Complete proof of The concept of “Bid’ah Hasanah and Bid’ah Dholalah” in the Classic Book [ 8 Scanned Kitab of Fathul bari (Ibn Hajar atsqalani) – Tahdib al asma wallughat – Syarah Muslim (Imam Nawawi) – Al nihayah (Ibn Athir) – al-Ahkam fi Usul al-Ahkam(Hazam al-Zahiri) -Qawa’idul Ahkam (Imam Izzudin) – Manaqib Imam Syafii (Imam Al baihaqi) – Muwafaqah (Ibn Taymiyah)

Complete proof of The concept of “Bid’ah Hasanah and Bid’ah Dholalah” in the Classic Book

Scanned Kitab of :

1.Fathul bari (Ibn Hajar atsqalani) : Hukum Bid’ah ada 5

2.  Tahdib al asma wallughat – Syarah Muslim (Imam Nawawi)

3. Al nihayah (Ibn Athir)

4.  al-Ahkam fi Usul al-Ahkam(Hazam al-Zahiri)

5. Qawa’idul Ahkam (Imam Izzudin)

6. Manaqib Imam Syafii (Imam Al baihaqi)

7.  Muwafaqah (Ibn Taymiyah)

Fath ul Bari Ba-Sharah Sahih al-Bukhari

Fath ul Bari Ba-Sharah Sahih al-Bukhari, Published by Maktaba Dar ul Marifah, Beirut, Lebanon

Imam Ibn Hajar Asqalani (rah) said: The root meaning of innovation is what is produced without precedent. It is applied in the law in opposition to the Sunna and is therefore blameworthy. Strictly speaking, if it is part of what is classified as commendable by the law then it is a “Good innovation (hasana)”, while if it is part of what is classified as blameworthy by the law then it is blameworthy (mustaqbaha), otherwise it falls in the category of what is permitted indifferently (mubah). It can be divided into the known five categories.” “obligatory” (wajib), “forbidden” (haram), “recommended” (mandub), “disliked” (makruh), and “indifferently permitted” (mubah). [Fath ul Bari: Volume 004, Page No. 253]

Fath ul Bari Ba-Sharah Sahih al-Bukhari, Diterbitkan oleh Dar ul Maktaba Marifah, Beirut, Lebanon

Imam Ibnu Hajar Asqalani (rah) mengatakan: Akar kata dari bid’ah (inovasi) adalah apa yang diproduksi tanpa contoh/preseden. Hal ini diterapkan dalam hukum bertentangan dengan Sunnah dan karena itu tercela. Sebenarnya, jika itu adalah bagian dari apa yang diklasifikasikan sebagai terpuji/baik oleh hukum maka itu adalah sebuah “inovasi baik (Bid’ah Hasanah)”, sementara jika itu adalah bagian dari apa yang diklasifikasikan sebagai tercela oleh hukum maka “bid’ah dolalah/tercela (mustaqbaha), selain itu jatuh dalam kategori  “mubah”. Hal ini dapat dibagi ke dalam lima kategori dikenal “” wajib “(wajib),” terlarang “(haram).,” Direkomendasikan “(mandub),” menyukai “(makruh), dan” tak peduli diijinkan “(mubah). [Fath ul Bari: Volume 004, No 253 Halaman]

f45

f46

Tahdhib al-Asma’ wa al-Lughat, Imam Nawawi : Hukum Bid’ah ada 5

Tahdhib al-Asma’ wa al-Lughat, Imam Nawawi, Publish: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut/Lebanon

Shaykh al-Islam, Imam al-Nawawi said: al-Bid`ah in the Law is the innovating of what did not exist in the time of the Messenger of Allah and is divided into “excellent” and “bad” (wahya munqasimatun ila h.asana wa qabih.a). The Shaykh, the Imam on whose foremost leadership, greatness, standing, and brilliance in all kinds of Islamic sciences there is consensus, Abu Muh.ammad `Abd al-`Aziz ibn `Abd al-Salam – Allah have mercy on him and be well-pleased with him! – said toward the end of his book, al-Qawa`id [al-Kubra]: “Innovation is divided into ‘obligatory’ (wajiba), ‘forbidden’s (muh.arrama), ‘recommended’s (manduba), ‘offensive’s (makruha), and ‘indifferent’s (mubaha). The way [to discriminate] in this is that the innovation be examined in the light of the regulations of the Law (qawa`id al-shari`a).If it falls under the regulations of obligatoriness (ijab) then it is obligatory; under the regulations of prohibitiveness (tah.rim) then it is prohibited; recommendability, then recommended; offensiveness, then offensive; indifference, then indifferent.”

Imam Nawawi said Imam Bayhaqi Narrated with sound chain Imam Shafi’I said: Innovation is two types (al-bid`atu bid`atân): approved innovation (bid`a mah.mûda) and disapproved innovation (bid`a madhmûma). Whatever conforms to the Sunna is approved (mah.mûd) and whatever opposes it is abominable (madhmûm).’ He used as his proof the statement of `Umar ibn al-Khat.t.âb (ra) about the [congregational] supererogatory night prayers in the month of Ramad.ân: “What a fine innovation this is!” [Tahdhib al-Asma' wa al-Lughat, Imam Nawawi, Volume 003, Page 23]

Abu al-Asma ‘wa al-Lughat, Imam Nawawi, Publish: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut / Lebanon

Syaikh al-Islam, Imam al-Nawawi mengatakan: al-Bid `ah dalam Hukum tersebut adalah inovasi dari apa yang tidak ada pada zaman Rasulullah dan dibagi menjadi” baik “dan” buruk “(Wahya munqasimatun ila h.asana wa qabih.a). Syaikh, Imam pada yang kepemimpinannya terpenting, kebesaran, berdiri, dan kecemerlangan di semua jenis ilmu Islam ada konsensus, Abu Muh.ammad `Abd al-` Aziz ibn `Abd al-Salam – Allah merahmatinya dan menjadi well-senang dengan dia! – Mengatakan menjelang akhir bukunya, al-Qawa `id [al-Kubra]:” Inovasi dibagi menjadi ‘wajib’ (wajiba), ‘(muh.arrama) terlarang itu,’ direkomendasikan ‘s (manduba),’ ofensif ‘s (makruha ), dan ‘s acuh tak acuh (mubaha). Cara [membedakan] dalam hal ini adalah bahwa inovasi akan diperiksa dalam terang peraturan Hukum (qawa `id al-shari` a) Jika jatuh di bawah peraturan obligatoriness (ijab) maka wajib.; di bawah peraturan prohibitiveness (tah.rim) maka dilarang; recommendability, kemudian direkomendasikan, offensiveness, kemudian ofensif;. ketidakpedulian, kemudian acuh tak acuh “

Imam Nawawi mengatakan Imam Baihaqi Dikisahkan dengan rantai suara Imam Syafi’I mengatakan: Inovasi adalah dua jenis (al-`atu tawaran tawaran` Atan): inovasi disetujui (bid `a mah.mûda) dan inovasi ditolak (bid` a madhmûma). Apapun sesuai dengan Sunnah disetujui (mah.mûd) dan apa pun menentang itu keji (madhmûm). ‘Dia digunakan sebagai bukti nya pernyataan ‘Umar ibn al-Khat.t.âb (ra) tentang shalat malam [jemaat] sunnah di bulan Ramad.ân: “Betapa baiknya Bid’ah  ini” [Abu al-Asma 'wa al-Lughat, Imam Nawawi, Volume 003, Page 23]

f42

f43f44

Sahih Muslim bi Sharah Imam al-Nawawi

Sahih Muslim bi Sharah Imam al-Nawawi, Publish: Beirut: Dar al-Fikr

 

f47

f48f49

Imam Ibn Athir, al-Nihayah fi Garib al-Hadith wa al-Athar

Imam Ibn Athir, al-Nihayah fi Garib al-Hadith wa al-Athar, Publish: Dar al-Ihyah al-Turath al-Arabi, Beirut, Lebanon

Imam Imam Ibn Athir said: “Bid`a is two kinds: the bid`a of guidance and the bid`a of misguidance (bid`atu hudâ wa-bid`atu d.alala). Whatever contravenes the command of Allah and His Messenger : that is within the sphere of blame and condemnation. And whatever enters into the generality of what Allah or His Prophet commended or stressed: that is within the sphere of praise. Whatever has no precedent such as extreme generosity or goodness – such are among the praiseworthy acts. It is impermissible that such be deemed to contravene the Law because the Prophet has stipulated that such would carry reward when he said: “Whoever institutes a good practice in Islâm (man sanna fil-islami sunnatan h.asana) has its reward and the reward of all those who practice it.” And he said, conversely, “whoever institutes a bad practice in Islam (waman sanna fil-islami sunnatan sayyi’atan) bears its onus and the onus of all those who practice it.” [Narrated from Jarir Ibn Abd Allah al-Bajali by Muslim] Such is when the act goes against what Allah and His Messenger commanded…. It is in this sense that the hadith “every innovation is misguidance” [Bukhari, Muslim] is understood: he means, whatever contravenes the bases of the Law and does not concur with the Sunna.” [Imam Ibn Athir, al-Nihayah fi Garib al-Hadith wa al-Athar, Volume 001, Page 106-7]

 

Imam Ibnu Atsir, al-Nihayah fi Garib al-Hadits wa al-Athar, Publish: Dar al-Ihyah al-Turath al-Arabi, Beirut, Lebanon

Imam Imam Ibn Atsir mengatakan: “Bid` adalah dua macam: tawaran `a bimbingan dan tawaran` a dari kesesatan (bid `atu huda wa-bid` atu d.alala). Apapun bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya: yang berada dalam lingkup menyalahkan dan kutukan. Dan segala sesuatu yang masuk ke dalam umum dari apa yang Allah atau Nabi-Nya memuji atau stres: yang berada dalam lingkup pujian. Apapun tidak memiliki preseden seperti kedermawanan ekstrim atau kebaikan – seperti antara tindakan terpuji. Tidak diizinkan bahwa seperti dianggap bertentangan dengan syariat karena Nabi telah menetapkan bahwa seperti akan membawa hadiah ketika ia berkata: “Barangsiapa lembaga praktik yang baik dalam Islam (man sanna fil-islami sunnatan h.asana) memiliki pahala dan pahala dari semua orang yang melakukannya “dan dia berkata, sebaliknya,”. siapapun lembaga praktek yang buruk dalam Islam (waman sanna fil-islami sunnatan sayyi’atan) beruang tanggung jawab dan tanggung jawab dari semua orang yang melakukannya. “[Diriwayatkan dari Jarir Ibn Abd Allah al-Bajali Muslim] tersebut adalah ketika tindakan tersebut bertentangan dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya memerintahkan …. Hal ini dalam arti bahwa hadits “setiap inovasi adalah sesat” [Bukhari, Muslim] dipahami:. Ia berarti, apapun yang bertentangan dengan dasar hukum dan tidak setuju dengan Sunnah “[Imam Ibnu Atsir, al-Nihayah fi Garib al-Hadits wa al-Athar, Volume 001, Halaman 106-7]

f50

f51f52

al-Ahkam fi Usul al-Ahkam, By Ibn Hazam al-Zahiri

al-Ahkam fi Usul al-Ahkam, By Ibn Hazam al-Zahiri, Publish, Dar al Hadith, Beirut/Lebanon

Ibn Hazam al-Zahiri on Bidah He Said: Bid`ah in the Religion is everything that did not come to us in the Qur’an nor from the Messenger of Allah , except that one is rewarded for some of it and those who do this are excused if they have good intentions. Of it is the rewardable and excellent (hasan), namely, what is originally permitted (ma kana as.luhu al-ibah.a) as was narrated from `Umar (ra): “What a fine bid`ah this is!” Such refers to all good deeds which the texts stipulated in general terms of desirability even if its practice was not fixed in the text. And of it is the blameworthy for which there is no excuse such as what has proofs against its invalidity. [al=Ahkam fi Usul al-Ahkam, Volume 001, Page No. 47]

al-Ahkam fi Ushul al-Ahkam, Oleh Ibnu Hazam al-Zahiri, Publish, Dar al Hadits, Beirut / Lebanon

Ibn Hazam al-Zahiri on bidah Dia Said: Bid `ah dalam Agama adalah segala sesuatu yang tidak datang kepada kita dalam Al-Qur’an maupun dari Rasulullah, kecuali bahwa seseorang dihargai untuk sebagian dan mereka yang melakukan hal ini yang dimaafkan jika mereka memiliki niat yang baik. Dari itu adalah pahala dan sangat baik (hasan), yaitu, apa yang awalnya diizinkan (ma kana as.luhu al-ibah.a) seperti yang diriwayatkan dari Umar (ra): “betapa baiknya bidah ini! “tersebut mengacu pada semua perbuatan baik yang teks diatur dalam syarat-syarat umum keinginan bahkan jika praktiknya tidak tetap dalam teks. Dan itu adalah tercela yang tidak ada alasan seperti apa yang memiliki bukti terhadap ketidakabsahannya. [al Ahkam fi Ushul = al-Ahkam, Volume 001, No 47 Halaman]

f36

f37

PEMBAGIAN BID’AH MENURUT IMAM ‘IZZUDDIN BIN ABDUS SALAM (Kitab “Qawa’idul Ahkam fi Mashalihul Anam”)

 

Di dalam kitab “Qawa’idul Ahkam fi Mashalihul Anam” karya Imam ‘Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H/ 1262 M) cetakan “Al-Maktabah Al-Husainiyah” Mesir tahun 1353 H / 1934 M juz 2 halaman 195 diterangkan sebagai berikut:Artinya: “Bid’ah adalah suatu pekerjaan yang tidak dikenal di zaman Rasulullah saw”.
Bid’ah terbagi ke dalam 5 bagian, yaitu: 1. Bid’ah Wajib, 2. Bid’ah Haram, 3. Bid’ah Sunnah, 4. Bid’ah Makruh, dan 5. Bid’ah Mubah.
Adapun cara untuk mengetahui kelima bid’ah tersebut adalah engkau harus menjelaskan tentang bid’ah berdasarkan atas kaedah-kaedah hukum syara’.
Maka seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah tentang kewajiban bid’ah, maka disebut bid’ah wajib. Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah tentang keharaman bid’ah, maka disebut bid’ah haram. Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah kesunnahan bid’ah, maka disebut bid’ah sunnah. Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah kebolehan bid’ah, maka disebut bid’ah mubah.
I. Contoh Bid’ah Wajib:
1.  Sibuk belajar ilmu nahwu untuk tujuan memahami Al-Qur’an dan Hadits Nabi saw. Bid’ah tersebut hukumnya wajib, karena memelihara syari’at juga hukumnya wajib. Tidak mudah memelihara syari’at terkecuali harus mengetahui ilmu nahwu. Kata kaedah ushul fiqih: “Maa laa yatimmul waajibu illa bihi fahuwa wajibun”. Artinya: “Sesuatu yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya wajib”.

2. Memelihara bahasa Al-Qur’an dan Hadits yang memiliki arti yang asing (perlu penjelasan yang tepat dan benar).
3. Pembukuan Ilmu Ushul Fiqih.
4. Al-Kalam fil Jarhi wat Ta’dil (kalam seorang perawi hadits yang menyebabkan periwayatan haditsnya ditolak atau dilemahkan terhadap suatu hadits) dengan tujuan untuk membedakan hadits yang shahih dari yang tidak shahih.
Sesungguhnya kaedah-kaedah syari’at Islam menunjukkan bahwa memelihara syari’at itu hukumnya fardhu kifayah di dalam sesuatu yang berlebih atas kadar yang ditentukan.
Tidaklah mudah memeliharta syari’at  terkecuali dengan sesuatu yang diceritakan di atas.

II. Contoh Bid’ah Haram.
Di antaranya: Golongan Qadariyah, Jabariyah, Murji’ah, dan Mujassimah. Menolak terhadap mereka termasuk bid’ah yang wajib.
III. Contoh Bid’ah Sunnah.
Di antaranya: Memperbaharui pesantren dan madrasah, membangun jembatan, mengerjakan perbuatan bagus yang tidak ada di masa permulaan Islam,  mengerjakan shalat tarawih (berjama’ah), ucapan tasawuf yang mengandung pengertian yang dalam, dan ucapan di dalam perdebatan untuk mencari dalil dalam menghimpun masalah-masalah hukum dengan tujuan mencari ridha Allah swt.
IV. Contoh Bid’ah Makruh.
Di antaranya menghiasi masjid, dan menghiasi mashaf. Adapun membaca Al-Qur’an secara “Lahn (keliru dalam bacaan I’rabnya)” sekira-kira berubah lafadz-lafadznya, maka menurut pendapat ulama yang benar adalah termasuk bid’ah haram.
Contoh Bid’ah Mubah.
Di antaranya: Bersalam-salaman sesudah shalat shubuh dan ‘ashar, meluaskan yang enak-enak seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, memakai pakaian panjang, dan meluaskan lengan baju.
Sebagian bid’ah mubah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama menjadikannya bid’ah makruh, dan sebagian yang lain menjadikannya sunnah-sunnah yang dilakukan di masa Rasulullah saw dan sesudah masa beliau, seperti membaca “Isti’adzhah  
(أعوذ بالله من الشيطان الرجيم)”   di dalam shalat dan basmalah.

SCAN KITAB ASLI MANAQIB IMAM SYAFII ‘ALA IMAM BAIHAQI DAN KITAB IBNU TAYMIYAH : IMAM SYAFII BAGI 2 BID’AH (BID’AH HASANAH DAN BID’AH DLOLALAH)

Bagaimana pandangan Al-Imam asy-Syafi’i tentang Bid’ah Hasanah ?

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ :

أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ،

وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ

Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua macam :

Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar, perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat (Bid’ah Dholalah).

Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi satu pun dari al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka perkara baru seperti ini tidak tercela (Bid’ah Hasanah).

(Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i –Jilid 1- Halaman 469).

Lihat Scan Kitab Manaqib asy-Syafi’i di bawah ini

Bukti Ibnu Taymiyah membagi Bid’ah menjadi 2 : Bid’ah hasanah dan bid’ah dlolalah (mengakui pendapat imam Syafii dan ijma ulama sunni)

Kitab : “Muwafaqah Sharih al-MMa’qul Li Shahih al-Manqul”

Penulis : Ibnu taymiyah

Halaman : 144 – 145

Tarjamah :  ” Berkata Imam Syafi’i ra. : Bidah terbagi menjadi dua, (1) bidah yang menyalahi perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah dlolalah. (2)  sedangkan Bid’ah yang bidah yang tidak menyalahi (sesuai) dengan perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah hasanah.

Reference:

http://www.islamieducation.com/en/bidah/al-ahkam-fi-usul-al-ahkam-by-ibn-hazam-al-zahiri.html

http://syeikhnawawial-bantani.blogspot.com/2011/12/pembagian-bidah-menurut-imam-izzuddin.html

Legality of Tawassul /inter mediation : Part 4 (6 of 21 scanned kitab: Attawasul (Al bani) – Tahdib uttahdib (Ibnu Hajar atsqalani) – Athiqat (Ibn Hibban) – Syu’abul Iman (Al baihaqi) – Bidayah Wannihayah (Ibnu Katsir) – Al adzkar (Annwawi))

1

At-Targheeb wa-Tarheeb, by Imam al-Mundhiri

2

Al Hisn ul Haseen, by Imam al-Hafidh Abi al Khayr Muhammad Ibn al Jazri (Rahimuhullah)

3

Tabarani Mu’jam al-Ausat

4

Tafsir Imam Qurtubi, al-Jami li Ahkam al-Quran

5

Siyar al A’lam wa al Nubalah

6

Musnad Ahmad bin Hambal

7

Tuhfah uth-Dhakireen

8

Sunan Darimi

9

Ibn Kathir, Tafsir-ul-Qur’an al-azim

10

al-Musannaf Ibn Abi Shaybah

11

Dala’il un Nubuwwah

12

Abdur Rahim al-Mubarakpori, Tuhfatul Ahwazi ba-Sharah Tirmidhi

13

Tafsir Ruh ul Ma’ani

14

al-Madkhal, Imam Abu Abdullah Ibn al-Haaj al-Maliki

15

al-Mu’jam al-Kabir, Imam Tabarani

16

at-Tawassul, anwa‘uhu wa ahkamuhu – Nasir Albani

17

Tahdhib ut-Tahdhib – Ibn Hajr Asqalani

18

Kitab uth-Thiqat Imam Ibn Hibban

19

Shua’b ul Iman by Imam Bayhaqi

20

Bidayah wannihayah – Ibnu katsir

21

Al adzkar – Imam Annawawi

at-Tawassul, anwa‘uhu wa ahkamuhu – Nasir Albani

at-Tawassul, anwa‘uhu wa ahkamuhu – Nasir Albani, Publish: Maqtaba al-Nashar, Riyahd/Saudia Version 2001

Nasir Albani writes: Imam Ahmad reported with sound chain: narrated by ‘Uthmān bin Hunayf: That a blind man called on the Holy Prophet (صلى الله عليه وآله وسلم) and said to him: ‘(O Messenger of Allah,) pray to Allah to give me solace’. The Prophet (صلى الله عليه وآله وسلم) said: ‘if you wish, I will stall it and this is better for you.’ He said: ‘you should pray for me to Him.’ So he asked him to perform the ablution: ‘perform the ablution thoroughly well and then offer two cycles of optional prayer and beseech Allah with this supplication: “O Allah, I appeal to You, and submit to You through the mediation of the merciful Prophet Muhammad. O Muhammad, through your mediation I submit myself to My Lord to have my need granted. O Allah, acknowledge his intercession in my favour.” and accept my supplication also in my favour.”
Uthmān bin Hunayf says: I swear by Allah that we had neither left the company nor had we carried on a long conversation that the man entered (with his sight fully restored) and it seemed as if he had never been blind.
Ibn Majah, Hakim and Dhahabi have declared it a sound (sahih) tradition while Tirmidhi graded it hasan (fair) sahih, gharib (unfamiliar or rare).

Tahdhib ut-Tahdhib – Ibn Hajr Asqalani

Tahdhib ut-Tahdhib – Ibn Hajr Asqalani, Publish: al-Risalah, Beirut/Lebanon

Imam Ibn Hajr Asqalani proving Yahyah Bin Yahya research said this proves Imam Ibn Hajr and Imam Hakim (rah) Belief (aqida) that going to tombs of Awliyas and asking through their Intercession is allowed. Ibn Hajr (rah) Writes: Imam Hakim (rah) said that he heard Abu Ali Nishapori that he said that I was in extreme depression that I saw Prophet (Peace Be Upon Him) in my dream he said that go to grave of Yahya bin Yahya (rah) and do Istaghfar and ask for help through his Intercession your problem will be solved. Abu Ali Nishapori said I did like that and my problem was solved in the morning. [Ibn Hajr, Tahdhib ut-Tahdhib Volume 004, Page 398]

Kitab uth-Thiqat Imam Ibn Hibban

Kitab uth-Thiqat Imam Ibn Hibban, Publish By al-Kutub al-Thamafiyah, Haydarabad Deccan, India

Ibn Hibban (rah) relates his own account of going to Al-Ridha’s (rah) grave, performing Tawassul through him and states that whenever “I was afflicted with a problem during my stay in Tus, I would visit the grave of Ali bin Musa (Allah (SWT)’s blessings be upon his grandfather and him) and ask Allah (SWT) to relieve me of that problem and it (my dua) would be answered and the problem alleviated. And this is something I did, and found to work, many times …” (مات على بن موسى الرضا بطوس من شربة سقاه إياها المأمون فمات من ساعته وذلك في يوم السبت آخر يوم سنة ثلاث ومائتين وقبره بسناباذ خارج النوقان مشهور يزار بجنب قبر الرشيد، قد زرته مرارا كثيرة وما حلت بي شدة في وقت مقامى بطوس فزرت قبر على بن موسى الرضا صلوات الله على جده وعليه ودعوت الله إزالتها عنى إلا أستجيب لي وزالت عنى تلك الشدة وهذا شيء جربته مرارا فوجدته كذلك أماتنا الله على محبة المصطفى وأهل بيته صلى الله عليه وعليهم أجمعين) [Ibn Hibban, Kitab uth-Thiqat Volume 008, Page No. 456-7 #14411]

Shua’b ul Iman by Imam Bayhaqi, Publish: Maqtabah ar-Rashad, Riyadh/Saudia

[Hadith Number 3879] Abu Ishaq al-Qarshi (ra) narrates that there was a man with us in Madina. Whenever he used to see any bad deed which he was not capable of stop with his hand, he used to go to the grave of Prophet (Peace be upon him) and say: O the inhabitants of Qabr i.e. Prophet and Sahaba (Abu Bakr and Umar) and our helpers please look towards our state. — [Hadith Number 3880] Abu Harb Hilali (ra) narrates that one Arabi performed Hajj and then came to the door of Prophet’s Mosque. He tied his camel there and enter the mosque till he reached the grave of Prophet (Peace be upon him). He stood at the feet of Prophet (Peace be upon him) and said: Peace be upon you O Prophet, then he offered greetings to Abu Bakr and Umar (Ridhwan Allaho Ajmain), he then turned towards the Prophet again and said:   O Messenger of Allah, May my parents be taken ransom for you, I have come in your court because I am filled with sins and mistakes, so that I can make you a waseela infront of Allah so that you can intercede for me, because Allah has said in his Book: And We have not sent any Messenger but that he must be obeyed by the Command of Allah. And, (O Beloved,) if they, having wronged their souls, had come to you imploring the forgiveness of Allah and the Messenger (blessings and peace be upon him) had also asked forgiveness for them, then (owing to this mediation and intercession) they would certainly have found Allah Most Relenting, Ever-Merciful. (Quran 4/64)” Then he turned towards a big group of Sahaba while saying: O best of those who are buried in deep””And from whose fragrance the depth and the height have become sweet” “May I be the ransom for a grave which thou inhabit” “And in which are found purity, bounty and munificence!” [Shuab ul Iman Volume 006, Page No. 60 Hadith Number 3879-80]

Majorrity Scholers took this report as proof in Tawassul which means it is accepted (Maqbool). and Allah Knows Best.

 

Ibnu Katsir Vs Wahabi : Scan kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah “Riwayat Shahih Tawasul Sahabat dengan nabi setelah wafat Nabi”

Ini Bukti Tawassul di masa Khalifah Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah- Jilid 1- Halaman 91 sebagai berikut :

وقال الحافظ أبو بكر البيهقي : أخبرنا أبو نصر بن قتادة وأبو بكر الفارسي قالا : حدثنا أبو عمر بن مطر حدثنا إبراهيم بن علي الذهلي حدثنا يحيى بن يحيى حدثنا أبو معاوية عن الأعمش عن أبي صالح عن مالك قال : أصاب الناس قحط في زمن عمر بن الخطاب فجاء رجل إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله استسق الله لأمتك فإنهم قد هلكوا ، فأتاه رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال : ائت عمر فأقرئه مني السلام وأخبرهم أنهم مسقون ، وقل له : عليك بالكيس الكيس. فأتى الرجل فأخبر عمر ، فقال : يارب ! ما آلو إلا ما عجزت عنه . وهذا إسناد صحيح .

Telah berkata al-Hafidz Abu Bakar al-Baihaqqi: Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Nasr ibnu Qatadah dan Abu Bakar al-Farisi, berkata kedua nya: Telah menceritakan kepada kami Abu Umar ibn Mathar, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibn ‘ali al-Zuhli, telah menceritakan kepada kami Yahya Ibn Yahya, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah dari pada al-A’mash, dari pada Abu Sholeh dari pada Malik, beliau berkata :
“Pada zaman kekhalifahan Umar ibnu Khattab, manusia ditimpa kemarau yang panjang, Maka seorang lelaki pergi ke kubur Rasulullah lalu berkata : “Wahai Rasulullah! Mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada umatmu kerana mereka semua telah menderita”. Maka Rasulullah datang dalam tidurnya dan bersabda: “Pergilah bertemu Umar dan sampaikan salamku kepadanya, Khabarkanlah kepadanya bahwa mereka semua akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya Hendaklah kamu bersungguh-sungguh dan bijaksana (dalam mengurusi umat)”. Maka lelaki tersebut menemui umar dan menceritakan kepadanya tentang hal tersebut. Lalu Umar berkata : Wahai Tuhanku! Aku tidak melengah-lengahkan urusan umat kecuali apa yang tidak terdaya aku lakukannya” . Sanad riwayat ini Shohih. [kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah- Jilid 1- Halaman 91].

