Aqidah Ahlusunnah (Allah ada tanpa Tempat) kalahkan Aqidah Mujasimah (Penyembah Dajjal keriting) – Bantahan salafytobat kepada mujasimmah wahaby firanda.com dan mahrus ali sesat (mantan kyai NU menggugat)

Ibnu Taimiyyah dan wahabi Menshahihkan Hadis mungkar(“Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”) dan mengunakannya untuk masalah aqidah

Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh syaikh salafy wahabi dan syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.

Takhrij Hadis Ibnu Abbas
ثنا حماد بن سلمة عن قتادة عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي جعدا امرد عليه حلة خضراء

Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).

Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat

* Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
* Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.

Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.

Ibnu Taimiyyah dan Syaikh wahabi ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ibnu taymiyah dan wahabi dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah

Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290

Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya dan menggunakannya dalam masalah aqidah.

Inilah tuhan kaum hindu (dajjal kriting dari india ‘sami baba’) sama dengan tuhan yang dinanti nantikan oleh kaum mujasimmah wahabi :

Rasulullah saw bersabda kepada kami, Dajjal akan keluar dari bumi ini dibahagian timur bernama Khurasan (Jamiu at Tirmidzi)

Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Nabi saw. bersabda:”Hari Kiamat tidak akan datang hingga 30 Dajal (pendusta) muncul, mereka semua berdusta tentang Allah dan Rasul-Nya.”

“Dajjal adalah seorang laki-laki yang gemuk, berkulit merah dan berambut keriting…” (HR.Bukhari dan Muslim)
“Di awal kemunculannya, Dajjal berkata, Aku adalah nabi, padahal tidak ada nabi setelahku. Kemudian ia memuji dirinya sambil berkata, Aku adalah Rabb kalian, padahal kalian tidak dapat melihat Rabb kalian sehingga kalian mati (HR.Ibnu Majah)

I. Ibnu Taymiyah desesatkan oleh mantan murid muridnya sendiri (adzahabi, ibnu katsir etc)

an-Nasihah al-Dhahabia li ibn Taymiyya


Bukti Scan; Menohok Wahabi

Al-Hâfizh adz-Dzahabi ini adalah murid dari Ibn Taimiyah. Walaupun dalam banyak hal adz-Dzahabi mengikuti faham-faham Ibn Taimiyah, –terutama dalam masalah akidah–, namun ia sadar bahwa ia sendiri, dan gurunya tersebut, serta orang-orang yang menjadi pengikut gurunya ini telah menjadi bulan-bulanan mayoritas umat Islam dari kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah pengikut madzhab al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari. Kondisi ini disampaikan oleh adz-Dzahabi kepada Ibn Taimiyah untuk mengingatkannya agar ia berhenti dari menyerukan faham-faham ekstrimnya, serta berhenti dari kebiasaan mencaci-maki para ulama saleh terdahulu. Untuk ini kemudian adz-Dzahabi menuliskan beberapa risalah sebagai nasehat kepada Ibn Taimiyah, sekaligus hal ini sebagai “pengakuan” dari seorang murid terhadap kesesatan gurunya sendiri. Risalah pertama berjudul Bayân Zghl al-‘Ilm Wa ath-Thalab, dan risalah kedua berjudul an-Nashîhah adz-Dzhabiyyah Li Ibn Taimiyah.

Dalam risalah Bayân Zghl al-‘Ilm, adz-Dzahabi menuliskan ungkapan yang diperuntukan bagi Ibn Taimiyah sebagai berikut [Secara lengkap dikutip oleh asy-Syaikh Arabi at-Tabban dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, lihat kitab j. 2, h. 9/ bukunya ada sama saya]:

“Hindarkanlah olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu jika engkau selamat dari ilmumu sendiri karena engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari musuhmu atau engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari dirimu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya, dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibn Taimiyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian, dan terhadap perempuan. Kemudian ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun. Sungguh saya telah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifatnya (Ibn Taimiyah) ini hingga saya merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata saya medapatinya mengapa ia dikucilkan oleh para penduduk Mesir dan Syam (sekarang Siria, lebanon, Yordania, dan Palestina) hingga mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya, dan bahkan mengkafirkannya, adalah tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan, dan karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka. Anda lihat sendiri, alangkah besar bencana yang ditimbulkan oleh sikap “ke-aku-an” dan sikap kecintaan terhadap kehormatan semacam ini!”.

Adapun nasehat adz-Dzahabi terhadap Ibn Taimiyah yang ia tuliskan dalam risalah an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah, secara lengkap dalam terjemahannya sebagai berikut [Teks lebih lengkap dengan aslinya lihat an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah dalam dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, j. 2, h. 9-11]:

“Segala puji bagi Allah di atas kehinaanku ini. Ya Allah berikanlah rahmat bagi diriku, ampunilah diriku atas segala kecerobohanku, peliharalah imanku di dalam diriku.

Oh… Alangkah sengsaranya diriku karena aku sedikit sekali memiliki sifat sedih!!

Oh… Alangkah disayangkan ajaran-ajaran Rasulullah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya telah banyak pergi!!

Oh… Alangkah rindunya diriku kepada saudara-saudara sesama mukmin yang dapat membantuku dalam menangis!!

Oh… Alangkah sedih karena telah hilang orang-orang (saleh) yang merupakan pelita-pelita ilmu, orang-orang yang memiliki sifat-sifat takwa, dan orang-orang yang merupakan gudang-gudang bagi segala kebaikan!!

Oh… Alangkah sedih atas semakin langkanya dirham (mata uang) yang halal dan semakin langkanya teman-teman yang lemah lembut yang menentramkan. Alangkah beruntungnya seorang yang disibukan dengan memperbaiki aibnya sendiri dari pada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang disibukan dengan mencari-cari aib orang lain dari pada ia memperbaiki aibnya sendiri.
Sampai kapan engkau (Wahai Ibn Taimiyah) akan terus memperhatikan kotoran kecil di dalam mata saudara-saudaramu, sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri?!

Sampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji-muji pikiran-pikiranmu sendiri, atau hanya memuji-muji ungkapan-ungkapanmu sendiri?! Engkau selalu mencaci-maki para ulama dan mencari-cari aib orang lain, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyebut-menyebut orang-orang yang telah mati di antara kalian kecuali dengan sebutan yang baik, karena sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang telah mereka perbuat”.
Benar, saya sadar bahwa bisa saja engkau dalam membela dirimu sendiri akan berkata kepadaku: “Sesungguhnya aib itu ada pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak pernah merasakan kebenaran ajaran Islam, mereka betul-betul tidak mengetahui kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, memerangi mereka adalah jihad”. Padahal, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan, yang apa bila kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan maka seorang manusia akan menjadi sangat beruntung. Dan sungguh, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal (tidak mengerjakan) kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan) yang sama sekali tidak memberikan manfa’at kepada diri mereka. Dan sesungguhnya (Sabda Rasulullah); “Di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang adalah apa bila ia meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfa’at bagi dirinya”. (HR. at-Tirmidzi)

Hai Bung…! (Ibn Taimiyah), demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen dan tajam lidah, engkau tidak pernah mau diam dan tidak tidur. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu (Nabi Muhammad) sangat membenci dan mencaci perkara-perkara [yang ekstrim]. Nabimu melarang kita untuk banyak bertanya ini dan itu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang paling ditakutkan yang aku khawatirkan atas umatku adalah seorang munafik yang tajam lidahnya”. (HR. Ahmad)

Jika banyak bicara tanpa dalil dalam masalah hukum halal dan haram adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras, maka terlebih lagi jika banyak bicara dalam ungkapan-ungkapan [kelompok yang sesat, seperti] kaum al-Yunusiyyah, dan kaum filsafat, maka sudah sangat jelas bahwa itu akan menjadikan hati itu buta.

Demi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan terus berbicara hanya mengungkap kekufuran-kekufuran kaum filsafat supaya kita bisa membantah mereka dengan logika kita??

Hai Bung…! Padahal engkau sendiri telah menelan berbagai macam racun kaum filsafat berkali-kali. Sungguh, racun-racun itu telah telah membekas dan menggumpal pada tubuhmu, hingga menjadi bertumpuk pada badanmu.

Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya diisi dengan tilâwah dan tadabbur, majelis yang isinya menghadirkan rasa takut kepada Allah karena mengingt-Nya, majelis yang isinya diam dalam berfikir.

Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguhnya, ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya maka akan turun rahmat Allah. Bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu disebut-sebut namanya maka mereka dihinakan, dilecehkan, dan dilaknat.

Pedang al-Hajjaj (Ibn Yusuf ats-Tsaqafi) dan lidah Ibn Hazm adalah laksana dua saudara kandung, yang kedua-duanya engkau satukan menjadi satu kesatuan di dalam dirimu. (Engkau berkata): “Jauhkan kami dari membicarakan tentang “Bid’ah al-Khamîs”, atau tentang “Akl al-Hubûb”, tetapi berbicaralah dengan kami tentang berbagai bid’ah yang kami anggap sebagai sumber kesesatan”. (Engkau berkata); Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid, barangsiapa tidak mengetahuinya maka dia seorang yang kafir atau seperti keledai, dan siapa yang tidak mengkafirkan orang semacam itu maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari pada kekufuran Fir’aun. (Engkau berkata); Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita. Demi Allah, [ajaran engkau ini] telah menjadikan banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat.

Oh… Alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (az-Zandaqah) dan kekufuran, terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah seorang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas, dan bersyahwat besar, namun ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakekatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuatan dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibn Taimiyah), bahwa mayoritas pengikutmu tidak lain kecuali orang-orang yang “terikat” (orang-orang bodoh) dan lemah akal?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah orang pendusta yang berakal tolol?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah aneh yang serampangan, dan tukang membuat makar?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah seorang yang [terlihat] ahli ibadah dan saleh, namun sebenarnya dia adalah seorang yang tidak paham apapun?! Kalau engkau tidak percaya kepadaku maka periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!

Wahai Muslim (yang dimaksud Ibn Taimiyah), adakah layak engkau mendahulukan syahwat keledaimu yang selalu memuji-muji dirimu sendiri?! Sampai kapan engkau akan tetap menemani sifat itu, dan berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi?! Sampai kapan engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan?!
Sampai kapan engkau hanya akan mengagungkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan)?!

Sampai kapan engkau akan terus bersahabat dengan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi?!

Sampai kapan engkau hanya akan memuji-muji pernyataan-pernyataan dirimu sendiri dengan berbagai cara, yang demi Allah engkau sendiri tidak pernah memuji hadits-hadits dalam dua kitab shahih (Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim) dengan caramu tersebut?!

Oh… Seandainya hadits-hadits dalam dua kitab shahih tersebut selamat dari keritikmu…! Tetapi sebalikanya, dengan semaumu engkau sering merubah hadits-hadits tersebut, engkau mengatakan ini dla’if, ini tidak benar, atau engkau berkata yang ini harus ditakwil, dan ini harus diingkari.
Tidakkah sekarang ini saatnya bagimu untuk merasa takut?! Bukankah saatnya bagimu sekarang untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah)?! Bukankah engkau sekarang sudah dalam umur 70an tahun, dan kematian telah dekat?! Tentu, demi Allah, aku mungkin mengira bahwa engkau tidak akan pernah ingat kematian, sebaliknya engkau akan mencaci-maki seorang yang ingat akan mati! Aku juga mengira bahwa mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nesehatku ini, sebaliknya engkau akan tetap memiliki keinginan besar untuk membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid, dan engkau akan merinci bagiku berbagai rincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang, sehingga aku sendiri akan berkata kepadaku: “Sekarang, sudah cukup, diamlah…!”.
Jika penilaian terhadap dirimu dari diri saya seperti ini, padahal saya sangat menyangi dan mencintaimu, maka bagaimana penilaian para musuhmu terhadap dirimu?! Padahal para musuhmu, demi Allah, mereka adalah orang-orang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka, sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol, dan para pengangguran yang tidak berilmu.

Aku sangat ridla jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasehatku ini. “Sungguh Allah telah memberikan rahmat kepada seseorang, jika ada orang lain yang menghadiahkan (memperlihatkan) kepadanya akan aib-aibnya”. Karena memang saya adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya saya jika saya tidak bertaubat. Alangkah celaka saya jika aib-aibku dibukakan oleh Allah yang maha mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya, dan hidayah-Nya.

Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para Nabi, atas keluarganya, dan para sahabatnya sekalian.

lebih lengkapnya:
*Imam adzahabi (ahlusunnah) membungkam Wahabi (dalam bidang akidah, tawasul, fiqh etc):

http://salafytobat.wordpress.com/2010/10/20/imam-adzahabi-ahlusunnah-membungkam-wahabi/

ini ada hadiah bagi asatidz wahaby, sebaiknya para pengikut wahaby bertaubat dan mnyediakan lapangan kerja
buat asatidz mereka, shg tidak terus-terusan diperbudak(menjadi hamba dinar badwi najd) untuk menyebarkan
aqidah tajsim wahaby
Aqidah Ahlusunnah kalahkan aqidah palsu kaum Mujasimmah (scan Kitab)
1. Imam Abu Hanifah
[wsiatabuhanifh.jpg]
[wasiat1.jpg]

IMAM ABU HANIFAH TOLAK AKIDAH SESAT “ ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK/BERTEMPAT ATAS ARASY.
Demikian dibawah ini teks terjemahan nas Imam Abu Hanifah dalam hal tersebut ( Rujuk kitab asal sepertimana yang telah di scan di atas) :

“ Berkata Imam Abu Hanifah: Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’al ber istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak bertetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti jua makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptaArasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”. Tamat terjemahan daripada kenyatan Imam Abu Hanifah dari kitab Wasiat beliau.

