Ibnu Katsir Membungkam Wahhaby 3 : Tafsir Ayat Mutasyabihat “Wajah”

Ibnu Katsir Membungkam Wahhaby (3) : Tafsir Ayat Mutasyabihat Wajah

Ibnu katsir membungkam wahhaby (3) : Tafsir ayat mutasyabihat “wajah”

Bagaimana cara ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami masalah asma wa sifat atau yang sering di sebut dngan ayat-aya dan hadit-haditst sifat?ayat-ayat sifat disini adalah ayat Alquran atau Hadits Nabi yang menyebutkan tentang aggota tubuh seperti mata ,tangan,naik turun yang di sandarkan kepada Allah dll yang jika salah dalam memahamimya seseorang bisa masuk dalam kesesatan aqidah mujassimah(yang megatakan bahwa Allah SWT mempunyai aggota badan yang menyerupai dengan hambanya).Atau akan terjerumus dalam ta’thil (yang menolak sifat-sifat Allah SWT ).Begitu penting dan bahaya permasalahan ini maka ulama benar-benar telah membahasnya dengan detail dan rinci agar ummat ini tidak salah dalam memahami ayat –ayat dan hadits-hadits sifat .
Ada dua catara yang di ambil oleh ulama ahli sunnah waljamaah dalam memahami ayat-ayat sifat ini :
Pertama adala tafwidh, maksudnuya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di fahami sesuai dhohir lafatnya akan merusak aqidah. Misanya disaat Allah menyebut tangan yang di nisbatkan kepada Allah, maka maknanya tidak di bahas akan tetapi dilalui dan diserahkan kepada Allah SWT.   Ibnu katsir adalah salah satu ulama yang menggunkan methode ini.
Kedua adalah dengan cara mentakwili ayat tersebut dengan makna yang ada melalaui dalil lain. Seperti tangan Allah di artikan dengan kekuasaan Allah yang memang makna kekuasaa itu sendiri di tetapkan dengan dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.

Rasulullah berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa:
Maknanya: “Ya Allah alimkanlah dia hikmah dan takwil Al quran” H.R Ibnu Majah. (Sebahagian ulamak salaf termasuk Ibnu Abbas mentakwil ayat-ayat mutasyabihah)

Perhatian
1-Dua cara ini yakni attafwid dan attakwil adalah cara yang di ambil oleh ulama salaf dan kholaf,sungguh tidak benar jika tafwid adalah metode tyang di ambil oleh ulama salaf dan ta’wil adalah yang di ambil oleh ulama kholaf saja.
2-Ada sekelompok orang di akhir zaman ini menfitnah para ulama terdahulu(salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini.maka kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu karena takwil ,sungguh mereka adalah orang –orang yang tidak mengerti bagaimana mentakwil dan mereka uga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu karena banyak riwayat ta’wil yang dating dari para salaf..
3-ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dam kesesatan takwil yang tidak mereka sadari.misalnya disaat mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘ars ,mereka mengatakan tidak boleh ayat tentang keberadaan Allah di ars ini di ta’wili.akan tetapi dengan tidak di sadari mereka menjelaskan keberadan Allah di ars dengan penjelasan bahwa ars adlah makhluq terbesar(seperti bola dan semua mkhluk yang lain di dalamnya.kemudian mereka mengatakkan dan Allah swt berada di atas Arsy nag besar itu di tempat yang namany makan ‘adami(tempat yang tidak ada).Lihat dari mana mereka mengatakan ini semua. Itu adalah takwil fasid dan ba’id(takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran.
Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang Allah dan ars,para ahli tafwid menyerahkan pemahaman maknanya kepada Allah swt,adapu ahli ta’wil mengatakan Alah menguasai Ars dan tidaklah salah karena memang Allah dzat yang maha kuasa terhadap makhluk terbesar Ars, sebab memang Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu.wallhu a’lam bishshowab

Ada beberapa ayat dalam al-quran yang mengandung beberapa lafadz “Wajah” bagi Allah. Tapi tidak satupun imam ahlusunnah mensifati dengan makna dhahir “wajah sebagaimana golongan mujasimmah wahhaby. Karena Allah suci dari pada Jisim.

A. As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk
Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227- 321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

1. Lafadz  “Wajah Allah” ditafsirkan sebagai “Kiblat (dalam beribadah)”


[2:115] Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah {83}. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 115)

Wajah Allah disini ditafsirkan sebagai Kiblat Allah. Sehingga maksud ayat ini adalah :

“Maka Kemanapun kamu menghadap disitulah kiblat Allah” (Sumber Tafsir Jalalain dan tafsir ibnu katsir I/218-220, Darussalam, Riyadh)

Methode Tafsir seperti ini disebut ta’wil karena tidak merubah lafadznya dan memaknai dengan makna yang sesuai dengan sifat dzat Allah yang maha suci.

