Tasauf dan syari’at /syariat

1.3 Tasauf dan Syariat

Dalam kajian tasawuf banyak dibicarakan tentang syariat, tarikat, hakikat dan makrifat dalam rangka pembahasan ajaran dan amal Islam secara keseluruhan. Oleh sebab itu dalam di sini perlu dibicarakan hubungan tasawuf dengan keempat masalah tersebut. Mengenai pengertian tasawuf telah dijelaskan tersendiri, sehingga dalam di siini tidak dijelaskan lagi, tetapi diuraikan menurut hubungannya yang ditinjau dari segi syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat.

1. Pengertian
Semula pengertian syariat adalah jalan menuju ke sumber air atau jalan ke arah sumber pokok kehidupan. Menurut etimologi, syariat adalah tempat yang didatangi atau dituju oleh manusia dan binatang guna meminum air. Menurut istilah syara’, syariat merupakan nas-nas yang suci yang dikandung di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan kata lain, syariat adalah segala yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang berbentuk wahyu, yang terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Syariat dalam artian ini meliputi seluruh aspek Agama Islam atau Dienul Islam, dunia akhirat yang termaktub di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Syariat dalam artian ini meliputi tiga pilar agama Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.
Firman Allah SWT,
Artinya : Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang (Q.S. Al Maidah 5 : 48).

Firman Allah SWT :

Artinya : Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (Q.S. Al Jatsiah 45 : 18).

Yang menetapkan syariat dalam artian ini dinamakan syaari’ ( ) yaitu Allah dan Rasul-Nya. Syariat dalam artian ini berbeda dengan syariat yang banyak dipahami dewasa ini, yaitu yang sama pengertiannya dalam arti sempit dengan pengertian fikih. Fikih bukanlah merupakan nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah, tapi sudah merupakan hasil rekayasa nalar manusia.

Imam As Syafi’i mendefinisikan fikih adalah suatu ilmu tentang hukum-hukum syariat yang bersifat amaliah yang diperoleh dari satu persatu dalilnya. Dengan demikian, fikih adalah apa yang dapat dipahami manusia dari teks-teks suci Al Qur’an dan As Sunnah dengan melakukan ijtihad untuk menangkap makna-makna, ‘illat-‘illat (sebab-sebab) serta tujuan yang hendak dicapai oleh teks suci tersebut. (Ensiklopedi Islam 4, 1994 : 345 – 346).
Asy Syaikhul Mahmud Syaltut memberikan batasan tentang syariat dalam arti sempit,

Artinya : Menurut istilah, syariat ialah hukum-hukum dan tata aturan yang Allah syariatkan buat hamba-Nya untuk diikuti, dan hubungan mereka sesama manusia. Di sini kami maksudkan makna istilah, maka kata syariat itu tertuju kepada hukum yang didatangkan Al Qur’an dan Rasul-Nya. Kemudian diijmakkan oleh para sahabat dari hukum-hukum yang tidak datang mengenai urusan itu sesuatu pun dari nas Al Qur’an dan As Sunnah. Kemudian pula hukum-hukum yang diistimbatkan dengan jalan ijtihad. Dan masuk ke ruang ijtihad menetapkan hukum dengan perantaraan qias, qarinah, tanda-tanda dan dalil-dalil.
Prof.Dr.Salam Mazkur memberikan definisi,

Artinya : Fikih adalah segala hukum-hukum keagamaan, baik yang berhubungan dengan hukum ‘aqaid ataupun dengan hukum amaliah. Kata beliau selanjutnya, maka hal ini menyebabkan dibatasi kalimat fikih untuk sekelompok hukum yang bersifat amaliah, syariat yang lalu dipetik atau diistimbathkan dari dalil yang jelas sebagaimana dipergunakan kalimat fikih untuk nama-nama hukum tersendiri. (Hasbi Ash Shiddieqy 1975 : 31 – 34).

Syekh Amin Al Kurdi memberikan batasan syariat,
Artinya : Syariat adalah hukum-hukum yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang dipahami dan diijtihadkan oleh para ulama dari Al Kitab, As Sunnah, baik berbentuk nash atau istimbath. Hukum- hukum itu meliputi Ilmu Tauhid, Ilmu Fikih dan Ilmu Tasawuf (Syekh Amin Al Kurdi 1994 : 364).
Sunnatullah berarti ketentuan atau tata hukum Allah dalam mengatur alam semesta ini. Padanya ada hubungan sebab akibat, ada amal ada hasil, dan seterusnya. Termasuk ke dalam syariat, bagaimana mengatur manusia dalam hubungannya dengan Allah dan bagaimana mengatur manusia sebagai makhluk sosial, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam.
Agar terwujud keteraturan, keselarasan, keserasian dan keseimbangan, perlu juga di atur dalam suatu aturan yang dinamakan syariah. Syariat itu adalah aturan dari Allah, sedangkan yang memberi peraturan namanya syaari’ yaitu Allah SWT sendiri.
Pembahasan mengenai materi hukum dengan manusia sebagai objeknya, mencakup semua disiplin ilmu, seperti Ilmu Fikih, Ilmu Tauhid, Ilmu Akhlak dan lain sebagainya. Dalam ajaran Islam melaksanakan aturan dan ketentuan hukum tanpa memahami dan menghayati apa tujuan hukum itu, maka pelaksanaannya tidak akan menemui sasarannya dan tidak akan memiliki nilai yang sempurna. Tujuan hukum itu adalah kebenaran yang datang dari Allah SWT, yang dalam istilah tasawuf dinamakan hakikat yang merupakan inti dari hukum itu sendiri. Karena itu ada kaedah fikih yang berbunyi,
Artinya : Hukum itu ditetapkan atau beredar menurut ilatnya.
Kalau ilatnya masih ada maka hukumnya ada, kalau ilatnya sudah hilang maka hukumnya akan hilang. Dengan kata lain, syariat itu lahirnya, hakikat itu batinnya.
Untuk mencapai tujuan hukum itu sendiri diperlukan adanya suatu jalan atau cara atau metode supaya kita tidak menyimpang dari tujuannya. Tanpa mengetahui jalannya akan sulit untuk sampai ke tujuan. Jalan atau cara atau metode tersebut dinamakan tarikat.
2. Hubungan Tasawuf Dengan Syariat
Tasawuf dalam arti sikap hati rohani yang takwa yang selalu ingin dekat kepada Allah SWT, dihubungkan dengan arti syariat dalam arti luas yang meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia baik hablum minallah, hablum minannas dan hablum minal’ alam, mempunyai hubungan yang erat dan saling mengisi antara satu dengan yang lain. Untuk mencapai kemaslahatan umat di dunia dan akhirat dalam artian hakiki harus sejalan, simultan dengan tujuan tasawuf, yaitu melaksanakan hakikat ubudiyah guna memperoleh tauhid yang haqqul yakin, makrifatullah yang tahqik. Untuk mencapai tujuan tasawuf dalam artian ini, tidak mungkin hanya dengan melaksanakan zikir atau zikrullah dalam artian khusus saja, tapi harus dilaksanakan sejalan, simultan dengan melaksanakan syariat yang meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Oleh sebab itu seluruh aktifitas syariat harus digerakkan, didasarkan, dimotivasikan dan dijiwai oleh hati nurani yang ikhlas lillahi ta’ala yang bermuara mendapatkan ridla Allah dan berdampak memperoleh maslahah umat yang menjadi tujuan syariat. Manakala maslahah umat telah diperoleh, harus digerakkan dan diarahkan pula kepada memperkokoh dan mentahqikkan tauhid makrifatullah yang merupakan satu-satunya tujuan Allah menjadikan makhluk manusia.
Firman Allah SWT,

Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Q.S. Adz Dzariyat 51-56).

Ibnu Abbas menafsirkan ila liya’ buduuni dengan ila liya rifuuni dengan artinya: “Kecuali supaya mereka mengenal atau makrifah kepada-Ku”.
Sabda Rasulullah SAW (dalam hadis Qudsi),

Artinya : Adalah AKU suatu perbendaharaan yang tersembunyi, maka AKU ingin supaya diketahui siapa Aku, maka AKU jadikanlah makhluk-Ku, maka dengan Allah mereka mengenal Aku.

Imam Malik mengatakan,

Artinya : Barangsiapa berfikih/bersyariat saja tanpa bertasawuf niscaya dia berkelakuan fasik (tidak bermoral) dan barang siapa yang bertasawuf tanpa berfikih/bersyariat, niscaya dia berkelakuan zindiq (menyelewengkan agama) dan barang siapa yang melakukan kedua-duanya, maka sesungguhnya dia adalah golongan Islam yang hakiki, tulen.

Imam Ali Ad-Daqqaq mengatakan,

Artinya : Perlu diketahui bahwa sesungguhnya syariat itu adalah hakikat. Bahwa sesungguhnya syariat itu wajib hukumnya, karena ia adalah perintah Allah SWT. Demikian juga hakikat adalah syariat untuk mengenal Allah (makrifat kepada Allah). Hakikat itu wajib hukumnya, karena ia adalah perintah Allah. (Al Qusyayri : 412).