Translate :

It has been said al-Haafiz Abu Bakr al-Baihaqqi: Has narrated to us Qatadah and Abu Nasr ibn Abu Bakr al-Farisi, said both his: Has told us Abu Umar ibn Mathar, had told us Ibrahim ibn ‘Ali al-Zuhli , had told us Yahya Ibn Yahya, Mu’awiyah had told us of the al-A’mash, from the Abu Sholeh from Malik, he said:
“In the days of the Caliphate of Umar ibn al-Khattab, a long drought struck humans, then a man went to the tomb of the Prophet and said:” O Messenger of Allah! Ask God for the rain to Your people becaise they have suffered . “Then the Prophet came to him and said: “Go and greet Umar met him, Tell to  him that they would all be down rain. You shall say to him earnestly and wisely (in care of the people) “. Then the man met Umar and told him about it. Then Umar said: O my Lord! I do not neglect the affairs of the people but what I can not do it “”. Sanad is Saheeh history. [book Al-Bidayah wa An-Nihayah-Volume 1 - Page 91].

Perhatikan scan kitab di bawah ini :

Al  Adzkar – Imam An nawawi Rah.

Imamuna an-Nawawi rahimahUllah dalam kitabnya “al-Adzkar” ,(Publisher : Darul Tawzi’ wannasyrul islamiyah –  Maidnusayyidah zainab, tahun 1999 Masihi, Bab Ziarah ke Makam Nabi Saw., halaman 192 193, di mana Imam an-Nawawi menulis:-Daripada Imam al-’Utbi di mana dia telah berkata: ” Adalah aku satu ketika duduk di samping kubur Junjungan Nabi s.a.w., maka telah datang seorang A’raabi ( ‘Arab dusun @ penduduk kampung) mengucapkan salam kepada Junjungan Nabi s.a.w. dengan katanya:

“Salam kesejahteraan bagimu, wahai Rasulullah, aku telah mendengar Allah ta`ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوۤاْ أَنْفُسَهُمْ جَآءُوكَ فَٱسْتَغْفَرُواْ ٱللَّهَ
وَٱسْتَغْفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُواْ ٱللَّهَ تَوَّاباً رَّحِيماً
[Dan kalaulah mereka ketika menganiayai diri mereka sendiri (dengan membuat dosa dan kesalahan) datang kepadamu (wahai Nabi) lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulullah juga memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani.]
Dan aku telah mendatangimu dalam keadaan memohon keampunan dari segala dosaku dan mengharapkan syafaatmu kepada Tuhanku.”Lalu dia melantunkan beberapa bait syair seperti berikut:-

يا خير من دفنت بالقاع اعظمه * فطاب من طيبهن القاع و الأكم
نفسي الفداء لقبر انت ساكنه * فيه العفاف و فيه الجود و الكرمWahai manusia terbaik bersemadi dalam bumi jasadnya
Maka harumlah lembah dan bukit dengan keharumannya
Jiwaku jadi tebusan kubur yang engkau penghuninya
Dalamnya ada (pribadi) yang suci, pemurah lagi mulia

Al-’Utbi meneruskan ceritanya: “Kemudian, dia berpaling meninggalkan maqam Junjungan Nabi s.a.w., tiba-tiba dua mataku mengantuk, lalu aku bermimpi melihat Junjungan Nabi s.a.w. dalam tidurku dan baginda bersabda kepadaku: “Wahai ‘Utbi, segera pergi berjumpa si A’rabi itu dan khabarkan berita gembira kepadanya bahawa Allah telah mengampuninya.

Legality of Tawassul /inter mediation : Part 3 (5 of 21 Scanned Kitab of Dala’il un Nubuwwah (imam mundhiri) – Syarah Tirmidzi (Abdur Rahim al-Mubarakfoori)- Tafsir Ruh ul Ma’ani (Al ghazali) – al-Madkhal ( Ibn al-Haaj al-Maliki) – al-Mu’jam al-Kabir (Imam Tabarani)]

1

At-Targheeb wa-Tarheeb, by Imam al-Mundhiri

2

Al Hisn ul Haseen, by Imam al-Hafidh Abi al Khayr Muhammad Ibn al Jazri (Rahimuhullah)

3

Tabarani Mu’jam al-Ausat

4

Tafsir Imam Qurtubi, al-Jami li Ahkam al-Quran

5

Siyar al A’lam wa al Nubalah

6

Musnad Ahmad bin Hambal

7

Tuhfah uth-Dhakireen

8

Sunan Darimi

9

Ibn Kathir, Tafsir-ul-Qur’an al-azim

10

al-Musannaf Ibn Abi Shaybah

11

Dala’il un Nubuwwah - imam mundhiri

12

Abdur Rahim al-Mubarakpori, Tuhfatul Ahwazi ba-Sharah Tirmidhi

13

Tafsir Ruh ul Ma’ani

14

al-Madkhal, Imam Abu Abdullah Ibn al-Haaj al-Maliki

15

al-Mu’jam al-Kabir, Imam Tabarani

16

at-Tawassul, anwa‘uhu wa ahkamuhu – Nasir Albani

17

Tahdhib ut-Tahdhib – Ibn Hajr Asqalani

18

Kitab uth-Thiqat Imam Ibn Hibban

19

Shua’b ul Iman by Imam Bayhaqi

20

Bidayah wannihayah – Ibnu katsir

21

Al adzkar – Imam Annawawi

Dala’il un Nubuwwah - Imam al mundhiri

Abdur Rahim al-Mubarakpori, Tuhfatul Ahwazi ba-Sharah Tirmidhi

[Abdur Rahim al-Mubarakpori, Tuhfatul Ahwazi ba-Sharah Tirmidhi Volume 10, Page 36]

Imam Qadhi Shawkani’s  writes: Regarding what those who forbid tawassul to Allah through the Prophets (Peace Be Upon Him) and the Saint’s cite to support their position, such as Allah’s sayings: “We only worship them in order that they may bring us nearer” (39:3) and “Do not call on any other god with Allah, or you will be among those who will be punished” (26:213) and “Say: Call on those besides Him whom ye fancy; they have no power to remove your trouble from you or to change them. Those unto whom they cry seek for themselves the means of approach to their Lord, which of them shall be the nearest; they hope for His mercy and fear His wrath: for the wrath of thy Lord is something to take heed of” (17:57) These verses are irrelevant. Rather: they support exactly the reverse of what the objectors to tawassul claim, since the verses are related to another issue.To wit: the verse “We only worship them in order that they may bring us nearer” explicitly states that they worship them for that purpose, “whereas the one who makes Tawassul through a scholar, for example, never worships him, but knows that he has a special distinction (maziyya) before Allah for being a carrier of knowledge; and that is why he uses him as a means”. Similarly irrelevant to the issue is Allah’s saying: “Do not call on any other god with Allah.” This verse forbids that one should call upon another together with Allah, as if saying: “”O Allah and O So-and-so.” However, the one who makes tawassul through a scholar, for example, never calls upon other than Allah. He only seeks a means to Him through the excellent works that one of His servants achieved, just as the three men in the cave who were blocked by the rock used their good works as a means to have their petition answered”. Similarly irrelevant to the issue is Allah’s saying: “Those unto whom they cry…” for it refers to people who call upon those who cannot fulfill their request, at the same time not calling upon Allah Who can; whereas one who makes tawassul through a scholar, for example, never called except upon Allah, and none other besides Him. The above shows the reader that these objectors to tawassul are bringing forth evidence that is irrelevant to the issue at hand. Even more irrelevant is their citing of the verse: “The Day when no soul shall have power to do anything for another: for the Command, that Day, will be all with Allah.” (82:19) For that noble verse contains nothing more than the fact that Allah alone decides everything on the Day of Judgment, and that none other will have any say at that time. However, the maker of tawassul through one of the Prophets (Peace Be Upon Him) or one of the scholars, never believes that the one through whom he makes tawassul is in partnership with Allah on the Day of Judgment! Whoever believes such a thing in relation to a Prophet or non-Prophet is in manifest error. Equally irrelevant is their objection to tawassul by citing the verses: “Not for you is the decision in the least” (3:128) “Say: I have no power over over good or harm to myself except as Allah wills” (7:188) for these two verses are explicit in that the Prophet (Peace Be Upon Him) has no say in Allah’s decision and that he has no power to benefit or harm himself in the least, let alone someone else: but there is nothing in those two verses to prevent Tawassul through him or any other of the Prophets or Friends of Allah or scholars. Allah has given His Prophet (Peace Be Upon Him) the Exalted Station (al-maqam al-mahmud) — the station of the Great Intercession (al-shafa`a al-`uzma), and He has instructed creation to ask for that station for him and to request his intercession, and He said to him: “Ask and you shall be granted what you asked! Intercede and you shall be granted what you interceded for!” And in His Book He has made this dependence on the fact that there is no intercession except by His leave, and that none shall possess it except those whom He pleases… (Continued on page 37)
Equally irrelevant is their adducing as proof against tawassul: “And admonish your nearest kinsmen” (26:214) Whereupon the Prophet (Peace Be Upon Him) said: “O So-and-so son of So-and-so, I do not have any guarantee on your behalf from Allah; and O So-and-so daughter of So-and-so, I do not have any guarantee on your behalf from Allah.” For in the preceding there is nothing other than the plain declaration that he cannot benefit anyone for whom Allah has decreed harm, nor harm anyone for whom Allah has decreed benefit, and that he does not have any guarantee from Allah from any of his close relatives, let alone others. [Abdur Rahim al-Mubarakpori, Tuhfatul Ahwazi ba-Sharah Tirmidhi Volume 10, Page 37]

 

al-Madkhal, Imam Abu Abdullah Ibn al-Haaj al-Maliki

al-Madkhal, Imam Abu Abdullah Ibn al-Haaj al-Maliki, Publish: Dar al-Turath, Qahira
Great Muhadith of 7th Century Imam Abu Abdullah Ibn al-Haaj al-Maliki write a complete Chapter on visiting Awliyah and Saliheen he Writes: Student (muta-lim) should visit Awliyas and Saliheen and go to see them as seeing them makes the heart alive just as earth becomes alive due to rain, by seeing them the hearts which are stones are turned soft, because they remain present in the Bargah of Allah who is merciful, He never rejects their worship or intentions, and those who attend their Mehfils and those who identity them and those who love them, this is because they are mercy after Allah and his Prophet (Peace Be Upon Him) which remains open for his men, so any one who has these qualities then people should be quick to receive blessing from such people because people who meet these personalities get the blessing knowledge and memory which cannot be explained, you will know that due to same maani one can see alot of people who got perfection in knowledge and ecstasy, Any one who respects these blessings never gets away from mercy and Barakah, but condition is that the person who should be visited for a look should obey the Sunna’h and protect it and show it from his actions. [Ibn al-Haaj, al-Madkhal Volume 002, Page No. 139]

al-Mu’jam al-Kabir, Imam Tabarani

al-Mu’jam al-Kabir, Imam Tabarani, Publish: Maqtaba Ibn Taimmiyah, Qahira

Narrated Maymuna the Mother of the believers said: “The Messenger of Allah Muhammad (upon him blessings and peace), was sleeping with me one night and he got up to make ablution and pray. I heard him say during his ablution in the dead of night: [(Labbayka labbayka labbayka) – [like this,] three times – then: (nus.irta nus.irta nus.irta) [like this,] three times. When he came out, I asked him, “Messenger of Allah, I heard you say, during your ablution, ‘In your service!’ three times, and ‘To your defense!’ three times, as if you were addressing someone. Was there someone with you?” He replied: “This was the poetry champion (rajiz) of the Banu Ka`b” – one of the sub-tribes of the Khuza`a – “invoking my aid (yastas.rikhunî) and asserting that the Quraysh had helped the Banu Bakr against them.
The latter had allied themselves with the Quraysh the day of the Hudaybiya truce while the Khuza`a had allied themselves with the Prophet Muhammad (upon him blessings and peace), and he became duty-bound to defend them. The support of the Quraysh for the Banu Bakr against the Khuza`a was therefore a violation of their truce with the Messenger of Allah, upon him blessings and peace. This incident was the catalyst for the conquest of Makka and, immediately afterwards, he prepared himself to enter it and conquered it. [al-Mu'jam al-Kabir, Imam Tabarani Volume 023, Page 433-4, Hadith Number 1052]

 

Legality of Tawassul /inter mediation : Part 2 (5 of 21 Scanned Kitab of Musnad Ahmad bin Hambal – Tuhfah uth-Dhakireen (Assawkani) – Sunan Darimi – Tafsir Ibn Katsir – al-Musannaf Ibn Abi Shaybah)

1

At-Targheeb wa-Tarheeb, by Imam al-Mundhiri

2

Al Hisn ul Haseen, by Imam al-Hafidh Abi al Khayr Muhammad Ibn al Jazri (Rahimuhullah)

