Rasulullah saw. Rasulullah telah wafat pada hari Isnin 12 Rabiulawal 11H bersamaan 7 Jun 632M. Baginda wafat di rumah isterinya Aisyah ra dan dikebumikan di Madinah al-Munawwarah.

Peringatan Haul para Pendahulu

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud pada setiap tahun. Sesampainya di Uhud beliau memanjatkan doa sebagaimana dalam surat Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 24:

سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Inilah yang menjadi sandaran hukum Islam bagi pelaksanaan peringatan haul atau acara tahunan untuk mendoakan dan mengenang para ulama, sesepuh dan orang tua kita.

Diriwayatkan pula bahwa para sahabat pun melakukan apa yang telah dilakukan Rasulullah. Berikut ini adalah kutipan lengkap hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi:

وَ رَوَى الْبَيْهَقِي فِي الشَّعْبِ، عَنِ الْوَاقِدِي، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار

Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” –QS Ar-Ra’d: 24– Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Lanjutan riwayat:

ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ

Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”

Demikian dalam kitab Syarah Al-Ihya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur. Lalu dalam kitab Najhul Balaghah dan Kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah untuk yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) ke maka Sayidina Hamzah yang duitradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i karena ini pernah bermimpi dengan Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut.

Para ulama memberikan arahan yang baik tentang tata cara dan etika peringatan haul. Dalam al-Fatawa al-Kubra Ibnu Hajar mewanti-wanti, jangan sampai menyebut-nyebut kebaikan orang yang sudah wafat disertai dengan tangisan. Ibnu Abd Salam menambahkan, di antara cara berbela sungkawa yang diharamkan adalah memukul-mukul dada atau wajah, karena itu berarti berontak terhadap qadha yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Saat mengadakan peringatan haul dianjurkan untuk membacakan manaqib (biografi yang baik) dari orang yang wafat, untuk diteladani kebaikannya dan untuk berbaik sangka kepadanya. Ibnu Abd Salam mengatakan, pembacaan manaqib tersebut adalah bagian dari perbuatan taat kepada Allah SWT karena bisa menimbulkan kebaikan. Karena itu banyak para sahabat dan ulama yang melakukannya di sepanjang masa tanpa mengingkarinya.


D. PERISTWA – PERISTIWA PENTING PADA BULAN RABIUL AWAL BAGI UMAT ISLAM

Peristiwa-Peristiwa Penting Bulan Rabiul Awal

Ada banyak peristiwa penting yang telah dicatatkan oleh sejarah jatuh bangunnya tamadun Islam di dalam bulan Rabiulawal ini dan diantaranya ialah;

1. Perlantikan Nabi menjadi Rasul. Dibulan Rabiulawal inilah Nabi saw diangkat menjadi Rasul. Ketika ini Nabi saw berumur 40 tahun. Maka dengan ini bermulah dakwah baginda secara rasmi di Makkah al-Mukarramah.

2. Peperangan Banyak peperangan yang telah terjadi pada zaman Rasulullah saw diantara tentera Islam dan tentera kuffar. Diantara peperangan yang berlaku di bulan Rabiulawal ialah peperangan Safwan (Badar pertama), Bawat, Zi Amar (Ghatfan), Bani An-Nadhir, Daumatul Jandal dan peperangan Bani Lahyan.

3. Abu Bakar ra. menjadi khalifah Pada hari Rasulullah wafat, para sahabat tidak mahu menangguh urusan pentadbiran kerajaan dan segera membai’ah saidina Abu Bakar ra di Dewan Bani Sa’idah. Ini adalah kerana urusan pentadbiran negara tidak boleh terhenti walau seketika dan ia adalah nadi sesebuah kerajaan. Sebahagian sahabat pula menguruskan pengkebumian jenazah Rasulullah saw yang diketuai oleh Saidina Ali ra Ahli Bait Rasulullah saw.

4. Pembukaan Iraq Tentera Islam yang dipimpin oleh Khalid Ibni Walid ra telah memasuki Iraq dan bermulalah pemerintahan Islam di bumi Iraq di zaman saidina Abu Bakar ra.

5. Pembukaan Baitul Muqaddis Salahuddin al-Ayubi telah memimpin tentera Islam menewaskan tentera Salib dan seterusnya membuka pintu bagi pembukaan Baitul Muqaddis pada tahun 583 H.

6. Kejatuhan Empayar kerajaan Islam Sepanyol Kubu terakhir tentera Islam di Andalusia telah ditumbangkan oleh tentera Sepanyol yang dipimpin oleh Ferdinando dan Isabella pada tahun 897H. Bermulalah kemusnahan tempat-tempat bersejarah warisan umat Islam, masjid-masjid ditukar menjadi gereja dan muzium dan tiada lagi suara azan di negara tersebut.

Jika ditinjau dari amalan maulid, haul ataupun hijrah nabi Muhammad SAW maka Tidak ada letak bid’ah pada amalan maulid ini!!.   hanya orang orang arab jahiliyah dari kalangan badwi gunung najd (wahahby) saja yang menolak amalan ini. Anehnya mereka tidak menjadikan memperingati hari maulid nabi tapi sibuk memperingati hari kelahiran muhammad ibnu abd wahab (gembong khawarij akhir zaman)!.

https://salafytobat.wordpress.com

Bolehnya Mengahayunkan Badan Sambil Berdzikir (Nampak Macam menari)

Bolehnya  Mengahayunkan Badan Sambil Berdzikir (Nampak Macam menari)

Ada sebagian sufi yang meng ayunkan badan sambil berdzikir (sehingga nampak seperti menari), yang dikenal juga sebagai “the darvishes’ whirling” merupakan salah satu jalan di antara banyak jalan untuk menumbuhkan rasa kasih. Gerakan (menghayunkan badan)  ini dipopulerkan oleh  Jalaluddin Rumi (1207-1273) ratusan tahun yang lalu.

JANGAN MENIRU-NIRU GERAKAN INI TANPA ADA IJAZAH DARI GURU MURSYID!!