Amat jelas di atas bahawa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.

Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.

2. ALBANI & AZ-ZAHABI KATA: AKIDAH ISLAM ADALAH “ALLAH WUJUD TANPA BERTEMPAT” & ALLAH TIDAK BERSEMAYAM/DUDUK ATAS ARASY.

Albany tobat dari aqidah wahaby sesat dan salah
[COVER.JPG]
[AL-BANI+TOLAK+TEMPAT1.jpg]

Silakan pembaca rujuk teks kenyataan Allah Wujud Tanpa Bertempat Dan Tanpa Berarah oleh Al-Bani & Az-Zahabi :

Kitab: Mukhtasor ‘Ulu Li ‘Aliyyil ‘Azhim.
Pengarang: Syamsuddin Az-Zahabi.
Pentahkik: Nasiruddin Al-Bani.
Cetakan: Maktab Islami.
Mukasurat: 71.

Kenyataan teks Al-Bani bersumber kitab di atas : “ Apabila kamu telah mendalami perkara tersebut, denganizin Allah kamu akan faham ayat-ayat Al-Quran dan Hadith Nabai serta kenyataan para ulama Salaf yang telah dinyatakan oleh Az-Zahabi dalam kitabnya ini Mukhtasor bahawa erti dan maksud sebalik itu semua adalah makna yang thabit bagi Allah iaitu ketinggian Allah pada makhluk-makhlukNya ( bukan ketinggian tempat), istawanya Allah atas arasyNya layak bagi keagonganNya dan Allah tidak ber arah dan Allah tidak bertempat”.
(Sila rujuk kitab tersebut yang telah di scan di atas).

3. Adzahaby Rah. Kafirkan aqidah Allah duduk dan bertempat
[kabirzahaby.jpg]
[Zkafirkanaqidhjulus.jpg]

Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah Duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair. Demikian teks Az-Zahabi kafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” :

( RUJUK SCAN KITAB TERSEBUT DI ATAS )
Nama kitab: Al-Kabair.
Pengarang: Al-Hafiz Az-Zahabi.
Cetakan: Muassasah Al-Kitab Athaqofah,cetakan pertama 1410h.

Terjemahan.
Berkata Al-Hafiz Az-Zahabi:
“Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas terkeluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah Duduk untuk menetap atau katanya Allah Berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”. Rujuk scan kitab tersebut di atas m/s 142.

Perhatikan bagaimana Az-Zahabi menghukum kafir sesiapa yang mendakwa Allah bersifat Duduk. Sesiapa yang mengatakan Allah Duduk maka dia kafir.
Fokuskan pada kenyataan Az-Zahhabi tidak pula mengatakan “sekiranya seseorang itu kata Allah Duduk seperti makhlukNya maka barulah dia kafir” akan tetapi amat jelas Az-Zahabi terus menghukum kafir kepada sesiapa yang mendakwa Allah Duduk disamping Az-Zahabi menukilkan hukum tersebut dari seluruh ulama Islam.

4. Ibnu Hajar Al-haitsamy aqidah Tajsim Ibnu taymiyah sesat (Aqidah ibnu taymiyah pada kitab-kitabnya sebelum taubat)
[cover.jpg]

Dalam buku Al-Fatawa Al-Hadithiyyah karangan Imam Ibn Hajar Al-Haitami, ketika beliau membahaskan tentang kelebihan golongan fuqaha’ berbanding sebahagian golongan ahli hadith dalam memahami dan mengistinbath hukum daripada hadith-hadith hukum, beliau turut secara tak langsung mengkritik Ibn Taimiyyah.

[373.jpg]

Beliau ditanya: “Hadis itu menyesatkan kecuali bagi ahli Fiqh. Adakah ianya suatu hadith dan apa maknanya? Bukankah seorang ahli Fiqh itu juga perlu tahu mengenai Hadis terlebih dahulu.?!…”

Beliau menjawab: “Kata-kata itu bukanlah dari Rasulullah (sallallahu’alaihi wasallam), ia merupakan kata-kata Ibn ‘Uyainah r.h.l. dan ahli-ahli Fiqh yang lain. Maksud kata-kata itu ialah, hadith itu sendiri seperti Al-Qur’an. Ia kadangkala diriwayatkan dengan lafaz yang umum tetapi dengan maknanya yang khusus, begitu juga sebaliknya. Ada juga Hadis yang Nasikh dan Hadis yang Mansukh (tidak digunakan lagi). Ada juga hadith yang tidak disertai dengan amal (tidak diamalkan). Kadangkala pula, ada hadis yang secara zahirnya seolah-olah menyerupakan Allah dengan makhluk (Tasybih) seperti hadith “Tuhan turun” dan sebagainya. Tidak diketahui akan maknanya kecualilah golongan fuqoha’, berbeza dengan mereka yang tidak mengetahui melainkan sekadar (meriwayatkan lafaz) hadith tersebut. Dengan demikian (tidak mengetahui makna sebenarnya, tetapi sekadar meriwayatkannya secara zahir sahaja) orang akan sesat padanya (pada bermuamalah dengan hadith tersebut) sepertimana yang terjadi kepada sebahagian golongan hadith terdahulu dan golongan hadith yang mutakhir seperti Ibn Taimiyyah dan para pengikutnya. “

Demikian ungkapan Imam Ibn Hajar dalam menggambarkan fenomena di mana sebahagian ahli hadith yang tidak faham makna hadith secara betul, lalu mereka tersesat dengan hadith tersebut. Beliau menyebutkan antara contoh mereka tersebut adalah: “IBN TAIMIYYAH dan para pengikutnya”.

5. Kitab Al-ibanah dipalsukan oleh musuh-musuh islam dan isinya Kontradiktif (bertentangan)
[1.jpg]
[2.jpg]
[4.jpg]
Lihat pada yang di line di halaman 119 scan kitab al-ibanah (dicetakan Saudi Arabia Universiti Islamiah Madinah Munawwarah) diatas :
Allah istawa ditafsirkan :
“yaliqu bihi min ghairi Thulil istiqrar, kamaa qala:….”
Artinya : (Allah istiwa ditafsirkan) : yang sesuai dengan- NYa (kesucian sifat Allah) dari selain “bertempat”/istiqrar/memerlukan tempat”
Lihat pada yang di garis (line) bawah di Halaman 126, (kitab Al-Ibanah tersebut dicetakan Saudi Arabia Universiti Islamiah Madinah Munawwarah):
“wa innahu mustwawin ‘alal ‘arsyihi bila kaifin wala istiqrarin”
Artinya : Dan sesungguhnya Allah ber – istiwa ‘alal ‘arsyhi tanpa bentuk (kaif) dan tanpa bertempat
Lihat kitab Al-Ibanah di atas artikel ini yang telah discan dan perhatikan pada line yang telah digaris, kitab Al-Ibanah tersebut dicetakan Saudi Arabia Universiti Islamiah Madinah Munawwarah cetakan 5 mukasurat 119 & 126.WAHHABI KATA : Imam Abu Hasan Al-Asya’ry pun kata Allah bertempat duduk/bersemayam di atas arasy dalam kitabnya Al-Ibanah.

Sedangkan

IMAM ABU HASAN AL-ASYA’RY PULA SEBUT DALAM KITABNYA ITU SENDIRI: ALLAH BERISTAWA ATAS ARASY TANPA BERBENTUK DAN TANPA MENGAMBIL TEMPAT. Lihat kitab Al-Ibanah di atas artikel ini yang telah discan dan perhatikan pada line yang telah digaris, kitab Al-Ibanah tersebut dicetakan Saudi Arabia Universiti Islamiah Madinah Munawwarah cetakan 5 mukasurat 119 & 126.

Pendusta Wahhabi amat keji disisi Allah dan Islam. Semoga pembohong Wahhabi ini diberi hidayah sebelum mati.

*ISTAWA TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN KEPADA BERSEMAYAM KERANA BERSEMAYAM BERERTI DUDUK, INI BUKAN SIFAT ALLAH. SEPERTI MANA ALMUTAKABBIR TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN KEPADA SOMBONG&ANGKUH KERANA ITU SIFAT JELEK BUKAN SIFAT ALLAH. AKAN TETAPI SEBAIKNYA DITERJEMAHKAN DENGAN MAHA BERKUASA.

6. JENAYAH PEMALSUAN KITAB AL-IBANAH BAGI IMAM ABU HASAN AL-ASY’ARI
(Kitab : Tabyin kizb al-muftari yang telah ditulis oleh al-Imam Ibnu Asakir)


Terdapat lima buah jodol kitab yang dinisbahkan kepada Imam Abu Hasan al-Asy’ari. Diantaranya :

1-Makalat al-Islamiyyin

2-Risalah fi istihsan al-hudh fi ilm al-kalam

3-Al-luma’ fir ad ‘ala ahli al-zaigh wa al-bida’

4-Al-ibanah fi usul al-dianah

5-Risalah ahli al-thaghr

Tiga kitab yang pertama disebut oleh para pengkaji sebagai selamat dari sebarang pemalsuan dan tokok tambah.

Sementara dua jodol (Al-ibanah fi usul al-dianah dan Risalah ahli al-thaghr)

yang terakhir para pengkaji berpendapat ada usaha yang bersungguh-sungguh untuk dipalsukan dari manuskrp yang asal.

Mereka yang dikenali sebagai salafiyyin adalah dari golongan yang bertanggung jawab diatas jenayah pemalsuan isi kandungan aslinya.Al-Allamah al-Kauthari ada menyatakan pada pada muqaddimah kitab tabyin kizb al-muftari : Naskhah kitab al-Ibanah yang dicetak di India adalah merupakan naskhah yang telah dipalsukan sebahagian dari isinya, adalah menjadi kewajipan untuk mencetak semula sebagaimana yang asal dari manuskrip yang dipercayai.

Dr Abd rahman Badawi didalam kitabnya berjodol mazahib islamiyyin menyokong pandangan al-Kauthari dengan katanya :

Apa yang telah disebut oleh al-Kauthari adalah merupakan suatu yang benar , dimana kitab al-Ibanah telah dicetak semula di India dengan permainan pehak-pehak jahat

Para pengkaji mendapati dua pasal dari kitab al-Ibanah yang telah dimuatkan didalam kitab tabyin kizb al-muftari karangan Imam Ibnu Asakir dan kitab al-Ibanah yang berada dipasaran ternyata dengan jelas terdapat pemalsuan.

Contoh pemalsuan kitab al-Ibanah:

Kitab Ibanah yang berada dipasaran : halaman 16 (وأنكروا أن يكون له عينان…. )

Kalimah عينانdengan lafaz tathniah(menunjukkan dua).

Kitab Ibanah cetakkan Dr Fauqiyyah : halaman 22 (وأن له عينين بلا كيف….)

Kalimah yang digunakan juga adalah dari lafaz tathniah(menunjukkan dua).

Kitab Ibnu Asakir halaman 158 : (وأن له عينا بلا كيف….)

Kalimah yang digunakan adalah lafaz mufrad ( satu )

Kalimah mufrad adalahbertepatan dan tidak bertentangan dengan al-Kitab ,al-Sunnahdan pendapat-pendapat salaf.Ini kerana lafaz عينينtidak warid(datang) didalam al-Kitab dan al-Sunnah. Ini kerana menduakan kalimah عينadalah dianggap mengkiaskan Allah dengan makhluk yang sesuatu yang dapat disaksikan secara zahir .Maha suci Allah dari yang demikian itu.

VII. Kisah Ibnu Taymiyah Bertobat dari Aqidah Tajsim
[DurahKaminahIbnutaimiahTaubt.jpg]

Dengan kajian ini dapatlah kita memahami bahawa sebenarnya akidah Ibnu Taymiyah (Sebelum Tobat) dan Wahhabiyah antaranya :
1-Allah duduk di atas kursi.
2-Allah duduk dan berada di atas arasy.
3-Tempat bagi Allah adalah di atas arasy.
4-Berpegang dengan zohir(duduk) pada ayat “Ar-Rahman ^alal Arasy Istawa”.
5-Allah berada di langit.
6-Allah berada di tempat atas.
7-Allah bercakap dengan suara.
8-Allah turun naik dari tempat ke tempat
dan selainnya daripada akidah kufur sebenarnya Ibnu Taimiah telah bertaubat daripada akidah sesat tersebut dengan mengucap dua kalimah syahadah serta mengaku sebagai pengikut Asyairah dengan katanya “saya golongan Asy’ary”.
(Malangnya Wahhabi mengkafirkan golongan Asyairah, lihat buktinya :http://abu-syafiq.blogspot.com/2007/05/hobi-wahhabi-kafirkan-umat-islam.html).

Syeikhul Islam Imam Al-Hafiz As-Syeikh Ibnu Hajar Al-Asqolany yang hebat dalam ilmu hadith dan merupakan ulama hadith yang siqah dan pakar dalam segala ilmu hadith dan merupakan pengarang kitab syarah kepada Sohih Bukhari berjudul Fathul Bari beliau telah menyatakan kisah taubat Ibnu taimiah ini serta tidak menafikan kesahihannya dan ianya diakui olehnya sendiri dalam kitab beliau berjudul Ad-Durar Al-Kaminah Fi ‘ayan Al-Miaah As-Saminah yang disahihkan kewujudan kitabnya oleh ulama-ulama Wahhabi juga termasuk kanak-kanak Wahhabi di Malaysia ( Mohd Asri Zainul Abidin).

Kenyatan bertaubatnya Ibnu Taimiah dari akidah sesat tersebut juga telah dinyatakan oleh seorang ulama sezaman dengan Ibnu Taimiah iaitu Imam As-Syeikh Syihabud Din An-Nuwairy wafat 733H.

Ini penjelasannya :
Berkata Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitabnya berjudul Ad-Durar Al-Kaminah Fi “ayan Al-Miaah As-Saminah cetakan 1414H Dar Al-Jiel juzuk 1 m/s 148

dan Imam As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy wafat 733H cetakan Dar Al-Kutub Al-Misriyyah juzuk 32 m/s 115-116 dalam kitab berjudul Nihayah Al-Arab Fi Funun Al-Adab nasnya:

وأما تقي الدين فإنه استمر في الجب بقلعة الجبل إلى أن وصل الأمير حسام الدين مهنا إلى الأبواب السلطانية في شهر ربيع الأول سنة سبع وسبعمائة ، فسأل السلطان في أمره وشفع فيه ، فأمر بإخراجه ، فأخرج في يوم الجمعة الثالث والعشرين من الشهر وأحضر إلى دار النيابة بقلعة الجبل ، وحصل بحث مع الفقهاء ، ثم اجتمع جماعة من أعيان العلماء ولم تحضره القضاة ، وذلك لمرض قاضي القضاة زين الدين المالكي ، ولم يحضر غيره من القضاة ، وحصل البحث ، وكتب خطه ووقع الإشهاد عليه وكتب بصورة المجلس مكتوب مضمونه : بسم الله الرحمن الرحيم شهد من يضع خطه آخره أنه لما عقد مجلس لتقي الدين أحمد بن تيمية الحراني الحنبلي بحضرة المقر الأشرف العالي المولوي الأميري الكبيري العالمي العادلي السيفي ملك الأمراء سلار الملكي الناصري نائب السلطنة المعظمة أسبغ الله ظله ، وحضر فيه جماعة من السادة العلماء الفضلاء أهل الفتيا بالديار المصرية بسبب ما نقل عنه ووجد بخطه الذي عرف به قبل ذلك من الأمور المتعلقة باعتقاده أن الله تعالى يتكلم بصوت ، وأن الاستواء على حقيقته ، وغير ذلك مما هو مخالف لأهل الحق ، انتهى المجلس بعد أن جرت فيه مباحث معه ليرجع عن اعتقاده في ذلك ، إلى أن قال بحضرة شهود : ( أنا أشعري ) ورفع كتاب الأشعرية على رأسه ، وأشهد عليه بما كتب خطا وصورته : (( الحمد لله ، الذي أعتقده أن القرآن معنى قائم بذات الله ، وهو صفة من صفات ذاته القديمة الأزلية ، وهو غير مخلوق ، وليس بحرف ولا صوت ، كتبه أحمد بن تيمية . والذي أعتقده من قوله : ( الرحمن على العرش استوى ) أنه على ما قاله الجماعة ، أنه ليس على حقيقته وظاهره ، ولا أعلم كنه المراد منه ، بل لا يعلم ذلك إلا الله تعالى ، كتبه أحمد بن تيمية . والقول في النزول كالقول في الاستواء ، أقول فيه ما أقول فيه ، ولا أعلم كنه المراد به بل لا يعلم ذلك إلا الله تعالى ، وليس على حقيقته وظاهره ، كتبه أحمد بن تيمية ، وذلك في يوم الأحد خامس عشرين شهر ربيع الأول سنة سبع وسبعمائة )) هذا صورة ما كتبه بخطه ، وأشهد عليه أيضا أنه تاب إلى الله تعالى مما ينافي هذا الاعتقاد في المسائل الأربع المذكورة بخطه ، وتلفظ بالشهادتين المعظمتين ، وأشهد عليه بالطواعية والاختيار في ذلك كله بقلعة الجبل المحروسة من الديار المصرية حرسها الله تعالى بتاريخ يوم الأحد الخامس والعشرين من شهر ربيع الأول سنة سبع وسبعمائة ، وشهد عليه في هذا المحضر جماعة من الأعيان المقنتين والعدول ، وأفرج عنه واستقر بالقاهرة

Saya terjemahkan beberapa yang penting dari nas dan kenyataan tersebut:

1-
ووجد بخطه الذي عرف به قبل ذلك من الأمور المتعلقة باعتقاده أن الله تعالى يتكلم بصوت ، وأن الاستواء على حقيقته ، وغير ذلك مما هو مخالف لأهل الحق
Terjemahannya: “Dan para ulama telah mendapati skrip yang telah ditulis oleh Ibnu Taimiah yang telahpun diakui akannya sebelum itu (akidah salah ibnu taimiah sebelum bertaubat) berkaitan dengan akidahnya bahawa Allah ta’ala berkata-kata dengan suara, dan Allah beristawa dengan erti yang hakiki (iaitu duduk) dan selain itu yang bertentangan dengan Ahl Haq (kebenaran)”.

2-
قال بحضرة شهود : ( أنا أشعري ) ورفع كتاب الأشعرية على رأسه
Terjemahannya: ” Telah berkata Ibnu Taimiah dengan kehadiran saksi para ulama: ‘ Saya golongan Asy’ary’ dan mengangkat kitab Al-Asy’ariyah di atas kepalanya ( mengakuinya)”.

3-
والذي أعتقده من قوله : ( الرحمن على العرش استوى ) أنه على ما قاله الجماعة ، أنه ليس على حقيقته وظاهره ، ولا أعلم كنه المراد منه ، بل لا يعلم ذلك إلا الله تعالى ، كتبه أحمد بن تيمية
Terjemahan khot tulisan Ibnu Taimiah dihadapan para ulama islam ketika itu dan mereka semua menjadi saksi kenyataan Ibnu Taimiah :
” Dan yang aku berpegang mengenai firman Allah ‘Ar-Rahman diatas Arasy istawa’ adalah sepertimana berpegangnya jemaah ulama islam, sesungguhnya ayat tersebut bukan bererti hakikatnya(duduk) dan bukan atas zohirnya dan aku tidak mengetahui maksud sebenar-benarnya dari ayat tersebut bahkan tidak diketahui makna sebenr-benarnya dari ayat tersebut kecuali Allah.Telah menulis perkara ini oleh Ahmad Ibnu Taimiah”.

4-
وأشهد عليه أيضا أنه تاب إلى الله تعالى مما ينافي هذا الاعتقاد في المسائل الأربع المذكورة بخطه ، وتلفظ بالشهادتين المعظمتين
Terjemahannya berkata Imam Nuwairy seperti yang dinyatakan juga oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany : ” Dan aku antara saksi bahawa Ibnu Taimiah telah bertaubat kepada Allah daripada akidah yang salah pada empat masaalah akidah yang telah dinyatakan, dan Ibnu Taimiah telah mengucap dua kalimah syahadah(bertaubat daripada akidah yang salah pernah dia pegangi terdahulu)”.

ULAMA-ULAMA YANG MENYATAKAN DAN MENYAKSIKAN KISAH TAUBATNYA IBNU TAIMIAH.

Selain Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitabnya berjudul Ad-Durar Al-Kaminah Fi “ayan Al-Miaah As-Saminah cetakan 1414H Dar Al-Jiel juzuk 1 m/s 148

dan Imam As-Syeikh Syihabuddin An-Nuwairy wafat 733H cetakan Dar Al-Kutub Al-Misriyyah juzuk 32 m/s 115-116 dalam kitab berjudul Nihayah Al-Arab Fi Funun Al-Adab yang menyatakan kisah taubat Ibnu Taimiah ramai lagi ulama islam yang menyaksikan dan menceritakan kisah pengakuan tersebut antaranya lagi :

-As-Syeikh Ibnu Al-Mu’allim wafat tahun 725H dalam kitab Najmul Muhtadi Wa Rojmul Mu’tadi cetakan Paris nom 638.

-As-Syeikh Ad-Dawadai wafat selepas 736H dalam kitab Kanzu Ad-Durar – Al0Jam’-239.

-As-Syeikh Taghry Bardy Al-Hanafi bermazhab Hanafiyah wafat 874H dalam Al-Minha As-Sofi m/s576 dan beliau juga menyatakn sepertimana yang dinyatakan nasnya oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam kitabnya yang lain berjudul An-Nujum Az-Zahirah Al-Jami’ 580.

Merekalah dan selain mereka telah menyatakan taubat Ibnu Taimiah daripada akidah Allah Duduk dan bertempat di atas arasy.

VIII. Di Antara Bukti “al-Imam al-Hafizh Murtadla az-Zabidi Asyafi’i” didalam kitab ithaf katakan Ibn Taimiyah Sesat

هذا ما ذكره الحافظ مرتضى الزبيدي في شرح الإحياء ج2/106 طبع دار الفكر ما نصه: قال التقي السبكي “وكتاب العرش من أقبح كتبه (أي لابن تيمية) ولما وقف عليه الشيخ أبو حيان ما زال يلعنه حتى مات بعد أن كان يعظمه” اهـ بحروفه.

Terjemah:

Berikut ini adalah dari tulisan al-Imam al-Hafizh Murtadla az-Zabidi dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Fi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddid di atas, cet. Dar al-Fikr Bairut, j. 2, hlm. 106:

“Imam Taqiyyuddin as-Subki (Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki -w 756 H-, seorang ulama yang telah mencapai derajat Mujtahid mutlak) berkata: “Buku berjudul AL-’ARSY adalah di antara karyanya (Ibn Taimiyah) yang paling buruk [[Ibn Taimiyah al-Mujassim ini mengatakan Allah duduk di atas arsy]], ketika Syaikh Abu Hayyan al-Andaulusi mendapatkan buku ini maka ia senantiasa melaknat Ibn Taimiyah hingga beliau meninggal dunia; setelah sebelumnya beliau mengagungkan Ibn Taimiyah”.

IX. Bukti (Kitab al fiqh al absath) Aqidah Imam Abu Hanifah “ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH”,

Terjemah:

Lima: Apa yang beliau (Imam Abu Hanifah) tunjukan –dalam catatannya–: “Dalam Kitab al-Fiqh al-Absath bahwa ia (Imam Abu Hanifah) berkata: Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum menciptakan segala makhluk, Dia ada sebelum ada tempat, sebelum segala ciptaan, sebelum segala sesuatu”. Dialah yang mengadakan/menciptakan segala sesuatu dari tidak ada, oleh karenanya maka tempat dan arah itu bukan sesuatu yang qadim (artinya keduanya adalah makhluk/ciptaan Allah).

Keterangan:
Kitab ini berjudul Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imam adalah karya Imam al-Bayyadli. Isinya adalah penjelasan aqidah yang diyakini oleh Imam Abu Hanifah sesuai risalah2 yang ditulis oleh Imam Abu Hanifah sendiri.

X. Fitnah Hanabilah Mujassimah Yang Menyebabkan Berlakunya Pertumpahan Darah Di Baghdad

1. Fahaman al-Tajsim pernah melanda mazhab Imam Ahmad Ibn Hanbal (selepas kewafatan beliau) sehingga timbul istilah “al-Hanabilah al-Mujassimah” atau “Mujassimah al-Hanabilah.”

2. Al-Imam al-Allamah al-Muhaddith al-Nassabah Ibn al-Athir (wafat 630H) menukilkan di dalam kitab sejarahnya yang sangat terkenal “al-Kamil fi al-Tarikh” mengenai salah satu fitnah al-Hanabilah al-Mujassimah di Baghdad. [Lihat gambar yang disediakan]

Terjemahan:

Tahun Tiga Ratus dan Tujuh Belas (Hijrah)

Pada Menyatakan Beberapa Peristiwa

“Dan padanya satu fitnah yang besar telah berlaku di Baghdad di antara pengikut Abu Bakar al-Marwazi al-Hanbali dan orang-orang lain daripada masyarakat umum. Dan ramai daripada tentera telah masuk ke dalamnya (Baghdad).

Dan sebab bagi (fitnah) tersebut ialah bahawa sesungguhnya para pengikut al-Marwazi mentafsirkan firman Allah Ta’ala (Surah al-Isra’: 79):

“semoga Tuhanmu membangkit dan menempatkanmu pada hari akhirat di tempat yang terpuji.”

bahawa sesungguhnya Allah [Maha Suci] akan meletakkan Nabi SAW bersamanya di atas Arash.

Dan golongan yang lain pula berkata: Hanyasanya ia (tempat yang terpuji itu) adalah Shafaat.