Secara teknologis Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya menggambarkan hubungan antara tasawuf dan syariat itu sebagai berikut, tasawuf adalah jiwa yang memberi power kepada syariat, sedangkan syariat adalah saluran power itu. Syariat dilaksanakan oleh anggota zahir manusia yang mengadakan dan membuka hubungan dengan Allah SWT, sedangkan powernya melalui rohani batin yang datang langsung dari Allah SWT. Ibarat listrik, kabel adalah syariat-syariat lahirnya, sedangkan setrum adalah power melewati kabel yang bersumber dari sentral dynamo. Power itu adalah wasilah yang langsung dari Allah SWT melalui Arwahul Muqaddasah Rasulullah SAW terus bersambung, berantai melalui ahli silsilah, sejak dari Nabi Muhammad SAW, kemudian Abu Bakar Siddiq sampai dengan Syekh Mursyid terakhir. Para Ahli Silsilah atau Syekh Mursyid itu, bukanlah perantara, tapi wasilah carrier, hamilul wasilah, pembawa wasilah. Banyak lagi orang yang memberikan contoh- contoh ringan perumpamaan hubungan antara keduanya, antara lain ada yang mengibaratkan hubungan itu ibarat dua sisi mata uang, ibarat kapal dengan laut, ibarat kapal dengan mesinnya, ibarat peta dengan kompas bagi orang yang berlayar, dan sebagainya.
Orang sufi bukanlah manusia akhirat saja, tapi adalah manusia dunia juga. Karena itu dia harus memenuhi fitrah manusiawinya. Karena itu orang sufi juga berkiprah dalam seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia, terutama untuk menjaga lima daruriat untuk tercapainya tujuan syariat Islam, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Melaksanakan aktivitas untuk tercapainya tujuan syariat Islam ini, para sufi juga harus berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, disamping berubudiyah guna mencapai makrifah.
Untuk menghindari kekeliruan pemahaman tentang tasawuf, bahwa orang sufi itu aktifitasnya hanya dalam artian khusus saja dan tidak beraktifitas dalam syariat muamalah, maka pada uraian berikut ini kami akan uraikan sebagian kecil saja dari aktifitas itu menurut pandangan tasawuf. Dalam uraian ini nanti lebih banyak mengacu kepada pemikiran-pemikiran hujjatul Islam Imam Al Ghazali yang tertuang dalam buku “Ihya Ulumuddin” dan “Al Munqiz Minadhalal” serta ulasan-ulasan Dr. Abdul Halim Mahmoud yang mengulas kedua buku tersebut.
3. Tasawuf Dan Ibadat
Seluruh umat Islam sepakat bahwa manusia tidak dapat dekat kepada Allah dan berjalan di jalanan yang menuju kepada-Nya, kecuali hanya dengan ikhlas beribadat, mengabdi semata-mata lillahi ta’ala.
Firman Allah SWT :
Artinya : Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dengan agama lurus. (Q.S. Al Bayyinah 98 : 5).
Kalau manusia sudah mampu mengikhlaskan ubudiyah atau pengabdiannya hanya semata-mata untuk Allah, dan menjadikan dirinya benar-benar sebagai hamba-hamba Allah yang mukhlasin (yang diakui ikhlasnya), maka iblis pun tidak akan mampu menggoda dan menyesatkannya lagi. Orang-orang mukhlasin tingkat inilah, yang mampu menegakkan ibadat yang murni ikhlas dan mampu menegakkan kebenaran dan keadilan.
Firman Allah SWT :
Artinya : Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan (Q.S. Al Fatihah 1 : 5).
Firman Allah SWT,

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang menegakkan (kebenaran) karena Allah dan menjadi saksi yang adil. (Q.S. Al Maidah 5 : 8).

Orang yang berkualitas mukhlasin begini ini tidak ada jalan bagi iblis dan syetan untuk menggoda dan menyesatkan mereka, karena Allah yang menjaganya.
Firman Allah SWT,

Artinya : Sesungguhnya hamba-hambaKu, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka, dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga. (Q.S. Al Isra’ 17 : 65).

Ketidaksanggupan untuk menggoda dan menyesatkan orang-orang mukhlasin ini diakui oleh iblis dan syetan.
Firman Allah SWT :

Artinya : Demi kekuasaanmu, Aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Mu yang benar-benar ikhlas di antara mereka. (Q.S. Shaad 38 : 82 – 83).

Firman Allah SWT,

Artinya : Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba Mu yang mukhlasin, yang benar ikhlas diantara mereka. (Q.S. Al Hijr 15 : 39 – 40).

Kembali kepada tujuan atau sasaran ajaran dan amal tasawuf, yaitu melaksanakan hakikat ubudiyah guna memperoleh tauhid yang haqqul yakin, makrifatullah yang tahqik, yang menjadi kunci makbulnya adalah adab beribadat itu sendiri. Ibadat yang berbentuk syariah itu harus digerakkan oleh hati yang khusuk, tawaduk dan lillahi ta’ala. Situasi dan kondisi hati yang demikian ini, inilah yang dinamakan adab beribadat.
Tokoh sufi Al Jalajili mengatakan,
Artinya : Bahwa tauhid itu diwajibkan oleh Iman. Barang siapa yang tidak beriman, maka ia tidak bertauhid. Iman itu wajib, karena diwajibkan oleh syariat. Barang siapa yang tidak bersyariat, maka ia tidak beriman dan tidak bertauhid. Syariat itu wajib, karena diwajibkan oleh adab. Barang siapa yang tidak beradab, maka ia tidak bersyariat, tidak beriman dan tidak bertauhid. (Al Qusyayri : 403).
Sejalan dengan perkataan syekh Al Jalajili ini, para sufi mengatakan bahwa sesungguhnya seseorang hamba menjadi jauh dari Tuhannya, hanya karena dia tidak baik adabnya.
Para mukhlasin yang sudah dapat mewujudkan ubudiyah, pengabdian semata-mata karena Allah, tingkat berikutnya Allah akan menganugerahkan ilmu makrifat, ilmu mengenal rahasia-rahasia ghaib yang dinamakan dengan Ilmu Ladunni seperti yang telah diberikan kepada Nabi Khidir a.s.
Firman Allah SWT,
Artinya : Lalu keduanya Musa dan Khidir bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (Q.S. Al Kahfi 18 :65).
Nabi Khidir a.s. benar-benar telah berhasil mewujudkan ubudiyah yang ikhlas sepenuhnya dan Allah melimpahkan Ilmu Ladunni dan Ilmu Makrifah sebagai buahnya. Demikian pula dengan Nabi Ayyub a.s sebagai buah ubudiyahnya yang penuh ikhlas, dapat sembuh dari penyakitnya dan kesehatannya pun pulih sepenuhnya setelah minum air yang sejuk yang memancar dari dalam tanah setelah hantaman kakinya. Kisah ini diabadikan dalam Firman Allah yang artinya, “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu syetan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman), “Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu, dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar, dialah sebaik-baik hamba karena dia sesungguhnya amat taat (kepada Tuhannya) (Q.S. Shaad 38 : 41 – 44). Demikian pulalah halnya dengan junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW telah mencapai puncak tertinggi dari ubudiyahnya sebagaimana yang telah dikisahkan, diabadikan pengakuannya dalam firman Allah yang artinya, Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”(Q.S. Al An’am 6 : 162 – 163).
Ibadat-ibadat para mukhlasin inilah yang diikuti, yang diteladani oleh para sufi dalam bidang syariah, baik yang zahir maupun yang batin.
4. Tasawuf Dan Ilmu Pengetahuan
Yang kami maksudkan hubungan tasawuf dengan ilmu pengetahuan agama, bukanlah kebenaran atau kekeliruan Ilmu Tasawuf itu sendiri, tetapi apakah benar atau keliru untuk makrifat kepada Allah melalui jalan tasawuf.
Ada beberapa teori atau aliran menuju makrifat kepada Allah, antara lain : aliran Al-Mutakallimin (ahli logika dan rasio), aliran Al-Batiniah (mengikuti petunjuk imam yang maksum), aliran Al-Falasifah (ahli filsafat, ahli logika dan ahli berhujjah, berdalil), aliran As-Sufiyah (Al-Hawaasul Hadrat, ahli musyahadat dan mukasyafah). Masing-masing golongan atau aliran itu mengatakan bahwa jalan golongan atau aliran merekalah yang benar.
Untuk membahas masalah ini, kami mengemukakan pendapat, pemikiran, Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali. Kami mengikuti pendapat dan pemikiran Al-Ghazali, karena beliau telah memasuki, meneliti setiap aliran itu secara ilmiah dan secara amaliah dalam waktu bertahun-tahun yang cukup lama. Beliau meneliti dan mengarungi setiap aliran itu dalam waktu yang lama dan tidak mengenal lelah, sehingga beliau mengatakan, “Semua kegelapan harus aku tembus, semua kerumitan harus aku hadapi dan aku senantiasa menyelidiki benar-benar setiap akidah dan setiap golongan, aku berusaha sekeras-kerasnya untuk mengungkapkan semua rahasia mazhab/golongan/aliran pada masing- masingnya, agar aku dapat membedakan mana yang benar dan mana yang palsu, mana yang mengikuti sunnah dan mana pula yang bid’ah (tidak mengikuti sunnah).
Penegasan beliau selanjutnya dalam menjelaskan ketekunan beliau menyelidiki, membahas dan meneliti setiap golongan atau aliran itu sebagai berikut, “Tidak aku tinggalkan seorang ahli kebatinan, kecuali telah aku ketahui tentang kebatinannya. Tidak aku tinggalkan seorangpun dari ahli zahir, kecuali setelah aku ketahui kezahirannya. Tidak seorang pun aku tinggalkan dari ahli filsafat, sebelum aku pahami maksud dari filsafatnya. Tidak seorang pun aku tinggalkan dari ahli teologi Ilmu Kalam, kecuali aku berusaha sekerasnya untuk mempelajari ilmu teologinya dan cara berdebatnya sampai sedalam-dalamnya. Tidak seorangpun aku tinggalkan dari ahli sufi, kecuali aku selidiki segala rahasia yang ada pada tasawufnya. Tidak seorang pun aku tinggalkan ahli ibadat, kecuali harus kucari hasil yang diperoleh dari ibadatnya itu. Tidak seorang pun aku tinggalkan dari ahli zindiq (seorang ahli agama yang kafir tapi pura-pura beriman), kecuali setelah aku selidiki dirinya agar aku waspada terhadap sebab-sebab penyelewengan dan kezindiqannya”.
Imam Al-Ghazali sebagai seorang pemikir Islam sepanjang sejarah Islam, sebagai seorang teolog, sebagai seorang filosof dan sebagai seorang sufi yang masyhur dan konsekwen, menekuni ajaran dan mengamalkan kesufiannya itu adalah seorang manusia yang mempunyai bakat, mempunyai kelebihan, sebagai karunia Allah SWT. Ad-Diebury memberikan komentar tentang imam Al-Ghazali sebagai berikut,

Artinya : Sesungguhnya pemuda ini (imam Al-Ghazali) telah dianugerahi kecerdasan akal yang luar biasa dan kekuatan daya hayal yang tidak mau terikat dengan ikatan apapun yang akan membelenggunya.

Imam Al-Ghazali memiliki latar belakang pendidikan yang amat kuat, baik di kota Khurasan, di kota Jurjan maupun di kota Naisabur, membuat dia menjadi orang yang ahli dalam bahasa Arab dan Persia dalam berbagai ilmu pengetahuan, seperti Ilmu Kalam (teologi Islam), Fikih (hukum Islam), Tasawuf, Filsafat dan Akhlak.
Di kota Khurasan dan kota Jurjan, dia belajar dengan guru-guru yang merupakan pakar dalam bidang ilmunya. Di kota Naisabur dia memasuki madrasah Nizamiah yang dipimpin oleh ulama besar, imam Al-Haramain Al-Juwaini salah seorang tokoh aliran Asy’ariyah.
Melalui imam Al-Haramain ini Al-Ghazali memperdalam Ilmu Ushul Fikih, Ilmu Mantik dan Ilmu Kalam.
Karena dinilai berbakat dan berpotensi, Al-Ghazali diangkat menjadi asistennya dan sering dipercaya untuk menggantikan beliau di beberapa acara pengajian ataupun diskusi, manakala gurunya berhalangan. Setelah gurunya imam Al-Haramain wafat (1085) Al-Ghazali pindah ke kota Mu’askar, memenuhi undangan Perdana Menteri Nizamul Mulk pendiri madrasah Nizamiyah. Mu’askar pada waktu itu adalah tempat pemukIman perdana menteri, pembesar-pembesar kerajaan, para ulama dan intelektual terkemuka. Di Mu’askar secara rutin diadakan pertemuan-pertemuan ilmiah di Istana Nizamul Mulk dan melalui forum inilah Al-Ghazali menampakkan kecerdasan dan kemahirannya dalam segala bidang ilmu, sehingga namanya menjadi masyhur dan sebagai puncaknya dia diangkat oleh Perdana Menteri sebagai guru besar madrasah Nizamiyah di Bagdad.
Dengan kedudukan dan kemasyhuran ini, duniawiyah imam Al-Ghazali menjadi makmur, dengan uang yang cukup banyak. Keadaan yang demikian ini tidak berlangsung lama, sebab setelah lima tahun (1090 – 1095) memangku jabatan itu, dia mengundurkan diri. Mengapa Al-Ghazali mengundurkan diri dari kehidupan yang begitu mewah, kepada kehidupan sederhana dan apa adanya. Inilah yang perlu dikaji.
Pada diri Al-Ghazali timbul dua keraguan. Keraguan pertama, dari sekian banyak golongan atau aliran yang ada pada waktu itu, manakah golongan atau aliran yang benar, sebab masing-masing mereka mengaku bahwa merekalah yang benar. Keraguan kedua, yang manakah jalan yang benar yang harus ditempuh sesuai dengan jalan yang ditempuh oleh masing-masing golongan atau aliran itu.
Keraguan ini timbul, terutama sekali setelah mempelajari Ilmu Kalam, karena dalam pembahasan Ilmu Kalam itu beliau mengetahui ada beberapa aliran yang kontradiksi antara satu dengan yang lain. Untuk meletakkan dasar yang kuat dalam penyelidikannya, Al-Ghazali meletakkan batasan-batasan untuk mencari kebenaran itu dan mengadakan studi yang secermat-cermatnya pada setiap golongan dan aliran tersebut.
Kesimpulan dari penelitian Al-Ghazali, ialah bahwa aliran Ilmu Kalam, sebagian besar dari pembahasannya adalah untuk menjawab serangan-serangan dari lawannya, sehingga ia tidak kunjung sampai kepada sasaran. Banyak sekali pembahasan dari Ilmu Kalam itu yang kontradiksi, karena memang didasarkan kepada dalil-dalil atau argumentasi yang kurang kuat.
Pada aliran filsafat, beliau temukan masalah kepalsuan, pemutarbalikan fakta dan khayalan-khayalan, sehingga ada tiga macam pendapat ahli filsafat yang harus dikafirkan, yaitu pertama, alam ini qadim. Al-Ghazali berpendapat kalau alam ini qadim, maka ada yang qadim selain Allah SWT. Qadim adalah sesuatu yang sudah ada sejak azali, yang berwujud tanpa sebab. Ini berarti mengingkari Allah sebagai pencipta, dan ini sama dengan kufur. Kedua, Allah tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam. Al-Ghazali mengatakan pendapat ini akan menyesatkan umat Islam, karena pendapat ini membawa kepada pengingkaran sifat Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi di alam, sampai kepada perincian yang sekecil-kecilnya. Tidak ada satupun yang luput dari pengetahuan Allah SWT. Ketiga, pendapat filosof tentang abadinya roh dan tidak adanya pembangkitan jasmani. Pendapat ini bertentangan dengan ayat Al Qur’an dan karenanya tidak dapat diterima. (Ensiklopedia Islam 1994, 2 : 26-27)
Selanjutnya Al-Ghazali menetapkan bahwa akal manusia tanpa petunjuk/bimbingan wahyu dari Allah tidak akan mampu mengetahui alam ghaib, alam metafisika, apalagi untuk makrifat kepada Allah SWT.
Setelah semua aliran dan golongan itu dimasuki, diteliti dan diketahui, terdapat padanya kelemahan dan kekeliruan. Akhirnya imam Al-Ghazali menekuni ajaran dan amal tasawuf dan mempelajari jalan yang ditempuh oleh mereka. Setelah berkhalwat, beramal, berzikir dan berpikir lebih dari sepuluh tahun dengan riadlah dan mujahadah yang sungguh-sungguh dan terus menerus, akhirnya sirnalah semua keraguan itu, setelah Al-Ghazali memperoleh Nur Uluhiyah, cahaya ketuhanan yang dipancarkan oleh Allah ke dalam hatinya, dan dia berpendapat dan meyakini dengan haqqul yakin, bahwa ajaran dan amal serta jalan yang ditempuh oleh golongan sufi adalah yang benar.
Namun demikian tarikat sufiyah ini tidak akan berhasil sempurna, bila ditekuni ilmunya saja. Ilmu tarikat Sufiyah ini yang dibutuhkan tidak banyak, yaitu mengetahui dasar-dasar pokok syariat dan hakikat yang fardhu ‘ain. Yang lebih menentukan sampainya seseorang kepada Nur Uluhiyah, sehingga seseorang itu musyahadah dan makrifah terletak pada pengamalan yang sungguh-sungguh, riadlah dan mujahadah yang terus menerus dibawah bimbingan Syekh Mursyid. Selain daripada itu berkhalwat dalam waktu yang panjang atau dalam waktu yang pendek, sangat menentukan proses keberhasilan itu. Dengan demikian ilmu menempuh jalan Sufiyah tidak sulit untuk dimengerti, sebab semuanya jelas berdasarkan ilmiah dengan dalil-dalil yang terang. Tetapi yang sulit dan tidak semua orang sanggup menjalankannya adalah mengamalkan jalan tarikat Sufiyah itu.
Sulit dan berat itu disebabkan tidak sepenuhnya orang tersebut berserah diri kepada Allah dan ikhlas beramal. Oleh sebab itulah imam Al-Ghazali menegaskan keberhasilan seseorang sufi tergantung kepada taslim (berserah diri), dan kepada keikhlasan seseorang dalam beramal.
Asumsi Al-Ghazali, kebanyakan orang tidak berhasil karena mereka membisu, buta dan tuli serta tidak memperhatikan firman-firman Allah yang berkenaan dengan kunci ikhlas ini.
Firman Allah SWT,

Artinya : Sesungguhnya hanya milik Allah sajalah agama yang murni (ikhlas) itu. (Q.S. Az Zumar 39 : 3).

Firman Allah SWT :

Artinya : Padahal tidaklah mereka disuruh, kecuali menyembah Allah dengan memurnikan/mengikhlaskan ketaatan semata-mata hanya kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus. (Q.S. Al Bayyinah 98 : 5).

Firman Allah SWT,

Artinya : Maka serulah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu semata-mata hanya untuknya. (Q.S. Al Mu’min 40 : 14).

Hanya satu wasiat utama beliau yang selalu diulang-ulanginya menjelang beliau menghembuskan nafas penghabisan, “Hendaklah kamu senantiasa berbuat ikhlas”.
Berdasarkan ilmu dan amal yang haqqul yakin inilah, maka setelah beliau kembali ke kota Tus di Khurasan, kota kelahirannya, dia mendirikan alkah atau sekolah khusus untuk calon sufi yang diasuhnya, sampai dia wafat tahun 505 Hijriah atau 1111 Miladiyah.
Adapun tulisan-tulisan beliau yang menjelaskan kelemahan dan kekeliruan aliran Ilmu Kalam dan yang lain-lain, termaktub dalam buku beliau “Al Munqiz Minadalal” (Penyelamat dari Kesesatan). Tentang kelemahan dan kekeliruan filsafat, termaktub dalam buku beliau Maqaasid Al-Falasifah” (Tujuan para Filosof) dan buku “Tahaafut Al-Falasifah” (Kekacauan para Filosof). Tulisan beliau tentang Fikih dan Tasawuf adalah “Ihya Ulumuddin” yang amat populer dan menjadi buku referensi utama dalam Ilmu Tasawuf dan juga Ilmu Fikih.
Melengkapi penelitian dan kesimpulan yang ditempuh oleh Al-Ghazali dalam Ilmu Tasawuf, penulis kemukakan pendapat imam Abul Qasim Al-Junaidi Al-Baghdadi,

Artinya : Mazhab kita ini (Ilmu Tasawuf) terikat oleh Al Qur’an dan As Sunnah. Siapa saja yang belum atau tidak belajar Al Qur’an dan Al Hadis, serta tidak pula pernah duduk belajar (menjadi murid) dengan Ulama (Mursyid), maka orang itu tidak boleh mengikuti kegiatan tarikat ini. (Al Qusyayri :430).

Dari uraian dan penjelasan tersebut, nyata bahwa jalan yang ditempuh oleh para sufi adalah jalan yang benar, didasarkan kepada dalil yang kuat dan ilmiah, sesuai dengan ilmu pengetahuan agama.
5. Tasawuf Dan Pengamalan Syariat
Seluruh pengamal tasawuf yang mengamalkan pengamalan tarikat muktabarah sepakat bahwa landasan utama peramalan itu adalah pengamalan syariat yang kuat. Semua lembaga tarikat Muktabarah berlandaskan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sangat menekankan pengamalan syariat yang sempurna, adalah satu-satunya jalan untuk berhasilnya pengamalan tarikat itu. Sementara ada sebagian orang yang berpura-pura mengaku pengamal tasawuf tapi tidak mengamalkan syariat, mengatakan mereka telah sampai ke tingkat yang tinggi, telah sampai ke tingkat musyahadah yang dibuktikan dengan beberapa kekeramatan-kekeramatan.
Pengakuan yang demikian ini adalah sesat, karena sangat bertentangan dengan Al Qur’an dan Al Hadis, dan tidak sesuai dengan aliran Ahlus Sunnah wal Jamaah dan berbeda atau sangat bertentangan dengan kenyataan yang dilaksanakan oleh para tokoh sufi pengamal tarikat Al Muktabarah. Pengakuan-pengakuan yang demikian ini umumnya datang dari orang yang berpura- pura pengamal tasawuf atau datang dari pihak-pihak yang tidak senang kepada jalan yang ditempuh oleh para sufi.
Para sufi menekankan peramalannya harus didasarkan kepada at Taslim (penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT), At Tafwidh (berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT), At Tabarri Minan Nafsi (Pembebasan diri dari hawa nafsu), dan At Tauhid bil Khalqi wal Masyi’ah (mengesakan hanya Allah sajalah yang Maha Pencipta dan Maha Berkehendak).
Berbeda dengan golongan Qadariah yang mendasarkan peramalannya kepada Al Fi’lu (perbuatan adalah kehendak yang bersangkutan), al Masyi’ah (semua kehendak adalah kehendak yang bersangkutan), al Khalqah (semua yang diciptakan adalah ciptaan yang bersangkutan) dan at Takdir (semua takdir itu tergantung kepada yang bersangkutan). Mereka ini semuanya, mendasarkan apa saja yang mereka lakukan tergantung kehendak mereka.
Di dalam Al Qur’an banyak sekali dalil yang menunjukkan kebenaran landasan peramalan para sufi tersebut. Hasilnya pun kelihatan dengan pengamalan yang sungguh-sungguh yang didasarkan kepada syariat yang kuat para sufi memperoleh kesenangan ( ), kemanisan dalam beriman dan beribadat ( ), ketentraman ( ) dan ketenangan ( ). Apa yang diperoleh para sufi ini merupakan buah, hasil ibadatnya yang merupakan rahmat dari Allah SWT. Apa yang diperoleh oleh para sufi ini belum tentu, atau bahkan kecil sekali kemungkinannya dapat diperoleh oleh orang lain. Letak perbedaannya menurut Al-Ghazali, para sufi lebih gigih dalam riadlah dan mujahadah. Mereka tidak memadai dengan pengamalan-pengamalan syariat wajib saja, tetapi harus juga mengamalkan syariat-syariat sunnah. Para sufi tidak hanya meninggalkan yang haram dan makruh saja, tetapi juga meninggalkan hal-hal yang mubah (kebolehan), yang tidak berfaedah apalagi kalau hal itu dapat membawa kepada melalaikan syariat.
Ibnu Khaldun menyatakan, berkat riadlah dan mujahadah yang sungguh-sungguh, maka para wali memperoleh tanda-tanda kemenangan yang besar, memperoleh kekeramatan-kekeramatan, sebagaimana hal itu juga diperoleh para sahabat Rasulullah As Sabiqunal Awwalun. Orang tidak boleh tertipu dan terpedaya dengan adanya kekeramatan-kekeramatan ini sebelum dibuktikan kuatnya syariat yang bersangkutan. Kekeramatan ini tidak menjadi tujuan dan tidak pula menjadi ukuran. Yang menjadi tujuan adalah dekat kepada Allah, mendapat ridla-Nya dan yang menjadi ukurannya mengamalkan syariat dengan berhakikat sempurna.
Pengamal tasawuf yang telah memperoleh kesenangan, kemanisan dalam beriman dan beribadat, ketentraman dan ketenangan adalah suatu bukti bahwa dia telah menjalani atau menempuh jalan yang benar dan mengamalkan syariat yang haq.
Dalam buku “Al Munqiz Minadlalal” diuraikan tentang para sufi yang banyak memberikan pendapat atau komentar berkenaan dengan peramalan tasawuf dihubungkan dengan peramalan syariat ini disebutkan di dalamnya,
a. Imam Al Ghazali
Al Ghazali mengatakan, “Ketahuilah bahwa banyak orang yang mengaku, dia adalah menempuh jalan (tarikat) kepada Allah, tapi yang sesungguhnya, yang bersungguh-sungguh menempuh jalan itu adalah sedikit. Adapun tanda orang yang menempuh jalan yang sungguh-sungguh dan benar, diukur dari kesungguhannya melaksanakan syariat. Kalaupun ada orang yang mengaku bertasawuf dan bertarikat dan telah menampakkan semacam kekeramatan-kekeramatan, melalaikan atau tidak mengamalkan syariat, ketahuilah bahwa itu adalah tipu muslihat, sebab orang yang bijaksana (orang tasawuf) mengatakan,

Artinya : Jikalau kamu melihat seseorang mampu terbang di angkasa dan mampu berjalan di atas air, tetapi ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, maka ketahuilah bahwa sebenarnya ia itu adalah setan.”

b. Abu Yazid Al Bustami menyatakan,
Artinya : Andaikata kamu melihat seseorang yang diberi kekeramatan hingga dapat naik ke udara, maka janganlah kamu tertipu dengannya sehingga kamu dapat melihat dan meneliti bagaimana dia melaksanakan perintah dan larangan agama serta memelihara ketentuan-ketentuan hukum agama dan bagaimana dia melaksanakan syariat agama.
c. Sahl at Tasturi
At Tasturi mengungkapkan tentang pokok-pokok tasawuf yang terdiri dari tujuh pokok jalan (tarikat), yaitu berpegang kepada Al Kitab (Al Qur’an), mengikuti Sunnah Rasul, makan dari hasil yang halal, mencegah gangguan yang menyakiti, menjauhkan diri dari maksiat, selalu melazimkan tobat dan menunaikan hak-hak orang lain.
d. Junaid al Baghdadi
Al Junaidi mengomentari orang yang mengaku ahli makrifat tetapi dalam gerak geriknya meninggalkan perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan mendekatkan diri kepada Allah, maka beliau mengatakan “Ketahuilah bahwa dia itu adalah setan”. Selanjutnya beliau mengatakan,
Artinya : Ucapan itu adalah ucapan suatu kaum yang mengatakan adanya pengguguran amalan- amalan. Bagiku hal itu merupakan suatu kejahatan yang besar, dan orang yang mencuri atau orang yang berzina adalah lebih baik daripada orang yang berpaham seperti itu.
e. Abul Hasan As Syazili
As Syazili mengatakan,
Artinya : Jika pengungkapanmu bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah Rasul, maka hendaklah engkau berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul itu, sambil engkau mengatakan kepada dirimu sendiri “sesungguhnya Allah SWT telah menjamin diriku dari kekeliruan dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul”. Allah tidak menjamin dalam segi pengungkapan, ilham, maupun musyahadah (penyaksian), kecuali setelah menyesuaikan perbandingannya dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasul.
Sebagai kesimpulan, semua pengamalan kaum sufi harus mengikuti semua Nash Al Qur’an dan As Sunnah dan meneladani amaliah-amaliah Rasulullah, sebagai panutan tertinggi para sufi.
Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Nabi SAW ditanya tentang suatu kaum yang meninggalkan amalan-amalan agama, sedangkan mereka adalah orang-orang yang berbaik sangka kepada Allah SWT. Maka jawab Nabi SAW, “Mereka telah berdusta. Karena jika mereka berbaik sangka, tentu amal perbuatan mereka juga adalah baik.” (Dr. Abdul Halim Mahmoud 1964: 161 – 167).

6. Tasawuf Dan Mencari Rezeki
Banyak pendapat atau kesan yang kurang tepat atau keliru tentang bagaimana seharusnya kehidupan para sufi. Hal ini adalah wajar dan beralasan, karena salah satu daripada makam yang harus ditempuh oleh calon sufi adalah makam zuhud. Ada dua pendapat tentang pengertian zuhud ini. Pendapat pertama, zuhud berarti berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akhirati. Pengertian pertama ini akhirnya berkembang ekstrim sehingga zuhud berarti benci dan meninggalkan sama sekali segala sesuatu yang bersifat duniawiyah. Pendapat kedua, zuhud tidak berarti semata-mata tidak mau memiliki harta dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi. Tetapi zuhud sebenarnya adalah kondisi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam pengabdian diri kepada Allah SWT.
Menanggapi pengertian ini penulis lebih condong kepada pengertian kedua. Alasan penulis selain Al Qur’an dan Al Hadis yang tidak menyuruh kita kearah pengertian zuhud yang ekstrim pertama, juga kehidupan para sahabat zaman Rasulullah dan kehidupan sahabat semasa Khulafaur rasyidin. Sahabat-sahabat utama Rasulullah seperti Abu As Siddiq, Usman bin Affan dan Abdul Rahman bin ‘Auf adalah orang-orang yang kaya. Walaupun mereka orang kaya, mereka tetap hidup sebagai orang zuhud, yaitu hidup sederhana, di mana kekayaan mereka itu tidak akan mengurangi apalagi memalingkan pengabdian diri mereka kepada Allah SWT.
Pengertian zuhud yang kedua ini sesuai dengan firman Allah SWT,

Artinya : (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (Q.S. Al Hadid 57 : 23).

Firman Allah SWT,

Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampung akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu (Q.S. Al Qashash 28 : 77).

Pengertian kedua ayat ini adalah bahwa kita manusia tidak dapat memisahkan diri kita sama sekali dari harta dan segala bentuk kesenangan duniawi yang diridlai Allah, sebab kita masih hidup di alam dunia. Pengertian lainnya adalah bahwa harta benda tidak dilarang untuk dimiliki, tetapi harta benda tersebut tidak boleh mempengaruhi atau memperbudak seseorang, sehingga menghalangi yang bersangkutan untuk menghampirkan dirinya kepada Allah SWT, atau dengan kata lain, sikap orang sufi tidak boleh diperbudak oleh harta duniawi, tetapi harta duniawi itu dijadikan persembahan, pengabdian ubudiyah lebih banyak lagi kepada Allah SWT.
Timbul pertanyaan, “Apa sebab terjadinya pengertian dan sikap zuhud ini ?”. Kajian dan gerakan zuhud ini muncul di kalangan pengamal tasawuf pada akhir Abad Pertama hijriah. Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup mewah para khalifah dan keluarganya serta pembesar negara, yang merupakan dampak dari kekayaan yang diperoleh kaum muslimin dalam pembebasan, penaklukan negeri-negeri Suriah, Mesir, Mesopotamia dan Persia.
Semasa Dinasti Umayyah pola hidup sederhana berubah menjadi pola hidup mewah di kalangan para khalifah dan pembesar-pembesar negara dan timbulnya jurang pemisah antara rakyat dan penguasa. Pola hidup mewah dan kondisi mental yang demikian ini tidak sesuai dengan pola ajaran dan amal agama seperti dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Demikian pula pola hidup zuhud yang ekstrim seperti pengertian pertama adalah tidak selaras dengan arahan Al Qur’an dan Al Hadis.
Pola ajaran dan amal tasawuf harus sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadis, atau dengan kata lain yang bertentangan dengan itu bukanlah pola ajaran dan amal tasawuf. Di dalam Al Qur’an maupun Al Hadis kita disuruh bertebaran di muka bumi ini untuk mencari rezeki sebagai karunia Allah.
Firman Allah SWT,

Artinya : Maka bertebaranlah kamu dan carilah rezeki sebagai karunia Allah (Q.S. Al Jumu’ah 62 : 10).

Firman Allah SWT,

Artinya : Dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari rezeki sebagian dari karunia Allah (Q.S. Al Muzammil 73 : 20)

Firman Allah SWT,

Artinya : Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki dari perniagaan) dari Tuhanmu (Q.S. Al Baqarah 2 : 198).

Yang prinsip adalah usaha-usaha mencari rezeki itu, haruslah dari usaha yang halal dan hasilnya harus disyukuri dengan memanfaatkannya sesuai dengan syariat agama.
Firman Allah SWT,

Artinya : Dan Kami adakan di muka bumi itu sumber penghidupan, tetapi amat sedikitlah kamu yang bersyukur (Q.S. Al A’raf 7 : 10).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Pedagang yang jujur pada hari kiamat nanti akan dihimpun bersama orang-orang yang jujur (siddiqin) dan bersama orang-orang yang mati syahid. (H.R. At Tarmizi dan Al Hakim).

Sabda Rasulullah SAW,
Artinya : “Barang siapa mencari dunia dengan halal, menjaga diri dari minta-minta, berusaha untuk keluarganya dan belas kasih kepada tetangganya, maka ia bertemu dengan Allah nanti. Sedangkan wajahnya seperti bulan pada malam purnama.” (H.R. Abu Syaikh, Abu Na’im dan Al Baihaqi).
Pada suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk-duduk bersama dengan para sahabatnya, tiba-tiba tampaklah disana seorang yang masih muda, yang mempunyai tubuh kekar dan kuat. Ia pagi-pagi itu telah bekerja dengan penuh semangat. Para sahabat lalu berkata, “Kasihan sekali orang ini, andaikata kemudaan serta kekuatannya itu dipergunakan untuk sabilillah, alangkah baiknya”.
Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : “Janganlah kamu semua berkata demikian, sebab orang itu kalau keluarnya dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha fi sabilillah. Jikalau ia bekerja itu untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun fi sabilillah. Tetapi apabila ia bekerja karena untuk berpamer atau bermegah-megahan, maka itu adalah fi sabilisy syaitan atau mengikuti jalan setan.” (H.R. Thabrani).

Allah benci kepada orang yang berpangku tangan dan orang minta-minta.
Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Barang siapa yang membuka pada dirinya pintu meminta-minta, maka Allah membukakan atasnya 70 (tujuh puluh) pintu kefakiran (H.R. Tarmizi).

Diriwayatkan bahwa Isa a.s. melihat seorang laki-laki, maka beliau bersabda, “Apakah yang kamu kerjakan ?”. Ia menjawab, “Saya beribadat”. Isa bersabda, “Siapakah yang menanggungmu ?”. Ia menjawab, “Saudaraku”. Isa bersabda,”Saudaramu lebih baik ibadatnya daripada kamu”.
Ibnu Mas’ud r.a. berkata, ” Sesungguhnya saya benci untuk melihat seorang laki-laki itu menganggur, tidak bekerja pada urusan dunianya dan tidak pula bekerja dalam urusan akhiratnya.
Demikianlah sebagian dari dalil-dalil Al Qur’an dan Al Hadis maupun Atsar, mengingatkan supaya kita berusaha mencari rezeki sebagai karunia Allah dan mensyukurinya.
Para sufi itu pada umumnya bekerja sendiri untuk mencari nafkahnya dalam segala bidang usaha, sehingga ada di antara mereka itu diberikan julukan-julukan sesuai dengan bidang usahanya itu. Seperti Al Qashar (Tukang Penatu), Al Waraak (Tukang Kertas), Al Kharraaz (Penjahit Kulit Hewan), Al Bazzaaz (Pengrajin Tikar dari Daun Kurma), Al Hallaaj (Pembersih Kulit Kapas), Az Zujaaji (Pengrajin Dari Kaca), Al Hasriy (Pengrajin Tikar), As Shairafi (Penukar Uang), Al Muqry (Pembaca) dan Al Farraa’ (Penyamak Kulit).
Sebagai manusia biasa, mereka itu ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Mereka yang kaya konsekwen mengeluarkan zakat hartanya, dan bagi yang tidak sampai nisabnya mereka berinfaq dan bersadaqah sesuai dengan Q.S. Al Ma’arij 70 : 24 – 25.
Mengenai bagaimana sikap mental sufi yang kaya, dapat kami contohkan tokoh-tokoh sufi berikut ini,
a. Saidi Syekh Abul Hasan As Syadzili
As Syadzili adalah salah seorang tokoh sufi kenamaan. Seorang tokoh sufi yang kaya raya yang memiliki sawah ladang yang luas, ternak sapi yang banyak dan juga seorang saudagar.
Bagaimana sikap tokoh ini tentang dunia dengan segala kemegahannya, baik wanita, harta dan tahta tercermin dalam do’a beliau yang terkenal,

Artinya : Ya Allah, lapangkanlah rezekiku di dunia ini, tetapi jangan Engkau jadikan rezeki itu penghalang untuk menuju akhiratku. Ya Allah, jadikanlah duniaku ini (harta dan lain-lain) di tangan- tangan kami dan janganlah Engkau masukkan ke dalam hati sanubari kami ini.