INI ADALAH SALAH SATU AMALAN SALAH SATU ALIRAN TAHRIQAH SUFI, DALAM TIAP GERAKAN, PANDANGAN MATA, NAFAS, SERTA DZIKIR ADA ATURANNYA DAN PUNYA TUJUAN TERTENTU

A. Dalil Bolehnya  Mengahayunkan Badan Sambil Berdzikir (Nampak Macam menari)

” Berkenaan dengan zikrullah, Allah SWT berfirman (mafhumNya) : ” Iaitu orang -orang yang menyebut dan mengingati Allah semasa mereka berdiri dan duduk dan semasa mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata) : “Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.” ( Surah Ali ‘Imran, ayat 91 ). Ayat ini memberi isyarat bahawa zikrullah boleh dilakukan dalam pelbagai keadaan dan gaya.

Ummul Mukminin ‘Aisyah R.Ha pernah melaporkan bahawa Rasulullah SAW berzikrullah ( berzikir kepada Allah ) dalam semua keadaan. Sedang berjalan, menaiki kenderaan, berbaring, duduk, dan bermacam-macam lagi pernah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. Dalam suatu riwayat pernah diceritakan bahawa Jaafar bin Abi Talib ( sepupu Rasulullah ), pernah menari-nari melenggok lentuk di hadapan Rasulullah SAW sebaik saja beliau mendengar Rasulullah SAW menyebut kepada beliau, ” Allah menjadikan rupa paras mu seiras dengan Allah menciptakan daku.” Mendengar kata-kata yang seindah dan semurni itu, terus di ta’birkan dengan menari-nari di hadapan Rasulullah SAW. tingkahlaku beliau itu atau body language beliau tidak ditegah atau ditegur Rasulullah SAW.

Di sinilah dikatakan atau dijadikan asal usul sandaran bahawa menari-nari sambil berzikir kepada Allah yang dilakukan oleh ahli tarekat atau golongan sufiyyah, ada sandarannya. Sahlah berlaku tarian di majlis zikir yang dihadiri oleh ulamak besar yang muktabar. Antara mereka ialah al-Imam Izzuddin Abdus Salam dan tidak diengkarinya. Ditanya Syaikhul Islam Sirajuddin al-Balqini tentang persoalan tari menari dalam majlis zikir, lalu dijawab beliau dengan mengiyakannya, yakni boleh dilakukan. Ditanya al-A’llamah Burhanuddin al-Abnasi, perkara yang sama maka beliau menjawab dengan membolehkannya. Ditanya ulamak besar dalam mazhab hanafi dan Maliki, semuanya menjawab, ‘tidak mengapa dan boleh dilakukan.’ Semua jawapan ini dibuat dengan bersandarkan kepada ayat di Surah Ali Imran di atas beserta hadis yang diriwayatkan oleh Jaafar Abi Talib.

Adapun tarian yang dilarang adalah tarian yang bercampur lelaki perempuan yang bukan mahram, lebih-lebih lagi ia diadakan dalam majlis yang kemaksiatannya ketara seperti berpakaian tidak menutup aurat, diiringi dengan muzik dan suasana yang mengundang syahwat dan lain-lain. Itulah yang disebut haram. Haram bukan soal tarian, tetapi dilihat dari aspek persembahan, suasana dan dilihat dengan jelas kemaksiatan. Adapun tarian dalam zikrullah, adalah tarian khusus yang lahir daripada rasa kesyahduan kepada Allah, dengan kelazatan munajat dan bertaladdud (bergembira/berbahagia kerana zikrullah). Perasaan gembira/bahagia dan lazat itu yang diketahui oleh orang yang mengetahui, merupakan anugerah Allah kepada mereka. Mereka hendak menunjukkan bahasa badan (body language) mereka dengan menari-nari tanda kebagahiaan, tetapi dibuat kerana Allah SWT.

Inilah yang disebut dalam al-Quran (mafhumnya) : (Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah.” Ketahuilah dengan “zikrullah” itu, tenang tenteramlah hati manusia.” (Surah ar-Ra’d, ayat 28). Ketenangan adalah suatu kenikmatan. Hendak menghargai kenikmatan itu adalah sesuatu yang boleh dita’birkan dengan isyarat, dengan kata-kata, dengan bahasa badan yang dijelmakan dalam bentuk tarian untuk menyatakan kesyukuran dan kenikmatan yang mereka perolehi hasil anugerah Allah SWT. Atas itulah pada pendapat saya bahawa tarian dalam majlis-majlis sufi ini adalah harus.

Untuk menyatakan haram atau tidak boleh memang mudah, tetapi harus disandarkan kepada dalil. Jika tidak ada dalili atau hujah, berbaliklah kepada hukum fiqah bahawa, “Asal semua perkara adalah harus sehingga ada dalil yang membuktikannya haram.” Oleh itu berzikrullah yang difahami dari ayat al-Quran di atas, hadis Rasulullah SAW dan pandangan ulamak muktabar, maka saya menyatakan ianya harus dan bukanlah haram. Wallahua’lam.”

Dato’ Dr Harun Din

B. Lafadz “Menari” Dalam Hadis shahih tersebut bermakna “Menghayunkan Badan

Hadis yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya dan al-Hafiz al-Maqdisi dengan rijal sahih daripada hadis Anas Radiallahu Ta’ala Anhu telah berkata ; Adalah orang habsyah berjoget atau menari di hadapan Rasulullah SAW dan sambil mereka berkata Muhammad hamba yang soleh. Bertanya Rasulullah SAW: Apa yang mereka katakan? maka dikatakan kepada Rasulullah sesungguhnya mereka berkata Muhammad hamba yang soleh. ketikamana Rasulullah melihat mereka dalam keadaan itu Nabi SAW tidak meingkari mereka dan membenarkan perkara tersebut.

Inilah yang dimaksudkan dengan hadis taqriri atau sunnah taqririyyah sepertimana diistilahkan oleh ulamak hadis seperti Al-Imam Nawawi dan dinaqalkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani R.A.;

ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم من قول أو فعل أو تقرير

Apa yang disandarkan kepada Nabi SAW daripada perkataan atau perbuatan atau pengakuan

Sesuatu yang Nabi tidak larang maka ia kekal HARUS kerana jika ia sesuatu yang mungkar pasti Nabi akan melarangnya kerana Nabi SAW tidak akan redha dengan maksiat dan kemungkaran yang dilakukan oleh umat baginda dan inilah sebab Nabi dan Rasul diutuskan untuk menjelaskan apa yang betul dan apa yang salah di sisi syara’.

