Dalil Kebolehan Mencium Hajar Aswad – Makam Rasulullah – Makam Orang-orang Saleh Dari Kitab Wafa’ al Wafa (Imam as Samhudi al hambali (W 911 H))

Dalil Kebolehan Mencium Makam Rasulullah Atau Orang-orang Saleh Dari Kitab Wafa’ al Wafa (Menohok Ajaran Sesat Wahabi)

 

Terjemah teks yang diberi garis bawah:

 

 

Wafa al Wafa Bi Akhbar Dar al Musthafa

Karya Imam as Samhudi (W 911 H)

 

Al Izz bin al Jama’ah berkata: “Dalam kitab al Ilal dan kitab Su’alat Abdullan bin Ahmad bin Hanbal; (Kitab berisi pertanyaan-pertanyaa yang ditanyakan oleh Abdullah kepada ayahnya sendiri; yaitu Imam Ahmad bin Hanbal), sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ali bin as Shuf dari Abdullah, bahwa Abdullah berkata: Saya telah bertanya kepada ayahku tentang orang yang mengusap mimbar Rasulullah untuk tujuan mendapatkan berkah, menciuminya, lalu melakukan hal yang sama terhadap makam Rasulullah supaya mendapatkan pahala dari Allah; ia (Imam Ahmad bin Hanbal) menjawab: Tidak masalah (boleh)”.

 

As Subki (Imam Taqiyyuddin Ali bin Abdil Kafi as Subki) dalam risalah bantahannya terhadap Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa larangan mengusap makam Rasulullah bukan perkara yang telah disepakati para ulama. Telah meriwayatkan Abul Husain Yahya bin al Husain —- dengan sanadnya —–, berkata: Ketika Marwan bin al Hakam (salah seorang khalifah Bani Umayyah) mendatangi makam Rasulullah ia mendapati seseorang tengah duduk di hadapan makam tersebut. Marwan memagang tengkuk orang itu, berkata: Apakah sadar apa yang engkau lakukan ini? Orang itu berbalik menghadap, menjawab: Iya, (saya sadar) saya tidak mendatangi (berhadapan) sebongkah batu dan tembok, saya mendatangi Rasulullah. (saya mendengar Rasulullah bersabda): “Janganlah kalian tangisi jika agama ini dipimpin oleh ahlinya, tapi tangisilah jika agama ini dipimpin oleh orang yang bukan ahlinya”. (artinya; engkau wahai Marwan bukan seorang yang ahli dalam memimpin agama ini). Orang tersebut ternyata adalah sahabat Rasulullah; yaitu Abu Ayyub al Anshari.

 

Kemudian sahabat Bilal bin Rubah ketika datang dari Syam (sekarang Lebanon, Siria, Yordani, dan Palestina) ke Madinah untuk tujuan ziarah ke makam Rasulullah maka ia langsung mendatangi makam, menangis di hadapannya, dan membolak-balikan wajahnya di atas makam tersebut. Sanad riwayat ini baik.

 

Setelah Rasulullah dimakamkan maka datanglah Fatimah (putri Rasulullah), ia berdiri di hadapan makam, lalu mengambil segenggam tanah dari makam tersebut, ia letakan pada kedua matanya, ia menangis lalu berkata:

 

Apa yang akan diraih oleh orang yang mencium tanah Muhammad; adalah bahwa ia tidak akan penah mencium sepanjang masanya sesuatu yang lebih berharga dari pada tanah tersebut.

Telah ditimpakan kepadaku berbagai musibah (termasuk wafatnya Rasulullah); yang musibah-musibah jika tersebut ditimpakan pada siang maka ia seluruh siang akan menjadi malam (artinya musibah tersebut sangat berat).

 

Al Khathib bin Hamalah menyebutkan bahwa sahabat Abdullah bin Umar bin khattab telah meletakan tangan kanannya di makam mulia Rasulullah. Lalu Bilal bin Rubah juga telah meletakan kedua pipinya di atas makam Rasulullah. al Khathib juga telah menyebutkan riwayat dari kitab Su’alat Abdullah bin Ahmad (sebagaimana yang telah kita sebutkan di atas). Ia (al Khathib) berkata: Tidak diragukan lagi bahwa tenggelam dalam rasa cinta menjadikan itu (mengusap makam) perkara yang boleh. Tujuan dari pada itu semua adalah untuk penghormatan dan memuliakan. Sungguh derajat manusia itu bertingkat, sebagaimana dahulu di masa Rasulullah masih hidup manusia itu bertingkat (berbeda-beda); ada sebagian mereka ketika melihat Rasulullah mereka tidak dapat menahan dirinya (karena cinta) maka langsung “memburu” Rasulullah, ada sebagian lainnya yang “kalem (berhati-hati; tidak grasa-grusu)” maka mereka dapat menahan dirinya. Yang jelas semua itu adalah baik”.

 

Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani berkata: “Sebagian ulama dalam mengambil kesimpulan/intisari (istinbath) tentang mengapa disyari’atkan mencium hajar aswad adalah dengan dengan dasar kebolehan mencium segala sesuatu yang berhak untuk dimuliakan; baik manusia atau lainya. Adapun tentang anjuran mencium tangan manusia (yang mulia) penjelasannnya telah lalu bahwa termasuk bentuk adab. Sementara anjuran terhadap selain manusia adalah dengan dasar (di antaranya) riwayat bahwa Imam Ahmad ditanya tentang mencium mimbar Rasulullah dan makamnya; beliau memandang itu bukan masalah (artinya boleh)”.  

 

Sementara kaum Wahabi berkata bahwa orang yang ziarah ke makam para wali Allah adalah orang-orang musyrik (dalam istilah buruk mereka “Quburiyyun”)… terlebih lagi yang mencium makam mereka!!!!

 

Lebih parah lagi, “imam besar tanpa tanding” mereka; Ibnu Taimiyah, mengatakan bahwa perjalanan ziarah ke makam Rasulullah untuk tujuan ziarah adalah perjalanan maksiat; tidak boleh mengqasar shalat dalam perjalanan tersebut…. nau’dzu billah!!!!

 

heh… wahabi khabits…!!! Lihat; sahabat Abdullah bin Umar bin Khattab meletakan tangan di atas tanah makam Rasulullah….!!! lihat; sahabat Bilal bin Rubah meletakan ke dua pipinya di atas tanah makam Rasulullah…!!!! apakah kalian akan mengatakan dua sahabat mulia ini orang-orang musyrik??????

?????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Hati2, Ada 2 orang nama ad-Darimi yg jauh berbeda ( yg 1 sesat – yg 1 lagi ahli hadits terkemuka) [Waspadai Tipu daya Kaum Wahabi]

Ada dua orang bernama ad Darimi, keduanya jauh berbeda, yang satu orang sesat, yang kedua seorang ulama besar ahli hadits terkemuka yang telah menulis kitab Sunan ad Darimi.

Ad Darimi yang sesat adalah orang yang berkeyakinan tasybih; menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, dia bernama Utsman ibn Sa’id as-Sajzi, wafat tahun 272 Hijriyah.

Sementara ad-Darimi penulis kitab Sunan (Sunan ad-Dârimi) bernama Abdullah ibn Abdul Rahman, wafat tahun 255 Hijriyah, salah seorang ahli Hadits terkemuka dan merupakan salah seorang guru dari Imam Muslim.

Adapun Utsman ibn Sa’id ad-Darimi yang kita sebut pertama adalah seorang pendahulu dalam aqidah tajsîm, bahkan dapat dikatakan sebagai peletak awal dan perintis penyebaran aqidah buruk ini. Ia menulis sebuah buku berjudul Kitâb an-Naqdl, yang menurutnya buku ini ia tulis sebagai bantahan terhdap Bisyr al-Marisi. Padahal di dalamnya ia tuliskan banyak sekali aqidah tajsîm dan aqidah “berhala” (Watsaniyyah); persis seperti aqidah kaum Yahudi dan Nasrani yang berkeyakinan bahwa tuhan seperti manusia.

Mengungkapkan siapa sebenarnya ad-Darimi al-Mujassim ini sangat penting dan mendesak. Karena orang-orang Musyabbihah Mujassimah di masa sekarang ini, seperti Wahhabiyyah seringkali mengutip perkataan-perkataannya. Sementara pada saat yang sama sebagian orang di kalangan Ahlussunnah, yang terpelajar sekalipun terlebih lagi orang-orang awam banyak yang tidak mengetahui siapa sebenarnya ad-Darimi yang mereka jadikan sandaran tersebut. Banyak sekali yang tidak mengetahui perbedaan antara ad-Darimi al-Mujassim (Utsman ibn Sa’id) dan ad-Darimi penulis kitab as-Sunan (Imam Abdullah ibn Abdul Rahman), yang karenanya tidak sedikit orang-orang di kalangan Ahlussunnah terkecoh dengan sanggahan-sanggahan kaum Musyabbhihah yang mereka kutip dari ad-Darimi al-Mujassim ini.

Berikut ini kita kutip beberapa ungkapan aqidah tajsîm yang ditulis oleh ad-Darimi al-Mujassim dalam kitab an-Naqdl supaya kita dapat menghindari dan mewaspadainya. Karena sesungguhnya setiap orang dari kita dianjurkan untuk mengenal keburukan-keburukan untuk tujuan menghindari itu semua. Terlebih di masa akhir zaman seperti ini di mana aqidah tasybîh dan tajsîm semakin menyebar di tangah-tangah masyarakat kita.

Ad-Darimi al-Mujassim, dalam kitab karyanya tersebut menuliskan sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah al-Hayy al-Qayyûm (Yang maha hidup dan tidak membutuhkan kepada apapun dari makhluk-Nya) maha berbuat terhadap segala suatu apapun yang Dia kehendaki. Dia bergerak sesuai apa yang Dia kehendaki. Dia turun dan naik sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Meggenggam dan menebarkan, berdiri dan duduk sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Karena sesungguhnya tanda nyata perbedaan antara yang hidup dengan yang mati adalah adanya gerakan. Setiap yang hidup pasti ia bergerak, dan setiap yang mati pasti ia tidak bergerak” (Kitab An-Naqdl, h. 20).

Ungkapan ad-Darimi ini sangat jelas sebagai ungkapan tajsîm. Aqidah semacam ini tidak mungkin diterima oleh akal sehat. Karenanya, aqidah ini terbantahkan oleh argumen-argumen logis, tentu juga oleh dalil-dalil al-Qur’an dan Hadits, serta oleh pernyataan dan kesepakatan (Ijma’) para ulama kita. Kayakinan yang mengatakan bahwa Allah berdiri, duduk, dan bergerak tidak ubahnya persis seperti keyakinan kaum Hindu para penyembah sapi. Kemudian juga keyakinan bahwa Allah bersifat seperti sifat-sifat makhluk semacam itu tidak lain merupakan aqidah hulûl; yaitu keyakinan sesat mengatakan bahwa Allah bersatu dengan makhluk-Nya. Dan aqidah semacam ini telah disepakati oleh para ulama kita di kalangan Ahlussunnah sebagai aqidah kufur.