3

Tabarani Mu’jam al-Ausat

4

Tafsir Imam Qurtubi, al-Jami li Ahkam al-Quran

5

Siyar al A’lam wa al Nubalah

6

Musnad Ahmad bin Hambal

7

Tuhfah uth-Dhakireen

8

Sunan Darimi

9

Ibn Kathir, Tafsir-ul-Qur’an al-azim

10

al-Musannaf Ibn Abi Shaybah

11

Dala’il un Nubuwwah

12

Abdur Rahim al-Mubarakpori, Tuhfatul Ahwazi ba-Sharah Tirmidhi

13

Tafsir Ruh ul Ma’ani

14

al-Madkhal, Imam Abu Abdullah Ibn al-Haaj al-Maliki

15

al-Mu’jam al-Kabir, Imam Tabarani

16

at-Tawassul, anwa‘uhu wa ahkamuhu – Nasir Albani

17

Tahdhib ut-Tahdhib – Ibn Hajr Asqalani

18

Kitab uth-Thiqat Imam Ibn Hibban

19

Shua’b ul Iman by Imam Bayhaqi

20

Bidayah wannihayah – Ibnu katsir

21

Al adzkar – Imam Annawawi

Musnad Ahmad bin Hambal

Front Cover Musnad Ahmad bin Hambal, Publish: Dar al-Hadith al-Qahira Misr
Hakim declared that it fulfils the requirements of authentic traditions as demanded by Bukhari and Muslim, while Dhahabi has also called it sahih (sound). It is attributed to Dawud bin Abu Salih. He says: one day Marwan came and he saw that a man was lying down with his mouth turned close to the Prophet’s grave. Then he (Marwan) said to him, “Do you know what are you doing?” When he moved towards him, he saw that it was Abu Ayyub al-Ansari. (In reply) he said, “Yes (I know) I have come to the Messenger of Allah (Peace Be Upon Him) and not to a stone. I have heard it from the Messenger of God (Peace Be Upon Him) not to cry over religion when its guardian is competent. Yes, shed tears over religion when its guardian is incompetent. [Ahmad bin Hambal with a sound chain of transmission in his Musnad Volume 017, Page No. 42-43, Hadith Number 23476]

Tuhfah uth-Dhakireen

Tuhfah uth-Dhakireen, Front Cover, Publish Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, Lebanon

Qadhi Shawkani (rah) Writes: I says this hadith is proof for Intercession of Prophets (Peace Be Upon Him) narrated by Imam Tirmidhi, Imam Nisa’I, Imam Ibn Maja, Imam Ibn Khuzaimah in his Sahih, and Hakim said hadith is correct on Bukhari and Muslim conditions. Narrated By ‘Uthman ibn Hunayf, that a blind man came to the Prophet (Peace Be Upon Him) and said, “I’ve been afflicted in my eyesight, so please pray to Allah for me.” The Prophet (Peace Be Upon Him) said: “Go make ablution (wudu), perform two rak’as of prayer, and then say: “Oh Allah, I ask You and turn to You through my Prophet Muhammad, the Prophet of mercy; O Muhammad (Ya Muhammad), I seek your intercession with my Lord for the return of my eyesight. on Tawasuul on Saint’s that hadith is a proof which is present in Bukhari in which Umar took Tawassul of Abbas and said that we take your Intercession after Prophet (Peace Be Upon Him). [Tuhfat uth-Dhakireen Page No. 37]

Imam Qadhi Shawkani (Salafi Scholer) on Tawassul: O Allah! Verily I ask you, and turn to you through your Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him) the Prophet of Mercy, O Muhammad verily I turn towards my Lord through you to my Lord in this need of mine, to fulfill it, O Allah intercede/cure this! This hadith has been extracted by Tirmidhi, al-Hakim in his Mustadrak and Nisa’I, and it is from the hadith of Uthman bin Hanif may Allah be pleased with him. He said a blind man came to the Messenger of Allah (Peace Be Upon Him) and said: O Messenger of Allah Pray for me! He (Peace Be Upon Him) said: If you wish I will pray for you, but if you wish, you have been patient and this is better for you. He preferred to be supplicated for. The Messenger (Peace Be Upon Him) instructed him to make Wudu and to make a perfect Wudu – Nisai’s narration adds in some of the reports (turuq) to make Wudu and pray two Rakah and then the supplication (as above). [Tuhfah al-Dhakireen Page No. 137]

It was also extracted by Ibn Maja , and al-Hakim in his mustadrak who stated that it is [authentic] according to the criterion of the two shaykhs (Muslim and Bukhari) and his narration had the addition: so he supplicated with this Dua and he arose and was able to see. Tirmidhi said the Hadith is Hasan Sahih (good and authentic) and we know this narration through this channel only from the Hadith of Abu Jafar and that is not al-Khatmi, these and other Imams have authenticated this narration, Nisa’I is alone in mentioneing the prayer, but Tabarani agreed with him and in mentions the same in some of his reports (turuq) it reports. In the narration there is [evidence] of the permissibility of Tawassul (taking a means) through the Messenger of Allah (saw) to Allah azza wa-jal with the firm belief that the only active agent (Faa’il) is Allah, for verily He alone is the giver and the preventer, what He wishes, is, and what He does not wish never can be. [Tuhfah al-Dhakireen Page No. 138]

Sunan Darimi

Front Cover Sunan Darimi, Dar al-Mughni, Riyadh, Saudia Arabia

Relates from Abu al-Jawza’ Aws bin ‘Abdullah: The people of Medina were in the grip of a severe famine. They complained to ‘A’ishah (about their terrible condition). She told them to go towards the Prophet’s grave and open a window in the direction of the sky so that there is no curtain between the sky and the grave. The narrator says they did so. Then it started raining heavily; even the lush green grass sprang up (everywhere) and the camels had grown so fat (it seemed) they would burst out due to the over piling of blubber. So the year was named as the year of greenery and plenty. [Sunan Darimi Volume 001, Page 227, Hadith Number 093] Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki says, “This tradition has a good chain of transmission; rather, in my opinion, it is sound. The scholars have also acknowledged its soundness and have established its genuineness on the basis of almost equally credible evidence. [Shifa’-ul-fu’ad bi-ziyarat khayr--il-‘ibad Page No.153]

Ibn Kathir, Tafsir-ul-Qur’an al-azim

Ibn Kathir, Tafsir-ul-Qur’an al-azim Volume 004, Page No. 140, Under the Verse 4:64

Imam Ibn Kathir on Tawassul: Many have stated this tradition. One of them is Abū Mansūr Sabbagh who writes in his book al-Hikayat-ul-mashhurah that, according to ‘Utbi, once he was sitting beside the Prophet’s grave when a bedouin came and he said, “Peace be on you, O Allah’s Messenger. I have heard that Allah says: ‘(O beloved!) And if they had come to you, when they had wronged their souls, and asked forgiveness of Allah, and the Messenger also had asked forgiveness for them, they (on the basis of this means and intercession) would have surely found Allah the Granter of repentance, extremely Merciful.I have come to you, asking forgiveness for my sins and I make you as my intermediary before my Lord and I have come to you for this purpose.” Then he recited these verses: “O, the most exalted among the buried people who improved the worth of the plains and the hillocks! May I sacrifice my life for this grave which is made radiant by you, (the Prophet,) the one who is (an embodiment) of mercy and forgiveness.” Then the bedouin went away and I fell asleep. In my dream I saw the Holy Prophet (Peace Be Upon Him). He said to me: O ‘Utbi, the bedouin is right, go and give him the good news that Allah has forgiven his sins. [Ibn Kathir, Tafsir-ul-Qur'an al-azim Volume 004, Page No. 140, Under the Verse 4:64]

al-Musannaf Ibn Abi Shaybah

Front Cover, al-Musannaf Ibn Abi Shaybah, Publish by Maqtabah ar-Rashid, Riyadh, Saudia Arabia

Malik ad-Dar has related: The people were gripped by famine during the tenure of ‘Umar (bin al-Khattab). Then a Companion walked up to the Prophet’s grave and said, “O Messenger of Allah, please ask for rain from Allah for your Community who is in dire straits.” Then the Companion saw the Prophet (Peace Be Upon Him) in a dream. The Prophet (Peace Be Upon Him) said to him, “Go over to ‘Umar, give him my regards and tell him that the rain will come to you. And tell ‘Umar that he should be on his toes, he should be on his toes, (he should remain alert).” Then the Companion went over to see ‘Umar and passed on to him the tidings. On hearing this, ‘Umar broke into a spurt of crying. He said, “O Allah, I exert myself to the full until I am completely exhausted.” [al-Musannaf Ibn Abi Shaybah Volume 011, Page No. 118, Hadith Number 32538]

http://www.islamieducation.com/en/tawassul-intermediation/tawassul-10-al-musannaf-ibn-abi-shaybah.html

Legality of Tawassul : Part 1(5 of 19 Scanned Kitab of Attarghib watargheeb (Imam al mundhiri) – Al Hisn ul Haseen(Ibn al Jazri ) – Mu’jam al-Ausat (imam Tabarani) – Tafsir Imam Qurtubi al-Jami li Ahkam al-Quran – Siyar al A’lam wa al Nubalah (Adzahabi)

1

At-Targheeb wa-Tarheeb, by Imam al-Mundhiri

2

Al Hisn ul Haseen, by Imam al-Hafidh Abi al Khayr Muhammad Ibn al Jazri (Rahimuhullah)

3

Tabarani Mu’jam al-Ausat

4

Tafsir Imam Qurtubi, al-Jami li Ahkam al-Quran

5

Siyar al A’lam wa al Nubalah

6

Musnad Ahmad bin Hambal

7

Tuhfah uth-Dhakireen

8

Sunan Darimi

9

Ibn Kathir, Tafsir-ul-Qur’an al-azim

10

al-Musannaf Ibn Abi Shaybah

11

Dala’il un Nubuwwah

12

Abdur Rahim al-Mubarakpori, Tuhfatul Ahwazi ba-Sharah Tirmidhi

13

Tafsir Ruh ul Ma’ani

14

al-Madkhal, Imam Abu Abdullah Ibn al-Haaj al-Maliki

15

al-Mu’jam al-Kabir, Imam Tabarani

16

at-Tawassul, anwa‘uhu wa ahkamuhu – Nasir Albani

17

Tahdhib ut-Tahdhib – Ibn Hajr Asqalani

18

Kitab uth-Thiqat Imam Ibn Hibban

19

Shua’b ul Iman by Imam Bayhaqi

 

At-Targheeb wa-Tarheeb, by Imam al-Mundhiri

Imam Tabrani has narrated an incident that a person repeatedly visited Uthman bin Affan (ra) concerning something he needed but Uthman paid no attention to him. The man went to Uthman bin Hunaif (ra) and complained to him about the matter- [Note: this was after the death of the Prophet and after the caliphates of Abu Bakr and Umar ] so Uthman bin Hunaif said : “Go to the place of Wudu, then come to the Masjid, perform two Rak’ats and then say :“O Allah I ask of you and I turn my face towards you “BY VIRTUE OF THE INTERCESSION OF MUHAMMAD THE PROPHET OF MERCY” “”YA MUHAMMAD”” (Peace be upon him) I have turned to my lord “by virtue of your intercession concerning this need of mine so that it may be met… Then come so that I can go with you [to the caliph Uthman].”
So the man left and did as he had been told, then went to the door of Uthman ibn Affan (Allah be pleased with him), and the doorman came, took him by the hand, brought him to Uthman ibn Affan, and seated him next to him on a cushion. ‘Uthman asked, “What do you need?” and the man mentioned what he wanted, and Uthman accomplished it for him …
Imam Mundhiri (rah) said: Imam Tabarani after narrating it said “THIS HADITH IS SAHIH” [At-Targheeb wa Tarheeb, Page No. 129 in the chapter of Salaat al Hajah] Note: Imam al-Haythami (rah) also accepted the authentication of Imam Tabrani in his Majma az Zawaid Volume No. 2, Hadith # 3668

Al Hisn ul Haseen, by Imam al-Hafidh Abi al Khayr Muhammad Ibn al Jazri (Rahimuhullah)

Adaab ad-Dua (i.e. Etiquettes of making dua).. Translation: One should ask Allah through the “WASEELA (Intercession)” of Anbiya and Pious servants of Allah… (towards the end Imam Ibn Jazri said) After completing the dua one should wipe his face with his hands [Al Hisnul Hiseen, Page No. 25]

Tabarani Mu’jam al-Ausat

Tabarani Mu’jam al-Ausat Front Cover Publish: Dar al Haramain, al-Qahira

Narrated by Umar bin al-Khattab Allah’s Messenger (Peace Be Upon Him) said: When Adam committed the error, he submitted (to Allah): O Lord, I beg You to forgive me through the mediation of Muhammad. Then Allah said: O Adam! How did you recognize Muhammad as I have not created him yet? He replied: O Lord, when You created me with Your divine hand and breathed Your soul into me, I raised my head and saw ‘la ilaha illallahu Muhammad-ur-rasulullah (“There is no god but Allah, Muhammad is Allah’s Messenger”)’ inscribed on each pillar of the Throne. I discovered that with Your name, the name of only such a person can be associated who is Your most beloved of all the creatures. At this Allah said: O Adam, you have said it correctly. Of all the creatures I love him the most. Now when you offered your prayer through his mediation, I forgave you. And if Muhammad were not there, I would not have created even you. [Tabarani Mu'jam Al-Ausat Volume 006, Page No. 313-314, Hadith Number 6502]

Imam Bulqini also declares this tradition “sound” in his Fatawa. Imam Subki confirms Hakim’s authentication in [Shifa-us-siqam fi ziyarat khayr-il-anam Page No. 120-1]

It is narrated by Anas bin Malik. He said: When the mother of ‘Ali bin Abu Talib — Fātimah bint Asad bin Hāshim — died, Allah’s Messenger (Peace Be Upon Him) called on her and sat down by the head of the bed and said, “O dear mother, may Allah have mercy on you. After my mother, you were the one I regarded as my mother. When I was hungry you fed me to the point of saturation while you yourself remained hungry. Then you helped me put on clothes and instead of eating yourself, you gave me nice things to eat. You did all this for Allah’s pleasure and for a good reward in the Hereafter.” Then he (the Prophet) commanded to bathe her three times. When camphor water was brought, Allah’s Messenger (Peace Be Upon Him) poured some water into his hands. Then Allah’s Messenger (Peace Be Upon Him) took off his shirt and clothed her with it and used his own sheet of cloth as her coffin.Then Allah’s Messenger (Peace Be Upon Him) sent for Usamah bin Zayd, Abu Ayyub al-Ansari and ‘Umar bin al-Khattab and the negro slave to dig up the grave. So they dug her grave. When they reached near the lahd, Allah’s Messenger (Peace Be Upon Him) dug it up and drew the soil out with his own hands. When he finished, Allah’s Messenger (Peace Be Upon Him) entered and lay down in (the grave), and said, “It is Allah Who controls life and death, and He is Ever living and will never die. (O Allah,) forgive my mother—Fatimah bint Asad— and help her answer properly at the time of questioning and through the mediation of Your Prophet (Muhammad) and the former prophets, make her grave capacious. Surely You are infinitely Merciful.” Then he repeated, “God is Great” four times (i.e. led the funeral prayer). Then he, ‘Abbas and Abu Bakr as-Siddiq lowered her into the grave. [Tabarani Mu'jam Al-Ausat Volume 001, Page Number 67-68, Hadith Numver 189]