2. Lafadz  “Wajah Allah” ditafsirkan sebagai “Ridho Allah”

Seperti dalam ayat :


[76:9] Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (AL INSAAN (MANUSIA) ayat 9)

Atau dalam ayat:

[18:28] Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (AL KAHFI (Gua) ayat 28)

Lafadz  “Wajah Allah” ditafsirkan sebagai “Ridho Allah”. Lafadz seperti ini banyak terdapat dalam banyak Al-qur’an dan hadits  yang lain.

3. Lafadz  “Wajah Allah” ditafsirkan sebagai “Allah/dzat Allah” atau “Kekuasaan Allah”

a) Tafsir lafadz “wajah Allah” ditafsirkan sebagai “Allah/dzat Allah”


[28:88] Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Tarjamahan Tafsir ibnu katsir alqashah ayat 88 (lihat yang line pada scan kitab)  :

” [segala sesuatu akan hancur kecuali Allah] mengabarkan bahwa sesungguhnya Allah kekal selamanya, Dzat yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri, Dzat yang mematikan semua mahluk dan Allah tidak Mati, seperti firman Allah ta’ala [[semua makhluq akan binasa/hancur * dan yang akan kekal hanyalah Tuhan-Mu yang memiliki keagungan dan kemuliaan] maka DITAFSIRKAN LAFADZ WAJAH- NYA dengan  DZAT (ALLAH).

Dan seperti itu juga firman Allah disini [ segala sesuatu akan hancur kecuali (wajah)-Nya] maksudnya KECUALI ALLAH. Dan sungguh telah menetapkan dalam shahih dari jalan Abi Salmah dari Abi Hurairah berkata : Bersabda Rasulullah SAW : (Kalimat yang paling benar dari syair Labid kalimat : “sesungguhnya segala sesuatu selain Allah adalah salah”).

Dan berkata mujahid dan Atsaury dalam firman Allah :  [segala sesuatu akan hancur kecuali wajah Allah] maksudnya kecuali apa yang amal yang hanya mengharap ridha Allah. Dan Telah menceritakannya Bukhary  dalam shahihnya seperti yang di yang iqrarkan bagi Allah. ( tafsir ibnu katsir, 535, juz 3, darussalam riyadh).”

kemudian dijelaskan pula dalam surat arrahman ayat 27 :


[55:27] Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Lihat yang diline merah pada scan kitab tafsir ibnu katsir (surat arrahman- 27) :

“Allah ta’ala mengabarkan bahwa semua ahli bumi akan hancur dan mati semua. Dan seperti itu juga  Penghuni-penghuni langit kecuali yang Allah kehendaki.  Tidak akan kekal kecuali wajah Allah yang mulia, maka sesungguhnya kekuasaan Allah ta’ala  akan suci tidak  mati bahkan dia yang Maha Hidup yang tidak mati selamanya.

Qatadah berkata  : “ Pertama, Allah menyebutkan  ciptaannya kemudian Allah menyebutkan semua makhluqnya itu akan binasa/hancur.” Dan dalam do’a yang ma’tsur (disebutkan dalam hadiits) : “ Ya Allah yang hidup, Yang maha berdiri sendiri, yang menciptakan langit dan bumi tanpa bantuan. Ya Allah dzat yang mempunyai keagungan dan kemuliaan, tidak ada Tuhan selain engkau, dengan rahmat-Mu kami memohon perbaikilah kami, dan apa –apa yang ada pada kami semuanya. Dan janganlah meninggalkan kami walaupun satu kelip mata saja, dan jangan pula pada satu saja dari mahluk-Mu.

Dan berkata Imam Asya’bi : Tatkala membaca ayat [semua makhluq akan binasa/hancur] maka janganlah berhenti sampai kamu membaca [dan yang akan kekal hanyalah wajah (kekuasaan) Tuhan-Mu yang memiliki keagungan dan kemuliaan] dan dalam ayat ini seperti dalam firman Allah : [ segala sesuatu akan hancur kecuali wajahnya (18:88)] dan sungguh telah mensifati Allah ta’ala dengan Lafadz wajah-Nya yang mulia dalam ayat ini karena Allah mempunyai keagungan dan kemuliaan ,

Maksudnya : Dialah yang diibadahi lagi  dihormati, dan kemudian tidak pernah diingkari, dan Allah dita’ati dan kemudian tanpa pernah diingkari, seperti firmah Allah ta’ala : [dan sabarkan dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada tuhanNya dipagi dan petang yang menginginkan wajahNya (Keridha-annya)] dan seperti firmanNya  yang menyebutkan orang-orang yang memberikan shadaqah ; [ kami member makan kalian karena mengharap wajah-Nya (ridha-Nya)]. Berkata Ibnu abbas (dalam menjelaskan lafadz dzul jalali wal ikram) : “Dzat Yang mempunyai kemuliaan dan keagungan, yang mempunyai kemegahan dan kebesaran”. Dan tatkala Allah menyebutkan dari akan binasanya semua penghuni bumi dan sesungguhnya mereka akan menuju kampung akhirat maka kalian akan di adili disana oleh dzat yang mempunyai keagungan dan kemuliaan dengan hukumNya yang adil.”

