Ibadah yang dilarang untuk Wanita dalam masa Haid dan Dalil larangan memegang mushaf alquran bagi wanita haid/junub/nifas

Wanita Haid

Datang bulan Haid

Setiap wanita selalu mengalami masa rutinitas bulanan yang disebut haid. Karena datangnya setiap bulan, maka di Indonesia sering disebut dengan datang bulan. Haid disebut juga dengan mens atau M saja kependekan dari menstruasi. Atau udzur di kalangan santri. Bahasa halusnya sering dikatakan “sedang halangan”.

DAFTAR ISI


DEFINISI HAID

Haid adalah proses pengeluaran darah dan cairan melalui kelamin wanita (vagina) yang mengandung sel-sel mati dari lapisan selaput lendir (lapisan endometrium) rahim. Atau meluruhnya zat-zat nutrisi pada dinding rahim karena tidak terjadi pembuahan pada waktu ovulasi sebelumnya. Luruhnya zat-zat nutrisi yang menempel di dinding rahim itulah yang lazim kita sebut sebagai “darah haid”.

Dalam terminologi fiqh, haid adalah darah yang keluar dari rahim wanita yang baligh dan sehat yang selain darah nifas.

Dalam Q.S. Al-Baqarah 2:222 Allah berfirman:

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا۟ النِّسَآءَ فِى الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّـهُ ۚ إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ التَّوّٰبِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang mahiid. Katakanlah, “Ia adalah gangguan”. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah bersuci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan mehukai orang-orang yang bersungguh-sungguh menyucikan diri (Terjemahan vari Tafsir Al Mishbah Quraish Shihab).


CIRI KHAS DARAH HAID

Tanda darah haid yang membedakannya dari darah istihadlah dan nifas adalah sebagai berikut:

1. Sumbernya berasal dari bagian dalam rahim wanita.
2. Kental dan agak kehitaman.
3. Warna kehitaman dan kadang berubah menjadi kuning atau merah.
4. Tidak menggumpal atau membeku.
5. Berbau tidak sedap.
6. Siklus waktu teratur (ada pengecualian bagi peserta KB atau Keluarga Berencana).


LARANGAN BAGI WANITA HAID

Ada sejumlah larangan dalam Islam bagi wanita yang sedang dalam masa haid yaitu:

1. Shalat
2. Berwudu` atau Mandi Janabah
3. Puasa
4. Tawaf di Baitullah
5. Menyentuh mushaf (Quran)dan membawanya
6. Masuk ke Masjid
7. Bersetubuh/senggama/hubungan intim (jimak).
8. Melafazkan atau membaca ayat-ayat Al-Quran kecuali dalam hati atau doa/zikir yang lafadznya diambil dari ayat Al-Quran.

Larangan membaca Al-Quran (tanpa memegangnya) masih terjadi perbedaan pendapat. Sebagian ulama termasuk Imam Syafi’i dan Maliki membolehkan membaca Al-Quran bagi wanita haid dengan catatan:

- Takut lupa atau memang pekerjaannya mengajarkan/menghapal al-Qur’an.
- Sedang berargumentasi sehingga harus menggunakan al-Qur’an sebagai dalil
- Membaca ayat-ayat pendek yang tujuannya untuk zikir


HAL YANG BOLEH DILAKUKAN WANITA HAID

1. Berdzikir (membaca tasbih, tahmid, istigfar dan tahlil).
2. Bercumbu (petting) antara suami-istri selain senggama (bersetubuh).
3. Bersujud ketika mendengar ayat sajadah karena sujud tilawah tidak dipersyaratkan thoharoh menurut pendapat paling kuat.
4. Menghadiri shalat Idul Fitri dan Idul Adha untuk mendengarkan khutbah tapi tidak ikut shalat.
5. Tidur bersama suami.
3. Dan hal-hal lain selain yang diharamkan di atas.


LAMA MASA HAID

Paling sedikitnya masa keluarnya darah haid adalah sehari semalam dan paling lama 15 hari. Sedang masa haid yang normal adalah 6 atau 7 hari.