Pada bagian lain dalam Kitab an-Naqdl tersebut, ad-Darimi menuliskan sebagai berikut:

“Para musuh kita berkeyakinan bahwa Allah tidak memiliki bentuk (al-Hadd), tidak memiliki sisi penghabisan dan batasan (al-Ghâyah Wa an-Nihâyah). Ini adalah dasar keyakinan Jahm ibn Shafwan yang merupakan pondasi dan akar seluruh kesesatannya dan kerancuannya. Dan kesesatan semacam ini Shafwan adalah orang yang pertama kali membawanya, sebelumnya tidak pernah ada seorang-pun yang mengungkapkan kesesatan seperti ini” (Kitab An-Naqdl, h. 23).

Setelah menuliskan ungkapan ini, ad-Darimi kemudian membeberkan keyakinannya bahwa Allah memiliki bentuk dan batasan serta penghabisan. A’ûdzu Billâh. Padahal segala apapun yang memiliki bentuk pasti merupakan benda (Jism) dan memiliki arah. Sementara itu para ulama kita di kalangan Ahl al-Haq telah menetapkan konsensus (Ijma’) bahwa seorang yang berkeyakinan Allah sebagai benda maka orang tersebut bukan seorang muslim, sekalipun dirinya mengaku sebagai orang Islam. Lihat konsensus ini di antaranya telah dituliskan oleh Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam beberapa karyanya, seperti al-Farq Bayn al-Firaq, al-Asmâ’ Wa ash-Shifât dan at-Tabshirah al-Baghdâdiyyah.

Pada halaman lainnya, ad-Darimi al-Mujassim menuliskan sebagai berikut:

“Allah berada jauh dari makhluk-Nya. Dia berada di atas arsy, dengan jarak antara arsy tersebut dengan langit yang tujuh lapis seperti jarak antara Dia sendiri dengan para makhluk-Nya yang berada di bumi” (Kitab An-Naqdl, h. 79).

Kemudian pada halaman lainnya, ia menuliskan:

“Dan jika Allah benar-benar berkehandak bertempat di atas sayap seekor nyamuk maka dengan sifat kuasa-Nya dan keagungan sifat ketuhanan-Nya Dia mampu untuk melakukan itu, dengan demikian maka terlebih lagi untuk menetap di atas arsy (Artinya menurut dia benar-benar Allah bertempat di atas arsy)”. (Kitab An-Naqdl, h. 85).

Ungkapan ad-Darimi ini benar-benar membuat merinding bulu kuduk seorang ahli tauhid. Ia mengatakan jika Allah maha kuasa untuk bertempat pada sayap seekor nyamuk, maka lebih utama lagi untuk bertempat pada arsy. Ini murni merupakan aqidah tasybîh. Apakah dia tidak memiliki logika sehat?! Apakah dia tidak mengetahui hukum akal?! Apakah dia tidak bisa membedakan antara Wâjib ‘Aqly Mustahîl ‘Aqly dan Jâ’iz ‘Aqly?! Sudah pasti yang disembah oleh ad-Darimi al-Mujassim ini bukan Allah. Siapakah yang dia sembah?! Tidak lain yang ia sembah hanyalah khayalannya sendiri.

Kemudian pada halaman lainnya dalam Kitâb an-Nadl, ad-Darimi menuliskan sebagai berikut:

“Dari mana kamu tahu bahwa puncak gunung tidak lebih dekat kepada Allah dari pada apa yang ada di bawahnya?! Dan dari mana kamu tahu bahwa puncak sebuah menara tidak lebih dekat kepada Allah dari pada apa yang ada di bawahnya?!”. (Kitab An-Naqdl, h.100).

Ungkapan ad-Darimi ini hendak menetapkan bahwa seorang yang berada di tempat tinggi lebih dekat jaraknya kepada Allah di banding yang berada di tempat rendah. Dengan demikian, sesuai pendangan ad-Darimi, mereka yang berada di atas pesawat dengan ketinggian ribuan kaki dari bumi lebih dekat kepada Allah. Na’ûdzu Billâh. Keyakinan ad-Darimi ini di kemudian hari diikuti oleh Ibn Taimiyah al-Harrani dan Ibn al-Qayyim, yang juga dijadikan dasar aqidah oleh para pengikutnya, yaitu kaum Wahhabiyyah di masa sekarang ini. Hasbunallâh.

Adapun seorang muslim ahli tauhid maka ia berkeyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Segala tempat dan segala arah dalam pengertian jarak pada hakekatnya bagi Allah sama saja, artinya satu sama lainnya tidak lebih dekat atau lebih jauh dari Allah. Karena makna “dekat” kepada Allah bukan dalam pengertian jarak, demikian pula makna “jauh” dari Allah bukan dalam pengertian jarak. Tapi yang dimaksud “dekat” atau “jauh” dalam hal ini adalah sejauh mana ketaatan sorang hamba terhadap segala perintah Allah.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman: “Wasjud Waqtarib” (QS. Al-‘Alaq: 19), artinya “Dan Sujudlah engkau -Wahai Muhammad- dan “mendekatlah”. Kemudian dalam Hadits riwayat an-Nasa-i, Rasulullah bersabda:

أقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ (رواه النسائي)

“Seorang hamba yang paling “dekat” kepada Tuhannya adalah saat ia dalam keadaan sujud”. (HR. An-Nasa-i)

Yang dimaksud “dekat” dalam ayat al-Qur’an dan Hadits ini bukan dalam makna zhahirnya. Dua teks syari’at tersebut artinya menurut ad-Darimi dan para pengikutnya, -sesuai aqidah mereka-, adalah dua teks yang tidak benar, karena menurut mereka yang berada pada posisi berdiri lebih dekat kepada Allah dari pada yang sedang dalam posisi sujud, dan yang berada di atas gunung lebih dekat kapada Allah dari pada mereka yang berada di bawahnya. Lalu mereka “buang” ke mana ayat al-Qur’an dan Hadits tersebut?! Hasbunallâh.

Di samping itu siapapun telah tahu bahwa bumi ini berbentuk bulat. Dengan demikian berarti menurut ad-Darimi dan para pengikutnya, seorang yang berada pada satu tempat yang tinggi dari bumi ini dengan yang berada pada 90 derajat pada tempat lain yang juga sama tinggi sama-sama dekat dengan Allah, kalau demikian lalu sebenarnya siapakah dari dua orang ini yang benar-benar pada posisi tinggi? Ataukah memang ad-Darimi dan para pengikutnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda bulat seperti bumi itu sendiri? Mereka tidak akan memiliki jawaban sehat bagi pertanyaan ini. Kita katakan: Tidak lain, itulah aqidah tasybîh yang telah disepakati ulama kita terhadap kesesatannya.

Pada halaman lainnya, ad-Darimi menggambarkan Hadits yang sama sekali tidak benar menyebutkan “’Athîth al-Arsy Min Tsiqalillâh…”. Ia mengatakan bahwa arsy menjadi sangat berat karena menyangga Allah yang berada di atasnya, seperti beratnya bebatuan dan besi. (Kitab An-Naqdl, h. 92, lihat pula h. 182).

Tulisan ad-Darimi ini benar-benar tidak akan menjadikan seorang ahli tauhid berdiam diri. Ini adalah pernyataan yang akan menjadi bahan tertawaan orang-orang yang tidak waras sebelum ditertawakan oleh orang-orang waras (Yadl-hak Minhu al-Majânîn Qabl al-‘Uqalâ’). Bagaimana mungkin seorang muslim akan berdiam diri jika Tuhannya disamakan dengan beratnya besi dan bebatuan?! Hadits ini sendiri adalah Hadits batil, sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Hâfizh Ibn Asakir. Dengan demikian Hadits ini sama sekali tidak benar dan tidak tidak boleh dijadikan dalil dalam menetapkan masalah aqidah.

Pada halaman lainnya dalam kitabnya di atas ad-Darimi menuliskan:

“Kita tidak menerima secara mutlak bahwa semua perbuatan itu baharu (makhluk). Karenanya, kita telah sepakat bahwa gerak (al-Harakah), turun (an-Nuzûl), berjalan (al-Masy), berjalan cepat (al-Harwalah), dan bertempat di atas arsy dan di atas langit itu semua adalah Qadim”. (Kitab An-Naqdl, h. 121).

Inilah keyakinan tasybîh ad-Darimi; keyakinan yang tidak ada bedanya dengan keyakinan para penyembah berhala. Keyakinan ini pula yang setiap jengkalnya dan setiap tapaknya diikuti oleh Ibn Taimiyah al-Mujassim dan muridnya; Ibn al-Qayyim al-Mujassim. Dua orang yang disebut terakhir ini, guru dan murid, memiliki keyakinan yang sama persis, yaitu aqidah tasybîh. Karena itu, keduanya memberikan wasiat kepada para pengikutnya untuk memegang teguh tulisan-tulisan ad-Darimi di atas. Dari sini semakin jelas siapakah sebenarnya Ibn Taimiyah, dan Ibn al-Qayyim serta para pengikutnya tersebut! Tidak lain mereka adalah Ahl at-Tasybîh.

Ungkapan-ungkapan lainnya yang ditulis oleh ad-Darimi di antaranya sebagai berikut:

“Bagaimana mungkin orang semacam Bisyr akan memahami tauhid, padahal ia tidak tahu tempat tuhannya yang ia sembah (yang dimaksud Allah)?!”. (Kitab An-Naqdl, h. 4).

Yang diserang oleh ad-Darimi dalam ungkapannya tersebut adalah musuhnya, yaitu Bisyr al-Marisi. Kitab an-Naqdl yang ditulis ad-Darimi ini secara keseluruhan adalah sebagai bantahan terhadap Bisyr. Dan ungkapan ad-Darimi tersebut di atas adalah untuk menetapkan bahwa Allah bertempat, yaitu berada di arsy dan di langit. Na’ûdzu Billâh.

Pada halaman lainnya, ad-Darimi menuliskan:

“Allah memiliki bentuk dan ukuran, demikian pula tempat-Nya juga memiliki bentuk dan ukuran, yaitu bahwa Dia bertempat di atas arsy yang berada di atas langit-langit, dengan demikian maka Allah dan arsy keduanya memiliki bentuk dan ukuran”. (Kitab An-Naqdl, h. 23).

Na’ûdzu Billâh.

Ad-Darimi juga menuliskan:

“Setiap orang jauh lebih mengetahui tentang Allah dan tempat-Nya di banding kaum Jahmiyyah, dan Dia Allah sendiri yang telah menciptakan Adam dengan Tangan-Nya dengan cara menyentuhnya”. (Kitab An-Naqdl, h. 25).

Na’ûdzu Billâh.