C.MAKNA  HADITS SHAHIH AGAR BERDZIKIR SEBANYAK-BANYAKNYA SEHINGGA ORANG MENGATAKAN KAMU GILA

Hadrat Abu zaid al khudri ra. memberitahu bahwa sesungguhnya  Rasulullah SAW bersabda :

“Hendaklah kamu berdzikir sebanyak-banyaknya sehingga orang mengatakan kamu gila” (HR Ahmad, abu ya’la, ibnu hibban dan hakim dalam shahihnya, dan berkata Hakim “ Shahih sanad dan rawinya”

Dalam Hadist lain :

Dari  Ibnu abbas secara marfu : ” Hendaklah berdzikir sebanyak-banyaknya sehingga orang-orang menganggap kamu ahli riya” (HR Thabrani dan Baihaqi dari Abi jauzi secara mursal seperti dalam kitab At-targhib)

Keterangan :

Hadits ini menunjukan bahwa amalan yang terpenting dan terunggul ini (dzikrullah) tidaklah sepatutnya ditinggalkan kerana orang munafik atau orang-orang bodoh menganggap perbuatan gila atau riya malahan hendaklah berdzikir sebanyak-banyaknya sehingga orang-orang menganggap sebagai orang gila apabila mereka berdzikir sebanyak banyaknya dan sekuat kuatnya bukanlah dengan perlahan lahannya.

Ibnu Katsir rah. menulis bahwa ibnu Abbas ra berkata :

“Tidak ada perintah pun yang diwajibkan Allah SWT kepada hambanya-hambaNYa tanpa menentukan ukuran dan batasan atau memberi kelonggoran kepada mereka kecuali dzikrullah. Dzikir tidak ditentukan had dan batasannya dan tidak diterima uzur dari hambanya selagi waras akalnya. Seperti firmanNya :

“Berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak banyaknya ” (al ahzab 33:41)

Seseorang hendaknya senantiasa berdzikir dalam setiap masa dan dalam setiap keadaan. Di malam ataupun siang hari. i darat ataupun dilaut. Didalam perjalanan atau ketika berhenti. Ketika sempit atau lapang. Ketika sakit atau sihat. Baik dengan perlahan atau menguatkan suara. Pendeknya pada setiap masa dan dalam setiap keadaan hendaklah berdzikir”.

C. Haram  jika ada percampuran lelaki dan perempuan

Ulama sufi yang berada di atas jalan kebenaran juga mengakui majlis seperti ini merupakan majlis yang HARAM. Mereka menisbahkan diri mereka kepada sufi tetapi hakikatnya mereka bukan sufi kerana tujuan zikir itu mendekatkan diri kepada Allah dan percampuran lelaki dan perempuan daripada perkara haram yang boleh menjauhkan diri daripada Allah. Jadi matlamat mereka tidak akan sampai kerana wasilahnya menyimpang daripada cahaya quran dan sunnah. Jadi majlis seumpama ini adalah tidak dibenarkan oleh syara’ walaupun mereka menisbahkan nama mereka kepada nama sufi hakikatnya mereka menodai kemurniaan sufi.

Kita mengakui ada sebahagian golongan yang menggunakan nama sufi tetapi menyimpang daripada syariat Islam tetapi dalam masalah yang kita bincangkan di atas ia mempunyai asas dalil yang kukuh untuk menyatakan pendirian bahawasanya perbuatan berzikir dalam keadaan menari merupakan perkara yang SAH di sisi syara’.

Justeru, selagimana tidak ada unsur-unsur yang haram seperti penggunaan alat muzik yang diharamkan, lagu-lagu yang melaghakan, ikhtilat yang haram maka ia tidak tidak menjadi majlis yang HARAM.

Benarlah kata Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah;

الناس أعداء بما جهلوا

“Manusia akan bermusuh dengan apa yang dia tidak tahu”

Janganlah mudah mengatakan tidak ada tetapi belajarlah mengatakan saya belum menjumpainya. Kerana kemungkinan ia ada tetapi belum sampai kepada pengetahuan kita.

Firman Allah;

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلا – الإسراء :85

Aku tidak berikan ilmu kepada kamu kecuali sedikit sahaja

http://al-amindaud.blogspot.com/2009/05/zikir-berjoget.html

Tafsir lengkap ayat ayat mutasyabihat “Dua tangan” bagi Allah

Menjawab kepada persoalan akhi oo Raiser di chatbox mengenai ayat 75 surah sod. Syubhah yang dibawa oleh golongan wahabi yang tidak kunjung padam ini telah mengelirukan ramai orang. Menjadi tanggungjawab kepada yang tahu untuk menjelaskannya dan menjadi fardhu kifayah sepertimana yang disebut di dalam kitab-kitab akidah.

Soalan akhi oo Raiser : Bagaimana nak takwil ayat [aku menciptakan kau dgn dua tangan]? sebab ada yang bertanya pada ana, kalau tangan tu ditakwilkan dengan kuasa maknanya dua tangan tu dua kuasa la, ana nak je jawab soalan tu tapi ikut akal la, tapi takut tak valid.

Firman Allah yang dimaksudkan akhi;

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ

“(Allah) berfirman wahai iblis apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kekuasan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu merasa (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?” (Terjemahan mengikut Al-Quran dan terjemahan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) terbitan Dar Al-Iman Pustakan Darul Iman Sdn Bhd)

1) Perlu difahami ini merupakan ayat mutasyabihah. Ayat-ayat al-quran yang ada persamaan Allah dengan makhluk dikira sebagai ayat yang mutasyabihah.

2) Mengikut manhaj khalaf : ia perlu ditakwil kepada makna yang sesuai pada bahasa arab supaya tidak terkeliru sehingga menyamakan Allah Ta’ala dengan makhluk.

3) Mengikut manhaj salaf sebenar : menyerahkan makna “yadun” kepada Allah tanpa menterjemahkan kepada makna tangan atau menakwil kepada makna yang layak bagi Allah dan dalam masa yang sama menafikan Allah Ta’ala sama dengan makhluk.

4) Mengikut manhaj salafiyyah wahabiyyah aka salafi jadian, golongan mujassimah, hasyawiyyah dan kitabiyyah : “yadun” dengan makna tangan tetapi tangan Allah tidak sama dengan tangan makhluk. Ini pandangan yang sesat lagi menyesatkan kerana apabila diisbatkan kepada Allah sifat tangan walaupun kita katakan ia tidak sama dengan makhluk sebenarnya kita telah menjisimkan Allah. Seumpama kita katakan “sampah berbau wangi”. Bila kita sebut sampah maka sudah jelas ia berbau busuk walaupun kita sifatkan ia berbau wangi. Bila kita kata tangan Allah sebenarnya kita telah menjisimkan Allah Ta’ala walaupun kita katakan tangan Allah tidak sama dengan tangan makhluk.

5) Mahasuci Allah daripada sama dengan makhluk samada bertangan, duduk, naik turun dan sebagainya daripada sifat makhluk. Firman Allah Ta’ala;

ليس كمثله شيء

“ Tidak ada yang seumpama denganNya (Allah) sesuatupun”

6) Kenapa Allah Ta’ala menyebut dengan dua tanganNya? Untuk memuliakan Adam. Kata ulama’: أضاف خلقه إلى نفسه تكريماً له

“Allah menyandarkan ciptaanNya kepada diriNya sebagai memuliakan baginya”

Kerana ayat ini ditujukan kepada iblis yang enggan sujud kepada Adam dengan pertanyaan apa yang menegah kamu (iblis) untuk sujud kepada apa yang aku jadikan dengan zat aku bukan dengan perantaraan ayah dan ibu kerana Adam dijadikan tanpa ayah dan ibu seperti yang kita sudah maklum. Perumpamaan dengan menggunakan dua tangan lebih hebat daripada satu tangan kerana telah maklum kepada kita sesuatu kerja yang besar tidak dilakukan dengan sebelah tangan. Ini kefahaman yang disebut oleh Imam Zamakhsyari di dalam kitab Al-Kassyaf dalam menjelaskan maksud dua tangan. Berkata sebahagian ulama’ ;

لما خلقت بيدي : لما خلقت بغير واسطة

“Bagi apa yang Aku jadikan dengan dua tangan Aku bermaksud bagi apa yang aku jadikan tanpa perantaraan”

7) Mengikut tafsir jalalain oleh dua Imam besar Al-Imam Al-’Allamah Jalaluddin Al-Mahalli dan Al-Imam Al-‘Allamah Jalaluddin As-Suyuti menyebut dalam mentafsir ayat di atas;

أي توليت خلقه أي من غير واسطة أبي وأمي وهذا تشريف لآدم فإن كل مخلوق تولى الله خلقه

“Ialah Aku (Allah) meguasai kejadiannya (Adam) ialah tanpa perantaraan ayah dan ibu dan ini memuliakan bagi Adam. Sesungguhnya setiap makhluk Allah Ta’ala menguasai ciptaaNya”

8) Di dalam At-Tafsir Al-munir oleh Dr Wahbah Zuhaili : Aku menjadikannya (Adam) sendiri tanpa perantaraan Ayah dan Ibu dan Al-Yad bermaksud Al-Qudrah (kuasa Allah bukan tangan dengan maksud anggota) Juz :23-24 mukasurat : 229 Cetakan : Darul Fikr, Syiria.

9) Perkataan “yadun” yang bermaksud tangan di dalam bahasa melayu merupakan majaz ( perkataan yang dipinjam bukan dengan makna asal atau hakiki) di dalam pengajian ilmu balaghah bahasa arab.

Sebagai contoh di dalam bahasa melayu kita juga ada menggunkan simpulan bahasa seperti “Abu seorang yang panjang tangan” Apakah ia bermaksud tangan Abu benar-benar panjang atau ia simpulan bahasa untuk menyatakan Abu seorang pencuri? Sudah tentu jawapannya ialah untuk menunjukkan makna Abu seorang pencuri bukan bermaksud tangan dia benar-benar panjang.

Simpulan bahasa ini bukan merujuk kepada majaz di dalam bahasa arab kerana majaz itu seperti kita katakan bulan tersenyum atau ombak memeluk pantai tetapi simpulan ini untuk menunjukkan perkataan tangan di sini bukan bermaksud tangan yang hakiki seperti zahirnya.

Jika orang melayu tidak memahami simpulan bahasa ini, menunjukkan kejahilan dia terhadap bahasa melayu dan orang yang tidak memahami majaz ini menunjukkan kejahilan dia terhadap balaghah bahasa arab. Al-Quran merupakan kalamullah. Bahasanya disebut sebagai “ablagh” (balaghah yang paling tinggi) sehingga cabaran Allah Ta’ala kepada orang kafir untuk membuat satu surah seumpaman surah Al-Kauthar pun mereka tidak mampu. Apatah lagi kita orang melayu dalam memahami kalamullah ini.

Oleh sebab itu berkata Mujahid dalam mentafsirkan ayat ini;

قال مجاهد : اليد ها هنا بمعنى التأكد والصلة ، مجازه لما خلقت أنا كقوله : ” ويبقى وجه ربك ” [ الرحمن : 27 ] أي يبقى ربك

Tangan di sini dengan makna penguat dan kaitan. Majaznya ( perkataan yang dipinjam bukan dengan makna asal atau hakiki) bagi apa yang aku (Allah) jadikan. Seperti Firman Allah Ta’ala : Kekal wajah Tuhan kamu [ ar-rahman : 27 ] bermaksud kekal Tuhan kamu.

10) Berkata As-Shahrastani di dalam kitab Milal Wa Nihal:

إن الأئمة مالكا والشافعي وأحمد قالوا : من حرك يده عند قراءة قوله تعالى ( لما خلقت بيدي ) وأشار بإصبعه عند رواية قلب المؤمن بين أصابع الرحن… الحديث وجب قطع يده وقطع أصبعه

Sesungguhnya imam-imam, Malik, Syafie dan Ahmad berkata : Sesiapa yang menggerakkan tangannya ketika membaca firman Allah Ta’ala (ayat 75 surah mujadilah) dan mengisyaratkan jarinya ketika membaca riwayat “Hati manusia di antara jari-jari Allah”- Al-Hadis, wajib dipotong tangan dan jarinya. (Di naqalkan daripada kitab syarah jauharatul tauhid bagi Imam Al-Bajuri mukasurat 166).

11) Cuba lihat tafsiran sahabat seperti Ibnu Abbas yang di doakan oleh Nabi SAW “ Ya Allah, Faqihkan dia ( ibnu Abbas) di dalam agama dan ajarkan dia takwil” dan tafsiran Mujahid, Qatadah, At-Thauri dan lain-lain di dalam mentafsirkan ayat;

والسماء بنيانها بأيد

Tafsiran mereka “Kami menjadikan langit dengan (qudrat) kuasa kami”. ( Tafsir Ibnu Kathir Juz : 4 Mukasurat : 237 )

Bagaimana untuk menolak pandangan yang mengatakan jika kita takwilkan “yadun” kepada makna kuasa bermaksud ada dua kuasa?

1) Tanya kembali kepada dia, Allah Ta’ala menjadikan Adam dengan dua tangan atau dengan kuasa Allah Ta’ala?

Jika dia tidak mahu menta’wil ayat ini kepada kuasa bermaksud dia menafikan sifat kuasa Allah untuk menjadikan Adam. Sedangkan kita faham bahawasanya setiap mumkinat ( perkara yang harus ada) itu ta’luq dengan sifat qudrat (kuasa) Allah. Dengan perkataan yang lain semua perkara yang dijadikan oleh Allah dengan sifat kuasa Allah Ta’ala bukan dengan tangan yang kita fahami. Jika kita katakan yadun dengan maksud tangan secara langsung kita telah menafikan kuasa Allah Ta’ala menjadikan dengan sifat kuasa. Sedangkan sifat kuasa merupakan sifat yang wajib bagi Allah Ta’ala. Sesiapa yang menafikan Allah Ta’ala bersifat dengan sifat kuasa hukumnya kufur. Dalil Allah Ta’ala berkuasa ialah firman Allah Ta’ala ;

إن الله على كل شيء قدير

“Sesungguhnya Allah berkuasa di atas setiap sesuatu”

2) Di dalam Al-Quran Allah menggunakan kalimah satu tangan, dua tangan, dan tangan-tangan. Jika kita katakan Allah ada dua tangan. Bagaimana dengan ayat yang mengatakan satu tangan dan ayat yang mengatakan tangan-tangan yang lebih daripada dua?

3) Tanyakan juga kepada mereka bagaimana ayat yang Allah Ta’ala menggunakan perkataan “nahnu” (kami). Apakah itu menunjukkan kepada Allah ramai?

Ayat-ayat yang menyebut perkataan tangan tetapi bukan dengan maksud tangan ;

1) (Surah Al-Mujadilah : 12) فقدموا بين يدي نجواكم صدقة

Di dalam ayat ini Allah menyandarkan perkataan tangan kepada “najwa”. Najwa bermaksud perbualan rahsia. Apakah perbualan rahsia juga ada tangan? Jadi tangan di sini bukan bermaksud tangan seperti zahirnya tetapi hanya majaz seperti yang telah dijelaskan di atas.

2) (Surah Al-A’raaf : 57) وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْراً بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ

Di dalam ayat ini disebut tangan rahmat. Rahmat di sini bermaksud hujan. Apakah hujan ada tangan?

Dua ayat di atas menafikan pandangan wahabi yang mengatakan tangan Allah dengan maksud hakiki bukan majazi. Padahal jika diletak makna hakiki kepada dua ayat di atas amatlah menyimpang daripada maksudnya. Justeru itu, ulama’ memahami makna yadun kepada Allah bukan dengan makna tangan yang hakiki tetapi majazi sahaja yang perlu ditakwil kepada makna yang selayaknya seperti kuasa, ni’mat, pahala, pertolongan dan lain-lain sepertimana takwilan ahli sunnah wal jamaah daripada ulama’ khalaf dan salaf demi menjaga kemurniaan akidah umat Islam.

Jika Allah ada tangan bagaimana golongan wahabi ingin menjawab kepada persoalan ayat ini. Firman Allah Ta’ala;

كل من عليها فان ويبقى وجه ربك ذو الجلال والاكرام

“Semua yang ada di atas dunia akan binasa dan yang kekal wajah Tuhan kamu yang mempunyai ketinggian dan kemuliaan”

Ayat ini menyatakan semua akan binasa kecuali wajah Allah. Di mana tangan Allah? Apakah tangan Allah juga binasa? Dangkal sungguh fahaman yang mengatakan Allah bertangan seperti mana akidah golongan yahudi.

Wajah di sini bermaksud zat Allah yang tidak bertangan dan berwajah seperti fahaman wahabi atau salafi yang mendakwa mengikut salaf tetapi menyimpang daripada akidah salaf yang sebenar. Jika Allah bertangan sudah tentu Allah akan menyebut di dalam ayat di atas tangannya juga kekal. Mana mungkin tangan Allah juga binasa. Diakan Allah yang bersifat dengan sifat baqa’ (tidak binasa dan kekal selama-lamanya).

Kesimpulannya :

1) Tidak salah kita mentakwilkan ayat dua tangan dengan maksud kuasa sepertimana kenyataan ulama’ yang telah ana bawakan. Dua tangan tidak merujuk kepada bilangan dua kuasa kerana sememangnya tangan itu dua. Mewakili Kiri dan kanan. Seperti kita katakan melihat dengan dua mata. Sememangnya melihat dengan menggunakan dua mata bukan dengan dua telinga tetapi ia sebagai jalan taukid (menegaskan) lagi kita benar-benar melihat. Menggunakan dua tangan menunjukkan kita benar-benar buat dalam keadaan bersungguh.

2) Kuasa merupakan sifat wajib bagi Allah adapun tangan merupakan sifat yang mustahil bagi Allah kerana bersalahan dengan sifat mukhalafatuhul lilhawadith.

3) Mengisbatkan tangan bagi Allah boleh menyebabkan kufur dan murtad kerana menyandarkan sifat yang tidak layak bagi Allah dan mensyirikan (menyekutukan) Allah dengan makhluk.. Nauzubillahi min zaalik. Awasi dan jauhi daripada i’tiqad sebegini.

http://al-amindaud.blogspot.com

Sunnahnya Haul dan Dalil /dasar haditsnya

Peringatan Haul para Pendahulu

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud pada setiap tahun. Sesampainya di Uhud beliau memanjatkan doa sebagaimana dalam surat Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 24:

سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Inilah yang menjadi sandaran hukum Islam bagi pelaksanaan peringatan haul atau acara tahunan untuk mendoakan dan mengenang para ulama, sesepuh dan orang tua kita.

Diriwayatkan pula bahwa para sahabat pun melakukan apa yang telah dilakukan Rasulullah. Berikut ini adalah kutipan lengkap hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi:

وَ رَوَى الْبَيْهَقِي فِي الشَّعْبِ، عَنِ الْوَاقِدِي، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار

Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” –QS Ar-Ra’d: 24– Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Lanjutan riwayat:

ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ

Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”

Demikian dalam kitab Syarah Al-Ihya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur. Lalu dalam kitab Najhul Balaghah dan Kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah untuk yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) ke maka Sayidina Hamzah yang duitradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i karena ini pernah bermimpi dengan Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut.

