Sejarah singkat penamaan ahlusunnah wal jamaah

Sedikit tentang; ((( SEJARAH PENAMAAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH )))

Ibn Khaldun dalam kitab Muqaddimah menuliskan bahwa produk-produk hukum yang berkembang dalam disiplin ilmu Fikih yang digali dari berbagai dalil-dalil syari’at menghasilkan banyak perbedaan pendapat antara satu imam mujtahid dengan yang lainnya. Perbedaan pendapat di antara mereka tentu disebabkan banyak alasan, baik karena perbedaan pemahaman terhadap teks-teks yang tidak sharih, maupun karena adanya perbedaan kontestual. Perbedaan pendapat dalam produk hukum ini sesuatu yang tidak dapat dihindari. Namun demikian setiap produk hukum yang berbeda-beda ini, selama di hasilkan dari tangan seorang ahli ijtihad (mujtahid mutlak), maka semuanya dapat dijadikan sandaran dan rujukan. Dengan demikian masalah-masalah hukum dalam agama ini menjadi sangat luas. Dan bagi kita, para ahli taqlid; orang-orang yang tidak mencapai derajat mujtahid, memiliki keluasan untuk mengikuti siapapun dari para ulama mujtahid tersebut.

Namun kemudian, puncak dan muara penghabisan para ulama mujtahid tersebut hanya terbatas kepada para Imam yang empat saja. Yaitu al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit al-Kufyy (w 150 H) sebagai perintis madzhab Hanafi, al-Imam Malik ibn Anas (w 179 H) sebagai perintis madzhab Maliki, al-Imam Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i (w 204 H) sebagai perintis madzhab Syafi’i, dan al-Imam Ahmad ibn Hanbal (w 241 H). Sudah barang tentu para Imam mujtahid yang empat memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni hingga mereka memiliki otoritas untuk mengambil intisari-intisari hukum yang tidak ada penyebutannya dengan jelas (Sharih) secara tekstual, baik dalam al-Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah.

Para Imam mujtahid yang empat ini, di samping sebagai para Imam madzhab dalam bidang fikih, demikian pula dalam bidang akidah, mereka adalah para ulama teolog terkemuka (al-Mutakllimun) yang menjadi rujukan utama dalam segala persoalan teologi. Demikian pula dalam bidang hadits, mereka adalah pakar-pakarnya (al-Muhadditsun) yang merupakan tumpuan dalam segala rincinan dan berbagai aspek hadits. Lalu di dalam masalah Tasawwuf, disiplin ilmu yang titik beratnya dalam masalah pendidikan dan pensucian ruhani (Ishlah al-A’mal al-Qalbiyyah, atau Tazkiyah an-Nafs), para ulama mujtahid yang empat tersebut adalah orang-orang terkemuka di dalamnya. Mereka adalah kaum Sufi sejati, ash-Shufiyyah al-Haqiqiyyun, yang memegang teguh ajaran Rasulullah dan para sahabatnya. Perjalanan hidup mereka benar-benar telah ditulis dengan “tinta emas” oleh orang-orang yang datang di kemudian hari.

Pada periode Imam madzhab yang empat ini kebutuhan kepada penjelasan masalah-masalah Fikih sangat besar. Karena itu konsentrasi keilmuan yang menjadi fokus dan pusat perhatian pada saat adalah disiplin ilmu Fikih. Namun, bukan berarti kebutuhan terhadap ilmu Tauhid tidak urgen, tetap hal itu juga menjadi kajian sangat pokok di dalam pengajaran ilmu-ilmu syari’at. Hanya saja saat itu pemikiran-pemikiran ahli bid’ah dan faham-faham ekstrim dalam masalah-masalah akidah belum terlalu banyak menyebar. Walaupun saat itu sudah ada kelompok-kelompok sempalan, namun penyebarannya masih sangat sedikit dan terbatas. Dengan demikian kebutuhan terhadap kajian atas faham-faham ahli bid’ah dan pemberantasannya belum sampai kepada keharusan melakukan kodifikasi secara rinci, seperti yang telah dilakukan terhadap masalah-masalah fikih.

Benar, saat itu sudah ada beberapa karya teologi Ahlussunnah yang telah ditulis oleh beberapa Imam madzhab yang empat. Seperti al-Imam Abu Hanifah yang telah menulis lima risalah Ilmu Kalam; al-Fiqh al-Akbar, ar-Risalah, al-Fiqh al-Absath, al-‘Alim Wa al-Muta’allim, dan al-Washiyyah. Atau al-Imam asy-Syafi’i yang telah menulis ar-Radd ‘Ala al-Barahimah, Kitab al-Qiyas, dan beberapa karya lainnya. Hanya saja perkembangan kodifikasi terhadap Ilmu Kalam saat itu belum sesemarak pasca para Imam madzhab yang empat itu sendiri.