Mahmud Sa‘id Mamduh graded it hasan (fair) in his [Raf‘-ul-minarah Page No.147-8]

Tafsir Imam Qurtubi, al-Jami li Ahkam al-Quran

Tafsir Imam Qurtubi, al-Jami li Ahkam al-Quran, Publish: al-Resalah, Beirut, Lebanon

Imam Qurtubi (rah) on Tawassul: “Abu Sadiq has reported it from ‘Ali. A villager came to see us three days after the burial of the Holy Prophet (Peace Be Upon Him). He placed himself near the Prophet’s grave, sprinkled its earth over his body and said: ‘O Messenger of Allah (Peace Be Upon Him), you said and we have heard it from you. You received commands from Allah and we received commands from you, and one of these divine commands is wa law annahum idh zalamu anfusahum. It is true that I have wronged myself, therefore, you should pray for my forgiveness.’ (In response to the villager’s act of imploring) he was called out from the grave: ‘there is no doubt that you have been forgiven.’” [Tafsir al-Qurtubi, al-Jami li Ahkam al-Quran Volume 006, Page No. 439, Under the Verse, 4:64] —- Abdullah Abdul al Muhsin Said: This hadith is narrated by Abu Sadiq (ra), Do you think that whos full name is Abu Sadiq Hu al Awazi al Kufi (ra), Abdullah bin Najiz said: Sadduq (Truthful), and This Hadith is Mursil (Jayyid)

Imam Qurtubi (rah) on Istigatha: Ibn Abbas (ra) said: “When the jews of khaybar was in war with the Creed of Gatfan, they was defeated and after they did say: “Allahumma! We want you to help us for your Nabi which you will send in the end of times.” they did win against them, and every time they did fight against them, they did use this Dua and did win.” [Tafsir Qurtubi, al-Jami li Ahkam al-Quran, Volume 002, Page No. 89-90, Under the Verse 2:89] —— The Dalil here is, that Allah did accept their Dua before Rasulullah was send. That means, that Allah did not destroy them or did damn them cause of the Tawassul, he did damn them because they did not accept Rasulullah when he did came.

Imam Qurtubi related the tradition through Ibn ‘Abbas: The Jews of Khaybar were often at war with the Ghatafan (tribe). When they confronted each other (in battle) the Jews were defeated. They attacked again, offering this prayer, “(O Lord,) we beg You through the mediation of the Unlettered Prophet (Peace Be Upon Him) about whom You have promised us that you will send him to us at the end of time. Please help us against them.” Ibn ‘Abbas adds: whenever they faced the enemy, they offered this prayer and defeated the Ghatafan (tribe). But when the Prophet (Peace Be Upon Him) was sent, they denied (him). So Allah the Exalted revealed the verse: “And before that they themselves had (prayed) for victory (through the mediation of the last Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him) and the Book revealed to him) over the disbelievers,” that is, through your mediation, O Muhammad. [Tafsir Qurtubi, al-Jami li Ahkam al-Quran, Volume 002, Page No. 89-90, Under the Verse 2:89]

Siyar al A’lam wa al Nubalah

Front Cover, Siyar al A’lam wa al Nubalah, Publish: al-Resalah, Beirut, Lebanon

 Imam Dhahabi (rah) narrates: Once there was a drought in Samarqand, People tried their best, some said Salah al Istisqa but still it did not rain, A renowned righteous man known as Salih came to the Qadhi and said: In my opinion you along with your public should visit the grave of Imam Bukhari (rah), His grave is located in Khartank, We should (go near the Qabr) and ask for rain, Allah might give us rain then, The Qadhi said Yes to his opinion and then he along with the people went towards (the Qabr) and then He made a dua along with the people and people started to cry near the grave and started to make him a Waseela (i.e. Imam Bukhari). Allah Ta’ala (immediately) sent rainclouds. All people stayed in Khartank for about 7 days, none of them wanted to go back to Samarqand although the distance between Samarqand and Khartank was only 3 miles [Siyar al A'lam wa al Nubalah, Volume 012, Page No. 469]


More Proves of the Mawlid Nabi Legality ( with Scanned Book/ Kitab Ibnu katsir – Imam Al zarqani – Imam Suyuti – Imam Adzahabi )

Translation of Imam Ibn Kathir (Rahimuhullah)’s Al Bidayah wan Nihaya in Urdu

I say that the Shah of Irbil. Malik Muzzafar Abu Sa’ed Kokabri Ibn Zayn-ud-din Ali bin Tabaktakin was a “GENEROUS, MIGHTY MASTER AND UPRIGHT RULER AND HIS WORKS WERE VERY GOOD” . He built Jamiya al Muzaffari near Qasiyun…During Rabi ul Awwal he used to “CELEBRATE MAWLID ASH-SHARIF WITH GREAT CELEBRATION (وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا )” Moreover, he was “BENEVOLENT, BRAVE, WISE, A SCHOLAR AND JUST PERSON” – Rahimuhullah wal Ikraam – Sheikh Abul Khattab (rah) wrote a book on Mawlid an Nabwi for him and named it At-Tanwir fi Mawlid al Bashir al Nazeer, for which he gave him 1000 dinars. His rule stayed till the Rule of Salahiya and he captured Aka and he remained a man worthy of respect. Al-Sabt mentions that a person attending the gathering of Mawlid held by Muzzafar said: He used to fill the table with 5000 well cooked goats, 10,000 chickens, 100-thousand bowls (of milk) and 30,000 trays of sweets..
The narrator explains that During Mawlid he used to hold great gathering of “SUFIS AND ULAMA AND HE USED TO GRANT THEM GIFTS” (Next Page): He used to arrange Sama for Sufis from Dhuhr till Asr in which he himself did Raqs. [Note: Raqs is proven and allowed in Shariah, It should not be mixed with vulgar dancing of west done on music] and he had built a Dar ul Ziafat for everyone who came no matter what position the person held, and he used to give sadaqat for Haramain Shareefain and also used to get many prisoners free from Farangis (i.e. white people probably Christians/Jews), It is said that he got 60,000 prisoners free from them.

Indonesian/malay language:

Ibnu Katsir juga berkata :

Al-Hafiz Ibn Katsir berkata dalam al-Bidayah wa an-Nihayah Juzuk 13, Halaman 136, Terbitan Maktabah al-Ma’arif seperti berikut:

“… al-Malik al-Mudzaffar Abu Sa’id al-Kukabri, salah seorang dari pemimpin besar yang cemerlang serta raja-raja yang mulia, baginya kesan-kesan yang baik14 (lihat kata Ibn Katsir “kesan-kesan yang baik”), beliau telah mengadakan maulid yang mulia pada bulan Rabiulawwal, dan mengadakan sambutan yang besar. Selain itu, beliau seorang yang amat berani, berakal, alim lagi adil. Semoga Allah merahmati beliau dan memperbaikkan kesudahannya…” dan beliau berkata seterusnya : “dan beliau (Sultan Muzaffar) berbelanja untuk menyambut maulid 300,000 dinar”

إن أول من أرضعته صلى الله عليه وسلم هي ثويبة مولاة أبي لهب وكان قد أعتقها حين بشرته بولادة النبي صلى الله عليه وسلم. ولهذا لما رآه أخوه العباس بعد موته في المنام بعدما رآه بشر خيبة، سأله: ما لقيت؟ قال: لم ألق بعدكم خيراً غير أني سقيت في هذه بعتاقتي لثويبة (وأشار إلى النقرة التي بين الإبهام والتي تليها من الأصابع).

“Sesungguhnya orang pertama kali menyusui Nabi SAW adalah Tsuwaybah yaitu budak perempuan Abu Lahab, dan ia telah dimerdekakan dan dibebaskan oleh Abu Lahab ketika Abu Lahab gembira dengan kelahiran Nabi SAW, karena demikian setelah meninggal Abu Lahab, salah seorang saudaranya yaitu Abbas melihatnya dalam mimpi, salah seorang familinya bermimpi melihat ia dalam keadaan yang sangat buruk, 
dan Abbas bertanya : “Apa yang engkau dapatkan ?”
Abu Lahab menjawab : “Sejak aku tinggalkan kalian [mati], aku tidak pernah mendapat kebaikan sama sekali, selain aku diberi minuman di sini [Abu Lahab menunjukkan ruang antara ibu jarinya dan jari yang lain] karena aku memerdekaan Tsuwaybah”.
 [Lihat kitab Bidayah wan-Nihayah 2 : 272-273, kitab Sirah Al-Nabawiyah 1 :124, kitab Maulid Ibnu Katsir 21].

Ibnu Katsir mengagungkan malam Maulid Nabi, berikut kata beliau :

إن ليلة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كانت ليلة شريفة عظيمة مباركة سعيدة على المؤمنين، طاهرة، ظاهرة الأنوار جليلة المقدار

“Sungguh malam kelahiran Nabi SAW adalah malam yang sangat mulia dan banyak berkah dan kebahagiaan bagi orang mukmin dan malam yang suci, dan malam yang terang cahaya, dan malam yang sangat agung”.[Lihat kitab Maulid iIbnu Katsir 19], sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Ad-Durar Al-Kaminah mengatakan bahwa kitab tersebut adalah kitab Ibnu Katsir yang membolehkan Maulid Nabi dan di dalam nya membahas tentang perayaan peringatan Maulid Nabi.

Imam Dhahabi, Tarikh al-Islam: wa-tabaqat al-mashahir wa-al-a`lam

Imam Dhahabi, Tarikh al-Islam: wa-tabaqat al-mashahir wa-al-a`lam, Publish: Dar al-Kutub al-Arabi Beirut/Lebanon
Sultan Muzafar udin Abu Saeed Kokabri (rah), the Husband of Sultan Salah Udin Ayubi’s (rah) sister the celebration of Mawlid by them is liked by Scholers of Islam and and filled their books with it, this thing is not accepted by todays so called Salafis/Wahabis so they did great Forgeries in their books and tried to defame him but the one who Loves to celebrate Prophet (Peace Be Upon Him) birthday how can Allah insult him? and once against wahabis forgery is caught.

Imam Dhahabi (rah) write about them with much Detail and Explained alot of his quotes , Imam Dhahabi writes that King Abu Saeed Kokabri used to give alot of Sadiqa and offered salat regularly, He (Sultan Muzafar udin Abu Saeed Kokabri) was to built hospital for ill and blind and used to go to visit them on every thursday, He built seperate houses for orphans same for women, He specially used to go to hospitals to visit them in hospitals, built seperate Madaris for Ahnaaf and Shawafa and for sufis he built Khankaas. Words cannot explain the way in which Mehfil al-Mawlid Mustafa (Peace Be Upon Him) was celebrated by Malik al-Muzafar, People used to go to such mehfils happily from Arab and Iraq, and used tosacrifice cows camils and goats in large number and alot of types of food was made, He used to arrange Mehfils for Sufis and used to do Khutbats in huge grounds.and used to spend alot of money in them, Ibn dhaya when wrote a book on ‘Mawlid un Nabi’ so he gave him One Thousand Dinaar, he was a happy and pious Sunni, he used to love Fuqaha and Muhadiseen alot, …….One person in those Mehfils of Mawlid used to say that 100 beaufitul horse used to be there for Salami, I saw Five Thousand stiched heads, Thousand hens, and one lakh Milk Filled Cups, and 30000 Sweet Dishes were seen on Mehfil al-Mawlid. [Imam Dhabai, Tarikh al-Islam: wa-tabaqat al-mashahir wa-al-a`lam Volume 45 Page No. 403]

Imam Dhahabi (rah) writes that this King was of good ‘Iqhlaq’ and ‘Helpful’ and used to have Ahl as-Sunna’h (Sunni) beliefs, he used to respect ‘Fuqaha’ and ‘Muhaditheen’ and had a very good heart. [Imam Dhabai, Tarikh al-Islam: wa-tabaqat al-mashahir wa-al-a`lam Volume 45 Page No. 404]

Husn al-Maqsad fi Amal al-Mawlid, Imam Jalal al-Din al-Suyuti

Husn al-Maqsad fi Amal al-Mawlid, Imam Jalal al-Din al-Suyuti, Publish by Dar al Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon

The Sheikh ul Islam and hadith Master of his age, Ibn Hajr Asqalani was asked about the practice of commemorating the birth of the Prophet, and gave the following written reply: As for the origin of the practice of commemorating the Prophet’s birth, it is an innovation that has not been conveyed to us from any of the pious early muslims of the first three centuries, despite which it has included both features that are praisweorthy and features that are not. If one takes care to include in such a commemoration only things that are praiseworthy and avoids those that are otherwise, it is a praise worthy innovation, while if ones does not, it is not. An authentic primary textual basis from which its legal validity is inferable has occured to me, namely the rigorously authenticated (sahih) hadith in the collections of Bukhari and Muslim that the Prophet came to Medina and found the Jews fasting on the tenth of Muharram `Ashura ‘ [Husn al-Maqsad fi Amal al-Mawlid Page No. 63] (Trsn Continued on Page 64)

so he asked them about it and they replied: “It is the day on which Allah drowned Pharaoh and rescued Moses, so we fast in it to thanks to Allah Most high,” which indicates the validity of giving thanks to Allah for the blessings He has bestowed on a particular day in providing a benefit, or averting an affliction, repeating one’s thanks on the anniversary of that day every year, giving thanks to Allah taking * any various forms of worship such as prostration, fasting, giving charity or reciting the Koran. Then what blessing is greather than the Birth of the Prophet, the Prophet of Mercy, on this day? in light of which, one should take care to commemorate it on the day itself in order to confrom to the above story of moses and the tenth of Muharram, [but] those who do not view the matter thus do not mind commemorating it on any day of the month, while some have expanded its time to any of day the year, whatever exception bay e taken at such a view. [Husn al-Maqsad fi Amal al-Mawlid Page No. 64]

I have derived the permissibility of Mawlid from another source of the Sunna [besides Ibn Hajar's deduction from the hadith of `Ashura'], namely :The hadith found in Bayhaqi, narrated by Anas, that “The Prophet slaughtered a `aqiqa [sacrifice for newborns] for himself after he received the prophecy,” although it has been mentioned that his grandfather `Abd al-Muttalib did that on the seventh day after he was born, and the `aqiqa cannot be repeated. Thus the reason for the Prophet’s action is to give thanks to Allah for sending him as a mercy to the worlds, and to give honor to his Umma, in the same way that he used to pray on himself. It is recommended for us, therefore, that we also show thanks for his birth by meeting with our brothers, by feeding people, and other such good works and rejoicing.” This hadith confirms the aforementioned hadith of the Prophet’s emphasis of Monday as the day of his birthday and that of his prophethood. [Husn al-Maqsad fi Amal al-Mawlid Page No. 64-65]

Imam Shams-ud-din Dimishqi writes: It is proven that Abu Lahab’s punishment of fire is reduced on every Monday because he rejoiced on brith of Prophet (Peace Be Upon Him) and freed the slave-woman Thawba (ra) When Abu Lahab, whose eternal abode is hell fire and regarding whom whole surah of Tabad Yada (i.e. Surah Lahab) was revealed, he gets Takhfif in his Adhaab every Monday then Imagine the situation of a (momin) who has spent his life in rejoicing over birth of Prophet (saw) and died as a Mawhid [Husn al-Maqsad fi Amal al-Mawlid, Page No. 66]

The reality of Mawlid is that people gather to recite Quran to the extent that is easy, also to discuss narrations which are regarding Prophet (Peace Be Upon Him), the signs which took place on his birth. Then dinning is arranged for them and they return without adding anything more to this “Bidat al Hasanah”. The one who arranges it gets Thawab due to honoring Prophet (Peace Be Upon Him) and showing gratitude on his birth. [Husn al-Maqsad fi Amal al-Mawlid Page No. 41]

The birth of Prophet (Peace Be Upon Him) is a great blessing for us and his death is very saddening for us too, however Shariah has ordered us to rejoice and thank Allah on blessings, whereas on calamity it has taught us to have patience while hiding it, this is why Shariah has told us to do Aqiqa on birth which is a form of being happy and thankful to Allah for giving us birth, but on death there is no concept of sacrificing an animal and even lamenting is forbidden. Hence in light of rulings prescribed by shariah one should rejoice in Rabi ul Awwal on birth of our beloved Prophet (Peace Be Upon Him). [Husn al-Maqsad fi Amal al-Mawlid Page No. 54-55]

Imam Suyuti (Rehmat Ullah e Alaih) on Mawlid : Kitab of Al Hawi lil Fatawi

There is a question being asked about commemorating Mawlid of Prophet in the month of Rabi ul-Awal: What is the religious legal ruling in this regard, is it good or bad? Does the one who celebrates it gets rewarded or not?” …Answer: The reality of Mawlid is that people gather to recite Quran to the extent that is easy, also to discuss narrations which are regarding Prophet (salallaho alaihi wasalam), the signs which took place on his birth. Then dinning is arranged for them and they return without adding anything more to this “Bidat al Hasanah”. The one who arranges it gets Thawab due to honoring Prophet (salallaho alaihi wasalam) and showing gratitude on his birth[As-Suyuti – Rahimuhullah in Al Hawi lil Fatawi, Volume 1, Page No. 292, Published by Maktaba al Asriya, Beirut, Lebanon]

The Magnificent Sharah of Muwahib by Imam al-Zarqani Rehmat Ullah e Alaih

Imam Ibn Jazri (rah) said: When a kafir (i.e.Abu Lahab) against whom a whole Surah has been revealed in Quran, he gets relaxation in hell fire due to night of Prophet (salallaho alaihi wasalam)’s birth, then imagine the status of an Ummati who gets happy on his birth and spends due to his love for him, Allah would indeed give him Jaza and make him enter in His magnificent Paradise. [Sharh al-Zarqani, Volume No.1, Page No. 261].
Look how Imam Zarqani (rah) remembers Imam Ibn Jazri (rah) below in Sharh, he says: Al Hafidh Abul Khayr Shams ud din (Ibn Jazri) Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Dimishqi. “THE IMAM OF RECITATION, THE MEMORIZER OF HADITH, THE AUTHOR OF MANY (VALUABLE) BOOKS.

http://www.islamieducation.com/en/mawlid/the-magnificent-sharah-of-muwahib-by-imam-al-zarqani-rehmat-ullah-e-alaih.html

Shahihnya Hadits Riwayat Thawus Attabi’in dan Umair bin Ubaid : Dalil Selamatan / Kenduri Arwah / Tahlilan 7 hari & 40 Hari

Dalil-dalil sunat membuat kenduri tahlil arwah:

1. hadis Thawwus:

 

 ( ان الموت يفتنون فى قبورهم سبعا . فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام . )  

Ertinya “ Berkata Thawwus, bahawasanya segala orang yang mati itu difitnah/diuji akan mereka itu didalam kubur, didalam masa 7 hari. Maka adalah mereka itu ( Para Sahabat) suka bahawa memberi makan mereka itu ganti daripada mereka itu pada demikian itu hari.” ] – Hadits Shahih marfu’

2. Berkenaan hadis Umair bin Ubaid yang sahih yang tiada pertikaian , disudut hubungannya dengan Thawus  tersebut apabila digabungkan (dikompromikan kesemua hadis-hadis tersebut ) beliau  memberi komentar :

 

عن عبيد بن عمير: قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق فأما المؤمن فيفتن أربعين صباحا.

 

 

Dari Ubaid bin Umair r.a , berkata “ Difitnahkan (dalam kubur) dia jenis orang , yang beriman dan yang munafik . maka yg beriman difitnahkan/diuji selama 40  pagi (hari)”

 

3.

عَنْ اَبِىْ ذَرٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ اَيْضًا اَنَّ نَاسًا مِنْ اَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوْا لِِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُُُُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ذَهَبَ اَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلاُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ وَيَتَصَدَّقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ .
قَالَ اَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ اِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَاَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْىٍ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِى بُضْعِ اَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ اَيَأْتِىْ اَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنَ لَهُ فِيْهَا اَجْرٌ قَالَ اَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ اَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ فَكَذَلِكَ اِذَا وَضضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ اَجْرٌ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Ertinya: Diriwayatkan daripada Abi Zar r.a, telah bertanya oleh beberapa orang sahabat kepada Nabi s.a.w, “wahai Rasulullah telah pergilah orang-orang hartawan dengan pahala yang banyak maka sembahyang mereka itu sepertimana kami sembahyang dan puasa mereka itu sepertimana kami puasa dan bersedekah mereka itu dengan kelebihan daripada kekayaan mereka”. Telah menjawab oleh Nabi s.a.w, “adakah kamu bersusah hati?. Bukankah telah dijadikan oleh Allah bagimu sesuatu yang boleh kamu bersedekah dengannya. Sesungguhnya bagi tiap-tiap tasbih itu sedekah, tiap-tiap pujian itu sedekah, tiap-tiap tahlil itu sedekah, menyeru dengan pekerjaan yang baik-baik itu sedekah, melarang kemungkaran itu sedekah dan pada berjimak kamu itu juga sedekah”. Berkata para sahabat, “adakah bagi seseorang kami pahala dengan menunaikan shahwat?”. Jawab Rasulullah s.a.w “bagaimanakah perkiraan kamu jika kamu tunaikan shahwat itu kepada yang haram?, adakah kamu berdosa?. Maka seperti demikian pulalah apabila kamu menunaikan shahwat pada yang halal nescaya bagimu itu pahala”.
Hadis riwayat Muslim.

وَرَوَيْنَا فِى سُنَنِ الْبَيْهَقِىْ بِاِسْنَادٍ حَسَنٍ اَنَّ اِبْنَ عُمَرَ اِسْتَحَبَّ اَنْ يُقْرَأَ
عَلَى الْقَبْرِ بَعْدَ دَفْنِ اَوَّلُ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا
Ertinya: Telah kami meriwayatkan di dalam sunan Al-Baihaqi dengan isnad yang hasan bahawa Ibnu Umar menyunatkan bahawa dibacakan atas kubur selepas wafat, awal surah Al-Baqarah dan akhirnya (Kitab Futuhat Ar-Robbaniah Syarah Al-Azkar Nawawiah – juzuk 3 m/s 194).
Hadis riwayat Ibnu Mubarak daripada Sulaiman At-Taimi daripada Abi Usman daripada Ma’qil bin Yasar, beliau berkata: “Telah bersabda Nabi s.a.w

اِقْرَأُوْا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ

Ertinya: Bacalah surah Yasin atas mereka yang mati dikalangan kamu.
Telah mensahihkan hadis ini oleh Ibnu Hibban di dalam kitab Al-Ihsan no 3002.

قَالَ اَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مَرُوْزِىْ سَمِعْتُ اَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلَ يَقُوْلُ اِذَا دَخَلْتُمُ الْمَقَابِرَ فَاقْرَأُوْا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَالْمَعُوْذَتَيْنِ وَقُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ وَاجْعَلُوْا ثَوَابَ ذَلِكَ ِلاَهْلِ الْمَقَابِرِ فَاِنَّهُ يَصِلُ اِلَيْهِمْ
Telah berkata oleh Ahmad bin Muhammad bin Maruzi, aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata “apabila kamu masuk kepada perkuburan baca olehmu surah Fatihah dan mauzatain dan Qulhuallahuahad, lalu kamu jadikan pahalanya bagi ahli kubur. Maka sesungguhnya ia sampai kepada mereka (Ihya’ Ulumuddin).

وَاَمَّا مَا رَأَهُ الصَّالِحُوْنَ فِى الْمَنَامِ فَرُؤْيَاهُمْ كُلُّهَا مُتَوَاطِئَةٌ بَعْدَ مَا يَقْرَءُوْنَ وَيَهْدُوْنَ لِلْمَيِّتِ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى وُصُوْلِ ثَوَابِ الْقِرَاءَةِ اِلَيْهِمْ وَانْتِفَاعُهُمْ بِذَلِكَ لاَ يُحْصى

Adapun barang yang melihat oleh orang-orang soleh pada ketika tidur, maka mimpi mereka itu sekeliannya muafakat mereka itu yakni barang yang mereka baca dan mereka hadiahkan bagi si mati itu sampai pahala bacaan kepada si mati dan mereka mengambil manfaat dengan demikian itu adalah riwayat tersebut tidak terhingga banyaknya.

حَدَّثَناَ هاَشِمُ بْنُ قَاسِمٍ قَالَ حَدَّثَناَ اْلاَشْجَاعِيْنَ عَنْ سُفْيَانَ قَالَ : قَالَ طَاوُسٌ اِنَّ الْمَوْتَ يُفْتَنُوْنَ فِى قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ اَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ اْلاَياَّمَ

Ertinya: Telah berkata oleh Tawus (tabii’n) sesungguhnya orang yang mati itu difitnahkan mereka di dalam kubur selama 7 hari. Maka adalah mereka (para sahabat) kasih bahawa mensedekahkan makanan kepada orang ramai untuk si mayat pada demikian hari.

وَكَانَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ عَذَابٌ يَسِيْرٌ فَاَخَذَ جَدِيْدَةً مِنْ نَخْلٍ وَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ وَغَرَسَ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى قَبْرٍ فَقَالَ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا الْعَذَابُ مَا لَمْ يَجُفَّ رَوَاهُ الْبُخَارِىْ

Adalah Nabi s.a.w lalu disamping 2 buah kubur, maka beliau bersabda “azab yang sedikit”. Maka mengambil pelepah kurma daripada pohon kurma lalu membelahnya menjadi dua dan ditanamkan tiap-tiap satu di atas kubur. Lalu baginda bersabda “diringankan azab selama pelepah ini tidak kering”.
(Riwayat Imam Bukhari)

Pembahasan  hadis Thawwus:

Hukum selamatan hari ke-3, 7, 40, 100, setahun, dan 1000 hari diperbolehkan dalam syari’at Islam. Keterangan diambila dari kitab “Al-Hawi lil Fatawi” karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi jilid 2 halaman 178 sebagai berikut: scan kitab 


قال الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه فى كتاب الزهد له : حدثنا هاشم بن القاسم قال: حدثنا الأشجعى عن سفيان قال
قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام , قال الحافظ ألو نعيم فى الجنة: حدثنا أبو بكر بن مالك حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثنا أبى حدثنا هاشم بن القاسم حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام

Artinya:
“Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal ra di dalam kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: TelaH berkata Imam Thawus (ulama besar zaman Tabi’in, wafat kira-kira tahun 110 H / 729 M): Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.
Telah berkata al-Hafiz Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ubay, telah menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.”
Selain itu, di dalam kitab yang sama jilid 2 halaman 194 diterangkan sebagai berikut:

ان سنة الاطعام سبعة أيام بلغنى أنهامستمر الى الأن بمكة و المدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة الى الأن و انهم أخذوها خلفا عن سلف الى الصدر الأول
ِArtinya:
“Sesungguhnya, kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku sampai sekarang (yaitu masa Imam Suyuthi abad ke-9 H) di Mekkah dan Madinah. Yang jelas kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang, dan tradisi tersebut diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama, yaitu sahabat.”

———————————————-

Keterangan:

 

 ( ان الموت يفتنون فى قبورهم سبعا . فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام . )  

Ertinya “ Berkata Thawwus, bahawasanya segala orang yang mati itu difitnah akan mereka itu didalam kubur, didalam masa 7 hari. Maka adalah mereka itu ( Para Sahabat) suka bahawa memberi makan mereka itu ganti daripada mereka itu pada demikian itu hari.” ]

Berkata Sayuti. Katanya : ( Kaanu Yastahibbu )  maknanya, “Adalah manusia buat mereka itu akan demikian itu pada zaman Nabi S.A.W, dan mengetahui ia dengan dia dan tidak engkar Nabi S.A.W atas dia– Al Hawi lil Fatawa juzu’2 m/s 377.

 

Berkata Ibrahim Al Halabi, didalam Syarah Al Kabir kemudian daripada naqal beberapa nas yang menunjuk atas makruh buat makanan daripada ahli mayat :[ Dan tiada sunyi daripada Nazar (kecedraan yang perlu dibahas), kerana bahawasanya tidak ada dalil atas makruh melainkan hadis Jarir bin Abdillah jua. Kerana bahawasanya melawani akan dia oleh hadis yang diriwayatkan akan dia oleh Imam Ahmad dengan sanad yang sahih. Dan barang yang diriwayat oleh Abu Daud daripada Ashsim bin Kulaib daripada bapanya daripada seorang laki-laki daripada Ansar             

 

( قال خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فى جنازة  فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو على القبر يوصى الحافر يقول  أوسع من قبل رجليه  اوسع من قبل رأسه  فلما رجع استقبله داعى امرأته فجأ وجىء بالطعام فوضع  بين يديه ووضع القوم فأكلوا ورسول الله صلى الله وسلم يلوك لقمة فى فيه ثم قال انى أجد لحم شاة أخذت بغير اذن اهلها. )

Ertinya, “ Berkata ia, keluar kami serta Rasullah S.A.W pada suatu jenazah, maka lihat aku akan Rasulullah S.A.W dan ia atas kubur berpesan akan yang menggali kubur, perluaskan olehmu akan pihak kaki, perluaskan olehmu daripada pihak kepalanya. Maka takala kembali daripada kubur itu, berhadap akan dia oleh yang menyuruh suruhannya daripada perempuan si mati itu, yakni isteri si mati itu. Maka datang Nabi S.A.W  didatang dengan makanan, maka dihantar dihadapan Nabi S.A.W dan menghantar oleh Sahabat maka makan oleh mereka itu. Dan Rasulullah makan  ia, akan satu suap, kemudian bersabda Ia, “ Aku dapati daging kambing yang diambil dengan tidak izin oleh ahlinya”. Maka ini hadis, menunjuk ia atas harus membuat ahli mayat atas makanan dan seru  (panggil) atas manusia atasnya dan pada setengah riwayat  “imraah.” … dengan tidak ada dhomir. Maka kaedah usul fiqh, mesti kena :             

( حمل المطلق على المقيد )                                                                             

Maksudnya diambil qaid yang muqayyad  itu, buat qayyid pada yang  yang muthlaq  itu. Ertinya ditanggung (lafaz) “ imro ah” yang tidak ada dhomir itu ialah  “imro a ytil mayyit”,  seperti hak dhomirnya itu jua, Wallahu`alam].

Dan lagi barang yang tersebut di dalam kitab Fawakihud Diwani  :

[Dan adapun barang yang membuat akan dia oleh qirobah  ( kaum kerabat ) mayat, daripada makanan dan menghimpun akan manusia atasnya. Maka jika ada ia kerana baca quran dan lain lagi daripada barang yang diharapkan pahalanya bagi mayat, maka tiada mengapa dengan dia. Dan adapun jika kerana lain daripada demikian itu, maka makruh ia. Dan tidak seyogia bagi seseorang makan daripadanya,melainkan jika adalah yang membuatnya itu waris yang baligh lagi cerdik, maka tidak mengapa kita makan dengannya. Dan adapun jika wasiat oleh si mati dengan dibuat akan makanan pada matinya, maka bahawasanya sah pada thulus (1/3) hartanya. Dan wajib diluluskan akan dia, kerana diamalkan dengan fardhunya]- juzu’2 m/s 289.

 

Adapun kitab Al Anwar :[ Dan adapun jika wasiat seseorang dengan baca quran di kubur atau bersedekah daripadanya, atau umpama demikian itu, nescaya lulus ia] – juzu’ 1 m/s 126.

 

Adapun  jika buat dengan sebab adat hingga mereka yang tiada kuasa pun tebing ( buat-buat ) juga takut jadi keaiban (kalau tidak dibuat jamuan) , kerana adat jua belaka. Inilah ynag dinamakan Takalluf pada bahasa Arab. Maka inilah yang dinamakan bida’ah yang dicela oleh syarak, yang ditegah oleh segala Ulamak didalam kitab Jawi ( Melayu) dan Arab. Seperti kata Syekh Ibnu Hajar di dalam Tuhfah :[ “Dan bermula barang yang diadatkan, daripada membuat ahli mayat didalam makanan supaya menyeru akan mereka diatasnnya itu, makruh lagi bida’ah. Seperti  (itu juga hukumnya untuk sesiapa yang) memperkenankan (jemputan) mereka itu, kerana barang yang datang daripada hadis yang Sahih daripada Jarir :

 

                                      

( كنا نعد الأجتماع الى أهل الميت  وصنعهم الطعام  بعد دفنه من النياحة )

Ertinya, “Adalah kami sekelian, sangkakan  berhimpun pada ahli mayat dan buat mereka itu akan makanan kemudian daripada tanamnya setengah daripada meratap (Niyahah) ”].

 

Maka zahirnya berlawan antara hadis Ashim dan hadis Jarir ini, maka kaedah (usul fiqah)

[ Apabila berlawan dua dalil, wajib dihimpun jika mungkin berhimpun], maka disini boleh dihimpun, maka hadis Ashim itu ditanggungkan atas barang yang dibuat tidak kerana adat. Bahkan buat kerana tarahum dan niat hadiah pahalanya kepada si mati. Dan yang ditegah pada hadis Jarir itu, jika buat kerana adat seperti barang yang kami kata satni (sebentar tadi). Wa Allahu`alam bis Sowab.

 

Berkata Ibnu Hajar di dalam Tuhfah , juzu’ 3 m/s 207. “Bermula wajah dibilangkan dia daripada Niyahah itu, barang yang ada padanya, daripada bersangat-sangatan beramat- amati dengan pekerjaan kerunsingan dan dukacita” .

 

Maka ini illat tidak ada pada kebanyakan pada orang jawi kita, dan apabila tidak ada illat tidak ada hukum. Kerana kata mereka itu, “ Bermula hukum itu berkeliling ia serta illatnya, maka murad dengan hukum disini ialah makruh berhimpun dan buat kenduri di rumah si mati”. Wa Allahu` alam.

 

Maka berhimpun yang dilarang pada hadis Jarir itu jika tidak kerana baca quran dan zikir. Adapun jika berhimpun kerana baca quran dan zikir pada si mati adalah sunat, seperti barang yang  sorih perkataan Imam Nawawi di dalam Majmuk :

(لا كراهة قرأة القرأن مجتمعين  بل هى مستحبة)

Ertinya, “ Tidak makruh baca quran berhimpun bahkan ia itu sunat- juz’1 m/s 126.”Riwayat daripada Abi Hurairah R.A dan daripada Abi Said Al Kudri, ertinya kedua mereka berkata,

 

(قالا قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا يقعد قوم يذكرون الله الا حفتهم الملأيكة وغشيتهم الرحمة وأنزلت عليهم  السكينة )

“Sabda Rasullah S.A.W, tidak duduk oleh satu kaum, menyebut mereka itu akan Allah Taala, melainkan berkelilingi oleh malaikat akan mereka itu. Kerana memuliakan akan mereka itu dan menutupi akan mereka itu oleh rahmat. Dan turun atas mereka itu oleh ketetapan pada hati”. Qauluhu [Yazkuruna] : ertinya, “Barangmana kelakuan daripada segala kelakuan dan barangmana seorang ada ia. Qauluhu [Yazkuruna] : Bermula zikir itu melengkapi akan sembahyang, baca quran dan doa dengan yang lebih pada dunia dan akhirat-Dalilul Faalihin m/s 248. 

 

Maka kami faham daripada nas- nas ini, bahawasanya baca quran dengan berhimpun itu afdhal, daripada baca seorang diri pada Mazhab kita Syafie. Kerana tidak ada nas daripada alquran dan hadis, melarang tidak boleh baca quran di rumah si mati. Bahkan setengah mereka itu, dia kiaskan makruh baca quran di rumah si mati, dengan baca quran di jamban. Maka ini qias batal, kerana “Qias ma’alfaariq”. Kerana syarat sah qias itu hendak ada jamik antara “maqis” dan “maqisu a`laih”. Maka jauh sekali perbezaan, antara rumah si mati dengan jamban itu, kerana rumah si mati tidak ada najis dan jamban itu kotor (tempat najis), maka disini nyata batal qias itu. Maka jika engkau kata, ijtimak pada hadis Jarir itu, am melengkapi ia, barangmana ijtimak nescaya kami jawab, “ Apa faedah boleh ia datang dengan lafaz ma’rifah pada lafaz al ijtimak”. Maka kami faham daripada lafaz al ijtimak, dikehendaki dengan ijtimak yang membawa kepada niyahah yang dilihat dengan mata kepala sendiri di Mekah sana. Maka dimana- manapun, jika ijtimak seperti itu, “Bidaah Mazmumah Muharamah” pada syarak.

Kerana kaedah: ( للوسائل حكم المقاصد)

 

Murad dengan wasaail itu ijtimak dan murad dengan maqasid itu Niyahah. Dan jika engkau kata, alif lam pada ijtimak itu. Alif lam apa? Nescaya kami jawab, (الف لام للعهد العمى)

(iaitu barang yang hasil pada ilmu mukhatab dengan ketiadaan sebutnya yang telah lalu). Dan makna: العهد , الشيء المعهود Ertinya: suatu yang diketahui.

 

Dan jika engkau kata : (الف لام للاستغراق الجنس )?.

Nescaya kami jawab tidak betul, kerana syarat     الف لام للاستغراق الجنس    itu bahawa sah kita letak lafaz  (كل)kullu pada tempat dia itu. Maka disini tidak sah kerana jadi fasad (rosak) makna, kerana bunyi maknannya:

(كل اجتماع وصنع الطعام من اهل الميت من النياحة )

Ertinya, tiap- tiap berhimpun dan buat makan daripada ahli mayat daripada niyahah, maka ini nyata fasad (rosak makna).

 

Ini kesemuanya jika kita berlaku atas qaul yang berkata hadis Jarir itu marfu’. Adapun jika kita berlaku atas qaul yang berkata hadis Jarir itu mauwquf,  tidak jadi hujjah ( yakni tidak boleh buat dalil dengan dia), kerana syarat perkataan Sahabi ( hadis mawquf ), hendak jadi marfu’ itu, jika ia idofat kepada Rasulullah S.A.W, seperti dia kata :

كنا فى زمن النبى  كذا وكذا  اتو كنا فى حياته كذا وكذا….

seperti barang yang berkata oleh jumhur Muhaddisin dan Ashabul fiqh wal Usul. Dan berkata Imam Nawawi dalam syarah Muslim, “Adakah ia, yakni hadis Mauwquf  itu, jadi hujjah atau tidak?”. Ada padanya dua qaul, bagi Imam kita Syafie yang masyhur keduanya. Bermula yang Asah, ialah Qaul Jadid, baginya tidak menjadi hujjah dengan hadis Mauwquf. Dan yang kedua, ialah Qaul Qadim baginya ini dhoif. Maka apabila berlaku kita, atas qaul yang berkata tidak menjadi hujjah, maka bermula Qiyas didahulukan atasnya dan harus bagi Tabi’in menyalahi akan dia, yakni harus kita tidak berdalil dengannya.-Syarah Muslim juzu’1 m/s 45 — mulakhisan ( Diringkaskan).

Maka difaham daripada perkataan Imam Nawawi ini, tidak boleh kita bermudah- mudah hukum dengan kufur orang itu dan kufur orang ini, dengan makanan kenduri dan baca Qul`hu wallah di rumah si mati. Takut terbalik kepada yang berkata, wa`iyya zabillah.

Tammat.

 

 

Ulasan: Bagi saya,  jawapan daripada Tuan guru ini adalah sejelas-jelas hujjah dan memadai serta merangkumi seluruh jawapan dan hujjah para ulama Melayu . Jawapan yang ringkas serta padat dengan hujjah yang Ilmiyah . Syukur Alhamdulillah , dapat  kita menumpang ilmu Tuan Guru kita serta boleh dijadikan asas pengkajian selanjutnya. Kita cuba ringkaskan jawapan tuan Guru kita ini :

  1. Kenduri arwah hukum asalnya Harus . boleh bertukar hukumnya mengikut niat pembuatnya.  Berdasarkan kaedah Feqah : “Semua perkara mengikut Niat”.
  2. Jamuan makan adalah perkara yang terpuji didalam Islam selama mana mengikut lunas-lunasnya.
  3. Tuan Guru mendasarkan hadis Thawwus yang sahih isnadnya , menunjjukkan amalan jamuan makan yang berkaitan kematian telah berlaku semenjak zaman Salaf As Soleh lagi.
  4. Semua dalil-dalil atau hadis-hadis yang zohirnya menunjjukan larangan mengadakan kenduri / jamuan yang berkaitan dengan kematian , mempunyai masalah . Kalau tidak disudut sanad/isnad maka disudut maknanya.
  5. Tuan Guru telah membuktikan kepakaran beliau dibidang Usul Fiqah dengan mencerna hadis-hadis yang berkaitan, dengan kaedah-kaedah Usul yang mantap. Kepakaran beliau  ini telah maklum  bagi sesiapa yang mengenali beliau.
  6. Hadis Mauwquf riwayat Jarir tidak boleh dijadikan hujjah mengharamkan kenduri / jamuan makan dimajlis kematian lantaran ketiadaan sah sebagai dalil keharaman disudut maknanya  dan disudut isnad kerana ketiadaan rofa’ nya kepada Nabi s.a.w.
  7. Semua kenyataan yang memakruhkan adalah ditujukan kepada majlis jamuan yang jikalau diadakan akan membangkitkan kesedihan, ratapan dan pemberatan atas ahli mayyit. Ini dinamakan illah-illat atau sebab bagi hukum Makruh atau haram. Sedangkan ia kebiasaannya tiada berlaku dikalangan orang-orang Melayu.
  8. Membaca al-quran di kuburan adalah sunat hukumnya. Tidaklah pembacanya dinamakan penyembah kubur. Mengqiyaskan bacaan dikuburan sebagai membaca al-Quran diTandas adalah suatu yang keterlaluan dan tidak mengikut ciri-ciri qiyas yang sebenar.
  9. Tuan guru menasihatkan mereka yang kontra agar tidak keterlaluan sehingga menghukum kufur mereka yang mengadakan Tahlil / kenduri/ bacaan al-Quran dikuburan sebagai   {kuburiyyun}.
  10. Dan Ilmu Tuan Guru ini boleh di cerna sehingga terhasil satu kertas kerja yang tebal  yang akan memantapkan keharusan mengadakan Kenduri Arwah atau  Tahlil Arwah.  Wallahu a’lam.

              

 Kesahihan Hadis Thawwus r.a.

 

Dalam Kitab Al Hawi lil Fatawa m.s 178 , juzuk 2 :

 

( ذكر الرواية المسندة عن طاوس )  قال  الامام أحمد بن حنبل رضى الله عنه فى كتاب الزهد له : . حدثنا هاشم بن القاسم قال : حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان الموت يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام.

قال الحافظ أبو نعيم فى الحلية :   . حدثنا أبو بكر بن مالك ثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل ثنا أبى ثنا هاشم بن القاسم ثنا الأشجعى عن سفيان قال : قال طاوس : ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعم عنهم تلك الأيام .

 

( ذكر الرواية المسندة عن عبيد بن عمير ): قال ابن جريج فى مصنفه عن الحارث بن أبى الحارث عن عبيد بن عمير قال :

يفتن رجلان مؤمن و منافق فاما المؤمن فيفتن سبعا . واما المنافق فيفتن أربعين صباحا .

 

  الكلام على هذا من وجوه .

 

( الوجه الاول ) رجال الاسناد الأول رجال الصحيح – و طاوس من كبار التابعين . قال ابو نعيم فى الحلية : هو أول الطبقة أهل اليمين , و روى أبو نعيم عنه انه قال : أدركت خمسين من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم . وروى غيره عنه قال : أدركت سبعين شيخا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم . قال ابن سعد : كان له يوم مات بضع وتسعون سنة .

وسفيان- هو الثورى- وقد أدرك طاوسا فان  وفاة طاوس سنة بضع عشرة  ومائة فى أحد الأقوال , ومولد سفيان سنة سبع وتسعين الا أن أكثر رواته عنه بواسطة .     

 

Sudut pertama: Sanadnya.

Kedua-dua hadis tersebut adalah Sahih Isnadnya dan Marfu’. Imam As Sayuthi mengulas dalam kitab tersebut katanya:

 Rijal Isnad hadis yeng pertama adalah rijal yang sahih. – Thawwus – seorang dari kalangan pembesar Tabi’en. Abu Nuim berkata dalam kitab al Hilyah beliau : Beliau ( thawwus ) adalah dikalangan angkatan pertama dari orang Yaman . Abu Nuim juga meriwayatkan , Thawwus berkata: Saya berjumpa 50 guru dari kalangan Sahabat Rasulullah  s.a.w.  ( Berkata Ibnu Sa’ad : Pada hari kewafatannya beliau berumur awal 90 tahun. Sufiyan Athhawri Sesungguhnya menjumpai Thawwus , maka sesungguhnya kewafatan beliau awal tahun 110 hijrah menurut salah satu pendapat, sementara Sufiyan Athhawri pula dilahirkan pada tahun 97 hijrah  tetapi (sekalipun ) kebanyakan riwayat beliau dari Thawwus adalah melalui wasitah perantaraan seseorang (maka itu tidak jadi muskil sebab “kebanyakan” tidak menafikan terdapatnya sebahagian riwayat Sufian dari thawus tanpa wasithah.)}         

 

 

Sudut kedua: Maknanya:

 

قال الرافعى فى شرح المسند : مثل هذا اللفظ يراد به أنه كان مشهورا فى ذلك العهد من غير نكير . فقول طاوس ذلك فكانوا يستحبون : ان حمل على الرفع كما هو القول الأول كان ذلك من تتمة الحديث المرسل ويكون الحديث اشتمل على امرين: احدهما أصل  اعتقادى وهو فتنة الموتى سبعة ايام. والثانى حكم شرعى فرعى وهو استحباب التصدق والاطعام عنهم تلك الأيام السبعة . كما استحباب سؤال التثبيت بعد الدفن ساعة ويكون مجموع الأمرين مرسل الاسناد لاطلاق التابعى له وعدم تسمية الصحابى الذى بلغه ذلك  فيكون مقبولا  عند من يقبل المرسل  مطلقا . و عند من يقبله  يشرط الاعتضاد لمجيئه عن مجاهد, وعن عبيد بن عمير . وحينئذ فلا خلاف بين الأئمة فى الاحتجاج بهذا المرسل.        

Ertinya: Imam Rafie r.a berkata didalam Syarah Musnad: Perkara yang seumpama lafaz  ( yang diucapkan oleh Thawus ) ini , yang dikehendaki maksudnya bahawa berlaku pada masa  ( para Sahabat) tersebut tanpa ada pengingkaran. Maka perkataan Thawus r.a yang tersebut : “ Maka adalah mereka menyukai”.  Jika diihtimalkan (di maksudkan) ianya adalah marfu’ sebagaimana pendapat yang pertama, nescaya adalah yang demikian menyempurnakan Hadis Mursal. Dan jadilah hadis Thawus tersebut melengkapi dua perkara: Pertamanya ; Asal I’tiqod. Yaitu fitnah kubur bagi mayyit-mayyit dalam masa 7 hari. Keduanya; Hukum  Syara’ yang cabang; yaitu KESUNNATAN bersedekah dan menjamu makan ganti daripada mereka (maksudnya bersedekah makanan untuk disedekahkan pahalanya kepada mayyit) selama 7 hari selepas kematian. Himpunan dua sebab tersebut menjadikan nya Isnad yang Mursal kerana ditujukan kalimat Tabi’en kepada Thawus, tidak di dinamakan beliau sebagai Sahabat yang telah memberitakan kepada nya berita tersebut. Maka jadilah ia Maqbul disisi mereka yang menerima Hadis Mursal sebagai hujjah secara muthlaq  dan Maqbul juga disisi mereka yang mensyaratkan terdapat penguat-penguat (untuk diterima sesuatu hadis Mursal) kerana adanya hadis Mujahid dan Ubaid bin Umair .

Maka ketika itu tiada Ikhtilaf pendapat dikalangan para imam untuk berhujjah dengan Hadis Mursal

 (Thawus) ini.   Tammat.

 

 

 

As- Sayuthy  berkata dimuka surat 185:

        

فالحديث مقبول ويحتج به لأن الامر دائر بين أن يكون متصلا وبين أن يكون مرسلا. وضده مرسلان آخران. وفعل بعض الصجابة أو كلهم أو كل الأمة فى ذلك العصر فهذا تقرير الكلام على قبول الحديث والأحتجاج به من جهة فنى الحديث او الأصول . والله أعلم. ص 185

Maka hadis Thawus  tersebut Maqbul( diterima disisi ulamak hadis ) dan dibuat hujjah dengannya , kerana perkara beredar diantara bahawa samada dihukumkan muttasil dan antara mursal. Sedangkan yang berlawanan dengan hadis Thawus itu pula adalah mursal  kedua-duanya.

 

Sementara “perbuatan sebahagian sahabat atau perbuatan semua mereka ” ,  atau “ perbuatan kesemua umat yang berada dimasa tersebut” pula maka ini memaksudkan satu pengakuan atas qobulnya hadis tersebut dan berhujjah dengannya dari dua sudut yaitu pelajaran hadis dan usul fekah.

  

Berkenaan hadis Umair bin Ubaid yang sahih yang tiada pertikaian , disudut hubungannya dengan hadis Thawus  tersebut apabila digabungkan (dikompromikan kesemua hadis-hadis tersebut ) beliau  memberi komentar :

 

عن عبيد بن عمير: قال : يفتن رجلان مؤمن ومنافق فأما المؤمن فيفتن أربعين صباحا.

 

 

Dari Ubaid bin Umair r.a , berkata “ Difitnahkan (dalam kubur) dia jenis orang , yang beriman dan yang munafik . maka yg beriman difitnahkan selama 40  pagi (hari)”

 

 

ان قال القائل : لم يرد فى سائر الأحاديث تصريح بذكر سبعة أيام. قلنا : ولا ورد فيها تصريح بنفيها ولا تعرض لكون  الفتنة مرة أو أكثر بل هى مطلقة صادقة بالمرة وبأكثر . فاذا ورد ذكر السبعة من طريق مقبول وجب قبوله وكان عند أهل الحديث من باب  زيادات الثقات المقبولة وعند أهل الأصول من باب  حمل المطلق على المقيد.

 

 

Jika berkata orang yang bertanya “ Tiada warid pada seluruh hadis-hadis  tersebut keterangan dengan menyebut 7 hari?. Kami menjawab:Tiada jelas juga  menafikan (7 hari)  dan tiada warid juga ( acara) keadaan masa fitnah tersebut  sekali atau banyak , bahkan muthlak , boleh dikatakan sekali atau banyak. Maka apabila telah  warid  sebutan “7 hari” yang datang dari jalan periwayatan yang maqbul  , wajiblah menerimanya . Adalah disisi ahli hadis  dikatakan bab “ Tambahan dari rawi yang thiqah , adalah diterima”. Sementara disisi ahli usul pula termasuk dalam kaedah “ mengihtimalkan yang muthlak atas muqayyad”.  

Tammat  muka surat 187.

 

 

Ringkasan: Hadis Thawus ini adalah  Mursal yang Marfu’ pada maknanya samada pada perkara Tauhid yaitu “Fitnah Kubur” atau  Furu’ Fekah yaitu “Sunat membuat jamuan makan selepas kematian selama 7 hari ”. Kesimpulan hadis tersebut, matan hadis adalah diterima pakai dari awal hingga akhirnya, samada berkenaan perkara akidah azab kubur  maupun adanya acara kenduri 7 hari yang dilakukan salaf .Ini kerana kaedah “ TAMBAHAN PARA RAWI THIQOH , DITERIMA”.  Oleh itu jika diterima berita azab , wajib juga diterima berita berkenaan adanya acara kenduri jamuan makan sebab kematian yang pernah dilakukan oleh Para salaf as-Soleh. 

 

 

 

 

 Ada setengah orang menuduh Tuan-tuan  Guru pondok telah tergesa-gesa mensahihkn hadis kenduri 7 hari Imam Sayuthi tersebut?.  Siapa pula yang tergesa-gesa mensahihkan hadis yang memang telah telah disahihkan oleh Imam Sayuthi itu. Yang mana Imam Sayuthi telah menyatakan kesahihannya berdasarkan kaedah-kaedah ilmiah. Bukan fikiran rasa-rasa taksub pada pendapat sendiri. Kalau pembantah cuba untuk menolak pentashihan Imam Sayuthi tersebut, silakan dan cuba lah buat sedaya upayanya  dengan apa jalan pun. Habis bahas pun akan berakhir juga  dengan kesimpulan  itu perkara ikhtilaf yang telah diizinkan oleh Syariat Allah s.w.t dan Rasulullah s.a.w.   

 

Ada pula setengah yang lain pula cuba mentarjih dan tajrih hadis A’shim Kulaib tersebut , mana yang mahfuzh , mana yang tidak mahfuzhnya…. Dan dikomentari dengan ayat-ayat yang seolah-olahnya hadis Ashim bin Kulaib  itulah semata-mata tunjang dalil kenduri arwah yang diamalkan masyarakat?..

Tak ada sesiapa pun dikalangan ulamak yang mengharuskan kenduri tahlil arwah dengan semata-mata berteraskan hadis ‘ashim tersebut.  Hadis tu  sebahagian dalil sokongan. Bukan asasnya. Lagi pula pendapat dan komen para muhadisin terhadap status hadis yang menyebut  “penyeru isteri mayat” dengan muqayyad itu  telah berikhtilaf ulamak. Ada yang mensahihkannya bukannya takde seperti dakwaan pembantah.  Jadi apa salahnya beramal dengan hadis-hadis yang begitu. Ke saja nak taksub ke pendapat sendiri?..

Ini perbahsan  berkenaan hadis-hadis yang seperti ini yang sangatlah panjang. Kalau nak meluaskan pengetahuan rajin-rajin lah membelek kitab-kitab musthalah dan usul fikah.      

 

Akhirnya:

Perbahasan yang panjang lebar telah di bawakan oleh Imam Sayuthi didalam kitab beliau Al Hawi lil Fatawa juzuk 2 . m.s 178-196 , hampir 19 muka surat membahaskan hadis tersebut , samada disudut sanadnya maupun maknanya. Sesiapa yang berminat bolehlah merujuk kitab tersebut.  Wallahu a’lam.

 

Saya menyeru kepada mereka yang berkebolehan dalam menyelidik dalil-dalil,  terutamanya Tuan-tuan Guru dan para penuntut Ilmu , agar lebih peka untuk memberi penerangan dengan lebih jelas kepada masyarakat berkenaan perkara sebegini . Sekalipun ianya dianggap perkara kecil , furu; remeh tetapi akan menjadi perkara besar jika sampai ketahap membid’ah dan menghukum kufurkan segolongan besar umat Islam. Lihatlah kepada usaha-usaha mereka yang semakin berkembang terutamanya dikalangan mereka yang tiada asas pengetahuan agama.  

 

Setelah kita meneliti dan menghalusi perbincangan , dimanakah lagi logik dan betulnya dakwaan mereka yang mengharamkan dan membid’ahkan kenduri arwah dengan alasan-alasan yang keliru dan samar? . Alasan yang remeh temeh, yang hanya menunjjukan kebodohan diri sendiri disisi para ilmuan?.  Alasan yang sentiasa bertukar-tukar apabila ternyata rapuh setelah dijawab . Maka mudahan-mudahan risalah ini dapat meredakan ketegangan yang sentiasa akan menyala apabila ditiup oleh mereka yang nampaknya bagus ideanya tapi hakikat batinnya siapa yang tahu hanya Allah saja, mungkin mencari publisiti saja.

Sesiapa saja yang membaca risalah ini , jika terdapat musykil, sila lah merujuk kepada ahlinya atau berhubung terus dengan penulis untuk mendapat penerangan lanjut.  Wassalam.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 382 other followers