Maka berlakulah fitnah dan mereka saling berbunuhan, sehingga yang terbunuh di kalangan mereka itu sangat ramai.”

3. Lihatlah wahai pembaca budiman yang mencari kebenaran, fitnah Tajsim yang timbul pada tahun 317H di Baghdad dari salah seorang Hanabilah Mujassimah iaitu Abu Bakar al-Marwazi al-Hanbali telah menyebabkan pertumpahan darah yang banyak berlaku di kalangan umat Islam, hasil daripada tafsiran menyelewengnya terhadap nas al-Quran.

 

XI. BUKTI AQIDAH ALLAH TANPA TEMPAT DAN ARAH DI KITAB AL-AQIDAH ATH-THAHAWIYAH (Abu Ja’far At-Thahawi)

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Al-‘Allamah Hujjatul Islam Abu Ja’far Al-Warraq Ath-Thahawi-di Mesir-berkata: “Inilah penuturan keterangan tentang aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menurut mahdzab para ahli fiqih Islam: Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit Al-Kufi, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim Al-Anshari dan Abu Abdillah Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani Ridwanallahu ‘alaihim ajma’in, beserta pokok-pokok keagamaan yang mereka yakini dan mereka gunakan untuk beribadah kepada Allah Rabbil ‘alamin.”

Cover matan aqidah thahawiyah:

Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata (lihat pada scan kitab pada point 12):

Tarjamah:

“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

Allah tidak berhajat pada arsy dan makhluq bahkan Allah menguasai Arsy dan semua makhluq:

Tarjamah matan aqidah thahawiyah point 16:

“Dan arsy dan kursy adalah benar adanya (haq), dan Dia tidak membutuhkan ‘Arsy-Nya itu dan apa yang ada di bawahnya. Dia menguasai segala sesuatu dan apa-apa yang ada di atas (arsy)nya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk menguasai segala sesuatu.”
Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

XII. al Imam al Hafizh Ibn al Jawzi Membongkar Kesesatan Aqidah Tasybih wahabi (penyembah dajjal keriting) ((( Mewaspadai Ajaran Wahabi )))

Kitab ini berjudul “Talbis Iblis”, [ artinya Membongkar Tipu Daya Iblis ], karya al Imam al Hafizh Abdurrahman ibn al Jawzi (w 579 H), salah seorang ulama terkemuka (–bahkan rujukan–) dalam madzhab Hanbali.

Terjemahan yang diberi tanda:

“Mereka yang memahami sifat-sifat Allah dalam makna indrawi ada beberapa golongan. Mereka berkata bahwa Allah bertempat di atas arsy dengan cara menyentuhnya, jika DIA turun (dari arsy) maka DIA pindah dan bergerak. Mereka menetapkan ukuran penghabisan (bentuk) bagi-NYA. Mereka mengharuskan bahwa Allah memiliki jarak dan ukuran. Mereka mengambil dalil bahwa Dzat Allah bertempat di atas arsy [--dengan pemahaman yang salah--] dari hadits nabi: “Yanzil Allah Ila Sama’ ad Dunya”, mereka berkata: “Pengertian turun (yanzil) itu adalah dari arah atas ke arah bawah”.

Mereka memahami makna “nuzul” (dalam hadits tersebut) dalam pengertian indrawi yang padahal itu hanya khusus sebagai sifat-sifat benda. Mereka adalah kaum Musyabbihah yang memahami sifat-sifat Allah dalam makna indrawi (meterial). Dan Telah kami paparkan perkataan-perkataan mereka dalam kitab karya kami berjudul “Minhaj al Wushul Ila ‘Ilm al Ushul”.

Imam Ibn al Jawzi al Hanbali menegaskan bahwa KEYAKINAN ALLAH BERTEMPAT DI ATAS ARSY ADALAH KEYAKINAN MUSYABBIHAH. Lihat, beliau adalah ulama besar dalam madzhab Hanbali, hidup jauh sebelum datangnya Ibnu Taimiyah dengan faham-faham Tasybih-nya. Ratusan tahun sebelum datang Muhammad bin Abdil Wahhab dengan faham-faham Tajsim-nya…….

Catatan Penting:

Ibn al-Jauzi adalah al-Imam al-Hafizh Abdurrahman ibn Abi al-Hasan al-Jauzi (w 597 H), Imam Ahlussunnah terkemuka, ahli hadits, ahli tafsir, dan seorang teolog (ahli ushul) terdepan. Beliau bermadzhab Hanbali.

Awas salah; beda antara Ibn al-Jauzi dengan Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Adapun ibn Qayyim al-Jauziyyah ini adalah Muhammad ibn Abi Bakr az-Zar’i (w 751 H) murid dari Ibn Taimiyah yang dalam keyakinannya persis sama dengan Ibn Taimiyah sendiri; dua-duanya orang sesat dan menyesatkan.

XIII. Imam As-subki beraqidah ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH DALAM KITABNYA “as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil”


Kitab ini “as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil” adalah karya al-Imam al-Hafizh Taqiyyuddin as-Subki (756 H); Ulama terkemuka dalam madzhab Syafi’i yang telah mencapai derajat Mujtahid Mutlak. Isinya dari a sampe z membantah aqidah sesat Ibn Qayyim (murid Ibn Taimiyah). Guru dan murid ini sama-sama berakidah tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya); mengatakan Allah duduk di atas arsy. Na’udzu Billah!!! Ibn Zafil yang dimaksud dalam kitab di atas adalah Ibn Qayyim.

Terjemah 1:
al-Bayhaqi telah mengutip dalam kitab Manaqib Ahmad dari pemimpin ulama madzhab Hanbali –yang juga putra dari pimpinan ulama madzhab Hanbali–; yaitu Imam Abu al-Fadl at-Tamimi, bahwa beliau (Abu al-Fadl) berkata: “Imam Ahmad sangat mengingkari terhadap orang yang mengatakan bahwa Allah sebagai benda (jism). Dan ia (Imam Ahmad) mengatakan bahwa nama-nama Allah itu diambil dari tuntunan syari’at dan dengan dasar bahasa. Sementara para ahli bahasa mengatakan bahwa definisi “jism” (benda) hanya berlaku bagi sesuatu yang memiliki panjang, lebar, volume, susunan, bentuk, (artinya yang memiliki dimensi), padahal Allah Maha Suci dari pada itu semua. Dengan demikian Dia (Allah) tidak boleh dinamakan dengan “jism” (benda), karena Dia Maha Suci dari makna-makna kebendaan, dan penyebutan “jism” pada hak Allah tidak pernah ada di dalam syari’at; maka itu adalah sesuatu yang batil”.

Terjemah 2:

al-Bayhaqi dalam kitab Manaqib Ahmad berkata: “Telah mengkabarkan kepada kami al-Hakim, berkata: Mengkabarkan kepada kami Abu Amr ibn as-Sammak, berkata: Mengkabarkan kepada kami Hanbal ibn Ishak, berkata: Aku telah mendengar pamanku Abu Abdillah (Ahmad ibn Hanbal) berkata: ”Mereka (kaum Mu’tazilah) mengambil dalil dalam perdebatan denganku, –ketika itu di istana Amîr al-Mu’minîn–, mereka berkata bahwa di hari kiamat surat al-Baqarah akan datang, demikian pula surat Tabarak akan datang. Aku katakan kepada mereka bahwa yang akan datang itu adalah pahala dari bacaan surat-surat tersebut. Dalam makna firman Allah “Wa Ja’a Rabbuka” (QS. al-Fajr 23), bukan berarti Allah datang, tapi yang dimaksud adalah datangnya kekuasaan Allah. Karena sesungguhnya kandungan al-Qur’an itu adalah pelajaran-pelajaran dan nasehat-nasehat”. Dalam peristiwa ini terdapat penjelasan bahwa al-Imâm Ahmad tidak meyakini makna “al-Majî’” (dalam QS. al-Fajr di atas) dalam makna Allah datang dari suatu tempat. Demikian pula beliau tidak meyakini makna “an-Nuzûl” pada hak Allah yang (disebutkan dalam hadits) dalam pengertian turun pindah dari satu tempat ke tempat yang lain seperti pindah dan turunnya benda-benda. Tapi yang dimaksud dari itu semua adalah untuk mengungkapkan dari datangnya tanda-tanda kekuasaan Allah, karena mereka (kaum Mu’tazilah) berpendapat bahwa al-Qur’an jika benar sebagai Kalam Allah dan merupakan salah satu dari sifat-sifat Dzat-Nya, maka tidak boleh makna al-Majî’ diartikan dengan datangnya Allah dari suatu tempat ke tampat lain. Oleh karena itu al-Imâm Ahmad menjawab pendapat kaum Mu’tazilah dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah datangnya pahala bacaan dari surat-surat al-Qur’an tersebut. Artinya pahala bacaan al-Qur’an itulah yang akan datang dan nampak pada saat kiamat itu”.

XIV. Tafsir Athobari gunakan Takwil “Yad/tangan” dengan “KEKUASAAN”


Melakukan Takwil terhadap Nash2 Mutasyaabihaat itu terlarang jika dilakukan oleh orang2 yg tidak mempunyai kapasitas untuk itu. Adapun untuk para ahlinya, –sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Thabari; lihat scan di atas– , seperti yang dilakukan oleh para ulama Salaf Saleh, seperti; Imam Ibnu ‘Abbas, Imam Mujahid, Imam Qatadah, Imam Syu’bah, Imam Sufyan al-Tsawri, maka hal itu sudah pasti dapat dibenarkan.

Sahabat Abdullah ibn Abbas mentakwil firman Allah “Bi Aydin”; kata Aydin” adalah jamak dari “yad”, beliau mengatakan “yad” artinya “al-Quwwah” (kekuasaan)….!!!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

artikel ini juga merupakan bantahan:
Bantahan salatobat kepada mujasimmah wahaby firanda.com dan mahrus ali sesat (mantan kyai NU menggugat)

Ratusan scam kitab ahulusnnah dari abad 1 hijriah berakidah Allah ada tanpa tempat dan arah: (versi video)

Tafsir hadis kitab al Misykat Al Mashobih: Jangan kamu jadikan kuburku perayaan/hari raya

Berkata al Hafiz al Sakhawi didalam kitab beliau berjodol fi’“Al Qaulul Badi’ fi sholati a’la al habibi al syafi”…

Ini beberapa faedah yang kami sudahi padanya bab yang keempat.

Berkata pengarang kitab “ Silah al mu’min’..
Sabdaan Nabi alaihi sholatu wassalam :
و لا تجعلوا قبرى عيدا

Jangan kamu jadikan kuburku perayaan/hari raya .

Diihtimalkan bahwa adalah kehendaknya

“ الحث على كثرة زيارةه , ولا يجعل كاعيد الذى يأتى فى العام الا مرتين .
Bersungguh-sungguh atas membanyakkan ziarah (kubur Nabi) dan jangan dijadikan menziarahinya nya seperti hari raya yang hanya mendatangi ziarah hanya dalam setahun Cuma 2 kali sahaja.

Yang menguatkan tafsiran makna ini adalah satu hadis;

لا تجعلوا بيوتكم قبورا.

– اى لا تتركوا الصلاة فى بيوتكم حتى تجعلوا ها كالقبور التى لا يصلى فيها.

“Jangan kamu jadikan rumah-rumah kamu seperti kubur .”

Maknanya jangan kamu tinggalkan sembahyang didalam rumah-rumah kamu hingga kamu jadikan dia seperti kubur yang mana kubur memang tidak ada sembahyang dalamnya. Intahaa.

Sebahagian pensyarah kitab hadis berjodol “al Misykat Al Mashobih” karangan at Tabrizi yang memuatkan didalamnya hadis-hadis yang sangat bermutu :

Mereka telah menulis ; ‘ Didalam ayat hadis tersebut ada ayat atau kalimat yang dihazaf ‘ dibuang atau tidak disebut’ taqdir ayatnya :

لا تجعلوا زيارة قبرى عيدا

Jangan kamu jadikan menziarahi kuburku seperti hari raya…

Maknanya : Tegahan untuk menziarahi Alaihi sholatu wassalam seperti perhimpunan hari raya, sesungguhnya Yahudi dan Nashrani mereka berhimpun untuk menziarahi kubur Nabi-nabi mereka dan sibuk mereka dengan permainan dan pukulan gendang . maka Nabi s.a.w telah menegah umatnya berbuat seperti itu

Fatwa mufti mesir : Hukum mencabut/mencukur bulu mata – mencukur kumis (halus) dan jenggot bagi wanita

Pusat Fatwa Mesir – Mufti mufti Ahlusunnah wal jamaah Madzab Syafi’i terpercaya menyediakan layanan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia/Melayu

Tampil cantik dan menarik merupakan kodrat kewanitaan. Di era modern ini, sebagian kaum hawa melakukan berbagai macam perawatan agar tampil cantik. Salah satu bentuk perawatan yang ditawarkan rumah-rumah kecantikan adalah mencukur atau mencabut bulu alis mata. Sebagian kaum wanita yang merasa bulus alisnya tidak sesuai dengan keinginan mencoba menghilangkannya. Selanjutnya, mereka akan membentuk sendiri bulu matanya dengan cara melukis sesuai dengan tren dan keinginan. Masalah mencabut atau mencukur bulu alis yang dilakukan kaum hawa telah berkembang sejak zaman dulu. Bahkan, dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud RA, Rasulullah SAW memberi perhatian khusus terhadap masalah ini. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah mengutuk perempuan-perempuan pentato dan mereka yang minta ditato, perempuan-perempuan pencukur alis dan mereka yang dicukur alisnya, perempuan-perempuan yang mengikir giginya agar lebih indah dan mereka yang mengubah ciptaan Allah.”

Ibrahim Muhammad al-Jamal dalam buku Fiqih Wanita, mengatakan, mengubah ciptaan Allah yang dengan cara menambah atau mengurangi dilarang agama. Menurut dia, mengubah bentuk wajah dengan make up, bentuk bibir maupun alis, termasuk juga mencukur alis, mengecat kuku dan lainnya adalah haram. Menurut al-Jalam, Islam menganggap hal itu sebagai cara berhias yang berlebihan. Lebih jauh dijelaskan, dewasa ini banyak wanita yang justru tidak mengerti tabiatnya sendiri. Mereka tidak tahu bahwa dengan keluarnya dari tabiat kewanitaan, mereka tidak lagi asli dan tidak benar-benar wanita lagi. Padahal, papar al-Jamal, setiap wanita sebenarnya telah diciptakan Allah dengan wajah tersendiri. Oleh sebab itulah, dia meminta agar kaum Muslimah tidak meniru-niru praktik yang dinilai bertentangan dengan Sunatullah tersebut.

Mufti Agung Mesir, Syekh Ali Jum’ah Muhammad juga telah mengeluarkan fatwa terkait an-namsh atau mencabut bulu alis. Menurut dia, terdapat dua pendapat dikalangan para ahli bahasa mengenai masuknya bulu-bulu lain yang tumbuh diwajah kedalam larangan ini. “Perbedaan inilah yang mendasari perbedaan ulama mengenai hukum mencabut bulu selain bulu alis; antara yang menghalalkan dan yang mengharamkannya,” papar Syekh Ali Jum’ah. Menurut beliau, an-namishah adalah perempuan yang mencabut bulu alis orang lain. Sedangkan, al-mutanammishah adalah perempuan yang menyuruh orang lain untuk mencabut bulu alisnya. “Ancaman dalam bentuk laknat dari Allah SWT atau Rasulullah SAW atas suatu perbuatan tertentu merupakan pertanda bahwa perbuatan itu termasuk dalam dosa besar,” papar Syekh Ali Jum’ah. Sehingga, kata dia, mencabut bulu alis bagi wanita adalah haram jika dia belum berkeluarga, kecuali untuk keperluan pengobatan, menghilangkan cacat atau guna merapikan bulu-bulu yang tidak beraturan. Perbuatan yang melebihi batas-batas tersebut, hukumnya dalah haram. Menurut Syekh Ali Jum’ah, perempuan yang sudah berkeluarga, diperbolehkan melakukannya jika mendapat izin dari suaminya, atau terdapat indikasi yang menunjukan izin tersebut. “Ini merupakan pendapat jumlah [mayoritas] ulama.”

Mereka beralasan bahwa hal itu termasuk bentuk berhias yang diperlukan sebagai benteng guna menjauhi hal-hal tidak baik dan untuk menjaga kehormatan ['iffah]. Maka secara syar’i, seorang istri diperintahkan untuk melakukan demi suaminya. Hal itu sesuai dengan hadis yang diriwayatkan ath-Thabari dari istri Abu Ishak.
Pada suatu hari dia berkunjung kepada Aisyah RA. Istri Abu Ishak itu adalah seorang perempuan yang suka berhias. Dia berkata kepada Aisyah, “Apakah seorang perempuan boleh mencabut bulu disekitar keningnya demi suaminya?” Aisyah menjawab, “Bersihkanlah dirimu dari hal-hal yang mengganggumu semampumu.” Dalam risalah Ahkaam an Nisaa’ karya Imam Ahmad, beliau mengatakan, Muhammad bin Ali al Wariq memberitakan, katanya, “Mahna bercerita kepada kamu bahwa dia pernah bertanya kepada Abu Abdillah tentang mencukur wajah. Maka dia menjawab, “Bagi wanita itu tidak ada jeleknya.”Akan tetapi, oleh peneliti risalah itu dijelaskan, “Mencabut pun termasuk mengubah wajah juga. Karena mencabut artinya membedol rambut dari tempat aslinya, sehingga seolah-olah tempat itu akhirnya tidak berambut, padahal aslinya berambut. Berarti mencabutpun sama halnya dengan melakukan perubahan.”

Dalam kitab Ad Diin al Khalish, Imam Ahmad kembali menegaskan, “Kalau ada wanita yang tumbuh kumis atau janggut, maka tidaklah haram menghilangkannya, bahkan mustajab atau malah wajib.”Berdasarkan pendapat itu wanita hendaknya membersihkan wajahnya sesuai dengan kewanitaannya. Caranya, seperti disampaikan kembali oleh Imam Ahmad, membersihkan wajah dari rambut-rambut yang berlebihan, jangan memakai pisau cukur, tapi hilangkanlah dengan krem, bedak khusus atau yang sejenisnya.

Artikel ini ditulis oleh Yusuf Assidiq, Harian Umum Republika Pada Tajuk “Fikih Muslimah” edisi Jum’at 8 Januari 2010.

Fatwa MUI tentang Makanan dan Minuman Halal atau Haram – Minuman Beralkohol – Alkohol dan Turunannya – Khamr – etc

Fatwa MUI tentang Makanan dan Minuman Halal atau Haram

Fatwa MUI tentang Makanan dan Minuman Halal atau Haram

KUTIPAN KEPUTUSAN FATWA MUI NO 4/2003 TENTANG PEDOMAN FATWA PRODUK HALAL
Alkohol dan Turunannya
1. Khamar adalah setiap yang memabukkan, baik minuman maupun yang lainnya. Hukumnya haram.
2. Minuman Yang termasuk dalam Kategori khamar adalah minuman yang mengandung ethanol (C2H5OH) minimal 1 %.
3. Minuman yang termasuk kategori khamar adalah najis.
4. Minuman yang mengandung ethanol dibawah 1 % sebagai hasil fermentasi yang direkayasa adalah haram atas dasar preventif, tapi tidak najis.
5. Minuman yang dibuat dari air perasan tape dengan kandungan ethanol minimal 1 % termasuk kategori khamar.
6. Tape tidak termasuk khamar.
7. .Ethanol yang merupakan senyawa murni yang bukan berasal dari industri khamar adalah suci.

DEWAN PIMPINAN MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua komisi Fatwa : Prof. KH. Ibrahim Hosen (Alm)8
Ditetapkan/difatwakan: Jakarta, 18 April 2000

Cacing adalah salah satu jenis hewan yang masuk ke dalam kategori al-hasyarat. Membudidayakan cacing untuk diambil sendiri manfaatnya, untuk pakan burung misalnya, tidak untuk dimakan atau dijual, hukumnya boleh (mubah).

DEWAN PIMPINAN MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua komisi Fatwa : Prof. KH. Ibrahim Hosen (Alm)
Ditetapkan/difatwakan: Jakarta, 25 Desember 1999

Membudidayakan jangkrik untuk diambil manfaatnya, untuk obat-obatan/Kosmetik misalnya, untuk dimakan atau dijual hukumnya adalah boleh (mubah), halal (sepanjang tidak menimbulkan bahaya/mudhorot).

MUI juga mengumumkan ketidakjelasan kandungan produk makanan Hoka Hoka Bento dan roti keluaran Singapura, BreadTalk. Menurut Maruf, MUI belum menyatakan pendapatnya karena sampai saat ini BreadTalk dan Hoka Hoka Bento tidak lagi meneruskan pengurusan izin menyangkut label halal ke Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik MUI (LPPOM-MUI). �Kami hanya mengimbau kepada masyarakat bahwa kedua makanan itu dalam posisi yang tidak pasti halal atau haramnya, tuturnya.

Ketidakbolehan mengkonsumsinya mengacu pada Fatwa MUI no 4 tahun 2003 : “Tidak boleh mengkonsumsi dan menggunakan makanan/minuman yang menimbulkan rasa/aroma (flavor) benda-benda atau binatang yang diharamkan”. Hal ini lebih pada efek mencegah (preventive) untuk menyukai sesuatu yang haram, sebagai mana yang disampaikan oleh ketua komisi Fatwa MUI, KH Ma’ruf Amin; Al washilatu ilal haram haramun; segala sesuatu jalan menuju haram adalah haram. So inilah perbedaan kita sebagai orang muslim, memiliki jati diri untuk tidak ikut-ikutan pada suatu yang mendatangkan ketidakbaikan
Minuman keras atau khmar adalah produk yang dihasilkan melalui proses fermentasi dengan menggunakan khamir (ragi sacharomyces cereviciae), pada bahan yang yang mengandung pati atau mengandung gula tinggi. Proses fermentasi adalah proses yang sudah dikenal sejak berabad tahun yang lalu. Pada zaman kehidupan Rasulullah saw , beliau melarang para sahabat untuk mengkonsumsi jus buah yang umurnya lebih dari 3 hari, atau ketika saribuah tersebut dalam kondisi menggelegak (berbuih). Berdasarkan penelitian para pakar, ternyata perasan sari buah yang sudah berumur lebih dari 3 hari tersebut, maka kandungan alcohol (ethanolnya sudah lebih dari 1 persen). Berdasarkan fakta inilah kemudian komisi Fatwa MUI menetapkan batas maksimal kandungan alcohol (sebagai senyawa tunggal, ethanol) yang digunakan sebagai pelarut dalam produk pangan yaitu 1 persen. Bagi konsumen muslim, minuman yang merupakan hasil fermentasi yang menghasilkan minuman beralkohol adalah haram untuk dikonsumsi. Minuman keras atau sering disebut dengan minuman beralkohol tersebut diproduksi dari setiap bahan yang mengandung karbohidrat (pati) seperti biji-bijian, umbi-umbian , atau pun tanaman palma (seperti legen, kurma). Adapun alcohol yang sering disebut sebagai konsen dari minuman keras ini sebenarnya adalah senyawa ethanol (ethyl alcohol) suatu jenis alcohol yang paling popular digunakan dalam industri. Menurut peraturan Menteri Kesehatan No 86 tahun 1997, minuman beralkohol dibedakan menjadi tiga (3) golongan. Golongan A dengan kadar alcohol 1-5 % misalnya bir. Golongan B dengan kadar alcohol 5-20 % misalnya anggur dan Golongan C dengan kadar alcohol 20-55 % misalnya whisky dan brandy. Adapun proses produksi fermentasi karbohidrat mencakup tiga (3) tahapan yaitu (1) pembuatan larutan nutrien, (2) fermentasi, dan (3) destilasi etanol. Destilasi adalah pemisahan ethanol dari cairan fermentasi. Adapun bahan-bahan yang mengandung gula tinggi, maka tidak memerlukan perlakuan pendahuluan yang berbeda dengan bahan yang berasal dari pati dan selulosa yang memerlukan penambahan asam (perlakuan kimia) maupun proses enzimatis (penambahan enzym) untuk menghidrolisisnya menjadi senyawa yang lebih sederhana. Jika bahan-bahan untuk fermentasi berasal dari biji-bijian seperti gandum dan cereal lainnya, maka bahan tersebut harus di rendam dalam air (soaking) hingga berkecambah , direbus, diproses menjadi mash dan dipanaskan. Disamping penggunaan mikroorganisme pada proses fermentasi, kondisi optimal fermentasi harus dijaga seperti masalah aerasi, pH, suhu dan lain-lain.

Untuk masakan Jepang, hati-hatilah dengan teriyaki (dan sausnya). Saus teriyaki dibuat dengan mencampurkan shoyu (kecap Jepang) dengan mirin dan sake (miras tradisional Jepang). Lalu dibumbui parutan bawang putih dan lain-lain. Tiramisu juga biasa menggunakan rhum.
Yang juga sudah populer adalah rhum. Arak ini biasa digunakan dalam pembuatan cake cokelat (black forest atau choco cake lainnya). Minuman Long Island Ice Tea, dibuat dengan campuran rhum plus vodka, gin dan sprite.

Darah yang biasa digunakan berasal dari babi dan sapi. Darah kambing dan domba, juga dimanfaatkan secara terbatas, tetapi darah dari unggas, kuda, dan hewan lain jarang digunakan. Ada beberapa bahan pengisi yang biasa digunakan diantaranya daging, lemak, gajih, remah roti, ubi jalar, barley, dan oatmeal. Penggunaan darah sebagai bahan makanan, ternyata bukan monopoli, orang Eropa, Amerika, Australia, atau Selandia Baru saja. Indonesia di tempat tertentu pun biasa menggunakan darah. Contoh yang paling aktual adalah marus, yakni darah yang dibekukan dalam wadah. Kemudian darah beku tersebut dipotong-potong sehingga sekilas seperti potongan hati ayam atau hati sapi. Atau yang paling terkenal adalah pembuatan lawar. Lawar adalah produk tradisional Bali yang terdiri dari sayur-sayuran dan bumbu lain, yang biasanya ditambahkan dengan darah segar. Penggunaan darah sebagai bahan makanan, jelas tidak diperbolehkan, karena Allah telah mengharamkannya. Bisa dilihat pada pad QS Al Maidah : 3 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tecekik, yang dipukul, yang jatuh ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali kamu sempat menyembelihnya.” . Walaupun darah tersebut berasal dari hewan halal yang disembelih secara syariah sekalipun.