Seiring dengan semakin menyebarnya berbagai penyimpangan dalam masalah-masalah akidah, terutama setelah lewat paruh kedua dari tahun ke tiga hijriyah, yaitu pada sekitar tahun 260 hijriyah, yang hal ini ditandai dengan menjamurnya firqah-firqah sempalan dalam Islam, maka kebutuhan terhadap pembahasan akidah Ahlussunnah secara rinci menjadi sangat urgen. Pada periode ini para ulama dari kalangan empat madzhab banyak membukukan penjelasan-penjelasan akidah Ahlussunnah secara rinci. Hingga kemudian datang dua Imam yang agung; al-Imam Abu al-Hasan al-As’yari dan al-Imam Abu Manshur al-Maturidi. Kegigihan dua Imam agung ini dalam membela akidah Ahlussunnah, terutama dari faham-faham rancu kaum Mu’tazilah yang saat itu cukup populer, menjadikan keduanya sebagai Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah. Keduanya tidak datang dengan membawa faham atau ajaran yang baru. Keduanya hanya melakukan penjelasan-penjelasan secara rinci terhadap keyakinan yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya dengan merujuk kepada dalil-dali naqli (al-Qur’an dan Sunnah) dan dalil-dalil ‘aqli, ditambah dengan argumen-argumen rasional dalam mambantah faham-faham di luar ajaran Rasulullah itu sendiri.

Imam yang pertama, yaitu al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, menapakan jalan madzhabnya di atas madzhab al-Imam asy-Syafi’i. Sementara yang kedua, al-Imam Abu Manshur al-Maturidi menapakan jalan madzhabnya di atas madzhab al-Imam Abu Hanifah. Di kemudian hari kedua madzhab Imam yang agung ini dan para pengikutnya dikenal sebagai al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah, yang disebut sebagai kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Penamaan Ahlussunnah adalah untuk memberikan pemahaman bahwa kaum ini adalah kaum yang memegang teguh ajaran-ajaran Rasulullah. Dan penamaan al-Jama’ah adalah untuk menunjukan komunitas para sahabat Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka, di mana kaum ini sebagai kelompok terbesar dari umat Rasulullah. Dari penamaan ini, maka secara nyata menjadi terbedakan antara faham yang benar-benar sesuai ajaran Rasulullah dengan faham firqah-firqah sesat, seperti Mu’tazilah (Qadariyyah), Jahmiyyah, Musyabbihah, Khawarij, dan lainnya.

Akidah Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah sebagai akidah Ahlussunnah ini kemudian menjadi keyakinan mayoritas umat Islam dan para ulama dari berbagai disiplin ilmu. Termasuk dalam golongan ini adalah para ulama dari kalangan ahli hadits (al-Muhadditsun), ulama kalangan ahli fikih (al-Fuqaha), dan para ulama dari kalangan ahli tasawuf (ash-Shufiyyah).

Dalam kitab Syarh al-Minhaj, al-Imam ar-Ramli menyatakan bahwa orang-orang yang dikategorikan sebagai ahli bid’ah adalah mereka yang di dalam akidahnya menyalahi akidah Ahlussunnah. Artinya menyalahi apa yang telah digariskan oleh Rasulullah dan para sahabatnya dan yang telah menjadi kayakinan mayoritas umat Islam. Sementara yang dimaksud Ahlussunnah pada masa sekarang ini, –masih dalam pernyataan ar-Ramli–, adalah al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan al-Imam Abu Manshur al-Maturidi serta para pengikut keduanya dalam masalah-masalah akidah.

Silsilah Imam Syafi’i & Hubungannya Dengan Rasulullah

Sunnahnya akad nikah di masjid : Dalil dan haditsnya

FATWA SONGSANG SALAHPI-WAHHABIY

Saya sedikitpun tidak terkejut dengan fatwa-fatwa songsang mereka yang berfahaman Salafiy-Wahhabiy. Memang salah satu dari doktrin Salafiy-Wahhabiy bersikap fanatic dengan hujjah mereka. Dalam masa yang sama mereka menyalahkan fahaman dan amalan orang yang tidak sehaluan dengan mereka. Metod ini telah dipergunakan zaman-berzaman oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya untuk mengkafirkan umat Islam, menyalahkan ulamak, membid’ahkan mereka dan melancarkan peperangan terhadap umat Islam atas nama jihad fi sabillillah.
Berbalik Isu Akad Nikah dalam masjid sewajarnya tak perlu diungkitkan kembali memandangkan ia masalah picisan dan telah lama diselesaikan beribu-ribu ulamak muktabar sebelum kita. Mari kita tinjau pandangan mereka dalam masalah ini satu persatu. Sekurangnya terdapat dua pandangan utama dalam membicarakan Isu Akad Nikah di Masjid. Iaitu pandangan Jumhur Ulamak (majoriti) dan pandangan peribadi Imam al-Syaukani
Pandangan Jumhur Ulamak :
Menurut Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Jumhur Ulama mengatakan, SUNAT melakukan akad nikah di masjid (jilid 39, ms.221). Mereka terdiri daripada ulama-ulama Mazhab Syafie dan Hanafi (jilid 32, ms.6) serta Mazhab Hambali (rujuk kitab Fatawa Wa Istisyarat Mauqi’ al-Islam al-Yaum, jilid 11, ms.231)
Manakala Mazhab Maliki mengatakannya HARUS sahaja, bukannya sunat (Mausu’ah Fiqhiyyah al-Kuwaytiyyah, jilid 32. ms.6). Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah mencatatkan :
Terjemahan : “Berkata ulama-ulama [mazhab] Hanafi dan Syafie, disunatkan [dilakukan] akad nikah dalam masjid berdasarkan hadis “umumkan [kepada khalayak] pernikahan ini dan jadikan [urusan akad] nya dalam masjid serta pukullah kompang”. Berkata ulama-ulama [mazhab] Maliki, ia (melakukan akad nikah di masjid adalah) harus”.
Ulama-ulama lain yang turut mengatakan SUNAT melakukan akad nikah dalam masjid ialah Imam Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ al-Fatawa dan Imam Ibnu Qayyim dalam I’lam al-Muwaqqi’in (rujuk kitab Fatawa Wa Istisyarat Mauqi’ al-Islam al-Yaum, jilid 11, ms.231).
Kesimpulannya, para ulama 4 mazhab (Syafie, Hanafi, Maliki dan Hambali) bersepakat mengatakan sunat melakukan akad nikah dalam masjid (rujuk kitab Fatawa Wa Istisyarat Mauqi’ al-Islam al-Yaum, jilid 11, ms.259)
Hujjah Jumhur Ulamak :
Pertama : Hadis Tabarani adalah hadis yang hasan. (al-Hafiz al-Sakhawi dalam al-Maqasid al-Hasanah, jilid 1, ms.36, al-‘Ajluni dalam Kasyful Khafa’, jilid 1, ms.145 dan lain-lain.)
Kedua : Akad nikah dilakukan di masjid bagi mengambil keberkatan masjid sebagai rumah Allah SWT dan aktiviti ibadah. (al-Baqarah 114)
Ketiga : Masjid adalah tempat yang diketahui ramai. Justeru, melakukan akad nikah dalam masjid akan menyebarkan berita perkahwinan. Menyebarkan berita perkahwinan pula adalah satu tuntutan syarak.
Keempat : Nikah adalah ibadat untuk tujuan iman dan taqwa. Oleh itu sunat untuk dilakukan akad dalam masjid.
Kelima : Melakukan sebarang aktiviti yang berkaitan dengan fungsi masji adalah sebahagian pengimarahan masjid (al-Taubah 18)
Keenam : Memudahkan tugas Imam untuk menjalankan urusan perkahwinan yang berbilang.
Ketujuh : Mengingatkan pasangan dan rombongan perkahwinan bahawa mereka membina ikatan perkahwinan secara mulia.(hadis sahih riwayat Ibn Khuzaimah, Kitab Solat, Bab Syahadah Bil Iman no : 1502)
Kelapan ; Mendapat pahala sampingan seperti melakukan sunat Tahiyyatul masjid, iktikaf , zikir, wirid, doa, membaca al-Qur’an dan lain-lain.
Kesembilan : Isu akad Nikah di masjid diamalkan secara mutawattir dalam dunia Islam. Tiada seorang ulamak pun bangkit membantah dan menganggap ia sebagai amalan bid’ah yang bercanggah dengan amalan Rasulillah SAW kecuali AJK Fatwa Perlis.
Pandangan Imam Syaukani