Para ulama memberikan arahan yang baik tentang tata cara dan etika peringatan haul. Dalam al-Fatawa al-Kubra Ibnu Hajar mewanti-wanti, jangan sampai menyebut-nyebut kebaikan orang yang sudah wafat disertai dengan tangisan. Ibnu Abd Salam menambahkan, di antara cara berbela sungkawa yang diharamkan adalah memukul-mukul dada atau wajah, karena itu berarti berontak terhadap qadha yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Saat mengadakan peringatan haul dianjurkan untuk membacakan manaqib (biografi yang baik) dari orang yang wafat, untuk diteladani kebaikannya dan untuk berbaik sangka kepadanya. Ibnu Abd Salam mengatakan, pembacaan manaqib tersebut adalah bagian dari perbuatan taat kepada Allah SWT karena bisa menimbulkan kebaikan. Karena itu banyak para sahabat dan ulama yang melakukannya di sepanjang masa tanpa mengingkarinya.

Demikianlah. Dalam muktamar kedua Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah atau jam’iyyah tarekat-tarekat di lingkungan NU di Pekalongan Jawa Tengah pada 8 Jumadil Ula 1379 H bertepatan dengan 9 November 1959 M para kiai menganjurkan, sedikitnya ada tiga kebaikan yang bisa dilakukan pada arara peringatan haul:

1. Mengadakan ziarah kubur dan tahlil
2. Menyediakan makanan atau hidangan dengan niat sedekah dari almarhum.
3. Membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dan memberikan nasihat agama, antara lain dengan menceritakan kisah hidup dan kebaikan almarhum agar bisa diteladani.

KH Aziz Mashuri
Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, mantan Ketua Umum Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI)
(Disarikan dari buku kumpulan hasil kesepakatan muktamar Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah Nahdlatul Ulama 1957-2005)

http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=13119

Bolehnya menyebut shadaqallahul ‘adhim


Ia tidaklah menjadi kesalahan sekiranya diucapkan selepas membaca al Quran, dan ianya bukanlah suatu yang bid’ah sebagaimana yang disangka sebahagian umat Islam, kerana tiada terdapat satupun larangan daripadanya dan ia tidaklah bertentangan dengan kaedah-kaedah am syariat (qawaid syar’iyyah). Selain daripada itu, ALlah ta’ala sendiri menyebut ungkapan ini di dalam KitabNya yang mulia iaitu firmannya :

قُلۡ صَدَقَ ٱللَّهُ‌ۗ فَٱتَّبِعُواْ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ (٩٥)

Katakanlah (wahai Muhammad): Benarlah (apa yang difirmankan oleh) Allah, maka ikutilah kamu akan agama Nabi Ibrahim yang ikhlas (berdasarkan Tauhid) dan bukanlah dia dari orang-orang musyrik. ( Surah Ali Imran : Ayat 95)

Sebab itu para salafussoleh apabila dibacakan satu ayat al Quran di hadapan mereka, mereka akan mengucapkan SodaqaLlahul ‘Azimm

Sumber : Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur

Bidaah Membaca  Sadaqallahulazim’?

September 23rd, 2009 by admin

Assalamualaikum Warahmatullah.

PENGENALAN

Persoalan Bidaahkah membaca ’sadaqallahulazim’ setelah berakhirnya membaca al-Quran? pernah ditanyakan kepada saya beberapa ketika yang lalu oleh seseorang melalui Yahoo Messenger. Namun pada waktu itu saya tidak dapat menjawab secara panjang lebar memandangkan pada ketika itu saya berada didalam mood exam dan apatah lagi kesibukkan meraikan bulan Ramadhan. Masih terasa rindu yang bersangat dengan berlalunya Ramadhan pada tahun ini. Moga-moga saya masih lagi diberikan kesempatan olehNya untuk bertemu semula Ramadhan pada tahun akan datang. InsyaAllah.

Saya tidak pasti bagaimana mereka yang berkata bidaah membaca ’sadaqallahulazim’ memahami maksud bidaah ini sepertimana para ulama muktabar memahaminya. Sesungguhnya tuduhan bidaah ini bukanlah suatu perkara yang boleh dikatakan sewenang-wenangnya terhadap sesuatu perkara itu. Pada saya, inilah di antara unsur-unsur fahaman Wahabi (atau Salafi Jadian) iaitu terlalu mudah menghukum bidaah atau sesat dan sebagainya lagi kepada orang lain. Semoga kita dijauhi dari fahaman yang membahayakan umat Islam ini. Aminnn.

FATWA KEHARUSAN MEMBACA ‘SADAQALLAHULAZIM’

Soalan:
Sesetengah manusia mengatakan: Sesungguhnya mengucapkan ‘sadaqallahulazim’ oleh qari selepas berakhir membaca al-Quran adalah bidaah. Tidak harus mengatakannya maka adakah ini benar?

Jawapan:

Aku memberi peringatan kepada masyarakat kebanyakkan agar tidak tergesa-gesa di dalam mengatakan dan menyifatkan bidaah ke atas amalan yang tidak berlaku pada zaman Nabi S.A.W. dan tidak pada zaman pensyariatan, dan daripadanya berkeras di dalam menyifatkan setiap bidaah adalah sesat dan setiap yang sesat di dalam neraka. Dan mengucapkan ‘sadaqallahulazim’ oleh qari atau siapa yang mendengarnya selepas berakhir dari membaca al-Quran, atau di sisinya mendengar ayat dari dari al-Quran bukan bidaah yang dikeji, pertama kerana tiada larangan yang khusus, kedua kerana berzikir kepada Allah dan mengigatinya adalah disuruh sebanyak-banyaknya, ketiga sesungguhnya para ulama mengatakan itu adalah adab-adab dari adab membaca al-Quran, dan mengucapkannya di dalam solat tidak batal, keempat sesungguhnya ungkapan ini datang di dalam al-Quran, dan ia dari kata-kata orang-orang beriman ketika berperang.

Firman Allah Taala bermaksud:

qul shadaqa allaahu faittabi’uu millata ibraahiima haniifan wamaa kaana mina almusyrikiina

[3:95] Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik

(Surah ali-Imran: Ayat 95).

Firman Allah Taala bermaksud:

Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “inilah yang dijanjikan Allah dan rasulNya (kemenangan) kepada kita”. Dan benarlah Allah dan rasulNya.
(Surah al-Ahzab: Ayat 22).

Dan disebut al-Qurtubi di dalam mukaddimah tafsirnya sesungguhnya al-Hakim al-Tarmizi mengatakan di antara adab-adab membaca al-Quran al-Karim dan berkata ketika berakhir membaca al-Quran: ‘sadaqallahulazim’ atau ayat ungkapan sama maknanya. Dan di antara kehormatan apabila berakhir membaca al-Quran sesungguhnya benarlah tuhanNya, dan penyaksian menyampaikan terhadap RasulNya S.A.W. (Contoh berkata bermaksud: Benarlah Allah Yang Maha Agung dan rasulNya yang mulia telah menyampaikan). Dan penyaksian ke atas kebenaran, maka berkata: Benarlah wahai tuhan kami dan menyampaikan rasul kmu dan kami menjadi saksi. Wahai tuhan kami, jadikanlah kami dari kalangan syuhada yang benar untuk mendirikan keadilan, kemudian menyeru dengan seruan.

Dan datang di dalam fiqh empat mazhab, dikeluarkan oleh Kementerian Wakaf Mesir, sesungguhnnya al-Hanafiah (mazhab Imam Hanafi) berkata: Kalau berkata di dalam solat dengan tasbih seperti: ‘sadaqallahulazim’ ketika selesai qari dari membaca al-Quran tidak membatalkan solat apabila dimaksudkan semata-mata pujian, zikir atau tilawah, dan sesungguhnya al-Syafieyah (mazhab Imam Syafie) berkata: Tidak batal secara mutlak dengan ucapan ini, maka bagaimanakah segelintir orang pada hari ii berkata: Sesungguhnya berkata: ‘sadaqallahulazim’, selepas berakhir dari membaca al-Quran adalah bidaah? Aku mengulangi sekali lagi amaran supaya tidak tergesa-gesa di dalam mengeluarkan hukum-hakam fiqh sebelum pasti kebenarannya.

Firman Allah Taala bermaksud:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan berjaya.
(Surah al-Nahl: Ayat 116).

Rujukan:
Kitab: al-Fatawa Min Ahsan al-Kalam Fi al-Fatawa Wa al-Ahkam. Karangan: Syeikh Atiyyah Saqr (mantan Pengerusi Fatwa al-Azhar). Terbitan: al-Maktabah al-Taufiqiah. Jilid: Satu. Mukasurat: 142 dan 143.

KESIMPULAN

Jangan terlalu mudah untuk membidaahkan amalan orang lain tanpa kajian dan ilmu yang mencukupi. Adapun membaca ’sadaqallahulazim’ pada akhir bacaan al-Quran al-Karim bukanlah bidaah yang sesat sepertimana didakwa oleh sesetengah pihak.

Bahan bacaan tambahan:

http://buluh.iluvislam.com/?p=21

‘Memberi dan Berbakti’

Wallahualam.

Nasihat Kepada Golongan Yang Fanatik Menyerang Mazhab

Nasihat Kepada Golongan Yang Fanatik Menyerang Mazhab

Di dalam Kitab As Sahwah al Islamiyah, Baina al Ikhtilafil Masyru’ wat Taffaruqil Madzmum karangan Dr Yusuf al Qardhawi ada menyebutkan resolusi yang dikeluarkan oleh Rabitoh ‘Alam Islami pada persidangannya yang ke 10 tahun 1408 Hijrah. Antara teksnya resolusi tersebut :

“Segala puji bagi Allah yang Maha Esa. Selawat dan salam ke atas Nabi yang tiada nabi selepasnya, penghulu dan nabi kita, Muhammad sallaLlahu ‘alaihi wasallam. Ucapan salam juga ke atas keluarga dan sahabatnya.

“Majlis Majma’ Fiqh Islami dalam persidangannya yang ke 10 di Makkah al Mukarramah bermula hari Sabtu, 24 Safar 1408H bersamaan 17 Oktober 1987 Masehi hingga hari Rabu, 28 Safar 1408 Hijrah bersamaan 21 Oktober 1987 Masehi telah meneliti topik perselisihan fikah antara mazhab yang diikuti. Juga berkenaan keta’suban yang dibenci. Ia melibatkan keta’suban sesetengah pengikut mazhab terhadap mazhab mereka sehingga terkeluar daripada batasan kesederhanaan lalu menyerang mazhab lain dan ulamanya. (tambahan penulis : perkara ini tidak berlaku di Malaysia kerana kita meraikan mazhab lain contohnya di Masjid India terdapatnya Mazhab Hanafi, pembayaran wang zakat fitrah menggunakan wang yang diputuskan oleh Mufti bergantung kepada KEPERLUAN bukan BERMUDAH-MUDAH dan sebagainya)

Majlis juga telah membentangkan pelbagai isu yang berlegar dalam minda remaja moden dan gambaran mereka terhadap perselisihan mazhab yang mereka tidak tahu punca dan kandungannya. Golongan-golongan yang menyesatkan telah menyuntik jarum mereka dengan mengatakan bahawa selagi syariat Islam itu satu, dan sumber asalnya daripada al Quran dan as Sunnah yang sabit juga satu, kenapa pula berlaku perselisihan mazhab ? juga kenapa mazhab tersebut tidak disatukan supaya orang Islam hanya berpegang kepada satu mazhab dan hanya menerima satu kefahaman dalam hukum-hukum syariat ? Majlis juga membentangkan persoalan ta’sub mazhab dan masalah-masalah yang timbul khususnya masalah yang berlaku di antara pengikut aliran -aliran moden hari ini pada zaman kita ini. Pengikutnya mengajak kepada satu aliran ijtihad yang baru. Mereka menyerang mazhab-mazhab sedia ada yang telah diterima umat sejak dahulu lagi. Mereka juga menuduh semua imam mazhab atau sebahagiannya sebagai sesat sehingga menimbulkan fitnah di kalangan orang ramai. “

Majma’ Fiqh telah memutuskan memorandum kepada golongan yang mengajak supaya tidak bermazhab antaranya berbunyi :

“Golongan ini ingin membawa manusia kepada satu aliran ijtihad baharu dengan menyerang mazhab yang sedia ada serta imam-imamnya. Keterangan kami sebelum ini mengenai mazhab fiqh dan keistimewaan kewujudan mazhab dan imam-imamnya, mewajibkan mereka berhenti daripada meneruskan cara terkutuk yang mereka gunakan bagi menyesatkan manusia, memecah belahkan barisan dan menghancurkan kesatuan. Sedangkan kita berada pada zaman yang teramat perlu kepada kesatuan demi menghadapi merbahaya musuh-musuh Islam. Ia amat diperlukan bagi menggantikan seruan memecah belah yang tidak diperlukan ini.”

(Majalah al Majma’ Al Fiqhi al Islami. Tahun 2, Bil 3 m.s 173)

Tambahan penulis : Sekiranya golongan fanatik yang menyerang mazhab ini terdapat di Malaysia yang pada dasarnya taksub kepada Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab sewajarnya juga memikirkan mengenai fatwa yang dikeluarkan oleh Arab Saudi demi menjaga kesatuan dan keharmonian iaitu :

جامع الدرر السنية 14- (375-376) : ” يقول العلماء: حسن بن حسين، وسعد بن عتيق، وسليمان بن سحمان، وصالح بن عبد العزيز، وعبد الرحمن بن عبد اللطيف، وعمر بن عبد اللطيف، وعبد الله بن حسن، ومحمد بن إبراهيم بن عبد اللطيف، وكل آل الشيخ في خطابهم:

لا ينبغي لأحد من الناس العدول عن طريقة آل الشيخ، رحمة الله عليهم، ومخالفة ما استمروا عليه في أصول الدين، فإنه الصراط المستقيم، الذي من حاد عنه فقد سلك طريق أصحاب الجحيم. وكذلك في مسائل الأحكام والفتوى لا ينبغي العدول عما استقاموا عليه واستمرت عليه الفتوى منهم، فمن خالف في شيء من ذلك واتخذ سبيلا يخالف ما كان معلوماً عندهم ومفتىً به عندهم ومستقرة به الفتوى بينهم فهو أهل للإنكار عليه والرد لقوله

Maksudnya:

Seseorang tidak boleh berlainan daripada metod Al Sheikh (ahli ilmu keturunan Muhammad Abdul Wahab atau ulama’ wahabi) dan bercanggah dengan apa yang mereka (Al Sheikh atau ulama’ Wahabi) kekal berpegang padanya dalam usul agama. Ini kerana, ianya (pegangan Al Sheikh dan metod mereka) adalah jalan yang lurus yang mana sesiapa sahaja yang yang cenderung (berbeza) daripadanya (metod Al Sheikh) bererti telah melalui jalan ahli neraka. Begitu juga dalam masalah hukum-hakam dan fatwa, maka tidak boleh berlainan dengan apa yang ditetapkan dan dipegang oleh mereka dalam fatwa tertentu. Maka sesiapa yang bercanggah dalam fatwa daripadanya (fatwa-fatwa Al Sheikh) dan mengambil sikap untuk bercanggah dengan apa yang diketahui di sisi mereka (Al Sheikh/Wahabi) atau apa yang difatwakan di sisi mereka dan apa yang telah diputuskan mengenai sesuatu fatwa di sisi mereka (ulama’ Al Sheikh) bererti dia layak untuk diingkari dan ditolak perkataannya.

ونحن نعلم : أن المسائل العلمية ، والأحكام التي يُحكم بها الناس ، والفتاوى التي يُفتَون بها لا تخلو من الخلاف ، وهذا أمر يعرفه من له أدنى معرفة ، لكن الاختلاف بين الناس خصوصًا في جهة نجد لابد أن يكون سبب شر وفساد وفتنة . وسد باب الشر والفتن والفساد أمر مطلوب في الشريعة ؛ بل هو أعظم مقاصدها ، كما لا يخفى ) . ( الدرر السنية : 14 / 375 – 376 ) .

Kita mengetahui: bahawasanya dalam masalah ilmiah dan hukum-hakam yang dihukum (ijtihad) oleh manusia (ulama’) dan fatwa yang para ulama’ berfatwa mengenainya tidak sunyi dari khilaf. Ia adalah suatu perkara yang diketahui umum oleh sesiapa sahaja yang memiliki walau sedikit ilmu pengetahuan. Akan tetapi, ikhtilaf dalam kalangan manusia khususnya dari sudut di mana kita dapati boleh membawa kepada keburukan, kerosakan dan fitnah, maka menutup pintu keburukan, fitnah dan kerosakan adalah suatu perkara yang dituntut dalam Syariah. Bahkan ianya adalah tuntutan syariat yang terbesar sebagaimana yang tidak dapat disembunyikan lagi

[Ad-Durar As-Saniyyah 14/375-276]

Jawapan Raja Abdul Malik bin Abdul Rahman Al-Faisal kepada watikah para Masyaikh Al Sheikh tersebut antaranya menyebut:

فالآن يكون الأمر على ما ذكر المشايخ أعلاه، فمن أفتى أو تكلم بكلام مخالف لما عليه الشيخ محمد بن عبدالوهاب، وأولاده: عبدالله، وعبدالرحمن، وعبداللطيف، وعبدالله بن عبداللطيف، فهو متعرض للخطر ؛ لأننا نعرف أنه ما يخالفهم إلا إنسان مراوز للشر والفتنة بين المسلمين

Maksudnya:

“Maka sekarang, sebagaimana disebutkan oleh para Sheikh diatas: “Sesiapa yang berfatwa atau berbicara dengan perkataan yang bercanggah dengan Sheikh Muhammad bin Abdil Wahab dan anak-anaknya (keturunannya): Abdullah, Abdul Rahman, Abdul Lathif dan Abdullah bin Abdil Lathif, bererti sedang terdedah kepada bahaya kerana kita mengetahui bahawasanya tiada manusia yang bercanggah dengan mereka (ulama’ Wahabi dari keturunan Muhammad Abdul Wahab) bererti sedang membawa/melaksanakan keburukan dan fitnah dalam kalangan Muslimin.

Tahun 1339 Hijrah

Sumber: Ad-Durar As-Saniyyah fi Al-Ajwibah An-Najdiyyah (14/377-380)

Semoga keharmonian dan kesejahteraan umat Islam di Malaysia terus berkekalan dan dijauhi dari virus-virus yang membawa permusuhan dan pecah belah umat Islam.

WaLlahua’lam

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 381 other followers