FORMALIN

Bahan halal jika dalam penggunaannya menyebabkan kemudhararatan, hukumnya menjadi haram. Namun tidak berlaku sebaliknya. Formalin. Cairan tak berwarna dan berbau ini belakangan jadi gunjingan. Bahan yang sering digunakan untuk mengawetkan aneka bahan makanan ini, adalah bahan berbahaya yang bersifat karsinogenik.
Tak hanya dari sisi kesehatan saja bahan ini diharamkan. Secara syariat, bahan yang menyebabkan mudharat juga diharamkan. Formalin masuk dalam barisan ini, jika pemakaiannya disalahgunakan.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Amidhan menyatakan bahwa penggunaan formalin untuk mengawetkan makanan hukumnya adalah haram. Menurutnya, haramnya formalin dalam pengawetan makanan ini karena bisa menyebabkan mudharat berupa penyakit yang berakibat pada kematian.
Menurutnya, ada tiga jenis makanan yang haram dikonsumsi, yaitu yang memang haram (seperti daging babi dan daging dan penyembelihannya tanpa menyebut nama Allah), makanan yang mengandung najis, dan makanan yang menyebabkan mudharat. Karena itulah, makanan yang mengandung formalin masuk kategori haram karena bisa menimbulkan kemudharatan, seperti penyakit dan juga kematian.
”Meskipun penyakit yang ditimbulkan formalin baru akan dirasakan dalam jangka waktu panjang, namun karena menyebabkan kemudharatan, makanya hukumnya jadi haram,”jelasnya kepada Republika, Selasa malam (3/1).
Namun, meski haram untuk digunakan sebagai pengawet makanan, formalin sendiri tidaklah haram. ”Sebagai zat kimia, selama tidak digunakan untuk mengawetkan makanan, formalin tidak diharamkan,” katanya.
Menurut Amidhan, maraknya penggunaan formalin untuk makanan di masyarakat adalah tanggung jawab pemerintah. Pasalnya, penggunaan formalin sudah berlangsung sejak lama dan terus dibiarkan penggunaannya oleh pemerintah. ”Seharusnya pemerintah melakukan kontrol penggunaan formalin dan melarang penggunaannya,”jelasnya.
MUI sendiri, jelasnya, belum berencana mengeluarkan fatwa khusus tentang hukum haram penggunaan formalin dalam makanan. ”Sebenarnya tanpa harus difatwakan secara khusus oleh MUI, makanan yang mengandung formalin sudah haram karena mengundang kemudharatan,”katanya. Namun ia menyatakan bahwa MUI siap jika diminta masyarakat untuk membuat fatwa terkait penggunaan formalin untuk makanan ini.
Senada dengan pernyataan ketua MUI, hal yang sama juga dinyatakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi. Muzadi menyatakan mengatakan bahwa bahan pengawet mayat tersebut tidaklah haram. Menurutnya, yang diharamkan adalah penggunaannya saja. “Sama saja dengan racun tikus. Racunnya kan tidak haram. Menjadi haram kalau dibuat untuk meracun orang,” tandas Hasyim Muzadi saat ditemui di kantor PBNU.
Meski demikian, Hasyim menyatakan bahwa harus ada pembahasan khusus terkait dengan persoalan tersebut. Oleh karena itu, kata Hasyim, dalam waktu dekat PBNU akan segera mengadakan bahsul masail (pembahasan masalah) untuk membahas sekaligus menetapkan status hukum atas persoalan formalin tersebut.
Selain itu, Hasyim menyatakan bahwa harus ada kontrol dari pemerintah atas peredaran zat berbahaya tersebut. Kontrol dalam hal ini, ungkap Hasyim bisa berbentuk peraturan yang bisa mengendalikan peredaran barang tersebut agar tidak dijual bebas seperti selama ini.
Sementara itu Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ma’ruf Amin menyatakan sejauh ini pihaknya belum berencana membuat fatwa tentang haram tidaknya penggunaan formalin. ”Sejauh ini belum ada permintaan dari masyarakat, karena itu belum kami rencanakan pembuatan fatwanya,”jelasnya.
MUI sendiri, katanya, belum memberikan fatwa haram tidaknya formalin karena belum mendapatkan informasi yang jelas tentang penggunaan formalin. ”Sebelum membuat fatwa, kita kan harus tahu dulu apa itu formalin, apa kegunaannya, kenapa sampai ada formalin, apa dampaknya jika digunakan dalam makanan, dan sebagainya,”jelasnya.

ARAK DAN MASAKAN

Mana yang lebih keji: minuman khamr, zina atau mencuri? Menjawab pertanyaan ini, Khalifah Abi Thalib menjawab tegas: Minuman khamar. “Sungguh, peminum khamar akan melakukan zina dan mencuri, serta tidak akan shalat!” katanya. Celakanya, khamar semacam minuman keras (miras) atau minuman beralkohol (mikol), sudah biasa dijadikan bahan masakan.
Secara teknologi, jika miras sudah tercampur dengan suatu makanan, tidak bisa lagi dipisahkan. Padahal, Allah SWT sudah berfirman dalam surat Al-Maidah 90: “Sungguh arak, judi, berhala dan bertenung adalah najis, dan termasuk perbuatan setan”.
Menurut Irvan Karta, seorang juru masak asal Indonesia yang bermukin di Australia, Fish and Chips merupakan masakan yang paling sering menggunakan bir untuk campurannya.
Adonan (batter) untuk menggoreng fish dibuat dari campuran terigu, telur, garam, kaldu ayam dan diencerkan dengan bir. Ini memberikan aroma dari yeast yang gurih dan gelembungnya berfungsi seperti baking soda, mengembangkan dan membuat adonan kulitnya renyah” ungkap Irvan.
Satu lagi arak murah meriah yang biasa digunakan adalah ang ciu yang menurut Irvan, hampir selalu ada di masakan Cina, terutama untuk tumisan. “Cara mengetahuinya gampang, karena dapur resoran Cina biasanya di depan”, katanya. Lihatlah saat koki membuat stir fry. Bila dia menambahkan sesuatu (cairan) dari botol yang langsung disambut kobaran nyala api berwarna merah di penggorengan, itu artinya yang ditambahkan adalah ang ciu.
Tapi menurut Irvan, saat ini di Indonesia hanya bakery besar atau cake boutiques saja yang masih menggunakan rhum asli. Yaitu miras dengan kadar alkohol di atas 30%. Sebagian besar bekery menggunakan essence rhum alias rhum sintetik. Sebab, sebotol rhum asli harganya mencapai ratusan ribu rupiah. Sementara sebotol kecil essence rhum harganya paling banter dua puluh ribu rupiah. Hanya saja, seperti sudah sering diulas, rhum sintetik pun sebaiknya dihindari. Selain dalam pembuatannya masih menggunakan alkohol untuk pengenceran, kaum muslimin lebih baik menghindari sesuatu yang berasosiasi haram. Fatwa MUI no 4 2003 tentang pedoman fatwa produk halal, bagian “penggunaan nama produk dan bahan”, menyatakan: Tidak boleh mengonsumsi dan menggunakan nama dan/atau simbol-simbol makanan/minuman yang mengarah kepada kekufuran dan kebatilan.
Tidak boleh mengonsumsi dan menggunakan bahan campuran bagi komponen makanan.minuman yang menimbulkan rasa/aroma (flavour) benda-benda atau binatang yang diharamkan, seperti mie instan rasa babi, bacon flavour, dll. Tidak boleh mengonsumsi makanan/minuman yang menggunakan nama-nama makanan/minuman yang diharamkan seperti whisky, brandy, beer, dll.
Berikutnya masakan Perancis sudah terkenal akrab dengan wine. Bahkan dalam dunia memasak ada ungkapan “Don’t cook with the wine you can’t drink”. Maksudnya, gunakan hanya wine terbagus untuk memasak, sebagaimana wine untuk ditenggak.
Harga wine standar, masih menurut Ivan, sekitar Rp 200 ribu – Rp. 400 ribu. Demikian pula sahabat wine, bourbon dan kirsch. Nah, wine, bourbon atau kirsch ini banyak digunakan dalam french cooking terutama dalam sausnya. Seafood au Gratin misalnya, dimasak dengan sweet sherry atau white wine.
Dalam pembuatan fruit cake, buah kering untuk campurannya (kismis, manisan, pepaya, cherry, buah tin, plum dll) seringkali direndam dalam rhum atau red wine supaya “ngangkat”.

http://hafiauliya.blogspot.com/2011/04/v-behaviorurldefaultvmlo.html

SELESAI :)

Dalil Hadits Shahih: Sunnahnya Memakai Sorban/ Turban / ‘imamah

Jawaban Al faqih Habib Munzir:
saya jawab secara singkat saja, ketahuilah bahwa sorban itu bukan adat orang arab saja, tapi sunnah Nabi saw, Rasulullah saw memakai surban.

1. dari Amr bin Umayyah ra dari ayahnya berkata : Kulihat Rasulullah saw mengusap surbannya dan kedua khuffnya (Shahih Bukhari Bab Wudhu, Al Mash alalKhuffain).

2. dari Ibnul Mughirah ra, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw mengusap kedua khuffnya, dan depan wajahnya, dan atas surbannya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

3. para sahabat sujud diatas Surban dan kopyahnya dan kedua tangan mereka disembunyikan dikain lengan bajunya (menyentuh bumi namun kedua telapak tangan mereka beralaskan bajunya krn bumi sangat panas untuk disentuh). saat cuaca sangat panas. (Shahih Bukhari Bab Shalat).

4. Rasulullah saw membasuh surbannya (tanpa membukanya saat wudhu) lalu mengusap kedua khuff nya (Shahih Muslim Bab Thaharah)

dan masih belasan hadits shahih meriwayatkan tentang surban ini, mengenai hadits hadits dhoif itu yg disebutkan, seandainya kesemua hadits itu tidak ada, cukuplah hadits Nabi saw : “Barangsiapa yg tak menyukai sunnahku maka ia bukan golongangku” (Shahih Bukhari).

silahkan bantah sunnah Nabi saw, dan itu tanda keluarnya mereka dari ummat Nabi saw.

Imam Syafii mengeluarkan fatwa bila seorang muslim menghina sunnah maka hukumnya kufur.

mengenai Albaniy sungguh ia tak mempunyai sanad, ia adalah orang biasa yg menukil nukil hadits dari buku buku yg ada, ia bukan muhaddits dan tak berhak menilai hadits, karena ia tak punya satu sanadpun, bagaimana disebut muhaddits?

orang yg tak punya sanad maka fatwanya mardud (tertolak), hujjahnya dhoif dan tak bisa dijadikan dalil untuk berfatwa.

bukti dari kedangkalan pemahamannya adalah pengingkarannya atas sunnah sayyidina Muhammad saw yg jelas jelas teriwayatkan dalam hadits hadits shahih Bukhari, sedangkan Shahih Bukhari adalah kitab hadits terkuat dari seluruh kitab hadits..

Sumber Habib Munzir Al Musawwa

Tambahan admin salafy tobat, Hadits Hadist tentang sorban:

1. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Jabir dikemukakan: “Nabi saw memasuki kota Makkah pada waktu Fathu Makkah beliau mengenakan sorban (‘imamah) hitam.” (HR. At-Tarmidzi. Hadits ini diriwayatan oleh Muhammad bin Basyar, dari ‘Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadits ini pun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir ra.)
2. ‘Amr bin Huraits berkata: “Aku melihat sorban hitam di atas kepala Rasulullah saw.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar, dari Sufyan, dari Musawir al-Waraq, dari Ja’far bin ‘Amr bin Huraits, yang bersumber dari bapaknya.)
3. Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Umar ra. dikemukakan : “Apabila Nabi memakai sorban, maka dilepaskannya ujung sorbannya di antara kedua bahunya.” Kemudian Nafi’ berkata: “Ibnu ‘Umar juga berbuat begitu.” ‘Ubaidullah berkata: “Kulihat al-Qasim bin Muhammad dan Salim, keduanya juga berbuat demikian.” (HR. Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al Hamdzani, dari Yahya bin Muhammad al-Madini, dari ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad, dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, dari Nafi’, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar.)
4. Ibnu ‘Abbas ra. mengemukakan: “Sesungguhnya Nabi Muhammad berpidato di hadapan ummat. Waktu itu beliau mengenakan sorban, dan sorbannya terkena minyak rambut.” (HR. At-Tarmidzi. Diriwayatkan oleh Yusuf bin ‘Isa, dari Waki’, dari Abu Sulaiman, yaitu ‘Abdurrahman bin Ghasail, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas)

Kitab Darmogadul : Kitab kristenasasi berkedok ajaran kebatinan / kejawen

DISAMPING banyak berisi penghinaan melalui pemaknaan istilah Islam dengan ungkapan-ungkapan jorok, ternyata Darmagandul juga berisi banyak kisah-kisah yang bersumber dari Bible. Lebih dari itu, ungkapan-ungkapan di dalamnya berisi ajakan untuk meninggalkan ajaran Islam dengan memeluk ajaran Kristen.