Imam Syaukani mempunyai pendapat yang berbeza dengan jumhur ulama. Bagi beliau, akad nikah TIDAK HARUS dilakukan dalam masjid.Alasannya kerana, masjid hanya dibina bagi menjadi tempat mengingati Allah dan mendirikan solat. Aktiviti selain mengingati Allah dan mendirikan solat, tidak boleh dilakukan di dalam masjid, kecuali dengan adanya dalil khusus yang mengharuskannya.Dalam kitabnya al-Sail al-Jarrar (jilid 2, ms.247-248) : “Masjid sesungguhnya dibina bagi [menjadi tempat] mengingati Allah dan [mendirikan] solat, maka TIDAK HARUS [dilakukan] di dalamnya (masjid) selain [daripada] itu, melainkan dengan [adanya] dalil yang mengkhususkan keumuman [hukum] ini, seperti permainan lembing oleh orang-orang Habsyah di masjid Nabi s.a.w sambil Baginda melihatnya dan seperti perakuan [Nabi s.a.w] kepada orang-orang yang membaca syair di dalamnya (masjid)”.
Imam Syaukani tidak menerima hadis Tabarani yang menjadi dalil jumhur ulama, kerana ia adalah hadis dhaif pada penilaian beliau (rujuk Nayl al-Awtar, jilid 6, ms.211).
Kesimpulan :
1. Mazhab Jumhur Ulamak (iaitu Hanafi, Maliki, Syafi’ie, Hambali dan lain-lain bersepakat mengatakan SUNAT melakukan akad nikah di masjid.
2. Pandangan peribadi Imam al-Syaukani merupakan pandangan terpencil yang syadz kerana menyalahi jumhur ulamak. Ia bukanlah pandangan muktamad dalam penyelesaian isu ini. Oleh itu, menggunakan pandangan ini untuk menyalahkan pandangan Jumhur dikira sebagai menyanggah arus fatwa sedia ada, meragukan masyarakat dan dikira satu kesalahan.
3. Amalan melakukan akad nikah dalam masjid mempunyai sandaran dalil yang kukuh. Ia bukan bersandarkan kepada logic akal atau seputar isu pentadbiran hal ehwal masjid semata-mata.
4. Bagaimanapun, Majlis Tetap Fatwa Arab Saudi yang mengatakan melakukan akad nikah dalam masjid secara konsisten, atau beranggapan ia ada kelebihan, adalah bid’ah.(Rujuk : http://www.islam-qa.com/ar/ref/132420) adalah satu amalan dalam negara mereka. Pandangan ini bukan bersifat mutlak tetapi ada qaidnya yang tersendiri. Iaitu berbeza antara akad nikah secara konsisten ataupun tidak. Pandangan ini tidak bersesuaian untuk dipraktikkan di Malaysia memandangkan ia menjustifikasikan kesan negative (bid’ah sesat) terhadap berjuta-juta umat Islam yang telah melakukan akad nikah di Masjid dalam perkahwinan mereka sebelum ini. Apakah umat Islam boleh sesat dan bid’ah bila mengikut pandangan jumhur ulamak? Atau mereka dituduh sesat hanya berkhilaf dalam perkara furuk? Fikirkanlah.
3. Individu yang menegah akad nikah dalam masjid sebenarnya lebih mirip kepada pandangan Imam al-Syaukani. Tetapi Imam Syaukani sendiri tidak membid’ahkan pandangan Jumhur Ulamak. Apatah lagi menyalahkan mereka dan menuduh mereka melakukan amalan yang bertentangan dengan Rasulillah SAW. Jika ia diprakktik di perlis, maknanya umat Islam Perlis sebahagian besarnya dianggap telah melakukan perbuatan bid’ah kerana telah melakukan akad di masjid sebelum ini. Kemungkinan jua termasuk Datuk Ahmad Jusoh sendiri jika ayah dan ibunya melakukan amalan yang sama. Maka sewajarnya fatwa songsang ini tidak dipraktikkan.
4. Fatwa atau pandangan sembrono dari Perlis membuktikan aliran pemikiran mereka bukan berteraskan kepada fahaman Salafus Soleh atau Ahli Sunnah Wal Jamaah mengikut disiplin mazhab. Sebaliknya mereka mempunyai kecenderungan yang kuat kepada aliran Salafi Wahhabiy. Pandangan Dr Mohd Asri, Dr Juanda Jaya, Dr Azwira Abdul Aziz dan Datuk Ahmad Jusoh jika dianalisa dengan teliti dilihat mempunyai banyak persamaannya. Kami mempunyai bukti eksklusif untuk penghujahan.
5.Mengqiaskan amalan akad nikah dalam masjid menyerupai amalan orang Kristian yang melakukannya dalam gereja adalah satu contoh kiasan yang salah (Qiyas Maal Fariq). Ini kerana tidak wujud persamaan illat antara kedua majlis aqad Nikah di atas. Alasan yang jelas ialah akidah dan syariat kita berbeza antara satu sama lain (Islam, Kristian dan Yahudi). Jika ada persamaan pun ia hanya kebetulan sahaja. Contohnya, jika semua penganut agama berpuasa. Apakah dengan berpuasa kita dilihat mempunyai persamaan pegangan dan amalan? Bukankah al-Qur’an membezakan akidah dan syariat kita dgn mereka pada surah al-Kafiruun ayat 6. Jika anda memahami kaedah penggunaan kias ini anda sesekali tidak menganggap isu akad nikah ini mempunyai persamaan. Ia tidak dilakukan oleh orang yang berakal. Maka Mengertilah.
Posted by Zamihan Mat Zin AL-GHARI at 11:45 PM 0 comments

Hukum Berakad Nikah Di Masjid

Nampaknya geng pendakwa “kami ikut sunnah, hok lain semua ahli bid`ah”, telah menimbulkan satu isu lagi untuk diperselisihkan umat Islam dalam negara kita. Apa yang tidak sedapnya ialah apabila dengan mudahnya membuat tuduhan bahawa perbuatan mengadakan akad nikah perkahwinan dalam masjid adalah menyimpang daripada amalan Rasulullah SAW…. Allahu … Allah …. laser..laser.
Marilah kita kembali merujuk kepada para fuqaha kita untuk mengetahui sebenaq-benaqnya hukum mengadakan akad nikah dalam semejid (baca: masjid jangan dibaca samjid). Kalu kita bukak telaah kitab fiqh mazhab Syafi`i kita, antaranya yang hok mudah didapati lagi banyak manfaat dan berkatnya, karya waliyUllah Sidi Abu Bakar ad-Dimyathi rahimahUllah iaitu “Hasyiah I`aanathuth Thaalibin” jilid 3 halaman 315 kita dapati ibaratnya sebagai berikut:-

……. iaitu dan DISUNNATKAN agar akadnikah itu dilakukan dalam masjid. Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahUllah dalam “Tuhfah” menyatakan: Ini adalah kerana ada suruhan (baca: anjuran) dengannya sebagaimana khabar yang diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani. Iaitu “Hebahkanlah pernikahan ini, laksanakan ia di masjid-masjid, palulah kompang-kompang dan seseorang daripada kamu buatkanlah kenduri walaupun hanya dengan seekor kambing….”

Selain Imam ath-Thabrani rahimahUllah, Imam at-Tirmidzi turut meriwayatkan dalam “Sunan at-Tirmidzi” juzuk 2 halaman 247 sebagai berikut:-

Daripada Sayyidatina ‘Aisyah radhiyAllahu ‘anha menyatakan bahawa Junjungan Nabi SAW bersabda: “Hebahkanlah akan pernikahan ini, laksanakanlah ia di masjid-masjid dan palulah untuknya kompang-kompang.”

Imam at-Tirmidzi rahimahUllah menilai hadits ini sebagai hasan gharib, di mana seorang rawinya yang bernama ‘Isa bin Maimun dipandang sebagai seorang yang dhaif. Sungguhpun begitu, beliau meriwayatkannya daripada Ibnu Abu Najiih seorang yang tsiqah. Hadits yang diriwayat oleh Imam ath-Thabrani yang tersebut dahulu juga tidak lepas dari perselisihan muhadditsin. Sebahagian muhadditsin seperti al-Hafiz as-Sakhawi dan al-Ajluni menilainya sebagai hasan, manakala sebahagian lain menilainya sebagai dhaif. Oleh itu pihak yang menghukumkan sunnat berakadnikad di masjid mempunyai sandaran antaranya hadits-hadits tersebut, dan tidak mustahil ada sandaran-sandaran lain yang tidak kita ketahui kerana kecetekan ilmu kita.

Mengenai hukumnya dalam mazhab-mazhab lain, maka tersebut dalam “Mawsu`ah al-Fiqhiyyah” sebagai berikut:-

Bahawa adalah pernikahan tersebut diakadkan dalam masjid. Ulama al-Hanafiyyah dan asy-Syafi`iyyah menghukumkan MANDUB untuk melaksanakan akad pernikahan dalam masjid, kerana hadits: “Hebahkanlah akan pernikahan ini, laksanakanlah ia di masjid-masjid dan palulah untuknya kompang-kompang.” Ulama al-Malikiyyah menghukumkannya sebagai JAIZ.

Begitulah hukumnya melangsungkan upacara akadnikah dalam masjid. Maka tuduhan bahawa ianya menyimpang daripada amalan Rasulullah SAW adalah suatu tuduhan melulu tanpa usul periksa dan perlakuan biadap kepada para ulama muktabar yang menghukumnya sebagai sunnat atau setidak-tidaknya harus. Walau bagaimanapun, dalam melaksanakan upacara pernikahan di masjid, sayogia diberikan perhatian yang sungguh-sungguh agar kesucian dan kehormatan masjid tidak dicemari. Mudah-mudahan Allah sentiasa memberikan taufiq dan hidayahNya bagi kita semua sebagaimana para ulama kita terdahulu.

*****************************

 

Pengharaman Buku-Buku Tulisan Ustaz Wahaby (Rasul Dahri) Yang Telah Diperakui Haram di Malaysia

Pengharaman Buku-Buku Tulisan Ustaz Wahaby (Rasul Dahri) Yang Telah Diperakui Haram

Keputusan:
1. Bahawa buku-buku tulisan Encik Rasul Dahri adalah diharamkan di Negeri Pulau Pinang sebagaimana pengharamannya di peringkat kebangsaan.
2. Buku-buku tersebut ialah :-
i) Tajuk : Bahaya Taqlid Buta Dan Ta’sub Mazhab
Penulis : Rasul Dahri
Penerbit : Perniagaan Jahabersa, Taman Kempas, Johor Baharu
ii)  Tajuk : Imam Syafie (Rahimahullah) Mengharamkan Kenduri Arwah Tahlilan, Yasinan dan Selamatan

Penulis : Rasul Dahri
Penerbit : Perniagaan Jahabersa, Taman Kempas, Johor Baharu
iii) Tajuk : Amalan-amalan Bid’ah  Pada Bulan Sya’ban

Penulis : Rasul Dahri
Penerbit : Perniagaan Jahabersa, Taman Kempas, Johor Baharu
iv)  Tajuk : Bahaya Tariqat Sufi / Tasawuf Terhadap Masyarakat

Penulis : Rasul Dahri
Penerbit : Perniagaan Jahabersa, Taman Kempas, Johor Baharu
v)  Tajuk : Hukum Mengenai Rokok Dan Mencukur Janggut

Penulis : Rasul Dahri
Penerbit : Perniagaan Jahabersa, Taman Kempas, Johor Baharu
vi)  Tajuk : Setiap Bid’ah Menyesatkan

Penulis : Rasul Dahri
Penerbit : Perniagaan Jahabersa, Taman Kempas, Johor Baharu
vii)  Tajuk : Persoalan Bid’ah Menyesatkan

Penulis : Rasul Dahri
Penerbit : Perniagaan Jahabersa, Taman Kempas, Johor Baharu
3. Pengharaman buku-buku ini adalah kerana didapati boleh :-
i) Bercanggah dengan garis Panduan Penapisan Bahan-bahan Penerbitan Berunsur Islam.
(a) (i) Mempropagandakan akidah, hukum dan ajaran yang bercanggah dengan Mazhab Ali Sunnah   Wal Jamaah.
(b) (ii) Menyebarkan kenyataan yang menggemparkan fikiran orang ramai dan menimbulkan keraguan dan kegelisahan kepada masyarakat awam.
4. Oleh itu, mana-mana orang Islam yang mengajar, mengamal dan menyebar kandungan buku tersebut adalah dilarang sama sekali.
5. Pengharaman ini juga meliputi untuk menerbitkan apa-apa bentuk, versi atau variasi atau apa-apa terjemahan dalam apa-apa bahasa atau apa-apa bahan publisiti sama ada bahan cetak atau elektronik atau selainnya atau apa-apa media atau apa-apa media atau apa-apa kaedah yang boleh membawa kepada penyebaran dan isi kandungan buku-buku tersebut.
Status Penwartaan:

Diwartakan

Nombor Rujukan:

PU/PP 3200 Jld. 1

Negeri:

“DEDENGKOT” WAHABI; IBNU UTSAIMIN DAN AL ALBANI MENGINGKARI RASULULLAH SEBAGAI MAKHLUK ALLAH PALING MULIA

“DEDENGKOT” WAHABI; IBNU UTSAIMIN DAN AL ALBANI MENGINGKARI RASULULLAH SEBAGAI MAKHLUK ALLAH PALING MULIA

“DEDENGKOT” WAHABI; IBNU UTSAIMIN DAN AL ALBANI MENGINGKARI RASULULLAH SEBAGAI MAKHLUK ALLAH PALING MULIA……; salah satu bukti bahwa WAHABI memusuhi Rasulullah.

 

Kitab ini karya Ibnu Utsaimin berjudul al Manahi al Lafzhiyyah, h. 161, lihat scan berikut:

 

 

Ini adalah terjemah lengkapnya:

 

Ibnu Utsaimin di tanya: “Ada salah seorang guru di perguruan tinggi mengatakan bahwa mengucapkan “NABI MUHAMMAD ADALAH MAKHLUK PALING MULIA” adalah kata-kata yang tidak benar, menurutnya ini adalah ungkapan para ahli tasawuf. Ia berdalil dengan firman Allah:

 

ويخلق ما لا تعلمون (النحل: 8)

 

[Allah menciptakan sesuatu yang tidak kalian ketahui/QS. An-Nahl: 8], menurutnya; makhluk Allah ini sangat banyak, kita tidak dapat menghitung jumlahnya, [menurutnya bisa saja ada yang lebih mulia dari nai Muhammad]; maka kenapa kita harus mengatakan bahwa nabi Muhammad sebagai makhluk Allah paling mulia?

 

Ibnu Utsaimin menjawab [qabbahahullah]: “Pendapat yang masyhur menurut mayoritas ulama adalah ungkapan-ungkapan semacam ini dalam pemahaman mutlak; artinya nabi Muhammad adalah makhluk Allah yang paling utama di antara makhluk-makhluk lainnya, seperti perkataan seorang dalam bair syairnya:

 

وأفضل الخلق على الإطلاق  #   نبينا فمل عن الشقاق

 

“Dan makhluk paling utama secara mutlak adalah nabi kita; Muhammad, maka hindarilah dari perselisihan pendapat”. [bait Syekh Ibrahim al Laqqani dalam Jawharah at Tauhid]. Tetapi yang lebih hati-hati dan lebih selamat adalah kita katakan; “Muhammad adalah pimpinan seluruh anak Adam”, “manusia paling mulia”, “nabi yang paling mulia”, atau kata-kata semacam ini. DAN SAYA TIDAK MENGETAHUI SAMPAI DETIK INI BAHWA MUHAMMAD ADALAH MAKHLUK ALLAH YANG LEBIH UTAMA DARI SEGALA MALHLUK APAPUN SECARA MUTLAK.

 

PARAAAAH…. ente Utsaimin!!!!! Ente mengutip bait Syekh Ibrahim al Laqani, dan ente katakan bahwa pendapat masyhur di kalangan ulama adalah bahwa nabi Muhammad makhluk Allah paling mulia secara mutlak…. lalu ente membuat pendapat sendiri yang menurut ente LEBIH HATI-HATI dan LEBIH SELAMAT….. heh!! Yang ada justru ente “NYELENEH” karena menyalahi pendapat yang ente katakan sendiri sebagai pendapat masyhur…. gharib ente Utsaimin!!!! Man Syadza Syadza finnar………

 

Berikut ini BUKTI PARAH LAINNYA…. dari tulisan al Albani, bukunya berjudul Kitab at Tawassul; Anwa’uhu Wa Ahkamuhu, isinya pada halaman ini untuk “membantah” IBNU UTSAIMIN tapi sekaligus untuk MENGINKARI NABI MUHAMMAD SEBAGAI MAKHLUK PALING MULIA, lihat scan ini:

 

 

Berikut terjemah  yang berwarna kuning, berkata al Albani [qabbahahullah]:

 

“Perkara ke tiga dan yang terakhir; bahwa SANG DOKTOR (Ibnu Utsaimin) menganggap bahwa nabi Muhammad adalah makhluk Allah paling mulia secara mutlak. Ini adalah keyakinan, –yang dia sendiri tidak menetapkan kebenarannya–, yang seharusnya ditetapkan dengan dalil yang nyata (qath’iyyutsubut), dan petunjuk yang jelas (qath’iyyuddilalah); artinya harus ada ayat al Qur’an yang menetapkan secara jelas keyakinan semacam ini, atau hadits nabi yang mutawatir menunjukan demikian. SEKARANG… MANA DALIL PASTI YANG MENGATAKAN BAHWA NABI MUHAMMAD SEBAGAI MAKHLUK ALLAH YANG PALING MULIA SECARA MUTLAK?

 

Inilah keyakinan BURUK kaum Wahabi, tidak ada dalam HATI mereka ruang untuk mencintai Rasulullah; yang ada kata ”cinta” di MULUT doang… benar; kalau di MULUT mereka dech paling BERKOAR mengatakan cinta kepada Rasulullah.

Na’udzu billah Min Fitnatihim…..

Ibnu Hajar al-Haitami; Ulama Terkemuka Madzhab Syafi’i, Mengatakan: “IBNU TAIMIYAH SESAT” (Menohok Wahabi)

Ibnu Hajar al-Haitami; Ulama Terkemuka Madzhab Syafi’i, Mengatakan: “IBNU TAIMIYAH SESAT” (Menohok Wahabi)

Kitab Karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami berjudul Hasyiyah al-Idlah Ala Manasik al-Hajj Wa al-‘Umrah (Kitab Penjelasan terhadap Karya Imam an-Nawawi)

Bab VI: Menjelaskan tentang ziarah ke makam tuan kita dan baginda kita Rasulullah (Shallallahu Alyhi Wa Sallam) dan segala permasalahan yang terkait dengannya

Terjemah:

“… Jangan tertipu dengan pengingkaran Ibn Taimiyah terhadapkesunahan ziarah ke makam Rasulullah, karena sesungguhnya dia adalah manusia yangtelah disesatkan oleh Allah; sebagaimana kesesatannya itu telah dinyatakan olehImam al-‘Izz ibn Jama’ah, juga sebagaimana telah panjang lebar dijelaskantentang kesesatannya oleh Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya tersendiriuntuk itu (yaitu kitab Syifa’ as-Siqam Fi Ziyarah Khayr al-Anam). PenghinaanIbn Taimiyah terhadap Rasulullah ini bukan sesuatu yang aneh; oleh karenaterhadap Allah saja dia telah melakukan penghinaan, –Allah maha suci darisegala apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir dengan kesucian yang agung–. KepadaAllah; Ibn Taimiyah ini telah menetapkan arah, tangan, kaki, mata, dan lainsebagainya dari keburukan-keburuan yang sangat keji. Ibn Taimiyah ini telahdikafirkan oleh banyak ulama, –semoga Allah membalas segala perbuatan diadengan keadilan-Nya dan semoga Allah menghinakan para pengikutnya; yaitu merekayang membela segala apa yang dipalsukan oleh Ibn Taimiyah atas syari’at yangsuci ini–“.

Imam Ahmad membolehkan mengalungkan Hirz/ta’widz/semacam jimat dari al-Qur’an, sementara orang2 Wahabi mengatakan syirik!

Imam Ahmad membolehkan mengalungkan Hirz/ta’widz/semacam jimat dari al-Qur’an, sementara orang2 Wahabi mengatakan syirik!!!!

Terjemah:

5494. Ayahku (Ahmad ibn Hanbal) telah berkata kepadaku (Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal): Telah berkata kepada kami Yahya ibn Zakariyya ibn Abi Za’idah: Telah memberitakan kepadaku Isma’il ibn Khalid dari Farras dari asy-Sya’bi, ia (asy-Sya’bi) berkata: “NO PROBLEM / GA MASALAH / BOLEH TA’WIDZ (SEMACAM TULISAN) YANG BERISI AYAT-AYAT AL-QUR’AN DIKALUNGKAN DI LEHER SEORANG MANUSIA”.

5503. Telah berkata kepadaku ayahku (Ahmad ibn Hanbal) dan Abu Kuraib Muhammad ibn al-‘Ala’ serta Zamhuyah, bahwa mereka berkata: Telah berkata kepada kami Ibn Abi Za’idah dari Isma’il bahwa ayahku berkata dalam haditsnya: Telah memberitakan kepadaku Isma’il ibn Abi Khalid dari Farras dari asy-Sya’bi, bahwa ia (Asy-Sya’bi) berkata: NO PROBLEMMM / GA MASALAH TAWIDZ DARI (AYAT-AYAT) AL-QUR’AN YANG DIGANTUNGKAN DI LEHER SEORANG MANUSIA”.

Imam Ahmad ibn Hanbal yang dianggap oleh orang2 wahabi sebagai imam mereka (padahal sebenarnya BOHONG BESAR) membolehkan mangalungkan ta’widz, sementara mereka mengatakan bahwa yang melakukan itu telah menjadi musyrik. Artinya, walaupun dalam mulut mereka tidak mengatakan Imam Ahmad seorang yang musyrik, tapi secara implisit; sadar atau ga sadar mereka menuduh Imam Ahmad ibn Hanbal seorang yang musyrik. Na’udzu Billah!!!!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 419 other followers