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk Syarhul Muhadzdzab II/103-104 menyatakan:

وأقل الحيض يوم وليلة وأكثره خمسة عشر يوما وغالبه ست أو سبع لقوله صلى الله عليه وسلم لحمنة بنت جحش : ” { وتحيضي في علم الله ستة أيام أو سبعة أيام كما تحيض النساء ويطهرن ميقات حيضهن وطهرهن


CARA BERSUCI SETELAH HAID

1. Wanita tersebut mengambil air dan sabunnya, kemudian berwudhu’ dan membaguskan wudhu’nya.

2. Menyiramkan air ke atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dengan kuat sehingga air dapat sampai pada tempat tumbuhnya rambut. Dalam hal ini tidak wajib baginya untuk menguraikan jalinan rambut kecuali apabila dengan menguraikan jalinan akan dapat membantu sampainya air ke tempat tumbuhnya rambut (kulit kepala).

3. Menyiramkan air ke badannya.

4. Mengambhl secarik kain atau kapas (atau semisalnya) lalu diberi minyak wangi kasturi atau semisalnya kemudian mengusap bekas darah pada kemaluan (farji/vagina) dengannya.


NIAT MANDI BERSUCI SETELAH HAID

Setelah darah haid berhenti, perempuan diharuskan bersuci yaitu dengan cara mandi keramas. Pada saat mandi keramas ini, diharuskan niat untuk menghilangkan hadats besar sbb:

نَوَيْتُ الغُسْلَ ِلرَفْعِ الحَدَثِ الأكْبَر فَرْضًا ِلله تَعَاليَ

Artinya: Saya niat mandi untuk menghilangkan hadats besar karena Allah.

Niat ini cukup diucapkan dalam hati, tapi tidak apa-apa kalau diucapkan dengan bersuara.
Niat mandi hukumnya wajib. Jadi, tidak sah mandi junubnya kalau tanpa niat.


NIAT MANDI BERSUCI DARI HAID DAN JUNUB SEKALIGUS

Seorang perempuan yang setelah haidnya habis kemudian bersetubuh dengan suaminya, maka dia boleh mandi satu kali saja dengan dua niat yaitu niat mandi haid dan mandi junub, demikian pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Niatnya sebagai berikut:

نويت غسل الحيض و غسل الجنابة فَرْضًا لله تعالي

Saya niat mandi haid dan mandi junub karena Allah.

Adapun kalau niat salah satunya, seperti berniat mandi haid atau mandi junub saja, maka ada perbedaan pendapat ulama: (a) hanya sah untuk yang diniatkan saja; (b) sah untuk keduanya.

Mufaffiqud-Din Abdullah bin Ahmad Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni mengatakan:

فصل: إذا اجتمع شيئان يوجبان الغسل كالحيض والجنابة أو التقاء الختانين والإنزال ونواهما بطهارته أجزأه عنهما. قاله أكثر أهل العلم منهم عطاء وأبو الزناد وربيعة ومالك والشافعي وإسحاق وأصحاب الرأي ويروى عن الحسن والنخعي في الحائض الجنب يغتسل غسلين، وإن نوى أحدها أو نوت المرأة الحيض دون الجنابة فهل تجزئه عن الآخر ؟ على وجهين أحدهما تجزئه عن الآخر لأنه غسل صحيح نوى به الفرض فأجزأه كما لو نوى استباحة الصلاة، والثانية يجزئه عما نواه دون ما لم ينوه لقول النبي صلى الله عليه و سلم : وإنما لكل امرئ ما نوى

Artinya: Apabila terkumpul dua hal yang mewajibkan mandi besar seperti haid dan junub atau bersetubuh dan keluar mani (sperma) kemudian mandi dan niat bersuci untuk keduanya (sekaligus), maka hukumnya sah menurut mayoritas ulama seperti Atha’, Abuz-Zinad, Rabi’ah, Malik, Syafi’i, Ishaq dan ashabur-ra’y (ulama yang menekankan ijtihad).

Diriwayatkan dari Hasan dan Nakha’i dalam masalah wanita haid dan junub yang mandi dua kali apabila berniat salah satunya atau wanita haid niat bersuci dari haid bukan untuk junub apakah (niat itu) mencakup pada yang lain? Ada dua pendapat. Pertama, mencakup pada yang lain karena mandinya sah sebagaimana orang yang berniat untuk dibolehkan shalat. Kedua, sah untuk yang diniatkan saja tidak yang lain berdasarkan hadits, ‘Setiap perilaku seseorang itu tergantung niat.’