Di sisi lain, Darmagandul sendiri banyak memiliki cacat ilmiah. Baik itu karena ada kesalahan dalam data sejarah, kontroversi mengenai identitas penulisnya atau karena karya lain yang menjadi rujukan dalam penulisannya sendiri amat bermasalah.

Namun anehnya, ada pihak-pihak yang masih menjadikan Darmagandul sebagai sumber sejarah dan diperlakukan sebagaimana layaknya sebuah karya ilmiah. Nah, bagaimana pemaparan selengkapnya?

Tulisan ini lanjutan dari tulisan sebelumnya berjudul: “Otak-Atik Gathuk” Serat Darmagandul [1]

***

Dalam Darmagandul, wali diartikan sebagai walikan (kebalikan). Artinya, para ulama Walisongo telah diberi kebaikan namun kemudian membalas dengan keburukan.

“Punika sadat sarengat, tegese sarengat niki, yen sare wadine njengat, tarekat taren kang estri, hakekat nunggil kapti, kedah rujuk estri kakung, makripat ngretos wikan, sarak sarat laki rabi, ngaben ala kaidenna yayah rina.”

Artinya, ”Lapal semacam itu adalah dinamakan syahadat Syari’at. Sarengat artinya, kalau sare (tidur) kemaluannya jengat (berdiri). Ada perkataan lain yang selalu dihubungkan dengan sarengat, yaitu tarekat, hakekat, dan ma’ripat. Tarekat artinya taren (bertanya, minta setubuh) kepada isteri, hakekat artinya: bersama selesai, lelaki dan wanita harus rukun (solider), ma’ripat artinya: mengerti, yakni mengetahui sarat pernikahan, dan dilakukan di waktu siang juga boleh.”

Demikianlah Serat Darmagandul berbicara mengenai beberapa istilah Islam dan memlesetkannya menjadi ungkapan-ungkapan jorok yang sama sekali jauh dari arti yang sesungguhnya. Hal ini ditunjukkan oleh Prof. H.M. Rasjidi dalam buku “Islam dan Kebatinan”.

Ungkapan uthak-athik gathuk yaitu usaha menghubung-hubungkan sejumlah istilah yang sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan permainan kata-kata agar sesuai dengan kepentingan yang menjadi misinya yang merendahkan Islam banyak dijumpai di Serat Darmagandul. Disamping berbicara mengenai syari`at, tarekat, hakikat atau ma`rifat, ia juga berbicara mengenai Al-Qur`an beserta para rasul.

Al-Qur`an sendiri “ditafsirkan” secara serampangan dengan plesetan. Misalnya, dalam penafsiran Surat Al Baqarah, penulis Darmagandul mengungkapnkan sebagai berikut:

“Tetep ing alame lama, kasebut Dalil Kurani, alip lam mim, dallikale kitabul rahepa pami, lara hudan lilmuttakin, waladina tegesipun, alip punika sastra, urip boten kenging pati, lami-lami mung ngangge alame lama. Alame lam mim dallikal, yen turu nyengkal ing wadi, tegesipun kitabulla,natab mlebu ala wadi,tegese rahabapi, rahaba kang nganggo sampur, hudan lil muttakiina, yen wus wuda jalu estri, den mutena wadi ala jroning ala.”
Artinya, ”Tersebut dalam Al-Qur`an: Alif Lam Mim, dzalikal kitabu la raiba fihi, hudan lilmuttaqien, alladzina …artinya: (menurut Damogandul) Dzalikal, jika tidur kemaluannya nyengkal (berdiri) kitabu la; kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa; raiba fihi perempuan yang pakai kain; hudan; telanjang (bahasa Jawa: wuda) Lil muttaqien; sesudah telanjang kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita … “
Utak-atik kata dari istilah-istilah, yang bertujuan merendahkan Islam dan para utusan Allah bisa juga ditemui di bagian lain dari Darmagandul:

“Niku agami muchammad, saminipun agamine Nuh Nabi, nuh neh remeh kawruhipun, niku nabine bocah, remen rumat abang kuning nedi tuwuk, …”

Artinya, “Itu agama Muhammad, sama dengan agama Nabi Nuh, Nuh adalah remeh pengetahuannya, itu nabinya untuk anak-anak (kekanak-kanakan), suka menyimpan merah kuning (maksudnya: sifat tercela) dan makan kenyang …”

Walhasil, cara pembahasan yang digunakan dalam Darmagandul tidak memiliki patokan metodologi yang jelas dan hanya menyandarkan pada teknik otak-atik gathuk. Dari upaya-upaya yang didukung dengan teknis yang tidak elegan ini, secara jelas telah menunjukkan bahwa Serat Darmagandul memang sekedar ditulis untuk sebuah “permainan” dalam artian perbuatan yang tidak bertanggungjawab. Oleh karena itu, seharusnya sukar menjadi referensi kepustakaan yang bersifat ilmiah, apalagi menjadi sebuah ajaran.

Ada Bible di Darmagandul

Marginalisasi ajaran Islam dilakukan penulis Darmagandul dengan menyatakan bahwa hukum dalam Al-Qur`an sudah tidak berlaku dan sebagai gantinya adalah hukum Kristen.

“Panjenengan Nabi Dawud, putranira kang tuwa, Abe Salam ingkang nami, mungsuh bapa anggege keprabonira. Dawud kengser saking praja, Abe Salam kang gumanti, sawise antara warsa, Nabi Dawud sarta dasih, wangsul amukul nagri, Sang Abe Salam lumayu, angungsi wana-wana, ginawa mbandang turanggi, pan kecantol tenggaknja oyoding wreksa. Kudane mberung lumajar, Abe Salam iku kari, tenggaknya ketjantol lata, gumatung wreksa ngemasi, iku kukume Widi, yen wong mungsuh bapa ratu…”

Itulah sepenggal kisah dari Serat Darmagandul yang mengisahkan tentang perebutan kekuasaan antara Nabi Dawud dan Absalom, puteranya. Demikian terjemahnya lengkapnya, “Putra Nabi dawud yang tua bernama Absalom, melawan ayahnya untuk merebut tahta. Dawud terusir dari istana dan Absalom menggantikannya sebagai raja. Setelah beberapa tahun Dawud kemudian menyerang Absalom dan berhasil merebut negerinya. Absalom melarikan diri dengan mengendarai kuda. Kudanya terus berlari kencang meskipun kepala Absalom menyangkut di dahan pohon, itulah hukum Tuhan, jika anak bermusuhan dengan ayahnya yang seorang raja…”

Kisah kedurhakaan putra Dawud di atas tarnyata hanya dapat dijumpai dari kitab II Samuel pasal 15 hingga 18. Kisah lain adalah cerita Darmagandul bahwa Nabi Dawud menghendaki (berzina) dengan Batsyeba, istri bawahannya yang bernama Uria. Dawud kemudian membuat muslihat agar Uria maju ke barisan terdepan medan pertempuran. Harapannya, Uria akan terbunuh dalam peperangan dan Batsyeba dapat diperistri oleh Dawud. Sumber cerita ini dapat ditelusur berasal dari II Samuel pasal 11 dan 12.

Penyisipan isi Bible ke dalam Darmagandul disamping menggunakan ungkapan yang amat gamblang seperti kasus di atas, terkadang juga menggunakan simbol-simbol. Sebagai contoh, adalah penggunaan ungkapan wit kawruh (pohon pengetahuan), wit kuldi (pohon Kuldi), dan wit budi (pohon budi). Wit kawruh digunakan sebagai simbol untuk mendeskripsikan Agama Nashrani, wit kuldi merupakan simbolisasi Agama Islam, dan wit Budi merepresentasikan “agama asli Jawa” yang oleh Darmagandul disebutkan sebagai Agama Budha. Hal ini dapat dilihat dalam contoh sebagai berikut:

“Lamun seneng neda woh wit budi, mituruta babon, Buda-Budi karan agamane, anyebuta Dewa Batara Di, Lamun seneng bukti, woh wit kajeng kawruh, Anyebuta asmane Jeng Nabi Isa kang kinaot, mituruta Gusti agamane, lamun seneng neda woh wit kuldi, njebuta Jeng Nabi Muhammad Rasulun.”

Artinya, “Jika suka memakan buah Pohon Budi, maka ikutilah induk, Agama Buda-Budi, Sebutlah nama Dewa Batara Di. Jika suka bukti, makanlah buah Pohon Pengetahuan, Sebutlah nama Nabi Isa yang termuat, turutilah Agamanya. Jika suka memakan buah Pohon Kuldi maka sebutlah nama Nabi Muhammad.”

Dari kutipan di atas telah cukup dimengerti bahwa istilah-istilah tersebut mewakili sebuah makna secara khusus. Ide penggunaan simbolisasi agama dengan meminjam nama “jenis pohon” dapat dilacak sumbernya sebagai berikut:

“Darmogandul matur, nyuwun diterangake bab enggone Nabi Adam lan Babu Kawa pada kesiku dening Pangeran, sabab saka enggone padha dhahar wohe kayu kawruh kang ditandur ana satengahing taman firdaus. Ana maneh kitab kang nerangake kang didhahar Nabi Adan lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ana ing swarga. Mula nyuwun diterangake, yen ing kitab Jawa diceritaake kepriye, kang nyebutake kok mung kitab Arab lan kitabe wong Srani.”

Artinya, “Darmagandul berbicara, minta diterangkan bab cerita Nabi Adam dan Hawa yang dihukum oleh Pangeran, sebab telah memakan buah pohon pengetahuan yang ditanam di tengah taman firdaus. Ada lagi yang menerangkan bahwa yang dimakan Nabi Adam dan Hawa itu buah Kuldi, yang ditanam di Surga. Maka minta diterangkan, jika dalam kitab Jawa diceritakan bagaimana, yang menyebutkan mengapa hanya kitab Arab dan kitab Agama Nashrani.”

Ternyata, ide penggunaan istilah “wit kawruh” rupanya diperoleh pengarang Darmagandul dari kitab Suci Kristen. Hal ini dapat dilihat dalam Kejadian 2:16-17 sebagai berikut: “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Jika demikian faktanya, pengarang Serat Darmagandul bisa dipastikan merupakan penganut Kristen yang telah bersentuhan dengan sejumlah cerita Perjanjian Lama. Ide-ide dari kitab tersebut lantas diolah sehingga menghasilkan jalinan cerita dalam Serat Darmagandul. Tidak mengherankan jika kitab berbahasa Jawa berbau pornografi ini kental dengan kisah yang bersumber dari Perjanjian Lama.

Kedekatan Serat Darmagandul dengan Kekristenan ini diakui oleh sejumlah penulis dan akademisi. G. W. J. Drewes, orientalis Belanda, dalam tulisannya “The Struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by Serat Dermagandul” di Jurnal BKI mengungkapkan bahwa buku ini menghadirkan term-term yang menunjukkan adanya pembahasan tentang ajaran Kristen di dalamnya. Philip Van Akkeren, orientalis Belanda lainnya, bahkan berspekulasi bahwa Darmagandul merupakan karya dari seorang Kristen bernama Ngabdullah Tunggul Wulung atau dikenal dengan nama baptis Ibrahim Tunggul Wulung. Ngabdullah merupakan sosok yang intens bersentuhan dengan sejumlah pendeta Kristen Belanda. Teori ini memang mampu menjelaskan keberadaan anasir Kristen dalam Serat Darmagandul. Namun ketidakjelasan argumentasi Van Akkeren dan ketidaksesuaian dengan sejumlah fakta, justru menguatkan bahwa teori ini lemah dan dapat dibantah.

Belakangan, teori Van Akkeren ini nampaknya mendapat dukungan. Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria (KOS), dalam bukunya “ Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen”, senada dengan Van Akkeren menganggap bahwa Tunggul Wulung dimungkinkan merupakan pengarang serat tersebut.

Kristenisasi

Pengarang Serat Darmagandul sejak awal beritikad menampilkan bahwa agama Nashrani lebih unggul dibandingkan agama-agama lainnya. Motif ini dapat ditelisik, dimana Islam senantiasa ditampilkan dalam image negatif. Ajaran Kristen sendiri ditempatkan secara positif dalam gambaran sebagai berikut:

“… Kang diarani agama Srani iku tegese sranane ngabekti, temen-temen ngabekti mrang Pangeran, ora nganggo nembah brahala, mung nembah marang Allah, mula sebutane Gusti Kanjeng Nabi Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, …”

Artinya,”… Yang disebut agama Nashrani adalah sarana berbakti, benar-benar berbakti kepada Tuhan tanpa menyembah berhala, hanya menyembah Allah, maka sebutannya Gusti Kanjeng Nabi Isa itu Putra Allah, sebab Allah yang mewujudkan.”

Selain itu Serat Darmagandul juga mencoba mengetengahkan upaya marginalisasi ajaran Islam dengan menyatakan bahwa hukum dalam Al-Qur`an sudah tidak berlaku dan sebagai gantinya adalah hukum Kristen. Simak ungkapan berikut:

”Kitab ‘Arab djaman wektu niki, sampun mboten kanggo, resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, kitabe Djeng Nabi, Isa Rahullahu.”

Artinya, “Kitab Arab pada jaman ini sudah tidak terpakai sebab hukumnya meresahkan dan tidak adil. Yang digunakan untuk memutuskan perkara adalah kitab Nabi Isa Rahullah.”

Adapun puncak dari seluruh motif dan kepentingan dalam penulisan buku Darmagandul digambarkan dalam suara kutukan roh Prabu Brawijaya terhadap Raden Patah sebagai berikut :

“…eling-elingen ing besuk, yen wis ana agama kawruh, ing tembe bakal tak wales, tak ajar weruh ing nalar bener lan luput, pranatane mengku praja, mangan babi kaya dek jaman Majapahit.”

Artinya, “Ingat-ingatlah besok, jika ada agama pengetahuan, maka akan kubalas, akan kuajari pengetahuan yang benar dan salah, peraturan tata negara, memakan babi seperti jaman Majapahit.”

Puncaknya, Serat Darmagandul ingin mengatakan bahwa Islam akan kalah oleh agama kawruh, dalam hal ini sebangun dengan pohon pengetahuan yang maksudnya adalah Kristen. Serat Darmagandul seolah-olah sedang memberikan ramalan masa depan bahwa Islam di Jawa akan ditundukkan oleh Kristen yang dianggap akan mengajar benar dan salah serta menghalalkan babi. Maka telah jelas bahwa penulisan Darmagandul sejak awal dimaksudkan guna kepentingan misi penginjilan, bukan kitab bagi kalangan kebatinan. */Susiyanto, SAHID

Dalil Hadits : Sunnahnya Memakai Kopiah / peci /tutup kepala

Pemakaian Penutup kepala(kopiah)


BismillahirahmanirRahim

Nah-Ma`duhu Wanusolli-Mu`ala-Rasuulihil- Kareem..

Pemakaian Penutup kepala(kopiah)

Alhamdulillah,segala syukur kepada Allah S.W.T dan salam kepada jujungan kita,Muhammad S.A.W,yang memberi sinar cahaya kehidupan yang baru di atas muka bumi ini.Disini hamba yang lemah lagi fakir ini akhirnya dapat menyiapkan terjemahan dari bahasa urdu tentang penekanan pemakaian penutup kepala. Kepada semua Rakan-rakan seagamaku,baik semasa kecil,remaja dan dewasa ini,seta muslimin,muslimat sekalian dan orang yang mengucap kalimah syahadah,bangkitlah dengan hati ikhlas dan terbuka..dan buatlah usaha pada agama kesayangan ini yang sedang menuju kehancuran ini,yakni pengorbanan,diri,harta,masa untuk agama Allah S.W.T dan supaya ummah Nabi S.A.W dapat direalisasikan dan diwujudkan.Berjalan pada jalan yang benar dan iman akan mengikutinya.Ia mungkin menjadi ummah dan mengamalkan zikir,tasbihat,taklim,berjuang di jalan Allah,membuat membantu(khidmat) pada rakan seagama,bertimbang-rasa,menghormati dan memuliakan yang lain.Dan apabila pengorbanan dibuat,maka sifat-sifat kebatilan,keburukan dan penyakit hati akan dibuang sedikit demi sedikit dengan usaha ini.Apabila usaha ini diambil,walaupun dijalankan di satu kawasan sahaja di atas muka bumi ini,ia akan tersebar ke seluruh alam.Disini hamba berharap semoga para muslim yang membaca alih bahasa dari kitab ini dapat memeberi penekanan tentang pentingya pemakaian penutup kepala. walaubagaimanapun,disebabkan perkara yang ingin hamba sampaikan ini penting,hamba menulis..sesiapa yang faham dan bertindak padanya,Allah S.W.T akan membuatkan dirinya bersinar,atau..dia seolah-olah memotong kakinya sendiri..

Penekanan tentang pemakaian penutup kepala oleh di dalam linkungan Sunnah Nabi S.A.W dan yang dipraktikkan oleh Sahabat (R.Anhum) dan Tabieen.

1.“hazrat Ibnu Umar R.Anhu meriwayatkan bahawa Nabi S.A.W menggunakan penutup kepala berwarna putih.” (tabrani)

(Allama suyooti rah. telah menulis di dlm kitab Jamius Sagheer yang mana sanad Hadith ini ialah hassan.komentator kitab jamiu`s sagheer,Azzezi telah memahami penulisan Allama suyooti ramatullah alaih.)

(As-Sirajuul Muneer,jilid ke-4 mukasurat 112)

2. “telah dilaporkan bahawa dari Ibnu Umar R.Anhu bahawa Nabi S.A.W memakai penutup kepala berwarna putih.”(mujamul kabeer dari tabrani)

(terdapat kemusykilan kepada salah seorang perawi,Abdullah Ibnu Khirash,pada hadith ini.Ibnu Hibban telah menulis bahawa dia dipercayai tetapi mungkin ada juga belaku sedikit kesilapan.Muzakarah pada Muhaddith ialah bahawa beliau perawi hadith yang lemah manakala para perawi lain adalah boleh dipercayai.

(Majmud-Zawaaid Haisani jilid ke-2 mukasurat 124)

3.”telah dilaporkan bahawa dari Ibnu Umar bahawa Nabi S.A.W memakai penutup kepala berwarna putih.”
(ini ialah hadith lemah –tazkiratul maudu`aat-mukasurat 155)

(Tabrani telah melaporkan bahawa di dalam mujamal aw`sat daripada gurunya Muhammed Ibnu Haneefa Waasiti.Walaubagaimanapun ia didapati lemah)

(Majmud-Zawaaid Haisani jilid ke-2 mukasurat 124)

4.Abu Sheikh melaporkan dari Ibnu Abbas R.Anhu bahawa Nabi S.A.W mempunyai 3 penutup kepala sepanjang kehidupannya.

(Bajhul Majhood,jilid ke-6,mukasurat 52)

5”.di dalam “mukhtasar”,kehidupan Nabi S.A.W,terdapat 3 jenis penutup kepala yang didapati,petama ialah seperti rupa kopiah yang mana di dalamnya mempunyai garisan padanya.yang kedua ialah yang diperbuat daripada kain hibarah dan yang ketiga ialah penutup kepala yang menutupi telinga,yang mana selalunya Baginda memakainya di dalam safar (perjalanan dan semasa namaaz.”

6.”Hazrat Aisyah R.Anhu meriwayatkan bahawa Nabi S.A.W memakai penutup kepala berwarna putih yang mana berbentuk rata dan menutupi dan mengikuti bentuk kepalanya.”
(Ibnu Assakir melaporkan ini,walaubagaimanapun,sanad (rantaian perawi Hadith) ialah lemah)

(Faizuul-Kadeer,jilid ke-5,mukasurat 246)

7.”Nabi S.A.W telah berkata bahawa muhrim (orang di dalam ihram),janganlah memakai kurta,seluar,serban dan “burnus”(sejenis bentuk penutup kepala)(Baginda tidak akan memakai pakaian jenis ini pada masa itu).”

(Bukhari Shareef jilid 1,mukasurat 209,dan jilid ke-2 mukasurat 864)
*adalah diketahu bahawa orang dimasa itu pemakaian penutup kepala telah menjadi kebiasaan di zaman Nabi S.A.W.*

8.Riwayat oleh Ibnu Abbas telah diterangkan (rujuk no.29) yang mana subjek berkaitan,iaitu bahawa Nabi S.A.W akan memakai penutup kepala di dalam serbannya.
Dan ada masanya Baginda hanya memakai penutup kepala “

(Ibnu Assakir,meriwayatkan hadith ini,sanadnya lemah)

9.”Hazrat Aisyah R.Anhu meriwayatkan bahawa akan memakai penutup kepala yang akan menutupi sekali bahagian telinganya dan semasa berada di rumah,Baginda akan memakai yang kecil(seperti kopiah Syria)jenis penutup kepala.Abu Shaikh yang meriwayatkan Hadith ini.Iraaqi menulis bahawa hadith berkenaan tentang pemakaian penutup kepala pada hadith ini ialah yang paling sahih sumber dan dipercayai.”

(Faizuul-Qadeer jilid ke-5,mukasurat 246)

Hadith ini telah melepasi dibawah hadith yang dilampirkan disini bernombor 29)

10.”Abu Kabshaa Anmaan meriwayatkan bahawa penutup kepala dipakai oleh para Sahabat R.Anhum terkeluar dan rata.”

(Tirmizi,Hadith ini lemah,mukasurat 308)

Hazrat Gangohi R.Alaih menerangkan bahawa maksud perawi yang mana “kepala merka tertutup.penutup kepala itu tidak akan tercabut dari tetapi rata dan tertekan pada kepala.

(Alkaukabud Durrie jilid ke-2 ,mukasurat 452.)

Penekanan pemakaian penutup kepala oleh Sahabat R.Anhu dan Tabieen.

11.Zaid Ibnu Jubair mengatakan bahawa beliau nampak Abdullah Ibnu Zubair R.Anhu memakai penutup kepala.(di dalam pengucapan perkataan bahasa arab “burtula” muncul untuk merujuk kepada sejenis bentuk penutup kepala.

Hisham Bin Urwa juga mengatakan bahawa beliau nampak Ibnu Zubair (R.Anhu) memakai penutup kepala yang bahannya nipis.

12. Eesa Ibn Tahmaan mengatakan bahawa beliau nampak Anas Bin Malik (R.Anhu) memakai penutup kepala.Di dalam perkataan “burnus” dengan memebawa maksud penutup kepala yang panjang.

(di dalam Bukhari juga pemakaian tentang penutup kepala oleh Anas (R.Anhu) diterangkan di dalam jilid ke 2,mukasurat 863.)

13.Bapa kepada Ash`as melaporkan bahawa beliau nampak Abu Musa Ashaari (R.Anhu)
Keluar dati tandas.Abu Musa memakai penutup kepala.

14.Ismael mengatakan bahawa beliau Nampak Shuriah memakai penutup kepala.

15.Abu Shihaab mengatakan bahawa beliau Nampak Saeed Ibnu Jubair (R.Anhu)
Memakai penutup kepala
(kedua Shihaab dan Ibnu Jubair ialah tabiees)
Ali Ibn Hussain (i.e Hazrat Zainul Abideen),Ibrahem Nakhee dan Dahaak sering dilihat memakai penutup kepala.

(kesemua rawian ini telaj dilaporkan di dalam dengan sanadnya dalam Musannaf Ibn Abi Shaiba jilid ke-8 pada mukasurat 212,213,242)

Hazrat Ali (R.Anhu) telah dilihat memakai penutup kepala mesir berwarna putih.
(Tabaqaat Ibnu Saad urdu jilid ke-3 mukasurat 187)

Penekanan tentang pemakaian penutup kepala oleh Abu Ishaq Sabee Tabiee dijumpai di dalam Bukhari (Jilkid petama ,mukasurat 159)

Ibnu Ul –Arabi menulis “pemakaian penutup kepala telah diapakai oleh hamper kesemua Ambiyaa dan orang Alim.Ia melindungi kepaa dan membolehkan serban yang dipakai tetap di tempatnya,yang mana ia sunnah.penutup kepala seharusnya muat mengikut bentuk kepala dan tidak berupa seperti dome.ada juga orang yang membuat lubang pengudaraan pada penutup kepala untuk menyejukkan dan memberikan udara masuk pada kepala dan membolehkan udara panas keluar,dan ia adalah salah satu jenis rawatan kepala.(ia tidak dilakukan kecuali terpaksa)

(Faizul Kadeer jilid ke-5 ,mukasurat 247)

Hamba Fakir kepada Allah yang maha kaya,

Muhammad_Efendie,

Sumber Rujukan:

1.Sub Topik:
Topee in the light of Sunnah and practice of the Sahaba and Tabieen
-by_Maulana Fazlur Rahman Saheb

2.Raudhul Muhtaar (Shaami)-Darre Sa`adah

3.Khasail Nabawi -(komentar dalam Shamail Al Tirmizi)1960,Kabeeri Shaarah Muniyyatul Mussali,Fatawa Raheemia

4. Sharah Shamaail-Oleh Allama Ahdul Raoof Munawi (nota)

5. Jamul wasa’il oleh Mulla Ali Qari Rahmatullah Alai`h,Al Maqaisidul Hassanah by Allma Sakhawi,Faizul Qadeer and sharah Jamius Sagheer,Al-Isaba by Hafiz Ibn Hajar,Fathuul Baari Ibn hajar with footnote of Sheikh Bin Baaz, Mukaddama Fathul Bari Ibn Hajar
- all reference this section is from Beirut,Lebanon.

6. Sahih Bukhari,Sahih Muslim,Jami tirmizi,Ibnu Majjah,Musnnaf Ibn Abi Shaiba,Shamail Tirmizi,Al Mustadrak lil Hakiini,Abu Dawood,Bazlul Majhood,Ummadatul Qaari,Alaaf ul Shazi Maa`na Tirmizi,Naafil Mufti was Saail by Maulana Abdul Hay Lakhnawi,Fatwa Rasheedia,
- all reference this section is from Pakistan

7.Durrul Mukhtar ma Raddhul Mukhtar-Darrus` saadah.

8.Alsira Jul Muneer-(komentari Jamius Sagheer –Madinah, Saudi Arabia.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 382 other followers