Dari do’a ini tergambar sikap kaum sufi terhadap dunia dengan segala kemegahannya itu. Yaitu kaum sufi tidak tunduk kepada dunia dan kaum sufi tidak sudi diperbudak oleh dunia, tetapi menjadikan dunia itu sebagai sarana untuk menuju dan memperoleh akhirat yang lebih sempurna, sesuai dengan surat Al Hadid 57 : 23 dan surat Al Qashash 28 : 77.
b. Ibnu ‘Athaillah As Sakandary
As Sakandary berkisah bagaimana seorang sufi yang kaya raya mempraktekkan ajaran Al Qur’anul Karim. Walaupun hartanya berlimpah-limpah tetapi tidak menghalanginya dalam beramal sebagai seorang sufi. As Sakandary berkisah kepada muridnya tentang seorang kawannya di Maroko, yaitu seorang sufi yang hidupnya zuhud terhadap duniawi dan bersungguh-sungguh dalam ibadatnya. Sumber hidupnya hanya apa yang diperolehnya dari memancing. Sebagian dari hasil itu dimakan dan sisanya disedekahkan.
Pada suatu hari ada murid As Sakandary akan pergi ke Maroko dan dia berpesan kepada muridnya yang juga sufi itu. Kalau kamu sampai di suatu desa di Maroko di mana kawanku bertempat tinggal, mintalah do’a kepadanya, sebab dia adalah seorang wali. Setelah sampai di desa tersebut, murid As Sakandary ini menemui rumah kawan gurunya tersebut. Rumah itu adalah rumah besar dan mewah seperti layaknya rumah raja-raja, yang tidak layak sebagai rumah seorang sufi. Waktu ditanya ternyata benar bahwa itu adalah rumah kawan gurunya yang dicari. Ketika itu sang sufi sedang bepergian dan ketika pulang ternyata dia menunggang kuda dengan pakaian kendaraan yang serba mewah, seolah-olah dia adalah seorang raja.
Melihat keadaan ini hampir saja murid As Sakandary ini pulang dan membatalkan niatnya untuk bertemu dengan guru sufi itu, namun terpikir olehnya tidak baik melanggar perintah guru. Lalu dia menemui juga guru sufi tersebut. Ketika diijinkan masuk, dia pun makin heran, setelah melihat banyaknya pelayan yang berpakaian serba mewah, dengan isi rumah yang serba lux dan dimulailah pembicaraan antara keduanya. “Saudaramu si Fulan berkirim salam kepadamu”. “Apakah kau dari sana?” tanyanya padaku. “Iya”, jawabku. Lalu dia berkata, “Jika kamu kembali kepada saudaraku itu katakan kepadanya”, Sampai kapankah kesibukanmu kepada dunia itu berakhir”. Keherananku semakin bertambah setelah mendengar pesan orang itu. Ketika aku bertemu dengan guruku, beliau bertanya, “Adakah kamu berjumpa dengan saudaraku ?”. “Iya”, jawabku. “Adakah suatu pesan untukku ?” tanyanya. “Tidak”, sahutku. Lalu beliau berkata, “Aku yakin pasti ada sesuatu pesan untukku”. Maka aku ceritakan apa yang aku lihat dan apa yang dipesankan buat beliau. Mendengar ceritaku, guruku lalu menangis.Setelah agak lama,beliau berkata,
Artinya : Sungguh benar ucapan saudaraku itu, memang Allah telah membersihkan hatinya dari duniawi dan duniawi hanya dijadikan di tangannya dan lahirnya saja, sedangkan aku mengambil dunia itu dari tanganku dan aku selalu memikirkannya.
c. Imam Syamsuddin Ad Dirawaty Dimyati
Syekh Syamsuddin adalah seorang tokoh sufi yang saleh, wara’ dan zuhud, pejuang, selalu berpuasa, selalu bershalat, gemar menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Pada majelis taklimnya banyak dikunjungi pembesar-pembesar negara dan kepala-kepala suku, sehingga beliau terkenal di negara Mesir. Beliau tinggal di Masjid Jamik Al Azhar dimasa pemerintahan Qanshu Al Ghuury. Pada suatu ketika beliau mengkritik Sultan Al Ghuury di depan umum, karena tidak mau berjihad dengan alasan tidak ada kapal. Pada waktu beliau dipanggil oleh Sultan berkenaan dengan kritik tadi, maka Imam Syamsuddin berkata kepada Sultan, “Sesungguhnya tuan telah melupakan nikmat yang diberikan oleh Allah, bahkan berani berbuat maksiat kepada-Nya. Tidakkah tuan ingat, semasa tuan memeluk agama Nasrani, kemudian tuan tertawan dan dijual sebagai budak belian, untuk kemudian dipindahkan dari tangan yang satu ke tangan yang lainnya, kemudian Allah menganugerahkan kemerdekaan dan Islam kepada tuan. Derajat tuan menjadi terangkat karenanya, hingga menjadi Sultan. Sebentar lagi, mungkin tuan akan mati, dikafankan, digalikan liang lahat untuk mengubur tuan. Kemudian kubur yang amat gelap akan tuan huni, dan tuan akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang, haus, lapar dan akan dihadapkan ke hadirat Allah Yang Maha Adil, yang takkan berbuat kezaliman sedikit pun. Kemudian akan terdengar seruan, ‘Barang siapa yang haknya pernah dirampas dan diperkosa oleh Al Ghuury, maka kemarilah !’. Lalu datang berbondong-bondong manusia yang tak terhitung banyaknya”.
Nasehat yang diberikan oleh Syekh itu membuat wajah sang Sultan berubah, sampai salah seorang staf dan sekretaris Sultan berkata,”Bacakan Al Fatihah wahai tuan syekh, kami takut kalau sultan akan hilang akalnya”. Setelah Syekh itu pergi dan sultan pun sadar, maka sultan pun berkata, “Berikan buat Syekh ini 10.000 (sepuluh ribu) dinar agar dapat digunakan membiayai pembangunan menara benteng di kota Dimyat”.
Namun uang itu dikembalikan dan dikatakan oleh beliau, “Aku seorang berharta yang tak butuh bantuan dari siapa pun, kalau tuan perlu uang, akulah yang akan meminjaminya buat tuan”. Di Majelis itu tidak seorangpun yang terlihat lebih mulia dari sang syekh dan tidak ada yang lebih rendah dari sang sultan sendiri.
Itulah pribadi Syekh Syamsuddin Ad-Dirawayati yang tergolong ulama yang amat suka beramal. Beliau mengeluarkan biaya 40 000 (empat puluh ribu) dirham untuk pembangunan menara kota Dimyat dari kantongnya sendiri, tanpa bantuan dari seorangpun. Beliau juga menyediakan minuman.
Beliau berdagang mentimun dan sayur mayur lainnya, sedikitpun tidak mau mengambil uang jasa dari jabatannya sebagai seorang Ahli Fikih. Beliau melarang keras para muridnya untuk makan harta wakaf dan sedekah, dan dikatakan bahwa harta itu akan mengotori hati mereka. (Dr. Abdul Halim Mahmoud : 32 – 35).
d. Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya
Prof. Dr. H. Kadirun Yahya adalah seorang tokoh sufi kenamaan masa kini. Beliau adalah seorang tokoh sufi moderen, tokoh sufi Tekhnokrat yang meneruskan peramalan Tarikat Naqsyabandiyah sebagai Mursyid yang ke-35 (tiga puluh lima). Semenjak diangkat menjadi mursyid tahun 1952, beliau aktif terus menerus memimpin tarikat Naqsyabandiah Al Khalidiyah. Diperkirakan muridnya berjumlah belasan juta orang dengan jumlah ratusan Surau, di dalam negeri dan luar negeri. Beliau menyelenggarakan suluk untuk para pengamal tarikat ini sepuluh kali dalam setahun, yang setiap kali suluk lamanya 10 (sepuluh) hari. Tempat suluk itu tersebar di Indonesia dan luar negeri yang jumlah pesertanya dalam satu periode suluk mencapai ribuan orang. Penyelenggaraan suluk-suluk ini terlaksana dengan baik berkat bimbingan yang seksama dari Syekh Mursyid dan kerjasama antara petugas-petugas dengan beratus-ratus peserta suluk.
Prof. Dr. H. Kadirun Yahya adalah pakar Ilmu An-Nadhori (Ilmu Al Kasbi) dan banyak sekali menerima limpahan rahmat karunia Allah yang berbentuk Ilmu Al-Kasyfi dan Ilmu Ladunni. Beliau adalah sufi teknokrat yang mahir berbahasa Inggris, Belanda dan Jerman. Beliau adalah seorang sufi yang kaya raya yang memiliki usaha di berbagai bidang unit usaha, antara lain :
– Agrobisnis. Beliau memiliki perkebunan yang arealnya mendekati 100 (seratus) ha. Yang meliputi perkebunan kelapa sawit, apel, jeruk, dan lain-lain. Beliau memiliki usaha ternak, mulai dari ternak unggas seperti puyuh, ayam, ikan, itik dan ternak hewan seperti kambing dan sapi.
– Pabrik. Beliau memiliki pabrik air minum yang bermerek Aminsam di Medan dan Jakarta.
– Pertukangan. Beliau mempunyai usaha bidang meubel dan perbengkelan.
– Keterampilan. Beliau mempunyai beberapa usaha keterampilan, seperti konveksi.
– Pertokoan. Beliau memiliki beberapa toko, di antaranya adalah toko elekronik.
– Jasa. Beliau memiliki biro travel yang mempunyai jaringan internasional.
– Pendidikan. Beliau memiliki beberapa lembaga pendidikan di kampus Universitas Panca Budi, yang berdiri di suatu lokasi yang arealnya 6 (enam) ha. Lembaga-lembaga ini menyelenggarakan pendidikan mulai dari TK, SD, SLTP, SLTA sampai dengan Universitas yang bernama Universitas Panca Budi. Lembaga pendidikan ini mempunyai beberapa cabang di daerah Sumatera Utara.
Seluruh usaha itu bernaung di bawah suatu yayasan yang bernama Yayasan Prof.Dr.H.Kadirun Yahya. Bidang usaha yang begitu banyak telah mempekerjakan beberapa puluh kepala keluarga dan ratusan karyawan. Untuk mengelola semuanya itu beliau mengangkat pimpinan-pimpinan unit usaha yang profesional dalam bidangnya.
Selain itu salah satu dari karunia besar yang dilimpahkan Allah kepada beliau adalah bidang pengobatan. Tidak terhitung banyaknya orang yang telah dibantu beliau untuk menyembuhkan penyakit. Mulai dari penyakit yang ringan sampai dengan penyakit yang berat, bahkan penyakit- penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan dokter, dengan ijin Allah dapat sembuh ditangan beliau. Untuk membantu beliau dalam masalah ini, pada beberapa surau atau beberapa tempat tertentu didirikan klinik pengobatan.
Kegiatan lainnya yang beliau lakukan dan cukup menonjol adalah riset di bidang yang sesuai dengan profesi beliau sebagai seorang ilmuwan dan Syekh Mursyid, yang sampai saat ini telah banyak dihasilkan temuan-temuan ilmiah baik dalam ilmu kimia maupun fisika. Di antara temuan-temuan beliau adalah :
-Teknik pembuatan air mineral yang tidak merusak ozon, tetapi dapat menghasilkan ozon, dengan proses yang sangat sederhana,
-Semir Sepatu yang tahan api,
-Pembuatan kulit imitasi.
-dan lain-lain.
Sebagai top manager yang mengelola sekian unit usaha dengan asset kekayaan yang begitu besar, tidak sedikitpun semua usaha dan kegiatan pengobatan ini mengurangi atau mengganggu apalagi melalaikan kegiatan beliau sebagai pemimpin rohani, yaitu Syekh Mursyid tarikat Naqsyabandiah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa beliau telah melaksanakan maksud dan tujuan hadis yang artinya, “Mukmin yang kuat lebih disukai dan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah”. Pengertian kuat di sini adalah meliputi segala bidang duniawiyah maupun ukhrawiyah.
Asset unit usaha, kekayaan dan hasil riset yang begitu besar, lebih banyak diperuntukkan untuk ubudiyah, pengabdian, guna mengembangkan dan membina peramalan tarikat ini. Beliau telah mengatakan bahwa kekayaan yang begitu banyak adalah karunia Allah dan milik Allah. Karena itu beliau hanya berhak mentasarufkan, menyelenggarakan kekayaan itu untuk mendapatkan cinta dan ridla dari Allah SWT. Sebagian dari kekayaan itu diperuntukkan untuk membina dan membangun surau lama dan surau baru. Sesuai dengan ketentuan syariat agama, beliau selalu mengeluarkan zakat, infaq dan sadaqah secara rutin kepada yang berhak menurut asnafnya. Setiap musim haji tidak kurang dari 60 (enam puluh) ekor lembu sebagai kurban, ditambah berpuluh-puluh ekor kambing.
Demikianlah gambaran pribadi tokoh sufi masa kini yang dengan kekayaannya tidak sedikitpun melalaikan ibadatnya kepada Allah, bahkan kekayaan itu memperkuat barisan untuk menegakkan agama Allah atau ( …………………………………………….). .
7. Tasawuf Dan Perbedaan Ilmu An-Nadhori dengan Ilmu Al-Kasyfi
Di Dalam Al Qur’an maupun Al Hadis banyak sekali ayat dan sabda Rasul yang menjelaskan keutamaan ilmu, baik Ilmu An-Nadhori maupun ilmu Al-Kasyfi.
Ilmu An-Nadhori adalah ilmu pengetahuan hasil belajar yang berpusat pada otak atau akal. Ilmu An- Nadhori ini meliputi Ilmu Pengetahuan Agama dan Ilmu Pengetahuan Umum. Ilmu Al-Kasyfi adalah ilmu yang diperoleh dengan terbukanya hijab (dinding atau tabir), sehingga hati nurani manusia mengetahui rahasia Ilahi, alam ghaib sebagai rahmat dari Allah SWT, setelah dekatnya yang bersangkutan kepada Allah. Menurut bahasa, kasyf berarti terbuka atau tidak tertutup. Ilmu Al- Kasyfi itu berpusat di hati sanubari manusia yang berada di dalam dada. Dikalangan sufi dikatakan bahwa Ilmu An-Nadhori itu adalah ilmu yang dicari, ilmu di permukaan di alam syahadah. Ilmu Al Kasyfi adalah ilmu yang diberi, ilmu karunia Allah SWT Yang Maha Berilmu.
Pengamal tasawuf melandasi amalannya dengan Ilmu An-Nadhori yang pengamalannya itu dilaksanakan dengan riadlah, mujahadah dan terus menerus sehingga membuahkan kasyf seperti yang dijanjikan dalam banyak ayat dan sabda Rasul.
Beberapa ayat dan sabda Rasul yang berkenaan dengan keutamaan ilmu dan orang yang berilmu, antara lain sebagai berikut :
Firman Allah SWT,

Artinya : Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.S. Al Mujadalah 58 : 11).