HUKUM SENGGAMA SETELAH BERHENTI HAID SEBELUM BERSUCI

Wanita haid yang sudah berhenti darah haidnya tetap tidak boleh (haram) bersenggama (jimak/bersetubuh) dengan suaminya kecuali setelah bersuci atau mandi. Adapun dasar hukumnya sebagai berikut:

1. Quran Surat Al-Baqarah 2:222

فاعتزلوا النساء في المحيض، ولا تقربوهن حتى يطهرن، فإذا تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله، إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين

Artinya: Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

2. Jumhur (mayoritas) ulama dari 3 madzhab utama yaitu Malikiy, Syafi’i dan Hanbali, sepakat bahwa hubungan intim (dukhul) antara wanita haid yang sudah berhenti darahnya dengan suaminya itu haram kecuali setelah mandi (ghusl) atau bersuci.

3. Yusuf Qardhawi menghukumi haram bersetubuhnya wanita haid sebelum bersuci walaupun darah sudah mampet (berhenti)

يقول يوسف القرضاوي:-
جمهور الفقهاء يرون: أنه لا يجوز للزوج أن يجامع زوجته إلا بعد أن تغتسل، أي تغسل رأسها وجسدها كله بالماء

Imam Jalaluddin as-Suyuthi membolehkan terjadinya senggama antara suami-istri apabila darah haid sudah berhenti (خلافا لما بحثه العلامة الجلال السيوط – أي من حل الوطء أيضا بالانقطاع) dalam I’aanah at-Thaalibiin I/85.

4. Madzhab Hanafi membolehkan terjadinya hubungan intim (jimak) apabila darah haid putus dan waktu haid sudah melewati 10 hari.

وقال الحنفية:إن انقطع الدم لأقل من عشرة أيام ـ وهي أكثر الحيض ـ لم يحل وطؤها حتى تغتسل، أو يمضي عليها وقت صلاة، وؤن انقطع لعشرة أيام جاز قبل الغسل، لقوله تعالى: (حتى يطهرن) ينقطع الحيض. حملوه على العشرة. وقراءة التشديد حملوها على ما دون العشرة، عملا بالقراءتين. هكذا قالوا. ولأن ما قبل العشرة لا يحكم بانقطاع الحيض، لاحتمال عود الدم، فيكون حيضا، فإذا اغتسلت أو مضى عليها وقت صلاة: دخلت في حكم الطاهرات. وما بعد العشر حكمنا بانقطاع الحيض، لأنها لو رأت الدم لا يكون حيضا فلهذا حل وطؤه

=====================
CATATAN DAN RUJUKAN

- الحيض هو خروج الدم المعروف من رحم الانثى البالغة السليمة من غير ولادة او افتضاض، ويعرف الحيض باسماء اخرى منها الطمث
- Hadits tentang tidaj boleh shalat dan puasa saat haid dari Aisyah: كنا نحيض عند رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم نطهر فيأمرنا بقضاء الصوم ولا يأمرنا بقضاء الصلاة
- Larangan tawat di Ka’ab saat haid hadits Abu Daud dan Tirmidzi: النفساء والحائض ـ إذا اتيا الميقات ـ تغتسلان وتحرمان وتقضيان المناسك كلها غير الطواف بالبيت
- Larangan masuk masjid dan i’tikaf saat haid hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah: أمر الرسول الله صلى الله عليه وسلم الحائض أن تعتزل عن مصلى المسلمين
- Larangan menyentuh dan membaca Quran. Quran لا يمسه إلا المطهرون
dan hadits: لا يقرأون القرآن ولا يطأون مصحفا بأيديهم ، حتى يكونوا متوضئينHadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a

“Artinya : Dari jalan Abdul Malik bin Maslamah (ia berkata) Telah menceritakan kepadaku Mughirah bin Abdurrahman, dari Musa bin Uqbah dan Naafi, dari Ibnu Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh bagi orang junub membaca sedikitpun juga dari (ayat) Al-Qur’an”
- Hadits yang lain dari jalan Ibnu Umar.
“Artinya : Dari seorang laki-laki, dari Abu Ma’syar, dari Musa bin Uqbah, dari Naafi, dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Perempuan yang haid dan orang yang junub, keduanya tidak boleh membaca sedikitpun juga dari (ayat) Al-Qur’an”
-  Dari Muhaajir bin Qunfudz, sesungguhnya dia pernah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang buang air kecil (kencing), lalu ia memberi salam kepada beliau akan tetapi beliau tidak menjawab (salam)nya sampai beliau berwudlu. Kemudian beliau beralasan dan bersabda : ”Sesungguhnya aku tidak suka menyebut nama Allah (berdzikir) kecuali dalam keadaan suci (berwudlu)” [Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan lain-lain]
- Hadits yang lain dari jalan Jabir bin Abdullah.
“Artinya : Dari jalan Muhammad bin Fadl, dari bapaknya, dari Thawus, dari Jabir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak boleh bagi perempuan yang haidh dan nifas (dalam riwayat yang lain : Orang yang junub) membaca (ayat) Al-Qur’an sedikitpun juga (dalam riwayat) yang lain : Sedikitpun juga dari (ayat) Al-Qur’an)”
- Dalil tak boleh sentuh mushaf alquran baigi orang junub/haid/nifaz
Umar bin Khattab masuk Islam

Umar masuk Islam ketika para penganut Islam kurang lebih sekitar 40 (empat puluh) orang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Imam Tirmidzi, Imam Thabrani dan Hakim telah meriwayatkan dengan riwayat yang sama bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam telah berdo’a,” Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, iaitu Umar bin al-Khatab atau Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam.”.
Berkenaan dengan masuknya Umar bin al-Khatab ke dalam Islam yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad yang diungkap oleh Imam Suyuti dalam kitab “ Tarikh al-Khulafa’ ar-Rasyidin” sebagai berikut:
Anas bin Malik berkata:” Pada suatu hari Umar keluar sambil menyandang pedangnya, lalu Bani Zahrah bertanya” Wahai Umar, hendak kemana engkau?,” maka Umar menjawab, “ Aku hendak membunuh Muhammad.” Selanjutnya orang tadi bertanya:”Bagaimana dengan perdamaian yang telah dibuat antara Bani Hasyim dengan Bani Zuhrah, sementara engkau hendak membunuh Muhammad”.
Lalu orang tadi berkata,” Tidak engkau tahu bahawa adikmu dan saudara iparmu telah meninggalkan agamamu”. Kemudian Umar pergi menuju rumah adiknya dilihatnya adik dan iparnya sedang membaca lembaran Al-Quran, lalu Umar berkata, “barangkali keduanya benar telah berpindah agama”,. Maka Umar melompat dan menginjaknya dengan keras, lalu adiknya (Fathimah binti Khatab) datang mendorong Umar, tetapi Umar menamparnya dengan keras sehingga muka adiknya mengeluarkan darah.
Kemudian Umar berkata: “Berikan lembaran (al-Quran) itu kepadaku, aku ingin membacanya”, maka adiknya berkata.” Kamu itu dalam keadaan najis tidak boleh menyentuhnya kecuali kamu dalam keadaan suci, kalau engaku ingin tahu maka mandilah (berwudhulah/bersuci).”. Lalu Umar berdiri dan mandi (bersuci) kemudian membaca lembaran (al-Quran) tersebut iaitu surat Toha sampai ayat,” Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dirikanlah Solat untuk mengingatiku.” (Qs.Toha:14). Setelah itu Umar berkata,” Bawalah aku menemui Muhammad.”.
Mendengar perkataan Umar tersebut langsung Khabbab keluar dari sembunyianya seraya berkata:”Wahai Umar, aku merasa bahagia, aku harap doa yang dipanjatkan Nabi pada malam khamis yang lalu menjadi kenyataan, Ia (Nabi) berdoa “Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan orang yang paling Engkau cintai diantara kedua orang ini, iaitu Umar bin al-Khatab atau Abu Jahal ‘Amr bin Hisyam.”.
Lalu Umar berangkat menuju tempat nabi Muhammad saw, didepan pintu berdiri Hamzah, Thalhah dan sahabat lainnya. Lalu Hamzah seraya berkata,” jika Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya dia akan masuk Islam, tetapi jika ada tujuan lain kita akan membunuhnya”. Lalu kemudian Umar menyatakan masuk Islam dihadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.
Lalu bertambahlah kejayaan Islam dan Kaum Muslimin dengan masuknya Umar bin Khatab, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Mas’ud, seraya berkata,” Kejayaan kami bertambah sejak masuknya Umar.”.
Umar turut serta dalam peperangan yang dilakukan bersama Rasulullah, dan tetap bertahan dalam perang Uhud bersama Rasulullah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Sayuti dalam “Tarikh al-Khulafa’ar Rasyidin”.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 429 other followers