Juga menuliskan:

“Jika Allah tidak memiliki dua tangan seperti yang engkau yakini, padahal dengan kedua tangan-Nya Dia telah menciptakan Adam dengan jalan menyentuhnya, maka berarti tidak boleh dikatakan bagi Allah “Bi Yadika al-Khayr…”. (Kitab An-Naqdl, h. 29).

Na’ûdzu Billâh.

Juga menuliskan:

“Makna takwil dari sabda Rasulullah “Innallâh Laysa Bi A’war…” artinya bahwa Dia Allah Maha melihat dengan kedua mata, karena melihat dengan kedua mata adalah kebalikan dari picak yang hanya melihat dengan sebelah mata saja (al-a’war)”. (Kitab An-Naqdl, h. 48).

Na’ûdzu Billâh.

Juga menuliskan:

“Sesungguhnya Allah benar-benar duduk di atas kursi, dan tidak tersisa (kosong) dari kursi tersebut kecuali seukuran empat jari saja”. (Kitab An-Naqdl, h. 74).

Na’ûdzu Billâh.

Dan banyak lagi berbagai aqidah tasybîh lainnya yang dimuat dalam Kitab an-Naqdl ini. Adakah ini yang dinamakan tauhid?! Adakah orang semacam ad-Darimi dan para pengikutnya memahami dengan benar tentang firman Allah QS. Asy-Syura: 11 bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya?!

Pada halaman lainnya dalam Kitab an-Naqdl di atas, ad-Darimi juga menuliskan:

“Apa yang diriwayatkan dari Rasulullah, bila tanpa adanya pengulangan, tidak lebih hanya sekitar 12.000 Hadits saja. Dengan demikian kebanyakan riwayat yang mereka ambil sumbernya berasal dari kaum zindiq…”. (Kitab An-Naqdl, h. 151).

Semoga kita terhindar dari keyakinan sesat kaum Musyabbihah yang di akhir zaman ini tengah gencar-gencarnya dipropagandakan oleh kaum Wahabi…!!!

Perhatikan generasi kita, jangan sampai ikut-ikutan berkeyakinan ajaran sesat Wahabi…..!!!

Maulana Ilyas Khandahlawi rahmatullahia’laih yang berketurunan banu Tamim adalah ‘lelaki dari timur Penolong Imam Mahdi’? (episod 1)

Maulana Ilyas Khandahlawi rahmatullahia’laih yang berketurunan banu Tamim adalah ‘lelaki dari timur’? (episod 1)

Assalamualaikum,ramai yang bertanya padaku juga berkenaan pemuda Tamim yang disebut dalam hadis sebagai pembantu utama Imam Mahdi,dan apa benar Maulana Ilyas rah merangkap pemula gerakan dakwah terbesar dunia iaitu jemaah Tabligh adalah lelaki yang dimaksudkan itu dan apa benar dia berketurunan dari nasab Saidina Abu Bakar As-Siddiq?Insyallah dengan izin Allah dan ilmu serta kajian yang Allah BERIKAN akan ku cuba untuk jelaskan disini hal ini.

Bismillah…

Bintang terlihat indah terang,
Saat dirimu datang,
Kau datang dengan harapan berjuang,
Namun kau ditolak dan dianggap dagang,
Disaat umat dalam kerosakan bukan kepalang,
Kau menangis rintih namun tetap tidak tenang,
Bagimu tiada rehat tiada masa lapang,
Dalam benakmu tertanam harapan menjulang,
Iaitu Islam yang dibawa rasulullah kembali pulang,
Walaupun ramai yang pincang,
Namun dia tetap teguh berjuang,
Inilah dia akhir zaman masa untuk turun padang,
Tentera Mahdi yang dibantu tentera Tamim bakal menang gemilang!

Apakah itu banu Tamim?

Hmm…ramai yang komplen post-post aku dalam blog ni sangat MENARIK tapi juga sangat PANJANG… =_=”

Errk….sahabat sekalian,aku telah sedaya upaya ringkaskan tulisanku namun terlampau banyak input yang tersumbat dalam otak ku sampai melimpah ruah dan tiada cara lain lagi melainkan aku muntahkan ke blog ini.Aku harap kawan-kawan dapat bersabar ye dengan tulisan-tulisan yang panjang ni.. ^_^

Maafkan aku kerana post ini juga mungkin akan menjadi sangat panjang…

Mula-mula sekali aku ingin nukilkan beberapa hadis berkenaan pemuda banu tamim :-

1)Sabda Nabi SAW,
“Pembawa bendera al-Mahdi adalah seorang laki-laki daripada suku bani Tamim yang datang dari Timur.”

2)Sabda Nabi SAW, “Orang ramai daripada Timur (Pemuda Bani Tamim dan pengikutnya benar-benar) akan muncul, kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada al-Mahdi.”

3) Sabda Nabi SAW, “akan ada orang-orang yang keluar dari sebelah Timur, lalu mereka mempersiapkan segala urusan untuk al-Mahdi, yakni pemerintahnya.” (Ibnu Majah)

4)Telah mengeluarkan Tabrani dalam Al Ausat, dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW telah mengambil tangan Ali dan bersabda :
“Akan keluar dari sulbi ini pemuda(Ali) yang memenuhi dunia dengan keadilan (Imam Mahdi). Bilamana kamu melihat yang demikian itu, maka wajib kamu mencari Putera dari Bani Tamim(dari keturunan Abu Bakar), dia datang dari sebelah Timur dan dia adalah pemegang panji-panji Al Mahdi”. (dari kitab Al Hawi lil Fatawa oleh Imam Sayuti).

Siapa itu Abu Bakar dan apakah benar dia dari Bani Tamim?

Abu Bakar (bahasa Arab: أبو بكر الصديق, Abu Bakr ash-Shiddiq) (lahir: 572M – wafat: 23 Ogos 634M/21 Jumadil Akhir 13 H) termasuk di antara mereka yang paling awal memeluk Islam. Setelah Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menjadi khalifah Islam yang pertama pada tahun 632 M hingga tahun 634 M. Lahir dengan nama Abdullah bin Abi Quhafah(nama sebenar beliau), ia adalah satu diantara empat khalifah yang diberi gelar Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang diberi petunjuk.

Nasab keturunan Abu Bakar r.a

Abu Bakar Ash-Shidiq atau Nama lengkapnya adalah ‘Abd Allah ibn ‘Utsman(Abu Quhafah) bin Amir bi Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr al-Quraishi at-Tamimi‘. Bertemu nasabnya dengan nabi SAW pada moyangnya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai.

Dan ibu dari abu Bakar adalah Ummu al-Khair salma binti Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim yang berarti ayah dan ibunya sama-sama dari kabilah bani Taim yakni mahsyur digelar Tamim.

Bukti lain menunjukkan Abu Bakar dari Banu Tamim

Aku teringat sebuah kisah yang setiap kali aku teringat,aku akan menangis,kisah ini diceritakan dalam kitab Fadhilat Amal dan juga terdapat dalam kitab-kitab lain iaitu dari riwayat Ali r.a.Dan kisahnya begini,

Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada para sahabat ketika beliau memgang kuasa khalifah,

“Siapakah orang yg paling berani?”

jawab mereka,

“Engkau wahai Amirul Mukminin”

kemudian Ali berkata lagi,

” TIDAK! Orang yang paling berani adalah Abu Bakar As – Siddiq.

Demi Allah, aku pernah melihat Nabi Muhammad dikelilingi sekumpulan kaum kafir Quraisy yg sedang menarik dan mencemuh baginda ketika berdakwah di hadapan Kaabah, Sementara itu kami mengintip dari jauh.

Kemudian datanglah Abu Bakar menerpa orang-orang kafir tadi dan menghalang mereka menyakiti Rasulullah,beliau sangat kuat dan menolak semua orang disitu lalu berkata,

” Apakah engkau hendak membunuh org yg mengatakan Rabbku adalah Allah!?”

mendengarkan hal itu, mereka meninggalkan Rasulullah dan menerpa Abu Bakar. 

Kemudian Uqbah bin Abu Mu’ith datang, Abu Bakar di hentak ke tanah dan dibelasah teruk.Uqbah lantas membaling sandal dan memukul wajah Abu Bakar dgn sandal terus menerus sehinggakan wajah Abu Bakar jadi bengkak sampai tak boleh nak ketahui lagi bentuk hidungnya.Mengalir darah dr wajah Abu Bakar lalu pengsan!

Sejurus itu datanglah kabilah dari Bani Tamim.Mereka menjerit bahawa jika Abu Bakar mati,mereka akan isytiharkan perang!Dan Uqbah orang pertama akan dibunuh kerana dia yang paling banyak memukul beliau.(Bani Tamim punyai ramai pahlawan handal dan ditakuti kabilah Arab).

Mereka membawanya ke rumah dan menyangka Abu Bakar tidak akan mampu di selamatkan lagi.

⁠⁠
Mereka berkata kepada ibunya, “Jika dia terjaga dan masih hidup, maka berilah dia makan dan minum”

Setelah beberapa lama beliau koma,lalu beliau tersedar,dan kalimat pertama yg keluar dari lisan Abu Bakar adalah,

“Bagaimana keadaan Rasulullah?”

T_T cukup lah..aku tak mampu cerita lagi..sampai sini pun aku sudah menangis.

Jadi jelas bahawa banu Tamim adalah banu kepada Abu bakar r.a.

Aku juga teringat satu lagi kisah riwayat Abu Bakar sendiri yang pernah menceritakan pengislamannya kepada Ibnu Mas’ud,dan ini untuk tambahan dan penguat bahawa dia memang dari Bani Tamim.

Katanya, “Aku pernah ke Yaman dan berjumpa dengan seorang tua.Dia rajin membaca kitab dan telah mengajar banyak murid.Lalu dia berkata kepada ku:

Orang Tua : Saya rasa tuan datang dari Tanah Haram(Makkah)

Abu Bakar : Benar

Orang Tua : Apakah tuan berbangsa Quraisy?

Abu Bakar : Benar

Orang Tua : Apa yang saya lihat,Tuan ini dari keluarga Bani Tamim?

Abu Bakar : Benar

Orang Tua : Ada satu perkara yang ingin saya tanyakan kepada tuan iaitu jika tuan tidak keberatan,benarkan saya melihat perut tuan.

Abu Bakar : Saya tidak benarkan selagi tuan tidak perjelaskan niat sebenar tuan kepada ku.

Orang Tua : Sesungguhnya,menurut ilmu yang ada padaku,seorang Nabi Allah akan diutuskan di Tanah Haram. Nabi itu akan dibantu oleh 2 orang sahabatnya yang seorang masih muda dan seorang lagi sudah separuh umur.Sahabatnya yang muda itu berani berjuang dalam segenap lapangan dan menjadi pelindungnya dalam kesusahan.Sementara yang separuh umur itu putih kulitnya dan berbadan kurus,ada tahi lalat di perutnya dan ada sesuatu tanda di paha kirinya.Apakah sudi tuan memperlihatkannya kepadaku.

Lalu Abu Bakar membuka bajunya dan memperlihatkan tahi lalat di perutnya.

Orang Tua : Demi Tuhan yang menguasai Kaabah,tuanlah orangnya!”

Jadi jelas sekali tanpa ragu bahawa beliau adalah pemuda Tamim dan pembantu Rasulullah ketika hidupnya dan anak cucunya pembantu anak cucu Rasulullah iaitu Imam Mahdi.

Kenapa Banu Tamim datang dari Timur bukan dari negara Arab?

Tanah arab atau kita gelar sebagai Hijjaz memang didiami oleh keluarga Rasulullah,keluarga para Sahabat dan orang Quraisy sejak zaman Rasulullah hinggalah Allah datangkan fitnah dajjal yakni tentera Wahabi/Salafi yang membunuh dan mengusir keluarga Rasulullah dan bani Tamim dari Hijjaz.

Bani Tamim itu tidak lagi mendiami Hijaz karena telah dihalau keluar oleh pemerintahan Bani Saud al-Wahhabi yang kini memerintah di Arab Saudi seperti yang telah ku ulang beberapa kali di post sebelum ini. Banyak pula yang dibunuh. Tidak kurang yang disiksa dan dihalau keluar dari tanah tumpah darah mereka,yaitu Hijaz. Banyak pula yang terpaksa lari menyelamatkan diri karena diburu oleh agen-agen kerajaan Saudi.

Pengusiran keluarga Nabi dan orang Quraisy oleh tentera Dajjal(Wahabi) ini telah dirakamkan dalam hadis Rasulullah saw yang berbunyi,

Dari Ibnu Mas”ud RA, katanya, “ketika kami berada di sisi Rasullah SAW, tiba-tiba datang sekumpulan anak muda dari kalangan Bani Hasyim. Apabila terlihat mereka, maka kedua-dua mata banginda SAW dilinangi air mata dan wajah baginda berubah. Aku pun bertanya, “Mengapakah kami melihat pada wajah Tuan sesuatu yang tidak kami sukai?” Baginda menjawab, “Kami Ahlul Bait telah Allah pilih untuk kami akhirat lebih dari dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dari penyingkiran selepasku kelak sehinggalah datang suatu kaum dari Timur yang membawa bersama-sama mereka Panji-panji Hitam. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya, maka mereka pun berjuang dan beroleh kejayaan lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu tetapi mereka tidak menerima sehinggalan mereka menyerahkannya kepada seorang lelaki dari kaum kerabatku yang akan memenuhkan bumi ini dengan keadilan seperti halnya bumi ini dipenuhi dengan kedurjanaan sebelumnya. Sesiapa yang sempat menemuinya, maka datangilah mereka itu, walaupun terpaksa merangkak di atas salji. Sesungguhnya dia adalah al-Mahdi.”(Ibnu Majah)

Jadi jelas sekali ia telah berlaku dan Imam Mahdi serta pengikutnya serta pemuda Banu Tamim akan menguasai semula Mekah dan menghalau puak-puak Wahabi/Salafi dan Bani Sa’ud yang memegang pemerintahan Mekah pada masa ini.

Bahkan jika dilihat secara logik,ahli keluarga Rasulullah seperti Habib Umar di Yaman dan keluarga bani Tamim dari Khandahlawi,India adalah pemegang kuat fahaman Tasawwuf dan Tareqat yang diharamkan Wahabi dan ada yang menghukum kafir kepada pengamal ilmu Tasawuf seperti Maulana Zakariyya Khandahlawi At-Tamimi merupakan syeikh besar dalam Tareqat Chisty yang juga merangkap Tareqat yang aku amalkan di bawah sanad murid beliau.

Keluarga Nabi dan Tamim ini diusir dan mereka bertebaran di seluruh dunia.Ada yang lari ke India,Yaman,dan banyak pula yang menetap di Nusantara.Tambahan lagi,para Habib,ulama Yaman(keluarga Rasulullah) dan ulama Deobandi,India(keluarga Tamim) adalah ulama yang terkenal dengan pengamalan tradisi mereka yang mengekalkan sistem pengajaran secara Madrasah(cara yang paling mendekati Rasulullah),bukan Universiti yang mendekati cara Yahudi.

Mereka juga ulama yang paling kuat berpegang kepada Sunnah Rasulullah berbanding ulama tempat lain yang tidak mahu beramal dengan Sunnah Nabi atas alasan ‘Strategi Dakwah’,mereka tidak mahu bercelak,berserban,berjubah dan lebih selesa memakai kot hitam seperti Rabbi Yahudi,lihat saja ulama-ulama muda zaman ini yang sangat cintakan budaya Yahudi sambil melaungkan,

‘Iman bukan pada pakaian’

Sedangkan jelas sekali bahawa Imam Mahdi dan pengikutnya itu bukan pemakai kot dan bersongkok seperti Imam Muda TV9 atau pemakai baju ‘Muslimin United’ atau ‘Islam inside’ seperti ikhwah-ikhwah usrah,bukan juga berbaju Melayu seperti orang Melayu tapi mereka berjubah,berserban dan berselendang seperti Nabi mereka.

Aku tinggalkan persoalan itu untuk kalian yang mempunyai AKAL untuk berfikir……

Selain daripada Hadis,dikatakan juga pemuda Tamim nanti memakai serban biru.Mungkin serban biru itu tidak selalu dipakainya, cuma sekali-sekali saja. Namun begitu, ini sudah cukup menjadi bukti bahwa hanya beliau yang sanggup memakai serban biru. Ulama lain ketika itu, terutama ulama fiqh, sudah tidak sanggup lagi meletakkan serban di atas kepala sebagai pakaian harian, apalagi untuk memakai serban yang berwarna biru,hitam atau hijau.

Pernyataan ini bukan datang dari hadis Nabi SAW atau dari tabiin, tetapi datang dari ramalan Nostradamus, seorang peramal bangsa Perancis yang terkenal itu. Oleh itu, ramalan beliau ini boleh dijadikan sebagai sumber tambahan saja, bukan untuk dipercayai, apalagi untuk diyakini, walaupun MUNGKIN benar kerana tidak bercanggahan dengan apa yang nabi ceritakan.

Siapa pula Maulana Ilyas Khandahlawi?

Perlu diketahui bahawa pemula gerakan Islam terbesar dalam dunia ini dimulakan oleh seorang lelaki dari TIMUR bumi dan berketurunan BANI TAMIM iaitu Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawy.

Beliau lahir pada tahun 1303 Hijrah (1886 M) di perkampungan Kandahlah di kawasan Muzhafar Nagar, Uttar Pradesh, India.Ayahnya bernama Syaikh Ismail dan ibunya bernama Shafiyah Al-Hafidzah. Keluarga Maulana Muhammad Ilyas terkenal sebagai gudang ilmu agama dan memiliki sifat warak,semua ahli keluarganya dari keturunannya adalah Ulama dan para Huffaz Al-Quran.

Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandhahlawy juga adalah daripada keturunan Hazrat Abu Bakar as-Siddiq r.a, seorang sahabat Rasulullah s.a.w. Maulana Muhammad Ilyas pertama kali belajar agama pada abangnya Syaikh Muhammad Yahya, beliau adalah seorang guru agama di madrasah di kota kelahirannya. Abangnya adalah seorang pengikut mazhab Hanafi dan sahabat daripada seorang ulama dan penulis Islam terkenal, Syaikh Abul Hasan Al-Hasani An-Nadwi yang merupakan seorang pengarah kepada lembaga Dar Al-‘Ulum di Lucknow, India.

Pada suatu ketika saudara keduanya, iaitu Maulana Muhammad Yahya pergi belajar kepada seorang alim besar dan pembaharu yang ternama yakni Syaikh Rasyid Ahmad Al-Gangohi, di desa Gangoh, kawasan Saharanpur,Uttar Pradesh,India(Alhamdulillah aku telah sampai ke situ pada tahun 2009 dan Insyaallah aku akan ceritakan pengalamanku disana).

Maulana Muhammad Yahya belajar membersihkan diri dan menyerap ilmu tasawuf dengan bimbingan Syaikh Rasyid Ganggohi. Hal ini pula yang membuat Maulana Muhammad Ilyas tertarik untuk belajar pada Syaikh Rasyid sebagaimana abangnya. Akhirnya Maulana Ilyas memutuskan untuk belajar agama menyertai abangnya di Gangoh.
Setelah menyelesaikan pelajaran Hadis Syarif, Jami’at Tirmidzi dan Shahih Bukhari, dan dalam jangka waktu empat bulan beliau sudah menyelesaikan Kutubus Sittah(6 kitab Hadis yang Sahih iaitu Bukhari,Muslim,Tirmizi,Abu Daud,Ibn Majah,Nasa’I) .

Tubuhnya yang kurus dan sering terserang sakit semakin membuat beliau bersemangat dalam menuntut ilmu, begitu pula kerisauannya yang bertambah besar terhadap keadaan umat yang jauh daripada syariat Islam.

Besarnya pengorbanan Maulana hanya untuk memajukan pendidikan agama bagi masyarakat Mewat,India tidak mendapatkan perhatian. Bahkan mereka enggan menuntut ilmu dan suka hidup dalam kejahilan, mereka senang hidup dalam keadaan yang sudah mereka jalani selama bertahun-tahun turun temurun.

Beliau melihat bahawa kejahilan, kegelapan dan sekularisme yang melanda negerinya sangat berpengaruh terhadap madrasah-madrasah. Para murid tidak mampu menjunjung nilai-nilai agama sebagaimana yang sepatutnya, sehingga gelombang kejahilan semakin melanda bagaikan gelombang lautan yang meluru deras sehingga ratusan mil membawa mereka hanyut.

Melihat keadaan Mewat yang sangat jahil itu semakin menambah kerisauan beliau akan keadaan umat Islam terutama masyarakat Mewat. Kunjungan-kunjungan dilakukannya bahkan madrasah-madrasah banyak didirikan, tetapi hal itu belum dapat mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat Mewat.

Pada tahun 1351 H/1931 M, beliau menunaikan haji ke tanah suci Mekah. Kesempatan tersebut dipergunakannya untuk menemui tokoh-tokoh India yang ada di Arab untuk memperkenalkan usaha dakwah dan dengan harapan agar usaha ini dapat terus dijalankan di tanah Arab.

Keinginannya yang besar menyebabkan beliau berkesempatan menemui Sultan Ibnu Sa’ud yang menjadi raja tanah Arab untuk mengenalkan usaha dakwah seperti Rasulullah mulia yang dibawanya. Selama di tanah Mekah, jamaah bergerak setiap hari dari pagi sampai petang, usaha dakwah terus dilakukan untuk mengajak orang taat kepada perintah Allah dan menegakkan dakwah.

Setelah pulang dari haji tersebut, Maulana mengadakan dua kunjungan ke Mewat, masing-masing disertai jamaah dengan jumlah yang cukup besar, paling sedikit seratus orang. Bahkan di beberapa tempat jumlah itu semakin meningkat. Kunjungan pertama dilakukan selama satu bulan dan kunjungan ke dua dilakukan hanya beberapa hari saja. Dalam kunjungan tersebut beliau selalu membentuk jamaah-jamaah yang dikirimkan ke kampung-kampung untuk berjaulah (berkeliling dari rumah ke rumah seperti yang dilakukan jemaah Tabligh sedunia) untuk menyampaikan pentingnya agama. Beliau sepenuhnya yakin bahawa kejahilan, kelalaian serta hilangnya semangat agama dan jiwa keislaman itulah yang menjadi sumber kerosakan.

Dari Mewat inilah secara beransur-ansur usaha tabligh meluas ke Delhi, Punjab, Khurja, Aligarh, Agra, Bulandshar, Meerut, Panipat, Sonepat, Karnal, Rohtak dan daerah lainnya. Begitu juga di bandar-bandar pelabuhan banyak jamaah yang tinggal dan terus bergerak menuju tempat-tempat yang ditujukan sepeti halnya daerah Asia Barat.

Terbentuknya jamaah ini adalah dengan izin Allah melalui asbab kerisauan Maulana Muhammad Ilyas, tersebarlah jamaah-jamaah yang membawa misi berganda, iaitu islah diri (perbaikan diri sendiri) dan mendakwahkan kebesaran Allah s.w.t kepada seluruh umat manusia.

Perkembangan jemaah ini semakin hari semakin ketara. Banyak jamaah yang dihantar dari tempat-tempat yang dikunjungi jamaah, kemudian membentuk rombongan jamaah baru sehingga silaturrahim antara kaum muslimin dengan muslim yang lain dapat terwujud. Gerakan jamaah tidak hanya tersebar di India tetapi sedikit demi sedikit telah menyebar ke pelbagai negara di seluruh dunia dan Malaysia tidak terkecuali dan aku Alhamdulillah telah dipilih Allah sebagai salah satu pejuangnya dan aku mengajak kalian agar bergabung denganku mendakwahkan agama ini.

Buah fikiran beliau dicurahkan dalam lembar-lembar kertas surat yang dihimpun oleh Maulana Manzoor Nu’mani dengan judul Aur Un Ki Deeni Dawat yang ditujukan kepada para ulama dan seluruh umat Islam yang mengambil usaha dakwah ini.

Karya beliau yang paling nyata adalah beliau telah meninggalkan kerisauan dan fikir atas umat Islam hari ini serta metod kerja dakwahnya yang atas izin Allah s.w.t telah menyebar ke seluruh pelosok dunia. Orang-orang yang mengetahui keadaan umat, insya-Allah akan mengambil jalan dakwah ini sebagai penawar dan ubat hatinya, dan akan menjadi sebab hadirnya hidayah bagi dirinya dan orang lain.

Akhirnya Maulana menghembuskan nafas terakhirnya; beliau pulang ke rahmatullah sebelum azan Subuh. Beliau merupakan seorang pengembara yang mungkin tidak pernah tidur dengan tenang, kini sampai ke tempat tujuannya. Beliau meninggalkan karya-karya tulisan tentang kerisauannya akan keadaan ummah.

Alhamdulillah dengan izin Allah tamat sudah episod 1 dari tulisan daif dan hina dariku ini..semoga Allah ampunkan kesalahan ku selama daku menulis blog ini…….

To be continue InsyaAllah….

Posted with WordPress for BlackBerry.

Bukti: Wahabi – Syiah – Yahudi Nasrani Samakan Bentuk Allah dengan Bentuk Nabi Adam. Na’udzubillah

A. SYIAH itu sama dengan  geng Mujasimmah WAHHABI.

Wahhabi mendakwa Allah berbentuk SERUPA dgn manusia (Rujuk kitab Wahhabi Aqidah Ahlul Imam oleh At-Tuwaijiriy KLIK SINI). Tahukah anda, Syiah juga berakidah sedemikian. Al-Khomaini mendakwa: “Allah menjelma di cermin manusia dan SERUPA dgn bentuknya” (Rujuk Al-Khomainiy dlm Syarh Du’a).

Untuk bukti selanjutnya lihat di Facebook. Klik Sini

Allah mencipta manusia seperti rupa bentuk Allah. Wahhabi juga berakidah sedemikian. Subhanallah.

B. AQIDAH WAHHABI: “ALLAH SERUPA DENGAN NABI ADAM”. (berbukti)
INILAH AKIDAH SESAT WAHHABI YANG DISEBARKAN OLEH WAHHABI SEKARANG :
” ALLAH SERUPA, SAMA & SEPERTI NABI ADAM “

DI ATAS ADALAH COVER MUKA DEPAN KITAB WAHHABI YANG BERJUDUL: “AQIDAH AHL IMAN FI KHOLQI ADAM ‘ALA SURATIR RAHMAN”.
DALAM KITAB WAHHABI TERSEBUT MEREKA MENDAKWA BAHAWA RUPA BENTUK GAYA DAN DIRI ALLAH ITU SAMA DAN SERUPA DENGAN BENTUK RUPA NABI ADAM. NA’UZUBILLAH.
INILAH BUKTI BAHAWA WAHHABI SEMEMANGNYA MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK SEDANGKAN TIADA SATU AYAT ATAU HADITH PUN YANG MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK DAN TIADA SATU NAS YANG SAHIH PUN MENYATAKAN “RUPA BENTUK ALLAH SERUPA DENGAN RUPA BENTUK NABI ADAM”.LIHATLAH PADA TAJUK KITAB TERSEBUT IANYA AMAT MENGERIKAN DAN JELAS WAHHABI MENYATAKAN “ALLAH SERUPA DENGAN MAKHLUK”.

Saya (Abu Syafiq)menyatakan: Inilah sejebis bukti pengakuan wahhabi sendiri yang diakui oleh pendokongnya bahawa akidah mereka sememangnya adalah Allah serupa dengan makhluk.
Ketahuilah bahawa akidah Islam sebenar Allah tidak menyerupai makhlukNya dan Allah tidak bersifat rupa paras mahupun rupa bentuk.
Dan saya mengatakan akidah tersebut adalah ruh akidah Yahudi sendiri. Ini kerana Yahudi juga mendakwa Allah Berbentuk dan Allah mencipta manusia seperti rupa parasNya.

Lihat akidah yahudi tersebut di : http://www.arabicbible.com/bible/ot/gen/1.htm
Dalam kitab orang Yahudi berjudul Muqaddas Awwal Safar Takwin Al-Ishah Awwal 26 Yahudi mendakwa فخلق الله الانسان على صورته
dan Yahudi juga mendakwa على صورة الله خلق
Kedua-dua akidah yahudi itu amat jelas menyatakan Allah mencipta manusia seperti rupa bentuk Allah. Wahhabi juga berakidah sedemikian. Subhanallah.

 BIN BAZ AL-WAHHABI PADA KITAB TERSEBUT TELAH MEMUJI AKIDAH TAJSIM YANG MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK. (1)

BIN BAZ AL-WAHHABI AKIDAH TAJSIM (2)

DI ATAS ADALAH COP DAN PENGAKUAN DARI AL-WAHHABI ABDUL AZIZ BIN BAZ BAHAWA KITAB WAHHABI TADI YANG MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK DAN RUPA BENTUK ALLAH ITU SAMA DENGAN RUPA BENTUK NABI ADAM MERUPAKAN AKIDAH YANG DIBAWA OLEH KESEMUA WAHHABI TERMASUK KESEMUA WAHHABI DI MALAYSIA.

INI ISI KANDUNGAN KITAB WAHHABI TERSEBUT YANG JELAS MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK

DI ATAS ADALAH ISI KANDUNGAN KITAB WAHHABI TADI YANG DIAKUI OLEH BIN BAZ AL-WAHHABI MENYATAKAN AKIDAH MEREKA BAHAWA ALLAH SERUPA DENGAN MANUSIA DAN SERUPA DENGAN SEGALA MAKHLUK-MAKHLUKNYA SERTA WAHHABI MENGUNAKAN HUJAH DARI YAHUDI KITAB TAURAT (MUHARRAFAH) YANG TELAH DITUKAR DAN DIUBAH. WAHHABI TIDAK MENGUNAKAN ALQURAN DAN HADITH TETAPI MENGUNAKAN KENYATAAN YAHUDI DALAM HAL ASAS AKIDAH. PERHATIKAN PADA LINE YANG TELAH DIMERAHKAN AMAT JELAS KESEMUA WAHHABI MENDAKWA ALLAH MENCIPTA MANUSIA SERUPA DENGAN DIRI ALLAH SENDIRI. INILAH AKIDAH MUJASSIMAH AL-YAHUDIYAH YANG DIHIDUPKAN OLEH AL-WAHHABIYAH.

semoga Allah memberi hidayah iman kepada Wahhabi.

www.abu-syafiq.blogspot.com

2.  Ibnu Taimiyyah dan wahabi Menshahihkan Hadis mungkar(“Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”) dan mengunakannya untuk masalah aqidah

Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh syaikh salafy wahabi dan syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.

Takhrij Hadis Ibnu Abbas
ثنا حماد بن سلمة عن قتادة عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي جعدا امرد عليه حلة خضراء

Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).

Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat

* Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
* Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.

Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.

Ibnu Taimiyyah dan Syaikh wahabi ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ibnu taymiyah dan wahabi dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.

 

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah

 

 

Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad

 

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290

Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya dan menggunakannya dalam masalah aqidah.

Inilah tuhan kaum hindu (dajjal kriting dari india ‘sami baba’) sama dengan tuhan yang dinanti nantikan oleh kaum mujasimmah wahabi :

 

 

Rasulullah saw bersabda kepada kami, Dajjal akan keluar dari bumi ini dibahagian timur bernama Khurasan (Jamiu at Tirmidzi)

Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Nabi saw. bersabda:”Hari Kiamat tidak akan datang hingga 30 Dajal (pendusta) muncul, mereka semua berdusta tentang Allah dan Rasul-Nya.”

“Dajjal adalah seorang laki-laki yang gemuk, berkulit merah dan berambut keriting…” (HR.Bukhari dan Muslim)
“Di awal kemunculannya, Dajjal berkata, Aku adalah nabi, padahal tidak ada nabi setelahku. Kemudian ia memuji dirinya sambil berkata, Aku adalah Rabb kalian, padahal kalian tidak dapat melihat Rabb kalian sehingga kalian mati (HR.Ibnu Majah)

C. Bantahan Ahlusnnah terhadap Aqidah Tajsim wahabi dan Ibnu taymiyah

1. Imam al jauzi jelaskan kenapa ada golongan mujasimmah dalam pengikut madzab hambali dan sebutkan biang keroknya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul :  Daf’u Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih

Karya : al-Imam al-Hafidz Abul Faraj ‘Abdurrahman bin al-Jauzi al-Hanbali (w 597 H)

Kompilasi ebook kedalam format CHM oleh: http://www.ashhabur-royi.blogspot.com bekerjasama dengan http://www.pustakaaswaja.web.id

Al-Imâm al-Hâfizh al-‘Allâmah Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin al-Jawzi as-Shiddiqi al-Bakri berkata (original Scanned kitab page 98 -101):

“Aku melihat ada beberapa orang dalam madzhab Hanbali ini yang berbicara dalam masalah akidah dengan pemahaman-pemahaman yang ngawur. Ada tiga orang yang menulis karya terkait dengan masalah ini, yaitu; Abu Abdillah bin Hamid, al-Qâdlî Abu Ya’la (murid Abu Abdillah bin Hamid), dan Ibn az-Zaghuni. Mereka semua telah menulis kitab-kitab yang telah merusak madzhab Hanbali, bahkan dengan sebab itu aku melihat mereka telah turun ke derajat orang-orang yang sangat awam. Mereka memahami sifat-sifat Allah secara indrawi, misalkan mereka mendapati teks hadits: “إن الله خلق ءادم على صورته”, lalu mereka menetapkan adanya “Shûrah” (bentuk) bagi Allah. Kemudian mereka juga menambahkan “al-Wajh” (muka) bagi Dzat Allah, dua mata, mulut, bibir, gusi, sinar bagi wajah-Nya, dua tangan, jari-jari, telapak tangan, jari kelingking, jari jempol, dada, paha, dua betis, dua kaki, sementara tentang kepala mereka berkata: “Kami tidak pernah mendengar berita bahwa Allah memiliki kepala”, mereka juga mengatakan bahwa Allah dapat menyentuh dan dapat disentuh, dan seorang hamba bisa mendekat kepada Dzat-Nya secara indrawi, sebagian mereka bahkan berkata: “Dia (Allah) bernafas”. Lalu –dan ini yang sangat menyesakkan– mereka mengelabui orang-orang awam dengan berkata: “Itu semua tidak seperti yang dibayangkan dalam akal pikiran”.

Dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah mereka memahaminya secara zahir (literal). Tatacara mereka dalam menetapkan dan menamakan sifat-sifat Allah sama persis dengan tatacara yang dipakai oleh para ahli bid’ah, sedikitpun mereka tidak memiliki dalil untuk itu, baik dari dalil naqli maupun dari dalil aqli. Mereka tidak pernah menghiraukan teks-teks yang secara jelas menyebutkan bahwa sifat-sifat tersebut tidak boleh dipahami dalam makna literalnya, juga mereka tidak pernah mau melepaskan makna sifat-sifat tersebut dari tanda-tanda kebaharuan.

Begitulah ungkapan keprihatinan Imam Ibnul Jauzi terhadap perjalanan Madzhab Hanbali yang beliau tuliskan didalam muqaddimah kitab Da’fu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih (دفع شبه التشبيه بأكف التنزيه) yakni salah satu karya monumental beliau dalam bidang aqidah. Kitab ini memaparkan kesesatan-kesesatan aqidah tasybih ( menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’alaa dengan makhluk) yang sangat penting untuk dibaca dan disebarkan guna menghalau kelompok-kelompok yang mempropagandakan aqidah tasybih seperti sekte Wahhabiyah dan semisalnya mereka.

Dalam ebook ini juga terdapat pengantar dari penterjemah yang sangat penting untuk dibaca agar anda bisa membedakan antara Ibn Al-Jauzi dengan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, Penjelasan mendalam tentang faham Ibn Taimiyah yang ditentang ulama-ulama terkemuka dari masa ke masa dari generasi ke generasi, Cara mudah membantah ajaran wahabi,  dan panduan membaca kitab terjemah Daf’u Syubah At-Tasybih ini.

Segera Download Ebooknya, Gratis!!!

Klik disini : http://www.mediafire.com/?ljb0wwpj1ph66h9 (format CHM) 

Ebook ini didedikasikan bagi para pejuang ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah untuk memberantas ajaran Wahabi dan faham-faham menyesatkan lainnya. Halal untuk diperbanyak dengan cara apapun dengan tanpa merubah sedikitpun kandungan yang dimaksud.

Selain E-book dengan format CHM, anda juga bisa mendownload E-book ini dalam format PDF ~dengan isi yang sama~ yang mana dengan format PDF bisa dibaca melalui HP (semua HP yang punya Sistem Operasi baik itu Symbian, Windows Mobile, maupun Android), silahkan download E-book PDFnya disini : http://www.mediafire.com/?kmuu3tgemfk9tf9

Kami sertakan juga link download kitab Daf’u Syubah At-Tasybih دفع شبه التشبيه بأكف التنزيه berbahasa arab bagi anda yang ingin melihat teks arab kitab ini. Silahkan download disini: http://www.mediafire.com/?whb05pg0xd5284k ( Format PDF, Size 6,4 Mb)

Bermanfaat, Insya Allah!!

2. al Imam al Hafizh Ibn al Jawzi Membongkar Kesesatan Aqidah Tasybih wahabi (penyembah dajjal keriting) ((( Mewaspadai Ajaran Wahabi )))

by AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT

 

 

 

 

 Kitab ini berjudul “Talbis Iblis”, [ artinya Membongkar Tipu Daya Iblis ], karya al Imam al Hafizh Abdurrahman ibn al Jawzi (w 579 H), salah seorang ulama terkemuka (–bahkan rujukan–) dalam madzhab Hanbali.

Terjemahan yang diberi tanda:

“Mereka yang memahami sifat-sifat Allah dalam makna indrawi ada beberapa golongan. Mereka berkata bahwa Allah bertempat di atas arsy dengan cara menyentuhnya, jika DIA turun (dari arsy) maka DIA pindah dan bergerak. Mereka menetapkan ukuran penghabisan (bentuk) bagi-NYA. Mereka mengharuskan bahwa Allah memiliki jarak dan ukuran. Mereka mengambil dalil bahwa Dzat Allah bertempat di atas arsy [--dengan pemahaman yang salah--] dari hadits nabi: “Yanzil Allah Ila Sama’ ad Dunya”, mereka berkata: “Pengertian turun (yanzil) itu adalah dari arah atas ke arah bawah”.

Mereka memahami makna “nuzul” (dalam hadits tersebut) dalam pengertian indrawi yang padahal itu hanya khusus sebagai sifat-sifat benda. Mereka adalah kaum Musyabbihah yang memahami sifat-sifat Allah dalam makna indrawi (meterial). Dan Telah kami paparkan perkataan-perkataan mereka dalam kitab karya kami berjudul “Minhaj al Wushul Ila ‘Ilm al Ushul”.

Imam Ibn al Jawzi al Hanbali menegaskan bahwa KEYAKINAN ALLAH BERTEMPAT DI ATAS ARSY ADALAH KEYAKINAN MUSYABBIHAH. Lihat, beliau adalah ulama besar dalam madzhab Hanbali, hidup jauh sebelum datangnya Ibnu Taimiyah dengan faham-faham Tasybih-nya. Ratusan tahun sebelum datang Muhammad bin Abdil Wahhab dengan faham-faham Tajsim-nya…….

Catatan Penting:

Ibn al-Jauzi adalah al-Imam al-Hafizh Abdurrahman ibn Abi al-Hasan al-Jauzi (w 597 H), Imam Ahlussunnah terkemuka, ahli hadits, ahli tafsir, dan seorang teolog (ahli ushul) terdepan. Beliau bermadzhab Hanbali.

Awas salah; beda antara Ibn al-Jauzi dengan Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Adapun ibn Qayyim al-Jauziyyah ini adalah Muhammad ibn Abi Bakr az-Zar’i (w 751 H) murid dari Ibn Taimiyah yang dalam keyakinannya persis sama dengan Ibn Taimiyah sendiri; dua-duanya orang sesat dan menyesatkan.

 3. Beda Antara Imam Abu ya’ala (Muhadits) dengan Abu ya’la (Mujasimmah)

Tulisan ini sangat penting dan sangat mendesak untuk menghindari tipu daya kaum Wahhabi.

Perhatikan, ada dua orang bernama Abu Ya’la, keduanya orang berbeda, yang pertama adalah ulama terkemuka ahli hadits di kalangan Ahlussunnah, sementara yang ke dua adalah seorang Musyabbih (seorang yang sesat; menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) yang seringkali menjadi rujukan utama bagi orang Wahabi dalam menetapkan keyakinan sesat mereka.

Perhatikan;

Orang Pertama:

Nama: Abu Ya’la ahli hadits bernama; Ahmad bin Ali bin al Mutsanni bin Yahya bin Isa al Maushiliy, penulis kitab Musnad (Dikenal dengan kitab Musnad Abi Ya’la al Maushili), lahir tahun 210 H, wafat tahun 307 H (satu pendapat mengatakan wafat tahun 306 H).

Guru-guru: Di antaranya Imam-imam Ahli hadits terkemuka berikut ini; Ali bin al Madini, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yahya bin Sa’id al Qaththan, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan lainnya.

Murid-murid: Di antaranya Imam-imam ahli hadits terkemuka berikut ini; an Nasa’i, Ibnu Adiy, Abu Hatim, Abu asy-Syaikh, Abu Bakr bin al Muqri’, ath-Thabarani, dan lainnya.

Orang Ke Dua:

Nama: Muhammad bin al Husain bin Muhammad bin Khalaf bin Ahmad al Baghdadi al Hanbali, dikenal dengan sebutan al Qadli Abu Ya’la al Hanbali. Lahir tahun 380 H, wafat 458 H.

Al Qadli Abu Ya’la ini dikenal sebagai orang yang menyebarkan faham tasybih, bahkan salah seorang yang paling bertanggungjawab atas kerusakan Madzhab Hanbali. Orang inilah yang telah “menyuntikan penyakit” akidah tasybih di dalam madzhab Hanbali, dia banyak menuliskan akidah tasybih lalu dengan BOHONG BESAR ia mengatakan bahwa itu semua adalah aqidah Imam Ahmad bin Hanbal.

Imam al Hafizh Ibn al Jawzi (w 597 H) berkata:

Aku melihat ada beberapa orang dalam madzhab Hanbali ini yang berbicara dalam masalah aqidah dengan pemahaman-pemahaman yang ngawur. Ada tiga orang yang menulis karya terkait dengan masalah ini, yaitu; Abu Abdillah bin Hamid, al-Qadli Abu Ya’la (murid Abu Abdillah bin Hamid), dan Ibn az Zaghuni. Mereka semua telah menulis kitab-kitab yang telah merusak madzhab Hanbali, bahkan karena itu aku melihat mereka telah turun ke derajat orang-orang yang sangat awam. Mereka memahami sifat-sifat Allah secara indrawi, misalkan, mereka mendapati teks hadits “Innallah Khalaqa Adam ‘Ala Shuratih”, lalu mereka menetapkan adanya “Shurah” (bentuk) bagi Allah. Lalu mereka juga menambahkan “al-Wajh” (muka) bagi Dzat Allah, dua mata, mulut, bibir, gusi, sinar bagi wajah-Nya, dua tangan, jari-jari, telapak tangan, jari kelingking, jari jempol, dada, paha, dua betis, dua kaki, sementara tentang kepala mereka berkata: “Kami tidak pernah mendengar berita bahwa Allah memiliki kepala”, mereka juga mengatakan bahwa Allah dapat menyentuh dan dapat disentuh, dan seorang hamba bisa mendekat kepada Dzat-Nya secara indrawi, sebagian mereka bahkan berkata: “Dia (Allah) bernafas”. Lalu -dan ini yang menyesakkan- mereka mengelabui orang-orang awam dengan berkata: “Itu semua tidak seperti yang dibayangkan dalam akal pikiran”. (Daf’u Syubah at Tasybih Bi Akaff at-Tanzih, h. 7-8)

Kemudian dalam nasehatnya kepada para pengikut madzhab Hanbali; al Hafizh Ibn al Jawzi menuliskan:

Janganlah kalian memasukan ajaran-ajaran aneh ke dalam madzhab orang salaf yang saleh ini (Ahmad bin Hanbal); yang nyata-nyata itu bukan dari ajarannya. Kalian telah menutupi madzhab ini dengan bungkus yang buruk, hingga tidak disebut siapapun seorang yang bermadzhab Hanbali kecuali ia dianggap sebagai Mujassim (berkeyakinan sesat bahwa Allah sebagai benda). Selain itu kalian juga telah merusak madzhab ini dengan sikap fanatik terhadap Yazid bin Mu’awiyah. Padahal kalian tahu sendiri bahwa Imam Ahmad bin Hanbal, perintis madzhab ini membolehkan melaknat Yazid. Bahkan Syekh Abu Muhammad at Tamimi sampai berkata tentang salah seorang imam kalian (yaitu Abu Ya’la al-Mujassim): “Dia (Abu Ya’la) telah menodai madzhab ini dengan noda yang sangat buruk, yang noda tersebut tidak akan bisa dibersihkan hingga hari kiamat”. (Daf’u Syubah at Tasybih Bi Akaff at-Tanzih, h. 10)

Imam Abu Muhammad at Tamimiy berkata:

“Abu Ya’la telah mengotori orang-orang Madzhab Hanbali (al Hanabilah) dengan kotoran yang tidak bisa dibersihkan dengan air lautan sekalipun”. (diriwayatkan oleh Ibn al Atsir dalam al Kamil Fi at Tarikh).

Waspadalah…. waspadalah… !!!!!

Kitab berjudul “Ash Shawa’iq al Ilahiyyah Fi ar Radd ‘Ala al Wahhabiyyah”, karya Syekh Sulaiman bin Abdil Wahhab. Beliau adalah saudara kandung dari Muhammad bin Abdil Wahhab; perintis gerakan wahabi. Lihat, saudara kandungnya aja mengatakan bahwa Muhammad bin Abdil Wahhab orang sesat!!!!! [WAHABI mati kutu]

Extremist Sects : Wahaby/ fake salafi – Syiah – Liberal

Extremist Sects
  Exposing Extremist Misguided Sects (who falsely claim to follow Ahlus-Sunnah)

قال الله تعالى: كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ ۗ ﴿١١٠﴾

Surat Al ^Imran, Ayah 110 means: [You are the best of the nations that were brought to the people commanding the lawful and forbidding the unlawful.] Also, al-Hakim related the Prophet said which means:”If you see my nation fearful of telling he who is unjust, ‘You are unjust,’–then know the support of Allah is withdrawn from them”. Thus in Islam warning from the wrong is a must. The Prophet ordered us to command the lawful and forbid the unlawful. He said what means: “He who does not respect the elderly among us, is not merciful to the youngsters among us, and does not command the lawful and forbid the unlawful is not following our methodology.” Abu ^Ali ad-Daqqaq said “The one who is silent from telling the truth is a mute devil” so warning from the evil and the wrong is a Must  in Islam. And so you will find detailed articles and refutations to misguided sects such as the Wahhabis so-called Salafis, Hizb al-Ikhwan and Hizb at-Tahrir and other extremists who claim to be Sunnis but in reality have hidden agendas to promote their extreme beliefs that no Muslim accepts.

Title Filter     Display # 5101520253050100All
# Article Title
1 Portrait of a Wahhabi (so-called Salafis)
2 Shocking facts on Wahhabi Terrorist Recruitment and Infiltration in the United States
3 The insults of Wahhabis towards Prophet Muhammad:
4 Wahhabi Fatwa Claims Mawlid is Shirk فتوى للوهابية تزعم أن المولد شرك
5 Allamah Ibn Abidin Warns From Wahhabis
6 Proofs on Ibn Taymiyyah’s Extreme Kufur Tajseem and Tashbeeh
7 Wahhabi Albani Fatwa Against Palestinians
8 The Radical ideas of Wahhabis against Muslims
9 Proofs that Wahhabis oppose the way of True Salaf
10 The Jews
11 Ibn Taymiyah’s Prohibiting the Tawassul by the Prophets and Awliya’ and the Tabarruk by them and their Traces (V)
12 From Battling the Grass Roots of Extremism in Islamic History
13 Wahhabis generally have 3 problems..
14 Who are the wahhabis?
15 Book: Fitnat-ul-Wahhabiyyah (The wahhabi Tribulation)
# Article Title
11 Ibn Taymiyah’s Prohibiting the Tawassul by the Prophets and Awliya’ and the Tabarruk by them and their Traces (V)
12 From Battling the Grass Roots of Extremism in Islamic History
13 Wahhabis generally have 3 problems..
14 Who are the wahhabis?
15 Book: Fitnat-ul-Wahhabiyyah (The wahhabi Tribulation)
16 Quoting blasphemous beliefs of Wahhabis about Allah (God)
17 Committing Suicide is An Abhorrent Enormous Sin and a Path to Hellfire
18 Memoirs Of Hempher, The British Spy To The Middle East & The intrusion of Wahabism
19 The Irrefutable Proof that Nazim al-Qubrusi Negates Islam
20 Exposing Nazim al-Qubrusi’s Exaggeration in Sufism
21 Warning from the following Misleading People
22 The uprising of Hizb at-Tahrir Extremists
23 The uprising of Hizbul-Ikhwan Extremists
24 Quoting The Misguidance of Wahhabis in Beliefs (Aqeedah)
25 Extreme Criminal Violence of Wahhabis
25 Extreme Criminal Violence of Wahhabis
26 Ibn Taymiyah’s Disagreement with the Ijma^ of the Muslims in the Divorce Issue (VI)
27 Quoting the Scholars on the Permissibility of Tawassul
28 Important Note about Tawassul Refuting Ibn Taymiah
29 Visiting the Grave of the Prophet and Waliys – Refuting Ibn Taymiah & Wahahbis!
30 Proofs on Tawassul – Refuting the claims of Ibn Taymiah & Wahhabis
31 Ibn Taymiyah’s Saying of the Sitting of Allah, Ta^ala (IV)
32 Ibn Taymiyah’s Saying of the Hadd to the Self of Allah (III)
33 Ibn Taymiyah’s Saying of Hawadith with No Beginning Existing Eternally with Allah (II)
34 Ibn Taymiyah’s Deviations from the Muslims
35 Exposing Ibn Taymiyah’s Deviations from the Muslims

 http://www.alsunna.org/Table/Extremist-Sects/Page-2.html

 

Perkataan Kufur Ibnu taymiyah – ibnu qayyim – wahabi dan Yusuf qardhawi : Neraka akan punah

Perkataan Kufur Yusuf al Qardlawi, mengatakan; Neraka akan Punah]

video:

ingatlah wahai qardawi!!!

72:23] Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya

illaa balaaghan mina allaahi warisaalaatihi waman ya’shi allaaha warasuulahu fa-inna lahu naara jahannama khaalidiina fiihaa abadaan

http://www.youtube.com/watch?v=IhJljy2O1yM&feature=related


Al Qardlawi berkata:
Ibn Qayyim sebenarnya memiliki pendapat sebagaimana pendapat Ibn Taimiyah; gurunya, bahwa menurut keduanya neraka akan punah, sementara surga kekal. Menurut mereka; suatu hari nanti neraka akan punah. Dalam hal ini mereka memiliki dalil, Ibn Qayyim menjelaskan masalah ini dalah bukunya; syifa’ al ‘Alil Fi Masa’il al Qadla’ Wa al Qadar Wa al Hikmah Wa at Ta’lil, lalu dalam bukunya; Hadi al Arwah Ila Bilad al Afrah, dan ketiga ada dalam bukunya yang lain. Lalu Ibn Taimiyah juga berpendapat demikian. Ibn Qayyim menyebutkan banyak dalil untuk masalah ini, menyebutkan sekitar 20 dalil. Pendapatnya ini sesuai dengan keluasan rahmat Allah. Ia menyebutkan tiga ayat dalam al Qur’an; firman Allah; Qala an naru matswakum khalidin fiha illa ma sya’Allah Inna Rabbaka hakimun alim (Qs. Al An’am), kemudian ayat dalam surat Hud; Fa ammalladzina kafaru fa finnari lahum fiha zafiruw wa syahiq khalidina fiha ma damatissamawatu wal ardlu illa ma sya’a rabbuka inna rabbaka fa’allun lima yurid. Dalam masalah surga Allah tidak menyebutkan “illa ma sya’a Rabbuka”, yang ada disebutkan tentang surga adalah “atha’an ghayru majdzudz”, jadi penyebutan prihal neraka berbeda dengan penyebutan prihal surga. Lalu ayat ke tiga adalah firman Allah dalam surat an Naba’; “labitsin fiha ahqaban, la yadzuquna fiha badan wala syaraban”, makna “ahqab”; sekalipun waktu panjang, namun pada akhirnya ia memiliki penghabisan, taruh misalkan makna “ahqab” di sini 1 juta tahun, namun akhirnya itu akan habis. Ini adalah pendapat Ibn Qayyim (dan gurunya). Dan Ini adalah pendapat yang saya sendiri setuju dengannya, karena ini sesuai dengan keluasan rahmat Allah dan kebijaksanaan-Nya. Lalu Ibn Qayyim sendiri di akhir bukunya menyatakan bahwa dasarnya semua urusan Allah “inna rabbakan fa’alun lima yurid’, artinya ibn Qayyim tidak memastikan hal itu.

**************************

Di antara kontroversi Ibn Taimiyah yang menggegerkan adalah pernyataannya bahwa neraka akan punah, dan bahwa siksaan terhadap orang-orang kafir di dalamnya memiliki penghabisan. Kontroversi ini bahkan diikuti oleh murid terdekatnya; yaitu Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah (Lihat Ibn al-Qayyim dalam Hadi al-Arwah Ila Bilad al-Afrah, h. 579 dan h. 582).

Dalam karyanya berjudul ar-Radd ’Ala Man Qala Bi Fana’ an-Nar, Ibn Taimiyah menuliskan sebagai berikut:

”Di dalam kitab al-Musnad karya ath-Thabarani disebutkan bahwa di bekas tempat neraka nanti akan tumbuh tumbuhan Jirjir. Dengan demikian maka pendapat bahwa neraka akan punah dikuatkan dengan dalil dari al-Qur’an, Sunnah, dan perkataan para sahabat. Sementara mereka yang mengatakan bahwa neraka kekal tanpa penghabisan tidak memiliki dalil baik dari al-Qur’an maupun Sunnah” (Lihat ar-Radd ‘Ala Man Qala Bi Fana’ an-Nar, h. 67).

Apa yang telah ditetapkan oleh Ibn Taimiyah dan dikuatkan oleh muridnya ini sekarang telah menjadi dasar keyakinan kaum Wahhabiyyah. Bahkan salah seorang pemuka mereka bernama Abd al-Karim al-Humaid, dengan bangga menulis satu buku yang ia beri judul ”al-Qaul al-Mukhtar Li Fana’ an-Nar”. Di dalamnya, dengan sangat tegas dan gamblang sebagaimana judul buku tersebut, ia mengatakan bahwa neraka akan punah, serta seluruh siksaan terhadap orang-orang kafir di dalamnya akan habis. (Lihat al-Qaul al-Mukhtar Li Fana’ an-Nar, h. 8, Riyadl, Saudi). Hasbunallah…!!! Pertanyaannya; Lantas ke manakah orang-orang kafir itu? Ke surga? Na’udzu Billah.

Ini adalah salah satu kontroversi Ibn Taimiyah, -selain berbagai kontroversi lainnya- yang memicu ”perang” antara dia dengan al-Imam al-Hafizh al-Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki. Hingga kemudian al-Imam as-Subki membuat risalah berjudul ”al-I’tibar Bi Baqa’ al-Jannah Wa an-Nar” sebagai bantahan keras terhadap Ibn Taimiyah, hingga beliau mengatakan bahwa Ibn Taimiyah telah keluar dari Islam; seorang yang sesat dan menyesatkan. Di antara yang dituliskan al-Imam as-Subki dalam risalah tersebut adalah sebagai berikut:

”Sesungguhnya keyakinan seluruh orang Islam adalah bahwa surga dan neraka tidak akan pernah punah. Kesepakatan (Ijma’) keyakinan ini telah dikutip oleh Ibn Hazm, dan bahwa siapapun yang menyalahi hal ini maka ia telah menjadi kafir sebagaimana hal ini telah disepakati (Ijma’). Sudah barang tentu hal ini tidak boleh diragukan lagi, karena kekalnya surga dan neraka adalah perkara yang telah diketahui oleh seluruh lapisan orang Islam. Dan sangat banyak dalil menunjukan di atas hal itu” (Lihat al-I’tibar Bi Baqa’ al-Jannah Wa an-Nar dalam ad-Durrah al-Mudliyyah Fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah karya Al-Hafizh ‘Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki, h. 60).

Pada bagian lain dalam risalah tersebut al-Imam as-Subki menuliskan:

”Seluruh orang Islam telah sepakat di atas keyakinan bahwa surga dan neraka kekal tanpa penghabisan. Keyakinan ini dipegang kuat turun temurun antar generasi yang diterima oleh kaum Khalaf dari kaum Salaf dari Rasulullah. Keyakinan ini tertancap kuat di dalam fitrah seluruh orang Islam yang telah diketahui oleh seluruh lapisan mereka. Bahkan tidak hanya orang-orang Islam, agama-agama lain-pun di luar Islam meyakini demikian. Maka barangsiapa meyalahi keyakinan ini maka ia telah menjadi kafir” (Lihat al-I’tibar Bi Baqa’ al-Jannah Wa an-Nar dalam ad-Durrah al-Mudliyyah Fi ar-Radd ‘Ala Ibn Taimiyah karya Al-Hafizh ‘Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki, h. 67).

Pernyataan Ibn Taimiyah di atas jelas merupakan bohong besar terhadap para ulama Salaf dan terhadap al-Imam ath-Thabarani. Anda jangan tertipu, karena pendapat itu adalah ”akal-akalan” belaka. Anda tidak akan pernah menemukan seorang-pun dari para ulama Salaf yang berkeyakinan semacam itu. Pernyataan Ibn Taimiyah ini jelas telah menyalahi teks-teks al-Qur’an dan hadits serta Ijma’ seluruh orang Islam yang telah bersepakat bahwa surga dan neraka kekal tanpa penghabisan. Bahkan, dalam kurang lebih dari 60 ayat di dalam al-Qur’an secara sharih (jelas) menyebutkan bahwa surga dengan segala kenikmatan dan seluruh orang-orang mukmin kekal di dalamnya tanpa penghabisan, dan bahwa neraka dengan segala siksaan serta seluruh orang-orang kafir kekal di dalamnya tanpa penghabisan, di antaranya dalam QS. Al-Ahzab: 64-65, QS. At-Taubah: 68, QS. An-Nisa: 169, dan berbagai ayat lainnya.

[Al -ahzab (33):64] Sesungguhnya Allah mela’nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka),
[Al -ahzab (33):65] mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong.
Dalam surat attaubat ayat 68:
[9:68] Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.
Dalam Surat Annisa 169:
[4:169] kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Kemudian di dalam hadits-hadits shahih juga telah disebutkan bahwa keduanya kekal tanpa penghabisan. Di antaranya hadits shahih riwayat al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:

يُقَالُ لِأهْلِ الْجَنّةِ: يَا أهْلَ الْجَنّةِ خُلُوْدٌ لاَ مَوْت، وَلأهْلِ النّار: خُلُوْدٌ لاَ مَوْت (رواه البخاري)

”Dikatakan kepada penduduk surga: ”Wahai penduduk surga kalian kekal tidak akan pernah mati”. Dan dikatakan bagi penduduk neraka: ”Wahai penduduk neraka kalian kekal tidak akan pernah mati”. (HR. al-Bukhari)

kitab Tasynif Al-masami’ (Al- Imam Badr al-Din Muhammad bin Bahadar bin `Abdullah al- Zarkasyi (wafat 794 H) : Akidah Mujasimah adalah akidah kufur dan sesat (berserta dalil dari kitab)

BuktiBukti

Assalamualaikum,
Berserta post ini,aku lampirkan dengan izin Allah foto muka surat kitab Tasynif Al-masami’ yang menyatakan dengan jelas bahawa menyatakan Allah itu berjisim walaupun bukan seperti jisim yang lain adalah kufur.

Maka kepada pembaca budiman berakal waras,tolong jangan menjisimkan Allah seperti menyatakan Allah ada tangan,Allah tinggal di langit,duduk di arasy,Allah turun ke langit bumi dan sebagainya,untuk hadis dan ayat Quran yang secara lafzi(dari segi bahasa)mengatakan demikian,maka perlu dirujuk alim ulama’(yang berakidah sahih)untuk mendapat takwil yang sebenar.

Pandangan yang mengatakan MUJASSIMAH GHOIRU SORIH termasuk dalam golongan FASIQ adalah pandangan yang tidak SAHIH (tidak benar) dan Tidak boleh diguna pakai kerana menyalahi pendapat yang SAHIH.

 

Telah Berkata Al- Imam Badr al-Din Muhammad bin Bahadar bin `Abdullah al- Zarkasyi (wafat 794 H) di dalam Tasynif al-Masami` Bi Jam`ie al- Jawami` Li al-Tajjudin al-Subki pada perbahasan ketujuh pada membicarakan bab IJTIHAD:

 

وَنَقَلَ صَاحِبُ ((الْخِصَالِ)) مِنَ الْحَنَابِلَةِ عَنْ أَحْمَدَ أَنَّهُ قَالَ :مَنْ قَالَ جِسْمٌ لا كَالأَجْسَامِ كَفَرَ ، وَنَقَلَ عَنِ الأَشْعَرِيَّةِ أَنَّهُ يُفَسَّقُ ،وَهَذَا النَّقْلُ عَنِ الأَشْعَرِيَّةِ لَيْسَ بِصَحِيْحٍ

 

Terjemahan:

 

“Dan telah dinaqalkan oleh pengarang kitab ((al-Khisal)) daripada para ulama’ Hanabilah, daripada (al-Imam) Ahmad bahwa sesungguhnya beliau telah berkata: “Barangsiapa yang mengatakan Allah jisim tetapi tidak sama dengan semua jisim (jisim-jisim yang lain), KUFUR”, dan telah dinaqalkan daripada para ulama’ al-Asy`ariyyah bahawasanya (orang yang berkata Allah jisim tetapi tidak serupa jisim) dihukum FASIQ (sesat lagi mubtadi`), dan (pendapat) yang menukilkan pendapat tersebut dari para ulama’ al-Asy`ariyyah (maka pendapat tersebut adalah) TIDAK SAHIH/TIDAK BENAR”.

 

 

Telah Berkata Al- Imam Badr al-Din Muhammad bin Bahadar bin `Abdullah al- Zarkasyi, (t.t.), Tasynif al-Masami` Bi Jam`ie al- Jawami` Li al-Tajjudin al-Subki, Beirut: Dar al-Kutub al-I`lmiyyah, j. 2, h. 249.

 

INFO MENGENAI KITAB INI:

 

Kitab ini dikarangan oleh Al- Imam Badr al-Din Muhammad bin Bahadar bin `Abdullah al- Zarkasyi dan diberi nama Tasynif al-Masami` dan disyarahkan oleh al-Imam Tajuddin al-Subki dan diberi nama iaitu Tasynif al-Masami` Bi Jam`ie al- Jawami` Li al-Tajjudin al-Subki (kedua-dua ulama’ ini masyhur dalam bidang AKIDAH) dan telah ditahqiq oleh Abi `Amr al-Husaini bin `Umar bin `Abd al-Rahim.

 

PERHATIAN:

 

1. Isyarat huruf (م) di dalam kitab di atas adalah isyarat bagi hendak menyatakan itu adalah MATAN asal kitab Tasynif al-Masami` yang dikarang oleh Al- Imam Badr al-Din Muhammad bin Bahadar bin `Abdullah al- Zarkasyi.

 

2. Isyarat huruf (ش) di dalam kitab di atas adalah isyarat bagi hendak menyatakan itu adalah SYARAH bagi matan, yang disyarah oleh al-Imam Tajuddin al-Subki dan diberi nama Tasynif al-Masami` Bi Jam`ie al- Jawami` Li al-Tajjudin al-Subki.

 

3. Footnote yang terdapat di bawah kitab tersebut iaitu no (ا) itu adalah TAHQIQ bagi kitab di atas yang ditahqiq oleh Abi `Amr al-Husaini bin `Umar bin `Abd al-Rahim

Posted with WordPress for BlackBerry by Ibnbatoota

http://sufiafriqiyya.wordpress.com/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 420 other followers