Firman Allah SWT,

Artinya : Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (Q.S. Fathir 35 : 28).

Firman Allah SWT,

Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami (Q.S. Al A’raf 7 : 52).

Firman Allah SWT,
Artinya : Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa yang telah mereka perbuat), sedang Kami mengetahui keadaan mereka. Dan Kami sekali-kali tidak jauh (mengetahui perbuatan mereka) (Q.S. Al A’raf 7 : 7).
Firman Allah SWT,
Artinya : Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. (Q.S. Al Ankabut 29 : 49).
Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Barang siapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan, maka Allah menjadikannya ia pandai mengenai agama dan dia diilhami petunjuk-Nya. (H.R. Bukhari Muslim).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Ulama itu adalah pewaris-pewaris para Nabi. (H.R. Abu Daud, At Tarmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Sesungguhnya hikmah (ilmu) itu menambah orang yang mulia akan kemuliaan dan mengangkat hamba sahaya, sehinggad ia dapat mencapai apa yang dicapai oleh raja-raja. (H.R. Abu Na’im).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Dua budi pekerti tidak terdapat pada orang munafik yaitu perilaku yang baik dan pandai (paham) dalam agama. (H.R. At Tarmizi).

Sabda Rasulullah SAW,

Artinya : Iman itu telanjang, pakaiannya adalah takwa, perhiasannya adalah malu dan buahnya adalah ilmu. (H.R. Al Hakim).

Ayat-ayat Al Qur’an dan sabda-sabda Rasul tersebut, meliputi Ilmu An-Nadhori dan ilmu Al-Kasyfi secara umum. Ilmu An-Nadhori baru bisa berbuah dan berfaedah jika diamalkan. Ilmu An-Nadhori apabila diamalkan sesorang, maka ilmunya akan bertambah lebih luas dan mendalam, dan juga bertambah ilmunya dengan ilmu Al-Kasyfi dan Ilmu Ladunni.
Sebagaimana kita ketahui dan kita yakini bahwa sumber dari segala ilmu itu adalah Allah SWT. Allah memberikan ilmu dari-Nya melalui dua jalur. Jalur pertama, melalui panca indera yang diolah oleh akal yang membuahkan Ilmu An-Nadhori. Akal tidak menjangkau masalah-masalah ghaib. Semua Ilmu An-Nadhori dapat diilmiahkan, sebab objeknya adalah alam syahadah. Akal dapat mengetahui ilmu atau rahasia ghaibah dengan wahyu. Jalur kedua, melalui hati nurani yang berbentuk ilmu kasyaf dengan terbukanya hijab dan Ilmu Ladunni, petunjuk langsung dari Allah SWT. Hati nurani manusia itu mempunyai dua pintu, yaitu pintu masuk yang diterima dari ilmu Al-Kasyfi dan Ilmu Ladunni. Kedua ilmu ini ditransfer ke otak/akal untuk kemudian dizahirkan dalam bentuk Ilmu An-Nadhori. Para Nabi dan Rasul menerima wahyu melalui pintu hati, bukan melalui pintu akal atau panca indera.
Syekh Abu Yazid Al-Bustami mengatakan, bukanlah seorang ulama itu adalah orang yang hafal sebuah kitab atau beberapa kitab, sebab apabila dia lupa kepada apa yang telah dihafalnya, maka dia pun menjadi seorang yang bodoh. Yang sebenarnya-benarnya ulama adalah ulama Allah yang menjadi pewaris Nabi yang mengambil ilmunya bukan hanya dari al kitab, tetapi ilmunya datang langsung dari Nur Allah, di setiap saat yang dia kehendaki tanpa melalui hafalan atau pengkajian., dan ilmu itulah yang dinamakan ilmu Al-Kasyfi atau Ilmu Ladunni.
Firman Allah SWT,

Artinya : Dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (Q.S. Al Kahfi 18 : 65).

Firman Allah SWT,

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu Furqaan (Q.S. Al Anfal 8 : 29).

Ada beberapa tafsir tentang kalimat Al Furqan. Penafsiran umum ialah orang yang bertakwa yang mendapat petunjuk, sehingga dia dapat membedakan antara yang hak dan yang batil, dapat juga ditafsirkan mendapat pertolongan. Di kalangan sufi selain penafsiran umum tadi, mereka juga menafsirkan kata furqan dengan Nur atau Cahaya seperti firman Allah dalam surat Az Zumar 39 : 22 dan juga berarti jalan keluar seperti firman Allah di dalam surat At Thalaq 65 : 2.
Para pakar di kalangan sufi kata Nur ini merupakan kata kunci untuk mendapatkan ilmu, hidayah, rahmat atau apa saja yang datang dari Allah. Prof. Dr. H. Kadirun Yahya seperti yang telah kami jelaskan mengatakan bahwa wasilah itu adalah ( )
sebagaimana firman Allah dalam surat An Nur 24 : 35.
Rasulullah juga selalu berdo’a semoga Allah selalu memberikan Nur atau cahaya kepada beliau antara lain do’a itu artinya, “Allahumma ya Allah, berikanlah kepadaku cahaya dan tambahkanlah cahaya itu bagiku. Jadikanlah hatiku bercahaya, kuburku bercahaya, pendengaranku bercahaya, penglihatanku bercahaya, sehingga rambutku, kulitku, dagingku dan tulangku seluruhnya bercahaya.
Firman Allah SWT,

Artinya : Maka siapa saja orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (Q.S. Az Zumar 39 : 22).

Rasulullah memberikan penjelasan kepada orang yang menanyakan apa maksud syaraha dalam ayat itu sebagai berikut,

Artinya : Syaraha itu artinya : sesungguhnya cahaya itu apabila dimasukkan ke dalam lubuk hati sanubari, menjadi lapanglah dadanya dan terbukalah hatinya.

Sejalan dengan pengertian Nur dari surat Al Anfal 8 : 29, At Thalaq 65 : 2, Az Zumar 39 : 22 adalah pengertian paham tentang agama (Al Anbiya 21 : 79) dan hikmah yaitu ilmu yang berguna (Al Baqarah 2 : 269), dan Al Mutawassimin yaitu orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah (Al Hijr 15 : 75).
Semua ilmu yang datang dari Allah yang berbentuk furqaan, cahaya, jalan keluar, paham dan hikmah diperoleh tanpa melalui belajar. Ilmu ini dinamakan ilmu batin. Sebagaimana sabda Rasulullah,

Artinya : Ilmu itu ada dua macam, yaitu suatu ilmu batin di hati dan itulah ilmu yang bermanfaat (yang berguna) dan seterusnya.

Setiap umat Mukmin dan Muslim sesungguhnya telah memperoleh Ilmu An-Nadhori, Ilmu Kasyfi, cuma tingkatan dan kualitasnya saja yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Ada tiga tingkatan orang yang mendapat ilmu Al-Kasyfi :
a. Muhadarah. Pada tingkatan ini akal manusia dikendalikan oleh bukti objektif kebendaan (burhan). Oleh sebab itu, tingkatan ini dapat mencapai Ilmul Yaqin yang masih dalam ruang lingkup pemikiran rasional.
b. Mukasyafah. Pada tingkatan ini manusia mampu menerima pengetahuan berdasarkan esplanasi (pencarian penjelasan, bayan). Orang yang mencapai taraf ini akan dapat mencapai ‘Ainul Yaqin, yakni pandangan kebenaran objektif yang mengacu pada kebenaran yang mungkin.
c. Musyahadah. Tingkatan ini adalah pengalaman pribadi manusia (makrifat) yang langsung bisa menyaksikan sesuatu hal. Pengalaman pribadi ini, merujuk pada pengalaman batin berkat kedekatannya kepada Tuhan, sehingga dapat terbuka baginya pengetahuan Haqqul Yaqin. Yang terakhir ini adalah bayangan langsung Tuhan dan acapkali disebut juga dengan Al-Mu’ayanah (Ensiklopedi Islam 3, 1994 : 20 – 21).
Untuk mendapatkan kasyf, diri rohani dan diri jasmani seseorang itu harus bersih, dengan mengamalkan syariat agama dengan baik, serta riadlah dan mujahadah zikir yang sungguh-sungguh dan lestari, sehingga komponen-komponen rohaninya mampu menyimpan Islam (Q.S. Az Zumar 39 : 22), Iman (Q.S. Al Hujurat 49 : 7), makrifat (Q.S. An Najm 53 : 11), tauhid (Q.S. Ali Imran 3 : 190).
Seseorang yang mampu menyimpan komponen-komponen rohani Islam, Iman, makrifat dan tauhid yang demikian inilah, yang dapat memperoleh Ilmu Al-Kasyfi sesuai dengan tingkatnya masing- masing.

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 420 other followers

%d bloggers like this: