Bab 3. Kewajiban Bertaqlid Bagi Yang tidak Mampu Berijtihad

Masalah Taqlid (ikut-ikutan) kepada Imam Madzhab

Daftar isi bab 3 ini diantaranya:
  • Dalil  kewajiban bertaqlid ketika tidak mampu berijtihad
  • Pembelaan al-Albani pada Syeikh Khajandi
  • Dialog antara Dr.Sa’id Ramdhan al-Buuti dengan anti madzhab
  • Tidak boleh mencari-cari keringanan ajaran yang paling mudah dan ringan dari Ulama

Sebagian golongan ada yang mengikuti ulamanya yakni ikut melarang, membid’ahkan, mencela keras bahkan sampai berani mengkafirkan orang-orang muslim yang mengikuti salah satu dari madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali [ra] ). Ulama golongan ini berkata: “Sesungguhnya ilmu figih dan syariat Islam yang anda ajarkan selama ini dengan susah payah itu sebenarnya hanyalah buah pikiran para imam madzhab yang tentang masalah hukum yang mereka rangkaikan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Empat madzhab itu adalah suatu bid’ah yang diadakan dalam agama Islam serta mereka ini sama sekali bukan dari Islam. Kitab-kitab empat imam ini ialah kitab-kitab yang bisa membawa kehancuran (Kutub al-Mushaddiah)”.

Ulama yang melarang taqlid ini telah membikin heboh dunia Islam karena beliau telah mengkafirkan orang-orang muslimin yang mengikuti salah satu dari empat madzhab. Nama ulama yang melarang ini adalah Syekh Khajandi yang menulis dalam kitabnya Halil Muslim Multazamun Bittibaa’i Madzhabin Mu’ayyan Minal Madzaahibil Arba’ah. Beliau ini juga mengatakan bahwa orang-orang yang taqlid kepada imam-imam mujtahid adalah orang yang bodoh, tolol dan sesat. Mereka ini telah memecah belah agama sehingga menjadi beberapa golongan dan mereka inilah yang dimaksudkan firman Allah swt. dalam surat At-Taubah : 31 : “Mereka menjadikan orang-orang alim dan para rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah”. Dan firman Allah pada surat Al-Kahfi : 103-104 :

“Katakanlah (wahai Muhammad); Maukah kalian Kami tunjukkan tentang orang-orang yang merugi amal ibadahnya..? Yaitulah orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia sedangkan mereka menyangka bahwa merekalah yang berbuat sebaik-baiknya.”

Syekh Khajandi dan orang-orang yang sepaham dengannya sangat keterlaluan didalam upaya merendahkan dan menjatuhkan martabat para imam madzhab yang sudah diakui sejak zaman dahulu sampai zaman sekarang oleh ulama-ulama pakar dunia. Syekh ini sama halnya dengan golongan wahabi/salafi merasa dirinya yang paling pandai, suci dan paling mengerti tentang hukum-hukum Islam sehingga mudah mensesatkan atau mengkafirkan orang-orang muslimin yang mengikuti suatu amalan yang tidak sepaham dengan mereka.

Berikut ini sebagian isi kitab Syeikh Khajandi yang sangat berbahaya dan membingungkan ummat Islam yang saya kutip dari kitab Argumentasi Ulama Syafi’iyah oleh Ustadz Mujiburrahman. Begitu juga dalil-dalil Syeikh ini yang mengarahkan sesat, bodoh perilaku orang yang bertaqlid terhadap salah satu dari imam empat itu, walaupn yang taqlid itu tergolong orang awam. Setiap dalil yang Syeikh Khajandi tulis saya akan tulis jawabannya sekali menurut Dr.Muhammad Sa’id Ramdhan al-Buuti dalam kitabnya ‘Al-laa madzhabiyyah Akhthoru bid’ah tuhaddidus syari’atal Islamiyyah’ .

l. Syekh Khajandi berkata; bahwa Islam itu tidak lebih dari hukum-hukum yang sederhana yang dengan mudah dapat dimengerti oleh orang arab atau muslim manapun. Beliau membuktikan kebenaran pernyataannya ini dengan mengetengahkan beberapa dalil berikut ini :

Pertama; hadits Jibril as. ketika bertanya kepada Rasulallah saw. tentang makna Islam. Kemudian Rasulallah menjawab dengan menyebutkan rukun-rukun Islam yang lima. Tidak lebih dari itu !

Kedua; hadits tentang seseorang yang mendatangi Rasulallah saw. seraya berkata : ‘Wahai Rasulallah, tunjukkanlah kepadaku satu perbuatan yang apabila aku kerjakan, maka aku akan masuk surga’. Lalu Rasulallah saw. bersabda ; ‘Bersaksilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah…sampai akhir hadits’ “.

Ketiga; hadits tentang seseorang yang datang dan mengikat ontanya dimasjid Rasulallah saw., kemudian masuk menghadap Nabi saw. dan bertanya tentang rukun Islam yang paling penting.

Selanjutnya berdasarkan dalil-dalil yang dikemukakan Syeikh ini menegas- kan bahwa Islam itu tidaklah lebih dari beberapa kata dan beberapa hukum yang sederhana yang bisa dipahami oleh setiap muslim, arab ataupun non arab. Hal ini karena setelah Nabi saw.menyebutkan tentang rukun Islam yang lima, lelaki yang bertanya itupun langsung pergi dan tidak menoleh lagi. Ini membuktikan bahwa rukun-rukun Islam itu adalah satu permasalahan yang mudah dan penjelasannya tidaklah perlu sampai taqlid kepada seorang imam atau menetapi seorang mujtahid. Madzhab-madzhab yang ada tidak- lah lebih dari sekedar pemahaman para ulama terhadap beberapa masalah. Allah serta Rasul-Nya tidaklah pernah mewajibkan seorangpun untuk meng- ikutinya.

Jawaban :

Dr.Sa’id Ramdhan al-Buuti mengomentari ucapan Syeikh Khayandi diatas sebagai berikut :

“Seandainya benar bahwa hukum-hukum Islam itu terbatas pada masalah-masalah yang telah disampaikan oleh Rasulallah saw. kepada orang arab badui (pedusunan), lalu pergi dan tidak memerlukan penjelasan lagi, niscaya tidaklah kitab-kitab shohih dan musnad-musnad itu  dipenuhi oleh ribuan hadits yang mengandung berbagai macam hukum yang berkaitan dengan kehidupan kaum muslimin. Begitu juga Rasulallah pun tidak akan berlama-lama berdiri hingga keletihan untuk memberi pelajaran kepada utusan Tsaqif tentang hukum-hukum Allah swt. dan itu terjadi selama beberapa hari.

Penjelasan Rasulallah tentang Islam dan rukun-rukunnya adalah sesuatu yang berbeda dengan pengajaran tentang bagaimana melaksanakan rukun-rukun tersebut. Yang pertama membutuhkan waktu tidak lebih dari beberapa menit sedangkan yang terakhir membutuhkan kesungguhan dalam belajar dan juga disiplin. Oleh karena itulah, maka utusan yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk memahami rukun Islam itu selalu saja diikuti oleh seorang sahabat yang khusus dipersiapkan guna tinggal bersama dan mengajari mereka berbagai hukum Islam dan kewajiban-kewajibannya. Maka diutuslah Khalid bin Walid ke Najran, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa al-Asy’ari dan Muaz bin Jabal Ke Yaman, Utsman bin Abi ‘Ash ke Tsaqif. Mereka [ra] ini diutus kepada orang-orang yang sekelas (sederajad ilmunya) dengan orang Arab badui yang oleh Syeikh Khajandi dijadikan sebagai dalil bahwa mereka ini dapat memahami Islam dengan cepat. (Tidak lain) tujuan para sahabat (yang diutus ini) adalah untuk mengajari mereka rincian hukum-hukum Islam sebagai tambahan dari pengajaran dan penjelasan yang telah diberikan oleh Rasulallah saw.

Memang pada masa awal Islam permasalahan-permasalahan yang menuntut solusi dan penjelasan tentang hukum-hukumnya masih sangat sedikit. Hal ini karena daerah kekuasaan Islam dan jumlah kaum muslimin saat itu masih sedikit. Akan tetapi masalah/problem ini bertambah banyak seiring dengan meluasnya daerah kekuasaan Islam dan banyaknya adat- istiadat yang tidak ada sebelumnya. Terhadap semua masalah ini haruslah ditemukan hukumnya, baik yang bersumber dari Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ ataupun Qiyas (analogi). Inilah dia sumber-sumber hukum Islam. Karenanya tidaklah ada hukum Islam kecuali yang dinyatakan oleh salah satu dari sumber-sumber ini.

Bagaimana mungkin memisahkan antara Islam dengan apa yang telah disimpulkan oleh ke empat imam madzhab dan orang-orang setaraf (selevel) mereka dari sumber-sumber hukum Islam yang pokok ini…? Bagaimana Syeikh Khajandi itu bisa mengatakan ; ‘Adapun madzhab-madzhab yang ada hanyalah pendapat para ulama dan ijtihad mereka terhadap suatu masalah. Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mewajibkan siapapun untuk mengikuti pendapat, ijtihad serta pemahaman-pemahaman mereka itu‘. Ucapan Syeikh ini sama persis dengan ucapan seorang orientalis Jerman yang bernama Sheckert dimana dengan sombong dan kasarmengatakan; ‘Figih Islam yang ditulis oleh para imam madzhab adalah hasil dari produk pemikiran hukum yang istimerwa yang diperindah dengan mengait-ngaitkannya kepada Al-Qur’an dan Sunnah’.

Rasulallah saw. telah mengutus para sahabat yang memiliki keahlian dalam menghafal, memahami dan menyimpulkan suatu hukum kepada beberapa kabilah dan negeri serta menugaskan mereka untuk mengajarkan hukum-hukum Islam, haram-halal kepada ummat. Telah menjadi kesepakat- an bahwa mereka akan ber-ijtihad jika mereka kesulitan menemukan dalil yang jelas dari Al-Qur’an dan Hadits. Rasulallah saw. pun menyetujui kesepakatan mereka itu.

Diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmudzi dari Syu’bah ra. bahwa ketika Nabi saw. mengutus Mu’az bin Jabal ke Yaman, beliau saw.bersabda : ‘Apa yang akan kamu perbuat jika kamu menghadapi satu perkara ?’. Mu’az menjawab: ‘Saya akan memutuskan dengan apa yang terdapat dalam Kitabullah’. Rasulallah saw. kembali bertanya ; ‘Jika tidak ada dalam Kitabullah..?’. Mu’az menjawab :’Saya akan putuskan dengan Sunnah Rasulallah’. Rasulallah bertanya lagi : ‘Jika tidak ada dalam Sunnah Rasulallah…?’. Mu’az menjawab : ‘Saya akan berijtihad dengan pendapatku dan saya tidak akan melebihkannya’. Mu’az berkata :’Rasulallahpun akhirnya menepuk-nepuk dada saya dan bersabda : ‘Segala puji bagi Allah yang telah menjadi- kan utusan Rasul-Nya sesuai dengan apa yang diridhoi olehnya’.

Inilah ijtihad dan pemahaman ulama dari kalangan sahabat. Mereka menggunakannya untuk memutuskan hukum dan menerapkannya ditengah-tengah masyarakat. Langkah mereka ini telah disetujui bahkan dipuji oleh Nabi kita Muhammad saw. Lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa madzhab-madzhab itu adalah ijtihad dan pemahaman-pemahaman yang Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mewajibkan siapapun untuk mengikutinya ?

Dengan demikian, maka hukum Islam itu tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh Syeikh Khajandi yang hanya berargumentasi dengan beberapa dalil yang sudah kami kemukakan itu. Hukum Islam itu meluas dan mencakup hal-hal yan berkenaan dengan sisi-sisi kehidupan, baik itu pribadi maupun sosial dalam berbagai situasi dan kondisi. Semua hukum-hukum itu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, baik secara langsung melalui dilalah ddhahirnya yakni kandungan hukumnya yang memang sudah jelas dan tidak memerlukan penafsiran lagi maupun melalui perantara penelitian, ijtihad dan istinbath. Mana saja diantara dua cara ini yang ditempuh oleh kaum muslimin untuk memahami hukum, maka itulah hukum Allah yang terbebankan pada dirinya dan dia haruslah tetap pada hukum tersebut. Itulah pula hukum yang harus diberikan kepada siapapun yang datang meminta fatwa kepadanya.

Kalau benar bahwa hukum Islam itu adalah sesederhana yang digambarkan oleh Syeikh Khajandi, maka apalah artinya Rasulallah saw. mengutus para sahabat pilihan ke berbagai kabilah dan negeri…?

2. Syeikh Khajandi berkata; bahwa dasar berpegang teguh kepada Islam adalah berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Keduanya inilah yang ma’shum (terjaga) dari kesalahan. Adapun mengikuti imam-imam madzhab, maka samalah artinya dengan kita telah merubah diri. Semula kita mengikuti yang ma’shum yakni Qur’an dan Sunnah kemudian pindah mengikuti yang tidak ma’shum yakni imam-imam madzhab itu. Syeikh Khajandi juga mengatakan bahwa kedatangan madzhab-madzhab yang empat itu hanyalah untuk menyaingi madzhab Rasulallah saw.

Jawaban:

Dr.Sa’id Ramdhan al-Buuthi menjawab atas ucapan-ucapan Syeikh ini sebagai berikut : “Ma’shumnya Al-Qur’an adalah apabila sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Allah melalui firman-Nya itu. Dan ma’shumnya sunnah atau hadits adalah apabila sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Nabi saw. melalui haditsnya itu. Adapun pemahaman manusia terhadap Al-Qur’an dan hadits itu sangatlah jauh dari sifat ma’shum, walaupun itu dari golongan mujtahid apalagi dari golongan orang awam. Kecuali nash-nash Al-qur’an dan hadits yang termasuk dalil-dalil qath’i (pasti) dan yang membahasnya adalah orang-orang arab yang mengerti kaidah-kaidah bahasa arab, maka kema’shuman pemahamannya itu lahir dari kegath’iyyan (kepastian) dalil tersebut.

Apabila sarana untuk mengambil hukum dari Al-Qur’an dan Hadits adalah pemahaman, sementara pemahaman terhadap keduanya adalah satu usaha yang tidak mungkin terlepas dari kesalahan selain yang sudah dikecualikan diatasmaka pemahaman mereka yang termasuk mujtahid pun tidak bisa dikatakan ma’shum, apa lagi pemahaman orang-orang awam. Lalu apa artinya seruan kepada orang awam untuk meninggalkan taqlid dengan alasan bahwa Al-Qur’an dan Hadits bersifat ma’shum..? Apakah jika pemahaman terhadap nash yang ma’shum diberikan kepada golongan awam, maka itu akan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya..? Padahal diketika hal itu diserahkan kepada yang mujtahid pun kema’shuman pemahaman tetap tidak akan pernah terjadi.

Syeikh Khajandi juga melalui ucapannya itu jelas memiliki persangkaan bahwa ijtihad yang dilakukan oleh para imam madzhab itu tidak berasal dari sumber Al-Qur’an dan Hadits sehingga dikatakan bahwa madzhab-madzhab tersebut berseberangan dengan madzhab Rasulallah saw., dan kemunculannya hanyalah untuk menyaingi madzhab Rasulallah tersebut. Sebuah persangkaan yang sangat keterlaluan…!

3. Syeikh Khajandi berkata; Tidak ada dalil yang menetapkan bahwa jika seseorang wafat dia akan ditanya didalam kuburnya tentang madzhab dan aliran !

Jawaban :

Mengomentari ucapan ini Dr.Sa’id Ramdhan al-Buuthi berkata: Ucapan ini menunjukkan adanya anggapan beliau bahwa kewajiban-kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada ummat manusia hanyalah perkara-perkara yang akan menjadi pertanyaan dua malaikat didalam kubur. Apa yang akan ditanyakan oleh kedua malaikat tersebut, maka itulah kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan dan apa yang tidak akan ditanyakan, maka itu bukan termasuk kewajiban yang disyari’atkan. Itulah konsekwensi dari ucapan Syeikh yang gegabah. Padahal dalam referensi akidah Islam, tidak ada penegasan bahwa malaikat akan bertanya didalam kubur nanti tentang hutang-piutang, jual-beli dan beberapa bentuk muamalah yang lain. Walau pun demikian masalah tersebut dan juga masalah-masalah lain yang tidak masuk dalam materi pertanyaan kedua malaikat tersebut, tetap menjadi permasalahan agama yang banyak dibahas oleh para ulama kita. Jadi walaupun masalah taqlid kepada salah satu madzhab diantara madzhab-madzhab yang empat tidak akan dipertanyakan oleh kedua malaikat didalam kubur nanti, bukanlah berarti dia harus disingkirkan dari pembahasan. Hal ini karena dalil-dalil tentang keharusan orang awam bertaqlid kepada seorang imam sangatlah valid dan logis sebagaimana nanti akan diuraikan secara lebih rinci.

Dengan demikian maka sebagaimana dikatakan oleh seluruh ulama dan kaum muslimin bahwa kewajiban duniawi yang digantungkan dileher kaum muslimin jauh lebih luas dibandingkan dengan apa yang akan ditanyakan oleh kedua malaikat didalam kubur mereka.

Kalau Syeikh Khajandi itu menghujat madzhab, maka mengapa yang menjadi sasarannya hanya madzhab yang empat…? Apa bedanya madzhab imam yang empat ini dengan madzhab Zaid bin Tsabit, Mu’az bin Jabal, Abdullah bin ‘Abbas dan yang lainnya dalam hal memahami beberapa hukum Islam ? Apa perbedaan madzhab yang empat ini dengan madzhab ahlu al-ra’yi di Irak dan madzhab ahlu al-hadits di Hijaz dan pelopor berdiri- nya dua madzhab ini adalah para sahabat nabi dan tabi’in yang terbaik ?

Bukankah mereka yang mengikuti imam madzhab yang empat dan madzhab-madzhab yang tersebut diatas adalah juga termasuk para mukallid…? Apakah Syeikh Khajandi itu akan mengatakan bahwa jumlah madzhab itu puluhan, bukan hanya empat dan semuanya bertentangan dan menyaingi madzhab Rasulallah saw….? Ataukah Syeikh ini akan berkata bahwa madzhab-madzhab yang keluar dari agama dan memecah-belah madzhab Rasulallah hanyalah madzhab yang empat itu, sedangkan madzhab-madzhab yang sebelum mereka, semuanya adalah benar dan dapat berdampingan bersama madzhab Rasulallah saw…..?

Kita tidak tahu mana diantara dua pertanyaan terakhir ini yang dipilih oleh Syeikh Khajandi. Namun yang jelas dari kedua-dua pernyataan terakhir diatas ini, yang paling manisnya adalah satu kepahitan dan yang paling utamanya adalah satu kedustaan. (Ahlaahuma murrun wa afdhaluhuma kazibun waftiro’un).

Dalil kewajiban bertaqlid ketika tidak mampu berijtihad

a. Firman Allah swt. dalam surat Al-Anbiya’ : 7  yang artinya :

“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui”.

Para ulama telah sepakat bahwa ayat ini memerintahkan kepada orang-orang yang tidak mengetahui hukum dan dalilnya agar mengikuti orang-orang yang mengetahui hal tersebut. Para ulama ushul fiqih menjadikan ayat ini sebagai dasar utama bahwa orang yang tidak mengerti (awam) haruslah bertaqlid kepada orang yang alim yang mujtahid. Senada dengan ayat diatas adalah firman Allah swt. dalam surat At-Taubah : 122  yang artinya :

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu untuk pergi semuanya (kemedan perang). Mengapakah tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga diri”.

Dalam kitab Tafsiirul Jaarmi’ Li Ahkaamil Qur’an jilid 8/293-294 diterangkan bahwa  Allah swt. melarang manusia pergi berperang dan berjihad secara keseluruhan tetapi memerintahkan kepada sebagian mereka meluangkan waktunya untuk memperlajari ilmu-ilmu agama sehingga ketika saudara-saudara mereka yang berperang itu telah kembali, maka mereka akan menemukan orang-orang yang dapat memberi fatwa kepada mereka tentang perkara halal dan haram dan dapat pula memberikan penjelasan kepada mereka tentang hukum-hukum Allah swt.

b. Ijma’ ulama bahwa para sahabat Nabi saw. sendiri berbeda-beda dalam tingkat keilmuan dan tidak semuanya mampu untuk memberikan fatwa. Ibnu Khaldun berkata : ‘Ilmu-ilmu agama tidaklah diambil dari mereka (para sahabat) semua”. Memang, para sahabat itu terbagi dua : Ada yang termasuk mufti (yang mampu melakukan ijtihad) dan mereka ini termasuk golongan minoritas dibandingkan seluruh sahabat. Ada juga diantara para sahabat yang termasuk golongan mustafti yakni peminta fatwa yang bertaqlid dan mereka ini termasuk golongan mayoritas dari para sahabat. Dan tidak ada bukti sama sekali bahwa para sahabat yang menjadi mufti ketika menyebutkan hukum satu perkara kepada mustafti pasti menjelas- kan dalil-dalil hukum itu.

Rasulallah saw. pernah mengutus para sahabat yang ahli dalam ilmu agama kesatu daerah yang penduduknya tidak mengetahui Islam kecuali perkara yang bersifat akidah beserta rukun-rukunnya. Maka para penduduk didaerah itu mengikuti setiap fatwa yang dikeluarkan oleh sahabat tersebut, baik itu yang berkaitan dengan amal ibadah, mu’amalah maupun perkara-perkara halal dan haram. Terkadang, para sahabat itu menghadapi satu permasalah- an yang tidak ditemukan dalilnya, baik dari Al-Qur’an maupun hadits, maka terhadap perkara itu mereka melakukan ijtihad kemudian memberi fatwa berdasarkan hasil ijtihadnya dan penduduk didaerah itupun mengikuti ijtihad tersebut.

c. Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Mushtashfa jilid 11/385 pada bab Taqlid dan Istifta’ bahwa orang awam itu tidak memiliki jalan lain kecuali bertaqlid, berkata sebagai berikut : Kami berdalil terhadap yang demikian itu dengan dua dalil. Salah satunya adalah ijma’ sahabat dimana mereka selalu memberikan fatwa kepada orang-orang awam dan tidak memerintahkan mereka untuk mencapai derajad ijtihad. Ijma’ tersebut telah diketahui secara mutawatir baik dari ulama mereka maupun kalangan rakyat biasa”.

d. Al-Amidi dalam kitabnya Al-Ihkam jilid 3/171 berkata : Ijma’ dimaksud   adalah keadaan orang-orang awam dimasa sahabat dan tabi’in sebelum munculnya orang-orang yang menyimpang yang selalu meminta fatwa kepada para sahabat yang termasuk mujtahid dan mengikuti fatwa kepada para sahabat hal hukum-hukum agama. Para ulama dikalangan sahabat selalu menjawab pertanyaan mereka dengan segera tanpa menyebutkan dalil. Tidak ada yang mengingkari kebiasaan orang-orang awam tersebut. Maka terjadilah ijma’ dalam hal bolehnya orang awam mengikuti orang yang mujtahid secara mutlak. Dizaman sahabat, mereka yang tampil memberikan fatwa hanyalah sebagian kecil yang memang telah dikenal keahliannya dalam bidang fiqh, riwayat dan istinbath. Yang paling terkenal diantara mereka adalah; Khulafa’ur Rasyidin yang empat, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa al-‘Asy’ari, Mu’az bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Sedangkan para sahabat nabi yang bertaqlid kepada madzhab dan fatwa mereka ini jauh lebih banyak.

e. Pada zaman tabi’in, daerah ijtihad bertambah luas dan kaum muslimin pada zaman itu menggunakan cara yang sama seperti cara yang dipakai oleh para sahabat Rasulallah saw. Hanya saja ijtihad dimasa tabi’in dapat digolongkan kepada dua madzhab utama yaitu Madzhab Ahlu al-Ra’yi di Irak dan madzhab Ahlu al-Hadits.

Diantara tokoh-tokoh madzhab Ahlu al-Ra’yi di Irak ialah Alqamah bin Qais an-Nakha’I; Sa’id bin Jubair; Masruq bin Al-Ajda’ al-Hamdani dan Ibrahim bin Zaid an-Nakha’i. Orang-orang awam Irak dan sekitarnya selalu bertaqlid kepada madzhab ini tanpa ada yang mengingkari. Adapun tokoh-tokoh madzhab Ahlu al-Hadits di Hijaz adalah; Sa’id bin al-Musayyab al-Makhzumi; ‘Urwah bin Zubair; Salim bin Abdullah bin Umar; Sulaiman bin Yasar dan Nafi’ Maula Abdullah bin Umar. Penduduk Hijaz dan sekitarnya senantiasa bertaqlid kepada madzhab ini tanpa ada seorangpun yang mengingkari.

Antara tokoh-tokoh kedua madzhab diatas ini sering juga terjadi diskusi dan perdebatan, akan tetapi orang-orang awam dan kalangan pelajar tidaklah ikut campur dalam hal tersebut karena urusan mereka hanyalah bertaqlid kepada siapa saja diantara mereka yang dikehendaki dengan tanpa ada seorangpun yang melakukan pengingkaran terhadap mereka. Begitu juga perdebatan yang terjadi diantara para mujtahidin tidaklah menjadi beban dari tanggung jawab orang-orang awam atau kalangan pelajar.

f. Syekh Abdullah Darras berkata : “Dalil logika untuk masalah ini  adalah bahwa orang yang tidak punya kemampuan dalam berijtihad apabila terjadi padanya satu masalah fiqih, maka ada dua kemungkinan caranya bersikap :

Pertama, dia tidak melakukan ibadah sama sekali. Dan ini tentu menyalahi ijma’. Kedua, dia melakukan ibadah. Dan ibadah yang dilakukannya itu adakalanya dengan meneliti dalil yang menetapkan hukum atau dengan jalan taqlid. Untuk yang pertama (meneliti dalil hukum) jelas tidak mungkin karena dengan melakukan penelitian itu berarti ia harus meneliti dalil-dalil semua masalah sehingga harus meninggalkan kegiatan sehari-hari (karena banyaknya dalil yang harus diteliti) yakni meninggalkan semua pekerjaan yang mesti dia lakukan dan itu jelas akan menimbulkan kesulitan bagi dirinya. Oleh karena itu tidak ada kemungkinan lain kecuali taqlid. Dan itulah yang menjadi kewajibannya apabila bertemu dengan masalah yang memerlu kan pemecahan hukum”.

Para ulama memperhatikan kesempurnaan dalil-dalil baik itu dari Al-Qur’an, hadits maupun dalil aqli (logika) dimana orang-orang awam dan juga orang-orang pandai yang belum sampai kepada derajat Istinbath dan ijtihad tidak ada jalan lain bagi mereka ini kecuali bertaqlid kepada seorang mujtahid yang mampu memahami dalil, maka berkatalah ulama: “Sesungguhnya fatwa seorang mujtahid untuk orang-orang awam adalah seperti halnya dalil-dalil Al-Qur/an dan Sunnah untuk orang mujtahid, karena Al-Qur’an sebagaimana dia mengharuskan seorang yang mujtahid untuk berpegang teguh dengan dalil-dalil dan bukti yang terdapat didalamnya, begitu juga Al-Qur’an itu mengharuskan orang-orang yang awam untuk berpegang teguh dengan fatwa seorang yang mujtahid “.

Dalam hal ini As-Syatibi berkata:

“Fatwa-fatwa para mujtahid bagi orang-orang awam adalah seperti dalil-dalil syar’i bagi para mujtahid. Alasannya adalah karena bagi orang-orang awam yang taqlid, ada atau tidaknya dalil adalah sama saja karena mereka tidak mampu mengambil pengertian darinya. Maka masalah meneliti dalil dan melakukan istinbath bukanlah urusan mereka dan mereka memang tidak diperkenankan melakukan yang demikian itu. Dalam Al-Qur’an Allah swt. berfirman : ‘Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui’ (Al-Anbiya’:7). Orang yang taqlid bukanlah orang yang alim. Oleh karenanya, tidaklah sah baginya kecuali bertanya kepada ahli ilmu. Dan kepada mereka- lah kembalinya urusan orang-orang awam dalam masalah hukum secara mutlak. Dengan demikian, maka kedudukan ahli ilmu begitu pula ucapan-ucapannya bagi orang-orang awam adalah seperti kedudukan syara’ “.

Syekh Khajandi dalam upayanya untuk membenarkan pendapat tentang haramnya bertaqlid kepada salah seorang dari imam-imam madzhab yang empat telah menjadikan ucapan Imam ad-Dahlawi, Izuddin bin Abdussalam dan ibnul Qayyim al-Jauziyyah sebagai dalil yang betul-betul telah mem- perkuat pendapatnya dan beliaupun tanpa ragu-ragu menyebar luaskan ucapan-ucapan yang dianggapnya sebagai ucapan dari ketiga imam itu. Padahal menurut penelitian Syeikh Dr. Sa’id Ramdhan al-Buuthi ucapan-ucapan yang disangkanya dari ketiga imam itu tidaklah demikian adanya.

Berikut ini kami sampaikan kutipan-kutipan Syeikh Khajandi yang beranggapan bersumber dari ketiga imam tersebut diatas dan sanggahan/ jawaban Syeikh Sa’id Ramdhan al-Buuti terhadap ucapan Syeikh Khajandi.

1). Syeikh Khajandi mengatakan bahwa beliau telah mengutip ucapan Imam ad-Dahlawi dalam kitabnya Al-Inshaaf yang menyebutkan sebagai berikut:

(Faman akhodza bijamii’i agwaali abii Haniifah au jamii’i aqwaali Maaliki au jamii’I aqwaali Syaafi’i au jamii’i aqwaali Ahmad au ghoirihim wa lam ya’tamid ‘alaa maa jaa a fil kitaabi was sunnati faqod khoolafa ijmaa’il ummati kullihaa wa ttaba’a ghoiro sabiilil mu’minin. )

Artinya : “Barangsiapa mengambil semua ucapan Abu Hanifah atau semua ucapan Imam Malik atau semua ucapan Imam Syafi’i atau semua ucapan Imam Ahmad atau yang selain mereka dan dia tidak berpegang kepada penjelasaan Al-Qur’an dan Sunnah, maka sesungguhnya dia telah menyalahi ijma’ seluruh ummat dan telah mengikuti jalan yang tidak ditempuh oleh orang-orang mukimin “.

Demikianlah kutipan Syeikh Khajandi yang menurutnya bersumber kepada Imam ad-Dahlawi.

Jawaban :

Terhadap kutipan tersebut,  Dr. Sa’id Ramdhan mengatakan sebagai berikut: Ucapan tersebut tidak ada dalam kitab Al-Inshaaf maupun kitab-kitab lain karangan Imam ad-Dahlawi. Bahkan apa yang dikatakan oleh Imam ad-Dahlawi justru berlawanan dengan apa yang dikatakan Syeikh Khajandi. Dalam kitabnya Al-Inshaaf dan Hujjatulloohil Baalighah 1/132 Imam ad-Dahlawi berkata :

( I’lam an haadzihil madzhaahibal arba’atal mudawwanatal muharrorota godij Tama’atil ummatu au man yu’taddu bihi minhaa ‘alaa jawaazi taqliidihaa ilaa yauminaa haadzaa wa fii dzaalika minal mashoolihi maalaa yakhfaa laa siyyamaa fii haadzihil ayyaami allatii goshurat fiihaa lhimamu jiddan wa usyribati n nufuusu lhawaa wa a’jaba kullu dzii ro’yin biro’yihi. )

Artinya :  Ketahuilah ! Sesungguhnya ummat Islam atau ulama-ulama Islam yang ucapan-ucapannya dijadikan panutan telah sepakat tentang bolehnya bertaqlid kepada empat madzhab yang telah dibukukan secara otentik hingga pada masa kita sekarang ini. Dan dalam hal mengikuti empat madzhab tersebut terdapat maslahat yang jelas terlebih lagi dimasa kita sekarang ini dimana semangat (mendalami ilmu agama) sudah jauh berkurang, jiwa sudah dicampuri hawa nafsu dan masing-masing orang selalu membanggakan pendapatnya sendiri “

Inilah yang sebenarnya dikatakan oleh Imam ad-Dahlawi yang membolehkan orang-orang yang tidak mampu berijtihad untuk mengikuti salah satu dari keempat madzhab tersebut. Karenanya Syeikh Sa’id Ramdhan menantang Syeikh Khajandi untuk menjunjukkan satu baris saja dalam kitab ad-Dahlawi tentang kutipan yang telah ia (Khajandi) buat-buat/karang-karang itu.

2) Syeikh Khajandi mengatakan bahwa Izuddin bin Abdussalam meng- haramkan orang berpegang pada madzhab tertentu dan mewajibkan semua orang mengambil hukum langsung dari Al-Qur’an dan Hadits atau berpindah-pindah dari satu imam keimam yang lain tanpa menetapi salah seorang imam madzhab secara terus menerus.

Jawaban:

Terhadap ucapan Syekh Khajandi ini Dr.Sa’id Ramdhan mengatakan bahwa ucapan Khajandi ini berlawanan dengan faktanya. Hal ini karena beliau (Izuddin bin Abdussalam) justru menjadi pengikut dari salah satu imam madzhab yang empat, yaitu pengikut madzhab Syafi’i. Berikut ini penjelasan beliau dalam kitabnya Qowaa’idul Ahkam 11/135 :

( “Wayutstatsnaa min dzaalikal ‘aammatu fainna wadhiifatahum attaqliid li’ajzihim ‘anit tawassulli ilaa ma’rifatil ahkaam bil ijtihaadi bikhilaafil mujtahidi fainnahu goodirum ‘alaan nadhril muaddii ilal hukmi. Wa man gollada imaaman minal aimmati tsumma arooda ghoirohu fahal lahu dzaalika..? fiihi khilaafun, wal mukhtaarut tafshiilu fain kaanal madzhabul ladzii aroodal intigoola ilaihi mimma yangudhu fiihil hukma falaisa lahul intigoolu ilaa hukmi yuujibu nagdhohu, fainnahu lam yajibu nagdhohu illaa libuthlaanihi, fain kaanal akhdzaani mutaqooribaini jaazat taqliidu wal intigoolu liannan naasa lam yazaaluu min zamanis shohaabati ilaa an dhoharotil madzaahibul arba’atu yugolliduuna minit tafaqa minal ‘ulamaai min ghoiri nakiiri ahadin yu’tabaru inkaaruhu walau kaana dzaalika baathilan ankaruuhu”. )

Artinya : “Orang-orang awam dikecualikan dari orang yang mampu berijtihad. Maka tugas mereka adalah taqlid karena mereka tidak mampu mengetahui hukum dengan jalan ijtihad. Berbeda dengan seorang mujtahid yang memang memiliki kemampuan analisis untuk melahirkan satu hukum. Orang yang taqlid kepada seorang imam (dalam satu madzhab) kemudian dia ingin taqlid kepada imam yang lain, apa boleh yang demikian ? Dalam hal ini terdapat khilaf (perbedaan). Dan yang terpilih adalah melakukan pemilahan (tafshil) yakni :

a). Jika madzhab tempat dia hendak pindah itu termasuk madzhab yang menolak hukum dalam masalah tersebut, maka tidaklah boleh pindah kepada hukum yang menolak tersebut karena penolakan itu pastilah disebabkan kebatalannya.

b) Jika dua madzhab itu berdekatan ( keputusan hukumnya dalam masalah itu), maka boleh taqlid dan boleh pula berpindah-pindah. Hal ini karena sejak zaman sahabat hingga munculnya empat imam madzhab, kaum muslimin senantiasa bertaqlid kepada setiap ulama yang mereka temui. Dan sikap mereka yang seperti itu tidak pernah diingkari oleh seseorang yang patut dijadikan panutan. Andai yang demikian itu batal (tidak boleh) niscaya mereka akan mengingkarinya”.

Demikianlah yang sebenarnya dikatakan oleh Izuddin bin Abdussalam yakni mewajibkan orang-orang awam untuk bertaqlid. Bukan seperti Syeikh Khajandi yang mewajibkan semua orang untuk mengikuti yang ma’shum dan meninggalkan yang tidak ma’shum. Dengan kata lain dia mewajibkan semua orang untuk mengeluarkan sendiri hukum-hukum agama, baik itu dari Al-Qur’an maupun Hadits.

Imam Izuddin menetapkan bahwa pada prinsipnya orang yang taqlid harus menetapi seorang imam tertentu. Tetapi mengenai berpindah kepada imam madzhab selain madzhabnya dalam masalah hukum, hal ini masih diper- selisihkan hukumnya oleh para ulama. Namun demikian beliau ini condong kepada pendapat yang membolehkan (bukan mewajibkan) dengan syarat-syarat tertentu. Sedangkan Syeikh Khajandi mewajibkan seseorang untuk berpindah-pindah madzhab. Syeikh Khajandi menyebarkan pandangannya ini dengan menyampaikan dalil kata-kata Izuddin bin Abdussalam, padahal pendirian Izuddin bin Abdussalam adalah kebalikan dari pandangan Khajandi

3) Syeikh Khajandi juga mengatakan bahwa Ibnul Qoyyim memiliki pendapat yang sama dengan Izuddin bin Abdussalam yakni mengharamkan orang berpegang pada madzhab tertentu dan mewajibkan semua orang mengambil hukum langsung dari Al-Qur’an dan Hadits atau berpindah-pindah dari satu imam ke imam yang lain tanpa menetapi salah seorang imam madzhab secara terus menerus.

Jawaban:

Syeikh Sa’id Ramdhan telah membantahnya karena sangatlah tidak mungkin Ibnul Qoyyim akan berpendapat seperti yang tersebut diatas. Karena beliau (Ibnul Qoyyim) sendiri adalah pengikut salah satu dari imam madzhab yang empat yakni madzhab Hanbali. Berikut ini adalah pernyataan dalam kitabnya I’laamul Muwaqqi’in jilid 111/168 :

( “ dzikru tafshiilil qouli fii ttaqliidi wangisaamuhu ilaa maa yahrumul qoulu fiihi wal iftaau bihii wa ilaa maa yajibul mashiiru ilaihi wa alaa maa yusawwighu min ghoiri iijaabin. Fa amman nau’ul awwalu fahua tsalaatsatu anwaa’in ahaduhumaa al i’roodhu ‘ammaa anzalallahu wa ‘adamul iltifaati ilaihi iktifaaan bitaqliidil aabaai, At tsaani taqliidu man laa ya’lamul mugollidu annahu ahlun la an yuukhodza bigoulihi, Attsaalitsu attaqliidu ba’da giyaamil hujjah wa dhuhuurid daliil ‘alaa khilaafi goulil mugolladi “ Tsumma athoola ibnul Qoyyim fii sardi wa syarhi adhroori wa masaawi i ttaqliidil muharromi alladzii hashorohu fii hadzihil anwaa’i tstsalaatsati. )

Artinya : ( “Rincian pendapat tentang taqlid dan pembagiannya kepada ijtihad yang haram, wajib dan mubah. Jenis pertama yakni taqlid yang haram terdiri dari tiga macam: a). Berpaling dari hukum yang telah diturunkan oleh Allah dan tidak mau memperhatikannya karena telah merasa cukup dengan taqlid kepada nenek moyang. b). Taqlid kepada orang yang tidak diketahui apakah dia itu orang yang pantes diambil pendapatnya atau tidak. c). Taqlid sesudah tegaknya hujjah dan telah jelas dalil-dalil yang menyalahi pendapat orang yang ditaqlid”. Kemudian Ibnul Qoyyim dengan panjang lebar menjelaskan tentang bahaya dan keburukan dari taqlid yang diharamkan yang telah disimpulkan pada tiga macam tersebut ).

Dengan demikian, maka pembicaraan Ibnul Qoyyim yang panjang lebar tentang pengingkaran dan ketidak-setujuannya terhadap taqlid hanyalah berkisar pada tiga macam taqlid yang merupakan bagian dari bentuk taqlid yang pertama yakni taqlid yang diharamkan. Bahkan pada bagian yang lain Ibnul Qoyyim mengatakan sebagai berikut :

“Apabila dikatakan bahwa Allah swt. hanya mencela orang-orang kafir yang taqlid kepada nenek moyang mereka yang tidak mempunyai akal dan tidak pula mendapat petunjuk dan allah tidak mencela orang-orang yang taqlid kepada para ulama yang mendapat petunjuk bahkan Allah memerintahkan mereka untuk bertanya kepada ahlu al-dzikir (An-Nahl : 43) yakni para ulama (dan itu berarti taqlid kepada mereka).

Ayat An-Nahl : 43 ini merupakan perintah kepada orang yang tidak mengetahui agar taqlid kepada orang yang mengetahui yakni para ulama. Jawaban terhadap pernyataan diatas adalah bahwa yang dicela oleh Allah swt.itu adalah berpaling dari apa yang telah diturunkan oleh Allah swt. dan lebih memilih taqlid kepada nenek moyang mereka. Taqlid seperti ini adalah taqlid yang dibenci dan diharamkan berdasarkan kesepakatan ulama salaf dan imam madzhab yang empat. Adapun taqlidnya orang yang telah mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mengikuti apa-apa yang telah diturunkan oleh Allah namun sebagiannya belum bisa dia mengerti dengan jelas lalu dia taqlid kepada orang yang lebih alim darinya, maka taqlid yang seperti ini adalah terpuji, bukan tercela dan akan mendapat pahala, bukan mendapat dosa “.

Pembelaan Nashiruddin al-Albani pada Syeikh Khajandi

Pendapat Syekh Khajandi tersebut diatas mengenai pengharamannya untuk taqlid pada satu imam tertentu dan sebagainya yang tersebut diatas ini dibenarkan oleh Nashiruddin al-Albani (baca keterangan mengenai al-Albani pada halaman sebelumnya) dan dibela mati-matian, suatu hal yang meng- herankan sekali. Pembelaan Syeikh Al-Albani tidak lain karena Syeikh Khajandi ini sepaham dan satu kelompok golongan dengannya dan al-Albani sengaja mentakwil kata-kata Khajandi yang salah ini agar tidak terus menerus menjadi sorotan ummat muslimin.

I. Al-Albani mengatakan : “Sanggahan dan alasan yang dikemukakan Dr. Sa’id Ramdhan terhadap pendapat Syekh Khajandi itu tidak benar. Dia (Albani) pembela Syeikh Khajandi ini mengatakan juga bahwa para sahabat dan ulama selama tiga abad tidak pernah menetapi satu madzhab tertentu”

Jawaban :

Dr. Sa’id Ramdhan membuktikan bahwa alasan yang dikemukakannya itu adalah benar. Syeikh Sa’id ini mengutip ucapan Ibnul Qoyyim dalam kitabnya I’laamul Muwaqqi’in jilid 1/21 :

( “ Waddiinu wal fighu wal ‘ilmu intasyaro fil Ummati  ‘an ashhaabi bni Mas’ud wa ashhaabi Zaidi bni tsaabit wa ashhaabi ‘abdillah bni ‘Abbas. Fa’ilmun Naasi ‘ammatan ‘an ashhaabi haaulaail arba’ati. Fa ammaa ahlul madiinati fa’ilmuhum ‘an ashhaabi Zaidi bni Tsaabit wa ‘Abdillahi bni ‘Umar. Wa ammaa ahlu makkata fa’ilmuhum ‘an ashhaabi ‘Abdillahi bni ‘Abbas ra. Wa ammaa ahlul ‘iraaqi fa’ilmuhum ‘an ashhaabi ‘Abdillahi bni Mas’uud “ ).

Artinya : Agama, figh dan ilmu tersebar ketengah-tengah ummat ini melalui para pengikut Ibnu Mas’uud, Zaid bin Tsabit, ‘Abdullah bin Umar dan ‘Abdullah bin ‘Abbas. Secara umum ummat Islam ini memperoleh ilmu agama dari mereka yang empat ini. Penduduk Madinah memperoleh ilmu dari para pengikut Zaid bin Tsabit dan ‘Abdullah bin Umar. Penduduk Mekkah memperoleh ilmu dari para pengikut Abdullah bin Abbas dan penduduk Iraq memperoleh ilmu dari para pengikut ‘Abdullah bin Mas’ud “.

Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim. Bahkan dalam sejarah perkembangan syari’at Islam telah pula diketahui bahwa ‘Atho’ bin Abi Robah dan Mujahid pernah menjadi mufti di Mekkah dalam waktu yang cukup lama. Dan penduduk Mekkah saat itu hanya mau menerima fatwa dari kedua Imam ini sampai-sampai khalifah yang memerintah saat itu sempat menyerukan agar orang-orang tidak mengambil fatwa kecuali dari dua Imam tersebut. Dan para ulama dari golongan tabi’in tidak ada yang mengingkari seruan khalifah itu. Begitu pula tidak ada yang menyalahkan sikap kaum muslimin saat itu yang hanya menetapi madzhab kedua imam tersebut.

II. Syekh al-Albani membela beberapa pendapat Syeikh Khajandi yang aneh dan telah menyimpang jauh dari kebenaran. Dia memberi takwil (perubahan arti) beberapa pendapat Syekh Khajandi berikut ini :

a. Kata-kata Syekh Khajandi; “Adapun madzhab-madzhab itu dia hanyalah pendapat para ulama, dan cara mereka memahami sebagian masalah serta bentuk dari ijtihad mereka. Dan pendapat serta ijtihad-ijtihad seperti ini, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mewajibkan seseorang untuk mengikutinya”.

Menurut al-Albani yang dimaksud ‘seseorang’ diatas adalah orang-orang yang memiliki keahlian untuk berijtihad, bukan semua orang.

b. Kata-kata Syekh Khajandi; “Menghasilkan ijtihad tidaklah sulit, cukup dengan memiliki kitab Muwattho’, Bukhori Muslim, Sunan Abi Daud, Jaami’ at-Turmudzi dan Nasa’i. Kitab-kitab ini tersebar luas dan mudah diperoleh. Anda haruslah mengetahui kitab-kitab ini “.

Menurut al-Albani ucapan Syeikh Khajandi ini juga khusus untuk orang-orang yang telah mencapai derajad mujtahid dan mampu mengistinbath hukum dari nash. Jadi bukan ditujukan kepada semua orang.

c. Kata-kata Syeikh Khajandi; “Jika telah didapatkan nash dari Al-Qur’an, Hadits dan ucapan para sahabat, maka wajiblah mengambilnya, tidak boleh berpindah kepada fatwa para ulama”.

Menurut al-Albani ucapan Syekh Khajandi ini khusus untuk orang yang telah mendalami ilmu syari’at dan memiliki kemampuan untuk menganalisa dalil dan madlulnya.

Jawaban :

Pembelaan al-Albani kepada Syeikh Khajandi selalu diberikan takwil agar tetap dikesankan berada diatas kebenaran. Sedikitpun Nashiruddin al-Albani tidak mau menyalahkan Syeikh Khajandi. Bahkan ketika Dr. Sa’id Ramdhan berkata kepada al-Albani dalam satu pertemuan singkat dengannyabahwasanya seorang ulama tidak akan menggunakan satu pernyataan yang sifatnya umum, lalu dia menghendaki maksud lain yang tidak sejalan dengan dzhohir pernyataannya itu. Nashiruddin al-Albani menjawab bahwa Syeikh Khajandi itu adalah lelaki keturunan Bukhara yang menggunakan bahasa non arab. Karenanya dia tidak memiliki kemampuan mengungkapkan sesuatu sebagaimana layaknya orang-orang arab. Dia sekarang sudah wafat. Dan karena dia seorang muslimmaka haruslah kita membawa ucapan-ucapannya itu kepada sesuatu yang lebih tepat dan pantes dan kita haruslah selalu ber-husnuz dhon (bersangka baik) kepadanya.

Seperti inilah Syeik al-Albani berdalih Husnuz dhon kepada seorang muslim dia selalu menakwil ucapan-ucapan Khajandi walaupun sudah jelas dan nyata menyimpang dari kebenaran. Tidak lain karena Syeikh Khajandi adalah orang yang sepaham dan satu kelompok dengan al-Albani. Kalau yang punya pendapat itu bukan dari kelompoknya, maka tentulahseperti sifat kebiasaan al-Albaniakan dibantahnya, dicela dan didamprat  habis-habisan !!.

Menurut Syekh Sa’id Ramdhan , andai saja al-Albani itu mau menakwil ucapan-ucapan para tokoh Sufi seperti Syeikh Muhyiddin bin Arobi seper empat saja dari takwilan yang diberikan kepada Syeikh Khajandi maka tidaklah dia akan sampai mengkafirkan dan menfasikkan mereka (para sufi)!

Syeikh Khajandi yang mengatakan bahwa Jika telah didapatkan nash…… sampai fatwa para ulama (baca keterangan pada II c diatas) walaupun sudah dibela sama al-Albani namun Dr. Sa’id tetap membantahnya.

Dr. Sa’id Ramdhan berkata: Coba saja berikan kitab Bukhori Muslim kepada semua kaum muslimin lalu suruh mereka memahami hukum-hukum agama dari nash-nash yang terdapat dalam kitab tersebut. Kemudian lihatlah kebodohan, kebingungan dan kekacauan yang akan terjadi ! Selanjutnya Syeikh Sa’id ini mengatakan bahwa Ibnul Qoyyim dalam kitabnya ‘I’laamul Muwaqqi’in 4/234 telah mengatakan sesuatu yang benar-benar berbeda dengan apa yang diucapkan oleh Syeikh Khajandi yang telah didukung oleh al-Albani itu. Ibnul Qoyyim berkata :

( “Alfaaidatu tsaaminah wal arba’uun]  idzaa kaana ‘indar rojuli ashshohiihaani au ahaduhumaa au kitaabun min sunani Rasuulillahi saw. muutsagun bimaa fiihi fahal lahu an yuftiya bimaa yajiduhu fiihi ?…wash showaabu fii haadzihil mas alatit tafshiilu fain kaanat dalaalatul hadiitsi dhoohiratan bayyinatan likulli man sami’ahu laa yahtamilu ghoirol muroodi falahu an ya’mala bihi wa yuftiya bihi wa laa yathlubut tazkiyata lahuu min gouli fagiihi au imaamin balil hujjatu goulu Rasuulillahi saw. Wa in kaanat dalaalatuhu khofiyyatan laa yatabayyanul muroodu minhaa lam yajuz lahu an ya’mala wa laa yuftiya bimaa yatauwah-hamuhu muroodan hattaa yas-alu wa yathluba bayaanal hadiitsi wa wajhahu…”).

Artinya : “(Faidah ke 48) : Apabila seseorang memiliki dua kitab shohih (Bukhori & Muslim) atau salah satunya atau satu kitab dari sunnah-sunnah Rasulalillah saw., yang terpercaya, bolehkan ia berfatwa dengan apa yang dia dapatkan dalam kitab-kitab tersebut ? Jawaban yang benar dalam masalah ini adalah melakukan perincian (tafshil). Bila makna yang dikandung oleh hadits itu sudah cukup jelas dan gamblang bagi setiap orang yang mendengarnya dan tidak mungkin lagi diartikan lain, maka dia boleh mengamalkannya serta berfatwa dengannya tanpa harus meminta rekomen- dasi lagi kepada ahli figih atau seorang imam. Bahkan hujjah yang harus diambil adalah sabda Rasulalillah saw. Akan tetapi bila kandungan hadits tersebut masih samar dan kurang jelas maksudnya (bagi setiap orang ), maka dia tidaklah boleh mengamalkannya dan tidak boleh pula berfatwa dengannya atas dasar perkiraan pikirannya sehingga ia bertanya terlebih dahulu dan meminta penjelasan tentang hadits itu “.

Selanjutnya Ibnul Qoyyim berkata :

( “ Wa hadzaa kulluhu idzaa tsammata nau’u ahliyyatin walakinnahuu gooshirun fii ma’rifatil furuu’I wa gowaa’idil ushuuliyyiina wal ‘arabiyyati. Wa idzaa lam takun tsammata ahliyyatun gotthu fafardhuhu maa goolahullahu ta’aalaa: Fas-aluu ahla ddzikri in kuntum laa ta’lamuun [An-Nahl :43] “).

Artinya : “Semua yang dibicarakan diatas hanyalah apabila orang itu memiliki sedikit keahlian namun pengetahuannya dalam ilmu figih, kaidah-kaidah ushul fiqih dan ilmu bahasa belum mencukupi. Akan tetapi apabila seseorang tidak memiliki kemampuan apa-apa, maka ia wajib bertanya, sebagaimana firman Allah swt. : ‘Maka bertanyalah kamu kepada orang-orang yang mempunyai ilmu jika memang kamu tidak mengetahui’  (An-Nahl :43) “.

III. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya Syeikh Khajandi mengatakan telah mengutip ucapan Imam ad-Dahlawi dalam kitabnya Al-Inshaaf: Barang siapa mengambil semua ucapan Abu Hanifah….dan seterusnya (baca keterangan sebelumnya) dan Dr. Sa’id Ramdhan telah membuktikan bahwa ucapan yang dikatakan Khajandi dari Imam  ad-Dahlawi itu adalah tidak benar. Tujuan Syeikh Sa’id Ramdhan membongkar ketidak benaran ucapan yang diatas namakan ad-Dahlawi ini adalah agar mereka (para pembela Syeikh Khajandi) merenungkan masalah ini dan memeriksa kembali apa yang telah beliau buktikan ini. Dan seharusnya mereka (pembela-pembela Syeikh Khajandi) berterima kasih dan menerima adanya kebenaran yang dibuktikan oleh Dr. Sa’id Ramdhan dan kesalahan yang dilakukan oleh mereka.

Namun yang terjadi justru sebaliknya sebagaimana kebiasaan golongan ini  [Syeikh Khajandi dan kawan-kawannya] mereka tidak senang dengan pelurusan-pelurusan yang Syeikh Sa’id Ramdhan lakukan yakni menyingkap kebohongan yang mereka atas namakan kepada Imam ad-Dahlawi. Mereka (kelompok Syeikh Khajandi) bersusah-payah membuka lembar demi lembar kitab Ad-Dahlawi yang kira-kira cocok atau mendekati kebenaran dengan kutipan Syeikh Khajandi itu. Pada akhirnya mereka ini berkata :

“Kami telah memeriksa risalah al-Inshaaf karangan Imam ad-Dahlawi rahima hullah dan ternyata didalamnya terdapat sebagian ucapan yang disebut Syeikh Khajandi. Bunyi ucapan itu adalah : ‘Ketahuilah bahwa kaum muslimin di abad pertama dan kedua hijriah tidak menyepakati taqlid kepada satu madzhab tertentu. Abu Thalib al-Makki dalam kitanya Quutul Qulub mengatakan bahwa kitab-kitab dan kumpulan-kumpulan tulisan tentang Islam merupakan hal yang baru. Dan pendapat yang berdasarkan ucapan orang banyak dan fatwa yang berdasarkan satu madzhab kemudian mengambil ucapan itu dan dan menyampaikannya menurut madzhab tersebut, baik dalam urusan apa saja ataupun urusan figih, semua itu tidak pernah terjadi pada dua abad yang pertama dan kedua. Melainkan manusia diketika itu hanya dua kelompok yaitu ulama dan orang-orang awam. Berdasarkan informasi, orang-orang awam itu dalam masalah-masalah yang sudah disepakati yang tidak ada lagi perbedaan diantara kaum muslimin dan mayoritas mujtahidintidaklah mereka itu taqlid kecuali kepada pemegang syari’at yakni Nabi Muhammad saw.. Jika mereka menemui satu masalah yang jarang terjadi, maka mereka meminta fatwa kepada mufti yang ada tanpa menentukan apa madzhabnya “.

Namun demikian apabila kita perhatikan dengan seksama maka ucapan Imam ad-Dahlawi yang mereka kutip, tidak ada kaitannya sama sekali dengan ucapan Syeikh Khajandi yang mengatas namakan mengutip kitab Imam ad-Dahlawi !!.

Untuk memperkuat pembelaaan terhadap Syeikh Khajandi mereka juga mengatakan: Adapun ucapan Imam ad-Dahlawi lainnya terdapat dalam kitab Hujjatulloohil Baalighah jilid1/154-155. Dimana Imam ad-Dahlawi mengutip ucapan Ibnu Hazmin :

( “ Goola Ibnu Hazmin : Innat taqliida haraamun wa laa yahillu liahadin an ya’khudza qoula ahadin ghoiri rasuulillahi saw. bilaa burhaanin”).

Artinya : “Ibnu Hazmin berkata : ‘ Taqlid itu haram dan seseorang dengan tanpa dalil tidak boleh mengambil ucapan orang lain selain dari ucapan Rasulallahillahi saw.’ ”.

Berikutnya mereka membeberkan ucapan-ucapan Imam ad-Dahlawi lainnya sebagai hasil kutipan dari Ibnu Hazmin dengan cukup panjang.

Jawaban :

Padahal ucapan Imam ad-Dahlawi yang sebenarnya sebagai hasil kutipan dari Ibnu Hazmin bukanlah seperti itu . Perhatikanlah keterangan Imam ad-Dahlawi berikut ini :

( “ I’lam an hadzihil madzaahibal arba’atal mudawwanatal muharrorota godij tama’atil ummatu au man yu’taddu bihi ‘alaa jawaazi taqliidihaa ilaa yauminaa haadzaa wa fii dzaalika minal mashoolihi maalaa yakhfaa laa siyyamaa fii haadzihil ayyaamil latii goshurat fiihal himamu jiddan wa usyribatin nufuusul hawaa wa a’jaba kullu dzii ro’yin biro’yihi ”).

Artinya : “Ketahuilah ! Sesungguhnya ummat Islam atau ulama-ulama Islam yang ucapan-ucapannya dijadikan panutan telah sepakat tentang bolehnya bertaqlid kepada empat madzhab yang telah dibukukan secara otentik hingga pada masa kita sekarang ini. Dan dalam hal mengikuti empat madzhab tersebut terdapat maslahat (kebaikan) yang jelas terlebih lagi dimasa kita sekarang ini dimana semangat (mendalami ilmu agama) sudah jauh berkurang, jiwa sudah dicampuri hawa nafsu dan masing-masing orang selalu membanggakan pendapatnya sendiri. “

Selanjutnya Imam ad-Dahlawi langsung berkata :

( “ Famaa dzahaba ilaihi ibnu Hazmin haitsu goola innat taqliida haraamun wa laa yahillu liahadin an ya’khudza qoula ahadin ghoiri rasuulillahi saw. bilaa burhaanin…innamaa yatimmu fiiman lahu dhorbun minal ijtihaadi walau fii mas-alatin waahidatin “).

Artinya : “Maka pendapat Ibnu Hazmin yang mengatakan : ‘Sesungguhnya taqlid itu haram dan tidak boleh bagi seseorang dengan tanpa dalilmengambil ucapan orang lain selain dari ucapan Rasulillah saw….barulah bisa tepat dan sempurna terhadap orang yang memiliki kemampuan ber- ijtihad walaupun pada satu masalah”.

Demikianlah sebenarnya kelengkapan ucapan Imam ad-Dahlawi dalam Hujjatulloohil Baalighah. Maka kita bisa bandingkan sendiri kutipan para pembela Syeikh Khajandi itu dengan ucapan Imam ad-Dahlawi yang sebenarnya. Mereka hanya mengutip sampai kata-kata ….Tidak boleh mengambil ucapan orang lain selain ucapan Rasulillah saw. dan mengenyampingkan/membuang terusan kalimat itu justru yang paling penting dan inti dari sebuah pendapat yaitu …barulah bisa tepat dan sempurna terhadap orang yang memiliki kemampuan berijtihad walaupun pada satu masalah. Begitulah sifat kebiasaan golongan ini sering membuang/mengenyampingkan kalimat-kalimat aslinya atau kalimat-kalimat lain yang berlawanan dengan faham mereka (baca keterangan akidah golongan salafi/wahabi dalam makalah ini ).

Beginilah kefanatikan golongan ini terhadap imam-imam mereka sampai-sampai mereka berani merekayasa dan membuang ucapan para imam lainnya demi untuk menegakkan dan membenarkan pendapat-pendapat yang sudah terlanjur dikeluarkan/ditulis oleh imam-imam mereka atau oleh mereka sendiri. Sifat mereka seperti ini jelas telah menunjukkan kefanatikan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kefanatikan para pengikut madzhab empat terhadap imam-imamnya. Yang mana kefanatikan para pengikut madzhab yang empat ini selalu dicela oleh golongan ini.

Para pengikut madzhab yang empat betapapun fanatiknya mereka tidaklah akan berani merekayasa atau membuang ucapan-ucapan para imam lainnya demi untuk mempertahankan pendapat mereka atau pendapat imam-imam mereka. Renungkanlah !

IV. Nashiruddin al-Albani dalam rangka menyalahkan pendapat Syeikh Sa’id Ramdhan yang hanya membagi manusia menjadi kelompok yaitu Mujtahid dan Mukallid tanpa menambahkan adanya kelompok ketiga yakni Muttabi’, mengetengahkan dalil dari kutipan ucapan Imam as-Syatibi dalam kitab beliau Al-I’tishom. Al-Albani mengutip sebagai berikut:

( “Almukallafu biahkaamis syarii’ati laa yakhluu min ahadin umuurin tsalaatsatin : ahaduhumaa an yakuuna mujtahidan fiihaa fahukmuhu maa addaahu ilahi ijtihaaduhu fiihaa. Wats tsaanii an yakuuna mugallidan shirfan kholiyyan minal ‘ilmil haakimi jumlatan falaa budda lahu min gooidin yaguuduhu. Wats tsaalitsu an yakuuna ghoira baalighin mablaghal mujtahidiina lakinnahuu yafhamud daliila wa maugi’ahu wa yashluhu fahmuhu lit tarjiihi “).

Artinya : “Orang yang terkena beban hukum syari’at (mukallaf) tidaklah terlepas dari tiga perkara ; Pertama, ia adalah seorang mujtahid dalam bidang syari’at, maka hukumnya adalah melaksanakan apa yang menjadi hasil ijtihadnya. Kedua, ia adalah mukallid murni yang sama sekali kosong dari ilmu, maka hukumnya harus ada orang yang membimbingnya. Ketiga, ia tidak mencapai tingkatan para mujtahidin namun ia memahami dalil dan kedudukannya serta pemahamannya pantas untuk melakukan tarjih”.

Jawaban :

Sampai disini al-Albani dan kawan-kawannya menulis/menyudahi keterangan Imam as-Syatibi padahal masih ada kelanjutannya yang justru bagian terpenting dari keterangan Imam as-Syatibi menyangkut kedudukan orang yang masuk bagian ketiga yakni Muttabi’.

Dr. Sa’id Ramdhan al-Buuthi ini mempersilahkan semua orang untuk memeriksa kitab Al-I’tishom jilid 111 halaman 253 guna melihat bagian terpenting yang sengaja dibuang oleh al-Albani dan kawan-kawannya. Berikut keterangannya :

“(Untuk muttabi’ ini) kemampuan tarjih dan analisanya pun tidaklah lepas daripada diterima atau tidaknya. Jika tarjihnya itu diterima, maka jadilah ia seperti mujtahid dalam masalah itu dan mujtahid hanyalah mengikut kepada ilmu yang dapat menjadi pemberi putusan (hakim). Dia haruslah memperhati kan ilmu itu dan tunduk kepadanya. Maka siapa yang menyerupai mujtahid jadilah dia seorang mujtahid. Lalu jika kita tidak menerima tarjihnya itu, maka mestilah dia kembali kederajat orang awam (mukallid). Dan orang awam hanyalah mengikuti mujtahid dari segi ketundukannya kepada kebenaran ilmu yang dapat memberi putusan. Begitu juga halnya orang-orang yang menduduki posisinya “.

Dengan keterangan diatas jelaslah bahwa menurut pandangan Imam as-Syatibi kedudukan Muttabi’ pada akhirnya akan sama seperti Mujtahid kalau ia telah mencapai derajatnya dan ia akan kembali seperti orang awam kalau ia belum mampu mencapainya. Akan tetapi sayang sekali al-Albani dan kawan-kawannya justru memotong/membuang bagian terpenting dari penjelasan Imam as-Syatibi itu.

Akhirnya Dr. Sa’id Ramdhan berkomentar : “Bagaimana seorang muslim dapat mempercayai agama seseorang yang memutar balikkan fakta suatu tulisan bahkan mengubah kalimat dari tempatnya yang semula sebagai- mana anda sendiri telah melihatnya ? Bagaimana seorang muslim harus percaya kepadanya untuk mengambil hukum syari’at dan mempercayai ucapannya yang telah banyak membodoh-bodohkan para imam mujtahid ?

Beginilah sebagian wejangan dan bantahan Syekh Said Ramdhan terhadap ucapan Syeikh Khajandi yang semuanya ini saya kutip dari buku Argumentasi Ulama Syafiiyyah oleh Ustadz Mujiburrahman.

Dialog antara Syeikh Sa’id Ramdhan degan anti madzhab

Dibuku itu masih ada kutipan dialog antara Syeikh Sa’id Ramdhan dengan kelompok anti madzhab yang terdiri dari seorang pemuda dan kawan-kawan nya yang sengaja datang mengunjungi Syeikh Sa’id Ramdhan.. Saya hanya akan mengutip beberapa bait yang penulis anggap penting untuk diketahui oleh si pembaca diantaranya adalah :

Syeikh Sa’id berkata : Bagaimana cara anda memahami hukum Allah ? Apakah anda langsung mengambil dari Al-Qur’an dan Sunnah ataukah anda mengambilnya dari para imam mujtahid ?

Anti madzhab menjawab : Saya akan menelisti pendapat para imam mujtahid serta dalil-dalilnya kemudian saya akan mengambil keterangan yang dalilnya paling mendekati Al-Qur’an dan Sunnah.

Syeikh Sa’id : Seandainya anda mempunyai uang 5000 Lira Syria dan uang tersebut anda simpan selama enam bulan, lalu anda menggunakannya membeli barang-barang untuk diperdagangkan. Kapankah anda membayar zakat harta perdagangan tersebut ? Apakah setelah enam bulan kedepan ataukah setelah satu tahun ? (Rupanya Syeikh Sa’id ingin mengetahui apakah pemuda ini langsung bisa menjawab atau Syeikh ini ingin tahu bagaimana cara pemuda itu mencari dalil-dalilnya, karena dirumah Syeikh ini ada perpustakaan, pen.).

Anti madzhab : Maksud tuan apakah harta perdagangan itu wajib dizakati ?

Syeikh Sa’id : Saya sekedar bertanya dan saya berharap anda menjawabnya dengan cara anda sendiri. Perpustakaan ada didepan anda. Disitu terdapat kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadits dan juga kitab-kitab para imam mujtahidin.

Anti madzhab : Wahai Tuan ! Ini adalah masalah agama, bukan soal mudah yang dapat dijawab seketika. Memerlukan waktu untuk mempelajarinya dengan seksama (teliti). Kedatangan kami kesini adalah untuk membahas masalah yang lain ! (Rupanya pemuda ini kerepotan menjawab dan mencari dalil-dalilnya atas pertanyaan Syeikh ini walaupun didepan mereka ada perpustakaan., pen.)

Syeikh Sa’id : Baiklah..! Apakah setiap muslim wajib menyelidiki dalil-dalil para imam mujtahid kemudian mengambil mana yang lebih cocok dengan Al-Qur’an dan hadits ?

Anti madzhab : Ya benar !

Syeikh Sa’id : Kalau begitu semua orang harus memiliki kemampuan ijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab. Bahkan mereka harus memiliki kemampuan yang lebih sempurna karena orang-orang yang mampu memutuskan pendapat para imam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sudah barang tentu lebih pandai dari semua imam itu.

Anti madzhab : Sesungguhnya manusia itu ada tiga macam : Mukallid, Muttabi’ dan Mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab kemudian memilih mana yang lebih dekat kepada Al Qur’an dan Sunnah adalah Muttabi’ yakni pertengahan antara Mukallid dan Mujtahid.

Syeik Sa’id : Apa kewajiban Mukallid ?

Anti madzhab : Dia taqlid kepada imam mujtahid yang cocok dengannya.

Syeikh Sa’id : Apakah berdosa jika ia taqlid kepada seorang imam secara terus menerus dan tidak mau pindah kepada imam yang lain ?

Anti madzhab :  Ya, hal itu hukumnya haram !

Syeikh Sa’id : Kalau yang demikian itu haram, apakah dalilnya ?

Anti madzhab : Dalilnya adalah karena dia menetapi sesuatu yang tidak pernah diwajibkan oleh Allah ‘azza wajalla.

Syeik Sa’id : Dari tujuh macam qiro’at, qiro’at apa yang anda pakai untuk membaca Al Qur’an ?

Anti madzhab : Qiro’at imam Hafash .

Syeik Sa’id : Apakah anda selalu membaca Al Qur’an dengan qira’at imam Hafash ataukah anda membaca Al Qur’an setiap harinya dengan qiro’at yang berbeda-beda ?

Anti madzhab : Tidak, saya selalu membaca Al-Qur’an dengan qiro’at imam Hafash saja.

(golongan anti madzhab ini sendiri memegang satu macam qiro’at dari tujuh macam yang ada, mengapa mereka tidak mengharamkan hal ini ?, sedangkan golongan selain golongannya bila memegang satu amalan dari satu madzhab terus menerus maka mereka haramkan, beginilah sifat mereka selalu membenarkan golongannya sendiri dan mensesatkan golongan lainnya bila tidak sepaham dengan mereka, walaupun tidak ada dalil yang mengharamkannya ! pen.) .

Syeikh Sa’id : Mengapa anda selalu menetapi qiro’at imam Hafash ?, sedangkan menurut riwayat yang diterima dari Nabi saw. secara mutawatir bahwa Allah hanya mewajibkan anda untuk membaca Al-Qur’an !

Anti madzhab : Karena saya belum mempelajari qiro’at-qiro’at yang lain dengan sempurna. Dan tidak mudah bagi saya untuk membaca Al Qur’an kecuali dengan qiro’at imam Hafash !

Syeik Sa’id : Demikian pula halnya dengan orang yang mempelajari fiqh menurut madzhab Syafi’i. Dia juga tidak cukup sempurna dalam mempelajari madzhab-madzhab yang lain dan tidak mudah baginya untuk mempelajari hukum agama selain dari madzhab Syafi’i. Kalau anda mewajibkan kepadanya untuk mengetahui ijtihad para imam dan mengambil semuanya, ini berarti anda pun wajib mempelajari semua qiro’at itu. Kalau anda beralasan tidak mampu, maka begitu juga halnya si mukallid tadi. Singkatnya kami ingin mengatakan, apa alasan anda sehingga mewajibkan para mukallid untuk berpindah-pindah dari madzhab yang satu ke madzhab yang lain ?, sedangkan Allah tidak pernah mewajibkan yang demikian ! Artinya sebagaimana Allah swt. tidak pernah mewajibkan untuk mengikuti satu madzhab secara terus-menerus, begitu juga Allah tidak pernah mewajibkan untuk terus menerus pindah satu madzhab ke madzhab yang lain !

Anti madzhab : Sesungguhnya yang haram itu ialah kalau seseorang mempunyai I’tikad (keyakinan) bahwa Allah memerintahkannya untuk terus-menerus menetapi madzhab tertentu.

Syeikh Sa’id : Ini masalah lain dan itu memang benar, tidak ada perbedaan pendapat. Akan tetapi apakah ia berdosa kalau terus-menerus mengikuti imam tertentu sedangkan dia juga tahu bahwa Allah tidak pernah mewajibkan yang demikian kepadanya ?

Anti madzhab : Kalau seperti itu tidaklah dia berdosa !

Syeikh Sa’id: Tetapi buku Syeikh Khajandi yang anda pelajari itu menyebut- kan hal yang berbeda dengan apa yang anda katakan. Khajandi secara tegas mengharamkan yang demikian bahkan pada beberapa bagian dari buku itu ia menyatakan kafir kepada orang yang terus-menerus mengikuti seorang imam tertentu dan tidak mau pindah kepada yang lain !

Anti madzhab : Mana…,? Selanjutnya ia berpikir tentang tulisan Syeikh Khajandi yang berbunyi : “Bahkan siapa saja yang mengikuti seorang imam secara terus-menerus dalam setiap masalah, maka dia termasuk orang fanatik yang salah serta telah taqlid secara membabi buta dan dialah orang yang telah mencerai-beraikan agama dan menjadikan diri mereka berkelompok-kelompok”.

Lalu dia berkata bahwa yang dimaksud dengan mengikuti secara terus-menerus disitu adalah mengi’tikadkan wajibnya yang demikian dari sudut pandang agama. Didalam pernyataan itu terdapat pembuangan.

Syeikh Sa’id: Apakah buktinya kalau Syeikh Khajandi itu bermaksud demikian? Mengapa anda tidak mengatakan bahwa Syeikh Khajandi itu telah melakukan kesalahan ?

(Terhadap pertanyaan Syeik Sa’id ini kelompok anti madzhab itu tetap bersikeras bahwa apa yang dikatakan Syeikh Khajandi itu benar karena didalam ucapannya itu terdapat pembuangan kalimat.)

Dr. Sa’id melanjutkan : Akan tetapi meskipun anda memperkirakan adanya pembuangan kalimat pada ucapan Syeikh Khajandi itu (yakni kalimat apabila dia mengi’tikadkan wajibnya mengikuti seorang imam secara terus menerus ) tetap saja ucapan tersebut tidak memiliki makna apa-apa karena setiap muslim mengetahui bahwa seorang imam tertentu dari keempat imam madzhab itu bukanlah termasuk kewajiban syari’at melainkan atas dasar pilihan orang itu sendiri.

Anti madzhab: Bagaimana bisa demikian ? Saya mendengar dari banyak orang dan juga dari sebagian ahli ilmu bahwa diwajibkan secara syari’at mengikuti madzhab tertentu secara terus menerus dan tidak boleh berpindah kepada madzhab yang lain !

Syeikh Sa’id : Coba anda sebutkan kepada kami nama satu orang saja dari kalangan awam atau ahli ilmu yan menyatakan demikian !

(Terhadap permintaan Syeikh Sa’id ini kelompok anti madzhab itu terdiam sejenak. Ia heran kalau-kalau ucapan Syeikh Sa’id itu benar, dan dia [anti madzhab] pun mulai ragu-ragu tentang kebenaran atas pernyataannya sendiri yakni perkataan mereka bahwa sebagian besar manusia mengharam kan berpindah-pindah madzhab.).

Selanjutnya Syeikh Sa’id mengatakan : Anda tidak akan menemukan satu orangpun yang beranggapan keliru seperti ini. Memang pernah diriwayatkan bahwa pada masa terakhir Dinasti Utsmaniyyah mereka keberatan kalau ada orang yang bermadzhab Hanafi pindah kemadzhab lain. Hal ini kalau memang benar adalah termasuk fanatik buta yang tercela.

Demikianlah sebagian isi dialog antara Syeik Sa’id Ramdhan al-Buuti dengan anti madzhab. Setelah itu mereka melanjutkan dialog tentang masalah yang lain. Bila pembaca berminat membaca semua isi dialog silah- kan membaca buku Argumentasi Ulama Syafi’iyyah ini yang dijual di Surabaya dan lain kota di Indonesia..

Tidak boleh mencari-cari keringanan ajaran yang paling mudah dan ringan dari Ulama (dikutip dari buku yang berjudul Shalat bersama Nabi saw. oleh Ustadz Hasan bin ‘Ali As-Saqqaf, Dar-al Imam an-Nawawi, Amman, Jordania)

Ada golongan muslimin yang mencari-cari keringanan dari para ulama atau mencari ajaran Islam yang paling mudah dan paling ringan serta cocok dengan keinginan hawa nafsunya dan tujuan pribadinya tanpa didasarkan pada keterangan yang benar menurut syari’at Islam. Mereka sering berdalil bahwa suatu masalah dalam agama (yang mereka hadapi itu) masih belum disepakati para ulama, oleh karenanya mereka tidak dapat disalahkan secara mutlak.

Ada beberapa orang yang pura-pura mengikuti pendapat para ulama, tetapi dia kemudian berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain atau dari satu pendapat ke pendapat lain untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya. Meskipun dia menutup-nutup dirinya dengan pengamalan syariat dan mengikuti para ulama, tetapi sebetulnya mereka hanya mengikuti (bah kan menyembah) hawa nafsunya sendiri.

Orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya ini telah disindir dan dicela oleh Allah swt. dalam beberapa firman-Nya :

Dalam QS Shad : 26 : “Maka Janganlah kamu mengikuti hawa (nafsu), karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah “.

Dalam QS An-Nisa : 135 : “Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala ap yang kamu kerjakan”

Dalam QS Al-Jatsiyah : 18 : “Kemudian Kami jadikan kamu diatas suatu syari’at (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang dzalim”.

Dalam QS Al-Furqan : 43-44 : “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya. Atau, apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternah, bahkan mereka lebih sesat jalannya (daripada binatang ternak itu)”.

Dalam QS Al-Maidah : 70 : “Setiap datang seorang Rasulallah kepada mereka dengan membawa apa yang tidak di-ingini oleh hawa nafsunya, maka sebagian dari para Rasul itu mereka dustakan dan sebagiannya lagi mereka bunuh “.

Didalam Al-qur’an Allah swt. mencela seseorang yang ‘alim (pandai) diantara kaumnya (tetapi suka mengikuti hawa nafsunya). Dia berfirman dalam QS Al-A’raf : 176 :

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya (pasti) Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya yang rendah”.

Dan masih banyak lagi firman Allah swt. mencela orang yang sering mengikuti hawa nafsunya untuk melakukan kepentingan pribadinya sendiri.

Dari beberapa ayat Al-Qur’an diatas kita mengetahui secara pasti bahwa tidak mengikuti kehendak hawa nafsu termasuk inti dan pokok ajaran agama Islam. Sedangkan mencari-cari keringanan suatu masalah agama tidak lain adalah mengikuti keinginan hawa nafsunya terhadap suatu masalah tersebut.

Para ulama pakar telah sepakat bahwa memberikan fatwa secara sembarangan (seenaknya sendiri) apalagi jika hal itu menyimpang dari ajaran yang benar adalah perbuatan haram. Atas dasar itulah, setiap mujtahid (orang yang benar-benar mencari kesimpulan hukum) wajib mengikuti dalil, sedangkan orang yang akan bertaklid (mengikuti) pendapat ulama wajib mengikuti pendapat yang shohih dan kuat dalam madzhab imam (mujtahid) nya.

Pendapat sebagian ulama yang berkaitan dengan masalah diatas ini :

1. Al-Hafidh Ibn Abd.Al-Barr dalam Jami’ Bayan Al-‘Ilm Wa Fadhlih II :112, telah meriwayatkan perkataan Sulaim At-Taimy ; “Jika kamu mengambil rukhsah atau keringanan setiap orang ‘alim, maka terkumpullah padamu segala kejahatan (dosa)”. Kemudian lanjutnya : “Ini kesepakatan atau ijma’, dan (saya) tidak mengetahui ada orang yang menentangnya”.

2. Imam Nawawi dalam kitab Syarh Al-Muhadzdzab nya mengatakan : “Jika seseorang dibolehkan mengikuti madzhab apa saja yang dikehendakinya, maka akibatnya dia akan terus-terusan mengutip (mengambil) semua rukhsah (keringanan) yang ada pada setiap madzhab demi memenuhi kehendak hawa nafsunya. Dia akan memilih-milih antara yang mengharam- kan (sesuatu masalah) dan yang menghalalkannya, atau antara yang wajib dan yang jawaz (boleh atau sunnah). Hal demikian akan mengakibatkan terlepasnya (dia) dari ikatan taklif (beban)”.

Senada dengan pendapat Imam Nawawi ini disampaikan juga oleh Al-Hafidz Ibn Al-Shalah dalam kitabnya Adab Al-Mufty wa Al-Mustafty I :46.

3.  ‘Allamah Al-Syathiby dalam Al-Muwafaqat-nya mengatakan : “…maka sesungguhnya perbuatan itu mengakibatkan (kebiasaan) mencari-cari keringanan atau rukhsah dari para ulama madzhab tanpa bersandar pada dalil syara’. Menurut Ibn Hazm, para ulama sepakat bahwa kebiasaan itu merupakan kefasikan (kedurhakaan) yang tidak halal (untuk dilakukan). Maksud Al-Syatiby kata-kata tanpa bersandar pada dalil syara’ ialah tanpa dalil syara’ yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan atau dalil yang muktabar. Jika tidak begitu maksudnya, maka ada orang yang meninggalkan sholat wajib dengan berdalil pada firman Allah swt. Al-Ma’un : 5 ; ‘Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat’.

4.   Al-Hafidh Al-Dzhaby dalam Sayr A’lam Al-Nubala’ mengatakan : “Siapa yang mencari-cari keringanan (ulama) berbagai madzhab dan (mencari-cari) kekeliruan para mujtahid, maka tipislah agamanya”. Hal seperti ini juga dikatakan oleh Al-Awza’iy dan yang lainnya: “Siapa yang mengambil pendapat orang-orang Mekkah dalam hal nikah mut’ah, orang-orang Kufah dalam hal nabidz (anggur), orang-orang Medinah dalam hal ghina (lagu-laguan) dan orang-orang Syam dalam hal ‘Ishmah (keterpeliharaan dari dosa) para khalifah, maka sungguh dia telah mengumpulkan kejahatan (pada dirinya)”.

Demikianlah pula orang-orang yang mengambil pendapat ulama yang mencari-cari siasat untuk menghalalkan jual-beli yang berbau riba atau yang mempunyai keleluasaan dalam masalah thalaq serta nikah tahlil dan lain sebagainya. Orang-orang seperti itu sesungguhnya telah mencari-cari alasan untuk melepaskan diri dari ikatan taklif (beban).

5.   Imam Al-Hafidh Taqiyyduddin Al-Subky dalam Al-Fatawa nya I : 147 menjelaskan tentang orang-orang yang suka mencari-cari keringanan dari berbagai madzhab. Dia mengatakan: “Mereka menikmati (dirinya), karena dalam kondisi seperti itu mereka mengikuti hawa nafsunya dan bukan mengikuti agamanya”. Termasuk dalam kategori ini adalah orang yang suka memilih pendapat yang paling cocok buat dirinya dan mengikuti dari satu madzhab yang sesuai dengan pilihannya.

Sebagian orang pada zaman sekarang membolehkan seseorang mencari-cari keringanan dan mengambil ajaran yang paling mudah dengan berdalilkan pada hadits dari Siti ‘Aisyah ra yang menyatakan: “Setiap kali Rasulallah saw. dihadapkan kepada dua pilihan, beliau selalu mengambil yang paling mudah diantara keduanya”.

Pengambilan dalil seperti ini adalah tidak tepat sekali. Al-Hafidh Ibn Hajar Al-‘Asqalany dalam Al-Fath Al-Bari VI : 575 dalam syarh-nya mengatakan : Dua perkara (dua pilihan pada hadits tersebut) yang berhubungan dengan urusan duniawi. Hal itu di-isyaratkan oleh kata-kata selanjutnya (dalam hadits ‘Aisyah): ‘Jika bukan perbuatan yang (mengandung) dosa’. Jika yang dimaksud (dua pilihan) adalah urusan agama, maka tidak ada dosanya.

Allah swt. mewahyukan kepada Rasul-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh mu untuk melakukan ini atau melarang melakukan ini. Sama sekali tidak disebutkan terdapat dua atau tiga pendapat dalam suatu masalah, atau mengambil yang paling mudah dan ringan saja.

Rasulallah saw. pernah bertamu pada seseorang. Lalu seseorang ini berkata kepada Rasulallah saw. : Apakah aku harus menyediakan cuka (makanan asam) atau daging ? Dalam keadaan seperti itulah (urusan duniawi) Rasulallah saw. akan memilih dan mengatakan ; Berikanlah kepadaku yang paling mudah bagimu.

Dengan demikian, jelaslah bahwa mengikuti pendapat yang membolehkan untuk memilih-milih pendapat yang paling ringan dan mudah berdasarkan hadits Siti ‘Aisyah itu tidak menggunakan dalil yang tepat. Atau, mungkin dia berkeinginan untuk memasukkan kerancuan dan keraguan kepada hati orang-orang awam (biasa), bahwa apa yang dibawa dan dilakukannya itu boleh menjadi dalil bagi apa saya yang dia kehendaki.

Kita muslimin tidak akan mengingkari samahat (keluwesan, kemudahan dan kelapangan) dalam syari’at Islam. Yang dimaksud samahat dalam syari’at Islam ini ialah keringanan yang diberikan oleh Allah swt., umpamanya: a) Orang yang sakit diperbolehkan melakukan sholat dengan duduk, sambil berbaring, atau dengan cara lain sesuai dengan kemampuannya. b). Orang yang akan bersuci baik untuk menghilangkan hadats atau menghilangkan najis tetapi dia tidak mendapatkan air atau takut berbahaya jika menggunakan air, maka dia diberi keringanan untuk menggunakan tanah (tayammum) sebagai ganti air. Dengan demikian, hal itu tidak berarti bahwa seorang Muslim dengan dalih adanya kemudahan, keluwesan dan keringanan dalam Islam ini, lantas boleh mencari-cari yang paling mudah atau paling ringanmenurut pikirannya dari sekian banyak pendapat ulama, bahkan pendapat yang paling lemah sekalipun.

Ada sebagian orang yang membolehkan seseorang mencari-cari keringanan dan mengambil ajaran yang paling mudah dengan berdalilkan sebuah hadits: Ikhtilaf ummatku adalah rahmat. Hadits ini disebutkan oleh Al-Hafidh Al-Muhaddits Sayyid Ahmad bin Al-Shiddiq Al-Ghimari dalam kitabnya Al-Mughayyir Al-Ahadits Al-Maudhu’ah . Dia menyatakan bahwa hadits ini maudhu’ (dibuat-buat). Juga hadits yang lain: Sesungguhnya Allah menyukai untuk diterima rukhsah atau keringanan-Nya sebagaimana Dia suka dipenuhi ketetapan (yang) wajib-Nya. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Baihaqy dan lain-lainnya.

Jika diperhatikan secara seksama, tidak ada alasan untuk menggunakan hadits-hadits itu sebagai dalil bolehnya mencari-cari keringanan atau kekeliruan para ulama. Walaupun umpamanya hadits-hadits itu shohih, kita tidak bisa mensamakan maksud rukhsah/samahat Allah swt. tentang ber- tayammum bila tidak ada air atau ketika tidak boleh menggunakan air karena akan menimbulkan bahaya. Juga tidak sama maksudnya dengan bolehnya berbuka puasa dibulan Ramadhan bagi orang yang sakit atau sedang bepergian, (dan tidak sama maksudnya dengan bolehnya atau rukhsah/ samahat tentang qashar/penyingkatan sholat wajib bila dalam perjalanan,– pen.) .

Hal-hal seperti itu berbeda dengan mencari-cari dan mengikuti segala keringanan dan perkataan atau pendapat dari para ulama. Boleh jadi para ulama itu benar pendapatnya dalam suatu masalah, tetapi salah dalam masalah yang lain.

Sudah tentu kita harus menghargai pendapat para ulama yang dalam ijtihadnya tidak mendahulukan kehendak hawa nafsunya dan tidak terlalu fanatik buta, meskipun pendapat para ulama ini bertentangan dengan pendapat kita. Secara lahiriah, para mujtahid yang telah memenuhi syarat sebagai mujtahid sesungguhnya ingin mencari keridhaan Allah swt. dan berkeinginan untuk mendapatkan yang hak atau benar, asalkan pendapat- nya itu jauh dari hal-hal yang syadz atau aneh atau dengan kata lain tidak bertentangan dengan ijma’ (kesepakatan) kebanyakan ulama.

Sedangkan orang-orang yang melakukan ijtihad mengenai hal-hal yang semestinya tidak perlu di-ijtihad, atau hal-hal yang bertentangan dengan ijma’ ulama, tidak sejalan dengan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, harus kita jauhi. Apalagi orang-orang yang ijtihad ini menganggap dirinya seorang mujtahid yang jika ia salah tetap mendapat satu pahala dan jika ia benar mendapat dua pahala, seraya mengaku atau menyamakan dirinya sebagai kelompok ulama besar. Orang-orang ini kadang-kadang memperlihatkan keberaniannya/tanggung jawabnya dalam mengambil kesimpulan hukum Islam. Mereka ini sering juga mengaku dirinya sebagai seorang reformer (pembaharu) atau juga sebagai seorang innovator (seorang ahli pikir), padahal sesungguhnya dia tidak mempunyai kemampuan apa-apa.

Maka bila kita berhadapan dengan orang-orang semacam ini, tidak perlu dipertimbangkan lagi dia sudah pasti berdosa karena telah sesat bahkan menyesatkan orang lain. Segala perkataannya harus ditinggalkan sejauh-jauhnya. Hanya milik Allah-lah segala urusan.

Demikianlah sebagian kutipan dari buku Shalat bersama Nabi saw. tentang haramnya orang yang sering mencari-cari keringanan untuk suatu masalah hukum Islam. Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah swt. amin

(Buku baru yang berjudul Telaah kritis atas doktrin faham Salafi/Wahabi belun beredar merata pada toko-toko buku di Indonesia. Bagi peminat bisa langsung hubungi toko-toko di jalan Sasak. Surabaya-Indonesia.

Biography of al imam asyaafi’i


<!–
OAS_AD(‘Right’);
// –> 
origRightPadding=document.body.style.paddingRight;
document.body.style.paddingRight=”130px”;
function sideFrameOff(){
document.getElementById(‘sideFrame’).style.display=’none';
document.body.style.paddingRight=origRightPadding;
}

by Dr. G.F. Haddad

Muhammad ibn Idris ibn al-`Abbas, al-Imam al-Shafi`i, Abu `Abd Allah al-Shafi`i al-Hijazi al-Qurashi al-Hashimi al-Muttalibi (d. 204), the offspring of the House of the Prophet, the peerless one of the great mujtahid imams and jurisprudent par excellence, the scrupulously pious ascetic and Friend of Allah, he laid down the foundations of fiqh in his Risala, which he said he revised and re-read four hundred times, then said: “Only Allah’s Book is perfect and free from error.”

He is the cousin of the Prophet - Allah’s blessings and peace upon him - descending from al-Muttalib who is the brother of Hashim, `Abd al-Muttalib’s father. Someone praised the Banu Hashim in front of the Prophet, whereby he interlaced the fingers of his two hands and said: “We and they are but one and the same thing.” Al-Nawawi listed three peculiar merits of al-Shafi`i: his sharing the Prophet’s lineage at the level of their common ancestor `Abd Manaf; his birth in the Holy Land of Palestine and upbringing in Mecca; and his education at the hands of superlative scholars together with his own superlative intelligence and knowledge of the Arabic language. To this Ibn Hajar added two more: the hadith of the Prophet, “O Allah! Guide Quraysh, for the science of the scholar that comes from them will encompass the earth. O Allah! You have let the first of them taste bitterness, so let the latter of them taste reward.” Another hadith of the Prophet says: “Truly, Allah shall send forth for this Community, at the onset of every hundred years, someone who will renew their Religion for them.” The scholars agreed, among them Abu Qilaba (d. 276) and Imam Ahmad, that the first narration signified al-Shafi`i, and the second signified `Umar ibn `Abd al-`Aziz and then al-Shafi`i.

He was born in Ghazza or `Asqalan in 150, the year of Abu Hanifa’s death, and moved to Mecca at the age of two, following his father’s death, where he grew up. He was early a skillful archer, then he took to learning language and poetry until he gave himself to fiqh, beginning with hadith. He memorized the Qur’an at age seven, then Malik’s Muwatta’ at age ten, at which time his teacher would deputize him to teach in his absence. At age thirteen he went to see Malik, who was impressed by his memory and intelligence.

Malik ibn Anas and Muhammad ibn al-Hasan al-Shaybani were among his most prominent teachers and he took position against both of them in fiqh. Al-Shafi`i said: “From Muhammad ibn al-Hasan I wrote a camel-load.” Al-Hakim narrated from `Abd Allah ibn `Abd al-Hakam: “Al-Shafi`i never ceased to speak according to Malik’s position and he would say: ‘We do not differ from him other than in the way of his companions,’ until some young men spoke unbecomingly at length behind his back, whereupon al-Shafi`i resolved to put his differences with Malik in writing. Otherwise, his whole life he would say, whenever asked something: ‘This is what the Teacher said’ - hâdha qawl al-ustadh - meaning Malik.”

Like Abu Hanifa and al-Bukhari, he recited the entire Qur’an each day at prayer, and twice a day in the month of Ramadan.

Al-Muzani said: “I never saw one more handsome of face than al-Shafi`i. If he grasped his beard it would not exceed his fist.” Ibn Rahuyah described him in Mecca as wearing bright white clothes with an intensely black beard. Al-Za`farani said that when he was in Baghdad in the year 195 he dyed his beard with henna.

Abu `Ubayd al-Qasim ibn Sallam said: “If the intelligence of an entire nation was brought together he would have encompassed it.” Similarly, al-Muzani said: “I have been looking into al-Shafi`i’s Risala for fifty years, and I do not recall a single time I looked at it without learning some new benefit.”

Al-Sakhawi in the introduction to his al-Jawahir wa al-Durar and others narrate that someone criticized Ahmad ibn Hanbal for attending the fiqh sessions of al-Shafi`i and leaving the hadith sessions of Sufyan ibn `Uyayna. Ahmad replied: “Keep quiet! If you miss a hadith with a shorter chain you can find it elsewhere with a longer chain and it will not harm you. But if you do not have the reasoning of this man [al-Shafi`i], I fear you will never be able to find it elsewhere.” Ahmad is also related by his students Abu Talib and Humayd ibn Zanjuyah to say: “I never saw anyone adhere more to hadith than al-Shafi`i. No-one preceded him in writing down the hadith in a book.” The meaning of this is that al-Shafi`i possessed the understanding of hadith after which Ahmad sought, as evidenced by the latter’s statement: “How rare is fiqh among the scholars of hadith!” This is a reference to the hadith: “It may be one carries understanding (fiqh) without being a person of understanding (faqîh).” Sufyan himself would defer to al-Shafi`i in matters of tafsîr and fatwa. Yunus ibn Abi Ya`la said: “Whenever al-Shafi`i went into tafsîr, it was as if he had witnessed the revelation.” Ahmad ibn Hanbal also said: “Not one of the scholars of hadith touched an inkwell nor a pen except he owed a huge debt to al-Shafi`i.”

Al-Shafi`i was known for his peculiar strength in Arabic language, poetry, and philology. Bayhaqi narrated:

[From Ibn Hisham:] I was al-Shafi`i’s sitting-companion for a long time, and I never heard him use except a word which, carefully considered, one would not find (in its context) a better word in the entire Arabic language. . . . Al-Shafi`i’s discourse, in relation to language, is a proof in itself.

[From al-Hasan ibn Muhammad al-Za`farani:] A group of bedouins used to frequent al-Shafi`i’s gathering with us and sit in a corner. One day I asked their leader: “You are not interested in scholarship; why do you keep coming to sit with us?” They said: “We come to hear al-Shafi`i’s language.”

Al-Shafi`i trod the path of the Salaf in avoiding any interpretation of the verses and narrations pertaining to the divine attributes. He practiced “relegation of the meaning” (tafwîd al-mi`na) to a higher source, as established in his saying: “I leave the meaning of the verses of the Attributes to Allah, and I leave the meaning of the hadiths of the attributes to Allah’s Messenger.” At the same time, rare instances of interpretation are recorded from him. Thus al-Bayhaqi relates that al-Muzani reported from al-Shafi`i the following commentary on the verse: “To Allah belong the East and the West, and wheresoever you turn, there is Allah’s face (wajh)” (2:115): “It means – and Allah knows best – thither is the bearing (wajh) towards which Allah has directed you.” Al-Hakkari (d. 486) related in his book `Aqida al-Shafi`i that the latter said: “We affirm those attributes, and we negate from them likeness between them and creation (al-tashbîh), just as He negated it from Himself when He said: ‘There is nothing whatsoever like unto Him’ (42:11).”

Al-Shafi`i’s hatred of dialectic theology (kalâm) was based on his extreme caution against errors which bear heavy consequences as they induce one into false beliefs. Among his sayings concerning this: “It is better for a scholar of knowledge to give a fatwa after which he is said to be wrong than to theologize and then be said to be a heretic (zindîq). I hate nothing more than theology and theologians.” Dhahabi comments: “This indicates that Abu `Abd Allah’s position concerning error in the principles of the Religion (al-usûl) is that it is not the same as error in the course of scholarly exertion in the branches.” The reason is that in belief and doctrine neither ijtihâd nor divergences are permitted. In this respect al-Shafi`i said: “It cannot be asked ‘Why?’ concerning the principles, nor ‘How?’” Yet al-Shafi`i did not completely close the door to the use of kalâm in defense of the Sunna, as shown below and in the notice on Ahmad ibn Hanbal.

Yunus ibn Abi Ya`la narrated that al-Shafi`i defined the “principles” as: “The Qur’an, the Sunna, analogy (al-qiyâs), and consensus (al-ijmâ`)“; he defined the latter to mean: “The adherence of the Congregation (jamâ`a) of the Muslims to the conclusions of a given ruling pertaining to what is permitted and what is forbidden after the passing of the Prophet, blessings and peace be upon him.”

Al-Shafi`i did not close the door on the right use of kalâm as is clear from Ibn Abi Hatim’s narration from al-Rabi` of his words: “If I wished, I could produce a book against each one of those who deviated, but dialectic theology is none of my business, and I would not like to be attributed any part in it.” Similar to it is his advice to his student al-Muzani: “Take proofs from creation about the Creator, and do not burden yourself with the knowledge of what your mind did not reach.” Ibn Abi Hatim himself spoke similarly when he was told of Ibn Khuzayma’s unsuccessful attempt at kalâm: “It is preferable not to meddle with what we did not learn.” Note that al-Shafi`i also spoke of his wish not to have a single letter out of all his works attributed to him, regardless of topic.

Al-Shafi`i’s attitude towards tasawwuf was as strict as with kalâm, and he both praised it and denigrated its abuse at the hands of its corrupters. In criticism of the latter he said: “No-one becomes a Sufi in the morning except he ends up a dolt by noon” while on the other hand he declared in his Diwan: “Be at the same time a faqîh and a Sufi.” In Mecca al-Shafi`i was the student of Fudayl ibn `Iyad. Imam al-Nawawi in his Bustan al-`Arifin fi al-Zuhd wa al-Tasawwuf (“The Garden of the Gnostics in Asceticism and Tasawwuf“) narrated from al-Shafi`i the saying: “Only the sincere one (al-mukhlis) can recognize self-display (al-riyâ’).” Al-Nawawi comments: “This means that it is impossible to know the reality of self-display and see its hidden shades except for one who resolutely seeks (arâda) sincerity. Such a one strives for a long time, searching, meditating, examining at length within himself until he knows, or knows something of what self-display is. This does not happen for everyone. Indeed, this happens only with special ones (al-khawâss). But for a given individual to claim that he knows what self-diplay is, this is real ignorance on his part.”

Al-Shafi`i deferred primacy in the foundations of fiqh to Imam Abu Hanifa with his famous statement: “People are all the children of Abu Hanifa in fiqh.” Ibn Hajar al-Haytami mentioned in the thirty-fifth chapter of his book on Imam Abu Hanifa entitled al-Khayrat al-Hisan: “When Imam al-Shafi`i was in Baghdad, he would visit the grave of Imam Abu Hanifa, greet him, and then ask Allah for the fulfillment of his need through his means.”

Two schools of legal thought or madhahib are actually attributed to al-Shafi`i, englobing his writings and legal opinions (fatâwa). These two schools are known in the terminology of jurists as “The Old” (al-qadîm) and “The New” (al-jadîd), corresponding respectively to his stays in Iraq and Egypt. The most prominent transmitters of the New among al-Shafi`i’s students are al-Buwayti, al-Muzani, al-Rabi` al-Muradi, and al-Bulqini, in Kitab al-Umm (“The Motherbook”). The most prominent transmitters of the Old are Ahmad ibn Hanbal, al-Karabisi, al-Za`farani, and Abu Thawr, in Kitab al-Hujja (“Book of the Proof”). What is presently known as the Shafi`i position refers to the New except in approximately twenty-two questions, in which Shafi`i scholars and muftis have retained the positions of the Old.

Al-Subki related that the Shafi`i scholars considered al-Rabi`s narration from al-Shafi`i sounder from the viewpoint of transmission, while they considered al-Muzani’s sounder from the viewpoint of fiqh, although both were established hadith masters. Al-Shafi`i said to al-Rabi`: “How I love you!” and another time: “O Rabi`! If I could feed you the Science I would feed it to you.” Al-Qaffal al-Shashi in his Fatawa relates that al-Rabi` was slow in his understanding, and that al-Shafi`i once repeated an explanation forty times for him in a gathering, yet he did not understand it then got up and left in embarrassment. Later, al-Shafi`i called him in private and resumed explaining it to him until he understood. This shows the accuracy of Ibn Rahuyah’s statement: “I consider the best part of me the time when I fully understand al-Shafi`i’s discourse.”

Al-Shafi`i took the verse “Or if you have touched women” (4:43) literally, and considered that contact between the sexes, even accidental, nullified ablution. This is also the position of Ibn Mas`ud, Ibn `Umar, al-Sha`bi, al-Nakha`i, al-Zuhri, and al-Awza`i, which is confirmed by Ibn `Umar’s report: “Whoever kisses or touches his wife with his hand must renew his wudû’.” It is authentic and related in numerous places including Malik’s Muwatta’. Al-Shafi`i said: “Something similar has reached us from Ibn Mas`ud.” They all read the above verse literally, without interpreting “touch” to mean “sexual intercourse” as do the Hanafis, or “touch with pleasure” as do the Malikis.

A major contribution of al-Shafi`i in the foundations of the Law was his division of innovation (al-bid`a) into good and bad on the basis of `Umar’s words about the tarâwih or congregational supererogatory night prayers in the month of Ramadan: “What a fine innovation this is!” Harmala narrated that al-Shafi`i concluded: “Therefore, whatever innovation conforms to the Sunna is approved (mahmûd), and whatever opposes it is abominable (madhmûm).” Agreement formed in the Four Schools around his division, as illustrated by the endorsement of some major later authorities in each school. Among the Hanafis: Ibn `Abidin, al-Turkumani, and al-Tahanawi; among the Malikis: al-Turtushi, Ibn al-Hajj, and al-Shatibi; consensus among the Shafi`is; and reluctant acceptance among later Hanbalis, who altered al-Shafi`i’s terminology to read “lexical innovation” (bid`a lughawiyya) and “legal innovation” (bid`a shar`iyya), respectively û although inaccurately û matching Shafi`i’s “approved” and “abominable”.

Among al-Shafi`i’s other notable positions: Al-Muzani said: “I never saw any of the scholars make something obligatory on behalf of the Prophet as much as al-Shafi`i in his books, and this was due to his high remembrance of the Prophet. He said in the Old School: ‘Supplication ends with the invocation of blessings on the Prophet, and its end is but by means of it.’” Al-Karabisi said: “I heard al-Shafi`i say that he disliked for someone to say ‘the Messenger’ (al-Rasûl), but that he should say ‘Allah’s Messenger’ (Rasûl Allah) out of veneration (ta`zîm) for him.”

Among al-Shafi`i’s other sayings:

“The study of hadith is better than supererogatory prayer, and the pursuit of knowledge is better than supererogatory prayer.” Ibn `Abd al-Barr in Kitab al-`Ilm listed the many hadiths of the Prophet on the superior merit of knowledge. However, al-Shafi`i by this saying meant the essence and purpose of knowledge, not knowledge for its own sake which leads to Satanic pride. The latter is widely available while true knowledge is the knowledge that leads to godwariness (taqwa). This is confirmed by al-Shafi`i’s saying: “Knowledge is what benefits. Knowledge is not what one has memorized.” This is a corrective for those content to define knowledge as “the knowledge of the proof” (ma`rifa al-dalîl). “He gives wisdom to whomever He will, and whoever receives wisdom receives immense good.” (2:269)

“You [the scholars of hadith] are the pharmacists but we [the jurists] are the physicians.” This was explained by `Ali al-Qari in his book Mu`taqad Abi Hanifa al-Imam (p. 42): “The early scholars said: The hadith scholar without knowledge of fiqh is like a seller of drugs who is no physician: he has them but he does not know what to do with them; and the fiqh scholar without knowledge of hadith is like a physician without drugs: he knows what constitutes a remedy, but does not dispose of it.”

“Malik was asked about kalâm and [the Science of] Oneness (tawhîd) and he said: ‘It is inconceivable that the Prophet should teach his Community hygiene and not teach them about Oneness! And Oneness is exactly what the Prophet said: ‘I was ordered to fight people until they say ‘There is no God but Allah.’ So, whatever makes blood and property untouchable û that is the reality of Oneness (haqîqa al-tawhîd).’” This is a proof from the Salaf against those who, in later times, innovated sub-divisions for tawhîd or legislated that their own understanding of Allah’s Attributes was a precondition for the declaration of Oneness. Al-Halimi said: “In this hadith there is explicit proof that that declaration (lâ ilâha illallâh) suffices to extirpate oneself from all the different kinds of disbelief in Allah Almighty.”

“Satiation weighs down the body, hardens the heart, does away with sagacity, brings on sleep, and weakens one from worship.” This is similar to the definition of tasawwuf as “hunger” (al-jû`) given by some of the early masters, who acquired hunger as a permanent attribute and were called “hungerers” (jû`iyyûn). A notable example is al-Qasim ibn `Uthman al-`Abdi al-Dimashqi al-Ju`i (d. 248), whom al-Dhahabi describes as “the Imam, the exemplar, the wali, the muhaddith, the shaykh of the Sufis and the friend of Ahmad ibn al-Hawari.”

“I never swore by Allah - neither truthfully nor deceptively.” This is similar to the saying of the Sufi master Sahl ibn `Abd Allah al-Tustari narrated by al-Dhahabi: “Among the manners of the truthful saints (al-siddîqîn) is that they never swear by Allah, nor commit backbiting, nor does backbiting take place around them, nor do they eat to satiation, if they promise they are true to their word, and they never speak in jest.”

Al-Buwayti asked: “Should I pray behind the Rafidi?” Al-Shafi`i said: “Do not pray behind the Rafidi, nor behind the Qadari, nor behind the Murji’.” Al-Buwayti said: “Define them for us.” He replied: “Whoever says ‘Belief consists only in speech’ is a Murji’, and whoever says ‘Abu Bakr and `Umar are not Imams’ is a Rafidi, and whoever attributes destiny to himself is a Qadari.”

Abu Hatim narrated from Harmala that al-Shafi`i said: “The Caliphs (al-khulafâ’) are five: Abu Bakr, `Umar, `Uthman, `Ali, and `Umar ibn `Abd al-`Aziz.” In his Diwan he named them “leaders of their people, by whose guidance one obtains guidance,” and declaimed of the Family of the Prophet:

The Family of the Prophet are my intermediary to him! (wasîlatî)

Through them I hope to be given my record with the right hand.

and:

O Family of Allah’s Messenger! To love you is an obligation

Which Allah ordained and revealed in the Qur’an.

It is enough proof of your immense glory that

Whoever invokes not blessings upon you, his prayer is invalid.

Ibn Hajar said that the first to write a biography of al-Shafi`i was Dawud al-Zahiri (d. 275). Al-Nawawi in Tahdhib al-Asma’ wa al-Lughat (1:44) mentioned that the best biography of al-Shafi`i was al-Bayhaqi’s for its sound chains of transmission. Ibn Hajar summarized it and added to it al-Shafi`i’s Musnad in his Tawali al-Ta’sis fi Ma`ali Ibn Idris.

In the introduction of his compendium of Shafi`i fiqh entitled al-Majmu` al-Nawawi mentions that al-Shafi`i used a walking stick for which he was asked: “Why do you carry a stick when you are neither old nor ailing?” He replied: “To remember I am only a traveller in this world.”

Main sources: al-Shafi`i, Diwan; Abu Nu`aym, Hilya al-Awliya’ 9:71-172 #442; al-Nawawi, Tahdhib al-Asma’ wa al-Lughat 1:44-67 #2; al-Dhahabi, Siyar A`lam al-Nubala’ 8:377-423 #1539, 10:79, 10:649; al-Subki, Tabaqat al-Shafi`iyya al-Kubra 2:133-134; Ibn Hajar, Tawali al-Ta’sis p. 3-157.

Daily Supplications


<!–
OAS_AD(‘Right’);
// –> 
origRightPadding=document.body.style.paddingRight;
document.body.style.paddingRight=”130px”;
function sideFrameOff(){
document.getElementById(‘sideFrame’).style.display=’none';
document.body.style.paddingRight=origRightPadding;
}

Kitab Safinatun Naja – Kitab Fiqh Madzab Syafei (English)

The Ship of Salvation

A Basic Text on Islamic Worship

According to the Shaafi’i School of Thought

Written by

al-‘Allamat ash-Shaykh Abdullah bin Sa’ad bin Sumair al-Hadrami ash-Shaafi’i

Translation and Commentary prepared by

Khalil Abdur-Rashid



<!–
OAS_AD(‘Right’);
// –>

origRightPadding=document.body.style.paddingRight;
document.body.style.paddingRight=”130px”;
function sideFrameOff(){
document.getElementById(‘sideFrame’).style.display=’none';
document.body.style.paddingRight=origRightPadding;
}

Table of Contents

About The Translation:

The text of the Safinah itself appears in BLACK.

All commentary appears in BLUE.

Back to al-Majmu’ Home Page

About the Translator

Khalil Abdur-Rashid is a native of Atlanta, Ga.  He received an ijaza in the rules of Qur’anic recitation from Shaykh Dia-Deen, who received his ijaza from the famous Shaykh Khalil al-Hussary of Egypt.

Brother Khalil began his study of Shaafi’i fiqh under the tutelage of Amin Best who took several ijaza from Shaykh AbduliLLah al-Arfaj who was a student of the famous Shaafi’i Shaykh of Hofuf, Saudi Arabia – Shaykh Ahmad ad-Dogan.

Khalil receive two ijaza from Shaykh AbduliLLah in the jurisprudence of tahara (cleanliness) and al-qawaa’id ul-fiqhiyyah (rules of fiqh).

In the summer of 1999, Khalil traveled to the city of Tareem in the Hadramawt valley of Yemen where his sister and brother-in-law were studying.  While there, Khalil studied the elementary books of fiqh in the Dar ul-Mustafa program.

Khalil has been given ijaza from Shaykh al-Habeeb ‘Umar bin Muhammad bin Saalim bin Hafiz to convey the text and commentary for Safinat un-Najaa.

Introduction

In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful. All praise is solely for Allah, Lord of all the worlds. With Him we seek assistance for all matters in the secular life and the religious affairs. May the peace and blessings of Allah descend upon our Master, Muhammad, the seal of prophets, and on his family and all of his companions. There is no strength or power except with Allah, the High, the Mighty.

1) The meaning of   , (al-basmalah)

  • The is for the accompaniment of blessings.

  • The word  is derived from which means “loftiness”, “exaltedness”.

  • The name indicates the Essence of He Whose existence is necessary.

  • means the bestower of general blessings. *

  • means the bestower of precise blessings. *

* Allah is ar-Rahmaan with all of His Creation, while He reserves the mercy that stems from His attribute of ar-Raheem for the believers.  By His attribute of ar-Rahmaan He gives sight, while it is through His attribute of ar-Raheem that He gives each individual their particular precision of sight.

The author, may Allah give us benefit through him, begins his work with the basmalah which gives the meaning, “I begin this work in Allah’s name seeking blessings, and acknowledging that He is the Beneficent, the Merciful.”

Rulings for the Basmalah

  1. Waajib:  in the Shaafi’i school, it is obligatory upon the praying person to recite the basmalah as part of al-Faatiha.

  2. Mandub: it is recommended that the basmalah be recited at the beginning of any activity that bears some significance in the Shari’ah, such as writing a beneficial book about the deen.

  3. Mubah: it is permissible to say the basmalah before undertaking any activity that is permissible, such as moving an object from one place to another.

  4. Makruh: it is disliked that one should say the basmalah before undertaking an action that is disliked in the Shari’ah.

  5. Haram: it is forbidden that one recite the basmalah when doing something forbidden such as drinking alcohol.

The Prophet Muhammad (SAWS) said:

“Every significant matter that is not begun with the basmalah is cut off (i.e. deficient of blessings).”

(Abu Dawud)

Conditions for beginning with the basmalah:

  1. That it not be used purely as a dhikr.

  2. That the shari’ah has not legislated a beginning other than it, such as in the khutbah of Jumu’ah.

2) The meaning of 

The word hamd (praise) linguistically means, “glorification by the tongue for something that is beautiful, and stems from choice.”

Stemming from choice in this definition indicates something like generosity.  A person chooses to be generous, it is not something inherent in their nature that they have no control over.

The customary meaning of hamd is, “an act of glorifiying the One Who bestows blessings due to His inherent nature as One Who bestows blessings, whether upon the one doing the praising or another.”

Anything outside of this is not called “hamd,” but rather it is known as madh ( ).  That is, when something is “praised” for a quality that it has no control over such as the beauty of a pearl, it is called madh and not hamd..

The word  means, “the possessor” or “the owner.”  It does, however, have other meanings.

is humanity, jinn, and angels.  It is also said, “everything other than Allah.”

Rulings for Hamd (Praise)

  1. Waajib: in the Shaafi’i school, the khutbah of Jumu’ah must begin with praising Allah.

  2. Mandub: it is recommended to give praise in whatever condition one is in, and in the wedding khutbah.

  3. Makruh: it is is disliked that one should say “al-hamdu liLLah” while in a place where all trash and waste is discarded, such as a landfill, or at the place of animal slaughtering.

  4. Haram: it is forbidden to say “al-hamdu liLLah” when one falls into transgression and sin, showing happiness for it.

3) meaning of 

Linguistically this word can mean obedience, worship, or recompense and repayment.

The shari’ah definition however is: that which Allah legislated upon the tongue of His prophet concerning laws.  Synonymous with this are the words Islam, and Shari’ah.

4) Meaning of  (salat) on the Prophet (SAWS).

  • From Allah, it means MERCY.

  • From the Angels, it means (seeking forgiveness for someone).

  • From the human being, it means (supplication)

It has been said that when we make the du’ah of salat on the Prophet(SAWS), Allah sends His Mercy down on us, and the angels ask Allah to forgive us.

Salat upon the Messenger of Allah (SAWS) is one du’ah that is NEVER rejected by Allah, and therefore we should put salat upon the Prophet(SAWS) at the beginning and end of our du’ah, and if it is a long du’ah we should include some salat upon him (SAWS) in the middle.

Sayyid (Master)

This term has several meanings:

  1. The one who attains a place of authority and leadership amongst his people.

  2. The one who commands a large army.

  3. The one to whom people flee in times of severe hardships.

  4. The forbearing one who is not easily moved to anger.

Truly, all of these qualities are combined in our Prophet (SAWS).

The family of the Prophet (SAWS)

Some ‘ulema say that the family designates the Bani Haashim.  The position of our imam, ash-Shaafi’i, is that it consists of Bani Haashim and Bani Mutallib.

This designation is in the maqaam uz-zakaat, or station of zakat – as it is forbidden that the family of the Prophet (SAWS) be recipients of zakat.

In the maqaam ud-du’ah, or station of supplication, it is said that the family is everyone who is upon the deen of the Prophet(SAWS), and who follows him.  This is mentioned in the al-Muhadhab of Imam ash-Shiraazi.

And his companions

Everyone who met with the Prophet(SAWS) after he attained prophethood, believed in him while he was alive, and died a believer.

The best of the sahaba were the , or the ten who were given the glad tidings that they would enter Jannah.  They are:

  1. Abu Bakr

  2. ‘Umar

  3. ‘Uthman

  4. ‘Ali

  5. Sa’ad bin Abi Waqqas

  6. Sa’eed bin Zayd

  7. Talha bin UbayduLLah

  8. Zubayr bin al-Awaam

  9. Abu ‘Ubaydah bin al-Jarah

  10. Abdur-Rahman bin ‘Awf

The best of those ten were the Rightly Guided Khalifas, and their order in stature is the same as their order of assuming the khilafah. (i.e. the order they are listed in above, 1-4)

There is one prophet who is also a sahaba –>

al-Masih ‘Isa ibn Maryam (AS) is a companion of the Prophet(SAWS) because he is not dead, he met the Prophet Muhammad(SAWS) on the night of ‘Isra and Mi’raj, and when he returns he will die a Muslim.  al-Hamdu liLLah.

Meaning: To grant him(SAWS) safety from all harmful things.

“There is no strength or power except with Allah”

The meaning is, “No created thing has any inherent ability to do anything, except with the permission of Allah, the High, the Mighty.”

Also:

“There is no strength to engage in transgression, or power to engage in acts of obedience, except by the success granted by Allah.”

Section: The Pillars of Islam

The Pillars of Islam Are Five:

1) Testifying that there is no deity except Allah and Muhammad is His messenger

  • Testification or Shahadah, in this context, means certainty, strong belief, and conviction.
  • Deity means anything that is given worship, even if it is not worthy of it.

The full meaning of this statement is that there is nothing in existence that is deserving of worship except Allah, and that our Master Muhammad is His Messenger to men, jinn, and angels.

2) The establishment of prayer.

  • Establishment means to be constant in doing something, to have perseverance in doing something,  and being continuous in doing something.
  • Prayer ( ) linguistically means  or supplication.
  • The shariah definition is: a particular combination of speech and actions that are begun with takbeer ( ), and conclude with tasleem ( ).

The full meaning is to be constant and continuous in the performance of the prayer while observing all of its obligatory aspects and conditions.

3) The paying of zakaat.

  • Linguistically zakaat means growth, and purification.
  • The shariah definition of zakaat is: the name for that which is taken from one’s wealth for a specific purpose.

The full meaning is the giving of zakaat to those who are valid recipients, which is a duty upon the one who has the capacity to give.

4) The fasting of Ramadan.

  • Linguistically fasting ( ) means to abstain from something.
  • The shariah definition of fasting is: a special abstention, with a special methodology, accompanied by a special intention.
  • Ramadan: the name of the 9th month of the Islamic calendar.

The full meaning is to abstain during the daytime of every day in the month of Ramadan from all things which break the fast.

5) The pilgrimage to the House of Allah for whomever has the means.

  • Linguistically hajj means: to set out for something.
  • The shariah definition is: to set out for the House of Allah with the intention of devotions and worship.

The full meaning is to set out for the Ka’ba for the one who has the means to go and return and has the means to provide for himself during that whole period of time.

Just as the hajj is obligatory on such a person, so too is ‘umrah ( ), which linguistically means “visitation” but whose shariah definition is that of the hajj.

Section: The Pillars of Islam

The Pillars of Iman Are Six:

1) To believe in Allah

This means that you believe that Allah exists, and that He is One in His Essence, His Attributes, and His Actions. He has no partner or associate sharing with Him the right to be worshipped. To Him is every quality of perfection that is befitting of His exalted Being, and it is impossible for any deficiency to be attributed to Him.

2) To believe in His angels

This is the acceptance and compliance of the heart that the angles are the noble servants of Allah, they do as He commands and never disobey. They are beings created from light, neither male nor female. They do not have father, mothers, mates, or children. Their sustenance is the remembrance and glorification of Allah. They act without restriction in the creation according to what Allah has permitted for them.

It is obligatory to know ten angels in particular:

1) Jibreel : has the duty to of dispensing revelation to the Messengers of Allah.

2) Mikaa’eel : in charge of the rains.

3) Israa’feel : in charge of blowing the horn on the Day of Judgement.

4) ‘Azraa’eel : the angel of death, in charge of taking the souls from their bodies.

5 & 6) Munkar and Nakeer : the angels that question the dead in the graves.

7 & 8) Raqeeb and ‘Ateed : the angels that record the good and bad deeds.

9) Ridwaan : the gatekeeper of Paradise.

10) Maalik : the gatekeeper of the Fire.

3) To believe in His books

This is to believe that the Books of Allah are His Non-created Speech, and that they are sanctified above being comprised of letters and sounds and that everything that they contain is real and true. There are four books in particular we must know:

1) The Tawrah given to Musa (AS)

2) The Zabur given to Dawud (AS)

3) The Injeel given to ‘Isa (AS)

4) and the Furqan (the Qur’an) given to Muhammad (SAWS)

4) To believe in His messengers

Belief in the messengers means to believe that Allah sent them to the creation as a guidance, in order that they would teach them how to perfect their lives in this world and the Hereafter. He aided them with miraculous occurrences that proved their truthfulness. They delivered the message Allah revealed to them. It is obligatory to show respect and courtesy to all of them, and to not distinguish between them (i.e. saying, “we believe in this one, but we reject this other one.”) They are all under Allah’s Divine protection from sins great and small.

It has been said that the number of messenger is 313, and from among them we are required to know 25:

1) Adam2) Idrees

3) Nuh

4) Hud

5) Saalih

6) Ibraaheem

7) Lut

8) Ismaa’eel

9) Ishaaq

10) Ya’qub

11) Yusuf

12) Ayyub

13) Shu’ayb

14) Musa15) Haarun

16) Alyasaa’

17) Dawud

18) Sulaymaan

19) Ilyaas

20) Yunus

21) Zakariyyah

22) Yahya

23) ‘Uzayr

24) ‘Isa

25) Muhammad (SAWS)

There are four characteristics that every messenger must necessarily be described with:

1) Truthfulness2) Conveying the message 3) Trustworthiness4) Intelligence

The Muslim should also know that our prophet Muhammad (SAWS) was a Qurayshi Arab, the seal of the prophets and messengers, that he was born in Makkah (50 days after the Companions of the Elephant perished), that he migrated to al-Madinah, that he died and was buried there, that his system of law (shari’ah) abrogated all systems of law that preceded it, and that it is valid to the Last Day.

5) To believe in the Day of Judgement

This means to believe that it is real and true, and to believe in everything it is comprised of such as the scale, the bridge over the hell-fire leading into Paradise, the Paradise, and the Hell-Fire. One must also believe in the questioning of the dead by the two angels, the punishment/felicity in the grave, and other things from the matters of the world between death and the Last Day (this world is called al-Barzakh).

6) To believe in the Divine Destiny and that the good and bad of it are all from Allah.

To believe that nothing happens or occurs except that which Allah has determined, and that it is impossible for anything to happen or occur without Allah having determined it. All good and bad was determined before the existence of creation.

Legal Rulings:

Fard / Wajib : If you do it, you are rewarded. If you don’t do it, you are punished.

Mandub  : If you do it, you are rewarded. If you don’t do it, you are not punished.

Mubah : There is no reward or punishment for doing it or not doing it.

Makruh : If you do it, there is no reward or punishment. If you don’t do it ,there is a reward.

Haram : If you do it, there is a punishment. If you don’t do it, there is a reward.

Section:

What is the meaning of “there is no god but Allah”

The meaning is that there is nothing else in existence that is deserving of worship, and has the right to be worshipped except Allah.

Section:

What is the meaning of “there is no god but Allah”

The meaning is that there is nothing else in existence that is deserving of worship, and has the right to be worshipped except Allah.

http://majmu.8m.com/safinah/index.htm

link Madrasah Darul Mustafa – Tareem (Hadramaut) Yemen :

http://www.daralmustafa.org

Posted by :

http://salafytobat.wordpress.com

Habib Taufiq as-Saqqaf Pengasuh : Radio dan Majalah Suara Nabawiy

Habib Taufiq as-Saqqaf

Habib Taufiq bin ‘Abdul Qadir bin Husein as-Saqqaf @ as-Segaf, adalah seorang da’ie kondang yang berasal dari kota santri, Pasuruan, Jawa Timur. Beliau dilahirkan dalam tahun 1969. Sejak kecil, beliau telah menerima sebaik-baik asuhan dan didikan agama daripada ayahanda beliau, Habib ‘Abdul Qadir as-Saqqaf rahimahullah, yang merupakan murid kepada Habib Muhammad bin Hadi as-Saqqaf, murid Shohibul Mawlid, Habib ‘Ali al-Habsyi. Begitulah seterusnya didikan yang diperolehinya melalui majlis-majlis ta’lim dan berguru langsung dengan tokoh-tokoh ulama dan awliya’ yang terkenal di Kota Pasuruan dan di luarnya. Antara yang menjadi guru langsung beliau adalah Habib Ahmad bin Hadi al-Hamid dan Habib ‘Umar bin Hasyim Ba’Agil, Surabaya.


Setelah menimba ilmu pengetahuan daripada para habaib dan ulama di berbagai daerah di Pulau Jawa, maka akhirnya beliau membuka madrasahnya di Kota Pasuruan, selain dari itu, beliau turut mengelola madrasah yang pernah diasuh oleh ayahandan dan datuk beliau, Habib Ja’far bin Syaikhan. Pada tahun 2003, beliau mengambil inisiatif untuk menaiktarafkan madrasahnya tersebut menjadi sebuah pondok pesantren yang menggunakan sistem halaqah dan mengkaji kitab-kitab salaf (baca: Ahlus Sunnah wal Jama’ah). Pondok Pesantren tersebut didirikannya di Jalan Sidogiri, KM1, Kraton, Pasuruan dan dinamakannya Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah. Pesantrennya kini telah berkembang pesat dengan sekitar 30 cawangan madrasah dan 13 pondok pesantren di berbagai daerah antaranya, Jawa, Bali dan Kalimantan.


Selain mengasuh madrasah dan pesantren serta majlis-majlis ta’lim, Habib Taufiq, turut turun gelanggang untuk berdakwah terus kepada massa umum termasuklah di tempat-tempat minoriti umat Islam seperti di Sampit, Bali, Tengger dan lain-lain. Bahkan, beliau turut menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai sasaran dakwahnya dan sering mengirim santri-santrinya ke sana untuk berdakwah dan mendampingi masyarakat yang masih belum memeluk agama Islam ataupun yang baharu memeluk agama Islam. Selain daripada itu, beliau turut mempelbagaikan cara dakwahnya dengan mengadakan stesyen radio Islami yang dinamakannya Radio Suara Nabawiy. Melalui siaran radio tersebut, dakwahnya semakin luas jangkauannya ke masyarakat umum di pelbagai daerah. Beliau juga turut menerbitkan “Cahaya Nabawiy“, sebuah majalah dakwah Islami.

Walaupun mempunyai jadual dakwah yang ketat, Habib Taufiq tetap meluangkan masa beliau untuk mengasuh majlis ta’lim yang sudah berlangsung turun-temurun daripada datuknya, Habib Ja’far bin Syaikhan dan kemudian diasuh oleh ayah beliau, Habib ‘Abdul Qadir. Majlis ta’lim ini amat terkenal di Kota Pasuruan, dan diikuti oleh bukan sahaja masyarakat Pasuruan, bahkan juga masyarakat sekitarnya. Teks rasmi majlis ta’lim ini adalah kitab “Ihya’ Ulumiddin” karya Hujjatul Islam al-Ghazali r.a., di mana ianya dibaca dan dikaji untuk diamalkan.

Sungguhpun tidak pernah mengecap pendidikan sekolah secara formal, ilmu dan dakwah beliau mengkagumkan … Allahu … Allah. Yang ada Phd dalam bidang dakwah pun belum tentu dapat menjalankan dakwah sebagaimana yang beliau lakukan. Sungguh benih yang baik elok, jika dicampak ke laut kan jadi pulau, dicampak ke darat menjadi gunung. Itu kalau main campak-campak, apatah lagi jika ianya sememangnya disemai elok-elok. Moga Allah sentiasa memberikan inayah dan rahmatNya kepada Habib Taufiq as-Segaf, memberikan beliau istiqamah atas jalan ilmu dan dakwah para salafush sholeh serta memberikan husnul khatimah sebagai hasanatan fid dunya buat beliau sebelum meraih hasanatan fil akhirah… Allahumma aamiin …. bi sirril-Fatihah.

Menjawab kepada artikel wahaby/salafy malaysia

Menjawab kepada artikel Mohd Asri Bin Abdul Talib
Disediakan Oleh ;
Abu Lehyah Al-Kelantany
( 0133005046)
musufism_addeen@yahoo.com
http://abulehyah.blogspot.com/


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمدلله رب العالمين, مكون الأكوان, مدبر الأزمان, الموجود أزلا وأبدا بلاكيف ولاجهة ولامكان , والصلاة والسلام على محمد سيد الأنبياء والمرسلين, وعلى ءاله الطاهرين وصحابته الطيبين, اما بعد

Menjawab kepada artikel Mohd Asri Bin Abdul Talib di majalah I pada keluaran September 2008.

قوله تعالى : { ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا }


Allah Taala berfirman :” Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

قال رسول الله : من أفتى بغير العلم فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين. رواه ابن عساكر

Yang bermaksud: ” barangsiapa mengeluarkan fatwa tanpa ilmu maka menimpa baginya laknat Allah taala dan para malaikat dan manusia seluruhnya”. Diriwayat oleh Al-Hafidz Ibn ‘Asakir

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Daripada Ismail Bin Abi Uwais berkata daripada Malik daripada Hisyam bin Urwah daripada ayahnya daripada Abdullah bin ‘Amr bin Ash berkata: Aku mendengar Rasulullah Sollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“ Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) hamba-hambaNya. Tetapi Allah Ta’ala menghilangkan ilmu itu dengan mematikan ulama sehingga apabila tidak tertinggal satu orang alimpun, manusia akan melantik pemimpin-pemimpin dari orang-orang yang amat jahil, maka tatkala mereka ditanya (tentang masalah agama), lalu mereka akan memberi fatwa tanpa ilmu, lalu mereka sesat dan menyesatkan”. (Hadits riwayat al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidhi dan Ibn Majah dan lafaz ini dari riwayat Imam Bukhari).

Arakian, fenomena gelombang asrisme yang dipelopori oleh Mohd Asri Bin Abdul Talib @ (kemudian diubah namanya Zainul Abidin) semakin menjadi-jadi, bila mana Muftin Perlis ini ditegur dan ditakdibkan oleh pegawai agama peringkat atasan termasuk mufti-mufti negeri lain. Tetapi respons yang dapat kita lihat dari insan lemah ini hanyalah sikap takabbur, ujub, melancarkan fitnah-fitnah dan tohmahan terhadap ulama’, jabatan-jabatan agama terutamanya JAKIM selain melabelkan ulama pondok Ahli Sunnah Wal Jamaaah sebagai ulamak konservatif. Bila di kaji dan diteliti, kebanyakan mereka yang tidak sehaluan dengan Asri ini adalah orang agamawan, bukan orang sebarangan di tepi jalan atau orang yang menjaja perbualan kosong di kedai kopi.

Kenapa Asri dan Pendakyah Wahabi Takut Digelar Sebagai Wahhabi?

Sejarah hitam Muhammad Bin Abdul Wahhab kelihatan amat terang dan nyata sekali di dalam masyarakat Islam. Bila disebut kalimah wahhabi, umat Islam setempat akan membayangkan suatu kumpulan yang baru datang memporak- perandakan masyarakat dan memecahbelahkan Umat Islam. Dan ini memang benar-benar berlaku dan nyata dibila dirujuk sejarah golongan wahhabiyah ini.

Ahbash

Apakah itu ahbash? ada yang menjawab mereka adalah satu kumpulan takfir, ada pula yang mendakwa mereka sebagai pelampau agama, dan tidak kurang juga ada yang mengatakan pelaku bida’ah, namun saya katakan INI SEMUA LAHIR DARI LISAN WAHHABI. MAKA tidak hairanlah jika kita mendengar perkataan yang sama dari mulut Asri yang ‘bergincu’, yang mana maklumat si Asri hanya bersumberkan tokoh liwat Syria, Abdur Rahman Dimasyqiah al-Wahhabi,( yang mana saya telah sebutkan sebelum ini) .

Adakah seorang yang disabitkan dengan jenayah liwat dikira sesuai untuk dijadikan sandaran dalam agama? atau si Asri lebih gemar merujuk blog bankahbash.blogspot.com dalam menilai sesuatu kebenaran berbanding Al-Quran dan Al-Hadis? Atau si Asri tidak sanggup menerima hakikat bahawa Muhammad Abdul Wahhab sebagai tokoh Al-Fattan dan Qarn Syaithan (tanduk Syaithan) seperti yang tersebut dalam hadis-hadis an-Nabawiyyah, dan ramai ulamak muktabar menolak Muhammad Bin Abdul Wahhab ini baik sezaman dan selepasnya.

Hadith dari Sahih Bukhari tersebut adalah seperti berikut (terjemahannya):

Ibn ‘Umar meriwayatkan bahwa Nabi s.a.w. berdoa: “Ya Allah Ya Tuhanku! Berkatilah negeri Syam kami, Ya Allah Ya Tuhanku! berkatilah negeri Yaman kami”. Mereka (para Sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (Doakanlah) juga untuk negeri Najd kami”. Baginda (terus) berdoa: “Ya Allah Ya Tuhanku! Berkatilah negeri Syam kami, Ya Allah Ya Tuhanku! Berkatilah negeri Yaman kami”. Mereka (para Sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (Doakanlah) juga untuk negeri Najd kami”. Aku agak pada (permintaan) yang ketiga Baginda bersabda: “Padanya (Najd) (berlaku) gempa bumi, fitnah dan tempat terbit tanduk syaitan”.

Dalam banyak hadith lain, Najd itu disebut sebagai terletak di sebelah timur Madinah. Dan sememangnya jika dilihat kedudukan koordinat geografi, Najd/Riyadh terletak pada 2443N 04644E, manakala Madinah terletak pada 2433N 03942E. Kedudukan Riyadh/Najd hampir pada garis darjah latitude yang sama (beza 10 minit sahaja – bukan ukuran waktu tetapi ukuran latitude) dengan Madinah betul-betul sebelah timur.

Helah yang digunapakai bagi mereka yang gerun dengan hadith ini ialah mereka mengatakan bahawa Iraq sememangnya di sebelah timur. Tetapi yang sebenarnya, latitude yang paling rendah bagi Iraq ialah sekitar 3040N (kota Basrah). Baghdad pula 3340N.

Dengan kedudukan latitude sedemikian, Iraq terletak di antara 0 – 40 darjah ke utara Medinah. Bukan timur. Kalau nak dikatakan timur, ianya sepatut disekitar 90 +/- 20 darjah dari Medinah.

Tentang najad ini hamba rujuk :

http://www.geocities.com/traditionalislam/hadith_najd_kebenaran_yang_digeruni.htm

Kenapa Wahhabi? Siapakah Wahhabi?

Adakah seseorang dilabel sebagai wahabi kerana mereka:

1) Tidak qunut subuh?

2) Tidak melakukan tahlil arwah?

3) Tidak menyambut maulid?

4) Tidak melakukan amalan talqin?

5) Menolak sunnah thoriqah?

6) Tinggal dan belajar di saudi?

7) Menolak kewajipan bermazhab ?

Maka saya katakan, Ya Syeikhul Fattan, seorang itu dipanggil WAHABI kerana :

1) Mentasybih dan Menjisimkan Allah Taala dengan makhluk-Nya. Seperti kata setengah golongan wahhabi : Allah duduk bersemayam di atas arasy, ataupun yang mengatakan Allah duduk di atas arasy tapi kononnya tidak sama macam makhluk.

Puak-puak ni mengatakan : Kalau Allah tidak berhajat kepada tempat, ini menafikan kewujudan Allah!

Saya katakan : Subhanaka haza buhtanun ‘azhim! Sebagaimana diitsbatkan kewujudan Allah Taala sebelum dijadikan mana-mana tempat Allah wujud tidak bertempat, begitu juga setelah Allah Taala menjadikan tempat Allah wujud tanpa bertempat, dulu kini dan selama-lamanya. Ini tidak menafikan kewujudanNya. Tuan-tuan, gologan wahhabi ini mereka tidak menerima sekali-kali Allah ini wujud jika tiada bertempat.

2) Mengkafir umat Islam secara keseluruhannya.

Wahabi ini menuduh umat Islam Salaf dan Khalaf yang bertawassul dengan para nabi atau sahabat ,tabiin dan wali –wali Allah yang soleh ADALAH kafir.

Dengan ini mereka mendustakan HADITS SOHIH yang diriwayat para ulamak muhaddithin seperti :

1) Imam Al-Hafidz Thobroni dalam “Mu’jam Kabir”dan “Mu’jam soghir” dan mensohihkan hadis tawassul tersebut.

2) Imam Syeikhul Islam As-Subky di dalam kitab “Syifa-us-Saqam”.

3) Imam Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitabnya “Dala-il An-Nubuwwah” dan kitab Syu’ab al-Iman.

4) Amir Mukminin dalam bidang hadis, Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqolani. Beliau menyebut cerita tentang lelaki yang datang kepada kubur Nabi Sollallahu ‘Alaihi Wassallam lalu bertawassul dengannya. Ibn Hajar Mensohihkan sanad hadis ini di dalam kitab Fathul Bary jilid 2 m/s 495.

5) Imam Al-Hafidz Al-Dimyathi.

6) Imam Al-Hafidz Abu Al-Hasan Al-Maqdisy.

7) Syeikh Huffaz Al-Hafiz ‘Iraqy.

8) Imam Al-Hafidz Al-Darulqutny.

9) Imam Al-Hafidz Nawawi.

10)Imam Al-Hafidz Imam Al-Nasai’.

11) Imam Al-Hafidz Al-Lughawi Murtadha Az-Zabidi Al-Hasani.

12) Ibn Sunni di dalam ” ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah”.

13) Amir Mukminin dalam bidang hadis, Imam Al-Bukhari dalam “adab al-mufrad”.

14) Imam Al-Hafidz Tirmizi.

15) Al-Hakim Abu Abdillah di dalam kitabnya ” Mustadrak”. Beliau menyebut hadits bertawassulnya Nabi Adam dengan Nabi Muhammad Sollallahu ‘Alaihi wassallam serta mensohihkan hadits tersebut.

16) Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuty dalam kitabnya “Khaso-is Al-Qubra”. Beliau menyebut tentang hadits tawassulnya Nabi Adam.

17) Imam Al-Hafidz Abu Al-Farraj Ibn Jauzy di dalam karyanya “Al-wafa’ “.

18) Imam Al-Hafidz Al-qadhi ‘iyadh dalam kitabnya ” As-Syifa’ Fit Taa’rif Bi Huquqil Mushthofa Sollallahu ‘Alaihi Wassallam”. Beliau menyebut keharusannya pada bab Ziarah dan juga pada bab kelebihan Nabi Sollallahu ‘Alaihi Wassallam.

19) Imam As-syeikh Nuruddin Al-Qory yang terkenal dengan gelaran Mulla ‘Ali Qory di dalam syarahnya terhadap kitab Syifa’.

20) Imam Al-Hafidz Al-Qoshtholany di dalam kitabnya “Al-Mawahibul Ladunniyyah” pada bahagian awal kitabnya.

21) Al-Allamah As-Syeikh Muhammad ‘Abdul Baqiy Al-Zarqany dalam syarahnya pada kitab Al-Mawahib (jilid 1 m/s 44).

23) Imam Syeikhul Islam Abu Zakaria Yahya An-Nawawi di dalam Kitabnya ” Al-i-dhoh” pada bab yang ke 6 m/s 497)

24) Al-Allamah As-Syeikh Ibn Hajar Al-Haitamy dalam “Hasyiah ‘Ala Al-i-dhoh”, m/s 499. beliau membincangkan keharusan bertawassul secara khusus di dalam bab yang di namakan ” Al-Jauhar Al-Munazzhom”.

25) Imam Al-Mufassir Abu ‘Abdullah al-Qurthuby di dalam tafsirnya pada Jilid yang ke 5 m/s 265.

Antara sahabat yang bertawassul dan meriwayat hadis- hadis ini :

1) Abdullah Ibn ‘Umar

2) Uthman Bin Hunaif

3) Bilal bin Harits

Adapun pandangan Al-Albaani yang mengatakan hadis ini dhoif tidaklah boleh diterima kerana dia tidak pernah sampai ke martabat Al-Hafiz atau Muhaddits maupun Musnid, jauhnya seperti langit dan bumi.

Bahkan bila kita teliti pandangan wahhabi yang mengatakan tawassul ini syirik, mereka sebenarnya mendustakan dan MENGKAFIRKAN penghulu kita Nabi Muhammad Sollallahu ‘Alaihi Wassallam yang mengajar doa tawassul ini :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكُ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّي ، فَتَقْضِي لِي حَاجَتِي

Adakah nabi Nabi Muhammad Sollallahu ‘Alaihi Wassallam mengjar kepada kita suatu doa yang membawa kepada syirik??

Saya katakan : Subhanaka haza Buhtanun ‘Adzim!!

HADIS TAWASSUL

Sesungguhnya At-Thabrani dan al-Baihaqi telah meriwayatkan bahawa seorang lelaki telah datang mengadukan halnya kepada Sayyidina Utsman bin Affan dizaman pemerintahannya, tetapi Saiyyidina Utsman tidak berpaling kepadanya dan tidak memandang kepada hajat yang diperlukannya [kerana kesibukan]. Lelaki itupun berlalu dan mengadu pula kepada Utsman bin bin Hunaif tentang hal itu. Mendengar hal itu, Utsman bin Hunaif pun berkata kepadanya: Kalau begitu pergilah kamu ke tempat berwudhu dan berwudhulah, kemudian datangilah masjid dan bersholatlah. Lepas itu berdoalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكُ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّي ، فَتَقْضِي لِي حَاجَتِي

Ya Allah, sesungguhnya aku bermohon kepadaMu dan aku menghadap kepadaMu melalui nabiMu yang penuh kasih sayang, Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap [hajatku] dengan [perantaraan]mu kepada Tuhanku agar diperkenankan bagiku hajatku. Dan engkau sebutlah hajatmu. Lelaki itupun berlalu dari situ dan melakukan suruhan tersebut.Kemudian dia datang ke pintu rumah Sayyidina Utsman . Tiba-tiba datang seorang penjaga pintu lalu menarik tangannya masuk kedalam dan didudukkan bersama-sama Saidina Utsman . Sayyidina Utsman berkata: Sebutlah hajatmu itu. Lalu lelaki itupun menyebut dan akhirnya Sayyidina Utsman pun menunaikan hajatnya. Sayyidina Utsman bertanya lagi: Kalau kamu mempunyai hajat lagi, sebutlah.Selepas itu lelaki itupun keluar lalu menemui Utsman bin Hunaif dan berkata kepadanya: Moga-moga Allah membalas jasamu dengan kebaikan. Tidaklah ia memandang kepada hajatku sehingga engkau mengajarkan kepadaku. Ibn Hunaif lantas menjawab: Demi Allah, tidaklah aku mengajarmu, tetapi sebenarnya aku telah menyaksikan bahwa Rasulullah ketika didatangi oleh seorang buta mengadu akan hilangnya penglihatannya ………. (hingga akhir hadits .. Maka ini adalah tawassul dan seruan selepas wafat Rasulullah.

Syeikhul Takfir

Siapakah syeikhul takfir ini sebenarnya ? Kenapakah disembunyi identitinya?..

Untuk menjawab soalan ini,mari kita lihat bukti yang didedahkan oleh ulamak-Ulamak bahawa Muhammad Bin Abdul Wahhab inilah sebenarnya Syeikhul Fattan dan Syeikh Takfir.

  • Mengkafirkan ulama najd, lihat Al-Durar m/s 10,15.
  • Mengkafirkan ulama mazhab hanbali dan selainnya yang sezaman dengannya,lihat Al-Durar m/s 10,13.
  • Muhammad Bin Abdul Wahhab kafirkan orang perseorangnan. Antaranya dia mengkafirkan Ahmad Ibn Abd Karim (seorang alim mazhab hanbali),lihat Al-Durar m/s 10,64.
  • Mengkafirkan orang badawi. Lihat Al-Durar (113,114) (118,117,119) beliau mengatakan bahawa mereka lebih kafir dari Yahudi Dan Nasoro.
  • Mengkafirkan penduduk makkah. Lihat Al-Durar 10/86 dan 9/291. Dia mendakwa kedua tanah haram Makkah Dan Madinah adalah negara kufur. Lihat Al-Durar 10/7.
  • Muhammad Bin Abdul Wahhab mengkafirkan ibn Arabi sebagaimana dalam knyataannya di dalam kitab Al-Durar 10/25 : “Dia (Ibn ‘Arabi) lebih kufur dari firaun sesiapa yang tidak mengkafirkannya , maka dia adalah seorang yang kafir. Bahkan, kafir juga orang yang merasa ragu dengan kekufurannya.”
  • Mengkafirkan Imam Al-Razi pengarang kitab tafsir yang masyhur, tafsir al-kabir.Lihat Al-Durar 10/72, 273. Dia telah mendakwa Imam Al-Razi telah menulis sebuah risalah membenarkan umat Islam menyembah bintang-bintang, rujuk Al-Durar 10/355, dakwaan sebegini dia sandarkan kepada Ibn Taymiyah Al-Harrani al-Mujassim di dalam kitab “Iqtidho’ As-Sirot Al-Mustaqim”. Tetapi apabila ulamak merujuk dakwaan kenyatan ini ,ianya tidak terdapat sebagaimana yang disebut oleh Muhammad Bin Abdul Wahhab.
  • Mengkafirkan kebanyakan penduduk Syam dengan mendakwa mereka menyembah Ibn Arabi lihat Al-Durar 2/45.
  • Dia mengatakan ilmu fiqh yang diistinbatkan oleh imam mazhab adalah usaha yang kufur,lihat Al-Durar 2/59.
  • Mengkafirkan ulama kalam (ulamak usuluddin). Dia berkata ’ulama’ telah ijmak mengkafirkan ulamak kalam. lihat Al-Durar 1/35.
  • Muhammad Bin Abdul Wahhab mengkafirkan semua guru-gurunya, di dalam kitab risalah untuk penduduk riyadh, tarikh najd tulisan Husain Bin Ghannam m/s 137-138, Muhammad Bin Abdul Wahhab berkata di dalam risalah tersebut ” tidak ada dari seorang pun dari kalangan guru-guruku yang mengetahui makna La ilaha illa Allah”.

Golongan wahabi

1. Mengkafikan Ahlus Sunnah Wal Jamaah iaitu al-Asyai’rah dan Al-Maturidiyah. Soleh bin Fauzan (wahhabi) berkata: ” Pengikut Al-Asyai’rah dan Al-Maturidiyah tidak layak digelar sebagai ahli sunnah wal jamaaah”. Rujuk kitab Min Masyahir Al-Mujaddidin Fil Islam, m/s 32, Terbitan Riasah Ammah Lil Ifta’ di Riyadh (Najd). Juga cucu Muhammad Bin Abdul Wahhab, Abd Rahman tidak ketinggalan mengikuti jejak takfir datuknya di dalam kitabnya Fathul Majid m/s 353, Terbitan Maktabah Darul Salam Riyadh.

2) Mengkafirkan mereka yang menyebut selawat syifa’ ,Ibn Bazz (wahhabi) berkata : ” lafaz selawat ini adalah syirik“. Rujuk kitab “Kaifa Ihtadaitu Ila Al-Tauhid” , Karangan Muhd Jamil Zainu, m/s 83,89, Cetakan Darul Fatah.

3) Mengkafirkan saiyyidah Hawwa.

4) Mengkafirkan ulama-ulama sufi yang benar lagi soleh dan mengisytiharkan perang terhadap mereka seperti di dalam kitab ” Majmu’ Al-mufid Min ‘Akidah Tauhid” ,m/s 102, Cetakan Maktabah Darul Fikr Riyadh. Nash kata-kata mereka ialah : ”perangilah golongan sufi sebelum kamu memerangi YAHUDI, sesungguhnya sufi itu adalah ruh Yahudi”.

5) Mengkafirkan ulama yang mentafsirkan istiwa dengan makna istaula di dalam kitab mereka “Halaqaat Mamnu’ah “, Tulisan Husam Al-Aqod ,Cetakan Darus Sahabah ,Tonto.

6) Mengkafirkan Umat Islam yang menyambut maulidurrasul dan yang mengamal amalan ini sejak 900 tahun yang lalu. Ibn Baaz berkata: ” Perayaan maulidurrasul adalah menyerupai orang yahudi “. rujuk kitabnya ” Tahzir minal Bida’ah”, m/s 5, Cetakan Riyadh Saudi.

7) mengkafirkan ulama yang bertawasul dengan para wali dan solihin,berkata abu bakar al jazai iri, di dalam kitab aqidatul mukmin m/s 144’ tawasul dengan kemuliaan mereka adalah syirik dan boleh mengeluarksan mereka dari islam dan berkekalan dalam neraka.’

8) Wahabi mengkafirkan Ibn Hajar Al-Asqolany dan Imam Nawawi dalam kitab mereka ” liqa’ babil maftuh“.

9) Wahabi mengkafirkan umat Islam yang beristighasah dengan para anbiya’. Ibn Bazz berkata: ” istighasah dengan nabi –nabi adalah syirik”. Rujuk kitabnya ” ‘akidah Sohihah Wa Ma Yudhodiduha”, m/s 22, Cetakan Darul Watan Riyadh.

10) Wahabi mengkafirkan mereka yang mengucapakan “good morning” and “good night”, dan mengatakan ucapan ini salah kerana mengikut jejak yahudi di dalam kitab mereka “Akhtho’ Sya’i’ah”, Karangan Muhd Zainu, m/s 67.

11) Mengkafirkan penduduk Islam di Hijaz dan Yaman , berkata Ibn Bazz: ” telah tersebar dikalangan penduduk di sana (Hijaz dan Yaman) mereka yang menyembah selain dari Allah menyembah pokok, batu-batu dan kubur.”

12) Mengkafirkan penduduk Syam, dan mendakwa penduduk syam menyembah Ibn ‘Arabi. Rujuk ta’liq Ibn Bazz pada kitaq “Fathu Majid”, m/s 217, Cetakan Darul Aulaanah.

13) Mengkafirkan penduduk Islam di Mesir.Wahhabi mengatakan bahawa penduduk Islam Mesir mengagungkan Tuhan iaitu wali Ahmad Badawi. Rujuk taaliq Ibn Baz pada kitab “Fathul Majid” m/s 206, Cerakan Aula Nahi.

Islam vs Liberal

Berkata Mohd Asri Bin Zainul ‘Abidin, Mufti Al-Kazzab di dalam Majalah I m/s 33: ” sekarang dunia moden, banyak pengetahuan boleh di cari hanya beberapa klik di hadapan internet. Jika kita tidak larat fikir , jangan halang orang lain mencari maklumat dan berfikir. Tunjukkan imej keistimewaan islam itu dengan mengizinkaN kepelbagaian pemikiran hidup dalam iklim yang harmoni selagi tiada penipuan dan pengkhianatan.”

Sekira maklumat yang Asri sebarkan itu jelas penipuan dan pengkhianatan…adakah asri nak mengatakan ianya ilmiyah dan berfakta…??

LIHAT BETAPA lIBERALNYA MUFTI AL-FATTAN INDERA KAYANGAN..!!

Disediakan Oleh ;
Abu Lehyah Al-Kelantany

( 0133005046)

musufism_addeen@yahoo.com
http://abulehyah.blogspot.com/

RISALAH PERNIKAHAN DARI KITAB “QURRATUL ‘UYUN” (BAG 1)

RISALAH PERNIKAHAN DARI KITAB “QURRATUL ‘UYUN” (BAG 1)

Bismillahirohmanirrahim

Gegarane wong akrami dudu bondo ,dudu rupo anamung ati pawitane ,luput pisan ,yen kena pisan yen angel, angel k alangkung tan kena tinombo arto

“pada hakekatnya pernikahan itu bukan karena harta benda .juga bukan karena ketampanan atau kecantikan.sesekali terlepas sesekali mendapat.jika mudah teramat mudah jika sulit teramat sulit dan tidak bisa si gantikan dengan harta”

ALLAH maha luhur berfirman dalam kitabNYA “Istri-istrimu merupakan lahan tempat bercocok tanam,maka datangilah lahan tempat bercocok tanamu sesuai seleramu.Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu ,dan bertaqwalah kepada ALLAH serta ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemuiNYA .wahai Muhammad,berilah kabar gembira orang-orang yang beriman itu”

berkenaan dengan firman ALLAH ini ,saya bermaksud membuat tulisan dari sebagian yang saya ambil dari kitab yang termasuk dalam kekayaan khazanah kitab kuning yaitu :“Qurotul uyun” dalam kitab ini tidak hanya mengajari pasangan suami istri bergaul …hingga pergaulan yang paling intim…bahkan juga memuat petunjuk -petunjuk tentang hari-hari baik untuk melaksanakan perkawinan(hal-hal baik lainnya).namun berbeda dengan aturan “Nogo Dino” karena dalam kitab ini di sebutkan agak rinci alasan-alasannya.
semoga ALLAH melimpahi Rahmat serta berlipat ganda pula pahala dan di ampuni dosa2 kelak di akhirat kepada Syaih Muhammad al-Tahami bin Madani yang mempunyai karya yaitu kitab “Qurratul ‘Uyun” yang kemudian di tulis sebagai syarah( uraian penjelasan) bagi buah karya Syaih Qasim bin Ahmad bin Musa bin Yamun ,yang di tulis dalam bentuk Nadham(Syair).

semoga barokah pula kepada ustad saya Beliau Kyai Basuni yang telah menjadi guru terbaik saya sehingga 2 tahun yang lalu (tepatnya ketika kelas 3 MAN) saya bisa menghatamkan kitab “Qurrotul ‘Uyun” ini dengan baik alhamdulillah meskipun jadi santri yang mokong (bandel) )

dalam kitab ini memuat 20 pasal (mungkin hanya akan saya tuliskan hanya beberapa pasal saja) di dalam kitab ini memuat tentang beberapa hadist dan nasehat dalam mebina Rumah Tangga.yaitu mulai dari keutamaan menikah,memilih seorang calon istri,masalah tata krama dalam berhubungan intim(sex)
dengan seorang istri dan beberapa masalah yang berkaitan dengan tangung jawab seorang suami untuk membina rumah tangga yang Islami.nasehat-nasehat tentang tata krama mengadakan pesata perkawinan dan beberapa hal negatif yang muncul dalam pesta dan perkawinan itu sendiri,sehingga hal itu perlu di waspadai agar tujuan kita dalam membina berumah tangga tidak menyimpang dari niat ibadah mengikuti sunnah Rosulullah SAW.sehingga perkawinan yang mestinya sarat dengan nilai-nilai ibadah dan termasuk perbuatan muliau itu tidak kehilangan jati dirinya dan tidak menjadi pemicu terkikisnya keteguhan iman dalam mensikapi kehidupan ini

OK deh klo mau tahu serta mempelajari kitab ini secara mendalam tafadhol membeli kitabnya atau membeli buku terjemahannya (banyak di toko-toko buku) semoga kita semua menjadi hamba-hambaNYA yang beriman serta banyak bersyukur ,,, tak lepas pula semoga saya dan kita semua mendapat pasangan dan teman hidup yang kekal ila akhiru zaman ……..aminnn ya ROBB

“Menikahkan kalian dan beranak cuculah.karena sesungguhnya kalian akan ku jadikan kebangaan di antara sekian banyak umat”

PASAL PASAL

pasal 1 Nikah dan Hukumnya
pasal 2 Beberapa hal yang positif dalam nikah
pasal 3 hal-hal yang perlu di upayakan dalam menikah
pasal 4 mencari waktu yang tepat untuk melakukan hubungan intim
pasal 5 sekitar penyelenggaraan pesta perkawinan(walimah)
pasal 6 tentang tata krama melakukan hubungan intim
pasal 7 tentang etika dan cara-cara yang nikmat dalam melakukan hubungan intim
pasal 8 tentang berdandan dan kesetiaan istri
pasal 9 tentang posisi,cara untuk mencapai puncak kenikmatan dan do`a dalam bersetubuh
pasal 10 tentang makanan yang perlu di jauhi saat sedang berbulan madu dan saat istri hamil
pasal 11 beberapa hal yang harus di upayakan ketika hendal melakukan hubungan intim
pasal 12 kewajiban suami terhadap istri dalam memberi nafkah bathin
pasal 13 posisi dalam bersetubuh yang perlu di hindari
pasal 14 batas-batas yang di haramkan dan di halalkan dalam hubungan intim dengan istri
pasal 15 memilih waktu yang tepat dan hal-hal lainnya yang perlu di perhatikan dalam
hubungan intim

pasal 16 tata kerama orang yang sedang junub

pasal 17 tentang tata kerama orang yang hendak bersetubuh dua kali dan hal-hal yang perlu di
perhatikan dalam bersetubuh

pasal 18 sumai istri harus saling memuliakan dan saling menghormati
pasal 19 kewajiban suami terhadap istri dan seluruh anggota keluarganya dalam membina
rumah tangga.

pasal 20 suami dan istri wajib mendidik anaknya agar menjadi anak yang berbudi luhur

Demikian yang tertulis di atas adalah pasal-pasal yang ada di dalam kitab Qurratul ‘uyun
semoga tulisan ini dapat memicu semangat kita dalam menyempurnakan setengah dien yaitu memuwudkan perkawinan yang sakinah,mawadah,warahmah namun secara ISLAMI tentunya )

di sini saya tidak akan menuliskan semua pasal-pasal secara terperinci maklum saya kan masih kecil(pemikiran gede) Djadi agak malu-malu untuk menuliskan hal-hal yang di anggap sangat intim sekali heheheh )terlepas dari itu semua semoga karya tulisan saya ini bermanfaat bagi pembaca khususnya  ,,,aminnn

NIKAH DAN HUKUMNYA

hukum menikah itu sangat tergantung pada keadaan orang yang hendak melakukan tadi,jadi hukum nikah itu dapat di klasifikasikan sebagai berikut

1.wajib.yaitu apabila orang yang hendak menikah telah mampu sedang ia tidak segera menikah amat di
khawatirkan akan berbuat zina

2.sunnah ,yaitu mana kala orang yang hendak menikah menginginkan sekali punya anak,tetapi ia
mampu mengendalikan diri.dari perbuatan zina,baik ia sudah berminat menikah atau belum.walaupun
jika menikah nanti ibadah sunnah yang sudah biasa ia lakukan akan terlantar

3.makruh,yaitu apabila orang yang hendak menikah belum berminat punya anak,juga belum pernah
menikah sedangkan ia mampu menahan diri dari berbuat zina.padahal ia menikah sunnahnya
terlantar.

4.mubah,yaitu apabila orang yang hendak menikah mampu menahan gejolak nafsunya dari berbuat
zina.,sementara ia belum berminat memiliki anak dan seandainya ia menikah ibadah sunnahnya
tidak sampai terlantar

5.haram,yaitu bagi orang yang apabila ia kawin,justru akan merugikan istrinya karena ia tidak mampu
memberi nafkah lahir dan nafkah bathin.atau jika menikah ia akan cari mata pencaharian yang di
haramkan ALLAH walaupun orang tersebut sudah berminat menikah dan ia mampu menahan gejolak
nafsunya dari berbagai zina.padahal.

bahwa hukum menikah tersebut juga berlaku bagi kaum wanita. Ibnu Arafah menambahkan,bahwa bagi wanita hukum menikah itu wajib,apabila ia tidak mampu mencari nafkah bagi dirinya sendiri sedangkan jalan satu-satunya untuk menanggulangi adalah menikah .

RUKUN RUKUN MENIKAH

rukun menikah ada lima hal yaitu sebagai berikut:

1.ada seorang suami
2 ada seorang istri
3.ada seorang wali
4 ada mahar
5.harus ada sighat(ungkapan khas menikahkan dan menerima nikah)

beberapa anjuran menikah

ada sebuah riwayat dari imam Ahmad sebagaimana tersebut di dalam kitab musnadnya;

“Ada serorang laki-laki,ia bernama ukaf,datang menghadap Nabi SAW maka nabi SAW bertanya kepadanya:
“Wahai ukaf apakah engkau sudah beristri?”
ukaf menjawab “belum”nabi bertanya lagi:
“apakah kau punya seorang budaj perempuan”?
ukaf menjawab “tidak” lantas nabi bertanya lagi:
“adakah kau orang yang pintar mencari rizky’?
ukaf menjawab “iya” nabi bersabda:
“kau adalah termasuk kawan-kawannya syaitan.Seandainya kau itu orang beragama Nasrani ,tentulah menjadi pendeta (rahib) mereka.sesungguhnya orang yang termasuk mengikuti sunahan itu adalah orang yang menikah.seburuk-buruk kalian adalah orang-orang yang sedang membujang.dan orang yang mati di antara kalian yang paling hina.adalah orang yang mati membujang “
nabi SAW bersabda dalam sabda yang sudah termashur

“Wahai kaum muda,barang siapa telah mampu membiayai biaya perkawinan maka hendaklah ia kawin saja.karena sesungguhnya kawin itu lebih bisa memejamkan (menjaga dari maksiat) mata ,dan lebih bisa menjaga(maksiat)kemaluan.da barang siapa belum mampu kawin maka sebaiknya berpuasa.sebab puasa itu mampu menjadi perisai(gejolak nafsu) dirinya”

“Siapa saja yang menikah, ia telah menguasai separuh agamanya. Hendaklah ia bertakwa (kepada Allah) atas separuh yang lain”

“Barang siapa yang menikah karena ALLAH ,dan menikahkan (putra putrinya) karena ALLAH maka ia berhak menjadi kekasih ALLAH.”

“Menikah adalah sunnahku. Siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, ia bukan termasuk ummatku. Menikahlah karena aku akan senang atas jumlah besar kalian di hadapan umat-umat lain. Siapa yang telah memiliki kesanggupan, menikahlah. Jika tidak, berpuasalah karena puasa itu bisa menjadi kendali” (Riwayat Ibn Majah, lihat: Kasyf al-Khafa, II/324, no. hadis: 2833).

dan masih banyak lagi hadist2 lain yang berkaitan dengan menikah )

DI ANJURKAN MENIKAH DENGAN WANITA SHALIHAH

dalam hal ini Nabi SAW bersabda :

“Dunia ini medan untuk bersenang-senang .dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita yang berakhlaq mulia”

“Siapa yang dianugerahi istri shalihah, sungguh ia telah dibantu dalam separuh urusan agama, maka bertakwalah (kepada Allah) atas separuh yang lain”. (Riwayat Ibn al-Jawzi, lihat: Kasyf al-Khafa, II/239, no. hadis: 2432).

“seorang wanita di nikahi karena empat faktor .yaitu karena hartanya,keterhormatannya(status sosial)
kecantikannya dan agamanya,maka kamu hendaklah menikah dengan wanita yang kuat agamannya agar kau beruntung”

“sebaik-baik istri umatku adalah yang paling berseri-seri wajahnya dan paling  sedikit(sederhana)maskawinnya”

ANJURAN MENIKAHI WANITA YANG PRODUKTIF DAN IDEAL

bahwa tujuan menikah adalah untuk kesinambungan generasi dan agar ummat manusia tetap exis di muka bumi.islam menganjurkan menikahi wanita yang masih produktif dan tidak mandul

dalam sabda Nabi SAW.

“menikahlah kalian dengan wanita yang banyak cinta kasih sayangnya terhadap suami lagi masih produktif(tidak mandul).karena sesungguhnya aku akan berlomba dengan para nabi yang lain dalam memperbanyak umat kelak pada hari kiyamat”

Nabi SAW pernah bertanya kepada Zaid bin Tsabit:”Apakah kamu sudah menikah wahai Zaid”?

Zaid menjawab”belum” maka nabi SAW bersabda menikahlah kamu niscaya kamu akan terpelihara(dr maksiat)di samping pengupayaanmu dalam menjaga diri/dan kamu jangan sampai beristri lima orang wanita berciri-ciri berikut ,Zaid bertanya lagi :siapakah mereka itu wahai Rosul? Rasulallah SAW menjawab :wanita yang kebiri-biruan matanya,wanita yang tinggi kurus,wanita yang membelakangimu dan wanita beranak”

maka Zaid bertanya lagi:saya belum faham sedikitpun dengan apa ang engkau sabdakan ya Rasulallah?”

maka Nabi bersabda:

“maksudnya perempuan yang kebiru-biruan matanya itu adalah perempuan yang jorok ucapannya,dan perempuan yang tinggi badannya tetapi kurus(tidak seimbang).dan perempuan tua yang monyong pantatnya dan perempuan pendek yang menjadi sasaran cercaan (,karena tidak serasi).dan juga wanita yang membawa anak dari suaminya yang selain kamu.

demikianlah sungguh penjelasan Rasulallah dalam mendidik umatnya untu selalu berhati-hati bahkan ketika memilih calon istri yang produktif )

KEUTAMAAN MEMBINA RUMAH TANGGA.

Mu’adz bin Jabal r.a pernah berkata “Sholat (sekali) di kerjakan oleh orang yang sudah menikah itu lebih umata dari pada empat puluh kali sholat yang di kerjkan orang yang tidak berumah tangga”

Abdullah bin Abbas r.a pernah pula berkata“kawinlah kalian karena sesungguhnya(ibadah) sehari saja di kerjakan oleh orang yang berumah tangga adalah lebih baik(banyak pahalanya) dari pada (ibadah) seribu tahun(sebelum berumah tangga)”

sungguh begitu utamanya menikah sehingga Rasulallah sangat menganjurkan serta begitu mulianya pula ibadah orang yang menikah di hapadan ALLAH SWT.

BEBERAPA HAL YANG POSITIF DALAM NIKAH

a.kesinambungan generasi

menikah itu mempunyai beberapa faidah di antaranya mendapatkan keturunan dalam hidup.

b.terpenuhinya saluran nafsu sex

c.di perolehnya keutamaan mencari rizky

d.taat dan menjaga kehormatan suami

HAL-HAL YANG PERLU DI UPAYAKAN DALAM MENIKAH

A.mencari pasangan yang seimbang(KAFA’AH)

B.niat mengikuti jejak Nabi SAW.

C.mencari orang yang taat beragama

D.mencari perempuan yang produktif dan perawan

E.mencari perempuan yang bukan famili dekat

F.di usahakan mencari gadis cantik

MENCARI WAKTU YANG TEPAT UNTUK MELAKUKAN HUBUNGAN INTIM

A.di anjurkan bersetubuh pada malam hari

hal ini berdasarkan sebuah hadits Nabi SAW :

“Adakanlah temu penganten kalian ,pada malam hari .Dan adakanlah jamuan makan (syukuran resepsi pernikahan)pada waktu dhuha”

B. hari -hari yang tidak tepat untuk bersetubuh

bagi suami yang hendak bersetubuh hendaklah menghindari hari-hari berikut ini :

1.hari rabu yang jatuh pada minggu terakhir tiap bulan

2.hari ketiga awal tiap bulan ramadhan

3.hari kelima awal tiap bulan ramadhan

4.hari ketigabelas pada setiap bulan.

5.hari keenam belas pada setiap bulan

6.hari keduapuluh satu pada setiap bulan

7.hari kedua puluh empat pada setiap bulan

8.hari kedua puluh lima pada setiap bulan

Di samping hari tersebut ada pula hari-hari yang sebaiknya di hindari untuk mengerjakan sesuatu yang di anggap penting yaitu hati sabtu dan hari selasa.

tentang hari sabtu itu Nabi pernah di tanya oleh salah satu sahabat naka Nabi bersabda:

“Hari sabtu itu adalah hari di mana terjadi penipuan “

mengapa hari tersebut di katakan penipuan sebab pada hari itu orang2 berkumpul di gedung “al-nadwah” untuk merembuk memusnahkan dakwah Nabi SAW .wallahu`alam

adapun tentang hari selasa nabi SAW.bersabda:

“Hari selasa itu adalah hari di mana darah pernah mengalir.sebab pada hari itu ibu Hawa pernah haid,putera nabi Adam as pernah membunuh saudara kandungnya sendiri,terbunuhnya Jirjis,Zakaria dan yahya as.kekalahan tukang sihir Fir’aun.di vonisnya Asiyah binti Muzaim permaisuri fir’aun.dan terbunuhnya sapinya bani israil”

adapun imam Malik berpendapat “jaganlah anda menjauhi sebagian hari-hari di dunia ini ,tatkala anda hendak melakukan sebagian tugas pekerjaanmu.kerjakanlah tugas-tugas itu pada hari sesukamu.sebab sebenarnya hari-hari itu semua adalah milik ALLAH.tidak akan menimbulkan malapetaka dan tidak pula bisa membawa manfaat apa-apa”

C. saat yang tepat untuk bersetubuh
bahwa melakukan hubungan intim pada awal bulan itu lebih afdhol dari pada akhir bulan.sebab bila nanti di karuniai seorang anak akan mempunyai anak yang cerdas. bagi seorang suami (penganten baru) sunnah hukumnya bersetubuh dengan istrinya di bulan Syawal.

adalah lebih afdhol pula jika melakukan hubungan sex pada hari ahad dan jum`at .nabi SAW.bersabda:

“hari ahad itu adalah hari yang tepat untuk menanam,dah hari untuk memulai membangun.karena ALLAH memulai menciptakan dunia ini juga memulai meramaikannya jatuh paa hari ahad””hari jum’at itu adalah hari perkawinan dan juga hari peminangan di hari jum’at itu nabi Adam as menikah ibu Hawa,nabi Yusuf as menikah siti Zulaika.nabi Musa as menikah dengan puteri nabi syuaib as,nabi sulaiman menikah ratu bilqis”

wallahu`alam bishowab

tersebut di dalam hadits shahih bahwa Nabi SAW. dalam melaksanakan pernikahannya dengan Sayyidah khodijah dan Sayyhidah Aisyah juga jatuh pada hari jum’at.

D, hari-hari yang seyogayanya di hindari

Tersebutlah dalam Riwayat Alqamah bin Shafwan,dari Ahmad bin Yahya sebuah hadist marfu’ sebagai berikut;

“waspadalah kamu sekalian akan kejadian duabelas hari setahun,karena sesungguhnya ia bisa melenyapkan harta banyak dan bisa mencambik-cambik(merusak)tutup-tutup cela”para sahabat kemudian bertanya “ya Rasulallah apakah 12 hari itu?Rasulallah bersabda :

“yaitu tanggal 12 muharram,10 safar dan 4 rabi’ul awal(mulud) 18 rabu’utsni(bakda mulud) 18 jumadil awal,18 jumadil akhir.12 rajab ,26 sya’ban(ruwah),24 ramadhan,2 syawal,28 dhulqa’dah(apit/sela) dan 8 bulan dhilhijjah”

TATA KERAMA MELAKUKAN HUBUNGAN INTIM

di sini saya hanya akan menulis point-point nya saja )afwan…….

A.mencari waktu usai sholat

B.diusahakan hatinya bersih

C.memulai dari arah kanan dan berdo`a

Bismillaahi, allahumma jannibnasy syaythaana wa jannibisy syaythaana maa razaqtanaa.

Artinya : Dengan nama Allah, ya Allah; jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami. (HR. Bukhari)

D.istri hendaknya wudhu dahulu

E.mengucapkan salam dan menyentuh ubun-ubun istri

F.memeluk istri dan sambil berdo`a

G.mencuci ujung jari kedua tangan dan kaki istri

H.ciptakan suasana tenang dan romantis

Ibnul Qayyim berkata, “Sebaiknya sebelum bersetubuh hendaknya diajak bersenda-gurau dan menciumnya, sebagaimana Rasulullah saw. melakukannya.”

I.memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai

dan juga perlu di perhatikan

Bagian 1 (Merayu dan bercumbu):

Nabi Muhammad s.a.w. melarang suami melakukan persetubuhan sebelum membangkitkan syahwat isteri dengan rayuan dan bercumbu terlebih dahulu.

Hadits Riwayat al-Khatib dari Jabir.

Bagian 2 (DOA SEBELUM BERSETUBUH):

“Bismillah. Allaahumma jannibnaash syaithaa-na wa jannibish syaithaa-na maa razaqtanaa”.

Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami berdua (suami isteri) dari gangguan syaithan serta jauhkan pula syaithan itu dari apa saja yang Engkau rezqikan kepada kami.

Dari Abdulah Ibnu Abbas r.a. berkata:

Maka sesungguhnya apabila ditakdirkan dari suami isteri itu mendapat seorang anak dalam persetubuhan itu, tidak akan dirosak oleh syaithan selama-lamanya.

Hadits Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas r.a.

Bagian 3: (Do’a Hampir keluar mani)

Dan apabila air manimu hampir keluar, katakan dalam hatimu dan jangan menggerakkan kedua bibirmu kalimat ini:

“Alhamdulillaahil ladzii khalaqa minal maa’i basyara”.

Segala pujian hanya untuk Allah yang menciptakan manusia dari pada air.

Bagian 4 (Syahwat terputus ditengah jalan):

Apabila seseorang diantara kamu bersetubuh dengan isterinya maka janganlah ia menghentikan persetubuhannya itu sehingga isterimu juga telah selesai melampiaskan hajatnya (syahwat atau mencapai kepuasan) sebagaimana kamu juga menghendaki lepasnya hajatmu (syahwat atau mencapai kepuasan).

Hadits Riwayat Ibnu Addi.

Bagian 5 (Dogy Style):

Dari Jabir b. Abdulah berkata:

Bahawa orang-orang Yahudi (beranggapan) berkata:

Apabila seseorang menyetubuhi isterinya pada kemaluannya Melalui Belakang maka mata anaknya (yang lahir) akan menjadi juling.

Lalu turunlah ayat suci demikian:

“Isteri-isteri kamu adalah ladang bagimu maka datangilah ladangmu itu dari arah mana saja yang kamu sukai”.

Surah Al Baqarah – ayat 223.

Keterangan:

Suami diperbolehkan menyetubuhi isteri dengan apa cara sekalipun (dari belakang, dari kanan, dari kiri dsb asalkan dilubang faraj).

Bagian 6 (bersetubuh dapat pahala)

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“…..dan apabila engkau menyetubuhi isterimu, engkau mendapat pahala”.

Para sahabat bertanya:

Wahai Rasulullah, adakah seseorang dari kami mendapat pahala dalam melampiaskan syahwat?

Nabi menjawab:

Bukankah kalau ia meletakkan (syahwatnya) ditempat yang haram tidakkah ia berdosa?

Demikian pula kalau ia meletakkan (syahwatnya) pada jalan yang halal maka ia mendapat pahala.

Hadits Riwayat Muslim.

Bagian 7 (Horny lagi)

Apabila diantara kamu telah mecampuri isterinya kemudian ia akan mengulangi persetubuhannya itu maka hendaklah ia mencuci zakarnya terlebih dahulu.

Hadits Riwayat Baihaqi.
Syekh penazham menjelaskan waktu-waktu yang terlarang untuk bersenggama, sebagaimana diungkapkan dalam nazhamnya yang berbahar rajaz berikut ini:”Dilarang bersenggama ketika istri sedang haid dan nifas,Dan sempitnya waktu shalat fardlu, jangan merasa bebas.”Allah Swt. berfirman:”Mereka bertanya kepadamu tentang haid, Katakanlah, haid adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haid” (Qs. Al-Baqarah: 222)

Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “menjauhkan diri” adalah menjauhkan diri dari vagina istri, yang artinya tidak melakukan senggama. Ini adalah pendapat Hafshah ra. Dan Imam Mujahid pun sependapat dengan pendapat Hafshah ra. Tersebut.

Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam kitab Ausath dari Abu Hurairah secara marfu’:Rasulullah Saw.bersabda:”Barang siapa bersetubuh dengan istrinya yang sedang haid, kemudian ditakdirkan mempunyai anak dan terjangkiti penyakit kusta, maka jangan sekali-kali mencela, kecuali mencela dirinya sendiri”Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Bersetubuh di waktu haid dan nifas akan mengakibatkan anak terjangkiti penyakit kusta.”Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan sebuah hadits marfu’ dari shahabat Abu Hurairarah ra.:Rasulullah Saw.bersabda:”Barang siapa datang kepada dukun peramal, kemudian dia mempercayai apa yang dikatakannya, dan menyetubuhi istrinya diwaktu haid atau pada duburnya, maka dia benar-benar telah melepaskan diri dari apa yang telah diturunkan kepada Nabi Saw.”

Rasulullah Saw. bersabda:”Barang siapa menyetubuhi istrinya diwaktu haid, maka hendaklah dia bersedekah satu keping dinar. Dan barang siapa menyetubuhi istrinya dikala haidnya telah reda, maka hendaklah dia bersedekah setenga keping dinar.”Ibnu Yamun meneruskan nazhamnya sebagai berikut:”Dilarang senggama (menurut pendapat yang masyhur) dimalam hari raya Idul Adha,Demikian pula dimalam pertama pada setiap bulan.Dimalam pertengahan pada setiap bulan,Bagitu pula dimalam terakhir pada setiap bulan.”Hal itu berdasarkan pada sabda Rasulullah Saw.:”Janganlah kamu bersenggama pada malam permulaan dan pertengahan bulan”

Al-Imam Ghazali mengatakan, bahwa bersenggama makruh dilakukan pada tiga malam dari setiap bulan, yaitu: pada malam awal bulan, malam pertengahan bulan, dan pada malam terakhir bulan. Sebab setan menghadiri setiap persenggamaan yang dilakukan pada malam-malam tersebut.Ada yang berpendapat, bahwa bersetubuh pada malam-malam tersebut dapat mengakibatkan gila atau mudah stres pada anak yang terlahir. Akan tetapi larangan-larangan tersebut hanya sampai pada batas makruh tidak sampai pada hukum haram, sebagaimana bersenggama dikala haid, nifas dan sempitnya waktu shalat fardlu.Selanjutnya Syekh penazham mengungkapkan tentang keadaan orang yang mengakibatkan ia tidak boleh bersenggama dalam nazham berikut ini:”Hindarilah bersenggama dikala sedang kehausan, kelaparan, wahai kawan, ambillah keterangan ini secara berurutan.Dikala marah, sangat gembira, demikian pula,dikala sangat kenyang, begitu pula saat kurang tidur. Dikala muntah-muntah, murus secara berurutan, demikian pula ketika kamu baru keluar dari pemandian.Atau sebelumnya, seperti kelelahan dan cantuk (bekam),jagalah dan nyatakanlah itu semua dan jangan mencela.”

Sebagaimana disampaikan oleh Imam Ar-Rizi, Bersenggama dalam keadaan sangat gembira akan menyebabkan cedera. Bersenggama dalam keadaan kenyang akan menimbulkan rasa sakit pada persendian tubuh. Demikian juga senggama yang dilakukan dalam keadaan kurang tidur atau sedang susah. Semuanya harus dihindari, karena akan menghilangkan kekuatan dalam bersenggama.Begitu juga gendanya dijauhi senggama yang sebelumnya sudah didahului dengan muntah-muntah dan murus-murus, kelelahan, keluar darah (cantuk), keluar keringat, kencing sangat banyak, atau setelah minum obat urus-urus. Sebab menurut Imam As-Razi, semua itu akan dapat menimbulkan bahaya bagi tubuh pelakunya. Demikian juga hendaknya dijauhi senggama setelah keluar dari pemandian air panas atau sebelumnya, karena ibu itu dapat mengakibatkan terjangkiti sakit kepala atau melemahkan syahwat. Juga hendaknya mengurangi senggama pada musim kemarau, musim hujan, atau sama sekali tidak melakukan senggama dikala udara rusak atau wabah penyakit sedang melanda, sebagaimana dituturkan Syekh penazham berikut ini: “Kurangilah bersenggama pada musim panas,dikala wabah sedang melanda dan dimusim hujan.”

Imam Ar-Rizi mengatakan, bahwa orang yang mempunyai kondisi tubuh yang kering sebaiknya menghindari senggama pada musim panas. Sedangkan orang yang mempunyai kondisi tubuh yang dingin hendaknya mengurangi senggama pada musim panas maupun dingin dan meninggalkan sama sekali pada saat udara tidak menentu serta pada waktu wabah penyakit sedang melanda.Kemudian Syekh penazham melanjutkan nazhamnya sebagai berikut: “Dua kali senggama itu hak wanita, setiap Jumat, waktunya sampai subuh tiba.Satu kali saja senggama demi menjaga kesehatan,setiap Jumat bagi suami yang sakit-sakitan.”Syekh Zaruq didalam kita Nashihah Al-Kafiyah berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan hak wanita adalah senggama yang dilakukan suami bersamanya paling sedikit dua kali dalam setiap Jumat. Atau paling sedikit satu kali pada setiap Jumat bagi suami yang cukup tingkat kesehatannya.Shahabat Umar bin Khaththab menentukan satu kali senggama dalam satu kali suci wanita (istri)(satu kali dalam sebulan), karena dengan begitu suami akan mampu membuat istrinya hamil dan menjaganya. Benar demikian, akan tetapi sebaiknya suami dapat menambah dan mengurangi menurut kebutuhan istri demi menjaga kesehatan. Sebab, menjaga kesehatan istri merupakan kewajiban bagi suami.Sebaiknya suami tidak menjarangkan bersenggama bersama istri, sehingga istri merasa tidak enak badan. Suami juga tidak boleh memperbanyak bersenggama dengan istri, sehingga istri merasa bosan,

sebagaimana diingatkan Syekh penazham melalui nazhamnya berikut ini:”Diwaktu luang senggama jangan dikurangi, wahai pemuda,jika istri merasa tidak enak karenanya, maka layanilah dia.Sebaliknya adalah dengan sebaliknya, demikian menurut anggapan yang ada.Perhatikan apa yang dikatakan dan pikirkanlah dengan serius.”Syekh Zaruq dalam kitab An-Nashihah berkata, “Suami jangan memperbanyak senggama hingga istri merasa bosan dan jangan menjarangkannya hingga istrinya merasa tidak enak badan.” Imam Zaruq juga berkata: “Jika istri membutuhkan senggama, suami hendaknya melayani istrinya untuk bersenggama bersamanya sampai empat kali semalam dan empat kali disiang hari.”Sementara itu istri tidak boleh menolak keinginan suami untuk bersenggama tanpa uzur, berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar berikut ini:”Seorang wanita datang menghadap Rasulullah Saw. seraya bertanya: ‘Ya Rasulallah, apakah hak seorang suami atas istrinya?’ Rasulullah Saw. menjawab: ‘Istri tidak boleh menolak ajakan suaminya, meskipun dia sedang berada diatas punggung unta (kendaraan)’.”Rasulullah Saw. juga bersabda:”Ketika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, kemudian dia menolak, maka para malaikat akan melaknatnya hingga waktu subuh tiba”Dijelaskan, kekhawatiran istri akan anaknya yang sedang menyusu tidak termasuk uzur, sebab sebenarnya sperma suami akan dapat memperbanyak air susu istri.

Qurratul Uyun,Syarah Nazham Ibnu Yamun

Karya: Muhammad At-Tihami Ibnul Madani Kanu

bersambung…………….

http://aisasholikha.wordpress.com/risalah-pernikahan-dari-kitab-qurratul-uyun/

Atas rahmat dan izin Allah Swt

http://salafytobat.wordpress.com

http://aisasholikha.wordpress.com/risalah-pernikahan-dari-kitab-qurratul-uyun/

Kisah Nabi Khidir Dalam Kitab Ibnu Hajar Asqalaniy

Kisah Nabi Khidir

| Takziah kepada keluarga Rasulullah SAW | Khidir datang menegur peniaga | Kisah Khidir dan Abu Mahjan |
| Nabi Khidir memberi pengajaran | Nabi Khidir datang ke Baitul Haram |
| Amalan yang paling disukai Allah | Nabi Khidir mengubati dengan Asmaul Husna |
Takziah kepada keluarga Rasulullah SAW..iriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitab Tafsir: “Bercerita kepadaku ayahku, yang didengarnya dari Abdul Aziz Al-Ausiy, dari Ali bin Abu Ali, dari Jakfar bin Muhammad bin Ali bin Husain, dari ayahnya, katanya Ali bin Abi Talib berkata: “Ketika wafat Rasulullah SAW, datanglah ucapan takziah. Datang kepada mereka (keluarga Nabi SAW) orang yang memberi takziah. Mereka mendengar orang memberi takziah tetapi tidak melihat orangnya. Bunyi suara itu begini:

‘Assalamu Alaikum Ahlal Bait Warahmatullahi Wabarakatuh. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanyasanya disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah bagi setiap musibah, bagi Allah ada pengganti setiap ada yang binasa, begitu juga menemukan bagi setiap yang hilang. Kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya mengharap. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah yang diberi ganjaran pahala.”

Berkata Jakfar: “Bercerita kepadaku ayahku bahawa Ali bin Abi Talib ada berkata: “Tahukah kamu siapa ini? Ini adalah suara Nabi Khidir.” Berkata Muhammad bin Jakfar: “Adalah ayahku, iaitu Jakfar bin Muhammad, menyebutkan tentang riwayat dari ayahnya, dari datuknya, dari Ali bin Abi Talib bahawa datang ke rumahnya satu rombongan kaum Quraisy kemudian dia berkata kepada mereka: “Mahukah kamu aku ceritakan kepada kamu tentang Abul Qasim (Muhammad SAW)?”

Kaum Quraisy itu menjawab: “Tentu sahaja mahu.”

Ali bin Abi Talib berkata: “Jibril Alaihis salam pernah berkata kepada Rasulullah SAW: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai Ahmad. Inilah akhir watanku (negeriku) di bumi. Sesungguhnya hanya engkaulah hajatku di dunia.” Maka tatkala Rasulullah SAW wafat, datanglah orang yang memberi takziah, mereka mendengarnya tetapi tidak melihat orangnya. Orang yang memberi takziah itu berkata: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai ahli bait. Sesungguhnya pada agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, dan bagi Allah ada yang menggantikan setiap ada yang binasa. Maka kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya mengharap. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah yang diberi ganjaran pahala.” Mendengar yang demikian Ali bin Abi Talib berkata: “Tahukah kamu siapa yang datang itu? Itu adalah Khidir.”

Berkata Saif bin Amr At-Tamimi dalam kitabnya Ar-Riddah, yang diterimanya dari Sa’id bin Abdullah, dari Ibnu Umar mengatakan: “Ketika wafat Rasulullah SAW, datanglah Abu Bakar ke rumah Rasulullah. Ketika beliau melihat jenazah Rasulullah SAW, beliau berkata: “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun.” Kemudian beliau bersama sahabat-sahabat yang lain menyembahyangkan jenazah Rasulullah SAW. Pada waktu mereka menyembahyangkan jenazah Rasulullah SAW, mereka mendengar suara ajaib. Selesai solat dan mereka pun semuanya sudah diam, mereka mendengar suara orang di pintu mengatakan: “Selamat sejahtera ke atas kamu wahai Ahli Bait. Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Hanyasanya disempurnakan pahala kamu pada hari kiamat. Sesungguhnya pada agama Allah ada pengganti setiap ada yang binasa dan ada kelepasan dari segala yang menakutkan. Kepada Allah-lah kamu mengharap dan dengan-Nya berpegang. Orang yang diberi musibah akan diberi ganjaran. Dengarlah itu dan hentikan kamu menangis itu.”

Mereka melihat ke arah suara itu tetapi tidak melihat orangnya. Kerana sedihnya mereka menangis lagi. Tiba-tiba terdengar lagi suara yang lain mengatakan: “Wahai Ahli Bait, ingatlah kepada Allah dan pujilah Dia dalam segala hal, maka jadilah kamu golongan orang mukhlisin. Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, dan ada pengganti setiap ada yang binasa. Maka kepada Allah-lah kamu berpegang dan kepada-Nya taat. Sesungguhnya orang yang diberi musibah adalah orang yang diberi pahala.” Mendengar yang demikian itu berkata Abu Bakar: “Ini adalah Khidir dan Ilyas. Mereka datang atas kematian Rasulullah SAW.”

Berkata Ibnu Abu Dunia, yang didengarnya dari Kamil bin Talhah, dari Ubad bin Abdul Samad, dari Anas bin Malik, mengatakan: “Sewaktu Rasulullah SAW meninggal dunia, berkumpullah sahabat-sahabat beliau di sekeliling jenazahnya menangisi kematian beliau. Tiba-tiba datang kepada mereka seorang lelaki yang bertubuh tinggi memakai kain panjang. Dia datang dari pintu dalam keadaan menangis. Lelaki itu menghadap kepada sahabat-sahabat dan berkata: “Sesungguhnya dalam agama Allah ada pemberi takziah setiap terjadi musibah, ada pengganti setiap ada yang hilang. Bersabarlah kamu kerana sesungguhnya orang yang diberi musibah itu akan diberi ganjaran.”

Kemudian lelaki itu pun menghilang daripada pandangan para sahabat. Abu Bakar berkata: “Datang ke sini lelaki yang memberi takziah.” Mereka memandang ke kiri dan kanan tetapi lelaki itu tidak nampak lagi. Abu Bakar berkata: “Barangkali yang datang itu adalah Khidir, saudara nabi kita. Beliau datang memberi takziah atas kematian Rasulullah SAW.”

Dari tadi sudah banyak kita lihat ucapan-ucapan takziah yang hampir sama kata-katanya. Ada yang mengatakan hadis ini daif. Ubad yang meriwayatkan hadis ini tidak diiktiraf oleh Imam Bukhari.

Berkata Ibnu Syahin dalam kitabnya Al-Jana’iz: “Bercerita kepada kami Ibnu Abu Daud, dari Ahmad bin Amr, dari Ibnu Wahab, dari Muhammad bin Ajlan, dari Muhammad bin Mukandar, berkata: “Pernah pada suatu hari Umar bin Khattab menyembahyangkan jenazah, tiba-tiba beliau mendengar suara di belakangnya: “Ala, janganlah duluan dari kami mengerjakan solat jenazah ini. Tunggulah sudah sempurna dan cukup orang di belakang baru memulakan takbir.” Kemudian lelaki itu berkata lagi: “Kalau engkau seksa dia ya Allah, maka sesungguhnya dia telah derhaka kepada-Mu. Tetapi kalau Engkau mahu mengampuni dia, maka dia betul-betul mengharap keampunan daripada-Mu.” Umar bersama sahabat-sahabat yang lain sempat juga melihat lelaki itu. Tatkala mayat itu sudah dikuburkan, lelaki itu masih meratakan tanah itu sambil berkata: “Beruntunglah engkau wahai orang yang dikuburkan di sini.”

Umar bin Khattab berkata: “Tolong bawa ke sini lelaki yang bercakap itu supaya kita tanya tentang solatnya dan maksud kata-katanya itu.” Tiba-tiba lelaki itu pun sudah menghilang dari pandangan mereka. Mereka mencari ke arah suaranya tadi tiba-tiba mereka melihat bekas telapak kakinya yang cukup besar. Umar bin Khattab berkata: “Barangkali yang datang itu adalah Khidir yang pernah diceritakan oleh Nabi kita Muhammad SAW.”
Ada juga yang mengatakan hadis ini tidak sahih. Kata Ibnu al-Jauzi hadis ini majhul (tidak dikenal) dan dalam sanadnya ada yang terputus di antara Ibnul Mukandar dengan Umar.

^ Kembali ke atas ^

Khidir datang menegur peniaga

Berkata Ibnu Abu Dunia: “Bercerita kepadaku ayahku, yang didengarnya dari Ali bin Syaqiq, dari Ibnu Al-Mubarak, dari Umar bin Muhammad bin Al-Mukandar, berkata: “Ada seorang peniaga yang banyak memuji-muji barangnya dan banyak bersumpah untuk meyakinkan orang lain (pembeli). Tiba-tiba datang kepadanya seorang tua dan berkata: “Wahai peniaga, juallah barangmu tetapi jangan banyak bersumpah.” Peniaga itu masih banyak bercakap dan bersumpah, yang menyebabkan orang tua itu berkata lagi: “Wahai pedagang, berniagalah secara jujur dan jangan banyak bersumpah.” Bahkan orang tua itu berkata lagi: “Berniagalah secara yang patut sahaja.” Peniaga itu berkata: “Inilah yang patut saya lakukan.” Kemudian orang tua itu berkata: “Utamakanlah kejujuran walaupun berat melakukannya dan tinggalkan berbohong walaupun ia akan membawa keuntungan.”

Akhirnya peniaga itu berkata: “Kalau begitu tuliskanlah semua apa yang engkau sebutkan ini. “Orang tua itu berkata: “Kalau ditakdirkan sesuatu itu maka adalah ia.” Menurut mereka yang datang menegur itu adalah Nabi Khidir.
Diriwayatkan oleh Abu Amr, dari Yahya bin Abi Talib, dari Ali bin Ashim, dari Abdullah, berkata: “Pernah Ibnu Umar duduk-duduk di satu tempat, sedangkan seorang lelaki (tidak berapa jauh dari tempatnya) sudah mula membuka jualannya. Peniaga itu banyak bersumpah untuk melariskan jualannya. Tiba-tiba datang kepadanya seorang lelaki dan berkata: “Takutlah kepada Allah dan jangan berbohong. Hendaklah engkau berkata jujur walaupun berat melakukannya dan jauhilah berdusta walaupun ia membawa manfaat. Dan jangan tambah-tambah dari cerita orang lain (apa yang ada).”

Ibnu Umar yang mendengar teguran orang tua itu berkata kepada peniaga itu: “Pergi ikuti dia dan suruh supaya dia tulis apa yang disebutkannya tadi.” Peniaga itu pergi mengikutinya dan meminta supaya menuliskan apa yang disebutkannya tadi tetapi orang tua itu hanya berkata: “Kalau sesuatu itu sudah ditentukan Allah, maka adalah ia.” Kemudian orang tua itu pun tiba-tiba sahaja menghilang. Peniaga itu kembali menjumpai Ibnu Umar serta menceritakan apa jawapan orang tua itu. Ibnu Umar berkata: “Yang datang itu adalah Nabi Khidir.”

Tetapi kata Ibnu Al-Jauzi hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Ahsim daif. Bahkan katanya Ali bin Ashim itu lemah ingatannya.

Ada juga riwayat yang hampir sama dengan ini menyebutkan: “Ada dua orang lelaki yang berjualan tidak berapa jauh dari Abdullah bin Umar. Salah seorang dari peniaga itu banyak bersumpah untuk melariskan barang-barang jualannya. Ketika ghairah bercerita mempromosikan jualannya, tiba-tiba datang seorang lelaki kemudian berkata kepada peniaga yang banyak bersumpah itu: “Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan jangan banyak bersumpah. Sesungguhnya tidak akan bertambah rezekimu jika engkau banyak bersumpah. Dan sebaliknya, tidak akan mengurangkan kepada rezekimu jika engkau tidak bersumpah. Oleh itu bercakaplah yang wajar-wajar sahaja.”

Peniaga itu menjawab: “Inilah yang saya anggap wajar.”

Lelaki tua itu mengulang nasihatnya lagi. Dan ketika dia sudah mahu pergi, dia berkata lagi: “Ketahuilah bahawa termasuk daripada iman ialah mengutamakan kejujuran walaupun berat melaksanakannya dan meninggalkan pembohongan walaupun dianggap membawa keuntungan.”

Setelah memberi nasihat atau teguran, lelaki itu pun pergi. Ibnu Umar berkata kepada peniaga itu: “Kejar dia dan minta supaya ditulisnya apa yang disebutkannya tadi.” Peniaga itu pergi mengejarnya dan berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah, tuliskanlah apa yang engkau sebutkan tadi supaya tuan dirahmati Allah.” Lelaki itu tidak ada menulisnya tetapi mengulangi apa yang disebutkannya tadi. Jadi, menurut Ibnu Umar yang datang itu adalah Nabi Khidir.

^ Kembali ke atas ^

Kisah Khidir dan Abu Mahjan

Diriwayatkan oleh Saif dalam kitab Al-Futuh, bahawa satu jemaah berada bersama Saad bin Abi Waqqas, maka mereka melihat Abu Mahjan berperang, maka yang meriwayatkan ini pun menceritakan kisah Abu Mahjan secara panjang lebar. Dari kesimpulan cerita-cerita mereka mengatakan bahawa Nabi Khidir masih hidup pada zaman itu.

Berkata Abu Abdullah bin Battah: “Bercerita kepada kami Syuaib bin Ahmad, yang didengarnya dari ayahnya, dari Ibrahim, bin Abdul Hamid, dari Ghalib bin Abdullah, dari Hasan Basri berkata: “Seorang lelaki berfahaman Ahli Sunnah Waljamaah berlainan pendapat dan berhujah dengan seorang lelaki bukan Ahli Sunnah. Mereka berdebat mengkaji masalah qadar. Mereka berdebat di tengah-tengah perjalanan. Masing-masing mereka mempertahankan pendapatnya dan berbantah dengan suara yang kuat tetapi akhirnya sepakat siapa yang duluan datang ke tempat mereka berhujah itu akan diangkat sebagai pemutus di antara mereka.

Tidak lama kemudian, muncullah seorang lelaki memikul bungkusan sedangkan rambut dan pakaiannya sudah berabu dan jalannya menunjukkan seolah-olah sudah kepenatan. Mereka berkata kepada lelaki itu: “Tadi kami berdebat tentang qadar dan masing-masing di antara kami memberikan hujah dan dalilnya tetapi tidak tahu siapa di antara kami yang benar. Kami sudah sama-sama setuju bahawa siapa orang yang mula-mula datang ke tempat ini akan kami angkat sebagai hakim. Maka sekarang kami minta tolong kepada tuan untuk menghakimi kami.”

Lelaki itu meletakkan bungkusannya kemudian duduk. Setelah berehat sebentar dan nafasnya sudah mulai tenang, dia berkata: “Kalau begitu duduklah kamu disini.” Kemudian lelaki itu menghakimi mereka secara bijaksana.” Menurut Hasan Basri lelaki yang mengadili mereka itu adalah Nabi Khidir.

^ Kembali ke atas ^

Nabi Khidir memberi pengajaran

Diriwayatkan oleh Hammad bin Umar, dari A-Sara bin Khalid, dari Jakfar bin Muhammad, dari ayahnya, dari datuknya Ali bin Husain, katanya pembantu mereka pergi berlayar menaiki kapal. Ketika dia mahu mendarat tiba-tiba dia melihat di atas pantai duduk seorang lelaki yang sedang menerima hidangan makanan dari langit. Makanan itu diletakkan di hadapannya kemudian dia pun memakannya. Setelah dia kenyang, makanan itu diangkat semula ke langit. Pembantu yang merasa hairan itu memberanikan dirinya mendekati orang itu sambil berkata kepadanya: “Hamba Allah yang manakah engkau ini?” Lelaki itu berkata: “Aku adalah Khidir yang barangkali engkau sudah pernah mendengar nama itu.” Pembantu itu bertanya lagi: “Dengan (amalan) apakah didatangkan kepadamu makanan dan minuman ini?”

Lelaki itu menjawab: “Dengan nama Allah yang Maha Agung.”

Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Al-Zuhdi, yang diterima dari Hammad bin Usamah, dari Mas’ar, dari Maan bin Abdul Rahman, dari Aun bin Abdullah, dari Utbah, dari Ibnu Mas’ud, mengatakan: “Ada seorang lelaki di Mesir sedang bercucuk tanam di kebunnya. Ketika itu dia sedang gelisah dan dia tunduk mengerjakan ladangnya. Ketika dia mengangkat kepalanya, tiba-tiba di melihat di hadapannya ada seorang lelaki sedang berdiri memperhatikan apa yang dilakukannya dan memandangi wajahnya. Lelaki itu berkata kepadanya: “Kuperhatikan dari tadi engkau murung dan gelisah, mengapa begitu?” Lelaki yang bercucuk tanam itu berkata: “Tidak ada apa-apa.”

Kemudian lelaki yang datang tadi berkata: “Dunia adalah kesenangan yang sedikit dan masanya amat terhad, dan kesenangan itu dinikmati oleh orang baik dan orang jahat. Sedangkan akhirat kesenangan yang hakiki dan abadi.”
Mendengar yang demikian lelaki yang bercucuk tanam itu berkata: “Sebenarnya saya sedih memikirkan keadaan kaum muslimin sekarang ini. Orang yang datang itu berkata: “Allah SWT akan membebaskanmu dari kesusahan kerana engkau ambil-berat terhadap nasib kaum Muslimin. Cuba tanya siapakah orangnya yang meminta kepada Allah kemudian Allah tidak memenuhi permintaannya, siapakah orang yang doanya tidak terkabul? Siapakah yang berserah kepada Allah lalu Allah tidak melindunginya?” Mus’ir berkata: “Menurut mereka orang yang memberi pengajaran itu adalah Khidir.”

.^ Kembali ke atas ^

Nabi Khidir datang ke Baitul Haram

Berkata Abu Naim dalam kitab Al-Hilyah: “Bercerita kepada kami Ubaidullah bin Muhammad, dari Muhammad bin Yahya, dari Ahmad bin Mansur, dari Ahmad bin Jamil, katanya berkata Sufyan bin Ainah: “Pada waktu saya tawaf di Baitullah, tiba-tiba saya melihat seorang yang sedang memimpin satu kumpulan manusia mengerjakan tawaf. Saya bersama orang yang berdiri di sekelilingku memperhatikan lelaki itu. Ada di antara mereka yang berkata: “Lelaki yang memimpin kumpulan yang tawaf itu nampaknya seorang yang ikhlas dan berilmu.” Kami amati dia bahkan kami ikuti ke mana dia pergi. Lelaki itu pergi ke maqam kemudian mengerjakan solat di situ. Selesai solat dia menadahkan kedua tangannya dan berdoa. Setelah itu dia melihat ke arah kami dan berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhan kamu?”

Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhan kamu berkata: “Aku adalah raja. Kamu mendakwa diri kamu sebagai raja.” Kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah kiblat, menadahkan tangannya sebagai tanda berdoa kemudian berpaling kepada kami dan berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhan kamu?” Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhan kamu berkata: “Akulah yang hidup dan tidak akan mati untuk selamanya. Kamu mendakwa diri kamu hidup dan tidak akan mati.”

Setelah itu dia menghadap ke arah kiblat dan mendoa. Selesai berdoa berpaling kepada kami sambil berkata: “Tahukah kamu apa kata Tuhan kamu?” Kami jawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tuhan kamu berkata: “Akulah Tuhan yang apabila menghendaki sesuatu akan ada ia. Ada di antara kamu yang mengaku apabila menginginkan sesuatu akan ada.”

Kata Ibnu Ainah lagi: “Kemudian dia pun pergi dan kami tidak melihatnya lagi. Setelah itu saya berjumpa dengan Sufyan As-Tsauri dan dia berkata: “Barangkali lelaki itu adalah Khidir atau wali Allah yang lain.”

Ada diceritakan ketika Hasan Basri berceramah di hadapan jemaahnya, tiba-tiba datang seseorang yang matanya kehijau-hijauan. Melihat yang demikian Hasan Basri bertanya kepadanya: “Apakah memang begini engkau dilahirkan oleh ibumu atau ini sebagai tanda?” Orang yang baru datang itu berkata: “Apakah sememangnya engkau kenal kepadaku wahai Abu Said?” Hasan Basri berkata: “Siapa engkau sebenarnya?” Lelaki itu memperkenalkan dirinya sehingga jelas bagi semua jemaah yang ada di tempat itu. Hasan Basri berkata lagi: “Tolong ceritakan bagaimana kisahmu.”

Lelaki itu berkata: “Pernah pada suatu hari dahulu aku mengangkut semua barang-barangku ke dalam kapal. Aku pun berlayar menuju Cina. Ketika berlayar mengharungi lautan yang dalam, tiba-tiba angin bertiup kencang. Terjadi ombak yang begitu hebat dan kapal yang saya naiki pun terbalik. Rupanya ajalku belum tiba, aku dibawa oleh ombak ke pantai. Aku terdampar di satu pulau yang tidak didiami oleh manusia. Empat bulan lamanya aku keseorangan di pulau itu. Makanan tidak ada kecuali daun-daunan dan batang kayu yang lapuk. Bahkan minuman pun tidak ada kecuali air mata yang sentiasa mengalir kerana sedihnya.

Tidak terdaya lagi menahankan hidup seperti itu sehingga aku sudah bermaksud berenang menyeberangi lautan yang luas itu. Ketika berjalan mendekati laut yang ombaknya melambai-lambai itu, tiba-tiba di hadapanku sudah ada istana yang pintunya seperti perak. Kubuka pintunya rupanya di dalam ada bilik-bilik dan beberapa ruang tamu yang lengkap dengan perhiasan. Di dalam istana itu juga ada beberapa buah peti yang dihiasi dengan permata. Aku buka salah satu peti itu. Aku dekati peti itu kemudian terasalah semerbak yang cukup harum. Aku buka perlahan-lahan, rupanya di dalam ada mayat yang masih segar seperti orang tidur. Aku tutup semula peti itu kemudian aku keluar dari istana itu.

Sebaik sahaja turun dari tangga istana, aku berjumpa dengan dua orang pemuda kacak dan nampak ramah.
Mereka bertanya siapa aku dan aku pun memberikan butir-butir peribadiku. Mereka berkata: “Pergilah ke pohon sana. Di bawah pohon itu ada taman yang indah. Dan di situ nanti ada orang tua yang sedang mengerjakan solat. Dia itu baik orangnya. Ceritakan dirimu dan keadaanmu kepadanya kemudian nanti dia akan menunjukkan jalan kepadamu.”

Aku pun pergi ke pohon yang mereka tunjukkan itu. Memang benar, di bawahnya ada seorang lelaki tua sedang duduk berzikir. Aku ucapkan salam kepadanya kemudian dia pun menjawabnya. Dia tanya siapa diriku kemudian aku pun menerangkannya. Dia tanya mengapa aku sampai di tempat itu kemudian aku ceritakan semuanya. Lelaki itu terdiam sejenak merenungkannya. Dia tanya mengapa aku sampai di tempat itu kemudian aku ceritakan semuanya.

Lelaki itu terdiam sejenak merenungkan perjalananku dan macam-macam yang aku lihat sebelumnya. Dia tanya lagi di mana kampungku kemudian aku ceritakan. Kemudian lelaki itu berkata: “Kalau begitu duduklah dahulu.”
Aku duduk sahaja memperhatikan lelaki itu. Tidak lama kemudian datanglah tumpukan awan mendekati beliau.

Anehnya awan itu sanggup berkata seperti manusia dengan ucapan: “Assalamu Alaikum ya wali Allah.” Beliau menjawab salam awan itu kemudian awan itu pun berhenti di hadapan beliau.

Beliau bertanya kepada awan itu: “Ke mana engkau mahu pergi?” Awan itu menjawab: “Aku mahu pergi ke kampung ini dan kampung ini.” Kemudian awan itu pun pergi seperti ditiup angin. Datang lagi awan-awan yang lain dan kesemuanya berhenti di depan beliau. Beliau bertanya lagi kepada awan yang datang kemudian: “Ke mana engkau mau pergi?” Awan itu menjawab: “Saya mahu pergi ke Basrah.” Beliau berkata: “Kalau begitu turun dahulu.” Awan itu turun dan berhenti di hadapan beliau. Beliau berkata: “Bawa orang ini ke depan rumahnya dengan selamat.”

Nampaknya awan itu sudah siap untuk mengangkut saya. Sebelum berangkat, saya bertanya kepada orang tua itu: “Demi Tuhan yang telah memuliakan engkau, tolong ceritakan kepadaku apa itu istana tadi, siapa dua orang pemuda itu dan siapa engkau.”

Orang tua itu berkata: “Istana yang engkau lihat tadi adalah tempat para syuhada yang gugur di laut. Orang-orang yang mati syahid di laut telah diangkut oleh malaikat. Mayat para syuhada itu mereka masukkan ke dalam peti yang dihiasi dengan emas dan permata, disembur dengan wangi-wangian dan mereka masukkan (simpan) di dalam istana seperti yang engkau lihat tadi. Dua orang pemuda tampan yang engkau jumpai tadi adalah malaikat yang disuruh Allah untuk menguruskan mereka pada waktu pagi dan petang. Sedangkan aku ini adalah Khidir. Aku dahulu ada memohon kepada Allah supaya mengumpulkan atau menggabungkan aku dengan umat nabi kamu Muhammad SAW.”

Lelaki yang dibawa awan dan datang menjumpai Hasan Basri itu berkata lagi: “Sewaktu terbang bersama awan, aku terperanjat kerana melihat sesuatu yang mengejutkan. Dan itulah sebabnya mataku seperti yang engkau lihat ini.”

Mendengar yang demikian Hasan Basri berkata: “Sungguh mengagumkan pengalaman hidupmu.”

Menurut satu riwayat, Raja Sulaiman bin Abdul Malik telah menyuruh menterinya menangkap seorang lelaki yang sangat dikehendaki untuk dibunuh. Sebaik sahaja mengetahui perintah raja itu, lelaki yang dicari tadi segera melarikan diri. Lelaki itu lari ke kampung lain. Di kampung itu dia mendengar berita hangat bahawa orang bernama ini disuruh tangkap untuk dibunuh. Dia semakin ketakutan kemudian lari lagi ke kampung lain. Di kampung itu pun rupanya sudah gempar berita itu yang menyebabkan dia lari lagi ke kampung lain. Begitulah yang dia dengar setiap pergi ke satu kampung. Akhirnya dia terfikir untuk lari ke negeri di luar kekuasaan Sulaiman bin Abdul Malik.

Sekarang dia sudah sampai di satu padang pasir yang amat luas, yakni di tempat itu tidak ada pokok yang tumbuh, tidak ada air dan makanan apapun, bahkan nampaknya tempat itu adalah tanah yang tidak pernah diinjak oleh manusia.

Di situ dia melihat seorang lelaki tengah mengerjakan solat. Dia pandang di sekeliling orang yang solat itu, ternyata tidak ada tunggangan, tidak ada bekalan dan sebagainya. Dia begitu hairan melihat lelaki itu mengapa berada seorang diri di tempat itu. Dia ingin mendekati lelaki itu tetapi tidak jadi kerana ketakutan. Hatinya bertanya: “Ini manusia atau jin ini.” Dia beranikan dirinya untuk mendekati lelaki itu. Kemudian lelaki itu memandang ke arahnya dan berkata: “Barangkali Sulaiman bin Abdul Malik yang membuatmu ketakutan sehingga tersesat ke tempat ini.” Dia berkata: “Betul tuan.” Lelaki itu berkata: “Mengapa tidak engkau buat pendinding dirimu?” Dia bertanya: “Pendinding apa maksudnya?” Lelaki itu berkata: “Bacalah zikir seperti ini (yang maksudnya):
Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Esa yang tidak ada Tuhan selain-Nya.

Maha Suci (Tuhan) Yang Maha terdahulu dan tidak ada yang menjadikan-Nya.
Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Kekal dan tidak akan binasa.
Maha Suci (Tuhan) Yang Dia setiap hari dalam kesibukan.
Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.
Maha Suci (Tuhan) yang telah menciptakan apa yang dilihat dan tidak kelihatan.
Maha Suci (Tuhan) yang mengajari segala sesuatu tanpa pengajaran secara langsung.

Dalam zikir di atas ada dinyatakan bahawa Allah setiap hari atau waktu berada dalam kesibukan. Ini sebenarnya ada ditemui di dalam Quran, iaitu ayat yang mengatakan: Setiap waktu Dia (Allah) dalam kesibukan.

(Al-Rahman: 29)

Maksudnya Allah SWT sentiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rezeki kepada semua makhluk dan sebagainya. Orang itu berkata: “Bacalah zikir ini.” Lelaki itu berkata: “Maka saya pun menghafal zikir itu dan membacanya. Tiba-tiba lelaki itu sudah menghilang dan tidak nampak lagi. Tetapi berkat amalan itu, perasaan takut sudah hilang dari diriku. Aku sudah bermaksud pulang ke kampungku menjumpai keluargaku, bahkan aku ingin pergi menjumpai Sulaiman bin Abdul Malik.

Pada suatu hari, yang mana rakyat jelata dibolehkan berjumpa dengannya, saya pun masuk ke istananya. Sebaik sahaja saya masuk ke ruang tamunya, dia memandangiku seakan ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Dia mendekati aku kemudian berkata: “Engkau telah menyihir aku.” Saya jawab dengan tenang: “Wahai Amirul Mukminin, saya tidak ada mengguna-guna tuan. Saya tidak pernah belajar ilmu sihir dan saya tidak ada menyihir tuan.”

Sulaiman bin Abdul Malik menerangkan apa yang ada dalam hatinya secara jujur: “Dulu aku begitu marah melihat engkau. Aku sudah bertekad akan membunuh engkau. Rasanya kerajaanku ini tidak sempurna kalau tidak membunuh engkau. Tetapi setelah melihat wajahmu tadi, aku begitu sayang kepada engkau. Sekarang ceritakan secara jujur apa yang engkau amalkan itu. Dia pun menyebutkan zikir tadi. Mendengar yang demikian Sulaiman bin Abdul Malik berkata: “Demi Allah Khidirlah yang mengajarkan amalan itu kepadamu.” Akhirnya raja memaafkan segala kesalahannya dan menyayanginya.

^ Kembali ke atas ^

Amalan yang paling disukai Allah

Dari Raja’, beliau berkata: “Pernah pada suatu hari ketika saya berada di samping Sulaiman bin Abdul Malik, tiba-tiba datang seorang lelaki tampan. Lelaki itu memberi salam kemudian kami jawab. Kemudian dia berkata: “Wahai Raja’, sesungguhnya telah diuji keimananmu ketika engkau dekat dengan lelaki ini (Raja Sulaiman). Kalau engkau dekat dengan dia, maka engkau akan celaka. Wahai Raja’, engkau mesti sentiasa berbuat baik dan menolong orang-orang lemah. Ketahuilah wahai Raja’, sesiapa yang mempunyai kedudukan di kerajaan sultan, lalu dia mengangkat hajat orang-orang lemah yang mereka tidak sanggup menyampaikannya, maka orang yang mengangkat atau menyampaikan itu akan menjumpai Allah pada hari kiamat dalam keadaan kedua tumitnya tetap ketika berhisab. Ketahuilah wahai Raja’ bahawa sesiapa yang menunaikan hajat saudaranya sesama muslim maka Allah akan menunaikan hajatnya. Dan ketahuilah wahai Raja’ bahawa amalan yang paling disukai Allah ialah amalan menyenangkan hati orang mukmin.”

Setelah memberikan pengajaran yang bernas itu, tiba-tiba lelaki itu sudah menghilang. Ramai yang berpendapat bahawa yang datang memberikan pengajaran itu ialah Nabi Khidir.

Mas’ab bin Thabit bin Abdullah bin Zubair adalah seorang yang rajin beribadat. Dia selalu berpuasa dan mengerjakan solat tidak kurang dari seribu rakaat sehari semalam. Dia ada berkata: “Pernah ketika aku berada di dalam masjid sedangkan orang semuanya sudah pulang, ke rumah masing-masing, tiba-tiba datang seorang lelaki yang tidak saya kenal. Lelaki itu menyandarkan badannya ke dinding masjid sambil berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahawa aku berpuasa sejak kelmarin. Sampai sekarang pun aku masih berpuasa. Aku tidak mendapatkan makanan dan minuman dan aku menginginkan al-Tharid (nama makanan). Berikanlah kepadaku ya Allah makanan dari sisi Engkau.”

“Tiba-tiba saya melihat seorang pelayan datang membawa hidangan. Pelayan itu nampaknya tidak seperti orang biasa. Orangnya tampan, bersih dan pakaiannya kemas. Dia berjalan ke arah lelaki yang berdoa tadi sambil meletakkan hidangan itu di hadapannya. Lelaki itu pun membetulkan duduknya menghadap hidangan itu. Sebelum mencicipi makanan itu dia memandang saya dan mengajak saya supaya ikut makan bersamanya. Hatiku berkata: “Syukur dia mengajak saya makan bersama.” Ketika itu saya yakin makanan itu didatangkan dari syurga sehingga saya pun ingin betul mencuba. Baru sedikit saya cuba tahulah saya bahawa makanan itu bukan makanan yang biasa di dunia ini.

Sebenarnya saya merasa segan dan malu kepada orang yang tidak saya kenal itu. Belum lagi kenyang rasa perutku saya sudah mengucapkan terima kasih dan pergi ke tempatku semula tadi. Tetapi saya masih terus memperhatikan lelaki itu. Setelah dia selesai makan, datang lagi pelayan tadi mengambil hidangan itu. Dia pergi lagi ke arah tempat datang tadi. Lelaki yang baru selesai makan itu pun sudah berdiri dan nampak pergi. Aku kejar dia kerana ingin tahu siapa dia sebenarnya. Tetapi malangnya dia tiba-tiba saja menghilang dan saya tidak tahu ke mana perginya. Besar kemungkinan lelaki itu adalah Nabi Khidir.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, dari Ibrahim bin Abdullah bin Al-Mughirah, dari Abdullah, berkata: “Telah bercerita kepadaku ayahku bahawa pengurus sebuah masjid berkata kepada Walid bin Abdul Malik: “Sesungguhnya Nabi Khidir sembahyang setiap malam di masjid.”

Dari Daud bin Yahya, katanya bercerita seorang lelaki yang selalu berada di Baitul Maqdis: “Pada waktu saya berjalan di salah satu lembah di Jordan, saya melihat di lembah bukit itu ada orang yang sedang mengerjakan solat. Saya lihat di atasnya ada awan yang melindunginya daripada panas matahari. Menurut tekaanku lelaki itu adalah Nabi Ilyas. Saya dekati dia kemudian kuucapkan salam kepadanya. Dia berpaling kepadaku sambil menjawab salamku. Aku tanya: “Siapa anda sebenarnya wahai orang yang dirahmati Allah?” Dia diam sahaja dan tidak menjawab soalanku. Kutanya lagi seperti soalan pertama kemudian dia menjawab: “Aku adalah Ilyas An-Nabi.”

Tiba-tiba sahaja merinding bulu romaku. Aku gementar, dan yang paling kutakutkan dia menghilang sebelum saya sempat menanyakan itu dan ini. Aku berkata kepadanya: “Tolong doakan supaya Allah menghilangkan penyakitku ini.” Dia pun berdoa. Tiba-tiba penyakitku terasa sudah sembuh.

Aku tanya lagi: “Kepada siapa tuan diutus?” Beliau menjawab: “Aku diutus kepada penduduk Baklabakka.” Kutanya lagi: “Apakah sekarang ini tuan masih ada menerima wahyu?” Beliau menjawab: “Bukankah sudah diutus Muhammad sebagai nabi penutup? Aku tidak ada menerima wahyu lagi.”

Katanya lagi: “Kalau begitu berapa lagi nabi yang masih hidup sekarang ini?” Beliau menjawab: “Sekarang ada empat orang lagi nabi yang masih hidup, iaitu saya sendiri (Ilyas), Khidir di bumi (darat), dan Nabi Idris bersama nabi Isa di langit.”

Kutanya lagi: “Apakah tuan pernah berjumpa dengan Nabi Khidir?” Beliau menjawab” “Ya, setiap tahun kami berjumpa di padang Arafah, yakni pada musim haji.”

Kutanya: “Apa yang kamu lakukan jika berjumpa di sana?” Beliau menjawab: “Aku ambil rambutnya kemudian dia pun mengambil (mencukur rambutku).”

Kutanya lagi: “Berapa orang lagi Al-Abdal (Wali Allah yang lain)?” Beliau menjawab: “Ada 60 orang lelaki. 50 orang berada di kawasan Mesir sampai pantai Furat, 2 orang di Masisah, 1 orang di Antokiah dan 7 orang di pelbagai penjuru dunia. Merekalah yang mengatur hujan dan mereka yang menolong untuk mengalahkan musuh Allah, bahkan di tangan mereka berdirinya dunia ini, dia matikan mereka semua supaya dunia ini pun hancur.” Ini menurut satu pendapat sangat tidak sahih.

^ Kembali ke atas ^

Nabi Khidir mengubati dengan Asmaul Husna

Berkata Abul Hasan bin Al-Munadi: “Bercerita kepada kami Ahmad bin Mulaib, dari Yahya bin Said, dari Abu Jakfar Al-Kufi, dari Abu Umar Al-Nasibiy, berkata: “Aku pergi mencari Maslamah bin Masqalah di Syam. Ramai yang mengatakan Maslamah termasuk wali Allah juga. Setelah berusaha mencarinya, saya menjumpainya di salah satu lembah di Jordan.

Beliau berkata kepadaku: “Mahukah engkau kuceritakan kepadamu tentang apa yang kulihat tadi di lembah bukit ini?” Kujawab: “Tentu aku ingin mendengarnya.” Beliau berkata: “Ketika saya datang tadi ke lembah ini, saya melihat seorang syekh yang sedang mengerjakan solat di bawah pokok itu. Besar kemungkinan lelaki itu adalah Nabi Ilyas. Aku berjalan mendekatinya kemudian memberi salam kepadanya sekalipun dia sedang mengerjakan solat. Saya lihat dia rukuk, kemudian iktidal, dan kemudian sujud.Selesai solat dia memandang ke arah suaraku datang kemudian menjawab salamku setelah melihat aku berdiri di situ.

Aku tanya dia: “Siapakah engkau wahai orang yang dirahmati Allah.” Dia menjawab : “Aku adalah Ilyas Al-Nabi.”

Aku begitu gugup mendengar kata-katanya itu.Dia datang mendekati aku. Dia letakkan tangannya di dadaku sehingga aku merasakan kesejukan tangannya.

Aku berkata kepadanya: “Wahai nabi Allah, doakanlah supaya Allah menghilangkan penyakitku ini.” Kemudian beliau pun berdoa dengan menggunakan nama Allah, lima di antaranya dalam bahasa Arab dan tiga lagi dalam bahasa Siryani. Beliau membaca: “Ya Wahid, Ya Ahad, Ya Somad, Ya Fardun, Ya Witrun. Beliau menyebut tiga potong perkataan lagi yang saya sendiri tidak tahu maknanya. Kemudian beliau menarik tanganku sambil mendudukkan aku.Ketika itu rasanya penyakitku sudah hilang.

Aku bertanya kepadanya: “Wahai nabi Allah, Bagaimana pendapatmu tentang orang ini (saya sebutkan Mirwan bin Muhammad), yang ketika itu menahan beberapa orang ulama. Beliau berkata: “Bagaimana hubungan kamu ?” Aku menjawab “Wahai nabi Allah kalau aku berjumpa dengannya dia berpaling. Dia tidak memberi sebarang komen.
Aku bertanya lagi: “Wahai nabi Allah,apakah sekarang ini masih ada di dunia ini Al-Abdal. (wali-wali Allah)?Beliau menjawab:”Ada” Mereka semua ada sebanyak 60 orang. 50 orang di kawasan Mesir sampai pantai Furat, 3 orang di Masisah, 1 orang di Antokiah dan yang lainnya di daerah Arab lainnya.”

Aku bertanya lagi:”Wahai nabi Allah, Apakah tuan ada berjumpa dengan nabi Khidir?” Beliau menjawab “Ya setiap musim haji kami berjumpa di Mina.” Aku bertanya: Apa yang kamu lakukan jika berjumpa?” Beliau menjawab: “Aku mengambil rambutnya dan dia pun mengambil rambutku.”

Aku berkata kepadanya: “Wahai nabi Allah. sebenarnya saya ini adalah orang yang hidup sebatang kara, tidak mempunyai isteri dan anak. Kalau tuan bersetuju biarlah saya ikut bersama tuan ke mana sahaja tuan pergi.” Beliau menjawab: Engkau tidak sanggup berteman denganku.”

Ketika bercerita dengan beliau tiba-tiba aku melihat satu hidangan makanan keluar dari akar pohon itu kemudian diletakkan di hadapan beliau. Sementara orang yang mengangkatnya tidak kelihatan. Dalam hidangan itu ada tiga ketul roti. Beliau sudah menghulurkan tangannya untuk makan makanan itu. Tetapi tiba-tiba beliau belum jadi memakannya dan beliau mengajak aku supaya sama-sama makan.

Saya duduk di sebelah beliau, kemudian beliau berkata kepadaku: “Mulailah dengan Bismillah dan ambilah dari yang terdekat kepadamu “Kami pun memakannya bersama-sama. Selepas makan saya lihat jelas dulang itu diangkat lagi tetapi tidak kelihatan orang yang mengangkatnya. Kemudian didatangkan lagi kepada beliau minuman tetapi tidak kelihatan orang yang membawanya. Beliau membagi dua minuman itu, separuh beliau minum dan separuh lagi beliau serahkan kepadaku. Saya cuba minuman itu, oh rasanya cukup lazat. Minuman itu lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Selesai minum saya letakkan tempatnya. Tiba-tiba saya lihat terangkat lagi tetapi tidak tahu siapa mengangkatnya.

Kemudian beliau memandang ke bawah (tempat yang lebih rendah lagi), rupanya di situ sudah ada binatang menunggu yang lengkap dengan tempat duduknya. Binatang itu lebih besar dari keldai dan tidak sampai sebesar baghal. Beliau berjalan ke arah tunggangan itu. Aku kejar beliau dan aku minta supaya ikut bersamanya. Tetapi beliau berkata: “Bukankah sudah aku katakan bahawa engkau tidak sanggup mengikuti perjalananku?” Saya merasa kecewa dan hanya mampu berkata: “ Kalau begitu bagaimana caranya supaya saya berjumpa lagi dengan tuan?” Beliau menjawab: “ Kalau betul-betul ingin berjumpa denganku, kita akan berjumpa lagi nanti.” Tambah beliau lagi: “Semoga engkau dapat menjumpai aku lagi nanti pada bulan Ramadhan di Baitul Maqdis dalam keadaan iktikaf.” Beliau pergi ke bawah pohon dan aku ikuti dari belakang tetapi tiba-tiba beliau menghilang.”

^ Kembali ke atas ^


Dipetik Dari Buku: Kisah Nabi Khidir a.s.
Pengarang: Al-Hafiz Ibnu Hajar al Asqalaniy.

_________________________________________________________________________________

Kisah Nabi Khidr Dan Iskandar dzulkarnain

DI SEBALIK KISAH RAJA ISKANDAR DZUL QARNAIN
MASUK KE TEMPAT GELAP

Pada saat Raja Iskandar Dzul Qarnain pada tahun 322 S. M. berjalan di atas bumi menuju ke tepi bumi*, Allah mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rofa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang, Raja Iskandar Dzul Qarnain berkata kepada malaikat Rofa’il: “Wahai malaikat Rofa’il ceritakan kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit”, malaikat Rofa’il berkata, “Ibadah para mailaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya”.

Kemudian raja berkata, “Alanglah senangnya seandainya aku hidup bertahun-tahun dalam beribadah kepada Allah”.

Lalu malaikat Rofa’il berkata, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air bumi, namanya ‘Ainul Hayat’ yang bererti, sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan”.

Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa’il, “Apakah kau tahu tempat “Ainun Hayat itu?”. mailaikat Rofa’il menjawab, “Bahwa sesungguhnya Ainun Hayat itu berada di bumi yang gelap”.

Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa’il tentang Ainul hayat, maka raja segera mengumpulkan ‘Alim Ulama’ pada zaman itu, dan raja bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu tetapi mereka menjawab, “Kita tidak tahu khabranya, namun seoarng yang alim di antara mereka menjawab, “Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam As, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di bumi yang gelap”.

“Di manakah tempat bumi gelap itu?” tanya raja. Seorang yang alim menjawab, “Di tempat keluarnya matahari”.


Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya. “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap?”. Para sahabat menjawab, “Kuda betina yang perawan”.

Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu raja memilih-milih di antara tenteranya yang seramai 6000 orang dipilih yang cendikiawan dan yang ahli mencambuk.

Di antara mereka adalah Nabi Khidir As, bahkan beliau menjabat sebagai Perdana Menteri.

Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir berjalan di depan pasukannya dan mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat.

Kemudian mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam.

Kemudian seorang yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya berkata kepada raja.”Wahai Raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini karena tempat yang gelap ini berbahaya.” Lalu Raja berkata: ” Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak.”

Kemudian ketika Raja hendak masuk, maka meraka semua membiarkannya. Kemudian Raja berkata kepada pasukannya: ” Diamlah, tunggulah kalian ditempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu, maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian”. Kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: ” Apabila kita melewati tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita?”. “Tidak bisa kelihatan”,jawab malaikat Rofa’il,” akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka kawan-kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian.”

Kemudian Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan binatang liar, sedangkan raja berjalan dengan didampingi oleh Nabi Khidlir As.

Di saat mereka berjalan, maka Allah memberi wahyu keapda Nabi Khidlir As,” Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu”.

Setelah Nabi Khidlir menerima wahyu tersebut, kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian.”

Kemudian beliau berjalan menuju kesebelah kanan jurang, maka dapatilah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidlir As turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “Ainul Hayat” (sumber air hidup) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air hidup tersebut, maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis daripada madu.

Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut, kemudian beliau keluar dari tempat Ainul Hayat itu terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain, sedangkan raja tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Nabi Khidlir As. tentang melihat Ainul Hayat dan mandi.

(Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah), dia berkata, bahwa Nabi Khidlir As. adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Dan raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat, maka terlihat oleh Raja bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki kuda, kemudian Raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: “Gemercik ini adalah suara benda apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga.”

Kemudian di antara pasukan ada yang membawanya namun sedikit, setelah mereka keluar dari tempat yang gelap itu, ternyata bahwa benda tersebut adalah yakut yang berwarna merah dan jamberut yang berwarna hijau, maka menyesallah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, demikianlah pula pasukan yang tidak mengambilnya, bahkan lebih menyesal.

Diriwayatkan oleh Ats-tsa ‘ Labi dari Iman Ali Rodliayllohu ‘ anhu.

1. Cerita ini dikutib dari kitab “Baidai’iz karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 – 168
Penerbit: Usaha Keluarga s Semarang

11. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis
Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri
Penerbit Darul Fikri Bairut
Halaman 257 – 258.





SIAPA NABI KHIDIR?

1. Khidir adalah seorang anak cucu Nabi Adam yang taat beribadah kepada Allah dan ditangguhkan ajalnya. (Kitab Al Ifrad karya Daruquthani dan Ibnu Asakir riwayat Ibnu Abbas.

2. Ibu Khidir berasal dari Romowi sedangkan bapaknya keturunan bangsa Parsi. (Fathul Bari juz v1, halaman 310, Al Bidayah Wan Nihayah juz 1 hal 326 Ruhul Ma’ani juz xv hal 319).

3. Kata Al Alusi, “Aku tidak membenarkan semua sumber yang menyatakan tentang riwayat asal-usul Khidir. Tetapi An Nawawi menyebutkan bahawa Khidir adalah putera raja”. (Fathul Bari juz v1 hal 390.

4. Riwayat lain mengisahkan bahawa Khidir itu anak Firaun. Wallahu a’lam bisshowab. (Tahdziebul Asma Wal Lughaat, juz 1 hal 177).

HIDUP ATAU MATI?

1. Kalangan Ulama beranggapan bahawa Khidir masih hidup. Pendapat ini tidak ditentang oleh kaum sufi dan ahli makrifat. Mereka sering berbincang tentang pengalaman bertemu, bercakap-cakap dengannya.

2. Banyak Ulama yang menpunyai dalil bukti tentang hidupnya Khidir sampai sekarang. (Syareah Muhaddzab An Nawawi juz v hal 305).

3. Abu Ishaq At Tsa’alibi berkata, “Bahawa Khidir tidak akan mati sampai akhir zaman nanti”. (Tahdzibul Asma’ Wal Lughat juz 1 hal 177, Fathul Bari juz v1 hal 310).

4. Ibrahim Al Harbi ditanya tentang hidupnya Khidir lalu menjawab, “Barangsiapa yang berkata mustahil terhadap masalah yang tidak diketahuinya, maka ia adalah syaitan yang berwujud manusia”. (Rahul Ma’ani juz xv hal 320).

Dari buku KHIDLIR – Nabi atau Wali? Hidup atau Mati?Dialog dengan Nabi Hkidir
Karya KH JAMALUDDIN KAFIE
Penerbit PT. GAROEDA BUANA INDAH – INDONESIA.

Gambar/ilustrasi sekadar hiasan.
Photo/illustration for display purposes.

http://sheikhmustafakamal.blogspot.com/2008/10/kisah-raja-iskandar-dzul-qarnain-masuk.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 406 other followers