b). Imam Bukhary Mentakwil Lafadz WAJAH dengan KEKUASAAN ALLAH

AL-ALBAANY MENGKAFIRKAN IMAM BUKHARY

بيان الحق وكشف أهل الضلال بسم لله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, المنـزه عن الشبيه والمثيل والزوجة والولد والإخوان، الموجود بلا جهة ولا مكان، المنـزه عن كل ما لا يليق به من الصفات والنعوت، والملك القهار ذي الجلال والجبروت، وأفضل الصلاة وأتم السلام على سيدنا محمد خير الأنام، وخاتم أنبياء الإسلام، وعلى ءاله الطاهرين، وصحبه الغر الميامين، ومن اتبع منهاجهم واقتفى أثرهم إلى يوم الدين.ـ”قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “حتى متى ترعون عن ذكر الظالم اذكروه بما فيه حتى يحذره الناس
Antara Fatwanya lagi, mengingkari takwilan Imam Bukhari. Sesungguhnya Imam Bukhari telah mentakwilkan Firmanallah :

كل سيء هالك إلا وجههقال البخاري بعد هذه الأية : أي ملكه
artinya : “Setiap sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya berkata imam bukhari setelah ayat ini : “maknanya (wajah-Nya) adalah kekuasaanya”

Tetapi Al-Albaany mengkritik keras takwilan ini lalu berkata :
(( هذا لا يقوله مسلم مؤمن ))
” Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang Muslim yang beriman “.
Lihatlah kitab (( Fatawa Al-Albaany )) m/s 523. Tentang takwilan Imam Bukhari ini adalah suatu yang diketahui ramai kerana jika dilihat pada naskhah yang ada pada hari ini tidak ada yang lain melainkan termaktub di sana takwilan Imam Bukhari terhadap ayat Mutasyabihat tadi. Di samping itu juga, ini adalah antara salah satu dalil konsep penakwilan nusush sudah pun wujud pada zaman salaf (pendetailan pada pegertian makna). Bagaimana Beliau berani melontarkan pengkafiran terhadap Imam Bukhary As-Salafi dan mendakwa Imam Bukhary tiada iman dalam masa yang sama beriya-riya mengaku dirinya sebagai Muhaddits??!! memalukan je..
Beliau bukanlah hanya terhenti di situ sahaja, tetapi berani lagi mengeluarkan fatwa-fatwa sesat termasuk pengharaman bertawassul kepada dengan diri Nabi Sollallahu ‘Alaihi WassallaM dan menjadikan Istigahtsah selain daripada nabi sebagai syirik. Perkara ini boleh di rujuk didalam kitabnya (( AL-TAWASSSUL)), m/s 70 dan 73. Maka apa yang akan dikata oleh pengikut yang taasub dengan Al-Albaany jika penulis mengatakan Imam Bukhary meriwayatkan Hadis Tentang hari kiamat yang menunjukkan keharusan beristighatsah..yallah nanzur…

(( فبينما هم كذلك استغاثوا بآدم ثم موسى ثم محمحد ))
” maka ketika mana mereka juga beristighatsah dengan nabi Adam kemudian Nabi Musa, kemudian nabi Muhamad”..
Sebenarnya berlambak lagi dalil-dalil tentang keharusan bertawassul dan beristighatsah yang sohih dan diriwayatkan oleh ulama’-ulama’ muhadditsin yang muktabar….
About these ads

One Response

  1. Alhamdulillah hri ini saya mendapatkan keterangan yg sangat baik dan dilandasi dalil2 yg kuat serta pendapat para ulama Ahussunnah shg tidak terpengaruh oleh ucapan ustadz2 wahabi yg selalu mengatakan kalau Allah punya wajah, tangan dll. Ini saya denger dg kuping saya sendiri krn kebetulan ditempat kerja saya ada pengajian rutin mingguan ba’da dhuhur,… bahkan yg tdk mengimani kalo Alloh punya Tangan, wajah dll dianggap sesat dan bid’ah. Mari kita lihat di Surat Al-Baqoroh 115 yg menyebutkan kemanapun kamu menghadap disitu wajah Allah, kalo dipaksakan dg arti wajah, berarti Alloh hanya punya wajah,… lalu mana kaki dan tangannya spt keyakinan wahabi mujassimin ?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 409 other followers

%d bloggers like this: